GODZILLA: KING OF THE MONSTERS Review

“History shows again and again how nature points out the folly of man”

 

 

Bencana alam terjadi, dan orang-orang relijius akan menyebutnya sebagai peringatan Tuhan kepada umat manusia. Bahwa tsunami, gempa, gunung meletus adalah murka Yang Maha Kuasa atas perilaku manusia yang sudah menyimpang. Bahwa kita sudah mengecewakan alam semesta. Orang Jepang sependapat, meskipun kepercayaan mereka sedikit berbeda. Alih-alih ‘cuma’ God, di Tokyo sana yang murka adalah “Gojira”, monster besar yang menghancurkan kota, terbangun oleh ujicoba senjata nuklir. Bencana adalah tindakan Godzilla yang ingin mengembalikan lagi keseimbangan alam yang terganggu akibat ulah dan kerakusan manusia. Keseluruhan mitologi Godzilla, yang ditelurkan banyak film – baik itu animasi ataupun live-action, produksi Jepang maupun Amerika – selalu berpusat terhadap tema tersebut. Selalu menantang kita dengan pertanyaan mungkin saja manusialah monster yang sesungguhnya terhadap alam.

Godzilla: King of the Monsters (untuk selanjutnya akan aku sebut Godzilla 2 saja) garapan Michael Dougherty melanjutkan cerita dari entry pertama MonsterVerse tahun 2014 yang lalu; film-film MonsterVerse memberitahu kepada kita bahwa Godzilla bukan satu-satunya ‘senjata alam’ yang bersemayam tempat-tempat di dunia. Dan pada Godzilla 2 kita berkenalan dengan banyak lagi – sedikitnya ada 17 Titan yang siap turun tangan kalo-kalo manusia sudah sebegitu semena-menanya ngurusin alam. Dan yang namanya manusia – makhluk rakus, angkuh, namun bego – mana bisa menahan diri melihat segitu banyaknya hewan besar yang bisa mereka jadikan senjata nuklir berjalan. Dalam film ini kita akan melihat manusia terbagi menjadi dua golongan; satu yang ingin hidup bersisian dengan Godzilla dan rekan-rekan Titan, dan yang ingin mengendalikan para Titan untuk menghapus sebagian besar populasi demi memulai kembali hidup yang bersih. Dua golongan manusia ini rebutan alat yang memungkinkan mereka ‘berkomunikasi’ dengan Titan-Titan, tapi masalahnya adalah di antara Titan-Titan yang mereka usik dari tidurnya tersebut, ada satu yang bukan berasal dari planet ini. Ada satu yang bahkan tidak tunduk sama Godzilla. Bumi dalam Godzilla 2 tak pelak menjadi medan pertempuran para Titan tersebut. Manusia dengan segala kerakusannya, jadi pelanduk yang siap-siap mati di tengah-tengah mereka.

Sesungguhnya kebegoan dan kesombongan yang lagi dan lagi dilakukan oleh manusia, seperti yang disuggest oleh lagu Godzilla dan film Godzilla 2 ini, adalah manusia suka bermain sebagai Tuhan. Kita pikir kita bisa dan berhak untuk mengontrol alam. 

dan semua hiruk pikuk fim ini berakar dari seorang ibu yang kehilangan anaknya

 

Sejujurnya, aku setuju sama motivasi golongan jahat film ini; untuk membangunkan semua Titan yang tertidur di balik kerak bumi. I mean, duh, ini film monster maka kita butuh sebanyak-banyaknya adegan monster raksasa mengamuk di kota, adegan monster raksasa saling berantem. Film ini punya banyak monster-monster beken yang bakal bikin penggemar Godzilla meraung-raung senang. Di antaranya ada Mothra, Rodan, dan tentu saja si naga berkepala tiga Blue Eyes Ultimate Dragon.. eh salah, maksudnya Ghidorah! Para Titan ini dihidupkan dengan teramat sangar dan begitu menawan. Efek-efek mereka cukup keren, meskipun menurutku seharusnya film bisa memikirkan cara yang lebih kreatif, yang lebih impresif, untuk memainkan raksasa-raksasa ini. Tarok mereka di lingkungan yang lebih terang, mungkin. Karena bagian terbaik dari menyaksikan film ini adalah menyaksikan mereka bertarung. Atau malah setiap kali mereka muncul di layar. Ngeliat ujung capit monster aja rasanya udah puas banget mengingat sewaktu kecil kerjaanku kayak orang idiot menubruk-nubrukkan dua mainan monster. Dari membayangkan kelahi monster mainan yang kaku, dan sekarang melihat para monster beneran ‘hidup’ berkelahi tembak-tembakan sinar dan api dari mulut, film ini adalah impian jadi nyata untuk setiap anak kecil. Godzilla 2, dari segi penampilan monster, memang jauh lebih memuaskan dibandingkan Godzilla tahun 2014 yang irit banget nampilin Godzilla.

Sayangnya kelebihan yang dipunya tersebut langsung ketutupan oleh kekurangan raksasa pada aspek paling mendasar dalam sebuah film; cerita dan penokohan.

Cerita Godzilla 2 berpusat pada keluarga Millie Bobby Brown yang orangtuanya sudah bercerai semenjak kehilangan anak bungsu pada insiden Godzilla tahun 2014 silam. Ibu Millie, Vera Farmiga, berbeda pandangan dengan ayah. Ayah Millie, Kyle Chandler lebih memilih untuk membenci Godzilla seumur hidup, menjauh dari ibu yang terus melakukan eksperimen pengembangan alat-alat untuk berinteraksi dengan para Titan. As the story goes, tokohnya si Millie ini akan semakin terombang-ambing karena kedua orangtuanya literally jadi oposisi, mereka berada di pihak yang berbeda keyakinan. Konflik sentral keluarga ini tidak pernah dieksplorasi lebih dalam karena film hanya berfokus kepada perkelahian monster. Dan kalo boleh jujur, melihat apa yang film ini lakukan pada tokoh-tokoh manusia, aku meragukan penulis ceritanya bisa membuat percakapan dramatis yang bukan berupa raungan dan teriakan.

Aku bahkan gak yakin nama tokoh-tokoh sentral itu ada disebutin semua di dalam filmnya

 

Sungguh menyia-menyiakan sumber daya alam yakni deretan aktor-aktor yang kompeten yang berdedikasi untuk menyuguhkan penampilan yang terbaik. Tapi apalah artinya dedikasi jika dihadapkan pada naskah yang buruk? Tokoh-tokoh manusia dalam film ini membuka mulut untuk meneriakkan kata-kata ke layar monitor di depan mereka. Dan di sela-sela mereka cukup tenang, mereka akan melontarkan dialog-dialog eksposisi. Di mana lokasi para Titan. Apa nama Titannya. Bagaimana device Orca bekerja. Apa cerita legenda jaman dahulu kala. Yang mereka suarakan hanyalah baris demi baris informasi yang sungguh-sungguh membosankan. Tidak ada satu kalipun interaksi antarmanusia yang terasa genuine. Dikasih informasi-informasi tadi, tokoh film ini akan bereaksi dalam rentang tiga pilihan berikut ini; Sok dramatis, Sok ngelawak, atau juga Sok bijak. Makanya film ini terasa sangat membosankan begitu Godzilla dan rekan-rekan raksasanya absen di layar. Ketika ada tokoh manusia yang mati, kita tidak peduli, karena film tidak pernah memerintahkan tokoh-tokoh lain untuk mempedulikan hal tersebut. Mereka hanya dipersiapkan untuk eksposisi, teriak, nyeletuk, lagi dan lagi, tanpa ada sense.

Ini adalah ketidakmampuan film untuk menyeimbangkan antara tokoh manusia dengan tokoh monsternya. Jangankan kita yang nonton, yang nulisnya saja seperti tidak peduli sama tokohnya. Hampir seperti film ini ya tujuannya pengen nunjukin monster-monster kelahi saja. Bandingkan dengan original Jurassic Park (1993) yang punya tokoh seperti Grant, Malcolm, Hammond yang kita pahami pilihan, sudut pandang, dan motivasinya – sementara tetap bikin kita greget oleh penampilan T-Rex dan Raptor. Motivasi tokoh manusia pada Godzilla 2 seperti ditulis seadanya, padahal mereka punya lima tahun dari film pertama untuk mengembangkan cerita. Kenapa untuk menggapai hasil seperti Thanos mereka perlu banget untuk membangunkan seluruh monster yang ada? Kenapa orang yang kehilangan anak oleh monster malah jadi berbalik membenci manusia? Dan kenapa di tengah cerita si orang tersebut pikirannya mendadak jadi ‘bener’ lagi? Ini lebih parah dibandingkan John Wick di John Wick Chapter 3: Parabellum (2019) yang rela dipotong jadinya untuk ikut clause High Table, hanya untuk mengubah pandangannya gitu aja ketika sudah berada di Hotel, karena John Wick memberikan kita tiga film untuk peduli dan dia punya aksi yang badass. Sedangkan tokoh-tokoh Godzilla 2, mereka cuma punya dialog yang ditulis dengan sangat membosankan dan personality yang begitu dibuat-buat. They do nothing to earn our sympathy.

 

 

 

 

Walaupun dihiasi oleh banyak adegan-adegan spektakuler berupa aksi-aksi para monster raksasa, film ini jatohnya seperti film-film bencana alam atau monster yang generic. Karena tidak punya kepentingan cerita dan karakter yang menjulang. Monster-monster yang keseringan muncul toh pada akhirnya bakal menumpulkan excitement kita juga. Cerita yang kebanyakan eksposisi itu juga tentu tidak membantu film keluar dari lembah membosankan. MonsterVerse sejauh ini buatku tampak medioker; setelah entry pertama yang bikin penasaran (lantaran Godzilla ditampilkan terbatas), Kong: Skull Island (2017) dan film ini sangat mengecewakan karena sudah tiga film dan mereka masih belum bisa mendapatkan formula yang seimbang antara monster dengan manusia. Ada banyak pemain yang kompeten dalam jejeran cast film ini, namun mereka semua tersia-siakan karena tak satupun yang tampil seperti ‘manusia’. Film ini sama seperti dunia; hancur di tangan manusia-manusianya.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for GODZILLA: KING OF THE MONSTERS. 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Setujukah kalian dengan pernyataan bahwa manusia adalah perusak alam? Apakah kalian melihat bencana alam sebagai cobaan, teguran, atau malah anugerah?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

GRETA Review

“It is better to be alone than in bad company.”

 

 

 

Kota gede itu kejam. New York terutama. Kalo gak percaya tanya aja ama Homer Simpons atau ke Jess di New Girl. Bengong dikit, antrian kita bisa diserobot. Polos dikit, kita bisa ditipu. Dicopet. Everyone just mind their own business. Makanya ketika Frances McCullen (Chloe Grace Moretz kudu mainin banyak rentang emosi dengan cepat) mengatakan kepada teman sekamarnya bahwa ia bermaksud mengembalikan dompet yang ia temukan di kereta ke alamat si empunya dompet, Frances lantas dipandang aneh, “Ngapain baik banget sih kenal juga enggak” ujar si teman.

Mungkin bukan hanya Frances yang harus dengerin ‘nasehat’ dari temannya tersebut. Kita juga mungkin sebaiknya lebih berhati-hati dalam menunjukkan kepedulian kepada orang tak dikenal. Belum lama ini, viral di twitter seorang wanita yang mengajak followernya untuk tidak beramah-ramah kepada bapak-bapak yang mengajak ngobrol di tempat umum. Terdengar kasar sih memang. Gimana kalo si bapak beneran lagi butuh bantuan? Masak gak diladeni. Tapi kalo diladeni bisa-bisa malah terjadi pelehan? Itulah point film ini. Bahwa mungkin memang dunia kita sudah jadi begitu mencurigakannya, sudah menjadi tempat yang sudah menakutkan di mana kebaikan dianggap sebagai kelemahan. Yang lantas dilahap dan diperas keuntungan darinya.

Frances dalam film Greta diset sebagai karakter yang rapuh secara emosional. Dia yang bukan anak gaul New York merasa kurang cocok bareng teman-teman seusianya, dia cuma punya satu sahabat yakni si teman sekamar. Pekerjaannya sebagai karyawan di restoran mewah menyimbolkan gimana dia serves society dengan segala kebaikan. Dan sebagai pemanis, Frances dituliskan sebagai gadis yang baru saja kehilangan ibu. Bertemu Greta, si pemilik dompet, bagi Frances adalah seperti bertemu pengganti ibunda. Dia memanggil wanita beraksen Perancis itu sahabat. Dia menemani Greta (Isabelle Huppert menjadikan film ini sebagai lapangan bermain pribadinya) sehari-hari; minum teh di rumahnya, dengerin wanita tersebut main piano. Dan jika terdengar suara gedoran dari balik tembok, Frances akan ngecuekin suara yang bagi kita jelas-jelas adalah ‘alarm tanda bahaya’ tersebut karena dia percaya pada Greta; Itu cuma tetangga yang lagi renovasi rumah.

Film Great garapan Neil Jordan ini menganjurkan kita untuk tidak menjadi senaif Frances. Ramah harus, tapi jangan sampai begitu mudahnya terattach kepada orang baru karena bisa saja mereka sebenarnya bukan teman yang mereka cari.

 

kau bilang dirimu seperti permen karet? Well, aku makan permen karet untuk sarapan setiap hari

 

 

Di sinilah Chloe Grace Moretz menunjukkan kemampuannya menghidupkan seorang tokoh menjadi sangat simpatik. Di atas kertas, Frances sebenarnya dapat dengan mudah menjadi tokoh yang annoying. Karena di awal-awal film, dia selalu membuat keputusan yang bego, regarding to Greta. Ada begitu banyak tanda-tanda bahwa Great adalah tokoh yang enggak beres. Namun bisa dibilang, Frances terlalu baper untuk melihat semua itu. Bahkan jika ternyata Greta bukan orang jahat, Frances ini sudah kelewatan baeknya. Bukan hanya terlalu baik kepada Greta kayak Lala pada BomBom di sinetron Bidadari, Frances ini juga luar biasa pedulinya sama binatang. Ada satu adegan ketika dia mestinya menjauh dari rumah Greta, tapi Frances justru balik lantaran ia mengkhawatirkan anjing peliharaan Greta yang ia bantu pilihkan untuk adopsi. Plot-poin cerita film ini bergerak karena tokoh utama kita ini mengambil keputusan-keputusan berdasarkan perasaan seperti demikian. Yang gak bakal work kalo tokoh utamanya enggak menjelma menjadi sangat simpatik dengan reason yang jelas. Moretz berhasil menggapai semua itu. Penampilan aktingnya sangat meyakinkan. Alih-alih kesel kita malah kasihan melihatnya. Kita itu khawatir akan keselamatannya. Bukan cuma emosional, Moretz juga bermain fisik di sini. Tokoh Frances adalah tokoh dengan tingkat kesulitan yang cukup demanding, dan Moretz berhasil menjawab semua tantangannya.

Aksen palsu dan segala kekakuan tokoh Greta; it’s all by design. Setiap kali Greta muncul di layar, melakukan sesuatu – mengatakan sesuatu, kita tahu ada sesuatu yang gak bener. Like, perasaan gue gak enak nih.. Seperti Greta yang bermain piano, Isabelle Huppert sesungguhnya sukses berat mengenai setiap ‘nada’ yang diminta untuk membuat tokoh Greta tampil ‘mengerikan’. Backstory yang diberikan kepada tokoh ini pada akhirnya berubah menjadi catatan kejahatan, dan itu bukan jadi masalah lantaran tokoh ini sepertinya tidak perlu alasan untuk menjadi seperti dirinya sekarang. Dia edan luar-dalam. Film tidak berlama-lama menyimpan siapa sebenarnya Greta, apa yang bisa ia lakukan, dan ini bagus karena memang kekuatan utama film ini terletak pada kedua pemain utama dan bagaimana aksi-reaksi terjadi di antara mereka. Benar-benar bikin gak enak melihat Frances yang terus menjauh namun dikejar dan malah ditodong ‘sombong’ balik oleh Greta. One time, Greta berdiri diam seharian di pinggir jalan, memandang Frances yang lagi bekerja. Kita melihat betapa mengerikannya efek perbuatan tersebut kepada Frances. Jangankan itu, jumlah missed call dari Greta aja sudah cukup untuk membuat kita bergidik – bahkan mungkin retrospeksi; pernahkah kita membuat orang lain merasa seperti Frances?

Adakalanya kita harus selektif dalam memilih teman. Karena memiliki banyak teman tidak selamanya menyenangkan. Daripada bersama-sama dengan orang yang hanya ingin memanfaatkan, yang lebih banyak ruginya, toh masih lebih baik jika kita sendirian dan tak terluka.

 

 

Film akan menjadi sangat menarik jika terus mengeksplorasi hubungan semacam demikian. Menggali psikologi kedua sudut pandang ini; orang yang gak nyaman di-stalk, dan orang ‘gila’ yang merasa diperlakukan tidak adil karena ditinggal tanpa alasan. Dan lapisan yang membuatnya unik adalah hubungan mereka bukan hubungan romansa. Bukan antara cowok yang naksir berat ama cewek atau semacamnya. Melainkan antara anak yang gak punya ibu dengan seorang ibu-ibu yang sudah lama tinggal sendirian. Dinamika menarik tersebut sayangnya harus berhenti. Lantaran sepertinya sang sutradara yang pernah menang Oscar untuk penulisan skenario film The Crying Game (1992) – film yang bercerita tentang cowok yang menjadi temenan dengan cewek teroris yang menahannya – tidak benar-benar memahami relung resah perihal dua wanita. Peran cowok memang nyaris absen dalam film Greta. Memang cukup aneh, cerita tentang wanita tapi semuanya digarap oleh pria. Berani? Mungkin bisa dibilang lancang. Bicara dari pengalaman; aku bikin film pendek Gelap Jelita (2019) tentang cewek remaja lagi mau berangkat sekolah aja merasa perlu untuk meminta ‘nasehat’, jadi aku meminta tolong temenku yang cewek untuk jadi semacam art director untuk memastikan filmnya benar-benar relate dan menghormati cewek itu sendiri.

cewek dari venus; venus flytrap.

 

Greta memang akhirnya meninggalkan ranah psikologi dan berkembang ke arah horor yang lebih general. That’s the downfall of this movie. Film ini tampak tidak bisa memenuhi janjinya sendiri. Mulai bermunculan klise-klise cerita horor stalking. Bahkan film mulai meminta kita untuk suspend our disbelief. Kejadian yang lagi relevan banget itu tidak lagi terasa nyata oleh sekuen-sekuen seperti Greta yang bisa mengikuti seseorang – memotret orang tersebut dari belakang, mulai dari klub hingga ke dalam bus, tanpa terlihat; seperti ninja. Banyak hal yang dilakukan oleh Greta kepada Frances dan tokoh yang lebih muda yang sukar untuk dipercaya; gimana bisa wanita tua seperti dia melakukan hal tersebut kepada anak muda? Seperti, kenapa jalannya bisa lebih cepat.

Babak ketiga film sudah completely meninggalkan persoalan si tokoh utama. Hampir seperti mereka menyelesaikan journey Frances dalam dua babak, dan babak ketiganya hanya homage untuk kejadian ala horor 90an. Babak terakhir film ini beneran terasa seperti hiasan saja. Kita tidak lagi mengikuti Frances; kita actually berada di sudut pandang karakter-karakter lain, termasuk si Greta sendiri. Bayangkan sekuen ‘pertarungan terakhir’ dalam film horor, nah babak ketiga Greta terasa seperti ‘pertarungan akhir’ yang dipanjangin duapuluh menitan. Completely mengubah arahan film. Dari yang tadinya nyaris seperti in-depth look of characters – materi film art lah kalo boleh dibilang – menjadi semacam horor ‘ditangkap pembunuh gila’ yang sukar dipercaya dan cenderung dilebay-lebaykan biar seru. Bukannya horor seperti demikian jelek, hanya saja tokoh utama seharusnya tetap aktif. I mean, bahkan tokoh utama film Misery (1999) yang kakinya udah patah aja masih bisa menyetir cerita dan tidak lantas berubah menjadi orang yang tidak bisa menyelamatkan diri sendiri.

 

 

 

But of course, thriller seperti demikian memanglah menarik. Bara suspens di dalam cerita masih terus dikipas menyala. Film ini jago dalam menangkap kengerian. Dua pemain utamanya pun bertindak sebagai pilar kembar yang kuat yang menopang penceritaan. Film seharusnya terus mengeksplorasi dinamika hubungan mereka. Tapi kita dapat merasakan limitasi pada penggarapan. Cerita seperti menghindari untuk menggali lebih dalam. Jadi, ia kembali muncul ke permukaan, dan stay bermain di sana. Menjadikan film menjadi serangan teror ‘orang gila’ biasa yang asik sesaat dan kita ignore di kemudian hari, sampai akhirnya terlupakan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for GRETA. 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian kebebasan orang lain itu penting? Apakah kamu pernah merasakan kebebasan kamu dibatasi?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

ALADDIN Review

“Freeing yourself by freeing others.”

 

 

 

Meminta sejuta permintaan lagi ketika diberikan jatah tiga permintaan, sekilas memang terdengar seperti ide yang cemerlang. Karena dengan begitu kita bisa punya permintaan tak-terbatas, kita bisa meminta apa saja yang kita kehendaki. Duit, ketenaran, kekuasaan, pendamping yang cakep; Dengan segala permintaan tersebut, kita dapat hidup sebebas-bebasnya! Tapi jika dipikirkan dengan akal yang sehat, toh tidak bakal ada yang namanya kekuatan atau kebebasan tak-terbatas. Walaupun kita punya permintaan sebanyak bintang di langit. Hal itu karena kebebasan kita eventually akan bertubrukan dengan orang lain. Hak asasi yang kita junjung pada akhirnya akan dibatasi oleh hak asasi orang lain. Dan semestinya tidak ada kekuatan yang lebih besar yang bisa kita minta untuk menghapus hak asasi dan kebebasan orang tersebut.

Aladdin, sama seperti versi animasi originalnya tahun 1992, berkata bahwa setiap orang punya hak untuk mendapat kebebasan. Setiap masalah yang timbul dalam film ini, selalu berasal dari satu kebebasan tokoh yang dilanggar. Film ini menunjukkan masyarakat yang ideal harusnya adalah masyarakat yang mencapai suatu keadaan di mana kehendak dan kebebasan penduduknya berada dalam posisi yang seimbang dengan kesempatan, juga kekuatan dari penguasa.

 

Secara cerita, Aladdin garapan Guy Ritchie memang sama persis dengan film originalnya. Konfliknya juga kurang lebih sama. Aladdin si pengutil jalanan jatuh cinta kepada Jasmine yang seorang putri sultan. Namun harapan belum sirna bagi Al, lantaran dia menemukan lampu ajaib berisi jin superlebay kocak yang bisa mengabulkan tiga permintaan. Aladdin meminta untuk menjadi pangeran supaya bisa berkelit dari hukum dan pandangan sosial berupa Putri mesti menikahi keluarga kerajaan.Namun di luar niat awalnya, permintaan Aladdin kemudian menjadi semakin egois, dan keadaan menjadi tidak bisa lebih berbahaya lagi saat lampu jin ajaib tersebut jatuh ke tangan penasehat kerajaan yang jahatnya luar biasa.

kata Aladdin jangan mau diperalattin

 

Tak pelak, sebagian besar dari kita mungkin sudah sangat akrab dengan jalan cerita Aladdin. Bahkan film live-actionnya ini sendiri tahu persis akan hal tersebut. Makanya kita melihat mereka memulai cerita dengan cepat; Literally lewat montase yang diiringi oleh lagu “Malam di Araaaaaab, seperti siangnyaaa”. Film mengasumsi semua penonton mereka hapal tokoh-tokoh cerita di luar kepala. Kita tidak diberitahu lagi kenapa Jasmine menyamar masuk ke pasar. It could be a right thing, karena Aladdin sendiri juga saat itu belum tahu siapa Jasmine, dan cerita bertahan di sudut pandang Aladdin. Tapi ini sedari 1992 adalah cerita yang kompleks soal kebebasan individu yang bisa saling berkontradiksi. Cerita Aladdin butuh untuk memperlihatkan banyak sudut pandang, karena setiap tokoh di dalamnya – yang berasal dari kelas sosial yang berbeda – berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan.

Aladdin si tikus jalanan yang untuk makan saja harus mencuri punya kebebasan semu dalam hidupnya; hanya karena tidak ada yang peduli kepadanya. Masyarakat memandang rendah dirinya. Aladdin boleh saja punya waktu yang luang, bisa semau-gue seenaknya, tapi dia tidak punya privilege. Tidak ada kesempatan untuknya menjadi lebih dari yang ia punya sekarang. Jika dia punya mimpi, dia tidak ada daya dan kesempatan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Keadaan Aladdin ini bertimbal balik sama keadaan Jasmine. Putri yang punya semua materi tetapi amat sangat terbatas dalam gerakan. Pasangan hidupnya saja ditentukan oleh hukum istana. Jadi, kaya raya juga tidak menjamin kebebasan. Sebab tanpa kebebasan untuk bergerak, segala privilege itu pada akhirnya menjadi sia-sia. Bukan hanya tokoh manusia, Genie si Jin justru yang paling terkekang daripada semua. Genie bisa apa pun, mulai dari mengubah monyet menjadi gajah hingga membuat Aladdin bisa menari. Genie adalah tokoh terkuat, sihirnya tiada banding, tapi dia adalah pelayan. Tidak bisa bergerak sebelum diperintah. Dia bahkan tidak bisa membebaskan dirinya sendiri dari dalam lampu. Gelang yang ia kenakan bagi kita adalah perhiasan, namun baginya adalah belenggu. Dari Jasmine dan Genie kita tahu, kekayaan dan kekuatan bukan lantas ekual kebebasan

Selama dua jam lebih delapan menit durasi film ini, para karakter belajar mengenai apa sebenarnya makna kebebasan. Bagaimana cara mereka bisa bebas. Film animasi yang original hanya berdurasi sekitar sembilan-puluh menit. Plot-per-plot film tersebut berjalan dengan sangat ketat. Kita dapat mengerti keparalelan perjalanan para tokoh tersebut. Kita mengerti dosa terbesar Aladdin ialah percaya bahwa dengan menjadi kaya – berpura-pura menjadi Pangeran merupakan jawaban masalahnya. Aladdin tidak mengerti Jasmine jatuh cinta bukan karena statusnya, Aladdin gagal melihat Jasmine tidak mau dibeli dengan patung unta emas dan selai, melainkan Jasmine tertarik oleh kebebasan mengendarai permadani terbang. Maka Aladdin yang tak pernah punya apa-apa, menjadi sayang untuk meninggalkan apa yang sudah ia dapatkan dari lampu. Aladdin menganggap teman-temannya, Genie sebagai barang kepunyaan. Tahu gak apa yang terjadi pada barang-barang kepunyaan kita? Barang bisa hilang, bisa dicuri. Aladdin nyatanya hanya selangkah lagi menjadi seperti Jafar yang tidak menghormati kebebasan orang – dia pakai ilmu hipnotis untuk memuluskan rencananya! Bagi Jafar; kekuasaan adalah yang terpenting, dia tidak mengerti bahwa tanpa kebebasan maka kekuasaan tiada artinya.

Ketika kita menggunakan kebebasan orang untuk kepentingan diri sendiri, menganggap kita memiliki mereka, maka semua hal tersebut akan menjadi bumerang bagi diri kita. Jafar, contohnya. Aladdin juga hampir, jika ia tidak segera belajar untuk peduli sama Genie. Makanya, ‘membebaskan’ orang sejatinya adalah tiket menuju kebebasan diri kita sendiri. Tidak akan ada yang bisa benar-benar hidup bebas tanpa terganggu sampai semua hak dan kepentingan setiap orang diperhatikan.

 

Semua poin tersebut ada pada Aladdin versi live-action ini. Hanya saja dengan begitu lowongnya durasi, film memasukkan elemen-elemen baru. Salah satu yang paling menonjol adalah karakter si Jasmine. Wanita mandiri ini diberikan motivasi yang lebih kuat, yang lebih relevan. Dalam film ini, Jasmine juga punya keparalelan dengan tokoh Jafar. Jasmine dan Jafar essentially menginginkan hal yang sama. Dan memang sih, membuat film ini punya sesuatu yang fresh. You know, karena jaman sekarang film harus nunjukin karakter wanita yang kuat. Tapi, elemen ini gak begitu klop banget sama tema ‘membebaskan orang’ yang jadi nyawa utama film. Karena Jasmine ingin membuat things better untuk dirinya dengan usahanya sendiri. Di duapertiga film ada adegan Jasmine dengan Jafar yang membuatku speechless (yes, pun is very-well intended!) Terasa seperti dijejelin banget supaya ceritanya bisa diperpanjang. Naomi Scott bukannya jelek meranin Jasmine. In fact, aku bakal dirajam kalo bilang Scott jelek, di mana pun. Scott terlihat berusaha maksimal menghidupkan Jasmine versi baru ini. Hanya saja, penambahannya kayak setengah niat. Mestinya jika memang punya gagasan baru yang hendak diceritakan, ya bangun saja cerita baru berdasarkan gagasan tersebut. Jadikan Jasmine dan motivasinya sebagai sudut pandang utama. Jangan kayak ditambahin sekenanya seperti kayak ngisi lubang kosong.

Nostalgia bukan berarti kita punya free-pass buat tereak ikutan nyanyi di bioskop “Sambiiiiitt, Pangeran Ali!”

 

Sekiranya hal tersebut bersumber pada masalah pelik ketika kita menggarap remake dari sesuatu yang sangat sukses; Kita ingin membuatnya menjadi sesuatu yang baru sekaligus masih tetap stay true sama original. Paradoks. Dan sebagus-bagusnya kita mengrecreate, tetap saja yang bagus tadi itu sebenarnya hanya ‘nyontek yang dibolehin’. Serupa pula terasa pada adegan-adegan nyanyi pada film ini. Lagu A Whole New World, lagu Prince Ali; karena berusaha untuk enggak tampak dan terdengar sama-sama bgt ama versi aslinya, film mengubah susunan adegannya, sehingga pace lagunya jadi terdengar aneh. Lagu-lagu itu terasa singkat, sudah beres sebelum sempat membekas. Dan arahan adegan musikalnya sendiri pun lumayan aneh. Alih-alih banyak bermain dengan kamera, film malah bermain dengan kecepatan frame. Ada beberapa lagu dengan tari-tarian yang gerakannya seperti dipercepat. Sungguh aneh mengapa sutradara melakukan hal tersebut, masa iya sih karena waktu?

Tadi aku sempat bilang dosa terbesar Aladdin adalah percaya ia harus terus berbohong sebagai pangeran yang kaya. Aku mau ralat. Dosa terbesar Aladdin adalah membiarkan Mena Massoud dicast menjadi dirinya. Mentang-mentang Aladdin dalam film ini sama persis dengan versi animasi, Massoud jadi berdedikasi sekali menirukan gestur-gestur Aladdin animasi untuk menghidupkan Aladdin ‘beneran’. Yang mana menjadikan Aladdin terlihat bego, canggung, dan kaku. Yang jadi Jafar juga sama parahnya, malah lebih. Marwan Kenzari dengan tongkat hipnotisnya sama sekali tidak tampak meyakinkan sebagai manusia yang licik dan berbahaya. Jafar juga bego sekali dalam mengaplikasikan ilmu mindahin orang yang ia punya. Ironisnya, orang yang bertubi-tubi dicemo’oh saat trailer film ini rilis, justru menjadi penyelamat film ini. Jika gak ada Will Smith, niscaya film ini akan garing sekali. Dan aku bukan penggemar Will Smith. He’s not a better Genie than Robin Williams. Smith cringey ketika menjadi jin biru, tapi mendingan dan benar-benar mewarnai film ketika dia sudah masuk ke wujud manusia alis mode: om jin.

 

 

 

 

Film ini berjuang terlalu keras untuk menghidupkan animasi ke dunia nyata. Between CGI, adegan nyanyi yang dipercepat framenya, kamera yang sebagian besar hanya ngintilin jalan, dan permainan akting yang kaku; dunia film ini tidak pernah mencuat seperti dunia beneran. Yang mana berarti maksud mereka bikin live-action kurang kesampaian. Agrabah dan masyarakatnya hanya terasa seperti latar – lapangan untuk berparkour ria. Semuanya terasa kurang hidup. Bahkan Arab-nya sendiri agak-agak keindian yang membuktikan keignoran Hollywood – I mean, bahkan di WWE pun superstar Arab dan India biasanya dikasih moveset yang sama (Camel Clutch) seolah mereka gak tahu bedanya apa. Film terasa kesulitan bergerak antara harus sesuai dengan versi asli dengan harus tampak baru. Maka mereka fokus memoles alih-alih membangun. Semua yang bagus dalam film ini sudah pernah kita lihat sebelumnya. Dan mereka lebih seperti pertunjukan yang melakukan reka ulang alih-alih menghidupkan. Still, alot of people will enjoy it. Tapi nyatanya, setelah semua perayaan dan kembangapi di ending itu, ternyata ada satu yang belum punya kebebasan untuk menjadi dirinya sendir; ya film ini sendiri.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ALADDIN. 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian kebebasan orang lain itu penting? Apakah kamu pernah merasakan kebebasan kamu dibatasi?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

Money in the Bank 2019 Review

 

Desperate times call for desperate measures.

 

Beberapa minggu yang lalu, acara Raw berhasil mengeset rekor baru: jumlah penonton paling sedikit dalam musim yang bukan musim liburan, ataupun musim football. Raw hanya mampu menggaet 2.16 juta penonton padahal mereka lagi tidak punya pesaing. Tentu saja petinggi WWE menjadi kalang kabut. Tanpa ada persaingan langsung yang dapat menimbulkan kekacauan yang menarik minat, WWE merasa perlu untuk mengacak-ngacak sendiri produk mereka. Dengan harapan, keadaan chaos dapat menghasilkan ketertarikan. Maka kita dapat wild-card rule; yang basically menggonjang-ganjing kestabilan roster WWE – Raw dan Smackdown karena wild-card rule memperbolehkan superstar tertentu dari brand satu menyebrang ke brand lain. Di sini aku tidak akan mengatakan program wild-card tersebut efektif atau tidak – Vince McMahon brilian atau idiot – I’ll leave the judging to you all. Poinku adalah, comes Money in the Bank, WWE tampak semakin desperado.

Money in the Bank justru akan bersaingan langsung dengan episode finale salah satu serial televisi paling mainstream; Game of Thrones. Dan WWE bukannya tidak menyadari hal tersebut. Superstar WWE Drew McIntyre bahkan cukup blak-blakan di sosial media mengajak para fans untuk memilih MITB ketimbang GOT karena bakal ada kejutan. WWE sendiri, dalam usahanya untuk membuat pertunjukan menjadi lebih menarik minat benar-benar terlihat seperti berusaha keras membuat setiap pertandingan dalam MITB punya unsur mengejutkan, dalam sense tak terduga.

Chaos utama yang mereka jadikan fondasi acara ini adalah huru-hara misterius di backstage yang menyebabkan pertandingan MITB Cowok kekurangan satu peserta; siapa peserta penggantinya? Bukanlah misteri yang buruk sebenarnya. Jika WWE lebih berfokus kepada pengembangan, dan mengungkap perlahan, alih-alih kepada efek pengungkapan dahsyat, kupikir storyline yang menjadi latar acara ini akan dapat berkembang menjadi elemen yang menarik. Tapi tidak. Dalam eksekusinya, WWE seperti takut penonton gak akan menunggu hingga acara habis jika mereka membeberkan jawaban ‘siapa’ tadi. Maka mereka menunggu hingga menit-menit terakhir untuk mengungkapkannya. Supaya rating mereka bisa stabil lantaran penonton dipaksa untuk penasaran dan menonton hingga habis. Membuat kita terpaksa menonton salah satu pertandingan tangga MITB paling berpotensi menjadi hebat tapi pada akhirnya terasa seperti balon yang bocor; kempes.

Brock Lesnar adalah orang paling pintar dalam bisnis gulat hiburan

 

Aku sendiri sebenarnya akan excited abis melihat Brock Lesnar bertanding dalam pertandingan tangga dengan tujuh superstar. Surely, itu bakal jadi pertandingan paling langka. Aku gak ingat Lesnar pernah main match tangga sebelumnya. Bahkan dapat membawa karakternya ke dalam arahan yang berbeda. Problemku bukanlah kepada Lesnar yang tiba-tiba datang; bahwa dia ternyata masih kontrak dengan WWE. Masalahku adalah mereka membuat kedatangan Lesnar menghancurkan kerja para peserta lain yang udah susah payah membuat pertandingan tersebut menarik. Ini seperti film yang sedari awal membahas A untuk kemudian memunculkan B yang menegasi semuanya. Kenapa WWE tidak membuat Lesnar beneran bertanding saja dari awal match. Perkenalkan dia sebagai peserta pengganti – misteri siapa yang nyerang Zayn bisa tetap hidup karena belum tentu Lesnar yang melakukan. Akan menjadi sama menariknya kan, tanpa mengurangi nilai apapun dari match tersebut. I mean, Lesnar melawan Corbin, Ricochet, Balor, McIntyre, Ali, Andrade, Orton would hardly be a bad contest, right? Efek yang WWE incar pun akan bisa tetap tercapai. Jika WWE ingin membuat Lesnar dibenci, membuat Lesnar seperti mengejek wajah kita masing-masing, toh tidak ada salahnya membuat dia bertanding beneran. Lesnar bisa saja menjadi seperti Thanos di Avengers: Infinity War (2018). Bikin semua peserta memburu dirinya, tapi dia terlalu kuat. Kita yang menontonnya akan otomatis kesal melihat Lesnar berhasil selamat dari keroyokan, sebab naturally kita semua enggak mau orang ini menang dan jadi juara lagi. WWE seharusnya mengeksplorasi drama dari peristiwa selangka monster langganan juara seperti Lesnar ini ikutan bermain di Money in the Bank ladder match. Tapi seperti halnya film-film horor lokal yang males, WWE lebih tertarik untuk menonjolkan twist.

Ada banyak keputusan aneh seperti demikian kita jumpai dalam acara ini. WWE aware sama isu-isu dan potensi konflik yang mereka punya, tapi mereka memilih cara memutar demi membuat kita lebih lama menyaksikan – wishing semuanya bakal make sense di akhir. Mereka seperti kehilangan percaya diri untuk bercerita dengan lurus. Adegan Dana Brooke yang literally climbing down saat sedang berusaha meraih koper dengan sempurna menggambarkan keseluruhan acara ini buatku. Membuat Mysterio membalas kekalahan-cepatnya di Wrestlemania, tapi dengan kemenangan kontroversial adalah contoh lainnya. Bukannya tidak menarik, hanya saja aneh. Saking anehnya aku merasa lebih terhibur melihat interaksi antara Elias dengan Roman Reigns leading up to their 10-seconds match.

Yang paling menarik adalah apa yang terjadi kepada divisi cewek yang mendadak punya hero baru. Aku turut senang dan mengucapkan selamat kepada Bayley yang setelah acara ini berakhir menjadi superstar cewek pemegang gelar Triple Crown pertama – dia satu-satunya superstar cewek yang sudah pernah menyandang semua gelar yang tersedia di divisi wanita. Sirkumtansinya sebenarnya sungguhlah kocak. Semua pertandingan cewek di acara ini berfungsi sebagai platform untuk ngepush Bayley, dan kita semua tahu hal tersebut dilakukan WWE sebagai acungan jari tengah untuk Sasha Banks. Bayley dan Sasha dilaporkan protes karena mereka dibooking kalah di Wrestlemania; hanya saja Bayley masih stay profesional sementara Banks ‘pundung’ dan gak pernah terlihat di tv lagi sejak saat itu.

Kita tahu kemenangan gede Bayley di MITB ini adalah cara WWE menyampaikan pesan bahwa kita tidak selalu bisa langsung mendapatkan yang kita inginkan, tapi yang harus terus diingat adalah kerja keras dan kesabaran tidak akan mengkhianati hasil.

dan bahwa WWE masih mampu untuk membuat orang sukses dalam satu malam, kalo WWE mau.

 

Becky Lynch yang lagi hot-hotnya pun harus rela sedikit teredupkan. Becky mengemban dua match kejuaraan di acara ini, yang inti cerita tokohnya kali ini adalah dia harus menyadari bahwa ada beberapa hal yang terlalu besar untuk ia lakukan. Cerita yang menarik sebenarnya. Aku juga suka gimana WWE membentrokkan The Man dengan The Lady – Lacey Evans punya gimmick yang keren, dia seperti feminis antagonis dengan Women’s Right sebagai jurus andalan, ha! Tapi kedua match Becky dalam acara ini terasa kurang berapi. Hanya cukup sampai di level maksud ceritanya bisa kita mengerti. Tidak banyak urgensi, atau bahkan aksi yang bisa kita nikmati. Dua match tersebut terasa sama seperti kejuaraan Cruiserweight antara Tony Nese melawan Ariya Daivari, juga kejuaraan WWE antara Kofi Kingston melawan Kevin Owens; kurang dramatis dan lebih berfungsi sebagai pengulur waktu daripada bercerita.

One of the better storytelling pada acara ini adalah partai antara The Miz melawan Shane McMahon. Meskipun cerita mereka lumayan annoying – yang kita harap cepat berakhir – yang malah kita sangka sudah berakhir tapi ternyata lanjut berkat rule wild-card yang kusebut di atas. Yang paling top adalah kejuaraan universal antara AJ Styles melawan Seth Rollins. WWE berhasil menemukan bentrokan menarik di antara mereka berdua, di luar fakta bahwa dua superstar ini memang yang kerja ringnya paling asik dilihat. Styles didub sebagai pembangun Smackdown, menantang Rollins jawara Raw yang kerjaannya nge’burn it down’. Match mereka berhasil ngedeliver banyak emosi, juga intensnya urgensi. Kita pengen tahu dan sangat terinvest soal siapa yang lebih baik di antara keduanya. Dan WWE punya nyali untuk mengakhiri match tersebut dengan keputusan yang bulat dan bersih.

 

 

 

Seperti saat melihat Carmella mendorong Mandy Rose yang kebingungan untuk menjauh, kita lebih banyak bingung keanehan enggak yakin apakah WWE sengaja merusuh atau semuanya jadi rusuh lantaran WWE panik oleh perolehan rating. Menonton Money in the Bank terasa seperti demikian buatku. It delivers fresh events and rather interesting stories, hanya saja mereka melakukannya dengan aneh. Matchnya pun terkadang terasa kurang bertenaga. Hanya ada satu yang beneran sukses menyedot penonton, membuat kita merasa puas setelah dibuat naik turun oleh hebohnya aksi. The Palace of Wisdom menobatkan Universal Championship antara Seth Rollins melawan AJ Styles sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

Full Results:
1. MONEY IN THE BANK Bayley unggul atas Carmella, Mandy Rose, Naomi, Ember Moon, Natalya, Dana Brooke, dan Nikki Cross 
2. UNITED STATES CHAMPIONSHIP Rey Mysterio merebut sabut Samoa Joe
3. CAGE Shane McMahon cengengesan setelah kemenangan terlepas dari tangan The Miz.
4. CRUISERWEIGHT CHAMPIONSHIP Tony Nese bertahan dari Ariya Daivari.
5. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Becky Lynch mempertahankan sabuknya dari Lacey Evans
6. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Charlotte mengambil sabuk dari Becky Lynch. Tapi tidak lama sebab,
7. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Bayley ngecash-in kopernya dan jadi juara baru ngalahin Charlotte
8. SINGLE Roman Reigns menang dari Elias.
9. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Seth Rollins bertahan atas AJ Styles.
10. SIX MEN TAG TEAM, etapi gak jadi karena Lucha House Party diporak porandakan oleh Lars Sullivan
11. WWE CHAMPIONSHIP juara bertahan Kofi Kingston mengalahkan Kevin Owens
12. MONEY IN THE BANK Brock Lesnar meledek wajah Baron Corbin, Ali, Drew McIntyre, Finn Balor, Randy Orton, Andrade, Ricochet, dan wajah kita semua 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

AMBU Review

“Maturity doesn’t mean age.”

 

 

Dunia emang lagi panas. Orang pada emosian. Sekarang setiap argumen dapat dengan cepat berubah menjadi kontes tinggi-tinggian suara. Di mana-mana dapat dijumpai orang berantem. Di diskotik. Di jalanan. Di rumah Nona. Ibu dan ayahnya yang padahal udah enggak serumah lagi, selalu berantem setiap kali si ayah datang minta duit. Kayak orang pacaran aja. Nona sendiri juga sering sih, jutek-jutekan sama ibunya. Tapi kan dia memang masih anak SMA. Salah ibunya sendiri enggak mau berusaha ngertiin dia. Nona yang lebih suka keluar malam itu mana bisa tau kalo ibunya ternyata sudah menjual bisnis katering, mobil, hingga rumah mereka. Sehingga kini Nona dibawa sang ibu pergi ke rumah nenek di kampung Baduy, yang btw bahkan Nona enggak tahu nenek ternyata masih hidup! Sialnya, ternyata nenek Nona juga jutek banget. Lebih dari ibu. Uh, mana tahan Nona tinggal di kampungnya yang banyak aturan. Mana betah Nona di rumah ngeliat nenek ngobrol dingin-dinginan ama ibu, Nona juga gak ngerti mereka ngomongin apa! Ibu gak pernah ngertiin Nona. Gak pernah nanya Nona maunya apa. Masa iya Nona mesti tinggal selamanya di kampung sama nenek yang galak sih?

filmnya kayak desa Smurf; banyak warna birunya

 

Bagi Nona, Ambu adalah cerita fish-out-of-water. Secara mendadak, dia harus meninggalkan zona nyamannya di kota, di tempat di mana dia bisa menghindari ibu dengan gampang. Nona adalah kita dalam film ini. Yang menonton masalah yang terjadi di antara ibu dan neneknya. Berkaitan dengan masa lalu yang tidak ia ketahui karena keluarga Nona adalah keluarga yang turun temurun takut untuk menghadapi konflik. Mereka lebih memilih tidak bertanya duluan, dan jika terdesak, maka akan mulai bersifat agresif. Alih-alih menanyakan langsung, Nona lebih nyaman bertanya kepada tetangga di kampung. Dalam membahas tentang betapa beratnya kadang komunikasi di dalam keluarga, film juga sekalian mengajak kita – lewat Nona – melihat fenomena lain. Yakni tentang menikah dalam usia muda. Cerita dalam film ini mengambil tempat di lingkungan kampung Baduy, di mana normal bagi seseorang di sana untuk menikah saat berusia belasan tahun. Meskipun film menyebut sekarang ada batasan usia untuk pernikahan dalam adat di kampung mereka dan nikah dini itu terjadi di masa lalu, cerita film ini tetap terasa dekat dan happening. Relevan. Karena toh belakangan lumayan marak kita temui ajakan untuk menikah muda di sosial media. Film ini berkapasitas untuk menjadi jendela supaya kita dapat melihat salah satu kemungkinan yang bisa terjadi jika sepasang muda-mudi memilih untuk menikah muda. Dan tentu saja, bagaimana dampaknya terhadap keluarga besar mereka. Nona sendiri adalah seorang anak muda yang terlahir dari pasangan yang menikah di usia belia. Makanya jangan heran kenapa film ngecast Laudya Cynthia Bella sebagai ibu dari Lutesha, padahal usia mereka tidak terpaut begitu jauh.

Nikah muda berkaitan dengan sebab kenapa komunikasi dalam keluarga Nona bisa broken seperti demikian. Karena pelaku-pelaku rumah tangganya masih belum cukup dewasa. Secara emosional, tentunya. Yang ingin dikatakan oleh Ambu adalah kadang kita belum cukup matang untuk bisa melihat kita masih gagal dalam usaha bertumbuh untuk menjadi dewasa. Bukan hanya orang-orang yang secara fisik masih muda yang gemar berantem. Karena memang enggak gampang untuk mencapai kematangan emosional. 

 

Nona harus belajar untuk menjadi dewasa, dialah yang punya tantangan paling berat untuk hal tersebut karena dia masih remaja. Ketika ibu bahkan neneknya gagal, Nona dituntut harus berhasil. Karena jika tidak, dia sendiri yang akan paling banyak kehilangan. Gedenya stake dan konflik inilah yang membuat Nona dipilih sebagai tokoh utama cerita, meski memang naskah seharusnya bisa dikembangkan dengan lebih mengangkat dirinya sebagai protagonis. Nona kebanyakan bereaksi ketimbang beraksi. Tidak sampai pertengahan cerita dia baru benar-benar fully aware pada apa yang terjadi. Pada separuh awal, cerita akan membawa kita selang seling; Antara ibu dan nenek yang berusaha come in terms dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu yang membuat hubungan mereka renggang, dengan Nona yang menjalani hidup baru di desa, juga ada sedikit elemen romansa. Dua tersebut tidak terasa paralel hingga midpoint.

Pada beberapa titik cerita, posisi tokoh utama bisa disematkan ke ibu, atau ke nenek. Ibu yang punya motivasi paling jelas sedari masuk babak kedua. Tapi tokoh ini punya rahasia sehingga kita tidak bisa terus berada di sudut pandangnya. Nenek atau Ambu yang diperankan menakjubkan oleh Widyawati adalah tokoh yang melakukan keputusan-keputusan besar yang menggerakkan alur, tapi motivasinya gak terlalu jelas sebab dia masuk di cerita karena keputusan dari tokoh lain. Di antara tiga tokoh sentral ini, Nona adalah tokoh yang keberadaannya paling konsisten, dia juga yang harus kehilangan satu benda yang paling ia sayangi, kejadian di akhir cerita juga terjadi berkat ulahnya, tapi dia tetap kurang kuat karena naskah seperti membagi-bagi porsi. Ini menurutku masalah yang cukup lumrah terjadi kepada cerita yang ingin menunjukkan tiga sudut pandang sebagai poros tengah. Alih-alih tetap meletakkan kendali; plot poin yang menjadi majunya cerita harusnya tetap pada satu orang sudut pandang utama, Ambu malah membagi porsi di plot poin ini sehingga tiga-tiganya malah sama-sama kurang kuat sebagai tokoh utama.

Melihat tokoh-tokoh ini berusaha rekonek sangat mengundang simpati. Posisi ibu yang ingin meminta kembali perhatian nenek, sekaligus ingin anaknya menunjukkan cinta kepada dirinya. Momen saat kita menyadari Nona kepada ibunya adalah refleksi ibu kepada nenek saat mereka masih muda dulu. Film punya momen-momen kuat. Treatment interaksi antartokoh sangat dipertimbangkan. Kamera juga peka sekali menangkap hal tersebut dengan cara yang indah. Misalnya seperti shot dari atas rumah yang memperlihatkan tiga tokoh ini, berada di ruangan terpisah, tapi saling memikirkan keadaan masing-masing. Film ini punya visualstorytelling yang sangat engaging dan elegan. Permainan cahayanya juga menawan, meski untuk aspek ini aku gak mau komentar banyak karena belum yakin apakah cahaya itu alami atau hasil efek suntingan. Namun apa yang mereka shot; semuanya cantik. Secantik permainan aktingnya.

kopernya kayak beneran berat.. atau mungkin memang berat, makanya urat di tangan ibu pada keluar

 

Namun semua pencapaian teknis tersebut bisa dengan gampang teroverlook, lantaran film agak terlalu menonjolkan bagian-bagian yang dramatis. Film ini gemar sama adegan menangis. Bahkan ketika Nona tidak menangis pun, adegannya sebenarnya sedang tangis-menangis. Sepuluh menit pertama jor-joran untuk memeras air mata kita. Ini tentunya dapat menjadi penyebab turn-off buat beberapa penonton. Di bagian selang-seling antara Nona dengan ibu dan nenek yang kutuliskan tadi, tone sedih dengan tone curious ini terasa gak nyampur sehingga aku merasa terlepas setiap kali cerita berpindah. Musiknya juga lumayan over. I mean, kalo di layar sudah ada adegan orang terduduk sambil berurai airmata setelah dibentak oleh anaknya, menggunakan musik yang sedih membuat keseluruhannya terasa overkill. Pancingan dramatisasinya ini menurutku seharusnya bisa lebih diatur lagi pacingnya. Karena film ini sebenarnya punya selera humor yang unik.

Bukan hanya pada Enditha yang memainkan tokoh Hapsa; sahabat kecil ibu Nona, candaan dilontarkan. Melainkan juga pada bagian-bagian yang begitu subtil. Seperti ketika film berulang kali bermain-main dengan antisipasi kita “wah jangan-jangan si itu mati”, ternyata tidak. Keimmaturean Nona, sifat yang penting bagi tokoh ini, juga salah satu kelucuan yang digambarkan dengan menarik. Persona tokohnya ini konsisten, perubahan besar pada dirinya adalah perubahan value yang benar-benar menunjukkan kematangan. Dan menurutku transformasi Nona di film ini – progres tokohnya – tergambar dengan baik. Di awal-awal kita melihat dia berusaha nyalain lampu semprong, dengan memasukkan api dari atas corongnya. Di akhir, ketika dia mengetahui rahasia ibunya dan reaksinya punya undertone kocak “ini mandiinnya gimana..?” Dua tindakan itu mencerminkan sifat kekanakan Nona, tapi kita bisa merasakan value terhadap tindakannya itu sudah berbeda. Pertanyaan Nona di adegan menjelang akhir tadi justru menunjukkan reaksinya sebagai orang yang sudah lebih matang dalam menghadapi kenyataan; dia menggunakan kekanakannya sebagai coping mechanism, tidak lagi sebagai senjata ego.

Film bahkan butuh tokoh yang one-dimensional jahat untuk menghantarkan tiga tokoh ini kepada resolusi cerita. Kalo tokoh yang diperankan oleh Baim Wong enggak muncul dan marah-marah, mukul-mukul, bikin keributan di kampung adat itu, tiga tokoh kita sampai sekarang masih belum eye-to-eye. Belum jujur sama rasa cinta terhadap masing-masing. Cerita menyugestikan mereka butuh untuk ribut gede supaya semua plong dan jelas. Mereka perlu ‘musuh yang sama’. Dan mengingat tiga tokoh kita adalah wanita, kemunculan cowok menjadi pembuka jalan, mungkin bakal membuat para feminis sedikit ketrigger. Bukan cuma satu tokoh ini loh. Ada satu lagi tokoh cowok yang fungsinya memang untuk membantu Nona supaya bisa melihat hidup dari sudut lain, demi menjadi pribadi yang lebih baik. Tokoh orang di kampung yang menemani Nona jalan-jalan berkeliling daerah sana setiap hari, yang jadi pelarian Nona dari ibu dan neneknya, si Jaya yang diperankan oleh Andri Mashadi bisa kategorikan sebagai trope manic pixie dream guy. Jaya adalah sosok pria sempurna, perwujudan laki-laki yang matang dan berpikiran dewasa, yang diidamkan oleh Nona karena yang selama ini ia lihat dalam hidupnya adalah pria-pria immature pengecut yang hobi mukul wanita. It would be nice jika Jaya diberikan konflik sendiri, sehingga kehadirannya tidak sekadar untuk membantu tokoh cewek

 

 

 

 

Sukses menjadikan adat budaya sebagai nafas cerita, film yang ditangani oleh sutradara Farid Dermawan tampak mengolah materi dan gagasannya dengan cukup matang. It has one of the better storytelling yang bisa kita dapatkan dalam drama-drama keluarga belakangan ini. Film punya sepatah dua patah kata yang akan membuat kita semakin menghargai ibu kita masing-masing. Yang terjadi pada film ini bisa saja lebih dekat kepada kita dari yang kita kira, meskipun kadang bisa terasa lebih seperti fantasi. Konfliknya dramatis banget. Arahannya jor-joran menguatkan kejadian-kejadian yang emosional. Yang beberapa bisa berujung ke hal-hal yang gak make sense buat beberapa orang. Kadang bisa agak terlalu intens. Membuat kita overlooked banyak hal-hal menarik lain yang dipunya oleh film ini. Beberapa karakter juga mestinya bisa ditulis dengan lebih baik lagi. Seperti kain-kain desa Baduy itu, film ini punya corak yang unik. Tapi tidak seperti kain-kain tersebut, film ini masih ditenun dengan kurang rapi.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for AMBU. 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian, apa sih ciri-ciri orang yang tidak dewasa itu? Mengapa menurut kalian bersikap dewasa dalam suatu hubungan itu penting?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM Review

“A man’s life is about keeping rules, breaking them, and making new ones.”

 

 

Dunia profesional John Wick adalah dunia ‘bawah tanah’ yang penuh darah. Tapi bukan lantas berarti dunia mereka amburadul. Malah mungkin lebih teratur daripada dunia kita. Karena mereka punya kode etik sendiri. Dan mereka-mereka yang terdiri dari pembunuh bayaran, mafia, bandar narkoba tersebut benar-benar memegang teguh peraturan tersebut. “Karena tanpa aturan, kita adalah binatang” begitu kata salah satu petinggi High Table yang menjadi semacam lingkaran pemimpin mereka. Tapi John Wick melanggar peraturan penting di tempat paling sakral yang mereka miliki. Zona aman; sebuah hotel tempat para anggota dunia hitam bisa bersantai, mungkin sambil menyembuhkan diri, tidak ada yang boleh menjalanakan ‘bisnis’ mereka dalam bangunan hotel tersebut. Dan John Wick telah menumpahkan darah di sana.

Cerita film ini dibuka dengan John Wick, bersama anjing kesayangannya, berlarian di sepanjang kota berusaha untuk sampai ke suatu tempat sebelum waktu tenggat satu jam diberikan kepadanya habis. Wick dicabut dari keanggotaan, sekarang kepalanya ditempeli label harga empat-belas juta dolar sesegera mungkin saat satu jam tersebut habis. Wick akan diburu oleh anggota geng hitam dari seluruh sudut gang, seantero dunia. Bahkan bagi penonton yang belum pernah menonton dua film sebelumnya, Parabellum ini akan seketika menguarkan intensitas yang luar biasa. Stake dengan cepat dan efektif terlandaskan. Enggak banyak cing-cong, kita semua langsung tahu ini urusan hidup dan mati. Bahaya mengintai Wick di mana-mana. Kita dapat merasakan betapa besarnya dunia yang menjadi panggung cerita. Dengan John Wick di tengahnya, sendirian di tengah entah berapa banyaknya jumlah musuh. Kita melihat mekanisme komunikasi organisasi mereka bekerja. Kita diperlihatkan seberapa banyak dan besarnya keinginan orang-orang untuk menangkap John Wick. Hal-hal kecil seperti uang bounty yang dinaikkan, ataupun Wick yang terus melirik jam tangan, atau ketika dia harus merakit pistol yang ia temukan dengan cepat sebelum waktu habis, adalah cara film bermain dengan emosi kita. Sehingga kita merasakan desakan. Urgensi. John Wick bahkan diserang sebelum satu jam itu habis! Set up dan build up film ini diceritakan dengan begitu efektif sehingga yang baru sekali ini nonton film John Wick sekalipun akan dapat merasakan kepedulian dan simpati terhadap nobody yang sedang mereka saksikan.

Well, “That f-king nobody… is John Wick!”

 

Benar, kita datang membeli tiket film ini demi menyaksikan sekuen-sekuen aksi yang super-gilak (we’ll get to that later). Tetapi pembangunan dunianya inilah yang membuat kita betah untuk menyaksikan lagi, dan lagi, dan lagi. Sedari film originalnya, John Wick sudah sukses dalam membangun dunia. Lewat film-film John Wick, sutradara Chad Stahelski berhasil membuktikan bahwa film aksi yang brutal bisa kok ditampilkan elegan. Dia juga membangun ‘panggung’ untuk membuat kita penasaran sekaligus semakin tersedot ke dalam dunia cerita. Mengenai backstory John Wick saja, meskipun saat itu belum visual, tapi cerita yang mereka ceritakan dengan setengah-setengah dan bertahap itu membuat kita gak pernah berhenti menggelinjang. John Wick adalah mantan assassin. John Wick adalah seorang baba yaga (boogeyman) yang membunuh tiga orang dengan sebatang pensil. Kita tidak diperlihatkan bagaimana tepatnya, namun dari aksi yang ia lakukan kita tahu rumor tersebut benar seratus persen. Film tidak berhenti sampai di sana untuk mengeksplorasi karakter John Wick. Di film kedua kita beneran dikasih lihat John Wick menggunakan pensil untuk membunuh. Dan di film sekarang, mitos John Wick tetap terus dikembangkan; di film ini kita melihat John Wick membunuh orang dengan buku!

Peraturan, Hotel, dan organisasi High Table juga seperti demikian; dikembangkan secara bertahap. Pada film pertama – selagi kita menonton Wick yang udah keluar dari sana terpaksa harus masuk sebentar demi dendamnya – seolah hanya melihat pekarangan depan dari keseluruhan dunia hitam John Wick. Film kedua kita diperlihatkan dan diberitahu lebih banyak tentang istilah-istilah mereka, gimana dunia mereka bekerja, tapi itu seperti baru masuk ke ruang depan. Bahkan pada film ketiga ini pun kita belum beneran masuk ke ruang tengah; karena film ini dikembangkan dengan penuh gaya dan rancangan yang benar-benar memperhatikan emosi kita. Film membuat kita terus tertarik. Petualangan John Wick bermula oleh kejadian yang lumayan menggelikan, aku sendiri sempat meremehkan film pertamanya yang beranjak dari John Wick ngamuk lantaran mobilnya dicuri dan anak anjingnya dibunuh. Tapi elemen itu terus dengan bangga dikembangkan, diulang-ulang, menjadi bagian dari legenda John Wick. Karakter dan dunia dalam semesta film ini tak pelak akan menjadi seperti Keanu Reeves; immortal!

Sekilas memang terlihat seperti bergerak karena duit. Namun film sebenarnya ingin berbicara sesuatu yang lebih bernilai daripada lembaran uang. Para assassin, orang-orang yang jadi anggota High Table, mereka bergerak karena peraturan. Dengan subtil film menunjukkan kepada kita bahwa kewajiban untuk memenuhi peraturan itulah, ketakutan akan hukuman ketika melanggar hukum itulah, yang menjadi motor penggerak mereka. Dan kontrak di antara mereka-mereka itu bukanlah hitam di atas putih. Melainkan merah, on a cold hard medal.  Berakar pada balas jasa, kerjasama, sifat respek antara satu sama lain. Dunia di mana aksi dan konsekuensi benar-benar ditegakkan, tanpa pandang bulu. Strangely, dalam keadaan terbaiknya, film ini mampu membuat kita menghormati dunia hitam yang keji.

 

Stahelski sendiri memang sangat menghargai dunia action. Sebagai mantan stuntman, tentu dia paham betul bagaimana mengkoreografikan adegan-adegan berkelahi. Dan pada film ini, dia bekerja dengan lebih banyak lagi orang-orang yang sama-sama mencintai genre ini. Semua adegan aksinya benar-benar luar biasa. Dalam setiap film John Wick, selalu ada hal baru yang seketika menjadi memorable. Pada film ini, buatku adalah sekuen dengan kuda. Juga dengan anjing-anjing. Salah satu elemen favoritku yang terus dipertahankan oleh film adalah peluru yang benar-benar sedikit, yang beneran bisa habis. Aku suka melihat John Wick harus mereload senjata di tengah-tengah perkelahian, karena menambah sensasi keaslian. Serta ketegangan. Film ini menawarkan begitu banyak adegan-adegan mendebarkan. Yang direkam dengan wide shot. Enggak terlalu banyak cut. Bak-bik-buknya begitu in-the-face. Ada satu sekuen dengan sepeda motor yang membuatku teringat pada adegan di Final Fantasy VII: Advent Children (2005), bedanya adalah film ini dilakukan oleh orang beneran! Keanus Reeves, salut banget, melakukan hampir semua adegan tanpa aktor pengganti. Aku gak pernah bosen melihat John Wick menembak kepala orang-orang. Film membuat kita melihat perbandingan antara balet dengan berantem, yang mana menurutku sangat keren. Bicara tentang keren; aku yakin kalian semua merinding ketika Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman yang menyapa Wick dengan bahasa Indonesia. Peran kedua aktor tanah air ini dalam cerita memang enggak gede, tapi mereka diberikan momen tersendiri. It was so cool melihat film memberikan waktu kepada bela diri dan aktor Indonesia untuk bersinar.

Film ini punya set piece yang amazing. Warna-warnanya terlihat vibrant. Cahaya neon, lampu-lampu malam, di dalam air, dan pada satu poin cerita, kita juga dibawa ke panasnya gurun. Meskipun penggunaan ruangan kaca dalam film ini seperti pengulangan dari film yang kedua, secara aksi juga agak sedikit terlalu berkesan fantasi, tapi di sini filosofinya sedikit berbeda. Kali ini adalah soal John Wick yang melihat persamaan dirinya dengan para musuh, yang berkaitan dengan pembelajaran bahwa dia gak bisa lari dari siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik semua pembangunan dunia dan sekuen-sekuen aksi yang penuh gaya, film tetap berhasil menceritakan satu cerita yang utuh. Ada definitive end. Rahasia dan bigger picture mungkin masih belum terlihat, kita masih belum melihat semua anggota High End, tapi pada chapter ini karakter John Wick sudah menyelesaikan perjalanannya. Dia melanggar aturan, dan membuat yang baru demi dirinya sendiri. Dari yang tadinya pengen kabur, dia akhirnya menyadari dia tidak bisa pensiun dari siapa dirinya.

“Marhaban ya, John Wick!”

 

Kita bisa memahami bahwa Wick pada akhirnya harus dibuat kembali ke Hotel supaya arcnya dalam cerita ini bisa melingkar, Hotel haruslah menjadi medan perang terakhir, tapi kupikir harusnya ada cara yang lebih baik untuk menceritakan hal tersebut. Setelah midpoint yang di gurun itu, narasi Parabellum terasa agak ruwet. Film memilih untuk menampilan satu, katakanlah twist, yang membuat kita jadi ngangkat alis “jadi si dia baik atau tidak?” Menurutku impact dari twist tersebut justru jadi gak langsung mengena. Akan lebih on-point kalo Wick dibuat menerobos Hotel yang sudah menanti kehadirannya, dan kemudian dia sampai di atas, dan mereka berunding tanpa perlu ada elemen deceiving pada narasi. Keputusan film untuk bercerita seperti yang mereka lakukan membuatku jadi merasa seharusnya Parabellum adalah film terakhir, tapi kemudian mereka mengganti rencana dan memanjangkan cerita menjadi seperti ini.

 




Jika mau dibandingkan, film ini lebih terasa secara emosional daripada film keduanya. Stake dan rintangannya lebih kuat. Tapi tetep masih kurang nendang dibandingkan film pertamanya, terutama taraf kegenuine-annya. Film ketiga ini – tampil dengan nyaris non-stop intens dan begitu banyak sekuen aksi yang memorable – lebih terasa seperti fantasi, di mana kita menontonnya demi excitement saja. I mean, bahkan ada adegan Wick dan musuhnya pake jurus ilang-ilangan kayak ninja. Fun, tentu saja, tapi bobotnya terasa sedikit berkurang. Pembangunan dunianya masih mampu menimbulkan rasa penasaran, tetapi ceritanya terasa seperti sudah mentok, dan film ini memanjang-manjangkan. Buat penonton yang baru pertama kali merasai, though, petualangan John Wick akan terasa seperti baru akan dimulai.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM.

 

 




That’s all we have for now.
Dengan organisasi yang mengharuskan anggotanya untuk patuh peraturan biar gak kayak binatang, dan film ini semacam menjadikan anjing sebagai maskotnya, apakah ada perbandingan antara anjing dan peraturan yang bisa kalian tarik? Apa menurut kalian anjing dalam film ini menyimbolkan sesuatu?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 



BRIGHTBURN Review

“Hypothetical questions get hypothetical answers.”

 

 

 

Berandai-andai memang menyenangkan, kita semua suka melakukannya. Makanya filter ‘gender-swap’ di snapchat langsung ngehits. Berpikir hipotetikal berarti bermain dengan imajinasi. Orang-orang pintar seperti Einstein menghargai kekayaan imajinasi sebagai bentuk dari kecerdasan. Karena dengan berimajinasi, kita mendorong diri sendiri untuk berpikir di luar kotak, di arena yang jauh lebih luas. Ide cerita film Brightburn yang sangat menarik ini terlahir dari andai-andai pembuatnya. Dari imajinasi kreatif yang berusaha membayangkan peristiwa asal muasal superhero dalam cahaya yang jauh, jauh, lebih gelap. Yakni bagaimana jika suami-istri Kent mengadopsi bayi alien super yang jahat kelakuan, alih-alih baik hati.

Bagi Tori Breyer yang diperankan oleh Elizabeth Banks, andai-andai bukan semata imajinasi. Melainkan juga sebuah harapan. Tori dan suaminya sangat pengen dikarunai anak. Dari buku-buku yang disorot pada adegan pembuka, kita lantas mengerti usaha yang mereka lakukan urung membuahkan hasil. Bukan bintang jatuh yang kemudian mengabulkan harapan mereka. Tetapi sebuah meteor. Berisi seorang bayi laki-laki! Tori dan suami membesarkan anak yang mereka beri nama Brandon layaknya anak kandung sendiri. Bahkan ketika Brandon menunjukkan gelagat mengerikan. Yang jelas-jelas bukan perilaku anak baru gede yang biasa. Orang-orang di sekitar keluarga tersebut satu persatu mendapat musibah aneh. Dengan semua ‘bukti’ mengarah ke Brandon pun, Tori tetap kekeuh dengan andai-andainya, bahwa Brandon adalah buah hati kesayangan yang harus ia lindungi.

teman-temanmu gak tau bahwa mereka baru saja meledek seorang alien, Nak

 

Dalam menyampaikan premis unik tersebut, Brightburn menjelma menjadi horor aksi. Penggemar adegan-adegan berdarah akan menyukai film ini. Anggota tubuh yang remuk, wajah dengan mulut literally menganga (karena rahangnya hancur), akan menghiasi layar. Dan cerita tak butuh waktu yang lama untuk sampai ke bagian-bagian sadis tersebut. Yang justru menunjukkan kelemahan yang dipunya oleh film ini. Meskipun dia punya cukup banyak gaya untuk menghadirkan horor kekerasan, film ini tidak banyak bermain dengan penceritaan. Ataupun dengan gagasan ceritanya sendiri.

Sebagai pembanding, kita bisa melihat film The Prodigy (2019) yang juga bicara tentang keluarga yang dikaruniai anak jenius yang bermasalah kelam. Nyaris denyut per-denyut kisah dalam kedua film ini mirip. Anak pintar yang menjadi violent. Bermasalah di sekolah. Menyakiti binatang. Dipanggil untuk konseling. Mengancam konselornya. Lebih banyak orang menderita. Ibu yang akhirnya mengambil tindakan. Bahkan endingnya memberikan kesan yang serupa, dan sama-sama menantang kita untuk minta sekuel. Dua film ini seperti dipotong dari kain yang sama. Hanya beda latar tokohnya. Dalam Brightburn, si anak beneran seorang monster, dan orangtuanya adalah orangtua angkat. Latar yang sebenarnya lebih dari cukup untuk menghasilkan cerita dengan perbedaan masalah yang mendasar. Namun film ini tidak tampak benar-benar tertarik untuk menggali lebih dalam. Mereka hanya bermain di permukaan. Persoalan anak angkat itu tak pernah menjadi prioritas. Film hanya ingin mewujudkan imajinasi mengerikan seperti apa ketika seorang superman cilik menjadi monster super pembunuh.

Ketika The Prodigy mengandalkan lebih banyak kepada penampilan akting untuk menghadirkan keseraman yang bergaung merasuk ke dalam diri kita, sutradara David Yarovesky lebih memilih untuk bergantung berat kepada editing dan efek visual untuk menciptakan sosok monster bertopeng dalam Brightburn. Musik dalam film ini bisa menjadi sangat keras karena ia adalah gabungan dari jumpscare dan ledakan-ledakan aksi. Pemilihan musik ini membuat kita berada dalam situasi yang sulit; karena kita butuh adegan aksi untuk bersuara menggelegar, tapinya film ini menggabungkan aksi tersebut dengan horor, dan kita gak pernah suka horor yang suaranya bikin jantung copot. The Prodigy menggunakan teknik dramatic irony – membuat kita tahu lebih banyak daripada ibu dalam cerita tersebut – sehingga kita semakin peduli sebab kita mengerti betul sejauh apa usaha yang ia lakukan untuk melindungi anaknya, kita bersimpati meski kita tahu yang ia lakukan tidak bisa dibilang benar. Sedangkan Brightburn bercerita dengan lempeng. Penuh oleh trope dan klise dari elemen ‘evil kid’. Tori ditulis sebagai karakter dengan satu kebohongan yang ia percaya; bahwa Brandon adalah anaknya, bahwa Brandon adalah anak yang baik, hanya saja ‘cela’ tokohnya ini tidak pernah mengundang rasa simpati kita. Malah jatohnya annoying. Karena kita melihat Tori sebenarnya sudah tahu, dan film tidak membuat hal menarik untuk menunjukkan dia membohongi diri sendiri, dia tidak pernah tampak seperti melindungi, lebih seperti keras kepala.

Film ini gagal untuk mengangkat moral yang berusaha mereka selipkan ke dalam imajinasi liar premis ceritanya. Bukannya menjadi anti-hero, film ini malah jadi seperti anti-keluarga. Yang mengatakan bahwa kita tidak akan pernah bisa mengendalikan orang yang bukan darah daging kita, kita tidak akan mengerti mereka, karena kita dan mereka begitu berbeda. Kita tidak bisa terus membohongi diri karena cepat atau lambat kenyataan akan menghantam dengan keras. Kemudian meledakkan kita.

 

Tidak sanggup membuat simpati jatuh ke Tori, maka setelah midpoint film memindahkan fokus cerita kepada Brandon yang sudah tidak bisa mundur lagi menjadi dirinya yang dulu. Tapi kita pun akan susah sekali untuk bersimpati kepada tokoh ini. Kita tidak bisa merasa kasihan kepadanya. Karena film membuat tokoh ini murni jahat. Dia bahkan bukan anti-hero. Brandon tidak ditulis seperti Bezita yang membunuh banyak orang untuk memancing Goku bertarung supaya dia bisa menjadi lebih kuat lagi karena dia percaya hanya dia yang Pangeran Saiya-lah yang dapat mengalahkan Manusia Iblis Buu dan menyelamatkan Bumi. Brandon tidak ditulis seperti Carrie yang mengamuk menghabisi teman-teman sekelasnya karena dia sudah dibully dan dipermalukan di depan mereka semua. Brandon cuma diledek, apakah itu berarti dia pantas untuk balas dendam? tentu tidak. Satu-satunya usaha film untuk membuat Brandon tampak simpatik adalah dengan membuat dia seperti lupa-diri ketika melakukan hal mengerikan, seolah ada yang mempengaruhinya, seolah ada dua jiwa di dalam sana – kayak The Prodigy. Namun tentu saja elemen tersebut seperti dijejelin masuk gitu aja karena gak make sense kenapa bisa ada dua. Kenapa gak ditulis dia amnesia aja sekalian, bikin dia berjuang melawan siapa dirinya yang sebenarnya. Buat perjuangan dalam diri Brandon, antara dia yang baik karena dibesarkan penuh kasih sayang dengan dirinya yang asli – seorang monster superpower. Sayangnya film ini tidak seperti itu. Ketika Brandon melakukan hal sadis, ya hanya sadis. Jahat. Tidak ada layer dari tingkah lakunya. He’s one dimensional jahat ketika sudah total menjadi monster. Alasan dia menjadi seperti demikian tidak ditulis simpatik.

Film benar-benar tidak mengerti bahwa mereka perlu untuk membuat kedua tokoh ini tampil simpatik. Untuk membuat hubungan antara Tori dan Brandon bekerja, dinamika mereka harus dirancang oleh film. Mereka harus dibentrokkan. Tetapi dua tokoh tersebut berjalan sendiri-sendiri. Jadi, tidak ada yang bisa kita dukung di antara dua tokoh sentral; Tori dan Brandon. If anything, aku lebih simpatik sama suami Tori, tapi pun tokoh ini tidak benar-benar punya arc. Tokoh-tokoh yang lain hanya ada di sana untuk menambah jumlah korban dan/atau melakukan hal-hal simpel nan bego karena naskah menyuruh mereka untuk berbuat demikian. I mean, guru BP (BP atau BK sih, aku gak tau bedanya ahaha) mana yang ngasih ponakannya senjata api sebagai hadiah ulangtahun? Mana ada orang dewasa yang ngasih anak-anak pistol.

well, kecuali saat lebaran.

 

Akan ada satu-dua yang bikin kita menggelinjang menonton film ini, terutama jika kita penggemar horor sadis. Premis ceritanya sendiri memang menarik. Film pun sepertinya sangat aware dengan premis tersebut, dan gak malu-malu dia memasukkan banyak hal yang bisa mengingatkan kita kepada Superman. Paduan horor dan aksi sebenarnya bukan pertama ini dilakukan, jadi film ini dituntut untuk punya gaya. Secara visual sih, dia memang cukup bergaya. Suara keras dan efek yang cukup mengerikan – meski adegan terbang keluar masuk rumah di babak akhir itu malah lebih mirip adegan film kartun. Namun secara penceritaan, film ini tampil biasa saja. Ceritanya maju begitu saja, dengan pengembangan ala kadar penuh oleh trope dan klise. Masing-masing tokohnya tidak mendapat keadilan dari segi penulisan. Tidak ada satupun yang mengundang simpati. Dan membuat kita duduk menyaksikan perjalanan tanpa ada yang bisa didukung; what a monster move!
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for BRIGHTBURN.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Andai-andai mengerikan seperti apa yang pernah terpikirkan oleh kalian? Dan bagaimana kira-kira kalian menjawab andai-andai tersebut?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

EXTREMELY WICKED, SHOCKINGLY EVIL AND VILE Review

“She saw beauty in the darkness.”

 

 

 

Demi memperingati 30 tahun kematian Ted Bundy yang mengaku sudah membunuh tiga-puluh wanita muda, Netflix bukan saja merilis dokumenter 4 bagian – Conversations with a Killer: The Ted Bundy Tapes – yang berisi rekaman percakapan jurnalis dengan Ted Bundy menjelang hukuman mati, tetapi sekaligus juga membuat film biografi tentang si pembunuh berantai dengan memajang wajah tampan Zac Efron sebagai poin vokal promonya. Mendadak, Ted Bundy diperbincangkan lagi di mana-mana. Teror yang kita lihat dalam dokumenter tadi, seperti berulang di tahun 2019 ini. Orang-orang ketakutan, oleh betapa mungkinnya ketampanan wajah bisa mengalihkan dari perbuatan yang mengerikan.

Meskipun film adalah sebuah karya seni, dan seni yang bagus adalah seni yang memancing banyak interpretasi, akan selalu ada pihak-pihak yang menyuruh seni dibuat sejelas mungkin. Kalo perlu, maknanya langsung ditulis saja di poster supaya penonton gak usah capek-capek mikir. Seperti Kucumbu Tubuh Indahku (2018) yang diprotes karena orang-orang khawatir filmnya mempromosikan LGBT, atau Dua Garis Biru (2019, TBA) yang baru teasernya aja sudah dipetisi lantaran si pemrotes tidak bisa melihat bahwa film sebenarnya mengandung pembelajaran yang berupa larangan. Extremely Wicked (disingkat sampe di sini aja ya, karena judulnya panjang banget) garapan Joe Berlinger juga mendapat banyak kecaman. Meromantisasi seorang pembunuh. Filmnya bisa membuat orang bersimpati kepada kriminal. Tapi memang itulah yang diincar oleh film ini. Supaya kita merasakan kengerian ketika kita melihat seorang pembunuh yang tidak ada bedanya dengan manusia normal. Bahkan mungkin kita terpesona olehnya. Film ingin membuat kita mengerti kenapa kriminal seperti Ted bisa begitu lama berkelit dari jeratan hukum.

Film ingin kita tahu bahwa setan yang paling mengerikan adalah setan yang berjalan bersama kita, di antara para manusia. Dan bagaimana susah sekali untuk membuktikan sesuatu ketika kita begitu gampang terpana oleh hal yang tampak indah di luar.

banyak gadis muda yang terpikat sama pembunuh

 

 

Makanya, film ini terasa bekerja sangat baik ketika memperlihatkan cerita dari sudut pandang Elizabeth yang diperankan oleh Lily Collins. Liz, kalo dipanggil begini dia pasti nengok, adalah seorang single-mother yang bekerja sebagai sekretaris demi menafkahi anaknya yang masih kecil. Di adegan awal kita melihat Liz duduk di dalam sebuah bar, curhat kepada sahabatnya soal insecure yang ia rasakan. Gimana dia merasa bagaimana dia bisa memberikan yang terbaik kepada putrinya. She might need a man, tapi pria mana yang mau bersama janda beranak satu? Inilah sevulnerable-nya manusia yang digambarkan oleh film. Bagi mata kita yang sudah tahu ini adalah ‘reka ulang’ kejadian seorang pembunuh berantai bertemu cewek di bar, menonton Ted Bundy melirik-lirik ke Liz di adegan pembuka ini sudah seperti adegan di National Geographic ketika seekor buaya mengintip kijang yang sedang minum di pinggir danau. Tapi yang film inginkan adalah supaya kita melihat dari sisi Liz, yang gak tau siapa pria asing berwajah tampan yang mengajaknya kenalan. Bagi Liz, it was unclear siapa yang ‘menjebak’ siapa. Jadi dia membawa Ted ke rumah. Dan keinsecure-an Liz sirna keesokan paginya. Ketika dia menemukan Ted di dapur, membuatkan sarapan, bersama putri kecilnya.

Yang ditekankan adalah seketika itu juga, Ted menjadi pria yang sempurna, yang dicari oleh Liz. Hubungan asmara mereka bersemi. Tapi bagi Liz, ada satu perasaan lagi yang diam-diam berkembang. Ketakutan yang baru. Kenapa wajah Ted mirip sekali dengan sketsa pelaku penculikan dan pembunuhan wanita muda yang disebar oleh polisi. Kita lantas melihat betapa galau Liz ketika Ted ditangkap polisi. Liz merasa dirinya bersalah, dia merasa gara-gara dirinyalah pria sempurna tadi itu jadi tahanan. Bukan hanya Liz, kita juga kemudian diperkenalkan kepada wanita berkacamata bernama Carole Anne Boone (Kaya Scodelario kayanya kecakepan sih meranin tokoh ini haha), yang selalu hadir di setiap persidangan Ted, yang percaya Ted tidak melakukan semua tindak kriminal keji terhadap cewek-cewek seperti yang dituduhkan, bahkan pada satu titik, Carole Anne bersedia menikah dengan Ted di penjara.

Film tak melewatkan kesempatan untuk memperlihatkan fakta bahwa persidangan Ted udah kayak acara pensi di sekolahan; dipenuhi oleh cewek-cewek kece. Di mata mereka, Ted jauh sekali dari gambaran seorang psikopat. Atau jikapun mereka percaya Ted beneran pelaku, cewek-cewek ini berlomba untuk jadi orang pertama yang ‘memperbaiki’ Ted. I mean, I totally could see Milea dari Dilan 1991 (2019) sudah pasti akan ada di sana, menonton persidangan Ted dan ikut tertawa terkikik ketika Ted menampilkan senyum mautnya. Yang terjadi – yang dirasakan – oleh Liz, dan Carole Anne, dan para ‘Bundy Groupie’ sebenarnya adalah versi ekstrim dari yang dirasakan Milea kepada di Dilan di Dilan 1991. Bahwa wanita – khususnya wanita muda – seringkali merasa bertanggungjawab untuk memberikan kasih sayang terhadap pria yang, katakanlah, tidak baik.

Dan ironisnya, media-media seperti film ini sendirilah yang menciptakan mindset seperti demikian. Standar perilaku tokoh-tokoh cowok dalam film atau cerita fantasi romantis yang tokoh utamanya cewek memang kebanyakan mengkhawatirkan. Karena cerita romansa juga butuh konflik dramatis, yang sumur paling suburnya itu ya soal cewek baik-baik terhalang oleh sifat kelam pasangannya. Vampir yang menonton gadis kecengannya tidur. Anak geng motor yang hobi berantem. Joker dan Harley Quinn. Fifty Shades of Grey. Ketika dibalik, dalam cerita romantis yang tokoh utamanya cowok, juga sama.

Cewek akan melihat diri mereka sebagai motivasi dari si cowok bad-boy untuk berubah dan menjadi pahlawan. Trope drama romantis tersebut bahkan sudah ada sejak abad ke-18, sejak genre romance pertama kali tercipta, berbarengan dengan konsep ‘menikah karena cinta’ mulai dikenal dan wanita mulai mencari tahu apa yang mereka inginkan dari sebuah pernikahan.

Inilah kenapa walaupun kuis trivia di internet bilang iya, tapi aku tetap tidak mungkin seorang psikopat

 

 

Ketika sebagai film, Extremely Wicked sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang baru, toh film ini tetap saja bisa menjadi sesuatu yang spesial lantaran dia berasal dari kisah nyata. Dunia pernah beneran tidak yakin untuk menghukum tersangka, karena dia tampan dan tampak simpatik. Film ini punya kekuatan untuk menjadi teguran – sekaligus juga peringatan – untuk kita semua, yang untuk mencapai kekuatan level seperti demikian, film harus benar-benar komit meletakkan kita di sudut pandang Liz, atau wanita yang merasa mengenal si tersangka secara langsung. Bahkan dengan membuat Liz menyimpan rahasia dari kita pun, maksud dan gagasan tersebut akan bisa tercapai, asalkan sudut pandangnya tidak berubah. Sayangnya, Zac Efron mungkin terlalu mempesona sebagai Ted Bundy, sehingga kamera berpindah dan sebagian besar waktu kita justru melihat dari sudut pandang Ted.

Film cukup bijak dengan tidak memperlihatkan apa yang Ted Bundy ‘lakukan’, you know, kita tidak akan melihat adegan pembunuhan sadis. There’s only one, in fact. Kita tidak melihat backstory Ted, yang – walaupun mungkin saja menggunakan teknik bercerita dramatic irony (penonton tahu lebih banyak dari tokoh utama) akan menghasilan efek emosional yang lebih kuat –actually bekerja in favor of memposisikan kita sebagai orang yang harus membuat keputusan Ted bersalah atau tidak, seperti Liz. Hanya saja, keputusan sutradara Joe Berlinger untuk membawa kita melihat persidangan Ted, membawa kita melihat pemuda ini berusaha menelfon Liz, menunjukkan usahanya untuk membuktikan dirinya tidak bersalah; the whole time watching that, untuk kemudian diberitahu apa yang terjadi sebenarnya di akhir cerita – tidak mendaratkan cerita ini di tempat yang spesial. Bagi penonton yang sama sekali tidak pernah mendengar kasus Ted Bundy sebelum nonton, film ini hanya akan terasa seperti cerita ngetwist yang twistnya tersebut enggak dibuild up dengan matang. Seperti 80% menyaksikan dan dibuat untuk percaya kepada A, untuk kemudian diberitahu bahwa sebenarnya itu adalah B.

Film seperti kesulitan untuk menggali sudut pandang Liz, sehingga meninggalkan tokoh ini sementara di tengah-tengah, dan fokus kepada Ted Bundy. Dan ketika film melakukan hal tersebut, cerita tidak lagi punya kekuatan untuk mengomentari perihal pertanyaan yang mereka jadikan alasan pembuatan film ini in the first place. Melainkan hanya menjadi sebuah cerita penipuan yang berusaha keras untuk membuat Ted tampak tak bersalah – padahal mestinya dibuat ambigu, karena di awal kita adalah Liz. The worst crime yang dilakukan film ini menurutku adalah ketika mereka malah membuat Ted kabur dari penjara karena telfonnya tidak diangkat-angkat oleh Liz; kita melihat ini dari sudut pandang Ted, seolah memang begitulah kenyataannya. Alih-alih membuat kita merasakan Liz merasa bersalah dengan cara yang alami – yang sesuai struktur penceritaan, film malah mengambil cara mudah dengan memindahkan sudut pandang utama, messing up with the structure, dan membuat ‘fakta’ baru yang harus kita telan. Singkatnya; kita akhirnya dipaksa untuk percaya pada Ted karena dia tampan dan tampak innocent.

 

 

 

Film yang judulnya diambil dari perkataan juri saat memvonis Ted Bundy ini tidak sanggup memenuhi janjinya untuk menggali sisi baru. Seharusnya cerita tetap pada sudut pandang Liz, atau para wanita. Dengan memindahkan kepada Ted yang sengaja ditampilkan innocent, kita sengaja tidak diperlihatkan apa yang ia lakukan – siapa sebenarnya dirinya – nyatanya film hanya sanggup untuk menciptakan sisi baru. Yang oleh penonton yang sudah tahu kasus asli Ted Bundy, yang mungkin sudah nonton dokumenternya, sisi baru tersebut akan terasa pointless. Kecuali mungkin memang untuk menyalahkan  tokoh Liz. Dan bagi penonton yang belum tahu kasus Ted Bundy sama sekali, film ini hanya akan terasa mengecoh karena memberikan twist tanpa build up. Menurutku film ini mengecewakan; dia punya banyak penampilan yang luar biasa meyakinkan, namun cerita yang dihadirkan gagal untuk menjadi spesial.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for EXTREMELY WICKED, SHOCKINGLY EVIL AND VILE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Ini sudah seperti ayam atau telur. Apakah karena cewek-cewek memang sukanya ama bad boy maka film dan media cerita lainnya menulis cowok sebagai makhluk bermasalah – atau karena media duluan yang meromantisasi keberandalanlah makanya cewek-cewek jadi suka ama bad boy? Yang mana pilihan kalian?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

PARIBAN: IDOLA DARI TANAH JAWA Review

“Every story has a beginning, a middle, and an end.”

 

 

 

Ini bakal jadi kali terakhir aku nonton-dan-ngereview ‘film-film’ kayak Benyamin Biang Kerok (2018) dan Pariban: Idola dari Tanah Jawa. Aku pikir semua sudah berakhir ketika episode sambungan Biang Kerok urung ditayangkan di bioskop. Aku pikir pembuat film Indonesia sudah menyadari betapa insulting-nya membuat tontonan seperti yang ‘film’ itu lakukan bagi para penonton bioskop. Kupikir, ya sepertinya perfilman Indonesia masih waras. Tapi ternyata di 2019 ini muncullah Pariban.

Serius, deh, ini mengkhawatirkan. Aku takut sekali kalo ke depan nanti bioskop-bioskop Indonesia diisi oleh video-video panjang komersil yang tak lagi mengindahkan seni pembuatan film serta pengetahuan penulisan naskah, alih-alih film beneran. Jadi aku berharap karya (kalo bisa dibilang sebagai suatu karya) seperti ini stop dibuat sampai di sini. Aku tidak ingin menonton yang seperti ini lagi di bioskop, dan kupikir para penonton pun menginginkan hal yang sama. Kita ke bioskop untuk menonton film. Kita bicara tentang film yang ditonton supaya roda kemajuan itu terus bergulir. Kita menginginkan film-film yang bagus bisa tercipta. Pariban, sama seperti halnya ‘film’ Biang Kerok, adalah kemunduran sinema tanah-air. Jangan sampai ada lagi yang seperti ini. Makanya kali ini biarlah. Aku ingin menekankan, menjelaskan lebih detil poin-poin yang kutulis dalam review Biang Kerok. Biar dua ini cukup menjadi pembelajaran – dan pengingat.

Supaya kita semua dapat melihat bahwa film Pariban ini (juga) bukanlah sebuah film.

“Halo~, Halo Moan… Sekarang telah menjadi produk komersil, Pari-ban! parah sekali”

 

Pariban datang dari orang yang membuat film Love for Sale, salah satu film 2018 yang masuk ke dalam daftar Delapan-Besar Terbaikku di tahun itu. Satu-satunya film Indonesia yang masuk dalam daftar Delapan-Besar Terbaikku tahun itu! It was on the top-three!!! Andibachtiar Yusuf, what happened, mas? Molo adong na salah ini ya, aku gak tahu apa yang terjadi di balik dapur produksi mereka. Tapi kupikir kita memang tidak bisa begitu saja menilai film dari pembuat atau pemain. Toh yang Biang Kerok itu juga dibuat dengan kolaborasi sutradara dan aktor jajaran terdepan dunia film kita. Yang paling terdepan, malah. I mean, belum tentu serta-merta biang keroknya adalah mereka. I really don’t know. Dalam Pariban juga, aku menghormati para pembuat dan pemain film yang profesional sekali. Mulai dari Ganindra Bimo hingga Rizky Mocil; aktingnya enggak ada yang main-main, meski mereka memang tampak have fun sekali memerankan tokoh masing-masing. Enggak gampang tentunya memainkan karakter yang berasal dari latar budaya yang berbeda dari keseharian. Dan juga sebaliknya; actually menyenangkan melihat beberapa aktor seperti Atiqah Hasiholan yang berakting dalam ‘habitat’ asli mereka.

Niat pembuatannya sebenarnya cukup bagus. Pariban mengangkat budaya Sumatera Utara. Aku suka, aku besar cukup dekat dengan orang-orang Batak, keluargaku sendiri ada yang orang Batak. Aku familiar dengan sapaan dan candaan kayak lae, bodat, kenlap! Film ini memberitahu kita satu informasi baru. Memperkenalkan tradisi perjodohan khas Batak, yang basically adalah pernikahan antarsepupu – yang memiliki marga keluarga yang sama. Lewat arahan komedi, ‘film’ menunjukkan kepada kita gimana sistem pariban ini kadang menjadi momok, namun juga seringkali menjadi langkah ampuh dan aman untuk mendapatkan jodoh. Dalam yang ngakunya film ini kita melihat seorang pemuda asli batak tapi lahir di Jakarta, bernama Halomoan yang dituntut mamaknya untuk segera menikah. Lantaran rumor-rumor miring mulai terdengar seputar Moan. Maka, Moan berangkat ke kampungnya di pinggir danau Toba, untuk menemui paribannya – Uli. Elemen fish out of water pun mewarnai cerita tatkala Moan yang perjaka gaul ibukota tinggal berakrab-akrab ria dengan penduduk lokal di sana. ‘Film’ cukup bijak untuk tidak berkubang di penggalian stereotype – orang batak suka main catur dikorporasikan dengan lucu masuk ke dalam cerita – dan memberikan kesempatan penduduk cerita untuk berkembang dalam archetype. Kita melihat batak yang ngomong keras dan kadang kasar tidak selalu ‘jahat’. ‘Film’ ingin menarik budaya, menunjukkannya ke dunia, dan mendukungnya dengan teknologi yang modern. Aku terus menunggu ‘film’ mengangkat pertanyaan dan gagasan tersendiri soal adat pariban, bahkan mungkin menantang eksistensinya. Namun adegan-adegan dengan tokoh yang bereaksi relevan terhadap pariban itu sendiri, sayangnya, ditampilkan minimalis sekali.

Hanya ada satu adegan Uli, wanita modern yang cerdas, menunjukkan sedikit ketidaksetujuannya terhadap pariban. ‘Film’ ternyata lebih tertarik untuk mengisi durasi dengan sebanyak mungkin komedi yang bisa mereka pancing dari cara ngomong dan kosakata khas orang Batak yang lucu. Sebagian besar waktu memang didedikasikan untuk persaingan cinta antara Moan dengan Binsar, bujang asli sono yang mengaku Romeo-Butetan dengan Uli. Bahkan buatku ‘film’ juga melewatkan kesempatan dalam penggarapan si Binsar. Tokoh ini bisa menjadi menarik karena dia actually melambangkan orang asli Batak yang melawan sistem Pariban; Binsar menolak ‘kalah’ dari Moan yang merasa menang dengan status paribannya. Dinamika tiga tokoh sentral ini memang punya aroma menarik, tapi ‘film’ tidak benar-benar menggali mereka. ‘Film’ berhasil membuat Moan yang berlatar eksistensi kompleks ini (dia dipanggil Batak KW oleh orang-orang kampung) menjadi tokoh yang biasa-biasa aja. Kenapa Moan mau-maunya disuruh nemui paribannya aja tidak terjelaskan dengan menarik. Tidak ada stake bagi Moan. Moan seorang pria kaya yang modern, tukang bikin aplikasi, dia punya tujuh pacar sesuai hari. Jadi dia bukannya gak laku, gak mampu nikah. He just doesn’t want to. Tidak ada motivasi dalam diri tokoh ini. Tidak ada intensitas kita menontonnya. Barulah ketika bertemu Uli, dia mengeset goal – untuk menjadikannya istri, memenangkan pertandingan melawan Binsar. It takes a really long time buat karakter Moan berpindah dari satu titik ke titik berikutnya. Penulisan karakternya seperti berjalan di tempat.

kalo dia mau, Moan bisa bikin aplikasi cari-jodoh yang sesuai ama preference dirinya

 

Semua itu karena ‘film’ ini sesungguhnya punya agenda yang mengerikan dalam menyampaikan ceritanya. Yakni membagi diri menjadi dua. Such an evil corporate move! Biarkan penonton membayar dua kali untuk satu cerita. Alih-alih mempertontonkan cerita yang utuh, potong di tengah, buat jadi bersambung supaya penonton datang dan membayar lagi. Aku bukannya bilang sebuah film gak boleh bersambung, hanya saja lakukanlah dengan benar. Tutup arc tokohnya, baru kemudian lanjutkan terserah mau berapa kali sekuel.

Sebuah cerita haruslah punya awal, tengah, dan akhir. Kita melihat awal Moan yang didesak untuk segera cari calon bini, dia disuruh kenalan ama paribannya di kampung. Moan berangkat ke sana dengan confident bahwa dia bisa nikah kalo dia mau, karena dia kaya, tampan, dan besar. Set up awal cerita sudah bagus. Tengahnya berisi benturan-benturan karena ternyata banyak tentang asal daerahnya yang tidak Moan tahu, dan gimana dia mulai merasakan cinta beneran terhadap Uli. Karenanya Moan pun mencoba mengikuti aturan adat dan aturan mamaknya. Melihat arahan seteru Moan dengan Binsar, aku sudah siap untuk mendapatkan satu lagi cerita kegagalan yang manis – Moan was just too overconfident for his own good, dia terlalu aman dalam status pariban. Lalu, ternyata, dengan kurang ajarnya cerita diputus dengan sengaja pada bagian akhir, tepat di ambang pintu resolusi. Plot poin kedua cerita ini dijadikan cliffhanger. Perjalanan inner dan outer tokoh Moan sama sekali belum finish. Pada dasarnya apa yang dilakukan oleh ‘film’ ini adalah mencabut kita keluar saat kita baru mau masuk ke klimaks. Menjadikan ceritanya tidak komplit. Membuatnya belum bisa disebut sebagai satu film. Karena you gotta to have a beginning, middle, and end walaupun urutannya bisa dibolak-balik. Pariban dan Biang Kerok hanya punya awal dan tengah. Mereka tidak punya syarat pertama suatu tontonan disebut sebagai film. Dan harusnya kita marah, karena jika kita membayar untuk satu film, maka kita harus dapat satu film utuh!

Pemotongan itu dilakukan dengan sengaja. Hanya karena mereka bisa, dan mau nyari untung belaka. I mean, bukan karena durasinya sudah kepanjangan maka mereka terpaksa memotong. Mungkin masih bisa sedikit dimaafkan kalo mereka sudah bercerita dengan efektif namun karena durasi yang terlalu panjang maka mereka memotong. Pariban sama sekali tidak efektif dalam mengisi durasinya. Sepuluh menit pertama adalah eksposisi yang dilakukan dengan sok lucu. Setiap orang ingin jadi kayak Deadpool sekarang. Menggunakan metode breaking the fourth wall, Moan akan sering bicara kepada kita. Hanya saja mereka lupa satu hal; mereka juga lupa meniru kemampuan kamera dalam bercerita dengan baik. Bicara langsung kepada penonton dalam Pariban dilakukan seperti video presentasi, untuk menjelaskan berbagai paparan seperti bagaimana aturan main adat pariban atau backstory Moan, mereka menggunakan adegan ilustrasi – entah itu adegan berupa sketsa atau animasi sederhana – yang membuat kita terlepas dari bangunan narasi. Kreatif tapi tidak berada di dalam bangunan cerita. Adegan tersebut bisa saja dibuang. Bandingkan dengan breaking the fourth wall pada Ferris Bueller; yang menarik kita masuk ke dalam cerita karena secara realtime kita diperlihatkan sisi sebenarnya dari si Ferris. Atau bandingkan dengan pada Deadpool; yang kita lihat pada layar adalah sesuatu yang tidak bisa dibuang, karena masuk ke dalam cerita, dan ditampilkan dengan menarik; masih ingat dong opening Deadpool? Permainan kamera dan editing dan visual humor yang tidak dimiliki oleh Pariban.

 

 

 

 

 

Dengan mengangkat materi tentang adat perjodohan antarsepupu di dunia modern, film ini ternyata hanya berfokus kepada cara bercerita yang sok lucu. Padahal enggak lucu. Sia-sia sudah penampilan yang bagus, dan sedikit pesan yang diselipin dalam dialog. Setiap cerita kudu punya awal, tengah, dan akhir. Dan kuharap film ini adalah awal, tengah, sekaligus akhir dari tren membuat film bersambung. Akan menjadi hari penuh duka bagi perfilman tanah air jika bioskop nantinya ramai oleh film-film yang dibuat dengan mindset sinetron kejar tayang. Film-film yang tak lagi dibuat berdasarkan pengetahuan terhadap sinema, seni penulisan skenario, melainkan insting mencari keuntungan sebesar-besarnya semata. Yang mana karya semacam ini tidak bisa disebut sebagai sebuah film. Jadi, berhenti membuat seperti ini, jangan sampai jadi tradisi.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for PARIBAN: IDOLA DARI TANAH JAWA.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Buat yang pengen lebih banyak mendengar tentang film indonesia yang kini krisis ilmu pengetahuan, bisa tonton video dari channel Oblounge ini:

 

Bagaimana pendapat kalian tentang film bersambung ala Pariban dan Benyamin Biang Kerok?

Apakah menurut kalian film bersambung kayak gini perlu dilestarikan?

Dan karena filmnya takut-takut mengangkat; apakah menurut kalian budaya pariban perlu dilestarikan?

 

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

LONG SHOT Review

“The only way a journalist should look at a politician is down”

 

 

 

Apakah Amerika segitu begonya sehingga memilih seorang aktor sebagai pemimpin negara?

Lelucon semacam itulah yang bakal kita jumpai dalam komedi romantis berpanggung dunia politik yang digarap oleh Jonathan Levine ini. Lelucon-lelucon yang bakal berubah menjadi sindiran begitu kita mencoba menjawabnya. Lantaran apa yang tadinya terasa seperti sebuah long shot – sesuatu yang gak mungkin – ternyata jauh lebih pendek jaraknya dengan kenyataan hari ini. Segala keanehan yang tampak berakar dari fantasi konyol pembuat film ini bisa jadi adalah komentar bahwa yang telah terjadi di dunia justru lebih aneh lagi.

Fantasi itu dimulai dari Charlotte Field (I would vote for Charlize Theron, really) Sekretaris Negara yang mendengar kabar menggembirakan dari Presiden. Beliau bakal mengejar karirnya di perfilman sehingga Field berkesempatan lebih cepat empat tahun dari targetnya untuk menjadi presiden wanita pertama di Amerika. Dengan ‘tim sukses’nya, Field memulai merancang rencana supaya mendapat banyak simpati publik. Hal pertama yang harus Field benahi adalah daya humornya, untuk mengimbangi kecerdasan dan kemampuannya, you know, karena dia adalah wanita. Di sinilah masuk Fred Flarsky (Seth Rogen teteup nge-Seth Rogen) dengan fantasi masakecilnya. Field Remaja dulunya adalah babysitter Flarsky. Tentu saja, Flarsky ternyata diam-diam naksir berat sama kakak pengasuhnya yang cerdas tersebut, bahkan hingga sekarang, setelah mereka dewasa dan Field nyaris menjadi orang nomor satu di sana.  Dan Flarsky? Well, dia masih cupu walau kini dia seorang jurnalis. Tertarik dengan gaya bahasa artikel Flarsky yang vulgar tapi kena-sasaran, Field mengajak pria berjenggot tersebut untuk menjadi penulis pidato pribadinya. Bersemilah kisah cinta yang mustahil antara jurnalis berintegritas dengan politisi yang mementingkan citra demi elektabilitas.

romantis atau sauvinis?

 

Ultimately, kita penonton adalah penentu arahan seperti apa yang sebaiknya diambil oleh film. Sutradara Levine paham bahwa ketika penonton membeli tiket untuk romance komedi, bukan komentar atau gagasan atau kritik yang ingin disampaikan oleh filmlah yang membuat penonton geregetan. Melainkan adalah pesona dari dua karakter yang saling jatuh cinta. Dalam film ini, kita dapat Field dan Flarsky yang memang tampak manis dan cute bersama. Theron sendiri tak pernah tergagap bertransisi dari memerankan woman in power yang serius ke cewek tetangga-sebelah yang atraktif, dan sangat kocak melihat tokoh ini ketika dua sisi hidupnya bercampur menjadi satu. Bayangkan saja gimana jadinya ketika Sekretaris Negara bernegosiasi dengan teroris, dalam keadaan teler. Momen-momen ketika dia menari bersama Rogen dalam alunan lagu Roxette masih tampak meyakinkan, kita bisa merasakan jejak-jejak cinta monyet masa awal-remaja mereka yang perlahan membesar. Rogen pun cukup bijak untuk menurunkan kenyelenehan sedikit demi menyeimbangkan dengan porsi Theron. Tapi yaah, komedi film ini masih tetap tergolong raunchy, juga masih ada ganja yang berpartisipasi, dan aku turut menyesal buat keluarga yang duduk di barisan di depanku yang mengajak anak balita mereka untuk nonton ikut serta.

Namun begitu, mengatakan seting politiknya duduk di kursi belakang demi cinta-cintaan sebenarnya agak kurang tepat juga. Setiap karakter dalam film ini hidup dan bernapas dari pandangan politik mereka, or at least ideologi mereka. Konflik antara Field dan Flarsky tercipta dari perbedaan value di antara mereka. Personifikasi dari sebuah hubungan klasik antara jurnalisme dan politik. Ini menarik, karena dua kubu tersebut tidak semestinya berjalan bersama. Hubungan di antara mereka seharusnya adversarial. Berlawanan. Politisi bekerja mengarahkan pikiran masyarakat untuk menyelesaikan masalah. Jurnalis bekerja untuk memberitahu kebenaran kepada masyarakat. Politisi seperti Field butuh untuk membangun imej. Sedangkan kerjaan Flarsky adalah mengekspos apa yang ada di balik imej tersebut. Namun, dua orang ini bersedia untuk bekerja sama, karena ada cinta di antara mereka.

Lewat kisah romantis dua tokoh ini, sepertinya film ingin mengatakan kepada kita wartawan dan politisi bisa kok saling cinta, tanpa melahirkan berita-berita hoax sebagai buah cintanya. Itu, atau sebenarnya film ingin melontarkan sindiran. Bahwa satu-satunya waktu ketika jurnalis dan politisi saling cinta adalah ketika sang jurnalis tidak lagi bekerja untuk publik.

 

Skrip film ini memang cukup cerdas, tapi semakin cerita bergulir, ketidakseimbangan semakin besar kita rasakan. Seolah ada satu fantasi yang lebih long shot ketimbang yang lain. Menurutku, imajinasi cerita film ini pada akhirnya menjadi bumerang karena naskah punya tuntutan. Tokoh utama yang baik haruslah yang lebih banyak melakukan pilihan, yang lebih banyak melakukan usaha. Film ini melakukan dengan benar. Kita melihat pilihan-pilihan yang dibuat oleh Field menggerakan alur cerita. Kita melihat perubahan pada dirinya. Yang malah bisa diartikan sebagai perjuangan wanita untuk menjadi presiden itu memang berat. Ada standar tinggi yang harus dilewati, karena politisi seperti Field harus bertanggung jawab kepada partai atau pendukungnya selain kepada pandangan sendiri. On the other hand tho, fantasi Flarsky yang lebih sepele, terlihat lebih mungkin. Tidak ada yang perlu diubah secara drastis.

Gagasan film ini malah jatohnya melempem karena mereka tidak membuat ruang supaya dua fantasi tersebut tampak seimbang. Yang pada akhirnya menimbulkan hal yang membuat kita semua khawatir. Mengapa Field – yang pintar dan punya kuasa – rela mempertaruhkan banyak hal demi bersama dengan orang seperti Flarsky? Ini tidak akan membuat Field look good, dari segi cerita. Film malah seperti membanggakan ada ayah-negara pertama ketimbang presiden wanita pertama, dan si ayah-negara itu masihlah seorang yang sama dengan orang di awal film, yang berkata vulgar, yang ngeganja – how is this make a country better? Kedua tokoh tersebut tampak seperti kehilangan integritas masing-masing di akhir cerita, dan semua itu terjadi karena rakyat yang digambarkan punya soft spot buat romantisme.

also, kritikan buat yang bikin subtitle di cineplex 21; film yang kutonton tadi banyak banget arti kata-kata yang salah

 

 

 

Mengangkat panggung yang menarik buat sebuah drama cinta komedi. Sayangnya film kurang berhasil menyeimbangkan aspek-aspeknya. Elemen romance-nya lebih berhasil, dan sekiranya memang hanya itulah yang akan dibawa pulang oleh penonton. Tetapi toh film mencoba untuk mengangkat satir politik lewat fantasi-fantasi yang mungkin terlalu jauh untuk benar-benar berhasil didaratkan. Pertanyaan yang terangkat dari arc tokoh utama menghasilkan jawaban yang enggak jelas baik atau buruknya. Yang lebih pasti justru hanya soal cowok yang bisa mendapatkan cewek yang diidam-idamkan – enggak peduli betapapun jauh posisi mereka. Film sukses menghasilkan yang manis-manis, tapi gagal mewujudkan janji-janji fantasinya. Hmm.. tau gak ini mengingatkan kita kepada siapa? Para politisi!
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for LONG SHOT.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana menurut kalian hubungan antara jurnalis dengan politisi sebaiknya? Kalo disuruh memilih antara koran tanpa pemerintah dengan pemerintah tanpa koran, kalian lebih memilih yang mana? Kenapa?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.