MERAH PUTIH MEMANGGIL Review

You either die a hero or live long enough to see yourself become the villain”

 

 

Sesungguhnya mati sebagai pahlawan atau hidup cukup lama kemudian menjadi penjahat itu bukan pilihan. Karena kita enggak bisa memilih untuk menjadi pahlawan. Untuk menjadi pahlawan dibutuhkan pengorbanan, keberanian. Enggak sekedar mejeng di uang kertas atau nampang jadi nama jalan. Kita enggak bisa mutusin untuk nolong orang lalu mati supaya bisa minta “ntar patung gue dilapis emas ya”. Meski ikhlas kerjaan mereka gak pernah enak, tentara-tentara dalam Merah Putih Memanggil jelas tidak akan ngarep sukur-sukur mereka gugur di medan perang. Mereka punya keluarga yang menanti di rumah. Bahkan pada detik-detik peluru menghujani tubuh mereka, mereka tidak tahu mereka adalah pahlawan.  Dan itulah poin gede kalimat yang diucapkan Batman di atas;

Kita belum menjadi sebenar-benarnya pahlawan selama kita masih menyadari kita memilih melakukan sesuatu yang heroik. Pahlawan adalah penghargaan terbesar yang bisa diberikan orang lain atas tindak pengorbanan dan kemanusiaan yang kita lakukan.

 

Sekelompok teroris menyandera tujuh orang penumpang kapal pesiar di dalam pulau persembunyian mereka. Which is just outside of Indonesia’s jurisdiction. Demi keselamatan warga negara yang merupakan salah satu dari sandera, angkatan militer Indonesia bermaksud melakukan penyusupan. Masuk ke pulau, keluar dengan membawa para sandera. Tentara gabungan Indonesia hanya diberikan waktu 48 jam untuk melaksanakan operasi Simpel. Namun  bukan tanpa bahaya. Dalam pulau yang tak ramah tersebut, segala rencana yang disusun bisa berantakan oleh pertanyaan moral. Ini berubah menjadi misi hidup atau mati yang mengerikan. Para tentara harus mengawal sandera-sandera ke titik penyelamatan, secepat dan seaman-amannya, menyusuri hutan yang dipenuhi oleh pasukan teroris. Mereka literally dikejar peluru, satu persatu gugur berjatuhan.

“sekarang kita istirahat, silahkan dipergunakan sebaik-baiknya untuk kenalan dan pengembangan karakter”

 

Belum lama ini kita sudah menyaksikan gimana Christopher Nolan menembus batasan film perang lewat Dunkirk (2017), ada begitu banyak terobosan yang dibuatnya dari segi filmmaking, dan juga bercerita. Nolan dengan berani menaruh kita so in-the-moment of war, sehingga kita tidak perlu mengenal para tokoh untuk menjadi peduli. Makanya, begitu menonton Merah Putih Memanggil, ada perasaan sedikit aneh. It’s just like, we revert back to that time. Mungkin perbandingannya memang terlalu jauh, namun T.B. Silalahi tidak melakukan inovasi dalam cerita garapannya ini. Tidak ada pilihan-pilihan baru yang diambil. Trope-trope seperti prajurit yang ninggalin istrinya yang sedang hamil kembali kita temukan sebagai langkah mudah dalam usaha memancing sisi dramatis. Film ini diniatkan sebagai epos tentang KEPAHLAWANAN DAN KEPERKASAAN KEKUATAN MILITER INDONESIA, dan mereka melakukannya dengan triumphant, mengusahakan terbaik yang mereka bisa. Tetapi  sesungguhnya ada begitu banyak yang bisa dilakukan untuk mengimprove ataupun membuat film ini menjadi lebih menantang dan menyenangkan lagi untuk kita tonton.

Sinopsis resmi film ini mengatakan tujuh sandera adalah orang-orang dari kewarganegaraan yang berbeda. Sayang sekali, tidak banyak dari mereka yang diberikan kesempatan berbicara, apalagi diberikan perspektif yang dalem. Menurutku, film benar-benar melewatkan kesempatan besar di sini. I mean, warga negara A, B, C disandera bareng oleh warga negara D, disekap di pulau negara E, diselamatkan oleh negara C, mereka bisa menciptakan dialog dan konflik kemanusiaan skala global di sini. Tapi enggak, film hanya tertarik memperlihatkan sedikit backstory tokoh-tokoh yang nantinya dibuat tewas supaya kita bisa kasihan sama mereka. Perang menarik karena kita tidak semestinya melihat tragedi tersebut sebagai sesuatu yang hitam putih. And it looks like this film didn’t get that memo. Cerita tidak pernah mengeksplorasi sisi teroris, siapa mereka, kenapa Ariyo Wahab menculik orang-orang berkewarganeraan berbeda, kenapa dia bisa punya seragam dan pasukan sendiri. Apakah dia hidup terlalu lama sebagai tentara sehingga beneran berubah menjadi penjahat?

Di sisi lain, toh film ini juga punya sisi menarik yang muncul ke permukaan saat babak ketiga. Ada keretakan dalam barisan musuh sebab mereka enggak tahu berhadapan dengan siapa. Aku suka dengan plot poin ini, karena di awal film sudah menetapkan bahwa sebelum berangkat, tentara Indonesia menanggalkan semua identitas dan atribut negara. Mereka enggak ingin dikenali sebagai tentara Indonesia oleh musuh, mungkin dengan alasan politis. Ini menciptakan misteri di pihak musuh. Poin ini juga dimainkan dengan baik, di mana di akhir pertempuran, ada satu tentara yang memutuskan untuk mengikat perban berlumuran darah di kepala, memakainya sebagai bandana, dan tindak ini adalah berupa kebanggaannya bertempur atas nama Indonesia. Film mestinya banyak memasukkan hal-hal subtil seperti ini, karena ini feelnya dapet banget.

Plis jangan marahin Lexis, dia bukan tentara. Dia bukan superstar, kaya dan terkenal.

 

Babak satu adalah babak set up standar yang sangat terbebani oleh banyaknya eksposisi. Kita mendengar detil rencana mereka, kita mendengar informasi dengan istilah-istilah militer. Menurutku bagian inilah yang paling membosankan. Aku juga merasa ada tone yang kontras antara babak satu dengan babak tiga. Di tiga puluh menit awal, film seperti bermain aman. Adegan tembak-tembakannya bersih, tidak ada darah berlebihan, kamera juga sering ngecut dengan cepat – beralih dari adegan yang cukup menegangkan, seolah film ini ingin meminimalisir kekerasan supaya bisa dapet rating Remaja. Kupikir, ini adalah keputusan yang aneh. Sebab film perang akan susah sekali meyakinkan jika enggak berani mempertontonkan kekerasan. Dan sepertinya film ini pun setuju, sebab di babak tiga mereka seakan bilang “ah sebodo amat” dan kita dapat adegan orang menggigit putus jarinya sendiri. Bagian aksi pun seketika meningkat di babak ketiga. Quick-cut dan kamera yang goyang berkurang, kita lebih mudah grasp towards the scenes. Karena di bagian sebelumnya, editing bagian aksi tampak chaos sekali, kita enggak bisa tau pasti siapa nembak, siapa yang mati, mereka ada di mana, dan lain-lain.  Adegan penyusupan awal, saat tentara terjun payung masuk ke wilayah teroris, tidak terasa intensitasnya. Build upnya ada namun teroverlook oleh kasar dan abruptnya editing – penyatuan adegan.

Malahan, ada beberapa adegan yang jatohnya kocak dan mengundang tawa penonton. Tentara menembak sarang lebah terus pasukan teroris kabur disengat kayak adegan Tuyul dan Mbak Yul, sukses bikin empat pemuda berbadan kekar yang nonton di barisan di depanku ngakak. Para pasukan sempat-sempatnya ganti riasan kamuflase, mereka ngumpet di semak-semak, lucunya adalah hutan mereka enggak serimbun itu. Akting sedikit kaku dari tokoh tentara bisa dimaafkan sebab mungkin memang begitulah tentara di dunia nyata. Sesungguhnya set dan properti juga terlihat genuine, dan mungkin memang ‘sesederhana’ itu perjalanan misi tentara sesungguhnya. Namun, ketika kita mengolah film, kita harus bisa memancing excitement. Membangun hal menjadi menarik, membumbui dengan drama dan konflik yang meyakinkan. Film ini kurang banget dari sisi plot.

Aku bahkan lebih peduli kepada ular yang mereka makan, itu ular beneran? Apakah film ini ngepull Cannibal Holocaust (1980) dengan adegan makan binatang itu? Karakter-karakter Merah Putih Memanggil seharusnya bisa digali lagi. Atau kalo mau kayak Dunkirk, rekam adegan aksinya dengan meyakinkan dan perlihatkan sesuatu penceritaan yang baru. Dari sekian banyak sandera, hanya satu yang dikasih dialog. Dan itupun hanya sebatas nanyain orangtuanya.  Aku selalu high setiap kali teman-teman Gadis Sampul mendapat peran dalam film, apalagi film yang berani ngambil tema tak biasa seperti ini. Akan tetapi, Mentari De Marelle di sini tidak diberikan karakter yang berarti. Tokohnya di sini cuma cewek blasteran, and she did nothing selain nanya-nanya di mana orangtuanya. Teriak-teriak. Panik, Annoying. Tatapan Prisia Nasution (yang btw di sini tokohnya pendiem banget) ketika si Mentari lagi-lagi merengek bikin aku teriak “shoot her!”  

Jika pipis adalah hal yang dinotice oleh film, kenapa kita tidak pernah lagi melihat ada yang kebelet lagi di sepanjang film? Mungkin ditahan. Mungkin enggak kerasa. Ini mengindikasikan bahwa bahkan saat disandera, kita merasa lebih rileks ketimbang saat berlarian di medan perang. Kita masih bisa kepikiran kencing saat nyawa di bawah belas kasihan orang lain. Namun, ketika kebebasan yang dipertaruhkan, apalah faedahnya sedikit kenyamanan. It’s a long stretch, but I think inilah yang dilakukan oleh pahlawan. Mereka tidak lagi kepikiran apapun di luar tindakan yang mereka ambil atas dasar kemanusiaan. Oh man, aku gak percaya aku baru saja menarik garis antara pipis dan kepahlawanan.

 

 

 

Sebenarnya susah juga mengulas film ini, karena ia punya kepentingan, dan aku ngeri disalahartikan tidak menghargai jasa pahlawan. I mean, aku bahkan enggak tau apakah ini dari kisah nyata atau bukan; di kredit penutup mereka ngasih liat foto-foto jadul para tentara yang aku enggak yakin apa hubungannya dengan cerita. Aku terutama melihat ini dari sisi produk akhirnya sebagai sebuah film. Plotnya simpel. Yang tadinya dalam bahaya, jadi selamat. Yang tadinya tentara, jadi pahlawan. Ada nuansa genuine saat porsi aksi. Hanya saja mereka tidak menggarapnya sehingga menjadi cukup intens. Film ini terlalu standar untuk menjadi tontonan yang patut diperhitungkan dalam genre survival dan perang. Toh, film ini menyampaikan maksudnya; Jika film G30S PKI sukses berat memperlihatkan PKI sebagai antagonis, maka film ini tak pelak membuat kita lebih nyaman percaya kepada kekuatan militer Indonesia.
The Palace of Wisdom gives 3 gold stars out of 10 for MERAH PUTIH MEMANGGIL.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE EMOJI MOVIE Review

“You’re tryin’ to be cool, you look like a fool to me”

 

 

Komunikasi adalah aspek yang penting buat kita sebagai makhluk sosial. Bisa dibayangin sendiri apa jadinya kalo perkembangan teknologi berkomunikasi tidak pernah terjadi. Tidak ada buku, tidak ada internet, bahkan mungkin tidak akan ada sejarah yang terekam karena menulis pun manusia belum tentu mampu. Ngomong-ngomong apa sih penemuan paling penting dalam sejarah perkembangan komunikasi umat manusia? Telefon? Pffft plis, telefon apa, Alexander Graham Bell cuma nyiptain telegraf pake suara. Hanya suara. Menurut film ini, bentuk komunikasi terpenting yang pernah ditemukan adalah emoji. Karena dengan wajah-wajah kecil dan gambar-gambar imut tersebut, kita bisa mengekspresikan perasaan, sehingga cowok pemalu seperti Alex bisa mengatakan “I’m awkward and not good enough” dengan cara yang keren.

Dasar ‘kids jaman now’

 

Lihat kan, kini kalian tahu baru beberapa menit aku udah males nonton film ini. Mereka ngepush emoji sebagai bentuk komunikasi terpenting, mereka literally bilang begitu lewat narasi yang dibawakan oleh Gene. Gene adalah emoji ‘meh’ yang hidup di dalam smartphone cowok remaja bernama Alex. Dan currently, Alex lagi naksir cewek, teman sekelasnya. Dia pengen nyapa, ngajak kenalan tapi Alex enggak tahu mesti bilang apa. Katakan lewat emoji, kata-kata udah basi. Begitu saran teman Alex. Jadi, Alex pun berpikir keras harus mengirim emoji apa ke Addie yang manis. Di dalam telepon genggamnya, para emoji sudah siap di dalam kubikal masing-masing. Mereka menunggu untuk kepilih dan nampilin ekspresi mereka. Gene adalah anak baru, dia hanya kelewat bersemangat dalam hari pertamanya tersebut. Sehingga ketika kepilih, Gene malah menampilkan berbagai macam ekspresi, kecuali ‘meh’; ekspresi  yang harusnya ia tampilkan karena setiap emoji harusnya hanya menampilkan satu ekspresi tertentu. Ketika kau adalah ‘meh’ seperti ibu dan ayahmu dan Eeeyore di Winnie the Pooh, maka kau dilarang keras sedih, marah, ketawa, apalagi ngecampur aduk ekspresi-ekspresi itu. Gene dianggap sebagai malfungsi oleh pemimpin emoji.

Gene pun telah mengerti. Dihapus dia lari. Dikejar algojo robot, tapi dia enggak ketemu Mbak Yuli. Gene ketemunya sama Hi-5, si emoji tangan yang udah gak populer lagi, dan Jailbreak, emoji yang hobi ngehack. Mereka kabur keluar Textopolis, berusaha mencari Dropbox sehingga mereka bisa berkelana di internet, mencari programmer yang bisa menghapus semua eskpresi dalam diri Gene, supaya dia bisa menjadi ‘meh’ sejati yang membanggakan orangtuanya.

 

Sebenarnya masih ada pesan positif yang bisa dibawa pulang oleh orang dewasa dan anak-anak yang menontonnya. Terutama yang kekinian banget, yang setiap harinya aktif ngechat sebaris-sebaris, kebanyakan dengan emoji. Gene meriah oleh ekspresi, tetapi dia malah dikucilkan oleh sekitar lantaran dia enggak klop sama yang diharapkan oleh masyarakat, dia kompleks dalam majemuk yang lebih suka kesimpelan.Perjalanan Gene untuk mengecilkan dirinya sendri bisa dijadikan teguran. Begitu juga dengan journey Jailbreak, yang ingin melihat dunia di luar yang society perbolehkan.Bahkan Alex punya plot yang cukup penting, as kita sering dicut back ke bagian ceritanya, bahwa Alex dan Gene adalah pribadi yang mirip, dan di akhir cerita mereka sama-sama embracing personality yang mereka punya.

Gunakan teknologi untuk memfasilitasi hubungan di dunia nyata. Komunikasi langsung manusia ke manusia harus tetap dijaga dan utama lantaran emoji tidak bisa menyampaikan ekspresi dengan efektif, betapapun lucunya. Dan ultimately, film ini juga membisiki kita supaya jangan menjadi apa yang diinginkan orang lain.

 

Akan jadi sangat ambisius film ini jikalau dia memang memilih untuk tampil engaging, seperti gabungan dari pembangunan dunia Wreck-It Ralph (2012) dengan karakterisasi Inside Out (2015). Beberapa dari kita mungkin akan memberinya sedikit kesempatan, seperti yang kita berikan kepada The Lego Movie (2014). I know I did. Masalahnya, The Emoji Movie seperti tidak tertarik untuk semua itu. Kesan yang ada adalah film ini hanyalah fasilitas untuk menjual produk. Kalian tahu, like, “Gunakan smartphone setiap hari, karena komunikasi dengan orang itu penting. Kalopun dicuekin, tetaplah gaul dengan berbagai aplikasi yang fun!” Film ini tidak melakukan apa-apa dengan elemen cerita yang dimiliki oleh tokoh seperti Jailbreak. Bahkan ketika mereka mengintegralkan aplikasi gadget dengan narasi, aplikasi tersebut tidak benar-benar dieksplorasi menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Petualangan Gene membawanya mengarungi berbagai aplikasi seperti Facebook, Spotify, Gene dan temang-temannya terjatuh ke dunia Candy Crush dan harus mainin satu level puzzle yang ngehits itu. Mereka juga harus bermain Just Dance untuk menyeberang ke tempat berikutnya. Ada penampakan burung biru logo twitter juga (meski nama twitter sendiri enggak disebut, untuk alasan yang mungkin kita sudah sama-sama tahu kenapa). Semua aplikasi itu punya peran yang penting dalam plot poin, tujuan akhir mereka adalah Dropbox. Aku enggak percaya aku nulis ini dua kali. Bahkan film ini mendedikasikan subplot tentang kedua orangtua Gene yang diambang perpisahan, hanya untuk menampilkan Instagram. Pengalaman menonton film ini tidak bertambah menyenangkan ketika mereka nunjukin dunia Youtube dan kita diperlihatkan satu video yang sempat viral.

Hal terbaik yang dipunya film ini adalah kita dapat Patrick Stewart yang classy bermain sebagai Poop

 

Tak pelak, Sony sudah membuat salah satu film paling tak penting yang bisa kita tonton di bioskop. Menonton ini di bioskop praktisnya sama saja dengan bayar tiket untuk NONTONIN IKLAN PRODUK-PRODUK APLIKASI UNTUK SMARTPHONE. Ceritanya punya potensi tapi tidak mendapat perhatian serius sebagai sebuah film, sehingga terasa kering. Lelucon yang dipunya pun ala kadarnya. Standar humor yang biasa dipakai di film animasi untuk anak-anak seperti ini. Mungkin ada dari kalian yang ketawa, tapi niscaya itu adalah tawa hampa karena memang leluconnya – kebanyakan adalah pun basi – tidak punya weight apa-apa. “You’re so soft, Poop” diharapkan membuat kita tergelak berurai air mata. “What if you get sent out on the phone, and make the wrong face?!” diniatkan supaya kita bisa merasakan stake cerita terbangun. Bagian resolusi cerita, itu loh ketika semua subplot terjalin menjadi satu, gimana film ini berakhir, amat sangat gak make sense. Dan aku yakin kalian sudah bisa menebak apa adegan penutup untuk film yang digarap sejadinya ini. Yup, nari bareng!

 

 

 

That’s what this movie is. Iklan produk. Sejauh mata memandang animasinya yang imut. Tidak alasan lain yang bisa kita temukan untuk keberadaan film ini selain Sony ingin memasarkan aplikasi dan services – Dropbox adalah Hogswart dunia siber soal keamanan data yang disimpan di dalamnya – lewat sebuah film, yang digarap dengan seadanya. Dan itulah yang membuat film ini just plain bad. Katakanlah jika ia mengejar ambisi di luar produk placement, punya perspektif baru dalam narasinya yang benar-benar dieksplorasi dalem, film ini bisa paling tidak menjadi lebih dari sekadar ‘meh’.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for THE EMOJI MOVIE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

PENGABDI SETAN Review

“One man’s cult is another man’s religion.”

 

 

Orang yang hidup sebenarnya lebih berbahaya dari orang yang sudah mati. Terutama orang hidup yang enggak beriman kepada Tuhan. Dalam bahasa film ini; yang enggak sholat. Orang hidup dapat actually mencelakai kita. Dan pas mereka mati, orang-orang kayak gini akan bangun lagi, dan jadi hantu. Lagi-lagi menganggumu.

 

Pengabdi Setan (1980) hakikatnya adalah cerita kemenangan iman atas keingkaran. Tentang sebuah keluarga yang begitu gampangnya disusupi kekuatan hitam, diganggu, dan pada akhirnya dicelakai lantaran mereka memilih untuk berlindung kepada yang salah. Versi remakenya ini, however, masih mengeksplorasi aspek yang sama. Hanya saja kali ini digarap menggunakan teknik bercerita yang relevan dengan mainstream appeal jaman sekarang. Dan film ini sukses melakukan itu. Narasinya semakin diperluas, stake dan misterinya juga ditingkatkan.

Keluarga yang kita ikuti kali ini adalah keluarga dengan empat orang anak. Mereka ‘mengungsi’ ke rumah nenek karena rumah mereka digadai. It’s 1980s dan karir nyanyi Ibu mereka sudah meredup. Ibu sudah tiga tahun sakit parah sebelum akhirnya meninggal dengan misterius. Pasca kematian Ibu, Bapak berangkat ke kota untuk mencari penghasilan. Meninggalkan Rini, Tony, Bondi, dan Ian di rumah Nenek. Namun apa yang seharusnya anak-anak menunggu Bapak pulang, berubah menjadi mengerikan. Tanpa ada yang nunggu, Ibu mereka yang tadi baru dikubur mendadak pulang. Menebar ketakutan di tengah Rini dan adik-adiknya. Salah satu dari mereka akan diajak ke alam baka, dan Rini harus figure out siapa, kenapa, dan apa yang sebenarnya terjadi yang berkaitan dengan masa lalu orangtua mereka.

Atmosfer mencekam sedari awal sudah terestablish. Di babak awal, kita diperlihatkan kehidupan keluarga ini ketika Ibu masih hidup seadanya. Hanya bisa berbaring di tempat tidur. Ini adalah elemen yang tidak kita temukan di film orisinalnya. Kita tidak tahu seperti apa hubungan para tokoh dengan Ibu yang mayatnya sedang dikuburkan begitu film dimulai. Pengabdi Setan modern, memberi kita kesempatan untuk melihat seperti apa Ibu di mata masing-masing anaknya. At least, seperti apa Ibu saat sakit keras. And it was very interesting, kita ngeliat mereka takut kepada Ibu kandung mereka sendiri. Mereka sayang, peduli, dan ingin Ibu sembuh, namun di saat yang sama mereka tampak enggan untuk berlama-lama di kamar dengan Ibu berdua saja. Sakit Ibu yang misterius membuat sosoknya menjadi semakin menyeramkan. Bahkan Bondi terang-terangan mengungkapkan ketakutannya. Misteri ini juga langsung berpengaruh kepada kita, ada apa sebenarnya dengan si Ibu yang lagu hitsnya punya lirik bikin merinding itu.

I’m gonna make sure malam ini tidak akan sunyi

 

The whole deal soal menjadi abdi setan mendapat eksplorasi yang lebih dalam. Motivasi akan dibeberkan kepada kita, but just enough. Film ini masih menyisakan misteri yang membuat kita berpikir ke mana arah cerita dibawa. Ada beberapa referensi ke film orisinalnya – tokoh maupun pengadeganan – yang diberikan dengan subtil, yang menurutku ada beberapa yang work, ada yang enggak. Dan film ini begitu pede dengan materi yang ia punya, sehingga berani mengambil resiko berupa benturan tone cerita demi mendelivery beberapa referensi ataupun jokes.

Untuk sebuah cerita tentang sekte, film ini termasuk pengikut lantaran dia banyak memakai trope-trope cerita horor yang sudah pakem. Meninggalkan kita dengan rasa yang enggak benar-benar fresh. Rumah di area terpencil, over reliance sama jumpscare – hanya sedikit sekali adegan-adegan subtil seperti hantu nongol di cermin, elemen komunikasi dengan lonceng, sumur, elemen anak kecil yang sulit bicara. Penggemar horor jangan kuatir, penampakan hantu; kostum mayat hidup, pocong, efek dan darah dan sebagainya jelas mengalami peningkatan. Kalo Pengabdi Setan jadul masih bisa bikin kalian ketakutan, maka versi baru ini jelas akan BIKIN KALIAN JEJERITAN.

Desain produksi film ini nomor satu banget. Build up adegan-adegan seram menjadi efektif olehnya. Sinematografinya juga all-out, teknik-teknik kayak wide shot dengan kamera melengok ke kanan dan kiri, Dutch Angle untuk memperkuat kebingungan dan kengerian secara psikis, close up shot, bahkan quick cut ala Edgar Wright juga digunakan untuk mengantarkan kepada kita pengalaman visual yang bikin kita penasaran-tapi-gak-berani-melototin-layar-berlama-lama. Musik dan suara dirancang untuk benar-benar menggelitik saraf takut. Most of them are loud, jadi buat yang demen dikagetin bakalan have a scary good time nonton ini.

Personally, meskipun digunakan dengan efektif, jumpscare dalam film ini terlalu keseringan. Ngikutin kesan beberapa teknik yang digunakan hanya karena bisa, maka karena aku bisa, aku akan menarik perbandingan antara horor dengan bercinta. Saat kita nonton horor, kita gak ingin cepat-cepat teriak “aaaaaaaaaaahhh!”. Kita ingin ada build up menuju adegan menyeramkan, membangun teriak ketakutan  layaknya fore play. Dan jumpscare berujung ke premature orgasm, hanya akan membuat kita terlepas dari kengerian yang udah kebangun. Untuk kasus film ini, jumpscarenya malah sama dengan fake orgasm. Setiap kali ada setan muncul, penonton di studio ketawa sambil teriak ketakutan, lebih tepatnya ditakut-takutin. It’s annoying. Kesan yang ada adalah mereka teriak setiap kali ada hantu, untuk lucu-lucuan, atau hanya supaya dibilang berpartisipasi – kebawa reaksi video penonton premier Pengabdi Setan yang sempat rame di social media menjelang film ini rilis untuk umum.

what’s more of a sign than sign language?

 

Manusia adalah makhluk yang vulnerable. Selalu butuh untuk mencari tempat perlindungan. Kita cenderung ingin menyandarkan insecurity kepada sesuatu yang lebih gede dari kita, yang bisa kita percaya. Anak akan bersandar kepada orangtua. Orangtua yang beriman akan meneruskan cari perlindungan ke Tuhan. Dan tak sedikit yang terjerumus kepada hal-hal ghoib. Ini menjadi polemik, sebab sekte menurut satu orang adalah agama bagi orang lain.

 

Keluarga Rini tidak dekat dengan Tuhan, sebab Ibu yang menjadi pusat semesta mereka sudah lebih dahulu diam-diam menyandarkan bahu, meminta kepada setan. Journey Rini semestinya sudah jelas. Dia harus memegang kendali membawa keluarganya ke jalan yang benar. Akan tetapi, tidak seperti Pengabdi Setan dahulu yang less-ambitious – film tersebut dibikin hanya untuk menyampaikan baik melawan jahat, Pengabdi Setan versi baru ini terkesan ingin membuktikan bahwa dia bisa melakukan yang lebih baik, makanya dia banyak memakai teknik dan trope-trope film lain. Tak pelak, ini jadi bumerang.  Dalam film ini, not even Ustadz dapat mengalahkan kekuatan setan. Dan ini menihilkan keseluruhan journey dan pembelajaran. Narasi film tidak terasa full-circle. Semakin mendekati akhir, revealing atas apa yang mereka lakukan terdengar semakin konyol. Like, “Tadinya gini, eh ternyata ada diralat.” Terasa seperti film ini bernapsu untuk mengupstage plot poin mereka sendiri dengan twist dan turn yang kelamaan makin gak make sense.

At its worst, film lupa untuk mengikat banyak hal, memberi banyak celah untuk kita nitpick. Editing di bagian kejar-kejar akhir agak off, eye tracingnya membuat kita bingung persepsi dan arah bangunan rumah. Beberapa poin cerita juga tersambung dengan aneh dan goyah banget. Sepanjang bagian tengah dihabiskan Bondi tampil kayak kesurupan; berdiri diam, dia bahkan ngambil pisau, dan tau-tau di akhir, dia menjadi baik saja. Sebelum Bapak pergi ke kota, anak-anaknya mencemaskan gimana kalo nanti ada apa-apa, Bapak bilang apa sih yang bisa terjadi? Beberapa hari kemudian, nenek bunuh diri, dan kita enggak melihat usaha dari Rini ataupun Tony untuk menghubungi ayah mereka. I mean, ibu dari ayah mereka baru saja tiada, alasan apa lagi sih yang ditunggu buat nyari Bapak? Ada adegan ketika mereka nunggu jam duabelas malam, Bapak menyuruh Rini dan Tony tidur duluan pukul setengah sebelas, dia bilang dia masih kuat nungguin bareng Pak Ustadz. Adegan berikutnya yang menampilkan Bapak, jam duabelas teng ketika all hell broke loose, kita melihat beliau bobok di ranjang. Tokoh ini tidak ada determinasi sama sekali. Well, yea, semua tokoh Pengabdi Setan memang ditulis seadanya. Selain Rini, enggak banyak karakter yang dapat development, selain beberapa di antara mereka ternyata punya pengetahuan tentang Ibu, dan beralih fungsi menjadi easy eksposisi.

Karakter terbaik dalam film ini adalah si bungsu Ian (M.Adhiyat mampu menafsirkan arahan dengan baik). Tingkahnya beneran seperti anak-anak, and he was so likeable. Ketika nyawanya terancam di bagian akhir, kita beneran peduli. Tokoh ini juga satu-satunya yang punya plot. Bahkan Rini, tokoh utama, enggak berkembang banyak. Karakternya cuma sebagai si Kakak Tertua. Tara Basro dan kebanyakan pemain sudah cukup kelimpungan oleh penggunaan aksen jadul seperti pemakaian kata ‘kau’, sehingga mungkin memang penulisan karakternya sengaja tipis-tipis saja. Tony adalah anak yang paling deket dengan Ibu, setiap malam dia nyisirin Ibu. Sementara Bondi, well, anak macam apa sih yang nyebut kuburan lengkap banget dengan “areal pekuburan”? I mean, bahkan Lisa Simpson aja enggak sekaku itu ketika dia mengadu ketakutan melihat kuburan dari jendela kamarnya dalam salah satu episode The Simpsons. Bondi adalah anak paling boring sedunia, he only good at screaming like a girl. Dan Hendra, oh boy, anak Pak Ustadz ini has the worst flirting tactic ever. Dia plainly bilang ke Rini dia ngestalk kuburan dan rumah mereka di malam hari, namun dia malah melihat hantu Ibu, dan ujung-ujungnya dia ngajak Rini nginap di rumahnya.

 

 

 

Remake dari horor cult classic Indonesia ini adalah contoh penerapan yang sangat baik dari template horor mainstream James Wan. Bahkan dengan twistnya – yang merupakan upaya untuk menutupi kegaklogisan plot-plot poin – film ini pun tidak pernah terasa benar-benar fresh. Tapi ini adalah horor yang sangat fun dan enjoyable. Design dan teknik produksi kelas atas. Beberapa adegannya akan mudah sekali membuat kita menjerit kaget. Merasa kita ketakutan. Terutama jika kita nonton ini bareng-bareng dan termakan sama strategi viral video reaksi penonton premier.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for PENGABDI SETAN.

 



That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.



THE BOOK OF HENRY Review

“A tiger dies and leaves his skin.”

 

 

Enggak ada yang tampak luar biasa di kelas pagi itu. Bu Guru lagi membimbing murid-murid mengungkapkan warisan apa yang ingin mereka tinggalkan di dunia, dan seperti di hari-hari biasa, Henry mengejutkan seisi ruangan dengan opininya yang penuh pemikiran, jauh lebih dewasa dari umurnya. But that just a normal day di kehidupan Henry. Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Sedari adegan pembuka tersebut, film ini sudah mengait kita masuk dengan pernyataan seputar apa yang ingin kita tinggalkan di dunia ini. Tentu, semua orang pengen namanya dikenang. Jasa-jasa besarnya diingat. Semuanya mau melakukan hal yang spesial. Namun Henry, being special brain and mind as he is, malah ingin melakukan hal sebiasa membantu apa-apa yang bisa ia bantu selagi dia hidup bernapas dan berjalan di muka bumi. Simpel. Biasa aja.

Just do good to others. Saling bantu satu sama lain. Jika perlu buatlah urusan orang lain sebagai urusan kita sendiri. Sebab, kalolah ada tindak paling kejam di atas dunia, maka itu bukanlah tindak kekerasan. Melainkan ketidakpedulian kita terhadap sesama.

 

Dalam urusan warisan, sutradara Colin Trevorrow tampaknya ingin meninggalkan jejak, ia ingin dikenang, sebagai sutradara yang menghasilkan film yang unik ketimbang sebagai pembuat film yang laku. Karena The Book of Henry benar-benar tidak seperti yang lain. Trevorrow sudah mengembangkan cerita ini selama lebih dari 19 tahun. Dan dalam prosesnya, keunikan dan keorisinilan film ini tidak lagi datang dari betapa berbedanya dia dari film-film lain. Aku percaya saat pertama kali mikirin idenya, The Book of Henry terdengar sangat fresh, namun ditonton sekarang-sekarang ini, aku bisa melihat sedikit Goosebumps (2015), sedikit Gifted (2017) dan malahan sedikit serial Thirteen Reasons Why (2017) di dalam elemen narasi. Yang membuat The Book of Henry tetep terasa sangat unik adalah penggarapan dan arahannya yang SANGAT BERANI. Pembelokan tone yang amat tajam, ngetackle hubungan keluarga, dan permasalahan child abuse, semuanya diceritakan oleh Trevorrow dengan melanggar banyak aturan filmmaking.

Pada babak satu, The Book of Henry terlihat kayak film keluarga biasa. Semuanya tampak menyenangkan. Henry bersama adiknya naik sepeda seputaran lingkungan ramah dengan aman. Mereka semua bahagia. Naomi Watts memainkan Susan, seorang single mother yang sangat cool. Kalian harus lihat dan denger sendiri gimana cara Susan ngobrol kepada kedua anaknya yang masih kecil. Dia pake metode yang bakal bikin asosiasi orangtua kaku kebakaran jenggot. Mungkin kita sedikit bergidik melihat caranya yang penuh kejujuran dan gakpake sensor pemanis. Aku sempet shock dikit pas Susan pake gestur jari khasnya Stone Cold Steve Austin ke Henry, dan dibenerin oleh Peter sebab apparently jari telunjuk Susan belum lurus. Tapi toh anak-anaknya tetap cinta dan hormat. Karena sepertinya memang begitulah cara yang bener bicara sama anak kecil; anggap mereka sebagai orang dewasa juga. Susan ngegedein dua putra yang sangat spesial, terutama Henry yang obviously seorang bocah jenius. Dinamika ibu-anak antara Susan dan Henry terjalin dengan terbalik; Susan main video game dan dilarang oleh Henry. Susan juga lumayan reckless ngurusin keuangan, semuanya diatur oleh Henry yang masih sebelas tahun. Dan di malam hari, setelah siangnya minum-minum dengan teman sesama pelayan di kafe eskrim, Susan membacakan cerita pengantar tidur tentang punk rock band kepada Henry dan adiknya, Peter, yang diperankan dengan sekali lagi gemilang oleh Jacob Tremblay. Begitulah rutinitas hidup mereka yang harmonis. Kadang Peter ngambekan sih, semua orang suka Henry, sehingga rasa iri itu sedikit muncul. Namun permasalahan kecil seperti itu dapat diselesaikan berkat kepintaran dan kebaikan Henry.

“kids jaman now” harusnya bikin rumah pohon dengan jebakan deh, ketimbang bikin akun sosial media

 

The Book of Henry masih ngikutin struktur tiga-babak, namun dengan cara yang sama sekali berbeda. Bagian mid-point benar-benar mengubah keseluruhan film. Cerita menjadi lebih kelam, dan kecurigaan Henry mengenai ada tindak kejahatan yang terjadi di rumah anak cewek di sebelah rumah mereka tampaknya semakin terbukti. Aku enggak mau bilang banyak, karena spoiler di bagian ini bakal merusak pengalaman menontonnya. Aku hanya bisa bilang bahwa di paruh kedua film, akan ada karakter yang harus mengambil banyak keputusan berat. It was a very ballsy thing to do in regards of storytelling. Hingga akhir film aku duduk menonton sambl gigit kuku, enggak percaya film ini melakukan apa yang mereka lakukan, and got away with it.

Pergantian tone cerita juga berarti jangkauan range karakter yang cukup luas yang harus dimainkan oleh para aktor. Dan mereka semua berhasil membuat performa film ini meyakinkan. Arahan sutradara juga berperan besar di sini. Tokoh anak-anak berhasil mengimbangi Naomi Watts yang semakin kuat memainkan peran ibu. Jaeden Lieberher adalah Henry yang sangat meyakinkan, tidak terbata dia berperan sebagai anak jenius yang bertingkah jauh di luar anak-anak umurnya pada umumnya, dia jarang tersenyum namun sangat perhatian. Sekaligus punya emosi dan sense of humanity yang kuat. Kepada Maddie Ziegler yang jadi tetangga Henry lah sepertinya kita  perlu bertepuk tangan salut paling keras. Dia enggak diberikan banyak dialog, sebab dia harus banyak berakting lewat ekspresi, dan cewek ini brilian sekali. Ada sekuens di talent show sekolah yang benar-benar membuktikan ini; Maddie harus melakukan banyak gerakan menari yang sangat fisikal sembari harus menampakkan ekspresi penuh derita dan duka yang subtil di wajahnya. She was so good dan penuh penghayatan.

 

warisan yang ditinggalkan Henry ternyata adalah 13 reasons why and how to killed your bad neighbor

 

Tindak berani selalu ada saja resikonya. The Book of Henry dengan pergantian tone cerita yang drastis tentu berpotensi bikin kesel banyak orang. Pengen drama keluarga yang fun, eh malah dapet yang lebih kelam. Tapi semestinya penonton film 2017 sudah terbiasa dengan film-film ‘mengecoh’ kayak gini. Kita udah dapet Get Out dan It Comes at Night di antaranya. Di mana The Book of Henry sedikit goyah adalah di paruh kedua. Tepatnya pada elemen anak jenius yang mengatur keputusan karakter lain. Semuanya terlihat sangat diatur dan dipermudah, padahal keputusan yang diambil oleh karakter yang satunya adalah keputusan yang sangat berat. Ultimately, it makes the story was somewhat predictable. Jadi, filmnya seolah berubah namun pada akhirnya tidak banyak kejutan yang kita rasakan.

 

Topik, penceritaan, kejadian, semua itu diolah dengan cara yang sangat berani. Dia melawan banyak aturan film. Menjadikan dirinya sendiri sebaga tontonan yang sangat unik. Film ini akan meninggalkan para penonton terbagi menjadi dua kelompok; yang merasa kecele, dan yang terkesima atas keberanian dan keorisinilan yang hadir buah dari keberanian tersebut.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE BOOK OF HENRY.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE BIG SICK Review

“Pleasing your parents is to attain Allah’s pleasure”

 

 

Fun fact: Di Pakistan, ‘Arranged Marriage (Perjodohan)’ disebut ‘Pernikahan’. Tanpa embel=embel.

Kalo di Sumatera Barat, Siti Nurbaya bilang “aku gak mau dijodohin, Ma!”, maka sebagai ekuivalen di Pakistan Siti Nurbaya simpelnya bilang “aku gak mau nikah, Ma!” Yang bikin makin kompleks adalah enggak banyak yang nekat jadi Siti Nurbaya di sana. Keseluruhan tradisi Pakistan adalah soal menghormati kehendak orangtua. Itulah yang dihadapi oleh Siti Nurbaya film komedi romantis ini, tapi dia bukan cewek. Seorang cowok stand up comedian yang juga nyambi jadi pengemudi Uber, namanya Kumail Nanjiani.  Dan ini adalah kisah nyata tentang gimana Kumail (memainkan diri sendiri di debut peran utamanya) bertemu dengan seorang yang sangat spesial bagi dirinya, menyangkut hubungan asmara mereka yang bergelombang oleh perbedaan kultur. Kumail pacaran sama cewek Amerika, yang mana melanggar salah satu peraturan emaknya yakni harus nikah sama cewek Pakistan. Cerita juga membahas gimana Kumail dan Emily (Zoe Kazan punya chemistry luar biasa dengan Kumail) pada akhirnya saling mengapresiasi – baik budaya dan ego mereka sendiri maupun orangtua masing-masing.

ada cewek yang nyaman-nyaman aja ngomongin boker di sekitar kalian? nikahin!

 

 

Aspek agama dan budaya, kompleksnya masalah yang timbul dari perbedaan pandang terhadap keduanya, menjadi tema besar yang diangkat oleh The Big Sick. Ini adalah masalah yang obviously benar-benar terjadi, banyak orang yang mengalami kejadian serupa, sehingga film ini bakal dengan mudah menemukan koneksi dengan penonton. Banyak orang terelasi dengan apa yang dihadapi oleh Kumail. Dan tidak sebatas itu saja pengrelasian kita terhadap tokoh ini. The Big Sick juga adalah tentang kerumitan keinginan anak beradu dengan keinginan orangtua. Seperti keluarga bahagia normal di Pakistan, keluarga Kumail yang tinggal di Amerika adalah keluarga yang taat terhadap peraturan agama dan peraturan sosial. Lewat tokoh Kumail, film ini menggambarkan pemeluk Islam sebagai tidak selalu serius seperti yang sering diduga oleh orang-orang Amerika. The Big Sick enggak ngasih pandangan yang menyudutkan, malahan film ini menangkap perjuangan identitas seorang imigran seperti Kumail dengan menghibur.

Kumail adalah muslim dengan pola pikir barat. Dia tidak mengerti kenapa dia harus sholat lima waktu, dengan diketahui oleh orangtuanya. Dia makan ati setiap kali kerjaannya sebagai stand up komedian disebut-sebut di meja makan mereka. Dia juga struggle untuk enggak langsung kabur balik ke kos setiap kali ibunya mengundang cewek pilihan untuk makan di rumah. Heck, Kumail bahkan disuruh manjangin jenggot kayak adiknya, meski dia udah bilang beberapa kali jenggot membuat wajahnya gatal-gatal. Stake yang tersaji adalah jika orangtua udah gak demen banget sama pilihan Kumail, dia akan ditendang dari silsilah keluarga, tidak akan ada lagi kerabat yang boleh bicara kepadanya.

Banyak dari kita yang dibesarkan oleh orangtua dengan tuntutan sebagai pupuknya. Kita diharapkan untuk menjadi sesuatu, memilih jalan hidup yang bener karena orangtua tahu yang terbaik. Makanya, banyak anak-anak yang tumbuh menjadi orang dewasa dalam keadaan takut-takut mereka mengecewakan orangtua. Susah untuk bikin orangtua bahagia. Susah untuk mendapat restu mereka, namun kita paham itu adalah hal yang penting, terlebih karena dalam agama Islam restu orangtua adalah restu Allah. Dan ini ditangkap dengan elok oleh The Big Sick karena pada akhirnya film ini menyentuh lebih dari sekadar romansa yang sangat lucu.

 

 

Di sinilah keindahan penulisan naskah menunjukkan perannya. The Big Sick tidak pernah mempersembahkan diri sebagai tontonan yang super serius. Dia tidak pretentious, enggak bermaksud totally ngajarin penontonnya. Komedi yang dihadirkan sangat real. Interaksi para tokoh tertangkap dengan mulus dan natural, bahkan terkadang film ini terlihat seperti semi dokumenter. Kita seperti menyimak percakapan beneran. Makanya film ini jadinya lucu banget, bukan semata karena diangkat dari kisah nyata, melainkan juga DIBANGUN TANPA PRETENSI. Beberapa adegan tampak seperti dimprovisasi gitu aja. Dengan chemistry luar biasa, tidak pernah terasa aktor-aktor tersebut overdoing akting mereka, hanya untuk jadi dramatis ataupun supaya lucu. Namun bahkan ketika aspek cerita yang lebih kelam dan sedikit lebih kuat hadir, mereka masih menemukan cara untuk memancing bibir kita tertarik membentuk garis senyuman.

Temanya sungguh real dan relevan dan relatable, kita sudah banyak mendapatkan film tentang hubungan cinta beda-budaya seperti ini. Film klasik Guess Who’s Coming to Dinner (1967) bisa dijadikan pioneer, atau kalo mau lebih deket lagi ada Ernest Prakasa dengan Ngenest (2015) yang menilik perbedaan sebagai momok yang walaupun kita berusaha cool about it, tetapi tetep ada dampaknya secara emosional. Awal tahun kita mantengin Get Out (2017) yang dengan kocaknya mengamplify ketakutan terhadap clash of culture dan ironisnya masalah rasisme. Dalam The Big Sick kita melihat Kumail yang menghadapi masalah seperti saat dia tampil ngestand-up, ada penonton yang merujuk ke stereotype teroris. The Big Sick  juga memiliki elemen yang membuat film ini berbeda dari film-film bertema serupa. Romantis dalam film ini bukan sekedar datang dari adegan dua sejoli tokoh kita saling cuddle di tempat tidur, mereka pacaran, kemudian berantem, terus balikan. Kejadian di babak kedua membuat film ini menjadi orisinal karena membuat Kumail harus menghabiskan banyak waktu dengan keluarga Emily yang sangat, sangat kocak. Secara personal, Kumail menjadi deket banget sama kedua orangtua ini, dia belajar banyak tentang masalalu Emily, hubungannya dengan kedua orangtua, serta Kumail mengerti apa yang terjadi di antara kedua orangtua Emily itu. Dan itu menjadi bahan pembelajaran yang lebih berharga lagi buat dirinya dalam kaitannya dengan menyintai orangtuanya sendiri.

kalo mau jadian ama cewek, deketin dulu orangtuanya hihi

 

Masalah yang bisa kutemukan buat film ini adalah pada durasinya. Menjelang babak ketiga bakal terasa panjaaaaaaang banget, sebab ada banyak sekuens yang tampak hendak menuju ke suatu titik, seperti ngetease akan terjadi sesuatu, tapi ternyata enggak. Sebenarnya ini lebih kepada masalah kodrat film ini sebagai kisah nyata. Susahnya mengulas dan mengritik film-film dari kisah nyata adalah akan tiba masanya bagi kita, saat menonton, untuk mempertanyakan sejauh mana porsi bagian nyata yang ditampilkan oleh film. Ketika ada suatu adegan yang lucu, misalnya, kita jadi ingin tahu apa memang benar di kejadian nyata seperti ini, mereka simply nunjukin dengan detil, atau mereka menambahkan bumbu-bumbu penyedap. Saat menjelang dan pada babak ketiga, banyak adegan yang membuatku bertanya seperti demikian, sehingga cerita rasanya sedikit terseok.

 

 

 

Amazing performances dari Kumail Nanjiani, Zoe Kazan, Ray Romano, Holly Hunter menghidupkan film dari kisah nyata ini menjadi benar-benar menggelora, karena kalo ada nilai kuat maka itu adalah komedi romansa ini sama sekali tidak prententious. Ini juga sangat lucu. Percakapannya terasa real. Akan ada banyak adegan ketika praduga dan konflik yang timbul dari perbedaan budaya dan agama, mereka harus work out their differences, namun sama sekali tidak pernah ditangani dengan klise. Dia juga tidak jatuh dalam jurang menghakimi ketika memperlihatkan struggle Kumail sebagai ‘alien di Amerika’. Tidak ada momen mereka meledak penuh emosi. Film ini sangat light-hearted meskipun tetap punya bobot emosional yang sangat kuat. Dan babak keduanya berhasil membuat film menjadi stand out. Itulah yang membuatnya menjadi menarik.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for THE BIG SICK.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

IT Review

“Adults are the real monsters.”

 

 

Masa kecil ninggalin kenangan, hanya jika kita punya kelompok bermain. Teman-teman sepermainan yang sharing suka dan duka, bertualang naik sepeda bersama. Bahkan ketika kelompok tersebut dijuluki anak-anak lain sebagai The Losers’ Club. Bill, Ben, Richie, Eddie, Stan, Mike, dan Beverly jadi deket lantaran mereka sama-sama sering dibully. Bagi lingkungan sekitar, mereka tak lebih dari si Gagap, si Gendut, si Mulut Besar, si Penyakitan, si Anak Rabi, si Orang Luar, dan si Cewek Murahan. Tahun 1988an itu adalah waktu yang keras di kota Derry. Tapi Bill dan teman-temannya, mereka baik saja as they have each other. Perundung yang mereka benar-benar cemaskan bukanlah Henry Bowers yang suka main pisau lipat itu. Yang mereka takutkan adalah sosok yang sudah membuat banyak anak-anak lain menghilang, termasuk adik Bill. Sosok yang satu ini munculnya di tempat-tempat tak terduga, dia ‘memangsa’ rasa takut dan imajinasi anak-anak. Sosok yang jauh lebih menyeramkan daripada orangtua masing-masing. Pennywise the Dancing Clown. Dan dia bahkan bukan badut beneran!!

come float with us

 

Dengan seribu-seratus lebih halaman, sesungguhnya It adalah novel yang sulit sekali untuk diadaptasi ke layar lebar. Belum lagi predikatnya sebagai salah satu cerita paling seram yang pernah ditulis oleh Stephen King. Sebelum ini, It pernah disadur ke miniseri televisi yang dibagi menjadi dua episode. Quick review: miniseri televisi tersebut sudah berusaha untuk loyal kepada materi bukunya, mempersembahkan penampilan Pennywise yang seram, tapi dari segi efek memang terasa tertahan. Lagipula ketika ditonton bareng sekarang-sekarang ini, efek filmnya terasa sangat out-of-date. Banyak aspek kemampuan Pennywise yang tidak bisa digambarkan dengan baik tahun 1990 itu.

Makanya aku seneng sekali melihat apa yang mereka lakukan kepada Pennywise di film baru ini. Aktor Bill Skarsgard did an awesomely creepy touch terhadap si badut horor. Aku suka matanya tampak natural ketika melihat ke dua arah sekaligus, aku suka gimana ilernya menetes-netes setiap kali ngebujuk anak-anak. Sebenarnya Pennywise itupun hanyalah salah satu dari wujud jelmaan dari makhluk yang Bill and-the-genk sebut sebagai It (aku jadi teringat cerita Lupus yang nyebut hantu sebagai Anuan karena dia takut menyebutnya sebagai hantu). It mengambil bentuk yang berbeda-beda tergantung dari anak mana yang mau ia mangsa berikutnya. Dan dari adegan pembuka kematian Georgie yang sangat ikonik hingga ke menit-menit It bergiliran menakuti tujuh protagonis kita, film ini setia mengikuti apa yang tersurat di novel. Efek yang digunakan juga terlihat meyakinkan. Sutradara Andy Muschietti – sebelumnya menggarap horor Mama (2013) – paham bagaimana menebar visual untuk membangun adegan seram. Adegan Ben di perpustakaan ketika dia melihat halaman buku yang terus berulang dengan nenek-nenek menyeringai mengerikan di latar belakang adalah salah satu favoritku.

Para aktor cilik bermain luar biasa fenomenalnya. Mereka terlihat kayak teman sepermainan beneran. Highlight paling terang tersorot dari Finn Wolfhard yang kembali berperan sebagai anak 80an yang keliling naik sepeda, dia kebagian sebagai Richie si ‘badut’ dalam grup, dan Finn really nails his comedic role. Persahabatan mereka, gimana anak-anak bergaul, film ini merekamnya dengan jujur. Banyak serapah dan kata-kata jorok, hal tersebut bisa dimengerti karena – bagi orangtua yang masih menyangka anak mereka anak-anak manis – memang seperti itulah anak kecil kalo lagi bermain, di luar pengawasan orangtua mereka. Ada nuansa underdog beneran yang melingkupi mereka karena mereka harus berurusan dengan sesuatu yang tidak mereka mengerti, yang tidak akan ada yang percaya kepada mereka.

Untuk urusannya sebagai adaptasi, karakter para tokoh sebagian besar sama, dengan beberapa apa-yang-mereka lakukan yang dibuat sedikit berbeda. Ada beberapa tokoh yang terasa jadi sedikit lebih sederhana, like, mereka jadi agak terlalu stereotypical, terutama si Ben. Dari ketujuh anak, Ben actually tokoh favoritku di novel It. Makanya aku agak kurang sreg kenapa di film ini mereka enggak lagi bikin dam; yang meniadakan kemampuan Ben di mana Ben lah yang merancang dam. Juga soal ‘cinta segitiga’ Ben-Bill-Beverly yang menurutku mereka mengecilkan skenario sweet secret admirer Ben dan Beverly lantaran di sini Ben dibuat canggung banget.

Persahabatan anak-anak bertemu dengan monster tukang bunuh, humor ketemu horor – semuanya terasa fisikal. Meski demikian, It bukan sekedar cerita sekumpulan anak muda melawan musuh terbesar mereka, yakni ketakutan, yang terpersonifikasi sebagai badut dengan balonnya. Ada tone kelam seputar tumbuh remaja, sexuality, trauma dan gimana untuk melupakannya yang dibahas dalam narasi. Satu pesan yang menguar dari balik It adalah bahwa anak-anak muda begitu terbebani oleh ketidakadilan dunia yang lebih dewasa. Para orangtua digambarkan entah itu pemabuk, terlalu mengatur, manipulative, ataupun downright cruel – tidak pernah dipandang sebagai pahlawan oleh anaknya.

 

ada alasannya kenapa orang dewasa takut sama anak-anak

 

 

Aku tidak mengikuti perkembangan dan promosi untuk film ini, aku enggak nonton trailernya. Dan aku harus bilang, saat menonton film ini aku merasa sudah termisleading. Jadi menurutku, aku harus ngespoiler  sesuatu buat calon-calon penonton yang sudah pernah membaca buku ataupun nonton miniseri televisinya dan mengharapkan sesuatu yang berbeda dari film berdurasi dua-jam-sepuluh-menitan ini: It yang ini juga adalah CHAPTER SATUNYA SAJA. Dengan durasi sepanjang itu ditambah dengan beberapa perubahan kecil namun signifikan, saat menonton It kita bisa dengan mudah menumbuhkan asumsi bahwa film ini mengambil langkah adaptasi yang eksrim as in cerita bakal selesai tanpa ke babak mereka dewasa. Tapi enggak. Bagian masa kecil ini penting untuk pelandasan karakter dan relationship, sehingga meskipun agak ngestrech, film tetap harus membagi buku menjadi dua chapter (atau mungkin lebih, kita bisa ngarep). Fokus cerita adalah pada masa kanak-kanak para tokoh, and I just think they need to put the ‘Chapter One’ bit sedari awal.

Di sinilah sedikit masalah timbul; daging cerita It sebenarnya terletak di bagian ketika Bill dan kawan-kawan yang sudah dewasa ‘diundang reuni’ oleh Pennywise. Saat itulah cerita mengerikan soal trauma atas apa yang kita takuti mulai kick in. Maka dari itulah sebabnya, kenapa in the long 2 hours run film ini terasa semakin kehilangan intensitasnya. It bekerja dengan sangat baik sebagai HOROR SLASHER MENAMPILKAN ANAK KECIL DENGAN LEVEL KENGERIAN YANG SAMA SEKALI JAUH DARI LEVEL SEKOLAH DASAR. Aksinya brutal, nasib beberapa tokoh mengenaskan, walaupun kamera tidak pernah benar-benar menangkap sesuatu di luar batas sadis yang wajar. Akan tetapi, ada kehampaan pada intinya. Motivasi inner karakternya belum berjalan maksimal, plotting tokohnya belum full circle. Bahkan kota Derry gak benar-benar menjelma sempurna sebagai lokasi yang seharusnya berkembang seakan menjadi tokoh tersendiri oleh sejarah kelamnya. Aku suka gimana film ini memperkenalkan kita kepada tujuh anak tersebut dengan porsi yang sama besar, kita juga diperlihatkan apa bahan bakar ketakutan mereka, kelemahan mereka di mata Pennywise, tanpa menggunakan flashback – jika boleh kutambahkan sebagai perbandingan dengan versi miniseri tv. Namun adegan per adegan terasa berjalin dengan kurang mulus. Seperti tidak ada ritme, sebab sesungguhnya yang kita lihat memang setengah dari keseluruhan cerita. But then again, enggak banyak cara menghandle pembagian cerita It yang lebih baik dari yang dilakukan oleh film ini.

On the other hand tho, jika kalian baru pertama kali tahu cerita yang berjudul It, menonton ini akan terasa sama menyenangkan dan serunya dengan menonton horor slasher klasik semacam A Nightmare on Elm Street. Dan there’s nothing wrong with that, aku malah beranjak dari penonton film-film genre itu. Film ini  melakukan kerja yang sangat baik mengembalikan kita ke kejayaan genre monster pembunuh lewat tayangan yang juga kocak, penuh oleh penampilan akting yang meyakinkan.

 

 

 

This is one of the better Stephen King adaptation. Fokus cerita pada masa kanak-kanak para tokoh. Mereka madetin dan menghidupkan elemen-elemen paling mengerikan dari buku, dan wisely meninggalkan bagian yang kontroversial ataupun yang kurang bekerja dengan baik. Pennywisenya sangat menyeramkan, meski aku pikir tokoh ini bisa diberikan dialog creepy lebih banyak lagi kayak di buku ataupun mini seri tv. CGnya menyatu dengan mulus. Terang saja Chapter Keduanya akan sangat dinantikan karena kita bisa menagih janji cerita yang benar-benar berdaging saat film tersebut tiba di bioskop.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for IT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

IT COMES AT NIGHT Review

“It’s hard to wake up from a nightmare if you are not even asleep”

 

 

Apa sih yang datang malem-malem? Dingin? Debt collector? Diare? Sundel bolong yang jajan sate terus minta nambah soto? Kuntilanak yang bernyanyi “malam-malam aku sendiri tanpa cintamu lagi”? Kenangan mantan? Apapun itu, semuanya adalah bahan buat mimpi buruk. Yang membuat kita mengunci pintu dan jendela, memastikan enggak ada sesuatu yang nongkrong di bawah tempat tidur. Itulah metafora yang direferensikan oleh judul dari film yang posternya keren banget ini.

Mimpi buruk datang di malam hari. Dan ketakutan, dan dalam beberapa tingkat ketegangan dan paranoia terhadapnya akan membuat kita terjaga.

 

Ketika malam tiba, anjing milik keluarga Paul (Joel Edgerton begitu real sehingga menonton performa emosional dirinya akan turut bikin kita sesak) akan menyalak, mereka pun enggak akan keluar rumah. Paling enggak, tanpa mengenakan topeng gas dan membawa senjata api. Semacam virus sudah menjangkiti penduduk kota, mengakibatkan Paul beserta istri dan putranya, Travis yang beranjak 17 tahun (Kelvin Harrison Jr memegang peran penting dalam cerita yang emotionally horror banget) kudu mengarantina diri mereka sendiri. Mengubah rumah mereka menjadi semacam shelter perlindungan. Mereka tidak bisa membiarkan satu makhlukpun masuk sebab mereka tak ingin lagi menghabisi anggota keluarga sendiri, seperti yang mereka lakukan terhadap Kakek di menit-menit awal cerita. Suatu malam, Will (satu lagi penampilan luar biasa dari Christopher Abbott) mencoba menyelinap masuk demi mencari makanan dan air untuk keluarganya sendiri. Dua keluarga ini come in terms untuk tinggal bareng, ada kesepakatan dan perjanjian segala macem, namun tentu saja, isolasi tersebut semakin terasa. Dan horor lantas melanda.

Semua hal tersebut kita ketahui bukan dari adegan-adegan eksposisi, melainkan dari shot-shot cantik-tapi menegangkan buah tangan Trey Edward Shults. Sutradara ini tidak pernah menjelaskan apapun kepada kita. Tidak ada jawaban, kita tidak akan diberi tahu apa yang membuat anjing mereka lari, apa yang melukainya, kenapa anak kecil itu tidur di lantai, apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada pendiktean. Cerita singkat yang aku tuliskan tadi adalah murni deduksi sendiri dari apa yang informasi yang diperlihatkan oleh film. Kita mungkin bisa akur pada beberapa poin cerita, akan tetapi untuk sebagian besar apa yang terjadi di dalam kepala karakternya totally dibiarkan ambigu. Kita enggak tahu siapa yang bisa dipercaya. KERAGUAN, KETAKUTAN, KEHILANGANPIKIRAN NEGATIF MANUSIALAH YANG MENJADI TOKOH ANTAGONIS dalam film ini. Makanya, film ini bisa misleading buat penonton yang mengharapkan bakal melihat setan.

“Mas, setannya ada?”

 

MIMPI BURUK ADALAH TEMA yang jadi elemen utama cerita. Kita tahu seseorang sangat passionate dengan projeknya jika mereka benar-benar memikirkan detil dan punya gaya sendiri. Itulah yang dilakukan oleh Edward Shults terhadap film ini. Untuk menyampaikan ketakutan dan paranoia para tokoh kepada kita, Shults tidak menyediakan jawaban pada narasi. Untuk menyampaikan tema mimpi buruk, Shults menggunakan banyak adegan mimpi serta treatment yang berbeda terhadap adegan-adegannya. Ia memanfaatkan long shot supaya kita penasaran dan bergidik ngeri ketika ada tokoh yang berjalan menyusuri rumah pada malam hari. Penerangan dibuat sangat minim, baik itu dari lampu semprong ataupun senter, sehingga meskipun tidak ada apa-apa di background, kita akan membayangkan yang bukan-bukan sedang berjongkok di salah satu sudut gelap itu. Namun, penggunaan banyak adegan mimpi, meskipun aku mengerti akan kebutuhan penceritaan, tetap saja membuatku sedikit dilema ketika disuruh menilai film ini.

Dalam film horor, langkah paling gampang adalah menyusupkan adegan mimpi untuk memancing adegan seram. It’s a cheap way, pengandaiannya sama dengan kalo ada penyanyi lagi manggung di suatu kota, tapi dia dicuekin, maka dia tinggal bilang “Selamat malam, Banduungg (atau nama kota tempat manggung)” dan penonton niscaya sorak sorai. Kalo kau ingin masukin adegan seram yang gak make sense ataupun gak nyambung, masukin aja sebagai adegan mimpi. Sebaliknyapun, saat kita menonton horor, sungguh sebuah hal yang annoying jika sudah terinvest sama satu adegan seram, eh tau-tau adegan selanjutnya adalah si tokoh terbangun dengan keringetan. Dalam It Comes at Night ada sekitar empat atau lima kali adegan mimpi. In fact, semua adegan mengerikan yang ‘mengecoh’ kita ada dalam konteks mimpinya si Travis. Untuk mencegah penonton ngamuk, dan supaya bikin filmnya gaya, Shults menggunakan treatment khusus. Setiap adegan mimpi diberikan ratio aspek gambar yang berbeda dengan adegan di dunia nyata. Bahasa gampangnya sih; pada adegan mimpi, layar tampak lebih sempit, perhatikan deh batas atas dan bawah layar. Nah itulah akibatnya, aku jadi sering terlepas dari cerita karena sibuk memperhatikan aspek ratio tersebut, mana yang mimpi mana yang bukan.

Pada babak ketiga, Shults memasukkan twist kepada treatment mimpi buruk ini. Ratio gambar dibuat sama dengan ketika adegan mimpi buruk sampai ke kredit penutu bergulir, namun baik Travis maupun yang lain tidak ada yang sedang tidur. Treatment ini menyampaikan pesan bahwa mimpi buruk Travis selama ini sudah menjadi kenyataan baginya. Pilihan mengerikan yang dibuat oleh ayahnya adalah pengingat yang nyelekit banget bahwa terkadang realita tidak kalah menyeramkan, malahan acapkali lebih disturbing, daripada mimpi buruk seribu bulan.

 

 

Pilihan-pilihan yang dilakukan oleh Shults untuk film ini semuanya dapat kita pahami kepentingannya. Bahkan di babak ketiga, kamera pun dipindah menjadi handheld, dan ini dilakukan supaya situasi horor yang terlepas dapat terhantarkan kepada penonton. Hanya saja teknik-teknik dan treatment ini keluar terlalu kuat, ia menutupi kebrilian penampilan akting. Dan tidak beanr-benar diimbangi dengan plot yang sama kuatnya. Padahal apa yang menimpa keluarga Paul, konflik emosi setiap karakternya sungguh nyata. Pertama kita paham betul ketakutan Paul – begitu juga dengan Will – jika  keluarganya sampai terancam bahaya. Paranoia tersebut mengubah manusia menjadi brutal. Membuat orang-orang saling menyerang, demi kepentingan keluarga mereka. Ya, seperti kata quote di tumblr soal gimana kalo lagi ngumpul dan tertawa bareng, kita akan otomatis melihat ke arah orang yang paling kita cintai di dalam kelompok tersebut; saat dalam keadaan takut dan chaos, kita akan menumpukan sandaran kepada keluarga. Hanya keluargalah yang paling dapat kita percaya.

Karena kata Max Black; keluarga hanya menginginkan duitmu, bukan darahmu.

 

Di tengah-tengah isolasi dan bimbang kepercayaan tersebut, ada Travis. Tentu bukan asal sebut saja ketika film memperkenalkan tokoh ini sebagai anak remaja. Travislah yang paling restless. Dia gak bisa tidur. Dia yang selalu galau di malam hari. Emosi yang ada di dalam tokoh ini begitu bentrok. Kalian paham dong pastinya, remaja umur segitu mulai meragukan orangtua – apakah ayahnya melakukan hal yang benar,  mulai takut kehilangan apa yang ia cintai, dan tentu saja mulai naksir cewek. Semua hal manusiawi tersebut menambah level keteganganm, diolah dengan begitu perhatian ke dalam narasi, sehingga kita dapat satu tokoh yang benar-benar kerasa konflik internalnya dan di luar semua itu, dia masih harus mengkhawatirkan virus yang bisa saja menularinya. Jadi kita mengerti dari mana mimpi-mimpi buruk terus menghantui dirinya.

 

 

 

Jika ada sesuatu di luar sana, maka kita tidak akan pernah mengetahuinya. Sebab, horor film ini justru bekerja berlawanan dari yang kita duga. Isolasi tersebut tidak banyak berpengaruh karena ketakutan datang dari dalam diri. Hidup kita rapuh, kita begitu gampang takut, dan ultimately paranoia akan menelan moral bulat-bulat. Ini adalah cerita yang sungguh devastating dan diolah dengan penuh kecakapan. Film ini menggunakan misteri sebagai sarana untuk menghormati kecerdasan penonton. Hanya saja aku bisa mengerti bahwa, sepertinya halnya The Babadook (2014) ataupun The Witch (2016), akan ada banyak orang yang kecele sama horor ini. Tidak ada sosok hantu, semua yang seram-seramnya hanya mimpi, tidak ada jawaban yang disediakan meski memang ceritanya emosional dan thought-provoking.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for IT COMES AT NIGHT.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE DARK TOWER Review

“Mind over matter”

 

 

Jake Chambers punya mimpi. Mimpi buruk sekali. Ada menara hitam menjulang tinggi, seolah menopang seluruh semesta. Anak-anak diculik oleh sekelompok orang yang kulit wajahnya bisa melorot. Lalu ‘pikiran’ anak-anak itu diperas untuk meruntuhkan menara tersebut. Dan Jake melihat Pria berpakaian hitam berlari di gurun, diikuti oleh seorang Gunslinger. Perang sedang berlangsung di suatu tempat. Sesuatu yang buruk sedang terjadi terhadap dunia, Jake sadar mimpinya berhubungan erat dengan gempa yang semakin sering terjadi di kota tempat dia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya. Tapi tentu saja enggak ada yang percaya. Malahan, alih-alih senang anak punya imajinasi yang hebat, demi melihat sketsa-sketsa yang digambar Jake untuk menjelaskan mimpinya, Ibu Jake yang cakep itu malah hendak mengirim Jake ke rumah sakit jiwa. Jake kabur, dia lantas menemukan sebuah portal yang membawanya ke dunia yang ia lihat lewat mimpi. Tak lama bagi Jake untuk bertemu dengan Gunslinger, mereka bertualang bersama. Untuk menyelamatkan dunia. Serta membalaskan dendam personal si Gunslinger kepada si Penyihir berbaju hitam.

Kecuali kalian punya pistol, percaya sajalah pada mimpimu.

 

Setiap kali kita hendak mengadaptasi entah itu novel, anime, serial tv, atau bahkan film dari negara lain, menjadi sebuah film, kita akan selalu menemukan masalah. Ekspektasi dari fans akan senantiasa tinggi, mereka akan minta film yang semirip mungkin ama source materialnya, dan itu bisa jadi penghalang kreativitas yang dimiliki oleh pembuat film. Jika ada yang aku setujui dari pola pikir Vince McMahon dalam menyuguhkan konten acara gulat WWE, maka itu adalah bahwa fans enggak tahu apa yang mereka mau. The Dark Tower benar-benar menerangkan DEFINISI ‘ADAPTASI’ kepada fansnya. Cerita The Dark Tower diangkat dari seri terkenal dari salah satu author horor favoritku, Stephen King, dan aslinya cerita ini ada delapan buku. Ketika jadi film, tim penulis skenario tidak mengambil satu buku dan meringkasnya. Film ini mengambil resiko; mereka ngemash up kejadian kedelapan buku sekaligus! Aku belum ngatamin membaca semua seri The Dark Tower, maka buatku film ini adalah sebuah petualangan aksi supernatural yang oke-oke saja. Suka amat enggak, sepele juga enggak. Ada fun juga deh ngikutin petualangan yang satu ini. Tapi meski begitu, aku bisa menebak para fans dari serial ini akan kecele berat, karena film jelas akan sangat berbeda dengan apa yang sudah mereka nanti-nantikan.

Ketiga tokoh sentral The Dark Tower  berkembang lewat kemampuan mereka menggunakan mental yang kuat, lebih daripada kemampuan fisik. Jake punya bakat psikis yang luar biasa. Penjahat utama film ini adalah seorang penyihir yang mampu memerintahkan orang lain melakukan apa yang ia sampaikan kepada mereka. Dalam salah satu jampi-jampinya, si Gunslinger bilang bahwa ia membunuh bukan dengan pistol, melainkan dengan hati. Kedisiplinan pikiran sejatinya bisa mengalahkan kekuatan otot. Latihlah kekuatan otak, imajinasi, dan keyakinan hati sebelum belajar untuk menggunakan fisik sebagai solusi.

 

Langsung keliatan beda adalah tokoh utamanya. Bukan lagi kepada Gunslinger, film menempatkan kita ngikutin Jake Chambers. Alasan yang terpikirkan olehku adalah karena cerita tentang remaja bermasalah dianggap mewakili lebih banyak kalangan penonton; untuk alasan yang sama juga kenapa kita mendapat adaptasi Stephen King yang berating PG-13, padahal King punya nama bukan sebagai pengarang novel young adult. Apart from that, aktor muda Tom Taylor memerankan Jake dengan mumpuni. Dia dapet range karakter yang lumayan luas, dari yang tadinya pendiam menjadi pemarah, dia melalui banyak perasaan emosional. Stephen King adalah master dari cerita balas dendam, tokoh Roland si Gunslinger meski agak kedorong ke belakang, namun kita masih bisa ngerasain elemen personal yang menghantui dirinya. Mata Idris Elba menyimpan banyak emosi. Jake dan Roland selain punya hubungan yang menyentuh hati juga diberikan momen-momen humor yang terdeliver bagus. Seperti pada Wonder Woman (2017), ada aspek fish-out-of-water yang menghibur saat Jake belajar tentang dunia Roland, dan begitu juga sebaliknya saat Roland dilarang ngeluarin – bahkan bicara tentang – pistol di Bumi kita.

Tokoh antagonisnya lah yang sedikit membuat aku khawatir. Menjelang The Dark Tower rilis, aku ngadain pemutaran spesial film-film adaptasi Stephen King setiap malam di kafe eskrimku (boleh kaka cek insta kita di @warungdaruratbdg ~~), filmnya enggak semua bagus, dan tokoh jahat cerita-cerita itu kerap menjadi terlalu over the top. Matthew McConaughey is kinda perfect mainin Man in Black yang licik kayak ular. Gaya bicaranya worked really well. Dia tampak menikmati perannya. Masalah datang dari si tokoh sendiri; he’s just an evil powerful sorcerer. Kita enggak diberikan pengetahuan soal kenapa dia ingin menghancurkan menara dan memanggil monster-monster itu. Darimana dia bisa ngumpulin organisasi Wajah M’lorot, apa motivasi terdalamnnya. Kita enggak mendapatkan semua itu. Kita hanya mendapat apa yang kita lihat di permukaan, dan menurutku ini sangat mengecewakan.

Secara lengkapnya, ‘mantra’ yang dikumandangkan Roland sebelum beraksi berbunyi “I do not kill with my gun; he who kills with his gun has forgotten the face of his father. I kill with my heart.” Dengan penekanan kepada ‘(who) has forgotten the face of his father.’ Ada tema tentang ayah yang juga diparalelkan dengan kehidupan Jake. Orang yang melupakan wajah ayahnya, dalam artian tidak lagi orang tersebut ingat latar belakang dirinya sendiri, adalah orang yang tidak pantas untuk memegang senjata; dalam hal ini bisa diartikan sebagai enggak pantas untuk memegang power. Sebab dia tidak lagi ingat apa yang mendasari motivasinya, dia tidak lagi punya kekuatan hati.

 

some of us will not forgot the face of Jake’s mother soon

 

 

 

Sayangnya, resiko yang berani diambil oleh The Dark Tower hanyalah sebatas ngerangkum keseluruhan buku dan ngurangin durasi. Masih ada hiburan serta pelajaran yang bisa kita ambil dari nonton ini.  Sekuen aksinya pretty good, banyak stunt dan spesial efek yang menarik. Hanya saja semuanya terasa terlalu konvensional. Tidak ada adegan ataupun momen yang benar-benar mindblowing. Lupakan juga aspek horor. Film ini jatohnya seperti film-film petualangan biasa sebab kita tidak pernah benar-benar merasakan pembangunan semesta cerita. Padahal sebagian besar dialog film ini wujudnya berupa eksposisi. Jake, dalam perspektif penceritaan, tak lebih dari sekadar device gampang untuk menghadirkan penjelasan universe. Dan tetap saja di akhir cerita kita sadar kita enggak belajar banyak mengenai dunia fiksi ini. The way they present certain things seolah semua penonton sudah punya pengetahuan dasar tentang serial bukunya.

Ngebangun cerita sudah semestinya jadi tujuan filmmaker demi membuat film yang bagus. Namun, seperti banyak film modern yang lain, film ini juga cenderung lebih fokus dalam membangun franchise instead. Ada banyak referensi terhadap karya Stephen King lain yang bisa kita temukan seakan-akan mereka ingin membuat Universe Stephen King. Kekuatan psikis yang dimiliki oleh Jake disebut “Shine” as in The Shining. Sebenarnya cukup annoying, tapi oleh karena aku lumayan bosen sama narasi film yang basic banget, aku toh jadi menikmati juga ketika melihat angka 1408, reruntuhan sirkus bertulisan Pennywise lengkap dengan balonnya, poster Rita Hayworth, mobil Christine, dan banyak lagi.

 

 

 

Enggak begitu buruk. Buat aku yang enggak nuntasin semua seri bukunya, film ini adalah tontonan yang bisa dijadikan hiburan, jika benar-benar enggak ada pilihan lain. Tapi buat fans berat, film ini bakal sama rasa mengecewakannya dengan diphpin ama cewek. Dengan source material sekompleks ini, film mestinya bisa menjadi lebih jauh lagi. Nyatanya dia tampil datar dan sangat konvensional. Mitologinya menarik, dengan background karakter yang mendalam. Namun film hanya membahas di permukaan. Tidak ada yang benar-benar berbeda yang bisa kita jadikan pengingat yang ikonik. Penampilan aktornya bagus; Elba dan MacConaughey is so great sehingga kita ingin meraih ke layar, mengangkat mereka, untuk dipindahkan ke film yang lain. Ibarat kata, film ini lupa membangun menara cerita terlebih dahulu untuk menopang semesta yang sekaligus berusaha mereka ciptakan.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for THE DARK TOWER.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

CARS 3 Review

“Those who can’t do, teach.”

 

 

What is your goal in life? Well, entah itu jadi seniman sukses, orang kaya, selebriti tenar, penulis hits, kita mestinya ngeset tujuan kita segede-gedenya. Lupakan jadi yang biasa-biasa aja. Apalagi berhenti mengejar keinginan tersebut. Teruslah ngegeber gas untuk mengejar  mimpi mulia yang kita punya. Lightning McQueen tahu persis akan hal ini. Sebagai pembalap dia enggak bisa untuk enggak meniatkan diri menjadi juara satu. Untuk menjadi yang tercepat. Makanya, dia terus mendorong dirinya untuk menjadi lebih baik dan lebih cepat. McQueen punya ‘mantra penyemangat’ sendiri yang selalu dia ikrarkan setiap kali hendak mulai balapan.

It is about self empowerment. Kita harus punya mindset juara. Akan tetapi, yang diingatkan oleh Cars 3 kepada kita semua adalah definisi juara sebenarnya lebih dari piala semata.

 

Cars adalah franchise kedua dari Pixar – selain Toy Story – yang udah sampai pada film ketiga. Cars pertama tayang di tahun 2006 dan entah sudah berapa kali aku menonton film ini. Bukan karena suka banget, melainkan karena film itu adalah satu-satunya yang bisa mendiamkan tangisan adek bungsuku. Jadi dulu, nyaris setiap hari dvd Cars disetel di rumah. Filmnya sih oke. Apakah butuh sekuel?  Jawabannya tentu saja tidak, jika kita melihat betapa ‘kacaunya’ Cars 2 (2011). Bisa jadi Cars 2 adalah film Pixar terburuk yang pernah dibuat. Aku mengerti sekuel sebaiknya memang dibuat berbeda dengan film orisinalnya. Cars 2 punya nyali untuk tampil beda. Tetapi, mengubah dari apa yang tadinya film tentang mobil balap menjadi film tentang mobil yang jadi mata-mata, dengan practically memasangkan karakter paling annoying di sejarah Pixar sebagai tokoh utama, jelas bukan langkah yang brilian.

Cars 3 sepertinya sadar akan kekhilafan mereka.

Film kali ini dikembalikan ke jalan yang lurus.Kembali ke soal mobil balapan, separuh bagian awal Cars 3 nyaris terasa seperti Pixar mencoba menyematkan kata maaf. Mater, dalam film ini, didorong jauh ke latar. Dia cuma muncul di beberapa adegan singkat, hanya supaya fansnya enggak ngamuk. Itu juga kalo ada hihi. Selebihnya kita akan mengikuti McQueen as dia belajar untuk mengingat kembali apa yang membuat dia menjadi pembalap in the first place.

Kalian bisa jadi apa saja. Jadilah mobil balap.

 

Lightning McQueen yang disuarakan oleh Owen Wilson sudah semakin tua. Sebenarnya tidak ada yang salah dengannya, dia masih bisa melaju cepat. Hanya saja, teknologi semakin berkembang. Jadi, McQueen mulai sering kalah. Mobil-mobil balap generasi baru bermunculan, dengan teknologi paling mutakhir terpasang pada mereka. Zamanlah yang sekarang harus dipacu oleh McQueen. Dia lantas belajar untuk menjadi pembalap yang lebih baik, dia pergi berlatih ke sebuah tempat canggih yang sudah disediakan oleh sponsor. Di sana, McQueen dilatih oleh seorang pelatih bernama Cruz. Which is a fresh, interesting new character yang berhasil menyeimbangkan kementokan karakterisasi McQueen sendiri.

Trailer film ini menyugestikan seolah Cars 3 diberikan arahan yang lebih serius. Film ini tampak hadir lebih gelap, kita melihat McQueen terpelintir rusak, sebelum akhirnya terbanting ke jalan. Nyatanya, film ini basically MIRRORING KEJADIAN PADA FILM PERTAMA. Di mana kala itu McQueen adalah pembalap baru dan dia bertemu – kemudian diajarkan banyak – oleh Doc Hudson. Relationship McQueen dan Hudson akan banyak dieksplorasi dalam Cars 3 karena adalah aspek yang penting, essentially McQueen sekarang berada di posisi Hudson. An old, tired race car. Kita akan melihat McQueen berlatih untuk menjadi lebih kencang, untuk menjadi lebih baik. Dia bersedia belajar menggunakan teknologi baru yang somehow tidak berjalan begitu baik buatnya. Bersama pelatih barunya, McQueen balapan di pantai berpasir. Mereka berdua ikutan demolition derby. McQueen benar-benar mencoba untuk mencari ke dalam dirinya, apa yang membuatnya jadi pembalap. Di bagian latihan ini, film picks ups considerably. Ada pesan yang baik di sini, dan menjelang akhir semuanya menjadi surprisingly menyentuh dengan sebuah keputusan yang diambil. Mungkin banyak yang bisa menebak ke mana arah cerita, tapi tetep aja kerasa sangat touching karena kita akhirnya melihat karakter McQueen berputar satu lap, he comes full circle di akhir cerita. Dan menurutku, ending film ini sangat memuaskan.

Jika enggak ada manusia, kenapa mobil-mobil itu punya pegangan pintu?

 

While penonton cilik mungkin akan ileran ngeliat mobil-mobil baru nan mengkilap – Cars 3 tampak mulus seperti biasa, jika tidak lebih – penonton yang lebih dewasa bakalan sedikit berkontemplasi dibuat oleh pesan yang terkandung di dalam narasi.

Apakah kelak kita akan undur diri dengan sukarela, menyerahkan obor itu kepada generasi berikutnya, atau apakah kita akan terus melaju dalam jalan yang kita tahu ada ujungnya, risking everything just to keep up? Keseluruhan pembelajaran Cars 3 adalah tentang warisan. Kapan harus berhenti, merelakan, dan menyadari bahwa bukan semata kemenangan yang akan abadi. It’s our excellency.

 

Jika setiap mobil punya akselerasi, maka film ini pun ada. Antara film baru di’starter’ dengan kita mulai menikmati cerita, sesungguhnya memakan waktu yang enggak cepet. Paruh pertama film ini boring banget. Ada banyak lelucon yang jatoh bebas menjadi datar sedatar-datarnya. Kalian tahu, serial Cars selalu memancing jokes dan anekdot seputar personifikasinya terhadap dunia manusia. Yang memang sekilas terdengar amusing, tapi kalo dipikir-pikir rada gak make sense.

Banyak yang membandingkan film ini dengan sekuel-sekuel Rocky. Aku agak berbeda dengan pendapat itu, karena buatku, Cars 3 lebih kepada personal McQueen. Dia enggak necessarily pengen mengalahkan Storm, si mobil balap yang lebih muda namun rada angkuh dan kasar. McQueen ingin buktikan kalo dia sendiri masih mampu berlari di lintasan itu, bahwa dia adalah pembalap yang punya tujuan hanya satu. Aspek ‘ketika si muda menjadi tua’ ini bisa kita tarik garis lurus dengan keadaan Pixar sekarang. Bagi anak-anak, Cars adalah Pixar. Sedangkan bagi kita yang udah nonton lebih duluan, Cars adalah franchise Pixar yang paling ‘lemah. Bandingkan saja dengan Toy Story (1995). Pixar sudah exist cukup lama, dia sudah enggak ‘muda’ lagi, dan kita bisa lihat karya mereka juga enggak sekonsisten dulu lagi briliannya. Cars 3 adalah usaha Pixar menunjukkan mereka still can go wild-and-young. Tapi pertanyaan yang harus kita tanyaka adalah, akankah kita melihat successor ataupun rival baru yang lebih muda, yang bakal membuktikan bahwa mereka lebih baik dari Pixar?

 

 

 

Tidak banyak ‘pergantian gigi’ seperti yang kita kira, namun tak pelak ini adalah kisah mentorship yang menyentuh. It work best as a bigger picture, jika kita menonton ini setelah menonton film yang pertama. Bagusnya pun kurang lebih sama, deh. Kita bisa ngeskip Cars 2 entirely dan enggak akan banyak nemuin lobang di continuity. Penokohan membuat karakter lama jadi punya depth baru. Even newcomer diberikan penulisan yang lebih nendang lagi. Tapi leluconnya kinda datar, it’s hard enough membayangkan peraturan universe mobil-mobil itu. Dent pada konsep, dan Pixar berusaha sebaik mungkin menggali apa yang mereka bisa dari sana.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for CARS 3.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

KIDNAP Review

“When I grow up, I’ll be a man like Mom.”

 

 

Kasih anak sepanjang jalan. Kasih ibu sepanjang masa. Well, dalam film ini Halle Berry membuktikan kasih sayang sepanjang masanya dengan desperately mengejar penculik anaknya, ngebut-ngebutan di sepanjang jalan tol.

Sembilan-puluh menit sensasi menegangkan mestinya bisa kita alami bareng Halle Berry yang hari itu lagi sial banget. Dia memerankan tokoh bernama Karla. She’s a single mom yang lagi ngurusin perceraian. Di tempatnya bekerja sebagai waitress – kafe paling enggak bersih seAmerika, setidaknya menurut salah satu pelanggan cerewet – Karla dibuat repot karena temen waitressnya enggak masuk kerja. Di sini karakter Karla diset up, kita lantas paham bahwa dia enggak akan nerimo diperlakukan rendah, that she doesn’t take shit from anybody. Karla akhirnya bisa refreshing jalan-jalan ke taman bareng anaknya, Frankie. Kita melihat betapa dekat mereka. Kita bisa merasakan naluri ibu pelindung Karla semakin teramplify oleh perceraian, dia enggak mau pisah ama Frankie. Dan di momen itulah, Frankie justru diculik oleh seseorang (atau sekelompok). Basically, film enggak pake ngerem berubah menjadi full adegan kejar-kejaran.

Lebih dari sebuah misi penyelamatan, Ini adalah jalan pembuktian bagi Karla bahwa dia bisa menjadi ibu yang baik. Bahwa dia sanggup mengurus anak. At heart, Kidnap bekerja sebagai cerminan struggle seorang single mother yang menolak untuk terlihat lebih ‘rendah’ dari mantan suami. Ataupun dari pasangan suaminya yang baru. Desperate, putus asa, namun gigih. Film ini mengingatkan kepada siapapun di luar sana bahwa tidak ada yang mengalahkan tekad dan perjuangan seorang ibu yang menginginkan anaknya.

 

 

Dari konsep sendiri, ini adalah cerita yang menjanjikan. Jika diolah oleh tangan-tangan yang tepat, bukan tidak mungkin bakal menjadi sajian thriller yang asik sekaligus seru. This could work great, film televisi Duel (1971)  buatan Stephen King, kan, juga mirip-mirip kayak gini. Tapi struggle is real buat orang-orang di balik pembuatan film Kidnap. Halle Berry melakukan sebaik mungkin yang mampu ia usahakan. Dan that’s about the nicest thing yang bisa aku bilang untuk film ini. Penulisan plot poin serta penghalang buat tokoh Karla begitu seadanya sehingga kita terhibur juga oleh keover-the-topan yang dihasilkan. Di satu titik, Karla sengaja bikin mobil-mobil tak berdosa saling tabrakan seolah mereka cuma bom-bom car sebab dia ingin disetop oleh polisi sehingga dia bisa mengadukan kasus penculikan tersebut. Oh ya, sebagai plot device, narasi sengaja membuat hape Karla terjatuh, so yea, supaya kita dapat halangan pertama. Setelah itu, tidak banyak variasi kegiatan Karla. Dia antara berlari-lari, ataupun berdoa dan bicara kepada dirinya sendiri.

Mungkin dia juga sengaja nyala sein ke kiri terus beloknya ke kanan

 

Bayangkan film Nay (2015), gabungkan dengan Taken (2008). Tapi batasi porsi dialognya dengan hanya “Oh my god” dan “Frankie!”. Rekam dengan audio. Kemudian potong-potong adegan aksi dan kebut-kebutannya, susun ulang dengan serampangan-pokoknya-asal-cepet. Sudah? Sip, kalian sudah dapat gambaran besar tentang seperti apa film Kidnap dipersembahkan. EDITINGNYA ADALAH SALAH SATU YANG TERBURUK yang pernah kita saksikan dalam dunia sinema. Demi memancing adrenalin penonton, film ngeshot back-and-forth dengan cepat. Jarang sekali kita bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Sekuen Karla berantem cekek-cekekan seatbelt dalam terowongan adalah sekuen yang bikin mata berair, eye-tracingnya completely off. ALih-alih merasakan ketegangan, kita malah sibuk berusaha fokus, sehingga sama sekali enggak ada emosi yang kita pungut dari adegan tersebut.  Banyak informasi yang literally terpotong oleh proses editing yang kasar banget. Seperti pada akhir, kita melihat Karla dikejar anjing dan salah satu penjahat. Karla sembunyi dengan menyelam di dalam air. Kemudian dia tiba-tiba muncul dari belakang si penjahat, ada pergulatan, dan kita enggak pernah lihat apa yang sebenarnya terjadi kepada anjing galak tadi.

Ketika Karla berlari keluar dari mobil, dia setengah mati berusaha secepat mungkin ke tempat yang ia tuju, sesungguhnya ini adalah momen yang sangat intens. Namun, berkat editing horrible – alihalih pake continuous shot yang panjang, mereka malah memotongnya menjadi banyak shot – momen tersebut jadi kehilangan energi. Pilihan yang dilakukan oleh filmmakernya bakal bikin kita ngakak, dan dari sinilah letak enjoy nonton film ini datang. Beneran, kalian bisa bikin semacam drinking game atau apa dari banyaknya shot speedometer yang beranjak naik dari 40 ke 60, seolah minivan si Karla ngebut banget.

Seperti Karla yang desperate ngejar penculik anaknya, film ini desperate agar kita terhibur menontonnya. Ia gunakan trik-trik filmmaking supaya filmnya seru. Eh malah jadi tampak konyol. To pinpoint one moment in particular; dalam salah satu adegan kebut-kebutan, film ini menggunakan efek fade black dan terang lagi dengan cepet-cepet sekitar enam atau tujuh kali. Tujuannya sih supaya kita turut ngerasain tegangnya melaju dalam kendaraan yang nyaris tabrakan, akan tetapi kelihatannya malah kayak adegan di trailer film-film action. Merasa enggak cukup, film ini pun turut memakai teknik Dutch Angle. Eh, tau Dutch Angle gak? Itu tuh, teknik kamera miring atau ditilt beberapa derajat sehingga bagian bawahnya enggak lagi sejajar garis horizontal. Seperti yang biasa kita jumpai pada film-film psikologis ataupun arthouse. Teknik ini sebenernya digunakan untuk menggambarkan suasana yang eerie biar lebih dramatis. Jika karakter bingung, maka dengan diceritakan pake kamera ngeoblige kayak gini, rasa bingungnya bisa meningkat menjadi kecemasan yang luar biasa. Dalam film ini, aku tanya deh, kenapa? Kenapa momen nyeni kayak gini digabung begitu saja ke dalam action thriller klise. Dutch angle jika salah penempatan, atau dilakukan dengan enggak pas, jadinya malah konyol. Dan itulah yang terjadi pada salah satu car chase di film ini.

“You took a wrong movie!”

 

Ketika kita punya cerita yang sederhana, yang konsepnya begini basic, kita bakal enggak bisa menahan diri untuk memasukkan twist sekecil apapun yang kita bisa.  Yang tidak termaafkan adalah ketika kita memasukkan twist, dan kemudian kita merasa perlu untuk menjelaskan kepada penonton. Setelah kita melihat cerita tembak-langsung, Kidnap dengan tanpa dosanya merangkum narasinya dengan memasukkan adegan berupa suara di radio memberitakan apa yang telah terjadi. Menurutku, ini adalah salah satu bentuk penceritaan yang meremehkan intelensia penonton. Closing dengan siaran berita itu sama sekali enggak perlu.

Jika pria adalah seorang yang menyintai unconditionally,yang senantiasa melindungi dan peduli. Maka, ya, Ibu adalah seorang pria.

 

 

 

Complete failure of production. Film ini sangat berantakan. Editingnya yang parah membuat konsep thriller yang punya potensi menjadi hilang begitu saja. Tergunting-gunting di dapur studio. Sebagian besar durasi kita akan capek untuk mengikuti alur editing yang parah. Sehingga kita lupa untuk menikmati emosi dan struggle tokoh utamanya. Namun aku gak bisa bohong, aku terhibur juga dibuat oleh film ini. Pilihan-pilihan yang mereka lakukan dalam menyampaikan cerita sangat konyol.
The Palace of Wisdom gives 3.5 out of 10 gold stars for KIDNAP.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.