BEBAS Review

“A dream you dream together is reality”
 

 
Bebas, garapan Riri Riza, merupakan versi Indonesia dari drama komedi persahabatan asal Korea; Sunny (2011). Jika ingin tahu seperti apa Bebas dibandingkan dengan Sunny, maka kalian tinggal membayangkan film-film live-action remake animasi buatan Disney. Narasi dan urutan cerita bahkan dialog-dialognya sama persis, dengan beberapa perubahan atau penambahan elemen bertindak sebagai hiasan karena perubahan atau penambahan tersebut tidak benar-benar berani dikembangkan.
Hits berat pada zamannya, actually jadi film terlaris kedua di Korea Selatan di tahun 2011, Sunny menuai banyak pujian dari penonton dan kritikus. Bebas pun langsung dapat dengan mudah disukai. Walau raihan penontonnya kurang mencengangkan, tapi di sana sini aku mendengar banyak pujian dialamatkan kepada film Bebas. Menyenangkan, nostalgic! Aku menonton Bebas sama seperti ketika aku menonton Cinta itu Buta (2019) yang juga adaptasi plek-plekan dari film luar; Aku nonton dua film ini tanpa pernah menonton film aslinya. Namun kesan menontonnya berbeda. Pada Bebas, aku merasa hampa. Aku enggak merasa benar-benar konek dengan cerita yang berselingan masa kini dengan masa lalu, dengan karakter yang belasan jumlahnya. Maka aku kemudian menonton film aslinya. Dan menemukan perbedaan mendasar yang menjawab kenapa Bebas yang dirancang sedemikian sama, tidak berhasil menguarkan rasa yang serupa dengan Sunny.
Yang dipakai pada naskah Bebas – yang mengikuti naskah Sunny – bukanlah struktur tiga babak seperti film kebanyakan. Diceritakan seorang ibu rumah tangga bernama Vina Panduwinata dengan kehidupan biasa-biasa saja bertemu kembali dengan salah satu sahabatnya di masa SMA. Sang sahabat itu dulunya adalah ketua geng mereka di sekolah. Dan merupakan permintaan terakhirnya sebelum tutup usia karena kanker kepada Vina untuk mencari dan mengumpulkan seluruh anggota geng mereka. That’s basically the whole set up of this movie. ‘Sisa’ durasi kita akan melihat Vina berusaha untuk menghubungi mereka yang ia tak tahu ada di mana, sementara Vina juga berjuang untuk lebih berperan dan akrab dalam hidup putri remajanya. Kita akan dibawa bolak-balik ke masa lalu Vina dan Geng Bebas masih remaja, sehingga sedikit demi sedikit ‘sejarah; mereka kita ketahui. Drama datang dari kita mengenali impian masa muda mereka dan melihat menjadi seperti apa masing-masing dari mereka sekarang. Sejauh mana pertemanan masa lalu akan berpengaruh kepada diri kita saat sudah dewasa terpapar oleh kenyataan hidup.

kemudian teman hanya sebatas ngucapin selamat ultah

 
Gagal jadi seniman, Vina merasa datar tapi kemudian perjalanan memori dan ‘reuni’ membuatnya sadar hidupnya lebih baik daripada teman-temannya. Vina selalu memandang pengen sejak kecil; pengen secantik Suci, pengen sekaya Gina, pengen sekeren Kris, pengen seluwes Jojo. Di saat dewasa she realizes dia yang paling ‘beruntung’ di anatara teman-temannya. Hidupnya yang paling ‘bener’. Vina tidak perlu dikasih rumah, dicariin kerja, ataupun dipinjamin uang. Dia punya keluarga sendiri, dan dia sadar dia harus mengendalikan hidup sebagai miliknya sendiri. Aku mengerti semua itu dari menonton Sunny, setelah menonton Bebas. Dan itu bukan karena nonton untuk kedua kali baru bisa mengerti, melainkan karena memang Bebas tidak berhasil menonjolkan apa yang sebenarnya ingin ia ceritakan. Pada Bebas, gagasan dan cerita utamanya kalah menonjol oleh deretan cameo pemain, isu-isu sampingan yang hanya jadi latar, dan musik-musik dan hura-hura.
Isi bisa disamakan, tapi penyampaiannya tidak akan segampang itu untuk diduplikasi. Di sinilah Bebas tertinggal dari Sunny. Cerita dengan dua versi tokoh (masa remaja dan masa dewasa) yang silih berganti membentuk narasi utuh sangat bergantung kepada flashback. Tentu saja teknik editing sangat krusial di situ. Sunny sangat seamless menjalin dua periode di dalam cerita. Film itu menggunakan pergerakan kamera yang tak pernah sekadar mengikuti pemain untuk dijadikan transisi yang antara masa lalu dengan masa kini. Time images yang ditangkap oleh kamera, diteruskan dengan menyenangkan ke dalam pikiran kita. Sedangkan pada Bebas, masalah editing-lah yang langsung menyeruak mengganggu. Kita hampir bisa melihat garis-garis pembatas pada setiap perpindahan periode dalam Bebas. Dari satu adegan ke adegan lain terasa abrupt. Banyak sekali cut-cut yang membuat kita semakin terlepas. Pergerakan kamera pun terasa standar. Coba deh bandingkan adegan berantem di antara tawuran dalam film Sunny dan Bebas. Banyak adegan dalam Bebas yang terasa putus emosinya. Kesan paralel antara flashback dengan kejadian yang mengikutinya menjadi hilang. Kita tidak merasa masuk dan keluar dengan benar dari flashback.
Flashback seharusnya dijadikan alat untuk mendukung dan memajukan kejadian di masa kini. Kita melihat dua Vina; Vina remaja yang anak polos pindahan dari kampung berubah menjadi ‘gaul’ bersama teman gengnya, dan Vina dewasa yang hidupnya tampak biasa saja berubah menjadi lebih menarik sejak dia bertemu kembali dengan teman-teman gengnya. Sebagai karakter, ada dua Vina bergerak dalam dua arc yang sama. Teknik penceritaan flashback dilakukan harusnya membuat dua Vina dan dua arc ini menyatu sehingga tampak sebagai satu Vina dalam satu perjalanan. Bebas berusaha mengemulate kerja Sunyi menampilkan ini. Bukan perkara yang mudah, terlebih karena cerita ini juga memuat banyak narasi sampingan seperti persoalan Vina dengan putrinya, Vina dengan kakak cowoknya, dengan masing-masing anggota geng, dengan suaminya, dengan cowok yang pernah ia taksir. Bebas seperti kesusahan menangkap esensi sehingga semua narasi itu disajikan begitu saja, dengan potongan-potongan abrupt. Kita akan bingung harus berpegangan pada yang mana. Semua hal di sekitar Vina tampak lebih dominan daripada dirinya.
Vina ditampilkan sebagai karakter yang sangat datar, terutama di awal-awal saat dia masih anak baru. Ketika adegan di dalam kelas, Vina remaja langsung kalah pamor – film lebih menyorot temannya yang obses sama bulu mata, sama temannya yang ketua geng, sama gurunya yang hamil. Perhatikan betapa besar porsi mereka dibanding Vina. Memang, adegan tersebut memposisikan Vina sebagai observer, ia melihat banyak hal baru yang belum pernah ia jumpai di tempat asalnya. Tapi Bebas memperlakukan Vina seperti tokoh utama pasif game RPG yang dialognya hanya berupa option yang kita pilih. Dalam Sunny, adegan di dalam kelas di awal itu tidak sampai membuat si tokoh utama tenggelam. Personalitynya tetap ditonjolkan. Saat dewasa pun Marsha Timothy mengambil pendekatan yang terlalu muram untuk karakter ini. Sehingga Vina akan jarang sekali tampak sebagai tokoh utama yang menarik. Resolusi film yang terlalu ideal malah membuat Vina tak melakukan banyak pada penyelesaian cerita, padahal di cerita aslinya kita bisa melihat perannya dengan jelas.

Waktu muda kita belum punya hidup, kita hanya punya impian. Sedangkan saat dewasa, kenyataan sudah sepenuhnya milik kita. Kenyataan yang membuat kita terpaksa melupakan mimpi. Salah satu adegan paling emosional dalam Bebas adalah ketika Vina remaja dan geng Bebas membuat video untuk mereka di masa depan; video yang menyerukan impian dan cita-cita masing-masing. Video itu ditonton sambil menangis oleh Vina di masa kini, karena ia sadar impian mereka tak ada yang tercapai karena mereka terpisah. Padahal impian bisa jadi kenyataan dengan diwujudkan bersama-sama.

 
Bahkan lagu soundtrack pun terdengar lebih dominan ketimbang Vina dan ceritanya. Film Bebas semakin terasa sok-asik karena lebih memilih untuk mengandalkan lagu ketimbang penceritaan. Hampir setiap adegan ada lagunya, supaya penonton terbawa asik. Ada satu sekuen geng Bebas menari sambil nyanyi lip-sync muterin musik hampir satu lagu Cukup Siti Nurbaya penuh. I mean, I love 90’s songs as much as you do, tapi dalam film aku lebih suka mendengar lagu yang actually menambah bobot kepada narasi. Lagu yang enggak random muncul hanya karena lagunya enak dan menghentak dan bikin kita teringat masa lalu.

musik 90an memang terbaik!

 
Toh Riri Riza tak tahan juga untuk membiarkan cerita sama persis tanpa perubahan. Seiring dengan pemilihan lagu, latar waktu juga ditarik menjadi di sekitar paruh akhir 90an. Memasuki era reformasi. Tapi di elemen ini pun Bebas hanya sekadar mencari paralel dari keadaan 80an Korea saja, tanpa benar-benar menyelami situasi dan keadaan sosial. Tawuran pelajar dengan polisi, demo pemerintahan, kekerasan pada lingkungan anak-anak sekolah, termasuk sistem pendidikan yang keras, dijadikan oleh Sunny sebagai panggung, untuk kemudian didekati dengan nada komedi. Bebas cuma sebatas mengikuti. Kerusuhan demo, geng pelajar, situasi Indonesia dimirip-miripkan. Para tokohnya terasa tak terlalu tersentuh oleh hal tersebut. Makanya ketika geng Bebas dibubarkan karena sebuah tragedi, kejadian itu terasa seperti sebuah perlakuan tidak adil. Kok malah mereka yang dihukum? Karena hanya mengambil konsep geng di Korea. Dalam Bebas, geng Vina tak lebih jauh dari sekadar kelompok bermain antarsahabat. Padahal secara konteks yang ia sadur, geng itu adalah sebuah clique, sebuah hirarki – terlebih mereka tercipta di lingkungan sekolah yang seluruh muridnya adalah perempuan.
Salah satu perubahan terbesar yang dilakukan oleh Bebas adalah mengubah ensemble menjadi hanya enam orang, dengan satu cowok. Mereka bersekolah di sekolah umum, bukan sekolah khusus wanita seperti pada Sunny. ‘Musuh’ Vina di sekolah juga diubah menjadi cowok berandal. Perubahan ini seharusnya diikuti oleh perubahan konteks cerita, sebab elemennya sudah jauh berganti. Ada narasi baru yang ditambah. Tapi film masih memperlakukannya serupa dengan Sunny. Cowok dalam geng Bebas dibuat kecewekan, sifatnya sama persis dengen cewek ringan-mulut versi Sunny. Sempat diangkat soal sifat si cowok di mata orangtuanya, tapi hanya sebatas dialog dan tak pernah lagi dieksplorasi kemudian. Membuat perubahan itu jadi sia-sia belaka. Niat Bebas mungkin untuk memperlihatkan persahabatan cowok dan cewek. ‘Musuh’ yang mereka hadapi mengaku ia pengen masuk ke geng mereka – ada hint film ingin menyentuh toxic masculinity, tapi sekali lagi tetap terasa half-assed karena si cowok dibuat sedang mabuk saat mengatakan itu sehingga semua yang ia lakukan tak-bisa dipercaya. In the end, Bebas malah tampak seperti berlaku tak adil kepada tokoh-tokoh pria dalam film ini.
 
 
Sunny versi Indonesia ini punya ensemble cast yang menarik, juga disertai banyak penampilan-penampilan ekstra yang menjadi kejutan menyenangkan, musiknya membawa kita bernostalgia. Tapi jika musiknya dilucuti, maka film ini akan terasa hampa karena penceritaan yang gagal untuk meniru yang berhasil dilakukan oleh Sunny. Editing membuat cerita terbata, film somehow luput menampilkan hal-hal detil untuk memaklumkan kenapa kejadian dalam film itu bisa terjadi sedemikian, membuat para tokoh jadi tidak maksimal chemistrynya. Latar film ini juga tidak berhasil dibuat hidup. Emosi yang kita rasakan hanyalah emosi yang timbul dari lagu-lagunya. Tetap masih bisa asik untuk ditonton. Tapi jika dibandingkan – and it’s hard not to compare these movies – film ini hanyalah versi jinak dan clueless dari film Sunny.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for BEBAS.

 

THE PEANUT BUTTER FALCON Review

“No one has ever made himself great by showing how small someone else is” 
 
,
 
Pernahkah kalian mencurahkan keinginan kalian – membagi impian kalian – kepada orang, tapi lantas dipatahkan oleh mereka lewat saran yang jelas-jelas tidak mendukung atau malah menyepelekan? like, “Hei aku mau buka warung es kri-” “EMANGNYA JUALAN GAMPANG!?” Well, kisah dua orang ‘buronan’ yang saling bertemu dalam The Peanut Butter Falcon akan memberikan tiupan angin semangat yang manis kepada kalian yang pernah mendapat perlakuan seperti demikian. Atau mungkin kalian merasa bersalah karena pernah melepehin mimpi orang lain. Karena perjalanan dua ‘buron’ dalam film ini sarat oleh pesan untuk mengisi hidup sepenuhnya dengan mengejar mimpi.
Dua tokoh yang jadi representasi dalam cerita yang bertempat di desa kecil di pinggiran North Carolina ini adalah Tyler, seorang pemuda yang berubah menjadi pencuri kepiting tangkapan lantaran dia kehilangan pegangan sejak kematian sang abang. Tyler diburu oleh nelayan yang ia bakar peralatan pancingnya; Tyler benar-benar tak tahu harus berbuat apa dalam hidupnya. Sampai dia bertemu dengan tokoh satu lagi, yakni Zak. Berusia 22 tahun, Zak menghabiskan sebagian besar hidupnya tinggal dalam lingkungan panti jompo – menonton video kaset gulat jadul, karena di tempat seperti itulah orang-orang berpengidap Down Syndrome yang tak berkeluarga dipelihara oleh negara. Zak kabur dari panti, ia pengen ke sekolah gulat buatan pegulat idolanya mengajar. Merasa sama-sama buron dan kesepian, Tyler setuju untuk bukan saja menjadi teman seperjalanan buat Zak, tapi juga membimbing Zak. Mengajarkannya berenang, menikmati hidup alih-alih mengurungnya. Mereka berlayar bersama, menempuh bahaya bersama. Mereka saling menjaga dan mendukung masing-masing.

satu lagi film bagus yang berhubungan dengan wrestling di tahun 2019

 
Persahabatan antara Tyler dan Zak yang bertumbuh inilah yang terangkum dengan indah. Karena film ini sangat hormat kepada karakter-karakternya. Ada sedikit komentar tentang ‘orang baik’ dan ‘orang jahat’ yang dibahas oleh film ini, regarding tokoh Tyler sehingga kita tidak serta merta memasukkan tokoh ini ke dalam kotak. Penghormatan terlihat paling jelas pada perlakuan film ini kepada Zak. Aku rada males nonton film-film dengan tokoh disabled karena biasanya tokoh-tokoh tersebut diperankan oleh aktor yang tak-bercacat dan mereka hanya memainkan tokoh itu untuk easy-simpati. Bukannya bermaksud bilang mereka tidak bermain dengan baik ataupun tulus; beberapa kadang menyabet penghargaan karena peran sebagai disabled person. Hanya saja ada sesuatu yang kurang, ada pertanyaan yang mengganjal kenapa film tidak meng-cast an actual disabled person. Menyaksikan perlakuan film ini kepada Zak; ia diperankan oleh pengidap Down Syndrome beneran, Zack Gottsagen, benar-benar membuatku merasa hangat. Zak tidak ditampakkan sebagai makhluk yang perlu dikasihani. Perannya terasa begitu nyata karena Zak bukanlah sebuah simbol atau metafora atau bahkan berpura-pura. Oh dia berakting kok, disabled person bermain sebagai disabled person tidak lantas berarti dia bermain menjadi dirinya sendiri. Ada karakter dalam tokoh Zak. Dan pendekatan terhadap tokoh ini, penulisan maupun penampilan, tidak sekalipun terasa mengecilkan ataupun dibuat-buat.
Film dengan berani memperlihatkan orang-orang seperti Zak masih diperlakukan kasar oleh sebagian besar orang. Mereka dipanggil idiot. Bahkan jika tidak, orang-orang tetap memperlakukan mereka selayaknya seorang idiot. Inilah yang dihadapi oleh Zak-Zak di luar sana. Namun film juga tidak mengeksploitasi ini. Melainkan memperlihatkan sudut lain. Masih banyak juga orang-orang seperti Tyler; yang tidak mempedulikan kekurangan Zak. Melainkan menganggapnya sama rata sebagai manusia seutuhnya. Zak tidak mendapat perlakuan yang berbeda. Film ini menolak untuk membuatnya terlihat lemah. Zak punya mimpi yang perlu didukung, yang sama berharganya dengan keinginan orang-orang yang ‘normal’.

Jangan sekalipun meremehkan orang lain, apalagi meremehkan keinginan dan impian mereka. Setiap orang pasti punya mimpi dan tujuan, dan mereka bekerja keras untuk menggapai hal tersebut. Penting bagi kita untuk menghormati ini, untuk memahami perjuangan orang-orang di sekitar hidup kita. Tidak akan ada pencapaian di dalam hidup jika kita semua saling menganggap remeh perjuangan masing-masing.

 
Hal menakjubkan yang timbul dari pendekatan realis yang dipilih film untuk menghidupkan tokoh-tokohnya adalah reaksi para tokoh seringkali tak-terduga. Jawaban Tyler ketika menanggapi curhatan Zak soal dia tidak bisa jadi pahlawan karena ia mengidap Down Syndrome akan mengejutkan sekaligus menghangatkan hati kita semua. Karena merupakan jawaban yang tidak receh untuk menghibur Zak, melainkan pernyataan yang menantang kita dengan kebenaran. Sutradara sekaligus penulis naskah Tyler Nilson dan Michael Schwartz juga menggunakan struktur yang tidak biasa yang membuat film ini menjadi semakin stand out. Dalam film buddy-trip seperti ini biasanya kita menjelang akhir kita akan mendapat sekuen dua sahabat itu berantem atau paling tidak berpisah untuk kemudian bertemu kembali dan saling menyadari kesalahan masing-masing. Kita tidak melihat sekuen semacam ini pada The Peanut Butter Falcon. Naskah membagi kekompleksan ceritanya kepada tiga orang tokoh, alih-alih dua, sehingga perjalanannya terasa lebih besar, dengan penemuan yang lebih dramatis daripada momen berantem yang mungkin bisa dipaksakan.
Selain Tyler dan Zak, juga ada tokoh salah satu pengasuh Zak di panti bernama Eleanor yang ditugaskan mencari dan membawa pulang Zak – yang juga punya arc di dalam cerita. Jadi kita dapat tiga tokoh mayor. Jika biasanya tokoh utama, protagonis, dan hero sebuah film adalah satu orang yang sama, maka The Peanut Butter Falcon tampak mengadopsi DRAMATICA THEORY. Tokoh utama, protagonis, dan hero dalam cerita ini dibagi menjadi tiga tokoh yang berbeda. Tokoh utama dalam film ini adalah Tyler, karena dia lebih aktif menggerakkan plot. Tyler punya perspektif dan backstory yang lebih dominan. Dia juga membawa elemen intens dalam cerita karena stake yang ia bawa – Tyler diburu oleh nelayan preman yang hendak menyakitinya – terasa lebih berdampak. Aku gak pernah benar-benar suka sama akting Shia LaBeouf, tapi sebagai Tyler di sini aku merasa melihat penampilan terbaik yang pernah ia berikan. Kita melihat Tyler membuka dirinya dan pada akhir film ia tidak lagi sesempit saat di awal. Protagonist cerita ini adalah Eleanor yang diperankan dengan sangat manis dan humanis oleh Dakota Johnson. Disebut protagonist karena Eleanor bukan semata mendukung, melainkan adalah yang paling berubah seiring dengan perjalanan tokoh utama. Tadinya ia tidak mendukung dan berbeda pandang dengan Tyler soal impian Zak, tapi di sepanjang perjalanan ia menyaksikan hubungan mereka, sehingga ia menyadari dan belajar banyak, lalu ia mengubah pandangannya. Sedangkan Zak; dia adalah tokoh sentral. Dia kuat, vulnerable, lucu, supel, dia punya tujuan yang paling jelas di antara ketiga tokoh, dan kita ingin dia sukses mencapai tujuan tersebut. Dia adalah Hero dalam cerita ini. Dan ini sesuai dengan keinginan Zak di dalam cerita; dia mau jadi pegulat pahlawan semua orang.
Interaksi antatokoh ini tergambar dengan manis lewat sinematografi yang luar biasa menawan. Adegan Zak menari dengan Eleanor di atas rakit, adegan Zak menghibur Tyler, adegan Tyler menggoda Eleanor saat pertama kali mereka berjumpa, ini adalah sedikit dari contoh adegan yang loveable karena begitu manusiawi yang sayang untuk dilewatkan. Karakter minor dalam film ini juga tak kalah menarik. Untuk penggemar pro-wrestling, kita akan mendapat surprise oleh penampilan dua Hall of Famers WWE. Aku gak akan bilang siapa, kalian harus nonton sendiri.
Oke, aku tidak bisa menahan diri. It was Mick Foley. Dan Jake Roberts. Tapi aku tetep gak akan bilang mereka jadi peran apa, tonton sendiri aja haha

nonton film ini jadi pengen lihat lagi penampilan pemainnya di film-film mereka yang terkenal, termasuk Dakota Johnson di film ehm…

 
Kadang cerita film ini terlampau manis sehingga beberapa aspek terasa cheesy. Beberapa adegan bahkan tampak seperti tak mungkin terjadi di dunia nyata. Misalnya pada bagian wrestling menuju ke ending, yang buatku terasa terlalu cepat dan tidak lagi tampak real. Walaupun memang sejak kapan wrestling itu real (ha!), tapi pada beberapa bagian film ini memang lebih tampak seperti dongeng yang berisi interaksi nyata dengan karakter yang begitu well-realized. Sepertinya film berusaha menyeimbangkan fantasi dan realis. Usaha yang tidak selalu berhasil mulus. Namun kuyakinkan itu semua merupakan kekurangan minor yang tidak berpengaruh banyak kepada keasyikan menikmati perjalanan cerita film ini.

Adegan Zak kabur dari terali kamar pantinya juga tampak sangat cheesy dan tak mungkin terjadi di dunia nyata. Tapi hal ini justru terasa menyedihkan karena adegan itu hanya tampak cheesy karena kita sulit membayangkan di dunia nyata ada orang yang begitu menghormati mimpi seseorang seperti Zak, percaya kepadanya, dan membiarkan dia mengejar mimpinya. Menyedihkan hal tersebut tampak seperti fantasi di dunia kita sekarang.

 
 
Sebagian besar yang terlibat film ini; sutradara Nelson dan Schwartz, juga aktor Zack Gottsagen, benar-benar menghidupi paham yang diangkat oleh tokoh cerita film ini. Yakni mengejar mimpi dan mengisi hidup dengan hal yang ingin dilakukan. Hasilnya bisa kita nikmati sendiri; sebuah tontonan yang menghangatkan jiwa, yang menghibur tanpa melupakan hati. Pesan yang diangkat tereksplorasi dengan baik tanpa menyinggung siapa-siapa.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE PEANUT BUTTER FALCON.

PRETTY BOYS Review

“The real heroes here are the ones that experience movies in reality.”

 

 

Melihat pria berpakaian dengan sangat flamboyan di televisi penonton akan terhibur. Orang akan tertawa-tawa menyaksikan tingkah polah selebriti yang bergaya lebih lebay daripada wanita tulen. Namun ketika melihat si selebiriti yang sama di belakang panggung, semua itu menjadi tidak lucu lagi. Bagaimana jika dia ‘bencong’ beneran? Dan ketakutan itu akan berkali lipat jika si selebriti adalah orang yang dikenal. Sanak keluarga sendiri, misalnya.

Itulah masalah pada televisi dan bisnis hiburan. Orang-orang yang menontonnya cenderung percaya yang mereka lihat di layar kaca itu adalah kebenaran. Penonton televisi seringkali lupa seleb juga manusia yang sesungguhnya hanya bekerja mencari sesuap nasi. Tak sedikit dari para seleb mengorbankan sesuatu demi pekerjaan yang tampak glamor tersebut. Film Pretty Boys datang dari orang-orang yang peduli dan tampak memahami betul seluk beluk – suka duka pekerjaan penghibur di dunia televisi. Dalam film yang sangat menyenangkan untuk ditonton ini kita akan melihat gambaran belakang panggung sebuah acara talkshow, kondisi mental para pelakunya, serta sejauh apa efek pekerjaan mereka terhadap kehidupan sosial dan pribadi di dunia nyata.

Anugerah dan Rahmat, sobatan sejak masih anak masjid, pergi dari kampung mereka ke Jakarta untuk mengejar mimpi menjadi host acara televisi. Setelah cukup lama bekerja di kafe (masak sambil ngelawak), nyobain kerja serabutan demi tambahan uang makan, kesempatan bagi mereka datang saat menjadi penonton bayaran untuk sebuah acara talkshow hits di televisi. Produser acara tersebut tertarik sama gaya Anugerah dan Rahmat sehingga mereka dikontrak untuk menjadi co-host. Namun acara televisi jaman sekarang beda ama acara jaman dulu. Alih-alih berdandan ‘laki’ seperti Sony Tulung dan Dede Yusuf yang foto acara kuisnya terpajang di dinding kontrakan, Anugerah dan Rahmat harus mengenakan wig dan pakaian wanita. Anugerah sempat ngeri juga. Toh lantaran bakat menghiburnya sudah kuat melekat, Anugerah dan juga Rahmat menyelam sempurna ke dalam persona televisi mereka. Penonton suka sama Nugie dan Matthew; nama panggung masing-masing. Acara Kembang Gula itupun semakin sukses.

Perasaan jumlah rotinya bertambah banyak di setiap shot

 

Seperti yang dilakukan Olivia Wilde – aktor yang banting stir menjadi sutradara – ketika menggarap Booksmart (2019), Tompi yang lebih dulu dikenal sebagai penyanyi juga memberikan sentuhan kenyataan kepada film debut penyutradaraannya ini. Insight yang didapat dari gabungan pandangan pemain dan penulis cerita film (Imam Darto; juga dalam debutnya di penulisan skenario) ia anyam ke dalam bahasa audio visual, lengkap dengan lelucon-lelucon meta (tokoh film akan bercanda soal karir dan kehidupan nyata orang-orang yang terlibat pembuatan film ini), menjadikan film ini sebagai komedi yang efektif. Yang juga bekerja sebagai satir lantaran film menunjukkan betapa ‘bego’nya penonton dan ‘sadis’nya bisnis televisi yang mengutamakan rating view. Ada sesuatu yang sepertinya ingin dikatakan oleh film ketika mereka memperlihatkan perbedaan host jaman dulu dengan host tv jaman sekarang; bahwa Anugerah dan Rahmat musti jadi ‘bencong’ dulu baru bisa terkenal. Menurutku film bisa mencapai lebih dalam jika membahas soal ‘mengapa’, tapi film memutuskan untuk menggambarkan saja.

Chemistry tak-terlawan duo Vincent Rompies dan Deddy Mahendra Desta benar-benar dijadikan tumpuan. Tek-tokan dan comedic timing mereka yang sudah amat precise dan mulut mampu membuat adegan-adegan lucu dalam film ini hampir semuanya seperti on-the-go. Mereka, dan juga para pemain lain, tampak natural menampilkan permainan akting. Karena tokoh-tokoh yang mereka mainkan memang merupakan semacam ‘perpanjangan’ dari gimmick televisi/show yang biasa mereka perankan. Guyonan khas Vincent dan Desta – misalnya Desta bertingkah sangat absurd seperti ujug-ujug menyalakan korek ketika berkacamata hitam karena menyangka sedang mati lampu – tidak pernah hadir sebagai lelucon yang maksa hanya untuk memancing tawa. Karena tingkah-tingkah antik seperti itu merupakan bagian dari karakter tokoh mereka yang benar-benar hobi menghibur orang sehingga mereka put on their comedic show dalam setiap waktu. Menjadikan meta seperti demikian memang bisa membuat film salah arah; kita sebagai penonton bisa dengan gampang menyangka ini adalah biografi terselubung Vincent dan Desta. Maka itulah film menggunakan satu momen yang fun untuk membuat kita tetap dalam trek yang benar; yakni ketika ketika Nugie dan Matthew bertemu dengan their real life counterparts. Taktik jitu ini turut membuat dunia cerita Pretty Boys menjadi semakin imersif.

Sebenarnya pada elemen drama-lah Tompi menunjukkan sinarnya sebagai seorang sutradara yang patut dinantikan lagi karya-karya berikutnya. Seperti pada momen Nugie ragu akan keputusannya tampil di acara yang mengharuskannya berlagak seperti wanita. Ataupun pada momen-momen flashback ke masa kecil yang berfungsi lebih jauh dari sekadar ekposisi karena digunakan untuk menghantarkan perasaan emosional dari akar persahabatan kedua tokoh sentral. Pretty Boys memang bukan film yang hanya dibuat untuk terpingkal-pingkal saja. Hati dari film ini sesungguhnya berdetak dengan penuh kemanusiaan. Sebab ia membahas tentang hubungan anak dengan ayahnya, dengan anak dengan sahabatnya, dengan anak manusia dengan pilihan hidupnya. Dengan kesempatan yang harus ia ambil atau ia tinggalkan.

“When a man does a queer thing, or two queer things, there may be a meaning to it”

 

Berita kesuksesan Anugerah sampai ke telinga Bapak di kampung. Mendengar anaknya bersalaman sama presiden, Bapak yang tentara dan berjuang demi negara menghidupkan televisi. Tebak apa yang beliau saksikan di televisi. Putra semata wayangnya, yang dulu kabur dari rumah, yang tak pernah ia setujui pilihan pekerjaannya, tampil melambai seperti putri kecantikan di depan penonton seluruh negeri. Tebak seperti apa reaksi Bapak. Well, aku pastikan tebakan kalian tidak akan mendekati emosinalnya film ini memperlihatkan adegan reaksi tersebut. Vincent diberikan tantangan untuk ‘adu unjuk emosi’ dengan aktor senior Roy Marten. Desta juga mendapat kesempatan untuk meluaskan range – keluar dari zona nyaman – permainan aktingnya. Dan mereka berhasil untuk tidak membuat kita merasa ingin tertawa pada momen-momen yang serius.

Salah satu gagasan menarik yang dilontarkan oleh film adalah soal pekerjaan tentara – pahlawan pembela negara – yang diparalelkan dengan pekerjaan sebagai penghibur yang menampilkan kebohongan untuk masyarakat.  Film menantang kita dengan pertanyaan “pantaskah selebriti dianggap sebagai pahlawan?” Baru-baru Quentin Tarantino juga membahas hal serupa dalam film Once Upon a Time in Hollywood (2019), seorang aktor yang diidolakan – dianggap pahlawan – meskipun dia tidak pernah melakukan apa-apa di dunia nyata. Gagasan Tarantino tersebut seperti didebat oleh Pretty Boys. Percakapan heart wrenching antara Anugerah dengan ayahnya menyebutkan meskipun tampak hina, tapi yang ia lakukan juga adalah pengorbanan. Ada yang dipertaruhkan.

Definisi pahlawan adalah seorang yang mempertaruhkan hidupnya demi negara. Seorang yang membahayakan dirinya sendiri demi keselamatan orang lain. Selebriti – bintang televisi – adalah seorang yang menghibur orang banyak, tidak pernah tugas mereka untuk menjadi panutan. Yang mereka lakukan di televisi, di media, sebagai bagian dari pekerjaan hiburan tidak seharusnya dijadikan suri teladan. Tapi bukan berarti tidak ada manusia di balik persona televisi mereka. Bukan berarti tidak ada perjuangan yang mereka lakukan untuk sampai di titik tersebut. Perjuangan mereka itulah yang bisa diidolakan, yang membuat mereka pantas untuk dijadikan pahlawan.

 

 

Pretty Boys bekerja dengan sempurna ketika membahas seputar Anugerah dengan ayahnya dan Anugerah dengan Rahmat. Karena dua orang inilah yang membentuk seperti apa Anugerah sekarang. Pertengkaran Anugerah dan Rahmat on live TV (yang ngerti naskah; yeah of course friends would fight in movies) adalah adegan terfavoritku di film ini. Naskah yang sudah tight sayangnya menjadi sedikit longgar ketika film memasukkan bagian cinta segitiga yang gak benar-benar menambah banyak untuk gagasan dan daging utama cerita. Tentu, soal cewek itu bisa dengan gampang menjadi katalis ke masalah Anugerah dengan Rahmat. Namun di situlah letak masalahnya. Terlalu gampang. Mereka seharusnya membuat permasalahan yang lebih dalem. Soal romance dibahas oleh film dengan sangat ringan sehingga jikapun tokoh Asti yang jadi love interest enggak ada, gagasan cerita masih bisa tercapai. Tokoh Asti hanya seperti dijejelin masuk untuk membuat riak di persahabatan Anugerah dan Rahmat. Tapi sesungguhnya dua boys ini enggak musti dibantu oleh cewek untuk menyelesaikan masalah mereka. Pak Ustadz dan Tora Sudiro dan Si Bapak sudah cukup memberikan pelajaran.

Dan bukan hanya Asti. Film cenderung mengambil langkah yang paling mudah untuk menyelesaikan masalah. Mereka membuat pihak TV benar-benar seperti pihak yang jahat, sebagai jalan keluar dari masalah Anugerah dan Rahmat. Memang, ini sejalan dengan konteks kedua tokoh hidup di dunia tak-mendukung; mereka hanya punya mereka berdua. Tapi juga berkonflik dengan pesan yang sempat disebutkan soal TV dan media online (youtube) saling mengisi – bahwa TV tidak akan tergantikan. Film seharusnya juga lebih mengeksplorasi soal TV ‘melawan’ Youtube, membuild up ke arah sini, karena – aku pengen membuat satu point jadi ya, WARNING ada SPOILER – di akhir out of nowhere Youtube dijadikan solusi. Buatku film juga memilih ending yang terlalu gampang. I mean, daripada bikin satu adegan doang Bapak nonton Youtube dan semuanya beres dari sana, mendingan gunakan soal keviralan dari yang mereka lakukan, circled back ke awal cerita, buat mereka mendapat pilihan ke TV kembali dan kemudian lebih memilih mandiri dengan Youtube. Resolusi dan ending yang dipilih oleh film simply terasa kurang nendang dan enggak setight bangunan cerita sebelum-sebelumnya.

 

 

 

Tompi berhasil membubuhkan jejak yang berarti dalam debut sutradara film panjangnya ini. Ia menyuguhkan tontonan komedi dan drama yang bekerja dengan sama efektifnya. Departemen akting yang dipunya sangat solid. Materi yang ditulis dengan seksama dan penuh perhatian dimainkan dengan penuh suka cita. Semua yang terlibat tampak sangat menghormati cerita, sekaligus bersenang-senang dengannya. Narasinya bergulir dengan mantap dan berbobot hingga menjelang penghabisan yang terasa lebih renggang sehingga berakhir kurang nendang. But still, ini adalah salah satu film paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini. Kalian yang suka terhadap bisnis hiburan, bakal lebih mengapresiasi film ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PRETTY BOYS.

 

 

 

 

 

 

IT CHAPTER TWO Review

“Often it isn’t the initiating trauma that creates seemingly insurmountable pain, but the lack of support after”

 

 

Setelah dua-puluh-tujuh tahun, Si Badut Pennywise muncul kembali di kota Derry. Dia merindukan anak-anak yang dulu pernah hampir menjadi mangsanya. Tujuh anak yang pernah mengalahkan dirinya itu, ia pancing kembali untuk datang ke kota lewat serangkaian teror. Dan setelah dua-tahun dari film chapter pertamanya, kita datang untuk menagih janji cerita horor yang benar-benar berdaging.

Serius, ‘menagih janji’ itu adalah kalimat penutup reviewku untuk It (2017). Karena dua film It adalah adaptasi dari satu buku Stephen King, dengan ‘daging’ cerita sebenarnya terletak pada bagian saat para Losers’ Club yang sudah dewasa ditarik kembali ke Derry untuk menghadapi trauma masa kecil mereka. Sutradara Andy Muschietti nekat membagi menjadi dua film, dan actually did a great job pada chapter pertama. Kisah anak-anak menjelang remaja yang tadinya kelam, diubah cerita persahabatan yang uplifting. Mengajarkan kita akan pentingnya persahabatan untuk saling menutupi kekurangan dan kelemahan. Pada Chapter Kedua, Muschietti menyambung gagasan King dengan horor yang dibuat lebih dewasa. Dengan pertanyaan yang lebih menantang untuk makna persahabatan itu sendiri.

Mudah untuk kita bersatu ketika sedang sama-sama susah. Penderitaan mendorong kita untuk menemukan dan berpegangan kepada kawan yang senasib. Namun ketika semua masalah sepertinya sudah terhindari, ketika hidup kita sudah berlanjut menjadi lebih baik, sudikah kita kembali untuk mengalami lagi semuanya. Ketika kita sudah hidup mapan sendiri-sendiri, maukah kita kembali untuk bersama-sama berkubang dalam masalah?

 

Sepindahnya mereka dari kota Derry, pentolan Losers’ Club memang sudah tergolong sukses. Bill Denbrough kini jadi penulis cerita misteri yang ngehits, dia tidak lagi tergagap, dan punya istri seorang bintang film. Ben Hanscom sudah gak gendut lagi, dia jadi arsitek kaya yang meeting online sama klien. Richie Torzier menggunakan mulutnya sebagai aset jadi komedian terkenal. Eddie Kaspbrak berkarir di bidang risk assesment real-estate yang cocok sama kebiasaannya yang selalu mencemaskan berbagai hal. Beverly Marsh jadi perancang busana. Dan Stan juga tampak cukup sukses di kediamannya. Mereka semua sudah lupa akan kejadian di film pertama, meskipun masih terus dibayangi oleh trauma masa kecil. Bill tak pernah lupa akan Georgie, Bev tetap tak lepas dari sosok pria yang kasar padanya. Dan saat Mike, satu-satunya dari geng mereka yang menetap di Derry, menelfon mereka, mengingatkan akan perjanjian berdarah yang mereka lakukan saat masih kecil; bahwa musuh mereka muncul kembali, semuanya seperti tersentak. Seperti bangun dari mimpi indah, masuk ke mimpi buruk. Bill malah jadi gagap lagi. Masing-masing mereka dipaksa untuk menjalani masa lalu yang mengerikan demi mengambil relik yang akan digunakan untuk ritual mengalahkan Pennywise untuk selama-lamanya.

untung yang nelfonin mereka ‘cuma’ Mike, bukan Bapak

 

Selain Bill, Mike dalam film ini diberikan porsi yang lebih besar. Dia tidak terbaring di kasur rumah sakit seperti pada novel saat teman-temannya turun ke sarang Pennywise. Dialah yang paling dekat dengan posisi tokoh utama karena dia punya arc yang melingkar di antara tokoh-tokoh yang lain. Mike adalah orang yang pertama kali tahu tentang kembalinya Pennywise. Dia yang memutuskan untuk tetap tinggal di Derry. Dia yang lebih dahulu siap untuk menerjang kembali trauma masa lalu. Atau mungkin, dia yang paling menolak untuk move on, dan ini menarik karena biasanya orang akan berlomba-lomba untuk bisa move on dari kenangan buruk. Film mencoba untuk memberikan peran yang lebih besar kepada Mike dibandingkan dengan novel. Ketika semua orang punya masalah sendiri, berjuang melawan kembali apa yang sudah berusaha mereka lupakan dalam proses menjadi dewasa, Mike berada di sana seperti tak tersentuh oleh Pennywise. Kita tidak melihat dia sebanyak tokoh lain dikerjai oleh si Badut Pengubah Bentuk. Teror bagi Mike justru adalah ketika grup mereka mulai terpecah. Saat dia berjuang untuk mempersatukan mereka kembali, walaupun itu berarti dia harus berbohong. Dia seperti agen pemersatu yang berkontras dengan Pennywise si agen pemisah. Ini membuat Mike dan Pennywise adalah dua poros yang paling penting dalam narasi.

It Chapter Two memang melakukan lumayan banyak perubahan terhadap versi novel. Salah satunya lagi adalah soal ending – tapi dibuat masih menghormati dan sejalan dengan materi asli – sehingga para pembaca buku dapat tetap mendapat kejutan menyenangkan saat menonton. Soal ending buku malah dijadikan candaan yang terus berulang karena di film disebutkan bahwa Bill yang novelist selalu mendapat kritikan terhadap ending yang ia tulis. Akan ada banyak adegan ketika ada orang yang menyebut buku tulisannya bagus, tapi mereka enggak suka dengan endingnya. Bahkan Stephen King sendiri muncul sebagai cameo dan mengucapkan dialog seputar pilihan ending tersebut. Lewat running gag tersebut, film ingin mewanti-wanti kepada kita bahwa mereka juga sudah melakukan sesuatu kepada ending film, yang menurut mereka adalah perbaikan dari ending pada buku. And it’s kinda true. Ending film ini membawa rasa kepuasan dan kelegaan yang menghangatkan. Hanya saja perjalanan menuju endingnya yang luar biasa membinasakan.

Tentu, interaksi antar-tokoh tampak akrab dan menyenangkan. Aktor-aktor dewasa seperti Jessica Chastain, James McAvoy, Bill Hader, James Ransone memainkan peran mereka persis kayak aktor-aktor cilik memainkan mereka. Tokoh mereka terasa familiar bagi kita yang sudah mengikuti perjalanan mereka dari film pertama. Mereka beneran seperti bertumbuh dewasa. Permainan akting mereka semakin on-point berkat film yang kerap membawa kita berflashback ke masa kecil mereka dua-puluh-tujuh tahun yang lalu. Seolah film ingin menyombong kepada kita “lihat, ini beneran mereka sudah jadi orang gede” Seru melihat tokoh-tokoh berkembang, mereka melakukan gerakan dan bereaksi seperti yang sudah akrab dengan kita. Film sangat hebat memperlihatkan itu semua. Si Pennywise pun digambarkan sebagai tokoh yang punya sedikit kedalaman sekarang, aku senang dialog tokohnya diperbanyak, karena Bill Skarsgard memang memainkannya dengan penuh penghayatan dan tampak bersenang-senang. Makhluk-makhluk CGI hasil ilusi dan jelmaan dari Pennywise enggak benar-benar seram, melainkan seru abis lantaran begitu random dan di luar logika. Hampir seperti kartun. Mungkin visual monster-monster itu tampaknya sengaja dibuat kasar untuk menimbulkan kesan seram yang hilarious karena film ini menunjukkan mereka sanggup menampilkan CGI yang begitu mulus ketika menggunakannya untuk memudakan kembali tokoh anak-anak yang pemerannya sudah jauh mendewasa ketimbang peran mereka.

Hanya saja ketika menapaki trauma-trauma yang semestinya bernada lebih dewasa, film juga tetap memilih untuk tampil seperti teror wahana rumah hantu, seperti pada film pertama. Dan ini mengecilkan makna dan ‘daging’ yang ada pada cerita horor saat mereka dewasa ini. Teknik jumpscare dan permainan makhluk horor CGI dari Muschietti memang efektif, memberikan hiburan horor yang konstan, tetapi substansi harus diletakkan di depan karena terus-terusan hanya melihat jumpscare-jumpscare dengan makhluk-makhluk random akan membuat kita kehabisan energi. Terutama di film dengan durasi hampir tiga jam seperti ini.

membuat kita galau mestinya film ini durasinya dipangkas atau malah ditambah – dijadikan serial aja

 

 

Film tidak memperhitungkan pace dengan baik. Meninggalkan kita menjadi semakin tidak sabar saat flashback demi flashback, horor ngagetin demi horor ngagetin, terus berputar di layar. I mean, kita ngerti kok mereka punya trauma yang dibangkitkan lewat halusinasi oleh Pennywise yang suka untuk melemahkan mental mangsanya, film tidak harus melandaskan poin yang sama berulang kali. I mean, musti berapa kali lagi kita melihat mereka di masa kecil sebelum film benar-benar menyudahi ceritanya. Ada enam tokoh, ada tiga babak, dan di setiap babak kita diperlihatkan masing-masing berurusan dengan Pennywise dan trauma mereka. Di luar bagian Mike, kalo dikali, jumlahnya ada lima belas kali kita melihat teror Pennywise. Ini melelahkan. Mengganggu tempo cerita karena elemen horor tersebut tak bekerja banyak di luar untuk ajang kaget-kagetan. Adegan-adegan itu tak punya bobot urgensi karena kita tahu semua hanya ilusi dari Pennywise yang tak benar-benar berbahaya. Malah ada beberapa flashback yang menunjukkan mereka waktu masih kecil dikejar-kejar oleh berbagai wujud It. Flashback pengisi gap tahun yang pointless karena kita tahu para tokoh tidak dalam bahaya di adegan tersebut karena toh mereka sudah tumbuh jadi dewasa – mereka survive dari kejadian itu. Mereka tidak mati saat masih kecil itu. Menuju ke ending yang merupakan perbaikan dari ending novel, terasa ngedrag, film ini bahkan punya dua sekuen ‘false resolution’. Dua setengah jam itu benar-benar terasa.

Narasi yang melingkupi banyak tokoh seperti ini haruslah diikat oleh satu benang merah. Film ini, dengan kodratnya sebagai cerita lanjutan, memang sangat tergantung pada penonton untuk menyaksikan dulu film pertamanya. Atau membaca novelnya. Film tidak necessarily mengikuti buku tetap berjalan dengan arc Bill sebagai sumbu utama. Tapi film ini cukup berani memasukkan elemen penting pada buku yang bahkan tak disadur oleh It versi miniseri tv yang tayang tahun 1990an. Yakni seputar peristiwa kejahatan sadis yang dialami oleh seorang pemuda gay. Adegan ini actually jadi adegan pembuka dalam It Chapter Two, persis seperti chapter dua pada novelnya. Sempurna untuk melandaskan horor seperti apa yang bakal kita temukan, kengerian semacam apa. Salah satu Losers’ Club juga diindikasikan LGBT. Hanya saja, film tidak benar-benar komit. Baik itu terhadap elemen LGBT, maupun horor yang serius. Ketika cerita berjalan, tokoh-tokoh kita dibawa kembali ke lingkungan masa kecil mereka, film juga seperti revert back. Melupakaan kedewasaan dan hal-hal baru yang sepertinya akan mereka jalani. kehidupan masa kini yang ditinggalkan para tokoh tidak dibuat ikut mengejar mereka ke Derry. Tidak seperti pada buku. Sehingga stake kehidupan yang mereka tinggalkan tidak pernah terasa. Beverly tidak berkonfrontasi lagi dengan suami dan hubungan abusive yang selalu menimpanya. Kita hanya melihat istri Bill satu kali, bahkan persoalan pilihan ending novel yang ia tulis tidak disebutkan lagi di akhir.

Kekalahan Pennywise pun tidak menunjukkan kedewasaan atau keseriusan emosi yang seperti diisyarakatkan bakal ada oleh pembuka film. Yang ada malah terasa dikonyolkan. Mungkin film berbalik pengen bermain dengan ironi. Lantaran Pennywise yang pada film pertama seperti simbol dari kedewasaan yang merundung anak-anak, pada film ini malah berbalik menjadi yang dirundung oleh anak-anak yang sudah dewasa tersebut. Mereka seperti bertukar tempat. Pennywise yang sekarang menjadi seperti anak kecil. Alih-alih memisahkan mereka lewat memanfaatkan rasa takut, Pennywise pada akhir cerita berubah menjadi sosok insecure, sendirian, tak berteman, yang diejek hingga literally menciut. Pennywise sudah seperti Boggart yang dihajar oleh enam mantra Riddikulus hingga aku tak paham lagi keberanian seperti apa yang ingin diajarkan oleh film ini.

Lebih sering daripada tidak, yang paling mengerikan dari menghadapi trauma itu adalah ketika kita menyadari bahwa kita menghadapinya sendiri. Semua orang butuh support. Dari teman. Dari saudara. Dari orang lain. Tiliklah Losers’ Club, mereka kuat bukan karena sendirian. Mereka lemah menghadapi masalah sendiri. Tetapi mereka tak-terkalahkan saat mendukung masalah teman-temannya.

 

 

 

Sehingga tak tampak lebih berdaging, buatku film pertamanya masih lebih kuat dan lebih berisi padahal seharusnya cerita bagian kedua inilah yang lebih berbobot. Film yang kedua ini kurang berhasil membuat drama dan aspek emosional cerita menjadi vocal point yang konsisten. Sebab cerita film ini pada dasarnya bergantung pada film pertama yang merupakan backstory. Film jadi memuat terlalu banyak, antara aspek yang lebih dewasa, tuntutan buku sumber adaptasi, dan kebutuhan untuk mengingatkan penonton kepada film yang pertama. Hasilnya adalah film yang bekerja pada tingkatan film pertama, dengan materi yang sebenarnya sudah berada di atas level tersebut. Lain kata, film stuck pada gaya yang tidak mampu mengimbangi kematangan ceritanya yang sudah dewasa. Tetap memberikan horor yang menghibur, jumpscare-jumpscare yang efektif, tapi terasa melelahkan dan membuat tak-sabar. Karena poin yang sama diulang berkali-kali. Pengalaman terpisah para tokohnya terasa mengambang kayak balon-balon merah si Pennywise. Mereka perlu diikat menjadi satu narasi yang benar-benar koheren dan film perlu komit di sana.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for IT CHAPTER TWO.

 

 

 

47 METERS DOWN: UNCAGED Review

“She can talk underwater with a mouth full of marbles”

 

 

Dalam bahasa Inggris ada ungkapan “can talk under water” yang memiliki arti ‘banyak omong’. Ungkapan yang berasal dari Australia itu  difungsikan untuk menyindir seseorang yang enggak pernah berhenti mengoceh. Menggosip. Membual. Ngomong terus sampe bibirnya item. Setting film 47 Meters Down: Uncaged memang bukan di Australia, melainkan di Mexico. Tapi film horor serangan hewan buas ini benar-benar bernapaskan ungkapan “can talk under water” tersebut.

Tokoh-tokoh dalam 47 Meters Down: Uncaged tidak pernah berhenti membuka mulutnya untuk berbicara, berteriak, apapun. Dan mereka melakukan itu semua selama menyelam di dalam gua bawah air. How is that possible?!

 

47 Meters Down yang pertama (2017) bukanlah film yang bagus. Premisnya memang menarik, dua penyelam yang diserang hiu tatkala sedang berada di dalam kandang. Konsepnya basically sama dengan hampir semua survival-horror di jaman sekarang; menggabungkan kengerian kita terhadap serangan monster (dalam kasus ini: hiu) dengan ketakutan kita untuk berada di tempat yang tertutup. Tapi secara penokohan, dan cerita, film tersebut amat lemah. Tapi persona sang hiu sepertinya cukup ampuh, sehingga film itu laku di pasaran, dan sekarang kita duduk ngobrolin sekuelnya. Digarap oleh sutradara yang sama, Johannes Roberts, 47 Meters Down: Uncaged kini membangun lapangan yang lebih luas untuk konsep horor hiu dan ruang tertutup tadi. Kini alih-alih dua, kita dapat empat cewek remaja yang pergi mengeksplorasi gua bawah laut. Tempat situs peradaban peninggalan suku Maya. Dan hiu-hiu putih yang sudah berevolusi. Para cewek itu terperangkap dan harus segera mencari jalan keluar sebelum menjadi santapan hiu-hiu yang meski buta dan gigitannya meleset melulu tapi bisa muncul dari tempat-tempat tak terduga.

Para tokoh tersebut diberikan secercah plot. Dua poros utamanya adalah dua cewek kakak-beradik saudara tiri yang enggak akur sama sekali. Yang satu pemalu parah sampai selalu di-bully, yang satu lagi cukup populer sehingga enggak merasa perlu membuang waktu nolongin saudarinya. Dua tokoh tersebut punya warna kulit yang berbeda, tapi karena tukang bikin naskahnya matanya juga pada putih semua kayak mata para ikan hiu, maka soal itu tak mereka jadikan subteks. Yang jelas, dua tokoh ini harus jelas punya ayah yang seorang arkeolog bawah laut, sehingga mereka bisa membuat keduanya jadi corong eksposisi dan kemudian dibuat diam-diam masuk ke tempat kerja sang ayah. Hupla, dapatlah kita sembilan-puluh menit cerita menegangkan terperangkap bersama monster.

saking dangkalnya cerita, yang kutulis di paragraf itu udah bisa disebut spoiler berat loh

 

Untuk urusan akting, tidak banyak yang bisa kita dapatkan, karena sebagian besar cerita mereka berenang dengan masker skuba sehingga tak banyak ekspresi yang terlihat. Dan di sinilah film menjadi sangat annoying karena tokoh ceritanya antara ngomong dan teriak-teriak melulu. Tidak ada satu logika pun yang bekerja dalam bangunan cerita 47 Meters Down: Uncaged. Mereka menyelam dengan perlengkapan scuba, dan diberikan alasan bisa berkomunikasi dengan radio, tapi kita dengan jelas tidak melihat alat apapun terpasang di telinga mereka. Tidak ada antena. Tidak ada apapun yang membuat kita percaya mereka sedang memakai teknologi yang memungkinkan mereka bisa ngobrol layaknya berada di daratan. Film terus ngepush kesabaran kita dengan actually memperdengarkan musik bisa diputar oleh radio di dalam air. Gimana bisa??

Tapi itu semua belum apa-apa dibandingkan dengan seekor ikan. Yang bisa menjerit. Menjerit seolah dia tokoh film Nemo atau Home Alone atau apalah. Dari konteks narasi, hewan-hewan di sana sudah berevolusi saking begitu lamanya terperangkap dan tak pernah melihat sinar matahari. But, membuat ikan bisa menjerit membuat tokoh manusia kaget… well, to be honest, I’m shocked. Karena jerit-jerit mengagetkan inilah definisi horor dan menakutkan yang diusung oleh film. Kita akan melihat berbagai macam jumpscare yang di dalam air. Sebenarnya memang menakutkan di dalam air, di mana lingkungannya gelap, ditambah pula mereka berada di reruntuhan suku Maya. Tambahkan stake oksigen bisa habis kapan saja, kondisinya memang menakutkan. Di dalam air, gerakan dan pandangan manusia terbatas. Alamiah jika kita gampang kaget dan merasa ngeri saat menyelam. Hanya saja alih-alih menggambarkan ini semua dengan sebenarnya kengerian bawah laut, film masih menganggap perlu untuk menghadirkan horor lewat suara-suara keras. Sehingga tidak lagi terasa alami, melainkan menyebalkan oleh kehebohan yang palsu.

Sebenarnya oke saja jika sebuah film menceritakan orang menyelam dan mereka bisa berbicara. Asalkan mereka membuat ‘kenyataan-reka’ yang kuat. Dan sesungguhnya semua itu juga bergantung kepada kemampuan si pembuat film. Belum lama ini ada juga film horor lokal yang bertempat di bawah laut, yang para tokohnya menyelam juga – dengan peralatan selam standar – dan berkomunikasi verbal kayak lagi di darat. Dibandingkan dengan Uncaged ini, film 11:11 Apa yang Kau Lihat (2019) itu jadi tampak sedikit lebih ‘terhormat’. Karena kita lihat di film itu para tokohnya masih bermain gestur, maka sepertinya si film terpaksa nambahin dialog karena menyadari adegan di bawah air mereka tidak efektif karena suasana dan properti selam menghalangi ekspresi dan komunikasi pemain kepada penonton. Adegan di dalam airnya juga dibuat sesedikit mungkin. Sedangkan film Uncaged justru berusaha memasuk akalkan para tokohnya bisa berbicara di dalam air. Mereka fully commit cerita berlangsung di dalam air, dan they just go with all the dialogues and screamings. Yang membuat film jadi tampak bego.

Bagaimana tidak. Sudah jelas mengetahui hiunya buta dan tajam indera pendengarannya, tapi para tokoh tetap teriak-teriak memanggil nama temannya. Membuat gaduh yang ganjil. Dan lagi, bukannya hiu itu yang tajam indera pembaunya ya? Bukannya hiu agresif mencium darah di air? Elemen ini justru disimpan film untuk bagian final. Sementara selama dua babak kita dipaksa menelan mentah-mentah logika ngawur filmnya. Balik ke teriak-teriak; dialog dalam film ini benar-benar kosong kayak snack berisi angin. Jadi di dalam air, dengan perlengkapan nyelam, keempat tokoh cewek kita udah tak ketahuan lagi siapa yang mananya. Sementara film memutuskan mereka semua ini perlu untuk berdialog. Tau enggak cara yang dipilih naskah supaya kita bisa mengikuti percakapan mereka? Dengan membuat setiap kalimat ada nama orangnya. Percakapan mereka yang hanya sekadar eksposisi dan teriak itu semakin lucu terdengarnya. They go like, “Kita harus ke sana, Nicole”. “Tidak ada apa-apa, Sasha.” “Ayahmu ada di sana, Mia.” “Hidupkan alarmnya, Alexa” Wait, Nicole, Sasha, Mia, Alexa… ini masih hiu atau udah jadi WWE?

Rope-climbing Death Match

 

Sekuen ‘aksi’ di menjelang ending adalah bagian terbaik dari film ini. Seharusnya mereka sudah komit jadi sekonyol itu sedari awal. Dengan segala slow motion dan aksi-aksi melawan hiu yang over-the-top. Karena film benar-benar gagal untuk menjadi horor terperangkap melawan hewan buas. Enggak ada seram-seramnya. Jikapun terhibur, maka kita terhibur oleh kedunguan-tak-diniatkan yang dihadirkan oleh film. Kematian dalam film ini tak-terasa sama sekali. Karena tokoh-tokohnya tak ada yang punya sesuatu untuk kita pedulikan. Menurutku film ini pengen mirip sama The Descent (2005) yang juga tentang sekelompok wanita bertualang dan terjebak dan diburu sama pemangsa di dalam gua. Sayangnya tak seperti The Descent, Uncaged lupa mengisi cerita dengan logika dan tokoh dengan karakter-karakter yang berbobot.

 

Kalo kamu ingin tertawa melepas stress dan butuh sesuatu untuk mencegah dirimu tenggelam dari merasa paling bodoh sedunia, tontonlah film ini. Karena setelah nonton kamu akan senang sekali mengetahui dirimu enggak sebego horor bawah laut yang baru saja kamu saksikan. Bermain di laut gelap yang seram dan hiu pemangsa, film malah mengandalkan dialog dan suara untuk memancing kekagetan; yang diartikan dan dijual sebagai horor oleh pembuatnya. Yang menjadi penanda tidak kekompetenan, atau kemalasan, pembuatnya. Namun begitu, dialog filmnya hanya terdiri atas eksposisi dan teriakan. Lucunya lagi, dengan demikian sering eksposisi, film juga enggak sempat melandaskan logika-dalam yang mereka pakai. This film just all talks, with no bites.
The Palace of Wisdom gives 1 of 10 gold stars for 47 METERS DOWN: UNCAGED

 

MA Review

“You don’t need everyone to love you, just a few good people”

 

 

Semua akan main film horor pada waktunya. Dan kalo ada aktor yang paling pengen aku lihat bermain segila-gilanya di genre berdarah-darah, maka Octavia Spencer adalah salah satunya. Dan memang di film Ma ini Spencer tampak benar-benar menikmati kesempatan yang ia dapatkan. Bahkan yang bukan penggemar horor, boleh jadi tergoda untuk menyaksikan film yang actually juga proyek horor pertama dari sutradaranya; Tate Taylor. Spencer dan Taylor sebelumnya pernah bekerja bareng dalam The Help (2011), yang aku suka banget, dan sekarang mereka kolab lagi dalam film yang genrenya lebih membebaskan. Sekali-kali bermain dalam horor sepertinya therapeutic buat aktor seperti Spencer yang mulai mendapat peran yang begitu-begitu saja di genre yang lebih serius. Dan horor pun butuh pemain-pemain yang enggak asal-asalan, yang sungguh mengerti mengeksplorasi psikologi sehingga tidak keluar sebagai peran yang over-the-top yang tidak bisa dianggap serius. Spencer dan peran psikopat-horor ngeklik, menjadikan wanita ini bagian terbaik dalam film Ma.

Baru-baru ini kita menyaksikan Widyawati bersahabat dengan anak-anak muda dalam Mahasiswi Baru (2019), peran Spencer dalam Ma juga mengharuskan dia bergaul dengan orang yang berumur jauh berbeda darinya, namun dengan tone cerita yang jauh lebih kelam. Peran Spencer adalah sebagai Sue Ann, wanita kesepian yang tau-tau dimintai tolong oleh sekelompok anak remaja untuk membelikan mereka bir. Sue Ann butuh untuk membantu remaja tersebut seperti Spencer butuh untuk bermain horor; untuk menjadi lebih populer. Kepopuleran dan status dijadikan oleh film sebagai tema berulang yang dieksplorasi lewat cara yang tak biasa. Lama kelamaan Sue Ann yang tampak menikmati statusnya sebagai ‘ibu-ibu keren’ di antara para remaja, mulai mengundang mereka semua untuk berpesta di ruang bawah tanah rumahnya. Minum-minum. Hura-hura. Mabok. Jika kalian sudah merasa cukup risih melihat wanita dewasa menyediakan tempat untuk remaja berugal-ugalan, siap-siap saja untuk menjadi merasa ngeri ketika kilasan masa lalu Sue Ann muncul sebagai peringatan akan hal menakutkan yang bakal menimpa para remaja tersebut.

sejak 2011, kalo dia ngasih pie coklat, tolong jangan dimakan.

 

Filmnya cuma sembilan-puluh menit, tapi coba hitung ada berapa kali Octavia Spencer melakukan perubahan emosi dalam usahanya membuat karakter ini menyenangkan untuk ditonton. Menyenangkan dalam konteks horor loh. Pertama kita dibuat kasihan melihatnya yang seperti desperate banget untuk punya teman. Dia tampak cukup perhatian dan baik hati. Lalu dia berubah jadi tampak seperti orangtua norak yang jika bercanda pasti lawakannya enggak lucu oleh anak-anak muda, malah menyinggung. Lalu kita dibuat merasa kasihan lagi kepadanya, ketika Sue Ann yang kini dipanggil Ma malah seperti dimanfaatkan oleh anak-anak berandal. Lalu dia muncul seperti pacar yang cemburuan saat meneror remaja dengan puluhan pesan. Lalu dia seperti ibu yang overprotektif. Lalu dia jadi penipu yang punya agenda mengerikan, sebelum akhirnya menjadi ‘orang gila’ di babak akhir. Dan seperti layaknya film horor, Spencer juga memberikan one-last-scare kepada psikologi kita , entah harus kasihan atau mensyukuri keputusan terakhirnya. Film bisa menggapai begitu banyak level kengerian dengan permainan akting karakter yang berubah-ubah secara creepy seperti ini. Range-nya luas dan Spencer berhasil mengenai semuanya dengan menakjubkan.

Yang diperlukan oleh film adalah menjaga fokus dan mengeksplorasi Sue Ann lewat satu sudut pandang  sehingga horor dari runtuhnya kemanusiaan itu dapat tersampaikan dengan baik. Hanya saja, film malah membahas dari banyak sudut pandang sehingga narasinya tak pernah fokus sejak awal. Naskah ingin memparalelkan tokoh remaja dengan tokoh Sue Ann, mereka diikat oleh satu benang merah; keinginan untuk disukai dan menjadi bagian dari orang-orang populer. Tokoh utama film ini justru adalah salah satu anak remaja, Maggie (diperankan oleh Diana Silvers atau yang kita kenal sebagai kembaran Raihaanun dalam film Booksmart), yang baru pindah ke kota tempat cerita berlangsung. Maggie adalah anak baek-baek yang memilih bergaul dengan geng hura-hura karena seharian ditinggal kerja oleh ibunya. Film ingin memunculkan dramatic irony dengan menyilang-nyeling sudut pandang antara Maggie yang hubungannya semakin tak baik dengan sang ibu, yang malah semakin akrab dengan Sue Ann, dengan sudut pandang Sue Ann sendiri yang semakin kita lihat kegelapan dan kegilaan motifnya. Tetapi sisi dramatisnya itu justru menjadi kehilangan gigitan karena narasinya kehilangan fokus.

Pesan yang ingin disampaikan menjadi mendua; apakah kita harus mendukung Sue Ann membalaskan dendamnya kepada anak-anak populer yang ngesok – apakah tindakan kriminal yang ia lakukan bisa dijustifikasi. Atau haruskah kita mengkhawatirkan Maggie yang perlahan seperti berubah menjadi anak populer yang ngesok tersebut. Dan bukan hanya mendua, malahan mentiga lantaran actually film juga melihat dari sudut pandang ibu Maggie yang merasa dirinya hina; gagal di perantauan sehingga terpaksa kembali ke kota masa kecilnya.

Orang dewasa pasti pernah terkenang akan kehidupan di masa sekolah mereka. Masa-masa yang kebanyakan orang berharap mereka lebih disukai di antara teman-teman sekolah. Wajar saja berpikir seperti demikian, karena itu akan mendorong seseorang untuk menjadi lebih baik. Tapi disukai tidak sama dengan menjadi populer. Karena orang menginginkan hanya untuk menjadi populer, mereka bisa menjadi manipulatif ketika hanya mementingkan jumlah dan status. Jadilah populer, sembari tidak melupakan diri menjadi baik.

 

Secara garis besar, kita bisa mengerti keparalelan gagasan yang berusaha ditampilkan. Sayangnya pilihan untuk menjuggling sudut pandang ke sana kemari membuat cerita tidak menjadi sekuat yang semestinya bisa dicapai. Film juga punya undertone soal rasis yang dihubungkan ke dalam gagasan. Kita melihat Sue Ann mengecat putih kulit seorang remaja kulit hitam, karena menurutnya cuma boleh satu alpha di dalam grup. Tapi hanya sampai di sana. Film harusnya membahas lebih dalam, menjadi total gila, namun tetap bermain aman. Tingkat kekerasan dalam film ini tidak benar-benar mengerikan, karena sesungguhnya horor terletak di kejiwaan Sue Ann. Yang dikaburkan oleh seringnya cerita berpindah sudut pandang. Akibat paling jeleknya adalah tokoh-tokoh film ini jadi tidak pernah kelihatan seperti karakter. Mereka hanya seperti pion dalam permainan catur yang sudah diatur siapa yang kalah dan siapa yang menang. Mereka tidak hidup di dunia, mereka hanya hidup di naskah.

Sue’ banget emang si Sue Ann

 

Bahkan naskahnya sendiri tidak cukup konsisten untuk memerintah para tokoh. Narasi yang dihadirkan tampak dihadirkan dengan reasoning seadanya. Film membuat remaja-remaja itu suka sama Sue Ann, kemudian takut padanya, kemudian suka lagi, dengan sekenanya. Tidak pernah ada penjabaran yang kuat dan masuk akal. Cerita film ini bisa tuntas dengan lebih cepat jika remaja-remaja tersebut enggak balik-balik lagi ke rumah Sue Ann. Ada banyak momen yang menghadapkan tokoh remaja pada pilihan atau kesempatan untuk melakukan sesuatu yang wajar, you know, meninggalkan Sue Ann. Si Maggie sudah curiga sedari pertengahan. Tapi mereka tetap saja kembali kepadanya. Maggie tetap saja masuk ke ruang bawah tanah  itu. Tanpa ada tekanan dari teman-teman gengnya; di sini cerita mengkhianati gagasannya. Atau malah memparodikan? You be the judge. Apakah para remaja memang sebego itu untuk mau kembali deket-deket sama orang yang jelas-jelas mencurigakan cuma supaya bisa hura-hura.

 

 

 

Fakta bahwa film horor yang dibintangi oleh Octavia Spencer sebagai pembunuh psikopat beneran eksis di dunia sebenarnya sudah cukup menggembirakan. Terlebih karena memang dibeking oleh penampilan akting yang menghibur. Tapi tetap saja jatohnya mengecewakan karena film ini tidak sekalian dibarengi oleh naskah yang kuat. Karena yang kita saksikan lebih seperti usaha untuk menjadi tontonan yang populer ketimbang film yang ingin menceritakan gagasan. Narasinya terlalu sibuk untuk terlihat pintar, asik sendiri menggabung-gabungkan sudut pandang, dan kepingan misteri. Sehingga lupa untuk menjadikan karakter-karakter ini ‘hidup’. Kita hanya melihat mereka berpindah dari berpesta, ke ketakuan, ke curiga seperti diperintah. Tidak mengalir dengan natural.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for MA

 

 

 

 

MAKMUM Review

“Don’t let the behavior of others destroy your inner peace”

 

 

Jika ada yang bilang film Makmum membuat takut beribadah sholat malam sendirian, maka itu bisa saja benar. Karena memang itulah dilakukan oleh film horor; mengangkat kengerian dari hal sehari-hari yang relatable – yang dekat – dengan penontonnya. Untuk kemudian membuat kita ‘trauma’, terbayang-bayang adegan seramnya. Aku ogah lagi tidur menghadap lemari sejak menyaksikan H.I.M Damsyik muncul menggendong pocong dari dalam lemari Pengabdi Setan original. Justru itulah pencapaian bagi sebuah cerita horor. ‘Trauma’ dan kengerian itu bukan lantas jadi penghalang dan hal yang merugikan. Sebab kita, penontonnya, adalah manusia yang berakal dan bernalar. Aku jadi takut tidur menghadap lemari, bukan menjadi takut tidur. Makmum garapan Hadrah Daeng Ratu hadir mengamplify ketakutan kita sholat sendirian, namun bukan berarti bisa dijadikan kambing hitam kita takut sholat. Saat mati lampu seharian baru-baru ini, aku terbayang film pendek Makmum – yang dibuat oleh Sahabat FFBComm Riza Pahlevi – ketika sholat Isya gelap-gelapan. Sendirian. Merinding, so pasti.  Tapi toh aku tidak nyerah, aku masukkan kucing-kucing ke ruang sholat untuk ‘menemani’. Film horor sebenarnya mengajarkan kita untuk menghadapi ketakutan. Kesadaran akan hal yang ditakuti seharusnya membuat kita berjuang untuk mengatasi ketakutan tersebut. Yang pada akhirnya mendorong kita menjadi manusia yang lebih baik.

Seperti tokoh-tokoh pada film Makmum. Mereka ‘diganggu’ saat sedang sholat tahajud. Tiba-tiba ada suara yang mengikuti bacaan ayat mereka. Namun tak satupun dari mereka yang menghentikan ibadah. Kendati jadi tidak khusyuk lantaran meremang bulu kuduknya, tokoh-tokoh dalam film Makmum tetap melanjutkan bacaan sholat. Menyelesaikan hingga salam. Mereka enggak kabur tereak-tereak. Mereka enggak kapok sholat, atau malah jadi begitu ketakutan sehingga pindah agama. Yang terjadi adalah para tokoh berusaha ‘mengakali’ masalah. Mereka janjian sholat bareng, ke mana-mana barengan. Tidak sampai di sana, kita melihat para tokoh kemudian mencari akar masalah. Mencari tahu siapa sih hantu makmum yang suka ngikutin mereka ibadah.

Gangguan-gangguan dari luar tidak semestinya dibiarkan mengganggu keyakinan terdalam kita. Dalam hal ini, Makmum juga relevan karena mencerminkan keteguhan untuk beribadah meskipun ‘terancam’. Untuk tetap meyakini yang dianut meskipun banyak hal-hal horor seputarnya. Dalam tindak personal, tokoh utama cerita memperlihatkan keteguhan untuk tetap menjadi yang terbaik dari dirinya, walaupun tubuh luarnya bercacat dan dipandang rendah oleh orang-orang lain.

 

kalo aku yang diganggu, hantunya bakal teriak “Bacanya jangan cepet-cepet heiii!”

 

Soal orang yang diganggu hantu saat beribadah jelas adalah gagasan unik-nan-dekat yang jadi appeal utama dari cerita Makmum; alasan utama film pendek itu ditonton berjuta orang sehingga diadaptasi menjadi layar lebar. Makmum punya kesempatan yang sama dengan Lights Out (2016), horor pendek sukes garapan David F. Sandberg yang diangkat ke layar lebar, dengan sama suksesnya. Bagi filmmaker sedunia, tentunya sangat menginspirasi ketika cerita pendekmu dianggap punya nilai istimewa sehingga dijadikan film bioskop. Juga merupakan salah satu kesempatan untuk menerbangkan karir di dunia film. Tapi tentu tidak tanpa tantangan. Memekarkan sebuah kejadian singkat menjadi lapisan cerita utuh yang tersusun dalam tiga-babak, merupakan perkara yang tidak gampang. Butuh kreativitas dan usaha ekstra. Film pendek tadi haruslah bertemu dulu dengan orang-orang yang mengerti betul apa yang diceritakan dan paham kekuatan dari cerita tersebut. Makmum, seperti dimulai dengan langkah yang tepat. Mengikuti Lights Out, orang-orang belakang layar Makmum mengerti untuk mengembangkan cerita.

Makmum diberikan dunia yang benar-benar baru. Cerita film ini berlokasi pada asrama khusus putri yang dipimpin oleh kepala asrama baru yang tegas banget menegakkan disiplin. Satu set tokoh-tokoh sudah disiapkan untuk menghuni dunia ini. Tiga siswi under-achiever tetap tinggal di asrama yang kala itu sedang dalam masa liburan, karena nilai mereka tidak cukup tinggi untuk standar si kepala asrama. Di asrama luas itu, mereka disuruh menyelesaikan tugas sehari-hari sementara gangguan makhluk halus semakin intens. Sholat mereka diganggu. Teman mereka terus disurupi. Kemudian masuklah tokoh utama cerita, Rini (Titi Kamal akhirnya bermain horor juga), perias mayat yang merupakan alumni dari asrama tersebut. Satu tantangan baru yang diset oleh naskah demi mengembangkan film pendek ini adalah Rini harus mengungkap misteri di balik semua yang terjadi di sana. Misteri yang sudah barang tentu bersangkut paut dengan luka masa lalu dirinya.

Jadi, Makmum sudah melakukan semua yang ada pada checklist keberhasilan adaptasi Lights Out. Insiden pada film pendeknya dijadikan semacam teaser, atau semacam penyambung, untuk cerita yang lebih besar. Pada Makmum cerita itu adalah tentang persahabatan. Rini ditulis dengan cukup berkarakter. Dia punya luka bakar pada lengan, yang nantinya penting sekali dalam cerita. Kita melihat dia berpakaian hitam-hitam yang mungkin dipilih untuk menunjang pekerjaannya sebagai perias mayat. Pekerjaan tersebut actually punya bobot ke dalam narasi, terutama pada elemen supernatural yang dimiliki oleh cerita. Dalam film ini, hantu adalah sosok nyata yang beneran ada hidup berdampingan dengan tokoh-tokoh yang berkehidupan relijius. Rini yang bekerja dengan mayat, sering melihat dan berkomunikasi dengan mereka. Pada adegan perkenalan, kita melihat dia membentak lampu yang berkelap-kelip (diganggu oleh hantu), jadi segera terestablish Rini adalah orang pemberani yang percaya akan adanya hantu. Penulisan tokoh Rini yang lumayan menarik ini semakin berkembang saat masa lalunya terungkap sembari durasi berjalan. Dan seketika itu aku merasa dejavu.

Masih ingat film horor Sunyi (2019) yang diadaptasi dari horor Korea Whispering Corridors (1998)? Sepertinya tahun ini kita mendapat dua adaptasi dari Whispering Corridors tersebut karena Makmum juga punya cerita yang seperti adaptasi lokal dan lebih less-dramatic. Whispering Corridors adalah horor kompleks bertempat di sekolah khusus putri, dengan cerita yang membahas soal bullying dan subteks komentar terhadap sistem pendidikan di negara tersebut. Sunyi mengadaptasi soal bullying dengan berfokus pada tokoh anak-anak sekolahnya. Di Whispering Corridors juga dibahas dari sudut pandang guru muda sebagai perwakilan dari sistem pendidikan. Nah, guru itulah yang sangat mirip dengan tokoh Rini di Makmum. Rini dan si guru sama-sama alumni dari asrama/sekolah putri tersebut. Mereka sama-sama enggak setuju dengan cara tempat itu beroperasi, mengenai disiplin yang terlalu ketat. Rini dan si guru sama-sama adalah teman baik dari hantu yang ada di dalam cerita. Cara ‘mengalahkan’ hantu juga mirip; Rini berdialog dengan hantu sebelum ultimately hantunya terbakar oleh ayat suci. Makmum juga bersubteks kejadian malang yang menimpa hantu merupakan kesalahan dari pihak asrama – seperti kesalahan pada pihak sekolah pada Whispering Corridors.

Sepandai-pandainya hantu sholat, tetap kepanasan juga dibacakan Surat pamungkas

 

Mengetahui ini, Makmum yang saduran dari film pendek jadi tidak punya hal orisinil di dalamnya. Elemen reliji yang sudah lumrah (agama melawan setan) dijadikan identitas, dengan gagasan film pendek menjadi penyambung untuk masuk ke pengembangan yang ternyata mirip film lain. Makmum ‘mengambil’ elemen Whispering Corridors untuk dijadikan layer luar. Pesan tentang bullying yang dilakukan oleh asrama ditinggalkan, hanya menyisakan sedikit yang difungsikan untuk twist pengungkapan. Untuk mengisi bobot cerita Makmum memang menambahkan sedikit subteks yang tak terikat dengan baik. Subteks mengenai soal kebakaran; fire warning. Alih-alih membahas lebih dalam soal sistem asrama – kepala asrama yang tegas dan ‘kejam’ dan kepala asrama terdahulu yang baik namun menyimpan rahasia kelam demi citra asrama – film malah menunjukkan kepada kita betapa bahayanya meletakkan api di dekat jendela.

Tiga anak asrama tidak diberikan kesempatan untuk berkembang. Hubungan persahabatan mereka saja tidak tergambar dengan menarik. Dalam Whispering Corridors, persahabatan anak sekolah itu paralel dengan persahabatan guru muda dengan hantu. Dalam Makmum, tiga anak asrama ini hanya ada untuk ditakut-takuti. Backstory mereka hanya terpapar dalam satu kalimat. Mereka di sana untuk menjadi korban. Ada satu anak yang kerjaannya cuma kesurupan. Korban dari sebuah naskah yang dangkal. Banyak kejadian di dalam film ini yang basically memohon kepada kita untuk tidak terlalu memikirkannya karena memang tidak masuk akal. Seperti kenapa reaksi para tokoh begitu lamban. Kenapa mereka bisa keluar dari pintu yang dikunci dari luar – kita bicara soal pintu yang dikunci oleh manusia, bukan oleh kekuatan setan. Kenapa hantunya malah menakut-nakuti orang baik, sedangkan orang judes yang berada di pihak yang menutupi kematiannya tidak diganggu malah dijadikan ‘kendaraan perang’. Pengarahan film juga tidak membantu. For some reasons film yang sudah diharapkan bakal punya momen jumpscare ini menjadi gory, dan penuh oleh trope-trope horor seperti hantu manjat-manjat kayak spiderman dan hantu yang mentransfer muntah ke manusia. Dan oh ya, kamera yang miring-miring.

 

 

Usaha yang dilakukan untuk mengubah materi menjadi film panjang sudah benar, hanya saja film benar-benar tidak tahu mengembangkan apa lagi dari elemen-elemen yang ia sadur. Baik itu yang diadaptasi secara sah, maupun yang ditiru secara ‘sembunyi-sembunyi’. Atau mungkin secara gak sadar? You be the judge. Yang jelas film menyia-nyiakan banyak tokoh dengan memberikan mereka penulisan yang dangkal. Cerita jadi tidak punya bobot di samping elemen reliji dan gagasan film pendek yang identitas. Padahal babak awal hingga pertengahannya ceritanya terangkai dengan menarik. Kita cukup terinvest dalam misteri dan masa lalu tokohnya. Dalam pengembangannya dia bisa saja menjadi salah satu dari tiga; drama persahabatan yang tragis, horor gore yang fun, atau komentar sosial mengenai posisi wanita sebagai pemimpin (dalam Islam, wanita tidak boleh menjadi imam kecuali bagi jemaah wanita). Tapi malah diarahkan menjadi horor generik yang menjual trope-trope. This film has absolutely no idea.
The Palace of Wisdom gives 3 gold stars out of 10 for MAKMUM

 

 

 

 

DORA AND THE LOST CITY OF GOLD Review

“The greatest adventure is the search for wisdom”

 

 

Dora, si bolang yang suka nanya-nanya itu, kini sudah gede. Petualangan kartun warna-warni yang kita saksikan di televisi dulu itu, disugestikan oleh film live-action ini, adalah sebagai imajinasi Dora yang tinggal di rumah di hutan bersama ayah dan ibunya yang arkeolog dan sesama petualang. Sebab, Dora juga tinggal di dalam dunianya sendiri. Tempat monyet bisa ngomong. Tas, dan peta bisa bernyanyi. Dan rubah bisa mencuri. ‘keberadaan’ mereka itulah awal masalahnya. Keluarganya khawatir Dora butuh teman yang bukan monyet atau buaya atau ular boa. Dora pun dikirim ke kota untuk tinggal bersama keluarga sepupu karibnya, Diego. Dora yang anak-hutan kayak Tarzan dimasukkan ke sekolah supaya berinteraksi dengan remaja-remaja sebayanya. Dia lalu berteman dengan Regina George dan cewek-cewek ‘plastik’ yang sok kecakepan. Eh, maaf, itu sinopsis Mean Girls (2004) gak sengaja kecampur. Cerita Dora di sekolah sedikit lain. Dora jelas enggak perlu nunggu hari Rabu untuk pakai baju pink. Malahan dia enggak begitu peduli untuk menjadi orang yang bukan dirinya meskipun anak-anak di sekolah – bahkan Diego – menganggapnya aneh.

Aku sebenarnya masih empet sama yang namanya live-action dari animasi atau kartun berkat Lion King 2019 (“Katakan ‘tidak’! Katakan ‘tidak’!”) Live-action seharusnya enggak maksa seperti itu. Harus ada penyesuaian ketika kita memindahkan dari tampilan satu ke tampilan lain, sementara harus tetap mempertahankan elemen yang disukai dari versi aslinya. Dora mengubah cemberutku menjadi senyuman. Paling enggak untuk separuh awal.

Film garapan James Bobin ini memiliki babak pertama dengan banyak kejadian menarik. Bobin paham cara memperlakukan elemen-elemen yang menjadikan kartun Dora spesial ke medium yang lebih ‘nyata’. Untuk kemudian bermain-main dengannya. Momen-momen khas (dan annoying) seperti Dora yang suka break the fourth wall dengan nanya ke kita (padahal jawabannya ada di depan mata!) tidak dihilangkan ataupun disalin mentah-mentah. Film mengenali betapa surealisnya sikap dan kebiasaan Dora, berteman dengan hewan dan benda mati, serta ngobrol seolah ada orang yang melihatnya. Film juga menekankan bahwa Dora adalah petualang yang cerdas, tangkas, dan pemberani. Film menggabungkan, menyesuaikan – ngomong seolah-olah ditonton itu simply paralel dengan kegiatan ngestory/ngevlog, dua unsur tersebut sehingga karakter Dora dalam film ini menjelma menjadi salah satu karakter paling menarik dalam film anak-anak.

Dora adalah remaja yang percaya diri, yang tidak takut untuk menjadi dirinya sendiri. Namun dia juga adalah seorang yang kesepian. Yang ingin disampaikan oleh film lewat karakter Dora adalah betapapun pinternya, kita tetap tidak bisa melakukan semuanya tanpa bantuan orang lain. Petualangan Dora membuka pikirannya terhadap hal tersebut karena Dora terbantu oleh kemampuan ‘khusus’ yang dimiliki oleh teman-teman sekolahnya.

kebayang nonton sama anak-anak, terus mereka ngobrol sama Dora di layar bioskop kayak kita dulu ngobrol ama layar tv hihi

 

I got my eyes set on Isabela Moner sejak Instant Family (2019) awal tahun ini. Pendekatan natural Moner dalam men-tackle tokoh anak rebel yang sebenarnya stereotipe membuat tokoh itu menjadi luwes bergerak dalam range emosi yang jauh. Sebagai Dora, Moner mengemban tugas yang sekilas receh. Tapi ada unsur sureal, karena Dora menggunakan gelagat ceria dan quirky sebagai mekanisme pertahanan dari penolakan ataupun kemungkinan dikucilkan. Semua itu harus cewek ini sampaikan dalam nada komedi. Dan Moner punya penguasaan waktu-komedi yang tepat sehingga elemen-elemen kartun yang tokohnya sampaikan diterima oleh kita sebagai candaan yang menguatkan karakternya. Simak dengan selownya Moner mengucapkan dialog “Hutan bukan tempat berbahaya. Asalkan kita tidak menyentuh apapun. Dan tidak bernapas terlalu dalam”, atau adegan simpel ketika Dora menyapa semua manusia yang ia temui di bandara dan sekolah.

Dora and the Lost City of Gold bekerja terbaik ketika si Dora berada di kota beneran. Cerita fish-out-of-water yang disuguhkan tampak spesial oleh keunikan tokoh Dora. Dia menyebutnya ‘berinteraksi dengan orang lokal’. Aku ngakak ketika isi tas Dora dibongkar di gerbang sekolah, dan kita menemukan banyak benda-benda ‘survival di hutan’ di dalam sana. Film tampak ingin mengomentari bahwa kota tidak lebih baik daripada hutan. Dora mendapat momen ‘welcome to the jungle‘nya justru ketika dia berada di kota. Dia merasa lebih kesepian di sana ketimbang di antara pohon-pohon. Film akan berjalan di arah yang totally berbeda jika terus membahas Dora yang berusaha hidup di kota.

Sayangnya, naskah tidak mengizinkan hal itu terjadi. Naskah melakukan pilihan aneh yang membuat cerita seperti udah maju, terus balik lagi. Dora ditarik kembali ke hutan karena diculik. Dia harus menemukan ayah dan ibunya yang menghilang dalam ekspedisi pencarian Kota Emas Parapata di hutan. Sebelum mereka ditemukan lebih dulu oleh para penculik yang bermaksud menangguk emas dari pengetahuan mereka. Jadi naskah film ini cerita bermula di hutan, kemudian inciting incident menyebabkan Dora harus pindah ke kota, namun plot poin-satunya membawa Dora kembali lagi ke hutan. Cerita fish-out-of-water malah berbalik ke teman-teman Dora yang harus belajar survive di hutan. Melihat Dora beraksi di ranah yang sudah ia jago, kendati exciting dan kocak, tetap tidak sebanding dengan tawaran yang sudah di-tease ke kita tentang Dora berusaha hidup bersosialisasi di kota. Petualangan Dora bersama teman-teman di hutan cukup seru. Seperti Indiana Jones versi cewek. Versi lebih cilik daripada kelihatannya. Eksplorasi mereka melingkupi pemecahan teka-teki hingga aksi meloloskan diri dari jebakan. Porsi aksi ini sebenarnya lumayan punya suspens. Tapi film senantiasa menarik diri kembali, mengingatkan kepada kita bahwa yang kita tonton ini tak lebih dari kartun anak-anak. Misalnya ketika Dora hendak tergencet tembok yang menutup; cara keluar dari situasi ini sangat kartun – melibatkan Boots CGI melakukan tingkah ‘ajaib’. Ada banyak adegan-adegan seperti petualangan beneran yang kemudian didaratkan oleh elemen kartun, meredamkan sense-of-danger. Yang dilakukan supaya tetap senada ama kartunnya, atau juga mungkin dirasa terlalu ‘berat’ untuk konsumsi anak-anak.

Parapata mungkin ada di parampatan depan sono, dek

 

Buat anak kecil memang film ini mengandung pembelajaran. Mereka bisa belajar soal mencari ilmu pengetahuan adalah hal yang mengasyikkan. Harta yang paling berharga dalam film ini bukan hanya keluarga, melainkan teman-teman dan ilmu. Film berpesan untuk tetap mencari ilmu sekalipun kau tampak aneh, diejek ‘nerd’, atau ‘dork‘ seperti Dora karenanya. Anak-anak akan dapat cepat menangkap pesan tersebut karena cerita dan adegan film ini memang dirancang untuk kepentingan mereka.

Tapi juga, menurutku film ini sedikit krisis eksistensi diri. Film tergiur untuk menjadi tontonan nostalgia untuk anak-anak yang dulu menonton kartunnya. Film mengambil tokoh remaja untuk menimbulkan kesan Dora tumbuh bersama mereka. Tapi ceritanya yang masih untuk anak kecil membuat Dora lebih cocok untuk anak kecil jaman sekarang. I mean, film ingin menarik bagi remaja atau yang lebih tua, tapi sekaligus juga hadir sebagai tontonan anak kecil. Ini sedikit membingungkan. Maka kita mendapat adegan Dora menggali lubang untuk buang-air sambil berdendang. Menurutku, keinginan film untuk menggapai lebih banyak lapisan penonton membuat penceritaannya menjadi setengah-setengah. Sepertinya akan lebih bagus jika terarah, Doranya tetap anak kecil dan ceritanya bertualang begini, atau Dora remaja dengan cerita dia di kota. Tapi tentu saja, bukan lagi Dora namanya jika tidak bertualang di hutan.

 

 

 

Jadi film memilih untuk tidak menjadi lebih besar dari yang ia bisa. Film mengadaptasi banyak elemen unik dari kartun, dan mengolahnya untuk menghidupkan Dora-yang-sama tapi dalam lingkungan baru yang supposedly lebih real, untuk penonton anak-anak jaman kekinian. Buatku masalah film ini bukan pada pilihannya menjadi receh atau menjadi film anak-anak banget. Dora justru punya pesona di ranah itu. Tapi adaptasi kartun Nickelodeon ini terbingungkan oleh nostalgia, sehingga naskah jadi sedikit messy. Ini gak akan jadi masalah untuk anak-anak sih, mereka akan senang sekali diajak orangtua dan kakak mereka kenalan ama Dora dan Boots, bernyanyi dan bertualang bersama.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for DORA AND THE LOST CITY OF GOLD

 

MAHASISWI BARU Review

“Anyone who keeps learning stays young”

 

 

Masa-masa tahun ajaran baru memang selalu dinanti oleh para mahasiswa. Apalagi kalo bukan karena masuknya maba-maba. Mahasiswi-baru untuk dikecengin. Mahasiswa-baru yang siap untuk dikerjain pas orientasi alias ospek. Tapi gimana kalo maba yang masuk udah seumuran dengan oma di rumah? Jelas gak bisa digodain. Dikerjain? Wuih, bisa kualat. Film komedi Mahasiswi Baru garapan Monty Tiwa mengajak kita untuk melihat persisnya peristiwa itu terjadi. Cerita yang basically tentang seorang wanita 70-tahun yang berusaha menemukan kembali cinta dengan menginjak kaki ke ranah anak muda ini akan membuat kita tertawa, sekaligus berusaha untuk menyentuh hati saat menyadari bahwa untuk urusan cinta; tidak pernah ada kata terlalu tua.

Aktor senior Widyawati tampak sangat bersenang-senang sekali memerankan Lastri, sang mahasiswi baru di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Cyber Indonesia, Yogyakarta. Semangat Lastri enggak kalah dari anak-anak muda, bahkan Lastri lebih kritis dari mereka. Lastri dengan berani mengkritik bapak dekan, yang diperankan oleh aktor sepantaran Slamet Rahardjo. Dinamika dua tokoh ini akan menjadi sentral dari cerita. Karena si dekan adalah paralel dari yang dirasakan Lastri di rumah anaknya. Kita akan melihat yang tadinya musuhan akhirnya membuka untuk cinta; film ini actually adalah sebuah rom-com unik karena tokoh-tokohnya adalah dua generasi di atas kita. Tapi bukan berarti tua dan muda enggak bisa nyambung. Karena film ini menunjukkan di antara teman-teman baru di kampus, ada empat anak muda yang dengan akrab dengan Lastri. Yang setuju untuk memanggil dirinya Lastri – sesuai dengan permintaan. Mereka jadi teman segeng yang selalu menimbulkan masalah di kampus! Sebenarnya keempat anak muda tersebut – Sarah, Reva, Ervan, dan Dani – punya masalah sendiri, yang pada akhirnya mendapat pengaruh langsung dari Lastri.

bayangkan seorang ingusan memanggil nama nenekmu dengan akrab

 

Dalam menghadirkan kontras antara generasi tua dengan generasi muda yang menjadi pokok bahasan cerita, film ini mengambil rentang tone yang cukup jauh. Adegannya dapat menjadi begitu konyol, untuk kemudian menjadi serius dan emosional, atau bahkan menjadi keduanya sekaligus. Film meniatkan hal tersebut sebagai pesona utama. Ia berusaha membuka koneksi kepada penonton lewat komedi-komedi. Tapi bukan komedi yang ‘it’s funny because it’s true‘. Menonton komedi film ini seperti melihat nenek kita menari. It’s just funny. Film juga menunjukkan dirinya sengaja memilih komedi receh. Mahasiswi Baru hadir dengan self-awareness bahwa tokoh-tokoh mereka punya backstory ala ftv. Dapat kita jumpai dua adegan di mana dua tokoh sedang berbincang membandingkan kisah hidup siapa yang paling tragis. Hingga menulis ini aku masih enggak yakin untuk harus tertawa atau bersedih mendengar cerita tokoh-tokoh tersebut.

Sisi positif yang berusaha digali dari arahan komedinya ini adalah film punya kemampuan untuk tampil sebagai satir, atau parodi. Karakter-karakter di sini merupakan stereotipe yang benar-benar banal sehingga bisa jadi penulisnya memang sengaja melakukannya untuk menyindir. Menyindir siapa? Ya semuanya. Kita bisa melihatnya sebagai generasi tua yang sedang meledek generasi muda. Bisa sebaliknya. Dan malahan bisa juga sebagai generasi yang sama saling meledek. Misalnya, karakter yang diperankan oleh Morgan Oey. Dia di sini selalu live di instagram, semua kegiatan yang ia lakukan di kampus bersama teman-teman segeng dibroadcast ke ribuan follower. Film menyinggung ini dalam batasan yang wajar ketika Lastri bertanya dengan polos kenapa curhat ke ribuan orang yang bukan sebenarnya teman. Cerita yang mengarah ke drama akan berhenti di sana. Tapi Mahasiswi Baru yang udah teguh tekad untuk menjadi konyol membuat tokoh si Morgan ini berbicara selalu dengan tambahan “guys” di belakang kalimat. Ini seperti memparodikan kebiasaan anak muda ngevlog jaman sekarang, yang merasa menggunakan “guys” otomatis menjadikan dirinya sebagai pribadi yang asik, regardless konten yang mereka buat. Lain lagi dengan karakter yang diperankan oleh Umay Shahab; seorang yang merasa dirinya aktivis. Yang menjunjung tinggi demokrasi. Tokoh ini digambarkan gampang terpancing emosi. Sindiran terhadap tokoh ini adalah bahwasanya justru ternyata dia sendiri yang paling gampang ngejudge orang lain.

Karakter-karakter yang ada pada Mahasiswi Baru adalah campuran dari yang bersifat parodi seperti yang disebutkan di atas, yang dimainkan full-time sebagai komedi. Dengan yang bernada jauh lebih serius. Dua alumni Gadis Sampul; Mikha Tambayong (GS 2008) dan Sonia Alyssa (GS 2015), masing-masing kebagian peran yang lebih ‘berhati’ yang seperti kebalikan dari tokoh lain. Yang satu punya cerita perihal passion yang terhalang keinginan orangtua sehingga dia lebih memilih tinggal sendiri dan merahasiakan siapa orangtuanya kepada teman-teman. Yang satu lagi bahkan tidak lagi punya orangtua, dan dia harus kuliah sambil bekerja diam-diam. Keputusan naskah untuk membuat tokoh-tokoh tersebut sebagai stereotipe menciptakan jarak yang cukup jauh antara emosi dengan komedi. Dan film tidak pernah benar-benar membangun jembatan penghubungnya. Kita hanya dibawa berpindah-pindah dengan cepat oleh komedi-komedi konyol

Tokoh Lastri seharusnya adalah jembatan tersebut. Tapi bahkan Lastri pun tidak luput dari sindiran. Stereotipe generasi tua justru kuat pada Lastri. Di salah satu adegan diperlihatkan dirinya ke kelas membawa mesin tik, padahal yang disuruh oleh dosen adalah membuka laptop. Film menyuruh kita untuk percaya bahwa orang lanjut usia (yang tinggal di kota) tidak tahu dan mengerti di jaman sekarang sudah ada komputer. Lastri juga gagal ditulis dengan baik sebagai seorang karakter. Untuk alasan dramatisasi, film memilih untuk menyimpan motivasi Lastri kepengen menjadi mahasiswi lagi. Dan untuk menutupnya mereka menggunakan komedi. Jadilah kita di sepuluh menit pertama mencoba untuk peduli pada Lastri yang bisa diterima kuliah dengan mengancam pihak kampus dengan bakal mendoakan mereka yang jelek-jelek. Ini adalah lucu menurut film. Kita harus memasuk-akalkan peristiwa Lastri bisa keterima menjadi mahasiswi di fakultas ilmu komunikasi, tanpa kita paham motivasi Lastri secara spesifik memilih fakultas tersebut. Menurutku, akan jauh lebih menyenangkan untuk ditonton jika sedari awal kita tahu, karena begitu Lastri diwanti-wanti akan di-DO kita butuh sesuatu untuk ditakutkan. The way the film goes, aku merasa sebodo amat – toh kalo Lastri nilainya jeblok, aku tidak tahu pengaruhnya bagi Lastri jika dia dikeluarkan.

Pesan menyeluruh yang bisa kita simpulkan dari Lastri yang sudah tua masuk ke Ilmu Komunikasi adalah bahwa usia bukan jaminan seorang individu bisa mengerti cara terbaik dalam mengomunikasikan cintanya kepada keluarga dan sahabat. Film ini tidak banyak menunjukkan adegan belajar di kampus karena pelajaran sesungguhnya yang harus dipelajari oleh Lastri terletak pada hubungannya dengan teman yang ia dapatkan, pada keluarga yang ia pikir ingin ia tinggalkan. Film menunjukkan untuk urusan cinta, tua dan muda sama-sama butuh banyak belajar

 

Lastri, menjelang akhir cerita, menyebutkan masih banyak yang harus ia pelajari meskipun usianya sudah lanjut. Tapi dialog ini hanya terasa sebagai kata-kata karena film tidak berhasil menghidupkan tokoh-tokohnya dengan baik. Penggunaan komedi sebagai jembatan antara emosi dengan steretipe dan, lucunya, komedi lagi membuat kejadian yang dialami tokoh-tokoh film ini seperti dibuat-buat. Lastri kayak selalu tua, tidak ada sense dirinya pernah muda. Film yang baik, bahkan komedi yang baik, adalah yang punya cerita di mana tokoh-tokohnya terasa punya kehidupan di luar frame kejadian film yang kita saksikan. Misalnya pada Booksmart (2019); Amy dan Molly terlihat seperti benar-benar sudah berteman sebelum cerita film dimulai. Dan ketika cerita berakhir kita membayangkan persahabatan mereka tetap berlanjut. Pada Mahasiswi Baru, tidak ada kesan Lastri punya kehidupan sebelum cerita dimulai. Dia tidak punya teman-teman sebaya. Trauma masa lalunya disembunyikan dari penonton. Di tengah-tengah film, kehidupan kuliah yang ia pilih jarang ditampilkan. Setelah midpoint, stake mendapat nilai tinggi itu intensitasnya ditinggikan, tapi cara yang diambil sungguhlah aneh. Mahasiswi ini mendekati dekannya alih-alih belajar lebih keras. Mungkin ini bagian dari sindiran yang ingin dilontarkan oleh naskah. Tapi yang jelas, hingga akhir cerita masalah nilai itu tidak dibahas lagi. Film tidak mengganti pertanyaan, melainkan tidak lagi tertarik untuk menjawab sesuai dengan pertanyaan yang ia angkat. Cerita berakhir dan kita semakin tidak peduli apakah mereka semua berhasil mendapat nilai bagus.

nenek-nenek ompong juga tahu bahwa film komedi cheesy seperti ini biasanya selalu ditutup dengan menari bersama.

 

Bahkan dengan jor-joran komedi dan usaha menggapai tangis penonton yang dahsyat, film masih merasa kurang percaya diri dengan narasi mereka. Sehingga musik soundtrack dijadikan jalan pintas. Lagu demi lagu diputar, malah ada yang nyaris satu lagu full. Ketika adegannya sudah berganti, ketika sudah tidak cocok lagi dengan lirik yang dinyanyikan, lagunya tetep aja diputar.

 

 

 

Ini adalah jenis film yang asik untuk ditonton bareng teman-teman dari beragam usia, karena akan jauh lebih mudah untuk tertawa ketika bersama-sama, terlebih sebab lelucon dalam film ini memang dirancang sebagai sindiran atau parodi lintas-generasi. Banyak penonton akan terhibur. Tapi rentang yang terlalu jauh antara komedi dengan emosi yang hanya dijembatani oleh komedi lagi, membuat kita susah konek lebih lanjut dengan pesan dan karakter-karakternya. Mungkin memang film ini sebaiknya dipandang sebagai cerita stereotipe yang berfungsi sebagai celetukan konyol dari kehidupan semua generasi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for MAHASISWI BARU

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Pernahkah kalian belajar sesuatu dari orang yang lebih muda dan kurang-berpengalaman daripada diri kalian sendiri?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

KOBOY KAMPUS Review

“I certainly can’t change it by sitting on my couch..”

 

 

 

Bikin dan ngurusin sebuah negara itu enggak gampang, terutama ketika kita enggak melakukan apa-apa terhadapnya. Tapi, lucunya, justru itulah yang dilakukan oleh para koboy kampus – sebutan lawas untuk mahasiswa yang lebih senang untuk tidak langsung menembak target lulus kuliah secepatnya – di ITB era pemerintahan Soeharto.

Para ‘koboy’ ini dipimpin oleh Pidi, mahasiswa seni rupa yang berpotongan gondrong. Melihat teman angkatannya berkoar-koar orasi mengkritisi presiden, Pidi terilham suatu cara lain untuk memprotes negara. Yakni membuat negara sendiri. Terciptalah Negara Kesatuan Republik The Panasdalam, nama yang sungguh merangkul perbedaan lantaran merupakan singkatan dari Atheis, Paganisme, Nasrani, Hindu-Buddha, dan Islam. Awalnya negara yang cuma seluas ruang lukis itu – actually ruang lukis itu memang jadi lokasi negaranya – hanya memiliki penduduk sebanyak lima orang. Tapi berkat ajaran Pidi sang Imam Besar, berkat alunan lagu-lagu ciptaannya yang kocak,  berkat kehidupan kampus sebagai alternatif dari berpanas-panas di luar turun ke jalan, negara The Panasdalam dengan cepat berkembang dan menarik minat mahasiswa Indonesia untuk berpindah warga negara masuk ke sana.

Negara yang penduduknya setiap kali makan dan buang air ke luarnegeri

 

Mengenai The Panasdalam dan Pidi Baiq sendiri, aku yang lahir di luar zaman dan daerah mereka, memang tidak begitu familiar dengan mereka. Aku tahu beberapa lagunya yang lucu-lucu kayak “Jane”, “Rintihan Kuntilanak”, dan “Tragedi Segitiga Merah Maroon”, aku juga tau Pidi yang menulis Dilan. Dan cuma itulah yang aku tahu. Tapi aku bisa relate dengan kehidupan koboy kampus yang ditampilkan oleh film ini. Kalo di kampusku dulu mahasiswa-mahasiswa golongan telat lulus alias terdistraksi melulu oleh maen, pacaran, atau hal-hal absurd tak-penting tapi diyakini bisa menyelamatkan dunia ini istilahnya adalah “king of injury time specialists”, dan aku salah satu anggotanya haha.. Makanya nonton ini aku jadi seperti menertawakan diri sendiri. Kehidupan kampus tergambar terang dengan rasa nostalgia. Dialognya mengalir jujur, sejujur jailnya mahasiswa dengan segala gagasan gila dan nilai ‘liar’ mereka. Dan memang dua hal itulah yang menjadi appeal utama dari film Koboy Kampus. —oh, bagi beberapa penonton mungkin ada satu lagi; anggota JKT48.

Selain itu, aku tidak merasa peduli dengan kejadian yang muncul silih berganti sepanjang durasi. Karena subplot-subplot yang dihadirkan tidak dilandasi oleh satu gagasan yang paralel. Mereka hanya ada untuk lapangan bermain komedi. Kita tidak pernah tahu dan mengerti siapa Pidi karena film tidak mengajak kita untuk menyelami dan mengeksplorasi motivasi dan sudut pandangnya. Malahan, film seperti takut untuk memperlihatkan cela tokoh ini. Untuk memperlihatkannya sebagai manusia yang setara dengan teman-temannya. Kita diminta untuk memandangnya seperti tokoh teman-teman memandangi dirinya; penuh kagum karena Pidi begitu lucu, bijaksana, cemerlang dengan ide-ide unik. Yang bahkan tidak benar-benar menambah banyak untuk elemen negara The Panasdalam yang ia dirikan.

Film sangat mengultuskan sosok Pidi. Dia tergambarkan sebagai ‘juru selamat’ lewat fatwa-fatwa yang dicetuskannya dalam The Panasdalam. Negara tersebut didirikan sebagai bentuk perlawanan Pidi. Jika ada hadist yang menyebut untuk mengubah kemungkaran, gunakanlah tangan – jika tidak mampu maka gunakanlah lisan, dan jika tetap tak mampu gunakan hati, maka negara buatan Pidi digambarkan berada bahkan di atas hadist tersebut. Perlawanan mereka adalah perlawanan cinta damai lewat lagu. Di kampus, di rumah, di kampus lagi, dia menyanyi sepanjang waktu. Disambut oleh anggukan kepala tanda setuju dan gelak tawa ‘rakyat-rakyatnya’. Jika ditambah dengan perawakannya, Pidi tampak seperti Yesus bergitar versi hippie. Yang hanya duduk sepanjang waktu menyanyikan protes, sementara dunia tampak membaik dan tambah menyenangkan karena semakin banyak orang yang terkagum sehingga menerapkan ‘ajarannya’. Untuk menekankan hal ini, film memasang satu adegan nyanyi yang menampilkan Pidi bersinar dalam latar yang seperti awan-awan. Haleluya!

Pidi tidak menciptakan negara. Dia menciptakan agama.

 

Dan apa sih skenario? Pidi jelas jauh berada di luar – di atas – semua aturan-aturan itu. Tokoh utama film punya kaidah untuk ditulis banyak melakukan sesuatu, dalam perjalanannya harus mengorbankan sesuatu yang penting bagi dirinya, secara konstan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menentang pemikirannya, tapi tidak demikian halnya dengan Pidi. Inilah yang menyebabkan susah untuk peduli kepada tokoh ini. Karena dia hanya duduk dan bernyanyi, tak tersentuh oleh permasalahan negara dan permasalahan sosial – perkuliahan yang dihadapi oleh teman-temannya. Tentu sah-sah saja jika tokoh utama ceritamu punya dan jago dalam satu kepandaian. Bernyanyi dan bermain gitar adalah kekhususan tokoh ini – kita tidak bisa mengharapkan dia ikutan melukis. Akan tetapi tokoh utama juga harus ditulis sebagai karakter yang aktif berbuat dan ditantang oleh sesuatu. Paterson dalam film Paterson (2017), misalnya. Dia pembuat puisi – that’s what he does as a character. Namun kita tidak mati kebosanan mengikuti kisahnya karena serutin apapun hidupnya yang bekerja sebagai pengendara bus kota, Paterson secara rutin ‘ditantang’ oleh sekitar. Dia aktif bergerak, mengajak anjingnya jalan-jalan, bertemu anak kembar, busnya pecah ban. Ada perjalanan inner melingkar – yang koheren dengan outer journey – yang ia hadapi, ada pembelajaran yang berlangsung dari Paterson yang berusaha untuk membuat rutinitasnya menjadi hal-hal luar biasa yang indah ia puisikan. Journey seperti demikian absen pada Pidi. Dia tidak setuju dengan keadaan negara, dia tidak setuju dengan perlawanan dari sebagian temannya, dia membuat negara baru untuk menunjukkan beginilah seharusnya – bentuk kritisi yang ia sampaikan, tapi ia tidak melakukan apa-apa dengan negara tersebut.

Dia memperlakukan Panasdalam sebagai eskapis dari masalah karena baginya keadaan politik atau masalah kuliah itu adalah masalah luar negeri. Sementara negara yang ia bangun sudah keren. Ada masalah kecil, dia tinggal bernyanyi. Padahal kita tidak bisa mengubah dunia hanya dengan duduk saja

 

Oh boy, betapa The Panasdalam adalah negara idaman. Tidak ada konsekuensi diperlihatkan di sini. Ini semester terakhir, sementara nilai kuliahmu amburadul? Well, di tahun itu mahasiswa bisa kuliah hingga empat-belas tahun. Cerita film ini mengambil kurun dari 1995 hingga lengsernya Soeharto di 1998, dan untuk sebagian besar cerita tokoh kita sudah disebutkan dalam “semester terakhir”nya. Soal biaya? Ah, tak sekalipun tokoh kita diperlihatkan susah uang. Keluarga? Apalagi. Keluarga Pidi mendukung anaknya. Jika ada teman yang keluarganya nyuruh lulus, bagi Pidi tak jadi soal. Pacar? Patah hati hal biasa karena kita toh masih mahasiswa untuk waktu yang lama. Pidi tak tersentuh sama semua itu.

kayaknya seru ya kalo diospek sama Candil, serius!

 

Memang, film ini membangkitkan pertanyaan demi pertanyaan yang tokoh kita tak peduli untuk menjawabnya. Kenapa si Inggris nelfon ayahnya cuma untuk ngabarin dirinya diangkat jadi Duta Besar Inggris The Panasdalam. Kenapa bibir Stefhani Zamora item. Kenapa Boris bisa sampe gak pernah ketemu sama Pidi. Tapi bisa jadi memang itulah sasaran film ini. Karena mereka mempersembahkan diri sebagai komedi yang absurd. Dan sebagai komedi, dia efektif membuat penonton di dalam studioku tertawa. Tapi sesungguhnya narasi yang dihadirkan, cara berceritanya, film ini lebih cocok sebagai sebuah buku novel – atau mungkin komik, yang tidak perlu (mau) terkait oleh kaidah-kaidah penceritaan.

 

 

 

Menonton negara fiksi dalam film ini seperti menyaksikan sebuah cult/sekte cinta damai yang berkembang menjadi sesuatu yang absurd. Harmless, tapi juga pointless. Seperti ceritanya yang berkembang tak jelas arah. Jika kalian berharap akan tahu siapa Pidi dengan menonton ini, kita tidak akan mendapat banyak selain dia adalah sosok pemimpin paling ideal yang bisa diimpikan seseorang yang pengen negaranya maju. Generasi tua bisa nyaksikan ini untuk unsur nostalgia. Generasi yang lebih muda bisa hadir untuk lebih banyak dialog ringan namun gemes seperti yang dijumpai pada dua film Dilan. Tapi jika kalian pengen film yang beneran kayak film, maka aku gambarin kalo aku sendiri merasa menyesal enggak titip absen aja pas acara nonton bareng film ini tadi.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for KOBOY KAMPUS.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Mahasiswa seperti apakah kalian dulu?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.