Backlash 2017 Review

 

Gulat rasa internasional.

 

Paling enggak, itulah yang dirasakan oleh penggemar asli Amerika sono, as wajah-wajah superstar yang mewakili negara lain mulai mendapat spotlight di ppv dari brand Biru. Kalo buat kita-kita sih, setiap episode WWE adalah cita rasa internasional hehehe.. Dolph Ziggler mengritisi dengan keras perlakuan spesial yang didapat oleh superstar paling hits asal Jepang, Shinsuke Nakamura; hype, menurut Ziggler, tidak semestinya mengalahkan popularitas kerja keras. Kevin Owens, a Canadian superstar known for his brute tactic of strength and honesty, mengklaim diri sebagai wajah baru Amerika. Dan Jinder Mahal berniat membawa sabuk kejuaraan ke tengah-tengah kaumnya di India. Acara ini adalah soal MOTIVASI DAN MENDOBRAK PINTU OPPORTUNITY. Tentu saja, hal tersebut menguatkan image Smackdown yang selalu dengan bangga memproklamirkan diri sebagai ranah yang membuka pintu kesempatan selebar-lebarnya.

Kita melihat banyak feud baru, beberapa di antaranya super duper fresh. Aku actually excited menunggu acara ini, karena kupikir WWE bakal bego banget kalo mengesksekusi acara ini enggak semenyenangkan tampaknya di atas kertas. Dan memang, menonton Backlash menghadirkan sensasi menyenangkan. Tapi menyenangkannya kayak kalo kamu main water sliding yang tinggi banget woohooo!! dan ketika sampai ternyata kolamnya dangkal; Senang tapi rasanya kecewa dan kayak orang bego.

Ni berdua pasti berantemnya jambak-jambakan jenggot kalo lagi di rumah (of horrors)

 

Puncak ‘menarik’ malam di Chicago itu adalah ketika musik Nakamura berkumandang di pembuka, dan menit-menit kemenangan Jinder Mahal di partai utama. Dan di tengah-tengah acara ini diisi oleh pertandingan dan kejadian yang menarik tapi gak rugi-rugi amat kalo enggak ditonton. Lucu gak sih, bisa menghadirkan sesuatu yang baru namun kesannya enggak penting. Istilahnya, ya, MAKRUH. It’s just no sense of urgency dalam penceritaan sebagian match. Maupun pada aksi-aksinya, jika boleh ngomen yang rada pedesan dikit. Pertandingan Erick Rowan melawan Luke Harper dapat dijadikan perwakilan yang bagus buat menggambarkan sebagian besar pertandingan lain dalam acara ini. Rowan dan Harper, keduanya, adalah performer yang mampu bermain intens, namun tidak ada yang mereka sampaikan dalam pertemuan mereka kali ini. Mereka mestinya sama-sama di tahap saling menyerang dengan beringas; Harper angot karena pernah dikalahkan, dan Rowan ngamuk lantaran pengkhianatan, sayang tidak tercermin sama sekali. Kalo pengen singkat, bikin mereka adu powerbomb aja, mestinya bisa lebih seru dibanding exchanging offense tanpa ada api di baliknya.
Pertandingan yang lain juga eksekusinya fail kayak gitu.

Pada Ziggler lawan Nakamura, tampaknya penulis lupa tujuan seteru ini diadakan. This was supposed to showcasing the unique skill and ability of King of Strong Style. Nyatanya alur match seperti berfokus kepada Ziggler. Ketika Nakamura debut di NXT melawan Sami Zayn, dia ditampilkan begitu dominan dan luar biasa keren. Di Backlash ini, aku gak ngeliat definisi Strong Style dari penampilan Nakamura. Dia seperti memainkan formula superstar face-baru WWE yang biasa; dihajar di awal, untuk kemudian bangkit dengan ledakan. Dan bahkan ‘ledakan’ Nakamura di sini enggak cukup berkobar. Mungkin karena dia bukan melawan superstar selevel Owens atau Styles (no offense buat Ziggler, still an amazing seller, tapi levelnya memang susah bisa naik lagi). Atau mungkin karena bukan Corey Graves yang teriak “Kinshasa!!!!”. Yang jelas pertandingan formulaik mereka yang solid ini enggak sesuai dengan perkataan “salah satu debut terhebat yang pernah aku lihat” dari JBL.

Kepanjangan JBL bisa aja berubah menjadi Jadi Bikin Lawak, karena banyak komentar maupun interaksinya dengan para superstar – sengaja maupun enggak – yang bikin acara ini jadi tambah kocak. Aku ngakak ketika Randy Orton lebih respek ke topi koboi JBL ketimbang kepada duo The Singh Brothers. Dan aku suka gimana JBL berusaha ngesell para superstar heel dengan cara yang hanya dia yang bisa. Maharaja terdengar powerful diucapkan olehnya. Gestur-gestur kecil nan subtil membuat Backlash menjadi menghibur. Pada awalnya aku gak ngeh kalo Tyler Breeze nampil sambil marodiin Kenny Omega (Breeze jadi pake wig dan datang ke ring dengan dandanan janitor atau tukang bersih-bersih alias ‘The Cleaner’), dan begitu nyadar, aku pun ngakak sejadi-jadinya. It’s about time komedi Breezango konek dengan penonton. Kejuaraan Tag Team jadi partai yang paling menghibur, baik juga WWE mau ngeutilize peran komedik, meski aku lebih suka kalo Breezango dibikin sebagai contender yang fun di luar ring, namun actually berskill mumpuni begitu bel berbunyi. Tapinya lagi, yaaah paling enggak pertandingan mereka enggak sesepele tag team cewek yang serabutan dan outcomenya gak klop sama build up dan semua hal yang terjadi di divisi tersebut belakangan ini.

ekspresi ‘bukan-salahku-badannya-ternyata-ringan-banget’

 

Jika disuruh milih mana pertandingan terbaik malam itu, maka kandidatnya adalah kejuaraan United States Owens melawan AJ Styles dan partai tunggal antara Zayn melawan Baron Corbin. These two matches have intensity, diisi dengan penceritaan dan pengarakteran yang tepat, dan tentu saja jurus-jurus oke yang asik untuk diliat. Hasil dari the latter match lumayan surprising buatku karena kupikir mereka sedang ngepush Corbin, dia ditulis kuat recently. Namun hasil bukanlah masalahku buat partai ini, Sami Zayn is a great baby face dan elemen underdog selalu sukses jadi plot yang menarik. My issue adalah match ini terasa terlalu panjang. Back-and-forthnya bisa ditrim sedikit, atau might even better kalo ‘kelas’ partai ini dinaikkan sedikit; buat ini jadi top-3 alihalih Kejuraaan Amerika.

Melihat Owens dan Styles bertukar serangan adalah penangkal kantuk yang ampuh luar biasa. Fokus alur match ini rada gajelas di menit-menit awal. Ketika Owens menarget kaki Styles barulah jelas arahnya. And it is also clear bahwa pertemuan mereka di Backlash ini ‘hanya’ pemanasan dari pertemuan-pertemuan mereka yang akan datang. This might caused the match to loss some urgency tapi wow aksi dan serunya partai ini seng ada lawan. Aku gak ada masalah sama hasil count out; writer perlu ngeprotek kedua superstar, dan cara count outnya sendiri actually lumayan kreatif. Dan sekali lagi salut buat Styles yang sanggup take bump secara professional.

Jika ada pelajaran yang bisa diambil dari Backlassh, maka itu adalah; Tempat di mana kau mengawali langkah bukanlah tempat di mana kau berhenti.

 

You know, Breezango bisa menjadi the next 3MB, I hope so. Sejak 3MB dibubarkan, ketika anggotanya sukses nujukin peningkatan dalam berbagai aspek penampilan dan karakterisasi mereka. Slater makin bersinar di tag team. Drew McIntyre masuk jalur indie dan menyemen karir solonya sehingga dipanggil kembali untuk mendapat big push di NXT. Dan Jinder Mahal, oh man, tolong renungkan ini sejenak saat kalian mau memejamkan mata malam nanti; Juara WWE kita, pemegang sabuk tertinggi kita, adalah Jinder Mahal. JINDER. MAHAL. Aku malah gak tau nama finishernya apaan sampai aku nulis ulasan ini. Kita boleh ngeledek he’s on steroid, atau dia cuma untuk keperluan marketing ke India, atau malah title reignnya hanya akan se’hebat’ reign Jack Swagger atau Del Rio. Melihat Jinder mengangkat sabuk, all buffed up, dan penonton ngeboo – memberikan actual heat, membuatku sadar bahwa itu adalah hasil dari kerja keras. Mahal reinvent himself. Katakanlah, dia bertransformasi. Dan yaa, memang dari pertandingan tersebut terlihat masih Orton yang ‘membawa’nya, but biarkan waktu yang menceritakan, beri Mahal kesempatan untuk berkembang lagi. Karena sebagai juara, Mahal dapat membawa kebaruan yang sangat dibutuhkan oleh WWE.

Maha-Raja Iblis Piccolo

 

 

 

 

Refreshing dan fun it might seemed, dengan banyak pasangan wajah baru yang saling berhadapan, akan tetapi eksekusinya malah membuat acara menjadi biasa aja. Banyak pertandingan yang keluar dari fungsi sebagaimana mestinya, dengan hanya menyisakan dua kandidat untuk match terbaik. Dan verdict kami sudah mantep:
The Palace of Wisdom menobatkan Kevin Owens melawan AJ Styles sebagai MATCH OF THE NIGHT.
Full Results:
1. SINGLE Shinsuke Nakamura defeated Dolph Ziggler.
2. WWE SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Usos bertahan atas Breezango.
3. SINGLE Sami Zayn mengalahkan Baron Corbin.
4. SIX WOMEN TAG TEAM Tim Natalya, Carmella, dan Tamina mengungguli Tim Becky Lynch, Charlotte, dan Naomi
5. WWE UNITED STATES CHAMPIONSHIP Kevin Owens retains over AJ Styles via count out
6. SINGLE Luke Harper mengalahkan Erick Rowan
7. WWE CHAMPIONSHIP Jinder Mahal merebut sabuk Randy Orton.

 

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

GIFTED Review

“Compassion isn’t about solutions.”

 

 

Berkah bisa berubah menjadi kutukan yang menggerogoti diri jika seseorang terlalu ‘tamak’ terhadapnya. Teknologi misalnya, dari yang tadinya memberikan banyak kemudahan, jika kita gunakan dengan tidak bertanggung jawab, justru mendatangkan mudarat; deteriority of humanity. Kecantikan juga gitu, orang yang terobses malah akan menjadi ‘mengurung’ diri sendiri dalam usaha menjaga kecantikan itu terus terjaga. Bukan berarti kita tidak boleh melestarikan berkah. Berkah dan kutukan, sejatinya adalah pilihan, seperti yang dengan fasih dibicarakan oleh film Gifted. Kita semestinya bisa dengan bijak melihat seorang yang punya bakat jauh di balik kelebihannya tersebut.

 

 

Frank dipanggil ke ruang kepala sekolah. Ponakan kecilnya, Mary, berulah di sekolah. Di hari pertamanya, anak tujuh-tahun itu mengejutkan seisi kelas dan eventually Mary adalah anak jenius, apalagi soal matematika. Mary memang lebih suka sekolah privat ketimbang sekolah umum karena, tentu saja kurikulum standar belajar sekolah biasa terasa lamban oleh gadis cilik ini. Dan ketika ditanya tentang teman, “Aku tidak bisa berteman dengan idiot” keluh Mary. Makanya, ketika ditegur kepsek lantaran Mary literally matahin idung seorang bully di sekolah, Frank malah sedikit senang. Meski yang dilakukan Mary salah, Franks bangga anak asuhnya itu berani membela yang lemah. Frank ingin menumbuhkan rasa kasih sayang di dalam diri Mary. Dia menolak tawaran Kepsek yang ingin memindahsekolahkan Mary ke sekolah khusus anak berbakat, “I would rather you dumb her down, if that makes her a good person,” aku Frank.

Di situlah di mana tokoh Frank yang diperankan dengan luar biasa gentle oleh Chris Evans menjadi sangat menarik. Mary bukan anak kandungnya, Mary adalah anak dari kakaknya yang juga sangat berbakat dalam matematika (in fact, jago matem ini udah warisan turun temurun dalam keluarga mereka). Membesarkan Mary adalah salah satu dari permintaan terakhir kakak kepadanya, jadi dia berusaha untuk menghargai permintaan-permintaan tersebut sekaligus menyadari tanggung jawab membesarkan anak paling pintar di dunia ada pada pundaknya. Frank mencoba untuk melihat dari berbagai sudut, dia mempertimbangkan pendapat banyak orang – mulai dari guru Mary, ataupun dari tetangga mereka, bahkan dari ibunya sendiri. Konsern utama Frank tentu saja dia ingin agar si anak tetap tersenyum dan membuatkannya sarapan, memenuhi segala kebutuhan. Dia ingin yang terbaik, dan dia ditantang ketika ada pihak yang mempertanyakan “yang terbaik buat siapa?”

Octavia Spencer main di film tentang anak cewek yang jago matematika, di mana kita pernah lihat itu sebelumnya?

 

Gifted mengacung-ngacungkan pertanyaan di depan muka kita yang menatapnya dengan terpesona; bisakah seorang jenius mendapatkan hidup normal. Bisakah seorang gadis cilik yang enggak benar-benar ingin diperlakukan sebagai the next Albert Einstein memilih untuk pergi ke pantai, memelihara kucing, nonton UFC dengan pamannya, dan just bermain dengan teman-teman, you know, just being a little girl dan menikmati hidup.

Ini adalah film yang benar-benar tentang karakter. Tidak ada ledakan ataupun aksi di sini. And I really like that about this movie. Semua adegannya hanya ngobrol atau berjalan, namun film ini menanganinya dengan amat efektif. Setiap scene rasanya padet. Ambil contoh ketika kita melihat Frank dan Mary di pantai, kita cuma melihat siluet mereka yang dilatarbelakangi oleh matahari terbenam, tapi pergerakannya sangat playful. Mary literally manjatin Frank, sembari mereka bertukar dialog yang sungguh asik serta menantang untuk diikuti. Mereka bicara tentang Tuhan, tentang kepercayaan. TENTANG PILIHAN. Totally ngedefinisikan film itu sendiri. Gifted sebenarnya bukan film pertama yang membahas tentang masalah anak jenius, tapi yang membuat film ini berbeda terutama adalah penampilan dan perspektif ceritanya. Jika kebanyakan biasanya hanya memfokuskan kepada perang hak asuh, maka film ini lebih kepada menjawab pertanyaan anak jenius bisa kok mendapat kedua hal; being genius dan menjadi anak kecil pada saat bersamaan.

Jejeran castnya tergolong kecil, namun sukses berat bawain cerita sehingga terasa gede. Yang PALING MEMESONA JELAS ADALAH HUBUNGAN YANG TERBANGUN ANTARA FRANK DENGAN MARY. Relationship mereka terasa sangat otentik. Padahal kedua tokoh ini bukan exactly ayah dan anak. The way mereka mengerti satu sama lain, tukar menukar percakapan, bahkan saat mereka ‘berantem’, lovable banget. Kocak. Penuh hati. Nyata.

Dan pemeran Mary, Mckenna Grace, oh wow adek ini mencuri pertunjukan! She’s star in the making, liat aja!! Entah mau jadi anak jenius yang ngambek, yang tau dia spesial namun gak demen sama ide dan peraturan dari sang nenek yang juga jenius, ataupun jadi anak kecil yang ingin bermain-main, Mckenna selalu deliver dengan meyakinkan. Di adegan sedih, dia juga berhasil bikin aku ngerasa “aww kasiaaann”. Ketika kita melihat penampilan bagus dari aktor cilik, biasanya kita langsung ngecap image peran tersebut kepada mereka. Sesungguhnya hal demikian itu nyusahin buat si aktor sendiri, mereka bakal dapat job ngisi peran yang itu-itu melulu. Macaulay Culkin aja mati-matian nyari peran yang bukan ‘anak-kecil-nakal-yang-adorable’ selepas perannya di Home Alone (1990). You know, bahkan aktor kayak Dwi Sasono aja, kita masih ngakak ngeliat dia tampil serius di Kartini (2017) atau ketika dia jadi dokter di Critical Eleven (2017), image Mas Adi begitu kuat melekat – padahal dia bukan aktor anak-anak. Akan tetapi, sepertinya hal ini tidak akan jadi masalah buat Mckenna Grace. Penampilannya di film ini just sooo good dan punya rentang luas sehingga can really break the mold untuk dia melakukan peran yang berbeda di film-film berikutnya.

variabel yang gaada di film Indonesia: tokoh dan aktor cilik yang menarik

 

Setiap kali hendak menonton film drama kayak gini, aku selalu khawatir. Takut nanti ceritanya terlalu melodramatis. Takut filmnya terlalu cengeng. Marc Webb sepertinya diberkahi kemampuan untuk mengolah drama dengan just right, kecuali di beberapa bagian menjelang akhir. Kayak di 500 Days of Summer (2009), Marc Webb keliatan seperti berada di rumah dengan penceritaan dramatis. Dia tahu takarannya. Problem dalam film ini muncul, eh bukan muncul, ding. Film ini tahu arah ceritanya, this movie embraces it. Problem film ini adalah pilihannya untuk mengambil sudut pandang yang tidak di tengah. Film ini adalah jawaban, kita harus respek ama keputusan ini. Mungkin film inilah jawaban yang benar. Namun, ketika ada yang benar, maka pasti ada yang salah. Dan pihak yang ‘salah’ dalam cerita ini, terlihat seperti tokoh jahat, a villain. Menurutku ini hanyalah cara gampang menuliskan sebuah film drama. Ada tokoh yang terlalu tanpa-hati. Aspek ini membuat film jadi predictable, dan personally aku pikir tokoh kayak nenek si Mary gak mesti dibuat sebagai tokoh jahat.

Terkadang, jika kita punya kelebihan, kita suka tidak sadar ada satu variable yang kehidupan kita; kasih sayang.Dan compassion tidak sama dengan matematika; ini bukan soal solusi. Ia adalah soal memberikan cinta sebanyak yang kita punya.

 

Film ini juga jatuh ke dalam ketagori cerita yang melibatkan proses pengadilan, di mana ada adegan di depan hakim, urusan legalisasi hak asuh anak, dan sebagainya. Singkat kata, dalam film ini ada elemen yang bakal bikin kita bosan. Bagian yang kita ingin untuk cepat berlalu sehingga kita bisa melihat porsi Mary dengan Frank lebih banyak. Adegan courtroom dalam film ini muncul sewaktu-waktu untuk nonjolin pihak baik dan jahat, untuk membakar api konflik keluarga yang jadi tantangan bagi Frank. Again, menurutku ini adalah cara textbook yang paling gampang untuk melanjutkan cerita.

 

 

 

Di luar adegan-adegan peradilan, ini adalah cerita yang sangat asik untuk dinikmati dengan banyak penampilan akting yang fantastis. Perspektif tokoh utamanya sangat menarik. Hubungan antara Frank dengan Mary begitu real dan menyentuh. Dialog-dialognya kadang kocak, kadang benar-benar bikin hati kita ketarik-tarik. Kecuali di bagian akhir, film ini sukses menjadi enggak terlalu dramatis. I love this movie, kuharap banyak orang yang tertarik untuk menontonnya sebab kisah drama antara anak yang spesial dengan orang yang truly menyayanginya ini dapat benar-benar menginspirasi orang-orang. Entah itu mendorong untuk mengajarkan compassion dan cinta, atau membuat orang ingin bikin film, atau belajar matematika hhihi.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for GIFTED.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

SATRIA HEROES: REVENGE OF DARKNESS Review

“If you hate a person, you hate something in him that is part of yourself.”

 

 

Sungguh patut disukuri akhirnya sinema Indonesia punya figur superhero modern sendiri, dalam film yang dibuat dengan kompeten, yang stylenya kayak produk Jepang, tepatnya Tokusatsu -,-

All sarcasms aside, Satria Heroes yang beranjak dari serial televisi ini adalah film action superhero yang cocok banget buat ditonton anak-anak. Ceritanya ringan, actionnya super seru, dengan efek-efek yang imajinatif. Sehabis nonton ini, aku merasa kembali menjadi anak kecil, kayak kembali ke jaman aku menonton Kamen Rider RX untuk pertama kalinya. It was an OVER-THE-TOP EXPERIENCE, TAPI SANGAT MENYENANGKAN. Film ini adalah apa yang kuharapkan saat hendak menonton Power Rangers (2017) beberapa bulan yang lalu. Sebuah cerita superhero yang tahu persis dirinya dibuat untuk siapa, yang enggak malu untuk tampil norak dan cheesy, dan yang just take explosions dan adegan pertarungan melawan monster yang menyenangkan alih-alih terlalu menegangkan.

Adegan tarung di pembukanya saja sudah menyuguhkan action laga yang lebih baik dibandingkan dengan film-film action standar Indonesia. Koreografinya intens dan direkam dengan baik oleh kamera. Setiap gerakan tokohnya keciri. Pose-pose keren yang khas kita temukan dalam serial-serial superhero bertopeng berhasil ditangkap oleh kerja kamera, ngeblen cukup mulus dengan efek dan menterengnya kostum. Film ini punya production design yang benar-benar terlihat profesional dalam bidangnya. Aku yang enggak ngikutin serialnya di televisi, tentu saja terbengong-bengong takjub melihat adegan pembuka film ini; takjub demi ngeliat adegan pertarungan yang terasa megah, kayak lagi nonton Tokusatsu, dan bengong karena aku gak tahu Satria Bima dan Satria satunya yang kayak harimau itu siapa. Apa mereka musuhan atau temenan. Kenapa mereka berantem di depan Gunung Fuji. Kenapa aku nekat nonton film yang jelas-jelas dibuat untuk nyenengin fans setia serialnya?

Tapi tentu saja, sebuah film tidak akan menjalankan tugasnya dengan baik jika punya pemikiran “ya kalo mau ngerti, tonton aja serial/film pertama/baca saja bukunya”. Film yang baik mesti bisa berdiri sendiri; dalam artian paling enggak dia punya cara untuk menjelaskan sehingga penonton dapat mengerti tubuh dasar karakter dan narasinya. Film Satria Heroes memilih untuk menggunakan adegan seorang tokoh bercerita kepada anak-anak sebagai sarana eksposisi. Dari adegan yang udah kayak rangkuman serialnya tersebut aku jadi tahu kalo dua orang yang bertarung di awal tadi sebenarnya adalah temen. Satria Garuda Bima-X, yang nama manusianya adalah Ray, telah melewatkan banyak pertempuran menumpas kejahatan bersama Satria Harimau Torga, yang nama manusianya Dimas. Ada satu Satria lagi; adik Ray yang kinda menghilang entah ke mana. Dan film ini melanjutkan kisah mereka di mana Ray sekarang berada di dunia parallel, sementara Dimas lagi kunjungan bisnis ke Jepang. Bahaya muncul dari musuh yang punya dua hal; dendam kesumat dan semacam device yang bisa menghipnotis orang. Jadi, musuh ini menggunakan berbagai cara untuk mengalahkan Bima dan Torga – sukursukur bisa sekali lempar batu, dua burung kena – dan ultimately, dia membangkitkan seorang musuh lama dengan kekuatan yang baru. Musuh yang lantas go overboard dengan memporakporandakan seluruh dunia.

“Tidak mungkin!” (mengangguk sambil mengepalkan tinju) / “Kamu tidak apa-apa?!” (mengangguk dengan khawatir) / “Ya, aku mengerti sekarang!” (mengangguk dengan mantep)

 

 

Semua aspek yang bisa kita apresiasi dari genre tokusatsu Jepang bisa juga kita temukan di sini. Akting dan gestur yang over-the-top, gimana cara mereka mengambil gambar, gimana cara mereka bercerita lewat adegan pertempuran – jurus-jurusnya, animasi ledakan dan sebagainya, bahkan dialog dan leluconnya menjadikan film ini kayak buatan Jepang dengan budget yang sedikit lebih kecil. Memang seperti yang ditunjukkan oleh film inilah formula tokusatsu, dan Satria Heroes menanganinya dengan fantastis. Aku enggak ngikutin tokusatsu, jadi mungkin aku yang kuno, tapi aku sangat menggelinjang melihat film ini memainkan adegan berubah dalam cara yang baru aku lihat. Biasanya kan, tinggal bilang berubah dan wujud protagonis kita langsung dibungkus armor. Di film ini, Ray berubah secara parsial. Dia masih bertarung sebagai manusia, dan Bletak! Dia meninju musuh – here comes tinjunya berubah. Dia nendang – serta merta kakinya menjadi mengenakan metal. It was new and so refreshing.

Film ini juga lumayan memperhatikan detil. Ketika berantem, detil-detil seperti gravitasi, logika fisika, dan semacamnya mendapat perhatian. Batu-batu properti yang berjatuhan memang terlihat seolah punya bobot saat mendarat, misalnya. Ketika Dimas ketemu klien di Jepang, kita diperkenalkan sama translator yang secara instan ngeterjemahin bahasa yang diucapkan. Dan film ini play that technology nicely dengan membuat suara translatornya terdengar datar, tanpa emosi, kayak suara google translate. Beberapa adegan terkait alat tersebut jadi lumayan lucu, dan bahkan juga escalate menjadi creepy.

 

Narasi dalam Satria Heroes dibagi menjadi tiga bagian gede. Film literally memisahkan bagian-bagian tersebut dengan judul tersendiri, dan sebagai transisi di antaranya kita akan diperlihatkan animasi buku/komik yang terbuka sendiri di somekind of old library (?). Dan buatku, film ini barulah benar-benar terasa sebagai sebuah film ketika kita sampai di narasi bagian kedua. Sampai ke titik ini, jalannya alur film memang rada aneh, kayak ikutan melompat-lompat seiring aksi, ada flashback, cut, trus present, trus cut lagi ada eksposisi, ke masa kini lagi, trus ke flashback lagi.. Kita malah enggak tahu apa motivasi yang melapisi tindakan tokoh utama. Karakter Ray seperti apa, tidak pernah diperlihatkan. Dia baik, itu aja. Dia enggak melakukan pilihan; hanya sekedar ada yang butuh pertolongan, dan yeah heroes gotta save people just in time. Narasi kedua yang dikasih judul ‘Arsya’ membawa kita ke titik nol. Tonenya sama sekali berbeda dengan bagian pertama. Kita ngeliat tokoh yang berbeda, dan cerita di sini actually lebih dramatis dan lebih grounded. Cerita asal muasal gitu deh, ketika antagonis menceritakan kisahnya sewaktu kecil, dan ini bikin kita paham dan terinvest secara emosional kepada tokoh ini, lebih daripada kepada tokoh utama.

Kalian mungkin membenci diri sendiri karena ngerasa enggak pinter, atau enggak cakep, atau enggak cukup spesial. Alasan Wira adalah karena kesalahan yang ia buat. Ini adalah konflik yang berlangsung internal. Dan ketika ia melihat para Satria, dirinya melihat bagian dari dirinya yang ia benci, dan tentu saja lebih mudah menyalahkan orang lain ketimbang menghunus telunjuk kepada diri sendiri. Manusia memang munafik seperti demikian, liat saja ibu yang memukul anaknya sebagai ganjaran buat anaknya yang berantem. Tapi semestinya sifat benci tersebut dapat diarahkan sebagai cara untuk memahami diri sendiri. Wira tidak mesti memburu para Satria, kekuatannya bisa datang dari self-improvement.

 

Ini menciptakan benturan tone yang serius. Dan lebih jauh lagi, membuat kita mempertanyakan ini film sebenarnya mau nyeritain tentang apa sih. It worked best as an origin story dari tokoh jahat. Kualitas penampilan akting pun jauh lebih baik di narasi kedua ini. Pemeran Wira, aktor cilik Faris Fadjar Munggaran, berhasil menyampaikan emosi genuine yang sangat dibutuhkan oleh film ini. I mean, setelah satu jam kita melihat orang dewasa bertingkah terlalu baik, enggak ada cela, bahkan cenderung polos sehingga terasa kayak anak kecil dalam tubuh anak gede; maka di cerita kedua ini kita akan melihat percikan api dari karakter Wira. Kita bisa merasakan amarahnya, kita mengerti dari mana itu berasal. Motivasi itu adanya malah di sini. Dan buat film anak-anak, kejadian di sini tergolong tragis. But then again, clashing tone – di awal sangat cheesy dan cenderung kocak – hanya membuat bagian ini lebih menjemukan daripada seharusnya. To make thing worst, entah kenapa di bagian drama ini film memutuskan untuk lebih banyak memakai efek komputer. Hujan dan percikan air saja mesti pake komputer loh, bayangkan! Keliatan banget pula. Episode yang mestinya paling manusiawi dari film ini malah jadi downgrade dengan adegan yang ditangani dengan artifisial seperti itu.

susah buatku mempertahankan wajah datar nonton narasi kedua

 

Tiga puluh menit terakhir bertindak efektif sebagai persembahan buat fans. Cerita mendadak jadi punya stake yang berskala sangat besar. Semua jagoan kita mengerahkan segenap kemampuan untuk mengalahkan penjahat utama. Aksinya keren. Namun teknik eye tracingnya terlihat sedikit off, kamera kerap menyorot terlalu dekat, tapi kita masih bisa mengikuti apa yang terjadi, meskipun memang membutuhkan sedikit usaha ekstra. Efek saat berantemnya cukup mulus, membanting efek kehancuran kota habis-habisan. Baru di menjelang akhirlah film memasukkan motivasi yang diniatkan supaya kita bisa mendukung para protagonis. Mungkin formula tokusatsu memang seperti ini, you know, pahlawan yang nyaris kalah kudu berkontemplasi dulu mengingat kenapa dia melakukan ini sejak awal, dan kemudian dia barulah dia berhasil membangkitkan kekuatan baru yang lebih kuat. Namun begitu, aku percaya film ini bisa menjadi lebih baik lagi jika urutan ceritanya dibenahi. Jika rentetan narasinya dirapikan, dibuat plot yang lebih jelas, sehingga karakter-karakternya lebih mudah untuk didukung.

 

 

 

Bukan mau bilang dirinya berusaha nyaingin Pulp Fiction (1994) dengan segmen ceritanya yang sengaja ditabur acak, tapi toh kelihatan film ini mencoba untuk bersenang-senang. Ia tahu persis mau jadi seperti apa. Universe-dalam filmnya terbangun dengan baik. Mencoba memadukan tarung Indonesia ke dalam dunia ala tokusatsu Jepang. Over-the-top tapi itu sudah diharapkan. Sukses menggapai nilai hiburan yang niscaya membuat setiap anak kecil yang menontonnya jejingkrakan senang. Desain produksi yang keren, koreografi aksi yang intens, efek yang mendukung porsi laga tapi tentunya bisa lebih baik lagi digunakan sebagai latar. Jangan melulu bergantung kepada CGI, tho. Dengan semua aspek cerita yang sudah terestablish semenjak serial tvnya, film ini toh kurang berhasil untuk berdiri sendiri. Narasi mestinya bisa disusun lebih rapi dan efektif lagi sehingga yang nonton akan enak ngikutin jalan cerita, karakter pun jadi dapat terfleshout dengan compelling. Petarungan terbesar yang dimiliki film ini bukan Satria lawan monster, melainkan justru pertarungan antar tone cerita.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SATRIA HEROES: REVENGE OF DARKNESS

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

COLOSSAL Review

“A person who cannot give up anything, can change nothing.”

 

 

Cewek, kalo marah, bisa jadi menyeramkan kayak monster. Tapi masalahnya adalah, Gloria enggak ingat dia marah. Malah, Gloria enggak bisa ingat apa-apa dalam rentang waktu dia mabok. Penyakit kecanduan minum wanita muda ini memang sudah sampai taraf gawat, Gloria kesulitan menahan diri untuk enggak menenggak sebotol bir yang nganggur di depan matanya. Padahal hidupnya sudah nyaris berantakan lantaran kebiasaan jelek tersebut. Pacarnya udah nyerah bilang “I can’t deal with this anymore.” Maka Gloria pun kembali ke kota tempat ia dilahirkan. Ingin berbenah diri, niatnya. Di kota masa kecilnya itu dia ketemu teman lama, yang mengajak Gloria bekerja di bar miliknya untuk sementar. Namun ada waku-waktu ketika Gloria tidak ingat dia ngapain sepulang kerja. Dan kini Gloria mendapati dirinya sedang menonton berita ulangan liputan serangan monster raksasa yang memporakporandakan kota Seoul di Korea Selatan. Yang bikin Gloria heran, dan takut; dia melihat monster tersebut ngelakuin gestur gerakan yang sama dengan yang ia lakukan setiap kali dia bingung. Jadi, Gloria harus mencari tahu apa dia ada hubungannya dengan kemunculan sang monster. Apakah memang dia yang bertanggungjawab atas hilangnya ratusan nyawa korban injakan mau tersebut.

Jika biasanya film-film yang menampilkan monster raksasa penghancur kota adalah cerita tentang manusia melawan alam, di mana metaforanya berskala besar; dan monster-monster tersebut adalah cerminan dari kecemasan global, maka Colossal menghadirkan monster yang sama sekali berbeda. Kaiju gede di sini adalah manifestasi dari ketakutan satu orang; rasa insekur yang menjelma menjadi teramat besar sehingga mampu menghancurkan kehidupan di sekitar orang tersebut.

 

Pernah mandi ujan tapi airnya air sirop? Enggak pernah kan, sama, aku juga belum pernah. Tapi aku yakin rasa menyegarkannya pasti sama dengan perasaan refreshing yang kita alami ketika melihat elemen-elemen cerita film ini perlahan turun. Karena memang film ini benar-benar berbeda dan orisinil punya. I was genuinely surprised by this movie. Baru sekali ini loh ada yang ngebahas aspek monster raksasa dengan perspektif seperti yang dilakukan oleh garapan Nacho Vigalondo ini. Fantasi sci-fi yang actually sangat membumi alias personal. Monster Reptil yang muncul dan bikin panik seisi kota tersebut dijadikan sebagai lapisan terluar. Di balik elemen tersebut, sebenarnya ini adalah tentang struggle seorang wanita yang berusaha mengatasi ketergantungan terhadap alkohol; seorang wanita yang berusaha untuk menata kembali hidupnya yang porak poranda akibat ‘penyakit akut’nya itu.

Ketika kalian was-was ngeliat diri sendiri terlihat jelek pas nampil di tivi

 

Pusat semesta dari cerita ini adalah Gloria dan temen masa kecilnya, Oscar. Sebagian besar waktu akan kita habiskan nongkrong bareng mereka di bar. Kedua aktor yang memerankan mereka, untungnya, mampu mempersembahkan penampilan yang menarik sehingga elemen drama yang juga dipunya oleh film ini dapat bekerja dengan baik. We’ll get into the drama aspect later, but, Anne Hathaway is really good in this movie. Dia berikan nuansa yang berbeda dalam pengekspresian karakter Gloria. Ada banyak emosi subtle yang ia tambahkan, bukan hanya pada unsur komedi, melainkan juga ketika elemen drama datang mengambil alih. She’s damaged, pribadi yang sangat bercela, tapi kita masih merasakan simpati karena kita mengerti usaha yang dilakukan olehnya. Dan tampaknya sedikit sekali aktor yang mampu memainkan Oscar selicin yang dilakukan oleh Jason Sudeikis. Dia adalah teman sepermainan yang sudah lama enggak ketemu ama Gloria, jadi vibe alami yang dikeluarkan tokoh ini adalah sedikit-misterius. Like, gimana bisa setiap kali dia tersenyum, kita bisa menangkap makna-makna yang berbeda. Dinamika hubungan Gloria dan Oscar – dua orang ini mendadak bakal highly at odds with each other – tak pelak akan menjadi begitu penting sehingga mengambil alih fokus.

Dan di situlah ketika film mulai berjuang untuk mempertahankan atensi kita yang masih tertinggal di Korea sana.

Elemen monster dalam film ini luar biasa keren lantaran begitu berbeda. Siapa sih yang enggak demen ngeliat film yang genrenya udah punya pakem kayak film monster ini ternyata dikembangkan dengan arah dan actually punya twist yang belum pernah kita lihat sebelumnya? Kalo kalian tanya aku, aku suka sekali dengan arahan yang diambil film ini dalam ngebahas elemen tersebut. Unik. Khususnya di bagian ending, shot terakhirnya bahkan sangat apik. Namun, ketika film ini membahas elemen drama yang lebih standar, tidak lagi ia terasa sekuat saat membahas elemen fantasi. Sejujurnya, adalah langkah yang sangat berani film ini membenturkan dua tone yang berbeda. Fantasi dan drama. Komedi dan serius. Colossal tampak punya AMBISI YANG KOLOSAL demi ingin ngegabungin itu semua, gimana caranya agar cerita sesimpel cewek yang berusaha membenahi hidup dan come in terms dengan apa yang sudah ia lakukan di masa lalu, tapi dikonfrontasi oleh masa lalu itu sendiri, bisa menjadi cerita yang sangat penting dan memiliki skala gede.

Tapi benturan dua tone tersebut just don’t match up. Enggak exactly merusak kayak jika Godzilla ketemu King Kong, sih. It’s just transisi antara dua tone itu enggak sepenuhnya mulus; cerita film ini akan beralih dari yang sangat kocak dan ringan ke sangat serius dengan mendadak di mana korban-korban berjatuhan. Problem dunia yang sangat serius, tapi kemudian kita lihat monster itu menari, lalu ada ancaman banyak orang terinjak, dan kemudian blank, it’s just doesn’t match up very well.

just.. drink it in, maaaan!

 

‘MENDADAK’ adalah kata kunci yang dipakai film ini untuk menjembatani tone-tone tersebut. Karakter Oscar adalah contoh berikutnya dari clashed tone yang hasil dari perantaraan si ‘mendadak’ ini. Dalam satu adegan, Oscar terlihat sangat perhatian. Dia baik, dia mengerti, dia peduli sekali. Membuat kita ingin gabung juga ke bar miliknya setiap kali ada masalah. Di hari berikutnya, senyum orang ini seperti punya makna yang lain, dia tampak seperti pembunuh berantai psikopat yang menakutkan dan sangat berbahaya. Kita enggak bisa tahu apa persisnya yang dipikirkan oleh kepala orang ini. Perubahannya begitu tiba-tiba sehingga seolah aku cabut ke kamar kecil di tengah-tengah film. Tapi enggak. Aku enggak melewatkan adegan Oscar membuat pilihan yang mengubah segala hal tentang karakternya. Perubahan tokoh ini memang sangat drastis, dan film ini menjadikan ‘mendadak’nya itu sebagai hal atau simbolisme yang penting di dalam narasi. Did it work tho? Well, obviously, not so much.

Ada satu pasang tone lagi yang buatku terasa enggak klop; Anne Hathaway dengan orang mabok! Hihi, I mean, look at her. Hathaway cantik banget dengan rambut lebat bergelombang dan senyum tigajari, dia tetap cantik seperti itu bahkan ketika dia hangover berat. Susah untuk percaya bahwa Gloria adalah seorang pecandu alkohol. Gloria akan lupa daratan; ia gak ingat waktu, dia alpa dan kesulitan mengingat kejadian ataupun sekedar apa yang dia ucapkan tadi malam, tapi tetep aja cewek ini terlihat menakjubkan. Alih-alih terlihat sebagai pemabok yang kerap terjatuh di lubang yang sama, tokoh ini lebih terlihat kayak cewek kuliahan yang sengaja dijelek-jelekin untuk menghindari masalah hidup.

Monster itu, anehnya, juga adalah simbol dari keberdayaan sebagai seorang manusia. Sebagai monster, Gloria menghancurkan apa saja yang di depannya, tapi tidak sekalipun monster itu menengok ke bawah. Tapi itu sebelum dia menyadari bahwa kekuatan datang bukan dari keinginan besar untuk menghancurkan, melainkan dari keinginan kecil untuk melawan; melawan alkohol, melawan trauma masa lalu. Keinginan kecil untuk meninggalkan kebiasaan, meskipun jika hal tersebut adalah sebagian kecil dari dirinya.

 

 

 

Metafora campur-campur, penceritaan yang kerap bersilih fokus dari satu tone ke tone lain yang really clash out, semua itu pada akhirnya bisa termaafkan lantaran film ini benar-benar orisinil dan sangat berbeda. Elemen fantasi sci-finya sangat menyenangkan. Kocak dan dibarengi dengan drama serius. Ia dihidupkan oleh penampilan yang bagus, meskipun kadang sedikit tidak berimbang antara kebutuhan narasi dengan penyampaian. Tapinya lagi, aku sangat merekomendasikan, tonton film ini duluan jika kalian punya waktu luang, karena film ini juga ngajarin yang kecil-kecil bisa berdampak besar. Apresiasi kecil dari kita bisa membuat film kreatif ini jadi gede, dan siapa tahu, bakal bermunculan cerita-cerita orisinal lain yang berani dan ambisius seperti film ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for COLOSSAL.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 Review

“Sometimes the family we make for ourselves is more important than the family we are given through blood.”

 

 

“Hey Marvel, mari kita bersenang-senang. Berikan kepadaku karakter-karakter bercela yang kalian punya, kuterbangkan mereka seantero jagat raya, kupasangkan walkman, kuputarkan hits dari tahun delapan puluhan, dan kubiarkan mereka menari sambil beraksi seasik-asiknya!” Begitu kiranya yang dicetuskan sutradara James Gunn ketika dia menangani film Guardians of the Galaxy (2014). Jadilah kita dapet superhero unik yang menggabungkan aksi amat seru, musik supernendang, dengan hubungan antarkarakter yang kocak abis. Dan di film yang kedua ini, right at the start, kita langsung diterjunkan ke dalam sekuen aksi yang cantik dan luar biasa, yang juga memberikan kita gambaran akan seperti apa tone film ini.

Kita bisa lihat lelucon dan gaya dari film yang pertama tetap dibawa ke film terbaru ini. Star-Lord, Rocket, Drax, Gamora, dan Baby Groot (gemessshh!!) sekarang sudah berteman makin erat. Kita turut ngerasa kian akrab sama mereka. Mengemban nama Penjaga Galaksi, kumpulan orang keren ini menerima pesenan ngelakukan tugas di ruang angkasa. As of right now, mereka sedang dalam misi mengalahkan sesosok monster besar. Dan alih-alih nyorot aksi pertempuran tersebut secara langsung, kita dikasih fokus ke kegiatan Baby Groot yang mencoba dengerin musik di antara desingan peluru cahaya dan tentakel si monster. Pertempuran seru berlangsung di latar, dan terkadang Gamora ataupun tokoh lain terlempar ke arah Groot, dan mereka nyempetin diri untuk menyapa. Lucu, manis, dan tetap menegangkan. Sebenarnya apa sih yang bisa kita pelajari dari adegan tersebut? Apa yang ingin dibicarakan oleh film ini?

Sekali lagi, kevulnerablean muncul ke permukaan. Para tokoh menurunkan sedikit ‘pertahanan’ mereka untuk berinteraksi dengan Groot, dan aka nada banyak momen lagi di sepanjang film saat seorang karakter menunjukkan kualitas terburuk mereka. Berbahaya, memang. Tapi not so much, jika kita menunjukkannya kepada keluarga. Film ini ingin memperlihatkan bahwa keluarga adalah tempat kita bisa mengeluarkan sisi terjelek sama amannya dengan kita mengeluarkan sisi terbaik. We can show both of sides of ourselves kepada keluarga karena keluarga akan memaafkan dan kita pun siap untuk memaafkan anggota yang lain. Bahwa cinta keluarga adalah tak-bersyarat.

 

Ada peraturan tak-tertulis yang dipatuhi oleh beberapa film dalam menggarap sekuel. Film kedua kebanyakan akan berpusat di masa lalu yang balik menghantui tokoh utama. Di balik semua lelucon, Guardians of the Galaxy Vol.2 adalah TENTANG KELUARGA. Star Lord akan dihadapkan kepada garis keluarganya. Dia akan bertemu dengan ayahnya yang sudah lama menghilang. Bersamanya, kita akan belajar tentang siapa sih ayah si Peter Quill, apa yang membuat orang ini menjadi begitu spesial dan berbeda. Bukan hanya Star Lord, film ini pun mengeksplorasi sisi keluarga dari tokoh-tokoh lain. Both heroes and some of the villain characters. Yang kemudian akan menghantarkan kita untuk belajar mengenai asal muasal mereka, membuat kita bersimpati atas trauma masa lalu yang menimpa, dan ultimately membuat setiap karakter dalam film ini memiliki bobot yang sangat kuat.

Mari berharap di misi selanjutnya Star Lord cs ketemu ama geng Cowboy Bebop

 

Ketika mendengar sebuah film akan dibuat sekuelnya, biasanya kita langsung mengharapkan yang tinggi-tinggi. Kita pengen film baru itu akan dua kali lebih seru, aksinya dua kali lipat lebih menegangkan, emosinya dua kali lipat bikin baper, dan hey, ledakan yang du…em, lima kali lebih banyak! The thing is; sekuel enggak selalu harus lebih besar. Karena yang lebih besar belum tentu lebih baik. Beberapa film hebat menggarap sekuel dengan jalur yang berbeda dari film originalnya. Ambil contoh franchise Alien (1979); film pertamanya lebih kepada thriller sci-fi yang sangat efektif. Ketika membuat sekuelnya, James Cameron enggak mau menapaki langkah yang persis sama dengan Ridley Scott, maka ia mengarahkan Aliens (1986) menjadi lebih ke elemen action. Dalam kasus Guardians Vol 2, jelas James Gunn paham akan hal ini. Dia bisa saja membuat film ini punya ground yang sama dengan yang pertama, dengan mengedepankan banyak aksi exciting dan tokoh-tokohnya berkelakar setiap saat. Tapi enggak. James Gunn membuat Volume 2 sebagai less of a bigger action film, dia membuatnya GEDE DI BAGIAN KARAKTERISASI.

Kekuatan dan daya tarik film ini tidak lagi ada pada sekuen aksi. Meskipun tentu saja film ini punya banget beberapa aksi yang bakal bikin kita bersorak. Apa yang dilalui oleh tokoh-tokoh dalam film ini akan membuat mereka sedikit kurang cool, dibandingkan pada film yang pertama, namun hal-hal yang mereka lalui akan menjelaskan banyak karakter yang mereka punya. Kenapa Rocket merasa perlu untuk mencuri, apa yang sebenarnya ia berusaha untuk buktikan, misalnya. Kita akan belajar lebih banyak tentang masing-masing tokoh, sehingga membuat mereka jadi punya bobot – jadi punya alasan untuk kita cheer dan punya alasan untuk berada di dalam cerita, lebih dari sekedar orang kocak, ataupun rakun imut yang sangat badass. James Gunn menekankan kepada detil traumatis masa lalu yang mereka hadapi yang membuat mereka pribadi yang kita kenal sekarang. Setiap tokoh terflesh out dengan sangat emosional. Terutama Nebula dan Yondu.

Dibesarkan oleh Thanos pasti bukanlah pengalaman masa kecil yang menyenangkan. Dalam film pertama kita belum benar-benar tahu alasannya kenapa. Kita belum mengerti apa yang membuat Nebula sangat jahat, tidak seperti kakaknya yang lebih bisa diajak kompromi. Dalam Volume 2 ini, kita akan mengetahui alasannya, dan ternyata alasan tersebut sangat heartbreaking dan luarbiasa tragis, khususnya untuk Nebula. Saat kit mikirin tentang masalalunya ini, kita jadi merasa terattach kepadanya. Penampilan Karen Gillan mungkin agak sedikit over, namun kita jadi melihat Nebula sebagai makhluk yang sangat manusiawi – walaupun dia bukan manusia. Michael Rooker sebagai Yondu juga sukses mencuri setiap adegan yang ia mainkan. Tokohnya di sini lebih baik dibanding film pertama, dan bahkan aku sudah suka sejak film originalnya itu. Senjatanya keren banget, kayak Shinso di anime Bleach. Dalam film kedua ini, berkat penulisan yang hebat, kita belajar banyak sehingga membuat kita sangat peduli padanya. Yondu punya penokohan yang paralel dengan Rocket, dan the later character benar-benar diuntungkan dari Groot yang sekarang menjadi bayi. While Groot bener-bener kayak bayi, dia tak pelak bikin kita bilang “aaaaaawwwhh” setiap kali muncul di layar, di sini dia kinda dumb. Jadi persahabatannya dengan Rocket enggak dieksplor banyak, instead kita dapat eksplorasi tokoh Rocket yang membuat dia juga terasa lebih manusiawi.

Semua aktor bermain dengan fantastis. Di antara para tokoh yang paling sedikit kebagian dieksplor adalah Drax. But oh boy, James Gunn menulis tokoh ini dengan meniatkannya menjadi tokoh humor. Drax adalah yang paling kocak dan Batista bener-bener deliver komedi dengan baik. Celetukan dan lelucon terbaik datang dari tokoh ini, dari cara pandangnya terhadap sesuatu yang amat sangat tak-biasa.

Aku ngakak berat di bagian Mary Poppins xD

 

Satu jam pertama film memang terasa riweuh. Ada banyak pergantian kejadian yang membuat emosi kita kayak diombang-ambing ombak, flownya sedikit kurang mulus. Aku pikir ini banyak sangkut pautnya dengan salah satu pihak antagonis; itu loh, orang-orang emas yang mengejar Guardians pake pesawat dengan teknologi kayak game arcade. Mereka muncul sewaktu-waktu dan memberikan tantangan kecil-kecilan untuk tokoh pahlawan kita. Buatku, Ratu Ayesha dan pengikutnya ini lumayan useless, kita enggak benar-benar butuh mereka. Tapi aku paham film butuh tipe penjahat ‘bego’ kayak gini sebagai distraction sebelum pertempuran yang sebenarnya dimulai.

Kadang kita bertengkar dengan mereka. Kadang kita saling enggak tahan kepada masing-masing, tapi pada akhirnya kita tetap berdiri bersama. Itulah keluarga. Tidak selalu harus ada hubungan darah. Keluarga adalah orang-orang yang saling berbagi dengan kita, yang kita saling menumbuhkan kekuatan, yang kita nyaman menjadi diri sendiri saat bersama mereka. Bahkan Dewa, menurut film ini, berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menanggulangi rasa kesepian – berusaha untuk konek dengan seseorang, mencari seseorang untuk berbagi.

 

Karena karakter-karakternya telah disetup dengan teramat baik, menjelang menit-menit akhir, film ini sukses membungkusku dengan emotional weight. Momen indah hadir susul menyusul. Tapi aku harus bilang, visual film juga memegang peranan penting. Sebab untuk beberapa bagian, film ini terdengar agak cerewet. Maksudku, momen-momen emosional itu, kita sudah benar-benar ngerasain apa yang diniatkan – emosinya sudah terdeliver. Hanya saja, momen tersebut kinda lecet karena dialog dari tokoh yang overstating apa yang kita rasakan. Mestinya enggak semuanya perlu diucapkan. Efek yang lebih kuat bisa dirasakan jika tidak dikatakan. Masalah yang mirip juga aku temukan pada tokoh Ego yang diperankan oleh Kurt Russel. Ayah Quill ini charming banget, sayang perannya kerap berkurang menjadi sebatas penyampai eksposisi. Karakter ini mestinya bisa ditulis lebih baik lagi.

 

 

 

 

Tidak lantas menjadi lebih bagus, lebih exciting, lebih gede dari film pertamanya, petualangan para superhero luar angkasa kali ini memang difokuskan kepada karakterisasi. Porsi aksi keren dengan visual stunningnya mesti ngalah buat pengembangan relationship antarkarakter; yang diolah dengan fantastis dan benar-benar efektif sehingga kita merasa lebih peduli kepada mereka. Setiap tokoh yang punya bobot lebih banyak. Dan ini membuat kita menantikan petualangan-petualangan mereka selanjutnya.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? I am Groot. Eh sori, maksudnya… We be the judge.

Payback 2017 Review

 

Ketika dalam satu malam kita mendapat pertunjukan yang di dalamnya termasuk perpindahan sabuk juara, perubahan karakter dari baik menjadi jahat, main event brutal, dan pengalaman sinematik yang membuat kita seolah sedang menonton film horor dan lupa sejenak sedang menyaksikan gulat, semestinya kita akan merasa puas, dan hey, itulah yang kita inginkan. Perubahan, keseruan. Sesuatu yang tidak bisa diprediksi.

Namun, Payback bukanlah Wrestlemania. Payback adalah acara yang statusnya cukup complicated kayak mie goreng yang abis dikritingin; ia adalah katalis antara babak baru setelah Wrestlemania dengan alur saling silang akibat Superstar Shake Up dua brand acara. Dan karenanya, Payback tampil dengan terlalu ingin berbeda. Eksekusinya tidak pernah tampil seprima yang ingin dicapai. Dengan kata lain, Payback adalah ACARA YANG SOLID, JIKA KITA RELA MENURUNKAN EKSPEKTASI KITA SEDIKIT.

semoga gak ada ambulans yang terbalik setelah nyaksiin match House of Horrors

 

Hasil-hasil pertandingan acara ini sesungguhnya sangat memuaskan. Aku enggak akan bohong, aku senang sekali Cantikku yang malam itu pake attire bertema Ironman menangin sabuk dan jadi superstar cewek pertama yang pernah menyandang gelar juara wanita Smackdown dan Raw. Mudah memang mengoverlook Alexa Bliss yang literally lebih kecil dibandingkan Charlotte yang diasosiasikan dengan sosok Ratu yang agung sekaligus anggun. Banyak yang komplen soal gimana Alexa (atau sebagaimana aku suka memanggilnya Aleksya karena kedengerannya lebih imut) sudah tiga kali juara dalam jangka waktu empat bulanan, membuatnya selalu menang nyaris setiap kali dia menantang juara bertahan. But in no way Aleksya dijejelin gitu aja kayak Roman Reigns atau John Cena. Kali kedua Alexa jadi juara Smackdown hanyalah transisi yang disebabkan oleh juara benerannya cedera out of kemediokeran. Little Miss Bliss sudah mengalamin perkembangan karakter yang signifikan sejak bertutu biru di NXT, and she’s so over right now dengan karakter heelnya. Dalam match melawan Bayley, kita bisa melihat personality dan character work Alexa kian meningkat, sehingga Bayley terlihat begitu bland bersanding dengannya. Dari segi skill di dalam ring, baik Alexa dan Bayley sama-sama konsisten – meski masingmasing perlu memperhatikan timing sedikit – dan deliver. Adegan terakhir dari match mereka terlihat meyakinkan (baca: bikin aku ngelus-ngelus kepala sendiri). Walau memang mereka berdua sudah pernah nunjukin kemampuan dan gerakan yang lebih seru, namun dalam kapasitas bercerita, dalam pertandingan ini mereka sukses berat nunjukin laga antagonis dan protagonis dengan efektif.

Sukar dipercaya, di tahun 2017 nama seperti Chris Jericho dan Hardy Boyz mencuat sebagai pemenang kejuaraan. Terlebih saat salah satu dari dua pihak tersebut dirumorkan bakal cabut sebentar dari ring. Ini adalah semacam cara WWE ngetroll kita dalam menjadi unpredictable. Stipulasinya membuat kita menyangka Owens akan memenangkan pertandingan. There’s no way gimmick The Face of America yang dibawakannya berakhir dengan prematur. Dan lagi, siapa yang bakal menebak Walls of Jericho ternyata masih ampuh buat bikin lawan tap out, maksudku, selama ini Jericho selalu memenangkan pertandingan dengan Codebreaker. Jika ada apa-apa, maka bisa jadi kejadian ini adalah tanda bahwa keseluruhan acara bakal diselimuti oleh aura tak-terduga. Yang bikin pertandingan mereka makin seru adalah kepiawaian kedua superstar memanfaatkan angle ‘bertahan dengan satu jari’, konklusi pertandingan ini berpusat kepada angle ini, yang memang worked out dengan sangat baik.

Aleksya jangan mau dipeluk ama Bayley, dipeluk aku aja nyaaawww

 

Mungkin yang paling ngerasa surprise malam itu adalah Jeff Hardy. Tentu saja enggak ada yang memperingatkannya soal giginya bakal ditendang terbang oleh Sheamus. Ini menunjukkan betapa brutal semangat acara malam itu. Tim Penulis did such a great job ngebook gimana sebuah pertandingan keras berlangsung dengan tidak membeberkan terlalu banyak apa yang sudah mereka persiapkan sebagai surprise. Aku benar-benar enggak nyangka Sheamus dan Cesaro turn heel, dengan Cesaro jadi orang yang pertama melayangkan cheap shot kepada Hardy Boyz yang tengah merayakan kemenangan. Dan ini membuat kita semakin penasaran bagaimana cerita ini akan bergulir dan terutama dengan gimana mereka bakal mengaitkan semuanya dengan gimmick Broken dari Hardy Boyz, yang sudah jadi rahasia umum, bakal kejadian cepat atau lambat. Tapi untuk sementara ini, mengubah peran Cesaro dan Sheamus menjadi antagonis adalah keputusan yang tepat dan tak pelak bakal menambah rame scene tag team di brand merah.

Payback 2017 adalah pertunjukan yang membuat kita jadi enggak enak sendiri. Kita semua mengharapkan ada perubahan, baik secara aksi maupun presentasi storyline. Namun ketika kita sudah mendapatkan itu semua, masih saja kita mencela dan berharap mereka enggak perlu membuatnya menjadi senorak dan sepointless apa yang kita dapat dari acara ini.

 

 

Menampilkan dua pertandingan antarbrand, Payback 2017 sayangnya tidak berhasil membuat semuanya menjadi sama penting. House of Horrors menderita dari statusnya yang turun derajat dari rematch Wrestlemania (yang mestinya pertandingan kejuaraan) menjadi device untuk ‘promoin’ show bulan depan. Kemenangan Bray Wyatt tidak membuatnya terlihat kuat di sini. Dan matchnya sendiri, well yea, it’s bad. HOUSE OF HORRORS TERLIHAT SEPERTI FILM HOROR BUDGET RENDAH YANG SANGAT CHEESY. Oh ya, aku bisa bicara banyak kalo nyangkut kritik film. Beberapa set rumah ‘hantu’nya memang lumayan seram, namun tone yang dibangun tidak pernah selaras. Alih-alih seram, kejadian di pertandingan ini malah bikin ngakak. Dan ketika kita menyangka ini lucu, WWE ngingetin kita bahwa ini adalah match yang serius. Itulah kenapa pertandingan yang konsepnya seger dan menarik ini enggak bekerja dengan baik. Kontennya menganggap diri terlalu serius. Kita ingin melihat properti menyeramkan digunakan untuk saling melukai, akan tetapi yang kita dapet adalah sebuah kulkas dengan editing adegan yang sangat kasar dan amatir. Susah sekali menggabungkan konsep ‘gak make sense’ dengan konten yang real; pertandingan ini membuktikan hal tersebut.

“MTV, rumah gue!!”

 

Aku enggak tahu apa ini memang disengaja oleh WWE dalam rangka mau menjadi tak tertebak, banyak match dalam acara ini yang diakhiri dengan jurus yang bukan finisher. Alexa menang dengan DDT. Neville menang dengan wasit ngomel-ngomel. Rollins menang dengan roll up. Bisa dimaklumi juga sih sebenarnya, mereka harus ngelindungi Samoa Joe dan Austin Aries dari kekalahan telak, namun semestinya mereka bisa mikirin cara lain untuk melakukan hal tersebut dengan membuat ending yang lebih compelling. Untuk pertandingan Samoa Joe melawan Seth Rollins, ini adalah pertandingan paling bosenin. Filler dengan profile paling gede. Respek buat kedua superstar, hanya saja memang pertandingan tersebut sudah kehilangan kepentingan karena Rollins sudah membereskan urusan dengan Triple H. Yes, Joe adalah orang yang bikin Rollins cedera, namun toh cedera tersebut tidak menyetop Rollins dari kemenangan di Wrestlemania. Feud dengan Samoa Joe ini akan berfungsi dengan lebih baik jika Rollins kalah melawan Triple H, dan kita semua tahu itu adalah outcome yang nowhere near satisfying. Rolins menghajar Triple H, dan kita enggak perlu lagi balik mundur dalam narasi melihat dia menyelesaikan urusan dengan Samoa Joe.
Setelah House of Horrors dan Samoa Joe lawan Seth Rollins, main event yang menampilkan Braun Strowman menghajar Roman Reigns habis-habisan adalah pemandangan yang sangat menyegarkan. Bekerja dengan proper sebagai penutup acara. Sebagai karakter device, however, pertandingan ini terasa enggak benar-benar menyampaikan apa yang diniatkan. Penonton tetap tidak bersimpati kepada Reigns, malahan teriakan “Thank you, Strowman!” semakin lantang membahana di arena. Pertandingan main event ini selayaknya kesimpulan dari Payback ini; acara yang digarap sedikit berbeda dari yang biasa, dengan hasil yang memuaskan, meski eksekusinya aneh dan bisa banget lebih bagus lagi jika mereka mengubah beberapa hal.

Kejuaraan Amerika, Kejuaraan Tag Team, dan Kejuaraan Cewek sama-sama menyuguhkan pertandingan dan penceritaan yang di atas rata-rata. But aku bener-bener demen saat Jericho mulai ngamuk sama jari Owens. Pertarungan keras mereka terasa genuine, The Palace of Wisdom menobatkan Chris Jericho melawan Kevin Owens sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

 

 

Full Results:
1. WWE UNITED STATES CHAMPIONSHIP Chris Jericho merebut sabuk Kevin Owens
2. WWE CRUISERWEIGHT CHAMPIONSHIP Austin Aries menang DQ atas juara bertahan Neville
3. WWE RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP Hardy Boyz mempertahankan gelar atas Sheamus dan Cesaro
4. WWE RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Alexa Bliss jadi juara baru ngalahin Bayley 5. HOUSE OF HORRORS Randy Orton ditiban pake kulkas oleh Bray Wyatt (bersambung)
6. SINGLE MATCH Seth Rollins mengalahkan Samoa Joe
7. HOUSE OF HORRORS (lanjutan) Bray Wyatt ngalahin Randy Orton
8. SINGLE MATCH “Braaauuuunnn!!!” destroys “UuuuuuuuAAAAAA!”

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.

besokbesok pasti banyak yang dateng bawa List of Jericho hhihi

And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

STIP & PENSIL Review

“It’s easy to look sharp when you haven’t done any work.”

 

 

Banyak yang menyerukan hapuskan kesenjangan, namun ketika si kaya melakukan hal yang baik, kita masih menudingnya sebagai pencitraan. Saat kita berbuat salah, kita masih suka membela diri atas nama kemiskinan, seolah dengan menjadi orang susah berarti kita lemah dan punya alasan untuk melakukan ‘pemerasan kecil-kecilan’ kayak yang dilakukan oleh ibu pemilik warung dalam film ini. Orang miskin tidak perlu hal lain karena masalah kita satu-satunya adalah uang. And in turn, ketika kita beneran punya duit rada lebihan dikit aja, kita suka melempar uang gitu aja kepada masalah. It seems like, kita sengaja membuat gap antara miskin dan kaya. Tanpa sadar kita sendiri yang menulis kesenjangan dengan memanfaatkan dinamika unik yang tercipta oleh uang.

Menyinggung masalah sosial paling asik memang lewat nada komedi. Stip & Pensil mengerti ini dan melakukan kerja yang sangat luar biasa dalam mempersembahkan dirinya sebagai parodi. Yea, this film WORKS BEST AS A PARODY. Celetukan lucu terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. Tentang dinamika antara si kaya dan si miskin, as kita sebagai penonton ditempatkan di tengah-tengah kelas yang saling kontras ini. Gedung sekolah darurat dan kampung kumuh bisa bekerja sebagai simbol dunia pendidikan yang mulai kotor oleh kepentingan. Tawa yang dihasilkan film adalah tawa yang menyentil kita dengan akrabnya.

Pelaku dalam cerita ini adalah satu geng anak SMA yang dijauhin dan disirikin sama teman-teman yang lain lantaran mereka berasal dari keluarga yang tajir mampus. Toni (Ernest Prakasa nampak paling tua namun naskah mampu berkelit memberikan alasan) dan tiga sohibnya; Bubu yang cakep namun telmi (Tatjana Saphira memainkan perannya dengan gemesin), Saras yang manis namun hobi ngelempar kursi (dari empat, Indah Permatasari yang kualitas aktingnya paling menonjol), dan Aghi yang paling ‘waras’ namun gak banyak berbuat apa-apa (aku bahkan gak yakin tokohnya Ardit Erwandha ini punya karakter), mereka layaknya anak sekolahan mendapat tugas menulis essay sosial. Setelah bertemu dengan, atau lebih tepatnya dikibulin oleh, seorang anak jalanan, mereka kemudian memutuskan untuk mengambil topik pendidikan di daerah pinggiran, tampat anak-anak jalanan tadi tinggal. Pada awalnya, tentu saja remaja kaya ini menyangka semuanya bakal segampang ngibasin duit, tetapi cibiran, tuduhan, dan prasangka dari teman-teman sekelas membuat mereka nekat terjun langsung ke lapangan. Karena terus diprovokasi, Toni malah kepancing emosi buat bikin sekolah darurat di kampung kumuh tersebut! Jadilah mereka sepulang sekolah harus ngajar ke sekolah bikinan sendiri, mereka kudu nanganin warga kampung yang enggak peduli amat sama dunia pendidikan, bahkan mereka wajib membujuk anak-anak jalanan dengan duit sebelum anak-anak itu mau diajari membaca oleh mereka.

they are not strangers if they drove fancy cars.

 

Walaupun dirinya adalah suguhan komedi dengan tone yang ringan, bukan berarti film ini tidak mempunyai urgensi di dalam ceritanya. Stip & Pensil tidak kalah penting dibandingkan A Copy of My Mind (2016). Dialog-dialognya diolah dengan cerdas sehingga bisa memuat tema dan isu-isu yang relevan, dan menyampaikannya dengan lancar. Komedi film ini bahkan lebih efektif dibandingkan Buka’an 8 (2017) yang juga berusaha memuat banyak singgungan terhadap tema sosial. Dengan sukses menggambarkan karakter masyarakat masa kini yang suka berlindung dengan mental kelas bawah meski enggak malu-malu untuk menunjukkan arogansi kelas atas, tanpa terasa terlalu menggurui. Film akan memaparkan kita dengan kenyataan, yang dikemas dengan konyol, dan kita menerimanya sebagai fakta. Sebagai fenomena yang benar-benar terjadi di masyarakat.

Semua orang mau yang gampang. Buat apa kerja, mendingan langsung dikasih duit saja. Tapi di film ini kita melihat anak-anak jalanan yang tak mau belajar tersebut kerepotan mencari jalan saat dikejar petugas lantaran mereka enggak bisa membaca tulisan-tulisan ‘jalan ini ditutup’ di tembok. Di lain pihak, yang punya duit mikirnya, buat apa repot-repot, tinggal bayar semua beres. Antara kerja langsung dengan membayar, bedanya hanya dignity. Ibarat pensil; pensil yang paling panjang dan paling runcing adalah pensil yang tidak melakukan apa-apa. Inilah yang dirasakan Toni cs ketika mereka harus bersusah-susah menjaga dan mengaktifkan sekolah bikinan mereka.

 

 

Cerita seperti ini sebenarnya cukup tricky untuk digarap. Parodi dengan banyak isu, artinya mereka enggak bisa terpaku kepada satu karakter tertentu. Dan lagi, the closest thing we have to protagonists pada film ini adalah kelompok remaja kaya yang menyabotase pagelaran seni sekolah demi mendapat perhatian. It is hard enough buat kita menumbuhkan kepedulian kepada mereka. Apalagi ketika keempat anak SMA ini tidak diberikan penokohan yang benar-benar berarti. Pengembangannya tipis, mereka share the same trait dengan elemen komikal sebagai pembeda antara satu dengan yang lain. Motivasi mereka enggak sepenuhnya terasa jujur, karena pihak ‘antagonis’ film ini toh punya poin yang bagus about them, dan kita bisa melihat praduga mereka benar, so yea, yang berusaha aku bilang adalah kita akan masuk ke dalam narasi tanpa ada hook yang kuat. We just go in sebab segala adegan dan dialog ditangani dengan kocak dan nyata, sehingga kita ingin melihat lebih lanjut. At times, kita malah ingin melihat di luar karakter utama karena tokoh-tokoh penghuni kampung yang dibuat lebih berwarna. Dan film ini memberikan mereka kepada kita; menjelang akhir ada pergantian perspektif di mana kita melihat penghuni kampung bekerja sama menghadapi penggusuran, which is some nice sight to see, akan tetapi membuat kita bertanya; ke mana Toni dan kawan-kawan, kenapa di peristiwa penting begini mereka malah absen?

See? Masalah terbesar yang menahan Stip & Pensil bukan pada penulisan, not necessarily ada pada penokohan, melainkan terletak pada struktur cerita; pada bagaimana film ini menceritakan dirinya. Separuh bagian pertama penuh oleh adegan-adegan lucu yang seputar pendirian sekolah darurat dan tantangan kegiatan belajar mengajar di sana, tetapi ‘the real meat’ datang dengan rada telat. Maksudku, kita ingin melihat remaja-remaja SMA yang kaya tersebut bonding dengan bocah-bocah pengamen, kita ingin melihat gimana mereka work it out dengan neighborhood yang belum pernah mereka tapaki sebelumnya, kita ingin lihat gimana mereka actually mengajar di kelas, dan rasanya akan lama sekali sebelum kita mencapai bagian ini.

Dan begitu elemen tersebut sudah masuk — aku menyangka paruh akhir akan lebih menyenangkan lagi – film malah memberi kita penyelesaian yang terburu-buru. Semuanya terasa rushed dan dipermudah. Mereka mungkin seharusnya tidak membuat kita invest so much kepada Toni dan kawan-kawan, karena toh ada pergantian perspektif, dan Toni enggak benar-benar menyelesaikan apapun. Pun begitu, film malah menambah elemen baru, drama kok-elo-naksir-si-anu-sih-kan-gue-yang-suka itu misalnya, yang pada akhirnya juga diselesaikan dengan abrupt. Aku juga merasakan masalah ‘masuk terlalu lambat, diselesaikan dengan terlalu cepat’ yang sama juga menghantui A Copy of My Mind, namun paling enggak dalam film tersebut tidak ada penambahan elemen mendadak ataupun pergantian sudut pandang.

karena tidak ada persahabatan tanpa fists bump.

 

Setiap dialog mengandung lelucon yang berhasil diintegralkan dengan mulus. Tapi masih ada juga bagian yang serta merta ada buat kepentingan tawa semata. Sama seperti bagian drama cinta remaja yang kusebut di atas, yang eksistensinya cuma buat menarik perhatian penonton. Dan kadang-kadang, antara satu lelucon dengan lelucon lain, terasa enggak make sense – enggak klop logikanya. Misalnya adegan tenda; aku enggak ngerti kenapa mereka yang anak-anak orang kaya cuma bisa nyewa satu tenda, aku enggak ngerti kenapa mereka enggak tidur di dalam sekolah darurat saja alih-alih di pekarangan luarnya, dan aku enggak ngerti kenapa Saras jadi histeris heboh ngeliat tikus padahal bukankah di adegan pembuka kita melihatnya mengancam panitia di belakang panggung sekolah dengan literally mengayun-ayunkan tikus di depan wajahnya.

 

 

 

Komedi yang cerdas dan bekerja dengan highly effective menjadikan film ini tontonan yang tidak hanya menghibur, namun juga sarat isi. Bicara soal bullying, persahabatan, status sosial, prasangka, semua materi dipikirkan dan digodok bersama humor dengan sangat matang. Kuat di bagian ‘apa’, sayangnya film ini runtuh di ‘bagaimana’. Semestinya pensil itu digunakan untuk menulis ulang struktur sehingga bagian penyelesaiannya tidak terburu-buru dan tidak dipermudah. Sebagaimana setip itu mestinya digunakan untuk menghapus elemen-elemen yang dimasukkan just for the audience.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for STIP & PENSIL.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

GET OUT Review

“We are afraid of sharing power. That’s what it (racism) is all about.”

 

 

Aku enggak tahu tepatnya gimana perasaan menjadi satu-satunya orang berkulit hitam di tengah-tengah pesta. Namun Jordan Peele tahu persis rasa canggung dan sedikit paranoidnya berada di dalam kondisi seperti demikian. Jadi, komedian yang mengawali suksesnya dari serial sketsa komedi di Youtube (Key and Peele, coba deh tonton sekali-kali, kocak!) tersebut mengangkat sudut pandang seorang yang dealing with that situation. Dan oh boy, film Get Out ini berhasil menjadi debut penyutradaraan yang menjamin setiap penonton untuk menanti-nanti karya selanjutnya dari Jordan Peele. I know I did.

Pusat dari cerita Get Out adalah seorang fotografer kulit hitam bernama Chris (mainnya brilian banget, aksen Inggris Daniel Kaluuya bener-bener enggak kedengaran di sini) yang lagi mesra-mesranya pacaran. Hubungan mereka baru jalan empat bulan dan pacarnya, Rose (penampilan Allison Williams juga fantastis, dia memenangkan hati kita dari adegan pertama), meminta Chris untuk datang menemui kedua orangtuanya di kediaman private mereka. Oke, kita harus nekankan ke hubungan yang baru empat bulan, karena memang segitu singkatnya lah hingga Rose belum sempat ngasih tau ke mama papa kalo mereka ngejalanin hubungan antarras. Meskipun Rose bilang hal tersebut bukan masalah karena keluarga mereka bukan rasis, tetapi hal beda kulit ini lumayan alarming buat Chris. Ketika dia sampai ke rumah keluarga Rose, dia disambut hangat. Semua orang di sana perhatian kepadanya, mama Rose yang psikiater bahkan nawarin jasa hipnotis buat nyembuhin kecanduan rokok Chris. Semua kelihatan baik-baik saja sampai Chris menyadari ada sesuatu hal yang ganjil terjadi di belakang layar keluarga ini.

“Bye, Georgina!”

 

Aku cinta horor. Aku berangkat sebagai penonton film ya dari genre ini. Namun aku sadar, bahwa film horor yang bagus itu sangat jarang. Obviously jaman sekarang kita bakal lebih mudah nemuin orang yang masih memandang status dari warna kulit ketimbang nemuin film horor yang benar-benar bisa membuat kita bergidik oleh rasa merinding. Horor yang bagus datang dari psikologi manusia, karena takut itu bukan fakta, melainkan perasaan. Ketika kita nonton horor yang begini, kita akan merasa unsettling sekaligus jadi terinspirasi karena layaknya film-film genre lain yang bagus; horor semestinya juga mampu memberikan kita suatu topik kemanusiaan untuk jadi bahan diskusi. Dan aku harus bilang, Get Out adalah film yang punya SUDUT PANDANG YANG SANGAT BERANI. Sebelum ini, Peele nulis dan main bareng sobatnya Key (look for him jadi cameo sekilas di film Get Out) di komedi aksi berjudul Keanu (2016) tentang kucing; kocak namun bukan film yang hebat, tapi punya perspektif yang unik. Makanya aku jadi penasaran karena di Get Out kali ini yang dibuatnya adalah horor, dan yes, film ini definitely diceritakan dari perspektif yang tidak pernah kita lihat sebelumnya pada genre ini. Dan setelah menonton, aku sangat terkesan, I love this film.

Peele nunjukin bahwa dia paham gimana mengarahkan film horor, dia mengerti cara membuat setiap adegan menakutkan menjadi menarik. Bahkan menyenangkan. Ini adalah pandangan PSIKOLOGIS SEKALIGUS SANGAT SATIRICAL terhadap pandangan sosial soal masalah racial. Sepanjang film akan banyak momen-momen yang membuat kita tertawa terpingkal-pingkal namun serius (eh kebayang enggak tertawa serius itu gimana? Ketawa yang kalo disenggol ngebacok! Hahaha), karena penulisan film ini mengerti bagaimana menempatkan elemen horor yang seram dan over-the-top sebagai lapisan luar buat elemen grounded yang lebih menakutkan. Film ini punya sesuatu yang ingin ia katakan perihal kecanggungan yang dirasakan seseorang ketika dia berada di tengah-tengah tempat yang tidak biasa baginya. Dalam The Visit (2015), M. Night Shyamalan juga melakukan hal yang serupa, dia mengambil hal sesederhana interaksi canggung antara anak kecil dengan orang lanjut usia dan mengubahnya menjadi pengalaman menakutkan. Cerita Get Out, however, lebih urgen sebab ia mengangkat tema yang berada di zona sensitif buat beberapa orang. Terlebih buat audiens Amerika yang memang menganggap serius masalah kulit hitam dan kulit putih.

Kita semua adalah manusia. Like, it doesn’t matter warna kulitnya apa. Film ini juga menegaskan bahwa masalah rasis sebenarnya adalah masalah psikologis. Kaitannya dengan penyakit mental. Dengan cara berpikir. Jika kita merasa punya kelebihan dibanding yang lain, jika kita merasa berbeda dari orang, maka itu udah termasuk rasis. Pengotak-kotakan itu bukan dari biologis, melainkan datang dari konstruksi sosial. Kita yang menganut bhinneka tunggal ika juga bisa tergolong rasis jika kita mengelaskan orang dari kelakukan golongannya.

 

 

Di balik subjek dan gagasan yang serius, Peele bisa menemukan celah untuk mengintegralkan humor yang sangat menyegarkan. Meskipun film ini penuh oleh stereotipe trope-trope horor, jumpscare tidak bisa dihindari, kita dikagetkan oleh musik keras yang mengiringi bayangan orang yang berjalan di background, kita histeris saat sesuatu muncul dengan mendadak disertai suara lantang, suara dan visi si sutradara tetap bisa dipertahankan. Keoriginalitasnya tetap enggak tercoreng berkat cerita utamanya. Dari adegan pembukanya saja, udah terasa gimana fantastis dan menyenangkannya film ini. Sepenglihatakanku, sekuen ‘pencidukan oleh mobil misterius’ di jalan perumahan itu dilakukan dengan one-take, yang merupakan teknik pengambilan gambar yang aku suka, dan that whole scenes amat creepy sekaligus juga kocak karena humor datang dari tubuh yang diseret bergerak seirama dengan musik. Menuju ke babak tiga akan ada nuansa horor yang sangat intens yang dibangun dengan sangat baik, it builds up into some really satisfying moments yang bikin penonton sestudio ngecheer.

Penulisan film memang dipikirkan dengan teramat baik. Semua simbolisme dan metafora pada akhirnya akan terbayar tuntas.Adegan menabrak rusa actually punya peran yang penting dalam pertumbuhan karakter Chris, dan dengan efektif diintegralkan dalam adegan final. Segala detil diperhatikan dan benar-benar digunakan untuk membangun lapisan cerita. Sebagai protagonis, Chris digambarkan dengan kompleks. At one time, kita mencurigai jangan-jangan dia yang pikirannya ngerasis. Chris sendiri adalah orang yang suka berprasangka, kita bisa melihat dia cemburuan dan kurang senang ngeliat pacarnya bercanda dengan sahabatnya di telepon. Really, penampilan akting dalam film ini diarahkan dengan kompeten sehingga menjadi poin kuat film. Comic relief disandarkan kepada pundak LilRel Howery yang berperan sebagai polisi bandara sahabat Chris, dan aktor ini mencuri setiap adegan yang ia mainkan. He’s so hilarious. Perannya pun ditulis lebih gede dari sekedar teman tukang ngocol.

Kita tidak terlahir rasis, kita terajar untuk jadi rasis. Terkadang kita malah enggak sadar kita punya bias ke arah rasis. Kita ngedevelop tendensi rasis berdasarkan sosialisasi dan lingkungan.Prasangka muncul dari hubungan kita dengan orang, seperti Chris yang mulai ragu dan takut ketika berada di tengah keluarga Rose yang ia noticed berbeda dari dirinya. Namun seperti apapun yang bisa kita pelajari, kita juga bisa unlearn it.Denganberbagi dengan orang lain. Tapinya lagi, sebagian besar oranglebih takut untuk berbagi, untuk jadi sama dengan orang lain.

 

kita bisa memotong tensi adegan dengan pisau dapur rumah Rose.

 

Masalah yang bisa kita temukan dari pengalaman menonton film ini adalah soal pacing dan keseimbangan tonenya. Pacingnya sedikit tidak konsisten. Terkadang kita akan dibawa melompat antara tone serius dengan tone kocak dengan agak terlalu cepat.  Banyak sekuens yang terlihat aneh dengan horor ataupun humor yang terasa dilampirkan begitu saja, tanpa ada kepentingan yang lebih dalem buat cerita. Tapi tentu saja, ini adalah jenis film yang akan lebih mudah kita apresiasi jika kita udah nonton untuk kedua kalinya, atau jika kita udah mengerti konteks dan paham apa yang sebenarnya terjadi di balik lapisan terluarnya. Seperti misalnya adegan di malam hari ketika ada tokoh yang berlari cepat menuju Chris seakan ingin menabrak atau menyerangnya. Di detik-detik mau nubruk, si pelari mendadak berbelok arah begitu saja. Ketika melihatnya pertama kali, aku merasa adegan ini purely buat serem-sereman atau malah lucu-lucuan belaka, kayak adegan horor gajelas. Tapi kemudian in retrospect, begitu aku sudah mengerti ‘misteri’nya, aku bisa melihat ada dua skenario yang dapet membuat adegan tersebut menjadi beralasan.

 

 

Horor yang dengan tepat menggambarkan keadaan canggung yang penuh oleh komentar-komentar dan sindiran sosial. Aku terutama sangat terkesan dengan kemampuan Jordan Peele menggarap horor sebagai humor satir yang dekat, dan dia juga membuktikan bahwa filmmaker masih bisa untuk punya suara sekaligus memuaskan tuntutan untuk memasukkan stereotipe dan trope yan sudah umum dari genre ini. Meskipun tone filmnya belumlah sempurna, namun ini adalah sajian bagus yang langka. Perspektifnya berani dan sangat unik dapat membuat kita jadi ‘rasis’ kepada film-film horor lain; just because we noticed betapa berbeda dan superiornya film ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for GET OUT.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

My Dirt Sheet Top-Eight Favorite Studio Ghibli Movies

 

Oke, ini daftar delapan-besar TERSUSAH YANG PERNAH AKU SUSUN. I mean, gimana milihnya coba kalo semua disuka, like ah aku suka Mononoke, eh tapi Laputa gakalah seru, Kiki juga lucuuu, belum lagi Poppy Hill yang sweet banget, aaaaa please let me just rewatch them all again and again and again. Tadinya aku sudah nyelesaiin draft pertama, dan kemudian aku ingat belum masukin Totoro, jadi aku merombak ulang nulis susunan daftar ini. Pheeewww!

Studio Ghibli, sepanjang waktunya berdiri, konsisten menyuguhkan cerita yang sangat loveable dan grounded, enggak peduli dia sedang berkisah tentang petualangan, fantasi, maupun kehidupan sehari-hari. Buat yang belum familiar dengan Studio Ghibli, gini deh: bayangin film-film dari Pixar, hanya saja mereka kental oleh budaya Jepang, digambar dengan animasi buatan tangan yang sangat jelita dan very fluid, dan senantiasa menjaga idealisme tanpa harus repot-repot mikirin keuntungan komersil. Film-film Ghibli selalu sukses menyedot setiap yang menonton berkat karakter dan kedetilan penceritaan. Kekuatan film ini mampu membuat anak-anak dan orang dewasa terinvest secara emosi, dan semuanya kerasa real. Setiap mudik, aku selalu muterin di rumah dalam rangka meracuni adik-adik dan para sepupu dengan film yang bukan hanya menyenangkan melainkan juga sarat isi dan punya hati. Visi pendirinya, Hayao Miyazaki, bercerita dengan respek terhadap penonton terus dipertahankan hingga kini. Dan sedihnya, Studio Ghibli benar-benar berjuang untuk itu.

Tahun 2015 kemaren adalah perayaan 30 tahun berdirinya Studio Ghibli. Mereka meluncurkan When Marnie was There yang meski masuk daftar favoritku tahun itu, namun pendapatan box officenya kurang memuaskan. Film tersebut dikabarkan sebagai film terakhir dari Ghibli. Pait pait manis gak sih, mereka harus mundur di anniversary hanya karena film yang bagus bukan berarti harus selalu laku. Dan kalo ada yang cerita mengenai sebuah anime yang bagus, tidak akan ada yang menganggapnya serius. Anime statusnya kayak buku komik dan manga, media penceritaan yang paling underrated dan underappreciated.
Tapi kemudian di tengah-akhir 2016 Ghibli kembali dengan The Red Turtle, mereka menemukan ‘jodoh’ bikin film, bekerja sama dengan sineas Belanda. Dongeng magis yang indah sepertinya masih berlanjut. Malahan, di tahun 2017 ini, diawali oleh Spirited Away, kita-kita yang di Indonesia akan dihibur oleh penayangkan film Ghibli di beberapa bioskop. It’s so wonderful that we could experience those fantasies on big screen (finally! Indeed). Aku terutama ingin sekali liat adegan perang Princess Mononoke dan adegan tsunami Ponyo di bioskop. Dan katanya, Agustus nanti, Ghibli akan membuka eksibisi di Jakarta. So yea, see you guys there! 😀

Tadinya aku mau bikin HONORABLE MENTIONS seperti biasa, but I just can’t decide haha.. Jadi ya, langsung saja, inilah Delapan Film Ghibli Favoritku:

 

 

 

8. GRAVE OF THE FIREFLIES (1988)


Director: Isao Takahata
IMDB Ratings: 8.5/10
“Why do fireflies have to die so soon?”

Bakal bikin mata sembab kayak habis ngupas bawang. Ini adalah cerita survival yang sederhana tentang dua anak korban perang, yang hidup sebatang kara. Seita dan adiknya yang masih lima tahun, Setsuka, enggak punya rumah. Mereka lalu tinggal dalam sebuah gua di bukit pinggir desa. Seita harus mencari uang untuk makan, sekaligus menenangkan pertanyaan adiknya soal orangtua mereka yang tewas. Film ini adalah cerita perang paling sedih yang pernah aku tonton.
Banyak film animasi yang berani membahas tentang kehilangan, namun Grave of the Fireflies stands out lantaran ia juga membahas tentang penyesalan. Rasa bersalah seorang yang selamat, fakta bahwa mereka justru kalah oleh rasa lapar akan menjadi perasaan sedih yang bakal terus menghantui. Membuat tidak ada lagi keinginan untuk hidup. Kematian memang menyedihkan, tapi tidak ada yang lebih sedih daripada membuang keinginan untuk hidup.
Perjalanan emosi adalah bagian terkuat film ini. Memang sih, rasanya film ini dibuat untuk tujuan dramatis semata – itulah makanya kenapa aku meletakkannya di peringkat kedelapan. Karakternya dibangun untuk membuat kita menitikkan air mata, sehingga kadang pancingan emosinya terasa terlalu diatur. But the way they told it was so beautiful, timing sunyi dieksekusi dengan sangat precise, dan animasinya in some ways, mengerikan karena feeling yang dikeluarkan terlampau kuat.

My Favorite Scene:

Ketika mereka menangkap kunang-kunang dan menggunakannya untuk menerangi gua. Single momen yang simbolis dan sangat cantik.

 

 

 

 

 

7. MY NEIGHBORS THE YAMADAS (1999)


Director: Isao Takahata
IMDB Ratings: 7.3/10
“The reason the Yamadas get along fine is because all three adults are nuts. If one of you were normal it would unbalance the rest”

Film pertama Studio Ghibli yang menggunakan animasi komputer seluruhnya ini memang lain daripada yang lain. Gaya animasinya disesuaikan dengan gimmick cerita yang quirky, and kita bisa langsung melihat perubahan style ini actually work in favor of the storytelling. Straightforward dan enggak neko-neko. Ghibli membuat keputusan yang berani dan hasilnya adalah sebuah tontonan unik yang meriah dan mengasyikkan untuk dinikmati. Sekali lagi, Ghibli menekankan bahwa film animasi secara visual enggak selalu harus mirip dengan realita, perasaan yang dideliverlah yang mestinya harus disajikan dengan nyata.
Struktur cerita Yamadas ini pun sesimpel animasinya. Ketimbang cerita panjang, film ini lebih seperti gabungan sketsa komedi yang disusun membentuk satu kesatuan. Enggak ada antagonis, enggak ada big final action sequence. Kita bisa menemukan sesuatu untuk difilmkan di mana saja, bahkan jika materinya lebih dekat maka akan lebih baik. Dari awal sampai habis kita akan melihat kegiatan sehari-hari keluarga Yamada yang katrok. Ada Ayah, Ibu, Nenek, Kakek, Abang, Adik, petualangan mereka adalah petualangan keluarga sehari-hari yang juga bisa terjadi sama keluarga kita. Gimana keluarga tradisional dihadapkan kepada tuntutan dunia modern. Nature ceritanya masih sangat relevan, karena memang selalu itulah masalah yang akan dihadapi oleh sebuah keluarga. Makanya, meskipun drama lucu ini kental oleh budaya Jepang (setiap ‘episode’ diakhir dengan haiku yang kocak), film ini tetap akan terasa sangat relatable dan setiap keluarga akan merasa terwakili olehnya.

My Favorite Scene:

Ketika Ayah dengan nekat (tepatnya dinekat-nekatin) keluar untuk berurusan dengan preman bermotor yang udah ganggu ketentraman kompleks tempat tinggal mereka. Tanggung jawab ayah itu berat dan dia harus berani, namun berani bukan berarti tidak merasa takut!

 

 

 

 

 

6. PONYO (2008)


Director: Hayao Miyazaki
IMDB Ratings: 7.7/10
“So what’s your Mother like, then? / She’s big and beautiful, but she can be very scary. / Just like my Mom. “

Inilah apa yang terjadi kalo kita memberikan sedikit twist anak-anak kepada cerita Putri Duyung. Instead, Ponyo adalah tentang seekor ikan emas gemesh yang pengen menjadi bocah manusia karena di daratan sana dia berteman dengan Sosuke. Enggak banyak yang dibicarakan oleh film ini di luar persahabatan dan relationship mereka. Dan sedikit concern soal lingkungan hidup, dalam kasus ini perairan, yang by the way adalah salah satu dari kekhasan karya Hayao Miyazaki. But oh wow, kalo ada satu kata yang terlintas begitu orang menyebut film Ponyo, maka kata itu pastilah: AJAIB!
Animasinya kreatif luar biasa. Dunia bawah air, adegan tsunami, makhluk-makhluk laut yang aneh dan lucu-lucu itu, film ini adalah ajang ‘pamer’ buat talenta animator Ghibli. Ponyo adalah film favorit adekku yang saat pertama kali kuputerin, dia masih berumur 5 tahun – sama ama usia tokoh Sosuke dalam film ini. Dan memang sepertinya tokoh tersebut sangat relatable buat penonton usia muda. Petualangan Sosuke dan Ponyo bener-bener cute, it is a lighthearted movie yang juga mengajarkan kemandirian. Tapi terutama film ini mengajarkan kepada anak-anak bahwa mereka juga manusia, you know, mereka punya keinginan, mereka punya pemikiran, dan they should be able buat menyuarakannya. Bahwa mereka juga berhak untuk membuat pilihan. Ponyo mengajarkan itu semua dengan cara yang sangat magical, memukau, dan penuh dengan imajinasi!

My Favorite Scene:

Adegan Ponyo berlari mencari Sosuke bersama ikan-ikan itu adalah adegan yang kami putar-putar terus di rumah hahaha, animasinya keren banget, Ponyonya juga imut

 

 

 

 

 

5. ONLY YESTERDAY (1991)


Director: Isao Takahata
IMDB Ratings: 7.7/10
“Rainy days, cloudy days, sunny days… which do you like?”

Wanita 27 tahun memutuskan untuk pergi ke kampung kelahirannya, yang dia inginkan bukan semata suasana pedesaan; dia ingin bekerja di sawah, namun sebenarnya yang ia butuhkan adalah mencari tahu apa yang ia inginkan dari dirinya sendiri. Dia ingin merasa berguna. Dia ingin menambah sesuatu ke dalam hidupnya. Dan sepanjang perjalanannya naik kereta api ke desa, dia teringat tentang kejadian di masa kecil, dia bernostalgia ke saat-saat dia merasakan berbagai pengalaman untuk pertama kalinya.
Salah satu yang paling remarkable dari film ini adalah ke-innocent-annya. Akan ada banyak bagian ketika tokoh utama menelaah kembali saat-saat dia tumbuh dewasa, dan enggak pernah film membuatnya terasa awkward. Menonton film ini justru yang ada adalah perasaan hangat. Arahannya, vibenya, tone, dan animasi, semua terasa sangat pleasant di dada. Ada dua teknik animasi yang digunakan; gambar yang detil dan jelas untuk masa kini, dan grafik dengan frame yang blur dan kurang detil ketika kita melongok ke masa kecil tokoh. Dan ini actually jadi gimmick yang integral banget sebab memang begitulah pikiran kita ketika mengenang kembali masa lalu; kabur dan enggak detil.
Di jaman saat semua film merasa butuh untuk menjadi serius, dark, dan keren, coba deh tonton Only Yesterday. Karena film ini akan membawa kita dalam perjalanan flashback yang, at times memang skalanya terlalu kecil, tapi paling enggak sangat menyenangkan.

My Favorite Scene:

Lucu sekali ngeliat mereka pertama kali makan nenas ahahaha

 

 

 

 

 

4. SPIRITED AWAY (2001)


Director: Hayao Miyazaki
IMDB Ratings: 8.6/10
“Once you do something, you never forget. Even if you don’t remember.”

Naah, mungkin kalian pada heran kenapa masterwork, storytelling kelas dewa begini malah aku letakin di posisi ke empat. Well, ya, Spirited Away enggak perlu diperkenalkan lagi. Kerja Hayao Miyazaki dalam membangun dunia fantasi sangat luar biasa. Rumah pemandian beserta penghuninya yang ajaib-ajaib itu sangat vibrant dan well-realized. Konsep dunia baru dan tradisionalnya pun tersampaikan dengan mencengangkan. Hal paling asik dinikmati adalah saat tokoh kita Chihiro – yang di sini adalah cerminan dari remaja Jepang masakini – mesti belajar mengenai etika kerja dan superstition, dan kita turut belajar bersamanya.
Di saat dunia film ini terbangun dengan gempita, aku tidak merasakan ketertarikan yang sama kepada Chihiro. I mean, di antara sekian banyak tokoh cerita dari Ghibli, Chihiro ini yang kurang paling relatable bagiku. Spirited Away adalah film Ghibli yang paling sering aku tonton, karena ia punya banyak detil dan visual simbolism yang niscaya enggak bakal ketangkep semua dalam sekali panteng. Aku enggak bilang bosen, tapi setelah beberapa kali, menonton film ini sampai habis jadi tidak semenyenangkan awalnya. Mungkin karena pacing, setelah Chihiro keluar dari rumah pemandian, cerita agak tersendat sedikit. Dan aku gak pernah bener-bener suka elemen kembarnya.
Tapi tak pelak, ini adalah salah satu film animasi terpenting yang pernah ada. Spirited Away udah sukses menjelma menjadi semacam culture yang bikin nama Ghibli melambung lebih tinggi. Menonton ini di bioskop jadi satu pengalaman yang bikin aku berharap saat itu adalah kali pertama aku menyaksikannya.

My Favorite Scene:

Kita enggak bisa nyeritain Spirited Away tanpa nyebutin soal momen Chihiro mandiin Dewa Sungai

 

 

 

 

 

 

3. MY NEIGHBOR TOTORO (1988)


Director: Hayao Miyazaki
IMDB Ratings: 8.2/10
“Trees and people used to be good friends. I saw that tree and decided to buy the house. Hope Mom likes it too. Okay, let’s pay our respects then get home for lunch.”

To-to-ro, To-to-ro, to-to-ro~!
Film anak-anak mestinya begini nih. Meski ada monster, tapi enggak menyeramkan, enggak ada tokoh jahat dan tokoh baik. Meski sisi dramatis enggak pernah dipancing-pancing, film ini tetap tidak melupakan esensi dari kehidupan. Bahwa selalu ada kemungkinan sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi. Dan Totoro akan ngajarin kita bagaimana menghadapi itu semua.
Totoro mengisahkan problem kehidupan lewat simbolisme dan sangat tersurat. Saat anak-anak menunggu ayahnya yang tak kunjung pulang di derasnya hujan, sebenarnya itu adalah elemen ‘tragedi’ tapi arahan film ini tidak pernah fokus ke bikin sedih semata, karena yang kita ingat dari adegan tersebut adalah Totoro datang dan mereka basah bersama lantaran Totoro senang kejatuhan tetes air. Enggak salah memang kalo ini jadi film favorit keluarga, karena memang penulisannya tidak pernah memojokkan pihak tertentu. Di sini fantasi dan imajinasi anak-anak dihormati. Tokoh Ayah ditulis sangat dekat dengan anak-anaknya, dan saat dia mendengar cerita anaknya tentang Totoro, orangtua dalam film ini enggak bersikap seperti orang tua dalam cerita Goosebumps; langsung menepis dan enggak percayaan.
Jarang sekali ada film yang berhasil membangun cerita, tidak berdasarkan konflik dan ancaman, melainkan berdasarkan eksplorasi dan kejadian seperti yang dilakukan oleh Totoro. Elemen ibu yang sakit tidak pernah dijadikan sebagai semacam rintangan yang harus diluruskan. Sama seperti yang dikeluarkan oleh animasinya yang lincah, everything about this movie are treated as a fact of life. Itulah sebabnya kenapa film ini akan selalu terasa menyenangkan.

My Favorite Scene:

Sampai sekarangpun aku masih enggak bisa untuk enggak tersenyum melihat adegan Mei dan Saksuki numbuhin pohon ajaib bareng Totoro dan teman-temannya.

 

 

 

 

 

2. THE TALE OF THE PRINCESS KAGUYA (2013)


Director: Isao Takahata
IMDB Ratings: 8.1/10
“Teach me how to feel. If I hear that you pine for me, I will return to you.”

I love this film. Tampilannya sungguh unik dan orisinil. Artworknya tampak sangat bold dan penuh warna, dan sangat hidup tanpa memakai teknologi komputer sama sekali. Seperti di Only Yesterday, Takahata juga menggunakan visual ini sebagai gimmick yang sangat integral dalam penceritaan. Kita melihat grafik yang semakin detil seiring bertambahnya usia Putri Kaguya.
Ceritanya sendiri diangkat dari kisah rakyat lokal tentang petani yang menemukan seorang bayi mungil di dalam batang bambu. Dia juga menemukan emas bersamanya. Bersama sang istri, bay tersebut mereka rawat. Tentu saja bayi tersebut adalah bayi ajaib, ia tumbuh dengan cepat. Tak perlu waktu lama ia sudah jadi gadis jelita. Kemakmuran si petani juga tumbuh pesat, namun masa lalu Kaguya yang misterius pun kemudian datang menjemputnya.
Film ini punya pandangan yang dewasa terhadap kehidupan. Kita lihat Kaguya senang banget hidup di alam bebas, tetapi ketika dia harus menjadi Puteri dengan segala aturan, dia mulai enggak betah. Dan kita bisa melihat tema film ini adalah tentang cewek yang enggak benar-benar mengerti di mana tempatnya di dunia. Sangat realistis karena memang hidup bisa jadi sangat membingungkan bagi orang dewasa. Penuh oleh emosi, yang tak terasa dibuat-buat, dengan animasi yang sangat cantik. Ini adalah salah satu film terbaik yang dibuat oleh Studio Ghibli.

My Favorite Scene:

Aku benar-benar tercengang melihat Kaguya berlari ke luar rumah dengan penuh amarah dan emosi. Animasinya impresif sekali!!!

 

 

 
Oke, aku punya dua kandidat untuk film Ghibli paling favorit, dua film ini punya tema yang sama; tentang manusia dan alam dan betapa getolnya manusia untuk merusak alam. Tapi keduanya punya arahan dan pendekatan yang berbeda. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, they are not perfect movies, Spirited Away is the better one technically speaking. Tapi aku lebih suka ama kedua film ini dibanding yang lain. Jadi makanya aku bikin memutuskan di antara mereka untuk jadi lebih sulit karena yang enggak kepilih enggak akan masuk delapan besar, alih-alih jadi runner up. Dan setelah bersemedi tujuh hari tujuh malam sambil ngemil kembang tujuh rupa yang dipetik di tujuh sumur yang berbeda, aku menetapkan film ini menjadi posisi nomor satu:

1. POM POKO (1994)


Director: Isao Takahata
IMDB Ratings: 7.4/10
“They used their balls as weapons in a brave kamikaze attack.”

Penggalan kutipan dialog di atas mestinya udah bisa ngasih gambaran betapa absurdnya film yang satu ini. And yes, aku memilih film ini over Princess Mononoke (1997), yang mana adalah film fantasi paling epic yang bisa jadi adalah pelopor pemakaian violence dalam dunia film animasi modern. Jadi kenapa aku milih film tentang kelompok anjing-rakun (hewan keramat dalam mitos Jepang) yang berusaha mempelajari kembali seni berubah wujud demi mengusir manusia yang meratakan gunung buat dijadikan kompleks perumahan ini menjadi film Ghibli paling favorit?
Karena dia menelaah masalah konservasi lingkungan dan ekologi melalu pendekatan yang bijak sekaligus penuh humor.
Kita akan melihat dari sudut pandang para anjing-rakun, tapi tidak berarti mereka adalah pihak yang baik dan manusia adalah pihak yang jahat. Film ini dengan penuh kebijakan dan keberanian mengambil satu sisi tanpa sekalipun merasa perlu untuk berpihak. Inilah yang membuat film terasa lebih menarik, meskipun memang secara penceritaan, ia jauh di bawah Princess Mononoke yang secara emosi dan experience lebih kuat. Kelemahan Pom Poko adalah narasinya yang sering menjadi repetitif dan kurang efektif alias terlalu panjang.
Ada sense of tragedy tersamarkan di balik kekonyolan. Film ini bertindak sebagai pengingat bahwa manusia adalah makhluk sosial namun tidak ada yang lebih kita sukai daripada bertentangan dengan apapun. It’s thought provoking, kita bisa melihat film ini dalam suara filosofis. But yea, kita bisa menontonnya untuk murni hiburan. Dan film ini bekerja dengan sangat baik on both ways.

My Favorite Scene:

Film ini juga ada seremnya, liat deh taktik para anjing-rakun dengan menjadi parade hantu untuk menakuti-nakuti manusia, tapi enggak ada yang takut.. hihihi…

 

 
Jadi sekali lagi, ini bukan daftar dari yang baik ke yang terbaik. Ini adalah pure preference ku aja. Aku akan senang sekali kalo daftarku berbeda dengan daftar kalian, sehingga kita bisa saling diskusi mengenagi kesukaan masing-masing. Oiya, salah satu permasalahan dalam nonton anime Jepang ini adalah: mendingan nonton bahasa Jepang atau yang disulih ke bahasa Inggris sih? Kalo buatku, sama aja sih, bukan masalah yang gede. Toh bagi kita dua-duanya sama-sama bahasa asing. Lagian, film bukan hanya soal audio. Aku sendiri lebih suka nonton yang pake bahasa Inggris karena aku enggak perlu lagi membaca subtitlenya, sehingga bisa fokus ngeliat visual yang kadang bercerita dengan lebih lancar.
Sebagai penutup

Please, Studio Ghibli, keep making movies!

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

THE BOSS BABY Review

“And your best teams are your friends and your siblings”

 

 

Ada dua tipe anak di dunia. Anak yang pengen banget punya adik. Yang sampe berdoa memohon kepada Tuhan setiap malem. Aku dulu begitu. Aku sampai nyuruh mama keluar ngeliat bulan biar ntar adek yang lahir berupa cewek, tapi namanya tetep harus Nobita sebab nanti bisa punya teman Doraemon. Kalo dipikir-pikir sekarang, niat muliaku mau punya adek sepertinya memang adalah supaya bisa ketemu sama Doraemon dan dapet macem-macem alat ajaib hihihi. Karena actually sangatlah langka ada anak yang kepengen punya adik. Kebanyakan anak-anak akan bersikap seperti Tim jika ditanya “mau punya adik laki-laki atau perempuan?” Aku waktu kecil sendiri juga sebenarnya nyesel pas udah punya adik beneran; mau apa-apa jadi dilarang, enggak boleh berisik kalo lagi main, ada makanan jangan dimakan semua, dan harus ngalah, atau yang paling parah jadi sering disalah-salahin.

Tim sudah bahagia dengan keluarganya. Dia gembira bermain petualangan-petualangan seru bersama ayah dan ibu. Menurut Tim keluarga mereka nggak perlu deh, ditambah oleh kehadiran bayi laki-laki. Namun kemudian sebuah taksi berhenti di depan rumah mereka. Dari dalamnya, turunlah seorang bayi, dengan setelan jas dan koper mini. Seketika ketakutan Tim menjadi nyata, adik barunya sudah datang dan Ayah dan Ibu sepertinya enggak melihat apa yang dilihat oleh Tim! Adik bayi yang di mata Tim enggak ada lucu-lucunya itu membuat ayah dan ibu begitu sibuk sehingga tidak lagi mereka punya waktu untuk bermain dan mendongeng kepada Tim. Dan kemudian Tim mengetahui rahasia si bayi yang bisa bicara kayak orang dewasa. Basically, si bayi yang ‘dibuat’ di semacam pabrik ini bodinya doang yang bocah, mental dan otaknya udah gede. Dia punya misi khusus dan kalo Tim enggak mau kehilangan orangtuanya, Tim harus membantu si bayi dalam menjalankan rencananya menghentikan rencana jahat penggantian bayi-bayi di dunia dengan anak anjing yang superimut.

Di balik lelulon kekanakan, ada pesan positif yang bisa dibawa pulang oleh penonton anak-anak. Animasi komedi petualangan ini mengeksplorasi tentang ketakutan yang dialami oleh setiap anak kecil ketika mereka mengetahui bakal punya adik. Apakah nanti mama papa enggak bakal perhatian lagi. Apakah cina mereka akan pindah ke anak baru yang lebih lucu. Ini adalah perihal yang sangat dekat dan bisa diapresiasi oleh penonton cilik, sebuah pesan positif yang diceritakan dengan ringan yang bakal ngajarin mereka bagaimana menyikapi rasa cemburu terhadap adik.

 

 

Sebagai anak, kita takut posisi kita akan tergantikan. Oleh yang lebih lucu, yang lebih gagaga-gugugu. Film ini menceritakan elemen di mana setiap anak bakal memusuhi saudara yang lebih mudah dari mereka dengan cara yang sangat imajinatif. Menyentuh ketakutan dan kekhawatiran anak-anak soal adik baru, actually adalah aspek dari The Boss Baby yang paling bisa kita acungi jempol. Ceritanya punya lapisan dan perspektif. Menarik melihat gimana film ini menafsirkan, dari sudut pandang anak sulung, bayi seperti bos yang mengatur rumah; segala harus sesuai dengan keinginannya, orangtua harus siaga mengurus bayi setiap saat.  Alec Baldwin menyuarakan si bayi dewasa dengan timing dan intonasi yang sangat kocak. Dia mencuat kuat paling tinggi di antara penampilan yang lain. Aktor yang mengisi suara Tim Kecil pun, Miles Christopher Bakshi, bisa mengimbangi dengan menghidupkan tokoh yang terdengar really grounded. Bagian yang paling kusuka adalah di babak kedua saat Tim dan si Bos Bayi berusaha saling bekerja sama, hubungan mereka – tanpa sadar – mulai terjalin dengan manis. There’s a nice little bond yang terdevelop di antara mereka berdua, sebagai kakak adik, meskipun mereka enggak mau mengakui.

Visual yang jadi medium penceritaan turut digarap dengan sangat baik. Animasinya appealing banget buat anak-anak dan orang dewasa. Penuh warna, kreatif, dan tentu saja imut. Film ini menggunakan DUA GAYA ANIMASI untuk membedakan mana kejadian yang berlangsung di dunia ‘nyata’, dan mana yang merupakan produk dari imajinasi Tim. Dan di sinilah film menjadi sedikit membingungkan buatku.

Tim, Tim, tau gak kalo segitiga itu adalah geometri yang paling menakutkan haha

 

The Boss Baby diceritakan dari sudut pandang Tim. Kita mendengar narasi yang kita asumsikan datang dari Tim yang sudah dewasa menceritakan pengalaman masa kecilnya punya adik kepada seseorang. Kita melihat Tim kecil berusaha membiasakan diri dengan adiknya, kita kerap diajak masuk ke dunia imajinasi. Format animasi akan berubah menjadi lebih komikal ketika kita berada di dalam sekuens fantasi Tim. Dia akan jadi ninja, menyelam ke dalam lautan dalam, bertarung pedang sebagai seorang bajak laut. It’s nice, dan sama seperti Kubo and the Two Strings (2016) elemen ini akan bisa mengajak anak kecil jaman sekarang untuk kembali mengaktifkan kreatifitas imajinasi mereka. Namun semakin cerita berlanjut dan semakin banyak hal-hal ‘ajaib’ nan tak-masuk akal terjadi, garis antara fantasi dan kenyataan semakin mengabur bagi kita, para penonton.

Kita mengerti bahwa imajinasi yang liar tersebut adalah semacam mekanisme pertahanan buat Tim. Dia membayangkan petualangan di kapal bajak laut bukan sebatas untuk bersenang-senang saja, melainkan sebagai cara Tim memancing keberanian di dalam dirinya. Sehingga dia bisa melakukan sesuatu yang tadinya tidak dapat ia lakukan karena takut. Tapi kemudian ada banyak adegan yang jika kita pikirkan tidak masuk akal untuk terjadi. Overlapping antara imajinasi dan hal nyata yang dilakukan oleh Tim terlihat terlalu enggak mungkin. Seperti ketika dia melompati kereta api dengan sepeda, kita melihat Tim membayangkan gundukan pasir sebagai ramp yang tinggi dan dengan menaikinya dia mendapat momentum yang membuatnya terbang hingga ke seberang. Dan ini kita enggak kebayang gimana bisa kejadian di dunia nyata. Tim dan Bayi harusnya udah isdet.

Kita paham mana yang bener, mana yang khayal dari gaya animasinya, namun yang ‘bener’ di dalam film ini juga enggak benar-benar dapat memberikan jawaban yang logis. Misalnya ibu Tim yang hamil, kemudian si Bayi Bos datang naik taksi dan perut ibu udah kempes. Penjelasan yang masuk akal adalah kedatangan si bayi completely karangan Tim, tetapi animasinya yang pake ‘aturan’ dunia nyata mengisyaratkan bahwa bayi datang naik taksi itulah yang kejadian beneran. So honestly I’m confused oleh make-believe dunia film ini. Aneh, apa yang terjadi sebenarnya? Ini film buat anak-anak kan? Aku enggak begitu mengerti apa yang berusaha disampaikan oleh pembuat filmnya sehubungan dengan darimana bayi berasal dan segala macam soal anak anjing ajaib yang bakal diedarkan ke seluruh dunia pake roket. Di akhir film ada revealing yang membuat kita bilang, oh oke jadi begitu, masuk akal kalo semuanya cuma cerita, namun kemudian ada kejadian lain menyusul di penutup banget yang membuat segala hal menjadi kembali gak masuk di akal.

motivasi badguynya actually nyeremin, basically dia ingin tidak ada lagi bayi di dunia, yang berarti kepunahan manusia

 

Tapinya lagi, aku melihat film ini dari perspektif orang dewasa. Babak pertama film terasa menyebalkan oleh kelakuan si Bayi Bos yang rada berlebihan. Apalagi tingkah bayi-bayi lain yang jadi semacam anak buahnya. Humor disetel ke level dumb dalam usaha film ini menghantarkan cerita yang bernature psikologis anak menjadi bertone komedi. Ceritanya, kalo kita pikirkan masak-masak, memang tidak masuk akal. Tahun lalu ada film Storks yang juga menyentuh tema tentang bayi dengan ‘peraturan universe cerita’ yang lebih rapi dan bisa diterima. Sedangkan pada film ini, di the very end ada kejadian yang kinda ruins all of the make-believe. Sesungguhnya film ini enggak parah-parah amat. Dari kacamata anak kecil sih, ini adalah tontonan yang punya pesan bagus, menyenangkan, dan menghibur; Penuh oleh bayi ngegemesin yang melontarkan lelucon-lelucon. Sebagian besar memang lelucon kamar mandi, you know, dengan kentut dan segala macam. Ada beberapa jokes buat orang dewasa juga lantaran film ini berusaha untuk tampil oke bagi semua lapisan umur. Sayangnya, buat kita film cute ini cenderung terlalu silly kayak kenangan masa kecil yang dilebay-lebaykan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE BOSS BABY

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.