ROH Review

“The unseen enemy is always the most fearsome”
 

 
 
Hidup Mak di hutan, bersama dua orang anak; Along dan Angah, tak repot memikirkan banyak aturan (apalagi protokol kesehatan!). Hukum ‘rimba’ yang mereka amini cuma satu. Jangan percaya pada apapun yang ada di hutan, khususnya pada hal-hal yang tak bisa mereka lihat dan yang tak dapat mereka pegang. Bahkan ketika tau-tau ada rusa yang kena ke perangkap, Along si putri sulung memilih untuk mengabaikan jerit kesenangan Angah, si putra bungsu, yang mengira mereka dapat makanan untuk seminggu. Alih-alih, Along tetap mengumpulkan arang sesuai perintah Mak. Keluarga yang luar biasa ‘sederhana’ dan ekstra berhati-hati ini tampaknya adalah protagonis dalam Roh, gacoan Malaysia untuk Oscar tahun depan. Konflik bagi mereka datang berwujud seorang anak kecil yang tersesat, yang tau-tau memberi peringatan kepada mereka bahwa nyawa mereka semua akan berakhir pada bulan purnama berikutnya. Si anak misterius kemudian bunuh diri dengan mengiris lehernya sendiri! Tess!!!
Sutradara Emir Ezwan membuat cerita ini sebagai horor yang kuat secara atmosfer dan sarat akan lapisan. Film Roh tidak akan menakuti kita dengan membuat jantung copot. Melainkan Ezwan membuat Roh lebih seram daripada itu. Ia berusaha membuat kita turut merasakan keputusasaan yang dialami oleh Mak dan kedua anaknya. Seiring durasi yang tergolong singkat ini berjalan (hanya satu jam dua-puluh menitan) Ezwan meningkatkan bukan hanya stake, melainkan juga semakin banyaknya pertanyaan yang tak bisa Mak dan anak-anaknya ungkap. Karena Mak dan anak-anaknya berada di posisi bak pelanduk di tengah-tengah ‘gajah’ yang berkelahi. Mak sekeluarga berada di dalam situasi di mana mereka tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Di hutan sana ada seorang pria Pemburu yang berkeliaran. Ada pula seorang dukun perempuan (dipanggil Tok) yang senantiasa muncul memberikan peringatan-peringatan. Siapa mereka? Apa hubungan mereka dengan si anak misterius?

Siapa impostor di hutan ini??

 
Cerita dan penceritaan film Roh berangkat dari pengetahuan Islam bahwa syaiton eksis di dunia dengan tujuan untuk menyesatkan umat manusia. Jadi bukan tanpa alasan kalimat penggalan ayat tentang hal tersebut dipajang sebagai pembukaan. Karena memang itulah fondasi bangunan cerita dan pegangan yang jadi kunci untuk kita semua supaya dapat menikmati filmnya secara utuh. Kita akan benar-benar di tempatkan seolah di dalam sarung si Mak dan si kedua anak. Kita turut buta. Turut menerka-nerka. Ada bahaya apa di balik pepohonan lebat itu. Siapa yang mengintai dan berkata jujur, kita – seperti halnya Mak – tak pernah tahu, hingga sudah terlambat nantinya.
Semua elemen penceritaan dikerahkan oleh sang sutradara untuk menutupi kebenaran itu. Menciptakan sensasi kungkungan, menimbulkan intensitas horor dan rasa bahaya di balik setiap keputusan yang dipilih oleh para karakter. Informasi dan eksposisi dibeberkan dengan sedemikian rupa guna mempengaruhi penilaian kita terhadap tokoh. Editing pun bergerak mengikuti, dalam rangka memperkuat, katakanlah, ilusi yang hadir lewat dialog-dialog. Sehingga ketika kita mendengar dongeng tentang pemburu hantu yang berbahaya, seketika kita curiga kepada si Pria Pemburu yang ditampilkan bersisian dengan dialog dongeng tersebut. Namun bahkan dongeng itu sendiri tidak bisa dijadikan pegangan. Segala peringatan yang kita dengar melalui para karakter, bisa jadi hanya tahayul kosong, dan kebenaran justru pada sisi yang lain. Ditambah pula adegan-adegan sureal yang bisa jadi hanya mimpi atau berada dalam kepala tokoh tertentu. Begitulah sebagian besar durasi film ini terisi. Semuanya penuh deceit. Oleh muslihatFilm ini terasa seperti whodunit, yang esktra creepy karena seluruh tokohnya benar-benar tidak ada yang bisa dipegang. Pada akhirnya, kita justru akan merasa lebih tak-berdaya dan lebih sendirian ketimbang si Mak.
Ezwan tidak membuat cerita ini menjadi lebih mudah untuk dicerna. Tapi tentu, dia ingin kita tetap tinggal. Menyaksikan hingga akhir karena di ujung itulah penjelasan – meski tetap samar – dihadirkan. Usaha Ezwan di sinilah yang perlu kita apresiasi. Ruang gerak itu tidak tak-terbatas bagi Ezwan. Kita dapat melihat film ini tidak memiliki budget yang wah. Namun Ezwan berusaha menjadikan hal itu sebagai nilai positif bagi filmnya. Tidak banyak polesan cahaya diharapkan membuat film ini tampak natural. Artistik yang ala kadar diharapkan membuat kita semakin percaya bahwa protagonis benar-benar terpisah dari dunia luar. Dan bahkan properti-properti yang tampak janggal di hutan itu diharapkan semakin memperkuat kesan semua peristiwa ganjil yang mereka alami adalah ‘kerjaan’ seseorang – sesuatu kekuatan yang kontras dengan kodrat alam. Dua unsur yang ditonjolkan sebagai daya tarik visual adalah tanah dan api. Clearly, Ezwan meniatkan supaya penonton langsung menarik perhatian ke sana, karena sesuai dengan kepercayaan Islam bahwa manusia terbuat dari tanah sedangkan setan diciptakan dari api. Dua makhluk yang jadi sentral cerita. Dua dinamika inilah yang sedang diperlihatkan oleh Ezwan.

Kita sedang dalam peperangan. Melawan musuh yang tidak kelihatan. Kecemburuan. Ketakutan. Prasangka. Hal yang membuat kita terpecah belah, menimbulkan keraguan. Dan dari situlah bisikan-bisikan itu datang. For it is our strongest enemy. Maka kita harus menguatkan iman. Di dalam hati masing-masing kita sebenarnya tahu di dunia yang tak bisa dipercaya, cuma ada satu yang bisa. Roh benar-benar menunjukkan dinamika rimba kehidupan kita. Di tengah kebingungan, kita gampang tersesat oleh bisikan-bisikan.

 

Apa kita harus bertanya kepada Gisel yang bergoy.. eh maksudnya pada rumput yang bergoyang?

 
 
Pun, Roh bukan tontonan yang mudah untuk disaksikan. Untuk beberapa penonton, film ini bisa tergolong sadis. Menampilkan kekerasan yang bersarang pada anak-anak ataupun pada hewan. Memang, kamera selalu mengcut tepat di saat-saat paling sadis, namun tetap adegannya tidak meninggalkan ruang yang banyak untuk gambaran lain dalam kepala penonton. It is still clear dalam benak bahwa ada anak yang digorok dan semacamnya. Melihat tampilan horor berdarahnya ini membuat kita sedikit teringat dengan gaya-gaya horor dari tanah Asia lain seperti Jepang atau Thailand.
Representasi kelokalan memang penting. Terlebih untuk film yang diniatkan ke Oscar, karena memang Oscar sedari awal tahun sudah menyebarkan poin-poin yang mereka cari di dalam suatu film. Ezwan dalam karya debutnya ini sepertinya paham dan melihat hal sebagai gelas yang setengah penuh. Dalam artian dia melihat dengan optimis dan menjadikan poin tersebut sebagai ruang untuk menggeliatkan kreativitas. Film Roh tidak malu untuk menampilkan ajaran agama. Film Roh tidak latah untuk merasa diri progresif jika dirinya meng-subvert sesuatu. Dalam film ini diperlihatkan unsur Islam yang menjadi agama mayoritas di Malaysia, secara subtil film memberitahu bahwa jawaban bagi Mak sebenarnya sudah ada. Yaitu bersujud, meminta kepada-Nya. Namun manusia-manusia itu begitu tersesat sehingga cerita ini berubah menjadi cerita kegagalan. Untuk narasi kekiniannya, Ezwan menyelipkan lapisan narasi tambahan. Ada satu peraturan tak-tertulis lagi di bawah atap rumah Mak. Yakni jangan menyebutkan soal ayah. Mak seperti ke-trigger setiap kali anak-anaknya mempertanyakan soal ayah. Kita bisa menarik pemahaman perihal absennya sosok kepala keluarga di rumah mereka sebagai akar dari karakter Mak. Soal ayah/suami/pria ini lantas dijalin ke dalam konflik utama; ia menjadi ‘minyak’ yang menyebabkan si Mak lebih susah untuk percaya kepada perkataan si Pria Pemburu.
 
 
Malaysia tampaknya memberikan kontender yang cukup kuat di ajang Oscar. Horor filmnya ini tampil tidak ke arah genre-is, melainkan ke arah ‘drama berat’ yang lebih menghujam dan berbobot. Penceritaan yang dipilihnya untuk mengangkut gagasan sebenarnya bukan tanpa cela. Buatku sendiri, sebenarnya cenderung lemah dan masih bisa diperkuat lagi. Yang kerasa jelas tentu saja adalah perspektif atau tokoh utamanya siapa. Film ini tidak pernah benar-benar klir soal itu. Membuat kita bingung dan semakin susah mengikuti cerita. Kebanyakan bakal terjebak dalam tebak-menebak yang tak bakal pernah terpuaskan. Menonton ini dapat jadi melelahkan, dan akhirnya tidak lagi menarik bagi penonton. Tapinya lagi, memang justru hal tersebut yang diincar oleh film ini, yang merupakan sebuah dongeng mengerikan tentang muslihat dan tipu daya yang menyerang manusia.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for ROH.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian merasa film ini punya identitas yang kuat sebagai film dari Malaysia? Apakah kalian menemukan perbedaan representasi antara film ini dengan horor-horor lokal modern selain dari bahasa dan gaya arthousenya? Bagaimana seharusnya supaya film memiliki ruh yang kuat menurut kalian?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE NEW MUTANTS Review

“The difference between a hero and a villain is that they just make different choices.”
 

 
 
Dari The New Mutants kita belajar bahwa sesuatu yang diundur-undur itu mungkin sebaiknya memang tidak usah dikeluarkan, jika tidak dilakukan pembenahan. Karena diundur itu sendiri sejak awalnya adalah tanda kebelumsiapan. Film The New Mutants ini tadinya ingin ditayangkan pada April tahun 2018. Karena ada beberapa reshot yang entah kenapa tidak pernah kejadian, film ini terus mundur. Lima kali, sebelum akhirnya tayang begitu saja di tengah pandemi di tahun 2020 ini. To be honest, film ini bisa mundur lebih lama lagi, suka-suka studionya, and it wouldn’t make any difference jika memang perubahan/perbaikan tersebut tidak dilakukan. Keadaan yang ironisnya sesuai dengan gagasan yang diangkat di balik cerita film ini sendiri.

Yakni cerita soal setiap manusia punya kekuatan dan ketakutan, dan tergantung masing-masing untuk terus meringkuk atau bertindak – dan tindakan yang dipilih tersebut ultimately akan menentukan apakah kita superhero atau villain. Orang baik atau orang jahat.

 
Sutradara Josh Boone menempatkan lima anak muda dalam sebuah fasilitas tertutup sebagai panggung cerita. Tapi tentu saja, lima anak muda itu bukan geng Breakfast Club yang sedang kena detensi sekolah. Melainkan, kelimanya adalah remaja dengan kekuatan super yang dianggap membahayakan, sehingga mereka dikurung di gedung penelitian itu. Dikurung dalam rangka untuk mengenali kekuatan mereka dan mempelajari penggunaannya. Namun bagi mereka itu bukan hal mudah. Karena masing-masing punya trauma di masa lalu. Misalnya tokoh utama cerita ini, Danni Moonstar; gadis keturunan Indian ini dibawa ke facility itu setelah kota tempat tinggalnya hancur oleh ‘badai’ misterius – effectively menewaskan sang ayah. Danni, tidak seperti empat remaja lain, belum mengetahui apa pastinya ke-mutant-annya. Sehingga ekstra susah bagi dirinya untuk escape dari trauma masa lalu, sekaligus untuk ikut teman-temannya escape dari tempat itu. Karena kejadian-kejadian mengerikan mulai terjadi di sana tanpa diketahui penyebabnya.

Among Us versi mutant

 
Yang fresh dari film ini memang genrenya. Boone membuatnya sebagai horor superhero. Mutant-mutant remaja dalam cerita ini akan berhadapan dengan monster-monster mengerikan dari masa lalu mereka. Masa lalu yang enggak jauh-jauh amat, karena mereka masih muda. Masih belum bisa mengendalikan kekuatan mereka; dari situlah mimpi buruk mereka berasal. Ada yang enggak sengaja membakar pacarnya sendiri. Ada yang mengakibatkan kecelakaan sehingga menimbun ayahnya hidup-hidup. Yang paling menarik buatku adalah karakter Illyana alias Magik yang diperankan oleh Anya Taylor-Joy. Cewek rusia ini, bersama boneka naga, sedari belia sudah membunuh 18 orang pria dewasa. Terdengar bad-ass banget, tapi sesungguhnya juga memilukan mengingat yang ia alami saat masih kecil tersebut. Boone memvisualkan trauma-trauma ini ke dalam bentuk-bentuk menyeramkan, seperti hantu dan monster yang bukan saja mengerikan tapi juga bisa benar-benar melukai mereka. Jika elemen ini diekplorasi lebih giat, dengan pengembangkan karakter yang dilakukan maksimal, tentulah film ini bisa benar-benar nendang.
Karena situasi seperti mereka ini jarang kita dapatkan dalam cerita superhero. Sudah terlalu sering cerita superhero membahas belajar menggunakan kekuatan dalam nada yang ringan dan lucu, dan kemudian si superheronya langsung menghadapi ujian berupa menyelamatkan orang tersayang. Dengan pembelajaran mereka disebut pahlawan bukan dari kekuatan supernya. Cerita The New Mutants sebenarnya mengincar jalur yang berbeda. Sebelum menyelamatkan orang-orang, Danni dan teman-temannya diberikan satu film khusus untuk belajar menyelamatkan diri mereka sendiri. Dan actually diberikan kesempatan untuk memilih jalan hidup mereka, sebagai superhero atau villain. The only other times aku menemukan bahasan seperti ini adalah pada serial anime My Hero Academia dan One Punch Man yang memang membahas lebih dalam filosofi pengkotak-kotakan ‘superhero’ dan ‘villain’. Aku berharap dapat pembahasan lanjutan pada film ini.
Namun film ini malah membuatku frustasi karena mereka bersikap ngawang-ngawang terhadap hal tersebut. Permasalahan mengemban kekuatan di usia remaja dapat membawa banyak derita dan pengalaman mengerikan, dan setiap orang punya dua pilihan berbeda untuk menyingkapinya, hanya dicuatkan di akhir  Jika hal tersebut ditunda untuk menonjolkan hal lain semisal interaksi karakter-karakter yang unik ataupun bagaimana mereka menyelidiki gedung facility itu (aneh sekali hanya ada satu dokter yang menjaga mereka), atau apapun lah untuk memanfaatkan talenta-talenta muda itu secara maksimal, maka kita sejatinya tidak akan menemukan titik jemu saat menonton film ini. Sayangnya, justru hal itu juga tidak mampu dilakukan oleh film. Para mutant remaja tersebut hanya berinteraksi klise yang ala kadarnya; sok tough di depan dokter, lalu sok saling menjahili saat dokter gak ada. Karakter Illyana yang supposedly digambarkan layaknya mean girl bagi Danni, tidak pernah berkembang lebih ‘hidup’ daripada sekadar melontarkan hinaan rasis. Tokoh cowoknya either just want to hook up or playing hero. Semuanya terasa datar dan terasa kurang diperhatikan. Karena memang perhatian nomor satu film ini adalah memasukkan elemen ‘kekinian’ — memperlihatkan hubungan romansa antara Danni dengan mutant cewek bernama Rahne (Maisie Williams meranin karakter paling annoying dalam film ini) 
Nonton mutant-mutant ini bikin kita menguap sampai pipi kesemutan

 
Dahulu sewaktu belajar menulis, aku diberitahu bahwa sebenarnya perkara menulis adalah perkara menanyakan pertanyaan yang tepat. Menilik dari sana, aku pikir sepertinya itulah penyebab kenapa The New Mutants tidak bekerja maksimal memenuhi potensi yang dimiliki oleh ceritanya. Mau berapa lama pun diundur, mau berapa kali retake yang mereka lakukan (kalo jadi dilakukan) sepertinya tidak akan ngaruh banyak. Karena film ini melakukan kesalahan pada hal yang paling fundamental dalam penulisan bangunan ceritanya. Kesalahan itu berupa simply salah mengajukan pertanyaan.
Keseluruhan cerita film ini dibangun dari pertanyaan ‘apakah kekuatan mutant yang dimiliki oleh Danni’. Jawaban dari itu akan diungkap di babak akhir. Menjelma kepada kita sebagai adegan final fight dengan penyelesaian paling receh dalam universe superhero; tokoh utama gak ikut berantem (gak bisa karena praktisnya kekuatan si protagonislah yang jadi musuh) dan kemudian dia bangkit dan semuanya selesai begitu saja. Dan jujur saja, siapa sih dari kita yang saat nonton ini belum bisa mengerti kalo kekuatan Danni itu sebenarnya apa, saat sudah sampai di babak tiga? Aku yakin gak ada. Aku yakin semua itu udah begitu jelas arahnya kemana. ‘Kekuatan macam apa yang dimiliki oleh mutant A’ akan otomatis muncul di kepala kita saat menonton film superhero.  Film tidak perlu menyimpan jawaban pertanyaannya tersebut. Film tidak perlu mengstretchnya sepanjang tiga babak. Pertanyaan itu tidak bisa dijadikan sebagai pertanyaan utama untuk majunya cerita. It just doesn’t work. Pertanyaan yang seharusnya diangkat sebagai cerita oleh film ini adalah soal bagaimana si tokoh remaja ini hidup dengan berurusan dengan kekuatannya tersebut.
Makanya Illyana begitu menarik buat kita. Mencuri perhatian, kita bilang. Itu bukan sekadar karena Illyana literally karakter paling keren, atau karena Anya Taylor-Joy cantiknya memang unik. Kita lebih tertarik dan bersimpati kepadanya karakternya lebih cepat kita mengerti – kita tahu kekuatannya apa, traumanya dari mana, apa luka personalnya. Sehingga pembahasan tentang karakter itu pun lebih kompleks lagi, langsung ke emosional tentang bagaimana dia mengambil sikap dan bergerak seperti di garis batas antara superhero dengan villain. Kita bersamanya saat dia melawan ketakutannya dan ketika dia memilih untuk menjadi superhero. Coba kalo Danni ditulis dan dikembangkan seperti begini. Pertanyaan kekuatan dia tidak dijadikan pamungkas. Melainkan yang diangkat adalah persoalan bagaimana dia menyingkapi kekuatan dengan segala konsekuensinya, path mana yang akan dia pilih. Niscaya film akan jadi lebih menarik. Danni akan belajar mengenai dealing with her power selama dua babak, alih-alih dalam lima belas menit dia tak sadarkan diri saat teman-temannya bersusah payah.
 
 
Dari film ini mestinya film-film Indonesia yang tertunda jadwal tayangnya di bioskop mengambil pelajaran. Bahwa waktu tunda itu bisa dijadikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Film ini sendiri punya begitu banyak waktu, hype dan segala macam terhadapnya sudah terbendung tinggi. Hadir dengan ala kadar seperti begini – cerita horor superhero yang gak jor-joran, elemen remaja yang cuma fokus ke agenda saja, akting yang juga hanya sedikit lebih bagus daripada level televisi (kecuali Anya!), dan writing yang perlu banyak pembenahan – hanya akan membuat filmnya jadi semakin jatuh karena ekspektasi terhadapnya sudah terlampau tinggi. Jika Danni berkata sesungguhnya adalah pilihan kita untuk membesarkan yang mana, maka film ini telah memilih untuk tetap berusaha gede sebagai medioker.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for THE NEW MUTANTS

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Danni percaya dalam setiap manusia hidup dua ekor beruang, would you like to share kira-kira beruang mana yang paling subur hidup di dalam diri kalian?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

HIS HOUSE Review

“Home is not where you are from, it is where you belong”
 
 

 
 
Horor tak biasa itu ternyata datang dari sutradara baru asal Inggris, Remi Weekes. His House garapannya yang tayang di Netflix, jika dibaca sekilas sinopsisnya, akan terdengar seperti teror rumah hantu yang belakangan ini menjamur. Suami-istri pengungsi imigrasi dari Sudan ditempatkan ke sebuah rumah di kawasan kota tak bernama. Mereka harus menetap di rumah tersebut sebagai percobaan dari kebebasan bersyarat yang mereka dapatkan. Syarat yang kayak cukup gampang tapi prakteknya ternyata susah. Sebab pada malam hari, mereka diteror oleh sejumlah hantu-hantu yang muncul dari dalam dinding, dari sudut-sudut gelap di rumah. Hal uniknya adalah; hantu dan mayat-mayat orang tenggelam itu bukan berasal dari rumah baru itu. Melainkan justru berasal dari suami dan istri itu sendiri.
Karena sesungguhnya pusat horor cerita ini ada pada pasangan suami istri tersebut. Bol dan Rial. Kehidupan rumah tangga mereka dihantui oleh trauma atas kejadian yang mereka alami bersama di masa lalu. Penceritaan film didesain supaya kita mengikuti keadaan mereka yang sekarang, supaya kita bisa menumbuhkan empati karena turut merasakan susahnya settle in di tempat dan lingkungan yang baru. Khususnya lingkungan yang jelas-jelas bukan tempat untuk mereka. Cerita perlahan membuka, membawa kita menyelam lebih dalam lagi ke latar Bol dan Rial – menyaksikan trauma tersebut bertransformasi secara berbeda terhadap mereka berdua, sehingga rasa emosional itu semakin menyayat. Menonton His House ini ngerinya seperti kita menemukan ada luka menganga di tubuh kita, dan feelnya seperti ketika kita disuruh untuk mengiris ke dalam luka tersebut. Ini adalah horor yang akan membekas, berkat penulisan karakter yang hidup lewat trauma yang membayangi mereka dan berkat penceritaan yang mempersiapkan kejutan di setiap penghujung babaknya.

Mau pindah ke manapun juga, hantunya bakal ngikut

 
 
Film ini tidak berlama-lama membiarkan kita berada dalam kegelapan. Misteri keberadaan hantu-hantu itu dengan lugas dijawab; mereka bukan sekadar mimpi atau hanya ada di dalam kepala Bol ataupun Rial. Kedua karakter ini diperlihatkan melihat penampakan yang serupa. Hantu-hantu itu nyata, setidaknya bagi mereka. Film justru ingin memusatkan perhatian kita kepada perbedaan interaksi ataupun perbedaan reaksi Bol dan Rial terhadap hantu-hantu tersebut. Karena itulah gagasan yang diusung oleh film; memperlihatkan bagaimana pasangan suami istri yang share a trauma, namun dealing with it dengan cara yang berbeda, sehingga terciptalah gangguan domestik – diperseram karena berwujud hantu-hantu. Sesungguhnya ini adalah cerita soal Bol dan Rial, suami dan istri, harus kompak dan berjalan bersisian menghadapi apapun masalah pernikahan dan rumah tangga.
Bol dan Rial memang begitu terguncang karena peristiwa masa lalu itu. Peristiwa yang merenggut nyawa Nyagak, putri mereka. Kita melihat peristiwa mengenaskan tersebut di opening film, saat Bol memimpikannya. Dan kemudian berbohong ketika ia ditanya oleh Rial tentang mimpinya. Sedari menit awal, film sudah terarah untuk menunjukkan dua hal penting pada dua tokoh sentral ini; mereka kehilangan anak, dan punya cara berbeda menyingkapinya. Inciting incident yakni mereka diberi kesempatan untuk hidup di sebuah rumah, tak pelak menjadi ujian. Bisakah mereka hidup normal meski membawa trauma.
Bagi Bol, ini seperti kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Dia ingin rumah. Dia benar-benar ingin membuat rumah pemberian itu sebagai rumahnya yang tak boleh sampai gagal ia dapatkan, untuk memulai kehidupan yang baru. Sopi Dirisu memainkan tokoh ini dengan gestur optimis yang intens. Dia begitu berdeterminasi untuk menjadikan tempat itu rumah sehingga tidak melihat isu-isu beneran di sekitarnya. Tatkala belanja baju di pertokoan, Bol gak ngeh dirinya diikuti oleh satpam rasis yang curigaan. Dan ketika hantu anaknya, dan hantu-hantu lain itu muncul, ia melawan. Ada aksi ada reaksi, perlawanannya tersebut – keinginan Bol untuk move on dan melupakan anaknya – justru membuat dirinya semakin terganggu oleh trauma. Buktinya hanya dia yang dihantui mimpi-mimpi dan adegan sureal yang membawanya kembali ke laut tempat anaknya tenggelam. Sedangkan Rial seperti tidak mau melupakan trauma tersebut. Nyagak dan hantu-hantu itu hadir kepadanya dalam beragam bentuk komunikasi. Kita gak pernah ngeliat Rial diteror sebagaimana Bol digangguin hantu. Instead, kita melihat horor itu bermanifestasi ke dunia luar bagi Rial. Perjalanan mencari alamat saja sudah demikian sureal baginya. Rial lebih nyaman untuk kembali daripada bertempat tinggal di sana. Konflik dengan trauma tersebut memang lebih kompleks pada diri Rial, dan Wunmi Mosaku memainkannya dengan nyaris tanpa cela. Tidak seperti suaminya, Rial tidak melawan keberadaan hantu, ia justru lebih takut terhadap suaminya karena sang suami memang ingin membawa mereka tinggal di luar dari trauma mereka, so to speak. Rial tidak menolak keberadaan hantu-hantu. Ketika pengawas mereka datang menginspeksi rumah dan menemukan tembok dalam keadaan bolong-bolong dihajar oleh Bol dalam usahanya melawan hantu tadi malam, Rial menceritakan peristiwa dan gangguan hantu-hantu yang mereka alami apa adanya kepada si petugas. Tidak seperti Bol yang berdalih dia mengusir tikus besar yang jadi hama di rumah itu.
Memahami itu semua, maka kita akan dapat melihat bahwa ending film ini sungguh menyatakan sesuatu yang kuat sehubungan dengan pembelajaran yang udah dialami oleh baik Bol maupun Rial. Ending film ini bukan memperlihatkan mereka pasrah tinggal diikuti oleh hantu-hantu karena mereka sadar mereka bersalah. Melainkan memperlihatkan bahwa kini Bol dan Rial sudah satu paham, mereka sudah berpegangan tangan. Mereka sudah menemukan rumah – menemukan tempat mereka. Yakni di tengah-tengah duka dan trauma.

Satu-satunya cara mereka bisa menata hidup baru dengan bahagia adalah bukan dengan melupakan trauma, bukan pula berkabung di dalamnya, melainkan hidup bersama mereka. Bol dan Rail toh punya masing-masing untuk saling menguatkan. Ke mana pun mereka ditempatkan, asal bersama, itulah rumah mereka.

 

Things get real with Rial!

 
 
Cerita film ini sudah demikian powerful dan mudah untuk relate kepada kita; masalah kehilangan anak dan merasa bersalah karena gagal melindungi si anak jelas bukan perkara ‘sedih’ semata. Begitu pun dengan pengalaman susahnya menata hidup di tempat baru. Menemukan ‘rumah’ adalah masalah yang dialami oleh hampir semua orang. Terutama oleh imigran yang harus berjuang dengan apa adanya di tanah perantauan. Maka, at first, aku merasa sebuah pengungkapan yang menjadi twist di babak ketiga cerita ini tuh overkill banget. Aku mempertanyakan apakah perlu untuk membuat kita memandang tokoh cerita ini dalam cahaya yang berbeda dari sebelumnya, setelah semua pembelajaran dan empati yang ia peroleh. Tapi kemudian aku sadar sebenarnya yang diincar film ini bukan twistnya. Cerita perlu untuk membuat kita memandang si karakter seperti begitu karena merupakan bagian penting dari bangunan traumanya. Film sepertinya juga ingin menguatkan ‘konten lokal’. Ada dongeng dari kampung Sudan yang diceritakan oleh Rial mengenai Night Witch; sosok yang menghantui seorang pria yang merampok demi membangun  rumah sendiri. Dongeng tersebut paralel dengan keadaan Bol – dari masa lalu yang kupikir overkill tadi – dan jika dongeng itu memang dongeng-budaya beneran, maka itu hanya akan menambah kekuatan identitas film ini.
Visual horor film ini pun sangat aku apresiasi. Weekes menggunakan imaji-imaji sureal dengan cut mulus yang memindahkan Bol begitu saja dari ruang keluarga yang berantakan ke tengah laut. Penampakan hantu kayak zombie yang muncul saat lampu mati pun serem punya, dan tampak khas. Cuma jumpscare-nya saja yang not so much kuapreasiasi. Walaupun teknik jumpscarenya enggak murahan – enggak sekadar untuk memancing jantung kita copot – dan tidak dijadikan andalan, tapi tetap buatku film ini masih bisa bekerja maksimal tanpa harus ada elemen ngagetin. Seperti twist yang sanggup untuk mereka perhalus keberadaannya sehingga tidak menjadikan film ini mencuat sebagai film ‘oh ternyata’, seharusnya adegan menakuti dengan hantu bisa digarap dengan lebih elegan lagi.
 
 
 
Karakter Bol dalam film ini berulang kali meyakinkan orang – dan dirinya sendiri – bahwa ia dan istrinya bakal sukses hidup di kota itu. Despite sikap rasis lingkungan sosial di sekitarnya, dan gangguan setan di malam hari, Bol yakin mereka akan bertahan, karena – berulang kali ia berkata – bahwa mereka adalah “one of the good ones”. Dan meskipun boleh jadi hingga setelah cerita berakhir, Bol dan Rial masih harus membuktikan kalimat tersebut, film ini sendiri sudah bisa kita pastikan benar sebagai “one of the good ones” dari film-film horor yang muncul di tahun horor ini. Cerita dan karakternya punya layer yang semakin disingkap membuat cerita menjadi semakin membekas. Digarap dengan kompeten dan visi bercerita yang punya kekhasan. Isu yang dibahas sebenarnya akrab, menjadikan house sebuah home; isu yang biasanya ada di drama keluarga diucapkan sebagai suara horor oleh film ini. Menyinggung perihal perlakuan terhadap imigran dengan subtil di balik trauma keluarga. Ia juga mempersembahkan diri sebagai tayangan yang gak berat-berat amat, dengan turut catering to taktik horor mainstream sebagai penyeimbang cerita yang berbobot.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for HIS HOUSE

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Apa yang kalian pelajari dari lingkungan sekitar tempat tinggal Bol dan Rial? Menurut kalian, apa sih makna rumah?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

NOCTURNE Review

“No one remembers who came in second.”
 

 
 
Enggak ada yang bakal ingat sama pemenang kedua. Saat juara pertama dielukan, dikenang sebagai hero dan pemenang sejati, si rangking dua hanya akan dipandang sebagai lawan yang dikalahkan. Rintangan yang berhasil dilewati. Bagaimana pun juga yang ada di urutan kedua tetaplah akan berada di dalam bayang-bayang urutan kesatu. Berapa banyak yang bicarain Neil Amstrong dan berapa banyak yang ingat duluan sama Buzz Aldrin ketika membicarakan manusia yang menjejakkan kaki di bulan. Pokoknya jadi yang kedua itu gak enak deh. Plek. Bagi kalian yang merasa seperti demikian, yang setuju tidak ada yang peduli sama si nomor dua, yang mengkhawatirkan diri sendiri karena berada di posisi tersebut, maka horor karya Zu Quirke akan lebih beresonansi dan powerful. Karena film ini bercerita tentang si Nomor Dua yang sudah muak berada di bawah bayang-bayang keberhasilan, yang sudah eneg dibandingkan. Yang memutuskan untuk keluar mencuatkan diri karena dia merasa mampu dan bosan mengalah.
Juliet (menakjubkan range negatif dan melankolis yang mampu ditunjukkan oleh Sidney Sweeney) terlahir dua menit lebih lama dari saudara kembarnya, Vivian. Posisi yang kemudian dia sesali ini tampak sudah digariskan kepadanya sejak di dalam kandungan. Juliet selalu menjadi nomor dua terhadap apapun yang dilakukan Vivian (Madison Iseman dengan klop memainkan kontras bagi karakter Juliet). Kedua saudari ‘wombmate’ ini sama-sama kepincut piano saat masih balita. Keduanya terus berlatih sehingga menjadi jago. Namun hanya Vivian yang mendapat ‘hadiah’. Vivian dapat undangan masuk universitas musik ternama. Vivian dapat pacar. Vivian digembleng guru terbaik (dan termirip Chef Juna). Vivian dapat kepercayaan ditunjuk sebagai pianist utama dalam konser musik klasik yang udah jadi tradisi kelulusan di sekolah musik mereka. Sementara Juliet dapet apa? Nihil. Selain perasaan tertinggal, kurang percaya diri, dan iri terhadap Vivian. Juliet bahkan tidak punya teman karena sibuk menutup diri. Menempa diri supaya bisa keluar dari bayang Vivian, supaya bakatnya direcognize oleh orang. Belakangan, Juliet mendapatkan sesuatu yang bahkan tidak dipunya oleh Vivian. Sebuah buku memo musik berwarna hitam, dengan simbol matahari dan gambar-gambar seram di dalamnya. Buku tersebut memberikan ‘semangat’ baru bagi Juliet. Yang menjadi nekat untuk terang-terangan berkompetisi dengan Vivian, meskipun gambar-gambar seram di buku itu mulai terwujud satu per satu ke kehidupan Juliet dan sekitarnya.

Bukunya mirip Death Note, cuma ini notenya not balok.

 
 
Nocturne mengeksplorasi gagasan horornya tentang berada di posisi kedua tersebut ke dalam nada-nada suram. Membuat ceritanya terasa efektif sebagai horor yang manusiawi, meskipun ada unsur supernatural di dalam. Efektif, dan juga cerdas. Supernatural tersebut dimainkan sedemikian rupa sehingga membuat kita penasaran. Tidak pernah dijelaskan terlalu gamblang; film tidak menghamparkan semua jawaban. Aku senang sekali film ini berhasil mengelak dari trope ‘research misteri supernatural’ seperti yang biasa dilakukan oleh film-film horor. Kita tidak melihat ada karakter yang meriset lewat google ataupun paranormal sebagai device gampang ketika naskah butuh untuk memaparkan informasi atau ‘aturan dunia’. Karena memang film ini bijak sekali, dia tahu dia tidak perlu memaparkan berlebihan. Justru film menguatkan psikologi karakter, sehingga mental dan supernatural itu secara alami bakal beririsan. Eventually membuka ruang bagi kita para penonton untuk memikirkan misterinya.
Kompetisi dan kecemburuan antarsaudara digambarkan oleh film ini jauh dari gaya-gaya mainstream. Interaksi antara Juliet dan Vivien berkembang, mulai dari akrab saling membutuhkan hingga apart saat mereka mulai jujur terhadap ‘uneg’ masing-masing. Film tidak berlebihan menggambarkan konfrontasi mereka. Sudut pandang Juliet tetap nomor satu di sini (yea, meskipun tokohnya adalah si nomor dua – loser dari saudaranya). Bahasa visual film tergambar kuat. Sekali lihat saja kita bisa tahu bahwa saudari kembar ini begitu berbeda, yang satu tertutup, kurang gaul, sedangkan yang satunya lagi bagai matahari dalam lingkungan pergaulannya. Dan seketika itu juga kita ditarik ke pertanyaaan kenapa mereka begitu berbeda dan bagaimana masing-masing memaknai perbedaan mereka tersebut. Di sinilah elemen horor menjalankan fungsi. Sebagai kepingan jawaban dari pertanyaan tadi. Kepingan yang kita susun lewat adegan demi adegan surealis. Menyaksikan film ini persis seperti menonton seorang penari yang melenggak lenggok mistis, mengundang kita untuk menyelami makna tariannya.
Sebagai sebuah cerita horor dalam kehidupan pemusik, maka sudah barang tentu musik itu sendiri berperan besar di dalam penceritaan. Sebagai ‘teman’ dari visual ngeri, dengan cahaya-cahaya menyilaukan, menjembatani persepsi kita soal mana yang nyata mana yang bukan, dihadirkanlah musik yang benar-benar unik. Menjadi nyawa bagi film ini. Kepentingan musik latar itu semakin menjadi-jadi tatkala film menyelaraskannya dengan editing. Dengan sesekali membentrokkan musik dengan peristiwa yang sedang kita lihat. Ini merupakan teknik membangun ekspektasi. Ketika kita secara natural mengharapkan adegan tertentu bakal diisi oleh musik klasik seperti yang sebelumnya dilakukan oleh film, mendadak film tidak melakukannya. Melainkan dengan musik lain, yang lebih ngetekno. Menciptakan sensasi gak-cocok yang creepy, yang secara konteks cocok sekali dengan perasaan yang ingin dihantarkan oleh adegan tersebut. Dan meski bersandar pada kekuatan ‘magis’ musik, film ini tidak sekalipun menggunakan jumpscare. Padahal ada banyak adegan yang nature-nya adalah untuk bikin kaget. Seperti pundak yang dicolek dari belakang dan ternyata yang nyolek itu temannya, atau adegan horor beneran ketika wajah menyeramkan mendadak muncul di cermin. Film ini imannya kuat. Dia tidak menyerah pada napsu mainstream untuk bermain kaget-kagetan. Musiknya dibiarkan mengalun minimalis. Menjaga kita tetap dalam posisi siaga, tanpa ampun, karena tidak memberikan outlet untuk melepaskan himpunan kengerian tersebut lewat teriakan kaget yang singkat.

Posisi dua sebenarnya tidak buruk, melainkan sebuah posisi mulia. Sebuah tempat yang seringkali menjadi rumah untuk sebuah pengorbanan. Jika saja Juliet mengingat pepatah bahwa mengalah bukan berarti kalah, maka tentulah ia tidak akan jadi secemburu itu. Mengalah bukan berarti tidak mampu. Namun memang benar adanya bahwa tidak semua orang mampu untuk tetap positif berada di posisi itu.

 

Malah ada studi yang mengungkap, orang-orang justru lebih bahagia berada di posisi tiga dibanding posisi dua.

 
 
Pembahasan tentang ‘nomor-dua’ di film dilakukan dengan subtil dan juga tidak pernah berlebihan. Naskah juga memparalelkannya dengan dunia musika yang jadi panggung cerita. Yang nyatanya adalah sikap sang pembuat terhadap masalah dalam menjadi nomor dua tersebut. Sikap dan gagasan ini dapat kita simak saat adegan jamuan ulang tahun si Kembar. Pada adegan tersebut, para karakter berdiskusi soal musik klasik yang kini telah kalah populer dengan musik elektronik, atau rap, atau apapun yang diimplikasikan oleh salah satu karakter. Jawaban karakter satunya mengenai keadaan tersebut – musik klasik adalah nomor dua dalam hal ini – menjadi pernyataan yang layak kita semua renungkan. Karena bagaimanapun juga, purpose sesuatu di dunia ini bukanlah mutlak untuk menjadi yang ter-nomor satu, entah itu terbaik, terpopuler atau apalah. Seringnya berbagai hal menempati posisi tertentu sebagai suatu bagian dari desain yang lebih besar, dan enggak semua hal berhak untuk berada di posisi tersebut. Karena posisi tidak selamanya mencerminkan kita medioker atau bukan. Adegan obrolan ini punya bobot yang besar, diceritakan dengan subtil pula. Tak lain, ini membuktikan kehandalan sutradara dan penulis dalam bercerita.
Perjuangan Juliet akan begitu menghantui. Kelam dan lantang oleh ‘bisikan-bisikan’ yang bikin kita merinding juga menontonnya. Dengan pacing yang sebenarnya cukup terjaga, ada beberapa momen di film yang sekiranya bisa dibuat lebih dinamis lagi. Bayangkan Suspiria (1977) dan Black Swan (2010), film ini nuansa creepynya persis kayak gabungan dua film itu. Maka ia bisa menjadi sedikit terlalu banyak untuk penonton. Film mestinya bisa lebih go easy sedikit, kita perlu lebih banyak melihat interaksi Juliet dan Vivian, terutama saat mereka masih akrab – atau setidaknya Juliet masih mampu menahan kecemburuannya. Dan kupikir kita memang perlu melihat lebih banyak lagi mereka akrab karena percakapan terakhir mereka seharusnya merupakan kebalikan penuh dari dinamika mereka di awal cerita. Plot/perkembangan mereka harusnya ‘berakhir tengkar namun Juliet memahami kesalahannya’ dari yang tadinya ‘akrab tapi Juliet masih diliputi kecemburuan’. Pada bagian awal, film lebih dari cukup dalam menampilkan Juliet masih diliputi kecemburuan. Hanya soal ‘akrab’nya saja yang tak benar-benar kelihatan karena cerita dimulai saat Juliet sudah krisis diri seperti yang kita saksikan. Jadi, buatku plot cerita ini mestinya bisa lebih melingkar lagi.
 
 
 
Dari empat film yang dikeluarkan Blumhouse sebagai kwartet di Halloween tahun ini (tayang di Amazon) aku baru nonton dua film. Dan setelah kecewa berat sama The Lie (2020), semangatku untuk meneruskan nonton kwarter ini menggebu lagi begitu kisah Juliet dan Vivian ini beres aku saksikan. Film ini jauh lebih baik daripada The Lie. Horornya benar-benar terasa, menghantui psikologis kita yang merasa tidak dihargai ataupun merasa kecil karena harus mengalah di dalam bayang-bayang si nomor satu. Film ini bermain dengan pribadi manusia lewat audio dan visual yang sama-sama creepy. Lebih dari satu kali, aku senang film ini memilih opsi yang membuat dirinya tidak terjauh ke jurang horor-mainstream dengan jumpscare ataupun suara jeger-jeger ataupun twist murahan. Film ini punya irama horor sejati, yang bisa jadi sudah dinomorduakan oleh industri sinema horor, tapi film ini tetap mempertahankannya. And I like it!
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for NOCTURNE

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Setujukah kalian dengan studi yang mengungkap orang-orang cenderung lebih senang di peringkat ketika dibandingkan kedua. Mengapa kira-kira bisa seperti itu?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE LIE Review

“Little secrets grow up to be big lies”
 

 
 
Pasangan suami istri yang sudah akan bercerai itu, mendadak jadi kelihatan rukun kembali. Mereka tampak kompak lagi, kasak kusuk bersama di rumah. Sayangnya, keakraban mereka tersebut bukan mutlak karena mereka kembali menemukan rasa cinta yang telah hilang. Melainkan karena Jay dan Rebecca sedang berusaha untuk melindungi perbuatan kriminal yang dilakukan oleh Kayla, putri semata wayang mereka. Kayla mendorong jatuh sahabatnya dari jembatan. Ke sungai deras yang super dingin di musim salju. Jay dan Rebecca dengan panik langsung berkomplot mengarang cerita supaya anak mereka terlepas dari tuduhan. Namun kebohongan mereka semakin membesar tatkala ayah sang korban ngotot untuk menanyai Kayla. Membuat Jay dan Rebecca menggunakan koneksi dan pengaruh mereka untuk balas menuduh yang tak bersalah, selagi putri mereka masih tampak ketakutan dan shock tak-berkesudahan.
Aku semacam berharap ada film kayak gini sejak nonton serial Defending Jacob (2020) beberapa bulan yang lalu. Serial itu juga tentang orangtua yang mati-matian membuktikan anak mereka bukanlah pelaku yang menyebabkan nyawa anak lain menghilang dari muka bumi. Nonton finale serial tersebut, aku kecewa. Karena jawaban apakah si anak bersalah atau tidak itu tidak dijawab melainkan dibiarkan ambigu. Sehingga semua pesan ceritanya gantung. Serial tersebut jadi tidak punya power dalam menjawab konflik pantaskah orangtua mencurigai anak sendiri ataupun etiskah orangtua melindungi anaknya mati-matian meski si anak beneran bersalah. Nonton serial tersebut jadi terasa kayak makan ciki; kosong. The Lie yang diadaptasi (alias diremake) oleh sutradara-sekaligus-penulis Veena Sud dari film Jerman berjudul Wir Monster hadir dengan lebih ‘tegas’. Sedari awal cerita sudah memastikan bahwa orangtua Kayla yakin anak mereka memang bersalah. Tokoh utama cerita ini adalah Jay, ayah yang begitu sayang kepada putrinya, sehingga mau menempuh banyak – bahkan menggadai moral dan etika, untuk melindungi sang putri karena dia percaya anaknya adalah seorang yang baik. Bagaimana pun jua, kejadian itu bukan murni kriminal. Melainkan sebuah ‘kecelakaan’. Begitu pikir Jay. Dan begitu juga pikirku; aku mengira cerita serupa Defending Jacob bisa lebih baik jika ceritanya tegas, dan aku mengira The Lie sangat berani mengangkat perspektif dilema orangtua yang melanggar etika demi anak mereka seperti ini. Turns out, The Lie ternyata berbunyi persis seperti judulnya tersebut.

Spoiler: drama-drama dan kejadian di film ini semuanya dibangun berdasarkan kebohongan!

 
Yang mereka punya di sini adalah karakter-karakter yang menantang moralitas. Tokoh utama kita ditempatkan pada skenario yang tak-pelak merupakan mimpi buruk dari orangtua manapun di dunia. Ketika buah hati kita tampak melakukan kesalahan, apakah kita akan membiarkannya terceblos ke penjara, ataukah kita masih mencari pembenaran. Mencari setitik kecil apapun itu yang membuat anak bisa terbebas. Seberapa jauh orangtua melangkah demi melindungi buah hati mereka. The Lie paham betapa dalemnya konflik grounded yang mereka punya. Makanya tokoh orangtua dalam film ini didesain sudah akan bercerai, dan salah satunya adalah orang yang dekat dengan hukum. Naskah ingin sesegera dan sekeras mungkin membenturkan keadaan dengan moral tokohnya. Dan ini membuat ide cerita The Lie menjadi menarik. Aku certainly lebih suka set up cerita film ini dibandingkan dengan set up dan penokohan cerita pada serial Defending Jacob. Namun ultimately, semua berserah kepada penceritaan.
The Lie tak mampu untuk membuat kita peduli pada konflik moral karakter-karakternya. Pertanyaan moral yang mendera pasangan dalam cerita ini gagal mencokolkan kukunya kepada kita. Pilihan dan aksi yang mereka lakukan tak membuat kita mendukung, atau setidaknya mencoba memahami keputusan mereka lebih jauh daripada sekadar ‘ya tentu saja orangtua akan mati-matian melindungi dan membela anak mereka’. Malahan, seiring berjalannya cerita, kita justru semakin geram dengan aksi Jay dan Rebecca. Mereka semakin terlihat jahat dan gak lagi mikirin aturan. Film gagal mendaratkan masalah yang seharusnya relatable bagi setiap orangtua tersebut. Film malah membuatnya sebagai sesuatu yang harus dijauhi.
Secara gagasan, alur cerita film ini didesain untuk memuat pergerakan yang memang menunjukkan suatu deteriorasi. Gimana pihak yang tadinya tak bersalah, jadi ikut terseret, kemudian berbalik menjadi pihak yang paling salah di antara semua. Kita diniatkan untuk ikut sedih, kemudian meratapi – menyesali pilihan yang dilakukan oleh Jay dan Rebecca. Namun film tidak berhasil menemukan cara yang tepat untuk menguarkan perubahan tersebut dengan emosional dan manusiawi. Kita seperti dipaksa untuk peduli lewat tone cerita yang terus memburu kesedihan dan tragedi. Cara film membangun kehidupan keluarga Jay yang ceria dan memperlihatkan seperti apa aslinya Kayla hanyalah dengan montase singkat video-video masa kecil saat mereka masih hidup bersama (menarik si Joey King pakek footage asli dia masih kecil untuk digunakan oleh film sebagai video Kayla). Sesingkat itu belum cukup untuk membuat kita nge-grasp tokoh-tokoh cerita karena sesegera cerita dimulai, film menunjukkan keluarga ini sudah dalam keadaan pisah. Salju dan udara dingin turut membangun efek gloomy yang berdampak kepada kesan hubungan mereka yang juga jadi terlihat dingin. Jadi ketika Kayla telah berada dalam masalah nantinya, film haruslah membangun dua hal sebagai pondasi untuk membuat kita peduli dan melihat tindakan mereka bukanlah ujug-ujug tindakan yang selfish; pertama relasi masing-masing terhadap Kayla, dan kedua perspektif masing-masing terhadap keluarga mereka itu sendiri. Film tidak membangun poin yang kedua. Cerita hanya mentok menggali di tempat yang itu-itu saja, sehingga yang mencuat justru kemerosotan para karakter saja.

Semuanya bermula dari kebohongan kecil. Suatu rahasia yang ditutupi karena kita seringkali menemukan kesulitan dalam berkomunikasi hati ke hati. Dalam film ini ditunjukkan rahasia kecil yang dibiarkan menggelinding itu lama-lama kelamaan menghimpun menjadi bola kebohongan yang besar, layaknya bola salju yang digelindingkan kian membesar. Satu kebohongan akan membuahkan kebohongan lain. Dan akan terus begitu lagi dan lagi. Before we know it, kita akan terjebak kebohongan kita sudah menjadi dosa yang tak mungkin bisa ditebus lagi tanpa air mata. 

 
Dosa terbesar yang dilakukan film ini adalah berbohong demi ceritanya, atas nama twist. Biasanya, aku enggan blak-blakan soal twist. Tapi untuk film ini aku tidak bisa untuk tidak membicarakan twistnya karena masalah yang paling besar memang justru terletak pada twist ini. Aku akan berusaha untuk tidak terlalu gamblang menyebutkan, so here it is:
Pengalamanku bermain video game ngajarin kalo jika sebuah cerita menyebutkan ada tokoh yang mati, tetapi kita tidak diperlihatkan mayatnya, maka niscaya tokoh tersebut sebenarnya masih hidup. Aturan ini pun berlaku pada film, coba saja kalian ingat-ingat film yang ada tokoh mati kayak gini. Biasanya sih cerita superhero atau fantasy gitu; sering deh pasti ada tokoh orangtua yang disebutkan mati ternyata masih hidup. Nah, menonton The Lie tentu saja pertanyaan yang terbersit duluan di benak kita adalah apakah sahabat Kayla itu beneran sudah mati. Film benar-benar komit untuk menunjukkan bahwa dia beneran mati. Kayla beneran salah. Karena itulah bangunan utama cerita; tentang orangtua Kayla yang milih jadi amoral demi lindungin anaknya yang bersalah. Kayla diperlihatkan stress dan sangat shock dikejar-kejar oleh ayah si sahabat. Bahkan, film memasukkan satu shot yang memperlihatkan mayat si sahabat, tergeletak di dataran salju pinggir sungai. Film mati-matian menipu kita semua dengan ini. Film yang tidak mampu bercerita subtil memperlihatkan kemungkinan sahabat itu belum mati, mutusin untuk menipu kita mentah-mentah dengan twist dan sengaja memasukkan shot tadi. Saat revealing, saat twistnya terjadi, aku sungguh merasa dibegoin.

Ngamuk kena twist

 
 
Dan yang paling begonya adalah; twist itu sebenarnya tidak perlu untuk terjadi. Cerita masih berfungsi seperti yang direncanakan jika tidak pake twist, jika film lurus aja membikin sahabat Kayla benar-benar mati. Twist tersebut hanya menambah drama yang tidak perlu, menipu kita dalam prosesnya, dan membuat kejadian-kejadian film sebelumnya banyak yang enggak make sense secara feeling yang dirasakan oleh seorang karakternya. Film ini jadi gak genuine, walaupun memang tidak pernah benar-benar terasa ‘nyata’ sedari awal. Aksi karakternya tidak kita pedulikan, karena lebih seperti mengada-ada demi efek dramatis. Dan setelah twist tadi, film jadi semakin terasa palsunya.
 
 
 
Jadi jika boleh disimpulkan, film ini sama sekali tidak tahu cara menceritakan gagasannya dengan benar dan menarik. Film ini malah berpikir ceritanya akan menarik jika ada twist yang mengecoh. Tensi dari konfliknya ada, berasa. Cuma setelah pengungkapan twist tadi, karakter-karakter semakin susah untuk kita pedulikan. Film ini enggak mampu memancing reaksi yang genuine, maka mereka mengandalkan twist, kecohan, dan dramatisasi. Selain pemerintah, film ini juga termasuk salah satu kebohongan terbesar yang ada pada tahun 2020.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for THE LIE.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya satu kebohongan yang sampe sekarang masih dipertahankan, dan dijadikan realita baru?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

BOOKS OF BLOOD Review

“We wrote our names in blood”
 

 
 
Halloween tanpa antologi horor bagaikan sup tanpa garam, bola mata kodok, dan daging manusia hihihi.. Tiga cerita yang dapat kita baca dalam horor antologi Books of Blood; Tentang remaja perempuan dengan pendengaran super-sensitif yang kabur dari rumah – dikejar oleh perbuatannya di masa lalu, tentang seorang akademisi perempuan yang memperoleh kesuksesan finansial dan romansa setelah bertemu dengan cenayang yang menghubungkan dirinya dengan anaknya yang telah tiada, dan tentang dua orang kriminal yang memburu keberadaan buku paling mengerikan di dunia. Semuanya diikat oleh satu tema yang sama. Mengenai pilihan yang kita pilih seringkali bukanlah yang terbaik untuk kita, sehingga tanpa sadar kita sudah menulis cerita mengerikan. Sebuah horor dalam kehidupan sendiri.
Keberadaan Books of Blood ini sendiri menarik untuk beberapa alasan. Ia merupakan adaptasi dari seri buku horor karangan Clive Barker, salah seorang sosok yang bisa dibilang turut merevolusi genre horor. Di antara horornya yang berkesan adalah buatku – aku baru menontonnya saat halloween tahun lalu – adalah Hellraiser (1987); horor sadomasokis perihal ‘candu’ insan manusia. Film tersebut sangat mengena, menggunakan prostetik dan efek praktikal sehingga tampak ‘menjijikkan’. Kata sifat yang tepat sekali digunakan dalam perlambangan horor jika kita sedang membahas nafsu dan keinginan manusia. Untuk Books of Blood sendiri, sebenarnya materi aslinya berdasarkan pada enam volume buku. Aku belum membaca semua, tapi setidaknya aku sudah tahu apa yang bisa diharapkan. Cerita tentang manusia yang menemui horor saat berjuang mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan begitulah aku; aku melihat ada nama Britt Robertson main di film ini, maka aku bergegas menontonnya. Namun apa yang kusaksikan justru horor mengerikan yang sama sekali enggak ada hubungannya dengan cerita hantu yang seharusnya disajikan oleh film.

Ngeliat posternya, kirain film ini berjudul Face Book

 
When it comes to an anthology movies, maka cerita-ceritanya itu haruslah antara saling berkaitan penuh satu sama lain, atau berbeda-beda dengan satu detil kunci yang mengikat, entah itu seting tempat, tema, atau satu tokoh saja. Hanya supaya film itu tidak berubah menjadi gabungan film pendek saja. ‘Ikatan’nya ini gak harus dipaksakan. Melainkan mengalir. Para tokoh cerita tidak mesti harus bertemu pada satu titik di dalam cerita. Biarkan saja penonton yang menghubungkan cerita demi cerita. Books of Blood yang ditulis dan diarahkan oleh Brannon Braga justru tampak tidak sepenuhnya enjoy dalam bercerita. Film ini seperti terlampau bersusah payah untuk menghubungkan ketiga ceritanya. Braga seperti mengincar untuk membuat kita terkesima melihat gambaran-besar yang utuh setelah tiga kepingan cerita itu disatukan, sehingga ia lupa kepingan-kepingan kecil itu perlu untuk dikembangkan terlebih dahulu.

Kita menulis cerita kita dengan darah. Terdengar ekstrim, namun memang ada benarnya juga. Karena perjuangan hidup selalu tidak gampang. Akan ada yang dipertaruhkan. Akan ada kehilangan. Akan ada penyesalan. Maka dari itu sebabnya kita suka dengan cerita horor, karena nun jauh di dalam sana kita semua tahu bahwa cerita horor adalah cerita kita.

 
Kisah-kisah yang terangkum dalam film ini bukannya buruk. Walaupun dari tiga hanya satu yang benar-benar menyadur dari cerita Clive Barker, tetapi pada masing-masingnya masih dapat ditemui napas tema yang serupa dengan yang diusung oleh pengarang cerita. Horor yang kita temui tetap seputar manusia menempuh jalan mengerikan demi mencari apa yang mereka inginkan. Cerita yang paling Barker adalah cerita tentang wanita akademisi. Bagian cerita yang ini bertindak sebagai origin dari Buku Darah itu sendiri. Pada cerita ini pun elemen-elemen horor dewasa yang jadi ciri khas Barker (setidaknya dari yang kubandingkan dengan Hellraiser) masih tampak kuat. Relasi antarkarakter terbangun dengan paling lumayan. Wanita dan si cenayang yang ia pekerjakan jadi sentral, dan film mengeksplorasi hubungan mereka secukupnya. Yang sedikit mengecewakan dari cerita ini adalah visual hantu-hantunya. Books of Blood menggunakan efek komputer alih-alih praktikal, sehingga hantu-hantu di sini tampil kurang menakutkan. Ini disayangkan karena adegan puncak di cerita ini sebenarnya punya konteks yang sangat mengerikan. Kelahiran Buku Darah tersebut benar-benar akan jadi kejutan bagi yang belum familiar dengan cerita. Dan ini jadi salah satu kelebihan film; mereka berhasil membangun ekspektasi penonton terhadap ‘buku yang seperti apa’, untuk kemudian memberikan revealing yang bisa dibilang out-of-nowhere.
Cerita yang dijadikan tubuh utama oleh film ini, however, adalah cerita tentang tokohnya si Britt Robertson. Dan kubilang, ini boleh jadi keputusan yang tepat. Karena ceritanya yang paling down-to-earth, serta menarik sebab selain visual, cerita ini juga meletakkan horor pada suara. Jenna, nama tokohnya, paling gak tahan dengan suara orang ngunyah, maka kita pun turut diperdengarkan efek-efek suara mulai dari annoying hingga creepy. Di ceritalah aku mulai berpikir bahwa sebaiknya cerita-cerita dalam film ini dipisah aja. Bahwa mungkin mereka lebih baik jika berakhir sebagai film sendiri-sendiri. Cerita Jenna punya banyak hal menarik untuk dieksplorasi – horornya seperti hibrid antara ‘rumah hantu’ dan ‘psikopat gila’ dan ‘thriller psikologis yang hanya ada di kepala protagonis’ – tapi jadi tidak bisa berkembang optimal karena harus berbagi durasi, dan lore dunia, dengan dua cerita lain. Cerita Jenna adalah yang paling sedikit sangkut pautnya dengan Book of Blood, sehingga bikin kita heran, kenapa ada cerita ini di sini. Tidak bisakah pembuatnya memikirkan cerita relatable lain yang lebih dekat dengan Book of Blood itu sendiri. Karena penggaliannya gak bebas, akibatnya cerita ini jadi paling repetitif. Mendapat porsi paling besar namun penggalian horor yang itu-itu melulu. Kondisi Jenna tidak dimainkan banyak sebagai penggerak alur, mentok sebagai karakter trait saja. Hubungan antarkarakternya standar karena cerita bagian ini mementingkan twist. Setidaknya ada dua twist yang dihadirkan pada cerita ini. Tiga, jika dihitung dengan resolusi yang dipilih Jenna di akhir cerita.

Aku setuju suara makan yang ‘copak-copak’ adalah suara paling menjijikkan dunia-akhirat

 
Yang paling lemah adalah cerita tentang dua kriminal. Tidak mendapat porsi pembahasan yang memadai untuk bisa dikatakan sebuah cerita dalam film. Horornya pun terbilang sangat sederhana. Karakter-karakternya tidak digali, tidak menarik, dan menempatkan posisi cerita ini sebagai pembuka dan sebagai penghantar ke big-reveal jelas mematikan momentum yang dimiliki oleh film. Karena kisahnya membosankan. Kita langsung turn off dan gak peduli lagi. I mean, siapa coba yang penarasan apakah para kriminal yang bunuhin orang itu akan berhasil mendapatkan Buku. Film yang menantang akan membahas sedalam-dalamnya tokoh, dengan misi membuat kita peduli. Tidak ada usaha semacam itu di sini. Padahal aspek yang mau digali itu ada, misalnya salah satu tokoh yang ternyata menghabiskan masa kecilnya tinggal di kota tempat Buku Darah itu ada. Namun kita meninggalkan mereka dan kembali ke ‘petualangan’ mereka gitu aja. Makanya momen ketika si kriminal itu ‘dihipnotis’ oleh hantu ibunya di gereja terasa hampa-hampa aja. Karena backstory yang harusnya membuat dia manusiawi itu hanya sebatas informasi. At that point yang kita lihat hanya seorang penjahat yang lagi diganggu hantu. Kita tidak merasakan apa-apa terhadap mereka.
 
 
 
 
Dan barely merasakan sesuatu terhadap film ini. Sebagai sebuah kisah horor, tiga ceritanya punya sesuatu yang mengerikan. Juga punya selipan gagasan yang seragam. Namun sebagai satu film utuh, film ini gagal bekerja dengan benar. Antologi yang baik semestinya membuat kita merasakan cerita demi cerita. Menghubungkan seting dan faktor luarnya hanya bonus, sebagai tanda konsep atau gimmick yang berhasil. Selebihnya, antologi adalah soal denyut cerita dan kesinambungan tema. Sedangkan pada film ini; ia malah terlihat seperti satu film utuh yang carut marut. Sebagai cerita sendiri-sendiri tidak berhasil karena bangunan yang enggak seimbang. Sebagai satu cerita utuh juga gak nyampe karena terlalu berpindah-pindah, tanpa ada denyut yang asik. Obat nonton ini buatku, ya, Britt Robertson-nya aja. Far better than the whole movie.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for BOOKS OF BLOOD.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Bisakah kalian mengubah pengalaman hidup kalian menjadi sebuah cerita horor?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

12 HOUR SHIFT Review

“Doctors treat illnesses, nurses treat people”
 
 

 
 
Mendengar cerita dari teman-teman yang kuliah di Kedokteran, jaga malam di klinik atau rumah sakit seringkali menjadi pengalaman yang rusuh dan seru. Mulai dari cerita horornya sampai ke cerita kedatangan pasien yang gak abis-abis. Menonton horor komedi 12 Hour Shift seperti benar-benar menghidupi pengalaman tersebut. Cerita yang diset ‘Pada suatu malam di Rumah Sakit di Arkansas 90an’ penuh oleh kejadian-kejadian chaotic seputar aktivitas jaga. Yang oleh sutradara Bea Grant – langganan berperan di film horor membuat Grant jadi punya perspektif dan visi tersendiri untuk genre ini – diperkuat volume kerusuhannya. Karena di sini Grant benar-benar menjungkirbalikkan image rumah sakit dan perawat itu sendiri. Membenturkannya dengan realita kehidupan yang keras untuk seorang wanita yang mengais kehidupan dari lingkungan berlatar malam.
Tokoh utama cerita ini bukan perawat putih baik hati, cakep dengan senyum pepsoden. Mandy (perawakan dan permainan gestur Angela Bettis pas sekali menangkap kehidupan keras yang membesarkan tokohnya) tampak ‘dekil’ dan gak-lebih sehat daripada pasien-pasien yang harus ia jaga. Kita diperkenalkan kepadanya saat tokoh ini sedang merokok. Dan later, dia mencuri pil obat. Lantas menghancurkan dan menghirupnya. Malam itu, Mandy bekerja dobel shift. Jelas dia butuh duit. Dan bahkan dobel shift itu belum cukup baginya. Karena Mandy punya ‘kerjaan’ lain. Sebagai perawat, Mandy memang cukup telaten dan bertanggungjawab terhadap pasien-pasiennya. Namun dia juga gak segan-segan menuangkan pemutih pakaian ke minuman pasien yang penyakitnya sudah parah. Mandy mempertimbangkan ini baik-baik. Ia memilih pasien mana yang akan diambil organnya. Untuk ia jual. Kekacauan itu datang dari sini. Saat sepupu Mandy yang bertugas menjadi kurir – yang mengantarkan ginjal dari Mandy ke underground buyer – malah menghilangkan ginjal tersebut. Dengan ancaman ginjal miliknya sendiri yang bakal jadi pengganti, sepupu Mandy kini menyusup ke rumah sakit sebagai perawat. Mencari ginjal baru, walaupun ginjal itu masih di dalam tubuh pasien yang sehat. Dan Mandy-lah yang kalang kabut berusaha membereskan keadaan sebab semakin lama sepupu semakin menggila sehingga polisi dan mafia underground tersebut mulai langsung terlibat di rumah sakit!

Dan tiba-tiba, Mick Foley! *cue Mankind music*

 
 
Kerusuhan yang terjadi dari perburuan ginjal yang semakin lama semakin terang-terangan itu diceritakan dalam balutan komedi. Film ini akan membuat adegan suster palsu yang ngaku jadi temen gereja seorang pasien dementia sebelum akhirnya mencoba untuk membunuh si pasien sebagai sesuatu yang lucu. 12 Hour Shift bermain di ranah dark-comedy. Tokoh-tokoh protagonisnya melakukan hal-hal semengerikan kerjaan antagonis, jadi film ini juga adalah cerita anti-hero yang sangat twisted. Dugaanku, enggak semua orang dapat dengan mudah mengapresiasi komedi yang dilakukan oleh film ini.
Untuk memastikan penonton peduli sama karakter-karakter protagonis tersebut, film ini cukup bijak untuk tidak menyandarkan pundak seutuhnya kepada komedi. Memang, film ini hidup oleh karakter yang ‘rusuh’ dan berantakan. Nyawa film ini terletak pada kejadian demi kejadian yang terus naik tensinya seiring kegilaan karakter yang semakin nekat. Namun film ini juga tidak melupakan esensi di balik ceritanya.  Ini bukan film yang dibuat sekedar untuk seru-seruan, kejar-kejaran, dan bunuh-bunuhan. Ada sesuatu yang layak untuk diperbincangkan merayap dalam konteks ceritanya itu sendiri. Karena 12 Hour Shift sebenarnya bersuara tentang moralitas dan pekerjaan. Tokoh kita adalah suster atau perawat yang diperlihatkan cukup peduli terhadap pasien, tapi tidak tahu lebih baik dalam urusan ‘merawat’ dirinya sendiri. Sebagai perawat ia juga dihadapkan kepada kewajiban untuk mengobati pasien-pasien yang seperti dirinya pribadi; junkie yang gak peduli sama tubuh, dan di kesempatan lain Mandy juga terlihat seperti ‘membantu’ terminal patient dengan ‘mempercepat’ kematian mereka – entah itu mereka mau atau tida.
Tindakan Mandy di film ini membuat kita mempertanyakan seperti apa tepatnya peran seseorang terhadap kehidupan orang lain. Pantaskah kita membantu orang lain padahal diri kita justru memerlukan bantuan yang lebih urgen. Bagaimana dengan kehendak orang; etiskah tindakan Mandy yang menyelamatkan dirinya sendiri dengan ‘menyelamatkan’ pasien yang udah parah, meskipun si pasien sudah barang tentu keberatan kalo Mandy minta ijin dulu sebelum mengakhiri derita penyakitnya? Dan bagaimana ketika Mandy ingin mengambil ginjal itu dari seorang kriminal? Rekannya mengangkat bahu dan berkata “May be he deserves it”. Rumah sakit dalam 12 Hour Shift bisa jadi dirancang sebagai paralel dari dunia nyata. Tempat orang-orang berusaha membantu orang lain, tapi sistem mengharuskan membantu diri sendiri dahulu, sedangkan sistem itu sendiri tidak begitu jelas perihal moralitasnya. Ending film ini lantas menunjukkan shift panjang itu praktisnya sama saja tidak berakhir. Tidak putus. Hanya sejenak waktu untuk Mandy bernapas lega, sebelum shift berikutnya tiba. Karena begitulah tuntutan hidupnya. Uang yang ia cari tidak pernah cukup, masalah yang datang kepadanya tidak pernah beres selama ia terus bekerja seperti demikian, dan Mandy sadar itulah dunianya.

Perbedaan antara dokter dan suster/perawat sebenarnya jauh lebih esensial daripada sekadar jumlah gaji mereka. Dokter mengobati penyakit. Suster mengobati orang sakit. Pekerjaan Mandy adalah merawat orang-orang tersebut. Namun merawat yang seperti apa? Bahkan para mafia pun menggunakan istilah ‘taking care of someone’ sebagai kode untuk membunuh mereka. Yang dikerjakan Mandy dalam film ini merefleksikan pilihan moral yang mungkin juga dihadapi banyak dari kita. Dihadapi ketika kata ‘membantu’ saja tidak cukup, dan perlu untuk dipertimbangkan segala sebab akibat yang menyertainya.

 

Kalo milih suster ‘edan’, aku masih lebih prefer Ratched sih

 
 
Dari sinopsisnya, kalian mungkin sudah menebak masalah yang hadir pada penceritaan film ini. Mandy di rumah sakit membereskan masalah yang dibawa oleh sepupunya yang menghilangkan ginjal untuk dikirim ke kurir. Semua situasi itu dikenai kepada Mandy. Tokoh utama kita bukan pencetus langsung dari aksi dan masalah yang ada. Melainkan dia hanya jadi ‘pemberes’. Sepupunya lah yang menarik trigger majunya kejadian demi kejadian. Nyawa sepupunya yang pertama kali berada di dalam bahaya, yang dipertaruhkan. Mandy hanya bereaksi terhadap aksi yang digerakkan oleh sang sepupu. Ini berarti Mandy adalah tokoh utama yang pasif. Jadinya kita lebih seru menonton aksi sepupunya ketimbang Mandy. Karena film juga tidak membiarkan momen-momen dramatis seputar masalah moral dan pilihan Mandy muncul lama-lama di layar. Cerita tidak membawa kita menyelami masalah itu. Melainkan tetap berfokus kepada kejadian-kejadian rusuh yang digebah oleh aksi sepuou Mandy.
Interaksi yang melibatkan Mandy seharusnya dibuat lebih engaging lagi. Candaan mestinya bisa ditulis dengan lebih gamblang dan tidak bernuansa inside joke antara Mandy dengan karakter lain di rumah sakit. Terutama, tempatkan Mandy di posisi yang riskan dan cahaya yang lebih tegas lagi, seperti cerita menempatkan sepupunya. Kita tahu sepupu cewek ini edan, bego, dan nekad. Film menggambarkan Mandy dengan sedikit terlalu berhati-hati. Usaha film membuat tokoh ini relate ke penonton justru berbalik membuat posisi tokohnya semakin gak-tegas. Film tetap seperti ragu menunjukkan bahwa Mandy lebih dekat sebagai seorang anti-hero ketimbang everyday-hero itu sendiri
 
 
 
 
Menarik berkat kejadian-kejadian rusuh yang digambarkan semakin menggila. Film ini didesain untuk membuat kita tergelak melihat kekacauan satu malam akibat karakter-karakter bercela. Hakikatnya, ini adalah dark-comedy yang menarik untuk disimak, berkat suara yang digaungkan di balik ceritanya. Namun secara bangunan cerita, film ini butuh banyak perbaikan. Terutama dalam membentuk karakter utamanya yang masih tampil pasif dan dikenai oleh kejadian dari aksi karakter yang lain. Film ini butuh untuk lebih memperdalam eksplorasi tokoh utamanya sebagai penyeimbang dari kejadian sensasional yang tak-pelak menenggelamkan bukan hanya si tokoh utama melainkan gaung gagasan film ini sendiri.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for 12 HOUR SHIFT.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Pantaskah kita membantu diri sendiri dengan dalih membantu orang lain? Setujukah kalian dengan pernyataan kita butuh persetujuan orang untuk dibantu sebelum membantu mereka?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

HUBIE HALLOWEEN Review

“Putting people down does not make you a powerful and strong person”
 

 
 
Gaung Uncut Gems (2020) yang menghadirkan penampilan paling manusiawi dari Adam Sandler belum lagi hilang – well, setidaknya di blog ini, karena masih masuk pada Rapor Film Cawu I – tapi aktor komedi itu tampaknya sudah rindu konyol-konyolan yang sudah menjadi cap dagangnya di dunia perfilman. Either that, atau Sandler sedang mewujudkan ikrarnya. Ingat saat Sandler berkelakar jika perannya di Uncut Gems gak dapet Oscar maka dia berjanji akan menyiksa kita semua dengan membuat ‘komedi terburuk yang pernah diciptakan Netflix’? Nah mari kita cari tahu apakah Hubie Halloween ini benar merupakan balas dendam yang Sandler janjikan tersebut.
Di sini Sandler mengajak rekan-rekannya yang biasa untuk membuat horor komedi bertema Halloween. Dia mendaulat dirinya sendiri sebagai Hubie, seorang pria yang bermental kalah jauh dari lama dirinya hidup di muka bumi. Tepatnya di kota Salem, kota yang terkenal dengan urban legend penyihir dan mistis. Tinggal bersama ibunya, Hubie sebenarnya punya misi yang mulia. Setiap tahun dia mendedikasikan diri untuk menjadi penjaga-halloween. Menegakkan ketertiban dan melaporkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi pada malam halloween ke kepolisian setempat. Masalahnya adalah, nyaris seluruh warga kota itu menyepelekan Hubie. Mereka tidak melewatkan kesempatan untuk menakut-nakuti Hubie. Melempari Hubie dengan beragam benda, mulai dari tisu toilet hingga kapak! ketika pria malang itu lewat dengan sepeda dan termos multifungsinya. Hubie adalah laughing stock, outcast, bahan bully penduduk kota. Padahal malam halloween kali ini jadi malam penting bagi Hubie. Karena bukan saja dia disuruh ibunya untuk mulai belajar berani membela diri (Hubie juga mencerna ini sebagai nasihat untuk berani bilang suka sama wanita yang sudah ia taksir sejak SD), tapi juga karena Salem beneran dalam bahaya. Jika film ini adalah game Among Us, maka Salem malam ini kedatangan setidaknya tiga impostor; seorang napi asylum yang kabur, seora–ehm seekor manusia serigala yang lepas, dan satu penculik bertopeng misterius yang berkeliaran menangkapi warga satu demi satu.

Tapi jika Hubie main Among Us, niscaya dia yang jadi crewmate sendirian dan dibully oleh banyak impostor lol

 
 
Sekali lihat saja kita sudah tahu bahwa ini bakal jadi cerita klasik ala komedi Adam Sandler. Cerita tentang seorang ‘idiot’ yang pada akhirnya akan jadi pahlawan, dielu-elukan semua orang, dan tentu saja mendapatkan cewek. Formula cerita seperti demikian sebenarnya tidak pernah sebuah masalah yang besar. Maksudnya; sah dan boleh-boleh saja. Apalagi cerita underdog seperti demikian memang lebih mudah untuk dinikmati, dan bahkan direlasikan. Masalah justru terletak pada bagaimana menceritakan formula tersebut. Kita perlu plot, karakter, dan juga candaan yang diceritakan dengan fresh. Hubie Halloween berdurasi sembilan-puluh menit. Dan bukan saja berceritanya penuh dengan trope-trope ‘sinematik Sandler’, candaan dan punchline yang menyertai pun seringkali berulang-ulang.
Film ini kalo jujur maka judulnya menjadi berbunyi ‘Seribu Ekspresi Ketakutan Adam Sandler sebagai Pria Kekanakan’. Karena memang itulah senjata komedi yang jadi ujung tombak film ini. Hubie dikagetin oleh topeng domba di etalase tokonya. Hubie terkejut oleh mobil yang disetir seseorang tanpa kepala. Hubie menjerit melihat dekorasi halloween yang ia sangka hantu beneran. Satu-satunya build up yang dipunya oleh film ini – dalam lingkup komedi – adalah build up untuk merekam ekspresi kaget Adam Sandler di depan kamera. Selebihnya, komedi dalam film ini dihadirkan lewat kekonyolan kejadian yang terlahir dari karakter-karakter yang ditulis secara absurd pula. Kekonyolan tersebut terjadi begitu saja. Tidak ada ritme, set up, atau sekadar sedikit lebih banyak thought di balik setiap punchlinenya. Soal delivery, semua pemain sebagian besar adalah aktor komedian yang sudah sering kerja bareng. Sehingga mereka benar-benar tampak fun dan mampu memancing gelak tawa hanya dengan ‘menjadi mereka seperti biasa’. Seberhasil-berhasilnya komedi Hubie Halloween adalah karena pengetahuan atau kefamiliaran kita kepada skit-skit dan gaya para pemeran, bukan karena penulisan komedi. Ketika kita melihat Steve Buscemi menjadi possible-werewolf, kita tertarik karena ini seperti perannya di animasi komedi mereka. Komedi dalam film ini mengandalkan ‘outside knowledge’ seperti demikian.
Ini disayangkan karena cerita Hubie ini punya potensi. Untuk beberapa menit pertama aku punya ketertarikan besar untuk mengikuti cerita meski sudah banyak lelucon lebay yang dihadirkan. Satu yang buatku genuine lucu dan dialognya bener ada set up komedi adalah percakapan antara Hubie dengan ibu soal ayah. Namun kemudian seiring bergulirnya cerita, tokoh-tokoh pendukung yang diperankan oleh pemeran yang udah gak asing hadir di film Adam Sandler bermunculan satu per satu tanpa kematangan penulisan karakternya, semakin jelas bahwa film tidak mau repot menulis untuk komedinya. Setting cerita juga sebenarnya sudah bagus. Merekam kejadian horor dalam rentang waktu tertentu – seluruh kejadian film ini berlangsung satu hari, dan dengan fokus di malam halloween – membuat cerita nyaris otomatis terkesan urgen. Ide ceritanya yang membaurkan tiga ‘impostor’ juga menarik. Karena memberikan misteri beneran untuk dipecahkan oleh Hubie. Si tokoh utama ini pun ditulis punya obstacle yang bisa kita pedulikan. Berkaitan dengan pesan bullying yang dilantunkan oleh cerita.

Setiap orang punya kelemahan, punya kecemasan, punya sesuatu yang ditakuti. Dan terkadang ada beberapa orang yang merasa bahwa kelemahan tersebut membuat mereka jadi punya kebutuhan untuk membully orang lain yang lebih lemah. Supaya mereka bisa merasa lebih baik terhadap diri mereka sendiri.

 
Di-bully seumur hidupnya, tidak menjadikan Hubie tumbuh menjadi pria pendendam. Dan ini disalahartikan orang; mereka menganggap Hubie penakut. Well, Hubie yang kagetan mungkin memang penakut sama setan, tapi dia tidak pernah penakut seperti yang disangka oleh penduduk kota. Hubie tidak melawan atau membalas perlakuan bukan karena dia takut. Melainkan karena dialah the better man di kota itu. Dia selalu mementingkan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Hubie punya banyak kelemahan, tapi dia tidak sekalipun berniat untuk menutupi kelemahannya dengan menimpakan kepada orang lain – dengan membuat orang tampak lebih lemah daripada dirinya. Sikap inilah yang membedakan Hubie dengan warga lain. Film ini mengenakan pesan tersebut seperti Hubie mengenakan selempang halloween-protectornya;  mencolok dan too-obvious. Tidak disematkan dengan subtil. Pesan-pesan itu dicuapkan langsung lewat dialog. Diejakan seolah kita enggak kalah terbelakangnya dengan anak-anak kecil yang membully Hubie.

Ada yang jual gak sih termos kayak punya Hubie?

 
 
Penanganannya terhadap gagasan baik tersebut membuat film jadi tampak semakin malas dan tampil secukupnya aja. Untuk memenuhi keinginan bermain-main saja. Secara plot dan perkembangan karakter, gagasan yang dihadirkan gitu aja itu membuat Hubie menjadi tokoh utama yang gak punya perkembangan. Pembelajaran yang ia lakukan hanya memberanikan diri untuk ngobrol hati ke hati kepada cengcemannya. Instead, justru tokoh pendukunglah yang dibebankan untuk berubah. Penduduk Salem lah yang harus belajar untuk menerima dan menjadikan Hubie sebagai teladan. Tokoh utama kita imperfect, tapi dia tidak salah di sini.  Hal ini berpengaruh kepada penulisan aneh yang dilakukan oleh film. Tokoh-tokoh pendukung yang banyak itu diberikan penulisan seadanya karena mereka bakal mengungkap ‘siapa’ mereka di akhir. Jadi dengan kontruksi bercerita seperti begini; membuat tokoh utamanya tidak dikenai perkembangan, melainkan tokoh-tokoh pendukungnya yang mendapat pembelajaran, kita harus ‘menderita’ menikmati komedi konyol yang datang tanpa pace dan ritme dan set up. Semua tokoh yang belajar itu difungsikan sebagai pion saja. Bahkan tokoh love interest Hubie pun tak banyak mendapat karakterisasi karena film juga meniatkan dia sebagai salah satu tersangka utama.
 
 
 
 
Untuk menjawab pertanyaan di atas soal apakah film ini adalah balas dendam yang dijanjikan Adam Sandler; tidak. Film ini masih punya nilai dan gagasan dan tidak terlihat seperti karya dari seseorang yang berniat menghasilkan sesuatu yang terburuk untuk ditonton banyak orang. Film ini menurutku lebih seperti proyek cominghome kecil-kecilan aja. Seperti Sandler ingin berkata walaupun dia sukses menjajal drama serius, hati dan passionnya masih pada komedi konyol seperti ini. Dan dia memperlihatkan bahwa dia tidak akan dibully karenanya. Pada akhirnya film ini tetaplah bisa dijadikan hiburan pengisi halloween, horor menyenangkan yang membuat kita lupa sama horor di luar jendela masing-masing selama sembilan-puluh menit.
The Palace of Wisdom gives 3.5 out of 10 gold stars for HUBIE HALLOWEEN.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian membully seseorang dan kini menyesalinya? Jika bisa mundur ke belakang, apa yang ingin kalian katakan kepada orang yang kalian bully?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

VAMPIRES VS. THE BRONX Review

“Capital is dead labour, that, vampire-like, only lives by sucking living labour, and lives the more, the more labour it sucks”
 

 
 
Ketika Miguel bilang Murnau Properties mengunyah kota mereka, yang dimaksud Miguel adalah perusahaan konglomerat kulit-putih tersebut membeli bangunan-bangunan di kota Bronx – mengimingi pemilik bangunan dengan uang yang banyak supaya mau pindah. Bahkan toko favorit Miguel dijadikan sasaran dan terancam untuk berubah menjadi sesuatu yang asing; mungkin jadi kafe milennial atau semacamnya, yang orang-orang tidak mengerti yang bakal dijual itu apa. Miguel sendiri, saat mengatakan itu, belum sadar bahwa pernyataannya tadi juga bermakna literal. Karena perusahaan Murnau diam-diam – di malam hari!- memang beneran menguyah para pemilik bangunan yang mereka beli. Bisnis properti dan real estate Murnau cuma kedok. Murnau Properties nyatanya adalah perusahaan vampir pemangsa manusia yang bermaksud menjadikan kota Bronx sebagai sarang mereka yang baru!

Memang, sudah lama perilaku kapitalisme diibaratkan sebagai tindakan orang kaya menghisap darah rakyat jelata. Penggalan kalimat yang kujadikan penghantar ulasan ini kukutip dari tulisan Karl Marx perihal kapitalisme. Kita tidak perlu repot jauh-jauh membayangkan bagaimana perusahaan bisa menyedot habis pekerjanya. Karena keadaan di negara kita sekarang sudah mendekati, dengan disahkannya RUU Cipta Kerja oleh pemerintah. Ini jadi salah satu contohnya karena menurut RUU tersebut para karyawan dan buruh tidak akan lagi mendapat upah minimal, tidak lagi diberi pesangon saat pensiun ataupun di-PHK, tidak dikasih cuti berbayar untuk pekerja yang hamil, dan kebijakan lain-lain lagi yang lebih menguntungkan pihak bisnismen.

 
Metafora klasik vampir-kapitalis inilah yang digunakan sutradara Osmany Rodriguez sebagai landasan untuk membangun cerita horor komedi. Rodriguez juga ingin menyentil permasalahan kekuasaan kapitalis, dan dia tahu cara nyentil yang terbaik adalah dengan komedi. Yang diangkatnya di sini adalah permasalahan perombakan sebuah daerah lokal menjadi kawasan real estate lewat taktik pengenyahan warga. Mereka dibeli propertinya, yang kemudian properti tersebut diubah menjadi tempat usaha, dan seringkali kita dapati bentuk miris dari kejadian tersebut yaitu si pemilik asli justru nanti akan jadi karyawan di tempat usaha kapitalis yang membeli propertinya. Oleh Rodriguez, pihak perusahaan tamak seperti itu digambarkan sebagai vampir beneran. Orang-orang yang mereka hisap dibuat menghilang begitu saja – walaupun mungkin lebih pas kalo diubah menjadi vampir juga, tapi dapat dimengerti mati menghasilkan misteri yang lebih urgen. Karena film juga ingin menekankan satu hal; bahwa tidak ada yang peduli sama mereka, karena Bronx juga adalah tempat yang nyaris demikian marjinal sehingga ada karakter yang lugas menyebutkan tidak ada yang akan peduli sama penduduk di sini. Rodriguez menambahkan lapisan untuk membuat permasalahan itu semakin kompleks lagi. Lapisan berupa ras. Penduduk Bronx adalah mayoritas kulit hitam, yang enggak jauh dari tempat tumbuhnya para ‘gangster’. Pihak pendatang – para vampir itu – adalah kulit putih. Dulunya bangsawan dengan gaya hidup yang tentu saja jauh berbeda dengan kehidupan ‘hood’ di Bronx. Jadi film ini juga bercerita tentang mempertahankan tradisi atau gaya hidup di suatu tempat.

Cerita yang cukup gendut untuk horor-ko…. Hmmm… gendut.. seperti nadi di lehermu…. WAAARRRGGH!! *terkam*

 
 
Membuat anak-anak sebagai tokoh cerita adalah langkah yang tepat. Miguel dan teman-temannya membuat film ini jadi punya vibe petualangan horor yang sama dengan cerita-cerita seperti Stranger Things ataupun It yang sudah terbukti ngehits. Nontonin mereka terasa seru dan mengasikkan. Miguel dan teman-temannya juga memberikan ruang bagi film untuk mengeksporasi gagasannya dengan lebih leluasa. Komentar-komentar tentang kapitalisme itu jadi tidak lagi seperti beban yang harus diucapkan ketika meluncur keluar lewat sudut pandang anak-anak yang hanya ingin menyelamatkan toko tempat mereka bisa bebas bermain game dan menonton horor-horor rated R. Film ini sepertinya paling dekat dengan Attack the Block (2011); sekelompok anak muda yang mempertahankan neighborhood mereka dari serangan alien. Kedua film ini sama-sama mencuatkan semangat persatuan mempertahankan daerah. Semangat yang mungkin saja memang paling kuat dirasakan oleh anak/remaja karena merekalah yang paling merasakan keterkaitan dengan lingkungan tempat tinggal.
Vampires vs. The Bronx memang memusatkan persoalan tersebut sebagai plot utama. Hanya saja, film malah menempatkan itu kepada salah satu sahabat Miguel. Bukan kepada Miguelnya sendiri sebagai tokoh utama. Dan ini membuat Miguel kalah menarik. Miguel tidak mengalami banyak perkembangan sepanjang cerita. Stake yang ia rasakan juga kalah kuat dibandingkan tokoh lain, karena Miguel tidak berkenaan langsung dengan masalah properti itu sedari awal. Sebagai pelindung kota, dia juga tidak tampak punya kedekatan khusus karena kita diperkenalkan kepada Miguel saat dia semacam dibully oleh seisi kota; cewek-cewek menertawakannya, ibu memarahinya – di depan cewek-cewek, gangsta tak tertarik kepadanya. Justru yang paling punya ikatan dengan kota adalah si teman Miguel yang bernama Bobby. Dia punya plot yang personal; dia ingin bergabung dengan gangsta tapi berkonflik dengan masa lalu ayahnya yang kini diceritakan sudah tiada. Bobby jualah yang punya momen emosional terkait hal tersebut dengan familiar suruhan para Vampir. Secara karakter, Miguel kalah menarik dan kalah ‘penting’ dibandingkan Bobby. Miguel hanyalah karakter trope; anak kecil yang tidak dipercaya orang lain padahal apa yang ia katakan benar.
Miguel bersepeda keliling kota, bertemu dengan tetangga-tetangganya, memungkinkan kita untuk mendapat gambaran tentang kehidupan di Bronx. Kota itu sendiri memang penting untuk ditampilkan karena kita tidak bisa bicara tentang kapitalis yang mengubah satu kota jika tidak memperlihatkan seperti apa kota tersebut; seperti apa kekeluargaan dan kebiasaan di sana. Karena ini komedi, Rodriguez memberikan kita karakter-karakter yang kocak sebagai napas kota Bronx sebagai tokoh tersendiri. Mulai dari Pastor yang jengkel sama anak-anak nakal hingga ke abang-abang yang nongkrong di jalanan, semua tokoh pendukung di film ini diset untuk memancing komedi. They just do funny things, dan memang sebagian besar dari mereka tidak diberikan fungsi apa-apa lagi. Misalnya seperti tokoh anak cewek yang ngevlog; tadinya kupikir tokoh ini akan masuk ke geng Miguel dan ikut bertualang melawan Vampir. Tapi ternyata tidak, dia hanya dimunculkan saat-saat film butuh untuk nyerocosin beberapa eksposisi dan untuk nampilin informasi yang dibutuhkan oleh Miguel dalam mengungkap Vampir.
Ketika seluruh kota menerapkan mosi tidak percaya kepada dirimu

 
 
Mitologi Vampir itu sendiri digambarkan sangat lengkap. Dan dipikirkan matang-matang penempatannya. Aku suka karena beberapa hal terangkai dengan mulus. Kita mungkin sempat bertanya kenapa Vampir ingin menguasai real estate dan membeli semua bangunan di kota itu. Film ini punya jawaban yang simpel nan masuk akal untuk pertanyaan tersebut. Jawabannya karena menurut mitologi, Vampir gak bisa masuk ke suatu tempat tanpa diundang. Maka, supaya bisa memangsa sesuka hati, para Vampir itu tentu saja perlu untuk memiliki rumah dan toko-toko di situ – mereka gak perlu minta izin dulu untuk bisa masuk.
Aku mau melihat film ini melewati efek visualnya, karena meskipun memang terlihat ‘murah’ tapi masih konsisten dengan nada konyol yang ditampilkan film sebagai komedi. Nyawa film ini justru di pembangunan dunianya. Begitu film mengimplementasikan mitos-mitos kayak gini ke dalam gerak plot, di situlah ketika film ini hidup. Membuatnya cerdas. Namun sayangya, film ini katakanlah sebagai makhluk hidup yang bernapas; ia tidak benar-benar satu spesies yang unik. Vampires vs. The Bronx lebih seperti seorang Frankenstein. Makhluk yang tersusun atas bagian-bagian makhluk lain. Karena alih-alih membangun dari sesuatu yang benar-benar baru, film ini terlalu mengandalkan mitos dan hal-hal lumrah, dan juga referensi, yang kita ketahui tentang Vampir dari film-film lain. Menebak hal-hal yang kita kenali saat menyaksikan suatu film memang mampu menghasilkan kesenangan tersendiri. Nama Murnau yang mengacu pada sutradara Nosferatu; yang kalo aku gak salah adalah film pertama tentang vampir, teknik montase cepat-cepat yang mengingatkan kepada teknik khas sutradara Shaun of the Dead; yang arguably film mayat hidup terkocak dekade modern ini, dan bahkan nunjukin dengan terang-terangan perihal film Blade yang menginspirasi karakter anak di film ini (ras kulit hitam yang keren dalam memburu Vampir). Terasa sekali kekurangorisinilan yang membayangi film ini
 
 
 
Memang, minimnya penggalian dan elemen baru tersebut tidak bakal menyurutkan unsur fun dan keseruan kita dalam menonton film ini. Hanya saja, secara eksistensi, film ini sesungguhnya mampu menjadi sesuatu yang spesial. Pun hadir dengan level kerelevanan yang tinggi. Sayangnya, setelah menonton, ia cuma terasa sebagai ‘just another horror-comedy’. Terlalu banyak kesamaan dan pengingat kita terhadap film-film lain. Tokoh utamanya pun tidak begitu membantu karena juga kalah spesial dengan tokoh pendukungnya. Aku suka implementasi gagasan ke mitologi Vampir yang dilakukan oleh film ini. Harusnya film ini lebih berani lagi untuk keluar dari bayang-bayang genrenya. Supaya efek cerita dan keberadaan film ini jadi semakin terasa lagi.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for VAMPIRES VS. THE BRONX

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Setujukah kalian dengan kapitalis sebagai setan penghisap darah? Bagaimana pendapat kalian tentang Omnibus Law yang baru disahkan tersebut?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ALONE Review

“The coward does not know what it means to be alone…”

 

 

 

Menyendiri kadang memang perlu. Karena sesekali kita memang perlu untuk dapat ruang untuk menenangkan diri. Untuk menghimpun kembali diri kita yang mungkin sudah berkeping-keping didera stress dan masalah. Pun tidaklah egois jika kita merasa butuh untuk menjauh dari kebisingan sosial dan hiruk pikuk drama. Memisahkan diri dari keluarga atau teman-teman sementara. Dan certainly, ‘ngilang’ seperti demikian bukanlah perbuatan pengecut. Kalian yang belum mengerti kenapa, bisa menemukan jawabannya dengan menonton thriller kucing-kucingan karya John Hyams yang berjudul Alone ini.

Dibagi menjadi lima chapter, Alone memperlihatkan perjalanan yang berubah menjadi petaka bagi seorang wanita bernama Jessica. Sepeninggal sang suami, Jessica menemukan hidupnya dalam keadaan yang sulit, sehingga dia bermaksud untuk pindah rumah. Meninggalkan kehidupannya yang lama. Jessica bahkan sengaja tidak memberitahu ibu dan ayahnya di rumah. Dia benar-benar butuh waktu dan tempat untuk sendiri. Jalanan yang panjang dan sepi itu pun kemudian ditempuhnya. ‘Teror’ yang dialami Jessica awalnya cuma telfon dari orangtua yang mencari dirinya. Namun hal berkelok menjadi semakin mengerikan tatkala janda ini dibuntuti oleh pria sok-akrab dengan mobil hitamnya.

Bayangkan Ned Flanders, with more straight-up creep and less  -ookily dookily

 

 

Tiga puluh menit pertama, saat masih di chapter ‘The Road’, cerita seperti sebuah thriller psikologis. Dan itu seru sekali, I really enjoyed it. Alone punya naskah yang sangat bijak untuk tidak membeberkan seluruhnya sejak awal (bahkan hingga film berakhir masih banyak backstory yang dibiarkan terungkap tak lebih banyak daripada seperlunya). Jadi di awal itu ada berbagai lapisan misteri yang terasa oleh penonton. Kita masih figure out apa yang terjadi dan siapa si Jessica. Kita juga harus menelisik benarkah si Pria itu orang jahat dan pertemuan-pertemuan mereka murni kebetulan dan semuanya hanyalah kecurigaan Jessica semata. Tapi makin berlanjut, perihal niat dan kelakukan si Pria semakin obvious, dan di sinilah kepiawaian cerita mulai tampil. Ada build up tensi yang benar-benar terasa. Mengalun merayap di balik cerita sehingga kita seolah berada di kursi depan di sebelah Jessica.

Jessicanya juga ditulis bukan seperti karakter korban pada umumnya. Wanita ini boleh aja terlihat curigaan, tapi dia curiga-dan-pintar. Sikapnya ini berhasil mempengaruhi kita sehingga kita benar-benar peduli. Tensi pada film ini bukan terjadi karena sesimpel karakter cewek yang diburu oleh cowok – mangsa lemah melawan pemburu yang lebih kuat. Film berhasil mengeluarkan diri dari perangkap gender tersebut. Ketika ketegangan cerita seperti distarter ulang saat kita masuk ke chapter berikutnya – Jessica dikurung di ruang bawah tanah kabin di tengah hutan – kupikir cerita berubah dangkal dengan menjelma menjadi semacam horor siksaan yang mengeksploitasi kekerasan ataupun seksualitas. Ternyata tidak. Momen tersebut justru digunakan film untuk memperkenalkan dua karakter ini secara lebih fokus kepada kita, dengan tetap menyimpan beberapa hal. Di sinilah kita mendapat penyadaran bahwa kedua tokoh ini punya kesamaan, sekaligus perbedaan pandang dari kesamaan tersebut. Di sini jualah kita akan mendapat momen paling mengerikan dari si Pria. Momen yang adegannya dirancang sedemikian rupa sehingga seperti gabungan menakutkan dari sebuah eksposisi dan eksplorasi karakter.

Tema berulang yang dapat kita jumpai, entah itu disebutkan lewat ucapan tokoh ataupun tersirat di balik aksi buru-memburu, adalah soal cowardice. Sifat kepengecutan. Setidaknya ada tiga peristiwa yang bisa terlingkup ke dalam konteks ‘pengecut’ yang dapat kita lihat sepanjang film ini. Jessica yang menghindari – tidak mengangkat – telfon ibunya. Pria yang bohong sedang liburan di hotel kepada istri dan anaknya di telefon. Dan suami Jessica yang memilih mati bunuh diri. Tiga tindakan ini dilakukan oleh para tokoh, dan mereka memerlukan kesendirian untuk melakukannya. Tapi kesendirian itu sendiri bukanlah bentuk sebuah kepengecutan. Inilah yang diargumentasikan oleh film lewat para karakter. Pria yang mencerca suami Jessica sebagai seorang pengecut, padahal si Pria itu sendiri memakai kedok dan memilih untuk sendiri supaya bisa melampiaskan perangai dirinya yang asli. Sedangkan Jessica, sebagai tokoh utama, dia berada di antara keduanya. Boleh jadi dia memang menghindar karena takut menghadapi drama dengan orangtuanya, namun pada akhirnya lewat perjuangan berdarah-darah yang dihadapinya sendiri sepanjang cerita ini, kita bisa melihat – dan Jessica herself akhirnya menyadari – bahwa dia adalah seorang yang pemberani. Seorang penyintas.

Memilih untuk menyendiri bukan lantas berarti kita adalah seorang pengecut. Malah sebaliknya. Pengecut justru adalah seseorang yang tidak mengerti makna dari kesendirian. Orang-orang paling berani pasti pernah memilih untuk sendirian, dan mereka menjadi lebih baik setelah pengalaman saat sendiri tersebut.

 

 

Film lantas mulai terasa klise ketika panggung kejar-kejaran bergeser ke hutan. Cerita memasukkan satu karakter lagi untuk menambah dramatis ke trik thriller, tetapi tidak ada yang spesial di sini. Melainkan hanya karakter baik, tipikal, yang ujung-ujungnya kita semua tahu bakal mati. Alone bekerja terbaik saat dua karakter protagonis dan antagonisnya ‘berduel’ sendirian tanpa harus dicampuri oleh karakter lain. Puncak ketegangan tertinggi buatku adalah saat Jessica kabur, dan setelah ketemu tokoh satu lagi ini, film tidak berhasil mencapai ketinggian yang sama lagi bahkan dengan konfrontasi terakhir yang ditarik dari dalam mobil hingga ke lapangan penuh lumpur itu.

Robert menunjukkan bahwa di tangan orang baik, senjata tidaklah berguna

 

 

Yang ada malah seperti film mulai mengincar ke arah yang over-the-top. Demi kepentingan circle-back ke momen awal, film membuat Jessica malah menelpon istri Pria ketimbang menelepon polisi begitu berhasil mendapatkan handphone. Kinda silly kalo dipikir-pikir. Misalnya lagi; dialog Pria kepada hutan, meneriakkan kata-kata provokasi ke Jessica, terdengar tidak demikian mengancam. Padahal penampilan akting di sini sudah cukup meyakinkan. Baik Jules Willcox yang jadi Jessica maupun Marc Menchaca yang jadi si Pria bermain sesuai dengan standar horor dengan genre seperti ini. Range di antara ketakutan, bingung, kesakitan, dan marah – dan kedua aktor ini delivered. Masalahnya terletak di arahan; taktik build up tarik ulur yang konsisten diterapkan tersebut saat mendekati akhir tidak menemukan pijakan yang klop terhadap arah over-the-top. Sehingga film jadi terasa gak lagi nyampe, atau pay-off nya tidak seperti yang diancang-ancangkan. Misalnya di dialog malam tadi, Pria meletakkan senjata ke tanah. Kamera fokus ke mata Jessica yang mengintip dan tampak mengincar senjata. Namun tidak ada kelanjutan terhadap build up tersebut.

Begitupun dengan chapter-chapter yang ada. Pembagian cerita yang muncul setiap kali panggung berpindah (The Road saat di jalanan, The River saat di sungai, dsb) semakin ke ujung semakin terasa kurang signifikan. Melainkan kepentingannya hanya seperti nunjukin nama tempat aja. Film kurang berhasil menghujamkan bobot chapter ke struktur cerita secara keseluruhan. Jika memang ada makna paralel tersembunyi, gaungnya jadi kecil karena fokus yang sudah membesar menjadi over. Buatku pilihan ini aneh aja. It’s either filmnya gak konsisten atau filmnya gak tahu aja cara yang tepat untuk menonjolkan diri. Karena film ini sedari awal tampak seperti sengaja gak menonjol. Judulnya aja udah generik sekali. Kalo kita cek Google, dalam sepuluh tahun terakhir setidaknya sudah ada lima film selain ini yang berjudul Alone. Tahun 2020 ini aja ada dua film Alone. Tapi kemudian isi filmnya sendiri tampak pengen beda dengan struktur chapter, konfrontasi tokoh, dan sebagainya. Hanya saja, gak semuanya yang punya pay off yang gede dan tak terasa over-the-top.

 

 

Aku suka paruh awal film ini. Sensasi ngeri saat sendiri di jalanan itu berhasil banget tersampaikan. Penampilan akting dua tokohnya tidak ternodai oleh karakter yang bego. Aku hanya enggak cocok dengan pilihan-pilihan berikutanya yang dilakukan oleh film. Yang tampak seperti geliat untuk keluar dari sesuatu yang generic tapi tidak berhasil. Over-the-top yang dihasilkan jadi terasa awkward. Film ini masih seru untuk dimasukkan ke daftar tontonan pengisi Halloween nanti. Tapi jika kalian mengincar sesuatu yang lebih unik, maka film ini bakal terasa biasa-biasa aja. Jangan khawatir. Kalian gak sendirian soal itu.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ALONE

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana kalian memaknai kesendirian? Pernahkah kalian menghilang dari semua orang beberapa waktu untuk menenangkan diri atau semacamnya?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA