A GOOD WOMAN IS HARD TO FIND Review

“Don’t let the people make you difficult”
 

 
 
Orang yang lembut (hatinya loh ya, bukan wujudnya – emangnya lelembut!) seringkali dimanfaatkan. Tanpa benar-benar diapreasiasi oleh orang lain. Yang ada malah, lama-kelamaan, mereka bakal digencet. Karena mereka ‘gak tega’ melawan. Bahkan cenderung ‘enggak berani’. Sebab opresi seperti begini sebagian besar datang dari pihak-pihak yang serta merta membuat si soft-hearted ini merasa powerless. Misalnya orangtua kepada anak. Atau laki-laki kepada wanita.
Ah, now we’re talking!
Sarah Bolger dalam A Good Woman is Hard To Find berperan sebagai Sarah, ibu dari sepasang anak yang masih kecil-kecil, yang baru saja menjanda lantaran suaminya dibunuh oleh seseorang misterius. Anak sulung Sarah actually menyaksikan pembunuhan tersebut, tapi dia begitu shock hingga kehilangan napsu untuk berbicara. Sarah tentu saja ingin keadilan, dia ingin pelakunya diusut, dia ingin tahu kenapa suaminya dibunuh. Namun polisi hening – malah menyuruhnya untuk mengikhlaskan saja. Ibunya sendiri bodo amat ama masalah Sarah. Beliau masih ngungkit ketidaksetujuannya sama pilihan Sarah. Semua orang menyebut suami Sarah seorang drug dealer.
Berikut adalah perlakuan orang-orang terhadap ibu muda yang berusaha memberi makan dan hidup layak kepada kedua anaknya ini: Sarah dicatcalling, dituduh bekerja sebagai wanita bayaran sama satpam supermarket, dicurigai sebagai wali yang tak layak oleh polisi yang ngejudge dapurnya berantakan, diingatkan oleh ibunya  bahwa ia telah membuang masa depannya sebagai cewek cantik nan pintar dengan menikah sama pria gajelas, dan disuruh sering-sering senyum dan dandan oleh seorang preman jalanan. Si preman jalanan ini, si Tito, eventually jadi bagian penting untuk plot karena ia memaksa untuk bersembunyi dari kejaran mafia narkoba di rumah Sarah. Menyimpan ‘dagangan’ di sana, diberikan akses keluar masuk – practically Tito maksa ngekos harian di sana. Dia memberi Sarah upah dari potongan jualan narkoba asal Sarah membiarkannya bersembunyi di sana sebelum Sarah sempat membuka suara untuk menolak.

atau untuk nego harga, kalo Sarahnya galak

 
 
Film garapan Abner Pastoll ini excellent saat membahas drama seputar konflik kemanusiaan yang melanda Sarah. Yang digali di sini adalah persoalan seorang wanita – seorang ibu – seorang yang terlembut dari semua manusia yang hampir pada setiap kesempatan karakternya ‘dibunuh’ oleh sistem sosial dan kotak-kotak gender. Kita jadi mengerti tekanan yang harus ditahan oleh Sarah, baik fisik maupun mental. Bagaimana dia tidak bisa menolak karena dia mempertimbangkan banyak hal. Like, dia mencemaskan keadaan anak-anaknya, tapi lama-kelamaan dia sadar dia butuh sesuatu untuk mensupport kebutuhan rumah tangga demi anak-anaknya. Film memainkan narasi seolah Sarah yang berusaha berjuang sendiri percaya dia membutuhkan bantuan. Karena selalu ditekan dan dimentahkan fungsi dirinya oleh sekitar.
Ada banyak adegan manusiawi yang menunjukkan betapa sutradara paham akan konflik yang ia angkat. Momen-momen sederhana seperti gak sanggup bayar belanjaan sehingga harus ngurangi satu atau dua item, atau momen yang lebih privat seperti desperate akan baterai di tengah malam, berhasil membuat karakter Sarah begitu grounded. Bolger mengangkat tokohnya ini menjadi berlipat-lipat meyakinkan lewat permainan akting yang benar-benar sukses bikin kita merogoh hati untuk memberikan simpati. Perasaan atau emosinya terpampang jelas lewat sorot mata berkantung dan rambut yang nyaris-disisir tersebut. Cerita mempersiapkan Sarah untuk sebuah transformasi, dan begitu point-of-no-return itu datang kita sudah sedemikian ngototnya untuk melihat Sarah mendapatkan hal yang lebih pantas. Dan inilah yang menurutku merupakan hal paling mengerikan yang dimiliki oleh film ini.

Bukan sekadar cerita revenge atau dendam orang yang tersakiti, film ini nyatalah adalah cerita pembalasan seorang ibu atau wanita yang sekian lama teropresi. Yang membawa kita pada kenyataan bahwa di dunia ini orang-orang begitu kejam kepada orang baik sehingga memaksa mereka untuk beraksi. Sangat disayangkan ketika respek diri sendiri, tidak membiarkan diri susah karena orang lain, dan stand up menunjukkan hati yang berani itu wujudnya ternyata adalah menjadi jagoan-galak, bahkan kalo perlu membunuh seperti Sarah.
Kenapa kita selalu merusak hal-hal indah di muka bumi?

 
Yang dirasakan/dialami oleh tokoh Sarah rada mirip dengan yang terjadi pada tokoh dalam film Swallow (2020). Namun film Swallow bertempat pada dunia yang katakanlah lebih mirip dengan dunia normal kita. Sedangkan A Good Woman is Hard To Find ini bertempat pada dunia yang lebih kelam; yaitu dengan organisasi narkoba menjadi salah satu penggerak ekonominya. Sehingga journey Sarah punya kengerian atau keekstriman dalam level yang berbeda. Paruh akhir film ini berubah arah menjadi lebih ke thriller revenge. Sarah telah ‘mencicipi’ darah pertamanya, dan dia juga telah mengetahui siapa yang membunuh suaminya. Kita memang akan melihat adegan-adegan bloody seperti mutilasi ataupun shoot out. Namun dilakukan tidak dengan fantastis, melainkan tetap lewat kacamata yang grounded. Film memegang prinsip less is more dalam menampilkan itu semua. Ia tidak perlu mempertontonkan semua proses dengan gamblang. I mean, shot dari atas Sarah terduduk di antara kantong-kantong plastik hitam itu sudah lebih dari cukup mewakilkan kengerian dan kecamuk konflik yang dirasakan tokoh.
Karena film ini tidak lupa daratan. Sarah tidak kontan berubah menjadi pembunuh jagoan. Transformasinya soal ini malah lebih ‘parah’ dibandingkan tokoh dalam revenge-action The Rhythm Section (2020). Melihat darah aja Sarah puyeng. Ini membuat kejadian-kejadian yang harus ia lakukan sebagai bentuk penguatan diri itu menjadi semakin emosional. Also, bagi Sarah ini bukan sebatas tindak balas dendam. Jika kita tilik ke belakang, yang mentrigger perubahan Sarah ini adalah ketika dirinya nyaris menjadi korban opresi lelaki dalam bentuk yang tindakan yang paling basic dan tradisional. Ketika privasinya terancam. Jadi, tindakan Sarah adalah wujud dari survival sekaligus mengambil kembali siapa dirinya sebagai manusia. Seorang wanita. Seorang ibu.

kapan lagi melihat grammar nazi dihajar?

 
 
Jadi, mengerikan ketika seorang ibu harus mengangkat senjata untuk dihormati. Mengenaskan ketika seseorang harus membuktikan dia respek dan nyaman kepada dirinya sendiri, baru merasa pe-de, dengan mengenakan riasan saat belanja ke supermarket. Sosial yang kejam yang membuat mereka terpaksa begitu. Aku gak benar-benar setuju sama gagasan film ini, tapi toh film tidak menampilkannya sebagai jawaban eksak. Melainkan hanya gambaran betapa masyarakat kita sudah sebegitu opresifnya sehingga yang terjadi kepada Sarah kini menjadi opsi jalan keluar untuk mendapatkan respek.
Masalah ekonomi Sarah juga tampak beres dengan berubah seperti demikian. Konsekuensi pembunuhan yang ia lakukan, meski membela diri – tapi toh ia menutupi dan melakukan crime lain terhadapnya – tidak didaratkan oleh cerita. Dan ini membuat film menjadi sedikit terlalu ‘fantastis’. Meninggalkan realm drama grounded yang sudah terbangun hingga setidaknya pertengahan cerita. Film seharusnya menyelami soal ‘pemberesan’ sedikit lebih banyak untuk membuat cerita berimbang alih-alih total berganti. Masalah putranya yang menutup diri dan gak bicara juga tidak terasa selesai dengan mantap. Karena relasi Sarah dengan anak-anaknya memang tidak pernah benar-benar dibahas. Hanya sebatas interaksi khusus saat bacain cerita sebelum tidur Mereka hanya ada di sana sebagai stake dan motivasi. Buatku, it’s just psikologi anak yang mendadak bisu ini terlalu gede dan menarik untuk tidak dibahas dan hanya dijadikan sampingan.
 
 
Cerita film ini dibuka dengan adegan Sarah mandi bersimbah darah, tapi darah itu bukan darahnya. Membuat kita berasumsi ini akan jadi film revenge-aksi cewek yang biasa. Asumsi seperti ini akan cepat dipatahkan, karena paruh awal film kuat oleh aspek drama psikologis seorang wanita yang hidup dalam masyarakat yang menggencetnya. Dipikul oleh penampilan akting yang benar-benar meyakinkan, film ini berhasil mencapai tingkatan intensitas emosional yang gak semua teman-teman segenrenya bisa. However, ditonton hingga akhir film ini terasa kembali ke ranah yang sudah lumrah, dan ada beberapa elemen yang menarik untuk digali tetapi they chose not to. But still, film ini punya hal yang aku sukai yakni gambaran yang ia tampilkan mengenai seperti apa dampak sosial bermasyarakat kita terhadap satu hal baik. Kalo kata judul, makanya sekarang nyari cewek baik itu susah. This is why we can’t have nice things.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for A GOOD WOMAN IS HARD TO FIND.

 

 
 
That’s all we have for now.
Benarkah jadi orang baik itu begitu susah dan menjadikan kita terkekang?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

1BR Review

 

“When in Rome, do as the Romans do”

 

 

Masih ingat kicauan seorang perempuan tentang tetangganya yang sempat viral di Twitter beberapa waktu yang lalu? User tersebut mengeluhkan soal tetangganya yang langsung bertamu, mengetuk pintu begitu saja, tanpa membuat perjanjian ingin datang berkunjung terlebih dahulu. Tweet tersebut kontan menuai banyak reaksi; ada yang setuju, dan tak sedikit pula yang menghujatkan pendapat bahwa memang seperti itulah lumrahnya hidup bertetangga. Datang saling menengok tanpa diminta, menunjukkan perhatian, bahkan dulu katanya orang tidak mengunci pintu bagi tetangga masuk ke rumah kapan saja mereka mau. Sutradara sekaligus penulis naskah David Marmor tampaknya punya satu-dua patah kata tentang kehidupan bertetangga. Marmor sepertinya sependapat dengan si empunya tweet tadi, sehingga pada debut film-panjangnya ini dia menghasilkan sebuah drama menegangkan perihal hubungan bertetangga yang erat dan terlampau-bersahabat bisa menjadi begitu horor.

Arahan Marmor membuat cerita memuat begitu banyak. Setiap plot-point seperti mengubah film ini menjadi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Namun sense-of-belonging memastikan perhatian kita untuk terus tersedot. Sedari momen pembuka, aku sudah tertegun oleh perasaan akrab (namun eerie) yang dihadirkan lewat pemandangan yang ditangkap oleh kamera. Lalu bertemu dengan Sarah, wanita muda yang lagi nyari tempat tinggal di Los Angeles, dia mau menapaki hidupnya sendirian di kota yang sejuta mimpi tersebut. This seems like a familiar story tentang seseorang yang berusaha menggapai mimpi yang langsung membuatku ter-flashback ke zaman nyari kosan waktu masuk kuliah dulu, dan kemudian aku teringat ini film horor maka lantas kenanganku pindah ke film Mulholland Drivewell, because it’s LA. Dan tokoh kita adalah tokoh yang sama ‘lugunya’ dengan Diane pada film karya David Lynch tersebut. Aktor Nicole Brydon Bloom memainkan peran sebagai perempuan yang introvert, pemalu, yang pasif, yang lumayan tertutup, tapi punya determinasi kuat untuk mengejar passionnya. Seketika tokoh Sarah ini langsung kontras, langsung ‘konflik’ dengan kota LA itu sendiri. Dan kemudian masuklah ia ke sebuah kompleks apartemen yang sedang melakukan open-room untuk mencari calon penghuni baru.

Sarah keterima menjadi penghuni kamar 210 tersebut. Dia disambut hangat oleh bukan hanya tetangga kanan-kiri kamar, melainkan seluruh penghuni apartemen. Mereka ngadain pesta pada malam Sarah mulai tinggal di sana, dan tentu saja Sarah diundang. Para penghuni apartemen semakin mengingatkanku pada Mulholland Drive dan basically film-film David Lynch, karena mereka semua sama anehnya. Satu kompleks itu bener-bener kompleks oleh karakter. Mulai dari ibu tua yang sweet hingga anak muda yang gagah. Mulai dari Bapak Ketua yang simpatik hingga ke pria creepy berkacamata dengan lensa yang gak kompakan warnanya. Di titik ini, film berubah mengingatkanku kepada Rosemary’s Baby. Karena orang-orang ini begitu ramah kepada Sarah – menyapa setiap ketemu, dan seperti selalu berada di manapun Sarah berada, mengawasinya seolah kamera yang berada di nyaris setiap jengkal langit-langit itu belum cukup – sehingga kita mau-tidak-mau langsung kepincut curiga kepada mereka.

Mestinya pasang pengumuman di depan pintu; boleh bertamu kalo bawa makanan

 

Elemen horor kemudian terestablish begitu malam hari telah tiba. Hidup Sarah yang sendiri, sunyi. Loh kenapa jadi lagu Tantowi Yahya?… well, I mean, Sarah mendengar bunyi-bunyian aneh yang membuat tidurnya gak nyenyak. Ia bahkan mendapati pintu apartemennya terbuka begitu saja. Sampai suatu malam, Sarah menemukan kucing peliharaannya terpanggang di oven. Sarah ditangkap oleh tetangga-tetangga penghuni apartemen. Dia disiksa, disuruh berdiri bungkuk memegang tembok dalam posisi stressing, and things could get much more violent and bloody jika Sarah menolak alias enggak patuh pada perintah yang diberikan oleh Ketua Apartemen (semacam Pak RT gitu deh di sana). Pada titik ini sebenarnya aku sempet mulai males. Film ini jadi kayak mengeksploitasi adegan penyiksaan semata. Namun bear with me, ini cuma sebuah fase sebelum akhirnya – lepas dari midpoint – film mulai menunjukkan taringnya sebagai horor situasi, dan dalam beberapa tingkatan; horor psikologis.

Pada jantungnya, 1BR memeriksa perilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam lingkungan yang terdekat yaitu lingkungan bertetangga. Dengan mengontraskan sikap Sarah yang tertutup dengan sistem kompleks apartemen yang saling-terbuka, film menunjukkan dua sisi kebutuhan manusia dalam bersosialiasi. Seperti Sarah, kita perlu mengendalikan hidup kita sendiri, tapi sekaligus kita butuh orang lain – tetangga, teman, keluarga – untuk menjadi support. Film membawa ini ke ranah ekstrim ketika intrusi dari lingkungan sekitar menjadi pengalaman yang bikin gak nyaman, dan menjurus ke menakutkan. Saat komunal di luar sana berpikir bahwa semua orang enggak bisa hidup sendiri, bahwa kebersamaan adalah satu-satunya cara, di situlah keramahtamahan dan kekerabatan berubah menjadi selayaknya sebuah cult. Sebuah sekte. Dan ini bukan tidak mungkin terjadi di dunia. Bahkan mungkin sedang kejadian di sekitar kita. Kehidupan bertetangga yang mengatur hingga sampai ke cara berpakaian, atau yang nyinyir jam kita bepergian. Komunitas-komunitas kecil kerap kebablasan. Alih-alih sebuah keluarga, malah menjadi semacam geng dengan seabreg peraturan atau norma yang harus dipatuhi jika ingin dianggap sebagai anggota.

Film ini menunjukkan communal atau kehidupan sosial bertetangga ataupun komunitas menjadi tidak lagi sehat ketika membuat anggotanya merasa less of a person. Kita semua memang tidak mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Namun itu tidak berarti kita totally bergantung kepada orang. Kita memang harus senantiasa menghormati tempat kita berpijak, mengikuti aturan dan norma-norma di mana kita berada. Tapi tetap ada keseimbangan yang harus dijaga. Bagaimanapun, setiap orang bertanggung jawab dan berhak atas hidup masing-masing.  

Lucunya, film ini juga mengingatkanku ke jaman ospek/mabim kuliah dahulu. Sarah juga, istilahnya, diplonco dulu sebelum masuk jadi anggota komunitas apartemennya. Memang, Sarah dimasukkan secara paksa. Mindsetnya dibentuk untuk mengenali bahwa dirinya powerless, dan hidup mandiri adalah pilihan yang salah. Film telah menetapkan orang-orang di apartemen itu mempercayai bahwa cara hidup bersosial merekalah yang paling sempurna dan ideal. Empat pondasi bermasyarakat; Selflessness, Openness, Acceptance, and Security, terus diulang dijadikan mantra yang didoktrinkan kepada Sarah. Mengubahnya menjadi seperti mereka. Dan bukankah ospek memang seperti itu? Para mahasiswa baru praktisnya terpaksa ikut dan menjalani semua kegiatan karena dijadikan syarat untuk diterima sebagai anggota himpunan. Himpunan itu sendiri ‘dijual’ kepada maba sebagai safe haven dengan networking ke alumni, angkatan yang saling menjaga, ‘masuk bareng-lulus bareng’. Orang-orang yang sudah ditempa bersama, punya tujuan yang sama, kini hidup sebagai satu unit dengan kuat. Tentu saja, gak semua mahasiswa setuju dengan hal tersebut. Namun begitu sudah menjadi bagian darinya, berpartisipasi dalam rangkaian kegiatannya, ketika sudah tiba waktunya dilantik, toh mahasiswa akan bangga juga. Dan akan bersiap untuk menjadi senior pembimbing tahun depan; mengospek anak-anak baru berikutnya.

Melihat Sarah pada akhirnya jadi sukarela bergabung menjadi anggota, kita tahu masih ada keraguan di benak dan hatinya. Akan tetapi dia sudah tidak punya pilihan lagi, selain mempercayai bahwa komunitas inilah jawaban terbaik. Dan ketika temannya masuk untuk menjadi penghuni berikutnya, kita tahu Sarah mengumpulkan segenap ‘kekuatan’ untuk get on with the program, kita dapat merasakan beratnya perjuangan di dalam diri Sarah yang sebenarnya pengen menyuruh temannya itu lari. This is exactly what I feels waktu ospek. Aku gak setuju, tapi ketika aku yang jadi senior, aku mengusahakan untuk semangat mengospek anak-anak baru. Dam kupikir, yang dilakukan oleh film dengan elemen ini adalah menunjukkan kepada kita bagaimana rasanya menjadi bagian dari komunitas atau kelompok atau cult. Kita boleh saja gak setuju, tapi kita sudah dibentuk untuk percaya bahwa mereka adalah kebutuhan. Film memperlihatkan betapa susahnya untuk keluar dari sana. Meskipun yang dibutuhkan sebenarnya ‘hanyalah’ percaya pada kualitas diri sendiri dan menyadari bahwa hidup kita, ya milik kita sendiri.

Bukan herd immunity melainkan collective insanity

 

1BR seperti ingin membongkar pepatah lama “Jika kamu ingin cepat maju, lakukanlah sendiri. Jika kamu ingin jauh maju, lakukanlah bersama-sama”. Ending film ini memberitahu kita sebaliknya; jika Sarah pengen kabur, dia harus kuat dan berlari sendirian. Film ini punya gagasan untuk tidak menjadikan komunitas sebagai zona nyaman. Film ingin kita mempertanyakan kembali apa yang kita mau. Sarah pengen keluarga baru tempat ia bisa mengadu, keluarga yang perhatian padanya. Yang ia dapati di dalam sana ternyata jauh lebih buruk daripada pelanggaran privacy. Sesuatu yang lebih intrusif dan mengekang. Mengambil siapa dirinya sebagai seorang manusia.
Menjelang akhir babak kedua ada adegan paling heartbreaking seantero cerita, yaitu dialog antara Sarah dengan ayah kandung yang ia benci, datang menjemputnya pulang. Ini puncak tertinggi emosi yang dimiliki oleh film. Namun build up menuju ke sini agak kurang konsisten, karena cerita telah melalui berbagai metamorfosis sehingga perubahan-perubahan tersebut mengalihkan kita dari Sarah sebagai karakter. Sarah cenderung membosankan sebagian besar cerita. Dia cuma ada di sana untuk disiksa, pribadinya pun tidak membuat dia menonjolkan aksi dan pilihan. Temannya yang lebih galak dan berani mungkin bakal jadi pilihan yang lebih menarik sebagai tokoh utama dengan penceritaan seperti begini. Sarah hanya punya dua modal sebagai karakter yang menarik; backstory masalah pribadinya dengan sang ayah, dan ia berani berbohong; menyelundupkan kucing ke apartemen yang melarang hewan peliharaan.
Dua hal tersebut kinda lose in the shuffle saat film mengungkap poin-poin cerita. Memfokuskan pada aspek penyiksaan dan sebagainya. Menurutku film, secara emosional, bisa bekerja lebih baik jika mengurangi sedikit volume genrenya dan mengeraskan ke bagian bagaimana Sarah bisa sebegitu pasif, ke bagian dia berinteraksi dengan ayah ataupun dunia luar yang membuat dia retreat cari perlindungan apartemen sedari awal.

 

 

 

Bersama Vivarium (2020), film ini merupakan horor kontemporer yang benar-benar mengusung sudut pandang manusia di kehidupan modern. Mereka membuat hal yang lumrah di era dulu, seperti punya keluarga ataupun hidup bertetangga menjadi menakutkan. Meskipun begitu, toh kita enggak perlu untuk setuju dengan gagasan cerita untuk dapat menikmati suatu film. Dan pada kasus film ini, horor yang tersaji cukup enak untuk disaksikan. Intriguing and thought-provoking enough. Sehingga kita bisa betah bergidik-gidik menyaksikan tokohnya yang kinda boring, dan menjadi berempati kepadanya. Sebagian besar keberhasilan film ini terletak pada arahan berceritanya yang berhasil memuat banyak dalam durasi yang begitu singkat. Persis kayak apartemen kecil mungil, tapi berisi beragam manusia dan segala perbedaannya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for 1BR

That’s all we have for now.
Mana tempat tinggal yang ideal bagi kalian, di perumahan yang sepi atau di hunian yang lebih tradisional secara hubungan bertetangga? Kenapa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE WRETCHED Review

“All children’s greatest fear is the separation of their parents”
 

 
 
Pria dan wanita saling jatuh cinta. Mereka kemudian hidup bersama. Menjadi papa dan mama. Anak mereka akan belajar banyak dari mereka, terutama kasih sayang dan rasa percaya. Namun kemudian pria dan wanita tadi bertemu dengan masalah rumah tangga. Mereka memutuskan untuk berpisah, karena itulah langkah terbaik. Yang harus disadari adalah perpisahan bukanlah akhir, melainkan awal. Permulaan dari trauma dan masalah bagi anak. Karena sekarang rasa percaya itu terbagi dua. Anak takut disuruh memilih. Anak khawatir mengkhianati kasih sayang utuh tempat ia bertumbuh. Dan kemudian datanglah sang figur pengganti. Sebagai personifikasi dari ketakutan anak dari perceraian orangtua.
The Wretched merangkum hal-hal yang dikhawatirkan oleh anak-anak malang seperti demikian. Yang orangtuanya kini tinggal terpisah. Yang bersiap untuk mendapat papa atau mama yang baru. Kejadian-kejadian tersebut dibentuk ke dalam narasi horor oleh duo sutradara sekaligus penulis naskah Brett Pierce dan Drew T. Pierce, yang kemudian disampaikan kepada kita lewat tone yang ringan seolah ini adalah kisah kehidupan remaja normal. Benturan tone inilah, tema yang kelam-estetik creepy-atmosfer ringan, yang menjadikan The Wretched sebuah pengalaman nonton yang lumayan langka. Yang kita dapat biasanya entah itu film yang terlampau artsy, atau malah film yang bablas receh. Atau yang frontal sadis. The Wretched berada di tengah-tengah itu semua. Violent dan tega terhadap anak kecil, beberapa mengarah ke ‘konten dewasa’, tapi perspektif dan gagasan yang disampaikan adalah milik anak-anak baru gede yang bermuara pada keluarga.
Cerita berpusat pada Ben (John Paul-Howard bermain dengan gips di tangan), cowok remaja yang mendapat giliran di rumah ayahnya, di lingkungan kota dermaga kecil. Di sini Ben berkenalan dengan tetangga baru, teman baru, dan calon ibunya yang baru. Selain kecanggungan sosial dan angst-nya soal kemungkinan ibu baru tersebut, hidup Ben masih tergolong normal. Hingga dia gak sengaja mengintip ada kejanggalan di sebelah rumahnya. Tetangga Ben mendadak lupa bahwa mereka punya dua orang anak. Ben yang tertarik rasa penasaran dan kekhawatiran melakukan investigasi kecil-kecilan. Dia menemukan simbol aneh dan sesuatu yang mencurigakan di basement tetangganya itu. Mungkinkah nyonya rumah tersebut adalah seorang penyihir kuno? Ben harus segera berbuat sesuatu sebab anak-anak lain di kota itu mulai lenyap jejak keberadaannya satu-persatu.

Apakah sosok mirip Arrancar ini technically dibilang Witch karena suka merebut suami orang?

 
Nonton The Wretched rasanya persis kayak baca cerita-cerita di buku Fear Street karangan R.L. Stine. You know, the Goosebumps-Guy. Goosebumps merupakan horor yang ditulis Stine khusus untuk anak-anak; dengan tidak terlalu mengerikan, dalam artian hanya ada literal makhluk mengerikan entah itu zombie, hantu, alien, atau bahkan bully di sekolah tanpa pernah menyentuh isu yang lebih dalam seperti domestic abuse, atau trauma, ataupun ketakutan mental lainnya. Pada Fear Street, Stine mulai memperkenalkan soal isu tersebut dengan sedikit lebih dalam, karena mengincar pembaca yang lebih gede. Nah, The Wretched juga mengandung elemen dan cara bercerita yang mirip dengan horor Fear Street. Remaja yang melakukan hal-hal remaja biasa yang dealing with bersosialisasi di lingkungan baru. Kenalan ama cewek. Sedikit gak akur sama akur sama ayah yang mau nikah lagi. Namun dengan tone horor yang kuat sebagai pembungkus lapisannya.
Horor di sini dapat menjadi sangat mengerikan untuk penonton seusia tokoh utamanya, atau yang lebih muda. Anak yang dimakan. Anak yang diseret secara kasar untuk kemudian dibiarkan sementara nasibnya sesuai imajinasi kita. Practical effect-nya akan membantu kita mengembangkan visual supermengerikan di dalam kepala masing-masing. The Wretched punya departemen art yang asik, untuk ukuran genre horor. Penampakan ‘penyihir’nya sangat meyakinkan seremnya. Adegan dia keluar dari perut rusa niscaya bakal menghantui mimpi anak kecil yang menonton ini, paling enggak untuk seminggu ke depan. Sementara aku, skena mimpi burukku sampai saat ulasan ini diketik masih dibintangi oleh emak-emak berdiri di ujung lorong, bermandikan cahaya, dengan tubuh berpostur meliuk kayak batang pohon. Yea, terima kasih buat adegan anak tetangga Ben melihat ibunya berdiri di luar kamar. Sutradara jelas punya gaya dan visi tersendiri dalam menampilkan keseraman dengan penuh gaya, and it works. Bahkan jumpscare yang kita temukan juga enggak jatoh murahan dan hanya-sekadar-ngagetin. Ada timing, ada build up yang melibatkan bukan saja musik, melainkan juga cahaya, sehingga begitu precise dan tetap menghormati penonton.
Dalam penulisanlah film ini lebih struggling. Seperti yang disebut di atas, fenomena-fenomena horor di film ini sebenarnya merepresentasikan ketakutan anak saat keluarganya berpisah dan bakal membentuk keluarga baru, dengan lingkungan dan orang yang completely baru, sehingga mereka merasa terasing. Film berusaha memasukkan banyak, seperti anak yang keluarganya disihir sehingga melupakan dia exist adalah gambaran anak takut dilupakan, ataupun seperti penyihir yang memakai kulit manusia dan menyamar menjadi ibu – membisiki ayah untuk bersikap aneh – adalah gambaran anak takut dia tidak mengenali orangtua baru atau orangtua aslinya lagi. Semua itu diperlakukan sebagai kekuatan sihir si Penyihir. Namun saking banyaknya, film jadi terlihat menumpukkan saja semuanya ke tokoh Penyihir ini. Film mencoba membangun mitologi si penyihir untuk merangkum dan melogiskan itu semua. Tapi tetap saja, si Penyihir pada akhirnya hanya tampak seperti segala kekuatan jahat yang superpower tanpa benar-benar menjadi sebuah karakter.
Menjadi lebih parah ketika kita meniliknya dari usaha film membeberkan kekuatan, keberadaan, dan mungkin cara mengalahkan Penyihir ini. Film melakukan semua trope horor gampangan, semacam ada simbol sihir di mana-mana, ada internet yang punya informasi detil mengenai makhluk ini. Kemudahan dan kefamiliaran. Membuat film ini generik dalam hal karakterisasi dan pendalaman mitologi. Kekuatan penyihir tidak diberikan batasan atau penjelasan. Kegunaan simbol, kenapa digambar, kenapa makan anak-anak, siapa yang menulis artikel detail di internet, film gak peduli membahas semua itu. Yang penting bagi film adalah aspek-aspek itu ada sebagai alat untuk mendukung gagasan soal ketakutan anak, dan si penyihir ‘hanyalah’ gabungan dari itu.
Penyihirnya suka menggambar

 
Konsistensi struggling penulisan ini juga tercermin jelas dari karakter-karakter manusia. Film bermaksud membuat tempat, kota, yang menjadi latar hidup. Sebagaimana dalam cerita-cerita Stephen King; mau itu kota Derry, Castle Rock, ataupun penjara Shawsank, tempat selalu menjadi karakter ‘tersembunyi’. The Wretched pengen seperti demikian. Kita diperlihatkan si Penyihir sudah ada dari beberapa tahun yang lalu. Bersemayam di hutan. Kita lantas melihat kota kini berpindah pusatnya ke perairan, dan ada arc sendiri bagi Penyihir terkait dengan kota ini yang dibuat melingkar di akhir. Untuk fully menghidupkan kota, film menempatkan berbagai macam penduduk sehingga tokoh-tokoh sentral bisa berinteraksi dengan mereka. Akan tetapi, film ini kembali salah langkah. Seperti halnya Penyihir, kota atau tempat ini juga jadi tumpukan trope saja. Semuanya hanya jadi device saja. Misalnya tokoh bully yang ternyata perannya hanya minor untuk menghalangi Ben ke suatu tempat, sekilas, dan tidak pernah dibahas lagi relasi yang sempat terbangun antara Ben dengan mereka.

Membayangkan orang asing masuk ke keluarga, mendekati salah satu orangtua dan kemudian membayangkan harus menganggap orang itu orangtua baru, jelas bukan pikiran menyenangkan untuk anak dan remaja. Banyak peneliti yang sependapat bahwa anak tumbuh lebih ‘sehat’ di lingkungan yang mencintai meskipun harus mengalami perpisahan dibandingkan tumbuh di lingkungan yang selalu bertengkar. Namun, perpisahan dan masuknya orang baru tetap bukan perkara enteng bagi mental anak. Mereka terutama khawatir akan terlupakan, karena orangtua sudah move on dengan cinta lama. Sekaligus takut melupakan orangtua ketika mereka nyatanya juga harus move on dan memilih.

 
Dan bicara soal Ben, dari eksposisi backstory yang ia ceritakan kepada kita melalui tokoh teman wanitanya, supposedly Ben ini kayak jadi bengal gitu setelah orangtuanya cerai. Tangannya patah karena perbuatan kriminal kecil-kecilan yang ia lakukan. Kita juga melihat di awal perkenalan kita dengannya, Ben mengutil uang. Dari sini kita bisa memahami cerita sebenarnya pengen menyampaikan bahwa Ben yang sekarang sedang ‘dihukum’ dia datang ke tempat ayahnya untuk bekerja dan dipantau berkelakuan baik. Konflik diset lewat Ben harus melanggar aturan karena ia merasa ada sesuatu yang ganjil dan berbahaya di rumah sebelah. Ini mestinya konflik yang cukup menarik. Akan tetapi, Ben yang sebagian besar durasi kita lihat, tidak pernah tampil semenarik itu. Karakternya boring, whiny, dan tidak memancing simpati. Ada seorang cewek yang mendekati dia, mereka jadi sahabat, dan Ben tak pernah tampak tertarik ataupun bereaksi kepadanya seperti manusia beneran. Ben terlalu fokus membawakan plot, tindakannya jadi ngeselin. Film terlalu menyuruhnya untuk mengintip tetangga kayak sedang berada dalam film Rear Window (1954), sehingga lupa ada elemen-elemen lain yang harusnya juga dimainkan.
Film menyimpan twist keren di akhir, hanya saja tidak terasa cukup waktu untuk kita benar-benar merasakan impact dari pengungkapan tersebut. Keberadaannya enggak mengurangi nilai film, tapi aku pikir seharusnya bisa lebih diberi bobot lagi terutama yang berhubungan dengan Ben. Bukan hanya dia ada di sekitar Ben, melainkan mungkin seharusnya bisa dikaitkan langsung dengan emosional Ben, seperti misalnya dia-lah justru yang pertama kali melupakan. Dan ini hubungannya kembali lagi ke karakterisasi; karena Ben dikembangkan tidak semenarik yang seharusnya bisa dicapai jikasaja naskah direworked lebih cermat.
 
 
Untuk menyimpulkan; aku enjoy menonton ini. Ceritanya yang mengangkat horor di balik kehidupan sehari-hari membawa ke masa-masa horor jadi staple dalam hiburan anak muda. Film ini tidak terasa seperti horor dengan tokoh remaja/anak. Melainkan seperti film anak yang horor. Dan ini membuatnya jadi pengalaman nonton yang seru. Juga grounded, karena masalah pada anak dapat dengan mudah terelasi kepada semua orang. Penggemar horor pun aku yakin akan mengapresiasi estetik dan visualnya. Mainstream appeal film ini juga terletak pada twist yang sudah disiapkan. Masalahku sama film ini adalah penulisan yang enggak sebanding dengan arahan. Banyak aspek yang diangkat, yang ternyata cuma jadi trope dan device, alias tidak benar-benar matang dipikirkan kehadirannya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE WRETCHED.

 

 
 
That’s all we have for now.
Sesungguhnya, enggak ada orang yang mau dilupakan, terutama oleh orang-orang yang ia sayangi. Menurut kalian, darimana perasaan takut dilupakan ini berasal? Apakah itu hanya ‘anak’ dari kecemburuan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

BAD EDUCATION Review

“Teachers are the unsung heroes”
 

 
Pernah penasaran sama yang namanya ‘uang pembangunan’ di sekolah? Pernah kesal karena setiap bulan selalu ditagih tapi enggak pernah jelas untuk membangun apa? Well, Bad Education arahan Cory Finley bakal bisa memberikan salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut. And while at it, drama komedi ini juga bakal menggugah simpati kita dengan pertanyaan lain, yakni benarkah seorang guru tidak memerlukan ‘tanda jasa’?
Karena film ini dibuat berdasarkan kisah nyata dari skandal penggelapan uang sekolah di Amerika. Seorang superintendent bernama Frank Tassone dikenal sebagai guru yang baik. Dia dicintai bukan hanya di kalangan guru dan sejawat, tapi juga oleh murid-murid di setiap sekolah yang ia tangani. Dia akrab dengan orangtua mereka. Tassone benar-benar peduli dan memperhatikan pencapaian akademik dan kepentingan sekolah. Penulis skenario Mike Wakowsky actually adalah mantan murid dari the real Frank Tassone. Dalam film ini Mike menuliskan sosok gurunya itu sebagai pria berpenampilan rapi yang ingin memajukan Roslyn High School sehingga menjadi peringkat satu senegara-bagian. Pria yang lembur di kantor demi menghapal nama murid dan orangtua. Yang mengingat prestasi semua murid tanpa terkecuali. Yang menggebah Rachel, salah satu murid di ekstrakurikuler jurnalistik, untuk mengerjakan tugas lebih dari yang ditugaskan. Rachel kala itu datang hanya untuk meminta komentar soal pembangunan Skywalk. Saran Tassone-lah yang menyemangati Rachel untuk menyusun laporan lebih dalam, sehingga siswi ini menemukan kejanggalan yang mengkhawatirkan pada laporan keuangan sekolah.

Seperti anggaran lem aibon yang mencapai 80 Milyar, eh tapi itu kasus di sekolahan kita yah

 
Skandal nyata yang bisa dibilang terjadi lumayan recent itulah – tahun 2002, tepatnya – yang dijadikan hook pada film ini. Ceritanya menelisik reaksi sekitar karena peristiwa tersebut sensasional sebab dilakukan oleh seseorang yang begitu kharismatik dan disukai, seperti sosok Frank Tassone. Di balik senyum penuh pancaran semangat dan motivasi, ternyata ia telah bertahun-tahun menggelapkan anggaran. Masuk ke kantong pribadi dan kantong orang kepercayaan. Film mengajak kita mengalami rasanya semua itu terjadi. Cerita dibuat semakin ‘seksi’ dengan mengubah sedikit kejadian dari dunia nyata; intensitas digenjot dengan membuat muridnya lah yang melakukan investigasi yang mengungkap semua – sementara pada kejadian nyata, murid dan koran sekolah hanya menyebutkan sekilas yang kemudian langsung dilalap oleh media luar. Secara skenario – pembangunan konflik dan sebagainya – ini adalah yang keputusan yang tepat. Menambah banyak bobot pada drama karena kita akan mendapat banyak interaksi antara Tassone dengan Rachel yang berfungsi sebagai device untuk mengeksplorasi kontras antara kebutuhan guru dan tanggungjawabnya terhadap pendidikan murid.
Bad Education actually adalah pelajaran berharga tentang keadaan dunia pendidikan bagi kita semua. Film tidak melupakan kemanusiaan yang menjadi literally aktor utama di balik skandal menghebohkan jagat pendidikan tersebut. Kita diberi kesempatan untuk melihat siapa sebenarnya Frank Tassone. Dan film melakukan ini tidak dengan cara ‘menipu’. Alias, tidak sekadar dibikin twist atau ‘ternyata’, kayak Tassone diperlihatkan sebagai orang baik di awal kemudian busuknya terungkap oleh koran. Tidak. Film menyetir cerita ini keluar dari jalur Tassone si Good-Looking Con Man. Melainkan menyorotinya dengan sebanyak mungkin kevulnerablean manusiawi. Film dengan subtil menanamkan karakter Tassone. Genuinenya dia terhadap kondisi pendidikan anak-anak diperlihatkan selaras dengan sifatnya yang memang hobi berbuat ‘curang’. Kita melihat dia cheat on his diet. Hingga ke Tassone cheat on his life-partner. Namun semua kecurangannya itu dipastikan oleh film berakar pada kepedulian Tassone terhadap murid-murid.
Salah satu elemen penting sebagai usaha naskah menampilkan kehidupan pribadi Tassone adalah soal hubungannya dengan Kyle, lelaki yang merupakan mantan muridnya saat masih mengajar sebagai guru bahasa Inggris. Ini bukan sekadar menonjolkan preferensi seksual atau sekadar supaya sama dengan kejadian asli, melainkan berfungsi sebagai penanda karakter. Sebab ketertarikan Tassone kepada Kyle bermula saat dia mengetahui mantan muridnya ini gagal sebagai penulis. Ini menunjukkan bahwa tokoh ini tak bisa menahan keinginannya untuk membantu muridnya, Tassone ingin membantunya sukses. Dan dia rela menghabiskan apapun untuk itu. Film juga menunjukkan perbedaan yang mendasar antara korupsi Tassone ini dengan korupsi salah satu sejawatnya yang lebih ke arah tamak. Memperbaiki rumah, belikan Playstation, beli perhiasan. Tassone tidak seperti demikian. Uangnya ia pergunakan untuk bepergian dalam acara pendidikan. Ia pakai untuk perawatan diri karena ia percaya sekolah butuh sosok seperti dirinya.
“I don’t give a damn about bad education”

 
Jadi ada keambiguan pada ‘penyakit’ dan keinginan tulus Tassone sebagai seorang pengajar/pendidik. He almost beg for a sympathy, sementara kita tahu apapun alasannya menggelapkan uang – mencuri uang – itu adalah perbuatan yang salah. Inilah yang menyebabkan film ini menarik menit demi menitnya. Membuat kita mempertanyakan diri sendiri bagaimana seharusnya perlakuan kita terhadap guru. Pekerjaan guru, mengajar, seharusnya mengutamakan kepada outcome; berhasil atau enggak dalam mencerdaskan anak-anak, memajukan pendidikan bangsa dan segala macam. Tapi bagaimana dengan income; bagaimana si guru tersebut. Tidakkah mengatakan mereka pahlawan tanpa tanda jasa tidak bakal jadi beban bagi mereka? Kita banyak mendengar guru dibayar kecil, gaji guru enggak seberapa. Tokoh Frank Tassone berargumen soal ini, sebagai pembenaran atas apa yang ia lakukan.
Monolog saat Tassone menumpahkan keluh kesah kepada orangtua murid yang merupakan tumpukan ‘kekesalan’ pribadinya, sekaligus bisa kita gunakan sebagai cermin terhadap dunia pendidikan. Tassone kurang lebih bilang, “Pernahkah Anda mengingat wajah guru yang duduk bersamamu, yang membimbing, mengajarkan berhitung dan membaca? Anda mungkin lupa. Tapi kami tak pernah lupa. Karena kalian hanya menganggap sekolah sebagai tempat pacuan kuda, anak-anak digempur, dan kamilah pengurus kuda-kuda itu.” Itulah akar dari permasalahan ini menurut dirinya; bahwa orang-orang abai kepada guru. Bahkan ketika dirinya terpaksa memakai duit sekolah dengan jumlah tak seberapa – awal dari semua ini – bertahun-tahun yang lalu, orang-orang gak ada yang peduli. Orang-orang hanya peduli pada kinerja. Sekolah yang mendapat peringkat empat. Mereka mendapat gengsi dan anak-anak yang pintar. Guru hanya mendapat tepuk tangan. Dan bagi Tassone, itu semua enggak cukup.

Pahlawan tanpa-tanda jasa berarti pahlawan yang mengerjakan kebajikan tanpa pamrih. Mereka harus kita apresiasi, diberikan pengakuan, penghargaan. Kita harus memberikan kepada mereka, tanpa diminta. Sebab begitu tanda jasa itu diminta, maka mereka bukan lagi pahlawan. Mereka bisa berubah menjadi penjahat yang mengambil sesuatu lebih dari haknya.

 
Entah pembelaannya itu tulus atau tidak, entah semua ucapan emosionalnya itu beneran atau cuma alesan, is it a classic ‘help me help you’ scenario? Film mengembalikan semuanya kepada kita. Korupsi, bagaimanapun salah karena telah merugikan orang banyak. Hanya, ada suatu pokok yang bisa kita renungkan di balik ini semua. Dalam konteks ini, penampilan akting menjadi penentu nomor satu kesuksesan bercerita. Dan, wow, Hugh Jackman benar-benar luar biasa memerankan sang superintendent. Kita percaya ketika dia mengajar dan menyemangati anak-anak murid. Namun kita juga merasa dicurangi ketika semua perbuatannya terungkap. Jackman berpindah dari orang yang dihormati, ke pasangan yang dicintai, ke tikus yang licik dengan sangat meyakinkan. Monolog yang aku sebut tadi, sebenarnya setelah itu dia melakukan monolog lagi berupa menjelaskan kepada anak kecil pengucapan kata ‘accelerate’. Penyampaiannya sangat menakjubkan, Jackman benar-benar menyelam sempurna ke dalam perannya. Dia tampak seperti orang yang punya passion mengajar beneran.
Meskipun begitu, di babak awal film ini sebenarnya berjalan kurang mulus. Penonton yang belum tahu bahwa film ini berdasarkan kasus korupsi dana sekolah, akan bingung ke mana arah alur cerita. Motivasinya kurang tertanam, film seperti berkubang pada set up yang menuntut kita untuk mendengar para tokoh lalu seperti terpecah dua saat Rachel si jurnalis sekolah muncul. Film akan membawa kita bergantian dari momen Rachel ke Tassone, dan untuk awal-awal terasa seperti ketidakmantapan sudut pandang. Sampai akhirnya kita tahu bahwa film ini berdasarkan satu event – kejadian terungkapnya kasus di sekolah – dan lantas film berkembang menjadi menarik. Dan terasa sangat relevan karena setiap kita pasti punya kecurigaan sekolah kita menarik uang untuk yang tidak-tidak.
 
 
 
Yang akan menghantam kita saat menonton film ini adalah perasaan terkhianati oleh orang yang paling kita percaya sedunia, dan kemudian gelombang intropeksi apakah kita yang menyebabkan dia jatuh dari kesempurnaan. Naskah mencoba mengulik semua kompleksitas berdasarkan kasus di kehidupan nyata pada dunia pendidikan. Kita dapat merasakan usaha untuk membuat cerita ini lebih dari sebuah peristiwa penipuan. Juga sekeras mungkin berusaha untuk ambigu, dan melihatnya dari sisi pelaku. Menonton ini nyaris dua jam, kita gak akan bosan karena diisi oleh topik yang memancing dan penampilan akting yang jempolan.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for BAD EDUCATION.

 

 
 
That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian sistem pendidikan kita sudah benar-benar menghormati dan menghargai guru sebagaimana pekerjaan mereka?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE WILLOUGHBYS Review

“When everything goes to hell, the people who stand by you without flinching — they are your family.”
 

 
 
Alessia Cara main film! Berita tersebut tentu saja langsung membuatku menggelinjang. Tapi kemudian gelisah. Begini, ketika nonton film yang melibatkan either orang yang kita kenal atau orang yang kita sukai, yang kita ngefan abiss, rasanya tuh selalu ngeri-ngeri sedap. Karena kita akan berada di posisi pengen objektif alias gak mau terlalu bias, tapi juga khawatir bakal terlalu kritikal terhadap idola sendiri. Ini sama seperti kepada keluarga, kita berharap mereka gak doing something bad karena kita gak mau terlalu keras kepada mereka; kita berharap mereka doing great supaya punya alasan bagus untuk memujinya tanpa dianggap bias. Untungnya, animasi Netflix The Willoughbys yang memang bercerita tentang menyingkapi keluarga dengan hati ini punya banyak keunikan dan hal unggul alami sehingga aku tidak merasa tidak-enak memujinya.
Yang didirect oleh sutradara Kris Pearns dan Cory Evans ini sungguhlah sebuah cerita yang aneh dan tak biasa diusung dalam bentukan tontonan keluarga. Mimpi yang mereka jual tergolong ‘mengerikan’. Bagaimana jika anak-anak menginginkan orangtua mereka pergi? The Willoughbys mengisahkan Tim dan tiga adiknya – Jane dan si kembar, Barnaby – tinggal bersama orangtua mereka di rumah kuno di tengah kota modern. Seperti bangunannya, keluarga ini juga tergolong ‘old fashioned’. Silsilah Keluarga besar Willoughbys penuh oleh orang-orang dengan pencapaian, dan kumis, luar biasa. Semua itu seakan putus pada ayah Tim yang berkumis tipis. Ayah Tim tak peduli pada banyak hal di luar cintanya kepada ibu Tim. Beliau bahkan tidak peduli sama anak-anaknya. Mereka tak mau berbagi makanan kepada Tim, yang malah dikurung di bawah tanah. Mereka melarang Jane bernyanyi. Mereka enggak mau repot ngasih dua nama – dan dua sweater – untuk si kembar. Tim dan saudaranya merasa diabaikan. Mereka jadi kepengen jadi yatimpiatu supaya bisa bebas. Maka mereka mengirim ayah dan ibu ke sebuah paket travel romantis namun amat berbahaya. Tentu saja harapan mereka adalah kedua orangtua mereka celaka dalam perjalanan.

Dan kemudian Mary Poppins dan Willy Wonka jadian dan berpotensi jadi orangtua angkat Tim dan adik-adiknya

 
Gagasan yang berupa kita bisa memilih keluarga kita sendiri, ataupun gagasan untuk tidak merasa terikat oleh orang yang harus kita pedulikan hanya karena punya hubungan darah dengan mereka, tentunya adalah bahasan yang lumayan kompleks dan bisa dibilang cukup kelam untuk anak kecil. Secara bahasa memang tidak ada yang sadis, vulgar, atau gimana. Melainkan film ini punya humor yang receh, dan mirip seperti kartun-kartun konyol di televisi. Namun secara topik, film ini bersuara dewasa. Ia menyinggung kekerasan anak, abandonment, perihal merencanakan kematian. Dan memang akan ada tokoh-tokoh yang menemui ajal, yang dipresentasikan sebagai komedi. Saat membahas cinta laki-laki kepada wanita, film juga tidak mendaratkan kepada anak, ia menghamparkannya sebagaimana anak-anak melihat cinta. Sesuatu hal rahasia yang dilakukan oleh orangtua. Film menampilkan banyak gestur terselubung, but again, dalam sorotan cahaya dark jokes.
Jadi film ini sebenarnya masih satu kotak sama animasi seperti Coraline (2009), atau Frankenweenie (2012), karena sama-sama film anak/keluarga yang horor. The Willoughbys, however, dapat terasa lebih seram karena bahasannya yang sangat dekat. Gak sembarang anak-anak yang aman menonton ini. Paling enggak harus ngerti konsep sarkas dulu, karena jika tidak bisa dengan gampang ketrigger ke arah yang enggak-enggak. Karena di film ini kita akan melihat hal-hal yang mengundang pertanyaan berat bagi anak-anak polos seperti kenapa orangtua benci kepada anaknya, kenapa anak-anak itu enggak dikasih makan, boleh tidak anak benci kepada orangtua dan mengirimnya ke tempat berbahaya.
Di pihak lain, film ini juga lebih warna-warni dan lebih cerah. Berkat visual yang imajinatif dan sangat kreatif. Film ini menggunakan animasi CGI dengan konsep pergerakan yang menyerupai stop-motion. Seperti yang kita nikmati pada film-film LEGO. Dunia yang dihadirkan sangat kartun, rambut para Willoughby ini misalnya, berserat kayak benang. Awannya kayak gula kapas. Dan ada pelangi sebagai pengganti asap dari pabrik permen. Film ini berusaha menyinari elemen kelam ceritanya dengan penampakan dan tone yang ceria. Hebatnya, dua elemen tersebut; cerita yang kelam dan tone yang konyol cartoonish, akan jarang sekali terasa bertabrakan. Ini karena film berhasil mengeset pemahaman kita terhadap logika yang bekerja pada dunianya. Belum apa-apa kita disambut oleh kucing yang bisa berbicara, sebagai narator. Untuk merangkum semuanya, pengalaman nonton film ini sama seperti kita sedang dibacain dongeng, dan kita melihat lembar-per lembar buku dongeng yang penuh warna dan hal-hal unik.
“my kind of fun doesn’t make any sense”

 
Kita semua tahu, dongeng-dongeng klasik sekalipun memang semuanya punya ‘keseraman’. Film ini bertindak sebagai dongeng modern yang gak shy away dari aspek mengerikan yang terkandung dalam gagasan tak-biasanya. Karena film tahu dia punya pesan yang hangat untuk disampaikan. Film ingin berdiri sebagai mercusuar harapan bagi anak-anak yang merasa orangtuanya jahat first, dan kepada anak yang orangtuanya beneran jahat second. Things could get that ugly. Maka anak-anak seperti Tim perlu untuk melihat semua sudut supaya mereka bisa belajar untuk kembali percaya kepada orang dewasa. Karena setiap anak butuh pendamping, baik itu wali maupun orangtua.
Sepanjang cerita kita akan melihat perjalanan Tim dan Jane dan Kembar Barnaby. Kita dipahamkan akar dari mereka jadi bisa berpikir untuk lebih baik hidup tanpa ada orangtua. Kita mengerti kenapa mereka awalnya tidak percaya kepada Nanny yang datang untuk mengasuh mereka. Kita melihat Tim pelan-pelan belajar bahwa punya keluarga itu adalah suatu berkah. Belajar bahwa makna dari keluarga bukan sekadar kesamaan fisik dan tradisi. Melainkan saling menerima perbedaan dan saling menyintai. Alur cerita film ini dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan pengembangan pola pikir Tim, tokoh yang difungsikan sebagai wakil dari anak-anak dalam keluarga yang broken atau disfungsional. Kepercayaannya terhadap peran masing-masing dalam sistem keluarga perlahan timbul. Hampir seperti ia menyerah, kelihatannya bagi kita, saat Tim memutuskan untuk menempuh perjalanan jauh demi menjemput dan menyelamatkan nyawa orangtua mereka. Tapi sekaligus kita lega. Karena itulah satu-satunya cara. Anak butuh orangtua. Kemudian film mendaratkan kita kembali bahwa kadang keluarga itu just not working. Kadang orangtua memang begitu egois. Kadang mereka memang jahat. Tapi pada saat itu, Tim dan adek-adeknya sudah paham nilai sebuah keluarga. Perjalanan mereka telah sempurna, maka cerita memberikan mereka ‘hadiah’. Resolusi yang diberikan film ini sungguhlah manis. Kita mungkin sudah bisa melihat hal ini datang, tapi endingnya akan tetap nonjok karena kita sudah terinvest sama tokoh-tokoh colorful yang dihadirkan.

Keluarga bukan soal rumah. Bukan juga semata soal darah. Terkadang, keluarga adalah soal orang-orang yang memilih untuk bersamamu. Orang-orang yang ada di dekatmu tanpa diminta. Terkadang, memang orang pilihanlah yang membuat keluarga terbaik.

 
Tokoh-tokoh tersebut sekilas memang tampak satu dimensi. Tapi jika kita teliti, film sebenarnya memberikan mereka lapisan, hanya saja elemen komedi yang membungkusnya terlalu menghalangi. Orangtua Tim saling cinta, mereka bisa survive dari apa aja berkat kekuatan cinta mereka. Tapi mereka jahat kepada anak-anaknya, dan kepositifan dari cinta itu terhalangi karena film menunjukkannya sebagai ‘kekuatan’ jahat – orang-orang actually celaka di sekitar cinta mereka. Nanny yang baik hati juga dibeberkan punya masa lalu sebagai anak yatim sehingga kita punya ruang untuk mengenali emosinya. Commander Melanoff juga diperlihatkan bukan sekadar sebagai orang aneh yang punya pabrik permen, selalu ada sesuatu di balik penokohan, meskipun memang sebagian besar dimainkan sebagai komedi oleh film ini. Sehingga bisa dengan mudah teroverlook dan membuat tokohnya satu dimensi. Aku sih berharapnya mereka ngecilin sedikit volume kekonyolan agar karakter dapat bersinar. Namun justru ekstrimnya rentang konyol dan dark-nya itulah yang menjadi appeal dan gaya film ini.
And finally, saatnya membahas Alessia Cara yang memulai debutnya sebagai bermain akting pengisi suara. Film ini berisi jejeran seperti Maya Rudolph (yang enerjinya menghidupkan film ini ke level maksimal) ataupun Tim Forte, dan even Ricky Gervais yang terdengar natural sebagai kucing pemalas. Alessia paling muda di sini. But I gotta say, suaranya cocok sekali dengan karakter Jane. Terdengar ringan dan sedih bersamaan. Juga penuh optimisme. Salah satu ciri Jane adalah kalimat ‘what if’. Dialah yang pertama kali mengajukan ide ‘membuang’ orangtua mereka. Tokoh ini penuh oleh ide liar, yang dihidupkan dengan klop oleh akting suara Alessia. Lagu yang dinyanyikan oleh tokoh ini kupikir bakal bisa ngehits karena sangat efektif sebagai klimaks emosional dalam cerita.
 
 
 
 
Dark jokes pada elemen cerita – anak yang pengen jadi yatimpiatu biar bebas – berusaha disamarkan film lewat kekonyolan dan warna-warni pelangi khas kartun. Campuran dua tone inilah yang menjadikan film unik. Visual dan design karakter dan dunianya jelas santapan bagi mata dan imajinasi. Film ini juga punya cerita yang manis tentang menemukan sebuah keluarga. Memahami makna sebuah keluarga. Tapi aku juga bisa melihat film yang diadaptasi dari buku ini bakal membuat penonton terbagi dua. Atau setidaknya merasa was-was dan berpikir dua kali untuk menayangkan ini kepada buah hati. But oh boy, animasi berani seperti ini sedang ‘menang’ ketimbang animasi ‘isi angin’. Dari sisi yang lebih aman, kita sudah dapat Onward (2020), lalu yang sedikit kontroversial dan berani seperti ini ada Red Shoes and The Seven Dwarfs (2020). Yang sebenarnya diminta oleh film-film seperti ini adalah duduk menonton bersama keluarga, sebab pertanyaan berat akan mereka hadirkan, dan diskusi terhadap itulah yang coba dihadirkan
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE WILLOUGHBYS.

 

 
 
That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian film ini cocok ditonton untuk anak-anak?
Dulu waktu kecil aku kalo ngambek sering berangan-angan minggat dan kabur jadi anak keluarga lain yang lebih keren. Apakah kalian pernah mengalami hal yang sama? Pernahkah kalian menganggap orangtua jahat?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE TURNING Review

“We all go little mad sometimes”
 

 
 
The Turning sedianya memang bikin kepala kita berputar-putar saat berusaha mencerna yang sedang ia ceritakan. Apakah hantunya nyata atau tidak. Apakah kejadian dalam film ini beneran terjadi atau bukan. However, horor sebenarnya yang mengendap-ngendap di balik cerita ini adalah soal betapa menjadi gila itu merupakan hal yang paling menakutkan di seluruh dunia.
Diperankan dengan ceria (pada awalnya loh ya, pada awalnya) oleh Mackenzie Davis, Kate Mandell menerima kerjaan menjadi pengasuh pribadi seorang anak perempuan yang mengalami trauma karena melihat orangtua meninggal. Kate tahu persis rasanya besar jauh dari orangtua, maka ia dengan personal menganggap pekerjaan barunya tersebut sebagai tugas mulia. Kate sempat mampir dulu menengok ibunya yang dirawat di tempat yang sepertinya adalah sebuah rumah sakit jiwa, sebelum berangkat ke rumah sang anak di pedalaman terpencil. Rumah yang ternyata sangat besar, halamannya luas, ada istal kuda segala. Sedangkan penghuninya cuma dua orang, si anak yang bernama Flora (yaay akhirnya Brooklyn Prince yang natural banget di The Florida Project dapat film lagi) yang ternyata cerdas dan adorable banget, dan pelayan rumah yang tampak sedikit kaku dan misterius. Kenyamanan Kate bekerja di sana mulai terusik tatkala penghuni lain rumah itu – Miles (Finn Wolfhard menggali sisi creep dan dark-nya), abang Flora yang sudah remaja – kembali karena dikeluarkan dari sekolah. Hubungan mereka gak akrab. Miles ini selain jail, juga creepy banget. Ditambah pula, Kate menemukan buku harian milik pengasuh anak-anak sebelum dirinya. Kate belajar kejadian mengerikan sepertinya pernah terjadi di antara pengasuh tersebut dengan instruktur berkuda yang akrab dengan Miles. Kini keduanya telah almarhum, tapi Kate merasa arwah mereka masih berada di sana. Corrupting the mind of the children. Sekaligus meneror dirinya.

Ssst jangan bilang-bilang kami pernah main film kayak gini yaa

 
Cara terbaik kita menonton film ini mungkin adalah dengan menganggapnya sebagai cerita wanita yang menjadi gila. Aku menyebutnya ‘mungkin’ karena memang tidak ada yang pasti dalam film ini. Sutradara Floria Sigismondi tidak menebarkan cukup banyak bukti-bukti penentu untuk kita memecahkan misterinya. Karena film didesain untuk bergerak dalam konteks membingungkan. Tema yang bergaung kuat pada novel The Turn of the Screw yang merupakan materi asli horor ini adalah disorientasi. Bahkan narator pun dipersembahkan sebagai orang yang tidak bisa kita percaya. Kegilaan tadi itu adalah bawaan dari materinya. Sedangkan Sigismondi mengadaptasi ini dengan lumayan ambisius. Ada pesan kekuatan perempuan yang turut ia gulirkan di bawah cerita.
Konflik sentral pada The Turning adalah hubungan antara Kate dengan Miles. Wanita muda yang mandiri ‘versus’ cowok abg yang gede dalam lingkungan berprivilege. Adalah Kate yang pertama kali mampu melihat Miles tumbuh menjadi pribadi yang bermasalah. Dia arogan, full of himself, suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan, dan percaya bahwa kuda harus dikerasin biar nurut – dan siapa yang tahu seberapa jauh jangkauan kepercayaan Miles tersebut, apakah dia juga menganggap manusia harus dikerasin dahulu? Mungkin karena prinsip itulah Miles juga agak semena-mena sama Kate; dia sebenarnya ingin berteman. Namun interaksi mereka semuanya sangat awkward. Miles tampak seperti stalker di mata Kate. Wanita ini – set to be the best parents or whatever – berusaha untuk memperbaiki sikap Miles. Kate tidak mau menyerah, ia terus mengulik akar perangai Miles. Ia sampai pada kesimpulan Miles berpanutan kepada orang yang salah. Sosok Quint si instruktor berkuda lantas menghantui pikiran Kate, just like ia menghantui Miles seperti dalam pikiran Kate.
Sutradara mengikat visinya dengan materi cerita di sini. Sumber kegilaan Kate adalah pengaruh Quint yang kuat melekat. Terwujud sebagai hantu Quint, dalam pikirannya. Ini menantang Kate sebegitu kuatnya. Kate merasa gagal dan gak cukup kuat, dan orang yang ia kenal yang gagal ‘memperbaiki’ anak adalah ibu kandungnya. Yang sekarang melukis di fasilitas penyembuhan mental. Main force di balik perjalanan karakter Kate adalah dia takut menjadi seperti ibunya, ia takut gagal mengasuh Miles dan Flora (Kate gagal total menyembuhkan ketakutan Flora untuk bepergian keluar dari gerbang rumah). Maka tokoh ini perlahan semakin panik dan jadi gila sendiri. Sedari luar, film menampilkan ini lewat semakin intensnya gangguan hantu-hantu. Suara-suara yang Kate dengar, wajah-wajah di cermin. Sedangkan dari dalam, film memperlihatkan perubahan Kate lewat bukti-bukti visual. Kita bisa menangkap ini dengan membandingkan penampilan dan sikap Kate dengan sosok pelayan rumah Mrs. Grose (Barbara Marten menyuguhkan permainan akting paling kuat di sini, karena berhasil memainkan misteri yang ia ketahui dengan sangat mengundang). Kate dan Grose awalnya kontras sekali. Kate selalu memakai baju-baju berwarna terang, sementara Grose berwarna abu-abu. Nyaris menyatu dengan latar rumah. Dua tokoh ini juga melambangkan dua aspek yang berlawanan. Yang satu adalah perlambangan kepatuhan yang dapat berujung sesuatu yang lebih fatal. Dan satunya lagi adalah perjuangan dengan resiko gagal yang membuat hilang akal. Sepanjang cerita berjalan, Kate berkembang menjadi campuran yang parah-parah dari kedua tokoh ini. Dia cerah namun juga semakin kelabu.

Orang gila, meskipun bakal pasti masuk surga, tapi di dunia selalu tampak menyedihkan. Umum bagi kita untuk mengucilkan orang gila, dulu istilahnya ada yang dipasung, dikurung di rumah sakit, disuntik macem-macem. Bahkan tak jarang diasosiasikan sebagai kemasukan setan. Maka kita naturally takut dianggap gila. I mean, bagaimana pun juga ketika sudah dicurigai gila, kita membantah segimanapun hanya akan dianggap semakin gila. Jadi kita takut gila bukan karena gila itu sendiri. Sehingga banyak dari kita yang gak sadar bahwa jadi gila itu sebenarnya mudah, losing touch with reality adalah penyakit yang bisa saja timbul dari ego, kesombongan, dan penyakit hati lainnya. Kita harusnya takut pada hal ini. Takut bahwa kita semua sudah pernah gila sesekali.

 
It’s a lost cause bagi Kate. Bukan lagi masalah apakah kegilaan ibu menurun kepadanya, atau ia gila diganggu hantu beneran atau enggak. Poinnya adalah, kejadian di rumah tersebut – masalah sikap dua anak itu – terlalu gede untuk ia tangani. Ketakutannya bukan kepada hantu. Melainkan kepada kegagalan dan kepada jadi gila seperti ibunya; terkucilkan, dianggap aneh. Inilah membuat ia jadi benar-benar gila. Atau paling tidak, rusak seperti boneka milik Flora yang ia jatuhkan.

Are you me or am I you?

 
Meski gagasan yang diusung film ini dapat diterima. Kita memutar otak cukup keras dan menjangkau cukup jauh – mau tak mau harus berpedoman kepada sumber aslinya, dan baru dapat mengerti dan menerima. Tapi semua itu tetaplah gak bisa dijadikan alasan untuk menyampaikan cerita seperti yang dilakukan oleh film ini. Disorientasi yang jadi tema utama digambarkan oleh film ini  lewat kabut-kabut, lewat labirin, lewat adegan mimpi yang disebar, dan ultimately flat out mengecoh penonton. The Turning turned out to be exactly like modern horror. Penuh jumpscare, sinematografi yang ala-ala goth sebagai appeal. Dan punya twist. Ini mengidap penyakit film kontemporer yang membangun cerita dengan premis ‘ternyata’. Dan memang hanya ‘ternyata’ itulah yang dipunya oleh film ini.
Menge-spoil apa yang terjadi di menjelang akhir film ini actually adalah tindakan yang lebih respectful ketimbang sekuen di menjelang akhir film itu sendiri. Aku benar-benar gak bisa paham kenapa pembuat yang punya visi mau-mau saja mengambil arahan seperti yang dilakukan oleh film ini. Kenapa mereka tidak mengambil rute lain yang lebih menghormati penonton. Jadi; false resolution cerita yang berlangsung sekitar sepuluh menit sebelum ending adalah ternyata semua yang Kate alami sejak masuk babak tiga hanyalah ada di dalam kepala wanita ini semata. Hanyalah imajinasi yang menunjukkan seberapa gilanya dia. Sehingga kita yang menonton, yang sudah melihat perjuangannya untuk kabur dari sana, yang sudah menyaksikan untuk melihat Kate menemukan jawaban dan pembelajaran, dikecoh sebab ternyata film ini sama sekali tidak memberikan penyelesaian. Tidak ada solusi asli. Yang kita lihat sepanjang film adalah wanita yang perlahan menjadi gila, dan tidak ada kesembuhan. Film bisa berakhir lebih cepat tanpa harus perlu ada sekuen false resolution yang ternyata beneran mengecoh. Tidak ada aksi, pilihan, yang sesungguhnya dilakukan. Ini seperti menonton adegan mimpi yang panjang sekali.
Film ini hanya ingin menunjukkan Kate jadi gila. Itu saja. False resolutionnya berfungsi untuk menyampaikan informasi hantu-hantu itu gak ada. Namun film melakukan dengan cara yang mengecoh kita. Mereka gak mau repot nyari penyampaian false resolution yang lebih baik. Dan bahkan settle di ‘Kate gila’ juga tidak menjawab semua pertanyaan yang dipancing oleh film. Kepala manekin yang bergerak sendiri saat Kate pertama bermalam di sana. Lukisan ibunya yang seolah jadi pertanda. Misteri kematian Quint. Bagaimana dengan Flora yang melukis hantu persis seperti imajinasi Kate – jika hantu-hantu itu beneran dalam kepala Kate. Film tidak komit membahas ini, dengan tidak pernah tegas menginformasikan sesuatu yang krusial seperti anak-anak ini beneran bandel dan sengaja ngeprank. Atau ibunya beneran gila dan lukisannya tak berarti apa-apa. Dan dengan agendanya sendiri, film justru seperti menghukum protagonisnya sendiri tanpa alasan yang jelas.
 
 
 
 
Aku sebenarnya sudah sangat enjoy menonton ini. Aku masih bisa memaklumkan jumpscare, ataupun pemilihan musik yang agak ngerock yang gak klop dengan tone cerita. Aku menikmati penampilan akting para tokoh, meski ada beberapa yang sedikit overacting. Dan karena film enggak pernah benar-benar memberi kita sesuatu untuk dipegang, nonton ini tuh sepanjang durasi memang sebatas pengen lihat penyelesaiannya. Namun ternyata film mengecoh, dia tidak punya penyelesaian, ending film hanya berfungsi sebagai konfirmasi tokohnya gila. Kalo ada yang perlu diperbaiki, maka itu bukanlah wajah boneka. Melainkan sekuen false resolution yang menghina kita itu, adegan-adegan repetitif prank anak-anak, adegan mimpi. Hampir semuanya ya ternyata haha.. Yang mau aku tekankan adalah film tentang perjalanan deteriorating seorang tokoh mestinya bisa lebih terhormat daripada ini.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for THE TURNING.

 
 
 
That’s all we have for now.
Kate membayangkan skenario kabur dari rumah dengan melihat lukisan ngasal ibunya, di titik inipun dia belum sadar dirinya gila. Dia sadar setelah konfrontasinya dengan anak-anak menjelang ending. Menurut kalian, in real life, bagaimana cara kita tahu kita sudah gila?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

RED SHOES AND THE SEVEN DWARFS Review

 

“Beauty is about being comfortable in your own skin.”

Sekilas Red Shoes and the Seven Dwarfs tampak sebagai parodi harmless dari dongeng Snow White dan Princess-Princess lainnya. Namun jika ditilik dari segi cerita, film ini sebenarnya lebih mirip Beauty and The Beast sebab membahas seputar tokoh yang dihukum menjadi makhluk bertampang ‘mengerikan’ sebagai akibat dari terlalu mementingkan fisik dan sudah judgmental terhadap penampilan-luar orang. Namunnya lagi, begitu kita mengingat bahwa animasi ini dibuat oleh Locus Animation yang merupakan studio asal Korea Selatan, you know, negara yang terkenal dengan ‘budaya’; kita tahu parodi film ini berada dalam tingkatan yang lain.

Tujuh kurcaci yang ada pada film ini bukanlah pekerja tambang bertubuh mungil yang dipanggil berdasarkan emosi yang mereka tampilkan. Di Negeri Dongeng ini mereka bukan emoji berjalan. Melainkan tujuh pangeran yang membasmi kejahatan. Mereka superhero. Pandang mereka tak ubahnya sebagai Boyband K-Pop. Lincah, keren, dan tampan. Mereka juga punya nama grup: Fearless Seven. Dan mereka sangat menyombongkan ke-goodlooking-an mereka, terutama Merlin. Akibat ulah Merlin yang salah serang Putri Peri (“Tampangnya kayak Penyihir!”) mereka semua dikutuk menjadi kurcaci kontet. Penawar kutukan tersebut adalah ciuman dari seorang gadis cantik jelita. Masalahnya adalah; cewek cakep mana yang mau nyium mereka dengan wujud enggak keren seperti itu. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Merlin yang tampak paling merindukan wujud aslinya.

Mereka lantas bertemu dengan Snow White – jauhkan imajinasimu dari Putri Salju Disney, karena di sini Snow White adalah seorang gadis baik hati berbodi tambun. Cewek ini buron karena mencuri sepatu ajaib milik ibu tirinya yang seorang penyihir jahat. Sepatu itu mengubah penampilan Snow White menjadi kutilang alias kurus – tinggi – langsing. Snow White yang ingin mencari ayahnya memilih untuk tetap menyamar, ia menamai dirinya yang ala model itu Red Shoes, simply karena Merlin dan teman-teman hanya semangat menolong cewek dengan rupa seperti demikian. Jadi mulailah petualangan – penuh sihir dan makhluk fantasi – dua pihak yang sama-sama bukan berada di tubuh asli dengan buah pelajaran ‘inner beauty jauh lebih penting ketimbang penampilan fisik’ yang siap untuk dipetik.

Aku akan membantu apapun yang bersuara seperti suara Chloe Grace Moretz

 

Salah satu film yang berhasil dengan baik dan dengan penuh hormat mengangkat pesan kecantikan-itu-berasal-dari-dalam dan jangan mau takluk oleh standar kecantikan masyarakat adalah Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (2019). Imperfect sebenarnya berusaha tampil seimbang dengan tokoh kekasih sang tokoh utama, hanya saja tokoh tersebut agak sedikit terlalu ideal. Tetap saja ‘hanya’ berangkat dari sudut pandang cewek dalam permasalahan kecantikan tersebut. Ketika kita berceloteh tentang standar kecantikan, biasanya cewek-lah yang kita bebankan untuk harus menerima dan menghargai diri apa adanya. Cewek jangan diet berlebihan biar kurus, nanti malah sakit. Cewek jangan kebanyakan pake make up, gak baik untuk kulit. Cewek jangan ini, cewek jangan itu. Gak harus begini, gak harus begitu. Kalian cantik apa adanya. Kita jarang sekali mengeksplorasi dari sudut satunya. Bahwa penawaran itu ada karena ada permintaan. The rest of the world toh memang menunjukkan keberpihakan terhadap yang telah disepakati sebagai ‘cantik’. ‘The rest of the world’ ini tentu saja adalah cowok-cowok. Dan merekalah yang dijadikan fokus pada film ini.

Bagaimana dengan usaha cowok yang selalu mendahulukan versi mereka terhadap cantik. Cowoklah yang membuat versi tersebut, meresmikan, dan dijadikan tuntunan. Maka lewat film ini, giliran cowoklah untuk mengenali kecantikan tersebut sebenarnya, apa adanya. Merlin si tokoh utama kita fakboi banget awalnya. Jangankan cewek atau orang lain, dirinya yang sekarang aja ia rendahkan karena berkebalikan total dengan ‘rupa keren’nya yang asli.  Di awal-awal akan ada banyak sekali dialog-dialog merendahkan keluar dari mulut Merlin dan teman-temannya. Mereka menjadikan bodi-shaming sebagai candaan. Ketika bertemu Red Shoes yang meminta pertolongan, para Kurcaci ini mengobjektifikasi cewek itu. Mereka tidak tulus membantunya, tidak tulus menyambutnya. Melainkan mencari-cari kesempatan untuk menarik hati, demi sebuah ciuman yang bakal mengangkat kutukan mereka. Kita melihat Merlin dan teman-temannya semacam berlomba untuk mendapatkan ciuman Red Shoes. Bagi mereka, cewek tersebut bukan teman, melainkan sesuatu untuk dimenangkan, dan alat untuk mendapatkan tubuh mereka yang sempurna.

Makanya film ini banyak mendapatkan backlash saat pertama kali promosi ke publik dan festival tahun 2017 yang lalu. Tokohnya disebut pahlawan tapi mengglorifikasi body-shaming. Padahal cerita menyiapkan pembelajaran bagi tokoh ini di akhir, dan memang begitulah film; sebuah perjalanan seseorang menjadi dirinya yang lebih baik. Dengan konsep tersebut, film ini memenuhi fungsinya. Merlin menyadari kesalahannya dalam memperlakukan setiap makhluk. But still, masalah film ini terletak pada kita susah ngikut di belakang tokoh utama, karena kita tahu lebih baik daripada dia. Sedari awal kita tidak belajar bersamanya, melainkan kita tahu bahwa dia salah. Dan melihat sikapnya memang bisa jadi turn off bagi penonton. Kita tidak dibuat cukup peduli sehingga menginginkan dia untuk menjadi lebih baik. Penyebab kita susah melihat dia sebagai ‘orang malang yang salah sepanjang hidupnya’ adalah Merlin dan teman-temannya kurang penggalian. Kita tidak benar-benar mengenal siapa mereka, apa latar belakang yang melandasi kenapa mereka begitu narsis dan memandang dari fisik semata. Bahkan, meskipun jumlahnya tujuh, tiga di antara mereka punya wujud yang sama persis dan gak distinctive – triplet ini suka mesin, praktisnya tiga tokoh ini sebenarnya satu karakter yang sama; nama mereka aja berupa nama Pinokio dibagi tiga. Kelompok mereka ini hanya kita kenal sebatas pahlawan,yang kebetulan mereka gorgeous semua.
Snow White digambarkan sedikit lebih ‘terhormat’, dia tidak diperlihatkan mengincar untuk jadi cantik. Ketika menyadari dirinya berbeda karena pengaruh sepatu, bagi Snow White, iya itu adalah impian, tetapi ia melihatnya lebih sebagai sebuah kesempatan. Dia sepertinya paham dan lumrah; dia merasa lebih nyaman sebagai Red Shoes karena dia tahu persis cuma itulah cara dia bisa dibantu oleh orang lain. Namun bahkan Snow White pun tidak bisa sepenuhnya kita idolakan sebab walaupun dia yang jadi pemicu pembelajaran Merlin mengenai menilai orang, dia juga sekaligus part of the problem. Begini, sebenarnya bisa aja film membuat dia yang asli datang minta tolong dan Merlin bonding dengan Snow White apa adanya sedari awal – pembelajaran bagi Merlin akan sama saja, tapi film toh membuat cewek ini ‘cantik’ dulu karena persepsi itulah yang dibangun dan dijadikan kerangka gagasan film. Bahwa ‘cantik itu langsing dan semampai – jelek itu gendut dan pendek’ dipilih untuk jadi bingkai dan ditanamkan demi membuat pelajarannya nanti bisa bekerja.

Standar kecantikan itu sebenarnya berasal dari pikiran bahwa ada yang lebih baik dari diri sendiri, sehingga dijadikan tujuan untuk berubah. Orang gendut akan merasa pengen kurus, dan sebaliknya orang kurus pengen badannya berisi sedikit. Kita tidak pernah puas dengan diri sendiri. Inilah sebenarnya gagasan utama film, makanya kedua tokohnya dibuat berurusan dengan wujud sihiran dan wujud asli masing-masing. Karena apapun bentuk kita, warna kulit, dan segala macam, hal yang penting adalah sifat dan sikap kita. Semua orang akan terlihat menarik dari yang ia pancarkan kepada sekitar, tidak peduli apakah fisiknya bercacat atau gimana. Orang cakep pun bisa beneran cakep kalo gak sombong dengan kecakepannya. Ini adalah soal menerima diri sendiri apa adanya.

 

Framework cerita film yang demikian tersebut sangat beresonansi dengan masyarakat Korea Selatan, yang sudah rahasia umum punya kegandrungan terhadap operasi plastik demi penampilan luar. Negara tersebut punya pandangan homogen terhadap mana yang cantik dan mana yang tidak, yang semuanya berakar dari kelas sosial. Putih dinilai cantik karena berkulit gelap diidentikan dengan pekerjaan yang langsung di bawah sinar matahari. Ini senada dalam film, bahwa putri raja dan pangeran berkulit cerah sementara kurcaci dan peri berkulit hijau, atau lebih gelap. Bahkan ada satu dialog Merlin yang menegaskan hijau adalah warna kelas rendah. Jadi, Red Shoes and the Seven Dwarf ini clearly memparodikan masyarakat Korea Selatan itu sendiri; yang selalu ‘bicara’ tentang tren kecantikan yang satu dimensi, berlomba-lomba untuk jadi cantik seperti demikian dengan mengubah diri. Jadi kita bisa memahami pesan film soal penampilan luar itu tidak penting akan terasa kuat sekali bagi penonton dari negara asli filmnya. Makanya juga jadi wajar, jika film ini memang diniatkan oleh sutradaranya sebagai tontonan keluarga. Sebab penanaman cantik/tampan dan tekanan untuk menjadi cantik/tampan itu berawal dari ruang-ruang keluarga mereka.

Film turut bicara soal maskulinitas yang terbantu oleh understanding dan menerima wanita juga bisa lebih-kuat

 

Walaupun memang sebenarnya humor dan fun film ini tidak benar-benar tepat untuk sajian anak-anak. Paling tidak, anak-anak menonton ini harus bersama orangtua yang dapat menjelaskan pandangan sempit tokoh-tokoh cerita dan mencuatkan pembelajaran yang nantinya mereka dapatkan. Itupun kalo orangtua bersiap menghadapi banyak adegan dan dialog yang bisa bikin gak nyaman jika ditonton bersama anak-anak. Kurang lebih samalah kayak lihat adegan-adegan ngerayu cewek di film komedi kayak Dono dan sebagainya. Beberapa parodi ada juga yang cerdas, kayak saat satu tokoh bermain-main dengan menyebutkan sifat Princess-Princess Disney yang ingin ia undang ke pesta ulangtahun. Namun beberapa ada juga yang konyol dan maksa, misalnya kayak pohon ajaib berbuah apel yang kemudian apelnya berubah menjadi sepatu. Sepatu tumbuh di pohon, sedongeng-dongengnya cerita mestinya ada hal yang lebih magical lagi yang bisa dipakai untuk film yang bercerita tentang sepatu ajaib. Dan karena ini adalah film dari negara yang cukup hits lagu-lagu popnya, maka kita akan menemukan beberapa adegan yang menyisipkan lagu-lagu. Hanya saja, sisipan ini kesannya selalu entah-dari-mana; karakter tau-tau bernyanyi sebagai transisi antaradegan. Aku gak tau aslinya gimana, tapi nyanyian di film yang sudah disulih suara bahasa Inggris ini enggak ada yang catchy sama sekali.

Membawa pesan yang menekankan pentingnya kecantikan dari dalam hati, film ini hadir sebagai tantangan terhadap masyarakat yang penuh dengan prasangka sosial yang terkait dengan standar kecantikan fisik. Kali ini cowok dan masyarakatlah yang disuruh untuk berusaha membuka hatinya terhadap mana yang cantik-mana yang tidak. Buat cewek, film ini persis seperti penggalan lagu Alessia Cara, “You don’t have to change a thing, the world could change its heart”. Menuju pembelajaran dan momen penyadaran tokoh utama, cerita film ini sayangnya dapat hadir sangat mengganggu. Tokoh utama yang kurang digali membuat kita susah peduli sehingga menimbulkan kesan film ini sangat merendahkan dan mendukung body-shaming. Aku suka konsepnya, aku mengerti tujuan filmnya, tapi memang penceritaan mestinya bisa dilakukan dengan lebih baik – mungkin dengan lebih subtil sehingga tidak begitu menyinggung dan memberikan ruang bagi penonton untuk masuk dan memahami tokoh utamanya yang bercacat hati itu.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for RED SHOES AND THE SEVEN DWARFS.

That’s all we have for now.
Bagaimana pendapat kalian tentang trend operasi plastik di Korea? Apakah menurut kalian K-Pop dan drama-drama Korea bakal mendapat sukses yang sama secara internasional jika tidak ada istilah operasi plastik di sana?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE WAY BACK Review

“Never inflict your rage on another”
 

 
 
Hidup kayak pertandingan olahraga. Kita berjuang untuk bisa menang. Ketika kita memenangkan suatu tanding olahraga, bisa dibilang kita menang dalam hidup; kita udah sukses mendisiplinkan diri, memfokuskan diri pada tujuan, mengenyahkan kelemahan, dan sebagainya. Namun sebaliknya, ada lebih banyak cara untuk kalah dalam hidup dibandingkan di dalam kompetisis olahraga. Karena hidup bukan semata soal mengalahkan lawan, menjadi lebih baik daripada lawan. Sutradara Gavin 0’Connor yang sudah malang melintang di genre drama olahraga yang menginspirasi, kini hadir dengan sebuah sajian yang bukan hanya bakal membuat kita semangat melihat pertandingan basket, tapi sekaligus juga merenung dan belajar satu-dua hal dari kesalahan yang dilakukan oleh tokoh dalam ceritanya.
Bagian ‘olahraga’ dalam drama-olahraga The Way Back menghadirkan formula yang sudah kita hapal di luar kepala. Sebuah cerita underdog. Jack Cunningham, mantan top-player basket di masa SMA diminta untuk melatih tim di sekolah lamanya. Tim ini udah lama sekali enggak menang kejuaraan, terhitung sejak Jack lulus dari sana. Relasi antarmereka pun terjalin. Jack menemukan kembali kecintaannya terhadap olahraga ini, dan para pemain pun mendapat semangat baru. Tapi ini adalah sekolah Katolik yang lebih mengutamakan menjadi ‘orang baik’ ketimbang menang, sementara Jack yang meledak-ledak sumpah serapahnya setiap kali tanding dan lagi latihan dipandang memberikan contoh yang buruk. Terlebih Jack merupakan seorang peminum berat. Naskah The Way Back, however, lebih condong ke bagian ‘drama’. Pertanyaan utama yang menjadi tubuh cerita bukanlah ‘Apa Jack berhasil membuat tim basket ini menang kejuaraan?’, melainkan ceritanya disusun untuk menjawab ‘Kenapa Jack begitu doyan minum-minum?’

Jack drinks a shot, bukan ngeshot bola.

 
Babak ketiga film ini dapat menjadi surprise bagi penonton yang mengira ini bakalan jadi cerita olahraga yang biasa, terlebih karena The Way Back toh memang menggunakan trope-trope lumrah yang sering kita temui dalam genre ini. Arahannya seperti banting setir. Menjauh dari ‘Jalan Hollywood’ yang biasanya cerita-kompetisi akan berakhir dengan sebuah big-match. Sebenarnya ini justru menyegarkan. Film menggali cerita yang lebih personal. Tidak ada glorifikasi keadaan. Jika kau seorang alkoholik, tidak ada kompromi bagimu untuk bisa menjadi guru. Namun film tidak berkata dengan sehitam-putih begitu. Masih ada rasa yang dialamatkan. Kita harus ‘memandang’ ke gawang yang benar disarang oleh film ini.
Jadi supaya kita tahu film ini bukan exactly cerita kompetisi basket melainkan lebih kepada cerita tentang pergulatan addiction dan penebusan si Jack itu sendiri sehingga kita enggak membuild up ekspektasi ke arah yang salah dan kemudian kecewa untuk alasan yang tidak tepat, maka kita perlu memperhatikan naskah lewat struktur yang tercermin dari pembabakan film. Plot poin pertama cerita ini bukanlah soal memenangkan perlombaan. Yang kita lihat pada sekitar menit 28-30an (akhir babak satu ada di menit ini) adalah adegan Jack bertemu dengan istrinya – mereka sudah setahun berpisah. Inilah yang menentukan aksi Jack berikutnya. Diminta jadi pelatih basket diposisikan naskah sebagai inciting incident – alias datang lebih awal, yang diperlihatkan Jack bimbang memilih iya atau tidak. Dia mabuk dalam usahanya memutuskan ini. Pertemuannya dengan istri dan mengetahui ‘kabar’ hubungan merekalah yang jadi penentu aksi bagi Jack. Yang mengobarkan api di dalam Jack bukan semata nostalgia di lapangan basket, melainkan kenyataan pahit bahwa dirinya masih melakukan kesalahan. Dan inilah yang terus memakan Jack dari dalam, menjadi konflik pribadi yang harus ia selesaikan.
Tiga hal yang ditekankan oleh film sebagai petunjuk buat kita; Kebiasaan Jack minum yang diperlihatkan dengan berbagai cara menarik, seperti Jack bolak-balik kulkas dan memindahkan bir ke freezer sebelum meminumnya atau kaleng yang ada di shower. Kamera dengan flare yang seperti menggambarkan antara kenangan jaya masa lampau dan perasaan nanar dari sakit kepala terus-terusan. Dan si Jack itu sendiri; Ben Affleck memainkannya dengan luar biasa. Pendekatan yang diambil oleh Affleck dalam menghidupkan karakter ini adalah dengan seringkali diam, bahkan dari pakaiannya pun sudah terkesan ia tertutup rapat. Namun dia pemarah. Dicolek sedikit, nyambit. Ke-trigger. Kita bisa merasakan rage/berang itu terhimpun, merembes keluar karena botol yang bernama si Jack ini sudah kepenuhan oleh emosi dan rasa bersalah dan perasaan berduka. Minum alkohol ia jadikan sebagai outlet untuk menyalurkan rage yang berakar dari kematian putranya. Waktu beraktivitas sebagai pelatih, itulah satu-satunya waktu Jack jauh dari kaleng bir. Satu-satunya waktu dia tampak paling bahagia. Sebab di pinggir lapangan, neriakin wasit goblog, marahin pemain yang lalai, mengutuk lawan yang curang, itulah Jack punya alasan tepat untuk melepaskan rage/marahnya.
Kita bisa mabok jika kita minum setiap kali Jack ngamuk saat pertandingan

 
Seiring durasi; Jack seperti sudah stabil karena menemukan penyaluran emosi yang tepat dari pertandingan basket, pertanyaan baru membuka. Sebab perjalanan Jack tidak berakhir sebatas dia bisa marah-marah. Jack perlu mengerti kenapa dia marah. Bukan in sense penyebab marahnya, melainkan kenapa marah itu masih ada. Kepada siapa sebenarnya marah dan ragenya itu dialamatkan. Inilah yang menjadi  fokus pada babak ketiga. Untuk dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik, Jack harus menyelami – harus berkonfrontasi dengan kemarahan yang ia lepas tadi. Istrinya sudah move on, dia belum. Dia merasa dia berhak marah kepada istrinya karena hal tersebut. Namun sekali lagi, marahnya salah alamat. Inilah drama alias konflik yang digali oleh film. The Way Back adalah karakter-studi seorang pria seperti Jack. Pria yang kehilangan, tapi tidak sanggup mengakui bahwa kehilangan tersebut mungkin adalah salah dirinya.

Penyesalan, duka, kehilangan yang dihimpun begitu lama wajar bila meledak. Lebih sehat untuk keluar daripada ditahan-tahan terus menerus. Tapi jangan lantas dilampiaskan kepada orang lain. Emosimu, kemarahanmu adalah milikmu. Terlebih apabila kemarahan tersebut adalah kemarahan kepada diri sendiri. Jangan berikan kesedihan dan nestapa itu kepada orang lain. Demi kedamaian seperti yang dirasakan datang kepada Jack di akhir film, rasakan sendiri deritamu dengan tidak menyakiti orang-orang di sekitar.

 
Kita bisa ‘protes’ kepada film, memberinya masukan dan saran bahwa mestinya cerita menggali lebih banyak hubungan Jack dengan remaja-remaja pebasket yang ia latih. Karakter mereka ikut diperdalam, karena memang mereka ini cukup menarik. Ada anak yang suka menari sebelum pertandingan dimulai dan dijadikan oleh teman-temannya sebagai semacam ritual, ada anak yang fukboi, ada yang begitu cinta sama basket sayangnya ia sok jago, dan yang paling dikedepankan adalah kapten tim yang jenius dan cinta basket, hanya saja tidak didukung oleh orangtua sehingga dia sedikit tidak pedean. Aku sendiri akan suka banget kalo mereka-mereka ini dibahas lebih dalam lagi, diberikan lebih banyak waktu-tampil. Pertandingan basketnya diperlihatkan lebih sering karena kita bisa melihat jelas kepiawaian sutradara dalam menyuguhkan kompetisi olahraga. Tapi itu akan sama saja seperti menggiring bola dan menembakkannya tiga-poin ke keranjang yang tidak tepat. Karena tujuan film bukan di sana. Hubungan antara Jack dan anak-anak itu penting, sebagai pembelajaran bagi dirinya. Anak-anak itu adalah dirinya waktu masih muda, maka Jack dapat dengan mudah menjadikan mereka pelampiasan. Pembahasan mereka ini cukup pada masing-masing memberikan pengaruh baik, it’s enough kita percaya mereka kini sanggup memenangkan pertandingan melawan tim sekolah manapun Tapi bagi Jack, dan karena ini adalah cerita tentang dirinya, kemenangan yang paling penting itu bukanlah kemenangan olahraga. Melainkan kemenangan berkonfrontasi dengan grief dan kesalahan yang menjadi sumber amarah dan ketidaktenangan dirinya.
 
 
Makanya, film juga tidak merasa perlu membahas proses kesembuhan Jack dari kecanduan alkoholnya dengan detil. Sebab yang penting adalah redemption, dan proses yang ia lalui sebagai pembelajaran ke arah sana. Ini adalah drama olahraga yang difungsikan sebagai studi psikologi tokohnya. Yang ditekankan adalah konflik yang lebih personal. Menurutku, jika Mariposa (2020) memang berniat sebagai cerita parenting mestinya film tersebut bercerita seperti film ini; dengan membuat olimpiade sains tidak sebagai fokus, melainkan seperti pertandingan basket dalam film ini. Di sini tidak pernah dikesankan tokoh utamanya menganggap kemenangan basket penting sehingga kita juga tidak disuruh ngebuild up ke arah sana. Sedangkan olimpiade pada Mariposa ditampilkan sebagai sesuatu yang penting untuk dimenangkan, padahal kemudian belakangan diungkap tidak satupun tokohnya yang peduli sama sains. Sebagai film olahraga, film ini menggunakan tidak menggunakan formula dan trope yang baru. Namun sebagai drama tentang candu dan penebusan dosa, film ini kuat oleh karakter, yang dimainkan dengan real, dan naskah yang fokus.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE WAY BACK.

 
 
 
That’s all we have for now.
Menurut kalian kenapa orang lebih nyaman untuk nge-bottle rage and anger mereka? Benarkah mengekspresikannya lebih sehat?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE PLATFORM Review

“In a consumer society there are inevitably two kinds of slaves: the prisoners of addiction and the prisoners of envy”
 

 
 
Hidup kadang di atas, kadang di bawah. Namun sutradara asal Spanyol, Galder Gaztelu-Urrutia tidak sedang membicarakan roda. Alih-alih, dalam sci-fi horor The Platform ia membangun struktur semacam menara; dua ratus ruangan yang disusun bertingkat, berjejer vertikal, diberi nomor satu dari yang paling atas hingga berurut sampai ke paling bawah. Dalam setiap lantai/ruangan, ‘dipenjarakan’ dua orang. Setiap bulan, masing-masing lantai dirotasi penghuninya. Kadang mereka di lantai atas, kadang mereka di lantai ratusan ke bawah. 
Struktur tersebut difungsikan oleh Galder sebagai alegori dari sistem kapitalis, konsumerisme yang diam-diam telah memerangkap masyarakat. Dan Galder memanglah sukses berat dalam menggambarkan itu semua. Bagaimana tidak? Dalam penjara buatan Galder ini setiap harinya diturunkan platform berisi berbagai jenis makanan yang lezat-lezat. ‘Tawanan’ di lantai atas kebagian duluan mencicipi, sebelum akhirnya (tepatnya setelah dua menit) platform makanan ini turun, mengantarkan apapun yang masih tersisa kepada penghuni lantai di bawah, dan begitu seterusnya sehingga semua dua-ratus-lebih lantai kebagian. Atau tidak. Sampai di sini mungkin sebagian dari kalian sudah bisa menebak bagaimana tepatnya dunia film ini adalah cermin dari perilaku masyarakat sekarang, sebab sekiranya kalian bisa mengira seperti apa ‘rupa’ makanan lezat berlimpah itu setelah melewati lantai demi lantai penuh oleh sepasang orang kelaparan. But for the sake of this movie, mari kita tengok dari tokoh utama cerita ini.

Pertimbangkanlah gambar ini sebagai peringatan spoiler yang bakal datang

 
Goreng (Ivan Massague bukan meranin makanan loh ya, melainkan seorang pria yang bakal ancur lebur dihantui oleh realita sosial) terbangun dan mendapati dirinya berada di lantai 48. Rekan satu-lantainya bilang ini posisi yang cukup lumayan. Goreng tentu saja belum tau kenapa sebabnya, karena pria ini baru saja mengajukan diri ikut masuk ke ‘penjara’ yang di dunia cerita sebenarnya adalah fasilitas rehabilitasi, dikenal sebagai Vertical Self-Management Center. Goreng masuk sebab ingin mendisiplinkan dirinya dari rokok. Setiap peserta boleh membawa satu barang untuk dikarantina bersamanya. Goreng memilih buku. Teman selantai Goreng memilih pisau, dan lantas menertawakan Goreng; apa gunanya buku di sini? Dan kemudian turunlah platform makanan itu. Penuh berisi makanan sisa. Yang udah gak karu-karuan bentuknya karena sudah digarap oleh penghuni 47 lantai di atas. Goreng tentu saja tak selera, meski teman selantainya makan dengan lahap. Goreng yang awalnya naif belajar banyak dari temannya, serta dari kenyataan mengerikan tatkala mereka mendapat giliran tinggal di lantai level ratusan. Tempat mimpi buruk menjadi kenyataan, survival buas karena tidak ada makanan yang sampai ke sana. Goreng akhirnya paham kegunaan benda seperti pisau di lantai-lantai bawah saat pisau itu mengoyak lepas daging paha kakinya.
The Platform nyata-nyata bukanlah makanan buat semua orang. Gambaran kekerasan dan tindak amoral para tokoh ditampilkan dengan vulgar. Kasar. Jijik. Ya, jijik adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan kejadian-kejadian dalam film ini. Kita akan dikasih lihat betapa menjijikannya sikap manusia yang mementingkan diri sendiri. Tapi juga akan membuat kita jijik kepada diri sendiri, lantaran kita mengerti mereka. Kita paham kenapa mereka melakukan itu. Pemakluman penghuni lantai bawah yang gak kebagian makanan menjadi kanibal karena keadaan memaksa mereka, orang-orang di atas makan duluan, dan ketika digilir kita merasa wajar orang-orang yang di bawah akan melakukan hal yang sama saat mereka sudah di atas. Siklus mengerikan ini tidak bisa dihentikan. Dan ironi dari ini semua adalah; bahwa sebenarnya makanan di atas platform itu cukup untuk mereka semua, dari lantai satu hingga lantai dua-ratus, tiga-ratus, berapapun.
Maka Goreng mencoba menyadarkan semua orang, dia berusaha membuat mereka sadar bahwa tidak perlu mengambil makan banyak-banyak. Semua sudah diberikan jatah makanan yang cukup untuk melewati hari sehingga tidak akan ada yang kelaparan. Namun dendam diperlakukan hina, ketakutan akan kelaparan esok hari, dan fakta beberapa orang pada dasarnya memang rasis (film juga menampilkan agama, ras, dan golongan sebagai bagian dari penokohan) membuat usahanya sia-sia. Goreng didengar oleh orang-orang di bawahnya ketika dia mendorong mereka dengan ancaman. Tapi apa gunanya jika tidak semuanya sadar dan bersikap seperti tirani malah akan menimbulkan kebencian yang secara jangka panjang tidak bakal mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Itulah konundrum yang paralel dengan keadaan masyarakat kita sekarang. Gak usah jauh-jauh, lihat sekarang – di masa-masa seluruh dunia dalam pandemi virus corona – banyak orang membeli barang di luar yang benar-benar ia butuhkan. Di negara luar orang rebutan tisu toilet. Di negara kita, orang berebut masker. Hand sanitizer. Bahkan alat-alat kesehatan. Orang-orang berduit, tentu saja. Memborong semua sehingga banyak orang, terutama yang less-fortunate enggak kebagian. Sama seperti di film ini, orang-orang tetap memakan makanan yang sebenarnya bukan jatah mereka sehingga makanan tersebut tidak mencukupi. Mentang-mentang punya kesempatan duluan. Orang-orang seperti susah membedakan yang mereka butuhkan dengan yang tidak. Semuanya pada tamak. Yeah, mereka bisa beralasan survival instinct. Film ini menunjukkan bukan salah mereka sedang di atas, melainkan karena mereka pernah di bawah. Di sinilah letak kebobrokan sistem tersebut, sistem masyarakat kita yang over-konsumtif. Yang berkecukupan tidak merasa punya keharusan untuk berbagi. Setiap tokoh dalam film ini terpenjara oleh candu dan iri atas makanan karena sistem membuat mereka jadi melihat pada posisi atas atau bawah.

Masalah kesejahteraan ekonomi sebenarnya sangat terkait dengan masalah moral. Bukan eksak soal punya banyak duit atau tidak. Bahkan film ini menunjukkan, dalam keadaan yang sama-sama berkekurangan pun akan ada gap; yang berasal dari perbedaan kesempatan. Inti masalahnya adalah terletak pada kebutaan kita membedakan mana yang kita berhak miliki dengan mana yang kita pikir berhak untuk kita miliki. 

 

Goreng harus bertrimakasi kepada temannya; Trimagasi

 
Tidak ada jawaban yang saklek benar untuk mengatasi persoalan ini. Sepertinya memang harus dengan kesadaran sendiri. Tidak bisa dipaksa. Jikapun berubah, maka itu tidak dalam waktu dekat. Prosesnya bakal lama. Makanya Goreng gagal semua, meskipun sebenarnya banyak juga yang berjuang untuk menjadi lebih baik di dalam sana. Makanya pula, film tidak membahas penyelesaian hingga ke akarnya. Melainkan memberikan jawaban lewat metafora. Dan ini bakal jadi turn off buat sebagian penonton yang mengharap solusi alias jawaban. Akhir film dapat jadi membingungkan ataupun tidak menyelesaikan apa-apa. Buatku; ya ada beberapa elemen yang gak diberikan alasan yang jelas kenapa bisa ada, alias ada elemen yang kayak maksa. Namun soal endingnya, aku mengerti kenapa film memilih untuk menutup seperti demikian.
True resolution yang dipercaya oleh Goreng adalah mengirimkan kembali seorang kecil yang ia temukan di lantai paling bawah ke lantai paling atas; ke tempat manajemen gedung. Hanya si anak saja, tanpa dirinya. Goreng memilih untuk tetap tinggal di lantai dasar. Makna dari semua ini adalah film ingin menunjukkan kepada kita bahwa harapan itu masih ada. Yakni berupa generasi muda, yang sama sekali belum tersentuh dan dikotori oleh sistem. Goreng tidak bisa ikut karena untuk sampai ke sana saja ia sudah literally kotor dan menjadi bagian dari sistem. Anak itu merupakan simbol dari buah perjuangan kemanusiaan, sebuah clean-slate. Memang mengirim anak itu ke atas belum tentu bakal langsung menghentikan semua amoral dan membuat orang seketika menjadi lebih baik. Namun mengirimkannya adalah pesan mutlak bahwa ada kesalahan di sistem (bisa ada anak yang masuk, meskipun peraturan menyatakan tidak boleh), dan fakta bahwa anak itu masih hidup dan sehat adalah bukti nyata kemanusiaan masih punya harapan.
 
 
 
 
Ini bukan thriller ruang tertutup yang biasa. Cerita sarat metafora dari realita dunia konsumtif kita. So naturally, this will be very hard to watch. Apalagi film memang tidak ragu-ragu untuk menjadi semenjijikkan mungkin. Blood, vomit, feses, moral bobrok, salah satu dari empat itu akan membuat kita mual duluan. Ditonton dalam waktu-waktu wabah virus sekarang, film ini sangat relevan. Film tidak tersaji subtil, dan beberapa elemen seperti diadakan begitu tanpa ada penjelasan, membuat sebagian penonton enggak puas. Namun yang patut kita apresiasi adalah film berusaha mencari penyelesaian dengan nada yang positif, dengan memperlihatkan manusia masih bisa bertaruh pada harapan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE PLATFORM.

 
 
 
That’s all we have for now.
Hanya butuh satu orang, satu orang mulai makan melebihi yang ia butuhkan – memakan jatah orang lain – dan keseimbangan itu akan runtuh. Menurut kalian apa yang kira-kira menyebabkan tawanan di lantai atas memakan lebih banyak dari yang ia butuhkan?
Ini adalah struktur  vertikal, menurut kalian apakah akan ada bedanya jika struktur penjaranya berupa kamar-kamar yang disusun horizontal? apakah beda posisi/kelas itu akan terasa?
Apa kalian punya interpretasi sendiri terhadap ending film ini?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE GENTLEMEN Review

“A good name is better than riches”
 

 
 
Setelah Aladdin (2019) yang tampak begitu mengekang baginya, sutradara Guy Ritchie tampak amat lepas dan bebas ‘menembakkan’ kembali gaya khasnya, bertubi-tubi. Editing cepat, dialog dan humor yang sama bandelnya, plot tentang dunia kriminal yang nyerempet nonsensical. Itu semua layaknya taman bermain bagi Ritchie. Namanya gede berangkat dari genre dan cerita seperti demikian. Di The Gentlemen kali ini, dia kembali menjadi raja. Menapaki yang sudah ia kuasai. Namun bukan tanpa kreasi baru. Karena ia sungguh-sungguh menggunakan kuasa dan kebebasannya untuk bersenang-senang menciptakan film.
Bukan kebetulan juga, film The Gentlemen ini sendiri juga membahas para raja-raja. Raja kriminal jalanan, lebih tepatnya. Penguasa bisnis narkoba, kepala preman, ketua geng, orang-orang semacam itulah yang akan kita temui di film ini. Particularly, yang disorot adalah seorang Amerika yang sukses jadi pedagang ganja ilegal terbesar di London; Mickey Pearson. Dia ingin menjual aset berharganya ini. Tentu saja ia harus selektif karena memang banyak yang mengincar. Ketika salah satu geng berhasil melacak salah satu ‘perkebunan’ rahasia miliknya, tahulan Pearson bahwa ada orang yang mencoba menjatuhkan dirinya. Film memberikan sugesti kepada kita untuk menebak, dengan memperkenalkan beragam possible suspect. Mulai dari Ketua mafia Cina yang masih muda hingga ke mitra bisnisnya. Bahkan bisa jadi anak buah Pearson sendiri yang ingin menghancurkan bisnis dan keluarga Pearson.
Sampai di sini, besar kemungkinan kalian yang belum nonton bertanya-tanya di dalam hati – lah di mana kreasi barunya? Teruntuk kalian yang menanyakan itu aku sarankan untuk tarik napas dulu. Duduk rileks. Nyandar, tuangkan anggur kalo perlu, isep cerutu biar kayak bos gangster juga. Cuci tangan dulu pakai sabun, biar gak kena corona. Mandi sekalian, kalo perlu. Sudah? oke, let me tell you this then; keseluruhan cerita Mickey Pearson tadi diceritakan oleh film lewat tokoh nyeleneh – seseorang bernama Fletcher – yang memotret semua kejadian diam-diam dan dia menggunakan segala informasi yang ia tahu untuk nge-blackmail Ray, orang kepercayaan Pearson, sekaligus berdiskusi karena ia telah menyusun naskah film berdasarkan semua cekcok antargeng tersebut dan ia ingin menjualnya kepada studio untuk lebih banyak cuan.

“aku mempertaruhkan pantatku bikin film ini”

 
 
Berkat hal tersebut, film terasa begitu meta. Secara personal aku suka ama film-film yang memberikan insight ‘membuat film’ seperti begini. Dalam The Gentlemen, dengan nada yang lucu, kita akan melihat Fletcher ngepitch naskahnya ini kepada Ray, meminta pendapat Ray tentang suatu scene karena in real-life Ray mengalami langsung. Kadang naskah Fletcher memberikan informasi berguna kepada Ray yang ingin membantu bosnya mencari siapa tersangka yang mau mencuri bisnis mereka. Diskusi mereka inilah yang jadi tubuh film. Kita melihat adegan berupa penggambaran naskah yang ditulis Fletcher, tapi terkadang adegan itu ‘dilebaykan’ olehnya jadi kita balik lagi dan melihat adegan sebenarnya yang terjadi menurut Ray. Dengan unreliable-narrator begini, menonton The Gentlemen ini malah jadi lebih asik. Film tidak pernah memberi garis tegas mana yang karangan, mana yang ‘asli’. Kita hanya akan mengerti saat cerita dikoreksi oleh tokoh, tapi terkadang ada yang seperti dibiarkan saja karena kita merasa lucu dan berpikir ‘well, gak mungkin itu kejadian’. Humor film memang sebagian besar berpijak dari sini. Kreatif bercerita Ritchie mencuat dari sini. Kadang ia mengubah ratio layar, karena Fletcher membayangkan filmnya nanti punya ratio kayak film klasik, dengan visual yang grainy dan sebagainya. There’s a whole lot of fun yang datang dari konsep bercerita film ini.
Konsep yang juga digunakan untuk memainkan tensi. Film dimulai dengan hook gede yang mengisyaratkan bahwa Pearson tewas terbunuh. Dan kemudian kita dibawa mundur dan melihat satu persatu orang-orang di sekelilingnya – melalui naskah Fletcher – leading up ke peristiwa pada adegan pembuka tadi. Setiap adegan pada film ini jadi terasa sangat menghibur. Karena cerita diceritakan lewat naskah buatan tokoh, maka kadang dialognya pun terdengar ‘dikarang’, alias janggal karena sering berima tidak pada tempatnya. Dalam menampilkan adegan kekerasan, film ini juga bersenda gurau dengan kita. Ia meninggalkan banyak momen untuk imajinasi kita, sementara di layar kita hanya muncratan darah atau hanya disambut oleh mayat di dalam kulkas.
Semua pemain juga tampak bersenang-senang menghidupi peran mereka. Matthew McConaughey juga seperti kembali ke singgasananya, memerankan sosok kharismatik dan disegani kayak Pearson ini udah paling klop buatnya, dan dia benar-benar luar biasa meyakinkan di sini. Namun sesungguhnya ada dua tokoh yang mencuri perhatianku di sini, yakni Colin Farrell yang berperan sebagai Coach. Sebagai tokoh, Coach juga amat menarik. Dia semacam mentor dari geng anak muda di sebuah boxing gym. Jika film ini bercerita tentang raja (kalimat renungan Pearson di awal film adalah koentji), maka Coach ini adalah raja alias ‘pemimpin’ yang paling gentelmen di antara tokoh-tokoh ketua dalam ini. Hubungan Coach dengan anak-anak didiknya begitu menarik sehingga aku pikir mereka pantas mendapatkan satu film khusus. Absolutely aku bakal nonton! Sementara, satu tokoh lagi yang mencuri perhatianku tentu saja adalah Hugh Grant yang incredibly funny sebagai Fletcher. Dia benar-benar melebur ke dalam perannya, nyaris tidak dikenali. Jika Pearson adalah tokoh sentral, maka Fletcher ini bisa dibilang merupakan sudut pandang utama. Dialah yang bercerita, dan dia jualah yang mendapat pembelajaran di akhir cerita.
Fletcher pongah, dia merasa bisa mengatur semua sesuai dengan keinginannya. Dia ingin bikin film, tapi terutama dia ingin memeras. Pengen kaya. Dia ingin mempermainkan bos-bos gangster ini. Namun dia tidak pernah seorang pemimpin. Film memperlihatkan Pearson juga mengancam dan memeras. Bedanya adalah Pearson beneran raja, sedangkan Fletcher bertingkah seolah raja. Pearson punya sesuatu yang tidak dipunya oleh Fletcher. Yaitu nama. Nama-lah, yang membuat Pearson disegani dan berkuasa. Disegani oleh anak buah sekaligus musuhnya Bukan semata kekayaan dan aset. Nama ini didapat dari perjuangan. Dalam film ini kita diperlihatkan penguasa yang ‘baik’ seperti Pearson ataupun Coach, dan orang yang masih bau kencur untuk bisa diberikan kekuasaan seperti Fletcher dan Dry Eye sang bos gangster Cina.

Seorang raja alias penguasa disegani oleh musuh. Dihormati oleh bawahan. Dihargai oleh sesama penguasa. Itu semua bukan semata karena mereka punya uang. Melainkan karena kepercayaan, kesohoran nama sebagai akibat perjuangan dan tempaan. Semua ini lebih dari soal uang. 

 

oh I just can’t wait to be kiiiingg

 
 
Film ini bisa bekerja lebih baik dan solid dengan hanya dari sudut pandang Fletcher, atau dari Pearson. Salah satu dari dua itu. Namun tidak akan menghasilkan sesuatu yang unik. Jadi dimasukkanlah kedua-duanya. Didesain konsep atau format bercerita yang menyatukan keduanya sehingga terasa berbeda. Dan mungkin film memang ingin sedikit mengecoh kita. Membuat seolah ini murni tentang Pearson, tapi ternyata ini tentang orang yang berusaha mengambil keuntungan dengan menjadikan dia sebagai pusat cerita. Memang, film ini bisa jatoh sedikit njelimet. Terutama di paruh pertama, saat penonton belum sepenuhnya mengerti outline cerita. Ditambah pula dengan berjubelnya dialog, dan tokoh yang dihadirkan – semua lewat tempo cepat – sehingga aku bisa mengerti kalo di awal-awal kalian bilang susah untuk menangkap dan peduli sama apa yang diomongin oleh para tokoh. Namun setelah pertengahan, ketika semua sudah diperkenalkan dan kita paham apa yang ingin dicapai oleh film – kemunculan Coach yang tenang dan grounded juga cukup membantu mengademkan cerita – maka The Gentlemen ini akan lebih mudah dinikmati dan film tidak berhenti untuk terus menghibur dan mengejutkan kita.
 
 
 
Lucunya, buatku kayak ginilah mestinya film Dilan dan Milea bercerita. Dua film itu kan juga basically menceritakan satu tokoh lewat tulisan tokoh lain. Alih-alih membuat tokoh nongol di depan komputer dan barely ada penutup soal tersebut, mestinya biar asik ya dibikin kayak yang dilakukan oleh film ini. Bercerita lewat dua tokoh yang mendiskusikan naskah. Bercanda tidak sebatas lewat dialog dan pengadeganan, melainkan juga lewat konsep storytellingnya secara utuh. Prestasi film ini adalah berhasil mencapai level menghibur yang berkesan karena luar biasa unik. Pun dihidupi oleh karakter-karakter menarik, yang diperankan dengan mengagumkan. Hanya saja sedikit kekurangan berupa cerita/percakapan yang sulit untuk diikuti di paruh awal karena penonton masih berusaha memahami konsep itu.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE GENTLEMEN.

 
 
 
That’s all we have for now.
Film ini cukup banyak dikritik perihal dirinya dianggap gak gentelman karena banyak mengandung kalimat-kalimat ejekan yang berbau rasis.
Menurut kalian apa sih sebenarnya makna dari menjadi seorang gentelman itu sendiri?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.