[Reader’s Neatpick] – THE WHITE TIGER (2021) Review

“Yang jelas setelah nonton film ini aku jadi ngerasa lebih bersyukur aja tinggal di Indonesia 😆” – Farrah Caprina, yang boleh disapa di akun instagramnya; @farrahcaprina

Sutradara: Ramin Bahrani
Penulis Naskah: Ramin Bahrani
Durasi: 2jam 5menit

 

Bukan, ini bukan film tentang bangsa kucing di dunia satwa. The White Tiger ini adalah film India. Tapi bukan pula film India yang banyak tari-tariannya.  Sama seperti pada novel karangan Aravind Adiga yang jadi sumber adaptasinya, The White Tiger adalah sebuah komedi gelap tentang pemuda bernama Balram. Yang sukses jadi enterpreneur, meskipun berasal dari kasta terendah. “Kasta orang-orang berperut kecil”, ungkap Balram muram dalam salah satu dialog narasi. Balram sedari kecil memang cukup pintar, tetapi seperti abang, ayah, dan anggota keluarganya yang lain, pendidikan bukan untuk Balram. Tempatnya justru di pinggiran. Bekerja kasar. Kesempatan besar pertama untuk mencicipi sedikit gaya hidup orang-orang berperut besar bagi Balram, adalah dengan menjadi supir bagi mereka yang berprivilese tersebut. Dengan gigih Balram mengusahakan keinginan tersebut; dia belajar mengemudi, dia memohon dan berjanji kepada neneknya untuk dimodali. Dan ya, Balram berhasil dipercaya menjadi supir untuk Ashok, anak orang-gede pemimpin (pemalak) desa mereka. Dari Ashok, Balram memperoleh banyak. (Mind you, Balram mengambil. Bukan diberi). Pengalaman, pengetahuan, dan bahkan sesuatu yang jauh lebih gelap – yang ultimately jadi kunci kesuksesan Balram. Pemuda yang pada akhirnya memenuhi ‘takdirnya’ sebagai Harimau Putih; spesies langka yang menerobos keluar dari kandang ayam!

 

“Cerita film ini menarik banget, banyak hal tentang India yang baru aku tau lewat film ini. Tapi, sejujurnya nonton film ini tuh, aku draining banget. Makanya waktu mau ikutan ngulas film ini sama mas Arya, aku kan akhirnya nonton lagi. Dan pas nonton untuk kedua kalinya, ya makin draining karena aku makin mendalami karakter Balram jadinya. Kalau dilihat dari impactnya ceritanya ke aku, film ini mirip kayak Dementor-nya Harry Potter 😆

“Hahaha udah bukan jadi harimau putih lagi ya, tapi jadi dementor. Memang sih, kelamnya cerita film ini memang datang dari keironisan kesuksesan si Balram. Pemuda yang berjuang mendobrak kasta yang udah mendarah daging, yang udah dibeat-downkan kepadanya, dengan cara yang – katakanlah – tidak terpuji. Kita ingin dia berhasil, namun satu-satunya cara keluar baginya itu justru cara yang mengerikan. Film ini really speaks soal kebobrokan semua sistem; kasta, kapitalisme, status sosial yang ada di India. Keironisan ini mungkin yang bikin film ini tu kayak nyedot semua bahagia kita”

“Aku melihat film ini gabungan antara Joker dengan Parasite, ya. Permasalahan ekonominya lebih seperti Parasite, tapi perspektif penceritaannya seperti Joker.”

“Kalo Joker, nontonnya aku gak se-wow ini, sih. Soalnya kan, sedari awal aja kita udah Joker itu jahat. Oh ini film tentang musuh Batman yang sinting. Jadi saat nonton, rasanya ya cuma ‘oh dulunya dia baik’. Beda efeknya dengan pas nonton The White Tiger ini. Balram tidak diubah oleh society, justru dia yang pengen mengubah. Tapi jalan satu-satunya untuk mencapai ‘India Baru’ yang ia percaya, jalan satu-satunya dia untuk bisa sukses, ternyata dengan melakukan hal terburuk.  Buatku ada permainan simpati yang lebih menohok dilakukan oleh film ini.”

“Aku melihat karakter Balram cukup arogan sebenernya. Dari cara dia bercerita kepada PM Cina, awalnya aku iba sekaligus prihatin, dan sangat berpihak kepada Balram. Mulai di pertengahan film, aku melihat sosoknya berubah jadi licik. Simpatiku ke Balram hanya sampai dia berusaha mengejar impiannya menjadi supir pribadi Ashok aja. Setelah dia mulai menyingkirkan supir pertama, menurutku dia udah dikuasai sama ambisinya. Jelas semua tindakan liciknya tidak pantas diberikan pembenaran, karena menurutku kehidupan Balram nggak 100% sedih & underpressure terus. Dia masih banyak mendapatkan kebaikan dari lingkungannya (seperti nenek yang mengizinkan dia mengejar impian menjadi supir tuan tanah, atau majikan yang memperlakukan dia selayaknya manusia), dan aku yakin dia masih bisa kok mendapatkan those ‘lightness’ dengan cara yang benar. “

“See, Balram ini lebih kompleks. Dia membunuh. Dia bahkan ngorbanin keluarga besarnya. Dan film membuat itu semua seperti terjustifikasi, dengan menempatkannya sebagai sudut pandang Balram. Penceritaan film ini dibangun dengan konsep Balram menceritakan ulang kisah hidupnya (lewat surat) kepada Perdana Menteri Cina yang bakal berkunjung ke India. Memperlihatkan ini sebagai narasi tubuh cerita, di awal itu langsung terlandaskan motivasi si Balram bercerita itu sebagai ambisinya, dan dari cara dia mengungkapkan kita merasakan ada kemarahan terhadap segalanya”

“Menurutku motivasi Balram menulis surat ke PM China, ya hanya memenuhi egonya aja. Penceritaan film dengan cara seperti ini menurutku cukup efektif, tetapi memang ada beberapa adegan yang menurutku blurry. Karena aku enggak melihat sudut pandang orang lain, selain Balram himself. Tidak ada momen khusus yang membuatku kesulitan untuk membedakan ini kejadian beneran atau nggak, tapi menurutku lebih ke sikap beberapa karakter yang diceritakan Balram aja. Apakah memang benar-benar setega itu. Atau memang hanya di fikirannya aja.”

“Nah, bener, menurutku di sinilah sedikit kelemahan dari konsep penceritaan film ini. Mereka mempersembahkan masalah yang ingin disinggung – yang mungkin benar terjadi, ketimpangan, ketidakmanusiawian orang kaya atau majikan, dan sebagainya itu, tapi memuatnya ke dalam perspektif karakter yang juga dibuild up nekat melakukan apapun untuk membebaskan dirinya dari ‘kandang ayam’. Ke perspektif karakter yang sedang menarik perhatian ‘orang kaya berikutnya’ lewat surat. Jadi buatku ada sedikit masalah narator yang unreliable di film ini. Sehingga apa yang dilakukannya pun, jadi dipertanyakan”

“Entah. Menurutku tidak ada yang dapat dibenarkan dalam membunuh seseorang, nggak peduli seburuk apa perlakuan orang tersebut. Walaupun aku nggak membenarkan juga sikap majikan-majikan di India yang memperlakukan pelayannya dengan tidak manusiawi. Menurutku hubungan antara pembantu dengan majikan baiknya ya saling menghormati satu sama lain, dan nggak membedakan, tapi tetap ada batasan yg dijelaskan di awal. Jadi hak dan kewajibannya jelas. Karena sesungguhnya pembantu dan majikan ini menurutku sama aja kayak karyawan dan atasan dalam perkantoran, hanya beda penempatan aja, satu dalam gedung, satu dalam rumah.”

“Lucu sih bagaimana film menilik Balram lewat hubungannya dengan majikan-majikannya. Ada yang kasar, tapi ada juga yang simpatik. Kayak Ashok dan Pinky, yang berjiwa Amerika. Awal-awal pas ngeliat Ashok pertama kali kan, film ini ngasih treatment yang kayak seseorang melihat orang yang didamba banget. Balram ngeliat Ashok itu pakek slow-motion segala. Hubungan mereka juga up-and-down kayak sahabat akrab, kan.”

“Pinky FTW!!!! Aku bisa ngerasain banget keinginan dia buat memperbaiki sistem kasta di India. Padahal menurutku di sini yang salah bukan sistem kastanya, tapi memang individualnya, dan segala permasalahan ekonomi yang sudah menahun. Seperti Balram, dia sudah diberikan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke Delhi, despite kastanya adalah kasta rendah, tetapi, karena faktor ekonomi, Balram dipaksa untuk berhenti bersekolah dan bekerja. Makanya adegan saat Pinky menyuruh Balram untuk berhenti bekerja dan mengejar pendidikan terlebih dahulu, dan juga menyuruh Balram untuk berkeluarga (in a good way of course, bedakan tentang neneknya Balram yg menjodohkan dia dengan paksa). Aku jadi makin cinta sama karakter Pinky ini setelah itu. Yang mana juga adegan favorite ku, karena kayak flashback aja waktu awal cerita pas Balram kecil masih rajin belajar, paling pinter satu kelas, & dijanjikan beasiswa ke Delhi. Di adegan ini, Balram pun sudah berada di Delhi, tapi sebagai pelayan. Cuma saat disuruh kejar pendidikan oleh Pinky, dia malah menolak. Berbeda banget, padahal masih orang yg sama🥲”

“Pinky dan Ashok memang sepertinya diniatkan oleh film ini sebagai usaha yang futile. Karena yang rusak itu memang sistemnya. Sudah tidak tertolong, tanpa hal ekstrim. Apalagi oleh orang luar semacam Pinky dan Ashok. Mereka ini tu kayak keluarga kaya di film Parasite. Mereka enggak jahat, tapi mereka juga gak tau keadaan sebenarnya semacam apa di bawah, atau terms film ini; di darkness sana. Mereka ‘hanya’ orang berprivileged yang lebih sopan. Dan lebih terbuka. They do have to realized that they can’t really help.”

“Iya, aku sempet berharap banyak sama Pinky, tapi sayang dia pun gak kuat menghadapi segala problematika di India. Walau terkesan agak SJW, tapi gak bisa dipungkirin Pinky ini karakter yang paling manusiawi disini (bahkan lebih manusiawi daripada nenek kandung Balram sendiri menurutku) Dan Pinky sedikit banyak menularkan ‘hal baik’ ini ke Ashok. Menurutku keberadaan Pinky dan Ashok difilm ini menganalogikan bahwa tidak mudah mengubah sesuatu yang sudah berlangsung sekian lama, bahkan di akhir cerita saat Pinky memutuskan menyerah dan meninggalkan India, sifat Ashok malah berubah menjadi seperti majikan India yg lain.”

“Kalo si Pinky tau apa yang terjadi pada Balram dan Ashok. Kira-kira gimana ya reaksinya? Si Balram kan sudah ngikutin nasihatnya untuk berani mengejar kehidupan sendiri. Tapi Balram melakukan itu dengan… ahahaha pait!”

“Pertama kali, pasti Pinky nangis, dan memaki Balram. Tapi setelah Balram menjelaskan apa yg dilakukan Ashok & Keluarga ke dia, menurutku Pinky open minded enough untuk memaklumi apa yang Balram lakukan. Ditambah sekarang Balram udah sukses dan memperlakukan karyawannya dengan baik (tidak seperti Ashok & keluarga). Cuma mungkin ke depannya Pinky gak akan menjaga silaturahmi ke Balram, dan gamau berurusan sama dia lagi.”

“Akhirnya, si Balram jadi majikan untuk banyak sopir-sopir India kelas bawah yang ia pekerjakan di bisnis travel. Ending ini sekilas kayak bermuatan optimis. Balram berhasil membuat hidup lebih baik, berhasil memajukan India menurut dirinya. Tapi, dengan segala yang ia lakukan, dengan reaksi PM Cina yang juga biasa aja padanya, buatku cukup susah untuk menempatkan Balram ke kata berhasil. Lagipula, shot akhir ini agak ngeri juga sih, pakek liatin para supir menatap kamera. Seolah ngingetin kita bahwa mereka itu hanyalah ‘Balram-Balram’ lain yang menunggu untuk terjadi. For better and worse.”

“Semakin ngeri :’) Aku melihat pesan Balram di akhir cerita terlalu brutal, kayak, its ok to kill your masters & not feeling guilty after all. Wow.”

“Dan bagaimana dengan Indonesia? Dalam bisnis dan dunia global, Balram percaya masa depan adalah milik India dan Cina, sementara Amerika hanya akan sibuk dengan sosial media. Indonesia kok gak dianggep sih? Gimana nih si Balram, kayak gak tau aja kita bersaing ketat ama India dalam penanganan Corona Terburuk hahaha”

“Indonesia mungkin masih akan sibuk dengan perbedaan pendapatnya😆 Tetapi on the other hand, at least mindset orang-orang Indonesia lebih sedikit terbuka daripada orang India, dan kesempatan untuk menjadi sukses di Indonesia ini banyak banget, karena masyarakat Indonesia setidaknya sudah lebih akrab dengan internet dibanding masyarakat India.”

“Di sini kita juga ada sistem kasta loh. Pejabat dulu. Baru Influencer. Baru orang edan, lalu ilmuwan, dan setelah bertingkat-tingkat, baru deh rakyat jelata hahahaha… Anyway, Mbak Farrah ngasih nilai berapa nih untuk film The White Tiger ini?”

“Mungkin 6. Karena pertama kali aku nonton film ini, kayak terlalu banyak narasi, baru bener-bener seru hanya di 30 menit terakhir film, dan entah kenapa endingnya kurang bagus menurutku.”

“Cukup setuju sih. I do think film ini kelamaan di ngeliatin ‘penderitaan’ Balram dan back-and-forth hubungannya dengan Ashok. Banyak adegan-adegan yang feelnya ngena banget – favoritku pas si Balram dipermainkan emosinya sebagai manusia supaya mau tandatangan untuk sesuatu yang tidak ia lakukan, tapi banyak juga adegan yang bikin ‘ini beneran terjadi atau cuma Balram lagi ngasih tau kita’. Dan kesuksesan Balram dibuat juga terlalu cepat. Kayak, terlalu literal dia sukses dengan membunuh. Gitu. Jadi aku ngasih 7 dari 10 bintang emas untuk The WHITE TIGER!”

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat mbak Farrah Caprina udah berpartisipasi untuk mengulas film ini. Udah rela meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan seabreg. Dan tentunya terima kasih yang telah ‘memaksa’ aku untuk akhirnya mau menonton film ini.

 

Buat para Pembaca yang punya film yang ingin dibicarakan, yang ingin direview bareng – entah itu film terfavoritnya atau malah film yang paling tak disenangi – silahkan sampaikan saja di komen. Usulan film yang masuk nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

ALI & RATU RATU QUEENS Review

“Our life is a one-way journey”

 

Enggak setiap hari kita diajak jalan-jalan ke kota New York oleh film Indonesia. Tujuan destinasi film kita biasanya memang lokasi-lokasi dengan pemandangan eksotis. Bukannya New York tak indah, hanya saja untuk sebagian besar kota tersebut kurang lebih sama dengan kota-kota besar padat yang sibuk dan megah oleh gedung-gedung menjulang. Pemandangan unik yang dilihat Ali dalam film original Netflix Ali & Ratu Ratu Queens ‘cuma’ jalan-jalan satu arah yang ada hampir di setiap persimpangan distrik Queens. Namun bagi Ali, maupun bagi film ini sendiri, pemandangan bukan menjadi persoalan. Karena cerita ini adalah tentang perasaan. Ali bakal menyadari sesuatu tentang kehidupan dari jalan-satu arah yang ia lihat. Ali bakal belajar tentang hubungan keluarga yang sebenarnya. Ali & Ratu Ratu Queens berhasil menguarkan kehangatan pada kota yang bahkan di film-film dan serial televisi luar kerap digambarkan sebagai kota keras yang tidak ramah.

aliCSMh3V7vG
Oase di hutan gedung

 

Cerita film ini seperti sebuah unofficial sekuel dari Dua Garis Biru (2019), yang juga ditulis oleh Gina S. Noer. Enggak exactly berhubungan, tapi tak-urung terasa seperti kelanjutan. Dalam akhir Dua Garis Biru, si ibu-remaja memutuskan untuk terbang ke Korea mengejar mimpi dan menyambung pendidikannya, meninggalkan putranya untuk sementara bersama ayah-remaja di Indonesia. Ali & Ratu Ratu Queens, ceritanya dimulai dengan permasalahan yang mirip. Bedanya, pasangannya bukan remaja, perginya bukan ke Korea. Ali sudah berumur lima-tahun ketika ibunya pamit sebentar ke Amerika. Apa yang tadinya mestinya hanya enam bulan, berlanjut hingga bertahun-tahun. Ali hilang kontak dengan sang ibu. Sepeninggal ayah, Ali yang kini telah lulus sekolah menemukan bukti bahwa Ibu ternyata bukanlah seperti yang dikatakan oleh Om, Tante, dan saudara-saudaranya di Indonesia. Percaya setulus hati bahwa Ibu masih cinta dan menunggunya, Ali memutuskan untuk berangkat ke Amerika. Menjemput ibunya.

When entering this movie, I was thinking about a completely different movie. Materi-materi promosi yang kulihat berseliweran di sosmed/Internet telah sukses menggiringku ke arah yang salah perkara ‘mencari ibu’ yang dilakukan oleh Ali. Tadinya kupikir ini adalah tentang anak yang melakukan road trip ke Amerika, menemukan ibu yang tidak ia tahu pasti keberadaan, atau malah mungkin ‘siapa’ ibunya tersebut. Ternyata Ali & Ratu Ratu Queens enggak really about mencari. Ali dalam cerita ini tahu dan ingat siapa perempuan yang dia sebut ibu, Ali tahu tempat di mana dia harus mencari; dia punya alamat lama dan everything. Perjalanan Ali di sini bakal tampak sebagai sebuah kemudahan, apalagi Ali kemudian ditampung tinggal bersama geng ibu-ibu imigran dari Indonesia yang lagi nyari duit untuk buka bisnis kuliner di sana. Tapi sekali lagi, film ini bukan soal ‘mencari keberadaan’, melainkan soal memaknai keberadaan itu sendiri. Setelah plot poin di akhir babak pertama yang mengejutkan, fokus yang kemudian mengisi cerita adalah mengenai hubungan Ali dengan para ibu-ibu yang menyebut diri mereka Queens-nya kota Queens yang perlahan ikut tumbuh seiring dengan usaha Ali merajut kembali hubungan yang terputus dengan ibunya.

Jika ada yang Ali cari, maka itu adalah mencari makna keluarga. Dan life, in general. Karena film ini lewat perjalanan Ali juga punya muatan soal dalam hidup manusia punya tujuan, yang jalan menempuh tujuan tersebut bakal penuh pengorbanan, dan betapa berat perjuangannya untuk tidak stray away dari jalan tersebut. Jalan-satu-arah di kota Queens tersebut benar-benar tepat melambangkan jalan hidup yang kita lalui. Satu arah. Tidak ada kata mundur kembali dalam perjalanan mengejar mimpi.

 

Dalam prosesnya menceritakan jalan satu-arah, film ini mendobrak pandangan di sana-sini. Pertama, pandangan tradisional orang-kita yang berakar pada agama dan (sedikit terlalu banyak) patriarki terhadap gaya hidup Amerika dan kebebasan perempuan mengejar karir menentukan sendiri hidupnya. Ini dicerminkan oleh film lewat sikap menentang yang ditunjukkan oleh keluarga besar Ali di Indonesia. Mia, ibunda Ali yang sudah lama mia (alias ‘missing in action’ dalam urusan ibu rumahtangga) mereka anggap berdosa besar, dan itulah sebabnya Ali berusaha mereka jauhkan darinya. Karakter Ali di sini berfungsi sebagai perwakilan kita untuk mau/open melihat lebih dekat sebelum ngejudge. Ali langsung terjun ke Amerika. Merasakan sendiri perbedaan yang dianggap negatif ternyata reasonable secara manusiawi. Dan meskipun hal menjadi berat dan pedih bagi dirinya, Ali jadi mengerti kenapa ibunya melakukan yang ia lakukan tersebut. In turn, Ali paham dia juga harus menapaki jalannya sendiri karena dia adalah anak muda yang haruslah siap menghadapi dunia.

Kedua, pandangan stereotipe kota New York pada film dan serial televisi. Yang sering dieksplor dari Kota New York dalam media adalah kekerasannya. Dari The Simpsons hingga New Girl hingga ke film-film kriminal, New York lebih sering diperlihatkan sebagai daerah berbahaya, dengan penduduk yang cuek. Brookyn, Bronx, Staten Island; kota-kota “ghetto” aja yang terus dibahas. Film Ali & Ratu Ratu Queens ini tentunya asing bagi penonton Netflix di luar sana. Dan bagi orang Amerika, film ini bisa jadi pembuka mata. Karena bagi para pendatang atau imigran asing tersebut, Queens – kota di New York yang mereka bentuk sendiri sebagai tempat-keras – justru jadi tempat berlindung yang ramah. Ali dan para ibu-ibu tidak pernah diperlihatkan mendapat ancaman atau diskriminasi. Bahkan ada adegan ketika Ali mendapat simpati dan bantuan dari penduduk lokal. Bagi Ali, mungkin ibunya jauh lebih ‘kejam’ dibandingkan Queens. Bagi Ali dan ibunya dan ibu-ibu Queens, kota itu dengan jalan satu-arahnya adalah peluang untuk mewujudkan mimpi dan passion.

aliAli-Ratu-Ratu-Queens-4-750x422
Sepertinya benar juga kalo judul film ini adalah wordplay Alien the Queens. Imigran di Queens.

 

Jadi, natural (dan perlu banget) bagi film ini untuk menguatkan interaksi dan hubungan antara Ali, baik dengan ibu kandungnya, maupun dengan ibu-ibu yang nama gengnya disandingkan dengan namanya sendiri sebagai judul film. Marissa Anita sebagai ibu Ali mencuat di sini berkat tuntutan akting yang mengharuskannya bergulat dengan emosi. Baginya ini adalah menjadi ibu yang bertanggungjawab kepada keluarga sekaligus menjadi seorang perempuan yang bertanggungjawab terhadap dirinya sebagai manusia. Marissa nails this, khususnya pada dialog supermenyentuh ketika dia harus benar-benar ‘mengakui kesalahannya’ kepada Ali di menjelang akhir film. Suara tercekat yang emosional terdengar sangat genuine, seperti ia benar-benar terluka dan menyesal saat mengucapkannya. Momen-momen heartfelt memang datang dari interaksi Mia dan Ali, berkat how good dan pahamnya Marissa terhadap psikologis perannya.

Ali, on the other hand, tampak agak on dan off. Kita mengerti arc Ali, we’ve come to understand apa yang harus dimengerti oleh Ali. Namun Iqbaal Ramadhan tidak terasa begitu konsisten dalam menyampaikan apa yang seharusnya dirasakan oleh karakternya. Karakter Ali punya tuntutan range yang lumayan, kadang dia berupa seperti anak kecil yang belum mengerti dan masih harus banyak dididik oleh ibu-ibunya. Kadang dia harus bermain-main dengan mereka. Kadang dia harus confront emosi terdalamnya. Iqbaal tampak perlu full-guidance to get through all of this, one by one. Sayangnya, skrip film ini bukanlah skrip yang benar-benar seimbang. Babak pertama dan pada sebagian besar babak keduanya, difungsikan untuk membangun hubungan antara Ali dengan para ratu. Namun tidak banyak yang diberikan kepada Ali di sini. Dia tidak selalu ada di driver-seat. Keputusan-keputusan besar diserahkan kepada para ratu. Malah, Ali tinggal bareng mereka saja, bukan Ali yang memutuskan. Instead, Ali dapat bagian untuk memutuskan hal-hal seperti melarang para ratu pergi melabrak ibunya. Film ini seperti memberikan tone yang membingungkan bagi Iqbaal to play with. Karena para ratu itu – walaupun ingin dibagi adil porsinya dengan Ali – tapi tetap sebagian besar difungsikan sebagai penghibur suasana.

Para ratu tidak banyak diberikan ruang untuk pengembangan karakter. Mereka, katakanlah, sudah tercetak langsung jadi. Tika Panggabean sebagai ibu galak dengan anak gadis yang cantik, Happy Salma sebagai oddball, Nirina Zubir sebagai penengah, dan Asri Welas sebagai peran dirinya yang biasa. Sedikit kekhasan masing-masing tidak pernah benar-benar dijadikan sebagai sesuatu bahasan yang relevan untuk cerita. Hubungan Ali dengan mereka pun sebagian besar dilakukan lewat montase. Aku tidak merasa ada persahabatan yang benar-benar tumbuh di luar hubungan seperti antara anak muda dengan guardiannya. Sehingga pula, interaksi dengan mereka di dua babak awal malah jadi tampak sebagai distraksi buat permainan emosi yang harus dilakukan Iqbaal.

Sutradara Lucky Kuswandi pun sepertinya memang lebih lihai dalam adegan relationship yang lebih ‘intim’ antara dua karakter ketimbang antara banyak-karakter. Pada bagian akhir ketika cerita memfokuskan kepada hubungan Ali dengan karakter yang diperankan Aurora Ribero, film terasa lebih stabil. Ini juga adalah waktu ketika Ali yang berusaha memperbaiki banyak hal mulai berada dalam full-komando. Akting Iqbaal pun jadi lebih konsisten di sini. Aku sih pengennya film bisa sekonsisten ini dari awal hingga akhir. Tapi kalo memang filmnya sudah merasa cukup dengan memuaskan penonton lewat bagian akhir saja, well, this is just one-way to do it.

 

 

True, film ini adalah salah satu ‘good movie’ yang berhasil diproduksi oleh perfilman tanah air di tahun-tahun yang mencekik ini. Feel good dan sangat menghangatkan. Membawa kita jalan-jalan dan membawa oleh-oleh yang berbobot untuk dibawa pulang ke hati masing-masing. Film ini juga punya suara dan berani untuk mengoarkannya. Tapi, aku pikir ini bisa mencapai lebih banyak lagi. Karakter utamanya, Ali, bisa lebih diperkuat lagi. Para Queen-nya bisa lebih didalemi lagi. Tone quirky dengan dramatisnya bisa dibuat lebih ngeblend lagi. Jika itu semua tercapai, aku yakin film ini gak butuh untuk bersandar pada lagu-lagu populer. Really, bahkan di film ini yang sekarang pun, lagu-lagu tersebut terasa over. At this point, mereka itu ada terasa seperti film ini lagi flexing budget yang dipunya aja kepada kita.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ALI & RATU RATU QUEENS.

 

 

That’s all we have for now.

Karakter Ratu mana yang jadi favorit kalian? Kenapa?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

AWAKE Review

“I believe it is by divine design that the role of motherhood emphasizes the nurturing and teaching of the next generation.”

 

Semakin dewasa, manusia akan semakin mengeluhkan bahwa dua-puluh-empat jam sehari itu ternyata tidak cukup. Waktu guru SMAku ceramah soal itu dulu, aku gak begitu ambil pusing. Aku gak relate kala itu. Tapi sekarang terbukti. Kini kepalaku sering pusing-pusing. Karena apa? Karena dua-puluh-empat jam sehari ternyata beneran gak cukup saat kerjaan kita sudah segitu banyaknya. Saat udah gede, dapat enam jam waktu tidur aja rasanya udah kayak menangin lotere. Apa itu tidur siang, melainkan hanyalah privilege yang dimiliki oleh anak kecil. Manusia jadi terlalu sibuk dan banyak kebutuhan hidup sehingga menggadaikan jam tidur. Padahal yang namanya manusia, kan, butuh istirahat. Recommendednya sekitar 7-8 jam sehari. Apa kalian tahu apa yang terjadi jika manusia kurang tidur?

Film terbaru Netflix, Awake garapan Mark Raso, memberikan gambaran yang mengerikan betapa perlunya tidur. Abis nonton ini kita akan sadar petuah paling powerful itu ternyata bukanlah petuah film Dono “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Melainkan seharusnya kata ‘tidur’lah yang menggantikan kata tertawa. Karena tanpa tidur, manusia akan kelelahan dan bisa mati. Namun ada yang lebih parah. Tidak tidur menyebabkan otak kacau. Disorientiasi. Ilusi. Kehilangan kemampuan berpikir kritis. Manusia akan berubah menjadi bar-bar dan bisa saling bunuh saking gilanya!!

awakesa
Tapi tenang, film ini justru akan jadi obat tidur yang ampuh.

 

Cerita Awake berkembang dari premis menarik bagaimana jika manusia tidak lagi bisa untuk tidur. Oh mereka mengantuk, capek, tapi tidak bisa masuk ke state of sleep. Mereka kehilangan kemampuan untuk tidur.  Itu karena, diceritakan, dunia terhantam solar flare or something. Seluruh alat elektronik mati. Termasuk jam internal manusia. Sehingga para manusia, termasuk tokoh utama cerita – Jill, hidup restless di tengah kegelapan. Suasana dengan cepat menjadi kacau begitu manusia-manusia yang mulai kelelahan dan kehilangan rasionalitas itu mengetahui bahwa ternyata ada satu orang yang masih bisa tertidur. Ingat ketika aku bilang tidur itu privilege anak kecil? Nah it was Matilda, putri Jill; satu-satunya orang yang somehow masih normal. Namun itu jugalah yang membuat Jill dan keluarganya berada dalam bahaya. Matilda menjadi rebutan. Kelompok relijius ingin mengorbankannya sebagai Sang Terpilih, sedangkan kelompok militer ingin menjadikannya eksperimen dalam usaha menemukan obat dari ‘pandemi’ tersebut. Jill memilih untuk kabur mencari keselamatan untuk putri dan seorang lagi putranya.

Saat memotret reaksi kelompok-kelompok manusia itulah film ini mencapai titik tertinggi. Awake memuat banyak hal subtil mengenai keadaan mental sosial dalam jangkauan variabel yang luas. Sebagian orang-orang dalam film ada yang berusaha berpikir jernih, ada yang kita lihat akhirnya menyerah karena mereka desperately butuh sesuatu yang membuat mereka merasa aman, dan bahkan ada juga orang-orang yang seperti memanfaatkan semua kekacauan yang terjadi. Kita mengerti film ini memuat potret yang berbobot saat kita sadar ceritanya cuma fantasi tapi kita percaya orang-orang di dunia nyata kurang-lebih akan benar-benar bertindak sesuai dengan yang tergambar di cerita. I mean, kayaknya gak perlu jauh-jauh kita membayangkan. Lihat sendiri saja gimana mentalitas sosial kita yang terbentuk oleh media (dalam keadaan pandemi atau tidak). 

Awake sepertinya memang ingin membuat kita terjaga dari seberapa dekat sebenarnya kita membuat generasi ini hancur hanya dalam beberapa waktu (bahkan jam?) saja. Persoalan gak bisa tidur itu ‘cuma’ lapisan pintar (untuk mengeset keadaan porak poranda lingkungan sosial) yang menyelubungi gagasan sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh film.  Yakni soal nurturing new generation. Kita akan bisa memahami lebih banyak tentang ini dengan melihat kepada Jill, protagonis cerita yang seorang single mother beranak dua. Mark Raso actually membuat Jill sebagai karakter yang padat. Dia punya backstory sebagai mantan tentara – seperti kebanyakan karakter tentara, Jill juga PTSD, dan inilah yang membuat Jill kecanduan obat yang telah merenggut suaminya. Kini Jill bekerja sebagai seorang satpam di rumah sakit, menghidup dua orang anak yang ia titipkan kepada ibunya, sebab karena kondisi ngobatnya dulu itu Jill dinilai tidak layak mengasuh anak. Backstory yang disebar sepanjang durasi ini membentuk saga Jill sebagai sebuah cerita tentang ibu yang kini harus merawat sendiri anak-anaknya, tidak lagi membiarkan mereka dirawat oleh orang lain.

Ini ditranslasikan oleh film sebagai kisah petualangan Jill memperjuangkan keselamatan kedua anaknya. Terutama Matilda yang diincar oleh banyak pihak. Film berusaha terus menggenjot perjuangan Jill dengan memberikannya rintangan termasuk serangan rasa kantuk, kelelahan, dan kesadaran yang terus memudar. Di tengah-tengah semua itu, Jill juga harus menjalin kembali hubungannya dengan Noah si putra pertama, dan mengajarkan survival kepada Matilda. Dengan efektif film ini memparalelkan perjuangan ibu mendidik anak dengan bagaimana generasi muda terbentuk dari sosial yang sekarang. Perjuangan yang tidak pernah tidur.

 

AWAKE_20190810_Unit_00312_R-2-750x400
Bengong ngeliat orang-orang halu merasa jadi titisan Titan

 

Dengan intensi baik seperti demikian, maka memang sayang sekali film ini jatuh ke tangan eksekusi yang buruk. Awake kenyataannya memang akan membuat kita tertidur pulas lebih cepat, sebab bertahan mengikuti petualangan Jill adalah tugas yang sangat menjemukan. Raso seperti terjebak dan kelimpungan sendiri pada tuntutan untuk membuat pengalaman nonton film ini sama-sama disorientating dan chaos. Raso jadi membuat film ini terasa sangat choppy. Terasa terputus-putus. 

Pada editingnya hal ini paling terasa. Ketika fenomena solar flare itu terjadi di awal-awal, sebenarnya cukup seru karena terjadi begitu mendadak. Mobil yang dikendarai Jill, bersama dua anaknya, tiba-tiba mati dan mereka jatuh ke danau. Setelah itulah, semua hal pada film ini mulai terasa disjointed. Anak yang beberapa detik lalu berenang di dekat Jill, tau-tau sudah ada di daratan, diselamatkan oleh polisi. Penduduk kota yang masih tampak kena mati lampu biasa, tau-tau besoknya langsung bikin sekte. Film ini butuh lebih banyak ruang supaya cerita itu berkembang. Raso tidak melakukan ini. Dia melanyau adegan-adegan di naskah tanpa benar-benar memperhatikan apa yang mestinya merekatkan kejadian-kejadian tersebut. Bahkan hal kecil seperti Jill dan anak-anaknya berhenti di hutan karena Matilda capek, dan lantas digendong oleh Jill. Di exactly adegan berikutnya? Mereka bertiga berlari dan tidak ada tanda-tanda capek dari Matilda.

Perlakuan editing yang tidak membuat adegan seperti berkesinambungan seperti ini pada akhirnya membuat adegan menjadi rancu ketika kesadaran Jill semakin berkurang. Dan ini bukan membuat adegan semakin surealis, melainkan semakin awkward. Contohnya adegan di perpustakaan. This feels very disjointed. Matilda yang tadinya masih tidur di mobil, ternyata ada di dalam librari. Jill lalu mengajarkannya menembak buku, pake pistol beneran. Matilda berlari ke luar. Muncul Noah dari dekat buku yang ditembak oleh Jill. Dan shot berikutnya, Matilda sedang tidur lagi di dalam mobil. Kelihatannya film meniatkan Matilda di librari tadi adalah halusinasi Jill, bahwa dia hampir menembak Noah karena lelah dan desperate. Tapi karena editing dan arahannya, adegan tersebut jadi membingungkan.

Dan tentunya juga membuat akting para pemain jadi sama anehnya. Mereka semua jadi terlihat kaku. Gina Rodriguez mencoba keraas untuk hit every notes pada karakter Jill yang punya range cukup luas. Secara garis besar cerita, dia oke. Transformasinya dari ibu pejuang ke orang yang benar-benar sudah lelah tampak meyakinkan. Tapi karena editing dan arahan, setiap scene baru yang melibatkan dia berkomunikasi dengan anak-anaknya, Gina jadi tampak kaku. Begitu pula dengan anak-anaknya. Aku tidak merasa mereka punya chemistry sebagai keluarga beneran. Aku tidak enjoy melihat mereka. Aku tidak merasakan apa-apa kepada mereka. Karakter yang paling enak ditonton justru adalah karakter minor, seorang napi yang kabur dan bergabung bersama keluarga Jill. Tapi bahkan karakter itu tidak mendapat justice karena juga ‘lenyap’ ditelan editing yang buruk. Pada adegan aksi di babak ketiga, antara cut dengan cut adegannya disambung dengan gak make sense dan tanpa arahan pandangan mata yang sesuai. Sehingga benar-benar tidak bisa kita nikmati. Malah membuat film terasa kaku dan, paling parah, terlihat fake.

Cerita film ini pun berakhir dengan tidak benar-benar memuaskan. You know, karena soal solar flare dan ‘gak bisa tidur’ hanya lapisan pemanis, maka film tidak menuntaskan soal itu hingga ke penyelesaian yang sebenarnya. Kita tidak diberikan jawaban kenapa fenomena itu terjadi. Kenapa hanya Matilda (dan satu wanita lagi) yang bisa tidur. Sebagai penyelesaian, film justru berusaha mengikatkannya lagi kepada gagasan soal generasi baru. Dan itu membuat film ini jadi punya ending yang…. kalian baiknya nonton sendiri karena buatku film ini gila banget hahaha.. Aku gak percaya film benar-benar membuat karakter anak-anak itu melakukan perbuatan itu kepada ibu mereka. Kalo yang diniatkan film adalah menyampaikan bahwa pada akhirnya justru generasi barulah yang kini harus ‘mengeset ulang’ generasi sebelum mereka, maan, film ini benar-benar punya selera humor yang gilak!

 

 

 

Ini nyatanya adalah satu lagi film yang punya potensi, yang punya premis dan gagasan menarik di baliknya, tapi eventually gagal dalam mengkomunikasikannya kepada kita para penonton. Dia jadi ribet sendiri sama gimmick lapisan ceritanya. Yang harus dibenahi oleh film ini ada banyak. Pertama dia harus benar-benar ngeset tone ke arah yang dark jika memang mau ceritanya berakhir dengan penyelesaian seperti yang mereka lakukan. Kedua, editing yang choppy mestinya bisa diperbaiki, karena yang mereka tampilkan di sini jadi tampak fake. Bahkan membuat akting pemainnya menjadi tampak kaku; sebagai keluarga pun mereka tampak tak nyaman.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for AWAKE.

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kalian akan menyelamatkan anak sendiri? Atau apakah kalian akan menyelamatkan dunia? And how’s that become more of a choice ketimbang bisa dilakukan beriringan?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

THE WOMAN IN THE WINDOW Review

“Trapped by reality, freed by imagination”

 

“Ada perempuan, ngintip di jendela
Anna sudah gila, gak tau realita”

Amy Adams bermain sebagai Anna Fox, seorang psikolog anak – yang sendirinya lagi butuh banget terapi dari psikolog. Karena protagonis The Woman in the Window ini sudah sepuluh bulan tidak keluar dari rumah rumah. Anna tidak bisa keluar rumah. Dia akan langsung diserang kepanikan luar biasa bahkan jika hanya berada di dekat pintu depan. Jadi Anna – dan cerita ini – menghabiskan waktunya di dalam rumah. Seorang diri (well, except pria yang tinggal di basement). Minum-minum sambil menonton film thriller klasik jadi hiburan sehari-harinya jika tidak sedang ngobrol sama anak dan suaminya lewat telefon. Oh, betapa Anna ini hobi nonton. Salah satu tontonan favoritnya, however, adalah pemandangan di luar jendela. Ketika apartemen di seberangnya terisi oleh keluarga Russell yang baru pindah, Anna dapat tontonan baru. Dia sudah kenalan ama mereka satu persatu. Dan malam itu, Anna menyaksikan kekerasan rumah tangga dari balik jendela mereka. Yang dengan cepat berubah menjadi misteri, karena Jane Russell yang kenalan dengannya berubah menjadi orang lain. Anna percaya ada sesuatu yang mengerikan terjadi di keluar itu, dan percaya bahwa Jane Russell yang asli sudah tewas dibunuh.

windowAmy_Adams_The_Window_In_The_Window_Netflix
“Lek jum – lek jum tralalalaaaaa, Anna sudah gilaa~”

 

Dulu waktu Rear Window (1954) – film yang menginspirasi novel materi film adaptasi ini – buatan Alfred Hitchcock baru tayang, sebagian penonton mungkin sebatas membayangkan ketidakberdayaan terkurung di dalam rumah. Sekarang, di era pandemi, kita semua sudah menghidupi horor tersebut. Harus berkurung di rumah yang membuat kita mencari sendiri sumber hiburan supaya gak bosan. Dan bahkan kita bisa dengan gampang relate sama perasaan takut untuk keluar rumah. The Woman in the Window garapan Joe Wright memang punya advantage dalam soal kerelevanan ini. Dengan kesuksesan novelnya, ditambah Rear Window sebagai inspirasi, Wright sudah punya lebih dari yang ia butuhkan untuk membuat thriller psikologis yang benar-benar merayap ke dalam kepala setiap penonton. Wright ‘hanya’ perlu menonjolkan craftnya.

And that he did well. Kamera diarahkan Wright untuk benar-benar menyajikan pengalaman yang klaustrofobik. Diberikannya sentuhan warna biru dan merah jambu yang sendu untuk menguatkan kesan kesendirian Anna. Wright juga bermain-main dengan shot-shot yang ngingetin kita sama gambar-gambar tipikal horor/thriller psikologi hitam-putih dulu. Gambar Anna yang lagi terlelap, digabungkan dengan cuplikan adegan film yang menyala di televisinya, misalnya. Atau shot Anna mengintip dengan tirai jendela jadi bingkai gambarnya. Shot-shot seperti itu ternyata efektif pula memperkuat kesan ‘bingung’ yang melanda mental Anna. Dan dengan didukung oleh permainan peran dari Amy Adams yang udah gak asing dalam peran-peran yang terluka oleh trauma, film ini bekerja terbaik saat memvisualkan keadaan psikologis karakter utamanya tersebut.

Lihat saja gimana eerie-nya effort dan suasana yang tertampilkan saat Anna berusaha menguatkan diri untuk melangkah keluar dari rumahnya. Kita jadi percaya bahwa hal sesimpel keluar rumah itu luar biasa sulit dan menekan bagi Anna. Kita jadi percaya bahwa limitation karakternya tersebut tidaklah dibuat-buat. Buat perbandingan simpel; coba bandingkan dengan film Indonesia baru-baru ini yang juga bahas karakter yang gak mampu keluar rumah karena trauma (judulnya ada nyebut jendela juga – dan piano di baliknya). Film tersebut hanya menampilkan lewat kata-kata, sedangkan film Wright ini benar-benar memperlihatkan kesulitan dan trauma tersebut bekerja.

Menariknya, Anna enggak berani keluar rumah itu sebenarnya bukan karena dia takut dengan yang ada di luar. Melainkan lebih karena dia takut kehilangan yang ia miliki di dalam rumah. Karena rumah itulah satu-satunya koneksi dia dengan suami dan anaknya. Dia berpegang teguh pada koneksi tersebut, kehilangan itu berarti dia akan benar-benar kehilangan suami dan anaknya. Jadi, berbeda dengan kasus ‘terjebak’ yang biasa, di film ini, Anna bukan terjebak oleh realita. Melainkan dia menggunakan ketakutannya menghadapi realita sebagai dinding keamanan. Dia menjebak dirinya sendiri ke dalam, supaya bisa terus menikmati imajinasi yang ia ciptakan sebagai gantinya. Persis seperti ketika dia menciptakan imajinasi saat mengintip lewat jendela.

 

Jendela dalam sinema biasanya memang identik sebagai simbol gaze atau cara tatapan. Karena jendela itu biasanya adalah media tempat karakter mengintip, memergoki, atau melihat diam-diam sesuatu yang cukup jauh. Bidang permukaan jendela yang luas, tapi dengan bingkai, membuatnya tampak seperti sebuah televisi, dengan kejadian nyata yang ditonton alih-alih ‘drama’. Alfred Hitchcock dengan Rear Window-nya telah mencontohkan betapa cerita seorang pria yang melihat tetangganya lewat jendela sebenarnya menguar oleh pemaknaan simbolis soal framing atau bagaimana cara pria menilai yang sedang ia pandang. Bagaimana ia melihat masalah yang ingin ia lihat. Film Hitchcock tersebut simpel, tapi sangat powerful karena berhasil mengantarkan tatapan tersebut kepada kita. Membuat kita memahami proses cara pandang karakter itu terbentuk. The Woman in the Window membalikkan gaze tersebut. Sekarang karakter perempuanlah yang mengintip. Ketika dia melihat keluarga tetangganya lewat jendela, yang ia simpulkan dari tontonan tersebut terbentuk dari bagaimana cara perempuan memandang sesuatu. Wright berusaha mengeksplor ini. Tatapan Anna adalah tatapan yang berdasarkan emosi, dan kecemasan yang berasal dari pengalamannya sendiri sebagai perempuan dan ibu. Ini sesungguhnya adalah konsep yang bagus. Setidaknya, jelas akan membuat film ini punya langkah menciptakan identitas sendiri dari film yang menjadi inspirasinya.

Sayangnya, persoalan gaze ini ditambah dengan elemen pendukung untuk menciptakan psikologis karakter yang trauma, membuat film jadi tersandung. Film malah membuat Anna menjadi protagonis yang tak-bisa dipercaya. Yang unreliable. Kita ikut membangun teori misteri bersama protagonis Rear Window. Sebaliknya, pada The Woman in the Window, kita perlahan jadi sama seperti karakter polisi di dalam cerita ini; kita jadi mempertanyakan karakter utama yang seharusnya kita dukung tersebut. 

windowTHE-WOMAN-IN-THE-WINDOW-NETFLIX-REVIEW
That’s never a good thing, in every movie, if we don’t believe in the main character.

 

Entah karena kurang cukup riset, atau karena proses rewrite yang berulang-ulang, naskah film ini jadi seperti belum siap untuk terjun membahas masalah Anna, yang sebenarnya memang lebih kompleks dibanding Rear Window. Pada film tersebut, rintangannya fisik. Kaki yang cedera. Sedangkan pada film ini adalah persoalan trauma itu tadi. Serta persoalan gaze. Semua masalah itu benar-benar abstrak di The Woman in the Window. Naskah keteteran di sini. Alih-alih menggali horor dan suspens dari bagaimana rasanya jadi orang yang tidak dipercaya oleh orang lain, film ini malah berpaling dan menggali dari sudut yang lain. Lucunya, salah satu tempat film ini mencari ketegangan adalah pada sudut jumpscare. Misteri pada psikologikal horor/thriller sama sekali tidak butuh elemen kaget-kagetan. Tapi film ini membawa kita turun ke basement, untuk kemudian menarik banyak teror dari orang yang tau-tau muncul. Seolah ini adalah film rumah hantu murahan.

Seiring semakin banyak pengungkapan yang terjadi (mulai dari tentang keluarga Anna, ke keluarga Russell, ke siapa yang Jane Russell sebenarnya, dan seterusnya) film semakin terperosok ke dalam lubang jebakan horor. Tone film udah kabur sama sekali. Enggak jelas lagi. Dia yang tadinya sudah dibangun sebagai drama misteri psikologikal yang serius, semakin akhir jadi malah semakin mirip sama film bunuh-bunuhan yang over-the-top. Dari cara film ini terbendung di menit-menit awal, aku sama sekali gak menyangka bakal dapat adegan pemecahan misteri lewat foto kucing, atau bahkan gak menyangka bakal ada adegan wajah tertembus garu kebun (emangnya senjata Pat Kai!). Ini mungkin masih bisa tergolong sebagai kejutan yang menyenangkan, tapi tetap saja bukanlah langkah yang benar, karena membuat film menyimpang dan mendua dari apa yang disajikan sedari awal.

 

 

Ini hampir seperti filmnya sendiri gak pede untuk tampil sebagai drama psikologikal yang serius. Takut penonton bosan atau apalah. Sehingga mereka menulis ulang banyak elemen, menambahkan elemen-elemen cerita horor yang lebih menjual, dan berusaha menerapkan dan mencampurnya ke dalam cerita. Hasilnya? It damages the tone greatly, dan tentu saja mengurangi banyak nilai film ini. Padahal cerita ini bekerja terbaik saat memvisualkan efek trauma. Saat memperlihatkan lapisan soal gaze itu juga film sebenarnya cukup baik. Tapi kemudian semua itu dihembus keluar jendela begitu saja.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE WOMAN IN THE WINDOW.

 

 

That’s all we have for now.

Sebenarnya wajar sih kita merasa lebih aman di rumah sendiri. Tapi pernahkah kalian juga mengalami takut yang luar biasa untuk pergi ke luar, like you just want to spend your entire day at home? Bagaimana kalian mengatasi itu?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

.

ARMY OF THE DEAD Review

“What happens in Vegas, stays in Vegas”

 

Gak heran kalo Las Vegas disebut sebagai Sin City (Kota Dosa). Di tempat itu dari nyaris dari pintu ke pintu adalah kasino. Orang-orang berdatangan dari segala penjuru mengunjungi tempat hiburan khusus dewasa tersebut, berpesta foya-foya dengan berjudi dan segala turunannya yang sah, mulai dari ngobat sampai prostitusi. Las Vegas dalam dunia sinema Zack Snyder ini, kedatangan satu ‘dosa’ lagi. Satu abomination, yang lantas merebak menjadi ribuan lainnya. Wabah zombie menggerayangi seisi kota! Beruntung Las Vegas punya slogan “Apa yang terjadi di Vegas, tetap tinggal di Vegas”. Zombie-zombie dikarantina di dalam kota yang ditutup rapat-rapat. Terputus dari dunia luar.

Ketika Scott Ward dan kelompoknya mendapat misi untuk mengambil dua ratus juta dolar uang yang tersimpan di dalam brankas salah satu kasino, mau tak mau mereka harus melintasi kota undead tersebut. Dan saat itulah geng orang-orang jalanan ini mengetahui bahwa musuh yang mereka hadapi di sana bukanlah sesepele mayat hidup tak-berotak. Yang tinggal di dalam sana ternyata bukanlah kawanan zombie biasa. Melainkan kelompok zombie-zombie pintar, yang dipimpin oleh raja dan ratu zombie yang bisa berpikir sendiri. Mereka menduduki kota. Las Vegas telah berubah menjadi kerajaan zombie!

Di Las Vegas semuanya kasino. Gak ada yang dono ataupun indro.

 

Para zombie itu memang jadi hal paling menarik yang ditawarkan oleh film. Basically ada tiga jenis zombie yang dimunculkan di sini. Ada zombie pelan dan dungu, seperti yang sudah umum kita lihat. Lalu ada zombie alpha; zombie yang gerakannya sangat cepat dan cukup cerdas untuk mengelak dari peluru. Dan terakhir, zombie pemimpin mereka, The Original, tak-kurang seperti makhluk berkecerdasan dan kekuatan super. Dia mengendalikan zombie-zombie yang lain seperti bos memerintah anak buah. Hierarki zombie ini menciptakan lapisan intensitas pada cerita. Karena selain difungsikan sebagai tantangan untuk para karakter manusia, zombie-zombie ini juga jadi sarana bagi sutradara Zack Snyder mencuatkan kreativitas khasnya. Tidak setiap hari kita melihat zombie berjubah dan berhelm menunggangi kuda zombie – niruin dewa Zeus, kan. Dan ya, zombie harimau membuat film ini berada dalam level kekerenan yang baru!

Snyder bener-bener pol-polan mengarahkan cerita untuk mengajak kita bersenang-senang dengan tembak-menembak zombie. Setiap headshot ke kepala berotak busuk tersebut dipastikannya terekam dengan penuh gaya. Kita bisa duduk santai menikmati setiap adegan laga yang disuguhkan. Pertemuan geng manusia dengan kawanan zombie dibuat berbeda setiap kalinya. Ada yang berupa mereka harus berjalan pelan-pelan supaya tidak membangunkan zombie yang sedang hibernasi. Di lain waktu, mereka benar-benar harus tunggang langgang sambil berlari menembaki zombie. Bahkan ada adegan ketika para manusia memanipulasi zombie untuk berjalan menyusuri jebakan tersembunyi. I love those kind of interactions. Rasanya nonton ini seperti kembali nonton film-film zombie jaman dulu yang pure seru-seruan, gak ada agenda. 

Jikapun kerajaan zombie itu dimaksudkan sebagai cerminan society masa kini, Snyder tidak pernah mencuatkan hal tersebut. Karena cerita film ini dibuat sangat sederhana sekali. Ceritanya malah cukup mirip dengan Peninsula (sekuel Train to Busan yang tayang 2020 lalu). Alih-alih tentang outbreak, film ini melompat dan mengambil masa ketika Las Vegas sudah jadi kota mati, dan sekelompok orang ditugaskan untuk mengambil ‘harta karun’ di dalam kota tersebut. This is lowkey a heist movie, with zombies. Zombie pintar di film ini adalah pengganti kelompok ala Mad Max di Peninsula. Protagonisnya juga mirip. Peninsula punya protagonis yang merasa bersalah telah membiarkan kerabatnya dimakan zombie, maka Army of the Dead ini punya protagonis yang dihantui oleh tindakannya yang terpaksa membunuh istri sendiri sebelum ibu dari putrinya tersebut berubah menjadi mayat haus darah.

What happens in Vegas stays in Vegas. What happens in the past stays in the past. Karena pada akhirnya, apapun yang telah terjadi, apapun yang telah dilakukan – entah itu keberhasilan atau kegagalan – tidak akan ada orang yang akan benar-benar mengerti kecuali diri sendiri. Kita sendirilah yang harus deal with it. Seberapa jauhpun kita lari, bagian diri kita yang ada di situ akan tetap di situ, sampai kita menyelesaikannya.

 

Personally, aku lebih suka cerita outbreak zombie ketimbang action heist yang zombienya seringkali hanya diposisikan sebagai obstacle. Film Army of the Dead ini menceritakan kejadian awal Las Vegas terkena wabah zombie lewat montase sebagai opening credit. And it was a blast! Montase tersebut melimpah ruah oleh gaya Snyder – aksi dan musik dan kamera work yang lain dari yang lain – dan benar-benar sukses memperlihatkan zombie outbreak mengerikan. Bahkan ada cerita-mini tentang ibu yang harus berjuang menyelamatkan anaknya tapi gagal dan mereka berdua mati bersama zombie-zombie di sela-sela memperkenalkan tiga tokoh sentral sebenarnya dari cerita film ini. Opening kreditnya itu bisa banget dijadiin satu episode film-panjang sendiri. And I must say, aku merasa jauh lebih peduli dan tertarik sama cerita ibu pejuang di situ dibandingkan dengan karakter-karakter yang ada pada kelompok Scott sebagai main story film ini.

Bukannya apa-apa, tapi karakter manusia di film ini tipis sekali. Yang paling mendingan memang si Scott. Dia bilang dia mau nerima misi karena duit, tapi sebenarnya dia juga pengen banget ketemu lagi sama putrinya yang jadi relawan di sekitar perbatasan kota Las Vegas. Dave Bautista menggunakan perannya di sini sebagai pintu kesempatan untuk memperluas range aktingnya. Kita bisa lihat dia berusaha untuk hit adegan-adegan percakapan yang emosional. Tapi dengan stake yang diberikan kepada karakternya ini, kita tidak benar-benar bisa merasa peduli kepadanya. Yang grounded dan emosional terletak pada hubungannya dengan putrinya, yang sayangnya Kate, putri semata wayangnya itu ditulis sebagai karakter annoying karena begitu keras kepala. Selebihnya, kelompok mereka terdiri dari orang-orang yang hanya mau duit juga. Ada youtuber yang diajak ikut karena video dirinya menembak jitu zombie-zombie viral. Ada pembuka brankas yang cupu, tapi dibikin sok melawak oleh naskah sehingga malah jadi creepy. Ada juga beberapa relationship yang tau-tau muncul, dan disetop begitu saja. Film sepertinya hanya menggali mereka sesaat sebelum mereka dibuat mati, as a cheap shot untuk memancing perasaan sedih kita. Padahal sebenarnya ya memang orang-orang ini ada di sana untuk jadi makanan zombie. The more the merrier.

Walaupun di tengah-tengah, film berusaha menaikkan suspens dengan mengeset batas waktu yang semakin ngepress bagi para karakter – jika mereka telat, mereka mati, hancur bersama Las Vegas – tetapi tetap saja susah bagi kita untuk merasakan simpati. Kita tentunya sukar untuk benar-benar ingin mereka sukses jika kegagalan mereka hanya berarti mereka gak dapat duit jutaan yang sebenarnya tidak mereka perlukan (they already have a job). Satu-satunya yang punya stake yang bisa kita pedulikan adalah seorang perempuan beranak dua yang disandera zombie. Namun, karakter teman putri Scott ini ya hanya sebagai sandera, kepentingan dirinya dan keluarganya tidak benar-benar dibangun.

Ditembak termometer jadi elemen horor yang relevan

 

Tentu, film zombie boleh saja hanya have fun dengan karakter yang tipis. Mereka bisa berbicara lewat aksi saja jika memang budget atau waktu yang dimiliki terbatas. Inilah yang disayangkan. Army of the Dead terlihat jelas punya dana yang enggak pas-pasan. Durasinya pun lebih panjang dari yang sebenarnya dibutuhkan oleh cerita. See, there lies the problem. Ketika Snyder merilis Justice League versi dirinya, kita bisa maklum durasi film tersebut mencapai empat jam. Karena kita paham ceritanya butuh ruang yang banyak supaya masing-masing karakter superhero dapat termuat dengan memadai. Kita malah sudah melihat bagaimana cerita tersebut tidak bisa bekerja jika hanya sekitar dua jam. Di film Army of the Dead ini kasusnya beda. Durasi nyaris dua setengah jam itu tidak terasa benar-benar diperlukan. Snyder toh tidak berniat mengembangkan karakter-karakter yang dimiliki. Begitupun soal aksi, yang ternyata tidak selalu terjadi di layar. Snyder di sini tampak memakai durasi bercerita yang panjang, bukan karena dia butuh, tapi hanya karena dia bisa.

Padahal kita bisa rasakan sendiri saat menonton, betapa tidak efektifnya tempo dan ritme adegan per adegan yang kita saksikan. Banyak bagian yang tampak tidak penting-penting, yang jika dibuang pun tidak mengganggu cerita. Misalnya soal teman salah satu anggota kelompok yang diajak tapi kemudian pulang lagi karena takut sama zombie. Apa pentingnya adegan tersebut sampai harus masuk, kan. Karakter yang pulang tadi itu bahkan tidak benar-benar dijumpai lagi hingga akhir cerita. Actually, sepanjang durasi film akan banyak melakukan hal seperti demikian. Seolah ngebuild up sesuatu dari interaksi karakter, tapi ternyata tidak ada pay off sama sekali. Semua berjalan sesuai dengan blueprint mengenai tipikal karakter manusia film zombie yang sudah kita hapal di luar kepala.

Hal terakhir yang juga menggangguku adalah soal treatment gambar yang dilakukan oleh kamera Snyder. Ini lebih ke soal selera sih kayaknya, karena mungkin diniatkan untuk estetik. Snyder merekam gambar yang dengan sengaja digeser dari fokusnya. I mean, hampir seluruh frame itu gambarnya hanya fokus di sekitar tengah layar, sementara sekitarannya buram. Menonton film ini aku sambil mengerjap-ngerjap. Kupikir minus mataku sudah nambah dan kacamataku sudah gak cocok lagi. Karena mirip seperti gambar film inilah penglihatanku kalo gak pake kacamata. I would squint my eyes so hard sehingga nanti bagian tengah yang sedang kupandang jadi jelas. Beberapa penonton enggak akan masalah sama ini, karena hey, it’s Snyder. Gaya-gaya seperti itu cocok dengan konteks siapa dirinya dan bagaimana ciri khas karya-karyanya. Lagipula mungkin memang benar kata Hideo Kojima bahwa Snyder sedang mengubah kepala kita menjadi zombie, dan itu dimulai Snyder dari penglihatan kita.

 

 

Enggak setiap hari kita dapat film zombie yang sangat stylish. Penuh aksi kejar-kejaran dan tembak-tembakan yang seru. Walaupun dari segi cerita film ini enggak menawarkan apa-apa (yang baru), tapi dari segi konsep dan world-building, film ini sukses bikin kita tertarik dengan experience baru yakni zombie yang superkuat dan bisa berpikir seperti manusia. Malahan memang film ini tampak sekalian ngebangun sekuel dan ngetease kita dengan dunia dan lore yang lebih luas lagi untuk ke depannya. Aku enjoy sekali nonton ini, terutama di kredit pembukanya. Dan aku tetap enjoy sampai akhir padahal ada banyak elemen yang dimiliki film yang membuatku enggak sreg. Semua yang terlalu standar di sini membuat kita teralihkan dari thrill yang ditawarkan film ini. Film ini sendirinya persis seperti kota Las Vegas. Penuh dosa, tapi aku enggak akan mikir dua kali untuk mengunjunginya kembali.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ARMY OF THE DEAD.

 

 

That’s all we have for now.

Kalian yang sudah sering nonton zombie pasti kenal sama tipe-tipe karakter yang sering muncul. Menurut kalian kenapa film-film zombie selalu berisi karakter-karakter tipikal semacam itu? Jika kalian ada di dunia film zombie, kira-kira kalian masuk tipe karakter yang mana?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

THE MITCHELLS VS. THE MACHINES Review

“A father must lead his children; but first he must learn to follow.”

 

Cita-cita setiap remaja di seluruh dunia sebenarnya sama; pengen orangtua mendukung cita-cita mereka. Entah itu mau jadi pemusik, atlet, seniman. Pembuat film. Konten Kreator. Atau bahkan Youtuber. Buat kalian yang menyipitkan mata mendengar konten kreator sebagai cita-cita? See, inilah yang exactly dibahas oleh film The Mitchells vs. The Machines. Orangtua, sebagian besar, tidak mengerti pentingnya ‘cita-cita’ tersebut bagi anak mereka. Atau bahkan gak ngerti gimana ‘cita-cita’ tersebut termasuk sebagai kerjaan-asli. Animasi keluarga garapan Michael Rianda dan Jeff Rowe ini mengeksplorasi langsung ke inti permasalahan tersebut, yakni generation gap. Jurang antara anak dengan orangtua, yang terbentuk salah satunya oleh perkembangan teknologi. Rianda dan Rowe menceritakan persoalan itu lewat potret keluarga Mitchell yang aneh dan kocak. Dengan efektif ngeset tone dan menciptakan desain (cerita dan visual) sehingga cerita yang mereka angkat ini tidak pernah terasa seperti nasehat yang menggurui, melainkan literally sebuah perjalanan yang fun, seru, dan penuh warna. Petualangan yang relate sekali dengan identitas, dan juga selera remaja kekinian, beserta keluarganya sekalian!

Katie Mitchell udah gak sabar masuk kuliah. Bukan saja karena dia bakal bisa terus mengasah kemampuan membuat-filmnya, tapi juga karena akhirnya dia bakal berada di lingkungan yang benar-benar mengapreasiasi bakat dan hobinya tersebut. Di rumah, yang mau nonton film-film konyol buatannya cuma adik dan ibu. Sementara ayahnya, cuek. Gak ngerti ama film Katie. Khawatir, malah, sama pilihan Katie. Padahal dulu Katie ama ayahnya deket banget. Kini mereka seperti ada jarak. Gak nyambung, apalagi kalo udah ngomongin film dan tetek bengek teknologi. Makanya, untuk menghabiskan waktu bersama-sama lagi, Ayah memutuskan untuk mengantar Katie ke kampus. Naik mobil sekeluarga. Namun, saat keluarga Mitchell itu lagi seru-serunya bonding on the road, dunia diambil alih oleh A.I. di smartphone yang dendam sama perlakuan manusia terhadap teknologi. A.I. itu memerintahkan pasukan robot untuk menangkapi semua orang. Sampai hanya keluarga Mitchell-lah yang tersisa untuk menyelamatkan dunia.

mitchellscon_cld110.1170_lm_v1-1280
Tanyalah ke hatimu yang paling dalam, maukah kalian mempercayakan dunia kepada mereka?

 

Memang sih, cerita tentang hubungan anak dan orangtua yang merenggang, kemudian mereka berusaha untuk saling dekat kembali ini udah sering kita temukan bersemayam dalam film-film, apalagi untuk keluarga. Yang bikin The Mitchells vs. the Machines adalah karakterisasi yang mencerminkan gaya komedinya itu sendiri. Film ini punya selera humor yang quirky abis. Dan itu tercermin ke dalam pembentukan karakter-karakternya.

Karakter-karakter cerita itulah yang ultimately menjadi kekuatan film ini. Membuat kita gak capek dan terus mau peduli sama rintangan-rintangan yang mereka hadapi. Entah itu rintangan dari dalam, ataupun dari robot-robot. Katie (Abbi Jacobson menghidupkan karakter remaja awkward ini dengan penuh konfiden sehingga gak klise) adalah remaja cewek yang sangat kreatif, hobinya bikin video – actually video seriesnya di Youtube sukses menjadi viral – menggunakan properti bikinan sendiri seperti sarung tangan dan boneka dan sebagainya. Katie menjadikan anjing keluarga mereka, si Monchi, sebagai bintang. Si Monchi itu sendiri gak kalah unik. Dia anjing jenis pug yang matanya kaga sinkron, penampilan konyolnya ini nanti jadi running gag dan malah jadi salah satu kunci keberhasilan mereka mengalahkan pasukan robot. Ayah Katie, Rick (Danny McBride berhasil menjadi seorang ayah yang seimbang antara kocak dengan menyentuh) bener-bener seseorang yang gaptek, tapi dia bukan tipe boomer yang sok bener. Melainkan seorang ayah yang baik, yang mau berjuang demi keluarga yang ia sayangi, meskipun seringkali dengan caranya sendiri. Rick adalah satu-satunya ayah yang kutahu menghadiahi obeng kepada semua anggota keluarganya haha…  Rick berjuang menggunakan komputer dan teknologi juga jadi running gag yang gak pernah bosenin. Ibu dan adik Katie jatohnya lebih seperti karakter pendukung yang lebih minor. Tapi mereka juga punya keunikan, dan masalah, tersendiri. Ibu Katie pengen keluarga mereka tampil perfecto seperti tetangga sebelah. Dan si adik punya ‘penyakit’ nerd akut sama yang namanya dinosaurus. Mereka berperan besar membuat cerita terus bergulir dengan cara fun dan di-luar-perkiraan.

Namun sebenarnya yang membuat film ini terasa sangat unik, seperti film spesial sendiri, adalah lapisan yang membungkus drama keluarga yang harus belajar saling mengerti tersebut. Lapisan soal bagaimana manusia sudah menjadi begitu bergantung kepada teknologi. Kepada handphone. Kepada internet. Adegan paling ngakak buatku adalah ketika A.I. smartphone yang jadi antagonis (bayangkan Siri atau Alexa yang jadi jahat dan bergerak sendiri) mematikan wi-fi dan seluruh dunia langsung geger. Reaksi para manusia yang tiba-tiba terdiskonek dari internet yang udah jadi gaya hidup sehari-hari digambarkan dengan sangat kocak. Para manusia itu dengan mudah ditangkapi karena terjebak oleh tanda ‘wifi gratis’ hihihi.

Hebatnya, film ini menampilkan elemen cerita tersebut dengan berimbang. Para robot dan teknologi tidak ditampilkan semena-mena jahat. Film ini tidak berniat untuk memaksakan bahwa teknologi itu jahat, telah memisahkan orangtua dan anak, dan betapa manusia akan hidup lebih baik tanpanya. Tidak. Melainkan, film memperlihatkan dari dua sisi. Hidup dengan teknologi juga dipersembahkan sebagai hal positif dan unggul. Bukan salah teknologinya. Salah kita yang kurang bijak memanfaatkannya. Permasalah gap yang bikin renggang Katie dan ayahnya kan juga ditulis paralel dengan ini. Ayah Katie tidak pernah sekalipun menyalahkan teknologi. Malahan dia berusaha untuk mengenali teknologi. Berusaha menonton apa yang Katie bikin, dan berusaha mengerti apa arti kreasi tersebut bagi hidup putrinya.

Menjadi ayah yang baik ternyata sama dengan menjadi pengguna teknologi yang baik, Harus mau dan bisa belajar mengikuti. Sembari paham bahwa dirinya lah yang memegang kendali. Kita tidak boleh membiarkan diri terlena dalam menggunakan teknologi. Begitu juga ayah kepada anak-anaknya. Anak-anak itu berkembang. Ayah harus bisa untuk mengikuti perkembangan tersebut, aware sama masa depan anaknya. Itulah sebabnya kenapa ayah juga harus kuat. Karena ia harus melakukan semua itu sambil terus mengingat masa kecil anak-anaknya.

 

mitchells-vs-the-machines-monchi-1618568457
Kalo lagi puasa memang anjing ini diliat-liat mirip roti sih haha

 

Karakter unik, elemen cerita berlapis, dua hal tersebut menjadikan film ini keren dan kocak banget. Tapi, bahkan di samping itu semua, ada satu lagi yang istimewa. Hal yang jadi kekuatan utama film ini. Fondasi yang menjadi nyawa bagi film ini. Visualnya. Serius, ketika kita bicara tentang film animasi, hal pertama yang menjadi perhatian kita; hal pertama yang membedakan film tersebut dengan film lain adalah tampilan. Gaya gambar. Desain dan kreasi. Film ini juara. The Mitchells vs. the Machine diproduksi oleh Phil Lord dan Christopher Mille, yang sebelum ini memproduksi animasi Spider-Man: Into the Spiderverse (2018), animasi yang memorable lewat gaya visualnya (menang Oscar animasi terbaik!!). Pengaruh kreatif film tersebut lantas diturunkan ke The Mitchells vs. the Machines ini. Kelembutan animasi komputer dipadukan dengan shade-shade kayak buatan tangan, membuatnya gambar-gambar itu bukan saja menjadi semakin mulus dan hidup, tapi juga sekaligus pop up di layar.

Jika pada film Spiderverse itu animasinya menggunakan gaya ala komik dan grafiti alias seni jalanan, maka di film kali ini visual yang digunakan, dibuat dengan referensi kultur internet. Filter sosial media, Youtube, dan sebagainya. Membuat film ini semakin dekat dengan remaja yang ingin mereka representasikan. Leluconnya diinkorporasikan ke dalam bentuk visual, ke dalam gaya yang membuat film ini seperti dibuat oleh remaja seperti Katie yang sedang main sosial media. Dan itu memang jadi nilai plus yang dilakukan oleh film ini. Memang ada dua jenis gaya animasi yang dilakukan. Pertama, animasi dunia-nyata Katie. Dan kedua, animasi ketika film harus menampilkan video atau film viral kreasi Katie. Kedua gaya ini punya pembeda masing-masing. Namun seiring berjalannya cerita, ada masa ketika keduanya bercampur, dan film berhasil menghandlenya dengan seimbang.

Gaya dan lelucon yang katakanlah ‘kekinian’ itu kadang memang bisa terasa sedikit terlalu berlebihan. Ada resiko bakal membuat film ini kehilangan bobotnya. Film Pixar, sebagai perbandingan, menangani cerita seperti begini biasanya dengan memasukkan momen-momen slow. Untuk membiarkan kita mengambil napas dan mengapresiasi pesan cerita dengan lebih khusyuk. The Mitchells vs. the Machines enggak punya momen seperti demikian. Pacingnya superkencang. Membawa kita melaju melihat drama, filter, dan lelucon-lelucon lain. Tapi juga, tidak sekalipun film ini terasa kehilangan bobot. Seluruh desain tersebut (pacing dan visual dan lelucon) dilakukan sesuai dengan konteks yang sudah diniatkan. Untuk menimbulkan kesan yang hingar bingar. Dan film ini perlu kesan tersebut mengingat elemen ceritanya saja suda sedemikian ‘tabrakan’; hubungan ayah-anak dan ketergantung teknologi itu udah kayak dua cerita berbeda, belum lagi elemen road-trip dan petualangan pertempuran. Film ini sudah punya bobot emosional di dalam cerita. Dia hanya butuh perekat. Dan gaya desainnya itulah yang merekatkan. Kekinian dan segala macam itu tak lagi jadi supaya relate saja (dan nanti akan kemakan usia), tapi sudah menajdi seperti karakter tersendiri.

 

Film ini sebenarnya bisa saja mencukupkan dirinya menjadi animasi hura-hura yang bermain dalam budaya internet kekinian. Umur film ini bisa saja jadi sangat singkat. Bakalan outdated seiring munculnya budaya/tren baru. Tapi cerita yang dikandungnya ternyata terlalu penting dan terlalu beresonansi. Baik untuk remaja sekarang, maupun remaja jaman dulu (alias yang udah jadi orangtua). Kalo ada jembatan yang menghubungkan antargenerasi, maka film ini adalah bagian dari jembatan tersebut. Kocak, pintar, self-aware, dan menyentuh emosi dalam gayanya yang quirky. Desainnya lah yang jadi kekuatan utama. Menjadikan film ini tidak hanya sekadar rentetan referensi demi referensi internet. Melainkan jadi karakter tersendiri. Ini adalah tontonan spesial, yang tentu saja layak disaksikan bersama orang-orang terspesial di hidup kita. Keluarga.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE MITCHELLS VS. THE MACHINES.

 

 

That’s all we have for now.

Apakah benar teknologi membuat hubungan di dalam keluarga menjadi renggang?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

THINGS HEARD & SEEN Review

“Ghost can be very real and very dangerous, within a marriage”

 

Rumah baru Amanda Seyfried, di film Things Heard & Seen, berhantu. Bau gas kerap tercium memenuhi kamarnya setiap malam tiba. Lampu dan perabotan listrik pun ikutan bertingkah. Malam demi malam Catherine – nama karakter yang ia perankan – biasanya berakhir dengan putri ciliknya yang berlari masuk ke kamar. Ketakutan karena melihat sesosok perempuan. Tentu saja tak lama bagi Catherine untuk menyaksikan sendiri penampakan tersebut. Semakin sering malah. Bukan hanya kelebatan cahaya, tapi benda-benda kuno seperti cincin juga mulai ‘menampakkan’ diri kepadanya. Tapi yang paling bikin Catherine takut tinggal di sana ternyata bukanlah penampakan-penampakan yang ia lihat tersebut. Catherine bahkan punya perasaan bahwa hantu-hantu itu bermaksud membantu atau sekadar memperingatinya akan sesuatu. Tidak. Yang bikin Catherine takut bukan yang ia lihat, melainkan justru adalah hal-hal yang ia dengar dari teman-teman dan penduduk sekitar. Hal-hal tentang kehidupan George. Suaminya.

Seperti yang dilakukan oleh Elizabeth Brundage dalam menulis novel All Things Cease to Appear – novel yang menjadi materi asli film adaptasi ini – duo sutradara dan penulis Shari Springer Berman dan Robert Pulcini juga mengawinkan drama pernikahan yang grounded dengan elemen horor supranatural sebagai fondasi atau konteks cerita. Ada hantu beneran di rumah Catherine – di cerita ini – beserta berbagai macam keanehan gaib lain, yang nantinya bahkan berfungsi lebih signifikan lagi sebagai penyelesaian dalam cerita. Secara tematik memang film ini kaya sekali. Selain soal supranatural, film ini juga nyerempet masalah seni. Kedua karakter inti – Catherine dan George suaminya – berkecimpung dalam dunia seni, sebagai bahasan-profesional mereka. Supranatural dan seni inilah yang jadi bumbu utama racikan Berman dan Pulcini dalam memotret masalah rumah tangga yang diwakilkan oleh pasangan muda tersebut. Masalah yang sebenarnya juga berakar pada dominasi pria terhadap perempuan.

thingsTHAS_20191021_00945r-838f6c7
Rumah baru tapi lama

 

Jadi secara tone, film ini gak dalam kotak ‘seram’ horor-horor biasa. Alias gak total ke hantu-hantuan. Gak ada hantu-hantu bertampang seram. Meskipun beberapa kemunculan bisa ngagetin karena editing yang menggunakan gaya horor mainstream. Ceritanya lebih pas disebut sebagai drama pernikahan yang ada hantunya. Kengerian datang dari aksi dan reaksi karakter seiring development masalah yang perlahan membuka. Dan membukanya itu cukup perlahan, karena dengan durasi yang mencapai dua jam, film benar-benar memberi ruang bagi konflik antarkarakter berkembang. Gaya film ini kurang lebih mirip serial Haunting di Netflix, terutama yang season 2 The Haunting of Bly Manor. Drama-nya yang bikin kita bergidik. Bergidik bukan exactly karena seram, melainkan yang lebih ke menyayat dan pilu. Elemen seni yang dikandung sepertinya dilakukan demi mengincar film ini bisa terasa lebih poetic lagi seramnya.

Dan sepertinya memang, film ini seharusnya dibikin jadi serial aja. Like, buatku pribadi, ini udah cocok kok jadi season ketiga serial Haunting. Ada rumah besar yang berhantu sebagai pusat cerita. Drama keluarga dan cintanya kuat. Banyaknya elemen yang dikandung oleh cerita tidak tertampung dengan baik semua oleh struktur film-panjang seperti ini. Berman dan Pulcini aku yakin sudah mencoba, tapi mereka tidak bisa merangkum semuanya ke dalam cetakan film-panjang. Things Heard & Seen ini masih terlalu besar, dan masih mirip kayak struktur penceritaan sebuah novel.

Yang pertama kerasa itu adalah sudut pandangnya. Film ini berusaha tampil sinematik dengan konsep ‘menyuplik adegan di tengah sebagai pembuka’. Namun ini malah membuat tokoh utama cerita semakin tidak jelas. Film ini dibuka dengan adegan George pulang ke rumah dan menyadari ada sesuatu yang aneh. Kemudian kita dipindah, dibawa mundur ke beberapa bulan sebelumnya. Dan kita ngikutin perspektif si Catherine sekarang – dan sebagian besar durasi. Kita discover things bareng Catherine. Dan hanya itu. Catherine juga gak benar-benar punya pengembangan selain dia berubah jadi mengetahui sesuatu yang sebenarnya. Lalu ketika sudah sampai ke sekuen yang harusnya adalah action untuk penyelesaian, kita dipindah ke ngikutin karakter lain. Di sinilah film menjadi paling lemah, serta tak memuaskan bagi penonton kebanyakan. Di bagian akhir itu, ada adegan supranatural yang seram, tapi yang ditakut-takuti itu adalah karakter jahat. Sehingga kita tidak ikut merasa seram. We don’t feel for him. Kita ingin dia diganggu, malah. Namun ketika justice itu beneran ditegakkan, film melakukannya secara puitis. Di film hantu lain biasanya si jahat mati dibunuh oleh hantu si teraniaya, di film ini tidak ada ‘pemuas’ seperti demikian. Dilakukannya dalam konteks nyeni. Bukannya harus berdarah atau gimana sih, maksudku adalah kita tidak diperlihatkan dengan jelas dampak kejadian terakhir tersebut bagi dua karakter ini.

Film ini memparalelkan antara hantu dari masa lalu dengan baggage yang dibawa oleh pasangan ke dalam rumah tangga. Keduanya memang sama-sama bisa menghantui. Catherine benar-benar jadi terganggu oleh kenyataan yang ia dengar tentang yang mungkin telah dilakukan oleh suaminya di masa lalu. Dan ini merupakan bentuk dari kekerasan atau abuse dalam rumah tangga. Dikibulin, di-gaslight. Diserang mentalnya. Hal paling mengerikan yang diperlihatkan film ini adalah bahwa abuse seperti demikian susah terdeteksi. Bahkan ditunjukkan abuse semacam itu jadi siklus turun temurun. Perempuan jadi korban dan menderita. Mereka saling bantu pun, tidak bisa menyelamatkan. Hanya bantu membawa pria pelakunya ke keadilan. Tapi keadilan apa? Ketika pria menemukan kematian, mereka jadi lukisan.

 

thingsamanda-seyfried-1-1-1140x600
Mungkin itukah yang namanya ‘poetic justice’?

 

 

Karakter Catherine dan George diberikan lapisan. Film berusaha menggali kedalaman pada karakter intinya. Supaya kita bisa lebih peduli sama drama cerita. Namun, lapisan-lapisan tersebut tidak berhasil dikembangkan sebagai sesuatu yang benar-benar berarti. Catherine, misalnya, dia diceritakan punya eating disorder. Dia gak mau makan banyak. Sekalipun termaksa harus makan, dia akan menggigit sesedikit mungkin yang ia bisa, dan kemudian diam-diam kabur ke wc untuk memuntahkan makanan tadi. Awalnya memang film seperti menggunakan perilaku anoreksianya; membuat kita bertanya-tanya apakah hantu yang dilihatnya bener hantu atau karena dia keleyengan kurang makan saja. Tapi itu dengan cepat terjawab. Dan anoreksia tadi seperti disingkirkan gitu aja. Tidak menjadi penghalang memecahkan misteri atau apa kek yang bikin cerita benar-benar jadi punya kedalaman. Hanya di akhir saja dimunculkan kembali dengan ala kadarnya.

Atau juga soal si George. Yang seorang dosen jurusan seni diceritakan senang jadi pusat perhatian murid-muridnya, khususnya yang cewek. George pun selingkuh dengan perempuan muda yang sepantaran usia dengan muridnya. Di lain pihak, Catherine pun mulai tampak jatuh hati sama pemuda yang bekerja di rumah mereka. Pemuda yang ternyata adalah pacar dari selingkuhan George. Permasalahan selingkuh yang melibatkan pemain sentral ini juga enggak kemana-mana. Tidak ada interaksi, tidak ada konfrontasi. Hanya disisir permukaannya. Ditampilkan saja.

Ini sejalan dengan permasalahan pada karakter-karakter yang lain. Panggung film ini sebenarnya luas sekali. Bukan hanya rumah tua dengan sejarah kelamnya, tapi seluruh kota benar-benar dihidupkan. Selain Amanda Syeifried dan James Norton, film meng-casting pemain-pemain yang bukan abal-abal kualitas aktingnya. Karena memang karakter mereka juga sebenarnya punya alasan kuat untuk berada di sana mengisi cerita. Beberapa karakter itu di antaranya ada dua pemuda kakak-beradik anak dari pemilik rumah Catherine sebelumnya – dua pemuda yang merupakan penyintas dari kejadian berdarah yang menimpa keluarga mereka. Dua pemuda yang akhirnya bekerja untuk keluarga Catherine, yang salah satunya adalah pemuda yang tadi ditaksir oleh Catherine. Mereka cuma ada di sana, dengan identitas demikian. Tanpa pernah diberikan bobot kepada cerita itu sendiri. Lalu ada pria tua sejawat George di kampus, yang juga merupakan anggota kelompok yang percaya supranatural sebagai bagian dari seni. Karakter penting yang ternyata hanya jadi another victim. Ada juga dosen perempuan sahabat George, yang akhirnya menjadi kunci kasus. Menjelang akhir itu ada momen film berkembang dengan aneh seolah mau mengubah si dosen ini jadi tokoh utama. Tapi kemudian, clearly enggak, karena perannya langsung mengurucut sebelum pernah benar-benar besar. 

Bagaimana dengan hantu dan anak Catherine? Tentu saja mereka pun cuma ‘pajangan’. Anak Catherine sendiri persis tipikal horor-horor sederhana di bioskop kita. Hanya untuk jadi objek yang ditakut-takuti. Orangtuanya perang pun dia absen dari sana.

 

 

 

Walaupun belum pernah baca novelnya, tapi kayaknya kita semua bisa membayangkan bahwasanya di novel tentulah karakter-karakter tadi punya lebih banyak fungsi. Film ini terlihat seperti hanya mengambil beberapa bagian penting dari masing-masing mereka, dan memasukkannnya ke dalam cerita. Film ini punya waktu cukup banyak, tapi tidak benar-benar mampu untuk mengolah sumber aslinya itu ke dalam bangunan film-panjang. Dua jam itu terbang begitu saja tanpa terasa spesial. Padahal secara isi cerita, sebenarnya menarik, dan punya gaya yang puitis pula. Secara garapan teknis, kualitas film ini bisa diacungkan jempol. Kekuatan terbesar ada pada kamera dan akting. Pondasi ceritanya pun sebenarnya cukup kuat. At least, sudah mengerti bahwa horor yang bagus adalah horor yang mengawinkan drama relatable dengan elemen seperti supranatural. Hanya saja, struktur bercerita dan penulisannya lah yang butuh banyak perbaikan. Gak cukup hanya dengan memantapkan sudut pandang saja. Butuh perombakan dan penggalian yang lebih dalam.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for THINGS HEARD & SEEN.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang hantu dalam film ini yang menyelamatkan tapi actually dengan membiarkan Catherine menjadi korban berikutnya? Benarkah itu satu-satunya cara untuk keluar dari abuse? 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

 

 

 

 

 

TERSANJUNG: THE MOVIE Review

“No man flatters the woman he truly loves”

Tersanjung: The Movie dan review-review positif yang dituainya – dengan asumsi review-review tersebut bukan dari golongan buzzer – adalah bukti bahwa sinetron masih akan terus laku di Indonesia. Karena, film Tersanjung ini adalah film paling nyinetron yang kutonton sejauh tahun ini berlalu. Kalimatku tadi itu bisa make sense dimaklumkan hanya karena Tersanjung: The Movie memanglah adaptasi bebas dari sinetron Tersanjung yang fenomenal di Indonesia tahun 90an. Maka, sutradara Hanung Bramantyo dan Pandu Adjisurya tentu saja berkewajiban untuk membuat film ini punya rasa yang menyerupai sinetron tersebut. And in that sense, mereka berhasil.

Elemen-elemen cerita dari ratusan episode sinetronnya yang dulu itu, dikutip, dikumpulkan, lalu disulap menjadi cerita yang lumayan baru. Generasi yang belum lahir saat sinetronnya booming masih akan bisa mengikuti film ini. Karena film ini seperti sudah disiapkan untuk menjadi cabang franchise Tersanjung yang baru. Film ini mengisahkan tentang Yura, perempuan muda yang sedang dalam proses perjodohan oleh keluarganya. Perjodohan Yura tersebut terjadi dalam rangka menyelamatkan karir bapaknya, Dalam artian, menyelamatkan ekonomi keluarga mereka. Tentu saja sebenarnya Yura-lah yang paling butuh untuk diselamatkan di sini. Terlebih ketika perjodohan tersebut hampir berubah menjadi suatu trauma mimpi buruk. Dua cowok sahabat Yura-lah yang datang membantu. Persahabatan Christian dan Oka menguatkan Yura. Bahkan secara finansial Yura pun mulai terbantu karena mereka bertiga kini membangun bisnis kuliner bersama. Tapi situasi pelik tampaknya belum reda bagi Yura, karena salah satu dari sahabatnya itu menyatakan cinta, membuka siapa dirinya sebenarnya, untuk kemudian menghilang selamanya.

See, sekarang mungkin kalian sudah mulai sedikit mengerti kenapa aku menyebut ini film ini me-nyinetron. Aku bahkan tidak bisa menuliskan sinopsis tanpa membeberkan hingga ke kejadian-kejadian di akhir film. Itu karena film ini tidak memberikan arc yang clear kepada karakter utamanya, yakni si Yura, melainkan memberikan arc singkat yang terus diulang sehingga seperti jadi episode-episode. Dia nemuin cinta, terus terluka, begitu terus sampai kemudian jadi happy karena durasi sudah terpenuhi. Tapi tetap di akhir itu tidak terasa seperti ending, melainkan lebih mirip berupa cliffhanger ala sinetron. Percaya deh, kita seakan nyaris bisa melihat ada tulisan “bersambung” pada shot terakhir film ini. Hanya seperti masalah yang udah kelar, lalu lantas disambung kembali oleh masalah baru.

“Ooooooo… kubersambung~

Secara kualitas design produksi sih, film ini jauh di atas film-film ala sinetron. The film certainly looks good. Cantik banget malah. Aku maklum sekali kalo pujian-pujian berdatangan dari sini. Banyak shot-shot cakep. Misalnya, shot dari langit adegan Yura nangis di pusara ibu kandungnya, memperlihatkan barisan kotak-kotak kuburan. Sepi. Hening. Benar-benar sesuai dengan perasaan yang sedang dialamatkan kepada kita. Sutradara Hanung memastikan adegan-adegan tetap hidup dengan depth. Setiap kali memungkinkan, dia akan memasukkan banyak kegiatan yang berlangsung di belakang kejadian utama pada setiap framenya. Seperti pada saat di perkampungan, Hanung membuat kampung itu hidup oleh suasana warga sekitar. Ngomong-ngomong soal suasana, cerita film ini mengambil tempat di tahun 90an. Dan nyaris setiap shot menguar banget suasana 90an tersebut. Kerasa banget suasananya. Bukan hanya pada kostum dan properti, tapi juga dari ‘napas’ yang dihembuskan oleh ceritanya. 90an akhir adalah masa-masa chaos di Indonesia, dan film ini menyangkutkan permasalahan kerusuhan tersebut ke dalam cerita. Topik-topik khas sinetron 90an seperti perjodohan dan ketimpangan kelas menghiasi film ini. Beberapa kelebayan khas sinetron tahun segitu juga ditampilkan, seperti ibu tiri yang ngeselin, ibu mertua yang jahat. Semua itu digunakan untuk nostalgia sekaligus identitas. Gaya sinetronnya kuat. Namun gaya visual yang dilakukan Hanung tadi-lah yang mengelevasi film ini. Seperti dibuat dan disyut tahun 90an, tapi dengan peralatan kekinian.

Bagi para pemain pun, Hanung memberikan pengadeganan, banyak ruang untuk melakukan lebih dari yang diminta naskah sehingga aktor-aktor muda seperti Clara Bernadeth, Giorgino Abraham, Kevin Ardillova, dan Marthino Lio enggak hanya ada di sana sebagai penambah cantik visual semata. Bahkan pemenang Gadis Sampul 2018 Allya Syakila yang jadi adik Yura juga diberikan porsi yang lumayan gede; ya kalian tahu dong, aku senang sekali kalo ada anak Gadsam yang dapat peran di film. Para cast utama diberikan lahan bermain salah satunya berupa dialog-dialog yang quoteable, dan mereka berhasil mendelivernya tanpa terdengar kikuk ataupun cheesy.  Ketika tidak sedang sibuk menjadikan adegannya terasa sinetron, Hanung mendaratkan film ini lewat celetukan-celetukan khasnya yang lumayan nyeleneh alias menantang. Misalnya, di film ini diperlihatkan orangtua suka menyebut anak mereka dengan panggilan sayang berupa ‘monyet’. Ataupun soal bagaimana orang Indonesia yang kebule-bulean ternyata kalah manusiawi daripada bule yang nge-indonesia. Aku pikir there must be deeper something in this, tapi untuk sekarang elemen-elemen demikianlah yang membuatku terhibur dan lupa sama panjangnya durasi ‘film-sinetron’ ini.

Jadi sebenarnya yang bagaimana lagi sih film yang menyerupai sinetron itu?

Tentu saja melihatnya dari cerita yang terlalu convenient. Alias cerita yang terlalu digampangkan. Sinetron kan biasanya penuh oleh elemen kebetulan, berpindah cepat antara satu konflik/drama ke konflik lain tanpa mengeksplorasi perjuangan atau struggle dalam cerita. Film Tersanjung ini persis seperti begitu. Ada beberapa kali ketika muncul bahasan yang sepertinya menarik jika diceritakan. Seperti bisnis kuliner yang dibangun Yura. Tadinya kupikir film ini bakal membahas struggle tiga sahabat yang diam-diam tumbuh cinta ini dalam membangun bisnis tersebut. Tapi ternyata tidak. Bisnis mereka berjalan dengan gampang. Tau-tau udah laku aja. Atau juga misalnya lagi, ketika cerita film ini sampai pada situasi seperti Crazy Rich Asians (2018).. Tadinya kupikir cerita benar-benar berubah haluan menjadi ke arah sana; ada sejumlah karakter baru yang muncul (dan di-mention) sehingga seolah bakal penting untuk ke depannya. Tapi ternyata juga enggak. Film glossed over this part. Either berfungsi sebagai penempatan kameo, atau memang ditahan untuk sekuel. Padahal kan bisa jadi cerita yang menarik.  Bayangkan kalian mengetahui sahabat kalian ternyata seorang sultan, dan dia mencintai kalian. I’m pretty sure that is a lot to take, tapi Yura kelihatan biasa-biasa saja. Dan bagaimana denagn Yura yang trauma nyaris diperkosa? Nope, tak ada waktu untuk membahas ini. Perihal Yura membantu orangtuanya juga gak problematis amat. Bakat nyanyi ayahnya ternyata nurun ke dia, Yura cakap bernyanyi, sehingga heran juga kenapa keluarga mereka masih bergantung kepada kontrak ayahnya in the first place. Seharusnya ada yang bisa digali di sini. Relasi ayah dan anak itu mestinya bisa dieskplorasi. Tapi, sekali lagi, tidak. Semuanya harus digampangkan, gak perlu repot-repot yang membahas yang seperti itu di sini.

Ketika pengen nembak tapi belum siap

Sinetron biasanya hobi banget pake soundtrack, ngulang-ngulang lagu sebagai cue adegan sedih, misalnya. Film ini, meskipun enggak separah itu, tapi tetep aja sangat bergantung kepada lagu soundtrack di latar untuk mengeja perasaan apa yang sedang disampaikan. Lucunya lagi, seringkali lagu latar tersebut enggak klop sama adegan yang sedang ditampilkan. Contohnya ketika berkumandang lirik “..kau penuhi janjimu itu…”, tapi adegan yang kita lihat sama sekali tidak ada orang yang sedang memenuhi janji. Adanya malah karakter yang disuruh berpura-pura menjadi suami Yura sedang dipaksa jadi partner senam hamil. Sejujurnya buatku bagian si karakter ini ‘dipaksa’ inilah yang membuat film ini jadi punya nilai minus. Ceritanya jadi sungguh canggung, dan juga sangat convenient. Inilah yang benar-benar memberikan cap film ini menjadi seperti sinetron. Aku gak bisa bilang banyak karena bakal spoiler berat. Aku paham yang diincar oleh film, yakni untuk menunjukkan bahwa feeling mereka memang mutual dan ada consent and everything. Hanya saja, film menunjukkannya dengan menyembunyikan di awal lalu kemudian melakukan pengungkapan kilas-balik. Ini menimbulkan banyak kekonyolan, seperti ibu tiri Yura jadi terlihat seperti mastermind dari semua hubungan tersebut. Cerita akan lebih bagus dan sama sekali tidak perlu flashback jika feeling karakter tersebut sudah diperlihatkan dan dibangun sedari awal. I mean, penonton toh sudah tahu (dari poster dan dari sinetronnya) bahwa Tersanjung adalah cinta segitiga, jadi kenapa masih pakai penceritaan dengan formula ‘ternyata’. 

Yura dua kali terkecewakan oleh pria yang menyanjungnya. Dengan harta. Dengan kesempatan. Dengan janji. Perempuan itu kemudian menyadari cinta sejati tidak perlu sanjung-menyanjung. Cinta sejati langsung membuktikan dengan perbuatan. Dan sekarang, kepadanyalah Yura berpaling.

Sebenarnya sedari awal, film telah melakukan hal yang gak klop. Narasi voice-over Yura yang membimbing kita melewati adegan demi adegan, di bagian pembuka mengatakan bahwa cinta itu berawal manis. Tapi yang kita lihat saat itu justru tensi yang menguar dari adegan perjodohan. Ketidakterimaan yang menguar dari ekspresi ayah Yura, dan keengganan yang terpancar dari Yura sendiri. Mungkin memang inilah yang sedang diset oleh film. Bahwa keenggak klop-an akan konsisten hingga di akhir. Karena tahu tidak, lagu 90an apa yang diputar sebagai latar di adegan menjelang terakhir yang ceria di pernikahan? “Saat bulan purnama bersinar…” Ska dong! Tone-nya jadi drastis banget. It’s not even a 90’s song!  

 

 

Apa lagi yang bisa kubilang? Film ini tahu persis dia mau jadi seperti apa. Mungkin memang ada tantangan tersendiri membuat film yang berasa sinetron. Siapa yang tahu? Yang jelas film ini berhasil menghidupkan kembali ruh sinetronnya. Dan tampil sangat cantik dalam melakukan itu semua. Konflik perasaan yang tak abis-abisnya. Penggambaran si kaya dan si miskin yang too good to be true. Dialog-dialog manis yang enak dipajang jadi caption instagram. Banyak hal dalam film ini yang bisa disukai oleh penonton kita. Tapi apakah ini termasuk film bagus? Aku pikir tidak. Cocoklah tayangnya di Netflix saja. 
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for TERSANJUNG: THE MOVIE.

 

 

That’s all we have for now.

Berhubung filmnya kayak end-credit film superhero, sepertinya film ini pantas untuk diteori-teori-in, don’t you think? Nah, bagaimana, apakah kalian punya teori tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Christian?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

I CARE A LOT Review

“When it comes to swag, there’s no gender involved.”
 

 
Pernahkah kalian nonton film yang si film ini berusaha keras banget untuk membuat karakter protagonis yang jahat dan susah untuk kita sukai, sehingga kita jadi malah ingin melihat si protagonis ini gagal – atau malah celaka – tapi kemudian malah membuat kita merasa ‘salah’ dengan actually memberikan ending yang kita pikir bakal memuaskan?
Belum? Well ya aku pun rasa-rasanya baru sekali ini nonton film yang pretentious dan tendensius seperti begitu. I Care a Lot sukses berat dalam membuat kita membenci protagonisnya, dan di akhir membuat kita feel bad dengan memberikan yang kita mau. Kok bisa sutradara dan penulis naskah J Blakeson memanipulasi kita seperti itu? Gampang, tentu saja dengan mengusung narasi berupa perempuan yang berjuang melawan pria dan dunia mereka!

Cowok yang nonton ini siap-siap dituding sebagai misoginis

 
Protagonis cerita ini adalah Marla Grayson. Dan nama belakangnya itu adalah satu-satunya hal yang ‘gray’ pada dirinya. Karena, kalo ada satu kata yang mendeskripsikan kerjaan Marla dengan tepat, maka kata itu adalah ‘setan’. Pakek tanda seru di belakangnya. Tiga biji!
Begini, kerjaan Marla ini gampangnya adalah kayak pengelola panti jompo. Marla menjadi wali yang sah atas semua pasien di sana. Yang artinya, Marla menguasai semua aset dan harta lansia yang ia rawat di pantinya. Kerjaan ngurusin manula yang hidup sebatang kara – apalagi kalo sakit-sakitan pula – memang sebuah jasa yang mulia. Tapi itu kalo memang ikhlas dan melakukannya karena cinta. Marla tak sedikitpun punya simpati sama lansia yang ia rawat. Marla care a lot ama duit mereka doang. Film gak malu-malu mempertontonkan niat busuk perempuan sukses ini kepada kita. Openingnya saja, kita sudah diperlihatkan bagaimana Marla memenangkan pengadilan dan sukses memisahkan seorang pria dari ibunya. Marla berlindung di balik teknis, dan tentu saja di balik kartu ‘saya pengusaha perempuan dan anda, pria, berusaha menjatuhkan saya’.
Dan kemudian cerita berlanjut dengan memperlihatkan Marla bersekongkol dengan girlfriendnya (what? of course karakter ini ditulis sebagai seorang lesbian!) dan juga dengan seorang dokter perempuan. Mereka menemukan mangsa baru. Seorang nenek yang sebatang kara tanpa sanak saudara. Nenek yang punya banyak rekening bank dan harta-harta lainnya. Mata Marla langsung ijo! Kita pun diperlihatkan montase yang supposedly seru dan menghibur perihal strategi dan langkah-langkah Marla dalam menguntit dan menyiapkan dokumen supaya legal dan sah si Nenek terjeblos di dalam ‘penjara’ asuhannya. Semuanya begitu matang dan profesional. Kecuali satu hal. Marla yang merasa dapat jackpot ternyata malah dirundung masalah superbesar. Nyawanya dan pacarnya terancam bahaya. Karena Nenek yang mereka ‘culik’ ternyata bagian dari organisasi mafia Rusia!!
Cerita yang normal dan lebih tradisional akan membuat si Nenek itu sebagai bos mafia; membuat Nenek itu sebagai antagonis dari Marla, Marla kini berhadapan dengan businesswoman yang lebih jahat, dan Marla nanti akan menyadari kesalahannya, menghadapi konsekuensi, sebelumnya akhirnya berubah menjadi person yang lebih baik. Namun, I Care a Lot ini tentu saja tidak dipersembahkan sebagai cerita yang normal, apalagi tradisional. Film jaman sekarang, ceritanya harus sensasional dan kudu ‘woke’ terhadap isu feminisme. Perempuan lawannya harus pria, dong! Dan di mana-mana perempuan harus selalu benar. Maka jadilah film I Care a Lot ini membuat si Nenek itu sebagai ibu dari bos mafia yang selama ini berjaya menyembunyikan dirinya. Marla kini harus berhadapan dengan Roman. Bekingan hukum gak lagi bisa membantunya karena Roman dan para mafia itu main di luar hukum. Tapi jika kalian pikir, Marla akan benar-benar kesusahan menghadapi Roman, maka kalian benar-benar tidak mengerti bagaimana film modern itu bekerja. Tokoh protagonis cewek ya harus dapat plot armor berupa kekuatan feminis. Protagonis cewek gak boleh kalah lawan cowok, paling tidak ya harus berimbang lah. Mafia yang udah bertahun-tahun di dunia hitam itu bisa lah dibikin salah sekali dua kali, mereka bisa lah dibikin gagal membunuh dua perempuan karena determinasi perempuan yang lebih kuat daripada nafsu balas dendam para kriminal.
Film tahu persis dinamika gender jaman sekarang, dan itu yang dimainkan dengan maksimal untuk bikin kita geregetan.  Jadi, Marla Grayson digambarkan total hitam. Meskipun teknisnya karakter ini adalah antihero, tapi dia digambarkan lebih cocok sebagai villain. Tidak ada hal baik yang bisa kita sukai dari dirinya. Motivasinya uang, dan dia enggak miskin. Marla udah kaya raya banget. Tidak ada stake manusiawi yang emosional dari karakter ini. Film pure mengandalkan ini cerita perjuangan cewek. Kita penonton-lah yang harus otomatis peduli kepadanya karena kalo tidak, maka berarti kita tidak feminis. Kita misoginis karena tidak ingin melihat perempuan sukses. Keantiheroan Marla bergantung pada agenda feminis ini. Lucu, memang, but actually di sinilah letak keberhasilan film ini sebagai dark comedy. Film ini tahu itu semua tadi enggak cukup untuk membuat kita peduli sama Marla, maka mereka lantas membuatnya bahkan lebih susah lagi dengan menghadirkan karakter Nenek. Lansia yang diculik dan ditipu dan dikurung against her will; kita bukan manusia kalo simpati kita gak langsung pindah hinggap ke si Nenek. Jadi, konflik yang dikobarkan oleh film ini sesungguhnya langsung bermain di kita. Kita ingin lihat feminis berhasil, tapi kita juga dibangun untuk benci banget ama protagonis feminisnya.
Protagonis paling unlikeable seumur-umur nonton film!!

 
Rosamund Pike pun didaulat untuk menghidupkan Marla. Di sini ia ditugasi untuk memastikan karakter tersebut tampak semakin ‘setan’ dan unlikeable lagi. Kalo di wrestling, superstar yang kebagian peran heel alias antagonis punya tugas untuk dibenci oleh penonton. Mereka gak boleh sampai ditepuki semangat oleh penonton. Mereka harus di-boo, kalo perlu harus sampai dilemparin cup minuman. Salah satu pertanda superstar heel itu berhasil ya dilihat dari betapa kerasnya dia dihina dan dibenci oleh penonton. Rosamund Pike di film ini persis seperti superstar gulat yang lagi mainin karakter heel tersebut. Dia sukses membuat karakternya menjadi dibenci. Seriously, berkat tindakan dan aksi Marla, aku jadi merasakan kebencian itu menjalar lewat akting dan gesturnya. Aku bahkan benci rambut bobnya. Aku eneg lihat bajunya yang sok rapi. Aku pengen merampas vape itu dari jarinya, dan menyumpalkan benda itu ke mulut songongnya. Begitu suksesnya Pike memainkan karakter ini! (and no, untuk kali ini, ini bukan sarkas; Pike is that damn good!)
Menyusul di belakangnya ada Peter Dinklage yang menyuguhkan permainan akting tak kalah menantang sebagai Roman. Actually, tantangan peran Dinklage di sini lebih sulit dari Pike. Karena Dinklage tidak boleh benar-benar menuai simpati penonton. Film perlu dia untuk tetap menjadi villain, demi mengukuhkan posisi Marla sebagai protagonis. Meskipun Roman bertubuh kecil, dirampas dari ibunya, dicuri benda berharganya, penonton gak boleh sampai kasihan sama karakter ini. The grand design dari narasi film ini adalah memperlihatkan both Marla dan Roman sebagai pribadi yang ‘jahat’. Dinklage paham tugasnya tersebut. Dia menyuntikkan menace ke dalam karakternya yang lebih banyak diam, dia merayapkan sesuatu yang mengerikan dan gak bisa dianggap main-main di balik karakternya yang notabene adalah korban di skenario ini.

At their lowest, cewek atau cowok sebenarnya sama. Mereka bisa jadi sama-sama jahat, sama-sama culas, sama-sama curang. Inilah yang ingin diperlihatkan film kepada kita. Bahwa gender itu memang gak sama, tapi kalo soal moral, gak ada gender yang lebih baik atas yang lainnya. Semuanya pengen jadi sukses, dan keduanya sama-sama gak ragu untuk melakukan hal jahat demi mencapainya. Dan, seperti yang diperlihatkan film sebagai solusi di antara keduanya, daripada saingan sebaiknya kerja sama aja. Saling empower satu sama lain.

 
And here comes the ending. Punchline dari komedi-gelap yang udah dibangun oleh film ini. Kita sudah dibuat menantikan konsekuensi menimpa Marla. Kita sudah ‘digoda’ oleh banyak adegan yang seperti Marla akan mendapat ganjaran. Kita dibuat benar-benar menantikan Marla mendapat derita. But when the time comes, film melakukannya dalam cara yang seolah menuduh kita – yang senang dengan konsekuensi itu akhirnya datang juga – sebagai seorang misoginis. Seolah menuding kita lebih senang melihat Marla gagal. Semua konflik tadi terakumulasi untuk membuat kita merasa seperti demikian; we feel bad karena udah senang karakter perempuan yang berperilaku jahat dapat hukuman; kita tercabik antara moral dan feminis itu sendiri. Dan paling lucu dari semuanya itu adalah, reaksi kita terhadapnya. Kita gak mau tampak misoginis, sehingga banyak dari kita yang berpura-pura benci sama endingnya! Padahal dengan begitu sesungguhnya telah membuat kita menjadi sama pretentiousnya dengan film ini sendiri.
Ya, film ini pretentious karena dia sama sekali tidak berniat menceritakan tentang Marla, tapi semua ini dibuat untuk ‘menyerang’ kita. Ini adalah dark-comedy, dengan reaksi kitalah sebagai joke-nya. Jika ini adalah cerita tentang Marla, maka seharusnya film memberikan inner journey, dia sebagai pribadi harusnya mendapat pelajaran yang lebih dalam ketimbang sekadar menjadi yang tadinya sendiri dan menganggap pria musuh menjadi mau bekerja sama dengan pria yang tadinya literally musuhnya. Absennya pemikiran Marla soal tindakannya sendiri itulah yang menjadi penanda utama film ini tidak dibangun sebagai cerita atau journey Marla.
 
 
 
Baru sekali ini rasanya aku menonton film seperti ini. Kreatif? Ya. Aku mengerti konsep dan konteks dark-comedy yang pembuatnya incar. Film ini punya nyali dan berkreasi sesuai nyalinya tersebut. Kita bisa bilang visinya benar-benar kuat mengarahkan semua elemen ke tujuan. Penampilan akting yang menghidupinya juga gak main-main. Namun sebagai sebuah film utuh; risk yang diambil dengan berani itu tidak pernah membuat film ini fit in ke dalam bentuk sebuah film yang bagus. Karakter protagonisnya unlikeable, simpati kita malah ke karakter lain. Semua kejadiannya tampak lemah karena mengandalkan point-point yang seperti ‘kayaknya di dunia nyata enggak begitu, deh’. Film ini dengan sengaja membagi dua penonton – yang mengaku suka atas perjuangan perempuan, dan yang bilang tidak suka karena kesel ama karakternya. Padahal, sendirinya film ini bergagasan soal bekerja sama. Nah, menurutmu kira-kira sikap yang seperti itu sikap apa namanya?
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for I CARE A LOT
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian kenapa sih sekarang tu semuanya kayak ‘menang-menangan’ gitu, like, perempuan pengen exist di podcast karena menurut mereka podcast masih area laki-laki
Menurut kalian apakah itu semua adalah narasi tidak mau kalah saja, atau ada lapisan yang lebih dalam lagi?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

MALCOLM & MARIE Review

“Don’t take people for granted”
 

 
Bertengkar itu penyebabnya bukan cuma persoalan gede. Lebih seringnya sih, kita mendengar pasangan berantem hanya gara-gara masalah sepele. Message yang cuma di-read, kaki injekan motor yang turun sebelah, atau kalo di sinetron-sinetron jadul; noda merah di sapu tangan papa. “Ini bekas lipstik siapa, Pah!?!” Di dunia percintaan itu gak ada yang namanya api kecil jadi teman api besar jadi lawan. Yang ada malah api-api kecil akan perlahan menjadi semakin besar. Malcolm dan Marie juga ribut awalnya karena hal kecil. Malam itu malam premier film karya Malcolm. Namun dalam speech-nya, Malcolm lupa menyematkan ucapan terima kasih kepada Marie, sang pacar. Di rumah, Marie menuntut penjelasan kenapa Malcolm bisa lupa. Dan ributlah mereka. Dari ucapan terima-kasih, bergulir membuka ke lapisan-lapisan permasalahan lain dalam kehidupan percintaan, profesional, dan personal mereka.
Ya, film ini isinya orang ribut. Aku pastilah sudah cabut dari rumah itu kalo ini adalah pertengkaran biasa, karena memang paling malesin dengerin orang asing berdebat. Tapi untuk Malcolm dan Marie aku rela tinggal. Aku ingin tinggal dan mendengar. Karena yang mereka bicarakan sembari bertengkar itu adalah persoalan seputar masalah kritik dalam perfilman

Bersiap-siap menikmati ketubiran.. Sluurrpp!

 
Aspek ‘berantem’nya sendiri memang annoying. Di sini Sam Levinson bekerja rangkap sebagai sutradara sekaligus penulis naskahnya. Dan dia memastikan cerita ini benar-benar terdeliver kemelutnya kepada kita. Berantem dengan pasangan is always be an unpleasant thing. Terutama ketika kita enggak tahu persis apa masalah si pasangan. Sebelum membuat kita mengenal mendalam kedua karakternya, Levinson membuat memperkenalkan kita lebih dahulu kepada seting dan suasananya. Sehingga supaya kita bisa merasa sama gak nyamannya, film ini dibuat oleh Levinson dengan sangat mengukung. Seluruh kejadian berada di dalam satu lokasi, yakni sebuah rumah (yang disediakan oleh PH untuk mereka, kata Malcolm dengan jumawa). Yang ceritanya berlangsung di sepertiga malam itu saja.
Sudah lewat tengah malam saat kedua karakter tiba dari acara premier. Malcolm excited mengenang sambutan yang ia dapat di sana. Dia lebih menggelinjang lagi saat memperkirakan nanti bakal dapat kritikan seperti apa dari para kritikus dan jurnalis. Sementara Marie menyiapkan pasta untuk makan malam. Sesekali perempuan muda itu berhenti untuk merokok sambil memandangi pacarnya tersebut uring-uringan sendiri membahas kritik yang bahkan belum terbit – kritik yang hanya ada di dalam kepala dan dugaannya sendiri. Kubilang, Levinson berhasil menciptakan set up film ini; dia berhasil menciptakan karakter dan permasalahan yang menarik bagi penonton (karena of course orang yang menonton film ini ‘peduli’ dengan persoalan film dan kritik itu sendiri). Di bagian awal ini, Levinson punya sesuatu yang spesial yang mengalihkan kita dari betapa canggung dan mengukungnya suasana; dari api kecil yang sudah ada di sana. Pertengkaran mereka yang pertama pun – ketika Marie mulai bertanya kenapa cuma ia seorang yang tidak disebut dalam rangkaian ucapan terima kasih Malcolm – diadegankan menarik. Mereka berdebat soal itu, Malcolm berusaha mengecilkan diri Marie, sambil makan pasta bikinan Marie!
Pertengkaran-pertengkaran yang menyusul sesudah ini, repetitif. Tidak ada lagi pengadeganan yang menarik. Levinson sudah fokus ke buah pikiran para karakter; ke sudut pandang mereka yang saling berkontras. Sehingga nonton ini mulai melelahkan. Adegannya selalu mereka mesra, lalu tiba-tiba Marie mengungkit sesuatu, dan Malcolm kembali masuk ke mode ngeles ala cowok brengsek tak-tahu terima kasih andalannya. Ketika Malcolm menjadi unbearable seperti demikian, Marie jadi terasa annoying karena tampak selalu cari-cari masalah. Di bagian tengah film inilah aku merasa menonton ini jadi pekerjaan atau tugas yang sangat menyiksa. Kurang lebih sama seperti ketika di dalam kelas sejarah matamu mengantuk tapi kau tidak bisa tidur karena yang diceritakan dengan suara keras dan nada monoton oleh gurumu adalah peristiwa yang menarik. Film ini harusnya punya adegan yang lebih variatif dan paralel dengan pertengkaran. Sehingga film ini enggak hanya punya ‘omongan’. Film yang di satu lokasi tentunya enggak mesti menonjolkan ‘tell’ ketimbang ‘show’. Meskipun performa Zendaya dan John David Washington dalam ‘tell’ itu memang meyakinkan. Meskipun inti pertengkaran mereka sungguh manusiawi dan relatable dan ngajari banyak tentang rasa terima kasih kita terhadap orang-orang di sekitar. We need something that visually engaging too.
Serius, jika bukan karena obrolan tentang kritik filmnya, aku pastilah sudah undur diri alias tidak melanjutkan nonton film ini. Untuk mencapai inti permasalah kedua karakter, film ini menyiapkan lapisan profesional yakni lapisan Malcolm sebagai sutradara. Dia membuat ‘black film’ dan dia kesel teramat sangat sama review-review yang menonjolkan isu warna kulit ketimbang fokus kepada art yang ia bikin. Levinson lewat Malcolm seperti menyerang media dan para pengulas yang memang selalu menonjolkan ‘agenda’ itu dalam film-film seperti yang dibuat Malcolm. Dan kupikir ini juga sebabnya kenapa film Malcolm & Marie ini sendiri mendapat cukup banyak rating dan ulasan yang negatif. People get offended oleh sikap dan perkataan Malcolm. Padahal jika kita lihat dari konteksnya, Levinson tidak mempersembahkan adegan tersebut sebagai sikapnya terhadap film dan kritik. Karena adegan itu adalah monolog sudut pandang Malcolm. Film ini memang banyak menggunakan monolog sebagai bentuk karakternya berdebat (bayangkan game RPG ketika kita bergantian menyerang dengan musuh, seperti saat kita ngeset magic dan skill untuk menyerang itulah fungsi bagian monolog dalam film ini) Dan di adegan ini Malcolm sedang berdebat dengan si pengkritik lewat tulisannya. Yang merupakan perpanjangan dari debat Malcolm dengan Marie, karena Marie di sini diparalelkan dengan kritikus film. Sebagai pihak yang menunjukkan cinta dan kepedulian dengan menegur dan mengkonfrontasikan siapa sebenarnya Malcolm menurut mereka.
Jadi adegan tersebut jelas bukan seperti yang sudah salah dicuplik oleh warga-warga Twitter, yang dengan bangga memperlihatkan screenshot Marie tersenyum beserta caption tulisan subtitle yang mengatakan bahwasanya sebuah film enggak harus punya pesan. Padahal kata-kata itu malah bukan kata-kata Marie, melainkan Malcolm. Marie di situ tersenyum ‘mencemooh’ pendapat Malcom. Karena pendapatnya itu bukanlah kebenaran mutlak, melainkan kepercayaan personal karakter Malcolm yang melihat itu sebagai serangan atas pribadinya, padahal kritik yang ia bahas itu sesungguhnya memuji filmnya. Dan ini berkaitan dengan pertanyaan besar Marie di awal. Berkaitan dengan gagasan film soal berterima kasih dan mengenali andil atau peran seseorang yang tidak bisa lepas dari kita sendiri.

Everything happens for a reason. Apa yang kita lakukan tidak bermakna sama bagi orang lain. Oleh karena itulah maka kita harus mengenali mereka satu persatu. Begitulah salah satu cara kita menunjukkan terima kasih. Dengan terbuka (bagi misteri, kalo kata Marie) menerima yang diberikan.

Adegan ini loh yang belakangan sering dicuplik tanpa membawa serta konteksnya

 
Menggunakan monolog panjang sebagai bentuk berdebat tampaknya telah menjadi pedang bermata dua bagi film ini. Di satu sisi monolog tersebut memberikan ruang kepada kedua aktor untuk bersinar. Washington dan Zendaya dapat kesempatan untuk nunjukin range dan permainan ekspresi; ketangguhan performa akting mereka. Namun di sisi lain juga ternyata membuat kita terlepas dari debat itu sendiri. Alih-alih benturan dua sudut pandang, kita malah melihatnya lebih sebagai bincang-bincang dari satu kepala. Buktinya, banyak dari kita yang salah mengutip seperti itu tadi.
Satu lagi yang seperti pedang bermata dua dilakukan oleh film ini adalah pilihannya menggunakan visual hitam-putih. Pilihan ini terlihat seperti jawaban film untuk pertanyaan bagaimana menghasilkan visual yang unik sehingga menarik dan bikin penonton betah. Tapi hasilnya gak benar-benar engaging. Malah seringkali tampak pretentious. Film tidak pernah berhasil mencuatkan alasan kuat kenapa film ini harus hitam putih. Pandangan karakter tokohnya toh jelas tidak hitam-putih. Periode ceritanya juga enggak jadul, malah film ini menggunakan referensi kekinian. Sehingga untuk menyasar kesan timeless atau periode antah-berantah, warna hitam-putih tersebut juga tidak tampak berfungsi. Namun kalo fungsinya supaya bikin film tampah angker untuk ditonton lagi, sih, aku bisa bilang cukup berhasil.
 
 
Hari Valentine sudah dekat, dan jika kalian dan pasangan cukup ‘tahan banting’, maka film ini bisa dijadikan pilihan. Karena in the end, film ini bisa ngajarin soal menghargai peran dan kehadiran pasangan di dalam hidup kita. Hanya saja film ini memang lebih enak untuk didengarkan, daripada untuk dilihat. Bukan karena visualnya jelek, melainkan karena enggak banyak bermain di visual. Adegannya repetitif, dan secara keseluruhan penceritaan film ini lebih kuat sebagai ‘telling’ ketimbang ‘showing’.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for MALCOLM & MARIE.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian film harus punya pesan? 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA