HIS HOUSE Review

“Home is not where you are from, it is where you belong”
 
 

 
 
Horor tak biasa itu ternyata datang dari sutradara baru asal Inggris, Remi Weekes. His House garapannya yang tayang di Netflix, jika dibaca sekilas sinopsisnya, akan terdengar seperti teror rumah hantu yang belakangan ini menjamur. Suami-istri pengungsi imigrasi dari Sudan ditempatkan ke sebuah rumah di kawasan kota tak bernama. Mereka harus menetap di rumah tersebut sebagai percobaan dari kebebasan bersyarat yang mereka dapatkan. Syarat yang kayak cukup gampang tapi prakteknya ternyata susah. Sebab pada malam hari, mereka diteror oleh sejumlah hantu-hantu yang muncul dari dalam dinding, dari sudut-sudut gelap di rumah. Hal uniknya adalah; hantu dan mayat-mayat orang tenggelam itu bukan berasal dari rumah baru itu. Melainkan justru berasal dari suami dan istri itu sendiri.
Karena sesungguhnya pusat horor cerita ini ada pada pasangan suami istri tersebut. Bol dan Rial. Kehidupan rumah tangga mereka dihantui oleh trauma atas kejadian yang mereka alami bersama di masa lalu. Penceritaan film didesain supaya kita mengikuti keadaan mereka yang sekarang, supaya kita bisa menumbuhkan empati karena turut merasakan susahnya settle in di tempat dan lingkungan yang baru. Khususnya lingkungan yang jelas-jelas bukan tempat untuk mereka. Cerita perlahan membuka, membawa kita menyelam lebih dalam lagi ke latar Bol dan Rial – menyaksikan trauma tersebut bertransformasi secara berbeda terhadap mereka berdua, sehingga rasa emosional itu semakin menyayat. Menonton His House ini ngerinya seperti kita menemukan ada luka menganga di tubuh kita, dan feelnya seperti ketika kita disuruh untuk mengiris ke dalam luka tersebut. Ini adalah horor yang akan membekas, berkat penulisan karakter yang hidup lewat trauma yang membayangi mereka dan berkat penceritaan yang mempersiapkan kejutan di setiap penghujung babaknya.

Mau pindah ke manapun juga, hantunya bakal ngikut

 
 
Film ini tidak berlama-lama membiarkan kita berada dalam kegelapan. Misteri keberadaan hantu-hantu itu dengan lugas dijawab; mereka bukan sekadar mimpi atau hanya ada di dalam kepala Bol ataupun Rial. Kedua karakter ini diperlihatkan melihat penampakan yang serupa. Hantu-hantu itu nyata, setidaknya bagi mereka. Film justru ingin memusatkan perhatian kita kepada perbedaan interaksi ataupun perbedaan reaksi Bol dan Rial terhadap hantu-hantu tersebut. Karena itulah gagasan yang diusung oleh film; memperlihatkan bagaimana pasangan suami istri yang share a trauma, namun dealing with it dengan cara yang berbeda, sehingga terciptalah gangguan domestik – diperseram karena berwujud hantu-hantu. Sesungguhnya ini adalah cerita soal Bol dan Rial, suami dan istri, harus kompak dan berjalan bersisian menghadapi apapun masalah pernikahan dan rumah tangga.
Bol dan Rial memang begitu terguncang karena peristiwa masa lalu itu. Peristiwa yang merenggut nyawa Nyagak, putri mereka. Kita melihat peristiwa mengenaskan tersebut di opening film, saat Bol memimpikannya. Dan kemudian berbohong ketika ia ditanya oleh Rial tentang mimpinya. Sedari menit awal, film sudah terarah untuk menunjukkan dua hal penting pada dua tokoh sentral ini; mereka kehilangan anak, dan punya cara berbeda menyingkapinya. Inciting incident yakni mereka diberi kesempatan untuk hidup di sebuah rumah, tak pelak menjadi ujian. Bisakah mereka hidup normal meski membawa trauma.
Bagi Bol, ini seperti kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Dia ingin rumah. Dia benar-benar ingin membuat rumah pemberian itu sebagai rumahnya yang tak boleh sampai gagal ia dapatkan, untuk memulai kehidupan yang baru. Sopi Dirisu memainkan tokoh ini dengan gestur optimis yang intens. Dia begitu berdeterminasi untuk menjadikan tempat itu rumah sehingga tidak melihat isu-isu beneran di sekitarnya. Tatkala belanja baju di pertokoan, Bol gak ngeh dirinya diikuti oleh satpam rasis yang curigaan. Dan ketika hantu anaknya, dan hantu-hantu lain itu muncul, ia melawan. Ada aksi ada reaksi, perlawanannya tersebut – keinginan Bol untuk move on dan melupakan anaknya – justru membuat dirinya semakin terganggu oleh trauma. Buktinya hanya dia yang dihantui mimpi-mimpi dan adegan sureal yang membawanya kembali ke laut tempat anaknya tenggelam. Sedangkan Rial seperti tidak mau melupakan trauma tersebut. Nyagak dan hantu-hantu itu hadir kepadanya dalam beragam bentuk komunikasi. Kita gak pernah ngeliat Rial diteror sebagaimana Bol digangguin hantu. Instead, kita melihat horor itu bermanifestasi ke dunia luar bagi Rial. Perjalanan mencari alamat saja sudah demikian sureal baginya. Rial lebih nyaman untuk kembali daripada bertempat tinggal di sana. Konflik dengan trauma tersebut memang lebih kompleks pada diri Rial, dan Wunmi Mosaku memainkannya dengan nyaris tanpa cela. Tidak seperti suaminya, Rial tidak melawan keberadaan hantu, ia justru lebih takut terhadap suaminya karena sang suami memang ingin membawa mereka tinggal di luar dari trauma mereka, so to speak. Rial tidak menolak keberadaan hantu-hantu. Ketika pengawas mereka datang menginspeksi rumah dan menemukan tembok dalam keadaan bolong-bolong dihajar oleh Bol dalam usahanya melawan hantu tadi malam, Rial menceritakan peristiwa dan gangguan hantu-hantu yang mereka alami apa adanya kepada si petugas. Tidak seperti Bol yang berdalih dia mengusir tikus besar yang jadi hama di rumah itu.
Memahami itu semua, maka kita akan dapat melihat bahwa ending film ini sungguh menyatakan sesuatu yang kuat sehubungan dengan pembelajaran yang udah dialami oleh baik Bol maupun Rial. Ending film ini bukan memperlihatkan mereka pasrah tinggal diikuti oleh hantu-hantu karena mereka sadar mereka bersalah. Melainkan memperlihatkan bahwa kini Bol dan Rial sudah satu paham, mereka sudah berpegangan tangan. Mereka sudah menemukan rumah – menemukan tempat mereka. Yakni di tengah-tengah duka dan trauma.

Satu-satunya cara mereka bisa menata hidup baru dengan bahagia adalah bukan dengan melupakan trauma, bukan pula berkabung di dalamnya, melainkan hidup bersama mereka. Bol dan Rail toh punya masing-masing untuk saling menguatkan. Ke mana pun mereka ditempatkan, asal bersama, itulah rumah mereka.

 

Things get real with Rial!

 
 
Cerita film ini sudah demikian powerful dan mudah untuk relate kepada kita; masalah kehilangan anak dan merasa bersalah karena gagal melindungi si anak jelas bukan perkara ‘sedih’ semata. Begitu pun dengan pengalaman susahnya menata hidup di tempat baru. Menemukan ‘rumah’ adalah masalah yang dialami oleh hampir semua orang. Terutama oleh imigran yang harus berjuang dengan apa adanya di tanah perantauan. Maka, at first, aku merasa sebuah pengungkapan yang menjadi twist di babak ketiga cerita ini tuh overkill banget. Aku mempertanyakan apakah perlu untuk membuat kita memandang tokoh cerita ini dalam cahaya yang berbeda dari sebelumnya, setelah semua pembelajaran dan empati yang ia peroleh. Tapi kemudian aku sadar sebenarnya yang diincar film ini bukan twistnya. Cerita perlu untuk membuat kita memandang si karakter seperti begitu karena merupakan bagian penting dari bangunan traumanya. Film sepertinya juga ingin menguatkan ‘konten lokal’. Ada dongeng dari kampung Sudan yang diceritakan oleh Rial mengenai Night Witch; sosok yang menghantui seorang pria yang merampok demi membangun  rumah sendiri. Dongeng tersebut paralel dengan keadaan Bol – dari masa lalu yang kupikir overkill tadi – dan jika dongeng itu memang dongeng-budaya beneran, maka itu hanya akan menambah kekuatan identitas film ini.
Visual horor film ini pun sangat aku apresiasi. Weekes menggunakan imaji-imaji sureal dengan cut mulus yang memindahkan Bol begitu saja dari ruang keluarga yang berantakan ke tengah laut. Penampakan hantu kayak zombie yang muncul saat lampu mati pun serem punya, dan tampak khas. Cuma jumpscare-nya saja yang not so much kuapreasiasi. Walaupun teknik jumpscarenya enggak murahan – enggak sekadar untuk memancing jantung kita copot – dan tidak dijadikan andalan, tapi tetap buatku film ini masih bisa bekerja maksimal tanpa harus ada elemen ngagetin. Seperti twist yang sanggup untuk mereka perhalus keberadaannya sehingga tidak menjadikan film ini mencuat sebagai film ‘oh ternyata’, seharusnya adegan menakuti dengan hantu bisa digarap dengan lebih elegan lagi.
 
 
 
Karakter Bol dalam film ini berulang kali meyakinkan orang – dan dirinya sendiri – bahwa ia dan istrinya bakal sukses hidup di kota itu. Despite sikap rasis lingkungan sosial di sekitarnya, dan gangguan setan di malam hari, Bol yakin mereka akan bertahan, karena – berulang kali ia berkata – bahwa mereka adalah “one of the good ones”. Dan meskipun boleh jadi hingga setelah cerita berakhir, Bol dan Rial masih harus membuktikan kalimat tersebut, film ini sendiri sudah bisa kita pastikan benar sebagai “one of the good ones” dari film-film horor yang muncul di tahun horor ini. Cerita dan karakternya punya layer yang semakin disingkap membuat cerita menjadi semakin membekas. Digarap dengan kompeten dan visi bercerita yang punya kekhasan. Isu yang dibahas sebenarnya akrab, menjadikan house sebuah home; isu yang biasanya ada di drama keluarga diucapkan sebagai suara horor oleh film ini. Menyinggung perihal perlakuan terhadap imigran dengan subtil di balik trauma keluarga. Ia juga mempersembahkan diri sebagai tayangan yang gak berat-berat amat, dengan turut catering to taktik horor mainstream sebagai penyeimbang cerita yang berbobot.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for HIS HOUSE

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Apa yang kalian pelajari dari lingkungan sekitar tempat tinggal Bol dan Rial? Menurut kalian, apa sih makna rumah?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

REBECCA Review

“The shadow of someone’s greatness is not a good place to dwell.”
 

 
 
Sudah 2020 akhir, dan sampe sekarang aku masih belum benar-benar paham tujuan orang ngeremake atau ngereborn sesuatu, selain karena soal duit. Tapi tampaknya memang begitu; hanya untuk mendulang untung semata. Makanya yang dibuat ulang itu selalu merupakan hal-hal yang populer. Atas nama nostalgia. Sesuatu yang sudah bagus, perfectly fine, juga sering banget dibikin lagi versi barunya. Alasannya tentu saja untuk diremajakan, disesuaikan dengan keadaan modern, sebagai upaya pelestarian. Alasan tersebut sebenarnya masuk akal kalo memang dibarengi oleh usaha yang benar-benar kelihatan. Namun kebanyakan ya setengah-setengah. Memaksa narasi masuk ke dalam sebuah catatan zaman yang sebenarnya memang susah untuk diubah. Tengok aja adaptasi live-action Disney yang gagal dengan gemilang karena menjejalkan agenda-agenda sosial yang baru, tanpa diiringi dengan proses adaptasi yang lebih matang. Atau gimana horor seperti Pengabdi Setan atau Ratu Ilmu Hitam yang menanggalkan identitas lokal hanya untuk sebentuk gagasan progresif (ustad gak selamanya menang lawan hantu!) tanpa menawarkan solusi baru.
Jadi, yaa, aku heran aja sama remake; kenapa yang dibuat ulang itu bukan film atau cerita yang berpotensi tapi gagal untuk konek. Istilahnya, kenapa bukan film-film jelek yang diremake supaya bisa diubah menjadi lebih bagus. Lebih prestasi kan kalo gitu, like, ‘Gue dong bisa bikin film jelek jadi bagus!’ daripada malah dikenal membuat film yang gagal live up ke keberhasilan film versi jadul. Bukankah berkarya bisa lebih luwes jika tidak ada bayang-bayang gede yang memayungi. Perihal Rebecca versi Netflix ini juga; aku paham sutradara Ben Wheatley bilang karyanya ini merupakan adaptasi terbaru dari novel sumber ceritanya. Dan aku juga paham bahwa sudah ada banyak sebelum ini yang menjadikan cerita Rebecca sebagai inspirasi – sudah banyak ‘adaptasi’ bebas dari cerita ini. Namun tetep saja, film ini tidak bisa lepas – tidak bisa untuk tidak kita bandingkan – dengan bayang-bayang gede yang sudah diciptakan oleh Rebecca versi 1940an. Dan ini ironi. Sebab film yang terjebak di bawah bayang-bayang film sebelumnya ini jadi persis sama seperti ceritanya sendiri.
Rebecca adalah cerita tentang seorang wanita muda, yatim piatu, yang jatuh cinta kepada seorang pria kaya. Tentu saja tadinya wanita ini tak pernah bermimpi bisa jadi nyonya di rumah besar itu. Pertemuan mereka kasual saja. Di Monte Carlo saat si wanita masih menjadi asisten pribadi seorang wanita terpandang. Dia bahkan belum tahu kalo Maxim de Winter yang lebih tua itu sebenarnya siapa. Barulah ketika bosnya mengajak ke New York, wanita ini resah. Dia tidak siap berpisah dengan Maxim yang sudah beberapa waktu ini terus bersamanya. Maxim juga begitu. Tak ingin berpisah, pria itu lantas langsung ngajak nikah! Si wanita diboyong ke rumahnya, Manor Manderley. Tapi kebahagian hidup baru si wanita ini bukan tanpa beban. Karena ternyata Maxim adalah duda. Dan hantu Rebecca, mantan istrinya, masih ada di rumah besar tersebut. Menghuni setiap sudut rumah. Hidup di dalam kenangan dan cerita para pelayan. Hidup, di dalam kepala wanita muda yang malang.

The Haunting of Manderley Manor

 
Jika Mrs. de Winter yang baru tersebut hidup dalam bayang-bayang Rebecca, maka film Rebecca versi Netflix ini dibayangi oleh Alfred Hitchcock; sebagai sutradara film versi jadul. Dan bayang-bayang itu tak pelak adalah bayang-bayang yang besar, lantaran Hitchcock merupakan master dari horor dan suspens. Dalam kemudinya, Rebecca mencuat sebagai roman dengan nuansa psikologikal misteri yang mencekam. Rebecca Hitchcock yang hitam putih hadir mempesona sekaligus daunting berkat teknik storytelling. Sedangkan Rebecca baru ini cantik karena lebih vibrant oleh warna dan terasa punya nada berbeda yang berakar dari karakterisasi yang memang ditulis sedikit berlainan dengan materi aslinya.
Hal tersebut actually adalah peningkatan yang berhasil dilakukan oleh film ini. Ketika di film yang lama, perspektif ceritanya seperti berpindah karena si wanita muda ini lebih pasif dan tidak memikul banyak aksi, maka Rebecca baru ini memposisikan Mrs. de Winter itu lebih kuat sebagai tokoh utama. Ini bagian dari agenda progresif yang disematkan kepada film ini. Bahwa zaman sekarang wanita haruslah kuat, capable dalam memutuskan dan beraksi sendiri. Wanita Muda memang jadi lebih menonjol, pada babak ketiga arcnya terasa lebih dramatis. Kita tak pernah lepas darinya. Tokoh ini lebih solid sebagai tokoh utama dibandingkan dirinya versi jaman dahulu. Tapi juga, perubahan karakter ini menjadi akar utama masalah yang hadir dalam keseluruhan tone dan presentasi film ini.
Lily James yang memerankannya cantik, no doubt. But Joan Fontaine, pemeran versi 1940, was just on another level. Kecantikan Wanita versi Joan bersumber dari betapa lugu, inosen, dan nervousnya dia. Kunci dari suksesnya suspens psikologis cerita ini adalah rasa percaya kita terhadap si Wanita Muda bahwa ia adalah seorang yang fragile. Secara emosional dan fisik dia merasa inferior dibandingkan banyak orang lain. Apalagi terhadap Rebecca yang eksistensinya masih terasa di Manderley. Itu inti ceritanya. Si Wanita merasa kecil, dia membandingkan dirinya sendiri dengan Rebecca – yang sosoknya ia bangun sendiri dari cerita-cerita para pelayan – dia menciptakan sosok yang ia merasa iri sendiri kepadanya. Lily James yang memerankan Wanita Muda dengan karakterisasi kekinian tidak pernah tampak serapuh ini. Tokohnya dituliskan tetep sebagai orang yang polos dan inosen, tapi juga lebih pede, lebih tangguh. Bahkan secara emosional tampak lebih dewasa, menyamai Maxim yang harusnya jauh lebih matang dan kokoh. Sehingga feel dan tensi psikologis yang menderanya tidak utuh tersampaikan kepada kita. Menjadikan keseluruhan film terasa lebih datar karena nada yang diniatkan untuk tidak dapat tercapai, karena terinterferensi oleh karakter yang dibuat kuat sekarang.

Terlalu keras berusaha menjadi seperti seseorang, berusaha untuk menggantikan mereka di mata orang lain, hanya akan membuat kita layaknya bayangan hampa dari sosok mereka. Wanita Muda itu harus belajar untuk tidak tenggelam ke dalam rasa iri ataupun rasa khawatirnya terhadap apakah Rebecca lebih cantik, lebih pintar, atau lebih penyayang ketimbang dirinya. Tidak seorangpun mesti membandingkan diri dengan orang lain seperti itu. Kita seharusnya menciptakan bayang-bayang kita sendiri.

 
Karakter yang kuat ini juga membuat para pendukung tidak lagi begitu mengintimidasi. Salah satu faktor penting yang membuat Wanita Muda begitu keras membully dirinya sendiri adalah karena ia percaya setiap pelayan – terutama Kepala Housekeeper – membenci dirinya yang berusaha menggantikan posisi Rebecca. Si Mrs. Danvers itu memang bertingkah paling dingin, tapi ketika dipadukan dengan Wanita Muda versi Lily James, dinamika menekan-dan-tertekan itu tidak terasa. Aku bukannya mau bilang Wanita Muda harusnya tetap dibuat lemah, ataupun karakter itu tidak boleh kuat. Melainkan, harusnya ada usaha lain dari sutradara untuk mengakomodir karakter yang secara natural telah dibuat kuat ini. Singkatnya, ini kembali kepada kemampuan sutradara. Hitchcock membangun suspens dengan gerakan/permainan kamera. Setiap interaksi tokoh utama dengan pelayan atau penghuni rumah selalu diakhiri dengan kesan Si Wanita merasa dirinya menjadi semakin kecil. Yang dicapai simply dengan menjauhkan kamera dari si Wanita, atau mendekatkan kamera ke lawan bicaranya. Rebecca yang baru tidak punya ‘permainan’ seperti demikian.

Penekanan di babak ketiga saat si Wanita kemungkinan harus membela seorang pembunuh juga tidak lagi terasa

 
 
Tidak ada close-ups cantik, saat kamera lingering wajah satu tokoh yang memikirkan gejolak yang melandanya. Rebecca yang baru berserah kepada permainan dan teknologi visual untuk meng-elaborate maksud. Namun tidak konstan berhasil menghasilkan kesan surreal atau disturbing. Film ini menggunakan adegan-adegan mimpi – berjalan di lorong sepi lalu ada sulur-sulur tanaman yang menarik diri ke lantai, sementara film yang lama cukup memperlihatkan tokoh yang tidur dalam keadaan gelisah. Bergerak-gerak resah di atas ranjang. Membuat imajinasi kita terbang mengenai mimpi semengerikan apa yang ia lihat, perasaan segundah apa yang menggerogoti pikirannya.
Yang paling membedakan buatku – yang paling menentukan keberhasilan film ini dalam menafsirkan cerita aslinya buatku – adalah poin soal tokoh Rebecca itu sendiri. Ini krusial karena berkaitan dengan tokoh utama, dan aku yakin merupakan konsep paling utama yang harus dibangun oleh siapapun, media apapun yang bakal menceritakan ulang. Sosok Rebecca. Sosok itu haruslah tidak pernah terlihat. Karena dialah yang dikontraskan dengan si Wanita Muda. Tokoh utama kita tidak pernah disebutkan namanya, but she’s there. Nama Rebecca terus bergaung meskipun dia sudah tidak ada di dunia. Dinamika kontras ini harus dijaga oleh si pencerita karena bagian dari keresahan si tokoh utama. Membuatnya merasa eksistensinya semakin kecil, kalah sama orang yang tinggal nama. Menghadirkan sosok Rebecca, meskipun hanya dari belakang dan di dalam kepala tokoh, membuyarkan bangunan kontras ini. Karena bagaimanapun juga bagi kita yang melihat, ya tokoh itu jadi ada. Dinamika itu tidak utuh lagi. Dan ini actually dilanggar oleh film Rebecca yang baru. Sehingga bagiku yang timbul kesan si pembuat belum mengerti benar, atau mungkin lupa, terhadap apa sih sebenarnya kekuatan dari cerita ini.
 
 
 
Bayang-bayang yang menaunginya sangatlah besar, film ini tidak bisa untuk tidak dibandingkan dengan pendahulunya. Ada banyak perbedaan antara kedua film tersebut, tapi yang paling terasa adalah perbedaan arahannya. Absennya suspens ala Hithcock. Bagaimana dengan penonton yang belum pernah menonton versi jadul? Tidak akan berpengaruh banyak. Karena meskipun kita bisa mengapresiasi alur yang lebih nutup, tokoh utama yang lebih kuat, romance yang lebih hangat, dan vibrant yang lebih berwarna, film ini hampa dari segi misteri. Dan mengingat misteri tersebut krusial untuk penyampaian emosinya, maka film ini pun tidak berhasil menghantarkan emosi yang kuat. Seperti menyaksikan misteri terungkap di depan mata kita, begitu saja.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for REBECCA

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana pandangan kalian terhadap karakter Rebecca di film ini – apakah dia seorang wanita yang kuat? Mengapa dia bisa begitu berpengaruh terhadap penghuni Manderley?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE TRIAL OF THE CHICAGO 7 Review

“If you remember what you fighting for you will never miss your target.”
 
 

 
 
Mungkin gak sih aksi demonstrasi berlangsung tanpa berakhir kerusuhan? Jawabannya tentu ‘bisa saja’, tapi ruang tanya itu masih terbuka ketika ada yang memperdebatkan lebih lanjut; apakah demo tanpa rusuh itu efektif. Argumentasi soal demonstrasi seperti demikian memang lagi sering terdengar, atau tepatnya, terbaca ketika kita berselancar di sosial media. Karena memang topiknya lagi hangat sekali. Di Amerika, di Thailand. Negara kita juga lagi kena musim demo, berkat disahkannya UU Cipta Kerja yang berbuntut banyak masalah. Mulai dari isinya, hingga ke kejadian seputar pengesahannya yang tergolong mendadak itu. Aksi penolakan terhadap UU tersebut bergelora di mana-mana. Buruh angkat suara, Akademisi menghimpun diri. Mahasiswa turun ke jalan. Anak STM ikut di belakang kakak-kakak mereka itu. Aksi mereka diharapkan berlangsung damai. Namun kemudian ada halte terbakar. Perlawanan lantas muncul di mana-mana. Polisi melawan pendemo. Mengejar hingga ke kampus-kampus. Menangkapi mahasiswa, sampai-sampai para pelajar yang terangkap terancam bakal susah dapat kerja. Ibarat kata, mereka tak bisa dapat surat kelakuan baik, karena sudah ikut merusuh dan merusak kota.
Begitulah ujung-ujungnya nasib pengunjuk rasa. Disebut sebagai provokator. Pengganggu kestabilan keamanan. Tahun 1968 tujuh pemuda ditangkap oleh kepolisian Chicago. Mereka diadili karena tertuduh sebagai provokator kerusuhan dalam aksi protes terhadap Perang Vietnam yang tadinya aman menjadi huru-hara. Membuat polisi harus bertindak keras. Banyak sekali korban terluka, baik dari pihak polisi maupun pendemo yang tergabung dari beberapa golongan. Sidang ketujuh pemuda (sebenarnya ada delapan, satu lagi yang berkulit hitam dapat tuduhan ekstrim membunuh polisi sehingga ia mendapat ‘perlakuan’ khusus) ini berlangsung alot. Berhari-hari. Karena para pemuda-pemuda itu justru curiga bahwa polisilah yang cari ribut duluan. Yang sengaja memancing kerusuhan terlebih dulu demi mengantagoniskan gerakan mereka. Kisah nyata konflik demonstrasi yang relevan bukan saja dengan keadaan Indonesia, melainkan dunia sekarang, inilah yang dimainkan ulang oleh Aaron Sorkin sutradara yang sudah aral melintang menangani drama debat di pengadilan berkat kepiawaiannya mengeset dan menulis dialog yang tajam-tajam. Selama kurang lebih dua jam, kita akan dibawa duduk menyaksikan trial demi trial yang penuh emosi. Film ini akan membuat kita geram. Kemudian tertegun. Dan memikirkan ulang aksi perjuangan yang mungkin sedang kita lakukan supaya perjuangan tersebut lebih tepat sasaran.

The whole world is watching — if you’re wearing mask or not, eh…

 
 
Actually, adegan persidangan di film ini adalah sidang terheboh yang pernah aku lihat di dalam film. Bahkan lebih bikin geram dibandingkan sidang yang pernah kutonton di televisi, dan aku udah liat sidang kopi sianida dan sidangnya Steven Avery. Debat sidang yang ada di film ini begitu sensasional. Tadinya saat menonton aku berpikir kejadian-kejadian seperti dua pemuda tertuduh suatu hari datang mengenakan jubah hitam panjang seperti milik hakim – sebagai bentuk sindiran mereka terhadap sikap sang hakim – adalah pandai-pandainya si pembuat film aja supaya cerita persidangan itu unik dan seru. Ternyata, setelah aku baca-baca beritanya seusai menonton, kejadian tersebut memang benar terjadi. Sidang Chicago 7 ini memang beneran penuh oleh kejadian-kejadian yang kalo dilihat sekarang pastilah memalukan bagi sistem peradilan Amerika. Hakim yang bias sedari awal – Yang Mulia itu tanpa diminta langsung buka suara klarifikasi bahwa meskipun bernama belakang sama tapi dia bukan sanak keluarga salah seorang terdakwa – yang mengikat dan menyumpal mulut terdakwa kulit hitam yang tak diijinkannya mencari pengacara pengganti, itu bukan karakter yang diciptakan untuk khusus untuk film ini. Melainkan karakter orang beneran yang ditunjuk sebagai kuasa tertinggi dalam sidang yang mestinya demokratis tersebut.
Sorkin mengambil esensi dan point-point yang membuat kejadian nyata itu diperbincangkan, untuk kemudian diperkuatnya lagi dengan pengadeganan dramatis buah visinya sendiri. Bagian-bagian sejarah itu disulamnya sempurna, menyatu dengan karakter-karakter dan elemen-elemen yang ia ciptakan untuk menjadikan cerita ini sebagai sebuah film. Ketika memperlihatkan adegan bentrokan polisi dengan pendemo, misalnya, Sorkin menyelinginya dengan cuplikan kejadian yang nyata dari rekaman berita. Meskipun potongan itu hitam-putih, tapi tidak pernah sekalipun kontras dengan pengadeganan yang berwarna. Ini menunjukkan betapa mulusnya dua klip video itu dirangkai. Bukan semata soal editingnya, melainkan juga keberhasilan dari penjagaan tone dan pacing cerita. Alur The Trial of the Chicago 7 bergerak dengan kecepatan penuh. Kilasan flashback dan selingan kejadian asli tidak pernah melambatkan ataupun membagi film ini seperti dua bagian. Karakter-karakter yang banyak itu bukan pula jadi halangan. Mereka semua mendapat porsi perspektif dan pembelajaran yang cukup untuk membuat kita benar-benar tertuju kepada masing-masing.
Walau karakter hakim luar biasa nyebelin (aslinya Hakim ini belakangan disebut ‘unqualified’ oleh Peradilan Amerika), tapi film tidak benar-benar total memihak. Film tidak menyuruh kita untuk percaya bahwa tujuh pemuda yang disidang itu enggak bersalah, apalagi menyuruh kita untuk membenci polisi dengan sepenuh hati karena mereka semua main kasar. Hakim yang bias dan rasis tidak lantas membuat pihak satunya otomotis benar dan tidak bersalah. Film tidak membiarkan kita tenggelam dalam konspirasi. Melainkan mencuatkan apa yang sebenarnya menjadi akar masalah di sini. Persidangan yang kian menjadi ajang tuduh-tuduhan itulah yang difokuskan di sini. Bukan hanya si Hakim saja, semua pihak diperlihatkan punya bias yang membuat mereka menjadikan sidang tersebut terlalu personal, sehingga tidak lagi melihat jernih. Seperti karakter yang diperankan Eddie Redmayne; orangnya pinter, respekful, dan yang paling bisa dijadikan teladan. Namun dia sendiri juga bias dalam memandang karakter si Sacha Borat Cohen, padahal jelas-jelas rekan seperjuangannya. Ketujuh pemuda memang dari golongan berbeda; ada geng mahasiswa, geng hippie, geng pramuka. Mereka bertujuan sama, tapi pandangan gak suka – gak percaya terhadap jalan atau cara kerja geng lain itu tetap ada. Bahkan lebih jauh film ini perlihatkan bahwa bias itu bisa datang dari penampilan luar. Satu-satunya yang bisa mempertahankan objektifitas dan gak ujug-ujug jadi bias itu adalah karakter pengacara penuntut yang diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt. Dia yang gak setuju demo rusuh seharusnya adalah ‘musuh’ bagi para pemuda, tapi kita bisa lihat dari sikapnya kadang justru dialah yang paling duluan gak setuju sama tindakan Hakim. Dia yang berusaha profesional dan memegang teguh respek dan paham tujuan itulah yang buatku jadi highlight di film ini.

Film ini menunjukkan bahwa betapa menjaga untuk gak menjadi bias itu adalah hal yang susah untuk dilakukan. Dalam perjuangan, seringkali kita menjadi terlalu personal. Seperti demo di Chicago itu; sidangnya malah seperti saling tuding siapa yang berbuat onar duluan. Padahal tujuan awal demonya adalah untuk memprotes pengiriman tentara ke Vietnam. Untuk menghentikan perang, bukan malah membuat ‘perang’ baru. Kita semua gampang meleset dari tujuan jika melupakan untuk apa, untuk siapa, kita berjuang pada mulanya. 

 

Hayoo siapa yang dalam menilai film aja, seringkali udah bias duluan sebelum nonton?

 
 
Yang ditawarkan film sebagai jawaban dari bagaimana supaya kita enggak jadi gampang bias, juga sungguh luar biasa dramatis. Adegan yang jadi ending film ini terasa sangat powerful. Adegannya kayak ketika Chris Jericho bacain daftar yang comically superpanjang berisi nama-nama submission yang mampu ia lakukan waktu di WCW dulu, hanya saja tidak seperti Jericho, adegan ini tidak di-boo. Malahan diiringi tepuk tangan yang bikin merinding. Ini merupakan desain dari sutradara, ia menerapkan bahasa film pada ending ini. Jika aslinya adegan tersebut justru berlangsung di awal-awal masa persidangan, Sorkin menaruhnya di akhir cerita sebagai bentuk pembelajaran dan penyadaran yang sudah dialami oleh para karakter. Pertanyaan yang harusnya mereka bahas bukanlah pihak mana duluan yang mancing ribut, pihak mana duluan yang kasar, dan kemudian menuding. Melainkan adalah pertanyaan untuk siapa unjuk rasa itu mereka lakukan. Untuk apa ide-ide tersebut mereka lontarkan. Momen penyadaran tersebut terangkum semua di dalam sekuen ending. Dengan sempurna menutup film dengan nada yang kuat, yang membuat kita berkontemplasi terhadap perjuangan yang sedang kita jalani sendiri.
Cerita yang hebat, dimainkan oleh assemble cast yang tak kalah hebatnya. Masalah yang muncul buat film ini cuma perspektif dan sudut pandang yang cepat sekali berpindah-pindah. Karena cerita ini gak punya tokoh utama. Kalopun ada, maka ia bukan satu orang. Melainkan satu grup. Satu pergerakan. Ini membuat film bekerja tidak seperti film-film biasa. Dan karena diangkat dari kejadian nyata, dibuat untuk menampilkan peristiwa yang sesuai fakta, film ini jadi sedikit terbatas. Dia tidak dalam kapasitas mengakhiri semua plot atau semua masalah yang dihadirkan. Terdakwa kedelapan dalam sidang tersebut, punya konflik yang tak kalah penting. Soal rasis dan prejudice yang lebih dalem. Namun karena peristiwa yang difilmkan oleh cerita tidak menyorot ke sana, maka permasalahan soal konflik itu juga tidak dibahas sampai habis. Hal tersebut jadi cacat sedikit buat film ini, karena normalnya setiap film harus menuntaskan setiap poin yang dimunculkan sepanjang cerita.
 
 
Maka itulah, aku berusaha untuk tidak terlalu bias karena aku suka sama cerita dan karakter-karakternya. Aku ingin melihat film ini secara objektif, ya sebagai film. Penilaiannya harus sama dengan saat menilai film-film lain. Sebagai cerita, definitely ini merupakan salah satu terpenting di tahun ini. Malah juga sebagai salah satu tontonan yang paling seru, padahal isinya kebanyakan ‘cuma’ orang-orang ngomong. But I never have a problem with chatty movies. Selama diceritakan dengan kuat dan terarah, ia akan asyik untuk dinikmati. Film ini akan enak untuk ditonton berulang kali, hanya untuk melihat kejadian demi kejadiannya. Kita akan lupa bahwa kameranya ternyata sangat pasif, berkat dialog dan adegan yang dinamis di ruang sidang tersebut. Sorkin berusaha optimal untuk membuat penggalan sejarah ini menjadi satu film yang layak, sembari tetap berpegang teguh pada visi kenapa ia membuatnya in the first place.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE TRIAL OF THE CHICAGO 7.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Jadi apakah kerusuhan itu terjadi karena pendemo lupa sama siapa yang sebenarnya sedang mereka perjuangkan? Bagaimana jika demo tetap rusuh kendati para pendemo masih fokus dan sadar pada siapa yang sedang mereka bela – mereka perlu sesuatu yang tegas supaya suaranya didengar – apakah kalian masih setuju dengan tindakan itu?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

HUBIE HALLOWEEN Review

“Putting people down does not make you a powerful and strong person”
 

 
 
Gaung Uncut Gems (2020) yang menghadirkan penampilan paling manusiawi dari Adam Sandler belum lagi hilang – well, setidaknya di blog ini, karena masih masuk pada Rapor Film Cawu I – tapi aktor komedi itu tampaknya sudah rindu konyol-konyolan yang sudah menjadi cap dagangnya di dunia perfilman. Either that, atau Sandler sedang mewujudkan ikrarnya. Ingat saat Sandler berkelakar jika perannya di Uncut Gems gak dapet Oscar maka dia berjanji akan menyiksa kita semua dengan membuat ‘komedi terburuk yang pernah diciptakan Netflix’? Nah mari kita cari tahu apakah Hubie Halloween ini benar merupakan balas dendam yang Sandler janjikan tersebut.
Di sini Sandler mengajak rekan-rekannya yang biasa untuk membuat horor komedi bertema Halloween. Dia mendaulat dirinya sendiri sebagai Hubie, seorang pria yang bermental kalah jauh dari lama dirinya hidup di muka bumi. Tepatnya di kota Salem, kota yang terkenal dengan urban legend penyihir dan mistis. Tinggal bersama ibunya, Hubie sebenarnya punya misi yang mulia. Setiap tahun dia mendedikasikan diri untuk menjadi penjaga-halloween. Menegakkan ketertiban dan melaporkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi pada malam halloween ke kepolisian setempat. Masalahnya adalah, nyaris seluruh warga kota itu menyepelekan Hubie. Mereka tidak melewatkan kesempatan untuk menakut-nakuti Hubie. Melempari Hubie dengan beragam benda, mulai dari tisu toilet hingga kapak! ketika pria malang itu lewat dengan sepeda dan termos multifungsinya. Hubie adalah laughing stock, outcast, bahan bully penduduk kota. Padahal malam halloween kali ini jadi malam penting bagi Hubie. Karena bukan saja dia disuruh ibunya untuk mulai belajar berani membela diri (Hubie juga mencerna ini sebagai nasihat untuk berani bilang suka sama wanita yang sudah ia taksir sejak SD), tapi juga karena Salem beneran dalam bahaya. Jika film ini adalah game Among Us, maka Salem malam ini kedatangan setidaknya tiga impostor; seorang napi asylum yang kabur, seora–ehm seekor manusia serigala yang lepas, dan satu penculik bertopeng misterius yang berkeliaran menangkapi warga satu demi satu.

Tapi jika Hubie main Among Us, niscaya dia yang jadi crewmate sendirian dan dibully oleh banyak impostor lol

 
 
Sekali lihat saja kita sudah tahu bahwa ini bakal jadi cerita klasik ala komedi Adam Sandler. Cerita tentang seorang ‘idiot’ yang pada akhirnya akan jadi pahlawan, dielu-elukan semua orang, dan tentu saja mendapatkan cewek. Formula cerita seperti demikian sebenarnya tidak pernah sebuah masalah yang besar. Maksudnya; sah dan boleh-boleh saja. Apalagi cerita underdog seperti demikian memang lebih mudah untuk dinikmati, dan bahkan direlasikan. Masalah justru terletak pada bagaimana menceritakan formula tersebut. Kita perlu plot, karakter, dan juga candaan yang diceritakan dengan fresh. Hubie Halloween berdurasi sembilan-puluh menit. Dan bukan saja berceritanya penuh dengan trope-trope ‘sinematik Sandler’, candaan dan punchline yang menyertai pun seringkali berulang-ulang.
Film ini kalo jujur maka judulnya menjadi berbunyi ‘Seribu Ekspresi Ketakutan Adam Sandler sebagai Pria Kekanakan’. Karena memang itulah senjata komedi yang jadi ujung tombak film ini. Hubie dikagetin oleh topeng domba di etalase tokonya. Hubie terkejut oleh mobil yang disetir seseorang tanpa kepala. Hubie menjerit melihat dekorasi halloween yang ia sangka hantu beneran. Satu-satunya build up yang dipunya oleh film ini – dalam lingkup komedi – adalah build up untuk merekam ekspresi kaget Adam Sandler di depan kamera. Selebihnya, komedi dalam film ini dihadirkan lewat kekonyolan kejadian yang terlahir dari karakter-karakter yang ditulis secara absurd pula. Kekonyolan tersebut terjadi begitu saja. Tidak ada ritme, set up, atau sekadar sedikit lebih banyak thought di balik setiap punchlinenya. Soal delivery, semua pemain sebagian besar adalah aktor komedian yang sudah sering kerja bareng. Sehingga mereka benar-benar tampak fun dan mampu memancing gelak tawa hanya dengan ‘menjadi mereka seperti biasa’. Seberhasil-berhasilnya komedi Hubie Halloween adalah karena pengetahuan atau kefamiliaran kita kepada skit-skit dan gaya para pemeran, bukan karena penulisan komedi. Ketika kita melihat Steve Buscemi menjadi possible-werewolf, kita tertarik karena ini seperti perannya di animasi komedi mereka. Komedi dalam film ini mengandalkan ‘outside knowledge’ seperti demikian.
Ini disayangkan karena cerita Hubie ini punya potensi. Untuk beberapa menit pertama aku punya ketertarikan besar untuk mengikuti cerita meski sudah banyak lelucon lebay yang dihadirkan. Satu yang buatku genuine lucu dan dialognya bener ada set up komedi adalah percakapan antara Hubie dengan ibu soal ayah. Namun kemudian seiring bergulirnya cerita, tokoh-tokoh pendukung yang diperankan oleh pemeran yang udah gak asing hadir di film Adam Sandler bermunculan satu per satu tanpa kematangan penulisan karakternya, semakin jelas bahwa film tidak mau repot menulis untuk komedinya. Setting cerita juga sebenarnya sudah bagus. Merekam kejadian horor dalam rentang waktu tertentu – seluruh kejadian film ini berlangsung satu hari, dan dengan fokus di malam halloween – membuat cerita nyaris otomatis terkesan urgen. Ide ceritanya yang membaurkan tiga ‘impostor’ juga menarik. Karena memberikan misteri beneran untuk dipecahkan oleh Hubie. Si tokoh utama ini pun ditulis punya obstacle yang bisa kita pedulikan. Berkaitan dengan pesan bullying yang dilantunkan oleh cerita.

Setiap orang punya kelemahan, punya kecemasan, punya sesuatu yang ditakuti. Dan terkadang ada beberapa orang yang merasa bahwa kelemahan tersebut membuat mereka jadi punya kebutuhan untuk membully orang lain yang lebih lemah. Supaya mereka bisa merasa lebih baik terhadap diri mereka sendiri.

 
Di-bully seumur hidupnya, tidak menjadikan Hubie tumbuh menjadi pria pendendam. Dan ini disalahartikan orang; mereka menganggap Hubie penakut. Well, Hubie yang kagetan mungkin memang penakut sama setan, tapi dia tidak pernah penakut seperti yang disangka oleh penduduk kota. Hubie tidak melawan atau membalas perlakuan bukan karena dia takut. Melainkan karena dialah the better man di kota itu. Dia selalu mementingkan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Hubie punya banyak kelemahan, tapi dia tidak sekalipun berniat untuk menutupi kelemahannya dengan menimpakan kepada orang lain – dengan membuat orang tampak lebih lemah daripada dirinya. Sikap inilah yang membedakan Hubie dengan warga lain. Film ini mengenakan pesan tersebut seperti Hubie mengenakan selempang halloween-protectornya;  mencolok dan too-obvious. Tidak disematkan dengan subtil. Pesan-pesan itu dicuapkan langsung lewat dialog. Diejakan seolah kita enggak kalah terbelakangnya dengan anak-anak kecil yang membully Hubie.

Ada yang jual gak sih termos kayak punya Hubie?

 
 
Penanganannya terhadap gagasan baik tersebut membuat film jadi tampak semakin malas dan tampil secukupnya aja. Untuk memenuhi keinginan bermain-main saja. Secara plot dan perkembangan karakter, gagasan yang dihadirkan gitu aja itu membuat Hubie menjadi tokoh utama yang gak punya perkembangan. Pembelajaran yang ia lakukan hanya memberanikan diri untuk ngobrol hati ke hati kepada cengcemannya. Instead, justru tokoh pendukunglah yang dibebankan untuk berubah. Penduduk Salem lah yang harus belajar untuk menerima dan menjadikan Hubie sebagai teladan. Tokoh utama kita imperfect, tapi dia tidak salah di sini.  Hal ini berpengaruh kepada penulisan aneh yang dilakukan oleh film. Tokoh-tokoh pendukung yang banyak itu diberikan penulisan seadanya karena mereka bakal mengungkap ‘siapa’ mereka di akhir. Jadi dengan kontruksi bercerita seperti begini; membuat tokoh utamanya tidak dikenai perkembangan, melainkan tokoh-tokoh pendukungnya yang mendapat pembelajaran, kita harus ‘menderita’ menikmati komedi konyol yang datang tanpa pace dan ritme dan set up. Semua tokoh yang belajar itu difungsikan sebagai pion saja. Bahkan tokoh love interest Hubie pun tak banyak mendapat karakterisasi karena film juga meniatkan dia sebagai salah satu tersangka utama.
 
 
 
 
Untuk menjawab pertanyaan di atas soal apakah film ini adalah balas dendam yang dijanjikan Adam Sandler; tidak. Film ini masih punya nilai dan gagasan dan tidak terlihat seperti karya dari seseorang yang berniat menghasilkan sesuatu yang terburuk untuk ditonton banyak orang. Film ini menurutku lebih seperti proyek cominghome kecil-kecilan aja. Seperti Sandler ingin berkata walaupun dia sukses menjajal drama serius, hati dan passionnya masih pada komedi konyol seperti ini. Dan dia memperlihatkan bahwa dia tidak akan dibully karenanya. Pada akhirnya film ini tetaplah bisa dijadikan hiburan pengisi halloween, horor menyenangkan yang membuat kita lupa sama horor di luar jendela masing-masing selama sembilan-puluh menit.
The Palace of Wisdom gives 3.5 out of 10 gold stars for HUBIE HALLOWEEN.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian membully seseorang dan kini menyesalinya? Jika bisa mundur ke belakang, apa yang ingin kalian katakan kepada orang yang kalian bully?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

VAMPIRES VS. THE BRONX Review

“Capital is dead labour, that, vampire-like, only lives by sucking living labour, and lives the more, the more labour it sucks”
 

 
 
Ketika Miguel bilang Murnau Properties mengunyah kota mereka, yang dimaksud Miguel adalah perusahaan konglomerat kulit-putih tersebut membeli bangunan-bangunan di kota Bronx – mengimingi pemilik bangunan dengan uang yang banyak supaya mau pindah. Bahkan toko favorit Miguel dijadikan sasaran dan terancam untuk berubah menjadi sesuatu yang asing; mungkin jadi kafe milennial atau semacamnya, yang orang-orang tidak mengerti yang bakal dijual itu apa. Miguel sendiri, saat mengatakan itu, belum sadar bahwa pernyataannya tadi juga bermakna literal. Karena perusahaan Murnau diam-diam – di malam hari!- memang beneran menguyah para pemilik bangunan yang mereka beli. Bisnis properti dan real estate Murnau cuma kedok. Murnau Properties nyatanya adalah perusahaan vampir pemangsa manusia yang bermaksud menjadikan kota Bronx sebagai sarang mereka yang baru!

Memang, sudah lama perilaku kapitalisme diibaratkan sebagai tindakan orang kaya menghisap darah rakyat jelata. Penggalan kalimat yang kujadikan penghantar ulasan ini kukutip dari tulisan Karl Marx perihal kapitalisme. Kita tidak perlu repot jauh-jauh membayangkan bagaimana perusahaan bisa menyedot habis pekerjanya. Karena keadaan di negara kita sekarang sudah mendekati, dengan disahkannya RUU Cipta Kerja oleh pemerintah. Ini jadi salah satu contohnya karena menurut RUU tersebut para karyawan dan buruh tidak akan lagi mendapat upah minimal, tidak lagi diberi pesangon saat pensiun ataupun di-PHK, tidak dikasih cuti berbayar untuk pekerja yang hamil, dan kebijakan lain-lain lagi yang lebih menguntungkan pihak bisnismen.

 
Metafora klasik vampir-kapitalis inilah yang digunakan sutradara Osmany Rodriguez sebagai landasan untuk membangun cerita horor komedi. Rodriguez juga ingin menyentil permasalahan kekuasaan kapitalis, dan dia tahu cara nyentil yang terbaik adalah dengan komedi. Yang diangkatnya di sini adalah permasalahan perombakan sebuah daerah lokal menjadi kawasan real estate lewat taktik pengenyahan warga. Mereka dibeli propertinya, yang kemudian properti tersebut diubah menjadi tempat usaha, dan seringkali kita dapati bentuk miris dari kejadian tersebut yaitu si pemilik asli justru nanti akan jadi karyawan di tempat usaha kapitalis yang membeli propertinya. Oleh Rodriguez, pihak perusahaan tamak seperti itu digambarkan sebagai vampir beneran. Orang-orang yang mereka hisap dibuat menghilang begitu saja – walaupun mungkin lebih pas kalo diubah menjadi vampir juga, tapi dapat dimengerti mati menghasilkan misteri yang lebih urgen. Karena film juga ingin menekankan satu hal; bahwa tidak ada yang peduli sama mereka, karena Bronx juga adalah tempat yang nyaris demikian marjinal sehingga ada karakter yang lugas menyebutkan tidak ada yang akan peduli sama penduduk di sini. Rodriguez menambahkan lapisan untuk membuat permasalahan itu semakin kompleks lagi. Lapisan berupa ras. Penduduk Bronx adalah mayoritas kulit hitam, yang enggak jauh dari tempat tumbuhnya para ‘gangster’. Pihak pendatang – para vampir itu – adalah kulit putih. Dulunya bangsawan dengan gaya hidup yang tentu saja jauh berbeda dengan kehidupan ‘hood’ di Bronx. Jadi film ini juga bercerita tentang mempertahankan tradisi atau gaya hidup di suatu tempat.

Cerita yang cukup gendut untuk horor-ko…. Hmmm… gendut.. seperti nadi di lehermu…. WAAARRRGGH!! *terkam*

 
 
Membuat anak-anak sebagai tokoh cerita adalah langkah yang tepat. Miguel dan teman-temannya membuat film ini jadi punya vibe petualangan horor yang sama dengan cerita-cerita seperti Stranger Things ataupun It yang sudah terbukti ngehits. Nontonin mereka terasa seru dan mengasikkan. Miguel dan teman-temannya juga memberikan ruang bagi film untuk mengeksporasi gagasannya dengan lebih leluasa. Komentar-komentar tentang kapitalisme itu jadi tidak lagi seperti beban yang harus diucapkan ketika meluncur keluar lewat sudut pandang anak-anak yang hanya ingin menyelamatkan toko tempat mereka bisa bebas bermain game dan menonton horor-horor rated R. Film ini sepertinya paling dekat dengan Attack the Block (2011); sekelompok anak muda yang mempertahankan neighborhood mereka dari serangan alien. Kedua film ini sama-sama mencuatkan semangat persatuan mempertahankan daerah. Semangat yang mungkin saja memang paling kuat dirasakan oleh anak/remaja karena merekalah yang paling merasakan keterkaitan dengan lingkungan tempat tinggal.
Vampires vs. The Bronx memang memusatkan persoalan tersebut sebagai plot utama. Hanya saja, film malah menempatkan itu kepada salah satu sahabat Miguel. Bukan kepada Miguelnya sendiri sebagai tokoh utama. Dan ini membuat Miguel kalah menarik. Miguel tidak mengalami banyak perkembangan sepanjang cerita. Stake yang ia rasakan juga kalah kuat dibandingkan tokoh lain, karena Miguel tidak berkenaan langsung dengan masalah properti itu sedari awal. Sebagai pelindung kota, dia juga tidak tampak punya kedekatan khusus karena kita diperkenalkan kepada Miguel saat dia semacam dibully oleh seisi kota; cewek-cewek menertawakannya, ibu memarahinya – di depan cewek-cewek, gangsta tak tertarik kepadanya. Justru yang paling punya ikatan dengan kota adalah si teman Miguel yang bernama Bobby. Dia punya plot yang personal; dia ingin bergabung dengan gangsta tapi berkonflik dengan masa lalu ayahnya yang kini diceritakan sudah tiada. Bobby jualah yang punya momen emosional terkait hal tersebut dengan familiar suruhan para Vampir. Secara karakter, Miguel kalah menarik dan kalah ‘penting’ dibandingkan Bobby. Miguel hanyalah karakter trope; anak kecil yang tidak dipercaya orang lain padahal apa yang ia katakan benar.
Miguel bersepeda keliling kota, bertemu dengan tetangga-tetangganya, memungkinkan kita untuk mendapat gambaran tentang kehidupan di Bronx. Kota itu sendiri memang penting untuk ditampilkan karena kita tidak bisa bicara tentang kapitalis yang mengubah satu kota jika tidak memperlihatkan seperti apa kota tersebut; seperti apa kekeluargaan dan kebiasaan di sana. Karena ini komedi, Rodriguez memberikan kita karakter-karakter yang kocak sebagai napas kota Bronx sebagai tokoh tersendiri. Mulai dari Pastor yang jengkel sama anak-anak nakal hingga ke abang-abang yang nongkrong di jalanan, semua tokoh pendukung di film ini diset untuk memancing komedi. They just do funny things, dan memang sebagian besar dari mereka tidak diberikan fungsi apa-apa lagi. Misalnya seperti tokoh anak cewek yang ngevlog; tadinya kupikir tokoh ini akan masuk ke geng Miguel dan ikut bertualang melawan Vampir. Tapi ternyata tidak, dia hanya dimunculkan saat-saat film butuh untuk nyerocosin beberapa eksposisi dan untuk nampilin informasi yang dibutuhkan oleh Miguel dalam mengungkap Vampir.
Ketika seluruh kota menerapkan mosi tidak percaya kepada dirimu

 
 
Mitologi Vampir itu sendiri digambarkan sangat lengkap. Dan dipikirkan matang-matang penempatannya. Aku suka karena beberapa hal terangkai dengan mulus. Kita mungkin sempat bertanya kenapa Vampir ingin menguasai real estate dan membeli semua bangunan di kota itu. Film ini punya jawaban yang simpel nan masuk akal untuk pertanyaan tersebut. Jawabannya karena menurut mitologi, Vampir gak bisa masuk ke suatu tempat tanpa diundang. Maka, supaya bisa memangsa sesuka hati, para Vampir itu tentu saja perlu untuk memiliki rumah dan toko-toko di situ – mereka gak perlu minta izin dulu untuk bisa masuk.
Aku mau melihat film ini melewati efek visualnya, karena meskipun memang terlihat ‘murah’ tapi masih konsisten dengan nada konyol yang ditampilkan film sebagai komedi. Nyawa film ini justru di pembangunan dunianya. Begitu film mengimplementasikan mitos-mitos kayak gini ke dalam gerak plot, di situlah ketika film ini hidup. Membuatnya cerdas. Namun sayangya, film ini katakanlah sebagai makhluk hidup yang bernapas; ia tidak benar-benar satu spesies yang unik. Vampires vs. The Bronx lebih seperti seorang Frankenstein. Makhluk yang tersusun atas bagian-bagian makhluk lain. Karena alih-alih membangun dari sesuatu yang benar-benar baru, film ini terlalu mengandalkan mitos dan hal-hal lumrah, dan juga referensi, yang kita ketahui tentang Vampir dari film-film lain. Menebak hal-hal yang kita kenali saat menyaksikan suatu film memang mampu menghasilkan kesenangan tersendiri. Nama Murnau yang mengacu pada sutradara Nosferatu; yang kalo aku gak salah adalah film pertama tentang vampir, teknik montase cepat-cepat yang mengingatkan kepada teknik khas sutradara Shaun of the Dead; yang arguably film mayat hidup terkocak dekade modern ini, dan bahkan nunjukin dengan terang-terangan perihal film Blade yang menginspirasi karakter anak di film ini (ras kulit hitam yang keren dalam memburu Vampir). Terasa sekali kekurangorisinilan yang membayangi film ini
 
 
 
Memang, minimnya penggalian dan elemen baru tersebut tidak bakal menyurutkan unsur fun dan keseruan kita dalam menonton film ini. Hanya saja, secara eksistensi, film ini sesungguhnya mampu menjadi sesuatu yang spesial. Pun hadir dengan level kerelevanan yang tinggi. Sayangnya, setelah menonton, ia cuma terasa sebagai ‘just another horror-comedy’. Terlalu banyak kesamaan dan pengingat kita terhadap film-film lain. Tokoh utamanya pun tidak begitu membantu karena juga kalah spesial dengan tokoh pendukungnya. Aku suka implementasi gagasan ke mitologi Vampir yang dilakukan oleh film ini. Harusnya film ini lebih berani lagi untuk keluar dari bayang-bayang genrenya. Supaya efek cerita dan keberadaan film ini jadi semakin terasa lagi.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for VAMPIRES VS. THE BRONX

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Setujukah kalian dengan kapitalis sebagai setan penghisap darah? Bagaimana pendapat kalian tentang Omnibus Law yang baru disahkan tersebut?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ENOLA HOLMES Review

It means I’m strong enough to handle things all by myself.”
 

 
 
Enola adalah kebalikan dari ‘Alone’. Remaja cerdas itu tadinya kurang paham kenapa ibu menamainya seperti itu. Karena nama kedua abangnya jelas-jelas tidak bisa dibolak-balik begitu; Mycroft dan Sherlock. Ya, Sherlock yang itu. Yang detektif terkenal itu. Jadi setidaknya misteri pertama dari cerita ini terungkap sudah. Enola adalah adik bungsu dari Sherlock Holmes. Dan dalam film ini kita akan melihat Enola punya kemampuan memecahkan misteri yang gak kalah mengesankan dari abangnya tersebut. Film yang diadaptasi dari novel karangan Nancy Springer – yang clearly sangat menghormati Sir Arthur Conan Doyle sebagai sumber imajinasi dunia Holmes versi dirinya – mengisahkan petualangan Enola yang punya pesona dan warna berbeda dari petualangan Sherlock Holmes. Sutradara Harry Bradbeer mengemasnya sebagai cerita petualangan detektif wanita yang bahkan lebih ceria dari Nancy Drew, dengan mengedepankan isu feminisme untuk membuat ceritanya semakin relevan.
Namanya jadi misteri yang menarik baginya, sehingga si bungsu Holmes ini jadi menggemari cipher alias sandi/teka-teki susunan kata. Ia awalnya tidak mengerti kenapa sang ibu menamainya ‘alone’ padahal mereka selalu bersama. Setelah ayah meninggal dunia dan dua abangnya merantau ke berbagai penjuru Eropa, Enola tinggal berdua dengan ibu. Mereka menghabiskan hari dengan berbagai aktivitas. Ibu ngajarin Enola bermacam-macam. Mulai dari menenun, main tebak kata, bereksperimen kimia, hingga main tenis – di dalam rumah! Saking deketnya mereka, Enola sama sekali gak kebayang dia hidup sendirian. Hingga sang ibu menghilang dari rumah. Misterius sekali. Dua abang Enola pun pulang untuk memecahkan misteri ini. Tapi kedatangan mereka membawa ancaman kungkungan kepada Enola, karena kedua abangnya kurang terkesan dengan hasil didikan ibu terhadap Enola. Mycroft ingin mengirim Enola pergi ke sekolah wanita untuk menjadikan Enola wanita yang ‘seharusnya’. Sebelum itu kejadian, Enola yang berhasil menemukan petunjuk yang ditinggalkan ibu, pergi diam-diam, dengan menyamar sebagai anak cowok. Dalam memulai petualangannya mencari ibu di London, Enola bertemu dengan kasus pertamanya. Kasus yang membuat ia memikirkan ulang makna dari kesendirian dan menjadi wanita yang kuat.

Ajarkan feminisme sejak dini

 
 
Aku gak bohong kalo ada bagian dari film ini yang membuatku jadi teringat sama Mulan (2020). Terutama karena kedua film ini vokal sekali dengan suara pemberdayaan perempuan. Untungnya, Enola Holmes adalah cerita yang jauh lebih menyenangkan untuk diikuti. Film ini punya dunia yang lebih vibrant dan gak takut menampilkan humor. Dengan karakter yang lebih hidup; dan terutama karakter-karakternya lebih relatable. Agenda feminisme dalam film Enola Holmes ini dimasukkan tidak dengan paksa, melainkan dengan tetap memikirkan dampaknya terhadap narasi. Ada satu adegan yang aku suka karena benar menunjukkan konsistensi pada Enola yakni ketika Enola selamat nyawanya karena korset yang ia kenakan; ini konsisten dengan gagasan wanita menjadi dirinya sendiri, Enola selamat dengan menjadi wanita. Tidak seperti pada Mulan yang gak konsisten dengan adegan Mulan harus menjadi wanita tapi malah menunjukkan dirinya justru diselamatkan ketika ia mengenakan armor lelaki. Enola juga tidak pernah tampil sebagai Mary Sue – istilah buat karakter cewek yang dibuat sempurna yang serba-bisa sampai-sampai melemahkan karakter lain hanya untuk membuatnya terlihat semakin ‘kuat’. Dan buatku inilah kelebihan Enola Holmes dibanding film-film feminis kebanyakan. Film ini masih memikirkan bagaimana menuangkan agendanya ke dalam naskah dengan merata sehingga tidak membuat karakternya demikian sempurna.
Karakter Enola ditampilkan sebagai remaja yang vulnerable, dengan banyak hal yang masih harus ia pelajari di dalam petualangannya.  Ketika Enola digambarkan panjang akal, jago berantem, dan sangat mandiri, naskah menyeimbangkan karakter ini dengan menunjukkan bahwa ia sudah mempelajari semua itu sedari kecil. Dan bahkan dengan segala kemampuan itu, Enola masih diperlihatkan kurang pengalaman. Dia tidak serta merta berhasil. Masih ada kegagalan, lalu berpikir ulang. Karakter ini masih perlu belajar banyak. Konflik pada dirinya terutama adalah tentang ibu yang ia yakini tidak akan meninggalkan dirinya. Namun hal tersebut selalu ditentang saat beberapa kali Enola ditampilkan tertohok oleh pertanyaan dari berbagai karakter mengenai kenyataan bahwa sekarang ia tidak tahu di mana ibunya berada.
Di situlah permainan peran dari Millie Bobby Brown (aktor muda temuan, dan kuyakin sekarang kebanggaan, Netflix) mengangkat film ini setinggi-tingginya. Di tangannya, Enola tampil sebagai karakter utama sejati; kita peduli padanya, kita berempati kepada konfliknya. We just love to cheer for her. Millie adalah Enola yang ceria, funny in her own way, sedikit pemberontak tapi tak pernah annoying. Sutradara Bradbeer tidak menyia-nyiakan karisma dan pesona yang dibawa oleh Millie kepada karakternya. Bradbeer sudah mempersiapkan konsep ‘breaking the fourth wall’ sebagai device untuk menghadirkan Enolanya Millie langsung face-to-face kepada kita. Ini membuat semua eksposisi yang dibutuhkan cerita tersampaikan lewat cara yang kita semua gak bisa tolak. Emangnya siapa juga yang gak mau diajak ngobrol sama Enola, kan? Millie begitu mulus berpindah dari ngomong kepada kita dan ngomong ke karakter-karakter di film. Aktor muda berbakat itu hampir membuat kita merasa seperti bagian dari diri si Enola itu sendiri. Kita bukan cuma sebagai penonton, kita turut jadi bagian dari karakterisasinya.
Millie doesn’t even flinched when the script asks her to do some action. Memang, selain berwarna, lucu, dan berbobot agenda, film ini juga punya muatan aksi. Film ini menampilkan beberapa adegan ketika Enola berantem tangan kosong dengan penjahat. Dan adegan-adegan aksi ini punya rentang tone yang cukup drastis. Ada yang penuh ledakan tapi berbau mirip fantasi. Bahkan ada juga yang lumayan violent. Like, real murder attempt kind of violent. Tingkat kekerasannya yang cukup tinggi tersebut membuat tone cerita film ini secara keseluruhan agak sedikit gak seimbang lagi. Cerita ini memang sedari awal dibangun dengan dibayangi oleh subteks kriminal, tapi menurutku resolusi yang berupa berantem beneran tersebut seharusnya lebih dibangun atau setidaknya dunia yang jadi panggung Enola bisa lebih digelapkan sedikit, supaya menyeimbangkan atau memperkecil rentang tone yang ditampilkan di awal dengan di konfrontasi akhir.
“Jangan sampai jurus Demogorgon Killer gue keluar ya!”

 
 
Sebagaimana film-film petualangan adaptasi novel lainnya, Enola Holmes juga dihadapkan pada tantangan memuat-banyak-dalam-durasi-terbatas. Dan boleh jadi, ini adalah perlawanan yang lebih berat ketimbang memperjuangkan gerakan perempuan. Karena meskipun film ini berhasil membuat tokoh perempuan yang benar-benar kuat dan respectable, di sisi lain film ini masih tersandung saat bercerita hal yang kompleks meski diberi durasi yang sudah cukup panjang. Ada banyak karakter pendukung, ada banyak plot sampingan, yang harus disampaikan tetapi film ini tidak benar-benar mulus dalam menyampaikannya.
Soal fokus ceritanya, film ini jadi seperti terbagi dua. Yang diangkat di awal adalah persoalan mencari ibunya. Namun di pertengahan, seiring dengan perkembangan karakter Enola, fokus cerita berpindah ke menolong seorang anak bangsawan yang diburu oleh seseorang. Meskipun memang naskah sekuat tenaga untuk membuat dua ‘main objectives’ ini saling berkaitan, tetapi tetap saja ini memecah motivasi tokoh utama. Sehingga berakibat pada berkurangnya urgensi pada petualangan besar si protagonis ini secara keseluruhan. Tidak ada, katakanlah deadline, yang mengejar atau menjepit Enola untuk menemukan ibunya secepat mungkin. Begitupun dengan kasus perburuan yang ia tangani; tidak ada urgen yang membuat kita ingin Enola berhasil karena kasus tersebut tidak benar-benar berbahaya bagi Enola. Itulah sebabnya kenapa cerita di bagian akhir dibuat jadi sedemikian violent; Supaya Enola bisa benar-benar tampak dalam bahaya. Thus, stake cerita diharapkan jadi naik. Karena sepanjang cerita, stake yang dimiliki Enola cuma dia gak boleh sampai ketahuan oleh dua abangnya. Sekolah khusus wanita yang strict tersebut tidak kuat atau tidak cukup dramatis untuk dijadikan ganjaran. Misteri hilangnya sang ibu pun pada akhirnya tidak diberikan konklusi yang sebanding dengan build upnya.

Being independent dan mempercayai kekuatan sendiri bukan berarti kita harus mengerjakan semuanya sendirian, ataupun hanya demi diri sendiri. Petualangan yang ditempuh oleh Enola mendewasakan dirinya terhadap hal tersebut. There’s no shame jika dalam perjalanan pemberdayaan, kita menemukan cinta dan malah menunjukkan kebutuhan untuk bekerja sama dengan orang. Karena bisa berdiri sendiri bukan berarti kita harus memilih untuk sendiri.

 
Karakter-karakter pendukung yang cukup banyak jumlahnya itupun masih belum dihidupkan secara maksimal. Salah satu yang niscaya jadi pusat banyak perhatian tentunya adalah karakter Sherlock Holmes. Namun tak banyak dilakukan oleh Henry Cavill sebagai tokoh ini. Melawan pakem karakter eksentrik dan cueknya, Sherlock di sini ditempatkan sebagai low-key mendukung Enola. Namun ini justru membuat tokohnya berada ngambang di tengah-tengah. Di antara Enola yang free-spirited dengan abang tertua mereka yang total strict. Dari sini saja mungkin kita sudah bisa melihat bahwa karakter-karakter di cerita ini sebenarnya bisa untuk padetin lagi. Sherlock dan Mycroft bisa saja dirapel menjadi satu karakter yang lebih bakal terasa lebih flesh out. Bikin aja, misalnya, Sherlock yang strict dan jadi antagonis utama buat Enola. Sehingga ia akhirnya akan mengalami perkembangan dan punya lebih punya banyak hal untuk dilakukan. Mestinya sih bisa jadi lebih menarik, I mean, kapan lagi kan kita melihat Sherlock dalam cahaya yang lain.
 
 
 
Perhaps, jebakan terbesar yang berhasil dilompati oleh film ini adalah jebakan untuk tampil seperti fan-fiction dari cerita Sherlock Holmes. Enola dan karakter-karakter lain boleh jadi bukan kanon dalam semesta Sherlock Holmes, tetapi film ini sendiri berhasil membuktikan diri sebagai cerita utuh yang layak dinanti pengembangannya lebih lanjut. Keberadaan film ini layak untuk ditetapkan sebagai semesta alternatif dari tokoh ikonik yang sudah ada. Tokoh utamanya sendiri benar-benar menarik, kuat, dan adorable. Dia adalah heroine (jagoan cewek) yang ideal, baik dalam narasi detektif maupun dalam agenda feminis. Film ini bisa kita lihat sebagai introduksi yang cukup kuat jika memang ceritanya masih akan dibuat terus berlanjut. Dengan beberapa catatan kecil soal problem yang lumrah ditemukan dalam cerita-cerita petualangan adaptasi buku, film ini tetap menghibur berkat penampilan akting dan nuansa fresh yang dibawa.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ENOLA HOLMES

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian seberapa penting sih ‘merasakan kesendirian’ itu bagi diri kita?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE DEVIL ALL THE TIME Review

“I object to violence because when it appears to do good, the good is only temporary; the evil it does is permanent”
 

 
 
Salah kaprah dalam beragama membuat kita melihat setan sepanjang waktu. Karena tak ada yang lebih parah daripada menjadi munafik; merasa paling suci di antara yang lain lalu bertindak seenaknya hingga sampai menipu atau merugikan orang dengan dalih agama. Dalam film The Devil All the Time kita melihat jemaat yang membunuh, pengkhotbah yang memperkosa, dan orang-orang yang percaya tindakan keji yang mereka lakukan adalah atas nama kebaikan. Film ini mengerikan, begitu banyak kematian, begitu beragam kejahatan yang mampu dilakukan oleh manusia. Yang ditunjukkan oleh film ini bukan hanya sebatas bagaimana tragedi mempengaruhi keluarga, bahkan lingkungan. Melainkan juga memperlihatkan bagaimana sebuah keyakinan dapat  sebuah keyakinan dan kejahatan dapat saling bersisian.
Kejahatan dan tragedi yang dihasilkannya dalam cerita The Devil All the Time berawal dari seorang serdadu Amerika di Perang Vietnam yang pulang kembali ke kota kecil kelahirannya di Ohio. Membawa beban mental dan trauma atas kejadian yang ia alami di medan perang sebagai oleh-oleh. Kenangan yang tak bisa lepas dari pikirannya. Malahan justru menyebar dan saling mempengaruhi dengan keadaan di sekitar. Serdadu ini, si Willard (Bill Skarsgard memainkannya seperti orang yang kesurupan oleh mimpi buruk), meminta pertolongan Tuhan. Dia membangun altar ibadah sendiri di pepohonan di belakang rumah. Dia ke Gereja dengan rutin bersama istri dan anaknya. Cerita berubah menjadi buruk tatkala ibadah itu tidak lagi menjadi sesuatu yang positif bagi Willard. Berdoa justru membuatnya beralih ke kekerasan. Kekerasan yang ia turunkan kepada putra semata wayangnya, Arvin. Dan dari sini semuanya menyebar. Jalur kekerasan membawa Arvin tumbuh gede, tanpa orangtua. Sampai akhirnya, jalan hidup Arvin (Tom Holland membuktikan aksen dan aksi emosional bukan sandungan baginya) bertemu dengan generasi penuh kekerasan lainnya.

Kau sadar dunia itu sempit ketika polisi yang membantumu menjadi polisi yang memburumu.

 
 
Selain Arvin dengan ayahnya, kita juga akan mengikuti karakter-karakter seperti adik tiri Arvin, ayah si adik tiri, sepasang kekasih yang tampak baik hati tetapi nyatanya adalah pembunuh berantai yang punya modus operandi sinting, dan seorang polisi korup. Diperankan oleh aktor-aktor ternama yang jelas tidak main-main dalam menghidupkan perannya. Film ini tumpah ruah oleh penampilan akting yang memukau dengan merata. Kita gak akan cepat melupakan peran Robert Pattinson, atau Sebastian Stan, atau Riley Keough, bahkan peran kecil Mia Wasikowska pun niscaya akan membekas. Segitu banyaknya karakter dalam film ini. Babak awalnya akan sering membawa kita berpindah-pindah dari satu sudut pandang ke sudut pandang karakter lain. Dari satu periode masa loncat mundur ke periode lain, lalu balik kembali. Menonton film ini seperti sedang membaca novel dan kita membayangkan kejadiannya di kepala. Imajinasi akan kejadian itulah yang kita tonton. Dan ternyata film ini memang diadaptasi dari novel.
Sutradara Antonio Campos mencoba untuk sedapatnya melinearkan alur lewat ritme karakter. Willard dan Arvin dijadikan tubuh utama di sini. Jika pada novel, ceritanya tiap chapter membahas atau memfokuskan pada tokoh yang berbeda-beda, maka dalam film ini perpindahan tokoh tersebut dilakukan dengan langsung, tanpa ada pembatas. Hanya suara narator saja yang menuntut kita melewati ‘halaman per halaman’ cerita. Konsep bercerita ini dilakukan dengan tujuan untuk menguatkan gagasan cerita bahwa kejahatan atau kekerasan itu berputar pada satu siklus. Melibatkan banyak orang di kota kecil tersebut, yang semuanya terhubung oleh sebab yang sama, dan eventually akan saling bertemu.
Setan dalam judul cerita ini bukan merujuk kepada setan supernatural alias hal-hal mistis. Melainkan sebuah simbol. Perjuangan manusia melawan hal yang ia takuti, melawan ‘setan’ di dalam dirinya sendiri. Willard mukulin orang-orang, membunuh anjing kesayangan anaknya, dan kemudian ditemukan bunuh diri. Tindakannya itu bukan karena dia dipengaruhi hantu dari medan perang. Melainkan karena dia menderita begitu banyak sebagai efek dari perang. Kejadian mengerikan yang harus ia lakukan di sana memberikan tekanan kepadanya yang berusaha untuk menjadi ayah yang baik. Lalu ditambah pula oleh istri yang sakit. Hancur-lah dia. Begitu juga dengan karakter lain. Mereka punya masalalu mengerikan masing-masing, dan mereka berjuang untuk meyakini sesuatu sebagai bentuk penguatan diri supaya bisa terus hidup. Mereka mengira mereka lantas menemukan Tuhan, yang merupakan simbol dari keselamatan. Namun nyatanya mereka hanya menciptakan ‘keselamatan’ yang palsu.
Maka dari itu, meskipun film ini menampilkan orang-orang taat – yang kesehariannya dekat dengan agama dan penegak moral lainnya – yang ternyata adalah pelaku kejahatan, tapi agama atau hukum moral itu sendiri tidak pernah terasa dijadikan antagonis. Fokusnya selalu adalah ke si karakter; kita dibuat melihat masing-masing mereka secara personal. Karakter Arvin ditampilkan untuk menyeimbangkan ini semua. Dia tidak bertindak sebagai penganut agama yang taat ataupun punya moral kompas yang lurus. Instead, dia adalah seorang yang benar-benar telah dikacaukan oleh semua kejahatan dan tragedi yang terjadi kepadanya. Ayahnya mengajarkan bahwa kekerasan adalah tindakan yang harus dilakukan untuk membela diri. Dia punya etika dan moral kompas sendiri, yang merupakan produk dari ajaran dan defense mechanism dirinya. Arvin menjadikan kekerasan sebagai solusi. Dan lewat adegan di konfrontasi final serta adegan di ending, film mengisyaratkan kepada kita bakal jadi seperti apa kiranya Arvin dengan ‘kepercayaan’ yang ia yakini ini.

Dan sepertinya memang bukan cuma pistol yang diwariskan ayah kepada Arvin. Kekerasan adalah solusi menurut setiap karakter di film ini. Karena mereka percaya tindakan mereka itu bertujuan demi sesuatu yang lebih baik. Dengan bijaknya, film ini menunjukkan bahwa mempercayai hal seperti itu adalah sebuah bahaya yang besar. Karena kekerasan akan dengan mudah saling berkait, membentuk sebuah lingkaran setan. Sebuah siklus yang bakal terus berulang. 

 

Ketika kau sadar kau lebih baik sebagai vampir ketimbang sebagai pendeta

 
 
Ada dua hal yang kemungkinan besar menonjol terasa saat kita menonton film ini. Bingung. Lalu kemudian miris karena ikutan depress. Dua kombinasi yang niscaya menguras kita setelah menonton. Bingung, karena di awal-awal narasi film ini yang berpindah-pindah memang terasa membebani. Setiap sudut pandang, setiap kejadian, begitu berbobot oleh muatan gagasan dan detil karakter. Sekaligus juga berjalan cepat, sehingga kita gak yakin ini cerita tentang siapa. Sebenarnya film bisa saja menggunakan chapter atau menggunakan konsep bercerita bolak-balik yang seem random serupa ama Pulp Fiction (1994), sehingga setiap sudut pandang punya ruang untuk terflesh out dan kita juga jadi punya waktu untuk meresapi lalu menyusun kepingannya. Tapi jika dilakukan dengan begitu, siklus atau setiap tokoh saling berkait jadi tidak terlalu mencuat. Sehingga film lebih memilih untuk bercerita seperti yang sudah kita saksikan. Dan durasi dua jam lebih itu memang jadi tidak cukup.
Dengan begitu banyak sudut pandang dan runtutan kejadian, film yang harusnya benar-benar hidup – bahkan latar kotanya – menjadi seperti hanya punya satu nada. Cerita membawa kita menerobos kejadian suram ke kejadian suram. Dari satu kematian ke kematian lain. Sehingga film jadi lebih mirip seperti cerita genre. Just story about how people dead. Padahal gagasan dan makna yang dikandungnya jauh lebih besar daripada itu. Cerita ini butuh lebih banyak ruang untuk menggerakkan kehidupan dunia yang sedang ia ceritakan. Sehingga emosi yang kita rasakan pun akan semakin hidup dan terbangun. Enggak cuma berada pada sisi miris. Untuk mencapai itu, kupikir ya mau gak mau film memang kudu membuat struktur berceritanya menjadi lebih baik lagi untuk mencakup semua yang kurang tersebut.
 
 
 
Cerita yang panjang, penuh oleh penampilan akting luar biasa sebagai pelengkap narasi yang kelam tentang bagaimana kekerasan menjadi bagian dari siklus hidup manusia. In a way, film ini memuaskan karena membawa kita ke banyak sudut pandang dan rangkaian runtutan adegan yang diolah dengan ritme yang membuatnya tak perlu banyak eksposisi. Bagian awal dapat menjadi sedikit membingungkan karena seringnya perpindahan karakter yang dilakukan dengan cepat, tapi ketika periode cerita sudah mulai stabil dan tokoh sentral kedua mulai kelihatan, cerita lebih enak untuk diikuti. Namun juga sekaligus film ini terasa kurang. Karena kita hanya akan merasa kelam/depress/suram saja. Dengan karakter banyak dan rentang waktu yang luas, kita seperti dibuat memohon untuk cerita yang lebih hidup lagi. Semuanya dilakukan dengan baik – aku suka gambar-gambar negatif film yang bikin makin ‘seram’ – hanya saja buatku memang beberapa kali film ini terasa seperti kumpulan adegan-adegan ngeri dari beberapa film crime atau thriller. This is truly one horrifying movie, akan tetapi horrifying-nya itu gak benar-benar feel earned.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE DEVIL ALL THE TIME.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Bisakah kita menyetop siklus kekerasan, dengan kekerasan? Bagaimana kalian mengubah situasi lingkaran setan seperti yang dialami oleh Arvin?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

CUTIES Review

“Just let the kids be kids”
 

 
Seruan untuk meng-cancel Netflix September ini santer terdengar sebagai reaksi dari perilisan film Perancis yang berjudul asli Mignonnes ini. Tahun 2020, tahun yang sendirinya sudah ‘bermasalah’ bagi perfilman – karena pandemi yang memaksa semua film cari alternatif bioskop – nyatanya justru penuh oleh film-film kontroversial. Kita punya The Hunt yang dipermasalahkan karena menyinggung golongan politik di negaranya, ada Red Shoes and the Seven Dwarfs yang disuruh turun karena isu body shaming yang diangkatnya, Jojo Rabbit yang menuai protes berkat penggambaran sosok Hitler serta becandaan seputar Nazi dan Yahudi, dan baru-baru ini giliran Mulan versi live-action dari Disney mendapat teguran keras dari berbagai arah; dicecar sebagai munafik yang gagal merepresentasi Cina dan malah mendukung pemerintah yang ‘salah’. Namun dari semua itu, Mignonnes yang diberi judul Cuties oleh Netflix really takes the cake sebagai film paling kontroversial tahun ini. Film tersebut dikutuk oleh banyak orang; Cuties disebut mengkritik dengan malah turut menjadi sesuatu yang ia kritik tersebut. Cuties yang ingin menyentil tentang dunia modern yang cenderung mengobjektifikasi dan mengseksualisasi anak-anak, justru menampilkan seksualisasi anak-anak tersebut!
Cuties adalah cerita tentang Amy, anak cewek sebelas tahun, dari keluarga muslim Senegal yang pindah tinggal di sebuah apartemen di Prancis. Identitas tersebut penting dan dihadirkan bukan hanya sebagai latar, tapi juga berperan dalam karakterisasi Amy. Hidup di lingkungan yang kuat aturan agama dan tradisi membuat Amy merasa janggal ketika ia berada di luar. Teman-temannya di sekolah tidak ada yang pake kerudung, atau bahkan hoodie yang menutup semua kulit di tubuhnya. Amy pengen sekali berteman dengan satu geng cewek yang jago nari. Mengintip mereka dari jauh dijadikan pelarian oleh Amy; pelarian dari tugas mempersiapkan pesta pernikahan ayahnya dengan istri kedua di rumah. Amy mulai meniru geng cewek tersebut, mengenakan baju-baju minim (Amy actually ‘meminjam’ baju adik cowoknya) dan diam-diam berlatih nari. Dari tontonan musik di internet, Amy belajar tarian ‘dewasa’, dan iniah yang membuka jalannya untuk dapat bergabung dengan geng tersebut.

Kalo di-Indonesia-in, judul film ini simply jadi ‘Cabe’.

 
Melihat dari segi ceritanya aja, aku harus bilang, Cuties ini adalah film yang bagus. Journey Amy yang ingin fit in dan tidak dianggap bocah – dia juga bisa dianggap sedikit memberontak –  diceritakan logis dengan sangat kuat. Ini adalah cerita pendewasaan yang sangat relate buat penonton, karena kita tentu antara pernah mengalami ingin dianggap dewasa atau sedang mengalaminya sekarang. Kritikku buat cerita ini hanya soal penggambaran Islam yang masih sebatas gambaran kontras dalam hidup Amy. Untuk membuat karakter Amy yang ingin bebas, cerita butuh untuk menempatkan Amy di antara dua hal; lingkungan yang bebas dan lingkungan yang mengekang. Identitas keluarga Islam yang dimiliki Amy, oleh film ini hanya difungsikan sebagai wujud dari ‘lingkungan yang mengekang’ itu. Tidak dieksplorasi dimensinya lebih jauh. Begitupun juga dengan keluarganya. Amy dibuat cenderung untuk mengantagoniskan keluarga. But maybe, that is the part of the problem. Bahwa anak sulit untuk membuka diri kepada keluarga, dan lebih suka menjauh, sehingga mereka rentan untuk terjerumus, apalagi karena mereka masih polos belum sepenuhnya bisa menimbang mana yang baik dan yang tidak.
Jika benar demikian, maka film ini menggambarkan dengan tepat sebab-dan-akibat masalah yang menimpa anak-anak, khususnya anak perempuan, di dunia modern. Amy dan geng Cuties, dan banyak anak perempuan, di luar sana yang tumbuh terlalu cepat. Figur orangtua bagi mereka diambil alih oleh media, karena di sanalah mereka bisa bebas mengekspresikan diri. Sosial mengkondisikan anak-anak ini harus mengejar tren, supaya tidak kolot seperti orangtua di rumah. Masalahnya adalah, sosial dan media yang jadi pengasuh mereka itu punya penyakit akut yakni gatal untuk mengobjektifikasi wanita. Amy dan anak-anak perempuan ini jadi kebawa-bawa. Melakukan sesuatu yang dilakukan oleh orang dewasa – sesuatu yang bahkan sebenarnya orang dewasa sendiri tidak pantas melakukan itu di ruang publik – tanpa benar-benar ada pemahaman kecuali ya karena mereka ingin dianggap serius dan bukan bocah aja. Tidak ada yang melindungi anak-anak ini. Dunia justru mengeksploitasi. Orangtua tidak tahu karena hubungan mereka renggang. Yang terjadi pada film ini berdering benar ke kehidupan nyata kita. Anak-anak menirukan tarian K-Pop, bermain TikTok dengan joged orang dewasa, tontonan di televisi yang pilihannya cuma cinta-cintaan atau bully-bullyan.
Film Cuties menyugestikan suatu solusi yang menurutku cukup mengerikan, yakni harus si anak itu sendirilah yang sadar dan mengeluarkan dirinya sendiri dari sana dan kembali kepada keluarga. And it is such an impossible task. Amy adalah karakter kuat yang pantasnya dijadikan teladan, tetapi dia ‘hanyalah’ karakter dalam film yang sudah diberikan situasi dan kondisi yang memungkinkannya untuk berubah. Sepertinya inilah kenapa sutradara Maimouna Doucoure memilih untuk menghadirkan film ini dengan begitu kontroversial. Karena ia menyasar kepada para orangtua dan orang dewasa. Seperti dia mau bilang “Begini loh kondisi anak-anak pre-teen kita, mereka dituntut untuk cepat dewasa, lihat tontonan mereka, lihat apa yang mereka tiru. Di mana kita?” Ibarat jika ada bunga yang salah mekar, maka yang harus dibenahi adalah lingkungan tempatnya tumbuh, bukan si bunga itu sendiri.

Ending film ini mengatakan biarkanlah anak-anak menjadi anak-anak. Kitalah yang membuat mereka tumbuh lebih cepat. Padahal biarkanlah mereka tumbuh sebagaimana mestinya. Pake baju biasa daripada dipaksa mengenakan tradisi dan adat. Bermain lompat tali alih-alih menari ala girlband atau artis hiphop di televisi. 

 
Pada beberapa momen, Doucoure memperlihatkan kepada kita bahwa sebenarnya ia mampu menggarap adegan dengan nada surealis. Ketika adegan ending yang seolah Amy terbang, atau adegan ketika Amy menatap gaun pesta yang harus ia kenakan tergantung di lemari, lalu sesuatu terjadi pada gaun tersebut; paralel dengan yang terjadi pada Amy. Dengan melihat itu, adegan-adegan pada film ini yang menyulut kontroversi – seperti tarian erotis anak-anak dengan ngezoom ke bagian-bagian aurat – tentu saja kita anggap Doucoure mampu untuk menampilkannya secara surealis juga. Bahkan besar kemungkinan tarian yang dibuat lebih surealis akan membuat film jadi lebih elegan. Namun Doucoure tetap menampilkannya dengan banal (kalo gak mau dibilang binal), karena ia ingin menekankan kepada perasaan gak nyaman kita dalam menontonnya. Dia ingin membuat kita merasa ingin menghentikan tayangan, karena gagasannya adalah memang supaya kita-kita ya harus menyetop itu semua di dunia nyata juga. Aku bisa melihat bahwa bagi Doucoure menampilkan lebih less daripada yang ia tampilkan di film ini akan mengurangi intensitas dari poin yang ingin ia sampaikan.

Di usia 11 aku masih nonton film kartun anak-anak, sementara Amy and the genk udah bahas bikin anak

 
 
Tapi juga tentu saja kita semua bisa mengerti kenapa bisa ada yang menyebut film ini ‘tontonan gratis bagi pedophilia’. Ada beberapa adegan yang menurutku juga sebenarnya tidak perlu ada dan bisa dibuang atau setidaknya ditampilkan dengan lebih tersirat atau elegan dengan tanpa mengurangi poin utama yang ingin disampaikan. Adegan seperti tokoh anak cewek yang meniup kondom bekas dan kemudian mereka ramai-ramai menggosok lidah si tokoh supaya bersih misalnya, hanya dimainkan sebagai komedi dan tidak benar-benar berkepentingan karena untuk memperlihatkan geng Cuties itu ‘belajar otodidak’ hal dewasa pun sudah ada adegan yang mewakilkannya. Jadi adegan ini sebenarnya tidak perlu lagi. Adegan mereka menari di tangga juga gak perlu untuk direkam seclose up dan selama itu, karena toh kepentingan adegan tersebut sebenarnya untuk memperlihatkan Amy sudah populer sejak dia bertingkah dewasa bersama geng Cuties. Film bisa saja menyampaikan poin ini hanya dengan menampilkan adegan buka sosmed dan melihat akunnya banyak menuai komen atau likes.
So yea, buatku film ini pantas mendapatkan kontroversi seheboh yang ia terima sekarang ini. Karena dengan beberapa adegan yang ditampilkan dengan arahan untuk berjalan di batasan antara kontroversi dan tidak itu, film ini memang jatohnya ada di ranah film-film disturbing. Melihat anak-anak itu menari, disyut dengan treatment sedemikian rupa menonjolkan seksualitas, sama berat dan mengganggu dan gak nyamannya dengan saat melihat adegan motong kura-kura sungai hidup-hidup dalam film Cannibal Holocaust (1980) Dan bagaimana dengan aktor-aktor cilik itu sendiri, aku gak bisa ngebayangin gimana ngedirect mereka untuk beradegan seperti itu.
 
 
 
Ada berbagai cara untuk menyampaikan komentar atau kritik. Yang paling ampuh biasanya adalah dengan komedi. Kita sudah pernah melihat pesan yang mirip disampaikan dengan aman oleh Bad Grandpa (2013) dan Little Miss Sunshine (2006) ketika menyinggung soal beauty pageant untuk bocah-bocah. Atau, kita juga bisa menyampaikan kritik dengan cara yang lebih elegen, dengan tidak terlalu literal. Film debut sutradara Doucoure yang ia sebut berdasarkan pengalaman dan pengakuan asli banyak anak-anak ini memilih untuk bersuara dengan kontroversi. Efeknya boleh jadi langsung terasa dan tepat sasaran. Like, banyak yang protes berarti misi filmnya tercapai (sebaliknya, jika ada yang merasa biasa aja maka itu berarti si penonton ini antara tidak peka atau tidak mengerti cara nonton yang benar), tapi tentu buatku itu semua kembali ke film itu sendiri. Ada banyak perbaikan yang mestinya bisa dilakukan oleh film dalam menampilkan gagasannya. Mempercayakan kepada kontroversi alih-alih kesadaran penonton yang menjadi terbuka saat menonton film yang benar-benar hormat kepada subjeknya, bagiku ya terlalu sensasional dan bukan about si film itu sendiri. Menunjukkan pembuatnya belum sepenuhnya matang dan belum mengeksplorasi dengan maksimal.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for CUTIES.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana pendapat kalian tentang kontroversi film ini? Apakah menurut kalian tayangan seperti music video atau sinetron atau film yang trendi di masa sekarang aman untuk konsumsi anak-anak?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE BABYSITTER: KILLER QUEEN Review

“You will never get over with a crush until you find a new one.”
 

 
 
Ngelupain ‘crush’ atau ‘orang-yang-kita-idolain-ampe-naksir-berat’ itu dapat menjadi hal yang susah untuk dilakukan. Terutama jika ‘pujaan’ kita itu benar-benar dalam kondisi gak mungkin untuk kita dapatkan. Semakin mustahil justru semakin susah. Karena kita penasaran dan tidak mendapat closure terhadap perasaan naksir yang simply tak tersampaikan tersebut.
Tengok saja si Cole. Udah dua tahun. Udah dua film. Tapi dia masih belum bisa melupakan babysitter lamanya yang kece dan keren; Bee. Hubungan yang menarik antara Cole dan Bee memang menjadi salah satu aspek yang bikin kita begitu kepincut sama horor-komedi The Babysitter (2017). Karena bukan hanya sebagai cem ceman, Bee ini udah kayak kakak sekaligus sahabat terbaik bagi Cole. Dan juga, seorang musuh. The Babysitter berubah menjadi horor slasher over-the-top ketika mengungkap bahwa Bee ternyata adalah pemimpin dari klub pemuja setan. Kelompok Bee mengincar darah Cole, si anak polos. Jadi, di samping masih terbayang-bayang sosok Bee, Cole yang sekarang udah SMA juga masih teringat-ingat akan peristiwa mengerikan tersebut. Dia jadi awkard sendiri di sekolah. Orangtua Cole sudah akan mengirimnya ke Psychiatric Academy, jika Cole hari itu tidak kabur ke pantai bersama teman masa kecilnya, Melanie. Namun toh Cole memang tidak gila. Di alam bebas itu, Cole bertemu kembali dengan hantu-hantu dari masa lalunya. Mereka kini bekerja sama dengan geng baru pemuja setan. Dan mereka semua juga belum melupakan soal Cole dan darah innocent Cole yang begitu berharga untuk ritual mereka!

Dan kejar-kejaran konyol itupun dimulai~

 
Aku suka film film pertama; Samara Weaving-nya keren, ceritanya unik, sadisnya fun. Sebagai sebuah sekuel, The Babysitter: Killer Queen ini mempertahankan banyak hal dari film pertamanya. Penonton yang suka dengan gaya gore dan humor lebaynya, sudah pasti akan menggelinjang karena film kali ini menghadirkan lebih banyak ‘tubuh’ yang bakal digunakan untuk eksplorasi kreasi adegan mati yang kocak-kocak. Penonton yang suka dengan gimmick komedi tulisan dan visual akan bernostalgia berat karena film kedua ini menggunakan gimmick yang persis sama. Mulai dari menampilkan judul di opening hingga ke kemunculan momen ‘WTF’ yang dibikin sebagai throwback buat film pertama. Di sekuen finalnya juga; jika film pertama menggunakan lagu We are the Champions, maka di film kedua ini lagu Queen yang dipasang adalah – you guessed it – Kille Queen. So yea, buat penonton yang suka ama sensasi mengenali hal-hal familiar, film ini punya kelebihan pada aspek tersebut. Pemain-pemain yang lama juga semuanya masih lengkap, memainkan karakter mereka terdahulu. Bahkan adegan mati mereka di film ini digambarkan punya kemiripan dengan adegan mati mereka di film sebelumnya. Misalnya, tokoh si Bella Thorne kembali kena tembak di dada dan akhirnya mati dengan kepala yang misah dari badan. Walaupun film terlihat kesusahan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Samara Weaving (karena karakternya mendapat pengurangan durasi yang cukup besar dibanding pada film pertama), elemen horor yang konyol masih dihadirkan dengan level maksimal untuk menyenangkan kita yang semakin hari semakin bosan dan butuh tontonan yang membuat kita sekejap kabur dari realita.
Sayangnya, hal vital satu lagi – selain Samara Weaving – gagal dihadirkan kembali oleh film. Penulis skenario yang menggarap The Babysitter pertama, Brian Duffield, yang notabene bertanggung jawab atas hadirnya penggalian cerita antara Cole dan Bee, yang membuat horor ala home-invasion menjadi menegangkan plus seru dengan ide-ide segar, tidak lagi ambil bagian nulis pada sekuel ini. Duffield hanya terkredit sebagai pencipta karakter. Sebagai gantinya, naskah digarap rombongan oleh sutradara McG bersama tiga kepala lain. Dan hasilnya langsung kelihatan di layar yang kita tonton. Absen sudah narasi yang terstruktur kuat dengan karakter-karakter yang menarik karena bersenang-senang dengan trope karakter dalam genre horor. Kejadian dalam The Babysitter: Killer Queen ini terasa semakin serabutan karena tuntunan dunia atau panggung cerita yang semakin luas, sementara para penulis naskah tidak mampu mengimbangi perluasan tersebut.
Kejar-kejaran itu jadi terasa random. Literally menampilkan tokoh random. Bicara soal gak bisa move on, empat orang di balik naskah ini sepertinya benar-benar memuja para tokoh lama dan gak peduli ama tokoh baru sehingga justru para tokoh lama yang mendapat backstory lebih lengkap. Itupun penceritaannya dilakukan dengan ala kadar dan kayak tempelan. Tokoh-tokoh baru tak sekonyol tokoh lama. Di sini dimunculkan tokoh pendukung mayor baru; seorang cewek pindahan yang punya masa lalu dengan Bee, hanya saja pengkarakteran tokoh ini begitu tipis. Dia baru benar-benar diungkap di akhir, dan sepanjang durasi sebelumnya si cewek ini tak lebih dari device cerita saja.
Hal yang menarik dari tokoh itu adalah, melaluinya dirinya film tampak ingin meng-subvert atau menggulingkan salah satu trope horor klasik. Atau sederhananya, ingin mengubah solusi-klasik dari film horor. Menjadikan solusi itu menjadi lebih cocok dengan keadaan masa-sekarang. Bahasan di paragraf ini bakal jadi spoiler ringan, aku mau ngingetin sedikit sebelum lanjut. Jadi, horor-horor klasik dibuat berdasarkan formula kebaikan menang mengalahkan kejahatan, yang digambarkan seringkali dengan simbol kemurnian lawan sesuatu yang korup. Putih-hitam. Kemurnian di situ berarti keperawanan. Kita acap melihat dalam slasher klasik tokoh yang mati duluan itu ya remaja-remaja binal. Yang dibunuh saat lagi ena-ena. Protagonisnya adalah cewek baik-baik. Kemurniannya bakal mengalahkan corrupt-nya setan. Trope ini pernah ‘ditumbangkan’ oleh Scream (1996) dengan menjadikan Sidney final girl meski gak lagi ‘murni’. The Babysitter: Killer Queen ini seperti menggulingkan apa yang sudah pernah ditumbangkan itu sekali lagi. Di sini setannya mengejar sesuatu yang polos alias murni, dan solusi yang dihadirkan adalah dengan tidak menjadi murni. Justru ketidakmurnian itu yang langsung dijadikan senjata untuk mengalahkan setan. Implikasinya bisa tergantung bacaan masing-masing penonton, dan film tidak ngejudge apapun. Dan kupikir elemen ini tentunya adalah kekuatan dari film ini, jika saja si film ini sendiri tidak terlalu khusyuk menguatkan kekonyolan-kekonyolan dan ceritanya dibuat jauh lebih rapi lagi.
Mungkin The Babysitter dibuat dengan deal ama setan, dan sekuel ini dijadikan tumbal

 
 

Salah satu cara ampuh untuk melupakan ‘crush’ adalah dengan menemukan pujaan yang baru. Cole menemukan ini dan akhirnya mendapat closure. Sayangnya si film sendiri belum, sehingga dirinya jadi terlalu berkubang di film terdahulu dan malah jadi seperti parodi dari film tersebut.

 
Jangankan untuk menyamai film pertamanya, untuk menjadi sebuah tontonan yang menghibur saja film ini tidak lagi mampu. Kekonyolan yang dihadirkan tidak lagi bikin kita senang karena terlalu over. Untuk awal-awal masih bisa ditolerir, namun kemudian semakin menjadi-jadi. Menyeruak ke mana-mana. Lelucon film ini bersandar pada referensi pop culture, dengan rentang yang sungguh luas. Dari polisi yang nyanyi “Ice, ice, baby” hingga ke Joe Exotic dan celetukan soal horor post-Jordan Peele. Untuk komedi dan aksi slashernya, film ini udah menyerempet level ‘edan’, dan edan yang bukan dalam artian positif. Edan, dalam artian kejadiannya terjadi tanpa ada bobot karena begitu random. Semuanya terasa overkill. Dan yang membuatnya semakin parah adalah, kejadian-kejadian tersebut akan jarang sekali terasa fresh. Ada satu sekuen-adegan yang buatku sangat garing. Yakni ketika ada dua tokoh yang berantem; film membuat berantem mereka itu dengan konsep seperti video game. Ada suara “Fight!” dari narator, di sudut atas layar kita kemudian tampil life-bar seperti pada game fighting, dan kedua tokoh tadi berantem pake jurus-jurus. Itu semua terjadi out-of-nowhere. Tampak seperti ingin niru Scott Pilgrim vs. The World, hanya saja dilakukan dengan lebih poor, dan randomnya tidak termaafkan karena tak sesuai degan dunia cerita yang dibangun. Like, kenapa di dunia yang ada cult dan setan, malah nonjolin konsep video game.
 
 
 
Masing-masing penulis tampaknya punya ide dan referensi. Tapi alih-alih berembuk dan menyatukannya menjadi satu konsep yang solid, semua ide dan referensi itu ditampilkan serabutan. Dicampurkan ke dunia dan tokoh-tokoh yang sudah kita kenal. Dan hasilnya ya memang sebuah kekonyolan yang menyerempet ke segala arah. Film ini tidak mampu menulis cerita dan karakter baru yang menyamai, setidaknya, bobot pada film pertama. Film ini tidak mampu menciptakan konsep baru. Film hanya tahu membuat semuanya jadi berskala lebih besar. Sayangnya, itu termasuk kebegoan. Malahan kebegoan itulah yang justru diprioritaskan untuk membesar.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for THE BABYSITTER: KILLER QUEEN

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Who’s your biggest crush ever? Dan bagaimana cara kalian move on darinya, jika bisa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

I’M THINKING OF ENDING THINGS Review

“Living in regret will become your biggest regret.”
 

 
Jika kalian berpikir untuk mengakhiri nonton film ini sekarang – yang berarti mungkin kalian bosan mendengarkan percakapan tak-berkesudahan atau bingung menyelami bacaan puisi; JANGAN! Karena walau karya terbaru Charlie Kaufman ini memanglah sangat kompleks, tetapi ini merupakan tontonan yang berakar kepada emosi yang paling manusiawi dari setiap diri kita. Sehingga film ini bisa jadi teman curhat kita yang paling akrab untuk ngobrolin hal yang paling kita takuti; Eksistensi, cinta, dan waktu.
Awalnya film ini seperti sebuah cerita tentang cewek yang ingin mengakhiri relationship-nya yang buruk. Kita mendengar suara hatinya menarasikan betapa dia dan pacarnya, Jake, udah gak semenarik dulu. Dan bahwa ‘dulu’ di sini aja dia udah lupa pastinya kapan. Si cewek merasa hubungan mereka masih lama padahal masih relatif baru; sebegitu jenuhnya dia dengan hubungannya. Dia bermaksud ingin mengakhiri itu semua, setelah perjalanan terakhir (dan pertama) mereka ini. Jake mengajaknya untuk bertemu dengan kedua orangtua Jake. Kita menonton perjalanan mereka, berkendara dengan mobil sementara salju mulai turun di luar. Kita mendengar bincang-bincang mereka – tentang eksistensi, tentang karya-karya klasik, tentang apapun. Ketika sampai di rumah orangtua Jake, keanehan pada kejadian di film ini sudah tidak bisa kita dianapungkiri lagi. Film semakin bernuansa sureal tatkala ibu dan bapak Jake tampil kadang tua, kadang muda, kadang tua lagi. Dan untuk menambah kerutan di jidat kita, film juga semakin sering meng-cutback ke seorang janitor tua yang sedang sendirian di gedung sekolah. Apa hubungannya si Janitor Tua dengan si tokoh cewek dan Jake?

Strangely, film ini membuatku baper

 
 
Di dunia cerita yang seperti mimpi dengan banyak hal yang berubah-ubah dan tak-pasti, justru si Janitor yang muncul sporadik di duapertiga durasilah yang merupakan paling konstan. Ketika Jake kelihatan seperti memiliki sikap yang berganti-ganti, ketika kedua orangtuanya dapat dengan jelas kita lihat berubah seperti meloncati periode waktu setiap mereka muncul, dan bahkan ketika tokoh utama kita dipanggil dengan nama yang berbeda-beda, si Janitor tetap berada di sekolah. Sendirian. Menonton film atau mengamati siswa-siswi. Pada satu momen, kita melihat si Janitor selesai menonton romance-fiksi karya Robert Zemeckis (Kaufman masukin nama Zemeckis di film ini udah kayak kalo Garin bikin film dan di film itu tokohnya nonton film rekaan yang disutradarai Hanung) tentang seorang waitress dan kemudian pada adegan makan malam di rumah keluarga Jake sesudahnya, si tokoh cewek disebutkan bekerja sebagai waitress. Di momen lain kita melihat percakapan yang didengar si Janitor, di-recite oleh dua tokoh lain pada adegan berikutnya. Hal yang dilihat dan didengar oleh si Janitor somehow memiliki efek terhadap kejadian yang dialami oleh tokoh utama dan Jake. Menonton film ini dengan menyadari hal tersebut, akan membuka pemahaman baru pada kita karena bahwa ini film ternyata tidak untuk dilihat luarnya saja.
Penampilan tokoh-tokohnya bisa dibilang horor, karena begitu unsettling dan random dan sureal. Salut sama permainan akting para aktor, mulai dari Jessie Buckley, Jesse Plemons, Toni Collette, dan ‘Remus Lupin’ David Thewlis. Dari segi fungsinya, I’m Thinking of Ending Things dikatakan sebagai film thriller, tepatnya psikologikal thriller karena benar-benar menghantui kejiwaan kita dengan komentar-komentar soal penyesalan dan kesepian. Film ini persis seperti gambaran yang disebutkan oleh si tokoh cewek ketika mendeskripsikan lukisan pemandangan yang ia buat. Meskipun kita tidak melihat dengan langsung ada orang yang sedih atau orang yang menyesal, tapi gambar yang disajikan menghantarkan semua rasa tersebut. Kita disuruh untuk menyelam langsung ke dalam gambar-gambar untuk merasakannya. Salju yang kemudian membadai di malam hari yang gelap dan jalanan-jalanan yang nyaris kosong adalah penanda oleh film bahwa yang kita saksikan ini adalah lukisan yang menyuarakan perasaan kelam, dingin, dan sebuah kesedihan. Dan meskipun  kita boleh saja baper oleh si cewek dan Jake (personally I miss having deep conversations about movies, existence, human, and space with ‘that someone’), tapi sebenarnya si Janitor Tua-lah yang didesain untuk dekat dan mewakili kita.
Si Janitor Tua ini adalah seorang ultimate observer. Selain nonton film, sudah begitu banyak orang yang ia perhatikan. Murid-murid yang tumbuh silih berganti di sekolah itu; dia mendengar banyak, melihat banyak, namun tidak ada yang memperhatikannya. Ketika cerita mengambil panggung di rumah Jake, kita dibawa bertandang ke kamar Jake sewaktu kecil dan kita melihat banyak koleksi film dan buku. Dan bukan hanya itu, di basement ‘terlarang’ rumah itu – di dalam mesin cucinya, kita melihat pakaian dengan logo yang sama persis dengan logo pada seragam si Janitor. Inilah benang merah tak-terbantahkan dari apa yang sepertinya merupakan dua narasi terpisah. Bahwa Jake, orang yang kepalanya penuh oleh pengetahuan tentang karya film dan sastra klasik, dan Janitor Tua, orang yang bertahun-tahun berada di tengah pusaran beragam siswa beserta pengalaman dan cerita mereka, adalah orang yang sama.
Tentu, kita dapat membayangkan seperti apa psyche orang seperti Jake. Kita sendiri juga banyak menonton film dan membaca dan kemungkinan besar sering memperhatikan perilaku orang lain di internet atau secara langsung. Semua yang kita baca/amati dapat dengan mudah menjadi bagian dari imajinasi atau cerita yang kita susun sendiri. Dan itulah yang sebenarnya terjadi pada film ini. Semuanya adalah figmen dari imajinasi karangan Jake si Janitor Tua. Dia sudah melihat terlalu banyak sehingga dirinya bisa menciptakan/mengarang cerita tentang kehidupannya sesuai dengan yang ia mau. Makanya adegan dengan orangtuanya memperlihatkan sosok yang berubah-ubah usia, karena karena Jake membayangkan mereka (atau kejadian tersebut) dalam timeline yang berbeda-beda. Mengapa seseorang mengarang ulang cerita hidupnya di dalam kepala? certainly kita pasti juga pernah merasa menyesal melakukan langkah salah dalam hidup dan berandai ‘bagaimana jika saat itu aku begini’. Dalam kasus si Jake ini, kita harus mempertanyakan bagaimana bisa orang yang berwawasan luas seperti Jake bisa berakhir jadi tukang sapu aula? Nah, di sinilah letak penyesalan tersebut.
Penyesalan dapat menghantui hidup kita dalam berbagai rupa. Kita bisa menyesali perbuatan yang telah dilakukan atau menyesali keputusan yang dibuat. Rasa sesal itu juga bisa datang dari sesuatu yang urung kita lakukan, dari kesempatan yang tidak kita ambil. Kita juga menyesal akan sesuatu bagian dalam hidup kita yang sudah usai. Dan terakhir sesal itu datang dengan sangat pahit saat kita rasa dunia ternyata tak seindah yang kita bayangkan. Mengemban keempat jenis penyesalan ini akan membuat hidup sengsara, seperti yang dialami oleh Jake. Dari kejadian di film ini – kejadian karangan Jake tentang sebagaimana mestinya hidupnya – kita bisa menyimpulkan Jake menyesal tidak pernah berani untuk punya pacar, menyesal belum bisa membahagiakan orangtua, menyesal gagal secara karir, dan dia jadi bitter terhadap dunia yang mengacuhkannya.

Jake tidak menyadari ada sesal kelima; yakni hidup bergelimang penyesalan tersebut. Alih-alih memperbaiki hidup, dia malah mengarang cerita dalam kepalanya. Cerita yang sama seperti jalanan bersalju itu. Sempit, dan tak membawa hidupnya ke mana-mana. 

 

Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna

 
Dengan keunikan bahwa ternyata tokoh utama kita adalah bagian dari imajinasi alias seseorang yang tidak nyata, maka dapat dimaklumi jika ada dari kita yang merasa terkecoh oleh film ini. Kirain film tentang bad relationship ternyata film tentang cowok yang gak bisa move on dan kesepian seumur hidup. Things yang ingin diakhiri itu ternyata bukan hubungan pacaran, melainkan sesuatu yang lebih kelam lagi, tergantung dari interpretasi kita. Kaufman sepertinya memang ingin mendobrak struktur tradisional film, tapi tetap saja sineas sekaliber dirinya (mungkin secara tidak sadar) tidak tega merusak kaidah film. Tokoh si cewek diberikannya keinginan dan kendali atas diri. Tokoh ini seperti konsep yang lebih kuat daripada karakter di The Lego Movie (2014) – film itu sangat menarik membuat tokoh utama yang beraksi dan punya free will padahal ternyata mereka tetap saja dimainkan oleh orang lain. Bedanya adalah si cewek ini didesain Kaufman bergerak dengan kemauan sendiri yang merupakan refleksi dari sisi lain Jake. Konsep ini menguatkan konteks dengan sangat hebat. Karena sekarang yang kita lihat sebenarnya itu adalah Jake mengobrol sendiri di dalam kepalanya. Tempat yang seharusnya dia jadi bintang utama – kita melihat dia sampai membayangkan dirinya mendapat award di akhir cerita – tetapi dia tetap ‘dikalahkan’ oleh si cewek; yang notabene adalah tokoh imajinasinya.
Ini mungkin adalah gambaran konflik personal terhebat yang pernah kita lihat di dalam medium film. Kontemplasi karakter benar-benar dimekarkan menjadi fantasi sureal yang tak menye tapi begitu kuat menghantarkan kita ke dalam dinginnya perasaan sedih. Karakter yang ‘kalah’ dengan kepalanya sendiri, menandakan akhirnya dia menemukan kedamaian dan melepaskan sesalnya (walaupun sesaat). Kalo disangka terlalu rumit membayangkan si cewek dan Jake sebenarnya adalah Jake yang berdebat dirinya sendiri yang melihat dari sisi lain, bayangkan saja adegan ketika cewek dan Jake membahas film, namun si cewek bahasannya lebih ‘benar’ ketimbang Jake. Ini kayak kita mau nulis tapi ternyata hasil di dalam kepala jauh lebih bagus ketimbang hasil beneran haha..
 
 
 
So yea, aku gak akan bahas film ini poin demi poin, maksud per maksud, simbol ke simbol. Sebagian karena sutradaranya udah keburu buka kartu. Namun sebagian besar karena menurutku film ini adalah bincang-bincang yang perlu untuk ditonton langsung oleh kalian. Karena film ini sebenarnya bukan soal apa yang sebenarnya terjadi, melainkan perasaan apa yang dihantarkan olehnya. Dan Kaufman, di balik sureal dan teka-teki dan puisi dan reference ke berbagai film, berhasil. Di menit tokohnya mulai ngobrol dengan pikirannya saja, aku sudah tertarik, dan lantas baper saat tokohnya ngobrol berdua. Jadi aku penasaran, rasa apa yang mungkin muncul dari penonton-penonton lain. Struktur naskah bisa jadi memang diabaikan oleh pembuat yang lebih tertarik pada konstruksi visual film adaptasi ini (ratio 4:3 digunakan supaya perhatian kita lebih terfokus), tapi masih bisa ‘worked’ karena sangat efektif dan konsisten dengan konteks gagasan yang ingin disampaikan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for I’M THINKING OF ENDING THINGS.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Salah satu dialog dalam film menyebut bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang sadar dirinya akan mati, sehingga manusia menciptakan harapan. Tapi dengan berharap, kita jadi bisa kecewa. Dan kemudian memilih untuk mengakhir semuanya sekarang. Bagaimana pendapat kalian tentang harapan dan penyesalan itu sendiri? Bagaimana kalian cope up dengan perasaan menyesal? Bisakah kita hidup tanpa ada rasa menyesal?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA