CINTA ITU BUTA Review

“Ugliness is just a failure of seeing”
 

 
Kita tahu sedang jatuh cinta pada seseorang jika pembawaan kita lebih ceria, wajah kita berseri-seri, ketika bertemu dengan orang tersebut. Namun bagaimana jika kita tidak bisa melihat? Dari mana kita tahu cinta itu hadir? Gampang, rasakan dengan hati. Yang susah adalah, cara merasakannya. Kayak Diah di Cinta itu Buta. Cewek pemandu wisata ini harus kehilangan penglihatannya dulu sebelum dapat merasakan tulusnya cinta dari orang yang tak pernah dia ‘ngeh’ sebelumnya.
Oleh sutradara Rachmania Arunita, cerita Cinta itu Buta dibuat tidak banyak berbeda dengan film berjudul Kita Kita (2017). Menurut IMDB memang Cinta itu Buta dibuat berdasarkan rom-com asal Filipina yang digarap oleh Sigrid Andrea Bernardo, in fact Bernardo mendapat kredit penulis di sini sebagai original story. Film Cinta itu Buta tidak mengubah banyak pada naskah, selain latar yang disesuaikan.
Korea diambil sebagai panggung cerita. Alur ceritanya cukup sederhana. Strukturnya terbagi jelas. Pada babak set up kita akan melihat Diah hidup berbahagia di Korea, sampai dia dikhianati oleh tunangannya. Dia actually melihat dengan mata kepalanya sendiri sang tunangan ngedate manja ama wanita lain. Diah terpukul. Dan entah karena kebanyakan minum, atau karena shock dan stress berlebih, pandangannya mengabur dan ia pun buta untuk sementara (alias untuk waktu yang ditentukan oleh naskah). Saat tergelap dan terhopeless dalam hidupnya itulah, seorang pria tak dikenal muncul dalam hidupnya. Membawakannya makanan setiap pagi. Membangunkannya bagai alarm paling cempreng. Babak kedua kita melihat bibit cinta Diah mulai muncul kepada Nik yang tak kenal lelah hadir menghiburnya. Dan sesuai dengan gagasan yang diusung, film mengakhiri babak ini dengan pertanyaan apakah Diah masih tetap akan cinta setelah melihat seperti apa rupa – siapa – Nik sesungguhnya. Apakah hanya kecantikan Diah semata yang membuat Nik mendekatinya?

cinta itu batu

 
Daya tarik film ini terletak pada pasangan yang menjadi sentral cerita. Diah dan Nik. Cewek cantik dan cowok bertampang pas-pasan; kalau jelek dianggap terlalu merendahkan. Unlikely couple yang membuat kita hampir langsung menginginkan mereka bersatu. Film lalu membuat sang cewek tak bisa melihat sehingga cerita terasa semakin grounded. Karena mungkin memang hanya itulah satu-satunya keadaan yang memungkinkan cowok jelek bisa jalan bareng cewek cantik. Yang memungkinkan cowok bisa mendekat tanpa dicurigai tukang kuntit atau langsung diteriakin Pervert!” Elemen cerita ini sebenarnya unik bukan karena fresh ataupun berani. Charlie Chaplin sudah melakukannya di City Lights (1931) – di film tersebut Chaplin memainkan tokoh pria konyol pas-pasan yang jatuh cinta sama cewek yang buta; dia hanya berani mendekati sang cewek karena tau cewek itu tak bisa melihat siapa dirinya sebenarnya. Nik dalam Cinta itu Buta juga digambarkan insecure dengan rupa dirinya sehingga dia ‘takut’ mata Diah normal kembali. Cerita semacam ini unik, berbeda dari komedi romantis-perfect kebanyakan, karena terasa kuat menggambarkan kita semua. Baik Chaplin maupun Nik, mereka enggak ganteng. Tampang mereka lebih cocok sebagai wajah komedi dibandingkan wajah romansa. Tapi mereka itu mewakili kita manusia biasa. Kita yang selalu menganggap diri kita tak-sempurna. Mereka merepresentasikan perjuangan meraih impian, mendapatkan pasangan yang menghargai mereka bukan dari tampang atau kekayaan melainkan their true self.

Jika kita melihat sesuatu yang jelek, tutup mata, dan lihatlah lebih dalam. Film ini menunjukkan kepada kita terkadang kita perlu kehilangan sesuatu untuk dapat merasakan lebih baik. Dan juga sama pentingnya bagi kita untuk terus menebar kebaikan. Karena jeleknya paras hanya sebatas pandang. Paras dan pandang itulah limitasi yang harus kita perluas dengan hati.

 
Interaksi antara Diah dan Nik menjadi penopang utama keberhasilan cerita. Karena narasi akan dengan cepat menjadi membosankan, terutama di babak kedua. Kita tidak melihat banyak hal selain Nika yang datang, melucu, dan kemudian mereka berdua jalan-jalan. Cinta itu Buta memasangkan Shandy Aulia dan Dodit Mulyanto. Aku tidak bisa memastikan dialog di antara kedua tokoh adalah  dialog khusus yang ditulis film ini atau improvisasi dari kedua pemain. Namun yang jelas, Shandy dan Dodit tampak cukup bersenang-senang dengan peran mereka. Diah dan Nik tampak cukup menikmati keberadaan masing-masing. Gaya melucu Dodit pas dengan tuntutan karakter Nik, dia akan menggoda dan merayu Diah – seringkali membuat penonton tergelak geli melihat tingkahnya. Disambut oleh Shandy Aulia yang sudah terbiasa memainkan gestur cewek manja. Menghasilkan pasangan yang cute dan mengundang tawa.
Tentu saja tak berarti kerjaan sutradara lantas menjadi gampang; tinggal tarok kamera dan meniru film aslinya. Latar tempat harus dimanfaatkan dengan benar sehingga kita tidak lagi bertanya kenapa mesti Korea; digunakan untuk mengontraskan persepsi kekinian kiblat kinclongan universal dengan sesuatu yang lebih merakyat. Pengadeganan juga harus dipikirkan maksimal supaya film tidak terkesan malas dan sekadar meniru tanpa melakukan banyak kreasi. Tapi jikapun memang thok meniru, Cinta itu Buta setidaknya berhasil menyadur tanpa meninggalkan rasa. Pengungkapan di bagian akhir tidak jatuh sebagai kejutan yang ujug-ujug ataupun mengecoh. Melainkan tetap berjalan dalam konteks Diah tidak melihat Nik karena dia belum punya rasa. Seluruh film dilihat dari sudut pandang Diah, dan di sepanjang adegan sebelum pengungkapan kita benar-benar melihat ada Nik di sana tapi tidak tampak penting dan di-overlook. Film mengaburkan dimensi waktu untuk memuluskan penceritaan – menampilkan tanpa membuat kita menyadari apa yang ditampilkan – sehingga semuanya tampak make sense dan enggak maksa di akhir pengungkapan. Akan tetapi, pengaburan waktu tersebut seharusnya bisa dibuat dengan lebih baik lagi, dengan memasukkan lebih banyak penanda waktu  – bukan sekedar kemunculan figur penting – sehingga tidak menyisakan banyak ruang bagi penonton untuk kebingungan.
Keberhasilan cerita semacam itu bergantung kepada pemikiran penonton tentang jeleknya rupa seseorang. I mean, kita harus benar-benar melihat Nik sebagai orang jelek supaya pesannya dapet. Di sinilah salah satu letak trickynya; karena film tidak boleh sedangkal mengasumsikan semua penonton bakal menganggap Nik jelek. Karena ukuran ganteng itu juga bisa diperdebatkan. Bisa saja memang ada penonton cewek yang nonton film ini karena suka sama Dodit. Makanya film ini lantas mengambil langkah komedi yang sebagian besar disandarkan kepada ‘jijik’nya tingkah laku Nik, alih-alih menyoroti fisiknya. Nik juga dibuat mabuk di awal. Jadi tantangannya adalah membuat karakter yang lumayan repulsif untuk ditonton tanpa merendahkan si karakter tadi. Dia juga diberikan backstory yang humanis. Cinta itu Buta berhasil menyadur elemen yang membuat Kita Kita menjadi film terhits Filipina tahun 2017 yang lalu; keseimbangan antara humor, romansa, yang tidak terjebak sepenuhnya pada gambaran fisik.

cantik itu relatif, jelek itu universal.

 
Elemen buta digunakan bukan untuk semata ‘menghukum’ wanita sebagai pihak yang paling judgmental, melainkan justru untuk membuat set up cerita menjadi lebih mungkin-untuk-terjadi. Buta di sini dijadikan karakter, penilaian tokoh Diah ditanamkan di awal bergantung pada matanya. Konflik yang diusung adalah ‘jika dia bisa mencintai apa yang ia lihat, apakah itu berarti dia tidak bisa mencintai yang tidak ia lihat’. Jadi cerita ini bukan soal judgmental, melainkan lebih ke pemahaman untuk benar-benar mengenali perasaan.
Meski begitu, Kita Kita memang justru mendapat kritikan dari cara film itu memasukkan elemen kebutaan. Inilah yang seharusnya diperbaiki oleh Cinta itu Buta, karena film ini punya kesempatan untuk membuat cerita ini menjadi lebih baik. Tapi film ini tidak melakukan hal tersebut, dia cukup puas hanya sebatas meniru saja. Elemen buta sementara yang terjadi dan sembuh kapan saja sesuai kebutuhan naskah terasa sangat sinetron dan tidak benar-benar ada penjelasan alias sekenanya. Kita diharapkan untuk memaklumkan. Ini tak ubahnya trope usang amnesia di film-film; tokoh kepentok kepalanya dan mendadak hilang ingatan lalu butuh diketok lagi kepalanya supaya ingatannya kembali. Sekonyol itu. Cinta itu Buta seharusnya merancang kebutaan itu dengan lebih berbobot lagi. Menghasilkan cerita yang enggak beat-to-beat sama secara keseluruhan.  Penonton yang sudah nonton Kita Kita, akan merasa dua kali lebih bosan, terlebih jika mereka juga tidak begitu tertarik sama latar Korea. Film harusnya melakukan inovasi lebih banyak pada departemen cerita dan penceritaan.
 
 
 
Hangat, lucu, dan terasa segar meskipun sebenarnya bukan cerita yang benar-benar unik. Elemen spesial film ini sudah pernah dilakukan oleh banyak film sebelumnya. Maka film ini mengandalkan kepada interaksi pemain; yang dipasangkan dengan cukup nekat. Mereka berhasil tampak cute bersama, tapi ketika sendiri-sendiri terasa sedikit ketimpangan. Karena Dodit belum lagi bermain sebagai benar-benar aktor. Film ini nampak stay true dengan film originalnya. Akan mengajarkan kita cara untuk merasakan cinta lebih banyak di dunia. Sutradara seharusnya punya kata atau visi versi dirinya terhadap ini, memasukkannya ke dalam cerita, melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang ada pada sumber. Tapi sepertinya film ini turn a blind eye dan dibuat untuk meniru saja yang sudah ada.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for CINTA ITU BUTA.

 

MIDSOMMAR Review

“Empathy is the most essential quality of civilization”

 

 

Ini baru film horor panjang kedua Ari Aster, tapi Midsommar udah sukses menjadi film-yang-paling-banyak-dirikues-reviewnya sepanjang blog ini berdiri. Jangankan sebelum tayang di bioskop Indonesia, sewaktu naskahnya bocor di internet saja aku sudah ‘dirongrong’ untuk membaca dan memberikan penilaian. Well, of course aku sebenarnya juga menggelinjang nungguin film yang sempat hampir batal tayang di bioskop sini ini. Hereditary adalah film terbaik terfavoritku tahun 2018. Dalam film tersebut Aster menunjukkan kekuatannya menghimpun horor dari drama manusiawi. Mengetahui itu semua, aku tahu bisa mengharapkan apa kepada Midsommar, dan aku menantinya dengan sabar. Aku ingin sekali karya Ari Aster ini jadi film terbaik lagi.

Setelah aku selesai menonton Midsommar, aku merasa sangat resah. Oleh adegan-adegan. Oleh karakter. Oleh penceritaan. Oleh ceritanya. Drama kejiwaan manusia mengakar dengan kuat. Film benar-benar meluangkan waktu untuk itu. Judulnya mengacu kepada festival musim panas yang dikunjungi oleh tokoh film, akan tetapi cerita belum akan membawa kita ke sana; tidak hingga sampai babak kedua. Untuk seluruh babak pertama kita benar-benar dipahamkan dulu kepada situasi Dani si tokoh utama. Hubungan asmara cewek ini lagi di ujung tanduk. Karena Dani orangnya panikan, secara emosional dia butuh didukung setiap saat. Dan sikap Dani terkait hal tersebut mulai terasa mengganggu bagi cowoknya yang merasa keseret-seret dalam drama wanita. Jika bukan karena hal yang ditakutkan Dani menjadi kenyataan, pastilah mereka berdua sudah putus. Namun duka Dani membuat mereka tetap melanjutkan hubungan. Di sinilah film menggambarkan toxicnya hubungan Dani dan Christian. Akan lebih baik mereka putus saja. Tapi Dani butuh sandaran emosional, dan Christian enggak sampai hati mutusin cewek yang sedang berkabung (emangnya siapa yang tega?). Arti ‘Enggak sampai hati’ di sini menjadi mendua karena memang begitulah sikap Christian kepada Dani seterusnya; tidak sepenuh hati dia jadi sandaran. Christian dan teman-temannya enggak setulus hati menenangkan mental Dani. Mereka enggak sepenuhnya senang tatkala Dani memutuskan untuk ikut ke festival musim panas di alam pedesaan Swedia

I used to did that too

 

Midsommar menggunakan visual untuk menggambarkan sekaligus mengontraskan gejolak di dalam karakter Dani. Tampilan film ini sangat benderang dan meriah ketika sudah sampai di desa komunitas tempat kejadian perkara nantinya. Akan sulit menerkanya sebagai film horor hanya dengan melihat warna dan segala keindahan yang terpampang. If anything, kejadiannya seperti berada di dalam dunia mimpi berkat cahaya dan warna yang natural tapi tak terasa begitu-natural. Namun semua itu akan cepat berubah menjadi mimpi buruk karena justru pada saat di festival itulah kejadian-kejadian berdarah yang bisa bikin mual film ini terjadi. Ada sesuatu yang aneh pada tempat yang penuh suka ria dengan banyak obat-obatan untuk rekreasi tersebut. Sampai ke titik yang membuat tradisi dan upacara mereka tidak bisa lagi dianggap seenteng perbedaan budaya semata. Jika kalian menonton film ini untuk melihat kepiawaian teknik dan efek gore – yang jadi nilai jual lebih film – maka kalian akan kesal menontonnya di bioskop Indonesia yang banyak penyensoran.

Untungnya, bukan sebatas kesadisan dan kevulgaran yang dilakukan dengan hebat oleh film ini. Melainkan inti dan hati ceritanya. Tentang toxic relationship dan pentingnya untuk merasakan empati dalam menjalin hubungan tadilah yang dijadikan kemudi utama penggerak cerita. Naskah film ini tidak berkembang demi menjawab pertanyaan seputar membasmi ritual atau mengungkap misteri pemujaan dan sekte di balik festival. Bagian itu justru elemen terlemah pada film karena tidak memuat hal yang benar-benar baru. Banyak kejadian berkaitan dengan ritual atau sekte yang mengingatkan kita pada film lain. Horor klasik asal Inggris The Wicker Man (1973) akan menjadi hal pertama yang terlintas ketika menyaksikan film ini. Midsommar secara fokus membahas soal membuka diri terhadap hubungan baru yang lebih sehat yang disimbolkan dengan sangat ekstrim. Pertanyaan yang dijadikan plot poin naskah adalah apakah Dani bakal mempertahankan hubungan dengan Christian, dan ultimately apakah Dani akan menganggap pacarnya tersebut sebagai keluarga. Lihat saja cara gendeng film ini menyimbolkan tindak membakar barang-barang dari mantan.

Sebagai manusia, kita paling enggak mau merasa sendirian. Apalagi jika dalam kesedihan. Kita butuh orang untuk diajak berbagi. Ini di satu sisi menyebakan menjalin hubungan itu cukup tricky. Kita enggak bisa begitu saja membagi semua hal kepada orang lain tanpa membuat mereka merasa dituntut dan diseret ke dalam hal negatif. Kuncinya adalah pada pemahaman dan empati.

 

Tokoh Dani ditulis dengan sangat melingker sehingga kita paham apa yang ia inginkan dan apa yang ia butuhkan. Keluarga. Pihak untuk mendengarkan dan berbagi perasaan dengannya. Sepanjang film dia harus menyadari dan melihat mana yang pantas untuk ia anggap sebagai keluarga. Naskah menuliskan ini semua dengan jelas lewat dialog dan bukti-bukti visual. Christian yang memeluknya dalam diam di bagian awal dikontraskan dengan penduduk komunitas yang mengikuti irama tangisan Dani di menjelang akhir film. Tadinya tidak ada teman yang ikut berduka dengan dirinya. Dani sendirian, terpisah secara emosi dari kelompoknya. Salah satu hal paling mengganggu yang diangkat oleh film ini adalah betapa orang-orang desa yang udah kayak orang gila itu justru lebih punya empati ketimbang geng Christian yang terpelajar. Para penduduk desa ikutan mengerang kesakitan ketika ada tetua mereka yang sakaratul maut ketika ‘gagal’ bunuh diri dalam sebuah upacara adat.  Para wanita di komunitas ikut menangis bersama Dina. Merekalah yang sebenarnya dicari oleh Dani. Bagi Dina, bukan masalah lagi perkara mereka-mereka itu sinting atau bukan. Yang jelas sekarang dia sudah bisa berbagi bukan hanya kesedihan dan duka, melainkan juga kebahagiaan dan suka cita. Ia tak lagi merasa terkucilkan.

Dunia Terbalik

 

Film mencapai puncaknya ketika mengeksplorasi hubungan antara Dani dan Christian. Penampilan Florence Pugh sebagai Dani menjadi salah satu kunci utama keberhasilan ini. Tadinya aku sudah cukup respek sama aktor ini, karena dia kelihatan sangat total bermain sebagai pegulat di Fighting with My Family (2019). Namun di Midsommar, dia bermain jauh lebih total lagi. Secara emosional, tentu saja. Ari Aster berhasil lagi menarik yang terbaik dari pemainnya, seperti yang ia lakukan sebelumnya pada Toni Collette di Hereditary. Kedua penampilan ini pantas untuk diganjar Oscar, meskipun memang sepertinya peran horor sulit untuk diloloskan.

Ketika kita melongok ke luar dari masalah Dani, begitu kita ingin merasakan dunia cerita secara utuh, film mulai terasa melemah. Karakter-karakter yang lain terasa sempit dimensinya. Jika pun ada ruang, seperti karakter salah satu teman Dani yang bernama Pelle, maka itu digunakan sebagai twist alias ada sesuatu yang ditutupi. Cerita fish-out-of-water sekelompok remaja hidup dalam lingkungan dengan peraturan yang menurut mereka ajaib tak pernah tampak benar-benar menantang karena ada beberapa kali kita harus menahan ketidakpercayaan lantaran mereka seperti tak pernah curiga melihat gelagat yang enggak-enggak. Seperti, film bisa saja berakhir jika semua pendatang di komunitas itu sepakat untuk pergi. Tapi tidak, film membuat mereka ‘terpisah’ dan tidak bergerak seperti manusia sungguhan. Melainkan sebuah bidak pada naskah.

Soal tragedi pada keluarga Dani di awal hadir dengan terlalu kompleks untuk tujuan melandaskan betapa sendirinya Dani bersama pikiran dan perasaannya. Film seolah mengisyaratkan peristiwa tragedi itu bakal balik dan berhubungan ke akhir cerita, tapi ternyata tidak. Mungkin ada petunjuk visual yang kulewatkan, entahlah, tapi aku merasa peristiwa tersebut seperti ditinggalkan begitu tujuannya sudah tercapai. Yang membuat penggambaran kejadiannya jadi terasa eksesif. Meski memang sekalian digunakan untuk melandaskan genre – sejauh mana film menampilkan adegan kematian – tapi aku tetap merasa mestinya ada cara yang lebih bisa klop merangkai kejadian sehingga tidak terkesan terlalu eksploitatif (terhadap genrenya sendiri).

 

 

 

Jadi itulah sebabnya aku merasa resah setelah menonton ini. Dari teknis kamera, editing, penampilan, visual, efek – ini benar-benar film juara. Gagasannya pun bikin merinding. Tidak peduli seperti apa keluargamu, yang penting kita bisa merasa menjadi bagian – dilihat, didengar, dimengerti – mereka. Namun juga aku merasa film ini tidak se-wah Hereditary. Ada elemen pada cerita dan penceritaannya yang terlalu dibuat untuk memenuhi standar pada genrenya. Sehingga jadi gimmicky. Selain itu, beberapa bagian mestinya bisa dipercepat temponya, karena ada yang tidak terlalu signifikan untuk menambah bobot cerita seperti adegan mereka getting high together. Catatan penting untuk yang mau nonton adalah ini film yang berpotensi besar untuk mengganggu dan bikin gak nyaman, meskipun memang lebih berhumor ketimbang Hereditary.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MIDSOMMAR.

AD ASTRA Review

“In space, no one can hear you cry”

 

 

Diartikan “Ke bintang”, Ad Astra pantas kita sebut sebagai film road fantasi yang sangat filosofis. Elemen-elemen road-trip dapat kita jumpai dalam film ini, hanya dengan skala yang sangat besar (skala jutaan tahun cahaya!). Tujuan tokoh film ini bukan sebatas suatu kota atau tempat yang jauh. Melainkan luar angkasa; ke planet terjauh yang sanggup dicapai oleh manusia. Tapi selayaknya cerita-cerita road-trip, ini adalah cerita pencarian melihat ke dalam diri. Semakin jauh kita mencari, akan semakin dalam kita menyelami personal. Karena perjalanan bukan soal tujuan, melainkan tentang proses berjalan itu sendiri.

Yang dicari oleh astronot paling macho dari Amerika bernama Roy ini adalah kebenaran soal ayahnya. Ayah yang telah lebih dulu menjadi astronot terhebat dan sudah lama menghilang dalam salah satu misi mencari keberadaan alien pintar demi kesejahteraan manusia. Bagi Roy, however, si ayah sudah ‘menghilang’ semenjak ia masih kecil; masih bukan apa-apa. Dalam salah satu musibah di perbatasan orbit, Roy mengetahui sang ayah ternyata masih hidup di suatu tempat di planet Neptunus. Dicurigai ayah Roy-lah yang bertanggungjawab atas peristiwa surge medan listrik yang mengacaukan teknologi hingga ke Bumi. Jadi Roy menerima misi ini. Sepertinya hanya Roy yang bisa berkomunikasi dengan ayahnya – dan kita tahu Roy punya banyak pertanyaan personal untuk sang ayah terkait hubungan mereka dan dirinya sendiri.

Kulari ke Kawah Bulan

 

Bukan perkara mudah yang dihadapi oleh sutradara James Gray dalam menangani cerita sci-fi luar angkasa yang epik digabung dengan cerita tokoh yang amat personal semacam ini. But he did it, Ad Astra is a really well-made movie. Visualnya terlihat menakjubkan, seolah kita benar-benar berada di luar angkasa. Menyaksikan bola biru dari atas sana lewat film ini membuatku merasa semakin menyesal dulu enggak mengejar cita-cita jadi astronot. Elemen fantasi dikeluarkan lewat gambaran film ini tentang masa depan manusia. Menyenangkan – dan memberi harapan at some degree – menyaksikan bulan sudah menjadi tempat tujuan wisata umat manusia. Salah satu set piece yang paling seru di film ini adalah keadaan di bulan, lengkap dengan toko-toko sehingga sudah seperti mall. Sementara film juga memberikan informasi bahwa ada tempat di bulan yang tidak bisa dieksplorasi karena kita hanya melihat satu sisi bulan saja pada kenyataannya. Pembangunan seperti ini yang membuat dunia Ad Astra tampak realistis meskipun ceritanya lebih mudah untuk kita percaya sebagai visualisasi isi kepala dan kontemplasi hati tokoh utamanya.

Musik film ini pun terasa begitu menyentuh. Dengungan angkasa, bunyi-bunyi teknologi, menguatkan atmosfer begitu kecil dan sendirinya seorang manusia di alam semesta. Dalam sense ini, aku merasa film ini berhasil membuat diriku membenci – bahkan takut – dengan luar angkasa. Space adalah sesuatu yang selama ini jadi sumber fantasi geek kita, dan Gray membuat planet-planet dan galaksi menjadi tempat yang suram. Karena begitulah yang dirasakan oleh tokoh utama. Dan film dengan suksesnya mengedepankan sudut pandang si Roy ini dengan konstan. Kita hanya melihat yang ia lihat. Kita merasakan apa yang ia rasa. Penampilan Brad Pitt sebagai Roy membungkus semua elemen – visual, penokohan – yang dihadirkan oleh film dan menghidupkannya sehingga kita terus menyaksikan film ini. Sesekali menguap mungkin, karena tempo cerita yang lambat. Namun kita akan susah untuk berpaling karena gaya tarik penampilan Pitt dan indahnya gambar bergerak itu terasa lebih kuat daripada gaya tarik bumi yang menyuruh kepala kita untuk nunduk dan tidur. I don;’t know, Pitt boleh jadi dapat dobel nominasi di Oscar tahun depan untuk perannya di film ini dan di Once Upon a Time… in Hollywood (2019)

Inti cerita ini terletak pada psikologi karakter si Roy. Dia yang seperti menutup diri demi pekerjaannya bertindak sebagai telaah soal maskulinitas yang disampaikan oleh gagasan film. Kita mendengar Roy bergumam bahwa senyum dan tawa hanya sekedar saja sebagai pelengkap sempurnanya sandiwara. Eh sori, itu lirik lagu Pance kecampur. Tapi memang, kurang lebih sama seperti begitu deh yang diucapkan Roy. Penting bagi Roy untuk menampilkan persona luar yang keren karena dia adalah astronot hebat.’Mitologi’ seorang Roy adalah denyut jantungnya selalu stabil di angka rendah, apapun kondisi yang sedang terjadi padanya. Roy harus hebat karena dia adalah anak bapaknya – yang juga seorang astronot hebat. Roy yang ditinggalkan oleh ayah yang ia idolakan sangat ingin mengejar jejak sang ayah, sehingga secara tak sadar ia telah menjadi ayahnya. Jauh dari setiap orang di Bumi yang cinta kepadanya. Semakin Roy terbang jauh di atas sana, perasaan kesepian Roy ini semakin besar. Kita melihat dia tak pernah sepenuhnya konek dengan orang-orang yang ia temui dalam perjalanan ke Neptunus. Film lokal Pretty Boys (2019) yang tayang di minggu yang sama dengan film ini, juga membahas soal anak laki-laki yang pengen membuktikan sesuatu kepada ayahnya, dan dia tak sadar sudah menjadi seperti ayahnya. Kalian mungkin ingin menonton film tersebut untuk membandingkan pendekatan yang dilakukan oleh kedua film ini terhadap tokoh seperti demikian – terutama karena genre yang berbeda, yang satu diceritakan lebih ke komedi yang ringan, sedangkan film yang ini lebih ‘berat’ dan penuh filosofi.

Manusia membuat kesalahan. Manusia adalah makhluk tak sempurna yang kadang rakus, tamak, ataupun bisa takut. Perjalanan Roy ke planet nun jauh membawanya semakin dekat dengan sang ayah dalam sense Roy haruslah menjadi astronot sempurna untuk bisa sampai ke sana. Tapi di balik itu, dia juga semakin menemukan rasa kemanusiaan yang selama ini jauh darinya. Dan saat dia melimpah oleh semua itu, Roy menyadari dia sendirian. Tidak ada yang mendengar tangisnya, karena dia jauh – di Neptunus dan di hati orang-orang. Itulah yang menjadi momen pembelajaran bagi Roy. Dia tak lagi mencari jalan keluar. Melainkan jalan pulang ke Bumi, kembali kepada orang-orang tak-sempurna yang mencintainya.

 

While pertemuan dengan ayah menjadi puncak pembelajaran buat Roy, yang mengantarkan kita pada momen keren seperti ketika ayahnya meminta supaya Roy melepaskan ‘hook’nya dari dirinya. Namun seperti pada film-film road-trip, tokoh-tokoh lain yang ditemui oleh Roy hanya berfungsi untuk membuka pandangan baru baginya. Untuk membuat Roy melihat lebih jauh ke dalam dirinya. Karena ini adalah cerita yang berpusat pada personal Roy, maka tidak ada tokoh lain yang benar-benar berarti dan memiliki kedalaman. Dialog mereka hanya berupa eksposisi, ataupun seacra gamblang memberikan gambaran yang sesuai dengan pembelajaran berikutnya yang harus disadari oleh Roy.

Kejadian yang dialami Roy dalam perjalanannya terlihat random dan seperti meniru elemen-elemen film lain. Atau mungkin malah sengaja sebagai tribute karena film angkasa luar punya banyak referensi yang populer. Roy terlibat kejar-kejaran mobil ala Mad Max di bulan. Di lain waktu dia berkutat survive dari monyet laboratorium angkasa. Semua hal tersebut tampaknya bisa dijadikan fokus film yang lebih menarik dan mainstream. Tapi Ad Astra tidak tertarik karena ini adalah cerita kontemplasi. Semua kejadian menarik itu kita tinggalkan karena Roy perlu merenung dan bicara dalam hati memproses semua itu, memparalelkannya dengan yang harus ia pelajari

menakjubkan manusia berperang hingga ke luar angkasa

 

Narasi voice-over Roy juga akan sering kita dengar. Menjelaskan beberapa hal. Mengajukan pertanyaan. Menunjukkan apa yang harus kita lihat. Memang seringkali terdengar sebagai eksposisi berlebih, yang terlalu menuntun kita untuk mengetahui apa yang Roy pikirkan padahal adegan sudah memberikan gambaran yang mencukupi bagi kita membuat kesimpulan sendiri. Tapi semua itu bisa dimengerti karena voice-over tersebut adalah bagian dari karakter Roy. Voice-over adalah cara film untuk menunjukkan emosi Roy kepada kita karena tokoh ini menolak untuk menampilkannya pada awal cerita. Semakin menuju akhir, narasi ini frekuensinya akan semakin berkurang dan kita dibiarkan melihat sendiri emosi Roy. Kita diminta untuk bersabar sedikit karena ini adalah resiko kreatif yang dipilih oleh film.

Sama seperti ketika kita diminta untuk menahan ketidakpercayaan kita untuk beberapa kejadian di dalam film. Menurutku, bagian ini yang susah. Tidak semua hal sci-fi dan aturan dunia modern itu yang berhasil digambarkan oleh film. Sehingga ada momen-momen ketika kita mengangkat alis. Buatku, momen di sepuluh menit pertama saat Roy terjatuh dari perbatasan orbit ke tanah, selamat dengan parasut yang sudah bolong – sungguh-sungguh susah untuk dipercaya. Masa iya denyut jantungnya gak pernah naik? Masa ada air mata di tempat yang tak ada gravitasi? Masa dia gak kebakar atmosfer? Momen tersebut secara sempurna mengeset tone dan antisipasi pada apa yang kemungkinan terjadi di sepanjang film. Namun tak pelak, membuat aku susah untuk memastikan apakah semua kejadian nantinya benar-benar terjadi atau hanya visualisasi dari sebuah kontemplasi. Dan perasaan tak pasti yang dihadirkan tersebut cukup ‘mengganggu’ saat aku menyaksikan film yang memang kejadian-kejadian yang dialami Roy didesain sebagai akar dari pemikiran dia nantinya.

Ini membuat filmnya jadi pretentious. Dialog dalam-hati yang play-by-play dengan kejadian yang akan dialami, seperti dipas-paskan. Dan kejadian-kejadian itu pun terasa acak. Progres cerita film ini tidak benar-benar natural. Penceritaan untuk cerita semacam ini mestinya bisa dilakukan dengan lebih berkreasi lagi. Kucumbu Tubuh Indahku (2019) jika tidak dilakukan dengan narasi tokoh langsung ke kamera di setiap awal bagian yang membuatnya terasa episodik, bakal punya runutan penceritaan yang mirip dengan Ad Astra ini. Dan menurutku, langkah ekstra yang dilakukan Kucumbu untuk mempresentasikan ceritanya inilah yang kurang pada Ad Astra. Film ini bercerita dengan lempeng dan tak banyak kreasi dalam menyampaikan sehingga terasa lebih dibuat-buat ketimbang cerita yang alami.

 

 

Kejadian-kejadian yang kontemplatif yang ditemui sepanjang durasi film membuat ini seperti cerita road movie yang sungguh filosofis. Kemegahan luar angkasa tergambarkan dengan sangat baik ke layar lebar. Menonton ini, dan melihat (serta mendengar) Bumi dari angkasa luar, membuatku teringat akan epiknya bioskop dan film sci-fi waktu aku masih kecil dulu. Sense ruang film ini sangat menonjol. Karena kita juga dibawa menyelam ke dalam sisi personal tokoh utamanya. Dan film benar-benar kuat menghadirkan sudut pandang tersebut. Sehingga perasaan sendirian itu, terutama kecilnya diri di luar angkasa, semakin kuat terasa. Film ini membuatku yang tadinya pernah bercita-cita terbang ke bulan, yang selalu excited dengan cerita luar angkasa, menjadi takut – menjadi benci sama luar angkasa tersebut. Karena mengingatkanku pada kesendirian dan kesepian. Hingga aku selesai menulis ulasan ini, aku masih belum yakin apakah perasaan yang timbul tersebut pujian atau kritikan terhadap film ini.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for AD ASTRA.

HAUNT Review

Being scared means you’re about to do something really, really brave.

 

 

Menjalin hubungan itu mengerikan. Kalian tau perasaan ketika kita merasa berbuat sesuatu yang bodoh di depan pasangan dan menyangka semua bakal kacau padahal kita mau sesuatu yang spesial dan tak ingin sendirian lagi? Perut seperti berjumpalitan jatuh, atau keringat dingin menerpa? Nah, perasaan seperti itu juga sama dirasakan saat mau masuk ke rumah hantu. Jika relationship normal saja bisa seseram itu, maka bayangkan rasa takut yang menjalar di dalam diri seorang Harper (cuma Katie Stevens yang beruntung dapat tokoh yang paling ‘berdaging’ di film ini). Yang terjebak dalam hubungan bersama pacar yang abusive. Enggak ada yang fun soal abuse. Harper sudah tidak asing dengan melarikan diri dari itu, lantaran si abuse ini memang cenderung mengejar, menghantui korban-korbannya. Malam Halloween sekarang, Harper memutuskan untuk ikut ‘ngacir’ bersama teman-temannya. Mereka mengunjungi sebuah wahana rumah hantu untuk bersenang-senang. Just like in relationship; kalian melangkah masuk ketakutan tapi begitu sudah di dalam, kalian akan bersenang-senang. Sayangnya, rumah hantu yang Harper dan teman-teman masuki persis kayak abusive relationship si Harper. Membuat mereka terjebak. Para kru rumah hantu tersebut menggunakan kekerasan yang teramat nyata.

Haunt yang digarap oleh Scott Beck dan Bryan Woods (baca: penulis A Quiet Place yang tayang tahun 2018) dimulai seperti horor remaja kebanyakan; dengan keputusan buruk yang dibuat oleh anak muda. Tapi cerita film ini punya fondasi yang kuat, yang membuatnya megah dibandingkan film bunuh-bunuhan serupa. Film ini tidak sekadar mengagetkan kita dengan petualangan di rumah hantu. Ada perkembangan tokoh di sini. Ada perjuangan seorang manusia dalam mengatasi ketakutan personalnya. Rumah hantu dijadikan simbol  dari sumber ketakutan yang harus diatasi oleh tokoh utama. Mirip seperti Crawl (2019) yang menjadikan buaya sebagai cambuk motivasi tokohnya. Haunt dan Crawl bisa dibilang adalah contoh horor efektif, yang sederhana, yang simpel dan tak berniat sok pintar dengan segala twist yang gak perlu.

satu-satunya yang ngetwist di sini adalah perut kita

 

Backstory Harper disulam dengan sangat rapih ke dalam petualangan survival di rumah hantu, sehingga tidak sedikitpun pace film ini tersendat. Masalah masalalu sang tokoh utama tidak lantas menjadikan film ini seperti berhenti, ataupun masalah tersebut tidak terasa seperti tambalan semata. Semua yang terjadi pada Harper paralel dengan masalah yang sedang ingin ia hindari. Yang untuk bercerita tentang itu saja, Harper tidak berani. Dengan fondasi backstory yang kuat ini, kita jadi peduli sama Harper. Kita berjinjit mendukungnya untuk bisa keluar hidup-hidup dari rumah hantu sinting tersebut. Film juga punya nyali untuk menuntaskan masalah yang jadi latar belakang Harper. Kita mendapat ending yang memuaskan. Tentu saja tak ketinggalan ‘kalimat pamungkas’ yang diucapkan oleh si tokoh sebagai penghabisan seperti pada horor-horor klasik. Sesuatu yang bisa kita cheer dengan penuh nada kemenangan.

Semua orang punya cerita seram. Karena setiap orang pernah mengalami suatu hal buruk yang ingin diitinggalkan. Tapi trauma akan selalu menemukan cara untuk menakutimu. Kita tidak bisa memakaikan topeng kepada trauma. Kita tidak bisa membuat sesuatu yang menakutkan menjadi menyenangkan, yang menyakitkan menjadi menyejukkan. Dalam Haunt, Harper belajar bahwa takut berarti kesempatan untuk menunjukkan keberanian. Dan memang itulah pelajaran berharga dari rumah hantu; mengajarkan untuk menjadi berani. 

 

Selain Harper, tidak ada lagi tokoh yang ditulis padet dan berisi. Tapi film sangat bijak untuk tidak membuat mereka annoying, ataupun membuat kita pengen mereka cepat-cepat mati. Teman-teman Harper misalnya, memang sih mereka ditulis sebagai trope horor saja – mereka seperti tidak punya motivasi sendiri. Kita tidak benar-benar merasa kasihan jika salah satu dari mereka mati. Jikapun kita ingin ada yang selamat, itu supaya mereka bisa terus membantu Harper. Tapi  mereka tidak bego. Mereka kerap membuat keputusan yang menunjukkan perlawanan terhadap rumah hantu. Mereka berpikir, cukup resourceful. Bahkan di paruh pertama, narasi maju bukan karena Harper seorang, melainkan karena keputusan yang mereka buat bersama. Aku suka cara film mengantarkan kita ke titik no return; yakni dengan memperlihatkan para tokoh beneran pengen balik melewati jalan yang sudah mereka lalui. Efek emosional ketika mengetahui mereka tidak bisa balik lagi benar-benar terasa kuat, intensitas langsung naik, seakan kita ikut berpartisipasi dalam ketakutan mereka. Hanya ada satu masalah yang cukup besar buatku mengenai majunya narasi terkait pilihan tokoh-tokoh ini. Ada satu keputusan bego (banget) yang dibuat oleh tokohnya – aku gak mau spoiler banget tapi ini cluenya: terkait urutan keluar dari lorong kecil. Aneh juga, dengan arahan yang tight seperti begini, masih ada juga adegan yang konyol. Mereka harusnya lebih berhati-hati menulis adegan tersebut.

Hanya satu itu yang menggangguku. Suwer. Selebihnya, film ini terasa sangat menghibur. Tegangnya dapet, karena film sangat cakap menguasi editing dan pemakaian suara. Perasaan terkurung di dalam lorong rumah hantu itu dapat kita rasakan berkat suara-suara yang tidak berlebihan dan timing yang pas. Film tahu kapan harus menggunakan suara latar yang sangat kecil seperti decitan kayu atau desau angin pada terpal dan kapan waktunya digunakan suara yang cukup keras. Kamera pun bijaksana merekam dan menge-cut adegan demi adegan dengan presisi sehingga kita tak pernah ketinggalan sekaligus tak tahu terlalu banyak. Dan ini menambah kesan misterius yang meningkatkan suspens cerita.

Cara yang sama juga film lakukan terhadap para kru rumah hantu. Kita cukup tahu mereka semua orang gila yang haus darah, yang membuat wahana supaya bisa menyiksa anak-anak muda yang hanya pengen merayakan halloween. Kita cukup tahu mereka semua memang lebih baik pakai topeng saja; film tampaknya bermain-main dengan candaan lama “lebih serem aslinya daripada topengnya”. Kita cukup tahu mereka semua semacam kelompok sesat. Dan bijaksananya film adalah kita hanya dicukupkan untuk tahu semua itu saja. Cerita tidak dibuat ribet dengan membahas kenapa lebih lanjut. Karena fokus narasi toh bukan pada mereka-mereka ini. Lagipula mengetahui dari mana mereka dapat duit membangun rumah hantu, misalnya, akan mengurangi kemisteriusan sehingga mungkin kita tak akan menjadi takut lagi kepada mereka.

seolah kita masih butuh diingatkan betapa seramnya seorang badut

 

Rumah hantu adalah wahana favoritku. Ada masa ketika aku rela pulang pergi Bandung-Jakarta hanya untuk nyobain rumah hantu. Sekarang sudah jarang, karena mulai tergantikan dengan ‘escape room’ semacam Pandora. Tema rumah hantu dan escape room menarik dan kreatif, hanya saja sering terlalu gelap sehingga membuatnya setnya enggak kelihatan. Nonton Haunt ini aku seakan mendapat moment “I told you so!” lantaran rumah hantu dalam film ini terang benderang. Dan tidak mengurangi keseramannya. Jadi, ya aku mau nyelipin kritik buat wahana rumah hantu dan semacamnya di Indonesia; cobalah sekali-kali jangan terlalu gelap. Tontonlah Haunt. Set film ini begitu menakjubkan, sehingga aku merasa pengen ikut masuk menjelajah rumah hantunya. Jenis-jenis trik yang diperlihatkan sangat beragam. Teka-teki sederhana yang dihadirkan dalam satu ruangan bisa membuat malu seantero film Escape Room yang tayang awal tahun 2019 ini. In fact, semua aspek film Haunt akan membuat malu film Escape Room. Haunt membuat semuanya tampak manusiawi, tampak plausible, tampak beralasan, sementara Escape Room terlihat sok kece dengan tokoh-tokoh standar yang nyebelin. Aku bahkan ilang selera untuk ngereview setelah nonton. Tidak seperti Haunt yang bikin semangat untuk menuliskannya.

 

 

Untuk sebuah horor tentang rumah hantu dengan tokoh-tokoh anak muda, film ini amat sangat menghibur, dengan fondasi cerita yang kuat. Jarang ada pembuat film yang seserius dan seniat ini, yang tidak menganggap remeh target penontonnya. Film ini tidak dibuat receh dan konyol. Melainkan punya isi. Membuatnya semakin bisa dinikmati. Menakutkan, menghibur. Setelah semua darah, kekerasan, senang sekali melihat sesuatu yang masih punya hati.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for HAUNT.

 

TWIVORTIARE Review

“Fighting is a part of healthy relationships”

 

 

Twivortiare agaknya permainan kata dari  sebuah kata bahasa rumania; divortiare (di-vor-ti-a-re) yang berarti perceraian. Dan memang, Twivortiare diangkat dari novel tulisan Ika Natassa yang actually adalah kelanjutan dari novelnya yang berjudul, you guessed it; Divortiare. Fiksi metropop tentang putus-nyambungnya pasangan suami-istri. From what I’ve gathered around the net, novel Twivortiare punya konsep yang unik. Kisahnya diceritakan melalui postingan twitter si tokoh utama. Pembaca dibuat seolah meng-scroll timeline si tokoh, membaca tweet demi tweet berisi curhatan, keluhan. Konsep yang menarik sebagai penceritaan untuk media visual.

Film, media audio-visual, ada juga yang menggunakan postingan sosial media sebagai alat utama untuk bercerita, tapi itupun ceritanya kudu mengandalkan misteri atau thriller. Karena gak ada deh pasti yang sudi datang ke bioskop hanya untuk membaca tulisan sepanjang waktu. Film-film yang menyisipkan chattingan seringkali dikritik males atau dituding sebagai usaha murahan untuk membuat ceritanya tampak modern. Makanya ketika di menit-menit awal menonton Twivortiare, aku udah mau meledak teriak “booo!”; satu layar bioskop itu hanya menampilan percakapan pesan twitter! Untungnya pembuat film masih waras dan wajah Raihaanun Soeriaatmadja dan Reza Rahadian kembali dimunculkan.

Karena kedua aktor tersebut were literally the BEST DECISIONS this entire film has ever made.

Penampilan akting Raihaanun dan Reza Rahadian benar-benar mengangkat film ini. Membuat materi yang membosankan menjadi seperti worth it untuk diikuti. Aku kaget sekali mendapati aku tersedot ke dalam cerita film ini. Yang gak punya misteri, gak punya aksi, yang literally nothing big happened. Aku, di luar kuasaku, jadi begitu peduli kepada dua tokoh sentral cerita. Well, setidaknya aku tertarik sampai akhir paruh pertama.

“nyebutin filmnya yang jelas biar gak disangka ngomong ‘twit wor diare’ sama mbak penjual tiket”

 

Raihaanun berperan sebagai Alexandra Rhea Wicaksono, seorang banker. A wife to Reza Rahadian’s Beno Wicaksono, seorang dokter kardiologi yang memandang pekerjaannya dengan serius. Beno memerhatikan para pasiennya. Beno kepada pasien sama seperti cerita-cerita Ika Natassa kepada nama lengkap tokohnya; harus! Jadi Alex merasa dinomorduakan. Kehidupan rumah tangga mereka dengan cepat hambar. Ditambah lagi, keduanya hobi banget bertengkar. Alex meminta cerai, dan Beno karena cintanya terpaksa mengabulkan. The story hasn’t ended yet, karena Beno tak pernah benar-benar hilang dari hati Alex. Dari hidup Alex. Setelah beberapa kali pertemuan pasif-agresif, mereka berdua saling jatuh cinta kembali. Semesta pun mendukung. Alex dan Beno rujuk. But still, the story hasn’t ended here. Alex dan Beno harus mengalahkan ‘penyakit’ lama mereka. Karena rumah tangga mereka sudah bubar satu kali. Masa sih mereka bakal terjatuh ke dalam lubang yang sama?

See, this is not the kind of story that I usually enjoyed. Tapi aku tak bisa memalingkan kepala dari tokoh-tokohnya, karena Raihaanun dan Reza mainnya bagus banget. Twivortiare ini mungkin contoh yang tepat sebuah film terangkat derajatnya oleh penampilan pemain. Kalo yang meranin pemain level menye-menye, aku mungkin sudah berteriak-teriak ngomenin setiap kalimat yang mereka ucapkan. Tapi film ini tidak. Dialog demi dialog mereka hidupkan dengan natural. Chemistry mereka menarik perhatian kita, dan menahannya supaya enggak kemana-mana. Pesona paling kuat jelas datang hubungan unik antara Alex dan Beno. Mereka musuhan tapi saling membutuhkan. Menyaksikan mereka berantem, adu argumen, low-key saling menyalahkan, sudah seperti candu. I mean, aku benar-benar menikmati siklus mereka perang-mulut, kemudian kontemplasi lewat masalah pekerjaan masing-masing, dan kemudian merasa amat sangat butuh untuk bertemu dan akhirnya baikan lagi. Ada adegan mereka berpura-pura masih suami istri ketika hendak menjual rumah, dan kemudian kompakan nyari alesan untuk tidak menjual rumah, karena masing-masing sadar mereka sebenarnya tak ingin menjual rumah yang menjadi saksi cinta mereka. Aku juga suka Beno tidak bertanya kenapa Alex balik lagi ketika dia melihat Alex yang tadinya mau jalan dengan pacar baru. Beno hanya menatap Alex, menyapa, dan mereka ngobrolin hal lain. Deep inside, Beno dan Alex tahu mereka masih saling cinta, namun mereka tidak tahan karena mereka terlalu sering bertengkar.

Great relationship disebut hebat bukan karena tidak pernah ada masalah. Semua hubungan pasti akan mengalami ketidaksetujuan, perbedaan, pertengkaran, kecemburuan. Great relationship justru ditempa dari semua itu. Dari cara pasangan menyelesaikan semuanya dengan cinta mereka. Tanpa itu semua yang menguji, tidak akan ada hubungan yang erat.

 

Pertengkaran-pertengkaran kecil sesekali diperlukan. Inilah yang perlu disadari oleh Alex. Karena dia selalu ‘kabur’ dari masalah. Cek-cok sedikit, ngajak pisah. Over the course of film, Alex tak tahu bahwa yang teman-temannya lihat, yang orangtua dia dan Beno lihat, bukan dia dan Beno berantem hebat. Mereka berantem sesungguhnya adalah di mata dan kepala mereka sendiri. Bagi orang yang luar, bahkan kita yang nonton, yang terlihat adalah dua orang yang saling mengingatkan, yang saling mengomunikasikan perasaan – apa yang mereka suka, apa yang tak mereka suka – yang saling berusaha untuk kompromi. Sebuah ciri hubungan yang sangat sehat, justru. Teman-teman Alex menggoda dirinya dengan istilah ‘drama’, tontonan seru.   Tak ada satupun yang mencemaskan Alex. Dan ini juga sebabnya kenapa kita begitu betah menonton dua orang yang ribut melulu.

hal positif berantem adalah; make up sex is the best sex

 

Bagian itulah yang tak tertranslate dengan baik ke dalam bahasa dan kebutuhan film. Cerita Alex dan Beno berusaha menyadari kuatnya hubungan mereka ini tidak punya stake. Kita percaya tidak ada yang bisa mengancam hubungan mereka. Cowok-cowok kantor yang datang mengirimi Alex bunga, tidak sedikitpun mereka tampak punya kesempatan. Kita sudah dibuat terlampu percaya bahwa dua tokoh ini saling cinta, dan pertengkaran-pertengkaran mereka itu bukan masalah. Melainkan bukti kuatnya cinta. Anggika Borslterli yang jadi sohibnya Alex bilang “Setiap kali lo curhat ada masalah ama Beno, gue gak pernah khawatir.” It’s true. Itu jugalah yang kita sebagai penonton rasakan. Tak pernah sekalipun aku mencemaskan Alex dan Bono bakal pisah lagi. Kecuali mungkin oleh kematian. Tapi bahkan kematian tak jadi soal karena ini adalah cerita tentang dua orang yang merasa gak cocok padahal mereka sudah ditakdirkan untuk bersama.

Jika Twivortiare adalah cerita yang dibuat khusus untuk film, katakanlah tidak ada novelnya, aku yakin pembuat film ini setelah midpoint akan mencari masalah baru – yang masih paralel dengan tema dan journey – dan memperbesar stake alias taruhan untuk para tokoh supaya cerita tetap menyala dan punya tantangan. Mungkin tokohnya dibuat pengen punya anak sebagai cara tak bertengkar lagi tapi gak bisa punya anak, so their choices will be limited sehingga konflik semakin menajam. Atau apalah, pokoknya yang membuat cerita berkembang dari paruh pertama. Tapi Twivortiare toh adalah novel pada aslinya. Konflik berulang tidaklah mengapa di sana. Namun pada film, jadinya membosankan.

Setelah midpoint, pertanyaan yang dipancing adalah apakah Alex dan Beno bakal terjauh ke lubang yang sama, dan ternyata justru ceritalah yang jatuh di lubang yang sama. Alias, kejadian yang datang menghadang Alex dan Beno basically sama saja dengan kejadian pada paruh pertama. Ada pria yang deketin Alex. Beno yang masih sibuk ngurusin pasien. Hanya variasi dari hal yang itu-itu melulu. Buat film, ini melelahkan untuk ditonton. Semenakjubkannya akting pemain, mereka overstay their welcome jika memainkan kondisi yang sama berulang-ulang. Not even cameo penulis Ika Natassa saat Alex dan Beno membahas ikan salmon menolong film untuk menjadi menarik kembali. Cerita seperti berlalu tanpa ujung. Dengan semua jawaban sudah kita ketahui, cerita hanya meninggalkan kepada kita sebuah pertanyaan baru; kapan selesainya nih film?

 

 

 

 

Aku bakal ngasih tujuh bintang, jika film ini berakhir pada midpoint ceritanya. Bahkan bisa saja delapan jika mereka melanjutkan dengan raising the stake and upping the ante. Tapi mungkin jadinya bakal lain dari gagasan awal cerita. Kalo aku jadi sutradara Benni Setiawan, aku pasti udah gatel setengah mampus untuk memberikan tantangan yang lebih, karena melihat para pemain mewujudkan tokohnya dengan luar biasa. Sayang aja gitu, udah punya sekaliber Reza dan Raihaanun tapi tidak diberikan sekuens yang benar-benar wah. Tapi yah mau gimana. Ini adalah kisah adaptasi cerita novel and it settled itself at being what it is. Tak lebih. Tak kurang.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for TWIVORTIARE.

 

WEATHERING WITH YOU Review

“Always bring your own sunshine”

 

 

Ada banyak hal yang bisa dilalukan ketika cuaca cerah. Anak kecil dapat bermain di taman. Ibu-ibu bisa belanja ke pasar. Penjual dagangan bisa berjualan ke pasar. Beragam festival bisa digelar. Semua aktivitas kita berjalan dengan lancar. Makanya tak sedikit yang mengaitkan moodnya dengan cuaca. Terbangun saat mendung, kita bisa saja menggerutu seharian mengingat banyaknya rencana yang bakal batal, atau terlambat. Terutama jika kita sudah mencuci kendaraan haha.. Anime teranyar dari Makoto Shinkai mengeksplorasi soal hubungan manusia dengan lain. Pada mulanya, film ini akan mengamini bahwa hidup manusia sangat tergantung pada cuaca. Namun lewat perjalanan tokohnya, kepercayaan tersebut semakin ditantang. Dan pada akhirnya menyugestikan satu jawaban; bukan soal cuacanya, melainkan soal siapa yang ada di dekat kita ketika hujan itu mengguyur.

Ini adalah musim panas teraneh di Tokyo. Bulan Agustus di sana begitu basah karena hujan setiap hari. Jelas bukan waktu yang tepat untuk pelancong yang ingin menikmati matahari. Tapi Hodaka bukan pelancong. Cowok enam-belas tahun ini bermaksud menetap di kota. bagi Hodaka, tempat pelariannya itu menjadi semakin dingin saja. Kesusahan mencari kerja dengan uang saku yang semakin berkurang, Hodaka menemukan dirinya dalam tampungan editor majalah hiburan yang khusus meliput fenomena-fenomena spiritual. Dalam salah satu tugasnya, Hodaka disuruh untuk mencari keberadaan ‘Sunshine Girl’, cewek yang menurut kepercayaan Shinto dapat memanggil matahari. Relationship manis antara Hodaka dengan Hina – si cewek pawang hujan – inilah yang menjadi fokus utama cerita. Yang bakal membuat emosi kita turun naik. Karena kekuatan matahari Hina ternyata punya konsekuensi menyedihkan.

kemudian kita sadar di mata kita juga turun hujan yang amat deras

 

 

Sejak Your Name (2016), aku sudah jatuh cinta sama anime buatan Shinkai. Film itu pencapaiannya sungguh luar biasa, membahas kultur remaja Jepang modern dengan magisnya kepercayaan dan ritual tradisional dalam cara yang sangat tak-biasa, film tersebut nomor-satu di daftar Top Movies of 2016 ku. Salah satu dari sedikit sekali film yang mendapat 9 bintang-emas di blog ini. Jadi wajar saja aku sangat menggelinjang sekaligus waspada saat masuk ke bioskop untuk menonton Weathering with You. Standar yang udah diset terlalu tinggi. Malah Shinkai sendiri sempat dilaporkan merasa canggung oleh dahsyatnya pujian yang ia tuai untuk Your Name. Shinkai, lewat Weathering with You, ingin menunjukkan kepada kita bahwa masih banyak lagi kemagisan yang bisa dieksplorasi. Ia tidak akan berhenti dan puas di satu titik. Semua itu terefleksi dalam seratus-dua-belas menit film ini. Weathering with You disusun masih dengan elemen-elemen yang menjadi ciri khas Shinkai – yang membuat Your Name begitu menawan. Star-crossed lovers, mitos dan kepercayaan tradisional yang menjadi roda gigi utama narasi, komentar terhadap sosial kontemporer Jepang, animasi hand drawn (didukung oleh komputer) yang bikin melongo. Tapi kali ini, Shinkai mengusung cerita yang lebih straightforward, yang membuat filmnya terasa lebih ngepop.

Tapi yang sebenarnya membuat film ini kuat dan menyenangkan untuk disimak adalah karakter-karakternya. Mereka semua enggak mau kalah sama visual yang ditampilkan; sama-sama penuh warna. Interaksi mereka sangat natural, dan masing-masing punya pesona sendiri. Hina misalnya. Cewek yang mendapat kekuatan bisa meredakan hujan dengan memanggil matahari keluar dari balik awan, on top of that dia cantik dan baik. Sosok pasangan idaman. Yang benar-benar ditulis sebagai personifikasi dari apa-apa yang dibutuhkan oleh Hodaka. Huna cukup magis dan fantastis untuk bisa beneran ada di dunia nyata, tapi film berhasil untuk tidak membuat tokoh ini jatuh ke dalam trope manic pixie dream girl. Hina tidak berada di sana hanya untuk membuat Hodaka menjadi orang yang lebih baik. Dia tidak hadir sebagai jawaban dari fantasi tokoh cowok. Hina diberikan karakter dan background dan konflik yang membuatnya tampak seperti orang beneran. Bicara soal trope manic pixie, film actually berhasil dua kali menyiasati supaya tokohnya tidak tampak seperti ini. Ada satu sosok wanita ‘idaman’ lagi yang berperan penting dalam perjalanan Hodaka. Sosok kakak paling perfect sedunia. Tapi lagi-lagi, film punya perhatian dan pemahaman lebih, tokoh ini diberikan cerita latar yang mendongkrak fungsinya lebih dari sekedar device.

Yang membuatku terkejut adalah tiga karakter dalam film ini ditempatkan pada posisi yang mirip sama posisi dan hubungan antara tokoh Minke, Ontosoroh, dan Annelies dalam film adaptasi novel Pram; Bumi Manusia (2019). Sebelum kalian mencak-mencak protes dan teriak “Apaan!”, aku mau ingetin dulu bahwa dua film ini meski beda wujud, adalah sama-sama mengedepankan soal romansa. Jadi garis perbandingan yang kutarik enggak benar-benar long reach. Hina is absolutely Annelies, dari posisinya sebagai love interest dan pilihan yang ia buat. Konflik sebenarnya adalah tentang mereka, mereka yang membuat keputusan yang membuka kesempatan untuk tokoh utama beraksi. Padanan Nyai Ontosoroh dalam film ini adalah Tuan Suga, bos majalah yang menampung Hodaka; pribadi yang sudah mengarungi apa yang sedang tokoh utama lewati. Sosok yang menjadi semacam mentor yang dipedomani oleh tokoh utama. Yang membantu tokoh utama karena ia mengingatkan mereka akan mereka sendiri. Dan Hodako tidak lain tidak bukan adalah Minke. Mereka sama-sama pergi dari kehidupan mereka yang lama. Dan menemukan cinta, untuk kemudian harus bersiap karena yang mereka cintai punya konflik jadi mereka harus melakukan apapun untuk mencegah konflik itu terjadi. Perbedaan yang benar-benar menjauhkan dua film ini adalah cara film memperlakukan tokoh utamanya. Yang berkaitan dengan arahan. Weathering with You lebih bijaksana memberikan aksi kepada Hodaka, sehingga dia tetap terlihat dominan dan terus punya sesuatu untuk dilakukan. Hodaka beraksi dengan mengejar, dengan berusaha menyelamatkan Hina. Kita beneran diperlihatkan perjuangannya. Tidak seperti Bumi Manusia yang hanya sesekali menyematkan montase Minke duduk menulis sebagai bentuk aksi dari tokoh ini.

Hodaka, seperti Minke, acapkali terasa lebih seperti mekanisme untuk majunya plot ketimbang karakter utama. Tapi film terus menggenjot Hodaka supaya aksi yang ia lakukan benar-benar terlihat dan intens. Kita tidak pernah tahu pasti kenapa dia memilih ke Tokyo, tapi film berhasil membuat kita peduli lewat subteks anak remaja di dunia orang dewasa, di mana kita selalu melihat Hodaka susah untuk ngapa-ngapain bahkan untuk cari kerja. Saat Hodaka dibantu, film akan menemukan cara untuk tetap membuat tokoh ini aktif. Seperti saat dikejar polisi, dia dianterin pake skuter. Film ‘menyuruh’ air untuk membanjiri jalan sehingga Hodaka harus turun dan berlari dengan kakinya sendiri menuju tempat Hina – dan harus berpacu dengan waktu, pula. Film ini melakukan kerja yang sangat memuaskan untuk membuat karakter-karakternya penting dan mencuat keluar dari trope atau mitos yang mengurung.

mentari menyala di sini, di sini di dalam hatiku~

 

Dunia tempat mereka bernapas pun turut dibangun dengan mendekati kenyataan. Shinkai seperti mengajak penonton untuk berandai jika suatu saat bencana hujan dan banjir tersebut beneran terjadi di Tokyo. Karena beberapa tempat di film ini adalah tempat yang nyata, yang didesain mengikuti wujud aslinya. Film menampilkan toko-toko yang ada di dunia kita. Kita melihat ada McDonald’s, ada lagu versi asli dari yang pernah dinyanyikan oleh JKT48. Dan tentu saja, kita tidak bisa mangkir dari kenyataan bahwa di dunia kita pun superstition dan mitos masih dipercaya hingga sekarang. Tokyo dalam film ini sudah hadir seperti karakter sendiri. Pada akhir film kita melihat bukan hanya Hodaka dan teman-teman yang berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dengan pandangan dan sikap yang lebih bijaksana. Melainkan seluruh kota juga. Tokyo yang tadinya menganggap hujan di musim panas adalah fenomena aneh dan banjir adalah bencana, berubah menjadi kota yang lebih adaptable. Yang tetap menjalankan aktivitasnya tanpa mengeluh.

Melalui pengorbanan, film ini mengingatkan ketergantungan kita juga adalah pada orang yang kita cintai. Ketika kita hidup bersama mereka, kebahagian mereka adalah kebahagian kita, dan begitu juga sebaliknya. Makanya saat hujan, bukan berarti tidak ada matahari. Kita bisa menjadi matahari bagi orang-orang di sekitar kita. Mereka pun menjadi matahari bagi sekitar mereka. Tidak peduli usia, dari mana, dan siapa, kita semua semestinya menerangi dan menghangatkan bagi sesama. 

 

While Bumi Manusia hadir lebih berani dan menantang dengan memperlihatkan ‘kegagalan’, Weathering with You tampil lebih pop lagi dengan membuat ceritanya berakhir dengan happy. Dan eventually membuat keseluruhan presentasinya jadi kurang nendang. Terutama menuju ending; ada titik saat aku merasa filmnya sudah berakhir ternyata masih berlanjut. Tapi sepertinya itu memang disengaja sebagai epilog. Karena dilihat dari cara film ini bercerita, Weathering with You pada beberapa waktu sering ‘menutup layar’ dengan menampilkan blackscreen, untuk kemudian dilanjutkan lagi dengan dialog, seolah menjadi bagian-bagian cerita yang sengaja dipisah. Cerita yang lebih lurus dan tidak serumit Your Name menyisakan cukup banyak aspek-aspek yang belum terjawab, seperti origin makhluk transparan yang muncul saat hujan ataupun soal pistol yang ‘kebetulan’ ada, tapi buatku itu semua hanya kekurangan minor yang bahkan mungkin sebenarnya adalah komentar pembuat mengenai keadaan lingkungan sosial di sudut kota Tokyo dan gambaran soal kepercayaan penduduk.

 

 

Siapa sangka cerita pawang hujan bisa teramat romantis? Tampil lebih ringan dan lebih crowd-pleasing, film ini meriah oleh karakter dan visual yang menawan. Dialog-dialog eksposisi tidak pernah memberatkan karena dituturkan dengan begitu mulus oleh tokoh-tokoh yang mengundang simpati. Musik yang digunakan, bahkan kemunculan cameo dari Your Name, membuat film menjadi semakin mengasyikkan terutama untuk yang mengikuti Shinkai dan pop-culture Jepang. Dan itu bukan masalah. Film tidak harus selalu berkiblat pada Hollywood. Malahan film ini kental budaya lokal. Memfantasikan bencana alam yang beneran bisa terjadi, sebagai bentuk peringatan. Film ini sarat muatan, meskipun bagi beberapa orang ke-straightforward-an ceritanya membuat film ini jadi terlihat simpel dan ‘menyederhanakan’. namun dirinya memang amat lovable buat semua kalangan penonton. Kalo mau nyebut kekurangan, sepertinya cuma ada satu; film ini masih belum bisa mengalahkan standar tinggi yang sudah diset oleh film Makoto Shinkai sebelumnya.
The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for WEATHERING WITH YOU

 

 

 

 

 

BUMI MANUSIA Review

“Be afraid not to try”

 

 

Sebagai novel, Bumi Manusia yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer sempat dilarang beredar karena penguasa Orde Baru mengaitkan buku dan pengarangnya dengan paham Marxisme-Leninisme alias ajaran komunis. Sebagai film, Bumi Manusia yang ditulis oleh Salman Aristo dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo sempat dihujat karena tokoh utamanya diberitakan bakal dimainkan oleh Iqbaal ‘Dilan’ Ramadhan. Maan, lihatlah ketika orang mencoba berkarya, pasti bakal ada saja halangannya. Beruntung, tidak ada orang-orang di balik Bumi Manusia yang berprinsip seperti Homer Simpsons. Yang takut sebelum benar-benar mencoba.

Malahan, film ini adalah tentang mencoba itu sendiri. Tokoh-tokohnya berhadapan dengan kenyataan bahwa seberapapun kuatnya mereka mencoba, resiko gagal dan kalah dan semakin nelangsa itu tidak semakin berkurang. Film berkata jangan takut untuk terus mencoba, untuk melihat kehormatan dalam perbuatan untuk mencoba melakukan sesuatu menuju yang lebih baik. Indonesia pernah dijajah. Lama sekali. Bayangkan jika pahlawan-pahlawan takut mati – takut untuk mencoba menggapai kemerdekaan. 

 

Hanung Bramantyo jelas tidak gentar. Malahan he actually did a really great job as a director here. Keraguan beberapa penggemar novel aslinya akan kemampuan Iqbaal memerankan Minke terpatahkan dengan manis. Dan bukan hanya Iqbaal, pemain-pemain muda seperti Mawar Eva de Jongh yang berperan sebagai Annelies bermain dahsyat. Tantangannya di sini sangat berat, Mawar dituntut bermain dengan ekspresi dan tokohnya benar-benar ‘tertutup’ oleh gejolak mental; itu semua tersampaikan dengan sangat mulus. Dia juga disuruh beradegan jatuh, hihihi lucu sekali. Kuhitung ada empat kali Annelies ini beradegan lagi jalan gak taunya jatuh. Lima kalo ditambah satu adegan dia jatuh saat sedang duduk. Tokoh teman-teman Minke juga ditangani tidak main-main, pemeran-pemeran mereka menampilkan performa yang jauh dari kelas ‘sinetron’. Aktor yang lebih senior juga enggak kalah edannya. Sha Ine Febriyanti  benar-benar seperti ditakdirkan untuk bermain sebagai Nyai Ontosoroh. Meskipun karakternya mirip sama Nyai di film Nyai/A Woman from Java (2016) garapan Garin Nugroho – latar belakangnya sama, statusnya sama, keadaan suaminya sama Sha Ine memberikan nafas tersendiri yang menguar kuat. Dia bahkan tampak lebih dominan ketimbang Minke. Hanung really directs the shit out of everyone. Maka aku yakinkan kepada para penggemar novel Bumi Manusia yang mungkin masih was-was; Tokoh-tokoh favorit kalian berada di tangan yang benar. Aman. Hidup. Bernyawa dengan penuh karakter.

Mereka bilang, Saya Minke!

 

Menghidupkan zaman sebelum masa kolonial, film ini tampak sungguh menawan. Tampilan visual seperti ini memang sudah diharapkan dari produksi Falcon Pictures yang berbudget gede. Jadi mungkin porsi pujian lebih besar baiknya kita sampaikan kepada usaha menghidupkan keadaan sosial cerita ini. Bumi Manusia semarak oleh ragam bahasa (melayu, belanda, jawa, madura, dan sedikit cina) dan tingkatan sosial yang tergambar tanpa tedeng aling-aling. Satu frame menunjukkan orang pribumi dan anjing duduk bareng di depan dinding tempat makan yang bertuliskan “Pribumi dan hewan dilarang masuk” Sejak dari adegan pertama film sudah melandaskan tangga sosial yang bekerja di lingkungan cerita; tempat di mana karakter-karakter kita hidup. Yang lantas menjadi device utama untuk kemunculan konflik-konflik. Bumi Manusia memang dijual sebagai kisah cinta tragis antara Minke dan Annelies. Tapi konteks kehidupan sosial yang menjadi habitat tokoh-tokohnyalah yang membuat film ini menarik dan menantang untuk disaksikan. Karena mirip dengan kehidupan kita sekarang.

Minke hidup pada masa peradaban Barat lagi maju-majunya. Gaya hidup Eropa pun dijunjung tinggi oleh masyarakat. Minke salah satu yang kagum pada peradaban Barat tersebut. Dia menyebut dirinya, yang pribumi anak bupati, sebagai manusia modern. Dia tidak mau terikat peraturan. Teman karibnya adalah seorang campuran (Indo) yang disebut bakal jadi orang pertama yang mencuci darah pribuminya saat teknologi cuci darah itu ditemukan. Tapi Minke tak bisa lari dari kenyataan kulitnya gelap, rambutnya hitam, badannya kecil. Minke adalah bangsa jajahan yang mencoba menjadi kaum kulit putih yang berada di puncak kelas sosial. Minke belajar keras, ia menghapal peradaban modern dan sejarah-sejarah kaum penjajah. Ketika dia bertemu dengan Annalies dan Nyai Ontosoroh-lah, pandangan dirinya terhadap semua itu mulai berubah. Annalies adalah Indo berwajah bule (cantik kayak dewi, kalo boleh mengutip kata Minke) yang dengan naifnya mencoba untuk mewujudkan mimpinya dianggap sebagai pribumi. Sedangkan ibunya, Ontosoroh, adalah istri tak-sah dari pedagang Belanda (gelar Nyai hanyalah sebutan yang lebih sopan untuk kata ‘gundik’) yang di mata Minke sudah mencapai posisi yang ia idam-idamkan; sejajar dengan bangsawan Eropa. Perkenalan itu membawa Minke kepada pandangan bahwa sikap dan mutu orang tidak diukur berdasarkan bahasa yang diucapkan, pakaian yang dikenakan, warna kulit-mata-rambut, dan apapun itu yang selama ini ia percaya.

Karena diadaptasi dari novel setebal lebih dari tiga ratus halaman, dengan banyak tokoh di sekitar tiga sentral (Minke – Annalies – Ontosoroh), film melakukan banyak manuver untuk memasukkan elemen-elemen yang sejatinya bikin pembaca sejati yang nonton ini bakal ngamuk jika ditinggalkan. Backstory tokoh dimunculkan dalam flashback-flashback yang berusaha tampil berbeda dari kebanyakan. Enggak sekedar membuat frame blur atau dengan bunyi ‘krincing-krincing’. Set up dilakukan dengan sangat baik sehingga kita jadi langsung mengerti hubungan dan derita yang harus ditanggung oleh para tokoh sembari tetap mencoba membuat hidup lebih baik. Setelah midpoint – sekitar Minke setuju untuk menjadi ‘dokter’ dari penyakit aneh Annelies – intens cerita semakin naik. Ada lebih banyak sejarah tokoh yang terungkap. Untuk tidak menspoil terlalu banyak; Keluarga Annelies benar-benar fucked up, alias celaka. Peran Minke semakin kalah dominan sebab dia hanya sekadar beraksi terhadap kejadian-kejadian yang menimpa Annelies dan keluarga.

“Dunia saya; bumi, manusia dan segala persoalannya”.. mas Minke sudah coba jadi hippie belum?

 

Film benar-benar mencoba untuk memberikan ‘kerjaan’ kepada tokoh utamanya. Minke yang cerdas diperlihatkan menulis sebagai upaya perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan Belanda terhadap keluarga Annalies. Seolah ada perang jurnalistik antara dia dengan temannya. Montase dari Minke menulis menggunakan nama pena, hingga dia berani menggunakan nama asli, dilakukan untuk membuat Minke ada kerjaan. Dalam film akan ada dua adegan persidangan, dan Minke terlibat di dalamnya. Tapi tidak benar-benar banyak yang ia lakukan karena drama dan konflik datang menghujam pihak Annelies dan Ontosoroh. Hal menarik terjadi di mereka, bukan lagi pada Minke. But film really tried. Hingga ada satu dialog yang menyebut Minke berhasil menyelesaikan kasusnya di persidangan. Padahal kenyataannya adalah Minke tidak melakukan hal penting; kasusnya selesai karena salah satu tersangka mengaku begitu saja. Dan ada satu ketika Minke mendadak menulis tentang hukum Islam. Film menggambarkan dia brilian karena mengadu hukum Eropa dengan hukum Islam. Ini menarik sebenarnya, hanya saja soal Islam tidak dibangun sedari awal. Minke tidak diperlihatkan berhubungan dengan agama, namun tahu-tahu dia menulis tentang Islam. Yang pada akhirnya elemen ini terasa lebih seperti untuk menunjukkan desperatenya seseorang ketika ia mencoba untuk melakukan sesuatu.

Pun begitu, perlawanan Minke dan Ontosoroh terhadap Belanda terasa tidak masuk akal. Kita bisa paham mereka merasa diperlakukan tidak adil. Apalagi konteksnya adalah mereka yang pribumi sedang berurusan dengan Belanda si kulit putih puncak rantai makanan. Secara natural kita akan mendukung dan bersimpati pada pihak yang kelihatan lebih susah; mereka baik, pihak yang satunya jahat. Kita memang harus mencoba tapi mbok ya harus sesuai, jangan baper. I mean, yang Minke lakukan ialah dia berusaha menjegal hukum yang sah. Beberapa kali aku malah mengiyakan tuntutan Belanda, karena yang mereka pinta lebih masuk akal dibanding pembelaan Minke. Status Ontosoroh yang tidak dinikahi sah tentu membuat ia tidak punya hak legal terhadap anaknya yang bapaknya Belanda. Tentu hukum Belanda yang dipakai karena tentu saja Belanda ingin melindungi hak warga negaranya. Tapi perlawanan Minke seolah mengotakkan peradaban dan ilmu pengetahuan bisa dilawan dengan kemanusiaan dan agama. Belanda yang mutakhir harus tetap dipandang jahat meski ia hanya mau mengantarkan dokter dari pihak mereka kepada Annalies. Dan ini mendapat sedikit perlawanan dari naskah yang mengetengahkan “Belanda gila sama parahnya dengan pribumi gila”. Ada kesan seolah film ingin membuat kita melihat bahwa yang ‘jahat’ itu sesungguhnya adalah pribumi yang gila-barat.

Sepanjang durasi film ada banyak hal-hal yang megecoh pada film ini. Yang membuatku jadi berpikir yang tidak-tidak, seperti seolah tertanam hal-hal lucu, padahal mungkin film tidak meniatkan seperti itu. Dan pikiran itu timbul karena film seolah mengarah ke sana. Seperti misalnya soal penyakit Annelies. Ada adegan-adegan yang menekankan tentang penularan penyakit sifilis yang bakal membuat kita menghubungkan ini kepada Annelies. Ataupun soal Annelies yang tampak seperti meminta ibunya menikah dengan Minke. Kenapa aku bisa mikir ke sana? Karena di adegan perkenalan, Minke dibuat lebih terpesona melihat Ontosoroh ketimbang melihat Annelies. Dan kemudian sepanjang cerita, Minke diledek jadi simpanan seorang Nyai. setiap kali Minke diundang datang, keluarga Annelies ribut – saling bertengkar. Kalo aku Minke aku bakal curiga jangan-jangan mereka semua lagi belajar sandiwara dan aku diundang sebagai penonton percobaan. Heck, saat Surhoof dengan jelas tampak cemburu meski dia bilang hanya suka cewek Belanda tulen, aku langsung kepikiran jangan-jangan Surhoff – yang menggoda Minke dengan “Ih kamu bau” – sebenarnya cemburu sama Annelies… Sukurlah soal Surhoof ini eventually beneran dibahas oleh cerita.

Ketika selesai menonton ini, dalam perjalanan menuju mall lain untuk menonton Perburuan (2019), aku memikirkan ulang cerita. Apa yang sebenarnya jadi pertanyaan utama pada narasi. Apa yang dijawab terakhir sebagai kesimpulan. Juga rentetan kejadian-kejadian pada Bumi Manusia. A whole lot of them. Yang ternyata tidak semuanya terbahas tuntas. So in retrospect, aku bertanya kepada diri sendiri; apa cerita ini benar-benar harus untuk menjadi tiga jam. Tidakkah ada elemen yang bisa dihilangkan tanpa mengubah tujuan cerita. Tidakkah ada tokoh yang mestinya bisa dirangkum supaya tidak ada yang muncul dan hilang tanpa penjelasan. Tentunya adaptasi tidak harus menyadur utuh semua materi asli kan.

 

 

Yang jelas, film berhasil menangkap daya tarik dari cerita ini. Konteks sosial yang masih saja relevan, hubungan cinta yang manis walaupun tragsi (in fact, semakin tragis semakin manis), menghidupkan tokoh-tokoh yang dicintai oleh pembaca novelnya. Dan tentu saja dialog yang quotable banget. Hanya saja penceritaan sepertinya bisa dilakukan dengan lebih efisien. Ada banyak karakter, Mellema, Mellema, yang membuat cerita melemah karena Minke si tokoh utama tidak lagi sesignifikan mereka. Seharusnya penyesuaian yang lebih dilakukan di sini. Tapi ini tetaplah sebuah film yang epik, tidak banyak yang berani tampil sebesar ini. Jikapun mulai merasa bosan, jangan khawatir karena kita masih bisa menemukan lucu-lucu yang tak sengaja tersirat (kuharap tak-sengaja) di dalam cerita.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for BUMI MANUSIA

 

MAHASISWI BARU Review

“Anyone who keeps learning stays young”

 

 

Masa-masa tahun ajaran baru memang selalu dinanti oleh para mahasiswa. Apalagi kalo bukan karena masuknya maba-maba. Mahasiswi-baru untuk dikecengin. Mahasiswa-baru yang siap untuk dikerjain pas orientasi alias ospek. Tapi gimana kalo maba yang masuk udah seumuran dengan oma di rumah? Jelas gak bisa digodain. Dikerjain? Wuih, bisa kualat. Film komedi Mahasiswi Baru garapan Monty Tiwa mengajak kita untuk melihat persisnya peristiwa itu terjadi. Cerita yang basically tentang seorang wanita 70-tahun yang berusaha menemukan kembali cinta dengan menginjak kaki ke ranah anak muda ini akan membuat kita tertawa, sekaligus berusaha untuk menyentuh hati saat menyadari bahwa untuk urusan cinta; tidak pernah ada kata terlalu tua.

Aktor senior Widyawati tampak sangat bersenang-senang sekali memerankan Lastri, sang mahasiswi baru di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Cyber Indonesia, Yogyakarta. Semangat Lastri enggak kalah dari anak-anak muda, bahkan Lastri lebih kritis dari mereka. Lastri dengan berani mengkritik bapak dekan, yang diperankan oleh aktor sepantaran Slamet Rahardjo. Dinamika dua tokoh ini akan menjadi sentral dari cerita. Karena si dekan adalah paralel dari yang dirasakan Lastri di rumah anaknya. Kita akan melihat yang tadinya musuhan akhirnya membuka untuk cinta; film ini actually adalah sebuah rom-com unik karena tokoh-tokohnya adalah dua generasi di atas kita. Tapi bukan berarti tua dan muda enggak bisa nyambung. Karena film ini menunjukkan di antara teman-teman baru di kampus, ada empat anak muda yang dengan akrab dengan Lastri. Yang setuju untuk memanggil dirinya Lastri – sesuai dengan permintaan. Mereka jadi teman segeng yang selalu menimbulkan masalah di kampus! Sebenarnya keempat anak muda tersebut – Sarah, Reva, Ervan, dan Dani – punya masalah sendiri, yang pada akhirnya mendapat pengaruh langsung dari Lastri.

bayangkan seorang ingusan memanggil nama nenekmu dengan akrab

 

Dalam menghadirkan kontras antara generasi tua dengan generasi muda yang menjadi pokok bahasan cerita, film ini mengambil rentang tone yang cukup jauh. Adegannya dapat menjadi begitu konyol, untuk kemudian menjadi serius dan emosional, atau bahkan menjadi keduanya sekaligus. Film meniatkan hal tersebut sebagai pesona utama. Ia berusaha membuka koneksi kepada penonton lewat komedi-komedi. Tapi bukan komedi yang ‘it’s funny because it’s true‘. Menonton komedi film ini seperti melihat nenek kita menari. It’s just funny. Film juga menunjukkan dirinya sengaja memilih komedi receh. Mahasiswi Baru hadir dengan self-awareness bahwa tokoh-tokoh mereka punya backstory ala ftv. Dapat kita jumpai dua adegan di mana dua tokoh sedang berbincang membandingkan kisah hidup siapa yang paling tragis. Hingga menulis ini aku masih enggak yakin untuk harus tertawa atau bersedih mendengar cerita tokoh-tokoh tersebut.

Sisi positif yang berusaha digali dari arahan komedinya ini adalah film punya kemampuan untuk tampil sebagai satir, atau parodi. Karakter-karakter di sini merupakan stereotipe yang benar-benar banal sehingga bisa jadi penulisnya memang sengaja melakukannya untuk menyindir. Menyindir siapa? Ya semuanya. Kita bisa melihatnya sebagai generasi tua yang sedang meledek generasi muda. Bisa sebaliknya. Dan malahan bisa juga sebagai generasi yang sama saling meledek. Misalnya, karakter yang diperankan oleh Morgan Oey. Dia di sini selalu live di instagram, semua kegiatan yang ia lakukan di kampus bersama teman-teman segeng dibroadcast ke ribuan follower. Film menyinggung ini dalam batasan yang wajar ketika Lastri bertanya dengan polos kenapa curhat ke ribuan orang yang bukan sebenarnya teman. Cerita yang mengarah ke drama akan berhenti di sana. Tapi Mahasiswi Baru yang udah teguh tekad untuk menjadi konyol membuat tokoh si Morgan ini berbicara selalu dengan tambahan “guys” di belakang kalimat. Ini seperti memparodikan kebiasaan anak muda ngevlog jaman sekarang, yang merasa menggunakan “guys” otomatis menjadikan dirinya sebagai pribadi yang asik, regardless konten yang mereka buat. Lain lagi dengan karakter yang diperankan oleh Umay Shahab; seorang yang merasa dirinya aktivis. Yang menjunjung tinggi demokrasi. Tokoh ini digambarkan gampang terpancing emosi. Sindiran terhadap tokoh ini adalah bahwasanya justru ternyata dia sendiri yang paling gampang ngejudge orang lain.

Karakter-karakter yang ada pada Mahasiswi Baru adalah campuran dari yang bersifat parodi seperti yang disebutkan di atas, yang dimainkan full-time sebagai komedi. Dengan yang bernada jauh lebih serius. Dua alumni Gadis Sampul; Mikha Tambayong (GS 2008) dan Sonia Alyssa (GS 2015), masing-masing kebagian peran yang lebih ‘berhati’ yang seperti kebalikan dari tokoh lain. Yang satu punya cerita perihal passion yang terhalang keinginan orangtua sehingga dia lebih memilih tinggal sendiri dan merahasiakan siapa orangtuanya kepada teman-teman. Yang satu lagi bahkan tidak lagi punya orangtua, dan dia harus kuliah sambil bekerja diam-diam. Keputusan naskah untuk membuat tokoh-tokoh tersebut sebagai stereotipe menciptakan jarak yang cukup jauh antara emosi dengan komedi. Dan film tidak pernah benar-benar membangun jembatan penghubungnya. Kita hanya dibawa berpindah-pindah dengan cepat oleh komedi-komedi konyol

Tokoh Lastri seharusnya adalah jembatan tersebut. Tapi bahkan Lastri pun tidak luput dari sindiran. Stereotipe generasi tua justru kuat pada Lastri. Di salah satu adegan diperlihatkan dirinya ke kelas membawa mesin tik, padahal yang disuruh oleh dosen adalah membuka laptop. Film menyuruh kita untuk percaya bahwa orang lanjut usia (yang tinggal di kota) tidak tahu dan mengerti di jaman sekarang sudah ada komputer. Lastri juga gagal ditulis dengan baik sebagai seorang karakter. Untuk alasan dramatisasi, film memilih untuk menyimpan motivasi Lastri kepengen menjadi mahasiswi lagi. Dan untuk menutupnya mereka menggunakan komedi. Jadilah kita di sepuluh menit pertama mencoba untuk peduli pada Lastri yang bisa diterima kuliah dengan mengancam pihak kampus dengan bakal mendoakan mereka yang jelek-jelek. Ini adalah lucu menurut film. Kita harus memasuk-akalkan peristiwa Lastri bisa keterima menjadi mahasiswi di fakultas ilmu komunikasi, tanpa kita paham motivasi Lastri secara spesifik memilih fakultas tersebut. Menurutku, akan jauh lebih menyenangkan untuk ditonton jika sedari awal kita tahu, karena begitu Lastri diwanti-wanti akan di-DO kita butuh sesuatu untuk ditakutkan. The way the film goes, aku merasa sebodo amat – toh kalo Lastri nilainya jeblok, aku tidak tahu pengaruhnya bagi Lastri jika dia dikeluarkan.

Pesan menyeluruh yang bisa kita simpulkan dari Lastri yang sudah tua masuk ke Ilmu Komunikasi adalah bahwa usia bukan jaminan seorang individu bisa mengerti cara terbaik dalam mengomunikasikan cintanya kepada keluarga dan sahabat. Film ini tidak banyak menunjukkan adegan belajar di kampus karena pelajaran sesungguhnya yang harus dipelajari oleh Lastri terletak pada hubungannya dengan teman yang ia dapatkan, pada keluarga yang ia pikir ingin ia tinggalkan. Film menunjukkan untuk urusan cinta, tua dan muda sama-sama butuh banyak belajar

 

Lastri, menjelang akhir cerita, menyebutkan masih banyak yang harus ia pelajari meskipun usianya sudah lanjut. Tapi dialog ini hanya terasa sebagai kata-kata karena film tidak berhasil menghidupkan tokoh-tokohnya dengan baik. Penggunaan komedi sebagai jembatan antara emosi dengan steretipe dan, lucunya, komedi lagi membuat kejadian yang dialami tokoh-tokoh film ini seperti dibuat-buat. Lastri kayak selalu tua, tidak ada sense dirinya pernah muda. Film yang baik, bahkan komedi yang baik, adalah yang punya cerita di mana tokoh-tokohnya terasa punya kehidupan di luar frame kejadian film yang kita saksikan. Misalnya pada Booksmart (2019); Amy dan Molly terlihat seperti benar-benar sudah berteman sebelum cerita film dimulai. Dan ketika cerita berakhir kita membayangkan persahabatan mereka tetap berlanjut. Pada Mahasiswi Baru, tidak ada kesan Lastri punya kehidupan sebelum cerita dimulai. Dia tidak punya teman-teman sebaya. Trauma masa lalunya disembunyikan dari penonton. Di tengah-tengah film, kehidupan kuliah yang ia pilih jarang ditampilkan. Setelah midpoint, stake mendapat nilai tinggi itu intensitasnya ditinggikan, tapi cara yang diambil sungguhlah aneh. Mahasiswi ini mendekati dekannya alih-alih belajar lebih keras. Mungkin ini bagian dari sindiran yang ingin dilontarkan oleh naskah. Tapi yang jelas, hingga akhir cerita masalah nilai itu tidak dibahas lagi. Film tidak mengganti pertanyaan, melainkan tidak lagi tertarik untuk menjawab sesuai dengan pertanyaan yang ia angkat. Cerita berakhir dan kita semakin tidak peduli apakah mereka semua berhasil mendapat nilai bagus.

nenek-nenek ompong juga tahu bahwa film komedi cheesy seperti ini biasanya selalu ditutup dengan menari bersama.

 

Bahkan dengan jor-joran komedi dan usaha menggapai tangis penonton yang dahsyat, film masih merasa kurang percaya diri dengan narasi mereka. Sehingga musik soundtrack dijadikan jalan pintas. Lagu demi lagu diputar, malah ada yang nyaris satu lagu full. Ketika adegannya sudah berganti, ketika sudah tidak cocok lagi dengan lirik yang dinyanyikan, lagunya tetep aja diputar.

 

 

 

Ini adalah jenis film yang asik untuk ditonton bareng teman-teman dari beragam usia, karena akan jauh lebih mudah untuk tertawa ketika bersama-sama, terlebih sebab lelucon dalam film ini memang dirancang sebagai sindiran atau parodi lintas-generasi. Banyak penonton akan terhibur. Tapi rentang yang terlalu jauh antara komedi dengan emosi yang hanya dijembatani oleh komedi lagi, membuat kita susah konek lebih lanjut dengan pesan dan karakter-karakternya. Mungkin memang film ini sebaiknya dipandang sebagai cerita stereotipe yang berfungsi sebagai celetukan konyol dari kehidupan semua generasi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for MAHASISWI BARU

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Pernahkah kalian belajar sesuatu dari orang yang lebih muda dan kurang-berpengalaman daripada diri kalian sendiri?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

STUBER Review

“Real men fight standing up”

 

 

Mana yang lebih jantan?

Vic, seorang polisi berbadan kekar yang jago berkelahi, yang menghantam pintu untuk masuk alih-alih mengetuk, yang memprioritaskan balas dendam kepada musuh ketimbang menghadiri pagelaran seni putrinya.

Atau Stu; perjaka bucin yang sebagai karyawan toko dibully oleh bosnya, untuk kemudian beramah tamah sebagai pengemudi Uber tapi tetap saja tak pernah mendapat bintang-lima, yang lebih suka membicarakan perasaannya daripada berkelahi, tapi tetap saja dia belum mampu menyatakan cinta kepada cewek yang sampai saat ini masih menganggapnya teman.

Vic dan Stu, oleh naskah Stuber, dipertemukan ketika Vic yang matanya lamur karena operasi lasik memesan Uber untuk melacak keberadaan gembong narkoba yang dulu membunuh partnernya. Stu yang tak-biasa terlibat baku tembak tentu lebih suka untuk ke tempat cewek taksirannya menonton DVD. Tapi dia begitu butuh bintang-lima yang dijanjikan oleh Vic. Jadi mau tak mau dua orang ini musti bekerja sama. Mengejar petunjuk dari satu tempat yang menantang persepsi mereka tentang maskulinitas satu ke tempat lainnya. Dan semua itu dilakukan film lewat nada komedi yang sangat histerikal dan balutan aksi berdarah yang over-the-top.

salaman adalah pelukan antara tangan dengan tangan

 

Disetir oleh dinamika dan chemistry dari Dave Bautista (I’m just gonna called him Batista, because you know; WWE) dan Kumail Nanjiani, komedi Stuber berjalan dengan relatif lancar. Formula bentrokan karakter mereka bekerja dengan baik. Satu kuat, satu lemah. Satu perkasa, satu perengek. Kita sudah sering melihat cerita buddy-cop seperti begini. Batista dan Nanjiani bertek-tok dengan kocak. Mereka diberikan ruang yang cukup luas untuk mengeksplorasi tokoh masing-masing. Untuk sebagian besar waktu, Batista tidak bisa melihat apapun, dia tidak bisa berkendara, apalagi menembak dengan benar (obvious metafor dari dia tidak dapat melihat apa yang sebenarnya perlu ia lakukan terhadap orang-orang di sekitarnya). Melihatnya menambrak benda-benda, sambil nyeletuk nyalahin benda itu, trying to be cool dengan kelemahannya – basically cara penulisan membuat cacat-karakter diamplify untuk tujuan komedi – sungguh menghibur. Bibit komedi Batista ini sudah mulai tampak ketika dia memainkan tokoh heel (bad-guy) di jaman-jaman dia masih pegulat di WWE. Batista seringkali memerankan karakter jahat yang merengek, dia sudah terbiasa memanfaatkan sisi lemah karakternya menjadi sesuatu tontonan yang menghibur. Di sisi lain, Nanjiani akan menyuplai kita dengan tawa yang datang dari cara dia uring-uringan disuruh melihat hal-hal yang membahayakan nyawanya. And he’s so good at keeping his face straight, dan kemudian meledak. Dia mencoba menormalkan semua itu, sehingga dia terpaksa mengambil tindakan – sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lakukan.

Yang membuat dua tokoh berlawanan ini menarik, yang membuat mereka sedikit berbeda dari trope-trope karakter yang film ini gambarkan, adalah Vic dan Stu sesungguhnya punya tujuan yang sama – sehubungan dengan ‘apa sih yang membuat pria itu jantan’ – namun memiliki jalan/kepercayaan yang berbeda dalam mewujudkannya. Walaupun divisualkan lewat interaksi yang receh dan lebay, Vic dan Stu merupakan contoh penulisan ‘konflik nilai karakter’ yang menarik.

Menurut buku Anatomy of Story karangan John Truby, tokoh utama dan lawannya mesti ditulis untuk punya tujuan yang sama, tapi dibuat berkonflik dengan mengeset mereka punya value yang berbeda. Dalam hal dua tokoh film ini – yea, Stu dan Vic menganggap masing-masing sebagai antagonis dari mereka sendiri. Makanya dalam film ini dengan kocaknya kita dibuat lebih percaya mereka lebih mungkin untuk saling bunuh daripada tewas di tangan gangster narkoba. Tedjo yang diburu oleh Vic bukanlah antagonis yang sebenarnya – we’ll talk about hubungan Tedjo dengan Vic belakangan. Karena film ini sebenarnya adalah pertarungan kejantanan antara Vic dengan Stu. Dan meskipun komedi yang stereotipe, Stuber tak jatuh ke dalam gambaran banal tentang maskulinitas seperti Pariban: Idola dari Tanah Jawa (2019) yang pada akhirnya hanya menjadi cerita gede-gedean ‘ucok’. Stu dan Vic punya value yang berbeda tentang kejantanan; kepercayaan mereka itulah yang menjadi konflik utama. Jadi mereka gak sekadar berantem karena beda sikap. First of all, Vic dan Stu harus dapat melihat bahwa meskipun beda ‘misi’ sebenarnya mereka ingin satu hal yang sama; to man up. Kemudian mereka terus didorong untuk mencapai tujuan yang sama tersebut. Stake selalu diangkat; Stu ditelpon demenannya, Vic ditelpon putrinya. Yang satu terjebak dalam perangkap maskulinitas yang toxic, sementara yang satu lagi seperti begitu lemah bahkan untuk menjadi seorang manusia. Mereka punya pandangan yang berbeda yang pada akhirnya menjadi konflik-langsung. Ada pertentangan nilai pada adegan berantem malam-malam superngakak di supermarket itu. Itu adalah klimaks dari konflik mereka. Bagian yang bakal menjawab pertanyaan yang menjadi topik utama film ini.

Jawabannya adalah, the real men – jantan sesungguhnya – adalah pria yang ‘berkelahi’. Untuk disebut cowok, ya kita harus berantem. Dalam artian, berani mengonfrontasi masalah dan perasaan dan segala macam yang menghadang di depannya. Yang tidak lari dari semua hal tersebut.

 

Film ini menulis karakternya dengan ‘rumus’ yang benar; sesuai dengan teori K.M. Weiland tentang desain konflik dan karakter arc. Vic punya ‘wound’ yang membuatnya menciptakan ‘kebohongan’ yang ia percayai sendiri karena dia begitu trauma terhadap ‘wound’ tersebut. Partner Vic yang tewas adalah seorang polisi wanita, yang digambarkan oleh film jauh lebih kompeten dan taktikal dibandingkan Vic yang gasrak-gusruk. Maka Vic merasa gagal, dia merasa enggak cukup jantan sehingga membuat partnernya tersebut meninggal. Tokoh Tedjo – antagonis utama yang diperankan oleh Iko Uwais – adalah perwujudan dari bagaimana Vic memandang dirinya sendiri. Kecil, bengis, dan yang membunuh si partner. Makanya Vic begitu personal ingin menangkap Tedjo. Baginya ini lebih dari sekedar balas dendam. Dia ingin membunuh bagian dari dirinya yang tidak jantan. Ini juga berpengaruh terhadap cara ia memandang Stu pada awalnya. Banyak penonton yang mengeluhkan kurangnya peran Uwais di film ini. Aku setuju, Uwais yang personalitynya berusaha diperkuat oleh dandanan rambut nyatanya tidak banyak diberikan sesuatu untuk dilakukan. Mungkin memang Uwais yang belum bisa luwes berakting, atau memang mungkin karena film ‘menyia-nyiakan’. Tapi aku juga bisa melihat bahwa karakter Tedjo di sini sudah benar-benar bekerja sesuai dengan fungsinya. Karena seperti yang sudah kusebutkan; bukan dia ‘real villain’ yang harus dikalahkan oleh Vic dan Stu. Tedjo literally hanyalah device, jadi tokoh ini masuk akal untuk tidak terlalu banyak bicara.

Batista pada dasarnya selalu “I walk alone”

 

Garapan komedi film ini dapat menjadi cringey ketika berusaha untuk tampil kontemporer. Film berusaha memasukkan banyak sindiran dan pandangan mengenai toxic masculinity yang diam-diam menjamur di kehidupan sosial masyarakat. Pukulan terbesar yang berusaha dilayangkan oleh Stuber adalah mengenai Amerika yang merasa lebih ‘jantan’ daripada minoritas seperti Stu. Kadang celetukan sosial tersebut tampak terlalu banal, it takes the fun out of our central characters. Kita bisa menyebut film ini sebagai iklan Uber terselubung, sama seperti kita bisa menyebut Keluarga Cemara (2019) sebagai iklan Gojek terselubung. Ada banyak lelucon seputar Uber, I mean, penggerak terbesar Stu salah satunya adalah ia pengen dikasih rating bintang-lima; ini seharusnya udah menjadi peringatan betapa lebay dan in-the-facenya film ini bakal menjadi. Juga berkaitan dengan cara hidup masyarakat jaman sekarang. Beberapa ada yang bisa kita relate – buatku, aku juga sebel kalo dapat driver ojol yang terlalu sok-akrab, beberapa ada yang terlalu komikal.

Yang membawa kita ke bagian krusial; yakni porsi aksi. Lelucon lebay dalam film ini semakin cringey lagi ketika dibawa ke ranah aksi. Film punya cara tersendiri untuk menunjukkan kekerasan dan bullying kini bisa berlangsung di sosial media, dan cara itu boleh saja lucu, tapi terlalu ‘maksa’. Film ingin menampilkan aksi jantan yang kocak. Adegan-adegannya memanfaatkan tembak-tembakan, balap-balapan, dan hukum fisika beneran yang dimainkan untuk efek komedi. Untuk urusan berantem pake tangan, aku pikir aku gak bisa minta lebih banyak kepada film ini selain melihat Batista nge-Spear Iko Uwais. Dua orang ini mendeliver cerita dengan baik lewat baku-hantam, dan memang keduanya terlihat lebih nyaman ‘ngobrol’ lewat adegan berantem. Sayangnya, kamera tidak mengerti keunggulan dua orang ini. Karena kamera justru memilih merekam dengan handheld, dan banyak bergoyang, yang sama sekali tidak menunjang pertunjukan aksi yang mereka suguhkan.

 

 

 

Lewat perjalanan dua tokohnya yang amat berseberangan, film ini menjelma menjadi perjalanan maskulinitas genre aksi yang dibuat dengan penuh kekonyolan. Film ini enggak mikir dua kali untuk menjadi stereotipikal, juga enggak ragu untuk menjadi lebay. Film ini meledak-ledak, tapi bukan ledakan api beneran. Yang membuatnya justru malah dapat menjadi turn-off buat sebagian penonton. Punya tujuan untuk mencapai banyak, lewat dialog dan latar yang kontemporer; tapi karena memilih untuk menjadi yang actually ia sindir, film terasa seperti going nowhere antara gagasan yang ia angkat dengan konsep aksi yang ia hadirkan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for STUBER.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian ada gak sih hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh cowok?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

DUA GARIS BIRU Review

“… the true test is in how you handle things after those decisions have been made.”

 

 

Untuk banyak wanita, kehamilan dapat mendatangkan banyak kebahagian. Menyadari bahwa di dalam diri sedang berlangsung suatu keajaiban tak pelak membuat wanita  – dan seharusnya para lelaki juga – lebih mengapresiasi hidup. Tapi tentu saja, kehamilan bisa juga menjadi sebuah tantangan. Membuat beberapa wanita cemas dan takut. Sebab kehamilan berarti suatu perubahan besar-besaran. Baik itu secara fisik maupun secara mental. Dibutuhkan persiapan yang luar biasa matang dan dewasa untuk menjadi seorang ibu. Terlebih untuk wanita seusia Dara, yang sebenarnya – kalo kata Britney Spears masih “..not a girl, not yet a woman”

Dara termasuk murid pintar di SMA-nya. Nilai Dara paling tinggi di antara teman-teman sekelas. Dara yang penggemar berat segala hal berbau kekoreaan punya cita-cita untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar karir di negara tersebut. Tapi suatu hari, Dara dan sahabat dekatnya – Bima – berhubungan terlalu ‘dekat’. Dua garis yang kemudian mereka lihat pada tespek memberi peringatan bahwa hidup mereka sebagai pelajar akan segera berakhir. Dara dan Bima setuju untuk mempertahankan bayi yang dikandung. Mereka bermaksud merahasiakan peristiwa itu dari keluarga mereka. Tentu saja hanya masalah waktu sebelum buntelan kebohongan itu ketahuan. Drama tuntutan tanggungjawab pun tak dapat terhindarkan. Dan mimpi Dara ke Korea tampak semakin menjauh dari jangkauannya.

Dibaca dari sinopsisnya, Dua Garis Biru ini mirip seperti cerita For Keeps? (1988), film komedi-romantis si Ratu Film Remaja 80an Molly Ringwald. Pun permasalahan yang dihadapi Dara dan Bima ini ada kemiripan dengan Jenny, Juno (2005), film yang beneran berasal dari Korea. Namun, ada perbedaan kultur sosial yang nyata-nyata membuat ketiga film tersebut menjadi totally berbeda. Amerika, Korea, dan Indonesia jelas berbeda. Dua Garis Biru dengan kuat menggambarkan keadaan dan katakanlah sanksi sosial yang bisa merundungi, bukan hanya remaja seperti Dara dan Bima, melainkan juga keluarga mereka. Karena banyak norma yang dilanggar. Penggambaran hal tersebut membuat cerita film ini sedikit berbeda. Dua Garis Biru bahkan bukan film Indonesia pertama yang membahas persoalan kehamilan remaja. Tapi tetap saja film ini terasa unik dan segar sebab sutradaranya; Gina S. Noer memberikan pandangan yang sangat personal – sebagai wanita, yang berkaitan dengan sudut pandang dan pilihan penting yang diambil oleh tokoh film di akhir cerita.

Peter Parker galau karena mendadak mikul tanggungjawab superhero? Pfffttt.. tanggungjawab kita lebih berat!

 

 

Yang sudah pernah menyaksikan review Dua Garis Biru di channel Oblounge FFB (klik di sini untuk menonton) pasti tahu betapa aku dan dua temanku sangat terkagum-kagum oleh kuatnya sudut pandang wanita yang dikuarkan oleh sutradara sekaligus penulis Gina S. Noer. Ada banyak adegan yang dimainkan begitu berbeda sehingga aku saat menontonnya dapat banyak kejutan-kejutan kecil. Adegan yang biasanya bakal berakhir dengan berantem jika dibuat oleh sudut pandang lelaki, di film ini jadinya sedikit lain. Berantem juga, tapi dalam tanda kutip, tidak seperti yang kita kira.

Drama dalam film ini dapat menjadi sangat emosional. Terutama ketika cerita sudah mulai mengikutsertakan keluarga dari pihak Dara dan Bima. Film enggak mengelak dari menampilkan betapa ‘kacaunya’ keadaan bisa terjadi jika punya bayi saat kalian masih seumuran Dara dan Bima. Dalam nada tertingginya, film mengangkat pertanyaan seputar standar keberhasilan suatu rumah tangga, seberapa siap seseorang untuk menjadi orangtua. Bahkan orangtua dalam film ini juga merasa bersalah, bahwa fakta anaknya hamil adalah tanda kegagalan dia sebagai orangtua. Noer selalu punya cara untuk menangkap luapan-luapan emosi itu ke dalam kamera, masing-masingnya terasa segar dan unik. Enggak melulu konfrontasi suara secara langsung. Kadang secara simbolik seperti Dara yang membayangkan janinnya sebagai buah strawberry. Dara yang memandang dirinya di cermin saat kesulitan memakai outfit yang ia beli bersama teman-temannya. Salah satu adegan simbolik penting Dara mengambil keputusan adalah saat ia melihat, dan kemudian memimpikan/membayangkan, ondel-ondel. Aku pikir aku tidak perlu menjelaskan keparalelan dirinya dengan ondel-ondel yang menyadarkan Dara tentang keadaannya.

Kita tidak bisa menyudahi pembicaraan tentang adegan penting Dua Garis Biru tanpa menyebut adegan di UKS sekolah Dara dan Bima. This single six-minutes scene is so powerful, dan membuatku menantikan apa lagi yang bisa dibuat oleh Gina S. Noer. Menginspirasi sekali gimana dalam debut sutradara, seorang penulis mampu menggarap adegan sesulit ini. Adegan UKS ini kuat oleh emosi, ini adalah ketika semua orang mengetahui kehamilan Dara, dan semua karakter-karakter faktor berkumpul di sini. Bereaksi. Beraksi. Kamera menangkap semuanya dalam satu take yang panjang, tanpa putus. Seperti kerja Akira Kurosawa; adegan tersebut punya depth yang luar biasa. Hal-hal terjadi kontinu di depan, di belakang, di luar ruangan. Pergerakan kamera sangat mulus, fokusnya bergeser mengarahkan perhatian kita kepada hal penting yang terjadi sehingga kita tidak tersesat mengikuti kejadian di dalam sana.

Dan semua orang di film ini memberikan penampilan akting yang sangat emosional. Cut Mini sebagai ibu dari Bima bahkan berhasil menyampaikan semuanya, mulai dari emosi yang dalam diam hingga benar-benar meledak. Untuk dua remaja pemain utama, Adhisty Zara alias ZaraJKT48 dan Angga Yunanda, jelas sekali ini adalah penampilan terbaik yang pernah mereka suguhkan sepanjang karir mereka yang juga masih muda belia. Masih banyak ruang dan kesempatan untuk menjadi lebih bagus lagi bagi mereka berdua. Zara dan Yunanda tampak natural di awal-awal, saat mereka masih anak sekolah biasa, saat cerita masih ceria. Ketika cerita mulai berat oleh emosi, terkadang pembawaan Zara masih tampak terlepas dari tokoh di sekitar, kadang yang ia ucapkan tidak konek dengan emosi yang seharusnya ditampilkan. Dara, dimainkan oleh Zara, tidak selalu tampak concern dengan keadaannya. Tapi sepertinya ini juga masalah pada naskah – yang akan segera kubahas di bawah. Begitupun dengan Yunanda. Karakter yang ia perankan, Bima, adalah yang paling ‘pendiam’ di sini. Bima menjalani kehidupan yang baru, mendadak ia menjadi ayah yang bertanggungjawab, dan masuk akal bila dia punya banyak untuk diproses, untuk dipikirkan. Terlebih di adegan awal tokoh ini memang digambarkan tidak brilian dalam urusan otak. Hanya saja terkadang, ekspresi Bima terlalu kelihatan seperti bengong ketimbang memikirkan apa yang terjadi. Tokoh ini juga tidak diberikan motivasi personal di luar ingin benar-benar bertanggungjawab. Bima has nothing to lose oleh kejadian ini karena dia tidak tampak punya keinginan sebelum inciting incident film ini dimulai.

gak mau belajar teori, maunya langsung praktek

 

Tapinya lagi, justru di situlah permainan sudut pandang wanita yang dimiliki oleh film ini. Film sepertinya setuju bahwa dalam kasus ‘kecelakaan’ pria bukanlah korban. Cowok bukan pihak yang dirugikan. Laki-laki masih bisa bebas keluar main. Bukan laki-laki yang berkurung di kamar, membelit perut supaya tidak kelihatan membelendung. Dan bicara perut, bukan laki-laki yang menanggung berat dan ‘bahayanya’ melahirkan. Dalam kasus Dara dan Bima, film menegaskan hanya Dara yang punya mimpi. Hamil dinilai merugikan untuk pihak wanita. Inilah yang diangkat oleh sudut pandang film, yang berusaha diberikan pandangan oleh sutradara. Bahwa wanita harus selalu ‘rugi’ itu tidak benar. Bahwa hamil, atau menjadi orangtua, tidak seharusnya menjadi penghalang bagi wanita untuk mengejar mimpi. Film ingin menunjukkan bahwa jalan menuju karir itu masih ada, dan satu-satunya cara untuk mencapainya adalah membuat keputusan untuk mengejar.

Menjadi dewasa dan bertanggungjawab bukan berarti tidak melakukan kesalahan. Setiap orang senantiasa pernah melakukan kesalahan di dalam hidupnya, persoalannya adalah bagaimana kita menangani keputusan yang sudah dibuat sebagai pertanggungjawaban dari kesalahan tersebut. Dara dan Bima memilih menjadi orangtua muda. Hidup mereka menjadi tak lagi sama, dan baru di saat itulah kedewasaan mereka benar-benar diuji

 

Dengan gagasan tersebut, maka film ini sepertinya perlu untuk ditonton oleh remaja dengan bimbingan orangtua. Malahan menurutku film ini wajib disaksikan oleh orangtua. Karena film mengajarkan untuk mengambil tindakan mana yang diperlukan. Kehamilan remaja merupakan hal nyata yang perlu mendapat perhatian lebih, dan satu-satunya cara adalah dengan edukasi dan bimbingan. Pilihan yang dilakukan Dara di akhir film ini tergolong ‘berani’. Sebuah film enggak harus selalu benar di mata kebanyakan. Sebuah film boleh punya moral sendiri. Dan Dua Garis Biru, meski punya intensi yang bagus, menghadirkan suatu jawaban yang sekiranya bisa membingungkan untuk remaja seusia Dara. Butuh obrolan dan bimbingan yang lebih lanjut dari orangtua sehingga film ini bisa punya kekuatan untuk membantu pasangan yang mendapat masalah yang sama, dan bahkan juga mencegahnya dari terjadi in the first place.

Karena film ini kurang menghadirkan sense of consequences. Semuanya tampak selesai mudah. Keluarga mereka dengan cepat menjadi suportif. Bima tidak punya masalah dalam mencari kerja. Dari latar agama, sosial, budaya, bahkan pendidikan, film sesungguhnya tidak banyak menampilkan edukasi langsung. Tentu, ada percakapan mengenai apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan, bagaimana pasangan ini sebaiknya dinikahkan, dan seputar masalah kesehatan. Tapi pendidikan soal tanggungjawab aftermathnya seperti ditangguhkan oleh solusi win-win yang ditawarkan oleh gagasan cerita. Film melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang harus dilalui oleh para tokoh. Tapi begitu semestinya mencapai bagian konsekuensi, film seperti melompati pertanyaan tersebut. Instead, film mencoba meraih suatu kompromi supaya semuanya tampak adil. Gue udah ‘terkurung’ sembilan bulan, dan sekarang giliran elu untuk melaksanakan tanggungjawab. Dua Garis Biru memperlihatkan situasi real yang bisa hadir dalam situasi seperti yang dialami oleh Dara, Bima, dan keluarga mereka, tanpa benar-benar menampilkan penyelesaian. Semuanya kompromi begitu saja. In a way, film ini sungguh-sungguh seperti cewek. Kadang emosional, dan berikutnya selesai. Kemudian emosional lagi untuk hal yang lain. Selesai lagi. Ada satu adegan intens saat Dara dan Bima ‘ribut’ sehingga Bima pulang ke rumahnya. Dan adegan berikutnya adalah mereka lagi bersama-sama di rumah sakit, mendengar Asri Welas melucu. Di adegan setelah itu baru mereka ‘ribut’ lagi. Kayak mood-swing cewek.

 

 

 

Pengarahan dengan sudut pandang yang kuat membuat cerita ini menjadi segar dengan banyak kejutan-kejutan kecil. Film menggambarkan konflik demi konflik yang real dalam berbagai cara yang unik. Banyak pertanyaan seputar masalah kehamilan remaja yang diangkat sepanjang cerita. Film memilih untuk tidak benar-benar membahas apa itu kehamilan, bagaimana terjadinya, edukasi di sini berupa gambaran besar. Film lebih ke memperlihatkan situasi yang benar-benar bisa terjadi dan bagaimana orangtua dan keluarga menanggapinya. Yang bisa saja bakal jadi pelajaran yang lebih efektif. I would like to see more tokoh-tokoh film ini mengarungi hari dan konflik yang muncul lebih organik, ketimbang seperti lompat-lompat antara gambaran dampak satu ke dampak lain. Karena pace cerita agak keteteran dibuatnya. Film dimulai dengan cepat, dan pada pertengahan seperti berjalan gitu aja oleh banyaknya pertanyaan yang diangkat silih berganti. Ada lebih dari satu kali aku menyangka ceritanya sudah akan berakhir, namun ternyata masih berlanjut. Sebenarnya film ini bisa lebih nendang dan berani lagi, dengan memadatkan dan lebih menonjolkan motivasi karakter Dara. Tapi setelah semua ekuasi, dua garis film ini toh tidak menyambung membentuk sebuah negatif.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for DUA GARIS BIRU.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Setujukah kalian dengan keputusan yang diambil oleh film terkait pilihan tokoh Dara? Apakah menurut kalian film ini bisa memancing kontroversi?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.