THE DOLL 2 Review

“Hey, Girl, open the walls, play with your dolls, we’ll be a perfect family.”

 

 

Rumah tangga yang ideal itu adalah rumah tangga yang kayak ditampilkan oleh rumah boneka. Coba deh intip rumah tangga yang dipajang di kamar adek cewekmu, ada ayah, ada ibu, ada anak, yang duduk ngumpul, mungkin di ruang tv. Yang beraktivitas bersama. Bibir plastik mereka dibentuk ceria.

 

Persis seperti begitu jualah keadaan keluarga Maira (Luna Maya dalam sebuah peran yang sangat unconventional, and she nailed every emotions). Bedanya pada jumlah orang, di rumah Maira juga tinggal asisten rumahtangga, Yani yang rajin. Keluarga kecil Maira tampak harmonis. Maira dan suami, Aldo (Herjunot Ali perlu bekerja lebih giat dalam urusan ekspresi) sering menghabiskan waktu bersama putri mereka, Kayla, yang demen ngerekam aktivitas sehari-hari dengan handycam. Main cari harta karun, menghitung kartu memori video bidikan Kayla, tiada hari tanpa nemenin Kayla dengan boneka kesayangannya, Sabrina, deh. Sayangnya, hari-hari itu sirna. Maira kehilangan Sabrina dalam sebuah kecelakaan; mobil yang membawa mereka bertiga tabrakan. Keharmonisan keluarga ini merenggang as Maira terus kepikiran Kayla. Sampai-sampai dia merasakan ‘kehadiran’ di rumahnya, kejadian ganjil mulai terjadi. Maira kerap melihat boneka Sabrina bergerak, berpindah tempat, mengajak dirinya bermain. Hal ini membuat Maira dan Aldo harus ‘bekerja’ sebagai keluarga kembali demi menuntaskan misteri sekaligus mengembalikan kehangatan di rumah mereka.

Ada sedikit psychological nudge dalam narasi, di mana Maira terlihat enggak benar-benar yakin apakah yang dilihatnya memang penampakan hantu atau berasal dari perasaan duka dan kehilangannya yang amat mendalam. Sahabat dan suami Maira malah enggak pernah melihat Sabrina beraksi dengan mata kepala sendiri. Langkah normal dan logis buat menyelesaikan masalah ‘boneka ku; hidup!’ tentu saja adalah dengan menyingkirkan that said doll, Sabrina dari rumah. Karena Sabrina adalah objek yang menghubungkan Maira dengan Kayla, membuat ibu ini tidak bisa melupakan kejadian tragis yang menimpa putri kecilnya itu. Membuat Maira enggak bisa move on. Dan di sinilah film The Doll 2 mengejutkanku. Cerita berkembang ke arah yang sama sekali berbeda. Yea it could destroy the movie entirely, lantaran reasoning dan menggarapnya masih dengan cara ‘menyembunyikan karakter’, you know, kayak sengaja biar gak ketebak sama penonton doang – enggak really terbuild up. Namun aku suka dengan sekuens berdarah-darah yang timbul dari pengungkapan ini. Revealing di menjelang babak tiga, katakanlah twistnya, benar-benar turn the movie around.  Mengubah film yang tadinya lebih ke DRAMA HOROR, MENJADI ACTION SLASHER yang lebih membabi buta daripada Membabi-Buta (2017). Membuatku memikirkan ulang segala catatan yang udah kupetik sepanjang film.

ide buat pesta Halloween: lomba karaoke Lingsir Wengi.

 

 

Sepuluh menit pertama adalah waktu penting yang sempit buat narasi melandaskan mood, tone cerita, motivasi, dan stake yang akan dihidangkan. Aku masuk ke sekuel ini siap mencerca lantaran sepuluh menit pertama mereka habiskan untuk memperlihatkan kejadian akhir di film The Doll (2016). It was like a clip penuh oleh jumpscare, dialog eksposisi, dan elemen dari film-film horor luar yang jauh lebih sukses. Dan tadinya aku mengira adegan itu dimasukkan buat penonton yang belum pernah nonton film pertamanya, penonton seperti aku, semacam langkah buat nyambungin cerita lah. Tapi setelah aku melihat babak ketiga, setelah revealing yang membanting setir arah film, memasukkan adegan awal seperti itu bukan hanya supaya make sense, namun juga jadi langkah yang perlu banget. Karena itu adalah cara film ini untuk ngeset, ngasih tau kita kalo yang kita tonton sebenarnya adalah horor yang slasher abis. It was brutal, mereka memanfaatkan rating 17+ dengan maksimal. Adegan berdarahnya enggak nahan-nahan. Perut ditusuk-tusuk, badan dibanting-banting, aku seketika seger nontonnya. It was full of scream. Yea, kupikir sutradara Rocky Soraya sebagian besar mendapat pengaruh dari seri slasher buatan Wes Craven, Scream.

Dan mereka gak bisa ngesetup itu dengan sekaligus harus menyemen keharmonisan keluarga Maira. Film ini butuh cuplikan, dan itu adalah cara yang aman. Untuk selanjutnya, film mengambil waktu untuk memperlihatkan keharmonisan keluarga Maira. Kita benar-benar melihat perbedaan Maira antara sebelum dengan sesudah kecelakaan. Namun perihal kerenggangan rumah tangga, bahwasanya Maira tidak really merhatiin Aldo seperti yang direveal di akhir, tidak pernah tergambar jelas. Sekali lagi, setelah melihat film ini – aku banyak berpikir ulang – menurutku, kekurangeksploran build up soal hubungan Maira dan Aldo adalah disengaja sebab film ingin bekerja dalam ruang memperlihatkan keluarga mereka benar seperti keluarga boneka. Plastik. Terlihat harmonis dari luar sampai bikin iri pembantunya, namun di baliknya mereka punya masalah.

Let’s talk about design boneka Sabrina; I’m not a fan. Banyak orang mimpi buruk tentang boneka karena wajah boneka biasanya menunjukkan ekspresi yang statis. Seram datang setelah diliat-liat biasanya ekspresi minimalis boneka tersebut seolah berubah. Namun di sini, mereka overdid it, pengen nyaingin boneka film negara luar, eh malah membuat Sabrina jadi kurang seram. I mean, boneka standar kayak Susan aja sebenarnya udah seram kok. Dilihat dari betapa meyakinkannya praktikal efek yang digunakan dalam bagian-bagian yang gory, juga dalam make-up hantu, film ini punya SENSE HOROR YANG BAGUS. Jadi aku toh cukup tertarik juga menunggu untuk melihat apa sih yang bisa mereka lakukan dengan si Sabrina. Dan aku sedikit kecewa, lantaran selain matanya yang bergerak dan ngeluarin darah, mereka enggak bikin Sabrina bisa ngelakuin banyak hal.

Sebagian besar adegan berdarah, adegan horornya, dishot dengan bagus. Favorit film ini adalah ngambil view dari atas kipas angin di tengah ruangan, dan memang paduan kipas berputar dengan bercak darah yang diseret menghasilkan gambar yang cukup mengerikan. Film ini juga banyak bermain dengan cermin, yang mungkin adalah simbol subtil, but I guess it was played just for the cool effect.

“aku bukan boneka, bonekaaa~~”

 

Kebanyakan memasukkan elemen dan tropes horor lain menjadi beban yang menghalangi film ini untuk jadi lebih gede lagi. Separuh awal dihabiskan untuk membuat kita kaget oleh false jumpscare; udah ngagetin, bukan setan pula. Cuma orang yang datang bawa keranjang cucian. Padahal seperti yang kubilang tadi, film ini punya sense of horor yang ciamik. Seperti pada adegan akhir antara Maira dengan hantu Kayla. Untuk sekali ini, Kayla diliatin tanpa diiringi suara musik keras, dan hasilnya sungguh sebuah adegan serem sekaligus touching. Beautiful! Arc Maira sebagai ibu yang kehilangan anak, juga arc Kayla sendiri sebagai anak yang dirampas dari kasih sayang, selesai dengan menyeluruh. Adegan yang powerful; melihat ibu menunjukkan cinta kepada anak yang tampangnya menyeramkan, dan ultimately casting her away, merelakan. Ah seandainya semua adegan seram film ini mendapatkan perlakuan seperti adegan tersebut…

Ini adalah cerita tentang ibu yang kehilangan anaknya. Mengeksplorasi seberapa dalam orang terjatuh dalam duka, struggle untuk –bukan melupakan- hanya untuk menyimpannya sedalam kita bisa menjalankan hidup tanpa terusik oleh rasa kehilangan. Dan it doesn’t shy away dari fakta bahwa ketika kita kehilangan seseorang yang teramat disayangi, kita ingin menuntut balas.

 

Film inipun terlihat pengen menjadi banyak sekaligus. Bahkan beberapa adegan direkam dengan shaky cam, you know, sebab film horor kebanyakan berkamera goyang-goyang. Sepertinya ini dijadikan ciri khas, film ini adalah GABUNGAN GENRE HOROR; dalam cerita ini kita dapatkan elemen drama, horor hantu, slasher bunuh-bunuhan, dan even psikologis – enggak semuanya toh bekerja dengan baik, mainly disebabkan oleh penulisan yang gak bisa mengimbangi dan menampung semuanya. Kualitas dialog dalam film ini enggak begitu menonjol, masih mengandalkan eksposisi yang menurunkan nilai adegan. Misalnya, ada karakter yang sudah terbangun dari Kayla, dia nyebut dia suka bangun tengah malam, nonton dan buang air kecil. Later setelah dia meninggal, Maira mendengar suara tv dan siraman air di kamar mandi pada tengah malam. Sebenarnya kan itu adalah adegan yang seram, kita menyimpulkan yang didengar Maira bisa jadi adalah hantu anaknya, namun film malah memutuskan supaya hal subtil yang visual kayak gini diperjelas oleh dialog yang menerangkan semua. Juga terlalu banyak adegan “Tadi Kayla di sini. Ada boneka juga, liat deh,” dan ta-daa! bonekanya hilang. Totally a waste of dialogue yang mestinya bisa dimanfaatkan untuk build up ke twistnya.

Beberapa aspek cerita gak berujung apa-apa, seperti wish yang diucapkan oleh Aldo, yang membuat kita teringat akan Krampus (2015) atau malah permintaan ulang tahun Danur (2017) yang dibuat oleh film seolah bagian yang penting, they literally ngesyut asapnya beberapa detik kayak mau ngebuild up sesuatu, tapi tidak pernah ada efek nyata pada cerita. Ada juga sih, usaha untuk merasionalkan beberapa hal yang janggal pada narasi. Kayak teman Maira yang gak percaya takhayul, namun justru dia yang menyarankan mencari pemanggilan arwah lewat medium di internet. Namun tetap saja, hanya berakhir menambah paparan ketimbang memperkuat karakter minor. Dan menurutku, mereka benar-benar membuang kesempatan pada adegan kecelakaan, they should have sold it more convincing. Akting dan pengadegan di sana kurang intens, like, mereka melaju di dalam mobil yang remnya blong, itu adalah hal yang mengerikan, namun penampilan aktingnya enggak membuat kita ngeri yang maksimal, tabrakannya enggak ‘dijual’ dengan spesial.

 

 

It worked as a stand-alone movie; aku belum nonton yang pertama dan masih bisa ngikutin. Malahan bisa berkembang menjadi seri slasher/horor tanah air yang sangat bagus, jika tetap mempertahankan gimmick boneka digabung terus mengeksplorasi hubungan antara ibu dan anak. Unsur budaya lokal yang cukup kental juga membuat film ini jadi punya sudut pandang sendiri. Dan please… kurangi elemen-elemen film lain, dan tinggalkan sepenuhnya trope-trope horor usang yang membuat film jadi sebuah wahana enggak seram alih-alih tontonan yang creep out on us. Aku enggak tahu harus mengharapkan apa, dan berakhir dengan really surprised dan mildly entertained oleh babak terakhir yang gut-busting. Film ini memilih langkah dan arahan yang beralasan, namun masih ketutup dan terbebani oleh keinginannya untuk menjual banyak hal. Punya good sense of horror, bekerja baik sebagai drama, dan even better sebagai slasher. hanya saja dia ingin terlihat perfect untuk menyembunyikan kelemahan aspek pada narasi.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE DOLL 2.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

SURAT KECIL UNTUK TUHAN Review

“I thought that you would be the hero come in save the day, but you’re the villain.”

 

 

Anak terlantar dipelihara oleh negara. Begitu kata buku UUD 1945 yang kuhapalin pas pelajaran PPKN. Surat Kecil untuk Tuhan menuliskan anak-anak jalanan sepeti Angel dan abangnya, Anton, dipelihara oleh Om Rudy. Sosok yang Angel sangka pahlawan, yang memberi mereka atap dan makanan. But he was unforgiven. Om Rudy bukanlah jawaban dari surat yang ditulis Angel untuk Tuhan. Oleh Om Rudy,, mereka disuruh mengamen di jalanan yang tak berbelas kasih. Dan dihukum keras jika uang setoran kurang. Bahkan saat Angel tertabrak mobil sehingga musti dilarikan ke rumah sakit, Om Rudy enggak mau repot-repot membayar biaya pengobatan. Mengakibatkan Angel harus terpisah dari abang yang berjanji untuk terus menjaga dirinya.

Sounds depressing enough? Atau malah terdengar familiar?

Clearly, film ini berhasil menerapkan pelajaran berharga soal bercerita dari salah satu nominasi Oscar, Lion (2017). Surat Kecil untuk Tuhan membagi porsi narasinya menjadi dua, ketika Angel kecil di jalanan dan paruh terakhirnya adalah tentang Angel yang sudah dewasa dan bekerja ngurusin kasus-kasus kekerasan terhadap anak, baik di rumah tangga maupun di luar sana di perempatan. Aku suka gimana film ini berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggunakan alur bolak-balik, meski memang ada sisipan adegan kenangan yang tidak mampu ia hindari. Ini adalah resiko yang mereka ambil, karena membuat film seolah baru dimulai di babak kedua; motivasi Angel baru jelas banget di poin ini.

Terkadang ketika berhenti di lampu merah, kita suka dilema sendiri. Melihat anak jalanan yang mestinya lagi kepergok nyontek dan disetrap di depan kelas itu, malah nyanyi-nyanyi dengan alat musik rombeng. Mau ngasih duit, ragu. Ntar duitnya pasti dipalak. Atogak dipakai buat yang enggak-enggak. Mau membantu kok pikir-pikir. Benarkah dengan tidak membantu, kita bisa membantu mereka. ‘Gimana dengan pihak yang ‘mempekerjakan’mereka, salahkah mereka membesarkan dan mendapat balas jasa?Manakah yang lebih ‘for the greater good?’

 

Film ini mampu memantik pertanyaan moral dengan eksplorasi perspektif anak jalanan yang terasa fresh. Apa yang dilakukan dengan baik oleh film ini adalah menanamkan bibit-bibit karakter semenjak paruh di mana mereka masih muda. Sehingga ketika kita melihat dan bertemu dengan mereka kembali setelah time jump, perkembangan karakter mereka – menjadi seperti apa mereka sekarang – terasa masuk akal. Kita akan melihat Angel dengan gigih berusaha mengungkap sindikat anak jalanan yang dipimpin oleh Om Rudy, kita mengerti darimana dorongan tersebut datang, apa yang membuat semua itu sangat personal dan begitu urgen dilakukan oleh Angel. Relationship antarkarakter juga terjalin dan tergambarkan dengan kuat. Semuanya diberikan pay-off yang ampuh menarik-narik heartstring kita. Karena film ini tahu persis dirinya adalah drama yang secara natural sangat emosional. Aku suka adegan ketika Angel Dewasa yang diperankan oleh Bunga Citra Lestari untuk pertama kalinya bertemu kembali dengan Om Rudy. They played it off so good. Mata BCL sukses banget mancarin rasa takut yang masih bersisa dari masalalu itu. She barely could say any words. Lukman Sardi sebagai Om Rudy juga terlihat takut di balik tokohnya yang tenangnya menguarkan aura menacing.

but to be honest, aku kaget ngeliat Dorman Borisman masih aktif main film, kirain udah vakum XD

 

 

Penampilan akting yang mengisi paruh kedua film mampu membuat kita melupakan rasa bosan, karena memang bagian ini lebih serius. Dan serius digabung dramatis biasanya adalah gabungan yang ampuh untuk bikin kita nyalain hape. Setelah gede actually adalah film di puncak paling menarik, sebagian besar lantaran film Indonesia memang kelihatannya masih kepayahan mencari aktor anak kecil yang mampu bermain dengan meyakinkan. Penampilan yang paling juara dalam film ini datang dari Joe Taslim yang memerankan pacar Angel yang berprofesi sebagi dokter jantung. Joe Taslim sangat kharismatik dan bersimpati di sini. Tokoh Martin pun mendapat backstory dan eksplorasi yang berbobot sehingga dia benar-benar punya purpose untuk ada di sana. Bukan hanya sebagai device, he actually adds much. In fact, malahan tokoh lead kitalah yang paling kurang konsisten di sini. Aku merasa aneh aja sama aksen Inggris dari Bunga Citra Lestari. Tokohnya gede di Australia, sudah cukup aneh dia enggak develop any accent. Ditambah pula at one time, dia menjawab telepon dengan ”who is it?” yang terdengar aneh alih-alih natural dan lebih cocok dengan kehidupan profesionalnya dengan jawaban “who is this?”

Tentu saja ada bagian ‘pertarungan’ di pengadilan. Film ini menghandlenya dengan memasukkan elemen di mana Angel harus mengumpulkan dan meyakinkan saksi-saksi yaitu orang-orang yang berasal dari masa lalu tragisnya. Sudut pandang dari saksi-saksi tersebut memberikan suntikan perspektif yang semakin menambah kadar dramatis. Yang mana, juga menimbulkan masalah kepada narasi sebab film ini mengarah kepada JALUR YANG HITAM-PUTIH. Yang jahat benar-benar jahat, yang baik benar-benar tertindas. Ruang thought-provoking semakin menyempit, kemakan oleh porsi dramatis yang terus dibesar-besarkan. Tadinya aku mengira film ini paling enggak jadi kayak versi dramatis dari anime The Boy and the Beast |(2015), taunya enggak. Malah dramatisnya lebih seperti Grave of the Fireflies (1988) digabung dengan Lion.

Kita tidak akan pernah kehilangan orang yang tulus menyayangi kita. Sebab, once there, mereka tidak akan pernah pergi dari sana.

 

Ini adalah film tentang pencarian kebenaran, namun TONE YANG DIOLAH DENGAN TERLALU OVER membuat film ini tidak bisa mencapai level Lion. Baik over di bagian editing tone visual, maupun pada tone cerita yang kerap amat sangat sappy, kalo gak mau dibilang cengeng. Dalam Lion, kita tidak melihat Saroo kecil ujan-ujanan. Dalam Surat Kecil untuk Tuhan, dalam 15 menit pertama, Angel dan Anton terus saja kehujanan, dengan lagu Ambilkan Bulan, Bu yang diaransemen ulang menjadi sangat sedih dimainkan nyaris non-stop. Film ini terus ngepush drama seputar tema kekerasan terhadap anaknya sampai-sampai aku tidak lagi mempertanyakan kenapa film ini tidak diberikan rating sensor yang lebih dewasa. Aku malah jadi keheranan kenapa film ini dijadikan tontonan lebaran keluarga in the first place.

Menjelang akhir akan ada pengungkapan yang disertai dengan adegan yang, sebenarnya, sangat kontroversial. As in, bisa bikin trauma anak kecil yang menontonnya. Walaupun enggak digambarkan eksplisit banget, namun tetep aja ekuivalen ama adegan kontroversial serial 13 Reasons Why (2017) yang tayang di Netflix. Because we talk about children here. Surat Kecil Untuk Tuhan menunjukkan anak kecil yang – sulit untuk tidak mengasumsikan dia – disuntik mati. Asumsi lain yang timbul dari sekuen itu adalah penonton disajikan adegan anak kecil yang dibedah hidup-hidup off-screen, dan di layar kita melihat reaksi orang dewasa yang muntah menyaksikan tindak kriminal tersebut. Aku langsung ngeliat ke arah keluarga beranak dua yang nonton di sebelahku; mamanya nutupin mata anak yang gede, sementara papanya menutup mulut sendiri sambil menggendong anak bungsu mereka dengan memposisikan si anak membelakangi layar.

endingnya meski ketebak, tapi tetep terasa ‘ajaib’’kayak episode Beyond Belief Fact or Fiction

 

Beberapa menit kemudian adegannya nampilin anak bawah umur merintih diperkosa. Dan kedua orangtua di sebelahku tadi saling berpandangan.

 

 

 

 

Punya emosi yang sangat kuat, film ini mengexamine moral kita terhadap anak jalanan lewat perspektif orang pertama yang benar-benar menawarkan sesuatu yang baru. Tema kekerasan anak bergulir kuat, da terus diamplify. Penampilan yang di bawah standar dengan cepat tergantikan oleh performa yang sangat meyakinkan yang menatap kita straight to our heart. Bisa saja menjadi thriller yang hebat, yang thought provoking, jika dirinya tidak memfokuskan diri membuat penonton banjir air mata sebagai tujuan utama. Film ini berani mengambil resiko dalam penulisan, namun not so much pada departemen arahan. Tonenya terlalu cengeng, enggak tegar seperti film Lion, film yang banyak dibanding-bandingkan terhadapnya. Karena tentu saja orang akan mudah sedih melihat anak-anak yang menangis di bawah hujan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SURAT KECIL UNTUK TUHAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

47 METERS DOWN Review

“For whatever we lose, it’s always ourselves we find under the sea”

 

 

“Kayak di kebun binatang, cuma bedanya kalian yang dikurung di kandang.”
Kata-kata dari pemandu tersebut sedikit berhasil menetramkan cemas di hati Lisa, memantapkannya untuk masuk ke dalam kandang yang bakal direndem di laut lepas perairan Mexico. Aman, kok. Lisa dan Kate, adiknya, memang lagi liburan. Mereka ingin bersenang-senang, foto-fotoin Hiu Putih dalam habitat aslinya. Pengalaman sekali seumur hidup buat Lisa itu menjelma jadi benar-benar harafiah, sebab derek yang menahan kandang karatan satu-satunya pelindung mereka dari gigi hiu tiba-tiba patah. Mengirim Lisa dan Kate empat-puluh-tujuh meter ke dasar lautan, terjebak di sana. Seolah terpaket rapi di dalam kandang kotak persis hadiah yang menunggu dibuka oleh hiu-hiu yang kelaparan.

“under the sea~ where the sharks singing, waiting your body, under the sea~”

 

Konsep cerita yang keren. Terkurung di bawah laut. Tuntutan oksigen yang membuat keadaan para tokoh jadi punya urgensi yang tinggi. Dan hiu-hiu. Wow. Aku selalu tertarik sama film yang ada hiu-hiunya. Tapi hiu yang di bawah laut loh, ya. Bukan hiu yang menclok di angin tornado ataupun hiu yang terbang di angkasa. Aku terperangah aja ngeliat warna merah pekat dikontrasin sama biru jernih lautan. Film 47 Meters Down juga punya visual yang JERNIH NAN EERIE seperti begitu. Jika tahun lalu kita sudah berenang di perairan dangkal bersama hiu lewat film The Shallows (2016), maka kali ini kita akan menyelami kengerian lebih jauh lagi. Pemandangan dan suasana dasar laut yang mencekam akan jadi suguhan yang film ini harapkan bisa mengisi mimpi buruk kita sehabis menonton. Visually, film ini berhasil mencapai level kengerian itu.

Bawah laut adalah tempat yang membuat manusia paling merasa manusiawi. Kita akan merasa takut, merasa kecil, merasa cemas tak-berdaya oleh kegelapan tak berujung. Dan tentu saja ada harapan, sebagaimana karakter film ini kehilangan sesuatu dan balik menemukan dirinya di dalam sana.

 

Untuk mencari jawaban dari pertanyaan “Kenapa sih setelah Jaws (1975), kita enggak lagi menemukan film tentang hiu yang benar-benar keren sehingga bisa bikin kita ketagihan dan penasaran dan pengen punya hiu serta sekaligus jadi ngeri berenang di laut?” sebenarnya enggak susah-susah amat. Kita enggak perlu jauh-jauh menyelam ke lantai samudera. Kita cuma perlu menyelami sekian banyak sekuel dan film-film rip off gagal, dan menanyakan kepada diri sendiri; apa yang membuat kita terus bertahan ngikutin cerita meski ketakutan semakin merayap dengan perlahan. Itu semua bukan karena pertengahan terakhir di mana hiu anatagonis Jaws keluar menyerang terang-terangan. Dalam 47 Meters Down, kita melihat Lisa dan Kate kegirangan ketika melihat hiu mendekat datang setelah ember umpan dilempar ke air. Itu adalah mentality orang yang lagi liburan; mereka pengen lihat hiu. Namun saat kita menonton film; mentalitynya adalah kita pengen ngeliat karakter. Kita nonton Jaws bekali-kali, it’s not exactly because we want to see the shark, kita nonton demi melihat karakter manusianya struggle, overcoming their fears, dan mengarungi journey bersama mereka. Mengalahkan musuh yang disimbolkan sebagai hiu.

Sayangnya, sebagian besar dari pembuat film mengenyampingkan faktor karakter. Mereka memperlakukan film hiu layaknya wahana. Kita yang menontonnya udah persis kayak lagi shark diving, nontonin aksi hiu dari balik kandang. Namun lebih parah, lantaran tak jarang, nonton film hiu berarti kita harus ngikutin perjalanan karakter yang ‘bego’, yang annoying, yang mengerikan – dalam makna yang buruk, yang ditulis dengan sangat sederhana. Seperti karakter-karakter yang kita temukan dalam 47 Meters Down. Lupakan tokoh minor/sampingan, mereka cuma ada di sana karena tokoh kita benar-benar butuh orang sebagai pemandu. Tokoh sentral kita, dua kakak beradik Lisa dan Kate, dituliskan punya sifat yang berseberangan. Kate ini anaknya berjiwa petualang banget, dia udah pernah scuba diving dan pergi ke mana-mana sebelumnya. Sebaliknya, Lisa sang kakak, lebih ‘pasif’, dia belum pernah ngelakuin hal-hal ‘fun’ sebelumnya. Sebenarnya formula bikin karakter yang udah benar, hanya saja film ini mengolah mereka dengan cara yang sangat over dan mereka dibikin, yah; ‘bego’

One thing about karakter adalah mereka harus diberikan motivasi yang kuat supaya kita peduli. Saat mereka sudah terjebak di bawah laut, jelas, motivasinya adalah pengen hidup. Yang jadi masalah adalah motivasi kenapa Lisa mau ngelakuin scuba diving bersama hiu pada awalnya. Cewek ini baru aja diputusin ama cowoknya karena Lisa ini terlalu bosenin dalam ngejalanin hubungan. Jadi, Lisa ingin melakukan sesuatu yang exciting, terus difoto buat dikasih liat sama cowoknya, like, “Nih liat, keren kan liburan gue! Jeles kan, lo!? Jeles, kan!!!” Motivasi yang sangat menggerakkan hati sekali, bukan? Bikin kita semua peduli banget kan? Iya, kan!!!

Anyway, ada sih satu momen tokoh yang aku suka. Yakni ketika Kate yang tetap terlihat tenang setelah kandang mereka karam, kemudian barulah dia mengeluh takut saat menghubungi kapal, dan itu dilakukannya saat sudah jauh di luar jangkauan pendengaran transmisi baju selam Lisa. Tokoh Kate yang diperankan hampir fierce oleh Claire Holt memang diniatkan untuk lebih likeable, tapi buatku treatment kecil seperti demikian adalah sentuhan bagus yang sangat dibutuhkan oleh film ini.

Kakaknya boring banget sampesampe aku yakin adeknya sengaja nyabotase kandang biar copot dari kapal

 

 

Kedua tokoh ini punya kebiasaan ngejatuhin benda-benda yang mereka pegang, terutama benda yang penting. Dan itu ngeselin banget. Kualitas penulisan mereka pun klop banget ama penampilan aktingnya; berasa FTV. Eh, ada gak sih di barat sono istilah FTV? Yang jelas, Mandy Moore memainkan Lisa dengan over-the-top sekali. Bahkan, jika kita menonton percakapan kedua kakak-adik di film ini tanpa ngeliat gambar, suaranya doang, maka kita bisa salah menyangka lagi mendengar potongan dialog dari film Barbie.

“Lisaa, aku sudah berhasil menghubungi kapal!”
“Benarkah!? Waaah”
Lokasi adegan: dasar laut gelap dengan keberadaan hiu yang mengancam.

Enggak ada sedikitpun kesubtilan dari bantering mereka. Perasaan thrillernya enggak kebawa di dalam dialog film yang sebagian besar ditulis seperti demikian. Ada satu lagi; setelah adegan Lisa selamat dari kejaran hiu dengan bersembunyi di dalam gua, dan kalimat pertama yang terucap dari mulutnya adalah “The shark almost got me..” Well, I was like, no shit lady! Dan aku bersumpah aku seakan bisa mendengar ekspresi “huhuuu” keluar darinya di akhir kalimat tersebut.

 

Film ini menganggap dirinya lebih seram daripada yang sebenarnya. Padahalnya sebenarnya yang dimaksud horor oleh film ini adalah suara musik yang keras. Hiunya sendiri tampak mengerikan, meyakinkanlah sebagai makhluk hidup. Hanya saja, hiu-hiu tersebut tidak melakukan banyak selain sekali-kali muncul tiba-tiba entah dari mana ngagetin kita semua. Sejujurnya aku malah lebih percaya Lisa dan Kate akan mati kehabisan oksigen ketimbang mati dimakan hiu, sebab hiu dalam film ini were so bad at biting preys. Serangan mereka seringkali luput, dan yang kena pun pada akhirnya enggak berarti apa-apa. Tentu saja, semua itu berkat kehadiran endingnya, yang entah kenapa film ini merasa perlu untuk ngetwist. Sedari awal aku sudah susah peduli sama tokoh utamanya, dan setelah twist ini muncul, aku gak bisa untuk lebih gak peduli lagi.

 

 

 

 

Aaah, that sinking feeling yang kurasakan saat antusias perlahan terus menurun setelah sepuluh-menit pertama set up yang biasa – malahan ala FTV – banget…. Ini adalah jenis film yang punya konsep bagus namun dalam eksekusinya sukar untuk dikembangkan. Tokoh-tokoh film ini enggak bisa punya banyak ‘kegiatan’ setelah mereka karam di bawah laut dan tersebutlah hiu-hiu putih di sana. Narasi butuh banget karakter yang kuat, namun film ini memandang hal tersebut sebelah mata. Dibuatnya penokohan dan dialog yang over-the-top, dengan penampilan akting yang juga gak terlalu bagus dan meyakinkan. Hasilnya adalah film thriller yang tidak mencekam, film horor yang tidak seram, dan film hiu yang tidak punya ‘daging’ di dalamnya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for 47 METERS DOWN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE BELKO EXPERIMENT Review

“Morals – all correct moral laws – derive from instinct to survive.”

 

 

Jika kalian kerja sebagai pegawai kantoran, maka kemungkinannya adalah kalian lagi baca ulasan ini secara diam-diam di dalam kubikel kecil yang layar komputernya nyaris penuh oleh kertas-kertas kecil berisi catatan kerja dan foto-foto orang tersayang. Aku sendiri belum pernah ngerasain, mainly because I sill live in the edge of rainbow at fantasy world, tapi dari yang kudengar ruang persegi yang not exactly privat itu bisa menjadi penjara tersendiri khususnya bagi karyawan yang kerja pagi pulang nyaris pagi lagi enam hari seminggu. Kubikel adalah sel, dan kantor beserta segala rutinitasnya adalah penjara.

Perasaan terperangkap tersebut diamplify oleh film The Belko Experiment; dijadikan premis yang teramat menarik di mana kedelapan puluh karyawan perusahaan non-profit Belko di Colombia literally dikurung di dalam gedung kantor. Dan mereka semua diperintah untuk membunuh sejumlah orang oleh suara misterius dari intercom. Jika gagal, mereka akan ditumpas satu demi satu secara acak lewat bom yang unknowingly telah terpasang di tracker pada kepala mereka.

Ide ngurung orang dan menyuruh mereka bunuh-bunuhan selalu adalah ide yang hebat. It’s an easy sell. Film ini basically kayak Battle Royale (film Jepang keluaran tahun 2000), dicampur The Hunger Games, dicampur lagi sama The Purge (2013) – yang satu ini juga garapan rumah produksi yang sama, yang numplek plek di komunitas kecil lingkungan kantoran. Konsep yang menarik. Dalam film ini kita akan melihat gimana berbagai macam orang punya respons yang berbeda-beda ketika dihadapkan kepada situasi di bawah tekanan yang sangat ekstrim. Kita diberi kesempatan untuk mengenal sepintas beberapa kepala dari delapan-puluh, sehingga kita tahu siapa yang berada di pijakan moral yang bagaimana. Ada yang berusaha berpikir jernih untuk keluar dengan selamat dari sana, seperti tokoh hero kita, Mike Milch (John Gallagher Jr jadi mr. goody two shoes di sini). Ada yang langsung resort ke nembakin orang-orang; untuk nyelametin dirinya, John C. McGinley yang meranin si boss Wendell Dukes secara ironis menjadi musuh bagi bawahannya yang helpless. Tentu saja, juga ada yang semacam ‘pemikir’ teori konspirasi yang percaya bahwa kejadian tersebut adalah scam dan semuanya disebabkan karena mereka minum air mineral dari perusahaan, so pecahkan saja galonnya sampai tumpah!

oh tidak, jangan minuumm!!!

 

To be honest, kalo aku terjebak di sana, aku akan jadi salah satu orang ikutan si Marty ngumpulin bom dari kepala mayat-mayat. Menariknya film ini memang karena ia mampu membuat kita berandai-andai gimana pabila situasi tersebut datang kepada kita. Elemen KEKERASAN YANG DIJADIKAN SOROTAN UTAMA membuat kita tidak bisa untuk tidak menikmati The Belko Experiment. Film ini nyaris seperti film-film jadul John Carpenter, dari segi gory grindhousenya.

Apa yang akan kita lakukan ketika kita dipaksa untuk melakukan sesuatu yang kita tahu itu salah. Langkah apa yang kita lakukan untuk membela diri. Akankah kita menarik pelatuk itu? Ataukah kita akan mendahulukan moral untuk melakukan yang benar di tengah-tengah situasi yang menekan dan mengerikan.

 

 

Sebetulnya hal tersebut menimbulkan sedikit kontra, The Belko Experiment adalah film yang menjual violence dan situasi serta komentar sosial yang timbul membuat kita memikirkan dengan khidmat at the moment. Namun kita seharusnya melihat film sebagaimana kita melihat dunia; not for what it is, but rather for what it should be, sehingga kita bisa mengubahnya menjadi lebih baik. The Belko Experiment terasa lebih cocok jika diarahkan ke jalur yang lebih ‘ringan’, dengan sudut satir dan dark-comedy yang lebih tajam. Sebab, untuk sesuatu yang mengeksplorasi situasi yang terrifying seperti demikian, film ini terlalu serius, terlalu over-the-top sehingga tidak ada hal-hal kreatif yang muncul dari penggarapan tema tersebut.

James Gunn yang menulis The Guardians of the Galaxy satu dan dua, juga dipercaya untuk menulis screenplay dari film garapan Greg McLean. Dan dalam film ini memang terasa ada sesuatu yang bagus tertulis di dalamnya, hanya saja eksekusinya enggak berhasil menunjukkan itu. Kita mengenal Gunn dari selera humor unik yang ia sematkan dalam karyanya, however, dalam film ini sense humornya enggak benar-benar terasa, kecuali pada satu, dua baris dialog. Social study tentang perilaku manusia yang mestinya bisa lebih menarik diceritakan secara nyindir oleh komedi cerdas, malah terbebani oleh betapa serius semua elemen terasa. Fokusnya terutama kepada memancing drama dengan cara paling biasa yang bisa dipikirkan. Misalnya, ketika para pekerja itu terbagi menjadi kelompok-kelompok, mereka seketika menjadi kelompok baik dan kelompok jahat. Persoalan mengenai mana yang ‘benar’ tidak pernah benar-benar digali, mengakibatkan film jadi kurang menantang. Hanya sekilas ketika film memberikan justifikasi terkait keberadaan keluarga yang menunggu di rumah, tetapi tentu saja susah untuk kita merasakan simpati ke kubu yang berpistol dan berisi orang-orang penguntit dan kasar.

Menunjukkan dengan sadis gimana sebuah perusahaan secara fundamental mampu ‘bermain-main’ dengan hidup karyawannya. Mendorong mereka untuk melakukan sesuatu lebih jauh tanpa perlu terseret secara emosi lewat struktur manajemen yang faceless. Serta menunjukkan secara implisit lewat diversity tokoh dan seting lokasi ceritanya, bahwa dalam bisnis gede, kebangsaan pada akhirnya hanyalah pembatas dan kebaikan moral tidak pernah ada di dalamnya.

 

Bahkan ketika film ini goes full-on blood and gore, korban-korban itu totally mati sia-sia. I mean, adegan bunuh-bunuhannya membosankan. Ada adegan yang literally mereka barisin orang untuk ditembaki. Mengenai efek, beberapa bakal bikin kita kagum juga, efek prostetik kayak tengkorak yang remuk sukses bikin meringis. Namun kecenderungan film ini untuk memilih langkah yang paling enggak kreatif dalam tiap kesempatan, membuat adegan-adegan pembunuhan tidak memiliki dampak yang diinginkan. Tokoh yang mati hanya terasa mereka ada di sana untuk menuh-menuhin kuota manusia. Ada beberapa tokoh yang dibuat seolah-olah punya kans dan punya saga, adegan kerap dipotong menunjukkan usaha dan pilihan mereka, namun ternyata gak berakhir ke mana-mana. Begitu pun ada banyak plot device yang dilempar begitu saja ke kita tanpa diikuti dengan penyelesaian yang kreatif ataupun berbeda.

“he said to not touch his stapler…”

 

Endingnya adalah bagian yang paling “..meh.” Bland dan sangat konvensional. Yang paling mengecewakan adalah film ini diakhiri dengan sekuens yang didedikasikan untuk ngeset up film selanjutnya. I cannot stress this enough; mental film yang sengaja banget ngejual sekuel alihalih bercerita untuk film itu sendiri adalah mental yang harus dimentalin jauh-jauh. Sama seperti dengan The Mummy (2017), kalo kita ngerasa nonton ini hanya karena biar di kemudian hari gak nyesel “aduh, belum nonton yang pertama”, itu berarti kita udah played right into their pocket. Ini kayak kalo kita mau beli rumah, namun bangunannya ala kadar, dan si agen rumah sukses membujuk kita untuk beli dengan alasan nanti di kompleks situ bakal dibangun mall. Begitulah persisnya film ini; enggak ada yang bisa kita ambil di akhir, selain pengetahuan bahwa film ini bakal ada sekuelnya.

 

 

 

Horor bisa menjadi sangat menarik jika diolah dengan benar. Dan film ini punya konsep dan ide yang sangat compelling dan menantang, hanya saja mereka mengambil langkah yang paling biasa dalam mengolahnya. Bahkan ketika menjadi sadis, adegannya juga enggak kreatif dan enggak sepenuhnya memuaskan penggemar genre ini. Cerita tentang eksperimen sosial, tapi sedihnya, enggak punya banyak untuk dikatakan. Argumen yang sempat bangkit dinegasi oleh keputusan untuk menjadikan ini baik melawan jahat. It’s really nothing kecuali adalah eksperimen untuk meihat seberapa besar orang-orang penasaran menunggu filmnya yang kedua.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE BELKO EXPERIMENT

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

COLOSSAL Review

“A person who cannot give up anything, can change nothing.”

 

 

Cewek, kalo marah, bisa jadi menyeramkan kayak monster. Tapi masalahnya adalah, Gloria enggak ingat dia marah. Malah, Gloria enggak bisa ingat apa-apa dalam rentang waktu dia mabok. Penyakit kecanduan minum wanita muda ini memang sudah sampai taraf gawat, Gloria kesulitan menahan diri untuk enggak menenggak sebotol bir yang nganggur di depan matanya. Padahal hidupnya sudah nyaris berantakan lantaran kebiasaan jelek tersebut. Pacarnya udah nyerah bilang “I can’t deal with this anymore.” Maka Gloria pun kembali ke kota tempat ia dilahirkan. Ingin berbenah diri, niatnya. Di kota masa kecilnya itu dia ketemu teman lama, yang mengajak Gloria bekerja di bar miliknya untuk sementar. Namun ada waku-waktu ketika Gloria tidak ingat dia ngapain sepulang kerja. Dan kini Gloria mendapati dirinya sedang menonton berita ulangan liputan serangan monster raksasa yang memporakporandakan kota Seoul di Korea Selatan. Yang bikin Gloria heran, dan takut; dia melihat monster tersebut ngelakuin gestur gerakan yang sama dengan yang ia lakukan setiap kali dia bingung. Jadi, Gloria harus mencari tahu apa dia ada hubungannya dengan kemunculan sang monster. Apakah memang dia yang bertanggungjawab atas hilangnya ratusan nyawa korban injakan mau tersebut.

Jika biasanya film-film yang menampilkan monster raksasa penghancur kota adalah cerita tentang manusia melawan alam, di mana metaforanya berskala besar; dan monster-monster tersebut adalah cerminan dari kecemasan global, maka Colossal menghadirkan monster yang sama sekali berbeda. Kaiju gede di sini adalah manifestasi dari ketakutan satu orang; rasa insekur yang menjelma menjadi teramat besar sehingga mampu menghancurkan kehidupan di sekitar orang tersebut.

 

Pernah mandi ujan tapi airnya air sirop? Enggak pernah kan, sama, aku juga belum pernah. Tapi aku yakin rasa menyegarkannya pasti sama dengan perasaan refreshing yang kita alami ketika melihat elemen-elemen cerita film ini perlahan turun. Karena memang film ini benar-benar berbeda dan orisinil punya. I was genuinely surprised by this movie. Baru sekali ini loh ada yang ngebahas aspek monster raksasa dengan perspektif seperti yang dilakukan oleh garapan Nacho Vigalondo ini. Fantasi sci-fi yang actually sangat membumi alias personal. Monster Reptil yang muncul dan bikin panik seisi kota tersebut dijadikan sebagai lapisan terluar. Di balik elemen tersebut, sebenarnya ini adalah tentang struggle seorang wanita yang berusaha mengatasi ketergantungan terhadap alkohol; seorang wanita yang berusaha untuk menata kembali hidupnya yang porak poranda akibat ‘penyakit akut’nya itu.

Ketika kalian was-was ngeliat diri sendiri terlihat jelek pas nampil di tivi

 

Pusat semesta dari cerita ini adalah Gloria dan temen masa kecilnya, Oscar. Sebagian besar waktu akan kita habiskan nongkrong bareng mereka di bar. Kedua aktor yang memerankan mereka, untungnya, mampu mempersembahkan penampilan yang menarik sehingga elemen drama yang juga dipunya oleh film ini dapat bekerja dengan baik. We’ll get into the drama aspect later, but, Anne Hathaway is really good in this movie. Dia berikan nuansa yang berbeda dalam pengekspresian karakter Gloria. Ada banyak emosi subtle yang ia tambahkan, bukan hanya pada unsur komedi, melainkan juga ketika elemen drama datang mengambil alih. She’s damaged, pribadi yang sangat bercela, tapi kita masih merasakan simpati karena kita mengerti usaha yang dilakukan olehnya. Dan tampaknya sedikit sekali aktor yang mampu memainkan Oscar selicin yang dilakukan oleh Jason Sudeikis. Dia adalah teman sepermainan yang sudah lama enggak ketemu ama Gloria, jadi vibe alami yang dikeluarkan tokoh ini adalah sedikit-misterius. Like, gimana bisa setiap kali dia tersenyum, kita bisa menangkap makna-makna yang berbeda. Dinamika hubungan Gloria dan Oscar – dua orang ini mendadak bakal highly at odds with each other – tak pelak akan menjadi begitu penting sehingga mengambil alih fokus.

Dan di situlah ketika film mulai berjuang untuk mempertahankan atensi kita yang masih tertinggal di Korea sana.

Elemen monster dalam film ini luar biasa keren lantaran begitu berbeda. Siapa sih yang enggak demen ngeliat film yang genrenya udah punya pakem kayak film monster ini ternyata dikembangkan dengan arah dan actually punya twist yang belum pernah kita lihat sebelumnya? Kalo kalian tanya aku, aku suka sekali dengan arahan yang diambil film ini dalam ngebahas elemen tersebut. Unik. Khususnya di bagian ending, shot terakhirnya bahkan sangat apik. Namun, ketika film ini membahas elemen drama yang lebih standar, tidak lagi ia terasa sekuat saat membahas elemen fantasi. Sejujurnya, adalah langkah yang sangat berani film ini membenturkan dua tone yang berbeda. Fantasi dan drama. Komedi dan serius. Colossal tampak punya AMBISI YANG KOLOSAL demi ingin ngegabungin itu semua, gimana caranya agar cerita sesimpel cewek yang berusaha membenahi hidup dan come in terms dengan apa yang sudah ia lakukan di masa lalu, tapi dikonfrontasi oleh masa lalu itu sendiri, bisa menjadi cerita yang sangat penting dan memiliki skala gede.

Tapi benturan dua tone tersebut just don’t match up. Enggak exactly merusak kayak jika Godzilla ketemu King Kong, sih. It’s just transisi antara dua tone itu enggak sepenuhnya mulus; cerita film ini akan beralih dari yang sangat kocak dan ringan ke sangat serius dengan mendadak di mana korban-korban berjatuhan. Problem dunia yang sangat serius, tapi kemudian kita lihat monster itu menari, lalu ada ancaman banyak orang terinjak, dan kemudian blank, it’s just doesn’t match up very well.

just.. drink it in, maaaan!

 

‘MENDADAK’ adalah kata kunci yang dipakai film ini untuk menjembatani tone-tone tersebut. Karakter Oscar adalah contoh berikutnya dari clashed tone yang hasil dari perantaraan si ‘mendadak’ ini. Dalam satu adegan, Oscar terlihat sangat perhatian. Dia baik, dia mengerti, dia peduli sekali. Membuat kita ingin gabung juga ke bar miliknya setiap kali ada masalah. Di hari berikutnya, senyum orang ini seperti punya makna yang lain, dia tampak seperti pembunuh berantai psikopat yang menakutkan dan sangat berbahaya. Kita enggak bisa tahu apa persisnya yang dipikirkan oleh kepala orang ini. Perubahannya begitu tiba-tiba sehingga seolah aku cabut ke kamar kecil di tengah-tengah film. Tapi enggak. Aku enggak melewatkan adegan Oscar membuat pilihan yang mengubah segala hal tentang karakternya. Perubahan tokoh ini memang sangat drastis, dan film ini menjadikan ‘mendadak’nya itu sebagai hal atau simbolisme yang penting di dalam narasi. Did it work tho? Well, obviously, not so much.

Ada satu pasang tone lagi yang buatku terasa enggak klop; Anne Hathaway dengan orang mabok! Hihi, I mean, look at her. Hathaway cantik banget dengan rambut lebat bergelombang dan senyum tigajari, dia tetap cantik seperti itu bahkan ketika dia hangover berat. Susah untuk percaya bahwa Gloria adalah seorang pecandu alkohol. Gloria akan lupa daratan; ia gak ingat waktu, dia alpa dan kesulitan mengingat kejadian ataupun sekedar apa yang dia ucapkan tadi malam, tapi tetep aja cewek ini terlihat menakjubkan. Alih-alih terlihat sebagai pemabok yang kerap terjatuh di lubang yang sama, tokoh ini lebih terlihat kayak cewek kuliahan yang sengaja dijelek-jelekin untuk menghindari masalah hidup.

Monster itu, anehnya, juga adalah simbol dari keberdayaan sebagai seorang manusia. Sebagai monster, Gloria menghancurkan apa saja yang di depannya, tapi tidak sekalipun monster itu menengok ke bawah. Tapi itu sebelum dia menyadari bahwa kekuatan datang bukan dari keinginan besar untuk menghancurkan, melainkan dari keinginan kecil untuk melawan; melawan alkohol, melawan trauma masa lalu. Keinginan kecil untuk meninggalkan kebiasaan, meskipun jika hal tersebut adalah sebagian kecil dari dirinya.

 

 

 

Metafora campur-campur, penceritaan yang kerap bersilih fokus dari satu tone ke tone lain yang really clash out, semua itu pada akhirnya bisa termaafkan lantaran film ini benar-benar orisinil dan sangat berbeda. Elemen fantasi sci-finya sangat menyenangkan. Kocak dan dibarengi dengan drama serius. Ia dihidupkan oleh penampilan yang bagus, meskipun kadang sedikit tidak berimbang antara kebutuhan narasi dengan penyampaian. Tapinya lagi, aku sangat merekomendasikan, tonton film ini duluan jika kalian punya waktu luang, karena film ini juga ngajarin yang kecil-kecil bisa berdampak besar. Apresiasi kecil dari kita bisa membuat film kreatif ini jadi gede, dan siapa tahu, bakal bermunculan cerita-cerita orisinal lain yang berani dan ambisius seperti film ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for COLOSSAL.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

MEMBABI-BUTA Review

“Curiosity killed the cat.”

 

 

You can tell dari posternya yang lumayan keren, film ini bakal berdarah-darah. Prisia Nasution kelihatan sangat mengancam mejeng bareng kapak gede dari abad pertengahan tersebut. Genre Thriller apalagi yang berturunan slasher akan selalu dapat sambutan yang hangat, akan sangat menarik untuk melihat apa yang bisa dilakukan oleh sutradara Joel Fadly dalam film debutannya ini sehubungan dengan efek-efek praktikal anggota tubuh yang tercincang-cincang. Kita bisa mengharapkan film ini bakal goes medieval on us.

Membabi-Buta adalah cerita tentang wanita bernama Mariatin yang baru saja mulai bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman Sundari dan Sulasmi, kakak-beradik yang masih memegang teguh budaya Jawa. Kedua wanita paruhbaya tersebut sayangnya bukan tipe nenek-nenek yang suka masakin kue. Mereka galak. Sulasmi suka ngebentak. Sundari dingin banget, meski dia masih nunjukin kepedulian sama anak kecil yang menggigil kedinginan. Namun kepada Mariatin, mereka berdua ini udah kayak ibu tiri. Mariatin diberikan peringatan dan aturan-aturan yang cukup aneh begitu dia masuk ke dalam rumah tersebut. Pintu dan jendela yang senantiasa tertutup rapat, kamar yang hanya bisa dimasuki dengan ijin terlebih dahulu, telepon yang tak boleh ia pakai, dan peraturan utama rumah tersebut adalah jangan banyak tanya. Untuk memperaneh suasana lagi, Mariatin kerap mendengar suara wanita di tengah malam; jeritan yang seolah sedang disiksa. Mariatin berusaha untuk enggak mikirin semua ini, dia tetap bekerja meski rasa ingin tahunya semakin gede. Garis batas bagi Mariatin adalah ketika putri kecilnya, Asti, makin hari makin menunjukkan gelagat aneh dan kemudian jatuh sakit. “Mungkin kebanyakan main”, kata Ndoro Sundari ketika ditanyai. Eventually, misteri yang terjadi di rumah tersebut terkuak dan Mariatin bertindak membabi buta demi keselamatan putrinya dan kita mendapatkan sebuah film slasher.

A very bad one.

Film ini MEMBOSANKAN. Oke, aku sendiri enggak percaya seumur-umur aku bakal ketemu slasher yang bikin mataku berair karena kebanyaka menguap. I mean, hakikatnya genre ini pastilah brutal dan menegangkan, dan jika kau berhasil membuat hal-hal brutal tersebut menjadi boring, maka kupikir, itu bisa menjadi prestasi tersendiri. Jadi, selamat deh buat film Membabi-Buta, you are breaking a new ground!

Hingga babak ketiga, film ini akan datar-datar aja. Tak sekalipun elemen lokasi tertutup dimanfaatkan dengan benar-benar maksimal. Kita hanya melihat Mariatin yang disuruh-suruh. Thriller haruslah punya set up, segala ketegangan mestinya dibendung dari awal untuk kemudian dilepaskan di akhir. Menciptakan sensasi seram tanpa membuat penonton merasa lega. Film ini tidak mampu menguarkan ketegangan. Untuk bikin takut, film ini hanya mengandalkan kepada trope-trope horor. Banyak adegan berupa; seseorang mengintip, lalu yang diintip menoleh mendadak, dan BLAAARR suara keras di layar saat yang ngintip tersentak kaget. Dan memang kelihatannya film ini berusaha terlalu keras untuk menjadi seram dan menegangkan. Sundari dan Sulasmi bersikap misterius dan kejam sepanjang waktu sampai ke titik aku bingung sendiri; ini film pembantu yang teraniaya atau film tentang majikanku misterius kayak hantu, sih? Di akhir-akhir, film bahkan mencoba memancing sisi dramatis, yang nyatanya juga berdampak datar karena enggak disetup dengan baik.

“Sifat sok-seram kamu yang berlebihan akan menyusahkan kamu sendiri!”

 
Tokoh utama kita sebenarnya punya karakter yang cukup ‘berdaging’. Mariatin dituliskan punya sifat ingin tahu yang besar, dia cenderung nekat. Sebagian besar bentakan majikannya datang dari Mariatin yang dinilai bersikap kurang sopan, main masuk kamar seenaknya. Ada satu adegan yang bikin aku ngakak, yaitu ketika mereka makan malam. Sundari dan Sulasmi mempersilakan Mar dan anaknya makan bareng di meja makan, tapi Mar pada awalnya menolak. Selain takut gasopan, aku mikirnya mungkin Mar sedikit jijik ngeliat mata cacat Sulasmi, atau mungkin dia masih kebayang kuku kaki Sulasmi yang panjang-panjang yang baru saja ia cuci (ewwww!), jadi dia enggan makan bareng mereka. Namun ternyata, setelah mereka makan, justru ternyata Sulasmi yang ilang selera demi mendengar Mar yang makannya ngecap alias ngunyah dengan mulut terbuka sehingga bunyi decapannya konser ke mana-mana ahahhaha. Mariatin ternyata makannya lahap loh, sebodo amat kalo tempat ama majikannya nyeremin gilak!

Hal menarik dalam film ini adalah gimana Sundari dan Sulasmi bersikap lebih ramah kepada Asti dibandingkan kepada Marianti.Yea, mungkin karena dia anak kecil dan dua saudari ini punya latar belakang sehingga numbuhin soft spot kepada anak kecil. Tapi kupikir ini juga ada kaitannya dengan Asti yang patuh dan Mar yang bertindak atas rasa ingin tahunya. Asti dianggap baik, tapi is it truly what makes a “good girl”? Apakah memang kemampuan untuk mengikuti perintah atau intruksi tolak ukur seseorang bisa dikatakan anak baik?

 

Masalahnya adalah, dengan sifat yang penuh ingin tahu sehingga bikin kesel majikannya itu, narasi tidak memberikan banyak ruang bertindak kepada Mariatin. She’s rarely making any choices. Dan di waktu-waktu langka tokoh yang mestinya relate buat kita ini memilih suatu keputusan, yang dia ambil adalah keputusan yang bego. Gini contohnya, Mariatin baru saja melihat sesuatu yang menyeramkan di bawah sana, ada cewek yang dirantai dan disiksa, in fact, dirinya sendiri practically baru saja lolos dari maut, dan bukannya langsung kabur bawa anaknya, dia malah naik ke atas minta tolong ke kamar salah satu majikan yang gak bisa dibilang ramah kepadanya. Konteks film ini adalah Mariatin menahan diri untuk kemudian, akibat tekanan yang terus menempa, dia akan membabi buta melepaskan semuanya. Tapi konteks ini tidak diisi dengan konten-konten yang meyakinkan. Alih-alih bermain di ranah pengembangan karakter Mariatin, film ini fokus ke mengorkestrain serem dan drama. Yang dibutuhkan film ini adalah layer untuk mmeperkuat perspektif tokohnya. Tapi film tidak pernah mempedulikan hal tersebut, film ingin terus menakuti-nakuti penonton. Makanya kita dapat adegan mimpi yang entah dari mana dan gak make sense dan gak klop dengan tema cerita, like, kenapa Mariatin ngalamin mimpi tersebut? Emangnya ada hantu yang minta tolong or something?

Ada banyak pertanyaan yang ditimbulkan oleh film ini lantaran memang plot-plot thread tersebut tidak dibungkus dengan baik. Atau malah lantaran kelupaan dibahas. Kita dianggap nerimo begitu saja ‘jawaban’ yang diberikan, tanpa cerita benar-benar menjelaskan kenapa dan bagaimananya. Aku gak mau ngespoiler terlalu banyak, tapi motivasi dua saudari ini rada gak jelas dan enggak benar-benar klop dengan jawaban sebab musabab yang diberikan.

nah ini, baru seram!

 

Bahkan adegan yang paling kita tunggu-tunggu, adegan ketika semuanya menjadi hantam-hantaman, tubuh terpotong-potong, enggak dihandle dengan cakap. Kamera seringkali ngecut di setiap momen-momen penting. Koreografi kelahinya juga terlihat gemulai, enggak intens. Mungkin karena keterbatasan fisik para pemain, tapi masa sih enggak pake pemeran pengganti? Inti problemnya memang di pengarahan. Penampilan akting di sini terletak di antara over-the-top dengan enggak meyakinkan. Bahkan Prisia Nasution yang biasanya bermain bagus, dalam film ini enggak convincing enough. Karakter Mariatin seharusnya babak belur secara fisik dan emosi, tapi sama sekali tidak tergambar ke layar. Tidak ada bobot emosi yang terdeliver kepada kita para penonton. Dan tokoh anak kecilnya, ya sesuai standar film Indonesia lah; anak-anak hanya sebagai device yang tokohnya enggak berjiwa, enggak berattitude. Film ini ditutup dengan ending yang sebenarnya bisa bekerja baik jika didevelop telaten sedari awal. Dari plot standpoint sendiri, memang endingnya harus begitu karena membuat tokohnya mengalami perubahan. Sayangnya, karena narasi yang amburadul dan tidak dieksplor dengan genuine, jadinya terasa maksa dan out-of-nowhere.

 

 

 
Bertemakan tentang tindakan nekat, tapi filmnya sendiri malah bermain aman. Tidak ada resiko kreatif yang diambil. Sebelum sampai di bagian slashernya, kita akan dininabobokkan oleh cerita yang tidak dimasak, satu-satunya yang bikin kita tetap terjaga adalah suara musik yang keras dan suara bentakan Sulasmi. Dan ketika sampai di bagian slasher di akhir pun, rasanya penantian tidak terbayar tuntas. Adegan-adegannya tidak maksimal, aku mengharapkan praktikal efek yang bener-bener seger dan unik. Namun sama seperti bagian lain film ini, bagian akhir juga tidak menampilkan sesuatu yang baru. Jadi jangan dulu bilang sebagai karakter studi atau apa, sebagai media hiburan semata saja, film ini gagal menjalankan tugasnya.
The Palace of Wisdom gives 2 gold stars out of 10 for MEMBABI-BUTA.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

THE CIRCLE Review

“The price for safety is the loss of privacy.”

 

 

Teknologi berfungsi untuk mendekatkan yang jauh. Dan sebagai timbal baliknya, teknologi juga dapat menjauhkan yang dekat. Mae Holland merasakan langsung kebenaran pepatah masakini tersebut. Cewek muda yang diperankan oleh Emma Watson itu keterima kerja di sebuah perusahaan supergede yang bernama The Circle. Sebagai seorang cutomer service di company tak-ternama, Mae tentu saja girang ketika dia berhasil dapet posisi serupa di The Circle. Gini, bayangkan kantor Google, kemudian campurkan dengan social media, dan letakkan di lingkungan kerja yang sangat modern di mana semua ide akan dihormati dan pencetusnya akan dielukan seolah mereka adalah keturunan Albert Einstein. Begitulah lingkungan perusahaan The Circle; tempat yang sangat kekinian dan menyenangkan.

Dan semua pekerja di sana saling terhubung satu sama lain. Mae dan para karyawan yang dipanggil Circler digebah untuk selalu aktif di akun media sosial dan memberitahukan semua yang mereka lakukan ke semua pengguna. Dan eventually, Mae yang dengan cepat naik pangkat, setuju untuk menjadi seratus persen transparan. Dalam artian, dia secara sukarela memasang kamera canggih segede bola mata di badannya supaya orang-orang bisa ngikutin semua kegiatannya setiap detik dua-puluh-empat-jam sehari.

kecuali saat dia ke toilet, you pervert!

 

Elemen thriller coba dibangkitkan oleh film ketika Mae mulai bekerja di The Circle. Aku enggak mau repot-repot nonton trailer, jadi sebelumnya aku enggak tau ini film tentang apaan. Kesan yang datang saat melihat gestur dan aktivitas para eksekutif membuatku berpikir bahwa kantor Mae ini adalah semacam cult terselubung. Semua orang terlihat gembira ‘menjual’ kehidupan pribadi dan privasi mereka. Pemimpin dari organisasi ini; Eamonn Bailey, adalah pembicara yang begitu karismatis, membuat kita terbayang sosok Steve Jobs, hanya dengan sedikit nuansa jahat. Sepanjang film berlangsung kita akan melihat gimana mereka sama sekali tidak peduli dengan privasi, malahan mereka tampak ingin membuat ketiadaan privasi sebagai hal yang lumrah karena kita akan diperlihatkan sisi positif dari memasang kamera kecil di setiap sudut di berbagai tempat. Mae dapat banyak followers baru, posisinya kian naik, dan dia benar-benar suka dengan gagasan criminal bisa tertangkap hanya dalam beberapa menit saja. Tapi kita juga bisa melihat apa yang tidak terlihat oleh Mae, apa yang membuat keluarga dan sahabat Mae menolak online berlama-lama; semua ini mengarah kepada invasi privasi dan banyak lagi komplikasi hak-hak asasi.

Perkembangan teknologi sudah demikian pesatnya, sampai-sampai film yang didaptasi dari novel terbitan 2013 ini terasa agak ketinggalan jaman. Kita sudah tahu dan aware akan apa yang ingin disampaikan oleh film. Kata-kata “teknologi mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat” sudah kita dengar sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi tetap saja, setiap hari perkembangan tersebut semakin gencar. Sekarang kita punya banyak aplikasi seperti Facebook Live, Insta-Story, atau malah Bigo live, yang pada beberapa kesempatan bikin kita geleng-geleng “wah, lagi liburan privasi juga liburan.”

Konsep sharing is caring adalah hal yang lumrah buat generasi milenial, namun sejatinya kita kudu berhenti sejenak dan berpikir; Apakah kita perlu ngeshare segalanya? Apakah semua pantas untuk dibagikan?

 

Ketakutan yang dirasakan oleh orang-orang sehubungan dengan teknologi digunakan oleh film sebagai pemancing drama. Ada ELEMEN SATIR yang lumayan kuat yang mampu mengundang sejumlah tawa. Ada elemen politik juga, di mana The Circle, demi hajat hidup orang banyak, ingin mengawasi kerja pemerintah secara langsung sehingga tidak ada penyelewengan. Namun, cara film ini mengeksplorasi elemen thriller dan dramanya sangat kacau sehingga ceritanya nyangkut di level aneh, alih-alih menarik, let alone thought-provoking. Susah aja bagi kita nerima kenyataan film bahwa ratusan orang – atau malah milyaran, seperti yang disebutkan film – mendukung ide soal kamera yang benar-benar meniadakan privasi. Iya, kita melihat beberapa komen yang enggak setuju, orang-orang terkasih dari Mae juga enggan untuk terlibat, namun film ini tidak pernah dengan mulus membahas konflik yang mestinya muncul dari potensi invasi privasi gede-gedean ini.

Instead, dari awal sampai akhir kita hanya mendapat satu insiden. Satu momen konflik. Sebagian besar film ini adalah tentang Mae ataupun pemimpin organisasi yang berbicara mempersembahkan ide mereka di depan karyawan dan eksekutif. Kita bisa melihat beberapa gagasan mereka ada yang benar, ada yang salah. Hanya saja tidak pernah berkembang menjadi konflik. Semuanya mengempis begitu saja; terlupakan, karena di adegan berikutnya semua tampak menjadi normal dan termaafkan. Di tengah-tengah film aku ngarep ada kejadian apa kek, paling enggak Mae sama sahabatnya berantem jambak-jambakan. Aku ingin lihat orang-orang itu mendapat pelajaran dan berubah. Tapi enggak ada kejadian apapun di film ini. Tidak ada resolusi yang menohok, tidak ada jawaban. Pada beberapa adegan terakhir, film mencoba untuk menjadi dramatis, hanya saja dengan absennya set up, satu konflik tersebut malah jadi abrupt dan tetep saja membuat film ini sebagai tontonan yang gampang untuk kita lupakan.

MINIMNYA KONFLIK tentu selaras dengan MINIMNYA KEPUTUSAN YANG DIBUAT OLEH KARAKTER. Inilah masalah terbesarku terhadap film The Circle. Tokoh utama kita, ‘pahlawan’ yang mestinya kita relasikan dengan diri sendiri, enggak banyak ngapa-ngapain. Mae ditulis dengan datar dan enggak menarik. Emma Watson adalah aktris yang cakap dan believable jika diberikan peran yang sesuai. Tetapi sebagai Mae, dia terdengar monoton, dengan banyak ekspresi bingung menatap layar. Interaksinya dengan karakter lain tidak lebih hanya sebagai sebagai device.

Film ini punya kebiasaan untuk memperkenalkan karakter tanpa memberinya plot ataupun hook buat kita pegang. Tom Hanks is barely in this film padahal perannya cukup penting; Bailey adalah yang terdekat yang kita punya dari seorang antagonis. Tapi meski demikian, bahkan karisma Tom Hanks enggak membantu banyak. John Boyega malah tampil lebih sedikit lagi, dengan peran yang selalu tenggelam ke background. Perannya di sini adalah sebagai Circler misterius yang mulai ‘curiga’ dan berontak terhadap organisasi. However, film menerjemahkan tokohnya ini hanya sebagai orang yang sesekali muncul untuk memperingatkan Mae. Tokoh favoritku di film ini justru adalah kedua orangtua Mae; Ayahnya (rest in peace Bill Paxton) yang mengidap MS dan Ibu yang setia mendampingi. Mereka berdua sangat penasaran sama kerjaan Mae, dan mereka adalah the voice of reason yang actually lebih mudah untuk kita dukung, dan punya relationship yang lebih menarik untuk diikuti.

ngestalk siapa lagi yaa kali ini?

 

Secara visual, ini adalah film yang mentereng. Namun secara teknis, film ini terasa kurang professional. Kita bisa melihat film ini dibuat dengan cakap, akan tetapi hasilnya secara keseluruhan tidak tampak seperti demikian. Yang paling kentara tentu saja adalah arahannya; sama sekali enggak spesial. Talenta para aktor disiasiakan, enggak satu pun dari mereka menyuguhkan penampilan yang memuaskan. Bahkan Tom Hanks terdengar lumayan monoton di sini. Aku baru saja pulang dari ngintip proses syuting film, maka mau tak mau aku memperhatikan gimana struktur pengambilan gambar; buat yang suka memperhatikan editing ataupun teknik ngesyut, maka pastilah bisa mengerti bahwa film ini menggunakan teknik yang enggak baik. Particularly, the way mereka menyambung adegan terasa kasar. Contohnya di adegan ketika Mae dan sahabatnya ngobrol di dalam bilik toilet terpisah. Film ini menggunakan sudut pengambilan standar untuk kedua tokoh, di mana Mae dan sahabatnya sama-sama diposisikan di tengah shot. Dan kemudian mereka ditampilkan bergantian, dengan sudut yang sama. Hasilnya cukup menggelikan, seolah Mae dan temannya itu muncul bergantian di bilik yang sama, padahal itu adalah bilik yang berbeda.

Mengetahui semua tidak pernah adalah hal yang baik. Karena itu berarti tidak ada ruang bagi kita untuk mempertanyakan sesuatu. Yang ultimately berarti tidak ada kesempatan untuk berkembang menjadi lebh baik lagi. Dan tentu saja mengetahui semua berarti tidak ada rahasia, sedangkan manusia perlu untuk menyimpan rahasia. Karena setiap kita sejatinya punya dua kehidupan, personal dan sosial. Dan di dunia di mana semuanya sudah overexposed,hal paling keren yang bisa kita lakukan adalah menjaga kemisteriusan diri.

 

 

 

Jika ini adalah cerita satir tentang society yang memutuskan untuk menjadi transparan sehingga tidak ada yang ditutupi, maka aku akan blak-blakan bilang ini adalah film yang membosankan. Penampilan datar dari barisan aktor yang sangat cakap. Arahan yang biasa aja dari sutradara yang mumpuni. Editing yang awful. Penulisan yang poor. Film ini is a complete mess, ia terlihat amatir padahal digarap oleh orang-orang yang bisa kita katakan sudah professional di bidangnya. Pesannya pun tidak seprovokatif yang diniatkan, lantaran we already know that.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for THE CIRCLE.

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

PERSONAL SHOPPER Review

“The medium is the message.”

 

 

Fotografi abstrak pertama di dunia adalah jepretan dari seorang spiritualis. Begitu juga dengan lukisan abstrak; Hilma af Klint, pelukis Swedia yang mempercayai keberadaan dunia lain di luar dunia fana kita, menyelesaikan lukisan pertamanya (barisan bangun ruang yang terlihat tak beraturan) bertahun-tahun sebelum konsep seni abstrak dikenal oleh publik. Keabstrakan dipercaya berasal dari kesadaran yang lebih tinggi, yang dipengaruhi oleh spiritualisme dan theosofi. Bentuk-bentuk sembarang tersebut, actually adalah semacam bentuk dari komunikasi. Ada tatanan dalam keserampangan. Sebelum dahi kalian mulai mengernyit dan berkata cempreng ala ala Chris Tucker dalam Rush Hour, “This is bullshit!”, aku mau menekankan bahwa film Personal Shopper berlandaskan kepada pemikiran atau KONTEKS KEABSTRAKAN DENGAN KONTEN SPIRITUALIS. Menonton film ini akan sama seperti melototin lukisan abstrak; gak jelas. Ini adalah film arthouse yang teramat aneh, jadi kubilang, tontonlah segera film ini begitu nemu!

Narasinya sangat enggak-biasa. Sejujurnya, meski sudah banyak menonton film misteri dan horor, aku belum pernah melihat film yang seperti ini. Jika kalian mengharapkan film setan-setan dengan jumpscares ataupun tontonan horor thriller semacam American Horror Story dengan Americannya diganti dengan French, maka kalian akan kecewa. Saking misterinya, malah kita akan kesulitan untuk meletakkan ada di genre mana film ini. Hororkah, thriller, atau malah drama? Jawabannya; Semuanya. Keanehan film ini merupakan akibat dari BANYAKNYA PERGANTIAN TONE yang bakal kita temukan sepanjang durasi. Film ini ngepingpong kita dari satu tone ke tone lain dengan cara yang sangat sangat haunting. Mainnya cantik, memang, namun bakal bikin sangat enggak-enak. Merinding.

Film ini adalah gabungan dari banyak elemen cerita yang bedanya lumayan jauh juga satu sama lain. Ini adalah cerita hantu. Serta adalah sebuah potret duka. Sekaligus tentang seseorang yang frustasi terhadap pekerjaannya. Juga merupakan kisah misteri tentang penguntit yang ngintilin lewat teknologi. Di pusat semesta itu semua, ada Kristen Stewart sebagai seorang cewek bernama Maureen. Dia bekerja sebagai asisten belanja buat model terkenal. Maureen akan pulang-pergi Paris dan London mengambil pesanan baju untuk kemudian diserahkan kepada sang model. Di tengah-tengah kesibukannya itu, Maureen yang baru saja ditinggal mati oleh saudara cowok kembarnya berusaha menggunakan bakat ‘bisa-ngeliat’ yang ia miliki untuk mencari dan reach out kepada saudaranya tersebut. Maureen berusaha membuat koneksi antara dunia sini dengan dunia sana.

kita akan jantungan mendengar bebunyian di rumah setelah melihat ending film ini

 

Maureen adalah PENAMPILAN TERBAIK DARI KRISTEN STEWART sepanjang karirnya sejauh ini. Sudah lewat masa-masa ketika dia nampilin muka datar. Sebelum ini, aku pernah melihat Stewart turut bermain jadi asisten pribadi pada Cloud of Sils Maria (2014) yang juga digarap oleh Olivier Assayas, dan aktris ini bermain bagus banget di sana. Aku sudah ngereview film tersebut di Path beberapa waktu yang lalu, namun belum sempet menyadurnya jadi tulisan full ke blog. Highly recommended deh pokoknya, terutama buat yang suka soal idealisme melawan komersialisme.

Balik lagi ke Kristen Stewart dalam Personal Shopper; penampilan aktingnya meningkat. Di film ini dia bermain dengan fenomenal. Tokohnya sangat real, totalitas banget. At one point in the movie, Maureen yang ia perankan akan ngerasa malu kepada dirinya sendiri karena dia sangat ingin mencoba pakaian-pakaian pesenan klien yang tidak mampu ia beli. Di poin lain, Maureen nerima pesan Line yang sangat creepy dari seseorang misterius yang menurutnya mungkin saja itu adalah pesan dari abangnya yang sudah mati. Reaksi-reaksi emosi dari Maureen terlihat sangat nyata. Kita bisa merasakan dia terdetach dari dunia profesinya, dia terbebani oleh masalah-masalah yang she’s trying to deal with. Maureen akan berhubungan dengan banyak orang, dengan desainer, dengan manajer, dengan mantan abangnya, dengan calon pembeli rumah abangnya, dengan model kliennya, tapi kita tetap melihat dia sebagai dirinya sendiri. Pegangan kepada tokoh ini begitu kuat.

Ketika berduka mendalam, ketika proses berduka itu menghantui setiap langkah, kita tidak lagi mengerti apa itu hidup. Kita akan melakukan hal di luar nalar. Kita akan mengambil keputusan-keputusan yang tidak dipikirkan dengan matang. Kita tidak memikirkan apapun kecuali yang ganjil-ganjil. Gimana cara kerja otak saat berduka nestapa, semua tersebut ditangkap dengan sempurna lewat campur aduk dan abstraknya tone film ini.

 

Elemen-elemen dan tone campur aduk ini tidak pernah membuat film keluar dari jalur harmonis. Mereka menyatu membentuk satu tema spesifik, yakni bicara TENTANG APA YANG KITA ALAMI KETIKA KITA SEDANG BERDUKA. Menurutku gagasan itulah yang ingin dibicarakan oleh sutradara Olivier Assayas, dan dia benar-benar berhasil mengeksplorasi itu semua dengan sangat baik. Sukses berat membuatku kepikiran sama film ini, hingga lama setelah ceritanya berakhir. Bagian paling menawannya adalah kita tidak bisa memperkirakan cerita. Kita tidak tahu ke mana arah cerita ini, kita tidak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya, dan film ini dengan segenap hati mematahkan semua prediksi dan ekspektasi penonton yang berusaha menebak misterinya. Biasanya, film misteri akan memberikan kita kepingan puzzle, kalian tahu, kita akan diperlihatkan adegan yang berisi petunjuk yang bakal membuat kita menjentikkan jari bilang “Aha, aku ngerti sekarang! Begitu rupanyaaa!!” Tapi Assayas enggak memberikan kita momen buat kegirangan kayak itu. Nyaris setiap ada kesempatan, dia lebih memilih untuk menyembunyikan kepingan puzzle tersebut. Dia melemparkan kepada kita sebuah sekuen sambil bilang “tuh, cari tahu sendiri deh pake otak!” dan kita memang harus melakukannya supaya mengerti dan konek dengan para karakter.

Personal Shopper tidak menyia-nyiakan satu adegan pun. Tiada satu aspek yang tidak punya maksud dan arti. Aku literally bengong dua jam mikirin apa makna dari gaun berkilau yang diam-diam dikenakan oleh Maureen. Tone cerita memang diniatkan untuk berbeda, keabstrakan adalah nuansa yang berusaha dibangun, saking samarnya bahkan kita enggak pernah betul-betul tahu Maureen bekerja untuk seorang model atau siapa. Film tidak pernah menyebutkan terang-terangan. Akan tetapi, setiap layer cerita pada akhirnya tetap koheren satu sama lain.

Pekerjaannya sebagai asisten belanja pribadi dan keistimewaan Maureen dapat melakukan kontak dengan makhluk astral, dua hal ini menunjukkan kehidupan profesional dan personal Maureen sebenarnya berjalan beriring; Maureen adalah seorang medium, dia adalah perantara. Dan ini bentrok sekali dengan kehidupan sosialnya. Orang-orang yang ditemui Maureen, yang melakukan interaksi sosial dengannya, tidak berurusan langsung dengannya. Kepada pemilik butik atau desainer, dia bicara karena urusan kerja. Kepada teman-teman saudara kembarnya, well technically mereka bukan temannya secara langsung. Maureen tidak punya kehidupan sosial sendiri, dan saat itulah dia menyadari bahwa dia hanyalah ‘hantu’ dari eksistensi saudara kembarnya, dia adalah ‘bayangan’ dari kliennya. Adegan ketika Maureen mencoba semua pakaian yang ia beli untuk kliennya adalah cerminan dari dia ingin menjadi orang lain, dia ingin dirinya menyeruak menjadi ‘ada’. Percakapan lewat pesan teks juga bekerja baik menunjukkan gimana anonimnya internet membuat kita tak ubahnya seperti berkomunikasi dengan hantu.

Sebagai perantara maka sekaligus kita menjadi pesan. Dalam konteks komunikasi, konsekuensi sosial dari segala bentuk media yang kita gunakan, sejatinya adalah konsekuensi pribadi sebab media adalah perpanjangan atau perluasan dari diri kita sendiri.

 

 

Nasib film ini sebelas dua belas ama Swiss Army Man (2016), Personal Shopper mendapat sambutan “booo!” yang dingin dari kritik dan penonton di Festival Film Cannes. Aku kadang heran juga dibuat oleh para kritik yang selalu bilang bosen dan ingin sesuatu yang baru, namun begitu ada film yang benar-benar orisinil seperti ini mereka malah ngebantai filmnya. Pada awalnya memang film ini akan terasa rada bego. Pada bagian panjang soal Maureen yang ‘diteror’ pesan misterius, cewek ini mau-mau aja ngikutin apa yang dimau oleh lawan chattingnya. Maureen melakukan apa yang ia suruh, dan tak jarang Maureen mengetikkan jawaban dengan sedikit nada antusias. Aku sempat geram, paling enggak harusnya dia ngediemin, atau malah langsung lapor polisi. Tetapi aku sadar kita harus melihat kepada konteks gedenya; bahwa Maureen adalah orang yang sedang dealing sama proses berkabung yang begitu intens, juga ada satu hal lagi yang membebani pikirannya yang masih terkait dengan kematian saudara kembarnya. Jadi perspektif kita harus disejajarkan sehingga kita bisa mengerti dengan kondisi serapuh diri Maureen sekarang, tokoh ini tidak akan membuat keputusan yang tokcer dan cemerlang.

We don’t respond to anonymous texts at the Palace of Wisdom.

 

 

Dari adegan pertama sampai detik terakhir tidak ada momen yang sudah pernah kita lihat sebelumnya, membuktikan bahwa film ini bener-bener orisinil. Ia tidak ubahnya seperti lukisan abstrak yang penuh dengan bentuk-bentuk cerita yang dicampur aduk. Tapi ada keharmonisan narasi di balik keenggak jelasannya. Semua elemen cerita mengarah kepada satu tema spesifik, semua lapisan konten actually koheren satu sama lain, membuat satu bigger picture cerita tentang orang yang berjuang keras menangani proses berduka dan identitas dirinya sendiri. Sangat refreshing menonton film yang menangani misterinya dengan cara yang tidak biasa, yang membuat para penontonnya bekerja keras mengungkap apa di balik gambar demi gambar yang disusun seolah secara ngawur. Unsettling and haunting, kita tidak akan mendapat horor soal penampakan hantu yang sepele seperti Danur (2017) pada film ini. Keliatan dari judulnya, this is one very unconventional movie, dan kita semua harus menyaksikannya hanya untuk alasan tersebut.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for PERSONAL SHOPPER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE EYES OF MY MOTHER Review

“Being alone with your feeling is the worst because you have nowhere to run.”

 

 

Tumbuh di lingkungan peternakan sepertinya menyenangkan. Dekat dengan alam. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Hamparan hijau seluas mata memandang. Kesannya segar sekali gitu ya. Namun bagi anak-anak, kondisi melegakan tersebut bisa sekaligus jadi kurungan buat mereka. Dengan rumah tetangga paling dekat bermil jauhnya, Francisca bermain boneka sendirian. Aktivitas setiap harinya diselingi dengan melihat Ibu bekerja, memberi makan sapi-sapi, merawat, dan memotongnya sebagai makan malam.

Yup, ibu Francisca enggak segan-segan membawa pulang kepala sapi dan membedah matanya di depan mata Franny yang lugu, yang memegang teguh setiap cerita yang keluar dari mulut ibunya. Dia belajar apa yang diakukan oleh ibunya, dan untuk anak seusianya melakukan hal seperti demikian, jelas bukanlah pengalaman yang bikin sehat jiwa. Lingkungan tidak membaik bagi Franny karena kedatangan seorang asing ke rumah mereka, membuat Franny menyaksikan lebih banyak trauma. Film ini adalah tentang Franny yang perlahan ‘menggila’ sekaligus berusaha keras mempertahankan interaksi sosial. Dia mengurus jasad ayahnya, dia memberi makan orang yang ia sekap di gudang, The Eyes of My Mother akan membawa kita mengintip sedikit ke dalam kehidupan seorang yang berubah drastis dari korban menjadi seorang pembunuh.

meja makan keluarga ini isinya mata sapi beneran, bukan yang telur.

 

Kamera yang statis ngerekam adegan-adegan long take, komposisi warna hitam-putih, desain suara dan scoring yang mengendap dengan eerie abis, drama horor ini diarahkan dengan gaya yang sangat nyeni. Perspektif tokoh utama tidak kita alami langsung, melainkan kita amati dari jauh. Kita enggak diajak masuk ke dalam kepala Francisca yang trauma secara emosi, kita cuma melihatnya berinteraksi seperti Francisca melihat apa yang dilakukan oleh ibunya. Dan di sinilah ketika film menjadi sangat disturbing. Kita tidak pernah melihat Franny kecil bertanya kenapa. Moral tidak pernah jadi permasalahan bagi cerita. Ini murni selayang pandang (sukur Alhamdulillah horor ini hanya satu jam lebih sedikit, siapa tahan ngerasa unsettling lama-lama) kehidupan ‘normal’ yang abnormal, sehingga pertanyaan ‘kenapa’ itu justru datang bertubi-tubi kepada kita. Kenapa kita mesti ngeliat ini semua? Kenapa film ini dibikin, apa sih maksud sutradara Nicolas Pesce memperlihatkan ini semua? Kenapa membunuh itu mendatangkan perasaan menakjubkan? Kenapa oh kenapa?

Karena, baik sebagai pembunuh ataupun sebagai korban, mereka sama-sama adalah manusia.

 

Film ini membagi narasinya ke dalam tiga chapter, masing-masing berjudul Mother, Father, dan Family. Ketiganya dapat kita translasikan sebagai trait ataupun personality yang membentuk pribadi Francisca. Insting merawat yang ia dapat dari ibunya, insting kerahasiaan dan bertindak yang ia peroleh dari ayahnya, dan keduanya terhimpun menjadi jawaban atas masalah Francisca; dia butuh keluarga.

Di balik segala ke-uneasy-an, segala perasaan mengganggu, sesungguhnya ini adalah cerita psikologikal yang sangat humanis. Bukan tidak mungkin orang-orang biasa seperti kita mengalami hal yang sama. Sebab, ketakutkan hakiki dari cerita ini BERINTI KEPADA RASA KESEPIAN. Layaknya film-film horor modern yang keren, film ini pun mengerti bahwa rasa takut itu datangnya dari dalam jiwa manusia. Untuk kemudian diperkuat dengan monster, hantu, ataupun hal-hal gaib yang tak berwujud. Dalam film ini, rasa takut akan kesepian tersebut diamplify menjadi berkali-kali lebih kuat dan disturbing dengan membenturkannya dengan elemen psikopat. Francisca merasa menakjubkan saat membunuh orang, sementara tidak ada yang lebih dia inginkan daripada punya company, punya teman. Konflik inilah yang jadi emotional core dan pusat cerita. Motivasi Fransiska yang terpecah antara pembunuhan dengan merawat, sampai kepada titik Francisca terlihat menyalurkan insting keibuan, itulah yang membuat kita susah untung berpaling dari film ini, meskipun penceritaannya sangat bikin kita enggak-nyaman.

Kesepian juga adalah penyakit mental manusia sebagai makhluk sosial. Banyak orang merasa sepi padahal sedang berada di tengah-tengah kerumunan pesta. Bahkan faktanya, lebih dari 60% pasangan yang sudah menikah masih merasakan kesepian. Rasa sendiri dan sepi itu bergantung kepada kualitas hubungan yang kita jalin. Namun kesepian tidak pernah digolongkan sebagai abnormal. Campurkan ia dengan kejadian traumatis? Nah, barulah kita bicara dengan Francisca!

 

 

Dalam kasus ini, Francisca mendapat personality dari apa yang ia lihat pada ibunya. Her deepest desire adalah merawat, singkatnya bisa dibilang ia ingin menjadi seorang ibu. Sepanjang film kita akan melihat dia berusaha keras untuk melakukan hubungan sosial dengan orang-orang. Ada adegan ketika ia ingin memberi makan sapi, namun sapinya malah mundur menjauh. Dan kemudian kita melihat usahanya menjalin relationship gagal karena pasangannya menjauh, takut. For her psychopathic behavior. Jadi dia menemukan cara termudah dengan menyekap mereka. Dia tidak butuh teman yang balas bicara, dia cuma butuh tubuh untuk dia kasih makan, dia rawat sebaik yang ia yakini.

Gaya macabre film ini, toh, bukan lantas berlebihan. Kita tidak melihat kekerasan yang benar-benar gamblang. Enggak ada yang bikin kita memejamkan mata, dari segi kesadisan adegan. Warna monokrom juga berperan dalam menyamarkan imaji-imaji berlumuran darah. Dalam kata lain, dari segi gore, film ini enggak benar-benar bikin mual. Adegan-adegan sadis itu justru terjadi di luar kamera. Atau sangat jaaaauuuh dari kamera. Kita tidak betul-betul melihat apa yang dilakukan oleh Fransiska kepada cewek yang dia ajak pulang ke rumah. As far as blood splatters, kita hanya melihat darah ketika cairan itu sedang dibersihkan. Tapi tutur film ini begitu efektifnya, sampai-sampai kita merasa seolah tahu apa yang terjadi di antara potongan adegan. Hampir seperti adegan kekerasan tersebut terjadi di depan mata kita walaupun kita tidak pernah melihatnya. Dan jika apa yang tidak dinampakkan oleh film ini bisa dengan jelas kita bayangkan, maka gambar-gambar yang secara eksplisit ditampakkan – bak mandi dengan air seputih susu tempat Francisca berendam dengan mayat ayahnya, misalnya – akan terus terpatri dalam pandangan kita, bahkan jauh setelah kita menyaksikannya.

“look in my eyes, what do you see?”

 

Penampilan para pemain dieksekusi dengan hati-hati. Francisca diniatkan untuk terasa jauh sehingga saat rasa simpati timbul kepada tokoh ini, kita akan merasa semakin tidak nyaman. Kika Magalhaes memerankan Francisca dewasa dengan keanggunan dan level kemisteriusan yang membuatku membandingkannya dengan aktor lokal Shareefa Daanish yang juga kerap bermain di ranah horor. Di bawah pendekatannya, tokoh ini mampu menumbuhkan rasa simpati meskipun tak jarang aksi yang ia lakukan tak dapat kita pahami. Ada perasaan sedih yang merasuk kala kita melihat dia berusaha untuk berfungsi secara sosial in her own screwed up way.

 

 

Di babak awal, pace terasa agak sedikit diburu-buruin, namun secara keseluruhan, film ini digarap dengan kalkulasi yang sangat spesifik. Trauma dan Kesepian seolah dijahit dengan precise ke dalam narasi, menghasilkan sebuah cerita yang sangat mengganggu. Clearly, apa yang diceritakan oleh film ini bukan untuk semua orang. Film ini enggak butuh jumpscare ataupun trik-trik pembunuhan besar untuk bikin kita ngeri. Secara artistik, ini adalah arthouse horror yang amat ambisius. Untuk sebuah karya pertama, pencapaian Nicolas Pesce tergolong luar biasa. Kita bisa melihat visinya. Meskipun mungkin tidak selalu jelas kenapa. Perspektifnya yang enggak necessarily subjektif, membuatnya sedikit artifisial.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE EYES FOR MY MOTHER.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

NIGHT BUS Review

“An eye for an eye only ends up making the whole world blind.”

 

 

Paman Gober si bebek paling tajir di dunia hobi naik bus karena katanya angkutan umum jauh-dekat ongkosnya sama. Sama-sama murah, maksudnya hihi. Paman Gober enggak tau aja kalo dengan naik bis, kita bakal kaya; oleh pengalaman. Karena di dalam bis yang melaju tersebut kita pasti akan berjejelan dengan penumpang lain. Ada emak-emak rempong, preman-preman bau rokok, bapak-bapak kantoran, dan kalo beruntung kita sesekali bisa ketemu ama makhluk manis dalam bis. Segala macem latar belakang. Rupa-rupa deh warnanya.

Kayak bus Babad yang siap berangkat sehari-semalam ke kota Sampar dalam film Night Bus. Aku sendiri suka naik kendaraan umum lantaran aku memang demen memperhatikan orang-orang. Makanya aku kecewa setelah nonton The Girl on the Train (2016), film tersebut gagal ngedeliver premis tokoh yang suka memperhatikan orang sehingga dia merasa perlu untuk campur tangan terhadap masalah orang yang ia perhatikan di transportasi umum. Film itu malah berkembang menjadi drama dari perspektif satu orang. Night Bus, however, adalah film yang berjubel oleh karakter.

Menonton film ini KITA SEAKAN IKUT MENJADI PENUMPANG BUS BABAD, observing satu persatu orang-orang asing tersebut. Tidak ada tokoh utama di sini, kita tidak tahu motivasi sebagian besar dari mereka apa. Kita cuma tau ada si supir hanya ingin sampai menghantarkan penumpang yang jadi tanggung jawabnya dengan selamat. Ada stokar yang rada tengil namun cukup baik hati membiarkan anak kecil tanpa-tiket duduk di kursi sendiri tanpa perlu dipangku. Ada orang buta yang selalu positif, ada orang kaya, ada pasangan cewek dengan cowoknya yang penakut, ada wartawan, ada cewek manis yang pendiem, sepuluh menit pertama dalam film ini menghantarkan tugas sebagai perkenalan singkat sekaligus mengeset mood. Bahwa instantly kita akan ngerasa khawatir sama mereka semua, karena Sampar tujuan mereka adalah daerah konflik. Dan di menit-menit awal, film did a good job dengan tersirat ngejual daerah tersebut sebagai zona yang berbahaya.

bukannya bau balsem, bus malam yang satu ini akan anyir oleh bau darah

 

 

Perjalanan tragis mereka ditranslasikan kepada kita sebagai dua jam PERJALANAN PENUH CEKAM DAN EMOSI. Tadinya aku kira ini bakal jadi semacam confined-space whodunit thriller, tapi ternyata tebakanku took a wrong turn as film ini menyentuh lebih jauh sisi traumatis manusia. Ini kayak thriller bergaya roadtrip, yang tentu saja ada elemen ruang tertutupnya. Kita akan belajar lebih banyak tentang siapa-siapa saja penumpang bus. Apa kaitan dan pandangan mereka terhadap konflik atau perang antargolongan. Bus Babad membawa orang-orang tak bersalah, mereka bagai pelanduk yang permisi numpang lewat di antara gajah-gajah yang lagi berantem, dan film ini benar-benar menggali gimana dampak pertikaian terhadap orang-orang seperti penumpang bus tersebut.

Serangan ditimpal dengan serangan. Kau garuk punggungku, aku akan gantian menggaruk punggungmu. Jika setiap mata dibalas dengan mata, maka dunia akan buta. Konflik dan pertikaian tidak akan menyelesaikan apa-apa. Apinya akan merembet membakar semua yang berada di tengah-tengahnya. Menarik gimana film ini menawarkan solusi dengan kiasan ‘kenapa mesti mandi kalo nanti kotor lagi?’ Dampak perang tidak akan hilang. Ada tokoh ibu penjaga warung yang enggak mau berbicara dengan orang karena nanti toh perang akan memakan semuanya. Mungkin saja, apa yang harus kita lakukan adalah dengan tidak memulai gesekan sama sekali.

 

Ada sedikit eksposisi setiap kali cerita butuh untuk menerangkan konflik pertikaian. It could have been handled dalam cara yang lebih compelling. But for the most part, film ini bercerita dengan subtle. Kita belajar karakternya dengan perlahan, kita harus menyimak semua. Kadang petunjuk tentang backstory mereka ada di percakapan yang terjadi menjelang pertangahan. Kita harus memilah semua informasi yang seliweran di antara pemandangan visual kondisi di dalam bus yang terlihat sangat contained ini. Visualnya agak sedikit goyah ketika beberapa green screen dan efek berusaha diintegralkan ke dalam efek-efek praktikal. Kadang film ini terlalu gelap, dan tak-jarang kamera terlalu banyak bergoyang sehingga sekuens aksi menegangkan yang terjadi di layar menjadi sulit untuk kita tangkap. Tingkat violence film ini lumayan tinggi, udah kayak nyaingin film PKI dengan segala dialog “jenderal, jenderal!” dan adegan penyiksaan. Aspek yang paling aku suka dari film ini adalah gimana dirinya hadir dengan sangat grounded. Penampilan akting di sini semuanya meyakinkan. Dialek dan intonasi bahasa melayu deli dan langkat terdengar dengan pas dan enggak dibuat-buat. Aku ngerasa seperti udah mudik mendengar dialog-dialog film ini, karena di kampung halamanku memang pake bahasa longor-longor seperti tokoh-tokohnya.

Di antara semua penampilan yang seragam bagus, Teuku Rifnu Wikana mencuri show dengan tokoh yang paling vokal. Kita melihatnya berusaha menjalin hubungan dengan penumpang lain, dan actually relationshipnya dengan supir adalah salah satu emotional core cerita. Para penumpang diberikan moral dan cela sehingga mereka menjadi menarik, kita peduli terhadap kondisi mereka. Kita penasaran pengen tau siapa mereka. Terutama kita terasa terinvolve ke dalam panik dan guncangan yang menimpa mereka semua. Meskipun ada juga sih yang terasa annoying. Kayak si wartawan, dari pertama udah kelihatan he’s a sneaky guy, dan sikap-sikap kebajikan yang kadang ia tampakkan enggak pernah terasa tulus. Hubungan antara kedua anak muda yang ingin ke Sampar cari kerja juga enggak terlalu menarik karena eksekusinya datar gitu aja. Arc favoritku adalah yang dipunya oleh karakternya Hana Prinantina; dia dokter koas – cewek ini bisa menolong korban, dan ultimately skrip memberinya bentrokan saat dia memilih untuk menolong serdadu atau enggak karena suatu peristiwa di masalalunya. It was so heartwrenching, mestinya tokoh ini diberikan lebih banyak pengembangan alih-alih sengaja disimpan, you know, tokohnya Hana enggak banyak diberikan dialog lantaran film ini ingin ‘merahasiakan’ dirinya sebagai emotional twist.

“Eh longor, udah nonton kau ada satu pilem baru judulnya ‘Naik Bus’?”

 

Bagian paling menarik memang adalah ketika momen-momen seperti tokoh Alex Abbad menunjukkan simpati kepada Nenek dan Laila, atau ketika penghujung balas dendam tokoh Hana, atau juga ketika salah satu pasukan separatis meminta untuk ditembak. Momen ketika pelaku perang kejatuhan beban moral, ketika ada dilema yang membayangi mereka. Formula cerita perang yang bagus selalu seperti ini. Menyentuh zona abu-abu kemanusiaan. Akan tetapi, setelah kejadian di babak ketiga, arah jalan film ini sepertinya hanya ke poin dramatis semata. Kelompok pemberontak yang muncul di babak ini benar-benar murni jahat. Dan dilema moral yang semestinya jadi soal, hanya diberikan kepada penumpang bus yang notabene korban perang. Supaya kita kasian sama mereka, supaya kita merasa mereka itu kita, jika kita ada di tengah-tengah medan pertempuran. Seharusnya film ini juga menggali dari sisi Kolonel Sahul, tapi enggak, karena sekali lagi mereka ngerasa perlu untuk masukin elemen twist.

Dalam sense fokus ke elemen menyayat hati ini, Night Bus terasa kayak salah satu animasi klasik dari Studio Ghibli, Grave of the Fireflies (1988). Film anti-perang yang sama-sama dibuat dengan bagus, tapi kepentingannya buat sedih-sedih semata. Semua cerita dibuild buat bikin kita merasa sedih, semuanya ditargetkan kepada kematian orang-orang tak berdosa. Tentu saja, kayak Grave of the Fireflies, tokoh gadis cilik di film Night Bus juga sudah dipatri untuk mati. Adalah hal yang bagus film ini mencoba melakukan sesuatu yang jarang dengan enggak netapin tokoh utama, kita dibuat enggak tahu siapa yang bakal selamat, namun pada akhirnya ini lebih seperti usaha untuk memancing dramatis semaksimal mungkin. Hanya sedikit dari emosi tokoh-tokoh film ini yang terasa otentik. Kematian memang menyedihkan, namun film ini tidak punya hal lebih jauh yang dibicarakan selain jadi korban sia-sia itu adalah sangat heartbreaking. Aku enggak bilang film enggak boleh pengen jadi sedih doang, tapi itu adalah jalan yang mudah, dan I’d like to see movie yang lebih challenging dan film ini sebenarnya bisa menjadi lebih menantang pikiran.

 

 

 

Sangat unik, kehadiran film ini sangat diperlukan mengingat scene perfilman tanah air yang kurang variasi. Punya original look, punya cerita yang grounded dengan tokoh-tokoh yang menarik dan manusiawi. Diperankan dengan sangat meyakinkan. Ini adalah salah satu dari film yang punya nilai lokal yang kuat. Menyentuh lewat ceritanya yang mencekam, hambatan di jalan buat film ini adalah arahannya yang menyasar kepada sisi dramatis yang begitu diextent sehingga terasa manipulatif. Bahkan musiknya kerap terdengar terlalu ‘lantang’. Tidak bicara lebih dari gimana perang tidak punya manfaat melainkan hanya menyebabkan orang-orang sipil menjadi korban. Dengan sengaja memilih penceritaan dari perspektif penumpang bus, moral dan segala kemanusiaan diberikan kepada tokoh-tokoh ‘korban’ just so kepergian mereka terasa menyedihkan. Enggak salah, hanya saja ini adalah cara yang paling gampang, dan cara inilah yang dipilih oleh film.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for NIGHT BUS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We? We be the judge.