THE PLATFORM Review

“In a consumer society there are inevitably two kinds of slaves: the prisoners of addiction and the prisoners of envy”
 

 
 
Hidup kadang di atas, kadang di bawah. Namun sutradara asal Spanyol, Galder Gaztelu-Urrutia tidak sedang membicarakan roda. Alih-alih, dalam sci-fi horor The Platform ia membangun struktur semacam menara; dua ratus ruangan yang disusun bertingkat, berjejer vertikal, diberi nomor satu dari yang paling atas hingga berurut sampai ke paling bawah. Dalam setiap lantai/ruangan, ‘dipenjarakan’ dua orang. Setiap bulan, masing-masing lantai dirotasi penghuninya. Kadang mereka di lantai atas, kadang mereka di lantai ratusan ke bawah. 
Struktur tersebut difungsikan oleh Galder sebagai alegori dari sistem kapitalis, konsumerisme yang diam-diam telah memerangkap masyarakat. Dan Galder memanglah sukses berat dalam menggambarkan itu semua. Bagaimana tidak? Dalam penjara buatan Galder ini setiap harinya diturunkan platform berisi berbagai jenis makanan yang lezat-lezat. ‘Tawanan’ di lantai atas kebagian duluan mencicipi, sebelum akhirnya (tepatnya setelah dua menit) platform makanan ini turun, mengantarkan apapun yang masih tersisa kepada penghuni lantai di bawah, dan begitu seterusnya sehingga semua dua-ratus-lebih lantai kebagian. Atau tidak. Sampai di sini mungkin sebagian dari kalian sudah bisa menebak bagaimana tepatnya dunia film ini adalah cermin dari perilaku masyarakat sekarang, sebab sekiranya kalian bisa mengira seperti apa ‘rupa’ makanan lezat berlimpah itu setelah melewati lantai demi lantai penuh oleh sepasang orang kelaparan. But for the sake of this movie, mari kita tengok dari tokoh utama cerita ini.

Pertimbangkanlah gambar ini sebagai peringatan spoiler yang bakal datang

 
Goreng (Ivan Massague bukan meranin makanan loh ya, melainkan seorang pria yang bakal ancur lebur dihantui oleh realita sosial) terbangun dan mendapati dirinya berada di lantai 48. Rekan satu-lantainya bilang ini posisi yang cukup lumayan. Goreng tentu saja belum tau kenapa sebabnya, karena pria ini baru saja mengajukan diri ikut masuk ke ‘penjara’ yang di dunia cerita sebenarnya adalah fasilitas rehabilitasi, dikenal sebagai Vertical Self-Management Center. Goreng masuk sebab ingin mendisiplinkan dirinya dari rokok. Setiap peserta boleh membawa satu barang untuk dikarantina bersamanya. Goreng memilih buku. Teman selantai Goreng memilih pisau, dan lantas menertawakan Goreng; apa gunanya buku di sini? Dan kemudian turunlah platform makanan itu. Penuh berisi makanan sisa. Yang udah gak karu-karuan bentuknya karena sudah digarap oleh penghuni 47 lantai di atas. Goreng tentu saja tak selera, meski teman selantainya makan dengan lahap. Goreng yang awalnya naif belajar banyak dari temannya, serta dari kenyataan mengerikan tatkala mereka mendapat giliran tinggal di lantai level ratusan. Tempat mimpi buruk menjadi kenyataan, survival buas karena tidak ada makanan yang sampai ke sana. Goreng akhirnya paham kegunaan benda seperti pisau di lantai-lantai bawah saat pisau itu mengoyak lepas daging paha kakinya.
The Platform nyata-nyata bukanlah makanan buat semua orang. Gambaran kekerasan dan tindak amoral para tokoh ditampilkan dengan vulgar. Kasar. Jijik. Ya, jijik adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan kejadian-kejadian dalam film ini. Kita akan dikasih lihat betapa menjijikannya sikap manusia yang mementingkan diri sendiri. Tapi juga akan membuat kita jijik kepada diri sendiri, lantaran kita mengerti mereka. Kita paham kenapa mereka melakukan itu. Pemakluman penghuni lantai bawah yang gak kebagian makanan menjadi kanibal karena keadaan memaksa mereka, orang-orang di atas makan duluan, dan ketika digilir kita merasa wajar orang-orang yang di bawah akan melakukan hal yang sama saat mereka sudah di atas. Siklus mengerikan ini tidak bisa dihentikan. Dan ironi dari ini semua adalah; bahwa sebenarnya makanan di atas platform itu cukup untuk mereka semua, dari lantai satu hingga lantai dua-ratus, tiga-ratus, berapapun.
Maka Goreng mencoba menyadarkan semua orang, dia berusaha membuat mereka sadar bahwa tidak perlu mengambil makan banyak-banyak. Semua sudah diberikan jatah makanan yang cukup untuk melewati hari sehingga tidak akan ada yang kelaparan. Namun dendam diperlakukan hina, ketakutan akan kelaparan esok hari, dan fakta beberapa orang pada dasarnya memang rasis (film juga menampilkan agama, ras, dan golongan sebagai bagian dari penokohan) membuat usahanya sia-sia. Goreng didengar oleh orang-orang di bawahnya ketika dia mendorong mereka dengan ancaman. Tapi apa gunanya jika tidak semuanya sadar dan bersikap seperti tirani malah akan menimbulkan kebencian yang secara jangka panjang tidak bakal mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Itulah konundrum yang paralel dengan keadaan masyarakat kita sekarang. Gak usah jauh-jauh, lihat sekarang – di masa-masa seluruh dunia dalam pandemi virus corona – banyak orang membeli barang di luar yang benar-benar ia butuhkan. Di negara luar orang rebutan tisu toilet. Di negara kita, orang berebut masker. Hand sanitizer. Bahkan alat-alat kesehatan. Orang-orang berduit, tentu saja. Memborong semua sehingga banyak orang, terutama yang less-fortunate enggak kebagian. Sama seperti di film ini, orang-orang tetap memakan makanan yang sebenarnya bukan jatah mereka sehingga makanan tersebut tidak mencukupi. Mentang-mentang punya kesempatan duluan. Orang-orang seperti susah membedakan yang mereka butuhkan dengan yang tidak. Semuanya pada tamak. Yeah, mereka bisa beralasan survival instinct. Film ini menunjukkan bukan salah mereka sedang di atas, melainkan karena mereka pernah di bawah. Di sinilah letak kebobrokan sistem tersebut, sistem masyarakat kita yang over-konsumtif. Yang berkecukupan tidak merasa punya keharusan untuk berbagi. Setiap tokoh dalam film ini terpenjara oleh candu dan iri atas makanan karena sistem membuat mereka jadi melihat pada posisi atas atau bawah.

Masalah kesejahteraan ekonomi sebenarnya sangat terkait dengan masalah moral. Bukan eksak soal punya banyak duit atau tidak. Bahkan film ini menunjukkan, dalam keadaan yang sama-sama berkekurangan pun akan ada gap; yang berasal dari perbedaan kesempatan. Inti masalahnya adalah terletak pada kebutaan kita membedakan mana yang kita berhak miliki dengan mana yang kita pikir berhak untuk kita miliki. 

 

Goreng harus bertrimakasi kepada temannya; Trimagasi

 
Tidak ada jawaban yang saklek benar untuk mengatasi persoalan ini. Sepertinya memang harus dengan kesadaran sendiri. Tidak bisa dipaksa. Jikapun berubah, maka itu tidak dalam waktu dekat. Prosesnya bakal lama. Makanya Goreng gagal semua, meskipun sebenarnya banyak juga yang berjuang untuk menjadi lebih baik di dalam sana. Makanya pula, film tidak membahas penyelesaian hingga ke akarnya. Melainkan memberikan jawaban lewat metafora. Dan ini bakal jadi turn off buat sebagian penonton yang mengharap solusi alias jawaban. Akhir film dapat jadi membingungkan ataupun tidak menyelesaikan apa-apa. Buatku; ya ada beberapa elemen yang gak diberikan alasan yang jelas kenapa bisa ada, alias ada elemen yang kayak maksa. Namun soal endingnya, aku mengerti kenapa film memilih untuk menutup seperti demikian.
True resolution yang dipercaya oleh Goreng adalah mengirimkan kembali seorang kecil yang ia temukan di lantai paling bawah ke lantai paling atas; ke tempat manajemen gedung. Hanya si anak saja, tanpa dirinya. Goreng memilih untuk tetap tinggal di lantai dasar. Makna dari semua ini adalah film ingin menunjukkan kepada kita bahwa harapan itu masih ada. Yakni berupa generasi muda, yang sama sekali belum tersentuh dan dikotori oleh sistem. Goreng tidak bisa ikut karena untuk sampai ke sana saja ia sudah literally kotor dan menjadi bagian dari sistem. Anak itu merupakan simbol dari buah perjuangan kemanusiaan, sebuah clean-slate. Memang mengirim anak itu ke atas belum tentu bakal langsung menghentikan semua amoral dan membuat orang seketika menjadi lebih baik. Namun mengirimkannya adalah pesan mutlak bahwa ada kesalahan di sistem (bisa ada anak yang masuk, meskipun peraturan menyatakan tidak boleh), dan fakta bahwa anak itu masih hidup dan sehat adalah bukti nyata kemanusiaan masih punya harapan.
 
 
 
 
Ini bukan thriller ruang tertutup yang biasa. Cerita sarat metafora dari realita dunia konsumtif kita. So naturally, this will be very hard to watch. Apalagi film memang tidak ragu-ragu untuk menjadi semenjijikkan mungkin. Blood, vomit, feses, moral bobrok, salah satu dari empat itu akan membuat kita mual duluan. Ditonton dalam waktu-waktu wabah virus sekarang, film ini sangat relevan. Film tidak tersaji subtil, dan beberapa elemen seperti diadakan begitu tanpa ada penjelasan, membuat sebagian penonton enggak puas. Namun yang patut kita apresiasi adalah film berusaha mencari penyelesaian dengan nada yang positif, dengan memperlihatkan manusia masih bisa bertaruh pada harapan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE PLATFORM.

 
 
 
That’s all we have for now.
Hanya butuh satu orang, satu orang mulai makan melebihi yang ia butuhkan – memakan jatah orang lain – dan keseimbangan itu akan runtuh. Menurut kalian apa yang kira-kira menyebabkan tawanan di lantai atas memakan lebih banyak dari yang ia butuhkan?
Ini adalah struktur  vertikal, menurut kalian apakah akan ada bedanya jika struktur penjaranya berupa kamar-kamar yang disusun horizontal? apakah beda posisi/kelas itu akan terasa?
Apa kalian punya interpretasi sendiri terhadap ending film ini?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE HUNT Review

“Assume’ makes an ‘ass’ out of ‘u’ and ‘me’.”

Satir adalah penyampaian bahasa yang ditujukan sebagai sindiran terhadap suatu keadaan atau bahkan seseorang. Satir dikemas sebagai humor (bisa parodi ataupun ironi atau sarkasme) sehingga mampu menarik perhatian masyarakat kepada isu-isu yang terkandung dalam gagasannya. Sebab fungsi utama satir memang adalah sebagai sebuah kritik. Masalahnya; sekarang orang menganggap satir dengan terlalu serius. Di jaman informasi ini kita sudah terbiasa meneropong sesuatu dan memilah mana yang sesuai dengan kita, dan membuang jauh yang tidak. Menjatuhkannya malah. Sedangkan satir, mengundang kita untuk becandain hal yang mungkin justru adalah hal yang kita percaya. Kita menjadi sudah asing dengan melihat ke-dalam dan bersenang-senang dengan sesuatu yang kita percaya. Kita malah melihat satir sebagai serangan. Makanya sekarang candaan di channel youtube aja bisa dianggap seolah statement penting di tv nasional oleh orang.
The Hunt pun begitu. Komedi action-thriller ini langsung dianggap ofensif oleh penonton – bahkan presiden – di negara asalnya, lantaran memuat singgungan terhadap perbedaan ideologi politik. The Hunt sempat ditunda penayangannya, film ini mestinya bisa kita saksikan di bioskop tahun lalu. Namun semua itu nyatanya tidak menyurutkan kekuatan suara film ini. Karena The Hunt ini justru unik. Dia adalah film yang semakin banyak orang yang tersinggung, maka semakin baguslah dia. Karena itu berarti satir dalam film ini benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik pada iklim modern sekarang ini.
Yang bikin film ini kontroversial adalah ceritanya yang seperti mengadu masyarakat liberal yang elit dan konservatif jelata Amerika. Membuat mereka dalam situasi berjuang hidup-mati. Crystal terbangun di sebuah padang rumput, bersama beberapa orang lain, dalam keadaan mulut terbekap alat. Mereka semua tidak saling mengenal, satu-satunya kesamaan adalah mereka ini semuanya ‘sayap-kiri’. Ketika mereka menemukan kotak besar berisi senjata api, tembak-tembakan itu terjadi. Film ini comedically brutal dalam memperlihatkan adegan bunuh-bunuhan. Crystal musti menyelematkan diri, sesekali bekerja sama dengan rekan sesama target buruan, sembari berjuang hingga ke kesimpulan bahwa yang memburu mereka adalah borjuis liberal yang dipercaya suka berburu manusia sebagai rekreasi. Crystal balik memburu mereka hingga ke Manor, tempat sang pemimpin – Athena – menunggu dirinya.

semua kegilaan ini bermula dari chat di grup WA!

Padahal kalo kita tonton dengan seksama, tidak ada tokoh baik-tokoh jahat di sini. Hanya pemburu dan yang diburu. Walaupun pemburu digambarkan sebagai kumpulan orang konglomerat, tapi film ini tidak pernah sesimpel si kaya dan si miskin. Kita tidak lantas mendukung si miskin, alias kelompok yang diburu. Karena film memperlihatkan begitu banyak spektrum. Bakal ada penonton yang enggak kasian sama yang diburu karena berbagai hal. Misalnya mereka punya pandangan politik berbeda. Atau karena persoalan pandangan tentang kepemilikan senjata. Kedua pihak diperlihatkan sama-sama brengsek, sama-sama ignorant. Ketika ada satu yang mati (anunya digranat ataupun terjatuh ke jurang berduri kayak di video game), kita akan miris sesaat kemudian tergelak karena memang digambarkan dengan over. Target yang enggak sebenar clear inilah yang bikin penonton ‘bingung’ – beberapa bakal melihat pahlawan mereka sebagai penjahat, beberapa akan merasa dipaksa mendukung yang gak sepaham – sehingga film ini jadi menimbulkan reaksi beragam.
Untuk dapat mengerti kenapa sutradara Craig Zobel sengaja mengarahkan filmnya menjadi seperti demikian, maka kita perlu memahami referensi yang ia munculkan di dalam cerita. The Hunt berulang kali menyebut soal Animal Farm, novel satir politik yang ditulis oleh George Orwell. Ada banyak penamaan dan istilah yang disebutkan oleh tokoh The Hunt yang mengacu kepada novel ini, misalnya menyebut rumah sebagai Manor seperti nama peternakan dalam Animal Farm. Crystal disebut sebagai Snowball oleh Athena; kedua tokoh ini sama-sama membaca Animal Farm. Bahkan ada babi yang diberi nama Orwell. Novel Animal Farm bercerita tentang binatang ternak yang mau menggulingkan manusia, karena manusia adalah makhluk paling perusak di muka bumi. Binatang-binatang ini dipimpin oleh babi yang menyusun sistem pemerintahan sendiri. Namun, si pemimpin babi ini menjadi takubahnya sebobrok manusia yang mereka lawan sehingga muncul lagi perlawanan untuk menjatuhkannya. “Manusia ke babi, babi ke manusia, benar-benar sukar membedakan yang mana” begitu kira-kira penggalan dialog yang mengandung gagasan utama novelnya. The Hunt juga berangkat dari gagasan yang sama. Bahwa semua manusia, baik Trump voter atau bukan, sesungguhnya sama. Sama dalam hal apa?
Kedua kubu dalam The Hunt punya penyakit sembrono yang sama di hati mereka. Dan mungkin kita semua juga. Kita gampang percaya pada informasi apapun yang mendukung kebutuhan kita sendiri. Di akhir film ini diungkap bahwa para pemburu sesungguhnya adalah orang-orang yang dirugikan oleh teori-teori pihak oposisi. Rumor mereka menghibur diri dengan membunuhi orang-orang layaknya hewan buruan itu tadinya hanya hoax, yang dibesar-besarkan oleh media . Mereka dipecat dari kerjaan, sehingga dendam dan beneran memburu netijen yang mereka percaya ambil bagian dalam penyebaran hoax tersebut. The Hunt, lewat orang-orang ini, memperlihatkan kepada kita bahayanya mempercayai sesuatu, sekadar berasumsi, tanpa membuktikan terlebih dahulu kebenarannya. Twist kecil pada dialog antara Crystal dan Athena di akhir film menguatkan ini; bahwa sekalipun kita merasa benar, kita haruslah tetap melihat dari sudut lain. Because we still could easily been wrong.

Situasi ekstrim yang tergambar pada The Hunt adalah sindiran terhadap percekcokan antardua kubu politik yang terjadi. Yang masing-masing merasa benar, seringkali bukan karena mereka benar, melainkan karena pihak yang satunya dianggap mutlak salah. Kita berasumsi yang tidak-tidak, dan berkat sosial media, segala teori dan perkataan-tak-berdasar bisa menyebar di kelompok masing-masing seolah itulah kebenaran.

Salah satu dialog kunci dalam film ini adalah anekdot ‘kelinci dan kura-kura’ yang diceritakan dengan begitu twisted oleh Crystal. Karena cerita kemenangan kura-kura karena si kelinci sombong kebablasan tidur saat lomba lari itu ada kelanjutannya. Dengan ending yang cukup sadis. Ketika pertama kali dia menceritakannya, kita menangkap secara tersirat Crystal menganggap dirinya kura-kura dalam cerita tersebut. Namun di bagian akhir film, setelah dia (dan kita) belajar bahwa kedua kubu sebenarnya sama, kita dengan jelas diperlihatkan bahwa dia menyadari dirinyalah yang kelinci. Betty Gilpin mendongengkan, dan kemudian menghidupi ending kisah yang tokohnya ceritakan, itu adalah hal terbaik yang aku dengar sepanjang hari aku menonton film ini. Penampilan aktingnya benar-benar mencuatkan tone film secara keseluruhan. Crystal ini kalo gila bisa kayak Harley Quinn di Birds of Prey (2020), dan saat intens, dia bisa kayak Grace di Ready or Not (2019) . Aksi-aksinya semua kocak sekaligus menegangkan, sekuen berantem di akhir melawan Athena itulah puncak terbaiknya. Film dengan bijak membuat pandangan politik tokoh ini ambigu dengan membuat identitasnya – dari sudut pandang Athena – ambigu. Mungkin beberapa orang akan lebih senang menganggap Crystal si penyintas badass ini sebagai apolitical.

in first 20 minutes,  I was in denial ” aku gak mau nonton film yang Emma Roberts-nya mati duluan”

But it takes a while for us to meet and know her. Film ini memilih cara yang unik untuk memulai cerita. Unik, meski bukan pilihan yang ‘benar’. Karena babak pertama film ini sengaja didesain supaya kita bingung siapa yang harus diikuti. Dari orang kaya snob ke bego ke gadis vulnerable yang bikin jatuh hati, cerita berpindah melewati tokoh-tokoh yang tidak ada yang bikin kita simpati. Dan kemudian mereka mulai berjatuhan mati. The Hunt bersenang-senang ngecoh kita, membuat kita berpikir “wah ini nih jagoannya”, eh ternyata mereka tewas. Kamera berpindah membawa kita mengikuti yang lain. Kita baru benar-benar mengikuti Crystal di akhir babak pertama.
Bahkan si Athena bisa saja jadi tokoh utama. Karena dialah yang kita lihat muncul dan dibangun sedari awal. Meski tidak hingga babak akhir kita baru melihat wajahnya (yang ternyata diperankan oleh Hillary Swank). Akan tetapi masuk akal jika film ingin ‘mengacaukan’ kita seperti itu, karena toh aksi Athena yang ‘membalas dendam’lah yang menyeret Crystal pada cerita – terlebih jika memang Athena salah orang seperti yang diungkap oleh Crystal. However, efek cerita dari sudut pandang Athena akan lebih besar dan konsisten jika adegan flashback di awal babak ketiga dimajukan sebagai set up.




Film ini dengan sukses membagi penonton karena ceritanya yang mengadu pandangan politik, namun pada akhirnya memperlihatkan keduanya sama saja. Certainly bukan sesuatu yang ingin didengar oleh kebanyakan orang. Namun sesungguhnya ini adalah tayangan yang luar biasa menghibur. Dialog dan kejadiannya mengundang tawa – jika kita mau melihat ke dalam dan bermain-main dengan situasi. Aksinya sadis dan melibatkan satu pertarungan cewek yang keren. Yang kedua tokohnya tampak dimainkan dengan riang gembira, sekalipun begitu badass. Babak set upnya unik, tetapi bukan pilihan yang baik ataupun pilihan yang harus diambil oleh film ini. Di samping itu semua, ya aku sarankan supaya kita jangan jadi orang yang baper-baper amat supaya bisa menikmati satir-satir membangun seperti film ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE HUNT.




That’s all we have for now.
Menurut kalian kenapa sekarang orang gampang baper? Apakah satir sudah benar-benar kehilangan tempat di era ‘political correctness’ sekarang ini?

Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.



GUNS AKIMBO Review

90% of people will text things that they could never say in person.”
 

 
 
Internet menyediakan kepada kita selimut yang nyaman dalam bersosialiasi. Jika dulu untuk berinteraksi orang harus bertatap muka langsung, melakukan kontak fisik, maka kini orang bisa saling menyapa dengan orang yang berada di belahan bumi yang berbeda dari kursi ataupun dari tempat tidur masing-masing. So yea, selimut yang dimaksud di atas bisa literal, maupun kiasan. Karena dengan jarak tak terbatas, tanpa harus melihat langsung lawan bicara, internet bertindak sebagai tabir dalam komunikasi. Kita bisa berlindung di baliknya, melakukan sesuatu – mengatakan sesuatu tanpa mengkhawatirkan konsekuensi, karena hey, mereka para lawan bicara enggak tahu siapa kita sebenarnya. Gampang merasa tidak ada konsekuensi di internet, ironinya adalah kita merasa bisa lebih ekspresif ketika kita sudah aman bersembunyi.
Makanya di internet kita banyak menemukan orang-orang yang dengan bangga menunjukkan mereka suka keributan. Hal-hal negatif dijadikan konten, baik itu yang nemu langsung di jalan atau share dari media sosial teman, maupun yang sengaja dibuat. Serius deh, jaman sekarang iklan aja mesti bikin kejadian viral orang disuruh pura-pura berantem dulu. Ngetroll di kolom komen jadi hiburan. Berpedas-pedas ngasih komentar dijadikan semacam kompetisi popularitas. Triknya sekarang harus jadi akun shitpost dulu biar banyak follower dan direcognize sama pasar. Orang berpuas jadi sosok kasar, snob, atau yang angkuh di internet. Sengaja ngetik hal-hal yang mancing rusuh dengan berlindung di balik ‘opini’ atau ‘selera’. To make it worse, selalu ada panggung buat troll-troll internet, seperti baru-baru ini twitter ramai oleh akun-akun ‘@txt’ yang memuat kesinisan dari snob-snob yang cari ribut. Tadinya mungkin akun tersebut dibuat untuk menertawakan mereka, akan tetapi dengan meng-share kenegatifan itu, orang-orang jadi melihat mereka sebagai platform buat terkenal, dan justru jadi semakin nafsu mengada-ada tweet yang memancing. Seperti akun-akun itulah, action-comedy garapan Jason Lei Howden ini jatoh pada akhirnya.
Guns Akimbo berpijak pada misi yang mulia. Film ini ingin memperlihatkan kepada kita bahwa internet bukanlah tempat tanpa konsekuensi. Kekerasan yang kau pancing dan keributan yang kau tonton dengan menggelinjang sebagai hasil pancingannya, sama sekali bukan sesuatu yang menyenangkan jika terjadi langsung kepadamu. Tokoh utama film ini adalah Miles, seorang programer game yang menghabiskan harinya berselancar bolak-balik sosial media, menuliskan komen-komen kasar, ngetroll, ngajak ribut orang-orang di internet, acting like hero; putting people in their place. Kemudian suatu kejadian menjadi seperti pelajaran bagi dirinya. Miles sang keyboard warrior, menembakkan kata-kata dari komputernya, kini harus merasakan bagaimana rasanya punya tangan yang bisa menembak peluru beneran yang membunuh lawan bicaranya. Ya, premis film ini sangat unik; seorang pria dengan pistol dipatri ke kedua telapak tangannya.

kencing aja jadi perbuatan berbahaya jika tanganmu adalah pistol.

 
Humor yang timbul dari situasi tersebut cukup fresh, meski memang receh. Miles kesusahan buka pintu. Angkat handphone. Makan. Pakai celana. Dia gak bisa ngapa-ngapain. Berusaha terlalu keras bisa-bisa pelatuk di tangannya kepencet dan zinnngg, seseorang terluka, atau malah dirinya sendiri nanti yang kena. Semenjak jadi ‘the boy who lived’ Daniel Radcliffe seperti mendedikasikan diriya untuk hidup memerankan berbagai variasi karakter. Dia pernah jadi mayat, jadi iblis bertanduk, dan kini dia harus memerankan seorang cupu yang dipaksa untuk berbuat kekerasan sebagaimana ‘kekerasan’ yang biasa ia lakukan dengan sengaja di internet. Daniel bermain sebagai Miles yang tadinya menghibur diri dengan melihat orang ‘terluka’ berubah menjadi hiburan bagi orang-orang yang menonton dirinya mempertaruhkan nyawa.
Yang membuat tangan Miles menjadi seperti itu adalah produser sebuah underground platform di internet. Mereka bikin show yang disebut Skizm. Basically adalah reality show bunuh-bunuhan, peserta yang kebanyakan adalah kriminal disuruh saling membunuh untuk hadiah tertentu, dan segala kejadiannya disiarkan lewat internet ke seluruh dunia. Komen Miles menyinggung Skizm, sehingga mereka memaksa Miles untuk ikut bermain. Lawan Miles adalah seorang cewek pembunuh nomor satu bernama Nix. Sepanjang film kita akan melihat Miles dikejar-kejar oleh Nix yang bermaksud menuntaskan misi terakhirnya ini demi kebebasan. Keadaan semakin pelik bagi Miles, sebab dalam usaha menggebah Miles untuk balik melawan dan mendatangkan viewers berkali-kali lipat, Skizm menculik mantan pacar Miles dan menjadikannya sebagai ‘pemicu motivasi’

Sebagai manusia yang berbudi pekerti, mestinya kita tidak butuh film ini untuk mengingatkan kita dan berhenti menjadi asshole di internet. Stop gagahan mengumbar kesinisan dan trolling, karena kita sendiri tahu persis kita tidak akan sanggup mengatakan ataupun melakukan perbuatan yang kita tulis di internet. Menembakkan kata-kata di keyboard jauh lebih gampang dibandingkan menarik pelatuk pistol yang tertempel di tangan, karena kita tidak punya selimut perlindungan di dunia nyata. Kita tidak punya ekstra, tidak bisa begitu saja mengharapkan kesempatan kedua. Tidak ada gunanya sok-sok berekspresi jika itu bukan diri kita yang sebenarnya.

 
Ada sesuatu yang gak klik dalam pengembangan premis tadi. Kenapa Miles justru dapat pelajaran dari Skizm yang nyari profit dengan ngebroadcast kekerasan. Kenapa Miles disadarkan dengan disuruh untuk melakukan kekerasan beneran. Benarkah ini ironi yang diincar? Kekerasan yang kita gemari gak fun jika dilakukan langsung. Rambo, kata Miles, bakal jadi orang tuli kalo ia hidup di dunia nyata oleh nyaringnya senjata api yang selalu ia tembakkan. Namun pada akhirnya, toh film ini tetap menjelma – memperlihatkan kekerasan itu dengan menyenangkan. Miles akhirnya bisa melakukan kekerasan beneran, dia malah jadi jagoan dan mendapat pujian internet karenanya. Dengan melatarinya pakai musik-musik asik yang dicover ke genre populer kekinian. Dengan sound ala video game seolah yang kita saksikan, membuat yang dialami oleh Miles adalah permainan. Misalnya pada adegan Miles pakai obat asma atau ketika Nix nge-snort bubuk putih, soundnya kayak musik ‘dapet-nyawa’ pada video game.
Malah, film ini tampak berusaha keras supaya jadi seperti sekocak dan seabsurd Scott Pilgrim vs. The World (2010), hanya saja selera humor yang ditampilkan enggak senada, bahkan menghalangi pesan yang ingin disampaikan. Guns Akimbo adalah sajian bertempo cepat diisi sebagian besar oleh perkelahian, tembak-tembakan, muncratan darah, kejar-kejaran. Ketika kita selesai menonton ini, dan disuruh mendeskripsikan, hal yang kita ingat – hal yang kita pikirkan ketika menyebut nilai plus film ini adalah sajian aksi dan violence-nya yang menghibur. Kekonyolan situasi Harry Potter yang berlarian keliling kota bersepatu kaki beruang dan tanpa celana. Justru inilah ironi yang dihasilkan oleh film ini; di satu titik kita akhirnya menjadi penonton show Skizm yang disindir oleh film ini. Dan si film ini, menjadi worst part of Miles dan Skizm itu sendiri, yang mempertontonkan kekerasan demi menjual sensasi.
Yang paling menghibur buatku di film ini adalah melihat Nix. Kalian-kalian yang pernah membanding-bandingkan Samara Weaving dengan Margot Robbie, atau mungkin pernah penasaran seperti apa kalo Samara Weaving yang kepilih jadi Harley Quinn; well, you’d get the answer. Nix beneran kayak Harley Quinn versi lebih sadis dan less-kekanakan. Dan less-drama juga. Aku yang udah cinta ama Weaving sejak Ready or Not kemaren (makanya dapat Most Amazing Lips alias Unyu op the Year di My Dirt Sheet Awards) gak bisa lebih menggelinjang lagi melihat ke-badass-an Nix. Di sini taringnya di-silverin, sehingga pada beberapa shot dia persis vampir. Dia legit kayak maniak, bahkan ketika Miles kerap meloloskan diri darinya, kita tidak merasa ganjil melihat tokoh yang harusnya paling jago membunuh malah kesusahan berurusan dengan nerd. Kita masih melihatnya sebagai terlalu underestimate. Tokoh ini sempat diberikan momen emosional yang manusiawi, dan Weaving kills it too.

Aduh bibirnyaa… seperti kata-kata youtuber Duel Links favorit semua pemain: “Lethal!!”

 
Relasi Miles dengan tak pelak gampang tertebak, tapi bukan itu masalahnya. Melainkan ada elemen dari interaksi mereka yang dipaksakan alias kecil kemungkinan dapat terjadi dalam dunia cerita. Dan membahas ini akan membawa kita ke semacam plothole. Cerita dengan elemen show yang ditonton pengguna internet di seluruh dunia (misalnya pada film Nerve tahun 2016 lalu) sangat rentan berlubang karena film harus menetapkan setiap kegiatan tokoh terbroadcast ke publik, tanpa ketahuan oleh polisi. Guns Akimbo cukup rapi dalam memberi ‘alasan’ soal kenapa polisi gak bisa menangkap mereka padahal acara Skizm disiarkan pake sejumlah drone. Namun masalah sebenarnya ada pada sejumlah drone itu tadi. Jika Skizm punya banyak drone siaran, dan memfokuskan merekam Miles terus-menerus karena dia yang dikejar Nix adalah atraksi utama, kenapa masih ada waktu-waktu Miles bisa bergerak tanpa ketahuan oleh Skizm. Pembangunan dunia film ini terpaksa harus melemah demi memungkinkan berbagai hal, in favor of tokoh utama. Akibatnya jadi menimbulkan pertanyaan yang jawabannya tidak memuaskan. Perihal Skizm dan dalang alias produsernya juga tidak banyak digali selain karena menurut si tokoh kejahatan/pembunuhan adalah seni.
 
 
 
 
Aku bukannya mau menyebut film ini labil, tapi… gagasan yang ia sampaikan bener-bener campur aduk sehingga yang nonton film ini bakal bingung sendiri (ditambah pula oleh kamera yang hobi berguling). Jika ini adalah cerita peringatan untuk troll internet dan orang-orang yang suka-dan-bangga cari ribut, maka sangatlah aneh filmnya justru membuat orang yang bersikap demikian menjadi pemenang. Film tampaknya memang menyukai kekerasan karena ia mempertontonkannya sebagai sajian utama. Seru, cepat, penuh fantasi. Tentu, hal-hal ini bakal mudah mendapat penggemar. Kita bisa duduk nyantai nikmatin aksi komedinya. Tapi itu hanya akan membuat kita berada di level tokoh di dunianya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for GUNS AKIMBO.

 
 
 
That’s all we have for now.
Orang berantem, si kaya ngebully si miskin, sikap intoleran agama, pejabat yang blunder, kenapa kita suka menyebar/membagi hal-hal seperti itu di internet?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT: AYAT 2 Review

“Better the devil you know than the devil you don’t”
 

 
 

Manusia lebih baik daripada iblis. Sejak iblis yang diciptakan dari api terang-terangan menolak memberikan penghormatan kepada manusia yang tercipta dari tanah, iblis diturunkan derajatnya. Dan mereka pun mengamini penurunan tersebut dengan bersumpah untuk terus sekuat tenaga menyesatkan anak manusia sehingga berada di dasar neraka bersama mereka. Alfie dalam Sebelum Iblis Menjemput (2018) menambah skor bagi manusia, dia berhasil mengalahkan iblis. Bersama adik tirinya, wanita ini lolos dari peristiwa maut yang mengubah kehidupan mereka. Dua tahun kemudian, kini di Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2, Alfie masih dihantui bisikan dan bayangan. Dia dan adiknya, Nara, lantas kembali dipaksa terlibat dalam masalah mengerikan yang berakar pada persoalan iblis menjebak manusia untuk melakukan perjanjian terkutuk. Hanya saja kali ini, angka skor tadi tidak lagi menjadi soal.

Karena, demi horor Alfie dan kita semua, keunggulan manusia terhadap iblis ternyata juga bisa berarti manusia yang menghamba pada iblis mampu menjadi iblis yang bahkan jauh lebih iblis daripada iblis itu sendiri.

 

tak ada yang waras di kota ini

 
Sutradara dan penulis naskah Timo Tjahjanto kembali mengajak kita bersenang-senang dengan horor sadis ala Evil Dead. Yakni horor dengan tone yang over-the-top, berisi makhluk-makhluk peranakan teror praktikal dan permainan teknis, dan ditaburi selera humor edan. Penggemar horor akan bersorak melihat adegan ala Alien lahirnya pria dewasa dari dalam tubuh seorang wanita. Reaksi terhadap berbagai trik horor dan jumpscare film ini jelas akan beragam. Misalnya adegan tangan setan yang ngasih jari tengah ke Alfie; ini bisa jadi adegan kocak bagi penonton yang gemar horor-horor ala B-horor 90-an. Dan di sisi lain, bagi beberapa penonton yang lain (sebagian besar sepertinya), adegan itu bakal jadi exactly just what it is; sebuah jari tengah yang diacungkan tepat ke depan muka semua orang yang mengharapkan peningkatan dari film yang pertama.
Filmografinya padahal sudah berbicara. Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2 actually merupakan sekuel pertama bagi Timo. Sebelum ini, dia dikenal dengan cerita-cerita orisinil. Gaya horor sadisnya bisa diaplikasikan ke cerita apapun, dan terbukti cukup menjual, sehingga sekuel Ayat 2 ini terasa dipaksakan dan justru membatasi. Karena cerita Alfie sudah tuntas di akhir film pertama, transformasi karakternya sudah sempurna. Akan lebih baik bagi Timo untuk menjual cerita pada film kedua ini sebagai cerita baru atau murni judul baru saja lantaran menarik Alfie kembali terasa sangat dipaksakan.
Ini semua kelihatan dari babak set up yang sangat lemah begitu mereka mulai memperlihatkan Alfie kepada kita. Ketika prolog dua cewek di rumah, yang ada keren netes terus dimatikan, tapi masih ada bunyi tetesan dan itu adalah bunyi darah yang menitik ke lantai, film terasa sangat menarik. Kita dihadapkan pada misteri baru, orang-orang baru, percakapan mereka did a good job membangun sosok Ayub dan kejadian mengerikan kehidupan mereka lima-belas-tahun lalu. Aku genuinely langsung penasaran. Apa sebenarnya yang menyerang si Gadis. Apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka. Relasi antargrup mereka juga disinyalir punya konflik. Tapi kemudian, kita dibawa menemui Alfie dan satu jumpscare berikutnya, kedua kubu ini  – orang-orang di prolog dan Alfie – berada di bangunan bekas panti. Film menyediakan sedikit sekali alasan logis yang menghubungkan Alfie dengan geng Gadis dan masalah mereka. Hanya sebatas karena Alfie pernah lolos dari iblis, dan sekarang anak-anak muda ini ingin minta tolong padanya karena nyawa mereka sedang diincar oleh sesosok iblis. Alfie seperti dipaksakan masuk; ini ironis karena cara film membuat Alfie ada di sana adalah dengan membuat geng Gadis menyatroni kediaman Alfie dan Nara, lengkap dengan topeng perampok, melumpuhkan Alfie, membawanya paksa – menyekapnya dalam bagasi mobil. Mereka minta tolong dengan literally menculik si calon penolong. Dan setelah teriak-teriak tanpa benar-benar menolak, Alfie mau saja menolong dan membaca mantra yang melepas semua petaka. Set up yang sungguh kentara dipaksakan supaya cepat, dan Alfie bisa ada di sana gitu aja. Padahal dia tidak punya hubungan ataupun masalah personal dengan salah satu dari Gadis dan teman-teman pantinya. Alfie tidak punya motivasi di plot ini. Dia hanya terpaksa karena iblis pervert musuh ‘klien’nya mengincar Nara (antagonisnya aja gak ada konflik-langsung dengan Alfie), dan satu-satunya yang menahan Alfie dan Nara gak cabut dari situ adalah mobil yang mogok.
Sure, masih ada transformasi yang dialami oleh Alfie. Di awal cerita dia adalah tough street-wise lady yang membakar kakak tirinya sendiri dan di akhir dia belajar bahwa dia adalah orang yang tidak punya kendali atas nyawanya sendiri. Dia adalah personifikasi dari manusia lebih baik ketimbang iblis sekaligus lebih buruk. Dihitung dari film pertama, seharusnya dia orang yang double bad-ass…(es?). Namun Alfie dimainkan dengan cara yang ‘lucu’ oleh Chelsea Islan. I mean, ada alasannya kenapa dulu aku memplesetkan namanya jadi Cheesy Island, tapi kemudian dia menunjukkan peningkatan akting yang signifikan. Di Sebelum Iblis Menjemput, Chelsea jelas bukan bahan tertawaan, perannya menggenjot fisik dan emosi, and she was delivered. Di film kedua ini, sayangnya, dia kembali menjadi Cheesy. Akting takutnya lebay. Bicaranya sebagian besar teriak-teriak hampa. Hampir seperti dirinya enggak nyaman dituntut seekspresif itu.
dan dia harus berpose metal untuk mengeluarkan kekuatan barunya

 
Cerita film ini masih akan bisa bekerja tanpa harus ada Alfie di sana. Sekelompok alumni panti yang ditarik kembali oleh iblis masa lalu mereka. Yang udah nonton, coba bayangkan kalo plot Alfie di film ini dijadikan plot si Budi, atau Gadis…. it could still work dan made more sense, kan. Ini adalah soal menggunakan iblis balik mengalahkan iblis; soal menemukan loophole di lingkaran setan. Film menggunakan Stockholm Syndrome lebih dalam dari lapisan luar narasi untuk memparalelkan hubungan manusia dengan iblis. Selain Alfie, sesungguhnya tokoh-tokoh baru yang berkenaan langsung dengan masalah dalam film ini gak ada yang punya karakter yang kuat. Mereka dangkal, dan klise. Si jutek, si misterius, si baik, mereka enggak punya background pribadi. Mereka hanya anak panti. Kenyataannya, mereka ini cuma penambah itungan kemenangan iblis atas manusia – mereka cuma jumlah korban. Bayangkan anak-anak Losers Club ketemu Pennywise, hanya kali ini mereka enggak berjuang — nah, begitulah tokoh-tokoh baru di film ini.
Banyaknya ‘korban’ enggak lantas berarti film ini punya adegan sadis/horor yang menyenangkan. Tidak, jika tokoh-tokoh ini sebagian besar hanya teriak-teriak, entah itu berargumen, atau nyari teman yang hilang (teriak padahal masing-masing pegang hatong), atau ketakutan. Dan lebih tidak lagi, saat adegan sadis/horornya monoton alias itu-itu melulu. Ada banyak sekali adegan setan seram di ujung (lorong/bawahtangga/seberang ruangan) dan kemudian si setan ini maju ke depan, mendekat dengan kecepatan edan sampai muka seramnya mau nabrak kamera. Manusia di film ini kesurupan iblis, dan tampaknya si iblis itu kesurupan Sonic!
 
 
 
 
Berakhir dengan cukup menarik sebenarnya, mungkin mereka mengincar trilogi. Dan jika iya, kita bisa mengharapkan arahan yang sangat berbeda pada film terakhir nanti dilihat dari elemen baru yang ditambahkan film ini sebagai resolusi cerita. Maka itu, aku ingin memberikan saran untuk ngetone-down Alfie sedikit, karena di film ini dia menjadi begitu over-the-top. Kita jadi menertawakan apapun yang ia lakukan. Semakin seram situasinya, semakin ngakak ngeliat Alfie. Mereka juga perlu come up with much better story buat Alfie, yang konfliknya benar-benar personal dan berhubungan langsung secara natural dan gak bersifat kebetulan dengan dirinya. Selain beberapa hiburan, jika dibandingkan dengan film pertamanya, sekuel ini mengalami kemunduran. Ceritanya lemah, horornya kalah seru, karakternya kalah menarik.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for SEBELUM IBLIS MENJEMPUT: AYAT 2

 
 
 
That’s all we have for now.
Menurut kalian apakah setan itu merujuk pada identitas, atau sesuatu yang kita lakukan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

MANGKUJIWO Review

“Hate begets hate; violence begets violence”
 

 
Harta, tahta, wanita. Dan pusaka. Empat hal itulah yang – sebagaimana dibeberkan oleh film Mangkujiwo garapan Azhar Kinoi Lubis – merupakan resep asal usul hantu Kuntilanak yang penampakannya telah ada semenjak film Kuntilanak di tahun 2006. Mangkujiwo memang berusaha memangku segala lore dan menghubungkan semua misteri dari film-film terdahulu sebagai sebuah cerita origin. Dan oddly enough, film ini ternyata menjadi lebih cocok disebut sebagai thriller perebutan pusaka ketimbang horor.
Sekte Mangkoedjiwo itu bermula dari pria tua bernama Brotoseno. Dia menyelamatkan seorang perempuan hamil yang dipasung di suatu desa, karena perempuan itu dituduh gila. Brotoseno tahu lebih banyak daripada penduduk, dan daripada kita di titik permulaan cerita. Perempuan ini sebenarnya adalah ‘mainan’ kepunyaan teman sekaligus saingan beratnya; si Tjokro Kusumo. Brotoseno ingin balas dendam. Jadi perempuan yang bernama Kanti itu sebenarnya nasibnya bagai keluar dari mulut singa, masuk ke dalam lubang buaya. Brotoseno dan Tjokro dua-duanya adalah orang berilmu, pemilik pusaka cermin Pengilon Kembar, dan mereka telah berniat untuk gak mau damai saling bermusuhan. ‘Menyelamatkan’ dalam kamus Brotoseno adalah menempa Kanti yang toh juga ia pasung dengan berbagai ritual mengerikan. Lengkap dengan banyak makhluk menyeramkan dan sejumlah makanan menjijikkan. Brotoseno ingin Kanti melahirkan anak setan dan menggunakan anak tersebut nantinya sebagai senjata, karena Tjokro hanya bisa dibunuh oleh darah dagingnya sendiri.

men and their power, right

 
Cerita film ini memang mengandung muatan yang sangat gelap. Secara esensi, ini adalah cerita seorang villain. Seorang yang jahat. Sebab tidak ada satupun tindakan Brotoseno sang tokoh utama tergolong heroik. Bahkan ketika nanti saat si bayi sudah tumbuh menjadi gadis dewasa bernama Uma dan Brotoseno berkata ia akan melindungi Uma dari segala marabahaya, kita tahu itu semua karena Brotoseno ada maunya. Uma tak lebih sebagai boneka. Sebagai alat. Tidak ada bedanya dengan cermin pusaka yang juga ia jaga dan rawat.
Karena ingin konsisten dengan tema pria menggunakan wanita sebagai objek itulah, maka film mengeksploitasi kekerasan terhadap wanita habis-habisan. Di sinilah letak horor film ini. Hantu kuntilanaknya sendiri belum jadi soal, proses menjadikan kuntilanak itulah yang menyeramkan. Edan sekali melihat sejauh apa Brotoseno, maupun tokoh-tokoh lain yang berilmu gaib melakukan tindakan mengerikan kepada orang yang tak-berdaya demi sebuah rencana untuk, what, mendapatkan kekuatan tunggal sebuah pusaka. Begitu getolnya orang bisa memupuk kejahatan, dan kemudian menggunakan muslihat untuk menyebarkan kejahatan tersebut kepada orang lain. Yang dijual oleh film ini sebagai horor adalah kekerasan pada tokoh perempuan yang dipasung, dicekoki makanan tak-lazim (kalo sekarang mah bisa kena virus corona!), dan digerayangi oleh beberapa makhluk halus. Set dan desain produksi film ini tampak meyakinkan. Ia menggunakan hewan-hewan dan praktikal efek untuk menghasilkan ketakutan repulsif yang natural. ‘Ketakukan repulsif’ di sini tentu saja maksudku adalah hal-hal yang menjijikkan. Untuk penonton yang perutnya lemah, mungkin waktu yang paling aman menonton film ini adalah beberapa jam sebelum dan sesudah makan. Lantaran akan ada banyak adegan yang bikin perut jumpalitan seperti muntah belatung, makan cicak, ataupun membedah tikus dan menggodok isi perutnya ke sepiring nasi.
Kekerasan tak berhenti sampai di sana. Tokoh perempuan muda dalam film ini bakal ditonjok – beneran pake tinju – hingga berdarah-darah. Ingat film Carrie yang tokohnya dibully hingga kekuatan supernaturalnya bangkit kemudian dia membalas dendam ke semua orang yang menyakitinya? Nah, Mangkujiwo sepertinya juga mengincar goal seperti, dengan efek yang bikin lebih meringis karena siksaan ke tokoh cewek di film ini sangat fisikal. Film meniatkan supaya dalam diri kita terbendung antisipasi balas-dendam, film ingin kita menunggu kebangkitan Kanti sebagai kuntilanak dan menyalurkan kekuatannya lewat Uma. Film ingin membuat kita geram kepada para preman. Tapi ketika waktu itu tiba, ketika kekerasan menyeimbangkan diri dengan mengganti target kepada para tokoh pria, perasaan dramatis seperti yang kita rasakan saat Carrie mengamuk tidak terasa pada film ini. Sebab secara garis besar kita tahu ini balas dendam itu bukan milik Uma ataupun Kanti. Melainkan milik tokoh utama, si patriarki, Brotoseno.

Penyatuan cermin dalam film ini digerakkan oleh tipu muslihat, kekerasan, dan kejahatan yang bahkan terlalu ‘setan’ untuk disebutkan. Bukan salah Uma kenapa dia jadi punya kekuatan setan, karena dia lahir dari benih-benih kebencian dan segala hal buruk yang ditanam oleh Brotoseno. Inilah yang membuat film ini susah untuk dinikmati; cinta absen di sini. Kebaikan gak hadir. Di antara tokoh-tokohnya tidak ada kasih sayang. Pria hanya menganggap wanita sebagai benda pemenuh kebutuhan. Wanita senantiasa mengabdikan diri. Semuanya dibesarkan oleh hal negatif. Maka film ini bisa dijadikan peringatan bagi kita semua; apakah kita yakin hidup di dunia yang seperti ini?

 
Beruntung Sujiwo Tejo yang membawakan Brotoseno dan merapal mantra-mantra ritual itu. Jika tidak, bisa-bisa film ini akan kehilangan aura mistisnya. Sebab, admit it, segala adegan tarian pemanggilan setan atau apalah dan semua komat-kamit eksposisi tentang pusaka maupun tentang lore/backstory dunia cerita film ini, sebenarnya hanya nonsens belaka. Begitu jauh dari dunia kita, I mean, apa pedulinya kita sama masalah kedua orang-pinter yang saling berselisih itu. Rasa kasian pada Kanti atau Uma pun hanya sebatas nurani otomatis karena melihat orang yang teraniaya. Film begitu sarat oleh eksposisi gaib sehingga seolah memasukkan begitu banyak percakapan tersebut untuk meyakinkan dirinya sendiri ketimbang meyakinkan kita. Ditambah lagi, ini adalah cerita penjahat. Film harusnya berusaha untuk membuat kita paling tidak ikut merasakan urgensi dari rencana dan perlakuan jahat Brotoseno. Seperti misalnya pada saat kita membaca review yang sangat berbeda dari penilaian kebanyakan; meskipun kita tidak setuju dengan reviewnya, namun jika reviewnya ditulis dengan baik, maka kita akan tetap bisa mengerti darimana si reviewer bisa menarik kesimpulan tersebut – kita bisa paham kenapa si reviewer merasakan apa yang ia rasakan. Film tentang penjahat seharusnya juga demikian. Ketika kita menonton Arthur Fleck pada Joker (2019), kita tahu dia jahat, kita tidak mendukung perbuatannya, namun kita mengerti motivasinya – kita bahkan bersimpati padanya karena kita paham situasi yang membuatnya seperti demikian. Mangkujiwo tidak punya semua ini. Brotoseno dituliskan sebagai karakter misterius yang kita ikuti dari awal hingga akhir cerita, tanpa kita benar-benar menyelami apa akar dari motivasinya.
Seharusnya film memberikan dia stake. Vulnerability. Memang, ada sekuen ritual yang mengharuskan Brotoseno menyakiti dirinya sendiri, tapi dia ditulis begitu sakti mandraguna sehingga shot luka-luka di punggungnya itu enggak menghasilkan rasa dan makna apa-apa. Kanti yang meninggal di luar perkiraannya pun gagal menghasilkan tensi karena diceritakan dengan serabutan – sebagai sisipan dari paparan flashback. Hubungan Brotoseno dengan Uma tidak pernah digali (tidak ada adegan emosional yang memperlihatkan Brotoseno benar-benar butuh Uma), begitu pula hubungannya dengan Tjokro yang notabene jadi musuhnya. Kita hanya mendengar hubungan Brotoseno – hanya dijelaskan lewat kata-kata, yang tak sepenuhnya bisa kita yakin perkataan itu benar karena satu hal yang berhasil ditetapkan oleh film ini mengenai tokoh utamanya itu adalah justru bahwa ia tidak dapat dipercaya.

kalo mau bolak-balik, kenapa gak mulai dari Brotoseno dan Uma sebelum Uma pergi dari rumah aja, supaya cerita bisa mendarat dahulu

 
Cerita dalam film ini berlangsung dalam rentang kurun waktu sembilan-belas tahun. Kinoi memilih bercerita dengan alur maju mundur yang berselingan, yang seringkali tidak disertai dengan time-image yang jelas dan editing yang efektif. Narasi berpindah antara satu periode ke periode lain tanpa ada keparalelan yang jelas. It gets better di pertengahan, tetapi di awal-awal akan sulit mengikuti apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih karena dialog yang enggak berarti apa-apa selain eksposisi. Mangkujiwo ini adalah kasus lain dari kecenderungan film Indonesia yang gak pede nampilin cerita linear karena mereka gak punya twist alami. Film ini termasuk yang percaya filmnya akan ‘aman’ jika ada yang disembunyikan, dan cara bolak-balik ini dipakai untuk merahasiakan banyak elemen karakter yang mestinya dilandaskan dari awal karena bakal ngaruh ke kita peduli dan mengerti plightnya atau tidak — hal esensial untuk menyampaikan cerita.
Alih-alih itu, kita malah dapat cerita yang melompat-lompat tanpa ritme yang jelas. Bertemu tokoh-tokoh yang sok misterius padahal annoying; tokohnya Djenar Maesa Ayu gak jelas banget motivasinya apa menginginkan cermin bersatu, membantu Broto – sementara separuh film ia habiskan dengan pasang tampang smug seolah ia bakal ‘menusuk’ Broto dari belakang. Tokoh si Bongkok-Ganjelan juga gak jelas, dan yang kumaksud bukan dialognya. Melainkan tindakan, seperti bisa nulis lirik Lingsir Wengi di pasir lengkap-lengkap tapi gak sekalian nulis perkenalan diri dan maksud. Persoalan cermin kembar itu juga tidak memuaskan karena bertentang dengan maksud film ini hadir sebagai asal-usul, cerita nyatanya hanya sedikit sekali menjelaskan hal dari titik-mula. Di akhir film kita masih bengong sebenarnya cermin ini kenapa bisa ada, dan dimiliki oleh dua orang yang bermusuhan.
 
 
Horor yang lebih seperti thriller dalam dunia di mana mistis adalah logis, cerita film ini sesungguhnya sangat gelap. Ketakutan yang dihadirkan pun berupa takut yang menjijikkan. Sudut pandang yang digali kali ini, sangat berbeda. Sayangnya film menempuh cara bertutur yang unnecessarily ribet. Set dan desain produksi jadi hanya sebatas visual karena penulisan dan arahannya terlalu off. Para karakter seperti tidak hidup, dengan hanya penampilan Sujiwo Tejo dan Asmara Abigail yang meyakinkan – itu pun tidak berarti banyak lantaran keduanya bermain di zona nyaman mereka. Alur bolak baliknya diniatkan untuk menyihir kita semakin masuk ke dalam narasi. Namuun tidak seperti mantra yang dilantunkan tokoh dalam cerita, film ini enggak punya ritme/pace. Melainkan hanya komat-kamit mengisahkan serangkaian cerita nonsens.
The Palace of Wisdom gives 3 gold stars out of 10 for MANGKUJIWO.

 
 
 
That’s all we have for now.
Bisakah kalian membayangkan hidup di dunia di mana semua bersatu hanya karena ketakutan, tipu muslihat, dan kebencian belaka? Ada gak sih dunia yang seperti demikian?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

GIRL ON THE THIRD FLOOR Review

“Masculinity is not something given to you, something you’re born with, but something you gain”
 

 
 
Cabut dari WWE lantaran ego dan kreativitasnya dihajar sampai tumpul oleh perusahaan, Phil Brooks alias CM Punk beralih ke UFC. Di sana, meskipun digadang bakal jadi jagoan, Punk literally babak belur pada pertandingannya yang pertama. Sekarang – mengejutkan semua fans gulat, termasuk aku – Punk mengekor karir dua superstar yang ia sebut lebih dianakemaskan WWE ketimbang dirinya. Punk, seperti The Rock dan John Cena, kini bermain di film layar lebar. And guess what, di horor pertamanya ini CM Punk ‘diperkosa’ – diassault habis-habisan, oleh sebuah rumah.
Dan jokes sebaiknya dihentikan sekarang, karena film Girl on the Third Floor ini boleh jadi adalah the best thing yang bisa terjadi bagi karir keaktoran pria yang di dalam ring dijuluki The Best in the World tersebut.
Kerja direktorial film-panjang pertama Travis Stevens ini memang masih tampak sedikit canggung, namun mengandung gagasan dan keberanian eksplorasi yang layak untuk diapresiasi. CM Punk berperan sebagai Don Koch, seorang pria yang berniat merenovasi sendiri rumah yang baru saja ia beli. Istri Don tengah mengandung, dan ia berusaha berbuat yang terbaik demi jabang bayi dan wanita yang ia cintai. Masalahnya adalah rumah tiga lantai yang dibeli Don adalah bekas rumah bordil. Jadi kerjaan Don bakal banyak banget. Awalnya hanya noda-noda jijik, pipa-pipa mampet, namun kelamaan rumah itu terbukti aneh. Dari colokan-colokan listriknya mengalir likuid putih, dari lubang-lubang di temboknya mengalir cairan kayak darah. Beruntung, ada cewek cakep bernama Sarah yang menjadi pelepas lelah bagi Don. Tapi kejadian aneh di rumah itu tidak berhenti. Terlebih, Sarah yang misterius kini ikut-ikutan meneror Don yang enggak mau affair mereka diketahui oleh sang istri. Don semakin kehilangan akal, sampai suatu ketika ia melihat wanita tak berwajah – at least tak-bermata melainkan hanya torehan luka panjang yang bersatu dengan mulutnya – muncul dari balik tembok rumah.

dalam film ini banyak yang seperti Big Show; berpindah dari babyface ke heel atau sebaliknya, dalam sekejap

 
Rumah yang dibeli Don seolah hidup dan mengincar nyawanya. Apa yang tampak seperti premis dasar dalam sebuah horor standar tentang rumah berhantu tersebut, diberikan makna yang lebih mendalam oleh film ini. Sebab cerita hantu pada dasarnya tidak pernah semata tentang cerita yang ada hantunya. Melainkan lebih kepada kenapa seseorang dihantui. Cerita yang baik akan membahas personal si tokoh utama – kesalahan dan perjuangannya untuk menggapai hidup yang lebih. Dan itulah yang kita dapatkan pada Girl on the Third Floor. Film akan mengeksplorasi seperti apa sebenarnya pria yang jadi protagonis cerita. Perlahan film juga akan mengungkap makna rumah tersebut – rumah dan segala hantu yang menghuninya akan setelah pengungkapan mungkin bukanlah antagonis seperti yang kita kira – dan apa yang sesungguhnya mendasari konflik antara si rumah dengan Don.
Kekuatan film ini terletak pada ceritanya yang sesungguhnya adalah alegori dari sebuah maskulinitas. Yang toxic, jika ingin ditambahkan. Don, sepanjang film, akan memperlihatkan tabiat yang gak sehat; ia cenderung memaksa dirinya supaya terlihat jantan. Dia menolak meminta bantuan kepada ahli renovasi rumah, dia ngotot ingin melakukan semuanya sendiri. “Pria macam apa aku jika tidak bisa membangun atap untuk istriku,” begitulah pertanyaan retorika yang ia ucapkan – sebagai sebuah tantangan bagi dirinya sendiri. Tentu, cowok memang harus bertanggung jawab seperti demikian. Namun Don juga memperlihatkan banyak ‘gejala’ yang menunjukkan kengototannya tampil jantan sebagai sesuatu yang enggak sehat. Dia mencibir warna pink tembok rumah serta lekas mengira ibu-ibu tetangga yang bekerja di gereja sebagai biarawati tanpa banyak pertimbangan – mengindikasikan objektifitas dan pola pikir judgmental, dan di waktu privatnya Don nonton bokep kategori “I’am a good girl, daddy”. Ini adalah bukti bahwa karakter kita ini merupakan pria yang mendambakan selalu memegang kontrol, yang menganggap maskulin sebagai kunci kendali; wanita adalah objek yang ia punya kuasa. Kencannya dengan Sarah ia anggap sebagai hadiah  – or worse, hiburan – atas kerja kerasnya merenovasi rumah.
Malang bagi Don bukanlah karena ia membeli rumah bordil berhantu. Melainkan karena ia gagal melewati tes yang diberikan oleh rumah tersebut. Seorang tokoh utama yang menarik memang haruslah bukan tokoh tak-bercacat, karena yang kita nikmati adalah perjuangannya menjadi lebih baik. Don, however, ingin berubah dari ia yang sebenarnya, tapi ia tidak tampak benar-benar ingin berubah. Imannya begitu lemah, jika boleh dibilang. Rumah yang ia beli adalah tempat wanita-wanita ditekan oleh pria-pria yang datang melampiaskan nafsu mereka untuk memegang kendali. Semua trauma ngumpul di sana, itulah ‘wujud’ sebenarnya hantu-hant di sana. Don gagal, dan segimana pun kita mungkin sudah bersimpati pada karakter ini, pada akhirnya kita menyadari ketoxic-annyalah yang menghalangi ia dari keinginan dan niat baiknya.

Anggap film ini sebagai peringatan bagi cowok-cowok (terutama fukboi) yang menganggap mereka pria hanya karena punya alat kelamin jantan, yang menganggap kejantanan mereka dibuktikan dengan mengobjektifikasi atau juga memaksakan kendali/power atas wanita. 

 
Sensasi nonton film ini mirip kayak nonton horor-horor 80an. Film ini punya adegan gore berupa kekerasan dengan graphic darah yang jelas. Penggemar anjing bisa jadi sedikit terdisturb karena Don di rumah itu gak sendirian, dia bersama anjing peliharaannya, dan film cukup nekat memaksimalkan peran karakter-karakter yang dipunya. Film ini juga punya elemen body-horor, akan ada adegan saat seorang tokoh mendapati sesuatu menjalar di balik kulitnya, dan ia akan menggunakan pisau cutter untuk berusaha mengeluarkan benda tersebut – you know, good stuff. Aku sudha menyebut rumah dalam film ini udah kayak hidup, jadi kita bisa menganggapnya sebagai tubuh lain untuk alat horor. Ya, segala macam cairan kental – coklat, merah, putih akan nongol di mana-mana. Penggemar horor tradisional akan suka sama film ini, karena memang mengingatkan kita pada masa 80an. Masa di mana keberadaan CGI dan efek komputer begitu minimal, dan merupakan sebuah berkah bagi kita penggemar horor. Karena semuanya jadi terasa otentik. Efek praktikal menghasilkan sensasi yang lebih kuat, kita hampir bisa merasakan cairan itu nempel di tangan sendiri. Mengenai aspek horornya, film ini dideskripsikan dalam satu kata; Jijik.

Tapi jijik yang menakjubkan.

 
Girl on the Third Floor jelas terlihat enggak punya budget gede, ini lebih seperti film kelas B, tapi di sini kita akan melihat budget minimalis menjadikan pembuat lebih kreatif. Adegan penampakan hantu enggak bersandar pada jumpscare melulu, film ini enggak menggunakan kamera panning kanan kiri, ampe muter-muter segala untuk menghasilkan efek seram. Melainkan, film ini menggunakan cermin. Lingkungan rumah yang sedang proses renovasi; barang-barang masih terletak tidak pada tempatnya, cermin-cermin bersandar serabutan di dinding atau di lantai setiap ruangan. Ini dijadikan film sebagai alat ampuh untuk menampilkan hantu. Background menampilkan cermin dan pada pantulannya kita akan melihat hal-hal ganjil. Ini menghasilkan sensasi menyeramkan yang menyenangkan. Kita jadi berusaha melek dan aware. Kayak main Where’s Waldo hanya saja waldonya menyeramkan.
Ngomong-ngomong soal 80an; clearly film ini berkaca, banyak mendapat pengaruh, dari salah satu body-horror paling legendaris; Hellraiser (1987). Cerita dua film ini memang jauh berbeda, tapi ada elemen dasar Hellraiser yang bisa kita jumpai pada Girl on the Third Floor. Rumah yang juga tiga lantai (termasuk loteng rahasia tempat setan). Dan cerita yang punya pergantian sudut pandang. Aku suka Hellraiser, namun memberinya pengurangan nilai karena struktur bercerita yang seolah membagi dua narasi, dan itu jugalah penilaian yang kuberikan pada film Girl on the Third Floor ini. Perspektif terakhir yang menggantikan Don berfungsi lebih seperti penjelas, atau bisa juga penyeimbang karena sejauh itu film dari sudut pandang laki-laki, untuk mengikat cerita rumah tersebut. Dengan kata lain, make sense untuk dilakukan. Tapi juga gak urgen-urgen amat, karena cerita aslinya sudah berakhir – dan ini kurang lebih seperti epilog dalam buku.
 
 
 
Menurutku cukup ‘lucu’ CM Punk yang gak betah di WWE karena disuruh bacain naskah dari storywriter dan lebih memilih melakukan promo sendiri, malah bermain peran menghidupi naskah yang ditulis scripwriter. Tapi Punk cocok meranin Don karena sikap Don sesuai dengan persona dirinya; sedikit angkuh, berlaga macho, suka mengayunkan tinju alias fisikal, makanya buatku akting Punk di sini belum bisa sepenuhnya dinilai karena ini adalah karakter yang biasa ia lakukan. Horor film ini klasik, ceritanya mengandung gagasan menarik bahkan dengan struktur naskah yang gakbener. Bagian awal film meski gak bosan sampai membuat kita pengen ‘go-to-sleep’, tapi memang terasa lebih lambat daripada yang lain, dan itu sebagian besar karena Punk masih canggung memikul seantero naskah dan akting vulnerable. Namun aku tetap positif dan mengatakan, ini awal yang menarik – baik bagi Punk maupun bagi Travis Stevens.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for GIRL ON THE THIRD FLOOR.

 
 
 
That’s all we have for now.
Menurut kalian kenapa hantu rumah memperlihatkan masa lalu rumah itu kepada istri Don, tapi tidak kepadanya? Bagaimana cara melawan toxic masculinity?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

SI MANIS JEMBATAN ANCOL Review

Objectification is above all exteriorization the alienation of spirit from itself”
 

 
Si Manis adalah sebutan untuk penunggu jembatan Ancol yang dipercaya masyarakat sebagai hantu dari wanita muda yang meninggal secara tragis – diperkosa oleh beberapa pria. Nama asli wanita itu simpang siur, sebagian menuliskan Maryam, Mariam, beberapa sumber mengatakan nama aslinya Siti Ariah. Yang pasti adalah kecantikan hantu ini begitu populer sehingga berbagai kisah penampakan beredar seolah orang-orang pada berlomba menceritakan kisah perjumpaan dengannya. Dan satu yang bisa kita simpulkan dari legenda Betawi tersebut adalah sungguh menyedihkan nasib Maryam, atau Ariah; sudah jadi hantupun dia masih tetap jadi korban objektifikasi seksual orang-orang.

Objektifikasi adalah peristiwa mengerikan ketika seseorang bukan lagi dilihat sebagai manusia, melainkan sebagai barang. Bahkan menurut filsuf Nikolai Berdyaev, bukan hanya memanggil orang seperti catcalling saja, melainkan memanggil orang atau kumpulan orang-orang dengan sebutan yang mungkin memang mengacu kepada mereka seperti Min, Mimin, Anak Twitter, Anak Instagram – atau Netizen, Negara +62, Gen Z, Milenial – mengecilkan sebuah kemanusiaan menjadi objek yang bisa dikelompokkan, digunakan, dimanfaatkan, dan dibuang.

 
Bukan sekali ini saja cerita hantu ini diangkat ke televisi maupun layar lebar. Penuturannya sebagian besar sama. Si Manis membalaskan dendam kepada pria-pria yang sudah mengakhiri hidupnya. Sebuah kisah balas dendam dari wanita yang hanya dipandang sebagai objek oleh pria. Sutradara Anggy Umbara dan co-sutradara Bounty Umbara juga memasukkan narasi objektifikasi perempuan dalam remake legenda ini. Namun mereka menyuntikkan satu elemen mengejutkan yang membuat film ini menjadi pengalaman berbeda dari satu kisah lama
Versi baru dari Si Manis Jembatan Ancol garapan Umbara Bersaudara ini bercerita tentang suami istri Maryam dan Roy yang kehidupan pernikahannya tidak bahagia. Satu adegan Maryam dibentak hanya karena berusaha menyelamatkan pergelangan tangan kemeja sang suami dari kuah sop dengan sukses menyampaikan kepada kita bahwa hanya Maryam seorang diri yang berusaha mempertahankan cinta di dalam rumah tangga mereka. Bagi Roy, Maryam tak lebih dari kerikil, yang ada atau tidak tak-ada bedanya. Roy hanya menganggap Maryam sebagai aset, barang kepunyaaan. Roy tidak perlu banyak pertimbangan untuk menjadikan Maryam sebagai jaminan hutang kepada rentenir preman yang menjadi sumber malapetaka nantinya. Film ini actually meletakkan Roy sebagai salah satu perspektif utama. Ya, kita akan melihat Maryam yang tak-bahagia bertemu pelukis muda bernama Yudha yang baru pindah ke lingkungan tempat tinggal mereka, kita melihat ada koneksi antara Maryam dan Yudha. Namun cerita bergerak sebagian besar dari perspektif dan akibat dari pilihan yang dibuat oleh Roy.

Kecemburuan Roy terhadap Yudha tak lebih dari karena dia menganggap Maryam adalah kepunyaannya

 
Tiga tokoh sentral film ini menempati posisi yang cocok didasarkan pada teori dalam buku Dramatica: Theory of Story. Maryam yang diperankan oleh Indah Permatasari (pada reinkarnasi cerita sebelum ini, Si Manis diperankan oleh Diah Permatasari) sebagai main character alias tokoh utama karena film ini adalah tentang dirinya. Yudha si pelukis muda yang diperankan Randy Pangalila (dalam balutan wig yang membuat rambutnya tampak tebal dengan abnormal) adalah hero atau pahlawan, yang langsung mewakili penonton – yang kita inginkan berhasil dan membawa kebaikan pada kemenangan. Posisi terakhir dalam Dramatica adalah protagonis; tokoh yang menggerakkan plot – dan posisi tersebut ditempati oleh Roy yang diperankan dengan satu dimensi oleh Arifin Putra.
Dalam genre aksi Balas-dendam tradisional (istilah tepatnya untuk film jenis ini adalah Rape and Revenge films) seperti The Last House of on the Left (1972), I Spit on Your Grave (1978), atau baru-baru ini Revenge (2017), formula yang digunakan adalah tokoh perempuan merupakan gabungan dari tokoh utama, protagonis, dan hero. Dengan struktur cerita berupa pada babak pertama sang tokoh dieksploitasi sebagai objek sebelum akhirnya diperkosa dan ditinggalkan begitu saja, pada babak kedua si tokoh bangkit, berjuang bertahan, yang kemudian akan mengubah dirinya secara total. Saat poin-pertengahan, tokoh-tokoh film tersebut berbalik menjadi subjek yang akan membawa kita ke babak penghabisan saat dia benar-benar menghabisi para pelaku yang sudah memperkosa dirinya. Si Manis Jembatan Ancol justru tidak pernah meletakkan Maryam sebagai subjek. Cerita Si Manis Jembatan Ancol terstruktur berdasarkan sudut Roy. Midpoint cerita adalah ketika Roy tak bisa mundur lagi dari perjanjiannya dengan Bang Ozi (Ozy Syahputra dengan gemilang memainkan peran di luar cap-dagang tokoh legendarisnya di sinetron Si Manis Jembatan Ancol tahun 90-an).
Menghadirkan protagonis berupa antagonis sebenarnya langkah yang cukup menarik. Hanya saja film tidak benar-benar menuliskan arc atau plot untuk tokoh Roy. Pada beberapa poin, dia diperlihatkan tampak menyesal, tapi semua perasaan tersebut cuma angin lalu, karena Roy tidak berubah secara karakter hingga cerita berakhir. Film melewatkan kesempatan berharga mengeksplorasi persoalan objektifikasi wanita melalui sudut pandang pria yang melakukannya. Film cuma sebatas memperlihatkan bentuk ‘hukuman’ bagi pria-pria yang mengobjektifikasi wanita tanpa memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Si hero Yudha bahkan tetap dihukum meskipun dia berusaha memperlakukan Maryam lebih daripada sekadar objek lukisan.

Si Manis dalam film ini adalah sebutan yang juga merujuk kepada identifikasi seksual Maryam. Yang menunjukkan cara warga memandang menghargai dan memperlakukan dirinya, Maryam cuma si wajah manis, dan ketika dia mati identifikasi inilah yang nyantol -yang disebut karena warga takut menyebut nama aslinya. Di dunia nyata, objektifikasi semacam ini akan membuat wanita mengobjektifikasi dirinya sendiri dan melukai dirinya secara emosional. Di film ini hasilnya lebih horor lagi; Maryam  menjadi sebuah presence, desas-desus.

 
Jika film bermaksud memperlihatkan kekuatan perempuan, maka ia melakukannya dengan cara yang aneh. Ketika Maryam sudah menjadi hantu, film tidak memberikan tokoh ini treatment seperti Suzzanna yang ‘belajar’ menjadi hantu dalam Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018). Kita tidak melihat dia lagi kecuali ketika dia muncul dan membunuhi satu persatu anak buah Bang Ozi. Membunuh itu ia lakukan dengan sangat ragawi – para preman itu dicakar, ditusuk, dipenggal. Horor film ini menguar dari lingkungan tempat tinggal tokoh yang mulai ramai oleh desas desus kemunculan hantu. Maryam ketika jadi hantu tetap sebagai objek, keberadaannya adalah rumor di kalangan warga, ia sekarang dikenal sebagai Si Manis karena warga terlalu takut menyebut namanya. Dan elemen horor ini seringkali hadir lebih seperti komedi; kita akan seringkali tertawa melihat reaksi, warga maupun preman, yang ketakutan melihat hantu Maryam. Horor yang benar-benar mengerikan tersaji sebagai lapisan psikologis – kita akan melihat banyak shot-shot keren seperti Maryam melayang di atas jembatan dengan kain-kain merah terbentang ke sana kemari – namun posisinya sungguh rendah karena hanya dipakai sebagai adegan mimpi. Dan bahkan dalam memperlihatkan adegan mimpi pun, film masih ‘bercanda’ sehingga justru membuat adegan mimpi tersebut jadi menjengkelkan. Ada dua tokoh yang punya adegan ditakut-takuti lewat mimpi yang berlapis-lapis. Kaget, terbangun, kaget, terbangun rupanya masih mimpi, kaget lagi!, masih mimpi lagi. Lame.
Ada satu-dua yang cukup menakutkan. Film ini tergolong sadis buat pecinta kucing. Namun sebagian besar horor film ini bentrok dengan tone komedi. Film seperti gak pede dengan horornya karena setiap kali adegan mengerikan selalu disertai guyonan. Beberapa yang tidak, memang terasa sekali horornya hambar. Seperti desas desus tentang rumah yang ditempati Yudha adalah rumah angker – jendela nutup sendiri – tapi tidak pernah subplot ini berujung pada apa-apa. Hanya obrolan warung. Padahal film udah ngebuild up memfokuskan kamera pada nomor rumah 9 yang terbalik sendiri jadi 6, seolah itu adalah hal paling mengerikan di seluruh Jakarta 1970an.

menurutku mereka melewatkan kesempatan membuat kucing kepala buntung sebagai sidekick Maryam yang baru, sebagai ganti Ozy yang jadi preman

 
Maryam di sini tampak seperti objek untuk sebuah twist yang disiapkan tanpa benar-benar memperhatikan detil logika. Perbuatan yang dilakukan Maryam sebagai simbol perlawanan atau kekuatan wanita butuh pemakluman yang cukup besar dari kita karena yang ia lakukan tampak mustahil dan ajaib untuk bisa berhasil dikerjakan – karena ada begitu banyak hal yang bisa salah yang bisa membuat kedok Maryam ketahuan. Aku sebenarnya enggak mau meng-spoiler banyak-banyak, tapi film ini seperti sok keren dengan twist itu – like, mereka bertaruh banyak di sini seolah dengan penjelasan pada twist film menjadi lebih baik. It’s actually not. Karena banyak hal gak masuk akal seperti dari mana Maryam bisa bergerak – misalnya masuk ke rumah preman – tanpa terlihat malah sempat-sempatnya masang jebakan ala Home Alone. Bagaimana dia bisa menghilang pas nampakin diri di depan warga. Dari mana dia dapat baju untuk kostum jadi hantu. Dari mana dia bisa tahu wajah preman padahal mereka pakai topeng semua – Yudha saksi hidup aja mandeg bikin laporan ke polisi karena dia gak tahu wajah para pelaku. Dan – ini nih yang bikin aku ngakak – sehebatnya ilmu survival dan militer, gimana bisa dia ngelempar ranting yang tembus menusuk badan orang. Usaha yang dilakukan film ini supaya twistnya itu bisa masuk akal terjadi adalah dengan memastikan warga kampung Roy bego semua. Selain Roy, Maryam, Yudha, Bang Ozi, tokoh-tokoh film horor tentang objektifikasi wanita ini semuanya kayak tokoh dalam komedi receh.
So yea, setelah twist itu jadi kelihatan jelas bahwa cara bertutur film ini bukan karena mereka ingin melakukan sesuatu terobosan terhadap genre ataupun gagasan, melainkan karena pembuat film ini sendiri gak tau cara menampilkan cara atau kejadian yang masuk akal dari seorang yang membunuh dengan pura-pura menjadi hantu. Maka sudut pandang Maryam mereka sembunyikan. Mereka jadikan twist. Meskipun cerita ini lebih cocok jika tidak dipersembahkan sebagai twist dan cerita dilangsungkan dalam formula Rape and Revenge tradisional saja.
 
 
Revenge story dari perspektif pelaku ini tidak dibarengi dengan penulisan yang matang. Tidak ada end game dari gagasan pembuat, sebab protagonis dan hero prianya – pihak yang melakukan objektifikasi pada perempuan – tidak ditulis mengalami perubahan. Mereka tidak punya plot. Dan sungguh susah mendukung Yudha karena dia diperkenalkan sebagai creep di awal dan bucin di akhir. Satu-satunya yang berubah adalah Maryam, itu pun dia tidak diperlihatkan sebagai subjek hingga menit-menit terakhir – ia dirahasiakan karena film butuh dia untuk jadi objek ketakutan warga dulu, objek twist, dan objek humor. Pada akhirnya memang objektifikasi perempuan yang diangkat oleh film ini sebagai tema/gagasan utama hanya dijadikan bahan becandaan semata.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for SI MANIS JEMBATAN ANCOL.

THE IRISHMAN Review

“When you get to political machines that can control a state, then you’re really into organized crime – almost.”
 

 
Untuk mendukung pernyataan bahwa film semestinya adalah sebuah cerita yang ‘intim’ alih-alih heboh dengan franchise, Martin Scorsese mempersembahkan The Irishman; film yang mengintimidasi sejagad (sinematik) raya dengan durasinya yang tiga-jam-setengah dan diisi oleh karakter-karakter yang lebih banyak berdialog ketimbang meledakkan benda.
The Irishman boleh jadi merekonstruksi mitos sejarah seperti yang dilakukan oleh Quentin Tarantino dalam Once Upon A Time in Hollywood (2019) belum lama ini. Atau mungkin saja tidak, dan dia bicara fakta. Karena yang diangkat oleh Scorsese dalam film ini adalah kejadian dalam lembar sejarah politik garismiring crime Amerika yang masih simpang siur kebenarannya. Tentang menghilangnya Jimmy Hoffa, salah satu sosok pemimpin bisnis dalam percaturan politik Amerika, yang kemudian dilaporkan dibunuh. Dalam The Irishman, peristiwa tersebut diceritakan dari sudut pandang Frank Sheeran, pensiunan perang pengantar daging steak yang berkat keahliannya dipekerjakan sebagai tukang cat rumah. Hanya saja dia tidak menggunakan cat aaupun kuas. Pengecat rumah hanyalah bahasa kode untuk pembunuh bayaran geng mafia. Sheeran dengan cepat mendapat kepercayaan, dia berteman dengan orang-orang penting di dunia mafia. Termasuk dengan Hoffa. Dan ada kemungkinan dialah yang menghabisi Hoffa yang sudah kayak kakak penjaganya dalam sebuah tugas.

darah lebih pekat daripada cat

 
Narasi berlangsung dalam periode 60 tahun, atau mungkin lebih. Kisah mengalir dari masa kini membuka ke masa lalu, sesuai penuturan Frank Sheeran. Dari Sheeran yang tua renta ke Sheeran muda – sekilas juga diperlihatkan saat dia masih di medan perang – hingga ke versi dia yang lebih dewasa. Kita akan menyaksikan berbagai versi Robert De Niro, dari yang dimudakan pakai efek komputer sampai aktor senior ini — aku tidak tahu lagi mana penampilan wujud asli si aktor mana yang efek saking mulusnya visual film ini. Dalam rentang waktu yang begitu panjang tersebut, kita diperlihatkan keparalelan antara dunia politik dengan dunia gangster alias mafia. Apakah semua ini hanya rekayasa alias cuma terjadi di dunia film atau memang begitulah nyatanya di dunia nyata Amerika, atau mungkin malah seluruh dunia – termasuk Indonesia, membuat film semakin menarik untuk disimak. Terutama oleh penyuka konspirasi. Dalam film ini, kita melihat misi Sheeran bukan sekadar melenyapkan ‘rekan’ yang mengacau maupun yang sudah tak berguna. Melainkan juga menyelundupkan senjata api yang ternyata adalah untuk memadamkan Revolusi Cuba. Pembunuhan JFK turut diperlihatkan sebagai campur-tangan dari geng mafia. Hal yang paling bikin seru lagi adalah, periode panjang narasi ini mengimplikasikan peran mafia dalam politik ini masih berlangsung hingga sekarang.

Istilah mafia merujuk kepada kelompok teroganisir yang berketerkaitan dengan pihak berwenang, dengan aktivitas apapun – termasuk yang melawan hukum – demi kepentingan pribadi dan golongan. Benar-benar mirip dengan cara kerja dunia politik, bahkan pelakunya sama-sama berjas dan berdasi. Politik dan mafia bagaikan berasal dari satu geng yang sama. Geng kejahatan berencana.

 
Dunia sindikat penuh orang ditembak di tempat, oleh film ini tidak pernah diglamorisasi. Meskipun memang cara kerja mereka didramatisasi. Karena film ingin mempersembahkan kejahatan mafia itu dalam cahaya bisnis – yang berkaitan dengan mempertegas ‘kebutuhan’ para tokoh. Mereka-mereka yang bekerja dalam dunia tersebut bergerak demi kepentingan golongan yang menjadi penguasa. Konflik datang dari tokoh-tokoh yang punya kepentingan pribadi. Sheeran, dalam hal ini, punya keluarga. Secara spesifik, hubungan Sheeran dengan putrinya ditonjolkan. Film memilih untuk lebih fokus menggali perenungan karakter ketimbang aksi. Kita memang masih akan melihat beberapa adegan aksi dan kejahatan, tapi sebagian besar waktu didedikasikan oleh film untuk karakter duduk diam di antara dialog. Mereka diberikan ruang untuk berpikir, mempertimbangkan matang-matang opsi sebelum memilih tindakan. Sehingga meskipun tempo cerita memang lambat, kita akan menemukan banyak sekali momen-momen intens. Yang datang enggak muluk-muluk, sesimpel dari diamnya mereka menemukan cara mengungguli lawan bicara. Sampai ke kita emosinya bisa berlipat ganda karena kita akan otomatis mengantisipasi pergumulan senjata.
Mengenai hal tersebut, tak bisa dipungkiri juga durasi panjang film ini benar-benar terasa panjang. Karena terkadang diisi dengan kurang maksimal. Sheeran dengan putrinya seharusnya mendapat penggalian lebih dalam dan dampak relasi mereka kepada cerita sebaiknya dibuat lebih gede lagi. Arc putri Sheeran dibuat lebih jelas dan berarti lagi. Sejujurnya, asalkan dimanfaatkan maksimal, sebenarnya durasi panjang bukan masalah. Apalagi melihat orang-orang yang bekerja di depan maupun belakang layar film ini – menghabiskan waktu seharian pun aku yakin kita semua rela. Scorsese memastikan adegan-adegan kekerasan yang ia munculkan terasa elegan, dan tidak menjatuhkan keseluruhan film menjadi crime receh yang menjual darah ataupun ledakan semata. Tidak ada koreografi kamera yang ‘istimewa’, tidak ada penggunaan cut yang berlebihan. Semuanya terasa sangat tenang, dan diarahkan dengan efisien dan tepat-guna. Dengan kata lain, kekerasan tipikal dunia mafia tidak ia jadikan jualan utama.
Final battle atau konfrontasi besar versi film ini bukanlah aksi tembak-tembakan. Bukan pula satu dialog panjang nan dramatis seputar pengakuan atau apa. Klimaks The Irishman adalah berupa sekuen pembunuhan Hoffa sepanjang nyaris setengah jam. Tidak banyak sutradara yang mampu menggabungkan banyak adegan – banyak cut – ke dalam satu sekuen panjang dengan menjaga ritme serta build-up suspens sehingga punchline atau akhir sekuen tersebut terasa sangat nendang. Perhatikan Scorsese bahkan tidak menggunakan musik latar sepanjang sekuen tersebut; membuat ketegangan semakin memuncak. Ending film ini merupakan salah satu ending terbaik tahun ini, menurutku, sebab memunculkan banyak pertanyaan dan memantik diskusi mengenai makna dan keputusan tokoh mengambil tindakan yang serupa dengan yang ia lihat di bagian pertengahan film.

bayangkan jadi putri Frank Sheeran dan harus menceritakan pekerjaan ayahnya di depan kelas saat Show & Tell.

 
Seperti ilmu padi; semakin tua semakin jadi. Scorsese menunjukkan kematangan luar biasa lewat penggarapannya. Film-film Scorsese selalu berenergi. Namun tak seperti Goodfellas (1990) – sama-sama biografi tokoh dunia mafia – yang menggebu, The Irishman tersaji lebih subtil. Film barunya ini lebih tertarik untuk membedah karakter-karakter. Scorsese seolah ingin membaca pikiran dari setiap tokoh yang diambil dari orang-orang nyata tersebut. Melihat sang sutradara bekerja sama dengan tiga aktor legenda dalam mencapai tujuan itu sungguh kesempatan yang berharga.
Mari mulai dengan Al Pacino. Ini adalah kali pertama Scorsese kerja bareng dirinya. Dan maaan, Scorsese memberikan Al Pacino peran yang sempurna sebagai Jimmy Hoffa yang meledak-ledak. Jadi keseruan tersendiri melihat Al Pacino teriak nunjuk-nunjuk muka orang. Berkebalikan dengan Joe Pesci yang juga klop banget memerankan Russel Bufalino. Pesci yang literally ditarik Scorsese dari bangku pensiun memainkan ekspresi yang begitu dingin dari seorang petinggi mafia yang terhormat, bersahabat, tapi sekaligus penuh taktik dan pertimbangan. Menatap tokoh ini aku sampai gak berani berkedip karena aku jadi begitu concern dengan pertimbangannya. Last but not least, De Niro yang penuh pengendalian diri memerankan Frank Sheeran yang beraksi dinamis. Setiap kali dia muncul di layar, duduk semeja dengan para mafia, perhatian kita akan otomatis mengarah padanya, karena suksesnya film menulis karakter ini sehingga kita pengen tahu bagaimana keadaan atau dialog itu mempengaruhinya. Kalimat-kalimat yang ia ucapkan terdengar bukan hanya seperti improvisasi aktor, melainkan juga seperti improvisasi si Sheeran itu sendiri karena banyak yang ia pertaruhkan setiap kali bersama teman-temannya yang mafia. Personally, adegan Sheeran makan roti bareng Russel di akhir, yang circled back ke mereka semeja makan pertama kali, cukup mengharukan buatku.
 
 
 
Menyaksikan film yang berusaha membuat kita terinvest kepada karakter-karakternya terasa sangat menyegarkan, dan sungguh berharga. Karena begitu banyak film yang menuntut kita memperhatikan easter eggs, koneksi kepada film terdahulu, menahan diri untuk bertanya karena penjelasan akan hadir di film berikutnya. Yang dihadirkan oleh Martin Scorsese ini akan mengingatkan kepada kita seperti apa sih sinema itu sebenarnya. Film ini diarahkan dan diedit dengan luar biasa cakap, dimainkan dengan masterfully meyakinkan, sehingga durasi yang panjangnya bisa dipakai untuk melancong dari Bandung ke Jakarta naik kereta tidak terasa membosankan. Seperti tokoh-tokohnya, drama crime ini terasa matang dan dewasa.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for THE IRISHMAN.

RATU ILMU HITAM Review

“False accusations always lead to broken relationships and lost faith in humanity”
 

 

Ratu Ilmu Hitam seperti menyambung tema horor kontemporer yang diangkat Joko Anwar, yakni horor rakyat tertindas. Horor politik. Yakni seputar cerita yang selalu tentang sekelompok orang yang salah bergerak karena ‘tertipu’ oleh pihak yang dianggap pemimpin mereka. Kita melihat elemen ini pada Perempuan Tanah Jahanam (2019). Dan bahkan pada Gundala (2019). Persoalan ini bisa menjadi pembahasan yang menarik, apakah ini adalah kritikan keras Joko Anwar terhadap negara, atau bagaimana. Yang jelas, horor atau thriller dari Joko Anwar masih tetap layak dinanti. Walaupun kualitas penulisannya masih perlu banyak perbaikan. 

 
Ario Bayu dan Hannah Al-Rashid mengajak tiga anak mereka – Zara JKT48, Ari Irham, dan Muzakki Ramdhan, berkunjung ke panti asuhan tempat Ario Bayu dulu dibesarkan. Dalam rangka membesuk kepala panti yang sakit; bapak yang sudah menjadi figur ayah yang berjasa membesarkan Ario Bayu sehingga ‘hidup’ seperti sekarang ini. Di sana mereka akan bertemu dengan beberapa orang. Di antaranya Tanta Ginting dan Miller Khan (dengan pasangan mereka masing-masing, Imelda Therinne dan Salvita Decorte, respectively) yang dulu sama-sama dibesarkan di panti, juga Ade Firman Hakim dan Sheila Dara Aisha serta sepasang anak panti yang gak ikutan pergi berdarmawisata bersama anak-anak yang lain. Dalam perjalanan ke sana, mobil Ario Bayu menabrak sesuatu, dan karenanya pria ini pergi kembali ke lokasi saat malam tiba untuk memeriksa lebih lanjut apa yang tadi ia tabrak. Saat itulah dia menemukan sesuatu di balik ilalang yang menjadi awal bagi teror semalam suntuk yang bakal mereka rasakan di panti. Yang berkaitan dengan peristiwa bunuh diri dan kemungkinan pembunuhan pada masa lalu panti tersebut.

plat mobilnya BLS yang mungkin singkatan dari ‘Bullshit’

 
Dengan jejeran pemain yang bukan main-main, film ini bisa saja mengambil keuntungan dari mereka dengan menjadi cerita whodunit. Tapi ternyata, film memanfaatkan mereka lebih seperti tokoh-tokoh pada It. Masing-masing mereka akan merasai siksaan yang bersumber dari rasa takut mereka terhadap beragam hal khusus. Bahkan menjelang akhir kita akan menjumpai mereka berada di balik pintu di dalam ruang neraka-pribadi masing-masing. Pada level horornya inilah Ratu Ilmu Hitam bekerja dengan maksimal. Baik pada elemen hantu, maupun pada elemen body-horror, kengerian dalam film ini didesain dengan seksama dan tidak menyia-nyiakan antisipasi yang telah kita bangun lewat penggunaan elemen kaget-kagetan.
Tak akan kita jumpai jumpscare pada film ini. Ya, memang sering juga kamera menampilkan pemandangan mengerikan lumayan mendadak, tetapi tidak pernah diikuti dengan suara menggelegar pencabut jantung. Film dengan berani menampilkan kengerian begitu saja, memberi kita waktu untuk memandang lekat-lekat dan kemudian bergidik sendiri tanpa dikomandoi oleh musik. Aku senang dua-puluh menit masuk ke cerita, tapi belum menemukan adegan ngagetin. Adegan nonton video yang ternyata adalah siaran live juga berhasil lolos dari jebakan jumpscare, benar-benar bernyali pembuat film ini. Untuk elemen body-horror, Ratu Ilmu Hitam memanfaatkan efek praktikal yang digabung dengan efek komputer untuk menghasilkan adegan-adegan yang terlihat brutal dan mengerikan. Favoritku adalah bola mata yang meloncat keluar dari soketnya karena terdesak oleh sejumlah lipan; jijik, geli, NGERI! Resiko kreatif keren yang dilakukan oleh film ini adalah menampilkan imaji-imaji yang berpotensi mentrigger fobia sebagai ujung tombak horornya. Shot-shot seperti punggung seorang tokoh yang mendadak bolong-bolong kayak bika ambon membuat adegan horor di film ini menjadi lebih relatable karena berhubungan langsung dengan ketakutan-pribadi penonton. Namun sekaligus juga bisa menjadi turn-off karena too much buat pengidap fobia.
Sutradara Kimo Stamboel paham mengeksplorasi ‘keindahan’ body-horror. Bayangkan ketika kalian merasa ada sesuatu yang salah, tapi bukan di luar melainkan di dalam diri kalian sendiri. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di dalam sana. Kalian ingin mengeluarkannya, tapi tidak bisa. Kalian ingin memperbaikinya, tapi tidak sanggup karena menyakitkan rasanya. Ketika tubuh kalian berbuat sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Kemudian mengubahmu menjadi sesuatu yang tidak lagi kalian kenal. Ratu Ilmu Hitam boleh jadi bersumber dari hal supernatural, tapi kengerian yang ditampilkan adalah kengerian semacam demikian. Ketakutan ketika tubuh kita bukan lagi siapa diri kita. Ada dua karakter dalam film ini yang merefleksikan body-horor, yakni tokoh yang gak mau gendut sehingga ogah makan, bahkan buah sekalipun, dan tokoh yang datang dengan masker dan sarung tangan karena dia enggak tahan kotor. Stamboel yang biasa bergulat di ranah gore dan violence mengerti bahwa gampang membuat penonton merasa jijik atau terdisturb. Tantangannya justru adalah membuat kekerasan dan adegan grotesque tersebut bermakna.

Implikasi menyeramkan dari cerita film ini adalah seseorang rela berubah menjadi hal yang selama ini dituduhkan kepadanya, demi mendapatkan keadilan. Tuduhan, baik secara langsung maupun tidak, memiliki dampak mengerikan karena yang dikobarkan adalah semangat kebencian

 
Sayangnya, naskah berada satu langkah di belakang pemahaman ini. Bercontoh pada skrip The Fly (1986) sebagai salah satu body-horror terbaik, cerita genre ini mestinya berfokus kepada membumikan karakter, kemudian merajut hubungan yang berkaitan dengan efek body-horor itu kepada karakter, dan baru terakhir menghilangkan kemanusiaan sepenuhnya. Ratu Ilmu Hitam tidak punya tokoh yang dibangun kuat sehingga bisa kita pedulikan. Karakterisasi dalam film ini hanya sebatas Zara sebagai remaja yang flirtatious, adeknya anak yang banyak nanya, ada si Tato berbadan gede yang ternyata penakut, dan Ari Irham bahkan gak ngapa-ngapain. Hannah yang kemudian mendadak tampil seolah tokoh utama saja (naskah film ini tak punya pendirian tokoh utamanya Ario Bayu atau Hannah) tidak punya karakter yang berarti, hanya ibu yang simpatik. Tokoh-tokoh pendukung, seperti tokohnya Sheila Dara dan dua yang sudah dicontohkan di atas, jauh lebih menarik karena masalah mereka cukup bisa kita relasikan kepada diri kita di dunia nyata. Bahkan si ratu ilmu hitam itu sebaiknya ditonjolkan sedari awal karena dialah yang punya motivasi dan perjalanan yang menarik.
Seharusnya film jor-joran ‘menyiksa’ pemain dengan menggunakan hewan asli untuk beberapa adegan, tapi ketidakkonsistenan efek masih bisa dimaafkan mengingat konteks cerita mereka berasal dari ilmu sihir. Dengan efek yang mengagumkan (kecuali efek api), sebenarnya horor dan elemen dramatis film terletak pada interaksi karakter, terutama ketika ada tokoh yang pasangannya ‘berubah bentuk’. Makanya momen ketika Miller Khan berteriak bingung atau ketika Hannah berteriak-teriak menyaksikan apa yang terjadi kepada anaknya di menjelang akhir terasa sangat mengerikan. Kesubtilan dari horor ingin menolong tapi tidak berdaya. Seharusnya film mengeksplorasi ini lebih banyak. Namun naskah sepertinya lebih tertarik untuk membahas horor dari luar.

di film ini kita akan melihat reaksi berlebihan seorang cowok terhadap tikus

 
Jika tidak sedang sibuk menjelaskan, dan mengobrol ringan, dialog film ini akan serta merta berkomentar soal apa saja yang bahkan tidak ditanamkan benar-benar untuk mendukung konteks cerita. Seperti persoalan kaya-miskin yang muncul dituduhkan begitu saja. Salah satu yang konsisten tampil dalam cerita adalah persoalan meninggalkan satu pihak, atau menjadi pihak yang ditinggalkan. Ada pembahasan yang cukup emosional datang dari tokoh Ario Bayu dan teman-teman yang mendapat orangtua adopsi yang dibandingkan dengan tokoh lain yang terus berada di panti karena dia tidak bisa pergi. Tapi kemudian di sini jualah logika naskah yang terlalu sibuk memikirkan kejadian heboh menunjukkan kekonyolan. Like, kenapa Ario Bayu berat untuk meninggalkan yang sekelompok anak yang sudah mati di jalan, tapi enggak mikir dua kali ketika meninggalkan tiga anaknya sendirian di dalam rumah tempat kuburan ratu ilmu hitam. Kelompok mereka juga tidak diberikan alasan yang kuat untuk enggak bisa meninggalkan rumah tersebut bareng-bareng, atau tetap bareng-bareng for that matter. Berpencar dan terpisah para tokoh mereka tak pernah tampak natural, melainkan hanya device dalam naskah, sebagai tanda belum ditulis maksimal.
 
 
Film yang menyadap brand salah satu horor cult klasik tanah air ini, sama seperti cerita-cerita horor mainstream Joko Anwar yang biasa; a no-plot with bunch of flashbacks and full of false explanations, tied in with sporadic smart sounded small-talks. Beneran deh, perubahan karakter di sini tidak terasa didapatkan, melainkan hanya karena mereka tahu suatu kenyataan. Tidak ada pembelajaran dan pengembangan. Tokoh jahat yang punya rencana needlessly ribet, cerita tampak terlalu berusaha tampil pintar. Tapi dengan arahan Kimo Stamboel, cerita ini toh sukses juga terwujud menjadi body-horror modern yang cukup seru untuk diikuti. Seperti ilmu dan hitam, kombinasi Anwar dan Stamboel menghasilkan sesuatu yang mengerikan, dan memang itu bukan selalu hal yang bagus.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for RATU ILMU HITAM

THE NIGHTINGALE Review

“In tragedy, empathy still dependent of proximity”
 

 
Belum lama ini, peringatan kemerdekaan negara kita sempat tercoreng oleh peristiwa berwarna rasisme yang terjadi pada sekelompok mahasiswa asal Papua di Surabaya, yang berbuntut panjang. Aku bukannya bilang film The Nightingale menggambarkan peristiwa yang sama persis, tapi yang digambarkan oleh drama period piece yang berlokasi di Pulau Tasmania, Australia ini – yakni arogansi sosial yang berakar pada kolonisasi – kurang lebih mirip dengan yang kita temukan pada lingkungan modern. Jika pemuda Papua dihardik monyet oleh aparat, maka bangsa Aborigin dalam The Nightingale dipanggil “Boy!” Namun bukan dalam artian sebagai anak kecil, melainkan ‘boy’ yang berarti panggilan kepada binatang ternak/binatang peliharaan.
Clare, tokoh utama kita, berkulit putih – tapi ia tak bernasib lebih baik. Sedikit, karena dia adalah pendatang tawanan. Dan sebagian besar karena dia adalah wanita. Clare memang tidak dipanggil ‘Boy’, tapi bagi serdadu Inggris dia tak lebih dari sekadar burung penyanyi (nightingale adalah burung bulbul yang bersuara merdu). Clare adalah properti bagi Letnan Inggris yang membawanya ke Tasmania. Nasib Clare tak berbeda dari Billy, ‘orang hitam’ yang ia sewa untuk mencari jejak si Letnan Inggris yang menyisir hutan bersama orang-orangnya menuju ke kota, satu hari setelah menghancurkan keluarga Clare, dan membiarkan wanita itu mati.

oke sekarang aku pengen melihat Nightingale melawan Mockingjay

 
The Nightingale punya intensi seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) tapi dengan pengembangan seperti Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017). Bermula seperti sebuah cerita balas dendam perempuan, film ini lantas membuka dengan suara yang menarik. Nafsu membalas itu dapat kita rasakan perlahan sirna; segala kekerasan yang diwariskan di antara kelompok kulit putih penjajah, segala diskriminasi dan pelecehan, bahkan ketidakpedulian terhadap lingkungan, semua ‘kejahatan’ yang ingin dibetulkan oleh aksi Clare itu tampak tidak penting lagi. Bukan lantaran hal-hal tersebut perlahan membaik, ataupun karena Clare menjadi takut, melainkan sepanjang perjalanan yang ia lalui bersama Billy, ia menjadi punya sesuatu yang baru untuk dilihat – untuk dipertimbangkan. Gagasan yang ingin diangkat oleh sutradara Jennifer Kent tidak sesederhana kejahatan akan mendapat balasan. Tidak, karena kekerasan yang akan berbuntut pada kekerasan hanya akan membentuk lingkaran setan kehancuran manusia yang akan terus bergulir. Kent justru mengangkat pertanyaan ‘bagaimana jika cara lain di luar balas dendam’. Dan terutama, ‘masihkah kemanusiaan itu akan ada di dunia yang penuh dengan kekerasan’.

Sakit itu tentu masih terasa. Lukanya bahkan mungkin tidak akan pernah sembuh. Alih-alih saling membalas sehingga orang merasakan sakit yang kita derita, mungkin jawaban dari semua itu adalah mendekat untuk merasakan sakit yang orang derita. Saling berempati. Sehingga kita merasakan kesamaan dengan orang  di sekitar kita, tidak peduli warna kulit, dan agama mereka.

 
Meskipun cerita mengambil tempat pada tahun 1825, saat The Black War berkecamuk di Tasmania; menjadikan jalan-jalan di pedalaman Tasmania sangat berbahaya karena tensi yang begitu tinggi antara serdadu kolonial Inggris dengan penduduk lokal yang semakin tersingkir dan diperlakukan tidak manusiawi, The Nightingale terasa seperti berita yang kita temukan di internet tadi pagi. Segala yang kita rasakan saat menonton peristiwa naas demi peristiwa naas di film ini begitu relevan.  Menyaksikan setiap frame film ini seperti menyaksikan kejadian asli. The Nightingale baru film panjang kedua Jennifer Kent (sebelumnya adalah The Babadook yang super-seram tentang grief seorang ibu beranak satu itu), tapi sutradara yang satu ini sangat bernyali.
Film ini disajikan olehnya dengan begitu disturbing. Banyak adegan kekerasan, mulai dari pemerkosaan, pembunuhan, hingga sesuatu yang keji yang dilakukan kepada anak keci, yang ditampilkan tanpa tedeng aling-aling. Supaya kita semua tahu betapa mengerikannya perilaku penjajah. Namun aspek tersebut tidak pernah dialamatkan sebagai gimmick semata. Kekerasannya tidak sebagai pengalih perhatian kita dari cerita yang hampa – ya, aku menyindirmu, wahai Perempuan Tanah Jahanam (2019) – ini tak pelak adalah salah satu film paling kompleks, paling menyakitkan untuk ditonton beberapa tahun terakhir. Bukan kekerasannya yang menarik perhatian kita. Melainkan setiap keputusan-sulit yang harus diambil oleh karakter, yang memaksa skenario untuk maju, yang membuat film semakin menarik untuk kita ikuti. Ada simbol-simbol menyejukkan yang digunakan oleh film sebagai counter dari elemen disturbing ini. Yang akan membuat kita terdistract dan berusaha memahami makna burung yang jelas-jelas dijadikan metafora, nyanyian, bahkan landscape dari belantara itu sendiri.

untung gak ada yang suka burung gagak, jadi kita selamat dari mendengar ‘entah apa yang merasukimu’

 
Mengingat betapa kerasnya film ini, kita hanya bisa membayangkan berat dan konflik moral yang harus dilewati oleh para aktornya. Tidak mungkin mereka enggak mendapat bimbingan atau konseling dari psikolog setelah memainkan beberapa adegan yang sangat brutal tersebut. Karena mereka memainkan peran dengan begitu… nyata. Tidak sedetik pun aku merasa melihat seseorang yang pura-pura jadi orang jahat atau orang teraniaya. Baykali Ganambarr yang main sebagai Billy, this is just his first feature, tapi tampak begitu natural. Kita tidak pernah melihatnya sebagai kaku dan dingin walaupun tokohnya memang diniatkan canggung dan ‘berjarak’ pada awalnya dengan tokoh utama. Peran yang cukup tricky lagi adalah sebagai antagonis – letnan Inggris – yang jahat dan nyebelin. Peran ini ditangani oleh Sam Claflin, truly like a pro. Meskipun tokohnya ini nyaris satu-dimensi tapi kita tetap mendengarkan semua gagasannya, kita pelototin semua perbuatannya, dan kita sungguh-sungguh benci padanya, seperti, kita sudah melakukan suatu hal yang tepat dengan membencinya sehingga kita justru tidak ingin dia melakukan hal yang mengkhianati ‘kejahatannya’. Claflin tidak terjebak ke dalam karakter over-the-top. Dia juga tidak tampak seperti sedang berakting. Dia memainkan adegan-adegan yang sangat ‘mengganggu’ dengan keotentikan seseorang yang harus bertindak jahat  demi menunjukkan powernya. Claflin sangat sukses memainkan tokoh antagonis yang sebegitu jahatnya kita suka untuk membencinya.
Sedangkan tokoh utama kita, Clare, diperankan oleh Aisling Franciosi yang memberikan salah satu permainan peran paling menyayat hati tahun ini. Karakternya benar-benar menempuh perjalanan yang ekstrim, secara emosional. Bayangkan grafik yang bergelombang naik dan turun, nah pada setiap titik terendah menuju ke atas dan setiap titik tertinggi menukik ke bawah; di situlah saat akting Franciosi terasa sangat fenomenal. Sehingga emosi Clare tak mencuat dibuat-buat, melainkan benar-benar bersumber dari kesakitan yang teramat kita pahami. Pretty much, setelah semua yang ia lalui di awal cerita, Clare PTSD, dan sentuhan yang diberikan oleh Franciosi benar-benar hormat kepada PTSD itu sendiri; yang tak tereksploitasi secara berlebihan.
Sayangnya, ada beberapa kali kita terlepas dari tokoh Clare. Tepatnya pada saat adegan-adegan mimpi. Inilah yang menurutku merupakan sedikit kelemahan dari The Nightingale. Aku bisa mengerti durasi dan temponya yang cukup lambat. Aku bisa paham kenapa babak ketiga seperti mengulur-ngulur waktu menuju peristiwa yang sudah kita nantikan dengan geram. Tapi penggunaan adegan mimpi dalam film ini; sebenarnya bisa dimengerti juga kepentingan adegan-adegan tersebut. Film ingin menunjukkan progres batin Clare, dari dia takut sebagai korban berubah menjadi gentar karena nun jauh di balik hatinya dia balik merasa dirinya bersalah.  Adegan film ini juga jadi ruang untuk mengembalikan sang sutradara ke habitat semula; ke ranah horor. Dalam film pertamanya, The Babadook, yang notabene film horor juga banyak menampilkan adegan mimpi. Dalam The Nightningale juga sama. Peristiwa-peristiwa yang tergambar dalam adegan mimpi tersebut semuanya mengerikan.  Banyak, katakanlah hantu, yang kadang muncul dengan wajah seram. Hanya saja yang jadi masalah adalah repetitifnya adegan-adegan mimpi itu terasa. Strukturnya selalu sama. Semuanya berakhir dengan kemunculan sosok yang paling seram, Clare yang tadi berjalan (atau berlari) terbelalak, dan kemudian dibangunkan. Adegan mimpi yang jumlahnya lumayan banyak ini jadi tak-kejutan lagi, jadi tertebak, sehingga malah seperti lebih kuat berfungsi sebagai transisi – atau bahkan; jeda iklan – ketimbang pandangan mendalam dari psikologis Clare.
 
 
 
 
Jennifer Kent membingkai kebrutalan penjajahan, menghidangkan kekerasan terhadap wanita, anak-anak, dan minoritas, tapi berhasil mengakhiri cerita tersebut dengan mengambil cara yang spesial. Ia memancing kita untuk melihat ke dalam. Tidak menjawab langsung, melainkan memberi kita jarak untuk mempertimbangkan. Ada masa ketika kita tidak sejalan dengan tokoh utamanya, yang tidak sepenuhnya kesalahan pada film. Melainkan ‘kesalahan’ kita yang telat untuk berubah, seperti tokohnya berubah. Film ini keras, susah untuk disaksikan karena kontennya yang no holds barred, namun merupakan salah satu film terpenting bagi siapapun yang ingin merasakan kemanusiaan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE NIGHTINGALE