THE ASSISTANT Review

“There’s nothing more toxic and demoralizing than having to work in a work environment where a bully or stealth harasser gets to overpower and exist daily.”
 

 
 
Seberapa aman lingkungan kerjamu? Karena walau sekalipun kita memang tidak bekerja bareng mafia yang menolak pakai masker, tidak disuruh menyapu isi dalam gunungapi, atau tidak jadi anakbuah Rita Repulsa, lingkungan kerja masih punya potensi gede untuk menjadi tempat paling menyeramkan dan ter-enggak-sehat di seluruh dunia. Jika kalian ngerasa kerja di kantor dengan aturan yang gak-jelas yang bisa longgar sesuka hati bos, atau si bos paling anti dikritik, atau kalian straight up ngerasa pernah dilecehin tapi malah dijadikan becandaan dan hal itu dianggap sudah biasa sehingga saat kalian protes justru kalian yang dianggap berlebihan dan dianggap sulit bekerja sama? Congratulations! tempat kerja Anda lebih beracun daripada judul lagu Britney Spears. Dan film The Assistant karya Kitty Green ini adalah tontonan yang tepat supaya kita bisa mengenali lingkungan tersebut dan mempertimbangkan langkah yang tepat demi masa depan.
Green menuliskan cerita ini dengan langsung mengambil tempat di pusat toxicity dan melimpahnya dominasi dan power abuse dari seorang pemimpin laki-laki; Rumah Produksi Film. You know, situasi di lingkungan itu memang sangat memungkinkan untuk ‘khilaf’, dengan begitu banyak orang yang berebut dapat posisi kerja di sana (siapa yang gak mau kerja sambil lihat artis setiap hari?), dan also dengan begitu banyak bintang-bintang muda minta peran utama; orang-orang akan rela melakukan apapun. Clearly take a jab atas terbongkarnya skandal bos Miramax tahun 2017 lalu, Green memang memposisikan film ini sebagai gambaran bagaimana pelecehan merayap di balik dinding kantor, dan dibiarkan oleh sistem yang lebih melindungi perusahaan ketimbang pekerjanya.  Kata yang jadi kunci di sini adalah ‘merayap’ karena The Assistant dibuat oleh Green dengan benar-benar senyap. Namun kesenyapan itu mendengungkan sesuatu yang begitu lantang di telinga dan pikiran kita semua. Tidak akan dijumpai adegan-adegan yang sensasional dan heboh di film ini; itulah kenapa skor audiens film ini jeblok parah. Alih-alih, semuanya dibiarkan nyaris tak bersuara. Kejadian-kejadian pelanggaran tidak pernah diperlihatkan, dibiarkan menggantung di benak kita. Membuat kita sama-sama stres dan sefrustasi Jane, tokoh utama cerita. Cara bercerita yang jenius diterapkan oleh Green dalam konteks gagasan yang sedang ia angkat. Karena memang begitulah persisnya yang dirasakan seseorang yang tahu ada yang enggak beres pada atasannya, tetapi tidak bisa – tidak berani bersuara. Bukan karena dia tidak peduli, melainkan karena practically dia melawan sistem yang menutupi.

Aku hanya bisa membayangkan berapa banyak catcalling yang mungkin sudah diterima sang sutradara hanya karena namanya

 
Keseluruhan durasi delapan-puluh-menit The Assistant berlangsung selama satu hari kerja Jane di kantor. Dia baru lima minggu kerja di sana, dan sebagai anak baru, Jane mendapat kerjaan paling banyak. Dia sudah sampai di kantor bahkan sebelum matahari terbit. Membersihkan dan merapikan ruang bosnya. Mengelap noda di sofa, tapi bukan noda kopi. Memungut anting dari lantai. Memfotokopi naskah. Menghidupkan lampu di ruangan-ruangan. Jane, seperti hari-hari sebelumnya, akan jadi orang yang paling akhir pulang karena dia bekerja keras demi karirnya (ia ingin jadi produser!). Namun menjadi asisten berarti adalah tidak banyak orang yang akan berhenti dan melihatmu dengan seksama dua kali. Jane merasa sendirian di kantor, bahkan siang hari saat rekan-rekan di ruang kerjanya (tepat di depan pintu ruang bos) sudah datang.
Semuanya diset sedemikian rupa sehingga kita benar-benar dibuat merasakan yang ada di kepala dan perasaan Jane. Inilah keajaiban dari kekuatan sudut pandang penceritaan film ini. Meskipun tidak menggunakan first-person view, malah seringkali kamera diletakkan jauh sehingga melingkupi satu ruangan, tapi film tetap berhasil menguatkan sudut pandang Jane. Kita melihat mata Jane tidak pernah ditangkap oleh orang-orang lain di kantor. Kita tidak pernah diberitahu apapun yang ada di luar jangkauan indera Jane. Bisik-bisik percakapan karyawan lain, kelebatan potongan dialog orang yang kebetulan lewat atau dilewati oleh Jane, suara-suara tidak jelas karena berasal dari sebalik pintu. Itulah informasi yang diberikan film ini kepada kita, karena itulah informasi yang nyampai kepada Jane. Dia mendengar hal-hal, dia menyimpulkan sesuatu dari hal tersebut. Dan kita share kesimpulan dan feeling yang sama dengannya. Semua pikiran, semua emosi, setiap detil kecil hal yang merundungi pikiran Jane mengumpul menjadi konflik dalam The Assistant. Makanya permainan akting dari ekspresi wajah begitu penting di sini. Julia Garner yang meranin Jane tidak pernah gagal. Setiap kali kamera meng-close up supaya kita dapat ‘melihat’ apa yang ia pikir dan rasakan, Garner mendeliver emosi-emosi tersebut dengan sempurna. Yang ia alami bukan sebatas ‘pengucilan’ yang seperti mengkerdilkan dirinya yang seorang asisten, ada sesuatu yang membuatnya cemas sebagai seorang wanita. Fakta bahwa kantor mereka kedatangan seorang wanita muda yang melamar sebagai asisten tapi lantas disuruh menemui bos di hotel, yang dijadikan becandaan oleh karyawan lain, menangkap perhatian Jane lebih dari apapun. Dan kemudian, Jane memutuskan untuk buka suara; saat itulah ketegangan film ini mencapai puncak.

Adegan Jane mengadu ke HR, aku yakin, sangat relatable untuk banyak orang yang sempat ngerasain kerja kantoran. Ataupun orang-orang yang pernah melakukan pengaduan dan ujung-ujungnya malah balik dipersalahkan. Film ini mengumpulkan semua ketoxican dan manipulasi dalam satu sekuen adegan tersebut. Kalimat ‘kamu tahu ada berapa yang mengincar pekerjaanmu?’ digunakan untuk memaksa kita menyudahi komplain atau aduan, sekaligus membuat kita merasa bersalah udah buka suara. Kita-lah yang gak tahu terima kasih. Jane menghadapi ini saat dia mulai bicara. Pihak HR dan bosnya sendiri mulai nge-gaslighting, membuat Jane merasa dia butuh mereka, membuat Jane merasa dirinya dihargai. Kamu pintar. Kita butuh lebih banyak produser wanita. Namun tetap pada akhirnya Jane disuruh meminta maaf. Tetap dialah yang salah karena noticing ada yang gak bener dan bertindak egois dengan membuka aib atau apalah alasan para atasan. Bahkan rekan-rekan Jane di ruangan pun, yang berusaha membantu Jane, tapi mereka tidak sadar melakukannya sambil menyalahkan, “harusnya kamu curhat ke kita dulu”. Ini satu lagi masalah yang disinggung oleh film ini; kadang kita gak sadar sudah ikut berpartisipasi dalam menyukseskan toxic di tempat kerja.

Tidak ada yang lebih toxic dan menghancurkan diri ketimbang bekerja di lingkungan tempat kekuasaan disalahgunakan, pelecehan ditutup, dan manipulasi menari-nari. Film ini menunjukkan apa tepatnya yang terjadi jika bawahan mulai berani angkat bicara mengenai dugaannya terhadap atasan. Film juga memperlihatkan betapa susahnya bagi mereka yang memperjuangkan untuk keluar dari lingkungan tersebut. Karena toxic itu menjalar. Bahkan mempengaruhi orangtua di rumah. Film ini menggambarkan Jane yang pintar saja enggak berkutik menghadapi sistem yang berkuasa. Namun sekarang, setelah nonton ini, kita semua sudah tahu tindakan paling pintar yang harus dilakukan jika menemukan diri berada di lingkungan kerja toxic seperti begini.

 

I wouldn’t be surprise kalo itu adalah hari Senin

 
Hal yang paling aku suka dari film ini adalah cara ia memperlihatkan (atau tidak memperlihatkan) tokoh bos si Jane. Kita hanya melihat sekelebatan saat dia lewat di depan kamera. Kita cuma mendengar suaranya. Bicara kepada Jane melalui telepon, dari balik pintu kantornya yang selalu tertutup jika dia ada di sana. Dan dia jarang sekali berada di kantor. Dia selalu sibuk entah ke mana – selain ke hotel, tentu saja. Kita bahkan enggak dikasih tahu namanya. Jane dan tokoh-tokoh lain hanya menyebut ‘he’ jika membicarakan dirinya. Dan ini sesungguhnya membuat tokoh ini benar-benar terasa presencenya. Bukan semata membuatnya jadi mengerikan kayak hiu yang gak pernah benar-benar ditampakkan di paruh awal Jaws (1975). Namun berkaitan dengan gagasan film, sehingga efeknya menjadi lebih kuat. Karena jika kita diperlihatkan wujudnya, jika kita melihat wajahnya, kita akan otomatis mengantagoniskan si bos sebagai tokoh cerita. Kita akan menganggapnya hanya sebagai karakter film. Yang tentu saja akan melemahkan efek film ini, karena Green tentu saja tidak menyentil satu karakter. Green ingin menjitak ‘bos-bos’ di manapun berada. Ini bukan soal satu karakter di film, melainkan soal bos-bos yang menggunakan power untuk membangun sistem yang menguntungkan dirinya sendiri. Yang memanipulasi, yang merasa untouchable. Membuat tokoh ini nameless dan faceless, menjadikannya bisa jadi siapapun, dan ini memperkuat suara film ini.
 
 
Satu hari kerja dapat menjadi sangat melelahkan dan bikin stres, seperti hari yang dialami oleh Jane. Dia berangkat dengan menyimpan optimis di hati karena berkesempatan kerja di perusahaan film, dan dia disebut cakap dan pintar dalam tugasnya. Tapi di akhir hari, Jane sudah begitu terbebani sehingga aku yakin dia memutuskan resign keesokan hari. Tapi film lebih bijak daripada diriku. Ia menghentikan cerita di malam hari. Ia membuka diskusi soal bagaimana sebaiknya menghentikan lingkungan kerja yang toxic ini. Karena it could be everywhere around. Seperti tokoh si bos yang bisa jadi siapa saja. Pada akhirnya, kesimpulan yang immediately bisa dibuat adalah bahwa ini adalah sebuah karya yang sangat thoughtful. Yang tahu benar apa yang harus disampaikan, dan cara paling efektif untuk menyampaikan suaranya tersebut. Aku bilang, this is one of the truest story out there, yang dimainkan dengan salah satu penampilan akting yang pantas untuk diganjar penghargaan tahun ini.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE ASSISTANT.

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana kalian melanjutkan cerita ini, apa Jane akan berhenti atau tidak?
Baru-baru ini di twitter, sutradara Indonesia Gina S. Noer mengepos aturan-main di produksi film terbarunya, dalam upaya membasmi praktek abuse dan pelecehan. Bagaimana dengan kalian, bgaimana cara kalian menyingkapi lingkungan kerja yang toxic?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

GRETEL & HANSEL Review

“This business of womanhood is a heavy burden.”
 

 
 
Dongeng-dongeng klasik dari Grimm Bersaudara ceritanya sungguh beneran grim. Kelam. Suram. Kakak-kakak tiri Cinderella memotong jari kaki mereka sendiri supaya muat mengenakan sepatu kaca. Ratu di Snow White memerintahkan pemburu bukan hanya untuk membunuh, melainkan membawa pulang paru-paru dan hati Snow White untuk ia makan – not to mention, Snow Whitenya sendiri masih bocah alih-alih sudah remaja. Dongeng-dongeng fantastis tersebut difilmkan, misalnya oleh Disney, dengan diadaptasi menjadi cerita yang lebih accessible buat anak-anak. Yang lebih ringan, yang lebih mengedepankan imajinasi dan nilai moral yang bisa dipetik oleh anak. Tapi tidak demikian halnya dengan Oz Perkins. Sutradara ini mengadaptasi salah satu dongeng Grimm dan membuatnya menjadi jauh lebih grim. Tema yang diangkatnya pun lebih dewasa. Perkins memutar balik judul Hansel & Gretel; memposisikan Gretel sebagai fokus utama dalam sebuah sajian horor arthouse tentang kebangkitan seorang perempuan.
Sepeninggal ayah, Gretel dan adiknya yang masih kecil, Hansel, diusir dari rumah oleh ibu mereka yang depresi sama keadaan. Gretel membawa Hansel menyusur hutan yang marak oleh rumor keberadaan penyihir dan entah apa lagi hal mengerikan yang menunggu di dalamnya demi mencari kediaman lain supaya bisa bekerja di sana. Namun bahaya nomor satu yang mengincar dua kakak beradik ini adalah rasa lapar. Perut menuntun mereka ke sebuah rumah segitiga yang aneh di tengah hutan. Rumah yang menguarkan aroma kue tart dan daging asap. Sampai di sini, kita semua sudah tahu paling tidak itu rumah siapa dan bagaimana kemudian Gretel dan Hansel dibujuk untuk tinggal di sana. Yang dibuat berbeda oleh film ini adalah hubungan antara Gretel dengan si Penyihir. Hampir seperti hubungan mentoring. Namun dengan tone mencekam yang merayap di baliknya.

kapan lagi kita melihat dua ikon dongeng anak ngefly makan jamur

 
Perasaan terkungkung akan kuat mencengkeram. Shot-shot di hutan akan terasa sama mengekangnya dengan adegan-adegan di dalam rumah. Apalagi film ini menggunakan rasio 1.55:1 yang membuat gambar yang tersaji dalam kotak yang lebih sempit daripada film biasa kebanyakan sekarang. Karena film memang ingin menyatakan gambarnya sebagai perwakilan perasaan Gretel. Tokoh remaja ini percaya menjadi wanita berarti akan dibebani oleh tanggungjawab. Dan tanggungjawab tersebut dapat menjadi sedemikan besar, ia memandang kepada apa yang terjadi terhadap ibunya. Yang menyebabkan kini ia practically sudah menjadi ibu bagi Hansel adiknya. Adalah si Penyihir yang membuka mata Gretel. Memperlihatkan, secara literal maupun kiasan, kekuatan dalam diri Gretel yang bisa ia gunakan untuk mencapai kebebasan. Atau paling tidak, untuk melenyapkan tanggungjawab. Tiga tokoh sentral film ini; Gretel, Penyihir, dan Hansel adalah fokus utama cerita. Film mengadu gagasan dan kepercayaan para tokoh lewat interaksi dan obrolan-obrolan. Yang semua itu dihadirkan lewat visual yang benar-benar stylish dan tempo yang tidak pernah gegabah.
Sophia Lillis dan Alice Krige menyuguhkan penampilan akting yang luar biasa meyakinkan. Sebagai Gretel, Lillis akan banyak terdiam. Namun terdiam yang intens gitu. Her words are smart, Gretel jelas bukan karakter yang manja dan helpless dan mudah dimanipulasi, tapi hal-hal yang ia alami dan ia lihat di rumah itu adalah hal baru dan mengerikan baginya. Gretel tampak lebih tersesat di dalam sana daripada di hutan. Pandangan mata Lilis juga ekspresif sekali, setiap kali Gretel terdiam pandangannya akan vokal bicara. Kita turut merasakan keraguan, ketakutan, sekaligus rasa penasaran yang ada pada dirinya. Sedangkan Krige sukses membuat Penyihir ini menjadi nenek-sihir paling karismatik sekaligus menakutkan. Jika hal yang paling mengerikan dari setan adalah kekuatannya untuk membuat kita menjadi tidak percaya dia itu ada, maka kengerian Penyihir dalam film ini datang dari sikapnya yang kita tahu ada niat jahat (she eats children!) tapi kita malah melihat Gretel semacam meminta petunjuk darinya. Kita tidak melihat penjahat licik, melainkan seseorang yang menghormati Gretel lebih daripada Gretel menghormati Gretel sendiri.
Sebagai sebuah horor, cerita film ini sangat personal. Ditujukan untuk cewek-cewek muda yang memikul tanggungjawab mengurus adek ataupun keluarga tercinta. Seperti si Penyihir, film ini akan menunjukkan pilihan. Meng-embrace tindakan yang tentu saja dipandang gelap alias jahat, yakni meninggalkan tanggungjawab tersebut karena setiap orang punya masa depan masing-masing dan setiap orang bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. ‘Mantra’ yang diucapkan oleh tokoh film ini adalah bahwa setiap hadiah selalu ada harganya. Mau makan, harus kerja. Mau tinggal, harus nurut. Dan kalo mau bebas, maka haruslah ada yang dikorbankan. Kengerian film ini datang dari antisipasi kita melihat Gretel meniti pelan-pelan pilihan yang ditawarkan Penyihir. Jika Penyihir benar, maka bukan hanya Gretel, dunia kita juga akan jadi menyeramkan saat semua wanita menjadi Gretel. Tentu, secara visual film memperlihatkan hal-hal eerie saat menyampaikan Gretel mempelajari semua – akan ada banyak adegan mimpi yang sureal – namun true horror datang dari implikasi gagasan yang terkandung dalam film ini. Untuk penonton yang berhasil mendalami hal tersebut, ending film akan bekerja dengan memuaskan. Karena ternyata ada jalan tengah.

Menjadi seorang wanita memang berat. Dituntut jadi seorang ibu yang membesarkan anak. Seorang pengasuh yang tak jarang harus melupakan mimpi pribadi. Menggugurkan kepentingan sendiri. Tapi lantas bukan berarti wanita tidak bebas. Gretel terus menggandeng Hansel kemanapun ia pergi menunjukkan bahwa benar, hal yang dicintai terkadang bisa menghambat diri. Namun sebenarnya attachment terhadap merekalah yang menghambat kedua pihak – bukan hanya yang menggandeng, melainkan juga yang digandeng. Maka, sebagaimana yang disugestikan oleh akhir film ini, setiap kita harus percaya. Pada kemampuan diri. Pada kemampuan orang lain. Kita tersesat di ‘hutan’ ini bersama-sama, maka gunakanlah kekuatan masing-masing untuk bisa survive.

 

Ada yang mau minta resep makanan sama si nenek sihir?

 
 
Jika bukan karena pandemi viruscorona, film ini sepertinya bakal tayang di bioskop. Tapi setelah menonton, aku tidak yakin bioskop mau menayangkan ini. Simply karena film ini amat-sangat tidak mainsteam. Gretel & Hansel berjuang keras agar setiap detik napas durasinya terlihat sebagai film indie. Budget kecil, dan banyakan praktikal efek, dan pengadeganan yang dibuat lambat. Jelas bukan tipikal film box office. Gaya dan visual film ini toh memang unik. Banyak shot dan permainan cahaya yang bikin merinding. Secara komposisi, sebagai tambahan dari penggunaan rasio ala film lama, film ini dengan anehnya selalu membuat fokus adegan berada di tengah. Sehingga pergerakan mata kita juga gak banyak. Dari cut satu ke cut berikutnya, semua tetap berada di tengah. Tidak ada ruang untuk bergerak, kita juga merasa terperangkap, dan lama-kelamaan -ditambah dengan pace yang slow – menonton film ini bakal terasa membosankan. Filmnya bakal terasa panjang karena atensi kita tak putus menatap ke tengah layar tempat semua kejadian berlangsung. Padahal durasi film ini sebenarnya cukup singkat, di bawah 90 menit.
Film ini menuntut perhatian dan kepedulian yang besar dari penonton, yang tentu saja, gak semua penonton mau memberikannya secara cuma-cuma. Harus ada hook. Dan sayangnya, film hampir tidak memberikan sesuatu untuk bisa dipedulikan. Narasi soal coming-of-age si Gretel tadi terasa diulur-ulur lantaran tidak banyak pendalaman; meskipun film berusaha jauh dari cerita aslinya, somehow kita bisa melihat ujung ceritanya ke mana. Adegan horor surealnya yang kebanyakan cuma mimpi, dapat dengan cepat jadi repetitif. Sense of danger yang dibangkitkan, tak pernah berujung sesuatu lantaran film lebih tertarik membahas agenda-agenda. Cuma ada satu adegan yang berbau aksi dan jump scare, yaitu di awal-awal saat Gretel dan Hansel nginep di rumah yang mereka pikir kosong, dan itupun tampak seperti ditambahin belakangan karena gak match dengan keseluruhan film – hampir seperti ditambahin karena film ini sadar dirinya bosenin maka butuh yang sedikit nendang.
Masalahnya bukan pada film harus ada aksi dan gak boleh terus-terusan ngobrol supaya jadi tidak membosankan, it has nothing to do with that. Hanya saja, begini: Makanan dalam film ini terlihat enak. Namun cara film menceritakan agenda feminisnya tersebut seringkali membuatku mual. Film ini memasukkan adegan Gretel dan Hansel bermain catur hanya supaya si Penyihir bisa berkomentar bahwa Queen (Ratu) bebas mau ke mana sedangkan King jalannya tertatih-tatih. Ketika dipanggil “Mrs.” oleh Gretel, si Penyihir lantas bilang “Apakah kau melihat tangan dan kakiku terborgol rantai”. Adegan dan dialog-dialog seperti demikian pada akhirnya membuat film yang memang hanya punya dialog dan visual creepy ini jatoh menjadi pretentious. Naskah tidak cukup dalam untuk dapat menjelaskan hal di luar persoalan Gretel, tapi tetap nekat menunjukkan Penyihir yang bisa begitu feminis padahal kerjaannya setiap hari cuma ‘masak’ dan nunggu anak-anak nyasar masuk ke rumahnya.
 
 
 
Sinematografi dengan warna-warna tajam tapi tidak pernah kontras sukses membuat film ini terasa seperti dunia yang bukan dunia kita. Desain produksi dan akting dua pemain wanitanya juga berada di level atas. Secara visual film ini memang menarik, gambar-gambarnya creepy. Sayangnya hanya itulah yang dipunya oleh film ini. Secara narasi, dia berusaha berbeda dari materi asli, dengan visi yang lebih relevan pula. Namun tidak dibarengi dengan eksplorasi yang benar-benar mengundang. Sehingga semua jadi terasa pretentious. Ia malah kayak mencoba terlalu keras untuk menjadi seperti The Witch (2016), dan gagal dengan hebatnya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for GRETEL & HANSEL.

 
 
 
That’s all we have for now.
Benarkah menurut kalian tugas seorang ibu itu memberatkan bagi setiap wanita?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE HOUSE THAT JACK BUILT Review

“…why the mad do mad things”

 

 

Sadis ya filmnya.

Enggak sih, itu kan seni.

Bunuhin orang kayak gitu kamu bilang seni?

…….

Motong kaki anak bebek sampai dia enggak bisa dansa empat kali. Berburu anak kecil dan ibunya dengan senapan seolah sedang santai sore berburu rusa. Menguliti payudara wanita setelah merendahkan orangnya. Begitu kamu bilang seni? Saya sih bersukur banget yang kita tonton versi yang udah disensor.

Film ya seni. Boleh dong nampilin pembunuh. Lagian memangnya pembunuh enggak boleh punya jiwa seni? Orang si Jack juga membunuh karena ia menganggap perbuatannya sebagai proyek seni rupa, kok. Dia menciptakan sesuatu dengan mayat-mayat itu. Si anak kecil bibirnya disulam supaya tersenyum selalu kayak patung malaikat. Kulit si cewek, dijadiin dompet. Lihat gak di menjelang akhir? Mayat-mayat dijadiin rumah. Itu kan namanya si Jack berkarya.

Tapi kan, yang dia lakukan ke orang-orang itu….. jahat!

Lah, manusia lain juga sama jahatnya. Toh tidak ada yang datang menolong, atau tampak peduli, meski dalam setiap tindakannya Jack practically kayak minta ditangkap, dia seperti sengaja kurang berhati-hati.

Cukup aneh sih, dia bisa sebegitu beruntungnya enggak pernah kepergok. Bahkan hujan turun membantu menghapus jejak darah yang ia tinggalkan. Seolah dunia memberi izin.

Ingat gak setelah itu, di ceritanya yang kedua, Jack hampir tertangkap polisi karena dia selalu balik ke rumah korbannya?

Hahaha oiya, yang dia OCD itu kan. Jack enggak tahan membayangkan gimana kalo ada darah yang lupa ia hapus di bawah kursi, atau di balik karpet. Dia gak bisa nahan diri. Dia nekat balik untuk mengecek. Berkali-kali.

Tapi toh dia tidak ketahuan. Polisi yang memergoki pun ternyata bego banget.

Jack berkembang menjadi semakin reckless ya, setelah menyadari orang lain sama tidak-baiknya dengan dirinya.

Baik dalam artian moral sih iya, kupikir. Jack mengisahkan dua-belas tahun kiprahnya sebagai serial-killer. Dan di film ini kita melihat episode pertama dia membunuh orang; dia justru membunuh karena ‘diledekin’ sama wanita cerewet yang minta tumpangan.

Jadi menurut Jack, semua orang pada dasarnya jahat?  

Lebih ke jahat dan baik tidak jadi soal, kali ya? Malahan poin si Jack kan memang setiap manusia dilahirkan dengan kejahatan binatang. Kita menciptakan agama dan peraturan untuk menekan nafsu jahat tersebut. Jack hanya mengembrace sisi jahatnya. Dia mengekspresikan diri lewat perbuatannya tersebut. Jack memikirkan apa yang ia kerjakanlah yang jadi soal. Seperti memeras anggur kan, ia mencontohkan, anggur harus dirusak – dibiarkan keriput; ada banyak cara untuk mengesktrak airnya.

Bukankah seharusnya Jack membangun rumah?

Bicaranya metafora, dooong. Ungkapan simbolik hahaha.

Lucu juga melihatnya sebagai mengekspresikan diri. Wong si Jack setiap aksinya selalu berpura-pura. Menurut saya sih tetap saja poinnya adalah Jack ini jahat. Dia mempelajari manusia supaya bisa dengan mudah memanipulasi korbannya. Dia mempelajari sejarah dan segala macam supaya bisa cari celah untuk pembenarannya perbuatannya. Dia bisa saja nyalahin orang lain; dia membunuh karena digebah, dia beraksi karena ada kesempatan. Terakhir dia masuk neraka kan, ya

Babak terakhir itu keren banget sih memang. Jack digambarkan masih berjuang hingga akhir hayatnya. Berjuang atas nama seni dan hal yang ia percayai.  Film ini pun dibuat atas dasar demikian. Pembuatnya ingin mengajak kita diskusi tentang apa yang selama ini ia lakukan.

Ini sutradaranya si Lars von Trier yang hobi cari ‘sensasi’ itu kan? Yang dulu di depan umum pernah nyebutin dirinya bersimpati dengan Hitler. Apa Jack di film ini adalah representasi pikirannya sendiri?

Bisa jadi. Mungkin nun jauh di dalam sana dia juga enggak mengerti di mana ‘salah’nya ucapan tentang Hitler yang ia bicarakan. Film enggak harus politically correct, kan. Yang jelas film bicara tentang gagasan dan bagaimana menceritakan gagasan tersebut. Jadi, ya film ini, apa yang dilakukan Jack sebagai tokohnya, buatku itu seni. Banyak orang yang ngeloyor keluar karena gak tahan melihat adegannya, banyak suara-suara protes, itu sesungguhnya tepuk tangan bagi telinga von Trier. Dia memang mengincar reaksi seperti itu.

Nah itu dia! ‘Mengincar reaksi’. Bukankah seni itu seharusnya adalah ajang ekspresi. Saya berasumsi kita masih memegang motto “To express, not to impress”. Membuat sesuatu demi impresi menurut saya sudah bukan murni seni lagi itu namanya.

Mungkin penikmat juga turut andil dalam menentukan? Sebab semua hal niscaya diciptakan dengan desain rasa dan pikiran sang pembuat. Seni pun sesungguhnya adalah bentuk komunikasi, kan? Justru menurutku, penonton yang walkout-lah yang menunjukkan sikap gak-respek

Meskipun filmnya tidak dimengerti, atau susah ditonton karena begitu ‘menyinggung’ dan disturbing?

Ya, karena mereka-lah yang memutuskan hubungan komunikasi yang sedang berusaha diciptakan. 

Persoalannya adalah; Apakah ada yang menikmati hasil kerja Jack selain orang yang sama haus darahnya?

Wah kau ngatain aku?! Aku jadi teringat pernah ikut pelatihan nulis kritik dan pembicaranya menyebutkan tulisan kritik film itu bukanlah sebuah seni. Lancang sekali!

Ini seperti mengatakan apakah rumah adalah sebuah karya seni.

Kalo begitu penentunya harus dari pembuatnya? Rumah yang dibangun oleh kuli hanyalah sebuah bangunan tanpa arti lebih. Tapinya lagi apakah tidak ada perbedaan pada hasilnya antara wartawan menulis kritik dengan, katakanlah, seniman yang menulis kritik?

Tetap tidak. Karena kritik pada akhirnya tetap berupa kepentingan untuk reportase. Kenapa pula musti repot membuat ribet hal yang tadinya diciptakan untuk menjabarkan karya seni-bercerita kepada pembaca yang menonton.

Kembali lagi ke titik awal dong, kita. Kalo yang dinilai adalah hasilnya, kenapa mayat-mayat hasil eksperimen Jack tidak kau anggap sebagai karya seni. Bodo amat dia membunuh atau bukan. Dia seniman. Dengan media mayat.

Sepertinya saya sudah menemukan jawabannya. Proses kreatif. Seni dinilai dari proses kreatif pembuatannya. Seni terutama, seperti kata ‘teman khayalan’ Jack si Verge, adalah proses yang melibatkan cinta.

Kurang kreatif apa coba, si Jack? Dia sama seperti pesawat penerjun Jerman itu, dia punya desain tersendiri. Dia bicara kepada Verge atas dasar kecintaannya terhadap seni itu sendiri.

Hahahaha… Jack ngobrol sama Verge – sama kepalanya sendiri, seperti kamu bicara kepada saya, proses kreatifkah itu namanya? Apakah kamu lantas mau memberi saya nama juga?

…   Iya dan tidak. Karena kau sesungguhnya tidak ada.

Maka, teman, kamu adalah orang gila!

 


Rumahnya beda banget ama yang “AJ Styles built!”

 

 

 

That’s all we have for now.
Film paling polarizing tahun ini. Sanggupkah kalian menyaksikannya hingga habis? Ada banyak imaji kekerasan di sini, yang diselingi oleh bincang-bincang cerdas tentang pembuatnya, tentang kejahatan manusia, tentang seni itu sendiri.  Bagaimana pendapat kalian tentang seni? tentang film ini? Buatku ini adalah salah satu film yang paling susah untuk direview, atau bahkan untuk ditonton lagi.
The Palace of Wisdom gives 9 gold stars out of 10 for THE HOUSE THAT JACK BUILT.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

KARTINI Review

“I know why the caged bird sings”

 

 

Bicara Kartini berarti kita bicara emansipasi. Perjuangan kesetaraan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, untuk menentukan pilihan, untuk mendobrak sistem patriarkal yang mengakar, dan terutama untuk mengatakan “Memang kenapa bila aku perempuan?”. Aku pikir kita semua udah tahu bahwa tinggal waktu saja kisah kepahlawanan Kartini ini jatuh ke tangan sutradara Hanung Bramantyo. Hanung paling demen ngegarap cerita yang protagonisnya berontak melawan sistem, dia paling jago memercik drama (dan, kalo perlu, sedikit kontroversi) kemudian memperkuatnya lagi dengan elemen yang relevan. Kartini dan Feminisme sangat cocok sebagai lahan Hanung.

Namun kali ini, lebih daripada mengandalkan sensasi – akan gampang sekali mengingat ide soal kepahlawanan Ibu Kartini sudah sering mendapat kontroversi di jaman modern ini – Hanung mengarahkan film biopik ini ke jalan yang lebih EMOSIONAL DAN MANUSIAWI. Dalam Kartini kita akan melihat karakter-karakter menjadi fokus utama. Kita akan melihat hubungan Kartini dengan keluarga, bersama kakak-kakak cowoknya, dan bersama kedua adiknya; Roekmini dan Kardinah. Kita akan melihat gimana Kartini berteman dengan Belanda yang menyemangatinya untuk menulis. Gimana dia mengisi hari selama masa pingitan sebagai persiapan menjelang mengemban status Raden Ajeng. Dan, yang paling personal baginya, gimana Kartini menyingkapi soal poligami, in which dia adalah produk dari – serta akan kembali jadi pemain dalam tradisi jawa tersebut. Urgensi datang dari Kartini dan adik-adiknya yang mengembangkan kerajinan ukiran Jepara, membuka sekolah bagi anak-anak pribumi, sementara sebenarnya mereka sedang menunggu waktu satu persatu ‘dipetik’ untuk menjadi seorang istri.

Dian Sastro apa Dian Iaya nih?

 

Ketika melihat trailer film ini untuk pertama kalinya di bioskop, aku merasa tertarik. Kalimat yang diucapkan Kartini di akhir trailer tersebut, tentang kebebasan ibarat burung, membuatku kepikiran kenapa film ini enggak dikasih judul Trinil aja ya? Dan setelah menyaksikan filmnya secara utuh, I still think that way; judul Trinil akan memberikan kesan yang lebih impresif dan benar-benar klop dengan ceritanya. Dalam review Surat Cinta untuk Kartini (2016) aku nyebutin cerita Kartini yang dipanggil burung trinil oleh ayahnya dalam majalah Album Ganesha Bobo. Kartini adalah pribadi yang enerjik, periang, punya bakat membandel, dan dalam film ini, begitu melihat Kartini dan dua adiknya nangkring di atas tembok, aku langsung menggelinjang; That’s her, that’s Kartini si burung Trinil yang aku baca waktu kecil!

Betapa menyenangkannya demi mengetahui diri kita sudah membuat perubahan hari ini. Dan that feeling alone harusnya udah bisa membuat kita terbebas dari boundary apapun yang memasung kita. Kartini, menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya bebas. Karena batas-batasan itu akan selalu ada, dan perjuangan sejatinya bukan untuk menghilangkan pembatas melainkan untuk membebaskan pikiran. Perjuangan Kartini adalah perjuangan gagasan, meskipun tubuhnya terkurung, gagasan positifnya akan terus terbang memberikan pengaruh positif kepada generasi demi generasi.

 

 

Kualitas produksi film ini top-notch sekali. Ini adalah film yang cantik. Gambarnya disyut dengan perhatian pada maksud dan detil. Set dan kostumnya sangat meyakinkan. Londo-londo itu terlihat classy sekaligus modern sebagai kontras dari pakaian bangsawan Jawa yang terlihat kaku dan mengurung. Kartini berada di tengah-tengah mereka. Kita memang enggak tahu seperti apa pembawaan Ibu Kartini aslinya, namun Dian Sastro udah pas meranin Kartini sebagai wanita yang berjiwa mandiri dan ‘pemberontak’. Tapi enggak exactly in a way kayak dia bilang “aku enggak butuh lelaki.” Ini adalah film yang membahas hubungan emosional yang terbangun. Motivasi Kartini adalah supaya dia, adik-adiknya, dan para wanita tidak perlu lagi capek berjalan-jongkok dan ‘latihan makan ati’ seperti yang dialami oleh ibu kandungnya. Supaya para wanita tidak hanya jadi pilihan melainkan bisa punya pilihan. Tembok pakem wanita-jaga-badan-dan-nunggu-kawin itu musti runtuh, begitu tekad Kartini. Semua itu tercermin dari gimana dia ‘menggembleng’ dua adiknya, yang oleh film ini diperlihatkan sebagai ‘murid pertama’ yang dimiliki oleh Kartini. Dian Sastro excels at playing this kind of role. Membuat kita ingin melihat lebih banyak tindak ‘pemberontakan’ Kartini. Kita akan melihat darimana asal tekad dan semangat Kartini, dan semua itu dimainkan dengan sangat heartwarming.

Hal berbeda yang dapat kita saksikan adalah Hanung memasukkan elemen imajinasi ke dalam cerita. It’s the power of books, people! Dengan membaca buku, kita bisa berkunjung ke mana saja kita mau. Adegan ketika pertama kali Kartini membaca buku adalah adegan yang sangat menyenangkan. Kita melihat dirinya melihat apa yang ia baca terwujud di depan mata. Sepanjang film, setiap kali Kartini membaca, entah itu buku ataupun surat balesan dari korespondensinya di Belanda, kita akan dikasih lihat visual Kartini sedang ngobrol dengan si penulis. It was shot very beautifully and actually menambah banyak hal buat pengembangan tokoh Kartini.

Tiga Gadsam foto buat cover lagi kaah? hhihi

 

Dengan jajaran pemain yang masing-masing saja kayaknya sudah pantes buat nulis buku sendiri tentang kepiawaian berakting, film ini enggak bisa untuk enggak menjadi meyakinkan. Lihat saja tatapan dingin Djenar Maesa Ayu, tapi masih terlihat bayangan mimpi yang kandas dari matanya. Pembawaan dan intonasi Deddy Sutomo yang terang-terang sedang conflicted antara acknowledging kemampuan putrinya dengan adat yang ia junjung. Aku bahkan ngakak ketika Kardinah bilang perasaannya enggak enak seolah ia tahu bakal dijodohin di akhir hari. Bahasa Jawa mereka sampaikan tanpa gagap. Kapasitas penampilan yang kelas atas membuat kadang beberapa musik dalam pengadeganan toh terasa sedikit eksesif. Maksudku, film ini sebenarnya bisa untuk enggak banyak-banyak masukin pancingan emosi karena setiap adegan, dari segi performances, sudah terdeliver dengan begitu compelling.

The bigger picture of this movie adalah gimana kehidupan Kartini bisa menginspirasi banyak orang, bukan hanya wanita. Namun, film ini masih kelihatan artificial ketika mengolah elemen-elemen dramatis. Kayak, film ini berusaha terlalu keras buat menghasilkan air mata dari penonton. Dibandingkan dengan porsi bagian cerita yang lebih ringan, menit-menit awal yang jadi set up terasa terlalu menghajar kita dengan emosi. Kita melihat Kartini kecil dalam momen yang menyedihkan, baik visual maupun tulisan mendikte kita untuk sedih. Kemudian narasi melompat dan kita dapat Kartini dewasa dengan segala attitude ingin-bebas. Ini masalah yang sama dengan pengarakteran Jyn Erso pada Rogue One (2016), di mana kita hanya melihat sad part of her childhood untuk kemudian kita melihatnya lagi setelah dewasa dengan kemampuan yang tinggi. Aku pikir akan lebih baik jika film ini mengajak kita untuk mengintip kehidupan sekolah Kartini kecil, you know, just to see seperti apa sih pintarnya Kartini itu hingga dikenal baik di kalangan meneer Belanda. Karena sepanjang film kita akan mendengar para tokoh ngereferensikan betapa pintarnya Kartini di sekolah.

Pun pada babak akhir kita akan merasa diseret oleh emosi. Tidak ada yang benar-benar menarik pada babak ketika sampailah giliran Kartini dilamar seorang Bupati. Kita semua – paling enggak kita-kita yang masih melek waktu pelajaran sejarah di sekolah – tahu tepatnya apa yang akan terjadi. Cara film ini bercerita mendadak kembali terlalu artifisial, sehingga adegan-adegan emosional itu rasanya kering. Pancingan-pancingan dilakukan, ada elemen sakit, ada tokoh yang jadi antagonis sekali, ada yang berubah baik hati, semuanya datang gitu aja, it did felt rushed. Banyak film yang enggak berhasil menjembatani dua tone narasi, dan film ini termasuk ke dalam kelompok film yang gagal tersebut. Alih-alih membahas dari perspektif yang lebih kompleks – dan film ini sebetulnya bisa melakukan itu – film ini lebih memilih untuk menyederhanakannya menjadi semacam pihak yang baik sama Kartini dan pihak yang jahat. Although, menarik gimana ‘yang jahat’ dalam film ini enggak necessarily adalah laki-laki.

 

 

 

Habis gelap terbitlah terang. Kemudian gelap lagi. Begitulah kira-kira garis besar menikmati film ini. Perbedaan antartone film ini sangat drastis, karenanya momen-momen dramatis yang kerap dihadirkan terasa artifisial. Set up film mestinya juga bisa diperkuat lagi karena gedenya toh apik tenan. Selain masalah tone dan hook yang dibuat terlalu pengen jadi dramatis, aku tidak melihat banyak masalah. Film ini  tahu ingin jadi apa, dan bekerja baik mewujudkan dirinya. Ia menyenangkan oleh interaksi antarkarakter. Potret penuh emosi dari kehidupan sosok pahlawan yang kita peringati setiap bulan April. Aku merasakan dorongan untuk keluar dari bioskop dengan berjalan jongkok just to pay my respect kepada pengorbanan perempuan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for KARTINI.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.