Elimination Chamber 2020 Review


 
Bertepatan dengan Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day) 2020, enam pegulat wanita berjalan memasuki struktur kerangkeng berterali rantai baja yang dikenal dengan Elimination Chamber. Mereka bertarung memperebutkan hak untuk menantang “The Man” sang Juara Wanita di Wrestlemania. Asuka, Liv Morgan, Natalya, Ruby Riott, Sarah Logan, Shayna Baszler. Mereka sejatinya adalah personifikasi dari karakter wanita masakini. Yang kuat, independen. Berdaya. WWE seharusnya bisa mengapitalisasi ini, lebih dari sekadar membuatnya sebagai partai utama. Namun penulisan alias booking yang dilakukan oleh WWE dalam ngepush superstar wanitanya malah mengurung mereka dalam bayang-bayang perlakuan terhadap superstar pria. Dan kemungkinan terburuknya, WWE malah justru mengubur keenam superstar ini sebagai dampak jangka panjang. 
Masalah utama yang menggerogoti pertandingan ini berasal dari tidak adanya ke-unpredictable-an. Meskipun dengan planting berita Vince McMahon meragukan Shayna, tetapi tetap tidak menyurutkan dengung penggemar yang sudah bersikeras tahu bahwa satu-satunya superstar yang jadi Juara Wanita NXT dua-kali itulah yang bakal menang dan melawan Becky Lynch di bulan April nanti. Jadi, WWE lantas membuat Shayna menjadi begitu powerful dan melibas semua lawannya di pertandingan Elimination Chamber ini – mereka ingin membuatnya sebagai sesuatu yang spesial sehingga sekalipun bagi kita enggak surprise dia yang menang, paling enggak mereka bakal melakukannya dengan sensasi heboh.
I like Shayna Baszler. Aku menikmati masa-masa kejayaannya di NXT. Di sana, dia sudah brutal – Shayna ini memancarkan kesan “well, she could legit broke her opponents if she wanted to” – tapi dia dibuat grounded, as in, dia masih mungkin untuk kalah. Setiap pertandingannya di NXT, kita masih bisa merasakan kemungkinan lawannya bakal mengungguli dia. Sayangnya, kesan itu sirna ketika Shayna muncul di Raw dan mengigit leher Lynch hingga berdarah-darah. WWE demen membuat sensasi besar untuk produk utama mereka. Alih-alih membuat Shayna menang Royal Rumble sehingga bisa diperkenalkan sebagai petarung kuat manusiawi dan kemudian membuild up-nya perlahan sebagai penantang yang legit mengerikan buat Becky Lynch, WWE mengambil jalan yang lebih sensasional dengan membuatnya seperti vampir dan ‘membunuh’ lima superstar-cewek top di Elimination Chamber. Kita semua sudah tahu Shayna bakal lawan Becky tapi WWE tetap mengadakan match Elimination Chamber untuk ‘melantik’nya dengan mengorbankan lima talent lain.
Sehingga yang kita dapatkan adalah pertandingan yang menampilkan Shayna mendapat treatment persis seperti Brock Lesnar di Royal Rumble bulan Januari kemaren – hanya saja sekarang environmentnya adalah kandang – namun lebih membosankan karena jeda antara terbukanya bilik satu peserta dengan bilik berikutnya adalah lima menit sehingga kita akan lebih banyak melihat Shayna bergaya ketimbang actual wrestling. Efek ke depannya bakal lebih parah, karena enggak seperti Royal Rumble, dalam Chamber peserta yang kalah itu adalah yang  bener-bener dihajar sampai out. Kelima lawan Shayna yang malang itu kalah dengan mengenaskan sehingga jika nanti Shayna beneran jadi juara, tidak ada lagi penantang yang dirasa benar-benar kredibel untuk melengserkannya. Because everyone of them has been destroyed easily. Dengan kata lain, WWE sekali lagi mendorong karakter mereka ke sudut mati – membuat mereka bakal susah berkembang – hanya demi sensasi.

Dikarantina, tapi bukan karena corona.

 

Jika ada yang bisa dipetik dari persoalan Shayna Baszler di Elimination Chamber ini, maka itu adalah sensasi jangan terlalu dicari-cari. Seperti misalnya ketika march di IWD2020, kita cukup bawa spanduk bercetuskan opini, menyuarakan pendapat sesuai tempat; enggak perlu ampe buka baju segala kan, yang ada malah mancing ribut ntar. Pesan yang ingin disampaikan WWE jelas dan dapat diterima, hanya saja cara yang mereka pilih dalam menyampaikannya bukanlah cara yang baik dan bisa diterima oleh banyak penonton.

 
Sebagai perhentian terakhir sebelum Wrestlemania, acara ini memang gak bisa berkelit dari posisinya sebagai filler. Setidaknya ada dua kejadian un-unpredictable lagi yang kita saksikan sebelum main-event ‘pembantaian karakter’ tadi terjadi. Kemunculan Undertaker dan kemunculan Kevin Owens. Masing-masing pada match AJ Styles melawan Aleister Black dan match tagteam Seth Rollins dan Murphy melawan Street Profits. Kenapa bisa ketebak? Ya karena sudah sebulan ini mereka nanemin bibit seteru antara Styles dengan Undertaker dan antara Owens dengan Rollins untuk Wrestlemania. Jadi ketika di Chamber ini salah satu dari dua pasangan-feud itu bertarung dengan lawan yang berbeda, maka sudah bisa dipastikan akan ada ‘tamu tak diundang’. Akibatnya tentu saja pada match yang sedang berlangsung itu sendiri. Pada match tagteam tadi misalnya; kemunculan Owens (yang sudah dinanti-nanti) completely mengalihkan fokus dari Street Profits yang menampilkan salah satu aksi pertandingan yang paling menghibur. It was a good match tapi kepentingannya malah jadi seperti membuild up Owens dan Rollins. Begitu juga dengan kasus Black melawan Styles. Aduh, ini mungkin sajian buruk dari kedua superstar hebat itu, karena matchnya sedari awal sudah gak make sense. Pertandingan no-DQ mereka jadi terasa terlampau panjang, karena mereka gak langsung ngegas. Styles ditemani dua rekannya, tapi mereka membantu dengan malu-malu, padahal sah bagi mereka untuk langsung masuk dan menyerang Black sedari bel bunyi.  Dengan begitu, susah untuk kita merasa peduli dan ya kita jadi hanya menanti kemunculan Undertaker saja.

mungkin mereka mengulur waktu dalam rangka nungguin Undertaker jalan menuju ring

 
Literally, hal tak-terduga yang kita dapat di acara ini adalah kemenangan Sami Zayn, dalam pertandingan Handicap 3-lawan-1. Matchnya sendiri sangat gak spesial, bahkan aku cenderung kasian ama Braun Strowman yang keliatan jelas penulis bingung memberikan cerita buat dirinya. Namun setidaknya WWE kali ini menjalankan logika dan enggak membunuh kredibilitas Zayn, Nakamura, dan Cesaro dengan membuat mereka kalah melawan satu orang. Pertandingan Elimination Chamber satu lagi – yang antar 6 tim memperebutkan sabuk Tag Team Smackdown – juga penuh dengan kejutan menyenangkan. Berupa gerakan-gerakan spektakuler dari para superstar dalam menyerang lawan-lawannya. Lince Dorado manjat ampe tengah kandang, dan berayun terjun kayak spiderman kesurupan. Otis berlari menembus pintu kaca anti-peluru. Masing-masing tampak beraksi pada rel karakter mereka, sehingga pertandingan ini jadi terasa enggak sebatas crash-n-burn, melainkan juga beberapa cerita yang numplek jadi satu. Ending pertandingan ini lebih lambat dan kalah menarik dibandingkan porsi tengahnya, tetapi memuat bobot karakterisasi Miz dan Morrison sebagai tim songong yang bertarung dengan otak sebagai pelengkap aksi parkour mereka.
Permulaan acara ini sesungguhnya tidak buruk. WWE memberikan kepada kita variasi gaya gulat, terbaik dari yang mereka punya. Jika kalian suka pure high-flying, maka match Andrade melawan Humberto Carillo sudah barang tentu akan sangat menghibur kalian. Kedua superstar latin ini udah bertemu untuk kesekian kali, hebatnya; belum ada pertandingan mereka yang membosankan. Malahan pertemuan kali ini terasa lebih intens karena ada cerita dendam di antara keduanya. Namun jika kalian prefer ke gulat teknik, dengan banyak submission dan taktis, maka partai pembuka antara Daniel Bryan melawan Drew Gulak bakal jadi kejutan paling menghibu sepanjang acara. Bagaimana tidak. Dua orang yang kayak manusia biasa. Rambut cepak. Celana pendek. So average. Sama sekali gak ada yang sensasional dari mereka. Namun yang mereka suguhkan adalah gulat yang intens baik secara fisik maupun secara psikologi. Cerita seteru mereka cukup unik. Gulak mengkritik Bryan, menyebutkan kelemahan dari gaya gulatnya. Dia bahkan ngajarin beberapa superstar teori untuk mengalahkan Bryan. Bagi Bryan, tentu saja, match ini adalah cara ia memberikan pelajaran kepada Gulak yang banyak bacot. Namun ternyata, sembari match berjalan, kita dapat melihat bahwa Bryan kini berusaha mati-matian untuk membuktikan perkataan Gulak itu tidak benar. Justru ia sendiri yang percaya ia punya kelemahan. Pertandingan mereka sangat bercerita, Gulak menangkis semua serangan Bryan. Emosinya pun dapet karena setiap serangan yang mereka lakukan, kita bisa melihat dampaknya. Bibir robek. Mata memar. Punggung baret. Siku berdarah. Dan German Suplex itu, sungguh luar biasa. Match ini adalah dua-puluh menit tercepat dalam pengalamanku nonton WWE.
 
 
 
Elimination Chamber tak menarik di atas kertas, bukan saja karena matchnya banyak filler, namun juga karena tak ada juara dunia yang muncul dan bertanding. Tapi sesungguhnya ini adalah kesempatan untuk mengepush superstar-superstar muda. WWE melakukan ini kepada Drew Gulak, Humberto, Lucha House Party, Aleister Black, dan bahkan Shayna Baszler. Sesungguhnya ini adalah hal yang patut kita sukuri. Namun nafsu untuk jadi sensasi, atau mungkin juga rasa insecure ingin viewer yang banyak, membuat WWE mengambil langkah yang enggak bijak. Mereka mengulang ‘tradisi’ mengoverpush satu orang dan merendahkan yang lain.  Sehingga partai-partai utama dalam acara ini jadi terasa tak-penting, pointless, tak lebih dari usaha sensasional dalam menyampaikan sesuatu yang semua orang sudah tahu akan terjadi. Hanya ada satu match yang membuat The Palace of Wisdom terkejut dan terhibur karenanya, sehingga kami nobatkan menjadi Match of the Night, dan match itu adalah Daniel Bryan melawan Drew Gulak. 
 
 
 
 
Full Results:
1. SINGLE Daniel Bryan mengalahkan Drew Gulak.
2. UNITED STATES CHAMPIONSHIP Andrade tetap juara ngalahin Humberto Carrillo.
3. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP ELIMINATION CHAMBER Miz & Morrison bertahan dari The Usos, New Day, Ziggler & Roode, Heavy Machinery, dan Lucha House Party.
4. NO-DQ Aleister Black menang atas AJ Styles.
5. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP Juara bertahan Street Profits mengalahkan Seth Rollins & Murphy.
6. INTERCONTINENTAL CHAMPIONSHIP HANDICAP 3-ON-1 Sami Zayn, bersama Cesaro dan Shinsuke Nakamura, merebut sabuk dari Braun Strowman.
6. WOMEN’S NO.1 CONTENDER’S ELIMINATION CHAMBER Shana Baszler sapu bersih Sarah Logan, Ruby Riott, Natalya, Liv Morgan, dan Asuka

 
 
 
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

MEKAH I’M COMING Review

“Perhaps a great deed is belittled by an intention. And perhaps a small deed, by sincere intention, is made great”
 

 
 
Ditipu mengakibatkan korban penipuan merasa tak-berdaya, mudah dibodohi — merasa bego dan males ntar makin dibego-begoin orang sehingga urung melaporkan. Satu lagi yang mungkin dirasakan adalah; justru merasa dirinya bersalah. Kenapa bisa merasa bersalah. Bisa jadi karena menyadari alasan mereka bisa sampai tertipu pada awalnya. Menyadari bahwa niat mereka sudah salah sehingga tidak bisa melihat dengan jernih perangkap di depan mata. Niat mendapatkan sesuatu yang besar, melakukan sesuatu yang besar agar dipandang istimewa, tapi pengennya secara instan, lewat jalan pintas. Seperti niat pengen naik haji.
Seperti Eddy, pemuda warga Desa Cempluk, Jawa Tengah. Ia menggunakan naik haji sebagai alat supaya bisa menikahi Eni, pacarnya yang hendak dijodohkan dengan seorang juragan. Tapi berangkat haji itu ternyata bukan saja jika ‘mampu’, melainkan juga ‘mau’ menunggu antrian kuota hingga sepuluh tahun. Mana bisa Eddy menunggu selama itu, tahun ini dia kudu segera naik haji. Maka ia pun menjual bengkelnya, beralih ke jalur alternatif. Travel haji yang sedikit lebih mahal (ada diskon ding!), dan jauh lebih cepat gak ribet. Sayangnya semua itu hanya tipuan. Dan Eddy yang malu dan tentu ogah melihat Eni tersayang dinikahin ama orang lain, memutuskan untuk gak pulang ke kampung. Ia menetap di Jakarta, menjalankan usaha dagang, bersama orang-orang yang juga jadi korban penipuan haji. Berpura-pura jadi haji beneran kepada Eni dan ibunya di kampung.

kalo terjadi sekarang, berangkat hajinya ke-cancel virus corona

 
Permasalahan tipu-tipu jemaat haji ini dibingkai dalam komedi yang terasa segar sekali. Sebuah langkah bijak dari sutradara pendatang baru Jeihan Angga, sebab perlakuan dan arahan yang ia lakukan membuat film sama sekali tidak terasa preachy. Menyentil orang naik haji yang niatnya enggak-lurus, tanpa jatoh seperti menghakimi dan menyalahkan korban penipuan. Akan ada banyak sekali kita temukan gambaran-gambaran konyol yang mengomentari fenomena sosial yang relevan dengan masa sekarang. Film menggunakan beberapa plesetan untuk menyinggung tanpa benar-benar menuding. Melainkan mengajak kita menertawakannya bersama-sama. Seperti nama travel haji odong-odong yang digunakan Eddy; Second Travel, is clearly a jab to the First Travel, yang kasus penipuan hajinya marak tahun lalu.
Segala aspek seperti suara, musik, penataan gambar, dan kamer digunakan secara precise untuk menghasilkan efek komedi. Dan film ini sungguh gak malu-malu dalam menjelajahi ranah komedinya. Dunia film ini dihidupi oleh tokoh-tokoh yang begitu… weird, kalo gak mau dibilang receh. Si Eddy, pemuda yang punya bengkel kendaraan padahal begitu ‘sontoloyo’ dalam pekerjaannya sehingga suatu hari ia meledakkan mobil yang ia perbaiki. Kita melihat adegan ala kartun dengan asap mengepul sebagai latar desa yang tenang. Ibu Eddy digambarkan kumat ‘sakit’ setiap kali anaknya berulah, dan hanya bisa disembuhkan oleh totokan si anak. Eni dan bapaknya yang suka main gim Harvest Moon juga gak kalah ajaibnya; mereka bisa berkomunikasi dengan… suara hati! Kerecehan ini bukan sekadar dihadirkan supaya lucu, tetapi lucunya juga difungsikan sebagai device untuk memajukan narasi. Kita akan sering mendapati adegan yang circled back ke kerecehan ini sebagai usaha film menjadikannya sebagai sesuatu yang berarti. Film juga bersenang-senang dengan trope-trope drama seperti hujan turun saat tokoh bersedih dan berada di posisi rendah dalam hidupnya.
Kelucuan dalam film ini tidak terbatas pada situasi fantastis yang wallahua’lam bisa beneran terjadi di dunia nyata. Mekah I’m Coming juga menggunakan banyak situasi modern untuk memancing kelucuan, yang juga menyumbang banyak bagi bobot cerita. Misalnya fenomena selebgram atau vlogger-vlogger yang menjadi terkenal berkat konten mereka yang sebenarnya lebih banyak gak-jelasnya ketimbang manfaatnya. Film menertawakan ini, sekaligus menjadikannya sebagai sesuatu yang tak-terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Meskipun tidak membahas sampai sejauh konsekuensi (film menunjukkan ada tokoh yang alamatnya didatengi oleh orang dari kampung yang mencari Eddy, adegan ini sebenarnya punya implikasi mengerikan karena si tokoh sudah punya ribuan follower – bayangkan jika semua fansnya itu bisa nguntit sampe ke rumahnya) elemen selebgram dibuat menjadi penting dan punya keparalelan dengan gagasan film soal niat adalah hal esensial yang mampu mengubah sesuatu yang sepele dan begitu juga sebaliknya.

Salah satu hal menarik yang diperlihatkan oleh film ini adalah ternyata ada banyak orang seperti Eddy, yang tertipu oleh bisnis travel haji, tapi tak ada yang melapor. Film secara terselubung memberi tahu kepada kita bahwa mereka-mereka ini naik haji bukan karena murni pengen beribadah. Ketipunya Eddy tidak lagi dikasihani karena naik hajinya sudah menjadi kecil oleh alasan ia pengen pergi pada awalnya. Perbuatan baik akan menjadi sepele jika niatnya sepele. Dan sebaliknya, kerjaan nge-vlog yang receh bisa jadi penghasilan yang  bermanfaat jika diniatkan untuk menolong banyak orang.

 
Paling asik memang jika melihat aktor-aktor memainkan peran di luar kebiasaan akting mereka. Rizky Nazar dan Michelle Ziudith, memang baru Februari tahun lalu mereka bermain drama komedi dengan latar Jawa di Calon Bini, tapi Mekah I’m Coming ini tantangan komedinya berada di ranah yang completely berbeda. Dan dengan didukung oleh pemain-pemain yang sudah berpengalaman dalam bidang komedi, baik Nazar maupun Ziudith berhasil menyelesaikan tantangan akting mereka dengan gemilang. Tidak sekalipun bintang remaja ini tampak jaim. Film meminta mereka menjadi ajaib – Nazar disuruh bengong nampilin wajah bersalah dalam sebuah montase kocak, Ziudith disuruh nangis ngeluarin uneg-uneg tanpa suara – mereka berhasil natural menjadi ajaib. Logat Jawa bukan masalah bagi mereka. Highlight juga pantas disorotkan kepada mendiang aktor senior Ria Irawan yang menyuguhkan kepada kita peran ibu yang bermain di garis komedi dan drama tanpa kehilangan kharisma. Ini adalah penampilan terakhir yang mengesankan, dan kuharap media ataupun yang mengulas berfokus kepada pencapaiannya, bukan ke dialog dan adegannya tentang kematian.

penipunya aja ngerti kok naik haji itu bagi yang mampu fulus dan niatnya tulus

 
Naskah sudah dengan proper memberikan set up dan menghadirkan konflik, lengkap dengan hiasan berupa dialog-dialog cerdas yang lucu. Hanya saja penyelesaian film kurang memuaskan lantaran tidak banyak pada Eddy yang menunjukkan perubahan. Tokoh ini lebih banyak bereaksi ketimbang beraksi. Jika tidak ketahuan, mungkin dia bakal tetap bohong, dan entah kapan dia bakal ngakuin ke Eni dan ibu bahwa dia sebenarnya gagal naik haji. Dan justru bahasan entah kapan itu yang menarik. Karena seharusnya Eddy sendirilah yang mengambil tindakan pengen mengaku sebagai bukti pembelajaran, bukan karena terpaksa keadaan. Cerita akan lebih berisi jika Eddy pulang dengan jumawa tapi lantas dicurigai oleh tokoh terntu yang ternyata pernah ketipu juga, leading up ke pengakuannya dan bagaimana seisi kampung kini bereaksi terhadap Eddy. Sehingga dengan begitu film jadi bisa menghindar dari aspek terlemah yang ia punya; yakni bahwa cerita ini selesai karena saingan cintanya bukan orang yang baik, dan yang paling benci padanya ternyata adalah orang yang pernah mengalami pengalaman yang sama — alias karena ada tokoh yang lebih buruk daripada Eddy, bukan dari Eddy yang belajar untuk menjadi lebih baik dengan menyadari kesalahan.
Film pada akhirnya tetap meminta kita kasihan kepada Eddy karena dia adalah korban, dan kita diminta untuk menghargai jerih payah yang ia lakukan padaha, meskipun kita tahu dia haji hanya demi nikah, dan lagi dengan berbohong dia sudah jadi pelaku juga sekaligus. Eddy harusnya dibuat berubah lebih banyak, paling enggak dia bisa mengenali apa sebenarnya passion dirinya karena he was so bad kerja di bengkel.
 
 
Komedi absurd nan receh memang terasa sangat menghibur dan menyegarkan bagi penonton, serta sangat membebaskan bagi pembuat dan pelakunya. Ketika mereka membuat ini dengan niat menyampaikan sesuatu yang tulus – menyentil maupun memotret – maka akan beresonansi luar biasa kepada kita para penonton. Film ini berhasil membangun dunia sehingga kerecehannya tidak terasa dibuat-buat melainkan merupakan pandangan satir terhadap suatu kondisi. Film ini sesungguhnya mencapai lebih dari sekadar menghibur. Naskah dan karakternya gak annoying, meski di bagian penyelesaian harusnya bisa lebih konsisten lagi dengan gagasan sehingga tokoh utamanya benar-benar mengalami pembelajaran yang berarti.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MEKAH I’M COMING.

 
 
 
That’s all we have for now.
Bagaimanapun juga, penipuan apa saja bentuknya tetap harus dilaporkan tidak bisa dibiarkan merajalela. Kalian ada kiat gak sih gimana supaya saat jadi korban bisa berani melapor? Dan perlakuan seperti apa yang sebaiknya kita lakukan terhadap korban yang kita tahu menyalahkan diri dan tidak mau bersuara?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

#TEMANTAPIMENIKAH2 Review

“Unplanned moments are always better than planned ones.”
 

 
 
Namanya udah nikah, urusannya sudah bukan lagi siap atau tidak siap. Melainkan ‘harus siap’. Siap dalam mengubah kebiasaan. Siap dalam berhadapan dengan yang ‘terburuk’ dari teman hidup yang sudah dipilih. Terutama, siap untuk mengurungkan rencana hidup yang sudah disusun. Menjadi pasangan berarti kudu siap menerima kejutan-kejutan rumahtangga. Toh, lagipula hidup tidak akan pernah berjalan sesuai rencana, dan di situlah letak indah dan berharganya kehidupan.
Ayu dan Ditto belum benar-benar siap dalam menghadapi kehidupan baru mereka. Sekian lama menjadi sahabat akrab, hal menjadi sedikit kikuk pada awal-awal pernikahan mereka. Tapi kurang lebih, Ayu bahagia, karena hidup mereka tidak banyak berubah. Berkarir, jalan-jalan. Sampai datanglah karunia tak terduga itu. Ayu hamil. Kehidupan ia yang dulu, rencana-rencananya, jadi harus ditunda. Kalo enggak mau dibilang harus dikesampingkan begitu saja. Ayu stress. Terutama ia takut kehamilan ini akan mengubah total dirinya. Namun dengan berpikir demikian, ia sudah berubah. Kalo kata Ditto, Ayu sekarang berasa serigala. Keseluruhan durasi Teman tapi Menikah 2 ini akan membawa kita mengarungi hari-hari kehamilan Ayu yang dihiasi oleh pertengkarannya dengan Ditto, kecemasannya melahirkan sesar, dan manis yang nanti ia rasakan saat bingkisan karunia dari Pencipta itu hadir ke dunia.

Teman tapi Menyiksa

 
Hal terbaik dari film ini adalah penampilan akting Mawar Eva de Jongh yang memerankan Ayudia Bing Slamet. Dan ini ‘harga’nya mungkin cukup tinggi, karena film actually mengganti pemeran dari film pertamanya yang meraih lebih dari satu-juta-lima-ratus orang penonton. Film sampai melakukan reka ulang beberapa adegan di film pertama sebagai montase pembuka. Langkah ini menimbulkan tandatanya cukup besar karena biasanya jika sebuah film tergolong laku sampai mendorong hadirnya sebuah sekuel, maka pemain terutama pemain utama akan dipertahankan sebab penonton asumsinya sudah klop dengan mereka. Kalopun ada penggantian, maka akan lebih mudah mengganti semuanya misalnya dengan membuat cerita yang periodenya berjarak jauh, sehingga pergantian tersebut menjadi beralasan. Dalam kasus Mawar menggantikan Vanesha Prescilla di film kedua ini, kita tidak melihat alasan yang jelas selain pernyataan sebagian penonton yang beranggapan Vanesha masih belum matang untuk memainkan karakter Ayu di film ini. Kalo memang itu alasannya, maka menurutku Falcon ‘jahat’ juga karena film ini seharusnya jadi kesempatan Vanesha membuktikan dirinya sebagai aktor karena maaaan, Ayu di film ini punya range yang luar biasa. Dan Mawar, untungnya, berhasil capitalized this chance dengan menunjukkan permainan akting yang terasa seperti ia benar-benar melalui semua kecamuk, kegelisahan, bahkan kesenangannya menjadi seorang ibu di usia muda.
Interaksi Mawar dengan Ditto yang masih diperankan oleh Adipati Dolken juga terlihat natural, maupun saat berantem ataupun saat mode pacaran. Malah Adipati yang terlihat lebih ‘lemah’ aktingnya di sini karena dia gak ada peningkatan dari film pertama. Jika dulu Adipati dan Vanesha sama-sama lemah dalam adegan emosional seperti menangis, atau berantem, maka film itu bisa menutupi dengan lebih banyak menonjolkan interaksi unyu hubungan tanpa-status mereka. Namun kali ini, film punya cerita yang lebih menguras emosi. Dengan Mawar bermain luar biasa, momen-momen emosional sering jadi timpang. Ngeliat Ditto di film ini nangis, kita gak pernah yakin dia beneran nangis atau lagi ngelucu.
Kehamilan yang tak direncanakan merupakan sebuah situasi yang tumpah meruah oleh begitu banyak emosi. Takut, panik, bingung, excitement, dan kebahagiaan. Mawar, sebagai Ayu, akan mengalami itu semua satu persatu. Soal kehamilan yang tiba-tiba ini adalah inti dari cerita Teman tapi Menikah 2, yang harusnya bisa menjadi pembahasan yang lebih padat, lebih berisi, dan menginspirasi pasangan suami istri muda seperti Ayu dan Ditto. Film ini bersinar saat mengangkat pembahasan pentingnya suami dan istri untuk saling support, dan bagaimana mereka juga butuh space. Salah satu poin perkembangan karakter Ayu adalah awalnya dia merasa harus selalu dekat dengan Ditto sebagai usaha menunjukkan support. Namun dia akhirnya untuk tidak harus memaksakan, karena dirinya sendiri butuh penyesuaian, ada batasan yang hadir dengan kehamilan. Dan seperti halnya melahirkan; tidak bisa dengan asal ngepush.
Film mencoba mengangkat konflik dramatis dari pasangan muda yang masih punya ego masing-masing, serta bagaimana mereka masing-masing berjuang untuk damai dengan kenyataan bakal punya anak; bahwa mereka kini hanya punya waktu sembilan bulan untuk puas-puasin mengejar mimpi/cita-cita. Baik Ditto maupun Ayu pada awalnya menghitung bulan ini, untuk alasan yang berbeda. Ditto menghitung waktu kebebasan bagai orang yang lagi di penjara, sedangkan Ayu seolah menghitung mundur hari penghabisan bagi dirinya. Tidak keduanya berkesan positif bagi kelangsungan rumah tangga. Namun sembilan bulan itulah durasi pembelajaran bagi keduanya. Dua-ratus-tujuh-puluh hari adalah waktu yang cukup bagi kebanyakan orang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, dan mengarahkan diri ke mindset yang lebih positif. Kita akan melihat Ayu semakin menumbuhkan cinta kepada bayi yang bertumbuh di dalam tubuhnya. Dia membuat banyak perubahan positif, dia berolahraga dengan benar, berusaha mencari cara kehamilan yang lebih sesuai. Begitu juga dengan Ditto yang mulai seperti mengeset ulang prioritas hidupnya. Setengah paruh akhir, sekitar babak ketiga film, adalah bagian yang paling ingin kita lihat dari cerita semacam ini. Di bagian ini lebih mudah untuk peduli kepada tokoh-tokohnya, karena saat ini kita melihat mereka memilih langkah yang, ditambah pula dengan penulisan yang lebih ketat dan lebih ekslusif kepada pekerjaan mereka sebagai publik figur alias bintang televisi. Layer inilah yang seharusnya ditonjolkan film sedari awal.

Terkadang kita harus menerima kenyataan bahwa beberapa hal tidak akan pernah kembali ke sedia kala. Things do change. Plans got scrapped, dan musti dipikirin lagi dari awal. Hanya ada satu yang konstan, dan itu adalah cinta. Si cinta ini bekerja secara misterius. Momen-momen yang terjadi atas nama cinta tidak bisa diprediksi. Sama seperti ketika Ayu yang tidak menyangka bakal nikah sama sahabatnya sendiri. Setiap bumil – direncanakan atau tidak – bakal merasakan kebahagiaan. Sehingga alih-alih berkubang pada hal yang harus digugurkan, nantikanlah cinta dan kedamaian yang hendak didapat sebagai gantinya.

 
Akan tetapi skenario seperti mengulur-ngulur dengan memasukkan banyak hal yang less-signifikan. Paruh awal, mungkin malah sekitar 60-70%nya diisi dengan konflik yang ngeselin. Film ini kasusnya seperti Dilan 1990 (2018) – bukan kesamaan dari cerita, melainkan sama-sama mengandung konflik, hanya saja sebagian besar konfliknya itu gak penting dan kayak diada-adain.

Teman tapi Memaksa

 
“Gak mungkinlah, kita kan baru nikah masa udah hamil” ucapan Ditto merefleksikan kualitas naskah film ini. Atau paling enggak, begitulah naskah nge-depict sifat kekanakan Ditto. Dengan narasi demikian, film seolah membuat kehamilan Ayu sebagai hal yang gak lumrah; ia berusaha membuat kehamilan ini lebih sebagai ‘kecelakaan’ ketimbang hal yang tidak direncanakan. Padahal mereka melakukan, lalu hamil, ya wajar, tapi film membuat mereka kaget karena mereka baru saja menikah. Reaksi ini terlalu dibuat-buat, bahkan untuk mereka berdua yang pasangan muda. I mean, mereka bukan di film Dua Garis Biru. Mereka menikah, komit, tahu cara kerja dan konsep kehamilan. Namun di awal-awal, oleh naskah kedua tokoh ini tampak seperti sedang main rumah-rumahan. Ini mungkin salah satunya disebabkan oleh film ingin tampil untuk penonton dengan rentang usia tiga-belas tahun ke atas, jadi pembahasannya gak boleh mature-mature amat.
Masalah yang membuat mereka berantem hanyalah masalah kecil seperti beda kebiasaan, sehingga setiap kali mereka ribut rasanya gak penting dan buang-buang waktu. Kita bisa melihat keduanya sama-sama salah. Dan ini terus berulang – formulanya selalu ribut, kemudian sadar udah emosi, kemudian maafan – dengan berbagai versi kejadian. Yang semakin mengada-ada. Di satu titik mereka berantem karena Ditti cemburu Ayu lebih perhatian kepada janinnya. See what I mean?
Dengan kejadian selemah itu, tidak pernah sekalipun mereka berantem terasa seperti hal yang mengancam. Kita tidak mengkhawatirkan mereka bakal pisah, kita tidak mencemaskan keadaan bayinya; tidak ada stake yang kuat. Film semestinya segera bermain dengan lapisan-lapisan supaya mereka berantem dengan masalah yang lebih natural dan gak repetitif. Soal kerjaan, soal posisi sebagai artis, soal duit, normal bagi film tentang pasangan muda membahas ini, dan normal juga untuk memantik sedikit dramatisasi demi film berjalan lebih menarik. Daging sesungguhnya ada di paruh akhir, namun pada poin itu sudah terlambat karena menjelang penghabisan film terasa nge-drag luar biasa.
 
 
 
It still has its charms. Ayu dan Ditto begitu lovable, kita suka melihat interaksi mereka. Dimainkan dengan sangat baik pula, terutama di bagian-bagian mereka berbagi suka. Secara narasi, film ini tidak terasa lebih besar dan signifikan dibanding film yang pertama. Padahal ceritanya sekarang mereka sudah menikah dan punya masalah dari kehadiran bayi yang tak-disangka. Masalah yang notabene lebih menguras emosi ketimbang persoalan ngungkapin cinta kepada sahabat. Mestinya ada banyak yang bisa digali, tapi film mengulur dengan menghadirkan konflik-konflik yang kurang menggigit sebagai penghantar.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for #TEMANTAPIMENIKAH2.

 
 
 
That’s all we have for now.
Kenapa sih menurut kalian menjadi ibu atau orangtua itu begitu membahagiakan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE INVISIBLE MAN Review

“The scars you can’t see are the hardest to heal.”
 

 
 
Memanglah, manusia lebih seram daripada monster! Buktinya; meski berada dalam jagad sinema yang sama (Universal Monster Universe atau Dark Universe), tapi The Invisible Man yang manusia ini filmnya jauh lebih mengerikan. Lebin bikin kita merasa terancam secara fisik dan emosional, lebih menantang, ketimbang Frankenstein, Mummy, Dracula modern yang rebootnya gagal sehingga nyaris membunuh franchise ini secara keseluruhan.
The Invisible Man diarahkan oleh Leigh Whannell jauh dari hingar bingar aksi dan mitos fantastis. Melainkan, senada dengan novel aslinya yang terbit 1897, memiliki sedikit elemen fiksi-ilmiah. Tapi itu hanya pemanis. Inti dari cerita film ini dibuat sangat dekat dengan kita. Whannell juga dengan efektif membangun permasalahan yang kekinian. Dari banyak cerita tentang ‘mantan’ yang rilis Februari ini, baru The Invisible Man inilah yang justru terasa lebih make-sense, yang lebih dalam menggali permasalahan relationship sepasang manusia; permasalahan yang bukan hanya sekadar karena mereka gak cocok. Masalah mantan di film ini gak jatoh sebagai gimmick jaman now, supaya filmnya laku belaka. Whannell nge-blend itu dengan konsep yang berada pada garis antara supernatural dan keseraman ilmu pengetahuan.
Cecilia, tokoh dalam cerita ini, kabur dari cowoknya yang ganteng, jenius (ilmuwan optikal, atau apa gitu istilahnya..), kaya raya. Tipikal cowok idaman banget si Adrian ini. Sayangnya punya kecacatan ‘kecil’; abusive dan controlling sekali. Pada adegan pembuka yang memperlihatkan Cece diam-diam kabur dari kelonan Adrian, melepaskan diri dari kungkungan rumah dan toxicnya hubungan mereka, ada satu momen yang melibatkan anjing peliharaan Adrian. Dari anjing yang berkalung alat penyetrum itu saja keefektifan penulisan langsung menunjukkan taringnya; sebab momen ini menjalankan fungsi sebagai perlandasan perbedaan sifat dua tokoh – Cece dan Adrian – sekaligus. Meskipun berhasil kabur, Cece masih trauma. Dua minggu dia tidak berani keluar dari rumah sahabat yang menjadi persembunyiannya. Padahal Adrian sang mantan dikabarkan sudah meninggal bunuh diri. OR IS HE? Hidup Cece semakin tidak tenang. Dia mendapat gangguan, dikuntit oleh sesuatu yang tak terlihat. Cece merasa Adrian masih ada di dekatnya. Masih mengendalikan semua aspek hidupnya.

Mungkinkah Cece diganggu oleh John Cena?

 
Film ini, however, tidak membuang waktunya berkubang berusaha membuat kita bimbang antara hantu atau hanya si Cece sajalah yang beneran gila. Set up sepuluh menit pertama sudah begitu kuat dan efektif sehingga kita sudah otomatis waspada ada pria yang superpinter namun sangat jahat mengincar Cece. Maka kita langsung tersedot berada di posisi antisipasi dramatis menyaksikan semua hal buruk menimpa Cece. Untuk itu, film benar-benar menajamkan aspek horor dengan perantara suara dan mata kita. Karena kita berhadapan dengan sesuatu yang tak-kasat mata. Sound design benar-benar bekerja luar biasa. Ada beberapa jumpscare ditemukan, tapi tidak ada yang terasa murahan, karena antisipasi dan kewaspadaan kita sudah terhimpun kepada satu hal. Belajar dari menonton petualangan Harry Potter; kita tahu bahkan orang yang tak kelihatan itu nyatanya masih bersuara. Jadi setiap kali suasana hening, Cece memandang dengan cemas sekelilingnya, kita ikutan bukan hanya menahan napas, melainkan juga menajamkan telinga. Kita terbawa pengen mendengar keberadaan si Pria Transparan. Kita mencari bunyi nafasnya, kita berusaha menangkap basah bunyi derit lantai yang ia pijak sehingga kita tahu dia ada di mana. Dan ketika ada jumpscare, atau sebaliknya tidak ada apa-apa, kita dengan genuine merasa kaget atau lega.
Selaras dengan hal tersebut; kerja kamera juga bekerja dengan sama efektifnya. Aku gak bisa dengan tepat mendeskripsikan tensi film ini terbangun dengan sangat solid hanya dari memperlihatkan sebuah sofa kepada kita. Tantangan film ini adalah ia harus memajang sesuatu di layar, entah itu sofa, atau pintu, atau sudut ruangan, clearly tidak ada apa-apa di sana tapi harus membangun sugesti ada sesuatu yang mengerikan. Setiap kali film melakukan itu, kita menyipitkan mata, menajamkan pandangan, berharap melihat suatu tanda. Bahkan ketika kamera bergerak mengikuti tokoh yang mencari, mata kita akan ikut jelalatan ke sudut-sudut ruangan. Timing sangat berpengaruh, film ini tahu seberapa lama persisnya mereka harus memperlihatkan suatu kekosongan yang membuat kita waspada. Karena jika merekam terlalu lama, kesan seram itu bisa menguap dan dengan gampang berubah menjadi annoying terutama jika harus terus menerus dilakukan. Perbandingannya bisa seperti begini: kalian nonton video di TikTok dengan caption ‘memancing’ seperti “gak sengaja kerekam” atau “apa ada yang bisa lihat?”, kalian pantengin ampe abis tapi nyatanya gak ada apa-apa, apa yang kalian rasakan setelah nonton? Kesel. Kamera film The Invisible Man ini secara esensi sama seperti demikian, pada akhirnya tidak ada apa-apa, namun kita rasanya semakin penasaran – semakin geram – bahkan tidak perlu narasi/caption bait untuk membuat kita merasa masuk begitu dalam.
Psikologi ceritalah satu-satunya dibutuhkan. Dan unlike those poor TikTok videos, naskah The Invisible Man penuh dengan galian psikologi. Serta jauh lebih unggul dalam menceritakannya. Bagi kita ini bukanlah masalah Cece gila atau tidak. Yang membuat kita peduli adalah melihat Cece – powerless ketimbang Adrian – tersiksa dan berjuang untuk lepas, dan ketika dia berusaha minta tolong kepada orang, dia gak bisa menjelaskan; orang-orang gak percaya (karena begitulah esensi dari ‘tidak-berdaya’) malah ia sendiri yang dianggap gila. Kita begitu peduli karena film membuat kita memainkan skenario kemalangan Cece sekaligus menempatkan diri ke posisi dia yang tengah dibuat menjadi semakin tak berarti lagi oleh keunggulan Adrian. Penampilan akting Elisabeth Moss sangat juara sebagai Cece. Mulai dari ekspresi, ketegangan, hingga ke rupa-fisik; dia tampak pucat, awut-awutan, polos tanpa polesan, semuanya bicara tentang kenihilan daya wanita yang terjerat di genggaman pria. Melawan sesuatu yang tak bisa ia lihat. And it works either way; jiwa dan raga. Tak terbatas pada teriak seperti orang gila, tantangan Moss juga melibatkan ia harus berkelahi dengan udara, dan adegan-adegan itu sama sekali tidak kelihatan konyol bahkan untuk satu detikpun.

Bahkan jika kita belum pernah merasakan hubungan yang abusive, kita masih akan bersimpati kepada Cece lantaran yang ia hadapi sebenarnya adalah seseorang yang membuat dirinya semakin merasa bukan apa-apa. Ini bisa dengan gampang diterjemahkan sebagai persoalan ‘laki-lawan-perempuan’ di mana perempuan dianggap lebih tak berdaya dan akan terus begitu karena si perempuan sendiri tidak bisa melihat permasalahan yang sebenarnya; yakni mereka butuh untuk mengambil kendali. Merebutnya, kalo perlu. Seperti yang diperlukan Cece sebagai resolusi cerita. Wanita itu bisa melihat sepenuhnya sekarang, melihat ‘luka’ yang terus dieksploitasi oleh Adrian. ‘Tidak bisa hidup sendiri’, ‘Tidak bisa besarkan anak sendiri’. Sadis atay mungkin jahat kelihatannya, tapi ending film menyimbolkan kesembuhan dan Cece yang sudah bisa melihat yang harus ia kalahkan.

 

Pesan yang indah dalam film ‘manusia-itu-monster’ yang seram

 
Kejadian di sekuen enam naskah begitu sempurna memberikan peningkatan tensi cerita yang sangat drastis. Namun demikian, kejadiannya mengandung sedikit ketidakkonsistenan. Masuk ke babak tiga, aku merasa level excitement-ku sedikit berkurang karena kejadian-kejadian di sini lebih terasa seperti tuntutan naskah ketimbang progres yang natural. Twist sebagai False Resolution yang dimaksudkan untuk membuat Cece semakin bingung terasa gak nendang kepada kita, karena setiap karakter sudah terlandaskan – akan gak masuk akal jika direveal bukan demikian, misalnya soal bayi – tidak mungkin selain Adrian ada yang peduli Cece melahirkan atau tidak. Selain itu, banyak kejadian yang harus terjadi dan kita diminta untuk menerimanya saja, karena ya memang harus ke situ ceritanya. Misalnya adegan di tempat publik, yang harus terjadi di tempat publik karena harus banyak yang menyaksikan Cece; hanya saja ada aspek yang gak konsisten karena dengan sengaja mengabaikan cctv. Padahal cctv jadi elemen yang penting sepanjang durasi, bahkan ending film ini melibatkan cctv. Namun untuk satu adegan di restoran itu, film ‘melupakan’ cctv sebagai bukti karena plot poin mengharuskan Cece setelah ini dimasukkan ke penahanan. Kalo cctv dibahas, bisa-bisa Cece gak jadi ditahan. Mundur ke belakang, masih ada lagi hal-hal yang diabaikan yang kalo kita pikirkan membuat kita ingin protes “loh mestinya kan bisa…”
Cece sempat balik ke rumah Adrian, naik Uber. Cece menemukan kostum penghilang di lab kerja Adrian. Tapi kemudian si Invisible Man datang, Cece berhasil kabur. Naik Uber yang sama, yang sedari tadi nungguin di gerbang depan. Cece kabur, setelah menyembunyikan kostum itu di lemari. Setidaknya ada dua pertanyaan yang menghantuiku pada sekuen ini. Kenapa si Uber gak dibunuh saja oleh Adrian – bukankah lebih ‘mesra’ mengurung Cece di sarang cinta mereka. Dan bahkan jika gol Adrian adalah supaya Cece terlihat gila nan berbahaya dan lantas ditangkap, bukankah pembunuhan si Uber lebih gampang dan masih bisa dijadikan pemenuh tujuan. I mean, melepas Cece beresiko lebih besar, karena ia harus mengejar lagi, dan berapa kemungkinannya Cece bakal menghubungi kenalan dan ngajak bertemu di tempat umum. Adrian bisa sekonfiden itu dengan rencananya, ya karena memang dibeking oleh tuntutan naskah. Pertanyaan keduaku adalah, kenapa Cece malah kabur dengan meninggalkan bukti penting yang ia temukan – kostum – di dalam rumah, kenapa gak sekalian dibawa kabur. Film sekali lagi tampak memaksakan kejadian, karena di akhir kita paham kostum tersebut harus berada di rumah untuk kejadian ending.
Dan soal bukti, aku akan ngajak mundur lebih jauh lagi membahas saat Cece menemukan hape yang digunakan Adrian memotret Cece tidur; hape ini sengaja ditinggalkan di sana oleh Adrian untuk memberi kejutan kepada Cece. Ini eksesif sekali. Kenapa mesti di loteng? Bayangkan usaha Adrian harus diam-diam angkat tangga, naik ke loteng, naroh hape di sana, turun, balikin tangga ke posisi semula. Resiko dia melakukan hal sebanyak itu di rumah kecil yang berisi tiga orang; sangat besar. Belum lagi kemungkinan Cece dapat/mendengar bunyi hape itu. Kecil. Padahal lebih mudah ia letakkan di kamar saja. Here’s the best part: di hape itu ada foto Cece tidur di kamar anak sahabatnya yang polisi – ini bisa jadi bukti otentik tak terbantahkan bahwa ada yang menguntit dirinya – bukti yang basically diberikan gratis oleh pelaku kepadanya; KENAPA bukan ini yang diambil Cece dan ia serahkan kepada polisi? Tentu, karena nanti filmnya akan berakhir lebih cepat. Atau paling enggak, intensitas dan tensinya menurun drastis.
 
 
 
Mungkin masih terlalu dini, tapi memang sejauh ini, film inilah horor terbaik yang bisa kita nikmati di 2020. Arahan dan aktingnya luar biasa. Secara fungsi, ia meniupkan napas baru dari Dark Universe, malah sebagai reinkarnasi sebab kini jagat sinematik itu hadir tak lagi sebagai dunia yang berhubungan. Film ini membuktikan film monster-monster itu bisa mencapai potensi yang tinggi jika dibuat sebagai cerita yang berdiri sendiri. Ada beberapa hal yang jika dipikirkan membuat film ini terasa maksa di bagian akhir, namun tidak akan mengurangi keasikan menontonnya. Karena paruh awal yang begitu solid. Penggemar Universal Monster akan dapat hiburan ekstra dari referensi penampakan Invisible Man versi klasik yang disematkan di dalam cerita
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE INVISIBLE MAN.

 
 
 
That’s all we have for now.
Kenapa orang susah melepaskan diri dari hubungan yang toxic, mereka bahkan jarang mau melihat dan mengakui hubungannya gak-sehat? Menurut kalian apa yang bakal dilakukan Cecilia dengan kostum menghilang yang ia punya?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

GUNS AKIMBO Review

90% of people will text things that they could never say in person.”
 

 
 
Internet menyediakan kepada kita selimut yang nyaman dalam bersosialiasi. Jika dulu untuk berinteraksi orang harus bertatap muka langsung, melakukan kontak fisik, maka kini orang bisa saling menyapa dengan orang yang berada di belahan bumi yang berbeda dari kursi ataupun dari tempat tidur masing-masing. So yea, selimut yang dimaksud di atas bisa literal, maupun kiasan. Karena dengan jarak tak terbatas, tanpa harus melihat langsung lawan bicara, internet bertindak sebagai tabir dalam komunikasi. Kita bisa berlindung di baliknya, melakukan sesuatu – mengatakan sesuatu tanpa mengkhawatirkan konsekuensi, karena hey, mereka para lawan bicara enggak tahu siapa kita sebenarnya. Gampang merasa tidak ada konsekuensi di internet, ironinya adalah kita merasa bisa lebih ekspresif ketika kita sudah aman bersembunyi.
Makanya di internet kita banyak menemukan orang-orang yang dengan bangga menunjukkan mereka suka keributan. Hal-hal negatif dijadikan konten, baik itu yang nemu langsung di jalan atau share dari media sosial teman, maupun yang sengaja dibuat. Serius deh, jaman sekarang iklan aja mesti bikin kejadian viral orang disuruh pura-pura berantem dulu. Ngetroll di kolom komen jadi hiburan. Berpedas-pedas ngasih komentar dijadikan semacam kompetisi popularitas. Triknya sekarang harus jadi akun shitpost dulu biar banyak follower dan direcognize sama pasar. Orang berpuas jadi sosok kasar, snob, atau yang angkuh di internet. Sengaja ngetik hal-hal yang mancing rusuh dengan berlindung di balik ‘opini’ atau ‘selera’. To make it worse, selalu ada panggung buat troll-troll internet, seperti baru-baru ini twitter ramai oleh akun-akun ‘@txt’ yang memuat kesinisan dari snob-snob yang cari ribut. Tadinya mungkin akun tersebut dibuat untuk menertawakan mereka, akan tetapi dengan meng-share kenegatifan itu, orang-orang jadi melihat mereka sebagai platform buat terkenal, dan justru jadi semakin nafsu mengada-ada tweet yang memancing. Seperti akun-akun itulah, action-comedy garapan Jason Lei Howden ini jatoh pada akhirnya.
Guns Akimbo berpijak pada misi yang mulia. Film ini ingin memperlihatkan kepada kita bahwa internet bukanlah tempat tanpa konsekuensi. Kekerasan yang kau pancing dan keributan yang kau tonton dengan menggelinjang sebagai hasil pancingannya, sama sekali bukan sesuatu yang menyenangkan jika terjadi langsung kepadamu. Tokoh utama film ini adalah Miles, seorang programer game yang menghabiskan harinya berselancar bolak-balik sosial media, menuliskan komen-komen kasar, ngetroll, ngajak ribut orang-orang di internet, acting like hero; putting people in their place. Kemudian suatu kejadian menjadi seperti pelajaran bagi dirinya. Miles sang keyboard warrior, menembakkan kata-kata dari komputernya, kini harus merasakan bagaimana rasanya punya tangan yang bisa menembak peluru beneran yang membunuh lawan bicaranya. Ya, premis film ini sangat unik; seorang pria dengan pistol dipatri ke kedua telapak tangannya.

kencing aja jadi perbuatan berbahaya jika tanganmu adalah pistol.

 
Humor yang timbul dari situasi tersebut cukup fresh, meski memang receh. Miles kesusahan buka pintu. Angkat handphone. Makan. Pakai celana. Dia gak bisa ngapa-ngapain. Berusaha terlalu keras bisa-bisa pelatuk di tangannya kepencet dan zinnngg, seseorang terluka, atau malah dirinya sendiri nanti yang kena. Semenjak jadi ‘the boy who lived’ Daniel Radcliffe seperti mendedikasikan diriya untuk hidup memerankan berbagai variasi karakter. Dia pernah jadi mayat, jadi iblis bertanduk, dan kini dia harus memerankan seorang cupu yang dipaksa untuk berbuat kekerasan sebagaimana ‘kekerasan’ yang biasa ia lakukan dengan sengaja di internet. Daniel bermain sebagai Miles yang tadinya menghibur diri dengan melihat orang ‘terluka’ berubah menjadi hiburan bagi orang-orang yang menonton dirinya mempertaruhkan nyawa.
Yang membuat tangan Miles menjadi seperti itu adalah produser sebuah underground platform di internet. Mereka bikin show yang disebut Skizm. Basically adalah reality show bunuh-bunuhan, peserta yang kebanyakan adalah kriminal disuruh saling membunuh untuk hadiah tertentu, dan segala kejadiannya disiarkan lewat internet ke seluruh dunia. Komen Miles menyinggung Skizm, sehingga mereka memaksa Miles untuk ikut bermain. Lawan Miles adalah seorang cewek pembunuh nomor satu bernama Nix. Sepanjang film kita akan melihat Miles dikejar-kejar oleh Nix yang bermaksud menuntaskan misi terakhirnya ini demi kebebasan. Keadaan semakin pelik bagi Miles, sebab dalam usaha menggebah Miles untuk balik melawan dan mendatangkan viewers berkali-kali lipat, Skizm menculik mantan pacar Miles dan menjadikannya sebagai ‘pemicu motivasi’

Sebagai manusia yang berbudi pekerti, mestinya kita tidak butuh film ini untuk mengingatkan kita dan berhenti menjadi asshole di internet. Stop gagahan mengumbar kesinisan dan trolling, karena kita sendiri tahu persis kita tidak akan sanggup mengatakan ataupun melakukan perbuatan yang kita tulis di internet. Menembakkan kata-kata di keyboard jauh lebih gampang dibandingkan menarik pelatuk pistol yang tertempel di tangan, karena kita tidak punya selimut perlindungan di dunia nyata. Kita tidak punya ekstra, tidak bisa begitu saja mengharapkan kesempatan kedua. Tidak ada gunanya sok-sok berekspresi jika itu bukan diri kita yang sebenarnya.

 
Ada sesuatu yang gak klik dalam pengembangan premis tadi. Kenapa Miles justru dapat pelajaran dari Skizm yang nyari profit dengan ngebroadcast kekerasan. Kenapa Miles disadarkan dengan disuruh untuk melakukan kekerasan beneran. Benarkah ini ironi yang diincar? Kekerasan yang kita gemari gak fun jika dilakukan langsung. Rambo, kata Miles, bakal jadi orang tuli kalo ia hidup di dunia nyata oleh nyaringnya senjata api yang selalu ia tembakkan. Namun pada akhirnya, toh film ini tetap menjelma – memperlihatkan kekerasan itu dengan menyenangkan. Miles akhirnya bisa melakukan kekerasan beneran, dia malah jadi jagoan dan mendapat pujian internet karenanya. Dengan melatarinya pakai musik-musik asik yang dicover ke genre populer kekinian. Dengan sound ala video game seolah yang kita saksikan, membuat yang dialami oleh Miles adalah permainan. Misalnya pada adegan Miles pakai obat asma atau ketika Nix nge-snort bubuk putih, soundnya kayak musik ‘dapet-nyawa’ pada video game.
Malah, film ini tampak berusaha keras supaya jadi seperti sekocak dan seabsurd Scott Pilgrim vs. The World (2010), hanya saja selera humor yang ditampilkan enggak senada, bahkan menghalangi pesan yang ingin disampaikan. Guns Akimbo adalah sajian bertempo cepat diisi sebagian besar oleh perkelahian, tembak-tembakan, muncratan darah, kejar-kejaran. Ketika kita selesai menonton ini, dan disuruh mendeskripsikan, hal yang kita ingat – hal yang kita pikirkan ketika menyebut nilai plus film ini adalah sajian aksi dan violence-nya yang menghibur. Kekonyolan situasi Harry Potter yang berlarian keliling kota bersepatu kaki beruang dan tanpa celana. Justru inilah ironi yang dihasilkan oleh film ini; di satu titik kita akhirnya menjadi penonton show Skizm yang disindir oleh film ini. Dan si film ini, menjadi worst part of Miles dan Skizm itu sendiri, yang mempertontonkan kekerasan demi menjual sensasi.
Yang paling menghibur buatku di film ini adalah melihat Nix. Kalian-kalian yang pernah membanding-bandingkan Samara Weaving dengan Margot Robbie, atau mungkin pernah penasaran seperti apa kalo Samara Weaving yang kepilih jadi Harley Quinn; well, you’d get the answer. Nix beneran kayak Harley Quinn versi lebih sadis dan less-kekanakan. Dan less-drama juga. Aku yang udah cinta ama Weaving sejak Ready or Not kemaren (makanya dapat Most Amazing Lips alias Unyu op the Year di My Dirt Sheet Awards) gak bisa lebih menggelinjang lagi melihat ke-badass-an Nix. Di sini taringnya di-silverin, sehingga pada beberapa shot dia persis vampir. Dia legit kayak maniak, bahkan ketika Miles kerap meloloskan diri darinya, kita tidak merasa ganjil melihat tokoh yang harusnya paling jago membunuh malah kesusahan berurusan dengan nerd. Kita masih melihatnya sebagai terlalu underestimate. Tokoh ini sempat diberikan momen emosional yang manusiawi, dan Weaving kills it too.

Aduh bibirnyaa… seperti kata-kata youtuber Duel Links favorit semua pemain: “Lethal!!”

 
Relasi Miles dengan tak pelak gampang tertebak, tapi bukan itu masalahnya. Melainkan ada elemen dari interaksi mereka yang dipaksakan alias kecil kemungkinan dapat terjadi dalam dunia cerita. Dan membahas ini akan membawa kita ke semacam plothole. Cerita dengan elemen show yang ditonton pengguna internet di seluruh dunia (misalnya pada film Nerve tahun 2016 lalu) sangat rentan berlubang karena film harus menetapkan setiap kegiatan tokoh terbroadcast ke publik, tanpa ketahuan oleh polisi. Guns Akimbo cukup rapi dalam memberi ‘alasan’ soal kenapa polisi gak bisa menangkap mereka padahal acara Skizm disiarkan pake sejumlah drone. Namun masalah sebenarnya ada pada sejumlah drone itu tadi. Jika Skizm punya banyak drone siaran, dan memfokuskan merekam Miles terus-menerus karena dia yang dikejar Nix adalah atraksi utama, kenapa masih ada waktu-waktu Miles bisa bergerak tanpa ketahuan oleh Skizm. Pembangunan dunia film ini terpaksa harus melemah demi memungkinkan berbagai hal, in favor of tokoh utama. Akibatnya jadi menimbulkan pertanyaan yang jawabannya tidak memuaskan. Perihal Skizm dan dalang alias produsernya juga tidak banyak digali selain karena menurut si tokoh kejahatan/pembunuhan adalah seni.
 
 
 
 
Aku bukannya mau menyebut film ini labil, tapi… gagasan yang ia sampaikan bener-bener campur aduk sehingga yang nonton film ini bakal bingung sendiri (ditambah pula oleh kamera yang hobi berguling). Jika ini adalah cerita peringatan untuk troll internet dan orang-orang yang suka-dan-bangga cari ribut, maka sangatlah aneh filmnya justru membuat orang yang bersikap demikian menjadi pemenang. Film tampaknya memang menyukai kekerasan karena ia mempertontonkannya sebagai sajian utama. Seru, cepat, penuh fantasi. Tentu, hal-hal ini bakal mudah mendapat penggemar. Kita bisa duduk nyantai nikmatin aksi komedinya. Tapi itu hanya akan membuat kita berada di level tokoh di dunianya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for GUNS AKIMBO.

 
 
 
That’s all we have for now.
Orang berantem, si kaya ngebully si miskin, sikap intoleran agama, pejabat yang blunder, kenapa kita suka menyebar/membagi hal-hal seperti itu di internet?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT: AYAT 2 Review

“Better the devil you know than the devil you don’t”
 

 
 

Manusia lebih baik daripada iblis. Sejak iblis yang diciptakan dari api terang-terangan menolak memberikan penghormatan kepada manusia yang tercipta dari tanah, iblis diturunkan derajatnya. Dan mereka pun mengamini penurunan tersebut dengan bersumpah untuk terus sekuat tenaga menyesatkan anak manusia sehingga berada di dasar neraka bersama mereka. Alfie dalam Sebelum Iblis Menjemput (2018) menambah skor bagi manusia, dia berhasil mengalahkan iblis. Bersama adik tirinya, wanita ini lolos dari peristiwa maut yang mengubah kehidupan mereka. Dua tahun kemudian, kini di Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2, Alfie masih dihantui bisikan dan bayangan. Dia dan adiknya, Nara, lantas kembali dipaksa terlibat dalam masalah mengerikan yang berakar pada persoalan iblis menjebak manusia untuk melakukan perjanjian terkutuk. Hanya saja kali ini, angka skor tadi tidak lagi menjadi soal.

Karena, demi horor Alfie dan kita semua, keunggulan manusia terhadap iblis ternyata juga bisa berarti manusia yang menghamba pada iblis mampu menjadi iblis yang bahkan jauh lebih iblis daripada iblis itu sendiri.

 

tak ada yang waras di kota ini

 
Sutradara dan penulis naskah Timo Tjahjanto kembali mengajak kita bersenang-senang dengan horor sadis ala Evil Dead. Yakni horor dengan tone yang over-the-top, berisi makhluk-makhluk peranakan teror praktikal dan permainan teknis, dan ditaburi selera humor edan. Penggemar horor akan bersorak melihat adegan ala Alien lahirnya pria dewasa dari dalam tubuh seorang wanita. Reaksi terhadap berbagai trik horor dan jumpscare film ini jelas akan beragam. Misalnya adegan tangan setan yang ngasih jari tengah ke Alfie; ini bisa jadi adegan kocak bagi penonton yang gemar horor-horor ala B-horor 90-an. Dan di sisi lain, bagi beberapa penonton yang lain (sebagian besar sepertinya), adegan itu bakal jadi exactly just what it is; sebuah jari tengah yang diacungkan tepat ke depan muka semua orang yang mengharapkan peningkatan dari film yang pertama.
Filmografinya padahal sudah berbicara. Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2 actually merupakan sekuel pertama bagi Timo. Sebelum ini, dia dikenal dengan cerita-cerita orisinil. Gaya horor sadisnya bisa diaplikasikan ke cerita apapun, dan terbukti cukup menjual, sehingga sekuel Ayat 2 ini terasa dipaksakan dan justru membatasi. Karena cerita Alfie sudah tuntas di akhir film pertama, transformasi karakternya sudah sempurna. Akan lebih baik bagi Timo untuk menjual cerita pada film kedua ini sebagai cerita baru atau murni judul baru saja lantaran menarik Alfie kembali terasa sangat dipaksakan.
Ini semua kelihatan dari babak set up yang sangat lemah begitu mereka mulai memperlihatkan Alfie kepada kita. Ketika prolog dua cewek di rumah, yang ada keren netes terus dimatikan, tapi masih ada bunyi tetesan dan itu adalah bunyi darah yang menitik ke lantai, film terasa sangat menarik. Kita dihadapkan pada misteri baru, orang-orang baru, percakapan mereka did a good job membangun sosok Ayub dan kejadian mengerikan kehidupan mereka lima-belas-tahun lalu. Aku genuinely langsung penasaran. Apa sebenarnya yang menyerang si Gadis. Apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka. Relasi antargrup mereka juga disinyalir punya konflik. Tapi kemudian, kita dibawa menemui Alfie dan satu jumpscare berikutnya, kedua kubu ini  – orang-orang di prolog dan Alfie – berada di bangunan bekas panti. Film menyediakan sedikit sekali alasan logis yang menghubungkan Alfie dengan geng Gadis dan masalah mereka. Hanya sebatas karena Alfie pernah lolos dari iblis, dan sekarang anak-anak muda ini ingin minta tolong padanya karena nyawa mereka sedang diincar oleh sesosok iblis. Alfie seperti dipaksakan masuk; ini ironis karena cara film membuat Alfie ada di sana adalah dengan membuat geng Gadis menyatroni kediaman Alfie dan Nara, lengkap dengan topeng perampok, melumpuhkan Alfie, membawanya paksa – menyekapnya dalam bagasi mobil. Mereka minta tolong dengan literally menculik si calon penolong. Dan setelah teriak-teriak tanpa benar-benar menolak, Alfie mau saja menolong dan membaca mantra yang melepas semua petaka. Set up yang sungguh kentara dipaksakan supaya cepat, dan Alfie bisa ada di sana gitu aja. Padahal dia tidak punya hubungan ataupun masalah personal dengan salah satu dari Gadis dan teman-teman pantinya. Alfie tidak punya motivasi di plot ini. Dia hanya terpaksa karena iblis pervert musuh ‘klien’nya mengincar Nara (antagonisnya aja gak ada konflik-langsung dengan Alfie), dan satu-satunya yang menahan Alfie dan Nara gak cabut dari situ adalah mobil yang mogok.
Sure, masih ada transformasi yang dialami oleh Alfie. Di awal cerita dia adalah tough street-wise lady yang membakar kakak tirinya sendiri dan di akhir dia belajar bahwa dia adalah orang yang tidak punya kendali atas nyawanya sendiri. Dia adalah personifikasi dari manusia lebih baik ketimbang iblis sekaligus lebih buruk. Dihitung dari film pertama, seharusnya dia orang yang double bad-ass…(es?). Namun Alfie dimainkan dengan cara yang ‘lucu’ oleh Chelsea Islan. I mean, ada alasannya kenapa dulu aku memplesetkan namanya jadi Cheesy Island, tapi kemudian dia menunjukkan peningkatan akting yang signifikan. Di Sebelum Iblis Menjemput, Chelsea jelas bukan bahan tertawaan, perannya menggenjot fisik dan emosi, and she was delivered. Di film kedua ini, sayangnya, dia kembali menjadi Cheesy. Akting takutnya lebay. Bicaranya sebagian besar teriak-teriak hampa. Hampir seperti dirinya enggak nyaman dituntut seekspresif itu.
dan dia harus berpose metal untuk mengeluarkan kekuatan barunya

 
Cerita film ini masih akan bisa bekerja tanpa harus ada Alfie di sana. Sekelompok alumni panti yang ditarik kembali oleh iblis masa lalu mereka. Yang udah nonton, coba bayangkan kalo plot Alfie di film ini dijadikan plot si Budi, atau Gadis…. it could still work dan made more sense, kan. Ini adalah soal menggunakan iblis balik mengalahkan iblis; soal menemukan loophole di lingkaran setan. Film menggunakan Stockholm Syndrome lebih dalam dari lapisan luar narasi untuk memparalelkan hubungan manusia dengan iblis. Selain Alfie, sesungguhnya tokoh-tokoh baru yang berkenaan langsung dengan masalah dalam film ini gak ada yang punya karakter yang kuat. Mereka dangkal, dan klise. Si jutek, si misterius, si baik, mereka enggak punya background pribadi. Mereka hanya anak panti. Kenyataannya, mereka ini cuma penambah itungan kemenangan iblis atas manusia – mereka cuma jumlah korban. Bayangkan anak-anak Losers Club ketemu Pennywise, hanya kali ini mereka enggak berjuang — nah, begitulah tokoh-tokoh baru di film ini.
Banyaknya ‘korban’ enggak lantas berarti film ini punya adegan sadis/horor yang menyenangkan. Tidak, jika tokoh-tokoh ini sebagian besar hanya teriak-teriak, entah itu berargumen, atau nyari teman yang hilang (teriak padahal masing-masing pegang hatong), atau ketakutan. Dan lebih tidak lagi, saat adegan sadis/horornya monoton alias itu-itu melulu. Ada banyak sekali adegan setan seram di ujung (lorong/bawahtangga/seberang ruangan) dan kemudian si setan ini maju ke depan, mendekat dengan kecepatan edan sampai muka seramnya mau nabrak kamera. Manusia di film ini kesurupan iblis, dan tampaknya si iblis itu kesurupan Sonic!
 
 
 
 
Berakhir dengan cukup menarik sebenarnya, mungkin mereka mengincar trilogi. Dan jika iya, kita bisa mengharapkan arahan yang sangat berbeda pada film terakhir nanti dilihat dari elemen baru yang ditambahkan film ini sebagai resolusi cerita. Maka itu, aku ingin memberikan saran untuk ngetone-down Alfie sedikit, karena di film ini dia menjadi begitu over-the-top. Kita jadi menertawakan apapun yang ia lakukan. Semakin seram situasinya, semakin ngakak ngeliat Alfie. Mereka juga perlu come up with much better story buat Alfie, yang konfliknya benar-benar personal dan berhubungan langsung secara natural dan gak bersifat kebetulan dengan dirinya. Selain beberapa hiburan, jika dibandingkan dengan film pertamanya, sekuel ini mengalami kemunduran. Ceritanya lemah, horornya kalah seru, karakternya kalah menarik.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for SEBELUM IBLIS MENJEMPUT: AYAT 2

 
 
 
That’s all we have for now.
Menurut kalian apakah setan itu merujuk pada identitas, atau sesuatu yang kita lakukan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

SONIC THE HEDGEHOG Review

“Home is something you run toward”
 

 
 
Lari film live-action dari tokoh video game ikon perusahaan Sega ini memang sempat diperlambat sedikit. Tadinya akan ditayangkan tahun 2019 yang lalu, akan tetapi begitu materi promosi pertama keluar; mereka nampilin penampakan Sonic yang desainnya jauh banget berbeda dari desain karakter yang asli, film lantas dicerca habis-habisan oleh fans. Sutradara baru Jeff Fowler menunjukkan bahwa ia benar-benar peduli dengan proyek yang ia tangani dengan mendesain ulang rupa Sonic menjadi seperti yang sudah kita kenal. Film ini mundur hingga ke 2020, dan berkat tindakan berdedikasi dari studio dan pembuatnya itulah kita mendapat sajian komedi dan aksi dari video game yang bukan sekadar ‘menguangkan nostalgia’ melainkan benar-benar menghibur. Dan dijamin tidak akan ada lagi keluhan dari penggemarnya mengenai karakter si Sonic ini sendiri, meskipun kisahnya sedikit berbeda dengan versi game (namanya juga adaptasi)
Sepanjang sepuluh tahun masa hidupnya, Sonic si landak biru elektrik (beneran bisa nyetrum!) disuruh untuk terus berlari. Supaya enggak kelihatan oleh musuh-musuh yang mengejarnya dari planet asal. Jika ketahuan, Sonic harus melempar cincinnya untuk membuka portal, berteleport kabur ke tempat lain. Kini Sonic bersembunyi di Bumi, di kota kecil bernama Green Hills (sayup-sayup terdengar sorakan nostalgia pemilik konsol Sega). Di tempat inilah Sonic merasa sangat kerasan. Dia merasa akrab dengan para penghuni, meskipun hanya dengan ‘mengintip’ aktivitas mereka setiap hari. Sonic kesepian. Dalam galaunya, Sonic gak sengaja bikin mati lampu seisi kota. Kekuatan listriknya tercium oleh pemerintah, yang mengirim ilmuwan mesin edan, Dr. Robotnik untuk memburu Sonic. Mau gak mau Sonic harus segera meninggalkan ‘rumah’, hanya saja saat jatidirinya ketahuan oleh seorang polisi lokal favoritnya yang bernama Tom, Sonic kehilangan cincin teleportasi yang begitu esensial untuk keselamatannya.

Pelari Film

 
Jika bagi Robotnik yang superpintar semua orang tampak sangat bego, maka bagi Sonic yang ngebut semua orang tampak bergerak lamban. Bahkan nyaris seperti diam di tempat. Film bermain-main dengan aspek kecepatan Sonic. Kita melihat berbagai aplikasi dari kekhususan Sonic dalam berbagai adegan dengan range mulai dari lucu-lucuan kayak adegan kartun – Sonic bisa berlari ke Samudra Pasifik untuk kemudian balik lagi karena menyadari ia gak bisa berenang, dalam beberapa detik – hingga ke adegan berantem yang fun ala Quicksilver di MCU dan X-Men atau ala Dragon Ball ketika Sonic marah dan mengumpulkan kekuatan listrik dari bulu-bulu landaknya yang tajam. Ada pembelajaran yang dilalui oleh Sonic, seperti dalam game yang setiap levelnya membuka ability/kemampuan baru untuk kita pelajari demi eksplorasi lebih luas dan mengalahkan musuh yang lebih tangguh. Film berusaha keras menempatkan Sonic yang supercepat ke dalam situasi yang membuatnya tidak bisa begitu saja menjadikan kecepatan sebagai jawaban.
Aku gak begitu gandrung main game Sonic. Terutama karena waktu kecil aku gak punya Sega; I’m more of a Nintendo and PlayStation boy, jadi aku jarang memainkan gamenya. Aku lebih mengenal Sonic lewat serial kartunnya yang dulu sempat tayang di televisi. Dan bahkan dengan sebegitu saja, film ini berhasil membawaku mengarungi euforia nostalgia. Banyak sekali referensi-referensi yang ditabur ke dalam film ini. Semuanya dilakukan dengan seksama, sepenuh hati, misalnya momen sepatu Sonic. Timingnya juga diperhatikan, seperti penggunaan sound-sound di game pada momen cerita yang pas. Film ini membuat detil kecil itu berarti. Sonic sendiri juga lucu sekali. Sifatnya bisa dijadikan teladan bagi anak-anak yang nonton, sedangkan sikapnya yang polos-tapi-cerewet membuatnya jadi seperti sahabat impian bagi anak-anak. Ben Schwartz menghidupkan karakter ini dengan kehangatan natural khas tokoh pahlawan anak. Makanya nonton filmnya jadi lebih menyenangkan meskipun Sonic harus berbagi porsi dengan tokoh manusia. Tokoh Robotnik alias Eggman yang terkenal nyentrik dan ‘bermulut ringan’ sudah paling pas dimainkan oleh the one and onlyJim Carrey. Tentu, tokoh ini ia mainkan dengan over-the-top; Carrey actually melakukan banyak improvisasi gerakan dan perkataan, karena begitulah penjahat dalam film kartun. Sonic the Hedgehog tidak berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Inilah yang membuatnya mencuat. Lebih menyenangkan ketimbang Pokemon Detective Pikachu (2019)yang entah apa sebabnya memilih menggunakan tokoh utama yang gak suka Pokemon… honestly, sampe sekarang aku masih heran sama film itu.
Mengadaptasi semesta kartun, Hollywood punya kebiasaan ‘memaksakan’ ada tokoh manusia, supaya penonton bisa lebih mudah relate. Seringnya adalah tokoh manusia itu tetap kalah menarik karena toh kita menonton bukan untuk melihat mereka, kan sebenarnya. Kita pengen menyaksikan Sonic, atau Pikachu, atau Smurf, hidup. Dalam film ini, tokoh manusia yang dimaksud adalah si polisi Tom yang diperankan karismatik oleh James Marsden. Walaupun aksi dan cerita tetap berpusat pada Sonic, film berhasil membuat Tom tetap menarik. Hal ini tercapai berkat penulisan tokohnya yang punya motivasi yang berkonflik pandangan Sonic. Konfliknya ini beda jenis dengan konflik Sonic dengan Robotnik; yang lebih in-the-face, berfungsi sebagai ancaman yang bikin anak kecil greget menontonnya. Konflik Sonic dengan Tom bersifat lebih emosional, ia berperan dalam pembangunan karakter; aspek yang lebih diapresiasi oleh penonton yang lebih dewasa. Sonic mendambakan kehidupan menetap, punya rumah, gak harus pindah, meskipun practically ia bisa ke mana saja asal ia mau, dia lebih memilih untuk tinggal di Green Hills sebab dia yang selama ini menonton kehidupan di sana sudah merasa begitu terattach dan menjadi bagian dari kota. Sedangkan Tom, polisi muda di kota kecil yang kehidupannya biasa-biasa saja, sudah sangat siap pindah ke tempat yang lebih menantang di mana ia bisa menjadi penyelamat beneran. Dua pandangan ini bertemu dalam mobil yang menuju San Fransisco, mereka berdebat, dan akhirnya menjadi teman baik karena masing-masing pendapat saling mengisi satu sama lain.

Dalam game Sonic, level disebut dengan istilah Zone. Dalam film Sonic, ‘Zone’ inilah yang persoalan Sonic. Zone as in safe zone, atau mungkin comfort zone. Sekilas, gagasan film terdengar aneh. Tom seperti mewakili perjuangan keluar dari comfort zone, sudah jadi rahasia umum untuk sukses kita harus berani keluar dari zona nyaman. Sonic seperti menentang ini, Sonic seperti menyugestikan untuk berkubang di zona nyaman.  Tapi sebenarnya bukan itu masalahnya, film lebih bicara soal zona aman. Yakni rumah. Ketenangan domestik. Sonic, Tom, dan kita semua semestinya tetap terus berlari demi mencari rumah. Keluar dari zona nyaman kalo perlu demi mencari ini. Tempat, di mana pun itu, yang berisi orang-orang yang kita sayangi.

 

saking cepatnya, Sonic bisa main baseball, jadi dua tim, menghidupkan banyak karakter sendirian

 
Secara plot, however, malah justru si Sonic yang perubahannya lebih sedikit ketimbang Tom. Polisi ini berubah jadi gak ingin pindah karena dia menyadari yang ia butuhkan. Sedangkan Sonic di akhir cerita memang mendapatkan yang ia inginkan, ia menyadari tak perlu pindah planet. sembari tetap butuh berlari mencapai yang ia inginkan tadi. Film belum benar-benar melingkar ketika membahas plot Sonic. Penyebabnya adalah karena kita hanya melihat Sonic pindah satu kali. Dia tidak lagi dikejar-kejar musuh aslinya selain pada adegan awal. Ini membuat Sonic tidak punya rutinitas yang bakal berubah di akhir cerita, karena yang kita lihat adalah Sonic di Bumi, harus pindah, lalu resolusi adalah dia diterima di Bumi — tidak ada breaking rutinitas (dari nyaman di Bumi kembali ke Bumi) seperti pada formula naskah biasanya.
Dan bukan sekali itu saja – tidak lagi membahas pengejar di awal – film melupakan hal yang mereka angkat. Babak satu berakhir pada poin yang cukup menegangkan bagi kedua karakter. Sonic diburu Robotnik, dan Tom; masuk berita dan dianggap sebagai teroris yang menghalangi pemerintah. Aspek Tom sebagai teroris ini tidak dapat follow-up lagi pada naskah, kita tidak melihat dia kesusahan masuk ke mana-mana, dia tidak kelihatan seperti orang yang dicari oleh negara. Pengejar mereka tetap satu, Robotnik. Tentu, ada dalih bahwa pemerintah juga sebenarnya tidak suka dengan Robotnik – mereka bisa bisa saja tidak percaya dan cap teroris itu disiarkan langsung oleh Robotnik sendiri – tapi dengan ditonton oleh orang banyak di televisi, seharusnya ada reaksi yang lebih genuine dari plot poin ini. Namun alih-alih itu, babak kedua film dihadirkan dengan cheesy, penuh selipan tren dan budaya-pop, bahkan untuk film yang esensialnya adalah kartun minggu pagi. Kita malah melihat mereka bersenang-senang di bar, menuhin bucket list Sonic yang ingin melakukan hal-hal normal dengan cara edan. Pada beberapa momen film menjadi bahkan kelewat cheesy, yakni saat mereka menggunakan iklan sponsor seperti restoran Olive Garden sebagai punchline.
 
 
 
Meskipun begitu, ada banyak cara yang lebih buruk dalam mengisi hari bersama si kecil, atau menghibur masa kecilmu; nonton film anjing yang anjingnya CGI misalnya. Setidaknya film ini lebih berdedikasi dan menghormati tokoh Sonic itu sendiri. Ceritanya menutup dengan teaser sekuel yang menggugah. Aksi dan interaksi antartokohnya menyenangkan. Beberapa cheesy karena film ini memang berada di jalur kartunnya. Punya bejibun referensi terhadap game, dan budaya pop masa kini sebagai penyeimbangnya. Jadilah film ini sangat menghibur, meski dengan naskah yang belum maksimal.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for SONIC THE HEDGEHOG

 
 
 
That’s all we have for now.
Desain Sonic sempat diganti karena netijen protes. Bagaimana kalian memandang fenomena ini? Baikkah jika penonton punya kontrol besar terhadap suatu karya? Haruskah pembuat film mendengar protes bahkan sebelum filmnya jadi? Atau apakah semua ini hanya taktik jualan sedari awal?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

TOKO BARANG MANTAN Review

“Your value doesn’t decrease based on someone’s inability to see your worth”
 

 
 
‘Buanglah mantan pada tempatnya’ memang bagi sebagian besar orang lebih mudah untuk dikatakan daripada dilakukan. Pertama karena kenangan yang mengingatkan kita pernah bahagia tentu saja sangat berharga. Dan kedua karena kita tidak tahu pastinya di mana tempat membuang mantan. Untuk itulah Toko Barang Mantan hadir. Tristan membuatnya sebagai tempat yang menyalurkan barang-barang dari mantan, untuk dijual kembali – lengkap beserta sejarahnya. Sehingga proses move on jadi lancar dan ya, kenangan itu kini bisa benar-benar berharga.

Tapi berkebalikan dengan itu, film Toko Barang Mantan garapan Viva Westi ini sendirinya justru hadir sebagai pengingat bahwa move on itu susah, seringkali itu adalah salah kita sendiri, dan jika kita menyadarinya dan mau berubah maka bukan tidak mungkin cinta lama itu akan beneran bersemi kembali.

 
Fokus dari drama komedi romantis ini adalah perasaan Tristan terhadap mantan nomer wahidnya, Laras. Wahid di sini bukan dalam artian urutan melainkan ‘yang paling nomor satu di hati. Selama ini, Tristan masih belum move on dari pacar masa kuliahnya ini. Alasan mereka putus, seingat Tristan, adalah karena cowok gondrong ini belum lulus-lulus kuliah. Tristan lebih mementingkan toko. Dan kini, Laras muncul di depan pintu toko yang Tristan kelola bersama dua pekerja yang sudah menjadi seperti teman baiknya. Laras bermaksud memberikan undangan pernikahan. Pertemuan singkat mereka berlanjut heboh, sebab Tristan dan Laras konek kembali. Di tengah-tengah bisnis toko yang semakin sepi, Tristan melewati lagi masa-masa indah di sebelah Laras, dan ultimately berkonfrontasi ulang soal pilihan hidup dan ekspresi cinta – hal yang membuat mereka berantem sedari dulu.

Halo, ada komedi? / Silakan cek toko sebelah

 
Konsep toko yang menjual barang-barang pemberian bekas pacar sebenarnya cukup menarik. Ia juga sangat mudah relate ke orang-orang karena memang gak semudah itu mencampakkan sesuatu yang punya kenangan sekaligus bikin nyelekit jika masih terus diingat. Aku di dompet masih nyimpen undangan premier yang dikasih mantan sebagai hadiah ulangtaun kok, padahal udah tujuh-delapan tahunan yang lalu. Meskipun bendanya sepele, sejarahnya yang terasa berharga. Atau kadang ada juga sebaliknya. Yang rasanya mubazir aja membuang barang yang sebenarnya masih bagus, kayak kalo kebetulan mantannya nyebelin tapi tajir dan dibeliin perhiasan; masa mau ditaro di tempat sampah gitu aja. Cerita-cerita para ‘klien’ toko barang mantan menjelaskan sejarah barang yang mau ia jual, meskipun seringkali digambarkan sebagai sket komedi kelas-B, tapi tetap terasa menghibur karena mengingatkan kita bahwa cinta memang konyol-konyol manis seperti demikian. Aku suka ketika cerita berkutat pada si toko ini, sayangnya film enggak benar-benar memikirkan konsep tersebut dengan seksama.
Toko ini dijadikan stake dan merupakan perlambangan langsung dari kondisi mental Tristan. Malah ada dialog yang terang menyebut Tristan ingin membuktikan dia punya masa depan, oleh karena itu toko ini harus berhasil dibuatnya laku. Karena toko adalah mata pencaharian Tristan yang udah gak disokong oleh keluarga – sejak berhenti skripsi, dan ayahnya nikah lagi dengan wanita yang nyaris seusia dengannya, Tristan perang dingin dengan sang ayah. Kita gak bisa peduli lebih dalam karena toko ini sudah seperti bakal ditakdirkan gagal sedari awal. Sekilas memang tampak menguntungkan. Tristan bebas menentukan harga sementara para ‘klien’ hanya peduli menyingkirkan barang mereka. Klien ini tidak mendapat bagi hasil, Tristan juga tidak membayar mereka atas barang yang diserahkan untuk dijual. Toko barang dari mantan menarik buat yang mau menjual, tapi buat yang beli? Siapa yang mau membeli barang kenangan orang lain? Toko barang mantan secara esensi ‘hanyalah’ toko barang bekas yang diberi gimmick sejarah-manis – apa yang ia jual sebenarnya?Bagaimana Tristan bisa membuat profit dari kenangan suatu barang? Okelah kalo barang-barangnya berupa cincin, action figure, atau aksesori mahal. Tapi di film ini kita juga melihat ada yang menjual sobekan karcis bioskop.
Ada bagian ketika Tristan yang kepepet mencoba menjual barang-barang secara online. Untuk mendongkrak penjualan, dia mengarang sejarah benda yang ia jual. Melebih-lebihkan sehingga tidak sesuai dengan sejarah asli. Taktik ini berhasil. Namun lantas dipandang rendah oleh teman, Laras, dan bahkan oleh si klien pemilik barang tadi. Tristan dianggap tidak jujur. Film membuat hal ini sebuah ‘big deal’ karena diparalelkan dengan usaha-salah yang kerap dipilih oleh Tristan. Bahwa sejarah mantan tidak boleh diubah karena sangat personal. Padahal sebenarnya ini sama sekali bukan masalah. Film tidak berhasil menetapkan kenapa si klien masih ngestalk barang yang sudah ia ‘buang’, toh ia tidak mendapat keuntungan atau apapun dari toko. Jadi, masalah pada toko sama sekali tidak terasa berbahaya, Tristan tidak benar-benar dalam masalah keuangan karena ia tidak ngeluarin sepeser pun untuk dapetin barang; persoalan bayar sewa juga gak jadi soal dengan ia punya banyak properti mahal dan bahkan konflik dengan orangtuanya bukan benar-benar konflik yang menekan.
If anything, film ingin menunjukkan bahwa move on itu memang sulit. Orang yang masih kepoin barang mantan yang sudah ia buang, masih peduli sama caption karangan yang ditulis Tristan, memberi informasi kepada kita bahwa orang tersebut masih memikirkan mantan. Semua orang di film ini sebenarnya sama seperti Tristan, masih sayang mantan, masih belum mau ngaku, tapi sekaligus juga lebih baik daripada dirinya karena, misalnya pada dua teman di toko, kisah Tristan dan Laras mereka jadikan sebagai cautionary tale.

Tristan dan tokonya mengajarkan kepada kita bahwa harga kenangan bersama mantan itu masih tinggi. Namun juga harga tersebut berbeda bagi setiap orang. Sesuatu yang kita anggap berharga, akan mempunyai nilai berbeda bagi orang lain. Toko itu not worked karena tidak ada seorang pun yang berhak menilai kenangan milik orang lain. Begitu juga dengan usaha terhadapnya. Nilai kita dan kenangan kita enggak akan berkurang hanya karena orang tidak menghargainya sebesar kita. 

 

Rumah mewah mana yang meja makannya kelihatan dari luar pagar?

 
Kekuatan film ini terutama terletak pada dua pemain sentral. Reza Rahadian dan Marsha Timothy; two lovers yang tidak bisa bersatu karena mereka menilai hal dengan harga yang berbeda. Penampilan mereka, interaksi dan chemistry, bagaikan oase di tengah canggungnya delivery dan komedi dari para pemain pendukung. Film berusaha menghidupkan dunia cerita dengan tokoh-tokoh pendukung yang colorful dan dialog yang sewajarnya dialog milenial kita masa kini. But no one hits notes like Reza or Marsha does. Akan tetapi, dengan tidak bermaksud mengecilkan penampilan mereka, sebagian besar konflik antara kedua yang digambarkan dengan dialog ribut teriak-teriak bukan hiburan bagi semua orang. Certainly not mine. Banyak aspek dari Tristan yang bisa kurelasikan secara personal kepada diriku, tapi aku tetap susah peduli sama karakternya, karena dia sering melakukan tindakan yang impulsif semata karena bucin pada Laras. Kepada Laras pun empati susah hadir karena tokohnya memang segampang itu pergi-datang, memancing sesuatu untuk kemudian tidak bertindak seperti yang ia sebutkan. Misalnya, Laras menyebut cintanya tak bersyarat, tapi dia toh mengharuskan Tristan untuk mengatakan cinta meski perbuatan Tristan sudah mewakili itu semua. Dikatakan dia meminta kepastian, tapi sikapnya malah menunjukkan kalo dianya aja yang memang ‘buta’, lah orang-orang di sekitar mereka lihat kok.
Standar sekali memperlihatkan argumen lewat orang yang meledak-ledak. Lucu aja ‘cerita cinta dewasa’ digambarkan sebagai kisah yang konfliknya harus dibuat eskplosif dengan orang beragumen adu teriak – dan mereka ini bahkan bukan suami istri. Orang yang suka nonton kebakaran mungkin bakal enjoy aja. Tapi yang sebenarnya enak diikuti itu adalah dinamika dua orang. Dinamika Tristan dan Laras jadi gak enak karena adegan mereka cenderung berakhir repetitif. Bagian paling parah di film ini justru adalah endingnya. Ketika semuanya sudah terlihat oke, semua sudah move on ke hidup masing-masing, setelah mereka dapat melihat kesalahan dan mengubah diri, film lalu meniadakan semua itu dengan membuat adegan bersatunya cinta. Ini benar-benar terlihat maksa. Tidak tampak seperti akhir yang natural, melainkan seperti akhir versi korporat yang mengharuskan film harus berakhir dengan pacaran karena lebih menjual.

 
 
Seperti barang-barang di toko mantan yang dijual dengan penurunan nilai, di bawah nilai asli karena barang bekas dan jauh dari nilai kenangan, film ini sendiripun mengalami penurunan mutu karena pilihan ending yang seperti meniadakan perjalanan move on. Melainkan malah merayakan kebucinan yang akhirnya terbukti akan tetap bersatu. Konsep tokonya menarik, namun mestinya bisa diolah dengan lebih baik sehingga dapat hadir sebagai simbol yang lebih natural, yang membuat stake dan cerita menjadi lebih menggigit.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for TOKO BARANG MANTAN

 
 
 
That’s all we have for now.
Apa kalian punya barang dari mantan yang masih disimpan? Kenapa masih disimpan? Ada sejarahnya enggak?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

BRAHMS: THE BOY II Review

“Traumatic experience early in life marks a person forever”
 

 
 
Mengalami langsung atau menyaksikan seseorang yang dicintai mengalami peristiwa menyakitkan secara fisik maupun emosional dapat mendatangkan trauma kepada siapa saja. Dan setiap kita bakal mengembangkan mekanisme yang berbeda-beda sebagai pertahanan atau perjuangan mengatasi trauma tersebut. Dalam Brahms: The Boy II kita melihat ibu dan anak laki-lakinya diserang di kediaman mereka sendiri oleh perampok. Sang ibu dipukul telak di kepalanya hingga tak sadarkan diri saat berusaha melawan. Si anak menyaksikan itu semua. Ketakutan. Tak berdaya.
Kemudian kita mengenal mereka berdua sebagai penyintas. Namun tidak tanpa ‘luka’ yang mendalam. Liza (Katie Holmes memimpin cerita dengan teror jasmani dan rohani pada dirinya) menjadi takut keluar rumah dan kerap dihantui mimpi/halusinasi diserang oleh rampok bertopeng ski. Anaknya, Jude (Christopher Convery diharuskan bermain dengan ekspresi terselubung sebagai bumbu misteri) jauh lebih ‘parah’. Anak ini completely shut himself down. Jude tidak lagi berbicara, ia berkomunikasi lewat tulisan dan gambar pada buku kosong yang selalu ia bawa. Liza dan Jude dibawa oleh ayah ke rumah terpencil, yang ternyata adalah bagian dari rumah cerita The Boy pertama (2016). Jude menemukan boneka antik yang terkubur di pekarangan (alias hutan di halaman belakang). Jude dan boneka yang bernama Brahms itu seketika menjadi teman. Liza dan suaminya pada awalnya senang-senang saja, Brahms disangka bisa menjadi langkah kesembuhan Jude. Namun ketika hal aneh mulai terjadi, Liza mulai gak yakin. Apakah Jude terlalu memproyeksikan dirinya kepada Brahms; menjadikan boneka tanpa ekspresi itu kambing hitam atas perbuatannya, atau memang Brahms beneran jahat dan mengendalikan semua tingkah Jude, termasuk membuat rencana membunuh semua orang.

Idih udah gede masih main boneka

 
The Boy pertama memberikan kita pengalaman horor yang unik. Bagian terbaik dari film itu adalah momen-momen tokoh utama yang dibayar untuk mengasuh boneka mulai merasa boneka tersebut hidup. Bunyi-bunyian, barang-barang yang berpindah tempat. Film bahkan tidak memperlihatkan boneka Brahms itu bergerak supaya kita juga penasaran dan merasakan ketakutan dan keraguan tokoh utama. Aku jauh lebih suka bagian awal film itu dibandingkan bagian akhirnya saat Brahms yang asli diungkap masih hidup dan tinggal di balik tembok rumah, bertahun-tahun sembunyi di sana. Tindakannyalah yang membuat seolah boneka tadi bergerak. Ya, jauh sebelum Parasite (2019) memang sudah banyak thriller ataupun horor yang menggunakan trope ‘orang-di-dalam-dinding’, karena berkat pengungkapan ini The Boy menjadi berkurang originalitasnya meskipun masih tetap Pengungkapan film ini, meskipun tidak original, tetap memberikan kejutan dan menjungkirbalikkan seluruh tone cerita.
Sekuelnya ini, persis seperti demikian. Kerja paling baiknya sesungguhnya adalah jika semua kejadian dibiarkan tetap sebagai teror dari kondisi psikologis. Baik itu dari Liza yang masih trauma sama ‘benda asing’ yang masuk ke rumah mereka sehingga dia melihat Brahms sebagai ancaman, ataupun memang tekanan trauma mengubah Jude; menimbulkan tanda-tanda perbuatan kekerasan sebagai channel keluar dan dia berlindung di balik bonekanya. Ada dua keadaan psikologis yang mencerminkan trauma yang bekerja berbeda pada dua orang tokoh. Film harusnya mengeksplorasi ini sebagai fokus karena membuat cerita lebih menarik dan intens. Aku duduk nonton ini setengah memohon bahwa gerak-gerak Brahms itu cuma ada di dalam kepala Liza, bahwa suara-suara yang didengar Jude cuma suara di kepalanya sebagai akibat dari trauma. Aku suka ide dan konsep The Boy adalah horor dengan boneka sebagai pusat semesta tanpa si boneka benar-benar melakukan apa-apa; bahwa sebenarnya ini adalah cerita trauma manusia.

Pengalaman traumatis akan mengubah kita selamanya jika terjadi pada usia muda. Karena pada usia tersebut, khususnya pada anak-anak, mental dan otak dan personality masih dalam tahap perkembangan. Efek trauma akan membekas sampai dewasa. Dalam film ini kita melihat Jude yang tadinya ceria dan gemar ngeprank menjadi sebisu boneka. Jude lama kelamaan menjadi seperti mirip Brahms, eventually seperti menyatu dengan Brahms. Di situlah horor sebenarnya. Wajar bagi anak yang sudah mengalami hal yang dialami Jude berubah menjadi punya tendensi pembunuh. Mereka perlu konseling dan penanganan secepatnya. Seserius mungkin.

 
Hanya saja tidak seperti film pertama yang masih memberikan kita momen-momen ambigu dan seolah membagi dua genre cerita dengan pengungkapan tadi, Brahms: The Boy II ini sedari awal sudah berniat untuk benar-benar menjadikan boneka Brahms sebagai makhluk supernatural. And this is why the movie sucks. Dia tidak lagi unik. Film ini hadir sebagai cerita boneka hantu standar, dengan trope anak kecil creepy yang berteman dengannya, dan orangtua yang gak percaya hingga semuanya sudah terlambat. Biasa banget. Cerita buku Goosebumps aja banyak yang kayak gini, bonekanya bisa diganti apapun yang bisa dirasuki makhluk halus. Akibatnya, Brahms malah jadi tak-ada ubahnya dengan Annabelle versi cowok. Boneka yang dimasuki roh. Dan hey, sudah ada Chucky sebelumnya, terlebih Chucky lebih ekspresif dan actually do something dengan segala kesadisan, jokes, dan kevulgaran (aku di sini bicara Chucky original bukan remake). Brahms hanya duduk di sana, gerak kepala dikit; gerakan kecil ini tak lagi berarti karena film sudah menetapkan dia beneran bisa ‘hidup’.

Aku menunggu Brahms menghardik Liza “fuck off, bitch!” tapi kemudian aku sadar ini bukan film Chucky.

 
Segala trauma tadi tak lagi jadi soal karena sekarang kita hanya menunggu si boneka melakukan aksi. Permasalahan kejiwaan Jude dan Liza tak lagi menggigit karena konfliknya sudah beralih ke misteri sosok Brahms. Malahan, Jude dibikin gak bicara hanya tampak sebagai alasan supaya film ini bisa punya tokoh yang berkomunikasi lewat tulisan – hanya sebagai gimmick untuk horornya. Gimmick yang juga tak benar-benar unik. Film ini juga mengulangi satu kesalahan di film pertama, yakni menggunakan banyak adegan mimpi. Adegan mimpi di sini justru menjadi semakin menjengkelkan karena kalo memang si Brahmsnya udah ditetapkan sebagai hantu, kenapa gak langsung saja si Liza ditakutin beneran. Kenapa film di bagian ini film masih berpura-pura Brahmsnya gak beneran hidup. You know what, jawabannya mungkin adalah kuota jumpscare. Horor sekarang di mata produser dan pembuat kayaknya bagai sayur tanpa garam jika tidak dibumbui dengan banyak jumpscare. Setiap horor harus ada jumpscare, betapapun maksa, fake, dan pointless-nya. Bahkan mungkin bagi mereka semakin pointless, semakin bagus, kayak di adegan mimpi. Film Brahms ini ada banyak jumpscare mulai dari hantu, mimpi, halusinasi, hewan, hingga prank bocah.
 
 
Build up dan gambar bagus dan set menawan itu jadi mubazir karena film tidak lagi unik dan horornya hanya bergantung jumpscare. Film ini mengacuhkan filmnya yang pertama, completely salah mengenali apa-apa yang dinikmati penonton. Keunikan boneka biasa yang dianggap berhantulah yang membuat cerita film itu menarik. Namun kali ini semua itu dibuang begitu saja. Film menjelma menjadi horor boneka-hantu standar, yang tak punya jati diri, selain kayak tiruan dari gabungan Annabelle dan Chucky alias Child’s Play. Yang paling aku ngakak adalah sekuen Liza membaca artikel-artikel tentang Brahms di internet, dan kita melihat foto-foto hitam putih Brahms ada dari zaman dulu dan kelihatan gambarnya kayak tempelan yang kasar ke foto tersebut haha.. Tapi hey, mungkin memang inilah yang disasar oleh pembuatnya. Mungkin The Boy memang hanya dijadikan tiruan, boneka mainan – so to speak, dari trope horor yang sudah ada; trope horor orang di balik dinding, dan di film ini ya trope boneka hantu.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for BRAHMS: THE BOY II

 
 
 
That’s all we have for now.
Apa kalian punya pengalaman menakutkan tentang boneka? Aku yakin itu bakalan lebih seram daripada film ini
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

KAJENG KLIWON Review

“This is the chance of a lifetime”
 

 
 
Tumben hari gini ada film horor yang mengangkat kisah dan budaya di luar mitos jawa. Skena klenik Indonesia sebenarnya memang sangat beragam, dan Bali merupakan salah satu yang aura mistisnya paling menggoda, bahkan hingga ke mancanegara. Kajeng Kliwon garapan Bambang Drias mengangkat kebudayaan Bali sebagai panggung kisah horor yang dijalin dengan permasalahan dua insan manusia. Kita akan mendengar musik khas, melihat ritual budaya, tarian, dan tentu saja penampakan makhluk gaib yang sangat lokal, sekaligus – hopefully – terhanyut dalam konflik cinta dan kecemburuan yang menjadi denyut emosi ceritanya.
Pernikahan bukan hanya menyatukan dua pribadi. Melainkan melibatkan asimilasi dua pendapat, dua pola pikir, dua kebiasaan, dan ya dua kebudayaan. Bu Dokter Agni (Amanda Manoppo memainkan tokoh yang menyebalkan) yang asli Bali sudah akan menikah dengan pacarnya seorang fotografer asal Jakarta. Mereka kini sedang dalam perundingan mengorganisir acara pernikahan. Dan guess what? Mereka gak kompak. Agni pengen A, Nicho calonnya bilang lebih baik B. Perselisihan kecil tak dapat dihindari. Sementara Agni berusaha memikirkan kembali apa sesungguhnya kesempatan satu kali seumur hidup yang harus ia usahakan, rumah sakit tempatnya bekerja ‘kedatangan’ mayat wanita dengan kepala tertebas secara misterius. Malam itu, tepat malam Kajeng Kliwon yang dipercaya malam ngecengnya para Leak, Agni bertemu dengan Rangda. Ratu dari segala Leak yang menjadi penanda ilmu hitam itu tampak mengincar dirinya. Perlahan Agni mengetahui bahwa misteri mayat dan teror Rangda berhubungan erat dengan acara pernikahannya yang terancam batal.

wajah cowok Agni pas denger dia memesan gaun pesta seharga dua-puluh-lima juta; priceless

 
Kajeng Kliwon sesungguhnya punya potensi untuk menjadi horor yang mumpuni. Ceritanya punya lapisan yang cukup untuk menjadikan misterinya menarik. Penggalian mitos Bali memberikan hal segar untuk kita simak. Meskipun istilah Kajeng Kliwon yang dijadikan judul sebenarnya enggak banyak dibahas; hanya ada satu-dua adegan yang menyebut ini dan cerita pun ternyata tidak hanya terjadi pada satu malam itu, tetapi penampakan Rangda dan penjelasan tentang ilmu hitam yang turun temurun membawa aroma kekhasan tersendiri. Setelah Mangkujiwo (2020) dan banyak lagi film-film yang mengandung unsur ritual atau santet dan semacamnya, Kajeng Kliwon hadir sebagai, katakanlah masih dalam spesies yang sama namun dalam varian warna yang berbeda.
Yang paling menarik dari film ini adalah motivasi tokoh jahat alias dalang semua kemalangan yang menimpa Agni. Bukan se’hitam’ balas dendam, atau ingin menguasai suatu pusaka, atau keinginan jahat yang biasa. Motivasi tokoh ini juga punya kedalaman yang berpotensi menjadi menantang – memantik diskusi – karena cukup kontroversial, sebenarnya. Kajeng Kliwon membahas seputar ilmu Leak, ilmu hitam yang diwariskan baik itu secara turun temurun lewat warisan darah atau pengajaran ala guru-murid. Tokoh jahat cerita ini adalah seorang yang memelihara ilmu tersebut sejak dahulu. Bertahun-tahun lamanya, dirinya berumur panjang karena ilmu ini. Dan dia punya kewajiban untuk menjaga ilmu tersebut dari kepunahan. Ikut menjaga warisan turun temurun. Di atas masalah pilihan personal, tokoh ini gak suka Agni menikah dengan Nicho terutama adalah karena dia gak mau ke-Bali-an di dalam diri Agni terkotorkan oleh muasal Nicho – apalagi karena Agni adalah salah satu figur kunci dalam pewarisan ilmu Leak. Jika digali dengan lebih serius dan penulisan yang lebih kompeten, antagonis dalam film ini akan menjadi lebih dari sekadar tokoh twist belaka sebab ia punya motivasi yang benar-benar challenging. Tumben-tumbenan tokoh di film horor Indonesia lowkey menarik kayak gini.

Yang mengandung bulir-bulir gagasan bahwa tidak semua aspek budaya harus dipertahankan, bahwa terkadang budaya turun temurun butuh penyesuaian karena simply sudah kuno atau tidak membawa nilai positif sama sekali.

 
Kata ‘tumben’ kutemukan dalam film ini awalnya sebagai bahan cemoohan. Gak sampai sepuluh menit cerita dimulai, kita dikasih dialog yang awalannya kata tumben semua. “Tumben, pagi ini kamu cantik”. “Tumben datangnya siang”. “Tumben datang ke sini” Aku ngakak, karena bahkan tumben bukan istilah dari Bali. Tapi ternyata menjadi menarik karena pengulangan ini menjadi tema yang diejakan secara terselubung kepada kita, meskipun mungkin bahkan filmnya sendiri enggak menyadari. Karena motivasi Agni secara keseluruhan adalah pengen nikah yang, katakanlah, mewah, sebab baginya pernikahan adalah ‘kesempatan yang datang satu sekali seumur hidup’. That’s the key sentence. Kalimat tersebut juga diulang-ulang oleh Agni, dan juga disebutkan oleh tantenya saat memberi pembelajaran kepadanya. Agni berjuang untuk satu momen gak-biasa, satu jendela-waktu luar biasa untuk mendapatkan atau melakukan sesuatu yang berharga, satu ‘ketumbenan’ yang hakiki. Jika malam kajeng kliwon adalah momen spesial yang dinanti oleh para Leak, maka bagi Agni momen itu adalah pernikahan. Dan semangatnya ini berlawanan dengan tokoh antagonis yang memegang prinsip keabadian; “a whole lifetime” alih-alih “once in a lifetime”

Ini adalah soal menikmati sesuatu yang bisa jadi hanya akan mampir satu kali dalam hidup kita. Yang harus dipikirkan adalah apa yang kita lakukan ketika kesempatan tersebut datang. Film ini mencontohkan pernikahan mewah – ini adalah momen yang ingin di-capitalize, disakralkan, oleh Agni. Akan tetapi pernikahan itu sendirinya tidak akan berlangsung seumur hidup jika Agni tidak bersama orang yang tepat. She should celebrate the person instead; cinta itulah kesempatan sekali seumur hidup yang harusnya ia perjuangkan. Film menunjukkan kepada kita untuk benar-benar mengenali mana hal yang merupakan kesempatan yang sebenarnya harus diperjuangkan. Karena, ya itu tadi, hidup cuma satu kali.

 
Ada sesuatu di antara konflik Agni dengan antagonis yang tidak kusebutkan namanya demi alasan spoiler. Pembelajaran Agni akan tercermin di akhir cerita dari perubahan perlakuannya kepada Nicho. Jika elemen cerita ini serius ditangani, dikerjakan dengan lebih kompeten, atau naskahnya melewati perbaikan dan pendalaman lagi, Kajeng Kliwon tak pelak bisa menjadi salah satu horor lokal berbobot yang pernah ditayangkan oleh bioskop Indonesia. Sayangnya, secara teknis film ini masih sangat hijau — kalo gak mau dibilang lemah. Durasinya terlalu singkat untuk dapat mengakomodir kedalaman yang diperlukan. Arahannya masih sebatas mengejakan perasaan. Naskahnya? Well, inilah bagian yang paling kurang performanya dari keseluruhan film Kajeng Kliwon.

dialognya ‘go ahead’ pas adegan melihat mayat buntung; film ini punya selera humor

 
 
Dialog dalam film ini standar sestandar-standarnya. Percakapan mereka jarang sekali mengandung development. Hanya sejumlah percakapan sehari-hari, argumen, dan eksposisi. Dan bahkan itu semua tidak benar-benar dipikirkan dengan matang. Misalnya ada kalimat yang merujuk kepada perubahan wujud yang bisa dilakukan oleh Rangda; si tokoh menyebut “anjing, kucing, manusia jawa, manusia bali, bule”. Pengelompokan dalam kalimat itu sangat aneh karena seolah manusia jawa dan manusia bali itu dua spesies yang berbeda seperti anjing dan kucing. It’s just not right of a group. Jangan pula dibayangkan argumentasi Agni dan Nicho seperti argumen pasangan di film Marriage Story yang dapat nominasi Oscar. Agni dan Nicho hanya ngotot vs. nolak dengan lembut, kita tidak pernah tergerak untuk mendukung salah satu dari mereka. Sebagian besar karena yang satu jatohnya annoying (mungkin karena namanya berarti api maka dia membakar kesabaran kita) dan satu laginya culun. Mereka ‘damai’ dan ribut ya sesuka naskahnya aja, gak ada build up yang natural. Film cukup memasang lagu pop patah hati untuk membuat penonton merasa harus ikut bersedih.
Poin-poin plot terasa sama ‘maksa’nya dengan Agni. Ada bagian ketika Nicho ketemu di tengah jalan dengan mantan kekasihnya, dan di akhir pertemuan itu mendadak saja si mantan menjadi begitu obsesif dan dia menyusun rencana ke orang pinter segala macam untuk menjauhkan Nicho dengan Agni. Si mantan ini sukses menjadi tokoh paling gak jelas karena tindakan yang ia maksud untuk menggagalkan pernikahan adalah … bukan ritual bukan santet.. melainkan langsung mencekek leher Agni setiap kali mereka bertemu! Dan tidak ada konsekuensi, dia tidak ditangkap, Agni tidak mengusut pencekekan lebih lanjut. Ketika Agni membunuh seseorang pun, film melangkahi persoalan itu begitu saja. Bicara soal teman dari masa lalu, Agni juga punya satu yakni Wijaya si pemilik cafe, yang kelihatan ingin mencampuri urusan pernikahan Agni. Menurutku, film juga mubazir dalam menangani Wijaya. Seharusnya biar efisien, dia saja yang menjadi wedding organizer yang selalu dijumpai Agni, dengan begitu Wijaya bisa masuk akal bisa terus tau masalah Agni.
 
 
Karena penggarapannya yang terasa di bawah standar, terutama di bagian penulisan, film ini gagal mencapai level – bahkan setengah dari level – yang seharusnya bisa ia capai. Tulisanku di atas benar-benar sebuah long reach karena saat menonton film semua hal tersebut tidak akan menonjol. Persoalan ‘tumben’ tadi, akan lebih terasa sebagai sebuah kekonyolan karena film tidak kelihatan menaruh banyak perhatian pada kesubtilan berkat dialognya yang begitu basic dan in-the-face. Bahkan Agni sebagai dokter saja tidak pernah tampil meyakinkan, dia hanya berteriak dan mondar-mandir meriksa pasien dengan stetoskop. Padahal jika adegan epilog (yang timeline-nya pada narasi juga gak jelas kapan) dijadikan sebagai pembuka oleh film, maka kita paling enggak akan dapat bukti si Agni beneran bisa nyembuhin orang – you know, that she can do her job as a doctor. Hantu Rangda yang original itupun pada akhirnya harus mereceh berkat penggunaan efek sub-par di bagian konfrontasi final. Film seharusnya bisa jauh lebih baik jika menggunakan kostum dan menghindari efek-efek komputer yang jelas-jelas enggak sesuai dengan kantong dan kemampuan mereka. Darahnya aja keliatan banget palsu. They should invest more ke hal yang paling penting dalam sebuah film; naskah.
The Palace of Wisdom gives 2 gold stars out of 10 for KAJENG KLIWON

 
 
 
That’s all we have for now.
Di dunia nyata beneran ada gak sih orang-orang yang keturunan Leak kayak Agni di film?
Bagaimana pendapat kalian tentang budaya-budaya kuno yang gak sesuai lagi dengan keadaan zaman? Apakah kalian setuju dengan antagonis film ini?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.