THE BATMAN Review

“Vengeance is not the point; change is.”

 

Perdebatan ‘superhero dark atau harus colorful’ antarkubu fans bakal makin sengit dengan tayangnya film Batman terbaru ini. Pasalnya, si Batman itu sendiri memang sudah punya begitu banyak versi, mulai dari yang ringan, yang extremely comical, yang aneh, hingga yang ‘so serious‘. Jadi Batman benar-benar cocok mewakili perdebatan tersebut. Salah satu penyebab kenapa Batman jadi salah satu tokoh pahlawan super paling populer dan ikonik sehingga terus dibuatkan cerita ini adalah karena dia easily salah satu yang paling grounded. Dia gak punya kekuatan super. ‘Cuma’ punya jubah hitam dan alat-alat mahal. Makanya Batman ini fleksibel, bisa dibuat either way. Dan bagus atau enggaknya memang tergantung dari bagaimana pembuat meracik itu semua. Nah, The Batman garapan Matt Reeves ternyata berhasil nyetak begitu banyak skor dengan hadir sebagai kisah yang superkelam, dengan tetap memegang kuat ruh sebagai epik kesuperheroan. Film ini udah kayak cerita detektif dengan misteri kasus yang rumit, dengan penekanan yang kuat kepada sisi personal sang karakter, tapi di saat bersamaan juga menunjukkan perjuangan dalam menyelamatkan kota dan banyak orang. Jadi dengan kata lain, The Batman ini sukses hadir dengan memberikan warnanya tersendiri.

Jika dalam menjadi superhero itu kita anggap sama seperti pertumbuhan orang menjadi dewasa, maka film ini bisa dibilang adalah cerita coming-of-age Bruce Wayne sebagai seorang pahlawan. Diceritakan, dia baru dua tahun jadi Batman. Dia masih dalam proses ‘mencari jati diri’, pahlawan seperti apa dia untuk Gotham. Opening film ini bahkan dimulai dari Bruce yang menarasikan diarinya. Bruce percaya dia adalah pahlawan vengeance. Setiap malam, begitu sinyal lampu menyala, dia keluar. Menakuti para kriminal di jalanan dengan auranya. Dan menjatuhkan pukulan-pukulan balas dendam itu kepada mereka semua. Bagi Bruce, setiap kriminal di kota adalah orang yang telah membunuh orangtuanya. Bruce jadi pahlawan atas dasar ini; balas dendam demi meneruskan legacy kebaikan orangtuanya. Batman memang jadi ditakuti, oleh kriminal dan juga oleh orang-orang yang ia tolong. Polisi-polisi pun gak respek sama dia. Kecuali Gordon, yang membawanya ikut memecahkan kasus dan jadi kayak partner bagi Batman. Ketika mereka berhadapan dengan rangkaian kasus pembunuhan orang-orang penting di Gotham, eksistensi superhero Batman ditantang. Puzzle demi puzzle dari Riddler yang ia pecahkan membawanya pada rahasia kelam menyangkut kota, hingga warisan sebenarnya dari orangtuanya.

batman1d9b29573ce687ddd08151eb85c91af2ce5c563-16x9-x0y250w7684h4322
Teka-Teki Tikus

 

Kita gak bisa misahin Batman dari Gotham, karena kota tersebut akan selalu jadi bagian dari karakter Batman. Pak sutradara benar-benar mengerti akan hal ini. Maka kota Gotham tersebut juga ia hidupkan sebagai karakter. Bukan hanya lewat tampilan dan sudut-sudut pengambilan kamera – yang mana dilakukan dengan menakjubkan, seram rasanya berada di malam hari di tengah kota Gotham modern yang kelam dan sering hujan, tapi juga jadi bagian penting di dalam narasi. Rangkaian kasus yang ditangain Batman dirancang untuk membawa karakter ini menyelam ke dalam jaring-jaring politik gelap yang praktisnya menggerakkan kota Gotham. Dari mafia seperti Penguin (aku masih gak percaya kalo itu adalah Colin Farrel!!) hingga ke wali kota, dari klub rahasia hingga ke kantor polisi, korupsi itu udah kayak turun temurun di Gotham. Inilah yang bikin The Batman terasa begitu immersive. Dunianya benar-benar hidup. Kita merasakan setiap karakter yang tampil punya kepentingan berada di sana. Bukan sekadar seperti kepingan puzzle. Batman gak akan ngumpulin mereka di ruangan, dan memaparkan jawaban teka-teki dan menunjuk ke satu orang ‘kaulah pelakunya!’ Penjahat film ini bicara tentang membuka kedok kota, dan misteri pembunuhan dalam film ini sendirinya adalah ‘kedok’ untuk banyak lagi lapisan yang menyusun narasi film ini.

Enggak sekalipun aku merasa film ini kayak produk-yang-lain dari suatu jagat universe. The Batman terasa seperti cerita sendiri, bukan hanya di franchise Batman, tapi juga di cinematic universe keseluruhan. Inilah kekuatan sutradara yang gak kutemukan dalam film-film superhero modern yang kebanyakan kayak template. Tentu ada sejumlah callbacks ke film-film Batman terdahulu yang bisa ditemukan oleh superfans, tapi di film ini setiap aksi, setiap shot, terasa spesial dan ekslusif untuk cerita ini. Reeves benar-benar mengarahkan semuanya dengan visi. Dengan teramat sangat dramatis, pula. Dia bisa menguatkan kesan kelam dan brutal walaupun harus bergulat dengan rating 13+, yang berarti dia berhasil menggunakan ‘restriksi’ tersebut untuk keuntungan penceritaannya. Selalu ada cara efektif yang ia temukan untuk menyamarkan aksi-aksi sadis. Fokus blur, permainan kamera, atau bahkan membiarkannya terjadi off-screen (hampir semua adegan pembunuhan sadis oleh Riddler dilakukan di luar kamera), film menyerahkannya kepada imajinasi penonton. Dan memang lebih efektif dilakukan seperti begitu.

Off-screen bukan berarti film ini takut dan luput merekam emosi. Misalnya saat Batman kalap nonjokin wajah penjahat. Hasil gebukannya memang gak diliatin, tapi ‘prosesnya’ direkam dengan steady. Kamera diam aja memperlihatkan emosinya si Batman. Beberapa aksi berantem yang lebih fluid pun juga dilakukan tanpa goyang berlebihan. Batman dengan Catwoman (Zoe Kravitz level coolnessnya tinggi yaw), misalnya, aku justru lebih ngerasain ‘tensi’ di antara mereka saat lagi berantem ketimbang ngobrol. Adegan aksi paling dahsyat yang dipunya film ini adalah saat kejar-kejaran mobil bersama Penguin. Reeves juga sukses bikin Batmobile jadi kayak karakter sendiri – seperti makhluk buas yang mengintai dari balik kegelapan dan menerkam. Dan di akhir balap maut itu ada shot yang sangat keren dan memorable dari sudut pandang si Penguin. Ngomong-ngomong soal itu, film ini memang beberapa kali menggunakan pov shot dari berbagai karakter. Yang semuanya selalu berhasil menguatkan perspektif, karena didukung dengan visual maupun suara. Napas berdegup si Riddler, reaksi paniknya Penguin, ataupun hanya bunyi-bunyi derap kaki Batman dari dalam kegelapan pekat yang dilihat oleh kriminal yang ketakutan. Momen-momen itu menghiasi film sehingga mustahil ngantuk dan bosen menyaksikannya walau durasi memang panjang dan melelahkan.

Perspektif merupakan kata kunci di sini. Pandangan Batman mengenai memberantas kejahatan dibenturkan dengan pandangan maniak si Riddler terhadap keadilan jadi pusat yang menggerakkan cerita. Dan yah, tibalah saatnya menilai penampilan Robert Pattinson sebagai Batman dan Bruce Wayne. Kayaknya cuma dia yang meranin Batman dan Bruce sebagai orang yang sama – I mean, gak kayak Batman-Batman lain yang selalu ada beda sedikit dengan versi Bruce mereka. Maksudku di sini bukan Rob bermain jelek, kesamaan tersebut memang jadi konteks karakter Batman/Bruce yang ia perankan. Karena di titik ini Bruce gak pedulikan soal menyamarkan diri. Bruce di film ini justru pengen dirinya itu Batman ‘selamanya’. Dia lebih nyaman menjadi Bruce yang mengenakan topeng, dia merasa kuat dan lebih pegang kendali. Di film ini memang porsi Robert lebih banyak bermain sebagai Batman. Sedikit sekali saat dia jadi Bruce, dan di momen-momen sebagai Bruce, karakternya lebih banyak diam. Hanya menatap orang-orang. Malah ada satu adegan yang memperlihatkan Bruce dengan riasan mata yang luntur abis pake topeng, sehingga dia kayak sedih dan kuyu banget. Ekspresi Rob lebih kuat saat Bruce menjadi Batman. Segala mannerism – cara dia berjalan, dia memandang, hingga pandangan matanya berkata lebih banyak tentang Bruce sebagai Batman itu kepada kita.

batmandownload
Batman Rob punya sparkle… not in literal way

 

Revenge is an act of passion. Makanya aksi balas dendam bukanlah inti dari perjuangan kita menuntut keadilan. Harusnya inti dari perjuangan tersebut adalah perubahan apa yang kita timbulkan. Balas dendam gak akan mengubah banyak hal. Inilah yang harus dipelajari oleh Batman, yang masih terus galau dan dihantui keinginan membalaskan dendam orangtuanya kepada kriminal-kriminal di kota.

 

Aku benar-benar suka ama grounded film ini membuat ceritanya jadi semacam kasus misteri. Batman udah jadi kayak detektif, like he should be in the first place. Dia menggunakan kecerdasan, dan juga teamwork. Entah itu dengan Alfred, dengan Catwoman, ataupun dengan Gordon. Riddler yang over-the-topnya udah kuat merekat berkat penampilan Jim Carrey, di film ini juga jadi sangat grounded diperankan oleh Paul Dano. Riddler di sini jadi seperti serial killer yang mungkin bisa terjadi di dunia nyata kita. Seru aja ngeliat adegan-adegan memecahkan petunjuk dan teka-teki, meski Batman yang pintar itu agak jarang ngajak-ngajak. Dia sekali lihat bisa langsung tahu jawabannya. Tapi at least, dia ngeshare jawaban dan alasan kenapa itu jawabannya kepada kita. Dan mostly, teka-teki si Riddler adalah permainan kata yang lucu. Seperti soal ‘thumbnail drive’ ataupun ketika dia nanya ‘kalo seorang pembohong meninggal, dia ngapain?’ Jawabannya bikin aku ketawa, karena ‘He lie still’ berarti dua; dia tetap berbohong atau dia diam tak-bergerak. Lucu-lucu kecil seperti demikian jadi sangat diapresiasi karena The Batman ini memang gak pake dialog-dialog one-liner konyol. Satu lagi yang bikin cekikik ringan adalah Penguin yang karena tangan dan kakinya diikat, jadi berjalan kayak burung penguin beneran hihihi

Untuk mengembalikan fitrah film ini sebagai superhero (dan bukan film detektif) – juga karena pada titik itu karakter Batman yang semakin galau belum mendapat pembelajaran – maka setelah sekuen false resolution, Reeves menuliskan konflik menyelamatkan kota dari bencana besar ke dalam naskahnya. Batman harus menyelamatkan banyak penduduk, menyetop final wave of bad guy, untuk membuktikan dia bukan pribadi yang sama dengan dia di awal cerita. Bahwa pandangannya sudah sedikit berubah, dan bagaimana pengaruh perubahan tersebut kepada masyarakat; kepada kota. The Batman sah saja dikeluhkan kepanjangan, namun film ini masih tetap memperhatikan penulisan. Pembabakan dilakukan dengan clear di akhir. Dan perlu aku tekankan, sedikit lebih clear dibandingkan saat awal-awal babak kedua. Masalah yang tersisa adalah soal si Riddler yang rencananya semakin tidak grounded dan terlihat enggak lagi sesuai dengan bagaimana dia memperlakukan rencananya di awal.

 

 

Superhero detektif yang personal, sekaligus penuh aksi-aksi seru, dengan banyak karakter dan penampilan akting yang asik di baliknya. Kegelapan di sini bukan lagi soal cara bercerita, melainkan jadi karakter tersendiri. Kekuatan film ini memang pada karakter tersebut. Mampu menghidupkan lewat perspektif maupun visual. Bahkan suara. Aku gak memperhatikan musik, tapi desain suara film ini yang memang gak banyak dialog melainkan lebih detail menghidupkan suasana lewat suara, sungguhlah bikin kita terbawa suasana. Teka-tekinya fun. Jembatan antara cerita detektif dengan cerita superheronya memang kurang mulus, tapi banyaknya pencapaian storytelling dan teknis lain yang bisa dinikmati could easily outweighed kekurangan kecil itu. Aku yakin the only way film ini flop adalah kalo orang-orang pengen banget ngeliat Robert Pattinson memenuhi janjinya dan main film xxx.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE BATMAN.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana film superhero yang ideal menurutmu?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

[Reader’s Neatpick] – THE WHITE TIGER (2021) Review

“Yang jelas setelah nonton film ini aku jadi ngerasa lebih bersyukur aja tinggal di Indonesia 😆” – Farrah Caprina, yang boleh disapa di akun instagramnya; @farrahcaprina

Sutradara: Ramin Bahrani
Penulis Naskah: Ramin Bahrani
Durasi: 2jam 5menit

 

Bukan, ini bukan film tentang bangsa kucing di dunia satwa. The White Tiger ini adalah film India. Tapi bukan pula film India yang banyak tari-tariannya.  Sama seperti pada novel karangan Aravind Adiga yang jadi sumber adaptasinya, The White Tiger adalah sebuah komedi gelap tentang pemuda bernama Balram. Yang sukses jadi enterpreneur, meskipun berasal dari kasta terendah. “Kasta orang-orang berperut kecil”, ungkap Balram muram dalam salah satu dialog narasi. Balram sedari kecil memang cukup pintar, tetapi seperti abang, ayah, dan anggota keluarganya yang lain, pendidikan bukan untuk Balram. Tempatnya justru di pinggiran. Bekerja kasar. Kesempatan besar pertama untuk mencicipi sedikit gaya hidup orang-orang berperut besar bagi Balram, adalah dengan menjadi supir bagi mereka yang berprivilese tersebut. Dengan gigih Balram mengusahakan keinginan tersebut; dia belajar mengemudi, dia memohon dan berjanji kepada neneknya untuk dimodali. Dan ya, Balram berhasil dipercaya menjadi supir untuk Ashok, anak orang-gede pemimpin (pemalak) desa mereka. Dari Ashok, Balram memperoleh banyak. (Mind you, Balram mengambil. Bukan diberi). Pengalaman, pengetahuan, dan bahkan sesuatu yang jauh lebih gelap – yang ultimately jadi kunci kesuksesan Balram. Pemuda yang pada akhirnya memenuhi ‘takdirnya’ sebagai Harimau Putih; spesies langka yang menerobos keluar dari kandang ayam!

 

“Cerita film ini menarik banget, banyak hal tentang India yang baru aku tau lewat film ini. Tapi, sejujurnya nonton film ini tuh, aku draining banget. Makanya waktu mau ikutan ngulas film ini sama mas Arya, aku kan akhirnya nonton lagi. Dan pas nonton untuk kedua kalinya, ya makin draining karena aku makin mendalami karakter Balram jadinya. Kalau dilihat dari impactnya ceritanya ke aku, film ini mirip kayak Dementor-nya Harry Potter 😆

“Hahaha udah bukan jadi harimau putih lagi ya, tapi jadi dementor. Memang sih, kelamnya cerita film ini memang datang dari keironisan kesuksesan si Balram. Pemuda yang berjuang mendobrak kasta yang udah mendarah daging, yang udah dibeat-downkan kepadanya, dengan cara yang – katakanlah – tidak terpuji. Kita ingin dia berhasil, namun satu-satunya cara keluar baginya itu justru cara yang mengerikan. Film ini really speaks soal kebobrokan semua sistem; kasta, kapitalisme, status sosial yang ada di India. Keironisan ini mungkin yang bikin film ini tu kayak nyedot semua bahagia kita”

“Aku melihat film ini gabungan antara Joker dengan Parasite, ya. Permasalahan ekonominya lebih seperti Parasite, tapi perspektif penceritaannya seperti Joker.”

“Kalo Joker, nontonnya aku gak se-wow ini, sih. Soalnya kan, sedari awal aja kita udah Joker itu jahat. Oh ini film tentang musuh Batman yang sinting. Jadi saat nonton, rasanya ya cuma ‘oh dulunya dia baik’. Beda efeknya dengan pas nonton The White Tiger ini. Balram tidak diubah oleh society, justru dia yang pengen mengubah. Tapi jalan satu-satunya untuk mencapai ‘India Baru’ yang ia percaya, jalan satu-satunya dia untuk bisa sukses, ternyata dengan melakukan hal terburuk.  Buatku ada permainan simpati yang lebih menohok dilakukan oleh film ini.”

“Aku melihat karakter Balram cukup arogan sebenernya. Dari cara dia bercerita kepada PM Cina, awalnya aku iba sekaligus prihatin, dan sangat berpihak kepada Balram. Mulai di pertengahan film, aku melihat sosoknya berubah jadi licik. Simpatiku ke Balram hanya sampai dia berusaha mengejar impiannya menjadi supir pribadi Ashok aja. Setelah dia mulai menyingkirkan supir pertama, menurutku dia udah dikuasai sama ambisinya. Jelas semua tindakan liciknya tidak pantas diberikan pembenaran, karena menurutku kehidupan Balram nggak 100% sedih & underpressure terus. Dia masih banyak mendapatkan kebaikan dari lingkungannya (seperti nenek yang mengizinkan dia mengejar impian menjadi supir tuan tanah, atau majikan yang memperlakukan dia selayaknya manusia), dan aku yakin dia masih bisa kok mendapatkan those ‘lightness’ dengan cara yang benar. “

“See, Balram ini lebih kompleks. Dia membunuh. Dia bahkan ngorbanin keluarga besarnya. Dan film membuat itu semua seperti terjustifikasi, dengan menempatkannya sebagai sudut pandang Balram. Penceritaan film ini dibangun dengan konsep Balram menceritakan ulang kisah hidupnya (lewat surat) kepada Perdana Menteri Cina yang bakal berkunjung ke India. Memperlihatkan ini sebagai narasi tubuh cerita, di awal itu langsung terlandaskan motivasi si Balram bercerita itu sebagai ambisinya, dan dari cara dia mengungkapkan kita merasakan ada kemarahan terhadap segalanya”

“Menurutku motivasi Balram menulis surat ke PM China, ya hanya memenuhi egonya aja. Penceritaan film dengan cara seperti ini menurutku cukup efektif, tetapi memang ada beberapa adegan yang menurutku blurry. Karena aku enggak melihat sudut pandang orang lain, selain Balram himself. Tidak ada momen khusus yang membuatku kesulitan untuk membedakan ini kejadian beneran atau nggak, tapi menurutku lebih ke sikap beberapa karakter yang diceritakan Balram aja. Apakah memang benar-benar setega itu. Atau memang hanya di fikirannya aja.”

“Nah, bener, menurutku di sinilah sedikit kelemahan dari konsep penceritaan film ini. Mereka mempersembahkan masalah yang ingin disinggung – yang mungkin benar terjadi, ketimpangan, ketidakmanusiawian orang kaya atau majikan, dan sebagainya itu, tapi memuatnya ke dalam perspektif karakter yang juga dibuild up nekat melakukan apapun untuk membebaskan dirinya dari ‘kandang ayam’. Ke perspektif karakter yang sedang menarik perhatian ‘orang kaya berikutnya’ lewat surat. Jadi buatku ada sedikit masalah narator yang unreliable di film ini. Sehingga apa yang dilakukannya pun, jadi dipertanyakan”

“Entah. Menurutku tidak ada yang dapat dibenarkan dalam membunuh seseorang, nggak peduli seburuk apa perlakuan orang tersebut. Walaupun aku nggak membenarkan juga sikap majikan-majikan di India yang memperlakukan pelayannya dengan tidak manusiawi. Menurutku hubungan antara pembantu dengan majikan baiknya ya saling menghormati satu sama lain, dan nggak membedakan, tapi tetap ada batasan yg dijelaskan di awal. Jadi hak dan kewajibannya jelas. Karena sesungguhnya pembantu dan majikan ini menurutku sama aja kayak karyawan dan atasan dalam perkantoran, hanya beda penempatan aja, satu dalam gedung, satu dalam rumah.”

“Lucu sih bagaimana film menilik Balram lewat hubungannya dengan majikan-majikannya. Ada yang kasar, tapi ada juga yang simpatik. Kayak Ashok dan Pinky, yang berjiwa Amerika. Awal-awal pas ngeliat Ashok pertama kali kan, film ini ngasih treatment yang kayak seseorang melihat orang yang didamba banget. Balram ngeliat Ashok itu pakek slow-motion segala. Hubungan mereka juga up-and-down kayak sahabat akrab, kan.”

“Pinky FTW!!!! Aku bisa ngerasain banget keinginan dia buat memperbaiki sistem kasta di India. Padahal menurutku di sini yang salah bukan sistem kastanya, tapi memang individualnya, dan segala permasalahan ekonomi yang sudah menahun. Seperti Balram, dia sudah diberikan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke Delhi, despite kastanya adalah kasta rendah, tetapi, karena faktor ekonomi, Balram dipaksa untuk berhenti bersekolah dan bekerja. Makanya adegan saat Pinky menyuruh Balram untuk berhenti bekerja dan mengejar pendidikan terlebih dahulu, dan juga menyuruh Balram untuk berkeluarga (in a good way of course, bedakan tentang neneknya Balram yg menjodohkan dia dengan paksa). Aku jadi makin cinta sama karakter Pinky ini setelah itu. Yang mana juga adegan favorite ku, karena kayak flashback aja waktu awal cerita pas Balram kecil masih rajin belajar, paling pinter satu kelas, & dijanjikan beasiswa ke Delhi. Di adegan ini, Balram pun sudah berada di Delhi, tapi sebagai pelayan. Cuma saat disuruh kejar pendidikan oleh Pinky, dia malah menolak. Berbeda banget, padahal masih orang yg sama🥲”

“Pinky dan Ashok memang sepertinya diniatkan oleh film ini sebagai usaha yang futile. Karena yang rusak itu memang sistemnya. Sudah tidak tertolong, tanpa hal ekstrim. Apalagi oleh orang luar semacam Pinky dan Ashok. Mereka ini tu kayak keluarga kaya di film Parasite. Mereka enggak jahat, tapi mereka juga gak tau keadaan sebenarnya semacam apa di bawah, atau terms film ini; di darkness sana. Mereka ‘hanya’ orang berprivileged yang lebih sopan. Dan lebih terbuka. They do have to realized that they can’t really help.”

“Iya, aku sempet berharap banyak sama Pinky, tapi sayang dia pun gak kuat menghadapi segala problematika di India. Walau terkesan agak SJW, tapi gak bisa dipungkirin Pinky ini karakter yang paling manusiawi disini (bahkan lebih manusiawi daripada nenek kandung Balram sendiri menurutku) Dan Pinky sedikit banyak menularkan ‘hal baik’ ini ke Ashok. Menurutku keberadaan Pinky dan Ashok difilm ini menganalogikan bahwa tidak mudah mengubah sesuatu yang sudah berlangsung sekian lama, bahkan di akhir cerita saat Pinky memutuskan menyerah dan meninggalkan India, sifat Ashok malah berubah menjadi seperti majikan India yg lain.”

“Kalo si Pinky tau apa yang terjadi pada Balram dan Ashok. Kira-kira gimana ya reaksinya? Si Balram kan sudah ngikutin nasihatnya untuk berani mengejar kehidupan sendiri. Tapi Balram melakukan itu dengan… ahahaha pait!”

“Pertama kali, pasti Pinky nangis, dan memaki Balram. Tapi setelah Balram menjelaskan apa yg dilakukan Ashok & Keluarga ke dia, menurutku Pinky open minded enough untuk memaklumi apa yang Balram lakukan. Ditambah sekarang Balram udah sukses dan memperlakukan karyawannya dengan baik (tidak seperti Ashok & keluarga). Cuma mungkin ke depannya Pinky gak akan menjaga silaturahmi ke Balram, dan gamau berurusan sama dia lagi.”

“Akhirnya, si Balram jadi majikan untuk banyak sopir-sopir India kelas bawah yang ia pekerjakan di bisnis travel. Ending ini sekilas kayak bermuatan optimis. Balram berhasil membuat hidup lebih baik, berhasil memajukan India menurut dirinya. Tapi, dengan segala yang ia lakukan, dengan reaksi PM Cina yang juga biasa aja padanya, buatku cukup susah untuk menempatkan Balram ke kata berhasil. Lagipula, shot akhir ini agak ngeri juga sih, pakek liatin para supir menatap kamera. Seolah ngingetin kita bahwa mereka itu hanyalah ‘Balram-Balram’ lain yang menunggu untuk terjadi. For better and worse.”

“Semakin ngeri :’) Aku melihat pesan Balram di akhir cerita terlalu brutal, kayak, its ok to kill your masters & not feeling guilty after all. Wow.”

“Dan bagaimana dengan Indonesia? Dalam bisnis dan dunia global, Balram percaya masa depan adalah milik India dan Cina, sementara Amerika hanya akan sibuk dengan sosial media. Indonesia kok gak dianggep sih? Gimana nih si Balram, kayak gak tau aja kita bersaing ketat ama India dalam penanganan Corona Terburuk hahaha”

“Indonesia mungkin masih akan sibuk dengan perbedaan pendapatnya😆 Tetapi on the other hand, at least mindset orang-orang Indonesia lebih sedikit terbuka daripada orang India, dan kesempatan untuk menjadi sukses di Indonesia ini banyak banget, karena masyarakat Indonesia setidaknya sudah lebih akrab dengan internet dibanding masyarakat India.”

“Di sini kita juga ada sistem kasta loh. Pejabat dulu. Baru Influencer. Baru orang edan, lalu ilmuwan, dan setelah bertingkat-tingkat, baru deh rakyat jelata hahahaha… Anyway, Mbak Farrah ngasih nilai berapa nih untuk film The White Tiger ini?”

“Mungkin 6. Karena pertama kali aku nonton film ini, kayak terlalu banyak narasi, baru bener-bener seru hanya di 30 menit terakhir film, dan entah kenapa endingnya kurang bagus menurutku.”

“Cukup setuju sih. I do think film ini kelamaan di ngeliatin ‘penderitaan’ Balram dan back-and-forth hubungannya dengan Ashok. Banyak adegan-adegan yang feelnya ngena banget – favoritku pas si Balram dipermainkan emosinya sebagai manusia supaya mau tandatangan untuk sesuatu yang tidak ia lakukan, tapi banyak juga adegan yang bikin ‘ini beneran terjadi atau cuma Balram lagi ngasih tau kita’. Dan kesuksesan Balram dibuat juga terlalu cepat. Kayak, terlalu literal dia sukses dengan membunuh. Gitu. Jadi aku ngasih 7 dari 10 bintang emas untuk The WHITE TIGER!”

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat mbak Farrah Caprina udah berpartisipasi untuk mengulas film ini. Udah rela meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan seabreg. Dan tentunya terima kasih yang telah ‘memaksa’ aku untuk akhirnya mau menonton film ini.

 

Buat para Pembaca yang punya film yang ingin dibicarakan, yang ingin direview bareng – entah itu film terfavoritnya atau malah film yang paling tak disenangi – silahkan sampaikan saja di komen. Usulan film yang masuk nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE VIGIL Review

“Guilt can hold you back from growing”

 

Dalam agama Yahudi ada suatu praktek atau ritual kematian yang disebut dengan Shemira. Ketika seseorang meninggal dunia, mayatnya harus dijaga pada malam hari oleh keluarga ataupun orang terkasih si mendiang, hingga dimakamkan pada esok pagi. Jika tidak ada keluarga atau sanak terdekat, maka bisa digantikan oleh orang lain yang (berani!) disewa untuk duduk bersama mayat tersebut. Sang penjaga wajib untuk terus membaca kitab selama berjaga. Poin dari ritual ini adalah untuk membimbing arwah sang mayat ke jalan yang benar, sekaligus melindunginya dari roh dan setan-setan jahat. Nah, kali lain kalian mengutuk pekerjaan kalian yang melelahkan, berat, atau bayarannya kecil, ingatlah akan apa yang harus dilalui Yakov dalam The Vigil ini demi mendapatkan uang saku.

Yakov menerima tawaran jadi shomer untuk jenazah seorang pria tua. Kondisi istri pria tersebut sudah tidak memungkinkan untuk berjaga. Si ibu menderita dementia dan sering berceloteh soal hal-hal mengerikan seputar suaminya. Awalnya Yakov tak begitu ambil pusing, toh bukan pertama kali ini dia menjaga mayat. Namun ternyata memang ada sesuatu yang mengerikan pada kematian pria tersebut. Malam itu, Yakov mulai dihantui; mendengar suara, melihat hal-hal ganjil, hingga dia mengalami kembali peristiwa naas di masa lalunya. Semua itu adalah perbuatan dari setan bernama Mazzik, yang berpindah ke Yakov dari sang mendiang. Yakov pun harus berusaha membebaskan diri, meski itu berarti dia harus berkonfrontasi dengan duka dan sesal yang selama ini menghimpit jiwanya.

So yea, film garapan Keith Thomas ini mungkin terdengar sedikit mirip ama Jaga Pocong (2018), tapi ini jelas-jelas adalah cerita versi jewish yang lebih kental kultur dan yang dibuat dengan jauh lebih berbobot pula!

“Kalo udah gak kuat, saya harus melambaikan tangan ke arah mana?”

 

Tantangan menggarap horor dalam lingkungan sempit – cerita ini basically berlangsung di satu tempat, dalam satu kurun waktu yang juga sempit dan tertutup – adalah bagaimana mengembangkan kejadiannya dengan tampak natural. Enggak kayak dipanjang-panjangin, ataupun seperti episodik. Harus juga bisa tampil tidak monoton. Singkatnya, tantangannya adalah harus bisa mengembangkan suspens. Biasanya, film-film horor yang mengincar pasar mainstream akan main aman dengan mengisi cerita tersebut dengan berbagai jumpscare dan permainan kamera yang terus menerus membuat kita penontonnya berada dalam situasi kaget-bersiap-kaget.

Bagi The Vigil yang merupakan horor indie, tanpa backingan studio gede di belakangnya, restriksi bukan hanya terletak pada cerita. Bukan hanya terletak pada set lokasi dan waktu. Melainkan juga pada biaya. Budget film ini gak gede. Namun, Keith Thomas gak lantas menyerah dan ikut-ikutan mengandalkan kepada jumpscare. Thomas berusaha mengarahkan film ini bukan ke horor ala wahana rumah hantu, melainkan lebih ke horor yang benar-benar situasi dan psikologi. Untuk membuat situasi yang mencekam, Thomas menyuruh sinematografernya bermain-main dengan cahaya. Film ini mengandalkan bayangan untuk membuat kita merasakan merinding yang dialami oleh Yakov protagonisnya. Ada sesuatu di belakang sana, di dalam kegelapan, dan film tidak keburu napsu untuk membuat kita kaget dan melepaskan suspens dan tensi. Eksplorasi ruang-ruang rumah juga dilakukan dengan perlahan. Thomas memberikan ruang supaya terasa seperti progres yang natural. Di dalam setiap ruangan yang Yakov datangi, akan ada pelajaran atau development baru yang kita turut pelajari. Film memainkannya dengan cerdas sehingga tidak terasa seperti maksa. Penggunaan teknologi seperti percakapan telepon ataupun facetime internet merupakan bentuk geliat film ini untuk terus menggali elemen-elemen seram sekaligus karakter dan ceritanya. Film ini berhasil memperlihatkan ‘keharusan’ Yakov berada di rumah tersebut. Jadi saat nonton ini kita pun tidak sibuk emosi nyuruh karakternya kabur. Kita ikut merasakan setiap gerakan dan pilihan bersama karakternya.

Ketika harus menampilkan sosok Mazzik yang seram itu pun, film berkelit dengan trik penempatan dan distorsi-distorsi lensa. Sehingga kesan sureal berupa semua kejadian itu nyata-atau-di-dalam-kepala yang diincar oleh naskah dapat dengan konsisten hadir. Karena, ya, tidak seperti Jaga Pocong yang benar-benar literal dukun dan manusia yang menjaga mayat yang jadi hantu, film The Vigil ini menggali lapisan psikologis di balik elemen supranaturalnya. Ada sesuatu yang lebih dalam pada karakter Yakov yang harus menjaga mayat. Ada makna dan simbol pada makhluk demit bernama Mazzik itu.

Duka, sesal, dan rasa bersalah dapat melakukan dua hal kepada kita. Entah itu, membuat kita tidak bisa maju dan bertumbuh karena selalu melihat ke belakang, atau dapat menunjukkan kepada kita apa yang dibutuhkan untuk menjadi lebih baik. Yakov penuh akan tiga hal itu, makanya dia jadi sasaran Mazzik. Yang merupakan duka, sesal, dan rasa bersalah yang bercampur menjadi hantu, menempel kepada orang, dan greatly menghambat hidup mereka. Perjuangan Yakov dealing with Mazzik sesungguhnya adalah perjuangan personalnya dalam menerima dan merespon negatif di dalam hatinya. 

 

Penulisan Yakov menjadikannya karakter yang sangat menarik, terutama untuk cerita horor. Pertama, naskah mencipta konflik dari pekerjaannya sebagai shomer dengan keyakinan Yakov terhadap agamanya. Yakov, saat pertama kita jumpa dirinya, berada pada titik dia mulai meninggalkan agamanya. Dia Yahudi, tapi tak lagi berpenampilan seperti Yahudi ortodoks seperti kerabatnya. Jadi, instantly, karakter ini menarik minat kita. Membuat kita bertanya, kenapa dia seperti itu. Alasan kenapa dia mulai tak percaya agamanya itulah yang perlahan dibuka oleh film, menciptakan lapisan-lapisan baru karakter tersebut. Mungkin ada tema soal iman di sini. Mungkin Yakov diganggu karena dia mengerjakan tuntunan agama selagi dia mulai meninggalkan agama tersebut.

Kemunculan Mazzik meningkatkan volume keseraman film ini. Bukan hanya karena tampangnya nyeremin ataupun karena film ini sukses berat membangun adegan-adegan gelap yang seram, tapi juga karena Mazzik menjadi kunci apa yang dirasakan oleh Yakov. Semua itu berhubungan dengan jawaban atas pertanyaan kenapa Yakov meninggalkan agamanya tadi. Peristiwa naas yang menjadi sumber derita itulah yang mengerikan, bagaimana peristiwa tersebut membentuk Yakov. Mempersulit hidupnya. Film bijak sekali memperlihatkan bagaimana Yakov berusaha bergaul. Ada diperlihatkan Yakov ditaksir cewek, dan dia enggak bisa bertingkah layaknya cowok gugup yang normal. Ada sesuatu yang off dari dirinya. Sebagai Yakov, cerita ini sesungguhnya adalah one-man show untuk Dave Davis, dan dia berhasil nailed every range of Yakov’s emotions.

Kita tidak bisa tak-peduli sama orang yang krisis iman dan krisis kepercayaan diri sekaligus

 

Lawan main Davis memang tidak banyak diberikan ruang dalam durasi satu-setengah jam ini. Karakter-karakter pendukung itu ada yang cuma muncul di awal ama di akhir saja, atau hanya muncul di layar video atau lewat sambungan telepon. Padahal ada Lynn Cohen juga bermain di sini, sebagai istri dari mendiang yang dijaga Yakov. Perannya terbatas pada tampil creepy (kayak orang-orang tua pada film horor kebanyakan) sambil sesekali ngelempar eksposisi untuk membantu kita menyusun misteri. Tapinya lagi, kalo aktor senior seperti Cohen yang nyebutin, eksposisi itu tak pernah jadi flat out membosankan, begitupun juga dengan ke-creepy-an yang gak lantas jadi over-the-top. Dari segi penampilan, film ini masih enjoyable buat semua kalangan. Meskipun memang, secara horornya sendiri, film ini bisa jadi agak segmented.

Penonton yang mengharapkan ini bakal kayak horor mainstream, bakal menganggap film ini biasa aja atau malah cenderung membosankan. Karena itu tadi, minim jumpscare dan pengembangan yang lambat. Endingnya pun gak ada kelok-kelokan, tidak ada gantung-menggantung. Ini adalah jenis film yang ketika habis ya benar-benar habis. Hanya dengan sedikit pemancing pembicaraan kita di akhir. Karena kalo dilihat dari permukaan luar saja, film ini memang akan menghasilkan reaksi “cuma itu?”. Padahal film ini sesungguhnya mengajak kita menyelam ke apa yang dirasakan oleh karakternya, Bukan hanya menyelam lewat visual, tapi juga ke perasaan horor tersebut. Hanya ketika rasa itu konek ke kita, maka film ini baru bekerja. Baru bisa terasa amat menyeramkan.

 

 

Punya tawaran lebih banyak dan lebih dalam daripada sekadar horor tentang orang yang menjaga mayat. Dari identitas saja film ini sudah punya keunikan, karena membahas dari sudut pandang yang jarang dieksplorasi. Lalu, muatan ceritanya pun mengemas soal iman/agama, soal perilaku kebencian terhadap golongan tertentu, soal tanggungjawab kepada keluarga dalam sajian horor yang limited. Maksudnya, terbatas lokasi, waktu, dan budget. Keterbatasan tersebut menghasilkan geliat-geliat kreasi dan penceritaan yang pada akhirnya menjadi kekuatan utama horor ini. Permainan cahaya, build-up suspens, jalin cerita – punya sedikit resources tapi bisa menghasilkan sewah ini. Maka, gak heran kalo film ini bakal jadi salah satu inspirasi bagi filmmaker muda ke depannya.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE VIGIL.

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian apakah di ending itu Yakov sudah benar-benar terbebas dari Mazzik?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

THE LITTLE THINGS Review

“Making mistakes is better than faking perfections”
 

 
 
Judul film ini adalah mantra yang terus diucapkan oleh karakter ceritanya; detektif yang dihantui oleh kegagalan terdahulu dalam memecahkan kasus. Sehingga si detektif selalu mengulang-ngulang, “perhatikan hal-hal kecil!”. Karena memang hal-hal yang sekilas tampak tak signifikan itulah, yang biasanya punya peranan besar di kemudian hari. Tapi yang dibicarakan si detektif dalam film ini bukan ‘hal-hal kecil’ semacam menabung kebaikan sedikit lama-lama menjadi bukit. Melainkan hal-hal berupa petunjuk-petunjuk terkecil, yang dapat mengungkap kebenaran di balik misteri kasus. Hal-hal yang berasal dari kesalahan-kesalahan yang tak luput dilakukan oleh manusia. Dan yang ngerinya adalah, kesalahan itu tentu saja tak selamanya dilakukan oleh penjahat.
Inilah yang membuat The Little Things garapan John Lee Hancock menarik untuk kita simak. Drama kriminal ini ngingetin kita pada neo noir detective-nya David Fincher yang berjudul Seven (1995). Sama-sama berupa cerita detektif yang fokus kepada penggalian psikologis karakter detektifnya. The Little Things bermain di area yang tidak hitam-putih, melainkan memperlihatkan cerita kegagalan yang menempatkan tokoh-tokohnya dalam sebuah area abu-abu. Detektif yang melakukan hal tak-terpuji, atau bahkan tersangka yang membuat kita berpikir “hey mungkin dia tidak jahat..”. Namun sayangnya, film The Little Things ini tersandung oleh hal-hal kecil yang sendirinya tak ia perhatikan.
Perhatikan hal-hal kecil, kata film ini. Mantra tersebut tak bisa berdering lebih nyata lagi, sebab begitu kita memperhatikan hal-hal kecil pada film ini, kita tahu bahwa mestinya sang pembuat juga perlu menerapkan mantra tersebut ke dalam karyanya ini. Kelamnya The Little Things ternyata enggak berhenti sampai di psikologis karakter-karakternya saja, melainkan juga merambah hingga ke ranah sosial dan hukum kita di dunia nyata. Film ini memilih ending yang menurutku gak bakal nyaman diterima oleh sebagian besar penonton karena waktu dan kejadian di dunia nyata kita.

Di samping karena misteri siapa-pelakunya yang memang tidak berujung pada resolusi apa-apa

 
 
So yea, ulasan kali ini akan memuat spoiler yang lebih gamblang daripada biasanya. Karena kita akan membahas elemen yang ‘bermasalah’ dari cerita film ini, yang tak bisa dilakukan tanpa mengungkap character-arc dari tokoh-tokohnya secara nyaris total. Aku akan tetap berusaha supaya gak terlalu to-the-point amat supaya gak merampas misteri dari yang belum nonton. Tapi meskipun begitu, tetaplah anggap paragraf ini sebagai peringatan.
Karakter jagoan dalam The Little Things adalah dua orang detektif; Joe Deacon yang diperankan oleh Denzel Washington, dan satu lagi detektif yang lebih muda bernama Jim Baxter; diperankan oleh Rami Malek. Kedua karakter ini punya reputasi yang kontras. Karir Deacon actually terjun bebas dan dia pun tampak sedikit dijauhi oleh polisi-polisi lain karena peristiwa yang terjadi di masa kerjanya dahulu. Sedangkan Baxter dianggap sebagai detektif yang menjanjikan, terpercaya, dan brilian. Mereka lantas menjadi bekerja sama saat rangkaian kasus penculikan/pembunuhan perempuan-muda terjadi terus-menerus. Sementara Deacon perlahan menyadari kasus ini mirip dengan kasus tak-terpecahkan di masa lalunya, Baxter belajar tentang kenyataan di balik kasus dan trauma Deacon tersebut. Dan dengan sedikitnya petunjuk dan menipisnya waktu, pertanyaan paling penting bukan lagi soal siapa pelaku yang coba mereka tangkap. Melainkan apakah Baxter akan menapaki jejak kegagalan dan ‘kehancuran’ yang sama dengan Deacon.
Naskah yang ia tulis sejak 1993 ini agaknya menjadi terlalu rumit bagi Hancock sendiri. Ia tampak tak berhasil menemukan cara yang tepat untuk membungkus ceritanya dalam arahan yang efektif. Pengembangan selama dua jam lebih durasi terasa sia-sia karena saat cerita akhirnya tuntas, kita enggak merasakan apa-apa. Build-upnya seperti mengempis menjadi angin. Karena kita dibuat melenggang terlalu jauh dari apa yang diniatkan oleh Hancock dalam cerita ini. Permasalahan utama yang terasa dari film ini memang soal pergantian fokus cerita dari mencari pelaku ke membahas psikologi Baxter. Kita kecele dibuat oleh cerita yang tadinya seperti menyambung dari psikologi Deacon hingga tuntas ke redemption dengan menangkap pelaku, yang ternyata malah berujung ke psikologi karakter lain tanpa benar-benar memberikan penyelesaian pada kasus yang sedari awal ditampilkan seolah sebagai main attraction di film ini. Di sinilah memang letak miss-nya arahan Hancock.
Sah-sah saja membuat cerita detektif yang menonjolkan kegagalan ketimbang menangkap pelaku. Hanya saja, untuk membuat seperti itu, ceritanya harusnya fokus nge-lead penonton ke arah psikologis karakter saja. Namun film ini sudah menyesatkan sedari opening. Di awal itu yang diperlihatkan kepada kita adalah aksi si penjahat-misterius. Kita melihat dia mengejar salah satu korbannya. Dengan menonjolkan ini di awal, kita penonton jadi fokus ke sosok pelaku, penyelesaian film yang membuka dengan seperti ini haruslah dengan memberi jawaban tegas siapa dan bagaimana nanti nasib pelaku. Padahal film membicarakan bukan tentang ke siapa si pelaku, melainkan soal gimana mental detektif yang gagal mengungkap pelaku. Seharusnya film ini membuka cerita dari kedua karakter detektif. Malah menurutku mungkin bisa lebih baik kalo paralel alias sedari awal langsung saja diperlihatkan peristiwa malam kegagalan Deacon, lalu setelahnya bisa jump ke timeline yang sekarang. Intinya adalah film harusnya fokus langsung ke tragedi yang menonjolkan karakter karena memang ke situlah cerita akhirnya berlabuh; untuk apa ngeliatin kerjaan pelaku kalo pelakunya gak bakal dijawab.
I mean, lihat saja film crime-thriller Korea Memories of Murder (2003); dalam film itu, detektifnya gagal menangkap pelaku yang tak pernah diketahui siapa, tapi kita enggak kesal dan merasa kosong setelah film itu usai. Itu karena penceritaannya dimulai dengan langsung fokus ke tokoh utama. Film itu dibuka tidak dengan memperlihatkan aksi pelakunya, melainkan memperlihatkan elemen-elemen yang memfokuskan kita ke gagasannya (soal gaze, si detektif, dsb).
Tentu merupakan konflik yang menarik ketika ada detektif atau polisi seperti Deacon yang tenggelam amat dalam ke kesalahan masa lalu. Kita melihat dia literally dihantui oleh korban-korban yang ia anggap ia kecewakan, as in Deacon duduk di dalam ruangan bersama tiga korban dan Deacon yang ngobrol dengan mayat. Adegan begini sangat menarik, tapi sayangnya terasa kosong karena pada titik itu kita belum diberi kesempatan mengerti. Kita gak merasakan rasa bersalah bareng Deacon, kita hanya menontonnya dikelilingi ‘hantu’. Makanya, terasa lebih menarik ngikutin Baxter. Kita benar-benar mengikutinya sedari awal. Sedari Baxter tampak begitu percaya diri. Namun seiring waktu kita merasakan dirinya runtuh. Dia semakin desperate, ketidakmampuannya terhadap kasus ini terefleksikan olehnya kepada keluarganya. Baxter semakin ‘mirip’ dengan Deacon. Kita juga paham kenapa pada akhirnya Baxter butuh si tersangka utama, Albert Sparma (diperankan oleh Jared Leto) benar-benar keluar sebagai pelaku. Dan ketika Sparma ini eventually menjadi kejatuhan bagi Baxter, kita ikut merasakan nelangsa dan desperadonya.
Dia yang desperate akan menggali lubang berkali-kali

 

Semakin seseorang berkubang dan tidak bisa menerima kesalahan dan kegagalan dirinya, maka semakin berat juga beban yang menghantuinya. Film ini sesungguhnya punya gagasan yang menantang soal seberapa jauh orang akan melangkah demi membetulkan kesalahan yang ia perbuat.

Jika diceritakan dengan benar, maka film ini menurutku memang benar-benar sangat menantang. Aku percaya film gak harus politically correct atau film boleh saja (dan sebagian besar memang lebih menarik jika) menunjukkan kegagalan atau malah sekalian membuat tokohnya jadi jahat. The Little Things tampak mengincar kesan tersebut tapi, kembali lagi, film ini tidak memperhatikan hal-hal kecil. Penceritaan dan ending yang dipilih, justru membuat film ini seperti tone-deaf dan terkesan dangkal. Implikasinya adalah Deacon si tokoh utama tampak seperti orang yang jadi bersedia melakukan apapun untuk menutupi kesalahan yang dilakukan oleh sejawat detektif/polisi, sementara Baxter yang jadi protagonis gak pernah sadar apa yang ia lakukan itu membuatnya bersalah; mungkin saja dia malah jadi menyangka dirinya pahlawan, padahal dirinya sendiri sedang dibohongi.
Sekilas, akhiran film ini memang tampak tak memuaskan. Gak delivered resolusi apapun. Namun di balik itu semua, film ini bahkan bisa terasa lebih ‘disturbing’ lagi. Karena endingnya memuat hal yang lebih kelam soal polisi yang melakukan kesalahan – yang menghilangkan nyawa orang yang belum tentu bersalah – tapi kesalahan tersebut ditutupi demi kebaikan sang polisi itu sendiri. Masalah kekerasan oleh polisi merupakan salah satu masalah utama yang melanda kita di tahun kemaren, and it might still going on, dan hari ini kita menonton film yang enggak jelas sikapnya terhadap persoalan tersebut. Melainkan seperti memperlihatkan praktek yang demikian bobrok dari protagonis ceritanya. Film seharusnya lebih tegas dalam memilih sikap, atau setidaknya lebih klir dalam memberikan entah itu redemption, atau ganjaran, atau bahkan menjawab siapa sebenarnya pelaku. Namun ia membiarkan kita dalam kebingungan. Bahkan bukan kita aja, para aktor pun seperti dibiarkan bermain sendiri-sendiri. Washington, Malek, dan Leto jadi jualan utama karena mereka pernah meraih Oscar. Hanya saja dalam film ini mereka tidak tampak klop bermain. Mereka seperti ada pada zona yang saling terpisah. Deacon yang subtil dan bicara lewat gestur dan ekspresi kayak berada di film yang berbeda dengan Sparma yang terlalu over, sementara Baxter ada di tengah-tengah.
 
 
 
 
Aku akan lebih suka, aku yakin ceritanya akan lebih ngena, jika fokusnya memang pada Baxter saja. Tentu saja dengan ending yang lebih menghormati karakter dan penonton. Karena secara jiwa, film ini adalah psikologikal thriller yang nunjukin kegagalan detektif. Namun bagaimana itu semua tercapai jika si detektif tidak menyadari bahwa dia gagal? Arahan film ini tidak berhasil menghantarkan visi secara keseluruhan. Malahan, akan membuat kita salah sangka. Jika kita mengira ini akan menjawab siapa pelaku, maka film ini akan terasa super tidak memuaskan. Bukan salah eskpektasi kita, melainkan salah film dalam menebar petunjuk-petunjuk kecil dalam penceritaannya.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for THE LITTLE THINGS.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Pekerjaan polisi cukup berat, dan ternyata kasus yang gagal dipecahkan saja mampu membuat seorang polisi trauma dan terbebani seumur-umur.
Bagaimana pendapat kalian tentang ending film ini? Apakah Baxter pantas mendapatkannya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

PROMISING YOUNG WOMAN Review

“Ibarat kucing disodorin ikan asin..”
 

 
 
Guru Agama di sekolahku dulu pernah ngajarin; cowok itu ibarat duren, sedangkan cewek itu pepaya. Kalo ada kecelakaan atau apapun yang menyebabkan dua buah itu beradu, maka yang rusak adalah pepaya. Ini nunjukin bahwa gimana pun juga, cewek adalah pihak yang akan paling dirugikan. Cewek yang harus mengendure semua perubahan menyakitkan, baik itu pada tubuh maupun mentalnya. Sehingga, kata Guru Agamaku itu, kita semua harus saling menjaga – diri maupun sesama. Jadi pepaya harus bisa menjaga diri dari duren, DAN durenpun kudu mawas diri untuk enggak gasrak gusruk menubruk pepaya-pepaya.
Aku jelas lebih suka analogi tersebut daripada analogi satu lagi yang mengibaratkan cowok dan cewek dengan kucing dan ikan asin. Karena analogi tersebut memberi kesan memaklumkan sikap kucing yang punya nafsu sama ikan asin. Kalo ada ikan asin yang termakan, berarti bukan salah kucingnya. Namun sialnya, analogi ini yang malah berkembang di masyarakat. Di luar sana, karena pada gak tau ikan asin, mereka simply menyebutnya ‘boys will be boys’. Jadilah kebiasaan menyalahkan korban sebagai sebuah kultur. Korban kekerasan seksual ‘males’ ngaku karena nanti mereka sendiri yang bakal balik ditanya duluan. Dicurigai mancing duluan, atau malah dicurigai berbohong. Udah jatuh, tertimpa tangga pula! Sedangkan bagi para cowok yang memang terbukti bersalah, ‘paling cuma’ dipenjarakan. Untuk membuktikannya bersalah itu yang luar biasa tak adil. Kultur gak sehat inilah yang ditilik – dengan komedi yang cukup gelap – oleh Emerald Fennell dalam debut film-panjangnya, Promising Young Woman.
Dalam film ini kita akan mengikuti Cassandra, atau disapa Cassie (she could very well be Carey Mulligan’s best performance to date) yang dengan sengaja menjadi ‘ikan asin’, padahal dia justru adalah seekor piranha! Ya, Cassie setiap malam keluar untuk berburu ‘kucing-kucing’. Modus operandi Cassie adalah dia akan berpura-pura mabok di bar, sampai seorang laki-laki yang mengaku cowok baek-baek datang dan membawanya pulang. Di ‘tempat aman’ itulah Cassie akan mengejutkan si cowok. Supaya mereka semua kapok. Cassie ingin menghukum mereka dengan caranya sendiri, karena sistem hukum dan sosial menolak memberi ganjaran kepada cowok. Cassie sudah melakukan perbuatan demikian lama sekali, sebagai bentuk perlawanannya terhadap trauma atas kehilangan sahabat ceweknya. Dan semakin ke sini, ‘perburuan’ yang dilakukan Cassie semakin kelam. Sampai akhirnya dia bertemu dengan cowok yang adalah teman lamanya di sekolah. Cassie sudah seperti menemukan jalan kembali untuk melanjutkan hidup dengan normal, tapi pertemuan tersebut juga membuka selembar rahasia gelap lagi. Yang membuat Cassie percaya tindakan yang benar-benar ekstrim harus segera ia lakukan.

Kucing disodorin ikan… piranha!!

 
Cassie di film ini sungguh karakter unik, yang punya tingkat kesulitan tinggi dalam eksplorasi emosinya. Karena, kalo ada satu kata yang menggambarkan emosi karakter ini, maka itu adalah ironi. Di titik kita berjumpa dengannya, Cassie telah berada pada titik yang benar-benar udah kehilangan simpati ama bukan hanya pria-pria, tapi juga pada perempuan. Yang betah hidup langgeng di dalam sistem yang menyalahkan korban. Cassie kita lihat sebagai pribadi yang cuek dan sinis. Dia gak ingat tanggal ultahnya sendiri, dia gak niat nyari pacar, dan gak sedetikpun dia menyesali berhenti dari kuliah kedokteran dan malah memilih kerja di kafe. Namun di balik itu, Cassie punya luka besar yang menganga. ‘Kecuekan’nya tadi bersumber dari luka tersebut. Cassie begitu tertohok oleh ketidakadilan yang terjadi pada sahabatnya, yang jadi korban kekerasan seksual. Kita gak tahu perjuangan Cassie menuntut keadilan bagi sahabatnya tersebut. Tapi dari sikapnya yang sekarang, kita tahu Cassie sudah menghadapi ribuan ‘boys will be boys’. Dia telah melalui begitu banyak derita dan trauma hanya untuk menuntut cowok pelaku ditindak adil. Ini adalah beban yang sangat berat ditanggung oleh seseorang. Dan beban tersebut dapat kita rasakan merayap, menguar, di balik sikap cuek dan dark Cassie yang sekarang. Emosi dan permainan peran yang sungguh tidak gampang. And Carey Mulligan nails this so perfectly. Di tangan aktor sembarangan, peran Cassie ini gak akan kena.
Selain karakternya, rentang di film ini juga kita jumpai pada visual dan tone secara keseluruhan. Film ditampilkan dalam warna-warna cerah. Kelihatannya persis kayak film komedi romantis. Isu-isu yang menantang lantas dilontarkan dengan lantang oleh Cassie, sehingga kini bukan hanya warna saja yang terasa mencuat keluar dari layar. Film ini begitu mengonfrontasi di balik keceriaan dan kemeriahan visualnya. Film juga enggak ragu untuk membentrokkan tone. Kita akan dibuat ikut menari bersama para karakternya — to a Paris Hilton song! Bayangkan!! Dan momen berikutnya kita akan dibuat merasakan karakternya menghadapi suatu kenyataan yang mengerikan. Arahan film ini berani seperti demikian, seberani Cassie itu sendiri. Film ini memang pantas menuai banyak apresiasi dari visinya ini.
Namun, dari segi materi atau penulisan secara keseluruhan, I gotta be honest; film ini masih terasa sepihak. Penggaliannya masih agenda-ish. Pemilihan endingnya sendiri akan membagi-dua penonton. Dan aku masuk golongan yang menganggap ending film ini sangat buruk. Kalo film ini aku tonton tepat waktu di 2020, maka aku pastilah akan bikin daftar ‘Worst Ending of the Year’, dan film ini akan jadi juaranya.
Analogi kucing dan ikan asin tadi; justru film ini sendiri yang dengan semangatnya melabelkan laki-laki sama dengan kucing. Karakter-karakter cowok di cerita ini semuanya digambarkan punya nafsu bejat. Modus operandi film adalah menampilkan mereka kelihatan seperti orang baik – dan si karakter sendiripun berulang kali menegaskan mereka adalah orang baik – dan pada akhirnya, setelah gak kuat iman melihat kesempatan berwujud Cassie, mereka akan ‘memperlihatkan’ perangai asli mereka. Cowok dalam film ini akan disuruh untuk mengakui mereka enggak sebaik yang mereka bilang ke orang-orang. Bahwa sebenarnya mereka semua ya memang kucing. Yang punya niat jahat, tapi nanti akan terlalu pengecut untuk mengakui telah salah atau gelap mata. Terlalu pengecut dan berlindung di balik ‘kucing disodorin ikan asin, ya makan-lah’. Bahkan love interest Cassie juga ditulis dengan karakter seperti begini. Si Cassie sendiri was having a hard time untuk percaya cowok yang ia taksir tersebut sudah berubah dari hati yang paling dalam. It’s actually really hard untuk melihat apa sebenarnya yang dikejar film ini. Apakah ingin menunjukkan kepada kita Cassie itu salah; karena selama ini Cassie membuang hidupnya dan tenggelam dalam dendam sehingga gak bisa melihat orang lain dalam cahaya yang baik. Atau simply karena memang film ingin nunjukin semua cowok itu, ya, kucing garong.
Kalo ini film Indonesia, pasti yang diorkestrain bukan lagu Toxic, melainkan: “Kumenangiiiiissss…”

 
 
Yea, aku tahu realitanya memang pada sebagian besar kasus, cowoklah yang brengsek. Yang terlalu lemah untuk menahan diri dan bertanggungjawab, dan malah balik nyalahin. Tapi dari standpoint materi atau penulisan, film ini tuh bener-bener butuh untuk membuat semua cowok begitu supaya arc Cassie bisa bekerja. Sehingga film ini jadi banal. Ia meninggalkan kepentingan untuk menggali dari dua sisi, atau untuk memanusiakan kedua sisi.
Kita bisa mengerti dari endingnya. Dirancang untuk nunjukin bahwa cowok gak bisa dihukum karena perbuatan yang ia perbuat masa lalunya itu; cowok-cowok lolos dari sistem yang broken. Jadi, tindakan yang diberikan kepada karakter Cassie adalah Cassie harus membuat si pelaku bersalah atas perbuatan lain. Perbuatan itu pun haruslah yang genuinely melekat di diri cowok. Supaya si pelaku bisa dipastikan dihukum kali ini. Maka dari itulah, film ini membuat karakter cowok tanpa ada sisi baik. Dan juga supaya kita melihat tindakan Cassie di akhir itu sebagai pengorbanan terakhirnya. Cassie sudah membuang hidupnya selama ini tidak jadi ikut kita ‘salahkan’ hidupnya karena di akhir itu, dia membuat hidup yang sudah ia buang selama ini jadi berguna. Dengan akhirnya berhasil menjebloskan si pelaku ke penjara.

Kucing disodorin ikan asin pasti mau. Boys will be boys. Jangan buang hidupmu untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Boys will be boys. Cepat atau lambat, toh kesalahan yang sama akan berulang. Tangkap mereka saat itu. Tangkap dan pastikan mereka tak bisa lolos lagi. Begitulah, kurang lebih yang ingin disarankan oleh film ini.

 
 
Akan tetapi, tetap saja, dari cara film ini memperlihatkan adegan-adegannya, Cassie terasa seperti menjebak si cowok. Membuat si cowok kepepet. Seperti kesalahannya itu dicari-cari. Cassie tidak diperlihatkan apakah dia peduli jikalau si pelaku beneran udah insaf atau enggak. Dan yang paling menggelikan dari film ini adalah; Supaya dunia dan orang-orang yang ditinggalkan Cassie sadar akan kesalahan sistem yang mereka anut, supaya mereka sedih, dan Cassie mencuat triumphantly, film ini membuat ending yang konyol dengan elemen ‘pesan dari kubur’! Ha! Cassie bisa menebak kejadian bakal seperti apa, seseorang akan berada di mana, timing kejadian di ending itu begitu tepat ditebak dari jauh hari oleh Cassie. Ini over-the-top sekali. Sudah jauh dari kesan real yang menguar kuat di balik cerita di menit-menit sebelum bagian akhir film ini.
Sesungguhnya cerita Promising Young Woman ini punya kembaran serupa-tapi-tak sama, yakni film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017) Kalian pasti masih ingat, karena film itu diunnggulkan untuk Oscar. Film tersebut ceritanya tentang seorang ibu yang menghabiskan umurnya mengejar polisi, menuntut kasus perkosaan yang menyebabkan kematian putrinya diusut tuntas, dan pelakunya dicari – dijebloskan ke penjara. Saat nge-review film itu, aku nulis kayaknya aku bakal lebih suka kalo film tersebut memperlihatkan hasil akhir perjuangan si ibu – kalo nasib pelakunya dituntaskan. Namun, setelah menonton film Promising Young Woman ini, baru terasa bagiku. Baru terasa betapa jauh lebih powerful cerita Three Billboards tersebut dengan membuat protagonisnya mencari kedamaian bagi diri sendiri. Lebih terasa real sehingga lebih emosional dan important.
 
 
 
Sebagai film thriller, ini adalah debut yang cukup menjanjikan dari Emerald Fennel. Menunjukkan ia mampu bermain dengan tone dan karakter untuk menyampaikan sebuah gagasan dan mewujudkan visi yang penting. Tapi tentu saja memuat gagasan yang penting, tak lantas membuat film otomatis bagus. Semua itu bergantung kepada tulang punggung, yakni naskah. Materi film ini masih berupa satu pandangan, sehingga terpaksa dipilih ending yang kurang logis dan maksa secara over-the-top. Ending film ini, jika dilihat dari genrenya, masih mungkin untuk disukai sebagian penonton. Hanya, buatku, endingnya justru break this entire film apart. Mengurangi kepentingannya begitu drastis. Terlebih karena memang film ini punya pembanding yang jauh lebih real dan powerful.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PROMISING YOUNG WOMAN.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Supaya pria pelaku kejahatan seksual bisa jera dan benar-benar adil bagi perempuan, Indonesia baru-baru ini mengumumkan soal hukum kebiri. Bagaimana pendapat kalian mengenai hukuman tersebut?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE SCIENCE OF FICTIONS (HIRUK-PIKUK SI AL-KISAH) Review

“The historical truth is composed of dead silence”
 

 
 
Diam terkadang bukan pertanda kuat, atau tegar. Melainkan, diam sederhananya bisa jadi adalah saat kita sedang ditekan. Dibungkam. Pemuda desa bernama Siman (Gunawan Maryanto totally deserved this year’s Citra) terpaksa harus mengistirahatkan kata-kata untuk selamanya ketika lidahnya dipotong. Siman yang penari itu telah melihat sesuatu yang tak mestinya ia ketahui. Ia menyaksikan kebohongan paling mutakhir dalam sejarah umat manusia. Yang Siman tak-sengaja lihat saat itu adalah syuting pendaratan ke bulan yang dilakukan oleh kru Amerika, di tanah Bantul Yogyakarta. Peristiwa itu mengubah hidup Siman selamanya. Lebih dari trauma, Siman justru tampak seperti bersikeras untuk tetap mengomunikasikan apa yang ia lihat. Sampai bertahun-tahun setelahnya, Siman bergerak lambat seperti astronot berjalan di luar angkasa. Ia juga membangun rumah dan kostum astronot, untuk ditunjukkan kepada orang-orang di sekitarnya. Yang sayangnya, malah membuat Siman dicap sebagai ‘orang gila’.
Luar biasa memang imajinasi – dan celetukan kreatif – sutradara Yosep Anggi Noen ini. Dia membawa teori konspirasi yang paling santer hiruk-pikuknya di dunia itu ke Indonesia. Tentu saja karena Yosep Anggi Noen sendiri punya sesuatu yang ingin dia bicarakan terkait Indonesia. Tebak apa yang terjadi di negara kita sekitaran tahun pendaratan manusia di bulan? Ya, peristiwa pemberontakan PKI. Yang berekor pembantaian di tahun 1966. Di tahun itulah Siman dalam cerita ini hidup. Dua ‘fictions’ itulah yang diparalelkan oleh Anggi Noen dalam film panjang ketiganya ini. Dua peristiwa sejarah yang masih terus diperbedatkan benar-atau-tidak, nyata-atau-rekayasa. Selain menyaksikan hoax pendaratan bulan, Siman juga berada di tengah-tengah peristiwa penculikan dan pembantaian kerabatnya yang dicurigai simpatisan PKI. Siman dalam kejadian yang merenggut lidahnya itu adalah saksi, juga sekalian sebagai korban. Nah, sekarang coba, siapa pihak yang jadi saksi – sekaligus korban – dalam peristiwa pembantaian tahun 1966 itu?

Kalo Siman bisa ngomong (oh yeah) Sayang mereka tak bisa ngomong

 
 
Begitulah kira-kira Yosep Anggi Noen memposisikan cerita ini. Memahami posisi tersebut penting bagi kita. Supaya kita dapat, setidaknya, mengenali konteks atau gambar besar film. Karena, olala, The Science of Fictions (judul bahasa ibunya adalah Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah) adalah tontonan yang dapat membuat kita bingung, dan susah untuk dicerna. Film-film seperti ini sebenarnya jangan keburu dianggap ‘angker’. Karena seringkali daripada tidak, film-film ini kuat di gagasan. Mereka boleh saja terdengar sunyi dan tak banyak aksi atau kejadian yang ditampilkan. Tapi bukan berarti tak banyak yang sedang berusaha untuk disampaikan. Persis seperti si Siman itu sendiri. Meski tak bersuara, karakter ini sesungguhnya bicara banyak soal gagasan yang dilontarkan oleh pembuatnya kepada kita.
The Science of Fictions sendiri hadir seperti dalam dua bagian. Bagian pertama sekitar tiga puluh menitan cerita, dibingkai dalam rasio sempit dan visual hitam putih. Memperlihatkan sekuen adegan di tahun 1966. Bukan hanya untuk memberikan kesan ‘ini cerita periode lampau’, tapi juga untuk memberikan kesan opresi dan tekanan yang menguar kuat sekali dalam setiap shot. Bagian kedua mengambil waktu di masa sekarang. Siman hidup di dunia yang berwarna, yang memberikannya kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak di luar alih-alih ngumpet stres di dalam kamar. Siman juga banyak berinteraksi dengan orang-orang baru, yang not exactly baru karena sebagian besar mereka diperankan oleh aktor-aktor yang sama dengan pemeran tokoh-tokoh yang ada pada cerita bagian pertama. Apakah mereka sebenarnya adalah karakter di cerita pertama yang ternyata masih hidup setelah diculik? Ini menarik karena mereka mainin karakter yang berbeda, Siman tidak mengenali mereka. Penculikan dan pembantaian itu – as far as this movie views – benar terjadi. Alasan menggunakan pemeran yang sama untuk beberapa karakter sepertinya adalah untuk menunjukkan kesalingberhubungan.
Siman yang lidahnya dipotong karena peristiwa pendaratan bulan diparalelkan dengan keturunan atau keluarga terduga-PKI, karena berada di posisi yang sama. Sebagai saksi sekaligus sebagai korban. Sebagai pihak yang gak bisa membicarakan masalah yang mereka lihat atau alami. Pihak-pihak yang terbungkam. Film sepertinya ingin menyimbolkan para keturunan ini lewat karakter-karakter di masa kini yang diperankan dengan oleh aktor yang sudah memerankan karakter lain di masa lalu. Film juga menggunakan lalat untuk memperkuat ini. Menjelang akhir film kita melihat beberapa tokoh di-close up, dengan lalat di sekitar mereka. Termasuk juga Siman yang duduk dengan beberapa lalat berputar-putar di atas kepalanya. Lalat itu sepertinya adalah koneksi di antara mereka. Sebuah kesamaan. Yang menegaskan keparalelan yang ditarik oleh film tadi. Lalat itu juga berfungsi sebagai penanda sesuatu yang sudah lama tersimpan, sehingga busuk dan berbau. Dan kita tahu Siman sudah selama itu menyimpan kebenaran, hanya karena dia sudah dalam keadaan gak bisa untuk membeberkannya.
Membuat kita melihat dari sudut pandang Siman, menjadikan ini lebih emosional. Lebih dramatis, karena peristiwa yang menimpa Siman dapat kita tahu dengan pasti kebenarannya. Sehingga ketika kita melihat Siman yang bergerak pelan, mau itu sambil mengangkut barang atau berjalan mengantar map surat, diolok-olok oleh orang-orang di sekitarnya, kita menangkap itu sebagai sebuah komedi yang pahit. Kita bisa merasakan determinasinya. Untuk itu, aku semakin salut dengan Gunawan Maryanto yang memerankan, karena Siman ini sesungguhnya punya tuntutan fisik yang luar biasa. Dia melakukan semua hal; dia akan mengangkat asesoris besi, ataupun memanjat bak mobil, dengan superpelan. Ini nyatanya berat sekali untuk dilakukan. Tapi akting Gunawan tetap konsisten. Sesekali, pada beberapa adegan, kita mungkin akan terkikik juga melihat Siman, tapi tak sekalipun kita terlepas dari karakternya. Kita dengan efektif dibuat sudah terlanjur peduli dengan karakter ini. Ketika dia minum dengan gerakan superlambat saja, kita akan menatapnya. Menunggunya. Karena kita ingin menyelami apa yang ia rasakan.

Sutradara seperti ingin mengajak orang-orang untuk seperti Siman. Untuk bersikap: jika tahu pasti akan suatu kebenaran, you might as well say it. Ya, memang tidak mudah, apalagi jika kita adalah orang kecil. Akan selalu ada pembungkaman. Akan selalu ada fabrikasi cerita oleh orang yang lebih berkuasa. Siman, tanpa lidah, punya cara sendiri untuk bicara. Kita seharusnya juga bisa; lebih baik daripada Siman.

 
 
Tindakan Siman membangun rumah seperti roket dari perkakas mikrowave dan rangka mesin cuci, aksi Siman memesan baju astronot ala kadar, adalah penguat terhadap komunikasi yang berusaha ia lakukan. Aksi-aksi tersebut boleh jadi adalah teriakannya untuk menyadarkan orang-orang bahwa orang semiskin atau ‘sesederhana’ dirinya saja bisa kok untuk bikin sesuatu yang mirip roket. Siman sesekali nunjukin dia sebenarnya bisa bergerak normal, terutama dalam keadaan emosi yang sedang tinggi, entah itu saat marah atau lagi birahi. Yang lebih lanjut menyampaikan kepada kita bahwa sesungguhnya meskipun mulut dibungkam, sebenarnya kita masih bisa bertindak. Masalahnya adalah bagaimana orang-orang akan menangkapnya. Value Siman di mata orang-orang tetaplah hanya sebagai badut penghibur, and it his worst dia adalah seorang maniak. Lewat ini film dengan tepat menggambarkan kondisi bahwa memang tidak semudah itu untuk berkata.

It’s his/their words againts, who?

 
 
Tidak selamanya film ini sepi dialog. Karakter-karakter sekitar Siman akan sering bicara, kadang untuk penyambung lidah sang protagonis, namun sering juga sebagai eksposisi. Untungnya, kata-kata di film ini sama engaging-nya dengan visual yang ditampilkan. Film ini menyusun pengadeganan dengan banyak lapisan kedalaman gambar dalam setiap shot. Bayang-bayang digunakan untuk menciptakan lebih banyak lagi depth pada layar. Sehingga masing-masing frame film ini seperti sebuah jendela yang membingkai begitu dalam. Bahkan ketika film sudah ‘berwarna’ bayang-bayang terus difungsikan untuk menghasilkan depth yang membuat gambar-gambar menjadi semakin hidup, terus aktif. Sementara di background, telingaku yang biasanya gak merhatikan musik, tercuri juga perhatiannya. Oleh penggunaan musik yang kayak campuran musik film-film luar angkasa dengan musik film PKI. Turut membangun nuansa eerie yang spesifik sebagai identitas film yang bermain di realita dan fantasi seperti ini.
Dengan visi yang kuat, film ini sendirinya jadi berada dalam posisi yang cukup lucu. Cerita film ini bekerja dengan landasan berani mengungkap kebenaran, tapi memparalelkan suatu fiksi yang bisa dipastikan sendiri kebenarannya dengan fakta yang masih kabur terlihat agak seperti memaksakan argumen. Alur film ini butuh untuk kita percaya akan kebenaran atas palsunya pendaratan di bulan (ini fakta yang direka oleh cerita). Di lain pihak, untuk topik yang paralel dengan cerita itu, jadinya seperti memaksa untuk setiap penonton percaya pada kebenaran sesuai gagasannya. Film harusnya bisa membuka lebih banyak ruang untuk ini. Bagian tengah menjelang akhir yang agak nge-drag – karena kita mulai kehilangan arah mau dibawa ke mana cerita – mestinya bisa difungsikan untuk sebagai ruang-ruang tersebut. Menjadikan film jadi bahan obrolan yang lebih padet.

Seorang wanita dalam film ini menuduh Siman berpura-pura bisu karena Siman mampu mendengar. Sementara kita tahu Siman memang tidak bisa bicara karena lidahnya dipotong. Tapi bagaimana dengan kita? Kita toh bisa bicara. Kita juga tidak tuli. Kita mendengar hiruk pikuk kisah-kisah itu. Teknologi komunikasi pun sudah semakin maju. Apakah kita akan tetap bungkam terhadapnya?

 
 
 
Hiruk pikuk kebohongan yang tersaji dalam film ini bakal membuat kita berefleksi juga dengan keadaan sekarang. ‘Skenario’ di mana-mana. Lewat visual tight dan pengadeganan yang aneh, film menawarkan gagasan dengan cara yang menarik. Obrolan yang boleh jadi bakal berat, jadi seperti sedikit ringan – tanpa mengurangi intensitasnya – oleh film ini. Jika film Pemberontakan G30S/PKI dulu dikecam sebagai propaganda kebencian/pengantagonisan, maka film ini difungsikan sebagai propaganda untuk mengambil langkah yang heroik, sekuat tenaga, demi kebenaran.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE SCIENCE OF FICTIONS (HIRUK-PIKUK SI AL-KISAH)

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya interpretasi berbeda terhadap film ini?
Sebagai kontras dari karakter Siman, film ini menyiapkan karakter yang sungguh sureal. Yang seperti berjalan dalam dimensinya sendiri. Karakter seorang jenderal, atau seorang pemimpin, yang sudah ada (dan terus nongol sesekali) sejak syuting pendaratan bulan di awal. Memegang kamera. Seolah seorang sutradara yang menciptakan suatu kenyataan. Ada konflik pada karakter ini, ketika dia menyebut lantang untuk tidak mau berpartisipasi dalam kebohogan besar. Namun setelah-setelahnya, kita kerap melihat dia dengan kamera. Merekam dirinya mengendarai mobil. Merekam dirinya merokok. Tapi tidak ada kamera di mana-mana saat dia menyimpan reel video hasil syuting pendaratan bulan. Tindakan merekam diri itu juga sepertinya dikontraskan lebih lanjut dengan kehadiran karakternya Lukman Sardi (eks-TKI di Jepang) yang ‘kedapatan’ sering merekam sesuatu lewat kamera hapenya. Sampai titik ulasan ini ditulis, aku belum yakin tokoh jenderal/pemimpin besar ini merepresentasikan apa, apakah komentar sutradara terhadap presiden saat itukah?
Apakah menurut kalian film ini lebih pantas untuk menjadi wakil Indonesia ke Oscar tahun depan?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE WILLOUGHBYS Review

“When everything goes to hell, the people who stand by you without flinching — they are your family.”
 

 
 
Alessia Cara main film! Berita tersebut tentu saja langsung membuatku menggelinjang. Tapi kemudian gelisah. Begini, ketika nonton film yang melibatkan either orang yang kita kenal atau orang yang kita sukai, yang kita ngefan abiss, rasanya tuh selalu ngeri-ngeri sedap. Karena kita akan berada di posisi pengen objektif alias gak mau terlalu bias, tapi juga khawatir bakal terlalu kritikal terhadap idola sendiri. Ini sama seperti kepada keluarga, kita berharap mereka gak doing something bad karena kita gak mau terlalu keras kepada mereka; kita berharap mereka doing great supaya punya alasan bagus untuk memujinya tanpa dianggap bias. Untungnya, animasi Netflix The Willoughbys yang memang bercerita tentang menyingkapi keluarga dengan hati ini punya banyak keunikan dan hal unggul alami sehingga aku tidak merasa tidak-enak memujinya.
Yang didirect oleh sutradara Kris Pearns dan Cory Evans ini sungguhlah sebuah cerita yang aneh dan tak biasa diusung dalam bentukan tontonan keluarga. Mimpi yang mereka jual tergolong ‘mengerikan’. Bagaimana jika anak-anak menginginkan orangtua mereka pergi? The Willoughbys mengisahkan Tim dan tiga adiknya – Jane dan si kembar, Barnaby – tinggal bersama orangtua mereka di rumah kuno di tengah kota modern. Seperti bangunannya, keluarga ini juga tergolong ‘old fashioned’. Silsilah Keluarga besar Willoughbys penuh oleh orang-orang dengan pencapaian, dan kumis, luar biasa. Semua itu seakan putus pada ayah Tim yang berkumis tipis. Ayah Tim tak peduli pada banyak hal di luar cintanya kepada ibu Tim. Beliau bahkan tidak peduli sama anak-anaknya. Mereka tak mau berbagi makanan kepada Tim, yang malah dikurung di bawah tanah. Mereka melarang Jane bernyanyi. Mereka enggak mau repot ngasih dua nama – dan dua sweater – untuk si kembar. Tim dan saudaranya merasa diabaikan. Mereka jadi kepengen jadi yatimpiatu supaya bisa bebas. Maka mereka mengirim ayah dan ibu ke sebuah paket travel romantis namun amat berbahaya. Tentu saja harapan mereka adalah kedua orangtua mereka celaka dalam perjalanan.

Dan kemudian Mary Poppins dan Willy Wonka jadian dan berpotensi jadi orangtua angkat Tim dan adik-adiknya

 
Gagasan yang berupa kita bisa memilih keluarga kita sendiri, ataupun gagasan untuk tidak merasa terikat oleh orang yang harus kita pedulikan hanya karena punya hubungan darah dengan mereka, tentunya adalah bahasan yang lumayan kompleks dan bisa dibilang cukup kelam untuk anak kecil. Secara bahasa memang tidak ada yang sadis, vulgar, atau gimana. Melainkan film ini punya humor yang receh, dan mirip seperti kartun-kartun konyol di televisi. Namun secara topik, film ini bersuara dewasa. Ia menyinggung kekerasan anak, abandonment, perihal merencanakan kematian. Dan memang akan ada tokoh-tokoh yang menemui ajal, yang dipresentasikan sebagai komedi. Saat membahas cinta laki-laki kepada wanita, film juga tidak mendaratkan kepada anak, ia menghamparkannya sebagaimana anak-anak melihat cinta. Sesuatu hal rahasia yang dilakukan oleh orangtua. Film menampilkan banyak gestur terselubung, but again, dalam sorotan cahaya dark jokes.
Jadi film ini sebenarnya masih satu kotak sama animasi seperti Coraline (2009), atau Frankenweenie (2012), karena sama-sama film anak/keluarga yang horor. The Willoughbys, however, dapat terasa lebih seram karena bahasannya yang sangat dekat. Gak sembarang anak-anak yang aman menonton ini. Paling enggak harus ngerti konsep sarkas dulu, karena jika tidak bisa dengan gampang ketrigger ke arah yang enggak-enggak. Karena di film ini kita akan melihat hal-hal yang mengundang pertanyaan berat bagi anak-anak polos seperti kenapa orangtua benci kepada anaknya, kenapa anak-anak itu enggak dikasih makan, boleh tidak anak benci kepada orangtua dan mengirimnya ke tempat berbahaya.
Di pihak lain, film ini juga lebih warna-warni dan lebih cerah. Berkat visual yang imajinatif dan sangat kreatif. Film ini menggunakan animasi CGI dengan konsep pergerakan yang menyerupai stop-motion. Seperti yang kita nikmati pada film-film LEGO. Dunia yang dihadirkan sangat kartun, rambut para Willoughby ini misalnya, berserat kayak benang. Awannya kayak gula kapas. Dan ada pelangi sebagai pengganti asap dari pabrik permen. Film ini berusaha menyinari elemen kelam ceritanya dengan penampakan dan tone yang ceria. Hebatnya, dua elemen tersebut; cerita yang kelam dan tone yang konyol cartoonish, akan jarang sekali terasa bertabrakan. Ini karena film berhasil mengeset pemahaman kita terhadap logika yang bekerja pada dunianya. Belum apa-apa kita disambut oleh kucing yang bisa berbicara, sebagai narator. Untuk merangkum semuanya, pengalaman nonton film ini sama seperti kita sedang dibacain dongeng, dan kita melihat lembar-per lembar buku dongeng yang penuh warna dan hal-hal unik.
“my kind of fun doesn’t make any sense”

 
Kita semua tahu, dongeng-dongeng klasik sekalipun memang semuanya punya ‘keseraman’. Film ini bertindak sebagai dongeng modern yang gak shy away dari aspek mengerikan yang terkandung dalam gagasan tak-biasanya. Karena film tahu dia punya pesan yang hangat untuk disampaikan. Film ingin berdiri sebagai mercusuar harapan bagi anak-anak yang merasa orangtuanya jahat first, dan kepada anak yang orangtuanya beneran jahat second. Things could get that ugly. Maka anak-anak seperti Tim perlu untuk melihat semua sudut supaya mereka bisa belajar untuk kembali percaya kepada orang dewasa. Karena setiap anak butuh pendamping, baik itu wali maupun orangtua.
Sepanjang cerita kita akan melihat perjalanan Tim dan Jane dan Kembar Barnaby. Kita dipahamkan akar dari mereka jadi bisa berpikir untuk lebih baik hidup tanpa ada orangtua. Kita mengerti kenapa mereka awalnya tidak percaya kepada Nanny yang datang untuk mengasuh mereka. Kita melihat Tim pelan-pelan belajar bahwa punya keluarga itu adalah suatu berkah. Belajar bahwa makna dari keluarga bukan sekadar kesamaan fisik dan tradisi. Melainkan saling menerima perbedaan dan saling menyintai. Alur cerita film ini dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan pengembangan pola pikir Tim, tokoh yang difungsikan sebagai wakil dari anak-anak dalam keluarga yang broken atau disfungsional. Kepercayaannya terhadap peran masing-masing dalam sistem keluarga perlahan timbul. Hampir seperti ia menyerah, kelihatannya bagi kita, saat Tim memutuskan untuk menempuh perjalanan jauh demi menjemput dan menyelamatkan nyawa orangtua mereka. Tapi sekaligus kita lega. Karena itulah satu-satunya cara. Anak butuh orangtua. Kemudian film mendaratkan kita kembali bahwa kadang keluarga itu just not working. Kadang orangtua memang begitu egois. Kadang mereka memang jahat. Tapi pada saat itu, Tim dan adek-adeknya sudah paham nilai sebuah keluarga. Perjalanan mereka telah sempurna, maka cerita memberikan mereka ‘hadiah’. Resolusi yang diberikan film ini sungguhlah manis. Kita mungkin sudah bisa melihat hal ini datang, tapi endingnya akan tetap nonjok karena kita sudah terinvest sama tokoh-tokoh colorful yang dihadirkan.

Keluarga bukan soal rumah. Bukan juga semata soal darah. Terkadang, keluarga adalah soal orang-orang yang memilih untuk bersamamu. Orang-orang yang ada di dekatmu tanpa diminta. Terkadang, memang orang pilihanlah yang membuat keluarga terbaik.

 
Tokoh-tokoh tersebut sekilas memang tampak satu dimensi. Tapi jika kita teliti, film sebenarnya memberikan mereka lapisan, hanya saja elemen komedi yang membungkusnya terlalu menghalangi. Orangtua Tim saling cinta, mereka bisa survive dari apa aja berkat kekuatan cinta mereka. Tapi mereka jahat kepada anak-anaknya, dan kepositifan dari cinta itu terhalangi karena film menunjukkannya sebagai ‘kekuatan’ jahat – orang-orang actually celaka di sekitar cinta mereka. Nanny yang baik hati juga dibeberkan punya masa lalu sebagai anak yatim sehingga kita punya ruang untuk mengenali emosinya. Commander Melanoff juga diperlihatkan bukan sekadar sebagai orang aneh yang punya pabrik permen, selalu ada sesuatu di balik penokohan, meskipun memang sebagian besar dimainkan sebagai komedi oleh film ini. Sehingga bisa dengan mudah teroverlook dan membuat tokohnya satu dimensi. Aku sih berharapnya mereka ngecilin sedikit volume kekonyolan agar karakter dapat bersinar. Namun justru ekstrimnya rentang konyol dan dark-nya itulah yang menjadi appeal dan gaya film ini.
And finally, saatnya membahas Alessia Cara yang memulai debutnya sebagai bermain akting pengisi suara. Film ini berisi jejeran seperti Maya Rudolph (yang enerjinya menghidupkan film ini ke level maksimal) ataupun Tim Forte, dan even Ricky Gervais yang terdengar natural sebagai kucing pemalas. Alessia paling muda di sini. But I gotta say, suaranya cocok sekali dengan karakter Jane. Terdengar ringan dan sedih bersamaan. Juga penuh optimisme. Salah satu ciri Jane adalah kalimat ‘what if’. Dialah yang pertama kali mengajukan ide ‘membuang’ orangtua mereka. Tokoh ini penuh oleh ide liar, yang dihidupkan dengan klop oleh akting suara Alessia. Lagu yang dinyanyikan oleh tokoh ini kupikir bakal bisa ngehits karena sangat efektif sebagai klimaks emosional dalam cerita.
 
 
 
 
Dark jokes pada elemen cerita – anak yang pengen jadi yatimpiatu biar bebas – berusaha disamarkan film lewat kekonyolan dan warna-warni pelangi khas kartun. Campuran dua tone inilah yang menjadikan film unik. Visual dan design karakter dan dunianya jelas santapan bagi mata dan imajinasi. Film ini juga punya cerita yang manis tentang menemukan sebuah keluarga. Memahami makna sebuah keluarga. Tapi aku juga bisa melihat film yang diadaptasi dari buku ini bakal membuat penonton terbagi dua. Atau setidaknya merasa was-was dan berpikir dua kali untuk menayangkan ini kepada buah hati. But oh boy, animasi berani seperti ini sedang ‘menang’ ketimbang animasi ‘isi angin’. Dari sisi yang lebih aman, kita sudah dapat Onward (2020), lalu yang sedikit kontroversial dan berani seperti ini ada Red Shoes and The Seven Dwarfs (2020). Yang sebenarnya diminta oleh film-film seperti ini adalah duduk menonton bersama keluarga, sebab pertanyaan berat akan mereka hadirkan, dan diskusi terhadap itulah yang coba dihadirkan
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE WILLOUGHBYS.

 

 
 
That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian film ini cocok ditonton untuk anak-anak?
Dulu waktu kecil aku kalo ngambek sering berangan-angan minggat dan kabur jadi anak keluarga lain yang lebih keren. Apakah kalian pernah mengalami hal yang sama? Pernahkah kalian menganggap orangtua jahat?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

GRETEL & HANSEL Review

“This business of womanhood is a heavy burden.”
 

 
 
Dongeng-dongeng klasik dari Grimm Bersaudara ceritanya sungguh beneran grim. Kelam. Suram. Kakak-kakak tiri Cinderella memotong jari kaki mereka sendiri supaya muat mengenakan sepatu kaca. Ratu di Snow White memerintahkan pemburu bukan hanya untuk membunuh, melainkan membawa pulang paru-paru dan hati Snow White untuk ia makan – not to mention, Snow Whitenya sendiri masih bocah alih-alih sudah remaja. Dongeng-dongeng fantastis tersebut difilmkan, misalnya oleh Disney, dengan diadaptasi menjadi cerita yang lebih accessible buat anak-anak. Yang lebih ringan, yang lebih mengedepankan imajinasi dan nilai moral yang bisa dipetik oleh anak. Tapi tidak demikian halnya dengan Oz Perkins. Sutradara ini mengadaptasi salah satu dongeng Grimm dan membuatnya menjadi jauh lebih grim. Tema yang diangkatnya pun lebih dewasa. Perkins memutar balik judul Hansel & Gretel; memposisikan Gretel sebagai fokus utama dalam sebuah sajian horor arthouse tentang kebangkitan seorang perempuan.
Sepeninggal ayah, Gretel dan adiknya yang masih kecil, Hansel, diusir dari rumah oleh ibu mereka yang depresi sama keadaan. Gretel membawa Hansel menyusur hutan yang marak oleh rumor keberadaan penyihir dan entah apa lagi hal mengerikan yang menunggu di dalamnya demi mencari kediaman lain supaya bisa bekerja di sana. Namun bahaya nomor satu yang mengincar dua kakak beradik ini adalah rasa lapar. Perut menuntun mereka ke sebuah rumah segitiga yang aneh di tengah hutan. Rumah yang menguarkan aroma kue tart dan daging asap. Sampai di sini, kita semua sudah tahu paling tidak itu rumah siapa dan bagaimana kemudian Gretel dan Hansel dibujuk untuk tinggal di sana. Yang dibuat berbeda oleh film ini adalah hubungan antara Gretel dengan si Penyihir. Hampir seperti hubungan mentoring. Namun dengan tone mencekam yang merayap di baliknya.

kapan lagi kita melihat dua ikon dongeng anak ngefly makan jamur

 
Perasaan terkungkung akan kuat mencengkeram. Shot-shot di hutan akan terasa sama mengekangnya dengan adegan-adegan di dalam rumah. Apalagi film ini menggunakan rasio 1.55:1 yang membuat gambar yang tersaji dalam kotak yang lebih sempit daripada film biasa kebanyakan sekarang. Karena film memang ingin menyatakan gambarnya sebagai perwakilan perasaan Gretel. Tokoh remaja ini percaya menjadi wanita berarti akan dibebani oleh tanggungjawab. Dan tanggungjawab tersebut dapat menjadi sedemikan besar, ia memandang kepada apa yang terjadi terhadap ibunya. Yang menyebabkan kini ia practically sudah menjadi ibu bagi Hansel adiknya. Adalah si Penyihir yang membuka mata Gretel. Memperlihatkan, secara literal maupun kiasan, kekuatan dalam diri Gretel yang bisa ia gunakan untuk mencapai kebebasan. Atau paling tidak, untuk melenyapkan tanggungjawab. Tiga tokoh sentral film ini; Gretel, Penyihir, dan Hansel adalah fokus utama cerita. Film mengadu gagasan dan kepercayaan para tokoh lewat interaksi dan obrolan-obrolan. Yang semua itu dihadirkan lewat visual yang benar-benar stylish dan tempo yang tidak pernah gegabah.
Sophia Lillis dan Alice Krige menyuguhkan penampilan akting yang luar biasa meyakinkan. Sebagai Gretel, Lillis akan banyak terdiam. Namun terdiam yang intens gitu. Her words are smart, Gretel jelas bukan karakter yang manja dan helpless dan mudah dimanipulasi, tapi hal-hal yang ia alami dan ia lihat di rumah itu adalah hal baru dan mengerikan baginya. Gretel tampak lebih tersesat di dalam sana daripada di hutan. Pandangan mata Lilis juga ekspresif sekali, setiap kali Gretel terdiam pandangannya akan vokal bicara. Kita turut merasakan keraguan, ketakutan, sekaligus rasa penasaran yang ada pada dirinya. Sedangkan Krige sukses membuat Penyihir ini menjadi nenek-sihir paling karismatik sekaligus menakutkan. Jika hal yang paling mengerikan dari setan adalah kekuatannya untuk membuat kita menjadi tidak percaya dia itu ada, maka kengerian Penyihir dalam film ini datang dari sikapnya yang kita tahu ada niat jahat (she eats children!) tapi kita malah melihat Gretel semacam meminta petunjuk darinya. Kita tidak melihat penjahat licik, melainkan seseorang yang menghormati Gretel lebih daripada Gretel menghormati Gretel sendiri.
Sebagai sebuah horor, cerita film ini sangat personal. Ditujukan untuk cewek-cewek muda yang memikul tanggungjawab mengurus adek ataupun keluarga tercinta. Seperti si Penyihir, film ini akan menunjukkan pilihan. Meng-embrace tindakan yang tentu saja dipandang gelap alias jahat, yakni meninggalkan tanggungjawab tersebut karena setiap orang punya masa depan masing-masing dan setiap orang bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. ‘Mantra’ yang diucapkan oleh tokoh film ini adalah bahwa setiap hadiah selalu ada harganya. Mau makan, harus kerja. Mau tinggal, harus nurut. Dan kalo mau bebas, maka haruslah ada yang dikorbankan. Kengerian film ini datang dari antisipasi kita melihat Gretel meniti pelan-pelan pilihan yang ditawarkan Penyihir. Jika Penyihir benar, maka bukan hanya Gretel, dunia kita juga akan jadi menyeramkan saat semua wanita menjadi Gretel. Tentu, secara visual film memperlihatkan hal-hal eerie saat menyampaikan Gretel mempelajari semua – akan ada banyak adegan mimpi yang sureal – namun true horror datang dari implikasi gagasan yang terkandung dalam film ini. Untuk penonton yang berhasil mendalami hal tersebut, ending film akan bekerja dengan memuaskan. Karena ternyata ada jalan tengah.

Menjadi seorang wanita memang berat. Dituntut jadi seorang ibu yang membesarkan anak. Seorang pengasuh yang tak jarang harus melupakan mimpi pribadi. Menggugurkan kepentingan sendiri. Tapi lantas bukan berarti wanita tidak bebas. Gretel terus menggandeng Hansel kemanapun ia pergi menunjukkan bahwa benar, hal yang dicintai terkadang bisa menghambat diri. Namun sebenarnya attachment terhadap merekalah yang menghambat kedua pihak – bukan hanya yang menggandeng, melainkan juga yang digandeng. Maka, sebagaimana yang disugestikan oleh akhir film ini, setiap kita harus percaya. Pada kemampuan diri. Pada kemampuan orang lain. Kita tersesat di ‘hutan’ ini bersama-sama, maka gunakanlah kekuatan masing-masing untuk bisa survive.

 

Ada yang mau minta resep makanan sama si nenek sihir?

 
 
Jika bukan karena pandemi viruscorona, film ini sepertinya bakal tayang di bioskop. Tapi setelah menonton, aku tidak yakin bioskop mau menayangkan ini. Simply karena film ini amat-sangat tidak mainsteam. Gretel & Hansel berjuang keras agar setiap detik napas durasinya terlihat sebagai film indie. Budget kecil, dan banyakan praktikal efek, dan pengadeganan yang dibuat lambat. Jelas bukan tipikal film box office. Gaya dan visual film ini toh memang unik. Banyak shot dan permainan cahaya yang bikin merinding. Secara komposisi, sebagai tambahan dari penggunaan rasio ala film lama, film ini dengan anehnya selalu membuat fokus adegan berada di tengah. Sehingga pergerakan mata kita juga gak banyak. Dari cut satu ke cut berikutnya, semua tetap berada di tengah. Tidak ada ruang untuk bergerak, kita juga merasa terperangkap, dan lama-kelamaan -ditambah dengan pace yang slow – menonton film ini bakal terasa membosankan. Filmnya bakal terasa panjang karena atensi kita tak putus menatap ke tengah layar tempat semua kejadian berlangsung. Padahal durasi film ini sebenarnya cukup singkat, di bawah 90 menit.
Film ini menuntut perhatian dan kepedulian yang besar dari penonton, yang tentu saja, gak semua penonton mau memberikannya secara cuma-cuma. Harus ada hook. Dan sayangnya, film hampir tidak memberikan sesuatu untuk bisa dipedulikan. Narasi soal coming-of-age si Gretel tadi terasa diulur-ulur lantaran tidak banyak pendalaman; meskipun film berusaha jauh dari cerita aslinya, somehow kita bisa melihat ujung ceritanya ke mana. Adegan horor surealnya yang kebanyakan cuma mimpi, dapat dengan cepat jadi repetitif. Sense of danger yang dibangkitkan, tak pernah berujung sesuatu lantaran film lebih tertarik membahas agenda-agenda. Cuma ada satu adegan yang berbau aksi dan jump scare, yaitu di awal-awal saat Gretel dan Hansel nginep di rumah yang mereka pikir kosong, dan itupun tampak seperti ditambahin belakangan karena gak match dengan keseluruhan film – hampir seperti ditambahin karena film ini sadar dirinya bosenin maka butuh yang sedikit nendang.
Masalahnya bukan pada film harus ada aksi dan gak boleh terus-terusan ngobrol supaya jadi tidak membosankan, it has nothing to do with that. Hanya saja, begini: Makanan dalam film ini terlihat enak. Namun cara film menceritakan agenda feminisnya tersebut seringkali membuatku mual. Film ini memasukkan adegan Gretel dan Hansel bermain catur hanya supaya si Penyihir bisa berkomentar bahwa Queen (Ratu) bebas mau ke mana sedangkan King jalannya tertatih-tatih. Ketika dipanggil “Mrs.” oleh Gretel, si Penyihir lantas bilang “Apakah kau melihat tangan dan kakiku terborgol rantai”. Adegan dan dialog-dialog seperti demikian pada akhirnya membuat film yang memang hanya punya dialog dan visual creepy ini jatoh menjadi pretentious. Naskah tidak cukup dalam untuk dapat menjelaskan hal di luar persoalan Gretel, tapi tetap nekat menunjukkan Penyihir yang bisa begitu feminis padahal kerjaannya setiap hari cuma ‘masak’ dan nunggu anak-anak nyasar masuk ke rumahnya.
 
 
 
Sinematografi dengan warna-warna tajam tapi tidak pernah kontras sukses membuat film ini terasa seperti dunia yang bukan dunia kita. Desain produksi dan akting dua pemain wanitanya juga berada di level atas. Secara visual film ini memang menarik, gambar-gambarnya creepy. Sayangnya hanya itulah yang dipunya oleh film ini. Secara narasi, dia berusaha berbeda dari materi asli, dengan visi yang lebih relevan pula. Namun tidak dibarengi dengan eksplorasi yang benar-benar mengundang. Sehingga semua jadi terasa pretentious. Ia malah kayak mencoba terlalu keras untuk menjadi seperti The Witch (2016), dan gagal dengan hebatnya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for GRETEL & HANSEL.

 
 
 
That’s all we have for now.
Benarkah menurut kalian tugas seorang ibu itu memberatkan bagi setiap wanita?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

READY OR NOT Review

“Don’t change to fit the fashion, change the fashion to fit you”

 

 

Biar aku beri clue seperti apa film Ready or Not supaya kalian bersiap-siap menghadapi keseruan yang bakal datang: Ceritanya bermula seperti Crazy Rich Asians (2018), namun akan berakhir gila mendekati Get Out (2017)

Orang kaya perangainya suka aneh-aneh. Itu yang dipelajari oleh Grace (Samara Weaving tampak sangat badass dalam balutan gaun pengantin berbalut selempang amunisi) ketika ia menikahi Alex. Putra dari keluarga yang kaya raya di bisnis boardgame dan kartu. Setelah upacara pernikahan di mansion keluarga Alex yang udah nyaingin kastil Hogwarts, lengkap dengan pintu dan lorong-lorong rahasia, Grace dibawa untuk bertemu dengan seluruh keluarga Alex. Grace harus diospek dulu sebelum resmi menjadi bagian dari mereka. Di malam pertamanya, Grace harus mematuhi tradisi keluarga sang suami. Bermain kartu yang kemudian berkembang menjadi permainan petak umpet mematikan. Semalaman itu Grace harus bersembunyi dari penghuni rumah yang ingin membunuhnya.

Malam pertama berdarah, tapi bukan seperti yang kalian pikirkan

 

Perburuan manusia di dalam rumah orang kaya sungguh merupakan konsep yang fun. Film yang digarap Matt Bettinelli-Olpin barengan Tyler Gillett ini jelas pengen menjadi cerita yang satir. Pada latar belakang, film memasang soal orang kaya yang begitu timpang dengan rakyat jelata. Mereka punya kebiasaan dan tradisi yang berbeda. Mereka memandang sesuatu dengan cara yang berbeda. Film menggunakan komedi untuk menyampaikan gagasannya. Bahkan adegan-adegan kekerasan yang sadis itu diberikan nada lucu sehingga memancing kita untuk menertawakan sekelompok orang kaya yang berusaha mempertahankan tradisi dan hidup mereka dengan membunuh orang luar. Anggota keluarga Alex dijadikan seperti over-the-top. Ada yang enggak tahu nama keponakannya sendiri. Ada yang kerjanya mabuk-mabukkan. Alex diceritakan punya masalah dengan tradisi dan kebiasaan keluarganya, dia sudah mulai jauh dari orangtuanya. Bicara soal orangtua, malahan ada bibi Alex yang digambarkan memandang Grace dengan tampang seolah ada kaos kaki basah di hidungnya. Ya, masukkan Grace dan film jadi punya satu layer lagi sebagai subteks dari cerita. Perihal wanita yang masuk ke sistem yang bukan miliknya.

Grace bukan hanya melawan orang-orang yang memburunya. Grace melawan tradisi. Berusaha survive dari gagasan dirinya harus sesuai – memenuhi syarat – masuk ke satu ‘keluarga’. Di balik aksi-aksi violent yang seringkali membuat kita meringis dan tertawa bersamaan, film berusaha memusatkan perhatian kita kepada latar belakang, baik itu literally maupun figuratively. Desain produksi film ini begitu menonjol untuk menunjukkan perbedaan mencolok antara orang kaya dengan Grace yang dibesarkan di rumah asuh. Denah rumahnya dibuat besar, kelam, dengan banyak lorong kosong dan ruangan penuh hiasan yang membuat Grace berseru “oh shit”. Sesungguhnya ini adalah cara subtil film menyampaikan kepada kita bahwa Grace sedang berada di dalam sesuatu yang bukan untuk dia. Dia menginginkan keluarga. Tapi dia terkejut oleh semua tradisi yang harus dia jadikan bagian darinya. Keseluruhan film melingkupi Grace yang mencoba melakukan sesuatu terhadap tradisi tersebut. Dia tidak mau menjadi korban, namun dia juga sudah jadi bagian darinya. Maka Grace mengoyak tradisi itu dari dalam, sebagaimana dia merobek gaun pengantinnya.

Actually, gaun pengantin yang dikenakan Grace sudah seperti karakter tersendiri. I’m not joking. Gaun itu adalah karakter favoritku di film ini, setelah Grace. Gaun itu punya arc tersendiri, bukan sekedar pakaian. Dia melambangkan sesuatu yang harus Grace kenakan. Sebagai bukti dari masuknya Grace ke keluarga Alex, ke sistem dan tradisi mereka. Gaun itu sempat menjadi hambatan bagi langkah Grace. Tapi lihat apa yang dilakukan Grace terhadap gaun tersebut kemudian. Gaun dirobek supaya bisa lari lebih cepat. Dijadikan perban untuk membalut luka. Dijadikan bantalan ketika terjun dari lantai atas. Bahkan jadi senjata untuk membunuh salah satu pengejarnya.

Marylin Monroe pernah bilang “Berikan sepatu yang tepat kepada wanita, niscaya dia akan menguasai dunia.” Dalam film ini kita literally melihat Grace mengganti sepatu hak-tingginya dengan kets. Dia juga merobek gaun indah sesuai dengan kebutuhannya. Pakaian dan tradisi itu tak cocok untuknya. Grace harus mengoyak sistem yang memaksa dia berada dalam satu posisi. Karena film ini bicara tentang kebutuhan wanita untuk tidak mengubah diri mengikuti sistem. Melainkan mengubah sistem tersebut. Dan jika tidak bisa, menggeliatlah keluar dari sistemnya, meskipun luka seperti Grace yang mengoyak punggungnya untuk keluar dari jeruji pagar yang teralinya ia patahkan.

 

Tradisi yang digambarkan oleh film ini bukan sebatas pada peraturan fiksi cerita saja. Kita bisa membandingkannya dengan banyak hal. Dengan aturan rumah tangga, misalnya. Istri harus ikut suami. Film juga memberi gagasan bahwa ‘tradisi’ seperti itu juga tidak mesti diikuti. Di satu titik, Grace dihadapkan pada pilihan antara kabur atau balik masuk ke rumah dan menolong suaminya. Grace memilih loncat dan lari ke hutan. Bijaknya, film tidak membuat tradisi sebagai antagonis. Kita tidak bisa mengubah tradisi, karena bisa jadi tradisi itu benar. Arc Alex dan saudaranya, Daniel, membahas seputar bagaimana jika sebuah tradisi yang seperti tidak masuk akal, justru adalah hal yang benar. Bahwa peraturan-peraturan konyol itu bukan omong kosong. Untuk kita yang percaya kepada tradisi atau aturan, atau malah agama, mungkin hanya kematian yang bisa memisahkan kita darinya. Tapi bukan berarti kita bisa mengekang orang lain dengan tradisi kita. Dengan kepercayaan kita.

I draw a trap ca… Wait. This whole marriage is a trap!

 

Sudut pandang film bisa agak membingungkan karena film ingin menunjukkan pandangan terhadap tradisi itu dari berbagai sisi. Babak ketiga film ini buatku sangat lucu. Film menolak untuk berakhir aman. Tidak seperti The Purge yang begitu matahari terbit, semuanya usai dan termaafkan. Film ini menunjukkan kita konsekuensi yang tak-biasa. Cara mereka memperlihatkan kebenaran dari tradisi sungguh unik, dan membuat plot cerita menjadi sedikit aneh. Dan ini bisa menjadi nilai plus, sekaligus menjadi penanda ada kekurangan dalam naskah film ini.

Nilai plusnya tentu saja babak ketiga dan sekuen penutup tersebut benar-benar mengukuhkan film sebagai horor yang menarik. Dia bisa menjadi cult-classic karenanya. But also, kekurangannya adalah tokoh-tokohnya terlihat tidak konsisten. Film ini kebablasan mengembangkan komedi dan aksi berdarah sehingga lupa memberikan perhatian lebih kepada pengembangan karakter. Usaha untuk menunjukkan pertumbuhan yang natural sangat minim karena film memilih untuk terus bergerak. Jadi, evolusi tokoh hanya diperlihatkan lewat satu adegan, atau dibuat sebagai hal misterius yang bakal dijelaskan lewat adegan berikutnya. Susah untuk membuat cerita di ruang tertutup, dengan banyak karakter tanpa menjadikan karakter-karakter tersebut hanya di sana sebagai korban pembunuhan yang berdarah-darah. Film memberikan mereka sudut pandang dan karakterisasi yang cukup untuk membuat masing-masing punya dimensi. Akan tetapi pengembangannya minim dan dijadikan sekilas, biasanya sebagai komedi.

 

 

 

Sebagai horor film ini bekerja dengan baik karena punya aksi-aksi berdarah sebagai wujud dari simbol betapa mengerikannya pengaruh sebuah tradisi atau kepercayaan. Ia juga penting karena menyangkut persoalan posisi wanita dalam aturan dan dunia yang dipimpin oleh pria. Sebagai komedi, film ini bekerja terbaik, karena sajiannya yang menghibur penuh oleh kelucuan. Bahkan adegan orang terbunuh saja dibuat lucu. Penampilan akting Samara Weaving benar-benar jempolan, dia kuat dalam kevulnerableannya, dan dia juga kocak. Tapi sebagai film yang harusnya punya pengembangan karakter, film ini tergesa-gesa. Ruang dan tempo untuk pengembangan mestinya bisa lebih lega lagi. Karena dengan kecepatan dan konstan komedi dan aksi seperti yang kita saksikan, latar belakang yang diniatkan untuk mencuat tadi tetap tidak benar-benar standout. Film ini bisa-bisa hanya akan dikenang dan dinikmati sebagai sajian horor sadis yang kocak, dengan gagasan penting dan satirnya teroverlook.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for READY OR NOT

 

ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD Review

“It’s better to burn out than to fade away”

 

 

Lewat cerita tentang seorang aktor serial televisi koboy yang berusaha untuk tetap dikenal sebagai aktor yang hebat dan pemeran pengganti yang sudah menjadi sahabatnya di Hollywood tahun 60an, Quentin Tarantino mengajak kita semua bercanda. Menggoda kita dengan mengubah sejarah kelam menjadi dongeng happy ending. Tarantino memasukkan dua tokoh fiksi ke dalam dunia nyata. Dengan tujuan untuk membuat kita berandai-andai seperti apa jadinya jika Hollywood tidak pernah berubah, tidak palsu, tidak ada yang meredup kemudian menghilang; jika Hollywood adalah tempat yang – seperti dalam cerita – tempat kebaikan selalu menang melawan kejahatan.

Menurutku memang begitulah cara terbaik menonton film ini. Menganggapnya sebagai dongeng. Judulnya saja udah kayak kalimat pembuka hikayat-hikayat zaman dulu; “Pada suatu hari di Hollywood” Buat penggemar film, Hollywood adalah istana impian. Tempat cerita-cerita diwujudkan ke gambar bergerak. Sekaligus juga, Hollywood sendirinya adalah tempat cerita-cerita baru lahir. Cerita orang-orang yang datang dan pergi dari dunia perfilman. Dalam dunia nyata, cerita-cerita tersebut seringnya merupakan tragedi. Karena para aktor-aktor punya masa kadaluarasa. Dalam roda industri yang terus bergulir, pemain muda akan menjadi tua dan cepat atau lambat bakal tergantikan oleh pemain muda yang baru. Rick Dalton, tokoh utama film ini, akan literally dibunuh karakternya. Dalam serial koboy baru yang ia perankan, Dalton bukan lagi bintang utama. Masanya sudah lewat. Kini dia ditawari peran antagonis. Untuk episode pertama, tokohnya akan dibunuh oleh protagonis yang diperankan oleh aktor muda berbakat sehingga studio bisa menaikkan rating dan melanjutkan musim serial tersebut. Begitulah peran Dalton yang dulu selalu jadi hero nomor satu di televisi. Di tahun 1969 itu, dia menyadari perannya sekarang hanyalah pemeran pembantu. Ini adalah akhir dari era Dalton, yang diparalelkan oleh Tarantino dengan akhir dari era kejayaan 60’an yang dibawa oleh tragedi pembunuhan oleh Charles Manson.

See, cerita campuran fiksi dan fakta seperti ini hanya bisa dikerjakan oleh orang yang benar-benar suka pada film. Yang betul-betul mengerti seluk beluk Hollywood beserta sejarah-sejarahnya. Tarantino sudah tidak diragukan lagi keabsahannya. Sejak Pulp Fiction (1994) dia sudah memperlihatkan gambaran pengganti zaman di genre action; bintang baru menggantikan bintang lama lewat adegan Bruce Willis menembak John Travolta. Yang ia sajikan kali ini adalah kumpulan momen-momen yang menunjukkan betapa cintanya dia terhadap film. Narasi tersaji ringan, dengan banyak dialog dan adegan yang bernada komedi. Namun juga perasaan sedih dan nestapa terasa membayangi. Karena ini adalah cerita tentang perjuangan seseorang untuk tetap relevan. Untuk menjadi immortal. Semua itu semakin menghantui sebab kita tahu apa yang terjadi di penghujung tahun itu. Bakal ada yang ‘dibunuh’. Tapi kita tidak lagi yakin siapa atau malah apa yang mati. Film dibangun seolah membendung antisipasi kita terhadap kejadian nyata yang menggemparkan. Sepanjang waktu aku duduk nonton ini aku merasa terhibur meskipun di dalam hati aku terus bertanya-tanya bagaimana film ini mempertemukan Dalton dan Booth yang tokoh fiksi dengan Sharon Tate, seperti apa posisi mereka dalam tragedi tersebut. Yang dilakukan oleh film ternyata benar-benar sebuah twist, yang seharusnya kita senang melihatnya tapi tetap kita merasa ambigu. Film berakhir dengan sangat kuat karena ikut ke dalam pikiran kita sampai ke rumah. Apakah Tarantino sedang menyarankan sebuah solusi. Apakah yang sebenarnya menjadi penyelamat di sana.

Di Indonesia kita mengenal pepatah “manusia mati meninggalkan nama”. Film kesembilan Quentin Tarantino ini membalikkan itu. Rick Dalton berjuang agar namanya tetap berkibar. ‘Turun’ dari tahta protagonis bukan berarti dia tidak lagi tampil prima. Karena actually yang lebih parah bagi manusia adalah nama mati duluan sebelum pemiliknya.

 

Meskipun namanya nongol di koran, Leonardo DiCaprio masih belum meninggal

 

 

Ini bukan pertama kalinya Tarantino menulis ulang sejarah. Menimpanya dengan fiksi. Kita sudah lihat cara dia menulis nasib Hitler di Inglourius Basterds (2009) Sejalan dengan ini juga bukan kali pertama Tarantino menyemplungkan dirinya ke dalam kontroversi. Fantasi Once Upon a Time… in Hollywood bisa jadi susah untuk ditelan buat beberapa penonton. Terlebih buat penonton yang berhubungan langsung dengan tokoh-tokoh nyata yang disinggung alias digambarkan lewat visi Tarantino. Ya aku sekarang bisa melihat alasan putri Bruce Lee protes karena penggambaran yang dilakukan Tarantino terhadap almarhum ayahnya yang melegenda. Tapi sekaligus aku juga bisa melihat adegan-adegan seperti itu dibuat tak-lain-dan-tak-bukan sebagai subteks dari konteks cerita. Bruce Lee yang bertarung imbang dengan Cliff Booth si stuntman sesungguhnya ada dalam ingatan si Booth sendiri. Adegannya berupa flashback dari ingatan Booth sehubungan dengan fakta namanya di Hollywood sudah besar sebagai orang yang berbahaya.

Ya orang-orang juga bisa protes soal Charles Manson yang didepiksikan sebagai tokoh sakral, namun konsekuensi tindakannya tidak digambarkan sampai ke dia. Manson hanya muncul satu kali di film. Karena film memang bukan soal Manson, melainkan fiksi soal perjuangan manusia. Manson hanyalah katalis yang memungkinkan terjadinya kekerasan yang menjadi simbol perjuangan. Kita melihat salah satu Manson Girl bilang mereka membunuhi bintang film karena sudah mengajarkan kekerasan di televisi. Kejadian di sekuen akhir tersebut menunjukkan kekerasan melahirkan kekerasan, namun kekerasan itu diperlukan sebagai bentuk dari perjuangan bertahan hidup, yang paralel dengan tema stay relevan. Ini berhubungan dengan cara Tarantino memperlakukan wanita di dalam film ini. Actually wanita yang diperlakukan kasar udah menjadi kritikan rutin untuk karya Tarantino. Di film Once Upon ini kita bakal melihat Booth menghajar cewek hippie anggota cult Manson. Dalton bahkan membunuh salah satu cewek itu dengan cara yang memuaskan dan berhubungan dengan sesuatu yang ngelingkar dengan bagian awal karirnya. Semua itu merupakan bagian dari keambiguan yang sudah diniatkan untuk kita rasa. Kita memang disuruh untuk bingung; menyoraki sesuatu yang tampak seperti heroisme pria tetapi cewek-cewek itu pantas mendapat pembalasan atas peristiwa di dunia nyata.

Film ini juga bisa susah untuk ditonton jikalau kalian lebih menyukai cerita nyaris tiga jam yang banyak aksi-aksinya. Meski memang saat porsi aksi muncul film menampilkan kekerasan tanpa tedeng aling-aling, namun sebagian besar waktu kita hanya melihat orang duduk dan bercerita. Mereka mendongeng di dalam dongeng. Nonton film ini kayak mendengarkan orang tua bercerita. Kadang kita dibawa melihat visualisasi flashback dari seorang tokoh – yang seperti kasus Bruce Lee dan Cliff Booth tadi; flashback yang ‘kebenaran’ kejadiannya belum absah. Kadang kita melihat Dalton dan Booth hanya duduk mengomentari film-film lama yang mereka mainkan bersama. Buatku, adegan-adegan demikian sama menariknya dengan adegan aksi. Karena aku suka mendengar cerita. Aku suka melihat belakang layar dari pembuatan film difilmkan. Juga tak terhitung banyaknya insight yang diberikan film terhadap skena perfilman Hollywood. Seperti film-film Tarantino sebelumnya, film ini juga renyah oleh dialog-dialog yang dibawakan dengan menarik dan meyakinkan.

Penampilan Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt mengangkat film menjadi semakin menyenangkan. Menakjubkan cara naskah menempatkan mereka di kejadian-kejadian yang ‘aneh’, seperti ketika kita melihat Dalton lagi syuting dan DiCaprio harus memainkan tokoh yang saking pengennya untuk tampil gak-kalah dari bintang muda malah melupakan dialog yang mesti ia ucapkan. Atau ketika Brad Pitt harus menunjukkan reaksi saat masa lalu tokohnya diungkap – Booth dipercaya membunuh istrinya yang kebanyakan ngomel saat mereka liburan di kapal, naskah meminta Pitt untuk menunjukkan ambiguitas dari kebenaran ‘gosip’ tersebut, dan Booth oleh Pitt tampak seperti menikmati semua ini. Like, dia justru ingin orang percaya akan gosip tersebut karena mengangkat namanya sebagai seorang stuntman tangguh. Margot Robbie juga bermain menakjubkan. Naskah menampilkan Sharon Tate seperti tokoh dongeng yang tampak tak nyata. I mean, orang-orang biasa diperlihatkan tidak menyadari bahwa dia masih ada, bukan sekadar persona di bioskop. Dan bahkan dia juga mendapati namanya mulai meredup seperti Dalton. Aku pengen melihat penampilan Robbie lebih banyak, terutama soal kasus Manson tadi. Tapi Sharon Tate tampak seperti ditinggalkan, demi kepentingan twist yang diperlukan oleh visi cerita.

We’re watching the end of an era

 

Semua yang sepintas tampak seperti kekurangan di atas, sesungguhnya juga bertindak sebagai kekuatan yang dimiliki oleh film. Karena film memang mengincar perasaan yang mendua saat kita menontonnya. Tapi jika memang mau bicara kekurangan, aku menemukan dua yang masih belum aku lihat alasan Tarantino memilih untuk bercerita seperti itu. Pertama soal lompatan periode di babak ketiga yang menggunakan narasi untuk menjelaskan ke kita apa yang terjadi selama lompatan tersebut. Sembari film terus membangun narasi yang mengarahkan kita ke tragedi nyata, yang kemudian tidak dilakukan. Menurutku menggunakan periode dan narasi ini tampak seperti wujud bercerita yang malas dan menyingkat waktu dibandingkan dengan cara film menampilkan cerita tokoh sebelum sampai ke titik ini. Di awal dan tengah penceritaannya sangat kreatif. Selalu ada hal baru yang dilakukan untuk menggambarkan cerita tokoh yang sedang bergulir.

Kedua adalah soal kenyataan bahwa untuk konsep film ini bekerja, penonton perlu untuk mengetahui sejarah kasus sekte Manson, yang dijadikan twist oleh cerita. Keseluruhan punchline film hanya bekerja jika kita sudah tahu ini semua berdasar dari kisah nyata yang dibelokkan menjadi dongeng. Karena jika penonton tidak tahu, maka cerita film ini akan berakhir membingungkan. Tokoh Sharon Tate hanya akan tampak seperti tokoh ekstra yang seharusnya bisa dihilangkan. Soal kekerasan terhadap anggota sekte juga memang akan menjadi gambaran dominasi pria kulit putih terhadap wanita, pelampiasan kepada hippie, karena ada missing piece jika penonton tidak tahu sejarahnya. Aku nonton ini sama temanku yang hanya tahu film ini berdasarkan kasus Manson tanpa benar-benar tahu apa yang terjadi pada kasus tersebut, dan saat film beres dia bingung. Punchline dan belokan sejarah yang dilakukan film tidak kena kepadanya. Jadi, film ini membatasi dirinya sendiri. Film mengasumsikan semua penontonnya tahu, dan memang kita diminta untuk riset-riset sedikit dahulu. Dan buatku ini adalah kelemahan karena film meski punya sesuatu yang mendalam tapi seharusnya bisa bekerja di level permukaan. Kita hanya bisa menikmati dongeng sejarah jika kita tahu batasan mana dalam cerita itu yang benar-benar terjadi.

 

 

 

Tarantino tampak sedikit terlalu asik bercanda di film ini. Komedinya twisted and dark. Ceritanya memang menyenangkan, dengan tokoh fiksi dan nyata digabung, tapi bekerja dalam level yang ambigu. Yang untuk mengerti keambiguan dan sasaran yang dituju, penonton harus tahu dulu sejarah yang benar-benar terjadi. Jika tidak, film ini akan terasa berat dan menyinggung sekali. Di situlah letak keunikan film ini. Dia tidak takut untuk menjadi seperti demikian. Jarang kita dibuat menikmati film sekaligus menyadari yang kita tonton adalah harapan yang sudah kadaluarsa. Yang untuk menjadi pembelajaran saja tampak terlalu fantastis. But if you love films, punya perhatian terhadap sejarahnya, you will love this movie.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD.