DEADPOOL 2 Review

“Family is where the heart is”

 

 

Sekurang-kurang ajarnya Deadpool, Wade Wilson di balik topeng merah hitam itu masih punya hati. Hal ini sudah ditetapkan oleh film pertamanya yang sukses berat, breaking the ground dengan gaya liarnya sembari tetap ngegrounded kita kepada jalan cerita lewat penulisan tokoh yang pinter. Pertanyaan yang sekarang diajukan oleh sekuelnya ini adalah; Apakah hati sang anti-hero ini sudah pada tempatnya yang benar?

Di sela aktivitas sehari-harinya memisahkan anggota tubuh para penjahat di seluruh dunia dari badan mereka, Wade Wilson (serius deh, Ryan Reynolds  sudah begitu mendarah daging dengan perannya ini) sempat ngerem sebentar, melepas topengnya, demi merayakan hari jadian dengan Vanessa. Mereka sudah bulat tekad untuk membangun keluarga. Deadpool bahkan sudah punya nama untuk calon anak. Naas, darah daging Deadpool tak pernah sempat dibuat. ‘Pabrik’nya ketembak. Mengirim Deadpool ke jurang nestapa; ia ingin menyusul Vanessa ke alam baka tapi tak bisa. Tau sendiri kan, kekuatan super tokoh kita ini adalah ia enggak bisa mati. Bahkan setelah melakukan aksi bom bunuh diri (bukan di gereja loh, di apartemennya sendiri biar gak melukai orang tak berdosa; Deadpool masih punya hati, ingat?) dan badannya bercerai berai, Deadpool masih sehat wal afiat. Di pengalaman mati-not-really tersebutlah, Wade dinasehati Vanessa untuk meletakkan hati pada tempatnya, menyuruh Wade untuk melakukan hal yang benar. Jadi, Deadpool bergabung dengan X-Men. Sebagai anggota percobaan tentunya, mengingat sifatnya yang ogah ikut aturan.

Deadpool is the SHIT (Super Hero In Training)

 

Dalam salah satu misi bersama Colossus dan Negasonic – and her girlfriend – lah, Deadpool bertemu dengan mutant remaja superemosian yang lagi mengamuk ingin menghancurkan panti asuhan dan membunuh kepala sekolah yang selama ini sudah melakukan berbagai percobaan menyakitkan kepadanya. Deadpool quickly merelasikan anak tersebut dengan permintaan Vanessa, Deadpool ingin menjaga si Russel ini layaknya anak kandung sendiri. Persoalan menjadi rumit tatkala Cable (Josh Brolin sempet dipanggil Thanos oleh Deadpool hhihi), seorang mutant bersenjata lengkap datang dari masa depan dengan tujuan membunuh Russel, demi mencegah anak itu untuk tumbuh dewasa menjadi supervillain yang sudah membunuh keluarganya.

Cerita Deadpool 2 memang sedikit terlalu all-over-the-place, enggak seperti film pertama yang lebih fokus. Ada bagian Deadpool berusaha menyatu dengan cara-main X-Men, ada bagian Deadpool berusaha berkoneksi dengan Russel, juga ada kala ketika Deadpool balik bekerja sama dengan Cable. Pada satu titik cerita, kita lihat Deadpool mengadakan audisi untuk merekrut pasukan superhero dalam misi menyelamatkan Russel dari penjara, dan kocaknya dia menerima semua yang melamar – bahkan yang enggak bena-benar punya kekuatan super juga lolos audisi. Dari luar, ini adalah bagian ketika film seperti memarodikan film-film assemble superhero kayak Avengers, dan memang elemen cerita ini digarap dengan kocak – lagi brutal hihi.. Namun dari lapisan yang lebih dalam, elemen cerita ini sebenarnya ditujukan untuk memperlihatkan Deadpool belum mengerti apa yang ia cari. Setiap yang dijumpai oleh Deadpool sesungguhnya paralel dengan pembelajaran yang harus ia lewati. Seperti Cable misalnya, tokoh ini belakangan akan kita sadari ternyata punya persamaan mendasar dengan Deadpool.

Deadpool tampak ngeloyor keluar dari karakternya. Karena konteks cerita kali ini memang adalah tentang bagaimana Deadpool mengenali apa arti dari keluarga, karena di situlah letak hati kita semestinya. Hati kita berada bersama orang-orang yang beresonansi dengan kita. Film mengeksplorasi hal ini dengan sudut pandang khas Deadpool, dalam gaya bercerita yang hanya Deadpool yang bisa, dan inilah yang membuatnya super menyenangkan.

 

Bahkan sinopsis dua paragraf yang kutulis belum mampu untuk benar-benar mencerminkan betapa ramenya Deadpool 2. Masih ada banyak kejutan dan hiburan yang datang dari cameo-cameo yang bakal membuat bukan saja penggemar buku komik Marvel, melainkan juga penggemar film superhero secara umum. Banyak referensi berseliweran. Sedikit terlalu banyak sih. Deadpool 2 masih tajam dalam nyeletuk soal dunia film superhero, ketika dia membuat jokes yang berdiri sendiri penonton masih dibuat terbahak-bahak, namun untuk alasan tertentu, film ini lebih favor ke mengandalkan referensi fiilm lain ke dalam guyonan mereka. Masih kocak, tapi ketawa yang beda aja gitu. Referensi itu pun semakin liar. Sekarang Deadpool sudah berani nyentil superhero dari brand sebelah.  Menyebut istilah dari film-film yang lain. Salah satu celetukan original film ini yang paling menarik adalah gimana mereka menekankan bahwa ini adalah film keluarga, satir yang dialamatkan tentu saja kepada para orangtua clueless yang membawa anak mereka menyaksikan film penuh kekerasan dan sexual innuendo ini.

Sementara film dengan protagonist kurang ajar sampe sampe dijuluki Merc with a Mouth semakin lantang bersuara, porsi aksinya tampak agak terlalu biasa saja. Maksudku, Deadpool (2016) terutama bersenang-senang dengan kamera dan slow motion dan timing aksi berantem. Pada puncaknya, seolah film tersebut ikutan meledek pembuatan film aksi. Pada film kali ini, Deadpool masih menendang pantat, menumpahkan darah, dengan asyik dan suka ria, tapi tidak banyak kreasi yang ditawarkan. Sutradara David Leitch sebenarnya enggak kalah pengalaman dalam ngegarap film aksi, kita udah nikmatin Atomic Blonde (2017). Namanya juga literally nampang di kredit pembuka film ini sebagai “Salah satu orang yang membunuh anjing di John Wick”. Tapi apa yang ia lakukan di sini, meskipun sekuen aksinya digarap penuh skill dan gak bikin pusing yang nonton, pretty much lurus-lurus aja. Tidak ada yang salah, hanya saja aku mengharapkan aksi yang lebih imajinatif dan gak masuk akal kalo perlu – mengingat tone cerita film ini.

jadi penasaran, segila apa ya jadinya kalo Taika Waititi dikasih jatah ngegarap film Deadpool hhaha

 

Dari segi cerita sendiri, aku gak pernah total sreg sama elemen perjalanan waktu. Time travel atau pengulangan waktu bisa menyenangkan jika diolah dengan unik, atau menjadi stake dalam cerita. Tapi ketika dijadikan penyelesaian, aspek ini malah terasa seperti alat untuk memudahkan cerita. Sebenarnya aku bingung juga apa yang mau dikatakan lagi soal kritik lantaran komentar-komentar breaking the 4th wall dari Deadpool udah kayak sekalian ngereview filmnya sendiri. Aspek-aspek seperti time travel, juga ada superhero yang kekuatannya adalah keberuntungan, secara gamblang sudah disebutkan oleh kelakar Deadpool sebagai bentuk dari penulisan yang malas. Dan hal tersebut benar adanya; keberuntungan lebih sering dijadikan device untuk memfasilitasi kejadian A bisa sampai menjadi kejadian B. Sedankan time travelnya sendiri, aku nunggu-nunggu Deadpool ngeledek aspek ini, tapi dia tidak melakukannya. Satu hal yang luar biasa kocak terjadi karena aspek time travel di film ini sih, kusarankan kalian bertahan nonton sampai akhir kredit penutup untuk melihat adegan lucu tersebut.

 

 

Jokes, referensi, darah, potongan kepala, musik jadul, kumis, bahkan muntahan asam, digodok kemudian dilemparkan ke dinding dan menempel membentuk kata “F-U-N”. Begitulah gambaran yang tepat untuk film ini. Kita akan bersenang-senang menontonnya, tak peduli berantakan yang sudah ia ciptakan. Kalo mau dibandingkan, film ini sebenarnya tidak semengguncang film pertamanya ketika muncul di bioskop tahun 2016 lalu. Lebih liar, memang. Lebih brutal. Hanya saja, terlalu bersenang-senang dengan trope ini membuatnya tampak menjadi sedikit kurang kreatif dalam membangun cerita.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 for DEADPOOL 2.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

GHOST STORIES Review

“The past can haunt you, but so can ghosts.”

 

 

Demi membuktikan poin yang mereka usung sebagai tagline, film ini sempet nekad mejeng pake poster dengan judul yang sengaja ditypo-in. Di negara aslinya, Ghost Stories awalnya dipromosikan sebagai ‘Ghost Storeis’. Karena memang demikianlah cara kerja manusia dalam memandang suatu hal. Kita hanya melihat apa yang kita ingin lihat. Masalahnya adalah, kita cenderung menciptakan sendiri apa yang ingin kita lihat, sebagai langkah yang lebih mudah alih-alih menghadapi apa yang kenyataan yang benar-benar ada. Aku, misalnya, menciptakan persona ‘manusia paling sial’ waktu kuliah dulu hanya karena aku gak mau mengakui bahwa aku nyatanya memang enggak secakap itu dalam berbagai hal. Jadi, secara tak-sadar aku menyalahkan kesialan.

Horor dari Inggris ini mengerti bahwasa hantu sesungguhnya adalah serpihan dari masa lalu yang kelam yang masih eksis di belakang kesadaran manusia. Arwah-arwah penasaran yang dilihat itu tak lain dan tak bukan ialah kesadaran terhadap trauma atau tragedi yang pernah dialami yang muncul ke permukaan, dan rasa bersalahlah yang membuat penampakannya menjadi mengerikan. Kita lebih suka memandangnya sebagai momok ketimbang mengakui kesalahan yang sudah kita lakukan.

 

Bagi tokoh utama film Ghost Stories ini, Profesor Phillip Goodman (merangkap sebagai sutradara, Andy Nyman, memainkan karakter ini dengan note dan penekanan yang tepat mengena), hal-hal supranatural hanyalah hoax berikutnya yang musti ia ungkap. Dia punya acara tivi khusus yang didedikasikan buat menelanjangi penipuan orang-orang yang mengaku bisa berkomunikasi dengan alam gaib. Goodman begitu bangga dengan keskeptisannya ini. Menurutnya, segala hal ‘mistis’ itu pasti ada penjelasan, sebab selalu ada cara untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut. Namun sepanjang berjalannya cerita, kita akan belajar bahwa sikap skeptis Goodman tersebut nyatanya adalah sistem pertahanan si profesor terhadap realitas kehidupannya sendiri. Ada kenyataan yang berusaha ia tutupi, dan selagi dia bisa mengekspos sebanyak mungkin kebenaran di balik fenomena ganjil yang dialami seseorang, atau yang diakui dialami oleh mereka, Goodman merasa lebih baik terhadap dirinya sendiri. Tapi tentu saja, keinginan dan kestabilan sistem Goodman dengan segera mendapat tantangan. Dia dihadapkan kepada tiga kasus paranormal yang bahkan dia sendiri tidak bisa memecahkannya sehingga kasus-kasus ini menjadi hantu yang meneror Goodman dan kebenaran yang (tidak) ingin dia lihat.

Goodman ini kayak-kayak tokoh Reza Rahadian di film Gerbang Neraka (2017)

 

 

Tiga kasus yang ditangani Goodman akan kita saksikan menjelma seperti cerita pendek dalam dalam sebuah film antologi. Ditambah dengan cerita tentang dirinya sendiri, menonton Ghost Stories ini seolah kita menonton empat film pendek yang serem. Setiap cerita benar-benar tersulam sempurna, di mana cerita yang satu akan turut ngebangun cerita yang lain. Penonton yang jeli akan dapat menangkap petunjuk-petunjuk subtil berupa objek-objek yang muncul sepanjang penceritaan kasus; warna benda, jumlah, bahkan penggalan kalimat dialog, yang diakhir cerita akan berperan besar dalam mengungkap kebenaran. Ghost Stories, selain seram, juga merupakan horor yang pintar.  Aku benar-benar menikmati pengalaman horor yang diberikan. Ditambah pula, aku menyaksikan film ini sendirian di studio bioskop.

Pada kasus pertamalah aku merasa sudah hampir melambaikan tangan menyerah dan keluar minta ditemenin nonton sama kakak penjual tiket yang senyumnya manis. Atmosfer kesendirian di dalam ruangan yang gelap dihadirkan oleh film dengan begitu kuat ketika mereka menceritakan tentang seorang penjaga yang menghabiskan waktu jaga malamnya di bangunan bekas asylum buat cewek-cewek berpenyakit mental. Bunyi sesuatu di sudut kelam yang ogah kita lirik, derap tapak seseorang di tempat yang kita tahu enggak ada orangnya; kita akan tenggelam dalam efek-efek suara yang creepy abis semacam itu.

Kasus kedua menawarkan sajian mencekam yang berbeda. Horor pada cerita ini enggak terasa sedekat kasus pertama kepada kita semua, tapi nuansa unsettling itu tetap di sana. Membuat kita merinding ria menyaksikan tokoh-tokoh yang tampak ‘tak-seperti kelihatannya’ yang dijumpai oleh Goodman.  Yang ia tangani di sini adalah seorang anak muda yang melapor melihat suatu makhluk di dalam hutan, dan Goodman bertamu ke rumah si pemuda. Melihat sekilas orangtuanya, sebelum akhirnya naik ke lantai atas ke kamar kliennya yang penuh dengan gambar-gambar perwujudan setan, hasil riset si pemuda di internet. Alex Lawther sungguh sukses memainkan pemuda yang ngobrol langsung dengannya aja bakal bikin aku kencing celana. Ada banyak facial work dalam aktik Lawther yang begitu efektif mengeluarkan kesan mengerikan, padahal di cerita ini dia yang diteror.

Film ini merupakan penerapan ungkapan yang tepat dari “antara yang benar dan yang baik, pilihlah yang baik”. Jangan semena-mena menyepelekan keyakinan orang lain. Jangan bully mereka dengan kebenaran yang belum bisa mereka terima. Karena terkadang kita yang harus menyadari ada batas antara skeptis dan tak-percaya dengan apa yang disebut dengan turn a blind eye. Whether or not kita bersedia untuk dealing dengan hal-hal ini ataukah kita lebih suka untuk membloknya dan berpura semuanya tak pernah terjadi

 

Penampilan Martin Freeman pada kasus dan cerita ketiga seperti menyambung estafet ke-creepy-an dari Lawther. Tokoh yang ia perankan mengadu menyaksikan sendiri aksi poltergeist yang berhubungan dengan proses istrinya melahirkan. Cerita bagian ini memang tidak terlalu seram, karena pada titik ini kita diniatkan untuk sudah berada dalam sepatu Goodman. Ini sudah lewat point-of-no-return, Goodman sudah menerima ada beberapa hal yang tak bisa ia jabarkan, jadi kengerian di bagian ini datang dari ketika Goodman menyadari semua cerita tersebut pada akhirnya  bermuara kepada dirinya sendiri. Tone cerita di sini seketika menjadi sangat surealis. Apa yang terjadi kepada Goodman sungguh-sungguh disturbing, cerita-cerita tersebut sudah mengganggunya dalam level yang dalem.

“Jangan lihat ke belakang” serasa punya arti yang lebih dalem jika nonton ini sendirian di bioskop

 

Tak berlebihan memang jika aku menyematkan pujian sebagai horor terseram yang kutonton setelah berbulan-bulan kemaren aku hanya menyaksikan film hantu ala kadar buatan lokal. Ghost Stories mengerti bahwa tugas film horor bukan hanya sekedar menampilkan darah, adegan sadis dan kekerasan. Bukan sekedar menampilkan hantu – yang mengaum pula. Aspek-aspek tersebut memang membuat film horor menjadi menyenangkan, malahan dalam film Ghost Stories inipun kita bakal menjumpai aspek serupa; ada jumpscare juga, ada elemen tradisional seperti mati lampu, dan monster, dan hantu yang wujudnya mengerikan. Malah ada satu yang tampaknya bakal aku lihat lagi dalam mimpi burukku nanti malam. Bagusnya, Ghost Stories tidak melupakan apa yang membuat horor itu bakal terasa sampai ke jiwa penontonnya. Horor yang sebenarnya adalah horor yang datang dari derita dan penyesalan yang terjadi kepada kita, atau keluarga di masa lalu; dari sesuatu yang benar-benar mungkin dialami oleh kita semua. Film ini menarik hal tersebut dari sudut terkelam pikiran kita, mengeksplorasinya dalam penceritaan yang tersusun cermat.

Tapi, adegan pengungkapannya sendiri, aku tak ayal merasa sedikit dikecewakan.  Aku mengharapkan konklusi cerita yang bakal bikin aku bersorak “oh ternyata begitu” dan udah siap tepuk-tepuk tangan. Tapi nyatanya, melihat beberapa menit terakhir film ini, aku tidak banyak beranjak dari posisi duduk dan hanya mengangguk kecil “ya, masuk akal sih endingnya”. Aku bukannya enggak-suka, hanya saja setelah sedari awal melihat arahan yang berbeda (film Inggris kebanyakan unggul di arahan yang terasa sangat unik), aku sama sekali enggak mengharapkan film ini berakhir dengan ‘sama-seperti-film-lain’. Jacob’s Ladder (1990), Stay nya Ryan Gosling tahun 2005, bahkan Pintu Terlarang buatan Joko Anwar (2009) adalah beberapa film yang sudah lebih dahulu menggunakan pengungkapan yang serupa. Pintar, memang. Namun setelah cukup banyak, tidak lagi terasa istimewa.

 

 

 

Dengan imaji horor yang begitu kaya ditambah filosofi yang tak kalah seramnya, film ini menjelma menjadi sebuah tontonan yang bukan saja menghibur, melainkan padat berisi. Ini adalah tipe film yang tidak akan membosankan jika ditonton berulang kali. Malah justru setiap kali menontonnya akan memberikan pengetahuan dan kesadaran yang baru. Semua itu tercapai berkat penceritaan dan elemen-elemen subtil yang disematkan di antara trope-trope familiar. Yang bosen ama horor yang itu-itu melulu, disaranin deh tonton ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for GHOST STORIES.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

React to WIRO SABLENG Teaser Trailer

Tim Production Design lagi jelasin makna di balik desain Kapak Maut Naga Geni 212 yang baru

 

Excited 1: Wiro Sableng adalah bagian dari rangkaian kartun (padahal bukan kartun!) yang tak-boleh dilewatkan buatku saat masih kecil dulu

Excited 2: Fakta bahwa film reboot-an dari serial TV ini bekerja sama dan actually dapat funding dari 20th Century Fox

Excited 3: Si Sableng itu nongol di video promotional Deadpool 2!

 

Ya, aku yang biasanya gak tertarik ngikutin trailer film – apalagi teaser – (prinsipku; kalo mau nonton ya nonton aja) toh menggelinjang juga dibuat oleh gempuran combo excitement yang disarangkan oleh Lifelike Pictures demi mempromosikan proyek gede mereka, Wiro Sableng. Jurus yang ampuh sekali, aku ngaku. Membuat kita semua penasaran seperti apa kiranya film ini nanti. Mereka mengawali godaan itu dengan ngeluarin teaser-teaser kecil (pelit, memang) yang nunjukin siapa sih Wiro Sableng bagi yang belum kenal. Dan akhirnya, kemaren sore tanggal 11 Mei 2018, official teasernya beneran dikeluarin! Gak tanggung-tanggung. Demi menangkis pertanyaan orang-orang yang makin penasaran, saat acara release teaser tersebut mbak produser Sheila Timothy langsung ngasih kabar gembira ke kita semua: Tanggal tayang film ini dimajuin jadi Agustus 2018!!

 

Buat yang belum sempet ke LINE Today, ini nih official teasernya:

 

http://www.youtube.com/watch?v=4UQUbZFgpRs

 

Gimana aku dan undangan lain di konferensi pers kemaren gak pengen nambah, coba?

 

Teaser yang juga bakal ditayangin di pembuka screening Deadpool 2 di depan audiens Singapura entar, memang tampil begitu wah. Stunning sekali. Reaksi pertamaku literally begitu, “film ini bakal cakep banget.” Kelihatan  banget deh, waktu berbulan penggarapan itu ngefeknya ke mana. Lewat teaser kali ini, misi utama yang ingin dikenalin adalah kebolehan ‘aksi’ para filmmaker dan insan-insan yang terlibat di dalam pembuatan film tersebut. Satu menit lebih dikit itu dengan menakjubkan mengakomodasi semua.

Departemen art sih yang paling kelihatan kuat. Aku suka gimana kostum-kostum yang tampak di trailer benar-benar terlihat epik, khas dunia persilatan tanah air. Kostum si Anggini yang diperankan Sherina Munaf misalnya, sekilas mirip ulos, tapi ternyata dia bisa mengeluarkan jurus selendang yang panjang membentang. Begitu juga dengan kapak si Wiro yang ada elemen unsur alam ala-ala di batik. Dari teasernya tampak seperti Wiro Sableng, sebagai sebuah film, tidak melupakan budaya. Ia membuat budaya tampak keren dan gak kuno. Kalian ingat di serial dulu, setiap kali berantem, pukulan dan tendangan para tokoh ada asapnya? Waktu kecil kalo main Wiro-Wiroan, aku ampe ngabisin tepung di dapur buat niruin adegan tersebut. Namun sepertinya saat nonton film ini nanti aku udah gak bisa niruin pakai tepung lagi, sebab di teaser ini kita bisa lihat sama-sama efek asap di tangan Wiro udah canggih punya. Asap ajiannya pake muter-muter segala, ajib!!

Para pemeran tampak menawan dalam balutan kostum karakternya. Mereka semua disulap sehingga jadi pas banget ama karakter masing-masing. Aku nonton teaser ini sambil nunjuk-nunjuk layar. Wah itu Yayan Ruhiyan tampilannya sadis banget! Yang paling gorgeous di teaser itu jelas Marsha Timothy yang mejeng sebagai Bidadari Angin Timur. Sinto Gendeng bikin pangling, efek prostetiknya meyakinkan sekali. Sherina galak sih ya jadi Anggini, pasti kocak ntar interaksinya ama Wiro. Muka jahil Vino G. Bastian juga pas banget ama karakter sablengnya Wiro. Buat Vino, Wiro Sableng ini sudah personal sekali karena ini adalah tokoh yang diciptakan dari garis pena ayahnya, Bastian Tito. “Ayah pasti bangga melihat kerja keras kami semua”, ujar Vino yang menganggap perannya di sini bukan sekedar warisan yang ia dapatkan, melainkan lebih kepada tanggung jawab dan baktinya kepada sang Ayah.

“Kok pertanyaan ke saya susah-susah sih?” Sableng, Wiro. 2018.

 

Disokong Fox, Wiro Sableng tampil enggak tanggung-tanggung. Olahan teaser ini aja rasanya udah Hollywood banget. Pake sound “Duummmmm” kayak bass Michael Bay segala. Bagian akhir trailernya tuh, yang aku suka. Lirik “Wiro, Wiro Sableng!” yang digubah dari lagu lamanya kedengaran menggebu-gebu banget. Pergerakan kamera jangan ditanya. Syut demi syut outdoor itu tampak demikian fantastis, mengalir dengan mulus. Pacenya cepet khas film aksi, tapi enggak pernah membingungkan. Adegan Wiro nangkis meja pake ceker ayam itu udah kayak penggambaran adegan dalam buku komik banget, yang mana semakin keren karena mengisyaratkan film ini paham bahwa salah satu yang paling fun dalam menonton Wiro Sableng dulu adalah bagaimana Wiro menggunakan environment sekitar.

Wideshotnya tampak fantastik. Orang-orang melayang dengan sling enggak kelihatan konyol dan over-the-top. On the other hand, CGInya memang masih terlihat sedikit kasar. Adegan Wiro di pinggir tebing, adegan Wiro berantem di puncak pohon, lingkungannya terasa unworldly. Kayak bukan pada tempat yang sama dengan hutan-hutan, pondokan, bahkan dengan set indoor seperti singgasana kerajaan.  Namun sekali lagi, yang kita lihat sekarang ini baru teasernya. Susah sekali tentunya menangkap konteks momen cerita dari video pendek nan cepet ini, jadi kita gak bisa buru-buru ngejudge. Bisa saja memang saat itu Wiro sedang menapaki alam dunia lain. Atau mereka sedang bertarung di realm yang berbeda, mengingat di adegan itu Wiro tampak berhadapan dengan  Bujang Gila.

 

Selain rasa penarasan, tentunya juga ada rasa bangga terkait kerjasama Wiro Sableng dengan 20th Century Fox. Karena meskipun cerita fantasi, Wiro Sableng masih mengakar kepada budaya. Sedikit banyaknya, kebudayaan kita dilirik juga sama orang luar, and it could be such an eye opener. Menurutku sendiri sesungguhnya ada banyak sekali cerita-cerita asli Indonesia, bahkan cerita kepahlawanan masa penjajahan, yang bisa dieksplorasi – yang ceritanya enggak kalah seru dengan cerita-cerita superhero. Wiro Sableng bisa jadi jalan pembuka, kapak yang menebas jalan lapang bagi cerita-cerita dan budaya tersebut untuk dilihat oleh dunia luar. Bukan tugas yang ringan, memang, tapi kan yang namanya jagoan, harus rela berkorban. Eh salah, itu lirik lagu film si Sherina waktu masih kecil. Maksudku, tapi kan yang namanya film sudah semestinya bergerak maju ke arah yang lebih baik. Dan aku suka ke arah mana film Wiro Sableng ini melangkah.

Karena jika muridnya sableng, gurunya gendeng. Maka, apa yang dahulu sableng, yang sekarang mestinya jreng jreng!

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

dan inilah namaku di universe Wiro Sableng

Backlash 2018 Review

 

Aku kasian sama Roman Reigns. Beneran. Dia berusaha memberikan yang terbaik, dia bekerja giat menaikkan skill di dalam dan luar ringnya, bisa diandaikan dia diberikan bola dan dia berusaha mencetak gol dengan bola tersebut.  Namun di situlah masalah, dia selalu diberikan ‘bola’. Roman Reigns adalah apa yang kita sebut sebagai korban bookingan. Bukan salah Roman Reigns jika dia selalu ditempatkan dalam situasi yang membuat penonton nge-boo habis-habisan. Habisnya, tim kreatif sendiri yang sepertinya kehabisan ide untuk menampilkan Reigns layaknya pahlawan babyface yang diniatkan. Pada Backlash 2018, para penulis, Vince McMahon, dan unfortunately Roman Reigns, kena batunya.  Para fans yang nonton langsung di studio literally tampak berbondong-bondong walk out dari arena saat pertandingan tunggal Reigns melawan Samoa Joe yang menjadi main event masih berlangsung. Banyak laporan yang menyebut alasan penonton itu keluar juga dipengaruhi oleh keadaan jadwal kereta dan traffic yang enggak mendukung. Apapun itu, yang jelas ngeloyor keluar di saat acara masih berlangsung adalah sebuah perbuatan yang menunjukkan gestur tidak hormat. Penonton yang walk out tidak peduli soal duit yang sudah mereka keluarkan, karena menurut mereka pulang tepat waktu lebih penting dari melihat Reigns dicecokin ke dalam kerongkongan mereka sekali lagi. Mereka tidak respect sama keputusan bookingan ini. Dan sejujurnya, WWE kinda deserve it.

WWE membuat Roman Reigns menghabiskan sebagian besar caturwulan kemaren dengan mengomel soal Brock Lesnar yang dianakemaskan oleh company, Reigns mempermasalahkan gimana Lesnar sepertinya mendapat perlakuan khusus, dan sekarang hal yang serupa terjadi kepada dirinya sendiri. Reigns jadi main event acara padahal pertandingan yang ia lagai tidak mempertaruhkan apa-apa.

Main event atau partai puncak yang menutup acara adalah big deal dalam pertunjukan WWE.  Tidak sembarang superstar ataupun tidak ngasal saja menunjuk match yang fungsinya mengirim penonton pulang dengan memuaskan sekaligus tetap membuat mereka geregetan untuk lanjut menonton lagi lain kali. Spot ini ditujukan untuk elemen-elemen cerita yang paling penting.  Biasanya jadi partai perebutan sabuk kejuaraan dunia, sabuk dengan kelas tertinggi dalam klasemen. Ketika Lita dan Trish Stratus dijadikan main event Raw, itu adalah momen paling spektakuler karena biasanya selalu superstar cowok yang dianugerahi posisi terhormat ini. Dalam menjalankan agenda Women’s Revolution, WWE memberikan kesempatan pada superstar cewek masa kini beraksi jadi penutup acara – untuk menunjukkan bahwa mereka berada di posisi yang sama dengan superstar cowok. Segitu pentingnya soal main event  ini, bahkan CM Punk cabut dari WWE  karena dirinya tidak kunjung diberikan spot main event di Wrestlemania; acara paling gede di WWE.

 

Roman Reigns melawan Samoa Joe enggak ada urusan menjadi penutup Backlash. Tidak ada sabuk yang dipertaruhkan. Ini adalah partai yang murni dari perseteruan Joe yang sadari awal kemunculannya sudah jadi bebuyutan Reigns, masalahnya feud mereka sudah tak perlu lagi dilanjutkan karena Joe dan Reigns sudah pisah brand  -Joe di Smackdown! Sedangkan Reigns di Raw – sehingga mereka tidak akan bertemu lagi.  Backlash adalah pay-per-view pertama di musim baru WWE, di mana pada musim ini Raw dan Smackdown! akan terus berbagi pay-per-view. Which is bring us kepada hal yang membuat para fans semakin gondok sama Roman Reigns; sebab there’s actually a championship match yang lebih pantes untuk dijadikan main event dalam Backlash. Sabuk tertinggi Smackdown! diperebutkan malam ini antara AJ Styles melawan Nakamura – sebuah feud yang dibuild up dengan cerita yang intense dan personal bagi kedua superstar, mereka punya history, belum lagi fakta bahwa keduanya adalah superstar yang punya ring skill teratas menjadikan pertemuan kedua mereka ini lebih ngedream match dibandingkan sebelumnya. Namun mereka belum cukup bergengsi bagi manajemen WWE untuk dijadikan penutup acara yang spektakuler. They’re actually bust their balls for us, tapi WWE masih memaksa kita untuk membawa pulang kemenangan Reigns yang tertebak dan gitu-gitu mulu sebagai kenangan terakhir.

Styles di Backlash kena backlash dari kursi

 

Buruknya bookingan partai terakhir ini tentu saja berimbas kepada partai-partai lain, sebab mereka didesain untuk tidak melebihi penutup. Styles dan Nakamura sudah mulai menunjukkan apa yang sebenarnya mereka bisa, namun tetap terhalang oleh penulisan yang dengan sengaja dirancang untuk mengulur perseteruan mereka. Ini adalah partai no-DQ dengan cerita yang berpusat di Nakamura yang hobi mukulin anu nya Styles. Mereka bisa saja bikin pertandingan yang totally bikin kita meringis. Hanya saja mereka memutuskan untuk bikin kita kesel dengan membuatnya berakhir no-contest. Matchnya sendiri enggak jelek, tapi hasilnya begitu tidak memuaskan, membuat penonton memutuskan semua gara-gara Reigns.

Salah satu elemen cerita kekinian yang digali oleh penulis adalah soal perundungan, dan di Backlash kita dapat dua match yang bertema bullying. Sayangnya hanya satu yang bekerja dengan baik. Big Cass dan Daniel Bryan perfect menghantarkan cerita dan drama yang dibutuhkan, hanya saja aksinya yang kurang. Maksudku kita tahu Bryan semestinya bermain di level yang lebih tinggi daripada itu. Dia supposedly di sini untuk membantu membangun karakter Big Cass. Masalahnya adalah Big Cass masih terlalu bland. Dia bagus di depan mikrofon, gerakannya juga enggak awkward, akan tetapi serangan-serangannya biasa aja. Dia tidak melakukan hal yang unik, pacenya lambat. Jika Big Cass memang diniatkan sebagai sesuatu yang besar, dia perlu dengan cepat step up his game melakoni peran dan kesempatan yang diberikan. Sebaliknya, match Nia Jax melawan Alexa Bliss terlihat sedikit out-of –ordinary, tapi lebih ke arah negatif. Perseteruan mereka lumayan menarik, Bliss memainkan karakter fake martyr yang nuduh Nia ngebully padahal sebenarnya dia yang jahat. Yang kecil actually ngerundung yang lebih besar. Mereka memberi kesempatan untuk Bliss melakukan serangan-seranga tak terduga, dengan tujuan memberikan kesan Nia vulnerable, tapi aksi-aksi tersebut tak pernah tampak meyakinkan. The match was too long, Bliss terlalu banyak menyerang. Di akhir match, Nia ngasih speech soal bangga dan kuat menjadi diri sendiri yang momennya tidak terasa sekuat yang diniatkan.

aku bangga jadi Nia Jax karena aku masih sanak saudara ama The Rock

 

 

Berbeda dengan Vince yang menurutnya sangat kocak melihat Fashion Police, Titus Worldwide, dateng ikut conga line No Way Jose dan kemudian bersama-sama New Day dan Bobby Roode menghajar Elias, bagian yang lumayan aku tunggu-tunggu adalah pertandingan Carmella melawan Charlotte. Aku lebih suka Carmella yang lemah tapi jahat sebagai juara karena itu artinya dia bakal melakukan apapun dengan sabuk juaranya itu, ketimbang Charlotte yang hanya menjadikan sabuk sebagai aksesoris. Aku penasaran gimana Carmella bisa menang lawan Charlotte, dan aku sungguhan terkejut WWE membuat Carmella menang clean atas sang Ratu. Bahkan lebih kaget lagi saat Carmella menggunakan Code of Silence, finisher submission yang biasanya ia pakai di NXT. Tapi yah memang matchnya standar aja, agak-agak annoying juga demi mendengar teriakan-teriakan Carmella

Don’t hate the player, hate the game

 

 

Berbeda dengan main event, partai pembuka biasanya selalu diposisikan buat pertandingan papan tengah di mana disuguhkan aksi-aksi cepat seperti high flying. It’s a less drama, more action. Rollins dan Miz kebagian posisi ini di Backlash, dan, maaaan, mereka deliver layaknya profesional sebenarnya profesional. Meskipun kita sudah bisa tahu duluan hasil akhirnya dengan menebak pake logika, tapi mereka dengan sukses membuat beberapa kali Miz tampak bakal memenangan pertandingan dengan meyakinkan. Aksi pertandingan ini padet oleh spot spot seru. Mereka juga menjual angle cedera kaki di cerita ini, yang membuat urgensi semakin nyata dan menjepit. Saking serunya match ini, aku pikir kita gak perlu nunggu lama sampai main event kalo memang mau walkout. Keluar aja sedari match ini berakhir.

 

 

 

Jika ada yang berhasil dilakukan oleh WWE pada Backlash 2018, maka itu adalah membunuh respek penonton terhadap produk yang mereka sajikan. Ketika kau bermaksud menghibur penonton, namun mereka malah asik ngechant sendiri, heboh-heboh di luar apa yang sedang kau usahakan, itu adalah tanda kau gagal menggaet mereka. Backlash sukses melakukan ini. Dia membuat kita tidak peduli kepada para superstar. Padahal sesungguhnya yang harus dipersalahkan adalah bookingan yang membuat semuanya menjadi begitu di bawah menengah.
The Palace of Wisdom menobatkan Miz melawan Seth Rollins sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

 

Full Results:
1. INTERCONTINENTAL CHAMPIONSHIP Seth Rollins mengalahkan The Miz
2. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Nia Jax bertahan dari Alexa Bliss
3. UNITED STATES CHAMPIONSHIP Jeff Hardy defeat Randy Orton
4. SINGLE Daniel Bryan bikin Big Cass tap out
5. SMACKDOWN! WOMEN’S CHAMPIONSHIP Carmella retains ngalahin Charlotte
6. WWE CHAMPIONSHIP NO-DQ Juara bertahan AJ Styles dan penantangnya, Shinsuke Nakamura sama-sama KO
7. TAG TEAM Braun Strowman dan Bobby Lashley mengalahkan Kevin Owens dan Sami Zayn
8. SINGLE Roman Reigns mengalahkan Samoa Joe, tapi tidak ada yang peduli.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

ANANTA Review

“Life is the art of drawing without an eraser.”

 

 

Hidup bekerja dalam cara yang misterius. Kita tidak bisa memilih siapa yang akan nongol di hidup kita, pun kita tidak bisa menembak siapa yang bakal bertahan dan siapa yang pergi. Seperti Tania yang terheran-heran sendiri, apa dosanya sehingga dia bisa ditegur sama cowok anak baru lugu nan udik yang berjudul Ananta itu. Padahal Tania sudah memastikan dirinya untuk enggak ramah sama orang lain. Tania menenggelamkan diri di dalam dunia lukisan. Tania merasa sudah begitu hebat dalam sendirinya, hingga terjadilah Ananta yang mengomentari gambar karyanya dengan logat Sunda yang khas. Ananta yang mengerti, yang mengingatkan Tania kepada pujian Ayahnya tatkala Beliau melihat coret-coretan Tania Kecil. Ananta yang kemudian berlanjut menjadi pasangan Tania… dalam berbisnis. Ananta yang kreatif dengan kata-kata, dan cepat akrab dengan orang, didaulat menjadi penjual lukisan Tania, sementara cewek cantik itu tetap bekerja di belakang layar. Dan kemudian Ananta menghilang. Tapi tidak bersama dengan kebahagiaan Tania. Sebab, ya itu tadi, hidup bekerja dalam cara yang tidak kita ketahui.

Sekali lirik, Ananta terlihat seperti drama relationship yang sudah lumrah yang terjadi di antara seseorang dengan orang yang kurang ia hargai di awal, yang ujungnya sudah bisa kita tebak; mereka pasti berakhir bahagia hidup bersama. Akan tetapi, film ini punya elemen-elemen yang lain, it does feel like elemennya merupakan gabungan dari berbagai film-film drama yang setipe, dan ini menunjukkan bahwa sebenarnya Ananta punya nature cerita yang kompleks. Bertindak sebagai panggungnya adalah seni; unsur kesenian, terutama seni gambar atau lukis, akan menguar dari cerita. Hubungan antara Tania dan Ananta dijadikan porosnya, kita melihat mereka membangun bisnis galeri lukisan, ada kerja sama profesional di sana. Tentu saja ada elemen romansanya juga. Dalam level personal, Ananta juga bertindak sebagai kisah hubungan anak cewek dengan ayahnya. Semua elemen itu dihubungkan dengan benang merah yang bicara tentang  bagaimana pentingnya mengapresiasi seseorang.

Sesungguhnya setiap manusia adalah seniman yang sempurna. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita mengapresiasi setiap jiwa yang pernah amprokan sama kita dalam kehidupan. Karena kita tidak tahu apa yang sudah mereka lalui. Kita tidak menyukai karya seni yang kita tidak mengerti maksud pembuatnya, begitu juga yang terjadi terhadap kita dengan manusia lain. Untuk itu, berikanlah waktu dan usaha untuk mengerti. Karena jika manusia adalah seniman, maka hidupnya adalah seni menggambar yang dikerjakan seorang seniman tanpa penghapus.  

 

Penceritaan film sesungguhnya juga adalah sebuah seni. Ironisnya, rasa terhadap hal tersebut kurang dimiliki oleh film Ananta. Arahan dan tutur cerita film ini tidak mampu membawa keadilan kepada kompleksnya materi yang dipunya sebagai dasar cerita. Semua diolah dengan satu-dimensi demi kepentingan menjadikan cerita ini punya twist. Inilah problem mayorku buat garapan Rizki Balki ini; babak terakhirnya berubah menjadi begitu banyak kelokan. Setiap sekuen di babak ketiga diniatkan untuk membuat kita melihat satu tokoh dalam cahaya yang baru. Film membuat ini sebagai ujung tombak cerita, hanya saja dengan melakukan hal tersebut, banyak set up yang harus dikorbankan. Menjadikan tokoh-tokoh tampak sederhana, terutama tokoh utama. Dan ini adalah pilihan yang riskan. Kita tidak bisa mempersembahkan sesuatu yang kompleks dengan merahasiakan beberapa elemen, tanpa menjadikan elemen tersebut jatohnya jadi sederhana.

Tania, misalnya. Tokoh ini dibuat terlalu over-the-top, dia meledak-ledak marah terhadap hal kecil. Suatu kali, dia mengiris jarinya dan Ananta untuk kontrak darah, di meja makan, saat lagi dinner bareng keluarga! Penceritaan membuat dinding di sekilingnya, sehingga kita enggak mengerti apa yang ada di kepalanya. Padahal sebenarnya Tania ini karakter yang menarik. Dia cinta seni, dia ingin terus membuat seni. Dia percaya dia adalah seorang seniman, karena dengan percaya hal tersebut berarti dia menghormati pendapat ayah yang sangat ia cintai. Dia punya imajinasi yang tak tertandingi sehingga ia susah mencari orang yang sepadan untuk berkomunikasi. Tania jadi galak, sama guru seninya, sama keluarganya, basically hampir sama semua orang. Kecuali orang-orang yang pandai masak nasi kerak. For some reason, Tania digambarkan suka nasi kerak, dan menurutku ini adalah bentrokan simbol paling menarik yang dipunya oleh cerita; bahwasanya seniman warna warni seperti Tania sangat menyukai sesuatu yang ‘salah bikin’ dan berwujud tak menarik seperti nasi yang dimasak kegosongan.

itu nasi kerak yang suka dimakan ama mbah-mbah bukan, sih?

 

But instead, kita kerap mendapat Tania yang begitu dramatis. Karakter ini dipersembahkan sebagai anak jahat berhati dingin. Kasar sama semua orang. Mustahil untuk menyukainya, bahkan untuk peduli kepada diri Tania sebagai seorang seniman muda pun susah. Motivasi Tania, hubungannya dengan sang ayah diungkap belakangan. Terlalu lambat malah. Tidak hingga momen terakhir kita paham bahwa ketakutan terbesar Tania bukanlah menerima orang dalam hidupnya, melainkan adalah Tania takut untuk kembali masuk ke pondok kenangan ia dan ayahnya. Yang mana enggak masuk akal; Tania punya menyimpan erat lukisan ayahnya dan secara konstan mengingat beliau, namun ogah ke pondok tempat pastinya beberapa memorabilia sang ayah bergeletak di sana untuk dikangen-kangenin?

Film juga enggak mengalir dengan benar-benar niat untuk menunjukkan perkembangan karakter Tania. Momen ketika Tania membuka pameran tunggal di Yogyakarta, momen dia tampil mempersembahkan karyanya di depan orang banyak untuk pertama kalinya, mestinya ini menjadi momen kunci perubahan karakter Tania. Tania sudah menghilangkan salah satu ketakutannya di titik ini. Tapi film malah menceritakan kejadian di sini dengan gaya montase, seolah ini adalah hal yang sama pentingnya dengan adegan Tania dan Ananta mandi hujan siraman air selang di kebun. Film tidak paham mana bagian yang nyata secara emosional, film tidak fokus bercerita. Yang ada ialah film terlalu sibuk mengorkestra dramatisasi dan komedi sehingga tak ada kejadian yang benar-benar tampak real. Kemudian tiba-tiba Tania menyadari cinta sejatinya. Momen ini sangat mendadak, apalagi ditambah kita tidak pernah tahu persis apa yang menjadi motivasi tokoh utama ini.

udah kayak iklan rokok aja “Tania kenapa?”

 

Salah satu momen pamungkas adalah ketika Tania sadar seberapa besar Ananta sudah mengubah hidupnya. Bahkan kakak-kakak dan ibu Tania diberikan adegan khusus untuk menyuarakn hal ini. Kemudian di sini ada twist yang mungkin kalian juga sudah bisa menebaknya; film ingin menjadikan ini sebagai adegan banjir air mata; Michelle Ziudith pastilah sudah dikunci sedari awal untuk memainkan Tania lantaran kemampuan nangis over-the-topnya (atau malah film ini dijadikan over dramatis demi mengeksploitasi kemampuan nangis Ziudith?), tapi sama kita enggak kena sebab Tania  begitu unlikeable kita sudah di pihak Ananta sedari awal. Kita sudah melihat jelas motivasi Ananta sepanjang cerita. Pada adegan cangkir bulan dan matahari di sekitar pertengahan, keluguan dan kejujuran Ananta membuat kita mengerti. Dan untuk ini, aku perlu menyebut akting Fero Walandouw dengan tepat hit every note yang karakternya tampakkan. Tokoh Ananta tidak pernah tampak mendua, Tanianya saja yang begitu self-absorbed sehingga jadi kecele sendiri.

Seniman paling jago di film ini sebenarnya adalah Ananta. It’s one thing bisa menyimpan rahasia dan bertindak mengelabui orang di depan hidung mereka. Dan sedari awal, dia sudah bisa mengerti apa yang harus dilakukan dan diucapkan menarik perhatian Tania. Kupikir kita bisa bilang, menarik simpati orang lain itu adalah bentuk lain dari seni itu sendiri.

 

Ketika sekuen pengungkapan kejadian sebenarnyalah, cerita film ini menjadi semakin dibuat-buat. Udah makin gak make sense. Ironisnya, yang paling jatoh justru adalah Ananta – tokoh yang paling difavoritin penonton di film ini. Revealingnya membuat Ananta tak lebih dari tokoh device yang tak punya hidup sendiri di luar kehidupan Tania. Jawaban kenapa Ananta begitu tepat memahami Tania sungguh tak memuaskan, karena ternyata Ananta punya semacam walkthrough  atau pedoman langsung dari orang yang paling dicintai oleh Tania. Ananta seketika menjadi orang yang paling tak jujur dan tak tulus di dunia film ini. Yang mana setelah kupikir lagi, hal tersebut mungkin memang disengaja mengingat ending film ini perlu untuk diterima banyak orang – penonton butuh untuk seketika move on dari Ananta. But still, dari poin karakter dan cerita, aku tidak bisa melihat kenapa Ananta tidak jujur aja sedari awal, dia tidak perlu melewati segala bentakan, dan Tania bisa jadi better person dengan lebih cepat. Dan kita jadi tidak perlu menghabiskan waktu yang lebih banyak melihat orkestrasi drama yang bikin geli alih-alih merasakan emosi yang nyata.

 

 

 

 

 

Adaptasi novel yang punya ceritadan tokoh-tokoh yang kompleks ini pada ujungnya tidak menawarkan sesuatu yang baru atau apapun yang memberikan urgensi. Selain set dan banyak gambar-gambar yang cantik, film ini tampak sama saja dengan drama dari novel yang lain. Mengoverused elemen-elemen dari film lain, tidak ada arahan yang spesial karena berniat pada twist, juga mengeksploitasi pemerannya yang berfollower banyak tanpa memberikan sebenarnya balas jasa berupa ruang dan pengembangan kemampuan yang signifikan. Watchable, kalo mau mewek mewekan silahkan ditonton. Hanya belum berhasil film ini memberikan warna baru yang permanen.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for ANANTA.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

TRUTH OR DARE Review

“When you help other people, you also help yourself.”

 

 

Jawab jujur, ada gak sih yang tahu pasti alasan kita takut sama hantu? Seperti, jika aku nantangin kalian keluar tengah malem dan berjalan di tempat sepi, kemudian kalian ngelihat satu sosok yang membelakangi kalian, kapan dan apa tepatnya yang membuat kalian lari terbirit-birit? Sebagian besar pasti terjadi saat  kalian mendekati si sosok, kemudian dia berbalik, menampakkan wajahnya yang berdarah-darah. Namun wajah seram enggak selalu menjadi patokan. Orang yang super pemberani dan mikir reasoning dan kelogisan (alias gak mikir macem-macem!), masih akan kepikiran bahwa yang dilihatnya di tepi jalan barusan adalah orang yang sedang membutuhkan pertolongan medis. Atau, bagaimana jika yang kalian lihat di tepi jalan itu sosok yang berjalan tanpa kepala – kalian otomatis tunggang langgang, enggak peduli tampangnya gimana, kan. Poinku adalah, kita takut kepada hantu, karena kita melihat mereka sebagai sesuatu yang enggak semestinya berada di sana – karena sebenarnya kita semua sudah ada ground realita, yang kita butuhkan adalah sedikit kondisi yang meruntuhkan realita tersebut – dan jadilah kita takut. Dalam film, ‘kondisi’ itu yang disebut dengan background story. Hantu-hantu tersebut juga mesti punya alesan keberadaan yang membuat kita bisa merasa takut kepada mereka. Jadi, bukan hanya sekedar wajah atau penampakan yang seram.

Apalagi kalo kita mengeksplorasi horor dari hal yang abstrak, seperti permainan ‘Truth or Dare’. Buat yang belum familiar, ‘Truth of Dare’ adalah permainan anak-anak remaja di Amerika sana kalo mereka lagi ngumpul-ngumpul bareng teman satu geng. Permainan yang simpel, karena peraturannya adalah setiap yang ikut akan mendapat giliran untuk ditantang harus memilih antara melakukan suatu hal atau mengungkapkan satu rahasia kepada teman-temannya. Nah, horor terbaru produksi Blumhouse mengadaptasi permainan tersebut, akan tetapi mereka sepertinya kesulitan (itu juga kalo gak mau dibilang enggak punya ide matang) mengeksplorasi hal apa yang sekiranya bisa membuat permainan tersebut menjadi seram. Tidak seperti Ouija atau Jelangkung – permainan anak-anak juga – yang memang berhubungan dengan dunia orang mati, ‘Truth or Dare’ hanya berdasarkan seru-seruan belaka. Jadi, film ini berusaha memasukkan satu entitas misterius yang mengutuk permainan tersebut; mengubahnya basically menjadi permainan Hidup atau Mati. Hanya saja film ini missing the point dari apa yang bikin hantu menyeramkan. Cerita yang mereka bangun seputar elemen horornya sangat gak make sense. Jika Final Destination punya kecelakaan-kecelakaan yang freaky, Saw punya trik dan alat pembunuhan yang pinter, Truth or Dare mengandalkan kepada hantu yang membuat tokoh-tokoh di film itu menyeringai aneh, sehingga membuat wajah mereka seperti yang dideskripsikan lewat dialog; “a messed up snapchat filter”.

Atau supaya gampang kebayang, tokoh-tokoh film ini seakan berlomba menirukan senyuman Willem Dafoe

 

Aku gak yakin  mereka sengaja membuat film ini menjadi lucu, karena hampir sepanjang film pundakku terguncang-guncang demi menahan ketawa. Rusukku sampe sakit karenanya. Actually, kalo film ini dibuat dengan arahan sengaja menjadi konyol, aku yakin hasilnya akan lebih baik dari apa yang kita saksikan di bioskop saat ini. Wajah seram itu benar-benar gak seram; menggelikan. Film juga berusaha menggali drama, membuat motivasi tokoh utama dan relasinya dengan tokoh lain cukup ribet dalam usahanya memancing simpati, tapi gagal, lantaran semuanya terasa konyol. For instance, yang kita lihat di sini adalah anak-anak kuliah yang main truth or dare – dan bahkan para aktornya enggak benar-benar tampak seperti anak kuliahan, mereka tampak terlalu tua, sepertinya mereka pada lulus terlambat. Dan cerita di babak awal membuat kita susah untuk peduli sama mereka.

Olivia (Lucy Hale enggak tampak berbeda dari sosok  pembohong kecil nan cantiknya yang biasa kita lihat ketika dia bermain sebagai Aria) diajakin ikut liburan ke Meksiko karena ini adalah spring break terakhir mereka sebagai mahasiswa. Setelah melihat montase hura-hura Olivia dan teman-temannya, ada salah satu tokoh pake topeng Rey Mysterio, kemudian mendengarkan dubstep dogol sembari melihat mereka have fun di bar, kita dibawa ngikut mereka pergi ke sebuah gereja tua terpencil. Kemudian pria asing yang mengajak mereka ke sana, mengajak mereka main truth or dare, dan sekali lagi mereka mau-mau aja. Jika saja mereka mau berpikir, maka mereka enggak bakal terjebak ke dalam lingkaran kematian di mana mereka harus bermain truth or dare maut di mana peraturan tersebut dibayar dengan nyawa. Pilih ‘Truth’ tapi enggak ngomong jujur, mereka mati. Pilih ‘Dare’ tapi kemudian ciut nyali ngelakuin tantangan, mereka mati. Si hantu senyum herp derp enggak menyisakan jalan keluar buat Olivia karena truth or dare mereka terkutuk mereka punya peraturan tersendiri; Olivia dan teman-teman tidak bisa terus-terusan memilih ‘Truth’; setiap dua kali consecutive ‘Truth’, pemain  berikutnya harus memilih ‘Dare’

Peraturan karangan ini digunakan untuk memfasilitasi perkembangan karakter Olivia. Film ini pengen bicara soal manusia dan pilihannya lewat sudut pandang Olivia. Ini satu-satunya aspek yang aku suka dari film ini. Mereka berani mengembangkan tokoh utama ke arah yang tak biasa. Meskipun memang motivasi Olivia ini enggak logis, tapi dia punya pijakan moral yang jelas. Olivia adalah cewek yang melindungi perasaan orang lain ketimbang perasaanya sendiri. Dia selalu mikirin “ntar kalo gue gitu, yang lain gimana”. Olivia suka sama pacar bestfriend-nya, tapi dia menelan perasaan tersebut dan memastikan mereka berdua tetap jadian. Olivia tidak mau memilih ‘truth’ lantaran dia khawatir, teman yang mendapat giliran sesudahnya tidak bisa menghindar dari ’dare’ yang berbahaya. Bahkan, di adegan-adegan awal ketika mereka bermain di gereja tua, Olivia menerangkan jikalau ada alien yang menyerang Meksiko, dia tidak ragu untuk mengorbankan dirinya beserta teman-teman di sana, demi menyelamatkan seluruh populasi negara tersebut. Makanya, perubahan karakter Olivia di akhir cerita terasa menarik. Pada dasarnya, Olivia mengorbankan seluruh penduduk Bumi, melibatkan semua orang ke dalam permainan terkutuk tersebut, lewat video Youtube. Serius, mereka bisa membuat film berdasarkan ‘pembunuhan massal’ ini aja, sepertinya bakal lebih menarik dari Truth or Dare. Olivia udah kayak Thanos dan Infinity War; merasa diri pahlawan, namun pada akhirnya memberikan jumlah banyak untuk menjadi korban si Hantu Senyum CGI

Tak selamanya kita harus mengalah demi orang lain. Terkadang kita perlu memprioritaskan apa yang kita inginkan. Kita selalu punya pilihan, sebagai cara untuk melakukan apa yang harus kita lakukan. Apa yang terjadi pada Olivia seperti di grup whatsapp aja – ketika ada yang menikah atau keluarganya meninggal, misalnya, bagaimana cara kita mengucapkan adalah pilihan yang kita ambil. Tulus mengucapkan demi kebahagiaan atau bersimpati terhadap orang, kita akan mengetikkan sendiri kalimat-kalimatnya. Sebaliknya, jika hanya mengopy paste ucapan orang, sebenarnya itu kita hanya mengucapkan demi membuat diri kita merasa baik. Bukankah, jika kita membantu orang lain hanya supaya kita bisa merasa lebih baik terhadap diri kita sendiri, itu namanya enggak benar-benar noble, kan?

‘dare’ paling susah; nonton ini sekali lagi tapi enggak boleh bereaksi.

 

Film ini sebenarnya punya materi, sayangnya penulisan dan penggarapannya seperti dikerjakan ngasal oleh anak remaja yang baru satu kali membuat film. Jumpscarenya selalu adegan dikagetin oleh orang dari belakang, ayo dong, ini enggak pernah menjadi hal yang menakutkan. Malahan, Wes Craven udah ngeledek teknik jumpscare begini sedari Scream di 1996 – filmmaker belajar enggak sih dari sini? Pengadeganan juga begitu basic. Ada satu tokoh yang setiap kali marah, selalu dibuat berjalan ke luar ruangan. Tiga kali adegan loh yang kayak gini, bayangkan. Ada banyak sekuen yang tidak berujung apa-apa. Justru, ada banyak yang mestinya bisa dihilangkan karena enggak benar-benar perlu selain membuatku merasa seperti alay yang ribut terkikik ngangguin penonton lain di bioskop. Para karakter ditulis begitu hampa emosi. Pacar teman mereka baru saja mati, dan beberapa menit kemudian mereka seolah melupakannya. Ada satu kematian teman mereka yang disebar videonya, mereka menonton video ini, kemudian bereaksi kaget dan takut dan ada juga yang menyangkal, dan enam detik kemudian  video tersebut ditonton kembali oleh si tokoh. Wow.

Skill yang ditunjukkan dimiliki oleh tokoh-tokoh dalam film ini adalah keahlian menggunakan google search. Beneran, tonton deh. Olivia berantem ama temannya dengan saling tunjuk kebolehan mencari orang dan informasi lewat google. Film ini begitu kekinian. Adegan awalnya aja udah tokoh yang lagi live video curhat ke follower. Masalah dari film yang sangat ngepush social media, facebook, snapchat, instagram, kayak gini adalah elemen-elemen tersebut akan dengan cepat kemakan jaman. Kenyataannya adalah segala referensi itu malah membuat ceritanya susah untuk menjadi timeless.

 

 

 

Tidak ada substance, tidak ada style. Film ini tampak seperti banyak ide yang digodok, namun pembuatnya tidak mampu mengeksekusi. Semuanya enggak logis; motivasi tokoh utama, cerita latar hantunya, cara ngalahin hantunya. Supaya bagus, mestinya mereka menjadikan ini film yang konyol dan komikal, karena rute beneran film yang menegangkan jeas-jelas tidak bekerja untuk horor yang diangkat dari permainan anak-anak yang enggak serem. Ngomong soal anak-anak, toh film ini memenuhi tujuannya sebagai produk peraup duit yang ditujukan buat anak-anak muda yang bisa tetap merasa relate karena penggunaan social media dan referensi pop-culture kekinian dalam cerita.
The Palace of Wisdom gives 1.5 out of 10 gold stars for TRUTH OR DARE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

DETROIT Review

“There is no justice, but it is the fight for justice that sustains you”

 

 

 

Ngelihat pak polisi di jalanan, biasanya bawaan kita negatif melulu. Kalo enggak takut, ya sebel. Kita putar balik  kalo tiba-tiba melihat ada razia. Kita mengutuk pas  jalanan macet, padahal ada polisi yang lagi ngatur lalu lintas. Anak kecil yang bandelnya kumat biasanya juga didiemin dengan anceman nanti ditangkap polisi. Pandangan sinis kita terhadap penegak hukum itu muncul karena enggak jarang kita mendengar berita tentang betapa polisi-polisi melakukan banyak hal yang dinilai ‘kejam’ terhadap orang-orang yang tak bersalah. Ketemu polisi itu berarti masalah, duitlah, apa-lah.  Dalam film Detroit, malah, pengalaman bertemu polisi itu digambarkan sebagai sebuah pengalaman yang ngalahin horornya ketemu hantu. Ada salah satu adegan yang menampilkan dua orang yang ingin keluar lewat pintu belakang, dan pada background kita melihat seorang polisi berjalan masuk lewat pintu belakang, dan kedua orang tadi seketika lari kembali ke tempat mereka datang. Film ini membuat polisi sebagai sebuah momok, adegan tersebut berhasil menguarkan perasaan mencekam, dan kita peduli kepada dua orang tadi. Bukan karena kita dituntut untuk membenci polisi. Hanya saja, lewat film ini, kita bisa melihat ada beberapa hal salah yang mestinya bisa diluruskan, tetapi semua orang bertindak begitu gegabah karena mereka diatur oleh sistem yang salah.

“salahkah bila diriku terlalu menggertakimu”

 

Tahun 1960 sudah tercatat di buku sejarah sebagai periode yang cukup kelam bagi kemanusiaan. Di Indonesia, masalah pemberontakan PKI mewarnai tanah di sejumlah daerah dengan darah. Di Amerika, kota Detroit yang menjadi medan pembantaian. Ketakutan merajalela di jalanan. Kerusuhan dan penjarahan tak pandang bulu. Dan sama seperti di Indonesia, orang-orang tak bersalah yang jadi korban; dipenjara, dipukuli. Dibunuh. Detroit benar-benar menggambarkan peristiwa kelam Amerika itu dengan intens dan kejam. Penggunaan kamera yang bergoyang-goyang menambah perasaan nyata itu berkali lipat, seoah kita mundur ke masa itu dan menyaksikan sendiri secara langsung. Film ini tidak terasa seperti film, if anything, dia hampir mirip seperti dokumenter. Kita akan ditaruh langsung ke tengah-tengah kota Detroit yang keamanannya sangat tak stabil, terutama pada malam hari.  Kita akan melihat pesta persembahan untuk tentara yang berjuang di Vietnam dengan cepat menjadi rusuh. Kita kemudian akan melihat seorang penyanyi teater yang harus mengcancel pertunjukannya karena suasana di luar mendadak menjadi begitu kacau. Kita juga akan kenalan dengan tokoh yang diperankan John Boyega yang malam itu kebagian shift jaga malam sebagai malam di toko. Tokoh-tokoh ini akan bertemu di Motel Algiers. Jika kalian ngikutin sejarah, kalian tahu apa yang terjadi di tempat itu. Basically, kejadian di Algiers ini jualah yang menjadi panggung utama film. Semua pengenalan karakter berujung pada sekuens panjang nan shocking di motel Algiers. Sejumlah remaja kulit hitam, termasuk penyanyi tadi, dan dua wanita kulit putih dijejerin menghadap dinding. Sejumlah polisi, aparat militer, dan pasukan gabungan lain mengepung mereka demi mencari sumber letusan senjata yang terdengar beberapa saat lalu. Polisi percaya salah satu dari merekalah yang membuat keonaran, tapi tidak ada satupun yang mengaku. Maka permainan ancam-ancaman maut itu pun dimulai. Berujung kepada tewasnya tiga orang yang tak jelas salahnya apa atau bahkan mereka tidak membahayakan siapapun.

Nonton film ini akan bikin kita geram, baik kepada polisi maupun kepada para rmeaja itu sendiri. Adegan yang ditampilkan bukanlah adegan yang gampang untuk kita lupakan. Dari awal hingga akhir, aku menonton dengan perasaan yang campur aduk. Marah, kalo boleh dibilang. Satu adegan di awal-awal cerita, di mana militer menyisir kota dan mereka menembak gitu aja salah satu jendela apartemen karena menyangka gerakan kecil yang mereka spot on adalah aktivitas sniper, padahal… yah, sedari permulaan, perasaan kesal ngelihat ketidakadilan itu sudah mulai menghinggapi kita. Film ini akan benar-benar menyedot kita masuk. Tentu saja elemen rasis turut menjadi poin vokal film ini. Di zaman itu, dalam keadaan chaos begitu, sebagian besar polisi-polisi di sana benar-benar digambarkan sebagai bajingan rasis yang melakukan tindakan-tindakan kurang berperikemanusiaan. Makanya, tokoh yang diperankan Boyega menjadi sangat menarik. Kita bisa melihat dia lumayan dihormati polisi lain hanya karena ia berseragam. Tapi sebenarnya, polisi itu tetap memandang rendah dirinya.  Mereka ‘membully’nya secara subtil, sementara tokoh Boyega itu menyaksikan banyak hal yang bikin ia geram, tapi perasaan tersebut harus ia sembunyikan rapat-rapat. Dan pada gilirannya, membuat kita berbalik kesal terhadapnya. Juga tehadap pihak-pihak lain yang tidak melakukan apa-apa padahal ketidakadilan dan kekerasan berlangsung di depan mata mereka. Geram aja gitu, demi ngelihat seharusnya ‘interogasi maut’ di motel itu bisa dihentikan dengan cepat, namun tidak ada yang mengambil tindakan hanya karena para polisi yang lain, polisi-polisi yang hatinya masih bener, tak bisa melanggar yurisdiksi dan sistem yang mengatur mereka, jadi mereka membutakan diri terhadap tindakan keji tersebut.

thus, membuat semua polisi di film ini jahat.

 

Salah satu aspek paling bikin miris adalah film ini bercerita dengan sesekali menyisipkan potongan footage berita kejadian yang asli, lengkap dengan foto-foto korban yang sebenarnya. Adegan filmnya memang dibuat sama persis, tokoh-tokoh yang jadi korban dibuat sedemikian rupa sehingga posisinya menyerupai tragisnya korban beneran, meskipun kejadiannya didramatisir. Malahan, tentu saja, kita tidak akan pernah tahu gimana kejadian yang sebenarnya. Kesaksian para saksi tak ayal berbeda dengan kesaksian para polisi yang menjadi pelaku, persis begitu juga yang diceritakan oleh film.

Film ini adalah tangisan keras bukan hanya buat korban dan kerabat peristiwa tersebut, melainkan juga bagi orang orang-orang di luar sana yang merasa tidak mendapat perlakuan yang adil dari aparat; dari sistem. Film ini berusaha memberikan keadilan tersebut bagi mereka yang sampai sekarang masih belum dapat tidur nyenyak supaya orang-orang tersebut bisa mendapat, jika bukan kejelasan, maka paling tidak mereka mendapat pandangan yang mampu menjawab gulana. Sebab apa yang mereka alami perlu untuk dilihat oleh banyak orang.

 

 

Dilema nonton film dari kejadian nyata seperti begini adalah aku pengen ngelihat kejadiannya sesuai mungkin sama kenyataan, tapi sekaligus melihatnya sebagai penceritaan yang ‘bener’ sesuai kaidah film. Dan mencapai keseimbangan antara kedua hal tersebut sungguh susah. Detroit ini misalnya, mereka berhasil menunjukkan banyak hal yang terjadi seputar peristiwa tersebut, namun tokoh-tokohnya enggak semua yang diberikan arc sinematis. Tokoh si John Boyega dibahas dengan paling menarik, tetapi penyelesaian arcnya sama sekali enggak kerasa ‘nendang’. Pembelaan yang bisa kita temukan untuk ini adalah di dunia nyata, kejadian-kejadian buruk menimpa manusia, dan bahwa terkadang keadilan itu memang tidak ada. Kita hanya bisa berusaha move on dari kejadian buruk tersebut, dan begitulah yang dialami oleh tokoh yang dimainkan Boyega.

Untuk kasus film Detroit, kejadian yang diceritakan tersebut memang tidak benar-benar dijelaskan, like, kita tidak akan tahu ke arah mana cerita bermuara jika kita tidak mengetahui peristiwa yang sebenarnya. Seperti yang kutulis di atas, kita langsung dilempar ke tengah-tengah peristiwa. Cerita sama sekali tidak membahas kenapa orang-orang kulit hitam tersebut begitu panas dan polisi harus menangani mereka dengan tangan besi, kecuali bagian opening film. Akan ada narasi yang menerangkan latar belakang kerusuhan, hanya saja diceritakan lewat montase animasi yang tampak begitu aneh dan enggak cocok sama tone cerita, sehingga aku curiga jangan-jangan bagian opening animasi ini ditambahkan begitu film sudah selesai digarap, karena banyak orang yang gak ngerti pada apa yang terjadi.

 

 

 

 

Para aktor bermain maksimal, enggak gampang memainkan peran yang begitu fisikal sekaligus subtil secara bersamaan. Film ini tidak membuat mereka seperti bintang, mereka benar-benar seperti peran yang mereka mainkan. Pun, ceritanya sukses untuk tidak tampil teatrikal. Sedikit kepanjangan sih, durasi ini terasa ketika kita serasa terlambat masuk ke bagian motel yang sesungguhnya jadi kejadian utama. Film terlalu asik bercerita tentang kerusuhan, memperkenalkan karakter, namun secara keseluruhan dia ingin memperlihatkan peristiwa ‘sebenarnya’ di motel demi keadilan, dan setelah ini pun film terasa ngedrag dengan adegan resolusi di pengadilan yang tidak benar-benar menutup arc dari tokoh-tokohnya. Ada banyak kekerasan, hal-hal rasis, dan sikap-sikap manusia yang bakal bikin kita geram sendiri saat menonton. Inilah yang membuat film terasa menyayat hati, dan pada puncaknya menjadi lebih seram daripada film horor.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of gold stars for DETROIT.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

TERBANG: MENEMBUS LANGIT Review

“Imagine all the people sharing all the world”

 

 

Sebelum John Lennon membayangkan gimana indahnya dunia tanpa possessions, ayah dari Onggy Hianata sudah menjalani hidup tanpa ada batasan di Tarakan; Beliau adalah keturunan Tionghoa yang begitu peduli kepada tanah tempat ia berpijak, Indonesia. Dia bahkan mengerti bahasa-bahasa daerah lebih daripada penghuni lokal sendiri. Bayangkan seorang Cina yang rela menutup toko demi mendamaikan pertikaian dua orang pribumi. Bukannya mau stereotipe, namun itu big deal banget loh. Betapa menunjukkan prioritas seseorang sebagai warga negara.  Karena begitulah ayah Onggy melihat dunia. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sementara di sekitarnya berita pembatasan hak warga asing, khususnya Cina, terdengar semakin marak. Ayah Onggy terbang bebas tanpa batasan negara

Selain hidup tanpa ada yang punya, ayah Onggy basically gak punya apa-apa dalam hidup. Keluarga Onggy miskin. Keluarga besar mereka, they only have each other. Mereka tinggal di negara yang bukan negara keturunan mereka. Mereka bahkan orang Cina yang enggak punya toko sendiri. Dan ini adalah bentuk kebebasan yang berbeda yang ingin dicari oleh Onggy sendiri. Sepeninggal ayahnya, Onggy yang waktu mau masuk SD aja susah kehalang biaya, memutuskan untuk pergi merantau. Terbang ke Surabaya demi hidup yang lebih baik. Untuknya, dan untuk seluruh anggota keluarga. Tapi sekali lagi, di atas usaha yang benar-benar ia mulai dari nol, sangkar yang mengungkung Onggy bukanlah sangkar yang kecil. Masa Orde Baru yang menjadi panggung perjalanan kehidupannya menawarkan banyak halangan buat warga keturunan seperti Onggy dan saudara-saudaranya.

Saat itu, Onggy memang masih satu orang pemimpi. Namun, film menunjukkan masih banyak bantuan yang datang kepada Onggy dari orang-orang tak terduga. Karena sesungguhnya bukan dia seorang diri saja yang menginginkan hidup yang damai, yang tidak melihat pada batas-batasan sesepele asal muasal, darah, golongan. Kita berada di bawah langit yang sama, dan atas sanalah yang seharusnya kita lihat. Seperti Onggy. Dan kini, dia adalah salah satu dari sedikit orang yang berhasil mewujudkan mimpinya.

 

penceritaannya mengingatkanku pada film-film Studio Ghibli; berhasil mencampur rasa

 

 

Penceritaan film ini membagi drama kehidupan Onggy ke dalam tiga episode. Saat dia masih remaja di Tarakan, saat dia mulai berusaha membangun usaha dan hidup mandiri di Surabaya, dan ketika dia mengarungi kehidupan rumah tangga beserta sang istri di Jakarta. Setiap babak tersebut adalah perjuangan, kita akan lihat hidup enggak gampang bagi Onggy. Kakaknya sendiri malah terang-terangan bilang “kamu gak capek gagal terus?”. Tapi ini bukan cerita motivasi jika enggak menampilkan karakter yang jatuh berulang kali, dan setiap jatuh tersebut dia bangkit terus menerus. Arahan dari Fajar Nugros membuat setiap kegagalan menguar oleh, bukan semata drama yang bikin kita kasihan terhadap tokohnya, melainkan juga oleh api semangat yang terus berkobar. Melihat adegan-adegan sedih di film ini literally seperti melihat api yang semakin mengecil dan kita berdoa di dalam hati supaya apinya kembali menyala. Kita tidak ingin menangis karena air mata akan membuat api tersebut padam.

Lihat saja, degan ketika Onggy rugi besar setelah jualan kerupuknya, yang ia modali dengan seluruh tabungannya, kandas karena toko yang menjual kerupuk itu bangkrut dan membawa pergi jatah keringat Onggy. Tentu, kita melihat Onggy nangis sambil makanin kerupuk-kerupuk yang tersisa, tapi ada perasaan lain yang aku rasakan ketika melihat adegan ini, yang lebih powerful dari sekedar tangisan drama. It was a realization bahwa perjuangan tidak akan berakhir dengan segampang yang kita mau. Kerugian hanyalah tahapan yang harus dilalui sebelum kita mengenal bahagianya keberhasilan. Nugros berhasil menangkap ini, membawa kita naik turun dalam perjalanan karir bisnis Onggy.

enggak kurang nasionalis kan ya, aku mengerti bahasa daerah di film ini hanya karena ada subtitle bahasa inggrisnya?

 

 

Tapi film Terbang bukan lantas adalah sebuah film yang berat. Selain pelajaran ber-Bhinneka Tunggal Ika yang bisa kita petik, film juga bermuatan komedi. Film ini punya banyak karakter pendukung yang menarik. Dayu Wijanto yang mendapat peran sebagai ibu kost saat Onggy muda merantau ke Surabaya menyebutkan hampir semua adegan lucu film ini tidak tercantum di dalam naskah, alias improvisasi dari Sutradara. “Adegan favorit saya adalah adegan ‘pintu’”, kenang Bu Dayu yang penampilan kecilnya di film-film selalu memberikan kesan yang besar. Warna cerita yang hangat dan menyerempet lucu ini datang lewat interaksi Onggy dengan tokoh-tokoh yang lain. Penampilan akting mereka pun seragam bagusnya sehingga setiap dari mereka meninggalkan impresi yang berarti. Yang membuat kita sadar akan ketidakmunculan mereka. Dion Wiyoko menunjukkan dia mampu memainkan tokoh dengan rentang emosi yang jauh lewat peran Onggy. Menurut Dion sendiri, kerja yang ia lakukan haruslah maksimal, karena di film ini dia berperan menjadi banyak – jadi anak, jadi anak kost, jadi suami, jadi pria “chemistry-nya harus klik”, pungkasnya.

Namun terkadang, perkembangan tokoh Onggy memang terasa sedikit mengawang. Misalnya ketika ‘pemulihan’ Onggy dari usaha kerupuk yang bangkrut ke bekerja di perusahaan yang tidak diperlihatkan. Sehingga kita merasa tertinggal, ada bagian dari karakter Onggy yang kita lompati. Dan kemudian dia menikah, hubungan asmara yang ditampilkan singkat itu sukurnya masih mampu terasa manis dan kocak. Wiyoko dan Laura Basuki punya chemistry yang meyakinkan. Laura menyampaikan setiap dialognya dengan emosi yang pas, tidak berlebihan, tapi sangat mengena. Namun sekali lagi, lompat-lompat adegan membuat aliran cerita terputus-putus. Istri Onggy bisa tampak tiba-tiba marah, dan di adegan berikutnya mereka tampak biasa saja, seolah masalah yang dibahas tadi sudah dipecahkan dan kita tidak tahu bagaimana mereka memecahkannya.

Menyapa Bandung di acara Car Free Day, Minggu pagi 22 April, tampak Sutradara Fajar Nugros bersama Dion Wiyoko dan Dayu Wijanto tak kalah semangat juang.

 

Fajar Nugros menyebutkan salah satu kesulitan dalam menggarap period piece seperti film ini adalah mencari lokasi dan bangunan-bangunan bersejarah yang masih ‘asli’. Karena kebanyakan tempat-tempat semacam itu kini sudah ‘beralih fungsi’. Jadi mereka kebanyakan mesti membuat set sendiri, mereka-reka suasana tahun yang diinginkan, dan memastikan semua objek berada pada ‘waktu’ mereka seharusnya berada. On screen, Terbang layak mendapat panggilan film yang berani karena walaupun film ini membentang dari periode tahun, juga tempat, yang berbeda, kita tidak akan melihat tulisan yang menunjukkan tahun ataupun lokasi. Film mempercayai pemahaman penonton, lantaran mereka tahu persis mereka sudah menyiptakan ‘panggung’ yang benar.

Sutradara, para pemeran, dan cerita-cerita seru mereka

 

 

Dari sekian banyak jatuh bangun yang dialami Onggy yang diceritakan dengan lengkap, film malah meninggalkan bagian terpenting yang terjadi di dalam hidup Onggy. Ketika dia kepikiran untuk jadi distributor apel buat bayar uang kos dan biaya kuliah, kita diperlihatkan dari mana ide tersebut  berasal. Pun ketika dia mencoba jualan jagung bakar, kita melihat awal dan akhir dari usahanya tersebut. Kita juga akan sering dibawa mundur ke ingatan Onggy terhadap ayahnya, karena dari ‘kesalahan’ dan nasihat Beliaulah terutama Onggy melandaskan perjuangan hidupnya. Kita paham tantangan dan apa yang ia pelajari dari sana. Namun, ketika membahas bagaimana Onggy bisa menjadi motivator, well, film tidak benar-benar membahas bagian ini. Aneh memang, terutama jika ada yang orang tahu dari Onggy Hianata, maka itu adalah bahwa dia adalah seorang motivator sukses kelas internasional.

Jika ada film yang menjadikan Onggy Hianata sebagai tokoh utama, maka kita akan berpikir film tersebut pastilah membahas kenapa dia bisa menjadi motivator yang begitu sukses. Tapi film ini melewatkan bagian itu. Kita tidak pernah melihat Onggy sebagai seorang yang ‘pintar bicara’ sedari kecil. Tidak ada build up ke bagian ini. Satu-satunya pengalaman Onggy mengenai bicara di depan orang banyak adalah ketika dia melihat orang gila yang suka pidato di sekitar kampusnya. Mestinya cerita bisa dikaitkan dari sini, tapi enggak, dan tahu-tahu Onggy sudah bekerja sebagai motivator setelah mencoba MLM. Memang, kita diperlihatkan pada mulanya tidak banyak yang datang ke kelas Onggy, dan secara perlahan jumlah pesertanya meningkat dari setiap kelas ke kelas lain untuk memperlihatkan Onggy benar-benar jago di bidang kerjaannya ini. Tetapi kita hanya tahu sedikit sekali dari kerjaannya yang membuatnya ternama tersebut. Kita bahkan tidak tahu siapa yang mengontraknya, siapa yang memberinya gaji, atau malah berapa gajinya.

Sepertinya memang hal tersebut adalah efek samping yang timbul jika kita menghadirkan kisah dengan rentang waktu yang sangat panjang. Cerita Terbang: Menembus Langit melayang saja dari titik satu ke titik lain. Tokoh utamanya bertemu banyak orang, untuk kemudian ditinggalkan, dan move on ke episode perjuangan berikutnya. Tapi, begitulah hidup, bukan. Kita kenalan sama orang, beberapa dari mereka tinggal, beberapa lagi mungkin tidak kita dengar kabarnya lagi.

 

 

Film ini diniatkan sebagai kisah perjuangan dan kerja keras hidup yang bisa menginspirasi banyak orang, bahwa kegagalan dan rintangan itu bukan untuk menahan kita tetap di bawah, melainkan sebagai pegas yang kita gunakan untuk terbang. Makanya, film menekankan kepada begitu banyak kegagalan dan kebangkitan kembali tokohnya. Melalui penulisan dialog dan tokoh-tokoh yang mudah direlasikan dan akrab, film juga ingin memasukkan elemen persatuan dalam keseragaman, sayangnya tidak begitu berhasil tersampaikan dengan mulus sehingga kadang pesan-pesan Bhinneka Tunggal Ika tersebut terasa dijejelin ke tenggorokan kita. Blatant and very obvious. Desain produksinya meyakinkan banget sih, salah satu period piece yang well-realized. Film ini semestinya berupa kisah sehari-hari Onggy dalam mengarungi hidup sebagai minoritas saat Orde Baru, kita seharusnya terhanyut begitu saja di dalam cerita, tapi cukup sering rasa episodik itu hadir, dan membuat kita terloncat-loncat dalam mengikuti perjalanannya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for TERBANG: MENEMBUS BATAS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE PERFECT HUSBAND Review

“If you judge people, you have no time to love them.”

 

 

 

Tidak ada yang lebih nge-ftv daripada menggunakan adegan tabrakan untuk memperkenalkan dua tokoh dalam romansa remaja, yang tentu saja kemudian akhirannya bisa kita tebak. Dua tokoh tersebut akan berakhir menjadi pasangan. The Perfect Husband adalah contoh sempurna dari formula kisah cinta dalam film televisi, ia tidak membuang waktu memperlihatkan gimana Ayla, gadis cantik anak kelas 3 SMA, yang mobilnya bersenggolan dengan mobil seorang mas-mas berseragam pilot, yang ternyata adalah pria yang telah dipatri oleh ayah Ayla untuk menjadi calon suami Ayla.

Mendengar informasi sepihak tentang masa depan hidupnya, terang saja Ayla bereaksi heboh. Dia tidak berlama-lama di fase penyangkalan. Malahan dia bisa dibilang nyaris langsung marah, dan Ayla tetap bertahan di tahap tersebut. Ayla mengambil sikap protes kepada ayahnya. Dia menolah Arsen, si pilot, mentah-mentah. Di balik usianya, Ayla memang tampak seperti wanita muda dengan pola pikir yang cukup kritis, namun film tidak berada di jalur yang demikian. The Perfect Husband mengambil tone yang sangat ringan untuk menceritakan konflik seputar perjodohan, yang mengakar kepada keinginan anak versus kebahagiaan orangtua, dengan tidak malu-malu menyebut komedi kepada tingkah laku para tokoh. Nyaris keseluruhan film adalah debat Ayla terhadap keputusan ayahnya, tetapi tidak benar-benar dalem. Alasan Ayla enggak mau dijodohin adalah karena Arsen yang hanya muda jika dibandingkan dengan si ayah, dan Ayla sudah punya pacar anak band.

kita bicara tentang band yang lagunya….. ngerock!

 

Alih-alih  membuat diri dan pacarnya tampil lebih baik sehingga dapat dipercaya di mata ayah, Ayla malah sengaja tampil urakan dan kurang ajar. Sampe-sampe teman satu geng Ayla sendiri malah jadi kasihan kepada Arsen yang selalu ‘dikasarin’ sama Ayla. Actually, perspektif ini yang membuat film menjadi menarik. Ayla melakukan segala cara minus, mulai dari bersikap dingin, terang-terangan miih Ando, nyuekin, sampai berbohong, dalam upayanya mengeluarkan diri dari perjodohan. Ayla ingin menggunakan penilaian ayahnya terhadap Ando sebagai senjata utamanya kala keluarga Arsen datang berkunjung. Tapi tentu saja, hal tersebut semakin membuktikan ketidaksukaan ayahnya kepada pilihan Ayla yang begundal. Dinamika ayah-anak ini menjadi bumbu cerita. Arsen kerap meminta panduan dari calon mertuanya demi meluluhkan hati Ayla. Kita akan mendengar banyak bentrokan seputar tua melawan muda, mapan melawan kegakjelasan, yang kita inginkan melawan apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Semua orang di dalam film ini saling bersikap judgmental terhadap satu sama lain. Ayah menjodohkan Ayla karena ia tidak percaya pergaulan  dan pilihan Ayla. Begitupun Ayla punya curiga kepada Arsen kenapa mau-mau aja dijodohkan. Masih ada ibu Arsen yang punya prasangka dan penilaian sendiri terhadap Ayla. Begitu jualah kita dalam kehidupan, kita banyak berprasangka. Kita enggak mau dijudge, sehingga kita menyimpan rahasia, dan pada gilirannya kita jadi menganggap orang lain juga menyimpan sesuatu. Jadinya saling tuduh-tuduhan.

 

Berlawanan dengan ceritanya yang mengusung dukungan terhadap prasangka, film ini sendiri lumayan bisa kita nikmati dengan memendam dulu pikiran judgmental bahwa film ini tak lebih dari ftv di layar lebar. Karena memang tidak benar sepenuhnya demikian. Ceritanya sendiri tidak completely sepele, masih ada yang bisa kita bawa pulang seputar kebahagiaan dan bagaimana kita memandang orang lain. Secara teknis pun, film  ini enggak basic-basic amat – tidak ada yang wah, it is just competent enough. Ada satu adegan yang kusuka, buatku itu adalah adegan terbaik yang dipunya oleh film ini, yakni ketika Arsen dan ayah ibunya lagi mengobrol memutuskan untuk meneruskan usaha mendekati Ayla atau enggak, ibu Arsen akan bolak-balik keluar ruangan, ngobrol sambil lepas dandanan, untuk menggambarkan urgensi dari judgment dirinya terhadap keputusan anaknya, dan adegan ini ditutup dengan punchline komedi yang tepat. Karakter-karakter ditulis sesuai konteks, mereka mendapat pengembangan, mereka berubah – karena pengungkapan dan/atau pembelajaran – meskipun memang film meminta mereka untuk enggak terlalu cepat ngejudge mereka.

Across the board,  penampilan para pemain juga sama kompetennya. Slamet Rahardjo berhasil memainkan ayah yang menuntut, yang diantagoniskan oleh tokoh utama, tanpa membuat tokohnya tampak tidak-menyenangkan. Ayah adalah tipe karakter yang berkembang dan memajukan cerita dengan pengungkapan karakter yang ia simpan sepanjang film, dan Slamet Rahardjo mampu membawakan tokoh ini dalam jalur yang make sense. Meskipun, memang, jika ia jujur dan gak berahasia sedari awal, film bisa selesai dengan lebih cepat, namun tokohnya tidak terasa annoying. Arsen yang diperankan oleh Dimas Anggara juga tidak berupa tokoh device belaka. Dia punya motivasi sendiri, jadi karakternya enggak entirely jatoh creepy. But still, orang dewasa ngendong paksa anak SMA bukanlah hal yang lumrah untuk didiemkan dan dianggap so sweet.

Dari semuanya, menurutku aman untuk kita bilang Amanda Rawleslah yang membopong film ini lewat permainan range akting yang variatif.  The problem is, karakter Ayla enggak dibahas berlapis sesuai layer yang semestinya ia punya. Ayla adalah cewek groupie rock band, yang sesungguhnya tidak suka ama genre musik tersebut, dia hanya suka sama Ando yang vokalis, cerita tidak pernah membahas ini lebih dalam, maka ketika Ayahnya menyinggung soal Ando dan musiknya, efek terhadap Ayla tidak bisa menjadi lebih dalam. Aku setuju sama ground pemikiran yang dipijak oleh Ayla, hanya saja Ayla tidak menunjukkan dia tahu yang terbaik untuk dirinya. Kebanyakan, dia mengambil keputusan karena ‘cinta buta’ terhadap Ando, film tidak clear melandaskan apakah Ayla memilih Ando sebagai bentuk perlawanan kepada ayahnya, karakter ini semacam terombang ambing antara clueless atau benar-benar tahu apa yang ia mau.

dengan kata lain, beneran kayak anak SMA

 

Dalam usahanya yang cukup berhasil membuat kita tetap duduk di tempat,  tetap saja banyak elemen dalam film ini yang bikin kita cengo’ sambil mengutuk ‘betapa begonya’. Aku enggak paham kenapa mereka enggak nunggu Ayla selesai kuliah dulu baru menikah. Ending film ini adalah salah satu yang paling cheesy dan benar-benar meruntuhkan tone dramatis yang sudah dibangun. Aku tidak tahu kenapa film memilih untuk menggunakan adegan tersebut, selain untuk menunjukin Arsen beneran bisa nerbangin pesawat. Di adegan flashback menjelang akhir, kita dengan jelas mendengar ayahnya menyebut Alya alih-alih Ayla, aku enggak tahu kenapa film membiarkan kebocoran ini, mereka bisa dengan gampang mendubbing atau mereshot adegan.

Film punya jawaban dan sudut pandang sendiri terhadap pemecahan masalah perjodohan yang ia angkat. Film membuat penonton bersimpati kepada Arsen ketika Ayla membentaknya di depan teman-teman sekolah lantaran main gendong sekenanya. Ayla yang kemudian minta maaf adalah salah satu dari beberapa adegan yang menunjukkan film berdiri di ranah cewek bertanggungjawab mengemban pilihan orangtuanya. Aku tidak begitu setuju dengan gimana film ini memandang sikap anak terhadap perjodohan oleh orangtuanya, tapi aku harus ngasih respek karena film ini berani mengutarakan suaranya sendiri. Dan paling tidak, aku masih bisa setuju soal pesannya yang mengatakan bahwasanya berbohong tidak akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan siapapun. Umur ayah menjadi semakin singkat karena mendengar kebohongan Ayla, film tidak sepenuhnya menekankan ke aspek ini, tapi nyatanya adegan tersebut kuat untuk menjadi titik balik penyadaran Ayla.

Bicara tentang Arsen, alasan kenapa dia mau dijodohkan yang diungkap menjelang akhir babak tiga adalah hal terbullshit yang kudengar sepanjang hari ini. Karena sesungguhnya kebahagiaan manusia adalah tanggungjawabnya sendiri. Bukan tugas orang lain untuk membuat kita bahagia. Membalas kebaikan orangtua tidak harus dengan sampai mengorbankan kebahagiaan kita sendiri agar mereka bahagia. Tentu, kita mungkin saja menemukan kebahagiaan yang lain saat berusaha membuat orangtua bahagia, tapi itu bukan berarti membuktikan mereka benar, atau mereka yang salah. Bahagia itu datang sebagai misi diri sendiri, dan untuk mendapatkannya tidak bisa dengan berbohong.

 

 

 

 

Ini adalah kisah cinta remaja yang twisted, yang menggambarkan bagaimana tepatnya dalam kehidupan sosial, setiap orang bersikap judgmental terhadap orang lain. Dan film ini membuat lebih sering daripada tidak, prasangka tersebut benar adanya. Seperti ketika film lewat tokoh ayah Ayla ngejudge rocker tanpa memberi kesempatan pihak itu membela diri. Perjodohan dan konflik keinginan anak dengan keinginan orangtua dijadikan panggung untuk mengeksplorasi masalah tersebut, yang actually disampaikan dengan ringan. Menjadikan pesan dan feeling film ini tidak untuk semua orang. Ironisnya, jika kalian menahan perasaan judgmental terhadap film ini dan mau tetap duduk di sana, film ini sebenarnya adalah sebuah tontonan yang watchable dengan penampilan akting yang menarik.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE PERFECT HUSBAND.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

RAMPAGE Review

“Human beings are the only species capable of deceiving themselves and other people.”

 

 

Bagaimana cara membuat kota porakporanda dan manusia dicabik-cabik hewan-hewan raksasa menjadi sebuah tontonan yang fun dan enggak bikin trauma? Itulah tantangan yang dihadapi Brad Peyton ketika dia menyutradai film yang diadaptasi dari video game klasik yang pertama kali muncul di mesin arcade yang masih pakai koin. Rampage di PS, dulu jadi salah satu kaset favoritku untuk menghabiskan waktu pas puasa. Bermain Rampage, gamer akan bersenang-senang sebagai manusia yang berubah menjadi monster karena eksperimen, dengan misi utama mengamuk menghancurkan gedung-gedung, menepuk helikopter tentara layaknya lalat, sambil sesekali menyantap manusia untuk menambah nyawa. Dan hal itu jualah yang pastinya dicari oleh gamer dan orang-orang yang pergi membeli tiket film Rampage; demi ngelihat aksi seru para monster.

Tapi tentunya bikin film panjang yang isinya melulu monster hancurin gedung dapat dengan cepat menjadi monoton. Kita bakal bosan juga. Brad Peyton paham film yang baik harus punya hati, harus lekat ke penonton. Jadi dia nge-grounded film dengan cerita berbasis persahabatan manusia dengan binatang. Dwayne Johnson berperan sebagai Davis Okoye, ahli primata di sebuah penangkaran. Dia jadi begitu akrab dengan gorilla albino yang dulu ia selamatkan dari kawanan pemburu liar. ‘Begitu akrab’ sepertinya memang agak mengecilkan, karena Okoye dan George si gorilla ini benar-benar punya hubungan yang unik. Mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat, mereka saling ngeledek sebagai cara menunjukkan rasa peduli. Okoye dan George udah kayak abang adek deh. Eventually, George terkena dampak dari kapsul eksperimen yang jatuh dari satelit. Bersama seekor serigala dan buaya, George membesar, menjadi beringas, termutasi, dan oleh akibat ulah pimpinan eksperimen yang ingin mengambil sampe mereka buat diduitin, tiga monster ini terpanggil pergi ke Chicago. Menghancurkan apapun dalam perjalanan. Membuat bule-bule di sana teriak stress. Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan kota adalah Okoye, karena dia mengenal George, dan tentu saja dia berharap dia masih bisa menyadarkan sobat berbulunya itu menjadi seperti sedia kala.

Okoye lebih suka bergaul dengan binatang dibandingkan dengan manusia. Sedari babak awal kita diperlihatkan gimana Okoye biasa-biasa aja ketika cewek yang ia bimbing menunjukkan ketertarikan. Ketika ditanya “Lo aneh banget sih?” Okoye menjawab enteng bahwa binatang lebih mudah dipercaya. Dan itu benar adanya. Walau memang ada juga binatang yang mengenal konsep bohong, namun mereka melakukannya demi survival. Tidak seperti manusia yang demen berbohong untuk memanipulasi, untuk mencari keuntungan semata. Kita bahkan menipu diri sendiri bila perlu. Binatang harus belajar dulu baru bisa bohong. Sebaliknya, manusia; yang musti kita pelajari justru adalah bagaimana cara untuk jujur.

The Rock di sini bukan People’s Champion, melainkan Animal’s Champion

 

Bobot cerita begitu sepertinya dinilai terlalu besar dan memberatkan apa yang mestinya menyenangkan. Jadi, Peyton sekali lagi memutar otak; maka akhirnya ia menjadikan Rampage sekaligus sebagai dumb action movie. Adegan pengenalan tokoh yang cool tadi, di mana The Rock ngobrol ama gorilla, seketika menjadi receh berkat gestur jari kurang ajar yang dilayangkan oleh George. Dan kita tertawa. Untuk kemudian lebih banyak lagi makian dan sumpah serapah yang menyusul; film ini dikasih PG-13 bukan hanya karena ada potongan tubuh. Dan kita tertawa. Merasa belum cukup, film membuat kematian orang-orang karena dampak dari serangan monster-monster tersebut sebagai bahan becandaan, kematian massal bukanlah hal serius dalam film ini. Dan kita juga tertawa.

Inilah masalah kenapa film adaptasi video game itu seringkali berkualitas di bawah garis ‘lumayan’. Karena pembuat filmnya enggak mengerti apa yang membuat video game yang mereka adaptasi begitu digandrungi. Point dari gamenya biasanya jadi hilang, atau dipindahkan. Mereka menambahkan hal-hal yang bahkan tidak diminta oleh penggemar video gamenya. Tomb Raider (2018) adalah pengecualian, film itu benar-benar terasa seperti video gamenya, baik dari aksi maupun cerita.

 

Tidak ada yang mengharapkan cerita dalem sekelas Oscar dengan karakterisasi berlapis-lapis ketika menonton Rampage. Tapi, toh, ceritanya berusaha menggali lebih, setelah mengganti elemen aslinya. Kemudian mereka menambahkan elemen konyol supaya terlihat menyenangkan. Kenapa mesti mengganti sedari awal coba? Seperti  yang kita tahu, dalam video game, monster-monster itu adalah manusia yang berubah karena eksperimen yang gagal. Di film ini, mereka menggantinya menjadi binatang liar, kecuali George. Bukankah versi yang manusia mestinya sudah punya kedalaman cerita jika difilmkan; akan ada dilema moral yang menarik ketika kita ingin membunuh monster yang membuat kerusakan ketika kita tahu tadinya dia adalah manusia yang jadi korban eksperimen? Gak perlu repot-repot mengganti lalu menambah ini itu, kan. Atau kalolah tantangan yang pembuat film ini cari, kenapa mereka gak sekalian aja membuat George menjadi tokoh utama – dia kan dibuat punya perspektif sebagai gorila yang dibesarkan dan ngebond sama makhluk yang satu spesies dengan yang membunuh ibunya, dan kemudian dia dapat kekuatan yang basically membuat kelangsungan spesies itu ada di tangannya yang jadi segede mobil. Tapi enggak. Film lebih memilih untuk menjadi generik, dengan memancing unsur fun di tempat yang gak bener.

Dialog film ini parah banget. Lelucon yang dilontarkan jatuh di antara klasifikasi ‘garing’ dengan ‘miris’. “Dijadiin asbak seseorang” adalah kalimat favoritku. Tokoh-tokoh manusia film ini lebih terasa seperti tokoh video game ketimbang para monsternya. Sejak dari zaman dia bergulat pake kolor di atas ring, The Rock sudah punya kharisma luar biasa, tapi penulisan film ini membuatnya dia jauh dari sekadar kharisma. Okoye ini manusia fantastis yang selamat dari apapun.  Jatuh dari helikopter, terjun bebas dari gedung yang runtuh, ditembak di perut, dia dihajar bertubi-tubi, dan dia ngesold nothing. Makanya kita juga enggak ngerasakan apa-apa. Dia selamat tanpa cedera berarti padahal dia melakukan hal-hal yang mestinya hanya bisa masuk akal di dunia video game. Tidak ada sense realism di sini, dan sementara itu kita diharapkan peduli sama drama yang berusaha cerita angkat. Masalah terbesar film ini memang terletak di penulisan. Enggak bisa setengah-setengah, jadinya bakal keteteran, Tokoh yang diperankan Naomi Harris misalnya, tidak banyak yang ia lakukan selain berlarian dengan tampang bingung sambil bertanya apa yang harus dilakukan selanjutnya kepada Okoye. Si Okoye ini memang bisa apa saja. Rencana yang ia bikin di menit-menit terakhir selalu berhasil. Hampir seluruh bagian aksi film dilakukan dengan formula demikian.

Tiga dari empat tokoh ini tidak pernah disebut dan kelihatan lagi setelah babak pertama berakhir

 

Rampage memutuskan untuk bermain-main dengan tokoh manusia. Mereka dibuat gede hingga gak make sense. Padahal aku suka loh sama desain monsternya. Serigala yang punya selaput sayap, gorila putih, yang paling keren adalah monster buayanya. Bagian terbaik dari film ini mungkin adalah Jeffrey Dean Morgan sebagai agen FBI yang aktingnya maksimal, meski sebenarnya tokoh yang ia perankan hanya device untuk memfasilitasi tokoh utama. Bagian terburuknya? Aku bilang, duo penjahatnya. Mereka dibuat begitu culas, dan mereka komikal banget – sampe ke penampilannya. Yang cewek akan mengenakan gaun merah di akhir cerita, hanya supaya kita bisa bernostalgia dengan video gamenya; actually di game akan ada cewek bergaun merah yang bisa kita makan sebagai bonus optional. Film butuh alasan yang menjadi sumber dari eksperimen ilmiah yang jadi sumber kekacauan, jadi kita dapat dua orang yang mengepalai proyek tersebut. Dua orang ini enggak peduli sama apapun, motivasi mereka totally uang, dan kita sering banget dicutback melihat mereka menyusun rencana jahat, yang sebenarnya konyol.

Dalam usaha terakhir mengaitkan film dengan video game, kita dicekoki sebuah easter egg, dengan harapan kita girang saat melihatnya. Di kantor si duo penjahat, kamera akan memperlihatkan adegan dengan mesin arcade Rampage di latar belakang. Selalu senang rasanya melihat referensi, namun alangkah baiknya kalo referensi tersebut punya hubungan atau digunakan secara paralel dengan cerita. Sebab apa yang dilakukan film ini hanya sebatas meletakkannya di sana. Kenapa ada mesin game di kantor itu? Apa mereka menciptakan eksperimen karena terinspirasi game? Kalo gitu, wah hebatnya kebetulan yang terjadi, nama-nama monster di game dan di dunia mereka sama! Wow magic….

 

 

 

Film ini adalah definisi dari ‘film popcorn’. Seru, tapi enggak benar-benar meninggalkan bekas. Enak untuk ditonton, namun kita akan dengan cepat melupakannya, begitu film serupa datang. Dalam kasus film ini, ceritanya punya unsur drama yang emosinal hanya saja diceritakan dengan sangat cheesy. Tokoh-tokohnya membuat keputusan di menit terakhir yang dengan sukses menyelamatkan mereka. Padahal yang ingin kita lihat adalah monster menghancurkan kota. Memang, kita mendapatkan itu di babak terakhir. Akan tetapi, untuk sampai ke sana, kita harus melewati cerita generik yang membuat kita terombang ambing antara drama dengan lelucon maksa, yang bahkan tidak benar-benar membuat kita teringat akan karakter video gamenya. Adaptasi video game itu susah, dan ini salah satu contoh gagalnya.
The Palace of Wisdom gives 4.5 gold stars out of 10 for RAMPAGE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017