OCEAN’S 8 Review

“Let something be its own thing”

 

 

Sejujurnya aku ngeri. Aku tidak akan pernah bisa mengerti sejauh mana cewek rela terjun demi mendapatkan apa yang mereka mau – dalam kasus Debbie Ocean, ingin mengambinghitamkan cowok yag menjebloskannya ke penjara. Maksudku, tentu kita sukar sekali misahin unsur feminisme pada jaman kekinian, semuanya tentang pemberdayaan sekarang ini; namun Ocean’s 8 yang notabene adalah versi cewek dari Ocean’s Eleven tanpa tedeng aling-aling memperlihatkan tokoh-tokohnya memanfaatkan ketidaksamarataan gender sebagai senjata utama. “Cowok diperhatikan orang, cewek enggak.” kurang lebih begitu kata Debbie yang merupakan adik dari Danny dari tokoh utama trilogi asalnya. “untuk sekali ini kita ingin semua orang tidak memperhatikan kita” dia menutup rapat rencana perampokan permata geng cewek mereka, dengan isyarat keras kenapa tidak ada laki-laki di dalamnya.

Bergantung kepada sikap kesatria para pria yang segan masuk ke dalam kamar mandi wanitalah, Debbie merancang rencana perampokan permata di acara Met Gala itu dari bilik sel isolasi saat masih di dalam penjara. Ocean’s 8 bercerita dengan mengambil sudut pandang seorang wanita yang di dalam dirinya sudah mengalir darah penipu ulung. Yang tentu saja diback-up dengan kemampuan infiltrasi, penyamaran, dan berbahasa yang luar biasa. Dengan cepat kita dibuat tahu sejempolan apa kehebatan si Debbie ini. Dijual sebagai spin-off, sesungguhnya film ini bertindak sebagai sekuel dari trilogi rebootan filmnya Frank Sinatra; ceritany merupakan kelanjutan dari timeline cerita garapan Steven Sodenbergh, bertempat di ‘dunia’yang sama, dan Ocean’s 8 berhasil setidaknya mengimbangi trilogi tersebut dalam segi gaya dan keasyikan menonton.

Bukan karena keglamoran dan hingar bingar pesta dengan segala perhiasannya yang membuat mereka tertarik untuk melakukan perampokan berencana, melainkan karena mereka tahu persis bagaimana perangkap feminisme dalam dunia glamor itu bekerja di dunia nyata

 

 

Semua hal pada film ini, mulai dari perencanaan hingga actual heist – bahkan aftermath nya pun tampak sangat mewah. Dari kacamata sutradara Gary Ross, kita bisa paham kenapa film ini punya kepentingan untuk tampil ngepas ama trilogi pendahulunya. Jika kita menonton semua film dalam franchise ini berurutan, kita tidak akan menemukan ketimpangan yang mencolok. Karena dia benar-benar bekerja dengan mengikuti formula yang sudah ada. Keasyikan menonton film ini terutama datang dari jajaran castnya, obviously. Hampir-hampir mereka semua adalah papan atas Hollywood. Sandra Bullock dan Cate Blanchett begitu luar biasa charming dan fantastis. Chemistry para pemain meyakinkan sekali, tidak ada titik lemah dalam departemen akting. Mereka semua tampak fabulous dari segi akting maupun penampakan. I mean, wardrobe film ini benar-benar niat , seperti menyaksikan fashion show yang berselera tinggi. Anne Hathaway cakep banget, aku suka melihat duonya dengan tokoh Helena Bonham Carter di sini. Tadinya yang menghawatirkan buatku adalah Rihanna, karena dia yang punya jam terbang akting yang paling kurang di antara nama gede yang lain. Namun untungnya film tampak mengerti akan hal tersebut, jadi mereka memainkan Rihanna ke dalam peran yang tepat; tokohnya adalah seorang hacker jalanan yang gak suka banyak bicara. Rihanna sukses memerankannya, dia tidak mewujudkan kekhawatiranku menjadi kenyataan. Aku sudah suka Sarah Paulson sejak American Horror Story season 2, dan setiap kali dia tampil di layar dia membawa rasa bangga dan tidak pernah mengecewakan.

bisa jadi referensi baju baru abis lebaran nih buat cewek-cewek hihi

 

 

Segala kecantikan, keglamoran, dan kekerenan dan keseruan teaming up tersebut tampaknya digunakan untuk membuat mata kita silau. Untuk mengelabui kita dari ‘perampokan’ sebenarnya yang dilakukan oleh film. Aku enggak membenci, malahan sangat terhibur olehnya, tapi fakta bahwa film ini sesungguhnya tidak menawarkan apa-apa yang baru di baliknya – tidak ada kepentingan sepertinya selain untuk meneruskan franchise sukses – membuatku tak tanggung-tanggung kecewa. Apa yang mestinya sebuah lanjutan, dengan gimmick gender flipping dan semua itu, malah terasa tak lebih dari sebagai sebuah remake. Film ini meniru apa-apa yang dilakukan Soderbergh pada Ocean’s Eleven (2001) nyaris beat per beat. Lihat saja adegan pembukanya; Sandra Bullock menghadap kamera, ia sedang ditanyai mengenai apa yang akan ia lakukan jika dibebaskan oleh petugas kepolisian yang hanya kita dengar suaranya, persis seperti pada film pertama. Ocean’s 8 tidak tampak berusaha menjadi film sendiri, mereka basically mengembangkan film ini dari kerangka poin cerita yang sama dengan film pertama, hanya mengganti pemeran pria dengan wanita. Menukar uang dengan permata.

Ada banyak teknik zoom dan wide shot panjang sama seperti yang dilakukan Soderbergh. Meskipun teknik demikian bukan semata cap dagang Soderbergh, tapi mengingat film ini adalah produk keempat dari sebuah franchise, kita dibuat untuk mau tak mau melihat bagaimana film ini begitu keras berusaha untuk tampil mengikuti alih-alih menjadi diri sendiri. Jika kita punya perombakan besar-besaran, dengan cast dan bahkan crew yang sudah begitu berbeda, membuat hasil akhirnya sebagai produk yang gitu-gitu aja buatku tak bukan adalah sebuah kesia-siaan. Paling enggak, seharusnya mereka membuat film ini tidak sedemikian gampang untuk dibandingkan dengan film yang pertama – terlebih dengan segala versi cowok dan versi cewek ini.

Sekuen perampokan permata di Met Gala memang akan selalu seru, namun tidak disuguhkan sesuatu yang baru. Bahkan tidak ada stake yang benar-benar membuat kita peduli di sana. Kita tahu mereka akan berhasil, kita hanya duduk di sana ngikutin dengan merasa senang. Seperti yang sudah kita rasakan berkali-kali. Akan jauh lebih menarik jika ada intensitas dalam sekuen tersebut ketimbang sekadar melihat orang berseliweran sambil tersenyum berahasia dan sesekali melihat kameo bintang-bintang. Film ini kurang bumbu penjahat yang menyakinkan, halangan yang terasa benar-benar mampu untuk menggagalkan rencana mereka. Semuanya tampak begitu gampang buat mereka, dan di titik ini aku udah enggak begitu pasti entah hal hal tersebut dikarenakan tokohnya memang dibuat terlalu pinter atau filmnya sendiri yang dibuat dalam mode easy karena tokoh-tokohnya cewek semua.

atau mungkin pembuat filmnya memang ingin film ini di-ignore seperti kata Debbie

 

Sebuah film spin-off atau sekuel sebaiknya berani untuk digarap menjadi berdiri sendiri, tidak lantas meniru. Sepertinya memang kita harus membiarkan sesuatu menjadi dirinya sendiri. Karena semua udah ada tempatnya masing-masing. Cewek ya jadi cewek aja, cowok pun sebaiknya jadi cowok aja. Jangan jadi sesuatu yang bukan diri kita.

 

 

 

Setiap kali aku nonton film kayak gini, rasanya selalu aneh, lantaran ini sebenarnya termasuk dalam film yang susah dikategorikan ke dalam rating angka. Film ini dibuat dengan estetika yang benar; strukturnya enggak ngaco, pemain-pemainnya bekerja dengan baik dan luar biasa meyakinkan. Bahkan penampilan mereka pun bagus, bajunya kece-kece. Ini adalah film yang menyenangkan, namun menyenangkan yang sama yang sudah kita rasakan paling enggak tiga kali. Tuntutan untuk menjadi lebih baik, menjadi hal yang baru akan selalu ada, dan film ini gagal memenuhi kedua hal tersebut. Baik dan menyenangkannya hanya dalam batasan meniru yang sudah ada. Hingga menimbulkan pertanyaan, kalo begitu kenapa film ini mesti ada? Dan saat pertanyaan tersebut kita sadari ada di benak kita, uang di dompet sudah keburu hilang, karena film semacam ini adalah heist gemerlap yang sebenarnya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for OCEAN’S 8.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

LIMA Review

“You can only kill ideology with a better idea.”

 

Meski pelajaran ini adalah mata pelajaran yang namanya paling sering berubah, toh ajarannya tetap seputar bagaimana menjadi warga negara yang budiman dan bertata susila. Sejak dari namanya masih PMP, lima dasar negara yang diajarkan kepada kita gak pernah berubah. Negara Indonesia ini supposedly berpedoman kepada lima poin rumusan yang mencakup semua spektrum kebermasyarakatan, karena di sini kita hidup sebagai warga majemuk. Bhinneka Tunggal Ika, semboyan kita. Dan bukan sekedar simbol kata semata; dengan gampang, setiap dari kita ngerasain perbedaan-perbedaan di dalam lingkungan keseharian kita. Aku sendiri tumbuh besar di masa tatkala lingkunganku ngerayain Idul Fitri dan Natalan bareng. Tukar menukar krat minuman kaleng sudah jadi hal biasa. Saling berkunjung, bergantian memandangi kaligrafi dan salib adalah pemandangan sehari-hari. Jadi, apa yang kita pelajari di sekolah, bisa langsung dipraktekkan.

Namun, soal-soal ujian PPKn tersebut kerap terlalu gampang. I mean, kuncinya jelas; jawab yang baik-baik. Dijamin bener. Kalo ada temen beda agama yang sakit, ya dijenguk. Kalo ada yang lagi ibadah, ya jangan ribut. However, film Lima ini nunjukin persoalan enggak sesederhana itu di kehidupan. Film ini mengajak kita membuka mata lebar-lebar. Literally menghantarkan kita kepada contoh-contoh kasus ribet yang bisa timbul dari kemajemukan masyarakat. Dan bagaimana kadang kita terlalu kaku dalam menempatkan ideologi. Toleransi yang bisa disalah arti, juga sebaliknya ketidaktoleransian bukan semuanya berarti semena-mena.

dan sampai sekarang aku belum hapal butir-butir Pancasila

Namun jangan khawatir film ini enggak lantas jadi sama boringnya dengan mantengin dua jam pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan di dalam kelar. Lima punya cara bertutur yang unik. Sebagai tubuh besar cerita, kita akan mengikuti satu keluarga yang multikultural. Dalam satu atap itu, mereka kompakan untuk mempercayai agama sesuai keyakinan masing-masing. Konflik yang kita jumpai adalah permasalahan yang dihadapi oleh putra-putri keluarga tersebut berkenaan dengan profesi mereka yang juga menuntut untuk terus berpikiran terbuka, menanggapi hal-hal yang mungkin saja bertentangan dengan pemahaman dan kepercayaan mereka.

Film ini seperti antara omnibus dengan sebuah multi-plot kind of film. But it is safe to say, Prisia Nasution sebagai tokoh kakak pertama bernama Fara yang juga adalah seorang pelatih atlet renang, yang jadi tokoh utama pada cerita ini. Karena arc cerita miliknyalah yang paling melingkar. Dia bergiliran sebagai pelaku dan sebagai yang dikenai pelik seputar keberagaman dan bagaimana jalan terbaik untuk menyingkapinya. Pada dasarnya, apa yang kita lihat terjadi kepada si kakak dan adik-adiknya, dan juga asisten rumah tangga mereka, adalah contoh-contoh yang mewakili lima sila dalam Pancasila. Jadi, pengtigababakan film ini disejalankan ama lima episode cerita, bayangkan cerita pendek dengan tokoh utama yang beda-beda, yang membentuk gambaran besar seperti lambang lima sila membentuk perisai Pancasila di dada Burung Garuda lambang negara kita.

Yea, kalo mau dibilang kekurangan, lima cerita yang terasa seperti episode-episode inilah yang menjadi masalahku buat film Lima. Mereka seharusnya bisa mengolah cerita sehingga benar-benar berjalan mulus tanpa ada sekat di antaranya. Membuat tokoh-tokoh cerita mengalami kejadian yang benar-benar menampakkan pengembangan tokohnya. Membuat setiap episode itu punya bobot lebih dan merangkai dengan lebih sempurna tanpa terasa bergiliran. Alih-alih demikian, tidak tampak ada sangkut paut yang mendalam antara ceria satu dengan cerita yang lain. Satu-satunya yang menjadi perekat, selain fakta bahwa mereka satu keluarga, adalah bahwa secara emosional tokoh-tokoh sudut pandang film ini masih berkabung – mereka tergerak oleh perasaan kehilangan terhadap tokoh Ibu yang meninggal di babak awal.

Babak tersebut, didedikasikan untuk mewakili sila Ketuhanan yang Maha Esa, buatku adalah bagian yang paling meyakinkan. Aku tadinya berpikir film akan berpusat mengenai masalah kematian Ibu ini, karena Ibu diset sebagai karakter yang kompleks dan punya peran yang besar bagi tokoh-tokoh yang lain. Ibu adalah seorang yang keluar dari Islam, untuk kemudian masuk Islam lagi, bahkan menjadi Haji. Dia juga diberikan hibi unik suka memakai kuteks. Dia pun punya rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun. Segala ini berdampak ketika proses penguburan jenazahnya. Film sudah menarik sendirinya jika didedikasikan ke aspek ini, kayak, misalkan film ini dibuat dengan premis ‘keluarga yang ingin menguburkan ibunya tapi terhalang oleh status agama dan wasiat si almarhum’ saja sudah terdengar sebagai cerita yang lebih dari mumpuni. Lima menggarap bagian ini dengan meyakinkan, aura suram menguar kuat dari Kakak dan dua adiknya, bahkan ada satu adegan ketika anak-anak cowok sang ibu mengecat kuku mereka dengan kuteks sebagai penghormatan terakhir. Dan ketika adegan penguburannya, aku merasakan suatu kekaguman di hatiku. Menurutku, apa yang terjadi di sana, seorang meninggal dan mendapat penghormatan dari berbagai ritual agama itu begitu menakjubkan, sudah seperti seagung Dumbledore yang kematiannya dihadiri dan dihormati oleh berbagai makhluk magical.

can I have mermaids at my own grave?

Namun, masih banyak pesan dalam daftar misi film Lima. Aku sempat kaget bahwa masalah pemakaman ini beres, dan cerita move on gitu aja. Babak dua film membahas tentang kehidupan Fara, dan Aryo, dan Adi, yang respectively mencerminkan sila kedua hingga keempat. Bagian cerita Fara tentang polemik pengiriman atlet renang ke Sea Games nyata-nyata adalah bagaimana pandangan film ini tentang isu nonpribumi-pribumi yang sempat dan masih hangat melanda kehidupan sosial dan politik kita. Film ini berusaha memberikan jalan tengah dari pertanyaan kenapa mesti pribumi jika ada nonpribumi yang terang-terangan lebih baik. Film berusaha memberikan solusi alternatif dengan mengajak kita untuk memutar sudut pandang;

Tidak ada yang mutlak sebagai yang terbaik. Tidak orang, tidak juga pandangan dan ideologi. Malahan sebaliknya, kita bisa mencapai yang lebih baik dengan mau mempertimbangkan banyak hal, dengan mau bekerja ekstra. Bunuh ideologi, dengan dan hanya bisa dengan, ide yang lebih baik.

Sayangnya, cerita-cerita yang lain tidak mendapat pembahasan yang sama memuaskannya. Bahkan penampilan heartfelt dari Yoga Pratama juga tak mampu membuat cerita bagiannya mencuat sama tinggi. Hanya tampak seperti pesan bahwa idealisme bisa merugikan kalo kita gak berani ataupun enggak mau melakukan adaptasi. Cerita adik paling bungsu juga seperti kehilangan bagian penutup, arc si tokoh tidak terasa terselesaikan, terlebih karena tokohnya sendiri dibuat begitu annoying. Dan apalagi kalian tahu, karakter yang annoying instantly a turn-off buatku. Di babak terakhirlah film menjadi totally dicekokin ke tenggorokan kita. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia itu diwakili oleh film dengan, yak, adegan persidangan anak miskin yang mencuri buah coklat di kebun perusahaan besar. Film berusaha menjabarkan bagaimana hukum tidak boleh hanya tajam ke bawah, tapi sebagian besar yang dilakukan oleh film adalah menguatkan unsur dramatisasi, seperti tentu saja kita bersimpati sama orang kecil. Langkah yang diambil film tidak lagi tampak berani, lebih kepada drama ketimbang sentilan seperti yang sudah dilakukan di cerita-cerita awal. Meskipun kuakui, mengakhiri cerita dengan debat di ruang sidang, adalah resiko tersendiri yang diambil oleh film, karena to be honest, adegan sidang tidak pernah membuat penonton excited.

 

 

Yang kusuka dari film ini adalah ketika menjawab dan memberikan sudut pandangnya terhadap masalah yang timbul dari kemajemukan, film tidak pernah mengambil langkah ngejudge. Memang, beberapa tokoh dibuat ngotot akan pandangan mereka sehingga terkadang nampak outright evil, tapi di saat yang bersamaan kita juga diperlihatkan darimana pandangan tersebut berasal, sehingga kita memahami apa sih yang sebenarnya terjadi. Film ini dengan berani menggambarkan setiap isu sosial politik yang lagi hangat, tapi tidak sekalipun ada pihak yang direndahkan. Tidak ada yang terlalu antagonis. Tapi bagaimana pun juga, sebagai sebuah film semestinya ia bisa tampil lebih baik lagi, bisa berjalan lebih mulus dan keluar dari kotak episodik.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for LIMA.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE GIFT Review

“If you can’t find light in the darkness, be the light in the darkness.”

 

 

Sisi terang dari kegelapan ialah dia membuat, ah tidak, memaksa kita untuk merasakan dengan lebih kuat. Kalian tentu sadar kita sering termerem-merem sendiri ketika mengingat kenangan yang indah, menghayati lagu yang klop buat mewakili jatuh cinta, atau bahkan saat sedang mencicipi makanan yang begitu lezat. Ada kenyamanan yang bisa ditemukan seseorang di dalam kegelapan. Apalagi buat seseorang seperti Tiana, cewek di awal tiga-puluhan yang masih sering terkenang trauma keluarga pada masa kecilnya. Tiana menjadikan kegelapan sebagai tempat pelarian. Bukan karena dengan kegelapan dia tidak bisa melihat kenyataan, melainkan karena kegelapan menghantarkannya kepada cahaya impian. Dan secercah cahaya itulah yang dia jadikan tujuan; sesuatu yang Tiana usahakan untuk terwujud.

Dewasanya, Tiana tumbuh menjadi seorang penulis novel. Mentok nyari ide ngerangkumin cerita novel terbaru, dia melangkahkan kaki ke Yogyakarta. Tiana ingin tinggal lagi di sana, karena di kota itulah kehidupannya dengan segala kenangan berawal. Jadi, malam pertama Tiana ngontrak, dia begitu terganggu sama suara musik rock yang diputar kenceng-kenceng. Ketika mencari sumbe suara untuk melayangkan protes itulah, pertama kalinya Tiana melihat sosok Harun – putra dari pemilik kontrakan.  Harun yang kehilangan penglihatan karena kecelakan menarik-narik tali penasaran di dalam diri Tiana. One thing leads to another, Harun merasakan affection yang mendalam dari Tiana. Perasaan mereka berdua bisa saja saling beresonansi, tapi hidup selalu menawarkan sesuatu tak peduli kita butuh atau tidak. Seorang teman masa kecil, datang menawarkan cahaya baru bagi hidup Tiana. Memaksa wanita ini untuk sekali lagi masuk ke dalam lemari, mencari titik terang masalah dari dalam kegelapan yang begitu hangat baginya.

di sela semua itu, sempat-sempatnya Hanung nyeletuk soal gak musti melulu idealis dalam bikin cerita. Sliiiccckkk!

 

The Gift mungkin akan membuat kita bertanya-tanya, hadiah atau berkah apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh film ini. Tentu, mata adalah salah satu anugerah terindah. Akan tetapi, perasaan dan emosi yang ditangkap oleh hati kita dapat dengan gampang mengalahkan lima panca indera sekaligus. Sering sekali kita melihat Tiana memejamkan matanya, entah itu ketika dia bersiap dihantam gelombang flashback ataupun ketika dia berusaha menajamkan perasaannya. Pada adegan awal saja, kita menyaksikan Tiana naik becak melewati jalanan kota Yogyakarta, mendeskripksikan betapa ia merindukan tempat tersebut, menyebut suasana dan lingkungannya yang indah, tetapi dengan masih mengenakan kacamata hitam. To be honest, sekuen pembuka ini terasa pretentious buatku; aku merasa susah untuk ikut ketarik masuk ke dalam yang Tiana rasakan karena yang aku lihat di depan mataku adalah seorang cewek yang menulis hal-hal bagus tentang kota yang ia datangi, tanpa benar-benar melihat objek yang ia tulis. Tapi film ini toh berhasil membuatku terus memikirkan ceritanya hingga tiba giliran aku yang menyusuri kota dalam perjalanan pulang dari bioskop. Aku terlambat melihat konteksnya, dan begitu menyadarinya, aku bisa melihat film ini dari cahaya yang lebih terang.

Ada alasannya kenapa Tiana menggambarkan kehangatan Jogja dengan perumpaman tangan wanita tua yang keriput. Karena itulah yang ia rasakan, dengan menutup matalah ia melihat. Tiana adalah tokoh yang berpikir dia bisa melihat lebih baik, perceiving apapun objek dan masalah dengan lebih baik, dengan tidak literal melihatnya dengan mata. Sebagai wanita yang mandiri, setiap kali membuat suatu keputusan, Tiana akan menutup matanya, membayangkan apa yang bisa ia pikirkan untuk mengatasi masalahnya. Bahkan, Tiana lebih suka curhat dengan sahabatnya lewat telefon. Sementara aku suka gimana sutradara berhasil mengarahkan dua versi Tiana (kecil dan dewasa) sehingga tampak meyakinkan sebagai satu orang yang sama – tepuk tangan juga buat kedua pemainnya, Ayushita Nugraha dan Romaria Simbolon berhasil mendeliver emosi terutama di momen-momen ketika seolah yang mereka lihat adalah sesuatu yang begitu berat mereka ingin mundur ke dalam bayang-bayang. Actually, saking meyakinkannya pertumbuhan karakter Tiana, aku geram juga film tidak benar-benar membahas apa eksaknya yang dilalui Tiana. Kita memang akan dibawa menggali lebih dalam masa lalu Tiana, tapi terlalu menyebar, dan film menyinggung beberapa yang justru malah menimbulkan lebih banyak pertanyaan dan penasaran. Relationshipnya dengan ibu panti yang diperankan oleh Christine Hakim, misalnya, sepertinya heartfelt sekali – aku pengen tahu gimana tepatnya mereka berpisah, gimana Tiana keluar dari panti. Aku pengen melihat lebih banyak bagaimana dia bisa berubah dari ‘anak lemari’ menjadi seorang cewek yang enggak totally politically correct.

Sebagai tokoh utama, karakter Tiana ini memang rada tricky untuk dikembangkan. Tiana diplot sebagai sebagai cewek yang egois di awal cerita, dan berakhir dengan melakukan pengorbanan gede yang menunjukkan betapa banyak karakter ini belajar dalam jangka waktu dua jam kurang. Tapi kita supposed untuk peduli terhadap karakternya, supaya ketika dia berubah, emosi yang dipancarkan itu sampe dengan sukses. Membuat kita juga turut menyayangkan apa yang ia lakukan. Di sinilah letak ‘susahnya’, kita harus diyakinkan untuk peduli di saat dia mendekati Harun, hanya karena Tiana penasaran kepada cowok itu. Itulah alasan kenapa Tiana mendekati Harun; dia yang selama ini menemukan kenyamanan dalam memejamkan mata, bertemu dengan seorang pria yang benar-benar tidak bisa melihat. Tiana sempat mempertanyakan dirinya sendiri, apakah dia berdosa? Namun selain itu, film juga tampak kesulitan untuk terus memperlihatkan kondisi tokoh utama yang begini. Makanya, romansa di film ini terasa loncat-loncat. Tiana dan Harun hampir seperti mendadak jadi saling cinta, kemudian mendadak pula mereka bertengkar. Bahkan kepergian Tiana dari Harun juga terasa abrupt. Susah mematri lampu simpati itu ke Tiana jika hubungannya yang berdasar penasaran doang itu harus lemat-lemat diperlihatkan

Mau mata normal, mata minus, tunanetra, ataupun malah buta warna, kita tidak akan pernah benar-benar melihat suatu hal dengan jelas, jika kita tidak menyertainya dengan berusaha untuk merasakan, peduli sama apa yang kita lihat. Dan jika kita terus saja tidak dapat menemukan cahaya untuk ‘melihat’, jadilah cahaya itu sendiri.

 

 

Pun begitu, momen-momen indah kebersamaan mereka tetap bisa terbangun. Adegan meraba wajah yang dibuat begitu dekat sehingga kita nyaris bisa mendengar degup jantung mereka. Pembangunan adegan ini tampak dipikirkan dengan seksama, permulaan Tiana yang sengaja mengalah adu suit memberikan bobot yang lebih gede. Momen tersebut membantu melandaskan suatu hal yang penting terhadap mereka berdua; bahwa mereka sebenarnya berbeda. Harun  adalah orang yang selalu bisa melihat kenyataan, bahkan sebelum matanya buta. Inilah cikal bakal konflik dari hubungan mereka; Tiana ingin nyaman-nyaman berdua dalam kegelapan, so to speak, dia senang membiarkan Harun dalam ‘gelap’ atas apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Harun selalu bisa melihat. Nyaris dialah cahaya itu sendiri.  Seperti yang actually disebut dalam salah satu ribut-ribut mereka, ini bukan semata soal control, ini adalah soal gimana Harun membuyarkan kegelapan yang ingin dipertahankan oleh Tiana. Dan Tiana tidak suka ini, seperti halnya dia juga menganggap Arie, sahabat kecil yang cinta mati ama dia, terlalu menyilaukan buatnya.

Karena itulah saat menonton ini aku tidak bisa melihat kenapa mereka harus jadian, aku tidak merasa perlu untuk melihat mereka berakhir bersama. Aku juga tidak dapat merasakan konfrontasi mereka. Well, terasa keras sih, sebab setiap konfrontasi disuarakan dengan begitu lantang, teriak-teriak penuh emosi. Feelingnya yang gak dapet. Tapi kita gak bisa percaya Tiana setelah ia baru saja terang-terangan berbohong. Bukan cinta sebenarnya dirasakan oleh Tiana kepada Harun. Bukan pula rasa bersalah. Alasan kenapa dia menjadi begitu ingin termasuk ke dalam hidup Harun adalah dia ingin menunjukkan cahaya kepada Harun, dia ingin berguna, namun sikap Harun selalu dapat melihat terus saja menantang keinginan Tiana.

Tutup mata kiri, ada dua jari. Tutup mata kanan, loh susternya kok ilang whoaaaaa??!!!

 

Soal penampilan sih, Reza Rahadian juara banget meranin Harun. Malahan saking meyakinkannya sebagai seorang tunanetra, kamera tidak berani menangkap wajahnya dari depan pada adegan pertama kali Tiana face-to-face dengan Harun saat diundang sarapan bareng. Kamera ngesyut dari belakang, ataupun hanya sebatas dagu, meskipun sudut pandang film ini adalah Tiana, dan cewek itu sudah melihat wajah Harun di depannya. I guess, kalo disyut dari depan juga (sesuai pandangan Tiana), konteks yang diniatkan – Tiana enggak ngeh Harun buta – bisa buyar lantaran Reza sangat total bermain sebagai orang buta. Yang tidak aku mengerti dari Harun adalah bagaimana dia bisa menulis dengan huruf yang perfectly centered; pas di tengah-tengah kertas. Mungkin sih, dia dibantu si Mbok atau asisten rumah yang lain, tapi tokoh ini terlihat bukan tipe orang yang mau minta bantuan kalo sudah menyangkut urusan pribadi. Dan jika kita masih bicara soal cinta, Harun indeed jadi beneran genuinely sama Tiana. Yang mana membuat adegan-adegan ia nangis di akhir itu terasa nyesek. Masalah ada apa di Kaliurang juga masih berakhir dengan tanda tanya.

 

 

Untuk sebuah kisah hubungan antara insan-insan manusia yang tragis, yang mengambil batasan pandangan sebagai tema, film ini tampak sungguh luwes dalam penggarapannya. Setiap adegan diambil dengan sudut-sudut yang dengan subtil mendukung cerita, seperti adegan konfrontasi lewat pantulan cermin-cermin itu. Ada juga kamera goyang-goyang yang aku gak mengerti kepentingannya apa. Film ini penuh berisi penampilan akting yang luar biasa meyakinkan. Yang mendorong cerita yang sebenarnya tidak begitu make sense dan lumayan mengandalkan factor kebetulan ini dapat terus mencengkeram untuk diikuti. Lebih dari kisah percintaan, film ini bekerja terbaik sebagai tontonan perilaku manusia dalam mengatasi trauma masa lalu yang kemudian membentuk pribadi dan keputusan mereka. Karena, afterall, kita ingin bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE GIFT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

REVENGE Review

“Revenge is the single most satisfying feeling in the world”

 

 

Apa yang rasanya manis dan berwarna merah, tapi bukan apel? Balas dendam jawabannya.

Sebagian besar dari kita pasti pernah memikirkan skenario membalas budi jahat yang seseorang lakukan kepada kita – setidaknya untuk beberapa menit. Kita berfantasi gedein otot untuk memukul rata hidung mancung yang telah merebut cewek demenan. Kita membayangkan hidup sukses, kemudian membeli perusahaan dan memecat si bos sok galak, di depan seluruh karyawan. Kita mengarang cerita-cerita dahsyat seputar keinginan untuk menggetok orang-orang yang sudah memperlakukan kita salah. Dan kita puas karenanya. Balas dendam, bagi sebagian besar orang, dilampiaskan dalam bentuk cerita, karena kita lebih memilih untuk move on dengan kehidupan kita. Makanya, cerita-cerita tentang balas dendam selalu adalah cerita yang digemari, dari Hamlet ke Carrie, ke Gone Girl. Dan sekarang estafetnya berlanjut ke Revenge; thriller sadis buatan sutradara baru asal Perancis, Coralie Fargeat.

Revenge ini bagaikan hidangan dingin yang disajikan Fargeat demi menjawab isu kesetaraan wanita berkaitan dengan pelecehan dan berbagai tindak injustice terhadap cewek. Ceritanya tentang Jen (salut buat Matilda Lutz yang memainkan adegan-adegan intens nan fisikal) yang lagi menghabiskan waktu romantis bersama pacarnya yang kaya di rumah gede di tengah-tengah entah di mana. Kalian ingat kampanye baru-baru ini soal pemerkosaan bukan semata disebabkan oleh baju yang dipake oleh korban? Well, yea, yang jelas, baju adalah salah satu roda gigi dalam perkara yang terjadi pada Jen. Tidak mengharapkan bakal ada orang lain di sana, Jen tampaknya hanya ngepack baju-baju minim. Membuat dua orang teman cowoknya yang kebetulan berkunjung menelan ludah berkali-kali. Keramahan dan sikap playfulnya tentu saja ditangkap dengan makna berbeda lantaran Jen melakukannya dengan pakaian yang lebih banyak kebuka ketimbang tertutup. Tak ayal, Jen diperkosa. Pacarnya pun ternyata bukan pangeran berkuda putih. Khawatir akan ancaman Jen mengadu kepada sang istri, cowok Jen yang sudah berkeluarga ini malah berusaha mengenyahkan Jen selamanya. Usaha mereka gagal. Malang bagi mereka sih, karena Jen bukan termasuk dari sebagian orang yang suka berfantasi soal balas dendam. Jen adalah sebagian lagi yang tidak puas sebelum darah dibayar dengan darah.

gambaran telak bagaimana cewek masih dianggap disposable oleh cowok

 

 

Pertanyaan berikutnya:

Tau gak, perbedaan antara hukuman ama balas dendam alias main hakim sendiri?

 

Hukuman pada dasarnya diberikan sebagai ganjaran agar pelaku jera, supaya mereka bisa mengambil pelajaran dari apa yang sudah mereka lakukan. Pekerjaan menghukum ini adalah pekerjaan terhormat, diberikan kepada yang berwenang. Sedangkan, main hakim sendiri dalam rangka balas dendam enggak punya tujuan semulia itu. Balas dendam adalah supaya pelaku menderita sebesar-besarnya. Supaya mereka merasakan sakit dan perih dan terhina yang kita rasakan, bahkan lebih besar lagi. Inilah yang dicari oleh Jen. Ini jualah yang ingin direkam oleh kamera Fargeat. Menghasilkan sebuah film yang demikian sadis aku berulang kali menyipitkan mata tatkala menonton film ini. Enggak ada yang ditahan-tahan, semua kekerasan dan luka-luka yang terpikirkan oleh pembuat film diwujudkan ke ujung hidung kita. Layar yang seketika penuh warna warni, dengan setting rumah yang mulus bersih seketika menjadi padang tandus berbatu, bersimbah merah.

Transformasi Jen digambarkan dengan begitu drastis. Pada menit-menit awal cerita, film memperkenalkan kita kepada tokoh yang  holywood banget. Helikopter yang tadinya berupa titik, kemudian mendekat. Kemudian turunlah penumpangnya; pria macho kaya dan cewek pirang berkacamata hitam, sambil ngemut lollipop. Di titik ini, kita melihat Jen benar-benar sebagai cewek muda yang kerjaannya godain laki-laki. Biar kekinian, kita boleh menyebutnya pelakor. Kamera dengan lincahnya memposisikan mata kita pada pinggang Jen yang mengenakan rok pendek yang kian melambai seolah mengundang pria-pria asing yang tak dikenalnya mendekat. Tapi tak pernah diperlihatkan lebih daripada itu, kamera dan sudut pengambilannya dibuat seolah menantang kita untuk berpikir macem-macem padahal kita mengerti Jen tidak benar-benar berniat melakukan lebih jauh dari sekadar flirt canda-candaan.

Setelah mid-point, Jen benar-benar berubah. Bahkan warna rambutnya menjadi berbeda setelah semua debu, tanah, dan darah itu menempel. Film berusaha melambangkan perubahan Jen sebagaimana burung phoenix; lahir dari abu. Ada sekuen Jen di dalam gua, dengan penerangan api unggun, berusaha menyembuhkan diri sendiri. Literally ada gambar burung di kaleng yang ia gunakan untuk membakar luka parahnya; gambar yang kemudian menjadi tato sebagai semacam simbol mockingbird yang beneran terbuat dari darah dan daging. Kemampuan memancing perhatian cowok yang dimiliki Jen beralih fungsi menjadi kemampuan mereka keluar ke jangkauan bidikan senjata api rampasannya. Jen masih vulnerable di dalam dan luar, namun dia sudah mengerti apa yang harus ia lakukan. Dirinya tak lagi memandang diri sebagai pemuas, dia ingin memuaskan diri sendiri akan dahaga pembalasan.

predator yang diburu

 

Perspektiflah yang membuat ‘cerita lama’ ini tampil begitu fresh. Baik itu sudut pandang tokoh utamanya, maupun sudut pandang sang sutradara. Kamera akan seringkali mematri mata kita ke gambar-gambar yang bikin gak nyaman. Kita akan ‘dipaksa’ melihat mulut pria berdecap-decap mengunyah coklat bar, bagian putihnya yang lengket sengaja dijadikan fokus, supaya kita merasakan ke-uneasy-an, ketidaknyamanan yang dirasakan oleh Jen. Shot-shot dekat semacam ini membuat film pantas untuk dipelototin. Favoritku adalah ketika mereka ngeclose up semut, kemudian tiba-tiba tetesan darah jatuh mengenainya, diiringi dengan suara yang bikin makin gak enak pula. Banyak imagery unsettling seperti demikian ditampilkan oleh film, yang membuatku penasaran sama karya-karya lain yang ditelorkan oleh Fargeat. Maksudku, jika fantasi rape-revenge yang brutal aja bisa dibuat olehnya sedemikian menarik dan menghibur, gimana hasilnya kalo dia garap film yang lebih serius, kan.

Meskipun survival kucing-kucingan ini diceritakan dengan sangat menghibur, toh seperti halnya balas dendam itu sendiri, akan ada sebagian orang yang gak bakal terpuaskan sama film ini. Bahkan mungkin sebagian orang gak bakal mau bertahan nonton ini sampai habis. Revenge, sesungguhnya, adalah sajian yang enak dinikmati jika kita mau ngesuspend our disbelief. Karena banyak adegan-adegan sadis di film ini yang amat sangat tak masuk di akal. Ada satu adegan di mana Jen seharusnya sudah mati, tapi film ini dia dibuat masih bisa hidup lagi. Masih kuat melaksanakan aksi dendamnya, pula. Cerita menggunakan drug sebagai jalan keluar, yang sebenarnya hanya tempelan, sehingga membuat kejadian di film ini sebenarnya dipermudah.  Tapi sejujurnya, film juga tidak pernah meminta kita untuk menganggap dirinya sebagai sesuatu yang masuk akal. Shot-shot di awal yang seolah perlambangan, kayak apel yang dibiarkan membusuk, sebenarnya turut berfungsi untuk melandaskan tone cerita di mana semuanya akan menjadi ‘membusuk’ as in kita bakal melihat orang yang isi perutnya nyaris tumpah tapi masih sanggup lari-larian.

 

Jadi, pertanyaan terakhirnya adalah:

Kenapa balas dendam itu begitu memuaskan?

Jawabannya adalah karena dengan berhasil balas dendam, kita merasa yang salah sudah dibenarkan. Kita melakukan sesuatu yang jelek, memang benar, tapi itu semua demi tujuan yang kita anggap mulia.

 

 

 

Dan pada gilirannya, kenapa nonton film yang begini tak masuk akal dan merendahkan moral bisa begitu memuaskan? Kupikir jawaban untuk yang satu ini akan lebih kompleks lagi. Sebab, film ini berhasil diceritakan dengan sudut pandang yang segar. Karakter-karakter dalam film ini dengan cepat bertukar peran, dan sama seperti kita, masuk akal atau tidak, kebetulan atau bukan, kita akan puas melihat perjuangan mengembalikan keadilan, tidak peduli seberapa brutalnya.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for REVENGE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

DEADPOOL 2 Review

“Family is where the heart is”

 

 

Sekurang-kurang ajarnya Deadpool, Wade Wilson di balik topeng merah hitam itu masih punya hati. Hal ini sudah ditetapkan oleh film pertamanya yang sukses berat, breaking the ground dengan gaya liarnya sembari tetap ngegrounded kita kepada jalan cerita lewat penulisan tokoh yang pinter. Pertanyaan yang sekarang diajukan oleh sekuelnya ini adalah; Apakah hati sang anti-hero ini sudah pada tempatnya yang benar?

Di sela aktivitas sehari-harinya memisahkan anggota tubuh para penjahat di seluruh dunia dari badan mereka, Wade Wilson (serius deh, Ryan Reynolds  sudah begitu mendarah daging dengan perannya ini) sempat ngerem sebentar, melepas topengnya, demi merayakan hari jadian dengan Vanessa. Mereka sudah bulat tekad untuk membangun keluarga. Deadpool bahkan sudah punya nama untuk calon anak. Naas, darah daging Deadpool tak pernah sempat dibuat. ‘Pabrik’nya ketembak. Mengirim Deadpool ke jurang nestapa; ia ingin menyusul Vanessa ke alam baka tapi tak bisa. Tau sendiri kan, kekuatan super tokoh kita ini adalah ia enggak bisa mati. Bahkan setelah melakukan aksi bom bunuh diri (bukan di gereja loh, di apartemennya sendiri biar gak melukai orang tak berdosa; Deadpool masih punya hati, ingat?) dan badannya bercerai berai, Deadpool masih sehat wal afiat. Di pengalaman mati-not-really tersebutlah, Wade dinasehati Vanessa untuk meletakkan hati pada tempatnya, menyuruh Wade untuk melakukan hal yang benar. Jadi, Deadpool bergabung dengan X-Men. Sebagai anggota percobaan tentunya, mengingat sifatnya yang ogah ikut aturan.

Deadpool is the SHIT (Super Hero In Training)

 

Dalam salah satu misi bersama Colossus dan Negasonic – and her girlfriend – lah, Deadpool bertemu dengan mutant remaja superemosian yang lagi mengamuk ingin menghancurkan panti asuhan dan membunuh kepala sekolah yang selama ini sudah melakukan berbagai percobaan menyakitkan kepadanya. Deadpool quickly merelasikan anak tersebut dengan permintaan Vanessa, Deadpool ingin menjaga si Russel ini layaknya anak kandung sendiri. Persoalan menjadi rumit tatkala Cable (Josh Brolin sempet dipanggil Thanos oleh Deadpool hhihi), seorang mutant bersenjata lengkap datang dari masa depan dengan tujuan membunuh Russel, demi mencegah anak itu untuk tumbuh dewasa menjadi supervillain yang sudah membunuh keluarganya.

Cerita Deadpool 2 memang sedikit terlalu all-over-the-place, enggak seperti film pertama yang lebih fokus. Ada bagian Deadpool berusaha menyatu dengan cara-main X-Men, ada bagian Deadpool berusaha berkoneksi dengan Russel, juga ada kala ketika Deadpool balik bekerja sama dengan Cable. Pada satu titik cerita, kita lihat Deadpool mengadakan audisi untuk merekrut pasukan superhero dalam misi menyelamatkan Russel dari penjara, dan kocaknya dia menerima semua yang melamar – bahkan yang enggak bena-benar punya kekuatan super juga lolos audisi. Dari luar, ini adalah bagian ketika film seperti memarodikan film-film assemble superhero kayak Avengers, dan memang elemen cerita ini digarap dengan kocak – lagi brutal hihi.. Namun dari lapisan yang lebih dalam, elemen cerita ini sebenarnya ditujukan untuk memperlihatkan Deadpool belum mengerti apa yang ia cari. Setiap yang dijumpai oleh Deadpool sesungguhnya paralel dengan pembelajaran yang harus ia lewati. Seperti Cable misalnya, tokoh ini belakangan akan kita sadari ternyata punya persamaan mendasar dengan Deadpool.

Deadpool tampak ngeloyor keluar dari karakternya. Karena konteks cerita kali ini memang adalah tentang bagaimana Deadpool mengenali apa arti dari keluarga, karena di situlah letak hati kita semestinya. Hati kita berada bersama orang-orang yang beresonansi dengan kita. Film mengeksplorasi hal ini dengan sudut pandang khas Deadpool, dalam gaya bercerita yang hanya Deadpool yang bisa, dan inilah yang membuatnya super menyenangkan.

 

Bahkan sinopsis dua paragraf yang kutulis belum mampu untuk benar-benar mencerminkan betapa ramenya Deadpool 2. Masih ada banyak kejutan dan hiburan yang datang dari cameo-cameo yang bakal membuat bukan saja penggemar buku komik Marvel, melainkan juga penggemar film superhero secara umum. Banyak referensi berseliweran. Sedikit terlalu banyak sih. Deadpool 2 masih tajam dalam nyeletuk soal dunia film superhero, ketika dia membuat jokes yang berdiri sendiri penonton masih dibuat terbahak-bahak, namun untuk alasan tertentu, film ini lebih favor ke mengandalkan referensi fiilm lain ke dalam guyonan mereka. Masih kocak, tapi ketawa yang beda aja gitu. Referensi itu pun semakin liar. Sekarang Deadpool sudah berani nyentil superhero dari brand sebelah.  Menyebut istilah dari film-film yang lain. Salah satu celetukan original film ini yang paling menarik adalah gimana mereka menekankan bahwa ini adalah film keluarga, satir yang dialamatkan tentu saja kepada para orangtua clueless yang membawa anak mereka menyaksikan film penuh kekerasan dan sexual innuendo ini.

Sementara film dengan protagonist kurang ajar sampe sampe dijuluki Merc with a Mouth semakin lantang bersuara, porsi aksinya tampak agak terlalu biasa saja. Maksudku, Deadpool (2016) terutama bersenang-senang dengan kamera dan slow motion dan timing aksi berantem. Pada puncaknya, seolah film tersebut ikutan meledek pembuatan film aksi. Pada film kali ini, Deadpool masih menendang pantat, menumpahkan darah, dengan asyik dan suka ria, tapi tidak banyak kreasi yang ditawarkan. Sutradara David Leitch sebenarnya enggak kalah pengalaman dalam ngegarap film aksi, kita udah nikmatin Atomic Blonde (2017). Namanya juga literally nampang di kredit pembuka film ini sebagai “Salah satu orang yang membunuh anjing di John Wick”. Tapi apa yang ia lakukan di sini, meskipun sekuen aksinya digarap penuh skill dan gak bikin pusing yang nonton, pretty much lurus-lurus aja. Tidak ada yang salah, hanya saja aku mengharapkan aksi yang lebih imajinatif dan gak masuk akal kalo perlu – mengingat tone cerita film ini.

jadi penasaran, segila apa ya jadinya kalo Taika Waititi dikasih jatah ngegarap film Deadpool hhaha

 

Dari segi cerita sendiri, aku gak pernah total sreg sama elemen perjalanan waktu. Time travel atau pengulangan waktu bisa menyenangkan jika diolah dengan unik, atau menjadi stake dalam cerita. Tapi ketika dijadikan penyelesaian, aspek ini malah terasa seperti alat untuk memudahkan cerita. Sebenarnya aku bingung juga apa yang mau dikatakan lagi soal kritik lantaran komentar-komentar breaking the 4th wall dari Deadpool udah kayak sekalian ngereview filmnya sendiri. Aspek-aspek seperti time travel, juga ada superhero yang kekuatannya adalah keberuntungan, secara gamblang sudah disebutkan oleh kelakar Deadpool sebagai bentuk dari penulisan yang malas. Dan hal tersebut benar adanya; keberuntungan lebih sering dijadikan device untuk memfasilitasi kejadian A bisa sampai menjadi kejadian B. Sedankan time travelnya sendiri, aku nunggu-nunggu Deadpool ngeledek aspek ini, tapi dia tidak melakukannya. Satu hal yang luar biasa kocak terjadi karena aspek time travel di film ini sih, kusarankan kalian bertahan nonton sampai akhir kredit penutup untuk melihat adegan lucu tersebut.

 

 

Jokes, referensi, darah, potongan kepala, musik jadul, kumis, bahkan muntahan asam, digodok kemudian dilemparkan ke dinding dan menempel membentuk kata “F-U-N”. Begitulah gambaran yang tepat untuk film ini. Kita akan bersenang-senang menontonnya, tak peduli berantakan yang sudah ia ciptakan. Kalo mau dibandingkan, film ini sebenarnya tidak semengguncang film pertamanya ketika muncul di bioskop tahun 2016 lalu. Lebih liar, memang. Lebih brutal. Hanya saja, terlalu bersenang-senang dengan trope ini membuatnya tampak menjadi sedikit kurang kreatif dalam membangun cerita.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 for DEADPOOL 2.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

GHOST STORIES Review

“The past can haunt you, but so can ghosts.”

 

 

Demi membuktikan poin yang mereka usung sebagai tagline, film ini sempet nekad mejeng pake poster dengan judul yang sengaja ditypo-in. Di negara aslinya, Ghost Stories awalnya dipromosikan sebagai ‘Ghost Storeis’. Karena memang demikianlah cara kerja manusia dalam memandang suatu hal. Kita hanya melihat apa yang kita ingin lihat. Masalahnya adalah, kita cenderung menciptakan sendiri apa yang ingin kita lihat, sebagai langkah yang lebih mudah alih-alih menghadapi apa yang kenyataan yang benar-benar ada. Aku, misalnya, menciptakan persona ‘manusia paling sial’ waktu kuliah dulu hanya karena aku gak mau mengakui bahwa aku nyatanya memang enggak secakap itu dalam berbagai hal. Jadi, secara tak-sadar aku menyalahkan kesialan.

Horor dari Inggris ini mengerti bahwasa hantu sesungguhnya adalah serpihan dari masa lalu yang kelam yang masih eksis di belakang kesadaran manusia. Arwah-arwah penasaran yang dilihat itu tak lain dan tak bukan ialah kesadaran terhadap trauma atau tragedi yang pernah dialami yang muncul ke permukaan, dan rasa bersalahlah yang membuat penampakannya menjadi mengerikan. Kita lebih suka memandangnya sebagai momok ketimbang mengakui kesalahan yang sudah kita lakukan.

 

Bagi tokoh utama film Ghost Stories ini, Profesor Phillip Goodman (merangkap sebagai sutradara, Andy Nyman, memainkan karakter ini dengan note dan penekanan yang tepat mengena), hal-hal supranatural hanyalah hoax berikutnya yang musti ia ungkap. Dia punya acara tivi khusus yang didedikasikan buat menelanjangi penipuan orang-orang yang mengaku bisa berkomunikasi dengan alam gaib. Goodman begitu bangga dengan keskeptisannya ini. Menurutnya, segala hal ‘mistis’ itu pasti ada penjelasan, sebab selalu ada cara untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut. Namun sepanjang berjalannya cerita, kita akan belajar bahwa sikap skeptis Goodman tersebut nyatanya adalah sistem pertahanan si profesor terhadap realitas kehidupannya sendiri. Ada kenyataan yang berusaha ia tutupi, dan selagi dia bisa mengekspos sebanyak mungkin kebenaran di balik fenomena ganjil yang dialami seseorang, atau yang diakui dialami oleh mereka, Goodman merasa lebih baik terhadap dirinya sendiri. Tapi tentu saja, keinginan dan kestabilan sistem Goodman dengan segera mendapat tantangan. Dia dihadapkan kepada tiga kasus paranormal yang bahkan dia sendiri tidak bisa memecahkannya sehingga kasus-kasus ini menjadi hantu yang meneror Goodman dan kebenaran yang (tidak) ingin dia lihat.

Goodman ini kayak-kayak tokoh Reza Rahadian di film Gerbang Neraka (2017)

 

 

Tiga kasus yang ditangani Goodman akan kita saksikan menjelma seperti cerita pendek dalam dalam sebuah film antologi. Ditambah dengan cerita tentang dirinya sendiri, menonton Ghost Stories ini seolah kita menonton empat film pendek yang serem. Setiap cerita benar-benar tersulam sempurna, di mana cerita yang satu akan turut ngebangun cerita yang lain. Penonton yang jeli akan dapat menangkap petunjuk-petunjuk subtil berupa objek-objek yang muncul sepanjang penceritaan kasus; warna benda, jumlah, bahkan penggalan kalimat dialog, yang diakhir cerita akan berperan besar dalam mengungkap kebenaran. Ghost Stories, selain seram, juga merupakan horor yang pintar.  Aku benar-benar menikmati pengalaman horor yang diberikan. Ditambah pula, aku menyaksikan film ini sendirian di studio bioskop.

Pada kasus pertamalah aku merasa sudah hampir melambaikan tangan menyerah dan keluar minta ditemenin nonton sama kakak penjual tiket yang senyumnya manis. Atmosfer kesendirian di dalam ruangan yang gelap dihadirkan oleh film dengan begitu kuat ketika mereka menceritakan tentang seorang penjaga yang menghabiskan waktu jaga malamnya di bangunan bekas asylum buat cewek-cewek berpenyakit mental. Bunyi sesuatu di sudut kelam yang ogah kita lirik, derap tapak seseorang di tempat yang kita tahu enggak ada orangnya; kita akan tenggelam dalam efek-efek suara yang creepy abis semacam itu.

Kasus kedua menawarkan sajian mencekam yang berbeda. Horor pada cerita ini enggak terasa sedekat kasus pertama kepada kita semua, tapi nuansa unsettling itu tetap di sana. Membuat kita merinding ria menyaksikan tokoh-tokoh yang tampak ‘tak-seperti kelihatannya’ yang dijumpai oleh Goodman.  Yang ia tangani di sini adalah seorang anak muda yang melapor melihat suatu makhluk di dalam hutan, dan Goodman bertamu ke rumah si pemuda. Melihat sekilas orangtuanya, sebelum akhirnya naik ke lantai atas ke kamar kliennya yang penuh dengan gambar-gambar perwujudan setan, hasil riset si pemuda di internet. Alex Lawther sungguh sukses memainkan pemuda yang ngobrol langsung dengannya aja bakal bikin aku kencing celana. Ada banyak facial work dalam aktik Lawther yang begitu efektif mengeluarkan kesan mengerikan, padahal di cerita ini dia yang diteror.

Film ini merupakan penerapan ungkapan yang tepat dari “antara yang benar dan yang baik, pilihlah yang baik”. Jangan semena-mena menyepelekan keyakinan orang lain. Jangan bully mereka dengan kebenaran yang belum bisa mereka terima. Karena terkadang kita yang harus menyadari ada batas antara skeptis dan tak-percaya dengan apa yang disebut dengan turn a blind eye. Whether or not kita bersedia untuk dealing dengan hal-hal ini ataukah kita lebih suka untuk membloknya dan berpura semuanya tak pernah terjadi

 

Penampilan Martin Freeman pada kasus dan cerita ketiga seperti menyambung estafet ke-creepy-an dari Lawther. Tokoh yang ia perankan mengadu menyaksikan sendiri aksi poltergeist yang berhubungan dengan proses istrinya melahirkan. Cerita bagian ini memang tidak terlalu seram, karena pada titik ini kita diniatkan untuk sudah berada dalam sepatu Goodman. Ini sudah lewat point-of-no-return, Goodman sudah menerima ada beberapa hal yang tak bisa ia jabarkan, jadi kengerian di bagian ini datang dari ketika Goodman menyadari semua cerita tersebut pada akhirnya  bermuara kepada dirinya sendiri. Tone cerita di sini seketika menjadi sangat surealis. Apa yang terjadi kepada Goodman sungguh-sungguh disturbing, cerita-cerita tersebut sudah mengganggunya dalam level yang dalem.

“Jangan lihat ke belakang” serasa punya arti yang lebih dalem jika nonton ini sendirian di bioskop

 

Tak berlebihan memang jika aku menyematkan pujian sebagai horor terseram yang kutonton setelah berbulan-bulan kemaren aku hanya menyaksikan film hantu ala kadar buatan lokal. Ghost Stories mengerti bahwa tugas film horor bukan hanya sekedar menampilkan darah, adegan sadis dan kekerasan. Bukan sekedar menampilkan hantu – yang mengaum pula. Aspek-aspek tersebut memang membuat film horor menjadi menyenangkan, malahan dalam film Ghost Stories inipun kita bakal menjumpai aspek serupa; ada jumpscare juga, ada elemen tradisional seperti mati lampu, dan monster, dan hantu yang wujudnya mengerikan. Malah ada satu yang tampaknya bakal aku lihat lagi dalam mimpi burukku nanti malam. Bagusnya, Ghost Stories tidak melupakan apa yang membuat horor itu bakal terasa sampai ke jiwa penontonnya. Horor yang sebenarnya adalah horor yang datang dari derita dan penyesalan yang terjadi kepada kita, atau keluarga di masa lalu; dari sesuatu yang benar-benar mungkin dialami oleh kita semua. Film ini menarik hal tersebut dari sudut terkelam pikiran kita, mengeksplorasinya dalam penceritaan yang tersusun cermat.

Tapi, adegan pengungkapannya sendiri, aku tak ayal merasa sedikit dikecewakan.  Aku mengharapkan konklusi cerita yang bakal bikin aku bersorak “oh ternyata begitu” dan udah siap tepuk-tepuk tangan. Tapi nyatanya, melihat beberapa menit terakhir film ini, aku tidak banyak beranjak dari posisi duduk dan hanya mengangguk kecil “ya, masuk akal sih endingnya”. Aku bukannya enggak-suka, hanya saja setelah sedari awal melihat arahan yang berbeda (film Inggris kebanyakan unggul di arahan yang terasa sangat unik), aku sama sekali enggak mengharapkan film ini berakhir dengan ‘sama-seperti-film-lain’. Jacob’s Ladder (1990), Stay nya Ryan Gosling tahun 2005, bahkan Pintu Terlarang buatan Joko Anwar (2009) adalah beberapa film yang sudah lebih dahulu menggunakan pengungkapan yang serupa. Pintar, memang. Namun setelah cukup banyak, tidak lagi terasa istimewa.

 

 

 

Dengan imaji horor yang begitu kaya ditambah filosofi yang tak kalah seramnya, film ini menjelma menjadi sebuah tontonan yang bukan saja menghibur, melainkan padat berisi. Ini adalah tipe film yang tidak akan membosankan jika ditonton berulang kali. Malah justru setiap kali menontonnya akan memberikan pengetahuan dan kesadaran yang baru. Semua itu tercapai berkat penceritaan dan elemen-elemen subtil yang disematkan di antara trope-trope familiar. Yang bosen ama horor yang itu-itu melulu, disaranin deh tonton ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for GHOST STORIES.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

TERBANG: MENEMBUS LANGIT Review

“Imagine all the people sharing all the world”

 

 

Sebelum John Lennon membayangkan gimana indahnya dunia tanpa possessions, ayah dari Onggy Hianata sudah menjalani hidup tanpa ada batasan di Tarakan; Beliau adalah keturunan Tionghoa yang begitu peduli kepada tanah tempat ia berpijak, Indonesia. Dia bahkan mengerti bahasa-bahasa daerah lebih daripada penghuni lokal sendiri. Bayangkan seorang Cina yang rela menutup toko demi mendamaikan pertikaian dua orang pribumi. Bukannya mau stereotipe, namun itu big deal banget loh. Betapa menunjukkan prioritas seseorang sebagai warga negara.  Karena begitulah ayah Onggy melihat dunia. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sementara di sekitarnya berita pembatasan hak warga asing, khususnya Cina, terdengar semakin marak. Ayah Onggy terbang bebas tanpa batasan negara

Selain hidup tanpa ada yang punya, ayah Onggy basically gak punya apa-apa dalam hidup. Keluarga Onggy miskin. Keluarga besar mereka, they only have each other. Mereka tinggal di negara yang bukan negara keturunan mereka. Mereka bahkan orang Cina yang enggak punya toko sendiri. Dan ini adalah bentuk kebebasan yang berbeda yang ingin dicari oleh Onggy sendiri. Sepeninggal ayahnya, Onggy yang waktu mau masuk SD aja susah kehalang biaya, memutuskan untuk pergi merantau. Terbang ke Surabaya demi hidup yang lebih baik. Untuknya, dan untuk seluruh anggota keluarga. Tapi sekali lagi, di atas usaha yang benar-benar ia mulai dari nol, sangkar yang mengungkung Onggy bukanlah sangkar yang kecil. Masa Orde Baru yang menjadi panggung perjalanan kehidupannya menawarkan banyak halangan buat warga keturunan seperti Onggy dan saudara-saudaranya.

Saat itu, Onggy memang masih satu orang pemimpi. Namun, film menunjukkan masih banyak bantuan yang datang kepada Onggy dari orang-orang tak terduga. Karena sesungguhnya bukan dia seorang diri saja yang menginginkan hidup yang damai, yang tidak melihat pada batas-batasan sesepele asal muasal, darah, golongan. Kita berada di bawah langit yang sama, dan atas sanalah yang seharusnya kita lihat. Seperti Onggy. Dan kini, dia adalah salah satu dari sedikit orang yang berhasil mewujudkan mimpinya.

 

penceritaannya mengingatkanku pada film-film Studio Ghibli; berhasil mencampur rasa

 

 

Penceritaan film ini membagi drama kehidupan Onggy ke dalam tiga episode. Saat dia masih remaja di Tarakan, saat dia mulai berusaha membangun usaha dan hidup mandiri di Surabaya, dan ketika dia mengarungi kehidupan rumah tangga beserta sang istri di Jakarta. Setiap babak tersebut adalah perjuangan, kita akan lihat hidup enggak gampang bagi Onggy. Kakaknya sendiri malah terang-terangan bilang “kamu gak capek gagal terus?”. Tapi ini bukan cerita motivasi jika enggak menampilkan karakter yang jatuh berulang kali, dan setiap jatuh tersebut dia bangkit terus menerus. Arahan dari Fajar Nugros membuat setiap kegagalan menguar oleh, bukan semata drama yang bikin kita kasihan terhadap tokohnya, melainkan juga oleh api semangat yang terus berkobar. Melihat adegan-adegan sedih di film ini literally seperti melihat api yang semakin mengecil dan kita berdoa di dalam hati supaya apinya kembali menyala. Kita tidak ingin menangis karena air mata akan membuat api tersebut padam.

Lihat saja, degan ketika Onggy rugi besar setelah jualan kerupuknya, yang ia modali dengan seluruh tabungannya, kandas karena toko yang menjual kerupuk itu bangkrut dan membawa pergi jatah keringat Onggy. Tentu, kita melihat Onggy nangis sambil makanin kerupuk-kerupuk yang tersisa, tapi ada perasaan lain yang aku rasakan ketika melihat adegan ini, yang lebih powerful dari sekedar tangisan drama. It was a realization bahwa perjuangan tidak akan berakhir dengan segampang yang kita mau. Kerugian hanyalah tahapan yang harus dilalui sebelum kita mengenal bahagianya keberhasilan. Nugros berhasil menangkap ini, membawa kita naik turun dalam perjalanan karir bisnis Onggy.

enggak kurang nasionalis kan ya, aku mengerti bahasa daerah di film ini hanya karena ada subtitle bahasa inggrisnya?

 

 

Tapi film Terbang bukan lantas adalah sebuah film yang berat. Selain pelajaran ber-Bhinneka Tunggal Ika yang bisa kita petik, film juga bermuatan komedi. Film ini punya banyak karakter pendukung yang menarik. Dayu Wijanto yang mendapat peran sebagai ibu kost saat Onggy muda merantau ke Surabaya menyebutkan hampir semua adegan lucu film ini tidak tercantum di dalam naskah, alias improvisasi dari Sutradara. “Adegan favorit saya adalah adegan ‘pintu’”, kenang Bu Dayu yang penampilan kecilnya di film-film selalu memberikan kesan yang besar. Warna cerita yang hangat dan menyerempet lucu ini datang lewat interaksi Onggy dengan tokoh-tokoh yang lain. Penampilan akting mereka pun seragam bagusnya sehingga setiap dari mereka meninggalkan impresi yang berarti. Yang membuat kita sadar akan ketidakmunculan mereka. Dion Wiyoko menunjukkan dia mampu memainkan tokoh dengan rentang emosi yang jauh lewat peran Onggy. Menurut Dion sendiri, kerja yang ia lakukan haruslah maksimal, karena di film ini dia berperan menjadi banyak – jadi anak, jadi anak kost, jadi suami, jadi pria “chemistry-nya harus klik”, pungkasnya.

Namun terkadang, perkembangan tokoh Onggy memang terasa sedikit mengawang. Misalnya ketika ‘pemulihan’ Onggy dari usaha kerupuk yang bangkrut ke bekerja di perusahaan yang tidak diperlihatkan. Sehingga kita merasa tertinggal, ada bagian dari karakter Onggy yang kita lompati. Dan kemudian dia menikah, hubungan asmara yang ditampilkan singkat itu sukurnya masih mampu terasa manis dan kocak. Wiyoko dan Laura Basuki punya chemistry yang meyakinkan. Laura menyampaikan setiap dialognya dengan emosi yang pas, tidak berlebihan, tapi sangat mengena. Namun sekali lagi, lompat-lompat adegan membuat aliran cerita terputus-putus. Istri Onggy bisa tampak tiba-tiba marah, dan di adegan berikutnya mereka tampak biasa saja, seolah masalah yang dibahas tadi sudah dipecahkan dan kita tidak tahu bagaimana mereka memecahkannya.

Menyapa Bandung di acara Car Free Day, Minggu pagi 22 April, tampak Sutradara Fajar Nugros bersama Dion Wiyoko dan Dayu Wijanto tak kalah semangat juang.

 

Fajar Nugros menyebutkan salah satu kesulitan dalam menggarap period piece seperti film ini adalah mencari lokasi dan bangunan-bangunan bersejarah yang masih ‘asli’. Karena kebanyakan tempat-tempat semacam itu kini sudah ‘beralih fungsi’. Jadi mereka kebanyakan mesti membuat set sendiri, mereka-reka suasana tahun yang diinginkan, dan memastikan semua objek berada pada ‘waktu’ mereka seharusnya berada. On screen, Terbang layak mendapat panggilan film yang berani karena walaupun film ini membentang dari periode tahun, juga tempat, yang berbeda, kita tidak akan melihat tulisan yang menunjukkan tahun ataupun lokasi. Film mempercayai pemahaman penonton, lantaran mereka tahu persis mereka sudah menyiptakan ‘panggung’ yang benar.

Sutradara, para pemeran, dan cerita-cerita seru mereka

 

 

Dari sekian banyak jatuh bangun yang dialami Onggy yang diceritakan dengan lengkap, film malah meninggalkan bagian terpenting yang terjadi di dalam hidup Onggy. Ketika dia kepikiran untuk jadi distributor apel buat bayar uang kos dan biaya kuliah, kita diperlihatkan dari mana ide tersebut  berasal. Pun ketika dia mencoba jualan jagung bakar, kita melihat awal dan akhir dari usahanya tersebut. Kita juga akan sering dibawa mundur ke ingatan Onggy terhadap ayahnya, karena dari ‘kesalahan’ dan nasihat Beliaulah terutama Onggy melandaskan perjuangan hidupnya. Kita paham tantangan dan apa yang ia pelajari dari sana. Namun, ketika membahas bagaimana Onggy bisa menjadi motivator, well, film tidak benar-benar membahas bagian ini. Aneh memang, terutama jika ada yang orang tahu dari Onggy Hianata, maka itu adalah bahwa dia adalah seorang motivator sukses kelas internasional.

Jika ada film yang menjadikan Onggy Hianata sebagai tokoh utama, maka kita akan berpikir film tersebut pastilah membahas kenapa dia bisa menjadi motivator yang begitu sukses. Tapi film ini melewatkan bagian itu. Kita tidak pernah melihat Onggy sebagai seorang yang ‘pintar bicara’ sedari kecil. Tidak ada build up ke bagian ini. Satu-satunya pengalaman Onggy mengenai bicara di depan orang banyak adalah ketika dia melihat orang gila yang suka pidato di sekitar kampusnya. Mestinya cerita bisa dikaitkan dari sini, tapi enggak, dan tahu-tahu Onggy sudah bekerja sebagai motivator setelah mencoba MLM. Memang, kita diperlihatkan pada mulanya tidak banyak yang datang ke kelas Onggy, dan secara perlahan jumlah pesertanya meningkat dari setiap kelas ke kelas lain untuk memperlihatkan Onggy benar-benar jago di bidang kerjaannya ini. Tetapi kita hanya tahu sedikit sekali dari kerjaannya yang membuatnya ternama tersebut. Kita bahkan tidak tahu siapa yang mengontraknya, siapa yang memberinya gaji, atau malah berapa gajinya.

Sepertinya memang hal tersebut adalah efek samping yang timbul jika kita menghadirkan kisah dengan rentang waktu yang sangat panjang. Cerita Terbang: Menembus Langit melayang saja dari titik satu ke titik lain. Tokoh utamanya bertemu banyak orang, untuk kemudian ditinggalkan, dan move on ke episode perjuangan berikutnya. Tapi, begitulah hidup, bukan. Kita kenalan sama orang, beberapa dari mereka tinggal, beberapa lagi mungkin tidak kita dengar kabarnya lagi.

 

 

Film ini diniatkan sebagai kisah perjuangan dan kerja keras hidup yang bisa menginspirasi banyak orang, bahwa kegagalan dan rintangan itu bukan untuk menahan kita tetap di bawah, melainkan sebagai pegas yang kita gunakan untuk terbang. Makanya, film menekankan kepada begitu banyak kegagalan dan kebangkitan kembali tokohnya. Melalui penulisan dialog dan tokoh-tokoh yang mudah direlasikan dan akrab, film juga ingin memasukkan elemen persatuan dalam keseragaman, sayangnya tidak begitu berhasil tersampaikan dengan mulus sehingga kadang pesan-pesan Bhinneka Tunggal Ika tersebut terasa dijejelin ke tenggorokan kita. Blatant and very obvious. Desain produksinya meyakinkan banget sih, salah satu period piece yang well-realized. Film ini semestinya berupa kisah sehari-hari Onggy dalam mengarungi hidup sebagai minoritas saat Orde Baru, kita seharusnya terhanyut begitu saja di dalam cerita, tapi cukup sering rasa episodik itu hadir, dan membuat kita terloncat-loncat dalam mengikuti perjalanannya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for TERBANG: MENEMBUS BATAS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE PERFECT HUSBAND Review

“If you judge people, you have no time to love them.”

 

 

 

Tidak ada yang lebih nge-ftv daripada menggunakan adegan tabrakan untuk memperkenalkan dua tokoh dalam romansa remaja, yang tentu saja kemudian akhirannya bisa kita tebak. Dua tokoh tersebut akan berakhir menjadi pasangan. The Perfect Husband adalah contoh sempurna dari formula kisah cinta dalam film televisi, ia tidak membuang waktu memperlihatkan gimana Ayla, gadis cantik anak kelas 3 SMA, yang mobilnya bersenggolan dengan mobil seorang mas-mas berseragam pilot, yang ternyata adalah pria yang telah dipatri oleh ayah Ayla untuk menjadi calon suami Ayla.

Mendengar informasi sepihak tentang masa depan hidupnya, terang saja Ayla bereaksi heboh. Dia tidak berlama-lama di fase penyangkalan. Malahan dia bisa dibilang nyaris langsung marah, dan Ayla tetap bertahan di tahap tersebut. Ayla mengambil sikap protes kepada ayahnya. Dia menolah Arsen, si pilot, mentah-mentah. Di balik usianya, Ayla memang tampak seperti wanita muda dengan pola pikir yang cukup kritis, namun film tidak berada di jalur yang demikian. The Perfect Husband mengambil tone yang sangat ringan untuk menceritakan konflik seputar perjodohan, yang mengakar kepada keinginan anak versus kebahagiaan orangtua, dengan tidak malu-malu menyebut komedi kepada tingkah laku para tokoh. Nyaris keseluruhan film adalah debat Ayla terhadap keputusan ayahnya, tetapi tidak benar-benar dalem. Alasan Ayla enggak mau dijodohin adalah karena Arsen yang hanya muda jika dibandingkan dengan si ayah, dan Ayla sudah punya pacar anak band.

kita bicara tentang band yang lagunya….. ngerock!

 

Alih-alih  membuat diri dan pacarnya tampil lebih baik sehingga dapat dipercaya di mata ayah, Ayla malah sengaja tampil urakan dan kurang ajar. Sampe-sampe teman satu geng Ayla sendiri malah jadi kasihan kepada Arsen yang selalu ‘dikasarin’ sama Ayla. Actually, perspektif ini yang membuat film menjadi menarik. Ayla melakukan segala cara minus, mulai dari bersikap dingin, terang-terangan miih Ando, nyuekin, sampai berbohong, dalam upayanya mengeluarkan diri dari perjodohan. Ayla ingin menggunakan penilaian ayahnya terhadap Ando sebagai senjata utamanya kala keluarga Arsen datang berkunjung. Tapi tentu saja, hal tersebut semakin membuktikan ketidaksukaan ayahnya kepada pilihan Ayla yang begundal. Dinamika ayah-anak ini menjadi bumbu cerita. Arsen kerap meminta panduan dari calon mertuanya demi meluluhkan hati Ayla. Kita akan mendengar banyak bentrokan seputar tua melawan muda, mapan melawan kegakjelasan, yang kita inginkan melawan apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Semua orang di dalam film ini saling bersikap judgmental terhadap satu sama lain. Ayah menjodohkan Ayla karena ia tidak percaya pergaulan  dan pilihan Ayla. Begitupun Ayla punya curiga kepada Arsen kenapa mau-mau aja dijodohkan. Masih ada ibu Arsen yang punya prasangka dan penilaian sendiri terhadap Ayla. Begitu jualah kita dalam kehidupan, kita banyak berprasangka. Kita enggak mau dijudge, sehingga kita menyimpan rahasia, dan pada gilirannya kita jadi menganggap orang lain juga menyimpan sesuatu. Jadinya saling tuduh-tuduhan.

 

Berlawanan dengan ceritanya yang mengusung dukungan terhadap prasangka, film ini sendiri lumayan bisa kita nikmati dengan memendam dulu pikiran judgmental bahwa film ini tak lebih dari ftv di layar lebar. Karena memang tidak benar sepenuhnya demikian. Ceritanya sendiri tidak completely sepele, masih ada yang bisa kita bawa pulang seputar kebahagiaan dan bagaimana kita memandang orang lain. Secara teknis pun, film  ini enggak basic-basic amat – tidak ada yang wah, it is just competent enough. Ada satu adegan yang kusuka, buatku itu adalah adegan terbaik yang dipunya oleh film ini, yakni ketika Arsen dan ayah ibunya lagi mengobrol memutuskan untuk meneruskan usaha mendekati Ayla atau enggak, ibu Arsen akan bolak-balik keluar ruangan, ngobrol sambil lepas dandanan, untuk menggambarkan urgensi dari judgment dirinya terhadap keputusan anaknya, dan adegan ini ditutup dengan punchline komedi yang tepat. Karakter-karakter ditulis sesuai konteks, mereka mendapat pengembangan, mereka berubah – karena pengungkapan dan/atau pembelajaran – meskipun memang film meminta mereka untuk enggak terlalu cepat ngejudge mereka.

Across the board,  penampilan para pemain juga sama kompetennya. Slamet Rahardjo berhasil memainkan ayah yang menuntut, yang diantagoniskan oleh tokoh utama, tanpa membuat tokohnya tampak tidak-menyenangkan. Ayah adalah tipe karakter yang berkembang dan memajukan cerita dengan pengungkapan karakter yang ia simpan sepanjang film, dan Slamet Rahardjo mampu membawakan tokoh ini dalam jalur yang make sense. Meskipun, memang, jika ia jujur dan gak berahasia sedari awal, film bisa selesai dengan lebih cepat, namun tokohnya tidak terasa annoying. Arsen yang diperankan oleh Dimas Anggara juga tidak berupa tokoh device belaka. Dia punya motivasi sendiri, jadi karakternya enggak entirely jatoh creepy. But still, orang dewasa ngendong paksa anak SMA bukanlah hal yang lumrah untuk didiemkan dan dianggap so sweet.

Dari semuanya, menurutku aman untuk kita bilang Amanda Rawleslah yang membopong film ini lewat permainan range akting yang variatif.  The problem is, karakter Ayla enggak dibahas berlapis sesuai layer yang semestinya ia punya. Ayla adalah cewek groupie rock band, yang sesungguhnya tidak suka ama genre musik tersebut, dia hanya suka sama Ando yang vokalis, cerita tidak pernah membahas ini lebih dalam, maka ketika Ayahnya menyinggung soal Ando dan musiknya, efek terhadap Ayla tidak bisa menjadi lebih dalam. Aku setuju sama ground pemikiran yang dipijak oleh Ayla, hanya saja Ayla tidak menunjukkan dia tahu yang terbaik untuk dirinya. Kebanyakan, dia mengambil keputusan karena ‘cinta buta’ terhadap Ando, film tidak clear melandaskan apakah Ayla memilih Ando sebagai bentuk perlawanan kepada ayahnya, karakter ini semacam terombang ambing antara clueless atau benar-benar tahu apa yang ia mau.

dengan kata lain, beneran kayak anak SMA

 

Dalam usahanya yang cukup berhasil membuat kita tetap duduk di tempat,  tetap saja banyak elemen dalam film ini yang bikin kita cengo’ sambil mengutuk ‘betapa begonya’. Aku enggak paham kenapa mereka enggak nunggu Ayla selesai kuliah dulu baru menikah. Ending film ini adalah salah satu yang paling cheesy dan benar-benar meruntuhkan tone dramatis yang sudah dibangun. Aku tidak tahu kenapa film memilih untuk menggunakan adegan tersebut, selain untuk menunjukin Arsen beneran bisa nerbangin pesawat. Di adegan flashback menjelang akhir, kita dengan jelas mendengar ayahnya menyebut Alya alih-alih Ayla, aku enggak tahu kenapa film membiarkan kebocoran ini, mereka bisa dengan gampang mendubbing atau mereshot adegan.

Film punya jawaban dan sudut pandang sendiri terhadap pemecahan masalah perjodohan yang ia angkat. Film membuat penonton bersimpati kepada Arsen ketika Ayla membentaknya di depan teman-teman sekolah lantaran main gendong sekenanya. Ayla yang kemudian minta maaf adalah salah satu dari beberapa adegan yang menunjukkan film berdiri di ranah cewek bertanggungjawab mengemban pilihan orangtuanya. Aku tidak begitu setuju dengan gimana film ini memandang sikap anak terhadap perjodohan oleh orangtuanya, tapi aku harus ngasih respek karena film ini berani mengutarakan suaranya sendiri. Dan paling tidak, aku masih bisa setuju soal pesannya yang mengatakan bahwasanya berbohong tidak akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan siapapun. Umur ayah menjadi semakin singkat karena mendengar kebohongan Ayla, film tidak sepenuhnya menekankan ke aspek ini, tapi nyatanya adegan tersebut kuat untuk menjadi titik balik penyadaran Ayla.

Bicara tentang Arsen, alasan kenapa dia mau dijodohkan yang diungkap menjelang akhir babak tiga adalah hal terbullshit yang kudengar sepanjang hari ini. Karena sesungguhnya kebahagiaan manusia adalah tanggungjawabnya sendiri. Bukan tugas orang lain untuk membuat kita bahagia. Membalas kebaikan orangtua tidak harus dengan sampai mengorbankan kebahagiaan kita sendiri agar mereka bahagia. Tentu, kita mungkin saja menemukan kebahagiaan yang lain saat berusaha membuat orangtua bahagia, tapi itu bukan berarti membuktikan mereka benar, atau mereka yang salah. Bahagia itu datang sebagai misi diri sendiri, dan untuk mendapatkannya tidak bisa dengan berbohong.

 

 

 

 

Ini adalah kisah cinta remaja yang twisted, yang menggambarkan bagaimana tepatnya dalam kehidupan sosial, setiap orang bersikap judgmental terhadap orang lain. Dan film ini membuat lebih sering daripada tidak, prasangka tersebut benar adanya. Seperti ketika film lewat tokoh ayah Ayla ngejudge rocker tanpa memberi kesempatan pihak itu membela diri. Perjodohan dan konflik keinginan anak dengan keinginan orangtua dijadikan panggung untuk mengeksplorasi masalah tersebut, yang actually disampaikan dengan ringan. Menjadikan pesan dan feeling film ini tidak untuk semua orang. Ironisnya, jika kalian menahan perasaan judgmental terhadap film ini dan mau tetap duduk di sana, film ini sebenarnya adalah sebuah tontonan yang watchable dengan penampilan akting yang menarik.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE PERFECT HUSBAND.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

ARINI Review

“… you fall in love with love itself because it touches places that nothing else has before.”

 

 

Bayangkan ada dua buah kereta api yang berjalan barengan dari stasiun. Mereka melaju dengan rel yang saling paralel, saling sejajar. Ketika yang satu berbelok, maka yang lain juga ikut berbelok. Kau adalah penumpang yang pernah naik di salah satunya, dan sekarang kau memilih naik kereta yang lainnya. Tentu saja, apa yang kau alami di kereta yang sekarang akan mengingatkanmu ketika pertama kali naik kereta yang lain. Begitulah penceritaan film Arini. Editingnya yang precise membuat kita berpindah-pindah di antara dua kereta, tanpa sekalipun kita terlepas ketinggalan emosi. Dua kereta itu bernama Kereta Masa Lalu dan Kereta Masa Kini. Dan kau yang duduk tadi, kau adalah Arini. Cewek tiga-puluh-delapan tahun yang tak bisa menghindari masa lalunya ketika ia duduk menumpang kereta api yang jaraknya beribu kilo dari kereta api yang telah menghantarkannya dalam sebuah perjalanan traumatis dalam hidup.

Cerita terus terbangun, apa yang ditemui Arini dalam keretanya yang sekarang, membuatnya teringat akan masa lalu, dan semua itu diceritakan dengan paralel. Ketika Arini diajak kenalan sama berondong, dia membawa kita melihat masa ketika ia dijodohin sama mantan suaminya. Ketika si Berondong Nekat ngajak Arini jalan, Arini mengenang saat-saat dia berbulan madu. Dan editing seperti ini membuat sebuah pengalaman menonton yang mengcengkeram erat Kita tahu ada yang gak beres dengan masa lalu Arini, kita penasaran ingin tahu kenapa Arini yang kini bersikap begitu jutek. Film berhasil membenturkan dua versi Arini lewat bahasa visual yang bahkan tidak perlu menjelaskan mana yang terjadi di waktu sekarang, mana yang kejadian di ingatan.  Dari rambut Arini saja, aku suka treatment khusus yang dilakukan oleh film ini. Rambut diikat, sebagai kontras dari rambut yang tergerai itu saja sudah menambah kedalaman lapisan buat tokoh Arini. Gimana dia yang dulu mau membantu mengangkat koper orang, sedangkan Arini yang sekarang diminta bantuan ngetuk kaca jendela saja ogah luar biasa.

film ini akan ngasih tahu sebab kenapa kita seharusnya tidak sekalipun mengaktifkan speaker saat menelfon.

 

Perspektif Arini adalah poin menarik yang jadi fokus pada film ini. Konteksnya adalah Arini enggak siap ditabrak oleh kereta cinta yang baru. Oleh cerita, Arini dipertemukan dengan Nick, mahasiswa berusia dua-puluh-tiga tahun yang seketika jatuh cinta dan terus menempel Arini. Gol utama cerita adalah menjawab pertanyaan akankah Arini dapat mengenali atau menerima cinta lagi setelah kejadian horrible yang ia lalui di masa lalu. Masalah Arini ini berakar kepada kepercayaan; orang yang ia kenal dibentrokkan dengan orang yang sama sekali asing baginya. Arini tidak tahu siapa Nick. Dia anak mana, hidupnya bagaimana, seujug-ujug mereka kenalan (itu juga Nicknya maksa), dan sejak saat itu Nick selalu hadir di kehidupan Arini – diminta atau tidak. Dan karena cerita ini mengambil sudut pandang Arini, kita juga hanya tahu apa yang Arini tahu – kita tidak diberikan back story siapa Nick. Keasingan tokoh Nick adalah elemen penting buat cerita. Menyebabkan film ini sedari menit awal sudah terjun mengambil resiko. Karena, ya, kekurangan cerita latar – terlebih untuk kisah romansa dua insan manusia – itu bukan resep membuat film yang bagus.

Cinta adalah belajar mengenal orang asing dengan lebih dalam. Semua orang adalah asing bagi kita, sampai kita membuka diri untuk mengenal mereka. Buat sebagian orang, hal tersebut bisa menjadi pengalaman yang menakutkan. Makanya hal itu juga berlaku sebaliknya. Orang yang kita cintai dapat dengan cepat kembali menjadi orang asing jika kita sudah terluka dan menutup diri kepadanya.

 

 

Tentu saja, Nick adalah tokoh yang sangat gampang untuk disukai. Dia ceria, jenaka, penuh semangat hidup. Muda pula. Terlebih jika tokoh utama yang kita punya adalah cewek dewasa yang cembetut melulu, dia begitu pesimis dia menyebut dirinya nenek-nenek. Bentrokan antara sifat dan karakter mereka pun tak pelak menghasilkan tukar-menukar kata yang menarik, yang manis. Tengok saja usaha Nick untuk membuat Arini tersenyum. Penonton cewek pasti meleleh ke lantai dibuatnya. Mungkin juga ada yang geregetan. ‘Dinding’ yang dibuat oleh Arini memang kerasa, beberapa bisa saja menafsirkan ini sebagai kekurangan chemistry antara Aura Kasih dengan Morgan Oey, tapi buatku ini adalah hasil dari permainan emosi yang genuine dari dua pemeran. Aura Kasih di sini bermain meyakinkan sebagai orang yang sangat tertekan, dia juga begitu tertutup, kelihatan jelas dia rapuh tapi berusaha untuk kuat. Bukan hanya itu, actually Aura Kasih dituntut untuk menampilkan emosi yang berentang jauh – Arini yang ia perankan udah kayak dua orang yang berbeda sifat, dan bukan hanya tepat di dua-dua tone emosinya, Kasih juga sukses ngedeliver di momen-momen transisi karakter Arini. Nick, sebaliknya, keseluruhan film ini bisa berganti menjadi menyeramkan jika tuas karakter Nick salah senggol sedikit aja. Dan untuk itu, aku kagum juga banyak yang mengoverlook Nick sebagai karakter yang creepy, aku pikir kharisma Morgan Oey cukup berpengaruh di sini.

Ketika Dilan tahu nomor telepon dan alamat rumah Milea, kita dengan enggak banyak pikir, bisa langsung mengasumsikan dia mungkin bertanya kepada teman-teman sekelas yang lain. Dalam film Arini, walaupun Nick sudah mengakui dan menjelaskan darimana dia tahu tempat tinggal Arini, meskipun kita sudah tahu kepentingan Nick dibuat sebagai orang yang begitu asing, tetap saja terasa ada sesuatu yang off. Maksudku, gimana bisa kita mempercayai Nick? Darimana kita tahu kalo kejadian di pembuka film – yang dia minta tolong Arini kabur dari kondektur kereta – bukan bagian dari modusnya untuk kenalan sama Arini? Gimana kalo ternyata dia udah nguntit dan ngincer Arini dari sebelum film dimulai, coba? Sinopsis resmi film ini menyebutkan Nick jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arini, namun cerita actual film tidak membuatnya tampak demikian. Melihat Arini yang begitu dingin terhadapnya, dugaan bahwa jangan-jangan Nick jadi jatuh cinta karena penasaran terus dicuekin  itu masih sering bersarang di kepala kita. I think, backstory bisa saja sengaja enggak dibeberkan, akan tetapi alasan kenapa Nick ngebet sama Arini tetap harus dijelaskan. Makanya, adegan Arini menampar Nick itu harusnya masih bisa terasa lebih kuat lagi; kita mengerti Arini, tapi kita enggak ngerti Nick.

“stop being so mean to me, or I swear to God I’m gonna fall in love with you”

 

Film sepertinya memang tidak malu-malu menunjukkan bahwa mungkin saja mereka hanya tergerak oleh nafsu. Bahkan ada indikasi tokoh film ini enggak benar-benar belajar; eventually, aku akan bahas ini di bawah. Right now, aku mau menyinggung salah satu elemen yang hilang sehubungan dengan tokoh Nick. Yakni tidak adanya konsekuensi. Inilah yang menyebabkan film ini terasa ‘salah’. Ada banyak tindakan Nick yang termaafkan begitu saja, yang lagi-lagi merugikan buat Nick. Alih-alih tokoh pasangan, Nick seperti lebih kepada sebuah tokoh yang jadi alat semata bagi perkembangan Arini. Arini butuh Nick untuk belajar bagaimana kembali membuka hati dan membiarkan cinta masuk ke dalam hidupnya. Arini butuh Nick untuk berani mengonfrontasi masa lalu. Kita dapat melihat gimana Arini ada rasa sama Nick. Believe me, I know. Nick basically ngancem nunggu di depan pintu apartemen dan gak kena ganjaran apa-apa. Aku pernah nekat juga nungguin di pintu depan apartemen orang, dan belum genap dua jam aku udah dipanggilin satpam.

Maka dari itu, sejatinya Arini bukanlah film romansa, setidaknya bukan antara cowok dan cewek. Melainkan adalah tentang cinta antara seorang wanita dengan cinta itu sendiri

 

 

Nick sempet kesel Arini selalu mengungkit masalah jarak umur mereka. Umur mereka terpaut literally satu orang Dilan. Dan untuk urusan umur ini, aku setuju sama Nick. Kenapa sih film membuat mereka berbeda umur begitu jauh? Tidak seperti keasingan Nick yang kita paham signifikannya terhadap cerita, perbedaan umur Arini dan Nick tidak tampak menambah banyak bagi perkembangan karakter Arini. Pun tidak terasa paralel dengan elemen Arini yang takut untuk jatuh cinta kembali. Selain digunakan untuk lucu-lucuan ‘tante dengan keponakan’, hanya ada satu adegan yang mengangkat masalah ini ke permukaan, yaitu saat adegan makan malam dengan keluarga Nick. Actually aku berpikir cukup keras perihal umur ini, masa iya sih umur mereka dibuat jauh cuma supaya Arini ada alasan nolak Nick. Apa sih yang ingin dicapai cerita dengan membuat mereka berbeda usia dengan jauh, meski 23 dengan 38 itu juga enggak ekstrim-ekstrim amat. The best that I can come up with adalah mungkin film ingin menegaskan bahwa Arini kehilangan cinta dan dirinya saat ia kehilangan anaknya. Maka ia menemukan kembali apa yang hilang dari dirinya saat ada anak yang menemukannya…? Emm… yah anggap saja begitu dah.

 

 

 

Cerita berjalan mantap sesuai pada rel konteksnya. Ada eksposisi di akhir yang menerangkan jawaban-jawaban pada plot seolah kita tidak bisa menyimpulkan sendiri, toh film ini akan tetap terasa menyenangkan karena formula tokoh dan hubungan mereka yang benar-benar likeable. Tapinya lagi, at the end of the track, tokoh utama film ini tidak belajar dari masa lalu. Dia tetap jatuh ke orang yang tak ia kenal sama sekali sebelumnya, tanpa ada usaha untuk mengenal orang tersebut. Di masa lalu, ia menikah dengan orang yang dijodohkan oleh sahabatnya. Di masa kini, ia jatuh cinta dengan stranger di kereta, malahan ada satu adegan ia pengen mangkir dari pertemuan dengan keluarga pacarnya. Film ini menyatukan masa lalu dan masa kini dengan mulus, hanya saja tidak berhasil melakukan hal yang serupa terhadap dua gerbong aspek ceritanya. Karena memang tricky untuk disatukan; di satu sisi ada romansa, satunya lagi ada kepentingan untuk membuat pasangannya dibiarkan tak banyak dibahas. Aku jadi penasaran sama materi asli cerita ini (novel dan film jadulnya), jangan-jangan di cerita aslinya Nick dan beda umur itu memang cuma device saja namun film adaptasi ini memutuskan unuk menjadikannya sebagai vocal point.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ARINI.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

A QUIET PLACE Review

“Sometimes being quiet is the best weapon you have.”

 

 

Komedian mulai mewabahi dunia penyutradaraan horor mainstream, tahun kemaren ada Jordan Peele yang sakses dengan Get Out (2017) – sekarang giliran John Krasinski, dan aku lebih daripada siap untuk terjangkiti demam horor buatan mereka-mereka!

Dalam A Quiet Place buatan Krasinski, yang jadi wabah dunia bukan penyakit, atau zombie, atau pembunuh psikopat, melainkan teror monster buta dengan pendengaran luar biasa tajam. Daerah tempat tinggal keluarga tokoh utama cerita, nyaris kosong akibat ulah monster-monster ini. Kita tidak tahu kenapa mereka ada di sana, makhluk apa itu sebenarnya, yang kita tahun hanyalah betapa suara sekecil apapun akan menarik perhatian mereka, dan memang itulah yang perlu kita tahu dari para monster. A Quiet Place adalah thriller yang bikin kita ikutan terdiam dengan tegang sedari awal. Kita ikutan merasa terjebak dan berusaha untuk tidak membuat suara. Karena tidak seperti thriller sejenis, di mana tokoh cerita tidak boleh melakukan sesuatu yang bisa memprovokasi monster, film A Quiet Place sejak sepuluh menit pertama sudah menetapkan bahwa stake yang harus keluarga itu hadapi, konsekuensi yang ada jika mereka melanggar – membuat suara gak-alami, adalah kematian yang nyaris secara spontan. Tidak akan ada perlawanan; begitu kau menarik perhatian monster, kau sama saja dengan sudah mati.

tidak seperti Vampire Cina yang bisa dikibulin kalo kita kelepasan napas, monster di film ini tidak akan kenal ampun

 

Krasinski, meski jam terbang sutradaranya belum banyak, sudah punya pemahaman layaknya director horor kawakan. Dia memaksimalkan suspens dengan memilih fokus penceritaan. Ketika dia mengungkapkan hal kepada penonton akan terasa berbeda dengan saat dia mengungapkan sesuatu kepada tokoh cerita. Ia dengan sukses menciptakan ketegangan berlapis, kita peduli terhadap keluarga tersebut sekaligus kita dapat merasakan tegangnya dikuntit oleh makhluk ganas. Film dibuat benar-benar sunyi. Para tokoh menggunakan bahasa isyarat dan banyak bercerita lewat ekspresi wajah sehingga kita bisa mengerti apa yang terjadi. Tentu, akan ada subtitle yang menjelaskan apa yang mereka bicarakan lewat bahasa isyarat, namun film masih tetap terasa subtil dan enggak terkesan seperti film yang mengajak kita membaca alih-alih bercerita sendiri.

Ini merupakan tantangan tersendiri, dialog yang minimalis seperti pada film ini akan menggebah pembuat film untuk mencari cara kreatif dalam bercerita. Mereka harus tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan penonton tanpa banyak membual kata. Krasinski dan para aktornya unggul di aspek ini. Kelihatan banget bedanya jika sutradara dan para pemain paham dan punya pandangan yang sejalan seperti pada film ini. Krasinski juga turut bermain sebagai Ayah, sehingga dia benar-benar paham apa yang tokoh dan dia sendiri perlu lakukan untuk menambah ketegangan dan kekuatan film. Di sini dia bermain dengan istrinya beneran, Emily Blunt, sehingga tentu saja chesmistry antara dua tokoh ini sangat kental terasa. Sebagai Ibu yang kehilangan anak, dan siap untuk meredeem dirinya dengan menyambut kelahiran anak berikutnya, Emily Blunt juga bermain dengan menakjubkan. In fact, across the board, seluruh pemain memberikan sumbangan besar penampilan kepada film ini. Bahkan aktor anak-anak. Noah Jupe yang sebagai anak yang charming di Wonder (2017) deliver ekspresi yang tampak genuine di film ini. Terutama Millicent Simmonds yang bermain sebagai anak sulung yang tuli, dalam kenyataannya Millicent juga penyandang tuna yang sama, sehingga penampilannya di film ini tampak sangat otentik lantaran dia mengerti apa yang harus diberikan kepada tokoh yang ia perankan. Berkat penampilan dan penulisan cerita, meskipun kadang kita enggak mengerti banget masalah emosional yang mereka hadapi sebagai keluarga, kita akan tetap dibuat melekat kepada keluarga ini demi melihat apa yang mereka lakukan selanjutnya, bagaimana mereka berjuang untuk tetap ‘membisu’ dan melanjutkan hidup di tengah teror tak terucap monster-monster yang siap membunuh itu.

Yang namanya film horor, apalagi yang berelemen monster pembunuhnya, tentu saja akan ada jumpscare. Tentu saja akan ada tokoh yang mengambil pilihan yang bikin kita meneriakkan kata “Begok kau!” at the top of our lungs, toh memang dari situlah faktor fun menonton film horor macam begini. Meskipun memang ada rakun yang bikin kita terlonjak, jumpscare dalam film ini kebanyakan enggak terasa murahan. Beberapa keputusan karakter memang idiot, kayak misalnya si Ayah yang mencampakkan kapak setelah memanggil monster, tapi keputusan-keputusan yang dibuat bergerak dalam konteks cerita; dalam kasus si Ayah barusan, adegannya ingin memperkuat elemen kematian instan saat monster mendengar suaramu.

untuk pembelaan, menurutku anak ini ngidupin pesawatnya bukan karena ingin dengar bunyi, tapi karena dia dengan polosnya berpikir pesawat mainan itu bisa terbang beneran

 

Actually banyak elemen yang bisa kita nitpick, banyak elemen cerita yang membuat kita mempertanyakan kelogisan. Bagaimana bisa mereka punya listrik setelah begitu lama daerahnya ‘mati’, bagaimana bisa mereka mikirin untuk punya bayi, bagaimana bisa tokoh si Noah Jupe begitu takjub bisa ngobrol di deket sungai karena arus dan air terjun meredam suara mereka – apakah selama ini mereka gak pernah ngobrol begitu hujan turun? Tidak pernahkah hujan di sana? Dan lagi, kalo ayahnya tahu soal suara sungai, kenapa gak pindah aja ke dekat sana – kenapa orang-orang di sekitar situ enggak ada yang punya rumah di sekitar sungai, enggak kayak orang kampung di sini yang rumahnya ngikutin kali? Kita mungkin bakal punya teori sendiri bagaimana cara mengalahkan monster dan kenapa cara tersebut enggak terpikirkan sama para tokoh film ini. Kita bisa saja terus-terusan menganalisa kekurangan dunia film ini, namun kita juga akan semakin jauh dari point sesungguhnya yang ingin dibicarakan oleh film.

Karena sebenarnya ini bukan soal monster. Adegan dengan para monster jarang sekali beneran tentang monsternya, adegan-adegan tersebut adalah soal para tokoh. Psst, diam-diam aja ya, A Quiet Place bukanlah semata film monster, ia adalah film tentang manusia dengan monster yang berkeliaran di lapisan terluarnya.

Diam itu emas. Survive dengan tidak membuat suara, surprisingly adalah hal yang susah. Apalagi untuk keadaan sekarang, semua orang berpikir mereka perlu untuk mengeluarkan suara, mengemukakan pendapat, meski sebenarnya mereka cuma nyinyir – tidak memberi solusi. Mungkin saja aku di sini juga begitu, that I might doing that right now, but you get the point. Penting untuk kita berani mengeluarkan suara, tidak menahan-nahan apa yang kita pikirkan, berpendapat dengan jujur. Tapi tidak kalah pentingnya untuk tahu kapan harus bersuara, bagaimana menyuarakan yang tersirat di hati dan kepala supaya tidak menimbulkan keributan yang enggak perlu.

 

Ada alasannya kenapa film langsung melempar kita ke hari ke 89 dari musibah monster tersebut. Cerita akan menjadi sangat berbeda jika kita melihatnya dari pertama, kita mungkin akan melihat hysteria penduduk – menjadikan film ini purely teror serangan monster. Tapi enggak, film ingin memperlihatkan kita karakter. Keluarga Emily Blunt sudah punya sistem sendiri untuk bertahan hidup, mereka sudah mempelajari sesuatu tentang monster, dan mereka saling menjaga satu sama lain. Inilah yang membuat kita mengapresiasi film ini, tokoh-tokohnya –untuk sebagian besar waktu- tampak pintar. Kita dibuat hanya mengetahui yang diketahui oleh keluarga tersebut. Mereka melihat api unggun menyala di kejauhan, di atas bukit-bukit sekitar. Kita mengerti manusia belum punah, bahwa bukan hanya keluarga mereka yang sedang berjuang hidup. Dan ini menciptakan misteri dan ketertarikan. Cara mereka bertahan hidup, berkomunikasi sebagai keluarga, menjadi inti utama cerita. Buatku sangat menakjubkan sekelompok orang bisa membuat sistem yang bekerja efektif tanpa membuat keributan yang berlebihan; dalam film ini mereka literally bercakap tanpa suara.

 

 

 

Cukup pintar untuk tidak menjadi sesuatu yang lain dari yang diniatkan, thriller ini sangat terarah, dengan penuh ketegangan dan penampilan sungguh-sungguh dari pemain dan pembuatnya. Beberapa aspek memang memancing kita untuk mempertanyakan hal-hal yang membingungkan dan film tidak repot untuk menjawabnya. Karena kita bisa menitpick kekurangan yang dipunya, tapi film ini tidak peduli. Mereka punya sesuatu untuk dikatakan di balik apa yang tampak seperti thriller survival yang sederhana, they did say it, dan terserah kepada kita untuk terus larut dalam noise di sekitarnya atau enggak. Di luar semua itu, yang bikin aku ngeri saat nonton ini adalah menyadari betapa keberhasilan film ini bergantung kepada reaksi penonton saat menyaksikannya. Segala horor dan atmosfer itu tentu akan runtuh jika ada penonton yang sok melawak; mengeluarkan suara-suara lucu saat ada tokoh yang menyuruh diam. Tapi aku senang saat nonton tadi enggak ada orang yang begitu, bahwasanya penonton sini sudah belajar untuk menonton dengan benar dan menghormati bioskop layaknya sebagai tempat yang sunyi.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for A QUIET PLACE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017