DUNKIRK Review

“We shall fight on the beaches

 

 

Bayangkan dirimu seorang serdadu Inggris yang terjebak dalam perang, empat ratus ribu pasukanmu dipukul mundur hingga ke garis pantai. Tempat di mana kalian menunggu untuk evakuasi. Hanya saja kondisimu itu sama aja seperti bebek yang berenang di dalam baskom; setiap detiknya kalian dalam bahaya ditembaki oleh pemburu, yang dalam perang ini adalah pesawat angkatan udara Jerman. Jadi tentu saja kalian akan melakukan apapun untuk bertahan hidup. Dunkirk menceritakan tentang survival perang, begitu simpel dan sungguh nyata. Dan oya, kejadian di pesisir pantai Dunkirk ini diangkat dari peristiwa dari Perang Dunia Kedua, yang tercatat di buku sejarah sebagai peristiwa ‘ajaib’ yang mengubah pandangan dunia terhadap perang.  Ajaib bahwa kemanusiaan masih ada as selain tentang gimana para tentara di daratan berusaha keluar dari pantai, ini juga menilik tentang penduduk sipil yang berjuang mengerahkan kapal-kapal pribadi demi menyelamatkan pahlawan bangsa mereka.

At one point of the movie, salah satu tokoh film ini keheranan disambut baik sesampainya di ranah Inggris. Padahal dia merasa malu, negara mereka kalah. “All we did is survive” katanya. Secara militer, memang, mereka kalah. Tapi mereka berhasil selamat dalam jumlah banyak. Mereka selamat untuk melanjutkan hari esok, and it is a glory of humanity. Karena orang-orang Inggris itu menunjukkan semangat dan solidaritas patriotik untuk bersatu, untuk menjadi kuat, melawan situasi yang sulit. Survival tidak pernah adil, dan peristiwa Dunkirk menunjukkan kemanusiaan masih punya harapan dan peluang untuk menang.

 

Sekarang, coba bayangkan, kamu berlari, loncat dari kapal, menyelam, menggapai-gapai mencari udara, dalam cemas dan harap menemukan tempat di luar bidikan bom, dan kalian melakukannya di antara seribuan lebih orang yang melakukan hal yang sama. Benar-benar tidak ada waktu untuk menghembuskan napas lega, apalagi saling menyapa dan get to know each other. Begitulah persisnya film Dunkirk dipersembahkan. Film perang yang bagus seperti Saving Private Ryan (1998) biasanya menceritakan karakter di dalam situasi mengerikan, dan gimana mereka beraksi terhadap perang. Gimana mereka dilanda oleh dilemma. Dunkirk, however, adalah ‘HANYA’ TENTANG PERANG. The actual event. Dan bagaimana terrifyingnya jika kita terjebak di sana. Tokoh utama film ini ya bisa dibilang tentang peristiwa itu sendiri. Tentang evakuasi orang-orang. Film ini begitu in-the-moment. Dramatic impact bukan datang dari kita ngecheer seseorang untuk hidup, untuk kembali kepada keluarganya. Film ini adalah tentang manusia sebagai spesies. Tentang gimana kalo kepepet dan punya tujuan yang sama, kita bersatu. Nolan paham dia enggak perlu membahas karakter terlalu dalam, maka dia meletakkan ‘ledakan’ kepada sekuens perang yang dibuat serealistis mungkin. Dia menangkap event ini dengan sangat menawan. Mengerikan, ya memang, tapi beautiful.

Tom Hardy sukses berat nampilin emosi hanya melalui bolamatanya

 

Jadi ya, karena itulah aku memaafkan pengarakteran yang enggak digali oleh film ini. Meski aku enggak bisa benar-benar konek sama tokoh-tokoh dalam film ini, mereka tidak benar-benar punya arc, kita enggak tau backstory mereka, tapi hal tersebut enggak pernah berdampak begitu besar. Bukan hanya karena film ini dibuat oleh Christopher Nolan.  Enggak ngelebih-lebihin sih kalo aku bilang kebanyakan orang akan suka film ini lantaran ngeliat nama sutradaranya. Nolan itu udah jadi semacam brand sendiri, orang sudah hampir pasti  akan nonton setiap film yang judulnya diiringi oleh “A Christopher Nolan’s film”. This is truly a MAGNIFICENT FILM. Dunkirk menggunakan kapal-kapal asli, pesawat-pesawat tempur beneran, lokasi yang nyata – bukan greenscreen, dan sejumlah besar pemain kayak film india. Dunkirk sangat thrilling dari awal hingga akhir. Karena sedari dimulai, kita sudah langsung diletakkan di tengah-tengah battlefield. Beberapa karakter diperkenalkan dengan cepat, kita ngikutin beberapa tokoh yang berfungsi sebagai wakil dari kita. Dan walaupun mereka jarang ngomong, tidak pernah ada momen-momen hampa.

Untuk selanjutnya, keseluruhan film adalah tentang serangan. Spektakel aksinya benar-benar terlihat realistis. Semuanya terasa otentik. Tidak ada adegan pesawat meledak seperti ledakan yang sering kita lihat di film-film action Hollywood. Tembakan senjata apinya enggak terasa teatrikal. Aspek realistis inilah yang terutama membuat kita tersedot ke dalam cerita. It’s a whole gigantic battle sequence yang dibuat seolah kita ada di sana. Kita tidak mengalihkan pandang dari mereka karena kita begitu masuk oleh perjuangan mereka untuk bertahan, mengatasi segala tantangan.

Jika kalian masuk ke studio mengharapkan cerita yang linear, maka itu berarti kalian belum banyak makan garam soal perfilman.  Salah satu yang membuat karya Nolan selalu dihormati banyak orang adalah film-film Nolan juga menghormati kecerdasan penonton. Karakter boleh saja sederhana, namun tidak ada yang sederhana dari langkah penceritaan yang dilakukan Nolan pada film ini. Dunkirk membagi diri menjadi tiga sudut pandang; di pantai – ngikutin prajurit inggris, di kapal – ngikutin sipil yang mau bantu nyelametin tentara, dan di pesawat – ngikutin Tom Hardy yang berusaha menghalau pesawat Jerman. Akan ada momen ketika kita bingung “loh yang ini kok udah malam, yang di pesawat tadi masih siang..?”  Narasi hanya memberi petunjuk berupa waktu; seminggu untuk pantai, sehari untuk kapal, dan sejam untuk pesawat. Penceritaan film ini seperti soal matematika di sekolah dulu; ada kapal, pesawat, dan orang bergerak dengan waktu yang berbeda, maka kapankah mereka akan bertemu? Film ini membuild up momen sehingga ketika tiga layer waktu tersebut menjadi satu di akhir, semua akan terasa wah. Editing film yang apik turut membuat kita enggak pernah terlepas dari cerita, pergantian-pergantian sudut pandang terasa mengalir dengan mulus.

serius deh, aku senewen akut dengar bunyi detik jam yang terus terdengar

 

Dalam perang, orang-orang tewas – terkadang mereka gugur sendirian, gugur dalam ketakutan, dengan tidak mengetahui nasibnya sendiri pada esok hari. Film ini tidak memalingkan diri dari kenyataan tersebut. Tapi selalu ada harapan. Kata-kata bisa menggerakkan satu negara. Dan film ini menggambarkan, orang-orang sipil sebagai simbol harapan dalam sebuah perang.

 

Untuk standar Nolan, memang Dunkirk adalah film yang singkat. Tapi juga sangat efektif dalam mengisi durasinya. Buatku, durasi film ini udah pas. Kalo terlalu panjang jadinya lebay, terlalu singkat malah ntar jadi kurang ngefek. Segala kengerian perang sudah berhasil digambarkan dengan baik. Kita merasakan ngerinya dikurung, tenggelam, terkunci dalam pesawat yang jatuh, diitembak blindly tanpa tahu di mana yang menembak. Meskipun enggak ada darah terlihat, enggak ada potongan tubuh berceceran, film ini bermain di ranah PG-13, kita tetap tergoncang oleh efek psikologis yang sangat kuat. Sungguh mengerikan menyaksikan karakter-karakter itu literally mencakar-cakar dan merangkak demi hidup mereka. Bahkan kepada tokoh yang pengen menyelamatkan, kita merasakan dorongan yang kuat dan ikut merasakan perjuangan dan halangan yang mereka tempuh.

 

 

 

Menangkap peristiwa bersejarah dengan sangat realistis, tidak ada satupun kejadian yang luput dari rasa otentik dan penuh ketegangan. Penceritaan non-linearnya mengantarkan film menjadi satu kesatuan yang mulus. The look of this movie is outstanding, sekuens battlenya benar-benar tergambar mengerikan, layaknya perang beneran. Dan this whole movie adalah peperangan. Sedikit hindrance adalah di bagian penokohan yang ditulis sederhana, tanpa arc dan tedeng aling-aling. Tapi hal tersebut tidak pernah menjadi hal yang tanked the movie, karena dampak emosional film datang dari sisi psikologikal dan feeling in-the-moment yang membuat kita merasa benar-benar ada di tengah peristiwa tersebut.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for DUNKIRK.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

ZIARAH Review

“In the end all you really have is memories.”

 

 

Mengunjungi makam kerabat, memanjatkan doa-doa, esensinya adalah supaya kita mengingat masa lalu dan masa depan. Pertemuan dan kematian. Kata kuncinya adalah mengingat, dan tema tersebut dieksplorasi oleh film Ziarah di mana ia akan mengajak kita untuk mengunjungi kembali kenangan dan duka yang tertimbun. Film ini adalah perjalanan mencari kebenaran lewat ingatan.

Bercerita tentang seorang nenek yang sudah berusia sembilan-puluh lima tahun yang mendadak pergi dari rumah. Mbah Sri ingin nyekar ke makam suaminya yang gugur saat Agresi Militer Belanda Kedua berpuluh-puluh tahun silam. Ke makam ‘beneran’, bukan ke makam tanpa nama yang sudah disiapkan oleh pemerintah untuk pahlawan-pahlawan tak dikenal. Jadi, dengan sekeranjang kembang di dalam tasnya, Mbah Sri berjalan naik turun perbukitan, melintas dari satu desa ke desa lain. Beliau mencari setiap jengkal tanah pekuburan yang dikunjungi. Bertanya kepada orang-orang yang mungkin saja tahu tentang peristiwa melingkupi tewasnya sang suami. Perjalanan yang Mbah Sri tempuh ternyata menguras mental dan emosi lebih banyak daripada nyapekin badan, saat misteri keberadaan sang suami perlahan terdispersi menjadi beberapa cahaya kebenaran. Dan kenangan dan kepercayaan yang selama ini ia pegang bisa jadi bukan kejadian yang sebenarnya.

ke kuburan bukan buat minta nomer, loh!

 

Sutradara asal Yogya, BW Putra Negara, mengerahkan semua arsenal yang dia kuasai untuk memaksimalkan penceritaan Ziarah. Menggunakan visual storytelling dan tutur dialog dengan sama efektifnya sehingga jika kita enggak benar-benar terpaku di menatap layar, kita akan ketinggalan potongan emosi. Dan jika kita enggak memperhatikan dialog (atau dalam kasus film ini yang SELURUH PERCAKAPANNYA BERBAHASA JAWA, enggak baca teksnya), kita akan tersesat dan bingung sendiri oleh cakap eksposisi, informasi, dan simbolisme yang datang silih berganti. Sutradara pun tidak pernah membuat film ini menjadi lebih mudah untuk kita. Dengan adegan-adegan yang dengan sengaja diberi pace yang lambat; shot panjang yang belum dicut-cut, film ini mengambil waktu supaya setiap adegan berlangsung dengan utuh. Kita ngeliat dua orang berdiskusi nyusun denah rumah di tanah, kita ngeliat Mbah Sri yang masukin kembang ke dalam tas, kita ngeliat di berjalan dari ujung jalan, camera lingers a little bit too long, musiknya merayap di belakang, semua ini menyiptakan sensasi uneasy yang luar biasa. Rasa nonton film ini hampir seperti rasa ketika kita ingin tahu sesuatu tapi di dalam hati kita sebenarnya takut akan kebenarannya. Setiap informasi yang diterima oleh Mbah Sri, membuat pencariannya semakin berkelok, dan to be honest, semakin mendekati akhir aku berharap Mbah Sri, dan aku sendiri, enggak pernah nemuin kebenaran yang dicari.

Kenangan kita adalah milik kita seutuhnya. Itu sejarah personal kita. Ya, mungkin sejarah itu blur, mungkin kita butuh kejelasan. Tapi jika itu berarti kenangan tersebut harus ditantang dengan kebenaran, apakah kita siap untuk menodai kenangan tersebut evenmore? Film ini bilang jangan mengorek luka lama. Sesuatu yang dikubur sebaiknya dikenang, jangan diusik lagi. Bagaimana jika kita salah? Sudikah kita melepaskan satu-satunya yang kita punya? Siapkah kita – seperti Mbah Sri – untuk pasrah?

 

Dan memang film ini cukup berani undur diri dengan terbuka bagi interpretasi penonton. Film menunjukkan kepada kita apa yang jadi jawaban atas pencarian Mbah Sri, ada sense of finality juga ketika film berakhir, namun maksud kejadian penghabisan – very well might be Mbah Sri’s last choice –diserahkan sepenuhnya kepada kita. The very last shot dimainkan dengan bagus dan merupakan kontras dari salah satu adegan yang muncul di menit-menit awal film.

Semua hal dalam film ini terasa otentik. Misteri seputar sosok suami Mbah Sri, Pawiro, mendapat pengungkapan yang menarik. Tidak ada pancingan emosi yang dibuat-buat kayak film drama pada umumnya. Karakter-karakter dibiarkan berjalan, dan kejadian demi kejadian kayak berlangsung gitu aja. Ada satu sekuen sih, di akhir-akhir babak kedua, ketika ada seseorang tampak punya agenda sendiri; awalnya kukira ini adalah di mana film ngambil keputusan yang salah dalam ngelanjutin ceritanya, you know, biasanya film-film kan gitu – they did everything right, namun di akhir ada nila yang merusak film sebelanga. Tapi enggak, elemen cerita itu teresolve dengan manis. Penampilan aktingnya film ini, entahlah, aku melihat orang-orang dalam film ini seperti menjadi diri sendiri. Seperti menonton dokumenter di mana warga asli ditanya-tanyain dan mereka bercerita apa adanya. Low budget dan PENGGARAPAN YANG SEDERHANA justru diubah jadi nilai lebih film ini karena semuanya terasa nyata. Mbah Ponco Sutiyem yang memerankan Mbah Sri berhasil menyampaikan emosi dengan fantastis walaupun sebenarnya peran ini sangat stricken dan beliau sendiri bukan aktor. Kita boleh aja enggak ngerti bahasanya, namun ekspresinya bercerita begitu banyak. Semua ini tentu saja berkat arahan dari sutradara benar-benar on-point.

Adegan di awal-awal ketika Mbah Sri ngobrol dengan cucunya di dapur really hits home buatku. Dari keseluruhan film yang tonenya mellow kadang ada lucu ironis, dan kadang ngeri, cuma di bagian inilah aku ngerasa sedikit ringan. Lantaran aku teringat kalo lagi di kampung, aku setiap subuh masuk dapur ngangetin diri di depan kompor, dan Mbah ku dateng ngajak ngobrol. Hanya saja aku yang ampe sekarang enggak bisa-bisa berbahasa Jawa, hanya manggut-manggut nyengir sok ngerti hhihi

“sudah bukan umur bercanda lagiii”

 

Dari segi skenario, Ziarah punya struktur cerita yang rada unconventional. Kita tidak langsung diberi petunjuk motivasi tokoh utama, kita malah ngeliat motivasi dari karakter lain. Di sinilah film sedikit goyah. It takes time to established the main character, dia sedikit terlalu berada sebagai latar saat permulaan. Di awal, film ini terasa kayak cerita seorang cucu yang ingin menikah, tetapi neneknya mendadak pergi entah ke mana dan si cucu harus pergi mencari. Tidak hingga midpoint barulah perspektif Mbah Sri menjadi benar-benar dominan, dan kita lantas belajar mengenai motivasinya. Kita tahu Mbah Sri ingin mencari makam suami, akan tetapi baru di paruh kedualah kita mengerti kenapa baru sekarang dia melakukan ziarah tersebut, apa yang membuatnya melakukan perjalanan panjang itu. Memang, terjadi kebingungan dalam memahami cerita jika kita enggak pasti siapa yang jadi tokoh utamanya. Kupikir, itulah sebabnya kenapa Ziarah tidak serta mudah dicerna; Ceritanya sederhana, hanya saja strukturnya membuat kita sedikit padet. Di paruh awal, perspektif kita kerap berganti ke cucu Mbah Sri yang sebenarnya punya lapisan sendiri yang integral sebagai simbol untuk tema dan bigger picture cerita.

Film ini membahas fondasi rumah, membahas diskon gede, membahas orang bunuh diri lantaran pasangannya ketahuan berselingkuh bertahun yang silam. Perbincangan yang terdengar random, namun sesungguhnya punya kait dengan cerita yang bertema ingatan dan masa lalu. Mereka adalah bagian dari proses berdamai. Jangan sampai kita membiarkan ingatan kita tentang seseorang atau sesuatu, terkontaminasi oleh suara-suara orang. Jika kita mengenang sesuatu, kenanglah sesuai dengan ingatan kita secara personal. If we believe something is sweet, then sweet it is. Apapun yang terjadi sesudahnya, tidak ada hubungannya dengan kenangan kita. Simpan, cherish kenangan tersebut, dan just move on with our life.

 

Sehabis nonton tadi, tidak ada satupun penonton di studio yang beranjak dari kursi. Mungkin masih ingin jawaban. Mungkin juga pada segan cabut duluan. Atau mungkin juga, semua orang itu masih pada terusik oleh apa yang bisa kita temukan jika kita mencari; Kebenaran.

 

 

 

Buat yang kerap meminta sesuatu yang berbeda dari film Indonesia; tontonlah film ini. Sekali-kali ziarahlah ke bioskop; untuk mengingat kenapa sih kita suka nonton film in the first place. Drama ini penceritaannya sangat unconventional yang benar-benar menyentuh kita soal berdamai dengan masa lalu, dengan kenangan tentang seseorang yang kita simpan erat-erat. Ini juga adalah tentang sejarah. Kita belajar sejarah bukan untuk mengorek luka masa lalu, melainkan supaya kita embrace, belajar darinya, dan hidup lebih baik setelahnya. Tapi film ini sedikit falter di struktur, ada tone yang kadang bentrok juga. Elemen mistis di tengah-tengah cerita, contohnya. Mengingat efektifnya bahasa visual, tutur, dan simbolisme yang dilakukan film ini, mungkin saja elemen mistis itu adalah simbol yang aku belum dapat koneksinya. Tapi memang, aspek ini mentok jika disandingkan dengan aspek genuine yang dibangun oleh film.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for ZIARAH.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

KARTINI Review

“I know why the caged bird sings”

 

 

Bicara Kartini berarti kita bicara emansipasi. Perjuangan kesetaraan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, untuk menentukan pilihan, untuk mendobrak sistem patriarkal yang mengakar, dan terutama untuk mengatakan “Memang kenapa bila aku perempuan?”. Aku pikir kita semua udah tahu bahwa tinggal waktu saja kisah kepahlawanan Kartini ini jatuh ke tangan sutradara Hanung Bramantyo. Hanung paling demen ngegarap cerita yang protagonisnya berontak melawan sistem, dia paling jago memercik drama (dan, kalo perlu, sedikit kontroversi) kemudian memperkuatnya lagi dengan elemen yang relevan. Kartini dan Feminisme sangat cocok sebagai lahan Hanung.

Namun kali ini, lebih daripada mengandalkan sensasi – akan gampang sekali mengingat ide soal kepahlawanan Ibu Kartini sudah sering mendapat kontroversi di jaman modern ini – Hanung mengarahkan film biopik ini ke jalan yang lebih EMOSIONAL DAN MANUSIAWI. Dalam Kartini kita akan melihat karakter-karakter menjadi fokus utama. Kita akan melihat hubungan Kartini dengan keluarga, bersama kakak-kakak cowoknya, dan bersama kedua adiknya; Roekmini dan Kardinah. Kita akan melihat gimana Kartini berteman dengan Belanda yang menyemangatinya untuk menulis. Gimana dia mengisi hari selama masa pingitan sebagai persiapan menjelang mengemban status Raden Ajeng. Dan, yang paling personal baginya, gimana Kartini menyingkapi soal poligami, in which dia adalah produk dari – serta akan kembali jadi pemain dalam tradisi jawa tersebut. Urgensi datang dari Kartini dan adik-adiknya yang mengembangkan kerajinan ukiran Jepara, membuka sekolah bagi anak-anak pribumi, sementara sebenarnya mereka sedang menunggu waktu satu persatu ‘dipetik’ untuk menjadi seorang istri.

Dian Sastro apa Dian Iaya nih?

 

Ketika melihat trailer film ini untuk pertama kalinya di bioskop, aku merasa tertarik. Kalimat yang diucapkan Kartini di akhir trailer tersebut, tentang kebebasan ibarat burung, membuatku kepikiran kenapa film ini enggak dikasih judul Trinil aja ya? Dan setelah menyaksikan filmnya secara utuh, I still think that way; judul Trinil akan memberikan kesan yang lebih impresif dan benar-benar klop dengan ceritanya. Dalam review Surat Cinta untuk Kartini (2016) aku nyebutin cerita Kartini yang dipanggil burung trinil oleh ayahnya dalam majalah Album Ganesha Bobo. Kartini adalah pribadi yang enerjik, periang, punya bakat membandel, dan dalam film ini, begitu melihat Kartini dan dua adiknya nangkring di atas tembok, aku langsung menggelinjang; That’s her, that’s Kartini si burung Trinil yang aku baca waktu kecil!

Betapa menyenangkannya demi mengetahui diri kita sudah membuat perubahan hari ini. Dan that feeling alone harusnya udah bisa membuat kita terbebas dari boundary apapun yang memasung kita. Kartini, menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya bebas. Karena batas-batasan itu akan selalu ada, dan perjuangan sejatinya bukan untuk menghilangkan pembatas melainkan untuk membebaskan pikiran. Perjuangan Kartini adalah perjuangan gagasan, meskipun tubuhnya terkurung, gagasan positifnya akan terus terbang memberikan pengaruh positif kepada generasi demi generasi.

 

 

Kualitas produksi film ini top-notch sekali. Ini adalah film yang cantik. Gambarnya disyut dengan perhatian pada maksud dan detil. Set dan kostumnya sangat meyakinkan. Londo-londo itu terlihat classy sekaligus modern sebagai kontras dari pakaian bangsawan Jawa yang terlihat kaku dan mengurung. Kartini berada di tengah-tengah mereka. Kita memang enggak tahu seperti apa pembawaan Ibu Kartini aslinya, namun Dian Sastro udah pas meranin Kartini sebagai wanita yang berjiwa mandiri dan ‘pemberontak’. Tapi enggak exactly in a way kayak dia bilang “aku enggak butuh lelaki.” Ini adalah film yang membahas hubungan emosional yang terbangun. Motivasi Kartini adalah supaya dia, adik-adiknya, dan para wanita tidak perlu lagi capek berjalan-jongkok dan ‘latihan makan ati’ seperti yang dialami oleh ibu kandungnya. Supaya para wanita tidak hanya jadi pilihan melainkan bisa punya pilihan. Tembok pakem wanita-jaga-badan-dan-nunggu-kawin itu musti runtuh, begitu tekad Kartini. Semua itu tercermin dari gimana dia ‘menggembleng’ dua adiknya, yang oleh film ini diperlihatkan sebagai ‘murid pertama’ yang dimiliki oleh Kartini. Dian Sastro excels at playing this kind of role. Membuat kita ingin melihat lebih banyak tindak ‘pemberontakan’ Kartini. Kita akan melihat darimana asal tekad dan semangat Kartini, dan semua itu dimainkan dengan sangat heartwarming.

Hal berbeda yang dapat kita saksikan adalah Hanung memasukkan elemen imajinasi ke dalam cerita. It’s the power of books, people! Dengan membaca buku, kita bisa berkunjung ke mana saja kita mau. Adegan ketika pertama kali Kartini membaca buku adalah adegan yang sangat menyenangkan. Kita melihat dirinya melihat apa yang ia baca terwujud di depan mata. Sepanjang film, setiap kali Kartini membaca, entah itu buku ataupun surat balesan dari korespondensinya di Belanda, kita akan dikasih lihat visual Kartini sedang ngobrol dengan si penulis. It was shot very beautifully and actually menambah banyak hal buat pengembangan tokoh Kartini.

Tiga Gadsam foto buat cover lagi kaah? hhihi

 

Dengan jajaran pemain yang masing-masing saja kayaknya sudah pantes buat nulis buku sendiri tentang kepiawaian berakting, film ini enggak bisa untuk enggak menjadi meyakinkan. Lihat saja tatapan dingin Djenar Maesa Ayu, tapi masih terlihat bayangan mimpi yang kandas dari matanya. Pembawaan dan intonasi Deddy Sutomo yang terang-terang sedang conflicted antara acknowledging kemampuan putrinya dengan adat yang ia junjung. Aku bahkan ngakak ketika Kardinah bilang perasaannya enggak enak seolah ia tahu bakal dijodohin di akhir hari. Bahasa Jawa mereka sampaikan tanpa gagap. Kapasitas penampilan yang kelas atas membuat kadang beberapa musik dalam pengadeganan toh terasa sedikit eksesif. Maksudku, film ini sebenarnya bisa untuk enggak banyak-banyak masukin pancingan emosi karena setiap adegan, dari segi performances, sudah terdeliver dengan begitu compelling.

The bigger picture of this movie adalah gimana kehidupan Kartini bisa menginspirasi banyak orang, bukan hanya wanita. Namun, film ini masih kelihatan artificial ketika mengolah elemen-elemen dramatis. Kayak, film ini berusaha terlalu keras buat menghasilkan air mata dari penonton. Dibandingkan dengan porsi bagian cerita yang lebih ringan, menit-menit awal yang jadi set up terasa terlalu menghajar kita dengan emosi. Kita melihat Kartini kecil dalam momen yang menyedihkan, baik visual maupun tulisan mendikte kita untuk sedih. Kemudian narasi melompat dan kita dapat Kartini dewasa dengan segala attitude ingin-bebas. Ini masalah yang sama dengan pengarakteran Jyn Erso pada Rogue One (2016), di mana kita hanya melihat sad part of her childhood untuk kemudian kita melihatnya lagi setelah dewasa dengan kemampuan yang tinggi. Aku pikir akan lebih baik jika film ini mengajak kita untuk mengintip kehidupan sekolah Kartini kecil, you know, just to see seperti apa sih pintarnya Kartini itu hingga dikenal baik di kalangan meneer Belanda. Karena sepanjang film kita akan mendengar para tokoh ngereferensikan betapa pintarnya Kartini di sekolah.

Pun pada babak akhir kita akan merasa diseret oleh emosi. Tidak ada yang benar-benar menarik pada babak ketika sampailah giliran Kartini dilamar seorang Bupati. Kita semua – paling enggak kita-kita yang masih melek waktu pelajaran sejarah di sekolah – tahu tepatnya apa yang akan terjadi. Cara film ini bercerita mendadak kembali terlalu artifisial, sehingga adegan-adegan emosional itu rasanya kering. Pancingan-pancingan dilakukan, ada elemen sakit, ada tokoh yang jadi antagonis sekali, ada yang berubah baik hati, semuanya datang gitu aja, it did felt rushed. Banyak film yang enggak berhasil menjembatani dua tone narasi, dan film ini termasuk ke dalam kelompok film yang gagal tersebut. Alih-alih membahas dari perspektif yang lebih kompleks – dan film ini sebetulnya bisa melakukan itu – film ini lebih memilih untuk menyederhanakannya menjadi semacam pihak yang baik sama Kartini dan pihak yang jahat. Although, menarik gimana ‘yang jahat’ dalam film ini enggak necessarily adalah laki-laki.

 

 

 

Habis gelap terbitlah terang. Kemudian gelap lagi. Begitulah kira-kira garis besar menikmati film ini. Perbedaan antartone film ini sangat drastis, karenanya momen-momen dramatis yang kerap dihadirkan terasa artifisial. Set up film mestinya juga bisa diperkuat lagi karena gedenya toh apik tenan. Selain masalah tone dan hook yang dibuat terlalu pengen jadi dramatis, aku tidak melihat banyak masalah. Film ini  tahu ingin jadi apa, dan bekerja baik mewujudkan dirinya. Ia menyenangkan oleh interaksi antarkarakter. Potret penuh emosi dari kehidupan sosok pahlawan yang kita peringati setiap bulan April. Aku merasakan dorongan untuk keluar dari bioskop dengan berjalan jongkok just to pay my respect kepada pengorbanan perempuan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for KARTINI.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

GOLD Review

“A dream that is not chased is a fantasy.”

 

 

Ada garis batas yang membedakan antara mimpi dengan khayalan. Garis itulah yang kita kenal sebagai usaha. Dan faktor yang membuat perbedaan tersebut tentu saja adalah kita, entitas yang berangan-angan. Khayalan adalah keinginan yang enggak disertai dengan usaha, dan hanya bisa disebut mimpi apabila kita berjuang untuk mewujudkannya.

 

Kenny Wells di ambang kebangkrutan. Ia mendapat bunga tidur tentang menemukan tambang emas terbesar. Jadi segalanya pun dipertaruhkan. Jual jam tangan emas istrinya, Wells terbang ke Indonesia. Mencari seorang ahli geologi ‘legendaris’ yang terakhir kali terdengar sedang berada di sana. Bersama-sama, mereka menembus belantara Kalimantan demi mencari emas yang mereka yakini ada di sana. Akan tetapi, segala jerih payah yang dilakukan Kenny belum cukup untuk membuat impiannya menjadi nyata. In fact, film Gold sepertinya tidak punya jawaban pasti antara khayalan dan mimpi bagi Kenny Wells.

Gold adalah film yang dibuat loosely berdasarkan skandal pertambangan beneran yang pernah terjadi di Indonesia. Awal tahun 90an itu, perusahaan tambang Bre-X Minerals dari Kanada ngeklaim mereka menemukan tambang emas gede di hutan Busang, Kalimantan Timur. Langsung deh stock meroket, Amerika heboh. Namun selidik punya si sidik, eh salah! selidik punya selidik, semua ‘tambang emas terbesar’ itu adalah pemalsuan. Dan blow up setelah penemuan kebenaran ini malah jauh lebih gede lagi. Pihak yang bertanggung jawab kabur, pemerintah Indonesia (kala itu di bawah pimpinan Presiden Suharto) terlibat dalam penutupan ijin tambang dan segala macem, sementara pemilik perusahaannya sendiri mengaku ia tidak tahu menahu, bahwa ia juga telah ditipu oleh rekannya. Film Gold sendiri hanya mengambil latar peristiwa dan mengaburkan tokoh-tokoh asli dengan menggunakan nama-nama plesetan. Kayak David Walsh yang namanya jadi tokoh Kenny Wells, ataupun si geologis Michael de Guzman yang dalam Gold menjadi Michael Acosta. FILM INI LAYAKNYA PARODI yang membuat kita mengangkat sebelah alis mata menanyakan; apakah buaian deretan angka segitu menghanyutkannya sehingga orang-orang bisa ngeoverlook kenyataan bahwa tidak ada emas di sana?

semua orang tersilaukan oleh pantulan cahaya jidat Wells

 

Jika sebelumnya dalam animasi Sing (2016) Matthew McConaughey berjuang mencari uang dan mati-matian melanjutkan usaha gedung teater warisan ayahnya, kali ini dalam Gold, dia kembali melakukan hal yang sama hanya saja sebagai anak pemilik perusahaan tambang. Apa yang dibawa oleh McConaughey dalam penampilannya, however, adalah hal yang pantas untuk diapresiasi. Dia actually nambah berat badan demi menjelma menjadi sosok fiktif Kenny Wells yang berperut buncit. Dan rambutnya; daaanggg, menyedihkan untuk dilihat dan menyeramkan untuk dialami hhihi. Namun karakternya, tho, Kenny Wells tidak pernah terlihat berupaya menyembunyikan garis rambutnya yang menipis. Ataupun dia tidak kelihatan benar-benar melakukan upaya apapun pada pekerjaannya. Aku enggak yakin apakah ini disengaja oleh pembuat film; Kenny is supposed to come off sebagai orang yang enggak tahu apa yang ia lakukan. Tetapi ada beberapa kali ketika menonton ini aku merasa tokoh yang jadi perspektif utama cerita tidaklah semenarik apa yang diniatkan oleh filmmaker.

Jerih payah di lapangan tidak pernah benar-benar diperlihatkan dialami oleh Kenny. Hanya satu adegan memperlihatkan dia kecapean, megap-megap jalan nembus hutan. On the site, perannya sangat terbatas, ditambah sebagian besar waktu dia terbaring tak berdaya kena malaria. Penting bagi sebuah film untuk mempertontonkan tokoh utama sebagai seorang yang cakap, or at least mengerti akan pekerjaannya, but yang Kenny Wells lakukan dalam membuat mimpinya jadi nyata hanyalah duduk-duduk, pasang tampang cemas nunggu laporan dari lab ataupun dari berita keuangan dan bicara meledak-ledak lewat telefon. Perjalanannya serasa dipersingkat, dipermudah. Secara struktur, Gold sendiri terasa kayak roller coaster yang naik turunnya berjarak deket banget sehingga by the time babak kesatu berakhir saja kita sudah kelelahan ngeliat Wells jatoh dan naik segitu seringnya. Nyaris tidak ada surprise emosi yang kita rasakan, kita bisa melihat semuanya datang.

Mungkin karena aku seharusnya bekerja di sekitar dunia pertambangan, aku dulu kuliah di teknik geologi, jadi naturally aku merasa relatable. Juga ada sedikit rindu ngeliat apa yang mereka lakukan dengan sampel core dan kegiatan-kegiatan geologi lainnya. Meski begitu I can’t exactly put myself into the characters. Aku kepikiran Mike Acosta, geologis lapangan yang diperankan oleh Edgar Ramirez, lah yang sekiranya bisa jadi tokoh utama yang lebih menarik. Sebagian besar aksi ada di tangannya. Jika dibandingkan dengan Wells yang sering keliatan clueless, Acosta seemingly is a perfect hero figure. Ditambah dengan twist yang disiapkan oleh film, well it’s not exactly a twist since we’ve already now the outcome of the actual event, karakter Acosta menyimpan layer yang lebih banyak. Filmnya sendiri melakukan kerja yang bagus ngebangun tokoh Acosta untuk kemudian disembunyikan ke background cerita. Kita difokuskan kepada drama hidup Wells. Sekitar midpoint, film benar-benar didedikasikan supaya kita bisa merasakan kasian kepada Wells. Porsi romansa dengan Kay yang diperankan oleh heartwarming oleh Bryce Dallas Howard dimaksudkan supaya kita bisa melihat stake yang dihadapi Wells dengan alasan yang sangat manusiawi; Kay bertindak sebagai nurani film, yang tentu saja – by the law of script writingat some point ditelantarkan oleh tokoh utama.

Susah untuk merasakan peduli kepada karakter yang niat mulianya adalah ngumpulin duit sebanyak-banyaknya bahkan jika tokoh tersebut digambarkan mendapatkan banyak tekanan dari pemangsa-pemangsa lain di dunianya. There’s a scene di mana Kenny beneran berhadapan dengan harimau, yang dengan sukses ia’ jinakkan’. Kenny Wells pada akhirnya tetap terlihat sebagai pemangsa kecil di dalam dunia korup yang penuh muslihat.

abis dibelai Kenny Wells nih jangan-jangan

 

“You sell your dream”, Wells berkata lirih soal pihak ketiga yang memintanya menjual tambang di Kalimantan, “What do you have left?” Di sinilah di mana film ini bicara personal kepadaku. Karena, ironisnya, kalimat pertanyaan serupa juga terlintas di pikiranku ketika memutuskan untuk berhenti sebagai geologis dan fokus ke passionku untuk menulis. Oke curhat, tapi poinku adalah film ini BERUSAHA NGEJUAL TOKOH – DAN CERITANYA – SEBAGAI SEBUAH AMBIGU di mana mimpi dan kenyataan, moral dan bisnis, apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang ingin dan rela kita lakukan, adalah hal yang harus dijawab secara pribadi. Namun penceritaannya malah membuat film terasa sebagai sebuah presentasi yang enggak yakin dia berdiri di ground yang mana. Ambiguitasnya tidak terasa menginspirasi. Kita diminta untuk ‘mendukung’ Wells, namun bahkan McConaughey terlihat unsure saat mengekspresikan karakternya. Ada adegan ketika Wells dan istrinya practically drooling over daratan hijau luas yang ingin mereka bangun rumah, dan I just can’t get behind that. I mean, aku gak bisa bayangin ada penonton yang tersentuh syahdu bilang “awww romantisnya mereka mau gundulin padang rumput indah buat dijadiin rumah megah”

kita bikin sumur di ladang biar banyak yang numpang mandi, horeee!!!

 

Sorotan kepada Indonesia banyak kita temukan dalam film ini. Penggunaan bahasa, tentara, sekilas tentang Dayak, pemerintah. Di sini juga ada aktor yang jadi anak Suharto, tapi namanya jadi Danny hahaha. Tapi sekali lagi perasaan gak yakin itu muncul; kelihatannya mereka enggak benar-benar syuting di pedalaman Kalimantan. Lokasinya terlihat agak off, iya sih di hutan itu ada vegetasi lokal kayak pohon pisang dan sebagainya, tapi rasanya enggak kayak di Indonesia.

 

Ini adalah film dengan banyak istilah-istilah, yang dijelaskan cukup menarik. Matthew McConaughey adalah salah satu dari tak-banyak aktor yang mampu nanganin adegan expository sehingga seolah kita mendengarkan dia langsung mata-ke-mata di mana kita enggak berani nguap di depan mukanya. Penampilan para aktor all around dapet dua jempol. Di babak awal kita akan dibawa masuk ke dalam hutan yang terasa basah, berlumpur, dan mengurung, sayangnya film sering ngeshift tone dengan naik-turun pada narasi. Film begitu concern untuk tampil engaging sehingga malah mencuat uninspiring. Dari segi penceritaan, film ini memang terasa agak berhemat dengan menggunakan style yang mirip-mirip The Wolf of Wall Street (2013). Yang tidak terperhitungkan oleh film ini adalah, jika Martin Scorcese saja tidak bisa benar-benar sukses bikin cerita dan tokoh bisnisman semacam ini menjadi compelling, kesempatan apa yang dipunya film ini dengan menitikberatkan bercerita lewat dialog alih-alih lewat visual?
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for GOLD.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

HIDDEN FIGURES Review

“Mathematics is not about numbers, equations, computations, or algorithms; it’s about understanding.”

 

hidden-figures-poster

 

Quick questions!

Ayo sebutkan siapa manusia pertama yang terbang ke luar angkasa? “Yuri Gagarin!”

Siapa orang Amerika pertama yang mengelilingi orbit bumi?John Glenn!!”

Orang pertama yang menjejakkan kaki di bulan adalah?Neil Armstrong!!!”

 

Kita semua pasti tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kita semua pasti pernah baca mengenai tokoh-tokoh bersejarah itu. Everyone talks about them, pria-pria yang paling pertama menjelajah ruang angkasa. Mereka adalah bagian penting dalam sejarah umat manusia. Tapi tahukah kita siapa yang bekerja di belakang sana, ilmuwan-ilmuwan yang membuat segala perjalanan meninggalkan gravitasi itu menjadi mungkin? Fokus kita enggak pernah mengarah kepada scientists yang manjat-manjat tangga nulis di papan itu, padahal mereka juga tak kalah pentingnya, and yea some of them are women. Dan untuk bikin hal lebih mengejutkan lagi, terutama di tahun 1960an yang penuh diskriminasi, ‘komputer-komputer’ di meja NASA tersebut adalah wanita berkulit hitam.

I didn’t really know much about Katherin G. Johnson, Dorothy Vaughan, Mary Jackson, atau beberapa tokoh sejarah lain yang diceritakan dalam film ini. On the other hand, aku selalu tertarik sama astronomi dan luar angkasa, and I kind of like math, jadi space movie yang ada matemnya benar-benar memancing rasa ingin tahuku. Rasanya keren aja, melalui film ini kita bisa belajar lebih banyak tentang para ‘hidden-figure’ yang berjasa di balik peluncuran manusia ke luar angkasa. See, judul filmnya ada udah fun abis. Punya makna yang mendua. Ini adalah tentang angka-angka rumus yang berhasil ditemukan to make the said breakthrough. Dan dalam artian yang lebih dalam lagi, Hidden Figures juga adalah tentang wanita-wanita di balik suksesnya NASA, wanita-wanita yang tersembunyikan oleh status sosial mereka di masa yang masih kental oleh prejudice masalah warna kulit.

Aku actually recognized apa yang ditulisnya… so yea.. NERD! *sorakin rame-rame*
Aku kadang recognized apa yang ditulisnya… so yea.. NERD! *sorakin rame-rame*

 

Dalam film ini tergambarkan bagaimana ketiga wanita yang kerja di NASA tersebut meski termasuk pelopor dalam kerjaan mereka, mereka actually masih harus kerap dealing with prasangka-prasangka publik, yang mana adalah hal lumrah kala itu. Dalam bekerja mereka menemui banyak kesulitan; rekan-rekan kerja yang tidak mengizinkan mereka melakukan kerjaan yang harus mereka lakukan, mereka tidak dikasih izin buat mengakses file-file tertentu. Mereka juga tidak diperkenankan berada pada beberapa lokasi di kantor. Katherine, malahan, harus berlari menempuh jarak yang lumayan jauh cuma buat ke kamar kecil karena kulit hitam ditempatkan di restroom khusus yang terpisah dari pegawai kulit putih. Everything is difficult for them. Hidden Figures adalah tentang seputar karakter-karakter ini navigate lingkungan kerja NASA, memecahkan masalah prejudicenya sembari menemukan formula matematika yang bisa digunakan dalam ‘perlombaan tak-resmi’ antarnegara adi-daya soal pengiriman manusia terbang ke angkasa luar.

Hidup itu kayak matematika. Setelah menambah dan mengurangi, kita akan bisa mendapatkan hasil. Dan lebih penting lagi, hidup, sebagaimana menyelesaikan masalah matematika, membutuhkan pengertian dan pemahaman.

 

Setiap film yang membahas mengenai masalah rasisme selalu cenderung untuk menjadi serius. Kebanyakan akan digarap dengan arahan yang membuat filmnya hanya cocok untuk konsumsi penonton dewasa, you know, dengan kata-kata tak senonoh dan adegan yang overly intense. Padahal sangatlah penting bagi anak-anak muda untuk menonton film dengan pesan yang baik seperti ini. Hidden Figures, untungnya, berani tampil sebagai film yang bisa ditonton bahkan oleh anak kecil. Film ini memastikan pesannya mengenai kesetaraan manusia tanpa mengenal perbedaan ras dapat mencapai dan accessible kepada seluruh lapisan masyarakat. Film ini tidak takut dianggap terlalu jinak atau terlalu family-friendly sehingga jatoh di pasaran. And guess what? Film ini justru tampil really well di box office luar, actually termasuk yang dapat penjualan paling baik di antara nominasi Best Picture Oscar 2017 yang lain. Hidden Figures adalah FEEL GOOD-MOVIE YANG DILAKUKAN DENGAN CARA YANG TEPAT. What you see is what you get, pesannya terhampar jelas.

Terkadang memang film ini terasa sedikit teatrikal, elemen stick-it-to-the-man benar-benar ditonjolkan. Namun tidak pernah menjadi terlalu oversentimentil. Maksudnya, kita tidak dimanjakan, filmnya tidak sekonyong-konyong nyuruh kita puas dengan menyajikan adegan-adegan di mana orang ‘jahat’ mendapat balasan setimpal. This is a feel-good movie, akan tetapi film ini berhasil ngemanage sehingga dirinya doesn’t get too unrealistic. Ada beberapa adegan di mana kita bakal pengen melihat tokoh-tokoh tertentu eventually really get what’s coming to them, dalam batasan yang masih wajar dan enggak lebay. Ini adalah jenis film di mana kita akan melihat tokohnya mencoba menggapai tujuan mereka, dengan cara mereka menghadapi tantangan, tidak peduli rintangan or everything else around them, dan menggunakan kemampuan mereka — dalam hal ini kepintaran otak kiri dan kanan yang seimbang – semaksimal mungkin. Ada satu adegan hebat dan sangat emosional dalam film ini, di mana Katherine akhirnya ngerasa ‘sudah cukup’ dan dia menyuarakan semuanya harus disudahi. Adegan tersebut punya flow yang really well. Membuktikan bahwa semua teknis storytelling; arahan, akting, dan penulisan bekerja dengan sangat mulus.

“ABC is easy as 123” Well, it should be, right?
“ABC is easy as 123” Well, it should be. Right..?

 

Cukup langka melihat karakter-karakter seperti yang dimiliki oleh Hidden Figures dalam tayangan yang berdasarkan kisah nyata. Performances mereka pun teramat fantastis secara merata. Taraji P. Henson is very good memainkan Katherine, mathematician yang berpikir rasional di tengah keadaannya, she wants to get the job done because she loves what she does, dan dia menambah berkali lipat emosi pada karakternya. Sebagai Dorothy Vaughan ada Octavia Spencer yang selalu bermain amazing, perannya di film ngingetin aku sama perannya dalam film The Help (2011). Aku suka sekali reaksinya saat anak-anaknya diusir dari perpustakaan. Peran Mary Jackson oleh Janelle Monae juga punya obstacle sendiri dalam usahanya menjadi black female engineer pertama. Kita merasakan koneksi kepada orang-orang ini. Kita ngerasain struggle mereka, bahwa mereka bukan tokoh pasif. Kita ngecheer aksi ‘perlawanan’ mereka. Kita mulai menjadi begitu peduli sama mereka, sehingga kita jadi ingin nonjok muka tokohnya Jim Parsons.

Angin segar adalah kenyataan bahwa film ini tidak diarahkan menjadi cerita serius dengan some political agenda. In the end, ini adalah tentang gimana menghilangkan prejudice, gimana untuk tidak menjadi rasis, karena yang terpenting adalah mewujudkan keinginan bersama.

Karakter yang dimainkan oleh Kevin Costner bilang “Everybody in NASA pees the same color.” Itu adalah momen yang sangat keren menyaksikan orang yang punya mindset spesifik tentang gimana mereka memandang orang lain. Baginya it’s all about finishing the job dan semuanya harus work around prasangka rasis. Malahan ada tokoh seperti astronot John Glenn yang dimainkan asik oleh Glenn Powell, yang just don’t even recognized ada perbedaan di antara barisan mereka. Dia justru mempercayakan keberangkatannya kepada wanita-wanita ini.

Being a story yang mau memperkenalkan ketiga wanita berjasa tersebut, cerita Hidden Figures sayangnya tidak hanya mengambil tempat di kantor NASA (yang terdepict compelling dengan segala kesibukannya). Kenapa aku bilang ‘sayangnya’ karena actually film akan membawa kita pulang ke rumah tokoh masing-masing untuk melihat kehidupan mereka bersama keluarga. Di sinilah elemen romance film ini pasang-sabuk-dan-meluncur, namun I didn’t feel that. Romansa film ini tidak terflesh out dengan baik, tak lebih hanya sebagai subplot supaya membuat kita semakin terhanyut ke dalam the feel-good momen. Diniatkan, romansanya sweet banget. Harapnya, sih, ada spark antara Katherine dengan Kolonel Johnson yang diperankan dengan sangat charming oleh Mahershala Ali, namun enggak pernah aku terattach ke dalam hubungan mereka. Elemen drama cinta ini tidak menambah banyak bobot kepada keseluruhan cerita. Film ini menyadari itu, makanya dengan bijak kita dibawa sesegera mungkin kembali ke lingkungan NASA. Sisi dramatis film ini sesungguhnya memang terletak di perjuangan Katherine dan teman-temannya dalam menemukan terobosan dalam aerospace engineering.

 

 

 

Yang suka film-film historical science bakalan jatuh cinta sama film ini. Setelah membaca tentang sejarah mereka lebih lanjut, sepertinya memang film ini secara sejarah lumayan akurat untuk sebagian besar waktu. Dalam usahanya menyampaikan pesan kesetaraan dan tidak membeda-bedakan demi kepentingan yang lebih utama, film ini mengambil langkah berani, take-off dengan menjadi family friendly alih-alih film yang menunjukkan keseriusan dengan serentetan kata vulgar dan adegan ‘keras’. Tentu, drawbacknya adalah film ini jadi menjurus ke teatrikal, namun it holds on the tension dan intensitas very well.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for HIDDEN FIGURES.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

SILENCE Review

“… the sudden silence was the Voice of God.”

 

silencecx3zloiucaedlkj-jpg-large

 

Tidak ada yang bersuara ketika tiga penduduk desa yang tertuduh sebagai pemeluk katolik, disalib di atas karang yang digempur keras oleh ombak. Warga yang lain menatap dari balik ujung tombak pasukan Jepang yang berbaris, sama diamnya. Begitu juga Father Rodrigues dan Father Gorupe yang menyaksikan semua penyiksaan dari balik rimbunan semak. Bungkam oleh ketakutan, segala aksi dan rasa tersenyap. Kecuali satu yang berdering keras di dalam hati masing-masing, terutama di dalam jiwa yang dilatih putih suci Father Rodrigues; Keraguan. Benarkah Tuhan akan meringankan derita mereka, atau apakah siksaan mereka sia-sia belaka? Apakah mereka suffer atas nama Tuhan yang mereka yakini atau tiga orang Jepang Kristen itu sesungguhnya sedang mengorbankan diri mereka demi keselamatan dirinya dan Gorupe?

Silence, didirect oleh salah seorang sutradara terbaik yang hidupnya masih terus didedikasikan untuk membuat film klasik yang fantastis hingga sekarang, akan membawa kita on middle ground ke Jepang jaman feudal, tepat di tengah-tengah perang agama. Pengikut ajaran Kristen diburu. Para Father ditangkap, disiksa, hingga tidak ada lagi pilihan selain menanggalkan keimanan mereka. Father Rodrigues dan Father Gorupe datang dari Portugis karena mereka mendapat kabar tentang guru mereka, Father Ferreira, tertangkap penguasa di Nagasaki. Mereka mendengar simpang siur; apakah benar Ferreira sudah denounced his Christianity atau apakah dia masih hidup at all. Dalam film ini kita akan mengikuti kedua Jesuit muda tersebut mencari keberadaan guru mereka sembari berusaha menolong sebanyak mungkin penduduk Jepang yang menganut Kristen di bawah tekanan dan siksaan yang berat. This is a VERY STAGGERING FILM. Kita akan struggle banget menontonnya. It is so difficult. Bukan karena film ini cukup sadis secara fisik. Juga bukan karena film ini durasinya panjang banget. Tetapi karena film ini akan menyayat-nyayat hati kita secara emosional.

Menelaah dengan sangat kuat soal krisis keimanan yang dialami oleh seseorang. Apa yang orang lakukan ketika kepercayaan dan keimanannya mendapat cobaan yang mahadahsyat. Meskipun mungkin bukan pemeluk agama yang diceritakan, kita semua bisa put aside our personal belief selama dua jam setengah lebih untuk menikmati filmmakingnya. Kita semua bisa merelasikan diri kepada film ini dalam tingkatan bahwa ini adalah cerita tentang orang-orang yang mengimani apa yang yang mereka yakin, that mereka memeluknya dengan teguh, tidak akan membiarkan apapun yang menghalangi mereka dari yang mereka percaya tersebut.

Beneran deh, it’s emotionally gutting melihat orang-orang tercabik dari faithnya seperti yang digambarkan oleh film ini. Father Rodrigues, awalnya kita melihat dia sebagai seseorang yang sangat kuat-iman. He has the upmost faith you could possibly have in God. Dan begitu film berakhir, kita sudah menyaksikan tokoh ini terjun sampai ke dasar paling bawah secara emosi. Dihadapkan pada pernyataan agama yang ia bawa, kebenaran yang ia ajarkan, tidak cocok untuk diterapkan pada ranah ‘rawa’ Jepang. Namun Rodrigues tidak bisa menerima pernyataan tersebut karena if he accepts that statement, itu berarti dia mengakui kebenaran yang ia bawa bukanlah kebenaran bagi semua orang seperti yang selama ini dia imani. Itu berarti dia meragukan agamanya sendiri.

Ini adalah CERITA YANG SANGAT KOMPLEKS bagi kedua belah pihak; Rodrigues dan Jepang. It’s not like Jepang tidak punya toleransi sama sekali, as in kekerasan dan siksa itu datang dari mereka. Mereka brutally violated penduduk agar mau meludahi salib dan menginjak gambar Tuhan mereka sebagai bentuk denouncing faith di muka publik. Adalah aksi converting yang dianggap berbahaya oleh pemerintah Jepang. They just want to show their pride and love kepada faith mereka. Bahwa gara-gara kepercayaan asinglah mereka sesama saudara tanah air menjadi terpecah belah.

talk about penistaan agama huh
talk about penistaan agama huh

 

Toleransi, ya, bisa jadi jawaban. Tapi sekarang kata tersebut sudah mengalami penurunan arti, digunain begitu saja agar sama-sama senang. Toleransi bukan berarti “apa salahnya ngikutin apa yang dilakukan orang lain”. Kita bisa ikut merayakan hari kebesaran agama lain as along as hati kita tetap beriman kepada agama sendiri, but that is a weakest form of faith. Mungkin tidak banyak yang suka film ini karena membuat diri kita merasa seperti Kichijiro, while tokoh ini easily come off sebagai pengecut yang cari aman. Open minded, bertoleransi, dan punya keyakinan adalah seperti Father Ferreira. Persisnya seperti apa? Go figure out yourself

 

Tidak seperti Sausage Party (2016) yang merupakan satir soal kepercayaan, Silence dengan a lot of respect kepada penonton, mengambil jarak secukupnya. It doesn’t judge, and tidak menggiring kita untuk melakukannya. Yang Silence lakukan adalah menghujani kita – yang terpatri oleh cerita – dengan batu-batu pertanyaan. Kita bakal mengalami sensasi krisis tanpa diberikan pencerahan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita akan melihat hamba Tuhan diuji. Kita akan melihat ia menderita for his belief, for things he treasured the most. Dan di titik inilah Silence berbicara banyak. Apakah iman kita tidak berarti apa-apa jika kita tidak diuji – apakah hidup kita meaningless jika kita tidak pernah menderita karena sesuatu yang kita percaya atau cintai? Dan tentu saja, arti mendalam tentang kata ‘silence’ itu sendiri; apakah absennya tindakan kita atau absennya Tuhan? Atau, diam karena kita sedang berdialog dengan Tuhan. Ada beberapa adegan yang menggambarkan Rodrigues dalam diamnya bicara dengan suara Tuhan. Yang membuat kita bertanya-tanya apakah diam hanya arogansi Rodrigues belaka? Secara konstan dia ‘membandingkan’ kondisinya dengan Tuhan, sementara orang-orang desa yang disiksa hingga mati tidak pernah meminta ‘dibandingkan’ dengan juru selamat.

Meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.

 

Martin Scorsese mengarahkan film ini dengan sungguh luar biasa. Bekerja sama dengan sinematografer yang ngegarap The Wolf of Wall Street (2013), Scorsese memastikan apa yang ditangkap lensa semuanya gorgeous. Kalian akan suka mencermati film ini jika punya rasa penasaran gimana setiap adegan disyut. Yang paling remarkable dari pengambilan gambarnya adalah gimana mereka sebagian besar waktu bekerja pada environment yang tertutup. Adegan film ini kebanyakan berlokasi di pondok kecil yang gelap, di daerah hutan yang terpencil, atau di sel penahanan. Tidak pernah Scorsese salah langkah dalam menjalin cerita. Sudut pandang penceritaan benar-benar dihadirkan compelling dan sangat intens. Kita dibuatnya bereaksi dan merasakan yang dialami oleh seseorang yang dealing with an extreme crisis of faith.

This movie brought to life by many fantastic performances. Adam Driver sebagai Father Gorupe dan Andrew Garfield sebagai Father Rodrigues menyuguhkan penampilan yang amazing. Dalam tahun yang penuh oleh penampilan yang sangat baik, Andrew Garfield kembali bersinar dalam film ini, dan sekali lagi sebagai seorang yang taat beragama. Yea, walaupun dia enggak selalu taat sama aksen portugis yang supposedly dimiliki oleh tokohnya. Liam Neeson, yang bermain sebagai supporting role, was also very very good. Dan tokoh yang ia perankan teramat kompleks.

Spiderman dan Kylo Ren lagi nyari Qui-Gon Jinn
Spiderman dan Kylo Ren lagi nyari Qui-Gon Jinn

 

 

Staggering film yang menantang bukan hanya keimanan dan kepercayaan, tetapi juga menantang intelektualitas penonton. Bikin frustasi at times, gutting our emotion completely, it is a really complex movie. Tidak heran jika banyak orang yang ngerasa hard to come by apa yang disampaikan oleh film ini, thus membuatnya susah untuk disukai. Personally, aku heran juga kenapa film ini enggak masuk nominasi Best Picture Oscar 2017. Setelah menontonnya, aku jadi kebayang sedikit alasannya kenapa. Sesungguhnya, film yang luar bisa unconventional ini adalah jenis film yang mesti ditonton dan disupport oleh orang-orang yang benar menyintai film. Karena di atas itu semua, ini adalah filmmaking yang sangat remarkable; arahan luar biasa, akting fantastis, beautifully shot – salah satu film tercantik Scorsese, penulisan yang begitu cakap, editing yang perfect.
The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for SILENCE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

 

Tamiya: Everyone Needs Their Hobby

tamiya

 

Kalian tau mainan Tamiya Mini 4WD? Untuk kalian yang lahir di era akhir 80 sampai 90an pasti ga asing lagi dengan mainan yang satu ini. Yup! Mainan mobil balap yang bisa dimodifikasi ini bisa dimainkan oleh berbagai kalangan umur. Bahkan sampai saat ini permainan mobil balap ini masih eksis di tengah gempuran mesin gadget. Kompetisinya ramai diikuti kalangan penggemar. Yang profesional bisa ngeluarin budget hingga jutaan loh!

Resep lebih populernya adalah, Tamiya menggandeng Shogakukan, perusahaan penerbitan Jepang, untuk membuat seri TV anime bertema mobil Mini 4WD. Judul-judul serinya antara lain: Dash! Yonkuro (1989), Let’s & Go (1996), Let’s & Go WGP, Let’s & Go MAX, dan akhirnya Let’s & Go!! Tamiya The Movie

Gambar Ki-Ka : Dash! Yonkuro (1989), Let’s & GO (1996), Let’s & Go Max, dan Let’s & Go WGP

 

 

 

Oke kali ini yang akan kita bahas tentang sejarah Tamiya itu sendiri.

Tamiya Incorporated (Kabushiki gaisha Tamiya) adalah sebuah perusahaan yang memproduksi mainan yang demikian dikenal sebagai Tamiya. Produk dari perusahaan ini sebenarnya bukan hanya model mainan mobil tetapi meliputi mainan (model) lain seperti mobil bertenaga baterai, mainan mobil bertenaga matahari (solar cell), mainan kapal, dan aneka model mainan lainnya.
Perusahaan ini didirikan oleh Yoshio Tamiya di Shizuoka, Japan pada tahun 1946. Model mainan Tamiya diproduksi dengan suatu perencanaan dan dalam konsep “mudah dipelajari dan dibangun, bahkan oleh seorang pemula”. Konsep ini diterapkan secara sungguh-sungguh dalam semua lini produk yang diluncurkan. Setiap bagian dari model diproduksi dengan tingkat ketelitian, akurasi, dan detil yang tinggi.

Perusahaan Tamiya memperoleh reputasi dari para penggemar mainan miniatur karena kualitas serta akurasi skala pada model-model mainannya, sesuai dengan slogan yang pada logo perusahaan “Kualitas Pertama di se-antero Dunia”. Hal ini terbukti dengan telah dimenangkannya penghargaan bergengsi sebagai Modell des Jahres (Model tahun ini) yang diselenggarakan oleh majalah Berbahasa Jerman Model Fan, selama beberapa tahun.

Selain Tamiya, perusahaan lain juga ikut meramaikan pasar mini 4WD, di antaranya Tokyo Marui, Kyosho, Academy, Auldey, Okami, Gokey, HJH, Twink, dan AA. Masing-masing dari mereka memperkenalkan rancangan tersendiri, Sementara beberapa produk masih berupa tiruan dari Tamiya. Tiruan tersebut menjadi alternatif bagi produk Tamiya yang mahal, namun tentu saja dengan kualitas yang tidak setara.

Sebagai penutup, berikut beberapa inovasi yang sudah Tamiya lakukan sejak pertama kali diciptakan:

  • Tahun 1960 membuat model plastik pertama Battleship Yamato.
battleship-yamato
Battleship Yamato
  • Tahun 1964 membuat model plastik pertama jenis Tank dengan skala 1:35
tamiya-panther-tank
Panther Tank 1:35
  • Tahun 1967 bekerjasama dengan Honda membuat model Honda F-1 (1:12) yang dipamerkan pada Nuremberg Fair Toys di Jerman. Dan Tamiya menjadi partisipan dari Jepang pertama pada event itu.
military-miniatur-set
Military Miniatures Set

 

  • Tahun 1968 membuat Tank Soldier Set, ini adalah produk miniatur seri militer pertama.
  • Tahun 1976, Tamiya sebenarnya membeli Porsche 911, dibongkar, dan dibangun kembali itu dalam rangka untuk lebih memahami mobil. Tamiya membuat mobil radio kontrol (RC mobil) versi Porsche 934. Meskipun penjualan model plastik dari 1/12 Porsche 934 kurang bagus, versi mobil RC sukses besar. Pada tahun 2006, Tamiya memilih 934 Turbo RSR sebagai produk yang memperingati ulang tahun ke-30 dari seri mobil RC Tamiya ini.
tamiya-porsche-934
Porsche 934 (1:12)
  • Tahun 1986, tahun ini adalah kelahiran seri Mini 4WD, dengan produk Pertama Hot Shot Jr. Seri ini sangat populer di Jepang sampai dengan sekitar tahun 2010an.
tamiya-hot-shot-jr
Mini 4WD Hot Shot Jr (1986)

 

“Mudah dipelajari dan dibangun, bahkan oleh seorang pemula”