SULTAN AGUNG: TAHTA, PERJUANGAN, CINTA Review

“Everyone is more interested in being a hero than in being right.”

 

 

 

Menyerang secara frontal markas VOC di Sunda Kelapa, Sultan Agung ingin menanamkan pesan membekas ke para penjajah; bahwa rakyat Jawa adalah pemberani yang tidak akan pernah menjadi bawahan mereka. “Menang atau Mati!” raungan perangnya bergema di dalam sukma para pasukan. Tentu, ‘strategi tembak langsung’ yang dikerahkan Sultan Agung ini bisa diperdebatkan keefektifannya. Apakah perang tersebut bisa mereka menangkan? Apakah dengan mengorbankan rakyat itu yang namanya menunjukkan keberanian? Keraguan terbersit di hati panglima dan pasukan Sultan Agung. Barisan Kerajaan Mataram yang semenjak sebelum diperintah Sultan Agung enggak pernah benar-benar difavoritin rakyat, retak dari dalam. Ada yang meninggalkan medan perang, ada yang malah berkhianat – membelot kepada Belanda. Tapi Sultan Agung tetap bergeming. “Menang atau Mati!” Keraguan yang sama lantas tersampaikan kepada kita. Apa memang iya yang mereka lakukan itu satu-satunya jalan?

Sepertinya, jawaban atas pertanyaan itulah yang menyebabkan sutradara Hanung Bramantyo membawa kita mundur begitu jauh, ke masa tiga setengah abad sebelum Indonesia lahir. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta bertindak sebagai cermin (yang sangat mewah, mengingat kualitas set dan produksi film ini) di mana saat kita memandang apa yang direfleksikannya, kita bisa ngaca ke masa lalu. Dikemas dalam bentuk fantasi-sejarah, kejadian-kejadian dalam film ini sebenarnya lebih dekat dari yang kita bayangkan. Kerajaan Mataram yang struggle di tengah-tengah politik perdagangan dan adu domba bangsa asing Penduduk yang terombang-ambing dan mudah terpecah belah oleh keraguan dan ketakutan. Pemimpin yang musti bertanggung jawab beresin urusan yang masih tersisa dari kepemimpinan sebelumnya. They all are really close to home. Kita mengobservasi apa yang terjadi di film ini, dan eventually kita akan tersadar seperti Sultan Agung yang akhirnya menyadari kesalahan dan apa yang sebenarnya harus ia lakukan. Rasakan saja sendiri merindingnya ketika Sultan Agung menyuruh pasukan pulang dan berpesan “ajarkan keluargamu untuk mencintai negeri ini”, sebab kalimat tersebut terasa dibisikkan langsung ke hati kita yang mungkin sudah jenuh sama kebencian dan prasangka dan ketakutan.

Tanah, Perpecahan, Kita

 

Dengan ceritanya yang ternyata begitu relevan, sayang aja sih, enggak banyak penonton yang memilih untuk menyaksikan film ini. Meski aku gak heran. Durasi yang nyaingin film India memang tergolong angker bagi kebanyakan penonton. Siapa yang mau nonton film sejarah yang berat dengan durasi sepanjang itu, melek ampe habis aja rasanya udah prestasi banget. Tapinya, film Sultan Agung ini toh tidak semembosankan itu.  Malahan, aku sendiri juga kaget  sudah dua jam ternyata, sebelum memang pada babak ketiga film ini mulai terasa melambat. Sebagian besar waktu film ini akan terus meng-engage penonton. Kita akan tetap dibuat tertarik dengan keputusan-keputusan yang dibuat oleh Sultan Agung atas nama keberanian. Kita paham kondisi yang menyelimutinya. Dia sendiri diminta tidak ikut berperang, karena meninggalkan tahta berarti memberikan kesempatan pemberontak untuk mengambil alih.

Kita akan melihat tokoh-tokoh lain terpengaruh hidupnya oleh sabda sang Raja. Film ini punya banyak tokoh, kita melihat pandangan mereka terdevelop, gimana dampak perang tersebut kepada mereka. Film ini melakukan kerja yang baik membuat para tokoh itu tampil hidup, walaupun beberapa orang sukar untuk diingat namanya; siapa yang mana. Penampilan mereka secara seragam sangat meyakinkan. Sultan Agung jadi tampak sedikit nyeremin di tangan Ario Bayu, yang kontras sekali dengan ketika dia masih dipanggil Mas Rangsang saat masih muda – dan by the way, salut buat departemen casting dalam nyonyokin Sultan muda dengan Sultan dewasa. Ada satu karakter wanita, sahabat dan person of interest Mas Rangsang, yang ditampilkan sebagai pahlawan yang kuat, mandiri, motivasinya ikut perang adalah mencari abangnya di Batavia. Aku suka tokoh ini. Dia semacam voice of reasons yang menjaga si Sultan Agung tetap menapak karena pendapat cewek ini sangat berarti bagi Sultan Agung. Dan dia sendiri, sebagai pejuang wanita satu-satunya di sana, enggak lantas digambarkan sebagai ‘pendobrak’ karena dia masih menaruh hormat sama peraturan.

Tidak ada seorang pun yang masih waras yang lebih memilih perang. Namun terkadang, kita harus berperang – bukan untuk menang, melainkan untuk mencapai kedamaian. Pertanyaannya adalah; perang yang bagaimana? Di jaman sekarang, semakin banyak orang yang lebih tertarik untuk terlihat sebagai pahlawan, yang mengobarkan api peperangan yang tidak perlu. Padahal semestinya kita, sebagaimana Sultan Agung, mencari dan mengambil langkah yang benar

 

 

Jikalau memang ada emosi yang gagal untuk disampaikan, maka itu lebih kepada masalah urutan penceritaan ketimbang ceritanya sendiri. Karena kita bisa lihat ini adalah cerita yang sangat berani; ia memposisikan seorang pahlawan besar, seorang pemimpin, ke dalam sorot cahaya yang enggak exactly mengundang simpati. Sultan Agung tidak pernah ikutan berperang, dia hanya meneriakkan perintah – dan terkadang ancaman buat pasukannya yang pengen mundur, tapi justru pada karakternya begitulah letak pembelajarannya. Cerita actually akan memisah masa muda sebelum dia diangkat dengan saat dia sudah menjabat sebagai Sultan. Dan pemisahan inilah yang membuat semuanya terasa terputus. Mas Rangsang di babak pertama adalah pribadi yang sama sekali berbeda dengan Sultan Agung, tapi bukan tanpa-alasan. Tadinya dia adalah pemuda berkasta Ksatria yang ingin menjadi Brahmana, ia tinggal dan belajar di padepokan, jauh dari lingkungan keraton. Kita lihat dia latihan silat – di mana dia sudah ditunjukkan sebagai orang enggak seneng kalo tidak terlihat tangguh dan berani. Dia belajar ilmu-ilmu tertulis. Aku suka gimana film menunjukkan dia yang masih muda akan sering sekali mengintip ataupun mencuri dengar sebuah peristiwa, dan setelah gede, giliran harus dia yang berada di sana – di tengah, mengambil keputusan, dan beresiko dimata-matai.

Terputusnya cerita datang dari Sultan Agung yang dibuat melupakan siapa dirinya yang dulu. Akan ada banyak flashback sebagai bagian dari proses penyadaran diri, di mana ia kembali teringat ajaran-ajaran gurunya. Dan ini seperti membuat babak awalnya itu sia-sia. Aku biasanya paling menentang penggunaan flashback berlebih, tapi menurutku film ini adalah film yang mestinya bisa mengambil keuntungan dengan tidak menceritakan filmnya secara linear – dari muda ke dewasa. Sepertinya akan lebih baik jika film dimulai langsung dari Sultan Agung yang memerintah dengan reckless karena gak mau terlihat lemah di mata Belanda. Kemudian perlahan kita dibawa ke masa lalu, bersama dengan dirinya yang kembali mengingat, untuk mengenal kembali Mas Rangsang – Sifat dan keputusan Sultan dan Mas dikontraskan lewat alur yang bolak-balik; Dengan cara begitu, semestinya tidak ada emosi yang terlewat – akan lebih terasa beban yang ditanggung olehnya alih-alih dia terasa simpatik di awal dan tiba-tiba menjadi galak dan frustatingly susah diajak kompromi di babak berikutnya.

“senjata api itu tidak akan kalian butuhkan lagi.., aku pinjam ya untuk film yang nunggang kerbau”

 

Separuh babak kedua actually adalah adegan perang, kita akan melihat penyerbuan, orang-orang berantem, tembak-tembakan, darah dan sebagainya, yang digarap dengan tidak membingungkan. Film tahu kapan harus menutupi koreografi, dia tahu bagian mana yang terlihat lebih lemah dari yang lain, dan kamera dan editing terlihat dimanfaatkan dengan seefektif mungkin. Namun, ada satu elemen yang mengganggu buatku; jurus atau ilmu yang lebih terlihat sebagai bagian dari dunia Wiro Sableng ketimbang dunia di buku sejarah.

Sebagai sejarah fantasi, film ini kita akan melihat jurus orang bergerak secepat kilat, jurus totokan yang bikin lawan gak bisa bergerak (Petrificus Totalus!), yang sebenarnya adalah sebagai device supaya adegan penting Sultan bertemu dengan pemimpin VOC bisa masuk ke dalam logika cerita. Dalam cerita, sukmo Sultan Agung literally bertandang ke kamar tidur si Meneer. Namun dalam tingkatan yang lebih dalam, ini sebenarnya cara pinter film untuk mempertemukan kedua bos tersebut; scene ini juga bekerja sebagai masing-masing tokoh bicara ke dalam hati sendiri, mereka akhirnya mengenali siapa lawan dan diri mereka sendiri. Adegan yang ciamik, yang sebenarnya tidak membutuhkan elemen fantasi. Bisa saja dibuat surealis seperti adegan Kartini membaca buku atau surat di film Kartini (2017)Film ini sebenarnya tidak butuh ngebuild up penggunaan jurus untuk memasukakalkan adegan tersebut.   Malah membuat seluruh film terasa aneh, karena kalo memang jurus-jurus tenaga dalam atau semacam itu exist di dunia mereka, kenapa enggak dipakai dalam melawan Belanda? Kenapa gak semua santri padepokan aja yang menggunakan jurus pukulan bayangan kayak si guru? Film sedikit tidak konsisten di elemen fantasi ini.

 

 

 

 

Walaupun bukan yang terbaik, tapi yang jelas film ini adalah salah satu tontonan TERPENTING yang pernah singgah di layar bioskop. Bicara mengenai hal yang relevan, punya pandangan mengenainya, dan benar-benar digarap dengan effort yang maksimal. Penampilan, set, kamera, semua teknisnya practically top-notch. Adegan perangnya cukup asik untuk diikuti. Aku gak tau seberapa gede budgetnya, tapi kita bisa lihat duit-duit itu digunakan dengan efektif. Film ini tahu diri dan dia menganggap kita semua pun sudah paham bahwasanya film sejarah dapat bekerja dalam logikanya sendiri – because it is a movie. Hanya saja ada elemen fantasi yang digunakan tidak benar-benar konsisten ataupun betul-betul diperlukan. Ceritanya sendiri seharusnya bisa diatur lebih baik lagi. Film ini punya nyali, mengingat ini karyanya Hanung, aku percaya film ini semestinya bisa dipush menembus batas convenient yang lebih jauh lagi.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for SULTAN AGUNG: TAHTA, PERJUANGAN, CINTA.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

DARKEST HOUR Review

“The art of communication is the language of leadership.”

 

 

Ada orang-orang tertentu di dalam hidup yang kita harap mereka tidak gampang ditebak, seperti tetangga sebelah rumah atau cewek yang lagi kita taksir. Dan kemudian, ada orang-orang tertentu yang kita tidak mau mereka gak gampang ditebak. Seperti orangtua kita, atau dokter gigi. Atau Perdana Menteri. Kita mau pemimpin yang tegas, yang mengambil langkah pasti ketika negara berada pada masa-masa sulit.

 

Winston Churcill ditakuti ketika pertama kalinya dia menjabat Perdana Menteri Inggris pada bulan Mei 1940 itu. Karena enggak ada satu orang anggota partai di parlemen pun yang tahu apa yang selanjutnya bakal  keluar dari mulut salah satu pemimpin paling disegani di dunia tersebut. Sementara Inggris dan negara-negara Eropa lain dalam posisi terdesak. Pasukannya digempur Nazi sampai ke pinggiran pantai Perancis, Inggris dihadapkan pada dua pilihan; bernegosiasi dengan Jerman, atau terus melawan – pantang kalah. Tau dong apa yang dipilih oleh Winston Churcill. Ada dalam catatan sejarah. Atau paling enggak, disebutin dalam film Dunkirk (2017) yang fenomenal tahun lalu.  Film Darkest Hour menceritakan tentang bagaimana keputusan yang diambil oleh Churchill bukanlah hal yang mudah bagi dirinya. Churchill mendapat banyak tantangan, dia dikecam sadis. Pandangan dan keputusannya dianggap fantasi  delusional yang membahayakan. Kita melihat kebenaran di mata Churchill, dibayangi oleh keraguannya sendiri – apakah mengirim jiwa-jiwa muda ke ‘tempat pembantaian’ adalah langkah yang benar. Kita juga melihat Churchill dari mata orang-orang terdekatnya.

“Saat kepala kita ada di dalam mulutnya, kita tidak bisa nego sama macan.” begitu tingginya semangat Churchill dalam melawan tirani. Komplikasinya datang dari beberapa orang yang menginginkan semua berakhir dengan baik-baik. But at what cost? Buatku, aspek inilah yang membuat cerita Darkest Hour menarik. Kita hampir melihat film sebagai studi psikologis dari karakter Churchill. Dia bisa melihat bertempur hingga akhir adalah jalan yang benar untuk kebaikan yang lebih besar, akan tetapi dengan melawan, tidakkah nanti dia jadi sama-sama aja dengan Hitler?

Pertempuran hebat terjadi di depan mata kita, tapi enggak semua dari kita menyadarinya. Aksi film ini terletak pada kata-kata, pada semangat berjuang Churchill yang membara di dalamnya. Dan musuhnya bukan hanya pihak Nazi. Karena sesungguhnya hal yang paling susah dalam berperang adalah menjaga diri untuk enggak menjadi sama dengan pihak yang kita lawan. Di dalam gedung parlemen itu, Churchill udah nyaris selalu diantagoniskan, namun dia tetap bertahan. Film menangkap dengan tepat momen-momen intens mengenai konflik inner Churcill. Makanya, adegan di menjelang akhir, ketika Churchill memutuskan untuk pergi naik kereta bawah tanah sendirian, di mana dia ngobrol dengan penduduk kota, terasa sangat mantap menghangatkan. Sebab itulah momen yang meneguhkan pilihan sang protagonis. Bahwasanya setiap orang, jika punya kesempatan, akan memilih untuk berjuang.

kalo kamu berbeda, itu artinya antara kamu paling maju atau kamu paling gila.

 

Now, let’s just address the big elephant in the room. Gajah yang tertutup oleh make up dan efek prostetik yang membentuk seutuh sosoknya. Gary Oldman sebagai Winston Churchill. Perubahannya menjadi sosok yang ia perankan, maaan, ini udah bukan lagi level meniru. Gary Oldman udah kayak menciptakan Winston Churchill dari dalam dirinya. He was completely changed, kecuali matanya yang terus mengobarkan perjuangan dan tampak restless kayak mata Sirius Black. Ini adalah dedikasi tiada tara dan permainan peran kelas dewa. Definitely penampilan terbaik Gary Oldman sepanjang karirnya. Aku enggak akan heran kalo setelah Golden Globe, aktor ini juga akan menyabet Oscar karena penampilannya di film ini. I mean, kita bisa saja bego total sama sejarah dan enggak tahu siapa Winston Churchill, dan tetap akan tertarik sepanjang dua jam lebih durasi hanya karena permainan akting tokoh utama ini. Oldman benar-benar menangkap esensi dari Churcill, dia tampak sepertinya, terdengar sepertinya, bergerak sepertinya, bahkan sampai kebiasaan ngerokok pun gak luput untuk diwujudkan.

Meskipun karakter Churchill dieksplorasi dengan mendalam, kita enggak mendapat banyak tentang karakter-karakter lain di sekitarnya. Di sini ada Lily James yang berperan sebagai sekretaris pribadi Churcill yang bernama Elizabeth Layton yang ada di sana untuk mengetikkan langsung kata-kata Churchill saat Perdana Menteri itu ingin mengirimkan surat. Hubungan kedua orang ini sebenarnya cukup menarik. At first, Elizabeth yang baru bekerja dimarah-marahin karena enggak sesuai dengan standar pengetikan yang ditetapkan oleh Churchill. Ngetik harus elegan – gak boleh berisik karena suara mesin ketik itu malah mengganggu proses berpikir,  spasinya kudu dobel,  juga tidak pake kol(!). Motivasi Elizabeth tetap bekerja pada Churchill, dia gak marah dibentak – malah nyalahin diri sendiri –  sebenarnya juga cukup menarik. Ini bukan masalah karena Elizabeth pengen banget kerja untuk Perdana Menteri, tapi lantaran cewek ini begitu kagum  kepada Churchill. Dia melihat si bapak tua sebagai seorang manusia, sama seperti film ini membuat kita melihat Oldman sebagai sosok yang manusiawi. Kemampuan speech Churchill terutama menarik banget buat si sekretaris, kita bisa melihat dia senang mengetikkan kalimat-kalimat berapi tersebut. Juga ada alasan personal yang menyangkut salah satu anggota keluarga Elizabeth. Kelamaan, kita melihat kedua orang ini menjadi dekat. Tapi film enggak pernah mengeksplorasi sudut pandang Elizabeth lebih lanjut.

ngetik gak ada backspace/delete/undo itu kayak main game tapi gak pake save-an

 

Begitu pula dengan sudut pandang istri Churchill, Clementine. Menurutku aktris Kristin Scott Thomas kurang diberdayakan di sini, padahal tokohnya punya peran yang menarik. Clementine adalah makhluk pertama yang mengingatkan kepada Churchill atas sikapnya yang mengalami deteriorasi (baca: Churchill semakin kasar) sejak suaminya itu meletakkan politik di atas segala kepentingan. And later, tentu saja, aspek ini bermain kembali saat kita melihat Churchill mulai mempertanyakan keputusannya mengirim tiga ratus ribu pasukan terdampar di pantai Dunkirk; apakah benar dia sudah mengalami kemunduran perasaan terhadap sesama manusia. It would be nice jika kita dikasih lebih banyak kesempatan untuk melihat hubungan antara Churchill dengan orang-orang terdekatnya. Paling enggak, bisa jadi alasan untuk mengubah ‘pemandangan’ biar gak bosen ketimbang melulu melihat pria-pria di ruang rapat.

Seperti apa sih pemimpin yang bagus itu? Winston Churchill berani menunjukkan apa yang menurutnya diperlukan untuk membawa negara menuju kemenangan. Dia berani bersuara, mewakili rakyat. Karena ternyata rakyat juga menginginkan perjuangan. Bahkan Raja Inggris saat itu pun sebenarnya ingin berjuang, alih-alih pindah ke Kanada. Negosiasi dapat diartikan sebagai tindak menyerah. Dan perjuangan itu bisa diawali dengan menggunakan kata-kata yang tepat. Bersuaralah. Gunakan kata yang tepat. Karena hanya kata-kata yang tepat yang bisa menggerakkan.

 

 

 

Film ini adalah pelajaran sejarah yang penuh oleh suara-suara yang akan menggenggam erat kita. Menontonnya akan terasa seperti lagi dengerin ceramah guru sejarah beneran; bicara sangat lama sehingga kita mengantuk, akan tetapi suaranya lantang penuh intensitas sehingga kita menolak untuk tertidur. Dan perlu diingat, kita dapat belajar lebih banyak tentang masa kini dengan melihat kepada masa lalu, demi kemajuan. Dengan penampilan akting tingkat dewa, dengan production design yang detil, film ini menunjukkan masa-masa gelap, jahiliyah, dan untuk itu kita perlu menyukuri jaman now di mana kita melihat banyak suara-suara resistance di mana-mana mengenai masalah kepemimpinan. Jika ada yang diperlihatkan oleh film ini, maka itu adalah antara rakyat dengan pemimpinnya perlu untuk ‘bertemu’ demi kemajuan negara.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for DARKEST HOUR.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

WAGE Review

“Music can change the world because it can change people”

 

 

Karya musik tidak bisa sepenuhnya kita hargai tanpa mengenal penciptanya. ‘Mengenal’ bukan sekedar tahu nama loh. Melainkan mengetahui dari mana dia ‘berasal’. Apa yang sudah ia laluli sehingga bisa dapat ilham mengarang lagu. Selama ini, kita mungkin hanya tahu siapa nama pencipta lagu Indonesia Raya, lagu Ibu Kita Kartini. Kalo ada sepuluh orang yang kita tanyai, mungkin sembilan orang bisa menjawab “WR Supratman” dengan benar. Jika pertanyaannya dilanjut menjadi apa kepanjangan dari WR itu, mungkin hanya setengah dari sepuluh tadi yang bisa menjawab. Jika ditambah lagi pertanyaannya menjadi siapa yang tahu perjuangan apa yang dilakukan WR Supratman dalam menciptakan kemudian mengumandangkan lagu tersebut? Kesepuluh orang tadi kemungkinan gede hanya bisa diem. Aku sendiri dulu sempat kesel kenapa Indonesia Raya enggak diciptain lebih pendek,  empat baris aja gitu, supaya gak perlu berlama panas-panasan setiap kali upacara bendera. Dan setelah nonton film Wage, serta merta aku merasa durhaka pernah berpikiran seperti demikian.

dan kalo pertanyaannya nyuruh nyanyi, aku mundur duluan

 

Dalam film Wage, kita akan melihat hidup komponis ini sedari kecil. Supratman cilik sudah suka dengan musik, dia tertarik pengen mainin alat musik. Akan diperlihatkan banyak sisi kehidupan tokoh kemerdekaan ini yang belum kita tahu; bahwa dia pernah gabung ama band jazz, bahwa dia pernah mengadu nasib jadi jurnalis, bikin cerita roman.  Oleh seorang Belanda, dia diberi nama Rudolf, dan diajarkan main biola – alat musik pamungkasnya. Dengan biola, Supratman berhasil menciptakan musik yang mempengaruhi banyak orang.  Sampai-sampai pemerintah Belanda merasa terancam. Musiknya menghimpun keberanian rakyat, Supratman dianggap penghasut. Sebagai orang yang berbahaya. Fokus cerita sebagian besar adalah soal ‘perang dingin personal’ antara Supratman dengan polisi utusan Belanda, seorang yang berdarah campuran Belanda-Indonesia, yang ditugaskan untuk menangkapnya.

Ketika aku mendengar bahwa Wage disebut sebagai film noir, seketika itu juga aku tertarik. Alasannya simpel; Kita tidak bisa membuat sebuah cerita tentang pahlawan ke dalam cerita yang hitam – ke dalam cerita antihero. I mean, how could you. Noir bukan semata tentang pri berjas, berstelan rapi, yang merokok. Ultimately, film noir bukan film yang berakhir bahagia. Noir adalah cerita yang penuh muslihat, tentang kemunduran seorang tokoh. Jika bicara tentang cinta, maka film noir akan menyebut cinta satu nafas bersama kematian. Aku tertarik karena kupikir Wage akan diarahkan sama sekali berbeda dengan biopik kepahlawanan Indonesia yang sudah ada. Kupikir pembuat filmnya punya satu sudut pandang unik yang dengan nekat dia jadiin film. Kupikir sutradara John De Rantau mampu mengubah kepahlawanan menjadi anti hero yang bakal bikin kita tercenung. I know, it’s a hard thing to achieve. Dan ternyata memang, Wage enggak bisa. Menyebut film ini sebuah noir sesungguhnya adalah mislead. Wage lebih sebagai sebuah DRAMA YANG TERINSPIRASI OLEH GAYA NOIR.

There’s just no way kita bisa melihat Supratman sebagai antihero dalam film ini. Sepuluh menit pertama kita dibuat bersimpati dengan melihatnya kena cambuk, melihatnya menangis ditinggal meninggal oleh sang ibunda. Ada beberapa sekuens di babak awal yang memperlihatkan Supratman sebagai pemuda pemusik yang pesta pora, dia literally bobok di atas uang, namun kemudian film dengan cepat menetapkan Supratman sebagai pihak putih. Dia dibuat sadar, dia beribadah, dan dia bertekad untuk membantu kemerdekaan Indonesia dengan caranya sendiri; lewat musik. Ini adalah perjalanan karakter yang progresif.

Musik yang hebat dapat mengubah dunia. Musik dapat menggerakkan massa, menjadi alat pemersatu bangsa seperti yang sudah dibuktikan oleh Wage dan Indonesia Raya. Karena musik adalah bentuk ekspresi seni yang punya keuntungan mudah dipahami dan diresapi. Ini adalah bahasa universal yang bisa menginspirasi banyak orang karena kita mendengarkan musik dengan cara yang sama.

 

Kita memang melihat perjuangan Supratman menciptakan lagu, tapi film menunjukkan aspek ini dengan sedikit berbeda dari yang kubayangkan. Kita melihat Supratman terinspirasi oleh suara denting-denting penempa besi, kita lihat dia berulang kali merevisi nada di catatan partitur. It’s nice ngeliat detil dan usaha seperti demikian, namun yang sebenarnya pengen kita lihat adalah usaha dia sebagai komponis yang ingin memperdengarkan lagu. Kita ingin lihat dia menentang aturan, kita ingin lihat dia sembunyi-sembunyi bermain musik, kita ingin lihat his ups-and-downs, perjuangan mati-matian. Rendra Bagus Pamungkas sangat hebat menghidupkan tokoh ini, sehingga semakin disayangkan naskah tidak memberinya banyak hal untuk dilakukan. Sebagian besar waktu, Supratman kita temukan diberi saran oleh teman-temannya. Dia disemangati. Padahal tokoh ini punya api yang berkobar di hati, film menyia-nyiakan ini.

Lihat saja betapa menariknya Wage setiap kali dia mempertemukan Supratman dengan polisi Belanda yang terus mengikutinya, Fritz. Aku gak yakin banget, tapi sepertinya Fritz bukan tokoh sejarah asli dan murni diciptakan oleh film. Dan Teuku Rifnu Wikana benar-benar total menjual peran tersebut. Meskipun scoring film terkadang membawanya ke ranah ‘over-the-top’, namun Teuku Rifnu berhasil mengrounding tokoh ini. Fritz adalah tokoh yang paling menarik, dia setengah Belanda – setengah Indonesia, dia ditugaskan mengikuti Supratman, menangkapnya at once begitu kaki Supratman melanggar batas. Tetapi Fritz merasa lebih banyak dari yang diperlihatkannya. Dia tahu enggak segampang itu mememenjarakan Supratman, dia mengerti reperkusi tindakan tersebut. Fritz pintar, dinamikanya dengan Supratman yang juga cerdas dan berkemauan keras adalah penyelamat kebosananku saat nonton. Tindakan Fritz kadang menjadi jalan selamat buat Supratman. Dari sekian banyak yang ia lakukan (atau tidak ia lakukan), kita tidak pernah pasti Fritz sengaja melakukannya, ataupu apakah darahnya bergejolak jua diam-diam mendengarkan lagu-lagu Supratman.

Violin Hero!

 

Adegan antara Supratman dengan Fritz itu layaknya emas di tengah-tengah hamparan batu-batu yang bopong. Di waktu-waktu ketika bukan percakapan mereka yang jadi pusat, dialog-dialog film ini terasa sangat tak-bernyawa. Eksposisi selalu tak terhindar dalam film sejarah, hanya saja mestinya bisa dikemas dengan lebih menarik. Pada Wage, dialog-dialog sejarah itu terasa disadur flat out dari buku sejarah. Kita tidak merasakan apa yang mereka obrolkan, situasinya tidak tergambar, emosinya tersampaikan dengan datar. Mereka kayak ngobrolin teks-teks di buku sejarah, tanpa ada bobot emosi yang meyakinkan di dalamnya.

Film ini juga gemar membangun sesuatu tanpa berujung apa-apa. Ada adegan rapat Kongres Pemuda lagi ribut membahas bahasa persatuan, dan mereka memainkannya lebih seperti kepada untuk tujuan humor – you know, bahasa-bahasa daerah saling cekcok, kan lucu tuh kedengerannya – lantaran kita tidak diberikan penyelesaiannya. Gak dibahas lagi.  Pertemuan Supratman dengan tokoh Prisia Nasution malahan hanya dibuild sekali – Prisia ngeliat Supratman main biola – dan kali lain kita melihat mereka, mereka sudah seperti pasangan. Dan Prisia tidak muncul lagi dalam adegan manapun setelah itu. Banyak aspek yang dibangun hanya untuk jadi latar belakang saja. Contohnya lagi ketika Supratman ngasih harga tinggi buat nampil di kafe, dia keren sekali saat menolak itu, tapi kemudian kita malah melihat dia tau-tau jadi jurnalis berita maling ayam. Katanya dia mulai bosan main musik. Aspek-aspek cerita didorong ke background, dan itupun tidak rapi keiket.

Adegan yang paling bikin aku penasaran adalah gimana mereka bakal nampilin debut Supratman dengan Indonesia Raya di Kongres Pemuda II, kalian tahu, adegan yang sering jadi pertanyaan saat ujian sejarah di sekolah. Build up menuju ke sana padahal bagus banget. Kita lihat Supratman dilarang begitu nada pertama mulai digesek. Kita melihat mereka membicarakan, menego agar bisa ditampilkan, dan akhirnya Supratman benar-benar berdiri di depan semua orang memainkan Indonesia Raya untuk pertama kali. Syaratnya satu; tanpa lirik. Kita semua tahu gimana kejadiannya di buku sejarah. Film lantas ngeclose up dawai, menunjukkan tetesan air, hal-hal yang jadi inspirasi Supratman mencipta. Dan ketika lagu tersebut actually dimainkan, kita mendengar lagu yang ada liriknya. I mean why? Kenapa gak musik aja seperti di kejadian nyata. Kan bisa juga nanti setelah itu baru dimasukin lagu berlirik. Seolah malah film ini sendiri yang gak yakin sama kekuatan musik. Seolah film ini gak yakin sama kekuatan Indonesia Raya tanpa lirik. Seolah film gak yakin penonton enggak tahu kalo itu adalah lagu kebangsaan jika tampil tanpa lirik.

 

 

Orang-orang akan lebih banyak menonton film Indonesia lain yang tayang barengan film ini. Padahal mestinya ini adalah film sejarah yang benar-benar penting untuk diketahui. Relevan dan juga baru banget, belum pernah ada yang mengangat sudut pandang lagu kebangsaan. Namun sepertinya sudah tiba waktunya bagi pembuat film biopik tanah air untuk mengerti (dan berani!) bahwa biopik enggak mesti menceritakan dari kecil. Bahwa mereka bisa saja mengambil satu peristiwa penting dalam sejarah dan memfilmkannya. Mereka bisa bikin sesuatu yang lebih menarik dan fokus jika misalnya mereka mengeksplorasi dari Kongres Pemuda Dua saja; bikin contained ruang tertutup kayak 12 Angry Men (1957) di mana selisih di adegan rapat dan Supratman berusaha lagunya dimainkan demi persatuan. Atau kalo memang mau bikin film noir, sudut pandang Fritz sebagai tokoh utama akan bisa lebih pas – karena tokohnya dengan gampang ditulis sebagai antihero yang terpengaruh oleh lagu Supratman, believe in him, tapi tetap memihak kepada Belanda. Ada begitu banyak yang bisa mereka lakukan, namun film ini memilih untuk tetap di jalur yang tak membawa perubahan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 god stars for WAGE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

NYAI AHMAD DAHLAN Review

“Behind every great man is a great woman.”

 

 

“Bajumu jangan membuatmu lupa untuk berjuang,” nasihat Nyai Ahmad Dahlan kepada Jenderal Besar Soedirman ketika dua tokoh sejarah ini berdiskusi. Adegan yang kita jumpai di babak ketiga tersebut benar-benar menunjukkan sebesar apa pengaruh dan peranan Nyai terhadap Indonesia. Aku suka gimana Soedirman tidak sekalipun menatap mata Nyai, mengisyaratkan wanita di depannya adalah seorang yang penting luar biasa. Nyai bukan sebatas istri dari seorang Kyai hebat yang disegani. Nyai sudah berjuang bersama dalam dakwah, beliau adalah seorang tegas, agamis, guru yang cerdas dan begitu bijak dia berbicara dengan alat peraga dan analogi yang sangat mengena kepada lawan bicaranya. Dan di poin adegan Nyai dan Soedirman tiba di babak ketiga itu,  Nyai sudah berjuang sendiri. Tanpa Kyai di sisi, kita melihat perubahan yang terjadi pada Nyai baik dari gestur, cara dia memandang orang, dan bahkan suaranya. Tegas dan kinda creepy melihat determinasinya. Tika Bravani menunjukkan pemahaman kepada gejolak yang dirasakan oleh tokoh ini. Membuat kita ingin melihat lebih banyak perjuangan yang dialami oleh Nyai Ahmad Dahlan sendiri.

Nyai dan Kyai Ahmad Dahlan berjuang lewat dakwah demi memberantas jahiliyah dari tanah Jawa. Kala itu rakyat umum masih percaya takhayul, masih banyak yang puas di garis kebodohan, belum lagi ancaman dari londo-londo yang membawa ajaran yang merusak akidah. Perjuangan mereka masih relevan dengan keadaan sekarang ini, di mana musuh kita adalah masih banyak yang percaya hoax internet, gampang dibegoin troll di sosial media, dan tentu saja bablasnya budaya luar yang malah mengikis  atau katakanlah membuat kita mengenyampingkan akidah.

 

Ini adalah film biopik yang enggak menawarkan banyak selain PELAJARAN SEJARAH BERBALUT CERAMAH. Namun bahkan menyebut menonton film ini seperti membaca buku sejarah adalah sebuah pujian yang melebihi dari yang pantas diterima olehnya. Karena, to be fair, aku enggak banyak tahu tentang Nyai Ahmad Dahlan, jadi setelah nonton aku nyari informasi tentang tokoh pahlawan ini. Aku membaca Wikipedia dan menonton film ini terasa sama persis dengan aku membaca halaman Wikipedia Nyai Ahmad Dahlan.

I mean, narasi cerita film ini – plot poin-plot poin yang menghantar kita dari satu adegan ke adegan lain – sama sederhana dan melompat-lompatnya sama poin-poin yang ditulis di Wikipedia. Nyai Ahmad Dahlan menggunakan struktur bercerita yang linear; kita melihat Nyai sedari kecil hingga beliau wafat, tanpa ada inti atau benang merah yang merangkai perjalanan tokohnya. Kita tahu Nyai ingin mencerdaskan kaum kecil dan wanita, ingin ajaran Islam ditegakkan. Tapi sampai film berakhir, kita tetap enggak kenal siapa dirinya. Kenapa dia bisa menjadi begitu alim dan cerdas. Apa konflik internal yang melandaskan pembentukan karakternya. Film ini terjangkit penyakit yang kusebut dengan “Jyn Erso Problem” di mana narasi malah ngeskip bagian yang penting; bagian ketika pribadi tegas nan cerdas itu terbentuk. Sama seperti Jyn Erso yang tau-tau udah gede dan jagoan, Nyai juga tau-tau sudah menjadi istri Kyai Ahmad Dahlan and she’s instaniously mulia dan sangat bijak. Kita gak liat dari mana segala kebijakan itu hadir di diri Nyai. Dan setelah itu, kita ngikutin dia ngikutin suaminya sepanjang besar film. Semua terasa sangat membosankan hingga babak ketiga dimulai ketika kita melihat perjuangan Nyai seperti yang kusebut di atas. Akan tetapi, bukan hanya sudah sangat telat, film juga membahas perjuangan sendiri ini dengan sangat singkat. Tidak ada arahan yang jelas, film sepertinya tidak tahu apa yang menarik untuk dibahas dari materi tokoh sejarah yang mereka punya.

Mereka gagal melihat konflik menarik yang bisa datang dari Kyai menganggap dokter sebagai setan yang menghalanginya berdakwah

 

Sebagai period piece pun, film ini tidak pernah berhasil membawa kita ke puncak interest. Ada banyak yang bisa kita kritik dari tampilannya seperti wardrobe error ataupun ‘kebocoran’ properti yang lain. Penampilan film ini tidak pernah kelihatan megah. Dari segi teknik, film tidak terasa professional. Di awal-awal ada adegan warga ngobrol di pasar yang sama sekali tidak meyakinkan, terlihat seperti adegan di sinetron-sinetron kolosal. Jangankan dengan Hollywood, jika dibandingkan dengan Kartini (2017) biopik yang juga bicara tentang emansipasi dan pemberdayaan, film ini masih terasa subpar. Editingnya kasar, dialognya antara ceramah ama eksposisi, musiknya nerobos banget hingga terdengar komikal ketimbang epik.  Ada sekuen aksi yang diambil dengan biasa aja. Kamera memang sepertinya terbatas dalam hal pergerakan, soalnya ada banyak syut yang ngambil dari kanan kemudian kamera muter 90 derajat ke kiri.

Sebagian besar adegan di film ini berupa sekelompok orang duduk di sekitar Nyai, ataupun Kyai, yang sedang bicara memberikan pelajaran. Sungguh, hanya ada tenggang waktu beberapa kali sebelum kita menguap lebar-lebar demi melihat pemandangan orang manggut-manggut ngedengerin ceramah. Film ini tidak pernah menghandle ceramah mereka sebagai sesuatu yang menarik. Menjelang midpoint ada adegan pengajian Wal Asri yang boring banget, selama beberapa menit kita duduk di antara ibu-ibu tanpa ada hal menarik yang terjadi. Saking bosennya, aku berdoa Rick dan Morty datang kemudian menghabisi mereka dengan trash talk dan pistol laser, kemudian Nyai membuka kedoknya yang ternyata alien dengan seribu tentakel yang bisa kungfu dan SopoTresno itu ternyata adalah nama planet asalnya!

It is easy to nitpick this tapi masalah sebenarnya terletak pada ketidakpahaman film soal mengbuild up adegan. Pengadeganan film ini rumusnya begini: orang lain ngutarakan pendapa atau masalah, Nyai menanggapi dengan bijak pake analogi, dan musik latar akan berkumandang seolah menyimpulkan bahwa setiap yang Nyai katakana sangat mindblowing dan begitu megah. Tapi kita enggak akan benar-benar peduli karena tidak pernah ada build up atas apa yang dikatakan Nyai. Misalnya, ketika Kyai bilang tantangan mereka adalah duit, dan Nyai masuk ke dalam rumah mengambil harta warisan orangtuanya untuk kemudian diberikan kepada Kyai, dan musiknya menggelegar mengamini yang dilakukan Nyai adalah mulia walau berat, but we don’t feel that karena kotak warisan tersebut tidak pernah dibuild up terlebih dahulu. Kita tidak pernah tahu stake yang dipertaruhkan Nyai ketika dia menyerahkan bantuan tersebut.

 

The one time music did it right adalah saat mereka melelang barang. Selebihnya, konflik-konflik film ini datang dan pergi gitu aja. Salah satu ‘rintangan’ yang dihadapi Nyai dan Kyai adalah organisasi Muhammadiyah mereka diprotes warga lantaran dianggap sesat. Namun kita enggak pernah diperlihatkan kenapa warga menganggap begitu. Mereka bilang penjajah menghalang-halangi ajaran mereka, tapi hanya satu kali kita melihat penjajah dateng dan mengusik asrama Nyai. Dialog dan adegan dimasukkan gitu aja, tanpa pernah benar-benar diperhatikan ritme ataupun kepentingannya. Ketika penghuni rumah dan murid-murid menyambut kedatangan Nyai dan Kyai dengan cemas, percakapan gulir begitu saja dari “Kami dengar Kyai hendak dibunuh” menjadi kurang lebih ke “Kami ingin seperti Nyai, dapet cowok sekeren Kyai hehehe” tanpa ada weight ke adegan possible murder sebelumnya. Dan yang buatku jadi hilarious adalah actually adegan Kyai dan Nyai mau dibunuh itu, mereka ‘ribut’ dengan beberapa warga di… PANTAI! I mean, betapa randomnya, kenapa bisa di pantai coba. Aku jadi membayangkan sebelumnya mereka bertemu kayak gini… crrriiiingggg *bunyi efek adegan fantasi*

WARGA A: Kami mau memprotes ajaran Kyai dan Nyai!
WARGA B: Betul! Biarkan parang kami bicara!
KYAI: Baiklah, kita bicarakan sambil santai di pantai

NYAI: Cihuuuii, aku lagi butuh vitamin sea nih! *ngedipin mata ke Kyai*

 

 

Jika film ini ingin menceritakan tentang perjuangan Nyai, mestinya dia mengambil babak ketiga dan mengeksplorasi narasi dari sana. Jika film ini ingin memperlihatkan kehidupan Nyai dari kecil hingga wafat, mestinya mereka memfokuskan kepada pertumbuhan tokoh Nyai alih-alih membuat kita lompat langsung ke saat bersama Kyai. Juga mestinya kita tidak lagi dihadapkan dengan flashback, terutama jika flashback itu ditujukan buat mancing dramatisasi semata. Jika film ini ingin bercerita tentang Nyai, mestinya dia tidak membuat Nyai terlalu ngekorin Kyai – sebab sesungguhnya di balik pria hebat ada wanita yang sama hebatnya, jika tidak lebih. Dan kehebatan Nyai tidak kita lihat hingga film benar-benar berakhir. Biopik mestinya membuat sejarah tidak membosankan, namun sebenarnya tidak ada yang lebih bosan dari tokoh utama yang lurus saja tanpa kita pernah kenal konflik personal dan internalnya.
The Palace of Wisdom gives 3 out 10 gold stars for NYAI AHMAD DAHLAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners .
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

DUNKIRK Review

“We shall fight on the beaches

 

 

Bayangkan dirimu seorang serdadu Inggris yang terjebak dalam perang, empat ratus ribu pasukanmu dipukul mundur hingga ke garis pantai. Tempat di mana kalian menunggu untuk evakuasi. Hanya saja kondisimu itu sama aja seperti bebek yang berenang di dalam baskom; setiap detiknya kalian dalam bahaya ditembaki oleh pemburu, yang dalam perang ini adalah pesawat angkatan udara Jerman. Jadi tentu saja kalian akan melakukan apapun untuk bertahan hidup. Dunkirk menceritakan tentang survival perang, begitu simpel dan sungguh nyata. Dan oya, kejadian di pesisir pantai Dunkirk ini diangkat dari peristiwa dari Perang Dunia Kedua, yang tercatat di buku sejarah sebagai peristiwa ‘ajaib’ yang mengubah pandangan dunia terhadap perang.  Ajaib bahwa kemanusiaan masih ada as selain tentang gimana para tentara di daratan berusaha keluar dari pantai, ini juga menilik tentang penduduk sipil yang berjuang mengerahkan kapal-kapal pribadi demi menyelamatkan pahlawan bangsa mereka.

At one point of the movie, salah satu tokoh film ini keheranan disambut baik sesampainya di ranah Inggris. Padahal dia merasa malu, negara mereka kalah. “All we did is survive” katanya. Secara militer, memang, mereka kalah. Tapi mereka berhasil selamat dalam jumlah banyak. Mereka selamat untuk melanjutkan hari esok, and it is a glory of humanity. Karena orang-orang Inggris itu menunjukkan semangat dan solidaritas patriotik untuk bersatu, untuk menjadi kuat, melawan situasi yang sulit. Survival tidak pernah adil, dan peristiwa Dunkirk menunjukkan kemanusiaan masih punya harapan dan peluang untuk menang.

 

Sekarang, coba bayangkan, kamu berlari, loncat dari kapal, menyelam, menggapai-gapai mencari udara, dalam cemas dan harap menemukan tempat di luar bidikan bom, dan kalian melakukannya di antara seribuan lebih orang yang melakukan hal yang sama. Benar-benar tidak ada waktu untuk menghembuskan napas lega, apalagi saling menyapa dan get to know each other. Begitulah persisnya film Dunkirk dipersembahkan. Film perang yang bagus seperti Saving Private Ryan (1998) biasanya menceritakan karakter di dalam situasi mengerikan, dan gimana mereka beraksi terhadap perang. Gimana mereka dilanda oleh dilemma. Dunkirk, however, adalah ‘HANYA’ TENTANG PERANG. The actual event. Dan bagaimana terrifyingnya jika kita terjebak di sana. Tokoh utama film ini ya bisa dibilang tentang peristiwa itu sendiri. Tentang evakuasi orang-orang. Film ini begitu in-the-moment. Dramatic impact bukan datang dari kita ngecheer seseorang untuk hidup, untuk kembali kepada keluarganya. Film ini adalah tentang manusia sebagai spesies. Tentang gimana kalo kepepet dan punya tujuan yang sama, kita bersatu. Nolan paham dia enggak perlu membahas karakter terlalu dalam, maka dia meletakkan ‘ledakan’ kepada sekuens perang yang dibuat serealistis mungkin. Dia menangkap event ini dengan sangat menawan. Mengerikan, ya memang, tapi beautiful.

Tom Hardy sukses berat nampilin emosi hanya melalui bolamatanya

 

Jadi ya, karena itulah aku memaafkan pengarakteran yang enggak digali oleh film ini. Meski aku enggak bisa benar-benar konek sama tokoh-tokoh dalam film ini, mereka tidak benar-benar punya arc, kita enggak tau backstory mereka, tapi hal tersebut enggak pernah berdampak begitu besar. Bukan hanya karena film ini dibuat oleh Christopher Nolan.  Enggak ngelebih-lebihin sih kalo aku bilang kebanyakan orang akan suka film ini lantaran ngeliat nama sutradaranya. Nolan itu udah jadi semacam brand sendiri, orang sudah hampir pasti  akan nonton setiap film yang judulnya diiringi oleh “A Christopher Nolan’s film”. This is truly a MAGNIFICENT FILM. Dunkirk menggunakan kapal-kapal asli, pesawat-pesawat tempur beneran, lokasi yang nyata – bukan greenscreen, dan sejumlah besar pemain kayak film india. Dunkirk sangat thrilling dari awal hingga akhir. Karena sedari dimulai, kita sudah langsung diletakkan di tengah-tengah battlefield. Beberapa karakter diperkenalkan dengan cepat, kita ngikutin beberapa tokoh yang berfungsi sebagai wakil dari kita. Dan walaupun mereka jarang ngomong, tidak pernah ada momen-momen hampa.

Untuk selanjutnya, keseluruhan film adalah tentang serangan. Spektakel aksinya benar-benar terlihat realistis. Semuanya terasa otentik. Tidak ada adegan pesawat meledak seperti ledakan yang sering kita lihat di film-film action Hollywood. Tembakan senjata apinya enggak terasa teatrikal. Aspek realistis inilah yang terutama membuat kita tersedot ke dalam cerita. It’s a whole gigantic battle sequence yang dibuat seolah kita ada di sana. Kita tidak mengalihkan pandang dari mereka karena kita begitu masuk oleh perjuangan mereka untuk bertahan, mengatasi segala tantangan.

Jika kalian masuk ke studio mengharapkan cerita yang linear, maka itu berarti kalian belum banyak makan garam soal perfilman.  Salah satu yang membuat karya Nolan selalu dihormati banyak orang adalah film-film Nolan juga menghormati kecerdasan penonton. Karakter boleh saja sederhana, namun tidak ada yang sederhana dari langkah penceritaan yang dilakukan Nolan pada film ini. Dunkirk membagi diri menjadi tiga sudut pandang; di pantai – ngikutin prajurit inggris, di kapal – ngikutin sipil yang mau bantu nyelametin tentara, dan di pesawat – ngikutin Tom Hardy yang berusaha menghalau pesawat Jerman. Akan ada momen ketika kita bingung “loh yang ini kok udah malam, yang di pesawat tadi masih siang..?”  Narasi hanya memberi petunjuk berupa waktu; seminggu untuk pantai, sehari untuk kapal, dan sejam untuk pesawat. Penceritaan film ini seperti soal matematika di sekolah dulu; ada kapal, pesawat, dan orang bergerak dengan waktu yang berbeda, maka kapankah mereka akan bertemu? Film ini membuild up momen sehingga ketika tiga layer waktu tersebut menjadi satu di akhir, semua akan terasa wah. Editing film yang apik turut membuat kita enggak pernah terlepas dari cerita, pergantian-pergantian sudut pandang terasa mengalir dengan mulus.

serius deh, aku senewen akut dengar bunyi detik jam yang terus terdengar

 

Dalam perang, orang-orang tewas – terkadang mereka gugur sendirian, gugur dalam ketakutan, dengan tidak mengetahui nasibnya sendiri pada esok hari. Film ini tidak memalingkan diri dari kenyataan tersebut. Tapi selalu ada harapan. Kata-kata bisa menggerakkan satu negara. Dan film ini menggambarkan, orang-orang sipil sebagai simbol harapan dalam sebuah perang.

 

Untuk standar Nolan, memang Dunkirk adalah film yang singkat. Tapi juga sangat efektif dalam mengisi durasinya. Buatku, durasi film ini udah pas. Kalo terlalu panjang jadinya lebay, terlalu singkat malah ntar jadi kurang ngefek. Segala kengerian perang sudah berhasil digambarkan dengan baik. Kita merasakan ngerinya dikurung, tenggelam, terkunci dalam pesawat yang jatuh, diitembak blindly tanpa tahu di mana yang menembak. Meskipun enggak ada darah terlihat, enggak ada potongan tubuh berceceran, film ini bermain di ranah PG-13, kita tetap tergoncang oleh efek psikologis yang sangat kuat. Sungguh mengerikan menyaksikan karakter-karakter itu literally mencakar-cakar dan merangkak demi hidup mereka. Bahkan kepada tokoh yang pengen menyelamatkan, kita merasakan dorongan yang kuat dan ikut merasakan perjuangan dan halangan yang mereka tempuh.

 

 

 

Menangkap peristiwa bersejarah dengan sangat realistis, tidak ada satupun kejadian yang luput dari rasa otentik dan penuh ketegangan. Penceritaan non-linearnya mengantarkan film menjadi satu kesatuan yang mulus. The look of this movie is outstanding, sekuens battlenya benar-benar tergambar mengerikan, layaknya perang beneran. Dan this whole movie adalah peperangan. Sedikit hindrance adalah di bagian penokohan yang ditulis sederhana, tanpa arc dan tedeng aling-aling. Tapi hal tersebut tidak pernah menjadi hal yang tanked the movie, karena dampak emosional film datang dari sisi psikologikal dan feeling in-the-moment yang membuat kita merasa benar-benar ada di tengah peristiwa tersebut.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for DUNKIRK.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

ZIARAH Review

“In the end all you really have is memories.”

 

 

Mengunjungi makam kerabat, memanjatkan doa-doa, esensinya adalah supaya kita mengingat masa lalu dan masa depan. Pertemuan dan kematian. Kata kuncinya adalah mengingat, dan tema tersebut dieksplorasi oleh film Ziarah di mana ia akan mengajak kita untuk mengunjungi kembali kenangan dan duka yang tertimbun. Film ini adalah perjalanan mencari kebenaran lewat ingatan.

Bercerita tentang seorang nenek yang sudah berusia sembilan-puluh lima tahun yang mendadak pergi dari rumah. Mbah Sri ingin nyekar ke makam suaminya yang gugur saat Agresi Militer Belanda Kedua berpuluh-puluh tahun silam. Ke makam ‘beneran’, bukan ke makam tanpa nama yang sudah disiapkan oleh pemerintah untuk pahlawan-pahlawan tak dikenal. Jadi, dengan sekeranjang kembang di dalam tasnya, Mbah Sri berjalan naik turun perbukitan, melintas dari satu desa ke desa lain. Beliau mencari setiap jengkal tanah pekuburan yang dikunjungi. Bertanya kepada orang-orang yang mungkin saja tahu tentang peristiwa melingkupi tewasnya sang suami. Perjalanan yang Mbah Sri tempuh ternyata menguras mental dan emosi lebih banyak daripada nyapekin badan, saat misteri keberadaan sang suami perlahan terdispersi menjadi beberapa cahaya kebenaran. Dan kenangan dan kepercayaan yang selama ini ia pegang bisa jadi bukan kejadian yang sebenarnya.

ke kuburan bukan buat minta nomer, loh!

 

Sutradara asal Yogya, BW Putra Negara, mengerahkan semua arsenal yang dia kuasai untuk memaksimalkan penceritaan Ziarah. Menggunakan visual storytelling dan tutur dialog dengan sama efektifnya sehingga jika kita enggak benar-benar terpaku di menatap layar, kita akan ketinggalan potongan emosi. Dan jika kita enggak memperhatikan dialog (atau dalam kasus film ini yang SELURUH PERCAKAPANNYA BERBAHASA JAWA, enggak baca teksnya), kita akan tersesat dan bingung sendiri oleh cakap eksposisi, informasi, dan simbolisme yang datang silih berganti. Sutradara pun tidak pernah membuat film ini menjadi lebih mudah untuk kita. Dengan adegan-adegan yang dengan sengaja diberi pace yang lambat; shot panjang yang belum dicut-cut, film ini mengambil waktu supaya setiap adegan berlangsung dengan utuh. Kita ngeliat dua orang berdiskusi nyusun denah rumah di tanah, kita ngeliat Mbah Sri yang masukin kembang ke dalam tas, kita ngeliat di berjalan dari ujung jalan, camera lingers a little bit too long, musiknya merayap di belakang, semua ini menyiptakan sensasi uneasy yang luar biasa. Rasa nonton film ini hampir seperti rasa ketika kita ingin tahu sesuatu tapi di dalam hati kita sebenarnya takut akan kebenarannya. Setiap informasi yang diterima oleh Mbah Sri, membuat pencariannya semakin berkelok, dan to be honest, semakin mendekati akhir aku berharap Mbah Sri, dan aku sendiri, enggak pernah nemuin kebenaran yang dicari.

Kenangan kita adalah milik kita seutuhnya. Itu sejarah personal kita. Ya, mungkin sejarah itu blur, mungkin kita butuh kejelasan. Tapi jika itu berarti kenangan tersebut harus ditantang dengan kebenaran, apakah kita siap untuk menodai kenangan tersebut evenmore? Film ini bilang jangan mengorek luka lama. Sesuatu yang dikubur sebaiknya dikenang, jangan diusik lagi. Bagaimana jika kita salah? Sudikah kita melepaskan satu-satunya yang kita punya? Siapkah kita – seperti Mbah Sri – untuk pasrah?

 

Dan memang film ini cukup berani undur diri dengan terbuka bagi interpretasi penonton. Film menunjukkan kepada kita apa yang jadi jawaban atas pencarian Mbah Sri, ada sense of finality juga ketika film berakhir, namun maksud kejadian penghabisan – very well might be Mbah Sri’s last choice –diserahkan sepenuhnya kepada kita. The very last shot dimainkan dengan bagus dan merupakan kontras dari salah satu adegan yang muncul di menit-menit awal film.

Semua hal dalam film ini terasa otentik. Misteri seputar sosok suami Mbah Sri, Pawiro, mendapat pengungkapan yang menarik. Tidak ada pancingan emosi yang dibuat-buat kayak film drama pada umumnya. Karakter-karakter dibiarkan berjalan, dan kejadian demi kejadian kayak berlangsung gitu aja. Ada satu sekuen sih, di akhir-akhir babak kedua, ketika ada seseorang tampak punya agenda sendiri; awalnya kukira ini adalah di mana film ngambil keputusan yang salah dalam ngelanjutin ceritanya, you know, biasanya film-film kan gitu – they did everything right, namun di akhir ada nila yang merusak film sebelanga. Tapi enggak, elemen cerita itu teresolve dengan manis. Penampilan aktingnya film ini, entahlah, aku melihat orang-orang dalam film ini seperti menjadi diri sendiri. Seperti menonton dokumenter di mana warga asli ditanya-tanyain dan mereka bercerita apa adanya. Low budget dan PENGGARAPAN YANG SEDERHANA justru diubah jadi nilai lebih film ini karena semuanya terasa nyata. Mbah Ponco Sutiyem yang memerankan Mbah Sri berhasil menyampaikan emosi dengan fantastis walaupun sebenarnya peran ini sangat stricken dan beliau sendiri bukan aktor. Kita boleh aja enggak ngerti bahasanya, namun ekspresinya bercerita begitu banyak. Semua ini tentu saja berkat arahan dari sutradara benar-benar on-point.

Adegan di awal-awal ketika Mbah Sri ngobrol dengan cucunya di dapur really hits home buatku. Dari keseluruhan film yang tonenya mellow kadang ada lucu ironis, dan kadang ngeri, cuma di bagian inilah aku ngerasa sedikit ringan. Lantaran aku teringat kalo lagi di kampung, aku setiap subuh masuk dapur ngangetin diri di depan kompor, dan Mbah ku dateng ngajak ngobrol. Hanya saja aku yang ampe sekarang enggak bisa-bisa berbahasa Jawa, hanya manggut-manggut nyengir sok ngerti hhihi

“sudah bukan umur bercanda lagiii”

 

Dari segi skenario, Ziarah punya struktur cerita yang rada unconventional. Kita tidak langsung diberi petunjuk motivasi tokoh utama, kita malah ngeliat motivasi dari karakter lain. Di sinilah film sedikit goyah. It takes time to established the main character, dia sedikit terlalu berada sebagai latar saat permulaan. Di awal, film ini terasa kayak cerita seorang cucu yang ingin menikah, tetapi neneknya mendadak pergi entah ke mana dan si cucu harus pergi mencari. Tidak hingga midpoint barulah perspektif Mbah Sri menjadi benar-benar dominan, dan kita lantas belajar mengenai motivasinya. Kita tahu Mbah Sri ingin mencari makam suami, akan tetapi baru di paruh kedualah kita mengerti kenapa baru sekarang dia melakukan ziarah tersebut, apa yang membuatnya melakukan perjalanan panjang itu. Memang, terjadi kebingungan dalam memahami cerita jika kita enggak pasti siapa yang jadi tokoh utamanya. Kupikir, itulah sebabnya kenapa Ziarah tidak serta mudah dicerna; Ceritanya sederhana, hanya saja strukturnya membuat kita sedikit padet. Di paruh awal, perspektif kita kerap berganti ke cucu Mbah Sri yang sebenarnya punya lapisan sendiri yang integral sebagai simbol untuk tema dan bigger picture cerita.

Film ini membahas fondasi rumah, membahas diskon gede, membahas orang bunuh diri lantaran pasangannya ketahuan berselingkuh bertahun yang silam. Perbincangan yang terdengar random, namun sesungguhnya punya kait dengan cerita yang bertema ingatan dan masa lalu. Mereka adalah bagian dari proses berdamai. Jangan sampai kita membiarkan ingatan kita tentang seseorang atau sesuatu, terkontaminasi oleh suara-suara orang. Jika kita mengenang sesuatu, kenanglah sesuai dengan ingatan kita secara personal. If we believe something is sweet, then sweet it is. Apapun yang terjadi sesudahnya, tidak ada hubungannya dengan kenangan kita. Simpan, cherish kenangan tersebut, dan just move on with our life.

 

Sehabis nonton tadi, tidak ada satupun penonton di studio yang beranjak dari kursi. Mungkin masih ingin jawaban. Mungkin juga pada segan cabut duluan. Atau mungkin juga, semua orang itu masih pada terusik oleh apa yang bisa kita temukan jika kita mencari; Kebenaran.

 

 

 

Buat yang kerap meminta sesuatu yang berbeda dari film Indonesia; tontonlah film ini. Sekali-kali ziarahlah ke bioskop; untuk mengingat kenapa sih kita suka nonton film in the first place. Drama ini penceritaannya sangat unconventional yang benar-benar menyentuh kita soal berdamai dengan masa lalu, dengan kenangan tentang seseorang yang kita simpan erat-erat. Ini juga adalah tentang sejarah. Kita belajar sejarah bukan untuk mengorek luka masa lalu, melainkan supaya kita embrace, belajar darinya, dan hidup lebih baik setelahnya. Tapi film ini sedikit falter di struktur, ada tone yang kadang bentrok juga. Elemen mistis di tengah-tengah cerita, contohnya. Mengingat efektifnya bahasa visual, tutur, dan simbolisme yang dilakukan film ini, mungkin saja elemen mistis itu adalah simbol yang aku belum dapat koneksinya. Tapi memang, aspek ini mentok jika disandingkan dengan aspek genuine yang dibangun oleh film.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for ZIARAH.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

KARTINI Review

“I know why the caged bird sings”

 

 

Bicara Kartini berarti kita bicara emansipasi. Perjuangan kesetaraan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, untuk menentukan pilihan, untuk mendobrak sistem patriarkal yang mengakar, dan terutama untuk mengatakan “Memang kenapa bila aku perempuan?”. Aku pikir kita semua udah tahu bahwa tinggal waktu saja kisah kepahlawanan Kartini ini jatuh ke tangan sutradara Hanung Bramantyo. Hanung paling demen ngegarap cerita yang protagonisnya berontak melawan sistem, dia paling jago memercik drama (dan, kalo perlu, sedikit kontroversi) kemudian memperkuatnya lagi dengan elemen yang relevan. Kartini dan Feminisme sangat cocok sebagai lahan Hanung.

Namun kali ini, lebih daripada mengandalkan sensasi – akan gampang sekali mengingat ide soal kepahlawanan Ibu Kartini sudah sering mendapat kontroversi di jaman modern ini – Hanung mengarahkan film biopik ini ke jalan yang lebih EMOSIONAL DAN MANUSIAWI. Dalam Kartini kita akan melihat karakter-karakter menjadi fokus utama. Kita akan melihat hubungan Kartini dengan keluarga, bersama kakak-kakak cowoknya, dan bersama kedua adiknya; Roekmini dan Kardinah. Kita akan melihat gimana Kartini berteman dengan Belanda yang menyemangatinya untuk menulis. Gimana dia mengisi hari selama masa pingitan sebagai persiapan menjelang mengemban status Raden Ajeng. Dan, yang paling personal baginya, gimana Kartini menyingkapi soal poligami, in which dia adalah produk dari – serta akan kembali jadi pemain dalam tradisi jawa tersebut. Urgensi datang dari Kartini dan adik-adiknya yang mengembangkan kerajinan ukiran Jepara, membuka sekolah bagi anak-anak pribumi, sementara sebenarnya mereka sedang menunggu waktu satu persatu ‘dipetik’ untuk menjadi seorang istri.

Dian Sastro apa Dian Iaya nih?

 

Ketika melihat trailer film ini untuk pertama kalinya di bioskop, aku merasa tertarik. Kalimat yang diucapkan Kartini di akhir trailer tersebut, tentang kebebasan ibarat burung, membuatku kepikiran kenapa film ini enggak dikasih judul Trinil aja ya? Dan setelah menyaksikan filmnya secara utuh, I still think that way; judul Trinil akan memberikan kesan yang lebih impresif dan benar-benar klop dengan ceritanya. Dalam review Surat Cinta untuk Kartini (2016) aku nyebutin cerita Kartini yang dipanggil burung trinil oleh ayahnya dalam majalah Album Ganesha Bobo. Kartini adalah pribadi yang enerjik, periang, punya bakat membandel, dan dalam film ini, begitu melihat Kartini dan dua adiknya nangkring di atas tembok, aku langsung menggelinjang; That’s her, that’s Kartini si burung Trinil yang aku baca waktu kecil!

Betapa menyenangkannya demi mengetahui diri kita sudah membuat perubahan hari ini. Dan that feeling alone harusnya udah bisa membuat kita terbebas dari boundary apapun yang memasung kita. Kartini, menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya bebas. Karena batas-batasan itu akan selalu ada, dan perjuangan sejatinya bukan untuk menghilangkan pembatas melainkan untuk membebaskan pikiran. Perjuangan Kartini adalah perjuangan gagasan, meskipun tubuhnya terkurung, gagasan positifnya akan terus terbang memberikan pengaruh positif kepada generasi demi generasi.

 

 

Kualitas produksi film ini top-notch sekali. Ini adalah film yang cantik. Gambarnya disyut dengan perhatian pada maksud dan detil. Set dan kostumnya sangat meyakinkan. Londo-londo itu terlihat classy sekaligus modern sebagai kontras dari pakaian bangsawan Jawa yang terlihat kaku dan mengurung. Kartini berada di tengah-tengah mereka. Kita memang enggak tahu seperti apa pembawaan Ibu Kartini aslinya, namun Dian Sastro udah pas meranin Kartini sebagai wanita yang berjiwa mandiri dan ‘pemberontak’. Tapi enggak exactly in a way kayak dia bilang “aku enggak butuh lelaki.” Ini adalah film yang membahas hubungan emosional yang terbangun. Motivasi Kartini adalah supaya dia, adik-adiknya, dan para wanita tidak perlu lagi capek berjalan-jongkok dan ‘latihan makan ati’ seperti yang dialami oleh ibu kandungnya. Supaya para wanita tidak hanya jadi pilihan melainkan bisa punya pilihan. Tembok pakem wanita-jaga-badan-dan-nunggu-kawin itu musti runtuh, begitu tekad Kartini. Semua itu tercermin dari gimana dia ‘menggembleng’ dua adiknya, yang oleh film ini diperlihatkan sebagai ‘murid pertama’ yang dimiliki oleh Kartini. Dian Sastro excels at playing this kind of role. Membuat kita ingin melihat lebih banyak tindak ‘pemberontakan’ Kartini. Kita akan melihat darimana asal tekad dan semangat Kartini, dan semua itu dimainkan dengan sangat heartwarming.

Hal berbeda yang dapat kita saksikan adalah Hanung memasukkan elemen imajinasi ke dalam cerita. It’s the power of books, people! Dengan membaca buku, kita bisa berkunjung ke mana saja kita mau. Adegan ketika pertama kali Kartini membaca buku adalah adegan yang sangat menyenangkan. Kita melihat dirinya melihat apa yang ia baca terwujud di depan mata. Sepanjang film, setiap kali Kartini membaca, entah itu buku ataupun surat balesan dari korespondensinya di Belanda, kita akan dikasih lihat visual Kartini sedang ngobrol dengan si penulis. It was shot very beautifully and actually menambah banyak hal buat pengembangan tokoh Kartini.

Tiga Gadsam foto buat cover lagi kaah? hhihi

 

Dengan jajaran pemain yang masing-masing saja kayaknya sudah pantes buat nulis buku sendiri tentang kepiawaian berakting, film ini enggak bisa untuk enggak menjadi meyakinkan. Lihat saja tatapan dingin Djenar Maesa Ayu, tapi masih terlihat bayangan mimpi yang kandas dari matanya. Pembawaan dan intonasi Deddy Sutomo yang terang-terang sedang conflicted antara acknowledging kemampuan putrinya dengan adat yang ia junjung. Aku bahkan ngakak ketika Kardinah bilang perasaannya enggak enak seolah ia tahu bakal dijodohin di akhir hari. Bahasa Jawa mereka sampaikan tanpa gagap. Kapasitas penampilan yang kelas atas membuat kadang beberapa musik dalam pengadeganan toh terasa sedikit eksesif. Maksudku, film ini sebenarnya bisa untuk enggak banyak-banyak masukin pancingan emosi karena setiap adegan, dari segi performances, sudah terdeliver dengan begitu compelling.

The bigger picture of this movie adalah gimana kehidupan Kartini bisa menginspirasi banyak orang, bukan hanya wanita. Namun, film ini masih kelihatan artificial ketika mengolah elemen-elemen dramatis. Kayak, film ini berusaha terlalu keras buat menghasilkan air mata dari penonton. Dibandingkan dengan porsi bagian cerita yang lebih ringan, menit-menit awal yang jadi set up terasa terlalu menghajar kita dengan emosi. Kita melihat Kartini kecil dalam momen yang menyedihkan, baik visual maupun tulisan mendikte kita untuk sedih. Kemudian narasi melompat dan kita dapat Kartini dewasa dengan segala attitude ingin-bebas. Ini masalah yang sama dengan pengarakteran Jyn Erso pada Rogue One (2016), di mana kita hanya melihat sad part of her childhood untuk kemudian kita melihatnya lagi setelah dewasa dengan kemampuan yang tinggi. Aku pikir akan lebih baik jika film ini mengajak kita untuk mengintip kehidupan sekolah Kartini kecil, you know, just to see seperti apa sih pintarnya Kartini itu hingga dikenal baik di kalangan meneer Belanda. Karena sepanjang film kita akan mendengar para tokoh ngereferensikan betapa pintarnya Kartini di sekolah.

Pun pada babak akhir kita akan merasa diseret oleh emosi. Tidak ada yang benar-benar menarik pada babak ketika sampailah giliran Kartini dilamar seorang Bupati. Kita semua – paling enggak kita-kita yang masih melek waktu pelajaran sejarah di sekolah – tahu tepatnya apa yang akan terjadi. Cara film ini bercerita mendadak kembali terlalu artifisial, sehingga adegan-adegan emosional itu rasanya kering. Pancingan-pancingan dilakukan, ada elemen sakit, ada tokoh yang jadi antagonis sekali, ada yang berubah baik hati, semuanya datang gitu aja, it did felt rushed. Banyak film yang enggak berhasil menjembatani dua tone narasi, dan film ini termasuk ke dalam kelompok film yang gagal tersebut. Alih-alih membahas dari perspektif yang lebih kompleks – dan film ini sebetulnya bisa melakukan itu – film ini lebih memilih untuk menyederhanakannya menjadi semacam pihak yang baik sama Kartini dan pihak yang jahat. Although, menarik gimana ‘yang jahat’ dalam film ini enggak necessarily adalah laki-laki.

 

 

 

Habis gelap terbitlah terang. Kemudian gelap lagi. Begitulah kira-kira garis besar menikmati film ini. Perbedaan antartone film ini sangat drastis, karenanya momen-momen dramatis yang kerap dihadirkan terasa artifisial. Set up film mestinya juga bisa diperkuat lagi karena gedenya toh apik tenan. Selain masalah tone dan hook yang dibuat terlalu pengen jadi dramatis, aku tidak melihat banyak masalah. Film ini  tahu ingin jadi apa, dan bekerja baik mewujudkan dirinya. Ia menyenangkan oleh interaksi antarkarakter. Potret penuh emosi dari kehidupan sosok pahlawan yang kita peringati setiap bulan April. Aku merasakan dorongan untuk keluar dari bioskop dengan berjalan jongkok just to pay my respect kepada pengorbanan perempuan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for KARTINI.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

GOLD Review

“A dream that is not chased is a fantasy.”

 

 

Ada garis batas yang membedakan antara mimpi dengan khayalan. Garis itulah yang kita kenal sebagai usaha. Dan faktor yang membuat perbedaan tersebut tentu saja adalah kita, entitas yang berangan-angan. Khayalan adalah keinginan yang enggak disertai dengan usaha, dan hanya bisa disebut mimpi apabila kita berjuang untuk mewujudkannya.

 

Kenny Wells di ambang kebangkrutan. Ia mendapat bunga tidur tentang menemukan tambang emas terbesar. Jadi segalanya pun dipertaruhkan. Jual jam tangan emas istrinya, Wells terbang ke Indonesia. Mencari seorang ahli geologi ‘legendaris’ yang terakhir kali terdengar sedang berada di sana. Bersama-sama, mereka menembus belantara Kalimantan demi mencari emas yang mereka yakini ada di sana. Akan tetapi, segala jerih payah yang dilakukan Kenny belum cukup untuk membuat impiannya menjadi nyata. In fact, film Gold sepertinya tidak punya jawaban pasti antara khayalan dan mimpi bagi Kenny Wells.

Gold adalah film yang dibuat loosely berdasarkan skandal pertambangan beneran yang pernah terjadi di Indonesia. Awal tahun 90an itu, perusahaan tambang Bre-X Minerals dari Kanada ngeklaim mereka menemukan tambang emas gede di hutan Busang, Kalimantan Timur. Langsung deh stock meroket, Amerika heboh. Namun selidik punya si sidik, eh salah! selidik punya selidik, semua ‘tambang emas terbesar’ itu adalah pemalsuan. Dan blow up setelah penemuan kebenaran ini malah jauh lebih gede lagi. Pihak yang bertanggung jawab kabur, pemerintah Indonesia (kala itu di bawah pimpinan Presiden Suharto) terlibat dalam penutupan ijin tambang dan segala macem, sementara pemilik perusahaannya sendiri mengaku ia tidak tahu menahu, bahwa ia juga telah ditipu oleh rekannya. Film Gold sendiri hanya mengambil latar peristiwa dan mengaburkan tokoh-tokoh asli dengan menggunakan nama-nama plesetan. Kayak David Walsh yang namanya jadi tokoh Kenny Wells, ataupun si geologis Michael de Guzman yang dalam Gold menjadi Michael Acosta. FILM INI LAYAKNYA PARODI yang membuat kita mengangkat sebelah alis mata menanyakan; apakah buaian deretan angka segitu menghanyutkannya sehingga orang-orang bisa ngeoverlook kenyataan bahwa tidak ada emas di sana?

semua orang tersilaukan oleh pantulan cahaya jidat Wells

 

Jika sebelumnya dalam animasi Sing (2016) Matthew McConaughey berjuang mencari uang dan mati-matian melanjutkan usaha gedung teater warisan ayahnya, kali ini dalam Gold, dia kembali melakukan hal yang sama hanya saja sebagai anak pemilik perusahaan tambang. Apa yang dibawa oleh McConaughey dalam penampilannya, however, adalah hal yang pantas untuk diapresiasi. Dia actually nambah berat badan demi menjelma menjadi sosok fiktif Kenny Wells yang berperut buncit. Dan rambutnya; daaanggg, menyedihkan untuk dilihat dan menyeramkan untuk dialami hhihi. Namun karakternya, tho, Kenny Wells tidak pernah terlihat berupaya menyembunyikan garis rambutnya yang menipis. Ataupun dia tidak kelihatan benar-benar melakukan upaya apapun pada pekerjaannya. Aku enggak yakin apakah ini disengaja oleh pembuat film; Kenny is supposed to come off sebagai orang yang enggak tahu apa yang ia lakukan. Tetapi ada beberapa kali ketika menonton ini aku merasa tokoh yang jadi perspektif utama cerita tidaklah semenarik apa yang diniatkan oleh filmmaker.

Jerih payah di lapangan tidak pernah benar-benar diperlihatkan dialami oleh Kenny. Hanya satu adegan memperlihatkan dia kecapean, megap-megap jalan nembus hutan. On the site, perannya sangat terbatas, ditambah sebagian besar waktu dia terbaring tak berdaya kena malaria. Penting bagi sebuah film untuk mempertontonkan tokoh utama sebagai seorang yang cakap, or at least mengerti akan pekerjaannya, but yang Kenny Wells lakukan dalam membuat mimpinya jadi nyata hanyalah duduk-duduk, pasang tampang cemas nunggu laporan dari lab ataupun dari berita keuangan dan bicara meledak-ledak lewat telefon. Perjalanannya serasa dipersingkat, dipermudah. Secara struktur, Gold sendiri terasa kayak roller coaster yang naik turunnya berjarak deket banget sehingga by the time babak kesatu berakhir saja kita sudah kelelahan ngeliat Wells jatoh dan naik segitu seringnya. Nyaris tidak ada surprise emosi yang kita rasakan, kita bisa melihat semuanya datang.

Mungkin karena aku seharusnya bekerja di sekitar dunia pertambangan, aku dulu kuliah di teknik geologi, jadi naturally aku merasa relatable. Juga ada sedikit rindu ngeliat apa yang mereka lakukan dengan sampel core dan kegiatan-kegiatan geologi lainnya. Meski begitu I can’t exactly put myself into the characters. Aku kepikiran Mike Acosta, geologis lapangan yang diperankan oleh Edgar Ramirez, lah yang sekiranya bisa jadi tokoh utama yang lebih menarik. Sebagian besar aksi ada di tangannya. Jika dibandingkan dengan Wells yang sering keliatan clueless, Acosta seemingly is a perfect hero figure. Ditambah dengan twist yang disiapkan oleh film, well it’s not exactly a twist since we’ve already now the outcome of the actual event, karakter Acosta menyimpan layer yang lebih banyak. Filmnya sendiri melakukan kerja yang bagus ngebangun tokoh Acosta untuk kemudian disembunyikan ke background cerita. Kita difokuskan kepada drama hidup Wells. Sekitar midpoint, film benar-benar didedikasikan supaya kita bisa merasakan kasian kepada Wells. Porsi romansa dengan Kay yang diperankan oleh heartwarming oleh Bryce Dallas Howard dimaksudkan supaya kita bisa melihat stake yang dihadapi Wells dengan alasan yang sangat manusiawi; Kay bertindak sebagai nurani film, yang tentu saja – by the law of script writingat some point ditelantarkan oleh tokoh utama.

Susah untuk merasakan peduli kepada karakter yang niat mulianya adalah ngumpulin duit sebanyak-banyaknya bahkan jika tokoh tersebut digambarkan mendapatkan banyak tekanan dari pemangsa-pemangsa lain di dunianya. There’s a scene di mana Kenny beneran berhadapan dengan harimau, yang dengan sukses ia’ jinakkan’. Kenny Wells pada akhirnya tetap terlihat sebagai pemangsa kecil di dalam dunia korup yang penuh muslihat.

abis dibelai Kenny Wells nih jangan-jangan

 

“You sell your dream”, Wells berkata lirih soal pihak ketiga yang memintanya menjual tambang di Kalimantan, “What do you have left?” Di sinilah di mana film ini bicara personal kepadaku. Karena, ironisnya, kalimat pertanyaan serupa juga terlintas di pikiranku ketika memutuskan untuk berhenti sebagai geologis dan fokus ke passionku untuk menulis. Oke curhat, tapi poinku adalah film ini BERUSAHA NGEJUAL TOKOH – DAN CERITANYA – SEBAGAI SEBUAH AMBIGU di mana mimpi dan kenyataan, moral dan bisnis, apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang ingin dan rela kita lakukan, adalah hal yang harus dijawab secara pribadi. Namun penceritaannya malah membuat film terasa sebagai sebuah presentasi yang enggak yakin dia berdiri di ground yang mana. Ambiguitasnya tidak terasa menginspirasi. Kita diminta untuk ‘mendukung’ Wells, namun bahkan McConaughey terlihat unsure saat mengekspresikan karakternya. Ada adegan ketika Wells dan istrinya practically drooling over daratan hijau luas yang ingin mereka bangun rumah, dan I just can’t get behind that. I mean, aku gak bisa bayangin ada penonton yang tersentuh syahdu bilang “awww romantisnya mereka mau gundulin padang rumput indah buat dijadiin rumah megah”

kita bikin sumur di ladang biar banyak yang numpang mandi, horeee!!!

 

Sorotan kepada Indonesia banyak kita temukan dalam film ini. Penggunaan bahasa, tentara, sekilas tentang Dayak, pemerintah. Di sini juga ada aktor yang jadi anak Suharto, tapi namanya jadi Danny hahaha. Tapi sekali lagi perasaan gak yakin itu muncul; kelihatannya mereka enggak benar-benar syuting di pedalaman Kalimantan. Lokasinya terlihat agak off, iya sih di hutan itu ada vegetasi lokal kayak pohon pisang dan sebagainya, tapi rasanya enggak kayak di Indonesia.

 

Ini adalah film dengan banyak istilah-istilah, yang dijelaskan cukup menarik. Matthew McConaughey adalah salah satu dari tak-banyak aktor yang mampu nanganin adegan expository sehingga seolah kita mendengarkan dia langsung mata-ke-mata di mana kita enggak berani nguap di depan mukanya. Penampilan para aktor all around dapet dua jempol. Di babak awal kita akan dibawa masuk ke dalam hutan yang terasa basah, berlumpur, dan mengurung, sayangnya film sering ngeshift tone dengan naik-turun pada narasi. Film begitu concern untuk tampil engaging sehingga malah mencuat uninspiring. Dari segi penceritaan, film ini memang terasa agak berhemat dengan menggunakan style yang mirip-mirip The Wolf of Wall Street (2013). Yang tidak terperhitungkan oleh film ini adalah, jika Martin Scorcese saja tidak bisa benar-benar sukses bikin cerita dan tokoh bisnisman semacam ini menjadi compelling, kesempatan apa yang dipunya film ini dengan menitikberatkan bercerita lewat dialog alih-alih lewat visual?
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for GOLD.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

HIDDEN FIGURES Review

“Mathematics is not about numbers, equations, computations, or algorithms; it’s about understanding.”

 

hidden-figures-poster

 

Quick questions!

Ayo sebutkan siapa manusia pertama yang terbang ke luar angkasa? “Yuri Gagarin!”

Siapa orang Amerika pertama yang mengelilingi orbit bumi?John Glenn!!”

Orang pertama yang menjejakkan kaki di bulan adalah?Neil Armstrong!!!”

 

Kita semua pasti tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kita semua pasti pernah baca mengenai tokoh-tokoh bersejarah itu. Everyone talks about them, pria-pria yang paling pertama menjelajah ruang angkasa. Mereka adalah bagian penting dalam sejarah umat manusia. Tapi tahukah kita siapa yang bekerja di belakang sana, ilmuwan-ilmuwan yang membuat segala perjalanan meninggalkan gravitasi itu menjadi mungkin? Fokus kita enggak pernah mengarah kepada scientists yang manjat-manjat tangga nulis di papan itu, padahal mereka juga tak kalah pentingnya, and yea some of them are women. Dan untuk bikin hal lebih mengejutkan lagi, terutama di tahun 1960an yang penuh diskriminasi, ‘komputer-komputer’ di meja NASA tersebut adalah wanita berkulit hitam.

I didn’t really know much about Katherin G. Johnson, Dorothy Vaughan, Mary Jackson, atau beberapa tokoh sejarah lain yang diceritakan dalam film ini. On the other hand, aku selalu tertarik sama astronomi dan luar angkasa, and I kind of like math, jadi space movie yang ada matemnya benar-benar memancing rasa ingin tahuku. Rasanya keren aja, melalui film ini kita bisa belajar lebih banyak tentang para ‘hidden-figure’ yang berjasa di balik peluncuran manusia ke luar angkasa. See, judul filmnya ada udah fun abis. Punya makna yang mendua. Ini adalah tentang angka-angka rumus yang berhasil ditemukan to make the said breakthrough. Dan dalam artian yang lebih dalam lagi, Hidden Figures juga adalah tentang wanita-wanita di balik suksesnya NASA, wanita-wanita yang tersembunyikan oleh status sosial mereka di masa yang masih kental oleh prejudice masalah warna kulit.

Aku actually recognized apa yang ditulisnya… so yea.. NERD! *sorakin rame-rame*
Aku kadang recognized apa yang ditulisnya… so yea.. NERD! *sorakin rame-rame*

 

Dalam film ini tergambarkan bagaimana ketiga wanita yang kerja di NASA tersebut meski termasuk pelopor dalam kerjaan mereka, mereka actually masih harus kerap dealing with prasangka-prasangka publik, yang mana adalah hal lumrah kala itu. Dalam bekerja mereka menemui banyak kesulitan; rekan-rekan kerja yang tidak mengizinkan mereka melakukan kerjaan yang harus mereka lakukan, mereka tidak dikasih izin buat mengakses file-file tertentu. Mereka juga tidak diperkenankan berada pada beberapa lokasi di kantor. Katherine, malahan, harus berlari menempuh jarak yang lumayan jauh cuma buat ke kamar kecil karena kulit hitam ditempatkan di restroom khusus yang terpisah dari pegawai kulit putih. Everything is difficult for them. Hidden Figures adalah tentang seputar karakter-karakter ini navigate lingkungan kerja NASA, memecahkan masalah prejudicenya sembari menemukan formula matematika yang bisa digunakan dalam ‘perlombaan tak-resmi’ antarnegara adi-daya soal pengiriman manusia terbang ke angkasa luar.

Hidup itu kayak matematika. Setelah menambah dan mengurangi, kita akan bisa mendapatkan hasil. Dan lebih penting lagi, hidup, sebagaimana menyelesaikan masalah matematika, membutuhkan pengertian dan pemahaman.

 

Setiap film yang membahas mengenai masalah rasisme selalu cenderung untuk menjadi serius. Kebanyakan akan digarap dengan arahan yang membuat filmnya hanya cocok untuk konsumsi penonton dewasa, you know, dengan kata-kata tak senonoh dan adegan yang overly intense. Padahal sangatlah penting bagi anak-anak muda untuk menonton film dengan pesan yang baik seperti ini. Hidden Figures, untungnya, berani tampil sebagai film yang bisa ditonton bahkan oleh anak kecil. Film ini memastikan pesannya mengenai kesetaraan manusia tanpa mengenal perbedaan ras dapat mencapai dan accessible kepada seluruh lapisan masyarakat. Film ini tidak takut dianggap terlalu jinak atau terlalu family-friendly sehingga jatoh di pasaran. And guess what? Film ini justru tampil really well di box office luar, actually termasuk yang dapat penjualan paling baik di antara nominasi Best Picture Oscar 2017 yang lain. Hidden Figures adalah FEEL GOOD-MOVIE YANG DILAKUKAN DENGAN CARA YANG TEPAT. What you see is what you get, pesannya terhampar jelas.

Terkadang memang film ini terasa sedikit teatrikal, elemen stick-it-to-the-man benar-benar ditonjolkan. Namun tidak pernah menjadi terlalu oversentimentil. Maksudnya, kita tidak dimanjakan, filmnya tidak sekonyong-konyong nyuruh kita puas dengan menyajikan adegan-adegan di mana orang ‘jahat’ mendapat balasan setimpal. This is a feel-good movie, akan tetapi film ini berhasil ngemanage sehingga dirinya doesn’t get too unrealistic. Ada beberapa adegan di mana kita bakal pengen melihat tokoh-tokoh tertentu eventually really get what’s coming to them, dalam batasan yang masih wajar dan enggak lebay. Ini adalah jenis film di mana kita akan melihat tokohnya mencoba menggapai tujuan mereka, dengan cara mereka menghadapi tantangan, tidak peduli rintangan or everything else around them, dan menggunakan kemampuan mereka — dalam hal ini kepintaran otak kiri dan kanan yang seimbang – semaksimal mungkin. Ada satu adegan hebat dan sangat emosional dalam film ini, di mana Katherine akhirnya ngerasa ‘sudah cukup’ dan dia menyuarakan semuanya harus disudahi. Adegan tersebut punya flow yang really well. Membuktikan bahwa semua teknis storytelling; arahan, akting, dan penulisan bekerja dengan sangat mulus.

“ABC is easy as 123” Well, it should be, right?
“ABC is easy as 123” Well, it should be. Right..?

 

Cukup langka melihat karakter-karakter seperti yang dimiliki oleh Hidden Figures dalam tayangan yang berdasarkan kisah nyata. Performances mereka pun teramat fantastis secara merata. Taraji P. Henson is very good memainkan Katherine, mathematician yang berpikir rasional di tengah keadaannya, she wants to get the job done because she loves what she does, dan dia menambah berkali lipat emosi pada karakternya. Sebagai Dorothy Vaughan ada Octavia Spencer yang selalu bermain amazing, perannya di film ngingetin aku sama perannya dalam film The Help (2011). Aku suka sekali reaksinya saat anak-anaknya diusir dari perpustakaan. Peran Mary Jackson oleh Janelle Monae juga punya obstacle sendiri dalam usahanya menjadi black female engineer pertama. Kita merasakan koneksi kepada orang-orang ini. Kita ngerasain struggle mereka, bahwa mereka bukan tokoh pasif. Kita ngecheer aksi ‘perlawanan’ mereka. Kita mulai menjadi begitu peduli sama mereka, sehingga kita jadi ingin nonjok muka tokohnya Jim Parsons.

Angin segar adalah kenyataan bahwa film ini tidak diarahkan menjadi cerita serius dengan some political agenda. In the end, ini adalah tentang gimana menghilangkan prejudice, gimana untuk tidak menjadi rasis, karena yang terpenting adalah mewujudkan keinginan bersama.

Karakter yang dimainkan oleh Kevin Costner bilang “Everybody in NASA pees the same color.” Itu adalah momen yang sangat keren menyaksikan orang yang punya mindset spesifik tentang gimana mereka memandang orang lain. Baginya it’s all about finishing the job dan semuanya harus work around prasangka rasis. Malahan ada tokoh seperti astronot John Glenn yang dimainkan asik oleh Glenn Powell, yang just don’t even recognized ada perbedaan di antara barisan mereka. Dia justru mempercayakan keberangkatannya kepada wanita-wanita ini.

Being a story yang mau memperkenalkan ketiga wanita berjasa tersebut, cerita Hidden Figures sayangnya tidak hanya mengambil tempat di kantor NASA (yang terdepict compelling dengan segala kesibukannya). Kenapa aku bilang ‘sayangnya’ karena actually film akan membawa kita pulang ke rumah tokoh masing-masing untuk melihat kehidupan mereka bersama keluarga. Di sinilah elemen romance film ini pasang-sabuk-dan-meluncur, namun I didn’t feel that. Romansa film ini tidak terflesh out dengan baik, tak lebih hanya sebagai subplot supaya membuat kita semakin terhanyut ke dalam the feel-good momen. Diniatkan, romansanya sweet banget. Harapnya, sih, ada spark antara Katherine dengan Kolonel Johnson yang diperankan dengan sangat charming oleh Mahershala Ali, namun enggak pernah aku terattach ke dalam hubungan mereka. Elemen drama cinta ini tidak menambah banyak bobot kepada keseluruhan cerita. Film ini menyadari itu, makanya dengan bijak kita dibawa sesegera mungkin kembali ke lingkungan NASA. Sisi dramatis film ini sesungguhnya memang terletak di perjuangan Katherine dan teman-temannya dalam menemukan terobosan dalam aerospace engineering.

 

 

 

Yang suka film-film historical science bakalan jatuh cinta sama film ini. Setelah membaca tentang sejarah mereka lebih lanjut, sepertinya memang film ini secara sejarah lumayan akurat untuk sebagian besar waktu. Dalam usahanya menyampaikan pesan kesetaraan dan tidak membeda-bedakan demi kepentingan yang lebih utama, film ini mengambil langkah berani, take-off dengan menjadi family friendly alih-alih film yang menunjukkan keseriusan dengan serentetan kata vulgar dan adegan ‘keras’. Tentu, drawbacknya adalah film ini jadi menjurus ke teatrikal, namun it holds on the tension dan intensitas very well.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for HIDDEN FIGURES.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

SILENCE Review

“… the sudden silence was the Voice of God.”

 

silencecx3zloiucaedlkj-jpg-large

 

Tidak ada yang bersuara ketika tiga penduduk desa yang tertuduh sebagai pemeluk katolik, disalib di atas karang yang digempur keras oleh ombak. Warga yang lain menatap dari balik ujung tombak pasukan Jepang yang berbaris, sama diamnya. Begitu juga Father Rodrigues dan Father Gorupe yang menyaksikan semua penyiksaan dari balik rimbunan semak. Bungkam oleh ketakutan, segala aksi dan rasa tersenyap. Kecuali satu yang berdering keras di dalam hati masing-masing, terutama di dalam jiwa yang dilatih putih suci Father Rodrigues; Keraguan. Benarkah Tuhan akan meringankan derita mereka, atau apakah siksaan mereka sia-sia belaka? Apakah mereka suffer atas nama Tuhan yang mereka yakini atau tiga orang Jepang Kristen itu sesungguhnya sedang mengorbankan diri mereka demi keselamatan dirinya dan Gorupe?

Silence, didirect oleh salah seorang sutradara terbaik yang hidupnya masih terus didedikasikan untuk membuat film klasik yang fantastis hingga sekarang, akan membawa kita on middle ground ke Jepang jaman feudal, tepat di tengah-tengah perang agama. Pengikut ajaran Kristen diburu. Para Father ditangkap, disiksa, hingga tidak ada lagi pilihan selain menanggalkan keimanan mereka. Father Rodrigues dan Father Gorupe datang dari Portugis karena mereka mendapat kabar tentang guru mereka, Father Ferreira, tertangkap penguasa di Nagasaki. Mereka mendengar simpang siur; apakah benar Ferreira sudah denounced his Christianity atau apakah dia masih hidup at all. Dalam film ini kita akan mengikuti kedua Jesuit muda tersebut mencari keberadaan guru mereka sembari berusaha menolong sebanyak mungkin penduduk Jepang yang menganut Kristen di bawah tekanan dan siksaan yang berat. This is a VERY STAGGERING FILM. Kita akan struggle banget menontonnya. It is so difficult. Bukan karena film ini cukup sadis secara fisik. Juga bukan karena film ini durasinya panjang banget. Tetapi karena film ini akan menyayat-nyayat hati kita secara emosional.

Menelaah dengan sangat kuat soal krisis keimanan yang dialami oleh seseorang. Apa yang orang lakukan ketika kepercayaan dan keimanannya mendapat cobaan yang mahadahsyat. Meskipun mungkin bukan pemeluk agama yang diceritakan, kita semua bisa put aside our personal belief selama dua jam setengah lebih untuk menikmati filmmakingnya. Kita semua bisa merelasikan diri kepada film ini dalam tingkatan bahwa ini adalah cerita tentang orang-orang yang mengimani apa yang yang mereka yakin, that mereka memeluknya dengan teguh, tidak akan membiarkan apapun yang menghalangi mereka dari yang mereka percaya tersebut.

Beneran deh, it’s emotionally gutting melihat orang-orang tercabik dari faithnya seperti yang digambarkan oleh film ini. Father Rodrigues, awalnya kita melihat dia sebagai seseorang yang sangat kuat-iman. He has the upmost faith you could possibly have in God. Dan begitu film berakhir, kita sudah menyaksikan tokoh ini terjun sampai ke dasar paling bawah secara emosi. Dihadapkan pada pernyataan agama yang ia bawa, kebenaran yang ia ajarkan, tidak cocok untuk diterapkan pada ranah ‘rawa’ Jepang. Namun Rodrigues tidak bisa menerima pernyataan tersebut karena if he accepts that statement, itu berarti dia mengakui kebenaran yang ia bawa bukanlah kebenaran bagi semua orang seperti yang selama ini dia imani. Itu berarti dia meragukan agamanya sendiri.

Ini adalah CERITA YANG SANGAT KOMPLEKS bagi kedua belah pihak; Rodrigues dan Jepang. It’s not like Jepang tidak punya toleransi sama sekali, as in kekerasan dan siksa itu datang dari mereka. Mereka brutally violated penduduk agar mau meludahi salib dan menginjak gambar Tuhan mereka sebagai bentuk denouncing faith di muka publik. Adalah aksi converting yang dianggap berbahaya oleh pemerintah Jepang. They just want to show their pride and love kepada faith mereka. Bahwa gara-gara kepercayaan asinglah mereka sesama saudara tanah air menjadi terpecah belah.

talk about penistaan agama huh
talk about penistaan agama huh

 

Toleransi, ya, bisa jadi jawaban. Tapi sekarang kata tersebut sudah mengalami penurunan arti, digunain begitu saja agar sama-sama senang. Toleransi bukan berarti “apa salahnya ngikutin apa yang dilakukan orang lain”. Kita bisa ikut merayakan hari kebesaran agama lain as along as hati kita tetap beriman kepada agama sendiri, but that is a weakest form of faith. Mungkin tidak banyak yang suka film ini karena membuat diri kita merasa seperti Kichijiro, while tokoh ini easily come off sebagai pengecut yang cari aman. Open minded, bertoleransi, dan punya keyakinan adalah seperti Father Ferreira. Persisnya seperti apa? Go figure out yourself

 

Tidak seperti Sausage Party (2016) yang merupakan satir soal kepercayaan, Silence dengan a lot of respect kepada penonton, mengambil jarak secukupnya. It doesn’t judge, and tidak menggiring kita untuk melakukannya. Yang Silence lakukan adalah menghujani kita – yang terpatri oleh cerita – dengan batu-batu pertanyaan. Kita bakal mengalami sensasi krisis tanpa diberikan pencerahan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita akan melihat hamba Tuhan diuji. Kita akan melihat ia menderita for his belief, for things he treasured the most. Dan di titik inilah Silence berbicara banyak. Apakah iman kita tidak berarti apa-apa jika kita tidak diuji – apakah hidup kita meaningless jika kita tidak pernah menderita karena sesuatu yang kita percaya atau cintai? Dan tentu saja, arti mendalam tentang kata ‘silence’ itu sendiri; apakah absennya tindakan kita atau absennya Tuhan? Atau, diam karena kita sedang berdialog dengan Tuhan. Ada beberapa adegan yang menggambarkan Rodrigues dalam diamnya bicara dengan suara Tuhan. Yang membuat kita bertanya-tanya apakah diam hanya arogansi Rodrigues belaka? Secara konstan dia ‘membandingkan’ kondisinya dengan Tuhan, sementara orang-orang desa yang disiksa hingga mati tidak pernah meminta ‘dibandingkan’ dengan juru selamat.

Meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.

 

Martin Scorsese mengarahkan film ini dengan sungguh luar biasa. Bekerja sama dengan sinematografer yang ngegarap The Wolf of Wall Street (2013), Scorsese memastikan apa yang ditangkap lensa semuanya gorgeous. Kalian akan suka mencermati film ini jika punya rasa penasaran gimana setiap adegan disyut. Yang paling remarkable dari pengambilan gambarnya adalah gimana mereka sebagian besar waktu bekerja pada environment yang tertutup. Adegan film ini kebanyakan berlokasi di pondok kecil yang gelap, di daerah hutan yang terpencil, atau di sel penahanan. Tidak pernah Scorsese salah langkah dalam menjalin cerita. Sudut pandang penceritaan benar-benar dihadirkan compelling dan sangat intens. Kita dibuatnya bereaksi dan merasakan yang dialami oleh seseorang yang dealing with an extreme crisis of faith.

This movie brought to life by many fantastic performances. Adam Driver sebagai Father Gorupe dan Andrew Garfield sebagai Father Rodrigues menyuguhkan penampilan yang amazing. Dalam tahun yang penuh oleh penampilan yang sangat baik, Andrew Garfield kembali bersinar dalam film ini, dan sekali lagi sebagai seorang yang taat beragama. Yea, walaupun dia enggak selalu taat sama aksen portugis yang supposedly dimiliki oleh tokohnya. Liam Neeson, yang bermain sebagai supporting role, was also very very good. Dan tokoh yang ia perankan teramat kompleks.

Spiderman dan Kylo Ren lagi nyari Qui-Gon Jinn
Spiderman dan Kylo Ren lagi nyari Qui-Gon Jinn

 

 

Staggering film yang menantang bukan hanya keimanan dan kepercayaan, tetapi juga menantang intelektualitas penonton. Bikin frustasi at times, gutting our emotion completely, it is a really complex movie. Tidak heran jika banyak orang yang ngerasa hard to come by apa yang disampaikan oleh film ini, thus membuatnya susah untuk disukai. Personally, aku heran juga kenapa film ini enggak masuk nominasi Best Picture Oscar 2017. Setelah menontonnya, aku jadi kebayang sedikit alasannya kenapa. Sesungguhnya, film yang luar bisa unconventional ini adalah jenis film yang mesti ditonton dan disupport oleh orang-orang yang benar menyintai film. Karena di atas itu semua, ini adalah filmmaking yang sangat remarkable; arahan luar biasa, akting fantastis, beautifully shot – salah satu film tercantik Scorsese, penulisan yang begitu cakap, editing yang perfect.
The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for SILENCE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.