ALONE Review

“The coward does not know what it means to be alone…”

 

 

 

Menyendiri kadang memang perlu. Karena sesekali kita memang perlu untuk dapat ruang untuk menenangkan diri. Untuk menghimpun kembali diri kita yang mungkin sudah berkeping-keping didera stress dan masalah. Pun tidaklah egois jika kita merasa butuh untuk menjauh dari kebisingan sosial dan hiruk pikuk drama. Memisahkan diri dari keluarga atau teman-teman sementara. Dan certainly, ‘ngilang’ seperti demikian bukanlah perbuatan pengecut. Kalian yang belum mengerti kenapa, bisa menemukan jawabannya dengan menonton thriller kucing-kucingan karya John Hyams yang berjudul Alone ini.

Dibagi menjadi lima chapter, Alone memperlihatkan perjalanan yang berubah menjadi petaka bagi seorang wanita bernama Jessica. Sepeninggal sang suami, Jessica menemukan hidupnya dalam keadaan yang sulit, sehingga dia bermaksud untuk pindah rumah. Meninggalkan kehidupannya yang lama. Jessica bahkan sengaja tidak memberitahu ibu dan ayahnya di rumah. Dia benar-benar butuh waktu dan tempat untuk sendiri. Jalanan yang panjang dan sepi itu pun kemudian ditempuhnya. ‘Teror’ yang dialami Jessica awalnya cuma telfon dari orangtua yang mencari dirinya. Namun hal berkelok menjadi semakin mengerikan tatkala janda ini dibuntuti oleh pria sok-akrab dengan mobil hitamnya.

Bayangkan Ned Flanders, with more straight-up creep and less  -ookily dookily

 

 

Tiga puluh menit pertama, saat masih di chapter ‘The Road’, cerita seperti sebuah thriller psikologis. Dan itu seru sekali, I really enjoyed it. Alone punya naskah yang sangat bijak untuk tidak membeberkan seluruhnya sejak awal (bahkan hingga film berakhir masih banyak backstory yang dibiarkan terungkap tak lebih banyak daripada seperlunya). Jadi di awal itu ada berbagai lapisan misteri yang terasa oleh penonton. Kita masih figure out apa yang terjadi dan siapa si Jessica. Kita juga harus menelisik benarkah si Pria itu orang jahat dan pertemuan-pertemuan mereka murni kebetulan dan semuanya hanyalah kecurigaan Jessica semata. Tapi makin berlanjut, perihal niat dan kelakukan si Pria semakin obvious, dan di sinilah kepiawaian cerita mulai tampil. Ada build up tensi yang benar-benar terasa. Mengalun merayap di balik cerita sehingga kita seolah berada di kursi depan di sebelah Jessica.

Jessicanya juga ditulis bukan seperti karakter korban pada umumnya. Wanita ini boleh aja terlihat curigaan, tapi dia curiga-dan-pintar. Sikapnya ini berhasil mempengaruhi kita sehingga kita benar-benar peduli. Tensi pada film ini bukan terjadi karena sesimpel karakter cewek yang diburu oleh cowok – mangsa lemah melawan pemburu yang lebih kuat. Film berhasil mengeluarkan diri dari perangkap gender tersebut. Ketika ketegangan cerita seperti distarter ulang saat kita masuk ke chapter berikutnya – Jessica dikurung di ruang bawah tanah kabin di tengah hutan – kupikir cerita berubah dangkal dengan menjelma menjadi semacam horor siksaan yang mengeksploitasi kekerasan ataupun seksualitas. Ternyata tidak. Momen tersebut justru digunakan film untuk memperkenalkan dua karakter ini secara lebih fokus kepada kita, dengan tetap menyimpan beberapa hal. Di sinilah kita mendapat penyadaran bahwa kedua tokoh ini punya kesamaan, sekaligus perbedaan pandang dari kesamaan tersebut. Di sini jualah kita akan mendapat momen paling mengerikan dari si Pria. Momen yang adegannya dirancang sedemikian rupa sehingga seperti gabungan menakutkan dari sebuah eksposisi dan eksplorasi karakter.

Tema berulang yang dapat kita jumpai, entah itu disebutkan lewat ucapan tokoh ataupun tersirat di balik aksi buru-memburu, adalah soal cowardice. Sifat kepengecutan. Setidaknya ada tiga peristiwa yang bisa terlingkup ke dalam konteks ‘pengecut’ yang dapat kita lihat sepanjang film ini. Jessica yang menghindari – tidak mengangkat – telfon ibunya. Pria yang bohong sedang liburan di hotel kepada istri dan anaknya di telefon. Dan suami Jessica yang memilih mati bunuh diri. Tiga tindakan ini dilakukan oleh para tokoh, dan mereka memerlukan kesendirian untuk melakukannya. Tapi kesendirian itu sendiri bukanlah bentuk sebuah kepengecutan. Inilah yang diargumentasikan oleh film lewat para karakter. Pria yang mencerca suami Jessica sebagai seorang pengecut, padahal si Pria itu sendiri memakai kedok dan memilih untuk sendiri supaya bisa melampiaskan perangai dirinya yang asli. Sedangkan Jessica, sebagai tokoh utama, dia berada di antara keduanya. Boleh jadi dia memang menghindar karena takut menghadapi drama dengan orangtuanya, namun pada akhirnya lewat perjuangan berdarah-darah yang dihadapinya sendiri sepanjang cerita ini, kita bisa melihat – dan Jessica herself akhirnya menyadari – bahwa dia adalah seorang yang pemberani. Seorang penyintas.

Memilih untuk menyendiri bukan lantas berarti kita adalah seorang pengecut. Malah sebaliknya. Pengecut justru adalah seseorang yang tidak mengerti makna dari kesendirian. Orang-orang paling berani pasti pernah memilih untuk sendirian, dan mereka menjadi lebih baik setelah pengalaman saat sendiri tersebut.

 

 

Film lantas mulai terasa klise ketika panggung kejar-kejaran bergeser ke hutan. Cerita memasukkan satu karakter lagi untuk menambah dramatis ke trik thriller, tetapi tidak ada yang spesial di sini. Melainkan hanya karakter baik, tipikal, yang ujung-ujungnya kita semua tahu bakal mati. Alone bekerja terbaik saat dua karakter protagonis dan antagonisnya ‘berduel’ sendirian tanpa harus dicampuri oleh karakter lain. Puncak ketegangan tertinggi buatku adalah saat Jessica kabur, dan setelah ketemu tokoh satu lagi ini, film tidak berhasil mencapai ketinggian yang sama lagi bahkan dengan konfrontasi terakhir yang ditarik dari dalam mobil hingga ke lapangan penuh lumpur itu.

Robert menunjukkan bahwa di tangan orang baik, senjata tidaklah berguna

 

 

Yang ada malah seperti film mulai mengincar ke arah yang over-the-top. Demi kepentingan circle-back ke momen awal, film membuat Jessica malah menelpon istri Pria ketimbang menelepon polisi begitu berhasil mendapatkan handphone. Kinda silly kalo dipikir-pikir. Misalnya lagi; dialog Pria kepada hutan, meneriakkan kata-kata provokasi ke Jessica, terdengar tidak demikian mengancam. Padahal penampilan akting di sini sudah cukup meyakinkan. Baik Jules Willcox yang jadi Jessica maupun Marc Menchaca yang jadi si Pria bermain sesuai dengan standar horor dengan genre seperti ini. Range di antara ketakutan, bingung, kesakitan, dan marah – dan kedua aktor ini delivered. Masalahnya terletak di arahan; taktik build up tarik ulur yang konsisten diterapkan tersebut saat mendekati akhir tidak menemukan pijakan yang klop terhadap arah over-the-top. Sehingga film jadi terasa gak lagi nyampe, atau pay-off nya tidak seperti yang diancang-ancangkan. Misalnya di dialog malam tadi, Pria meletakkan senjata ke tanah. Kamera fokus ke mata Jessica yang mengintip dan tampak mengincar senjata. Namun tidak ada kelanjutan terhadap build up tersebut.

Begitupun dengan chapter-chapter yang ada. Pembagian cerita yang muncul setiap kali panggung berpindah (The Road saat di jalanan, The River saat di sungai, dsb) semakin ke ujung semakin terasa kurang signifikan. Melainkan kepentingannya hanya seperti nunjukin nama tempat aja. Film kurang berhasil menghujamkan bobot chapter ke struktur cerita secara keseluruhan. Jika memang ada makna paralel tersembunyi, gaungnya jadi kecil karena fokus yang sudah membesar menjadi over. Buatku pilihan ini aneh aja. It’s either filmnya gak konsisten atau filmnya gak tahu aja cara yang tepat untuk menonjolkan diri. Karena film ini sedari awal tampak seperti sengaja gak menonjol. Judulnya aja udah generik sekali. Kalo kita cek Google, dalam sepuluh tahun terakhir setidaknya sudah ada lima film selain ini yang berjudul Alone. Tahun 2020 ini aja ada dua film Alone. Tapi kemudian isi filmnya sendiri tampak pengen beda dengan struktur chapter, konfrontasi tokoh, dan sebagainya. Hanya saja, gak semuanya yang punya pay off yang gede dan tak terasa over-the-top.

 

 

Aku suka paruh awal film ini. Sensasi ngeri saat sendiri di jalanan itu berhasil banget tersampaikan. Penampilan akting dua tokohnya tidak ternodai oleh karakter yang bego. Aku hanya enggak cocok dengan pilihan-pilihan berikutanya yang dilakukan oleh film. Yang tampak seperti geliat untuk keluar dari sesuatu yang generic tapi tidak berhasil. Over-the-top yang dihasilkan jadi terasa awkward. Film ini masih seru untuk dimasukkan ke daftar tontonan pengisi Halloween nanti. Tapi jika kalian mengincar sesuatu yang lebih unik, maka film ini bakal terasa biasa-biasa aja. Jangan khawatir. Kalian gak sendirian soal itu.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ALONE

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana kalian memaknai kesendirian? Pernahkah kalian menghilang dari semua orang beberapa waktu untuk menenangkan diri atau semacamnya?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

EXTRA ORDINARY Review

“A life spent making mistakes is not only more honorable, but more useful than a life spent doing nothing.”
 

 
 
Extra Ordinary sungguhlah berada di luar kebiasaan horor-horor komedi yang lumrah kita temukan. Karena dunia cerita yang absurd itu alih-alih dibalut oleh kekonyolan lebay dari karakter-karakter yang berurusan dengan setan, malah dibalut oleh hati yang cukup hangat sehingga menonton ini bukan saja kita lepas tertawa. Melainkan juga kita seperti telah melepaskan beban yang menggelayut, yang membuat selama ini kita belum menjalani hidup yang sebenar-benar hidup.
Tokoh utama film ini aja sudah begitu unik. Cewek jomblo. Seorang instruktur latihan nyetir mobil. Rose namanya (Maeve Higgins memerankan sekaligus turut ambil bagian dalam menulis skenario). Dia berusaha keras membuat hidupnya tampak biasa-biasa saja. Lambaian ranting pohon dan anggukan steker toaster di pinggir jalan itu, dia cuekin. Hantu-hantu di jalanan itu, dia pura-pura tak lihat. Pesan-pesan yang masuk di hp-nya, yang pada minta tolong diusirin hantu itu, dia tak gubris. Jika setiap orang dilahirkan punya bakat, maka bakat (bukan terpendam, melainkan dipendam) Rose adalah bisa bicara dengan hantu. Bakat yang tak pelak menurun dari sang ayah; paranormal lokal yang videonya menyambut kita di adegan pembuka. Ayahnya itulah yang menjadi penyebab kenapa Rose kini tidak mau lagi menggunakan bakatnya untuk membantu orang. Sampai wanita ini bertemu dengan Martin (Barry Ward bakal nunjukin kefleksibelan aktingnya di sini), duda yang masih hidup bersama hantu istrinya. Rose tak punya jalan lain, selain bekerja sama dengan Martin berkeliling kota mengumpulkan ectoplasma hantu. Untuk menyelamatkan gadis remaja Martin yang dikutuk menjadi tumbal ritual setan oleh seorang rocker yang ingin kembali terkenal. Di balik absurdnya petualangan mereka, resiko besar membayangi Rose. Salah-salah, dia bisa kembali kehilangan orang terkasih karena bakatnya sendiri.

Beginilah cara menggarap horor komedi eksorsis dengan tokoh utama cewek!

 
 
Horor komedi memanglah genre yang gampang-gampang susah untuk digarap. Pesona dari genre ini tentulah berasal dari sesuatu yang menakutkan dipandang sebagai hal yang mengundang tawa. Dilihat dari situ, fungsi genre ini jadi seperti untuk menenangkan ketakutan kita itu sendiri. Dengan menertawakannya. Prinsipnya tak jauh dari komedi secara umum, yakni adalah jika kita sudah legowo untuk menganggap lucu sebuah kejadian atau tragedi atau diri kita sendiri, berarti kita sudah siap untuk menghadapi kejadian itu. Dalam ranah horor komedi, tentu saja ‘kejadian’ itu adalah sesuatu yang kita takuti. Dan sutradara Mike Ahern dan Enda Loughman paham; yang kita takuti itu enggak mesti hantu ataupun setan. Film ini berani untuk menarik lebih ke belakang lagi, ke sumber ketakutan di balik hantu dan setan tersebut.
Komedi yang dicuatkan di film ini bukan datang dari reaksi orang-orang yang ketakutan. Tidak akan kita jumpai adegan jumpscare konyol di sini. Tidak ada adegan orang kaget terus latah dan bilang “Wah elo ngagetin aja!”, “Kok elo? Gue nih yang kaget!!” ataupun adegan seperti karakter sompral padahal di belakangnya ada setan, dan lantas si karakter berbalik dan kaget sekonyol-konyolnya ngeliat ada setan di sana. Justru sebaliknya. Extra Ordinary ngebanyol dengan reaksi karakter-karakter seperti Rose dan Martin yang menganggap hantu itu biasa-biasa saja. Para hantu yang malah digambarkan konyol, namun tidak pernah terkesan lebay berkat timing komedi dari penulisan, arahan, dan editing film. Interaksi Martin dengan hantu istrinya merupakan salah satu yang paling sering bikin aku ngakak. Dalam salah satu adegan terlucu lain diperlihatkan saking biasanya ngeliat makhluk gaib, Rose jadi salah mengira nenek-nenek sebagai hantu, dan minta maaf kepada si nenek. Extra Ordinary juga tak berpaling dari humor-humor vulgar ataupun humor ‘sadis’. Ketika tiba giliran memperlihatkan kelakuan antagonis, lelucon film bisa berubah menjadi dark comedy. Dengan percikan darah. Film punya cara tersendiri dalam menampilkan kejahatan manusia. Diperlihatkan kepada kita range kejahatan itu, mulai dari pelet dan jampi-jampi ala voodoo, hingga ke tindakan sesederhana memanipulasi food online supaya dapat makanan gratis. Masing-masing ‘trik dan komedi’ film ini berhasil untuk membuat kita tersenyum geli.
Tidak ada yang hantu di kota ini… kan?

 
 
Dramatic premise cerita film ini sebenarnya enggak unik-unik amat. Kita sudah cukup sering menemukan cerita tentang seorang berbakat atau punya kekuatan yang enggan menggunakan bakat atau kekuatannya tersebut. Yang solusinya tentu saja si tokoh harus belajar berdamai dengan penyebab keengganan tersebut alias berdamai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu. Dunia horor yang lantas jadi humor, serta pendekatan romance yang tak-biasanya lah yang membuat film ini luar biasa. Adegan-adegan pengusiran setan selalu dilakukan dengan berlapis gagasan mengenai cinta dan berdamai ama masa lalu sebagai bentuk melawan ‘demon’ diri sendiri. Konflik personal Rose dibeberkan lewat alur bolak-balik dengan dibingkai ke dalam video lama acara milik sang ayah sehingga eksposisi atau bahkan malah ejaan gagasan yang dilakukan oleh film tidak kentara. Kita tidak merasa diceramahi ketika membaca ‘Apakah Hantu Punya Perasaan?” yang terpampang di layar. Tapi kita bisa menangkap kepentingan dari judul video tersebut, dan hubungannya dengan perkembangan karakter Rose itu sendiri. Dan pada akhirnya Rose harus menerima ke-extraordinary-annya. Bukan hanya soal Talent, melainkan juga soal cara dia menjalani hidupnya.

Entah sudah berapa kali mungkin kita mendengar bahwa hidup normal itu membosankan. Anjuran untuk mengisi hidup yang biasa-biasa saja dengan hal-hal yang luar biasa. Yang penuh petualangan. Yang, kalo perlu, melanggar batas. Film ini pun berkata demikian. Malah lebih lanjut, film ini memberi sugesti kepada kita untuk tidak perlu takut kehilangan atau bikin kesalahan. Karena darisanalah kita belajar. Hidup demikian lebih baik ketimbang hidup tanpa melakukan atau mencoba apa-apa.

 
Penyelesaian film ini juga meng-subvert pakem genre horror, mirip seperti yang dilakukan oleh The Babysitter: Killer Queen (2020). Hebatnya, Extra Ordinary jadi lebih beralasan untuk membuat solusi yang seperti itu karena sesuai dengan gagasan yang diusungnya, yakni perihal menjalani hidup dengan lebih ‘luarbiasa’. Gagasannya adalah Rose selama ini hidup biasa-biasa aja dan katakanlah, membosankan. Rose benar-benar menjauhi semua yang luar biasa. Film menyimbolkan hal tersebut dengan keperawanan. Menarik bagaimana horor modern tidak lagi memandang keperawanan sebagai suatu kemurnian yang harus dijaga. Yang kini ditampilkan adalah keperawanan itu justru jadi inceran setan, dan orang-orang yang masih murni seperti Rose dianggap menjalani hidup yang membosankan.
 
 
Penggemar British-Komedi niscaya tidak akan melewatkan film ini. Kekuatan utamanya terletak pada cara bercerita dan dalam mengolah hal-hal lumrah menjadi sesuatu yang entah itu menantang atau membuat kita tergelak lalu memikirkan candaan tersebut. Dunianya sendiri terbangun dengan begitu kuat, dengan karakter-karakter yang menarik. Menampilkan tokoh antagonis kadang terasa seperti pilihan yang dilakukan hanya untuk membuat film ini lebih konyol lagi, sesuai dengan genrenya. Sebab film ini sudah luar biasa menarik hanya dengan menampilkan drama romance unik antara Rose dengan Martin yang masih belum bisa move on dari mendiang istrinya. Film memilih untuk menampilkan banyak, dan tetap tidak terbata dalam merangkum semuanya. Ia menunjukkan bahwa sajian receh pun masih bisa jadi enak untuk diikuti dengan tetap hormat pada penulisan dan karakter.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for EXTRA ORDINARY

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian setuju bahwa hidup harus dijalani dengan ‘luar biasa’?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ANTEBELLUM Review

“The more things change the more they stay the same”
 

 
Sinopsis resminya (bisa dilihat di IMDB) menyebutkan bahwa Antebellum ini adalah cerita tentang “Veronica Henley, seorang penulis ternama, mendapati dirinya terjebak dalam kenyataan mengerikan yang memaksanya untuk menghadapi masa lalu, sekarang, dan masa depan – sebelum semuanya terlambat.” Supaya makin seru, aku mau memperinci sedikit bahwa Veronica si penulis itu sepulang dari kumpul cantik bersama sahabat mendapati dirinya terbangun di sebuah perkebunan, berisi prajurit kulit putih yang membentak-bentak, memanggil dirinya dengan nama Edan dan memaksanya bersama sejumlah ras kulit hitam lain untuk memetik kapas di ladang. Mereka tak segan berbuat kasar dan tak berprikemanusiaan. Veronica ternyata menghidupi kembali hal yang ia pertentangkan di bukunya; yakni perbudakan jaman dahulu. Dan dia harus segera memikirkan cara keluar dari masa lalu mengerikan tersebut dan kembali ke masa modern.
Pertanyaan terbesar yang hadir berkenaan dengan menonton film ini adalah bukan apa yang sebenarnya terjadi kepada Veronica. Melainkan bagaimana bisa film ini segagal itu dalam menjelmakan sinopsis yang sederhana-tapi-menarik itu menjadi satu tubuh cerita yang enak untuk diikuti. Karena Antebellum jelas-jelas bukan cerita sederhana-tapi-menarik. Arahan sutradara Gerard Bush dan Christopher Renz mengincar kepada twist alias kecohan. Membuat cerita ini menjadi ribet dan alih-alih membuat kita terpesona pada kecerdasan pengungkapan, Antebellum ini malah membuat kita mencak-mencak sambil geleng-geleng kepala.

ente udah ngerti bellum?

 
Struktur narasinya diacak sedemikian rupa sehingga, saat menonton ini tuh kita rasanya gatel untuk mengembalikan keping-keping itu ke susunan yang sepatutnya. Antebellum tampak ingin meneladani karya-karya M. Night Shyamalan, atau setidaknya pengen jadi sepinter ‘kakak-kakak’ seprodusernya; Get Out dan Us. Yang memjadikan ‘kejutan besar’ sebagai senjata utama. Hanya saja, film ini lupa untuk dapat membuat kejutan tadi benar-benar berarti. Supaya twist dapat berefek dan membuat penonton terheran-heran kagum, kuncinya bukan pada twist itu sendiri. Melainkan pada cara menghantarkannya. Begini, bayangkan sebuah jalan aspal. Tikungan yang bikin kita surprise adalah tikungan yang muncul ‘tiba-tiba’. Dan ‘tiba-tiba’ itu bukan seberapa ngelingker atau seberapa tajam si tikungan. Melainkan bagaimana kondisi jalan itu sebelum sampai ke tikungan; misalnya jalanan yang panjang dan lurus lalu tiba-tiba ia berkelok. Jalanan yang lurus nan panjang itulah yang ‘menipu’ kita. ‘Jalanan lurus nan panjang’ itulah yang justru tidak dipunya oleh Antebellum.
Karena sedari awal, film ini sudah berkelok. Babak pertama cerita mengambil panggung saat Janelle Monae sudah sebagai Eden. Dalam artian, cerita bermula di perkebunan tempat para white supremacist mengazab manusia yang berkulit berbeda dari mereka. Dengan segala bukti visual yang diperlihatkan, kita yang nonton diarahkan untuk menyangka cerita ini berada di masa lalu. Kekerasan dan kerasisan parah itu membangun kita untuk mulai terinvest sama karakter-karakter seperti Eden, atau ke seorang pria yang pasangannya ditembak di sekuen pembuka, atau ke seorang wanita yang tengah mengandung. Tiga-puluh menit kemudian, ketika kita sudah siap untuk sekuen ‘first try’ alias ketika stake mulai meningkat, kita penasaran langkah apa yang dilakukan Eden untuk bertahan satu hari penyiksaan berikutnya, cerita melompat. Pindah periode ketika Janelle Monae kini dipanggil Veronica – sesuai dengan sinopsis. Kita lalu melihat set up lagi; kali ini set up di kehidupan modern dengan hotel dan handphone dan uber; jauh dari kereta kuda dan kebun terbuka di babak pertama. Jadi film membuat kita seperti merasakan babak pertama dua kali dengan set up seperti begini. Tensi cerita lepas dan tergantikan oleh kebingungan. Cerita seperti meniatkan untuk kita menerka teka-teki apakah Eden mimpi tentang masa depan, atau dia terbangun menjadi seorang yang lain, atau apakah sebaliknya Veronica mimpi mengenai leluhur. Masalahnya adalah tidak satupun dari pilihan jawaban yang terpikirkan pada titik kita menonton saat itu masuk di akal.
Di babak ketiga, cerita membawa kita kembali ke Eden dan baru semua misteri perlahan bisa kita jawab. Namun semua itu sudah terlambat. Setelah kita mengerti, cerita tak pernah terasa ‘wah’ karena kita sudah burned out oleh dua set up. Dan parahnya lagi, setelah mengerti ceritanya, si film ini sendiri terasa biasa aja karena dia memang tidak punya banyak selain kelokan dan misteri susunan cerita tersebut. Sebelum ngomongin soal isu atau gagasan yang diangkat – yang memang relevan, tapi gak terasa menohok karena diceritakan dengan begitu fantastis dan terlalu klise – aku mau nyumbang saran dulu soal struktur narasi Antebellum. Menurutku jika film ini mengabaikan kepentingan ngetwist penonton dan lebih memilih untuk menguatkan drama dan kebingungan karakter, maka memang seharusnya alurnya dibuat linear saja. Mulai dengan Veronica, lalu adegan yang menyebabkan dia black out, dan kemudian barulah dia terbangun seperti pada babak pertama film. Dengan begitu cerita bisa akan berlanjut dengan narasi si Veronica berusaha mencari tahu apa yang terjadi – pertanyaan apakah dia mundur ke masa lalu atau apakah dia mimpi seperti mimpi Alice ke dunia ajaib akan personally melekat ke dia. Menyaksikan Veronica menguak ini tentunya emotionally akan lebih dramatis dan mengundang, ketimbang membuat hanya penonton yang terbingung-bingung. Garis nyata dan fantasi itu bisa semakin blur. Lebih bagus lagi kalo semua teman-teman Veronica juga tampak ada di dunia Eden, sebagai orang lain.
Musiknya ngingetin sama musik kartun X-Men

 
Karena teman-teman Veronica itu adalah bagian dari isu yang digambarkan oleh film ini. Antebellum mengusung pertanyaan seputar perlakuan timpang yang dilakukan orang kepada orang lain yang berbeda dengannya. Perlakuan yang cenderung kasar atau merendahkan. Film ini tampak memparalelkan kejadian pada supposedly dua kurun waktu berbeda. Pada ‘dunia’ Eden, orang kulit putih semena-mena. Dan pada ‘dunia’ Veronica kita lihat orang kulit putih yang jadi kelas pekerja, bahkan dihardik-hardik oleh salah seorang teman Veronica. Film seperti ingin menunjukkan ketika orang sudah mulai banyak aware terhadap rasisme, misalnya, itu bukan berarti praktik-praktiknya hilang menyeluruh. Hal ironi yang dicontohkan oleh film ini adalah soal acara ‘reenactment’. Acara yang digelar untuk memperingati sejarah, dengan langsung bermain peran sesuai dengan zaman yang di-reenact. Dalam film ini, acara seperti itu ditambahkan volume horornya, dibuat sebagai ‘sarana’ bagi white supremacist untuk membunuhi orang-orang kulit hitam. Jadi sebenarnya sekarang pun orang masih mengakui pengotak-kotakan tersebut. Veronica saja menulis buku berjudul ‘Liberation over Assimilation’, seolah ia percaya asimilasi itu cuma kedok.

Meskipun waktu sudah membuat zaman berubah, banyak hal berubah, namun beberapa hal masih tetap sama. Perilaku manusia yang mementingkan kepentingan golongan, itu masih ada. Perilaku diskriminasi, juga masih ada. Hanya bentuk dan intensitasnya saja yang mungkin berbeda.

 
 
Gaya visual yang dipunya oleh film ini tenggelam di balik kekerasan maupun pemberdayaan yang keduanya sama-sama tampak superfisial tersebut. Tracking shot panjang yang dilakukan dengan precise di adegan pembuka itu adalah satu-satunya hal yang keren yang dilakukan oleh film ini buatku. Slow-motion yang dipake sebagai penutup adegan itu juga dilakukan dengan dramatis. Kupikir film ini bakal jadi seepik itu hingga akhir. Ternyata tidak. Dramanya terasa kosong, adegan-adegan berikutnya tampak biasa saja dan hanya fokus ke kekerasan demi kekerasan. Terlebih karena tiga puluh menit berikutnya semua itu seperti sirna. Narasinya yang tak beraturan benar-benar menjatuhkan film ini. Strukturnya hanya digunakan untuk membuat kita bengong, tanpa mampu melekatkan rasa apa-apa
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for ANTEBELLUM

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kita benar-benar doomed to repeat history?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

CUTIES Review

“Just let the kids be kids”
 

 
Seruan untuk meng-cancel Netflix September ini santer terdengar sebagai reaksi dari perilisan film Perancis yang berjudul asli Mignonnes ini. Tahun 2020, tahun yang sendirinya sudah ‘bermasalah’ bagi perfilman – karena pandemi yang memaksa semua film cari alternatif bioskop – nyatanya justru penuh oleh film-film kontroversial. Kita punya The Hunt yang dipermasalahkan karena menyinggung golongan politik di negaranya, ada Red Shoes and the Seven Dwarfs yang disuruh turun karena isu body shaming yang diangkatnya, Jojo Rabbit yang menuai protes berkat penggambaran sosok Hitler serta becandaan seputar Nazi dan Yahudi, dan baru-baru ini giliran Mulan versi live-action dari Disney mendapat teguran keras dari berbagai arah; dicecar sebagai munafik yang gagal merepresentasi Cina dan malah mendukung pemerintah yang ‘salah’. Namun dari semua itu, Mignonnes yang diberi judul Cuties oleh Netflix really takes the cake sebagai film paling kontroversial tahun ini. Film tersebut dikutuk oleh banyak orang; Cuties disebut mengkritik dengan malah turut menjadi sesuatu yang ia kritik tersebut. Cuties yang ingin menyentil tentang dunia modern yang cenderung mengobjektifikasi dan mengseksualisasi anak-anak, justru menampilkan seksualisasi anak-anak tersebut!
Cuties adalah cerita tentang Amy, anak cewek sebelas tahun, dari keluarga muslim Senegal yang pindah tinggal di sebuah apartemen di Prancis. Identitas tersebut penting dan dihadirkan bukan hanya sebagai latar, tapi juga berperan dalam karakterisasi Amy. Hidup di lingkungan yang kuat aturan agama dan tradisi membuat Amy merasa janggal ketika ia berada di luar. Teman-temannya di sekolah tidak ada yang pake kerudung, atau bahkan hoodie yang menutup semua kulit di tubuhnya. Amy pengen sekali berteman dengan satu geng cewek yang jago nari. Mengintip mereka dari jauh dijadikan pelarian oleh Amy; pelarian dari tugas mempersiapkan pesta pernikahan ayahnya dengan istri kedua di rumah. Amy mulai meniru geng cewek tersebut, mengenakan baju-baju minim (Amy actually ‘meminjam’ baju adik cowoknya) dan diam-diam berlatih nari. Dari tontonan musik di internet, Amy belajar tarian ‘dewasa’, dan iniah yang membuka jalannya untuk dapat bergabung dengan geng tersebut.

Kalo di-Indonesia-in, judul film ini simply jadi ‘Cabe’.

 
Melihat dari segi ceritanya aja, aku harus bilang, Cuties ini adalah film yang bagus. Journey Amy yang ingin fit in dan tidak dianggap bocah – dia juga bisa dianggap sedikit memberontak –  diceritakan logis dengan sangat kuat. Ini adalah cerita pendewasaan yang sangat relate buat penonton, karena kita tentu antara pernah mengalami ingin dianggap dewasa atau sedang mengalaminya sekarang. Kritikku buat cerita ini hanya soal penggambaran Islam yang masih sebatas gambaran kontras dalam hidup Amy. Untuk membuat karakter Amy yang ingin bebas, cerita butuh untuk menempatkan Amy di antara dua hal; lingkungan yang bebas dan lingkungan yang mengekang. Identitas keluarga Islam yang dimiliki Amy, oleh film ini hanya difungsikan sebagai wujud dari ‘lingkungan yang mengekang’ itu. Tidak dieksplorasi dimensinya lebih jauh. Begitupun juga dengan keluarganya. Amy dibuat cenderung untuk mengantagoniskan keluarga. But maybe, that is the part of the problem. Bahwa anak sulit untuk membuka diri kepada keluarga, dan lebih suka menjauh, sehingga mereka rentan untuk terjerumus, apalagi karena mereka masih polos belum sepenuhnya bisa menimbang mana yang baik dan yang tidak.
Jika benar demikian, maka film ini menggambarkan dengan tepat sebab-dan-akibat masalah yang menimpa anak-anak, khususnya anak perempuan, di dunia modern. Amy dan geng Cuties, dan banyak anak perempuan, di luar sana yang tumbuh terlalu cepat. Figur orangtua bagi mereka diambil alih oleh media, karena di sanalah mereka bisa bebas mengekspresikan diri. Sosial mengkondisikan anak-anak ini harus mengejar tren, supaya tidak kolot seperti orangtua di rumah. Masalahnya adalah, sosial dan media yang jadi pengasuh mereka itu punya penyakit akut yakni gatal untuk mengobjektifikasi wanita. Amy dan anak-anak perempuan ini jadi kebawa-bawa. Melakukan sesuatu yang dilakukan oleh orang dewasa – sesuatu yang bahkan sebenarnya orang dewasa sendiri tidak pantas melakukan itu di ruang publik – tanpa benar-benar ada pemahaman kecuali ya karena mereka ingin dianggap serius dan bukan bocah aja. Tidak ada yang melindungi anak-anak ini. Dunia justru mengeksploitasi. Orangtua tidak tahu karena hubungan mereka renggang. Yang terjadi pada film ini berdering benar ke kehidupan nyata kita. Anak-anak menirukan tarian K-Pop, bermain TikTok dengan joged orang dewasa, tontonan di televisi yang pilihannya cuma cinta-cintaan atau bully-bullyan.
Film Cuties menyugestikan suatu solusi yang menurutku cukup mengerikan, yakni harus si anak itu sendirilah yang sadar dan mengeluarkan dirinya sendiri dari sana dan kembali kepada keluarga. And it is such an impossible task. Amy adalah karakter kuat yang pantasnya dijadikan teladan, tetapi dia ‘hanyalah’ karakter dalam film yang sudah diberikan situasi dan kondisi yang memungkinkannya untuk berubah. Sepertinya inilah kenapa sutradara Maimouna Doucoure memilih untuk menghadirkan film ini dengan begitu kontroversial. Karena ia menyasar kepada para orangtua dan orang dewasa. Seperti dia mau bilang “Begini loh kondisi anak-anak pre-teen kita, mereka dituntut untuk cepat dewasa, lihat tontonan mereka, lihat apa yang mereka tiru. Di mana kita?” Ibarat jika ada bunga yang salah mekar, maka yang harus dibenahi adalah lingkungan tempatnya tumbuh, bukan si bunga itu sendiri.

Ending film ini mengatakan biarkanlah anak-anak menjadi anak-anak. Kitalah yang membuat mereka tumbuh lebih cepat. Padahal biarkanlah mereka tumbuh sebagaimana mestinya. Pake baju biasa daripada dipaksa mengenakan tradisi dan adat. Bermain lompat tali alih-alih menari ala girlband atau artis hiphop di televisi. 

 
Pada beberapa momen, Doucoure memperlihatkan kepada kita bahwa sebenarnya ia mampu menggarap adegan dengan nada surealis. Ketika adegan ending yang seolah Amy terbang, atau adegan ketika Amy menatap gaun pesta yang harus ia kenakan tergantung di lemari, lalu sesuatu terjadi pada gaun tersebut; paralel dengan yang terjadi pada Amy. Dengan melihat itu, adegan-adegan pada film ini yang menyulut kontroversi – seperti tarian erotis anak-anak dengan ngezoom ke bagian-bagian aurat – tentu saja kita anggap Doucoure mampu untuk menampilkannya secara surealis juga. Bahkan besar kemungkinan tarian yang dibuat lebih surealis akan membuat film jadi lebih elegan. Namun Doucoure tetap menampilkannya dengan banal (kalo gak mau dibilang binal), karena ia ingin menekankan kepada perasaan gak nyaman kita dalam menontonnya. Dia ingin membuat kita merasa ingin menghentikan tayangan, karena gagasannya adalah memang supaya kita-kita ya harus menyetop itu semua di dunia nyata juga. Aku bisa melihat bahwa bagi Doucoure menampilkan lebih less daripada yang ia tampilkan di film ini akan mengurangi intensitas dari poin yang ingin ia sampaikan.

Di usia 11 aku masih nonton film kartun anak-anak, sementara Amy and the genk udah bahas bikin anak

 
 
Tapi juga tentu saja kita semua bisa mengerti kenapa bisa ada yang menyebut film ini ‘tontonan gratis bagi pedophilia’. Ada beberapa adegan yang menurutku juga sebenarnya tidak perlu ada dan bisa dibuang atau setidaknya ditampilkan dengan lebih tersirat atau elegan dengan tanpa mengurangi poin utama yang ingin disampaikan. Adegan seperti tokoh anak cewek yang meniup kondom bekas dan kemudian mereka ramai-ramai menggosok lidah si tokoh supaya bersih misalnya, hanya dimainkan sebagai komedi dan tidak benar-benar berkepentingan karena untuk memperlihatkan geng Cuties itu ‘belajar otodidak’ hal dewasa pun sudah ada adegan yang mewakilkannya. Jadi adegan ini sebenarnya tidak perlu lagi. Adegan mereka menari di tangga juga gak perlu untuk direkam seclose up dan selama itu, karena toh kepentingan adegan tersebut sebenarnya untuk memperlihatkan Amy sudah populer sejak dia bertingkah dewasa bersama geng Cuties. Film bisa saja menyampaikan poin ini hanya dengan menampilkan adegan buka sosmed dan melihat akunnya banyak menuai komen atau likes.
So yea, buatku film ini pantas mendapatkan kontroversi seheboh yang ia terima sekarang ini. Karena dengan beberapa adegan yang ditampilkan dengan arahan untuk berjalan di batasan antara kontroversi dan tidak itu, film ini memang jatohnya ada di ranah film-film disturbing. Melihat anak-anak itu menari, disyut dengan treatment sedemikian rupa menonjolkan seksualitas, sama berat dan mengganggu dan gak nyamannya dengan saat melihat adegan motong kura-kura sungai hidup-hidup dalam film Cannibal Holocaust (1980) Dan bagaimana dengan aktor-aktor cilik itu sendiri, aku gak bisa ngebayangin gimana ngedirect mereka untuk beradegan seperti itu.
 
 
 
Ada berbagai cara untuk menyampaikan komentar atau kritik. Yang paling ampuh biasanya adalah dengan komedi. Kita sudah pernah melihat pesan yang mirip disampaikan dengan aman oleh Bad Grandpa (2013) dan Little Miss Sunshine (2006) ketika menyinggung soal beauty pageant untuk bocah-bocah. Atau, kita juga bisa menyampaikan kritik dengan cara yang lebih elegen, dengan tidak terlalu literal. Film debut sutradara Doucoure yang ia sebut berdasarkan pengalaman dan pengakuan asli banyak anak-anak ini memilih untuk bersuara dengan kontroversi. Efeknya boleh jadi langsung terasa dan tepat sasaran. Like, banyak yang protes berarti misi filmnya tercapai (sebaliknya, jika ada yang merasa biasa aja maka itu berarti si penonton ini antara tidak peka atau tidak mengerti cara nonton yang benar), tapi tentu buatku itu semua kembali ke film itu sendiri. Ada banyak perbaikan yang mestinya bisa dilakukan oleh film dalam menampilkan gagasannya. Mempercayakan kepada kontroversi alih-alih kesadaran penonton yang menjadi terbuka saat menonton film yang benar-benar hormat kepada subjeknya, bagiku ya terlalu sensasional dan bukan about si film itu sendiri. Menunjukkan pembuatnya belum sepenuhnya matang dan belum mengeksplorasi dengan maksimal.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for CUTIES.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana pendapat kalian tentang kontroversi film ini? Apakah menurut kalian tayangan seperti music video atau sinetron atau film yang trendi di masa sekarang aman untuk konsumsi anak-anak?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE RENTAL Review

“You have nothing to fear if you have nothing to hide”
 

 
 
Membuat film itu adalah kesempatan langka yang sangat berharga. Karena apa? Karena itulah saat suara kita, gagasan – ide – pendapat kita dianggap punya nilai sehingga seseorang mau mengeluarkan uang demi kita bisa menyuarakannya. Aku percaya semua orang yang pengen bikin film sejatinya karena mereka punya sesuatu yang urgen – sesuatu yang menurut mereka penting – untuk disampaikan. Bikin film bukan semata untuk gaya-gayaan. Aktor Dave Franco tidak menyia-nyiakan kesempatan semacam demikian. Dalam debutnya sebagai sutradara, Franco menuangkan ketidaknyamanannya perihal privasi ke dalam cerita peliknya hubungan percintaan, rekanan dan persaudaraan – untuk kemudian diselesaikan dengan aktual horor yang berdarah-darah. Menjadikan The Rental sebagai cerita yang lebih dekat dengan rumah buat sebagian orang.
The Rental adalah tentang dua pasangan yang memutuskan untuk liburan bareng. Melepaskan penat beban kerjaan dengan gila-gilaan di rumah/vila pinggir laut keren yang mereka temukan di internet. Namun ada sesuatu yang gak enakin hati pada pemilik rumah tersebut. Pertama, dia terduga rasis. Dan kedua, mentang-mentang rumahnya, dia keluar masuk begitu saja tanpa sepengetahuan orang-orang yang telah menyewa. Puncak ketidaknyamanan tinggal di sana adalah ketika salah satu dari pasangan yang nyewa rumah itu menemukan kamera tersembunyi, terpasang di kamar mandi. Walau ini sebenarnya justru mempermudah; mereka tinggal lapor polisi, si pemilik yang tadinya rasis kini juga terbukti cabul itu dibekuk, dan mereka bisa dapat ganti rugi. Kan? Well, masalah jadi pelik lantaran dua dari mereka punya rahasia yang tertangkap kamera, dan mereka gak mau ketahuan. Jadi mereka terpaksa tutup mulut. Hanya untuk menemukan bahwa kamera-kamera itu ternyata punya ‘asal-usul’ yang jauh lebih mengerikan. Bukan saja hubungan baik antara mereka berempat yang kini terancam, nyawa mereka semua juga!

horor dari Airbnb!

 
Dengan menutup akses ‘jalan keluar yang mudah’ bagi para tokohnya (dalam keadaan normal cerita ini dengan gampang bakal beres saat mereka menemukan kamera, tapi film membuat tokohnya punya rahasia yang gak boleh ketahuan), The Rental jadi punya cengkeraman yang kuat sekali pada konflik kompleksitas manusia. Set up film ini sangat menarik. Yang dihamparkan oleh film ini adalah empat tokoh (lima, sama si pemilik rumah) yang enggak sebegitu unik, melainkan menarik karena dari hubungan mereka masing-masing kita bisa mengendus bau-bau konflik. Dan film memang benar-benar membawa kita menerobos ke konflik-konflik tersebut.
Dua pasangan yang menjadi pusat cerita adalah Charlie-Michelle dan Josh-Mina. Namun relasi antarmereka enggak sesimpel itu. Pada adegan pembuka kita malah akan menyangka Charlie dan Mina yang berpacaran. Karena mereka berdualah yang dengan akrab memesan rumah. Turns out, Charlie dan Mina adalah rekan kerja, dan mereka memang sahabat dekat. Sementara Josh adalah saudara Charlie. Josh ini dalam hal apapun digambarkan inferior dari Charlie; not to mention dia emosian dan pernah berurusan dengan polisi. Di rumah, kita ketemu pasangan Charlie yang sebenarnya; Istrinya yang ceria, Michelle. Dengan hubungan yang ‘menantang’ seperti itu, kita langsung tahu bahwa mereka sebenarnya gak benar-benar teman, or even cuma-teman. Dan kesadaran kita akan tersebut membuat nontonin mereka semacam nungguin bom waktu yang mau meledak.
Film-film horor terbaik selalu mengerti bahwa persoalan selalu lebih dalam dari sekadar rumah yang ada misterinya. Melainkan terutama adalah soal ketakutan karakter. The Rental untuk awal-awal ini bekerja sebagai thriller psikologi yang menarik. Akar dari ketakutan dan masalah mereka adalah trust. Tokoh-tokoh di sini punya histori, tapi mereka pengen move on dan setuju untuk menjadikan masalalu sebagai privasi. Yang dengan segera mendapat tantangan dari sikap pemilik rumah tempat mereka liburan. Bagi Mina (meskipun tokoh yang diperankan Sheila Vand buatku sangat annoying, tapi dia yang paling dekat sebagai tokoh utama), misalnya, sikap rasis si pemilik sangat menantang posisinya sebagai orang yang bisa dipercaya. Mina sebenarnya memesan rumah itu lebih dulu, tapi ditolak dengan alasan penuh. Beberapa jam kemudian, Charlie (Dan Stevens sepertinya sudah ahli meranin tokoh yang terkesan mendua) mencoba pesan, dan voila! Mina meng-confront alasan penolakan (nama belakang wanita itu adalah Mohamadi, seperti nama Arab) Dan meskipun kita tidak pernah mendapat kepastian si pemilik beneran rasis, kita dapat menyimpulkan sikapnya tersebut mentrigger privasi Mina berkaitan dengan hubungan supereratnya dengan sang partner kerja yang sudah beristri.

The Rental menjadikan pembunuh berkamera sebagai hukuman, penebar ketakutan bagi orang-orang yang menutupi suatu keburukan. Namun film ini berlaku dua arah, karena kamera tersebut juga ditunjukkan sebagai penjahat yang mengerikan. Orang bilang kalo kau benar, maka tidak ada yang perlu kau sembunyikan. Namun tentu saja itu bukan berarti semua orang yang merasa dirinya benar harus membuktikan dirinya dengan buka-bukaan. Membiarkan dirinya direkam kamera atau apa. Kita semua harus percaya dan menjunjung privasi. Kita tidak punya hak untuk merekam dan menginvasi privasi orang lain, entah itu ada yang mereka tutupi atau tidak.

 

after all of this, sepertinya keputusan pemilik menolak Mina adalah langkah yang tepat

 
 
Kita sudah terinvest oleh karakter dan peduli sama ketakutan mereka. Kita bahkan sudah mengantisipasi keributan di antara mereka. Para aktor film ini menampilkan permainan akting yang meyakinkan, mereka seperti sahabat beneran. Mereka telah membuktikan sanggup mengemban beban tensi dan drama emosional yang diberikan. Namun Franco seperti tidak mampu mempertahankan tone somber yang sudah terbangun. Or worse, buatku Franco sengaja untuk mengubah tone cerita menjadi horor slasher yang membuat The Rental malah jadi kehilangan kekhususan. Franco seperti tidak dapat menemukan ending yang tepat dari cerita yang bermuatan gagasan soal ‘pasang kamera tidak boleh, but we all have something bad yang ditutupi’. Pilihannya dalam mengakhiri film tampak seperti usaha-terakhir karena he pushed himself into the corner dengan gagasan tersebut.
Untuk menyampaikan kedua pihak sama-sama bersalah, The Rental dibuat jadi berakhir, untuk tidak ngespoiler banyak, katakanlah ‘tragis’. Tanpa resolusi. Tanpa perubahan arc dari tokoh-tokohnya. Mereka tidak (sempat) belajar apapun dari kejadian di film ini. Untuk melakukan hal tersebut, babak terakhir film ini dibelokkan menjadi slasher. Horor yang main fisik. Dan untuk sampai ke sana, sebagai transisi dari teror psikologis, film bicara sebagai drama relationship. Tiga elemen utama yang membangun film menjadi disebut horor ini enggak bercampur dengan benar. Menjadikannya opposite dari yang diniatkan. Horor yang enggak-seram. Dengan tokoh-tokoh yang enggak benar-benar bikin peduli karena kita tahu salah merekalah semua itu terjadi. Dan untuk membuat film semakin tidak konsisten lagi, Franco memasukkan elemen komedi stoner receh andalan geng dia dan abangnya. Yang sama sekali gak lucu ataupun bikin film jadi menyenangkan untuk diikuti. Aku bener-bener kasihan sama Alison Brie disuruh berakting sedekat itu dengan garis celengan bapak-bapak.
 
 
 
Franco tampak punya gaya dan mengapresiasi horor, dan karakter-karakter yang dinaunginya. Untuk menit-menit awal film ini bahkan sempat terasa seperti horor art di festival. Tapi kemudian film ini stop working. Tidak mampu mencapai ending dengan resolusi, Franco mengakhiri ceritanya dengan membuat film menjadi slasher generic, dengan beberapa bumbu komedi receh di sana sini. Hal yang paling menakutkan di sini buatku adalah dengan ending tersebut film ini hanya akan diingat sebagai cerita tentang pembunuh yang merekam orang dengan kamera. Enggak unik. Enggak baru. Padahal dia punya sesuatu yang menarik di awal. Cerita ini butuh untuk digodok lebih jauh. Atau mungkin feature-horor terlalu besar bagi Franco sebagai langkah awal?
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for THE RENTAL.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana pandangan kalian soal privasi tempat tinggal? Pernahkah kalian merasa risih saat menginap di hotel/Airbnb dan mengetahui kamar dimasuki oleh pemilik saat kalian tidak ada, untuk dibersihkan atau semacamnya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE ASSISTANT Review

 

“There’s nothing more toxic and demoralizing than having to work in a work environment where a bully or stealth harasser gets to overpower and exist daily.”

 

Seberapa aman lingkungan kerjamu? Karena walau sekalipun kita memang tidak bekerja bareng mafia yang menolak pakai masker, tidak disuruh menyapu isi dalam gunungapi, atau tidak jadi anakbuah Rita Repulsa, lingkungan kerja masih punya potensi gede untuk menjadi tempat paling menyeramkan dan ter-enggak-sehat di seluruh dunia. Jika kalian ngerasa kerja di kantor dengan aturan yang gak-jelas yang bisa longgar sesuka hati bos, atau si bos paling anti dikritik, atau kalian straight up ngerasa pernah dilecehin tapi malah dijadikan becandaan dan hal itu dianggap sudah biasa sehingga saat kalian protes justru kalian yang dianggap berlebihan dan dianggap sulit bekerja sama? Congratulations! tempat kerja Anda lebih beracun daripada judul lagu Britney Spears. Dan film The Assistant karya Kitty Green ini adalah tontonan yang tepat supaya kita bisa mengenali lingkungan tersebut dan mempertimbangkan langkah yang tepat demi masa depan.

Green menuliskan cerita ini dengan langsung mengambil tempat di pusat toxicity dan melimpahnya dominasi dan power abuse dari seorang pemimpin laki-laki; Rumah Produksi Film. You know, situasi di lingkungan itu memang sangat memungkinkan untuk ‘khilaf’, dengan begitu banyak orang yang berebut dapat posisi kerja di sana (siapa yang gak mau kerja sambil lihat artis setiap hari?), dan also dengan begitu banyak bintang-bintang muda minta peran utama; orang-orang akan rela melakukan apapun. Clearly take a jab atas terbongkarnya skandal bos Miramax tahun 2017 lalu, Green memang memposisikan film ini sebagai gambaran bagaimana pelecehan merayap di balik dinding kantor, dan dibiarkan oleh sistem yang lebih melindungi perusahaan ketimbang pekerjanya.  Kata yang jadi kunci di sini adalah ‘merayap’ karena The Assistant dibuat oleh Green dengan benar-benar senyap. Namun kesenyapan itu mendengungkan sesuatu yang begitu lantang di telinga dan pikiran kita semua. Tidak akan dijumpai adegan-adegan yang sensasional dan heboh di film ini; itulah kenapa skor audiens film ini jeblok parah. Alih-alih, semuanya dibiarkan nyaris tak bersuara. Kejadian-kejadian pelanggaran tidak pernah diperlihatkan, dibiarkan menggantung di benak kita. Membuat kita sama-sama stres dan sefrustasi Jane, tokoh utama cerita. Cara bercerita yang jenius diterapkan oleh Green dalam konteks gagasan yang sedang ia angkat. Karena memang begitulah persisnya yang dirasakan seseorang yang tahu ada yang enggak beres pada atasannya, tetapi tidak bisa – tidak berani bersuara. Bukan karena dia tidak peduli, melainkan karena practically dia melawan sistem yang menutupi.

Aku hanya bisa membayangkan berapa banyak catcalling yang mungkin sudah diterima sang sutradara hanya karena namanya

 

Keseluruhan durasi delapan-puluh-menit The Assistant berlangsung selama satu hari kerja Jane di kantor. Dia baru lima minggu kerja di sana, dan sebagai anak baru, Jane mendapat kerjaan paling banyak. Dia sudah sampai di kantor bahkan sebelum matahari terbit. Membersihkan dan merapikan ruang bosnya. Mengelap noda di sofa, tapi bukan noda kopi. Memungut anting dari lantai. Memfotokopi naskah. Menghidupkan lampu di ruangan-ruangan. Jane, seperti hari-hari sebelumnya, akan jadi orang yang paling akhir pulang karena dia bekerja keras demi karirnya (ia ingin jadi produser!). Namun menjadi asisten berarti adalah tidak banyak orang yang akan berhenti dan melihatmu dengan seksama dua kali. Jane merasa sendirian di kantor, bahkan siang hari saat rekan-rekan di ruang kerjanya (tepat di depan pintu ruang bos) sudah datang.

Semuanya diset sedemikian rupa sehingga kita benar-benar dibuat merasakan yang ada di kepala dan perasaan Jane. Inilah keajaiban dari kekuatan sudut pandang penceritaan film ini. Meskipun tidak menggunakan first-person view, malah seringkali kamera diletakkan jauh sehingga melingkupi satu ruangan, tapi film tetap berhasil menguatkan sudut pandang Jane. Kita melihat mata Jane tidak pernah ditangkap oleh orang-orang lain di kantor. Kita tidak pernah diberitahu apapun yang ada di luar jangkauan indera Jane. Bisik-bisik percakapan karyawan lain, kelebatan potongan dialog orang yang kebetulan lewat atau dilewati oleh Jane, suara-suara tidak jelas karena berasal dari sebalik pintu. Itulah informasi yang diberikan film ini kepada kita, karena itulah informasi yang nyampai kepada Jane. Dia mendengar hal-hal, dia menyimpulkan sesuatu dari hal tersebut. Dan kita share kesimpulan dan feeling yang sama dengannya. Semua pikiran, semua emosi, setiap detil kecil hal yang merundungi pikiran Jane mengumpul menjadi konflik dalam The Assistant. Makanya permainan akting dari ekspresi wajah begitu penting di sini. Julia Garner yang meranin Jane tidak pernah gagal. Setiap kali kamera meng-close up supaya kita dapat ‘melihat’ apa yang ia pikir dan rasakan, Garner mendeliver emosi-emosi tersebut dengan sempurna. Yang ia alami bukan sebatas ‘pengucilan’ yang seperti mengkerdilkan dirinya yang seorang asisten, ada sesuatu yang membuatnya cemas sebagai seorang wanita. Fakta bahwa kantor mereka kedatangan seorang wanita muda yang melamar sebagai asisten tapi lantas disuruh menemui bos di hotel, yang dijadikan becandaan oleh karyawan lain, menangkap perhatian Jane lebih dari apapun. Dan kemudian, Jane memutuskan untuk buka suara; saat itulah ketegangan film ini mencapai puncak.

Adegan Jane mengadu ke HR, aku yakin, sangat relatable untuk banyak orang yang sempat ngerasain kerja kantoran. Ataupun orang-orang yang pernah melakukan pengaduan dan ujung-ujungnya malah balik dipersalahkan. Film ini mengumpulkan semua ketoxican dan manipulasi dalam satu sekuen adegan tersebut. Kalimat ‘kamu tahu ada berapa yang mengincar pekerjaanmu?’ digunakan untuk memaksa kita menyudahi komplain atau aduan, sekaligus membuat kita merasa bersalah udah buka suara. Kita-lah yang gak tahu terima kasih. Jane menghadapi ini saat dia mulai bicara. Pihak HR dan bosnya sendiri mulai nge-gaslighting, membuat Jane merasa dia butuh mereka, membuat Jane merasa dirinya dihargai. Kamu pintar. Kita butuh lebih banyak produser wanita. Namun tetap pada akhirnya Jane disuruh meminta maaf. Tetap dialah yang salah karena noticing ada yang gak bener dan bertindak egois dengan membuka aib atau apalah alasan para atasan. Bahkan rekan-rekan Jane di ruangan pun, yang berusaha membantu Jane, tapi mereka tidak sadar melakukannya sambil menyalahkan, “harusnya kamu curhat ke kita dulu”. Ini satu lagi masalah yang disinggung oleh film ini; kadang kita gak sadar sudah ikut berpartisipasi dalam menyukseskan toxic di tempat kerja.

Tidak ada yang lebih toxic dan menghancurkan diri ketimbang bekerja di lingkungan tempat kekuasaan disalahgunakan, pelecehan ditutup, dan manipulasi menari-nari. Film ini menunjukkan apa tepatnya yang terjadi jika bawahan mulai berani angkat bicara mengenai dugaannya terhadap atasan. Film juga memperlihatkan betapa susahnya bagi mereka yang memperjuangkan untuk keluar dari lingkungan tersebut. Karena toxic itu menjalar. Bahkan mempengaruhi orangtua di rumah. Film ini menggambarkan Jane yang pintar saja enggak berkutik menghadapi sistem yang berkuasa. Namun sekarang, setelah nonton ini, kita semua sudah tahu tindakan paling pintar yang harus dilakukan jika menemukan diri berada di lingkungan kerja toxic seperti begini.

 

I wouldn’t be surprise kalo itu adalah hari Senin

Hal yang paling aku suka dari film ini adalah cara ia memperlihatkan (atau tidak memperlihatkan) tokoh bos si Jane. Kita hanya melihat sekelebatan saat dia lewat di depan kamera. Kita cuma mendengar suaranya. Bicara kepada Jane melalui telepon, dari balik pintu kantornya yang selalu tertutup jika dia ada di sana. Dan dia jarang sekali berada di kantor. Dia selalu sibuk entah ke mana – selain ke hotel, tentu saja. Kita bahkan enggak dikasih tahu namanya. Jane dan tokoh-tokoh lain hanya menyebut ‘he’ jika membicarakan dirinya. Dan ini sesungguhnya membuat tokoh ini benar-benar terasa presencenya. Bukan semata membuatnya jadi mengerikan kayak hiu yang gak pernah benar-benar ditampakkan di paruh awal Jaws (1975). Namun berkaitan dengan gagasan film, sehingga efeknya menjadi lebih kuat. Karena jika kita diperlihatkan wujudnya, jika kita melihat wajahnya, kita akan otomatis mengantagoniskan si bos sebagai tokoh cerita. Kita akan menganggapnya hanya sebagai karakter film. Yang tentu saja akan melemahkan efek film ini, karena Green tentu saja tidak menyentil satu karakter. Green ingin menjitak ‘bos-bos’ di manapun berada. Ini bukan soal satu karakter di film, melainkan soal bos-bos yang menggunakan power untuk membangun sistem yang menguntungkan dirinya sendiri. Yang memanipulasi, yang merasa untouchable. Membuat tokoh ini nameless dan faceless, menjadikannya bisa jadi siapapun, dan ini memperkuat suara film ini.




Satu hari kerja dapat menjadi sangat melelahkan dan bikin stres, seperti hari yang dialami oleh Jane. Dia berangkat dengan menyimpan optimis di hati karena berkesempatan kerja di perusahaan film, dan dia disebut cakap dan pintar dalam tugasnya. Tapi di akhir hari, Jane sudah begitu terbebani sehingga aku yakin dia memutuskan resign keesokan hari. Tapi film lebih bijak daripada diriku. Ia menghentikan cerita di malam hari. Ia membuka diskusi soal bagaimana sebaiknya menghentikan lingkungan kerja yang toxic ini. Karena it could be everywhere around. Seperti tokoh si bos yang bisa jadi siapa saja. Pada akhirnya, kesimpulan yang immediately bisa dibuat adalah bahwa ini adalah sebuah karya yang sangat thoughtful. Yang tahu benar apa yang harus disampaikan, dan cara paling efektif untuk menyampaikan suaranya tersebut. Aku bilang, this is one of the truest story out there, yang dimainkan dengan salah satu penampilan akting yang pantas untuk diganjar penghargaan tahun ini.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE ASSISTANT.




That’s all we have for now.
Bagaimana kalian melanjutkan cerita ini, apa Jane akan berhenti atau tidak?
Baru-baru ini di twitter, sutradara Indonesia Gina S. Noer mengepos aturan-main di produksi film terbarunya, dalam upaya membasmi praktek abuse dan pelecehan. Bagaimana dengan kalian, bgaimana cara kalian menyingkapi lingkungan kerja yang toxic?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



PALM SPRINGS Review

“Sometimes people come into your life for a moment, a day, or a lifetime”
 

 
 
Terjebak di lingkaran-waktu-yang-terus-berulang (infinite time loop), mengulangi hari yang sama – kejadian yang sama terus-menerus, maka seseorang itu harusnya introspeksi diri, kan? Harusnya menggunakan kesempatan kedua (atau kesekian kalinya) itu untuk memperbaiki setiap kesalahan yang sudah dilakukan supaya hidupnya bisa kembali lurus dan bermakna, kan?? Salah! Well, setidaknya enggak mesti begitu. Karena time-loop tersebut justru bisa saja digunakan untuk mengisi hari sesuka hati karena hidup ini toh semeaningless itu.
Begitulah cara Nyles (Andy Samberg mendapat kesempatan menggali sisi cuek dari persona komedi ‘main-main’nya) memaknai peristiwa terjebak di time-loop yang terjadi kepadanya. Entah sejak beberapa lama. Kini hidup Nyles cuma sebatas satu hari, di hotel tempat sahabat pacarnya menggelar pesta pernikahan. Setiap kali tertidur, Nyles akan terbangun di ranjang hotel pada hari yang sama. Setiap kali dia celaka, zaaappp! dia terbangun tanpa luka di ranjang tersebut. Kita bertemu dengan Nyles saat dia sudah enggak peduli lagi untuk mencari jalan keluar. Dia menikmati hidupnya yang tanpa komitmen dan nyaris tanpa konsekuensi, kecuali saat Roy (J.K. Simmons selalu jadi surprise yang bisa diandalkan) datang, memburunya untuk balas dendam. ‘Hidup nyaman’ Nyles tersebut mulai keganggu saat dalam salah satu skenario main-mainnya, Sarah (Cristin Milioti kocak sekali sebagai cewek sarkas yang penuh dark jokes) tertarik kepada Nyles dan mengikuti cowok itu masuk ke gua yang mereset waktu time-loop.

Kenapa ngikooottt??!!

 
Menit-menit awal film ini memang bisa bikin bingung, juga bakal banyak eksposisi sehingga sedikit boring. Namun begitu aturan-dunia cerita sudah terestablish – dan film keep it simpel – Palm Springs menjelma menjadi perjalanan yang menarik. Arahan Max Barbakow mengeksplorasi aspek-aspek segar dari trope ‘time-loop’ yang sudah banyak kita dapatkan pada film seperti ini sejak Groundhog Day (1993). Jiwa dan hati cerita ini terletak pada hubungan antara Nyles dengan Sarah, yang tentu saja jadi deket dan beneran akrab karena mereka terperangkap bersama. Film mengembangkan komedi dari kontras antara Nyles dan Sarah yang sangat berbeda dalam memandang banyak hal. Mulai dari Sarah yang meminta tanggungjawab udah keseret masuk, walaupun Nyles balik nuding ‘salah sendiri siapa suruh ikut, kan udah dilarang’. Hingga – setelah fase denial terlewati – ke perbedaan keduanya mengisi hari. Nyles dan Sarah akan berpetualang berdua, tapi mereka punya ide yang berlainan. Inilah yang membuat film ini menarik.
Dari hubungan keduanya kita mendapat banyak sekali adegan fun. Samberg dan Milioti seperti dilepas untuk berliar-liar ria. Diikat hanya oleh chemistry yang semakin menguat tatkala film rehat dari adegan-adegan kocak dan beralih ke perbincangan mendalam soal keberadaan manusia di dunia. Mereka debat, tapi gak sekadar teriak-teriak. Selalu ada yang baru dari pengadeganan dan perbicaraan mereka, sehingga asik sekali untuk disimak. Konflik Nyles dalam cerita ini sebenarnya adalah tentang ketakutan berkomitmen. Terjebak di time-loop disandingkan dengan terjebak melalui hari-hari yang sama saat kita sudah mengikrarkan komitmen. Maka Nyles lebih memilih untuk terjebak di time-loop karena di situ Nyles bisa bebas tanpa konsekuensi. Hari ini dia bisa salah kepada orang, besoknya orang tersebut sudah lupa dengan semua salah itu. Sementara bagi Sarah, mengetahui bahwa kita salah dan orang-orang gak tau itu semua, itulah kesalahan yang sebenarnya. Sarah butuh hidupnya menjadi benar, dia tidak mau lari dari komitmen.

Menjadi dewasa berarti harus siap menjalani hari-hari yang sama. Dengan tanggung jawab dan konsekuensi. Film ini mengajarkan kita untuk melihat hal-hal kecil untuk disyukuri karena hidup adalah bukan soal seberapa lama waktu yang kita habiskan dengan seseorang, atau dengan pekerjaan, atau dengan keadaan. Melainkan adalah soal apa yang kita lakukan terhadap waktu itu sendiri.

 
Salah satu perdebatan mereka yang menarik adalah soal menerima orang apa adanya. Nyles mengumpamakannya dengan memakan biskuit berlapis coklat. Hanya merasakan apa yang digigit, enggak usah memusingkan hal-hal selainnya. Sementara Sarah mengatakan kita perlu memikirkan coklatnya coklat apa, biskuitnya terbuat dari apa. Karena masalalu penting dalam pembentukan seseorang, karena rekam jejak eksistensi manusia adalah mereka melalui perubahan. Ironisnya, Nyles juga tidak kita ketahui asal-usulnya. Dan ini membuat kita susah untuk benar-benar peduli sama Nyles, padahal dia bertindak sebagai tokoh utama cerita.

Kejebak dalam loop itu enak, apa-apa tinggal lup!

 
 
Saat Nyles dan Sarah saling curhat tentang masa lalu, Sarah merahasiakan beberapa kejadian di dalam hidupnya, tapi paling tidak kita jadi lebih mengenal dirinya. Sedangkan Nyles, karena sudah lama sekali hidup di dalam loop, dia jadi lupa akan masa lalunya sendiri. Kita bahkan tidak pernah tahu kenapa Nyles bisa terjebak pada awalnya, apa karena dia nyasar ke gua? Film ini tidak peduli untuk membahas itu. Backstory Nyles yang disesumbarkan hanyalah ‘sejarah’ siapa aja yang pernah ia ‘pacarin’ selama terjebak, ranging from bartender ke ayah Sarah, tentu saja penekanan adegan ini adalah untuk menambah bumbu humor. Kita tidak pernah mengetahui dunia Nyles sebelum loop selain dia adalah cowok yang bosan dalam relationshipnya dengan pacar yang jauh lebih muda. Sehingga kita jadi susah peduli sama Nyles. Kita perlu tahu sepeerti apa kehidupannya dulu supaya tokohnya jadi punya bobot, supaya kita bisa peduli seperti yang kita lakukan terhadap Sarah. Seiring cerita berjalan, kehidupan personal Sarah sebelum masuk ke dalam loop diungkap, dan kita pun jadi semakin peduli. Konflik personal Sarah, beban karakternya jadi terasa nyata. Heck, bahkan si Roy yang memburu Nyles karena dendam saja berkesempatan untuk mendapat simpati kita, karena dia diberikan momen yang membuka backstory hidupnya. Nyles perlu digali lagi supaya kita melihat dia lebih dari sekadar nihilis yang kerjaannya main-main (baca: immature). Atau kalo enggak, mestinya sekalian bikin Sarah saja sebagai tokoh utama. Soalnya lagi, memang si Sarah ini yang banyak bikin keputusan; entah itu untuk mengisi hari, ataupun untuk keluar dari loop, arc Sarah clearly lebih emosional daripada arc Nyles.

Kita tidak bisa menyalahkan orang yang ikut masuk ke dalam hidup kita. Karena kita tidak bisa mengatur ataupun memilih siapa yang benar-benar peduli terhadap kita. Sebaliknya, justru jadi tugas kita untuk tidak bersikap egois dan balik-peduli kepada orang-orang yang sudah memilih untuk masuk ke dalam hidup kita.

 
 
Kita tidak benar-benar gereget dan mendukung Nyles untuk bisa kembali ke waktu normal, setidaknya tidak sebanyak gereget kita terhadap keberhasilan Sarah. Film mestinya bisa lebih menyeimbangkan tone, karena jika sudah menyangkut Nyles, cerita memang seperti bimbang untuk jadi lebih sedikit serius. Di sekitar Nyles film ini tampil dengan surealis yang konyol (dengan dinosaurus di latar belakang!), humor yang receh, dan kekerasan yang komikal. Dan bicara soal ‘kekerasan yang komikal’, aku masih belum bisa sepenuhnya akur sama jalan keluar yang diberikan oleh film kepada Nyles dan Sarah. Apakah film memang mengincar sesuatu yang dark dan gak pasti? Kedua tokoh ini praktisnya sama saja dengan bunuh diri untuk mengakhiri; either mengakhiri hidup atau mengakhiri loop. It’s one thing kalo sudah dilandaskan sedari awal sebagai komedi – seperti pada montase Sarah mencoba-coba kekuatan loop, tapi rasanya berbeda aja kalo tokohnya melakukan itu dengan konteks ‘langkah terakhir’ yang gak pasti.
 
 
Dengan cerdas menceritakan ulang trope time-loop, komedi romantis ini membuktikan kreativitas itu memang masih mungkin untuk terus digali. Menonton film ini rasanya mirip kayak nonton episode-episode Twilight Zone, yang karakternya selalu dihadapkan pada keadaan yang menantang pikiran-pikiran filosofis. Bedanya, film ini gak horor. Melainkan sangat kocak. Selain masalah kurang tergalinya tokoh utama, dan dia kalah emosional dengan tokoh pendukung, aku pikir film ini tetap termasuk dalam kategori tontonan yang enak untuk ditonton lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan lagi. Oh tidak, kita kena loop?
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for PALM SPRINGS.

 

 

 

That’s all we have for now.
Nyles menyalahkan karena tidak mengerti kenapa Sarah mau-maunya mengikuti dia masuk ke dalam gua. Menurut kalian, kenapa kadang kita bersikap seperti Nyles – yang takut ketika ada orang yang memilih masuk ke hidup kita?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE OLD GUARD Review

“The key to immortality is first living a life worth remembering”
 

 
 
Jika ada yang bisa mengalahkan sensasi surprise dikasih tahu oleh raksasa bahwa kita sebenarnya adalah penyihir, maka itu adalah sensasi mengejutkan saat Charlize Theron datang ke hadapan kita dan memberitahu bahwa kita sesungguhnya adalah immortal. Kalian yang tidak bisa membayangkannya, silakan tonton film aksi-fantasi terbaru, The Old Guard di Netflix. Karena peristiwa itulah yang persisnya terjadi kepada tokoh Nile di film tersebut.
Nile adalah tentara wanita yang sedang bertugas menangkap teroris di Afganistan. Dia terluka parah saat menjalankan misi tersebut. Namun ajaib, dia sembuh total. Luka tebas di lehernya hilang. Kini yang membekas pada diri Nile adalah selayang mimpi tentang sekelompok orang. Kelompok yang keesokan hari datang menjemput dirinya. Dipimpin oleh Andy, cewek berambut bondol yang tangguh banget, kelompok yang beranggotakan empat orang itu memperkenalkan diri sebagai sesuatu yang sukar dipercaya oleh Nile. Mereka semua tidak bisa mati, meski dalam kondisi luka yang paling fatal sekalipun. Dan kini Nile, somehow, menjadi sama seperti mereka. Nile diajak bergabung ke dalam barisan mereka, yang selama beratus-ratus tahun ini mendedikasikan diri untuk memberantas kriminal, secara rahasia. Dan sementara Nile memutuskan untuk menerima ajakan Andy dan kawan-kawan, seorang bos perusahaan farmacy gede di London ternyata telah mengendus keberadaan mereka. Andy dan teman-teman dijebak, mereka hendak ditangkapi untuk dijadikan subjek penelitian. Keabadian mereka akan diteliti, diekstrak kalo bisa, dan tentu saja diuangkan dengan dalih demi kebaikan seluruh umat manusia.

Basically mereka adalah Deadpool, tanpa rasa humor.

 
 
The Old Guard garapan Gina Prince-Bythewood ini ditulis langsung oleh penulis komik/graphic novel yang jadi sumber adaptasinya. Jadi film ini menjanjikan hal yang selalu ditagih oleh fans komik/buku yang diadaptasi ke layar lebar; kesetiaan dengan sumbernya. Aku belum pernah membaca komik The Old Guard, tapi begitu selesai menonton film ini aku bisa menebak cerita ini punya banyak penggemar, dan penggemar tersebut sepertinya bakal puas luar biasa dengan film ini. Karena The Old Guard bukan sekadar tontonan dengan karakter yang menarik dan punya aksi stylish yang berwarna merah oleh darah. Melainkan juga sebuah cerita yang mau meluangkan waktu untuk mengembangkan tokoh-tokoh tersebut, mengeksplorasi drama yang dimiliki oleh karakternya.
Sementara Nile si anak baru yang diperankan dengan matang oleh KiKi Layne bertindak sebagai perpanjangan kita yang awam terhadap dunia cerita, pusat cerita ini ini sebenarnya ada pada Andy. Si tentara immortal paling tua di antara mereka. Wanita ini sudah melewati begitu banyak pertempuran. Begitu banyak kehilangan. Begitu banyak luka. Sehingga konflik dan emosi cerita sebagian besar berasal dari tokoh yang diperankan dengan sangat badass oleh Charlize Theron ini. Kamera akan sigap menangkap momen-momen berharga tersebut. Lingering ke wajah Theron setiap kali tokoh Andy terdiam, entah itu terkenang akan kesedihannya terhadap seorang sahabat jauh di masa lalu, atau berkontemplasi mengingat waktu-waktu yang telah ia lalui dan kebimbangan akan waktu yang akan datang. Dengan muatan drama karakter yang sudah eksis begitu lama, serta dunia yang punya mitologi dan aturan main sendiri, film ini punya banyak paparan yang harus dibeberkan kepada kita. Sutradara Prince-Bythewood menghandle ini dengan cukup bijak. Ia tidak melakukannya dengan terburu-buru. Eksposisi tidak dihadirkan sekaligus. Akan tetapi, dia mengungkap semua dengan perlahan. Menggunakan momen-momen tenang di antara aksi-aksi untuk membuat kita sedikit lebih dekat dengan para tokoh.
Ketika berbicara, film ini memang tidak banyak berbeda dari film-film sebelum ini yang mengusung konsep karakter yang tak-bisa-mati. Permasalahan yang diangkat enggak jauh dari seputar beban moral hidup melampui orang-orang tersayang. Yang dibahas adalah pertanyaan apakah keabadian itu adalah kutukan atau anugrah. Dan jika itu anugrah, apakah tidak lebih baik untuk dibagikan kepada orang lain. Dalam keadaan terbaiknya, film dapat menantang penonton dengan persoalan tersebut. Keadaan terbaik ini tentu saja dapat tercapai dengan menghadirkan antagonis yang berbobot; yang punya lapisan dan tidak berlalu satu dimensi. Sayangnya, The Old Guard belum mampu mencapai keadaan terbaik tersebut. Karena tokoh penjahat utama yang dimiliki oleh cerita actually adalah bagian terburuk dari film ini. Pemimpin Pharmacy yang diperankan oleh Harry Melling (Dudley Dursley!) ditulis terlalu komikal, bahkan untuk villain cerita buku komik seperti ini. Elemen menangkap manusia untuk dijadikan subjek percobaan alias untuk disiksa terasa tidak terlalu klop dengan permasalahan emosional yang ditanamkan kepada tokoh-tokoh protagonis. Membuat film jadi sedikit terlalu klise. Pembicaraan yang cukup baik dilakukan oleh film ini adalah ketika memasukkan bahasan tentang LGBT; yang agendanya tidak terasa annoying melainkan pure diversity karakter.

Lewat Nile yang belajar banyak dari Andy, film membawa obrolan soal pilihan dalam mengisi hidup. Dengan umur sepanjang itu, sepenuhnya keputusan mereka untuk mau ngapain aja. Yang lantas membuat kita berpikir; bahwa sesungguhnya setiap manusia, bahkan kita, bisa menjadi abadi. Persis seperti Andy. Ya, melalui apa yang kita kerjakan. Jika kita hidup dengan berguna bagi banyak orang, jasa kita akan tetap hidup bersama mereka hingga generasi ke depan. 

 
 
Ketika berbicara lewat aksi, film ini menjadi semakin menarik. Pertarungan favoritku adalah pas adegan berantem di dalam pesawat. Di situ Andy bener-bener kelihatan ‘dewa’ banget. Kemampuan berakting action Theron sepertinya memang sudah demikian terasah, dan film mengetahui ini. Menggunakan talenta Theron dengan maksimal. The Old Guard punya desain aksi yang unik untuk keempat tokoh mercenary immortal tersebut. Karena mereka sudah bertempur bersama selama berabad-abad, bukan saja mereka jago pakai senjata apapun, mereka sendiri juga bertindak seperti satu senjata. Koreografi adegan penyerbuan oleh mereka terasa fresh untuk dilihat karena menghadirkan banyak kombo atau kerja sama unik. Serangan grup mereka begitu taktis dan efektif. Namun sayangnya kerja kamera seringkali tidak seefektif itu. Hampir seperti kamera tidak sanggup mengimbangi ataupun memenuhi konsep yang dituju oleh koreo. Karena yang kita lihat adalah seringkali shot yang terlalu goyang dan berjarak terlalu jauh. Sehingga alih-alih kita seperti berada in-the-moment, kita malah terasa seperti mengintip dari kamera bystander yang memfilmkan keributan yang mereka lihat.
Pemilihan musik latar juga tidak membantu untuk menguatkan suasana yang imersif. Bukan karena musiknya jelek. Melainkan karena gak cocok. Film ini menggunakan musik pop elektronik pada adegan-adegan yang intensitasnya krusial. Misalnya, tokoh yang sedang bingung atas apa yang terjadi pada tubuhnya, dia lantas pasang headset dan kita mendengar musik pop itu. Atau ketika tokoh kita bersembunyi siap menyergap rombongan penyusup, lagu pop elektro itu lantas diputar oleh film. Yang membuat kita terlepas dari adegan itu sendiri karena suasananya memang gak cocok.

Pengen immortal membuat kita jadi immoral

 
Tensi dan intensitas cerita turut melonggar ketika kita sudah mengestablish tokoh-tokoh ini enggak bisa mati. Berkali-kali kita melihat mereka tewas mengenaskan, lalu hidup lagi. Tidak ada lagi ancaman bagi mereka. Film menyadari hal ini dan cerita kemudian berbelok dengan menyebut bahwa para immortal itu sesungguhnya bisa mati. Keabadian mereka ada batasan, hanya saja terjadi dengan random. Dan itulah masalahnya; random. Tentu, kini kita jadi lebih greget menonton karena sudah ada yang dikhawatirkan dari mereka. Tapinya juga terasa jadi jalan yang mudah bagi film. Mitologi immortal mereka ini mestinya bisa dieksplorasi lagi. ‘Aturan’nya mestinya bisa diperjelas. Karena mengundang banyak pertanyaan selain kenapa random. Seperti; apa mereka masih bisa hidup kalo dibom dan hancur berkeping-keping, apa mereka bakal jadi membelah diri – dari setiap serpihan muncul sosok baru, atau mereka kayak Buu – serpihannya menggumpal membentuk tubuh mereka kembali. Atau apakah Nile baru sekarang jadi immortal, atau apakah sudah dari dulu dan dia baru tau. Actually, film ini mempertanyakan hal tersebut lewat salah satu tokoh. Namun tidak ada jawaban. Aku yakin mitologi immortal ini, pertanyaan-pertanyaan yang dibiarkan ngambang di film ini, semua ada penjelasannya. Hanya saja karena ini diniatkan sebagai film seri petualangan, alias bakal ada sekuel, maka pembuatnya sengaja gak membahas banyak dan ini membuat film ini jadi kurang tight penceritaannya.
 
 
 
Waktu, berharga karena ada batasnya. Tokoh-tokoh dalam film ini pada akhirnya belajar akan hal tersebut. Sementara film ini sendiri memang berusaha mengisi durasi dua-jam miliknya yang berharga itu dengan semaksimal mungkin. Mereka berhasil membuat ini jadi tidak membosankan. Tidak menjadi berat oleh eksposisi. Namun juga jadi kurang nonjok karena ada beberapa hal yang kurang dieksplorasi. Dengan dugaan sengaja untuk jadi bahasan di film berikutnya. Membuat film menjadi tidak sespesial yang seharusnya ia bisa. Untungnya film ini cukup menyenangkan, karakter-karakternya bisa kita pedulikan, sehingga aku cukup penasaran sama kelanjutan ceritanya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE OLD GUARD.

 

 
 
That’s all we have for now.
Jika kita tidak bisa mati, akankah kalian akan berlaku reckless atau malah jadi lebih berhati-hati daripada biasanya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

NEVER RARELY SOMETIMES ALWAYS Review

“A person’s right to abortion is a person’s right to their own body”
 

 
 
Sebelum Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual dicabut dari prioritas polegnas, bapak-bapak dan ibu-ibu Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat mestinya menonton film Never Rarely Sometimes Always karya sutradara wanita Eliza Hittman supaya bisa ngerti pilu dan sepinya perjalanan seorang korban kekerasan seksual mengarungi sistem dan ranah sosial.
Autumn (debut akting yang luar biasa dari Sidney Flanigan) merahasiakan kehamilannya dari keluarga. Tentu saja. Remaja tujuh-belas tahun manapun pasti akan dihukum dan dipersalahkan duluan jika mengadu dirinya mengandung anak sebelum waktunya. Jangankan begitu, nyanyi sambil curhat di talent show sekolah aja Autumn dihujat kok. Sehingga Autumn memutuskan untuk ‘mengurus’ perut mblendungnya seorang diri. Sayangnya, peraturan klinik atau rumah sakit di kota dan negara bagian tempatnya tinggal mengharuskan Autumn untuk didampingi oleh orangtua. Ini membuat Autumn harus pergi ke New York, yang peraturan aborsinya sudah lebih luwes. Maka berangkatlah Autumn bersama sepupunya yang sangat suportif, Skylar (Talia Ryder memerankan karakter yang lebih outgoing, mengimbangi tokoh utama yang tertutup).

Autumn tidak mengadu karena tahu ‘pembahasannya agak sulit’

 
‘Pelarian’ mereka selama beberapa hari itulah yang menjadi penyusun cerita film ini. Dua gadis belia mengarungi kota asing, tak pelak merupakan kiasan dari dua gadis yang memasuki usia dewasa dan segala masalah-masalahnya. Sulaman kiasan seperti itulah yang membuat film ini begitu menohok. Hittman dengan sangat cakap merajut kesubtilan sehingga film ini terasa sangat real. Tidak ada masalah yang dilebay-lebaykan di sini. Tidak ada plot poin yang “wow!”. Tidak ada pancingan-pancingan yang kelewat dramatis. New York yang seringkali dicap kota yang kejam di berbagai film atau cerita lain aja, di sini seperti kota-kota biasa; orang sibuk berlalu lalang, cuek, tapi reasonable. Yang dihadapi oleh Autumn adalah persoalan yang lumrah. Dia butuh duit makan. Untuk ke klinik, untuk naik bus dan transportasi umum. Dia butuh tempat untuk beristirahat dan memejamkan mata barang sejenak. Hittman menyisipkan gagasannya di dalam rintangan Autumn yang tampak sederhana itu.

Bahwa hidup memang bukanlah tempat semua urusan dimudahkan, tapi hal dapat menjadi dua kali lebih susah jika kita adalah seorang wanita yang memilih dengan kesadaran sendiri untuk mengaborsi kandungan, apalagi kita masih remaja.

 
Fakta bahwa Autumn harus pergi jauh dari rumah. Merahasiakan; justru takut ketahuan oleh keluarganya – oleh ibunya sendiri padahal kita lihat Autumn ingin sekali reach out to her (alih-alih bersandar di kaca bus atau tembok dingin). Sistem yang membuat seorang perempuan dicap salah saat memilih ingin menggugurkan kandungan – or even get pregnant in the first place – sehingga mereka harus berjuang sendiri di luar sana, nyaris terlunta-lunta seperti yang dialami oleh Autumn. Itulah masalah yang disorot oleh Never Rarely Sometimes Always. Akan ada banyak adegan yang bermuatan seruan kepada wanita untuk membangun kekuatan sendiri. Mulai dari Autumn yang menindik hidungnya sebelum pergi dari rumah; yang menandakan dia berani untuk mengambil alih kendali atas tubuhnya sendiri. Ataupun adegan berpegangan tangan dengan Skylar dari balik pilar yang menyimbolkan para wanita sudah seharusnya bersatu dan saling menguatkan satu sama lain.
Hubungan erat antara Autumn dan Skylar memang menjadi hati dari cerita ini. Kita akan melihat seberapa jauh Skylar bertindak demi membantu sepupunya. Autumn bukan exactly teman-menggelandang yang baik sepanjang waktu karena kondisinya, tapi Skylar tetap bertahan di sana. Keduanya sudah seperti anak kembar; bisa mengomunikasikan banyak tanpa perlu banyak bersuara. Actually, inilah yang jadi salah satu kekuatan pada penceritaan yang dilakukan oleh Hittman. Dia berani untuk menampilkan adegan-adegan yang sunyi tanpa suara. Kedua tokohnya dipampang tanpa saling bicara. Mereka memilih keputusan begitu saja sehingga membuat adegan dalam film ini semakin nyata dan terasa begitu in-the-moment. Alih-alih menggunakan dialog yang bisa-bisa membuat tokohnya terdengar whiny, film lebih memilih untuk menggunakan kamera sedekat mungkin dengan Autumn, ataupun Skylar. Menyuruh kita untuk menangkap emosi dari mata dan ekspresi mereka. Supaya lebih mudah bagi kita untuk berempati. Tantangan bercerita begini tentu saja ada pada pundak kedua pemain yang bisa dibilang masih baru dalam dunia film, tapi mereka berhasil. Autumn adalah salah satu tokoh paling real yang kutonton sepanjang tahun ini. Untuk membuktikan banyak-diam itu bukan cara sutradara menutupi kekurangan akting pemainnya, film memberikan kita adegan dialog dengan dokter yang luar biasa menyentuh. Adegan yang juga jadi jawaban untuk kita-kita yang mungkin penasaran maksud dari judul film ini. Yang jelas, adegan tersebut benar-benar mengungkap luka yang selama ini disimpan oleh Autumn. Exposing her as a wounded person, dan menguatkan kepada drama pilihannya untuk aborsi.

Tentu saja di titik ini sudah bukan lagi jadi soal siapa ayah kandungan Autumn

 
Namun melihat ke belakang setelah menonton, film ini hanya punya itu. Autumn ingin aborsi, dan pada akhirnya dia mendapatkan yang ia inginkan. Tidak ada yang berubah dari diri atau pandangannya terhadap hidup. Impresi yang hadir saat ending adalah Autumn akan kembali ke rumah, melanjutkan hidup yang sama dengan sebelum dia aborsi. Things never gets better for her. Dan memang itulah message film ini. Tidak ada perbaikan untuk wanita-wanita, mereka jadi korban kehamilan. Strong message, memang, tapi juga menjadikan Never Rarely Sometimes Always ini film yang bercela. Karena harus ada plot dan development. Perubahan. Film ini, berdedikasi menampilkan hal yang real seputar pandangan sosial terhadap aborsi dan kesulitan yang harus ditempuh pelakunya, tidak memiliki dua hal tersebut. Sehingga ia tidak lagi terasa seperti film. Kalo boleh dibilang; film ini malah jadi seperti iklan layanan masyarakat (yang ‘modern’). Or worse; seperti sebuah propaganda.
Kesubtilan Hittman membuat kita tidak menyadari bahwa film yang seperti gambaran nyata ini ternyata begitu artifisial, dunianya terbangun atas satu ide tertentu. Mempersembahkan Autumn sebagai korban, sehingga aborsi yang ia pilih tidak lagi dipertanyakan. Sehingga tokoh ini seolah berhak untuk melakukan aborsi. Sedari awal film – literally adegan awalnya – Autumn sudah diperkenalkan kepada kita sebagai korban dari hubungan yang enggak sehat dengan cowok yang mendominasi. Itulah antagonis pada film ini. Laki-laki. Patriarki. Mulai dari cowok yang meledeknya saat nyanyi dan di restoran, atasannya di supermarket yang hobi nyiumin tangan karyawan cewek, ayah tirinya yang cabul, hingga ke lelaki di kereta, semua tokoh cowok di film ini digambarkan gak beres. Bahkan cowok yang menolong Autumn dan Skylar pada akhirnya diperliahtkan sebagai tokoh yang merasa pantas untuk mendapatkan sesuatu dari mereka. Rintangan terbesar yang dihadapi Autumn dalam ‘perjalanan emansipasi otonomi dirinya’ adalah jebakan-jebakan maskulin.
Film ini tidak pernah membahas soal aborsi itu sendiri. Tidak perlu, karena di dunia seperti itu – dan seperti inilah dunia nyata menurut film – Autumn dan wanita-wanita entitled untuk memilih aborsi karena itu adalah tubuh mereka. Bicara soal kesubtilan, mengapa kita tidak menengok hal ini; film sungguhlah detil memperlihatkan usaha Autumn memperoleh kembali tubuhnya – kita diperlihatkan dia menindik hidung, kita dipertontonkan dia meninju-ninju perutnya sendiri, bahkan memar bekas pulukan itu on-point dalam sebuah shot, tapi Autumn sama sekali tidak pernah melihat apa itu aborsi. Dia dibius saat prosesnya, kita bisa bilang dia menutup mata ketika semua itu berlangsung. Paralelnya adalah, Autumn tidak pernah diperlihatkan berkutat dengan moral atau apapun mengenai aborsi. Karena film memang sudah mendesain aborsi itu sebagai jawaban. Padahal perihal moral justru adalah hal paling penting jika kita membicarakan aborsi. Wanita-wanita muda seharusnya tidak dibiarkan menutup mata dari apa sih tindak aborsi itu sebenarnya. Instead, permasalahan yang diangkat oleh film ini justru adalah bagaimana supaya aborsi itu bisa dapat lebih mudah dijangkau oleh wanita. Keseluruhan film adalah tentang perjuangan dan kesusahan yang harus dilalui oleh Autumn ke New York – perjuangan yang harusnya bisa dipermudah jika klinik di dekat rumahnya mengizinkan aborsi tanpa orangtua. Itulah yang dibutuhkan oleh Autumn dalam cerita ini; proses yang tidak dipersulit karena dia berhak atas tubuhnya.
 
 
 
Bukan masalah bagiku jika sebuah film berbeda pandangan moral dengan diriku, justru akan jadi tontonan yang membuka pikiran. Tapi ada syaratnya. Film itu haruslah diceritakan dengan meyakinkan, mantap, dan menantang. Film ini hanya memainkan tokohnya di ranah victim untuk kita kasihani, supaya kita melihatnya pantas dan berhak melakukan aborsi. Film ini mengabaikan kompleksitas sebuah pilihan. Adegan-adegannya dibuat se-real mungkin, akan tetapi desain di baliknya sungguh artifisial. Memaksa kita untuk percaya dunia sejahat itu dan aborsi bukanlah salah perempuan. Sejujurnya, aku mulai annoyed sama film-film ‘art’ kekinian, mereka dibuat terlalu agenda-ish. Lihat Vivarium (2020) yang failed untuk melihat cacat dalam analogi yang mereka ajukan soal membesarkan anak, ataupun Gretel & Hansel (2020) yang menyisipkan penyihir gak-usah nikah dalam cara yang membuat mual. Padahal aku suka gaya bercerita yang berbeda. Aku suka pendekatan akting yang berani. Sinematografi yang lugas. Penokohan yang gak dibuat-buat demi menyenangkan satu target pasar tertentu. Film ini punya semua hal tersebut. Hanya saja di sisi lain, ia tidak lagi terasa seperti film melainkan sebuah iklan dengan elemen-elemen yang pretensius karena dibangun sesuai agenda yang mereka cekokan kepada kita.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for NEVER RARELY SOMETIMES ALWAYS

 

 
 
That’s all we have for now.
Bagaimana pandangan kalian soal aborsi? Bagaimana seharusnya pemerintah mengatur soal kasus kehamilan akibat paksaan seperti yang dialami oleh Autumn? Jaminan apa yang seharusnya diberikan kepada wanita seperti Autumn?
Dan bagaimana pendapat kalian soal DPR yang mau kabur dari pembahasan RUU PKS?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SHIRLEY Review

“Art wasn’t supposed to look nice; it was supposed to make you feel something.” 
 

 
 
Biopik atau film biografi biasanya ‘terkekang’ untuk menjadi sebenar-benarnya sesuai dengan kenyataan. Seperti film dokumenter, film biopik juga dituntut akurat; beda sedikit aja beberapa pihak yang berkaitan dengan sang tokoh bisa-bisa tersinggung. Film memang bukan media pemberitaan/jurnalisme, tapi tetap saja diharapkan untuk menyajikan fakta-fakta. Yang tentu saja semua itu dilakukan sebagai penghormatan untuk tokoh yang sedang diceritakan. Namun bagaimana jika tokoh yang diceritakan begitu unik? Bagaimana jika bentuk penghormatan yang layak terhadapnya adalah merancang kisah hidupnya sesuai dengan cara dan gaya yang kita tahu ia suka? Ya, tokoh seperti Shirley Jackson; pengarang novel misteri yang karyanya sudah banyak diadaptasi jadi film horor (salah satunya adalah The Haunting of Hill House yang recently jadi serial ngehits di Netflix), tentu akan bete kalo kisah hidupnya diceritakan dengan biasa-biasa saja. Makanya sutradara Josephine Decker yang biasa ngegarap film-film ‘eksperimental’ membuat Shirley ini sebagai biopik yang lain daripada yang lain. Bukan saja genrenya menyerempet horor, ceritanya pun dibuat mengaburkan batas antara fakta dan fantasi.
Shirley diangkat dari masa kehidupan sang pengarang saat proses kreatif penulisan novel misteri Hangsaman, sekitar tahun 50an. Publicly known, Jackson mendapat inspirasi dari kasus menghilangnya seorang mahasiswi yang pergi hiking dan tak pernah kembali. Selain itu dan fakta bahwa Jackson tinggal bersama suaminya seorang profesor literasi di kampus, cerita film ini dikembangkan dengan banyak elemen fiksi. Protagonis utamanya justru adalah seorang tokoh fiktif bernama Rose yang pindah ke kota yang sama dengan Jackson, ikut sang suami yang mulai bekerja di kampus sebagai asisten Stanley, suami Jackson. Rose tadinya berniat sekalian kuliah di sana, tetapi Stanley menggunakan karisma dan kata-katanya untuk ‘membujuk’ Rose tinggal di rumah bersama Jackson. Sekadar bantu-bantu selama novel terbaru itu selesai ditulis. Rose dan suami diberikan kamar sendiri, bebas dari biaya sewa. Namun itu berarti Rose harus memasak, bersih-bersih, dan mengerjakan segala pekerjaan rumah yang lain. Sementara para pria bekerja di kampus, dan Jackson, di kamarnya, mengerjakan tulisan. Rose dan Jackson kemudian tumbuh hubungan yang aneh, as Jackson mulai membayangkan Rose sebagai tokoh utama cerita yang ia tulis.

write me like one of those french girl

 
Kinda like Persona (1966) atau Portrait of a Lady on Fire (2019), heart dari film ini adalah hubungan yang terjalin antara Rose dengan Shirley Jackson. Namun dengan konflik yang lebih kompleks, kalo gak mau dibilang ruwet. Pada Shirley ini kita enggak dengan gampang bisa menyimpulkan relasi yang tumbuh dari mereka; ini bukan soal pekerjaan kayak suster dengan pasien atau pelukis dengan model, jadi apakah ini soal penulis dengan penggemarnya, atau semacam hubungan mentorship, atau malah rasa saling suka, film tidak benar-benar memfokuskan kita kepada satu hal. Karena si Jackson ini sikapnya benar-benar aneh. Look, Jackson memang pribadi yang eksentrik. Pada adegan pesta di rumah saat kita melihat tokoh ini pertama kali, dia sedang mengobrolkan kepada tamu-tamu penggemar novelnya perihal dia gak excited berkenalan dengan suaminya. Jackson adalah seorang yang lebih suka mengurung diri di rumahnya yang tertutupi sulur-sulur tanaman daripada harus ngumpul-ngumpul ke luar. Jackson literally harus ditarik dari kasurnya setiap pagi oleh sang suami. Dia gak gampang akur sama semua orang, dan terhadap Rose sikapnya jauh lebih ‘labil’. Di satu kesempatan dia menjadi teman curhat bagi Rose, dan di kesempatan berikutnya dia membuka rahasia Rose perihal tengah mengandung bayi.
Berbeda dengan kebanyakan biopik yang ‘mengagungkan’ tokoh real yang jadi bintangnya, Shirley justru membuat Shirley Jackson menjadi hampir mustahil untuk disukai. Bukan sekali dua kali, dia membuat protagonis kita meninggalkan meja makan menahan tangis. “Aku penyihir” kata Jackson kepada Rose, dan suatu kali Rose pernah ditipunya; dipaksa makan jamur yang ia sebut beracun. Kita bisa merasakan ada penyiksaan mental di sini. Namun Rose tetap mau deket-deket sama Jackson, karena Jackson membawa pengaruh yang kuat dan somehow positif kepadanya. Berkat Jackson, Rose jadi lebih vokal mengekspresikan diri dan mengutarakan kecurigaan yang muncul di hati. In a way, sikap Jackson membantu Rose dealing with her own domestic problems. Kita juga susah menyimpulkan kenapa Jackson seringkali bersikap ekstra-tidak menyenangkan kepada Rose. Kita lihat dia punya rencana tersendiri dengan Stanley suaminya, tapi tetap tidak jelas apakah dia murni jahat atau dia beneran peduli atau bahwa dia sedang menempa Rose sehingga bersikap sesuai dengan tokoh utama dari novel yang sedang berusaha ia selesaikan.

If anything, lewat tokoh-tokohnya ini film ingin menunjukkan kepada kita kekuatan sebuah seni (dalam hal ini seni tulisan). Seni bisa membebaskan seperti Shirley yang terlepas dari tekanan Stanley begitu Rose hadir menjadi inspirasi baginya. Seni bisa membuka kebenaran seperti Rose yang mulai mengetahui banyak hal-sebenarnya dan berani mengungkapkan diri saat dia terlibat proses mengarang bersama Shirley. Film ini bercerita dengan tidak mengindahkan aturan, karena – sama seperti seni – film ini bermain dengan perasaan, bukan dengan moral.

 
Kekompleksan film ini juga hadir dari banyaknya aspek yang bekerja membangun ceritanya. Dia juga bicara tentang powerplay antara dua pria dan dinamika suami-istri dengan sama banyaknya. Kita bisa menarik isu tentang pemberdayaan perempuan dari cara salah satu tokohnya yang memanipulasi dan berpegang pada pandangan tradisional bahwa cewek harusnya ngurusin rumah tangga aja. There’s also a baby at play, kelahiran-rahasia yang dikontraskan dengan kematian misterius yang menyelimuti daerah tempat tinggal mereka; kasus yang jadi inspirasi Jackson menulis in the first place. Ini semua membuat film terasa berat dan membingungkan. Shirley adalah jenis film yang tidak bisa kita nikmati kalo kita menontonnya dengan niat melepaskan penat.
Tapi bukan berarti film ini tanpa hiburan. Penampilan akting yang luar biasa, misalnya dari Elisabeth Moss jelas jadi salah satu faktor yang membuat kita betah menonton film ini. Begitu unpredictable, begitu raw, begitu kasar kayak kertas amplas, namun tokoh ini sangat mengundang karena kita ingin tahu apa yang sebenarnya bekerja di balik kepalanya tersebut. Tantangan akting dalam film padet dan berani-tampil-unlikeable seperti ini tentu saja sangat berat. Dialog-dialog yang kita temukan persis seperti dialog yang umumnya ada pada novel; tidak konklusif, mengundang pertanyaan, dan memaksa kita untuk menggunakan imajinasi. Namun Moss mampu mendeliver semua itu dengan muatan emosi yang saklek. Kita kira dia sudah jempolan di The Invisible Man (2020)? Well, di film ini Moss membuktikan dia masih punya banyak untuk kita kagumi. Mengimbangi Moss adalah Odessa Young, sebagai Rose yang lebih ‘inosen’, naif, dan lebih gampang menuai simpati. Namun bukan berarti perannya kalah urgen. Rose adalah karakter yang sama kompleksnya, malahan dia punya tugas ekstra mengemban plot yang lebih luas rangenya, dan Young melaksanakan misinya ini dengan sempurna.

Film tentang penulis yang penulisannya mencerminkan penulisnya.

 
Belum lama ini serial animasi Rick and Morty Season 4 mengeluarkan episode ke-enam yang benar-benar mindblowing karena episode yang alurnya membingungkan tersebut practically adalah depiction dari proses-kreatif kreator acara tersebut dalam mencari cerita baru. Kenapa aku membahas soal itu di sini, karena Shirley juga melakukan hal yang sama. Menceritakan proses kreatif seorang penulis kepada kita. Kamera akan bergerak dengan aktif menangkap drama, no… tepatnya, menjadi bagian dari drama mereka. Menempel pada setiap momen dengan intens, bahkan ketika adegan dengan seenaknya mulai melakukan lompatan oleh jump-cut antara momen yang nyata dengan momen yang merupakan imajinasi penulisan Jackson. Membuat garis batas di antara keduanya seolah sirna. Membiarkan kita terpana menebak mana yang mana. Dalam kondisinya yang paling intens, film akan membuat kita bingung membedakan mana yang Rose asli mana yang Paula alias Rose pada novel. Imajinasi itu seperti tanpa batas, hanya disekat oleh interaksi nyelekit dari tokoh-tokohnya.
 
 
 
Seperti si Shirley Jackson, film ini enggak peduli dirinya bisa kita sukai atau tidak. Pilihan ini tentu saja bukan tanpa akibat. Babak ketiga film merupakan bagian yang seharusnya menjadi paling emosional dari keseluruhan. Dan emosi ini besar kemungkinan tidak akan sampai kepada penonton yang sudah memutuskan untuk menyerah kepada Shirley. Ia tidak membuat hal gampang buat kita menyukainya. Desain ceritanya terasa begitu kacau. Antara adegan proses mengarang, interaksi antartokoh sentral, dan tema-tema seperti seni, kreativitas, psikologi orang, dan bahkan soal senioritas, menonton ini sekiranya dapat menjadi seperti chores alih-alih.. tontonan. Aku sendiri mengumpakan film ini seperti puzzle. Yang tersusun atas kepingan yang unik-unik yang jumlahnya banyak banget. Sehingga menyusunnya enggak akan menyenangkan, lebih enak menikmati kepingannya sendiri-sendiri.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for SHIRLEY.

 

 
 
That’s all we have for now.
Shirley jelas punya cara unik dalam mencari inspirasi. Bagaimana dengan kalian, how far will you go dalam berproses kreatif? Apakah kalian punya cerita unik seputar mencari ilham?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.