ALADDIN Review

“Freeing yourself by freeing others.”

 

 

 

Meminta sejuta permintaan lagi ketika diberikan jatah tiga permintaan, sekilas memang terdengar seperti ide yang cemerlang. Karena dengan begitu kita bisa punya permintaan tak-terbatas, kita bisa meminta apa saja yang kita kehendaki. Duit, ketenaran, kekuasaan, pendamping yang cakep; Dengan segala permintaan tersebut, kita dapat hidup sebebas-bebasnya! Tapi jika dipikirkan dengan akal yang sehat, toh tidak bakal ada yang namanya kekuatan atau kebebasan tak-terbatas. Walaupun kita punya permintaan sebanyak bintang di langit. Hal itu karena kebebasan kita eventually akan bertubrukan dengan orang lain. Hak asasi yang kita junjung pada akhirnya akan dibatasi oleh hak asasi orang lain. Dan semestinya tidak ada kekuatan yang lebih besar yang bisa kita minta untuk menghapus hak asasi dan kebebasan orang tersebut.

Aladdin, sama seperti versi animasi originalnya tahun 1992, berkata bahwa setiap orang punya hak untuk mendapat kebebasan. Setiap masalah yang timbul dalam film ini, selalu berasal dari satu kebebasan tokoh yang dilanggar. Film ini menunjukkan masyarakat yang ideal harusnya adalah masyarakat yang mencapai suatu keadaan di mana kehendak dan kebebasan penduduknya berada dalam posisi yang seimbang dengan kesempatan, juga kekuatan dari penguasa.

 

Secara cerita, Aladdin garapan Guy Ritchie memang sama persis dengan film originalnya. Konfliknya juga kurang lebih sama. Aladdin si pengutil jalanan jatuh cinta kepada Jasmine yang seorang putri sultan. Namun harapan belum sirna bagi Al, lantaran dia menemukan lampu ajaib berisi jin superlebay kocak yang bisa mengabulkan tiga permintaan. Aladdin meminta untuk menjadi pangeran supaya bisa berkelit dari hukum dan pandangan sosial berupa Putri mesti menikahi keluarga kerajaan.Namun di luar niat awalnya, permintaan Aladdin kemudian menjadi semakin egois, dan keadaan menjadi tidak bisa lebih berbahaya lagi saat lampu jin ajaib tersebut jatuh ke tangan penasehat kerajaan yang jahatnya luar biasa.

kata Aladdin jangan mau diperalattin

 

Tak pelak, sebagian besar dari kita mungkin sudah sangat akrab dengan jalan cerita Aladdin. Bahkan film live-actionnya ini sendiri tahu persis akan hal tersebut. Makanya kita melihat mereka memulai cerita dengan cepat; Literally lewat montase yang diiringi oleh lagu “Malam di Araaaaaab, seperti siangnyaaa”. Film mengasumsi semua penonton mereka hapal tokoh-tokoh cerita di luar kepala. Kita tidak diberitahu lagi kenapa Jasmine menyamar masuk ke pasar. It could be a right thing, karena Aladdin sendiri juga saat itu belum tahu siapa Jasmine, dan cerita bertahan di sudut pandang Aladdin. Tapi ini sedari 1992 adalah cerita yang kompleks soal kebebasan individu yang bisa saling berkontradiksi. Cerita Aladdin butuh untuk memperlihatkan banyak sudut pandang, karena setiap tokoh di dalamnya – yang berasal dari kelas sosial yang berbeda – berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan.

Aladdin si tikus jalanan yang untuk makan saja harus mencuri punya kebebasan semu dalam hidupnya; hanya karena tidak ada yang peduli kepadanya. Masyarakat memandang rendah dirinya. Aladdin boleh saja punya waktu yang luang, bisa semau-gue seenaknya, tapi dia tidak punya privilege. Tidak ada kesempatan untuknya menjadi lebih dari yang ia punya sekarang. Jika dia punya mimpi, dia tidak ada daya dan kesempatan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Keadaan Aladdin ini bertimbal balik sama keadaan Jasmine. Putri yang punya semua materi tetapi amat sangat terbatas dalam gerakan. Pasangan hidupnya saja ditentukan oleh hukum istana. Jadi, kaya raya juga tidak menjamin kebebasan. Sebab tanpa kebebasan untuk bergerak, segala privilege itu pada akhirnya menjadi sia-sia. Bukan hanya tokoh manusia, Genie si Jin justru yang paling terkekang daripada semua. Genie bisa apa pun, mulai dari mengubah monyet menjadi gajah hingga membuat Aladdin bisa menari. Genie adalah tokoh terkuat, sihirnya tiada banding, tapi dia adalah pelayan. Tidak bisa bergerak sebelum diperintah. Dia bahkan tidak bisa membebaskan dirinya sendiri dari dalam lampu. Gelang yang ia kenakan bagi kita adalah perhiasan, namun baginya adalah belenggu. Dari Jasmine dan Genie kita tahu, kekayaan dan kekuatan bukan lantas ekual kebebasan

Selama dua jam lebih delapan menit durasi film ini, para karakter belajar mengenai apa sebenarnya makna kebebasan. Bagaimana cara mereka bisa bebas. Film animasi yang original hanya berdurasi sekitar sembilan-puluh menit. Plot-per-plot film tersebut berjalan dengan sangat ketat. Kita dapat mengerti keparalelan perjalanan para tokoh tersebut. Kita mengerti dosa terbesar Aladdin ialah percaya bahwa dengan menjadi kaya – berpura-pura menjadi Pangeran merupakan jawaban masalahnya. Aladdin tidak mengerti Jasmine jatuh cinta bukan karena statusnya, Aladdin gagal melihat Jasmine tidak mau dibeli dengan patung unta emas dan selai, melainkan Jasmine tertarik oleh kebebasan mengendarai permadani terbang. Maka Aladdin yang tak pernah punya apa-apa, menjadi sayang untuk meninggalkan apa yang sudah ia dapatkan dari lampu. Aladdin menganggap teman-temannya, Genie sebagai barang kepunyaan. Tahu gak apa yang terjadi pada barang-barang kepunyaan kita? Barang bisa hilang, bisa dicuri. Aladdin nyatanya hanya selangkah lagi menjadi seperti Jafar yang tidak menghormati kebebasan orang – dia pakai ilmu hipnotis untuk memuluskan rencananya! Bagi Jafar; kekuasaan adalah yang terpenting, dia tidak mengerti bahwa tanpa kebebasan maka kekuasaan tiada artinya.

Ketika kita menggunakan kebebasan orang untuk kepentingan diri sendiri, menganggap kita memiliki mereka, maka semua hal tersebut akan menjadi bumerang bagi diri kita. Jafar, contohnya. Aladdin juga hampir, jika ia tidak segera belajar untuk peduli sama Genie. Makanya, ‘membebaskan’ orang sejatinya adalah tiket menuju kebebasan diri kita sendiri. Tidak akan ada yang bisa benar-benar hidup bebas tanpa terganggu sampai semua hak dan kepentingan setiap orang diperhatikan.

 

Semua poin tersebut ada pada Aladdin versi live-action ini. Hanya saja dengan begitu lowongnya durasi, film memasukkan elemen-elemen baru. Salah satu yang paling menonjol adalah karakter si Jasmine. Wanita mandiri ini diberikan motivasi yang lebih kuat, yang lebih relevan. Dalam film ini, Jasmine juga punya keparalelan dengan tokoh Jafar. Jasmine dan Jafar essentially menginginkan hal yang sama. Dan memang sih, membuat film ini punya sesuatu yang fresh. You know, karena jaman sekarang film harus nunjukin karakter wanita yang kuat. Tapi, elemen ini gak begitu klop banget sama tema ‘membebaskan orang’ yang jadi nyawa utama film. Karena Jasmine ingin membuat things better untuk dirinya dengan usahanya sendiri. Di duapertiga film ada adegan Jasmine dengan Jafar yang membuatku speechless (yes, pun is very-well intended!) Terasa seperti dijejelin banget supaya ceritanya bisa diperpanjang. Naomi Scott bukannya jelek meranin Jasmine. In fact, aku bakal dirajam kalo bilang Scott jelek, di mana pun. Scott terlihat berusaha maksimal menghidupkan Jasmine versi baru ini. Hanya saja, penambahannya kayak setengah niat. Mestinya jika memang punya gagasan baru yang hendak diceritakan, ya bangun saja cerita baru berdasarkan gagasan tersebut. Jadikan Jasmine dan motivasinya sebagai sudut pandang utama. Jangan kayak ditambahin sekenanya seperti kayak ngisi lubang kosong.

Nostalgia bukan berarti kita punya free-pass buat tereak ikutan nyanyi di bioskop “Sambiiiiitt, Pangeran Ali!”

 

Sekiranya hal tersebut bersumber pada masalah pelik ketika kita menggarap remake dari sesuatu yang sangat sukses; Kita ingin membuatnya menjadi sesuatu yang baru sekaligus masih tetap stay true sama original. Paradoks. Dan sebagus-bagusnya kita mengrecreate, tetap saja yang bagus tadi itu sebenarnya hanya ‘nyontek yang dibolehin’. Serupa pula terasa pada adegan-adegan nyanyi pada film ini. Lagu A Whole New World, lagu Prince Ali; karena berusaha untuk enggak tampak dan terdengar sama-sama bgt ama versi aslinya, film mengubah susunan adegannya, sehingga pace lagunya jadi terdengar aneh. Lagu-lagu itu terasa singkat, sudah beres sebelum sempat membekas. Dan arahan adegan musikalnya sendiri pun lumayan aneh. Alih-alih banyak bermain dengan kamera, film malah bermain dengan kecepatan frame. Ada beberapa lagu dengan tari-tarian yang gerakannya seperti dipercepat. Sungguh aneh mengapa sutradara melakukan hal tersebut, masa iya sih karena waktu?

Tadi aku sempat bilang dosa terbesar Aladdin adalah percaya ia harus terus berbohong sebagai pangeran yang kaya. Aku mau ralat. Dosa terbesar Aladdin adalah membiarkan Mena Massoud dicast menjadi dirinya. Mentang-mentang Aladdin dalam film ini sama persis dengan versi animasi, Massoud jadi berdedikasi sekali menirukan gestur-gestur Aladdin animasi untuk menghidupkan Aladdin ‘beneran’. Yang mana menjadikan Aladdin terlihat bego, canggung, dan kaku. Yang jadi Jafar juga sama parahnya, malah lebih. Marwan Kenzari dengan tongkat hipnotisnya sama sekali tidak tampak meyakinkan sebagai manusia yang licik dan berbahaya. Jafar juga bego sekali dalam mengaplikasikan ilmu mindahin orang yang ia punya. Ironisnya, orang yang bertubi-tubi dicemo’oh saat trailer film ini rilis, justru menjadi penyelamat film ini. Jika gak ada Will Smith, niscaya film ini akan garing sekali. Dan aku bukan penggemar Will Smith. He’s not a better Genie than Robin Williams. Smith cringey ketika menjadi jin biru, tapi mendingan dan benar-benar mewarnai film ketika dia sudah masuk ke wujud manusia alis mode: om jin.

 

 

 

 

Film ini berjuang terlalu keras untuk menghidupkan animasi ke dunia nyata. Between CGI, adegan nyanyi yang dipercepat framenya, kamera yang sebagian besar hanya ngintilin jalan, dan permainan akting yang kaku; dunia film ini tidak pernah mencuat seperti dunia beneran. Yang mana berarti maksud mereka bikin live-action kurang kesampaian. Agrabah dan masyarakatnya hanya terasa seperti latar – lapangan untuk berparkour ria. Semuanya terasa kurang hidup. Bahkan Arab-nya sendiri agak-agak keindian yang membuktikan keignoran Hollywood – I mean, bahkan di WWE pun superstar Arab dan India biasanya dikasih moveset yang sama (Camel Clutch) seolah mereka gak tahu bedanya apa. Film terasa kesulitan bergerak antara harus sesuai dengan versi asli dengan harus tampak baru. Maka mereka fokus memoles alih-alih membangun. Semua yang bagus dalam film ini sudah pernah kita lihat sebelumnya. Dan mereka lebih seperti pertunjukan yang melakukan reka ulang alih-alih menghidupkan. Still, alot of people will enjoy it. Tapi nyatanya, setelah semua perayaan dan kembangapi di ending itu, ternyata ada satu yang belum punya kebebasan untuk menjadi dirinya sendir; ya film ini sendiri.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ALADDIN. 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian kebebasan orang lain itu penting? Apakah kamu pernah merasakan kebebasan kamu dibatasi?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

YOWIS BEN 2 Review

“Work hard and follow your dreams, but never forget where you came from”

 

 

Band yang di film pertamanya udah sukses populer seantero Malang itu kini personelnya sudah pada lulus SMA. Mereka udah pada gede-gede. Kudu nentuin jalan hidup sendiri, karena kalimat “welcome to the jungle!” toh memang benar adanya. Hidup anak-anak muda tersebut baru saja dimulai. Malahan, ada salah satu dari mereka yang langsung menikah jadi dia punya tanggungjawab kepala keluarga sekarang. Bagi Bayu pun begitu; tak mungkin dia terus bergantung pada pecel ibu dan gig-gig band konyol yang dicarikan oleh pamannya, si Cak Jon, sebagai monecot, eh salah.. manajer band! Tidak jika Bayu enggak mau mereka sekeluarga diusir dari rumah kontrakan. Maka Bayu mutusin untuk enggak lanjut kuliah, dia berniat serius berkarir bersama teman-teman Yowis Ben. Meskipun jika untuk melebarkan sayap demi rezeki itu dia terpaksa harus mencari manajer baru menggantikan pamannya. Ataupun harus rela meninggalkan kota Malang tempat band mereka literally dibesarkan.

Yowis Ben 2 menawarkan cerita yang lebih dewasa dibandingkan film pertamanya, dengan tetap berpegang kuat pada sudut pandang si anak muda. Kita bakal tetap berpusat pada masalah-masalah percintaan, ataupun lika-liku anak band yang berusaha untuk bermain bagus dan masuk tivi, tapi motivasi di balik semua permasalahan dibuat menjadi lebih ‘serius’. Stake yang mengancam di sini adalah urusan yang benar-benar ‘hidup atau mati’ karena menyangkut tanggung jawab terhadap keluarga. Dan bagaimana menjadi bagian dari band membuat kita menjadi semacam satu ‘keluarga’ lagi, di mana kita gak bisa egois hanya memikirkan keluarga-beneran kita sendiri. Yowis Ben 2 mengajak penonton yang udah tergelak-gelak mengikuti film pertamanya untuk tumbuh bersama tokoh-tokohnya. Dan memang ngikutin dua film ini sudah seperti kita ngikutin perjalanan bintang musik yang kita senengi, segitu berhasilnya film ini mengekspansi semesta cerita yang ia miliki.

ada yang ngitungin berapa kali kata ‘jancuk’ disebut dalam film ini?

 

Tadinya memang seperti sebuah pilihan aneh yang dilakukan oleh sutradara Fajar Nugros; buat apa memindahkan lokasi ke Bandung dengan resiko membagi dua penonton alih-alih merangkul lebih banyak jika filmnya malah jatoh setengah-setengah. Ternyata Yowis Ben 2 bukan saja berhasil meluaskan dunia, melainkan juga sukses memadupadankan dua budaya. Banyaknya tokoh baru dibarengi oleh semakin kayanya materi yang bisa dimanfaatkan oleh film ini, baik untuk komedi maupun untuk melandaskan pesan yang dibawa oleh cerita. Kepindahan ke Bandung menimbulkan tantangan baru bagi para tokoh; mereka kini berada dalam situasi fish-out-of-water, ada banyak yang harus mereka pelajari. Dan kepindahan tersebut juga paralel dengan harapan mereka untuk berangkat dari band sekolahan ke band nasional. Kultural shock tentu saja dimainkan jadi alat komedi paling utama. Kali ini penonton akan terbahak-bahak melihat gimana cerdasnya naskah menabrakan bahasa dan kebiasaan arek malang dengan urang sunda. Kosa kata yang sama namun berbeda yang dimiliki oleh kedua daerah akan mewarnai canda-canda dialog. Subtitle memastikan penonton di luar dua daerah tersebut tidak ketinggalan apapun dan dapat tertawa bersama. Bahasa boleh berbeda, tapi anekdot dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh tokoh filmnya ini kurang-lebih sama dan dapat dengan gampang berelasi dengan para penonton.

Kepindahan ke Bandung diperlukan demi menguatkan pesan bahwa terkadang kita harus melakukan perjalanan, keluar dari comfort zone, untuk bisa berkembang menjadi lebih baik. Namun itu bukan berarti kita tidak boleh balik lagi. Bukan kepindahannya, melainkan proses saat kita berpindah itu yang nyatakan akan menjadi pembelajaran. Nyali Yowis Ben 2 bukan hanya berhenti di memindahkan tokohnya. Film ini juga berani untuk menunjukkan cerita kekalahan. Sebab terkadang masih ada hal yang lebih penting ketimbang kepopuleran. Masih banyak jalan yang bisa dilewati untuk menjemput rejeki. Dari cerita ini kita juga terdorong untuk jadi lebih mencintai orang-orang terdekat sebagai keluarga kedua, untuk belajar menerima meskipun mungkin banyak kekurangannya. Karena mungkin kita tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan demi kita.

Sah-sah saja, tidak perlu malu untuk gagal jika keberhasilan yang ada di ujung satunya berarti kita harus melupakan siapa diri kita, mengabaikan keluarga yang sudah membesarkan. Karena penting untuk senantiasa memegang teguh akar diri, mengingat darimana kita berasal

 

Pesan-pesan demikian tersaji frontal di dalam cerita, menyembul di sela-sela komedi yang bekerja efektif. Fajar Nugros kentara sekali punya selera humor yang benar-benar merakyat, dan arahannya berhasil meng-encourage para pemain untuk tampil gak jaim dan benar-benar lepas – membuat karakter mereka menjadi hidup bersama dunianya. Formasi Bayu Skak – Joshua Suherman – Brandon Salim – Tutus Thomson terasa cukup solid, mereka bisa saling bercanda, bahkan ‘berantem’ dengan sama meyakinkannya. Tentu saja menambah banyak bahwa mereka actually bisa main band beneran. Jika film terus lanjut mem-push mereka, bukan tidak mungkin kwartet ini bisa tumbuh berkembang menjadi semacam ekuivalen Warkop buat generasi kekinian, ditambah dengan kepopuleran mereka sebagai bahan pertimbangan. Pemain-pemain lain juga diberikan kesempatan untuk menunjukkan sisi komedi dari mereka. Anggika Bolsterli mungkin adalah yang paling mencuri perhatian, dan jelas tokohnya adalah yang dapat sambutan paling hangat ditambahkan masuk ke dalam dunia Yowis Ben. Film ini berani menyerahkan tugas komedi itu kepada aktor-aktor yang tak sering dijumpai berbanyol dan ‘berjelek’ ria. Dan kupikir keberanian tersebut hadir diback-up oleh kemampuan meracik lelucon – sehingga yang ‘kodian’ tetep terasa seger – dan penguasaan timing yang handal.

dan mataku pun lamur menyangka ada cameo BCL di sana

 

Dan kemudian film tetap memunculkan komedi demi komedi, dan kemudian tiba-tiba ada yang nangis. Kemudian komedi lagi. Film seperti ogah berhenti jika adegannya tidak berujung membuat penonton ketawa ataupun menangis. Atau malah keduanya berbarengan. There’s really no middle-ground here. Buatku inilah yang menjadi permasalahan buat film Yowis Ben 2. Tone ceritanya tidak bercampur dengan baik karena tidak benar-benar ada momen yang menjembatani antara komedi dengan drama. Karena film tidak berhenti untuk membangun momen-momen dramatis. Hanya disampaikan dengan komedi, musik, lalu drama, dan berulang lagi. Jadinya banyak drama yang kerasa ujug-ujug. Satu ketika Bayu memutuskan pergi ke Bandung, adegan berikutnya dia teringat Susan. Di satu poin mereka lucu-lucuan, di momen berikutnya mereka marahan. Dia ketemu cewek, dan adegan berikutnya mereka udah akrab. It just ‘snap’, ‘snap’, like that. Dengan pesan-pesan cerita di-shoehorn masuk begitu saja hanya karena sudah sampai waktunya sekuens tersebut di naskah. Ada satu adegan ‘pidato’ di babak ketiga film yang gamblang banget, yang dilogiskan oleh film dengan segampang bilang “bandung ini punya saya”. Perlu diingat ada banyak sekali adegan-adegan yang dimasukkan untuk kepentingan komedi semata, seperti adegan Doni menunggu di angkot. Padahal jika menit-menitnya digunakan untuk, katakanlah mendevelop interaksi Doni dengan si Bondol, atau ke keadaan dua teman mereka tinggal – mungkin perlihatkan mereka mempertimbangkan kembali keputusan angkatkaki dari band, atau malah memperlihatkan ‘drama’ Cak Jon lebih banyak, tentu perjalanan cerita menjadi semakin enak.

Ada satu adegan saat mereka disuruh rekaman dengan duo-rapper, lagu mereka dirap-in dengan lirik yang hanya tiga kata diulang-ulang dengan alasan ‘logis’  bahwa semakin sederhana maka penonton akan semakin cepet hapal. Sebenarnya inilah yang dilakukan oleh film terhadap cerita yang mereka punya. They keep it simple, mungkin biar jadi enggak terlalu berat bagi penonton. Apa mungkin ini jeritan terselubung dari sang sutradara mengingat film memang sering throwing shade ke hal-hal di luar fourth wall. Karena aku bisa melihat ada versi yang lebih teatrikal dari film ini, ada versi yang bisa lebih enak berceritanya. Rangkaian yang lebih clear daripada muter-muter kayak istri yang ditinggal, ternyata ngikut juga. Menjelang akhir film juga kerasa draggy, jalan keluar pun terkesan lumayan gampang, meski aku suka gimana film memberikan kesempatan kepada Bayu untuk membuat pilihan.

Mungkin, karena film pertamanya punya cara bercerita yang unik – dimulai dari Bayu ama tukang becak, di mana kejadian film merupakan Bayu menceritakan pengalamannya kepada si tukang becak – maka film keduanya ini juga berusaha untuk melakukan sesuatu yang seperti demikian. But they are not really doing it, yang ada malah kita mendapat adegan flashback yang enggak perlu. Misalnya ketika Bayu minta antar angkot buru-buru, dan kita melihat Bayu sampai di tempat. Dan beberapa adegan kemudian dia dikonfrontasi sama si supir angkot karena cring.. cring.. flashback ke apa yang dilakukan Bayu di angkot saat pergi tadi. I mean, kenapa tidak linear saja adegan tersebut ditampilkan?

 

 

 

Aku pengen melihat lebih banyak interaksi personal antara keempat tokoh yang sudah semakin dewasa. Atau diperlihatkan bagaimana keadaan berpengaruh terhadap proses kreatif, bukan langsung ada lagu jadi. Bukan adegan yang seperti skip-skip dari komedi ke haru. Film ini punya potensi untuk jadi cerita remaja yang benar-benar matang dengan pesan yang kuat. Dengan pemberdayaan dua buaya lokal yang berhasil padu padan, aku tak lagi melihatnya mirip Scott Pilgrim vs The World. Bahkan, punya materi yang lebih solid dari film pertamanya, yang aku sukai. Namun film ini memilih untuk keep it simple, melempar pesan ke muka kita dan menutupinya dengan punchline komedi.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for YOWIS BEN 2.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Buat yang anak rantau; pernahkah kalian merasa malu pulang ke rumah lantaran ngerasa belum sukses?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

My Dirt Sheet Awards 8MILE

Sudah satu bulan kita keluar dari tol 2018 dan mulai melaju di jalan panjang yang baru. Jalan yang kita harepin bakal mulus, melewati berbagai pemandangan yang seru. Siapa yang tahu rintangan dan polisi tidur seperti apa yang siap menghadang di balik tikungan sana. Namun kita mesti selalu siap. Jangan gentar. MY DIRT SHEET AWARDS KEDELAPAN hadir buat kamu-kamu yang masih sering ngelirik ke kaca spion. Yang mungkin masih ragu-ragu dengan keputusan yang sudah diambil tahun lalu. Yang memulai 2019 dengan tak begitu lancar sehingga menyangka “jangan-jangan tahun kemaren masih lebih baik dari sekarang”. Karena toh memang tak ada yang tahu pasti seperti apa ke depan. Maka, jadikanlah penghargaan-penghargaan berikut sebagai pengenang, selurus apa sih 2018 itu

Anyway, kali ini Penganugerahan dikembalikan ke tangan kita-kita, setelah tahun lalu terjadi ‘kekacauan’ dari para pembaca nominasi yang seenaknya sendiri hhihi

 

 

TRENDING OF THE YEAR

Kenyataan bahwa video tahunan Youtube Rewind yang biasanya ngetren, versi akhir tahun 2018 malah banyak dihujat, sejatinya bikin ‘ngeri’ juga sih. Apa memang tren-tren di 2018 sejelek itu? Atau para youtuber-pengisinya aja yang kelewat narsis sehingga video tersebut jadi gak asik lagi? Jadi, inilah nominasi yang paling ngehits, silahkan judge sendiri asik atau enggak scene perviralan dunia hhihi:
1. Es Kepal Milo
Duh pas bulan puasa kemaren, gak keitung deh pelanggan kafe eskrimku yang meminta menu es kepal. Es dari Malaysia ini melejit, dijual di mana-mana, dengan jumawa menjadi tren sampai ada yang iseng menghitung kalori yang terkandung di dalamnya 
2. Flossing
Flossing atau The Floss adalah gerakan ‘tarian’ gaul di mana…. well, I’m not describing that! Banyak orang – remaja maupun orang dewasa – yang mempraktekkan Floss sejak kepopulerannya naik oleh aksi di televisi, bahkan tokoh game pun dirender untuk melakukan gerakan ini
3. Hey Tayo 
Aku gak nonton tv jadi gak terlalu ngeh ada acara ini, sampai saat mudik lebaran aku mendapati semua anak kecil di kampung nonton dan nyanyiin acara ini. Dan tentu saja, Tayo sukses jadi meme dan viral
4. K-Pop 
Tahun ini giliran musik dan idol pop Korea yang populer. Dikawangi grup girlband dan boyband semacam Blackpink, BTS, dan banyak lagi, mereka menuai sukses bukan saja di Indonesia, melainkan juga di belahan dunia lain
5. Sinetron Azab 
Terkenal karena judul episodenya yang bombastis dan berimajinasi tinggi. Setinggi ratingnya, karena Azab actually punya versi yang lebih ‘ngeri’ berjudul Dobel Azab
6. Tik Tok
Aplikasi video tempat anak-anak muda nyalurin kreasi, challenges, nari-nari dan bikin lucu-lucuan.

Piala The Dirty pertama jatuh kepadaa:

It’s like, kategori Trending of the Year ini dari tahun pertahun memperlihatkan langkah dominasi Korea di dunia pop. Gak tau deh tahun depan apa lagi dari Korea yang masuk ke sini

 

 

K-Pop boleh saja punya aksi-aksi koreografi yang keren sebagai pengiring dari lagu-lagu mereka. Tapi My Dirt Sheet punya penilaian tersendiri atas bagaimana sebuah penampilan musik dikatakan terbaik. Tampil dan Musik; sejauh apa kalian rela melakukan sesuatu dengan bermusik

BEST MUSICAL PERFORMANCE

Nominasinya adalaaah
1. Cameron Post – “What’s Up?”

2. Childish Gambino aka Donald Glover – “This is America”

3. Slashstreet Boys – “I’ll Kill You That Way”

4. Tom Holland – lip sync to “Umbrella”

5. Vanellope von Schweetz – “A Place Called Slaughter Race”

 

 

Apakah Childich Gambino akan membawa piala sambil menari? Akankah tangan Tom Holland penuh oleh payung dan piala? Bisakah Cameron Post mendapat apa yang ia pantas? Atau Slashstreet Boys yang berjaya dengan lagu pembunuh mereka? Apa mungkin Vanellope berhasil dengan lagu Princess pertamanya? Eng ing enggg The Dirty jatuh kepadaaa

Kocak banget idenya hahaha.. sapa sangka si pendiem Jason suaranya bagus,…….. bitch!

 

 

 

Ke-absurd-an kita lanjutkan dengan salah satu kategori paling eksulsif, eh salah, eklufis, eh, eksklusif! My Dirt Sheet. Kategori di mana tolol dan troll diberikan anugerah.

BEGO OF THE YEAR

Tepuk tangan dulu doonng buat para nominasi:
1. Ari “Wage/Weij” Irham
Kejadian salah baca judul film Indonesia di ajang FFI 2018 ini membuktikan ketampanan memang bukan apa-apa dibandingkan dengan keignorant
2. Cut Nyak Dien Masa Kini
Lebih tepatnya mungkin “Masa gitu” kali ya… atau mungkin “Masa ngaku-ngaku punya masalah” hhihi
3. Drama-Drama Vicky Prasetyo
Hidup mungkin memang membosankan jika gak ada drama. Tapi ya, gak ngundang-ngundang helikopter macam film aksi juga sih, jadinya bukan drama malah komedi
4. Para ‘Narasumber’ Serial “Who is America?” 
Sacha Baron Cohen bikin reality show unik di mana dia menyamar demi mengungkap kebegoan, kesombongan, dan kesoktahuan orang-orang tinggi di Amerika
5. Titus Worldslide
Butuh ketrampilan berlari yang luar biasa untuk bisa jatuh dan meluncur hilang masuk ke dalam tirai di bawah ring seperti yang dipraktekkan oleh Titus O’Neil di depan penonton Saudi Arabia

 

Anugerah bergengsi ini jatuh kepadaaa

Caitlin aja ampe ketawa tuh “maafkan baru pertama kali baca nominasi” hihihihi

 

 

Harapannya sih semoga kita bisa lebih baik dengan menertawakan kesalahan, belajar darinya. Daripada emosian dan ujug-ujug bertengkar. Buat yang udah terlanjur bertengkar, My Dirt Sheet juga memberikan piala khusus loh. Sukur-sukur setelah dapat piala, jadi pada baikan.

FEUD OF THE YEAR

Nominasinya adalah:
1. Bibit Unggul Twitwar
Ketika mahasiswi pinter kepepet oleh fans dari ilustrator yang ia sindir, ‘perang’ mereka jadi hiburan buat kita
2. Becky Lynch vs. Everybody
Menyebut diri sebagai “The Man”, Becky Lynch nantangin semua orang di-backstage, bahkan di twitter. Fans tentu saja bersorak sorai melihat kearoganannya yang keren  
3. Creed vs. Drago
Konflik Creed lawan Drago dilatarbelakangi sejarah kelam; ayah Drago membunuh ayah Creed di atas ring. Pertandingan tinju belum pernah menjadi sepersonal ini. 
4. Laurie Stroode vs. Michael Myers
Empat puluh tahun loh, seteru dua orang ini. Empat puluh halloween Laurie mendendam sehingga malah parnoan. Makanya jadi epic saat posisi mereka seolah berganti – Laurie yang memburu Michael 
5. Lukman Sardi vs. Reviewers
Lukman Sardi sempat ‘nyari’ ribut dengan tulisan instatorynya soal film hanya boleh dinilai ama yang pernah dan ngerti cara membuatnya
6. Yanny vs. Laurel
Sama kayak Dress di tahun 2017, Yanny dan Laurel membagi orang-orang menjadi dua; kubu yang mendengar suara itu sebagai “Yanny”, dan yang mendengarnya “Laurel”. Aku juga heran sih, kok bisa Y ama L jadi mirip 

 

Pemenangnya, dan silahkan rebutan piala, adalah…

Doi udah kayak Stone Cold versi cewek!

 

 

 

 

Segala energi berantem itu memang mestinya disalurin lewat video game aja. Dijamin memuaskan dan gak bikin semakin makan ati. Apalagi game sekarang udah tampil realistis banget, fitur online juga berkembang pesat. Tawuran jadi makin aman, deh

GAME OF THE YEAR

Beriku adalah para nominasinya
1. Dragon Ball Fighterz

Tak disangka-sangka sebagus itu, game terbaru Dragon Ball ini sukses menendang pantat angka penjualan game Marvel vs. Capcom di pasaran

2. God of War

Banyak orang gak sabar memainkan Kratos yang sudah insaf dan kini punya anak untuk berbagi bunuh monster

3. Harry Potter: Hogwarts Mystery

Kapan lagi dengan hape doang kita bisa masuk Hogwarts dan menjalani tujuh-tahun di sekolah sihir dengan segala aktivitasnya

4. PUBG Mobile

Nyaris semua orang yang kukenal main game ini di hapenya.

5. Spider-Man

Menawarkan pengalaman menjadi Spider-man dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Biar gak loading kelamaan, inilah dia pemenangnyaa

Animasinya udah kayak berantem di kartunnya banget. Aksinya cepet. Terobosan baru di dunia game fighting 2D

 

 

Perang, sudah. Perang-perangan, juga sudah. Sekarang waktunya ngademin suasana dengan kategori favoritkyu~ Marilah kita mendoakan supaya cewek-cewek yang masuk nominasi ini mendapat jalan yang lurus dan lancar menuju kesuksesan. Amiinnn

UNYU OP THE YEAR

Sambutlah para nominasi, di antaranya:
1. Alexa Bliss
Setelah gagal dua tahun berturut, Alexa nongol lagi. Dan meski tahun 2018 dia lumayan lama cedera, Si Goddess ini gak kehabisan akal untuk tampil licik dan menawan
2. Cailee Spaeny
Memukau di Pacific Rim: Uprising, Cailee langsung menunjukkan kemampuannya memainkan peran yang berbeda di Bad Times at El Royale
3. Chloe Grace Moretz
Satu lagi pemain lama, yang udah langganan masuk nominasi. Chloe tahun ini balik dalam dua film yang menantang aktingnya lebih lanjut; Suspiria dan The Miseducation of Cameron Post 
4. Hailee Steinfeld
Tampil dengan manis sekali di Bumblebee, Hailee bahkan mengungguli pencapaiannya sendiri yang sebelumnya ia patri di Edge of Seventeen
5. Mackenzie Foy
Satu-satunya yang bikin film Nutracker terbaru itu layak tonton. Foy bersinar, aku akan senang sekali nungguin peran dia berikutnya di film yang lebih berarti
6. Vanesha Prescilla
Alumni Gadsam 2014 yang langsung melejit lewat perannya sebagai Milea di Dilan 1990. Tapi aku lebih suka dia di film #TemanTapiMenikah sih

 

Akankah Bliss atau Moretz akhirnya mendapat piala? Ataukah kali ini adalah giliran anak-anak baru untuk membuka jalan? The Dirty goes to…

She sure has long way to go

 

 

 

 

MY MOMENT OF THE YEAR

Pencapaian anak muda seperti di atas membuatku ingin berefleksi sebentar atas apa yang sudah kulakukan di tahun 2018. Looking back, I will say I have no regrets. Yah, meskipun kafe eskrimku di tengah tahun pada akhirnya tutup. Tapi itu tentu saja membuka jalan yang baru. Aku bisa jadi lebih fokus ke film. Aku bisa makin serius di Forum Film Bandung. Aku juga jadi punya waktu lebih untuk berkarya. Buku pertamaku, Review Jaman Now, akhirnya terbit – paling tidak sampai penerbitnya kabur enggak jawab-jawab WA lagi. Dan aku juga sudah berani nyoba-nyoba bikin film pendek. Dua, film pendek. Setelah dipikir-pikir, itulah yang kubanggakan di tahun 2018. Aku akhirnya mencoba. Dan ketagihan, karena hasilnya masih belum membuatku puas. Semoga tahun 2019 aku bisa terus bikin-bikin lagi, kali ini dengan lebih bagus.

 

 

 

 

 

 

Kadang, memang, kita pengen mengulang menjadi anak-anak. Yang jalannya masih lebih panjang. Yang kesempatannya terbuka masih lebih luas. Yang semangatnya seperti tak terbatas. Kadang, kita seperti lupa bagaimana melihat dunia dari kacamata anak kecil. Makanya, My Dirt Sheet memberikan award buat kategori Best Child Character; bukan tokoh anak-anaknya, melainkan buat penulisan tokohnya. Karena menjadi orang dewasa yang berusaha kembali melihat dunia dari sudut anak kecil itu tidak gampang. Emosi yang disajikan harus tepat, dan benar adanya.

BEST CHILD CHARACTER

Nominasi untuk kategori ini adalaaahh

1. Kayla – “Eight Grade”
Perasaan dan apa yang dilalui oleh anak kelas delapan yang berusaha populer ditulis ke dalam tokoh Kayla dengan begitu dekat pada kenyataan.
2. Miles Morales – “Spider-Man: Into the Spider-Verse”
Konfliknya dengan ayah; perihal apa yang ingin ia lakukan jadi lapisan-dalam yang bergerak paralel dengan tugas-luarnya sebagai Spider-Man generasi baru. 
3. Moonee – “The Florida Project”
Lewat kenakalan, kepolosan, dan keceriaan Moonee kita diperlihatkan betapa pentingnya keberadaan orangtua bagi seorang anak
4. Stevie ‘Sunburn’ – “Mid90s” 
Kalo Stevie lain lagi, ia mewakili perasaan anak-anak yang sebenarnya juga memerlukan teman dibandingkan melulu sosok pengasuh.
5. Theo – “The Haunting of Hill House”
Dalam serial rumah berhantu Netflix, penulis mempersonifikasikan lima stages of grief ke dalam sifat tokoh-tokohnya. Theo yang punya kemampuan ESP, mewakili stage Bargaining.

Tanpa banyak tawar-menawar lagi, The Dirty jatuh kepadaa…

Congrats Jonah Hill telah menulis karakter anak 90an sereal dan sehidup Stevie ini

 

 

 

Anak-anak di kategori atas, mereka sama sekali gak jengkelin. Mereka bahkan lebih dewasa dari nominasi di kategori berikut ini. Kadang orang dewasa memang lebih menjengkelkan, dengan kata-kata yangt gak kalah tak-make-sense nya dari racauan anak-anak. Pembaca sekalian, inilah kategori selanjutnya:

MOST ANNOYING QUOTE

Nominasinya adalah:

1. “Ada aaaaapa ya sebenarnya?” – Aruna

2. “Makan daging dengan sayur kol” – lirik lagu yang jadi kutipan buat orang yang berusaha ngelucu

3. “Mashook, Pak Eko!” dan versi lainnya; “Mantul, Pak Eko!”

4. “Rindu itu berat” – Dilan

5. “Skidipapap Sawadikap” – immature netizens

 

Untuk kali ini The Dirty jatuh kepada kutipan yang aku pake buat menjengkelkan orang-orang:

“mashoook, Pak Eko!”

 

 

Adegan dari Aruna & Lidahnya itu kocak, aneh, campur menjengkelkan. Menakjubkan gimana film berhasil membuat adegan yang bekerja dalam banyak tingkatan seperti demikian. Untuk itulah My Dirt Sheet mengadakan kategori berikut, meskipun kami sudah punya Top-8 Movies yang terpisah. Karena terkadang adegan-adegan keren itu gak melulu ada di film-film yang bagus.

BEST MOVIE SCENE

Simak nih para nominasinya:
1. Helicopter Chase – “Mission: Impossible – Fallout”

http://www.youtube.com/watch?v=wzAv_644g64

2. Live Aid Concert – “Bohemian Rhapsody”

http://www.youtube.com/watch?v=uQL_1hdnUCM

3. Mahjong – “Crazy Rich Asians”

http://www.youtube.com/watch?v=Wh_oOd5JGpU

4. Sunset Dancing – “Burning”

5. The Crane – One Cut of the Dead

6. The Snap – “Avengers: Infinity War”

 

And The Dirty goes to…..

well-written dan penuh simbolisasi. Menonton ini membuatku jadi pengen tahu cara main mahjong biar emosinya lebih dapat lagi

 

 

 

 

 

 

Perjalanan film sepanjang 2018 memang dihantui oleh film-film horor yang jumlahnya banyak banget. Demi mengenang itulah, maka My Dirt Sheet kali ini mengeluarkan kategori spesial.

DEMON OF THE YEAR

Nominasi untuk kategori ini adalah tokoh-tokoh setan yang sudah berhasil menjadi ikonik; entah itu karena penulisannya, karena bangunan ceritanya, ataupun simply karena penampakannya yang mengerikan. Mereka adalah….
1. Bent-Neck Lady – serial “The Haunting of Hill House”
Sosok hantu yang paling bertanggungjawab ngehasilin mimpi buruk; lehernya itu loh! Di balik kengeriannya, hantu ini ternyata punya jalan hidup yang tragis
2. Ivanna – “Danur 2: Maddah”
Ah aku gak akan pernah lupa adegan Ivanna ngangguin orang zikir – badannya naik turun dengan gerakan yang creepy – dan kemudian memecahkan kaca dan breaking the 4th wall; menakuti kita semua
3. Michael Langdon – serial “American Horror Story: Apocalypse”
Antichrist yang berusaha menaklukan kelompok penyihir ini punya segudang trik dan manipulasi menyeramkan dalam melancarkan aksinya. Tak lupa pula, dia punya sisi humanis yang membuatnya menjadi karakter yang menarik
4. Suzzanna – “Suzzanna: Bernapas dalam Kubur”
Tidak ada yang lebih mengerikan daripada hantu yang misinya untuk balas dendam. Tapi tidak segampang itu, Ferguso. Suzzanna ditulis begitu manusiawi sehingga kita diperlihatkan bagaimana dia semakin tragis berusaha untuk menahan amarah kesumatnya
5. Valak – “The Nun”
Iblis dari neraka yang mengambil wujud biarawati akhirnya punya film sendiri!

 

Dan yang sukses membawa piala ke alam baka adalaahh

Secara kontekstual; Suzzanna benar-benar seperti bangkit dari kubur!

 

 

Gak sia-sia, kan, Luna Maya didandanin – dipakein topeng prostetik, supaya meyakinkan menjelma menjadi sosok Suzzanna. Karena penampilan itu toh penting gak penting. Kategori berikut ini dipersembahkan buat fashion-fashion super unik yang kalo dipake bakal bikin penampilan kita lain daripada yang laen. Bikin kita menonjol di jalanan!

FASHION OF THE YEAR

Nominasinya adalaaah
1. Baju koko Black Panther

2. Baju koko… Thanos!

3. Jaket Dilan

4. Kacamata Velveteen Dream

5. Setelan, literally, kebesaran Alessia Cara

 

Penampilan paling unik tahun 2018 adalaaah

Kacamata flamboyan ini sepertinya cocok juga dipake ama Ten Shin Han

 

 

 

 

Setelah ganti penampilan dan menarik hati, ayo kita mencari pasangaann hhihi jadi kayak lagu Chibi Maruko.

COUPLE OF THE YEAR

Nominasi kategori ini bisa bikin kalian baper, karena memang mereka semua ini so sweet banget
1. Ally & Jack
Walaupun berakhir tragis, kisah dua orang ini sangat menginspirasi. Siapa coba yang gak kepingin berkarya bersama pasangannya?
2. Ayudia & Ditto
Kisah mereka di film #TemanTapiMenikah bisa jadi relationship goal banget buat orang-orang yang berkubang di friendzoneUntuk membuat makin sweet lagi, dua pemeran film ini berakhir beneran jadian
3. Dilan & Milea
Highschool sweethearts ini sudah ditonton oleh jutaan pasangan yang diam-diam pengen menjadi seperti mereka
4. Milly & Mamet
Suri tauladan buat pasangan milenial yang baru mengarungi kehidupan rumah tangga, nih
5. Prince Harry & Meghan
Tau dong cerita manis di balik pasangan darah biru kerajaan Inggris ini? Gimana si cewek dulu hanya bisa berfoto di depan istana, dan kini… cewek-cewek pasti bilang “mauuuuuu”

6. Rachel & Nick
Satu lagi cerita impian ketika seorang gadis mengetahui ternyata pacarnya anak orang kaya

 

Dan The Dirty diberikan kepadaaa..

Pasangan paling ikonik tahun 2018!

 

 

 

 

 

Tentu saja akan sedih sekali jika kita melihat pasangan-pasangan seperti itu harus terpisahkan. Momen bahagia akan lenyap semudah Thanos menjentikkan jarinya. Orang-orang yang terpisah dari yang tercinta; dari keluarga, teman, kerabat. Marilah kita mendoakan mereka korban gempa seperti di Lombok, gempa tsunami di Palu, tsunami di Selat Sunda. Korban kecelakaan seperti jatuhnya pesawat Lion Air. Korban penembakan sekolah, korban terorisme. Dan kepada jiwa-jiwa yang berjasa, baik yang dikenal seperti Stan Lee, Bruno Sammartino, Roddy Piper, Dolores the Cranberries, Gogon, Stephen Hwaking, dan banyak lagi – maupun yang tak dikenal. Kepada mereka semua yang tak bisa ikut lagi jalan bersama di 2019, aku ajak kita semua untuk mengheningkan cipta.

Mulai!

….

….

MOMENT OF SILENCE

….

….

….

….

….

….

….

Selesai!

 

 

 

Penghargaan terakhir diberikan untuk kejadian paling tak-terduga, paling heboh, paling out-of-nowhere yang terjadi di 2018

SHOCKER OF THE YEAR

Nominasinya sebenarnya banyak, semua hal yang udah bikin kita shock dan surprise, yah meskipun dengan dunia yang semakin aneh, rasanya kita juga semakin bebal ama yang namanya ‘mengejutkan’. Berikut adalah beberapa yang menurutku cukup mengagetkan
1. Kane jadi walikota!
2. Ronda Rousey debut di WWE!!
3. Daniel Bryan dibolehin bertanding setelah sebelumnya divonis pensiun-dini!!!
4. Jokowi bisa naik motor!
5. Gadis Sampul diadain lagi!!
6. Netflix ngeluarin konten interaktif!!
7. Ada concentration camp buat muslim di Cina!?!
8. Katy Perry ama Taylor Swift baikan?!
9. Printer 3D yang bisa ngeprint ke kulit manusia!!
10. Bill Cosby ngaku!!!
11. Sudahkah aku nyebutin Stephen Hawking, manusia paling pintar itu meninggal dunia!?

Well, ya karena Hawking ninggalin kita sesuatu yang sangat mengejutkan…

Beliau meninggalkan kita catatan penelitian yang menunjukkan teori bukti keberadaan multiverse!

 

OH MY GAWD!!

Apakah dunia beneran kayak di serial Rick dan Morty? Apa bakal ada banyak jenis Spider-Man? Apa di dunia lain sana ada My Dirt Sheet Awards juga dengan pemenang yang berbeda? Apa 2018 di dunia lain menyenangkan, atau lebih kacau? Siapa tau lebih maju?

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners.
And there are losers.

 

Atau begitulah yang kita sangka, karena siapa tau ada dunia lain yang hanya punya winners atau losers saja.

 

Yang jelas, we still the longest reigning BLOG KRITIK TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

Selamat Tahun Baru, Semua!!!! Tetap tersenyum yaaa

A STAR IS BORN Review

“Life is like a seesaw ride”

 

 

 

Sekalipun kelihatannya demikian, kesuksesan tak pernah murni suatu kebetulan. Nyatanya ia adalah rangkaian dari berbagai pilihan dan usaha yang kita buat. Yang terhubung dengan jalinan kehidupan orang lain. Jika Jackson Maine enggak kebelet minum malam itu, dia enggak akan mampir ke bar, dan tidak akan pernah bertemu dengan Ally. Atau bahkan jika aku yang berada di sepatu Jack, aku mungkin akan segera keluar begitu sadar bar yang kumasuki adalah bar waria, I would never met Ally at all. Bakat Ally pun tidak akan pernah diketemukan, dia tidak akan pernah jadi penyanyi sukses. Cinta hangat antara Jack dan Ally tidak bakal pernah kita saksikan. ‘Penyakit’ Jack-lah yang actually ngeset things in motion. Tapi akankah karir Jack masih tetap bersinar jika ia tidak pernah bertemu Ally. Apakah jika sukses kita terhubung dengan orang lain, maka kegagalan kita juga ada sangkut pautnya dengan orang lain?

Malang, memang, kisah cinta mereka harus membuat hidup seperti bermain jungkat-jungkit. Sendirian, gak bakal seru. Perlu dua orang untuk menikmatinya, tapi ini adalah sebuah kondisi di mana yang satu akan berada di bawah saat yang satunya lagi menggapai angkasa. Kondisi inlah yang sebenarnya membuat romansa Jack dan Ally begitu kuat; karena kita tahu segala macam emosi; hasrat, cinta, gairah, harapan, kesedihan, kecemburuan, melimpah ruah. Ini rupa dari cinta sejati

 

A Star is Born menceritakan kisah Jack si penyanyi rock country terkenal yang berada di ambang karirnya lantaran dia enggak bisa berhenti minum-minum. Dia bertemu dengan Ally dan bakatnya yang seketika membuat Jack terpesona. Hubungan dua orang ini, babak pertama film, penuh oleh momen-momen yang sangat menakjubkan. Aku sejujurnya jealous dengan mereka; aku berharap suatu saat bisa merasakan apa yang mereka alami. You know, jatuh cinta kepada seseorang karena kita begitu ter-mindblown oleh kemampuan mereka. Kemampuan musik yang dimiliki Ally membuat Jack merasa saklar hidupnya menyala kembali secara emosi dan creatively. Dan bagi Ally, Jack lebih dari kesempatan yang selama ini ia tunggu-tunggu. Mereka saling tertarik passionately, mereka ingin mencapai keagungan kreatif itu bersama-sama. Kita akan dibawa ke berbagai panggung penuh emosi, dan tentu saja musik-musik keren.

Bagian favoritku, dan kurasa sebagian besar kalian juga bakal setuju, adalah ketika Ally diajak ikutan nyanyi di panggung Coachella – di depan begitu banyak penonton. Ally yang selama ini hanya nyanyi di bar, dia mengaku tidak bisa masuk panggung pertunjukan karena hidungnya dinilai produser kegedean (hidung Ally, actually, akan membawa kita ke momen lain yang sama menyentuhnya), dan tau-tau dia diberikan kesempatan untuk menunjukkan bakat dan suara hatinya – menyanyikan lagu yang ia tulis sendiri. Perasaan yang dialami Ally saat itu, luapan emosi yang membuncah, yang ia salurkan lewat nyanyian, benar-benar membuatku merinding.

“Haaaa~ooooaaa~ooooaaaa~ooooo… Aku bertanya pada manusia tak ada jawabnyaaa”

 

 

Penggemar serial American Horror Story pasti masih ingat gimana intensnya Lady Gaga memainkan wanita immortal haus darah, namun begitu rapuh karena trauma masa lalu kala dia masih berupa manusia biasa. Dalam film romansa musik ini, Lady Gaga membawa keintensan emosi yang bahkan lebih kuat lagi. Meskipun, Ally tampak dibuat berdasarkan Lady Gaga sendiri. Dengan talenta seorang penampil yang luar biasa, suara yang begitu powerful, dan sedikit banyak Lady Gaga punya pengalaman sebagai seorang waitress, Ally seperti peran yang sempurna yang dibuat khusus untuk dirinya. Lady Gaga tampak bermain dengan sepenuh hati dan dia benar-benar menonjok hati kita (bukan wajah, untungnya) lewat permainan perannya di sini. Dia yang salah satu musisi paling hebat dunia, juga menunjukkan potensi yang enggak kalah gempitanya sebagai aktris.

Chemistry antara Lady Gaga dengan Bradley Cooper begitu menguar sehingga tampak mereka seperti pasangan beneran. Tidak terasa seperti akting. Kayak, kamera merekam hal yang sungguh-sungguh terjadi. Poin-poin cerita, kejadian-kejadian yang mereka lalui, sebenarnya formulaic. Terlebih ini adalah remake keempat dari source yang sama; A Star is Born orisinalnya adalah film keluaran tahun 1937. Seorang veteran yang tertarik sama bakat muda, tapi pada akhirnya keadaan mereka berbalik. Aku belum nonton satupun A Star is Born versi yang lain, tapi cerita dalam film ini, aku bahkan teringat adegan tangga di film The Artist (2011) olehnya. Apa yang diceritakan oleh film ini bukan sesuatu yang baru, tapi cara mereka dipersembahkan, penampilan-penampilan aktingnya, begitu kuat sehingga terasa bahkan lebih fresh dan nyata ketimbang biografi Bohemian Rhapsody (2018). Sangat mengesankan apa yang berhasil dicapai oleh Bradley Cooper dalam debut penyutradaraannya. Aku percaya Cooper bisa jadi sutradara hebat jika dia tetap mempertahankan gaya dan momentum filmmaking. Dia punya bakat luar biasa dalam mengontruksi adegan film.

Cooper, yang juga bermain sebagai Jack, membuktikan dia lebih dari sekedar aktor lucu di film komedi dan superhero. Cooper sebagai Jack menunjukkan banyak range emosi dan kedalaman akting. Dia enggak over-the-top memainkan seorang yang mabuk, walaupun ada satu adegan saat penyerahan Grammy naskah menuntutnya untuk menjadi pemabuk ‘jenis’ begitu. Cooper, ngerinya, tampak berusaha sadar bahkan saat kita tahu kepalanya mulai bergoyang-goyang. Dia tampak masih fungsional, dan kita takut – khawatir – dia akan mengambil keputusan yang salah. Ada kesubtilan dalam penampilannya. Cara dia berpindah dari seseorang yang ingin Ally berhasil menjadi seseorang yang sadar keberhasilan Ally tidak akan pernah sesuai dengan yang ia maksudkan, karena ia sadar bisnis mereka tak lagi sama, menghasilkan emosi yang begitu kuat menyentuh. Perjalanan Jack benar-benar dibuat terbalik dengan Ally dalam cara yang meremukkan hati – Jack semakin malu menyadari dirinya sedangkan Ally pada akhirnya berani menatap kita saat dirinya bernyanyi. Mengarahkan tokoh yang lain pun, Cooper sama pahamnya. Dia tidak membuat manajer Ally sebagai korporat satu-dimensi yang hanya peduli sama uang.

Ada satu lagi tokoh dan penampilan yang menurutku pantas untuk diganjar piala; yakni penampilan Sam Elliot sebagai abang dari Jack. Dia membantu Jack menyiapkan konser-konser, tapi harus berurusan dengan sikap negatif Jack, yang semuanya tidak ia tahu kenapa ditumpahkan Jack kepadanya. Penampilan akting yang diberikan Elliot kepada tokoh ini begitu contained, dia khawatir dan menahan marah di saat bersamaan. Speechnya kepada Ally terdengar begitu mendalam. Adegan di mobil ketika dia ‘menjawab’ tak langsung kata hati Jack yang telah sadar adalah satu lagi dari sekian banyak momen kuat dalam film ini.

Di satu sisi ada seniman yang direnggut oleh industri, dibentuk dan dibungkus menjadi sesuatu yang bukan lagi dirinya yang sebenarnya. Di sisi lain ada seniman yang sudah lama berkecimpung di industri sehingga dia punya banyak untuk dibagikan kepada bakat muda baik dan buruknya, tapi dia sudah terlalu lelah. Ada komentar yang kuat tersirat dalam cerita film ini tentang bagaimana industri hiburan – musik dalam kasus film ini – mengubah bakat dan kreativitas itu menjadi bahan konsumsi alih-alih sesuatu yang murni dari hati; bahwa seniman merasa jadi punya tanggung jawab terhadap penggemarnya.

 

coba sekali-kali kalo ketemu artis di jalan, alih-alih foto bareng untuk pamer di instagram, ajaklah dia ngobrol tentang ide-idenya, ide-ide kalian.

 

 

Bahkan dengan durasi yang mencapai dua jam lebih, film masih sedikit kesulitan menyeimbangkan pace di kala cerita butuh lompatan waktu. Ada momen seperti adegan di meja makan teman Jack, yang terasa agak terburu-buru. Seperti ada jarak development karakter yang tidak kita lihat, karena kita tidak merasakan bahwa ternyata beberapa waktu sudah dilompati oleh narasi. Masalah kecil pada penuturan sih sebenarnya, yang mungkin juga kalopun perkembangan hidup tokoh itu lebih difelsh out toh tidak menambah banyak kepada bobot, tapi tetep terasa ada yang mulus dalam perjalanan narasinya.

 

 

 

Selain hal tersebut, aku tidak menemukan kekurangan lagi dalam film ini. Akting-aktingnya memukau. Dalam dunia yang sempurna, kita akan dapat tiga nominasi Oscar dari segi penampilan, bahkan mungkin ditambah satu lagi dari kategori lain. Tapi kalo cuma satu yang masuk pun, aku gak masalah. Karena setidaknya film ini harus dapat satu ganjaran award. Musik-musiknya juga sangat asik, menyentuh dan paralel dengan cerita. Ada satu lagu Jack yang seolah ia tulis untuk dirinya sendiri di masa depan. Penulisan dan penampilan yang sangat cantik.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for A STAR IS BORN.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Kenapa kita suka foto bareng sama artis? Seberapa penting menurut kalian, gimmick terhadap penampilan seorang penyanyi atau seniman?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

BOHEMIAN RHAPSODY Review

“I feel like an outsider when I’m with my family”

 

 

Is this the real life?

Is this just fantasy?

Bohemian Rhapsody menjanjikan biografi seorang, kalo enggak mau disebut sebuah band, legenda musik rock. Namun kita hanya akan mengapung di atas rangkaian demi rangkaian perjalanan karya dan karir mereka, alih-alih dibawa menyelami kisahnya.

 

Terlahir dengan gigi ekstra ke dalam keluarga Parsi India, Farrokh dalam film Bohemian Rhapsody, hanya bangga dengan bawaan lahir yang pertama kali disebut. Menurutnya, empat gigi tambahan itu membantu menambah range vokal, senjata rahasia di balik kemampuan bernyanyi yang tak bisa disamai oleh siapapun di dunia (termasuk oleh Rami Malek, pemerannya sendiri). Dia dengan cepat mengganti nama menjadi Freddie, dan kemudian menjelang hari-hari terkenalnya, melengkapinya dengan Mercury. Menyempurnakan personanya yang mercurial; one-of-a-kind nan tak bisa ditebak.

Bahkan sebelum jadi anak band saja, keflamboyanan Freddie sudah mulai terlihat. Ini menjadi poin kunci cerita. Film tidak menerangkan dengan jelas apakah sikap dan gaya narsistiknya itu natural atau sebagai bentuk perlawanan kepada keluarganya yang konservatif, tapi yang jelas dalam lingkaran keluarga biologisnya sendiri, Freddie tidak merasa berada di tempat yang benar. Dia menemukan teman-teman band sebagai pelipur kesendirian, di mana dia merasa dirinya dibutuhkan. Queen sebagai band luar biasa dengan lagu-lagu yang susah untuk dikategorikan genrenya merupakan cerminan dari perjuangan Freddie itu sendiri, yang didukung oleh rekan-rekan anggota lainnya; keluarganya, kata Freddie. Tapi, Freddie adalah outsider seumur hidup. Cerita banyak mengeksplorasi kehidupan seksual penyanyi ini; di mana relasi asmaranya dengan seorang sahabat cewek berakhir setelah dugaan Freddie seorang homoseksual terjawab. Menjadi susah bagi Freddie untuk keep up with his families ketika keluarga bandnya tersebut beneran punya keluarga masing-masing di balik panggung, sesuatu yang tak bisa ia punya. Tapi paling enggak, dalam dua-puluh-menit konser amal terbesar tahun 1985 itu, Freddie si outsider menjadi juara dunia.

He will rock you!

 

Definitely, kisah Freddie Mercury memang punya potensi untuk diangkat menjadi biopic lumayan tragis yang penuh oleh nilai-nilai kekeluargaan. Tapi anehnya, elemen tersebut justru kurang mendapat perhatian, karena film ingin melingkupi banyak hal sekaligus. Mereka ingin mengajak kita bernostalgia juga, bernyanyi bersama lagu-lagu Queen, melihat pembuatannya. Tidak akan cukup waktu untuk ini semua. Jadi, aku mengerti kenapa film ini mendapat skor yang lumayan rendah, meski setiap orang yang kutanyai mengaku sangat ingin menontonnya. Sebagai sebuah film, Bohemian Rhapsody hanya tampil setengah-setengah, tidak ada elemen yang digali dengan sempurna. Formula yang digunakan begitu standar, dan ini ironis mengingat ada adegan di mana Freddie memaksa produser musik untuk berani memasarkan lagu mereka, karena Queen begitu unik dan menolak diseragamkan dengan formula yang ada.

Tapi, tahu enggak sih, kita gak harus nyesuaiin selera sama objektifitas para kritikus. Kita boleh aja suka sama yang gak bagus. Maksudku, aku sendiri setuju Bohemian Rhapsody bukanlah sebuah film yang hebat. Tapi hal yang paling membuatku kecewa saat menonton ini adalah bahwa kita gak boleh ikutan bernyanyi di dalam bioskop. Aku menikmati perjalanan Queen dalam merekam lagu, bagaimana mereka actually memasarkan lagu Bohemian Rhapsody yang basically enam-menit campuran kata-kata aneh, dan sekuen penutup di konser Live Aid itu, aku harus mencengkeram lengan kursiku erat-erat dalam upaya menahan diri untuk enggak berdiri dan nyanyi di atas kursi. Bisa melihat sesuatu secara kritis, bukan berarti menghalangi kita untuk menikmati sesuatu tersebut secara subjekif.

Tidak ada cela dalam penampilan Rami Malek sebagai Freddie Mercury. Jika pada film ini, Freddie berkata dia merasa sudah memenuhi takdirnya sebagai penampil, penyanyi di hadapan jutaan orang. Maka, Malek dalam film ini seperti sudah garis tangannya untuk memainkan sosok Freddie Mercury. Dan dia telah memenuhi panggilan tersebut. Seperti, dia terlahir di dunia demi film ini. Biar kita-kita yang lahir setelah jaman Queen tahu, seperti apa sosok legendaris ini baik keseharian maupun gaya panggungnya. Segala gestur, pembawaan, sikap, kecuali dialog sih ya – soalnya kadang penulisannya terdengar cheesy – fantastis sekali, kita percaya dia adalah Freddie.

kalo kalian mencari tontonan untuk halloween, kalian salah orang – freddie nya bedaaaa

 

 

Jatuh dalam perangkap biopik yang merasa perlu menceritakan sesuatu sedari awal, penceritaan film ini gak lebih menarik daripada Chrisye (2017). Buat Bohemian, ini bikin geregetan karena kita tahu ada banyak dari Freddie Mercury yang menarik untuk diangkat dan dijelajahi. Kita penasaran dari mana ia mendapat inspirasi penampilannya di atas panggung. Kita penasaran bagaimana ilham menulis lagu datang. Tapi film tidak memberikan ini. Proses kreatif Queen dalam menghasilkan lagu-lagu unik hanya diperlihatkan sebatas montase. Pun hanya ada beberapa adegan Freddie mengulik lirik di atas kertas. Sedari awal bikin band, mereka sudah terdengar seperti Queen; udah jago. Tapi mungkin juga memang begitu hebatnya Queen; mungkin mereka bisa menciptakan koreo, aksi panggung, konsep dengan sekali duduk. Mungkin Freddie memang jenius sehingga ide lagu Bohemian Rhapsody bisa muncul begitu saja di dalam kepalanya.

Kita tidak melihat cukup banyak siapa dirinya sebelum nge-band. Status keluarganya sebagai imigran tidak dikaitkan ke dalam konteks outsider yang menjadi identitas Freddie. Kita juga tidak diperkenalkan dengan betul-betul kepada anggota band yang lain. Mereka hanya ada di sana, dan meskipun sering beradu argumen dengan Freddie – mereka kadang terlihat terganggu bahkan menyindir penampilan Freddie – kita tidak pernah dibawa masuk ke dalam kepala ataupun melihat ‘masalah’ mereka. Hubungan Freddie dengan ayah dan ibunya adalah elemen yang penting, pengaruh mereka terasa dalam pembentukan karakter Freddie. Tapi pembahasan tentang mereka sedikit sekali. Mereka cuma muncul ketika naskah membutuhkan suntikan drama. Kita tidak pernah melihat bagaimana keluarga mereka ‘bekerja’ sebenarnya.

Bahagialah bagi yang punya orangtua yang mau mengerti pilihan kita, tanpa membandingkan dengan apa yang menurut mereka lebih baik. Karena Freddie tidak. Jangankan pilihan pasangan, main musik saja sudah dianggap masa depan suram oleh ayahnya. Tapi terkadang, tak ada salahnya kita mendengar nasihat mereka. Like, jika dalam anjuran mereka tidak ada yang ‘salah’ kenapa tidak coba diikuti. Dengan cara kita sendiri sekalipun.

 

 

Melihat dari konteks yang sudah dilandaskan pada adegan pembuka, sebenarnya film bekerja dengan pas di dalam konteksnya. Dan nantinya akan maju sesuai dengan pembelajaran yang dialami oleh Freddie. Awalnya kita melihat cerita ini dari sudut pandang dirinya di mana dialah spotlightnya. Perbedaan pov antara saat dia menuju panggung di awal dengan menjelang akhir film menunjukkan perubahan karakter Freddie. Di awal, dia melihat dirinya sebagai satu orang, dia enggak perhatian penuh ama sekitar. Makanya kita enggak diperkenalkan benar-benar dengan anggota band yang lain, sebab Freddie hanya ‘melihat’ mereka. Segala proses rekaman, manggung, masalah percintaan, kita melihatnya dari mata Freddie sebagai ‘one-man person’. Barulah setelah dia menyadari apa itu keluarga, saat dia benar-benar melihat dirinya bagian dari keluarga, sudut pandang dia dalam cerita ini berubah, dan kita merasakannya.

 

 

 

 

Jadi, film ini bisa saja mengeksplorasi lebih banyak dan detil tentang dunia Freddie Mercury, tapi itu akan mengeluarkannya dari roda konteks. Karena ini adalah tentang Freddie si outsider yang tadinya memandang dirinya sebagai terpisah, menjadi bagian dari keluarga. Menurutku, film secara spesifik sengaja mengambil penceritaan seperti demikian. Sengaja meninggalkan banyak hal penting yang ingin kita ketahui – serius deh, kita tidak beli tiket buat ngeliat penampilan musik ‘boongan’, kita dateng buat pengen tahu cerita humanis seorang legenda di balik layar – karena mereka ingin menempatkan kita di dalam kepala Freddie Mercury. Mungkin tidak sesuai dengan tontonan yang kita harapkan, tapi ini sajian “easy come, easy go” yang enak dinikmati.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for BOHEMIAN RHAPSODY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa lagu Queen favorit kalian? Apakah menurut kalian film ini juara atau hanya “another one bites the dust”?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

THE NIGHT IS SHORT, WALK ON GIRL Review

“I sing to the night, let me sing to you.”

 

 

 

Untuk dapat ngedeskripsiin gimana rasanya nonton film ini, aku harus nanya dulu ke kalian – karena aku bener-bener gak nemuin kata yang tepat buat ngewakilin perasaan yang kena ke aku. Mungkin beginilah rasanya ‘mabok’ tapi aku gak yakin karena belum pernah mabok. Jadi, ini pertanyaannya: Pernahkah kalian golek-golek sebelum tidur, menyusun ulang apa yang sudah kalian lakukan hari itu – dari mulai bangun pagi, cek hape, masuk ke kamar mandi, balik keluar lagi karena hape ketinggalan di kasur, dan seterusnya, seterusnya sampai kalian lupa ngapain lagi karena satu hari tersebut seolah berlalu begitu saja, seolah yang kalian lakukan di pagi hari itu tidak pernah terjadi? Film ini terasa kayak momen bangun pagi yang berusaha kalian ingat itu. Terasa gak penting padahal kita tahu dan kena pentingnya di mana.

Menonton film ini bagai sedang mimpi di siang bolong. Begitu aneh dan unik perjalanan yang dituturkannya sehingga kita tidak merasa sedang menonton, melainkan lebih sedang bermimpi. Dan begitu filmnya selesai, kita akan ‘terbangun’ dengan merasakan penuh gempita oleh pengalaman yang baru.

 

 

Bahkan untuk ukuran anime sekalipun, film ini masih tergolong super duper abnormal. Animasinya disampaikan dengan gaya yang lain daripada yang lain. Gambar-gambarnya menunjukkan hal-hal yang incorrect dan nyampur gitu aja membuat kita tertawa canggung antara konyol dengan merasa bergidik. SUREALIS DALAM LEVEL YANG BERBEDA. Tokoh-tokohnya melakukan aktivitas yang absurd, kayak jalan merangkak ala kepiting. Komedi yang mewarnai film ini pun sama gilanya. Struktur ceritany, oho jangan ditanya; film ini bercerita dengan sebebas-bebasnya. Kejadian demi kejadian datang gitu aja. Cerita dalam film ini berlangsung dalam rentang waktu satu malam yang dilalui oleh tokohnya, jadi kita akan melihat apa-apa aja yang bakal ia temui. Kita akan lihat mereka berdansa dan benryanyi dalam sebuah sekuen musical yang begitu hilarious. Kali lain, kita akan dibawa masuk melihat isi pikiran salah satu tokoh. Sekilas, kejadian-kejadian tersebut tak tampak korelasinya, namun film punya cara dan suara tersendiri dalam merangkai semua elemennya menjadi satu kisah yang padu. Kita tetap berpegangan erat pada cerita.

latihan otot paha dan perut yang bagus

 

Tokoh utama kita dipanggil Otome. Malam itu dia diundang menghadiri pesta pertunangan kenalannya. Sebagai salah satu yang termuda di sana, Otome merasa senang (serius, cewek ini sepertinya enggak mampu untuk merasakan sedih). Otome melihat acara tersebut sebagai kesempatan untuk experiencing something new. Pesta tersebut tak butuh waktu lama berubah menjadi semacam bar crawl; rombongan akan berpindah ke tempat-tempat minum. Kehidupan dewasa, kehidupan malam hari, Otome dengan suka ria menjalaninya. Dia bertemu dengan banyak orang dan kejadian aneh. Dia minum-minum. She’s so good at it. Kita akan melihat semangat Otome mempengaruhi lingkungan sekitar yang kontras dengannya, dan pada gilirannya akan gentian: Otome akan belajar dari mereka. Particularly, ada satu cowok, yang disapa Senpai. Cowok ini naksir berat ama Otome, tapi dia terlalu pemalu untuk bilang langsung. Jadi dia bikin strategi gimana caranya sepanjang malam itu untuk bisa terus bertemu ‘tanpa sengaja’ sama Otome.

Dari gaya dan penceritaannya sendiri, aku tak heran akan banyak penonton yang garuk-garuk kepala. Tapi kutekankan, film ini enggak bakal bikin pusing. Jika ada satu hal yang susah untuk kita lakukan saat nonton film ini, maka hal tersebut adalah merasakan kebosanan. Karena kita memang diberikan satu storyline, satu pertanyaan utama untuk dinantikan jawabannya; Apakah pada akhirnya Otome memperhatikan Senpai – apakah mereka akhirnya ‘jadian’? Proses kesanalah yang luar biasa menarik. Dua tokoh ini berjalan sepanjang malam itu, berdekatan namun jarang sekali bersinggungan, dan path yang mereka lalui sudah seperti trial; ujian yang menghantarkan masing-masing menuju pemahaman akan hidup. Otome akan ikutan kontes minum alkohol, dia akan pergi ke pasar buku bekas, dia akan bergerilya bersama teater jalanan yang diburu security. Ada begitu banyak yang film ini bicarakan. Kurasa setiap penonton bisa mendapat pesan yang berbeda di setiap perjumpaan. Begitu banyak sudut untuk menginterpretasi cerita, inilah kekuatan dari The Night is Short, Walk on Girl.

Ini adalah tipe film yang begitu filmnya usai akan terasa semakin hebat dan hebat lagi sebagaimana kita merefleksikan kejadiannya terhadap diri sendiri. Apa yang dihamparkan pada film ini begitu luas sehingga akan banyak orang merasa relate dengan kejadian-kejadiannya. Buatku, aku mengakui, aku merasa dekat dengan Senpai. Ngajak jalan cewek, ‘bicara’ sama cewek yang disuka, buatku juga adalah masalah susun strategi. Aku suka menciptakan situasi, berusaha menunggu timing, supaya ngajaknya itu gak terasa awkward, persis kayak si Senpai. Di film ini Senpai berpikir buku masa kecil Otome yang ia temukan bakal menjadi tiketnya untuk mulus jalan sama Otome, but really, film ini menunjukkan kita enggak butuh benda, enggak butuh menciptakan kesempatan. Just put yourself out there, karena hidup inilah kesempatan kita.

Malam itu pendek. Hari itu pendek. Umur kita pendek. Sepanjang apapun waktu yang kita punya, kalo kita tidak segera berjalan, kita tidak segera melakukan apa-apa, semuanya akan lewat begitu saja. Begitulah kontrasnya dunia sekitar dengan Otome. Dengan malam yang hanya beberapa jam itu, Otome melakukan banyak kegiatan, dia mengubah hal, karena dia tahu; saat muda itu, dia punya semua kesempatan yang bisa diinginkan oleh seseorang.

 

 

Elemen cerita yang paling asik adalah gimana jarum jam arloji Otome dibuat bergerak dengan kecepatan yang berbeda dari jarum jam tokoh-tokoh lain. Yang lain jamnya bergerak dengan sangat cepat, orang-orang tua itu sangat kaget demi melihat jam Otome berjalan “lebih lambat daripada siput”. Tokoh-tokoh yang lebih dewasa daripada Otome, mereka digambarkan sangat tertekan oleh hidup, mereka memandnag hidup dengan sangat sinis; sudah waktunya berbuat begini, sudah waktunya kita begitu. Mereka minum untuk mabuk, maka dengan segera menjadi mabuk. Otome, minum untuk menikmatinya. Sebagaimana dia menikmati hidup, cewek muda ini begitu optimis. Dia tahu waktunya masih panjang, atau malah dia tidak memikirkan waktu. Ada perbandingan yang subtil dijelaskan oleh film ini lewat minuman yang dipertandingkan oleh Tomoe dan satu tokoh. Minuman tersebut adalah minuman ‘palsu’ yang dibuat dari meniru resep terkenal. Tokoh-tokoh lain, mereka fokus ke ‘palsu’nya, sedangkan Otome, dia gak peduli, dia gak tahu versi aslinya, buat dia baru ataupun asli – yang jelas itu adalah kesempatan mencoba sesuatu yang baru. Hasilnya, ya kita lihat, minuman tersebut jadi kupu-kupu kebahagian dalam perut Otome.

semoga itu bukan gejolak asam lambung

 

Seorang manusia sesungguhnya punya peran dalam kehidupan manusia yang lain. Setiap masing-masing dari kita terkoneksi satu sama lain, entah itu oleh tindakan yang pernah kita lakukan, keputusan yang kita ambil. Film ini, dalam kapasitasnya sebagai komedi, menggunakan flu sebagai cara untuk menggambarkan koneksi tersebut. Pria yang merasa paling kesepian di hidupnya actually adalah orang yang menularkan flu kepada seluruh orang di kota pada penghujung malam itu. He matters. Kita berarti terhadap dunia dalam cara yang tak terbayangkan oleh kita. Dalam sekuen ini kita juga melihat Otome mulai menyadari kekurangan yang ia miliki. Bagaimana mungkin, cuma dia yang tak tertular flu? Berarti dia belum terkoneksi, dia belum menjadi bagian dari dunia. Sikap optimis dan keceriaannya berpengaruh terhadap sekitar, practically memohon untuk mempengaruhi orang-orang. Namun Otome belum terbuka terhadap sekitar, dia terlalu sibuk berjalan – doing her things. Ia pun sudah seharusnya untuk membiarkan orang-orang menularkan pengaruh terhadap dirinya.

Karena hidup adalah timbal balik seperti demikian. Bukan sekedar rangkaian dari peristiwa-peristiwa acak yang terjadi secara kebetulan.

 

 

 

 

 

Aku sangat berharap dapat timbal balik juga di sini, aku pengen tahu apa yang kalian pikirkan terhadap cerita film ini, apa yang kalian dapatkan darinya. Karena ada begitu banyak yang dibicarakan oleh garapan Masaaki Yuasa ini dalam lingkupan payung kehidupan yang menjadi konteksnya. Film ini memotret gimana orang-orang memandang hidup, apa yang mereka lakukan dalam mengisi hidupnya. Simbolisme boneka Daruma khas Jepang, juga signifikansi benda-benda yang tampak di latar, selalu ada yang bikin pikiran kita bergerak saat menonton ini. Kejadiannya aneh-aneh seperti kejadian dalam mimpi, namun begitu menyedot sehingga kita tidak bisa berhenti menyaksikannya. Juga sangat lucu, meski terdapat beberapa lelucon yang udah out-of-date seperti objektifikasi dan ngerendahin wanita. Tapinya lagi, itu adalah bagian dari kehidupan malam di Jepang, dan film ini tak berdalih dari hal tersebut.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for THE NIGHT IS SHORT, WALK ON GIRL.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

My Dirt Sheet Awards 7ANGRAM

 

“Kita tahu hidup penuh dengan misteri ketika kita melihat Nicholas Saputra berubah menjadi burung. Well, yea aku pikir dunia tidak bisa lebih aneh lagi sampai aku melihat senyuman bibir atas Superman. Begitulah hidup, kadang kita enggak mengerti. Hampir sering semua berjalan begitu berlawanan dengan yang kita rencana kita. Dengan yang kita harapkan. Satu tahun lagi, yang tidak akan bisa kita ambil kembali, memang telah berlalu. Akan tetapi, for what it’s worth, kita telah mengisinya dengan sebaik yang kita bisa. Kata film The Shape of Water sih, kita mesti bisa ‘berganti wujud’ sesuai dengan wadah, kayak air. Kalo ditaro di gelas, bentuknya kayak gelas. Kalo ditaro di mangkuk, bentuknya setengah bundar. Asal mangkok dan gelasnya jangan ditarok di tiang listrik. Nanti ditabrak.

Kita kudu fleksibel. Kemampuan yang kita punya, anggaplah sebagai kepingan-kepingan puzzle yang bakal kita gunakan untuk mengisi gambar besar, yang mana adalah kehidupan. Tugas kitalah untuk memasangkan kepingan-kepingan itu, menyusunnya, menjadi bentuk yang kita butuhkan saat sekarang. Dan ketika hidup mengganti pertanyaannya, puzzle tersebut kita rombak dan susun lagi. Ketika tahun berganti, kita bersiap-siap berusaha kembali.”

“My Dirt Sheet pun kembali memberikan penghargaan buat yang udah ter-gerrr sepanjang tahun. I love doing this, dan semoga kamu-kamu gak bosan membaca artikel awards ngasal ini setiap tahun.”

 

“Maka, sambutlah Rick dan Morty dari serial animasi paling hits se2017, Rick and Morty, untuk membacakan beberapa kategori pertama! Plok..plok..plok…”

 

<Lingkaran hijau kayak gel terbentuk di panggung>

<Rick dan Morty melangkah keluar dari dalamnya>

Rick: Wubba lubba dub dub, everybody!!
Morty: Aw geeez, Rick, aku gak tahu bakal serame ini. A-a-apa rambutku oke? Bajuku? Oh no, aku pakai celana kan ya?
Rick: Shut up, Morty. Kau memper..(burp)…malukan, kau mempermalukan dirimu sendiri. Selamat malam, Semuanya. Aku merasa terhormat telah… sial, aku belum terlalu sober untuk melakukan ini (burp!) Anyway, inilah nominasi untuk

TRENDING OF THE YEAR

1. Despacito
Morty: Aku tahu ini! Mereka memutarnya di mana-mana, di sekolah, di-di mall
Rick: Well, aku gak punya waktu untuk dengerin musik, Morty. Aku bekerja keluar-masuk universe untuk kepentingan yang jauh lebih baik.
Morty: A-a-a-ku cuma bilang, Rick
Rick: Ya? Jika sekali saja aku mendengar ini diputar di rumah, Morty. Sekali saja…
Morty: Geezz….
2. Fidget Spinner
Rick: Anak-anak pada main ini, tapi tahu gak, Morty, aku menciptakan yang seperti ini 10 tahun lalu (burp) dan yang kuciptakan itu bisa berputar sendiri
Morty: Tapi, tapi poin mainan ini memang kita putar untuk melepaskan stress, Rick
Rick: Orang dewasa punya pelepas stress yang lebih baik, ya kan, guys? Ahahahak
3. ‘Love’ Finger Sign
Rick: Kau ngarep bisa foto bareng Jessica dengan berpose kayak gini kan, Morty
Morty: Enggak sih, aku gak gitu ngikutin gaya Kore..
Rick: Lanjut nomor 4,
4. Marsha Bengek
Rick: Kau tahu nasehat “kau bisa jadi apapun yang kau mau asalkan terus berusaha” kan, Morty? Well, I’ll shoot you dead dan menggantimu dengan Morty yang baru kalo kau mulai ngikutin bikin video kayak gini
Morty: …..
Rick: Kau tahu aku masih punya voucher Morty gratis kan, (burp), just – just don’t give me the reason to use it.
5. Salt Bae
Morty: Semua orang bisa terkenal dengan hal-hal kecil yang unik
Rick: Enggak, kau harus punya skill. Yang mana kau enggak punya, Morty. Tapi jangan khawatir, kakek hebatmu ini akan membantumu
6. Trash Dove
Rick: Awas Morty, itu monster ungu dari Planet Teror!
Morty: Hahaha, bukan Rick. Ini makhluk annoying dari planet facebook
7. Weird Eyebrows
Rick: Awas Morty, itu makhluk Planet Freakazoid!!!
Morty: A-a-a-ku pikir bukan, Rick. Makhluk Freakazoid jauh lebih normal dari alis-alis ngetren ini

Rick: Cuma segini?
Morty: Yea, Rick. Mereka membuat nominasinya cuma tujuh biar sesuai sama nomer acara ini.
Rick: (burp) bulshit, Morty. Mereka melewatkan satu hal yang jadi hits seantero multiverse. Benda itu harusnya menang.
Morty: Apa yang kau maksud, Rick?
Rick: Szeuchan Sauce, Morty! Sekarang mari kita lihat siapa yang mengalahkan ketenaran saus lezat tersebut <membuka amplop>
Rick-Morty: Dan pemenangnya adalah….


Rick: I just don’t get it with this world, Morty. I just can’t.
Morty: Mari move on ke kategori berikutnya, Rick.

 

GAME OF THE YEAR

Morty: Video games are so cool!
Rick: Semua keren buatmu, Morty! A..a..aku gak percaya kau masih (burp) menggelinjang aja lihat teknologi terbelakang setelah semua petualangan yang kita lalui, Morty.
Morty: A-a-a-aku suka petualangan, Rick. Aku suka sensasi adrenalin dan kejutan-kejutan seru. Denganmu, petualangan kita nyata. Tapi aku tetap lebih suka main video game aja, Rick. Karena kau tahu, di video game, kalo-kalo aku mati, aku masih bisa hidup lagi. Aku mati tidak dalam kesakitan, Rick, itu yang penting.
Rick: Kau benar-benar anak ayahmu, Morty
1. Cuphead
Morty: Ini udah kayak gabungan Contra dengan kartun Disney klasik jaman Miki Mos but not really. Game ini so hard it’s fun, Rick.
Rick: …Kau bicara seperti loading yang kepanjangan, Morty….
2. Getting Over It with Bennett Foddy
Rick: Kelihatannya aneh banget..
Morty: Kalo yang ini game susah yang bikin stress, Rick. Kau certainly gak bakal bisa namatin ini, karena kau orang yang pemarah dan gak sabaran
Rick: Kau benar, Morty. Mendengarmu saja aku sudah gak (burp) sabaran
3. Resident Evil 7: Biohazard
Rick: Pembuatnya kebanyakan nonton Texas Chainsaw Massacre nih
Morty: Tapi ini game horror yang psikologis, serem, dan semua-semuanya terasa sangat real, Rick. A—aku, aku gak berani main ini, pakek Virtual Reality. Salah satu yang terbaik dari seri Residen Evil
4. Sonic Mania
Morty: Classic is the best, Rick. Old school is cool!!
Rick: Aku ingat ketika namatin game orisinalnya ketika berumur 5 tahun, Morty. Apa yang sudah kau lakukan di umur segitu? Apa yang sudah kau lakukan di umur sekarang?
Morty:
5. Super Mario Odyssey
Morty: Favoritku satu lagiiii!!! Konsep baru Mario di konsol terbaru Nintendo melahirkan pengalaman gaming yang super seru
Rick: Ah, si tukang ledeng yang suka makan jamur. Partially, I can relate to that. If you know what I mean.. wubba-lubba-dup-dup!!!
6. The Legend of Zelda: Breath of the Wild
Rick: Biar kutebak: satu lagi klasik yang digarap dengan penuh kejutan dengan teknologi terbaru yang kalian kira paling canggih, kan
Morty: Ini masterpiece, Rick. Masterpiece!
7. Undertale
Rick: Setelah semua gambar keren itu, kita balik ke 8-bit??
Morty: Ini salah satu game dengan konsep paling unik, Rick. Punya replay value yang gede karena ada banyak skenario. Kita bisa milih antara membunuh monster atau memaafkan mereka, cinta damai, Rick.
Rick: Bukankah membunuh monster satu-satunya alasan kita main video game?

Rick: Kau sadar aku bisa bikin video game yang lebih baik, dengan teknologi yang lebih canggih kan?
Morty: Ya.
Rick: (burp) Kau sadar, ada video game tentang kita yang enggak masuk nominasi ini kan?
Morty: Ya. Tapi aku gak keberatan. Oh aku gak sabar lihat siapa pemenangnya…


Morty: You should try playing this one, Rick. Seriously. Dan mungkin, mungkin, kau akan melihat bahwa kekerasan bukan satu-satunya jal…

<Morty belum selesai ngomong, Rick sudah membuka portal dan menghilang ke dalamnya. Morty lantas menyusul, sambil pasang tampang  nyengir-gaenak>

 

 

 

“Untuk mempersembahkan BEST MUSICAL PERFORMANCE, sambutlah…”

Elias: Who wants to walk, with Elias!!
Elias: …..
Elias: Mohon simpan tepuk tangan kalian, hingga aku selesai bernyanyi

<loud boos>

Aiden English: Hem hem… Tahu kah kamuuuu~ hari apa sekarang, Elias?
Elias: Apapun itu, sekarang bukan Rusev Day!
Aiden English: You know what? You’re right. Sekarang adalah hari di mana… Penampilan musik terbaik dianugerahi!!

<tepuk tangan penonton>

Elias: Lalu kenapa kita, dua penyanyi dan pegulat hebat, tidak termasuk di dalamnya?
Aiden English: Karena oh karena, temanku, orang-orang di sini tidak bisa menghargai talenta!!

<Boo keras lagi>

Aiden English: Lihat saja nominasi-nominasi ini
1. Baby Driver “Was He Slow?”

Elias: elektronik dan mash-up itu sampah dibanding melodi dan riff gitarku
Aiden English: exactly!
2. Barden Bellas “Toxic”

Elias: Bagaimana pendapatmu soal grup akapela ini, teman?
Aiden English: Payah. Mereka kekurangan sesuatu yang penting; suara bass klasik seorang pria seperti Aiden English!!
3. Ibu “Kelam Malam”

Elias: Oke, yang tadi itu… serem, sumpah. Tapi bisa lebih baik kalo aku yang bawakan. Dan kugubah menjadi lagu country.
4. Kurt Angle “Sexy Kurt”

Aiden English: Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, lihatlah contoh penyanyi dan pegulat yang buruk!
5. Lego Batman “Who’s the (Bat)Man?”

http://www.youtube.com/watch?v=oz-UwNJ2gh0

Aiden English: hahahahahahahha….
Elias: <menyipitkan mata, memandang marah>
Aiden English: …ahaha. Eh. Lucu sih, tapi bego. Sangat bego. Rap itu lagu kaum rendahan.
6. Lisa and Homer “Pokemon”

Aiden English: Kau tahu siapa yang bernyanyi lebih baik?
Elias: Siapa?
Aiden English: Jigglypuff
7. Phillip and Anne “Rewrite the Stars”

http://www.youtube.com/watch?v=90MG479FffU

Aiden: I wish ada Jigglypuff di sini.
Elias: Karena suaranya lebih bagus?
Aiden: Supaya aku bisa tertidur dan gak dengerin para nominasi ini!

Elias: Setuju. Wait till after you’ve heard pemenangnya.
<merobek amplop>


Elias: Sepertinya lagi musim duet..
Aiden English: Yaa… dan aku masih… well, umm, since Rusev gak bisa nyanyi… jadi.. bisa dibilang, aku masih solo
Elias: Kamu mau….. walk with Elias?
Aiden English: …. I do.
<tepuk tangan penonton ngecie-ciein, Elias dan English pergi sambil gandengan tangan>

 

 

 

 

 

“Membacakan nominasi UNYU OP THE YEAR, inilah…. Poppy!”
“Yea, That Poppy!!!”

Poppy: <berdiri diam di podium>
Poppy: ……
Poppy: ……
Poppy: Kecantikan.
Poppy: Kecantikan bukanlah segalanya.
Poppy: Namun segala hal di dunia adalah cantik.
Poppy: Apa kalian cantik?
Poppy: Apa ‘kecantikan’ itu artinya ‘terlalu cantik’?

1. Alessia Cara
Poppy: Her voice is powerfully beautiful.
2. Alexa Bliss
Poppy: Her in-ring persona is fiercely beautiful.
3. Anya Taylor-Joy
Poppy: Her acting and her look are equally as unique and beautiful.
4. Elle Fanning
Poppy: Her aura is innocently beautiful.
5. Katherine Langford
Poppy: Her pain on the Thirteen Reasons Why was so breathtakingly beautiful.
6. Kristen Stewart
Poppy: Her expression is hauntingly beautiful.
7. Lily James
Poppy: her presence is magically beautiful.

Poppy: Semua cewek cantik dengan cara mereka sendiri
Poppy: Tapi kecantikan tidak bisa diukur. Kecuali oleh waktu.
Poppy: Kalian semua cantik. Seperti aku. Seperti lampu itu. Seperti amplop ini.
Poppy: <melihat amplop pemenang, tanpa membukanya>


Poppy: Find your wild thing, the scar to your beautiful.
Poppy: <tersenyum lamaaaaaaa sekali>

 

DUAR!!!!
<Kilat menyambar, dan turunlah Thor Odinson tepat di sebelah Poppy>

Thor: Hai, aku, ehm, Thor. Kau tahu, Dewa Petir yang perkasa. Aku diutus untuk menemanimu membacakan nominasi COUPLE OF THE YEAR. Bukannya aku berharap kita bisa jadi pasangan juga sih… what?
Poppy: Hai, aku Poppy.
Thor: Yea, aku sudah dengar. Kau, ehm, kau suka rambut baruku?
Poppy: Rambut adalah mahkota yang merupakan perpanjangan dari kecantikan kita.
Thor: ….. Kau bercanda? Kok ngomongnya aneh banget sih, dari realm mana dirimu? Apa kau Dewa atau semacamnya?
Poppy: Aku dari youtube. Matamu indah, besar kali. Bolong pula.
Thor: …..umm, ah yeah, I’m not sure this is working, mari baca saja nominasinya

1. Belle dan The Beast
Thor: Dongeng dari Bumi yang indah, aku pernah dibacain ini sama J.. Jane
Poppy: Berat nyebut nama mantan
2. Elise dan Amphibian Man
Poppy: Indahnya cinta adalah, kita dan pasangan saling memenuhi satu sama lain sebagai makhluk hidup
Thor: …aku masih gak mengerti maksudmu apa
3. Jeff dan Erin Baumann
Poppy: Stronger Couple. Cinta itu menerima apa adanya.
Thor: ….bahkan dengan sebelah mata dan rambut cepak?
Poppy: Bahkan dengan sebelah mata dan rambut cepak.
4. John Cena dan Nikki Bella
Thor: Nah, ini baru aku mengerti. Pasangan yang sangat kuat. Katanya mereka lamaran di tengah ring, manis sekali.
Poppy: Semua hal yang manis adalah hal yang kuat.
5. Kumail dan Emily
Thor: Umm…aku jadi penasaran orangtuamu siapa. Aku anak Odin.
Poppy: Aku terlahir dengan cinta. Orangtuaku adalah cinta dan kasih.
Thor: Oke. Kau aneh.
6. Lala dan Yudhis
Thor: Bahkan buat pandanganku, dan aku dari dunia yang lain, hubungan Lala dan Yudhis ini benar-benar gak sehat.
Poppy: ….
Thor: Kamu gak mau mengomentariku dengan kalimat aneh lagi?
7. Raisa dan Hamish
Thor: Aku dengar katanya pasangan ini udah matahin hati banyak penggemar
Poppy: Hatinya patah seperti Palumu?
Thor: …..

Poppy: Jangan sedih, Thor teman baruku, cinta harus diselebrasi
Thor: Kamu benar. Dan pemenangnya adalah


Poppy: The shape of love is beautiful.

 

 

Thor: Oke, karena rekanku omongannya aneh tingkat dewa, kita langsung saja bacakan nominasi buat kategori selanjutnya,

THE MOST ANNOYING QUOTE
Poppy: Hai, aku Poppy.
Thor: Please…
Poppy: Hi, I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy.
Thor: ….. dan nominasinya ADALAAAAAHHHH

1. “Baby Shark doo doo doo, Baby Shark doo doo doo”- Baby Shark Song
Poppy: HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY
2. “Cash me ousside how bow dah”- Cash Me Outside Girl
Poppy: Hi I’m poppy. Hi I’M POPPY. HI I’m PoPPy. hi I’m poppy.
3. “Delete! Delete! Delete!”- Woken Matt Hardy
Poppy: HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY.
4. “Eta terangkanlah”- lirik lagu
Poppy: Hi I’m. Poppy. Hi. I’m Poppy. Hi. I’m. Poppy.
5. “Kids jaman now”- various netizen
Poppy: Hi saya Poppy. Hai I’m Poppy. Hi aku Poppy. Hai gue Poppy. Hai ogut Poppy.
6. “Nikahi aku, Fahri”- Keira Ayat-Ayat Cinta 2
Poppy: Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy.
Thor: Bunuhi aku, Poppy
7. “Wubba lubba dub dub!”- Rick
Poppy: Hi, I’m Poppy! Hi, I’m Poppy! Hi, I’m Poppy! Hi, I’m Poppy!!!!!

Thor: Woooaarghhhhh, cukup aku nyerah. Aku gak bisa lanjutin lagi bareng cewek ini
Poppy: Hahahahahaha
Poppy: Oh Brother, I got you so good.
Poppy: Ini aku (menarik lepas sesuatu dari lehernya, ternyata wajah Poppy adalah topeng, dan di balik topeng itu ternyata Poppy adalah….)
Thor: LOKI!!!!
Loki: ahahahahaha kena, deh
Thor: Grrrr, rasakan petirku!
Loki: Eh tunggu-tunggu, ini pemenangnya belum diumumiinnnn
Thor: Bodo, I’m so mad right now
Loki: Oh oke pemirsa, pemenangnya adalah


Loki: apakah marahmu berkurang kalo kubikinkan kaos bertulisan “Maafkan aku, Thor”?

DUAR!!
(Thor dan Loki menghilang setelah petir besar menyambar panggung)

 

 

 

 

“Untuk membacakan BEST CHILD CHARACTER, sambutlah bocah-bocah yang gak kalah ajaib ini; Annabelle, Chucky, dan Sabrina!”

Annabelle: Ah, lihatlah ada begitu banyak jiwa yang bisa diajak main-main
Sabrina: Seandainya kita masih anak-anak beneran yaa hiks
Chucky: Eh tunggu, aku bukan anak-anak! Aku perampok yang masuk ke badan boneka. Aku ini jahat. Pembunuh. Orang dewas tulen!
Annabelle: sudah-sudah, gak jadi soal toh. Kita cuma jiwa-jiwa sekarang.
Chucky: tapi kita bisa bunuh yang baca kan, please
Sabrina: nanti ya kak Chucky, kita baca nominasi dulu yaaa, ini tokoh anak-anak yang paling berkesan se2017
1. Auggie – Wonder
Chucky: wow dia kayak model live-action dari badanku
Annabelle: iya dia live, kamu mati
Sabrina: hihihi
2. Baby Groot – Guardians of the Galaxy 2
Sabrina, Annabelle, Chucky: CUTE!
3. Ian – Pengabdi Setan
Sabrina: dia salah satu dari kita, guys
Chucky: oh yea, apa senjatanya? Upil?
4. Janice – Annabelle: Creation
Sabrina: lihat, Bee, itu anak yang kamu rasuki
Chucky: yea dan dia hantu yang lebih hebat daripada mu
Annabelle: kamu nantang ya?
5. Laura – Logan
Chucky: senjatanya kereeeenn, dia boleh jadi anak buahku
Annabelle: pisaumu tampak seperti agar-agar dibandingkan kukunya hihihi
6. Mary Adler – Gifted
Sabrina: anak idaman orang tua, nih
Annabelle: baik, cantik, pinter, dan hidup gak kayak kita
7. Miguel – Coco
Chucky: anak ini pergi ke dunia orang mati dan keluar hidup-hidup? Hantu Mexico payah semua!!
Sabrina: dia penyanyi yang berbakat sih
Annabelle: dia immortal!

Chucky: kita bunuh saja yuk yang menang, pialanya kita ambil
Sabrina: setujuuu <ngeluarin gunting taman dan perkakas lain>
Annabelle: oke, siap, inilah pemenangnyaa


Sabrina:…. Oh aku gak tega ih
Annablle: Auggie udah kayak wakil dari kita, bahwa tidak ada yang cacat – semuanya ajaib
Chucky: Well, yea, aku pun gak semangat membunuh anak yang terlalu baik
Sabrina: jadi kita nyanyi Cita-Cita aja nih?
Annabelle, Chucky: NOOOOO!!!!! <lari ngeloyor ke belakang panggung>

 

 

 

Kai: Kematian adalah hal yang menyedihkan. Untuk setiap jiwa yang gugur, ada paling tidak satu jiwa yang merasa kehilangan. Jupe, Oon Project Pop, Pak Bondan, Eko DJ, Nenek Laila Sari, Dusty Rhodes, Jimmy Snucka, Superman.. kerasanya udah devastating. Itu baru satu orang. Bagaimana dengan korban perang, dengan Bom Manchester di konser Ariana Grande, dengan pengeboman London Bridge, dengan penembakan di Las Vegas. Kematian untuk dikenang. MOMENT OF SILENCE yang kita lakukan perlu, namun jangan sampai kita lupa untuk hidup. Jangan sampai kita takut. Karena, hanya dengan takut, kita lemah. Mengheningkan Cipta, mulai!

“Ladies and Gentlemen, bintang dari American Horror Story: Cult, dialah: Kai Anderson”

Kai: Dunia sudah dikendalikan oleh ketakutan, bahkan sampai hantu pun takut keluar. Babadook malu karena diejek sebagai ikon LGBT. Kita harusnya bebas memakai apa yang kita mau. Tidak perlu takut dilecehkan. Kalian adalah diri kalian berpakaian. Lihat aku, rambut aku biru. Dan aku bersumpah dengan pinky promise aku tidak akan mengubah gayaku berpakaian. Betapa terhormatnya bagiku untuk membacakan FASHION OF THE YEAR, karena fashion itu sama seperti politik; Demokrasi, namun harus ada yang mengarahkan!

1. Gaun Cetar Mimi Peri
2. Kaos nWo Red Wolfpac Kendall Jenner
3. Kumis ala Poirot
4. Male Romper
5. Pennywise Costume
6. Sarung Tangan Alexa Bliss
7. Thrasher Clothes

Kai: Oke aku akan memburu yang tadi cekikikan melihat nominasinya.
Kai: Pemenangnya adalah


Kai: Ah, sarung tangan ini pas banget ku pakai bersama topeng di serial ku. Kalian semua, hati-hati pulang ke rumah. Kejahatan lagi meningkat. Pastikan kalian aman terkunci di rumah masing-masing setelah jam sepuluh malam.

 

 

 

Kai: Kategori berikutnya, ah WONDER WOMAN OF THE YEAR, kalo kalian nonton serial American Horror Story tahun 2017, kalian pasti tahu aku kalah sama cewek. Feminisme sudah berada di titik terkuat sekarang. Mereka bukan lagi mau sejajar sama pria, mereka sudah sejajar. Tapi bisakah mereka mengambil alih? Well, tujuh nominasi ini adalah wanita-wanita kuat seperti musuhku. Dan kuakui, I fear them.

1. Billy Jean King
Kai: Legenda tenis yang memperjuangkan petenis wanita dapat bayaran yang sama, dan actually mengalahkan petenis pria.
2. Diana Prince
Kai: Award ini dijuduli pakai namanya. Pahlawan perang dulu, kini, dan nanti
3. Lorraine Broughton
Kai: Ahli menyamar dan martial arts, kau enggak akan mau Atomic Blonde ini jadi lawanmu.
4. Marlina
Kai: Berkuda membawa kepala orang yang mencoba memerkosanya. Aku suka cewek ini, dia membawa ketakutan!
5. Mbah Sri
Kai: Kau tidak pernah terlalu tua untuk mengejar kebenaran
6. Mildred
Kai: Beranilah mempertanyakan sistem. Gunakan media untuk menyibak kebenaran, paksa dengan kebencian, kalo perlu.
7. Mother
Kai: Selalu memberi sampai tidak ada lagi yang bisa ia beri. Luar biasa.

Kai: Tujuh wanita yang menakjubkan, bukan. Dan pemenangnya adalah

Kai: Aku bersyukur tidak perlu berhadapan dengan orang ini, atau bahkan dengan wanita manapun. I’ll go back to my hole now, dan akan kembali saat kalian tidak mengharapkannya. Selamat malam.

<Penonton pada ragu mau tepuk tangan atau enggak, hening awkward mengiringi kembalinya Kai ke belakang panggung>

 

 

 

 

“Pemirsa alias Pembaca, sambutlah satu kelompok anak-anak dari tahun 1980an yang akan membacakan nominasi kategori FEUD OF THE YEAR My Dir…. Eh, apaan tuh ribut-ribut?”

<beberapa sosok bersepeda tampak kebut-kebutan menuju panggung>

Genk It: Yes, kami duluan
Genk Stranger Things: Heh, siapa sih kalian, yang dipanggil kan kami
Genk It: Yeee, itu katanya anak-anak dari tahun 1980, ya kamilah tim anak-anak yang paling legendaris. Kalian cuma peniru
Genk Stranger Things: Losers Club diem aja ya di sana, kami Winner Club
Genk It: eeeee ngajak berantem, ayo Beverly, ketapel merekaaa
Genk Stranger Things: El, toloooongggg!!

1. Billy Jean King vs. Bobby Riggs
2. Bumi Bulat vs. Bumi Datar
3. Dian Sastro vs. Tangan di Bahu
4. Pickle Rick vs. Jaguar
5. Setya Novanto vs. Tiang Listrik
6. Tere Liye vs. Foto Selfie
7. Thor vs. Hulk

<Eleven dan Beverly datang sambil makan wafel pake ketapel>
Eleven: udah, udah, ngapain berantem sih?
Beverly: tau nih, Pennywise ama Demogorgon aja pada akur kok
Eleven: biarin nominasi ini aja yang berantem. Nih kita baca bareng-bareng yaa


Genk ??: Ahahahaha bapak sih, tiang listrik pake dilawan ~~
Genk Bareng: Loh kalian siapa?
Genk ??: Kami genk generasi now!
Naura: eng-ig-eng Naura dan Genk Juara!!

<Mereka semua pun ambil ancang-ancang. Namun sebelum sempat bernyanyi, geng anak-anak kecil itu diusir keluar sama satpam>

 

 

 

 

“Untuk kategori BEGO OF THE YEAR dan BEST MOVIE/SERIAL SCENE, sambutlah superhero yang merupakan simbol dari harapan umat manusia di dunia, ehmm lebih tepatnya, sambutlah bagian dari superhero harapan manusia, dibangkitan oleh kecanggi han teknologi, inilah… Kumis Brewok Superman!”

Supermis: ehem, ehem… oke mungkin aku terlihat memalukan kayak plankton pakai wig, tapi sekarang aku sudah lebih terkenal dari Superman sendiri. Kalian boleh memanggilku Supermis. Super Kumis. Aku pernah dicall buat jadi ambassador Wak Doyok, tapi aku tolak. Baru ini loh kemunculan publik pertamaku, beruntunglah kalian.
Supermis: oke ehem.. karena tampang Superman yang bego itulah aku kebagian baca nominasi BEGO OF THE YEAR, dan inilah mereka:

1. Fitsa Hats
Supermis: Pintar-pintarlah dalam berbahasa, jangan taunya makan micin doang
2. Ikan (Tong)-kol
Supermis: Oke aku berani bertaruh badanku ubanan semua; anak itu sengaja ahahha!
3. Kue khas kota ala selebriti
Supermis: Inilah ketika batas antara tradisional dengan kekinian itu udah gak ada lagi hihi
4. Oscar salah ngomong
Supermis: Ini juga kayaknya sengaja dah biar jadi bahan omongan xD
5. Patung Harimau
Supermis: Ini kayaknya model patungnya si Tigger yang di Winnie the Pooh deh ahahaa
6. Peta Film Ular Tangga
Supermis: Pantes aja nyasar, naik gunung kok petanya kayak peta kawinan
7. Skip Challenge
Supermis: adek-adek, don’t try this at anywhere

Supermis: dan paling bego di antara semua adalaaaah

Supermis: makanya kalo bikin film itu, lakukanlah riset yang bener. Jangan sampai hasilnya jadi malu-maluin. Eh tapi, mereka jadi menang award, berarti gak malu-maluin banget dong ya?

 

 

Supermis: Berikut ini nih contoh film-film yang digarap dengan serius, dengan niat. Jadinya mereka punya adegan-adegan yang dahsyat, meyakinkan, seru. Mari kita lihat siapa aja nominasi untuk BEST MOVIE/SERIAL SCENE
1. Baby Driver’s Opening Getaway

Supermis: Ini udah paling keren, kayak beneran bisa dilakukan di jalan raya. Ntar kucobain aahh
2. It’s Pennywise Introduction

Supermis: sampe banyak dijadiin meme nih adegan, serem !
3. Justice League’s Superman Kicking Ass

Supermis: wah ini! Evil Superman beraksiii
4. Raw’s Finger Eating

Supermis: coba deh nonton ini sambil puasa, dijamin sukses menahan lapar
5. Star Wars: The Last Jedi’s Ren and Kylo Team Up

http://www.youtube.com/watch?v=tzQB8Qfq8Us

Supermis: salah satu battle terkeren di Star Wars nih, ngetease tag team banget
6. Thirteen Reasons Why’s Hannah Baker Suicide

http://www.youtube.com/watch?v=OxBnNOxOKPk

Supermis: adegan paling bikin lemes, gak ada lawan!
7. Wonder Woman’s Amazon Battle

http://www.youtube.com/watch?v=bIfPq3biW_o

Supermis: kamera dan aksinya sama-sama keren!!

Supermis: Gini-gini aku banyak nonton film loh. Paling benci film pembunuhan di kereta api karena ada kumis yang sok keren. Oke, pemenangnya adalah

Supermis: beneran deh, tulangku menggigil nonton adegan ini, dan aku bahkan gak punya tulang!

 

 

 

 

 

“Hahaha, oke terima kasih buat Supermis dan para pembaca nominasi yang sudah sudi hadir di sini. 2017 kemaren memang keren, quirky but in an awesome way. Aku sendiri gak pernah nyangka aku akan membuka kafe eskrim. Sampai-sampai kadang kalo jalan pulang dari bioskop panas-panas, aku mikir “duh enak makan eskrim nih” dan ternyata baru aku sadar “Hei, I own one!” Hidup kadang impulsive seperti itu. Bukannya enggak ada masalah pas aku mau nyambut kontrak bangunannya dari temenku. Aku literally galau, berminggu-minggu duduk di atap sampai pagi.. Dan lima hari sebelum pindahan ke kafe aku ‘kabur’ ke Solo. Crashing lokasi syuting film mentorku, Mas Ichwan Persada. Untung di sana pada welcome, aku tinggal bareng ngikutin para kru. Aku dibolehin nanya-nanya pembuatan film kayak orang bego. Jadi, selain dapat tempat curhat soal pilihan hidup ekstrim menjadi buka eskrim, aku juga dapat kesempatan belajar, dan teman-teman baru dari kru dan pemain. Dan aku semakin gak nyangka, aku menutup tahun 2017 dengan ngobrol gugup di depan sejumlah insane perfilman tanah air. I guess that was MY MOMENT OF THE YEAR. Blog ini ternyata ada yang baca, dan dinilai worth untuk sebuah piala. Terima kasih, buat kalian yang udah suka mampir dan diskusi film di blog ini, semoga ke depannya bisa lebih baik lagii”

 

 

 

“Untuk penutupan, seperti biasa kita serahkan award final SHOCKER OF THE YEAR, hal-hal yang udah bikin kita surprise, dan sebelum melihat pemenangnya, inilah para runner-ups:”
1. Mickey Mouse Club Returns!
2. Serangan virus Ransomware Wannacry!!
3. Taylor Swift trying to be mean!?
4. Undertaker pensiun!!!
5. Yugioh ganti format!?!
6. Nama depan Schmidt terungkap!
7. Amerika menganggap Yerusalem sebagai ibukota Israel!!!
8. Sasha Banks dan Alexa Bliss mecahin rekor pertandingan gulat wanita pertama di Arab!!
9. Kasus pelecehan di Hollywood terungkap!
10. Chester Linkin Park bunuh diri!!

“Daaaan the most shocking thing adalaaaahh”

“Selama ini kupikir cewek loh, well yea, sepertinya memang kita jangan jump into conclusion gitu aja mengenai banyak hal. Pastikan dulu. Cari tahu sendiri.”

 

 

“Semoga tahun 2018 menjadi tahun di mana Bumi menjadi tempat hidup yang lebih baik. Atau kalo enggak, semoga mungkin kita sudah bisa pindah ke Mars.”

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are…

Don’t be a Loser

We are the winner of Piala Maya Best Movie Critic of 2017
Be Jealous.

PITCH PERFECT 3 Review

“Life is not a competition.”

 

 

 

Hidup memang keras. Kalian boleh saja bagian dari grup nyanyi yang aca-awesome sewaktu di kampus, namun tetap berakhir gak sukses di pekerjaan yang juga gak keren-keren amat. Masing-masing anggota Barden Bella terbukti ngalamin ini. Bahkan Beca yang udah mewujudkan mimpinya jadi musik produser, keluar dari pekerjaan. Idealismenya enggak ketemu jalan nyambung ama ide kreatif klien. Jadi, para Bella sekarang punya waktu luang untuk ngumpul-ngumpul lagi. Mereka kangen nyanyi bareng. Diundang oleh ayah Aubrey yang tentara, Bella ikut tur USO – nyanyi keliling Eropa. Tapi tentu saja yang namanya tur, bukan mereka saja yang meramaikan acara. Barden Bella bertemu dengan grup musik lain, dan ‘teman-teman’ baru mereka itu actually bermain dengan alat musik. Ada grup rocker cewek, band country, juga duo musik elektronik. Mengetahui tur ini bisa saja adalah penampilan bareng terakhir mereka, Bella bertekad mempersembahkan yang terbaik. Supaya mereka terpilih sebagai band pembuka di acara puncak tur bersama pemusik DJ Khaled.

Aku sudah nonton Pitch Perfect (2012) lebih banyak dari yang seharusnya. Oke, aku ‘mungkin’ pernah muterin film ini nonstop seharian sambil belajar bikin sketch kala itu.. Aku-muternya-hampir-tiap-hari, aku ngaku. I was so surprised by that film. Kocak, pemainnya likeable, ceritanya seger banget – jika kita melihat ke belakang ke dunia perfilman saat itu -, anak kuliahan yang ingin mengerjakan yang ia suka – tentu kita bisa relate ke sana. Aku suka suara Anna Kendrick, aku juga suka lagu Cup yang kukasih Best Musical Performance untuk My Dirt Sheet Awards, Rebel Wilson’s antics, lagu-lagu mash upnya, kaki Alexis Knapp, ada banyak yang bisa disukai dari sana. Aku bahkan tahu The Breakfast Club (1985) dari film ini. Pitch Perfect actually adalah urutan paling wahid di daftar film favoritku tahun 2012. Dan tiga tahun setelah itu, sekuel film ini muncul. Nyaris dari nada ke nada, dari beat ke beat, filmnya mirip. Dan buatku Pitch Perfect 2 (2015) merupakan sedikit kekecewaan, but you know, kita gak bisa benar-benar mencibir mendengar lagu Flashlight dan melihat penampilan panggung DSM.

Tapi serius, aku gak pernah berharap Pitch Perfect dibikin sekuelnya. Apalagi jadi trilogi seperti kenyataan sekarang ini. Musik yang asik dan unik dan komedi dead-pan, itulah kekuatan utama franchise ini. Dan bahkan semua itu bisa jadi repetitif dan menjemukan jika terus dilakukan tanpa ada perubahan. Sepuluh menit pembuka film Pitch Perfect 3, kita mendengar akapela lagu Toxic, Barden Bella nyanyi di kapal alih-alih panggung, dan kemudian Fat Amy terjun dari langit-langit. Tak lama kemudian kapal tersebut meledak, para Bella loncat ke air.  And I was like, wow, MEREKA BERBEDA SEKARANG!

Stacie gak ikutaaaan huhuuu

 

Pitch Perfect 3 tampaknya mendengarkan koor suara penggemar, dan mereka dengan berani mengambil langkah gede untuk melakukan pembaruan di sana sini pada ceritanya. Mereka menambahkan elemen action, mereka menambahkan hal untuk dilakukan oleh para Bella selain bernyanyi dan melontarkan lelucon yang gitu melulu-melulu. Regarding menyanyi, film ini menaikkan permainan mereka. Untuk pertama kalinya, Barden Bella tampak gak yakin dengan akapela. Tidak banyak akapela yang kita dapatkan di sini, at least enggak sebanyak di dua film pendahulunya. Dan ini sesungguhnya bisa jadi pedang bermata dua; penonton yang ingin melihat mereka bernyanyi akapela akan jadi sedikit kurang puas, tapi untuk penonton yang menginginkan musik; well, film ini punya musik-musik bagus dari genre yang lebih beragam.

Jika kita melihat kembali dari film pertama, bila kita melihat gambaran utuh serial ini, Pitch Perfect 3 bekerja efektif sebagai bagian penutup. Mereka menggali masa lalu. Tokoh-tokoh mendapat penutup buat arc mereka, dan arc itu berlangsung dari film yang pertama. Beberapa tokoh mestinya bisa dipresentasikan dengan lebih baik lagi, tapi secara keseluruhan, film ini berhasil membungkus cerita  sama seperti yang dilakukan Cars 3 (2017) terhadap franchise Cars. At it’s heart, ini adalah tentang keluarga,  bahwa keluarga harus saling support, walaupun kadang tak selalu bersama. Dalam film sebelumnya, Bella sudah mengestablish bahwa mereka adalah keluarga, namun di sini mereka harus belajar memperluas keluarga mereka, bukan lagi semata soal tradisi. Satu adegan yang aku suka adalah ketika band lain mendadak nyanyi bareng, mereka melanggar aturan permainan Riff-Off, dan cewek-cewek kita enggak mengerti kenapa para pesaing mereka melakukan hal tersebut.

Barden Bella, terutama Beca, yang sudah berkompetisi dari dua film pertama, gagal untuk melihat bahwa hidup yang sebenarnya bukanlah sebuah perlombaan. Terutama dalam keluarga. Kita tidak saling bersaing dengan keluarga. Jikapun ada, maka lawan kita sesungguhnya adalah waktu. Karena kemenangan dalam hidup adalah ketika kita sebagai keluarga bersikap saling mendukung, tidak mengecewakan satu sama lain.

jadi kalo menang, jangan besar kepala

 

Ceritanya sendiri jadi terasa sangat padat, bukan dalam artian yang bagus. Kita melihat banyak cerita sampingan, di antaranya ada Fat Amy yang ketemu dengan bokapnya, ada Aubrey yang pengen ketemu sama bokapnya, ada Chloe yang lagi berflirt-flirt ria sama tentara pemandu mereka. Juga ada cerita tentang dua komentator acara (duet Elizabeth Banks-John Michael Higgins memberikan banyak sumbangan komedi) yang bernapsu untuk mendokumentasikan detik-detik kejatuhan Beca dan teman-teman. Mereka ngikutin ke mana Barden Bella pergi dengan komentar-komentar sarkas yang berhasil memancing gelak tawa penonton di studio. Kehadiran elemen-elemen narasi tersebut dibutuhkan dan integral sama tubuh besar cerita, cerita-cerita tersebut tidak tercampur dengan benar. Flownya enggak mulus.  Film ini berusaha menampung banyak, tapi penulisan tidak mampu merangkai semuanya dengan baik.

Dan tetap saja ada yang tokoh yang gak kebagian, mereka hanya dapat sepatah dua patah kalimat. Hailee Steinfeld is barely there, aktris ini underutilized banget padahal kita udah melihat sebagus apa dia jika diberikan kesempatan. Malahan, kebanyakan pemain film di sini menyuguhkan akting yang membuat kita berharap mereka dapat unjuk kebolehan di film yang terstruktur lebih baik. Rebel Wilson, khususnya, sangat bersinar di film ini. Komedi-komedi yang bekerja baik itu datang darinya. Dia juga hilarious di bagian aksi.

 

 

Berusaha menjadi lebih besar, film ini nekat menjadikan root yang udah bikin dirinya digemari penonton sebagai nomor dua. Film ini melakukan seperti apa yang dilakukan oleh tokoh utamanya; ngemash up genre, sayangnya kadang yang miss terasa lebih banyak dibandingkan yang hit. Bagaimana pun juga, sebagai penutup, film ini berhasil menunaikan tugasnya. Ceritanya terasa konklusif. Messy sebagai diri sendiri, akan tetapi film ini cukup bersinkronisasi dengan dua film sebelumnya. Jikapun ada masalah yang kita temui, maka itu adalah lantaran seri ini enggak perlu banget dibikin sekuel sedari awal. Lebih baik dari yang kedua, namun itu enggak berarti banyak.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PITCH PERFECT 3.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

CHRISYE Review

“Don’t feel guilty for doing what’s best for you”

 

 

Apakah Chrisye bisa hidup lagi? Begitu bunyi salah satu headline koran dalam kelebatan berita dan fakta singkat yang kita lihat di menit-menit awal film ini berlangsung. Jawabannya tidak secara harafiah Chrisye bangkit dari kubur, tentu saja. Dan menurutku, jawabannya juga ‘tidak’ jika pertanyaan tadi kita jawab dengan kiasan. Namun bukan karena sudah tidak ada lagi orang yang mengenalnya, yang mendendangkan lagunya. Justru sebaliknya, ‘tidak’ karena buatku, dan kuyakin juga buat penggemar, buat orang-orang yang pernah tersentuh dan terhibur oleh karyanya yang amat banyak, juga buat keluarga dan orang-orang terdekatnya, Chrisye tidak pernah mati. Dia akan terus hidup. Lilin-lilin kecil itu tidak akan pernah padam.

Menjalani masa pertumbuhan di era 90an, telingaku akrab sama lagu-lagu Chrisye. Dan memang, aku gak pernah tahu kisah hidupnya seperti apa. Orang bilang, kita bisa mengenal seseorang lewat karyanya, but still enggak banyak yang tahu cerita di balik lagu-lagu tersebut. Paling enggak, tidak tahu sedekat Damayanti Noor, istri Chrisye. Kenapa juga kita perlu tahu, kalian tanya. Well, karena akan selalu ada saja yang bisa kita petik dari kisah-kisah hidup orang seperti Chrisye. Orang yang berjuang dengan karyanya, meski dia tahu profesi yang ia tekuni tidak dihargai benar-benar layak. Orang yang mengikuti kata hati dan memilih jalan hidup atas nama cinta. Film Chrisye ini adalah cerita yang sangat personal karena diangkat dari sudut pandang sang istri, yang sudah menemani Chrisye, sudah ikut naik-turun gelombang kehidupan bersamanya.

Chris, eike, yey…. Chris-eike-yey….. Chris-eik-yey…. Chris-yey… Chrisye!

 

Sebagai sebuah drama biografi, film ini akan sedikit banyak berusaha menyentuh sisi emosional kita. Ada beberapa adegan di pertengahan akhir film yang benar-benar terasa buatku. Malahan, di bagian paruh terakhirlah film ini bekerja dengan baik. Kita bisa merasakan stake yang gede ketika satu hari sebelum manggung di konser tunggal akbarnya, suara Chrisye malah menghilang. Kita ikut gemetar ketika Chrisye tak sanggup untuk menyanyikan lagu tentang kebesaran Tuhan yang disadur dari terjemahan Surat Yasin ayat 65 Al-Qur’an. Karena setelah sekian banyak yang kita pelajari dari pribadi seorang Chrisye, kita jadi tau gimana dia ogah mendengar nyanyiannya sendiri, gimana dia nyari-nyari alesan untuk menunda melihat penampilannya di televisi, semua sisi emosional itu barulah benar-benar pecah saat film membahas kejadian di late on his career. Vino G Bastian yang sempat diragukan melangkah ke dalam sepatu seorang Chrisye, juga akhirnya mendeliver penampilan yang meyakinkan di porsi ini. Ketika dia diberikan kesempatan untuk menyanyikan lagu dengan suara sendiri,  Chrisye terbata sebelum akhirnya tak dapat menahan laju air mata, adegan tersebut sangat kuat menyentuh. Bahkan dari segi penampilan,  Vino jadi tampak mirip dengan Chrisye, apalagi di angle-angle dari depan ketika kepalanya sedikit merunduk.

Bayangkan jika satu-satunya hal yang bisa kau lakukan, ternyata tidak cukup untuk membahagiakan orang yang kau cintai. Chrisye malahan sampai merasa amat bersalah karena sudah memilih menjadi musikus – dia jadi meragukan potensinya, the only things he’s good at. Ini lebih dari sekadar depresi. Ini adalah perasaan gagal, tak berguna, ketakberdayaan, yang menggumpal menjadi satu. Menjadi penyakit yang merundung Chrisye.

 

Tapinya lagi, film tidak menyoroti Chrisye sebagai penyanyi sebanyak itu. We do get perjuangan Chrisye bertahan sebagai seorang musikus, tetapi fokus film sesungguhnya terletak kepada menyajikan Chrisye sebagai seorang pria, seorang ayah, seorang manusia. Salah satu aspek cerita yang mendapat build up yang cukup banyak dan menarik adalah soal beda agama. Kita melihat suara Adzan mempengaruhi pilihan Chrisye, dan later juga menambah banyak bobot buat elemen Chrisye dengan musiknya. Kalo boleh menekankan, aku akan bilang sekali lagi film ini bekerja terbaik begitu dia memperlihatkan tentang Chrisye dan perjuangannya dalam musik. Namun, alih-alih itu, film memperlihatkan aspek-aspek yang lain yang datang dan pergi begitu saja.

Hubungan yang terjalin antara Chrisye dengan Damayanti mengambil posisi utama pada paruh pertama. Yang gak sepenuhnya menarik dan ingin kita ketahui. Dan film ini sendiri pun sepertinya aware dengan hal tersebut. Buktinya, film banyak mengambil waktu untuk membuat kita melihat bagaimana mereka bertemu, kemudian pacaran, dan kemudian ketika menunjukkan bagian romantis, bagian kedekatan mereka, film menceritakan lewat montase, seolah ingin segera cepat sampai ke bagian yang lebih serius. Dialog di bagian awal-awal ini pun ala kadarnya. Ada begitu banyak kejadian, film terus melompat-lompat periode waktu, sehingga membuat kita susah untuk pegangan. Tidak ada yang bisa dicengkeram pada bagian-bagian awal ini. Tidak ada stake yang kerasa. Aku benar-benar susah untuk peduli sehingga sebagian besar waktu itu aku jadi lebih tertarik kepada penampilan-penampilan kejutan dari tokoh dunia musik lain yang hadir di cerita.

“Sejak lihat babak pertama, ku langsung ilang rasa
Walau ku tahu c’rita ada personalnya
Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani
Ku tak dapat ngerasain, gejolak cinta ini.

Maka, izinkanlah aku mengritisimu
Atau bolehkan aku sekedar jujur padamu~”

 

Film berkelit dari banyak potensi konflik. Itulah yang membuat bagian awal tampak mudah tanpa ada kejadian yang menarik. Halangan bermain musik dari ayahnya, tergugurkan oleh mimpi. Kita gak dikasih liat reperkusi dari pindahnya Chrisye menjadi penyanyi solo, bagaimana dengan bandnya, gimana dia keluar, film melompati ini di saat yang bersamaan dengan mereka melompati periode waktu. Ketika dia pindah agama juga mulus-mulus saja. Semua seperti terhampar begitu saja, dan di sinilah letak susahnya mengritik film dari kisah nyata. Karena mungkin memang di kenyataannya enggak ada masalah yang Chrisye hadapi sehubungan dengan poin-poin tadi. Toh film harus dibuat tetap menarik, jika memang harus sama, pertanyaannya adalah kenapa memasukkan bagian yang tidak menarik, yang tidak berkonflik? Padahal kan film menarik karena kit amelihat benturan antara manusia dengan konflik.

bayangkan betapa leganya Chrisye setelah dua kali setiap dia ngangkat telepon, ada yang mati.

 

Bagus mereka memasukkan detil kecil Chrisye suka merapikan selimut untuk orang yang sedang tertidur karena kebiasaan tersebut menambah suatu aspek terhadap karakternya. Tapi dalam film ini, repetisi lain pada beberapa adegan terasa annoying karena gak berujung apa-apa. Gak ada faedahnya. Kita mendengar “Amerika!” disebut-sebut dengan antusias berlebih berulang-ulang seolah film ini banyak bertempat di sana, namun enggak. Jadi, kenapa?  Kelemahan ini berasal dari penulisan dialog yang acap terdengar ala kadarnya. Bincang-bincang pasangan di diskotik hanya “turun, yuk” yang membuat adegan tersebut semakin tidak penting. Dan saking berulangnya adegan orang yang tertidur, aku yakin kalo aku menoleh ke samping, orang di sebelahku juga sudah ngorok kayak orang-orang di film ini yang begitu meleng sedikit, begitu mereka ngeliat temannya lagi, teman tersebut sudah pulas.

 

 

 

Bukannya aku mau menodai kenangan personal seorang istri terhadap almarhum suami, karena alur film ini adalah bagaimana kenangan Damayanti terhadap Chrisye, namun sesungguhnya tidak semua bagian kehidupan bisa ditranslasikan dengan menarik sebagai bahasa film. Ataupun tidak semuanya benar-benar perlu. Film ini sayangnya, bukan hanya memasukkan banyak, malah mereka ngeskip bagian yang potensial menarik dan lebih penting untuk ditampakkan. Dengan set piece yang detil, film ini adalah biografi yang membuktikan betapa Chrisye adalah sosok tak tergantikan, terutama di mata istrinya, dan ini terlihat dari suara nyanyian asli dari Chrisye yang dilip-sync. However, erita baru bekerja dengan benar-benar baik saat dia tiba di satu bagian tertentu. Selebihnya, benar ini seperti kenangan yang terpotong-potong. Tidak pernah mengalir dengan baik. Dan itu bukan bentuk yang menyenangkan dalam menikmati perjalanan film.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for CHRISYE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

TLC 2017 Review

 

Bayangkan suatu malam minggu, kalian sudah rapi jali, siap untuk pergi ngedate, tetapi kemudian hujan turun dengan tak-kalah semangatnya. Atau bayangkan kalian sudah siap berhibernasi sepanjang hari di rumah, berepisode serial TV sudah siap untuk ditonton marathon, video games pun sudah menunggu untuk dimainkan, kemudian PET! dengan tanpa berdosa, PLT memutuskan aliran listrik. Manusia punya rencana, namun Tuhan yang menentukan. Memang bukan baru sekali ini WWE mendapati talentnya pada ijin sakit, membuat para penulis kudu merombak ulang skenario. Namun virus tidak pernah menjangkiti ruangan loker lebih mendadak daripada sekarang ini. Hanya 48 jam yang dipunya WWE sebelum acara puncak untuk mengganti dua skenario utama yang tadinya sudah dibangun dalam kurun enam minggu. Tak pelak, susunan pertandingan TLC tahun ini akan membuat kita merasa aneh. Kita tahu pertandingan gulat itu hambar kalo cerita yang melandasi kedua kubu yang bertemu kurang kuat. Di lain pihak, kita toh menggelinjang juga karena ini adalah pertandingan pertama Kurt Angle di ring WWE sejak sebelas tahun yang lalu, dan AJ Styles melawan Finn Balor adalah dream match material.

Pola pikir yang berusaha dipatri oleh WWE di acara ini adalah ‘less is more’. Terasa mendadak, memang, makanya alih-alih membuatnya terlalu serius, WWE menggebah TLC sebagai kendaraan untuk fans bersenang-senang.

 

Dan aku terhibur. Aku suka sebagian besar kejadian. Aku bahkan menikmati ‘konser sayur’ Elias, lebih tepatnya aku menikmati ngeboo si jagoan bergitar itu. Menurutku Elias bekerja dengan baik memancing heat. But I do not like the match, Jordan melawan Elias biasa aja, dan itu adalah penilaian terbaik yang bisa kita berikan kepada mereka. I do enjoy Alexa Bliss vs. Mickie James. Itu adalah pertandingan terbaik Bliss sejauh karirnya di main roster. Dan enggak, aku yakinkan aku enggak bias.

Here’s me when I’m biased: Rambut Aleksya Blissnyaaww unyu banget di TLC, dia pantas menang dengan rambut selucu itu, dan Mickie James Ellsworth udah ketuaan.
Dan ini ketika aku melihat pertandingan mereka dengan objekif: Jurus-jurus Bliss memang enggak wow-wow amat, dia hanya brilian sebagai penampil antagonis, Bliss paham cara memancing emosi penonton. Cerita di pertandingan ini adalah soal seorang juara sombong yang meremehkan lawannya yang lebih matang dan berpengalaman. Mickie mengusahakan yang terbaik dari yang ia mampu, mencoba selalu selangkah dalam mengantisipasi Bliss. Gaung personal yang natural match ini disampaikan dengan baik oleh kedua superstar lewat serangan-serangan ofensif dengan intensitas yang jarang kita lihat di pertandingan cewek. Pada akhirnya, umur memang hanyalah angka, akan tetapi angka enggak bohong. Yang mereka suguhkan adalah sebuah tarung yang tangguh, dan juara bertahan kita berhasil unggul secara bersih.

 

 

Sayangnya, partai wanita lain yang turut dikonteskan dalam acara ini enggak berhasil menyampaikan pesan yang mereka maksudkan. Aku sangat mengapresiasi baik Emma maupun Asuka. Emma adalah pegulat yang cakap, tapi sama seperti Alexa Bliss, sebagai kompetitor  yang kebagian peran heel ada batasan yang harus dipatuhi. Aku percaya di lain cerita, di peran yang berbeda, Emma bisa berimbang dengan meyakinkan melawan Asuka. Tapi tidak di sini. Karena cerita pertemuan mereka ini adalah tentang showcasing Asuka. Untuk berminggu-minggu menuju ke acara ini, kita melihat dan mendengar desas-desus tentang kehebatan Asuka, dan sementara itu kita melihat Emma bergelimang di papan tengah roster cewek Raw. Gini, bayangkan pacar kalian yang belum pernah nonton WWE ngikutin  build up TLC di mana Asuka sangat dihype sebagai petarung yang garang. Ekspektasi yang ada tentulah Asuka akan mendominasi Emma, not necessarily squash match, namun mestinya Emma tidak mendapat terlalu banyak upper hand seperti yang kita lihat di match ini. Sederhana saja. Asuka mestiya dibuat mendominasi Emma yang kebagian jatah sebagai petarung papan tengah.  Kesempatan untuk membangun Emma sudah lewat, kalo mau dibuat kuat semestinya sejak dari episode Raw menuju ke sini. TLC adalah tentang Asuka, namun dari apa yang kita tonton di TLC, Emma lah yang justru terasa seperti ‘tokoh utama’.

Sebenarnya, ini adalah formula yang sama dengan yang mereka gunakan untuk ngebuild Nakamura di Smackdown. Pertandingan Asuka melawan Emma persis kayak Nakamura lawan Ziggler. WWE tampaknya merasa insecure soal membentuk karakter babyface yang hebat. Zona nyaman WWE adalah formula skenario ‘pahlawan bangkit di akhir’, seperti skenario pertandingan John Cena; si babyface dihajar duluan, kemudian dengan kekuatan dukungan dari penonton, sang hero bangkit dan menang. Akan tetapi, formula ini tidak bekerja kepada Nakamura, dan jelas tidak bekerja juga pada Asuka. WWE harus berani  mengeksplorasi karakter face dari sisi yang lain, menemukan cara baru memperkenalkan pahlawan; bahwa protagonis bisa kok dibuat mendominasi sekaligus terlihat vulnerable.

 

Pop Quiz!

<Soal pilihan ganda>
Apa faedah dari Kalisto menangin sabuk Cruiserweight dari Enzo hanya untuk kembali kalah kepada Enzo seminggu kemudian?
a. Untuk menyemangati penonton di hari ulang tahun Eddie Guerrero
b. Sebagai pengalihan isu
c. Biar ada alasan buat Kalisto balik pake musik lama
d. Membuat kesel si Neville

 

 

Sakit itu musibah, bukan bahan becandaan. Namun mundurnya Bray Wyatt dari match card karena diagnosis viral meningitis bisa jadi adalah sebuah blessing in disguise buat banyak fans, bahkan mungkin buat Wyatt dan Balor sendiri. Sejujurnya, tidak ada yang exciting nungguin match bergimmick halloween antara Demon King melawan Sister Abigail (aku masih belum bisa membayangkan seperti apa Bray berduel sebagai Sister Abigail). Alih-alih match tersebut, kita malah dapat AJ Styles melawan Finn Balor. Teaser Smackdown melawan Raw untuk payperview bulan depan. Sekilas, memang pertemuan mereka ini tidak ada build upnya, apalagi jika dibandingkan dengan cerita bertema kekuatan gaib yang terus disuapin ke kita.  Sesungguhnya, pertemuan Styles dan Balor sudah lama terbangun secara implisit. You know, mereka berdua ini punya sejarah bersama. Styles dan Balor adalah dua pendiri pertama stable Bullet Club dan menurut Pro Wrestling Database, keduanya belum pernah beradu di atas ring. Catatan duel mereka yang bisa kita temukan adalah pertandingan tag team di Jepang sembilan tahun yang lalu. Impian pertemuan mereka sudah lama menjangkiti para fans, namun tidak seperti virus, mereka tidak membuat kita sakit. Jadi, beneran, di TLC kita dapet pertandingan bersejarah, a long time anticipated dream match. Dan Balor dan Styles bener-bener ngedeliver di sini.  Ya, di partai ini mereka tidak ada cerita, mereka sama-sama face, they just go at each other, berkompetisi, and it was amazing. Tidak sedikit pun performa Styles tampak menurun walaupun dia baru saja diterbangkan dari belahan bumi yang lain. Balor juga bermain gemilang, untuk pertama kalinya sejak ke Raw, Balor menunjukkan kepiawaian yang sebanding dengan yang biasa ia tunjukkan di NXT dahulu.

Yeah, beneran “Too Sweet”

 

Pihak booking WWE pun sepertinya benar-benar melepaskan alur pertandingan ke tangan kedua superstar fenomenal ini. Pertandingannya terasa persis kayak gaya NJPW, di mana spot-spot gede dengan perlahan semakin ditunjukkan seiring berjalannya waktu. Pacenya dipercepat dengan konstan. Tek-tokan moves mereka dimainkan dengan make sense, jurus andalan masing-masing saling dikeluarkan. Pele Kick susul menyusul. They played it out nicely sehingga terasa banget kedua superstar ini berusaha untuk tampil unggul di atas lawannya.Mereka bisa melakukan dengan lebih baik sih, personally aku yakin jika diberikan cerita, kedua superstar ini bisa meruntuhkan atap stadion.

 

Kita tahu WWE benar-benar berjuang dalam menyuguhkan acara ini, apalagi soal budgetnya, saat kita melihat Kane muncul tanpa pyro. Maksudku, jika ada dua superstar yang mendapat perlakuan khusus oleh WWE maka itu adalah Undertaker dan Kane. Cuma dua orang ini yang diperbolehkan memakai gerakan piledriver dalam basis jurus sehari-hari, dan jika orang sespesial Kane enggak bisa mendapat entrancenya yang dulu, kita paham WWE benar-benar dalam posisi keuangan yang sulit.

tunggu saja di Wrestlemania, bahkan pyro superstar pun akan mendapat pyro sendiri

 

 

WWE perlu mempertahankan apa-apa yang menurut mereka bekerja dengan baik. Dan dalam kasus sekarang ini, Roman Reigns dan The Shield adalah aset jangka panjang yang paling berharga yang dipunya oleh WWE. Kredibilitas mereka harus dipertahankan. Kredibilitas itulah yang sebenarnya tergantung tak-terlihat di atas puncak tangga partai utama TLC. Bahkan lebih berharga daripada menggantung sabuk Intercontinental dan Tag Team berbarengan. Kita bisa bilang kalo TLC kali ini adalah akronim dari Sierra, Hotel India, Echo, Lima, dan Delta. It’s all about the Shield. Reuni, dioutnumber oleh lawan-lawan, plot kelompok The Shield diniatkan untuk berputar di sini. Namun kemudian Roman Reigns, pelakon utama dari yang utama, mundur dari medan perang karena penyakit.

Show must go on, makanya kita bisa mengerti keputusan kenapa mesti Kurt Angle yang turun menggantikan. Sebuah langkah yang beresiko lantaran Kurt Angle diperkirakan memang akan kembali bertanding, dengan waktu dan alasan yang lebih proper. Hanya saja waktu mendesak, dan benar-benar tidak ada orang lain – WWE tidak bisa menggunakan sembarang orang untuk mengganti Roman Reigns di sini. Bahkan tidak juga dengan membuat Ambrose dan Rollins menang hanya berdua, walaupun masih akan klop dalam konteks Shield bisa mengalahkan banyak orang asal mereka bersatu. Secara sederhana mindsetnya adalah; Shield harus menang, tanpa membuat Reigns tampak lemah. Mereka tidak bisa membuat Shield menang tanpa Reigns, karena itu berarti itu akan membuat pengaruh Reigns terlihat kecil. Jadi itulah sebabnya mereka memakai Kurt Angle, seorang Hall of Famer, dan kenapa mereka membuat Angle memakai attire Shield, aku yakin seandainya Reigns tidak sakit, pertandingan akan berjalan sama persis dengan yang kita saksikan. Angle literally subsitusi buat Reigns.

kita bisa memanggil Ambrose, Rollins, dan Angle dengan The Shi3ld sekarang

 

Jadi, reasoning di baliknya sudah terjelaskan. Kikikanku ngeliat tampang Kurt Angle yang terlalu ramah dan cengar-cengir pas entrance mereka pun sudah mereda. Sekarang kita bisa menikmati pertandingan mereka apa adanya. Banyak keputusan yang aneh but It was fun. Match ini tampak seperti ide-ide gila Vince dilempar dan bergabung menjadi satu. Aku senang peran Kane ternyata lebih besar dari yang kuduga, Kane adalah jagoanku sejak pertama kali aku nonton gulat. Aku juga senang melihat Kurt Angle beraksi kembali, Angle Slamnya hampir membunuh Cesaro! Ini adalah jenis pertandingan yang serunya bakal membuat kita melupakan kekurangan dan keanehan yang ada.

 

 

Gimmick pay-per-view ini sudah semakin menjauh dari yang seharusnya. Hanya ada satu pertandingan TLC, sementara banyak pertandingan lain yang mestinya bisa terimprove jika diberikan stipulasi yang sama, seperti Cruiserweight Championship yang bisa saja lebih baik jikalau menjadi Ladder Match. Secara keseluruhan, ini adalah acara yang susah untuk dinilai, it was ranged from good matches but not memorable, seperti tag team cruiserweight dan women’s championship, to fans favorites yang just have fun.
The Palace of Wisdom menobatkan Finn Balor melawan AJ Styles sebagai MATCH OF THE NIGHT

 

 

Full Result:
1. SINGLE Asuka debut dan mengalahkan Emma
2. TAG TEAM Cedric Alexander dan Rich Swann ngalahin The Brian Kendrick and Gentleman Jack Gallagher
3. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Alexa Bliss retained over Mickie James
4. CRUISERWEIGHT CHAMPIONSHIP Enzo Amore jadi juara lagi ngalahin Kalisto
5. SINGLE Demon King Finn Balor mengalahkan AJ Styles
6. SINGLE Jason Jordan defeating Elias
7. TLC The Shield dan Kurt Angle mengalahkan tim The Miz, Sheamus, Cesaro, Braun Strowman, Kane

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.