VIVARIUM Review

“Marriage can either be a classroom where people become wiser and better, or a prison where people become resentful; and bitter.”
 

 
 
Dalam semangat #DiRumahAja, Vivarium karya sutradara Lorcan Finnegan memperlihatkan kepada kita betapa terkurung di dalam rumah itu dapat menjadi hal yang mengerikan. Horor bekerja terbaik saat melukis kiasan rumah tangga dan keluarga layaknya penjara bagi pasangan yang belum siap seutuhnya. Film ini seolah bilang “Masukilah pernikahan dan tinggalkan harapanmu selamanya.”
Gemma hanya mau sebuah rumah. Sebagai naungan buat keluarganya di masa depan. Maka wanita yang bekerja sebagai guru TK ini pergi melihat-lihat ke agen perumahan bersama sang pacar, Tom. Diantar oleh realtor creepy bernama Martin, pasangan muda ini berkendara ke kompleks perumahan bernama Yonder. Perumahan ini masih baru, rumah-rumahnya yang sederhana namun nyaman berbaris rapi di sepanjang jalan perumahan. Semua seragam, sama-sama dicat hijau, sama-sama bersih. Sama-sama kosong. Gemma dan Tom diajak masuk ke rumah nomor sembilan. Namun di tengah-tengah presentasi open-house itu, Martin menghilang. Gemma dan Tom ditinggalkan berdua. Keadaan semakin mengerikan tatkala Gemma dan Tom tidak bisa menemukan jalan keluar dari kompleks tersebut; mereka tetap balik ke depan rumah nomor sembilan. Mereka seperti dipaksa untuk tinggal di sana. Setiap hari mereka mendapat kiriman kardus entah dari siapa. Kardus-kardus tersebut berisi makanan, minuman, dan keperluan sehari-hari. Salah satu di antaranya berisi bayi. Gemma dan Tom, yang menikah aja belum, disuruh membesarkan anak tersebut dengan dijanjikan kebebasan. Tapi anak itu bukan anak biasa. Ia tumbuh besar lebih cepat daripada bocah normal. Dia suka ngulang omongan orang. Dia creepy kayak si Martin. Dan tunggu deh ampe ngambek, dia bakal teriak nyaring sekali kayak suara ketel air saat sudah mendidih!

kalo dikasih makanan setiap hari sih, semuanya juga mau dikarantina

 
Vivarium seutuhnya adalah sebuah metafora kehidupan berumah tangga pasangan modern. Metafora yang begitu in-the-face, kalo boleh dibilang. Kita bisa menarik garis paralel itu dari visual dan dialog yang diucapkan oleh para tokoh. Mereka yang ‘dipaksa’ tinggal di rumah itu adalah perlambangan sebuah komitmen; sebuah ikatan. Kemudian datang anak, secara tiba-tiba, ini tak lain adalah gambaran ‘momok’ yang menimpa pasangan muda yang belum berencana punya anak, setidaknya tidak secepat itu. Gemma dan Tom lantas mendevelop sikap baru yang berkembang atas reaksi mereka yang berbeda tentang keadaan ini. Menyaksikan mereka akan membuat kita terlibat tanya jawab dengan kepala sendiri. Mendiskusikan langkah terbaik yang mestinya diambil oleh para tokoh, ataupun membandingkannya dengan langkah yang kita ambil bila itu semua terjadi kepada kita. Sering juga kita menemukan komedi dalam gambaran pada film ini – yang kupikir ini timbul bagi penonton yang sudah beneran berkeluarga sehingga lebih gampang menemukan kelucuan sebab merasa terwakili atau lebih relate.
Tom, tentu saja adalah seorang ayah, dia jadi gak betah di rumah, maunya bekerja demi kelangsungan hidup. Dan film ini memberikan ‘kerjaan’ yang begitu mengena maknanya; yakni kerjaan menggali lubang jalan keluar dari kompleks yang basically seperti menggali liang kubur sendiri. Jesse Eisenberg memainkan peran yang lebih serius di sini, dengan range yang cukup luas mulai dari ramah hingga ke hampir-hampir seperti orang ilang akal dan terlalu fokus kepada apa yang dikerjakannya. Sebaliknya, Gemma yang diperankan oleh Imogen Poots tumbuh naluri keibuannya. Ini juga bukan peran yang enteng. Walaupun si bocah bukan anak dari rahimnya, tapi ia merasa ingin melindunginya. Mengajarkannya berbagai hal. Kemisteriusan sang anak adalah sesuatu yang harus ia pecahkan, meskipun beberapa kali perangai si anak membuatnya kesal dan berteriak bersikukuh dengan “Aku bukan ibumu!”
Ada momen-momen manis saat Gemma bonding dengan si anak. Persis saat dia seperti akan berhasil mengubah makhluk aneh tersebut menjadi nyaris-manusiawi – si anak bisa menari dan mempertanyakan mimpi, film menaikkan tensi dengan membuat si anak mulai ‘bersekolah’. Ia menghilang entah ke mana beberapa jam setiap hari (Gemma pernah coba mencari tapi malah nyasar hihihi) dan pulang ke rumah membawa buku bertulisan bahasa alien. Ini seperti cara film menyampaikan bahwa orangtua tidak bisa sepenuhnya mengenali anak. Bahwa anak akan selalu di luar jangkauan, dan akan ada masanya mereka melakukan sesuatu yang either tidak akan bisa dimengerti atau tidak cocok dengan ‘selera’ orangtua. Film ini memang membahas parenting pada sisinya yang gelap seperti demikian. Vivarium sendiri, secara harafiah berarti tempat penangkaran atau tempat pemeliharan hewan dengan tujuan penelitian. Nah film ini secara literal pun persis seperti itu; Gemma dan Tom ‘ditangkap’ oleh semacam alien yang mengatur segala kegiatan mereka. Ditempatkan dalam semacam simulasi berkeluarga. Kita ada di posisi alien, menyaksikan perilaku mereka, mengamati bagaimana sebenarnya sebuah komitmen hidup bersama berdampak kepada dua orang saat keadaan tersebut benar-benar dipaksakan kepada mereka.

Mengaitkan dengan pekerjaan Gemma sebagai guru yang mengajar anak-anak orang lain dan masih bisa berbahagia karenanya, maka pernikahan benarlah bisa menjadi seperti berada di dalam ruang kelas. Membuat orang yang berada di dalamnya menjadi lebih pintar, lebih dewasa, lebih bijak. Namun sekaligus pernikahan dapat terasa seperti penjara, terlebih jika berpikir semua yang kita berikan di dalamnya hanya akan berhenti di sana.

 
Impian punya keluarga sempurna, dengan rumah yang hangat dan aman, lingkungan yang bersih tentram, bukan tidak mungkin memang cuma sebuah mimpi di siang bolong belaka jika sebenarnya kita belum siap untuk berumah tangga. Dalam film ini, kesempurnaan adalah palsu. Kompleks perumahan Yonder begitu mulus, awannya seragam berbentuk perfect seperti bentuk… awan. Tidak ada angin. Tidak ada suara. Namun dua penghuninya jauh dari merasa damai tinggal di sana. Gemma dan Tom malah diperlihatkan lebih senang tidur di dalam mobil mereka, alih-alih di kamar yang bersih dan selalu rapi, karena di dalam mobil ada bau. Bau dunia nyata, kata Gemma. Itu adalah salah satu momen yang benar-benar kerasa dari tokoh ini. Sebab terkadang Poots memainkan Gemma seperti mengalami mood swing alih-alih geunine feeling. Yang memang cukup sesuai dengan tone film yang memang meniatkan sebuah mati-rasa. Menguatkan keartifisialan dari lingkungan ceritanya.

Harga rumah di kompleks ini kelihatan dari cat temboknya yang ijo

 
 
Kredit pembuka film ini sebenarnya sudah memberi tahu tema/gagasan yang menjadi landasan cerita Gemma. Kita melihat burung kedasih (cuckoo bird) yang merupakan burung parasit, meletakkan telur di sarang burung lain, dan setelah telur-telur menetas maka si anak kedasih akan mengenyahkan saingannya – ia mendorong jatuh anak si pemilik sarang, sehingga ia akan dibesarkan oleh si pemilik sarang. Persis seperti Gemma nanti, saat dia tetap membesarkan anak alien yang nyata-nyata creepy. Dalam lingkup gagasan parenting, ini adalah gambaran yang menarik. Tapi film tidak mengembangkan plot ke arah sini – ini bukan cerita yang membahas naluri seorang ibu membawa kebahagiaan bagi dirinya. Melainkan cerita yang didesain untuk memperlihatkan kungkungan dalam kehidupan rumah tangga. Maka, film mulai goyah dan semua pesannya jadi enggak jelas lagi kekuatannya. Metafora burung tersebut tidak benar-benar berarti karena toh memang bukan anaknya; Gemma berurusan dengan anak yang ia tidak punya tanggung jawab asli terhadapnya. Akan beda jika anak tersebut adalah anak kandungnya; yang kemudian diajarin oleh alien untuk melawan, misalnya.
Dengan jelas-jelas membuat Gemma berada di situasi yang memaksa untuk jadi ibu, dan membesarkan makhluk creepy yang bukan anaknya, metafora ke kengerian berumah tangga itu tidak lagi mengena. Film kehilangan relevansi gagasan. I mean, memangnya setiap anak yang bukan anak kandung akan jadi jahat – padahal sebelum ini kita sudah menyaksikan manisnya ikatan keluarga angkat lewat Instant Family (2019) Kita jadi bertanya apa yang sebenarnya pengen dicapai oleh film ini? Peringatan untuk tidak gegabah berkeluarga? Atau ini hanya persoalan beda perspektif – jika kita merasa terkekang maka rumah tangga dapat terasa lebih parah daripada penjara Azkaban? Namun sekali lagi, itu semua sesungguhnya tidak terwakili oleh cerita berupa dua orang yang dipaksa, dijebak sedari awal. Oleh makhluk menyeramkan pula.
 
 
 
Jadi pada akhirnya film ini hanya akan bekerja pada level permukaan, tentang dua orang yang diculik. Memang, ada beberapa momen yang diniatkan sebagai metafora rumah tangga, akan tetapi tidak sepenuhnya mewakili karena tidak semua pernikahan bermula dari paksaan dan ketidaksiapan. Film ini mungkin ingin jadi peringatan saja bahwa di dunia modern, kesempurnaan rumah tangga itu semuanya palsu. Tapi ia tidak memperlihatkan mana yang asli. Bagaimana dengan pernikahan yang sebenarnya. Dengan segala metafora bahwa pernikahan adalah perangkap, film ini sayangnya hadir cuma berat sebelah.  Gagasannya jadi terasa steril, karena cerita tidak benar-benar sensitif dan manusiawi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for VIVARIUM.

 
 
 
That’s all we have for now.
Terang aja mereka tertekan, wong mereka diculik dan dipaksa. Film ini bicara harapan kedua tokohnya hilang sejak pertama mereka masuk ke rumah tersebut, jika dibawa ke hidup rumah tangga seperti yang digagas film ini, menurut kalian harapan akan apa yang sebenarnya hilang dari pasangan begitu mereka tinggal satu rumah dan punya anak? Apakah setiap pernikahan benar-benar mengekang seperti ini?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE INVISIBLE MAN Review

“The scars you can’t see are the hardest to heal.”
 

 
 
Memanglah, manusia lebih seram daripada monster! Buktinya; meski berada dalam jagad sinema yang sama (Universal Monster Universe atau Dark Universe), tapi The Invisible Man yang manusia ini filmnya jauh lebih mengerikan. Lebin bikin kita merasa terancam secara fisik dan emosional, lebih menantang, ketimbang Frankenstein, Mummy, Dracula modern yang rebootnya gagal sehingga nyaris membunuh franchise ini secara keseluruhan.
The Invisible Man diarahkan oleh Leigh Whannell jauh dari hingar bingar aksi dan mitos fantastis. Melainkan, senada dengan novel aslinya yang terbit 1897, memiliki sedikit elemen fiksi-ilmiah. Tapi itu hanya pemanis. Inti dari cerita film ini dibuat sangat dekat dengan kita. Whannell juga dengan efektif membangun permasalahan yang kekinian. Dari banyak cerita tentang ‘mantan’ yang rilis Februari ini, baru The Invisible Man inilah yang justru terasa lebih make-sense, yang lebih dalam menggali permasalahan relationship sepasang manusia; permasalahan yang bukan hanya sekadar karena mereka gak cocok. Masalah mantan di film ini gak jatoh sebagai gimmick jaman now, supaya filmnya laku belaka. Whannell nge-blend itu dengan konsep yang berada pada garis antara supernatural dan keseraman ilmu pengetahuan.
Cecilia, tokoh dalam cerita ini, kabur dari cowoknya yang ganteng, jenius (ilmuwan optikal, atau apa gitu istilahnya..), kaya raya. Tipikal cowok idaman banget si Adrian ini. Sayangnya punya kecacatan ‘kecil’; abusive dan controlling sekali. Pada adegan pembuka yang memperlihatkan Cece diam-diam kabur dari kelonan Adrian, melepaskan diri dari kungkungan rumah dan toxicnya hubungan mereka, ada satu momen yang melibatkan anjing peliharaan Adrian. Dari anjing yang berkalung alat penyetrum itu saja keefektifan penulisan langsung menunjukkan taringnya; sebab momen ini menjalankan fungsi sebagai perlandasan perbedaan sifat dua tokoh – Cece dan Adrian – sekaligus. Meskipun berhasil kabur, Cece masih trauma. Dua minggu dia tidak berani keluar dari rumah sahabat yang menjadi persembunyiannya. Padahal Adrian sang mantan dikabarkan sudah meninggal bunuh diri. OR IS HE? Hidup Cece semakin tidak tenang. Dia mendapat gangguan, dikuntit oleh sesuatu yang tak terlihat. Cece merasa Adrian masih ada di dekatnya. Masih mengendalikan semua aspek hidupnya.

Mungkinkah Cece diganggu oleh John Cena?

 
Film ini, however, tidak membuang waktunya berkubang berusaha membuat kita bimbang antara hantu atau hanya si Cece sajalah yang beneran gila. Set up sepuluh menit pertama sudah begitu kuat dan efektif sehingga kita sudah otomatis waspada ada pria yang superpinter namun sangat jahat mengincar Cece. Maka kita langsung tersedot berada di posisi antisipasi dramatis menyaksikan semua hal buruk menimpa Cece. Untuk itu, film benar-benar menajamkan aspek horor dengan perantara suara dan mata kita. Karena kita berhadapan dengan sesuatu yang tak-kasat mata. Sound design benar-benar bekerja luar biasa. Ada beberapa jumpscare ditemukan, tapi tidak ada yang terasa murahan, karena antisipasi dan kewaspadaan kita sudah terhimpun kepada satu hal. Belajar dari menonton petualangan Harry Potter; kita tahu bahkan orang yang tak kelihatan itu nyatanya masih bersuara. Jadi setiap kali suasana hening, Cece memandang dengan cemas sekelilingnya, kita ikutan bukan hanya menahan napas, melainkan juga menajamkan telinga. Kita terbawa pengen mendengar keberadaan si Pria Transparan. Kita mencari bunyi nafasnya, kita berusaha menangkap basah bunyi derit lantai yang ia pijak sehingga kita tahu dia ada di mana. Dan ketika ada jumpscare, atau sebaliknya tidak ada apa-apa, kita dengan genuine merasa kaget atau lega.
Selaras dengan hal tersebut; kerja kamera juga bekerja dengan sama efektifnya. Aku gak bisa dengan tepat mendeskripsikan tensi film ini terbangun dengan sangat solid hanya dari memperlihatkan sebuah sofa kepada kita. Tantangan film ini adalah ia harus memajang sesuatu di layar, entah itu sofa, atau pintu, atau sudut ruangan, clearly tidak ada apa-apa di sana tapi harus membangun sugesti ada sesuatu yang mengerikan. Setiap kali film melakukan itu, kita menyipitkan mata, menajamkan pandangan, berharap melihat suatu tanda. Bahkan ketika kamera bergerak mengikuti tokoh yang mencari, mata kita akan ikut jelalatan ke sudut-sudut ruangan. Timing sangat berpengaruh, film ini tahu seberapa lama persisnya mereka harus memperlihatkan suatu kekosongan yang membuat kita waspada. Karena jika merekam terlalu lama, kesan seram itu bisa menguap dan dengan gampang berubah menjadi annoying terutama jika harus terus menerus dilakukan. Perbandingannya bisa seperti begini: kalian nonton video di TikTok dengan caption ‘memancing’ seperti “gak sengaja kerekam” atau “apa ada yang bisa lihat?”, kalian pantengin ampe abis tapi nyatanya gak ada apa-apa, apa yang kalian rasakan setelah nonton? Kesel. Kamera film The Invisible Man ini secara esensi sama seperti demikian, pada akhirnya tidak ada apa-apa, namun kita rasanya semakin penasaran – semakin geram – bahkan tidak perlu narasi/caption bait untuk membuat kita merasa masuk begitu dalam.
Psikologi ceritalah satu-satunya dibutuhkan. Dan unlike those poor TikTok videos, naskah The Invisible Man penuh dengan galian psikologi. Serta jauh lebih unggul dalam menceritakannya. Bagi kita ini bukanlah masalah Cece gila atau tidak. Yang membuat kita peduli adalah melihat Cece – powerless ketimbang Adrian – tersiksa dan berjuang untuk lepas, dan ketika dia berusaha minta tolong kepada orang, dia gak bisa menjelaskan; orang-orang gak percaya (karena begitulah esensi dari ‘tidak-berdaya’) malah ia sendiri yang dianggap gila. Kita begitu peduli karena film membuat kita memainkan skenario kemalangan Cece sekaligus menempatkan diri ke posisi dia yang tengah dibuat menjadi semakin tak berarti lagi oleh keunggulan Adrian. Penampilan akting Elisabeth Moss sangat juara sebagai Cece. Mulai dari ekspresi, ketegangan, hingga ke rupa-fisik; dia tampak pucat, awut-awutan, polos tanpa polesan, semuanya bicara tentang kenihilan daya wanita yang terjerat di genggaman pria. Melawan sesuatu yang tak bisa ia lihat. And it works either way; jiwa dan raga. Tak terbatas pada teriak seperti orang gila, tantangan Moss juga melibatkan ia harus berkelahi dengan udara, dan adegan-adegan itu sama sekali tidak kelihatan konyol bahkan untuk satu detikpun.

Bahkan jika kita belum pernah merasakan hubungan yang abusive, kita masih akan bersimpati kepada Cece lantaran yang ia hadapi sebenarnya adalah seseorang yang membuat dirinya semakin merasa bukan apa-apa. Ini bisa dengan gampang diterjemahkan sebagai persoalan ‘laki-lawan-perempuan’ di mana perempuan dianggap lebih tak berdaya dan akan terus begitu karena si perempuan sendiri tidak bisa melihat permasalahan yang sebenarnya; yakni mereka butuh untuk mengambil kendali. Merebutnya, kalo perlu. Seperti yang diperlukan Cece sebagai resolusi cerita. Wanita itu bisa melihat sepenuhnya sekarang, melihat ‘luka’ yang terus dieksploitasi oleh Adrian. ‘Tidak bisa hidup sendiri’, ‘Tidak bisa besarkan anak sendiri’. Sadis atay mungkin jahat kelihatannya, tapi ending film menyimbolkan kesembuhan dan Cece yang sudah bisa melihat yang harus ia kalahkan.

 

Pesan yang indah dalam film ‘manusia-itu-monster’ yang seram

 
Kejadian di sekuen enam naskah begitu sempurna memberikan peningkatan tensi cerita yang sangat drastis. Namun demikian, kejadiannya mengandung sedikit ketidakkonsistenan. Masuk ke babak tiga, aku merasa level excitement-ku sedikit berkurang karena kejadian-kejadian di sini lebih terasa seperti tuntutan naskah ketimbang progres yang natural. Twist sebagai False Resolution yang dimaksudkan untuk membuat Cece semakin bingung terasa gak nendang kepada kita, karena setiap karakter sudah terlandaskan – akan gak masuk akal jika direveal bukan demikian, misalnya soal bayi – tidak mungkin selain Adrian ada yang peduli Cece melahirkan atau tidak. Selain itu, banyak kejadian yang harus terjadi dan kita diminta untuk menerimanya saja, karena ya memang harus ke situ ceritanya. Misalnya adegan di tempat publik, yang harus terjadi di tempat publik karena harus banyak yang menyaksikan Cece; hanya saja ada aspek yang gak konsisten karena dengan sengaja mengabaikan cctv. Padahal cctv jadi elemen yang penting sepanjang durasi, bahkan ending film ini melibatkan cctv. Namun untuk satu adegan di restoran itu, film ‘melupakan’ cctv sebagai bukti karena plot poin mengharuskan Cece setelah ini dimasukkan ke penahanan. Kalo cctv dibahas, bisa-bisa Cece gak jadi ditahan. Mundur ke belakang, masih ada lagi hal-hal yang diabaikan yang kalo kita pikirkan membuat kita ingin protes “loh mestinya kan bisa…”
Cece sempat balik ke rumah Adrian, naik Uber. Cece menemukan kostum penghilang di lab kerja Adrian. Tapi kemudian si Invisible Man datang, Cece berhasil kabur. Naik Uber yang sama, yang sedari tadi nungguin di gerbang depan. Cece kabur, setelah menyembunyikan kostum itu di lemari. Setidaknya ada dua pertanyaan yang menghantuiku pada sekuen ini. Kenapa si Uber gak dibunuh saja oleh Adrian – bukankah lebih ‘mesra’ mengurung Cece di sarang cinta mereka. Dan bahkan jika gol Adrian adalah supaya Cece terlihat gila nan berbahaya dan lantas ditangkap, bukankah pembunuhan si Uber lebih gampang dan masih bisa dijadikan pemenuh tujuan. I mean, melepas Cece beresiko lebih besar, karena ia harus mengejar lagi, dan berapa kemungkinannya Cece bakal menghubungi kenalan dan ngajak bertemu di tempat umum. Adrian bisa sekonfiden itu dengan rencananya, ya karena memang dibeking oleh tuntutan naskah. Pertanyaan keduaku adalah, kenapa Cece malah kabur dengan meninggalkan bukti penting yang ia temukan – kostum – di dalam rumah, kenapa gak sekalian dibawa kabur. Film sekali lagi tampak memaksakan kejadian, karena di akhir kita paham kostum tersebut harus berada di rumah untuk kejadian ending.
Dan soal bukti, aku akan ngajak mundur lebih jauh lagi membahas saat Cece menemukan hape yang digunakan Adrian memotret Cece tidur; hape ini sengaja ditinggalkan di sana oleh Adrian untuk memberi kejutan kepada Cece. Ini eksesif sekali. Kenapa mesti di loteng? Bayangkan usaha Adrian harus diam-diam angkat tangga, naik ke loteng, naroh hape di sana, turun, balikin tangga ke posisi semula. Resiko dia melakukan hal sebanyak itu di rumah kecil yang berisi tiga orang; sangat besar. Belum lagi kemungkinan Cece dapat/mendengar bunyi hape itu. Kecil. Padahal lebih mudah ia letakkan di kamar saja. Here’s the best part: di hape itu ada foto Cece tidur di kamar anak sahabatnya yang polisi – ini bisa jadi bukti otentik tak terbantahkan bahwa ada yang menguntit dirinya – bukti yang basically diberikan gratis oleh pelaku kepadanya; KENAPA bukan ini yang diambil Cece dan ia serahkan kepada polisi? Tentu, karena nanti filmnya akan berakhir lebih cepat. Atau paling enggak, intensitas dan tensinya menurun drastis.
 
 
 
Mungkin masih terlalu dini, tapi memang sejauh ini, film inilah horor terbaik yang bisa kita nikmati di 2020. Arahan dan aktingnya luar biasa. Secara fungsi, ia meniupkan napas baru dari Dark Universe, malah sebagai reinkarnasi sebab kini jagat sinematik itu hadir tak lagi sebagai dunia yang berhubungan. Film ini membuktikan film monster-monster itu bisa mencapai potensi yang tinggi jika dibuat sebagai cerita yang berdiri sendiri. Ada beberapa hal yang jika dipikirkan membuat film ini terasa maksa di bagian akhir, namun tidak akan mengurangi keasikan menontonnya. Karena paruh awal yang begitu solid. Penggemar Universal Monster akan dapat hiburan ekstra dari referensi penampakan Invisible Man versi klasik yang disematkan di dalam cerita
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE INVISIBLE MAN.

 
 
 
That’s all we have for now.
Kenapa orang susah melepaskan diri dari hubungan yang toxic, mereka bahkan jarang mau melihat dan mengakui hubungannya gak-sehat? Menurut kalian apa yang bakal dilakukan Cecilia dengan kostum menghilang yang ia punya?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT: AYAT 2 Review

“Better the devil you know than the devil you don’t”
 

 
 

Manusia lebih baik daripada iblis. Sejak iblis yang diciptakan dari api terang-terangan menolak memberikan penghormatan kepada manusia yang tercipta dari tanah, iblis diturunkan derajatnya. Dan mereka pun mengamini penurunan tersebut dengan bersumpah untuk terus sekuat tenaga menyesatkan anak manusia sehingga berada di dasar neraka bersama mereka. Alfie dalam Sebelum Iblis Menjemput (2018) menambah skor bagi manusia, dia berhasil mengalahkan iblis. Bersama adik tirinya, wanita ini lolos dari peristiwa maut yang mengubah kehidupan mereka. Dua tahun kemudian, kini di Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2, Alfie masih dihantui bisikan dan bayangan. Dia dan adiknya, Nara, lantas kembali dipaksa terlibat dalam masalah mengerikan yang berakar pada persoalan iblis menjebak manusia untuk melakukan perjanjian terkutuk. Hanya saja kali ini, angka skor tadi tidak lagi menjadi soal.

Karena, demi horor Alfie dan kita semua, keunggulan manusia terhadap iblis ternyata juga bisa berarti manusia yang menghamba pada iblis mampu menjadi iblis yang bahkan jauh lebih iblis daripada iblis itu sendiri.

 

tak ada yang waras di kota ini

 
Sutradara dan penulis naskah Timo Tjahjanto kembali mengajak kita bersenang-senang dengan horor sadis ala Evil Dead. Yakni horor dengan tone yang over-the-top, berisi makhluk-makhluk peranakan teror praktikal dan permainan teknis, dan ditaburi selera humor edan. Penggemar horor akan bersorak melihat adegan ala Alien lahirnya pria dewasa dari dalam tubuh seorang wanita. Reaksi terhadap berbagai trik horor dan jumpscare film ini jelas akan beragam. Misalnya adegan tangan setan yang ngasih jari tengah ke Alfie; ini bisa jadi adegan kocak bagi penonton yang gemar horor-horor ala B-horor 90-an. Dan di sisi lain, bagi beberapa penonton yang lain (sebagian besar sepertinya), adegan itu bakal jadi exactly just what it is; sebuah jari tengah yang diacungkan tepat ke depan muka semua orang yang mengharapkan peningkatan dari film yang pertama.
Filmografinya padahal sudah berbicara. Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2 actually merupakan sekuel pertama bagi Timo. Sebelum ini, dia dikenal dengan cerita-cerita orisinil. Gaya horor sadisnya bisa diaplikasikan ke cerita apapun, dan terbukti cukup menjual, sehingga sekuel Ayat 2 ini terasa dipaksakan dan justru membatasi. Karena cerita Alfie sudah tuntas di akhir film pertama, transformasi karakternya sudah sempurna. Akan lebih baik bagi Timo untuk menjual cerita pada film kedua ini sebagai cerita baru atau murni judul baru saja lantaran menarik Alfie kembali terasa sangat dipaksakan.
Ini semua kelihatan dari babak set up yang sangat lemah begitu mereka mulai memperlihatkan Alfie kepada kita. Ketika prolog dua cewek di rumah, yang ada keren netes terus dimatikan, tapi masih ada bunyi tetesan dan itu adalah bunyi darah yang menitik ke lantai, film terasa sangat menarik. Kita dihadapkan pada misteri baru, orang-orang baru, percakapan mereka did a good job membangun sosok Ayub dan kejadian mengerikan kehidupan mereka lima-belas-tahun lalu. Aku genuinely langsung penasaran. Apa sebenarnya yang menyerang si Gadis. Apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka. Relasi antargrup mereka juga disinyalir punya konflik. Tapi kemudian, kita dibawa menemui Alfie dan satu jumpscare berikutnya, kedua kubu ini  – orang-orang di prolog dan Alfie – berada di bangunan bekas panti. Film menyediakan sedikit sekali alasan logis yang menghubungkan Alfie dengan geng Gadis dan masalah mereka. Hanya sebatas karena Alfie pernah lolos dari iblis, dan sekarang anak-anak muda ini ingin minta tolong padanya karena nyawa mereka sedang diincar oleh sesosok iblis. Alfie seperti dipaksakan masuk; ini ironis karena cara film membuat Alfie ada di sana adalah dengan membuat geng Gadis menyatroni kediaman Alfie dan Nara, lengkap dengan topeng perampok, melumpuhkan Alfie, membawanya paksa – menyekapnya dalam bagasi mobil. Mereka minta tolong dengan literally menculik si calon penolong. Dan setelah teriak-teriak tanpa benar-benar menolak, Alfie mau saja menolong dan membaca mantra yang melepas semua petaka. Set up yang sungguh kentara dipaksakan supaya cepat, dan Alfie bisa ada di sana gitu aja. Padahal dia tidak punya hubungan ataupun masalah personal dengan salah satu dari Gadis dan teman-teman pantinya. Alfie tidak punya motivasi di plot ini. Dia hanya terpaksa karena iblis pervert musuh ‘klien’nya mengincar Nara (antagonisnya aja gak ada konflik-langsung dengan Alfie), dan satu-satunya yang menahan Alfie dan Nara gak cabut dari situ adalah mobil yang mogok.
Sure, masih ada transformasi yang dialami oleh Alfie. Di awal cerita dia adalah tough street-wise lady yang membakar kakak tirinya sendiri dan di akhir dia belajar bahwa dia adalah orang yang tidak punya kendali atas nyawanya sendiri. Dia adalah personifikasi dari manusia lebih baik ketimbang iblis sekaligus lebih buruk. Dihitung dari film pertama, seharusnya dia orang yang double bad-ass…(es?). Namun Alfie dimainkan dengan cara yang ‘lucu’ oleh Chelsea Islan. I mean, ada alasannya kenapa dulu aku memplesetkan namanya jadi Cheesy Island, tapi kemudian dia menunjukkan peningkatan akting yang signifikan. Di Sebelum Iblis Menjemput, Chelsea jelas bukan bahan tertawaan, perannya menggenjot fisik dan emosi, and she was delivered. Di film kedua ini, sayangnya, dia kembali menjadi Cheesy. Akting takutnya lebay. Bicaranya sebagian besar teriak-teriak hampa. Hampir seperti dirinya enggak nyaman dituntut seekspresif itu.
dan dia harus berpose metal untuk mengeluarkan kekuatan barunya

 
Cerita film ini masih akan bisa bekerja tanpa harus ada Alfie di sana. Sekelompok alumni panti yang ditarik kembali oleh iblis masa lalu mereka. Yang udah nonton, coba bayangkan kalo plot Alfie di film ini dijadikan plot si Budi, atau Gadis…. it could still work dan made more sense, kan. Ini adalah soal menggunakan iblis balik mengalahkan iblis; soal menemukan loophole di lingkaran setan. Film menggunakan Stockholm Syndrome lebih dalam dari lapisan luar narasi untuk memparalelkan hubungan manusia dengan iblis. Selain Alfie, sesungguhnya tokoh-tokoh baru yang berkenaan langsung dengan masalah dalam film ini gak ada yang punya karakter yang kuat. Mereka dangkal, dan klise. Si jutek, si misterius, si baik, mereka enggak punya background pribadi. Mereka hanya anak panti. Kenyataannya, mereka ini cuma penambah itungan kemenangan iblis atas manusia – mereka cuma jumlah korban. Bayangkan anak-anak Losers Club ketemu Pennywise, hanya kali ini mereka enggak berjuang — nah, begitulah tokoh-tokoh baru di film ini.
Banyaknya ‘korban’ enggak lantas berarti film ini punya adegan sadis/horor yang menyenangkan. Tidak, jika tokoh-tokoh ini sebagian besar hanya teriak-teriak, entah itu berargumen, atau nyari teman yang hilang (teriak padahal masing-masing pegang hatong), atau ketakutan. Dan lebih tidak lagi, saat adegan sadis/horornya monoton alias itu-itu melulu. Ada banyak sekali adegan setan seram di ujung (lorong/bawahtangga/seberang ruangan) dan kemudian si setan ini maju ke depan, mendekat dengan kecepatan edan sampai muka seramnya mau nabrak kamera. Manusia di film ini kesurupan iblis, dan tampaknya si iblis itu kesurupan Sonic!
 
 
 
 
Berakhir dengan cukup menarik sebenarnya, mungkin mereka mengincar trilogi. Dan jika iya, kita bisa mengharapkan arahan yang sangat berbeda pada film terakhir nanti dilihat dari elemen baru yang ditambahkan film ini sebagai resolusi cerita. Maka itu, aku ingin memberikan saran untuk ngetone-down Alfie sedikit, karena di film ini dia menjadi begitu over-the-top. Kita jadi menertawakan apapun yang ia lakukan. Semakin seram situasinya, semakin ngakak ngeliat Alfie. Mereka juga perlu come up with much better story buat Alfie, yang konfliknya benar-benar personal dan berhubungan langsung secara natural dan gak bersifat kebetulan dengan dirinya. Selain beberapa hiburan, jika dibandingkan dengan film pertamanya, sekuel ini mengalami kemunduran. Ceritanya lemah, horornya kalah seru, karakternya kalah menarik.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for SEBELUM IBLIS MENJEMPUT: AYAT 2

 
 
 
That’s all we have for now.
Menurut kalian apakah setan itu merujuk pada identitas, atau sesuatu yang kita lakukan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

BRAHMS: THE BOY II Review

“Traumatic experience early in life marks a person forever”
 

 
 
Mengalami langsung atau menyaksikan seseorang yang dicintai mengalami peristiwa menyakitkan secara fisik maupun emosional dapat mendatangkan trauma kepada siapa saja. Dan setiap kita bakal mengembangkan mekanisme yang berbeda-beda sebagai pertahanan atau perjuangan mengatasi trauma tersebut. Dalam Brahms: The Boy II kita melihat ibu dan anak laki-lakinya diserang di kediaman mereka sendiri oleh perampok. Sang ibu dipukul telak di kepalanya hingga tak sadarkan diri saat berusaha melawan. Si anak menyaksikan itu semua. Ketakutan. Tak berdaya.
Kemudian kita mengenal mereka berdua sebagai penyintas. Namun tidak tanpa ‘luka’ yang mendalam. Liza (Katie Holmes memimpin cerita dengan teror jasmani dan rohani pada dirinya) menjadi takut keluar rumah dan kerap dihantui mimpi/halusinasi diserang oleh rampok bertopeng ski. Anaknya, Jude (Christopher Convery diharuskan bermain dengan ekspresi terselubung sebagai bumbu misteri) jauh lebih ‘parah’. Anak ini completely shut himself down. Jude tidak lagi berbicara, ia berkomunikasi lewat tulisan dan gambar pada buku kosong yang selalu ia bawa. Liza dan Jude dibawa oleh ayah ke rumah terpencil, yang ternyata adalah bagian dari rumah cerita The Boy pertama (2016). Jude menemukan boneka antik yang terkubur di pekarangan (alias hutan di halaman belakang). Jude dan boneka yang bernama Brahms itu seketika menjadi teman. Liza dan suaminya pada awalnya senang-senang saja, Brahms disangka bisa menjadi langkah kesembuhan Jude. Namun ketika hal aneh mulai terjadi, Liza mulai gak yakin. Apakah Jude terlalu memproyeksikan dirinya kepada Brahms; menjadikan boneka tanpa ekspresi itu kambing hitam atas perbuatannya, atau memang Brahms beneran jahat dan mengendalikan semua tingkah Jude, termasuk membuat rencana membunuh semua orang.

Idih udah gede masih main boneka

 
The Boy pertama memberikan kita pengalaman horor yang unik. Bagian terbaik dari film itu adalah momen-momen tokoh utama yang dibayar untuk mengasuh boneka mulai merasa boneka tersebut hidup. Bunyi-bunyian, barang-barang yang berpindah tempat. Film bahkan tidak memperlihatkan boneka Brahms itu bergerak supaya kita juga penasaran dan merasakan ketakutan dan keraguan tokoh utama. Aku jauh lebih suka bagian awal film itu dibandingkan bagian akhirnya saat Brahms yang asli diungkap masih hidup dan tinggal di balik tembok rumah, bertahun-tahun sembunyi di sana. Tindakannyalah yang membuat seolah boneka tadi bergerak. Ya, jauh sebelum Parasite (2019) memang sudah banyak thriller ataupun horor yang menggunakan trope ‘orang-di-dalam-dinding’, karena berkat pengungkapan ini The Boy menjadi berkurang originalitasnya meskipun masih tetap Pengungkapan film ini, meskipun tidak original, tetap memberikan kejutan dan menjungkirbalikkan seluruh tone cerita.
Sekuelnya ini, persis seperti demikian. Kerja paling baiknya sesungguhnya adalah jika semua kejadian dibiarkan tetap sebagai teror dari kondisi psikologis. Baik itu dari Liza yang masih trauma sama ‘benda asing’ yang masuk ke rumah mereka sehingga dia melihat Brahms sebagai ancaman, ataupun memang tekanan trauma mengubah Jude; menimbulkan tanda-tanda perbuatan kekerasan sebagai channel keluar dan dia berlindung di balik bonekanya. Ada dua keadaan psikologis yang mencerminkan trauma yang bekerja berbeda pada dua orang tokoh. Film harusnya mengeksplorasi ini sebagai fokus karena membuat cerita lebih menarik dan intens. Aku duduk nonton ini setengah memohon bahwa gerak-gerak Brahms itu cuma ada di dalam kepala Liza, bahwa suara-suara yang didengar Jude cuma suara di kepalanya sebagai akibat dari trauma. Aku suka ide dan konsep The Boy adalah horor dengan boneka sebagai pusat semesta tanpa si boneka benar-benar melakukan apa-apa; bahwa sebenarnya ini adalah cerita trauma manusia.

Pengalaman traumatis akan mengubah kita selamanya jika terjadi pada usia muda. Karena pada usia tersebut, khususnya pada anak-anak, mental dan otak dan personality masih dalam tahap perkembangan. Efek trauma akan membekas sampai dewasa. Dalam film ini kita melihat Jude yang tadinya ceria dan gemar ngeprank menjadi sebisu boneka. Jude lama kelamaan menjadi seperti mirip Brahms, eventually seperti menyatu dengan Brahms. Di situlah horor sebenarnya. Wajar bagi anak yang sudah mengalami hal yang dialami Jude berubah menjadi punya tendensi pembunuh. Mereka perlu konseling dan penanganan secepatnya. Seserius mungkin.

 
Hanya saja tidak seperti film pertama yang masih memberikan kita momen-momen ambigu dan seolah membagi dua genre cerita dengan pengungkapan tadi, Brahms: The Boy II ini sedari awal sudah berniat untuk benar-benar menjadikan boneka Brahms sebagai makhluk supernatural. And this is why the movie sucks. Dia tidak lagi unik. Film ini hadir sebagai cerita boneka hantu standar, dengan trope anak kecil creepy yang berteman dengannya, dan orangtua yang gak percaya hingga semuanya sudah terlambat. Biasa banget. Cerita buku Goosebumps aja banyak yang kayak gini, bonekanya bisa diganti apapun yang bisa dirasuki makhluk halus. Akibatnya, Brahms malah jadi tak-ada ubahnya dengan Annabelle versi cowok. Boneka yang dimasuki roh. Dan hey, sudah ada Chucky sebelumnya, terlebih Chucky lebih ekspresif dan actually do something dengan segala kesadisan, jokes, dan kevulgaran (aku di sini bicara Chucky original bukan remake). Brahms hanya duduk di sana, gerak kepala dikit; gerakan kecil ini tak lagi berarti karena film sudah menetapkan dia beneran bisa ‘hidup’.

Aku menunggu Brahms menghardik Liza “fuck off, bitch!” tapi kemudian aku sadar ini bukan film Chucky.

 
Segala trauma tadi tak lagi jadi soal karena sekarang kita hanya menunggu si boneka melakukan aksi. Permasalahan kejiwaan Jude dan Liza tak lagi menggigit karena konfliknya sudah beralih ke misteri sosok Brahms. Malahan, Jude dibikin gak bicara hanya tampak sebagai alasan supaya film ini bisa punya tokoh yang berkomunikasi lewat tulisan – hanya sebagai gimmick untuk horornya. Gimmick yang juga tak benar-benar unik. Film ini juga mengulangi satu kesalahan di film pertama, yakni menggunakan banyak adegan mimpi. Adegan mimpi di sini justru menjadi semakin menjengkelkan karena kalo memang si Brahmsnya udah ditetapkan sebagai hantu, kenapa gak langsung saja si Liza ditakutin beneran. Kenapa film di bagian ini film masih berpura-pura Brahmsnya gak beneran hidup. You know what, jawabannya mungkin adalah kuota jumpscare. Horor sekarang di mata produser dan pembuat kayaknya bagai sayur tanpa garam jika tidak dibumbui dengan banyak jumpscare. Setiap horor harus ada jumpscare, betapapun maksa, fake, dan pointless-nya. Bahkan mungkin bagi mereka semakin pointless, semakin bagus, kayak di adegan mimpi. Film Brahms ini ada banyak jumpscare mulai dari hantu, mimpi, halusinasi, hewan, hingga prank bocah.
 
 
Build up dan gambar bagus dan set menawan itu jadi mubazir karena film tidak lagi unik dan horornya hanya bergantung jumpscare. Film ini mengacuhkan filmnya yang pertama, completely salah mengenali apa-apa yang dinikmati penonton. Keunikan boneka biasa yang dianggap berhantulah yang membuat cerita film itu menarik. Namun kali ini semua itu dibuang begitu saja. Film menjelma menjadi horor boneka-hantu standar, yang tak punya jati diri, selain kayak tiruan dari gabungan Annabelle dan Chucky alias Child’s Play. Yang paling aku ngakak adalah sekuen Liza membaca artikel-artikel tentang Brahms di internet, dan kita melihat foto-foto hitam putih Brahms ada dari zaman dulu dan kelihatan gambarnya kayak tempelan yang kasar ke foto tersebut haha.. Tapi hey, mungkin memang inilah yang disasar oleh pembuatnya. Mungkin The Boy memang hanya dijadikan tiruan, boneka mainan – so to speak, dari trope horor yang sudah ada; trope horor orang di balik dinding, dan di film ini ya trope boneka hantu.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for BRAHMS: THE BOY II

 
 
 
That’s all we have for now.
Apa kalian punya pengalaman menakutkan tentang boneka? Aku yakin itu bakalan lebih seram daripada film ini
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

MANGKUJIWO Review

“Hate begets hate; violence begets violence”
 

 
Harta, tahta, wanita. Dan pusaka. Empat hal itulah yang – sebagaimana dibeberkan oleh film Mangkujiwo garapan Azhar Kinoi Lubis – merupakan resep asal usul hantu Kuntilanak yang penampakannya telah ada semenjak film Kuntilanak di tahun 2006. Mangkujiwo memang berusaha memangku segala lore dan menghubungkan semua misteri dari film-film terdahulu sebagai sebuah cerita origin. Dan oddly enough, film ini ternyata menjadi lebih cocok disebut sebagai thriller perebutan pusaka ketimbang horor.
Sekte Mangkoedjiwo itu bermula dari pria tua bernama Brotoseno. Dia menyelamatkan seorang perempuan hamil yang dipasung di suatu desa, karena perempuan itu dituduh gila. Brotoseno tahu lebih banyak daripada penduduk, dan daripada kita di titik permulaan cerita. Perempuan ini sebenarnya adalah ‘mainan’ kepunyaan teman sekaligus saingan beratnya; si Tjokro Kusumo. Brotoseno ingin balas dendam. Jadi perempuan yang bernama Kanti itu sebenarnya nasibnya bagai keluar dari mulut singa, masuk ke dalam lubang buaya. Brotoseno dan Tjokro dua-duanya adalah orang berilmu, pemilik pusaka cermin Pengilon Kembar, dan mereka telah berniat untuk gak mau damai saling bermusuhan. ‘Menyelamatkan’ dalam kamus Brotoseno adalah menempa Kanti yang toh juga ia pasung dengan berbagai ritual mengerikan. Lengkap dengan banyak makhluk menyeramkan dan sejumlah makanan menjijikkan. Brotoseno ingin Kanti melahirkan anak setan dan menggunakan anak tersebut nantinya sebagai senjata, karena Tjokro hanya bisa dibunuh oleh darah dagingnya sendiri.

men and their power, right

 
Cerita film ini memang mengandung muatan yang sangat gelap. Secara esensi, ini adalah cerita seorang villain. Seorang yang jahat. Sebab tidak ada satupun tindakan Brotoseno sang tokoh utama tergolong heroik. Bahkan ketika nanti saat si bayi sudah tumbuh menjadi gadis dewasa bernama Uma dan Brotoseno berkata ia akan melindungi Uma dari segala marabahaya, kita tahu itu semua karena Brotoseno ada maunya. Uma tak lebih sebagai boneka. Sebagai alat. Tidak ada bedanya dengan cermin pusaka yang juga ia jaga dan rawat.
Karena ingin konsisten dengan tema pria menggunakan wanita sebagai objek itulah, maka film mengeksploitasi kekerasan terhadap wanita habis-habisan. Di sinilah letak horor film ini. Hantu kuntilanaknya sendiri belum jadi soal, proses menjadikan kuntilanak itulah yang menyeramkan. Edan sekali melihat sejauh apa Brotoseno, maupun tokoh-tokoh lain yang berilmu gaib melakukan tindakan mengerikan kepada orang yang tak-berdaya demi sebuah rencana untuk, what, mendapatkan kekuatan tunggal sebuah pusaka. Begitu getolnya orang bisa memupuk kejahatan, dan kemudian menggunakan muslihat untuk menyebarkan kejahatan tersebut kepada orang lain. Yang dijual oleh film ini sebagai horor adalah kekerasan pada tokoh perempuan yang dipasung, dicekoki makanan tak-lazim (kalo sekarang mah bisa kena virus corona!), dan digerayangi oleh beberapa makhluk halus. Set dan desain produksi film ini tampak meyakinkan. Ia menggunakan hewan-hewan dan praktikal efek untuk menghasilkan ketakutan repulsif yang natural. ‘Ketakukan repulsif’ di sini tentu saja maksudku adalah hal-hal yang menjijikkan. Untuk penonton yang perutnya lemah, mungkin waktu yang paling aman menonton film ini adalah beberapa jam sebelum dan sesudah makan. Lantaran akan ada banyak adegan yang bikin perut jumpalitan seperti muntah belatung, makan cicak, ataupun membedah tikus dan menggodok isi perutnya ke sepiring nasi.
Kekerasan tak berhenti sampai di sana. Tokoh perempuan muda dalam film ini bakal ditonjok – beneran pake tinju – hingga berdarah-darah. Ingat film Carrie yang tokohnya dibully hingga kekuatan supernaturalnya bangkit kemudian dia membalas dendam ke semua orang yang menyakitinya? Nah, Mangkujiwo sepertinya juga mengincar goal seperti, dengan efek yang bikin lebih meringis karena siksaan ke tokoh cewek di film ini sangat fisikal. Film meniatkan supaya dalam diri kita terbendung antisipasi balas-dendam, film ingin kita menunggu kebangkitan Kanti sebagai kuntilanak dan menyalurkan kekuatannya lewat Uma. Film ingin membuat kita geram kepada para preman. Tapi ketika waktu itu tiba, ketika kekerasan menyeimbangkan diri dengan mengganti target kepada para tokoh pria, perasaan dramatis seperti yang kita rasakan saat Carrie mengamuk tidak terasa pada film ini. Sebab secara garis besar kita tahu ini balas dendam itu bukan milik Uma ataupun Kanti. Melainkan milik tokoh utama, si patriarki, Brotoseno.

Penyatuan cermin dalam film ini digerakkan oleh tipu muslihat, kekerasan, dan kejahatan yang bahkan terlalu ‘setan’ untuk disebutkan. Bukan salah Uma kenapa dia jadi punya kekuatan setan, karena dia lahir dari benih-benih kebencian dan segala hal buruk yang ditanam oleh Brotoseno. Inilah yang membuat film ini susah untuk dinikmati; cinta absen di sini. Kebaikan gak hadir. Di antara tokoh-tokohnya tidak ada kasih sayang. Pria hanya menganggap wanita sebagai benda pemenuh kebutuhan. Wanita senantiasa mengabdikan diri. Semuanya dibesarkan oleh hal negatif. Maka film ini bisa dijadikan peringatan bagi kita semua; apakah kita yakin hidup di dunia yang seperti ini?

 
Beruntung Sujiwo Tejo yang membawakan Brotoseno dan merapal mantra-mantra ritual itu. Jika tidak, bisa-bisa film ini akan kehilangan aura mistisnya. Sebab, admit it, segala adegan tarian pemanggilan setan atau apalah dan semua komat-kamit eksposisi tentang pusaka maupun tentang lore/backstory dunia cerita film ini, sebenarnya hanya nonsens belaka. Begitu jauh dari dunia kita, I mean, apa pedulinya kita sama masalah kedua orang-pinter yang saling berselisih itu. Rasa kasian pada Kanti atau Uma pun hanya sebatas nurani otomatis karena melihat orang yang teraniaya. Film begitu sarat oleh eksposisi gaib sehingga seolah memasukkan begitu banyak percakapan tersebut untuk meyakinkan dirinya sendiri ketimbang meyakinkan kita. Ditambah lagi, ini adalah cerita penjahat. Film harusnya berusaha untuk membuat kita paling tidak ikut merasakan urgensi dari rencana dan perlakuan jahat Brotoseno. Seperti misalnya pada saat kita membaca review yang sangat berbeda dari penilaian kebanyakan; meskipun kita tidak setuju dengan reviewnya, namun jika reviewnya ditulis dengan baik, maka kita akan tetap bisa mengerti darimana si reviewer bisa menarik kesimpulan tersebut – kita bisa paham kenapa si reviewer merasakan apa yang ia rasakan. Film tentang penjahat seharusnya juga demikian. Ketika kita menonton Arthur Fleck pada Joker (2019), kita tahu dia jahat, kita tidak mendukung perbuatannya, namun kita mengerti motivasinya – kita bahkan bersimpati padanya karena kita paham situasi yang membuatnya seperti demikian. Mangkujiwo tidak punya semua ini. Brotoseno dituliskan sebagai karakter misterius yang kita ikuti dari awal hingga akhir cerita, tanpa kita benar-benar menyelami apa akar dari motivasinya.
Seharusnya film memberikan dia stake. Vulnerability. Memang, ada sekuen ritual yang mengharuskan Brotoseno menyakiti dirinya sendiri, tapi dia ditulis begitu sakti mandraguna sehingga shot luka-luka di punggungnya itu enggak menghasilkan rasa dan makna apa-apa. Kanti yang meninggal di luar perkiraannya pun gagal menghasilkan tensi karena diceritakan dengan serabutan – sebagai sisipan dari paparan flashback. Hubungan Brotoseno dengan Uma tidak pernah digali (tidak ada adegan emosional yang memperlihatkan Brotoseno benar-benar butuh Uma), begitu pula hubungannya dengan Tjokro yang notabene jadi musuhnya. Kita hanya mendengar hubungan Brotoseno – hanya dijelaskan lewat kata-kata, yang tak sepenuhnya bisa kita yakin perkataan itu benar karena satu hal yang berhasil ditetapkan oleh film ini mengenai tokoh utamanya itu adalah justru bahwa ia tidak dapat dipercaya.

kalo mau bolak-balik, kenapa gak mulai dari Brotoseno dan Uma sebelum Uma pergi dari rumah aja, supaya cerita bisa mendarat dahulu

 
Cerita dalam film ini berlangsung dalam rentang kurun waktu sembilan-belas tahun. Kinoi memilih bercerita dengan alur maju mundur yang berselingan, yang seringkali tidak disertai dengan time-image yang jelas dan editing yang efektif. Narasi berpindah antara satu periode ke periode lain tanpa ada keparalelan yang jelas. It gets better di pertengahan, tetapi di awal-awal akan sulit mengikuti apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih karena dialog yang enggak berarti apa-apa selain eksposisi. Mangkujiwo ini adalah kasus lain dari kecenderungan film Indonesia yang gak pede nampilin cerita linear karena mereka gak punya twist alami. Film ini termasuk yang percaya filmnya akan ‘aman’ jika ada yang disembunyikan, dan cara bolak-balik ini dipakai untuk merahasiakan banyak elemen karakter yang mestinya dilandaskan dari awal karena bakal ngaruh ke kita peduli dan mengerti plightnya atau tidak — hal esensial untuk menyampaikan cerita.
Alih-alih itu, kita malah dapat cerita yang melompat-lompat tanpa ritme yang jelas. Bertemu tokoh-tokoh yang sok misterius padahal annoying; tokohnya Djenar Maesa Ayu gak jelas banget motivasinya apa menginginkan cermin bersatu, membantu Broto – sementara separuh film ia habiskan dengan pasang tampang smug seolah ia bakal ‘menusuk’ Broto dari belakang. Tokoh si Bongkok-Ganjelan juga gak jelas, dan yang kumaksud bukan dialognya. Melainkan tindakan, seperti bisa nulis lirik Lingsir Wengi di pasir lengkap-lengkap tapi gak sekalian nulis perkenalan diri dan maksud. Persoalan cermin kembar itu juga tidak memuaskan karena bertentang dengan maksud film ini hadir sebagai asal-usul, cerita nyatanya hanya sedikit sekali menjelaskan hal dari titik-mula. Di akhir film kita masih bengong sebenarnya cermin ini kenapa bisa ada, dan dimiliki oleh dua orang yang bermusuhan.
 
 
Horor yang lebih seperti thriller dalam dunia di mana mistis adalah logis, cerita film ini sesungguhnya sangat gelap. Ketakutan yang dihadirkan pun berupa takut yang menjijikkan. Sudut pandang yang digali kali ini, sangat berbeda. Sayangnya film menempuh cara bertutur yang unnecessarily ribet. Set dan desain produksi jadi hanya sebatas visual karena penulisan dan arahannya terlalu off. Para karakter seperti tidak hidup, dengan hanya penampilan Sujiwo Tejo dan Asmara Abigail yang meyakinkan – itu pun tidak berarti banyak lantaran keduanya bermain di zona nyaman mereka. Alur bolak baliknya diniatkan untuk menyihir kita semakin masuk ke dalam narasi. Namuun tidak seperti mantra yang dilantunkan tokoh dalam cerita, film ini enggak punya ritme/pace. Melainkan hanya komat-kamit mengisahkan serangkaian cerita nonsens.
The Palace of Wisdom gives 3 gold stars out of 10 for MANGKUJIWO.

 
 
 
That’s all we have for now.
Bisakah kalian membayangkan hidup di dunia di mana semua bersatu hanya karena ketakutan, tipu muslihat, dan kebencian belaka? Ada gak sih dunia yang seperti demikian?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

JANIN Review

“Abortion is the ultimate exploitation of women”
 

 
Cara terbaik menikmati Janin (penggalan ini seriously terdengar lebih seram daripada seantero filmnya yang hanya jumpscare-fest) adalah dengan menganggapnya sebagai horor peringatan untuk tidak melakukan aborsi ataupun memaksakannya, meskipun persoalan aborsi itu sendiri – sama seperti para tokoh-tokohnya – hanya dipajang ala kadar tanpa benar-benar ada pendalaman.
Randu sudah menyiapkan kamar khusus dengan perabotan bayi demi menyambut kelahiran putri pertamanya. Lengkap mulai dari crib hingga stroller. Namun sang istri, Dinar, malah merasa takut di dalam rumah – terutama di ruangan tersebut. Telinga Dinar mendengar senandung di sana, matanya menangkap sekelebat bayangan di sana. Sebagai seorang pria yang seharian bekerja di kantor, Randu terang saja tak percaya ada hantu di rumah mereka. Ia lebih percaya ‘bahaya’ itu datang dari tetangga baru mereka, Bu Sukma, yang sikapnya aneh. Jelalatan menatap perut Dinar – yang kalo ngobrol tangannya terus megang perut Dinar. Maka Randu menyewa jasa suster untuk menemani dan mengurus Dinar di rumah. Hal-hal mengerikan toh tetap berlangsung walaupun si suster pendiam sudah mulai bekerja di rumah mereka. Dinar dan janin yang dikandungnya jelas menjadi target serangan si hantu. Misterinya – bagi Randu – adalah siapa yang mencoba mencelakai keluarganya; Bu Sukma yang jika namanya dipenggal literally jadi Bu-Suk, atau si suster yang namanya membuat Randu tertegun.

Susan ternyata gedenya jadi suster, bukan jadi dokter

 
Ketika kita bicara horor, dan ceritanya berpusat pada masalah keluarga, seharusnya ini seperti menemukan minyak di lapangan. Sebuah kesempatan untuk menggali begitu banyak, sedalam-dalamnya. Karena di mana lagi kita menemukan ketakutan yang genuine, yang paling mendasar – paling manusiawi selain misalnya pada ketakutan seorang ibu kehilangan anaknya. Atau ketakutan seorang ayah menanti kelahiran dan actually harus grow up dan menyongsong tanggungjawab – David Lynch membuat cerita yang begitu mengganggu mental dari tema ini pada tahun 1977 lewat film Eraserhead. Janin tampak membicarakan horor serupa, yakni seputar ketakutan menjadi orangtua lewat tokoh-tokoh yang dikarunai jabang bayi pertama mereka. Hanya saja, film ini memulai konflik drama yang menjadi dasar horor tersebut dengan sangat terlambat.
Padahal film mengangkat isu yang cukup marak di kehidupan sosial kita. Mengenai aborsi. Dan kita melihatnya dari sudut pandang pria. Di Indonesia, aborsi masih jadi pembahasan yang cukup tabu, karena masih dipandang secara sempit dalam landasan moral atau agama. Pelaku aborsi ilegal akan dihukum. Pengecualian untuk keadaan yang diatur oleh undang-undang, misalnya pada kasus perkosaan. Ketika melahirkan anak akan menimbulkan gangguan psikis dan efek yang lebih buruk untuk ibu dan bayi. Intinya adala aborsi seharusnya didasarkan kepada consent wanita yang mengandung. Film Janin menunjukkan kepada kita konsekuensi mengerikan saat aborsi diambil alih, dipaksakan consent-nya oleh pria. Praktek yang banyak terjadi. Wanita dipaksa untuk aborsi, kemudian terjerat hukum, sedangkan si pria lepas dari hukum karena hubungan mereka bukan perkosaan.

Film Janin seperti memberikan hard justice bagi wanita-wanita yang menjadi korban seperti demikian. Mereka dijadikan hantu yang membalas dendam. Tapi dengan menjadikan tokoh pria yang memaksakan aborsi sebagai tokoh utama, film juga menantang kita untuk memikirkan kembali sebesar apa hak dan tanggung jawab pria dalam keputusan menggugurkan atau melahirkan anak. Karena kehamilan sesungguhnya juga personal bagi pria.

 
Kita harus mati-matian menahan jemu (sambil menggenggam erat jantung biar enggak copot) sebelum akhirnya sampai ke pokok permasalahan, ke gagasan menarik yang dipunya cerita. Menit keenam; orang berdiri di belakang satu tokoh – jederr! Menit ke empat-belas; Randu mengagetkan istrinya yang membukakan pintu rumah – jegarrr!! Menit ke dua puluh-dua; Hantu teriak tepat di telinga Dinar – jedooorr!!! Jumpscare demi jumpscare susul menyusul – inilah makna horor bagi film Janin. Tidak ada pengembangan karakter. Selama hampir satu jam (perlu diingat film ini hanya berdurasi delapan puluh-lima menit) kita diperlihatkan adegan yang formulanya sama berulang kali. Ada kejadian ganjil, Dinar takut, kita kaget saat ada yang dari belakang menyelamatkan Dinar, Randu enggak percaya waktu Dinar curhat tentang kejadian barusan. Selalu begitu kejadiannya. Tidak ada build up emosi yang membuat kita peduli sama yang ditakut-takuti – kita enggak benar-benar tahu siapa mereka. Horornya pun tidak ada build up selain musik yang tiba-tiba mengerikan dan kamera yang berpanning ke kiri, ke kanan, kemudian BLAARRR!!
Penulisan dialognya pun sebagian besar sangat konyol. Simak contoh percakapan yang dua tokoh lakukan di awal film, yang tampak diniatkan untuk membangun misteri soal ada yang gak beres pada janinnya sekaligus menetapkan ini adalah kehamilan pertama: “Ada yang gerak-gerak di perutku.” / “Kamu kan hamil, ya wajarlah.” / “Tapi…… kenapa baru sekarang ya?” Betapa lucunya. Sebaru-barunya jadi ibu juga, susah untuk menerima ada wanita enggak tahu soal kehamilan. Enggak ada yang seram dari ibu hamil yang merasa ada yang gerak-gerak di perutnya, kecuali film membuat gerakannya dengan penggambaran yang, katakanlah, ekstrim. Tadinya kupikir ini mungkin karena film dibuat dengan dan dari sudut pandang laki-laki, sutradaranya adalah Ook Budiyono. Menurut IMDB, ini adalah film pertama Budiyono. Tapi ternyata penulis ceritanya seorang perempuan, jadi agak aneh juga kenapa pendalaman masalah kehamilan dan aborsi dalam film ini terasa kurang dan sangat tidak personal. Dari arahannya sendiri, film cukup berusaha meskipun sangat standar – seperti menggunakan twist, dan bahkan cenderung menggunakan banyak shot-shot panjang. Seperti tokoh berkeliling kamar, ataupun berjalan di lorong kantor. Walaupun shot-shot panjang tersebut tidak mengandung bobot. Jika pun ada tujuan, itu hanya untuk komedi seperti adegan berjalan di kantor yang ternyata ditutup dengan punchline tokoh berjalan menabrak kaca.

Seharusnya anak Dinar itu namanya Diner aja, karena she’s about to be the dinner of that vengeful ghost!

 
Makanya ketika penjelasan datang, semua terasa sudah terlambat. Padahal ada bagian yang menarik, yaitu ketika ada yang terbunuh di rumah Randu sehingga kini Randu dan istrinya berada dalam pengawasan polisi. Ini unik karena film menyebutkan konsekuensi yang menandakan dunia mereka masih berjalan dengan sistemnya. Namun semua itu hanya disebutkan selewat. Tidak ada waktu lagi untuk mengembangkannya. Kita tidak punya kesempatan lagi untuk terinvest sama kejadian backstory yang melandasi karakternya. Karena segala aspek penceritaannya sebelum ini, menghalangi kita masuk ke dalam cerita. Randu dan segala alasannya, pada akhirnya tak berkembang dan hanya terlihat sebagai bajingan yang pantas untuk mati. Kita bahkan enggak mendukung istrinya, melainkan justru hantunya. Rasa bahaya dari ibu hamil yang diganggu hantu lantas sirna.
Dalam film tentang janin yang menakut-nakuti manusia, seharusnya film langsung saja karena asumsi akan otomatis mengarah ke soal aborsi. Film harusnya lebih menggali ke persoalan mengapa Randu memilih Dinar. Konfrontasi Randu dengan efek praktek aborsi yang ia pilih seharusnya lebih dibahas, karena film punya tokoh pendukung yang berkaitan langsung dengan peristiwa ini. Salah satu penanda naskah film ini sangat lemah adalah banyak tokoh yang enggak berhasil dikenai peran atau fungsi yang meyakinkan. Tokoh Bu Sukma dan suster itu praktisnya sama saja gak ngapa-ngapain karena mereka hanya device. Dan ada satu tokoh lagi yang ujug-ujug dijadikan hero padahal dia enggak melakukan apa-apa sebelumnya. Malah ada adegan tokoh ini nangis, dan kita diharuskan bersedih bersamanya – yang gagal total karena hingga momen penghabisan itu kita hanya tau satu hal tentang dirinya
 
 
Dengan elemen horor yang prematur dan sebaliknya daging cerita yang terlalu lambat muncul, film ini sudah seperti buah suatu perkawinan yang tidak diinginkan dari naskah yang dangkal dan pengarahan yang clueless.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for JANIN.

 
 
 
That’s all we have for now.
Seberapa besar menurut kalian peran seorang pria dalam kehamilan/aborsi seharusnya?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

THE GRUDGE Review

“The fear of facing your fears is harder to overcome than the fear itself.”
 

 
Kutukan jelas bukan hal yang kita minta sebagai oleh-oleh yang dibawa ibu dari Jepang. Namun justru kutukan Ju-On itulah yang dibawa oleh seorang wanita ke rumahnya yang beralamat di 44 Reyburn Drive (44 angka sial di Jepang). Si wanita berakhir menjadi Kayako versi Amerika. Dan rumahnya, well, beberapa kasus kematian dan pembunuhan misterius yang ada di file kepolisian di sana semuanya selalu berakar dari rumah tersebut. Detektif Muldoon yang baru saja pindah ke daerah sana menjadi tertarik dan berniat mengusut tuntas misteri. Tapi dengan membuka pintu rumah, Muldoon – seperti sejumlah orang sebelum dirinya – menjadi termasuk sebagai bagian dari kutukan. Kejadian-kejadian aneh mulai terus menghantui, Muldoon harus segera memecahkan misteri dan mengenyahkan kutukan sebelum kekuatan gelap itu merangkul putra semata wayangnya.
The Grudge bisa disebut sebagai remake, tapi sebenarnya dia lebih bertindak sebagai sekuel spin-off adaptasi. Masuk akal gak sih kedengarannya? Haha anyway, timeline film ini berlangsung setelah kejadian di Ju-On: The Grudge original, hanya saja dengan tokoh hantu yang berbeda. Kutukan itu dianggap sebagai virus, dan virus ini sekarang ada di Amerika. Jadi semua elemen-elemen horor di original yang lebih bergaya Jepang, disulihkan menjadi lebih akrab buat penonton di belahan dunia barat. Sebagai upaya untuk membuat The Grudge sebuah bagian dari semesta Ju-On, film ini menggunakan gaya bercerita yang sama. Dengan banyak narasi; berpindah-pindah antara sudut pandang satu tokoh dengan tokoh lain. Sementara pusatnya adalah rumah tempat kutukan kematian itu bersarang. Ya, dapat dikatakan tokoh utama film ini adalah kutukan itu sendiri, dengan rumah sebagai perwujudannya.

aku jadi ingat alasan ogah keramas malam-malam

 
Aku dulu suka banget Ju-On, aku gak pernah nonton yang versi Amerikanya yang dimainkan oleh Sarah Michelle Gellar dan bahkan Ju-On versi terbaru yang katanya udah versus versusan ama Sadako kayak Freddie vs. Jason, tapi aku dan teman-teman dulu kalo nginap pas besok libur sekolah, selalu menyetel film Ju-On 1,2,3. Dari yang tadinya takut dengar kretekan napas Kayako, kami lantas becandain suara itu dan suara ngeong-nya Toshio. I remember fondly membaca nama-nama tokoh yang muncul berlatar putih setiap transisi narasi dalam film-film Ju-On. Film asli Jepangnya memang bahkan lebih acak lagi, dengan lebih banyak tokoh. Dari anak sekolah, berikutnya bisa saja cuma tukang antar makanan yang dijadikan sudut pandang, dan baru lama lagi cerita kembali ke anak sekolah tadi.
Setidaknya ada empat narasi yang terhimpun di dalam The Grudge baru ini. Lima jika menghitung cerita keluarga ibu dari Jepang yang menjadi awal mula horor di sini. Dengan Muldoon sebagai protagonis utama yang narasinya sebagai penghubung. Karena selama penyelidikannya itulah, kita akan dibawa ke narasi-narasi yang lain. Ada tentang keluarga real estate yang sedang menanti bayi mereka. Ada tentang keluarga tua yang menghuni rumah ini setelah kasus pertama terjadi. Ada tentang detektif yang menangani kasus ini sebelum Muldoon. Seharusnya ini menjadi menarik sebab mereka semua diberikan dasar cerita tersendiri, mereka punya kesamaan masalah dengan Muldoon. Yakni soal mereka gak benar-benar membicarakan problema mereka dengan keluarga/pasangan/rekan. Mereka takut menga-acknowledge keadaan yang menakutkan. Satu detektif yang menolak mengakui dugaan bahwa mereka hadapi adalah supernatural. Karakter yang diperankan John Cho lebih memilih untuk tinggal di rumah kosong – menemani anak kecil yang jelas-jelas aneh alias bukan manusia – ketimbang seranjang dengan istrinya membicarakan kondisi janin mereka. Tokoh bapak yang memilih diam membiarkan istrinya yang sakit bercengkrama dengan hantu-hantu karena dia ngarep istrinya juga bisa tinggal dan komunikasi dengannya saat ‘pergi’ nanti. Semua ini paralel dengan Muldoon (Andrea Riseborough vibenya udah kayak Naomi Watts di Ring digabung Winona Ryder di Stranger Things, namun dengan less-charisma) yang mencoba menghindari anaknya dengan pekerjaan. Dia takut anaknya masih belum bisa melupakan kepergian sang ayah.
Muldoon punya kode khusus yang ia gunakan saat berkomunikasi dengan putranya. “Saat takut, pejamkan mata, dan hitung sampai lima”. Kalimat ini dimainkan oleh film sebagai ‘mantra’. Bukan saja ini dipakai sebagai momen-momen manis, melainkan juga berperan nantinya sebagai faktor scare dan punya bobot pada elemen misteri. Kalimat juga punya fungsi yang lebih dalam. Ia merupakan gagasan subtil yang disampaikan oleh film.

Menutup mata memang bukan saran bagus untuk orang yang mau melangkah. Menutup mata, dalam konteks orang yang ketakutan, memiliki makna untuk melihat lebih banyak ke dalam diri, melupakan sejenak distraksi di sekitar. Dalam gelap hanya ada diri dan intensi kita. Taktik Muldoon ini adalah cara untuk menghimpun kekuatan dan semangat diri sendiri, untuk sesaat meniadakan pengaruh buruk dari luar yang terkadang menghentikan kita. Karena seringkali menghadapi ketakutan jauh lebih menakutkan dibanding ketakutan itu sendiri.

 

boringnya film ini sangat ampuh membujuk kita untuk menutup mata

 
Dari karakter-karakternya memang film ini tampak dibuat dengan serius. Seperti menyadari bahwa tidak ada hal baru yang sebenarnya ditawarkan. Dan dengan ruang gerak yang terbatas, film hanya punya karakter. The Grudge dikerjakan oleh sutradara yang membuat horor artistik low-budget The Eyes of My Mother (2017), Nicolas Pesce. Di film itu kita dapat merasakan kreasi dan ide-idenya yang cukup ambisius, Pesce bebas di sana, makanya horornya terwujud mengerikan. Kita dapat menjumpai secercah kreasi serupa pada The Grudge. Adegan seperti saat seseorang jatuh dari tangga, atau lingering shot rumah di kredit penutup mampu membuat kita bergidik ngeri. Sesempit itulah ruang gerak yang ia punya, karena film ini diniatkan studio untuk jadi horor yang benar-benar appeal buat penonton umum, khususnya penonton barat arus mainstream. And by that, it means membuat film ini jadi memenuhi dua kriteria: Satu, harus mengandung unsur-unsur Ju-On. Dua, scarenya harus niruin gaya-gaya Conjuring.
Makanya film ini gak bekerja dengan efektif. Dan kegagalan itu berada di tempat yang cukup fatal. Di horornya. Studio mempekerjakan sutradara arthouse, tapi mengukungnya dalam jalur mainstream. Horor film ini malah mengandalkan jumpscare-jumpscare. Mengharuskan Pesce secara konstan menghadirkan jumpscare yang ia gak paham. Jiwa film ini enggak pernah cocok dengan fisiknya. Akan ada banyak sekali adegan hantu jumpscare yang seperti dipaksakan karena bahkan kemunculan hantunya agak sulit dicerna. Alih-alih hantu ketimuran, kita akan melihat hantu yang lebih mirip zombie, dan mereka akan menyeringai membuka mulut sebesar-besarnya. Ini gak seram, malahan konyol. Mengagetkan, hanya karena ada musik kenceng. Ingat ketika aku menuliskan tokoh utama film ini adalah rumah dan hantunya? Well, dengan teknik horor yang semurahan ini – dengan sosok hantu yang lemah secara visual, protagonis kita tidak bisa berbuat banyak. Mereka malah terlihat sok dramatis. Ditambah dengan misteri yang enggak benar-benar baru; fans Ju-On akan sangat hapal dengan kejadian dan beberapa adegan creepy yang merupakan recycle dari Ju-On sebelumnya, maka The Grudge terlihat seperti usaha yang sia-sia belaka.
 
 
Penggemar Ju-On bakal merasa bosan menyaksikan ini, sebab ini bukanlah visi baru seperti yang tertulis pada posternya. Penonton baru yang belum mengenal Ju-On, role kutukan dan misteri serta struktur bercerita yang mengundang untuk berpikir, seharusnya menjadi hal yang baru yang menarik minat. Film gagal mendeliver ini, lantaran karakter-karakternya susah untuk dipedulikan. Antara mereka terlampau serius atau horornya terlalu receh. Konflik malah sepertinya datang dari pembuatnya, mungkin dia menutup mata, mengenyahkan keraguan beserta seluruh passionnya, dan just go with it the way studio wants to.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for THE GRUDGE.

JERITAN MALAM Review

“Words have no power to impress the mind without the exquisite horror of their reality”

Diadaptasi dari thread karangan user meta.morfosis di Kaskus, cerita Jeritan Malam yang digarap oleh Rocky Soraya dapat terasa ‘berlebihan’ dan tidak masuk akal karena berurusan dengan usaha membuat kita percaya bahwa dunia gaib itu ada. Namun begitu, melihat tokohnya yang keras kepala ditarik – bahkan dijebak – ke dunia tersebut cukup untuk membuat horor ini terasa menyenangkan dan jadi ‘sesajen’ menghibur yang menyebabkan kita betah menyaksikannya.
Herjunot Ali dalam cerita ini adalah Reza. Sarjana S1 yang percaya sama ilmu pengetahuan dan logika. Segala tahayul, jimat-jimat, kekuatan gaib, perdukunan adalah omong kosong baginya. Reza bahkan enggan mempelajari budaya klenik yang ditawarkan oleh ayahnya. Setengah hati Reza mengiyakan tatkala disuruh membawa pusaka kecil dari sang ayah sebagai perlindungan di tempatnya bekerja. Reza dikirim ke daerah Jawa Timur, kantor menyediakan mess sebagai tempat tinggal Reza di sana. Ketidakpercayaan Reza terhadap supranatural tertantang di tempat tersebut. Mess/rumah yang ia tinggali bersama dua karyawan lain ternyata juga dihuni oleh makhluk halus yang suka menampakkan diri dengan menyamar menjadi penghuni rumah. Malam di sana semakin mengerikan oleh jeritan wanita yang seringkali terdengar. Gangguan di sana memang semakin meningkat intensitasnya semenjak Reza datang. Rekan-rekannya percaya pusaka yang dibawa Reza adalah penyebabnya. Namun Reza tetap bergeming, ia mengacuhkan semua. Reza bersikeras menyangkal dan masih berusaha merasionalisasi keadaan. Demi bertahan pada pekerjaannya sebab ia butuh untuk mengumpulkan biaya pernikahan.

“suara burung”? Am I a joke to you!

Film bercerita dengan narasi voice-over dari Reza. Sehingga kita bisa mengetahui langsung apa yang dipikirkan oleh tokoh utama ini. Yang seperti menceritakan kepada kita kisah masa lalu yang begitu ia sesali – hampir seperti suara renungan yang kemudian menjadi peringatan kepada kita. Ada nuansa misteri yang berusaha dibangkitkan. Ada hook yang berusaha dibangun dari narasi Reza – tokoh ini kerap menyuruh kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dengannya. Namun apa tepatnya kesalahan itu – apakah karena dia tidak percaya, apakah karena dia membawa pusaka, apakah karena dia terlalu sompral, atau apakah karena dia membawa kekasihnya jajan bakso ceker – inilah misteri yang perlahan-lahan dibuka oleh cerita.
Bahasa Indonesia baku yang dibawakan oleh Herjunot dengan nada puitis (mengingatkan kita kembali pada perannya sebagai Zainuddin di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck) terasa sebagai perubahan yang cukup signifikan dari bahasa Kaskus (yang menggunakan slang ane-agan) yang dipakai pada cerita aslinya. Pada beberapa kesempatan, memang terdengar awkward, seperti cerita terasa lebih tua daripada periode waktu kejadian yang sebenarnya. Juga ada dialog dengan tokoh Wulan, kekasihnya yang diperankan Cinta Laura, yang tampak lumayan kaku oleh bahasa. Namun untuk sebagian besar porsi, penggunaan bahasa ini memenuhi suatu fungsi. Penggunaan bahasa puitis memperkuat tone misteri sekaligus tone psikologis dari tokoh Reza. Ia bukan sekadar menceritakan pengalaman mengerikan untuk menakuti kita. Menyaksikan cerita dengan narasi spesifik dari Reza lebih kepada seperti mendengarkan seseorang yang penuh penyesalan, tetapi tidak berkubang di dalam penyesalan tersebut. Penggunaan narasi ini memperkuat keseluruhan arc Reza.
Satu yang paling aku suka dari Jeritan Malam ini adalah masih dibukanya pintu ambiguitas lewat penggunaan narasi. Reza menyerahkan sepenuhnya kepada kita untuk mempercayai atau tidak. Melihat ke belakang kepada konteks dan gagasan cerita, pernyataan Reza tersebut bukan lagi sebatas tentang hantu yang ia alami, melainkan juga tentang ceritanya itu sendiri. Keseluruhan kejadian kita saksikan lewat sudut pandang Reza; kita mendengarkan yang ia kisahkan, kita melihat apa yang ia tuturkan. Namun di akhir kita mengerti bahwa Reza adalah orang yang mendapat banyak, sekaligus kehilangan banyak. Cerita yang kita saksikan bisa jadi adalah proses rasionalisasi – proses yang selalu ia lakukan sepanjang kisah setiap kali dia bertemu dengan hal yang tak ia mengerti – terhadap kehilangan yang ia rasakan.

Bukan hanya hantu wanita itu yang menjerit penuh rasa takut, sedih, putus asa. Jeritan Malam actually adalah jeritan hati seorang Reza. Jeritan yang kita semua teriakkan ketika menerima sesuatu sebagai kenyataan. Meneriakkan suatu hal secara langsung tidak berarti membuat hal tersebut menjadi benar, tapi meneriakkan di dalam hati dapat membawa ketentraman. Seperti afirmasi atau menguatkan diri. Perhatikan tidak ada lagi dialog langsung Reza di akhir; film hanya menggunakan narasi. Reza bukan hanya bercerita kepada kita, ia bisa jadi juga bercerita kepada dirinya sendiri. Yang membuat dia bisa meneruskan hidup dengan jawaban atas kehilangan yang ia terima sebagai akibat dari kesalahan yang dilakukan. Tapi seperti kata Edgar Allan Poe; Reza harus percaya dulu bahwa dunia adalah tempat yang mengerikan – penuh setan di mana-mana 

Meskipun punya kedalaman dalam elemen narasinya, lapisan terluar juga sama pentingnya, karena hal itulah yang pertama kali kita lihat dan rasakan. Paruh pertama film mungkin bisa jatoh menjengkelkan. Terutama karena durasi film yang nyaris mencapai dua jam. Lantaran Reza begitu bebal sehingga beberapa peristiwa menjadi repetitif. Reza melihat hantu atau hal mustahil, dan reaksinya selalu sama; Ketakutan dan kemudian tidak percaya. Ini sebenarnya adalah poin penting pada arc Reza, yang menunjukkan karakternya di awal-awal. Reza merupakan seorang skeptis yang defense-mechanism dirinya saat melihat hal-hal aneh adalah mencari jawaban logis – dan jika tidak bisa, maka ia akan mengecilkan peristiwa tersebut; menganggapnya tidak penting. Ini adalah reaksi normal seseorang yang mengenyam pendidikan dan tinggal di kota besar. Kebanyakan orang akan merasa takut pada hal yang tak mampu ia mengerti, dan pada saat ketakutan orang akan kehilangan kendali. Untuk mengembalikan perasaan memegang kendali inilah, orang-orang punya tindakan yang berbeda. Bagi Reza, tindakan itu adalah merendahkan yang tidak ia mengerti. Ia menganggap ‘orang pinter’ yang dipanggil mengusir hantu ke rumah sebagai tukang tipu yang mencoba menipu mereka dengan ilmu hipnotis. Ia mencela teman-temannya yang pecaya kepada si ‘orang pinter’.
Penonton seolah didorong supaya lebih condong ke arah teman-teman Reza, seolah merekalah voice of reasons – merekalah yang benar. Inilah poin ganjil yang digali oleh film. Cerita benar-benar menganggap hal supranatural itu adalah hal serius. Malah hampir seperti peringatan kepada kita semua bahwa hantu itu ada, setan-setan akan terus mengelabuimu. Film seperti berusaha keras untuk membuat kita juga melihat dunia gaib sebagai kebenaran. Ini gak exactly kayak cerita Mary Poppins, atau cerita Harry Potter, atau cerita fantasi yang menyuruh tokohnya – dan penonton – untuk belajar percaya pada keajaiban. Lebih mudah bagi Doctor Strange untuk percaya ilmu kedokterannya tidak mampu berbuat banyak mengobati dunia superhero. Ada ‘kekonyolan’ tersendiri yang membedakan percaya sama hantu dengan percaya sama ada Narnia di dalam lemarimu. Makanya, film Jeritan Malam ini terasa tidak begitu merangkul dengan logika bagi sebagian orang, terutama yang memang skeptis juga seperti Reza. Karena kita semacam menunggu ada penjelasan lain, tapi tidak ada.

film yang diadaptasi dari cerita populer bakal laku – siapa yang percaya sama tahayul ini?

Petualangan Reza mencari kebenaran yang bisa diterima akal sehatnya membawa cerita ke paruh kedua, yang terasa lebih menyenangkan. Reza terjerat dalam semacam perjanjian tanpa ia sadari. Yang menyebabkan dia dapat melihat semua yang tadinya ia ragukan dan ia hina. Konsekuensi yang timbul dari perubahan Reza ini punya nada subtil yang mengerikan. Dia hidup dengan menyadari semua berkah yang ia rasakan sebenarnya adalah kutukan; ada harga tinggi yang mau-tak-mau harus ia bayar. Bayangkan kamu hidup bahagia tapi mengetahui ada orang yang menderita demi kebahagiaan kamu. Akhir yang mengerikan, karena di titik itu kita juga sudah bisa melihat bahwa sekonyol-konyolnya tahayul dan hantu, toh memang ada harga yang harus dibayar dalam setiap pencapaian – dan kadang harga itu begitu besar sehingga seolah kau bersalaman dengan setan.
Untuk sampai ke sana, film benar-benar bersuka ria dalam menampilkan horornya. Jika sebelumnya film ini mengandalkan permainan suara; musik yang menghilang dari adegan saat melihat keluar jendela ke pepohonan, dan kemudian cukup menggelegar mengungkap apa yang berada di balik pohon-pohon itu, maka di paruh kedua film bermain-main dengan kemunculan dan wujud hantunya. Film ini menggunakan kombinasi efek make up dan efek komputer. Untuk soal efek, film ini masih baru setengah maksimal; beberapa penampakan terlihat jelas ‘palsunya’, penggunaan darah yang mestinya bisa menggunakan darah asli, namun ada juga beberapa yang terlihat keren seperti hantu muncul dari sumur dan hantu boneka pajangan Jawa. Tidak ada hantu ‘boss’ yang jadi musuh utama yang harus dikalahkan, tapi setiap hantu yang muncul punya cerita khusus tersendiri. Interaksi Reza dengan para hantu – sebagian besar dari mereka ia kenal – jadinya menarik dan cukup memancing emosi.




Dengan set klaustofobik yang bervariasi – mulai dari rumah hingga hutan menyesatkan – film ini punya bangunan misteri yang kuat. Sedikit romansa juga ditambahkan sebagai pemerkuat taruhan bagi Reza. Walaupun ceritanya agak aneh karena berusaha membuat kita percaya sama dunia gaib, horor yang disajikan berhasil tampil menghibur. Ada kejutan yang cukup emosional di akhir. Punya nada seram di balik gagasannya. Tak ketinggalan, komedi yang dicampur secukupnya. Persis seperti judulnya, penceritaan film ini benar-benar mencapai rentang tone yang luas. Kita mungkin akan mengerang ketika terus disodori hal-hal tak-masuk akal sebagai kebenaran – film seharusnya bisa dipangkas saat certain point sudah ter-establish sehingga tak terasa terlalu repetitif, tetapi sesungguhnya ini adalah cerita yang sangat personal. Keseluruhan film adalah kata-kata dari seorang yang perlahan mengalami perubahan cara memandang dunia karena ia telah melakukan sesuatu yang tak bisa ia pahami apakah merupakan sebuah kesalahan atau memang harga yang harus dibayar untuk sebuah kesuksesan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for JERITAN MALAM.



KNIVES OUT Review

Immigration strikes at the very heart of a central metathesiophobia, or fear of change
 
 

 
Kejeniusan Knives Out bukan semata pada kepiawaian membangun misteri siapa pelaku sebenarnya (biasa disebut sebagai thriller whodunit), melainkan juga pada ketajaman penulis naskah merangkap sutradara Rian Johnson mengomentari soal fobia imigran yang ia jadikan bahan utama dalam menu misteri pembunuhan yang disajikan dengan karakter beraneka rupa.
Pengarang novel misteri terkenal, Harlan Thrombey, ditemukan bersimbah darah di kamar kerjanya, sehari setelah pesta ulangtahunnya yang ke delapan-puluh-lima. Karena menyayat urat leher cukup aneh untuk dianggap sebagai pilihan tindak bunuh diri, maka detektif Benoit Blanc (aksen Daniel Craig komikal, namun surprisingly worked) melakukan investigasi. Daftar tersangkanya adalah anggota keluarga Thrombey yang diam-diam menanti warisan dari kepala keluarga Thrombey yang eksentrik. Ada Linda dan suaminya yang berharap dikasih rumah. Ada Ransom, putra Linda, ‘kambing hitam keluarga’ yang pengen diwarisi semua sehingga dia tak perlu bekerja. Ada Joni, menantu Harlan yang janda yang bergantung pada uang Harlan untuk biaya pendidikan anaknya. Ada Walt, putra bungsu Harlan, yang ingin diberikan kuasa penuh atas bisnis percetakan bapaknya. Detektif Blanc dengan senang hati mempercayakan bantuan kepada perawat pribadi Harlan, Marta (Ana de Armas memainkan seorang minor yang punya peran sangat mayor), yang begitu baik hati sehingga dianggap keluarga oleh Harlan. Tapi Knives Out punya banyak kejutan dalam ceritanya. Marta yang muntah setiap kali berbohong – cara kocak film menanamkan cewek ini adalah pribadi yang jujur dan bisa dipercaya, enggak seperti tokoh yang lain – tadinya adalah satu-satunya orang yang tidak mendapat untung dari kematian Harlan. Seiring berjalannya cerita, seiring misteri perlahan membuka, keadaan berubah dan justru Marta yang menang paling banyak dari pembunuhan ini. Bukan Blanc seorang yang berpikir keras, kita penonton juga akan semakin tersedot ke dalam misteri pembunuhan keluarga kaya raya nan nyentrik ini.

bayangkan harus nahan muntah setiap kali menyapa keluarga bos yang pura-pura liberal

 
Dari sudut pandang Marta, misteri pembunuhan ini adalah ketakutannya sebagai orang yang bukan asli Amerika. Marta merupakan orang-dalam yang sesungguhnya adalah orang-luar. Dia mengenal semua anggota keluarga Thrombey, mereka semua ramah kepadanya. Tapi dia adalah orang asing. Jangankan darah, Marta bukan dari tanah yang sama. Film menjadikan asal usul negara Marta sebagai running-joke berupa anggota keluarga Thrombey menyebutnya dari negara yang berbeda-beda. Satu tokoh menyebutnya dari Uruguay. Tokoh yang lain menyebut Marta dari Brazil. Mereka enggak benar-benar peduli, deep inside bagi mereka Marta bukan bagian dari mereka. Inilah yang lantas dijadikan konflik, tensi dramatis buat kita ketika ditempatkan dalam sudut pandang Marta.
Ada adegan ketika anggota keluarga Thrombey duduk mengobrol, dan perbincangan mereka dengan cepat berubah menjadi pandangan politik soal imigran. Anak-anak Harlan bicara dengan cueknya padahal ada Marta di sana. Kita bisa meliha Marta tidak nyaman, karena pembicaraan mereka yang liberal dan tidak-menyalahkan imigran terdengar tidak tulus. Setelah pembunuhan terjadi, dan situasi berubah, kita melihat Marta mau-tidak-mau harus bergerak karena pemahamannya mengenai situasi. Dia jadi seperti banyak diuntungkan, dan tentu saja orang-orang akan ‘menyerang’ dia karena mereka percaya Marta enggak pantas. Marta bukan keluarga, maka dia mencuri dari mereka. Marta bergerak dengan pemahaman ini di dalam kepalanya. Kita juga menyaksikan kejadian dengan pemahaman tersebut, hanya saja dengan ruang lingkup yang lebih luas karena nafas film ini adalah cerita whodunit sehingga film tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin Marta memang ‘bersalah’.

Film memotret bagaimana ketakutan terhadap imigran itu bisa timbul. Keluarga yang merasa dirampok oleh orang luar yang lebih baik dan bekerja keras ketimbang mereka, adalah cara film menyampaikan teguran bahwa sebenarnya kesuksesan itu bukan soal darimana kau berasal. Melainkan dari seberapa banyak kita berusaha dengan baik. Kita hanya menuai apa yang kita usahakan. Lagipula, dalam tanah kesempatan; semua orang adalah pendatang.

 
Tidak setiap hari kita mendapat misteri pembunuhan yang original seperti film ini. Biasanya cerita-cerita detektif seperti ini merupakan adaptasi dari novel atau materi lain. Aku sempat kecele karena mengira Ratu Ilmu Hitam (2019) yang tayang bulan lalu, yang menampilan ensemble cast menarik, bakal hadir sebagai horor misteri whodunit. Karena memang kangen juga terhadap cerita kasus pembunuhan seperti ini. Ada keseruan tersendiri dalam ikut menebak-nebak dan melihat jawaban yang sebenarnya terkuak. Knives Out melakukan lebih dari sekadar pemuas dahaga akan misteri whodunit. Karena ia juga hadir dengan gagasan yang terselip matang di antara bangunan misterinya. Penampilan dari jejeran castnya jangan ditanya – semua bermain fun tapi tidak pernah receh ataupun lebay. Para tokoh di film ini semuanya nyentrik. Dari Daniel Craig ke Jamie Lee Curtis memainkan peran yang over-the-top. Lihat saja reaksi tokoh Chris Evans saat bertemu dengan anjing. Namun mereka semua bekerja bukan main dalam tingkatan yang menghibur. Yang sesuai dengan konsep genre mereka di mana semua orang adalah tersangka.
Sebagai whodunit, film ini bahkan punya keunikan tersendiri. Biasanya kita akan dituntun untuk mempelajari motif masing-masing tersangka. Selain itu, kita akan diperlihatkan mereka punya kesempatan, lalu ada tokoh yang dijadikan red-herring alias dibangun sebagai tersangka utama dan cerita akan terbangun ke false resolusi bahwa bukan dia pelakunya. Dengan kata lain, film biasanya menunjukkan tokoh-tokoh yang punya kesempatan tapi mereka tampak tak bersalah sampai ada bukti-bukti semakin banyak terungkap. Knives Out berjalan semacam kebalikan dari hal tersebut. Sedari awal kasus, kita sudah ditetapkan semua orang punya motif, dan itu diperlihatkan dari kebohongan para tersangka. Jadi sejak awal kita tahu mereka semua adalah pembohong, narasi atau sudut pandang mereka tidak bisa dipercaya, dan – sebagai ‘pemanis’ – mereka juga memandang rendah pendatang. Film seperti merekonstruksi genre whodunit, membuat kita memproses ulang pemikiran saat menonton whodunit.

bagaimana memilah yang paling jahat di antara yang jahat, jangan-jangan malah yang baik yang jahat

 
Dialog-dialog cerdas dan lucu menyertai set rumah yang banyak ruang rahasia. Menantang kita untuk terus menyimak. Berpikir tanpa harus menjadi ikutan stres. Saat memecahkan kasus, film meminta kita untuk condong kepada Blanc yang juga sama nyentriknya. Tokoh ini kadang tampak ada di sana sebagai penyambung mulut kita menyampaikan kesimpulan, tapi ada kalanya dia selangkah di depan. Sebagai karakter detektif sendiri, Blanc memang kalah berisi dibandingkan Sherlock Holmes atau Poirot atau malah Detektif Conan, karena bukan dia tokoh dan sudut pandang utama. Namun tokoh ini berhasil dijauhkan dari menjadi parodi tokoh-tokoh detektif terkenal tersebut. He’s there but not exactly above or outside of everyone. Blanc punya motivasi sendiri, dan ini membuat dia juga misterius. Rian Johnson benar-benar memutar balik otak untuk menciptakan situasi yang terus menekan dan membawa warna asli tokohnya keluar. Dia melakukannya dengan menyeimbangkan komedi dan suspens – bukan perkara gampang. Kita tahu Johnson berhasil dalam pekerjaannya ketika kita masih tertawa ketika ada remark yang lucu dari tokoh dan tetap tertarik dan geregetan melihat ke arah mana situasi membawa Marta.
Johnson memilih struktur yang membutuhkan banyak eksposisi dalam menceritakan kasusnya. Kita masuk saat kasus terjadi, tanpa mengenal dahulu siapa tokoh-tokohnya. Sejalannya cerita, barulah kita dibawa bolak-balik sesuai perspektif tokoh yang diinterogasi. Ekposisi ini dihandle dengan menarik berkat tokoh-tokoh yang unik dan menarik. Bolak-balik waktunya juga dilakukan efektif untuk alasan yang sama. Tidak ada bentrokan tone pada film ini. Jika kita perhatikan, karakter-karakter film ini sepertinya disesuaikan dengan stereotipe kekinian. Ada influencer sosmed, ada SJW, ada orang dewasa yang ‘kuno’. Tapi ada satu karakter yang tidak mereka kembangkan dengan sepintar dan semenarik yang lain. Yakni anak remaja yang selalu bermain hape. Dia tidak banyak berperan selain jadi bahan tertawaan. Dia juga tidak punya sudut pandang atau motivasi sendiri.
 
 
Film genre semakin menunjukkan taringnya. Tahun ini kita dapat Us dan Parasite yang membahas persoalan sosial dalam balutan thriller atau horor. Di akhir tahun ini, Rian Johnson melengkapi koleksi kita. Yang ia hadirkan adalah murder mystery yang bukan hanya fun dan unik – seperti tokoh-tokohnya, melainkan juga berbobot. Membahas soal imigran yang menjadi momok, terutama oleh warga Amerika. Di era Donald Trump.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for KNIVES OUT

NIGHTMARE SIDE: DELUSIONAL Review

“… don’t have to be scared of being different.”
 

 
Setiap sekolah punya cerita hantu masing-masing. Sekolah barunya Naya punya satu hantu berambut panjang yang bukan saja menakuti murid-murid termasuk geng pembully, bahkan satpam sekolahan sekalipun. Naya tahu karena dia indigo. Dan Naya juga tahu ada seorang lagi siswi indigo di sekolah barunya tersebut. Naya pernah beberapa kali bertemu dengannya. Serunya buat Naya; mading di sekolah tersebut juga kerap dihiasi oleh cerita misteri, persis dengan cerita yang suka ia dengar di radio Ardan. Penulis cerita di mading itu berinisial L.S. Siapa gerangan? Apakah L.S ada hubungannya dengan hantu sekolah? Akankah Shelly – siswi indigo satu lagi – mau berteman dan membantu dirinya?
Nightmare Side berawal dari program siaran Radio Ardan setiap malam jumat. Khusus cerita-cerita horor yang bertempat di Bandung dan sekitarnya. Acara ini sangat populer. Aku dan temen-temen dulu suka nyimak kalo lagi iseng jalan-jalan keliling Bandung. Cerita-cerita pendeknya itu memang serem-serem sih, meski aku dan temen-temen malah sering jadi salah fokus ngebecandain naratornya yang terkadang jadi sok serem, dan over-the-top. Gaya bercerita radio ini dipasang film sebagai pembuka, kita akan melihat visualisasi dari cerita horor Ardan yang sedang didengarkan oleh seorang tokoh film. Kinda cool sih, kayak episode serial short-horror anime Yami Shibai. Tadinya kupikir film akan bergulir seperti antologi atau kumpulan dari cerita-cerita pendek, karena tentu saja gaya narasi ala radio ini tidak akan tertranslasi bagus ke dalam bahasa sinema. Untung saja sutradara first-timer Joel Fadly cukup bijak untuk hanya menjadikan ini sebagai semacam fans-service. Dan cerita utuh yang sebenarnya ada setelah segmen pembuka ini.
Sesuai dengan judulnya, ehm.. lebih tepatnya sih; Hampir sesuai dengan judulnya, film ini memang bercerita dengan menggunakan ilusi. Meskipun tidak pernah jelas tokoh mana yang delusional dalam cerita ini. Namun yang jelas, film berani menempuh resiko dengan menggunakan gaya khusus dalam bertutur. Film menampilkan dua narasi yang seolah paralel. Kita melihat dari sudut pandang Gege Elisa sebagai Shelly yang dibully karena penyendiri. Berselingan dengan sudut pandang dari Fay Nabila Rizka sebagai Naya yang anak baru. Film ingin menanamkan hook kapan kedua tokoh ini akan bertemu dan bekerja sama kepada kita, dengan pertanyaan lebih menitikberatkan kepada ‘siapa Shelly’ meskipun kita bahkan juga tidak mengenal siapa Naya – film enggak begitu peduli untuk memberikan backstory kepada setiap karakter. Dan itu semua dimaksudkan sebagai misteri aau ilusi pada naskah.

Mungkin dia melihat penampakan sebagian-sebagian karena matanya yang sebelah selalu ketutupan rambut

 
Dua timeline berbeda sebenarnya sedang bekerja ketika kita berpindah-pindah dari Shelly yang dibully ke Naya yang mencari Shelly dan pengarang cerita misteri berinisial L.S. Trik bertutur seperti ini mampu membuat cerita menjadi menarik jika ilusi bahwa dua sudut pandang tokoh tadi seolah berada di kurun waktu yang sama benar-benar dibangun dengan baik. Cerita semacam ini butuh menghamparkan penunjuk time-image sebagai petunjuk buat kita mengikuti alur. Time image itu maksudnya benda-benda yang dijadikan penanda jaman – yang menjadi penanda satu adegan pada lokasi yang sama sesungguhnya berada di waktu yang berbeda. Banyak yang bisa digunakan untuk fungsi ini, misalnya rambut – di waku yang dulu pendek, kini panjang. Ilusi pada Nightmare Side sayangnya tidak banyak memperhatikan pembangunan dalam aspek time-image. Mereka lebih berfokus kepada penempatan dan timing kemunculan hantu dan relik-relik yang menjadi penanda hantu.
Sehingga film terasa terlalu mendorong penonton untuk berpikir, dan lupa menghantarkan rasa. Jangan salah. Aku suka film-film tang mengajak penonton untuk berpikir, mengajak figure out yang sebenarnya terjadi tanpa banyak ba-bi-bu eksposisi. Pada Nightmare Side: Delusional, rasa penasaran untuk menguak kejadian dan misteri itu ada, tetapi tidak pernah dibarengi dengan kepedulian terhadap para tokoh. Karena mereka semua tokoh template, dengan minim sekali backstory. Tidak ada development buat tokoh-tokoh yang penting. Setelah dua sudut pandang bertemu, setelah kita mengerti posisi Naya dan Shelly, seketika itu juga film menjadi datar. Tidak ada lagi hal menarik untuk diikuti.
Teror hantunya tidak lagi berarti untuk diikuti, malahan membingungkan kita secara emosi. Karena paruh kedua cerita berisikan si hantu mengejar geng pembully. Asumsinya adalah dia menuntut balas, namun tidak seperti pada Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018) kita ragu untuk mengecheer si hantu. Dan termyata di akhir juga diungkap bahwa hantu itu bukanlah sosok yang kita kira. Jadi menonton film ini kita akan bingung mana yang protagonis, mana yang hero, mana yang tokoh utama. Sebagian besar film aku menyangka sudah berhasil memilahnya. Shelly adalah tokoh utama karena cerita berpusat tentang dirinya. Naya protagonis sekaligus hero yang kita dukung keberhasilannya. Namun di akhir ternyata Naya justru tidak banyak melakukan apa-apa. Film mendadak memasukkan ustadz-numpang-lewat untuk menyelesaikan masalah. Dan satu-satunya tokoh yang berubah justru si geng pembully.

Kita semua dilahirkan dengan kemampuan berbeda dan kita tidak bisa menolak itu. Sementara itu, kita juga harus menerima bahwa kita makhluk sosial yang butuh berinteraksi dengan banyak orang. Lingkungan sosial menciptakan ilusi kita harus serupa dengan kebanyakan orang. Makanya ekstra susah buat remaja untuk percaya diri, mengakui dirinya unik, saat lingkungan sekitarnya adalah lingkungan berseragam. 

 
Padahal film ini bicara tentang masalah klasik anak remaja – ketakutan sebagai orang yang berbeda. Permasalahan bullying ditekankan di sini. Perbedaan diibaratkan sebagai badut, dan satu yang berbeda dari tiga akan dikucilkan. Ditertawakan. Film bermaksud menjadi cautionary tale kepada orang yang suka mengolok perbedaan, sekaligus kepada orang yang merasa malu akan perbedaan atau keunikan dirinya. Namun pesan ini tidak tersampaikan dengan baik lantaran film terjebak pada kebutuhannya sendiri untuk tampil seram. Untuk menakut-nakuti penonton, film rela ‘melacurkan’ hantunya; tampil setiap beberapa menit sekali. Tentu saja didandani dengan musik keras jumpscare. Dalam sepuluh menit pertama saja, ada lebih dari tiga kali kemunculan hantu. Sebaliknya dalam menampilkan emosi, film pelit sekali. Hanya mengandalkan flashback adegan-adegan yang sudah kita lihat di bagian awal saja, film nekat menyebut usahanya itu sebagai pengaduk emosi.

Kalo di map gak ada jalan lurus, sedangkan di depan matamu jalanannya persimpangan; itu artinya kalian salah nentuin posisi di map, Dek

 
Dukungan aspek-aspek teknis juga tidak benar-benar kuat. Penampilan akting dari jejeran pemain mudanya barely menyentuh garis standar. Film horor tidak akan bekerja sempurna jika hanya mengandalkan ekspresi ketakutan dari pemain-pemain. Melainkan haruslah menyertakan golakan emosi yang kompleks – sesuatu yang tidak mumpuni dicapai oleh film ini. Penulisannya juga menimbulkan banyak hal-hal dengan logika yang lucu. Selain ustadz yang sempat kusebut tadi, ada juga sekuen yang entah-alasan-apa menampilkan horor komedi dari satpam sekolah. Di sekuen tersebut ada adegan seorang satpam mergokin maling, malingnya kabur masuk ke ruang kelas, dan ketika dikejar ke dalem – ruangannya kosong selain hantu yang melotot dan mengejar si satpam. Waktu berharga beberapa menit itu seharusnya digunakan untuk menulis set up tokoh seperti Naya atau Shelly dengan lebih detil lagi.
Dan kentara sekali, Radio Ardan sebagai induk dari Nightmare Side harus diikutsertakan. Film cukup memutar otak merangkai anak-anak sekolah itu ada hubungannya dengan Radio. Buatku ini adalah effort ekstra yang lebih cocok dikerjakan oleh pembuat film yang lebih kompeten. Penyakit menular horor Indonesia sekarang adalah kecenderungan untuk memilih yang paling ribet, padahal ada yang lebih simpel. Kenapa tidak membuat cerita di lingkungan radio saja – jika ingin menampilkan rekaman program Nightmare Side; kenapa tidak bikin horor yang berpusat di penggarapan acara itu saja. Toh tema bullying bisa dimasukkan ke lingkungan sosial apa saja, tidak mesti di sekolah.
 
 
Dengan penceritaan bergaya ilusi di awal, film ini seharusnya mencuat menjadi unik. Namun dia sendiri seperti tidak berani untuk menjadi berbeda. Permasalahan bullying dan horor menjadi pribadi berbeda pada remaja menjadi datar tak berasa karena film tak mampu menyajikan emosi dengan benar. Karena seperti Shelly, film terlalu obses sama hantu-hantu dan misteri. Sehingga akhirnya, malah jadi seragam dengan horor-horor yang hadir mingguan di bioskop yang dengan mudah terlupakan keberadaannya.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for NIGHTMARE SIDE: DELUSIONAL