ALL MY FRIENDS ARE DEAD Review

“Life is 10% what happens to you and 90% how you react to it”
 

 
It’s all fun and games until someone loses an eye, begitu kata orang Romawi Kuno. Kalimat tersebut hadir di dalam konteks peraturan kompetisi fisik yang melarang peserta menyerang mata lawannya. Di dunia modern kita, kalimat tersebut turun menjadi pepatah; yang artinya kurang lebih mewanti-wanti bahwa kegembiraan yang terlalu berlebihan biasanya akan membawa celaka. Sutradara Jan Belcl dalam debut film panjangnya seperti meng-amplify ‘fun’ dalam kalimat tersebut, sehingga meskipun memang benar seperti yang disebutkan oleh judulnya (bakal banyak yang tewas), semuanya tetap terasa kocak!
Dengan cerita tentang pesta tahun baruan yang berubah rusuh bunuh-bunuhan, banyak yang menyebutfilm asal Polandia ini kayak fusion dari vulgar dan humor American Pie dengan gaya berdarah Quentin Tarantino. Dan setelah ditonton, yaa memang All My Friends are Dead ini punya gaya, dan sangat berenergi. Adegan-adegan matinya kreatif. Tempo ceritanya relatif cepat sehingga suasananya rusuh dan hingar bingarnya terasa. Tapi, hanya itu. Kesan pertama yang terlintas di kepalaku selesai menontonnya adalah ‘style-over-substance‘. Walaupun punya gaya dan selera komedi gelap tersebut, film ini tidak pernah terasa semenyenangkan American Pie. Apalagi se-engaging buah pikiran Tarantino. Never. No. Nehi!

Adegan tribute kepada The Shining pun tak berhasil meluluhkanku!

 
All My Friends are Dead dibuka dengan adegan penyelidikan di TKP. Kita melihat seorang detektif muda yang tampak cukup nervous sedang menunggu rekannya, di luar rumah. AKu gak akan nyebut nama mereka (atau lebih tepatnya; aku gak ingat nama mereka) karena percuma juga untuk dinamai. Dua karakter detekfif ini tidak berujung apa-apa ke dalam cerita utama. Jadi, kita hanya mengikuti mereka masuk ke rumah, melihat mereka cukup tertegun melihat gelimpangan mayat anak-anak muda (si detektif yang nervous tadi muntah). Dengan penyebab kematian yang tampak bermacam-macam (ada yang ditembak, ada yang gantung diri, ada yang kesetrum) Tak lama setelah itu kita dibawa meninggalkan mereka, loncat ke beberapa jam sebelumnya. Ke malam hari saat rumah tersebut masih teramat hidup karena ada pesta menyambut tahun baru. Dan bertemu dengan sejumlah karakter yang tak kalah annoying dan terasa tak-kalah pointless-nya.
Film meluangkan waktu untuk membentuk karakter kedua detektif; mengontraskan sikap dan mindset mereka, memberi mereka kebiasaan khusus dan segala macam, dengan menyadari penuh bahwa kedua karakter tersebut hanya sampingan. Tapi di kita yang nonton, kita malah merasa adegan opening penyelidikan TKP itu penting, kita menyangka si detektif itu penting. Padahal sama sekali tidak. Adegan opening itu dilakukan oleh film hanya untuk mengedepankan pertanyaan ‘kenapa’ dari dalam diri kita. Tepatnya, ‘kenapa orang-orang di rumah itu bisa mati?’ Nah, jawaban atas pertanyaan tersebut lah yang jadi narasi utama film ini. Ketika kita menyaksikan adegan pesta, antisipasi kita akan terbangun ke arah siapa kira-kira yang membunuh mereka. Peristiwa apa kira-kira yang menyebabkan rumah itu jadi TKP di pagi hari nanti.
Konteks dan bangunan cerita memang cukup beralasan. Sutradara telah menyiapkan pertanyaan. Menempatkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam desain yang menggerakkan alur cerita. Namun dia lupa pertanyaan penting. Seberapa penting para karakter yang terlibat bagi kita yang menonton mereka. Melupakan itu jelas merupakan kesalahan fatal, karena kita dapat merasakan sendiri gimana pointlessnya film ini terasa. Sutradara memberikan karakter-karakter dengan gimmick khas film anak muda yang taunya hanya berpesta pora. You know, cari cewek dan narkoba. Di antara mereka, film menyiapkan tiga pasangan utama. Pertama adalah pasangan yang cowoknya udah niat mau melamar tapi diam-diam si cewek ternyata menganggapnya terlalu ‘membosankan’. Ada juga pasangan gak serasi, si cewek suka astrologi dan ramal-meramal, sementara cowoknya suka ngerap dan just wanna have fun. Yang paling menarik buatku adalah pasangan yang ketiga, yang kayak actually ditarik dan dikembangkan dari American Pie. Kalo kalian gede dengan nonton film itu, pasti menggelinjang denger nama unlikely couple; Finch dan Stifler’s Mom hihihi.. Pasangan ketiga dalam All My Friends are Dead ini adalah pasangan seperti Finch dan Stifler’s Mom – cowok muda dengan perempuan yang kelewat tua bagi usianya, yang dimanusiakan. Yang diberikan cerita dan motif sehingga mereka gak sekadar comedic relief. Yang genuinely kerasa mereka ada kehidupan beneran di luar periode cerita film ini. Selebihnya, ya hanya karakter hura-hura. Seperti si cewek yang kecanduan ekstasi, si cowok alim yang halu melihat Tuhannya, si empunya rumah, atau juga si pengantar pizza yang kelamaan menunggu untuk dibayar. Sepanjang babak kedua kita dipindah-pindah, enggak jelas mau fokus di mana. Film ini asik sendiri membuat kita menebak-nebak di karakter siapa jawaban ‘kenapa’ tadi itu diniatkan.
For us it is not fun. Dengan kepala sudah diset untuk menunggu pertanyaan itu terjawab, banyaknya karakter yang lewat di depan mata kita jadi enggak penting semua. Mau mereka punya masalah hati yang pelik, atau masalah keluarga yang runyam, semuanya jadi seperti angin lalu. Toh, kita udah tahu duluan mereka akan mati. Heck, kita bahkan udah tahu mereka matinya nanti dalam posisi seperti apa. Ditambah pula dengan tingkah annoying dari mereka, dari keputusan-keputusan bego yang mereka buat. It is by design film enggak mau kita merasakan apa-apa kepada tokohnya. Untuk mengisi hati kita dengan perasaan, film mengandalkan pada komedi yang lebih banyak miss ketimbang hit. Dan ngandelin pada adegan ending yang didesain sebagai alternate universe (apakah karakter-karakter sebagai hantu atau tidak, diserahkan kepada imajinasi penonton). Berupa adegan pesta yang kontras sekali dengan pesta rusuh yang kita lihat. Pesta dengan semua karakter tenang, dan saling berdialog, bereaksi satu sama lain dengan positif.
Cukup sepucuk senjata api (dan alkohol) untuk membubarkan malam yang meriah

 

Keseluruhan rangkaian peristiwa di malam berdarah itu sesungguhnya diniatkan oleh film ini sebagai gambaran untuk kita. Gambaran bahwa reaksi kita terhadap sesuatu dapat berdampak fatal, karena kita gak pernah tahu dan bisa mengendalikan respon orang terhadap kita.

 
Jadi kita telah sampai pada bagian di mana aku akan membeberkan pendapatku tentang film ini sebenarnya tentang apa, jadi bakal ada spoiler-spoiler atau hal-hal yang mungkin tidak ingin kalian ketahui sebelum menonton filmnya.
Ok here goes…
Menurutku film ini bicara tentang aksi, reaksi, dan responsi. Kita nanti akan tahu bahwa penyebab kejadiaan naas di rumah itu ternyata bukanlah pembunuh berantai ataupun sebuah pembunuhan berencana. Melainkan terjadi sebagai result dari rangkaian-rangkaian peristiwa – melibatkan banyak karakter dan beberapa hati yang terluka oleh cinta. Peristiwa A memicu reaksi dari satu karakter, yang kemudian direspon oleh karakter lain sehingga terjadi peristiwa B. Begitu seterusnya. Banyak adegan film yang memperlihatkan soal rangkaian reaksi tersebut, terkadang diperlihatkan terus berkesinambungan, terkadang dilihatkan terputus, seperti catatan kematian yang terbuang begitu saja oleh detektif yang bereaksi menolong rekannya yang muntah.
Semua rangkaian kematian film ini bermula dari aksi satu karakter, yakni dari Anastasia si gadis penyuka ramalan dan bintang-bintang. Anastasia (diperankan oleh Julia Wieniawa yang cakep banget, mirip-mirip Cece di serial komedi New Girl) seharusnya adalah tokoh utama dalam cerita ini. Karena semuanya terjadi seputar pilihan dan kepercayaannya. Anastasia bicara tentang zodiak, posisi bintang, dan alternate universe. Her story adalah dia percaya bintang-bintang di langit sana menggariskan peristiwa dalam kehidupannya. Dan itu dijadikan alasannya baginya, you know, dijadikan dalih. Dia selingkuh karena percaya bintang-bintang telah menggariskan pertemuannya dengan si fotografer. Ketika peluru dari pistol yang ia pegang melayang menembus jidat Marek di pemilik rumah, peristiwa yang memantik kerusuhan lainnya terjadi nanti, Anastasia langsung masuk ke mode mempertanyakan aksinya. Kita melihatnya langsung ‘broken’. Dia harus confront kenyataan. Pembelajaran bagi Anastasia komplit setelah nanti di akhir, setelah semuanya tewas, dia baru bisa menyebut teman-temannya mati karena dirinya. Baru dia bisa menerima bahwa peristiwa tersebut bukan karena kosmik, melainkan karena aksinya yang mengakibatkan banyak reaksi dan terhubung dengan begitu banyak orang lain. Yang ironis dari ini adalah, adegan tersebut justru kita lihat di awal karena penceritaan film yang terpaksa harus dibikin aneh, sehingga emosi si Anastasia gak bisa benar-benar terdelivered.
 
 
 
To be honest, I’m not enjoying this film. Namun begitu, aku gak memungkiri bahwa dugaanku kalo film ini style-over-substance ternyata sedikit keliru. Karena film ini punya maksud, dan memilih desain penceritaan yang dianggap sutradaranya paling memfasilitasi maksud tersebut. Gaya bercerita flashback dengan opening ngelihat aftermath tragedi lebih dulu, misalnya, dilakukan untuk mencuatkan pertanyaan yang jadi tubuh dan konteks gagasan. Film ini bisa saja berjalan linear; dimulai dari pesta kemudian paginya polisi datang berusaha menyelidiki, tetapi jika penceritaannya begitu, maka kita akan semakin aimless dalam mengarungi durasi. Kesalahan film ini ternyata ‘hanya’ melakukan pengembangan yang pointless, seperti karakter detektif yang tidak perlu dibuat se-elaborate itu karena toh mereka bukan fokus cerita, ataupun soal komedi karakter yang jarang bikin tertawa. Fokus kepada membangun ‘kenapa’ membuat film jadi try too hard untuk membuat kita menengok ke karakternya, yang malah didesain annoying. Tapi kalo kalian gak peduli soal itu semua, atau somehow kalian bisa relate dengan masalah unik karakter-karakternya, kalian mungkin tetap bakal terhibur dan terenyuh di endingnya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ALL MY FRIENDS ARE DEAD.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Kenapa setiap kali kebanyakan ketawa, ujung-ujungnya kita bakal sedih? Apakah itu adalah cara semesta menyeimbangkan keadaan? Apa kalian percaya dengan astrologi?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

JUNE & KOPI Review

“We don’t choose our pets, they choose us”
 
 

 
 
Hewan peliharaan bukanlah mainan. Mereka punya perasaan, punya kebutuhan. Mereka bisa merasakan kasih sayang, dan bahkan mampu memberikan rasa cinta tersebut balik ke pemiliknya. Hewan peliharaan memang bisa punya kedekatan emosional dengan manusia yang mengasuh mereka. Maka tak salah juga banyak orang yang menganggap kucing atau anjing atau bahkan ular piaraan sebagai bagian dari anggota keluarga. Aku sendiri melihara dua ekor kucing sejak mereka bayi, dan memang seringkali ngurusin mereka itu kok seakan seperti ngurusin anak beneran, karena kedua kucing itu bisa ngambek juga kalo cuma dikasih makan tanpa diajak bermain atau diperhatikan. Begitulah, memelihara hewan dapat memberikan rasa fulfillment tersendiri. Namun lucunya, ketika kita merasa kitalah yang memilih hewan-hewan tersebut untuk diberikan kasih sayang, boleh jadi keadaan sebenarnya tidak persis seperti begitu. Seperti yang ditunjukkan oleh film panjang kedua dari Noviandra Santosa ini. Bahwa justru sesungguhnya hewan tersebutlah yang telah memilih kita untuk menjadi keluarga mereka!
June & Kopi really put us into that perspective. Karena tokoh utama film ini ternyata memang bukan karakter manusianya. Melainkan seekor anjing putih yang hidup di jalanan. Ia bertemu dengan perempuan bernama Aya (Acha Septriasa siap untuk berikan percikan emosional buat film ini) saat sedang diuber oleh anak-anak. Kebaikan hati Aya yang memberikan perlindungan dan makanan, dan bahkan nama – Aya memanggilnya June – membuat si anjing putih jadi ‘memilihnya’ sebagai keluarga. June ngikutin Aya pulang dan akhirnya dijadikan peliharaan. Tapi ternyata suami Aya tidak begitu suka dengan June karena mereka sudah punya peliharaan, seekor anjing hitam bernama Kopi. Maka June berusaha untuk benar-benar diterima di keluarga tersebut. Dia berusaha membahagiakan Aya, berusaha untuk bonding dengan Ale sang suami. Dan ketika pasangan tersebut dikaruniai anak, June berusaha sekuat tenaga untuk mengenyahkan traumanya terhadap anak-anak supaya bisa menjadi teman terbaik bagi anak Aya.

Anjing yang alergi anak manusia

 
Kamera pun akan sering untuk benar-benar literally meletakkan kita ke dalam sudut pandang June. Dalam adegan opening misalnya, kamera diletakkan seolah diikat pada kepala June sehingga kita melihat langsung apa yang dilihat oleh karakter ini sepanjang dia berkeliling gang, melihat aktivitas warga. Treatment dalam opening ini efektif sekali dalam membangun pemahaman kita, dan terutama untuk mengeset tone film secara keseluruhan. June & Kopi adalah drama tentang hubungan anjing dengan manusia yang ringan dan menghibur, dengan sudut pandang yang unik. Menempatkan June di kursi depan, dan konsisten membangun karakter ini.
Aku pernah berusaha memposisikan kucingku di depan laptop untuk konten di Youtube, sehingga aku punya sedikit gambaran soal betapa sulitnya ngarahin hewan untuk melakukan apa yang kita mau di depan kamera. In fact, mungkin itu juga sebabnya kenapa terakhir kali ada film Indonesia tentang anjing dan manusia itu adalah di tahun 1974 (Boni & Nancy garapan John Tjasmadi). Perlu great effort dan ngambil resiko, sehingga gak banyak produser sini yang berani. I mean, film barat aja sekarang lebih memilih pakai CGI kok dibanding pake aktor hewan beneran. Tapi Noviandra Santosa dalam June & Kopi membuat itu semua tampak mudah. Si anjing June tampak begitu luwes dan natural di depan kamera. Aktor berkaki empat yang ia arahkan juga memang sepertinya sudah pinter dan terlatih. Kita melihat June bisa berhitung lewat gonggongan, atau Kopi yang mampu membuka dan menutup pintu dengan kaki depannya. Sang sutradara memastikan kepandaian para aktornya bisa masuk ke dalam cerita, tertangkap oleh kamera dengan adorable, dan dia melakukan ini dengan mengerahkan segala yang bisa. Termasuk editing dan timing yang cukup precise.
Kepandaian anjing itu juga dimasukkan ke dalam bobot drama. This is my most favorite part of this movie. Jadi, Kopi dan suami Aya sudah demikian akrab sehingga mereka punya ritual salaman tersendiri. Salaman yang khusus untuk mereka berdua. Film ini memperlihatkan itu sebagai bagian dari motivasi/goal untuk June. Anjing putih itu ingin juga salaman dengan suami Aya. Sepanjang film momen itu dibangun; ketika Aya sekeluarga mau pergi, misalnya, kita melihat June mengangat kaki depannya sepintas ke arah suami Aya tapi gak dinotice. Momen kayak gitu memperkuat hati film ini. Membuat kita peduli kepada June. Membangun perhatian dan emosi kita ke arah sana, kita semua jadi ingin melihat momen berbahagia ketika June salaman dan akhirnya beneran diterima oleh sang kepala keluarga. Film ini memainkan momen-momen itu dengan sangat baik. Aku gak akan ngespoil ujungnya gimana, but just fyi momen tersebut dibungkus dengan adegan yang menarik-narik perasaan haru kita.

Hewan punya feelings dan mampu merasakan emosi seperti cinta, ataupun sedih, seperti yang ditunjukkan oleh film ini, bukanlah fiksi. Hewan adalah makhluk hidup. Maka kita tidak dibenarkan untuk memelihara hewan hanya untuk bersenang-senang, atau dipamerkan di sosial media. Kita dituntut untuk punya tanggung jawab dalam memelihara mereka. Menurutku film ini hadir tepat waktu sekali, saat belakangan viral orang-orang yang membeli hewan-hewan eksotik seperti monyet hanya untuk konten video. Atau lebih parah lagi, berita soal kucing yang dikuliti atau untuk dijadikan makanan. Film ini bisa sebagai pengingat buat kita. Bahwa hewan, sekalipun bisa dipelihara karena lucu dan jinak, bukan berarti mereka sama dengan mainan untuk lucu-lucuan. Apalagi untuk dimakan. Hewan makhluk hidup yang sama seperti kita. Butuh cinta. Butuh keluarga.

 
Karakter manusia seperti Aya awalnya juga cukup mendapat porsi cerita. Film sempat membahas persoalan mereka sebagai keluarga. Kita diperlihatkan informasi bahwa pasangan ini adalah pasangan yang sempat kehilangan calon anak mereka. Kita juga diperlihatkan bagaimana karir profesional Aya sebagai penulis komik mendapat hantaman keras saat publisher memecatnya lewat telefon. Ini semua membuat kita jadi punya ekspektasi bahwa film ini punya narasi atau cerita yang kompleks, dengan banyak lapisan menyertai premis hubungan manusia dengan ‘sahabat terbaik manusia’. Namun sayangnya, film ini justru jadi mengerucut. Seperti segitiga terbalik. Semakin ke belakang, bahasan dan cerita film ini malah semakin mendangkal. Dunia cerita yang mendapat perluasan dengan penambahan karakter (putri Aya), tidak mendapat penggalian yang konsisten. Pembahasannya hanya skim on the surface. Masalah Aya dan kerjaannya tidak pernah dibahas lagi – solusinya datang begitu saja, cukup dengan Aya membuat komik terinspirasi dari June dan Kopi. Persoalan yang konsisten dibahas adalah ketidakakraban June dengan suami Aya, yang ini pun dilakukan dengan sangat monoton. Percakapan sehari-hari Aya dan sang suami selalu tidak lepas soal “kamu kok belum bisa akrab dengan June”. Hal tersebut diperparah oleh karakter si suami yang jadi annoying berkat obrolan dan masalah yang itu-itu melulu.

Kalo aku sih sepertinya tidak dianggap keluarga oleh kucingku, cuma dianggap babu saja.

 
 
Ketika anak hadir dalam keluarga mereka, kupikir itu bakal jadi tantangan berat buat June. Setidaknya film akan memperlihatkan proses June dalam menyingkapi hal tersebut. Tapi ternyata tidak. Dengan gampang saja dia bonding dengan si anak. Si anak itu sendiri juga, dia disebutkan oleh dokter mengidap asma. Dan kupikir lagi tadinya ini akan jadi rintangan untuk persahabatan June dengannya. Tapi enggak. Film enggak menjadikan asma itu apa-apa untuk narasi besar film ini. Malah dokter dalam film ini nyebut June gak ada hubungannya sama sekali dengan asma si anak. Ini membuat semua informasi sebelumnya itu jadi pointless banget.
Peristiwa ‘kupikir-tapi-ternyata-tidak-begitu’ ketiga datang dari melihat judul film ini. Kupikir film benar-benar akan menitikberatkan pada June dan Kopi. You know, karena judulnya June-and-Kopi. Tapi ternyata Kopi is barely do anything in the movie. Kerjaannya cuma baring-baring di lantai. Peran Kopi hanya sebagai plot-device, untuk membuka pintu saat June dikurung. Atau hanya untuk komedi aneh bersama karakter teman Aya yang somehow dibikin kayak ngerti bahasa anjing saat adegan dia ‘ngobrol’ sama Kopi. Lucu? boleh jadi. Make sense? no dan ini gak nambah apa-apa, pointless juga buat cerita. Film ini kayak punya banyak build-up dan dilupakan begitu saja. Seperti soal Kopi; aku gak tahu ini intentional atau tidak, tapi cara film ini memperlihatkan kegiatan si Kopi – yang seringkali dikontraskan dengan June – seolah film ini sedang membangun ke sesuatu. Kopi dikesankan seperti dikucilkan, anak Aya tak sekalipun ngajak dia main. Membuatku mengantisipasi bakal ada sesuatu yang penting dari Kopi. Dan ternyata memang ada, tapi gak klop dengan cara film membangunnya. Juga soal perangkap-perangkap di hutan itu; film memperlihatkan ada banyak sehingga tanpa sadar mereka membangkitkan pertanyaan lain yang gak ada hubungannya dengan niat film memperlihatkan jebakan itu sedari awal. Perangkap-perangkap itu malah membangun antisipasi kita kepada apa yang ada di hutan sehingga hutan perlu dipasangi perangkap sebanyak itu. Film ini menjelang akhir itu kayak membangun sesuatu yang ‘wah’, tapi ternyata sesuatu itu cuma difungsikan untuk hal lain yang terasa lebih sepele dibanding ekspektasi dari build-upnya.
Memang, yang film ini pilih untuk dikembangkan justru adalah hal-hal yang meminta kita untuk menyimpan logika di dalam laci. Tentu saja yang paling mengganggu buatku adalah soal keluarga Aya yang pergi liburan ke gunung – di saat anak mereka baru sembuh dari asma – dan meninggalkan kedua anjing di rumah, untuk kemudian kedua anjing ini nyusul ke vila di gunung. Kenapa? Kenapa membuat seperti ini, kenapa membuat June menempuh perjalanan melawan logika? Kenapa harus ke gunung? Padahal jika tujuannya untuk memisahkan June dan membuat dia jadi tampak seperti hero dan menempuh perjalanan/rintangan yang sulit, kenapa tidak membuat yang simpel dan gak jauh-jauh amat seperti simply June dikurung karena diduga menyebabkan asma dan ngikutin mereka liburan ke taman. At least, semua masih masuk akal dibanding membayangkan dua ekor anjing ke gunung menemukan keluarga mereka. Nah, yang seperti ini yang membuatku percaya naskah film ini masih belum matang-matang amat sehingga masih banyak plot poin yang mestinya bisa digarap dengan lebih baik lagi.
 
 
Jika kalian ingin melihat anjing beraksi di depan kamera, atau jika kalian penggemar anjing, film ini jelas bisa jadi hiburan yang bikin rileks. Film ini punya drama dan adegan-adegan yang bakal bikin kita merindukan hewan peliharaan di rumah. Keberanian film ini tampil sebagai cerita tentang persahabatan manusia dengan peliharaan saja sudah cukup pantas untuk kita apresiasi, karena memang benar-benar jarang film seperti ini. Namun jika ingin melihatnya dengan memakai lebih banyak logika dan secara teknikal, film ini tentu saja bukan film yang sempurna. Naskahnya masih banyak yang perlu dibenahi, penggaliannya masih tidak berimbang. Ini masih seperti film keluarga/anak-anak yang dimainkan dengan terlalu ringan ketimbang potensi sebenarnya yang dimiliki oleh materi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for JUNE & KOPI.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah saat ini kalian merasa membutuhkan hewan peliharaan? Kenapa iya atau kenapa tidak?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

AFFLICTION Review

“The second time you make it, it’s no longer a mistake.”
 

 
 
Horor selalu merupakan subyek yang menarik. Sebagai penonton kita akan selalu penasaran akan misteri-misteri, atau juga wujud-wujud seram tragedi yang berakar dari sisi gelap manusia itu sendiri. Karena berasal dari perasaan dan trauma manusia itulah, maka horor juga senantiasa berkembang. Manusia yang kompleks, menyebabkan horor juga ikut kompleks. Dan tampaknya horor bukan cuma menarik bagi penonton. Kita tentu banyak mendengar pemain film yang ingin ‘menguji nyali’ bermain horor. Di sisi pembuat film, horor dilihat juga sebagai tantangan.
Bagi sutradara Teddy Soeriaatmadja, horor jelas adalah sebuah ‘new realm’. Film Affliction sebagai horor perdananya ini, ia arahkan lebih sebagai thriller, karena film ini memang lebih menekankan kepada suspens dan intensitas pembangunan misteri dan drama antarkarakter. Yang belakangan disebut; tak ayal adalah elemen kuat yang membuat nama Teddy bergaung di kalangan pecinta film. Namun sayangnya, secara keseluruhan, film Affliction atau Pulang (judul versi Indonesia) ini never really hits home sebagai cerita horor atau thriller yang menyangkut manusia. Teddy tidak benar-benar memberikan sesuatu yang baru, baik kepada genre itu sendiri maupun kepada jam terbangnya sebagai sutradara kawakan. Karena arahan dan cerita Affliction ini begitu basic dan penuh oleh elemen-elemen yang sudah pernah kita lihat dalam horor-horor mainstream. Yang sepertinya memang ke mainstream itulah kiblat Teddy dalam menggarap film ini.
Cerita film ini bermula dengan cukup menarik dan menjanjikan. Setidaknya bagiku, karena Affliction mirip sama Relic (2020) – film horor yang masuk daftar top-8 ku tahun lalu. Tentang keluarga yang harus berurusan dengan penyakit Alzheimer yang diderita nenek yang selama ini tinggal seorang diri. Affliction ini bercerita dari sudut Nina, perempuan yang merasa bersalah karena ibu kandungnya baru saja tewas bunuh diri. Nina merasa kurang memberikan perhatian – apalagi karena keluarga Nina dan sang ibu tinggal serumah. Jadi untuk menebus dosanya itu, Nina beralih ke suaminya. Hasan. Hasan punya ibu yang tak pernah Nina kenal karena Hasan memang tidak pernah menyebut-nyebutnya. Maka itulah, ketika Nina mendengar kabar bahwa ibu Hasan di kampung tinggal seorang diri tanpa ada yang mengurus – belum lagi menderita Alzheimer yang membuat si ibu dipandang sebagai orang aneh, Nina lantas memaksa suaminya untuk pulang kampung. “Aku ingin mengurus Bunda”, kata Nina. Tapi begitu Nina, suami, dan kedua anak mereka tiba di kampung, keadaan Bunda dan misteri di rumah itu dengan cepat menjadi terlalu besar dan mengerikan, dan menyedihkan, untuk dihadapi oleh Nina.

Semua akan bikin horor pada waktunya

 
Bikin narasi horor atau thriller yang seram itu gak gampang ternyata. Horror should not means to scare people, but rather to make people feel terrible. Seram itu enggak selamanya berarti untuk menakuti orang. Di sinilah kebanyakan orang sering salah. Begitu juga dengan Teddy di Affliction. Di film ini Teddy tampak begitu keras berusaha menakut-nakuti kita (melalui jumpscare dan lain-lain), sehingga dia sendiri lupa ada peristiwa naas yang terjadi pada karakter-karakter di dalam naskahnya. Alih-alih menggali psikis Nina yang termotivasi untuk menjaga Bunda, film ini malah menutupi kita dari segitu banyak emosi dan pikiran dari para karakternya. Menjadikan mereka sebagai revealing untuk bikin kita lebih kaget lagi. Well, padahal penonton film kan bukan presiden yang seneng merasa kaget atau bingung. kita ingin merasakan perjalanan emosional yang humanis. Kita ingin merasakan betapa devastatingnya punya ibu yang digerogoti Alzheimer – yang kian hari kian terasa seperti orang asing. Kita ingin merasakan betapa kalutnya hidup yang gede bersama rahasia kelam. Kita tidak merasakan semua itu, karena film tidak mengeksplor. Semuanya hanya dijadikan plot poin semata. Dan by the time film akan berakhir, lapisan emosional itu baru diungkap sebagai twist, completely menyia-nyiakan emosi dan kengerian real-lagi-grounded. Padahal inilah horor sebenarnya yang dikandung oleh cerita, bukan hantu anak kecil atau arti Ari Kiba. Sebagai pembanding, Relic walau juga punya hantu beneran tapi tetap mewujudkan horor dari Alzheimer dan perasaan keluarga itu sendiri. Dalam Affliction, Alzheimer itu bahkan tidak lagi jadi soal di akhir cerita.

Manusia memang banyak melakukan kesalahan dalam durasi hidupnya. Kesalahan itu dimaksudkan sebagai pembelajaran untuk menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Maka dari itu, kita tidak boleh melakukan kesalahan yang sama dua kali. Karena kesalahan yang sama untuk kedua kalinya itu, bukan lagi sebuah kesalahan. Melainkan sebuah pilihan. Inilah hal paling mengerikan yang bisa kita bawa tidur setelah menonton film ini. Kontras antara Nina yang ingin kesalahannya tidak terulang sehingga ingin menjaga Bunda, dengan Hasan yang enggak mau belajar dan owning to his mistake, melainkan untuk merahasiakan dan menipu semua orang.

 
Akting Raihaanun Soeriaatmadja sebagai Nina cukup bagus. Ketika memarahi anaknya, Raihaanun natural kayak pas di Twivortiare (2019). But that’s about it. Ketika ngehandle drama dan ketakutan itu sendiri, terasa biasa aja, karena memang tidak banyak emosi yang bisa ia gali dan tarik dari karakternya. Secara keseluruhan akting dan dialog film ini pretty basic. Gak sampai ke level haunting dan creepy kayak pada horor-horor semacam Hereditary (2018). Karakter anak-anak yang hadir juga masih dangkal dan keberadaan mereka pun masih sebagai objek untuk ditakuti-takuti semata.  Mereka gak kayak anak kecil yang real, melainkan anak kecil di semesta horor kacangan Indonesia. Yang sulung kerjaannya cuma main hape, dan yang paling kecil kerjaannya menggambar. Film juga gak ngasih sesuatu yang baru terhadap trope klise anak-kecil ini (coba tebak anak bungsu itu menggambar apa!) Gak banyak yang dihasilkan dari hobi mereka tersebut. Hanya ada satu kali hape si anak dikasih ‘peran’, sementara si bungsu yang di awal-awal cukup menarik dengan smart-mouthnya, tapi toh tidak berperan apa-apa di dalam cerita. Hubungan mereka dengan nenek juga gak pernah disentuh.
Terkadang malah, dialog dan pengadeganannya dibikin kayak sang sutradara sengaja becandain trope horor yang ia pakai. Kayak Nina yang udah hampir berhasil kabur tapi balik lagi ke rumah karena ada yang ketinggalan. Atau soal anak misterius yang disangka bernama Ari Kiba tapi juga Nina yakin anak itu bernama Dimas Rangga, sehingga adegan Nina mengungkapkan teorinya itu jadi bukannya terasa penuh misteri melainkan kayak konyol. Ibnu Jamil sebagai Hasan gak menolong banyak karena karakternya sengaja dibikin terbatas, dan sebagian besar dia stuck di trope ‘suami-yang-keras-kepala-tak-percaya’. Pembawaan Ibnu yang sinetron banget membuat karakternya sering tampak nyaris over-the-top. Bagian yang cukup amusing bagiku adalah ketika Bunda alias si nenek ngetawain kerjaan Hasan yang psikolog anak. Adegan itu seperti membuktikan bahwa film ini punya selera humor, karena memang ada sebab musababnya si Bunda tertawa seperti itu; sebagai part of building the disturbing revelation. Tutie Kirana sama seperti Raihaanun, berusaha menggali emosi karakter di sumur yang dangkal. Beliau berusaha membuat Bunda tampil creepy. Tapi sekali lagi karena film ini penggaliannya cetek sementara cukup punya selera humor, adegan saat Bunda tiba-tiba lupa sama Nina dan cucu-cucu yang jadi lawan bicaranya jadi malah terasa weird karena itu mereka ngobrolnya tadi sambil senyam-senyum di meja makan. Sila bandingkan lagi dengan Relic, yang nampilin adegan nenek yang tiba-tiba lupa siapa lawan bicaranya itu dalam setting dan pengadeganan yang benar-benar menyokong untuk terasa serem.

Tukang Exorcist-nya siang sempakan, malam tasbihan

 
Gak klop seperti begitu itu juga kurasakan saat melihat ke visualnya. Aku suka warna-warna film ini. Banyak tone ungu atau lembayung jadi kayak suasana surealis, terutama karena film ini dibuka oleh adegan yang diedit seolah karakter melihat suatu peristiwa di dalam mimpinya. Hanya saja, warna film yang konsisten seperti ini hingga ke akhir tersebut terasa enggak klik dengan nuansa horor yang ingin dicapai. Terlebih ketika di babak ketiga film ngegas menjadi thriller bunuh-bunuhan. Cerita yang dangkal dan gak emosional di pertengahan juga membuat warna-warna tersebut kehilangan fungsinya. So it doesn’t really work for me. Karena film malah terasa kayak main aman. Semuanya terlalu bersih dan gak chaos. Padahal jika memang mengincar thriller mainstream yang berdarah-darah (seperti yang diset oleh adegan bunuh diri di opening), film harusnya jor-joran aja. Bangkitkan suasana seram dengan warna gelap. Gunakan properti, kalo perlu hancur-hancurin aja rumahnya. Aneh sekali melihat film yang beradegan kejar-kejaran dan bunuh-bunuhan tapi karakternya itu jatoh pingsan dengan sopan banget, di antara kursi-kursi. Tidak ada intensitas yang naik di final confrontation karena semuanya diadegankan dengan ‘aman’. Adegan Nina maculin tanah pake pickaxe aja tampak letoy banget. Padahal itu udah menjelang final. Untuk mainin ketegangan kita, film malah bikin Nina bolak-balik ngambil barang yang ketinggalan. Kan lucu!
Jika melihat dari naskah dan setting yang tertampilkan, film ini sepertinya bukan terlalu main aman. Bisa jadi malah, film ini hanya kurang usaha aja. Misalnya pertama soal kota dan desa yang perbedaannya gak kelihatan. Film ini memang memperlihatkan Nina berjalan di desa, tapi suasana desa itu gak ada pembanding. Karena saat di kota, kita hanya diperlihatkan mereka di rumah saja; yang bahkan gordennya ditutup. Sehingga kontras suasana itu gak terasa. Selebihnya, semua set di dalam rumah. Pindahnya mereka dari rumah di kota ke rumah nenek nunjauh di sana itu gak terasa dari suasana. Usaha film ini buat memperlihatkan set rumah nenek itu beneran di desa cuma dengan memposisikan termos jadul dan keranjang tradisional dalam warna dan penempatan yang mencolok. Selain itu, tidak ada lagi yang ‘dimainkan’. Setting film ini tidak pernah tampak hidup. Gak ada tempelan kertas berisi memo pengingat untuk nenek yang mulai sering hilang memori, yang jika dibaca bikin bulu kuduk kita merinding, kayak Relic. Film ini cuma punya botol obat sebagai penanda bahwa Bunda beneran sakit.
Kedua adalah dari naskahnya sendiri, yang terasa banyak lubang serta hal-hal yang sengaja didangkalkan. Misalnya soal pintu kamar yang terkunci. Film gak pernah bikin alasan yang jelas kenapa Bunda harus mengunci pintu kamar itu. Pintu itu hanya dikunci oleh naskah, sebab naskah gak mau bahas itu sebelum waktunya nanti. Padahal gak banyak juga revealing yang berarti di dalam kamar tersebut. Terus, soal melihat ‘doppelganger’. Jika melihat kembaran seseorang itu berarti si orang itu akan mati, kenapa dari tiga adegan melihat kembaran ini, hanya dua yang nantinya akan beneran mati. Apakah itu hanya berlaku buat Nina saja? Kalo iya, kenapa? Emang si Nina sebenarnya siapa? Nah rule soal ini gak pernah dibangun oleh film. Kita juga enggak pernah mengenal Nina lebih jauh. Lubang yang menurutku paling parah adalah soal Narsih, orang yang actually ngasih tahu kabar Bunda ke Nina. Si Narsih ini gak jelas darimana bisa tahu rumah Hasan, yang padahal si Hasan itu gak kenal dia karena gak pernah pulang ke kampung. Ini kejanggalan yang sama kayak di Perempuan Tanah Jahanam (2019) saat karakter Teuku Rifnu bisa nemuin wanita dewasa di kota gede, padahal dia hanya tahu wanita itu sebagai balita yang pergi dari kampung. Dan kayak gini itu sesungguhnya adalah masalah besar – sebuah red flag – pada naskah. Karena jika cerita kita bergantung kepada inciting inciden yang logikanya selemah itu, maka cerita tersebut niscaya akan susah untuk berkembang menjadi cerita yang exciting dan masuk akal. Semua pasti akan terasa dibuat-buat saja nantinya.
 
 
Dalam horor/thriller pertamanya ini, Teddy Soeriaatmadja tampak bermain terlalu aman. Dia seperti ingin mencoba membuat sesuatu yang appealing untuk mainstream, tapi juga tidak ingin jadi terlalu receh. Sehingga ini tampak jadi beban, karena filmnya ternyata jadi tampil setengah-setengah. Ceritanya penuh elemen-elemen horor mainstream yang juga mengandalkan jumpscare – meski tidak terlalu sering. Dengan suasana yang berusaha dibuat seperti surealis. Tapi ini jadi gak klop, sehingga filmnya malah terasa datar. Hiburanku nonton ini datang dari kelucuan yang anehnya jadi ikut tersaji dari beberapa pengadeganan film ini. Dari pengembangan plot dan karakter, film ini tidak lebih baik daripada horor Danur-Danuran, Asih-Asihan, dan Doll-Dollan. Raihaanun dan Tutie Kirana bermain bagus tapi kita dapat melihat betapa kemampuan mereka yang sesungguhnya disiakan di sini, karena film enggak mengeksplor karakter mereka. Sebagai cerita horor yang menilik penderita Alzheimer, film ini juga gak tampil kuat dan benar-benar ke arah sana. For that, we better watch Relic (2020) instead.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for AFFLICTION.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya kiat pribadi untuk membantu memastikan diri tak mengulangi lagi kesalahan yang sama untuk kedua kali?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA
 

PIECES OF A WOMAN Review

“It is better to plant good seeds than to mourn bad weather”
 

 
 
Tiga puluh menit pertama film Pieces of a Woman akan actually mencabik-cabik perasaan kita sehingga menjadi serpihan-serpihan. Aku nonton ini cuma ‘modal’ info bahwa di film ini akting Vanessa Kirby worthy banget untuk disaksikan. Aku tahunya cuma ini adalah cerita tentang seorang ibu yang kehilangan anaknya. Jadi aku udah siap bakal dapat cerita sedih, tapi aku certainly gak nyangka yang kusaksikan ini bakal begitu devastating.
Menit-menit awal cerita berlangsung cepat. Kita ngeliat karakter suami dan istri, dalam kerjaan mereka masing-masing, bersiap pulang – dengan harapan bayi mereka bisa lahir kapanpun at this point of time. Ketika mereka di rumah, kita melihat adegan yang hangat. Sean menguatkan Martha yang perutnya mulai ‘beraksi’. Mereka ngobrol dan bercanda. Mereka tampak udah siap banget, semua sudah direncanakan. Team work, begitu kata Sean dan Martha dengan kompak. Namun manusia memang hanya bisa berencana, selebihnya Tuhan yang menentukan. Air ketuban Martha malam itu pecah, sebelum waktunya. Perutnya berkontraksi hebat – dengan rasa sakit yang jauh dari perkiraan Martha. Dan bidan yang datang membantu persalinan bukan bidan langganan mereka, melainkan bidan pengganti karena bidan yang satu itu sedang dalam proses bersalin pasien yang lain. Segala ‘rusuh’ malam melahirkan ini ditampilkan oleh sutradara Kornel Mundruczo lewat sekuen unbroken yang panjang. Sehingga kita seperti berada langsung di rumah itu, menyaksikan keriwehan. Merasakan emosi dan panik dan bingung dan luapan perasaan lainnya yang menerpa pasangan tersebut. Aku juga gak tahu proses melahirkan itu seperti apa, sehingga ketika bidan di film ini berusaha menenangkan semua itu normal, aku juga berusaha tenang. But things do escalate quickly.
Dan ketika tragedi itu bener kejadian – film mengadegankannya dalam cara yang sangat hearbreaking – aku sadar menyaksikan semua itu dengan menahan napas!

Babak pertama paling horor!

 
Sekuen melahirkan yang horor itu ngeset ‘cerita sebenarnya’ film ini. Yakni tentang seorang perempuan yang harus menghadapi kehilangan dan duka. Trauma yang harus berani ia hadapi. Pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana Martha mengarungi hari-hari berikutnya. Apa pengaruh peristiwa tersebut bagi ‘kerja tim’ Martha dan Sean. Untuk menekankan bahwa rest of the movie sesungguhnya bahkan lebih naas lagi bagi para karakter, maka film mengontraskan suasana. Suasana hiruk pikuk pada babak pertama tadi tidak akan pernah kita temui lagi. Digantikan oleh atmosfer yang sebagian besar diam, tapi menyayat hati.
Semua itu sesungguhnya tercapai berkat penampilan Vanessa Kirby sebagai Martha, yang ternyata benar-benar luar biasa. Selain tampak begitu meyakinkan memainkan orang yang kesusahan dalam proses melahirkan, Kirby juga juara bermain emosi dalam diam – lewat tampilan ekspresi saja. Kita bisa melihat derita dari matanya. Kita bisa melihat bekas peristiwa itu membentuk perilaku hingga ke raut wajah Martha. Detil kecil seperti kedutan di pipi saat karakter ini mengatakan sesuatu gives us away perihal yang sebenarnya ia rasakan – dan saat itu yang ia katakan adalah hal yang berlawanan dengan yang ia pendam. Kirby paham bahwa karakternya ini punya coping mechanism berupa memendam trauma tersebut. Bahwa bagi karakternya ini kejadian menyedihkan tersebut akan berlalu jika ia simpan di hati, sehingga ia berusaha menjalani hidup secara normal. Kita melihat Martha masuk kerja gitu aja, membuat heran semua orang yang masih menatapnya dengan prihatin. Martha mengira dengan membuat keputusan seperti menyerahkan jenazah bayinya untuk bahan penelitian alih-alih dikuburkan dengan proper, maka itu berarti dia kuat dan move on. Namun justru sikapnya yang demikian itu yang membuatnya kian berjarak dengan orang-orang terdekat yang peduli kepadanya. Martha jadi renggang dengan suaminya. Martha juga bahkan jadi lebih renggang lagi dengan ibunya sendiri.
Film menganalogikan hubungan Martha dan keluarganya dengan pembangunan jembatan. Transisi dari satu periode waktu ke waktu yang lain oleh film ini dilakukan dengan menampilkan shot jembatan yang sedang dibangun. Ini menyimbolkan Martha itu sendiri; yang tadinya berjarak kemudian seiring berjalan waktu akan tersambung dengan orang lain, seperti jembatan itu yang seiring waktu terkonek dengan sisi seberang. Film ini menunjukkan proses Martha dalam ‘menyambung’ kembali dirinya dengan dunia luar. Proses itu sendiri disimbolkan oleh film sebagai apel. Kita akan melihat Martha gemar makan apel, sampai-sampai dia lalu memutuskan untuk mencoba menanam biji apel. Tindak menanam ini paralel dengan sikap Martha yang memendam. Apel itu sendiri juga akhirnya menjadi kunci dari perjalanan acceptance Martha. Mungkin Martha menanam apel karena naluri untuk membesarkan sesuatu, tapi yang lebih penting adalah tindakannya tersebut menunjukkan bahwa Martha lebih memilih untuk membesarkan suatu kehidupan ketimbang membesarkan dendam atau permasalahan. Dan seperti jembatan yang semakin tersambung, bibit apel yang ia tanam juga semakin membesar. Hingga benar-benar menjadi pohon rindang seperti yang kita lihat pada ending. Film memang meninggalkan banyak pertanyaan di ending tersebut (nasib akhir beberapa karakter ataupun perihal kemunculan karakter baru), tapi yang diperlihatkan olehnya sudah lebih dari cukup. Karena ending itu membuktikan pertumbuhan dari karakter Martha; hasil yang positif dari perjuangannya bergelut melawan grief dan trauma.

Apa yang kita tanam pada masa-masa sulit, akan tumbuh untuk dipanen menjadikan masa-masa yang bahagia. Perjalanan-inner Martha memperlihatkan kepada kita bahwa lebih baik untuk menanam harapan daripada meratapi kejadian buruk yang telah terjadi

 
Pieces of a Woman memang bekerja terbaik saat memperlihatkan Martha yang berjuang menyembuhkan dirinya keping demi keping. Hanya saja, film sering tidak komit terhadap ini. Sudut pandang ceritanya, terutama setelah babak pertama itu, akan sering berpindah-pindah. Aku paham bahwa film ingin mengontraskan proses grieving Martha dengan Sean suaminya, untuk memperlihatkan betapa dahsyatnya efek peristiwa kematian anak tersebut. Shia LaBeouf juga bermain dengan sepenuh hati sebagai Sean yang memilih untuk meluapkan derita, alih-alih memendam. Kita lihat karakter ini berpaling ke alkohol, sering bertindak kasar, dan bahkan sampai selingkuh. Aku paham kepentingan untuk menggali karakter ini. Namun, seringkali Sean jadi menutupi kita ke Martha itu sendiri. Karena Martha yang didesain untuk jadi distant dengan setiap orang, dan Sean yang lebih terbuka, membuat film ini malah jadi seperti cerita yang nonjolin Sean. Dengan kata lain, tidak lagi konsisten dengan sedari awal. Kita malah jadi tidak diperlihatkan banyak mengenai siapa si Martha itu. Ambil contoh adegan opening. Sean malah lebih banyak dibahas, kita melihat dia berinteraksi di lingkungan kerjanya. Informasi dia punya istri, yang mau melahirkan, lalu kemudian hubungan dirinya yang pekerja kuli dengan mertua yang kelas jet-set, semuanya terangkum dalam sepuluh menit pertama. Sedangkan, karakter utama film ini – si Martha – informasinya sudah sedikit di awal. Kita hanya melihat dia berjalan pulang dari kantor, tanpa jelas apakah dia gugup melahirkan, apakah dia excited, apakah dia hanya kecapekan.

Aku kalo dilempar bola pasti langsung bales nimpuk pake apel!

 
Mengenai mertua Sean, alias ibu Martha; juga sama. Karakter ini lebih banyak dibahas hubungannya dengan Sean. Ibu Martha gak suka sama Sean, dan Sean menganggap beliau melecehkan posisinya sebagai kepala keluarga. Tapi kedua karakter ini mau untuk ‘bersekongkol’ demi Martha. Bahasan kedua karakter ini lebih kompleks. Sedangkan hubungan si Ibu dengan Martha hanya dirangkum lewat satu adegan monolog – yang aku akui cukup emosional. Kita lebih banyak melihat mereka melihat Martha, ketimbang melihat Martha itu secara langsung. Dan ini jadi mengecilkan karakter Martha itu sendiri. Film ini harus menyadari betapa beruntungnya ada Vanessa Kirby yang menghidupkan karakter Martha jauh beyond apa yang ditampilkan pada naskah. Karena naskah hanya meniatkan kita untuk melihat Martha sebagaimana Sean dan Sang Ibu melihatnya. Sebagai pribadi yang dingin, yang berjarak, yang mengambil keputusan aneh. Berpindah-pindah sudut pandang itu membuat journey film tidak lagi clear. Kita baru hanya akan mengerti pada apa yang dirasakan Martha sebenarnya – pada apa yang kubicarakan di atas – pada saat menjelang akhir. Ketika Martha membuka diri dan membuat pilihan di persidangan yang tadinya beragenda menuntut bidan yang membantunya melahirkan.
 
 
 
Jadi aku pikir film ini sesungguhnya bisa sangat emosional, jika fokus menempatkan kita kepada sudut pandang Martha. Namun film ini mengambil penceritaan yang aneh, membuat kita berpindah-pindah, malahan membuat kita ikut merasa distant terhadap Martha. Bukannya distant bersamanya. Padahal film butuh untuk kita lebih banyak ikut merasakan kontemplasi Martha. Bukan sekadar sebagai revealing atau solusi instan di akhir cerita. But I do like the first act. Tiga puluh menit pertama itu benar-benar cocok dibikin dengan menempatkan kita sebagai penonton yang melihat semua. Sehingga emosinya benar-benar terasa.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PIECES OF A WOMAN.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian apa makna kepergian Sean bagi pertumbuhan karakter Martha? Bagaimana tanggapan kalian mengenai dinamika keluarga yang digambarkan oleh film ini; realistis atau tidak?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

MA RAINEY’S BLACK BOTTOM Review

“You have to be determined to change the world … Even though nothing changes.”
 

 
 
Semua orang bekerja keras supaya jadi sukses. Semua orang ingin sukses, well, demi alasan yang beragam. Mulai dari tujuan yang noble seperti membahagiakan keluarga. Hingga yang sedikit lebih personal. Ada yang bekerja keras menjadi sukses supaya tidak perlu lagi memperkenalkan dirinya. Ada pula yang bekerja keras menggapai sukses supaya bisa mengubah dunia. Levee, karakter dalam film Ma Rainey’s Black Bottom yang diadaptasi dari teater, ingin sukses supaya bisa seperti Ma Rainey si penyanyi blues tersohor itu. Supaya produser musik kulit putih tunduk dan mendengarkan apa maunya. Karena Levee punya pandangan baru mengenai musik blues, that he knows better, dan dia ingin menaikkan derajatnya demi keluarga. Ya, Levee pengen sukses untuk ketiga tujuan tadi. Maka dari itu, cerita film ini akan berakhir mencekat bagi dirinya.
Keseluruhan cerita Ma Rainey’s Black Bottom berlangsung dalam kurun satu hari, dan practically sebagian besar berlokasi di satu tempat yang sama. Jadi ceritanya memang akan sangat contained. Cerita ini berlangsung di gedung rekaman musik. Ma Rainey yang terkenal itu akan ngerekam album, tapi dia belum datang. Sehingga kita dibawa ke basement, berkenalan dengan empat anggota band pemusiknya. Salah satunya adalah Levee, si peniup terompet. Pemusik muda berbakat, yang punya visi dan ambisi besar. Levee ingin menulis musik sendiri. Dia bahkan sudah menyiapkan satu untuk dipitch kepada produser rekaman ini. Ada sedikit ketidakcocokan antara Levee dengan Ma, mainly karena Levee sedikit mengubah aransemen lagu Ma, dan dia percaya gubahannya ini bakal lebih laku. Yang terang saja ditolak oleh Ma. Ketidaksamaan mereka berujung pada ‘rusuhnya’ proses rekaman.
Jika Levee bersedia melakukan apapun untuk mengorbitkan dirinya sendiri – termasuk enggak koperatif dengan band, maka Ma juga tidak kalah sukarnya untuk diajak bekerja sama, at least bagi produser rekaman. Namun begitu, ada begitu banyak yang bisa kita simak di balik gambaran kedua karakter ini. Lewat kisah Levee dan Ma Rainey yang lagi rekaman musik di Chicago 1920an ini, film secara khusus menyoal masalah rasisme yang masih terus bergulir, dan secara umum juga membahas dinamika keahlian yang dimiliki oleh seseorang dengan kuasa yang menyertainya.

Kayaknya Ma Rainey ini-lah yang mempelopori musisi harus banyak maunya kalo disuruh nyanyi

 
 
Karena film ini tadinya adalah naskah teater, maka memang akan banyak sekali dialog yang akan kita dengar. Tapi jangan khawatir, tak akan sedetik pun dari film ini yang bikin kita mengucek mata yang berair karena kebanyakan menguap. Sebab craft film ini dalam menghidupkan dialog-dialog, yang ditulis dengan cerdas dan menantang, adalah tingkat juara.
Pertama tentu saja soal permainan aktingnya. Semuanya bagus banget. Yang bikin was-was itu adalah karakter Ma Rainey, karena biasanya karakter yang berasal dari tokoh asli kayak gini ekstra sulit karena tuntutan perbandingan dengan versi aslinya. Karakter kayak gini punya kadar seimbang yang harus dicapai sehingga hasilnya tidak tampak seperti parodi, melainkan berhasil menghidupkan dengan respek. Viola Davis berhasil untuk membuat Ma versi dirinya tak tampak sebagai parodi ataupun tak tampak hanya sekadar bermain ‘pura-pura’. Meskipun permintaan Ma dalam film ini terdengar komikal, tapi lewat ekspresi Davis kita merasakan urgensi. Kita merasakan weight dan tensi yang real, bahwa karakter ini gak main-main ketika dia minta kola dingin sebelum rekaman (dan tak akan mulai rekaman sebelum ada kola). Kita juga dapat merasakan karisma sosok Ma Rainey tersebut. Secara desain naskah, karakter Ma ini dimaksudkan sebagai ‘antagonis’ dari Levee, tapi film ini tidak berniat untuk membuat semua hitam-putih. Sehingga tantangannya adalah membuat penonton melihat sesuatu di balik cara pandang Levee terhadap Ma. Dan film ini berhasil. Permainan akting para aktor sangat membantu mencapai dinamika yang diinginkan.
Menurut IMDB, ini adalah film terakhir Chadwick Boseman. Istilahnya, ‘swan song’ buat Boseman. Dan mengetahui hal tersebut, membuat film ini terasa semakin mencekat saja. Boseman main film ini sambil berjuang dalam pengobatan kanker, yang ultimately merenggut nyawanya. Aku tau aktor profesional selalu memberikan kerja maksimal dalam setiap pekerjaan mereka, tapi melihat aktingnya yang begitu intens – khususnya di satu adegan monolog mempertanyakan Tuhan – dalam film ini, I wonder apakah Boseman ‘tahu’. Karena emosi yang ia tunjukkan tampak amat, sangat real. Amarah dan terlukanya karakter Levee ini menguar kuat di balik sikapnya yang tampak konfiden akan perubahan besar yang bakal ia bawa melalui bakat musiknya. Sama seperti Ma tadi, walaupun tokoh ini didesain sebagai protagonis, tapi lewat akting yang benar-benar tepat memaknai naskah, Levee juga seringkali membuat kita khawatir, atau kita tidak merasa setuju dengannya. Range karakter ini juga luar biasa. Di awal kita akan melihat dia dengan senyum dikulum “aku tahu kapan harus tersenyum, aku bisa tersenyum kepada siapapun yang ku mau” dengan ambisi terasa kuat di balik sifat optimis, dan di akhir saat dia tampak menyangkal dan meluap, kita bisa merasakan penyesalan dan pembelajaran merebak di hatinya. Boseman berpindah dari arahan yang menyuruhnya untuk subtil ke meledak, dengan sangat precise. Tanpa terbata melainkan sangat meyakinkan. Tak pelak, perfilman benar-benar telah kehilangan aktor sehebat Chadwick Boseman.
Kalo kata Mr Sneecbly “You’re gonna be a footnote on my epic ass!”

 
 
Kedua, ya tentu saja tulang punggung film ini. Naskah. Penulisannya keren banget. Walaupun isinya orang-orang ngobrol – mau berdebat atau bercerita – tapi tidak monoton. Ada eskalasi yang terasa. Percakapan mereka pun sangat imajinatif. Misalnya ketika berbincang soal analogi ras kulit hitam dengan makanan. Benar-benar fantastis untuk disimak. Pun terasa kepentingannya sebagai menyuarakan struggle ras yang seperti tak akan ada habisnya.
Komentar tentang perjuangan ras memang jadi pilar utama film ini. Film ingin kita ikut duduk mengobrolkan soal bagaimana cara terbaik melakukan perjuangan tersebut. Levee dan Ma adalah ‘studi kasus’ yang mewakili dua bentuk perjuangan. Memahami perbedaan sikap kedua karakter tersebut akan membuat kita mengerti dengan gagasan yang ‘ditandingkan’ oleh film ini. Ma Rainey, yang dijuluki Mother of Blues. Dia reluctant menggunakan julukan tersebut. Karena musik blues, katanya, sudah ada dari dulu. Dan bahwa orang harusnya tahu dulu sejarah, jangan tau memainkan musiknya saja. Pernyataan dan sikap Ma inilah yang jadi kunci – yang paling membedakan Ma dengan Levee. Yang membuat Levee tidak akan bisa seperti Ma. Bahwa Ma berjuang bukan demi ambisi pribadi. Kita melihat Ma bersikeras keponakannya yang gagap ikut dalam rekaman album, kita melihat Ma bersikeras keponakannya dan anggota band dibayar tunai sehabis rekaman. Ma peduli kepada rombongannya. Ma peduli pada perjuangan bersama.
Sedangkan Levee, dia sudah siap untuk keluar, nyiptain musik sendiri, bikin band sendiri. Levee bahkan sulit ‘bekerjasama’ dengan Tuhan, karena dia gak percaya. Dia menggunakan uang hasil main musiknya untuk beli sepatu – sebagai bentuk ‘puk-puk’ terhadap dirinya sendiri. Levee sama seperti Ma, berjuang demi derajat ras yang lebih baik. Bedanya Levee bergerak demi dirinya sendiri terlebih dahulu. Dia bersikeras berjuang untuk mendobrak pintu, hanya untuk menemukan dirinya sendirian tak akan bisa mencapai ke mana-mana. Hal ini divisualkan oleh film lewat adegan yang bernuansa cukup sureal di mana Levee akhirnya berhasil membuka pintu di ruang latihan hanya untuk merasa semakin terkungkung, bukannya semakin bebas.

Setiap perjuangan yang kita lakukan adalah untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Tapi itu tidak berarti perubahan akan langsung terjadi. Makanya, penting bagi kita untuk berjuang dengan mengingat ke belakang. Supaya kita bisa mengingat ‘lebih baik’ itu untuk siapa. 

 
Sebagai kulminasi dari cerita, penampilan akting, arahan, dan penulisan itu sendiri, film berakhir dengan terasa sangat ironis. Perjuangan Levee sendirian itu dengan sangat mudah ditampik. Dia tidak accomplish apa-apa selain melukai kaumnya sendiri. Berbeda sekali dengan Ma yang pada akhirnya bukan hanya karirnya menjadi lebih secure, dia juga membawa ‘security’ bagi orang-orangnya. Yang berarti perjuangan mereka masih akan berlanjut. Eventually dunia akan berubah jika semakin banyak orang mengusahakan hal yang sama.
 
 
 
Film ini adalah proyek kedua dari Denzel Washington yang 2015 lalu mengumumkan bahwa dirinya akan membuat film berdasarkan naskah teater karya August Wilson. Aku suka banget sama film proyek pertamanya, Fences yang keluar tahun 2016. Dan film yang kali ini, aku dengan senang hati sekali memberitahu, bukan hanya mempertahankan prestasinya punya penampilan akting yang memukau, tapi juga ceritanya bahkan lebih emosional lagi. So yea, I also like this movie very much. Sutradara George C. Wolfe ditunjuk untuk menggarap cerita, dan yang ia bikin untuk kita adalah suatu tontonan yang begitu menghantui. Hingga lama setelah kita menontonnya.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for MA RAINEY’S BLACK BOTTOM
 
 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian merasa kecewa saat telah berjuang keras tapi merasa tidak mengubah apapun?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA
 

TARUNG SARUNG Review

“Prayer is the time you spend one-on-one with God”
 

 
 
Petinju punya ring sebagai medan berlaga. Petarung MMA punya octagon. Pesumo berantem dalam lingkaran dohyo. Cabang bela diri punya ‘sajadah’ sendiri, punya keunikan sendiri, tapi sebenarnya punya prinsip yang sama; Konfrontasi satu-lawan-satu, dengan skill dan teknik seni tersendiri. Sebelum menjadi sebuah kompetisi, ini adalah bentuk komunikasi – penyelesaian masalah – dari manusia satu ke manusia lainnya, yang telah mengadat budaya sesuai daerah masing-masing. Dan tak banyak dari kita yang sebelumnya tahu, daerah Makassar punya beladiri yang unik. Yang mempertemukan petarungnya bukan di atas ring ataupun di dalam kerangkeng. Melainkan di dalam sarung.
Budaya Tarung Sarung dari Makassar itulah yang diangkat oleh Archie Hekagery dalam drama aksi terbarunya. Hekagery menyusun narasinya ini ke dalam kerangka cerita kompetisi. Tokoh jagoan kita di sini adalah Deni, remaja anak orang kaya yang dikirim pulang kampung. Deni disuruh mengurus perusahaan keluarga di sana, sebagai bukti dia bisa berguna bagi keluarga. Tapi tentu saja, layaknya anak muda, Deni malah terlibat urusan asmara. Deni berseteru dengan jagoan di sana – jagoan yang telah berturut-turut menjuarai kompetisi Tarung Sarung. Demi membantu dan membela kehormatan teman-teman yang ia kenal di sana, Deni menyanggupi tantangan untuk ikut dalam kejuaraan Tarung Sarung nasional yang akan diselenggarakan satu bulan lagi. Dalam waktu yang singkat itu Deni harus berguru, tapi dengan syarat yang tentu saja tidak mudah bagi dirinya. Sama tak mudahnya dengan latihan yang harus anak kota itu jalani. Turns out, Deni belajar lebih banyak daripada sekadar ilmu beladiri.

Dia juga belajar bahwa masakan ikan di Makassar itu rasanya enak sekali

 
 
Ya, ini adalah bentukan cerita yang sudah familiar sekali bagi kita. Kisah kompetisi yang tokohnya underdog alias terlihat gak ada harapan untuk menang. Musuhnya jauh lebih berpengalaman. Dianya sendiri ‘lembek’. Serta ada elemen hubungan si protagonis dengan guru yang awalnya ogah untuk melatih. Film Tarung Sarung ngikutin persis beat-per-beat formula cerita ‘underdog dalam kompetisi’. Namun, yang membuat film ini sedikit berbeda adalah karakter si protagonis underdog-nya itu sendiri.
Si Deni itu bukanlah tipe karakter yang mengundang simpati kita. Dia bukan anak baek-baek, yang terlalu sombong atau terlalu naif. ‘Dosa’ Deni ini udah terlampau banyak sedari awal. He’s a spoiled rich kid, yang hal baik dalam dirinya cuma dia ringan tangan untuk berbagi. Deni percaya uang membuat semua orang bahagia, jadi dia yang punya banyak uang itu enggak pelit dan selow aja bagi-bagiin harta untuk membuat orang senang. Untuk membereskan masalahnya. Deni punya banyak anak buah yang siap disuruh-suruhnya untuk mengeroyok mukulin orang. Deni juga tidak percaya Tuhan, dia ogah beribadah, dia gak mengaku beragama. Panji Zoni juga mengapproach karakternya ini dengan akting yang membuatnya mirip tokoh jahat ala cerita gangster Jepang.
Film Tarung Sarung mengambil resiko besar membuat protagonis ceritanya orang yang begitu unlikeable seperti ini. Dia ini dibikin kayak antihero or something. Sehingga pada awal-awal cerita, memang susah bagi kita untuk ngikutin cerita ini. Aku gak merasa benar-benar peduli sama Deni. Apalagi karena dia dikelilingi oleh karakter-karakter konyol yang difungsikan untuk membalancekan tone. Menjadikannya lebih pop. Supaya kita merasa senang karena mereka lucu. Padahal malah semakin annoying. Aku awalnya malah ragu bagaimana elemen underdog bisa worked jika karakternya dibuat unlikeable. Tapi seiring berjalannya cerita, seiring kita semakin mengerti kemana arahan progres cerita, karakter Deni terasa semakin membaik. Development karakternya dalam durasi nyari dua jam ini begitu gede. Deni bukan semata berhasil membuat kita bersimpati, melainkan, he really earns it.
Kultur kedaerahan seperti tarung sarung itu sendiri, dan juga agama, dimainkan ke dalam formula cerita underdog tadi. Dengan satu lapisan lagi yakni lapisan fish-out-water. Inilah yang jadi pembentuk karakter Deni. Anak kota, yang percaya uang sebagai jalan keluar, yang jauh dari agama, yang main keroyokan, dibentrokkan ke dalam lingkungan yang lebih kekeluargaan, yang erat dalam keagamaan, yang menjunjung tinggi spiriatualis one-on-one. That’s the grand design dari karakterisasi Deni. Karakternya dibuat seperti demikian supaya bisa memuat makna kultur tarung sarung yang selaras dengan agama, dengan harapan supaya kita bisa ikut belajar bersama Deni. Buatku aspek yang menarik dari konteks ini adalah soal satu-lawan-satu dan pencerahan Deni terhadap agamanya. Dalam beladiri tarung sarung, mau tak mau Deni memang harus satu lawan satu dengan lawan di dalam sarung. Dan bagaimana sarung juga merupakan atribut ibadah, yang dipakai saat Deni berkomunikasi one-on-one dengan sang Pencipta. Ada koneksi di sini. Yang dapat kita lihat dijadikan solusi oleh Deni pada adegan final fight yang cukup nyeremin itu.

Satu-lawan-satu dalam berantem actually lebih terhormat dibandingkan keroyokan. Karena benar-benar mengetes keberanian saat kita menatap langsung mata musuh. Apalagi jika berada dalam satu tempat yang dekat, seperti dalam ring atau malah rentang satu sarung. Keberanian inilah yang harus dipelajari oleh Deni; keberanian yang akan mengantarkannya kepada keikhlasan. Dan cara terjitu membuktikanny adalah dengan belajar sholat. Karena saat beribadah, Deni akan di dalam sarung sendirian, mata-ke-mata dengan Allah.

 
To address the elephant in the room; ya film ini jelas sekali terinspirasi oleh The Karate Kid (1984). Nama lengkap Deni aja Deni Russo, throwback ke protagonis The Karate Kid yang bernama Daniel LaRusso. Tahap-tahap latihan beladirinya juga mirip, Yayan Ruhian jadi ‘Mr.Miyagi’nya di sini. Nyuruh Deni nepok nyamuk dan beresin sendal mesjid pakai kaki sebagai bentuk latihan yang tak Deni sadari. In fact, film Tarung Sarung ini menjadi meta tatkala Deni dan Tenri (love interestnya) melihat poster film The Karater Kid. Mereka berdua mengenali film tersebut, bicara tentangnya, Deni malah menyebut dirinya taunya cuma Karate Kid versi remake dan suka sama film tersebut. Dengan begitu, gak masalah bagiku film ini punya elemen cerita dan beat yang The Karate Kid, toh filmnya sendiri embrace it.  Hanya saja, menurutku film ini melewatkan kesempatan untuk bermain lebih jauh dalam ranah meta tersebut. Karena kan aneh, karakternya tahu film Karate Kid, tapi gak nyebutin apa-apa soal kejadian yang ia lalui persis sama dengan film itu. Menurutku film ini mestinya bisa have fun lagi, totally bermain di ranah meta alias bikin self-aware aja. Daripada menyebutkan/menampilkan sekilas yang malah jadi kayak sebagai alasan aja.

Like, “tuh lihat kami nampilin poster Karate Kid, jadi ya kami memang sengaja kok nyamain ama film ini”

 
 
Memang, ada beberapa titik dalam film ini yang masih bisa diperbaiki penuturannya, atau ditambah eksplorasi penulisannya. Misalnya adegan opening di bar yang sempat kusinggung sekilas. Di opening ini tidak langsung kelihatan bahwa tokoh utama cerita adalah cowok yang ngeroyok orang yang udah minta maaf. Deni malah tampak seperti penjahat. Apalagi karena momen pembuka film ini exactly adalah nampilin karakter yang ternyata bukan siapa-siapa di cerita sedang nonton liputan kompetisi tarung sarung di handphonenya. Adegan nonton itu tidak perlu, karena pertama bukan tokoh utama cerita yang nonton. Kedua karena penjelasan tentang tarung sarung toh akan diulangi kembali saat Deni baru tau dan ingin berlatih. Jadi, adegan penjelasan di opening itu redundant. Untuk memperkenalkan tarung sarung early (within 10 minutes) kepada kita sebenarnya bisa dilakukan saat adegan Deni nonton televisi di rumahnya sebelum berangkat ke Makassar. Tinggal bikin saja Deni menonton tayangan liputan tersebut.
Penulisan film ini bisa di-improve lagi berikutnya pada berbagai adegan Deni diajarin prinsip dalam agama Islam. Meskipun memang setiap percakapan itu dibuat menggantung untuk Deni mempertimbangkannya di dalam hati, tapi tetap film terdengar ‘terlalu frontal berceramah’. Pengadeganan mestinya bisa dibuat lebih smooth lagi. Sebagai perbandingan, kita bisa lihat bagaimana film Ma Rainey’s Black Bottom (2021) menghandle tokoh utamanya yang juga jauh, tak percaya, dan bisa dibilang mengantagoniskan agama. Pencerahan yang datang kepada karakter dilakukan oleh film itu lewat lebih banyak gerakan kamera ketimbang dialog-dialog nasehat dari karakter lain. Sehingga film tersebut jadi lebih smooth dan less-menceramahi.
Dan terakhir, satu hal lagi yang mestinya bisa dikembangkan oleh film ini adalah penulisan terhadap karakter lawan utama si Deni. Yang kita tonton ini, karakter jahatnya, ya just that; jahat. Ambisius, nekat. Dan kasar. Dengan kata lain, masih satu dimensi. Padahal sudah ditetapkan bahwa tarung sarung itu kuat menyangkut soal harga diri. Si Sanrego jahat yang suka manggil Deni ‘Calabai’ itu tidak pernah benar-benar dibahas dorongan personalnya. Dia hanya ingin memperistri Tenri dan Deni jadi penghalang baginya – ini gak digali oleh film, melainkan Sanrego dibuat jahat aja. Makanya ketika konflik semakin memuncak; Sanrego menantang Deni melakukan Sigajang Laleng Lipa (tarung sarung versi hidup/mati pake badik), kita hanya melihatnya sebagai tindakan seorang loser. Padahal ada secercah emosional yang bisa digali karena Sanrego harga dirinya terluka.
 
 
With all being said, menurutku film ini cukup lumayan. Terutama sebagai drama. Karena perjalanan tokoh utamanya terasa sangat fulfilling, dan Deni benar-benar earned our respect dan simpati. Ada banyak layer pada cerita karakter ini. Keluarga, budaya, agama, bahkan lingkungan hidup. Padet banget. Dan semuanya berhasil diikat terarah oleh naskah. Karakter-karakter pendukung pun mendapat pengembangan, walaupuh beberapa difungsikan sebagai easy-fodder untuk dramatisasi. Tapi sebagian besar film ini terasa padat dan cukup berbobot. Dengan ‘hanya’ meninggalkan beberapa aspek yang mestinya bisa ditulis dengan lebih baik lagi. Dari segi aksi, yang kurang adalah kamera worknya; kurang bisa menonjolkan keunikan dari bertarung dalam sarung karena treatmentnya masih serupa sama adegan berantem biasa. Soal kemiripan dengan The Karate Kid, yah film sudah ‘ngaku’, dan memang formula cerita kompetisi begini sudah sering diulang-ulang karena formula ini sudah terbukti berhasil. Jadi aku cukup maklum. Lagipula latar film ini sudah cukup kuat sebagai identitas yang unik. Aku sedikit sayang aja film ini nyerah tayang di Netflix alih-alih bertahan nunggu tayang di bioskop.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for TARUNG SARUNG
 
 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian kenapa formula underdog dalam cerita/film tentang kompetisi selalu berhasil dan disukai penonton?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

MANK Review

“Your job is to tell your story”
 

 
 
Diberikan kendali penuh atas semua keputusan kreatif cerita dalam sebuah pembuatan film sudah barang tentu merupakan mimpi basah setiap penulis naskah. Herman Mankiewicz, penulis naskah veteran di Hollywood tahun 40-an, kecipratan hak istimewa itu saat ditunjuk untuk berkolaborasi oleh produser muda Orson Welles. Di tengah-tengah Studio yang lagi struggling, Welles diberikan otonomi khusus untuk membuat film, dan Mank – panggilan Mankiewicz – yang terkenal karena talentanya, oleh Welles, diperbolehkan menulis apapun. Cerita apapun yang menarik. Dalam batasan waktu dua bulan. Asalkan, Mank setuju namanya tidak dicantumkan pada kredit. Sebagai seorang yang vokal terhadap kritik sosial, Mank setuju karena dia punya banyak observasi terhadap keadaan khususnya Hollywood saat itu. Namun keadaan memperlihatkan cerita yang sedang ditulis ternyata personal bagi Mank. Terlalu personal malah. Dan kejadian hasilnya, adalah sejarah dalam dunia perfilman.
Bagi penonton yang baru melek ke dunia, skenario cerita yang dimaksud oleh film ini adalah skenario Citizen Kane (1941). Film yang dipertimbangkan banyak kritikus dan penikmat sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Yang pernah ditulis. Film yang benar menggambarkan resesi setelah Great Depression yang melanda seantero Amerika. Mankiewicz dan Welles diganjar Oscar untuk film ini. Makanya film Mank yang dibuat oleh David Fincher ini enggak bisa lebih menarik lagi. Setidaknya sangat menarik bagi para penggemar dan pemerhati sinema. Karena Fincher menawarkan kita tempat duduk paling depan pada rangkaian peristiwa yang mendasari bagaimana film Citizen Kane itu bisa tercipta. Kita akan melihat insipirasi penciptaannya, langsung dari sudut pandang Herman Mankiewicz sendiri. Langsung, dari sosok yang terkenal bukan hanya lewat talenta tapi dari pemikiran dan aksinya yang kontroversial, bahkan untuk standar Hollywood itu sendiri.

Also it’s all very weird to me, karena selama ini ‘Meng’ buatku konotasinya adalah ‘pegulat dengan reputasi paling ditakuti bahkan oleh sejawatnya’

 
 
Tadinya kupikir, cerita film ini akan menarik karena berhubungan dengan batasan waktu. Dua bulan yang diberikan untuk Mankiewicz menulis, ditambah dengan kondisinya yang udah tua tapi tetep ngebut minum – dan rintangan tambahan berupa kaki Mankiewicz yang digips karena kecelakaan mobil, effectively membuat dia ‘terikat’ di tempat tidur, kukira akan dijadikan sebagai rintangan utama dalam proses kreatif menulisnya. Aku salah telah meragukan kehebatan sosok legenda Hollywood tersebut. Bagi Mankiewicz dalam film ini, itu semua bukan halangan untuk menulis. Namun lantas jika begitu, di mana letak konflik film Mank ini? Mankiewicz itu sendirilah yang membuat film ini jadi punya konflik yang menarik.
Mank juga bukan cerita tentang kejatuhan seorang penulis. Sedari awal film ini dimulai, kita sudah melihat karakter ini yang ‘bermasalah’. Toh dia sendiri sadar masa jayanya sudah hampir lewat. Kita bisa melihat meskipun orang-orang film di sekitar Mankiewicz menghormati dia karena ilmu dan kepandaiannya menulis, tapi orang-orang itu juga melihat Mankiewicz sebagai semacam bom waktu yang tau-tau bisa meledak. Dan tak ada yang sudi meledak bersamanya. ‘Penyakit’ candu alkohol dan lidah tajam Mankiewicz-lah yang jadi konflik dan hambatan dalam cerita ini. Citizen Kane yang ia bikin nantinya juga bukan tanpa kontroversi, sebab tokoh-tokoh di dalam film tersebut seperti tampak ditulis berdasarkan pada komentar atau pandangan Mankiewicz terhadap karakter-karakter yang berhubungan dengannya. Yang tidak semua dari mereka suka untuk terseret dalam pandangan Mankiewicz yang berani menyulut kontroversi.
Lewat naskah yang ditulis oleh mendiang ayahnya, David Fincher dengan berani memuat itu semua. Jika film-film biopik biasanya akan bersikeras untuk memperlihatkan sisi terbaik dari tokoh nyata yang sedang dibicarakan tersebut, maka Mank justru dengan bangga memperlihakan semua hal, termasuk saat-saat dia yang paling bobrok. Dalam film ini kita justru diminta untuk memahami seorang penulis tua yang seharian di tempat tidur, diam-diam minum alkohol, di lain waktu dia flirting dengan perempuan walaupun dia sudah menikah. Dia bahkan enggak sedewa itu dalam urusan perfilman; aku ngakak ketika dia menyumpahi The Wizard of Oz. And oh btw, dia menyebut istrinya dengan panggilan ‘Poor Sara’ haha bayangin. Fincher sepertinya ingin menubrukkan itu dengan latar Hollywood yang sebenarnya jadi komentar khusus. Bukan untuk memilih ‘the lesser devil’, melainkan karena justru si Mankiewicz yang dipandang sinis karena komentar dan tabiatnya itulah yang berani mengkritisi dan vokal terhadap arahan dunia kerjanya saat itu.
Film ini bertutur secara bolak-balik. Antara Mankiewicz di tempat tidur, yang dikejar deadline naskah, dengan Mankiewicz muda yang mengarungi studio-studio hitam putih Hollywood – berinteraksi dengan rekan kerja dan orang-orang film sekalian. Gips di kakinya itu yang bisa dijadikan pegangan jika kalian menemukan kesulitan untuk memahami mana Mankiewicz yang mana. Karena transisi yang dilakukan film ke dua periode tersebut sangat mulus. Konteks sebenarnya jelas. Mank bakal terflashback setiap kali akan menulis, karena dari pengalamannya itulah dia menarik cerita. Dan kita pun gak perlu menonton Citizen Kane terlebih dahulu sebelum bisa mengerti apa yang ia tulis. Sebab film benar-benar memanfaatkan sekuen-sekuen flashback itu untuk menghidupkan gambaran, memusatkan perhatian kita pada apa yang diperhatikan oleh Mankewicz. Sejarah dunia sinema terpapar gamblang di sini. Fincher bicara banyak soal politik di balik tembok-tembok studio. Bagaimana film dijadikan agenda kampanye. Dijadikan propaganda. Bagaimana studio-studio gede seperti MGM terpengaruh keuangannya oleh Great Depression. Ultimately, bagaimana itu semua membentuk iklim perfilman saat itu.

Mankiewicz punya concern terhadap itu semua. Seperti juga halnya dengan Fincher yang tampak punya peduli terhadap perfilman saat ini. Kini otonomi, atau kendali-kreatif itu sudah jadi bahkan lebih langka lagi bagi para pembuatnya. Karena studio atau PH sudah benar-benar ingin mengatur ‘produk’ yang mereka jual. Film sekarang dijaga ketat agendanya, tampilannya, bahkan jadwal penayangannya. Mank sendiri ‘terpaksa’ harus tayang di Netflix setelah cukup lama luntang-lantung mencari tempat yang mau menayangkan. Padahal setiap film mestinya adalah kisah personal. Dan pekerjaan film mestinya menceritakan kisah-kisah tersebut.

 
Menonton film ini mengingatkanku kepada dua film yang kutonton baru-baru ini; Black Bear (2020) karena sama-sama memperlihatkan proses kreatif menulis, dan Tenet (2020) karena kedua film ini sama-sama menakjubkan secara teknis. Hanya saja, sayangnya, Mank lebih mirip Tenet dalam pencapaian keseluruhan.

Magic film-film zaman sekarang adalah waktu beli tiket kayaknya penuh, tapi pas di dalam studio ternyata sepi

 
 
Penonton yang benar-benar awam, I mean, orang yang jarang banget nonton film – yang gak tau – apalagi yang gak apal aktor-aktor, niscaya akan percaya film ini adalah film jadul beneran. David Fincher paling berhasil di aspek ini. Tampilan Mank didesain selayaknya film 30an. Hitam-putih, tapi bukan hitam-putih tegas melainkan dengan kualitas yang jernih sehingga adegan-adegan flashback terkesan kayak dreamy, atau benar-benar dari ingatan. Visual hitam-putih itu dihadirkan lengkap dengan efek seperti retakan sekilas pada frame, dan ‘cigarette burns’ yang memang hanya ada pada film-film jadoel yang masih menggunakan film reel.
Pengadeganan pun dibuat sama persis dengan film-film 30an seperti misalnya komposisi; background film dibuat kontras dengan foreground (terlihat saat adegan naik mobil), atau juga shot-shot yang mengontraskan cahaya kepada karakter, sehingga menimbulkan garis siluet. Film modern yang warnanya udah full hd mana ada lagi yang menggunakan teknik itu. Fincher juga kerap membiarkan sebuah adegan terdiam dahulu untuk beberapa detik, memberi waktu kepada kita untuk mencerna dialog-dialog panjang yang mengisi adegan, untuk kemudian ngezoom ke karakter dan perlahan fade out. ‘Ilusi’ ke era jadul itupun turut diperkuat dengan artistik yang meyakinkan. Yang bahkan semakin diperkuat lagi dengan permainan peran dari para aktor seperti Gary Oldman (menyaru sempurna banget ke dalam sosok Mank), Lily Collins dan Amanda Seyfried (suka lihat tampang klasik merekaaa), Tom Burke dan Charles Dance dan masih banyak lagi yang interaksinya dan mannerismnya meyakinkan.
Semua aspek teknis film ini, seperti Tenet, sungguh mencengangkan. Gak heran nanti kalo ada unsur-unsur film Mank yang nyangkut di Oscar. Namun seperti masalah yang ada pada Tenet, film ini pun tetap saja terasa hampa. Padahal penokohannya ditulis dengan lebih baik. Aku juga bisa mengerti konteks ceritanya. Situasi dan settingnya adalah informasi yang menarik mengenai sejarah dalam dunia perfilman. Dan itulah masalahnya. Film ini terasa lebih kayak rangkaian informasi-informasi ketimbang sebuah perjalanan karakter. Dialog-dialognya memang menarik tapi kita tidak terasa tersedot masuk. Kita hanya menyaksikan saja. Kita tidak terinvest kepada karakter, karena stake waktu tadi basically dibilang enggak susah bagi karakternya, dan hanya itulah yang dipunya cerita ini untuk membuat kita terikat secara emosional kepada karakternya. Di sepertigaan akhir, ada usaha dari film menampilkan adegan yang bertujuan untuk membuat kita merasa semakin simpati – inilah bagian paling rendah dalam karir dan kehidupan profesional Mankiewicz – hanya saja dengan absennya sesuatu yang nyata yang bisa terenggut darinya, kita gak bisa bertambah simpati. Malah yang ada, adegan tersebut tampak cringe.
Simpelnya, film tidak membangun pertaruhan bagi Mankieweiz. Kalo dia gagal, dia tidak kehilangan apapun. Stake harga diri juga tidak terbangun. Karir Mank tidak pernah diperlihatkan terancam, karena sedari awal tokohnya sendiri sudah menepis dengan percaya masa emasnya sudah lewat. Jadi ini adalah karakter yang nothing to lose. Susah untuk terinvest ke karakter seperti ini. Bahkan saat debatnya minta masukin nama di kredit Citizen Kane pun kita tidak pernah benar-benar merasa mendukung tuntutannya tersebut. Adegan yang berfungsi selayaknya ‘final fight’ itupun tak jadi begitu dramatis.
 
 
 
Alih-alih surat cinta kepada perfilman jadul, film ini lebih mirip seperti cermin yang diberikan sutradara karena cinta dan pedulinya terhadap perfilman modern. Karena dari film ini kita bisa belajar banyak. Entah itu peristiwa dan situasi perfilman era 30-40an. Ataupun juga belajar dari gambaran proses produksi film pada era tersebut. Penonton yang cinta dan ingin belajar lebih banyak tentang perfilman, perlu untuk menonton film ini. Toh memang tidak digarap main-main. Aspek teknis dan unsur-unsurnya juara. Masalahnya cuma, film ini meskipun karakternya menarik dan kadang cukup lucu, tidak benar-benar terasa seperti perjalanan karakter. Film ini lebih seperti buku pelajaran, yang gak gampang untuk dibaca berulang-ulang.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for MANK.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Setelah menonton Mank, apa perbedaan dan persamaan antara perfilman sekarang dengan perfilman tahun 1930 menurut kalian?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE CALL Review

“The past cannot be changed, it can only be accepted”
 
 

 
 
Pernahkah kalian ngerasa ingin kembali ke masa lalu, untuk mengubah hal kecil yang kalian lakukan dahulu – seperti ngunci pintu sebelum pergi atau ngelarang seorang untuk pergi – supaya kalian bisa memperbaiki masa depan sehingga gak suram-suram amat? Well, jika pernah, maka nonton thriller berjudul The Call dari Korea ini akan bisa memberikan peringatan kepada kalian.

Untuk tidak bermain-main dengan masa lalu. Untuk menerima kehidupan dan bersyukur atas apa yang hidup gariskan kepada kita. Karena masa lalu sejatinya bukan untuk diubah, melainkan untuk diterima, supaya kita bisa belajar kesalahan darinya.

 
The Call adalah dongeng supernatural yang mengisahkan Seo-yeon, seorang wanita muda yang meratapi kehidupannya yang sekarang. Ayahnya meninggal sewaktu ia kecil karena kejadian yang ia yakini sebagai kelalaian dari sang Ibu. Membuat Seo-yeon belum bisa memaafkan Ibunya. Dia sulit menerima kenyataan. Kecuali di satu waktu ketika kenyataan itu menawarkan suatu kesempatan unik kepada dirinya. Pesawat telepon di rumah masa kecil Seo-yeon berdering, gadis bernama Young-sook menelepon dari rumah yang sama – dari tahun 1999! Telepon itu jadi penghubung Seo-yeon dan Young-sook; penghubung masa kini dengan masa lalu. Membuat mereka bisa mengubah keduanya, untuk mereka berdua. Kedua wanita yang sama-sama bakal menghadapi peristiwa mengenaskan itu akhirnya memang jadi berteman. Young-sook membantu menyelamatkan ayah Seo-yeon, sehingga masa depan itu – masa kini Seo-yeon – berubah total. Jadi ceria dan bahagia. Kini giliran Seo-yeon, membantu Young-sook menghindari percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh ibu si sahabat lintas-waktunya. Masalahnya adalah; Young-sook ternyata tidak se-innocent yang dikira. Dan boleh jadi sudah terlambat bagi Seo-yeon untuk menyadari bahwa masa kininya sekarang sudah berada di bawah kendali Young-sook si pembunuh berantai!

Hallo, the 90’s called, and she wants your reciprocation back!

 
 
Saat kuliah di Teknik Geologi dulu aku belajar prinsip yang berbunyi “The present is the key to the past”, yang bermakna sebuah struktur batuan atau fenomena kenampakan alam yang kita lihat di masa sekarang dapat memberikan informasi seperti apa kejadian alam di masa terdahulu, sehingga struktur dan kenampakan itu bisa terbentuk. Kita bisa belajar banyak tentang masa lalu dengan meneliti ‘result’nya di masa depan. Film The Call garapan Chung-Hyun Lee agaknya membalikkan itu semua, karena dalam thriller bunuh-bunuhan ini masa lalu-lah yang dijadikan kunci. Kengerian dalam cerita ini muncul dari ketidakberdayaan Seo-yeon atas kehidupannya. Memang, ada beberapa adegan di mana dia mempelajari banyak catatan, guna menyimpulkan kejadian di masa lalu dan menggunakan informasi itu untuk membantu Young-sook. Akan tetapi, semua itu di bawah perintah si Young-sook yang kerap mengancamnya. Dalam titik yang paling intens, kita akan menyadari betapa mudahnya bagi Young-sook untuk menghabisi hidup Seo-yeon hingga ke akar-akarnya. Ini adalah pertarungan antara masa depan dengan masa lalu, dan masa lalu itu ditampilkan menang karena masa depan itu naturally adalah hasil dari masa lalu. Film bahkan nampilin adegan Seo-yeon berusaha menjebak Young-sook, tapi gagal. Ketidakberdayaan karena gak punya kendali atas masa lalu itulah yang dijadikan konsep dari bangunan cerita The Call. Menjadi tontonan menarik, saat seorang tokoh berusaha melawan hal yang tidak bisa ia kendalikan.
Bukan kalimat geologi itu saja yang dimainkan oleh film ini. Chung-Hyun Lee juga bermain-main dengan konsep timeline, atau dua periode cerita yang disatukan. Memang bukan hal yang baru, tapi Chung-Hyun Lee berhasil menyuguhkan thriller yang seru dari sana. Dalam anime Your Name (2016) kita juga sudah melihat gimana komunikasi antara dua orang dari zaman berbeda bisa terbentuk dan mengakrabkan, tapi film tersebut berujung romansa sedangkan dalam The Call ini kita melihatnya bukan saja sebagai cerita serial-killer yang unik, melainkan sekaligus sebagai sebuah hubungan aksi-reaksi peristiwa yang berkesan benar-benar mengerikan. Di film ini, alur bolak-balik disulam untuk menghasilkan revealing dan surprise yang membuat suspens dan intensitas cerita semakin naik seiring berjalannya durasi. Editing yang digunakan untuk menguatkan feel cerita juga sangat precise, sehingga setiap kali berpindah periode, emosi ataupun intensitas cerita tidak ada yang ketinggalan. Tidak sekalipun kita merasa terlepas dari film ini berkatnya.
Untuk aturan-dunianya sendiri, film memang tidak mau repot-repot menjelaskan. Dengan membuat karakter ibu Young-sook berprofesi sebagai shaman alias dukun, secara subtil film ini ingin mengarahkan logika kita kepada hal-hal supernatural. Bahwa semua itu dapat saja terjadi karena cerita ini berada dalam dunia di mana shaman, premonisi, ritual, dan hal-hal gaib adalah hal yang ‘nyata’. Sehingga meskipun medianya berupa telepon-tanpa-kabel, logika kita tidak lantas menuntut penjelasan ilmiah ala sci-fi atas peristiwa koneksi yang terjadi antara kedua karakter sentral. Melainkan, ya, ini adalah peristiwa supernatural. Dan kurasa, bagi mindset orang kita – dan orang mereka karena sama-sama Asia – minimnya penjelasan logis soal itu sama sekali bukan dalam artian menggampangkan-cerita, melainkan kita melihatnya sebagai bagian dari latar. Ini juga yang mengakibatkan film ini gak jadi needlessly ribet dengan aturan dan cara kerja dunianya. Membuat kita jadi lebih mudah menyimak apa yang terjadi kepada karakter, baik secara inner maupun outer journey. Dan aku lebih suka mikirin soal karakter manusia itu ketimbang berpusing ria mikirin ‘how pseudo-technology atau science gaib atau time-inverse works’.
Untung kedua tokohnya gak mirip, bisa-bisa ntar ada sutradara yang bikin tulisan panjang lebar soal teori kenapa muka orang Korea sama semua

 
 
Namun, penutup film ini toh memang bikin bingung setengah mati. Aku baca di timeline Twitter, banyak penonton yang ngeluhin soal extra-ending film ini. Banyak juga yang membahas teori-teori kejadian sebenarnya yang mungkin terjadi. Untuk tidak menge-spoil keasyikan kalian ikut berteori, maka aku hanya akan nulis ngambang aja soal pendapatku terhadap adegan tersebut, dan maknanya. Menurutku adegan ekstra tersebut bisa saja diniatkan untuk membuka peluang sekuel – karena toh interaksi kedua karakter sentral ini menarik dan bikin nagih – tapi honestly, buatku ending di ekstra itu adalah akhiran yang paling pas untuk mengikat arc si Seo-yeon. She totally deserves whatever she got in the end. Karena dia-lah yang duluan ingin mengubah masa lalunya. Dia-lah yang nyalahin ibu dan gak mau menerima kenyataan – yea, kupikir si Young-sook berkata jujur saat mengungkap kejadian sebenarnya di tragedi ayah Seo-yeon. Sedari awal Young-sook yang gila itu enggak pernah memanipulasi Seo-yeon untuk berbuat sesuatu, dia hanya menelepon. Aksi dan pilihan tindakan Seo-yeon lah yang memutarbalikkan semua. Buatku memang film ini sangat powerful jika dipandang sebagai cerita peringatan.

Orang yang berkubang di masa lalu pada akhirnya enggak akan mendapat masa depan, dan itulah yang persisnya terjadi kepada Seo-yeon di ending itu. Sementara orang yang beraksi di masa kininya, akan bisa ‘mengendalikan’ masa depannya sendiri nanti, seperti yang kita lihat terjadi pada Young-sook.

 
Sesuai dengan perkembangan/development karakternya itu, kita akan menemukan bahwa si Seo-yeon makin ke belakang, akan semakin ‘lemah’ posisinya sebagai tokoh utama. Dalam konfrontasi final, misalnya, protagonis ini malah tidak berbuat apa-apa. Tidak ikut beraksi. Cuma duduk di sana menyaksikan dua karakter lain berantem. Secara pengembangan cerita, aku bisa paham. Namun protagonis seharusnya tidak bisa diposisikan seperti itu. Buatku ini jadi nilai minus yang tak bisa dihindari karena gagasan film mengharuskan kejadiannya seperti itu. Mungkin yang bisa film ini perbaiki adalah efek visualnya. Saat masa lalu berubah, masa kini Seo-yeon turut mengalami perubahan drastis. Film memvisualkannya dengan efek yang ‘wah’, seperti mobil yang tiba-tiba menyerpih menghilang, kaca-kacanya pecah, dan segala macam. Efek ini buatku agak sedikit over dan kurang mewakili perasaan karakter. Mestinya efek menghilang itu bisa dibikin lebih kuat lagi ‘merenggut’ karakter yang ada bersamanya.
 
 
 
Cerita yang bolak-balik masa kini dengan masa lalu ternyata bisa diolah menjadi sesuatu yang mengerikan. Memparalelkan dua waktu tersebut ternyata tidak selalu harus dibikin ribet. Film ini berhasil menyajikan thriller yang menegangkan, dengan interaksi yang menarik antara karakter dari dua periode waktu berbeda. Secara teknis, film ini didukung oleh penampilan akting dan editing yang sangat cakap. Membuat arahan film berjalan dengan mulus. It does work really well as a warning story, buat orang-orang yang merasa gak bahagia karena tragedi di masa lalu. Akhir ceritanya memang bisa membingungkan, tapi jika kita berpegang kepada pemahaman terhadap apa yang dipelajari oleh karakter, bagian membingungkan tersebut bisa terjelaskan dengan sendirinya, dan bukanlah jadi masalah besar, at all.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE CALL.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya teori sendiri tentang apa yang terjadi di adegan credit? Bagaimana pendapat kalian tentang Seo-yeon yang harus kehilangan segalanya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

HILLBILLY ELEGY Review

“My family is my strength and my weakness”
 

 
 
Psst.. pada tau istilah ‘Oscar-bait’ gak? Menjelang akhir tahun kayak sekarang ini tuh, biasanya film-film Oscar bait mulai bermunculan. Sebab Oscar alias Academy Awards, Penghargaan Tertinggi Hollywood, kan biasanya mulai di awal tahun, jadi slot penayangan menjelang akhir musim itu dianggap paling menguntungkan karena filmnya bakal masih ‘segar’ dalam pandangan juri. Maka mulai tuh muncul, film-film sejenis drama, atau biografi, atau sejarah, atau apapunlah kisah dari kisah nyata, yang biasanya juga memuat penokohan yang melibatkan para aktor dari langganan nominasi; dengan peran tipe-tipe karakter disabilitas, atau karakter stereotipe dengan aksen dan bahkan make up yang benar-benar ‘asing’. Film-film Oscar-bait begitu fokus untuk masuk ke Oscar, menguatkan trope-trope tersebut seolah memang cuma itulah yang dicari Oscar. Sehingga tak sedikit dari film-film itu yang ternyata bercerita dengan kurang memuaskan. Parahnya bagi mereka, para kritikus jadi memaki lebih keras daripada seharusnya, karena eksistensi film-film itu so obvious. Dan Hillbilly Elegy garapan sutradara Ron Howard, yang diperankan oleh aktor-aktor langganan nominasi Oscar, adalah contoh yang menarik dari fenomena Oscar-bait ini.
Cerita film ini diangkat dari kisah hidup J.D. Vance dari buku memoir tulisannya. Dan memang ceritanya sebenarnya sangat menginspirasi. Vance adalah seorang penulis dan pengusaha kapitalis sukses yang berangkat dari dinasti keluarga yang termasuk dalam golongan ‘terbelakang’ oleh standar sosial Amerika. Golongan Hillbilly. Kalo di kita mungkin ekivalennya adalah golongan penduduk yang berpandangan sempit, yang hidup beranak pinak di suatu daerah pinggiran (atau pegunungan). Hillbilly juga terkenal galak. Atau bisa dibilang bar-bar, dibandingkan dengan ‘orang kota’.
Film ini menceritakan Vance saat berada dalam posisi paling penting dalam karirnya. Dia yang saat itu masih muda, mahasiswa Yale yang cemerlang, akhirnya dipanggil interview oleh salah satu firma Hukum terkemuka. Namun sehari menjelang interview penting tersebut, teleponnya berdering. Kakaknya mengabari bahwa ibu mereka masuk rumah sakit. Overdosis. Lagi. Vance – dipanggil J.D. di film – mau tak mau harus menempuh sepuluh jam perjalanan, kembali ke kota masa kecilnya, untuk melihat keadaan sang Ibu. Ia sangat sayang kepada ibunya, kepada keluarganya, tapi khususnya si ibu itu bukanlah orang teramah di dunia. Dalam perjalanannya itu, J.D. dari waktu ke waktu flashback ke masa kecil. Ke masa dia hidup bersama ibunya. Masa-masa bertengkar, penuh kekerasan rumah tangga, obat-obatan, dan didikan keras dari nenek (dipanggilnya Mamaw). J.D. sadar, sejauh apapun dia lari, dia tidak bisa lepas dari keluarganya tersebut. Tapi kali ini, hal tersebut bisa jadi bukanlah hal yang buruk seperti yang selama ini dia yakini.

Aduh sialan, si J.D. anak Hillbilly asli!

 
 
Film ini ingin memfokuskan kita kepada lingkungan – keluarga dan sosial – tempat J.D. bertumbuh. Desain dari bangunan ceritanya adalah membuat kita memahami dulu kenapa J.D. ‘kabur’ dari bayang-bayang keluarga, supaya kita bisa melihat pencapaian J.D. dibandingkan keluarganya – bahwa dia bisa jadi orang yang lebih baik – namun di saat yang bersamaan, keluarga tersebut tidak bisa lepas darinya. Ketika film menampilkan lingkungan J.D. yang sekarang – saat ia dewasa, film ingin supaya kita turut merasakan bahwa lingkungan sosial terpelajar yang punya banyak garpu itu sejatinya tidak lantas lebih baik dari lingkungan yang ditinggalkan oleh J.D. Pertanyaan yang ingin digebah oleh film ke dalam benak kita, selama kita mengikuti J.D., adalah bukan semata mentok di apakah J.D. bisa lepas dari keluarga, melainkan juga apakah benar-benar butuh baginya untuk lepas dari keluarga. Ya, keluarganya memang amburadul. Ibunya case on point. Menuruti panggilan menjaga ibu niscaya akan menghambat karirnya, tapi bukankah ia mengejar karir demi mengubah pandangan orang terhadap latar belakangnya. Ikatan keluarga itu digambarkan benar-benar mengikat J.D. Menjadi konflik dalam dirinya. Film ini seharusnya bisa menarik begitu banyak gagasan manusiawi yang dramatis dari penggalian karakter-karakter bermasalah yang saling berketerikatan ini. Namun justru pada bagian penggaliannya itulah film ini malah minim. Sehingga dicecar kanan-kiri oleh kritikus sebagai gambaran yang hanya berupa karikatur. Masih enjoy untuk ditonton, tapi tidak lagi terasa nyata – meskipun memang yang dihadapi oleh J.D. tak pelak adalah kisah yang beneran terjadi pada orang yang benar-benar ada di hidupnya.

Kesuksesan kita akan menjadi bagian dari kesuksesan keluarga. Begitu pun kegagalan. Karena keluarga, bagaimanapun juga adalah kelemahan sekaligus kekuatan yang kita miliki. Keluarga adalah landasan, dan bukan tidak mungkin, alasan utama kita untuk berjuang. Makanya, J.D. tidak bisa lepas dari keluarga. Dia tidak perlu melepaskan diri dari dinasti yang turut membentuk sekaligus yang sedang berusaha untuk ia bentuk ulang.

 
Dalam lapisan yang lebih dalam, film ini tidak berhasil membahas keluarga J.D. yang dibingkai sebagai ‘sumber drama’ bagi si tokoh utama dalam cahaya yang manusiawi. Kita tidak diperlihatkan bagaimana struggle sebenarnya dari sang ibu. Bagaimana Mamaw berjuang dan apa yang melandasinya. Baik Amy Adams (sebagai ibu) dan Glenn Close (sebagai Mamaw — yang pada kredit penutup diperlihatkan ternyata wujudnya jadi mirip banget dengan Mamaw yang asli) menyuguhkan penampilan maksimal mereka. Sayangnya, karakter mereka bergerak di ruang yang sempit. Seluruh komunitas Hillbilly sepertinya dilambangkan oleh mereka berdua, namun kedua karakter tersebut hanya tampil terbatas sebagai flashback dari sudut pandang J.D. Mamaw dan si Ibu hanyalah eksis sebagaimana J.D. mengingat mereka. Dan dalam film ini, J.D. hanya mengingat mereka dalam waktu-waktu yang tergolong sengsara dan nyusahin bagi dirinya. Sehingga gambaran tersebut jatuhnya jadi super-stereotipe dan cenderung mencuat gak-respect terhadap jati diri karakter yang mereka mainkan.
Kita tidak akan pernah mendukung si ibu karena dalam setiap kesempatan tokohnya dihadirkan selalu sebagai si pembuat keputusan yang salah. Dia yang suster malah main sepatu roda di lorong rumah sakit (emangnya Olga Sepatu Roda!). Dia ujug-ujug mukulin anaknya. Bertengkar dengan Mamaw. Ganti-ganti pasangan. Semua tindakannya itu, karena dari sudut pandang J.D., jadi tak terjelaskan. Film seolah menjadikan tokoh ini sebagai poster-girl untuk sikap-sikap buruk manusia – dan karena latar karakternya sebagai hillbilly, film seperti ingin membuat kita merasa bersyukur bahwa kita bukan hillbilly seperti dirinya. Sementara, si Mamaw digambarkan terlalu standar; nenek galak yang sebenarnya baik. Namun bahkan gambaran tersebut tidak benar-benar mewakili karena, sekali lagi, semuanya hanya sudut pandang dari J.D. If anything, karakter yang dituliskan dengan baik justru adalah kakak si J.D. (diperankan oleh Haley Bennett). Karakter Lindsay ini tampil lebih subtil, dia menangani ‘drama’ keluarga dengan caranya sendiri, dalam lingkup kehidupannya sendiri. Basically, tokoh ini sudah jauh lebih dulu menyadari pembelajaran yang dialami J.D. di akhir cerita nanti.

Menyusahkan dan gak mau dibilangin? yup.. that’s our family

 
Memang, struktur bercerita flashback bolak-balik inilah yang menjadi sumber masalah utama bagi Hillbilly Elegy. Aku gak ngerti kenapa bercerita begini udah kayak jadi tren belakangan ini, padahal belum satu pun aku nemu cerita dengan banyak flashback yang berhasil mencuat menjadi benar-benar bagus. Dalam Hillbilly Elegy, flashback-flashback itu tidak diolah dengan maksimal, karena antara kilasan satu dengan yang lain sebenarnya seringkali memiliki muatan emosi dan kejadian yang sama. J.D. konflik dengan ibunya yang mendadak teriak-teriak. Sehingga sebagian besar durasi film terisi dengan repetitif. Film ini padahal punya dua cerita; J.D. dewasa dan J.D. kecil, tapi dengan menyatukan keduanya lewat sulaman flashback setiap kali ada konflik, cerita film ini justru jadi gak maju-maju. Tidak pula menambah apa-apa terhadap pandangan kita terhadap karakternya. Jadi begitu banyak waktu yang terbuang oleh penceritaannya. Waktu yang mestinya bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan karakter dengan natural, menggali setiap konflik personal mereka – lebih jauh dari pencapain J.D. – jika film tidak sibuk bolak-balik dan memilih berjalan dengan linear.
 
 
 
 
Tiga belas nominasi Oscar di antara Amy Adams dan Glenn Close tidak jadi jaminan film yang dibintangi mereka lantas jadi bagus. Walau penampilan akting mereka memang tidak mengecewakan, tapi karakter yang mereka perankan tidak mendapatkan pengembangan. Cerita film ini dibiarkan sempit, terbatas oleh struktur pengisahan bolak-balik, yang menjadikan film ini bermuatan emosi yang bukan hanya repetitif melainkan juga tidak lagi terasa natural. Film ini boleh jadi tetap dapat menghibur karena dimeriahkan oleh konflik demi konflik – kita semua suka melihat keributan, kan – hanya saja semestinya cerita menginspirasi seperti ini haruslah mencapai level yang lebih dalam. Dengan karakter-karakter yang mencuat di atas stereotipe dan karikatur dari manusia-manusia yang mereka lambangkan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for HILLBILLY ELEGY.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian merasa malu terhadap keluarga sendiri, atau menganggap keluarga besar terkadang norak dan malu-maluin? Pernahkah kalian berada dalam kondisi sosial di mana kalian memilih berbohong mengenai keluarga sendiri?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA
 

THE SPONGEBOB MOVIE: SPONGE ON THE RUN Review

“The secret formula will always be love”
 
 

 
 
Sekitar pertengahan-akhir durasi, film ini menampilkan sekuen adegan yang layaknya seperti courtroom drama. Dalam adegan-adegan tersebut kita melihat Patrick, Sandy, Squidward, dan teman-teman SpongeBob yang lain bergantian memberikan kesaksian kepada Poseidon untuk membela SpongeBob yang jadi tersangka. Mereka menceritakan kisah pengalaman mereka bisa mengenal si Sponge Kuning itu waktu masih kecil. Kita pun dibawa flashback menyaksikan langsung pertemuan-pertemuan itu. Dan itulah satu-satunya bagian menarik yang ada dalam film ketiga SpongeBob, Sponge on the Run ini.
Flashback masa kecil itulah satu-satunya hal original, hal yang fresh, hal yang ingin kita tonton ketika begitu mengetahui bahwa semesta SpongeBob ini bakal dieksplorasi kembali. Kita tentu penasaran dan ingin melihat bagaimana SpongeBob dan Patrick bisa jadi sahabat seperti sekarang ini. Kita tentu ingin melihat cerita SpongeBob bertemu Squidward. Kita ingin tahu bagaimana SpongeBob dan teman-temannya menjadi berteman pada mulanya. Poin dari sekuen adegan tersebut adalah untuk menyimak seperti apa sih para sahabat memaknai si SpongeBob itu sendiri. Untuk menunjukkan arti persahabatan SpongeBob kepada mereka. Tak pelak, memang inilah yang menarik untuk dijadikan cerita film. Seharusnya sutradara Tim Hill mengerahkan semua komandonya untuk menyusun cerita semacam prequel tersebut dengan sebenar-benarnya, jika ia memang mau menghormati legacy kartun anak-anak (dengan selipan humor dewasa) yang fenomenal ini. Alih-alih, kisah-kisah itu hanya diperlihatkan singkat dan seperti dirangkum begitu saja dengan menempatkannya pada bingkai kesaksian pada courtroom drama. Tidak melalui narasi yang benar-benar kohesif.
Sponge on the Run mengikuti rutinitas cerita SpongeBob yang biasa. Menyapa Gary – kucin–eh, siput peliharaannya, pergi kerja ke Krusty Krab, masak Krabby Patty, bikin kesel Squidward, bikin seneng Mr. Krabs, pulang, dan … menemukan Gary kesayangannya hilang! Gary diculik oleh Poseidon sehingga SpongeBob dan Patrick memutuskan untuk hit the road menyelamatkan Gary. Selagi dua sahabat ini terlibat perjalanan absurd, Plankton menyatroni Krusty Krab, bermaksud mencuri resep rahasia. Namun sepeninggal SpongeBob, burger joint itu sepi. Mr. Krabs sedih karena tanpa SpongeBob usahanya gak bisa jalan. Karena sikap dan persahabatan SpongeBob bisa jadi adalah rahasia dalam resep rahasia itu sendiri.

Ohya, ada juga penampakan Keanu Reeves sebagai tumbleweed yang bijaksana

 
 
Memang bukan film SpongeBob namanya jika tidak absurd dan nyeleneh. Kita sudah menyaksikan gimana randomnya karakter-karakter dan kejadian dalam dua film layar lebar SpongeBob sebelumnya. Film ketiganya ini, berusaha mempertahankan cap dagang tersebut. Kita akan melihat begitu lebar range keabsurdan yang muncul, mulai dari robot hingga kemunculan zombie-zombie yang bisa menari. Namun semua itu tidak berarti apa-apa. Tidak pula menambah banyak ke dalam narasi; ke dalam journey yang dilalui oleh tokoh utama kita. Melainkan hanya seperti random things yang dikumpulkan begitu saja. Berharap supaya jadi lucu dengan mindset semakin random, maka semakin luculah ia. It doesn’t work.
Sekiranya memang ada perbedaan tegas antara random yang lucu dengan random yang cuma males. Petualangan absurd SpongeBob tentulah masih akan menjadi perjalanan yang menarik untuk disimak, dengan syarat hal-hal yang ia temui dalam perjalanan tersebut bakal jadi bangunan untuk sesuatu, entah itu pembelajaran atau hanya sekadar big punchline – jika film diarahkan sepenuhnya untuk komedi receh. Seperti ‘aturan dasar’ film roadtrip-lah. Dalam Sponge on the Run ini, kerandoman itu benar-benar jalan masing-masing. Seperti tidak ada benang merah, seperti film ini hanya ingin mencari alasan untuk memanjangkan durasi. Bagiku, film ini tampak seperti mereka memang ingin menceritakan tentang masa kecil SpongeBob dan awal persahabatan para karakter, tapi sekaligus juga mereka tidak ingin menceritakannya begitu saja. Jadi alih-alih memikirkan cara untuk membangun, katakanlah cerita prekuel itu, film malah memikirkan bagaimana mereka bisa menyelipkan prekuel tersebut tanpa benar-benar menceritakannya. Kedengarannya memang tak masuk akal. Namun persis seperti itulah film ini terasa. Mereka memasukkan banyak hal random sebagai pengantar untuk hal penting yang tak ingin mereka ekspos banyak-banyak. Suudzon mode on: film ini desperate mau jual apapun tentang SpongeBob tapi either pengen instant alias gak mau repot atau mau sok-sok memposisikan film sebagai test-the-water alias ‘nanti kita cerita tentang masa kecil SpongeBob’
However, jika mau berbaik sangka; film ini bisa jadi pengen mengajak kita untuk menghargai keberadaan SpongeBob itu sendiri. Karakter yang rela menempuh perjalanan jauh (dan supposedly sedikit berbahaya) demi hewan peliharaannya, aku akan bohong kalo bilang aku enggak relate dengan itu. I mean, kucingku gak pulang makan siang aja aku langsung nyariin keluar berkeliling kompleks, kok. Meskipun dia aneh dan ngasal dan seringkali bego, tapi SpongeBob dalam cerita ini merupakan sosok yang digambarkan sebagai teladan. Kualitas terbaik dalam diri SpongeBob adalah dia tidak pernah egois. Dia juga sangat menghargai persahabatan. Dia menyayangi peliharaannya sama besar dengan dia menyayangi teman, rekan kerja, bos, hingga saingan. Film ingin menonjolkan hal tersebut. Teman-temannya itulah yang pada cerita ini dibuat untuk menyadari peran kehadiran SpongeBob itu di dalam hidup mereka.

Cinta dan persahabatan SpongeBob terhadap teman-temannya merupakan resep rahasia yang membuat hidup mereka semua menjadi ceria. Bahkan Squidward yang penggerutu pun menyadari hal tersebut. Lebih jauh lagi, karakter SpongeBob yang demikian itulah yang jadi formula kesuksesan cerita kehidupan Bikini Bottom ini setelah sekian lama.

 

Setelah gede, kita semua jadi semakin relate kepada Squidward

 
 
Kerandoman yang disetel hingga maksimal itu bisa jadi dilakukan demi attention-span anak-anak yang konon semakin singkat. Maksudnya, dilakukan biar anak kecil yang nonton enggak cepet bosan. Drawbacknya tentu saja adalah si anak-anak tadi bisa jadi malah bingung dengan ceritanya. Aku sendiri, seumur-umur, belum pernah nemuin cerita SpongeBob yang setak-penting dan sekacau ini. Aku suka dua filmnya yang dulu; yang benar terasa petualangannya. Yang berusaha memasukkan hal segar yang tak bisa mereka lakukan di televisi. Nonton film ketiga ini, aku cuma bengong. Hal baru yang film ini buat cuma visualnya. Berbeda dengan SpongeBob klasik, film ini full animasi 3D. Ada juga beberapa adegan tertentu yang menyatukan dengan pemandangan live-action alias asli. Untuk sekadar menambah visual jadi lebih cantik, film ini berhasil. Namun 3D itu juga tidak menambah banyak untuk cerita. Tidak akan ada bedanya jika film ini tetap menggunakan gaya animasi dua dimensi seperti pada kartun televisinya. Sekali lagi, ini merupakan minimalisasi kreativitas dari pembuat. Karena pada film SpongeBob yang kedua kita sudah melihat visual 3D itu mampu mereka mainkan dengan efektik ke dalam cerita – enggak semata untuk mempercantik. But then again, sepertinya aspek visual ini diniatkan hanya untuk appeal ke anak-anak aja; karena sekarang animasi tiga dimensi memang lebih dinikmati. Sukur-sukur ada orang dewasa yang ‘nyasar’ – menyangka karena gambarnya kayak Pixar, maka kualitas cerita pun sama kayak Pixar.
 
 
 
 
 
Random dan absurd adalah yang membuat SpongeBob, SpongeBob. Namun cerita yang koheren adalah yang membuat film, film bagus. Enggak cukup hanya dengan menjadi SpongeBob saja. Film ini harusnya berbuat lebih banyak terhadap penggarapan ceritanya. Petualangan SpongeBob mencari Gary seharusnya bisa dibuat lebih berarti dan menarik lagi. Jikapun bukan tentang itu, film ini padahal punya hal menarik untuk diangkat yakni masa kecil SpongeBob dan teman-teman. Cerita awal mula mereka bisa bersama-sama hingga dewasa. Anehnya, film seperti belum mau membahas total soal ini. Mereka hanya menampilkannya dengan singkat.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for THE SPONGEBOB MOVIE: SPONGE ON THE RUN

 

 
 

 

That’s all we have for now.
SpongeBob sudah ada sejak begitu lama. Humornya selalu segar dan terkenal dengan ciri khas penus selipan jokes dewasa, tapi tetap mampu tampil inosen untuk hiburan anak-anak. Apakah kalian masih suka nonton SpongeBob saat sudah gede? Episode SpongeBob mana yang paling berkesan buat kalian?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA