SEKTE Review

“Don’t be a follower”

 

 

 

Sebelumnya sukses secara-halus mengadaptasi cerita Hereditary (2018) ke lingkungan panti asuhan anak-anak, penulis William Chandra – kini sekaligus mengambil alih kursi sutradara – kembali mencoba peruntungan breaking through horror dengan creatively memasukkan elemen tokoh amnesia ke dalam adaptasi-lembut dari 10 Cloverfield Lane (2016). Dan Don’t Breathe (2016).

Dan Suspiria (1977 atau 2018, your choice!)

 

Asmara Abigail (temanku mengganti ‘g’ dengan ‘f’ setelah melihat penampilan aktingnya sebagai Lia pada film ini) juga terbangun mendapati dirinya dalam situasi antara disekap atau diselamatkan. Bedanya adalah, orang yang mengaku menyelamatkan dirinya bukan seorang bapak-bapak. Melainkan sekelompok orang yang hidup bersama selayaknya keluarga. Kepala ‘keluarga’ ini seorang wanita yang tengah mengandung, yang menjamu Lia dengan penuh kehangatan. Menjamunya makan. Mengenalkan Lia kepada lima penghuni lain. Menjelaskan kepadanya bahwa mereka adalah orang-orang yang terbuang secara sosial. “Dunia di luar kejam” ujar si wanita, dengan pandangan yang meminta Lia untuk tetap tinggal bersama mereka. Karena sekarang Lia yang kehilangan ingatan tidak punya siapa-siapa. Atau paling tidak, itulah yang mereka mau. Lia yang terus disuapi kebohongan dan kenyamanan palsu di siang hari, mulai merasakan keanehan pada sikap keluarga barunya. Yang bisa saja berhubungan dengan teror tak terjelaskan yang datang kepadanya setiap malam hari yang berasal dari sebuah entitas supernatural bernama Bunda yang hidup di suatu tempat di lingkungan mereka.

saking gak tau apa-apanya, Lia malah dipergoki dan ditunjukin arah sama orang buta

 

Siapakah seseorang begitu kita menghilangkan masa lalunya? 

Pertanyaan tersebut adalah alasan kenapa amnesia menjadi salah satu elemen atau trope yang sering kita temui dalam cerita fiksi, entah itu film ataupun novel. Kita bisa menggali banyak tentang personalita seorang karakter saat sejarah dan hubungannya dengan orang lain dicabut dari karakter tersebut. Konflik memang inti dari sebuah drama, akan tetapi setiap interaksi selalu berakar kepada siapa tokoh tersebut pada intinya. Membuat si tokoh amnesia – membuatnya melupakan hal-hal traumatis, atau luka pada hidupnya, atau momen-momen yang mengubah dirinya – seperti mengelupasi lapisan-lapisan luar dari tokoh tersebut sehingga kita dapat melihat dirinya yang asli. Kemudian pada akhirnya membenturkan inti tersebut dengan seperti apa dia seharusnya sekarang, boom, kita dapat cerita-cerita pencarian diri yang begitu personal dan sangat menarik. Jason Bourne melakukannya seperti demikian. Alita juga begitu. Bumblebee. Dalam beberapa poin, Captain Marvel juga.

Elemen amnesia ini adalah faktor paling utama yang mestinya menjadi penentu apakah film Sekte berhasil menjadi dirinya sendiri atau cuma menjadi follower dari film-film lain yang jauh lebih sukses. Cerita Lia ini akan menjadi menarik jika diperlakukan dengan benar, paling tidak sesuai dengan formula menangani karakter amnesia. Resikonya tinggi, memang, dalam menggunakan tokoh utama yang melupakan siapa dirinya. Benturan inner dengan outer journey tokoh tersebut haruslah saling kohesif; saling padu, saling berketerkaitan.

Sayangnya, Sekte terlalu sibuk mengurusi kelokan dan kejutan cerita, membangun jumpscare-jumpscare, sehingga melupakan – atau malah tidak mengerti – bahwa kekuatan utama cerita misteri mereka. Lia tidak pernah digarap. Hush, bukan digarap yang seperti itu, maksudku adalah tokoh Lia tidak pernah benar-benar diperlakukan sebagai tokoh utama. Motivasi absen dari tokoh ini. Sebagai orang yang lupa siapa dirinya, Lia perlu untuk diberikan suatu tujuan sekaligus keinginan mencari tahu siapa dia yang sebenarnya. Sekte melakukan kerja yang sangat buruk perihal memberikan purpose tersebut kepada sang tokoh utama. Dia dibuat mulai beraksi setelah mendengar backstory dari tokoh lain, mendadak dia jadi begitu peduli. Dan Lia sama sekali tidak pernah diperlihatkan penasaran, ingin mencari tahu, siapa sesungguhnya dirinya. Lia sebelum kejadian dalam film ini benar-benar dinihilkan oleh film. Alih-alih menjadikannya sebagai pengembangan, step-step pembelajaran tokohnya, siapa-Lia itu hanya difungsikan sebagai twist. Makanya, kita tidak sekalipun merasa peduli sama perjalanan tokoh Lia. Itupun kalo beneran ada perjalanannya. Bahkan ketika momen terakhir yang menunjukkan transformasi besar-besaran itu, aku tidak merasakan apa-apa selain sedikit kagum melihat visualnya. Naik-turun tokoh Lia ini enggak ada! Karena kita gak punya pegangan seperti apa dia yang sebenarnya.

Itu bukan lantaran filmnya berhasil menjadi ambigu. Kita tidak pernah mempertanyakan apakah yang diberitahu anggota sekte kepada Lia bohong atau bukan. I mean, judulnya saja sudah semacam papan pengumuman yang membeberkan yang bakal terjadi. Sebab film ternyata disetir menjauh dari psikologis Lia. Kita tidak mengerti wound-nya apa. Jikapun ada lie, itupun tidak terasa mempengarui Lia, karena lie tersebut tidak diciptakan oleh dirinya. Tokoh ini tidak mencari. 10 Cloverfield Lane sesegera mungkin menghadapkan Michelle, tokoh utamanya, dalam debat sengit di dalam kepalanya; apa yang sesungguhnya terjadi di luar sana, kenapa dia mesti berada di dalam sini. Ada begitu banyak pengalihan yang jenius dalam film 10 Cloverfield Lane yang mengajak kita turut menerka-nerka. Tokoh yang terlihat jahat, ternyata tidak, eh kemudian tampak berbahaya lagi. Sebaliknya pada Sekte, pengalihan-pengalihan juga ada banyak, hanya saja begitu obvious. Karena pengalihan-pengalihan itu berwujud aspek-aspek bego yang bakal langsung terasa, atau kelihatan, begonya jika kita menonton dengan pake logika.

Kita bukan sekte. Ayo ulangi. Kita bukan sekte.

 

 

Contohnya nih, anggota sekte dalam film ini bahkan enggak mengunci pintu ke ruangan yang ada mayat-mayat didudukkan di kursi-kursi kayak di dalam gereja. Mereka enggak menyembunyikan mayat tersebut dari Lia. Ada satu ruangan di rumah tersebut yang tidak boleh dimasuki oleh Lia, dan itu bukan ruangan mayat-mayat tadi. Terus ada tokoh yang mergokin Lia mau kabur, namun kemudian justru si tokoh itu yang mencoba membantu Lia dan menentang anggota sekte. Adegan-adegan bego semacam itu akan banyak kita temukan sepanjang film, dan surely merupakan tanda-tanda twist yang jelas sekali, yang membuat film kehilangan kemampuan mengangkat pertanyaan. Salah satu dari tiga cast utama dibunuh dalam adegan flashback, enggak sampai lima menit dari kemunculan pertama tokoh yang ia perankan – sangat jelas tokohnya nanti bakal punya peran yang lebih besar, lantaran gak mungkin film bayar pemain dengan nama lumayan besar hanya untuk adegan sekilas. Bahkan akting, oh maan, semuanya seragam jelek sehingga aku jadi penasaran apakah memang disengaja oleh arahan atau para aktornya bermain sekena mereka fully-realized adegan-adegan yang mereka lakukan bego. Dan ternyata memang ada yang disengaja. Ada elemen sandiwara, ada semacam akting dalam akting, yang dilakukan oleh tokoh-tokoh film ini sehingga looking back, kekakuan pengucapan dialog dan penyampaian emosi mereka bisa termaafkan karena sesungguhnya tokoh-tokoh itu juga lagi bersandiwara.

Film ini tidak menyadari bahwa elemen sandiwara yang mereka lakukan justru menihilkan bobot yang berusaha mereka sisipkan ke dalam cerita. Ada tokoh yang curhat kepada Lia soal dirinya berada di sana karena dibuang oleh orangtua yang malu lantaran dia gak seperti cowok normal. Para anggota sekte disugestikan adalah orang-orang terbuang dari masyarakat yang tidak menerima mereka. Dan kemudian kita tahu ternyata tokoh-tokoh tersebut bersandiwara kepada Lia. Ada yang tadinya mati, ternyata tidak mati. Buatku ini membuat komentar dan kritik-kritik sosial tadi tidak punya power atau cengkeraman lagi.

Soal pengungkapan di akhir cerita, beberapa penonton mungkin akan menganggapnya mindblowing. Tapi aku sarankan untuk memikirkan sedikit lebih dalam lagi apa yang sebenarnya dilakukan oleh film ini. BECAUSE IT WAS SO STUPID! Serius deh, setelah nonton tadi aku gak tahan membayangkan pembuat filmnya tersenyum puas menonton orang menonton karya mereka dan berpikir, “keren banget kan twist kita”. It’s not. Kenapa butuh segitu banyak orang untuk menipu satu tokoh yang ga ingat apa-apa, basically adalah kertas kosong yang bisa ‘ditulis’ apa saja, yang bahkan tidak mempertanyakan hal yang kau ceritakan kepadanya. Kenapa jika orang yang tadinya punya kepala sehat saja bisa sukarela masuk ke dalam lingkaran sekte, para anggota tersebut masih merasa perlu untuk bikin sandiwara demi meyakinkan orang yang sama – minus ingatannya – untuk kembali masuk ke sekte mereka. Kenapa oh kenapa sandiwara yang mereka lakukan musti berdarah-darah dan sangat eksesif padahal mereka cukup bersandiwara minta tolong ke Lia bahwa mereka sebenarnya ditahan oleh Bunda, mereka tinggal pura-pura mohon ke Lia“tolong bunuh monster di ruangan itu”… beres kan, toh hasil yang diinginkan bisa tercapai, dan kita bisa lebih cepat keluar dari bioskop.

At its best, Sekte memberikan gambaran bahwa yang fanatik-fanatik itu memang gila. Mereka rela melakukan hal yang gak perlu, bisa dibilang bego, bahkan sampai mengorbankan bukan saja orang luar melainkan kelompok mereka sendiri. Makanya, janganlah bangga-bangga amat menjadi pengikut, apalagi pengikut yang buta.

 

 

 

Film dengan cermat menyusun rencana dan menanamkan detil-detil, film punya ambisi untuk membuat horor dengan twist yang cerdas. Hanya saja mereka melupakan logika. Pengungkapan dalam film ini justru semakin membuat cerita semakin bego. Permainan akting yang kaku sama sekali tidak menolong film yang sudah kehilangan bobot gagasan oleh turn yang mereka lakukan pada cerita. Ini adalah horor yang sangat lemah. Aku malah takjub sekali jika masih ada penggemar horor yang merasa takut saat menonton film ini. Kecuali mungkin penggemar horornya sudah lupa ingatan akan bagaimana horor yang bagus. Karena elemen-elemen kunci pada film ini sudah pernah kita temukan dalam wujud yang lebih baik. Ini gak bakal jadi horor pemimpin, dia hanya pengikut. Bahkan mencapai status cult-movie pun rasanya sulit.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for SEKTE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana sih pendapat kalian tentang sekte? Apakah kubu-kubu politik yang kita jumpai sekarang ini bisa disebut sebagai sekte juga?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

PET SEMATARY Review

“Death is a mystery and burial is a secret”

 

 

Bahkan Stephen King sendiri – penulis novel source materi film ini – pernah bilang bahwa Pet Sematary adalah satu-satunya cerita buatan dirinya yang beneran membuatnya ketakutan. Meskipun aku belum pernah baca bukunya (aku mungkin bakal mencarinya sesegera mungkin), tapi aku sudah menonton film adaptasi pertamanya, Pet Sematary (1989). Film tersebut sukses menanamkan banyak hal mengerikan di benakku; seperti jalanan yang lengang itu lebih berbahaya ketimbang jalanan yang padet lantaran mobil bakal lebih leluasa ngebut, dan aku actually tinggal di daerah yang sering dilewati truk-truk besar seperti pada cerita Pet Sematary. Film tersebut juga sedikit-banyak berjasa dalam membuatku sempat takut sama kucing. Dan hingga sekarang, aku gak belum lupa sama adegan “no fair, no fair” menjelang penutup filmnya.

Dari sekian banyak film adaptasi novel misteri Stephen King, film yang bagus sesungguhnya bisa dihitung dengan jari. Tapi kenapa Pet Sematary yang udah bagus malah diadaptasi dua kali mungkin bakal membuat kita mengernyitkan dahi. Pet Sematary yang baru ini masih bercerita tentang keluarga yang pindah dari Boston ke rumah baru mereka di pinggir jalan negara bagian Maine. Kemudian mereka menemukan sebidang tanah yang oleh anak-anak setempat dijadikan pekuburan untuk hewan-hewan peliharaan yang tertabrak mobil. Makanya judul film ini typo, karena ceritanya nama tersebut diberikan oleh anak kecil. Kematian adalah hal yang alami. Seharusnya tidak ada yang mengerikan pada pekuburan, hanya tempat orang mati disemayamkan. Paling tidak itulah yang dimengerti oleh Louis, kepala rumah tangga yang bekerja sebagai seorang dokter di unversitas. Tapi lantas hal supranatural terjadi, Louis didatangi oleh pasiennya yang meninggal karena kecelakaan. Sebagai ucapan terimakasih, sang pasien bermaksud untuk memperingatkan Louis untuk tidak melanggar batas di area pekuburan. Untuk tidak tergoda sama kekuatan tanah Indian yang misterius yang mampu membangkitkan makhluk tak-bernyawa yang dikuburkan di dalam tanahnya yang kasar dan jahat.

bisakah kita mengajarkan trik baru kepada kucing yang telah mati?

 

Tema ceritanya memang kelam. Pet Sematary pada intinya adalah cerita tentang orangtua yang berusaha memperkenalkan kematian kepada anak-anak mereka. Mati tentu saja adalah konsep yang berada di luar nalar anak kecil. Kenapa kita harus mati. Kemana kita setelah mati. Film Pet Sematary membawa suara novelnya, berbicara tentang hal tersebut. Kita akan melihat Ellie, putri dari Louis mempertanyakan soal kematian. Dan kita melihat gimana Louis dan Rachel, istrinya, sedikit berbeda pendapat. Ada sedikit pertentangan dari Louis saat Rachel menjelaskan kepada Ellie bahwa ada yang namanya ‘afterlife’; ada surga. Sementara Louis tidak percaya akan hal tersebut. Ini menciptakan dua sudut pandang yang menarik dan akan bermain ke dalam perkembangan tokoh. Tapi paling tidak, suami istri ini setuju untuk mengajarkan satu hal kepada putra-putri mereka; bahwa kematian harus diikhlaskan.

Tetapi bagaimana caranya mengingatkan, mengajarkan ikhlas menghadapi kematian kepada anak-anak, jika kita sendiri sebenarnya belum mengerti benar tentang kematian – belum bisa mengikhlaskan kematian? Alih-alih truk, sebenarnya pertanyaan inilah yang akan menabrak kita keras-keras.

 

 

Film Pet Sematary yang pertama bukanlah film yang sempurna. Jika dikasih nilai, aku akan memberinya nila 6.5 dari 10 lantaran banyak yang mestinya bisa dikembangkan. Pet Sematary yang baru ini, bukanlah sebuah remake, melainkan adaptasi berikutnya dari novel yang sama. Jadi, ya, film ini menawarkan beberapa hal baru – perubahan baik besar maupun kecil jika dibandingkan dengan materi asli maupun film pertamanya. Jadi kupikir, mungkin ini alasan film ini dibuat lagi, karena mereka ingin mengangkat sudut-sudut yang lemah. Melakukan perubahan atas nama pembaruan. Tapi apakah itu lantas membuat film jadi lebih baik?

Ada beberapa yang aku suka. Pada film yang dulu, Louis ini tokoh utama yang lumayan bland. Dia tidak punya backstory semenarik dan semengerikan Rachel, dan juga Jud – tetangga mereka. Dalam film kali ini, Louis yang diperankan oleh Jason Clark diberikan sudut pandang yang lebih kuat, tapi memang sepertinya tokoh ini sudah mentok. Aku berharap mungkin mereka bisa mengganti tokoh utamanya menjadi Rachel yang dihantui trauma masa lalu berkaitan dengan saudaranya yang sakit keras. Sutradara Kevin Kolsch dan Dennis Widmyer memberikan lebih banyak porsi kepada Rachel yang dimainkan oleh Amy Seimetz dibandingkan Rachel di film yang dulu. Dan benar membuat ceritanya lebih menarik dan mengerikan, kita bisa melihat keparalelan sehubungan dengan ikhlas menerima kematian dengan lebih jelas. Kita juga diberikan lebih banyak interaksi dengan Ellie – aktris cilik Jete Laurence actually punya tantangan range di sini. Tapi tetap saja, tokoh utama haruslah Louis, karena dialah yang melakukan penggalian. Dan ini membuat film jadi sedikit ‘kacau’ di perspektif. Set upnya jadi terasa agak aneh.

Adegan tabrakan setelah midpoint adalah perubahan yang paling signifikan dalam narasi. Efek perubahan cerita ini tak-pelak akan terasa maksimal oleh penonton yang familiar dengan film Pet Sematari yang dulu. I know I did. Perubahan yang dilakukan cukup drastis dan membuka peluang untuk penggalian sudut yang baru, yang mungkin lebih dalam. Dan aku semakin excited melihat seperti apa film akan berakhir. Yang bikin aku ngakak adalah film sempet-sempetnya memasukkan easter-egg, sebegitu singkat, yang aku yakin yang pernah menonton film yang dulunya pasti tahu. Dalam film yang dulu, adegan tabrakan ini terjadi karena supir truk yang lagi asik dengerin lagu Sheena is Punk Rocker (oh boy, lagu Ramones ini jadi bahan candaan waktu aku masih sekolah). Dan di film yang baru ini, kita bisa melihat supir truknya mendapat panggilan dan sekilas kamera menunjukkan “Sheena is..<calling>” pada layar teleponnya hihi

Memang baru pada adegan tabrakan inilah film terasa mulai bergerak bebas. Karena separuh awal itu hanya berisi eksposisi. Orang-orang yang duduk bercerita tentang sejarah kuburan hewan. Tentang legenda sour ground, tentang cara kerja dan efeknya. Buat yang sudah tahu, ini tentu akan membosankan. Bahkan yang belum pernah baca atau nonton film yang dulunya pun, tidak seperlu itu mendapat penjelasan yang bertubi-tubi seperti yang dilakukan film ini pada babak pertama dan awal babak keduanya. Tokoh tetangga, Jud, yang diperankan simpatik oleh John Lithgow, seperti buku manual yang terus berbicara. Untung saja aktornya cakap sehingga tidak terdengar monoton.

mimpi buruk setiap orangtua adalah mengubur anaknya sendiri…dua kali!

 

Babak ketiga film ini sebenarnya cukup keren. Kengeriannya itu berada di tanah yang berbeda. Namun itu jugalah yang menjadikannya aneh, film ini seperti missing the point. Fokus cerita seperti berubah jadi tentang roh-roh jahat Wendigo itu ketimbang masalah pengikhlasan kematian yang menjadi tema utama cerita. I mean, bukankah poin utama film ini adalah tentang ngajarin anak ikhlas, dan betapa ngajarin itu lebih gampang daripada melakukan – justru orangtua yang paling susah menerima jika kematian tersebut menimpa anak mereka. Akan tetapi, dari arahan yang menutup cerita, seperti tidak ada yang belajar pada akhirnya. Anak Louis dan Rachel tidak pernah sadar menerima kematian saudaranya – karena film ini mengganti secara besar-besaran. Louis pun malah mendapat ‘hukuman’ ketika dia mencoba untuk mengikhlaskan dan mengambil jalan yang benar.

Selain itu juga film ini terasa begitu berusaha untuk menjadi seram. Atmosfernya dibuat sangat kelam. Bahkan ada sekelompok anak-anak yang memakai topeng yang tidak benar-benar menambah bobot selain menghasilkan imaji yang seram. Mereka seharusnya dipergunakan dengan lebih maksimal, karena idenya udah keren. Yang paling tidak aku suka adalah film ini tidak benar-benar membangun lokasi ceritanya. Truk-truk besar yang ngebut itu hanya ada ketika naskah butuh device dan butuh momen jumpscare. Pada film yang dulu, daerah rumah mereka hidup oleh suasana. Saat mereka ngobrol kita mendengar suara truk lewat. Mengingkatkan kita bahwa kematian tidak pernah jauh dari mereka. Pada film kali ini, daerah mereka seperti sunyi. Mati dalam artian yang pasif. Tempat yang mengancam itu tidak dibangun, padahal justru di situlah letak kekuatan cerita-cerita horor Stephen King; Tempat yang diam-diam mengancam. Film yang dulu tidak perlu gelap dan jumpscare dan semua itu, tapi toh tetep atmosfer seramnya menguar.

 

 

Seperti mayat kucing yang dikubur itu, horor re-adaptasi ini kembali ke tengah-tengah kita dengan tak lagi sama. Dengan perubahan drastis, film ini menawarkan horor yang mencekam meskipun sedikit lebih artifisial. Karakter-karakternya lebih dalam terjamah. Ada bagian yang bikin kita terenyuh juga. Endingnya bisa dibilang keren. Tapi aku tidak bisa bilang aku menyukainya. Bukan lantaran dia berbeda, justru bagus ada adaptasi yang benar-benar melakukan tindakan adaptasi – tidak melulu membuat tok sama. Aku gak suka karena film ini jadi seperti lupa pada poinnya sendiri. Sehingga narasinya jadi aneh. Jadi malah lebih seperti cerita tentang makhluk jahat yang mau merebut tempat manusia alih-alih tentang menerima kematian itu sendiri. Penceritaannya pun tidak menjadi lebih baik. Tokoh utamanya tetap kalah menarik. Separuh awal film ini akan membosankan bagi yang sudah tahu ceritanya. Dan kalo ada yang nanya ‘kalo udah tau kenapa nonton?’, maka baliklah bertanya ‘kalo sudah pernah kenapa dibuat lagi?’ Kalo sudah mati kenapa dihidupkan lagi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PET SEMATARY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian mengubur hewan peliharaan yang kalian sayangi sewaktu masih kecil? Bagaimana perasaan kalian saat itu?

Menurut kalian adaptasi buku Stephen King mana yang perlu dibuat ulang?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

MATIANAK Review

“Blessed are the merciful, for they will be shown mercy”

 

 

 

Siapa yang menanamkan kebaikan, dia akan menuai – coba tebak – kebaikan juga. Jika kita menunjukkan kasih sayang yang begitu besar, dengan tulus, kita akan disentuh balik oleh kasih sayang yang tak kalah hangat. Sungguh merupakan kalimat yang positif untuk mengajarkan kebaikan kepada sesama manusia. Siapa sangka, dalam debut pertamanya sebagai seorang sutradara, aktor Derby Romero berhasil membuat perbuatan positif tersebut jadi punya undertone yang mengerikan.

 

Ina (juga menjalani debutnya dalam horor, Cinta Laura Kiehl punya presence yang kuat) besar tanpa orangtua di panti asuhan kini tumbuh menjadi wanita yang benar-benar cinta dan peduli kepada anak-anak yatim piatu yang diasuhnya. Film menunjukkan hangatnya hubungan yang terjalin di antara Ina dengan anak-anak. Dan anak-anak itu juga respek dan peduli padanya. Hingga kemudian Andy, satu-satunya korban yang selamat dari insiden yang menewaskan satu keluarga, ditempatkan ke panti mereka. Andy anak yang aneh. Dia jarang ngomong. Anjing takut kepadanya. Kejadian-kejadian seram bermunculan bersamaan dengan kehadiran Andy di tengah-tengah mereka. Andy dijauhi. Oleh anak-anak, maupun oleh pengasuh. Kecuali Ina. Actually, Ina-lah yang justru menjamin Andy tinggal di sana saat pemilik panti menolak untuk menerimanya. Menyebut dengan tegas dirinya yang bertanggungjawab atas Andy.

Babak pertama dan kedua film ini bergulir dengan menyenangkan untuk diikuti. Pesona cerita memang sepertinya terletak pada interaksi tokoh, baik itu Ina yang memposisikan dirinya sebagai ‘big sis’ kepada anak-anak. Maupun sesama anak-anak itu sendiri. Kehidupan dalam film ini terbangun dengan tidak melupakan napas horornya. Bagaimana anak kecil melihat gudang sebagai tempat yang menyeramkan, dan mereka mengarang-ngarang cerita untuk saling menakuti (biar takutnya sendiri gak keliatan!), kemudian saling menantang untuk masuk ke gudang – buatku momen-momen seperti begini yang membuat film hidup. Tone ceritanya bercampur dengan mulus. Kita boleh jadi tertawa melihat tingkah tokoh cilik, bisa juga sedikit tersentuh melihat aksi yang dilakukan oleh Ina demi anak-anak asuhnya, sekaligus tetap was-was dengan horor yang bakal terjadi. Bangunan horor, petunjuk untuk twist di akhir, semuanya terjalin di dalam cerita.

si Andy mirip Ocho kecil di film live-action manga 20th Century Boys (2008)

 

Meskipun banyak tokoh anak-anak, tapi film ini jelas bukan untuk konsumsi anak-anak. Film cukup bijak untuk langsung memberitahuk kita gambaran atmosfer mereka right at the beginning of the movie. Ya, memang sih, sudah jadi adat jelek penonton untuk gak terlalu musingin kategori-umur film – kita sesama penonton tidak bisa berbuat banyak jika bioskop sendiri pun tidak tegas. Tapi serius deh, untuk horor yang satu ini, aku sarankan orang-orang dewasa untuk mematuhi dan peka terhadap rambu-rambunya. Jangan bawa anak kecil nonton film ini. Kasian mereka, bisa trauma. Level kekerasan dan gore pada film ini berada di level yang tinggi, sehingga nyaris bisa disebut sebagai body horror. Ada gambar-gambar disturbing seperti hantu anak kecil dengan usus terburai. Mayat manusia bergelimang darah dengan posisi anggota tubuh yang bikin meringis. Dan tokoh-tokoh anak kecil tadi; mereka ada dalam cerita bukan sekadar untuk teriak-teriak ketakutan. Cerita benar-benar tak pandang bulu dalam memilih korbannya. Semua adegan pembunuhan yang dalam film ini memang dilakukan off-screen, kamera bakal berpaling dari ‘momen klimaks’ tapi tetap saja masih ada suara, dan aftermath, yang bakal membuat imajinasi kita meliar. Dan percayalah imajinasi kita kadang lebih kuat daripada gambar yang disuapi, malahan horor-horor yang bagus selalu menerapkan hal ini; tidak memperlihatkan yang krusial dan membiarkan penonton bergidik sendiri tanpa bisa keluar dari imajinasi di dalam kepalanya.

Menurutku film ini sebenarnya tidak perlu untuk menjadi begitu loud untuk menjadi seram. Tapi mungkin karena belum terlalu pede, maka kita masih menjumpai fake jumpscare yang suara-suaranya bikin jantung copot. Padahal beberapa adegan ditangani dengan baik sehingga atmosfer seremnya itu kerasa. Film sempat bermain dengan lilin. Aku suka shot dari belakang mobil yang sedang berjalan dengan kanan-kiri pepohonan yang bergoyang tertiup angin, tapi goyangannya itu tampak patah-patah sehingga kesannya eerie banget. Aku juga suka bagian ketika Fatih Unru yang jadi salah satu anak panti terkurung di dalam gudang. Editing di bagian ini precise banget. Kamera membawa kita terpotong pindah dari Fatih yang berteriak ketakutan sambil menggedor pintu ke sosok hantu di belakangnya, dan semakin frantic pindahnya si hantu semakin mendekat. Intensitas horor saat sekuen adegan ini bekerja dengan sangat baik. Jumpscarenya pun bekerja dengan efektif dan benar-benar mengena kepada penonton – in a good way. Soal gore dan darahnya; kalian tahu aku suka. Kita juga sama-sama bisa melihat kenapa tone horornya harus memuncak ke arah sana. There’s something about showing mercy yang semakin ke sini semakin regresi, di mana tokoh utama kita harus dihadapkan dengan cara kerja dunia yang berlawanan secara ekstrim dengan keadaan ideal yang ia anut.

Tadinya kupikir MatiAnak bakal seperti The Orphanage (2007), horor Spanyol yang juga tentang wanita yang memilih mendedikasikan hidupnya bekerja di panti, dengan elemen gore. Mungkin memang gak benar-benar original, tapi masih bisalah bekerja dengan gayanya sendiri. Namun masuk babak ketiga, film ini ternyata lebih mirip ama Hereditary (2018) – dan musti kutambahkan, MatiAnak failed dalam usahanya untuk menjadi seperti horor buatan Ari Aster tersebut.

“Malu? Malu? Malu? Malu gak?”

 

Tadinya kupikir yang aneh dari film ini cuma kenapa Ina yang sejak kecil tumbuh dan gede di lingkungan panti asuhan lokal masih beraksen bule dan bukankah poin dari menjadi aktor adalah bermain bukan menjadi diri sendiri. Tapi di babak ketiga, setelah melihat di mana elemen-elemen cerita berkumpul, setelah jawaban dari plot poin mulai terlihat dan mengembang menjadi penjelasan, keanehan dalam film ini semakin banyak. Seolah film gak tahu bagaimana harus mengikat cerita sehingga punchline ataupun gagasan yang ada tadi itu menjadi kuat sebagai final. MatiAnak bisa kubilang sebagai salah satu horor dengan penyelesaian yang asal-selesai yang pernah kutonton. Aku tidak mengerti transformasi Ina; kenapa dia harus ‘ngalah’. Aku mengerti build up cerita berfokus kepada antara Ina dengan Andy, progresnya adalah sekarang Ina yang mendapat belas kasihan – kita melihat Ina yang semakin ke sini semakin galak, rambutnya semakin awut-awutan, tapi aku tetap tidak bisa melihat kenapa dia begitu cepat, katakanlah, menerima takdirnya. Seperti ada perlawanan atau satu momen penyadaran yang terskip oleh cerita. Ada adegan ketika Ina harus melukai seseorang, dia malahan sempat berantem dulu, yang mustinya adalah titik balik tokoh yang tadinya elok budi pekerti banget, tapi efeknya terasa terburu dan gak benar-benar mengena.

Film seperti kebingungan menangani elemen cult pada ceritanya. Kita tidak pernah benar-benar mendapat sense yang pasti soal apa sih yang dikerjakan oleh mereka, how do they work, sebatas apa campur tangan mereka, karena dalam film ini juga terdapat sejumlah hantu yang gak jelas siapa, yang siapa. Ada hantu keluarga Andy, ada sosok hitam yang supposedly ‘Raja’ yang anggota cult sembah, tapi juga ada hantu nenek-nenek, terus entah hantu apa yang sempat merasuki anak-anak. Juga ada bagian investigasi. Ina mengunjungi rumah Andy untuk mencari petunjuk. Namun investigasi tersebut sungguhlah pointless karena hanya berujung pada sebuah flashback yang adegannya sendiri pretty much adegan yang kita saksikan di awal film. Ina tetap tidak tahu apa yang terjadi, later on jawaban diberikan kepadanya oleh tokoh yang lain. Agak sayang sih, soalnya di dua babak sebelumnya Ina dibuat cukup kuat – dia melakukan banyak pilihan, tapi ternyata dia tidak benar-benar melakukan aksi apa-apa saat penghujung cerita. Dan bicara soal pointless, aku sungguh tidak mengerti kepentingan tokoh Jaka selain untuk antar-jemput dan biar ada romance-nya barang sedikit.

 

 

 

Lumayan kuat di dua babak awal, namun keteteran di akhir. Ada banyak yang mestinya bisa lebih diefektifkan lagi. Aku benar-benar bengong di ending karena terasa maksain untuk berhenti di sana. Padahal masih ada pilihan untuk tokoh utamanya, tapi naskah mengharuskan dia untuk memilih itu tanpa banyak pertimbangan. Ini seperti ketika kita main video game, semua musuh sudah kalah, tinggal bos terakhirnya, dan kita malah milih untuk tidak melawan sang bos. Tapi, di balik semua itu, aku cukup senang horor sudah menjadi begitu hitsnya di sini sehingga memancing sisi kreatif dari pelaku perfilman muda. Asalkan semuanya mau belajar dan menantang diri sendiri, aku yakin tidak butuh waktu lama untuk kita mendapat Jordan Peele-Jordan Peele tanah air, ataupun horor yang benar-benar sejajar ama kualitas Hereditary
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for MATIANAK.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Membesarkan orang yang mungkin bakal menjadi ‘musuh’ kita sih sudah biasa, tapi jika dibalik; maukah kalian mendapat belas kasihan dari orang yang kalian takuti?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

ROY KIYOSHI: THE UNTOLD STORY Review

“With great power comes great responsibility”

 

 

 

Menjadi seperti Roy Kiyoshi mungkin adalah impian segenap orang; punya kekuatan dan menggunakannya untuk membantu orang lain. You know, seperti pahlawan. Sejak nongol di acara televisi, Roy Kiyoshi sudah terkenal punya kemampuan indigo. Tapi punya acara tivi hits karena bisa melihat hantu dan ‘meramal’ peristiwa yang belum terjadi ternyata tidak serta merta merupakan hidup yang menyenangkan. Ada beban yang harus dipikul. Horor terbaru Jose Poernomo ini membahas tentang sisi gelap dari kehidupan Roy Kiyoshi sebagai seorang yang bisa melihat berbagai penampakan di dalam gelap. Tentang kehilangan yang harus ia terima, tentang bagaimana dia berjuang keluar dari kekalahan yang terus-terusan merundung.

Semakin banyak ‘kekuatan’ yang bisa kita lakukan, maka tanggungjawab yang kita pikul pun semakin berat. Sejarah menunjukkan banyak orang yang justru menjadi rusak oleh kekuatan mereka sendiri; Hitler, Napoleon, bahkan penduduk Atlantis diceritakan punah karena mereka terlena dan gak mampu memanfaatkan kemampuannya untuk kebaikan. Film ini menunjukkan dengan simpel; jika kita punya sesuatu yang lebih dibandingkan orang lain, maka gunakanlah kelebihan tersebut untuk kebaikan.

 

Kupikir cerita akan fokus kepada Roy Kiyoshi yang memerankan dirinya sendiri. But actually, cerita film ini seperti terbagi dua. Kita akan melihat Angel Karamoy sebagai Sheila yang baru mulai bekerja di kantor LSM yang menangani kasus kekerasan terhadap anak. Cerita Sheila ini praktisnya lebih menarik, dia lebih kuat sebagai tokoh utama. Sheila terobsesi sama kasus penculikan anak-anak karena dia juga punya adik yang hilang diculik. Ketika Sheila mengetahui ada pegawai di kantor yang bunuh diri saat tengah menginvestigasi serangkaian kasus anak-anak yang menghilang misterius, Sheila melakukan apa yang harusnya dilakukan oleh seorang tokoh utama cerita yang kuat. Dia masuk ke kasus tersebut dengan ‘paksa’. Kita akan melihat adegan penyelidikan kecil-kecilan saat Sheila semakin larut ke dalam misteri. Dan puncaknya adalah ketika dia menemukan hal ganjil dan kemungkinan pelaku semuanya adalah hantu.

Kisah Sheila ini bisa jadi satu cerita horor yang utuh, aku membayangkannya malah bisa seperti The Ring (2002) di tangan yang tepat, di pundak yang lebih bertanggung jawab yang tak memikul kepentingan apa-apa. Aku juga suka sama desain Banaspati, tokoh setan, dalam tokoh ini. Mukanya kayak hantu samurai Jepangnya, badan kurus tingginya menyala seperti bara api – cocok dengan mitologi jawa Banaspati yang memang setan berelemen api. Efek apinya memang agak cheesy tapi masih bisa dimaklumi dan lumayan bisa diasosiasikan sebagai sesuatu yang creepy. Tapi ini adalah cerita tentang Roy Kiyoshi. Maka every now and then kita akan ditarik pergi dari sisi Sheila untuk melihat Kiyoshi yang depresi, yang berhujan-hujan, yang menyusur garis pantai membeli minuman keras, menenggaknya di kediaman yang mewah, dengan tone warna yang keabuan, dengan narasi voice-over yang menceritakan gimana peliknya gundah di dalam hati sang anak indigo ini.

Di balik penampilan yang katanya cool, sesungguhnya ada pribadi yang tersiksa

 

Tentunya juga ada tanggung jawab tersendiri yang hadir ketika sebuah cerita dijual sebagai kisah nyata yang belum pernah diekspos ke publik sebelumnya. I mean, cerita tersebut mestilah meyakinkan sebagai kisah yang benar-benar bisa terjadi di dunia nyata kan. Well to be honest, aku susah percaya bahwa tokoh kita ini beneran punya adek yang hilang diculik hantu selama tiga tahun. Bisa jadi semua kejadian di film ini benar, yang mana masuk akal kenapa kejadian itu difilmkan. Siapa-lah kita mempertanyakan kebenaran hidup seorang yang melihat jauh lebih banyak makhluk halus daripada kita. Film tidak pernah menjelaskan mana elemen nyata atau mana yang tidak dalam cerita ini. Atau bisa jadi yang benar cuma bagian Roy Kiyoshi yang menutup diri sementara semua bagian yang diperankan Angel Karamoy hanya pengait cerita.

Pasalnya, setiap kali cerita berpindah ke bagian Kiyoshi, aku merasa pengen cepet-cepet pindah lagi ke bagian Sheila. Apa menariknya melihat orang yang sepanjang adegan gitu-gitu mulu. Mengasihani diri sambil minum alkohol. Cara yang aneh untuk membangun tokohnya sebagai seorang pahlawan. Tidak ada momen pembelajaran pada bagian Kiyoshi. Dia hanya depresi sebagian besar durasi – naskah mencoba membuat penonton bersimpati padanya hanya karena ada kejadian mengerikan yang terjadi di masa lalunya tanpa membuat tokoh ini melakukan sesuatu – dan ketika film udah mau habis barulah tiba-tiba dia bergerak menjadi penyelamat yang menolong Sheila, yang mengalahkan si setan Banaspati. Kita diniatkan untuk bertepuk tangan menyemangati pertempurannya yang udah kayak sekuen battle di anime – you know, ketika ada jagoan melawan monster. Tapi yang kurasakan hanya kekosongan pahit. Film tak berhasil membangun tokoh Kiyoshi sebagai jagoan. Baik Sheila dan Kiyoshi sebenarnya punya persoalan personal dengan si setan, mereka punya motivasi, tapi di akhir itu film mengesampingkan tokoh yang benar-benar melakukan aksi sedari awal. Dengan tak adanya emosi genuine yang kita dapatkan, filmnya semakin diperberat oleh kesan bahwa filmnya begitu panjang padahal enggak sampai sembilan-puluh menit. Sini kuberitahu penyebabnya apa:

Film ini tidak punya babak kedua.

 

Struktur naskah film standarnya berbentuk tiga-babak. Babak satu untuk set up. Babak dua untuk naiknya aksi dan tensi. Babak ketiga untuk penyelesaian. Pengalokasian waktunya biasanya sekitar 25% babak pertama, 50% babak kedua, dan 25% terakhir adalah babak ketiga. Sebagian besar film – kecuali yang eksperimental – ‘masuk’ ketika kita menerapkan pembabakan ini ke dalam ceritanya. Film Roy Kiyoshi, sungguh tak-disangka tak-dinyana, menolak untuk masuk ke dalam struktur tiga-babak. Film ini tidak punya rising action. Babak kedua sama datarnya dengan babak pertama. Baru di babak ketigalah klimaks itu hadir begitu saja.

Itu yang jadi Fitri aku mau ngasih saran untuk daftar Gadis Sampul deh, tiga atau empat tahun lagi

 

Dari selepas sepuluh menit pertama hingga tiga puluh menit terakhir, Kiyoshi tidak melalui perjalanan apapun. Tidak ada ‘cara mudah’, ‘intensitas naik’, ‘taktik baru’, dia hanya minum dan minum. Sheila masih mendingan. Di akhir babak pertama dia menemukan petunjuk kalo ada setan di balik ini semua, tapi bahkan bagi tokoh ini pun plot mengalir datar dengan tidak ada usaha lain selain bertanya dan bertanya hingga dia bertemu dengan kontak Kiyoshi. Pertemuan Sheila dan Kiyoshi juga terjadinya telat banget. Mestinya terjadi di babak kedua, paling enggak sekitaran mid-point, karena dengan begitu di babak tiga nanti keduanya sudah menjadi pribadi yang baru saat berhadapan dengan demon masing-masing. Tapi pada film ini, Sheila dan Kiyoshi baru bekerja sama di babak tiga. Bahkan stake waktu (Banaspati akan menculik korban baru tiga hari dari sekarang) pun baru muncul di babak akhir ini. Babak sebelumnya kedua tokoh lempeng-lempeng aja tanpa ada desakan narasi. Mereka menghabiskan begitu banyak waktu untuk enggak melakukan apapun terhadap perjalanan tokohnya. Jadi, babak ketiga film ini terasa sumpek. Setelah pertengahan yang kempes banget sehingga seperti babak set up yang diperpanjang, kita langsung masuk babak akhir di mana terasa seperti babak dua dan tiga dicampur menjadi satu. Makanya 30-20 menit terakhir itu rasanya lama banget. Begitu banyak yang terjadi, Kiyoshi aja sampe sempat-sempatnya bertapa di pedalaman, bikin aku melirik jam histeris “Ini durasi udah sepuluh menit lagi habis kenapa dia masih kayak latihan yang harusnya ada di sequence ke enam?”

 

 

 

 

Cerita Sheila sebenarnya menarik jika digarap dengan kompeten. Desain hantunya juga lumayan seram. Film ini cukup janggal, dalam artian yang menarik. Seperti misalnya adegan kredit pembuka yang dengan berani membawa kita bergerak dari kanan ke kiri alih-alih progresi kiri ke kanan. Lebih lanjut ke penghabisan, yang dilakukan film ini sesungguhnya mendobrak struktur cerita film, tetapi at this point aku sungguh meragukan pembuat film ini tahu apa yang sedang mereka lakukan. Mungkin bukan hanya buat horor, melainkan film ini sudah seperti wajah baru bagi penulisan naskah film Indonesia. Hanya saja, wajah itu enggak cakep.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for ROY KIYOSHI: THE UNTOLD STORY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Relakah kalian melakukan sesuatu yang kalian jago untuk orang lain, for free? Pernahkah kalian menahan diri untuk membantu orang karena kalian pikir akan membuat hal menjadi semakin ribet? Apakah menurut kalian membantu orang lain itu harus sesuai dengan mood?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

11:11 APA YANG KAU LIHAT? Review

..subconscious perception from your numbers is able to influence your life.

 

 

 

Dengan judul yang unik, seketika film ini menangkap perhatian kita. Kenapa angka? Di abad pertengahan, berkembang ilmu yang khusus meneliti hubungan antarangka-angka dengan kemungkinan makna di baliknya. Bahwa aspek positif dan negatif yang terkandung dalam setiap barisan angka. Meskipun kita mengulum senyum membacanya, praktek numerologi tak bisa disangkal masih sering diterapkan di dunia modern seperti sekarang. Orang ngadaian pesta di nikah pada tanggal-tanggal yang dinilai ‘cantik’. Bioskop dan pesawat yang enggak punya baris ke-13, atau gimana orang Jepang membangun apartemen dengan sengaja mengeskip lantai empat. Dan aku masih ingat, belum lama banget, berkembang tren ngepos angka kembar yang tak sengaja terlihat dan mengaitkannya dengan lambang abjad dari nama orang yang dipercaya saat itu lagi kangen ama yang melihat angka.

Film 11:11 garapan Andi Manoppo bukan film pertama yang menyinggung horor yang terkandung pada angka sebelas. Pernah ada film Hollywood, 11-11-11 (2011) yang mengkapitalisasi betapa angka sebelas kembar merupakan lambang terbukanya gerbang neraka. Dalam film Manoppo yang menceritakan empat anak muda pencinta diving, waktu sebelas lewat sebelas juga menandakan petaka yang bakal datang. Meskipun memang hanya sedikit sekali build-up mengenai kepentingan waktu tersebut; kita hanya melihat sebelum menyelam, seseorang dari mereka melihat angka tersebut pada jam tangan – dan nantinya keadaan menjadi buruk di dalam air sana. Namun ada satu mitos lagi, sesuatu yang mereka lakukan di dalam sana – yang melanggar larangan – yang actually menjadi trigger sebenarnya kemunculan petaka. Jadi, angka 11:11 pada judul hanya tampak seperti lapisan pengecoh yang enggak benar-benar penting dengan adegannya yang menunjukkan ini seperti ditambahkan supaya judulnya ‘terbayar’. Bahkan tokohnya saja tidak digambarkan punya reaksi apa-apa saat melihat angka penting tersebut.

jelas mereka gak bisa bikin film ini berjudul Karang Hiu karena takut disalahsangka ini adalah film tentang hiu.

 

 

Mungkin juga ini adalah cara film menyentil kebiasaan ajaib kebanyakan orang. Bahwa tidak ada yang spesial pada sebaris angka, termasuk angka kembar. Pikiran kitalah yang membuatnya menjadi spesial. Berkembangnya banyak fenomena dan kebiasaan berdasarkan angka atau waktu menunjukkan betapa kita, manusia, suka menyelami makna. Kita merasa puas jika menemukan kepentingan dan alasan di balik hal apapun dalam hidup.

 

Namun begitu, tawaran 11:11 memang bukan main-main. Horor di bawah laut, penonton dibawa menyelam bersama para tokoh, bukanlah suatu sajian yang mudah merekam dari dalam laut. Ini adalah teritori yang enggak berani dilakukan oleh kebanyakan film. Mereka harus membangun momen-momen mengerikan, kita tidak bisa membuat jumpscare begitu saja, dan lagi para aktor juga akan terbatas geraknya. Film ini punya ambisi yang besar untuk menampilkan itu semua. Mereka kelihatan berusaha untuk menyajikan yang terbaik yang mereka bisa. Hanya saja, tantangannya memang terlalu sulit.

Dengan pakaian selam lengkap, akan susah sekali untuk kita melihat ekspresi para tokoh. Untuk memahami apa yang mereka rasakan, mereka katakan. Butuh usaha dan kemampuan yang tinggi dari pembuat filmnya jika ingin membuat narasi yang utuh dari sekelompok penyelam yang menemukan bangkai kapal, dan punya bermacam reaksi terhadap temuan tersebut. Aku bukan mau bilang kemampuan mereka masih dangkal, tetapi kenyataan berkata lain. Film seperti pasrah untuk menjadi ‘bego’ dengan eventually membuat para tokoh tersebut saling mengobrol di dalam air. Mengobrol yang pake suara biasa, bukan pake bahasa isyarat. Setiap obrolan diakhiri dengan bunyi kresek seolah mereka ngobrol lewat transmiter radio, tapi kita bisa lihat mereka sama sekali enggak punya radio. Mereka menyelam, bicara dengan suara yang jelas, dan kemudian ada candaan seorang tokoh melihat ada cewek dan ngikutin dia nyelam ke sisi lain kapal. Adegannya seperti adegan yang terjadi di darat, hanya saja mereka membawanya ke bawah air. Pun airnya tak pernah menjadi hambatan. Ketakutan dan horor tetap datang dari jumpscare hantu yang muncul. Pada akhirnya kita tetap tidak mendapatkan pengalaman baru, kita tidak tahu seremnya menyelam itu gimana. Ada banyak hambatan yang bisa dilakukan; oksigen habis, kaki tersangkut, buta arah, tapi film hanya melakukan apa-apa yang juga sudah sering kita lihat dalam horor yang bertempat di darat.

Film berusaha keras mengisi durasi satu-jam-lebih-sedikitnya dengan cerita yang menarik mengenai hubungan antara keempat tokohnya. Ada persahabatan yang terjalin di antara tiga cowok, ada cinta segitiga yang mulai merasuk tatkala si cewek baru yang manis itu bergabung. Tokoh utama kita ditulis punya keinginan untuk bertemu kembali dengan ibu, yang sudah mengenalkan dia dengan pantai dan air, yang menghilang saat dia masih kecil. Mengutip lirik lagu Lady Gaga; kupikir “we’re far from the shallow now”. Tapi ternyata, tiga lapis cerita itu tidak benar-benar punya kedalaman. Hilangnya ibu tidak menambah apa-apa pada perkembangan tokoh utama; dia hanya belajar bahwa dia adalah bagian dari tugas sang ibu.  Persahabatan dan cinta pun ternyata cuma untuk jadi pemancing drama yang tak pernah benar-benar mekar. Ada satu adegan di menjelang akhir ketika si saingan cinta udah koit, si tokoh malah bilang semacam begini ke si cewek; “kamu cocok sama dia, kamu tahu kan dia suka sama kamu?” I mean, apa yang mau dicapai dari penenangan yang waktunya sudah telat itu? Ceritanya berlabuh dengan aneh.

Ketika orang menilai film dan mengatakan filmnya bagus karena relasi tokohnya terlihat nyata – mereka seperti temenan beneran, itu bukan berarti mereka berinteraksi biasa-biasa aja kayak bukan dalam film. ‘Temenan beneran’ itu berarti kita merasakan chemistry, seolah para aktor yang memainkan juga temenan baik beneran. Keempat aktor tampak berusaha menghidupkan tokoh mereka, hanya saja tak banyak yang bisa mereka lakukan. Ada satu adegan di meja makan yang terasa genuine akrab. Selainnya, dialog dalam film ini tak pernah terdengar penting. Seperti obrolan biasa yang biasanya kalo dalam kelas menulis naskah disuruh hapus karena bukan dialog film karena tak menghantarkan cerita ataupun menambah karakter. Menurutku, akar masalah ini justru pada karakter itu sendiri. Karakter pada film ini hanya sebaris kalimat. Cewek vlogger, yang kerjanya ngerekam video (aku paling tidak mengharap di videonya ia menangkap sesuatu, ternyata tidak). Cowok botak yang suka menggoda cewek. Cowok satu lagi yang dibuat ‘sok misterius’. Dan tokoh utama yang pendiam dan selalu mikirin ibunya yang hilang. Setiap mereka ngobrol selalu tentang cewek yang berusaha ngedeket tapi agak dijauhin, terus ada yang sirik, dan yang godain. Tidak membahas sesuatu yang lebih dalam, padahal bisa saja kesempatan development dilakukan untuk membangun mitos daerah atau apa.

Menurutku juga kocak sekali gimana si tokoh utama digambarkan kangen ibu dengan membawa pigura fotonya ke tempat penginapan. Tidak bisakah pakai loket atau disimpai di dalam dompet, atau tarok di hape. Hal ‘seaneh’ demikian mestinya berujung pada satu penjelasan atau dimanfaatkan untuk sesuatu, tapi enggak.

11:11.. K! k..k… k… kuntilanak!

 

Mengenai setannya sendiri, juga menurutku masih sangat standar. Penampakannya memang seram. Tapi tidak pernah ada bangunan untuk tokoh ini. Dia cuma ada sebagai teror. Namanya pun biasa sekali; Siluman. Makhluk penjaga pusaka bawah laut yang mampu menimbulkan ombak gede, mahluk yang harus dikalahkan, wujud mengerikan dengan kuku panjang yang mampu membunuh manusia. Siapa bagusnya nih namanya? / Siluman aja, Siluman. Udah serem. Yang kocak dari setan ini adalah pada saat di bawah laut kita sempat diperlihatkan pov shot dari sudut pandang dia, dan itu treatment kameranya biasa aja. Tapi kemudian, di darat kita juga diperlihatkan pov shot miliknya, hanya saja kali ini layarnya berwarna merah. Dan aku; well, yea masuk akal mata hantunya mungkin merah karena kelamaan di dalam air.

 

 

 

Dunia horor perfilman kita mungkin sudah mulai masuk masa jenuh-jenuhnya. Film-film yang berbeda seperti ini diharapkan bertindak sebagai ‘vitamin sea’ yang membawa suasana segar. Sayang, film ini gagal. Ada sedikit usaha yang terlihat, tapi belum cukup. Pengembangannya masih sangkat dangkal. Film masih seperti plot poin dengan pengembangan seadanya, sehingga geraknya masih gak mulus. Tapi menurutku, cerita ini toh punya potensi, hanya saja masih terlalu besar untuk kemampuan pembuatnya yang sekarang.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold star for 11:11 APA YANG KAU LIHAT?

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya angka keramat?

Mumpung setan di film ini belum punya nama, yuk kira-kira apa ya nama yang kalian kasih kepadanya jika kalian yang menulis cerita film ini?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

TABU: MENGUSIK GERBANG IBLIS Review

“Hope in reality is the worst of all evils because it prolongs the torments of man.”

 

 

 

Ada ungkapan yang menyebutkan rasa penasaran membunuh seekor kucing. Rasa penasaran di sini maksudnya bisa bermacam-macam; rasa keingintahuan yang begitu besar, perasaan tak-tuntas yang ingin diselesaikan, juga sesuatu mengganjal yang ingin dipuaskan. Rasa-rasa tersebut sering menjerumuskan kepada melakukan hal-hal yang tak perlu, sia-sia, malah mungkin berbahaya. Kata berikutnya yang masih menjadi misteri; siapakah kucing dalam ungkapan tersebut? Seseorang yang masih terusik oleh rasa penasarannya; seseorang yang semakin dilarang maka semakin dilakukan.

‘Kucing’ dalam Tabu: Mengusik Gerbang Iblis adalah Keyla dan teman-temannya yang nekat pergi ke Leuweung Hejo demi mencari penampakan makhluk halus. Bermodal kamera, peralatan kemping, dan baju ganti seragam, mereka menerobos hutan, melanggar begitu banyak pantangan, bermalam di situs angker tersebut. Dan benar saja, belum sempat bibir kita mengucapkan “penyakit kok dicari”, Diaz, salah satu teman Keyla yang paling napsu motoin hantu, kesurupan. Kemudian muncul sesosok bocah misterius. Gak jelas juga hubungannya apa si anak dengan kesurupan yang dialami Diaz. Untuk alasan tertentu pula, Keyla malah membawa anak tersebut pulang ke kota bersama mereka semua yang lari kocar-kacir dikejar nenek-nenek berkuku hitam.

Datang berenam, pulang bertujuh… hayo di hutan ngapaiiiinnnn?

 

Tabu: Mengusik Gerbang Iblis nyatanya adalah salah satu kelangkaan – dari sekian banyak horor yang dibuat oleh Indonesia tahun belakangan ini, Tabu merupakan salah satu dari sedikit sekali yang benar-benar punya cerita untuk disampaikan. Tabu membawa kita menyelam ke dalam penjelajahan rasa penasaran terhadap suatu peristiwa kehilangan. Ia membahas bagaimana rasa kepuasaan itu belum datang, jadi seorang akan terus mencari jawaban. Yang terjadi kepada Keyla adalah harapan dalam wujud terburuk. Keluarga Keyla terpecah oleh satu tragedi di masa lalu, saat Keyla masih terlalu kecil untuk seragam SMAnya. Tragedi tersebutlah yang membentuk pribadi Keyla di masa sekarang, kita melihat dia yang paling ‘takut’ tapi toh tetap ikut dalam setiap ekspedisi menyeramkan. Dia ingin mencari closure atas kejadian tersebut, jadi dia tetap mencari meskipun dia tahu kebenarannya.

 Rasa kehilangan masih terus menghantui seseorang yang berduka. Itulah ketika harapan berubah menjadi siksaan. Apapun yang kita lakukan untuk menutupinya, hati yang belum ikhlas tetap tidak akan tenang. Dalam film ini, kita akan melihat rasa yang disalahartikan sebagai harapan itu menjadi bumerang.

 

 

Hebatnya, film ini tidak menceritakan itu semua lewat dialog alias secara gamblang. Kengerian, apa yang dirasakan oleh Keyla dan keluarganya direkam secara subtil oleh kamera. Lihat juga bagaimana kamera ‘menceritakan’ hutan sebagai tempat mengerikan dan berbahaya lewat selipan shot-shot hewan liar seperti ular, kalajengking, dan kelelawar. Transisi dari ketika satu tokoh menciptakan realita sendiri, tetapi kemudian penyadaran itu tiba, dan dia dihempaskan lagi ke realita beneran, dilakukan dengan begitu mulus oleh pergerakan kamera yang menangkap gestur-gestur terkecil dari si tokoh. Film tidak pernah gagal menangkap sudut pandang. Semuanya diceritakan dengan cermat dan efisien. Bahkan subplot yang menurutku kocak – film ini punya nyali untuk masukin subplot cinta segitiga yang enggak benar-benar berujung – juga dilakukan dengan seperti ‘cicak’ begini; you know, diam-diam merayap dan kena. Sedari adegan pembuka di dalam gua, kita bisa paham bahwa film ini digarap dengan perhatian tinggi kepada artistry. Film ini tahu cara menceritakan sesuatu yang klise dengan membuatnya tidak metodical. Namun juga tetap mudah untuk disukai – ada banyak hal-hal yang jadi favorit penonton horor yang dapat ditemukan di sini; kematian tokoh yang menyakitkan, sosok hantu yang seram, dan jumpscare yang tepat waktu.

Maka dari itulah, aku tidak mengerti kenapa film ini memilih untuk memulai ceritanya dengan cara dan siatuasi yang paling tidak menarik (lagi) sedunia akhirat. Sekelompok remaja yang ke hutan nyari setan. Basi! Kenapa membuka dari sini jika engkau punya kisah tragis keluarga yang kehilangan anaknya. Film memilih untuk merahasiakan elemen utama cerita di awal, bahkan Keyla juga ‘disembunyikan’ – kita tidak tahu bahwa ternyata dia adalah tokoh utama sampai dia memilih untuk membawa bocah misterius tersebut ikut pulang ke rumah, dan aku gagal mengerti alasan di balik keputusan yang diambil oleh film ini. Sebab jadinya sama sekali tidak ada yang menarik pada babak pertama. Para remaja itu tidak punya motivasi yang cukup dan alasan yang jelas; kenapa harus moto hantu, kenapa harus tempat angker yang itu, kita tidak tahu apa-apa dan mereka tidak memberikan alasan kenapa kita harus peduli kepada mereka. Jujur, aku sudah siap jiwa raga untuk menjelek-jelekkan film ini, udah senam pipi – siap untuk menertawakan sekerasnya hal-hal bego yang kusangka akan dilakukan. Dan persiapanku tadi jadi tak berguna karena ternyata aku menemukan sedikit sekali yang bisa ditertawakan. Yah, selain nenek Diaz yang dengan potongan rambut begitu membuatnya mirip sekali dengan Jamie Lee Curtis di serial Scream Queen.

Dan seolah setiap ayat punya fungsi dan efek berbeda terhadap hantu-hantu

 

Babak kedua hingga akhirnya di mana film dengan tepat menginjak nada ngeri dan tragedi. Aku bahkan sedikit  ter-throwback ria melihat Mona Ratuliu menggunakan bahasa isyarat (ketahuan deh, umurku huhuu). Bahkan tokoh-tokoh lain, termasuk tokoh remajanya enggak se-annoying yang sudah aku antisipasi. Mereka masih bersikap masuk akal dan reasonable, meskipun tak ada pembelaan untuk kualitas akting yang menghidupkan mereka. Namun begitu, awalan film inilah yang justru paling banyak andil dalam menurunkan nilai secara keseluruhan. keputusan untuk memasang semacam twist pada tokoh utama, ultimately melemahkan cerita karena pembangunan karakter adalah hal yang sangat penting. Kita dihalang untuk masuk ke dalam kepala Keyla, seolah pikiran dan emosinya tabu untuk kita ketahui. Malahan di awal-awal, film seperti menunjuk Diaz sebagai tokoh utama. Dan kemudian membelokkannya untuk efek dramatis. Tak perlu seperti itu, Keyla punya cukup backstory dan landasan emosi yang mampu membuat tokoh ini menjadi dramatis jikapun dikembangkan sedari awal.

Yang film ini lakukan malah membuat karakter Keyla terasa tidak ‘klik’, di awal dia terlihat paling enggak semangat untuk TKP. Padahal justru sebenarnya dia yang paling punya motivasi untuk ke sana. Meskipun inner journey Keyla semakin dapat terbaca seiring berjalannya film, tetapi film tetap tidak memperlakukan tokoh ini sebagai protagonis yang beraksi. Keyla, dengan segala keterbatasan akting Isel Fricella, kebanyakan hanya berteriak menyaksikan tokoh-tokoh lain berjuang ataupun tertangkap oleh hantu-hantu. Juga aneh film tidak memperlihatkan momen perubahan tokoh Keyla. Alih-alih, kita diperlihatkan ibunya yang berjuang untuk mengikhlaskan. Keyla seperti ikhlas begitu saja saat kita ditunjukan adegan dia menoleh ke belakang melihat sosok yang dibuat bisa berarti hantu atau hanya imajinasi yang menyimbolkan perpisahan damai yang dilakukan oleh Keyla dengan tragedinya.

 

 

 

 

Sense misterinya kuat. Penceritaan yang efektif. Tokoh-tokoh yang tidak terlalu over-the-top. Film ini punya bumbu-bumbu sebuah film horor yang bagus. Namun pilihan untuk membuka film, babak pertama, tidak menguntungkan film karena tidak menarik dan benar-benar menonjolkan keklisean. Film baru benar-benar bekerja di babak kedua, like, kalo kalian tidur atau bahkan telat masuk ke bioskop tiga-puluh menit, dan hanya menonton dari babak keduanya saja, kalian pasti akan bilang film ini bagus banget. Begitu anehnya pilihan yang dilakukan oleh film ini. Dan jangan kira ini seperti yang dilakukan oleh One Cut of the Dead (2018); film itu juga punya babak awal yang lemah namun dilakukan dengan sengaja untuk menguatkan konteks tema besarnya. Tidak demikian. Sebaliknya, babak pertama film ini tidak menambah banyak terhadap konteks karena diniatkan sebagai twist. The film works in no favor of it’s protagonist. Dia menutupi tokoh utamanya, dan sepertinya lupa sama sekali untuk menimbulkannya kembali sebagai karakter.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for TABU: MENGUSIK GERBANG IBLIS.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Keyla dan keluarga, walaupun tahu itu hantu, tapi mereka masih tetap menyayangi sang adik. Kalian takut gak sih didatengi hantu kerabat sendiri? Bagaimana kalian meyakinkan diri itu beneran mereka dan bukan hantu lain yang menyamar? Menurut kalian darimana rasa penasaran Keyla muncul?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

MATA BATIN 2 Review

“If you are asking a favor, put the request in a positive light.”

 

 

Membuka mata batin, sehingga jadi punya indera keenam, tentu saja bisa menjadi anugerah ataupun musibah. Sisi baiknya adalah kita bisa melihat hantu. Merasakan keberadaan dunia gaib, membuat kita selalu dekat dan teringat dengan kematian – dengan dunia yang penuh dengan jeritan pertolongan dan dendam, dalam kaitannya dengan menumbuhkan rasa bersyukur. Sisi buruknya yaitu kita bisa melihat hantu. Bukanlah hal yang sehat, sepertinya, melihat makhluk-makhluk gaib di mana-mana. Seorang bisa menjadi kelewat stress, bahkan melupakan kehidupan dunia yang sebenarnya. Eh, ini kita lagi ngomongin dunia gaib apa dunia maya sih?

Anyway, dalam Mata Batin 2 kita melihat kelanjutan dari kisah Alia (Jessica Mila tampak semakin nyaman sebagai tokoh utama semesta horor nan gore) yang kini sama seperti adiknya, Abel, sudah mengembrace kekuatan melihat makhluk gaib yang mereka miliki (baca ulasan Mata Batin pertama di sini). Dalam narasi pembuka kita mendengar Alia mendedikasikan kemampuannya untuk menolong banyak makhluk. Namun, satu hantu yang masih terus mengikuti mereka ternyata membawa dua kakak-beradik ini kepada petaka; Abel meninggal dunia. Menyisakan misteri dan hari yang perih. “Kini saya hanya pantas di panti asuhan, tempat orang -orang yang tak punya”, begitu curhat Alia kepada Windu yang jadi semacam mentornya dalam ilmu permatabatinan. Maka Alia pun pindah dari rumahnya, bekerja sebagai pengasuh anak-anak di Panti Asuhan yang dikelola oleh pasangan suami istri yang diperankan oleh Sophia Latjuba dan Jeremy Thomas. Di sana, dengan cepat Alia bonded dengan satu anak panti yang bernama Nadia (tokoh Nabilah Ratna Ayu Azalia ini practically adalah pengganti sosok adik buat Alia), yang juga memiliki kemampuan Mata Batin. Alia dan Nadia lantas bekerja sama memecahkan misteri suara-suara minta tolong yang merambati dinding-dinding panti, misteri yang ternyata berkaitan, yang pada akhirnya membawa Alia kepada ketenangan atas peristiwa kematian adiknya.

Mandi diintipin oleh hantu adalah sebuah kutukan

 

Melalui usaha-usaha yang dilakukan oleh Alia untuk berkomunikasi dengan hantu, film ini mengekspansi peraturan yang sudah ditetapkan pada film pertamanya. Ini adalah perkembangan yang positif. Film mencoba mengembangkan mitologi, menggali sudut-sudut baru – ia membuka pandangan kita terhadap dunia gaibnya sehingga menjadi semakin luas. Alia di sini mempunyai skill baru, yakni psikometri – kemampuan untuk ‘mengexperience’ sejarah benda yang ia sentuh, yang menandakan Mata Batin yang ia miliki semakin kuat. Maka ada pertumbuhan yang kita rasakan dalam film ini. Secara karakter, Alia mengalami perkembangan dibandingkan dengan dirinya di film pertama. Begitu pula dengan dunia gaibnya, film ini kita akan dibawa menjelajah lebih dalam, lebih sering, seingatku belum ada film horor Indonesia yang membawa kita menyelam ke dalam dunia gaib sekompleks yang dilakukan oleh film ini.

Mata Batin untuk awal-awal misteri lebih banyak bersangkut paut dengan pendengaran daripada penglihatan Ini adalah salah satu cara film untuk menggambarkan perluasan yang mereka lakukan. Penambahan banyak tokoh baru turut memberikan banyak lapisan dalam aspek misteri yang berusaha dibangun oleh film ini. Setting tempat di panti asuhan anak-anak cewek membuka banyak ruang untuk adegan-adegan seram yang segar. Namun sayangnya film seperti bergerak di tempat. Semua pengembangan dan penambahan itu terasa jadi mentah oleh sebab penggunaan formula yang itu-itu saja. Aku tidak mempermasalahkan soal kaca pecah, sebab itu sudah dijadikan semacam signature seorang Ricky Soraya – kita harus respek juga ama usahanya melandaskan hal tersebut dalam setiap filmnya. Masalahnya adalah hampir tidak ada yang original dalam film ini. Masih bercerita dengan begitu-begitu saja; pengungkapannya, penyelesaiannya, bahkan twistnya. Dan ada banyak elemen yang dapat kita temukan dalam film lain. Nadia yang pinter ngesketsa, tampaknya menggambar sosok-sosok hantu itu sambil menonton American Horror Story. Boneka Hello Kitty berwarna pink yang tampak di salah satu ruangan mencerminkan film ini; Sebuah tiruan yang berusaha tampil beda.

Kita merasa sudah hapal dengan cerita yang dijabarkan; literally, dialog dalam film ini kebanyakan adalah eksposisi dalam usahanya mengembangkan peraturan-peraturan. Sehingga pada ujungnya, film tak lagi berhasil menyampaikan kejutan yang ia siapkan. Banyak penggunaan yang berlebihan sehingga menjadi monoton. Misalnya pergerakan kamera yang memutar. Ataupun juga banyak kita jumpai adegan orang berlari demi berusaha menyelamatkan orang yang terkurung ataupun menghilang, dan ketika ketemu orang tersebut lagi duduk meringkuk. Film bahkan kehilangan kekhususannya, sebab kekuatan mata batin tersebut – berkat kehadirat tokoh paranormal yang segala bisa – menjadi seperti diobral begitu saja. Percuma ada aturan ketika semuanya jadi digampangkan, tidak lagi terasa spesial ketika semua tokoh dapat dibukakan mata batinnya. Film seperti terlalu fokus berusaha menyimpan twist dan mengembangkan adegan dan role di dunia gaib, sehingga lupa dengan tokoh dan bagaimana kejadian seharusnya berjalan di dunia nyata.

matabatinception

 

Bangunan logika-dalam cerita sama konsistennya dengan bekas luka cakar pada dada Sophia Latjuba. Kejadian seram yang ditimpakan pada tokoh-tokohnya terasa tidak bergerak dalam aturan di dunia tempat mereka hidup. Aku menemukan sangat tidak masuk akal tidak ada yang menyadari luka tusukan pada mayat Abel. I mean, okelah Alia mungkin hanya melihat apa yang ia percayai – Alia percaya Abel diserang hantu, namun tidak adakah dokter ataupun polisi yang melihat luka di punggung cewek itu? Bagaimana mungkin kematian tidak wajar Abel – dalam ruangan dengan pintu tertutup – tidak diusut. Dan si Alia, oh ini buatku lucu banget. Aku sempat mengira film sengaja menarik perbandingan antara dunia nyata dengan dunia gaib, maksudku, di Penyelesaian kita melihat hantu pembuat onar dalam cerita ini ditangkap oleh ‘polisi dunia gaib’ dan dijebloskan ke dalam lubang neraka – hantu jahatnya mendapat hukuman. Sedangkan Alia, she got away dengan pembunuhan yang ia lakukan. Tidak ada reperkusi dalam tindakannya. Film mengabaikan aspek yang sebenarnya menarik jika digali, gimana Alia yang kesurupan membunuh pelaku yang tidak melawan – gimana kalo Alia sebenarnya tidak kesurupan? Aku hampir girang saat menjelang akhir beberapa adegan seperti mengarah ke sini, tapi ternyata tidak. Alia hidup bahagia seperti sedia kala walaupun dia sudah membunuh seorang pria.

Jika kita ingin minta tolong, mintalah dengan baik-baik. Jangan maksa. Kalo belum ada yang merespon, jangan marah. Apalagi sampai bunuh orang. Hantu dalam film ini merajalela lantaran kebenaran yang ia ungkap tidak mendapat reaksi sesuai yang ia inginkan. Bukan minta tolongnya yang membuat kita jadi kecil, melainkan ketidaksabaran dan kemarahan yang berujung pada dendam.

 

Kita bisa asumsikan semua polisi ataupun dokter di semesta film ini adalah lelaki, karena orang-orang tersebut bego. Sebab, salah satu kekonsistenan formula film Rocky ini adalah semua tokoh prianya either jahat, atau tidak kompeten. Tokoh Jeremy Thomas instantly diperkenalkan sebagai seorang douchebag; kerjaannya ngebengkel mobil dengan kaos berkerah V, bayangkan orang di dunia nyata yang melakukan itu. Semua jagoan di film ini adalah wanita, dan ini bukan karena ada pesan feminis atau semacam itu. Film memang hanya punya perhatian setengah-setengah. Dunia nyata tidak digali sedalam dunia gaib. Tokoh pria tidak mendapat perhatian sebesar tokoh wanita. Substansi film tidak diperhatikan sebanyak mereka mengusahakan gaya atau stylenya.

Namun kelemahan logika dalam film ini memang justru membuatnya jadi kocak. Adegan-adegan seperti Alia menanyakan kepada hantu di mana letak kunci meskipun dia tahu untuk menjawab “ya” atau “tidak” saja si hantu hanya sanggup mengetuk pintu, adegan dalam lima menit pertama yang tujuan satu-satunya adalah untuk fake jumpscare (Abel datang buka pintu mengagetkan kakaknya, untuk kemudian langsung pamit tidur), Alia yang kemana-mana mengantongi kalung senjata alih-alih memakainya saja, dan betapa seringnya para tokoh berpencar dan bergabung lagi sekenanya, memang mampu mengundang tawa kita. Memang, salah satu yang dipertahankan film ini dari film pertamanya adalah undertone elemen kocak yang dihadirkan. Dan sepertinya, film kedua ini mulai mengembrace kekonyolan yang mereka punya, kita akan melihat candaan beneran dalam adegan anak kecil yang menggerutu dikasih yoyo. Sama seperti Alia yang mengembrace kemampuan goibnya.

 

 

 

Bagus film ini berusaha mengembangkan mitologi dan peraturan yang sudah ditetapkan sebelumnya sembari mempertahankan kekhususannya, namun masih perlu banyak perbaikan dalam penulisan. Ataupun, jika memang tidak ingin dikembangkan ke arah yang lebih serius, film perlu untuk sepenuhnya komit ke elemen-elemen lebih konyol yang seringkali hadir dalam logika penceritaan mereka. Memang butuh nyali dan waktu, tapi meskipun film pertamanya bercerita dengan lebih rapi, film yang kedua ini sudah mulai berani mengembrace sisi humor sambil terus memperdalam sisi drama. Aku pribadi berharap jika ada film ketiga, mereka sudah benar-benar banting stir jadi konyol ala cult classic. Karena film kedua ini terasa seperti transisi. Saat menontonnya aku kadang merasa seolah film ini dibuat purely dengan tujuan mengganti satu tokoh dengan bintang lain.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for MATA BATIN 2.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Kalo punya mata batin, kalian mau (baca: berani) gak sih nolongin hantu?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

 

 

 

 

 

 

SUSPIRIA Review

“It’s not just men who wear the pants in the political realm”

 

 

Tarian, seperti halnya bentuk-bentuk seni yang lain, sejatinya adalah sebuah ilusi. Tidak cukup hanya dengan bergerak, kita disebut menari, melainkan juga harus melibatkan pikiran dan perasaan. Sebab pergerakan dalam tari-tarian meniru gerakan alam. Hewan, tumbuhan. Angin. Bahkan cahaya, semuanya bisa ditarikan ketika sang penari mengilusikan dirinya sebagai materi-materi tersebut. Menciptakan keindahan, keelokan, yang mampu menghanyutkan siapa pun yang mengapresiasinya. Ilusi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam seni menari. Akan butuh usaha, kekreatifan, dan keterampilan yang sama besarnya jika ada yang ingin memisahkan ilusi dengan tarian dengan cara yang membekas. Suspiria, horor remake yang ‘dikoreografi’ oleh sutradara Luca Guadagnino, berhasil melakukannya.

Suspiria vokal kepada keduanya, tari dan ilusi. Tapi tidak pernah tampak indah dan memukau. Bukan juga menyeramkan. Mereka seperti tidak berjalan beriringan. Melainkan meninggalkan perasaan diskoneksi, sesuatu yang terentaskan, yang bakal terus merundung kita. Mengambil banyak nama-nama dari film originalnya, Suspiria kali ini tanpa tedeng aling-aling bercerita tentang sebuah akamedi tari di Jerman Barat yang merupakan kedok dari kelompok penyihir wanita. Tarian sebenarnya adalah ritual pengorbanan gadis-gadis muda untuk diambil alih tubuhnya oleh Markos, Ibu dari semua penyihir di sana. Tokoh utama kita, Susie (Dakota Johnson membawa shades of red ke dalam cerita) datang jauh-jauh dari Amerika untuk belajar tari di sana, langsung diajar oleh sosok yang ia kagumi. Tidak mengetahui apa yang terjadi – teman seakademinya menghilang, ada ruangan rahasia, dan penyihir-penyihir di sekitarnya – Susie yang berdeterminasi langsung diangkat menjadi penari utama dalam pagelaran terhebat di sana. Setelah menempuh banyak liukan, putaran, loncatan, dan pelintiran – baik cerita maupun naskah, Susie akhirnya menemukan purpose hidupnya yang sebenar-benarnya.

dan sebagaimana yang sering terdengar di radio pada background film, ini juga adalah cerita tentang perang Jerman

 

Setiap adegan menari dalam film ini akan membuat kita mengernyit. Masing-masing tampak lebih buas dari sebelumnya. Walaupun kita tidak menikmatinya, kita masih ingin terus melihat ada apa berikutnya. Begitu pun dengan misteri alias ilusi yang disajikan oleh film ini. Cerita tidak pernah benar-benar menutupi, tapi tetap saja kita dibuat menggaruk kepala olehnya. Dan terus ingin menyelami. Kita ingin menghubungkan titik-titik itu, namun tidak pernah benar-benar berada di dalam garis penghubung yang lurus. Suspiria adalah berhak menggenggam piagam Film Aneh, dan kalopun memang ada, aku yakin film ini akan mengenakan piagam tersebut dengan bangga. Bahkan menari berkeliling dengannya.

Film ini sesungguhnya punya tiga sudut pandang yang penting. Yang satu-satunya penghubung di antara ketiganya adalah ilusi aneh yang diciptakan oleh si pembuat film; yakni fakta bahwa pemeran ketiga tokoh/sudut tersebut adalah pemain yang sama. Beneran deh, aku kaget banget begitu mengetahui kalo tokoh Josef si dokter tua yang berusaha menyelamatkan para gadis, tokoh Madame Blanc si ketua pelatih tari, dan tokoh Mother Markos si ’emak’ para penyihir alam diperankan oleh satu orang; aktris Tilda Swinton (atau mungkin lebih dikenal sebagai suhunya Doctor Strange). Make up dan prostetik yang digunakan luar biasa sehingga dia bisa menjadi bapak-bapak, bisa menjadi manusia-tak-utuh, dengan sangat mengecoh. Bagian menariknya adalah ketiga tokoh yang ia perankan tidak diungkap punya kesamaan, ataupun ternyata adalah orang yang sama. Swinton benar-benar memainkan tiga tokoh yang berbeda yang lantas membuat kita bertanya-tanya, kenapa film melakukan hal tersebut? Pasti ada maksudnya, tentu akan lucu sekali kalo dilakukan hanya karena mereka malas nge-casting orang lain, kan.

Untuk menafsirkan hubungan-hubungan  dan maksud yang tak kelihatan pada film-film, khususnya film membingungkan seperti ini (and by that I mean; film-film nge-art yang kadang terlalu sok-serius sehingga jatohnya malah pretentious), kita perlu menilik unsur yang tak hadir dalam dunia cerita. Ketiga tokoh yang diperankan Swinton tadi bertindak sebagai pedoman ke mana kita harus melihat. Cukup jelas film ini didominasi oleh tokoh wanita. Akademi tari yang jadi panggung utama cerita itu sendiri adalah tempat untuk para wanita. Tidak ada cowok di dalamnya. Cowok yang nekat masuk, ataupun dipaksa masuk, ke sana hanyalah makhluk yang dipersalahkan. Dan ditertawakan. Film ingin memperlihatkan kontras antara suasana di dalam tempat wanita tersebut dengan keadaan negara di luar – Jerman lagi perang, digerakkan oleh para lelaki, sedangkan wanita di akademi matriarki hidup penuh kekeluargaan.

Namun bukan berarti tidak ada ‘perang’ di balik tembok berlapis kaca sana. Kita disuruh melihat kepada pemungutan suara yang dilakukan terhadap Markos dengan Blanc. Tetap ada persaingan, ternyata. Ada permainan kekuasaan. Ada perbedaan pandang antara Blanc yang mengkhawatirkan para penari sebab dia actually peduli sama seni menari, dengan Markos yang sebenarnya menipu mereka semua. Dia bukanlah dia yang ia katakan kepada semua penyihir bawahannya. Bahkan tarian dijadikan alat untuk saling menyerang dan menyakiti dalam kelas akademi mereka. Dan ketika semua konflik sudah seperti berakhir di penghujung cerita, kita melihat the real Mother Suspirium bertemu dengan Dokter Josef, apa yang terjadi dalam interaksi mereka? Tetap saja ada penindihan – ada kuasa yang meniadakan satu pihak yang lain. Dinamika power itu terus berlanjut tidak peduli apakah ada cowok atau tidak. Tidak jadi soal apakah ada yang ingin menghapusnya atau tidak.

Begitulah cara film ini mengatakan bahwa politik bukan hanya panggung para lelaki. Bahkan dalam sistem matriarki pun ada permainan kekuasaan. Ketika sudah berurusan dengan kuasa, dengan power, sungguh akan mudah terjebak ke dalam bentuk penyalahgunaan. Bahkan ketika kita berusaha untuk memperbaiki penyalahgunaan tersebut.

“let’s dance together, let’s party and turn off the lights”

 

Dengan pesan yang serius, dengan tokoh-tokoh yang bergantian dalam ‘sorot lampu’ (perlu aku ingatkan, ulasan ini sama sekali belum menyentuh sudut tokoh yang diperankan oleh Chloe Grace Moretz dan oleh Mia Goth), dengan segala keanehan termasuk struktur bercerita yang-tak-biasa, sebenarnya aku sendiri pun tidak tahu pasti kenapa aku semacam terobses sama film ini. Aku tidak yakin kenapa aku seperti begitu menikmati, padahal tidak – aku suka film aneh tapi aku gak bisa bilang aku suka Suspiria. Aku tidak bisa berdiri di belakang film yang tidak mengizinkan kita berada di dalam kepala tokoh utamanya. Arc Susie tidak terasa seperti ia ‘dapatkan’, yang membuat kita pun terasa seperti outsider dalam cerita. Namun tetap saja, menjelang ulasan ini aku tulis, aku sudah menonton film ini tiga kali. Aku tidak tahu mantra apa yang digunakan sehingga aku terus saja kepengen menonton.

 

 

 

Jika kalian menginginkan remake yang dibuat benar-benar berbeda, film ini adalah contoh pilihan tontonan yang tepat. Akan tetapi besar kemungkinan kalian akan kesusahan mencerna apa yang terjadi, kalian mungkin tidak akan menyukai – lantaran film dengan sengaja membuat dirinya sendiri sukar untuk disukai. Dan sementara itu, kejadian-kejadian tersebut tidak akan segera menghilang dari dalam benak kita semua. Karena pengalaman menyaksikannya lah yang dihujam dalam-dalam. Mempengaruhi kita meskipun kita sudah menolaknya. Film ini bisa saja tampil total mengerikan, seperti yang diperlihatkan oleh beberapa adegan mimpi dan sihir yang disturbing. Namun sutradara Guadagnino lebih memilih untuk menjerat kita dengan cerita yang bahkan kita tidak tahu pasti.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for SUSPIRIA.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian tindakan yang dilakukan Mother Suspirium di adegan paling akhir ini adalah tindakan yang benar, atau tindakan yang salah? Apakah dia benar-benar melakukan suatu perbaikan, katakanlah terhadap, sistem? Apa makna tarian Volk itu menurut kalian?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

DREADOUT Review

“Cell phones are the lifeline for teenagers”

 

 

 

Bayangkan menjadi anak sekolah di jaman berteknologi tinggi seperti sekarang. Apa yang paling kalian takutkan sedunia? Kalian punya teman-teman keren yang siap membantu ngebully orang-orang yang membuat kalian sebal (atau iri). Kalian punya follower setia yang siap menaikkan mood dan begitu mencintai kalian sehingga kalian enggak perlu repot-repot untuk mencintai mereka balik. Tempat angker pun kalian jadikan tempat hiburan untuk menaikkan popularitas. Kalian bisa menaklukan apapun dengan internet supercepat dalam genggaman. Satu-satunya yang kalian takutkan adalah, jika kalian lupa membawa smartphone!

DreadOut, semenjak dari video gamenya, mengusung metafora yang bagus soal betapa anak usia SMA sangat bergantung kepada telepon genggamnya untuk bisa menyintas hari-hari mereka.

 

Mengambil periode sebelum kejadian dalam cerita video gamenya yang meledak di kalangan gamer internasional, film DreadOut membawa kita berkenalan dengan masa lalu Linda (dilempar-lempar, ditarik-tarik, tidak hanya secara emosi Caitlin Halderman dipush bermain fisik) yang bekerja di mini market setelah jam sekolahnya selesai. Kita diperlihatkan karena lelah bekerja itulah Linda sempat daydreaming mengenai kejadian sewaktu kecil. Film menjanjikan para penggemar mengenai asal-usul ‘kekuatan’ Linda, dan adegan pembuka diniatkan sebagai tindakan penebusan janji tersebut. Apakah itu cukup atau tidak, you’d be the judge, lantaran film tidak akan membahas lebih jauh. Cerita terus melaju membawa Linda – yang sebenarnya enggan – untuk ikut bersama kakak-kakak kelas yang jauh lebih tajir dan populer darinya ke sebuah apartemen kosong. Uang dijadikan motivasi oleh Linda, yang menyimbolkan keinginannya untuk bertahan hidup. It’s a good thing Linda punya mental ini, sebab geng mereka bakal dengan segera terancam keselamatannya oleh sesuatu di dalam sana. Mereka menemukan kulit ular, kertas bergambar mengerikan, dan simbol besar di lantai kamar apartemen. Linda pun panik saat dia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh teman-temannya. Beberapa bait tulisan yang begitu dibaca membuat Linda dan temannya tercebur ke dalam kolam yang terhubung dengan dunia di mana pocong bisa mengejar mereka dengan celurit.

Hayo yang lagi nonton di pojokan, itu Takut atau Kesempatan?

 

Smartphone adalah ‘senjata’ yang digunakan Linda, protagonis dalam film adaptasi game DreadOut, untuk mengalahkan hantu-hantu yang menyerangnya secara fisik. Bukan kamera antik yang disepuh oleh batu-batu roh seperti dalam game Fatal Frame. Melainkan gadget teknologi mutakhir yang memancarkan flash. Tanpanya, Linda dan teman-teman sudah barang tentu akan celaka. Film menunjukkan kemenangan dalam bergantung kepada hape. Ilmu pengetahuan menang telak atas klenik dan mitos yang-membudaya dalam film garapan Kimo Stamboel ini. Anak-anak sekolah itu bukan saja berhasil membuka pintu portal ke dunia lain, mengusik Kebaya Merah, mencuri keris pusaka miliknya, mereka memberikan perlawanan yang cukup berarti meskipun mereka tidak pernah benar-benar mengerti apa yang sedang mereka alami. Untuk sebuah prekuel, dan possibly episode pertama dari dunia yang katanya luas ini, tidak banyak mitologi yang digali.

Tentu saja hal tersebut bisa menjadi hal yang mengecewakan buat para penggemar. Film ini punya kesempatan seperti sebuah kertas yang benar-benar kosong; film bisa menuliskan apapun, menambah kedalaman cerita, memperpanjang aturan dunianya, mengekspansi tokoh-tokohnya, tapi film hanya ‘menulis’ sedikit sekali. Seolah ada garis pembatas yang pantang dilanggar. Dan bahkan Linda dan teman-temannya berani untuk melanggar batas wilayah yang diijinkan oleh penjaga gedung. Film seperti punya ide-ide yang jauh lebih gila, namun tidak semuanya bisa mereka wujudkan. Tidak banyak jenis hantu yang muncul. Pun adegan aksinya terasa agak nanggung, mengingat kiprah sang sutradara di film-filmnya sebelum ini. Jelas, ini masalah batasan umur. Bayangkan jika mereka terus dengan adegan penggal kepala alih-alih potong pergelangan tangan. DreadOut tampil agak jinak dengan efek-efek komputer yang dipasang lebih dominan – sekali lagi, technology triumphs! 

Tetapi bukan berarti film kehilangan sentuhannya. DreadOut berhasil menginkorporasikan gaya khas sang sutradara dengan gaya yang sudah mendarahdaging sebagai cap-dagang gamenya. Menggunakan pergerakan kamera seperti yang kita jumpai dalam Upgrade (2018), Kimo menambahkan intensitas ke setiap lemparan-lemparan yang dikenai kepada para tokohnya. Pergerakan yang aktif dan terasa penuh energi ini membuat kita bisa langsung tahu dengan sekali lihat bahwa film ini ditangani oleh orang yang biasa bermain di ranah aksi thriller yang sadis. Sama halnya dengan musik, suara, dan atmosfer, sekali dengar (dan sekali lihat) para penggemar video gamenya bisa langsung konek bahwa mereka sedang menyaksikan dunia yang sama dengan yang beberapa tahun lalu mereka mainkan. Film mempertahankan apa yang membuat game ini fenomenal; gameplaynya. Bagaimana hantu bisa dikalahkan dengan masuk ke mode layar handphone. Ada beberapa scene yang memperlihatkan Linda memberanikan diri melihat ke layar hapenya, dan ada juga beberapa di mana ia hanya ‘asal’ jepret karena begitu ketakutan. Mengingatkanku kepada diriku yang mulai serabutan jika hantu yang muncul ternyata terlalu mengerikan.

Bahkan buat yang bukan penggemar pun, film turut memberikan service. Komedi dengan gaya candaan yang gak terlalu in-the-face akan membuat kita terhibur. Dan untuk alasan tertentu, film akan menampilkan Jefri Nichol bertelanjang dada.

Dengan rambut dikuncir, Caitlin jadi mirip Ariana Grande ya

 

Game DreadOut sendiri menjadi populer, sebagian besar disebabkan oleh seorang youtuber luar yang meng-upload video dia memainkan game ini, dan itu kocak banget. Aku dulu sempat kepikiran untuk melakukan hal yang sama, karena memang saat memainkannya, ada saja reaksi kocak yang timbul oleh tantangan dan pengalaman yang diberikan. Aku masih ingat ketika aku mulai khawatir ketika baterai hape si Linda sudah tinggal setengah. Actually, aku sempat menanyakan hal ini kepada produser filmnya saat diundang dinner bareng cast, “Apakah nanti di film akan ada adegan Linda panik karena hapenya kehabisan baterai?” karena itu akan menambah lapisan kenyataan dan ketegangan, tetapi pertanyaanku hanya dijawab dengan tawa. Sayangnya, memang, ternyata film tidak membahas ‘masalah teknis’ seperti ini. Sisi vulnerable dari kekuatan Linda tidak mereka eksplorasi. Linda tidak pernah benar-benar terpisah dari senjatanya tersebut. Hapenya bahkan sempat tercebur dan that thing is still working just fine.

Linda dalam film juga tidak banyak diberikan ‘pikiran’ sama halnya seperti Linda pada game, dan ini buatku menjadi masalah. Saat bermain video game, gak papa jika tokoh kita adalah jenis tokoh yang ‘silent’, yang lebih banyak diam, yang tidak tahu apa yang terjadi, karena kitalah yang sebenarnya menjadi tokoh cerita. Pemain yang melakukan pilihan, pemain yang bereaksi. Beda dengan tokoh pada film; protagonis utama kudu tahu apa yang ia lakukan, kita harus mengerti keputusan yang dia ambil berdasarkan apa. Semakin lama, semakin melelahkan melihat Linda berlarian ‘tak tentu arah’, so to speak, well actually Lindanya hapal banget arah karena lokasi film ini enggak begitu luas meskipun seharusnya adalah hutan, karena kita tak punya pegangan apa-apa selain dia ingin menyelamatkan diri. Naskah yang baik adalah naskah yang memberikan dua problem buat tokoh utamanya; problem di luar dan problem di dalam dirinya sendiri. Teror dalam film ini terasa terus bergulir, dan kita tak melihat di mana kesudahannya. Portal itu terbuka menutup sekena keperluan naskah. Kocaknya, kabur dari gerbang yang terkunci lebih susah daripada masuk ke alam gaib, pada film ini.

Dan tidak menolong pula tokoh-tokoh yang lain dibuat begitu menjengkelkan. Film meninggalkan sahabat Linda, Ira, di belakang. Membuat kita stuck dengan tokoh-tokoh yang dialognya seputar berbuat iseng, dan mencari sinyal. Malahan ada satu yang kerjaannya menggebah Linda dan teman-teman untuk masuk dan melanggar batas – clearly he’s up to something. Film tidak memberikan kita ruang untuk mempedulikan teman-teman Linda ini. Jikapun ada keberhasilan, maka film berhasil membuild-up kekesalan kita sehingga nanti begitu hantu muncul dan satu persatu mereka disiksa, kita akan merasakan puas tak terkira.

 

 

Cukup bangga rasanya Indonesia punya film adaptasi video game, yang menunjukkan seberapa jauh negara ini berkembang dalam dunia perfilman dan pervideogame-an. Sebagai sebuah survival horor, film ini menunaikan tugasnya dengan loud-and-clear. Kita melihat makhluk-makhluk menyeramkan, menyerang remaja-remaja tak berdaya yang hanya bisa mempertaruhkan nyawa dengan hape mereka. Film ini punya gaya sendiri yang menjadikannya unik. Sayang, pada penulisan-lah DreadOut paling terhambat dan kemudian jatuh terjengkang. Film tidak mengambil kesempatan mengeksplorasi dirinya sendiri lebih jauh. Seperti mereka terjebak antara portal ‘memuaskan orang banyak’ dengan portal ‘tidak membuat kecewa gamers penggemarnya’. Dan selalu bukanlah hal yang baik terjebak di antara dua hal.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for DREADOUT.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Linda menggunakan hapenya untuk bertahan hidup dari hantu-hantu. Kalian gimana, bisakah kalian hidup tanpa hape?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

APOSTLE Review

“Security is a false god.”

 

 

 

Tidak ada orang yang lebih pantas menyusup ke dalam sekte reliji sesat selain Thomas Richardson. Bukan saja karena sekte tersebut sudah menculik adik perempuannya, menyandera sang adik untuk tebusan. Tetapi juga karena Thomas dijamin ampuh tidak akan terpengaruh dan balik mengimani ajaran sesat tersebut. Gak mungkin lah yaow! Thomas sudah membuang jauh-jauh keimanannya terhadap agama. Dulunya dia seorang yang taat, tapi setelah pengalaman mengerikan, Thomas sadar agama cuek bebek; tidak menolongnya. Bayangkan Andrew Garfield dalam film Silence (2017), nah Thomas adalah versi ‘keras’ dari tokoh tersebut. Malahan, film ini secara keseluruhan adalah versi brutal, penuh dengan darah, kengerian, dan banyak lagi yang bakal bikin kita merasa perlu untuk mempercayai sesuatu yang bisa memberikan keselamatan.

Tentu saja, semua kemudahan yang dibayangkan Thomas enggak terwujud di dunia nyata. Dai enggak bisa sekadar menyamar, membebaskan adiknya, dan pergi melenggang dengan damai. Penghuni Erisden, pulau kultus terasing yang ia susupi, tidak sepolos yang ia bayangkan. Ada sesuatu yang beneran menyeramkan sedang terjadi di sana. Tuhan yang diserukan oleh si Nabi Palsu bisa jadi bukan sekedar onggokan benda yang terbuat dari kayu. Panen dan hasil alam pulau tersebut rusak, Nabi di Pulau Erisden yakin do’a tak lagi mencukupi permintaan Tuhan mereka. Darah harus dikorbankan.

The Goddess I know; she will give us some Twisted Bliss

 

Bahkan sebelum kaki Thomas menginjak pulau sarang cult, kita sudah dihampiri oleh banyak misteri. Tanda-tanda kengerian itu sudah ditanamkan dengan seksama, menjalin ke dalam benang-benang cerita. Intensitas suspens cerita itu terus meningkat sejalannya narasi. Kita melihat ada sesuatu di bawah lantai kayu yang menantikan tetesan darah jatuh ke bawah. Kita melihat tumbuhan hijau serta merta menjadi layu di tembok rumah. Kita melihat binatang ternak yang lahir dalam kondisi mengerikan. Paruh pertama film ini begitu efektif menghimpun misteri, membuat kita menerka-nerka apa yang sesungguhnya terjadi. Kita memeriksa ritual-ritual tersebut lewat mata Thomas. Dan mata tersebut actually yang menjadi tanda pertama buatku, betapa aku tidak bisa konek dengan tokoh Thomas.

Bagiku sangat over-the-top gimana Dan Stevens membawakan perannya tersebut. Thomas diniatkan sebagai orang yang sudah melihat begitu banyak hal mengerikan, sehingga ia skeptis terhadap kegiatan kultus yang ia saksikan pada pulau itu. Thomas berpikir dia sudah melihat semua. Dia kira semua orang di sana, termasuk si Nabi Palsu, hanya menjual bualan dan harmless dibandingkan dirinya yang bisa membela diri. Stevens memainkan Thomas dengan melotot sepanjang waktu. Dia sok galak. Thomas hanya seperti tubuh, tanpa jiwa, karena kita tidak dibawa menyelam bersamanya. Susah untuk mengikuti tokoh ini, dengan kita actually mengetahui lebih banyak dari yang ia ketahui. Beberapa adegan ganjil, kita tidak melihatnya dari sudut pandang Thomas. Kita hanya melihat bersama Thomas saat adegan-adegan di mana tokoh ini tampak kurang usaha, dan diselamatkan oleh keberuntungan. Kita tahu lebih dulu darinya, dan ini membuat tindakan sang tokoh susah untuk kita dukung.

Ada satu adegan ketika seluruh penduduk pria yang baru datang dipanggil ke rumah ibadah. Para Pemimpin Kultus mencurigai ada mata-mata di antara mereka. Jadi untuk membuktikan siapa si ‘serigala berbulu domba’ si Nabi Palsu menyuruh mereka satu persatu mereka melafalkan ayat dari kitab reliji mereka. Film ingin membangun suspens, kita supposedly khawatir giliran Thomas semakin dekat, you know, ini soal hidup atau mati ditembak di tempat. Hanya saja susah untuk peduli kepada Thomas, karena karakternya yang tidak diperlihatkan mau bersusah payah belajar ‘menyamar’. Thomas terasa distant dan gak mengundang simpati. Outcome dari adegan tersebut juga terasa kayak kebetulan. Dan ada satu adegan lagi di mana tindak Thomas tampak begitu reckless dan gak berfungsi apa-apa selain device narasi yang terlalu diada-adain; untuk suatu alasan, Thomas menggambar denah desa, menandai rumah mana harus diselidiki, but there’s only one house yang ia curigai. – dan desa di pulau tersebut enggak begitu besar. Tindakan ini malah lebih bego daripada Neville Longbottom yang mencatat semua password ruang rekreasi Gryffindor pada secarik kertas dalam cerita Harry Potter and the Prisoner of Azkaban.

Setiap ajaran sesat, setiap kefanatikan, bermula dari satu hal keraguan. Manusia tertarik kepada agama bukan sekadar karena takut akan kematian. Mass acceptance sebuah ajaran diperoleh sebab ajaran tersebut memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan. Di tengah kekacauan dan musibah, kondisi aspek kehidupan yang mulai meragukan, orang pertama yang menawarkan tata tertib akan dipandang sebagai juru selamat. Karena manusia begitu desperate dengan order. Apostle adalah film yang membesarkan rasa desperate manusia tersebut. Perjalanan Thomas sebagai literally penyelamat desa, adalah metafora dari keadaan tersebut – seskeptis apapun, kita bakal butuh untuk percaya pada sesuatu.

 

 

Paruh kedua film ini ‘dilukis’ Gareth Evans dengan warna merah. Sutradara ini terkenal akan kepiawaiannya menggarap adegan-adegan aksi yang bikin mata melotot. Dalam Apostle, meski porsi aksinya kurang, tapi itu tidak berarti mata – dan ultimately, perut  – kita bisa rileks menonton ini. Penggemar body horor bakal terpuaskan lantaran poin-poin cerita yang bakal terungkap akan terus diiringi oleh adegan gore yang brutal. Kamera pun bijaksana sekali, dia tahu kapan harus memperlihatkan semua, paham sudut mana yang paling pas bikin kita yang ngeri melihatnya tetap mengintip layar dari balik jari-jari, dan kapan musti cut-away. Ada satu adegan penyiksaan yang paling membekas di dalam kepalaku; adegan yang melibatkan alat pengebor kepala.

major headache

 

Berkebalikan dengan Thomas yang over-the-top, para pemimpin cult buatku terasa kurang nyampe dalam membawakan kengerian dari cara pandang mereka yang wicked. Justru Nabi dan para petinggi itu yang seharusnya berakting sedikit over, karena kita perlu merasakan betapa ganjilnya ajaran mereka. Bahkan motivasi para apostle itu kian konyol menjelang akhir. Sayangnya pembawaan mereka terasa tidak sejajar, kita tidak ngeri mendengarnya. Kita jijik. Kita geram. Sebab, film sepertinya memang berniat jujur, dia tidak menanamkan red-herring, sedari awal kita sudah dipahamkan bahwa ada kekuatan lain yang lebih mengerikan. Film tidak bisa bekerja selain cara yang sudah kita lihat ini. Kebrutalan dan ketidakaturan adalah seni di sini. Maka film akan benar-benar membagi penontonnya, terutama setelah pertengahan cerita di mana semua darah dan isi tubuh itu dicurahkan. Buatku, paruh akhir film memang lebih mengasyikkan, sementara paruh pertamanya sebenarnya lebih kuat dari sisi cerita. Bagian akhir film, tidak lebih berisi dari sekadar ber-gore ria. Efek-efeknya terlihat begitu fantastis; gak perlu disebutin lagi sebenarnya betapa Evans tampak sangat passionate untuk tipe film seperti ini.

Dari kekerasan terhadap binatang, insiden ayah kandung dengan anak kandungnya, film ini tak pelak penuh oleh adegan yang berpotensi disturbing buat banyak orang. Ada sedikit kemiripan dengan Mother! (2017) ketika film curi-curi berdakwah soal gimana manusia merupakan ‘mesin kehancuran’ yang tak tahu berterima kasih dalam memanfaatkan hasil alam; film ini bahkan punya semacam sosok ibu-alam versi mereka sendiri. Hanya saja, elemen-elemen cerita film ini tidak klop dengan benar-benar koheren. Dalam bercerita, film menggunakan banyak momen ‘pingsan’ sebagai penyambung narasi. Dan sesungguhnya, hal tersebut memang membuat film konsisten terhadap konteksnya; di sini kita punya cerita yang dengan berani menantang realita – gimana kepercayaan umum dirubuhkan oleh hal supranatural, dan tokoh yang sering ditarik keluar dari kenyataan mendukung ide tersebut. Tapi di lain pihak, ini tidak membuat penceritaan yang rapi.

 

 

 

 

Film ini bisa saja dibuat dengan lebih lurus terhadap kaidah film. Tokohnya bisa dibuat lebih simpatik. Disturbingnya bisa dikurangi. Adegannya bisa dibuat lebih koheren. Tapi hasilnya tidak akan senendang yang kita saksikan ini. It wouldn’t work as strong as this. Karena film ini hadir bukan untuk menyenangkan semua orang. Akan tetapi, sesungguhnya film ini siap untuk mengumpulkan pengikut yang mempercayai karya-karya Gareth Evans yang sangat unsettling.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for APOSTLE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian apa sebenarnya yang terjadi kepada Thomas di akhir cerita? Apakah dia bahagia, apakah dia menemukan kembali keimanannya – ataukah dia sudah terangkat statusnya menjadi semacam ‘Tuhan’?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017