LOVE FOR SALE Review

“Everyone is in their own time zone.”

 

 

Ngeliat temen lulus kuliah duluan, kita mupeng. Ngeliat temen yang lulusnya belakangan dapet kerja lebih cepet, kadang kita suka minder, terus sirik. Ngeliat temen yang masih muda hidupnya udah mapan kemudian dia melayangkan undangan pernikahan, kita ngeri. Takut ditanya “kapan nyusul?” Takut disindir “Sendirian aje nih”. Kalo kalian sudah merasa merinding-merinding ngilu dengan membaca ilustrasi di atas, maka bayangkan gimana ‘serem’nya hidup buat Richard (Gading Marten memberikan penampilan akting yang sangat meyakinkan di antara perjalanan karirnya), pengusaha yang sudah menginjak 41 tahun namun masih bisa keliaran di rumah mengenakan pakaian dalam lantaran belum ada istri, apalagi anak, yang bakal bikin suasana awkward.

Tak heran, Richard galak banget sama pegawai-pegawai perusahaan percetakannya. Namun ketika udah ngumpul-ngumpul bareng temen-temen nobar sepakbola, giliran Richardlah yang di-bully. Semua orang meledek kejombloabadiannya. Sampe-sampe mereka bertaruh; di pesta pernikahan temen dua minggu lagi, Richard akan datang tanpa membawa pasangan. Tentu saja, apa yang bagi temen-temennya adalah taruhan duit; bagi Richard, adalah taruhan harga diri. Jadi dia mencoba segala cara, termasuk ikutan situs perjodohan online bernama Love Inc, di mana Richard bisa menyewa cewek untuk dibawa ke nikahan berpura-pura jadi pacarnya. Tetapi, oleh karena sedikit mixed up di ‘kontrak kerja’, Richard berakhir tinggal bersama dengan pacar sewaannya, Arini (si fearless Della Dartyan), sampai waktu yang diassign beres. Di saat benih-benih cinta genuine mulai tumbuh di dalam diri Richard, di saat itu pulalah kita semakin tersedot masuk dan peduli kepada Richard, film dengan perlahan membangun kita ke sebuah pertanyaan mengerikan “Saat jatuh tempo nanti, akankah Richard mampu untuk tidak hancur? Atau apakah ada kejutan untuknya?”

Orang-orang di sekitar kita ada yang tampak sudah jauh di depan, ada yang masih di belakang. Dan hal tersebut bukan masalah. Kita tidak harus meledek mereka. Pun kita tidak perlu untuk merasa minder karena ketinggalan. Karena setiap orang sesungguhnya bergerak pada zona waktu masing-masing. Seperti halnya Indonesia yang lebih dulu hingga lima-belas jam dari Amerika, tapi itu toh bukan berarti Amerika yang lambat dan terbelakang. Kita semua tepat waktu, manfaatkanlah sebaik mungkin. Hidup adalah soal bergerak dalam momen yang tepat.

 

Elemen cerita ‘pacar bo’ongan’ memang bukan hal baru dalam cerita film. Kita sudah cukup sering mendapat narasi seputar seseorang yang terlalu lama sendiri, kemudian memalsukan hubungan, dan terjerat menjadi benar-benar cinta. Love for Sale melakukan hal ini dengan sangat baik, karena kita benar-benar diperlihatkan betapa menyedihkan kehidupan Richard sebagai – ah, mengambil istilah yang dilontarkan oleh tetangganya – bujang lapuk. Film ini punya babak setup yang menarik, interaksi antara Richard dengan tokoh-tokoh lain tergambarkan dengan manusiawi. Komedi yang hadir darinya juga timbul tanpa cita rasa dibuat-buat. Apa yang kita lihat adalah truly kondisi yang satir mengenai seseorang yang ingin berada dalam relationship, namun secara mental ia tahu dirinya belum benar-benar siap, dan di sisi lain tuntutan sosial terus menggebahnya. Kita dapat dengan mudah ikut merasakan urgensi dari tekanan cerita.

Salah satu aspek yang aku suka dari karakter Richard adalah begitu banyak lapisan pada karakternya. Richard adalah salah satu tokoh utama dengan kedalaman paling jauh yang pernah kulihat  tahun ini. Lihat saja bagaimana ia melampiaskan semua ‘keluh kesahnya’ kepada waktu. Like, dia sungguh-sungguh menekankan betapa pentingnya bergerak tepat waktu – dalam beribadah, dalam bekerja. Kita melihat betapa strictnya Richard kepada anak buahnya yang dateng telat. Melanggar batas jam makan siang sedikit aja, siap-siap deh kena omelan. Actually, omelan sendiri juga jadi poin kuat tokoh ini, berkat comedic timing dan penyampaian Marten yang tepat luar biasa. Kedisiplinan ektranya terhadap waktu ini sebenarnya adalah cerminan dari keinginan tak sampainya untuk segera punya pendamping. Sebagaimana dinasihatkan oleh salah sahabatnya, bahwa jodoh juga kudu tepat waktu.

mau, gajinya dibayar telat?!

 

Masalah tempat turut dijadikan elemen yang menambah bobot buat karakter Richard. Dia diceritakan tidak pernah ke mana-mana. Jalan dari kantor ke Kemang aja dia nyasar. Dia mengeluhkan nobar di Jakarta Selatan yang ia anggap terlalu jauh jaraknya dengan rumah yang di Pusat. Richard membiarkan dirinya stuck di satu tempat saja. Dan ini dibuat paralel dengan kenapa ia sampai sekarang masih susah menjalin hubungan percintaan. Richard punya sesuatu di masa lalu, dan praktisnya dia belum move on dari sana.

Cinta itu urusan ruang dan waktu. Kita tidak bisa memaksakan kapan. Tak jarang, kita harus menempuh banyak sebelum mencapainya.

 

Ketika aku menyebut Love for Sale adalah film yang berani, aku tidak semata memaksudkan karena film ini berating dewasa dan akan ada adegan-adegan yang bikin risih  di dalam ceritanya. Love for Sale memiliki banyak persamaan dengan film Her (2013) buatan Spike Jonze. Strukturnya nyaris sama persis, kecuali tentu saja ini lebih seperti versi yang lebih grounded buat penonton Indonesia dan di bagian krusial yang dengan nekat diambil oleh sutradara Andy Bachtiar Jusuf. Ada banyak cara untuk membuat penyelesaian cerita ini, dan film memilih mengambil cara yang paling banyak memancing pertanyaan. Itulah yang namanya nyali. Film lain akan  memilih jalan yang paling terang sebagai babak akhir cerita, you know, Richard dan Arini kemungkinan besar akan dibuat berakhir hidup bersama entah itu Arini juga jadi beneran jatuh cinta atau Richard akan membebaskan Arini dari jerat ekonomi di mana mereka akan mengonfrontasi Love Inc. Tapi tidak demikian dengan Love for Sale. Ketika cerita membuat Arini tampak too good to be true untuk kemudian beneran ‘menipu’ Richard, film meniatkan agar Arini juga ‘menipu’ kita, para penonton. It was so believable Arini cinta, dia dibuat begitu loveable, hanya supaya kita juga merasa terenggut darinya.

Film ini menghasilkan sebuah hubungan percintaan yang digarap dengan sudut pandang yang matang. Everything is reasonable here. Bahkan adegan bersetubuh yang tergolong tabu dalam film ini memiliki kepentingan tersendiri. Sungguh pilihan yang bijak dari Andy Bachtiar untuk tidak mempersembahkan seks sebagai tujuan dari hubungan antara pria dengan wanita, yang mana bisa dibilang film ini masih menghormati budaya lokal. Tujuan Richard adalah memperistri Arini, dan ini membuktikan dia menghargai cinta di atas kepura-puraannya. Dan ultimately, Richard belajar bukan semata perasaan dicintai yang penting, yang ia cari – melainkan kemampuan untuk menyintai dengan tulus, dan ini dia buktikan kepada orang-orang di sekitarnya. Ending film ini sangat powerful, melihat Richard yang menyadari Arini adalah rebound yang ia butuhkan untuk menemukan kembali kemampuannya untuk move on dan mengenali cinta di manapun dia berada.

kata orang kalo cinta, lepaskan aja, cinta sejati selalu akan kembali menemukan jalan pulangnya

 

 

Di samping aku enggak begitu setuju dengan taktik film menggunakan layar media sosial sebagai pendukung penceritaan, sedikit kekurangan yang dipunya film ini adalah perihal Arini dan Love Inc yang dibuat terlalu misterius. Bukan di apa yang sebenarnya terjadi, karena adalah hal yang bagus untuk membiarkan penonton menebak dan menyimpulkan sendiri. Hanya saja menurutku, mestinya film menjelaskan atau membangun dunia Love Inc itu sendiri sebagai not necessarily bukan hal yang dijadikan pertanyaan. Simpelnya maksudku adalah kita berhak dikasih penjelasan apakah ada orang lain di dunia cerita tersebut yang memakai jasa Love Inc, karena kita lihat mereka mencetak dua ratus ribu eksemplar selebaran di percetakan milik Richard. Seharusnya kan paling enggak ada orang selain Richard yang juga menggunakan, yang jadi ‘korban’. Film ini kurang berhasil membangun seputar keberadaan program tersebut, dan ini membuatku bertanya-tanya, apa memang Richard ditargetkan sedari awal? Oleh siapa? Sebab rasanya long stretch sekali untuk mempercayai apa yang sudah dipersiapkan Arini buat dirinya.

 

 

 

Drama tentang kebutuhan manusia akan hubungan romansa yang diceritakan dengan berani. Bekerja efektif berkat arahan dan penampilan akting yang benar-benar hit home dari hampir semua tokoh. Film membuild ceritanya dengan perlahan, namun sangat seksama, sehingga membuat kita sulit terlepas dari apa yang sedang kita saksikan. Fresh bagi film Indonesia, namun tidak cukup unik. Tapi aku senang karena film ini adalah bagian dari langkah move on perfilman tanah air dari film-film mainstream , dengan benar-benar punya sesuatu untuk disampaikan. Langkah yang mungkin enggak cepat-cepat amat, kayak kura-kura si Richard, namun tak pelak sebuah langkah yang mantap.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for LOVE FOR SALE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

BENYAMIN BIANG KEROK Review

“Sometimes we need to step back”

 

 

Bersama-sama, sutradara Hanung Bramantyo dan aktor Reza Rahadian telah menghasilkan karya yang mengundang decak kagum banyak orang, seperti Rudy Habibie (2016), Kartini (2017), dan baru-baru ini tayang di festival adalah film The Gift yang aku belum dapet kesempatan untuk menonton. Dan kemudian, mereka menelurkan film seperti Benyamin Biang Kerok.

Aku enggak tahu apa memang banyak permintaan untuk menghidupkan kembali peran yang dibuat legendaris oleh legenda lawak Benyamin Sueb (bekennya disingkat Benyamin S doang). Apalagi ada orang yang menganggap Reza Rahadian bermain sebagai Benyamin adalah sebuah ide emas. Tentu saja, akan menarik melihat Johnny Deppnya Indonesia ini mencoba bermain di ranah yang baru. Film ini jelas memberinya tantangan dari poin terkecil Reza bukan orang betawi. Dari yang aku dengar juga, Reza katanya sangat kepengen bermain di film musikal – terlebih komedi musikal. Tetapi, Benyamin Biang Kerok ini mungkin bukan gimana tepatnya Reza membayangkan komedi berbumbu musikal yang bakal ia lakoni.

Kebiasaan ini memang belum bisa terjelaskan dengan baik, namun manusia suka untuk mengerem langkahnya. Terkadang kita merasa perlu untuk mengambil tempo. Seperti saat hendak melompat jauh, kita akan mengambil ancang-acang ke belakang beberapa langkah. Kita merasa aman, rileks, dengan sedikit memundurkan diri. Tapi seberapa jauh kita rela ataupun harus mundur? Film Benyamin Biang Kerok ini adalah langkah mundur yang dengan sukses diambil oleh Hanung dan Reza, terlebih jika mereka memang menginginkan sedikit change of pace dengan mengdowngrade diri mereka sedikit banyaknya.

 

Reza cukup berhasil membawakan kekhasan Benyamin, mulai dari suara tawa, mimik, hingga tantrumnya. Selain bakal diisi adegan musikal, aku enggak tahu harus mengharapkan seperti apa film ini sebelum menontonnya. Tadinya kupikir biografi Benyamin, ternyata bukan. Film ini lebih seperti reboot dari film jadul dengan tokoh bernama Pengki. Yang jelas, aku sama sekali tidak mengharapkan produk film yang se-terrible ini. Untuk sepenuhnya mengerti kenapa film ini ujung-ujungnya tidak bekerja dengan efektif, sebagaimana terhadap film-film pada umumnya, kita perlu melihat dan diyakinkan oleh sepuluh menit pertamanya.

Timingnya sih pas, film ini tayang deketan sama hari lahir Benyamin S

 

Sekuen pembuka film ini melibatkan Tora Sudiro yang sedang dalam misi undercover, menyusup ke dalam kasino dan ikut permainan Poker underground yang diselenggarakan oleh Komar (seru dan cukup meyakinkan juga aksi pelawak senior ini menjadi bos penjahat). Di dalam sana kita lihat berbagai teknologi canggih namun konyol seperti scanner wajah yang memperlihatkan status relationship orang. Si Komar, selain punya nama tokoh yang kreatif banget – Said Toni Rojim, juga punya robot cewek yang canggih dan creepy abis. Dibantu dua temennya; yang satu menyusup jadi orang dalam dan satunya lagi menjadi mata lewat kamera pengintai, Tora berusaha memenangkan uang sebanyak mungkin. Itulah tujuan mereka di sini. Namun kemudian polisi datang menggerebek, Tora kabur membawa apa yang bisa ia bawa, dan ternyata Tora adalah Benyamin alias Reza Rahadian alias Pengki yang sedang pake topeng! Kemudian Pengki dan teman-temannya kabur naik oplet mandra ke pasar, di mana mereka lantas nyanyi ondel-ondel bareng semua orang.

See? I was just ready to watch a completely absurd comedy. Sepuluh menit pertama film ini sebenarnya efektif sekali melandaskan betapa konyolnya film ini dibuat. Untuk adegan-adegan ke depan kita akan melihat orang diuppercut hingga menembus awan dan menabrak pesawat terbang. Kita akan kenalan sekilas sama cewek yang mengaum kayak harimau dan makanin orang. Kita akan bersisian sama tiruan Bane yang badannya berminyak. Sesungguhnya ini semua sah-sah saja, jika film memang ingin bersenang-senang dengan logika dan intelegensi, maka itu terserah mereka. Asalkan semuanya digarap dengan arahan yang pasti.

Akan tetapi, Benyamin Biang Kerok masih ingin tampil pintar. Masih berusaha tampil punya hati. Diberikannya Pengki persahabatan dengan dua temen dekatnya. Dituliskannya Pengki sebagai anak orang kaya dengan masalah keluarga – kedua orangtuanya sudah tidak bersama, Pengki tinggal dengan ibu yang menganggap anaknya adalah bocah tue yang paling males sedunia padahal di luar rumah Pengki adalah pemuda yang mengkhawatirkan hidup warga rusun pinggiran. Yang rela membahayakan nyawa demi uang mencegah rusun tersebut dari penggusuran. Pengki juga somehow adalah pelatih sepak bola untuk anak-anak di sana. Naskah juga memberikan Pengki kekasih, seorang artis cantik, yang ternyata adalah ‘calon istri’ dari Said si bandit yang pasukannya cewek semua. Di atas itu, film juga sempat-sempatnya melontarkan komentar yang relevan dengan situasi politik dan keadaan sosial dalam masyarakat Indonesia sekarang ini. Sayangnya, dengan tone yang begitu bercampur seperti ini – editing film pun kerap tampak sangat kasar antara adegan satu dengan adegan lain kelihatan banget beda take – sukar untuk kita menganggap serius pesan-pesan tersembunyi yang dibisikin oleh film.

Mencoba untuk memasukkan banyak elemen dari berbagai genre, film ini seperti campuran dari berbagai hal-hal konyol. Masing-masingnya lebih wacky dari sebelumnya. Sehingga tidak lagi menjadi lucu. Malahan, film ini cukup ‘menyakitkan’ untuk ditonton. Kayak melihat orang pintar yang berusaha terlalu keras untuk tampak bego supaya disukai dan membaur dengan sekelilingnya. They don’t feel comfortable at all. Menonton film ini seperti menonton seseorang yang sedang enggak mau menjadi dirinya sendiri.

 

Yang membuat semakin parah adalah relasi antara tokoh-tokohnya tidak pernah dibuat meyakinkan. Pengki dengan teman-teman partner in crimenya tidak dieksplorasi, bahkan mereka bertiga jarang berada dalam satu frame yang sama.  Ada satu adegan Ibu Pengki yang galak mengajaknya ikut melihat bagaimana carany berbisnis, tapi dilakukan dengan konyol, tanpa menambah banyak untuk cerita. Hubungan antara Pengki dengan demenannya pun tidak pernah tampak manis. Kecuali pada adegan-adegan musikal yang tampak berada di luar dinding cerita – yang mana membuat film ini sedikit membingungkan. Pengki dan Aida menjadi dekat dengan begitu cepat, sehingga kita tidak benar-benar peduli ketika Aida mulai dalam bahaya dalam cengkeraman Said. Stake dalam cerita serta merta tergampangkan. Pengki punya semua jawaban, entah itu dari uang ataupun dari alat-alat temuan temannya. Tak sekalipun kita merasakan ada yang benar-benar dalam bahaya – inilah tanda betapa elemen dalam film tidak tercampur dengan baik. Kita hanya dapet konyolnya saja, which is fine dalam komedi yang hanya menyasar komedi, tapi film ini menargetkan banyak hal pada narasinya.

unsur betawinya juga seperti ketinggalan entah di mana di tengah cerita

 

Buatku, the last straw adalah bagaimana cara film mengakhiri ceritanya. Hmm.. atau seharusnya aku menulis bagaimana cara film tidak mengakhiri ceritanya. It was very insulting memotong film di tengah-tengah sekuen seperti yang dilakukan oleh film ini.  Penonton berhak mendapat penutup. Kita sering mengejek film cinta-cintaan kayak ftv atau sinetron, padahal justru Benyamin Biang Kerok inilah yang sinetron layar lebar yang sebenarnya.  Mereka pretty much sama saja dengan menabuhkan tulisan ‘bersambung’ di layar dan tidak semestinya, tidak ada alasan, yang namanya film berakhir dengan demikian. Film seharusnya tertutup. Ada awal, tengah, akhir. Memotong akhir tanpa ada babak penyelesaian adalah tindakan yang lancang, bagaimana seorang bisa menyebut dirinya pembuat film jika ia tidak benar-benar membuat sesuai dengan kaidah film? Benyamin Biang Kerok hanyalah sebuah franchise ‘reborn’ berikutnya setelah Warkop DKI. Bahkan jika dibandingkan pun, Warkop DKI Reborn adalah film yang lebih baik karena mereka tidak pernah ingin menjadi lebih dari diri mereka yang sebenanrya; sebuah tontonan konyol. Seenggaknya Warkop DKI sedari awal sudah ‘mengakui’ film mereka berformat part 1 dan part 2. Dan mereka juga tidak memotong film di tengah-tengah aksi, mereka masih punya batasan penutup yang jelas di antara dua part. Wow , aku gak percaya tiba harinya aku membela film Warkop DKI Reborn, mungkin ini langkah mundur yang kuperlukan.

 

 

Kita memang kadang perlu mundur, tapi seberapa jauh. Satu pertanyaan lagi yang aku yakin menghinggapi benak kita saat menonton ini “Ini beneran film buatan Hanung, siapa biang kerok sebenarnya di sini?”. Bahkan menyebut ini sebagai film cari uang pun sesungguhnya tidak tepat. Karena ini actually bukanlah sebuah film. Ini adalah insult yang mengapitalisasi kenangan terhadap seorang seniman sebesar Benyamin Sueb.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for BENYAMIN BIANG KEROK.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

EIFFEL I’M IN LOVE 2 Review

“..the decision to be patient and willing to wait is an act of courage and perseverance.”

 

 

Cobaan paling berat di dunia itu salah satunya adalah menunggu. Beberapa orang menjadi tidak sabaran lantaran menunggu itu berarti kita menunda melakukan sesuatu, menahan diri dari mendapatkan sesuatu. Makanya, menunggu itu bisa kita jadikan sebagai kadar kedewasaan seseorang. Semakin dewasa orang, maka semakin sabarlah dia. Buktinya lihat aja pas bulan puasa, yang batal duluan biasanya pasti anak-anak kecil, yang sanggup menahan diri biasanya punya nalar dan mental yang matang. Namun meskipun begitu, enggak selamanya anak kecil kalah ‘sabar’ sama orang dewasa. Kadang ada juga orang dewasa yang bertingkah seperti anak kecil.

Menunggu itu adalah aksi yang paling membosankan, sebab menunggu adalah aksi yang tertunda.  Maka dari itu, orang yang mengambil keputusan untuk menunggu adalah bukan saja orang yang amat tekun, namun juga salah satu orang yang paling berani di dunia.

 

Kayak si Tita. Di ulangtahun kedua tujuhnya, dia masih belum boleh megang hape sendiri, masih dilarang keluar malem sendirian oleh ibunya. Lantaran Tita ini masih kolokan, manja banget. Sebenarnya ini kayak kasus ayam atau telur sih, gak jelas juga apakah karena selalu diprotek berlebihan maka mental Tita masih kayak remaja bau kencur, atau apakah sudah dari sononya ia begitu sehingga perlu pengawasan ekstra. Yang jelas, di usia segitu Tita masih belum menikah. Dia masih betah LDRan sama Adit, cowoknya yang tinggal di Paris. Padahal menurut Tita, menikah bisa menjadi solusi dari semua masalah hidupnya – dia bisa bebas dari aturan ibu, dia bisa merdeka dari pertanyaan ‘kapan nikah?’ dari temen-temennya. Maka, Tita pun bersabar menunggu lamaran Adit. Di sinilah kedewasaan, bukan hanya Tita melainkan juga kedewasaan relationship mereka ditempa, karena Tita dan Adit yang sudah bersifat berlawanan dari film pertama, menjadi semakin sering bertengkar hingga ke titik Tita mulai kehilangan kepercayaan terhadap Adit.

Lama tinggal di Paris, tapi Adit masih canggung nyetir di kiri

 

Aku hampir yakin kalo aku masuk golongan minoritas di sini, karena aku sama sekali enggak tahu sama Eiffel, I’m in Love. Aku gak baca bukunya, aku gak nonton film pertamanya, aku sempet bingung karena yang aku pernah nonton cuma Lost in Love (2008) yang ternyata enggak dianggep sebagai universe franchise film ini. Jadi aku enggak tahu Eiffel, I’m in Love 2 ini mengincar apa.  Film ini akan terpuruk sangat jika kita melihatnya sebagai drama romansa. Akan tetapi, BERTINDAK SEBAGAI KOMEDI ROMANTIS, film ini menunaikan tugasnya dengan efektif. Aku sendiri juga kaget, aku menikmati hubungan para tokoh film ini.

Bantering antara Tita dan Adit dijadikan senjata utama yang bakal bikin kita tertarik untuk menonton. Kedua tokoh sentral dibangun dengan formula komedi, di mana yang satu adalah total opposite dari yang lain. Dan mereka terflesh out dengan efektif. Ada begitu banyak momen-momen lucu yang hadir dari interaksi Tita dan Adit. Shandy Aulia dan Samuel Rizal sudah punya chemistry yang menawan dan mereka tampak begitu effortless menghidupkan tokoh-tokoh. Effortless dalam artian yang positif karena keduanya tampak berinteraksi dengan natural. Berantem mereka, delivery dialog ngotot-ngototannya, terasa pas dan sungguh-sungguh relatable. Film ini berangkat dari sudut pandang seorang wanita yang berada dalam situasi berpacaran terlalu lama, dengan potensi menikah yang tak kunjung cerah. Ditambah lagi dengan masalah-masalah yang tentunya hadir jika seseorang terlibat dalam hubungan asmara jarak jauh. Film memfokuskan kepada hal tersebut, berkelit dari kait-kait drama, dan mengeksplorasi ‘berantem itu kekanakan atau romantis’ menjadi sebuah cermin yang menyegarkan bagi penonton. Seperti pada adegan ketika Adit mengajak Tita pulang naik mobil, tapi Tita ‘sok’ ngambek, dia enggak mau naik. “Tinggal nih!?” ketus Adit. Yang dijawab tak kalah ketusnya “Tinggal aja!” oleh Tita. Adit pun pergi. Dan kita lihat Tita ngomel-ngomel manja “Adit jahat, ninggalin Tita sendiriiii”

Tapi memang, film ini punya set up tokoh yang aneh, and not necessarily in a good way. Tita yang udah nyaris berkepala tiga, namun seringkali bersikap lebih manja dari remaja tentu bisa jadi turn off buat banyak penonton. Aku sendiri tadinya juga udah pasang kuda-kuda, karena tokoh kayak gini biasanya bakal annoying banget. Awkward pasti demi ngelihat orang bertingkah di bawah umurnya. Motivasi Tita adalah dia ingin dilamar supaya bisa bebas, hanya itu. Film tidak berusaha menjadi lebih besar dari ini. Tidak berniat untuk menyampaikan cerita yang lebih dalem. Namun paling enggak, film ini konsisten dalam membangun penceritaan dengan perspektif tokoh utamanya. Paris adalah kota yang romantis, mungkin paradigm itu tergolong kuno di jaman now, namun dalam kacamata Tita, langit malam Paris, di atas sungai Seine, berhias gemerlap kembang api, tetaplah skenario percintaan yang paling maksimal. Film negbuild up momen-momen keinginan Tita terwujud dalam cara yang menarik karena nun jauh di dalam hati, kita pengen lihat benturan apa lagi yang dihasilkan dari perbedaan mindset antara Tita dan Adit.

Jika ini adalah film drama, maka tentu dalam perkembangannya kita akan melihat Tita akan belajar untuk melawan aturan ibunya, dia akan mencoba untuk menjadi mandiri. Dan nampaknya memang akan bisa menjadi produk cerita yang lebih baik dari ini. Tetapi dari penulisan plot yang mereka pilih, film ini punya vibe komedi yang gede, jadi alih-alih itu, Tita akan belajar untuk mulai meragukan Adit. Oleh naskah, Tita tetap menjalankan fungsinya sebagai tokoh utama, dia melakukan pilihan-pilihan. Hanya saja memang pilihan-pilihan tersebut tidak benar-benar berbobot. Untuk menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya ia butuhkan, naskah memperlakukan Tita seperti ikan di luar air; Tita mencoba melakukannya dengan benar-benar gak tau apa yang terjadi di sekitar, sementara dirinya sendiri struggle untuk memegang teguh apa yang ia percaya. Pandangan anak manja dan romantisme tetap dipegang dengan konsisten, sementara pemahaman Tita menjadi ‘dewasa’ mengunderlying komedi dan berjalan seiring sebagai lapisan kedua cerita.

“Kalo tut, berarti gue kentut dong!”

 

Tapinya lagi, tentu saja film ini juga tidak luput dari kesalahan. Tetap banyak trope dan pilihan-pilihan gampang demi merebut hati target pasar. Yang ultimately menjadikan film ini enggak berhasil menjadi lebih baik dari yang semestinya bisa ia capai. Lagu soundtracknya yang kerap diulang membuatku terlepas dari emosi yang tak lagi terasa genuine. Banyak juga aspek cerita yang tak bangun-bangun, eh tuhkan jadi kebawa lagunya, maksudku banyak aspek cerita yang tak terbangun dengan baik. Hanya sekedar menjadi device saja. Seperti tokoh sahabat cowok Tita; Adam literally a tool dalam cerita. Maksudnya, dia hanya ada di sana untuk memudahkan jalan cerita maju, tanpa benar-benar punya kepentingan dari segi karakter dan bobot emosi cerita. Adam, dan juga tokoh-tokoh sampingan lain, tidak terflesh out dengan baik sebab film tidak peduli menceritakan mereka. Mereka hanya ada di sana saat cerita membutuhkan. Contohnya di awal-awal saat adegan drive-through McDonald. Adam tiba-tiba ada di sana, dengan pesenan yang sama dengan Tita, dan itu adalah salah satu adegan pengenalan tokoh paling males yang pernah dilakukan dalam film, bahkan dalam film cinta-cintaan Indonesia.

Alasan mereka sekeluarga pindah ke Paris juga tidak dimekarkan menjadi apa-apa. Keluarga Tita seharusnya membuka rumah makan, tapi kita hanya mendapat satu adegan mereka berbenah di rumah makan tersebut. Film melewatkan kesempatan mengeksplorasi banyak karakter  dari sini, sehingga aku paham mengapa banyak orang yang mempertanyakan kenapa satu keluarga mesti pindah. Karena nyata-nyatanya kehadiran mereka juga tidak benar-benar berbuah dalam membangun cerita yang lebih baik. Ketika Tita dan Adit tampak begitu mengalir bersahut-sahutan, Tita dengan anggota keluarga yang lain, bahkan dengan Uni, tidak terasa sama naturalnya. Dialog-dialog tidak terasa mengalir dengan mulus, karena kita masih bertanya kenapa ada orangtua yang memperlakukan anaknya seperti anak kecil. Menurutku, cerita butuh memperlihatkan sudut pandang dari orangtua atau keluarga Tita sehingga masalah manja dan perlakukan sedikit mengekang itu bisa terbahas.

 

 

Udah ngarep, apalagi pake nunggu lama banget, tapi yang ditunggu enggak kejadian, memang sebuah hal yang berat. Untungnya, bagi para fans film yang pertama, film ini adalah sesuatu yang sudah ditunggu selama lima belas tahun, dan berbuah kejadian-kejadian yang menyenangkan untuk ditonton. Film menggali komedi dari bentrokan keinginan dua karakter sentral yang mengekspresikannya dengan cara yang kekanakan. Tapi dewasa itu adalah penantian. Film menyediakan cukup komedi sehingga menjadi menarik, namun dia tidak menyediakan gizi lebih banyak dari itu.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for EIFFEL I’M IN LOVE 2

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

   

My Dirt Sheet Awards 7ANGRAM

 

“Kita tahu hidup penuh dengan misteri ketika kita melihat Nicholas Saputra berubah menjadi burung. Well, yea aku pikir dunia tidak bisa lebih aneh lagi sampai aku melihat senyuman bibir atas Superman. Begitulah hidup, kadang kita enggak mengerti. Hampir sering semua berjalan begitu berlawanan dengan yang kita rencana kita. Dengan yang kita harapkan. Satu tahun lagi, yang tidak akan bisa kita ambil kembali, memang telah berlalu. Akan tetapi, for what it’s worth, kita telah mengisinya dengan sebaik yang kita bisa. Kata film The Shape of Water sih, kita mesti bisa ‘berganti wujud’ sesuai dengan wadah, kayak air. Kalo ditaro di gelas, bentuknya kayak gelas. Kalo ditaro di mangkuk, bentuknya setengah bundar. Asal mangkok dan gelasnya jangan ditarok di tiang listrik. Nanti ditabrak.

Kita kudu fleksibel. Kemampuan yang kita punya, anggaplah sebagai kepingan-kepingan puzzle yang bakal kita gunakan untuk mengisi gambar besar, yang mana adalah kehidupan. Tugas kitalah untuk memasangkan kepingan-kepingan itu, menyusunnya, menjadi bentuk yang kita butuhkan saat sekarang. Dan ketika hidup mengganti pertanyaannya, puzzle tersebut kita rombak dan susun lagi. Ketika tahun berganti, kita bersiap-siap berusaha kembali.”

“My Dirt Sheet pun kembali memberikan penghargaan buat yang udah ter-gerrr sepanjang tahun. I love doing this, dan semoga kamu-kamu gak bosan membaca artikel awards ngasal ini setiap tahun.”

 

“Maka, sambutlah Rick dan Morty dari serial animasi paling hits se2017, Rick and Morty, untuk membacakan beberapa kategori pertama! Plok..plok..plok…”

 

<Lingkaran hijau kayak gel terbentuk di panggung>

<Rick dan Morty melangkah keluar dari dalamnya>

Rick: Wubba lubba dub dub, everybody!!
Morty: Aw geeez, Rick, aku gak tahu bakal serame ini. A-a-apa rambutku oke? Bajuku? Oh no, aku pakai celana kan ya?
Rick: Shut up, Morty. Kau memper..(burp)…malukan, kau mempermalukan dirimu sendiri. Selamat malam, Semuanya. Aku merasa terhormat telah… sial, aku belum terlalu sober untuk melakukan ini (burp!) Anyway, inilah nominasi untuk

TRENDING OF THE YEAR

1. Despacito
Morty: Aku tahu ini! Mereka memutarnya di mana-mana, di sekolah, di-di mall
Rick: Well, aku gak punya waktu untuk dengerin musik, Morty. Aku bekerja keluar-masuk universe untuk kepentingan yang jauh lebih baik.
Morty: A-a-a-ku cuma bilang, Rick
Rick: Ya? Jika sekali saja aku mendengar ini diputar di rumah, Morty. Sekali saja…
Morty: Geezz….
2. Fidget Spinner
Rick: Anak-anak pada main ini, tapi tahu gak, Morty, aku menciptakan yang seperti ini 10 tahun lalu (burp) dan yang kuciptakan itu bisa berputar sendiri
Morty: Tapi, tapi poin mainan ini memang kita putar untuk melepaskan stress, Rick
Rick: Orang dewasa punya pelepas stress yang lebih baik, ya kan, guys? Ahahahak
3. ‘Love’ Finger Sign
Rick: Kau ngarep bisa foto bareng Jessica dengan berpose kayak gini kan, Morty
Morty: Enggak sih, aku gak gitu ngikutin gaya Kore..
Rick: Lanjut nomor 4,
4. Marsha Bengek
Rick: Kau tahu nasehat “kau bisa jadi apapun yang kau mau asalkan terus berusaha” kan, Morty? Well, I’ll shoot you dead dan menggantimu dengan Morty yang baru kalo kau mulai ngikutin bikin video kayak gini
Morty: …..
Rick: Kau tahu aku masih punya voucher Morty gratis kan, (burp), just – just don’t give me the reason to use it.
5. Salt Bae
Morty: Semua orang bisa terkenal dengan hal-hal kecil yang unik
Rick: Enggak, kau harus punya skill. Yang mana kau enggak punya, Morty. Tapi jangan khawatir, kakek hebatmu ini akan membantumu
6. Trash Dove
Rick: Awas Morty, itu monster ungu dari Planet Teror!
Morty: Hahaha, bukan Rick. Ini makhluk annoying dari planet facebook
7. Weird Eyebrows
Rick: Awas Morty, itu makhluk Planet Freakazoid!!!
Morty: A-a-a-ku pikir bukan, Rick. Makhluk Freakazoid jauh lebih normal dari alis-alis ngetren ini

Rick: Cuma segini?
Morty: Yea, Rick. Mereka membuat nominasinya cuma tujuh biar sesuai sama nomer acara ini.
Rick: (burp) bulshit, Morty. Mereka melewatkan satu hal yang jadi hits seantero multiverse. Benda itu harusnya menang.
Morty: Apa yang kau maksud, Rick?
Rick: Szeuchan Sauce, Morty! Sekarang mari kita lihat siapa yang mengalahkan ketenaran saus lezat tersebut <membuka amplop>
Rick-Morty: Dan pemenangnya adalah….


Rick: I just don’t get it with this world, Morty. I just can’t.
Morty: Mari move on ke kategori berikutnya, Rick.

 

GAME OF THE YEAR

Morty: Video games are so cool!
Rick: Semua keren buatmu, Morty! A..a..aku gak percaya kau masih (burp) menggelinjang aja lihat teknologi terbelakang setelah semua petualangan yang kita lalui, Morty.
Morty: A-a-a-aku suka petualangan, Rick. Aku suka sensasi adrenalin dan kejutan-kejutan seru. Denganmu, petualangan kita nyata. Tapi aku tetap lebih suka main video game aja, Rick. Karena kau tahu, di video game, kalo-kalo aku mati, aku masih bisa hidup lagi. Aku mati tidak dalam kesakitan, Rick, itu yang penting.
Rick: Kau benar-benar anak ayahmu, Morty
1. Cuphead
Morty: Ini udah kayak gabungan Contra dengan kartun Disney klasik jaman Miki Mos but not really. Game ini so hard it’s fun, Rick.
Rick: …Kau bicara seperti loading yang kepanjangan, Morty….
2. Getting Over It with Bennett Foddy
Rick: Kelihatannya aneh banget..
Morty: Kalo yang ini game susah yang bikin stress, Rick. Kau certainly gak bakal bisa namatin ini, karena kau orang yang pemarah dan gak sabaran
Rick: Kau benar, Morty. Mendengarmu saja aku sudah gak (burp) sabaran
3. Resident Evil 7: Biohazard
Rick: Pembuatnya kebanyakan nonton Texas Chainsaw Massacre nih
Morty: Tapi ini game horror yang psikologis, serem, dan semua-semuanya terasa sangat real, Rick. A—aku, aku gak berani main ini, pakek Virtual Reality. Salah satu yang terbaik dari seri Residen Evil
4. Sonic Mania
Morty: Classic is the best, Rick. Old school is cool!!
Rick: Aku ingat ketika namatin game orisinalnya ketika berumur 5 tahun, Morty. Apa yang sudah kau lakukan di umur segitu? Apa yang sudah kau lakukan di umur sekarang?
Morty:
5. Super Mario Odyssey
Morty: Favoritku satu lagiiii!!! Konsep baru Mario di konsol terbaru Nintendo melahirkan pengalaman gaming yang super seru
Rick: Ah, si tukang ledeng yang suka makan jamur. Partially, I can relate to that. If you know what I mean.. wubba-lubba-dup-dup!!!
6. The Legend of Zelda: Breath of the Wild
Rick: Biar kutebak: satu lagi klasik yang digarap dengan penuh kejutan dengan teknologi terbaru yang kalian kira paling canggih, kan
Morty: Ini masterpiece, Rick. Masterpiece!
7. Undertale
Rick: Setelah semua gambar keren itu, kita balik ke 8-bit??
Morty: Ini salah satu game dengan konsep paling unik, Rick. Punya replay value yang gede karena ada banyak skenario. Kita bisa milih antara membunuh monster atau memaafkan mereka, cinta damai, Rick.
Rick: Bukankah membunuh monster satu-satunya alasan kita main video game?

Rick: Kau sadar aku bisa bikin video game yang lebih baik, dengan teknologi yang lebih canggih kan?
Morty: Ya.
Rick: (burp) Kau sadar, ada video game tentang kita yang enggak masuk nominasi ini kan?
Morty: Ya. Tapi aku gak keberatan. Oh aku gak sabar lihat siapa pemenangnya…


Morty: You should try playing this one, Rick. Seriously. Dan mungkin, mungkin, kau akan melihat bahwa kekerasan bukan satu-satunya jal…

<Morty belum selesai ngomong, Rick sudah membuka portal dan menghilang ke dalamnya. Morty lantas menyusul, sambil pasang tampang  nyengir-gaenak>

 

 

 

“Untuk mempersembahkan BEST MUSICAL PERFORMANCE, sambutlah…”

Elias: Who wants to walk, with Elias!!
Elias: …..
Elias: Mohon simpan tepuk tangan kalian, hingga aku selesai bernyanyi

<loud boos>

Aiden English: Hem hem… Tahu kah kamuuuu~ hari apa sekarang, Elias?
Elias: Apapun itu, sekarang bukan Rusev Day!
Aiden English: You know what? You’re right. Sekarang adalah hari di mana… Penampilan musik terbaik dianugerahi!!

<tepuk tangan penonton>

Elias: Lalu kenapa kita, dua penyanyi dan pegulat hebat, tidak termasuk di dalamnya?
Aiden English: Karena oh karena, temanku, orang-orang di sini tidak bisa menghargai talenta!!

<Boo keras lagi>

Aiden English: Lihat saja nominasi-nominasi ini
1. Baby Driver “Was He Slow?”

Elias: elektronik dan mash-up itu sampah dibanding melodi dan riff gitarku
Aiden English: exactly!
2. Barden Bellas “Toxic”

Elias: Bagaimana pendapatmu soal grup akapela ini, teman?
Aiden English: Payah. Mereka kekurangan sesuatu yang penting; suara bass klasik seorang pria seperti Aiden English!!
3. Ibu “Kelam Malam”

Elias: Oke, yang tadi itu… serem, sumpah. Tapi bisa lebih baik kalo aku yang bawakan. Dan kugubah menjadi lagu country.
4. Kurt Angle “Sexy Kurt”

Aiden English: Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, lihatlah contoh penyanyi dan pegulat yang buruk!
5. Lego Batman “Who’s the (Bat)Man?”

http://www.youtube.com/watch?v=oz-UwNJ2gh0

Aiden English: hahahahahahahha….
Elias: <menyipitkan mata, memandang marah>
Aiden English: …ahaha. Eh. Lucu sih, tapi bego. Sangat bego. Rap itu lagu kaum rendahan.
6. Lisa and Homer “Pokemon”

Aiden English: Kau tahu siapa yang bernyanyi lebih baik?
Elias: Siapa?
Aiden English: Jigglypuff
7. Phillip and Anne “Rewrite the Stars”

http://www.youtube.com/watch?v=90MG479FffU

Aiden: I wish ada Jigglypuff di sini.
Elias: Karena suaranya lebih bagus?
Aiden: Supaya aku bisa tertidur dan gak dengerin para nominasi ini!

Elias: Setuju. Wait till after you’ve heard pemenangnya.
<merobek amplop>


Elias: Sepertinya lagi musim duet..
Aiden English: Yaa… dan aku masih… well, umm, since Rusev gak bisa nyanyi… jadi.. bisa dibilang, aku masih solo
Elias: Kamu mau….. walk with Elias?
Aiden English: …. I do.
<tepuk tangan penonton ngecie-ciein, Elias dan English pergi sambil gandengan tangan>

 

 

 

 

 

“Membacakan nominasi UNYU OP THE YEAR, inilah…. Poppy!”
“Yea, That Poppy!!!”

Poppy: <berdiri diam di podium>
Poppy: ……
Poppy: ……
Poppy: Kecantikan.
Poppy: Kecantikan bukanlah segalanya.
Poppy: Namun segala hal di dunia adalah cantik.
Poppy: Apa kalian cantik?
Poppy: Apa ‘kecantikan’ itu artinya ‘terlalu cantik’?

1. Alessia Cara
Poppy: Her voice is powerfully beautiful.
2. Alexa Bliss
Poppy: Her in-ring persona is fiercely beautiful.
3. Anya Taylor-Joy
Poppy: Her acting and her look are equally as unique and beautiful.
4. Elle Fanning
Poppy: Her aura is innocently beautiful.
5. Katherine Langford
Poppy: Her pain on the Thirteen Reasons Why was so breathtakingly beautiful.
6. Kristen Stewart
Poppy: Her expression is hauntingly beautiful.
7. Lily James
Poppy: her presence is magically beautiful.

Poppy: Semua cewek cantik dengan cara mereka sendiri
Poppy: Tapi kecantikan tidak bisa diukur. Kecuali oleh waktu.
Poppy: Kalian semua cantik. Seperti aku. Seperti lampu itu. Seperti amplop ini.
Poppy: <melihat amplop pemenang, tanpa membukanya>


Poppy: Find your wild thing, the scar to your beautiful.
Poppy: <tersenyum lamaaaaaaa sekali>

 

DUAR!!!!
<Kilat menyambar, dan turunlah Thor Odinson tepat di sebelah Poppy>

Thor: Hai, aku, ehm, Thor. Kau tahu, Dewa Petir yang perkasa. Aku diutus untuk menemanimu membacakan nominasi COUPLE OF THE YEAR. Bukannya aku berharap kita bisa jadi pasangan juga sih… what?
Poppy: Hai, aku Poppy.
Thor: Yea, aku sudah dengar. Kau, ehm, kau suka rambut baruku?
Poppy: Rambut adalah mahkota yang merupakan perpanjangan dari kecantikan kita.
Thor: ….. Kau bercanda? Kok ngomongnya aneh banget sih, dari realm mana dirimu? Apa kau Dewa atau semacamnya?
Poppy: Aku dari youtube. Matamu indah, besar kali. Bolong pula.
Thor: …..umm, ah yeah, I’m not sure this is working, mari baca saja nominasinya

1. Belle dan The Beast
Thor: Dongeng dari Bumi yang indah, aku pernah dibacain ini sama J.. Jane
Poppy: Berat nyebut nama mantan
2. Elise dan Amphibian Man
Poppy: Indahnya cinta adalah, kita dan pasangan saling memenuhi satu sama lain sebagai makhluk hidup
Thor: …aku masih gak mengerti maksudmu apa
3. Jeff dan Erin Baumann
Poppy: Stronger Couple. Cinta itu menerima apa adanya.
Thor: ….bahkan dengan sebelah mata dan rambut cepak?
Poppy: Bahkan dengan sebelah mata dan rambut cepak.
4. John Cena dan Nikki Bella
Thor: Nah, ini baru aku mengerti. Pasangan yang sangat kuat. Katanya mereka lamaran di tengah ring, manis sekali.
Poppy: Semua hal yang manis adalah hal yang kuat.
5. Kumail dan Emily
Thor: Umm…aku jadi penasaran orangtuamu siapa. Aku anak Odin.
Poppy: Aku terlahir dengan cinta. Orangtuaku adalah cinta dan kasih.
Thor: Oke. Kau aneh.
6. Lala dan Yudhis
Thor: Bahkan buat pandanganku, dan aku dari dunia yang lain, hubungan Lala dan Yudhis ini benar-benar gak sehat.
Poppy: ….
Thor: Kamu gak mau mengomentariku dengan kalimat aneh lagi?
7. Raisa dan Hamish
Thor: Aku dengar katanya pasangan ini udah matahin hati banyak penggemar
Poppy: Hatinya patah seperti Palumu?
Thor: …..

Poppy: Jangan sedih, Thor teman baruku, cinta harus diselebrasi
Thor: Kamu benar. Dan pemenangnya adalah


Poppy: The shape of love is beautiful.

 

 

Thor: Oke, karena rekanku omongannya aneh tingkat dewa, kita langsung saja bacakan nominasi buat kategori selanjutnya,

THE MOST ANNOYING QUOTE
Poppy: Hai, aku Poppy.
Thor: Please…
Poppy: Hi, I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy.
Thor: ….. dan nominasinya ADALAAAAAHHHH

1. “Baby Shark doo doo doo, Baby Shark doo doo doo”- Baby Shark Song
Poppy: HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY
2. “Cash me ousside how bow dah”- Cash Me Outside Girl
Poppy: Hi I’m poppy. Hi I’M POPPY. HI I’m PoPPy. hi I’m poppy.
3. “Delete! Delete! Delete!”- Woken Matt Hardy
Poppy: HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY.
4. “Eta terangkanlah”- lirik lagu
Poppy: Hi I’m. Poppy. Hi. I’m Poppy. Hi. I’m. Poppy.
5. “Kids jaman now”- various netizen
Poppy: Hi saya Poppy. Hai I’m Poppy. Hi aku Poppy. Hai gue Poppy. Hai ogut Poppy.
6. “Nikahi aku, Fahri”- Keira Ayat-Ayat Cinta 2
Poppy: Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy.
Thor: Bunuhi aku, Poppy
7. “Wubba lubba dub dub!”- Rick
Poppy: Hi, I’m Poppy! Hi, I’m Poppy! Hi, I’m Poppy! Hi, I’m Poppy!!!!!

Thor: Woooaarghhhhh, cukup aku nyerah. Aku gak bisa lanjutin lagi bareng cewek ini
Poppy: Hahahahahaha
Poppy: Oh Brother, I got you so good.
Poppy: Ini aku (menarik lepas sesuatu dari lehernya, ternyata wajah Poppy adalah topeng, dan di balik topeng itu ternyata Poppy adalah….)
Thor: LOKI!!!!
Loki: ahahahahaha kena, deh
Thor: Grrrr, rasakan petirku!
Loki: Eh tunggu-tunggu, ini pemenangnya belum diumumiinnnn
Thor: Bodo, I’m so mad right now
Loki: Oh oke pemirsa, pemenangnya adalah


Loki: apakah marahmu berkurang kalo kubikinkan kaos bertulisan “Maafkan aku, Thor”?

DUAR!!
(Thor dan Loki menghilang setelah petir besar menyambar panggung)

 

 

 

 

“Untuk membacakan BEST CHILD CHARACTER, sambutlah bocah-bocah yang gak kalah ajaib ini; Annabelle, Chucky, dan Sabrina!”

Annabelle: Ah, lihatlah ada begitu banyak jiwa yang bisa diajak main-main
Sabrina: Seandainya kita masih anak-anak beneran yaa hiks
Chucky: Eh tunggu, aku bukan anak-anak! Aku perampok yang masuk ke badan boneka. Aku ini jahat. Pembunuh. Orang dewas tulen!
Annabelle: sudah-sudah, gak jadi soal toh. Kita cuma jiwa-jiwa sekarang.
Chucky: tapi kita bisa bunuh yang baca kan, please
Sabrina: nanti ya kak Chucky, kita baca nominasi dulu yaaa, ini tokoh anak-anak yang paling berkesan se2017
1. Auggie – Wonder
Chucky: wow dia kayak model live-action dari badanku
Annabelle: iya dia live, kamu mati
Sabrina: hihihi
2. Baby Groot – Guardians of the Galaxy 2
Sabrina, Annabelle, Chucky: CUTE!
3. Ian – Pengabdi Setan
Sabrina: dia salah satu dari kita, guys
Chucky: oh yea, apa senjatanya? Upil?
4. Janice – Annabelle: Creation
Sabrina: lihat, Bee, itu anak yang kamu rasuki
Chucky: yea dan dia hantu yang lebih hebat daripada mu
Annabelle: kamu nantang ya?
5. Laura – Logan
Chucky: senjatanya kereeeenn, dia boleh jadi anak buahku
Annabelle: pisaumu tampak seperti agar-agar dibandingkan kukunya hihihi
6. Mary Adler – Gifted
Sabrina: anak idaman orang tua, nih
Annabelle: baik, cantik, pinter, dan hidup gak kayak kita
7. Miguel – Coco
Chucky: anak ini pergi ke dunia orang mati dan keluar hidup-hidup? Hantu Mexico payah semua!!
Sabrina: dia penyanyi yang berbakat sih
Annabelle: dia immortal!

Chucky: kita bunuh saja yuk yang menang, pialanya kita ambil
Sabrina: setujuuu <ngeluarin gunting taman dan perkakas lain>
Annabelle: oke, siap, inilah pemenangnyaa


Sabrina:…. Oh aku gak tega ih
Annablle: Auggie udah kayak wakil dari kita, bahwa tidak ada yang cacat – semuanya ajaib
Chucky: Well, yea, aku pun gak semangat membunuh anak yang terlalu baik
Sabrina: jadi kita nyanyi Cita-Cita aja nih?
Annabelle, Chucky: NOOOOO!!!!! <lari ngeloyor ke belakang panggung>

 

 

 

Kai: Kematian adalah hal yang menyedihkan. Untuk setiap jiwa yang gugur, ada paling tidak satu jiwa yang merasa kehilangan. Jupe, Oon Project Pop, Pak Bondan, Eko DJ, Nenek Laila Sari, Dusty Rhodes, Jimmy Snucka, Superman.. kerasanya udah devastating. Itu baru satu orang. Bagaimana dengan korban perang, dengan Bom Manchester di konser Ariana Grande, dengan pengeboman London Bridge, dengan penembakan di Las Vegas. Kematian untuk dikenang. MOMENT OF SILENCE yang kita lakukan perlu, namun jangan sampai kita lupa untuk hidup. Jangan sampai kita takut. Karena, hanya dengan takut, kita lemah. Mengheningkan Cipta, mulai!

“Ladies and Gentlemen, bintang dari American Horror Story: Cult, dialah: Kai Anderson”

Kai: Dunia sudah dikendalikan oleh ketakutan, bahkan sampai hantu pun takut keluar. Babadook malu karena diejek sebagai ikon LGBT. Kita harusnya bebas memakai apa yang kita mau. Tidak perlu takut dilecehkan. Kalian adalah diri kalian berpakaian. Lihat aku, rambut aku biru. Dan aku bersumpah dengan pinky promise aku tidak akan mengubah gayaku berpakaian. Betapa terhormatnya bagiku untuk membacakan FASHION OF THE YEAR, karena fashion itu sama seperti politik; Demokrasi, namun harus ada yang mengarahkan!

1. Gaun Cetar Mimi Peri
2. Kaos nWo Red Wolfpac Kendall Jenner
3. Kumis ala Poirot
4. Male Romper
5. Pennywise Costume
6. Sarung Tangan Alexa Bliss
7. Thrasher Clothes

Kai: Oke aku akan memburu yang tadi cekikikan melihat nominasinya.
Kai: Pemenangnya adalah


Kai: Ah, sarung tangan ini pas banget ku pakai bersama topeng di serial ku. Kalian semua, hati-hati pulang ke rumah. Kejahatan lagi meningkat. Pastikan kalian aman terkunci di rumah masing-masing setelah jam sepuluh malam.

 

 

 

Kai: Kategori berikutnya, ah WONDER WOMAN OF THE YEAR, kalo kalian nonton serial American Horror Story tahun 2017, kalian pasti tahu aku kalah sama cewek. Feminisme sudah berada di titik terkuat sekarang. Mereka bukan lagi mau sejajar sama pria, mereka sudah sejajar. Tapi bisakah mereka mengambil alih? Well, tujuh nominasi ini adalah wanita-wanita kuat seperti musuhku. Dan kuakui, I fear them.

1. Billy Jean King
Kai: Legenda tenis yang memperjuangkan petenis wanita dapat bayaran yang sama, dan actually mengalahkan petenis pria.
2. Diana Prince
Kai: Award ini dijuduli pakai namanya. Pahlawan perang dulu, kini, dan nanti
3. Lorraine Broughton
Kai: Ahli menyamar dan martial arts, kau enggak akan mau Atomic Blonde ini jadi lawanmu.
4. Marlina
Kai: Berkuda membawa kepala orang yang mencoba memerkosanya. Aku suka cewek ini, dia membawa ketakutan!
5. Mbah Sri
Kai: Kau tidak pernah terlalu tua untuk mengejar kebenaran
6. Mildred
Kai: Beranilah mempertanyakan sistem. Gunakan media untuk menyibak kebenaran, paksa dengan kebencian, kalo perlu.
7. Mother
Kai: Selalu memberi sampai tidak ada lagi yang bisa ia beri. Luar biasa.

Kai: Tujuh wanita yang menakjubkan, bukan. Dan pemenangnya adalah

Kai: Aku bersyukur tidak perlu berhadapan dengan orang ini, atau bahkan dengan wanita manapun. I’ll go back to my hole now, dan akan kembali saat kalian tidak mengharapkannya. Selamat malam.

<Penonton pada ragu mau tepuk tangan atau enggak, hening awkward mengiringi kembalinya Kai ke belakang panggung>

 

 

 

 

“Pemirsa alias Pembaca, sambutlah satu kelompok anak-anak dari tahun 1980an yang akan membacakan nominasi kategori FEUD OF THE YEAR My Dir…. Eh, apaan tuh ribut-ribut?”

<beberapa sosok bersepeda tampak kebut-kebutan menuju panggung>

Genk It: Yes, kami duluan
Genk Stranger Things: Heh, siapa sih kalian, yang dipanggil kan kami
Genk It: Yeee, itu katanya anak-anak dari tahun 1980, ya kamilah tim anak-anak yang paling legendaris. Kalian cuma peniru
Genk Stranger Things: Losers Club diem aja ya di sana, kami Winner Club
Genk It: eeeee ngajak berantem, ayo Beverly, ketapel merekaaa
Genk Stranger Things: El, toloooongggg!!

1. Billy Jean King vs. Bobby Riggs
2. Bumi Bulat vs. Bumi Datar
3. Dian Sastro vs. Tangan di Bahu
4. Pickle Rick vs. Jaguar
5. Setya Novanto vs. Tiang Listrik
6. Tere Liye vs. Foto Selfie
7. Thor vs. Hulk

<Eleven dan Beverly datang sambil makan wafel pake ketapel>
Eleven: udah, udah, ngapain berantem sih?
Beverly: tau nih, Pennywise ama Demogorgon aja pada akur kok
Eleven: biarin nominasi ini aja yang berantem. Nih kita baca bareng-bareng yaa


Genk ??: Ahahahaha bapak sih, tiang listrik pake dilawan ~~
Genk Bareng: Loh kalian siapa?
Genk ??: Kami genk generasi now!
Naura: eng-ig-eng Naura dan Genk Juara!!

<Mereka semua pun ambil ancang-ancang. Namun sebelum sempat bernyanyi, geng anak-anak kecil itu diusir keluar sama satpam>

 

 

 

 

“Untuk kategori BEGO OF THE YEAR dan BEST MOVIE/SERIAL SCENE, sambutlah superhero yang merupakan simbol dari harapan umat manusia di dunia, ehmm lebih tepatnya, sambutlah bagian dari superhero harapan manusia, dibangkitan oleh kecanggi han teknologi, inilah… Kumis Brewok Superman!”

Supermis: ehem, ehem… oke mungkin aku terlihat memalukan kayak plankton pakai wig, tapi sekarang aku sudah lebih terkenal dari Superman sendiri. Kalian boleh memanggilku Supermis. Super Kumis. Aku pernah dicall buat jadi ambassador Wak Doyok, tapi aku tolak. Baru ini loh kemunculan publik pertamaku, beruntunglah kalian.
Supermis: oke ehem.. karena tampang Superman yang bego itulah aku kebagian baca nominasi BEGO OF THE YEAR, dan inilah mereka:

1. Fitsa Hats
Supermis: Pintar-pintarlah dalam berbahasa, jangan taunya makan micin doang
2. Ikan (Tong)-kol
Supermis: Oke aku berani bertaruh badanku ubanan semua; anak itu sengaja ahahha!
3. Kue khas kota ala selebriti
Supermis: Inilah ketika batas antara tradisional dengan kekinian itu udah gak ada lagi hihi
4. Oscar salah ngomong
Supermis: Ini juga kayaknya sengaja dah biar jadi bahan omongan xD
5. Patung Harimau
Supermis: Ini kayaknya model patungnya si Tigger yang di Winnie the Pooh deh ahahaa
6. Peta Film Ular Tangga
Supermis: Pantes aja nyasar, naik gunung kok petanya kayak peta kawinan
7. Skip Challenge
Supermis: adek-adek, don’t try this at anywhere

Supermis: dan paling bego di antara semua adalaaaah

Supermis: makanya kalo bikin film itu, lakukanlah riset yang bener. Jangan sampai hasilnya jadi malu-maluin. Eh tapi, mereka jadi menang award, berarti gak malu-maluin banget dong ya?

 

 

Supermis: Berikut ini nih contoh film-film yang digarap dengan serius, dengan niat. Jadinya mereka punya adegan-adegan yang dahsyat, meyakinkan, seru. Mari kita lihat siapa aja nominasi untuk BEST MOVIE/SERIAL SCENE
1. Baby Driver’s Opening Getaway

Supermis: Ini udah paling keren, kayak beneran bisa dilakukan di jalan raya. Ntar kucobain aahh
2. It’s Pennywise Introduction

Supermis: sampe banyak dijadiin meme nih adegan, serem !
3. Justice League’s Superman Kicking Ass

Supermis: wah ini! Evil Superman beraksiii
4. Raw’s Finger Eating

Supermis: coba deh nonton ini sambil puasa, dijamin sukses menahan lapar
5. Star Wars: The Last Jedi’s Ren and Kylo Team Up

http://www.youtube.com/watch?v=tzQB8Qfq8Us

Supermis: salah satu battle terkeren di Star Wars nih, ngetease tag team banget
6. Thirteen Reasons Why’s Hannah Baker Suicide

http://www.youtube.com/watch?v=OxBnNOxOKPk

Supermis: adegan paling bikin lemes, gak ada lawan!
7. Wonder Woman’s Amazon Battle

http://www.youtube.com/watch?v=bIfPq3biW_o

Supermis: kamera dan aksinya sama-sama keren!!

Supermis: Gini-gini aku banyak nonton film loh. Paling benci film pembunuhan di kereta api karena ada kumis yang sok keren. Oke, pemenangnya adalah

Supermis: beneran deh, tulangku menggigil nonton adegan ini, dan aku bahkan gak punya tulang!

 

 

 

 

 

“Hahaha, oke terima kasih buat Supermis dan para pembaca nominasi yang sudah sudi hadir di sini. 2017 kemaren memang keren, quirky but in an awesome way. Aku sendiri gak pernah nyangka aku akan membuka kafe eskrim. Sampai-sampai kadang kalo jalan pulang dari bioskop panas-panas, aku mikir “duh enak makan eskrim nih” dan ternyata baru aku sadar “Hei, I own one!” Hidup kadang impulsive seperti itu. Bukannya enggak ada masalah pas aku mau nyambut kontrak bangunannya dari temenku. Aku literally galau, berminggu-minggu duduk di atap sampai pagi.. Dan lima hari sebelum pindahan ke kafe aku ‘kabur’ ke Solo. Crashing lokasi syuting film mentorku, Mas Ichwan Persada. Untung di sana pada welcome, aku tinggal bareng ngikutin para kru. Aku dibolehin nanya-nanya pembuatan film kayak orang bego. Jadi, selain dapat tempat curhat soal pilihan hidup ekstrim menjadi buka eskrim, aku juga dapat kesempatan belajar, dan teman-teman baru dari kru dan pemain. Dan aku semakin gak nyangka, aku menutup tahun 2017 dengan ngobrol gugup di depan sejumlah insane perfilman tanah air. I guess that was MY MOMENT OF THE YEAR. Blog ini ternyata ada yang baca, dan dinilai worth untuk sebuah piala. Terima kasih, buat kalian yang udah suka mampir dan diskusi film di blog ini, semoga ke depannya bisa lebih baik lagii”

 

 

 

“Untuk penutupan, seperti biasa kita serahkan award final SHOCKER OF THE YEAR, hal-hal yang udah bikin kita surprise, dan sebelum melihat pemenangnya, inilah para runner-ups:”
1. Mickey Mouse Club Returns!
2. Serangan virus Ransomware Wannacry!!
3. Taylor Swift trying to be mean!?
4. Undertaker pensiun!!!
5. Yugioh ganti format!?!
6. Nama depan Schmidt terungkap!
7. Amerika menganggap Yerusalem sebagai ibukota Israel!!!
8. Sasha Banks dan Alexa Bliss mecahin rekor pertandingan gulat wanita pertama di Arab!!
9. Kasus pelecehan di Hollywood terungkap!
10. Chester Linkin Park bunuh diri!!

“Daaaan the most shocking thing adalaaaahh”

“Selama ini kupikir cewek loh, well yea, sepertinya memang kita jangan jump into conclusion gitu aja mengenai banyak hal. Pastikan dulu. Cari tahu sendiri.”

 

 

“Semoga tahun 2018 menjadi tahun di mana Bumi menjadi tempat hidup yang lebih baik. Atau kalo enggak, semoga mungkin kita sudah bisa pindah ke Mars.”

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are…

Don’t be a Loser

We are the winner of Piala Maya Best Movie Critic of 2017
Be Jealous.

DOWNSIZING Review

“The real meaning of greedy is taking more than you give.”

 

 

Ketika para ilmuwan dalam drama komedi satir Downsizing berpikir mereka sudah mengatasi masalah lingkungan dan populasi di seluruh dunia dengan menyusutkan umat manusia, mereka tetap tidak bisa mengerdilkan pertanyaan besar yang digantungkan Tuhan di atas kita semua; kapan kiamat itu akan tiba. Dan dapatkah kita lari darinya.

 

Downsizing memulai ceritanya dengan sangat luas. Film ini menawarkan premis yang menarik saat kita melihat orang-orang berjas putih itu berhasil menemukan cara untuk memperkecil ukuran tubuh manusia. Sungguh sebuah prospek hidup yang sangat cerah. Karena dengan menjadi kecil, orang-orang akan butuh lebih sedikit makanan, minuman, dan bahkan perhiasan. Space tempat tinggal pun tentunya dapat ‘dihemat’. Lingkungan dapat lebih mudah dilestarikan. Paul Safranek melihatnya dari sisi ekonomi; dengan mengecil dia dan istrinya dapat tinggal di rumah mewah yang secara normal tidak bisa mereka beli. Cerita Downsizing pun menyusut saat kita mengikuti Paul yang akhirnya memutuskan untuk ikutan program LeisureLand; bersama sang istri dia akan pindah ke dunia Kecil. Dari masalah environment menjadi pandangan personal mengenai apa yang bisa kita lakukan untuk membantu sebagai makhluk yang berkomunitas, Downsizing mencoba untuk menantang pikiran dan imajinasi kita semua, hanya untuk mengerdilkan sendiri ceritanya.

apapun yang besar tentunya akan semakin besar kalo kita mengecil, apalagi masalah

 

Aku bisa terus menggunakan istilah mengecil, mengerucut, dan semacamnya untuk mendeskripsikan bagaimana perasaanku ketika menonton film ini. Maksudku, aku benar-benar kecewa lantaran film ini sebenarnya punya begitu banyak potensi. This movie could be much BIGGER than this. Babak pertama film sungguh menggugah minat dan imajinasi. Film bahkan dengan seksama menuntut kita melihat proses penyusutan manusia itu berlangsung. Begitu detilnya sehingga semua langkah sci-fi itu terlihat realistis, even plausible buat penonton yang kurang suka ngayal. Menurutku, film bisa aja dimulai dengan adegan di rumah sakit itu, kita melihat orang-orang dicukur, gigi mereka diperiksa, kemudian dibius sebelum dimasukkan ke dalam kamar khusus, semuanya teratur dan sangat metodikal. Dengan begini fokus kita akan langsung ke tokoh Paul, di mana kita melihatnya tersadar dan mendapati menunggu kedatangan istrinya.

Seperti film-film sci fi yang bagus, Downsizing awalnya membahas banyak untuk kita pikirkan mengenai sistem dunia yang sudah diubah oleh narasinya. Kita mengerti bahwa ‘orang-orang kecil’ itu enggak bisa berfungsi tanpa orang-orang normal, thus membagi dua kelompok orang ini pun tentunya punya pertimbangan sendiri. Film membuat proses downsizing tersebut punya ‘kekurangan’; beresiko kematian, punya syarat khusus, serta digambarkan ada golongan yang enggak setuju sama penciptaan teknologi ini. Kita lihat ada seorang pria di bar yang mengonfrontasi Paul dan istrinya soal keputusan pindah hidup sebagai manusia kecil. Paul sendiri bahkan mengalami suatu hal sehubungan dengan pandangan mengenai downsizing, aku gak akan bocorin kejadian lengkapnya, yang jelas adegan tersebut memisahkan Paul dengan istrinya selamanya,  karena menurutku adegan yang jadi plot poin pertama tersebut benar-benar kejutan yang menambah banyak bobot drama.

Paul menyangka dengan menjadi kecil, dia bisa hidup senang, sekaligus menjadi pahlawan. Begitu jugalah film ini berpikir. Dengan menjadikan tokoh utamanya kecil, film menyangka mereka punya alasan untuk melupakan pertanyaan-pertanyaan yang sempat mereka bahas di babak awal. Nyatanya, kita tidak pernah menoleh ke sana lagi lantaran cerita sudah berubah mengenai kehidupan Paul di kehidupan barunya. Jika bukan karena prop dan desain produksi yang unik, seperti mahkota bunga ukuran asli yang jadi hiasan jambangan ataupun duit dolar ukuran normal yang dipajang di dinding sebagai hiasan, kita bisa saja sekalian melupakan Paul sudah menjadi makhluk liliput yang enggak imut. Di sinilah Downsizing menyeberang menjadi film sci-fi yang enggak bagus; kita kembali ke masalah basic dengan melupakan perubahan gede yang dilakukan oleh universe ceritanya.

from hero to zero cm

 

Film terlihat bersusah payah mengakomodasi cerita dan pesan sosial yang berusaha ia sampaikan. Kalolah boleh menunjuk, sekiranya kelemahan itu ada pada tokoh utamanya. Aku belum pernah melihat Matt Damon sedatar dan seboring ini dalam film komedi. Dia benar-benar menghidupkan tokohnya – dia melakukan apa yang disuruh oleh narasi. Dia mematuhi saja, sama seperti yang dilakukan oleh Paul. Tokoh Paul memang diniatkan terdiskonek dari kehidupan sekitarnya, karena dia begitu terpukul secara mental, namun cerita menuliskan seolah pilihan orang ini adalah siapa yang paling baik untuk dia ikuti.

Tokoh-tokoh di sekitar Paul tak pelak punya karakter yang lebih menarik. Tetangga Paul, seorang yang kebanyakan berpesta tapi bukan orang yang brengsek, misalnya. Dia mengajak Paul menikmati hidup, dialah yang pertama kali diikuti oleh Paul. Kemudian ada wanita dari Vietnam yang beberapa tahun lalu ngetop karena kabur dari penjara dengan bersembunyi dalam kotak TV. Paul bertemu dengan tokoh yang instantly mencuri perhatian ini, dan kita lihat gimana ‘kelemahan’ Paul – dia kinda stuck dengan si wanita. Kemudian Paul diberikan pilihan untuk mengikuti penemu teknologi mengecil itu sendiri ke dunia utopia. Mau tahu bagaimana cerita membuat Paul memutuskan pilihan final ini? Dengan seolah Paul malas berjalan kaki sebelas jam ke Utopia. Jadi, dia balik dan membuat keputusan yang benar. Film ini mengontraskan Paul yang ingin hidup nyaman dengan orang-orang yang actually berjuang untuk hidup, akan tetapi ada begitu banyak hal menarik lain sehingga membuat kita enggak pernah benar-benar peduli sama Paul. Bahkan aku lebih peduli sama istrinya; aku berharap bakal melihat Kristen Wiig lagi, tapi tokoh ini dimunculin lagi hingga akhir hayat film.

Metafora lingkungan pada film ini menyampaikan dengan subtil satu pandangan yang teruji; bahwa manusia adalah makhluk yang boros dan rakus. Ketika sumber daya menipis, solusi yang tampak lebih menarik buat kita adalah dengan menjadi mengecil yang berarti kebutuhan kita ikut mengerucut sehingga kita bisa menikmati sumber daya lebih lama. Ini bukanlah soal penghematan, melainkan hanya sebuah langkah untuk terus memperpanjang kesempatan. Rakus sebenarnya rakus adalah ketika kita mengambil lebih banyak dari yang kita beri.

 

 

 

Ada banyak alasan untuk menyukai film ini. Actually aku berusaha banget untuk suka. Dialog yang diucapkan tokohnya penuh oleh kesadaran. Humornya cerdas, satirnya bikin kita miris. Dunia film ini dibangun dengan kreatif, sense bertualang ke tempat yang baru juga turut hadir. Namun film ini menjauhi apa yang membuatnya begitu unik dan cerdas. Dari apa yang tadinya adalah mengubah dunia, berubah menjadi transformasi hidup seorang manusia yang tidak benar-benar menarik. Ini seperti kita melihat pusaran yang dinamik, kemudian dipaksa untuk melihat sesuatu yang berdiri diam di antara dinamika tersebut. Film ini salah memilih fokus. Dari sekian banyak hal menarik di sana, dunia yang penuh dengan tokoh-tokoh yang intriguing – dengan penampilan singkat dari banyak aktor pendukung yang juga lebih menarik – film ini malah menjadi cerita tentang reaksi manusia mencari apa yang terpenting dalam hidupnya yang hampa.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for DOWNSIZING.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2017

 

Joko Anwar mengajak para follower twitternya untuk menonton yang film berkualitas saja. Gimana cara tahu kualitasnya tanpa menonton? Yaitu dengan mengambil referensi dari tulisan-tulisan kritikus atau reviewer. Tapi kita bukan robot. Kita bisa berpikir sendiri, kita bisa merasa sendiri. Kata-kata reviewer hendaknya dijadikan acuan sebagai pembanding pendapat pribadi, anggap seperti moderator dalam sebuah forum diskusi. Jangan seketika dijadikan pedoman layaknya walkthrough video game. Lagian, di mana serunya jika setiap orang punya pendapat yang sama. Maka aku bilang, tontonlah film apapun, tetapi jangan matikan pikiran kita saat menyaksikannya. Pertanyakan semua. Berekspektasilah. Jadi pembuat film tandingan.

Lihat betapa indahnya pemandangan dunia sinema di tahun 2017. Begitu banyak film-film yang membagi penontonnya menjadi dua kubu likers dan haters. Ada yang bilang film itu karya masterpiece, sedangkan ada juga yang bilang film yang sama tersebut sebagai sebuah omong kosong, sampah. Dan tentu saja ini menciptakan ruang untuk diskusi yang sehat. Penonton akan memikirkan ulang filmnya. Mereka berpendapat, menyalakan otak, mengeluarkan suara tentang bagaimana film itu seharusnya. Hal seperti inilah yang eventually menggerakkan roda perfilman itu ke depan. Inilah yang membuat sebuah film yang bagus. Dan tahun 2017 dipenuhi oleh film-film hebat yang menggerakkan seperti demikian.

Jadi, jangan heran ketika kalian membaca daftar ini dan menemukan film yang mungkin kalian benci setengah mati nangkring di dalamnya. Sebab itulah poin yang dibentuk oleh 2017; sebuah tahun yang sangat polarizing terhadap film. Jangan pula ditahan-tahan jika kalian punya komentar ataupun ingin sharing film terfavorit kalian, kita punya kolom komen di bawah 😀

 

HONORABLE MENTIONS

  • A Ghost Story (drama sedih yang akan terus menghantui penontonnya)
  • A Silent Voice (anime yang penting untuk ditonton karena kebanyakan kita belum mampu berkomunikasi dengan benar)
  • Brad’s Status (film yang life changer banget, nyadarin kita untuk berhenti ragu-ragu kebanyakan mikirin masalah yang sebenarnya hanya ada di kepala)
  • Call Me by Your Name (perjalanan menemukan sesuatu yang tidak lagi bisa kita abaikan)
  • Dunkirk (terobosan baru Christopher Nolan buat film perang sehingga terasa begitu nyata)
  • Get Out (satir mengenai rasisme dan masalah sosial lain yang dibungkus dalam kemasan horor)
  • Good Time (thriller yang benar-benar lancang yang ngingetin bahwa hidup memang susah, bukan berarti berhenti berusaha)
  • Personal Shopper (bukan horor seperti yang diharapkan, ini adalah film orisinil yang benar-benar seperti lukisan abstrak)
  • Raw (cerita yang shocking dan sangat disturbing tentang manusia yang terlalu lama menahan nafsu)
  • Split (M. Night Shyamalan kembali dengan psikologikal thriller yang percaya kepada penonton dan gelora oleh penampilan-penampilan akting luar biasa)
  • Star Wars: The Last Jedi (mengenyahkan semua prediksi, aku senang sekali kita melihat petualangan dan aspek-aspek yang sama sekali baru di franchise Star Wars)
  • Stronger (film yang sangat inspirasional tentang trauma yang sama sekali enggak inspirasional buat mereka yang mengalaminya. Nah lo?)
  • The Devil’s Candy (layaknya karya seni yang berasal dari neraka personal seorang ayah yang struggling dengan pekerjaannya)
  • The Disaster Artist (dark comedy tentang menggapai mimpi, meskipun ekspektasi seringkali tak sesuai dengan realita. Film ini punya hati paling besar se2017!)
  • Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (penampilan akting yang melegenda, berani membahas isu yang dihindari orang. Salah satu tontonan terbaik, dan paling punya nyali)
  • To the Bone (sangat kuat mengeksplorasi psikologis orang-orang yang punya pandangan menarik tentang kebutuhan makan)
  • War for the Planet of the Apes (cerita brutal tentang perang dan survival dan apa yang membuat pemimpin menjadi seorang pemimpin, sangat emosional!)
  • Wind River (seberapa cepat dinginnya perlakuan dapat membuat orang melakukan hal-hal yang di bawah derajat moral)
  • Wonder (dapat membuat anak-anak jadi berani untuk mengambil tindakan yang benar dalam pergaulan mereka dengan teman sehari-hari)
  • Wonder Woman (akhirnya ada juga film superhero DC yang benar-benar bisa menendang bokong!)

Tak lupa pula, special shout out aku berikan buat Pengabdi Setan yang ulasan filmnya udah mecahin rekor jumlah view terbanyak di My Dirt Sheet.

 

 

 

8. BABY DRIVER


Director: Edgar Wright
Stars: Ansel Elgort, Lily James, Kevin Spacey, Jamie Foxx
MPAA: R for violence and language
IMDB Ratings: 7.7/10
“‘Retarded’ means slow. Was he slow?”

 

Musik asik yang lantang, mobil keren yang ngebut, itulah film ini. Lantang dan ngebut. Sama dengan superseru. Ini adalah salah satu film dengan pace paling cepat sepanjang tahun. Ciri khas sutradara Edgar Wright kelihatan jelas di sini.

Sekalipun sangat kuat dalam gaya, namun Edgar Wright tidak pernah melupakan substanti pada setiap ceritanya. Penulisan Baby Driver sangatlah on-point. Strukturnya berhasil memberikan banyak kepada Baby meskipun tokoh utama kita ini hanyalah semacam orang suruhan yang tidak mau berada di sana. I mean, Baby kebanyakan bereaksi ketimbang beraksi – sesuatu yang kebalikan dari rumus tokoh utama – tetapi film masih mampu mengolahnya sehingga senantiasa menarik. Baby adalah tokoh yang punya kebiasaan yang unik, dan akan sangat mengasyikkan melihat perkembangan tokoh ini, apa yang ia lakukan, dan apa yang pada akhirnya harus dia pilih.

Diperkuat oleh pemain dan humor yang kocak, film ini akan jarang sekali mengerem. Dan ketika film memang benar-benar melambat membangun kisah cinta antara Baby dengan Deborah, kita akan masih betah duduk di sana.

My Favorite Scene:

Kurang dahsyat apa lagi coba adegan ngebut-ngebut di opening ini? Hebatnya adegan ini – beserta setiap stun action lain yang ada di Baby Driver – tampak bener-bener bisa dilakukan di dunia nyata.

 

 

 

 

 

7. MOTHER!


Director: Darren Aronofsky
Stars: Jennifer Lawrence, Javier Bardem, Ed Harris, Michelle Pfeiffer
MPAA: R for disturbing violent content, nudity, some sexuality, and language
IMDB Ratings: 6.8/10
“You never loved me. You just loved how much I loved you. I GAVE YOU EVERYTHING. You gave it all away.”

 

Film yang aneh. Menyinggung, dan mengganggu. Ada banyak adegan kekerasan, ataupun adegan yang mengerikan, yang tak terjelaskan. Aku bisa melihat alasan sebagian orang dapat menjadi begitu enggak suka sama film ini. Aku bisa mengerti kalo Indonesia menolak memutar film ini di bioskop. Bahkan, penampilan akting Jennifer Lawrence yang begitu luar biasa memilukan di film ini, besar kemungkinan akan dilewatkan begitu saja oleh penghargaan-penghargaan film. Karena penceritaan film ini amat sangat ganjil.

Namun buat yang mau bertahan menonton, Mother! adalah sebuah film kiasan yang digarap dengan tingkatan dewa. Semua yang terjadi di film ini mempunyai makna, membentuk lapisan cerita yang menantang kita untuk memahami apa maksudnya. Mother! adalah film yang susah untuk dicerna. Aku mencoba untuk menafsirnya dalam ulasan, dan bisa jadi semua yang kutulis salah. Film ini benar-benar bekerja sesuai dengan interpretasi penontonnya masing-masing.

Menurutku, di balik lapisan tentang pasangan suami istri yang rumahnya mendadak disatroni banyak orang, film ini bicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan alam semesta. Di mana kita adalah tamu di dalam rumah Tuhan. Dan ini membawa kita ke pemahaman bahwa si Ibu adalah orang yang paling disibukkan kalo ada tamu, dia yang paling ‘dirugikan’, dan orang ini adalah personifikasi dari alam. Bumi. Simbol-simbol gila seputar tentang itu banyak bertebaran di aspek-aspek narasi. Film sinting seperti ini mungkin tidak akan segera bisa kita jumpai lagi.

My Favorite Scene:
Oke, aku gak bisa nemuin video sehingga membuatku ngeri juga masukin foto mengenai adegan yang menurutku merupakan bagian terbaik di film ini. Dan adegan tersebut adalah ketika Mother dihajar hingga babak belur oleh massa. Adegan brutal ini sangat heartbreaking, menontonnya bikin kita sakit juga, suara-suara tulang yang patah ketendang itu benar-benar bikin adegan ini berat untuk ditonton, namun juga begitu penting, karena inilah yang actually sedang kita lakukan terhadap bumi tercinta.

 

 

 

 

 

6. THE SHAPE OF WATER


Director: Guillermo del Toro
Stars: Sally Hawkins, Octavia Spencer, Michael Shannon, Richard Jenkins
MPAA: R for sexual content, nudity, violence, and language
IMDB Ratings: 8.2/10
“Oh God! It’s not even human.” / “If we do nothing, neither are we.”

 

Seorang wanita tuna wicara polos yang jatuh cinta kepada makhluk amfibi mengerikan. Ini adalah kisah cinta tak biasa, yang mungkin bisa disturbing buat beberapa orang, namun bukan itu satu-satunya yang disampaikan oleh Guillermo del Toro, seorang master dalam membuat kisah fantasi kelam yang sangat menyentuh, Film ini adalah dongeng tentang hidup yang belum terpenuhi. Pesan di balik film ini sesungguhnya akan terasa akrab oleh kita yang pernah merasa hidup kita belum sempurna.

Ada sesuatu di balik monster tersebut yang bisa kita relasikan. Ada sesuatu di balik mimpi-mimpi tokohnya yang membuat kita peduli tanpa harus mengasihani mereka. Mengisi hidup adalah perjuangan. Film ini menarik perbandingan bahwa semestinya kita bertindak seperti air demi mengisi kekosongan dalam hidup. Kita harus bisa beradaptasi sesuai dengan environment tempat kita berada.

The Shape of Water diarahkan untuk menjadi pengalaman visual nan personal yang sangat menggugah. Efek-efek praktikal dan sinematografi film ini benar-benar mencuat membentuk adegan-adegan yang begitu kuat. Penceritaan The Shape of Water mengalir dengan menawan. Dia bekerja baik dalam banyak tingkatan. Kita bisa menikmati romansanya, ataupun dibuat tegang oleh suspens dan dunia politik Perang Dingin, ataupun menyimak pesan yang diselipkan di balik setiap simbol dan elemen ajaib yang film ini miliki.

My Favorite Scene:

Di luar apakah adegan ini penting atau kagak, sekuens musikal film ini tampak begitu indah. Aku punya soft side buat adegan musik yang aneh yang diselipin di dalam cerita.

 

 

 

 

 

5. MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK


Director: Mouly Surya
Stars: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egy Fedly,
Certificate: 21+
IMDB Ratings: 7.4/10
“Saya tidak merasa berdosa”

 

Akhirnya, akhirnyaaaa, setelah sudah lima tahun bikin list film terbaik, akhirnya ada film Indonesia yang masuk Delapan Besar. Dan Marlina sangat pantas untuk mendapatkan apresiasi segede ini.

Empat babak cerita ini merangkum kisah Marlina, seorang yang baru saja jadi janda, yang rumahnya disatroni tujuh pria dengan niat gak baik. Marlina membunuh sebagian besar mereka, memenggal kepala pemimpinnya, untuk kemudian pergi menyebrangi padang gersang pulau Sumba menuju kantor polisi.
Film ini bergulir tidak seperti film-film Indonesia lain yang keluar di tahun 2017. Orang luar bahkan menyebut film ini sebagai satay western. Marlina menggunakan musik yang seperti musik country dilebur dengan irama lokal Sumba. Marlina memperlihatkan pemandangan padang berbukit, kita melihat Marlina naik kuda. Betapa uniknya film ini. Dia membahas isu-isu sosial, berkelakar dengan melontar komentar tentang gender. Ceritanya mempertanyakan peran masing-masing gender, untuk kemudian membaliknya begitu saja. Antara wanita dan pria, sesungguhnya tidak ada yang jadi korban. Tidak ada yang total mendominasi di atas yang lain.

Film ini pun sesungguhnya turut bersumbangsih dalam kebangkitan sutradara-sutradara wanita, dengan menampilkan tokoh wanita yang kuat, dalam scene perfilman dunia.

My Favorite Scene:

Marlina dihuni oleh karakter-karakter yang juga unik. Satu adegan yang membuatku ngakak adalah ketika Marlina membajak angkutan umum, sepanjang perjalanan dia menodong si supir dengan parang yang diacungkan beberapa senti dari leher, dan kemudian salah satu penumpang angkutan – yang sudah ibu-ibu – malah nyeletuk dengan santai “Tidak capek tanganmu, Nona?”

 

 

 

 

 

4. GERALD’S GAME


Director: Mike Flanagan
Stars: Carla Gugino, Bruce Greenwood, Chiara Aurelia, Carel Struycken
Certificate: TV-MA
IMDB Ratings: 6.7/10
“Everybody’s got a little corner in there somewhere; a button they won’t admit they want pressed.”

 

Gerald’s Game adalah salah satu film adaptasi Stephen King terbaik dan ini benar-benar mengejutkanku lantaran source materialnya bisa jadi merupakan materi yang paling susah untuk disadur ke bahasa film. Kebanyakan adegan cerita ini adalah tokoh Jess bicara dengan dirinya sendiri. Ini adalah cerita psikologikal thriller tentang seorang wanita yang terborgol di tempat tidur dan dia harus melepaskan diri karena selain anjing kelaparan yang terus saja menyantap mayat suaminya di lantai, tidak ada orang lain yang tahu kondisi Jess karena pasangan suami istri ini memang lagi liburan di vila terpencil.

Kita akan melihat Jess ngobrol dengan dirinya sendiri, ada personifikasi dirinya, suaminya, kita dibawa flashback ke kejadian masa kecil Jess yang membuatnya trauma. Dan pada puncaknya, Jess harus berhadapan dengan Moonlight Man; sosok tinggi besar misterius, bermata merah, yang kerap datang ketika malam tiba.
Ini adalah cerita yang hebat yang penuh dengan metafora dan simbolisme. Perjuangan manusia untuk membebaskan diri dari trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi yang sekarang. Seluruh penceritaan film ini akan sangat menantang kita. Ceritanya creepy. Sinematografinya pun membuat merinding. Juga amat disturbing. Ada satu adegan yang bikin ngilu dan bakal membuat kita mengelus-elus pergelangan tangan. Penampilan akting para pemain pun luar biasa, karena mereka memainkan dua versi dari tokoh mereka.

Salah satu horor psikologis terbaik yang pernah aku saksikan.

My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=nyJT36-t25A
Orang bilang ending adalah bagian terbaik dari sebuah film. Aku tidak bisa menyangkalnya buat film Gerald’s Game. Stephen King adalah master dalam menulis cerita balas dendam. Dan sekuens akhir film ini sungguh-sungguh membuktikan hal tersebut. Amat memuaskan melihat konfrontasi final antara Jess dengan Moonlight Man

 

 

 

 

 

3. BLADE RUNNER 2049


Director: Denis Villenueve
Stars: Ryan Gosling, Harrison Ford, Ana de Armas, Jared Leto
MPAA: R for violence, some sexuality, nudity, and language
IMDB Ratings: 8.3/10
“Dying for the right cause. It’s the most human thing we can do.”

 

Aku bilang film ini adalah masterpiece dalam filmmaking. Temen-temenku yang mendengar rekomendasi ini, pergi ke bioskop untuk menontonnya.

Dan mereka tertidur.

Seriously guys, aku tahu aku nulis film 2017 itu hebat-hebat lantaran bisa membagi pendapat penonton, tapi aku bener-bener garuk kepala ketika ada yang bilang Blade Runner 2049 adalah film yang membosankan. Ya, filmnya memang panjang banget. Tapi ada begitu banyak kemenakjuban yang bisa kita lihat, yang bisa kita nikmati, yang bisa kita serap dari penceritaan ini. Sekali lagi, oke, mungkin ceritanya agak berat. Mekanisme dunia penuh Replicant dan sebagainya; film ini bisa berdiri sendiri karena naskahnya benar tertutup, namun kalo kita sudah nonton film yang pertama, cerita memang jadi sedikit lebih mudah dicerna. Makanya, aku menyarankan kepada yang tertidur karena gak paham ama ceritanya, coba deh nonton dengan suara di-mute. Karena pemandangan visual dan sinematografi dalam film ini, begitu grande sehingga membuat calon filmmaker bakal ciut “bisa gak gue bikin yang lebih bagus?”

Naskah film ini begitu kuat. K, tokohnya si Gosling, punya plot yang paling WTF di tahun 2017. Aku gak bisa membayangkan kalo aku yang bernasib seperti dia. Kalian tahu Tommy Wiseau yang bikin film The Room? Yang kisahnya diceritain dalam The Disaster Artist? Apa yang dialami Wiseau; dia menyangka film buatannya bakal jadi yang terhebat, namun ternyata film itu ngehits karena hal yang memalukan, bukan apa-apa dibandingkan dengan kenyataan yang dihadapi oleh K.

My Favorite Scene:

The face you make when you think you were the chosen one, but you aren’t.

 

 

 

 

 

 

2. LADY BIRD


Director: Greta Gerwig
Stars: Saoirse Ronan, Laurie Metcalf, Lucas Hedges, Timothee Chalamet
MPAA: R for language, sexual content, brief graphic nudity and teen partying
IMDB Ratings: 8.1/10
“People go by the names their parents give them, but they don’t believe in God.”

 

Satu-satunya film yang sukses menangguk score 9 dari My Dirt Sheet di tahun 2017.

Lady Bird yang merupakan debut terbang solo Great Gerwig sebagai sutradara adalah film yang sungguh personal bagi dirinya. Makanya film ini terasa sangat real.

Ini bukan sekadar coming-of-age story di mana tokoh utamanya berhasil keluar dari rutinitas hidup yang mengekang dan mencoba pengalaman dan hal-hal baru. Bukan sekadar tentang tokoh utama yang dapat pacar cowok keren. Lady Bird adalah romansa anak cewek dengan ibunya. Dan ya, kita akan melihat Lady Bird udah gak sabar untuk lulus dari sekolah Katoliknya, namun environment Lady Bird tidak pernah ditampilkan mengekangnya dalam cahaya yang ‘jahat’.

Menonton ini akan terasa seperti kita melihat adegan percakapan sungguhan, karena kita dilempar begitu saja ke tengah-tengahnya. Ini memberikan kesempatan untuk mengobservasi mereka, dan terbukti sangat efektif sebab ada banyak saat ketika aku mendapati diriku ikutan mengobrol dengan mereka. Aku ingin ikut nimbrung, aku jadi begitu peduli sama karakter-karakternya. Saoirse Ronan luar biasa natural memainkan Lady Bird. Rasanya sedikit sedih ketika film berakhir, seperti berpisah dengan orang yang sudah deket. Begitulah bukti betapa menakjubkannya Gerwig menyetir narasi, cara berceritanya benar-benar membawa kita hanyut.

My Favorite Scene:

Paling ngakak melihat Lady Bird ‘diskusi’ milih-milih gaun sama ibunya. Adegan ini menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua dengan sangat efektif.

 

 

 

 

 

Peringkat pertama tahun 2017 My Dirt Sheet ini akan menyimpulkan betapa pentingnya peran sutradara dalam sebuah film. Sutradara yang baik harus bisa meninggalkan jejak, harus berani melakukan perubahan, harus punya visi uniknya sendiri yang membuat film menjadi semakin urgen dan berdiri mencuat di antara yang lainnya. Lihatlah ke belakang, semua yang masuk daftar ini adalah buah tangan dari sutradara yang berani mengambil resiko. Filmnya tidak diniatkan untuk memuaskan semua orang, melainkan hanya sebagai sebuah sajian yang benar-benar mewakili diri mereka.

Dan inilah film peringkat pertama kami:

1. THOR: RAGNAROK


Director: Taika Waititi
Stars: Chris Hemsworth, Tom Hiddleston, Cate Blanchett, Mark Ruffalo
MPAA: PG-13 for intense sequences of sci-fi violence and action, suggestive material
IMDB Ratings: 8.1/10
“What were you the god of, again?”

 

Menurutku bagaimana kita melihat film Thor ketiga ini bergantung kepada bagaimana pandangan kita terhadap superhero.

Jika kita punya mimpi pengen diselamatkan oleh superhero, kita enggak akan suka sama Thor dalam film ini yang diberikan banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lelucon dan kekonyolan.
Jika kita punya mimpi untuk menjadi superhero, kita akan menjerit kesenangan sampai terjatuh dari kursi demi melihat Thor yang dewa dan superhero ternyata quirky dan ‘bego’ seperti kita.

Kalimat Hela kepada Thor “Kau dewa apaan sih?” adalah kunci yang menjelaskan seperti apa Taika Waititi memvisikan Thor.

Apa yang dilakukan oleh Dewa? Apakah kita bisa menjadi Dewa? Thor dalam film ini dijatuhkan menjadi level rakyat biasa supaya kita bisa merelasikan diri kepadanya. Waititi tidak ingin membuat Thor superserius dan menjadi makhluk sempurna. Dia melihat potensi komedi yang ada dari materi Thor sebelumnya, dan embrace it. Thor kehilangan palu, bahkan rambutnya. Adalah sebuah make over total yang dilakukan sang sutradara demi meniupkan hidup baru yang lebih akrab terhadap tokoh superhero yang kita kenal.

Thor: Ragnarok adalah film superhero paling lucu yang pernah dikeluarkan oleh Marvel Studio. Definitely yang terbaik dari seri film solo Thor. Narasinya banyak bermain-main dengan gimmick dewa-dewi Asgard, bersenang-senang dengan trope karakter-karakter superhero Marvel. Yang perlu diingat adalah bermain-main bukan berarti enggak serius. Bersenang-senang bukan berarti melupakan nilai seni. Pada film ini, seni adalah komedi, pada bagaimana dia bermain-main. Sinematografinya keren parah. Adegan aksinya benar-benar dahsyat. Aku bisa nonton film ini berkali-kali dan enggak akan pernah bosan.

My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=3N0T3pqGrr4

Sebenarnya susye sih memilih satu adegan yang paling favorit. Karena film ini hilarious dan keren parah. Aku suka semua adegan aksinya, apalagi semakin mantep diiringi oleh Immigrant Song yang awesome!!

 

 

 

 

 

Sedikit kekurangan di departemen film animasi, kita tidak banyak menjumpai animasi yang menantang dan benar-benar baru tahun 2017 ini. Ada sih satu yang indah, tapi tidak terasa benar-benar spesial buatku. Tapi secara keseluruhan, 2017 adalah film yang asyik banget buat penggemar film seperti kita-kita. Tahun 80an menyeruak lewat sekuel-sekuel dan homage. Kita dapat banyak film adaptasi Stephen King, yang practically awesome, di Indonesia sendiri film horor lagi naik daun. Aku harap tahun 2018 semakin banyak bermunculan film yang berhasil memancing perbedaan pendapat, semakin banyak penonton yang kritis.
Aku juga ingin menyempatkan diri untuk mengucapkan terima kasih sama kamu-kamu yang udah sering bolak-balik ke blog ini. Aku benar-benar gak menyangka My Dirt Sheet bisa memenangkan Piala Maya sebagai Blog Kritik Film Terpilih 2017, dan itu masuk nominasi karena rekomendasi pembaca sekalian. So, thank you so much.

Dan ketahuilah, kami sangat mengharapkan komen dari kalian, baik itu diskusi film, komen pendapat, bahkan mengritik blog ini sekalipun. Jadilah penonton yang jahat, karena penonton yang baik adalah penonton yang tidak berpikir.
Apa film favorit kalian 2017?
Apakah perlu dibuat list film-film paling mengecewakan di tahun 2017?
Beritahu kami di komen.

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are…

BRAD’S STATUS Review

“The problem with the world is that the intelligent people are full of doubt, while the stupid people are full of confidence.”

 

 

 

Aku gak yakin mana yang lebih bego antara bandingin kehidupan sendiri dengan orang lain atau nonton Brad’s Status di hari-hari awal tahun baru. Maksudku, kita enggak bakal nambah muda, akan tiba masa di mana kita akan tertegun menyadari umur, dan mulai berprasangka jelek terhadap diri sendiri; apakah kita sudah mengambil jalan yang benar, apa yang sudah kita perbuat, kenapa kita gak kaya-kaya, apakah sebuah langkah yang tepat untuk berhenti kuliah dan mengejar idealisme. Apakah kita seorang yang gagal. Brad’s Status adalah film yang dibuat untuk orang-orang yang mengalami  stress seperti demikian. Ini adalah narasi yang kompleks, yang mempercayakan penonton untuk menyelami pikiran seorang tokoh yang memiliki ketakutan universal. Dan film ini akan bertindak bukan hanya sebatas media kontemplasi, melainkan sebuah sarana bermeditasi – untuk kita-kita nenangin diri, mengingat kembali apa yang membuat kita bahagia di dalam hidup, dan bahwasanya hidup bukanlah sebuah lomba lari.

Jika kita melihat ke atas, tentu kita akan merasa tertinggal. Jadikanlah ini motivasi.

Jika kita melihat ke bawah, kita akan melihat bahwa kita masih ‘beruntung’. Jadikanlah itu sebagai purpose.

Kita ingin di atas, karena kita ingin membantu yang di bawah. Tetapi kita toh sudah di atas, karena akan selalu ada yang di bawah kita. Pernahkah kita melakukan sesuatu murni untuk orang lain? Mungkin kalimat berikut ini terdengar cheesy, tapi itulah yang jadi poin film ini; Kita tidak perlu memiliki dunia untuk bisa mengubahnya, kita bisa mulai melakukan itu dengan cinta.

 

Brad adalah mahasiswa yang idealis, dia ingin berbuat sesuatu untuk dunia. Jadi dia ngikuti kata hatinya dan mengejar karir dengan mendirikan organisasi non-profit yang bergerak di bidang sosial. Brad mencibir teman-teman kampusnya yang bekerja di perusahaan, yang masuk ke politik, yang berkarir di dunia hiburan, yang jadi artis, teman-temannya yang practically menikahi uang. Brad menikah dengan cewek yang juga idealis. Dia dikaruniai putra yang sangat berbakat main musik. Brad hidup bahagia. Tapi itu dulu. Sekarang, dia merasa kalah. Teman-temannya naik pesawat pribadi, dirinya ditolak upgrade tiket ke kelas satu karena bukan anggota platinum. Temannya masuk televisi, dia bahkan gak bisa masuk ke pesta pernikahan teman – karena dia enggak diundang. Dia bahkan enggak tahu ada temannya yang menikah. Sifat dan idealisme istrinya sekarang malah berbalik menyebalkan buat Brad. Tidak ada yang memuaskan lagi bagi Brad, semua hal yang ia temui sepanjang film, selama dia mengantar anaknya melihat-lihat kampus, malah tampak mengecilkan dirinya. Anaknya yang nyaris keterima di Harvard pun membuatnya iri; tak pelak membawanya ke kenangan masa muda. “Cari kerjaan yang duitnya banyak!” begitu yang ingin dia sampaikan kalo dia bertemu dengan dirinya versi seumuran dengan anaknya.

anaknya sopan dan pinter gitu, berarti dia sukses jadi orangtua

 

Brad’s Status sepertinya memang dibuat untuk Ben Stiller. Aktor komedi ini mampu bermain sangat komit jika diberikan peran yang tepat, dan untuk begitu banyak kesempatan, Ben Stiller selalu mencuri perhatian ketika dia bermain sebagai pria yang frustasi, yang sedikit egois, yang gak puas ama dirinya sendiri, yang ngalamin nervous breakdwon. Dan dalam Brad’s Status, Stiller tampaknya memberikan penampilan terbaik.  Dia menyeimbangkan penampilan ketika sedang bernarasi dengan saat kita hanya butuh untuk melihat ekspresinya. Memang, kita sudah pernah melihat cerita yang sama sebelum ini, namun film mengambil pendekatan yang  berbeda dalam bercerita. Penulis sekaligus sutradara Mike White membuat film ini sebagai sebuah pandangan dari dalam seorang tokoh. Ini lebih sebagai karakter studi ketimbang pengalaman sinematik. Kita akan menjumpai banyak dialog-dialog yang tajam, akan ada banyak humor juga yang datang dari momen-momen tak terduga.

White juga cukup subtil dalam bercerita. Aku suka dengan cara film ini menunjukkan hubungan antara Brad dengan Troy, putranya yang ia temani tur keliling kampus ke New England. Akan ada banyak momen awkward yang sebenarnya punya makna. Seperti misalnya adegan pertama mereka berdua adalah ketika Brad masuk ke kamar Troy dan melihat anaknya hanya berbalut handuk. Sekilas memang tampak seperti adegan biasa yang memancing komedia orangtua dan anak, tapi oleh film ini kesadaran Brad melihat anaknya sudah dewasa dibuat sebagai penambah lapisan tokoh Brad – bahwa jauh di dalam, dia  mengenali anaknya sebagai saingan. Kesubtilan ini terus berlanjut dengan Brad yang menyelinap diam-diam ke bar untuk menemui pacar Troy ketika si anak sudah tertidur. Hanya orang ternarsis di dunia yang menyeruak masuk ke lingkungan sosial anaknya, dan itulah poin Brad sebagai tokoh utama yang bercela. Brad adalah orang yang aware mengenai siapa dirinya, namun dia clueless ketika sudah menyangkut pendapat orang lain.

Sekilas memang kedengaran, atau malah tampak seperti film yang terlalu mengagungkan seorang tokoh yang sangat susah untuk disukai. Brad bukan orang miskin. Dia cukup sukses, keluarganya bahagia. Anak dan istrinya cinta sama dia, mereka enggak ‘memberontak’ terhadap dirinya sebagai kepala keluarga. Hanya saja dia tidak melihat semua itu. Film bahkan dengan berani menunjukkan semua itu. Ada karakter yang secara frontal menegur Brad bahwa dia enggak senaas yang ia pikirkan. Brad tampak seperti menyuruh kita untuk mengasihani dirinya, bahwa dia adalah orang yang baik, yang lebih mulia – tapi kenapa orang-orang brengsek kayak teman-temannya yang justru lebih kaya, kenapa mereka yang lebih terkenal daripada dirinya. Kenapa dunia begitu membenci dirinya. Menarik sekali melihat seseorang yang berurusan dengan pikiran buruknya sendiri.

Ciri-ciri orang depresi itu adalah bicara dengan kepalanya sendiri. Film ini mengeksplorasi apa yang sebenarnya terjadi ketika kita bicara sendiri; kita membesar-besarkan masalah, kita terperangkap di dalam pikiran negative. Kita menganalisa semua dengan berlebihan, dan ini enggak sehat. Masalah yang enggak ada, jadi tampak ada karenanya.

“all iz well, all iz well”

 

 

Untuk mencapai efek ‘bicara sendiri’ tersebut, Mike White mengambil langkah yang cukup beresiko dengan menggunakan narator sebagai bagian dari penceritaan. Actually, film ini sangat bergantung kepada narasi yang dibaca oleh Brad. Untuk kebanyakan film, kebanyakan narasi voice over seperti ini bisa sangat mengganggu kenikmatan menonton sebab kita akan dibeberkan apa-apa yang dilakukan maupun dirasakan oleh tokoh. Simpelnya, kita benar-benar dituntun. Untuk film ini, however, buatku narasinya tidak terlalu mengganggu karena kita memang perlu untuk mendapat insight dari apa yang Brad rasakan di dalam pikirannya. Kita perlu melihat gimana kontrasnya apa yang di benak Brad dengan yang sebenarnya terjadi, dan narasi di sini benar-benar berfungsi sebagai garis tegas yang membatasi hal tersebut.

 

Jika ada yang ‘salah’ di film ini, menurutku ‘kesalahan’ itu terletak di beberapa adegan yang digarap terlalu kepanjangan. Misalnya adegan ngobrol di bar yang tampak masih bisa menghasilkan efek yang diinginkan dengan menyingkat adegannya. Tapi untuk sebagian besar adegan, film ini menyuguhkan pemandangan karakter yang akrab yang diletakkan dalam situasi yang juga familiar, dan film memberikan kesempatan kita untuk berkontemplasi dengan memberitahu apa yang karakter-karakter tersebut pikirkan serta rasakan. So I think, film ini enggak punya dosa yang benar-benar gede. Dia hanyalah sebuah tontonan yang berani untuk menjadi enggak disukai lewat tokoh utamanya. Meski ceritanya lumayan ‘terbelakang’ dibandingkan film-film lain, basically kita bisa bilang ini adalah cerita tentang masalah orang kaya, namun film ini bukan tidak mungkin menjadi LIFE CHANGER bagi orang-orang yang dihantui pikiran serupa.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BRAD’S STATUS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE DISASTER ARTIST Review

“First they ignore you, then they laugh at you…”

 

 

Tentu saja, kita akan menertawakan film yang buruk bersama-sama. Kita berpikir, film yang sudah menginsult kecerdasan kita, perlu untuk diinsult balik. Kita bikin review konyol, kita bully film habis-habisan, sebagai bentuk apresiasi terhadapnya. Keseimbangan yang wajar terjadi. Sebuah reaksi yang mudah terhadap sesuatu yang jelek. Film The Room (2003) buatan sutradara dan aktor nyentrik Tommy Wiseau bukan hanya film yang jelek, dia adalah film paling ngaco sepanjang masa. Saking jeleknya , banyak yang suka. Sampai sekarang, film ini rutin diputar oleh berbagai fans di luar sana. Markas My Dirt Sheet, kafe es krim Warung Darurat Bandung, juga pernah muterin sekali. Hasilnya, sendokku ilang delapan biji. James Franco punya ide untuk menyelebrasi film itu, dia kumpulkan kru dan mereka membuat cerita tentang apa yang terjadi di balik dialog-dialog absurd dan akting kaku tersebut.

Memang lebih mudah menetertawakan badut ketimbang mencoba mengerti kenapa mereka mengenakan riasan make-up

 

 

I gotta be honest, The Disaster Artist adalah cerita yang menyentuh buatku. Dalam lapisan yang paling dalam, ini adalah cerita tentang seorang pria yang berjuang mewujudkan mimpinya. Hambatan yang ia temui berasal dari dalam dirinya sendiri; dia tidak dapat melihat bahwasanya tidak semua orang bisa mengerti apa yang ia sampaikan. Maksudku, sebagian besar dari kita juga pasti pernah merasa diri kita spesial, ide cerita kita hebat dan orisinil. Ada banyak calon filmmaker di jalanan yang punya stok naskah yang menurut mereka adalah cerita paling fresh dan keren sedunia, aku tahu karena aku adalah salah satu di antaranya. Tapi apa yang terjadi ketika kita ngepitch cerita tersebut ke produser, ke investor? Ditolak, dicuekin, disuruh ubah. Kalo aku punya duit tak terbatas seperti Tommy Wiseau, pastilah aku udah bikin film sendiri juga. Mewujudkan impianku. Meski mungkin filmku bakal seratus kali lebih jelek dari The Room. Tapi inilah yang ingin disampaikan oleh James Franco dalam The Disaster Artist; Jangan menyerah, terkadang kita memang harus membuka peluang sendiri, dengan perlu mengingat bahwa ada banyak cara konek dengan orang lain bisa terjadi, mungkin saja bukan seperti yang kita harapkan. Dan koneksi itulah yang semestinya menjadi tujuan kita dalam berkarya.

jika dipandang sebaliknya, film ini juga berfungsi sebagai petunjuk “Bagaimana Cara untuk Membuat Film yang Buruk”

 

Yang kita dapat di sini sesungguhnya adalah sebuah cerita yang menginspirasi. James Franco tidak membuat Tommy Wiseau sebagai sebuah tokoh yang wajib untuk melulu kita ledek. Ada sesuatu di dalam dirinya yang akan menangkap hati para penonton. Kita akan mengikuti perjalanan Tommy dari ketika dia bertemu dengan Greg di sebuah audisi teater. Mereka kemudian berikrar untuk mengejar mimpi menjadi aktor, begelut di bidang film. Maka lantas mereka pindah ke L.A. Namun, hal bagi Tommy tidak berjalan semulus apa yang datang kepada Greg. Jadi, Tommy bikin film sendiri. Dia mengajak Greg untuk ikut berperan bersamanya di film tersebut. Sebagaimana kita semua tahu, film tersebut tidak berakhir dengan semestinya.

The Disaster Artist cukup bijak untuk tidak memfokuskan ini sebagai parodi, film tidak sekedar menertawakan “You’re tearing me apart, Lisa!” dan pilihan-pilihan aneh bin bego yang dilakukan oleh Tommy Wiseau ketika membuat film ini. Memang, momen-momen The Room yang fenomenal, gimana film ini ngereka adegannya hingga nyaris sama persis, adalah bagian yang menonjol pada penceritaan. Tapi sekaligus ini adalah drama yang cukup suram, banyak adegan yang diniatkan sebagai heartfelt moment. Sebagai karakter, Tommy Wiseau belajar banyak dari reaksi penonton yang tidak ia harapkan, dan dari bagaimana dia harus berurusan dengan orang-orang yang tidak melihat visinya.

Tommy Wiseau yang asli merupakan salah satu sosok paling misterius di industri perfilman. Seperti yang juga disebutkan oleh film, tidak ada yang tahu persis siapa dirinya, dari mana dia berasal. Tommy ini di samping eksentrik gilak, dia juga sangat tertutup. Jadi memang pesona film ini terletak di Tommy Wiseau, kita penasaran seperti apa orang ini, apa yang ada di balik kepalanya. James Franco luar biasa dalam berperan sebagai karakter ini, juga dalam bagaimana dia membangun film cerita yang menjadikan Tommy sebagai pusatnya. Sebagai sutradara dan pemain, Franco did a very excellent job. Adegan pembukanya efektif sekali memperkenalkan Tommy sebagai sebuah enigma. Dia mempertahankan pesona tersebut hingga akhir film. Menurutku apa yang dicapai Franco sebagai Tommy merupakan hal yang cukup sulit; ya dia sangat lucu di sepanjang film, namun bukan sekedar lucu oleh karena momen-momen konyol dia lupa skrip, atau dia mainin adegan-adegan ikonik The Room. Di sini kita melihat Tommy sebagai seorang yang enggak hebat-hebat amat dalam pekerjaannya, dan dia punya cara yang aneh untuk mendapatkan yang ia mau, tapi kita bisa menghormati apa yang ingin ia lakukan. Sebab ada sisi manusiawi yang diberikan. Ada semangat yang bisa dipungut dari sikapnya yang tidak menyerah meskipun orang-orang tidak menghargai sesuai yang ia harapkan.

jangan-jangan karakter Broken Matt Hardy terinspirasi dari Tommy Wiseau

 

Salah satu aspek yang menjeratku adalah tentang bagaimana ini sebuah pembuatan film. Aku punya soft side terhadap film-film yang memperlihatkan di balik layar bisnis gambar bergerak seperti ini.  Aspek ini membawa kita ke kekurangan yang dimiliki oleh The Disaster Artist. Film ini actually mematahkan Hukum Ekonomis Karakter cetusan Roger Ebert lantaran tokoh-tokoh lain dalam cerita, yang diperankan oleh aktor-aktor yang cukup terkenal kayak Alison Brie ataupun Zac Efron ataupun Josh Hutcherson, tidak benar-benar punya karakter. Mereka cuma ada di sana, memainkan dengan sangat kompeten peran yang ditugaskan – Seth Rogen juga sebenarnya cukup lucu di sini – dan tidak punya banyak untuk dilakukan. Padahal mestinya bisa lebih dalam lagi jika kita diperlihatkan lebih banyak lagi tentang mereka.

 

 

Film dark komedi ini precise sekali ketika dia mencoba membuat ulang adegan-adegan film The Room. Tepat hingga ke framing dan segala macam treatment aneh yang dilakukan oleh film tersebut. Namun, jika kalian belum pernah nonton The Room, atau bahkan belum pernah mendengar tentangnya, film ini tetap akan bekerja sama hebatnya, sebab ini bukan serta merta sebuah film komedi yang memarodikan salah satu film terburuk di industri sinema. Film ini punya hati yang besar, tokoh utamanya terasa dekat. Benar saja, kita memang harus dapat melihat film sebagai mana mestinya. Sebagai penonton kita bisa saja suka, namun tetap harus mengakui kejelekan film. Tapi ini bukan tentang penonton. Ini tentang orang yang punya mimpi, tentang pembuat film yang dihadapkan kepada situasi di mana ia diapresiasi tidak sesuai dengan yang diharapkan. James Franco mungkin saja tidak kepikiran, filmnya tentang sebuah film begitu jelek sehingga menjadi cult, bisa jadi adalah film terbaik yang pernah ia buat.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 gold stars for THE DISASTER ARTIST.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

PITCH PERFECT 3 Review

“Life is not a competition.”

 

 

 

Hidup memang keras. Kalian boleh saja bagian dari grup nyanyi yang aca-awesome sewaktu di kampus, namun tetap berakhir gak sukses di pekerjaan yang juga gak keren-keren amat. Masing-masing anggota Barden Bella terbukti ngalamin ini. Bahkan Beca yang udah mewujudkan mimpinya jadi musik produser, keluar dari pekerjaan. Idealismenya enggak ketemu jalan nyambung ama ide kreatif klien. Jadi, para Bella sekarang punya waktu luang untuk ngumpul-ngumpul lagi. Mereka kangen nyanyi bareng. Diundang oleh ayah Aubrey yang tentara, Bella ikut tur USO – nyanyi keliling Eropa. Tapi tentu saja yang namanya tur, bukan mereka saja yang meramaikan acara. Barden Bella bertemu dengan grup musik lain, dan ‘teman-teman’ baru mereka itu actually bermain dengan alat musik. Ada grup rocker cewek, band country, juga duo musik elektronik. Mengetahui tur ini bisa saja adalah penampilan bareng terakhir mereka, Bella bertekad mempersembahkan yang terbaik. Supaya mereka terpilih sebagai band pembuka di acara puncak tur bersama pemusik DJ Khaled.

Aku sudah nonton Pitch Perfect (2012) lebih banyak dari yang seharusnya. Oke, aku ‘mungkin’ pernah muterin film ini nonstop seharian sambil belajar bikin sketch kala itu.. Aku-muternya-hampir-tiap-hari, aku ngaku. I was so surprised by that film. Kocak, pemainnya likeable, ceritanya seger banget – jika kita melihat ke belakang ke dunia perfilman saat itu -, anak kuliahan yang ingin mengerjakan yang ia suka – tentu kita bisa relate ke sana. Aku suka suara Anna Kendrick, aku juga suka lagu Cup yang kukasih Best Musical Performance untuk My Dirt Sheet Awards, Rebel Wilson’s antics, lagu-lagu mash upnya, kaki Alexis Knapp, ada banyak yang bisa disukai dari sana. Aku bahkan tahu The Breakfast Club (1985) dari film ini. Pitch Perfect actually adalah urutan paling wahid di daftar film favoritku tahun 2012. Dan tiga tahun setelah itu, sekuel film ini muncul. Nyaris dari nada ke nada, dari beat ke beat, filmnya mirip. Dan buatku Pitch Perfect 2 (2015) merupakan sedikit kekecewaan, but you know, kita gak bisa benar-benar mencibir mendengar lagu Flashlight dan melihat penampilan panggung DSM.

Tapi serius, aku gak pernah berharap Pitch Perfect dibikin sekuelnya. Apalagi jadi trilogi seperti kenyataan sekarang ini. Musik yang asik dan unik dan komedi dead-pan, itulah kekuatan utama franchise ini. Dan bahkan semua itu bisa jadi repetitif dan menjemukan jika terus dilakukan tanpa ada perubahan. Sepuluh menit pembuka film Pitch Perfect 3, kita mendengar akapela lagu Toxic, Barden Bella nyanyi di kapal alih-alih panggung, dan kemudian Fat Amy terjun dari langit-langit. Tak lama kemudian kapal tersebut meledak, para Bella loncat ke air.  And I was like, wow, MEREKA BERBEDA SEKARANG!

Stacie gak ikutaaaan huhuuu

 

Pitch Perfect 3 tampaknya mendengarkan koor suara penggemar, dan mereka dengan berani mengambil langkah gede untuk melakukan pembaruan di sana sini pada ceritanya. Mereka menambahkan elemen action, mereka menambahkan hal untuk dilakukan oleh para Bella selain bernyanyi dan melontarkan lelucon yang gitu melulu-melulu. Regarding menyanyi, film ini menaikkan permainan mereka. Untuk pertama kalinya, Barden Bella tampak gak yakin dengan akapela. Tidak banyak akapela yang kita dapatkan di sini, at least enggak sebanyak di dua film pendahulunya. Dan ini sesungguhnya bisa jadi pedang bermata dua; penonton yang ingin melihat mereka bernyanyi akapela akan jadi sedikit kurang puas, tapi untuk penonton yang menginginkan musik; well, film ini punya musik-musik bagus dari genre yang lebih beragam.

Jika kita melihat kembali dari film pertama, bila kita melihat gambaran utuh serial ini, Pitch Perfect 3 bekerja efektif sebagai bagian penutup. Mereka menggali masa lalu. Tokoh-tokoh mendapat penutup buat arc mereka, dan arc itu berlangsung dari film yang pertama. Beberapa tokoh mestinya bisa dipresentasikan dengan lebih baik lagi, tapi secara keseluruhan, film ini berhasil membungkus cerita  sama seperti yang dilakukan Cars 3 (2017) terhadap franchise Cars. At it’s heart, ini adalah tentang keluarga,  bahwa keluarga harus saling support, walaupun kadang tak selalu bersama. Dalam film sebelumnya, Bella sudah mengestablish bahwa mereka adalah keluarga, namun di sini mereka harus belajar memperluas keluarga mereka, bukan lagi semata soal tradisi. Satu adegan yang aku suka adalah ketika band lain mendadak nyanyi bareng, mereka melanggar aturan permainan Riff-Off, dan cewek-cewek kita enggak mengerti kenapa para pesaing mereka melakukan hal tersebut.

Barden Bella, terutama Beca, yang sudah berkompetisi dari dua film pertama, gagal untuk melihat bahwa hidup yang sebenarnya bukanlah sebuah perlombaan. Terutama dalam keluarga. Kita tidak saling bersaing dengan keluarga. Jikapun ada, maka lawan kita sesungguhnya adalah waktu. Karena kemenangan dalam hidup adalah ketika kita sebagai keluarga bersikap saling mendukung, tidak mengecewakan satu sama lain.

jadi kalo menang, jangan besar kepala

 

Ceritanya sendiri jadi terasa sangat padat, bukan dalam artian yang bagus. Kita melihat banyak cerita sampingan, di antaranya ada Fat Amy yang ketemu dengan bokapnya, ada Aubrey yang pengen ketemu sama bokapnya, ada Chloe yang lagi berflirt-flirt ria sama tentara pemandu mereka. Juga ada cerita tentang dua komentator acara (duet Elizabeth Banks-John Michael Higgins memberikan banyak sumbangan komedi) yang bernapsu untuk mendokumentasikan detik-detik kejatuhan Beca dan teman-teman. Mereka ngikutin ke mana Barden Bella pergi dengan komentar-komentar sarkas yang berhasil memancing gelak tawa penonton di studio. Kehadiran elemen-elemen narasi tersebut dibutuhkan dan integral sama tubuh besar cerita, cerita-cerita tersebut tidak tercampur dengan benar. Flownya enggak mulus.  Film ini berusaha menampung banyak, tapi penulisan tidak mampu merangkai semuanya dengan baik.

Dan tetap saja ada yang tokoh yang gak kebagian, mereka hanya dapat sepatah dua patah kalimat. Hailee Steinfeld is barely there, aktris ini underutilized banget padahal kita udah melihat sebagus apa dia jika diberikan kesempatan. Malahan, kebanyakan pemain film di sini menyuguhkan akting yang membuat kita berharap mereka dapat unjuk kebolehan di film yang terstruktur lebih baik. Rebel Wilson, khususnya, sangat bersinar di film ini. Komedi-komedi yang bekerja baik itu datang darinya. Dia juga hilarious di bagian aksi.

 

 

Berusaha menjadi lebih besar, film ini nekat menjadikan root yang udah bikin dirinya digemari penonton sebagai nomor dua. Film ini melakukan seperti apa yang dilakukan oleh tokoh utamanya; ngemash up genre, sayangnya kadang yang miss terasa lebih banyak dibandingkan yang hit. Bagaimana pun juga, sebagai penutup, film ini berhasil menunaikan tugasnya. Ceritanya terasa konklusif. Messy sebagai diri sendiri, akan tetapi film ini cukup bersinkronisasi dengan dua film sebelumnya. Jikapun ada masalah yang kita temui, maka itu adalah lantaran seri ini enggak perlu banget dibikin sekuel sedari awal. Lebih baik dari yang kedua, namun itu enggak berarti banyak.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PITCH PERFECT 3.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SUSAH SINYAL Review

“Time is precious.”

 

 

Tak bisa disangkal, hidup di generasi kekinian sekarang ini kita lebih sering berkomunikasi lewat sosial media ketimbang ngobrol langsung face-to-face. Ngobrol lewat internet. Makanya jika disuruh milih antara gak ada sinyal atau gak ada pacar, maka tentu kita bakal memilih mendingan gak ada pacar. Karena dengan sinyal, pacar bisa didapat. Haha engga semua ding, poinku adalah; sinyal udah jadi kebutuhan pokok. Apalagi buat anak muda, pasti gak bakal betah nongkrong di tempat yang sinyal wifinya ilang timbul. Bisa ketinggalan banyak informasi dong, kak, kalo gak ada sinyal.

Kiara yang masih SMA itu juga sama. Kalo enggak lagi curhat sama neneknya, Kiara akan menyelam ke dunia maya; untuk sekedar ngevlog atau nyanyi lagu ciptaan sendiri. Kiara (Aurora Ribero yang mirip Sasha Banks main bagus banget di debutnya) udah gak bisa dipisahin deh sama hape. Pernah smartphonenya disita lantaran ketahuan guru lagi main instagram di kelas, Mama Kiara lantas dipanggil ke sekolah. Menghadap guru BP. Tentu saja tidak ada asap tanpa ada api, selidik punya selidik ternyata masalah Kiara bersumber dari hubungannya yang enggak akrab dengan si Mama. Mama Kaira, Ellen (Adinia Wirasti tackles her notes perfectly), sibuk bekerja sebagai pengacara. Dia sudah bercerai dengan suami, dan tentu saja hal tersebut seringkali jadi kayu bakar ributnya Kiara dengan Ellen. Solusinya satu, mereka harus pergi liburan, ngabisin waktu bersama sebagai keluarga. Dan ini berarti Ellen harus meninggalkan urusan kerjaan, dan Kiara kudu ngorbanin seleksi online kontes bakat yang ia ikuti, sebab tempat liburan yang mereka kunjungi cukup terpencil.

aduh, si the-line-where-the-sky-meets-the-sea gabisa calls me nih

 

Susah Sinyal singkatnya adalah film tentang wanita yang mandiri, yang harus ngurusin putrinya yang juga mandiri, sehingga menimbulkan banyak ketegangan di antara mereka. Aku sedikit teringat sama Rachel di komik Animorphs, Rachel juga suka ‘berantem’ sama ibunya yang pengacara. Ada banyak heartfelt moment dari hubungan Kiara dengan Ellen. It is also a fish-out-of-water comedy, karena kedua tokoh utama tersebut ditempatkan di dalam lingkungan yang sama sekali berbeda dengan ‘habitat’ mereka, mereka harus menyesuaikan diri sekaligus berusaha beakrab-akrab ria satu sama lain – menjalin kembali hubungan ibu anak yang renggang. Dan akan ada banyak komedi datang dari gimana orang kota jika ditempatkan di tempat yang jauh dari semua kecanggihan.

Nah loh, jadi peran Ernest Prakasa di film ini apa dong?

Dia meranin rekan kerja Ellen dan mostly berfungsi sebagai amunisi komedi. Ernest is good at laughing at himself, dan kita dibawa tertawa bersamanya.  Kali ini, peran Ernest sebagai seorang tokoh memang gak banyak. Tapi peran di belakang layar, aku bisa bilang bahwa di Susah Sinyal ini Ernest benar-benar menaikkan permainannya. Kocak, serius, emosional, bukanlah hal yang gampang untuk menggabungkan ketiga hal tersebut. Timingnya harus benar-benar pas, jika tidak, film akan terasa episodik dan enggak menyatu mulus. Susah Sinyal precise banget pada editing penceritaan komedi. Ernest tahu di mana dan gimana harus memanfaatkan rekan-rekan stand up nya sehingga mereka tampil mencuri perhatian namun juga berusaha untuk tidak mengorbankan emosi pada inti cerita. Astri Welas kocak sekali di sini sebagai pemilik hotel tempat mereka menginap. Arie Kriting membuat momen-momennya sendiri. Tokoh-tokoh pendukung di film ini memang punya kelakuan aneh, tapi lelucon dan candaan mereka sangat fresh dan kekinian. Susah Sinyal semakin excel di departemen komedi berkat anekdot-anekdot dan selera humor yang  benar-benar mengena.

Kematangan juga ditunjukkan oleh Ernest dari segi pembangunan layer dan treatment beberapa adegan. Konflik internal karakter bisa datang dari pekerjaan, dan di film ini kita melihat gimana pekerjaan Ellen sebagai pengacara, yang of course kita tahu pengacara selalu menang adu argumen, dibentrokan dengan ketidakmampuan Ellen berkomunikasi dengan putrinya sendiri. Kasus yang ditangani Ellen, yang awalnya dia tolak karena gak mau ngurusin perseoalan sepele artis, sesungguhnya paralel dengan yang ia alami, menjadikan kasus itu sangat personal baginya. Pemilihan lokasi resort di Sumba juga dibuat beralasan. Kiara memilih Sumba sebagai tempat liburan, dan kita bisa meihat bahwa keinginannya ke Sumba adalah refleksi terhadap keinginan Kiara untuk dekat dengan sang ibu. Ellen adalah Sumba bagi Kiara; ‘tempat yang ingin dia kunjungi, tempat yang cantik dan indah, tapi juga tempat yang susah untuk melakukan komunikasi.   Aku suka sekali adegan terakhir film ini di mana kedua tokoh utama kita akhirnya bisa terkonek kembali sebagai keluarga justru di tempat yang gak ada sinyalnya.

 

Ada satu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ada satu yang lebih berharga ketimbang duit beratus-ratus juta. Ada satu hal yang bisa kita berikan kepada orang lain, yang bisa kita habiskan demi orang lain, dan sama sekali tidak membuat kita rugi. Hal itu adalah waktu. Tidak ada pembandingnya, waktu-waktu yang kita habiskan demi berada bersama orang yang kita cinta. Duit bisa dicari, tapi waktu – kita tidak mencari waktu. We make time. Dan itulah sebabnya kenapa waktu begitu tak ternilai. Jika kalian ingin menunjukkan rasa cinta kepada seseorang, berikan waktumu untuk mereka.

 

product placementnya mengalir mulus semilir angin di pantai

 

Di babak awal, agak sedikit susah buat kita ngegrasp konteks cerita, ada sedikit tonal issue sih di sini, komedinya bisa sedikit membuat distraksi, tapi begitu kita paham, film ini seketika menjadi lebih menyenangkan untuk ditonton. Tapinya lagi, juga ada sedikit masalah pada pacing. Kita dibawa bergerak dari excitement ngeliat mereka liburan dan berusaha konek, untuk kemudian dikembalikan lagi ke suasana kantor, dan kemudian balik ke Sumba. Perasaan naik turunnya adalah perjalanan yang sedikit bumpy. Struktur mestinya bisa dibangun dengan lebih baik lagi. Karena dengan apa yang kita tonton, cerita menyisakan banyak aspek yang hanya untuk di satu momen itu aja, yang tidak dipanen ‘buahnya’. Kiara dengan Abe misalnya. Kita paham affection Kiara kepada Abe bergerak dalam konteks Kiara ingin melawan mamanya, tapi dengan penceritaan yang terpenggal, aspek cerita ini lebih terasa kayak poin yang ditinggalkan. Ada banyak adegan yang jatohnya malah seperti untuk komedi semata, padahal enggak. Mereka bekerja di dalam konteks, akan tetapi penceritaan yang banyak mengambil detour membuat kepentingan mereka berkurang. Bahkan elemen fish-out-of-waternya juga tak pernah bekerja maksimal. Kedua tokoh utama kadang menjadi hal paling terakhir yang menarik atensi kita dibandingkan porsi komedi.

Film actually lebih ke komedi, dengan sedikit mengorbankan tokoh-tokoh sentral. Dan ‘lucunya’, hanya dua karakter sentral itu yang diberikan arc. Tokoh-tokoh pendukung tidak punya storyline, mereka di sana untuk pemantik kelucuan. Jadi, ya, inti film ini mengalah kepada elemen yang tidak didevelop penuh, dan resultnya adalah yang inti juga jadi tak maksimal.

 

 

Mengesampingkan teknis, film ini akan gampang sekali untuk disukai karena sebagai sebuah film komedi, ini adalah film yang pecah banget. Jokesnya mengena, relevan karena memang diniatkan sebagai pandangan terhadap isu kekinian seputar sosial media. At heart, ini adalah tentang hubungan ibu dan putrinya, gimana anak cewek selalu menganggap ibu sebagai ‘musuh’, dan bagaimana mereka saling terhubung kembali hati ke hati.  Ernest kembali bicara tentang masalah komunikasi dalam keluarga; Jika di Cek Toko Sebelah (2016) ia menekankan pada father-son di mana dalam interaksi mereka lebih memilih diam, menghindari konfrontasi, maka di film ini yang ditekankan adalah mother-daughter suka berinteraksi dengan konfrontasi gede karena they don’t know how to talk with each other. Namun, dari segi struktur, film ini adalah sedikit kemunduran dari Cek Toko Sebelah. Pacing mestinya bisa lebih lancar lagi. Terutama dari itu, enggak seperti judulnya, film ini bakal menjangkau penonton yang luas.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for SUSAH SINYAL.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We got the Piala Maya for Blog Kritik Film Terpilih 2017