#ALIVE Review

“I’m definitely the lazy one in the family”
 
 

 
 
Kita semua menduga video game membantu kita mempersiapkan diri menghadapi zombie apocalypse. Karena video game secara efektif mengajarkan kita cara survive, berpikir cepat dan tangkas dalam melawan musuh. Well, Oh Joon-woo kini tahu bahwa dugaan tersebut tidak terbukti benar. Seumur-umur yang diketahui Joon-woo adalah bermain video game. Kamarnya disulap jadi studio game online tempat dia ngestream petualangannya menembaki musuh-musuh virtual. Tapi ketika hari itu memaksanya untuk menggunakan skill-skill survive yang ia kira sudah ia kuasai, Joon-woo hanya bisa terdiam. Di luar apartemennya, di dunia nyata, virus zombie melanda kota. Mengubah penduduk menjadi mayat hidup kanibal yang ganas. Joon-woo menyaksikan semua, helpless. Mendadak dia sangat rindu dengan orangtua dan saudara-saudaranya, yang tentu saja sudah pergi ke aktivitas masing-masing pada saat dia masih melanjutkan ngorok. Dan ketika persediaan makanan menipis, air mati, hingga satu-dua kali ada zombie namu ke rumahnya, Joon-woo semakin hopeless.
Harus berdiam, mengisolasi diri, di rumah. Enggak boleh keluar rumah, harus jaga jarak – enggak boleh ketemu sama orang karena virus zombienya menular dengan cepat melalui kontak – meaning: you will get eaten alive and turn into ones. Menonton film ini, well, mungkin kita memang harus menyamakan Covid-19 dengan zombie apocalypse. Karena lihat betapa efektifnya peraturan-peraturan yang ia dengar dari televisi tersebut membuat Joon-woo patuh dan takut kemana-mana. Orang-orang jadi beneran bisa memahami sakitnya keadaan dan rela menempuh hidup yang sulit supaya penyebaran virus tidak menjadi bertambah parah. Konflik menarik yang diperlihatkan oleh film #Alive ini justru datang bukan dari zombie-zombie ganas itu. Melainkan ketika tokoh-tokoh manusianya merenung sendiri di dalam isolasi mereka. Ketika para tokoh mulai menyesali hal-hal yang tidak lagi dapat mereka lakukan setelah outbreak. Sutradara Il Cho seperti ingin memberitahu kepada kita, yang menonton film ini sambil ‘terkurung’ di rumah masing-masing, bahwa kita tidak sendirian. Lewat kisah Joon-woo, ia mengajak kita untuk terus berjuang dan tidak berhenti berharap.

Mungkin kita rindu kepada keluarga di luar sana. Atau bahkan mungkin kita sudah benar-benar dipisahkan dari mereka. Namun yang paling penting adalah kita jangan kehilangan kemanusiaan; karena itulah pembeda antara virus zombie dengan virus yang kita hadapi. Zombie lebih mengerikan karena mengubah manusia menjadi monster yang taunya cuma makan, tak peduli lagi pada orang lain atau apapun. Kita harus memastikan kepada diri sendiri, bahwa Covid-19 tidak mengubah kita menjadi ‘monster’ seperti demikian.

 
Buatku, 35-30 menit pertama film ini bukan hanya menarik, tapi juga benar-benar mengena. Kita bisa merasakan kecamuk personal Joon-woo yang kini harus tinggal sendirian. Mengurusi keperluannya sendiri – sesuatu yang tak pernah ia lakukan karena selama ini ia bersandar cuek kepada keluarganya. Joon-woo dulunya adalah ‘zombie di rumahnya sendiri’. Ketika yang lainnya bekerja, dia taunya cuma tidur, makan, main game. Meskipun tokohnya memang jadi sedikit annoying, tapi tak bisa dipungkiri Joon-woo ada sedikit-banyak kemiripan dengan kita waktu masih muda. Yang membuat dia relatable untuk banyak penonton. Bagaimana kita tidak benar-benar appreciate family dan segala kenyamanan di rumah, dan baru kangen ketika sudah jauh dari mereka. Momen-momen ketika Joon-woo merindukan semua itu, easily adalah momen paling emosional yang dipunya oleh film ini. Khususnya, aku suka dengan adegan saat dia minum ampe mabuk – karena gak ada air, dia terpaksa minum alkohol koleksi bokapnya – dan berhalusinasi yang menggedor pintu adalah keluarganya yang pulang dengan selamat, dan ibu yang memeluknya. Momen itu cukup kuat, dan seharusnya bisa lebih kuat lagi jika film ini benar-benar mengset up hubungan Joon-woo dengan orangtuanya di awal film. Jika kita diperlihatkan bagaimana interaksi rumah tangga mereka. Namun #Alive memilih untuk memulai dari Joon-woo sudah sendirian, sehingga efek kesendirian Joon-woo tidak maksimal terasa.

“Good Bye Papa please pray for me, I was the zombie of the family”

 
 
Padahal film ini lumayan bijak dalam memainkan tempo. Bagian-bagian yang lebih lambat – saat kita closely melihat keadaan mental Joon-woo yang semakin nelangsa – selalu diselingi dengan aksi-aksi pengejaran zombie yang hadir dari kejadian-kejadian yang disaksikan Joon-woo dari balkon rumah susunnya. Zombie di film ini mampu berlari, jadi setiap kejar-kejar tersebut dijamin seru dan menghibur. Tone cerita juga gak pernah terlampau sedih atau depresi. Tingkah dan kesembronoan Joon-woo terkadang mampu memancing kikikan geli penonton. Dari perspektif penulisan, memang cerita seperti #Alive ini agak-agak tricky. Sebab kita harus menaikkan tantangan bagi tokoh – yang bagi Joon-woo itu berarti men-stripnya dari fasilitas dan kemudahan, tapi pada saat bersamaan kita harus menemukan cara untuk terus memberinya sesuatu untuk dilakukan, untuk diperjuangkan. After a while, ‘bermain’ dengan drone akan menjadi membosankan, sehingga film ini butuh untuk memasukkan faktor yang baru dalam cerita.
Maka dihadirkanlah tokoh tetangga di apartemen seberang. Cewek yang sama-sama terjebak di rumah. Yang udah menolong Joon-woo dengan menghentikannya melakukan sesuatu yang bodoh. Kehadiran tokoh Kim Yu-bin membuat kejadian menjadi lebih berkembang; membuat film punya sesuatu yang baru untuk dimainkan. Mulai dari cara Joon-woo dan Yu-bin berkomunikasi, hingga ke cara mereka saling mengirimkan makanan – yang kemudian jadi sarana untuk memunculkan zombie sebagai threat dengan approach yang berbeda dari sebelumnya. Hanya saja, bagian masuknya Yon-bin dalam cerita ini seperti throw-away saja, tidak benar-benar berhubungan langsung dengan Joon-woo dan keluarga. Melainkan ya cuma seperti film ingin ngasih ‘stage’ baru untuk Joon-woo, supaya penonton enggak bosan dengan masalah/konflik personalnya. Dan yang membuatnya terasa semakin gak penting adalah penokohan Yu-bin yang seadanya. Dia cuma cewek yang lebih mandiri dan tangguh daripada Joon-woo, yang sama-sama terjebak, dan somewhat jadi love interest. She’s kinda a manic pixie trope, karena dia tidak diberikan backstory apa-apa. And she was kinda dumb, meskipun film ingin ‘menjual’ tokoh ini sebagai karakter yang keren.
Setelah menyelamatkan Joon-woo dan ngatain dia bego (bantering yang digolongkan ‘cute’ dalam standar romansa remaja Asia), kita akan melongok ke dalam rumah Yu-bin untuk melihat cara dia survive, yang supposedly beda 180 derajat dengan Joon-woo. Cewek ini lebih siaga, dengan persediaan makanan ataupun barang yang lebih lengkap. Jadi malam hari, cewek ini haus dan dia mau minum tapi airnya tinggal sedikit, dia keingetan tanamannya di pot. Dan dia malah menyiram tanaman itu saja, enggak jadi minum. Yang membuat cara survive dia ini ‘pintar’ adalah karena tanaman yang ia siram itu bukan tanaman hias kayak mawar atau apalah yang butuh air. Melainkan tanaman Lidah Mertua! Kalian tahu, tanaman hijau yang panjang dan keras itu, kayak pedang-pedangan. Tanaman yang bisa menyimpan air sama seperti kaktus, yang enggak masalah hidup di lingkungan lembap atau malah di lingkungan yang kering. In short; tanaman yang gak urgen untuk disiram! Apa dia bermaksud menabung air di tumbuhan tersebut, supaya nanti kalo air habis, dia tinggal minum dari daun tanaman itu? Cara yang praktis dan aneh kalo begitu. Sehingga aku penasaran, jangan-jangan tanaman ini bakal punya peran dalam plot nanti. Beberapa menit google search kemudian, aku jadi tahu tanaman yang bernama latin Sansevieria trifasciata ini berkhasiat menangkal polutan, paling cocok ditempatkan di ruangan yang ‘tidak sehat’, makanya sering dipasang orang di kamar mandi, atau di ruang tunggu publik biar udaran tetap segar. So yea, mungkin di film ini tanaman tersebut bakal jadi kunci. Nyatanya? Nihil. Tanaman tersebut tidak pernah punya peran apa-apa. Yang membuat tindakan nahan haus Yu-bin bukan cuma tindakan bego untuk survive, sekaligus juga membuat gak believable lagi tokoh itu adalah tokoh keren yang mampu bertahan hidup sejauh ini.
Kenapa pula aku ngomongin tanaman di film zombie, emangnya ini Plant vs. Zombie?!

 
 
Alih-alih munculin tokoh baru di tengah, harusnya film ini banyakin saja adegan Joon-woo berusaha survive sendiri. Banyakin dia masuk ke rumah orang-orang demi mencari makanan, dan bikin dia menemukan berbagai hal (alias pelajaran) di setiap ruangan yang ia masuki. He could learn so much about other families, yang menjadi masukan untuk inner journey-nya terhadap hubungan dengan keluarga. Narasi film akan lebih berbobot dan intact dengan begitu. Aku lebih memilih cerita yang repetitif ketimbang cerita yang detour dari topiknya hanya supaya tetap menarik atensi penonton. Keberadaan elemen Yu-bin membuat penonton teralihkan dari ‘keluarga’. Membuat seolah konfrontasi Joon-woo dengan seorang manusia penghuni apartemen lain di babak tiga itu yang kayak tempelan. Padahal konfrontasi final itu circled back dengan kejadian yang dilihat Joon-woo di awal-awal zombie outbreak; yaitu saat dia melihat anak sekolah memeluk ibunya di tengah kekacauan, sebelum akhirnya berubah menjadi zombie. Anak – orangtua – zombie; inilah tiga kata kunci, film harusnya bermain memutari ini saja, enggak perlu ada elemen lain yang ditonjolkan dan merebut perhatian dari sana.
 
 
 
Enggak ada yang spesial, tapi paling tidak film ini baik-baik saja di empat-puluh menitan yang pertama. Menggambarkan perasaan kecilnya terisolasi, terpisah dari keluarga sementara kita berada dalam keadaan yang membutuhkan kita untuk punya support. Namun kemudian film seperti kehabisan bahan, maka ia menambahkan elemen untuk membuat film nge-spark lagi, dan ultimately menjadi ‘meledak’. Sure, aksinya seru, kita masih bisa menikmati meski gak nampak benar-benar plausible. Tapi semua di paruh akhir itu jadi terasa seperti momen throw-away saja; momen tambahan yang enggak mengena. Yang paling lucu adalah; film ini membuat survive berhadapan langsung dengan zombie tampak lebih mudah dan asik daripada berusaha survive dengan berdiam diri di rumah. Uh-oh, semoga bukan sikap ini yang lantas jadi panutan penonton di era pandemi.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for #ALIVE.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apa kiatmu survive hari demi hari kala pandemi? Menurut kalian apa yang paling berat dari keadaan pandemi virus seperti sekarang?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

YES, GOD, YES Review

“You must never feel badly about making mistake, as long as you take the trouble to learn from them”
 
 

 
 
Coba ingat apa hal yang paling kita takutkan pada saat masih sebagai makhluk yang polos. Takut bikin marah orangtua. Takut kena marah guru. Takut bikin salah. Takut dosa. Apalagi kalo kita besar di lingkungan yang aturan agamanya kuat, kayak Alice di film Yes, God, Yes. Cewek ini adalah tipikal remaja rohis banget. Tumbuh dengan pengawasan pendidikan dan moral Katolik yang ketat. Yang kaku dan konvensional. Lingkungan Alice menjadi semakin ‘jaman jahiliyah’ lagi sebab film ini bertempat di awal 2000an, jadi sebagai pelengkap penduduk cerita yang masih belum terbuka, kita lihat Alice juga hidup di era informasi yang terbatas. Internet belum seperti sekarang. Komputernya masih membuka gambar dengan bertahap. Dan ruang chatnya? Well, di ruang chat itulah Alice menemukan sumber masalahnya. Dia belajar hal yang sebenarnya tak boleh ia lakukan karena dilarang agama. Tapi Alice penasaran. Dan semakin ia penasaran, ia semakin lakukan, dan ia semakin merasa berdosa. Alice lantas ikut club agama untuk menemukan ketenangan. Hanya saja yang ia tahan justru tambah menjadi-jadi. Membuat dia dikucilkan teman bahkan guru, dan membuat dirinya bertanya-tanya sendiri apakah dia bakal jadi penghuni neraka.
Enak gak sih baca paragraf di atas? Kebayang gak si Alice sebenarnya ngapain dari sana? Aku sengaja untuk tidak terang-terangan untuk membuktikan satu poin. Bahwa menutup-nutupi itu memang sejatinya tidak memuaskan. Tidak membantu untuk orang melihat apalagi memahami persoalan yang sebenarnya. Sekolah Katolik tempat Alice menimba ilmu penuh oleh orang-orang yang menutup-nutupi perbuatan mereka, dengan segala petuah dan tindak-tindak suci. Membuat Alice jadi tidak bisa sepenuhnya mengerti ‘baik-dan-salah’, dia malah nyangkanya semua orang dewasa yang taat beragama adalah orang-orang yang tak pernah berbuat dosa. Untung bagi kita, film Yes, God, Yes ini sendiri sangat blak-blakan dalam bercerita. Sutradara Karen Maine jujur ketika menyebut seksualitas. Tidak seperti yang kulakukan di paragraf atas. Maine benar-benar gamblang memperlihatkan gerak-gerik penasaran remaja wanita polos dalam diri Alice yang baru saja terbangun gairah kedewasaan. Maine menyorot kepolosan Alice dalam cahaya komedi, bukan untuk kita menertawakannya. Melainkan supaya kita lebih relate, karena ada masa kita seperti Alice. Dan sekarang kita mengerti bahwa yang dibutuhkan oleh Alice dan remaja-remaja itu bukanlah ceramah bahwa masturbasi atau pacaran itu masuk neraka, melainkan bagaimana melakukannya dengan ‘bertanggung jawab’

Si Alice mungkin mikirnya nyari tahu lewat google dosanya lebih besar

 
The best thing yang dilakukan oleh film ini adalah penggambarannya yang sangat akurat terhadap innocent dan rasa takut seorang remaja yang masih polos, terhadap not exactly pada aturan agama yang ia yakini melainkan lebih kepada aturan dan judgement orang-orang penganut agama tersebut. Yes, God, Yes ini menjawab pertanyaan dan keraguan banyak remaja-remaja seperti Alice seputar urge yang pastilah mereka rasakan. Untuk kemudian film ini akan memberikan jaminan kepada remaja-remaja tersebut, bahwa mereka tidak sendirian. Bahwa yang mereka rasakan adalah normal. Dan ultimately bahwa semua orang punya rahasia, semua orang punya dosa, bahkan orang dewasa – guru ataupun orangtua – sekalipun.

Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Semua orang melakukan kesalahan, bukan saja itu hal yang normal, malah iklan ada yang nyebut ‘berani kotor itu baik’. Saat salah kita jangan jadi hipokrit, dan jadi sok suci demi menutupi kesalahan itu. Own up to it. Karena pada saat salah itulah kita belajar. Kita mengubah diri menjadi lebih baik, kita jadi tahu mana yang benar. Hidup bukan untuk tidak berbuat dosa, melainkan memperbaiki kesalahan yang dilakukan. Kita menebus dosa di dunia salah satunya adalah dengan belajar dari kesalahan. 

 
Arahan Maine juga sukses membuat Natalia Dyer luar biasa tampil meyakinkan. Natalya bukan favoritku di serial Stranger Things karena tokoh dan permainannya di situ sangat generik. Sedangkan di Yes, God, Yes ini, Natalya tampil dengan jauh lebih mantap. Dia terasa otentik memainkan tokoh yang so lost dalam rasa penasarannya. Yes, God, Yes sudah seperti versi yang lebih ringan dan polos dari film Lady Bird (2017) dan Alice sendiri tampak seperti figur Christine yang jauh lebih polos – Natalya berpotongan mirip Saoirse Ronan, hanya lebih ‘rapuh’. Kedua tokoh dalam film masing-masing mengalami masalah yang serupa, they are both in their sexual awakening, mereka sama-sama bertempat di lingkungan Katolik, sehingga gampang bagi kita untuk menarik garis perbandingan. Pertanyaan terbesar yang datang dari itu adalah, setelah Lady Bird yang begitu otentik dan natural di segala bidang, masih perlukah kita menonton Yes, God, Yes?
Tentu, Yes, God, Yes ini banyak dikasih nilai bagus oleh para kritikus. It’s only natural berkat ceritanya yang masuk dan benar-benar fit in ke dalam narasi kontemporer (baca: agenda jaman now) Terlebih para SJW dalam kalangan kritikus selalu suka dengan cerita-cerita yang menyudutkan aturan tradisional; tersebutlah agama di dalamnya. Pemahaman narasi film ini adalah pada penekanan bahwa semua manusia itu berdosa. And sure it’s true. Kita gak boleh merasa superior daripada orang lain hanya karena kita lebih taat dan rajin beribadah daripada mereka. Hanya saja, cara film ini menyampaikan pesannya itu justru seolah Alice menjadi berani dan merasa lebih baik terhadap dirinya sendiri begitu ia tahu orang lain juga melakukan kesalahan; begitu ia melihat orang-orang yang seharusnya lebih ‘alim’ daripadanya ternyata melakukan perbuatan dosa yang lebih parah daripada dirinya. Membuat cerita film seperti begini, untuk menampung gagasan yang true tadi, menjadikan film tidak ‘menantang’ baik bagi Alice maupun bagi kita. Melainkan hanya jatuh ke contoh-contoh banal, like, ‘pfft tentu saja si pastor itu otaknya ngeres, atau tentu saja kakak pembina murah senyum itu aslinya maniak seks.’ Tentu, kasus-kasus seperti demikian memang ada dan terjadi di dunia nyata – misalnya baru-baru ini terkuak soal kekerasan seksual di balik tembok Gereja seperti yang dilansir Tirto – tapi pada film ini, elemen itu dimasukkan tanpa disertai narasi atau bahasan yang memadai. Mereka hanya dimunculkan begitu saja, tak ubahnya sebagai ‘jawaban mudah’ terhadap kebimbangan tokohnya; sesuatu yang gampang untuk membuat tokoh utama merasa lebih baik.
Pesan yang lebih kuat adalah membahas bagaimana mengakui salah dengan benar-benar menyadari kesalahan itu sendiri. Bagaimana supaya Alice tidak merasa rendah karena perbuatan wajar yang ia lakukan. Dalam film ini Alice merasa lega setelah diberi penguatan oleh seseorang ‘masak cuma nonton Titanic masuk neraka’, dan dengan dia memergoki orang-orang suci di sekitarnya melakukan dosa yang lebih besar daripada ngerewind adegan mobil Titanic atau chat nanyain arti dari slang ‘toss salad’. Film yang lebih baik tidak akan membuatnya memergoki, melainkan membangun relasi yang padat dan emosional antara Alice dengan orang-orang Gereja yang membuatnya merasa terttekan itu. Drama mereka akan digali, mungkin dengan pastor yang menceritakan pengalamannya dulu suka nonton bokep, atau apapun yang membuat cerita berkembang dari Alice yang awalnya mengantagoniskan mereka. Namun Yes, God, Yes malah memilih untuk meng-conjure adegan alice ketemu ‘manusia bercela’ dan memperlihatkan dia lebih gampang membuka diri di depan orang-orang yang gak judgmental. Di sinilah letak masalah penyampaian agenda film ini. Yes, God, Yes begitu set out untuk mengkotakkan mana golongan yang judgmental dan fake, dan mana yang tidak, sementara kita tidak benar-benar melihat bangunan kokoh atas aspek itu, melainkan juga cuma berdasarkan judgment kita sendiri.

Lebih gampang mengakui kita salah jika orang lain juga bersalah, ketimbang jika orang lain benar

 
 
Untuk tidak ikutan bias seperti mereka-mereka yang ngasih nilai tinggi buat film ini hanya karena seusai dengan narasi dan agenda mereka, aku juga gak mau ngasih film ini nilai rendah hanya karena gak sesuai dengan pesan yang menurutku lebih kuat. Maka mari melihat film ini secara objektif penceritaan saja. Dan kupikir, setelah kita menonton Lady Bird yang memperlihatkan Katolik itu tidak mesti sebagai sangkar antagonis yang memenjarakan karakternya, kita gak perlu lagi menonton film komedi banal seperti Yes, God, Yes ini. Alice adalah karakter yang ditulis dengan lemah. Film tidak memberikannya waktu untuk karakternya terset-up dengan baik. Alih-alih memperlihatkan, film memilih untuk menjadikan backstory Alice sebagai misteri yang jadi hook cerita – tentang apakah Alice benar-benar melakukan hal yang digosipin seluruh sekolah pada saat pesta. Ini membuat jarak antara kita dengan Alice. Hobi Alice juga gak berpengaruh langsung terhadap cerita. Dia dibuat hobi main game ular di Nokia, and that’s it. Seperti dimasukin buat denyutan nostalgia saja.
Pun, hubungannya dengan keluarga, hubungannya dengan sahabat, hubungannya dengan guru dan pastor, tidak ada yang sempat diceritakan dengan matang. Semuanya datang-pergi dengan cepat. Film ini mencukupkan dirinya di 78 menit, bukan karena penulis gak mampu untuk bikin lebih panjang. Tapi karena jika dipanjangin lagi, jika drama dan relasi-relasi tersebut digali lebih dalam, ceritanya jadi gak cocok lagi dengan agenda judgmental yang diusung oleh film. Jadi film ini memilih untuk tetap pendek. Dan memang jadi kayak film pendek yang dipanjang-panjangin, ditarik begitu aja sehingga jadi tipis.
 
 
 
Bayangkan karet balon yang ditarik sehingga jadi nyaris transparan. Sepeti itulah film ini. Mereka harusnya nambah lapisan drama, untuk membuat film jadi lebih berbobot, penting, tanpa mengurangi keinosenan yang jadi ujung tombak. Lagipula, menambah durasi tentu saja bukan perbuatan dosa. Meski memang banyak momen relateable yang membawa kita ke jaman waktu masih polos, tapi momen cringe juga tak kalah banyaknya sampai kita pengen bilang ‘oh, God, no’
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for YES, GOD, YES.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Kapan pertama kali kalian nonton bokep? Apakah kalian masih ingat reaksi pertama kalian saat menontonnya? Apakah kalian masih merasa bersalah atau canggung jika saat ini nonton dan ketahuan oleh orangtua?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

RESISTANCE Review

“A good laugh heals a lot of hurts”
 

 
 
Terlahir sebagai orang Yahudi jelas bukan hal yang ingin kau gembar-gemborkan jika hidup di Perancis tahun 1940an. Dengan Gestapo ada di mana-mana, memang yang paling baik adalah menjaga kesehatan dengan – well, sama seperti kita sekarang -dengan memakai masker. Topeng. Nama palsu. Samaran. Marcel beneran merias wajahnya. Dia pasang ‘kumis-model-sikatgigi’ palsu. O tidak, dia tidak menyamar menjadi Hitler. Dia menjadi Charlie Chaplin. Dia tidak ingin membuat orang menderita. Dia ingin menjadi seperti idolanya; membuat orang tertawa.
Nama Marcel Marcaeu tercatat dalam sejarah bukan hanya sebagai seniman pantomim paling tersohor, melainkan juga sebagai seniman pantomim yang beneran ikut berjuang bersama gerakan Perlawanan Yahudi di Perancis. Film Resistance karya Jonathan Jakubowicz adalah cerita tentang perjuangan tersebut. Sebagai biografi sejarah, film ini memang tidak terlalu akurat karena menambahkan banyak bumbu-bumbu drama ke sekitar kehidupan Marcel. Tapi sebagai kisah kepahlawanan; film ini dengan tepat menggambarkan esensi perjuangan Marcel. And it is an unique one. Karena bagi Marcel, perjuangan itu bukanlah balik mengangkat senjata mengalahkan musuh. Menumbangkan mereka sebanyak mereka menumbangkan kita. Melainkan, berjuang berarti menyelamatkan sebanyak mungkin korban. Membangkitkan kembali semangat hidup mereka. Marcel Marceau tercatat sudah menyelamatkan ratusan anak-anak Yahudi korban Nazi, membawa mereka nyebrang ke perbatasan. Film ini tidak mengabaikan perjuangan tersebut. Sekaligus tidak lupa untuk menekankan, bahwa hal terpenting yang dilakukan Marcel si tukang pantomim – hal sesungguhnya yang ia lakukan dalam menyelamatkan kehidupan mereka – adalah telah membangkitkan kembali semangat hidup anak-anak tersebut dengan seni dan tawa.

Seni adalah eskapis, dan tawa adalah obat yang paling mujarab. Marcel menggabungkan keduanya, dan dengan itulah ia menolong banyak anak. Tawa membuat kita melupakan kebencian dan ketakutan. Tawa menutup luka-luka emosional. Tertawa bersama membuat kita lebih mudah merasakan empati terhadap orang lain. Itulah yang persisnya dibutuhkan oleh dunia, dan Marcel adalah master dari seni tersebut.

 
hiburan di kala duka

 
Jadi film ini memang sudah semestinya menyentuh saraf-saraf emosional kita dengan kehangatan yang dipancarkan oleh Marcel lewat usahanya berpantomim, menghibur hati para anak-anak yatim piatu korban Nazi emotionally, dan secara literal menyelamatkan mereka ke tempat yang aman. Misi film ini terang dan jelas. Melandaskan kecintaan Marcel terhadap profesinya, memperlihatkan konflik Marcel dengan ayahnya sehubungan dengan pilihan profesi alias passionnya tersebut – yang dianggap malu-maluin dan membuat kelaparan – serta tentu saja menguatkan hubungan Marcel dengan anak-anak yang ia lindungi serta hubungannya dengan Nazi yang jadi pendorong utama untuk menjadi lebih baik. Lika-liku Marcel secara personal haruslah diperdalam oleh film yang katanya biografi ini. Terlebih setelah ditetapkan bahwa Marcel berawal sebagai seorang yang mementingkan diri sendiri.
Durasi dua jam semestinya cukup untuk memadatkan itu semua. Namun entah kenapa, film seperti meme cowok yang berjalan bersama pacarnya, terpana menatap wanita lain. Alias, film ini seperti teralihkan perhatiannya membahas ke hal-hal yang seharusnya hanyalah pendukung bagi Marcel. Bahasan Marcel dengan ayahnya yang tukang daging misalnya, harusnya bisa lebih diperdalam, mengingat background sang ayah yang kompleks dan tak kalah mengejutkan. Yang tentu saja tak cukup dan terasa diburu-buru jika hanya dilakukan dalam lingkup satu babak cerita dan beberapa percakapan di antara mereka, seperti yang kita dapatkan dalam film ini.
Momen kunci yang menjadi hati cerita adalah relasi yang terbangun antara Marcel dengan anak-anak yang mereka jaga di penampungan. Pada beberapa waktu, film berhasil menghadirkan adegan yang benar-benar terasa genuine. Kekuatan pantomim berhasil menghubungkan hati para tokoh, digambarkan lewat pengadeganan yang menghanyutkan. Jesse Eisenberg tampak benar-benar berusaha mempersembahkan ‘the art of silence’ tersebut, meskipun sama seperti aksen frenchnya; performa Eisenberg goyah. Kita perlu lebih banyak adegan yang menceritakan Marcel berusaha berkomunikasi lewat pantomim. Terlebih jika tokoh Marcel sendiri memang seperti diniatkan untuk tampil sebagai orang yang cukup canggung dalam berkomunikasi langsung. You know, layaknya tipikal tokoh-tokoh yang diperankan oleh Eisenberg sebelum ini. Aku gak pernah yakin tokoh Marcel ini orangnya seperti apa. Saat ia bicara seringkali persona nerd dan social-awkward ala Eisenbergnya mencuat. Kemudian saat dia berpantomim, ketika aku yakin dia bakal magnificent, dia tetap sering tampak gak lepas dari gestur awkwardnya. Judgment kita soal performa pantomimnya masih belum bisa kuat, karena adegan berpantomim di film ini kurang banyak, sehingga kita jadi sukar menyimpulkan apa yang terjadi di sini. Apa ia benar-benar bermaksud melucu, apa anak-anak itu tertawa bersamanya, atau mereka menertawakannya.
Padahal pantomim mestinya adalah seni yang powerful nan beautiful. Ditambah dengan konteks perang, kekejaman Nazi dan mengerikannya perang, seharusnya semua bisa tersampaikan di sana. Tapi penampilan Marcel tidak pernah sedalam itu. Apalagi menyentuh ranah surealis. Film yang mengangkat seorang yang berpantomim, dan menyelamatkan orang-orang, tidak berhasil sepenuhnya untuk membuat kita konek kepada subjek ceritanya sendiri. Karena memang cerita tidak disusun untuk fokus ke sana. Film malah sepertinya tidak paham bagaimana menggali sisi dramatis yang genuine dari sana. Maka ditambahkanlah, dipusatkanlah, bumbu-bumbu yang dirancang untuk menjadi dramatis. Bumbu yang bahkan enggak ada di sejarah kehidupan tokoh aslinya. Bunch of time dihabiskan untuk mengedepankan kehidupan cinta Marcel dengan seorang tokoh fiktif, hanya untuk berakhir dengan tidak kemana-mana, selain film butuh sesuatu untuk ditangisi oleh Marcel (dan supposedly penonton). Film menghabiskan banyak waktu untuk tidak membuat kita fokus ke personal Marcel. Momen-momen penyadaran – dia yang tadinya selfish lalu berubah menjadi peduli dan sayang pada anak-anak – diceritakan terlalu cepat dan dengan tidak banyak kejadian penting. Ada loncatan periode di paruh awal film yang sungguh disayangkan karena mestinya digunakan untuk mengembangkan hubungannya dgn semua orang, sehingga perjalanan arcnya lebih kerasa.
Kita harusnya jadi punya respek lebih kepada pantomim setelah nonton ini

 
 
Bangunan ceritanya sendiri memang aneh. Pertama, menit-menit itu dipilih untuk memusatkan kita pada kesadisan Nazi. Kedua, cerita lompat ke saat aman, ada jenderal yang pidato di depan – menceritakan kisah Marcel (tontonan kita ceritanya adalah kisah yang diceritakan oleh jenderal ini. Setelah itu baru kita dibawa ke kehidupan Marcel. Bangunan penceritaan begini membuat yang bagian jenderal itu kayak tempelan. Dan opening film membuat kisah ini terset dalam tone yang berbeda. Seolah film ini adalah tentang kekejaman Nazi, bukan tentang orang yang berjuang dalam cara yang berbeda melawannya. Dalam film superhero, lumrah kita diliatin kebangkitan penjahat sebelum kita bahkan mengenal pribadi yang bakal jadi tokoh superhero. Ini dilakukan untuk membuild up tantangan yang bakal dihadapi oleh si hero. Membuat kita mencemaskan gimana kalo nanti dia yang sekarang ini ketemu sama si penjahat sadis tadi. Dalam cerita superhero, bercerita begini dapat bekerja dengan efektif karena si hero pada akhirnya memang akan beneran berinteraksi dan berhubungan langsung dengan kejahatan si penjahat. Resistance tampak mengincar efek ini. Yang sayangnya terasa setengah-setengah karena walaupun si Barbie Nazi berhasil dibuild up sebagai karakter yang jahat dan bengis (tidak ada yang mempertanyakan soal kekejaman Nazi di sini; itu seeksak satu tambah satu sama dengan dua), Marcel sebagai pahlawan tidak pernah merasakan langsung dan interaksinya dengan si Nazi yang ditampakkan justru interaksi humanis. Dampaknya hanya ke kita. Marcel tidak pernah benar-benar terasa ada yang dipertaruhkan.

Harusnya sekalian Marcel saja yang dibuat kabur saat Nazi menyergap persembunyian. Selain karena memberikan kepadanya kesempatan untuk merasakan bahaya, juga make more sense karena arcnya dia di awal memang seorang yang lebih mentingin diri sendiri. Sehingga bakal lebih dramatis ketimbang terjun nyelametin orang yang mau bunuh diri – yang jelas-jelas adalah adegan lebay yang diorkestrasi untuk memancing efek dramatis. Momen Marcel dan anak-anak itu diburu di gunung salju juga akan lebih berasa karena kali ini dia harus lari sambil menyelamatkan orang. Resistance pada akhirnya memang seperti jatuh pada perangkap biopic pahlawan; takut untuk memperlihatkan cela. Di saat tokoh jahat dengan leluasa diperlihatkan sebenar jahat karena gak bakal ada yang protes, tokoh baiknya dibiarkan untuk tidak dieskplorasi karena terbatas pada keinginan untuk menunjukkan yang baik-baiknya aja. Padahal pandangan Marcel terhadap Nazi, pandangan Marcel terhadap inti dari berjuang, pandangannya terhadap pantomim itu sendiri, itulah yang harus ditonjolkan. Jadi kita bisa melihat perubahan yang membuat kita menjadikan sang pahlawan itu inspirasi. Bukan sebatas apa yang ia lakukan. Namun cerita dan konflik di balik perjuangan. Konflik yang personal dan tumbuh natural, tentu saja. Bukan yang dirancang hanya untuk memenuhi struktur naskah.

 
 
 
Cerita mestinya fokus dulu pada pengembangan Marcel. Mulai dari Marcel, tidak perlu memperlihatkan ke kita kekerasan yang dihadapi anak-anak di awal. Bikin Marcel merasakan itu atau melihatnya langsung pada satu titik. Buang saja adegan dengan Jenderal yang bercerita itu; film ini gak butuh dua ‘intro’ yang hanya merusak tone dan bikin aneh bangunan cerita. Film ini punya potensi untuk menjadi indah dan menyentuh, dan untuk beberapa kecil bagian, film ini memang menyentuh. Melengkapi kisah powerful bertema Nazi dan anak-anak yang kita dapatkan di tahun 2020 ini. Sayangnya arahan malah membuat film ini jadi biopik yang hanya tok menyoroti kejadian, tanpa benar-benar mengeksplorasi. Tone cerita pun jadi setengah-setengah. Antara mau sadis atau enggak. Film ini seperti antonim dari pantomim itu sendiri; tidak indah, tidak nyeni, dan terlalu ribut oleh subplot-subplot yang diset untuk heboh. Bahkan untuk memahami tokoh dan pantomim itu saja, film ini masih seperti belum pasti.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for RESISTANCE.

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana pandangan kalian terhadap seni pantomim? Menurut kalian apa bedanya pantomim dengan badut?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

RELIC Review

“We remember their love when they can no longer remember”
 

 
 
Mengurusi sejak bayi, mulai dari menyuapi makan hingga memandikan, hanyalah sudah hakikatnya bagi kita untuk membalas perbuatan kasih sayang orangtua tersebut kelak ketika mereka sudah renta. Namun terkadang kita lupa. Kita terlalu sibuk. Atau malah, kita sekadar males untuk direpotkan. Seperti Homer Simpsons yang lebih memilih untuk ‘membuang’ ayahnya ke panti jompo. Padahal justru saat mereka tua itulah kesempatan yang berharga untuk bisa berada di dekat mereka. Karena saat kita masih bisa memilih untuk melupa, orangtua kita bisa jadi tidak punya pilihan. Selain membiarkan satu persatu kenangannya sirna, oleh demensia. Mereka hanya punya kita untuk mengingat mereka. Bisakah kita ada di sana saat mereka membutuhkannya?
Kay (Emily Mortimer jadi ibu yang distant dengan anggota keluarganya) sudah beberapa minggu ini enggak berkomunikasi dengan ibunya. Dia kaget begitu diberitahu oleh polisi bahwa Edna (ibunya, yang diperankan dengan luar biasa meyakinkan oleh Robyn Nevin) menghilang dari kediamannya. Kay lantas khawatir. Ia tahu ibunya tinggal seorang diri dan punya masalah sama ‘kepikunan’ karena penyakit yang diderita. Maka ia mengajak anaknya, Sam (untuk beberapa detik aku mengira yang di poster itu bukan Bella Heathcote tapi Lucy Hale) untuk pulang mencari Edna di rumah masa kecilnya. Ketika setelah beberapa hari Edna pulang sendiri, Kay baru sadar bahwa kondisi ibunya bertambah parah. Edna tidak ingat ke mana dia pergi belakangan ini. Edna sering melupakan hal-hal simpel yang ia lakukan kepada Kay dan Sam. Yang bikin semakin ngeri adalah Edna bertindak aneh seolah ada orang lain yang ada di rumah mereka yang penuh oleh tumpukan barang-barang (ah, katakanlah, relik) dan tempelan kertas berisi memo pengingat yang membacanya bikin bulu kuduk merinding.

Yang berhantu adalah rumah, tapi sejauh mata makna rumah tersebut terapply di sini?

 
 
Ini adalah kali kedua debut sutradara di film horor Australia yang berhasil membuatku terkesima. Pertama di tahun 2014 ada Jennifer Kent dengan The Babadook. Dan sekarang kita dapat Natalie Erika James dengan Relic yang bukan hanya seram tapi juga sarat oleh makna. Seperti layaknya horor-horor yang bagus, Natalie paham untuk membangun kengerian enggak butuh jump scare atau musik ngagetin atau hantu seram yang menyemburkan muntah-muntah sambil merangkak di dinding. Horor itu berasal dari dalam. Maka sudah sepantasnya kengerian itu dibangun berdasarkan karakterisasi dari para tokoh. Kay, Sam, dan tentu saja Edna jadi pusat dari cerita; naskah memberikan kesempatan kepada kita untuk menyelami para tokoh. Kita dibuat peduli kepada mereka, sehingga horor itu akan terasa semakin mengerikan. Kita bukan saja akan penasaran ke mana Edna pergi, ataupun bertanya-tanya ada apa sebenarnya di rumah mereka, namun juga kita mengkhawatirkan hubungan ketiga tokoh ini. Kita ingin mereka bersatu tapi kita juga paham ada sesuatu yang tidak bisa dihentikan atau dihindari di sini. Sesuatu itu adalah Kematian. Dan yang bikin Relic ini berbeda – dia punya level kengerian yang unik – adalah Kematian itu tidak sebatas menjadi ‘musuh’, melainkan juga jadi sesuatu yang harus diterima dan diembrace oleh tokoh-tokohnya.
Cerita Relic adalah metafora dari perilaku demensia yang menjangkiti pengidap Alzheimer. Seluruh kejadian dalam film ini adalah perumpaman dari dampak demensia tersebut kepada orang-orang, bukan saja pasien, tapi juga sekaligus keluarganya. Kita melihat wanita tua ini, Si Edna yang pada satu waktu tampak normal, dan di waktu yang lain dia ‘gak beres’. Salut buat permainan akting Robyn Nevin, efek demensia dan kengerian yang dibawanya berhasil tersampaikan dengan kuat kepada kita. Dia bertanya dengan ketakutan “ke mana semua orang?” menghasilkan efek yang berlapis-lapis karena selagi kita tahu penyakitnya sedang dalam mode: on, kita juga ngeri karena boleh jadi ia mempertanyakan sesuatu yang lebih literal. Akan ada waktu-waktu saat Edna seperti tak mengenal Kay dan Sam. Yang juga ‘dibalas’ oleh Kay dan Sam yang takut setengah mati kepada ibu dan nenek mereka ini, seolah beliau adalah orang lain. That’s exactly what dementia does to people. Membuat si malang menjadi semakin merasa sendirian karena they just forget about things. Teror yang dialami Edna dalam film ini semuanya dapat kita terjemahkan sebagai ciri-ciri demensia. Yang membuat kita jadi merasakan simpati kepadanya. Edna, seperti orang-orang lansia pada umumnya, tidak didengarkan, diabaikan, bahkan ditakuti oleh keluarganya. Jamur atau noda hitam di pintu rumah, serta kelupasan hitam pada tubuh Edna, kedua-duanya terus menjalar. Membesar seiring cerita berjalan. Melambangkan deterioration – kemerosotan personal seorang pengidap karena dementia hari demi hari akan membuat mereka menjadi bukan lagi diri mereka. Mereka enggak tahu lagi diri mereka siapa.
Dari sisi keluarga, pengalaman memiliki anggota yang demensia juga sama mengerikan dan emosionalnya. Dan lagi-lagi, film ini berhasil mengumpamakannya dengan sangat baik melalu pengalaman horor yang dirasakan oleh Kay dan Sam di rumah itu. Sam, misalnya, yang mencoba melakukan hal yang benar. Dengan ikhlas mengurus neneknya, bahkan sampai pengen pindah tinggal di sana – yang mendapat delikan keras tanda tidak setuju dari ibunya. Namun Sam justru yang pertama kali merasakan kengerian paripurna dari interaksinya dengan sang nenek. Sam yang duluan merasakan bahwa neneknya itu bukan lagi neneknya yang dulu. Menyaksikan orang yang kita cintai berubah seperti demikian – menjadi sesuatu yang tidak lagi dikenal – sungguhlah pengalaman menakutkan. Kita ingin menolong, tapi bagaimana cara menahan sesuatu yang tidak bisa dihentikan? Yang bisa kita lakukan hanyalah memberikan lebih banyak perhatian dan cinta kepada mereka. Seperti yang akhirnya dengan berani dilakukan oleh Kay pada akhir cerita film ini. Relic menutup ceritanya dengan sekuen adegan yang begitu indah, namun dalam artian yang sekaligus mengerikan. Untuk tidak membicarakan terlalu banyak sehingga menjadi spoiler, aku hanya akan mengutarakan yang kurasakan dan terpikir olehku ketika menonton adegan luar biasa tersebut.

Bahwa semua itu adalah soal menatap kematian tepat pada matanya. Untuk tidak lagi berpaling dari kejelekan, kengerian yang dibawa oleh kematian. Karena cepat atau lambat kita akan mengalaminya. Dan perjalanan itu tidak harus dihadapi sendiri. Kita punya pilihan untuk menemani orang tersayang pergi dengan cinta. Membantu mereka melewati semuanya. Beri mereka kedamaian, pergi dengan perasaan cinta.

 

Yang mengerikan itu bukan kematian, tapi menghadapinya sendirian.

 
 
Ada masa ketika kita bingung untuk merasakan apa ketika nonton Relic. Kita tahu dia sakit, tapi kita mengkhawatirkan bagaimana jika Edna benar. Ada sesuatu di rumah itu. Bagaimana jika bayangan-bayangan yang bergerak di latar belakang adalah beneran hantu. Dan Kay juga Sam dalam bahaya karena tidak menyadari. Ini juga jadi salah satu kekuatan Relic sebagai film horor. Untuk waktu yang lama, kita dibiarkan menyusur jalan ceritanya sendirian. Tidak tahu pasti apa yang terjadi. Hal ini tentu saja dapat tertranslasi sebagai ‘cerita-yang-lambat’ oleh beberapa penonton, dan eventually menjadi turn-off. Buatku ini simply adalah bukti bahwa Relic berhasil menyimpan dan memainkan misterinya. Rumah itu beneran berhantu, demikian juga dengan tokoh-tokohnya. Mereka dihantui oleh penyesalan, oleh duka. Mereka dihantui oleh kejadian di masa lalu – permasalahan keluarga yang membuat Kay dan Edna renggang hadir dengan sangat subtil sebagai akar dari emosional backstory.
Dan menjadikan rumah itu beneran berhantu adalah resiko kreatif yang diambil oleh film ini. Hantu di rumah tersebut – yang membuat kita dapat babak ketiga yang superseru dan menarik saat cerita menjadi petualangan kabur dari kejadian surealis-tapi-nyata – dibiarkan menjadi entitas tak terjelaskan. Karena sebenarnya berfungsi sebagai kiasan bahwa demensia juga mempengaruhi orang-orang terdekat. Keluarga yang mungkin merasa terjebak alias harus terseret dalam masalah yang ditimbulkan oleh pengidap. Yang pada akhirnya berkembang menjadi pilihan, kabur atau tinggal. Jadi rumah itu memang perlu dibuat beneran berhantu – beneran punya lorong rahasia yang seperti hidup – supaya ceritanya bisa meluas menjadi dari dua perspektif.
 
 
 
Bertindak sangat kuat sebagai sebuah kiasan demensia dan menghadapi kematian, film ini adalah sebenarnya horor yang bicara tentang karakter yang berkeluarga, dengan masalah yang real – yang dapat terjadi pada kita di dunia nyata. Sehingga film ini jadi jauh lebih menyeramkan dibandingkan film-film yang menjual jumpscare dan hantu berbagai rupa. Film ini diberkahi oleh tiga penampilan akting memukau, yang berpuncak pada ending yang aku yakin akan jadi perbincangan untuk waktu yang cukup lama di kalangan penggemar horor-beneran.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for RELIC.

 

 
 
That’s all we have for now.
Mengapa kita takut tua, kita takut mati, walaupun mati dan tua itu adalah suatu hal yang pasti terjadi?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

NEVER RARELY SOMETIMES ALWAYS Review

“A person’s right to abortion is a person’s right to their own body”
 

 
 
Sebelum Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual dicabut dari prioritas polegnas, bapak-bapak dan ibu-ibu Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat mestinya menonton film Never Rarely Sometimes Always karya sutradara wanita Eliza Hittman supaya bisa ngerti pilu dan sepinya perjalanan seorang korban kekerasan seksual mengarungi sistem dan ranah sosial.
Autumn (debut akting yang luar biasa dari Sidney Flanigan) merahasiakan kehamilannya dari keluarga. Tentu saja. Remaja tujuh-belas tahun manapun pasti akan dihukum dan dipersalahkan duluan jika mengadu dirinya mengandung anak sebelum waktunya. Jangankan begitu, nyanyi sambil curhat di talent show sekolah aja Autumn dihujat kok. Sehingga Autumn memutuskan untuk ‘mengurus’ perut mblendungnya seorang diri. Sayangnya, peraturan klinik atau rumah sakit di kota dan negara bagian tempatnya tinggal mengharuskan Autumn untuk didampingi oleh orangtua. Ini membuat Autumn harus pergi ke New York, yang peraturan aborsinya sudah lebih luwes. Maka berangkatlah Autumn bersama sepupunya yang sangat suportif, Skylar (Talia Ryder memerankan karakter yang lebih outgoing, mengimbangi tokoh utama yang tertutup).

Autumn tidak mengadu karena tahu ‘pembahasannya agak sulit’

 
‘Pelarian’ mereka selama beberapa hari itulah yang menjadi penyusun cerita film ini. Dua gadis belia mengarungi kota asing, tak pelak merupakan kiasan dari dua gadis yang memasuki usia dewasa dan segala masalah-masalahnya. Sulaman kiasan seperti itulah yang membuat film ini begitu menohok. Hittman dengan sangat cakap merajut kesubtilan sehingga film ini terasa sangat real. Tidak ada masalah yang dilebay-lebaykan di sini. Tidak ada plot poin yang “wow!”. Tidak ada pancingan-pancingan yang kelewat dramatis. New York yang seringkali dicap kota yang kejam di berbagai film atau cerita lain aja, di sini seperti kota-kota biasa; orang sibuk berlalu lalang, cuek, tapi reasonable. Yang dihadapi oleh Autumn adalah persoalan yang lumrah. Dia butuh duit makan. Untuk ke klinik, untuk naik bus dan transportasi umum. Dia butuh tempat untuk beristirahat dan memejamkan mata barang sejenak. Hittman menyisipkan gagasannya di dalam rintangan Autumn yang tampak sederhana itu.

Bahwa hidup memang bukanlah tempat semua urusan dimudahkan, tapi hal dapat menjadi dua kali lebih susah jika kita adalah seorang wanita yang memilih dengan kesadaran sendiri untuk mengaborsi kandungan, apalagi kita masih remaja.

 
Fakta bahwa Autumn harus pergi jauh dari rumah. Merahasiakan; justru takut ketahuan oleh keluarganya – oleh ibunya sendiri padahal kita lihat Autumn ingin sekali reach out to her (alih-alih bersandar di kaca bus atau tembok dingin). Sistem yang membuat seorang perempuan dicap salah saat memilih ingin menggugurkan kandungan – or even get pregnant in the first place – sehingga mereka harus berjuang sendiri di luar sana, nyaris terlunta-lunta seperti yang dialami oleh Autumn. Itulah masalah yang disorot oleh Never Rarely Sometimes Always. Akan ada banyak adegan yang bermuatan seruan kepada wanita untuk membangun kekuatan sendiri. Mulai dari Autumn yang menindik hidungnya sebelum pergi dari rumah; yang menandakan dia berani untuk mengambil alih kendali atas tubuhnya sendiri. Ataupun adegan berpegangan tangan dengan Skylar dari balik pilar yang menyimbolkan para wanita sudah seharusnya bersatu dan saling menguatkan satu sama lain.
Hubungan erat antara Autumn dan Skylar memang menjadi hati dari cerita ini. Kita akan melihat seberapa jauh Skylar bertindak demi membantu sepupunya. Autumn bukan exactly teman-menggelandang yang baik sepanjang waktu karena kondisinya, tapi Skylar tetap bertahan di sana. Keduanya sudah seperti anak kembar; bisa mengomunikasikan banyak tanpa perlu banyak bersuara. Actually, inilah yang jadi salah satu kekuatan pada penceritaan yang dilakukan oleh Hittman. Dia berani untuk menampilkan adegan-adegan yang sunyi tanpa suara. Kedua tokohnya dipampang tanpa saling bicara. Mereka memilih keputusan begitu saja sehingga membuat adegan dalam film ini semakin nyata dan terasa begitu in-the-moment. Alih-alih menggunakan dialog yang bisa-bisa membuat tokohnya terdengar whiny, film lebih memilih untuk menggunakan kamera sedekat mungkin dengan Autumn, ataupun Skylar. Menyuruh kita untuk menangkap emosi dari mata dan ekspresi mereka. Supaya lebih mudah bagi kita untuk berempati. Tantangan bercerita begini tentu saja ada pada pundak kedua pemain yang bisa dibilang masih baru dalam dunia film, tapi mereka berhasil. Autumn adalah salah satu tokoh paling real yang kutonton sepanjang tahun ini. Untuk membuktikan banyak-diam itu bukan cara sutradara menutupi kekurangan akting pemainnya, film memberikan kita adegan dialog dengan dokter yang luar biasa menyentuh. Adegan yang juga jadi jawaban untuk kita-kita yang mungkin penasaran maksud dari judul film ini. Yang jelas, adegan tersebut benar-benar mengungkap luka yang selama ini disimpan oleh Autumn. Exposing her as a wounded person, dan menguatkan kepada drama pilihannya untuk aborsi.

Tentu saja di titik ini sudah bukan lagi jadi soal siapa ayah kandungan Autumn

 
Namun melihat ke belakang setelah menonton, film ini hanya punya itu. Autumn ingin aborsi, dan pada akhirnya dia mendapatkan yang ia inginkan. Tidak ada yang berubah dari diri atau pandangannya terhadap hidup. Impresi yang hadir saat ending adalah Autumn akan kembali ke rumah, melanjutkan hidup yang sama dengan sebelum dia aborsi. Things never gets better for her. Dan memang itulah message film ini. Tidak ada perbaikan untuk wanita-wanita, mereka jadi korban kehamilan. Strong message, memang, tapi juga menjadikan Never Rarely Sometimes Always ini film yang bercela. Karena harus ada plot dan development. Perubahan. Film ini, berdedikasi menampilkan hal yang real seputar pandangan sosial terhadap aborsi dan kesulitan yang harus ditempuh pelakunya, tidak memiliki dua hal tersebut. Sehingga ia tidak lagi terasa seperti film. Kalo boleh dibilang; film ini malah jadi seperti iklan layanan masyarakat (yang ‘modern’). Or worse; seperti sebuah propaganda.
Kesubtilan Hittman membuat kita tidak menyadari bahwa film yang seperti gambaran nyata ini ternyata begitu artifisial, dunianya terbangun atas satu ide tertentu. Mempersembahkan Autumn sebagai korban, sehingga aborsi yang ia pilih tidak lagi dipertanyakan. Sehingga tokoh ini seolah berhak untuk melakukan aborsi. Sedari awal film – literally adegan awalnya – Autumn sudah diperkenalkan kepada kita sebagai korban dari hubungan yang enggak sehat dengan cowok yang mendominasi. Itulah antagonis pada film ini. Laki-laki. Patriarki. Mulai dari cowok yang meledeknya saat nyanyi dan di restoran, atasannya di supermarket yang hobi nyiumin tangan karyawan cewek, ayah tirinya yang cabul, hingga ke lelaki di kereta, semua tokoh cowok di film ini digambarkan gak beres. Bahkan cowok yang menolong Autumn dan Skylar pada akhirnya diperliahtkan sebagai tokoh yang merasa pantas untuk mendapatkan sesuatu dari mereka. Rintangan terbesar yang dihadapi Autumn dalam ‘perjalanan emansipasi otonomi dirinya’ adalah jebakan-jebakan maskulin.
Film ini tidak pernah membahas soal aborsi itu sendiri. Tidak perlu, karena di dunia seperti itu – dan seperti inilah dunia nyata menurut film – Autumn dan wanita-wanita entitled untuk memilih aborsi karena itu adalah tubuh mereka. Bicara soal kesubtilan, mengapa kita tidak menengok hal ini; film sungguhlah detil memperlihatkan usaha Autumn memperoleh kembali tubuhnya – kita diperlihatkan dia menindik hidung, kita dipertontonkan dia meninju-ninju perutnya sendiri, bahkan memar bekas pulukan itu on-point dalam sebuah shot, tapi Autumn sama sekali tidak pernah melihat apa itu aborsi. Dia dibius saat prosesnya, kita bisa bilang dia menutup mata ketika semua itu berlangsung. Paralelnya adalah, Autumn tidak pernah diperlihatkan berkutat dengan moral atau apapun mengenai aborsi. Karena film memang sudah mendesain aborsi itu sebagai jawaban. Padahal perihal moral justru adalah hal paling penting jika kita membicarakan aborsi. Wanita-wanita muda seharusnya tidak dibiarkan menutup mata dari apa sih tindak aborsi itu sebenarnya. Instead, permasalahan yang diangkat oleh film ini justru adalah bagaimana supaya aborsi itu bisa dapat lebih mudah dijangkau oleh wanita. Keseluruhan film adalah tentang perjuangan dan kesusahan yang harus dilalui oleh Autumn ke New York – perjuangan yang harusnya bisa dipermudah jika klinik di dekat rumahnya mengizinkan aborsi tanpa orangtua. Itulah yang dibutuhkan oleh Autumn dalam cerita ini; proses yang tidak dipersulit karena dia berhak atas tubuhnya.
 
 
 
Bukan masalah bagiku jika sebuah film berbeda pandangan moral dengan diriku, justru akan jadi tontonan yang membuka pikiran. Tapi ada syaratnya. Film itu haruslah diceritakan dengan meyakinkan, mantap, dan menantang. Film ini hanya memainkan tokohnya di ranah victim untuk kita kasihani, supaya kita melihatnya pantas dan berhak melakukan aborsi. Film ini mengabaikan kompleksitas sebuah pilihan. Adegan-adegannya dibuat se-real mungkin, akan tetapi desain di baliknya sungguh artifisial. Memaksa kita untuk percaya dunia sejahat itu dan aborsi bukanlah salah perempuan. Sejujurnya, aku mulai annoyed sama film-film ‘art’ kekinian, mereka dibuat terlalu agenda-ish. Lihat Vivarium (2020) yang failed untuk melihat cacat dalam analogi yang mereka ajukan soal membesarkan anak, ataupun Gretel & Hansel (2020) yang menyisipkan penyihir gak-usah nikah dalam cara yang membuat mual. Padahal aku suka gaya bercerita yang berbeda. Aku suka pendekatan akting yang berani. Sinematografi yang lugas. Penokohan yang gak dibuat-buat demi menyenangkan satu target pasar tertentu. Film ini punya semua hal tersebut. Hanya saja di sisi lain, ia tidak lagi terasa seperti film melainkan sebuah iklan dengan elemen-elemen yang pretensius karena dibangun sesuai agenda yang mereka cekokan kepada kita.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for NEVER RARELY SOMETIMES ALWAYS

 

 
 
That’s all we have for now.
Bagaimana pandangan kalian soal aborsi? Bagaimana seharusnya pemerintah mengatur soal kasus kehamilan akibat paksaan seperti yang dialami oleh Autumn? Jaminan apa yang seharusnya diberikan kepada wanita seperti Autumn?
Dan bagaimana pendapat kalian soal DPR yang mau kabur dari pembahasan RUU PKS?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

EUROVISION SONG CONTEST: THE STORY OF FIRE SAGA Review

“It does not do to dwell on dreams and forget to live”
 

 
 
Adalah prestasi yang luar biasa sebenarnya untuk dapat menjadi seperti Lars dalam film Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga. Enggak gampang untuk bisa teguh mengejar passion masa kecil. Untuk terus mendedikasikan diri mengusahakan mimpi, meskipun diremehkan – bahkan diledek – oleh semua orang. Termasuk orangtuamu sendiri. Karena realita tak akan menghantam kita pelan-pelan. Di bawah tekanan kenyataan, enggak semua orang mampu mempertahankan siapa dirinya, seperti Lars. Namun tentu saja, untuk memegang erat passion seperti demikian, kita juga enggak boleh seperti Lars. Yang lupa memperhatikan sekitar karena mimpinya yang terlalu jauh itu.
Sedari kecil, sejak ditertawakan oleh kerabat dan tetangga pada malam pemakaman ibunya, Lars bertekad untuk memenangi kontes nyanyi se-benua Eropa yang tersohor itu. Dia ingin membuat bangga ayahnya yang pelaut. Sekarang usia Lars (Will Ferrell udah sah jadi rajanya underdog-absurd komedi) sudah kepala tiga, dan tetap saja hanya Sigrit (Regina George.. eh, Rachel McAdams jadi ‘wanita desa’ yang lugu dan bersuara indah) seorang yang percaya dan mendukung dirinya. Bersama mereka membentuk band duo Fire Saga, yang nyanyi di kafe dan pesta-pesta di kota – walaupun warga selalu meminta mereka memainkan satu lagu rakyat dan menolak mendengar lagu ciptaan Lars yang lain. Dalam sebuah rentetan kejadian yang kocak – agak sadis, tapi tak pelak konyol – Fire Saga akhirnya kepilih untuk pergi mewakili Islandia ke final Eurovision tahun ini. Berdua saja di ranah showbiz yang glamor dan sarat kepentingan terselubung, Lars yang tak-mampu melihat apapun di luar potensi kemenangan dirinya, dan Sigrit yang akhirnya merasakan perhatian meskipun datang bukan dari partner masa kecilnya, mulai merenggang. Dan setelah satu lagi kecerobohan penampilan musik yang failed dan nyaris berujung petaka, Fire Saga seperti sudah digariskan untuk bubar – membuat malu negara, dan tentu saja ayah Lars di rumah.

Dan percaya atau tidak, film ini juga melibatkan bangsa peri

 
 
Kita yang tinggal di Indonesia mungkin belum banyak yang pernah mendengar – apalagi yang gak ngikutin musik kayak aku – Eurovision yang merupakan kontes musik yang beneran ada di Eropa sana. Acara ini ternyata udah diberlangsungkan semenjak pertengahan 1950, dan sudah menelurkan tren-tren musik mulai dari ABBA hingga ke Celine Dion. Film garapan David Dobkin ini pun tadinya diniatkan rilis bersamaan dengan pagelaran Eurovision tahun 2020, tapi urung karena pandemi korona. Kenapa komedi musik ini menjadi seperti begitu urgen? Kenapa tokoh fiksi harus diciptakan ke dalam show nyata yang sudah jadi tradisi? Itu karena film Eurovision ini difungsikan bukan hanya sebagai tribute, melainkan sekaligus sebagai parodi untuk mengingatkan acara itu sendiri yang semakin modern malah semakin konyol. Eurovision adalah kontes musik yang kini bukan semata adu-kemerduan suara, namun lebih sebagai adu-aksi panggung. Kembang api, efek video, kostum-kostum ‘unik’. Acara itu udah jadi selebrasi unjuk-gigi negara-negara terlibat. Di belakang panggung, ada strategi dan permainan politik bahkan sedari pengiriman delegasinya. Semua itu ditampilkan dalam nada ringan oleh film Eurovision Fire Saga ini. Kita mendengar komentar soal kostum, dan aksi panggung, yang diwakilkan oleh tingkah polah Lars yang jadi laughing stock seluruh kota. Kejadian seputar Lars dan Sigrit kepilih oleh produser dibuat sebagai kebetulan yang sebenarnya direncanakan oleh pihak-pihak tertentu.
Formulanya, ini merupakan cerita underdog. Lars dan Sigrit diremehkan. Namun bukan karena kemampuan nyanyi mereka yang buruk. Tonton sendiri dan biarkan mereka membuatmu terpana oleh ballad-ballad pop yang nendang abis. Penyebab mereka tidak-ada yang menjagokan adalah karena mereka selalu melakukan aksi-aksi panggung yang norak dan berlebihan. Penampilan musik mereka gagal selalu karena hal tersebut. Ini lantas dikaitkan oleh film dengan heart-of-the-story, yakni hubungan antara Lars dengan Sigrit. Yang satu punya mimpi besar, yang satu punya talenta tak-terukur. Ada cinta di antara mereka. Dan hanya ada sepihak saja yang melihat ini. Cerita dan karakter mereka dibangun supaya kita menginginkan mereka berhasil. Dengan stake bubaran yang memang berhasil membuat kita peduli. Walaupun formula film ini standar sekali – it fits to both our usual underdog and childhood lover story – film ini masih berhasil untuk tampil segar berkat karakter. Dan visual Islandia dan panggung Eurovision yang gemerlap. Dan tentu saja lagu-lagunya.
Aku menikmati penampilan di film ini. Ferrell dan McAdams jadi center-piece yang sempurna untuk cerita, meski kadang terlihat aneh juga mereka sebaya tapi Lars kadang seperti terlalu tua (apalagi film kerap mengingatkan kita dengan running joke ‘mungkin-bukan-kakak-adik’ itu). Aku terutama suka sekali sama penampilan McAdams di sini, karakternya hampir seperti magical. Apalagi pas nyanyi. Wuih! Lagu ‘Double Trouble’ yang mereka bawakan dengan naas itu sudah hampir bisa kupastikan bakal masuk jadi nominee buat kategori Best Musical Perfomance di My Dirt Sheet Awards tahun depan. In fact, dalam film ini akan ada banyak penampilan musikal yang memukau. Lagu finale-nya bakal bikin merinding. Dibawakan dengan lip sync oleh McAdams tidak lantas membuat penampilan terasa ‘plastik’. They played it off so good, dan salut juga buat Ferrell yang beneran menyanyikan semua lagu bagiannya.
Dengan sifatnya yang jengkelin, kadang Lars terlihat seperti Matt Riddle versi tua

 
 
Cerita underdog dalam sebuah kompetisi bisa kita maklumi taat kepada formula yang sama. Seperti setiap cerita tinju ‘blueprint’ bakal selalu formula cerita-cerita Rocky. Eurovision Fire Saga ini pun sebenarnya buatku tak masalah diceritakan dengan formulaic. It has a clear-cut plot. Tahun kemaren kita dapat Fighting with My Family (2019) yang berceritanya standar tapi tetap enak dan segar untuk diikuti karena punya cerita yang padet tersusun rapat di samping punya karakter yang unik sekaligus manusiawi. Eurovision Fire Saga ini, however, tidak terasa serapi itu. Untuk mengisi formula tersebut, cerita ini punya banyak jejelan yang sebagian terasa tidak perlu. Dua-jam-lebih film ini memang bikin geram. Bukan karena kepanjangan, melainkan lebih karena kita bisa melihat mana bagian yang mestinya bisa dipotong, atau dihilangkan, atau diganti, untuk membuat penceritaan jadi lebih efisien.
Misalnya, soal perjalanan Lars. Kita paham yang dia butuhkan adalah mendapat ‘anggukan’ dari ayahnya. Sehingga dia butuh untuk ketemu lagi dengan sang ayah, untuk mengonfrontasikan segala uneg-uneg. Pelajaran yang ia harus sadari datangnya dari sini. Hanya saja usaha film terasa sangat minimal dalam menceritakan ini karena film – yang sudah merasa dengan memasang Will Ferrell sebagai bintang utama maka mereka sudah otomatis melandaskan film ini sebagai komedi absurd – tidak merancang konfrontasi itu dengan benar-benar ‘masuk akal’. Film melakukannya dengan membuat Lars menempuh perjalanan bolak-balik naik pesawat, mereka memasukkan skit komedi dengan turis Amerika, yang sesungguhnya hanya memperpanjang waktu. Bukan cuma sekali itu film ini terasa ngedrag. Eurovision punya agenda untuk menampilkan kameo-kameo mulai dari artis hingga pemenang kontes Eurovision beneran (which make them ‘artis’ juga kalo dipikir-pikir), yang penempatannya memang kurang begitu menambah bobot cerita. Sekuen ‘song-along’; various tokoh saling nyambungin nyanyian tidak ditempatkan dengan mulus sehingga tampak seperti adegan selipan yang setengah hati niru-niruin Riff-off nya Pitch Perfect.

Lars sesungguhnya relatable untuk banyak orang, terutama sepertinya generasi milenial. Generasi pengejar mimpi. Kegagalan Lars bagi mereka bisa dijadikan sebagai cautionary tale. Mengejar passion bukan serta merta jadi alasan untuk bersikap egois. Tetaplah perhatikan orang-orang di sekelilingmu. After all, sedikit banyaknya pasti ada mereka pada mimpi yang coba kita wujudkan itu.

 
Bahan-bahan untuk meracik tayangan komedi yang lucu dan kuat dari segi drama sebenarnya sudah ada di atas meja. Produser yang gak mau Islandia menang karena ekonomi yang gak siap – atau mungkin dia gak mau berbagi. Dua sahabat yang terancam berpisah. Bentrokan ide kreatif. Konflik perasaan. Satu tambah satu itu bisa dijadikan dua dengan dengan gampang. Namun film ini merasa content dengan aspek-aspek seperti hantu ataupun invisible elves sebagai bagian utama dari plot. Sekalipun film ini diniatkan sebagai parodi, tetap saja hal tersebut menjadi overkill. Karena toh cerita enggak perlu untuk menjadi sesuatu yang katakanlah ‘impossible silly’. Malah, mestinya film ini bisa jadi lebih magical. Kayak elemen mitos Speorg Note yang dipunya oleh film – not yang hanya bisa dicapai oleh peri – ini aku suka; melihat tokoh percaya pada hal ini untuk membuatnya bernyanyi lebih baik, ini adalah keajaiban yang menambah untuk cerita. Tapi hantu yang terlambat memperingatkan, dan peri yang low-key melakukan kriminal, not so much. Cuma candaan receh – tidak esensial – yang dipaksa masuk supaya cerita bisa stay di jalur formula yang sudah ditetapkan.
 
 
 
Mungkin memang seperti inilah kontes Eurovision jika wujudnya adalah sebuah film. Tayangan menghibur, dengan formula yang terbukti-bisa-berhasil dan jejeran penampil yang meyakinkan. Hanya saja semua itu diisi penuh dengan penampilan-penampilan yang konyol. Kita tahu ini gak bagus tapi kita menikmati tayangannya. Kita gak perlu elves, hantu, antagonis – or seemingly so – yang gak jelas motivasinya apa, ataupun deretan kameo yang menambah-nambah durasi. Namun kita tetap peduli sama Fire Saga. Dan lagu mereka dengan tepat menyimpulkan film ini. “How come something so wrong feels so right?”
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for EUROVISION SONG CONTEST: THE STORY OF FIRE SAGA.

 

 
 
That’s all we have for now.
Pernahkan kalian mendengar tentang kontes Eurovision sebelumnya? Siapa kontestan favorit kalian di sana?

Dan bagaimana pendapat kalian tentang kontes menyanyi yang berkonsep pencarian bakat seperti ini?

Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

7500 Review

“A quiet mind is able to hear intuition over fear”
 

 
 
Pernah ngebayangin rasanya naik pesawat terus pesawatnya dibajak? Gimana coba perasaan pilotnya kalo mendadak penumpangnya semua dalam bahaya dan nyawa mereka ada di tangan dirinya? Ih, amit-amit! Atau mungkin malah ada yang pernah ngebayangin jadi teroris pembajaknya? Wah, sakit, lu! ckckckck.. Anyway, dengan thriller terbaru karya Patrick Vollrath ini kita gak perlu repot ngebayangin lagi. Karena film 7500 ini menawarkan full-experience peristiwa pembajakan pesawat terbang saat lagi mengudara. Tapi bukan untuk menakut-nakuti supaya males naik pesawat, melainkan niat utamanya adalah untuk mengajak kita melihat ke dalam setiap pihak yang terlibat – untuk melihat bahwa semua manusia masih punya intuisi dan nurasi meski seringkali tertutup oleh rasa takut. Dan ya, semoga bagi yang pernah ngebayangin ngebajak pesawat atau transport publik apapun, bisa insaf setelah nonton film ini.
Setelah montase pembuka berupa rangkaian adegan serupa video dari CCTV beberapa tempat di bandara (sekuen pembuka ini sangat efektif membangun tone menegangkan karena visual grainy yang membuat semua aktivitas terlihat mencurigakan itu dihadirkan komplit dengan suara-suara dengungan mesin dan alat-alat di bandara) kita akan dibawa masuk ke dalam kokpit pesawat komersil Jerman yang hendak lepas landas. Berkenalan dengan Joseph Gordon-Levitt yang jadi co-pilot berkebangsaan Amerika bernama Tobias. Dalam rentang waktu yang cukup singkat, film memperlihatkan interaksi antara kru-kru pesawat, mengestablish relasi antara Tobias dengan beberapa orang. Termasuk salah satu flight attendance yang ternyata adalah istrinya. Tobias dan istrinya mencoba bersikap profesional. In fact, interaksi para tokoh-tokoh itu memang semuanya terasa seperti kru pesawat beneran; orang-orang profesional yang punya kewajiban menerbangkan pesawat dan mengantarkan penumpang ke tempat tujuan dengan selamat. Namun tentu saja konflik berkata lain. Beberapa dari penumpang adalah teroris yang ingin membajak dan menabrakkan pesawat. Dan ketika pilot terluka parah, dan istrinya disandera bersama puluhan penumpang lain, kendali itu sekarang benar-benar di tangan Tobias. Mengunci diri di kokpit untuk menerbangkan pesawat ke tempat aman atau menuruti keinginan para teroris yang semakin nekat dan berbahaya.

If anything, rasa-rasanya setelah tiga bulan kemaren, kini kita semua rindu bepergian naik pesawat

 
 
Di kokpit itulah seluruh cerita film ini akan berlangsung. 7500 adalah drama thriller ruang-tertutup yang mawas diri sehingga kita akan mendapatkan banyak sekali adegan intens. Kamera akan bermanuver di ruang sempit itu, kadang sedikit terlalu goyang, tapi menjamin kita menangkap semua suspens dan emosi yang disampaikan oleh para aktor. Film paham betul soal surroundings dan merancang adegan-adegan dari sana. Misalnya soal pintu kokpit yang dikunci dan gak bisa dimasuki sembarangan saat pilot sedang bekerja, mengendarai pesawat supaya baik jalannya. Buk gedebak gedebuk suara pintu yang digedor teroris, bukan itu saja yang bikin tegang di film ini. Film menggunakan semua yang ada di sana. Monitor untuk kokpit melihat keadaan kabin di balik pintu. Suara intercom yang bisa dihidup-matikan. Tensi dibangkitkan dari ‘negosiasi’ antara Tobias dengan teroris yang di-escalate dengan mencekat. Salah seorang teroris mengancam untuk menggorong leher seorang penumpang jika pintu tidak segera dibuka. Kamera pun dengan bijak menyorot lalu menghitung timing meng-cut kita dari monitor dengan precise tepat beberapa momen sebelum kejadian buruk itu terjadi. Dan kita dikembalikan melihat Tobias yang broke down secara emosional karena dia baru saja melakukan pilihan terbesar seumur hidupnya. Adegan tersebut bahkan bukan puncak ketegangan, karena beberapa saat kemudian teroris kembali mengancam dengan cara yang sama – kali ini dengan leher istri Tobias yang jadi taruhannya.
Kecamuk perasaan Tobias rasanya tersalurkan semua kepada kita. Tantangan yang harus diatasi oleh cerita ini adalah membuat kita peduli pada Tobias, sekaligus kita menyetujui keputusannya meskipun itu adalah berat dan menyedihkan. Kita akan membatin supaya Tobias tidak membuka pintu, padahal kita tahu di balik pintu itu ada orang yang paling berharga baginya. Dalam kata lain, film ini lantas berhasil membuat kita merasakan penderitaan Tobias. Lewat tokoh ini, cerita menekankan soal betapa mengerikannya ketika mendadak kita berada pada posisi di mana nyawa banyak orang bergantung pada keputusan kita. Gordon-Levitt benar-benar meyakinkan dlaam perannya ini. Kita bisa merasakan tekanan konflik dan kepentingan personal menggencetnya dari berbagai arah. Dia berusaha tetap tenang dan mengikuti protokol. Kita mencemaskannya. Karena kita sadar betapa rumitnya bagaimana cara kita menyelamatkan orang jikalau dalam menyelamatkan itu berarti tetap saja ada korban.
Cerita film ini persis seperti Trolley Problem yang berbagai variasi kasusnya bisa kita temui di bahasan-bahasan psikologi ataupun filosofi. Mungkin kalian pernah juga mendengar. Troli atau kereta berjalan menuju persimpangan rel; pada rel pertama kereta akan menabrak sekelompok anak kecil, dan pada rel kedua kereta akan menabrak seorang pria yang tertidur – kita yang menekan tuas menentukan rel mana yang dilewati oleh kereta; mana yang kita pilih. Persoalan yang dihadapi Tobias juga seperti demikian. Basically intinya adalah memilih satu dari dua skenario yang dua-duanya berujung pada kematian orang tak-bersalah. Apakah dia membiarkan penumpang dibunuh satu persatu, hopefully dia bisa mendaratkan pesawat dengan cepat supaya yang mati gak banyak, atau berusaha mencegah pembunuhan dengan resiko teroris mengambil alih kemudi dan menyebabkan korban seratus persen lebih banyak. Film mengaitkan ini dengan sikap profesional yang harus dijunjung oleh pekerja seperti Tobias. Karena ia ingin mengirimkan gagasan kepada kita soal mengambil keputusan – bertanggung jawab atasnya – dengan tidak berdasarkan kepada perasaan melainkan melainkan dengan tenang memilih yang ‘benar’.

Trolley Problem sebenarnya bukan untuk memilih jawaban yang paling benar dari kedua pilihan. Melainkan sebuah eksperimen yang jawaban setiap orang akan mencerminkan intuisi moral yang dimiliki oleh masing-masing. Intuisi inilah yang paling penting untuk didengar, tapi seringkali tertutupi oleh kecamuk perasaan – yang dalam film ini diwakili terutama oleh rasa takut.

 
Momen antara Tobias dengan salah satu teroris di babak akhir menunjukkan kontras antara dua orang yang sama-sama takut, hanya saja yang satu masih mampu memegang intuisi moralnya. Dalam keadaan yang maksimal, film ini seharusnya mampu membuat kita tak lagi sekadar mengkhawatirkan keselamatan Tobias tapi juga menjadi mengkhawatirkan teroris muda yang jelas memiliki banyak keraguan dan konflik tersendiri di dalam dirinya. Namun film tidak tertarik untuk mengeksplorasi sejauh itu. Naskah mencukupkan dirinya pada muatan-muatan klise dan karakter-karakter stereotipe.

Yang belum nonton pasti bisa nebak ras gerombolan teroris di film ini

 
 
Tidak ada lagi pengembangan karakter sebab menjelang akhir film sudah mengubah haluannya menjadi cerita yang berfokus pada kejadian. Tobias dan karakter-karakter lain menjadi tak lebih dari sekadar troli yang bergerak pada rel masing-masing, mereka tidak jadi terasa manusiawi. Momen-momen manusiawi mereka mengerucut menjadi momen klise yang datang begitu saja saat naskah butuh untuk mengakhiri cerita. Tidak ada kedalaman motivasi pada si teroris yang jatohnya sebagai ‘jahat-tapi-penakut’ alih-alih karakter yang kompleks. Film ini dimulai dengan seolah menyugestikan pelaku kejahatan bisa siapa saja karena semua yang dilihat dari video CCTV tampak mencurigakan – kita tidak bisa menuding begitu saja. Namun di akhir tetap saja semua kembali pada stereotipe. Cerita tidak lagi menjadi menantang-pikiran begitu kita sadar bidak mana tugasnya apa. Menurutku ini adalah kesempatan yang disia-siakan, karena seharusnya ada banyak yang bisa dikomentari oleh film. Momen berdua antara Tobias dengan teroris tidak berbuah apa-apa karena film tidak pernah benar-benar lepas landas mengembangkan mereka.
 
 
 
 
Sebagai thriller ruang-sempit, film ini memang menegangkan. Penuh oleh momen-momen intens yang benar-benar menyorot beratnya keputusan yang harus diambil oleh tokohnya selain ancaman bahaya. Hanya saja pelaku-pelaku cerita ini tidak diberikan lapisan yang mendalam. Mereka hanya stereotipe yang mengandalkan pada pancingan-pancingan klise untuk menarik simpati. Sepertinya karena diniatkan sebagai experience saja, maka film merasa tidak perlu repot-repot membangun karakter dan mengeksplorasi lebih dalam lagi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for 7500

 

 
 
That’s all we have for now.
Dalam eksperimen Trolley Problem, mana yang kalian pilih? Menyelamatkan anak-anak atau satu orang yang tertidur? Apa pertimbangan kalian memilihnya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

YOU SHOULD HAVE LEFT Review

“The same people who believes your lies are also the ones who believe in you.”
 

 
 
Harusnya tinggal pergi aja. Seringkali itulah yang kita teriakkan ke arah layar setiap kali menyaksikan tokoh yang masuk dan memilih tinggal di rumah angker. Segampang itu sebenarnya; jika malam hari engkau diganggu penampakan, maka hal pertama yang harus kau lakukan di pagi hari adalah pindah atau malah gak perlu nunggu; langsung cabut aja dari situ. Tips selamat dari rumah berhantu: Pergi dari sana! Namun, bagaimana jika setan itu justru dari dalam diri sendiri. Mau lari ke manapun akan terus menghantui. Bagaimana cara kita kabur dari kebohongan dan kesalahan yang kita lakukan di masa lalu. You Should Have Left produksi Blumhouse yang digarap oleh David Koepp mengeksplorasi psikologi seorang pria yang dikutuk oleh aksi yang dipilihnya sendiri, yang menyebabkan seluruh keluarganya sekarang diteror di dalam rumah seolah neraka yang mengurung mereka bersama-sama.
Pria itu bernama Theo (Kevin Bacon membawa banyak kedalaman kepada karakter ini). Ia adalah pria yang punya uang cukup banyak sehingga bisa menyewa rumah mewah modern di atas bukit pedesaan Wales, Skotlandia. Berlibur bersama istrinya yang bintang film – Susanna yang berumur jauh lebih muda darinya (diperankan oleh Amanda Seyfried yang tak canggung) – dan anak perempuan mereka, Ella (Avery Essex yang menceriakan horor rumah tangga ini). Di dalam rumah yang punya desain unik tersebut, Theo yang ingin memperbaiki hubungannya dengan sang istri, malah dirundung oleh kejadian-kejadian yang ia gak tahu beneran atau mimpi. Ia menemukan pintu di balik rak buku. Pintu yang menuju ke ruangan yang berbeda setiap kali dibuka. Hallway yang semakin memanjang. Dan ada seseorang yang menulisi jurnal pribadinya. Menuliskan peringatan untuk segera angkat kaki dari sana. Hanya saja, Theo dan keluarga tidak bisa keluar sebelum Theo bisa memecahkan misteri rumah tersebut.

Mungkin secara tak sengaja, Theo menyewa Hogwarts sebagai tempat berlibur

 
 
Kalo kalian mencari film yang cocok ditonton untuk merayakan Hari Ayah, You Should Have Left ini bisa dijadikan pertimbangan. Karena walaupun film ini tipikal mainstream Blumhouse banget; rumah yang seemingly berhantu, lokasi tertutup, teror melibatkan anak dan keluarga, dan tentu saja ada adegan yang sepertinya udah jadi trademark horor Blumhouse: adegan disembur muntah hantu, film ini juga terasa berbeda dari biasanya karena memuat sudut pandang kejiwaan seorang ayah yang pada akhirnya mengambil keputusan demi putrinya tersayang. Inti emosional dari film ini adalah hubungan Theo dengan anak, dan istrinya. Paruh pertama lebih banyak berkutat di elemen drama. Theo mencurigai istrinya yang artis ini selingkuh – pada kunjungan pertama Theo ke lokasi syuting, ia harus mendengar istrinya melakukan adegan intim, dan dia sama sekali tidak diberitahu film yang dibintangi sang istri bakal mengandung adegan semacam itu. Film juga menekankan hubungan Theo dengan Ella; putrinya ini sangat sayang kepada Theo, mereka ayah dan anak yang akrab, dan clearly Ella percaya kepada ayahnya. Dan inilah yang akan jadi konflik untuk Theo, karena pria ini diperlihatkan punya sesuatu rahasia mengenai masa lalunya.
Mengenai horor di rumah tempat mereka liburan, I must say, misterinya cukup fun dan bikin penasaran. Theo menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal dari desain rumah itu. Lantai yang enggak exactly lurus 90 derajat. Ruangan rumah yang ternyata ukurannya lebih luas jika diukur dari dalam dibandingkan dengan dihitung dari luar. Ada sekuen yang sangat menarik yakni saat Theo dari halaman melihat Ella masuk ke ruang keluarga, mengambil jaket, dan ketika membuka pintu hendak keluar, Ella gak kunjung keluar. Ella menghilang di depan matanya. Karena rumah itu punya banyak ruang rahasia dan Ella nyasar karena salah membuka pintu. Aku pengen melihat lebih banyak adegan-adegan seperti begitu, you know, Theo dan Ella menjelajahi rumah, berusaha menguak misteri desain rumah yang aneh ini. Aku tentu saja lebih menyukai misteri demikian ketimbang horor standar berupa bayangan muncul sekelebat di belakang layar atau belakang tokoh, yang sayangnya lebih banyak dilakukan oleh film ini.
Koepp sebenarnya sudah punya pengalaman membuat misteri tentang pria yang merasa jadi gila (atau memang gila) karena tinggal di tempat terpencil. Ia pernah membuat Secret Window (2004) yang dibintangi oleh Johnny Depp yang punya keadaan dan elemen misteri yang serupa. Yang dari film itu kentara Koepp gak butuh trope-trope horor berlebihan, dan dia punya kekuatan pada drama dan eksplorasi psikologi. Namun pada You Should Have Left ini, aku gak tau entah karena studio/produser ataupun karena gak ingin jadi mirip banget ama Secret Window, Koepp banyak menggunakan teknik horor pasaran yang bukannya membuat film semakin berbobot, tapi malah membuatnya jadi semakin datar. Bagian misteri rumah yang seru tadi, actually baru dimunculkan pada paruh akhir film. Sangat terlambat. Pada paruh awal kita justru disodorkan adegan-adegan mimpi dan adegan kelebatan bayangan yang hardly seram. Film ini bahkan dibuka dengan adegan mimpi-di-dalam-mimpi yang mengangkat alis kita karena si tokoh yang ceritanya lagi mimpi tidak ada dalam adegan tersebut. Mana ada kita mimpikan orang lain sementara kita sendiri gak ada di dalamnya. Bergerak dari logika tersebut, kalo dipikir-pikir, opening tersebut justru memberikan spoiler untuk ending film. Membuat satu-satunya sosok misterius di film ini jadi terbuka kedoknya hanya dalam lima-menit awal.
You should have left the filmmakers alone to do their works

 
 
Paruh awal itu film ingin membuat kita peduli dengan memberikan hook berupa ini adalah drama membebaskan diri dari relationship yang buruk alih-alih membebaskan diri dari rumah hantu. Misteri yang ditonjolkan adalah apakah istri Theo selingkuh, kita diharapkan untuk peduli kepada Theo karena dia adalah pria tua yang udah gak kerja, yang gak ngapa-ngapain, yang dicintai oleh anaknya, tapi begitu rapuh sehingga perlu menenangkan diri dengan jurnal dan kaset rekaman yoga. Namun ini semua enggak bekerja karena justru di situlah masalahnya. Kita gak tau siapa Theo ini. Pada novel aslinya, Theo adalah seorang penulis naskah film. Pada sinopsis di halaman IMDB film ini, Theo adalah seorang banker. Jadi siapa dia? Gak jelas, pada film ini sendiri dia pernah diperlihatkan dia ngapain, kerjaannya apa. Background Theo dijadikan rahasia – kita hanya diberikan eksposisi atas sesuatu peristiwa mengerikan pada masa lalu Theo dan hingga kini Theo hidup dalam tuduhan yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Dan hanya itulah dia. Seseorang yang punya masalalu suram, tapi kita tak tahu persis apa itu. Ini menyebabkan kita gak segaris dengan Theo. Motivasi Theo cuma ngajak keluarganya liburan ke villa untuk memperbaiki hubungan, hanya saja kita tidak pernah tahu apa penyebab semua itu, sehingga kita tidak bisa peduli apakah dugaan Theo salah atau benar. Susanna juga tidak diberikan karakter yang mendalam, ia lebih tampak sebagai device cerita saja ketimbang tokoh yang benar-benar mendukung dalam development tipis Theo.
Seluruh kejadian di babak akhir akan sangat membingungkan karena film mengungkapkan semuanya sebagai kejadian yang beneran terjadi. Kita akan melihat siapa yang menulisi jurnal Theo. Kita akan tahu pemilik bayangan yang berkelebatan sepanjang film. Semuanya begitu literal sehingga justru jadi gak make sense. Film mengontradiksi konteksnya sendiri. Mereka ingin menegaskan teror itu berasal dari dalam Theo, tapi sekaligus memperlihatkan bahwa rumah itu beneran sebuah neraka yang menjerat manusia-manusia yang hidup dengan memendam rasa bersalah. Kita mengerti bahwa pelajaran bagi Theo adalah untuk mengakui bahwa ia bersalah dan tidak lagi berbohong, kita paham dia harus sendirian, maka rumah tersebut mestinya adalah metafora perasaan bersalah yang ia tak bisa lari darinya. Dengan malah membuat rumah itu sebagai entitas beneran, juga dengan tidak memberikan kita ruang melihat masa lalu Theo dari sudut pandang yang lain (katakanlah dari sudut pandang Theo sebelum ‘ngaku’), film malah menanamkan ketidakpastian – keraguan – kepada kita, yang ultimately melemahkan gagasan film ini. Kenapa kita harus percaya pada rumah itu? Toh kalo memang beneran dia ‘memangsa’ orang-orang yang punya kebohongan kenapa Susanna yang mengaku selingkuh masih bisa keluar dari sana? Kenapa Theo yang akhirnya juga mengaku dan bertindak untuk kebaikan anaknya tetap saja harus tinggal di rumah itu? I say, kerjaan film ini sebenarnya masih banyak karena dalam menangani misteri dan drama, film lebih banyak meminta pemakluman kita saja daripada punya jawaban yang benar-benar memuaskan.

Kita boleh saja memilih untuk hidup dalam kebohongan. Lari dari rasa bersalah sepanjang waktu dan menganggap kita baik-baik saja. Namun kita harus sadar, bahwa tidaklah adil untuk memerangkap orang yang sayang kepada kita karena mereka percaya kepada kita. People need to hear the truth. Jangan penjarakan mereka bersama dosamu. 

 
 
 
 
Rumah yang bisa memerangkap manusia, yang menyesatkan dengan ilusi ruang dan waktu, memang adalah sebuah ide kreatif untuk sebuah horor. Tambahkan sudut pandang seorang ayah yang menyimpan rahasia kelam. Ini adalah formula sebuah cerita psikologikal menyeramkan yang bagus. Namun film ini memilih banyak pilihan yang miring. Dia terlalu literal dalam bercerita. Dia tidak benar-benar memberikan daging kepada penokohan tokoh-tokohnya, terutama tokoh utama. Sehingga dengan sangat mengecewakan film ini jatohnya hanya mengandalkan kepada shock value.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for YOU SHOULD HAVE LEFT.

 

 
 
That’s all we have for now.
Film ini juga mengajarkan kita untuk segera angkat kaki dari hubungan yang bikin makan ati. Bertahan lama-lama hanya akan bikin makin nyelekit, pasangan akhirnya selingkuh, or worse – pasangan membiarkanmu ‘mati’ begitu saja. Kenapa tidak pernah gampang untuk keluar dari bad relationship? Apakah anak yang membuatnya semakin susah?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

A WHISKER AWAY Review

“But you are always perfectly lovable”
 

 
 
Jadi kucing sepertinya menyenangkan. Bisa bermalas-malasan sepanjang hari, tanpa ada yang nyindir. Bangun-bangun langsung dikasi makan. Dielus-elus. Bisa bermain dengan apapun, like, kardus aja bisa jadi arena panjat-panjatan yang super menyenangkan. Kalo jatuh, bisa mendarat mulus dengan dengan keempat kaki. Lelah main, tinggal tidur lagi. Not a single worry given. Kucing punya sembilan nyawa, jadi tak perlu takut pada apapun. Tapi benarkah kita rela menggantikan kehidupan manusia dengan kehidupan kucing?
Miyo beruntung mendapat kesempatan untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi berkumis, punya empat kaki, bermata biru, berbulu putih, dan bertampang imut. Dia bertemu dengan kucing raksasa yang memperkenalkan diri sebagai ‘Penjual Topeng’, yang memberikannya topeng kucing ajaib. Dengan topeng tersebut, setiap kali Miyo yang di luar tampak superceria ini merasa sedih dan kesepian dan bermasalah di rumah, ia bisa kabur sejenak dari dirinya sendiri. Ia menjadi kucing yang disayang banyak orang. Terutama oleh Hinode. Cowok keren teman sekelasnya yang cuek abis itu ternyata sayang banget ama kucing. Makanya Miyo jadi betah setiap hari melipir ke rumah Hinode, sebagai kucing tentunya. Merasa hidupnya bakal jauh lebih baik saat menjadi kucing – Hinode memanggilnya Taro, sedangkan di sekolah Hinode gak pernah sudi nyapa Miyo duluan – Miyo setuju untuk memberikan wajah manusianya kepada si Penjual Topeng. Yang artinya dia bakal jadi kucing selamanya. Namun begitu seekor kucing menggantikan posisi Miyo sebagai manusia, Miyo menyadari bahwa cinta itu masih ada. Sehingga Miyo harus buru-buru mencari Penjual Topeng yang culas hingga ke dunia gaib khusus kucing, sebelum semuanya terlambat.

Bukan cinta monyet tapi cinta kucing

 
 
Gak perlu jadi pecinta kucing untuk dapat menikmati anime terbaru di Netflix ini. Serius. A Whisker Away memuat banyak emosi, tokoh-tokohnya akan mudah untuk direlasikan kepada kita. Terutama bagi anak-anak atau remaja karena deep inside film ini membahas masalah di kehidupan rumah dan sekolah. Dengan warna-warni anime dan fantasi yang tinggi, film yang sarat akan pelajaran berharga ini jadi menyenangkan untuk ditonton. Pada menit-menit awal film terasa seperti ambigu karena mengaburkan fantasi dan realita, tapi dengan segera keraguan kita terjawab. Miyo beneran jadi kucing, dan fantasi di sini adalah realita. Keajaiban flm ini bahkan semakin menguat lagi pada saat kita masuk babak ketiga, saat lokasi cerita berpindah ke dunia kucing di atas awan. Kita belum bisa menyebutnya surga karena masih ada depresi menggantung di sana, but it was magical, berisi karakter-karakter ajaib yang membantu Miyo dan cerita mencapai keseruan sebagai klimaks. Dan ketika semua selesai, kita sudah benar-benar siap untuk tangisan bahagia. Karena arahan Jun’ichi Satô dan Tomotaka Shibayama ini memang dramatis seperti demikian.
Jika kita lepas cerita film ini dari elemen kucing yang jadi identitas utamanya, maka kita akan mendapati cerita yang persis sama dengan Mariposa (2020) jika film tersebut turut dicopot dari elemen olimpiade dan dibuat dengan lebih banyak hati. Cerita A Whisker Away juga tentang cewek yang ngejar-ngejar cowok dingin yang gak suka padanya. Hanya saja kartun Jepang ini terasa jauh lebih manusiawi karena benar-benar memanusiakan dan menghormati para tokohnya. Miyo sama kayak Acha; pecicilan, rusuh, can’t take a hint, nyaring. Annoying. I mean, Miyo dijuluki Muge oleh teman-temannya di sekolah, yang merupakan kepanjangan dari Miss Ultra Gaga and Enicmatic; yang sangat mencerminkan betapa hebohnya Miyo di mata mereka. Namun tokoh ini diberikan layer. Dia diberikan alasan untuk jatuh cinta sama Hinode. Dia diberikan motivasi yang lebih dari sekadar pingin punya pacar. Dan ini jadi pembeda yang signifikan. Kita jadi peduli dan bersimpati kepada Miyo – sesuatu yang tidak mampu kita lakukan terhadap Acha di Mariposa yang tidak punya masalah apa-apa di dalam hidupnya selain kebelet penasaran sama Iqbal.
Cinta Miyo kepada Hinode muncul saat Hinode menunjukkan perhatian kepada dirinya yang sedang dalam wujud kucing. Keduanya sharing a beautiful dan personal momen bersama di bawah cahaya kembang api festival. Cowok penyayang hewan itu memberikannya kasih sayang tatkala Miyo lagi menyendiri dalam pelariannya karena capek menjadi manusia. Jadi wajar, at that exact moment, Miyo langsung cinta mati meskipun ia tahu yang disayangi Hinode adalah kucing. Wajar Miyo ketagihan merasakan cinta karena selama ini ia percaya tidak ada yang mencintai dirinya, not even her own mother. Begini, sikap ceria dan semangat-berlebihan yang Miyo tunjukkan kepada sekitarnya bukan tanpa alasan. Melainkan karena dia terluka di dalam. A Whisker Away juga mengeksplorasi soal parenting – sebagaimana yang juga di-claim oleh Mariposa – dan melakukan ini dengan lebih dalam daripada hanya memperlihatkan orangtua yang satu dimensi. Miyo dibesarkan bukan dalam keluarga sempurna. Justru kebalikannya. Ibu kandung Miyo meninggalkannya waktu masih kecil, sehingga sekarang Miyo tinggal bersama ayah dan ibu tiri. Ini menyakitkan buat Miyo; bukan karena ia punya ibu tiri, tetapi karena kenyataan bahwa ia merasa ibu aslinya tak sayang padanya.
Perasaan seperti ini tentu saja devastating bagi siapapun. Jika ibu sendiri tak sayang, maka gimana kita mau percaya ada orang lain yang sama kita. Miyo jadi tries so hard untuk dicintai. Dia mengubur deritanya dalam-dalam dan mencoba menjadi ceria sehingga ia disukai orang serta tidak membuat orang di sekitarnya bersedih. Namun jelas itu cara yang salah. Film ini berani mempertontonkan sikap Miyo sebagai hal yang ganjil dan aneh dan gak-cute. Bahwa kita tidak diniatkan untuk mendukungnya mengejar Hinode yang gak tertarik. Adegan penolakan pada film ini terasa beneran membekas dan jadi titik balik bagi Miyo. Ini mengubah Miyo, karena sekarang dia percaya beneran gak ada yang suka sama dia. Makanya Miyo mau ditawari menjadi kucing. Bayangkan untuk mau menukar hidup jadi kucing, pastilah hidupmu sebagai manusia amat sangat menderita.

Miyo adalah karakter yang sangat sengsara. Bisa dibilang ‘jadi kucing’ itu adalah metafora halus untuk ‘mau bunuh diri’. Inilah mengapa anime ini penting untuk ditonton oleh keluarga. Karena sekarang kita hidup di jaman di mana bunuh diri telah terdramatisasi. Orang sekarang membiarkan diri mereka tenggelam dalam depresi dan lebih memilih untuk mengakhiri hidup karena merasa atensi itu didapat dari sana. Padahal bukan. Film ini menunjukkan kita hal yang sebenarnya. Yang Miyo butuhkan adalah untuk dicintai oleh orang – satu orang saja, sehingga dia bisa menyadari bahwa hidupnya bermakna. Oh boy, bahwasanya itu hal yang tak perlu ia atau siapapun minta. Semua orang pasti dicintai, asalkan menjadi diri mereka sendiri.

 
Hinode exactly adalah Iqbal, karakternya punya arc yang sama persis hingga ke resolusi yang dilalui. Bedanya adalah tokoh ini ditulis dengan sangat hormat. Tak pernah sekalipun dia dimanipulasi oleh orang-orang sekitar untuk menyukai Miyo sehingga berpikir jangan-jangan ia suka Miyo. Hinode dibiarkan berkembang sendiri. Mengatasi masalah keluarganya dengan pembelajaran sendiri. Keluarganya juga gak ditulis satu-dimensi. In fact, tidak ada tokoh ayah atau ibu yang mutlak otoriter dan maksain kehendak di film ini. Selalu ada situasi yang menimbulkan pilihan, dan kondisi alami yang mendorong karakter memilih putusan atas pilihan tersebut. Bahkan tokoh ‘penjahat’ – si Penjual Topeng itu pun tidak dibuat total licik dan serakah. Sebagai pedagang, dia bahkan termasuk pedagang yang jujur.

Kalah deh pokoknya penjual-penjual penimbun masker.

 
 
Kendati punya cerita yang lebih berlapis dan penceritaan yang lebih menarik, still, problem film ini juga masih sama ama problem Mariposa. Anak-anak dan remaja nonton film ini sebaiknya ditemani oleh orang yang lebih dewasa. Gambaran cewek ngejar cowok, meski memang di sini diperlihatkan gila dan gak sehat, tetap harus ditekankan bahwa hanya akan benar jadi romantis kalo si cowok memang kebetulan punya masalah dalam mengungkapkan diri. Lain kata, dalam kondisi yang sangat ideal-lah romansa ini bisa terjadi. Menjadikan mereka pasangan sebagai bentuk dari reward tetaplah merupakan sesuatu yang dilebihkan, karena reward berupa perasaan dicintai gak mesti ditunjukkan dengan jadian dan membuat tokoh utama selama ini benar atas feelingnya terhadap Hinode sehingga tidak perlu mengucapkan maaf atas tindakannya. Poinku adalah cerita seperti ini bakal tetap bekerja jika pada akhirnya kedua tokoh tidak menjadi pasangan. Mereka bisa jadi teman akrab, romance masih bisa dipantik dari ‘tempat’ lain tho, dan pesan cerita masih akan sama dan sama suksesnya tersampaikan.
Hubungan yang paling menyentuh, bagi pecinta kucing, besar kemungkinan adalah bukan antara Miyo dengan Hinedo. Film ini juga membahas hubungan antara kucing peliharaan dengan majikan yang menganggapnya sudah seperti anak sendiri. Eh, salah. Yang menganggap kucing peliharaan lebih dari anak sendiri. Film ini menunjukkan betapa hubungan majikan-peliharaan ini dapat mencapai level emosional yang sangat mendalam karena memang kucing ataupun peliharaan sejatinya bukan sekadar mainan. Apa yang tadinya ‘hanya’ berupa emotional companion, bisa jadi lebih attach daripada itu. Di film ini ada tokoh yang lebih suka kucing peliharaanya kembali daripada si kucing itu berubah menjadi manusia dan menjadi anaknya diam-diam. It is such a beautiful relationship; film ini berhasil menggambarkannya dengan sama indahnya.
 

Dan karena itu maka review ini aku dedikasikan untuk Max, kucing oren yang sudah kupelihara sejak bayi dua tahun yang lalu, yang currently menghilang – Max yang sedang masa kawin gak pulang ke rumah. Aku gak tau apa dia tersesat atau udah berubah pakai topeng wajah manusia.

 
 
 
Beginilah cara yang benar dalam menyajikan cerita komikal, atau bahkan fantastical tentang yang mengejar cinta seorang cowok. Dengan memberinya karakter yang manusiawi, konflik yang personal, dunia yang menarik. Singkat kata; memberikannya hati. Anime ini penting ditonton karena membahas isu soal depresi terkait dengan menjadi diri sendiri – problematika yang senantia menghantui pikiran setiap remaja, bahkan orang dewasa sekalipun. Do I matter? Apakah aku pantas mendapat cinta. Film ini menawarkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Membawa kita melihat dari sudut pandang luar untuk menemukan jawaban itu. Jadi ya, buat yang merasa depresi dan tidak-dicintai, cobalah tonton film ini. Buat yang suka kucing apalagi. Ada sih, satu-dua hal yang jangan lantas ditelan mentah-mentah – yang jangan dijadikan panutan (jangan lompat dari atas atap sekolah demi membela yayangmu, for instance), but still ini adalah film kucing yang sweet dan emosional dan amat manusiawi.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for A WHISKER AWAY.

 

 
 
That’s all we have for now.
Apakah kalian punya hewan peliharaan kesayangan? Menurutmu kenapa beberapa dari kita butuh hewan peliharaan?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE KING OF STATEN ISLAND Review

“It’s never too late to be who you might have been”
 

 
 
Ada stereotipe yang erat melekat kepada penduduk Staten Island, kota kecil di pulau selatan bagian dari New York, yang sebagian besar memang membuat mereka dapat citra yang kurang membanggakan. Akibat gambaran serial tivi seperti Jersey Shore, remaja-remaja di Staten Island kini dikenal sebagai makhluk yang ignorant, sukanya party, ‘makek’, keras kepala, dan cewek-ceweknya hobi banget tanning ampe kulit jadi berwarna orange. Gaya bicara hingga kosa kata khas mereka pun sering diperolok. Dan walaupun stereotipe itu cuma karakterisasi dan gak semuanya benar, tidak semua remaja di sana beneran seperti demikian, Scott Carlin, menghidupi ‘traits’ tersebut hampir seratus persen, yang lantas membuatnya pantas untuk menyandang gelar Raja di Staten Island.
Cobalah berdialog sama Scott. Maka dipastikan dia akan ngelindur, hampir seperti bercanda tapi dia serius. Ajak dia ngobrol soal kehidupan; dia akan nyerocosin pandangan kekanakannya yang menyebalkan. Ajak dia berbincang soal pekerjaan, well, semoga beruntung menjawab jawaban yang positif darinya. Scott ingin jadi tattoo artist, tapi gambar karyanya hanya sedikit lebih baik dari corat-coret anak SD. Scott punya angan untuk membuka restoran tato, orang datang untuk makan sekaligus ngantri ditato. Mimpinya itu benar-benar merangkum kepribadian Scott. Dia punya passion, tapi terlalu nyeleneh. Dia mau berusaha, tapi terlalu lambat. “I am still figuring things out”, katanya, membuat sebal ibu serta adik perempuannya yang baru saja masuk kuliah. Bahkan pacarnya sendiri, cewek Staten Island tulen yang mau membuat ‘Staten Island great again!’, muak dengan Scott yang seperti mengulur-ulur hubungan mereka.
Sebagian besar film The King of Staten Island ini akan terasa seperti sajian slice of life. Tontonan kehidupan yang seperti tanpa tujuan, melainkan hanya memperlihatkan keseharian Scott, young-adult pengangguran umur 24 tahun yang masih tinggal serumah dengan ibunya yang sudah belasan tahun menjanda. Ketika sang ibu mulai berhubungan ke arah yang serius dengan seorang pria pemadam kebakaran, barulah film ini kelihatan tujuannya sebagai drama. Karena Scott gak suka pria tersebut. Untuk alasan yang personal. Dia membenci pemadam kebakaran karena pekerjaan itulah yang merenggut ayah kandung dari dirinya. Ayah yang meninggalkannya dengan segudang prestasi dan pencapaian dan kisah-kisah kepahlawanan yang eventually menjadi beban bagi kehidupan Scott sebagai orang dewasa.

Kalo King ini ketemu Princess of Staten Island, it would be F-A-B-U-L-O-U-S-S

 
Melihat Scott melewati hari demi hari dengan practically gak melakukan apa-apa yang penting, secara mengejutkan sangat menyenangkan. Bahkan debat kusirnya dengan teman segeng, dengan pacar, dengan adik, begitu amusing. Kita bisa menangkap secercah poin ‘kebenaran’, atau mengerti alasan Scott, dan kita dapat melihat tokoh ini bukanlah seorang bad-boy. Suatu waktu dia menolak ikut gengnya merampok toko obat, menunjukkan Scott tahu mana baik mana yang buruk. Namun dia seringkali jadi kayak asshole dan bikin sekelilingnya kesel karena gak kunjung berubah. Itu semua hanya karena dia punya self esteem yang kelewat rendah. Dan inilah sebenarnya purpose dari cerita. Mengawal Scott mengenali masalah dalam dirinya, mencari penyebab kenapa standarnya begitu di bawah, dan dia seperti nyari alesan untuk menjadi lebih baik, dan berkonfrontasi dengan itu.
Semua itu karena Scott dibesarkan dengan cerita kepahlawanan sang ayah. Pemberani, baik hati, bertanggung jawab, selfless. Legenda di komunitas pemadam kebakaran. Ibunya menceritakan kehebatan ayah kepada Scott, malah membuatnya merasa itu adalah garis yang terlalu tinggi untuk dilewati. Apapun yang terjadi ia tidak akan bisa menjadi sehebat ayahnya. Sehingga selain menjadi gak suka ama kerjaan pemadam kebakaran, Scott juga jadi males berusaha tinggi-tinggi. Daging cerita ini terletak pada momen ketika Scott mulai – walaupun terpaksa – masuk ke dunia pekerjaan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Melihat seperti apa hidup sebagai pemadam kebakaran, mengetahui resiko-resikonya, dan ultimately mendengar langsung seperti apa sebenarnya sang ayah di luar kerjaan dan prestasi-prestasi tersebut. Scott enggak sadar inilah yang ia butuhkan. Untuk mengenal ayahnya, sebenar-benar kenal. Luar-dalam. Baik-buruk. Film lain akan memperlihatkan tokoh seperti Scott ini akhirnya menjadi pemadam kebakaran handal juga sebagai bentuk transformasi dan penyadaran diri. Namun The King of Staten Island tahu persisnya penyadaran itu seperti apa dan sekaligus mengerti bahwa perubahan itu butuh proses. Film bercerita dengan sangat bijak, dan bekerja segrounded-grounded-nya sehingga kita terus merasakan sesuatu yang real hingga ceritanya usai.

Tidak ada kata terlambat dalam menyadari siapa dirimu sebenarnya. Scott; dia bukan sebatas stereotipe remaja di suatu kota, dia bukan seniman tato yang gagal, atau bahkan – dia bukan anak pahlawan. Melainkan, yang harus disadari olehnya sendiri bahwa, dia adalah anak ayahnya. Just that. Sehingga dia bisa mengerti bahwa hidupnya adalah sepenuhnya keputusan sendiri, tidak berdasar atas standar yang ditetapkan oleh orang lain.

 
Yang membuat film ini unik adalah bahwa sebenarnya cerita ini bertindak sebagai semi-autobiografi. Sutradara Jude Apatow menulis naskah film ini bersama pemeran Scott, komedian Pete Davidson, yang di real life adalah anak seorang pemadam kebakaran yang juga jadi pahlawan dalam bertugas. Tepatnya, Ayah Pete gugur saat menyelamatkan orang-orang pada tragedi 9/11. Momen pada ending film ini dijadikan tribute untuk kejadian tersebut. Aku gak bakal bilang konteks atau kejadian tepatnya ending film ini seperti apa. But momen terakhir film ini adalah Scott sedang di Manhattan dan dia melihat ke arah Menara Kembar seharusnya berada. Yeah, saat mengetahui informasi ini semuanya juga jadi klik buatku. Aku sampai “wow, makanya” berkali-kali.
Wow, makanya Scott di film ini begitu natural. Davidson memainkan tokohnya dengan sangat personal. Memerankan karakter yang mirip dengan diri sendiri jelas bukan perkara gampang. Apalagi dengan tone komedi di balik drama yang harus dikenai. Salah-salah karakter tersebut hanya akan jadi seperti parodi yang sama sekali enggak manusiawi. Davidson berhasil keluar dari jebakan karikatur tersebut. Dia mengeksplorasi grief terhadap kematian ayahnya, perjuangan dalam hidup menjadi dewasa, relasi dengan keluarga; dia menarik semua itu dari dalam hatinya dengan tidak pernah berlebih. Just enough untuk membuat tokohnya menjadi sedemikian nyata. Film ini punya pesona sehingga kita tetap peduli pada Scott. Meskipun bagi tokoh lain, dia menyebalkan. Komedi yang hadir dari dialog dan interaksi tokoh ini tidak sekalipun terasa dipaksakan. Para tokoh pendukung, dan juga remaja-remaja Staten Island yang lain tidak serta merta annoying karena kita dapat melihat menembus stereotipe yang udah terbentuk.

Mungkin kalo kita minta ditato dengan gambar wajahnya, Scott baru sudi berusaha lebih keras.

 
 
Normalnya, film kayak gini akan langsung mulai dari titik terendah tokoh, lalu babak satu berakhir dengan dia keluar dari zona itu, yang berarti Scott mulai tercemplung ke dunia ayahnya. Cerita biasanya akan berakhir dengan Scott menjadi semacam pahlawan. Tapi arahan Apatow sama sekali berbeda. Dia menarik jauh ke belakang. Kita baru melihat Scott berada di pemadam kebakaran setelah midpoint. Dan film seperti berakhir prematur, sebelum Scott benar-benar punya pencapaian. Ini, dan fakta bahwa durasi cerita mencapai dua jam lebih, sekiranya berpotensi membuat penonton gak-sabar dan menyerah pada kejengkelan. It really takes a while untuk film ini berjalan sesuai tujuannya. Paruh pertama – yang bagian ‘slice of life – berjalan seperti ngalor ngidul. Banyak juga tokoh yang ilang-timbul begitu saja, persis kayak di real life; orang-orang akan keluar masuk hidupmu tapi kita juga move on dan terus berjalan. Hanya saja memang dapat dimengerti kalo mungkin ada sebagian dari kita yang geram ingin meringkas ceritanya menjadi bagian-bagian penting saja yang ditampilkan.
Aku pun sempat berpikir demikian. Namun jika memang cerita ini dipersingkat, enggak perlu se-elaborate itu melihat kegiatan Scott dan kawan-kawan, menurutku film akan kehilangan pesonanya. Aku meragukan hasilnya akan menjadi lebih menarik, atau bahkan lebih baik. Karena tujuan film membuat paruh awal yang berkepanjangan dan ke mana-mana itu adalah untuk menghidupkan Staten Island itu sendiri sebagai sebuah karakter. Dari bagaimana penduduknya, seperti apa rupanya, semua dijadikan sebagai penciri karakter. Jadi selain untuk meng-emphasize persoalan ‘figuring things out’ supaya kita makin relate, di separuh awal film juga ingin membangun tempat itu bersama dengan tokoh utamanya. Sehingga Staten Island juga mendapat lapisan di balik stereotipe yang menimpanya.
 
 
 
Sajian komedi yang penuh pesona. Baik itu dari karakter maupun dari kota yang menjadi tempat para karakter itu hidup. Kuat oleh sense of realism karena berhasil mengakomodasikan statusnya sebagai drama-komedi semi-otobiografi tanpa terpeleset menjadi sebuah parodi. Tentu saja semua ini tercapai berkat arahan dan permainan akting yang luar biasa. Ceritanya memang tergolong panjang dan seperti terbagi menjadi dua bagian. Namun kita tidak akan bosan ataupun merasa jengkel kepada tokohnya. Melainkan akan merasa hangat oleh momen-momen ajaib-tapi-genuine di dalamnya. Dan Scott dalam film ini bisa jadi inspirasi bagi orang-orang yang juga lagi terlunta-lunta dalam hidup, membantu kita untuk “trying to figure this shit out”.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE KING OF STATEN ISLAND.

 

 
 
That’s all we have for now.
Bagaimana dengan daerah/kota kelahiranmu? Apakah kalian punya koneksi dengannya? Sebesar apa peran kota terhadap pendewasaanmu?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA