IVANNA Review

 

“Losing your head in a crisis is a good way to become the crisis.”

 

 

Horor adalah salah satu genre film paling populer di Indonesia (jaminan laku, untuk sebagian besar waktu!) but here’s one thing about horror in Indonesian mainstream cinema: Kita punya banyak sutradara horor yang kreatif, keren, dan could legitimately scare the shit out of us, akan tetapi jumlah penulis naskah yang benar-benar paham dan mengembangkan cerita horor tidak banyak. Kondisinya memang setimpang itu. Bahkan dalam film-film Joko Anwar yang disepakati secara umum sebagai top tier horor di perfilman kita, ketimpangan itu terasa. While the scare was great, atmosfernya mencekam total, tapi ceritanya either karakterisasinya lemah, punya fantasi yang terlalu ribet, atau berakhir dengan ending yang gak ngeresolve apapun. Kebanyakan film horor kita masih dipandang sebagai wahana seru-seruan untuk penonton (khususnya remaja). Padahal cerita horor, dalam bentuk terbaik, bisa menjadi perjalanan personal yang membekas karena horor pada dasarnya menggali ketakutan yang bersumber dari perasaan-perasaan terburuk, terkelam, yang bisa dialami oleh manusia. Kan, sayang sekali kalo horor hanya digunakan untuk jerit-jeritan.  Nah, bicara tentang sutradara horor yang keren, Kimo Stamboel juga adalah salah satu yang sudah dikenal berkat konsistensi menghadirkan warna dan gaya filmnya sendiri. Film sadis-sadis. Makanya kiprah Kimo untuk menggabungkan darah dengan supranatural selalu dinanti. Dengan Ivanna, tentu saja Kimo diharapkan memberikan dobrakan dahsyat buat seantero franchise Danur. But then again, horor hantu tanpa-kepala yang ia hadirkan di sini hadir tanpa tulang-punggung alias tanpa naskah yang kuat.

Ivanna versi Kimo sedikit berbeda dengan Ivanna yang pernah bikin kita jantungan di Danur 2: Maddah (2018) dulu, meski diperlihatkan lewat backstory dari foto dan buku diari bahwa keduanya adalah karakter yang sama.  Ivanna adalah gadis Belanda yang hidup di tahun 1943, ia dan keluarganya menumbuhkan rasa cinta kepada Indonesia, sampai-sampai adik Ivanna dinamai dengan nama orang Indonesia. Tapi ada perbedaan yang mencolok, yaitu kepalanya. Ivanna di film ini berkepala buntung.  Kalopun ada kepalanya, Ivanna di sini bukan diperankan oleh pemain sebelumnya, melainkan oleh Sonia Alyssa (Gadsam lain setelah Aulia Sarah di KKN yang mencuri perhatian lewat peran hantu!) Ivanna versi Kimo lebih violent. Dia balik menaruh dendam kepada orang-orang pribumi yang tadinya mulai perlahan ia kasih simpati, lantaran kebencian pribumi membuatnya tertangkap oleh prajurit Jepang yang lantas memenggal kepalanya. Backstory ini dilakukan Kimo lewat pengadeganan yang brutal dan naas (mind you, this is a 17+ movie) Kisah hidup Ivanna tak pelak jadi pengisi yang paling menarik yang dipunya film ini. Walaupun penempatannya dilakukan sebagai flashback eksposisi, tapi inilah bagian yang paling rich dan emosional yang dipunya oleh film. Pengennya sih mereka menggarap Ivanna lebih dalam, porsinya diperbanyak, tapi karena Ivanna adalah hantu yang jadi antagonis utama, it is kinda hard to do. Jadi, in a way, film ini masalahnya mirip ama film-film Marvel belakangan ini. Tokoh jahatnya jauh lebih menarik dan lebih berlapis karakterisasinya ketimbang protagonis utamanya.

Aku masih bingung kenapa di Maddah kepala Ivanna bisa normal lagi, tapi mari abaikan saja for the sake of the story.

 

Yang aku suka dari arahan film ini adalah Kimo took the time. Dia gak terburu-buru untuk langsung ke hantu-hantuan. Sutradara mengambil waktu untuk melandaskan semuanya, sambil bermain-main dengan aspek-aspek horor lain. Adegan openingnya saja kita udah lihat orang kena tembak tepat di wajah! Film berusaha mengeksplorasi dulu adegan penyerbuan rumah, bikin adegan-adegan seram dari atmosfer dan lingkungan. Selain juga tentunya memperkenalkan para karakter manusia, dan menghubungkan mereka dengan persoalan yang dialami oleh Ivanna.  Di sinilah letak ‘sayangnya’. Sayang naskah film ini tidaklah mendalam. Rating dewasa yang dipunya film hanya merujuk ke adegan pembunuhan yang sadis, bukan kepada kematangan film pada tema ataupun dialog. Tidak ada esensi di balik pengenalan karakter lain. Mereka hanya orang yang berada di rumah tempat mayat Ivanna bersemayam (mayat yang telah dijadikan patung)

Protagonis utama cerita ini adalah Ambar (dimainkan oleh Caitlin Halderman, dengan tantangan bahwa karakternya bermata nyaris buta) yang baru tiba di panti jompo bersama adiknya. Tentu saja tempat itu normal pada awalnya. Ambar kenalan dengan para penghuni; dua penjaga panti, tiga elderly, satu remaja keluarga nenek di sana. Mereka bersiap-siap untuk lebaran esok hari. Namun malamnya, Ambar gak sengaja menemukan basement rahasia. Di situlah mereka pertama kali melihat peti berisi barang-barang peninggalan orang Belanda, dan patung alias mayat Ivanna. Malamnya teror pertama dimulai. Suara gramofon, suara orang-orang ngobrol, dan ada pembunuhan. Praktisnya, lebaran mereka semua jadi horor saat mayat seorang penghuni ditemukan dalam keadaan tanpa kepala. See, sebenarnya ada lapisan di ‘panggung’ ini. Ada setting lebaran, lalu penglihatan yang terbatas, semuanya diintegrasikan ke dalam narasi. Cukup untuk membuat film ini enggak standar misteri di bangunan berhantu. Malah sempat ada elemen whodunit saat penghuni saling curiga siapa yang membunuh (walau enggak lama, well ya karena Ivanna basically duduk di ruang tengah mereka). Tapi karena gak ada paralelnya antara Ambar dan Ivanna; Kenapa Ambar harus rabun juga gak benar-benar ditegaskan selain untuk kepentingan ‘membuat lapangan horor jadi menarik’. Film begitu supaya Ambar ada alasan bisa melihat flashback dan dia jadi bisa nyeritain apa yang terjadi kepada karakter lain. Dialog-dialog mereka memang jadi lebih mirip kayak ngasih informasi misteri ketimbang interaksi kayak pergaulan orang beneran. Maka film ini malah bisa jadi tampak agak lambat di awal. Karena segala set up jadinya pointless.  Tanpa ada makna atau sekadar ikatan di baliknya, semuanya jadi kayak buang-buang waktu aja. Mending full bunuh-bunuhan aja, gak usah kenalin karakter-karakter.

Tadinya kupikir, cerita bertempat di panti jompo, dengan orang-orang tua dipertemukan dengan karakter remaja (bahkan ada anak kecil), bakal ngasih sesuatu komentar tentang gap generasi atau semacamnya – kayak di film X(2021), tapi ternyata enggak ada bahasan yang lebih mendalam di lingkup itu. Mati di sini memang seram dan menggemparkan, tapi ya hanya mati. Film sendiri bahkan tidak peduli amat sama karakter yang mati selain untuk showcase teknik gruesome. Kepentingannya hanya untuk melihat adegan mati. Benar-benar tidak ada development karakter di sini. Ambar di awal dan akhir cerita, adalah pribadi yang sama. Tidak ada belief ataupun sudut pandang yang ditantang. Heck, bahkan kupikir cast yang blasteran bakal berpengaruh ke persoalan Ivanna yang bule Belanda dengan pribumi. Enggak ada ternyata. Kasiannya, tanpa karakterisasi mumpuni, Ambar hanya jadi kayak perpanjangan gimmick penceritaan saja. Sebagai media flashback, sebagai mouthpiece eksposisi, sebagai pengasih solusi.

Untuk ngisi paragraf blok ini aja aku bingung. Biasanya kan ini tempat aku menguraikan pesan atau tema filmnya. What’s the movie really about. Aku gak tau apa yang didapat Ambar dari pengalamannya diteror Ivanna, atau juga apa yang ‘dipesankan’ Ivanna kepada kita. Yang bisa aku dapat dengan reaching adalah Ivanna jadi tragedi karena dia lose her head, secara simbolik ataupun beneran.  Dia dipenggal, setelah sebelumnya sempat mengutuk sebagai respon kebencian yang ia dapat. Apakah Ivanna salah di sini karena mengutuk balik? Apparently so, karena antitesisnya di sini – yaitu si Ambar – menggunakan kepala yang lebih dingin ketika krisis hantu di panti. Ambar lebih resourceful, dan dia bisa menemukan cara untuk mengalahkan Ivanna.

 

Kasian Ambar adegan jatuh ampe tiga kali

 

Sutradara seperti Kimo mau ngambil proyek Danur Universe jadi big deal karena perbedaan gaya yang memang drastis. Ini sebenarnya mirip ama Thor yang diambil oleh Taika Waititi. Mengubahnya dari serius, ke kini jadi konyol. Kimo mengambil dari franchise yang biasanya gak sadis, dan membuat film yang penuh darah. Membuat film yang lebih dekat ke franchise The Doll, yakni horor slasher. Tapi tentu saja horor tidak terbagi menjadi film horor jelek dan film horor sadis. Sebagaimana superhero tidak terbagi menjadi film superhero jelek dan film superhero serius. Semuanya dalam kelas masing-masing. Ada film konyol yang jelek, ada yang bagus. Ada horor sadis yang jelek, ada horor sadis yang bagus. Menilai film ini juga mestinya seperti itu. Tidak dari sejauh mana ia berbeda dari akar franchisenya, tapi dari pencapaiannya di kotak dia berada sekarang. Jadi di mana kita menempatkan Ivanna sekarang?

Harusnya sih di kotak horor slasher, ya. Sesuai dengan spesialisasi sutradaranya. Tadinya kupikir Kimo bakal dapat kebebasan penuh menggarap ini sesuai visi dan gayanya. Dan memang kita bisa melihat perbedaan tersebut. Film Ivanna jauh lebih kelam dan berdarah dibandingkan film-film lain di franchise Danur. Namun entah mengapa, aku masih merasa film ini masih belum terbebas sepenuhnya. Ada banyak pilihan gimmick horor mainstream. Terutama jumpscare. Here we have horor dengan pembuat yang jago bikin adegan berdarah-darah, tapi sebagian besar adegan seram masih bergantung kepada fake jumpscare (jumpscare yang bukan terjadi karena ada hantu) bersuara keras. This film is just loud. Kalo bukan oleh suara-suara, ‘berisiknya’ film ini bakal datang dari penjabaran atau eksposisi mitologi Ivanna (padahal udah ada adegan flashback juga). Bukti berikutnya horor Ivanna kurang maksimal kudapat di ‘final battle’ Ambar dengan Ivanna. Mereka nyemplung ke sumur tua, dan… adegannya kering banget. Like, literally. Air padahal elemen dan estetik yang hebat untuk cerita horor. Bandingkan saja dengan ‘final battle’ di dalam sumur pada film Ring. Heran juga kenapa Kimo gak jor-joran di sini. Padahal biasanya adegan akhir horor, apalagi slasher, pasti bakal gila-gilaan. Pemain utama bakal didorong fisiknya di sini, dan air bisa jadi medium yang hebat untuk nunjukin perjuangan yang ditempuh. Gak mesti full underwater, yang penting bikin supaya perlawanan terakhir itu tervisualkan. Di Ivanna ini, Ambar bahkan lukanya lebih merah saat jatuh ke basement ketimbang ke dalam sumur.

 

 

Ini certainly film yang lebih fun di antara franchise Danur lainnya. Paling beda. Paling sadis. Paling kelam. Arahannya juga paling menonjol. Terasa punya gaya tersendiri. Dari pengadeganan yang ngasih depth, kejadian film gak hanya berlangsung kiri ke kanan atau sebaliknya tapi juga masuk ke depan layar; membuat panggung yang imersif, sampai ke gimmick penceritaan horor yang lebih beragam. Film mau mengambil waktu untuk memperkenalkan karakter dan membahas backstory. Jika saja naskahnya diberikan kedalaman yang serupa, jika skenarionya lebih mengeksplorasi karakter ketimbang memikirkan jumpscare dan pembunuhan berikutnya, tentulah film ini bisa jadi horor slasher – gabungan bunuh-bunuhan dan supranatural – yang cemerlang. Tapi melihatnya secara objektif sekarang, film ini  style over substance, dengan beberapa gaya bahkan tidak tampil sebebas yang seharusnya bisa dilakukan.
The Palace of Wisdom gives 5  out of 10 gold stars for IVANNA

 

 



That’s all we have for now.

Ivanna adalah gadis Belanda yang bersimpati kepada rakyat pribumi, tapi karena bangsanya penjajah, dia tetap dibenci. Bagaimana pandangan kalian soal ini, apakah pribumi-pribumi itu berhak membenci Ivanna yang bagaimana pun juga ada di sana sebagai bagian dari agenda penjajahan?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 


MADU MURNI Review

 

“What makes a man”

 

 

Apakah poligami itu sebenarnya cuma urusan laki-laki dengan ego dan harga dirinya saja? Wah agak berat memang bahasan soal ini. Taroklah memang boleh, tapi apakah semua yang diperbolehkan harus kita lakukan. Kenapa kita memilih untuk melakukannya. Jujur aku gak paham soal beginian, Boro-boro mikirin dua, perihal satu yang lama yang kandas dengan sukses aja aku masih belum completely move on. Namun Monty Tiwa menemukan cara manis untuk membahas permasalahan poligami yang terkandung dalam skenario yang ditulis Musfar Yasin. Cara yang tidak ngejudge ataupun mencoba mendekonstruksi keyakinan pihak manapun. Melainkan pure dari sudut pandang karakter yang ditempatkannya dalam sebuah dunia drama komedi yang grounded. Sehingga menonton Madu Murni terasa seperti gurauan, tapi juga sekaligus accomplish so much dalam term karakter-karakternya yang boleh jadi ada perwujudannya di sekitar kita.

Cerita tentang pelakor memang lagi in di kita. Begitu juga dengan poligami, yang jadi polemik hangat di masyarakat. Sebagian ada yang mendukung (setengahnya beneran dukung dan setengahnya lagi cuma bisa pasrah), sebagian ada yang menentang. Karena isunya berada di tengah-tengah masyarakat itulah, Madu Murni juga menempatkan diri gak jauh-jauh dari lingkungan masyarakat umum. Karakternya tidak dipotret dari kalangan menengah ke atas, yang akar poligaminya lebih ke persoalan gaya hidup bebas yang bablas, atau ke yang bisa karena duitnya ada. Madu Murni pengen memperlihatkan apa yang menurut mereka jadi sumber utama. Ingin memperlihatkan bahwa keinginan poligami bisa dirasakan oleh lapisan manapun, asalkan di situ ada pria yang merasa insecure dengan posisinya sebagai seorang pria.

Meet Badrun.  Simbol keperkasaan seorang mantan guru ngaji yang kini jadi tukang pukul kekar bernama Mustaqim. Badrun juga adalah antagonis bagi Mustaqim, karena Badrun benar-benar menghalangi apa yang diinginkan oleh Mustaqim. Pria itu katanya pengen punya keturunan, jadi dia menikah lagi dengan seorang janda tiktok di kampung. Padahal sebenarnya Mustaqim menikah lagi karena istrinya, Murni, ogah menerima duit hasil dari kerjaan preman yang ia lakukan. Murni bisa nyari pegangan duit sendiri dari usaha warung. Ini adalah cakaran pertama bagi honor Mustaqim sebagai seorang kepala keluarga. Makanya dia cari tuh, keluarga baru yang bisa ia take care. Di sinilah si Badrun berulahAtau mungkin tepatnya, tidak-berulah. Badrun gak mau berdiri. Istri muda Mustaqim, si Yati, ampe uring-uringan terus setiap malam. Sedangkan si Mustaqim sendiri, so pasti makin nelangsa. Dia makin merasa helpless, gak jantan. Mau taroh di mana mukanya sebagai seorang pria? Mustaqim terus berusaha membangunkan Badrun, tanpa benar-benar menyadari apa yang sebenarnya membuat pria itu pria.

Seperti dendam, malam pertama harus dibayar tuntas

 

Bagaimana mungkin pria dewasa berbadan kekar bisa mendadak loyo? Ya, obat masalah Mustaqim bukanlah sate kambing, sop torpedo, atau segala macam ritual dukun-dukun. Inilah yang menarik dari film Madu Murni. Di balik raunchy humor seputar usaha pasangan suami-istri menggolkan Badrun, film mengajak kita untuk menyelam ke dalam permasalahan psikologis Mustaqim. Karena tentu saja ketidakkompakan si Badrun itu adalah masalah mental. Namun belum jelas, apakah rasa penyesalan, apakah rasa kegagalan, atau apakah ada hal lain yang dirasakan oleh Mustaqim sehingga mengganggu performanya. Penggalian terhadap itu yang membuat film ini menarik. Dan ketika tiba saatnya menggeledah kerapuhan sisi emosional Mustaqim, film dengan mulus menyublim dari komedi menjadi bahasan drama yang dewasa. Konfrontasi Murni istri pertama dengan dirinya, ataupun dengan istri mudanya. Konfrontasi Mustaqim dengan Badrun di saat personal dirinya. I think this film did a great job memasukkan adegan-adegan emosional itu ke dalam tone komedi yang merakyat nan sederhana. Tidak sekalipun film ini jatuh ke ranah lebay ataupun receh. Walaupun dunia panggung ceritanya dapat terasa sangat ajaib, tapi film tetap berpegang kepada how real perasaan yang dialami oleh karakternya. Kepada perspektif geunine dari karakternya.

Bukan fisik gede yang membuat cowok disebut perkasa. Bukan seberapa jago dia berantem, atau seberapa kuat dia berkuasa. Harga diri cowok sebagai pria – katakanlah kejantanannya – justru terletak dari bagaimana dia memperlakukan orang-orang terdekat, istrinya – keluarganya – sahabatnya. Bagaimana dia menjaga janjinya. Bagaimana dia melindungi yang lebih lemah. Dan pada gilirannya, bagaimana cara dia menghandle kelemahan yang dipunya. Hal inilah yang harusnya dijaga oleh lelaki, ketimbang gagah-gagahan.

 

Inner aspect tersebut tertampil lebih menarik lagi karena mencuat dari karakter-karakter yang ajaib. Mereka itulah yang menyebabkan film ini pantas menyandang genre komedi. Madu Murni dihidupi oleh karakter-karakter yang lain dari yang lain. Ada tukang pukul yang badannya kecil, suaranya nyaring, tapi sangarnya minta ampun (bayangkan Komeng kalo jadi tukang pukul). Bahkan luka codetnya punya ‘cerita’ tersendiri. Ada karakter bos preman yang bicara pake boneka, yang bangun markas penuh performance arts jalanan. Ada bapak-bapak yang tampak lemah tapi punya backingan anak-anak jagoan. Mereka-mereka ini membuat perjalanan Mustaqim menjadi berwarna, tapi juga tidak sampai mendistract kita dari karakter sentral tempat film menuliskan pesan dan gagasan. Tiga karakter sentral benar-benar ditulis oleh film dengan lapisan yang cukup berlapis. Karakter Yati, si bini muda, misalnya. Gampang membuat karakter ini jadi pelakor jahat yang gak benar-benar punya cinta, ataupun membuatnya jadi komedi atau bahan selorohan saja. Yang dibangun tipikal berbodi seksi dan sebagainya. Lapisan tersebut memang ada pada Yati. Adegan yang bikin penonton di studioku ngakak paling keras kan pas Yati marah-marah dan ngambek ngomong langsung ke si Badrun. Tapi beberapa adegan kemudian, penonton terdiam terhanyut di dalam emosi saat Yati meledak menumpahkan isi hatinya kepada Mustaqim di jalanan. Ya, Madu Murni ternyata juga memberi ruang kepada karakter seperti Yati untuk menggali perspektifnya; pelakor yang dianggap semua orang jahat, ternyata tetap manusia di dalamnya. Aulia Sarah kini benar-benar dapat waktu untuk menggali permainan peran dan emosi, gak sekadar menampilkan presence saja.

Mustaqim dan istrinya, Murni, diperankan oleh real-life couple, Ammar Zoni dan Irish Bella. Sehingga chemistry jadi gak begitu masalah buat mereka. Lihat saja dialog di menit-menit awal, yang direkam gak-putus. Perbincangan mereka tentang duit hasil kerjaan tampak natural, ini jadi pondasi cerita yang cukup kokoh. Naik-turun, hingga emosi tertahan dapat kita rasakan di sini. Tadinya kupikir Mustaqim bakalan urakan, kayak Ajo Kawir di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). You know, like, kupikir dia juga jadi tukang pukul demi melampiaskan ego maskulin, kompensasi dari ‘penyakit’ Badrun. Ternyata tidak, Mustaqim sedari awal sudah seorang pribadi yang pikirannya bisa dibilang lurus. Dia kerja jadi tukang pukul, tapi enggak membuatnya suka berkelahi. ‘Penyakit’ Mustaqim bisa dibilang lebih unik, karena tergambarkan sebagai sesuatu yang  lebih ke arah psikologis. Gak setiap hari kita dapat film yang berani ngasih lihat karakter dengan bentukan jagoan terlihat begitu vulnerable. It’s not easy nunjukin sisi vulnerable dari situasi yang sangat kontras, dan Ammar Zoni berhasil memainkannya dengan solid, berani mengeksplor karakter itu.

Semasa hidupnya pun Badarawuhi sudah gangguin hubungan orang

 

Perspektif semakin berusaha diseimbangkan lagi oleh naskah dengan turut membahas sisi Murni. Film bahkan menjadikan ‘keadaan’ Murni sebagai judul, demi menunjukkan concern terhadap sudut perempuan yang diduakan dalam problematika poligami. Peran Murni memang memberikan banyak suntikan dramatis, tapi untuk fungsinya itu, Murni jadi agak satu-dimensi. Perempuan lembut yang terluka. Cinta yang harusnya dikenali sekali lagi oleh Mustaqim. Fungsi itu membuat Murni tertampil bersedih-sedih. Dan ketika film membuat solusi yang ia tawarkan jadi pertaruhan berikutnya bagi harga diri Mustaqim, karakter Murni bisa berbalik tampak annoying. Meskipun sebenarnya hadir sebagai pemantik simpati, Murni bisa tampak membosankan. Menurutku, karakter Murni harusnya bisa lebih dikembangkan lagi. Taruh dia di situasi yang lebih bervariasi. Memang, film mencoba menempatkannya di situasi komedi. Ada adegan dia berkonsultasi ke dokter, hanya saja keseluruhan sekuen ke dokter tersebut tidak kuat dikarenakan mereka pergi ke dokter yang ‘salah’ Sehingga tidak benar-benar berarti banyak selain untuk cameo komedi.

Ngomong-ngomong soal komedi, I do think ada porsi-porsi komedi yang terlalu dipanjang-panjangin. Tone film sebenarnya cukup imbang, dan ada transisi yang mulus ketika film berpindah ke bahasan yang lebih serius. Hanya saja tempo atau pace film yang kurang balance berkat terlalu lama menertawakan suatu hal. Misalnya, bagian Mustaqim dan Yati nyoba berbagai obat dan cara setiap malam. Sebenarnya ini bisa saja dilakukan dengan montase, karena poinnya kan ingin nunjukin segala macam cara dicoba tapi Badrun gak bisa bangun. Kalo poin tersebut sudah terestablish, ya langsung lanjut ke poin lain aja. Tapi film melakukan cara-cara itu dengan benar-benar elaborate. Sehingga terasa jadi repetitif, dan membuat film untuk beberapa menit stuk di tempat yang itu-itu saja. Siang nagih hutang, malam trouble in paradise. Esensi narasi sebenarnya kan untuk nunjukin bagaimana Mustaqim memaknai dan belajar dari kegagalan berdiri itu. Bagaimana itu mempengaruhi kehidupannya, mempengaruhi hubungannya dengan Murni dan lain-lain. Bagian yang penting itu jadi datang sedikit terlambat, karena film terlalu lama nunjukin komedi yang timbul dari Badrun gak bisa bangun.

 

 

Film ini berhasil menyuarakan gagasannya dengan harmless. Mengulik isu poligami yang sedang trend dibicarakan dengan berimbang dan mengembalikannya kepada karakter. Inilah kunci keberhasilannya. Naskah, yang berhasil mengeksplor karakter dan membuat mereka genuine. Dekat. Sehingga problem mereka bisa terproyeksikan dengan mulus. Menghadirkan kisahnya sebagai komedi juga membuat film ini semakin mudah akrab dengan penonton. Vibe film ini sersan banget, serius tapi santai. Tone-nya imbang. Temponya saja yang sedikit kurang lancar.  Lama mencapai klimaks adalah hal yang bagus di ranjang, tapi buat penceritaan film, hal itu bisa menjadi masalah. Karena harusnya penceritaan bisa dilakukan dengan lebih baik lagi.
The Palace of Wisdom gives 6  out of 10 gold stars for MADU MURNI

 

 

 

That’s all we have for now.

Jadi, apakah poligami itu sebenarnya memang cuma urusan laki-laki dengan ego dan harga dirinya saja?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

KKN DI DESA PENARI Review

 

“We need to remember across generations that there is as much to learn as there is to teach.”

 

 

 

Semua hal yang populer, perlu untuk dibuatkan menjadi film. Kalimat itu benar mutlak, kalo kalian punya pemikiran seperti studio/PH gede. Maka dari itulah film-film yang kita dapati sekarang, semakin banyak yang dibuat dari cerita yang entah itu remake dari film lain, adaptasi dari novel atau sastra, adaptasi komik – atau game – atau lagu – atau bahkan ‘adaptasi’ dari apapun.  It is just easier (dan less riskier) menjual sesuatu yang udah ketahuan ada pembelinya. Cerita original bukannya gak ada peminat ataupun gak ada yang mau bikin. Hanya memang munculnya agak jarang karena ‘perjuangannya’ lebih panjang untuk bisa lolos difilmkan. Harus dipopulerkan dahulu. Caranya? Ya beragam; bisa digimmick-kan, bisa dengan ambil aktor atau pembuat yang lagi hits, atau yang lucunya – ‘terpaksa’ dijadiin buku dulu. Sehingga jadi gak dianggap original lagi.

Di detik ini, udah susah untuk  mastiin apakah cerita KKN di Desa Penari adalah cerita original yang didesain untuk viral dulu sebelum digarap jadi film, atau memang karena viral maka difilmkan. Wallahualam. Yang jelas, thread Twitter yang muncul di 2019 itu memang sensasional. Semua orang yang kukenal, bilang sudah membacanya. Kalo sudah serame itu, kehadiran filmnya memang tinggal menunggu waktu (dan damn Covid memastikan kita menunggu untuk waktu yang bertambah-tambah). Hanya saja, here’s the thing about adaptation. Ekspektasi bakalan tinggi. Menyadur alih-medium itu gak gampang. Tantangan sutradara Awi Suryadi di proyek KKN ini berat. Karena jika ternyata film ini kalah seram ama threadnya yang berhasil viral itu, maka ya berarti storytelling-nya kalah telak dan juga berarti studio filmnya gak mampu ngehandle cerita seram yang bagus.

Seenggaknya buatku nonton film ini terasa original, karena aku gak baca thread-nya sebelum ini

 

Genre Horor, sejak meledak oleh Hollywood di 70-90an, suka mengangkat kisah remaja yang terdampar di hutan atau tempat asing, dengan pembunuh atau makhluk menyeramkan mengincar. Sekelompok remaja yang modern dan bebas akan dikontraskan hal-hal yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Biasanya awal masalah dimulai ketika ada satu orang yang melanggar ‘aturan’ di tempat tersebut. Horor itu sendiri adalah simbol dari nilai-nilai yang diantagoniskan oleh sosok remaja. Aturan, orang tua, tanggung jawab, dan sebagainya. Cerita KKN di Desa Penari fits that mold perfectly. Enam orang mahasiswa harus KKN supaya bisa lulus, tapi sialnya desa yang mereka pilih adalah desa yang sungguh misterius. Lokasinya jauh di dalam hutan, penghuninya orang tua semua, banyak sesajen di mana-mana, dan sesekali terdengar suara gamelan entah dari mana. Tadinya kupikir bakal keren sekali, film horor lokal yang gak sekadar niru formula horor barat melainkan punya identitas lokal. Para mahasiswa bener-bener ada alasan kuat untuk berada di TKP. Bukan alasan sepele kayak liburan, ngevlog, atau semacamnya. Dan sebagai yang pernah ngerasain KKN, ya cerita ini relate. Anak KKN mana sih yang gak punya pengalaman horor sepulang dari desa yang ditugaskan.

Pengalaman horor tersebut erat kaitannya dengan cueknya remaja dengan aturan desa yang aneh dan gak logis, atau juga dengan kebiasaan di sana yang berbeda sekali dengan di tempat asal. Singkatnya, only natural bagi cerita seperti ini untuk memakai formula fish-out-of-water. Dalam KKN di Desa Penari, ‘fish’nya adalah Nur dan lima orang teman. Mereka gak boleh sompral. Gak dianjurkan pake pakaian terbuka. Terutama gak boleh masuk ke wilayah hutan yang disebut penduduk desa Tapak Tilas. Tentu saja aturan-aturan tersebut tetap terlanggar juga oleh teman-teman Nur. Keberadaan mereka jadi ternotice oleh lelembut penguasa di situ, Badarawuhi, yang langsung menempel ke teman yang cewek, merayu teman yang cowok, dan bikin perjanjian sama teman yang satu lagi. Sebelum mereka semua diambil, Nur yang punya ‘pelindung’ berusaha mengarahkan teman-temannya kembali ke ‘jalan yang benar’.

“Sebagai yang waktu kuliah dulu sering harus tinggal di daerah pelosok (bukan hanya saat KKN), aku memang sependapat sama film ini. Bahwa semuanya adalah soal respect. Betapapun gak logisnya aturan dan tahayul di hutan, ikutin aja. Bukan soal percaya atau gak percaya. Melainkan soal menghormati yang punya tempat, alias penduduk lokal. Dialog di ending saat orang desa merasa bersalah atas tragedi yang menimpa Nur dkk, sementara Nur juga merasa bersalah karena lalai menjaga kepercayaan benar-benar menunjukkan bahwa di mana pun, kapan pun, siapapun, sebenarnya sama-sama ingin saling menjaga.”

 

Cukup banyak sebenarnya poin-poin kejadian menarik yang dikandung oleh film ini. Aku suka bagian ketika para mahasiswa dihidangkan kopi hitam oleh tetua desa. Adegan tersebut digunakan sebagai set up untuk menghantarkan ke bagaimana para karakter nanti tahu siapa di antara mereka yang sedang ketempelan makhluk halus. Soal makhluk halus, film ini punya cukup banyak (emangnya film superhero doang yang bisa punya villain lebih dari satu!) Yang paling berkesan memang si Badarawuhi yang tampil magis dan merinding sekali dibawakan oleh Aulia Sarah berbusana penari tradisional. Setidaknya film ini got it right dengan membuat karakter-karakter hantunya terasa berada di level yang berbeda dengan karakter manusia. Sekuen di ‘hajatan’ juga aku suka, meskipun agak klise, tapi kejadian seperti itu paling relate buat cerita-cerita nyasar di hutan. Dan adegan di sana digambarkan dalam ‘nada’ yang paling berbeda dibandingkan dengan rest of the movie, sehingga jadi terasa sangat fresh.

Nada atau tone sebagian besar durasi itulah masalah yang pertama kali kurasakan saat masuk ke film ini. Terasa begitu monoton. Film tidak menampilkan banyak emosi atau suasana lain selain mood yang seram nan angker melulu. Para karakter mahasiswa tampak cemas, bingung, takut sepanjang waktu. Mereka udah kayak kurcaci di cerita Snow White, karakterisasinya hanya terdefinisikan oleh satu emosi. Si Jutek, Si Alim, Si Misterius, Si Pelawak. Nur, misalnya, dia kayak gak boleh bersuka ria atau bercanda oleh naskah. Kerjaannya cuma mencemaskan yang lain, dan ngingetin ibadah. Kita pengen melihat lebih banyak interaksi mereka, entah itu sesama mahasiswa ataupun dengan penduduk – you know, sekadar untuk ngingetin kalo mereka itu ada di desa untuk KKN. Ada tugas, ada goal. Poin-poin menarik yang kusebut di atas tadi mestinya bisa disebar dengan natural, bikin cerita benar-benar ada flow. Toh KKN beneran kan gak serem-sereman sepanjang waktu. Kita butuh untuk melihat para karakter sebagai manusia normal, mereka harusnya  ngalamin banyak hal di tempat itu. Cerita ini punya banyak elemen dan lingkungan yang bisa digali, tapi sutradara Awi Suryadi terpaku pada keadaan film yang sekarang sudah jadi sebuah adaptasi thread viral.

Keviralan tersebut malah jadi beban, ketimbang sesuatu yang membebaskan kreativitas. Alih-allih menjawab tantangan dia bisa bercerita lebih hebat daripada thread Twitter bercerita, Pak Sutradara lebih memilih untuk ngikutin apa yang sudah tertulis. Dan dia tidak melakukan hal selain itu. Makanya film ini nadanya jadi monoton. Karena ‘adaptasi’ dalam konteks KKN di Desa Penari ini bagi pembuatnya adalah tentang mewujudkan semua bagian-bagian mengerikan yang bikin ceritanya viral. Bukan adaptasi yang menafsirkan ke dalam bahasa film. Film ini hanya berisi scare demi scare. Struktur naskahnya tidak dipedulikan lagi. Di paruh akhir, baru para karakternya mengerti konflik dan apa yang harus mereka lakukan (mencari bangle Badarawuhi) Menit-menit awal aja aku udah ngakak karena film ini actually punya dua adegan opening, dan dua kredit pembuka. Dua kali kita ngeliat adegan baru-tiba-di-desa, naik motor masuk ke hutan – pembukaan pertama ceritanya masih survei desa, yang kedua baru beneran datang KKN dengan formasi lengkap. Dan di dua adegan pembuka yang mirip itu gak ada informasi yang berbeda. Benar-benar gak perlu – dan bisa saja dibikin jadi satu. Gak usah ngikut cerita di Twitter. Ketika jadi film, mestinya cerita bisa ditambah, misalnya, adegan mereka di kampus  ditunjuk KKN bareng. Dikasih tahu kalo ini kesempatan terakhir mereka untuk lulus sebelum di DO, misalnya. Menurutku adegan seperti itu harusnya ada supaya siapa para mahasiswa dan situasi mereka bisa benar-benar terbuild up dan kita jadi peduli.

Gabut amat KKN tapi kerjaannya kesurupan melulu

 

Ketawaku malah jadi lebih gede lagi ketika sampai di menjelang akhir. Tau-tau film ini membuat seolah Nur dan yang lain adalah tokoh asli, dengan ada adegan yang membuat film jadi kayak sebuah mockumentary. Gimmick ‘kejadian dari kisah nyata’ yang dipakai oleh thread Twitter-nya turut diadaptasi mentah-mentah oleh film ini, menghasilkan konsep tontonan yang benar-benar gak konsisten. Jika memang mau membuat ini jadi semacam mockumentary, menjual ini sebagai seolah kisah nyata, kenapa bangunan bercerita filmnya tidak dibentuk seperti itu sedari awal. Bisa dibilang, tidak ada tindak adaptasi yang dilakukan di sini, karena hanya tumplek plek kayak memvisualkan setiap kejadian seram. Tanpa dikomandoi ritme dan alunan alur cerita. Pun dalam memvisualkan juga gak bisa dibilang istimewa.  Kalo para bocil yang baca thread KKN dikasih kamera dan disuruh mengadegankan yang mereka baca, aku yakin hasilnya gak akan jauh dari adegan yang kita saksikan di film ini.  Sebegitu standarnya yang dilakukan pembuat film untuk menghidupkan ceritanya. Gak ada yang spesial. Pan kanan – pan kiri. Jumpscare. Kamera miring dikit. Drone. Menari. Jika MCU punya machination alias template pada arahan actionnya, maka film ini nujukin film horor kita punya template khusus adegan horor, dan  KKN ini ngikutin semuanya.

Konfrontasi terakhir dengan si ratu jin ular penari? Beuh, jangan ditanya! Konklusi Nur dengan ‘pelindung’nya? Jangan disebut! Karena memang film gak ngasih development apa-apa untuk protagonis utama kita. Tissa Biani pastilah ngerasa gabut banget meranin Nur. Dia cuma meringis karena bahunya berat. Gak ada aksi, gak ada pilihan, nyawaya pun tak pernah terancam bahaya. Cara dia menemukan bangle Badarawuhi pun cuma ‘kebetulan’ sekali. Nemunya gak susah. Nur cuma karakter moral, yang kadang tampak segala tahu. Siapa dia, backstorynya gak pernah digali. Di babak akhir dia cuma nangis merasa bersalah. Yang save the day justru karakter lain, yang namanya bahkan bisa tidak kusebutkan di sini tanpa banyak pengaruh apa-apa.

Dengan sering mundur tayang, film ini padahal punya banyak waktu untuk revisi. Jika gak bisa suting ulang, paling enggak editingnyalah diberdayakan. Tapi sekali lagi mereka membuktikan bahwa mereka tak peduli sama film ini selain untuk jualan. Karena yang actually mereka lakukan cuma merilis dua versi; reguler dan uncut. Aku tahu sex sells, tapi maan mereka membuatnya sangat obvious cuma mau menjual filmnya dengan adegan dewasa. Di bulan puasa! Padahal bisa aja rilis bersamaan dengan dua ending; taktik ini padahal di luar juga cukup langka. Yang benar-benar melakukannya pada rilis teater bersamaan (bukan di platform lain setelah filmnya turun) paling bisa diitung jari, misalnya Clue (1985) dan Unfriended: Dark Web (2018) Atau si KKN ini, since kayak pengen banget ngikutin threadnya, kenapa gak rilis dua sudut pandang yang berbeda (bersi Nur dan versi Widya)? Samar-samar terdengar tembang berisi jawaban: ya karena butuh kerja keras, bego!

 

 

 

Yea, this is bad. Namun bukan jelek dari materinya. Kita masih bisa merasakan potensi dan hal-hal menarik terkait horor remaja di desa di dalam sana. Afterall, threadnya bisa sukses tentu salah satunya berkat cerita yang bisa relate sekaligus bikin penasaran. Film ini terasa bad karena yang sekarang ini terasa kayak produk  jualan komplementer, pelengkap dari keviralannya. Pembuatnya enggak melakukan banyak untuk menghidupkan dan mengangkatnya ke dalam film. Karakter gak ada plot. Pengadeganan super standar. Bercerita dengan nada monoton, cuma wahana scare. Aku harap beberapa tahun ke depan, cerita ini diadaptasi oleh pembuat yang benar-benar peduli.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for KKN DI DESA PENARI.

 

 

That’s all we have for now.

My Dirt Sheet dan CineCrib sempat ngobrolin soal pengalaman seram selama KKN, di Episode Talks Youtube

Apakah kalian punya atau pernah mendengar pengalaman horor saat sedang KKN?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

BACKSTAGE Review

“A sister is both your mirror —and your opposite.”

 

 

Dunia panggung hiburan yang gemerlap ternyata juga ada hantunya. Tapi hantu di sini bukan hantu yang mati penasaran itu, melainkan yang penasaran pengen merasakan jadi bintang yang dipuja banyak orang tapi gak bisa karena fisik yang gak menjual. Fenomena ‘ghost singer’ – penyanyi yang suaranya dipakai sebagai suara orang lain – memang tak selangka yang kita kira. It happens every so often. Bahkan di Hollywood jaman old aja udah dinormalize aktor-aktor ngelip sync adegan musikal dengan menggunakan suara orang lain. Seperti yang kemudian dieksplorasi dalam cerita film Singing’ in the Rain (1952). Bahasan ghost singer dalam film-film memang biasanya seputar industri dan tentang tubuh (yang suaranya bagus biasanya yang kurang atraktif dibandingkan yang mau diorbitin sama produser). Backstage garapan sutradara Guntur Soeharjanto juga bercerita dengan panggung ghost singer. Tapi drama musikal ini punya lapisan yang lebih membumi, lebih personal. Karena film ini actually lebih banyak bicara soal persoalan kakak beradik perempuan. Bagaimana yang satu selalu ada bagi yang lain, meskipun perlahan itu memakan dirinya dari dalam.

Ngecast kakak-adik beneran jadi shortcut yang sangat kita apresiasi. Chemistry Sissy Priscillia dan Vanesha Prescilla menguar, drip out of screen, setiap kali mereka beradegan berdua. Benar-benar menambah banyak untuk realisme film. Sissy di sini jadi Sandra. Kakak yang sayang banget sama adiknya, sekaligus jadi tumpuan keluarga mereka. Vanesha jadi Elsa, adik yang lebih naif dan punya mimpi jadi aktris terkenal. Saat kafe tempat mereka bekerja bangkrut, mereka berdua bikin video Elsa bernyanyi lip sync pake suara Sandra, untuk audisi film. Tembus dong! Produser yang juga lagi kepepet, memilih untuk mengorbitkan Elsa sebagai penyanyi. Dengan memakai suara dan lagu Sandra. Awalnya Sandra ragu, karena itu membohongi publik dan resikonya besar. Tapi demi sang adik, dia bersedia. Video mereka diupload. Dan viral. Elsa terkenal. Mereka sudah on the way luncurin album. Tapi Sandra nelangsa. Kontrak menyebut dia tidak lagi boleh kelihatan bersama adiknya. Tidak mendapat kredit, namanya bahkan tidak muncul dalam pemberitaan soal keluarga Elsa. Things dengan cepat menjadi out of sync bagi hubungan persaudaraan mereka.

backstage1099676036
Elsa <knock knock knock> do you want to build a trouble?

 

Sudut pandang cerita ditampilkan berimbang. Elsa juga disorot. Bahwa itu semua juga tidak mudah baginya. Kita akan melihat ‘perasaannya’ ketika mau nampil. Film juga membawa kita masuk ke dalam Elsa, bahkan lebih sering ketimbang kepada Sandra. Walaupun dia bisa akting, tapi pura-pura bernyanyi – actually tampil live di depan orang-orang -tetaplah tidak gampang. Sebab Elsa tidak hanya ngerekam suara atau syut music video. Dia juga harus konser di atas panggung. Kita diperlihatkan bahwa dia juga, katakanlah stress menjaga rahasianya , dan semakin gamang juga dengan apa yang ia lakukan. Teruskan atau tidak. Terlebih karena ini adalah passionnya. Itu semua menguatkan karakternya yang memang tidak bisa jauh dan sebenarnya sangat membutuhkan sang kakak. 

Tentu, adegan musikalnya bakal bikin kita “bernyanyi-nyanyi” kayak lagi karaokean lagu-lagu pop populer. Lagu original film ini pun nendang dan indah banget, but I don’t wanna talk too much about them. Harus tonton, dengar dan rasakan sendiri! Pembawaan dan penempatan sekuens lagu-lagu itu juga tampak diperhatikan. Film menyesuaikannya dengan rancangan mood. Sehingga walaupun sering juga ditampilkan dengan sedikit terlalu banyak cut, membuat agak susah melihat koreografi seperti susah melihat adegan aksi dalam film action yang banyak cut-to-cutnya, kita tidak terlepas dari emosi. Dan karena enjoy, somehow kita memaklumi. Misalnya ketika adegan opening, banyak cut tapi kayak it’s okay karena ternyata adegannya semacam ‘dream sequence’. Atau ketika nyanyi di panggung, kamera juga udah kayak ngerekam konser beneran, dan kita menontonnya dari layar operator yang banyak sekali monitor dari berbagai sudut panggung. Dan tentunya juga, drama backstage industri entertainment di cerita ini – betapa fakenya semua, betapa mereka hanya melihat bakat dan bahkan kecantikan sebagai produk untuk dijual – bakal bikin kita geregetan.

Tapi sebenarnya hubungan kakak-adiklah yang jadi inti dan hati cerita. Strip film ini dari setting ghost singer dan musikalnya, maka sebenarnya Backstage adalah cerita tentang persaudarian yang ternyata bisa lebih kompleks dan lebih emosional dibandingkan dengan saudara cowok dengan cewek atau cowok dengan cowok. Ini bukan sekadar soal menjaga adik, atau soal saling berkompetisi. It is kinda both. Sandra ingin membantu adiknya mencapai cita-cita, tapi tentu saja dia juga punya cita-cita sendiri. Dan sekarang si adik ini justru mengambil cita-citanya. Si adik yang selama ini mengikuti dirinya, kini berada di depan. Casting a shadow untuk dirinya di dunia yang, katakanlah, tadinya miliknya, sehingga kini justru dirinya sendiri harus menghilangkan diri dari sana. Perihnya, Sandra gak bisa apa-apa karena dia sendiri yang mengizinkan itu terjadi sedari awal. Inilah yang bikin semuanya perih. 

Penyair Amerika Lousie Gluck bilang dari dua sisters, akan selalu yang satu jadi penonton sementara yang satunya menari. Yang menonton akan meniru yang menari, lalu kemudian dinamika tersebut akan berbalik. Inilah yang juga terjadi pada Sandra dan Elsa. Inilah yang harus mereka pecahkan bersama. Masing-masing harus menyadari bahwa mereka bukanlah bayangan satu sama lain, melainkan pantulan. Mereka bisa menari – atau dalam kasus film ini – menyanyi bersama.

 

Meski memang aspek emosional itu terasa juga pada akhirnya, walaupun kita mengerti konflik di antara kedua karakternya di balik potret ghost singer, tapi sebenarnya film ini tidak mulus dalam penceritaannya. Naskah tidak benar-benar fokus pada karakter dan perspektif mereka berdua. Like, soal stake saja misalnya. Menurutku justru lucu sekali yang punya stake duluan di cerita ini adalah karakter produser. Kita dibuat mengenali masalah dia, bahwa ini adalah proyek terakhirnya, sehingga dia gak boleh gagal mengorbitkan bintang. Film berjalan dengan hal tersebut sebagai taruhan. Sementara bagi Sandra dan Elsa, mereka butuh duit, dan enggak sampai satu jam, kita udah lihat keberhasilan mereka. Dari rumah sederhana ke rumah mewah seiring suksesnya Elsa. Di titik itu, sekalipun mereka gagal, yang paling ‘mati’ adalah si produser. Stake Sandra dan Elsa – beserta perspektif mereka – seharusnya dikuatkan lagi. Salah satu di antara merekalah (tergantung mana yang mau dijadikan karakter utama) yang harusnya push ide penyanyi bayangan itu karena butuh duit. Itu akan memberikan lapisan personal kepada karakter, sehingga tekanan lebih besar dan ceritanya jadi fokus kepada kedua sentral ini aja.

Karena memang ini adalah cerita yang menggali personal karakter. Tapi pengembangan yang dilakukan film, malah dari luar. Si produser, terus ada karakter seleb cowok yang tau rahasia mereka tapi lantas jadi seperti jatuh cinta sama Elsa, dan banyak lagi elemen romansa yang benar-benar diniatkan. Ini membuat permasalahan yang jadi topik utama kayak poin-poin saja. Sandra ragu untuk setuju. Lalu Sandra senang videonya viral. Lalu Sandra ngerasa dikucilkan. Sandra marah. Di antara poin-poin itu diisi oleh kejadian dari luar sebagai penggerak plot. Dan kejadian itu gak semuanya kokoh, like, ada yang konyol kayak Sandra ketauan nyanyi di Panti, membuat mereka dimarahi karena melanggar kontrak. Anehnya kontraknya kan soal gak boleh tampil berdua saja, sementara Sandra nyanyi sendirian. Gak ada Elsa di situ.  Turns out, peristiwa tersebut ternyata bukan masalah genuine. Naskah gak perlu sebenarnya pake yang ribet kayak gini. Karena inti kakak-adik itu sudah cukup jika benar-benar dari situ saja menggalinya.  

backstage-4--600x330
Not on this picture: Vanesha kebanting ama Sissy

 

Sejak suara Sissy nongol jadi suara Milea dalam Dilan 1990 (2018) aku udah penasaran pengen melihat dua kakak beradik ini adu akting bareng. Apalagi mereka berdua ini mirip bangeeettt… aku surprise pas menjelang Gadis Sampul 2014 ada finalis yang mirip ama Sissy, dan ternyata memang adiknya. Cuma waktu itu aku belum tahu kalo Vanesha juga bisa akting, taunya cuma bisa nyanyi. Jadi film ini benar-benar menjawab rasa penarasanku. I’m happy for them, pastilah seru akting bersama saudara sendiri, di film musikal pula. Dan ternyata mereka berdua memang klop. Meskipun jika ditengok lebih dalam, akting Sissy lebih kuat. Range karakter diterabasnya dengan mantap. Vanesha belum konsisten. Kadang bagus, kadang terdengar kurang masuk dengan karakternya, khususnya pada adegan-adegan yang menuntutnya bermain lebih emosional. Dan ada tantangan dalam karakternya yang aku bingung antara dia berhasil atau tidak. Yakni soal Elsa yang tidak bisa bernyanyi. Tapi ada nanti adegan Elsa nyanyi, dan buatku suaranya fine kok. Penonton yang ada film pun tidak menunjukkan reaksi. Enggak sejelek butuh untuk didubbing oleh suara orang. Aku jadi gak yakin apakah Vanesha sulit akting bernyanyi jelek, atau memang film meniatkan bahwa sebenarnya Elsa bisa bernyanyi tapi dia gak sadar/gak pede, atau gimana.

 

 

Dengan menonjol relationship antara dua kakak-beradik, film ini mampu menjadi cerita tentang ghost-singer dalam industri hiburan menjadi lebih emosional. Ini gak sekadar soal bakat atau mimpi yang kandas karena standar kecantikan atau sekadar soal enterainment itu jahat. Tapi inti sebenarnya adalah soal seorang kakak dan pengorbanan yang dilakukan dan bagaimana menghargai itu semua. Film ini dimulai dengan ‘lucu’ dan berjalan dengan cukup ngembang ke mana-mana, namun pada akhirnya cukup berhasil mendaratkan pesan itu. Semua tersampaikan berkat akting dan chemistry natural kedua pemain sentral. Desain produksi yang gemerlap serta musik-musik yang enak didengar serta menyentuh turut membuatnya lebih gampang untuk disukai. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for BACKSTAGE.

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian punya cerita suka dan duka bersama abang/adik/kakak? Bagaimana pendapat kalian tentang persaingan di dalam keluarga?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

JUNE & KOPI Review

“We don’t choose our pets, they choose us”
 
 

 
 
Hewan peliharaan bukanlah mainan. Mereka punya perasaan, punya kebutuhan. Mereka bisa merasakan kasih sayang, dan bahkan mampu memberikan rasa cinta tersebut balik ke pemiliknya. Hewan peliharaan memang bisa punya kedekatan emosional dengan manusia yang mengasuh mereka. Maka tak salah juga banyak orang yang menganggap kucing atau anjing atau bahkan ular piaraan sebagai bagian dari anggota keluarga. Aku sendiri melihara dua ekor kucing sejak mereka bayi, dan memang seringkali ngurusin mereka itu kok seakan seperti ngurusin anak beneran, karena kedua kucing itu bisa ngambek juga kalo cuma dikasih makan tanpa diajak bermain atau diperhatikan. Begitulah, memelihara hewan dapat memberikan rasa fulfillment tersendiri. Namun lucunya, ketika kita merasa kitalah yang memilih hewan-hewan tersebut untuk diberikan kasih sayang, boleh jadi keadaan sebenarnya tidak persis seperti begitu. Seperti yang ditunjukkan oleh film panjang kedua dari Noviandra Santosa ini. Bahwa justru sesungguhnya hewan tersebutlah yang telah memilih kita untuk menjadi keluarga mereka!
June & Kopi really put us into that perspective. Karena tokoh utama film ini ternyata memang bukan karakter manusianya. Melainkan seekor anjing putih yang hidup di jalanan. Ia bertemu dengan perempuan bernama Aya (Acha Septriasa siap untuk berikan percikan emosional buat film ini) saat sedang diuber oleh anak-anak. Kebaikan hati Aya yang memberikan perlindungan dan makanan, dan bahkan nama – Aya memanggilnya June – membuat si anjing putih jadi ‘memilihnya’ sebagai keluarga. June ngikutin Aya pulang dan akhirnya dijadikan peliharaan. Tapi ternyata suami Aya tidak begitu suka dengan June karena mereka sudah punya peliharaan, seekor anjing hitam bernama Kopi. Maka June berusaha untuk benar-benar diterima di keluarga tersebut. Dia berusaha membahagiakan Aya, berusaha untuk bonding dengan Ale sang suami. Dan ketika pasangan tersebut dikaruniai anak, June berusaha sekuat tenaga untuk mengenyahkan traumanya terhadap anak-anak supaya bisa menjadi teman terbaik bagi anak Aya.

Anjing yang alergi anak manusia

 
Kamera pun akan sering untuk benar-benar literally meletakkan kita ke dalam sudut pandang June. Dalam adegan opening misalnya, kamera diletakkan seolah diikat pada kepala June sehingga kita melihat langsung apa yang dilihat oleh karakter ini sepanjang dia berkeliling gang, melihat aktivitas warga. Treatment dalam opening ini efektif sekali dalam membangun pemahaman kita, dan terutama untuk mengeset tone film secara keseluruhan. June & Kopi adalah drama tentang hubungan anjing dengan manusia yang ringan dan menghibur, dengan sudut pandang yang unik. Menempatkan June di kursi depan, dan konsisten membangun karakter ini.
Aku pernah berusaha memposisikan kucingku di depan laptop untuk konten di Youtube, sehingga aku punya sedikit gambaran soal betapa sulitnya ngarahin hewan untuk melakukan apa yang kita mau di depan kamera. In fact, mungkin itu juga sebabnya kenapa terakhir kali ada film Indonesia tentang anjing dan manusia itu adalah di tahun 1974 (Boni & Nancy garapan John Tjasmadi). Perlu great effort dan ngambil resiko, sehingga gak banyak produser sini yang berani. I mean, film barat aja sekarang lebih memilih pakai CGI kok dibanding pake aktor hewan beneran. Tapi Noviandra Santosa dalam June & Kopi membuat itu semua tampak mudah. Si anjing June tampak begitu luwes dan natural di depan kamera. Aktor berkaki empat yang ia arahkan juga memang sepertinya sudah pinter dan terlatih. Kita melihat June bisa berhitung lewat gonggongan, atau Kopi yang mampu membuka dan menutup pintu dengan kaki depannya. Sang sutradara memastikan kepandaian para aktornya bisa masuk ke dalam cerita, tertangkap oleh kamera dengan adorable, dan dia melakukan ini dengan mengerahkan segala yang bisa. Termasuk editing dan timing yang cukup precise.
Kepandaian anjing itu juga dimasukkan ke dalam bobot drama. This is my most favorite part of this movie. Jadi, Kopi dan suami Aya sudah demikian akrab sehingga mereka punya ritual salaman tersendiri. Salaman yang khusus untuk mereka berdua. Film ini memperlihatkan itu sebagai bagian dari motivasi/goal untuk June. Anjing putih itu ingin juga salaman dengan suami Aya. Sepanjang film momen itu dibangun; ketika Aya sekeluarga mau pergi, misalnya, kita melihat June mengangat kaki depannya sepintas ke arah suami Aya tapi gak dinotice. Momen kayak gitu memperkuat hati film ini. Membuat kita peduli kepada June. Membangun perhatian dan emosi kita ke arah sana, kita semua jadi ingin melihat momen berbahagia ketika June salaman dan akhirnya beneran diterima oleh sang kepala keluarga. Film ini memainkan momen-momen itu dengan sangat baik. Aku gak akan ngespoil ujungnya gimana, but just fyi momen tersebut dibungkus dengan adegan yang menarik-narik perasaan haru kita.

Hewan punya feelings dan mampu merasakan emosi seperti cinta, ataupun sedih, seperti yang ditunjukkan oleh film ini, bukanlah fiksi. Hewan adalah makhluk hidup. Maka kita tidak dibenarkan untuk memelihara hewan hanya untuk bersenang-senang, atau dipamerkan di sosial media. Kita dituntut untuk punya tanggung jawab dalam memelihara mereka. Menurutku film ini hadir tepat waktu sekali, saat belakangan viral orang-orang yang membeli hewan-hewan eksotik seperti monyet hanya untuk konten video. Atau lebih parah lagi, berita soal kucing yang dikuliti atau untuk dijadikan makanan. Film ini bisa sebagai pengingat buat kita. Bahwa hewan, sekalipun bisa dipelihara karena lucu dan jinak, bukan berarti mereka sama dengan mainan untuk lucu-lucuan. Apalagi untuk dimakan. Hewan makhluk hidup yang sama seperti kita. Butuh cinta. Butuh keluarga.

 
Karakter manusia seperti Aya awalnya juga cukup mendapat porsi cerita. Film sempat membahas persoalan mereka sebagai keluarga. Kita diperlihatkan informasi bahwa pasangan ini adalah pasangan yang sempat kehilangan calon anak mereka. Kita juga diperlihatkan bagaimana karir profesional Aya sebagai penulis komik mendapat hantaman keras saat publisher memecatnya lewat telefon. Ini semua membuat kita jadi punya ekspektasi bahwa film ini punya narasi atau cerita yang kompleks, dengan banyak lapisan menyertai premis hubungan manusia dengan ‘sahabat terbaik manusia’. Namun sayangnya, film ini justru jadi mengerucut. Seperti segitiga terbalik. Semakin ke belakang, bahasan dan cerita film ini malah semakin mendangkal. Dunia cerita yang mendapat perluasan dengan penambahan karakter (putri Aya), tidak mendapat penggalian yang konsisten. Pembahasannya hanya skim on the surface. Masalah Aya dan kerjaannya tidak pernah dibahas lagi – solusinya datang begitu saja, cukup dengan Aya membuat komik terinspirasi dari June dan Kopi. Persoalan yang konsisten dibahas adalah ketidakakraban June dengan suami Aya, yang ini pun dilakukan dengan sangat monoton. Percakapan sehari-hari Aya dan sang suami selalu tidak lepas soal “kamu kok belum bisa akrab dengan June”. Hal tersebut diperparah oleh karakter si suami yang jadi annoying berkat obrolan dan masalah yang itu-itu melulu.

Kalo aku sih sepertinya tidak dianggap keluarga oleh kucingku, cuma dianggap babu saja.

 
 
Ketika anak hadir dalam keluarga mereka, kupikir itu bakal jadi tantangan berat buat June. Setidaknya film akan memperlihatkan proses June dalam menyingkapi hal tersebut. Tapi ternyata tidak. Dengan gampang saja dia bonding dengan si anak. Si anak itu sendiri juga, dia disebutkan oleh dokter mengidap asma. Dan kupikir lagi tadinya ini akan jadi rintangan untuk persahabatan June dengannya. Tapi enggak. Film enggak menjadikan asma itu apa-apa untuk narasi besar film ini. Malah dokter dalam film ini nyebut June gak ada hubungannya sama sekali dengan asma si anak. Ini membuat semua informasi sebelumnya itu jadi pointless banget.
Peristiwa ‘kupikir-tapi-ternyata-tidak-begitu’ ketiga datang dari melihat judul film ini. Kupikir film benar-benar akan menitikberatkan pada June dan Kopi. You know, karena judulnya June-and-Kopi. Tapi ternyata Kopi is barely do anything in the movie. Kerjaannya cuma baring-baring di lantai. Peran Kopi hanya sebagai plot-device, untuk membuka pintu saat June dikurung. Atau hanya untuk komedi aneh bersama karakter teman Aya yang somehow dibikin kayak ngerti bahasa anjing saat adegan dia ‘ngobrol’ sama Kopi. Lucu? boleh jadi. Make sense? no dan ini gak nambah apa-apa, pointless juga buat cerita. Film ini kayak punya banyak build-up dan dilupakan begitu saja. Seperti soal Kopi; aku gak tahu ini intentional atau tidak, tapi cara film ini memperlihatkan kegiatan si Kopi – yang seringkali dikontraskan dengan June – seolah film ini sedang membangun ke sesuatu. Kopi dikesankan seperti dikucilkan, anak Aya tak sekalipun ngajak dia main. Membuatku mengantisipasi bakal ada sesuatu yang penting dari Kopi. Dan ternyata memang ada, tapi gak klop dengan cara film membangunnya. Juga soal perangkap-perangkap di hutan itu; film memperlihatkan ada banyak sehingga tanpa sadar mereka membangkitkan pertanyaan lain yang gak ada hubungannya dengan niat film memperlihatkan jebakan itu sedari awal. Perangkap-perangkap itu malah membangun antisipasi kita kepada apa yang ada di hutan sehingga hutan perlu dipasangi perangkap sebanyak itu. Film ini menjelang akhir itu kayak membangun sesuatu yang ‘wah’, tapi ternyata sesuatu itu cuma difungsikan untuk hal lain yang terasa lebih sepele dibanding ekspektasi dari build-upnya.
Memang, yang film ini pilih untuk dikembangkan justru adalah hal-hal yang meminta kita untuk menyimpan logika di dalam laci. Tentu saja yang paling mengganggu buatku adalah soal keluarga Aya yang pergi liburan ke gunung – di saat anak mereka baru sembuh dari asma – dan meninggalkan kedua anjing di rumah, untuk kemudian kedua anjing ini nyusul ke vila di gunung. Kenapa? Kenapa membuat seperti ini, kenapa membuat June menempuh perjalanan melawan logika? Kenapa harus ke gunung? Padahal jika tujuannya untuk memisahkan June dan membuat dia jadi tampak seperti hero dan menempuh perjalanan/rintangan yang sulit, kenapa tidak membuat yang simpel dan gak jauh-jauh amat seperti simply June dikurung karena diduga menyebabkan asma dan ngikutin mereka liburan ke taman. At least, semua masih masuk akal dibanding membayangkan dua ekor anjing ke gunung menemukan keluarga mereka. Nah, yang seperti ini yang membuatku percaya naskah film ini masih belum matang-matang amat sehingga masih banyak plot poin yang mestinya bisa digarap dengan lebih baik lagi.
 
 
Jika kalian ingin melihat anjing beraksi di depan kamera, atau jika kalian penggemar anjing, film ini jelas bisa jadi hiburan yang bikin rileks. Film ini punya drama dan adegan-adegan yang bakal bikin kita merindukan hewan peliharaan di rumah. Keberanian film ini tampil sebagai cerita tentang persahabatan manusia dengan peliharaan saja sudah cukup pantas untuk kita apresiasi, karena memang benar-benar jarang film seperti ini. Namun jika ingin melihatnya dengan memakai lebih banyak logika dan secara teknikal, film ini tentu saja bukan film yang sempurna. Naskahnya masih banyak yang perlu dibenahi, penggaliannya masih tidak berimbang. Ini masih seperti film keluarga/anak-anak yang dimainkan dengan terlalu ringan ketimbang potensi sebenarnya yang dimiliki oleh materi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for JUNE & KOPI.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah saat ini kalian merasa membutuhkan hewan peliharaan? Kenapa iya atau kenapa tidak?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

AFFLICTION Review

“The second time you make it, it’s no longer a mistake.”
 

 
 
Horor selalu merupakan subyek yang menarik. Sebagai penonton kita akan selalu penasaran akan misteri-misteri, atau juga wujud-wujud seram tragedi yang berakar dari sisi gelap manusia itu sendiri. Karena berasal dari perasaan dan trauma manusia itulah, maka horor juga senantiasa berkembang. Manusia yang kompleks, menyebabkan horor juga ikut kompleks. Dan tampaknya horor bukan cuma menarik bagi penonton. Kita tentu banyak mendengar pemain film yang ingin ‘menguji nyali’ bermain horor. Di sisi pembuat film, horor dilihat juga sebagai tantangan.
Bagi sutradara Teddy Soeriaatmadja, horor jelas adalah sebuah ‘new realm’. Film Affliction sebagai horor perdananya ini, ia arahkan lebih sebagai thriller, karena film ini memang lebih menekankan kepada suspens dan intensitas pembangunan misteri dan drama antarkarakter. Yang belakangan disebut; tak ayal adalah elemen kuat yang membuat nama Teddy bergaung di kalangan pecinta film. Namun sayangnya, secara keseluruhan, film Affliction atau Pulang (judul versi Indonesia) ini never really hits home sebagai cerita horor atau thriller yang menyangkut manusia. Teddy tidak benar-benar memberikan sesuatu yang baru, baik kepada genre itu sendiri maupun kepada jam terbangnya sebagai sutradara kawakan. Karena arahan dan cerita Affliction ini begitu basic dan penuh oleh elemen-elemen yang sudah pernah kita lihat dalam horor-horor mainstream. Yang sepertinya memang ke mainstream itulah kiblat Teddy dalam menggarap film ini.
Cerita film ini bermula dengan cukup menarik dan menjanjikan. Setidaknya bagiku, karena Affliction mirip sama Relic (2020) – film horor yang masuk daftar top-8 ku tahun lalu. Tentang keluarga yang harus berurusan dengan penyakit Alzheimer yang diderita nenek yang selama ini tinggal seorang diri. Affliction ini bercerita dari sudut Nina, perempuan yang merasa bersalah karena ibu kandungnya baru saja tewas bunuh diri. Nina merasa kurang memberikan perhatian – apalagi karena keluarga Nina dan sang ibu tinggal serumah. Jadi untuk menebus dosanya itu, Nina beralih ke suaminya. Hasan. Hasan punya ibu yang tak pernah Nina kenal karena Hasan memang tidak pernah menyebut-nyebutnya. Maka itulah, ketika Nina mendengar kabar bahwa ibu Hasan di kampung tinggal seorang diri tanpa ada yang mengurus – belum lagi menderita Alzheimer yang membuat si ibu dipandang sebagai orang aneh, Nina lantas memaksa suaminya untuk pulang kampung. “Aku ingin mengurus Bunda”, kata Nina. Tapi begitu Nina, suami, dan kedua anak mereka tiba di kampung, keadaan Bunda dan misteri di rumah itu dengan cepat menjadi terlalu besar dan mengerikan, dan menyedihkan, untuk dihadapi oleh Nina.

Semua akan bikin horor pada waktunya

 
Bikin narasi horor atau thriller yang seram itu gak gampang ternyata. Horror should not means to scare people, but rather to make people feel terrible. Seram itu enggak selamanya berarti untuk menakuti orang. Di sinilah kebanyakan orang sering salah. Begitu juga dengan Teddy di Affliction. Di film ini Teddy tampak begitu keras berusaha menakut-nakuti kita (melalui jumpscare dan lain-lain), sehingga dia sendiri lupa ada peristiwa naas yang terjadi pada karakter-karakter di dalam naskahnya. Alih-alih menggali psikis Nina yang termotivasi untuk menjaga Bunda, film ini malah menutupi kita dari segitu banyak emosi dan pikiran dari para karakternya. Menjadikan mereka sebagai revealing untuk bikin kita lebih kaget lagi. Well, padahal penonton film kan bukan presiden yang seneng merasa kaget atau bingung. kita ingin merasakan perjalanan emosional yang humanis. Kita ingin merasakan betapa devastatingnya punya ibu yang digerogoti Alzheimer – yang kian hari kian terasa seperti orang asing. Kita ingin merasakan betapa kalutnya hidup yang gede bersama rahasia kelam. Kita tidak merasakan semua itu, karena film tidak mengeksplor. Semuanya hanya dijadikan plot poin semata. Dan by the time film akan berakhir, lapisan emosional itu baru diungkap sebagai twist, completely menyia-nyiakan emosi dan kengerian real-lagi-grounded. Padahal inilah horor sebenarnya yang dikandung oleh cerita, bukan hantu anak kecil atau arti Ari Kiba. Sebagai pembanding, Relic walau juga punya hantu beneran tapi tetap mewujudkan horor dari Alzheimer dan perasaan keluarga itu sendiri. Dalam Affliction, Alzheimer itu bahkan tidak lagi jadi soal di akhir cerita.

Manusia memang banyak melakukan kesalahan dalam durasi hidupnya. Kesalahan itu dimaksudkan sebagai pembelajaran untuk menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Maka dari itu, kita tidak boleh melakukan kesalahan yang sama dua kali. Karena kesalahan yang sama untuk kedua kalinya itu, bukan lagi sebuah kesalahan. Melainkan sebuah pilihan. Inilah hal paling mengerikan yang bisa kita bawa tidur setelah menonton film ini. Kontras antara Nina yang ingin kesalahannya tidak terulang sehingga ingin menjaga Bunda, dengan Hasan yang enggak mau belajar dan owning to his mistake, melainkan untuk merahasiakan dan menipu semua orang.

 
Akting Raihaanun Soeriaatmadja sebagai Nina cukup bagus. Ketika memarahi anaknya, Raihaanun natural kayak pas di Twivortiare (2019). But that’s about it. Ketika ngehandle drama dan ketakutan itu sendiri, terasa biasa aja, karena memang tidak banyak emosi yang bisa ia gali dan tarik dari karakternya. Secara keseluruhan akting dan dialog film ini pretty basic. Gak sampai ke level haunting dan creepy kayak pada horor-horor semacam Hereditary (2018). Karakter anak-anak yang hadir juga masih dangkal dan keberadaan mereka pun masih sebagai objek untuk ditakuti-takuti semata.  Mereka gak kayak anak kecil yang real, melainkan anak kecil di semesta horor kacangan Indonesia. Yang sulung kerjaannya cuma main hape, dan yang paling kecil kerjaannya menggambar. Film juga gak ngasih sesuatu yang baru terhadap trope klise anak-kecil ini (coba tebak anak bungsu itu menggambar apa!) Gak banyak yang dihasilkan dari hobi mereka tersebut. Hanya ada satu kali hape si anak dikasih ‘peran’, sementara si bungsu yang di awal-awal cukup menarik dengan smart-mouthnya, tapi toh tidak berperan apa-apa di dalam cerita. Hubungan mereka dengan nenek juga gak pernah disentuh.
Terkadang malah, dialog dan pengadeganannya dibikin kayak sang sutradara sengaja becandain trope horor yang ia pakai. Kayak Nina yang udah hampir berhasil kabur tapi balik lagi ke rumah karena ada yang ketinggalan. Atau soal anak misterius yang disangka bernama Ari Kiba tapi juga Nina yakin anak itu bernama Dimas Rangga, sehingga adegan Nina mengungkapkan teorinya itu jadi bukannya terasa penuh misteri melainkan kayak konyol. Ibnu Jamil sebagai Hasan gak menolong banyak karena karakternya sengaja dibikin terbatas, dan sebagian besar dia stuck di trope ‘suami-yang-keras-kepala-tak-percaya’. Pembawaan Ibnu yang sinetron banget membuat karakternya sering tampak nyaris over-the-top. Bagian yang cukup amusing bagiku adalah ketika Bunda alias si nenek ngetawain kerjaan Hasan yang psikolog anak. Adegan itu seperti membuktikan bahwa film ini punya selera humor, karena memang ada sebab musababnya si Bunda tertawa seperti itu; sebagai part of building the disturbing revelation. Tutie Kirana sama seperti Raihaanun, berusaha menggali emosi karakter di sumur yang dangkal. Beliau berusaha membuat Bunda tampil creepy. Tapi sekali lagi karena film ini penggaliannya cetek sementara cukup punya selera humor, adegan saat Bunda tiba-tiba lupa sama Nina dan cucu-cucu yang jadi lawan bicaranya jadi malah terasa weird karena itu mereka ngobrolnya tadi sambil senyam-senyum di meja makan. Sila bandingkan lagi dengan Relic, yang nampilin adegan nenek yang tiba-tiba lupa siapa lawan bicaranya itu dalam setting dan pengadeganan yang benar-benar menyokong untuk terasa serem.

Tukang Exorcist-nya siang sempakan, malam tasbihan

 
Gak klop seperti begitu itu juga kurasakan saat melihat ke visualnya. Aku suka warna-warna film ini. Banyak tone ungu atau lembayung jadi kayak suasana surealis, terutama karena film ini dibuka oleh adegan yang diedit seolah karakter melihat suatu peristiwa di dalam mimpinya. Hanya saja, warna film yang konsisten seperti ini hingga ke akhir tersebut terasa enggak klik dengan nuansa horor yang ingin dicapai. Terlebih ketika di babak ketiga film ngegas menjadi thriller bunuh-bunuhan. Cerita yang dangkal dan gak emosional di pertengahan juga membuat warna-warna tersebut kehilangan fungsinya. So it doesn’t really work for me. Karena film malah terasa kayak main aman. Semuanya terlalu bersih dan gak chaos. Padahal jika memang mengincar thriller mainstream yang berdarah-darah (seperti yang diset oleh adegan bunuh diri di opening), film harusnya jor-joran aja. Bangkitkan suasana seram dengan warna gelap. Gunakan properti, kalo perlu hancur-hancurin aja rumahnya. Aneh sekali melihat film yang beradegan kejar-kejaran dan bunuh-bunuhan tapi karakternya itu jatoh pingsan dengan sopan banget, di antara kursi-kursi. Tidak ada intensitas yang naik di final confrontation karena semuanya diadegankan dengan ‘aman’. Adegan Nina maculin tanah pake pickaxe aja tampak letoy banget. Padahal itu udah menjelang final. Untuk mainin ketegangan kita, film malah bikin Nina bolak-balik ngambil barang yang ketinggalan. Kan lucu!
Jika melihat dari naskah dan setting yang tertampilkan, film ini sepertinya bukan terlalu main aman. Bisa jadi malah, film ini hanya kurang usaha aja. Misalnya pertama soal kota dan desa yang perbedaannya gak kelihatan. Film ini memang memperlihatkan Nina berjalan di desa, tapi suasana desa itu gak ada pembanding. Karena saat di kota, kita hanya diperlihatkan mereka di rumah saja; yang bahkan gordennya ditutup. Sehingga kontras suasana itu gak terasa. Selebihnya, semua set di dalam rumah. Pindahnya mereka dari rumah di kota ke rumah nenek nunjauh di sana itu gak terasa dari suasana. Usaha film ini buat memperlihatkan set rumah nenek itu beneran di desa cuma dengan memposisikan termos jadul dan keranjang tradisional dalam warna dan penempatan yang mencolok. Selain itu, tidak ada lagi yang ‘dimainkan’. Setting film ini tidak pernah tampak hidup. Gak ada tempelan kertas berisi memo pengingat untuk nenek yang mulai sering hilang memori, yang jika dibaca bikin bulu kuduk kita merinding, kayak Relic. Film ini cuma punya botol obat sebagai penanda bahwa Bunda beneran sakit.
Kedua adalah dari naskahnya sendiri, yang terasa banyak lubang serta hal-hal yang sengaja didangkalkan. Misalnya soal pintu kamar yang terkunci. Film gak pernah bikin alasan yang jelas kenapa Bunda harus mengunci pintu kamar itu. Pintu itu hanya dikunci oleh naskah, sebab naskah gak mau bahas itu sebelum waktunya nanti. Padahal gak banyak juga revealing yang berarti di dalam kamar tersebut. Terus, soal melihat ‘doppelganger’. Jika melihat kembaran seseorang itu berarti si orang itu akan mati, kenapa dari tiga adegan melihat kembaran ini, hanya dua yang nantinya akan beneran mati. Apakah itu hanya berlaku buat Nina saja? Kalo iya, kenapa? Emang si Nina sebenarnya siapa? Nah rule soal ini gak pernah dibangun oleh film. Kita juga enggak pernah mengenal Nina lebih jauh. Lubang yang menurutku paling parah adalah soal Narsih, orang yang actually ngasih tahu kabar Bunda ke Nina. Si Narsih ini gak jelas darimana bisa tahu rumah Hasan, yang padahal si Hasan itu gak kenal dia karena gak pernah pulang ke kampung. Ini kejanggalan yang sama kayak di Perempuan Tanah Jahanam (2019) saat karakter Teuku Rifnu bisa nemuin wanita dewasa di kota gede, padahal dia hanya tahu wanita itu sebagai balita yang pergi dari kampung. Dan kayak gini itu sesungguhnya adalah masalah besar – sebuah red flag – pada naskah. Karena jika cerita kita bergantung kepada inciting inciden yang logikanya selemah itu, maka cerita tersebut niscaya akan susah untuk berkembang menjadi cerita yang exciting dan masuk akal. Semua pasti akan terasa dibuat-buat saja nantinya.
 
 
Dalam horor/thriller pertamanya ini, Teddy Soeriaatmadja tampak bermain terlalu aman. Dia seperti ingin mencoba membuat sesuatu yang appealing untuk mainstream, tapi juga tidak ingin jadi terlalu receh. Sehingga ini tampak jadi beban, karena filmnya ternyata jadi tampil setengah-setengah. Ceritanya penuh elemen-elemen horor mainstream yang juga mengandalkan jumpscare – meski tidak terlalu sering. Dengan suasana yang berusaha dibuat seperti surealis. Tapi ini jadi gak klop, sehingga filmnya malah terasa datar. Hiburanku nonton ini datang dari kelucuan yang anehnya jadi ikut tersaji dari beberapa pengadeganan film ini. Dari pengembangan plot dan karakter, film ini tidak lebih baik daripada horor Danur-Danuran, Asih-Asihan, dan Doll-Dollan. Raihaanun dan Tutie Kirana bermain bagus tapi kita dapat melihat betapa kemampuan mereka yang sesungguhnya disiakan di sini, karena film enggak mengeksplor karakter mereka. Sebagai cerita horor yang menilik penderita Alzheimer, film ini juga gak tampil kuat dan benar-benar ke arah sana. For that, we better watch Relic (2020) instead.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for AFFLICTION.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya kiat pribadi untuk membantu memastikan diri tak mengulangi lagi kesalahan yang sama untuk kedua kali?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA
 

GURU-GURU GOKIL Review

“Experience is the best teacher, and the worst experiences teach the best lessons.”
 
 

 
 
Sosok seorang guru adalah sosok yang menginspirasi. Yang menjadi suri teladan. Pahlawan tanpa tanda jasa. Beruntung, Guru-Guru Gokil karya Sammaria Simanjuntak yang tayang eksklusif di Netflix bukan guru. Sebab sebagai sebuah cerita tentang guru-guru, film ini nyaris tidak punya ‘muatan lokal’ yang menarik, dan tidak ada yang bisa menggugah inspirasi sama sekali. Kecuali buat orang yang mimpi jadi pahlawan di siang bolong.
Sama seperti orang-orang normal di seluruh dunia, Taat Pribadi suka ama yang namanya duit. Jadi dia pergi merantau ke kota, nyobain pekerjaan apapun demi mencari uang. Jauh dari kampungnya, jauh dari bapaknya yang guru. Jauh dari kerjaan guru itu sendiri; kerjaan yang ia sinisin karena hubungannya dengan sang bapak. Namun ketika semua usaha gagal, Taat terpaksa pulang dan mengambil kerja sampingan sementara sebagai… seorang guru! Hihihi seharusnya memang ada yang menarik dan lucu di sini, karena Taat bekerja di sekolah tempat ayahnya mengajar. Ada hati juga. Situasinya sudah klop untuk jadi sebuah komedi yang hangat tentang bapak dan anak. Hanya saja, kemudian pada naskah dimunculkan sebuah perampokan uang gaji para guru. Taat kemudian menginvestigasi, karena tentu saja awalnya dia ingin duitnya. Tapi kemudian ada guru yang ia suka. Kemudian ada penjahat yang sadis. Kemudian ada Dian Sastro yang jadi guru pinter tapi ‘oon – dan dia lagi hamil. Bisa aku meledak sekarang?

Mungkin gokil di sini maksudnya beneran ‘pergi membunuh’

 
Sementara para pemain memang tampak nyata sangat menikmati permainan peran mereka masing-masing; Gading Marten is on his zone, dua alumni Gadis Sampul Faradina Mufti dan Dian Sastro (the later is also the producer) bersenang-senang dengan karakter yang berbeda dari tipikal peran drama yang biasa mereka mainkan, dan bahkan Asri Welas diberikan sesuatu yang baru ketika memainkan tokoh Kepala Sekolah. Their joy membuat film ini ceria meskipun film bersikukuh menggunakan warna ekspresionis oren alih-alih cerah dan light-hearted. Dan memang kesenangan mereka itu tidak pernah terdeliver kepada kita. Cerita film ini sebagian besar akan berfokus kepada pemecahan kasus pencurian. Memperkenalkan needlessly sadistic villain nun jauh di pertengahan cerita. Ketika kita sadar cerita crime pun sebenarnya masih bisa lucu dengan bumbu-bumbu komedi, film Guru-Guru Gokil ini masih bingung. Berada di tengah, di antara semuanya. Lucu enggak, tegang kurang, drama gak nyampe. Kita dibuatnya terlalu bosan oleh arahan yang mengawang untuk bisa ikut excited, untuk ikut tertawa, dan untuk hanyut terenyuh.
Penulisannya sebenarnya enggak buruk. Taat Pribadi jelas bukan tokoh yang membosankan. Karakternya punya cela dan ‘flawed-character’ inilah adalah cara yang tepat untuk membuat cerita menjadi menarik. Marlin adalah ayah yang overprotektif, Woody adalah mainan lama yang iri sama mainan baru, Ariel adalah anak duyung yang melawan pada aturan bapaknya. Kita menganggap tokoh-tokoh bercela seperti demikian itu menarik karena cerita adalah soal pertumbuhan mereka menjadi lebih baik. Itulah yang disebut dengan journey mereka. Taat pada Guru-Guru Gokil cinta mati ama duit, serta dia gak suka sama bapaknya yang ia anggap lebih baik dan mendengarkan orang lain daripada dirinya. Taat tidak serius menjadi guru pengganti, dia hanya mau duitnya. Nantinya, Taat harus memilih antara duit atau menyelamatkan sekolah. Pertumbuhan di sinilah adalah Taat berkembang menjadi beneran peduli pada orang-orang di sekolah. Poin awal dan akhir film ini sebenarnya tepat. Jika ini mesin, maka roda-roda giginya berada pada posisi yang benar. Hanya saja, proses dari awal ke akhir, dari poin a ke poin b itulah yang menjadi masalah. Film ini menggunakan banyak roda gigi yang gak seimbang sehingga perjalanan cerita film ini enggak asik untuk diikuti.
Karakter yang tadinya bercela itu dikembangkan jadi ahli-semua. Taat menjadi membosankan saat ia mampu memecahkan apapun. Masalah yang seharusnya jadi ‘alat’ untuk karakternya berkembang dan belajar, malah either beres dengan bantuan atau ia kerjakan sendiri dengan gampang. Bukan saja Taat mampu jadi guru pengganti yang baik, yang konek dengan semua murid di kelas tanpa kita lihat prosesnya seperti apa, pria ini juga mampu menemukan pelaku kejahatan hanya dengan modal tato. Ia juga bisa sulap, mencairkan hati seorang guru galak. Dia bisa mengetahui hal di kampung itu yang tak semestinya dia yang-baru-datang-dari-kota tidak ketahui. Film punya cara gampang; begitu ada sesuatu yang perlu dijelaskan, mereka cukup membuatnya sebagai adegan flashback atau montase dengan narasi voice-over dari Taat.

Mungkin ini adalah cara film untuk menyuarakan gagasan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Taat bisa itu semua karena dia memang sudah mencoba banyak hal. Taat membuat jadi guru tampak sedemikian mudah. Cuma butuh pengalaman buruk untuk bertobat, dan wanita cantik untuk dicie-ciein.

 
Paling enak kita membandingkan Taat dengan Dewey Finn, tokoh yang diperankan Jack Black di School of Rock (2003). Filmnya sama-sama komedi di sekolah. Kedua tokoh sama-sama ‘flawed character’ guru pengganti yang peduli sama duit bayarannya aja. Kedua sama-sama gak tahu menahu apapun soal pelajaran sekolah ataupun cara mengajar anak-anak. Namun pada School of Rock, Dewey tidak pernah bicara tentang hal yang tidak ia tahu. Dan film tersebut benar-benar nunjukin. Dewey hanya tahu soal musik rock, dan itulah yang ia ajarkan kepada murid-murid. Dewey memanfaatkan para murid untuk ikut serta dalam lomba ngeband, membohongi mereka dengan mengatakan bahwa itu adalah proyek sekolah yang akan dinilai dan menentukan masa depan. Kita melihat prosesnya, Dewey jadi dekat bukan hanya dengan murid tapi juga dengan sesama guru; dia menggunakan skill ngeles dan ‘pengetahuan’ musiknya di ruang guru, di kantin. Kita juga diperlihatkan konsekuensi ketika kunjungan orangtua Dewey sama sekali tergagap karena gak bisa ngajar. Tidak ada proses itu pada Taat di Guru-Guru Gokil. Tidak ada kantin, tidak ada ruang guru. Melainkan hanya poin-poin seperti tau-tau murid-muridnya diskusi dan menggambar tato bareng. Hampir seperti film ini nyontek plot School of Rock untuk bagian di kelas. Tau-tau ada orangtua yang minta kunjungan belajar dan di situpun Taat diselamatkan oleh murid. Hanya ada satu murid yang benar-benar berkoneksi dengan Taat, dan itu karena bagian dari elemen romansa yang dimiliki oleh cerita. Dalam School of Rock, kesimpulannya jelas. Bagaimanapun juga Dewey tidak layak menjadi guru sekolah, tapi dia menunjukkan bahwa pendidikan di sekolah harus berimbang, antara seni dan teori. Dewey akhirnya jadi guru les musik bagi murid-murid di sekolah itu. Sebaliknya pada Guru-Guru Gokil, tidak jelas apa yang mau dikatakan oleh film ini kepada dunia guru dan pendidikan itu sendiri.

Sebaiknya semua orang hanya mengucapkan apa yang mereka tahu

 
 
Ada seuprit komentar/kritik di sana sini soal gaji guru yang kecil, tapi mereka mau jualan untuk nambah-nambah pun gak boleh karena kurang etis pada tempatnya. Ataupun soal guru yang diprank atau malah dibully oleh murid. Seperti yang memang cukup marak belakangan ini, banyak guru yang ngalah dan berada di posisi sulit antara anak yang terlalu bandel dan dimanja oleh orangtuanya. Film ini seperti ingin menggagas supaya kita lebih meninggikan derajat guru. Namun tentu saja pesan itu jadi susah untuk mengalir ketika film sekaligus memperlihatkan orang seperti Taat saja ujung-ujungnya bisa jadi guru di sekolah. Dia tak kalah pintar dan cerdiknya dengan guru beneran. Dia cuma butuh ijazah untuk formalitas. Kita tidak pernah benar-benar merasakan darimana kecintaannya mengajar timbul karena film lebih meluangkan waktu untuk mengembangkan elemen romansanya kepada seorang guru, ketimbang mengembangkan proses dengan murid-murid. Karakter bercela ini jadi ter-redeem hanya karena ada tokoh penjahat, tokoh guru yang lebih jahat – yang lebih suka uang daripada dirinya. Pemecahan kasusnya tak menarik karena seperti generik film-film komedi yang penjahatnya digambarkan over-sadis tapi bego – kayak di film untuk anak balita. Konflik Taat dengan sang bapak beres dengan gampang, hanya butuh ‘membuka komunikasi’.
Dan seperti yang diperlihatkan oleh adegan endingnya yang teramat cheesy – ya bahkan lebih cheesy dari adegan ‘hujan uang’ yang mestinya bisa lebih berbobot itu – pada film ini, syarat jadi guru yang baik itu cuma satu: harus tetep gokil!
Oke aku meledak sekarang. DUAR!!
 
 
 
 
 
Kalo mau nonton cerita tentang korupsi/kriminal di balik dinding sekolah karena guru yang gajinya kecil juga pantas untuk nuntut ‘tanda jasa’, ada Bad Education (2020), yang berasal dari kisah nyata. Kalo mau ringan dan lucu tentang orang yang tadinya tidak peduli sama pendidikan dan maunya cuma duit menemukan cintanya sebagai pengajar, ada School of Rock. Poinku adalah, masih ada pilihan tontonan lain yang jauh lebih baik, lebih seru, lebih lucu dengan caranya masing-masing, dibandingkan dengan film ini yang berusaha untuk menjadi semuanya sekaligus. The comedy is fine, enggak terlampau receh, penampilan aktingnya juga oke. Mestinya film ini berfokus kepada anak dan bapak itu saja, enggak usah terlalu banyak pada kasus perampokan. Hasilnya malah film ini jadi salah satu film komedi crime termembosankan dan cerita tentang guru yang paling tak-inspiratif yang bisa kita saksikan. Oh iya, film ini juga mencoba jadi film lebaran dengan setting bulan puasa yang eksistensinya benar-benar tak lebih dari sebuah sepuhan. Such a shame karena ini adalah film-baru Indonesia pertama yang tayang semenjak pandemi, dan bisa tayang di Netflix seluruh dunia, hanya untuk jadi tontonan setengah-setengah dengan muatan lokal yang demikian lemah.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for GURU-GURU GOKIL.

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Tipe guru seperti apa yang kalian suka dan tak suka? Hal terbandel apa yang pernah kalian lakukan kepada guru? Melihatnya kembali sekarang, spakah kalian menyesal melakukannya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

MARIPOSA Review

“Do not chase people.”
 

 
 
Mariposa akan bekerja dengan lebih baik jika dijadikan berfungsi sebagai cautionary tale – kisah peringatan – tentang naksir sampe mengejar cinta sesungguhnya dapat bermetamorfosis menjadi hal yang menjurus ke pelecehan atau interaksi yang tidak ‘sehat’. Hanya saja sutradara Fajar Bustomi mengarahkan cerita ini ke ranah romantisasi. Khas anak remaja yang mendambakan kehidupan cinta ajaib yang berbunga-bunga mekar pada waktunya.
Sebagian besar cerita akan mengambil tempat di lingkungan terdekat dengan remaja. Di sekolah, di rumah, ini adalah tempat-tempat sakral bagi remaja sebagaimana dua tokoh sentral cerita ini juga mendapat nasihat, masukan, dan bahkan larangan dari orangtua maupun sahabat perihal kehidupan sosial dan pendidikan mereka. Kita bertemu dengan Acha, gadis jago kimia, lagi curhat sama sahabatnya. Acha sudah lama naksir berat ama cowok pinter di kelas, si Iqbal, tapi si cowok ini cuek sehingga kini Acha sudah gak tahan lagi. Diwanti-wanti oleh sahabatnya, Acha justru semakin menggebu. Dia mendatangi Iqbal. Ngenalin diri. Nyerocosin eksposisi dalam waktu kurang dari lima menit. Kemudian practically ‘nembak’ Iqbal. Reaksi yang ia dapat? Dingin. Iqbal yang lebih tertarik memenangkan olimpiade sains tidak mempedulikan Acha. Namun ini malah membuat Acha semakin manja (dan maksa) dan terus mengejar Iqbal. Di lain pihak, si cowok ini gak bisa begitu saja mencampakkan Acha, karena mereka harus bekerja sama sebagai tim dalam olimpiade, mewakili sekolah mereka.

sekolah jaman now, hukumannya bukan bersihin wc, melainkan bersihin kolam renang!

 
 
Hal berbeda yang ditawarkan oleh film yang berangkat dari cerita di platform Wattpad ini adalah lekatnya para tokoh dengan ‘profesi’ mereka yakni pelajar. Biasanya cerita-cerita remaja meskipun lokasinya di dalam kelas, tapi jarang sekali menampilkan mereka belajar. Persoalan nilai atau prestasi akademik tak dibahas, tokohnya pada sibuk pacaran aja. Ini semua bisa ditelusuri akarnya, yakni pengaruh trope film-film barat bahwa dalam kelas sosial remaja, tokoh yang suka belajar alias pintar akan mengisi sebagai karakter cupu. Biasanya mereka akan jadi sidekick atau sahabat dari tokoh utama yang biasanya adalah anak baru atau berstatus anak yang biasa-biasa saja. Lawan dari karakter pintar dan cupu adalah tokoh populer, entah itu jago olahraga, atau supercakep, dan mereka ini biasanya jadi karakter antagonis dan seringkali suka membully. Dalam Mariposa, trope khas cerita barat seperti demikian tidak ada.  Trope ketimuranlah yang kental; kepintaran dihormati dan anak-anak pelajar mengambil posisi teratas di kelas sosial mereka. Acha maupun Iqbal tersohor di sekolah karena kepintaran mereka. Cerita pun mengaitkan konfliknya kepada aspek ‘pekerjaan’ mereka sebagai pelajar saat kita diperlihatkan momen-momen mereka membahas soal dan adegan di olimpiade sains. Pendidikan dijadikan salah satu poros utama, dan ini sesungguhnya dapat membawa gambaran dan pengaruh yang baik bagi penonton remaja, terutama yang sering ‘terwarnai’ oleh cerita remaja di barat yang situasinya tidak serta merta cocok. Kita tetap bisa menjadi anak pintar sekaligus cakep, populer, dan ya bahkan bisa punya pacar.
Pacar. Persoalan klasik anak muda. Meskipun film cukup menonjolkan kehidupan tokohnya sebagai anak sekolahan, tapi yang namanya remaja tetaplah remaja. Bagi mereka punya pacar itu adalah nomor satu. Bagi penonton yang lebih dewasa, konflik utama film ini besar kemungkinan akan terasa receh. Motivasi nomor satu Acha (lebih penting di atas menang olimpiade!) adalah punya pacar. Pacar bukan sembarang pacar. Iqbal. Harus Iqbal. Motivasi tokoh sesepele ini sebenarnya bukan masalah, it doesn’t necessarily make or break a movie. Ambil contoh salah satu karya Bustomi yang lain, Dilan 1990 (2018), di film itu motivasi Milea sang tokoh utama adalah mengenang cintanya waktu SMA. ‘Kecil’ sekali, tapi kita gak bisa bilang filmnya jelek hanya karena kita gak menganggap penting persoalan si tokoh. Melainkan kembali kepada penceritaannya. Mariposa ini persis Dilan 1990. Dengan role tokoh di balik. Tokoh utama ceweknya di sini lebih aktif. Sebagai tokoh utama, Acha lebih masuk, fit into structure, ketimbang Milea. But somehow, ceritanya terasa lebih ‘parah’.
Dilan dengan gombalan. Acha dengan centil manja. Sesungguhnya masing-masing tokoh ini adalah sisi dari satu koin yang sama; koin cringe alias koin bikin-geli-telinga. Adhisty Zara sangat pas memainkan karakter ini, dialog-dialog panjang ditampilkannya effortless dalam nada manja. Ini peran yang tampak paling nyaman dimainkan oleh Zara sepanjang karir filmnya yang masih muda. Tapi jika kita melihat perkembangannya; Zara dapat recognize pertama dari perannya sebagai Euis yang berkonflik dengan ayah yang mendadak miskin, lalu jadi tokoh yang hamil di usia sekolah, sebagai Acha yang sepertinya tidak begitu berbeda dengan remaja keseharian, dengan range yang relatif lebih sempit – She nails it, hanya saja tantangannya enggak besar –  Mariposa ini bisa dibilang sebagai kemunduran bagi Zara. Kelakuan Acha yang sangat agresif mengejar cinta Iqbal ditampilkan sebagai perbuatan yang lucu.  Disuruh ngelupain Iqbal, dia malah bilang jadi semakin kangen. Di dalam kelas, Acha yang pinter bisa mengerjakan latihan dengan lebih cepat dari siapapun, sehingga dia bisa memandangi pemandangan di kursi sebelahnya; tak lain-tak bukan adalah Iqbal. Acha ngomong, ngomong, dan ngomong dia suka kepada Iqbal, bahkan mengaku sebagai pacarnya padahal Iqbal bukan sekali dua kali menolak dan menunjukkan ketidaksukaan terang-terangan kepada Acha. Di mana ada Iqbal, di suatu tempat dekat situ ada Acha yang siap mendekati. Dia minta nomor telepon, begitu gak dikasih; ia cari sendiri. Acha terus berjuang, menahan diri untuk ‘menyerang’ Iqbal adalah hal yang susah buat Acha; tak-tertahankan. Baginya ini seperti menangkap kupu-kupu; terkejar tapi tak tergapai.
‘Unrequited love’ pada seni selalu dipandang sebagai elemen yang romantis. Cinta yang indah, begitupun tragis. Mariposa menampilkannya lewat warna-warni yang cerah, film ini terhampar penuh warna. Karena ini adalah cara Acha memandangnya; perjuangan cinta yang cute. Tapi ada batasan antara perjuangan dan perbuatan yang menjurus ke harassment. Salah satu filosofi Acha mengenai dirinya dan Iqbal adalah bahwa dia air dan Iqbal batu. Acha ingin menetesi Iqbal sampai berlubang karena menurutnya begitulah air dan batu bersatu. It’s a really twisted philosophy sebab batu yang kena air itu berlubang dan eventually bisa hancur. Dengan konstan ‘meneror’, memaksa Iqbal jatuh cinta kepadanya, bukan tidak mungkin hidup Iqbal beneran hancur karena Acha. Dan film actually memberikan penyelesaian dan ending yang menampilkan karakter Iqbal yang kayak ‘rusak’. Less-humane kalo boleh dibilang.
MariPusAp setiap kali Acha nyebut dia pacar Iqbal di Mariposa

 
Interaksi apapun, dari dan kepada siapapun, yang sifatnya tidak ada konsen mutual – dalam artian yang satu ngerasa seneng, yang satunya lagi merasa gak nyaman, atau dirugikan, atau direndahkan – masuk ke dalam kategori pelecehan. I mean, bayangkan kalo posisinya di balik. Iqbal ngejar-ngejar Acha meski sudah ditolak; mungkin akan ada bahasan restraining order dalam cerita. Namun jika pelakunya cewek, justru cowok yang menolak dan membentaknya yang dianggap berhati batu. Film bahkan nunjukin ada tokoh cowok pinter (kali ini tipe cupu) satu lagi yang nunjukin ada rasa ama Acha, tapi Acha yang cinta ke Iqbal menganggap si cupu itu mengganggu dan bikin sebal. Ini semacam standar ganda pada film. Tidak pernah ada konsekuensi pada Acha. Padahal mengejar orang yang enggak mau sama kita sebenarnya juga bisa bikin hidup sendiri berantakan. Kita bisa kehilangan kesempatan merasakan cinta yang asli, kita bakal halu sehingga mudah dimanfaatkan orang, apalagi kalo orang yang kita kejar bukan orang baek-baek kayak Iqbal. Sedihnya, film justru menghajar semua kepada Iqbal. Ada adegan Iqbal meledak karena gak tahan lagi karena ulah Acha, dan dia malah dikecam kasar oleh sahabat Acha. Di rumah, Iqbal semakin digencet oleh ayah yang ingin dia menang olimpiade, tapi karena Acha dia sakit, konsentrasinya belajar keganggu.
Dunia dalam film ini memaksa Iqbal untuk jadian sama Acha. Bahkan ada adegan yang memperlihatkan Iqbal dimanipulasi oleh teman-temannya untuk merasa galau ketika dia gak diundang ke pesta ulangtahun Acha. Film seperti bingung membuat kedua tokoh ini bersatu – karena supaya laku, tokoh haruslah jadian – maka sampai-sampai film pun ‘memaksa’ Iqbal untuk jatuh cinta, walaupun itu harus mengorbankan plot si tokoh. Aku beneran sedih melihat perkembangan Iqbal dalam film ini. Awalnya dia cool, hanya ngurusi urusan sendiri, dia pintar sehingga bisa terpilih jadi peserta olimpiade – Angga Yunanda paling cocok meranin tokoh ‘pendiem’ , namun seiring durasi, di balik kejengkelannya, ia tampak semakin galau. Benar-benar susah memastikan Iqbal genuinely in love kepada Acha – paling enggak, seperti cinta si cupu – atau karena seluruh dunia yang menyuruhnya. Motivasi tokoh ini kemudian dienyahkan begitu saja, dia gak punya apa-apa selain wujud yang dicintai oleh Acha. Kalimat yang ia ucapkan di bagian akhir film itulah yang ultimately break the movie for me, yang juga jadi bukti si batu sudah beneran hancur. Kurang lebih; “Aku gak suka sains. Aku gak mau kuliah ke luar negeri. Aku sukanya sama kamu.”  THAT’S DUMB. Okelah mungkin dia gak suka fisika, kimia, rumus-rumus, tapi sempit sekali yang ia suka cuma Acha. Setelah sepanjang film dia tampak beneran jengkel, tapi kemudian berubah. Hidupnya cuma Acha, dia membuang semua demi sesuatu yang sesungguhnya juga masih dipaksakan kepadanya. Bukankah bisa saja dia dibuat nerima beasiswa, dan masih suka sains, sambil pacaran ama Acha.

Berat memang suka ama orang tapi gak berbalas. Alih-alih berkutat dengan pesan ambigu dari film soal mendekati orang itu jangan dengan berisik (atau malah: berisik dahulu, ghosting kemudian?) sebaiknya kita berfokus kepada menjalankan hidup sesuai passion sendiri. Berhenti mengejar orang. Karena jika kita menjalankan hidup sebagai diri sendiri, orang yang tepat akan datang menemukan kita. 

 
 
 
Ini udah kayak Anti-La La Land. Dua tokohnya memilih untuk jadian dan membuang hidup mereka. Mereka bahkan tidak punya passion sedari awal, padahal pintar-pintar tapi gak ada yang beneran niat ikut olimpiade. Pembelaannya adalah, mereka masih pelajar. Mereka belum tau yang baik dalam hidup. Perjalanan mereka toh masih panjang. Biarlah mereka menikmati cinta. Dan jika kalian juga menikmati cinta monyet, kalian akan menikmati film ini, karena cerita mereka gak mulai dari langsung pacaran, melainkan ada perjalanan pedekate, nembak, ditolak, dan terus berjuang. Meski udah dikata-katai. Tapi jika bagi kalian ke-cringe-an mereka meromantisasi keinginan punya pacar itu annoying, atau dumb, atau bahkan ofensif karena menjurus harassment – perbuatan Acha dan sekitarnya bisa jadi membuat Iqbal berpikir ia juga cinta, atau lebih parah merasa bersalah udah pernah ngasarin – maka kalian gak akan asik menontonnya. Buatku, mestinya film ini difungsikan sebagai pembelajaran saja, gak ngejar pacaran, melainkan menemukan cinta itu sendiri; endingnya ya mesti gak bersatu.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for MARIPOSA.

 
 
 
That’s all we have for now.
Menurut kalian kapan dan apa yang membedakan cinta-yang-tak-terbalas dengan/menjadi kejahatan(harassment) atau gejala penyakit mental? Apa batas keinginan dengan obsesi? Bagaimana menurut kalian perbuatan Acha kepada Iqbal itu?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

MILEA: SUARA DARI DILAN Review

“The best way to love someone is not to change them, but instead, help them reveal the greatest version of themselves.”
 
 

 
 
Sepanjang pengalaman menonton dua film Dilan (yang mengambil perspektif tokoh Milea) ada gak sih – pernah gak sih – tebersit rasa penasaran cowoknya Milea itu kenapa bisa hobi berantem dan bergeng motor-ria, atau darimana si Dilan ini dapat alamat rumah Milea, atau siapa yang ngajarin dia jurus gombal yang sanggup bikin cewek SMA hingga emak-emak cekikian, atau -mungkin- kemana Dilan pada saat Milea mandi? Nah, jika pertanyaan-pertanyaan semacam itu pernah singgah di benak kalian; yang mengisyaratkan kalian peduli pada karakter si Panglima Tempur, maka film Milea: Suara dari Dilan garapan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ini adalah sajian untuk kalian.
Karena kali ini giliran Dilan himself untuk buka suara. Film ini dibuka dengan semacam breaking the fourth wall; memperlihatkan Dilan meng-acknowledge keberadaan buku Dilan 1990 dan 1991 yang merupakan kata hati dari Milea tentang dirinya. Narasinya menyebut Pidi Baiq telah memberikannya kesempatan untuk menuliskan segala kejadian dari sisi Dilan sebagai penyeimbang cerita Milea. Ketikan Dilan akan membawa kita dari masa dirinya kecil hingga ke momen Milea masuk ke dalam hidupnya, sesaat untuk dua tahun yang indah sebelum akhirnya mereka harus berpisah.

Origin story kenapa Dilan begitu cringey

 
Namun bahkan untuk memenuhi tujuan itu, film ini gagal untuk menjadi sebuah sudut pandang lantaran minim sekali elemen baru yang dihadirkan. Penonton yang ingin melihat seperti apa sebenarnya Dilan, tidak mendapatkan banyak hal berbeda dari tokoh ini karena penggalian yang dangkal yang tidak benar-benar dilakukan oleh film. Alih-alih berfokus kepada pembahasan untuk pembangunan perspektif karakter Dilan, beserta dunianya – melingkupi kehidupan sosial terkait geng motor, pribadi dalam hal hubungannya dalam keluarga – cerita tetap berpusat pada relasinya dengan Milea seperti yang sudah kita tahu dari dua film sebelumnya. Kita tidak diperlihatkan akar kesetiaan Dilan pada geng motor; kenapa dia masuk ke sana in the first place. Kita tidak diperlihatkan hubungan yang lebih detail antara Dilan dengan ayahnya; sosok yang sedari luar dapat kita lihat sebagai yang paling berpengaruh terhadap apa yang membuat Dilan seperti Dilan yang kita dan Milea kenal. Bahkan dalam urusan yang lebih receh seperti sumber ketertarikan Dilan kepada Milea, atau kenapa Dilan begitu maut rayuannya, kenapa dia bisa seajaib itu ngasih kado berupa TTS yang udah diisi — we never get to the bottom of this behavior.
Menceritakan kisah ini sebagai ketikan Dilan yang aware akan keadaan cintanya sekarang, yang berusaha menjelaskan kenapa dirinya dan Milea berpisah, actually membuat keseluruhan cerita semakin buruk lantaran yang ia ceritakan – yang kita tonton ini – tidak terkesan sejujur ketika Milea menceritakan sudut pandangnya. Cerita Milea: Suara dari Dilan tidak bisa dipegang kebenarannya dan lebih seperti pembelaan diri dari seorang yang memandang dirinya sebagai bucin dan pribadi yang cool dan ajaib. Sebuah cerita yang begitu self-centered. Misalnya ketika periode dia masih kecil ditanya cita-cita, Dilan menjawab cita-citanya pengen menikah. Ketika bundanya pengen masuk kamar, dia balik bertanya bundanya siapa. Sure, it’s cute dan unik. Namun karena film tidak menggali karakter ini lebih dalam, dan kita tahu adegan tersebut ‘ditulis’ oleh Dilan dewasa yang menceritakan kisah versi dirinya kepada kita, semua itu jadi terasa gak-real alias dibuat-buat untuk becandaan. Sama sekali tidak mengandung development yang genuine.
To make things even worse; Dilan yang jago berkata-kata, ternyata bukan storyteller yang baik. Kisah yang ia sampaikan melompat-lompat. Dan itu tertranlasi kepada kita sebagai rangkaian penggalan adegan yang sudah pernah kita lihat di dua film sebelumnya. Begitulah keseluruhan film ini. Rangkaian adegan ulangan yang disambung-sambungkan dengan adegan tambahan. Pertama kupikir, okelah mungkin ini montase penghantar yang menyambungkan Dilan 1990 dan 1991 untuk merefresh sekaligus pondasi bagi penonton yang belum tau cerita mereka. Namun dua puluh menit, tiga-puluh, hingga satu setengah jam kemudian montase alias adegan-adegan film lampau yang menandakan poin-poin cerita itu terus bermunculan. Mana cerita barunya, mana sisi lain dari Dilan yang seharusnya dikasih lihat kepada kita. Dan tahulah aku bahwa film ini sama sekali tidak punya hal baru, tidak ada penggalian sudut pandang yang dilakukan – motivasi Dilan yang ditetapkan sedari ia kecil adalah pengen nikah, namun pembahasan arc ‘ajaib’ ini juga sangat minim, jauh lebih parah daripada Milea’s di film pertama. Melainkan, film ini hanya mengulur-ngulur waktu karena sekuen yang benar-benar baru hanya ada di dua-puluh menitan akhir. Yakni saat Dilan dan Milea sudah dewasa, dan setelah berpisah mereka confront each other, dan menyadari ‘kesalahan’ masing-masing.
Dua-puluh menit terakhir itu; that’s our new movie. Pembuatnya gak mau capek mengembangkan cerita singkat itu menjadi film utuh beneran, materi aslinya benar-benar dikultuskan. Ini bisa jadi adalah film dengan usaha produksi yang paling kecil yang bisa dikeluarkan oleh sebuah studio/rumah produksi. I mean, ini adalah semacam trilogi tapi adegan-adegannya cuma kayak dari stock shot alias dicomot dari dua film pertama, kemudian disatukan, ditambah beberapa lagu dari Pidi Baiq untuk menggiring mood, dan jadi deh satu film lagi. Aku bahkan gak yakin Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla dan pemain-pemain mengikuti suting lagi, karena film ini – keseluruhan triloginya – kayak dishoot dari proyek pertama dan kemudian hasil syut dibagi-bagi oleh pembuat sehingga jadi tiga film. Kalopun suting lagi, mereka hanya ngambil untuk tambalan dan memperlihatkan lebih banyak Adhisty Zara yang jadi adek Dilan, karena kepopuleran Zara sudah melesat jauh sekali sehingga kali ini jebolan JKT48 ini perlu lebih banyak dikedepankan sebagai nilai jual. Nonton film ini buatku terasa kayak sedang di-scam oleh orang, karena sama sekali tidak terasa seperti film baru. Melainkan lebih seperti menonton versi extended dari cerita yang sudah pernah aku saksikan. Or even; a highlight. Kalo kalian penggemar WWE dan familiar sama show kayak Velocity atau Afterburn – acara recap dengan narasi penjelasan dari host, film Milea: Suara dari Dilan ini rasanya persis kayak nonton acara tersebut.
Tapi paling enggak kita tahu darimana Dilan mengasah skill meramal yang ia punya.

 
Pengungkapan paling memuaskan yang dipunya oleh film adalah soal kebohongan-kebohongan Dilan. Pada film kedua kita melihat perubahan sikap Dilan ke Milea. Dilan tampak sebagai pribadi yang jelek sekali di menjelang akhir film, aku bahkan menuliskannya sebagai karakter Dark Triad dan merupakan pilihan tepat bagi Milea untuk melepaskan diri darinya karena kadang kita tidak bisa begitu saja mengubah seseorang. Di film terakhirnya ini (semoga bener-bener terakhir!), kita melihat alasan sesungguhnya – paling enggak, alesan dari narasi Dilan – kenapa Dilan bersikap demikian, bahwa itu semua sebenarnya konflik yang menyakitkan bagi dirinya, dan betapa ternyata dia sedang menutupi sisi terbaik dari dirinya yang mekar oleh cintanya kepada Milea.

Jika kita perhatikan, Dilan yang suka berantem itu, sesungguhnya hanya berbohong ketika menyangkut menjaga perasaan Milea. Dilan adalah karakter kompleks dengan relationship yang sama kompleksnya. Keduanya pantas mendapatkan film dan naskah yang lebih baik daripada ini. Keinginan Milea mengubah Dilan actually membuat Dilan mengungkap sisi terbaik dirinya, meskipun itu menyakitkan baginya. Dilan sebaliknya tidak pernah meminta Milea untuk berubah menjadi lebih sesuai dengan dirinya, dan dengan bersikap seperti demikian, keduanya tanpa menyadari telah saling mendorong untuk menjadi lebih baik, thus membuktikan besarnya cinta di antara mereka berdua. 

 
 
Film harusnya bercerita lebih banyak tentang pengungkapan seperti demikian. Seharusnya kisah yang sekarang lebih berfokus kepada karakter dan motivasi, sebab ini cerita tentang pembelaan atau pengakuan dari Dilan, terlebih kita sudah puas dengan adegan-adegan manis pacaran di dua film sebelumnya. Namun bahkan dengan sebagian besar adegan yang diambil dari film-film sebelumnya, film ini somehow gak memasukkan adegan Dilan ‘berantem’ ama Milea disaksikan oleh Bunda yang actually salah satu yang paling penting untuk pendalaman. Aku gak ngerti kenapa adegan itu diabaikan dalam film yang seharusnya penjelasan dari sudut pandang Dilan. Entah kenapa film seperti menolak untuk ‘memanusiakan’ karakter Dilan. Dia dijaga untuk tetap seperti karakter ‘ajaib’ yang kekerenannya bersumber dari semakin banyak hal yang tidak kita mengerti dari dirinya. Di awal ada adegan Dilan bercerita dia sebenarnya sudah punya pacar saat Milea baru masuk ke sekolah. Adegan dari Dilan yang tau-tau terpana mendengar nama si anak baru hingga ke pacar lamanya yang nyosor duluan di bioskop terlihat sangat lemah untuk menjadi akar karakter ini karena sama sekali tidak mengungkap motivasi tokoh utamanya, tidak memaklumkannya sehingga Dilan bisa menjadi dekat dengan kita.  Inilah kenapa padahal sudah ada dua film, dan kini tiga, aku masih merasa susah untuk peduli dan percaya kepada karakter Dilan.
Walaupun dalam film ini Dilan mematahkan soal dirinya adalah Pidi Baiq, namun tetap terasa sang penulis memproyeksikan dirinya terlalu banyak ke dalam diri Dilan, sehingga tokoh ini seperti pada kasus tokoh utama dalam Koboy Kampus (2019). Enggak salah sih penulis memasukkan dirinya ke dalam tokoh cerita. Contohnya Lousia Maya Alcott yang menjadikan kisah hidupnya sebagai panggung cerita Little Women, dan Jo Marsh sudah rahasia umum sebagai proyeksi personal dirinya. Dan di situlah letak perbedaan Jo Marsh dengan Dilan. Jo ditulis dengan logis secara universal, ceritanya digrounded-kan sehingga kita berada di sepatunya. Sedangkan Dilan dibuat terlalu ajaib, kita tidak mengidentifikasi diri kepadanya melainkan seakan diminta untuk mengagungkan dan mengidolakan dirinya. Adaptasi film seharusnya ‘memperbaiki’ ini. Sayangnya, arahan film ini tampak tidak punya visi dan hanya sekadar mewujudkan buku menjadi tontonan bioskop. Dialog pun kali ini terasa jauh lebih cheesy dan brainless. Ada dialog Dilan dan Milea unyu-unyuan, Milea bilang “Kan aku bisa nyusul.” Dilan nanya “Naik apa?”, yang lantas dijawab “Naik kamuuu” oleh Milea, disusul oleh ambyarnya seisi studio bioskop. Sungguh dialog tak logis yang menggadai nalar penonton demi adegan pacaran.
.
 
 
Semestinya bisa jadi cerita yang solid yang menjustifikasi sikap dan siapa sebenarnya Dilan yang pada dua film sebelumnya ditetapkan sebagai tokoh penyelamat, panutan, sekaligus tambatan hati seorang Milea – dan menariknya, tokoh ini bukan ‘anak baik-baik’. Namun film hanya bercerita ulang, separuh adegannya adalah adegan di film Dilan 1990 dan 1991 dipajang kembali, dan baru benar-benar ngasih sesuatu yang belum pernah kita lihat di menit-menit menjelang akhir. Bahkan untuk penonton yang gak nonton dua film sebelumnya, film ini at best adalah cerita lompat-lompat dari seorang tokoh yang motivasinya gak jelas dan stake yang gak greget – dia toh bisa dengan mudah berhenti dari geng motor tanpa ada konsekuensi. Shameless effort dalam nyari duit. Atau ketidakmampuan sutradara mengadaptasi dan meng-refresh cerita. Atau kedangkalan materi. Masalah film ini terletak pada tiga kemungkinan tersebut. But who am I kidding; seperti jawaban soal ujian di sekolah, selalu ada pilihan keempat. Semua jawaban benar. Besar kemungkinan itulah jawaban yang tepat.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for MILEA: SUARA DARI DILAN

 
 
 
That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian Dilan dan Milea seharusnya bersama? Kenapa?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

HABIBIE & AINUN 3 Review

“The female is, as it were, a mutilated male, and the catamenia are semen, only not pure”
 

 
Serasa jadi cucu B.J. Habibie kita semua dibuat oleh Habibie & Ainun 3. Duduk manis di kursi masing-masing mendengarkan Eyang mengisahkan kepada seluruh keluarga kenangannya tentang seorang wanita hebat yang menjadi cinta abadi beliau; Ibu Ainun. Tentang pertemuan dan perpisahan-sementara mereka berdua demi cita-cita. Tentang masa kecil Ainun. Tentang perjuangan pendidikan Ainun. Tentang perjalanan cinta Ainun (di layar, sebelum cerita berlanjut cucu-cucu yang kecil dikirim keluar ruangan oleh Eyang karena sepertinya imaji Jefri Nichol bertelanjang dada dapat menjadi terlalu berlebihan buat mental mereka). Dan klimaksnya adalah tentang pilihan besar yang dibuat oleh Ainun atas nama kemajuan Indonesia.
Film ini worth untuk ditonton sedari penampilan pemainnya. Berkat keajaiban prostetik, Reza Rahadian disulap seperti sosok Habibie tua, untuk kemudian kemagisan aktingnya melanjutkan tugas sehingga aktor ini benar-benar tampak bergerak, bicara, bernyawa seperti Pak Habibie tulen. Melihat penampilan mengagumkan Reza di sini, kita akan paham kenapa film ngotot mempertahankan untuk tetap memakai Reza untuk Habibie muda; di mata mereka menggunakan efek de-aging CGI beresiko jauh lebih kecil dibandingkan mencari pemain yang belum tentu bisa memainkan sebaik yang dilakukan oleh Reza. Sedangkan Maudy Ayunda; meskipun fisiknya tidak banyak diubah, tetapi Maudy seperti menghidupi karakter Ainun luar-dalam. Ainun adalah pribadi yang pintar, ringan tangan dalam menolong orang, punya hati yang lembut di balik tekad yang kuat. Itu semua tampak effortless dibawakan oleh Maudy, seolah ia tercipta untuk peran ini. Di film ini Ainun akan menjalin hubungan dekat dengan dua pria, dan Maudy berhasil mengenai setiap emosi yang dibutuhkan sehingga kita mengerti perbedaan intensitas cinta yang mesti ia tampilkan.
Tambahkan kepekaan sutradara yang luar biasa terhadap memancing reaksi emosional dari penonton, baik melalui timing masuknya musik dan lagu ataupun melalui timing kamera; Film ini hadir sebaik yang bisa diusahakan oleh Hanung Bramantyo. Ini adalah yang terbaik yang bisa ia hasilkan darimateri sekuel yang ia tangani. Dan di sinilah masalahnya; materi kali ini tidak berhasil dipertahankan sebagai hal yang menarik. Malah terasa ada dua sudut pandang, dan dua kepentingan yang tak bisa bercampur padu.

Aku pribadi senang karena bukan hanya dua, melainkan ada empat alumni Gadis Sampul muncul di film ini

 
 
Proyek Habibie & Ainun 3 pertama kali disiarkan ke publik pada bulan April 2019 lalu, sebagai sekuel dari Habibie & Ainun (2012) dan Rudy Habibie (2016). Naturally tentu saja banyak peristiwa yang terjadi antara April hingga Desember 2019 saat perilisan filmnya. Di antaranya adalah wafatnya bapak yang pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia ini. Meninggalnya B.J. Habibie selain membuat satu negara berduka, juga mengubah course film. Dari yang tadinya film diniatkan sebagai murni kenangan beliau untuk ibu Ainun – Pak Habibie bertindak sebagai semacam supervisor yang memastikan tidak banyak fakta yang menyimpang muncul pada film, berubah menjadi untuk didedikasikan kepada beliau. Seperti yang tercantum pada poster film ini “Dedicated to the Memory of B.J. Habibie”. Ini akhirnya menjadi ‘konflik’ yang tercermin benar pada hasil film.
Dari judulnya memang kita seharusnya sudah mengerti tokoh Habibie yang ikonik dimainkan oleh Reza Rahadian akan mempunyai peran lebih besar daripada sekadar cameo. Namun perubahan keadaan di dunia nyata, memberikan efek peran Habibie dalam film ini menjadi lebih banyak dan lebih memusatkan cerita kepadanya. Misal pada babak pertama, kita kembali mendapat sudut pandang Habibie muda yang menceritakan kepada Ainun mimpi dan cita-citanya membuat pesawat. Menunda sudut pandang tokoh wanita utama, yakni Ainun, yang seharusnya ini adalah gilirannya untuk dijadikan fokus. Setelah tiga-puluh menit barulah kita mendapat sudut pandang Ainun, mengetahui keinginannya, dan apa yang menjadi hambatan baginya. Film seperti jadi tidak percaya penonton tertarik untuk mendengar cerita Ainun. And I think it is ridiculous. Maksudku, gimana penonton mau percaya pada cerita yang mereka bawa tatkala filmnya sendiri udah duluan nunjukin ketidakpercayaan terhadap cerita tersebut dengan tetap menjadikan Habibie – yang sudah punya dua film tersendiri – sebagai ‘jualan’ utama. Close up tetap pada wajah Reza tidak peduli saat versi muda wajahnya kadang tampak mengerikan oleh efek komputer. Namun, melihat ke belakang setelah film usai, hal ini sepertinya juga dikarenakan hanya ada sedikit porsi yang benar-benar menarik yang bisa diangkat dari cerita Ainun. Dan itu pun tampak sama tak-meyakinkannya dengan efek wajah muda Habibie Reza.
Narasi soal Ainun melingkupi dia menolak hanya menjadi bidan. Ainun ingin menjadi dokter. Ainun kuliah kedokteran di Universitas Indonesia pada tahun 1955.  Terlebih cerita ini adalah pada masa baru terbebas dari penjajahan, dan mayoritas Indonesia masih punya pandangan cukup terbelakang. Wanita masih belum diharapkan sekolah tinggi, apalagi menjadi dokter. Ainun ‘dijual’ oleh cerita sebagai minoritas di kampus. Namun dia cukup populer sampai-sampai mahasiswa dari fakultas lain membentuk fans club dirinya. Ainun populer karena tindakannya yang berani mengalah untuk lebih dari sekadar menang, karena ketenangan, dan karena kecantikannya. Cerita bersinar tatkala membahas Ainun dalam level yang lebih personal seperti ketika ia yang berusaha membuktikan stigma wanita tidak bisa menjadi dokter sehebat pria kemudian mencicipi kegagalan untuk pertama kali. Ketika mencoba menyisipkan soal kebangsaan pada susahnya menjadi wanita yang ingin menjadi dokter, cerita menjadi tak meyakinkan.

Jadi dokter itu susah, terutama buat wanita. Stigma ini udah melekat hari-hari awal perkembangan dunia pengobatan, bahkan filsuf Yunani Aristoteles mengkarakterisasikan wanita sebagai “jantan yang termutilasi”. Kepercayaan ini terus menurun di dalam kultur kedokteran. Bahkan diduga sebagai akar dari pandangan ilmiah yang menyokong wanita dari tulang rusuk, sehingga merupakan minor/inferior daripada pria.

 
Terutama karena film mati-matian membuat keadaan Ainun seperti Marie Thomas, dokter wanita pertama dari Indonesia. Seolah Ainun adalah mahasiswi kedokteran pertama yang visioner, akan tetapi hal tersebut malah dibahas dengan elemen-elemen pendukung yang enggak maksimal. Antagonis Ainun hanyalah satu orang senior cowok, yang oleh naskah ditulis punya ego comically tinggi dia masih menyangka dirinya lulusan terbaik padahal menyadari udah ketinggalan satu tahun dan kalah dalam lomba atas nama kampus. Perjuangan Ainun akhirnya mengalah masuk ke dalam balutan drama romansa. Kisah cinta Ainun dan Ahmad pada masa perkuliahan yang berusaha keras dibuat manis, tidak pernah terasa semanis yang diinginkan karena kita sudah tahu pada siapa Ainun akhirnya bersama. Kita sudah mengantisipasi perpisahan mereka. Beruntung naskah menyiapkan dialog-dialog quotable nan sensasional untuk scene putus. Sebagian besar penonton yang sudah disasar akan menikmati sekali adegan break up ini, karena memang dibuat dengan jor-joran. Terlebih karena film dibuat dengan teknologi dolby atmos.

Ainun kasidahan “Ahmad ya Habibie, Ahmad ya Habibie”

 
Tema perjuangan wanita di dunia laki-laki tidak terasa benar seperti narasi perjuangan perempuan. Melainkan lebih seperti narasi penghormatan seorang pria kepada wanita. Tentu saja ini adalah pesan yang bagus, hanya saja film masih terasa seperti dunia pria. Karena yang diperlihatkan oleh film adalah Ainun masih butuh untuk diselamatkan oleh pria. Ainun masih sebuah ‘piala’ yang dimenangkan dalam suatu kompetisi maskulin. Perjuangan Ainun meraih gelar dokter, perjalanan cintanya yang mengambil porsi besar dari bentuk perjuangan itu, menjadi sia-sia karena pada akhir film kita tidak melihat Ainun sebagai sosok tersendiri. Pidato valedictorian Ainun yang powerful sebagai puncak arcnya dengan cepat tergantikan oleh kebutuhan film memperlihatkan footage asli dari pemakaman Pak Habibie. Bahkan kisah cinta Ainun saja dibayangi oleh sudut pandang Habibie yang ditanyai oleh cucu-cucunya “Apa Eyang tidak masalah?” Semua daging cerita ada di Ainun, tetapi dari cara disampaikannya film lebih bertindak sebagai pengingat kepada kita bahwa dia Ainun ‘hanya’ istri Habibie.

Satu lagi ungkapan yang sudah ketinggalan zaman yang dipakai dalam konteks bertutur film ini adalah “Di belakang setiap pria yang hebat ada wanita hebat”. Ungkapan tersebut setidaknya sudah dipergunakan sejak pertengahan 1940an. Ungkapan ini perlu diubah karena seperti menyugestikan posisi wanita berada di belakang pria. Padahal semestinya pria dan wanita sejajar. Wanita hebat ada di sebelah pria yang hebat. Wanita hebat ada bersama pria yang hebat.

 
 
 
Cerita film ini mengalir dengan lancar, bahkan dengan gaya narasi yang seperti flashback. Desain produksi dan penampilan pemain mayoritas jempolan. Beginilah cara terbaik untuk menyajikan cerita yang harus memuat kenangan satu tokoh akan tokoh lain, sekaligus mengenang tokoh yang mengenang tadi, dan juga membangun cerita kehidupan tokoh yang dikenang oleh tokoh yang juga sedang dikenang. Agak tumpang tindih memang – ini mungkin adalah contoh film yang dipengaruhi oleh kejadian dunia nyata, dan sebenarnya tidak mengapa jika banting stir digunakan untuk mengenang B.J. Habibie sebagai tambahan dari mengenang Ainun lewat Habibie. Tapi ini juga menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengenang seorang wanita hebat, tanpa menyertakan pria hebat yang didampingi olehnya. Meskipun mengusung gagasan pria dan wanita punya kesempatan yang sama dalam hal apapun, dan dari judulnya film ini memang tentang mereka berdua, akan tetapi cara film memposisikan penceritaan, menempatkan dan memperlakukan narasi tentang Ainun, tak pelak membuat kita bertanya; Apakah wanita masih minoritas di dalam dunia pria?
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for HABIBIE & AINUN 3