THE EYES OF MY MOTHER Review

“Being alone with your feeling is the worst because you have nowhere to run.”

 

 

Tumbuh di lingkungan peternakan sepertinya menyenangkan. Dekat dengan alam. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Hamparan hijau seluas mata memandang. Kesannya segar sekali gitu ya. Namun bagi anak-anak, kondisi melegakan tersebut bisa sekaligus jadi kurungan buat mereka. Dengan rumah tetangga paling dekat bermil jauhnya, Francisca bermain boneka sendirian. Aktivitas setiap harinya diselingi dengan melihat Ibu bekerja, memberi makan sapi-sapi, merawat, dan memotongnya sebagai makan malam.

Yup, ibu Francisca enggak segan-segan membawa pulang kepala sapi dan membedah matanya di depan mata Franny yang lugu, yang memegang teguh setiap cerita yang keluar dari mulut ibunya. Dia belajar apa yang diakukan oleh ibunya, dan untuk anak seusianya melakukan hal seperti demikian, jelas bukanlah pengalaman yang bikin sehat jiwa. Lingkungan tidak membaik bagi Franny karena kedatangan seorang asing ke rumah mereka, membuat Franny menyaksikan lebih banyak trauma. Film ini adalah tentang Franny yang perlahan ‘menggila’ sekaligus berusaha keras mempertahankan interaksi sosial. Dia mengurus jasad ayahnya, dia memberi makan orang yang ia sekap di gudang, The Eyes of My Mother akan membawa kita mengintip sedikit ke dalam kehidupan seorang yang berubah drastis dari korban menjadi seorang pembunuh.

meja makan keluarga ini isinya mata sapi beneran, bukan yang telur.

 

Kamera yang statis ngerekam adegan-adegan long take, komposisi warna hitam-putih, desain suara dan scoring yang mengendap dengan eerie abis, drama horor ini diarahkan dengan gaya yang sangat nyeni. Perspektif tokoh utama tidak kita alami langsung, melainkan kita amati dari jauh. Kita enggak diajak masuk ke dalam kepala Francisca yang trauma secara emosi, kita cuma melihatnya berinteraksi seperti Francisca melihat apa yang dilakukan oleh ibunya. Dan di sinilah ketika film menjadi sangat disturbing. Kita tidak pernah melihat Franny kecil bertanya kenapa. Moral tidak pernah jadi permasalahan bagi cerita. Ini murni selayang pandang (sukur Alhamdulillah horor ini hanya satu jam lebih sedikit, siapa tahan ngerasa unsettling lama-lama) kehidupan ‘normal’ yang abnormal, sehingga pertanyaan ‘kenapa’ itu justru datang bertubi-tubi kepada kita. Kenapa kita mesti ngeliat ini semua? Kenapa film ini dibikin, apa sih maksud sutradara Nicolas Pesce memperlihatkan ini semua? Kenapa membunuh itu mendatangkan perasaan menakjubkan? Kenapa oh kenapa?

Karena, baik sebagai pembunuh ataupun sebagai korban, mereka sama-sama adalah manusia.

 

Film ini membagi narasinya ke dalam tiga chapter, masing-masing berjudul Mother, Father, dan Family. Ketiganya dapat kita translasikan sebagai trait ataupun personality yang membentuk pribadi Francisca. Insting merawat yang ia dapat dari ibunya, insting kerahasiaan dan bertindak yang ia peroleh dari ayahnya, dan keduanya terhimpun menjadi jawaban atas masalah Francisca; dia butuh keluarga.

Di balik segala ke-uneasy-an, segala perasaan mengganggu, sesungguhnya ini adalah cerita psikologikal yang sangat humanis. Bukan tidak mungkin orang-orang biasa seperti kita mengalami hal yang sama. Sebab, ketakutkan hakiki dari cerita ini BERINTI KEPADA RASA KESEPIAN. Layaknya film-film horor modern yang keren, film ini pun mengerti bahwa rasa takut itu datangnya dari dalam jiwa manusia. Untuk kemudian diperkuat dengan monster, hantu, ataupun hal-hal gaib yang tak berwujud. Dalam film ini, rasa takut akan kesepian tersebut diamplify menjadi berkali-kali lebih kuat dan disturbing dengan membenturkannya dengan elemen psikopat. Francisca merasa menakjubkan saat membunuh orang, sementara tidak ada yang lebih dia inginkan daripada punya company, punya teman. Konflik inilah yang jadi emotional core dan pusat cerita. Motivasi Fransiska yang terpecah antara pembunuhan dengan merawat, sampai kepada titik Francisca terlihat menyalurkan insting keibuan, itulah yang membuat kita susah untung berpaling dari film ini, meskipun penceritaannya sangat bikin kita enggak-nyaman.

Kesepian juga adalah penyakit mental manusia sebagai makhluk sosial. Banyak orang merasa sepi padahal sedang berada di tengah-tengah kerumunan pesta. Bahkan faktanya, lebih dari 60% pasangan yang sudah menikah masih merasakan kesepian. Rasa sendiri dan sepi itu bergantung kepada kualitas hubungan yang kita jalin. Namun kesepian tidak pernah digolongkan sebagai abnormal. Campurkan ia dengan kejadian traumatis? Nah, barulah kita bicara dengan Francisca!

 

 

Dalam kasus ini, Francisca mendapat personality dari apa yang ia lihat pada ibunya. Her deepest desire adalah merawat, singkatnya bisa dibilang ia ingin menjadi seorang ibu. Sepanjang film kita akan melihat dia berusaha keras untuk melakukan hubungan sosial dengan orang-orang. Ada adegan ketika ia ingin memberi makan sapi, namun sapinya malah mundur menjauh. Dan kemudian kita melihat usahanya menjalin relationship gagal karena pasangannya menjauh, takut. For her psychopathic behavior. Jadi dia menemukan cara termudah dengan menyekap mereka. Dia tidak butuh teman yang balas bicara, dia cuma butuh tubuh untuk dia kasih makan, dia rawat sebaik yang ia yakini.

Gaya macabre film ini, toh, bukan lantas berlebihan. Kita tidak melihat kekerasan yang benar-benar gamblang. Enggak ada yang bikin kita memejamkan mata, dari segi kesadisan adegan. Warna monokrom juga berperan dalam menyamarkan imaji-imaji berlumuran darah. Dalam kata lain, dari segi gore, film ini enggak benar-benar bikin mual. Adegan-adegan sadis itu justru terjadi di luar kamera. Atau sangat jaaaauuuh dari kamera. Kita tidak betul-betul melihat apa yang dilakukan oleh Fransiska kepada cewek yang dia ajak pulang ke rumah. As far as blood splatters, kita hanya melihat darah ketika cairan itu sedang dibersihkan. Tapi tutur film ini begitu efektifnya, sampai-sampai kita merasa seolah tahu apa yang terjadi di antara potongan adegan. Hampir seperti adegan kekerasan tersebut terjadi di depan mata kita walaupun kita tidak pernah melihatnya. Dan jika apa yang tidak dinampakkan oleh film ini bisa dengan jelas kita bayangkan, maka gambar-gambar yang secara eksplisit ditampakkan – bak mandi dengan air seputih susu tempat Francisca berendam dengan mayat ayahnya, misalnya – akan terus terpatri dalam pandangan kita, bahkan jauh setelah kita menyaksikannya.

“look in my eyes, what do you see?”

 

Penampilan para pemain dieksekusi dengan hati-hati. Francisca diniatkan untuk terasa jauh sehingga saat rasa simpati timbul kepada tokoh ini, kita akan merasa semakin tidak nyaman. Kika Magalhaes memerankan Francisca dewasa dengan keanggunan dan level kemisteriusan yang membuatku membandingkannya dengan aktor lokal Shareefa Daanish yang juga kerap bermain di ranah horor. Di bawah pendekatannya, tokoh ini mampu menumbuhkan rasa simpati meskipun tak jarang aksi yang ia lakukan tak dapat kita pahami. Ada perasaan sedih yang merasuk kala kita melihat dia berusaha untuk berfungsi secara sosial in her own screwed up way.

 

 

Di babak awal, pace terasa agak sedikit diburu-buruin, namun secara keseluruhan, film ini digarap dengan kalkulasi yang sangat spesifik. Trauma dan Kesepian seolah dijahit dengan precise ke dalam narasi, menghasilkan sebuah cerita yang sangat mengganggu. Clearly, apa yang diceritakan oleh film ini bukan untuk semua orang. Film ini enggak butuh jumpscare ataupun trik-trik pembunuhan besar untuk bikin kita ngeri. Secara artistik, ini adalah arthouse horror yang amat ambisius. Untuk sebuah karya pertama, pencapaian Nicolas Pesce tergolong luar biasa. Kita bisa melihat visinya. Meskipun mungkin tidak selalu jelas kenapa. Perspektifnya yang enggak necessarily subjektif, membuatnya sedikit artifisial.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE EYES FOR MY MOTHER.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

THE VOID Review

“Keeping your shape hidden with your triangle intact.”

 

 

Reaksi terwajar ketika melihat ada pemuda merangkak-rangkak hingga tersungkur di pinggir jalan pada malam yang sepi tentu saja adalah “meh, mabok noh orang!” Pikir dahulu sebelum bertindak suka kita panjang-panjangin menjadi pikir negatif dulu – maklumi – baru kemudian ambil tindakan seperlunya. Meski kalo aku sendiri yang nemuin orang berdarah-darah di jalanan gelap, maka kemungkinan besar aku akan langsung ngabur balik arah tanpa mikir dua kali. Tapi Daniel Carter adalah seorang polisi. Tugasnya melindungi. Jadi, dia mendekat ke si pemuda misterius, dan dengan segera dia menyadari orang ini butuh pertolongan serius. Opsir junior Daniel membawanya ke rumah sakit kecil di pinggir kota. Dan di sanalah kejadian mulai menjadi teramat aneh. Pelataran rumah sakit yang nyaris kosong tersebut mendadak ramai oleh sosok-sosok berjubah putih yang menggenggam pisau. Misteri film ini enggak sebatas pada ancaman anggota cult di luar saja. Listrik di dalam pun lantas ikutan berulah. Dan ada makhluk mengerikan bertumbuh dari mata seorang suster!! Kejadian di film betul-betul menjadi kacau dan di luar akal sehat, tapi ini adalah jenis kekacauan yang amat sangat bisa kita nikmati!

Beberapa tahun ini, banyak kita dapatkan horor-horor independen seperti It Follows (2015) ataupun The Babadook (2014) yang dibuat dengan arahan yang keren. Horor tapi nyeni, aku menyebutnya. Tentu saja ini adalah perkembangan yang sangat menyegarkan lantaran generasi sebelum ini punya arahan yang, ah katakanlah, lebih fisikal. Horor klasik generasi tahun 80an biasa disebut sebagai generasinya BODY HORROR. Karena memang dalam film tersebut banyak kita jumpai potongan-potongan tubuh yang bikin mual, monster-monster aneh yang bikin jijik, pesta pora gore, deh, pokoknya! Banyak orang yang memandang 80an sebagai periode puncak dari genre horor, filmmaker udah gak pakai mikir dan langsung ambil tindakan nekat. Dengan berani mengambil kesempatan sekaligus ngambil resiko, kala itu trennya adalah semua saling berlomba bikin horor yang paling aneh, dan filmmaker itu, mereka tidak pedulikan apapun. Semuanya mengambil creative risk. Bahkan Indonesia juga terjangkit fenomena yang sama, di sini kita punya Bayi Ajaib, Malam Satu Suro, Pengabdi Setan, dan banyak lagi yang nampilin horor dengan praktikal efek yang sangat graphic. Aku salah satu dari sekian banyak fans horor 80an, yeah, bukankah aku sudah pernah bilang aku berangkat dari genre horor?

Makanya The Void ini adalah sesajen yang sangat delightful bagiku. Film ini, jelas sekali, adalah throwback buat horor era 80an. Di sini kita akan ngeliat monster dengan sulur-sulur mengerikan ‘memakan’ manusia, kita akan liat kulit wajah yang mengelupas, perut yang menggelegak sebelum pecah mengeluarkan makhluk aneh yang lain. Makhluk-makhluk yang nampil dalam film ini begitu luar biasa. Walaupun ada sedikit efek komputer, menjelang akhir malah para tokoh kita akan masuk ke dunia green screen. Namun sejatinya MAKE UP DAN EFEK PROSTETIK ADALAH BINTANG dalam The Void, yang tentu saja dibuat dengan budget rendah. Kalian tahu, sebagian besar adegan menakutkan film ini adalah mimpi indah buat penggemar horor klasik.

Kehamilan selalu merupakan fenomena horor bagi cowok

 

As much as bikin kita nostalgia ke jamannya John Carpenter, The Void juga mengEKSPLORASI KETAKUTAN DARI HAL-HAL FILOSOFIS DAN KOSMIK YANG TIDAK KITA KETAHUI, yang dipengaruhi oleh gaya penceritaan H.P.Lovecraft. Rumah sakit jadi lokasi tertutup yang menjebak tokoh-tokoh film. Mereka ketakutan setengah mati, tidak tahu harus percaya kepada apa. Mereka diberi persenjataan yang sama lengkapnya dengan informasi tentang apa yang terjadi, dan itu sangatlah sedikit sekali. They are really just grasping at straws. Mereka enggak tahu di kota kecil mereka ada kelompok cult. Mereka enggak paham sama pandangan ajaran ‘sesat’ ataupun filosofi ngawur soal menentang Tuhan dengan menihilkan kematian lewat mutasi atau semacamnya, yang jadi motivasi utama pihak antagonis cerita. Dan kita, sebagai penonton, melewati pengalaman menakutkan itu bersama para tokoh. Sebab kita dan mereka, kita semua sama-sama enggak tahu apa-apa. Makanya ketika tokoh-tokoh ini belajar sesuatu hal, they discover things, atau bahkan ketika mereka cuma berdiri diam ketakutan hendak dimamam monster, kita juga merasakan hal yang sama. Kita ikut takut, bingung. Perasaan yang kita alami sangat in-sync dengan mereka. Dan setelah semua efek-efek menakjubkan itu, semua elemen cerita akan terkonek dengan cara yang juga sangat aneh.

Segitiga menjadi objek sakral yang terus kita jumpai sepanjang durasi. Geometri ini melambangkan dua lapisan tema cerita. Umumnya, segituga adalah simbol dari keharmonisan. Film ini juga membahas segitiga sebagai ‘formasi’ keluarga bahagia, sama seperti yang sekilas disebutkan oleh film animasi The Boss Baby (2017); sistem dua-orang yang distabilkan oleh orang ketiga, dalam hal ini adalah anak. Dalam The Void, ada implikasi tokoh-tokoh yang ngalamin penampakan ‘dunia lain’ adalah tokoh yang pernah ngalamin kehilangan anak. Tokoh yang segitiganya pernah rusak. Ini adalah tentang orang yang ingin membentuk kembali segitiga tersebut, but unfortunately segitiga juga berarti sebuah doorway, dan mereka menginterpretasikannya sebagai jalan masuk ke dunia horor.

 

Meskipun memang tokoh dinomorduakan, di mana segala kreatifitas dan kerja keras sepertinya memang didedikasikan untuk recreating segitiga keharmonisan horor klasik, The Void enggak sepenuhnya nyerah menjadi kosong. Sutradara merangkap penulis Jeremy Gillespie dan Steven Kostanski terlihat ingin memanfaatkan elemen filosofis untuk menutupi kekurangan di narasi dengan menjadi ambigu. Kayak, “Hey let’s just make this ambiguous so we can have fun with prosthetic and make up stuff!”. Dan kerjaan mereka tersebut memang sukses berat. Ini adalah salah satu film horor dengan efek praktikal paling gile di era 2000an. Ada beberapa jawaban yang diberikan secukupnya sehingga kita bisa menghimpun pemahaman sendiri soal apa yang sebenarnya mereka bicarakan di sini. Tapi tetep saja, keambiguitas itu menjadi salah satu kelemahan sebab hasil akhir produknya memang lebih terasa sebagai proyek have-fun bernostalgia semata.

Get ready for Chau Down!!! Eh, salah film…

 

Enggak semua film kudu menjadi studi karakter dengan tokoh-tokoh dan screenplay yang amazing dan semuanya harus sempurna. Film boleh saja bermain-main dengan teknik pembuatan model ataupun efek dan make up sadis. Asalkan jangan setengah-setengah. Film harusnya dibuat dengan komitmen ke satu arahan. Untuk The Void ini, aku ngerasa sayang aja mereka enggak menulis karakternya dengan lebih well-rounded lagi karena film ini toh memang meminta kita untuk peduli sama tokoh-tokoh. Penampilan aktingnya memang enggak dalem, namun dari babak pertama mereka sudah diset up dengan baik sehingga kita beneran peduli sama mereka menjelang akhir. Aku genuinely ngarep biar tokoh yang enggak bisa bicara itu selamat sampe ending. Tapi terutama kepada Polisi Daniel Carter dan istrinyalah kita banyak menyilangkan jari. Ada banyak momen ketika film ini kita masuk ke dalam hubungan mereka, namun pengeksplorasiannya terlalu tipis. Kita bahkan enggak jelas apakah mereka ini udah cerai atau lagi pisah doang.

Ketika sebuah film punya set up yang menarik udah menghamparkan banyak kepingan puzzle yang kalo disusun sungguh-sungguh bakalan jadi satu gambar yang keren, harusnya film tersebut ngedeliver penghabisan dengan gede. You know, throw a big punch as a finisher. Namun alih-alih begitu, The Void memilih untuk berakhir dengan menggantung kita. Membuat kita bertanya-tanya dan ingin lebih banyak. Saat di babak akhir, film ini agak menyebar begitu saja, enggak difokuskan ke satu penyelesaian. Film kehilangan semangatnya di akhir dan buatku ini mengecewakan. Padahal mereka mulai dengan so promising.

Harmoni kehidupan mungkin dilambangkan oleh bentuk segitiga, akan tetapi sejatinya kita tidak terbentuk dari kejadian yang menimpa hidup. Kepercayaan kita akan arti dari kejadian itulah yang membantuk kita.

 

 

 

Pengalaman misterius yang terasa genuine, horor ini akan membawa kita ke dalam realm of unknown. Penggemar horor seperti aku akan mendapati film ini sangat mengasyikkan. Efek praktikal dan make upnya sangat menakjubkan. Set rumah sakit dijadikan ruang tertutup yang menyeramkan. Menghadirkan cerita yang ambigu, akan tetapi menilik dari sebagian besar waktu, itu hanyalah cara dari film ini untuk menyamarkan alasan sebenarnya ia dibuat; hanya untuk bermain-main dengan efek dan nostalgia kepada horor klasik. Penyelesaiannya harusnya bisa lebih dipikirkan lagi. Karakternya harusnya bisa ditulis lebih well-rounded lagi. Mungkin memang harus beginilah akhirnya jika kita memulai sesuatu dengan bertindak duluan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE VOID.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

GET OUT Review

“We are afraid of sharing power. That’s what it (racism) is all about.”

 

 

Aku enggak tahu tepatnya gimana perasaan menjadi satu-satunya orang berkulit hitam di tengah-tengah pesta. Namun Jordan Peele tahu persis rasa canggung dan sedikit paranoidnya berada di dalam kondisi seperti demikian. Jadi, komedian yang mengawali suksesnya dari serial sketsa komedi di Youtube (Key and Peele, coba deh tonton sekali-kali, kocak!) tersebut mengangkat sudut pandang seorang yang dealing with that situation. Dan oh boy, film Get Out ini berhasil menjadi debut penyutradaraan yang menjamin setiap penonton untuk menanti-nanti karya selanjutnya dari Jordan Peele. I know I did.

Pusat dari cerita Get Out adalah seorang fotografer kulit hitam bernama Chris (mainnya brilian banget, aksen Inggris Daniel Kaluuya bener-bener enggak kedengaran di sini) yang lagi mesra-mesranya pacaran. Hubungan mereka baru jalan empat bulan dan pacarnya, Rose (penampilan Allison Williams juga fantastis, dia memenangkan hati kita dari adegan pertama), meminta Chris untuk datang menemui kedua orangtuanya di kediaman private mereka. Oke, kita harus nekankan ke hubungan yang baru empat bulan, karena memang segitu singkatnya lah hingga Rose belum sempat ngasih tau ke mama papa kalo mereka ngejalanin hubungan antarras. Meskipun Rose bilang hal tersebut bukan masalah karena keluarga mereka bukan rasis, tetapi hal beda kulit ini lumayan alarming buat Chris. Ketika dia sampai ke rumah keluarga Rose, dia disambut hangat. Semua orang di sana perhatian kepadanya, mama Rose yang psikiater bahkan nawarin jasa hipnotis buat nyembuhin kecanduan rokok Chris. Semua kelihatan baik-baik saja sampai Chris menyadari ada sesuatu hal yang ganjil terjadi di belakang layar keluarga ini.

“Bye, Georgina!”

 

Aku cinta horor. Aku berangkat sebagai penonton film ya dari genre ini. Namun aku sadar, bahwa film horor yang bagus itu sangat jarang. Obviously jaman sekarang kita bakal lebih mudah nemuin orang yang masih memandang status dari warna kulit ketimbang nemuin film horor yang benar-benar bisa membuat kita bergidik oleh rasa merinding. Horor yang bagus datang dari psikologi manusia, karena takut itu bukan fakta, melainkan perasaan. Ketika kita nonton horor yang begini, kita akan merasa unsettling sekaligus jadi terinspirasi karena layaknya film-film genre lain yang bagus; horor semestinya juga mampu memberikan kita suatu topik kemanusiaan untuk jadi bahan diskusi. Dan aku harus bilang, Get Out adalah film yang punya SUDUT PANDANG YANG SANGAT BERANI. Sebelum ini, Peele nulis dan main bareng sobatnya Key (look for him jadi cameo sekilas di film Get Out) di komedi aksi berjudul Keanu (2016) tentang kucing; kocak namun bukan film yang hebat, tapi punya perspektif yang unik. Makanya aku jadi penasaran karena di Get Out kali ini yang dibuatnya adalah horor, dan yes, film ini definitely diceritakan dari perspektif yang tidak pernah kita lihat sebelumnya pada genre ini. Dan setelah menonton, aku sangat terkesan, I love this film.

Peele nunjukin bahwa dia paham gimana mengarahkan film horor, dia mengerti cara membuat setiap adegan menakutkan menjadi menarik. Bahkan menyenangkan. Ini adalah pandangan PSIKOLOGIS SEKALIGUS SANGAT SATIRICAL terhadap pandangan sosial soal masalah racial. Sepanjang film akan banyak momen-momen yang membuat kita tertawa terpingkal-pingkal namun serius (eh kebayang enggak tertawa serius itu gimana? Ketawa yang kalo disenggol ngebacok! Hahaha), karena penulisan film ini mengerti bagaimana menempatkan elemen horor yang seram dan over-the-top sebagai lapisan luar buat elemen grounded yang lebih menakutkan. Film ini punya sesuatu yang ingin ia katakan perihal kecanggungan yang dirasakan seseorang ketika dia berada di tengah-tengah tempat yang tidak biasa baginya. Dalam The Visit (2015), M. Night Shyamalan juga melakukan hal yang serupa, dia mengambil hal sesederhana interaksi canggung antara anak kecil dengan orang lanjut usia dan mengubahnya menjadi pengalaman menakutkan. Cerita Get Out, however, lebih urgen sebab ia mengangkat tema yang berada di zona sensitif buat beberapa orang. Terlebih buat audiens Amerika yang memang menganggap serius masalah kulit hitam dan kulit putih.

Kita semua adalah manusia. Like, it doesn’t matter warna kulitnya apa. Film ini juga menegaskan bahwa masalah rasis sebenarnya adalah masalah psikologis. Kaitannya dengan penyakit mental. Dengan cara berpikir. Jika kita merasa punya kelebihan dibanding yang lain, jika kita merasa berbeda dari orang, maka itu udah termasuk rasis. Pengotak-kotakan itu bukan dari biologis, melainkan datang dari konstruksi sosial. Kita yang menganut bhinneka tunggal ika juga bisa tergolong rasis jika kita mengelaskan orang dari kelakukan golongannya.

 

 

Di balik subjek dan gagasan yang serius, Peele bisa menemukan celah untuk mengintegralkan humor yang sangat menyegarkan. Meskipun film ini penuh oleh stereotipe trope-trope horor, jumpscare tidak bisa dihindari, kita dikagetkan oleh musik keras yang mengiringi bayangan orang yang berjalan di background, kita histeris saat sesuatu muncul dengan mendadak disertai suara lantang, suara dan visi si sutradara tetap bisa dipertahankan. Keoriginalitasnya tetap enggak tercoreng berkat cerita utamanya. Dari adegan pembukanya saja, udah terasa gimana fantastis dan menyenangkannya film ini. Sepenglihatakanku, sekuen ‘pencidukan oleh mobil misterius’ di jalan perumahan itu dilakukan dengan one-take, yang merupakan teknik pengambilan gambar yang aku suka, dan that whole scenes amat creepy sekaligus juga kocak karena humor datang dari tubuh yang diseret bergerak seirama dengan musik. Menuju ke babak tiga akan ada nuansa horor yang sangat intens yang dibangun dengan sangat baik, it builds up into some really satisfying moments yang bikin penonton sestudio ngecheer.

Penulisan film memang dipikirkan dengan teramat baik. Semua simbolisme dan metafora pada akhirnya akan terbayar tuntas.Adegan menabrak rusa actually punya peran yang penting dalam pertumbuhan karakter Chris, dan dengan efektif diintegralkan dalam adegan final. Segala detil diperhatikan dan benar-benar digunakan untuk membangun lapisan cerita. Sebagai protagonis, Chris digambarkan dengan kompleks. At one time, kita mencurigai jangan-jangan dia yang pikirannya ngerasis. Chris sendiri adalah orang yang suka berprasangka, kita bisa melihat dia cemburuan dan kurang senang ngeliat pacarnya bercanda dengan sahabatnya di telepon. Really, penampilan akting dalam film ini diarahkan dengan kompeten sehingga menjadi poin kuat film. Comic relief disandarkan kepada pundak LilRel Howery yang berperan sebagai polisi bandara sahabat Chris, dan aktor ini mencuri setiap adegan yang ia mainkan. He’s so hilarious. Perannya pun ditulis lebih gede dari sekedar teman tukang ngocol.

Kita tidak terlahir rasis, kita terajar untuk jadi rasis. Terkadang kita malah enggak sadar kita punya bias ke arah rasis. Kita ngedevelop tendensi rasis berdasarkan sosialisasi dan lingkungan.Prasangka muncul dari hubungan kita dengan orang, seperti Chris yang mulai ragu dan takut ketika berada di tengah keluarga Rose yang ia noticed berbeda dari dirinya. Namun seperti apapun yang bisa kita pelajari, kita juga bisa unlearn it.Denganberbagi dengan orang lain. Tapinya lagi, sebagian besar oranglebih takut untuk berbagi, untuk jadi sama dengan orang lain.

 

kita bisa memotong tensi adegan dengan pisau dapur rumah Rose.

 

Masalah yang bisa kita temukan dari pengalaman menonton film ini adalah soal pacing dan keseimbangan tonenya. Pacingnya sedikit tidak konsisten. Terkadang kita akan dibawa melompat antara tone serius dengan tone kocak dengan agak terlalu cepat.  Banyak sekuens yang terlihat aneh dengan horor ataupun humor yang terasa dilampirkan begitu saja, tanpa ada kepentingan yang lebih dalem buat cerita. Tapi tentu saja, ini adalah jenis film yang akan lebih mudah kita apresiasi jika kita udah nonton untuk kedua kalinya, atau jika kita udah mengerti konteks dan paham apa yang sebenarnya terjadi di balik lapisan terluarnya. Seperti misalnya adegan di malam hari ketika ada tokoh yang berlari cepat menuju Chris seakan ingin menabrak atau menyerangnya. Di detik-detik mau nubruk, si pelari mendadak berbelok arah begitu saja. Ketika melihatnya pertama kali, aku merasa adegan ini purely buat serem-sereman atau malah lucu-lucuan belaka, kayak adegan horor gajelas. Tapi kemudian in retrospect, begitu aku sudah mengerti ‘misteri’nya, aku bisa melihat ada dua skenario yang dapet membuat adegan tersebut menjadi beralasan.

 

 

Horor yang dengan tepat menggambarkan keadaan canggung yang penuh oleh komentar-komentar dan sindiran sosial. Aku terutama sangat terkesan dengan kemampuan Jordan Peele menggarap horor sebagai humor satir yang dekat, dan dia juga membuktikan bahwa filmmaker masih bisa untuk punya suara sekaligus memuaskan tuntutan untuk memasukkan stereotipe dan trope yan sudah umum dari genre ini. Meskipun tone filmnya belumlah sempurna, namun ini adalah sajian bagus yang langka. Perspektifnya berani dan sangat unik dapat membuat kita jadi ‘rasis’ kepada film-film horor lain; just because we noticed betapa berbeda dan superiornya film ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for GET OUT.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE DEVIL’S CANDY Review

“Art is the concrete representation of our most subtle feelings”

 

 

Jangan melukis makhluk hidup, nanti bisa jadi tempat tinggal setan. Pak Ustadz di surau dulu bilangnya gitu. Jangan keras-keras dengerin musik, apalagi yang teriak-teriak, gak enak di denger. Mama biasanya ngomel dari dapur kalo aku udah mulai nyetel Marilyn Manson di kamar. Dan biasanya Papa nimbrung nimpalin; Nyanyi kok kayak kesetanan! Musik, terutama rock, dan lukisan memang lumrah dipandang sebagai tindakan dunia hitam oleh kacamata reliji. But we all did them anyway, dasar manusia pendosa semua ahahaha. The Devil’s Candy bahkan ngepush image ‘negatif’ dari aliran seni tersebut lebih jauh lagi ke dalam pusaran yang membingungkan. Horor ini mencoba untuk lebih dekat dengan orangtua sebagai kaum yang paling menentang rock abis-abisan, sekaligus membawa dirinya menjadi suatu cerita tentang ketakukan terbesar setiap orangtua di dunia; mampukah kita melindungi anak-anak kita.

A struggling painter baru saja pindah ke rumah baru bersama istri dan putrinya yang udah beranjak remaja. Keluarga kecil yang akrab ini keliatan cool banget; Jesse tampilannya udah nyeni banget dengan rambut panjang, jenggot lebat, dan tatoan. Anaknya, Zooey, juga kompakan demen musik rock, dia pengen punya gitar Flying V Gibson dan menutup setiap gambar beruang teddy pada wallpaper kamar barunya dengan poster Metallica, Pantera, dan  other rock bands sangar. Keliatan paling ‘normal’ adalah Astrid, istri Jesse, yang dari matanya terpancar cinta dan dukungan penuh buat keluarga. Diawali dengan mendengar bisikan aneh, Jesse mulai ‘ngaco’. Lukisannya pun berubah drastis. Dari yang tadinya indah bergambar kupu-kupu, lukisan Jesse kini menampilkan wajah anak-anak yang sedang menjerit berlatar belakang api dan makhluk aneh. Jesse enggak tau apa yang terjadi, dia lupa waktu setiap kali masuk ke studio lukisnya. Dan sementara itu semua terjadi, di luar rumah mereka berkeliaran seorang ‘gila’ yang membunuhi penduduk dengan batu.

Proses kreatif berkembang dari pengalaman sehari-hari. Apa yang kita rasakan, yang kita alami, bakal menjadi inspirasi suatu perbuatan seni yang kita lakukan. Makanya ada yang bilang kalo arts imitate life. Yang kita buat secara jujur pasti merefleksikan our inner self, baik itu sadar atau enggak. Dalam film ini kita melihat Jesse tanpa sadar melukis hal-hal mengerikan – termasuk lukisan Zooey dalam keadaan bahaya – yang mungkin saja adalah pengaruh dari ‘kekuatan tidak tampak’ yang mengendalikan dirinya. Namun ini semua dapat diintegralkan dengan bawah sadar Jesse, bahwa mungkin saja lukisan tersebut adalah tindak bawah-sadar yang mencerminkan perjuangan Jesse untuk menjembatani antara imajinasi dengan tanggung jawabnya sebagai ayah. Antara obsesi dan passion, Jesse berada di tengah-tengah posesi.

 

 

Pernahkah kalian ngerasa begitu sukanya sama sesuatu, sampai-sampai kalian enggak sabar untuk nyeritain ke teman atau siapapun karena kalian hanya ingin membagi hal yang sudah bikin kalian sangat excited? Itulah yang aku rasakan saat nonton film ini. Baru mulai lima-belasan menit aja aku udah menggelinjang pengen segera ngereview. Tahun lalu kita dapet The Invitation, dan tahun ini scene indie kembali mempersembahkan kepada kita semua tontonan horor yang luar biasa lewat The Devil’s Candy.

Adegan pembuka film ini akan membuat kita terpaku, dan yang bertanggungjawab untuk hal tersebut adalah orang ini: Pruitt Taylor Vince. Aktor yang fantastis meski memang sepertinya dia selalu dapet peran-peran ‘psychotic’ kayak gini. Aku sangat tertarik melihat karakternya, dia memainkan gitar listrik sekeras-kerasnya demi menenggelamkan suara bisikan setan. This is very conflicted, serius, dia membuat musik rock sebagai semacam pertahanan untuk berlindung di balik setan yang terkutuk, padahal aku taunya rock justru mengundang setan. Tokoh yang dimainkan Pruitt adalah orang yang amat sangat gila, keberadaannya sendiri sudah sukses berat bikin seantero film jadi unsettling. Ngeliat dia ngunyah permen di dalam mobilnya aja udah cukup buat kita meringis dan nebak bakal ada darah tak-berdosa yang tumpah.

Kita bakal bergidik ngeri, deh, setiap kali dia berjalan masuk ke layar.

 

Tentu saja kerja editing yang sangat excellent turut andil dalam menghadirkan sensasi kengerian tiada tara tersebut. Sutradara Sean Byrne punya cara ngecut adegan-adegan dan menjalinnya kembali sehingga tercipta efek kebingungan, kealpaan, yang turut serta kita rasakan. Kita jadi mengerti perasaan heran Jesse ketika sadar hari mendadak sudah malam. Quick cut antara momen Jesse melukis dengan momen si gila yang melakukan ‘kerjaan’nya di tempat lain adalah momen favoritku di film ini. Adegan-adegan film tersusun menguarkan kesan kesurupan yang kuat. Sinematografinya pun kompeten dan tampak dangerously beautiful. Pencahayaan yang really creepy; perhatikan adegan siluet Jesse dan istrinya kebingungan di depan lukisan mengerikan buatan Jesse; pemandangan adegan yang cantik namun hiiii!!! Posisi para tokoh, entah itu mereka ada di depan maupun berdiri sebagai background, sangat diperhatikan, bukan hanya bermakna namun juga menghasilkan imagery yang bakalan jadi bahan bakar mimpi buruk kita. Tentu saja ada kekerasan dan darah, film ini menunjukkannya dengan waktu yang sangat precise, long dan close enough buat kita menyipitkan mata dan berteriak panjang.

Untuk menjadi horor yang baik, tidak perlu melulu soal hantu, monster, ataupun alien. Sean Byrne paham bahwa beberapa film horor terbaik justru adalah cerita yang menfokuskan kepada PENGGALIAN TRAUMA PSIKOLOGIS dari karakternya. Trauma yang sangat mendasar dari manusia diambil untuk kemudian diperkuat dengan elemen-elemen mengerikan. The Devil’s Candy, pada permukaannya, adalah tentang setan yang membisiki manusia, menyuruhnya melakukan hal-hal mengerikan. Tentang ‘rumah hantu’ di mana pernah terjadi suatu tragedi dan sekarang penghuninya melukis wajah-wajah mengerikan dan dia tidak tahu kenapa. Pada saat bersamaan, ini juga adalah sebuah cerita dengan banyak drama keluarga. Jesse yang ‘kesurupan’ menjadi lupa daratan, sibuk dengan lukisannya, sehingga dia melupakan tanggungjawabnya sebagai seorang ayah. Membuat anak dan istrinya merasa teracuhkan.

Ketika kita melihatnya seperti demikian, The Devil’s Candy terasa mirip dengan horor klasik dari Stanley Kubrick, The Shining (1980). Sebagian besar durasi film tersebut dihabiskan buat mengeksplorasi psikologis tokohnya Jack Nicholson yang begitu fokus kerja, lalu ultimately horor dimulai ketika dia mengambil kapak dan memburu anak dan istrinya. Jesse, dalam kasus film indie ini, adalah pelukis yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, kemudian ada kekuatan tak-kasat mata yang membuat Jesse hilang kendali dan melupakan keluarganya. Kedua film sama-sama tentang ayah yang tanpa sadar neglecting keluarga. Namun, keduanya diceritakan lewat cara yang berbeda, dengan perspektif yang juga berbeda. So I’m fine with it, lagipula memang beginilah seharusnya formula film horor yang baik.

Hal paling menyeramkan dari film horor tidak semestinya berupa sosok hantu pucat, monster berdarah-darah, ataupun makhluk-makhluk aneh lainnya. Takut bukanlah fakta, melainkan perasaan. Dan perasaan ketika ada sesuatu yang mengendalikan kita sampai-sampai membuat kita melupakan keluarga dan orang-orang tersayang, adalah perasaan yang genuinely menakutkan dan kita semua bisa relate kepada perasaan tersebut.

 

Ethan Embry juga sepantasnya dapat tepuk tangan yang bergemuruh. He’s really sold the third act. Dia kelihatan sangat agresif ketika memainkan Jesse yang melukis dengan ‘berapi-api’ dan gak sadar keadaan sekitar. Ada momen ketika film ini menjadikannya simbol due to his appearance. Pendekatan yang Ethan lakukan begitu Jesse mulai terpengaruh oleh ‘bisikan’, kadang dia melukis hanya mengenakan celana dalam, sungguh-sungguh menakutkan. Dan dia mampu memainkan kontrasnya peran ketika Jesse harus duduk, dengan gentle, meminta maaf kepada Zooey saat dia terlambat menjemput ke sekolah.

heeeeeeeree’s Jesse!

 

 

Berhubung ini adalah film independen, maka kita bisa lihat sendiri film ini enggak punya budget yang gede-gede amat. Namun sebisa mungkin film ini membuat adegan yang terbaik. Sepuluh menit terakhir, set ‘pertempuran final’ yang mana mereka ingin membuatnya terlihat seperti neraka, I guess, sebenarnya terlihat sedikit menggelikan, bisa jadi cover album rock band tuh haha.. Tapi ini adalah jenis menggelikan yang bisa kita apresiasi dan hormati. Kayak konyolnya serial Twin Peaks lah. Aku juga merasa film ini, delapan-puluh-menitan itu bukan terlalu singkat, tapi mungkin bisa ditambah lima belas atau dua puluh menit lagi buat pembangunan karakter keluarga Jesse. Tokoh Zooey dan Astrid sebenarnya cukup menarik, diperankan dengan lebih dari oke respectively oleh young-and -promising Kiara Glasco dan Shiri Appleby yang mukanya ngademin. Aku bersorak keras saat Zooey dengan kreatif-di bawah-tekanan nunjukin trik melarikan diri nyaingin Houdini. Hanya saja memang mereka butuh diberikan sedikit bobot lagi sehingga kita bisa bener-bener ngerasain ketika keadaan berubah menjadi malapetaka bagi mereka.

 

 

 

Horor yang benar-benar ngena ke sisi psikologis manusia adalah horor yang baik. Film ini mengerti hal tersebut, dan dengan iramanya sendiri yang cepet dan keras berhasil menjalin merahnya cat, darah, dan api sehingga menghasilkan sebuah tontonan yang absolutely terrifying. Diisi dengan penampilan yang semuanya fantastis. Arahan dan editing yang juga sama kuatnya. Film ini layaknya karya seni yang berasal dari neraka personal seorang ayah yang struggling dengan pekerjaannya, dia bahkan enggak yakin apa yang mengendalikannya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for THE DEVIL’S CANDY.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

LIFE Review

“… the only form of life we have created so far is purely destructive.”

 

 

Jake Gyllenhaal di luar angkasa? C’mon gimana aku bisa bilang “tidak” kepada film ini!

Jadi ceritanya, Jake bersama Deadpool dan empat astronot lain harus stay di orbit buat mengawasi misi Mars Pilgrim 7; mencari sampel kehidupan di Planet Merah. Keenam kru harus menjemput dan memastikan spesimen organis dari planet Mars itu bisa nyampe Bumi dengan selamat, karena tentu saja itu merupakan penemuan yang sangat luar biasa. Dibawalah organisme tersebut ke stasiun luar angkasa mereka, diteliti, dirawat baik-baik. Enggak ada yang curiga dong, ketika alien imut tersebut mulai bergerak. Jake dan teman-teman malah girang, begitu juga orang-orang di Bumi. Si alien diberi nama Calvin. Namun, apa yang tadinya hanya satu sel dengan cepat berkembang menjadi susunan jaringan otot, otak, dan indera. Dan horor! Sekarang misi enam manusia itu berputar 180 derajat menjadi menjauhkan makhluk cerdas, highly adaptable, dan berbahaya ini dari Bumi, dan dari diri mereka sendiri.

Seperti kamera yang berkesinambungan ngesyut aktivitas di dalam stasiun luar angkasa pada sepuluhan menit pertama, film ini pun akan terus mendera kita dengan perasaan teror dan terkurung begitu Calvin mulai menjebol kotak penangkarannya. Discovery yang kita dapati adalah bahwa ternyata film ini enggak berniat membahas hal-hal filosofis. Ini bukan jenis film di mana Jake Gyllenhaal punya kembaran ataupun mimpi didatengin kelinci dan dia harus mencari tahu makna di balik semuanya. There’s really nothing beyond pembahasan bahwa di dunia ini kita enggak sendirian dan setiap makhluk hidup berhak atas yang namanya bertahan hidup. Life adalah HOROR SURVIVAL DI LUAR ANGKASA. Dengan kehadiran tropes standar, dirinya mungkin akan mengingkatkan kita sama Alien (1979) atau malah premisnya bikin teringat dengan game jadul Game Boy Advance; Metroid Fusion, film digarap dengan sangat capable dan punya perspektif penceritaan yang cukup berciri. I mean, kita enggak bisa ngeshoot down film ini “enggak original!” begitu saja. For once, gimana tokoh film ini ngetreat Calvin saja sudah membuatnya agak berbeda dengan survival horor kebanyakan.

“we’re not alone.. there’s more to this I know”

 

Pace yang lumayan cepet, namun tetep terasa contained. Setnya terlihat compelling dan memenjarakan, meskipun mungkin mata kita masih terbuai oleh menterengnya pesawat Passengers (2016). Kita akan menikmati perasaan terkungkung dan mencekam yang dialami oleh para tokoh. Aku enjoy ngeliat mereka main kucing-kucingan dengan Calvin yang bisa nyelip masuk ke mana-mana. In fact, ada banyak waktu ketika aku malahan ngecheer si alien yang kayak gabungan gurita dengan amuba tersebut. Karena dalam film ini, kita enggak benar-benar yakin mesti ngedukung tokoh yang mana.

Semenjak Alien memang terbit semacam tren di dalam genre survival horor bahwa semakin penonton enggak bisa menerka tokoh mana saja yang bakalan selamat, maka itu artinya film semakin sukses ngedeliver elemen aksi dan horornya. Life juga sukses bikin kita nerka-nerka siapa yang mati duluan, aku kecele juga karena tadinya kukira tokoh kulit hitam yang bakal mati duluan, malahan kayaknya di trailer aja dia udah game over hhihi, tapi enggak. Namun faktor enggak bisa nebak yang selamat ini tidaklah lantas dijadikan alasan untuk sengaja tidak mengembangkan para tokoh manusia. It would be suck buat ngeliat tokoh-tokoh hanya jadi korban gitu aja tanpa kita merasa kehilangan atas mereka. Film butuh supaya skripnya memegang satu karakter sebagai pondasi agar strukturnya bisa kuat. Dalam Life, kita bisa menyaksikan ada usaha untuk memberikan personality kepada para tokoh manusia.

Dari enam, ada tiga yang diberikan backstory. Well, ya lumayanlah dibanding kosong melompong. Yang paling menarik adalah ahli biologi Hugh Derry yang diperankan oleh Ariyon Bakare. Hugh yang kakinya cacat merasa lebih hidup di luar angkasa, dia enggak perlu pakai kursi roda di atas sini. Dan kemudian, sebagai orang yang bertanggung jawab langsung dalam mengurus Calvin, Hugh memberikan pandangan yang menarik ketika dia merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukan oleh alien tersebut. At one point, Hugh tampaknya sudah terattach secara emosional kepada Calvin.

Sudah seperti orangtua dengan anaknya sendiri. Hugh ngerasa bertanggung jawab karena dia yang sudah memberikan kesempatan hidup buat Calvin. Eventually ini menjadi konflik moral yang sempet disinggung sekilas banget oleh film; seperti apakah tepatnya tanggungjawab tersebut, apakah dengan memberikan hidup maka kita juga yang bertugas untuk menghentikannya. Tidak seperti hape – setiap kali kita ngecharge, kita meniupkan kehidupan kepada baterainya, Calvin actually adalah makhluk hidup yang berhak untuk bertahan. Sayang memang film ini tidak menggali lebih jauh soal hubungan menarik yang terbentuk antara Hugh dengan Calvin.

 

Sesungguhnya ada orangtua beneran dalam ensemble ini, tokoh yang dimainkan oleh Hiroyuki Sanada adalah seorang yang baru saja menjadi bapak. Namun backstory personal ini tidak berkembang lebih jauh karena kelahiran putranya tersebut hanya digunakan sebagai pemantik emosi. Kesempatan besar juga dilewatkan dalam penanganan karakter Jake Gyllenhaal. Dia memerankan David, seorang dokter yang actually sudah berada di sana selama 473 hari, paling lama di antara rekan-rekannya. David begitu betah di luar angkasa, dia enggan balik ke Bumi, dan alasan di balik itu semua cukup menarik; dia enggak tahan melihat apa yang bisa kita lakukan terhadap sesama. Dokter ini sangat terpukul setelah apa yang ia saksikan saat dikirim ke medan peperangan. Sayangnya, motivasi dan traits personal David enggak pernah sekalipun dikaitkan sebagai lapisan cerita. Hanya dibahas begitu saja, dan tidak hingga di akhir backstorynya ini memberikan impact.
Selebihnya ya, mereka cuma ada di sana, dengan peran minimal masing-masing. Ryan Reynolds di sini hanyalah seorang astronot realis yang keren penuh komentar lucu. PENGARAKTERAN YANG TIPIS BANGET. Kharisma dan kemampuan para aktor yang membuat film ini watchable.

Atau mungkin, kita beneran betah duduk lantaran ingin melihat gimana aktor-aktor tersebut menemui ajal. Bukan bermaksud sadis, tapi memang film ini mendadak menjadi KREATIF SAAT PARA TOKOH MENEMUI AJAL. Cara matinya, gimana mereka ngesyut adegan mati tersebut, lumayan unik. Lagian, kita juga enggak bisa jadi lebih peduli lagi sama mereka. So much for survival thing, kita malah dibuat penasaran pada apa yang bisa dilakukan oleh Calvin. Meskipun disebutkan sebagai makhluk karbon seperti manusia, sepanjang film kita akan melihat alien ini ngelakuin hal luar biasa, dia tahan api, dia bisa mencerna tikus dengan cepat bulat-bulat, dia bisa ‘tahan napas’ di outer space. Kontras banget sama tokoh manusia yang kerap mengambil keputusan-keputusan yang bego. Pada satu sekuen Calvin meloloskan diri, ada seorang tokoh yang terus mengambil tindakan yang bakal bikin kita jerit-jerit stress. Satu sekuen loh itu bayangkan, apa yang mau didukung dari karakter manusianya coba! Orang-orang pintar ini kayak pada berlomba nyari cara paling bloon buat mati.

“dumb ways to die, so many dumb ways to die”

 

Soal twist endingnya, aku enggak tahu, it did feels like they want to push it into a sequel tapi aku enggak yakin. Apakah endingnya resolving a plot? Aku enggak mau spoiler banyak, tapi in a way, iya, ada tokoh yang plotnya, istilahnya, ‘kebales’. Apakah ending ini stupid? Jawabannya iya juga, wakwaw banget, kerasa film ini dibuat ya cuma supaya mereka bisa seru-seruan dengan bagian akhir ini. Kayak saat pitching mereka bilang gini “gimana kalo kita bikin film alien seru kayak Alien, tapi endingnya dibikin mirip-mirip Gravity, gini nih sini deh aku bisikin…” dan voila, film ini lantas diperjuangkan untuk hidup supaya adegan surprise ini terlaksana. Apakah endingnya ini worked? Iya juga, ini bekerja sebagai paradoks tentang kehancuran manusia akan datang sebagai akibat dari apa yang kita hidupkan.

Hidup adalah proses. Bukan hanya pengciptaan, melainkan juga kehancuran. Pada akhirnya ini adalah soal siapa yang memiliki naluri bertahan yang paling kuat. Siapa yang rela menghancurkan demi kelangsungan. Apakah manusia akan punah jika suatu saat ada spesies yang lebih ‘canggih’ sekaligus lebih ‘primal’ seperti Calvin? Atau sebaliknya, apakah kehancuran adalah satu-satunya bentuk kehidupan yang bisa kita ‘hidupkan’?

 

 

 
Film ini mengembalikan kita kepada citarasa alien tradisional setelah kedatangan Arrival (2016) yang begitu berbeda. It is a fast-paced, confined-space survival horror yang tau persis apa yang ia lakukan. Tone dan arahannya ketat menghasilkan petualangan hidup-mati yang mendebarkan. Namun tidak banyak yang terkandung di dalamnya. Enggak kosong total sih; setengah berisi, dan film ini pun tidak ingin disibukkan dengan mengisi sampai penuh. Dia malah kelihatan lemah saat berusaha menjadi sedikit berbobot. Ditambah dengan banyaknya bad decisions yang dilakukan oleh para tokoh, film ini tampaknya justru hidup dengan membiarkan mereka mati.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for LIFE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

ULAR TANGGA Review

“Virtue always pays and vice always punished”

 

 

Dunia permainan ular tangga sejatinya adalah dunia peradilan yang teramat adil.

Pada puncaknya kita akan mendapat hadiah, kita naik tangga buat meraihnya. Hukuman permainan ini adalah apabia kita menyentuh ekor ular, dan meluncur turun, menjauh dari puncak. Ini adalah permainan anak-anak yang enggak sekadar permainan keberuntungan. Pada papan permainannya sendiri, tangga biasanya diikuti ilustrasi tokoh kartun yang melambangkan kebaikan, sedangkan ular diikuti oleh tindak tokoh yang berkonotasi degradasi, keserimpet kulit pisang yang dibuangnya sendiri, misalnya. Ada pesan moral dalam ular tangga. Berakar dari kebudayaan India, ular tangga mempunyai metafora yang lebih luas lagi. Di sana, permainan ini diasosiasikan dengan karma. Pembebasan dan emansipasi. Setiap kolom tangga melambangkan sifat kebajikan dan kolom ular represents sifat terburuk manusia. Naik tangga berarti melakukan kebaikan dan kita akan mendapat reward. Do bad things, kita bisa saja berakhir dengan mengulang langkah dari awal. Seluruh perjalanan dalam ular tangga, aslinya, adalah perjalanan mencapai nirwana.

Dude, that’s deep.

 

Sayangnya, tidak ada satupun mitologi ataupun simbolisme permainan ular tangga yang disangkutpautkan ama film Ular Tangga garapan Arie Azis. Ini adalah film tentang board game yang nyaris nothing to do with the actual game. Maksudku, kita bahkan enggak nemu ular tangga hingga menit ke tiga puluh. Sedari menit awal film malah dengan gencarnya memaparkan soal mimpi dan mekanisme dunia dalam cerita, yang enggak pernah benar-benar make sense. Usaha make believe film ini gagal total karena ceritanya tidak punya lapisan apapun. Film horor ini MELEWATKAN KESEMPATAN YANG LUAR BIASA BESAR dengan tema yang mestinya bisa diolah menjadi cerita psikologikal dan spiritual. But walaupun horor, film ini enggak ada seram-seramnya sama sekali. Dan karakter-karakternya, hehehe.. karakter apaaan? There is no single soul in the movie yang bisa bikin kita peduli.

Aku suka banget permainan ular tangga. Aku sering bikin sendiri pake kertas buku kotak-kotak buat dimainin sama keluarga kalo lagi pulang libur lebaran. Ular tangga yang aku bikin biasanya pake tema mash up dari video game ataupun film kartun, misalnya Pokemon. Makanya aku jadi ngebet nonton film ini. Meski begitu aku juga sadar reputasi film horor Indonesia yang masih muter-muter di tempat. Jadi, aku masuk ke bioskop dengan keadaan jantung yang sudah siap banget buat dikaget-kagetin. Mungkin karena udah berprasangka buruk duluan itulah, alih-alih berasa happy kayak abis naik tangga, aku malah merasa merosot di punggung ular turun jauuuuhh banget setelah beberapa menit duduk menonton film ini.

my favorite landing spot: balik ke start!

 

Ular Tangga menceritakan tentang sekelompok anak muda pecinta alam yang pergi naik gunung buat ngeliat sun rise. Kisahnya sendiri kata posternya diangkat dari kejadian nyata di Curug Barong, tapi kita enggak ngeliat curugnya, jadi aku enggak tahu seberapa besar porsi cerita-beneran film ini. Premis yang mendasari cerita sangat sederhana; pengen naik gunung, hambatannya adalah mereka nyasar dan kemudian menemukan permainan ular tangga dari kayu yang membawa petaka meminta jiwa. Cara ringkas jelasin film ini adalah banyangkan film The Forest (2016) dengan elemen Insidious. Tokoh utama kita, Fina (so boring sehingga Vicky Monica tidak bisa sekalipun kelihatan meyakinkan), adalah orang yang punya bakat indigo. Dia mendapat penglihatan tentang keselamatan teman-temannya. Dia juga berkomunikasi dengan dua hantu anak kecil. Dengan belajar menggunakan kemampuannya tersebutlah, Fina memecahkan misteri di balik semua kejadian gak make sense yang menimpanya.

-Naik gunung.
-Ular tangga ada NAIK tangganya.
-Ular melambangkan setan.
Semua koneksi sederhana terhampar di sana, tinggal nyambungin. Dan film ini entah bagaimana bisa gagal melihatnya! Hasilnya kita mendapat cerita luar biasa poornya sehingga memanggil dirinya film adalah pujian yang terlalu manis.

 

Film ini begitu enggak kompeten dan sangat males sehingga penulisannya terasa kayak dikerjakan oleh anak kecil. I dunno, mungkin dua hantu cilik di film ini bosen main ular tangga dan memutuskan untuk ngetik naskah, dan tidak ada yang beranjak untuk melarang mereka. Dialog seadanya, tidak berbobot, dan cenderung bikin kita ngikik. At one time si tokoh cowok jagoan bilang gini “Kotak ini pasti penting” dan dia melanjutkan kalimatnya dengan “Kita buka besok” tanpa rasa bersalah whatsoever hhihi. I mean, kalo memang penting, kenapa ngebukanya mesti nunggu ampe besookk???? Tidak ada effort dalam narasi film ini. Antara plot poin, ceritanya tinggal meloncat-loncat gampang banget. The whole actual script sepertinya memang cuma sesederhana: mereka naik gunung -> nyasar ke rumah tua -> ngikutin hantu -> dapetin ular tangga. Mimpi dan jump scares adalah kombinasi maut yang justru jadi senjata utama film ini. Environment enggak pernah dimanfaatkan sehingga hutan yang mengurung mereka jadi sama membosankannya dengan para tokoh yang ada.

Tidak ada motivasi pada tokoh-tokohnya, terutama yang bernapas. Mereka cuma going around ngelakuin pilihan-pilihan yang dogol. Aku enggak bisa mutusin mana yang lebih bloon antara masuk ke rumah tua, atau setelah masuk malah milih tidur di pekarangan rumahnya. Tidak ada stake. Tidak ada development. Tokoh yang diperankan Alessia Cestaro yang nyebut hutan dengan “hyutan” diperlihatkan jutek ama tokoh Shareefa Daanish, namun tidak pernah dibahas kenapa dan apa alasannya, lantas mereka jadi saling bersikap normal begitu saja. Tidak ada arc yang dibangun. Kita tidak tahu siapa tokoh-tokoh ini, hubungan mereka secara personal. Para pemainnya cuma punya satu job; tampak ketakutan, dan mereka semua gagal mengerjakan tugas mereka. Tidak ada emosi tersampaikan.

Dalam film ini ada penampilan dari beberapa aktor yang cukup mumpuni, namun mereka hanya diutilize sebagai tokoh pemberi info. Pengecualiannya si Shareefa Daanish. Dia terlihat kompeten enough memainkan tokoh seadanya. Film ini nekat masukin twist, yang saking maksainnya, malah terasa kayak mereka sadar cerita mereka boring dan belokin cerita dengan harapan para penonton enggak menduga. Namun memang soal twist tersebut masih bisa aku maafkan, lantaran it eventually leads us ke adegan yang paling ingin kita lihat seantero durasi film; aku yakin orang-orang yang tertarik nonton film ini pasti ingin liat this particular scene; Shareefa Danish ngelakuin hal yang creepy!

Joget Lingsir Wengi

 

Jam rusak yang mati pun sesungguhnya benar dua kali dalam sehari. Selain the very last scene, ada satu dua shot film ini yang terlihat cukup meyakinkan. Aku suka momen ketika tokohnya Shareefa Daanish duduk di ruangan penuh lilin, di sana ada lemari yang punya cermin, dan tampak sosok hantu nenek pada pantulan cermin tersebut. Shot pohon besar dan adegan ketika Fina berjalan dengan lentera juga lumayan surreal.

Namun buat sebagian besar film, production designnya terkesan amatir. Enggak detil. Aku enggak tau kalo cekikan bisa menimbulkan luka sayatan pada leher. Memilih untuk menggunaan efek praktikal buat sebagian hantu sesungguhnya adalah usaha yang patut diacungi jempol, hanya saja eksekusinya terlihat agak kasar. Film ini berusaha menggabungkannya dengan efek komputer, resulting penampakan yang enggak mulus. Kelebatan hantu malah jadi komikal dengan gerakan yang dipercepat dengan over. Editingnya juga terasa enggak klop. Film ini menggunakan tone warna keabuan yang mungkin buat menimbulkan efek misterius. Lagu pengisi yang digunakan, tho, terkadang terasa berbenturan keras dengan nuansa yang dibangun. Film ini sepertinya sudah turut siap untuk diputar di televisi karena ada beberapa jeda yang seolah sengaja dijadikan slot buat pariwara.

Fina dan teman-temannya melanggar batas wilayah yang seharusnya tidak boleh dimasuki oleh penjelajah. Sama seperti filmnya yang melanggar satu garis batasan yang semestinya dihindari jauh-jauh oleh film horor. Yakni menjadi gak-sengaja lucu. Ada banyak momen ketika tawa malah memenuhi studio bioskop tempat aku menonton, misalnya ketika salah satu teman Fina kepayahan menggotong tubuh rekannya. Atau ketika tangan hantu anak kecil itu dipegang oleh mereka. Buatku ada satu momen yang bikin aku kesulitan berhenti terbahak, yaitu ketika kamera memperlihatkan peta pendakian gunung yang Fina dan teman-teman bawa. PETANYA KAYAK PETA DI UNDANGAN NIKAHAN!!! Hahahaha.. Gak heran kenapa mereka tersesat. Gak heran perasaan Fina enggak enak about perjalanan mereka. Kocak banget mereka mampu nyediain papan kayu ular tangga tapi enggak bisa ngasih peta yang lebih proper. It’s just a lazyness, people!




Nyaris tidak ada redeeming quality, film ini kalo dijadiin permainan ular tangga pastilah isinya ular melulu. Cuma ada satu tangga pendek. Adalah sebuah problem besar jika film horor malah jatohnya unintentionally funny dan enggak seram. Penulisan, penokohan, penampilan, semuanya terlihat tidak kompeten. Tidak ada bobot apapun. Mungkin diniatkan sebagai petualangan horor, tapi gagal dalam penyampaian. Film ini melewatkan kesempatan yang begitu besar karena Ouija: Origin of Evil (2016) sudah membuktikan board game bisa dijadikan materi horor yang compelling jika digarap dengan sungguh-sungguh dan enggak males.
The Palace of Wisdom gives setengah dari kocokan dadu ‘snake eyes’ for ULAR TANGGA. 1 out of 10 gold stars!

 

 





That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We? We be the judge.


RINGS Review

“By renouncing samsara, we embrace our potential for enlightenment.”

 

ringsph7mkx5mkkfeae_1_l

 

Apa persamaan antara bunyi statis televisi yang mirip-mirip bunyi air dengan dering telepon? Well, jika kalian mendengar dua suara tersebut berurutan, maka besar kemungkinan suara berikutnya yang akan kalian dengar adalah suara gadis kecil yang berbisik lantang, “Tujuh hari.” Hii, bayangin gimana tuh bisik-bisik tapi lantang, eh salah, maksudnya: bayangin tuh gimana jika hidup kalian mendadak tinggal seminggu lagi!

Lingkaran mitologi Ring selalu berputar di antara kaset video, televisi, dan telepon. Samara dengan jahatnya memastikan kutukannya terus direcycle oleh manusia, sehingga kepedihan dan deritanya bisa terus menghantui. Tonton videonya, Samara akan nelpon, dan dalam tujuh hari kita bakal isdet. Bila kalian sudah pernah nonton Ring sebelumnya, maka kalian pasti tahu satu-satunya cara terlepas dari kutukan adalah dengan mengcopy video creepy tersebut dan mempertontonkannya kepada orang lain. Namun jika kalian bertanya “pfft, siapa sih yang masih nonton vhs hare gene” maka joke’s on you. Dunia modern tidak jadi halangan bagi si vintage Samara buat go live. She’s coming and she’s gonna get everybody. Karena sekarang ada cara cepat buat memperbanyak kopian video; masukkan ke komputer, copy file quicktimenya, dan voila! kalian bisa share langsung ke internet!

Jadi, yaah, memang terdengar bego sih, tapi cerita kali ini memasuki teritori yang belum pernah digarap pada dua film Ring sebelumnya. Film ini PUNYA ELEMEN FIKSI-ILMIAH. Ada dosen yang berhasil survive dan mengetahui bagaimana cara kerja video Samara. Jadi dia membentuk semacam cult ‘underground’ gitu di kalangan murid-muridnya. Menggunakan metadata video, profesor biologi tersebut ingin bereksperimen dengan jiwa; gimana keabadian, dan segala macam terus berulang di dalam kehidupan. It’s actually lumayan menarik. Sayangnya fokus utama cerita tidak terletak di tangan si dosen. Tokoh utama cerita adalah pacar dari salah satu murid baru si dosen. Julia (Matilda Anna Ingrid Lutz ini mukanya miripmirip persilangan antara Raisa ama Jessica Alba) dateng ke kampus demi mencari cowoknya yang hilang semenjak percakapan skype mereka terputus dengan abrupt. Ternyata, cowoknya adalah anggota cult eksperimen, dan Julia mengorbankan diri menonton video Samara demi nyawa sang pacar. Kemudian film pun kembali mengeksplorasi cerita investigasi, di mana Julia dan cowoknya berusaha memecahkan misteri Samara yang sempet-sempetnya masukin penggalan video artsy-but-creepy yang baru.

"like-in video insta dan snapchatku dong, Kak"
“like-in video insta dan snapchatku dong, Kak”

 

Yang follow twitter ataupun temenan sama aku di Path, tentunya sudah ngeliat (sukursukur sekalian ngebaca) sejak awal bulan Februari ini aku ngereview tiga film Ring terdahulu. Aku memang lumayan excited nungguin film ini. Ring adalah film yang bertanggungjawab membuat aku parno melongok ke dalam sumur. Sadako, dan/atau Samara, adalah sosok yang sukses jadi pioneer hantu-hantu berambut panjang yang jalannya patah-patah dalam film-film horor yang lain. Tayang Rings kerap diundur, tadinya direncanain keluar Oktober tahun lalu – barengan ama Halloween, eh taunya di Indonesia dijadwalkan November. Dan terus diundur sampe akhirnya mentok di bulan ini. Setelah menonton filmnya, aku jadi sedikit kebayang alasan kenapa mereka gak pede nayangin. Tapi sejujurnya, buatku film ini enggak parah-parah amat. Enggak sejelek The Bye-Bye Man (2017), ataupun Incarnate (2016), ataupun The Disappoinments Room (2016) yang buat ngereviewnya aja aku langsung gak napsu. Kalo mau diurutin, berikut klasemen scoreku buat tiga film Ring:

The Ring (2002) 7/10
Ringu (1998) 6.5/10
The Ring Two (2005) 4/10

 

The Ring (2002) adalah salah satu usaha terbaik Amerika dalam ngadaptasi horor ketimuran. Filmnya berhasil ngecapture tone tragedi dan kesedihan yang menguar dari film orisinalnya. Bukan hanya itu, The Ring punya tokoh utama yang lebih setrong dan mandiri dibandingkan Ringu (1998), while also menambahkan sesuatu kepada visual video kutukan sehingga jadi lebih seram. Ring pertama versi Jepang dan versi Amerika sama-sama bercerita dengan sunyi dan sangat subtle. Berbeda sekali dengan The Ring Two yang terasa lebih sebagai horor yang mainstream, dengan cerita yang muddled dan gak fokus, gak serem malah unintentionally funny. Jadi mari cari tau ada di mana posisi Rings dalam klasemenku.

Beneran, aku sendiri lumayan surprise mendapati Rings enggak seburuk yang udah kuharapkan. Ekspektasi buat horor ini memang rendah; director Hideo Nakato yang nanganin dua film Ring tidak lagi terlibat di sini; tidak ada Naomi Watts yang aktingnya udah nyelametin The Ring Two; tidak juga ada visi Gore Verbinski yang udah bikin The Ring jadi punya aura surreal. Aku masuk ke teater dengan gemetar, siap-siap dibombardir oleh kebegoan. Namun ternyata, film ini CUKUP BERKOMPETEN. Diarahkan dengan lumayan mantep. Ada beberapa sekuens yang diceritakan dengan efektif. Ada seremnyalah. Aku suka shot saat Dosen Profesor menatap hujan di luar jendela. Performances dalam film ini, meski sedikit turun naik, tidak terasa nol besar banget. Tidak ada penampilan akting yang membuat kita nyeletuk “pemainnya menang tampang doang!”. Vincent D’Onofrio adalah yang terbaik dalam film ini dari departemen akting. Tokohnya muncul belakangan, dan sendirinya adalah peran pendukung yang really ‘fun’. Sedangkan tokoh utama kita, seperti yang kubilang tadi, lumayan kompeten. Walaupun terkadang dia masih terasa kayak ngomong buat dirinya sendiri, but maybe it’s just the character.

Masalah terberat dalam nanganin cerita Ring selalu adalah bagaimana mengisi babak keduanya. Bagaimana membuat film tetap menjadi seram dengan omen-omen kayak genangan air dan semacamnya, sekaligus tetap engaging dalam jangka waktu sejak tokoh utama menonton video sampai ke maut datang menjemput. Film pertama menarik kita masuk lewat investigasi yang surreal hingga nyaris psikologis. Film kedua kebingungan jadi mereka melempar elemen nonton video begitu saja keluar jendela. Film ketiga, Rings ini, bermaksud meniru kakak tertuanya, hanya saja film ini tidak punya footing yang kuat pada plot linesnya. Dari soal ngopi file buat selamat dari kutukan saja udah konyol banget. Kita tidak bisa mendapat banyak hal dari film ini. Semua trope karakter dan klise yang kita expected bakal ada dalam film horor dipakek. Adegan opening di pesawat actually salah satu yang terparah, untungnya kita enggak perlu repot-repot mengingatnya. Rings kehilangan aura subtle, sense of tragedy, yang menjadikan film pertamanya – baik versi Jepang maupun Amerika – terasa begitu berbeda dan menyeramkan.

Enggak berani ngelakuin sesuatu yang benar-benar berbeda. Film ini justru malah nekat mengubah mitologi yang udah dibangun. Seolah mereka enggak setuju dengan origin Samara dan nekat nambahin ulang (dengan maksa pula!) hal tentangnya. It kind of messes with previous installments. Video baru dalam film ini jauh dari kesan creepy-penuh-makna, visual cluenya enggak asik kayak video yang pertama. Apa yang dilalui Julia dalam memecahkan misteri pada dasarnya sama dengan yang dialami oleh tokoh Naomi Watts di The Ring. Dia juga ketemu bapak yang ternyata jahat. Dia juga merasa kasihan dengan Samara. Actually, cuma di sifat Samara inilah, Rings akur dengan film-film sebelumnya. Samara digambarkan ‘tertarik’ dengan orang yang bersikap baik, dengan pengorbanan. Bukan kebetulan Samara memilih Julia, it was because Julia pasang badan demi menghentikan kutukan pada pacarnya. Kesannya tuh, Rings ini hanyalah sebuah versi jelek dari The Ring. Ending filmnya sebenarnya cukup menarik dan ada nambah dikitlah buat universe ini, cuma aku enggak yakin apakah yang film ini lakukan di adegan terakhir tersebut bener-bener make sense dengan aturan cerita yang sudah dibangun.

Sakit jangan disayang-sayang. Tampaknya inilah yang ingin dibicarakan oleh Rings. Adalah hal yang perfectly fine buat kita membuang derita. Membuang masalah. Nama Samara yang begitu dekat dengan kata Samsara, melambangkan penderitaan yang tak kunjung berakhir karena life dan death terus kontinyu. Samara menganggap belas kasihan dan rasa pengertian sebagai titik lemah dan menjadi jalan dirinya masuk. Perasaan marah, sedih, galau, all those pains, mungkin lebih baik dikubur dalam-dalam. Karena kalo dibebasin, they will keep coming back to haunt you. Samara ingin derita terus tersebar dengan orang-orang terus menontonnya.

 

Sedikit cerita horor nih; Jadi saking excitednya mau nonton film ini aku sampai membawa mainan kuntilanak ikut serta. Trus di bioskop tadi kan, aku mau motion Kana bareng ama poster dek ‘Ara. Lumayan buat dipajang di sini. Eh tau-tau…. Hapeku…. MendadakMATIsendiri!!! Jeng-jeeengggg!!

Dan sekarang ngeri sendiri dek ‘Ara manjat keluar dari layar laptop.
Dan sekarang ngeri sendiri dek ‘Ara manjat keluar dari layar laptop.

 




Film yang sekedar ‘okelah’. Dibuat dengan cukup cakap sebenarnya. Sekuens yang lumayan efektif. Plot lines nya bego tapi bukan bego yang inkompeten. Sayangnya film ini tidak punya nyali untuk melakukan sesuatu yang baru kepada mitologi Ring secara keseluruhan. Hanya kayak usaha buruk dalam nulis ulang. Jump scares, klise, dan karakter trope yang biasa ada di film horor kebanyakan, turut kita jumpai di sini. Ketimbang film-film pertamanya yang bernuansa sedih dan bernature cerita cukup primal dan ‘sadis’, film ini mestinya bisa lebih nendang dengan ngusung science-fiction, but nyatanya malah lebih milih untuk menjadi generic. Menjawab pertanyaan soal klasemen di atas, ya paling enggak, film ini sedikit lebih baik daripada The Ring Two. Kalian bisa nonton film ini dan enggak mati tujuh hari kemudian karena nyesel berat udah nonton film jelek.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for RINGS.

 

 

 




That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.


SHUT IN Review

“Mother love is the fuel that enables a normal human being to do the impossible.”

 

shut_in_ver2

 

Bagi seorang ibu cuma sedikit hal di dunia yang horornya melebihi perasaan ketika melihat anak yang ingin di’selamatkan’ malah berakhir celaka. Apalagi jika si ibu tersebut punya profesi sebagai psikologis anak. Rasa bersalahnya dateng barengan ama rasa gagal, tuh. Sesek numpek di dada pasti ada, dan kita bisa melihat itu semua dari gimana Naomi Watts memainkan perannya sebagai Mary Portman dalam film Shut In.

Anak tiri Mary lumpuh setelah ngalamin kecelakaan mobil enam bulan yang lalu; Kejadian tragis yang juga merenggut nyawa suaminya. Mary sekarang ngerawat anak remajanya tersebut. Dia memandikan Stephen, mengurus keperluan sehari-hari, namun kebutuhan Mary sebagai seorang ibu – terlebih ibu yang merasa bersalah – tidak terlampiaskan karena kondisi anaknya tidak memungkinkan buat mereka untuk kembali bisa menjalin hubungan emosional yang aktif. Jadi Mary mencari koneksi ke pasiennya yang kebanyakan memang masih anak-anak. Mary mau bisa nolong semua anak-anak bermasalah itu. Terutama, dia ingin ‘menolong’ Tom (Jacob Tremblay memerankan bocah tunarungu yang suka berkelahi).
Suatu malam, Tom muncul gitu aja di rumah Mary dan Stephen, untuk kemudian ia hilang dengan sama mendadaknya. Di luar badai salju, dan di dalam rumah, pada malam hari, Mary mulai mendengar suara-suara aneh. Dia sort of ngeliat penampakan. Apparently, Mary enggak benar-benar yakin misteri apa yang sedang terjadi kepadanya.

 

Badai salju yang menderu dari luar rumah menjadi elemen yang mengurung karakter dalam film ini. Mereka tidak bisa keluar dari dalam rumah. Secara estetis, kita juga merasakan perasaan klaustrofobiknya. Kita seperti ikutan berada di dalam rumah mereka, untuk kemudian rumah tersebut terasa mengurung kita lewat beberapa momen sound designnya. I love that contained aspect of this movie. Aku lumayan excited waktu mau nonton. Apalagi psikologikal horor ini dimainkan oleh Naomi Watts yang kerap muncul di film-film horor yang lumayan bagus. In fact, Naomi Watts main di film terfavoritku sepanjang-waktu, Mulholland Drive(2001), so yea I naturally drawn in oleh setiap film yang ia perankan. Arahan yang didapatkan oleh film ini cukup lumayan, meski there’s nothing really much to it. Ada shot-shot yang perfectly capture momen yang bikin kita merasa in-the-moment. Satu adegan yang aku suka pengambilan gambarnya, yaitu aerial shot menjelang akhir di adegan yang involving bayangan dan tangga. That’s a great shot.

Kasian amat Jacob Tremblay terjebak di dalam ruangan lagi
Kasian amat Jacob Tremblay terjebak di dalam ruangan lagi

 

Nyawa film terutama terletak pada screenplay. Kelihatan deh pokoknya sebuah film yang punya skenario buruk dan sutradara berusaha keras buat menjadikannya baik, namun tetep enggak bisa, karena apa sih yang bener-bener bisa dilakuin jika naskahnya sedari awal sudah begitu jelek dan keliatan banget ngarang. Kalo Mary bingung ke mana perginya Tom, maka kita sebagai penonton akan terbengong-bengong berkat BETAPA TERRIBLENYA FILM INI DITULIS. Banyak banget ketidakkonsistensian sehingga sebagian besar waktu film ini was just bad. Dua babak pertama dipenuhi oleh adegan-adegan mimpi, diselingi dengan jump-scares yang sok ngecoh. Dengan cepat film ini akan terasa menyebalkan. Dan bicara soal ngecoh, ini adalah jenis film yang bangga banget punya twist. Film yang tujuan utamanya memang ingin terlihat heboh dengan twist, mereka kayaknya nulis dari twistnya duluan kemudian baru ngembangin ceritanya, yang mana semua elemen dipaksa nyambung banget, sehingga twist yang dihasilkan malah jadi bego alih-alih bikin takjub. Semua yang terjadi di dua-puluh-menit terakhir membuat everything else yang sudah terjadi sebelumnya menjadi total gak masuk-akal.

Jika semua klise dan trope film horor bisa bermanifestasi menjadi manusia, mereka tumbuh tangan dan punya jari jemari, kemudian mereka mutusin buat ngetik, maka “voila!” Jadilah skenario film Shut In.

 

Semua taktik scare yang dilakukan oleh film ini adalah TAKTIK FALSE SCARE. Kita ngeliat penampakan, eh taunya Mary lagi mimpi. Kita ngeliat adegan berdarah, eh taunya Mari sedang ngigo. Kita denger suara-suara aneh, eh taunya ada rakun loncat dari balik kayu diiringi suara musik yang lantang yang bikin Mary dan seisi bioskop jantungan. Kita ngecek kegelapan malam, ngikutin Mary nyebrangi halaman bersalju, eh taunya cowok yang tadi pagi naksir ama Mary muncul dari balik pintu sambil menyapa “Hey, ini gue!!”. Keras-keras. Itulah ‘hal-hal mengerikan’ yang bakal kita hadapi dalam film ini. Efektif sekali, bukan? Yeah, efektif buat bikin kita TERTIDUR!!!!

Shut In enggak mau repot-repot bahas soal psikologis, atau perspektif, atau moral, atau apalah. Detil-detil backstory enggak penting bagi film ini. Kita enggak pernah yakin kenapa malam itu si Tom bisa nongol di rumah Mary. Kita enggak pernah dihint soal latar belakang Mary dan keluarganya. Film ini enggak peduli saat kita mengernyit berusah mengira-ngira kenapa Mary sering banget skype-an ama tokoh Dr. Wilson yang diperankan oleh Oliver Platt. Kita enggak sempat kenalan sama beliau, apakah dia temen lama Mary, atau dia psikologis Mary, or heck film ini enggak mau tau perihal gimana Mary terlihat so bad at her job, both as child psychologist and as a mom, dibuat oleh presentasi ceritanya.

Mari ngobrol sebentar soal adegan dengan skype. Biar kelihatan remaja dan relevan, film-film jaman sekarang memang hobi banget masukin adegan para karakter facetime-an via skype. Adegan skype actually bisa saja bekerja dengan baik, kita udah nyaksiin contohnya pada film The Visit (2015). Adegan ngobrol lewat skype bisa bagus jika (dan hanya jika!) obrolannya bagus. Dialoglah yang memegang kunci. Dalam film ini, sayangnya, penulisannya begitu minimalis.

Mary: “Etau enggak, akhir-akhir ini aku susah tidur, nih”
Wilson: “Yaah, kamu masih trauma dan sering baper sih”
Mary: “Eng-GAaaKK! Beneran, ih, kayaknya ada sesuatu yang lain di sini”
Wilson: “What-the-kamsut?”
Mary: “Kayaknya… di rumahku…. ada hantu!”
Wilson: “Masa orang dewasa terpelajar kayak kita percaya hantu sih?”
Mary: “Tapi aku sering denger-denger suara gitu, pernah ngeliat malah”
Wilson: “Gurl! Please. You’re just being silly”
Mary: “CK! Bye. Brb Sibuk.”

Ya kurang lebih begitulah obrolan mereka. Gitu terus lagi dan lagi, adegan percakapan skype mereka muter-muter di situ melulu. Mengerikan!

This is also jenis film yang setiap tindakan yang dipilih karakternya bikin kita jambak-jambak rambut dengan geram.
This is also jenis film yang setiap tindakan yang dipilih karakternya bikin kita jambak-jambak rambut dengan geram.

 

Yang terpenting buat film ini adalah gimana memancing rasa kaget kita, alih-alih takut. Fokus utama nya adalah gimana supaya so-called twist mereka enggak ketahuan.

Padahal despite ‘usaha’ mereka, kita sedari pertengahan udah bisa menebak hanya dengan mengacu kepada apa yang disebut kritikus terkenal Roger Ebert sebagai The Law of Economy of Characters. Atau Hukum Ekonomi Karakter; teori tentang kebiasaan film ini menjelaskan bahwa oleh sebab budget, film tidak akan pernah diisi oleh karakter yang tidak berguna, setidakpenting apapun kelihatannya peran mereka. Apalagi kalo diperankan oleh aktor yang cukup punya nama. Karakter-karakter tersebut sudah pasti akan direveal punya peran yang penting. Jadi, yaaa, kalo kita ngeliat cast yang familiar dengan peran yang minimal, maka niscaya mereka adalah twist yang dirahasiain oleh film.

Coba deh, tonton ini dan tebak apa yang sebenarnya. Wait, actually… Jangan tebak. Tepatnya maksudku, jangan bersusah payah luangkan waktu dan uang buat nonton. Aku beberin aja twistnya di sini:

 


Jadiii, anak tiri si Mary yang lumpuh ternyata enggak lumpuh. Stephen selama ini hanya pura-pura lumpuh. That’s the big twist. Film ini ngasih arti baru buat kalimat “Cinta ibu mampu membuat orang normal ngelakuin hal yang enggak masuk akal.” Stephen sangat ingin perhatian dan kasih sayang ibunya, sehingga ketika Tom datang dan perhatian Mary jadi bergeser ke ngurusin bocah malang tersebut, Stephen jadi iri. Dia bangkit dari kursi rodanya, menangkap Tom, dan menyekapnya di suatu tempat di dalam rumah. Suara-suara yang didengar Mary adalah suara Tom yang berusaha keluar. Penampakan, blurry vision, dan mimpi-mimpi yang dialami oleh Mary adalah ulah Stephen yang diem-diem masukin obat ke dalam minuman ibu tirinya tersebut. That’s it. Seriously, twistnya bikin revealing film The Boy (2016) jadi terlihat enggak parah-parah amat.


 

 

 

 

Apa coba persamaan antara Naomi Watts dengan kita-kita yang nonton film ini?
Sama-sama kejebak!
That’s how I felt during this entire film. Penampilan dan arahan yang acceptable tidak akan berarti banyak jika sumber penyakit ada di skenarionya. Tidak ada bagian yang bagus; babak satu dan duanya plainly bad, dan babak ketiganya sukses menghantarkan ini sebagai salah satu dari film horor terburuk yang pernah aku tonton. Atau psikologikal thriller terburuk. Whatever. This movie is horrible, people!
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for SHUT IN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2016

cymera_20170128_234738

 

Hal terbaik dari film yaitu menontonnya merupakan personal experience. Film adalah seni, sifatnya sangat subjektif. Kita bebas menyukai film apapun, meski begitu kita harus recognized flaws yang ada di dalamnya. 2016 bukanlah tahun yang hebat jika kalian penggemar film-film blockbuster, tho. Banyak dari franchise berbudget gede tersebut yang gagal – secara kritikal maupun secara pasar. Dan aku masih belum habis pikir kenapa film tentang dua superhero ikonik bisa lebih jelek ketimbang film tentang cewek yang baca novel.
Secara diversity, kita dapet wide range of film-film yang unik, for better or worse. Ada lebih dari satu film tentang kucing, kita nyaksiin banyak drama tentang ibu dengan anaknya, especially the daughter, para superhero either seling berantem atau bikin grup, western genre mulai menggeliat berusaha bangun, animasi yang got real mature dari segi cerita – dan wah! dari segi visual. Dari panggung Indonesia, konten lokal mulai berani digali, however, nostalgia masih menggila

Aku menonton banyak film tahun 2016 yang menurutku dioverlook oleh banyak orang. Regarding to the filmmaking, aku sangat senang melihat banyak film yang berusaha bercerita di luar pakem genrenya. Kita melihat film emosional yang tampil tanpa banyak bicara, horor yang fokusin ke rasa takut dari dalam diri manusia, film alien tanpa tembak-tembakan, you know ada banyak film yang so different dan unconventional dan original dalam cara bertuturnya.

Mengerucutkan film kesukaan menjadi delapan menjadi hal yang semakin menantang. Sebelum mencapai mereka, simak dulu sederetan film hebat yang sebenarnya ingin sekali aku masukin ke daftar but didn’t quite make it.

 

HONORABLE MENTIONS:

Swiss Army Man (komedi satir yang punya ide dan cerita yang sangat original)
Zootopia (makin ke sini, animasi ini menjadi semakin penting berkat kerelevanan cerita yang diangkatnya)
Popstar: Never Stop Never Stopping (mockumentary tentang penyanyi pop dan pretty much marodiin bisnis musik sekarang ini)
Ouija: Origin of Evil (best horror sequel of the year! Directionnya berani keluar arus, dan really took times memperhatikan detil dalam filmmaking)
Hush (whiteknuckled thriller tentang cewek tunarungu yang distalk oleh seorang pembunuh)
The Invitation (psychological thriller yang really sneak up on you)
10 Cloverfield Lane (psikologikal thriller yang satu ini bagaikan anti dari Allegory of the Cave)
Hunt for the Wilderpeople (penuh dengan interaksi dan gestur yang so funny!)
Hell or High Water (film yang emosional dan felt real yang bicara tentang ambiguitas moral)
Silence (film yang sangat kompleks dan emotionally gutting tentang gimana orang yang mengalami krisis keimanan, one of the Scorsese’s best!)
Moonlight (a really mature, genuine, dan beautiful way menceritakan cerita tentang perjalanan hidup, about a self-healing)
Manchester by the Sea (drama yang paling realistis yang pernah kutonton, diisi oleh performances yang incredibly brilliant!)
Arrival (sci-fi yang sangat unik, membahas tentang bahasa, untuk bekerja sama, dan ultimately tentang menghadapi masa depan yang menakutkan)
Captain America: Civil War (it wasn’t just about battle and action, ada konflik hebat yang compelling di dalamnya. Film box-office seharusnya seperti ini!)
The Neon Demon (tentang obsesi pada beauty, film yang perlu ditonton oleh semua cewek)
Captain Fantastic (punya banyak ide menarik seputar parenting, adegan musical menjelang akhir terasa sangat surreal dan menyentuh, nyaris bikin aku nangis!)
Surat dari Praha (untuk sebagian besar 2016, ini adalah film Indonesia yang kuberi rating paling tinggi, 8/10 – it’s about rekonsiliasi dengan orang yang kita cinta)
Istirahatlah Kata-Kata (film indonesia kedua di 2016 yang kuberikan 8/10, emosi filmnya benar-benar terasa lewat hamparan visual)
Hacksaw Ridge (film perang denagn arahan yang gritty dan so terrific, juga punya pesan yang ngena dan relevan dengan keadaan sekarang)
Nocturnal Animals (the ultimate ‘suck it up’ buat mantan, film ini punya storytelling yang sangat unconventional)

Dan special shout out diberikan buat Ada Apa Dengan Cinta 2 yang udah mecahin rekor jumlah view terbanyak review kami.

 

 

 

8. DEADPOOL

deadpool_ver11_xxlg

Director: Tim Miller
Stars: Ryan Reynolds, Morena Baccarin, T.J. Miller
MPAA: R
IMDB Ratings: 8.1/10
“You’re probably thinking, “My boyfriend said this was a superhero movie but that guy in the suit just turned that other guy into a fucking kabab!” Well, I may be super, but I’m no hero.”

Salah satu adaptasi terbaik dari komik yang menjelma ke layar besar. Menangkap dengan sempurna tone, the feels, dari karakternya. Sekali lagi, film blockbuster ya seharusnya seperti ini. Awalnya aku memang agak meragukan, tapi kemudian, baru nonton adegan openingnya saja I know this would be great superhero movie. Eh, super tapi bukan hero, ding!
Film Deadpool adalah Deadpool itu sendiri. Dia kurang ajar, kasar, suka ngatain orang, selera humornya seringkali keterlaluan, seksual innuendo nya kentara sekali, enggak baik buat anak-anak deh pokoknya. Deadpool bisa dibilang anti-hero dalam dunia Marvel, kita tahu dia aneh, mentalnya seperti agak terganggu, protagonis yang ngelakuin hal-hal tercela, tapi kita cinta. Thus, membuat filmnya menjadi kurang ajar juga. In fact, kurang ajar adalah seni pada film ini.
The writing is so good. At the heart, dan percayalah sekasar dan sekurangajarnya Deadpool, film ini masih punya hati kok.

My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=DVMVWQIfT88
Opening yang efektif sekali menunjukkan siapa sih Deadpool itu? Nyeleneh, kocak, dan yea dia bukan hero.
And oh btw, review Deadpool kami menangin kontes review dari Cinemags!

*slow-clap*
*slow-clap*

 

 

 

 

 

7. KUBO AND THE TWO STRINGS

kubo-main_0
Director: Travis Knight
Stars: Art Parkinson, Charlize Theron, Matthew McConaughey
MPAA: PG
IMDB Ratings: 7.9/10
“If you must blink, do it now.”

Kubo and the Two Strings bukan hanya peduli soal seperti apa rasanya jadi seorang anak, film ini juga punya hal penting yang ingin disampaikan seputar persoalan tersebut. It is an action packed, extremely fun adventure film. Beautiful to look at, yang engage it’s audience untuk berpikir. Kubo adalah animasi stop-motion yang sangat fantastis.
Lewat kekuatan Kubo yang involving seni melipat kertas dan tema ceritanya sendiri, film ini akan meminta anak kecil untuk menggunakan imajinasi mereka. So they can see beyond our physical world. Mengajak anak kecil untuk berkhayal sehingga mereka mengerti dan siap akan sesuatu hal nyata yang sangat penting; kematian orang yang kita cintai. Memang sih, anak-anak kecil mungkin saja belum nangkep aspek cerita yang lebih ‘serius’ ini until they get older, but at least mereka sudah ‘dipersiapkan’ sambil tetap terhibur. Karena film ini worked on multiple levels.
Petualangan Kubo bersama si Monyet, si Kumbang, dan si Prajurit Kertas mencari tiga senjata legendaris untuk mengalahkan kekuatan jahat dari masa lalu akan bikin penonton cilik betah. Kita juga bisa menonton film ini sambil mikirin deeper messagenya.

My Favorite Scene:
kubo-and-the-two-strings-official-trailer-15
Aku paling ngakak di momen ketika Kubo dengan semangat swinging pedang ke sana kemari dan just dishoot down sama si Monyet yang selalu serius.

 

 

 

 

 

6. EVERYBODY WANTS SOME!!

everybody_wants_some_ver5
Director: Richard Linklater
Stars: Blake Jenner, Zoey Deutch, Glenn Powell
MPAA: R
IMDB Ratings: 7.0/10
“We came for a good time, not for a long time.”

Film ini kayak kita, sometimes it’s dumb. Kita selalu cenderung untuk menganggap segala hal sebagai sebuah lomba. Appeal tergede bisa jadi adalah buat penonton pria karena tentang persahabatan cowok, but take notes, girls! Everybody Wants Some!! bener-bener menangkap gimana cowok menyelesaikan masalah mereka; Enggak pake diem-dieman kayak cewek kalo lagi berantem. Dalam dunia cowok; kalo ada slek, langsung turning it into a fight. Dan voila! masalahnya beres dan move on mencari sesuatu yang bisa dijadikan bahan pertandingan lagi.
Hanya ada sedikit adegan yang nunjukin mereka bermain baseball karena ini memang bukan film olahraga. Majority adegan adalah mereka ke klub, minum-minum, ngasep, ngeceng, party, yah having fun khas anak muda sonolah. Dalam tiga hari saja mereka udah ngunjungin empat pesta loh haha! Yang bikin berbeda adalah pendekatan nearly-philosophical yang film ini lakukan. Dengerin deh, di balik bego-bego yang mereka lakukan, dialog yang terucap punya makna yang mengena
Arahannya membuat semua terasa natural. Selalu ada sesuatu yang terjadi di background setiap shotnya. Sangat lucu dengan komedi yang enggak lebay, romantizing yang tepat sasaran. Yang ingin film ini sampaikan adalah manusia memilih mengerjakan sesuatu hal karena hal tersebut membuat mereka jadi memiliki arti.

My Favorite Scene:

Sums the movie perfectly; precise and awesome!

 

 

 

 

5. THE NICE GUYS

the-nice-guys-poster
Director: Shane Black
Stars: Russel Crowe, Ryan Gosling, Angourie Rice
MPAA: R
IMDB Ratings: 7.4/10
“You’re the world’s worst detective.”

Film seger ini membuktikan kita tidak perlu ledakan untuk menikmati action. Dialognya kocak, aksinya seru, misterinya nyedot perhatian, ceritanya bagus, karakter-karakternya di-handle dengan baik. Penulisan dan arahan film ini was so on-point.
Ini adalah action klasik dua detektif yang berujung menjadi teman. Menariknya The Nice Guys adalah tidak banyak perbedaan antara kedua tokoh ‘hero’ kita. Mereka sama-sama pecandu alkohol. Mereka sama-sama punya masalalu yang tragis. Mereka mengerti seperti apa di Los Angeles. Mereka mengerti aturan mainnya. Karena itulah mereka playing off of each other so good. Segar dan tidak-biasa. And of course, their performances. Chemistry nya, makjaaangg, Ryan Gosling dan Russel Crowe work magic together.
The Nice Guys juga punya satu tokoh anak kecil yang bersikap jauh lebih mature dibandingkan umurnya. Holly, putri kecil si Holland, kerap membantu Holland dan Healy dalam berbagai misi mereka. In fact, peran Holly lumayan besar, like, misi mereka seringkali terancam gatot jika bukan karena Holly. Peran ini dimainkan dengan sangat amazing oleh Angourie Rice. She really sells her character well. Like, soo greaaatt. Tokoh ini terasa sangat real dan otentik. So perfect and so fun.
The script is incredible. Sudah jarang sekali kita ngeliat cerita kayak gini.

My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=-LT8i_88A00
Saking gak kompetennya, Holland March mixed up kejadian di dalam mimpinya dengan kejadian di dunia nyata hahahaha

 

 

 

 

 

4. LA LA LAND

og
Director: Damien Chazelle
Stars: Ryan Gosling, Emma Stone, J.K. Simmons
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 8.6/10
“Here’s to the ones who dream / Foolish as they may seem. / Here’s to the hearts that ache. / Here’s to the mess we make.”

Jelas sekali Damien Chazelle terinspirasi oleh musik. Dan sebagai filmmaker yang masih terhitung muda, tampak benar dia mengerti gimana rasanya menginginkan mimpi, passion, terwujud. Dia mengerti godaan, struggle, dan ultimately pengorbanan yang harus dilakukan agar mimpi tersebut menjadi nyata. Dan film ini sukses berat menceritakan semua tersebut dengan balutan musikal yang hebat. Adegannya mengalun seamlessly. Semulus para pemain menghidupkan perannya.
I mean, performances dalam film ini sungguh gemilang. Enggak salah kalo film ini diganjar, bukan hanya Best Director, namun juga Best dari penampilan kedua leadnya. Ryan Gosling is always so awesome, ditambah oleh sangat mesmerizing gimana dia memainkan piano itu. Dan Emma Stone memberikan performance terbaik dalam karirnya, sejauh ini.
Genre musikal bukanlah genre film yang paling aku sukai. Namun hal ini bukannya jadi penghalang bagiku untuk menyukai La La Land. Because this is a well-made film. Musical numbers dalam film ini tidak pernah terasa annoying. Dan oh, betapa cantiknya. Los Angeles, kota para bintang, sangat rupawan tergambar oleh film ini.
Namun demikian, apa yang paling aku suka, melebihi kualitas teknikal dan penampilannya yang luar biasa, adalah film ini mendorong penontonnya untuk mencapai impian mereka masing-masing. Ini adalah surat cinta kepada orang-orang yang penuh passion.

My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=RvWhKWhFWoc
Lagu Audition terasa personal sekali, namun adegan Sebastian dan Mia bernyanyi dan menari dengan latar belakang sunset L.A. sungguh sebuah pemandangan yang indah, penuh arti, dan sangat playful.

 

 

 

 

 

3. SING STREET

sing-street-6
Director: John Carney
Stars: Ferdia Walsh-Peelo, Lucy Boynton, Jack Reynor
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 8.0/10
“Your problem is that you’re not happy being sad. But that’s what love is, Cosmo. Happy sad.”

Satu lagi musikal dalam list ini, aku juga surprised loh. Meski memang ‘aliran’ Sing Street ini berbeda dari La La Land, namun tetap senada.
Dengan cara tak biasa, mengolah premis sederhana – cowok yang ingin menarik perhatian cewek dengan main band, hanya saja dia tidak punya band. – menjadi drama remaja yang bittersweet namun kuat penuh heart and soul. Tidak ada nada sumbang dalam film ini. Tapi itu hanya satu dari sekian banyak cara kita menikmati film ini. It was so beautifully written. Penuh great humor, pula. Dengan lagu-lagu yang catchy, yang menyuarakan ambisi Connor, ketakutannya, romantic feelings, his growing pains, akan tetapi membuat film ini tidak terasa pretentious.
Kita juga bisa melihat film ini sebagai drama pembebasan diri dari sebuah sistem. Karena pemusik pada dasarnya adalah pemberontak. Dan eventually, film ini bisa dibaca sebagai drama persaudaraan kakak-beradik yang sangat emosional. Film yang terbaik adalah film dengan banyak elemen yang saling berlapis. Each of Sing Street’s stories berkumpul manis di akhir, pada lokasi yang disimbolkan oleh lautan lepas. Yang mana film ini berakhir dengan sangat rewarding sebagai sebuah suara harapan yang menginspirasi benak-benak muda untuk mengekspresikan mimpi.

My Favorite Scene:
sing-street-5
Aku kena banget ama percakapan yang intens, hearwrenching, dan emosional antara Connor dengan abangnya menjelang babak akhir.

 

 

 

 

 

2. THE WITCH

thewitch
Director: Robert Eggers
Stars: Anya Taylor-Joy, Ralph Ineson, Harvey Scrimshaw
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 6.7/10
“Wouldst thou like to live deliciously?”

Kita akhirnya sampai di era kebangkitan film-film horor yang dibuat secara artistik! Jump-scares pergi jauh-jauh!!
Bukan hanya tentang sosok nenek sihir mengerikan, tapi juga bagaimana kehadirannya mempengaruhi kehidupan. Kita akan melihat dampak yang disebabkan oleh keberadaan makhluk tersebut keluarga Thomasin. Kita akan menyaksikan keutuhan keluarga yang tercabik-cabik, mereka saling curiga, feeling insecure dan unsure atas apa yang terjadi. I love this movie, sungguh horor yang hebat, penuh suspens dari awal hingga akhir.
Lewat stylenya, film ini sungguh menangkap esensi menyeramkan dari situasi yang horrible. Nuansa klaustofobik yang kental. Film ini membuat kita merasakan environment New England 1630annya sebagai suatu tempat yang nyata. Seolah kita berdiri di tengah-tengah mereka. Musiknya really creep up on us. Long takes dengan shot-shot lambat yang bikin kita penasaran meski dalam hati makin takut dan enggak nyaman. Skema warnanya juga merefleksikan depresi yang dialami tokoh-tokohnya sehingga situasinya semakin terasa mengerikan.
Kalo di Indonesia, mungkin film ini bisa dikategorikan sebagai religi horor. Ketaatan beragama diperlihatkan sebagai desperate attempt yang dilakukan oleh keluarga Thomasin. And it tends to get disturbing. Sejatinya,The Witch adalah cerita tentang feminine empowerment yang seolah di-craft dengan sihir hitam.

My Favorite Scene:

Anya Taylor- Joy made a breakthrough lewat penampilannya dalam film ini. Namun ada satu scene yang dicuri oleh Harvey Scrimshaw yang jadi adek Thomasin. Adegan ini scared the crap outta me, a really jawdropping performance.

 

 

 

 

 

Oh betapa salahnya diriku yang berpikir animasi 2016 dipegang hanya oleh Zootopia dan Kubo and the Two Strings. Beneran, aku gak expecting anime yang satu ini sebagai tontonan yang luar biasa. Turns out, this movie really touched me.
Inilah film 2016 peringkat pertama kami:

1. YOUR NAME

ogj929jb6r7ek5vaw9i-o
Director: Makoto Shinkai
Stars: Ryunosuke Kamiki, Mone Kamishiraishi, Ryo Narita
MPAA:
IMDB Ratings: 8.7/10
“Treasure the experience. Dreams fade away after you wake up.”

Punya keunikan penceritaan yang luar biasa, sampai-sampai aku tidak bisa menemukan apa yang aku tidak suka dari animasi yang cantik jelita ini. Aku enggak pernah melihat drama tukar-tubuh diceritakan dengan cara seperti yang dilakukan film yang judul aslinya Kimi no na wa. Humornya yang beda bekerja sukses, drama emosionalnya bekerja sukses, aspek misteri dan mekanisme dunianya bekerja sukses, everything works out great in this movie. Your Name punya cara yang hebat sehingga transisi antara bagian yang kocak dan fun dengan part of story yang lebih serius, emotionally powerful, dan ultimately penuh suspens menjadi mulus tak terasa.
Dengan cara unconventional tersebut, film ini examining today’s youth culture dan apa yang bisa membuat dua orang jatuh cinta meski jika mereka belum pernah bersua.
Yang berhasil dicapai oleh Makoto Shinkai pada filmnya ini adalah betapa accessiblenya film ini buat banyak lapisan penonton; ceritanya tidak terlalu abstrak. Film ini imbued with elemen mimpi. Juga ada banyak simbolisasi yang memparalelkan antara kejadian di alam semesta, mekanisme dunia film ini, dengan hubungan yang dimiliki oleh kedua tokoh leadnya. It never gets too confusing, malahan semakin menarik kita. Tidak membiarkan kita terlepas sedetik pun dari ceritanya. Namun, tidak seperti mimpi yang lebih sering terlupakan saat kita bangun, film ini akan terus terngiang di kepala. Bahkan saking kuatnya sehingga kamu-kamu bisa saja bermimpi tentangnya.
Please, cari dan tonton film ini. Aku yakin kalian akan menemukan pengalaman menonton yang amat sangat menyenangkan.

My Favorite Scene:
yourtaki-mitsuha-your-name-kimi-no-na-wa-header
Semua dari animasi yang digambar dengan cantik ini amat menyenangkan. Rangkaian montase yang sweet dan kocak sebelum babak kedua akan memberikan kita a whole new meaning dari phrase “try walk in my shoes”. Ini bukan soal si cewek ntar jadi tomboy, sedangkan yang cowok jadi feminin. It explores more. Kita akan menyaksikan apa yang tadinya kebingungan berubah menjadi kerja sama. Lovely!

 

 

 

 

 

Jika rajin ngikutin blog ini (TERIMA KASIH BANYAK! :D), kalian akan tahu bahwa hampir semua film tersebut sudah aku review, so yea, fell free to hit the search button. Aku yakin beberapa dari film dalam daftar delapan-besarku belum banyak yang kalian tonton. Karena memang film-film tersebut just fly off the radar, malah tidak semuanya sempat ditayangkan di bioskop sini. Apa yang mau kubilang adalah; masih banyak yang bikin film-film bagus. Mereka tidak ‘terlihat’ karena kalopun sempat masuk ke bioskop, they got tanked karena yang nonton cuma sedikit. In fact, banyak film bagus – luar maupun dalam negeri – yang suffer from keignorant kita. Jadi, berhentilah menonton film-film horor jump-scares atau komedi bego (jorok pula!) atau drama kacangan yang hanya jualan jalan-jalan. Dan ketahuilah, kita enggak akan pernah dapat film adaptasi video game yang bagus. Pilihan dan sambutan penontonlah yang menentukan apa yang bakal tayang. Aku pun feel bad nonton film bagus yang enggak tayang dengan ngedonlot because I really want to support them.

Semoga di tahun 2017 nanti, film-film bermutu mendapat tempatnya yang layak di layar bioskop!

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are…
c2b5c7e111c171c21d1

 

We? We be the judge.