THE FAREWELL Review

“Sometimes you have to find the good in goodbye”
 

 
Bagaimana menyampaikan kepada orang yang kita sayangi bahwa kata dokter umur mereka hanya tinggal beberapa minggu lagi? Mengajak mereka bicara serius; terlalu menyedihkan. Membawa mereka liburan, bersenang-senang dahulu baru kemudian dikasih tahu; tetap saja menyedihkan. Cara terbaik memberitahunya – menurut film The Farewell yang ceritanya berdasarkan kisah nyata keluarga sang sutradara, Lulu Wang – adalah dengan… eng ing eng… tidak memberitahu sama sekali!
Billi (penampilan dalem Awkwafina jadi salah satu alasan kenapa film ini begitu indah dan menyentuh) juga protes begitu keluarga besarnya menyiapkan rencana yang menurutnya sangat ‘jahat’ buat Nai Nai alias neneknya. Billi memang seperti mendengar dua kabar buruk secara berturut. Pertama dia terhenyak mengetahui neneknya mengidap kanker paru-paru yang cukup parah sehingga divonis tutup usia dalam tiga bulan. Dan kedua, bahwa keluarga besar sepakat untuk bukannya memberitahu, tapi malah sekongkol berpura-pura ada pesta nikahan sebagai alasan pulang untuk bertemu dengan Nai Nai terakhir kalinya. Billi gak diajak, karena dia terlalu emosional dan dianggap tak mengerti cara-pikir orang Asia. Tapi Billi nekat pulang juga. Dia sayang neneknya. Dia sayang keluarga. Dia sayang negera asalnya. Dia ingin mengucapkan selamat tinggal yang benar.

“Nek, mau aku spoiler-in sesuatu gak?”

 
Jika ini kuliah, maka sepertinya kita melanjutkan kembali kelas mengenai ‘perlunya kebohongan’ yang dibahas pada ulasan Lampor: Keranda Terbang (2019). Billi yang jadi tokoh utama The Farewell sedikit lebih kompleks daripada Netta di Lampor. Tidak ada hantu dalam The Farewell yang menjadi jarak antara kebohongan dan manusianya, jadi jika dilihat dalam nada yang serius film ini jauh lebih ‘nyeremin’ karena para tokoh dalam film ini harus berhadapan langsung dengan dilema moral kebohongan yang ia lihat dan ikuti. Bohong untuk melindungi orang yang disayang – bohong yang diyakini membuat hal menjadi tidak ribet dan less-painful – dalam The Farewell juga dikaitkan dengan budaya dan cara-berpikir bangsa Asia, khususnya Cina. Gagasan ini membuat film tampil sarat nilai budaya dan terasa sangat personal bagi pembuat dan para pemainnya. Namun tidak sekalipun cerita terasa tertutup. Malahan konflik emosional – tensi drama- yang hadir terasa begitu dekat dan akrab. Kejadian di film ini tidak lain hanya membuka mata terhadap perspektif kemanusiaan.
Perbedaan pandang antara budaya barat yang lebih individualis dengan budaya timur yang family-oriented dieksplorasi dengan seadil-adilnya. Membuat masing-masing dalam film ini tampak luar biasa kompleks. Billi yang tak-percaya bagaimana mungkin membohongi Nai Nai dibilang lebih baik, ternyata sendirinya menyimpan kebohongan perihal status studi kepada keluarga lantaran ia merasa tak ingin merepotkan. Ibu dan ayah dan keluarga lain yang berjuang keras mengadakan pesta pernikahan palsu pun tak seketika tampil ‘kejam’. Kita diberikan kesempatan untuk melihat hati mereka enggak dingin-dingin amat, dan diberi waktu untuk memahami alasan kenapa mereka pikir berbohong seperti demikian berdampak lebih baik untuk keluarga. Apalagi buat kita penonton Indonesia, persoalan keluarga Billi mungkin tidak asing karena di sini kita juga diajarkan untuk memilih yang baik-untuk-semua dibanding memilih yang benar. Bahkan Nai Nai sendiri tak tampil sebagai sosok yang harus dikasihani. Pada satu titik disebutkan, dulu Nai Nai melakukan hal yang sama kakek saat kakek divonis berpenyakit yang membuat umurnya tak lama lagi. Tapi tak semua emosi dalam film ini hadir lewat pengungkapan. The Farewell yang tokohnya memendam dan merefleksikan perasaan terdalam mereka dalam cara yang berbeda-beda ini lebih banyak bermain lewat pandangan mata dan gestur-gestur kecil. Inilah bahasa universal yang dipakai oleh film yang berbicara kepada kita semua.
Selagi Billi mempertimbangkan yang sebaiknya ia lakukan, kita yang nonton juga jadi terombang-ambing. Awalnya kita pikir setuju dengan protesnya Billi. Kemudian film membuka sudut pandang salah seorang keluarganya, dan kita perlahan menganggukkan kepala. Seiring berjalannya cerita, kita melihat beragam sudut, mengerti alasan masing-masing tokoh, kita juga tertarik masuk ke dalam dilema Billi. Mana hal benar yang harus dilakukan ketika semua aspek tampak sama-sama beralasan. Keterbukaan-pikiran adalah hal yang menjadi tujuan dari cerita ini, dan film benar-benar berhasil mencapai hal tersebut.
Film berjalan dengan elegan. Dia tidak jatuh ke dalam ranah cerita dramatis yang menye-menye. Juga tidak terpuruk menjadi komedi receh. Wang merajut elemen drama dan elemen komedi dengan tidak berlebihan. Melalui hubungan antara Billi dengan Nai Nai yang menjadi jantung cerita, film membuat kita merasa bersedih dengan situasi yang dihadapi, dan di saat bersamaan membuatnya tampak ringan dengan candaan dari pengamatan terhadap keadaan tersebut. Film menghamparkan sekuen panjang tokoh-tokoh yang duduk ngobrol di meja makan. Dari percakapan kangen-kangenan keluarga besar hingga perdebatan mengenai ‘maju’nya hidup di Amerika. Dan itu semua tidak pernah terasa membosankan. Percakapannya membuat kita merasa menjadi begitu kaya. Naskah selalu menemukan cara untuk menjadikan setiap momen sebagai sesuatu yang berharga dan menghibur. Beberapa hal yang terlihat lucu di awal, dapat menjadi mengharukan begitu muncul lagi di belakang, dan sebaliknya.
 enggak setiap hari kita bisa melihat kejujuran juga dianggap sebagai hal egois

 
Dalam tingkatan personal, jelas, film ini mampu membuat setiap penontonnya teringat nenek di kampung. Dan kemudian rentetan pertanyaan yang mengisi struktur naskah pun mengisi benak kita. Akankah kita melakukan hal yang sama ketika kejadian Nai Nai dan Billi terjadi kepada kita. Apakah hubungan kita cukup dekat dengan nenek sehingga kita merasa sedih ketika mungkin kita diharuskan untuk berbohong juga. Apakah kita sanggup mengucapkan selamat tinggal.
That’s the ultimate question! Yang jadi akar Billi enggak mau ikutan berbohong sebenarnya adalah dia ingin mengucapkan selamat tinggal, kali ini. Karena dulu dia tidak sempat mengucapkan, dia pindah dari sisi neneknya, dari Cina, saat masih balita. Dia belum mengerti. Dan sekarang, saat dia sudah dewasa, kesempatan mengucapkan selamat tinggal dengan benar itu dia dapatkan. Namun dia dilarang oleh ‘tradisi’ keluarga, sehingga ini menjadi konflik baginya. The Farewell merupakan perjalanan Billi berjuang bukan saja menguatkan diri untuk berpisah, melainkan juga berjuang menemukan cara terbaik untuk mengucapkan selamat tinggal, karena setiap orang ternyata mempunyai cara masing-masing. Dan seperti yang diperlihatkan pada akhir cerita, bagi Billi kata selamat tinggal itu bukan saja untuk neneknya, melainkan juga kepada negara asal – masa lalu kehidupannya.

Semua hal pantas untuk mendapatkan selamat tinggal yang layak. Karena setiap hal punya memori. Setiap hal punya salah. Dua kata ‘selamat tinggal’ punya kekuatan yang luar biasa. Bisa menguguhkan kenangan tadi. Bisa menyembuhkan kesalahan tadi. Makanya mengucapkan dua kata tersebut luar biasa susahnya.

 
 
Setiap menit film ini terasa begitu pesonal dan penting buat pembuatnya. Gagasan yang diangkat betul-betul membuat kita berpikir dan merasa. Pendekatan komedi dan drama yang seimbang menjadikan film tampil berbobot. Dan enak untuk ditonton meskipun banyak terdapat adegan percakapan panjang yang kadang bisa muncul sekenanya, tapi tidak pernah merusak tempo dan penceritaan. Karena setiap aspek di sini punya karakter tersendiri. Semua yang dibahas menambah kepada karakter-karakter tersebut. Sehingga cerita ini menjadi natural, dan that’s the best way to approach this kind of story. Ketika kita mengucapkan selamat tinggal kepada film ini, rasanya pun menggelora. Sedih. Lega. Cinta. Haru. Rindu.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for THE FAREWELL

DOCTOR SLEEP Review

“It does not disappear if it is not validated”
 

 
Keberanian Mike Flanagan sebagai sutradara memang patut diacungi jempol. Pertama, dengan gagah beraninya dia mengambil proyek horor dari WWE Studio dan menolak membuat film tersebut menjadi bergaya found footage, dua tahun berikutnya dia menerima proyek sekuel dari horor papan permainan yang tidak dipedulikan orang; Dan nyatanya Oculus (2013) dan  Ouija: Origin of Evil (2015)  keduanya sukses menjadi horor yang benar-benar mengerikan sekaligus creepy. Flanagan lalu mengepalai serial Haunting of Hill House, ia nge-direct semua episodenya, menunjukkan keterampilan menyambung cerita dan editing horor yang luar biasa. Sutradara ini juga nekad mengadaptasi Gerald’s Game – novel Stephen King yang paling psikologikal dan penuh metafora sehingga paling susah untuk disadur ke bahasa gambar- menjadi film, untuk hasil yang menakjubkan.
Dan di tahun ini, Flanagan menerima kerjaan yang mungkin cuma dia yang berani ambil. Memfilmkan novel yang merupakan sekuel dari salah satu horor terseram Stephen King, bukan hanya itu, filmnya kali ini juga adalah sekuel dari film horor terikonik (kalo gak mau dibilang terhebat) garapan Stanley Kubrick. The Shining (1980) yang Flanagan bikin sekuelnya ini sungguh tantangan yang berat karena King sendiri tak suka dengan hasil adaptasi Kubrick yang membuat banyak perubahan. Jadi Flanagan otomatis berada pada posisi harus memuaskan dua pihak. Doctor Sleep harus up to par dengan rasa King, sekaligus juga harus mengimbangi standar sinematik Kubrick.
Hasilnya, kalian tanya?

Well, Flanagan jelas bukan Kubrick. Doctor Sleep tidak akan bisa selegendaris The Shining; paling tidak, tidak dalam waktu dekat ini, mengingat kedua film hadir pada dua era horor yang berbeda. Namun Flanagan tetap bisa memperlakukan karya King ini dengan hormat, dan memasukkan sendiri ciri khas dan kekuatannya sebagai sutradara horor paling crafty segenerasinya. 

Heeere’s Kenobi!

 
Akhir cerita The Shining membawa trauma mendalam kepada Dan Torrance. Bukan saja ia menyaksikan ayahnya perlahan menjadi gila, dia juga harus melanjutkan hidup dihantui oleh spirit-spirit dari Hotel The Overlook yang terpikat oleh ‘shine’ yang ia pancarkan. Doctor Sleep mengeksplorasi lebih jauh tentang kekuatan psychic yang dipunya oleh Torrance. Yang merupakan berkah sekaligus sumber masalah baginya. Torrance dewasa belajar menggunakan ‘shine’ untuk mengunci spirit-spirit jahat, dan kemudian ‘belajar’ menggunakan alkohol untuk meredam trauma dan kekuatannya tersebut. Tapi dunia terbuka lebar di film ini; kita serta merta tahu bukan Torrance seorang yang punya ‘shine’. Beberapa, seperti geng wanita bernama Rose the Hat, malah menggunakan kekuatan mereka untuk memburu yang lain; memakan ‘shine’ dari anak-anak supaya awet muda dan tetap kuat. Torrance pun harus kembali, membuka kekuatannya, untuk menolong seorang anak perempuan sahabat telepatinya yang bernama Abra, tatkala anak yang punya ‘shine’ begitu kuat ini terancam bahaya karena diincar oleh geng Rose yang punya kekuatan tak kalah mengerikan.
Membaca sinopsisnya sekilas, film ini memang tampak lebih mirip film superhero, atau seperti petualangan tokoh-tokoh berkekuatan istimewa. Terlebih dari judulnya yang seolah seperti tentang dokter yang kekuatannya adalah tidur haha.. Tapi nyatanya film ini masih tergolong cerita horor. And here’s the thing about horror movies; film tergolong genre horor itu bukan semata karena ada hantu atau makhluk gaibnya – meskipun mereka bisa dipakai sebagai penanda yang mudah, melainkan karena implikasi menyeramkan yang hadir merayap di balik ceritanya. Dan pada faktor inilah Doctor Sleep berhasil menjadi tontonan yang membuat kita bergidik.
Tentu, film ini bukan seperti horor kebanyakan yang biasa kita saksikan di bioskop hari-hari ini. Tidak ada wajah mengerikan yang muncul ngagetin di layar. Tidak ada twist membingungkan yang berhubungan dengan ritual-ritual, tidak ada kontrak perjanjian dengan setan. Dua puluh hingga tiga puluh menit awal, aku bahkan bisa paham kalo ada yang mengeluh bosan saat menontonnya. Selain beberapa penampakan, tidak benar-benar ada ‘kejadian’ pada babak awal cerita, karena film ingin memusatkan kita kepada setiap karakter penting yang ia punya. Kita akan melihat Dan Torrance dalam momen-momen kecil hidupnya yang berpindah-pindah. Yang diselang-selingi dengan development tokoh penjahat sehingga tensi dramatis itu perlahan terbangun. Kita mulai menduga-duga bagaimana kedua pihak ini bertemu, kemudian pihak ketiga yakni si Abra mulai diperkenalkan dan lantas cerita menjadi mengerikan karena sekarang ekuasinya bukan hanya tokoh utama dan tokoh jahat, melainkan ada tambahan anak kecil. Maka seketika film terasa menjadi begitu berbahaya. Ini cerita Stephen King banget; Rose dan teman-temannya juga menganggap ketakutan dan rasa sakit sebagai bumbu penyedap ‘uap’ anak yang mereka mangsa – sama seperti alasan Pennywise doyan menakuti mangsanya terlebih dahulu

‘Shine’ anak kecil dimangsa oleh orang dewasa supaya awet muda boleh jadi menyimbolkan keinosenan anak yang perlahan terkikis seiring usia, karena semakin banyak hal yang dilalui. Arguably, sebagai anak kecil, kita cenderung melihat lebih banyak – lebih terbuka daripada saat dewasa. Keterbukaan inilah yang menjadi salah satu penyembuh trauma; keterbukaan untuk menghadapinya. Gagasan menarik film ini adalah menilik apakah kita berurusan dengan trauma lebih baik saat kanak-kanak ketimbang saat dewasa. Eksplorasi bahasan ini terus digali dengan menampilkan pekerjaan Torrance yang mengharuskan dia belajar dari trauma bahwa hantu itu nyata supaya memberikan ketenangan bagi pasien sakaratul maut yang ia jaga di rumah sakit.

 
Ada adegan yang melibatkan salah satu aktor cilik muda berbakat, Jacob Tremblay, yang cukup disturbing buatku, dan aku sudah menonton banyak horor dan hal-hal mengerikan seumur-umur. Tahun ini kita mendapat lumayan sering adegan kekerasan terhadap anak, adegan di Doctor Sleep ini bisa dengan mudah menjadi juara paling sadisnya, dan itu bahkan adegannya tidak benar-benar diperlihatkan tepatnya apa yang actually terjadi. Horor pada Doctor Sleep bekerja seperti demikian. Kamera tidak pernah memperlihatkan secara langsung. Banyak yang tidak dimunculkan di layar, kita hanya disuguhkan sebagian, film membiarkan imajinasi kita terbang liar dengan gambar-gambar seperti sosok terbaring di lantai dengan pisau, atau ketika Torrance kecil masuk ke dalam kamar mandi dengan hantu di dalam bak, dan kemudian menutup pintunya.
Flanagan mencapai level kengerian yang unik berkat cara bercerita seperti demikian. Secara teknis, ia menggunakan trik yang sama dengan yang ia pakai pada Haunting of Hill House. Yakni menggunakan dominan warna biru dan shot-shot close up untuk memperkuat kesan seram. Ketika tiba saatnya menggunakan efek dan editing, Flanagan tak ragu untuk membuat kita puyeng dan takjub bersamaan. Ada beberapa adegan terbang bersama pikiran (atau jiwa?) seorang tokoh dengan pergerakan yang sungguh tak biasa, tapi tetap mengalir dengan indah.
Secara penampilan akting, film ini sesolid penokohan karakternya. Pemilihan Ewan McGregor sebagai Dan Torrance dewasa tampak sangat pas karena meyakinkan sebagai sosok individual yang memendam trauma dan kekuatan bermasalah yang berusaha menjadi lebih baik. Dia tidak terjebak untuk bertampang muram sepanjang waktu, meskipun naskah memang tidak memberinya banyak ruang untuk variasi. Tokoh paling flesh-out dalam film ini justru adalah si penjahat Rose the Hat. Dimainkan fantastis oleh Rebecca Ferguson, tokoh ini adalah poster untuk slogan ‘kecantikan yang mematikan’. Meskipun dia jahat, kita dibuat mengerti kenapa ia dan gengnya butuh untuk melakukan apa yang mereka lakukan, terlebih karena kita juga ditanamkan betul-betul seperti apa komunitas mereka bekerja. Tapi kalo mau dikasih piala mana akting yang paling keren di film ini, maka piala itu akan jatuh ke tangan Kyliegh Curran yang berperan sebagai Abra. Aktor cilik baru ini berhasil mengemban semua emosi yang diberikan kepada tokohnya. Abra adalah gadis kecil yang konfiden dengan kemampuan ‘shine’nya, tapi ia juga sangat ketakutan karena diincar. Dia juga memainkan banyak range karakter sebab ada adegan di mana dia menjadi medium bagi tokoh lain. Naskah tidak membuat Abra sekadar orang yang perlu diselamatkan, tokoh ini turut memberikan banyak andil dalam strategi perlawanan.

“shining bright like a diamond”

 
Namun ada kalanya Flanagan ‘terpaksa’ kembali mengikuti visi Kubrick, sebagai jembatan ke film terdahulu. Ada adegan yang dimirip-miripin sama adegan The Shining, ada banyak adegan throwback kepada film Kubrick tersebut, bahkan potongan klip dan tokoh lama ‘dimunculkan’ kembali, sehingga dengan gampang jatoh sebagai adegan fans-service. Orang akan mudah mengatakan film ini tidak akan bekerja sebaik itu jika penonton belum nonton The Shining. Mungkin hal tersebut memang benar, namun aku tidak setuju bahwa film ini mengandalkan The Shining. Doctor Sleep adalah sekuel, jadi wajar bila ada hal-hal di film pertama yang dimasukkan. Dan adegan-adegan tersebut justru bagian Flanagan seperti tidak melakukan apa-apa. Film justru bekerja terbaik, dalam levelnya sendiri, saat Flanagan bermain dengan trik-triknya sendiri. Seperti pada babak ketiga; saat seolah Flanagan merekonstruksi ulang kejadian The Shining, membetulkannya hingga sesuai dengan novel. Kalian tahu dong apa yang tak boleh dilewatkan dari film ini: pertemuan Dan Torrance dewasa dengan ayahnya!
 
 
The Shining termasuk dalam 100 film favoritku sepanjang waktu. I mean, kalo dikasih skor angka, film itu termasuk yang kukasih nilai 9 dari 10 bintang emas. Yang kita dapatkan pada film sekuelnya ini memang tidak sebagus The Shining. Namun punya gaya tersendiri yang membuatnya tetap mencuat dan berhasil menopang legacy film tersebut. Ini adalah cerita pertempuran baik melawan jahat dengan kekuatan supernatural dan horor merayap di baliknya. Ia membangun karakternya perlahan, dan boleh jadi terasa lambat dan membosankan, tapi begitu kita sudah terinvest di tengah, film akan menjadi jauh lebih menarik. Dengan implikasi mengerikan di balik ceritanya, kita adalah orang yang mati-imajinasi jika benar-benar sampai tertidur menyaksikannya.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for DOCTOR SLEEP.

 
 

LAMPOR: KERANDA TERBANG Review

“People lie to protect others”
 

 
Lampor dalam mitos daerah Jawa Tengah dipercaya sebagai penanda datangnya wabah penyakit. Namun dalam film garapan Guntur Soeharjanto ini, Lampor yang membunuhi dan menculik orang-orang ‘pendosa’ pada akhirnya akan mengajarkan kepada tokoh utamanya – dan lantas kepada kita – satu dua hal tentang menutup dan mengalihkan mata; tentang kebohongan yang kadang harus kita lakukan demi diri sendiri dan orang-orang tersayang.
Ada dua prinsip yang ditetapkan dalam film ini sebagai aturan yang harus dipatuhi oleh para tokoh supaya tidak diambil oleh Lampor; “Pantang melihat” dan “Jangan terlihat”. Bersembunyi di dalam gelap agaknya adalah cara untuk selamat dari hantu hitam bermata merah bak malaikat pencabut nyawa yang melayang bersama keranda yang diusung oleh pasukan tak-terlihat Nyi Roro Kidul. Pokoknya, malam hari, begitu suara sorakan mereka mulai terdengar dari kejauhan entah-di mana, segera tutup pintu dan jendela rumah, matikan lampu, berjongkoklah di dalam kegelapan sampai suara gaduh mereka tak terdengar lagi.

Black Lampor is all about the white lie

 
Kegelapan dalam film ini menjalankan dua fungsi yang bertolak belakang. Ketika diwakili oleh sosok hantu Lampor yang hitam, melayang dengan juntaian jubah layaknya kelelawar yang menenggak stereoid – para penggemar Harry Potter mungkin seketika akan teringat dengan Dementor – maka kegelapan itu adalah bahaya yang teramat nyata. Malam hari adalah momok bagi warga desa karena di waktu gelap itulah Lampor turun dan melayang rendah di pemukiman mereka. Ironisnya, justru di dalam gelap jualah para warga bersembunyi. Dalam satu adegan diperlihatkan seorang warga menjadi korban Lampor karena tiang obor terjatuh tepat di depan wajahnya yang sedang meringkuk. Api obor membuatnya kaget, cahaya api membuat Lampor mengetahui keberadaannya, dan binasalah ia. Kegelapan juga bertindak sebagai juru selamat, sedangkan cahaya hanyalah penerangan buat si Lampor mengetahu posisi dirimu bersembunyi.
Dualitas fungsi gelap yang bertolak belakang ini bukanlah kelemahan atau ketidakkonsistenan narasi. Melainkan sebuah simbol yang paralel dengan gagasan yang diangkat oleh cerita yang naskahnya ditulis oleh Alim Sudio.

Bagaimana kita selamat dari kegelapan? dengan bersembunyi dalam gelap, berbaur. Bagaimana kita selamat dari kesalahan? dengan berbohong supaya semuanya aman.

 
Pertanyaan penting yang diangkat oleh drama keluarga berkedok horor mitos supranatural ini adalah “Bisakah kita berbohong untuk melindungi orang lain?” Gagasan tersebut diangkat lewat permasalahan tokoh utama kita yang diperankan oleh Adinia Wirasti. Netta, nama tokohnya, punya masa kecil yang mengerikan di Temanggung. Oleh sang ibu, Netta dibawa pergi ke Medan, jauh dari tragedi gaib di desa. Hingga dewasa, Netta tak pernah menceritakan masa lalunya kepada suami – apalagi kepada dua anaknya yang masih kecil. Kepada suaminya, kematian adik oleh Netta ditutupi sebagai penyakit, dan perihal ayahnya disederhanakan sebagai selingkuh saja. Konflik muncul ketika kondisi rumah tangga mengharuskan Netta kembali ke kampungnya. Keluarga yang selama ini ia lindungi, terpaksa ia bawa serta ke tempat berbahaya yang membenci dirinya. Segala yang mengancam Netta di Temanggung sekarang turut mengincar suami dan anak-anaknya.
Yang dipelajari Netta dalam kisahnya ini adalah bahwa berbohong demi kebaikan pada akhirnya bukanlah solusi yang permanen. Sama seperti warga desa yang hanya meringkuk dalam gelap menunggu Lampor lewat; mereka tidak akan pernah membereskan masalah hanya dengan berbohong. Ketenangan yang hadir hanya bersifat sementara, karena ketakutan akan terus datang menghantui. Tidaklah bijak untuk terus bersembunyi dan menganggap semuanya akan baik saja. Kebenaran harus dikonfrontasi, meskipun menyeramkan. Netta malah melihat orang-orang di kampung, mereka yang dahulu ia dan ibunya tinggalkan, tidak sejelek yang ia takutkan ketika cahaya kebenaran menyinari mereka. ‘Cahaya’ yang masuk berkat keberanian Netta untuk menyeruak kegelapan.
Dengan lapisan pada cerita, serta keberanian naskah untuk bercerita dengan runut – tanpa mengandalkan pada flashback dan pengecohan – tetap saja kita sama aja dengan berbohong jika mengatakan Lampor: Keranda Terbang adalah film yang bagus. Film ini kekurangan satu hal krusial. Arahan. Soeharjanto biasa menangani cerita drama; permasalahan keluarga Netta yang menjadi tubuh utama cerita tidak menjadi soal baginya. Cerita Netta mencuat dan memberi bobot sehingga film tidak terasa hampa. Namun, menggodoknya dengan horor; di sinilah arahan tampak tak-punya clue untuk harus bagaimana. Lampor: Keranda Terbang adalah proyek horor pertama bagi Soeharjanto. Dan fakta tersebut benar-benar tercermin dari film ini.
Soeharjanto tampaknya mengira horor itu harus selalu kelam dan murung dan sedih dan depressing. Tidak ada satu adegan pun yang memperlihatkan Netta menikmati hidup, bahkan meski ia berpura-pura senang sekalipun. Adinia Wirasti berakting suram sepanjang film. Entah itu ketika dia mendengar permasalahan suami, atau ketika mendapat sambutan dingin dari penduduk desa, atau ketika anaknya hilang, atau ketika ia mengetahui rahasia di balik sikap almarhum ayahnya – film biasanya punya turun-naik emosi yang dicerminkan oleh perasaan tokoh utama. Netta dalam Lampor: Keranda Terbang hanya punya ‘turun’, tak ada fase ‘naik’ pada tokoh ini. Adinia adalah aktor yang cukup mumpuni, tapi berkat arahan cerita, hanya bebetapa adegan emosional yang ia jalankan tanpa terlihat bosan dan seadanya aja. Ada adegan ketika suaminya terbangun histeris dari mimpi buruk, tapi alih-alih membuatnya sebagai adegan comfort yang menunjukkan cinta dan semangat, film membuat Netta pada dasarnya berkata “kamu percaya kan sekarang” dengan nada tanpa semangat yang hanya memperbesar energi negatif terus-terusan. Reaksi Netta ketika melihat anaknya ada kemungkinan ditangkap orang juga terlalu sendu. Dia malah fokus ke pengungkapan selingkuh yang membuatnya semakin terpuruk karena merasa dibohongi.

tbh Adinia tak tampak begitu peduli, tidak seperti Dion Wiyoko yang tampak terlalu bersemangat berusaha keras membuat tokohnya dipedulikan

 
Untuk melandaskan kengerian, film memanfaatkan setiap kesempatan. Momen satu keluarga di dalam mobil yang seharusnya dipakai untuk pengembangan karakter, menunjukkan interaksi normal mereka menjelang hal-hal buruk yang akan datang, malah dijadikan sebagai momen eksposisi yang menjelaskan apa itu Lampor; kepada anak kecil. Orang dewasa macam apa yang menjadikan itu sebagai topik perbincangan untuk anak kecil – yang bakal tinggal lama di kampungnya. Beberapa saat sebelum itu si anak dilarang untuk menyimak perbincangan tentang perselingkuhan, namun kemudian mereka oke-oke saja saat si anak diajak ngobrol soal hal gaib. Film menggunakan segala cara yang diketahui supaya tampak seperti cerita horor. Anak yang bisa bicara dengan hantu, cek. Hantu yang memberi petunjuk, cek. Orang kesurupan, cek. Anak diculik, cek.

Manusia berbohong karena mereka percaya konsekuensi kejujuran bisa menjadi lebih buruk. Ini menciptakan dilema, antara untuk melindungi tapi juga berpotensi melukai perasaan orang yang sedang dilindungi.

 
Dan ketika sudah saatnya memancing ketakutakn, film menggunakan trik paling usang di buku; jumpscare. Ada begitu banyak adegan yang bikin jantung copot, entah itu berasal dari hantu beneran atau cuma dari kedatangan orang yang mengagetkan satu tokoh. Oh iya, ada juga satu yang berasal dari satu kesenian lokal seperti reog yang mendekat ke layar untuk mengagetkan kita langsung wajah-ke-wajah yang tak pernah ada signifikansi adegannya terhadap keseluruhan cerita. Kemunculan Lampor selalu disertai dengan iringan suara sorakan gaib yang menyeramkan, yang entah bagaimana oleh film menjadi terdengar lucu. Kamera menangkap secara luas, dan kemudian kita melihat ada anak muncul berlari dari kiri layar dan tak seberapa jauh diikuti oleh keranda yang mengejar sambil bersorak-sorak; ini kayak adegan dalam film-film kartun. Dan jika itu belum cukup untuk membuat kalian tertawa, tunggu saja hingga menjelang akhir, kita akan melihat keranda hantu yang bersorak-sorak itu ditabrak jatuh oleh mobil.
 
Film ini bercerita dengan runut. Mengangkat urban lokal yang menambah kedekatan penonton dengan ceritanya. Punya drama keluarga yang manusiawi sebagai denyut jantungnya. Namun jika mau jujur, film tampak seperti berusaha keras untuk menjadi sebuah horor. Sehingga seringkali malah jatuhnya lucu, mengabaikan logika, dan membuat kita mengamini perkataan salah satu tokohnya; “Suka-sukanya Lampor aja!”
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for LAMPOR: KERANDA TERBANG

LOVE FOR SALE 2 Review

“Happiness is when you realize your children have turned out to be good people”
 

 
Love Inc, yang diperkenalkan dalam Love for Sale (2018) sebagai perusahaan yang menyewakan jasa pacar bohongan untuk para jomblo sekalian, sudah seharusnya dipertahankan sebagai misteri. And so does Arini. Kemisteriusan Arini dan Love Inc membuat film garapan Andibachtiar Yusuf menarik. Diperbincangkan banyak penonton. Beberapa mengatakan Arini ‘jahat’, bahwa filmnya serupa film horor. Della Dartyan langsung melejit, dia bisa jadi poster girl untuk manic pixie yang membuat penasaran para cowok. Padahal kenyataannya bukan begitu; jatuh cinta pada karyawan yang menjajakan status pacar seperti Arini sama aja dengan jika kita baperan ketika disenyumin oleh mbak-mbak manis penjual karcis bioskop. But that’s okay, justru bagus, karena di situlah pesona yang berhasil dihadirkan oleh film tersebut – menjadikannya unik. Setahun kemudian, kita dapat sekuel dari cerita Arini dan Love Inc. Dan sukur Alhamdulillah Yusuf tidak gegabah membongkar tabir yang bakal menghilangkan keunikan tadi. Karena Love for Sale 2 enggak banyak berupa lanjutan kisah dari yang pertama, melainkan lebih banyak memperlihatkan ‘studi kasus’ yang baru terkait keberadaan Love Inc dan kiprah ‘karir’ Arini sendiri.
Love for Sale 2 menawarkan lingkungan yang lebih luas. Stake-nya juga menjadi lebih besar, karena bukan hanya satu orang yang bakal ‘jatuh cinta’ dibuat oleh Arini kali ini. Melainkan melibatkan satu keluarga. Tepatnya; keluarga asal Padang Ibu Rosmaida (Ratna Riantiarno yang asal Manado kewalahan disuruh berbahasa Minang) yang punya tiga anak lelaki. Salah satunya adalah Ican (beruntung tokohnya ini diceritakan besar di Jakarta sehingga Adipati Dolken tak perlu turut kewalahan berbahasa Minang), yang belum juga menikah dengan usia yang menginjak tiga-puluh-dua. Maka Ibu Ros terus merongrong Ican untuk segera mencari pasangan. Tapi bukan pasangan yang tak ia suka – seperti istri anak pertamanya, dan bukan pasangan yang karena zina – seperti istri anak ketiganya. Inilah yang membuat Love for Sale 2 menjadi cerita yang bahkan lebih unik daripada film pertamanya. Ini bukan lagi sekadar tentang orang yang kepengen punya pacar sehingga menyewa cewek idaman. Ican log in ke Love Inc dan memesan jasa Arini bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan – bertentangan dengan norma dan budaya daerah asalnya – demi sang ibu; supaya ibunya bisa bahagia melihat dirinya punya pasangan. Jadi bisa dibayangkan betapa terenyuhnya mereka nanti jika kontrak Arini selesai; itu pun jika Arini sanggup untuk meninggalkan segitu banyak orang yang merasakan cinta dan balik mencintainya.

film berkali-kali menyebut “Padang banget” seolah itu menunjukkan karakter yang enggak rasis

 
Film bekerja terbaik ketika cerita fokus kepada Ibu Ros. Ada sense of impending doom yang merayap di balik cerita seiring semakin akrab dan sayangnya Ros kepada Arini. Dan kupikir efeknya lebih kuat terasa karena kita sudah tahu cara kerja Love Inc. Jadi kita mengantisipasi, bersiap-siap dengan apa yang bisa dilakukan oleh Arini yakni pergi begitu saja saat kontrak habis. Pergi tanpa jejak sama sekali. Ini seperti perlakuan pada tokoh Ratih di Perempuan Tanah Jahanam (2019); supaya surprise karakter ini berhasil, maka film mengandalkan kepada keakraban kita dengan Asmara Abigail yang biasanya memerankan karakter jahat yang gila. Sedari materi-materi promo yang dikeluarkan dia sudah dibangun seolah karakter tersebut, untuk membangun antisipasi kita sehingga ‘twist’ tokoh ini menjadi lebih kerasa (no pun intended). Love for Sale 2 juga menggunakan cara serupa dengan pembangunan tokoh Arini. Ceritanya butuh kita untuk tahu Arini dan Love Inc sebagai pegangan, yang menuntun kita kepada Ibu Ros karena di film ini beliaulah yang mendapat pengaruh lebih banyak, dia yang bakalan berubah lebih signifikan di akhir cerita.
Tapi akan mudah sekali bagi kita untuk terdistract dari inti utama cerita, terutama jika kita belum menonton film pertamanya. Kita akan gampang terjebak menganggap ini sebagai cerita Ican mencari cinta, padahal bukan. Karena film sendiri yang justru mengaburkan kita dari inti tersebut. Dengan membuatnya sebagai sudut pandang Ican pada berbagai kesempatan. Film bergantung banyak kepada reputasi Arini sehingga film ini sendiri teralihkan dan merasa mereka masih perlu memasukkan romansa ke dalam cerita yang tadinya sudah mereka ubah menjadi ke persoalan keluarga; persoalan bentrokan keinginan orangtua dan keinginan anak-anaknya. Cinta di sini seharusnya lebih ke cinta manusia kepada orang-orang yang dianggap keluarga.

Orangtua harus belajar untuk memahami apa yang membuat anaknya bahagia. Alih-alih ‘memaksa’ untuk mengikuti kemauannya. Anak-anak tidak jahat ketika mereka berusaha bahagia demi diri mereka sendiri. Orangtua hanya akan menyandera anak-anaknya jika menggantungkan kebahagian mereka kepada anak-anak. Membuat anak-anak mereka menjadi bukan dirinya sendiri. Dan yang paling parah adalah, orangtua jadi tidak akan bisa melihat siapa anak mereka yang sebenarnya, seperti Ros dalam film ini yang awalnya menganggap anak-anaknya bukan orang yang baik – mereka selalu salah di matanya.

 
Seperti film pertama, kisah klien Arini berawal dari sebuah pesta pernikahan. Namun Love for Sale 2 ini banyak bereksperimen dengan kamera. Shot-shotnya tampak lebih dinamis ketimbang film pertama. Pada adegan pernikahan misalnya. Film merekam dengan continuous shot yang membuat kita merasa berada di tengah-tengah pesta, mengikuti Ican – ditempel oleh ibu – yang berkelit ke sana kemari dari kerabat yang menanyakan status relationshipnya. Ini merupakan bagian dari distraksi; film lebih banyak bermain ketika merekam Ican ketimbang merekam ibunya. Padahal jika melihat dari sudut pandang Ican, cerita memiliki banyak kelemahan. For instance; stake cerita jadi nyaris tidak ada. Karena seperti pada tokoh utama Pariban: Idola Tanah Jawa (alias film terburuk Andibachtiar Yusuf yang kutonton sejauh ini) Ican tidak ditulis punya alasan yang kuat, ia tidak tampak pengen punya pacar. Ataupun tidak tampak kesulitan mencari perempuan, saat dia mau. Ican hanya sedikit pemilih karena gaya hidup yang more-Barat dan less-Sumatra. Tidak seperti Richard pada film pertama yang benar-benar ditulis dengan banyak layer, yang dibangun karakternya; begitu penting bagi cerita perihal Richard yang tak pernah meninggalkan rumah. Ican tidak punya semua itu. Maka aneh jadinya ketika film ngotot untuk menonjolkan sudut pandang Ican, sementara cerita akan jauah lebih menarik jika menetapkan fokus kepada ibu. Ican menghubungi Love Inc seharusnya tidak dilihat sebagai plot poin pertama, melainkan sebagai inciting incident yang membuka kesempatan Ibu untuk berubah dengan kedatangan Arini.

coba ibu, apa bahasa minangnya “ditinggal lagi sayang-sayangnya?”

 
Sudut pandang bukan hanya melebar kepada Ican, melainkan juga kepada Arini. Cewek ini bukan antagonis. Dia profesional. Lihatlah dia seperti Mary Poppins untuk orang dewasa. Setelah meluruskan hidup orang dan membuat mereka bahagia, Arini pergi. Tapi kali ini film tidak sampai hati. Film sepertinya tidak mau lagi ada yang menganggap Arini ‘jahat’. Maka kini kita dibuat melihat Arini bimbang dan mulai baper sendiri sama keluarga Ibu Ros. Ia diberi waktu untuk menjelaskan sedikit tentang siapa dirinya. Ini seharusnya adalah cerita yang lain, untuk waktu yang lain. Arini pantas mendapat satu film tersendiri untuk itu semua. Tidak perlu dihadirkan nyelip di cerita orang. Menghadirkan ‘pembelaan’ untuk Arini di sini hanya mengganggu keutuhan cerita Ibu Ros yang tentang menemukan kebahagiaan dengan tidak memaksakan dirinya kepada anak-anak. It drags the story out. Membuat film menjadi semakin tidak fokus. Adegan pembuka dan penutup film ini seharusnya bisa dibuang sebab tidak menyumbang banyak selain sebagai teaser.
 
 
Adik Ican selalu memakai kaos band metal, tetapi lagu yang ia dendangkan dengan gitar malah lagu patah hati jadul dari D’Lloyd yang ngepop. Ini adalah salah satu selera humor film. Cerita memang menyenangkan berkat interaksi tokoh-tokoh yang kadang tampak ‘ajaib’ sebagai penyeimbang drama masalah dalam keluarga. Seringkali juga hadir lewat dialek yang memang dibuat beragam. Namun film yang lebih menitikberatkan pada visual ini membuatku kerap bingung juga dengan suara dialog yang gak sinkron dengan mulut tokoh yang terlihat sangat jelas dan sering terjadi itu apakah bagian dari selera humor pembuatnya atau bukan. Film ini toh memang senang membuat distraksi seperti demikian. Posternya aja seolah membuat Dolken sebagai tokoh utama, padahal bukan. Ini bahkan bukan total romansa seperti yang ‘dijual’ pada materi-materi promosinya. Padangnya juga gak benar-benar terasa, rendang aja absen kok di baralek. Soal cerita, film ini seharusnya bisa menjadi sekuel yang menempatkan cerita pada situasi yang baru. Dia tidak perlu kesusu untuk melanjutkan. Karena seperti yang sudah kita saksikan, film ini jadi tidak fokus karena seperti ingin menceritakan banyak sekaligus
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for LOVE FOR SALE 2

THE NIGHTINGALE Review

“In tragedy, empathy still dependent of proximity”
 

 
Belum lama ini, peringatan kemerdekaan negara kita sempat tercoreng oleh peristiwa berwarna rasisme yang terjadi pada sekelompok mahasiswa asal Papua di Surabaya, yang berbuntut panjang. Aku bukannya bilang film The Nightingale menggambarkan peristiwa yang sama persis, tapi yang digambarkan oleh drama period piece yang berlokasi di Pulau Tasmania, Australia ini – yakni arogansi sosial yang berakar pada kolonisasi – kurang lebih mirip dengan yang kita temukan pada lingkungan modern. Jika pemuda Papua dihardik monyet oleh aparat, maka bangsa Aborigin dalam The Nightingale dipanggil “Boy!” Namun bukan dalam artian sebagai anak kecil, melainkan ‘boy’ yang berarti panggilan kepada binatang ternak/binatang peliharaan.
Clare, tokoh utama kita, berkulit putih – tapi ia tak bernasib lebih baik. Sedikit, karena dia adalah pendatang tawanan. Dan sebagian besar karena dia adalah wanita. Clare memang tidak dipanggil ‘Boy’, tapi bagi serdadu Inggris dia tak lebih dari sekadar burung penyanyi (nightingale adalah burung bulbul yang bersuara merdu). Clare adalah properti bagi Letnan Inggris yang membawanya ke Tasmania. Nasib Clare tak berbeda dari Billy, ‘orang hitam’ yang ia sewa untuk mencari jejak si Letnan Inggris yang menyisir hutan bersama orang-orangnya menuju ke kota, satu hari setelah menghancurkan keluarga Clare, dan membiarkan wanita itu mati.

oke sekarang aku pengen melihat Nightingale melawan Mockingjay

 
The Nightingale punya intensi seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) tapi dengan pengembangan seperti Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017). Bermula seperti sebuah cerita balas dendam perempuan, film ini lantas membuka dengan suara yang menarik. Nafsu membalas itu dapat kita rasakan perlahan sirna; segala kekerasan yang diwariskan di antara kelompok kulit putih penjajah, segala diskriminasi dan pelecehan, bahkan ketidakpedulian terhadap lingkungan, semua ‘kejahatan’ yang ingin dibetulkan oleh aksi Clare itu tampak tidak penting lagi. Bukan lantaran hal-hal tersebut perlahan membaik, ataupun karena Clare menjadi takut, melainkan sepanjang perjalanan yang ia lalui bersama Billy, ia menjadi punya sesuatu yang baru untuk dilihat – untuk dipertimbangkan. Gagasan yang ingin diangkat oleh sutradara Jennifer Kent tidak sesederhana kejahatan akan mendapat balasan. Tidak, karena kekerasan yang akan berbuntut pada kekerasan hanya akan membentuk lingkaran setan kehancuran manusia yang akan terus bergulir. Kent justru mengangkat pertanyaan ‘bagaimana jika cara lain di luar balas dendam’. Dan terutama, ‘masihkah kemanusiaan itu akan ada di dunia yang penuh dengan kekerasan’.

Sakit itu tentu masih terasa. Lukanya bahkan mungkin tidak akan pernah sembuh. Alih-alih saling membalas sehingga orang merasakan sakit yang kita derita, mungkin jawaban dari semua itu adalah mendekat untuk merasakan sakit yang orang derita. Saling berempati. Sehingga kita merasakan kesamaan dengan orang  di sekitar kita, tidak peduli warna kulit, dan agama mereka.

 
Meskipun cerita mengambil tempat pada tahun 1825, saat The Black War berkecamuk di Tasmania; menjadikan jalan-jalan di pedalaman Tasmania sangat berbahaya karena tensi yang begitu tinggi antara serdadu kolonial Inggris dengan penduduk lokal yang semakin tersingkir dan diperlakukan tidak manusiawi, The Nightingale terasa seperti berita yang kita temukan di internet tadi pagi. Segala yang kita rasakan saat menonton peristiwa naas demi peristiwa naas di film ini begitu relevan.  Menyaksikan setiap frame film ini seperti menyaksikan kejadian asli. The Nightingale baru film panjang kedua Jennifer Kent (sebelumnya adalah The Babadook yang super-seram tentang grief seorang ibu beranak satu itu), tapi sutradara yang satu ini sangat bernyali.
Film ini disajikan olehnya dengan begitu disturbing. Banyak adegan kekerasan, mulai dari pemerkosaan, pembunuhan, hingga sesuatu yang keji yang dilakukan kepada anak keci, yang ditampilkan tanpa tedeng aling-aling. Supaya kita semua tahu betapa mengerikannya perilaku penjajah. Namun aspek tersebut tidak pernah dialamatkan sebagai gimmick semata. Kekerasannya tidak sebagai pengalih perhatian kita dari cerita yang hampa – ya, aku menyindirmu, wahai Perempuan Tanah Jahanam (2019) – ini tak pelak adalah salah satu film paling kompleks, paling menyakitkan untuk ditonton beberapa tahun terakhir. Bukan kekerasannya yang menarik perhatian kita. Melainkan setiap keputusan-sulit yang harus diambil oleh karakter, yang memaksa skenario untuk maju, yang membuat film semakin menarik untuk kita ikuti. Ada simbol-simbol menyejukkan yang digunakan oleh film sebagai counter dari elemen disturbing ini. Yang akan membuat kita terdistract dan berusaha memahami makna burung yang jelas-jelas dijadikan metafora, nyanyian, bahkan landscape dari belantara itu sendiri.

untung gak ada yang suka burung gagak, jadi kita selamat dari mendengar ‘entah apa yang merasukimu’

 
Mengingat betapa kerasnya film ini, kita hanya bisa membayangkan berat dan konflik moral yang harus dilewati oleh para aktornya. Tidak mungkin mereka enggak mendapat bimbingan atau konseling dari psikolog setelah memainkan beberapa adegan yang sangat brutal tersebut. Karena mereka memainkan peran dengan begitu… nyata. Tidak sedetik pun aku merasa melihat seseorang yang pura-pura jadi orang jahat atau orang teraniaya. Baykali Ganambarr yang main sebagai Billy, this is just his first feature, tapi tampak begitu natural. Kita tidak pernah melihatnya sebagai kaku dan dingin walaupun tokohnya memang diniatkan canggung dan ‘berjarak’ pada awalnya dengan tokoh utama. Peran yang cukup tricky lagi adalah sebagai antagonis – letnan Inggris – yang jahat dan nyebelin. Peran ini ditangani oleh Sam Claflin, truly like a pro. Meskipun tokohnya ini nyaris satu-dimensi tapi kita tetap mendengarkan semua gagasannya, kita pelototin semua perbuatannya, dan kita sungguh-sungguh benci padanya, seperti, kita sudah melakukan suatu hal yang tepat dengan membencinya sehingga kita justru tidak ingin dia melakukan hal yang mengkhianati ‘kejahatannya’. Claflin tidak terjebak ke dalam karakter over-the-top. Dia juga tidak tampak seperti sedang berakting. Dia memainkan adegan-adegan yang sangat ‘mengganggu’ dengan keotentikan seseorang yang harus bertindak jahat  demi menunjukkan powernya. Claflin sangat sukses memainkan tokoh antagonis yang sebegitu jahatnya kita suka untuk membencinya.
Sedangkan tokoh utama kita, Clare, diperankan oleh Aisling Franciosi yang memberikan salah satu permainan peran paling menyayat hati tahun ini. Karakternya benar-benar menempuh perjalanan yang ekstrim, secara emosional. Bayangkan grafik yang bergelombang naik dan turun, nah pada setiap titik terendah menuju ke atas dan setiap titik tertinggi menukik ke bawah; di situlah saat akting Franciosi terasa sangat fenomenal. Sehingga emosi Clare tak mencuat dibuat-buat, melainkan benar-benar bersumber dari kesakitan yang teramat kita pahami. Pretty much, setelah semua yang ia lalui di awal cerita, Clare PTSD, dan sentuhan yang diberikan oleh Franciosi benar-benar hormat kepada PTSD itu sendiri; yang tak tereksploitasi secara berlebihan.
Sayangnya, ada beberapa kali kita terlepas dari tokoh Clare. Tepatnya pada saat adegan-adegan mimpi. Inilah yang menurutku merupakan sedikit kelemahan dari The Nightingale. Aku bisa mengerti durasi dan temponya yang cukup lambat. Aku bisa paham kenapa babak ketiga seperti mengulur-ngulur waktu menuju peristiwa yang sudah kita nantikan dengan geram. Tapi penggunaan adegan mimpi dalam film ini; sebenarnya bisa dimengerti juga kepentingan adegan-adegan tersebut. Film ingin menunjukkan progres batin Clare, dari dia takut sebagai korban berubah menjadi gentar karena nun jauh di balik hatinya dia balik merasa dirinya bersalah.  Adegan film ini juga jadi ruang untuk mengembalikan sang sutradara ke habitat semula; ke ranah horor. Dalam film pertamanya, The Babadook, yang notabene film horor juga banyak menampilkan adegan mimpi. Dalam The Nightningale juga sama. Peristiwa-peristiwa yang tergambar dalam adegan mimpi tersebut semuanya mengerikan.  Banyak, katakanlah hantu, yang kadang muncul dengan wajah seram. Hanya saja yang jadi masalah adalah repetitifnya adegan-adegan mimpi itu terasa. Strukturnya selalu sama. Semuanya berakhir dengan kemunculan sosok yang paling seram, Clare yang tadi berjalan (atau berlari) terbelalak, dan kemudian dibangunkan. Adegan mimpi yang jumlahnya lumayan banyak ini jadi tak-kejutan lagi, jadi tertebak, sehingga malah seperti lebih kuat berfungsi sebagai transisi – atau bahkan; jeda iklan – ketimbang pandangan mendalam dari psikologis Clare.
 
 
 
 
Jennifer Kent membingkai kebrutalan penjajahan, menghidangkan kekerasan terhadap wanita, anak-anak, dan minoritas, tapi berhasil mengakhiri cerita tersebut dengan mengambil cara yang spesial. Ia memancing kita untuk melihat ke dalam. Tidak menjawab langsung, melainkan memberi kita jarak untuk mempertimbangkan. Ada masa ketika kita tidak sejalan dengan tokoh utamanya, yang tidak sepenuhnya kesalahan pada film. Melainkan ‘kesalahan’ kita yang telat untuk berubah, seperti tokohnya berubah. Film ini keras, susah untuk disaksikan karena kontennya yang no holds barred, namun merupakan salah satu film terpenting bagi siapapun yang ingin merasakan kemanusiaan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE NIGHTINGALE

 
 

KELAM Review

“All your kids want is you”
 

 
Mimpi tidak pernah sebatas bunga tidur di dalam film-film. Mimpi biasa digunakan sebagai alat untuk menggambarkan dilema tokoh, atau menunjukkan hasrat terdalam tokoh, atau bisa juga untuk sekadar curi-waktu menakuti dan mengecoh penonton. Kelam garapan Erwin Arnada menggunakan sekuen mimpi sebagai pembuka, kita melihat Aura Kasih mengikuti seorang anak perempuan, yang akhirnya tertabrak sebuah truk. Secara langsung kita akan bertanya, siapa anak itu, apa hubungan Aura Kasih dengan anak tersebut, siapa tokoh yang diperankan Aura Kasih. Dengan kata lain, Kelam memulai cerita dengan cukup misterius dan memancing keingintahuan kita.
Tentu saja kepentingan dan penjelasan sekuen mimpi itu akan dibeberkan menjelang akhir. Tapi setidaknya kita mengerti, bahwa ini adalah cerita yang berfokus kepada seorang wanita dengan anak kecil. Kelam, pada lapisan terdalamnya, berbicara tentang hubungan ibu dan anak. Yang berakar pada hubungan si ibu tadi dengan ibunya sendiri.

Setiap anak butuh ibunya. Bahkan jika si anak itu sendiri yang memisahkan diri dari ibunya.  Akan ada saling ketergantungan. Film ini, dengan tokoh hantunya yang longed for her mother, seolah menyugestikan bahwa apa yang terjadi kepada kita dengan anak nantinya boleh jadi merupakan cerminan dari apa yang pernah kita lakukan kepada orangtua dulunya.

 
Tokoh Aura Kasih bernama Nina. Dia dan putri kecilnya yang bernama Sasha dipanggil untuk kembali ke rumah keluarga lantaran ibu Nina mengalami stroke. Tangisan Nina bukan semata reaksi dari mendengar ibunya sakit, melainkan juga reaksi dari penyadaran bahwa dirinya sudah lama tidak pulang dan berkontak dengan sang ibu. Ada tragedi di masa lalu Nina, yang berhubungan dengan relasinya dengan ibu, yang bahkan tidak diketahui oleh adik kandung Nina sendiri. Keadaan semakin pelik ketika Sasha ikutan jatuh sakit. Setelah Sasha sakit itulah, teror hantu anak kecil yang membawa boneka kelinci mulai muncul di rumah keluarga Nina. Hantu yang membahayakan bukan saja nyawa ibu Nina, melainkan juga Sasha yang kerap dipaksanya bermain.

yang kelam di sini adalah alasan kenapa judulnya malah diganti menjadi Kelam

 
Anak kecil yang bisa melihat dan bicara dengan hantu adalah trope atau pakem yang sudah cukup usang dalam film-film horor. Kelam menggunakan trope ini sebagai salah satu faktor horor utama di dalam cerita. Sasha yang mendadak mengucapkan hal-hal mengerikan mengenai neneknya, Sasha yang ketika disuruh sarapan malah membuat sesajen, Sasha yang seringkali disebutkan berbicara sendiri. Mudah seharusnya untuk membuat kita merasakan rasa takut yang sama dengan Nina saat melihat anaknya yang polos menjadi misterius tak bisa ditebak. Hanya saja kita tidak merasakan itu. Film tampak sedikit berusaha meniupkan hembusan segar dengan dua misteri yang saling bersinggungan, namun pada akhirnya tetap gagal untuk membuat kita tertarik lebih jauh.
Terlalu banyak pembahasan yang diusung oleh Kelam yang hanya berdurasi 75 menit; Di luar kuasa naskah yang tampak begitu kesulitan merangkum semuanya. Hubungan antarkarakter kunci seperti Nina dengan ibunya ataupun Nina dengan Sasha tidak pernah tergali dengan baik. Mereka hanya sebatas eksposisi yang tak benar-benar menunjukkan karakter. Dialog film ini kedengaran lebih seperti poin-poin cerita yang dilalui ketimbang percakapan antara manusia. Kebanyakan hanya menjelaskan hal-hal yang sudah bisa kita simpulkan sendiri dari melihat adegannya di layar.
Para pemain tampak kaku dan berakting seperti dikomandoi alih-alih mengalir sebagai runtutan kejadian yang membentuk kesatuan cerita. Misalnya percakapan di kuburan antara Nina dengan orangtua anak kecil yang mendonorkan jantungnya untuk kesembuhan Sasha; hanya sebatas kalimat “saya turut berduka cita” – tidak ada comfort, tidak ada karakterisasi, tidak ada emosi murni yang ditampilkan. Adegan percakapan Nina dengan Sasha di tempat tidur saat pertama kali Nina merasakan perubahan sikap Sasha malah jatuh menggelikan karena perubahan karakternya terasa mendadak. Lantaran sebelum adegan tersebut tak pernah kita melihat mereka ngobrol layaknya ibu dan anak. Kita tidak dibuat menyelam masuk ke dalam karakter-karakter karena memang tidak ada karakter. Para tokoh tak ubahnya boneka yang dipegang oleh hantu – tak bisa bergerak dan tak punya motivasi personal.
Bicara soal si hantu dan bonekanya, berikut hal menarik yang dari film Kelam; Tokoh si hantu ditulis dengan lebih menarik daripada tokoh-tokoh manusianya. Pertama, tentu saja si hantu ini punya keuntungan dia tidak mendapat dialog-dialog hampa seperti Nina dan keluarga. Kedua, si hantu adalah yang paling banyak beraksi; aksinyalah yang sebenarnya menggerakkan narasi ala kadar yang dipunya oleh film ini. Si hantu secara tersirat diperlihatkan tidak menunggu Nina datang ke rumah itu, melainkan karena ulah dialah Nina musti kembali, karena dialah Sasha sakit, cerita pada dasarnya maju karena aksi dari tokoh ini yang dilandaskan pada satu motivasi. Meskipun demikian, film adalah sebuah perjalanan satu tokoh, dan Ninalah yang memang paling berubah dari awal hingga akhir film. Nina punya konflik dan dilema, hanya saja film tidak mengeksplorasi ini dengan cakap. Film hanya menonjolkan drama luar – siapa si hantu, kenapa bisa begini kenapa bisa begitu – tanpa menyelami hal yang paling manusiawi di dalam cerita.

Yang paling menyedihkan dari hantu di sini adalah dia menjadi begitu terattach sama boneka kelincinya, karena dia tidak punya siapa-siapa untuk berbagi. Bagi anak kecil, boneka memiliki peran penting untuk menumbuhkan komunikasi dan imajinasi, tapi sungguh sesuatu yang menyedihkan jika boneka ia jadikan sebagai pengganti orang tua.

 
Jangankan suplot dan drama, memanfaatkan tokoh-tokohnya saja naskah sudah cukup kelimpungan. Tokoh-tokoh pria dalam film ini nyaris tidak kebagian tempat. Nina masih punya suami, dan beberapa kali keberadaannya dikonfirmasi, tapi shot yang beneran ada suaminya bisa dihitung dengan satu tangan. Aku tidak mengerti kenapa film tidak memasukkan saja adegan mereka sekeluarga dihantui, atau melibatkan tokoh ayah dengan lebih banyak. Masa iya film hanya mampu mengontrak aktornya untuk beberapa adegan?

mungkin menurut pembuatnya, inilah yang dimaksud dengan ‘narasi perempuan’

 
Tapi sejujurnya, film ini memang terasa seperti belum jadi seutuhnya. Antara adegan satu dengan adegan lain, emosinya terasa terputus. Kejadiannya tidak langsung berkontinu. Ada adegan adik Nina mengkhawatirkan ia melihat makanan dan minuman di meja makan berubah menjadi rambut dan darah, tapi kemudian Nina malah menjelaskan masa lalunya, dan dua tokoh ini berpelukan – tanpa ada penghubungan dengan soal makanan dan minuman tadi. Contoh satunya lagi adalah setelah adegan dihantui di kamar bersama anaknya yang bertindak berbeda dari biasanya, adegan yang kita lihat berikutnya adalah adegan Nina mandi. Seperti tidak urgen perubahan anaknya ataupun kejadian seram yang ia alami di kamar bagi Nina. Setiap adegan disambung-sambungkan seperti tanpa ada arahan dari sutradara. Editingnya antara lepas ataupun memang tidak sejalan dengan sutradara. Sekuen menjelang endingnya terasa tergopoh-gopoh, kita tidak merasa kaget, kasihan, atau malah apapun.
 
 
Tokoh-tokoh membosankan dan elemen-elemen horor yang standar jelas bukan isian yang tepat untuk sebuah cerita tentang ibu dan anaknya. Pertanyaan besar yang hadir di benakku saat menonton ini bukan lagi ‘siapa sebenarnya si hantu bagi Nina?’ melainkan ‘kenapa pembuatnya seperti tidak pada peduli terhadap film ini?’
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for KELAM

MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL Review

“Unity does not mean sameness”
 

 
Maleficent yang dibuat tahun 2014 merupakan remake live-action animasi klasik Disney yang berani untuk menjadi berbeda. Tidak sekadar menceritakan ulang (atau menyuruh kita menonton hal yang sama pada dua kali hanya untuk perbedaan medium visual). Namun actually menghadirkan sudut pandang yang baru. Film tersebut punya ceritanya sendiri; bahkan membuat twist bahwa film animasi yang kita tonton sebelumnya ternyata ‘salah’. Si Maleficent, salah satu villain paling legendaris dan disegani sejagad Disney, ternyata enggak sejahat itu. Adalah ciumannya yang membangunkan Aurora, alih-alih ciuman pangeran. Memang beginilah seharusnya remake live-action atau remake pada umumnya) dibuat. Berbeda. Dan mengambil resiko. Sekuel dari Maleficent – Mistress of Evil – kali ini mengambil resiko yang lebih besar. It’s an entirely new story. Namun tampaknya resiko yang diambil oleh film kali ini terlalu besar untuk kebaikannya sendiri.
Peri penyihir bertulang pipi menonjol dan bersayap serupa kelelawar gede itu ternyata masih ditakuti oleh manusia. Rumor prestasi-prestasi jahatnya masih beredar di kerajaan manusia sebagai gosip. Dan lambat laun berubah menjadi mitos. Padahal Maleficent dan Aurora hidup serba berkasih sayang di kerajaan mereka di hutan, damai dan ceria bersama bangsa peri beraneka rupa. Inciting incident datang kepada Maleficent berupa Aurora dipinang oleh Pangeran Philip. Anak asuhnya yang punya senyum paling menceriakan tersebut bakal segera menikah. Maka Maleficent dan Aurora diundang ke kerajaan Philip, bertemu raja dan ratu calon besannya. Jamuan makan malam yang awkward dengan cepat menjadi intens lantaran terjadi seteru antara Maleficent dengan Ratu Ingrith. Raja pun kemudian tiba-tiba roboh dari kursinya, tertidur bagai mati. Semua mata tertuju kepada Maleficent yang sedari tadi berusaha keras untuk menjaga sikap terbaiknya. Pandangan Aurora yang bingung diartikannya sebagai pandangan menuduh, maka Maleficent pun terbang pergi dari sana. Tapi tidak berapa jauh sebelum peluru besi kelemahan bangsa peri ditembakkan menembus badannya oleh prajurit istana.

My Mom is a Heel Fairy

 
Dinamika antara Maleficent dengan Aurora seharusnya dibiarkan menjadi fokus utama. Ada lahan baru untuk digali dari Aurora yang mengetahui ibu-asuhnya tersebut masih dianggap jahat oleh sebagian besar manusia. Ada drama ibu anak yang bisa dipanen dari sana. Momen-momen terindah film ini datang dari Maleficent berusaha tampak baik – atau setidaknya tidak tampak berbahaya – demi Auroranya tercinta. Maleficent dari luar memang masih membuat setiap mata yang melihatnya gentar. Presence Angelina Jolie benar-benar pas dalam menghidupkan tokoh ini. She’s so fierce we would automatically adore her. Penampilannya hitam menjulang. Belum lama di layar dia sudah mengancam kita untuk tidak mengganggu paginya. Maleficent bermula sebagai seorang tokoh jahat. Di film pertama, seiring berjalannya waktu detil-detil tentang dirinya semakin terungkap dan pandangan kita berubah melihat dia sebagai seorang yang baik. Karena diapun perlahan mengubah diri untuk menjadi baik. Jadi meskipun seorang villain, cerita Maleficent tidak pernah cerita tentang  berbuat jahat – tidak seperti Joker (2019). Kemisteriusan Maleficent diberikan sisi humanis pada film pertama. Pada film kedua ini, meskipun judulnya literally berarti Nyonya Kejahatan, kita tidak akan pernah lagi memandang dia sebagai penyihir hitam yang berbuat baik demi anaknya.
Yang kita lihat di sini adalah Maleficent sebagai penyihir yang dijudge jahat karena punya tanduk, sayap, dan taring. There’s actually an antagonist to her protagonist this time. Antagonis yang benar-benar plek jahat. Jadi judul film ini bukan tentang si Maleficent. Film ini dibuat fokus ke kontras antara ratu putih berhati hitam dengan penyihir hitam yang sudah ditetapkan dari film sebelumnya berhati cukup putih. Dan segitulah kesubtilan hitam-putih karakter yang dipunya oleh film ini. Sebenarnya masih bisa dibuat bagus, meskipun film ternyata bermain di level untuk anak-anak. Namun yang film ini lakukan kepada tokoh Maleficent itu sendiri merupakan apa yang aku takutkan yang sempat aku bicarakan soal tokoh villain pada review Joker. Kita tidak perlu diberikan backstory yang terlalu jauh karena akan mengurangi kemisteriusan si tokoh. Kita tidak diharapkan untuk menjadi terlalu dekat dan merelasikan diri dengan tokoh penjahat. Joker pada akhirnya tidak melakukan hal tersebut, karena akan berbahaya jika kita justru menganggap dia sebagai pahlawan. Pada Maleficent di film ini, aku paham pada kebutuhan untuk membuatnya sebagai hero karena di sini dimunculkan tokoh jahat lain. Tetapi mereka juga menelanjanginya dari kemisteriusan dan keunikan Maleficent dalam proses membuatnya tampak semakin manusiawi. Sebagian besar babak kedua adalah eksposisi yang menjelaskan bahwa ternyata Maleficent bukanlah satu-satunya di dunia. Kita akan dibawa mengikuti dirinya menemukan bangsa Fey – keluarga serumpun baginya – yang terasing karena dianggap menakutkan oleh manusia. Jadi dia tidak jahat, dia tidak unik, Maleficent setelah film ini hanya punya sihir CGI untuk membuatnya menarik.
Sebaliknya Elle Fanning mendapat banyak kesempatan untuk lebih aktif sebagai putri, dia tampak cukup tegas. Kritik terbesar yang konstan diberikan kepada Disney klasik adalah mereka membuat para princess tak lebih sebagai bucin. Wanita yang butuh kehadiran pria sebagai penyelamat dan penyokong diri. Aurora dalam film ini bukan lagi helpless, tertidur untuk diselamatkan. Ia dapat menjadi role model yang kuat bagi remaja cewek karena mengajarkan secara langsung menghormati orang tua – bahkan jika bukan orangtua kandung – dan tidak melupakan teman-teman. Aurora tidak diperlihatkan sebagai contoh stockholm syndrom – yang bersimpati pada siapapun ‘penculik’nya. Cintanya kepada Maleficent adalah genuine, dan dia juga diberikan pilihan untuk mengambil keberpihakan.

Pernikahan seharusnya mempersatukan, bukannya menyamakan atau malah memisahkan.  Dalam satu keluarga, kita bakal bisa saja berbeda pendapat dengan anggota keluarga lain – tapi bertengkar bukan satu-satunya jalan keluar mutlak; seberapa pun ‘sakit’nya. Film ini menyugestikan jikapun konfrontasi diperlukan, maka kita bisa mengharapkan kedamaian hadir dari ‘abu peperangan’. 

 
 
Aurora bisa jadi adalah salah satu hal bagus yang dipunya oleh film ini. Karena, ingat ketika aku bilang film ini punya moral begitu simpel sehingga tampak ditujukan untuk anak kecil? Well, sutradara Joachim Ronning punya arahan yang aneh untuk membuat ini sebagai film anak-anak. Sebab dia praktisnya sama saja dengan mengarahkan film ini tampil mirip seperti Game of Throne.

Perempuan Tanah Jahanam

 
Politik. Perebutan kekuasan. Perang. Itulah yang menjadi fokus sebenarnya pada Maleficent: Mistress of Evil. Pembunuhan besar-besaran bangsa peri. Ratu yang penuh intrik. Ledakan-ledakan bubuk besi dan material dongeng. Aku nulis dengan kalimat-kalimat pendek untuk menunjukkan betapa simpelnya film ini. Kata perang dan kata simpel tidak seharusnya untuk berada dalam satu konteksnya yang sama. Namun justru itulah yang dijadikan jualan utama oleh film ini. Tokoh Ratu Ingrith yang diperankan oleh Michelle Pfeiffer itu bahkan tidak diberikan motivasi yang kuat. Kenapa dia begitu benci sama bangsa peri. Apa alasan perang itu terjadi. Menikahkan anaknya dengan Aurora berarti mempersatukan manusia dengan bangsa peri; itulah yang ia tolak. Hanya saja motivasi dari penolakan itu tidak benar-benar jelas selain sebagai alat untuk memungkinkan terjadinya perang. Satu-satunya jawaban yang diperlihatkan film ternyata cukup komikal. Ingrith alergi bunga. Jadi kupikir keseluruhan film ini bekerja karena Ingrith enggak tahan dengan bunga-bunga yang bakal dibawa oleh bangsa peri. Dia menyebarkan ketakutan kepada manusia karena hal tersebut. Mungkin penjahat sebenarnya bukanlah Ingrith. Melainkan produser yang kerap menginginkan ada perang simpel pada film anak-anak; seri remake Alice in Wonderland, The Nutcracker and the Four Realms (2018), Oz the Great and Powerful (2013), empat film ini punya kesamaan yakni sama-sama ‘dirusakkan’ oleh hobinya memasukkan adegan perang yang hanya berdasarkan hitam-putih yang sederhana.
Philip yang ‘kehilangan’ ibu karena perbedaan pendapat dan berperang, orang-orang yang jadi korban karena penguasa mengendalikan mereka lewat ketakutan, makhluk-makhluk sihir yang diberangus hanya karena manusia tak suka dengan tampang mereka, semua itu tau ubahnya kepulan asap bagi cerita. Kita lihat dan kemudian menghilang. Betapa mudahnya perhatian kita teralihkan oleh visual cantik dari makhluk-makhluk sihir yang berseliweran mengisi layar. Pada satu titik, kita bahkan melihat petualang peri imut seperti Sonic. Film memperlihatkan tapi tak pernah sampai ke titik eksplorasi. Dialog tentang ‘using fear to control’ seperti tersia-siakan. Semuanya berakhir dengan nada bercanda sehingga film semakin terasa tak berbuat apa-apa terhadap gagasan soal perbedaan – dua spesies yang berperang di sini bisa dimaknai sebagai dua golongan ras, atau malah dua pandangan politik – yang mereka angkat.
 
 
 
Kali ini, film tidak benar-benar meneruskan pilihan kreatif yang ia ambil. Elemen perang yang dihadirkan tidak mendapat kedalaman yang cukup, malahan tampil begitu satu dimensi. Film memastikan manusia sebagai penyerang pertama. Ratu yang dibuat murni jahat untuk alasan yang gak jelas, atau malah konyol tergantung darimana kita melihat. Keunikan sosok tokoh utamanya pun terpaksa dikorbankan. Menonton ini seperti menyaksikan bola api yang besar, visualnya bisa cantik tapi di dalam sana adalah hot-mess, sayangnya kita gak mungkin mengharapkan ada cerita yang lebih bagus hadir dari abunya nanti. There’s no bounce back dari tokoh yang udah kehilangan keunikannya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL

 

MY DAD IS A HEEL WRESTLER Review

Everyone’s work is equally important.
 

 
Disuruh menceritakan tentang ayah oleh ibu guru, Shota si bocah SD yang bertubuh kecil memberitahu seisi kelas bahwa ayahnya adalah orang yang sangat kuat. Namun ketika melanjutkan cerita soal pekerjaan, Shota diam. Dia tidak tahu apapun tentang pekerjaan ayahnya. Sedikit sekali yang ia tahu selain ayahnya berotot, suka minum protein, dan mengajaknya berpose garang yang sama ketika mereka di pemandian. Untuk membuktikan ayahnya bukan seorang mafia seperti yang diutarakan oleh salah seorang teman, Shota nekat menyelinap naik ke mobil untuk mengikuti sang ayah. Shota pun tiba di tempat yang penuh oleh orang-orang berbadan kekar. Ternyata Shota berada di gedung olahraga, di arena gulat. Ayah Shota adalah seorang pegulat. Tapi bukan seorang juara. Ayahnya bahkan bukan pegulat yang bertabiat baik. Shota malu kepada teman-teman sekelasnya. Alih-alih mengaku ayahnya adalah si Topeng Kecoa yang udah berbuat curang pun masih aja kalah, Shota malah bilang ke teman-teman bahwa ayahnya adalah Dragon George, pegulat muda berambut pirang; juara bertahan yang diidolakan banyak orang.
Jepang termasuk dalam negara yang menjadi kiblat gulat profesional – bersama Meksiko dan Amerika Serikat. Di sana gulat sudah lebih dari sekadar hiburan. Hampir seperti disakralkan. Para penggemar saling menjaga kayfabe – yakni fakta yang sebenarnya hanya nyata di skenario gulat. Kayak menjaga bahwa Sinterklas itu ada kepada anak-anak. My Dad is a Heel Wrestler garapan Kyohei Fujimura yang mendapat dukungan penuh dari organisasi gulat nomor satu di Jepang; New Japan Pro Wrestling, adalah film yang berusaha memanusiakan olahraga-hiburan yang sering dipandang sebelah mata oleh orang-orang tersebut. Meskipun sejatinya ini adalah film drama anak-anak, tapi ceritanya tidak seketika menjadi simpel. Film tidak lantas ‘menipu’ anak-anak dengan mengatakan gulat itu beneran, melainkan ia memperlihatkan dengan benar perihal status ajaib pro-wrestling terkait mana yang benar, mana yang rekayasa. Yang ingin diperlihatkan film ini justru adalah kenyataan seorang penggemar gulat – cara terbaik untuk kita menikmati, dan menyingkapi, lalu lantas menghormati bisnis olahraga-hiburan dan semua orang yang terlibat di dalamnya.

film ini sebenarnya bisa beres lebih cepat kalo ada yang bilang ke Shota “Nak, kerja ayahmu itu kayak aktor”

 
Film ini akan membuat kita merasakan bagaimana rasanya menjadi penonton – tepatnya, penggemar – gulat di masa kini. Ada tiga sudut pandang yang bekerja di dalam film ini. Shota yang belum pernah menonton gulat sebelumnya dan mengetahui ayahnya ternyata menjadi tokoh jahat di dalam ring. Ayah Shota (diperankan oleh pegulat NJPW asli bernama Hiroshi Tanahashi), dulunya dia pegulat top tapi karena usia dan cedera, masanya sudah lewat sehingga sekarang dia giliran berperan sebagai penjahat – tokoh untuk dipermalukan. Dan seorang reporter cewek bernama Michiko yang tahu seluk beluk gulat dan ingin menulis artikel tentang perjalanan karir gulat ayah Shota. My Dad is a Heel Wrestler memang bukan film yang hebat – bahkan di antara film-film yang ada gulatnya di tahun 2019, film ini masih kalah bagus dari Fighting with My Family ataupun The Peanut Butter Falcon – tetapi ini adalah cerita yang unik karena tiga sudut pandang tadi. Benar-benar menerjunkan kita ke dalam drama seorang penggemar karena ketiganya dimainkan dengan mulus dan saling menambah untuk tetap mempertahankan ‘magisnya’ sebuah pertunjukan gulat.
Kita akan melihat kehidupan asli pegulat. Kita akan dibawa ke belakang panggung, bertemu dengan para pegulat. Kita akan belajar melihat mereka sebagai seorang manusia. Tapi real ‘belakang panggung’ bisnis ini tidak pernah diperlihatkan. Limitasi tersebutlah yang membuat film ini menarik lantaran menempatkan penonton yang tidak mengerti atau tahu atau peduli sebelumnya akan gulat pada posisi yang abu-abu. Seperti Shota. Seperti Shota kita ingin melihat ayahnya menang, seperti Michiko si jurnalis kita tahu pentingnya kemenangan bagi ayah Shota,  seperti ayah Shota kita ingin dia menang. Tapi setiap kali dia kalah, kita tidak melihatnya kecewa. Ini adalah perasaan para penggemar gulat saat menonton pertandingan di dunia nyata. Kita ingin jagoan kita menang, kita mungkin akan kesal ketika mereka kalah, tapi tidak pernah kecewa karena kita paham ada kayfabe dan ‘storyline’ yang dijaga. Namun bagi non-fans, atau orang yang tidak pernah menonton dan mengerti gulat – seperti Shota – hal ini akan ‘membingungkan’. Jadi film akan secara instan terasa relate.
Bukan hanya Shota, tokoh anak-anak dalam film ini tampak tidak tahu olahraga yang mereka tonton cuma bohongan. Hanya orang dewasa yang menggunakan istilah-istilah gulat seperti ‘heel’ ataupun ‘babyface’ – mengisyarakatkan gulat sama saja dengan bermain peran – sedangkan Shota dan kawan-kawannya selalu menyebutnya sebagai orang jahat dan orang baik. Inilah yang menciptakan tensi drama anak dan ayah yang menjadi hati dari film ini. Shota ingin ayahnya berhenti saja karena memalukan baginya punya ayah orang jahat. Bagi ayah Shota ini menyedihkan karena dia bukanlah orang jahat. Menjadi pegulat jahat adalah pekerjaannya sekarang. Shota membuatnya galau, karena setiap orangtua pasti ingin menjadi yang bisa dibanggakan oleh anaknya. Film menerjemahkan perjuangan ayah Shota menjadi ‘pahlawan’ seperti dulu yang dibanggakan oleh anaknya lewat bahasa gulat – lewat pertandingan. Fans wrestling seperti Michiko tahu ‘derita terdalam’ ayah Shota; pegulat itu jadi jobber sekarang. Jadi pecundang. Tugasnya sekarang bukan lagi untuk menang dan jadi poster boy untuk perusahaan gulat, melainkan adalah untuk kalah dan membuat lawannya tampak hebat.

Dan film ini menunjukkan tidak ada yang salah dengan pekerjaan ayah Shota. Bukanlah hal memalukan menjadi tokoh jahat. Setiap pekerjaan punya kepentingan masing-masing, terlebih jika dipilih berdasarkan passion dan hati. Menjadi tokoh jahat dalam gulat, dalam film, sama pentingnya dengan menjadi tokoh baik. Karena semua punya sistem. Film menunjukkan semua itu lewat derita dan kesenangan kita menonton perjuangan seorang tokoh jahat, tokoh badut, yang selalu kalah. Supaya kita bisa menghormati mereka.

 
Yang beneran jahat dalam film ini – here’s the twist – justru adalah teman-teman Shota yang membully-nya karena tidak mengerti cara kerja gulat sebagai hiburan, atau bahkan yang tidak menonton gulat sama sekali. Karena merekalah yang merendahkan orang-orang seperti Shota, seperti ayahnya, seperti Michiko yang berjuang untuk mempertahankan pekerjaan dan ilusi yang ‘mungkin’ menyertainya. Si pegulat jahat bukanlah orang jahat di kehidupan nyata. Film juga menghindari jebakan drama dengan tidak membuat si pegulat idola ternyata adalah orang jahat di balik panggung. Semua yang mengenal olahraga ini, dibuat oleh film sebagai orang-orang baik. Mereka hanya bekerja, melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya, dan menghormati pekerjaan tersebut. Jahat  menurut film ini adalah bersikap judgemental terhadap pekerjaan orang lain yang tidak kita ketahui dan tidak punya keinginan untuk mengetahuinya.

kalo semuanya orang baik, maka enggak akan seru

 
Makanya film ini akan sangat menyenangkan bagi penonton yang memang menggemari gulat. Ada banyak cameo dari pegulat Jepang, ada banyak referensi dari dunia gulat seperti Trent Baretta bermain sebagai tokoh bernama Joel Hardy yang punya style ala Hardy Boyz beneran, ataupun ada penampakan Naito dengan catchphrase “tranquilo” andalannya – ini semua gak bakal make sense buat non-fan tapi kehadirannya tidak pernah terasa mengganggu dan disebar dengan jumlah yang cukup untuk membuat seorang fan gulat menggelinjang secara konsisten. Secara teknis dan desain produksi, film ini memang tidak terlalu menonjol. Begitupun dari segi penampilan. Yang paling menarik buatku adalah karakter Michiko yang dari luar tampak seperti parodi dari seorang hardcore fan, tapi dia justru jadi orang yang paling manusiawi untuk protagonis kita. Shota bermain cukup bagus untuk tidak tampak annoying. Sementara ayahnya dan para pegulat tampak lebih prima bermain di dalam ring – karena memang di situlah zona nyaman mereka. Ketika akting dramatis beneran, masih terasa sedikit kaku sehingga nyaris tampak seperti stereotipe.
 
Jika kalian bertanya apakah film ini berusaha meng-convert seseorang untuk jadi suka sama prowrestling – kaitannya dengan promosi gulat jepang? I ‘d say yes. Film ini seperti dibuat oleh seorang penggemar untuk mengajak temannya ikutan suka gulat. Sudut pandang baik tokoh maupun kamera benar-benar on point. Karena drama match seperti yang direkam pada babak ketiga itulah yang penggemar lihat setiap kali mereka nonton wreslitng. Ada personal story. Bukan sekadar kalah menang, siapa yang juara, siapa yang jahat dan baik. Film ini menangkap esensi drama  dan memperkuatnya ke dalam pertandingan yang dikoreografi – persis seperti match wrestling beneran. Kita harus sama terbukanya dengan Shota jika ingin menikmati film ini, dan jika bagi kalian itu adalah kerjaan ekstra, maka mungkin kalian tidak akan menyukai film ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MY DAD IS A HEEL WRESTLER.

 

SIN Review

“Never play with the feelings of others”
 

 
Perasaan tidak bisa dipaksakan. Tapi bisa dipermainkan. That’s why it is so dangerous. Metta belajar secara langsung untuk tidak lagi memainkan perasaan teman-teman dan orang di sekitarnya ketika hidup mengambil giliran untuk gantian bercanda dengan perasaannya. —-Wow, kalimat barusan terdengar kayak narasi pembuka episode serial Twilight Zone ya. Kesannya serius, seram, unworldly. Adegan pembuka film Sin toh memang tampak bertempat di dunia yang lain. Kita melihat seorang cewek bergaun merah melayang di dalam air. Sayangnya, sisa film setelah bagian ini terasa lebih dekat ke sinetron atau ftv karena pendekatan simpel-namun-bejibun-twist yang dipakai.
Sin yang diadaptasi dari novel yang diangkat dari cerita platform Wattpad punya cerita luar yang cukup kontroversial. Baca saja tagline yang mejeng pada posternya. Tapi kontroversi mendatangkan rating, so yea.. Cerita film ini adalah tentang Metta, siswi SMA yang cantik – and she knows it. Metta (Mawar Eva de Jongh dalam peran utama yang mengharuskan dirinya menyimpan kesan ‘cewek baik-baik’ di dalam lemari) ini tinggal sebatang kara di apartemen mewah. Ibunya sudah meninggal dan dia tak pernah tahu siapa ayahnya. Metta hingga sekarang bahkan tidak pernah bertemu dengan orangtua asuh yang membiayai hidupnya. Punya harta, rupa, tapi belum mengenal cinta sejati, Metta menjadikan mainin cowok sebagai hobi. Kerjaannya dugem dan matahin hati anak-anak di sekolah. Bahkan teman satu geng pun agak risih dengan sikapnya. Metta kena batunya ketika dia beneran jatuh cinta kepada Raga yang pernah menyelamatkan Metta dari cowok yang tak terima dicampakkan olehnya. Untuk mendekati Raga yang petinju itu saja, Metta masih belum seutuhnya jadi gadis baek-baek, she practically blackmailed him to get a date. Namun toh mereka berdua sepertinya memang ditakdirkan untuk bersama. Kemudian sesuatu yang ‘tragis’ terjadi; Ketika lagi sayang-sayangnya, Raga (Bryan Domani lebih meyakinkan tampil sebagai kakak yang perhatian ketimbang sebagai petinju jalanan) menghindar dari hidup Metta. Menghilang. Metta belum tahu aja. Bahwa Raga sudah menemukan siapa ayah Metta — yang ternyata adalah ayah kandung dirinya sendiri.

bayangkan jika Darth Vader duduk ngomongin asal usulnya baek-baek ama Princess Leia

 
Lapisan luar cerita film ini memang sangat ftv; cewek usil ketemu cowok keren, kemudian saling jatuh cinta dan berubah menjadi lebih baik, hanya untuk twist demi twist menyerbu sehingga penonton semakin geregetan. I wish sutradara Herwin Novianto mengambil pendekatan yang lebih dewasa. Karena tema cerita ini memang cukup matang dan lebih cocok untuk dieksplorasi dengan lebih grounded. Babak set up Sin sangat bosenin. Film memfokuskan kepada pertemuan Metta dan Raga dan mereka saling jatuh cinta. Build up ini diperlukan untuk nanti; dua orang yang saling cinta ternyata adalah kakak-adik adalah tujuan dari cerita ini. Namun film melakukan set up dengan sangat sederhana. Coba tebak mereka ketemunya gimana? tabrakan saat lagi jalan di lorong sekolah! Siapa mereka tak benar-benar dibahas siapa diri karena backstory masing-masing tokoh itu disiapkan untuk babak akhir, untuk twist nanti. Dan ini membawa kita jauh dari semua yang bisa dipegang untuk peduli sama tokoh-tokoh tadi. Well, they all have pretty faces, jadi kupikir film menyangka itu saja sudah cukup untuk membuat kita peduli kepada mereka.
Film ini memang punya tampilan yang sangat cantik. Penggunaan lampu-lampu, cahaya yang terpantul pada objek-objek gelap – karena beberapa adegan terjadi di tempat-tempat shady tatkala Metta ikut Raga ke arena tinju underground. Sekalipun bosan, kita tidak akan pernah tertidur lantaran visual yang memancing seperti begini. Film mengontraskan kecantikan dengan kekerasan. Sin could get really ‘ugly’ ketika menghadirkan elemen-elemen violence, entah itu adegan bertinju atau, Metta sendiri menghajar cowok yang mengejarnya ataupun kehidupan jetset yang dihadirkan lewat tokoh-tokoh yang masih remaja berpesta dan mabuk-mabukan.  Tapi narasi film baru terasa bekerja ketika sudah lewat bagian tengah. Ketika kita mengerti siapa itu siapa. Dan persoalan mereka bertemu, menjalin kasih, yang dilakukan dengan standar cinta remaja – bahkan karakter cewek galak tapi manja dipasangkan bersama cowok pendiam tapi penuh kasih sayang itu bukanlah barang baru – tak pernah hadir benar-benar menarik. ‘Daging’ cerita sebenarnya adalah melihat apa yang mereka lakukan ketika bersama sebagai kakak adik, dengan saling memendam rasa. Yang membuat kita bergairah justru persoalan Metta dengan salah satu sahabatnya. In fact, sahabat Metta ini adalah satu-satunya kejutan yang aku suka, karena benar-benar tak disangka dan film membangun arc tokoh ini dengan baik.
Kembali ke adegan pembuka Metta yang menyelam; kita pun sebenarnya perlu untuk menyelami cerita Sin lebih dalam daripada sekadar apa yang terlihat di luar. Cinta kakak-adik itu hanya ‘jualan’ untuk menarik perhatian penonton, bahkan film ini sendiri tak begitu peduli sama elemen kakak-adik itu; terbukti dari twist puncak yang disuguhkan – we’ll talk about that later in the end portion of this review. Untuk sekarang, aku ingin membahas apa yang menurutku merupakan gagasan utama yang ingin disuarakan oleh film ini.
Simbol pertama yang hadir di depan mata kita adalah gaun merah yang dikenakan oleh Metta. Aku pinjam kata-kata Taylor Swift untuk menjelaskan ini; Warna merah adalah warna yang menarik untuk dikorelasikan dengan emosi atau perasaan. Karena warna ini punya dua spektrum. Pertama adalah cinta, gairah, kebahagiaan. Sementara spektrum satunya lagi adalah kemarahan, frustasi, dan obsesi.  Metta benar adalah tokoh yang berada di dua spektrum ini sekaligus. Dia yang hidup sendiri ingin merasakan cinta, tapi dia tidak bisa mendapatkannya, sehingga dia menjadi terobsesi. Juga ada neon pink yang menjadi warna utama film, yang bisa berarti cinta, sesuatu yang didambakan Metta. Dia melampiaskan hal tersebut kepada cowok-cowok di sekolah dengan menjadi playgirl. Membuat mereka menjadi terobsesi kepadanya. Makanya interaksi murid-murid di sekolah (diwakili oleh Metta, beberapa cowok, dan sahabat cewek Metta yang akan spoiler berat jika kusebutkan yang mana) tampak begitu ‘berbahaya’. Karena obsesi memang berbahaya. Dan menurutku memang soal obsesi dan bahayanya memainkan perasaan orang itulah yang menjadi bahasan utama film Sin.

Jangan bermain-main dengan perasaan orang lain. Karena dari perasaan yang dipermainkan itulah timbul obsesi. Kita terobsesi pada hal yang tidak bisa kita dapatkan.

 
Inilah yang menjadi trigger sahabat cewek Metta. Inilah yang menyebabkan Raga yang tadinya tidak tertarik kepada Metta menjadi semakin jatuh cinta; terjadi saat dia mengetahui Metta adalah adiknya. Cerita film ini bertindak sebagai hukuman buat Metta karena selama ini selalu nge-flirt tapi cuma buat nyampahin orang. Tapinya lagi, Metta sendiri adalah produk dari perasaan yang dimainkan. Dia diberikan secercah cinta tanpa benar-benar merasakan cinta – dia tidak pernah bertemu orangtua asuhnya. Film ini menggambarkan hukuman secara mental dan fisik. Makanya Raga yang suka bertinju menjadi pelengkap sempurna untuk Metta, karena tinju adalah total opposite dari bermain perasaan yang dilakukan oleh Metta.

siap-siap ditonjok oleh surprise status kalian

 
Makanya ending film ini terasa sangat tak bernyali. Gutless. So many twists and turns yang pada akhirnya menegasi gagasan dan elemen kakak-adik itu sendiri. Satu hal yang tampak menjadi jualan utama, yang menjadi point vocal cerita, ternyata dibuang oleh si film sendiri. Mungkin film ini menyasar ingin menjadi seperti ala M. Night Shyamalan; film buatannya selalu berujung ternyata bukan seperti film yang kira pada awalnya. It could’ve worked tho. Film ini bisa menjadi seperti demikian jika tidak dilakukan demi membuat senang penonton dengan merendahkan cerita dan penonton itu sendiri. Menonton Sin kita akan merasa dikhianati. Merasa sia-sia sudah tertarik untuk mengikuti kisah cinta kakak-adik mereka. Sekaligus juga merasa konyol dengan beberapa pengadeganan. Di babak akhir, adegan-adegan khas ftv itu muncul kembali. Berantem slow motion di tengah derasnya hujan. Dan hujan itu hanya berlangsung di tempat mereka berantem. Laughable. Dan pada adegan terakhir, film akan membuat kita mengerang.
 
 
 
Kalolah ini ftv, maka ini akan menjadi ftv yang hebat. Penampilan para pemainnya not half-bad. Aktor-aktor muda menunjukkan range emosi yang lumayan meyakinkan. Sinematografinya cantik sehingga kesannya mahal dan kinclong. Semua orang suka barang yang kinclong. Tapi ini adalah film bioskop. Yang seharusnya sinematik. Yang seharusnya tak ada adegan-adegan tabrakan, ketemu di supermarket, dikuntit, kenalan, jadian, oh my god poin-poin plot film ini sungguh sesederhana itu. Padahal gagasannya cukup dewasa, bahasannya cukup bermakna. Film ini akan jauh lebih baik jika dilakukan dengan pendekatan yang benar-benar seperti sinema – bukan seperti wahana roller coaster dengan banyak belokan twist; mengombang-ambingkan penonton dengan ‘ternyata’ alih-alih rasa. Harusnya Metta yang membuat film ini, she surely knows how to play with our feelings.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SIN.

 
 

BEBAS Review

“A dream you dream together is reality”
 

 
Bebas, garapan Riri Riza, merupakan versi Indonesia dari drama komedi persahabatan asal Korea; Sunny (2011). Jika ingin tahu seperti apa Bebas dibandingkan dengan Sunny, maka kalian tinggal membayangkan film-film live-action remake animasi buatan Disney. Narasi dan urutan cerita bahkan dialog-dialognya sama persis, dengan beberapa perubahan atau penambahan elemen bertindak sebagai hiasan karena perubahan atau penambahan tersebut tidak benar-benar berani dikembangkan.
Hits berat pada zamannya, actually jadi film terlaris kedua di Korea Selatan di tahun 2011, Sunny menuai banyak pujian dari penonton dan kritikus. Bebas pun langsung dapat dengan mudah disukai. Walau raihan penontonnya kurang mencengangkan, tapi di sana sini aku mendengar banyak pujian dialamatkan kepada film Bebas. Menyenangkan, nostalgic! Aku menonton Bebas sama seperti ketika aku menonton Cinta itu Buta (2019) yang juga adaptasi plek-plekan dari film luar; Aku nonton dua film ini tanpa pernah menonton film aslinya. Namun kesan menontonnya berbeda. Pada Bebas, aku merasa hampa. Aku enggak merasa benar-benar konek dengan cerita yang berselingan masa kini dengan masa lalu, dengan karakter yang belasan jumlahnya. Maka aku kemudian menonton film aslinya. Dan menemukan perbedaan mendasar yang menjawab kenapa Bebas yang dirancang sedemikian sama, tidak berhasil menguarkan rasa yang serupa dengan Sunny.
Yang dipakai pada naskah Bebas – yang mengikuti naskah Sunny – bukanlah struktur tiga babak seperti film kebanyakan. Diceritakan seorang ibu rumah tangga bernama Vina Panduwinata dengan kehidupan biasa-biasa saja bertemu kembali dengan salah satu sahabatnya di masa SMA. Sang sahabat itu dulunya adalah ketua geng mereka di sekolah. Dan merupakan permintaan terakhirnya sebelum tutup usia karena kanker kepada Vina untuk mencari dan mengumpulkan seluruh anggota geng mereka. That’s basically the whole set up of this movie. ‘Sisa’ durasi kita akan melihat Vina berusaha untuk menghubungi mereka yang ia tak tahu ada di mana, sementara Vina juga berjuang untuk lebih berperan dan akrab dalam hidup putri remajanya. Kita akan dibawa bolak-balik ke masa lalu Vina dan Geng Bebas masih remaja, sehingga sedikit demi sedikit ‘sejarah; mereka kita ketahui. Drama datang dari kita mengenali impian masa muda mereka dan melihat menjadi seperti apa masing-masing dari mereka sekarang. Sejauh mana pertemanan masa lalu akan berpengaruh kepada diri kita saat sudah dewasa terpapar oleh kenyataan hidup.

kemudian teman hanya sebatas ngucapin selamat ultah

 
Gagal jadi seniman, Vina merasa datar tapi kemudian perjalanan memori dan ‘reuni’ membuatnya sadar hidupnya lebih baik daripada teman-temannya. Vina selalu memandang pengen sejak kecil; pengen secantik Suci, pengen sekaya Gina, pengen sekeren Kris, pengen seluwes Jojo. Di saat dewasa she realizes dia yang paling ‘beruntung’ di anatara teman-temannya. Hidupnya yang paling ‘bener’. Vina tidak perlu dikasih rumah, dicariin kerja, ataupun dipinjamin uang. Dia punya keluarga sendiri, dan dia sadar dia harus mengendalikan hidup sebagai miliknya sendiri. Aku mengerti semua itu dari menonton Sunny, setelah menonton Bebas. Dan itu bukan karena nonton untuk kedua kali baru bisa mengerti, melainkan karena memang Bebas tidak berhasil menonjolkan apa yang sebenarnya ingin ia ceritakan. Pada Bebas, gagasan dan cerita utamanya kalah menonjol oleh deretan cameo pemain, isu-isu sampingan yang hanya jadi latar, dan musik-musik dan hura-hura.
Isi bisa disamakan, tapi penyampaiannya tidak akan segampang itu untuk diduplikasi. Di sinilah Bebas tertinggal dari Sunny. Cerita dengan dua versi tokoh (masa remaja dan masa dewasa) yang silih berganti membentuk narasi utuh sangat bergantung kepada flashback. Tentu saja teknik editing sangat krusial di situ. Sunny sangat seamless menjalin dua periode di dalam cerita. Film itu menggunakan pergerakan kamera yang tak pernah sekadar mengikuti pemain untuk dijadikan transisi yang antara masa lalu dengan masa kini. Time images yang ditangkap oleh kamera, diteruskan dengan menyenangkan ke dalam pikiran kita. Sedangkan pada Bebas, masalah editing-lah yang langsung menyeruak mengganggu. Kita hampir bisa melihat garis-garis pembatas pada setiap perpindahan periode dalam Bebas. Dari satu adegan ke adegan lain terasa abrupt. Banyak sekali cut-cut yang membuat kita semakin terlepas. Pergerakan kamera pun terasa standar. Coba deh bandingkan adegan berantem di antara tawuran dalam film Sunny dan Bebas. Banyak adegan dalam Bebas yang terasa putus emosinya. Kesan paralel antara flashback dengan kejadian yang mengikutinya menjadi hilang. Kita tidak merasa masuk dan keluar dengan benar dari flashback.
Flashback seharusnya dijadikan alat untuk mendukung dan memajukan kejadian di masa kini. Kita melihat dua Vina; Vina remaja yang anak polos pindahan dari kampung berubah menjadi ‘gaul’ bersama teman gengnya, dan Vina dewasa yang hidupnya tampak biasa saja berubah menjadi lebih menarik sejak dia bertemu kembali dengan teman-teman gengnya. Sebagai karakter, ada dua Vina bergerak dalam dua arc yang sama. Teknik penceritaan flashback dilakukan harusnya membuat dua Vina dan dua arc ini menyatu sehingga tampak sebagai satu Vina dalam satu perjalanan. Bebas berusaha mengemulate kerja Sunyi menampilkan ini. Bukan perkara yang mudah, terlebih karena cerita ini juga memuat banyak narasi sampingan seperti persoalan Vina dengan putrinya, Vina dengan kakak cowoknya, dengan masing-masing anggota geng, dengan suaminya, dengan cowok yang pernah ia taksir. Bebas seperti kesusahan menangkap esensi sehingga semua narasi itu disajikan begitu saja, dengan potongan-potongan abrupt. Kita akan bingung harus berpegangan pada yang mana. Semua hal di sekitar Vina tampak lebih dominan daripada dirinya.
Vina ditampilkan sebagai karakter yang sangat datar, terutama di awal-awal saat dia masih anak baru. Ketika adegan di dalam kelas, Vina remaja langsung kalah pamor – film lebih menyorot temannya yang obses sama bulu mata, sama temannya yang ketua geng, sama gurunya yang hamil. Perhatikan betapa besar porsi mereka dibanding Vina. Memang, adegan tersebut memposisikan Vina sebagai observer, ia melihat banyak hal baru yang belum pernah ia jumpai di tempat asalnya. Tapi Bebas memperlakukan Vina seperti tokoh utama pasif game RPG yang dialognya hanya berupa option yang kita pilih. Dalam Sunny, adegan di dalam kelas di awal itu tidak sampai membuat si tokoh utama tenggelam. Personalitynya tetap ditonjolkan. Saat dewasa pun Marsha Timothy mengambil pendekatan yang terlalu muram untuk karakter ini. Sehingga Vina akan jarang sekali tampak sebagai tokoh utama yang menarik. Resolusi film yang terlalu ideal malah membuat Vina tak melakukan banyak pada penyelesaian cerita, padahal di cerita aslinya kita bisa melihat perannya dengan jelas.

Waktu muda kita belum punya hidup, kita hanya punya impian. Sedangkan saat dewasa, kenyataan sudah sepenuhnya milik kita. Kenyataan yang membuat kita terpaksa melupakan mimpi. Salah satu adegan paling emosional dalam Bebas adalah ketika Vina remaja dan geng Bebas membuat video untuk mereka di masa depan; video yang menyerukan impian dan cita-cita masing-masing. Video itu ditonton sambil menangis oleh Vina di masa kini, karena ia sadar impian mereka tak ada yang tercapai karena mereka terpisah. Padahal impian bisa jadi kenyataan dengan diwujudkan bersama-sama.

 
Bahkan lagu soundtrack pun terdengar lebih dominan ketimbang Vina dan ceritanya. Film Bebas semakin terasa sok-asik karena lebih memilih untuk mengandalkan lagu ketimbang penceritaan. Hampir setiap adegan ada lagunya, supaya penonton terbawa asik. Ada satu sekuen geng Bebas menari sambil nyanyi lip-sync muterin musik hampir satu lagu Cukup Siti Nurbaya penuh. I mean, I love 90’s songs as much as you do, tapi dalam film aku lebih suka mendengar lagu yang actually menambah bobot kepada narasi. Lagu yang enggak random muncul hanya karena lagunya enak dan menghentak dan bikin kita teringat masa lalu.

musik 90an memang terbaik!

 
Toh Riri Riza tak tahan juga untuk membiarkan cerita sama persis tanpa perubahan. Seiring dengan pemilihan lagu, latar waktu juga ditarik menjadi di sekitar paruh akhir 90an. Memasuki era reformasi. Tapi di elemen ini pun Bebas hanya sekadar mencari paralel dari keadaan 80an Korea saja, tanpa benar-benar menyelami situasi dan keadaan sosial. Tawuran pelajar dengan polisi, demo pemerintahan, kekerasan pada lingkungan anak-anak sekolah, termasuk sistem pendidikan yang keras, dijadikan oleh Sunny sebagai panggung, untuk kemudian didekati dengan nada komedi. Bebas cuma sebatas mengikuti. Kerusuhan demo, geng pelajar, situasi Indonesia dimirip-miripkan. Para tokohnya terasa tak terlalu tersentuh oleh hal tersebut. Makanya ketika geng Bebas dibubarkan karena sebuah tragedi, kejadian itu terasa seperti sebuah perlakuan tidak adil. Kok malah mereka yang dihukum? Karena hanya mengambil konsep geng di Korea. Dalam Bebas, geng Vina tak lebih jauh dari sekadar kelompok bermain antarsahabat. Padahal secara konteks yang ia sadur, geng itu adalah sebuah clique, sebuah hirarki – terlebih mereka tercipta di lingkungan sekolah yang seluruh muridnya adalah perempuan.
Salah satu perubahan terbesar yang dilakukan oleh Bebas adalah mengubah ensemble menjadi hanya enam orang, dengan satu cowok. Mereka bersekolah di sekolah umum, bukan sekolah khusus wanita seperti pada Sunny. ‘Musuh’ Vina di sekolah juga diubah menjadi cowok berandal. Perubahan ini seharusnya diikuti oleh perubahan konteks cerita, sebab elemennya sudah jauh berganti. Ada narasi baru yang ditambah. Tapi film masih memperlakukannya serupa dengan Sunny. Cowok dalam geng Bebas dibuat kecewekan, sifatnya sama persis dengen cewek ringan-mulut versi Sunny. Sempat diangkat soal sifat si cowok di mata orangtuanya, tapi hanya sebatas dialog dan tak pernah lagi dieksplorasi kemudian. Membuat perubahan itu jadi sia-sia belaka. Niat Bebas mungkin untuk memperlihatkan persahabatan cowok dan cewek. ‘Musuh’ yang mereka hadapi mengaku ia pengen masuk ke geng mereka – ada hint film ingin menyentuh toxic masculinity, tapi sekali lagi tetap terasa half-assed karena si cowok dibuat sedang mabuk saat mengatakan itu sehingga semua yang ia lakukan tak-bisa dipercaya. In the end, Bebas malah tampak seperti berlaku tak adil kepada tokoh-tokoh pria dalam film ini.
 
 
Sunny versi Indonesia ini punya ensemble cast yang menarik, juga disertai banyak penampilan-penampilan ekstra yang menjadi kejutan menyenangkan, musiknya membawa kita bernostalgia. Tapi jika musiknya dilucuti, maka film ini akan terasa hampa karena penceritaan yang gagal untuk meniru yang berhasil dilakukan oleh Sunny. Editing membuat cerita terbata, film somehow luput menampilkan hal-hal detil untuk memaklumkan kenapa kejadian dalam film itu bisa terjadi sedemikian, membuat para tokoh jadi tidak maksimal chemistrynya. Latar film ini juga tidak berhasil dibuat hidup. Emosi yang kita rasakan hanyalah emosi yang timbul dari lagu-lagunya. Tetap masih bisa asik untuk ditonton. Tapi jika dibandingkan – and it’s hard not to compare these movies – film ini hanyalah versi jinak dan clueless dari film Sunny.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for BEBAS.