DARK PHOENIX Review

“The kids who need the most love will ask for it in the most unloving of ways.”

 

 

Dengan segala kesemrawutan X-Men Cinematic Universe, paling tidak ada dua hal yang kita ketahui tetap kontinu. Pertama; Jean Grey tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Dan kedua; masalah tersebut dapat membuat cewek ini menjadi jahat.

Hidup selama lebih dari sembilan-belas tahun, sebelas film X-Men dibuat secara estafet dari pembuat satu ke pembuat lain. Sayangnya, film-film ini tampaknya hanya dibangun oleh harapan masing-masing pembuat tersebut untuk menghapus ‘jejak’ yang terdahulu. Karena, apparently, membuang sesuatu toh memang lebih gampang daripada mengikatnya ke sesuatu yang baru. Makanya, cerita X-Men kemudian begitu bernapsu untuk membahas ‘kembali ke masa lalu’; mereka ingin me-reboot secara halus. Hasilnya tentu saja kita yang bingung dengan segala ketidakkonsistenan dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak-terjawab oleh logika. Dark Phoenix actually mengeksplorasi ulang cerita Jean Grey yang sudah pernah diceritakan pada X-Men: The Last Stand (2006). Jean Grey punya kekuatan begitu besar, namun dia sendiri begitu insecure dengan kemampuan dan statusnya sebagai mutant, sehingga kombinasi dua hal tersebut menjadi luar biasa berbahaya. Mengancam keutuhan dunia beneran. Serta keutuhan dunia impian Profesor X, di mana manusia dan mutant hidup saling bekerja sama. Visi sutradara Simon Kinberg dalam debut film panjangnya ini adalah menjadikan Dark Phoenix sebagai penutup franchise yang benar-benar intriguing dan kelam.

Sayangnya, perwujudan dari visi tersebut sungguh datar dan tidak benar-benar menarik karena Dark Phoenix ternyata enggak jauh lebih dalem dari Last Stand dalam mengeksplorasi cerita ini. Narasi yang diucapkan oleh Jean Grey tentang evolusi yang membungkus cerita ini terdengar out-of-place dan gak benar-benar nyambung sama tema dan apa yang menjadi journey dari Grey. Seharusnya film ini mengangkat pertanyaan lebih kompleks dari keadaan Jean Grey. Apakah dia bisa tetap bersama dengan orang-orang yang ia cintai dengan kekuatan yang ia miliki jika ia memilih untuk menerima kekuatan tersebut. Film seharusnya menekankan kepada keadaan jiwa Grey sendiri yang bertanya kepada dirinya apakah dia masih bisa menganggap rekan-rekan sebagai keluarga setelah semua kenyataan yang ia ketahui. Opening film ini tampak seperti sudah akan mengambil jalan yang benar. Film membahas soal baik dan jahat sebenarnya cuma masalah pilihan, bukan masalah kemampuan yang kau punya. Kita bisa saja hanya punya pulpen, dan tetap melakukan hal keji seperti membunuh orang dengan pulpen tersebut jika kita memilih begitu. Yang film ini tawarkan kepada kita adalah tokoh utama yang harus memilih untuk berbuat baik atau berbuat jahat dengan ‘hadiah’ yang ia terima – ini ultimate choice banget, pilihan yang harus dibuat oleh Jean Grey personal dan dalem sekali. Tapi film memilih untuk lebih mengedepankan serangan alien. Tidak benar-benar banyak melakukan sesuatu yang baru dan berbobot dari kondisi psikologi Grey. Kita hanya melihat dia menangis meringkuk berhujan-hujan, kemudian curhat ke berbagai orang, dan meledak marah, menyebabkan kemalangan secara tak-sengaja, dan membuat marah lebih banyak orang – same old basic stuff.

Menonton ini aku memutuskan untuk tidak memikirkan kontinuitas, karena sesungguhnya justru kontinuitas itu yang paling mengancam dunia film ini – ketimbang alien, ataupun kekuatan Jean Grey. Aku bermaksud menikmati film ini sebagai cerita solo. Dan bahkan melihatnya seperti demikian pun, film ini lemah karena dangkalnya pengeksplorasian tersebut.

franchise X-Men tidak peduli soal kesinambungan, and so should you.

 

Momen-momen bersinar datang dari sekuen-sekuen aksi. Favoritku adalah bagian di awal ketika para anggota X-Men menggunakan masing-masing kemampuan mereka untuk bekerja sama menolong pesawat ulang-alik di luar angkasa. Mungkin film menyadari bahwa appeal X-Men terletak pada kemampuan khusus yang berbeda-beda pada setiap mutant. Sehingga film tidak benar-benar menjadikan sisi drama psikologis sebagai fokus utama. Mereka ingin mengakhiri semua ini dengan ledakan dan pertempuran di sana sini. Adegan pertarungan terakhir di kereta api yang seru itu kelihatan banget ditambah/direshoot – Grey dan tokohnya Chastain melakukan interaksi yang merupakan pengulangan dari adegan sebelumnya – karena film merasa masih kurang seru.

Dilihat dari jajaran penampil akting, film ini solid. Aku gak bisa bilang metode yang dilakukan James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, dan banyak nama beken lain pendukung film ini, untuk menghidupkan peran mereka jelek. Hanya saja naskah tidak banyak memberikan ruang gerak. Dialog mereka terlalu gamblang. Jessica Chastain memberikan kemampuan terprofesionalnya menghidupkan karakter alien kayu yang ingin memanfaatkan kekuatan Jean Grey, tapi tokoh ini begitu standar sehingga kita tidak punya niat untuk peduli lebih jauh terhadap dirinya.

Sophie Turner sebagai Jean Grey juga sebenarnya enggak jelek. Dia menunjukkan kemampuan berpindah rentang emosi yang cukup jauh dengan begitu singkat. Film menuntutnya sering melakukan hal tersebut, dan Turner beneran terlihat menyeramkan dengan CGI yang membuat uratnya tampak seperti kabel-kabel merah yang siap meledak. Akan tetapi naskahlah membuatnya tampak lebih seperti robot korslet ketimbang manusia yang sedang berkecamuk ya pikiran, ya kekuatannya. Jean Grey yang menyeberang ke sisi jahat harusnya adalah soal emosi yang powerful, yang relatable, kegalauan paripurna tentang keberadaaan dan fungsi diri sendiri. Dark Phoenix berkelit dari membahas itu. Instead, kejadian yang kita lihat bentuknya selalu Jean Grey memilih tindakan dan orang yang berinteraksi dengannya mengambil reaksi terhadap aksinya. Film kemudian fokus pada reaksi orang tersebut. Kejadian dalam film ini kumpulan dari aksi-reaksi tersebut. Kita hanya melihat sedikit pembahasan dari Jean Grey dan fokus ke dampaknya terhadap tokoh lain. Kita tidak melihat Grey memikirkan kembali apa yang baru saja ia lakukan. Tokoh lainlah yang harus mengusahakan penyelesaian, yang memberikan jawaban kepada Grey.

dark twist dari kata-kata motivasi “kau dapat melakukan apapun yang kau pikirkan”

 

Mungkin Jean Grey tepatnya bukan seperti robot ataupun bom waktu. Melainkan lebih seperti anak kecil. Bocah insecure yang memancing perhatian dengan berbuat nakal. Dalam adegan pembuka di mobil bersama kedua orangtuanya, kita melihat ibu dan ayah Grey agak ‘pelit’ menunjukkan kasih sayang kepadanya. Setelah dewasa pun, kenyataan menghantam dan kita tahu apa yang menimpa Grey jelas bukan termasuk ke dalam kategori ‘cinta kasih orangtua’. Jean Grey tampak seperti seorang anak yang kebanyakan dilarang dan diberikan aturan. Jadi dia berteriak, merengek. Ngamuk. Dia pengen dimengerti tapi gak tau bagaimana mempersembahkan dirinya. Tergantung kepada orang tua atau orang dewasalah memikirkan cara yang terbaik untuk mengajak anak seperti ini berbicara; untuk membujuknya. Makanya film ini segimanapun serunya adegan berantem (cuma film ini yang bisa membuat menyeberang jalan sebagai panggung tawuran mutant), penyelesaian masalahnya selalu adalah mengajak Jean bicara baek-baek. Makanya arc yang paling digali secara emosional justru adalah milik Profesor X.

Karena di balik semua itu, film ini bisa kita anggap sebagai tutorial mendiamkan anak kecil yang mengamuk. Ketika kita menginginkan semua aman untuk anak kita – dalam kasus Prof. X; dia mau dunia jadi lebih baik untuk mutant generasi muda – kadang kita melupakan si anak itu sendiri. Ada banyak cara untuk gagal sebagai orangtua, dan orang-orang di sekitar Jean Grey melambangkan beberapa. Pelajaran pertamanya; jangan berbohong kepada mereka

 

Kita lebih konek secara emosi kepada Prof. X, Mystique, dan bahkan Magneto dibandingkan kepada Jean Grey. Kita mencoba untuk menolerir keputusan dan langkah-langkah yang mereka ambil. Sedangkan bagi si tokoh utama sendiri, kita tidak merasakan apa-apa – selain mungkin sedikit geram. Kita tidak mendukung aksinya. Kita tidak merasa kasihan kepadanya. Kita tidak peduli di akhir cerita itu dia berevolusi menjadi apa. Seperti halnya dengan rengekan anak kecil, kita hanya ingin masalah Grey cepat terselesaikan dengan mengharap para tokoh lain segera ‘menekan tombol yang benar’. Demikian hampanya pengembangan tokoh utama kita.

 

 

 

Tidak seemosional yang seharusnya bisa mereka capai. Tidak se-dark yang judulnya cantumkan. Tidak sebegitu banyak berbeda dengan cerita yang pernah mereka sampaikan sebelumnya. Film terakhir dari franchise yang sudah berjalan nyaris dua-puluh tahun ini membuat kita terbakar oleh api kekecewaan. Karena biasa aja, gak kerasa kayak final. Penghiburan berupa jajaran cast dan adegan-adegan aksi boleh jadi membuat kita menyukai film ini, namun secara penceritaan terasa hampa. Pesan dan narasinya terasa dipaksakan. Sungguh pilihan yang aneh yang diambil oleh Kinberg untuk menutup franchise ini. Atau mungkin semua ini adalah siasat, “Kill it with fire!”, supaya para penonton menjadi apatis dan secepatnya melupakan universe ini pernah ada sehingga reboot X-Men yang baru, dari Disney, bisa lantas dibuat.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for DARK PHOENIX.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa kalian setuju dengan ‘parenting’ ala Profesor X? Menurut kalian apa maksud X dari X-Men? Menurut kalian apakah X-Men perlu untuk dibuat ulang? Bagaimana kalian akan menyelamatkan X-Men kali ini?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

BOOKSMART Review

“You don’t learn those things in school.”

 

 

Malam menjelang acara kelulusan, dua siswi langganan nilai A merasa diri mereka paling bego sedunia akhirat. Bertahun-tahun Molly dan Amy belajar keras, gak pacaran, gak main-main, rela disebut ansos demi mempersiapkan diri di dunia perkuliahan, biar bisa masuk sekolah yang lebih baik. Well, coba tebak. Kerja keras dan ‘pengorbanan’ mereka seketika tampak sia-sia karena teman-teman sekelas mereka; yang pemalas, yang berandalan, yang selalu ngeles dari rapat OSIS, yang jarang bikin PR, ternyata juga diterima di kampus terbaik. Ada yang bakal langsung kerja di Google pula. Molly bagai mendengar petir di siang bolong! Ini seperti kau beribadah sepanjang waktu – sebisa mungkin menghindari maksiat, dan di akhirat nanti mendapati tetanggamu yang kriminal kelas kakap masuk surga juga lantaran sebelum mati dia menjadi orang gila. Perasaan missing out mendera Molly, yang lantas mengajak Amy untuk pergi berpesta gila-gilaan malam itu. Malam terakhir mereka menikmati masa-masa SMA yang indah.

Booksmart adalah PR paling berat yang harus kuselesaikan sejauh 2019 ini. Karena aku merasa kesulitan untuk menontonnya. Mungkin aku memang sudah kelewat ‘tua’, aku benci penggambaran anak remaja dalam film ini, sementara aku tahu film ini dipuji berkat gambaran remaja yang benar-benar kekinian. Aku gak suka penampilan mereka. Aku gak suka bahasa percakapan mereka. Aku gak suka musik EDM yang film ini gunakan. Buatku menonton film ini seperti menonton video dari youtuber kekinian – yang mana aku biasanya hanya menonton video mereka sampai mereka pertama kali membuka suara. Then I close it. Begitulah saat pertama kali aku berusaha nonton Booksmart. Gak sampai 20 detik, lalu kumatikan. Tapi aku pengen mereviewnya. Ini adalah bagian dari kerjaan sebagai reviewer; kau harus menonton film apapun suka atau tidak. Kita harus bisa memberikan penilaian yang objektif terhadap suatu film, terlepas dari bias selera. Jadi, besoknya aku setel lagi. I got past the crucial first-ten-minutes. I still hate it. Kumatikan. Besoknya nonton lagi dari awal. Begitu terus. Aku beneran butuh satu minggu untuk berhasil menonton film ini dari awal hingga akhir.

Dan aku bersyukur karena Booksmart adalah salah satu yang paling fresh tahun ini, serta salah satu yang paling impactful. Aku tahu Booksmart gak bakal dapet nilai subjektif .5 di belakang skor finalku nanti, tetapi secara objektif film ini memang enggak jelek. Aku bisa melihat kenapa film ini banyak disukai orang. Hubungan antartokoh-tokohnya memang gak terasa dibuat-buat, meskipun kadang lebay. Film ini punya arahan yang unik nan kuat, yang tahu betul bagaimana mengeksplorasi keliaran tanpa mengurangi hati. Booksmart benar-benar dibuat dengan sangat kompeten. Komedinya bekerja dengan cerdas. Banyak yang bilang film ini kayak versi cewek dari tokoh-tokoh film Superbad (2007). Dan ya, clearly Booksmart mendapat banyak pengaruh dari film tersebut, juga film-film remaja klasik lainnya. Olivia Wilde enggak main-main ngerjain ‘PR’nya. Aktor yang sekarang jadi sutradara ini benar-benar paham genre yang ia garap, mengerti dunia yang ia bangun, sehingga menghasilkan film yang menorehkan jejak dengan kuat pada generasi sekarang.

The power of ngerjain PR

 

Wilde memberikan cerita batasan waktu sehingga kita merasakan urgensi. Molly dan Amy hanya punya satu malam, dan kita seolah berada di sana bersama mereka berdua. Kemudian kejadian demi kejadian kocak terangkai, menjadi petualangan yang tidak pernah hadir membosankan. Entah itu berkat permainan kamera yang variatif, ataupun gaya adegan yang nekat. Pada satu titik film ini akan berubah menjadi animasi 3D dengan tokoh-tokoh kita ‘berubah’ menjadi barbie. Kejadian itu punya kepentingan dan benar-benar punya bobot ke dalam cerita. Semua yang dialami Molly dan Amy menambahkan banyak bobot ke cerita. Nilai hiburan pun terbendung dari sana. Selain hura-hura, Wilde juga bercerita dengan cukup subtil. Adegan nyebur ke air yang biasanya digunakan untuk momen kontemplasi, digebrak olehnya. Nyebur ke kolam saat pesta dalam film ini adalah perlambangan membebaskan diri dengan nyemplung ke dalam dunia sosial, dengan relevasi siapa kita dan siapa orang lain – untuk saling mengenal – dijadikan tujuan utama.

Yang diperlukan oleh Molly sebenarnya bukan kesempatan untuk gila-gilaan di pesta, merasakan gaya hidup anak SMA yang penuh hura-hura. Melainkan kesempatan untuk bersosialisasi dengan tulus, untuk menjadi teman yang sebenar-benarnya teman terhadap seluruh teman sekelasnya. Film ini punya suara  soal label sosial yang kita ciptakan sebagai pertahanan. Molly juga memandang teman-teman sekolahnya dengan dangkal, sebagaimana teman-teman Molly juga melihat dia dari persona yang ia ciptakan. Padahal mereka semua sebenarnya punya tujuan yang sama; mencoba survive dari kehidupan SMA yang menuntut. Hanya, strategi survival mereka berbeda. Harus kuakui, masalah tersebut sebenarnya sungguh relevan untuk lapisan generasi yang pernah merasakan kehidupan di lingkungan sekolah. Padahal sekolah bukan hutan. Untuk bisa survive, kita tidak musti menganggap yang lain sebagai saingan.

Sekolah bukan semata tempat untuk belajar ilmu pengetahuan dari buku. Melainkan juga untuk belajar kehidupan dari orang-orang di sekitar. Sekolah tidak akan mengajarkan cara mencintai seseorang, cara menghormati orang lain, cara jadi kaya, cara supaya enggak gagal, cara supaya bisa menghadapi kegagalan. Tetapi, sekolah memberikan kesempatan kita untuk belajar semua itu, di luar ruang kelasnya. Kita hanya perlu untuk peduli lebih banyak di luar nilai-nilai mata pelajaran.

 

Aku pun terkejut ketika mendapati aku peduli juga sama Molly dan Amy. Padahal tadinya kupikir mereka berdua ini annoying. Aku ingin mereka sukses dalam hidupnya, aku ingin mereka bahagia. Film menampilkan hubungan persahabatan kedua tokoh ini dengan sangat otentik sehingga kita merasa mereka memang sudah ada sebelum film ini dimulai, dan kehidupan mereka akan terus berlanjut di luar sana saat kredit penutp mulai bergulir. Beanie Feldstein dan Kaitlyn Dever (respectfully, memerankan Molly dan Amy) punya chemistry yang sangat natural. Dua aktor muda ini sudah cukup malang melintang di komedi – Feldstein actually adalah adik dari Jonah Hill yang main di Superbad – jadi mereka gak canggung untuk memainkan tek-tok dialog cukup panjang, dan pada sebagian besar percakapan kita bisa melihat mereka berdua melakukan improvisasi.

Penampilan mereka memberikan energi yang menghidupkan film ini. Dan Wilde cukup bijak untuk mengetahui hal tersebut dan memanfaatkan kecakapan talentnya ke dalam treatment adegan yang powerful. Adegan Molly dan Amy berantem sampe teriak-teriak itu adalah salah satu adegan terbaik dalam film ini. Wilde tahu kapan harus mematikan suara dan membiarkan ekspresi kedua pemainnya yang berteriak. Kembali kepada kesubtilan adegan yang tadi kutulis, dengan membuatnya seperti begini, Wilde berhasil mencapai adegan pertengkaran yang dramatis – yang kena ke urat emosional kita – karena kita pun mengerti di titik itu dua tokoh ini cuma meneriakkan sesuatu untuk menutupi kenyataan. Kita pun kalo udah berantem gede-gedean suara, hanya pengen teriak doang dan tak lagi (mau) peduli apa yang diucapkan oleh teman-berantem.

Hidup adalah kebalikan dari sekolah; kita di tes dulu baru kemudian dapat pelajaran yang berharga

 

Menurutku adegan berantem tersebut seharusnya dapat lebih kuat lagi jika musiknya dimatikan. Di atas, aku sudah bilang aku gak suka musik EDM dan musik kekinian lain yang dipake oleh film ini, tapi tentu aku gak bisa bilang Booksmart jelek karena aku gak suka ama genre musiknya. Itu subjektif namanya. However, penilaian objektifku soal musik Booksmart adalah film ini terlalu bergantung kepada musik. Hampir semua adegan harus ada musik latarnya. Dari penceritaan yang mereka tampilkan, sebenarnya tidak perlu lagi ada manipulasi emosi dari musik atau lagu latar. Di awal-awal, musik film ini mencapai level intrusif sebagai masuk ke editing adegan – ada adegan yang seperti diedit sedemikian rupa supaya mengikuti irama musiknya, bukan lagi musik yang mengiringi adegan.

Makanya, film ini terasa berada di tengah-tengah. Dengan pemakaian musik dan tokoh-tokoh beragam yang melakukan sesuatu yang ajaib (aku suka ‘kegilaan’ Billie Lourd, tapi karakter yang ia perankan terlalu fantastis), Booksmart tampak seperti komedi konyol yang sarat makna. Namun juga, dengan pesan yang relevan dan relatable dengan masa sekarang, kekonyolan yang ada membuat film seperti sebuah komedi keseharian yang terlalu konyol untuk jadi nyata. Status film ini seharusnya bisa diperjelas lagi. Seperti anak muda, film kayak agak kebingungan menampilkan dirinya yang sebenarnya.

 

 

 

Mulai dari sutradara hingga pemain, ada banyak bakat yang hadir di film remaja yang menyenangkan dan berpengaruh buat generasi pasanya ini. Mereka melakukan hal yang benar, menarik remaja dengan benar-benar menjadi seperti remaja. Bahkan untuk genre komedi tentang anak sekolah yang berusaha melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, film ini pun tampak unik. But as far as the storytelling goes, film ini terlalu bergantung kepada musik – sedikit terlalu berfokus kepada tampilan luar. Yang mana membuatnya tampak sedikit mengkhianati bakat-bakat yang ia punya. Tidak ada bully, penuh diversity, pemalas pun bisa dapat sekolah bagus, film ini kadang tampak bagai dongeng konyol sehingga dapat mengurangi kepentingan gagasannya.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for BOOKSMART.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Di kelas kalian termasuk geng anak belajar atau geng anak bandel yang suka main-main? Bagaimana kalian memandang ‘geng’ yang berbeda dengan kalian? Pernahkah kalian merasa marah ketika ada yang menurut kalian lebih bego ternyata lebih sukses?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

HIT & RUN Review

“… being human means we invite spectators to ponder what lies behind.”

 

 

Selayang pandang, komedi aksi Hit & Run yang disutradarai oleh Ody C. Harahap tampak seperti komentar lucu dari fenomena polisi yang semakin sering muncul (lebih tepatnya; memunculkan) diri di televisi dan sosial media. Kita sering tergelak melihat postingan video-video polisi yang berjoget di sela-sela tugasnya. Bahkan salah satu stasiun televisi ada yang nayangin reality show khusus untuk memperlihatkan seluk beluk kinerja polisi. Menontonnya tentu saja seru dan menghibur.

Trope ‘polisi narsis’ dimunculkan oleh Hit & Run di mana kita mendapat Tegar sebagai tokoh utama. Seorang polisi yang begitu cool dan jagoan, sehingga setiap kali dia beraksi – entah itu gerebek kelab malam atau melumpuhkan maling di toko swayalan – dua kamera in his command harus ada ‘menembak’ semua aksinya. Tegar (Joe Taslim mencoba bersenang-senang dalam peran utama layar lebarnya yang pertama) adalah polisi sekaligus selebriti. Judul film ini actually mengacu kepada judul reality show yang dimiliki oleh Tegar. Dua kerjaan profesional Tegar tersebut akan membawa kita ke banyak momen-momen komedi, momen-momen aksi, dan seringkali kedua momen-momen itu bercampur menjadi satu. Salah satu misi membawa Tegar bertemu dengan banyak orang, salah satunya adalah Meisa (Tatjana Saphira loh ya, bukan Tatjana Safari), seorang diva televisi yang punya ‘kehidupan in-camera’ yang sama dengan Tegar. Misi perburuan gembong narkoba yang kabur dari penjara itu semakin intens dan personal as orang-orang di sekitar Tegar yang tadinya hanya ia niatkan sebagai ‘penonton’ berangsur tertarik masuk menjadi ‘pemain’ yang membuat mereka semua dalam berada dalam jangkauan marabahaya.

Hidup adalah reality show yang sesungguhnya. Mengutip kata aktor John Cusack; bahwasanya kata ‘person’ itu berasal dari bahasa Latin yakni ‘persona’ yang artinya topeng. Kita berusaha mencari topeng yang disukai dan diapresiasi oleh publik sehingga kita nyaman berada di baliknya. Di saat yang bersamaan itu juga berarti kita sebagai manusia mengundang manusia lain untuk merenungkan apa yang ada di balik topeng-peran kita.

 

Light, Camera, Acti…Bak! Bik! Bugh! Wewwrgh!

 

Plot – yang menjadi inner persona – film ini sebenarnya enggak buruk. Tegar yang harus belajar menyadari bahwa dia boleh saja adalah bintang utama dalam reality shownya, namun reality show itu hanyalah bagian kecil dari hidupnya. Dan hidupnya sendiri juga secuil bagian dari banyak kehidupan lain yang ada di sekitarnya. Adegan pertarungan besar dengan preman narkoba yang paling jago berantem mencerminkan bahwa teman-teman Tegar bukan hanya penonton. Tegar memerlukan bantuan mereka. Tegar, setegar apapun namanya, harus mengakui kalo dia butuh orang yang mengerti dirinya di balik topeng polisi ngehits yang ia kenakan.

Inner persona film ini sayangnya, terkubur begitu dalam. Film menciptakan banyak ‘topeng-topeng’ berupa elemen-elemen penghias untuk menarik perhatian penonton. Susah memang menjual cerita original karena penonton biasanya lebih mudah tertarik dengan branding. Lebaran ini, Hit & Run bersaing dengan empat film lain yang tiga di antaranya adalah sekuel. Butuh banyak usaha, bukan saja untuk menjual cerita ini, melainkan juga untuk membuatnya terwujud menjadi film. Hit & Run tampil dengan begitu banyak hiasan yang all over the place sehingga gagasan aslinya nyaris tak kelihatan lagi. Apa yang seharusnya adalah lapisan, atau layer yang membungkus cerita, pada akhirnya hanya menjadi tempelan jika tidak berhasil dintegralkan dengan baik. Menyebabkan benturan tone cerita setiap kali film berusaha live it up to it’s unusual genre.

Hit & Run mainly tampil sebagai buddy cop komedi karena interaksi paling banyak datang dari Tegar dan ‘partner terpaksanya – seorang pemuda yang punya koneksi ke tempat-tempat yang berhubungan dengan jaringan bandar narkoba yang ia cari. Dinamika antara Tegar dengan Lio (delivery dan penampilan akting Chandra Liow adalah yang paling lemah di sini, dia annoying alih-alih kocak) tidak mampu bekerja dengan baik sebagai fondasi utama. Development tokoh Lio memang sangat kurang, kita tidak pernah percaya pada setengah hal yang diucap oleh mulutnya. Melihat Tegar memarahinya tidak menimbulkan simpati, apalagi menarik urat ketawa. Aku berbisik “bunuh, bunuh!” karena aku pengen karakter ini lenyap dan diganti oleh sidekick yang lebih menarik. Agak-agaknya film berusaha meniru chemistry antara Jackie Chan dengan Chris Tucker di Rush Hour (1998). Langkah-langkah investigasi mereka pun mirip. Bahkan ada adegan dengan musik di tape mobil yang mirip dengan adegan film tersebut. Ketinggian, memang. Jangankan Chan dan Tucker, kharisma Liow bahkan tidak mampu mengimbangi Taslim.

Tentu saja harus ada cinta-cintaan. Love interest udah jadi staple standar di film-film Indonesia yang mengincar ‘laku di pasar’. Dalam Hit & Run, however, elemen ini hadir setengah-setengah. Dengan cara yang aneh pula. Sekuen romance dalam film ini berupa Tegar main piano bernyanyi bersama Meisa. See the problem? ‘adegan’ nyanyi ditempatkan sebagai ‘sekuen’ – underdeveloped banget. Meisa harusnya diberikan lebih banyak peranan karena karakter ini yang paling mendukung inner-journey Tegar. Permainan akting Tatjana Saphira paling menonjol di sini lantaran dia harus beralternate antara berakting sebagai orang yang lagi akting sebagai penyanyi lebay yang jadi gimmicknya dengan berakting sebagai pribadi asli si penyanyi. Tatjana juga sedikit terlibat porsi aksi. Tapi film kelihatan seperti tak tahu harus melakukan apalagi buat dua tokoh ini. Seharusnya ini yang mengambil center stage.

lebih cocok jadi Hit & Miss

 

Jika kita dapat melihat ke balik topeng seseorang, maka kita akan mendapat cahaya soal siapa sebenarnya mereka. Dan jika cahaya tersebut cukup terang, pada saat itulah kita akan jatuh cinta. 

 

Ada satu, eh salah, DUA lagi hubungan penting Tegar yang ter-glossed over. Disebutkan di awal, menghilang di tengah, dan baru dibahas lagi di akhir. Yakni dengan adiknya, dan dengan si preman narkoba itu sendiri. Dua tokoh ini padahal orang yang penting dalam kehidupan Tegar. Mereka adalah alasan kenapa Tegar menjadi narsis sekaligus punya keinginan yang kuat untuk membasmi kejahatan. Drama kakak-adik yang dimiliki cerita juga sesungguhnya yang membuat film ini pantas berlaga di masa-masa lebaran; there’s a lot more tentang keluarga yang disinggung oleh film ini. Tapi semuanya disebut sekenanya saja. Pada saat preskon di Bandung, aku sempat bertanya kepada beberapa cast ‘apa sih yang mereka sukai dari karakter mereka di film ini’. Nadya Arina yang jadi adik Tegar dan Yayan Ruhian yang jadi bebuyutan Tegar tidak bisa menjawabnya karena nanti akan spoiler. That’s how bad the characterization in this film is.  Beberapa tokohnya cuma pion dalam cerita – kau penjahat, kau sandra – tidak benar-benar ada karakter.

Yang dengan antusias menjawab tentu saja adalah Joe Taslim karena tokoh Tegar menawarkan banyak hal baru untuk ia jalani.  Dia melakukan semuanya mulai dari komedi, bernarsis ria, hingga berantem yang udah jadi zona nyamannya. Satu lagi yang mengaku dan benar-benar terlihat have fun dalam film ini adalah Jefri Nichol. Aktor muda yang biasanya jadi pemain utama ini pada Hit & Run perannya gak gede-gede amat, tapi sangat berbeda. Sudah seperti satir dari peran-peran yang biasa ia mainkan. Penggemar Nichol akan melihat hal tersebut sebagai suatu appeal yang luar biasa. Karena faktor eksternal semacam demikian, film ini akan jadi dua kali lebih bekerja di mata penggemar-penggemar satuan elemennya.

Penggemar aksi tentunya akan sangat senang. Belum lama ini kita dibikin excited sama kemunculan dua ikon laga tanah air di John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019), dan Hit & Run bisa jadi encore yang kita minta. Sekuen aksinya sangat serius, walaupun kamera agak sedikit terlalu banyak bergoyang, kita bisa melihat porsi aksi ini digarap oleh orang-orang yang memang mengerti cara bercerita lewat adegan berantem. Aksi tak pelak adalah bagian terbaik yang dimiliki oleh film ini. Ada sense nostalgia juga; penggemar film laga pasti jejeritan menyadari ini adalah pertemuan pertama Taslim dengan Ruhian setelah The Raid delapan tahun yang lalu.

 

 

 

Pengen menghadirkan aksi serius yang bisa dinikmati oleh lebih banyak kalangan, film menampilkan komedi yang lebih banyak miss ketimbang hit dan adegan laga yang hits hard! Punya materi yang menarik, tapi eksekusinya menyerempet di bawah standar. Film berusaha menutupi dengan membuat ceritanya berlapis. Memasukkan terlalu banyak aspek dalam upaya untuk tampil menghibur, akan tetapi tidak pernah bercampur dengan baik. Sehingga jatohnya sebagai tempelan, dan menyebabkan tone cerita amburadul. Juga kelihatannya aneh komedi dengan tokoh yang dikelilingi kamera ke mana-mana, mungkin kalo dibuat bergaya mockumentary ala What We Do in the Shadows (2014) bisa lebih maksimal kocaknya. Buddy-cop namun tema besar ceritanya tersimbol pada hubungan tokoh utama dengan penyanyi; sudah bisa lihat dong gimana kacaunya film ini. Meskipun demikian, hardcore fans dari pemain ataupun dari genrenya akan menyukai film ini lantaran banyak persona-persona aneh yang diberikan, banyak tantangan tak-biasa yang dimainkan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for HIT & RUN.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian narsis itu penting gak sih? Seberapa jauh kalian menempuh usaha untuk pencitraan?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

SI DOEL THE MOVIE 2 Review

“Nothing is so exhausting as indecision…”

 

 

“Saya enggak berani ngakalin, bahaya”, jawaban Doel ketika diminta untuk memperbaiki mesin dengan alat seadanya benar-benar mencerminkan prioritas dirinya; dia tidak ingin ada yang celaka. Tidak ingin ada hati yang terluka. Jadi Doel tetap mengelak dari membuat keputusan. Zaenab atau Sarah. Kata-kata Mak Nyak pun mengonfirmasi perihal selain sembahyang dan mengaji, ada satu lagi ‘kerjaan’ anak sulungnya tersebut. Si Doel plin-plan. Si Doel the Movie 2 garapan Rano Karno bikin kita semua geregetan karena benar-benar memfokuskan kepada gimana sulitnya mengambil keputusan ketika kita mempertimbangkan kebahagian orang serta kebahagiaan kita. Tapi untukku, mainly aku geregetan kesel karena aku masuk ke bioskop dengan sudah begitu siap untuk melihat sudut pandang baru mekar dan berkembang selepas film pertamanya tahun lalu.

Nyatanya, film memutuskan untuk tetap berkubang di permasalahan klasik cinta Doel – Zaenab – Sarah kendati di film sebelumnya kita melihat Sarah dengan tegas meminta Doel untuk menceraikan dirinya. Film kali ini dimulai langsung setelah Doel kembali dari Belanda. Dia membawa oleh-oleh bakiak buat Atun dan kabar bahwa dia bertemu Sarah dan putra mereka yang udah beranjak remaja buat Zaenab. Hanya saja, Doel mengulur-ulur waktu untuk memberikan ‘oleh-oleh’ tersebut kepada Zaenab yang dengan cemas menunggu kepastian darinya. Berkas-berkas untuk mengurus perceraian yang diberikan oleh Sarah disimpan Doel jauh-jauh di dalam lemari. Doel menunggu waktu yang tepat. Namun keadaan mulai ribet karena Mandra yang ikut serta ke Belanda sempat menyebarkan foto Doel bersama anaknya lewat Whatsapp. Dan juga, si anak – Dul – nekat pengen liburan ke Jakarta.

I used to be indecisive, but now I’m not quite sure

 

Nostalgia sangat kuat menguar. Film ini bermain dengan sangat aman, meletakkan kita ke tempat yang sudah familiar. Like, literally. Panggung cerita sekarang benar-benar di rumah si Doel. Lengkap dengan warung di depan, bendera sangkar burung di sebelah, oplet biru yang terparkir di halaman, dan kelucuan dan keakraban karakter-karakter seperti Mandra, Atun, bahkan Mak Nyak. Bagi penonton baru, jangan khawatir merasa asing, karena karakter-karakter tersebut tanpa ragu merangkul kita semua. Oleh kesederhanaan; sikap maupun situasi. Lihat saja kocaknya Mandra yang menyombong mengaku kepanasan di Indonesia, padahal baru juga seminggu tinggal di Belanda. Mari kita apresiasi sebentar gimana Atun adalah teman sekaligus saudara yang paling baik sedunia; gimana dia selalu ada untuk Zaenab, gimana dia yang paling duluan khawatir dan mengendus sesuatu bisa menjadi masalah untuk hubungan abangnya dengan Zaenab.

Dan tentu saja, apresiasi paling besar mestinya kita sampaikan buat Mak Nyak Aminah Cendrakasih yang benar-benar berdedikasi pada profesinya. Aku gak bisa kebayang gimana beliau dengan kondisi sakit seperti itu bisa ikut syuting. Yang lebih unbelievable lagi adalah peran Mak Nyak ternyata sangat penting. Film menggunakan kondisi Mak Nyak sebagai sesuatu yang sangat integral di dalam cerita. Sebagai perbandingan; Vince McMahon dapat reputasi jelek dari fans yang ngatain dia tasteless mengeksploitasi cedera, penyakit, ataupun kematian di dunia nyata ketika dia being creative memasukkan kemalangan-kemalangan beneran tersebut sebagai bagian dari storyline di WWE. I mean, Bu Aminah pastilah berbesar hati sekali.

Akan tetapi elemen nostalgia seperti demikian akan dengan cepat menjadi menjenuhkan, terutama ketika ada elemen-elemen baru yang dihadirkan. Karena naturally kita ingin menyaksikan pertumbuhan. Film menggoda kita dengan hal-hal baru mulai dari yang receh seperti Mandra yang tertarik untuk kerja jadi ojek online, ataupun yang lebih signifikan seperti anak Doel yang seumuran dengan anak Atun – heck, situasi Doel dengan anaknya ini bisa saja jadi satu episode utuh, tapi film mengulur-ngulur. Alih-alih pengembangan baru, film akan mengajak kita flashback dengan adegan-adegan yang dicomot dari serial televisi jadul. Jika ada adegan yang benar-benar baru, maka itu hanya kilasan komedi yang bakal dilanjutkan di episode berikutnya. Ya, aku bilang episode karena begitulah film ini terasa. Less-cinematic. Gaya berceritanya sinetron sekali. Film bahkan basically memakai ‘sebelumnya dalam Si Doel’ sebagai prolog dan tulisan pengantar ke film berikutnya sebelum cerita usai, persis kayak episode televisi.

Di babak awal, film ini sebenarnya cukup menarik. Kita langsung dibawa ke permasalahan batin si Doel. Pertanyaan yang dilemparkan cerita kena tepat di wajah kita; akankah pada akhirnya Doel memberitahu kebenaran kepada Zaenab? Kejadian-kejadian seperti ngebangun rintangan buat si Doel memantapkan hati memilih keputusan. Naskahpun tidak menawarkan jawaban yang mudah, as poligami ditentang oleh Mak Nyak keras-keras. Setiap naskah film dikatakan bagus karena berhasil menuntun kita masuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang saling sambung menyambung; yang disebut dengan plot poin. Contohnya: Apakah Joy bisa membuat Riley tetap bahagia adalah pertanyaan pertama yang diangkat oleh Inside Out (2015), yang kemudian di awal babak kedua berubah menjadi apakah Joy bisa kembali kepada Riley, untuk kemudian di awal babak ketiga berubah lagi menjadi apakah Riley masih bisa bahagia. Pertanyaan atau plot-plot poin itu adalah garis besar misi yang harus dijalankan tokoh utama sebagai respon dari rintangan yang ia hadapi. Si Doel the Movie 2 mengangkat pertanyaan-pertanyaan seperti film beneran, hanya saja setiap pertanyaan tersebut dibebankan kepada tokoh-tokoh yang berbeda. Dalam kata lain, ada tiga tokoh berbeda yang menggerakkan cerita.

Puji syukur ada Sarah, kalo cuma Doel dan Zaenab bisa-bisa ceritanya jadi pasif dan annoying kayak Ebi di Single 2 (2019)

 

Babak satu adalah bagian untuk Doel. Babak kedua untuk Zaenab. Dan babak tiga, penyelesaian cerita ini, dikemudikan oleh Sarah. Masing-masing bagian Doel, Zaenab, dan Sarah untungnya punya keparalelan. Tentang mereka berjuang untuk mencapai keputusan masing-masing. Jika bagian Doel hampir-hampir menyebalkan, maka yang paling menyedihkan jelas bagian Zaenab. Karena wanita ini harus mendamaikan dirinya dengan dua orang. Film menangkap ketakutan Zaenab dengan dramatis. Akting Maudy Koesnaedi menyayat hati di sini. Kita mungkin gak bakal cepet lupa sama adegan antara Zaenab, parutan kelapa, dan jarinya. Aku gak mau bocorin terlalu banyak, yang jelas film ini banyak berisi momen-momen dramatis yang anchored ke nostalgia. On the bright side, kita dapat melihat sisi lain dari Zaenab di film ini.

Ketiga tokoh ini mengambil posisi titik-titik sudut sebuah segitiga ketakutan. Doel melambangkan ketidakpastian. Zaenab bergerak berdasarkan kekhawatiran. Sarah didorong oleh kecemasan bahwa dirinyalah penyebab semua ‘kekacauan’ di keluarga Doel. Indecision, fear, and doubt; jika kita menemukan yang satu, maka dua yang lain pasti ada di dekatnya. Pada kasus tokoh film ini, tergantung mereka sendiri mengecilkan jarak, mempersempit ruang segitiga yang mereka ciptakan. Jika tidak, kisah mereka yang melelahkan tidak akan pernah selesai.

 

Jangan kira cerita yang tampak sudah tuntas – masing-masing tokoh yang sudah dapat momen mengambil keputusan – ini undur diri baek-baek. Ada wild card yakni si Dul yang keputusannya mengaduk kembali keputusan yang sebelumnya sudah dibuat. Yang seperti menegasi semua yang sudah dilalui; yang membuat Doel dan Zaenab dan Sarah seperti kembali ke posisi awal. Makanya, menonton film ini rasanya tidak ada yang tercapai sama sekali. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah terjawab, dibuka kembali. Lantaran pembuatnya ingin melanjutkan cerita tokoh-tokoh ini, tetapi di saat yang bersamaan tidak berani untuk mengambil langkah baru yang tidak semudah, tidak sefamiliar yang sekarang.

 

 

Aku akan suka sekali cerita ini jika menyaksikannya di televisi di mana aku tidak perlu mempedulikan struktur-struktur dan kaidah film. Toh tokoh-tokoh ceritanya mengundang simpati, lucu, akrab. Aku akan gak sabar untuk menonton kelanjutannya minggu depan di waktu dan channel yang sama. Tapi aku menyaksikan ini di bioskop. Di tempat kita menonton kreativitas, penceritaan yang inovatif, spektakel yang dibuat dengan menempuh resiko. Film ini berceritanya malah lebih cocok sebagai serial televisi, yang keliatan jelas diulur-ulur untuk jadi episode. Film juga seperti ragu; ia memberikan penyelesaian, namun kemudian merasa insecure sehingga malah berusaha mengangkat kembali yang harusnya sudah tuntas. Jadi tidak ada yang benar-benar berubah di akhir cerita. Kita tetap tidak tahu kenapa bukan Doel yang memberi tahu perihal berkas cerai. Menonton ini sebagai film, bukannya puas dan merasa mendapat sesuatu, malah terasa melelahkan.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for SI DOEL THE MOVIE 2.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Kalian lebih suka Doel sama Zaenab atau sama Sarah? Kenapa?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

GHOST WRITER Review

“The man who kills himself kills all men.”

 

 

Datang dengan sebuah ide cemerlang kadang memang begitu melelahkan sampai-sampai kita tidak begitu saja ‘sanggup’ mengembangkannya menjadi suatu karya utuh. Sehingga kita membutuhkan penulis bayangan – ghostwriter – untuk menyelesaikannya buat kita. Dalam dunia seni dan literatur, praktek ghostwriting ini sudah lumrah. Banyak buku-buku dari pengarang terkenal yang diketahui ditulis dengan jasa penulis bayangan – yang menulis tanpa dicantumkan namanya. H.P. Lovecraft pake ghostwriter. R.L. Stine pake juga. Tom Clancy. Buku-buku autobiografi banyak yang menggunakan ghostwriter entah itu dalam penyuntingan ataupun nyaris secara keseluruhan untuk alasan yang jelas; tidak semua publik figur bisa menulis dengan literasi yang baik.

Dan sesungguhnya tidaklah memalukan untuk mengakui kita butuh pertolongan orang lain; tema penting inilah yang bekerja di balik horor komedi cerdas yang literally mereferensikan hantu beneran pada ghost dalam istilah ‘ghostwriter’.

 

Naya membawa adik cowoknya yang baru SMP tinggal di sebuah rumah tua yang harganya terlalu miring untuk ukuran rumah tersebut. It was a good deal bagi Naya yang mencari nafkah sebagai seorang penulis. Novelnya berhasil menjadi best-seller, tapi itu tiga tahun yang lalu. Dengan royalti yang semakin berkurang, Naya perlu untuk menulis cerita hits berikutnya. Ya, selain cewek pemberani, Naya juga mandiri, dan dia tidak mau untuk meminta bantuan orang lain – bahkan kepada pacarnya yang aktor sinetron kondang. Sifat enggan-minta-tolong tersebut yang menjadi fokus utama inner journey Naya dalam cerita Ghost Writer. Naya menemukan buku diari di rumah barunya yang mengerikan. Berisi kisah pilu seorang cowok yang bunuh diri karena merasa ditekan oleh orangtua yang menyalahkan dirinya karena suatu tragedi. Inilah cerita yang sekiranya dapat menyambung hidup Naya dan adiknya. But the catch is, untuk dapat menuliskannya Naya yang gak mau dibantu harus minta tolong kepada hantu pemilik buku yang ternyata masih bergentayangan di rumah itu.

aku menemukan dua referensi Scott Pilgrim gentayangan di film ini; di kaos si adek dan di poster kamarnya

 

Bagian terbaik dari film ini adalah interaksi antara Naya dengan hantu Galih. Tatjana Saphira dan Ge Pamungkas, sebelumnya juga pernah main bareng di Negeri Van Oranje (2015), terlihat sangat seru bercanda-canda berdua. Menarik sekali melihat Naya dan Galih berusaha bekerja sama menulis buku. Mereka saling kasih usul apa yang harus ditulis, apa yang tidak boleh. Juga ada peraturan dari gimana Naya bisa melihat Galih. Seperti peraturan Death Note; orang yang menyentuh diari Galih akan bisa melihat sosoknya. Peraturan ini dimainkan oleh film dengan kreatif dan menghasilkan banyak adegan kocak. Kita butuh lebih banyak interaksi antara mereka berdua. Proses menulis bukunya terasa lebih singkat dibanding porsi cerita yang lain, banyak yang digambarkan sebagai montase. Tapi memang sih, kupikir, hanya ada sedikit cara untuk memfilmkan dua orang menulis buku tanpa berlama-lama dan menjadi membosankan.

Mengusung perpaduan unholy antara horor dengan komedi, Ghost Writer benar-benar ciamik ketika dia mencoba untuk membuat kita tertawa. Ernest Prakasa yang ‘hanya’ tertulis sebagai produser di kredit agaknya jadi ghost writer juga lantaran candaan dan tektok dialog yang kita jumpai dalam cerita ini terasa gaya Ernest banget. Tentu saja dengan tidak bermaksud untuk mengecilkan peran sutradara, Bene Dion Rajagukguk. Komedi didorong olehnya bahkan lebih jauh lagi. Rasa-rasanya tidak banyak sutradara yang mampu menyisipkan teror hantu ke sekuen bathroom joke yang cukup panjang, dan membuat nyaris satu studio penonton terbahak-bahak. Benar-benar selera merakyat.

Ada sisipan candaan obrolan tokoh yang diperankan oleh Arie Kriting dan Muhadkly Acho yang berdebat soal hantu kala menonton video-video seram di kantor mereka. Peran dan adegan mereka memang terasa seperti tempelan, meskipun ada satu percakapan yang sebenarnya memerankan peranan yang penting daripada kelihatannya. Karena mereka membahas sesuatu yang integral dengan tema besar cerita. Mereka mendebatkan soal kenapa orang yang bunuh diri kembali ke dunia sebagai hantu yang penasaran. Masalah belum tuntas apa yang ingin mereka selesaikan. Bukankah bunuh diri adalah tindak yang direncanakan, dan bunuh diri berarti dia yang mematikan dirinya sendiri. Inilah yang ingin ditekankan oleh film. Orang yang bunuh diri mati bukan salah orang lain. Malahan, justru orang yang bunuh diri sebenarnya juga ikut ‘membunuh’ orang lain. Bunuh diri adalah perbuatan yang egois. Seolah menyalahkan, memberikan hukuman kepada orang yang ditinggal. Tentu, dunia mungkin memang kejam. Dunia mungkin membully. Dunia tidak adil dan tidak perhatian. Tapi itu bukan alasan untuk menjadikan bunuh diri sebagai statement menyadarkan orang lain yang memperlakukan kita salah, atau cuek sama kita. Bunuh diri adalah ultimate form dari mengasihani diri sendiri. Tindak dramatisasi sebuah sikap pasif agresif yang sangat berlebihan. Untuk tidak membocorkan terlalu banyak; Inilah yang disadari oleh Galih, yang kemudian menjadi pendukung untuk pembelajaran karakter Naya

Tokoh-tokoh sentral dalam film ini bertindak seolah mereka tidak butuh bantuan orang lain. Bahkan ada satu tokoh yang berkata marah “aku bisa hidup sendiri, tidak butuh bantuan” padahal dua menit sebelumnya dia baru saja diselamatkan dari jepitan lemari. They act tough as statement to others as they put themselves in danger. Film ini menyuarakan pesan anti-bunuhdiri. Jangan gengsi atau malu untuk minta tolong. Apalagi kemudian bunuh diri untuk menyalahkan orang-orang terdekat yang tidak mengerti bahasa minta tolong kita.

 

ketika kau sadar hantu adalah penulis lebih baik darimu yang hanya mampu memainkan kata ‘rawon’ dan ‘setan’.

 

Sebagai katalis untuk horor dan komedi, digunakan drama. Backstory para hantu, dan juga Naya, mampu mengubah air mata derai tawa kita menjadi air mata sedih dan haru. Pada elemen ini film menunjukkan taringnya sebagai tontonan keluarga selama libur Lebaran. Konflik antarkarakter juga cukup efektif. Kerumitan hubungan antara Naya dengan Galih berimbas kepada hubungan Naya dengan pacarnya, film juga mengeksplorasi hal tersebut tanpa pernah tersandung masalah tone. Dari tawa, sedih, ke takut, kemudian tertawa lagi, cerita bergulir cepat dan kita berpegang kepada karakter-karakter yang udah seperti bunglon. Mampu bekerja dengan baik dalam kondisi tone cerita yang berbeda. Tapi terkadang, pergerakan ini begitu cepat sehingga cerita seperti melayang. Editing film ini kurang ketat. Beberapa adegan ada yang terasa masuk begitu saja. Ada juga yang terasa berakhir seperti terburu.

Kadang naskah tampak lebih pintar dari filmnya – aku gak ngerti apakah itu mungkin. Tapi ada pilihan yang diambil oleh film yang membuatku merasa seperti demikian. Seperti istilah ghost writer sendiri. Seharusnya Naya yang menulis cerita si hantu; tapi kalo begitu gak cocok sebagai harafiah ghost writer. Naskah menyadari hal tersebut dan membuat Galih, yang walaupun sering typo, punya diksi lebih baik dari Naya dan kita melihat sebagian besar Galih yang menulis ceritanya. Pada akhirnya penulis hantu berubah menjadi hantu penulis. Tapi bukan ghostwriter lagi dong namanya kalo si hantu nulis ceritanya sendiri. Kita tidak benar-benar dapat sense Naya adalah penulis yang baik seperti yang disebutkan. Malahan, Naya si tokoh utama nyaris menjadi hantu dalam ceritanya sendiri. Stake ekonominya juga kurang terasa menekan.

 

 

Dengan premis dan perpaduan yang menarik, film ini bakal dengan mudah disukai oleh banyak penonton. Permainan aktingnya juga menyenangkan. Naskahnya cerdas men-tackle permasalahan yang penting. Namun berceritanya; banyak elemen-elemen penting yang diceritakan dengan lepas dari bagian utama. Ada bathroom joke yang cukup panjang yang bisa jadi turn off buat sebagian penonton. Meskipun gagasan yang terkandung masih bisa kita dapatkan pdengan cukup jelas, tetep saja kita melihatnya dan berpikir ‘adegan itu seharusnya bisa difungsikan dengan lebih baik lagi’.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for GHOST WRITER

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah pendapat kalian soal ‘tren’ bunuh diri yang sempat tren di media sosial beberapa waktu yang lalu? Siapa menurut kalian yang salah dalam kasus remaja di malaysia yang melompat dari lantai atas apartemen karena 60% teman di instagramnya mengevote dia untuk bunuh diri?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

SINGLE 2 Review

“You are never truly alone.”

 

 

 

Jomblo, berdasarkan penyebab, banyak jenisnya. Ada yang menjomblo karena masih merasa perlu untuk bertualang mencari yang cocok. Ada yang sengaja jomblo karena masih mau hidup bebas. Ada juga yang seumur-umur jomblo lantaran gak berani mengungkapkan perasaannya. Ebi adalah jenis jomblo yang terakhir. Yang paling mengenaskan. Penonton yang udah ngikutin Ebi dari film pertamanya yang rilis 2015 pasti hapal masalah mental yang diderita oleh cowok ini; susah ngomong sama cewek. Di film yang kedua ini kita akan dibawa mengulik sedikit lebih dalam kenapa lidah Ebi suka kelu di hadapan cewek cakep. Kenapa Ebi, yang udah deket banget ama si cantik Angel, ternyata masih single.

Menjelang usia 30 tahun, Ebi semakin merasakan tekanan dan desakan untuk segera punya pasangan. Adik dan teman-teman baru Ebi berusaha meyakinkan dirinya untuk segera menembak Angel. Atau paling enggak, cari cewek, supaya bisa segera angkat kaki dari klub Single – bayangkan kelompok “Single & Sufficient” yang dibuat oleh Jess dalam serial New Girl, tetapi klub Ebi ini anggotanya cowok virgin-virgin tua yang jauh lebih menyedihkan dengan aktivitas yang lebih jauh dari kata menyenangkan. Di balik tampang blo’on penuh ngarepnya, Ebi mulai merasakan depresi yang perlahan tumbuh seiring percaya diri yang terus berkurang. Ini membuatnya hampir dipecat dari kafe tempat ia manggung berstand-up comedy. Karena orang-orang mulai bosen dengan lawakannya yang itu-itu melulu. Ebi has come to terms dengan trauma masa kecilnya, di mana ia ditolak mentah-mentah saat dengan pedenya ‘menembak’ cewek teman sekelasnya. Supaya ia bisa menemukan keberanian untuk menghadapi kejutan-kejutan di dalam hidupnya.

Kejutan terbesar yang kita dapati pada Single Part 2 adalah bahwa ini sebenarnya merupakan perjalanan Ebi dari jomblo menjadi seorang ‘playboy’; Dalam sense, Ebi harus menyadari hubungan-hubungan spesial yang sudah ia jalin dengan setiap orang yang ada dalam hidupnya. Sebab pertanyaan penting yang diajukan film ini adalah apa sih arti jomblo itu sesungguhnya. Benarkah kita pernah benar-benar sendirian hidup di dunia.

Dewasa and confused

 

Single 2 boleh jadi adalah proyek transisi Raditya Dika yang sendirinya sudah meninggalkan masa-masa jomblo yang nelangsa. Untuk menunjukkan proses pertumbuhan itu, film ini dibuatnya menjadi jauh lebih dewasa ketimbang film-film buatannya sebelumnya. Single 2 mencoba untuk lebih sering menyasar ke ranah drama yang agak lebih serius. Tapi kita dapat merasakan ada sedikit kebingungan pada proses kreatif film ini. Film seperti enggak yakin dalam memutuskan cara yang tepat untuk mentackle materi mereka tanpa meninggalkan target pasar yang lama secara keseluruhan. Mereka enggak yakin penggemar Dika sudah turut bertumbuh bersama mereka. Jadi kita mendapatkan adegan patung monyet yang bisa berbicara. Film masih merasa perlu dibantu oleh kekonyolan, film masih merasa perlu untuk meniru komedi gaya anak muda stoner film barat. Literally, magic mushroom adalah device penting yang membawa plot masuk ke dalam babak ketiga. Alih-alih membuat tokohnya mengambil keputusan, alur film bertema kedewasaan cinta ini bergerak oleh tokoh utama yang mabok dan dibanting ke lantai semen oleh kakek-kakek.

Saat menonton ini, aku ngiri sama para pengunjung kafe di tempat Ebi manggung. Mereka bisa dengan selownya ngeloyor keluar kafe karena jengah mendengar Ebi terus-terusan mengasihani diri. Karena itulah persisnya yang sebagian besar kurasakan. Aku ingin cabut dari studio. Film ini sama sekali tidak menyenangkan. Bahkan untuk standar Raditya Dika yang udah ‘jago’ menggarap komedi dari premis orang jomblo mencari cinta, cerita usang film ini terasa begitu sok-sok sedih sehingga menjadi annoying. Ebi adalah tokoh utama yang membuat kita ingin menonjok wajahnya. Dia sedih dirinya masih jomblo, tapi dia tidak menunjukkan usaha. Kita diharuskan sedih gitu aja melihat dirinya tidak bisa bilang “gue cinta ama elo” ke cewek yang ia taksir. Kita diminta untuk bersimpati melihat dia mengasihani dirinya sendiri setelah ia tidak menghindar dari keputusan ketika pilihan itu datang. I mean, dari mana tawa itu bisa datang jika kita dipaksa untuk merasa kasihan? Bukankah ini seharusnya adalah cerita komedi?

Hampir semua adegan dimainkan untuk komedi yang sudah sering kita lihat pada film-film Raditya Dika. Dia diberikan saran oleh temennya, dan betapapun wajahnya kelihatan sangsi, dia tetap melakukan saran tersebut tanpa memikirkannya. Tentu saja adalah hal yang bagus jika film komedi punya banyak adegan komedi. Hanya saja, tentu akan lebih bagus lagi jika komedi tersebut punya bobot ke dalam cerita, actually integral ke dalam perkembangan cerita, bukan sekedar momen lucu untuk ditertawakan. Klub Single yang diikuti Ebi seharusnya bisa dimainkan lebih banyak ke dalam cerita. Atau setidaknya, keberadaannya tidak demikian membingungkan. Kita paham Ebi masuk jadi anggota karena dia jomblo, dan dia takut melepas status tersebut karena itu bakal berarti ada kemungkinan dia kehilangan Angel selama-lamanya jika ia mencoba untuk melepas kejombloan dengan nembak Angel, maka Ebi masuk klub sebagai pembenaran bahwa jomblo tidak menyedihkan. Tapi kenapa klub itu dibuat tidak pernah tergambar; jomblo-jomblo saling support supaya enggak sedih-sedih amat, atau supaya menimbulkan keberanian dapat pacar? Kita melihat anggota yang dapat pacar dan anggota yang punya rekor jomblo terlama sama-sama dikasih ucapan selamat – jadi apa tujuan klub ini exactly? There’s also part ketika Ebi terlibat sesuatu dengan seorang transgender; yang menurutku mereka bisa membuat cerita dari sini kalo memang niat menggali yang baru, namun pada akhirnya memang hanya sebagai komedi saja. Yang tampak seperti usaha lemah memancing kelucuan kayak yang dilakukan pada Stu dengan ladyboy Thailand di The Hangover Part II (2011).

Ada banyak layer drama yang seharusnya bisa digali, dijadikan fokus. Bahkan jika fokus di masalah adik dan keluarga yang terlalu ikut campur, mungkin film bisa jadi lebih menyenangkan dan dewasa. Single 2 tampak berambisi menyatukan semua yang terpikirkan. Masalah saingan cinta juga kembali dimasukkan. Sehingga semua elemen cerita film ini terasa kurang masak. Tokoh-tokohnya terdengar sama-sama komikal semua. Dengan penampilan akting yang secara seragam di batas standar ke bawah. Yang paling mending cuma si Annisa Rawles yang bermain sebagai Angel; tokoh yang paling terbingungkan oleh Ebi. Aku juga lumayan salut tokoh Angel tidak terjatuh dalam kategori ‘manic pixie dream girl’. Ada nice set-up terkait Angel yang di akhir cerita membuat kita bertanya apakah film sedang ‘menghukum’ dirinya atau cerita memang sedang dalam proses semakin memperkuat sudut pandang tokoh ini – mungkin untuk installment berikutnya.

ada satu lagi Arya jadi korban ‘kirain-sayang-ternyata-cuma-kesepian’

 

 

Ketika bicara relationship, kita akan berpikir tentang pasangan. Padahal itu bukan satu-satunya jenis hubungan. Jomblo dalam satu jenis hubungan, tidak berarti kita ‘jomblo’ juga di aspek lain dalam hidup. Kita punya keluarga. Kita punya teman. Tetangga. Rekan kerja. Hobi. Agama. Jangan biarkan kesepian menelan kita. Fokuslah pada semua cinta yang ada di dalam hidup.

 

Menurutku, durasi dua-jam lebih terlalu berlebihan untuk film ini. Cerita bisa lebih tight jika dibuat untuk durasi standar 90 menitan saja. Fokus cerita tentang ketakutan Ebi jadi kabur lantaran durasi yang kepanjangan. Kita terlalu lama merasa kesal karena di separuh awal kita tidak tahu kenapa EBi yang sedih dan takut jomblo tidak berusaha keras sedari awal. Kenapa dia mundur setiap kali ‘kebetulan’ ada cowok lain datang di antara dia dan gebetan. Untuk sebagian besar waktu, progresnya yang diset dari mengasihani diri menjadi bisa menertawai diri dan angkat kepala menghadapi yang ia takutkan, membuat Ebi tampak bland dan menyebalkan untuk diikuti. Mungkin film memang meniatkan kita untuk merasa geregetan terhadap sikap Ebi di awal, dan perlahan hingga pada akhirnya kita akan merasakan simpati karena kita diberitahu Ebi berada dalam kondisi ‘dia-sudah-menang-tapi-dia-belum-tahu’ sehingga kita mendukungnya. Tapi sekali lagi, ada komplikasi yang tak diperhitungkan yang membuat cerita ini berakhir ‘membingungkan’, karena Ebi tidak pernah diperlihatkan mengkonfrontasi masalahnya dengan Angel sehingga di akhir itu dia tampak seperti mengkonfirmasi perkatan salah satu tokoh kepada dirinya; bahwa dia adalah seorang playboy.

 

 

 

Seperti Ebi yang bingung, ibunya Angel yang bingung, Dika juga bingung mengeksplorasi kejombloan di usia dewasa tanpa meninggalkan penonton remaja. Sehingga kita yang nonton pun ikutan bingung. Gimana bisa simpati kalo tokohnya membuang kesempatan dan gak ada usaha. Gimana bisa ketawa kalo tokohnya mengasihani diri terus. Inner journey film ini sebenarnya lumayan menarik dan masuk akal. Akan tetapi satu jam lebih ngebangun perkembangan hanya untuk magic mushroom membukakan jalan untuk the rest of the story; sesungguhnya adalah sesuatu yang konyol. Penceritaan yang banyak kekurangan ini seharusnya dilakukan dengan lebih kompeten sehingga bisa lebih enak penonton ikuti dan benar-benar mengenai notes dan gagasan yang diinginkan.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SINGLE 2

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah punya pasangan beneran lebih baik? Sudikah kalian bertanya ke dalam hati kenapa sebenarnya dirimu masih jomblo?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

GRETA Review

“It is better to be alone than in bad company.”

 

 

 

Kota gede itu kejam. New York terutama. Kalo gak percaya tanya aja ama Homer Simpons atau ke Jess di New Girl. Bengong dikit, antrian kita bisa diserobot. Polos dikit, kita bisa ditipu. Dicopet. Everyone just mind their own business. Makanya ketika Frances McCullen (Chloe Grace Moretz kudu mainin banyak rentang emosi dengan cepat) mengatakan kepada teman sekamarnya bahwa ia bermaksud mengembalikan dompet yang ia temukan di kereta ke alamat si empunya dompet, Frances lantas dipandang aneh, “Ngapain baik banget sih kenal juga enggak” ujar si teman.

Mungkin bukan hanya Frances yang harus dengerin ‘nasehat’ dari temannya tersebut. Kita juga mungkin sebaiknya lebih berhati-hati dalam menunjukkan kepedulian kepada orang tak dikenal. Belum lama ini, viral di twitter seorang wanita yang mengajak followernya untuk tidak beramah-ramah kepada bapak-bapak yang mengajak ngobrol di tempat umum. Terdengar kasar sih memang. Gimana kalo si bapak beneran lagi butuh bantuan? Masak gak diladeni. Tapi kalo diladeni bisa-bisa malah terjadi pelehan? Itulah point film ini. Bahwa mungkin memang dunia kita sudah jadi begitu mencurigakannya, sudah menjadi tempat yang sudah menakutkan di mana kebaikan dianggap sebagai kelemahan. Yang lantas dilahap dan diperas keuntungan darinya.

Frances dalam film Greta diset sebagai karakter yang rapuh secara emosional. Dia yang bukan anak gaul New York merasa kurang cocok bareng teman-teman seusianya, dia cuma punya satu sahabat yakni si teman sekamar. Pekerjaannya sebagai karyawan di restoran mewah menyimbolkan gimana dia serves society dengan segala kebaikan. Dan sebagai pemanis, Frances dituliskan sebagai gadis yang baru saja kehilangan ibu. Bertemu Greta, si pemilik dompet, bagi Frances adalah seperti bertemu pengganti ibunda. Dia memanggil wanita beraksen Perancis itu sahabat. Dia menemani Greta (Isabelle Huppert menjadikan film ini sebagai lapangan bermain pribadinya) sehari-hari; minum teh di rumahnya, dengerin wanita tersebut main piano. Dan jika terdengar suara gedoran dari balik tembok, Frances akan ngecuekin suara yang bagi kita jelas-jelas adalah ‘alarm tanda bahaya’ tersebut karena dia percaya pada Greta; Itu cuma tetangga yang lagi renovasi rumah.

Film Great garapan Neil Jordan ini menganjurkan kita untuk tidak menjadi senaif Frances. Ramah harus, tapi jangan sampai begitu mudahnya terattach kepada orang baru karena bisa saja mereka sebenarnya bukan teman yang mereka cari.

 

kau bilang dirimu seperti permen karet? Well, aku makan permen karet untuk sarapan setiap hari

 

 

Di sinilah Chloe Grace Moretz menunjukkan kemampuannya menghidupkan seorang tokoh menjadi sangat simpatik. Di atas kertas, Frances sebenarnya dapat dengan mudah menjadi tokoh yang annoying. Karena di awal-awal film, dia selalu membuat keputusan yang bego, regarding to Greta. Ada begitu banyak tanda-tanda bahwa Great adalah tokoh yang enggak beres. Namun bisa dibilang, Frances terlalu baper untuk melihat semua itu. Bahkan jika ternyata Greta bukan orang jahat, Frances ini sudah kelewatan baeknya. Bukan hanya terlalu baik kepada Greta kayak Lala pada BomBom di sinetron Bidadari, Frances ini juga luar biasa pedulinya sama binatang. Ada satu adegan ketika dia mestinya menjauh dari rumah Greta, tapi Frances justru balik lantaran ia mengkhawatirkan anjing peliharaan Greta yang ia bantu pilihkan untuk adopsi. Plot-poin cerita film ini bergerak karena tokoh utama kita ini mengambil keputusan-keputusan berdasarkan perasaan seperti demikian. Yang gak bakal work kalo tokoh utamanya enggak menjelma menjadi sangat simpatik dengan reason yang jelas. Moretz berhasil menggapai semua itu. Penampilan aktingnya sangat meyakinkan. Alih-alih kesel kita malah kasihan melihatnya. Kita itu khawatir akan keselamatannya. Bukan cuma emosional, Moretz juga bermain fisik di sini. Tokoh Frances adalah tokoh dengan tingkat kesulitan yang cukup demanding, dan Moretz berhasil menjawab semua tantangannya.

Aksen palsu dan segala kekakuan tokoh Greta; it’s all by design. Setiap kali Greta muncul di layar, melakukan sesuatu – mengatakan sesuatu, kita tahu ada sesuatu yang gak bener. Like, perasaan gue gak enak nih.. Seperti Greta yang bermain piano, Isabelle Huppert sesungguhnya sukses berat mengenai setiap ‘nada’ yang diminta untuk membuat tokoh Greta tampil ‘mengerikan’. Backstory yang diberikan kepada tokoh ini pada akhirnya berubah menjadi catatan kejahatan, dan itu bukan jadi masalah lantaran tokoh ini sepertinya tidak perlu alasan untuk menjadi seperti dirinya sekarang. Dia edan luar-dalam. Film tidak berlama-lama menyimpan siapa sebenarnya Greta, apa yang bisa ia lakukan, dan ini bagus karena memang kekuatan utama film ini terletak pada kedua pemain utama dan bagaimana aksi-reaksi terjadi di antara mereka. Benar-benar bikin gak enak melihat Frances yang terus menjauh namun dikejar dan malah ditodong ‘sombong’ balik oleh Greta. One time, Greta berdiri diam seharian di pinggir jalan, memandang Frances yang lagi bekerja. Kita melihat betapa mengerikannya efek perbuatan tersebut kepada Frances. Jangankan itu, jumlah missed call dari Greta aja sudah cukup untuk membuat kita bergidik – bahkan mungkin retrospeksi; pernahkah kita membuat orang lain merasa seperti Frances?

Adakalanya kita harus selektif dalam memilih teman. Karena memiliki banyak teman tidak selamanya menyenangkan. Daripada bersama-sama dengan orang yang hanya ingin memanfaatkan, yang lebih banyak ruginya, toh masih lebih baik jika kita sendirian dan tak terluka.

 

 

Film akan menjadi sangat menarik jika terus mengeksplorasi hubungan semacam demikian. Menggali psikologi kedua sudut pandang ini; orang yang gak nyaman di-stalk, dan orang ‘gila’ yang merasa diperlakukan tidak adil karena ditinggal tanpa alasan. Dan lapisan yang membuatnya unik adalah hubungan mereka bukan hubungan romansa. Bukan antara cowok yang naksir berat ama cewek atau semacamnya. Melainkan antara anak yang gak punya ibu dengan seorang ibu-ibu yang sudah lama tinggal sendirian. Dinamika menarik tersebut sayangnya harus berhenti. Lantaran sepertinya sang sutradara yang pernah menang Oscar untuk penulisan skenario film The Crying Game (1992) – film yang bercerita tentang cowok yang menjadi temenan dengan cewek teroris yang menahannya – tidak benar-benar memahami relung resah perihal dua wanita. Peran cowok memang nyaris absen dalam film Greta. Memang cukup aneh, cerita tentang wanita tapi semuanya digarap oleh pria. Berani? Mungkin bisa dibilang lancang. Bicara dari pengalaman; aku bikin film pendek Gelap Jelita (2019) tentang cewek remaja lagi mau berangkat sekolah aja merasa perlu untuk meminta ‘nasehat’, jadi aku meminta tolong temenku yang cewek untuk jadi semacam art director untuk memastikan filmnya benar-benar relate dan menghormati cewek itu sendiri.

cewek dari venus; venus flytrap.

 

Greta memang akhirnya meninggalkan ranah psikologi dan berkembang ke arah horor yang lebih general. That’s the downfall of this movie. Film ini tampak tidak bisa memenuhi janjinya sendiri. Mulai bermunculan klise-klise cerita horor stalking. Bahkan film mulai meminta kita untuk suspend our disbelief. Kejadian yang lagi relevan banget itu tidak lagi terasa nyata oleh sekuen-sekuen seperti Greta yang bisa mengikuti seseorang – memotret orang tersebut dari belakang, mulai dari klub hingga ke dalam bus, tanpa terlihat; seperti ninja. Banyak hal yang dilakukan oleh Greta kepada Frances dan tokoh yang lebih muda yang sukar untuk dipercaya; gimana bisa wanita tua seperti dia melakukan hal tersebut kepada anak muda? Seperti, kenapa jalannya bisa lebih cepat.

Babak ketiga film sudah completely meninggalkan persoalan si tokoh utama. Hampir seperti mereka menyelesaikan journey Frances dalam dua babak, dan babak ketiganya hanya homage untuk kejadian ala horor 90an. Babak terakhir film ini beneran terasa seperti hiasan saja. Kita tidak lagi mengikuti Frances; kita actually berada di sudut pandang karakter-karakter lain, termasuk si Greta sendiri. Bayangkan sekuen ‘pertarungan terakhir’ dalam film horor, nah babak ketiga Greta terasa seperti ‘pertarungan akhir’ yang dipanjangin duapuluh menitan. Completely mengubah arahan film. Dari yang tadinya nyaris seperti in-depth look of characters – materi film art lah kalo boleh dibilang – menjadi semacam horor ‘ditangkap pembunuh gila’ yang sukar dipercaya dan cenderung dilebay-lebaykan biar seru. Bukannya horor seperti demikian jelek, hanya saja tokoh utama seharusnya tetap aktif. I mean, bahkan tokoh utama film Misery (1999) yang kakinya udah patah aja masih bisa menyetir cerita dan tidak lantas berubah menjadi orang yang tidak bisa menyelamatkan diri sendiri.

 

 

 

But of course, thriller seperti demikian memanglah menarik. Bara suspens di dalam cerita masih terus dikipas menyala. Film ini jago dalam menangkap kengerian. Dua pemain utamanya pun bertindak sebagai pilar kembar yang kuat yang menopang penceritaan. Film seharusnya terus mengeksplorasi dinamika hubungan mereka. Tapi kita dapat merasakan limitasi pada penggarapan. Cerita seperti menghindari untuk menggali lebih dalam. Jadi, ia kembali muncul ke permukaan, dan stay bermain di sana. Menjadikan film menjadi serangan teror ‘orang gila’ biasa yang asik sesaat dan kita ignore di kemudian hari, sampai akhirnya terlupakan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for GRETA. 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian kebebasan orang lain itu penting? Apakah kamu pernah merasakan kebebasan kamu dibatasi?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM Review

“A man’s life is about keeping rules, breaking them, and making new ones.”

 

 

Dunia profesional John Wick adalah dunia ‘bawah tanah’ yang penuh darah. Tapi bukan lantas berarti dunia mereka amburadul. Malah mungkin lebih teratur daripada dunia kita. Karena mereka punya kode etik sendiri. Dan mereka-mereka yang terdiri dari pembunuh bayaran, mafia, bandar narkoba tersebut benar-benar memegang teguh peraturan tersebut. “Karena tanpa aturan, kita adalah binatang” begitu kata salah satu petinggi High Table yang menjadi semacam lingkaran pemimpin mereka. Tapi John Wick melanggar peraturan penting di tempat paling sakral yang mereka miliki. Zona aman; sebuah hotel tempat para anggota dunia hitam bisa bersantai, mungkin sambil menyembuhkan diri, tidak ada yang boleh menjalanakan ‘bisnis’ mereka dalam bangunan hotel tersebut. Dan John Wick telah menumpahkan darah di sana.

Cerita film ini dibuka dengan John Wick, bersama anjing kesayangannya, berlarian di sepanjang kota berusaha untuk sampai ke suatu tempat sebelum waktu tenggat satu jam diberikan kepadanya habis. Wick dicabut dari keanggotaan, sekarang kepalanya ditempeli label harga empat-belas juta dolar sesegera mungkin saat satu jam tersebut habis. Wick akan diburu oleh anggota geng hitam dari seluruh sudut gang, seantero dunia. Bahkan bagi penonton yang belum pernah menonton dua film sebelumnya, Parabellum ini akan seketika menguarkan intensitas yang luar biasa. Stake dengan cepat dan efektif terlandaskan. Enggak banyak cing-cong, kita semua langsung tahu ini urusan hidup dan mati. Bahaya mengintai Wick di mana-mana. Kita dapat merasakan betapa besarnya dunia yang menjadi panggung cerita. Dengan John Wick di tengahnya, sendirian di tengah entah berapa banyaknya jumlah musuh. Kita melihat mekanisme komunikasi organisasi mereka bekerja. Kita diperlihatkan seberapa banyak dan besarnya keinginan orang-orang untuk menangkap John Wick. Hal-hal kecil seperti uang bounty yang dinaikkan, ataupun Wick yang terus melirik jam tangan, atau ketika dia harus merakit pistol yang ia temukan dengan cepat sebelum waktu habis, adalah cara film bermain dengan emosi kita. Sehingga kita merasakan desakan. Urgensi. John Wick bahkan diserang sebelum satu jam itu habis! Set up dan build up film ini diceritakan dengan begitu efektif sehingga yang baru sekali ini nonton film John Wick sekalipun akan dapat merasakan kepedulian dan simpati terhadap nobody yang sedang mereka saksikan.

Well, “That f-king nobody… is John Wick!”

 

Benar, kita datang membeli tiket film ini demi menyaksikan sekuen-sekuen aksi yang super-gilak (we’ll get to that later). Tetapi pembangunan dunianya inilah yang membuat kita betah untuk menyaksikan lagi, dan lagi, dan lagi. Sedari film originalnya, John Wick sudah sukses dalam membangun dunia. Lewat film-film John Wick, sutradara Chad Stahelski berhasil membuktikan bahwa film aksi yang brutal bisa kok ditampilkan elegan. Dia juga membangun ‘panggung’ untuk membuat kita penasaran sekaligus semakin tersedot ke dalam dunia cerita. Mengenai backstory John Wick saja, meskipun saat itu belum visual, tapi cerita yang mereka ceritakan dengan setengah-setengah dan bertahap itu membuat kita gak pernah berhenti menggelinjang. John Wick adalah mantan assassin. John Wick adalah seorang baba yaga (boogeyman) yang membunuh tiga orang dengan sebatang pensil. Kita tidak diperlihatkan bagaimana tepatnya, namun dari aksi yang ia lakukan kita tahu rumor tersebut benar seratus persen. Film tidak berhenti sampai di sana untuk mengeksplorasi karakter John Wick. Di film kedua kita beneran dikasih lihat John Wick menggunakan pensil untuk membunuh. Dan di film sekarang, mitos John Wick tetap terus dikembangkan; di film ini kita melihat John Wick membunuh orang dengan buku!

Peraturan, Hotel, dan organisasi High Table juga seperti demikian; dikembangkan secara bertahap. Pada film pertama – selagi kita menonton Wick yang udah keluar dari sana terpaksa harus masuk sebentar demi dendamnya – seolah hanya melihat pekarangan depan dari keseluruhan dunia hitam John Wick. Film kedua kita diperlihatkan dan diberitahu lebih banyak tentang istilah-istilah mereka, gimana dunia mereka bekerja, tapi itu seperti baru masuk ke ruang depan. Bahkan pada film ketiga ini pun kita belum beneran masuk ke ruang tengah; karena film ini dikembangkan dengan penuh gaya dan rancangan yang benar-benar memperhatikan emosi kita. Film membuat kita terus tertarik. Petualangan John Wick bermula oleh kejadian yang lumayan menggelikan, aku sendiri sempat meremehkan film pertamanya yang beranjak dari John Wick ngamuk lantaran mobilnya dicuri dan anak anjingnya dibunuh. Tapi elemen itu terus dengan bangga dikembangkan, diulang-ulang, menjadi bagian dari legenda John Wick. Karakter dan dunia dalam semesta film ini tak pelak akan menjadi seperti Keanu Reeves; immortal!

Sekilas memang terlihat seperti bergerak karena duit. Namun film sebenarnya ingin berbicara sesuatu yang lebih bernilai daripada lembaran uang. Para assassin, orang-orang yang jadi anggota High Table, mereka bergerak karena peraturan. Dengan subtil film menunjukkan kepada kita bahwa kewajiban untuk memenuhi peraturan itulah, ketakutan akan hukuman ketika melanggar hukum itulah, yang menjadi motor penggerak mereka. Dan kontrak di antara mereka-mereka itu bukanlah hitam di atas putih. Melainkan merah, on a cold hard medal.  Berakar pada balas jasa, kerjasama, sifat respek antara satu sama lain. Dunia di mana aksi dan konsekuensi benar-benar ditegakkan, tanpa pandang bulu. Strangely, dalam keadaan terbaiknya, film ini mampu membuat kita menghormati dunia hitam yang keji.

 

Stahelski sendiri memang sangat menghargai dunia action. Sebagai mantan stuntman, tentu dia paham betul bagaimana mengkoreografikan adegan-adegan berkelahi. Dan pada film ini, dia bekerja dengan lebih banyak lagi orang-orang yang sama-sama mencintai genre ini. Semua adegan aksinya benar-benar luar biasa. Dalam setiap film John Wick, selalu ada hal baru yang seketika menjadi memorable. Pada film ini, buatku adalah sekuen dengan kuda. Juga dengan anjing-anjing. Salah satu elemen favoritku yang terus dipertahankan oleh film adalah peluru yang benar-benar sedikit, yang beneran bisa habis. Aku suka melihat John Wick harus mereload senjata di tengah-tengah perkelahian, karena menambah sensasi keaslian. Serta ketegangan. Film ini menawarkan begitu banyak adegan-adegan mendebarkan. Yang direkam dengan wide shot. Enggak terlalu banyak cut. Bak-bik-buknya begitu in-the-face. Ada satu sekuen dengan sepeda motor yang membuatku teringat pada adegan di Final Fantasy VII: Advent Children (2005), bedanya adalah film ini dilakukan oleh orang beneran! Keanus Reeves, salut banget, melakukan hampir semua adegan tanpa aktor pengganti. Aku gak pernah bosen melihat John Wick menembak kepala orang-orang. Film membuat kita melihat perbandingan antara balet dengan berantem, yang mana menurutku sangat keren. Bicara tentang keren; aku yakin kalian semua merinding ketika Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman yang menyapa Wick dengan bahasa Indonesia. Peran kedua aktor tanah air ini dalam cerita memang enggak gede, tapi mereka diberikan momen tersendiri. It was so cool melihat film memberikan waktu kepada bela diri dan aktor Indonesia untuk bersinar.

Film ini punya set piece yang amazing. Warna-warnanya terlihat vibrant. Cahaya neon, lampu-lampu malam, di dalam air, dan pada satu poin cerita, kita juga dibawa ke panasnya gurun. Meskipun penggunaan ruangan kaca dalam film ini seperti pengulangan dari film yang kedua, secara aksi juga agak sedikit terlalu berkesan fantasi, tapi di sini filosofinya sedikit berbeda. Kali ini adalah soal John Wick yang melihat persamaan dirinya dengan para musuh, yang berkaitan dengan pembelajaran bahwa dia gak bisa lari dari siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik semua pembangunan dunia dan sekuen-sekuen aksi yang penuh gaya, film tetap berhasil menceritakan satu cerita yang utuh. Ada definitive end. Rahasia dan bigger picture mungkin masih belum terlihat, kita masih belum melihat semua anggota High End, tapi pada chapter ini karakter John Wick sudah menyelesaikan perjalanannya. Dia melanggar aturan, dan membuat yang baru demi dirinya sendiri. Dari yang tadinya pengen kabur, dia akhirnya menyadari dia tidak bisa pensiun dari siapa dirinya.

“Marhaban ya, John Wick!”

 

Kita bisa memahami bahwa Wick pada akhirnya harus dibuat kembali ke Hotel supaya arcnya dalam cerita ini bisa melingkar, Hotel haruslah menjadi medan perang terakhir, tapi kupikir harusnya ada cara yang lebih baik untuk menceritakan hal tersebut. Setelah midpoint yang di gurun itu, narasi Parabellum terasa agak ruwet. Film memilih untuk menampilan satu, katakanlah twist, yang membuat kita jadi ngangkat alis “jadi si dia baik atau tidak?” Menurutku impact dari twist tersebut justru jadi gak langsung mengena. Akan lebih on-point kalo Wick dibuat menerobos Hotel yang sudah menanti kehadirannya, dan kemudian dia sampai di atas, dan mereka berunding tanpa perlu ada elemen deceiving pada narasi. Keputusan film untuk bercerita seperti yang mereka lakukan membuatku jadi merasa seharusnya Parabellum adalah film terakhir, tapi kemudian mereka mengganti rencana dan memanjangkan cerita menjadi seperti ini.

 




Jika mau dibandingkan, film ini lebih terasa secara emosional daripada film keduanya. Stake dan rintangannya lebih kuat. Tapi tetep masih kurang nendang dibandingkan film pertamanya, terutama taraf kegenuine-annya. Film ketiga ini – tampil dengan nyaris non-stop intens dan begitu banyak sekuen aksi yang memorable – lebih terasa seperti fantasi, di mana kita menontonnya demi excitement saja. I mean, bahkan ada adegan Wick dan musuhnya pake jurus ilang-ilangan kayak ninja. Fun, tentu saja, tapi bobotnya terasa sedikit berkurang. Pembangunan dunianya masih mampu menimbulkan rasa penasaran, tetapi ceritanya terasa seperti sudah mentok, dan film ini memanjang-manjangkan. Buat penonton yang baru pertama kali merasai, though, petualangan John Wick akan terasa seperti baru akan dimulai.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM.

 

 




That’s all we have for now.
Dengan organisasi yang mengharuskan anggotanya untuk patuh peraturan biar gak kayak binatang, dan film ini semacam menjadikan anjing sebagai maskotnya, apakah ada perbandingan antara anjing dan peraturan yang bisa kalian tarik? Apa menurut kalian anjing dalam film ini menyimbolkan sesuatu?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 



[Reader’s Neatpick] – THE PRODIGY (2019) Review

“..yang saya tidak sukai adalah film yang horornya dikarenakan ada unsur gaib. Film ini? Daaaamn brooo..!!! asyuuuu~~~”Ida Bagus Arindra Dirasthya, atau biasa dipanggil Garonk.

 


Sutradara: Nicholas McCarthy
Penulis Naskah: Jeff Buhler
Durasi: 1jam 32menit

 

Sarah dan suami tercinta dikaruniai seorang anak yang heterochromia. Tenang, itu bukan nama penyakit. Melainkan istilah untuk orang yang bola mata kiri dan kanannya berbeda warna. Keistimewaan Miles, begitulah Sarah menamai anaknya, ternyata tidak berhenti sampai di sana. Miles yang masih kecil menunjukkan kepintaran yang bermil-mil jauh lebih maju dari ukuran anak-anak sebayanya. Saking pinternya, Miles ini ngingaunya pun pake bahasa asing! Enggak perlu waktu lama untuk naluri keibuan Sarah mendeteksi ada yang enggak beres pada diri Miles, yang kadang tampak totally seperti orang yang berbeda. Memang semengerikan dan misterius beginikah perilaku seorang anak jenius, atau jangan-jangan nilai dan prestasi Miles tersebut ternyata didongkrak oleh suatu wujud supernatural?

“Maka, The Prodigy menjelma menjadi horor yang lumayan spesial. Sampai-sampai sahabatku yang satu ini, Garonk yang sedari jaman kuliah sudah dikenal sebagai orang yang anti banget nonton horor, ternyata nonton filmnya. Bahkan nonton lebih duluan daripada aku! So that makes this review kinda special too. Karena kita akan membahas film horor dari sudut pandang penonton yang gak suka film horor.”

“Saya bukannya tidak menyukai film horor. Yang saya tidak sukai adalah film yang horornya dikarenakan ada unsur gaib. Semisalnya karena hantu. Karena saya ga suka hal yang tidak bisa ditelaah lebih jauh. Tapi tidak berlaku untuk jenis science fiction yaah, karena walau kita tau itu fiksi, tapi masih dekat (nyerempet) dan bisa ditelaah lebih jauh juga dekat sama penjelasan ilmiah. Berbeda sama tipe hantu, saya mau mikirin lebih malah jauh ga nyampe dan jadi ga masuk akal, mau nyari sebab-akibat dan alasan-alasannya sepertinya tidak sampai di kepala.”

“Jadi lebih karena alasan gak ilmiah, gak keilmuan, ya”

“Alasan lainnya takut juga sih hahaha.. Itulah makanya sebelum saya tonton, sudah jadi kebiasaan saya untuk bertanya dahulu. Atau membaca preview film apakah ini horor karena hantu atau lainnya. Saya tidak anti sama spoiler.. hehehe, karena tahu info film yang akan ditonton itu seperti kita sudah siap dan tidak kaget untuk menjalani ujian ;p Setelah tahu infonya, tanya lagi menurut individu apakah worth untuk ditonton, karena kalo dari preview itu kan dia sifatnya persuasif.”

“Sebenarnya semua horor – yang bagus loh ya, bukan yang dibuat ngejar setoran – bermain di ranah keilmiahan, Ronk. Tepatnya tuh di psikologis manusia. Tentang bagaimana reaksi dan kondisi emosi seseorang ketika berhadapan dengan kehilangan, misalnya. Tren horor barat sekarang berpusat di kejiwaan seorang ibu. The Babadook (2014) yang tentang single-mom yang diserang kecemasan menempuh hidup dan duka pada saat yang bersamaan. Hereditary (2018) bicarakan kegelisahan seorang mama yang merasa tidak mampu mengendalikan, memberikan yang terbaik untuk keluarganya, karena dia sendiri punya masa lalu kelam dari keluarganya. Bird box (2018), A Quiet Place (2018)dua-duanya soal ibu yang mengambil alih posisi kepala keluarga. Berbeda sekali dengan horor lokal yang malah menjadikan ibu sebagai sosok hantu, horor barat menggali insting maternal yang begitu manusiawi. The Prodigy ini, kan, juga begitu. Tema besarnya adalah ketakutan orangtua, khususnya ibu, akan anak mereka yang berbeda dengan anak-anak normal.” 

“Mengerikan… menegangkan sih lebih tepatnya. Sepertinya saya sendiri juga jika punya anak yang jenius; awal-awal tentu saja senang. Tapi itu juga selama jenius masih dalam tahap wajar di usianya. Kalo terlalu jenius banget mungkin saja saya juga takut. Orangtua takut bisa saja karena nantinya sang anak akan sulit beradaptasi di lingkungan di masa mendatang, dia akan jadi anti sosial. Juga acuh sama lingkungan. Jika dia jenius masih dalam tahap yang wajar sesuai umurnya, tentu saya juga akan perlakukan anak saya secara berbeda menyesuaikan dengan kecerdasannya sehingga dia bisa lebih terarah. Peran orang tua seperti biasa, mengarahkan.”

“Sutradara McCarthy setuju tuh, Ronk. Makanya film benar-benar ia arahkan untuk fokus di reaksi horor Sarah akan perilaku Miles. Film ini enggak kemana-mana dulu, dia langsung ngasih tahu kita bahwa si anak itu memang ‘bermasalah’. Horor-horor lain mungkin akan menguatkan misteri, membuat kita ikutan menebak bareng Sarah sebenarnya anaknya kenapa. Tapi pada film ini, kita dari awal sudah tahu lebih dulu daripada Sarah. Teknik inilah yang disebut sebagai DRAMATIC IRONY. Dengan membuat kita tahu lebih banyak daripada tokoh utama, film ingin kita menilai aksi-aksi yang diambil oleh sarah. Mendramatisasi sejauh apa yang akan dilakukan oleh orangtua untuk mengusahakan yang terbaik kepada anaknya. Supaya waktu kita tidak habis untuk mempertanyakan anaknya baik atau jahat. Agar kita langsung melihat poin bahwa sesuatu yang luar biasa jahat, masihlah sebuah anak bagi seorang ibu. Dramatisnya jadi benar-benar kerasa saat Sarah memutuskan untuk membunuh seorang wanita yang merupakan satu-satunya korban yang selamat dari pembunuh-berantai yang merasuki tubuh Miles.”

“Benar juga. Semua orangtua tidak ada yang tidak mencintai anaknya. Saya rasa sih tindakan sarah, memastikan si anak tidak ada flaw di masa kecilnya, jadi lebih baik si ibu saja yang berkorban daripada anaknya yang akan dicap sebagai pembunuh. Lebih baik dia sendiri yang menjadi pembunuh. Sarah ingin berusaha menjadi orangtua yang baik, tapi keadaannya yang membuat tindakan yang perlu dilakukan menjadi sedikit melenceng dari orangtua seharusnya.”

“Paling enggak, Sarah adalah orangtua yang lebih baik daripada suaminya. Sarah lebih mikirin anak, sedangkan si suami lebih fokus untuk membuat diri tidak lebih buruk dari ayahnya ya hahaha”

“Namun saya ga tau apakah pada akhirnya ini menjadi ending yang baik. Ga bisa menilai, tapi menurut saya sih karena rasa cinta yang besar pada anak dan keinginan agar si pembunuh tidak memanfaatkan badan anaknya, hanya saja waktunya tidak tepat. Poor Sarah.”

“Nah, kalo soal ending, menurutku jadi kurang memuaskan. Karena kita udah dibangun untuk percaya Sarah akan melakukan apa saja untuk anaknya, jadi masuk akalnya buatku adalah Sarah harus melakukan ‘banting-stir’ yang ekstrim dalam mewujudkan hal tersebut. Aku lebih suka kalo film berakhir dengan Sarah membunuh Miles. Akan lebih dark juga, tidak ada hal yang lebih kelam di dunia selain orangtua yang harus terpaksa membunuh buah hatinya sendiri. Aku percaya film ini mengerti akan hal itu, tapi sepertinya studionya agak takut, jadi kita gak jadi dapat ending itu. Malah diganti sama adegan yang menurutku kebetulan semata, mengurangi intensitas yang sudah dibangun film, meski lebih gak-dark. Mungkin juga produser mengincar kemungkinan sekuel. Tapi aku pikir film ini akan bisa jadi lebih keren kalo endingnya gak seperti yang kita tonton.”

“Daaaamn brooo..!!! asyuuuu~~~ Kalo saya sih, yang paling berkesan adalah Miles. Adegan dimana Miles asli (jiwa sang anak) berusaha melawan untuk tidak diambil alih dan sempat memberikan clue pada si doktor. Juga saat jiwa si pembunuh sudah punya rencana yang matang dan langsung menyatakan rencana briliannya agar si doktor mengatakan bahwa regresi yang dilakukan tidak berhasil.” 

“Setuju, adegan doktor ama Miles itu keren tuh! Akting pemainnya mantep-mantep. Colm Feore yang jadi doktor berhasil meyakinkan tanpa overakting kayak tokoh-tokoh penegah yang biasa. Takutnya ketika diancem itu natural. Taylor Schilling yang jadi Sarah juga dapetlah emosi dramatisnya. Yang jadi Miles, si Jackson Robert Scott, jago juga mainin dua jiwa.”

“Yang paling menarik tentu saja Miles dengan dua jiwa donk.”

“Dua jiwa, mata yang berbeda warna, adegan setengah wajah Miles dalam kostum halloween. Film ini kental sama unsur dualisme; Spiritual dan sains. Innocent dan guilty. Kematian dan kehidupan. Film menghubungkan semua itu dengan konsep reinkarnasi.” 

“Konsep reinkarnasi sudah tampak sedari adegan pertama, adalah di mana momen kematian dan kelahiran memiliki timing yang bersamaan (slightly), sehingga soul atau jiwa yang berpindah tidak dalam masa tunggu tapi langsung punarbawa atau tumimbal. Alias jiwa turun langsung kembali kedunia pada badan kasar yang baru dilahirkan. Konsepnya sudah dilakukan film dengan benar, menurut kepercayaan agama saya. Saya di sini mungkin tidak akan mengutip dari mantra (ayat) di kitab suci, tapi saya jelaskan dengan bahasa saya saja (kalau curious dan mau detail bisa di cari sendiri, atau tanya ke orang dengan kapasitasnya ya hehehe saya cuma bisa kasi penjelasan dasar saja)”

Kelahiran kembali / Reinkarnasi / Punarbawa / Punarbhava (seperti itu kita menyebutnya) merupakan salah satu dari lima dasar keyakinan hindu yang kita percaya (Panca Sradha), mungkin seperti Rukun Iman buat saudara-saudara Muslim seingat saya (tolong dikoreksi, karena saya tidak selalu hadir di pelajaran agama Islam waktu sekolah dulu). Jadi kelahiran kembali ini dikarenakan atma (jiwa) masih membawa karma dari perbuatan (baik/buruk) yang telah dilakukan pada masa lampau. Dan untuk melepas dari reinkarnasi dan mencapai moksa (kebebasan dari ikatan duniawi), dalam kehidupannya seseorang perlu melakukan perbuatan baik, meningkatkan pengendalian diri & spiritual dan melepas dari keinginan keduniawian, sehingga ia terbebas dan kembali kepada pencipta yang menjadi kebahagiaan tertinggi.

 

“Waaah, kalo begitu film ini risetnya cukup detil juga ya sepertinya. Kejadiannya lumayan mendekati kebenaran pada konsep Agama Hindu di dunia nyata. Jangan-jangan footage tentang kasus anak kecil yang punya ingatan di kehidupannya yang dahulu sebagai seorang pilot yang ada di film itu contoh reinkarnasi beneran kali ya.” 

“Saya tidak mengetahui dengan pasti tapi yang saya pernah dengar info bahwa ada seorang anak yang (sepertinya) memiliki ingatan saat kehidupannya yang terdahulu. Dia bisa tahu tempat tinggal bahkan mengingat kerabat dan keluarganya. Saya tidak tahu bagaimana dia punya kenangan dari masa sebelumnya, tapi jika benar; Ya, ini bisa jadi contoh dari reinkarnasi.”

“Menarik sekali. Prodigy ini ternyata memang cukup solid. Trope evil kid yang dimiliki ceritanya bisa membungkus dengan rapi tema tentang ketakutan orangtua, juga ada elemen reinkarnasi yang terkonsep dengan benar sebagai panggung cerita. Kalo mereka berani dari awal sampai akhir, aku akan ngasih lebih tinggi, tapi pilihan ending film ini buatku cukup signifikan ‘mengurangi’ penceritaan secara keseluruhan.”

“Ahaha. Oke kok filmnya. Saya ngasih 7.5 dari 10 kali ya.”

“Aku ngasih 6/10 aja deh. Semoga ke depan ada ‘reinkarnasi’ cerita ini yang lebih berani hhahaha”

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat Ida Bagus Arindra Dirasthya alias Garonk (twitter @gus_arind) udah mau berpartisipasi bahas film ini, membuka mata sekali tentang konsep reinkarnasi. Aku rekomen banget loh film-film yang aku sebut di atas. Siapa tahu dirimu yang tadinya gak suka hantu-hantuan secara umum malah bisa jadi penelaah film horor.

Bagaimana jika kalian nantinya punya anak yang jenius seperti Miles, apakah kalian akan takut? Apakah kalian akan memperlakukannya secara spesial?

 

Buat yang punya film yang benar-benar ingin dibicarakan, silahkan sampaikan saja di komen, usulan film yang menarik nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

Buat yang pengen dengar lebih banyak soal film dan krisis ilmu pengetahuan, bisa simak video Oblounge featuring aktor senior Slamet Rahardjo ini yaa:

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

FIGHTING WITH MY FAMILY Review

“Everyone wants to win”

 

 

 

Enggak, aku bukannya bias karena aku penggemar gulat. Tapi Fighting with My Family yang diproduseri oleh Stephen Merchant bareng The Rock dan WWE Studios ini memang bagus karena nawarin drama keluarga yang beneran menyentuh, dari dunia yang tak semua orang tahu.

 

Pro-wrestling memang masih salah satu media entertainment yang sering diremehkan. Mungkin malah tabu di Indonesia, yang melarang penayangannya semenjak kasus anak kecil meninggal menirukan adegan-adegan smekdon. Maka aku maklum kenapa film tentang kehidupan keluarga pegulat kayak gini enggak ditayangin di bioskop kita. Siapa sih yang masih nonton gulat jaman sekarang? Film actually sangat self-aware. Pertanyaan tersebut beneran digambarkan oleh film ini dalam sebuah adegan kocak ketika keluarga pegulat makan malam bareng keluarga pacar anak mereka. Bahkan di antara sesama penggemar wrestling saja, Fighting with My Family awalnya sempat dinyinyirin. Kenapa malah Paige yang dibikinin biografinya, kenapa bukan Stone Cold, atau Undertaker, John Cena, atau The Rock sekalian?  Aku percaya setiap orang punya cerita, dan setiap cerita pantas untuk difilmkan. Asalkan ceritanya genuine loh ya, bukan cerita hidup dikarang-karang kayak orang yang titisan atau bisa melihat setan. Terlalu cepat? Rasanya tidak juga, karena pengaruh Paige di WWE sendiri cukup besar; dia juara cewek termuda dalam sejarah (umur 21 tahun), dia mencetuskan gerakan Women’s Revolution yang membuat posisi pegulat cewek lebih baik dan lebih signifikan, dia masuk nominasi Unyu op the Year My Dirt Sheet FOUR, dan unfortunately kini Paige sudah menggantung sepatu bootnya; dia tidak bisa bergulat lagi karena cedera yang ia koleksi sebagai efek samping dari bergulat sejak kecil. Itu sebabnya waktu sudah bukan masalah, cerita Paige beserta keluarganya kalo bukan golongan unik, maka aku gak tau lagi makna unik itu seperti apa.

Ketika Paige kecil berantem rebutan remote tv dengan abangnya, ayah mereka bukannya melerai tapi malah mengoreksi pitingan yang mereka lakukan. Keluarga Paige memang hidup dari bisnis gulat, ayahnya adalah legenda lokal di kota mereka di Norwich, Inggris. Begitu pula ibunya; nama asli Paige, Saraya, sebenarnya adalah nama-alias si ibu di dalam ring gulat. Orangtua macam apa hahaha… Keluarga ini mengelola promosi gulat independen, Paige sedari kecil sudah nyemplung ke dalam dunia ini, dan begitulah cintanya terhadap wrestling tumbuh. Paige berlatih gulat bersama abangnya, mereka melatih anak-anak di sekitar sana, mereka melakukan pertunjukan di aula. Paige dan abangnya, Zack, ingin mewujudkan mimpi mereka menjadi pegulat sehebat The Rock. Jadi mereka mendaftar untuk try-out di WWE, perusahaan yang udah kayak hollywood-nya dunia gulat-hiburan. Mereka berhasil terpanggil. Namun hanya Paige seorang yang beneran diterima untuk tampil di acara WWE.

I didn’t realize it back then, tapi sekarang, aku bangga pernah menyaksikan secara live Paige bertanding gulat

 

Hati dan jiwa film ini terletak pada hubungan antara Paige dengan abangnya tersebut. Motivasi mereka sama-sama besar. Film berhasil melandaskan betapa eratnya relasi antara kedua tokoh. Mereka hampir tak terpisahkan. Berlatih bersama. Bertanding bersama. Mereka adalah bebuyutan di dalam ring, namun di belakang panggung, mereka adalah the best of friends. Enggak gampang hidup dengan pekerjaan yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Bagi keluarga Paige, berjuang di atas ring itu sejatinya adalah perjuangan mereka di dunia nyata. Dan hubungan Paige dengan Zack si abang, merefleksikan bagaimana hubungan satu keluarga ini secara utuh. Set-up cerita benar-benar membuat kita terinvest. Keluarga akhirnya menjadi stake cerita; Zack harus menghidupi istri dan anaknya, sebagaimana Paige juga harus sukses untuk membantu keluarganya. Makanya, saat mimpi kedua tokoh ini tidak berjalan sesuai rencana, konflik yang menyusul terasa kuat merasuk ke dalam diri kita yang melihat mulai tercipta kerenggangan di antara mereka. Dan kerenggangan itu terasa lebih jauh dari jarak yang tercipta antara Paige harus pindah ke Amerika, tempat markas WWE, dengan abangnya di Inggris.

Cerita dengan bijaknya tidak sekadar membuat rasa cemburu sebagai api konflik. Malahan, cemburunya terasa sangat kompleks. Bayangkan dua orang yang saling dukung dan bantu karena sama besarnya menginginkan hal yang sama, tapi hanya satu yang bisa mendapatkan. Paige kehilangan semangat juang di pelatihan WWE yang sangat menempa fisik, sementara abangnya melawan kecemburuan tersebut dengan berusaha mempercayai dia tidak terpilih lantaran sang adik lebih baik dari dirinya. Bagi Zack, tentu saja itu sangat pahit. Naskah sukses berat memparalelkan kedua tokoh ini, kita melihat mereka menempuh turunan tajam dalam hidup. Penulisan Paige dan Zack ini adalah contoh yang brilian dari yang disebut KONFLIK NILAI KARAKTER. Menurut John Truby dalam bukunya, The Anatomy of Story, konflik yang menarik itu dapat terjadi dengan cara mengestablish tujuan yang sama untuk dicapai tokoh-tokohnya, tapi buat para tokoh tersebut punya cara atau pandangan yang berbeda untuk mencapainya. Paige dan Zack punya tujuan yang sama; sukses sebagai pro-wrestler, mereka terluka oleh wound yang sama saat mereka terpisah. yang menyebabkan mereka menciptakan ‘kebohongan’ yang berbeda. Menghasilkan konflik yang luar biasa terasa ke hati kita. Paige’s lie – kebenaran palsu yang ia percaya – adalah ia tidak bisa sukses tanpa abangnya. Sedangkan lie-nya Zack adalah dia bukan apa-apa karena tidak mampu keterima di WWE.

These two needs to work things out. Harus saling dibentrokkan supaya mereka melihat di luar kebohongan personal yang mereka ciptakan masing-masing. Dan momen ketika mereka berbenturan di akhir babak kedua itulah yang menjadi momen terhebat dalam film ini. Kita semua tahu gulat itu gak benar-benar memukul lawan. Film menggunakan ini untuk memulai momen benturan antara kedua tokoh. Paige dan Zack bertanding kembali dan apa yang dilakukan Zack akan membuat kita membenci dan sedih melihatnya di saat bersamaan. Permulaan yang sempurna dari penyelesaian yang menyusul kemudian. Aku sungguh-sungguh tak menyangka bakal disuguhin adegan keluarga, kakak-adik, yang begitu heartfelt dalam film tentang pegulat!

Siapapun yang merasa dirinya manusia, pasti pernah menginginkan sesuatu, so intense you think you’d die without it. Sekiranya inilah yang ingin disampaikan oleh sutradara Stephen Merchant. Bahwa semua orang menginginkan hal yang sama dengan kita. Ingin ‘menang’. Namun bukan berarti itu menjadikan dunia sebagai ring kompetisi. Karena seperti dalam gulat, ketika kau kalah, kau membuat orang lain tampak hebat, tidak berarti kau kurang penting. Kita semua adalah pemenang by default, tergantung kita yang menunjukkan seberapa menang kita, bahkan dalam kekalahan.

 

Hal unik lain yang bisa kita dapatkan dari film yang sebenarnya punya formula standar cerita tentang orang yang akhirnya menjadi ‘juara’ adalah kita bisa mendapat pengetahuan yang lebih dalam tentang bagaimana WWE bekerja. Mendengar alasan dari pihak WWE dalam cerita soal kenapa Zack tidak terpilih benar-benar membuat mataku terbuka. Bahwa setiap kita punya peran sesuai dengan siapa diri kita sebenarnya. Film juga berhasil membuat WWE tidak tampak munafik. Cerita tidak mangkir dari kenyataan dari company ini sudah tidak seperti dulu, bahwa mereka tentu saja mementingkan brand-image. Mereka meng-hire sebagian talent memang dari tampang dan lekuk tubuh semata. Namun itu semua punya alasan yang berkaitan dengan tema ‘semua orang ingin menang di perjuangan hidupnya masing-masing’. Dan untuk percaya bahwa perjuangan yang satu lebih tidak penting dari yang lain, adalah hal yang salah kaprah. Paige belajar pelajaran yang sangat berharga ini lewat rekan-rekan seperjuangan yang tadinya ia remehkan.

baru umur 26 dan sudah ada film tentang keberhasilan hidupnya, aku?

 

Dengan pengawasan ketat dari The Rock, skrip film ini berhasil berkembang dengan baik, tanpa mengurangi nilai penulisan dan strukturnya sendiri. Lumayan ada banyak alterasi yang dilakukan oleh naskah terhadap kejadian asli, yang bakal jadi makanan empuk buat nitpick-nitpick penggemar gulat. Tapi aku tidak punya waktu untuk nitpick saat sedang sibuk tertawa-tawa oleh dialog-dialog dan penampilan akting yang kocak sekali. Keluarga Paige lucunya udah keterlaluan. Nick Frost sangat hebat memainkan Ricky Knight, ayah Paige yang lumayan ‘bar-bar’ tapi fair dan sangat menyayangi keluarganya. Saat Frost mengucapkan dialog gulat adalah agama, penyelamat mereka, aku percaya. Sudah seperti Ricky beneran yang mengucapkan. Hampir semua adegan yang ada Ricky, kita akan tertawa. Vince Vaughn juga tampil dalam film ini, sebagai pelatih Paige di WWE. He also funny. Perannya akan sedikit mengingatkan kita saat dia jadi Sersan di Hacksaw Ridge (2016), meski di sini sedikit lebih ‘pg-13’. The Rock porsinya sedikit, tapi cukup mencuri perhatian. Meskipun dia tidak satu frame dengan banyak lawan mainnya, interaksinya dengan tokoh si Vaughn sangat minimal hingga malah tampak awkward, tapi tidak pernah jadi persoalan besar.

Pujianku terutama tertambat kepada Florence Pugh yang berperan sebagai Paige. Umm, ralat, tepatnya sebagai Saraya Knight, karena Paige adalah tokoh yang ‘dimainkan’ Saraya di atas ring WWE, dan film ini lebih tentang personal Saraya yang harus memainkan Paige. Ada banyak emosi yang harus Pugh kenai. Ada elemen fish out of water saat Saraya baru nyampe ke Amerika, dia harus menyesuaikan diri dengan disiplin kerja WWE, juga kehidupan sosial di sana. Pugh actually harus bergulat beneran, yang berarti ada usaha fisik juga. Film beneran merekaulang debut Paige di televisi sebagai final dari perjalanan Saraya. Bagi yang udah tahu sejarahnya, yang menonton pertandingan asli debut Paige melawan AJ Lee di tv, sekuen final film ini mungkin bisa terasa sedikit rush. Kepandaian Paige terasa tercut-cut, tidak begitu dominan. Adegan ini juga bisa tampak sebagai usaha sia-sia mendramatisir pertandingan WWE yang semua juga udah tahu hasilnya sudah ditentukan. Namun kupikir, semua itu adalah pilihan kreatif yang diambil oleh film. Karena sekuen tersebut bukan untuk menunjukkan cara Paige jadi juara mengalahkan AJ Lee, melainkan untuk memperlihatkan Saraya akhirnya berhasil mengalahkan kebohongan personal yang ia percaya, ia membanting demam panggungnya keras-keras, di momen tersebut Saraya sudah percaya dia terpilih untuk memegang sabuk bukan karena abang yang membuat ia jadi terlihat lebih baik.

 

 

Meminjam catchphrasenya The Rock; “It doesn’t matter” apakah kalian penggemar gulat atau tidak. Film ini dibuat untuk setiap orang. Karena kita adalah tokoh utama dalam cerita hidup masing-masing. Kita punya keinginan. Kita harus belajar memahami apa yang kita butuhkan untuk mencapai keinginan tersebut. Dan also, kita juga punya keluarga. Film yang berdasarkan dokumenter keluarga Knight The Wrestlers: Fighting with My Family (2012) ini memang tidak spesial dari segi arahan, ini adalah film crowdpleaser dengan formula yang sama kayak film-film tinju ataupun film tentang kompetisi. Tapi penampilan dan naskahnya tergarap dengan luar biasa baik. It is really inspiring. Drama keluarga dan konflik-konfliknya akan sangat menyentuh. Dan siapa tahu, kalian jadi tertarik sama dunia gulat setelah nonton film ini. Karena seperti yang selalu kubilang pada ulasan-ulasan kategori wrestling, gulat itu sama aja kayak film. Hanya pake spandeks.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for FIGHTING WITH MY FAMILY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana pendapat kalian tentang gulat? Apakah kalian setuju dengan perkataan film ini bahwa manusia ada yang tercipta sebagai bintang, ada yang tidak, dan tidak seharusnya kita berjuang meninggalkan bagian kita?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.