GHOST IN THE SHELL Review

“Eyes are the window to the soul”

 

 

Film adaptasi dari anime — yang actually saduran dari manga klasik – ini punya beban yang berat bertengger di pundaknya. Elemen filosofis dan pencapaian teknikal membuat versi originalnya yang keluar tahun 1995 dinobatkan sebagai salah satu anime terbaik yang pernah dibuat. Banyak film-film sci-fi yang membahas tentang artificial intelligence dan sebagainya openly admit dipengaruhi oleh elemen dalam cerita Ghost in the Shell. Jadi, garapan Rupert Sanders ini bener-bener has a lot to live up to. Sehingga sampai detik pantatku mendarat mulus di kursi bioskop, aku masih terombang-ambing antara gembira dan ragu-ragu. But mostly aku takut, lantaran aku gak mau Hollywood merusaknya sehingga ini menjadi Dragon Ball kedua. Dan serius, jika kalian mengaku penggemar sinema, hobi nonton film, dan peduli sama film yang bagus, sempatkanlah buat menonton anime Ghost in the Shell; for the film is so influential, aku tersinggung ketika tadi di bioskop ada ignoramus yang nyeletuk “niru Matrix, ya.”

Dunia dalam film ini sudah begitu modern, sampai-sampai teknologi dan manusia sudah nyaris menjadi satu. Tren masyarakatnya adalah masang hologram gede sebagai cara iklan, nyambungin diri ke net yang bahkan lebih canggih dari internet yang kita punya, dan memodifikasi sebagian tubuh – atau malah seluruhnya – dengan bagian robot. Tokoh utama kita, Mira Killian, adalah Mayor di pasukan elit Section 9 yang khusus menangani kasus kriminal, terutama kriminal siber yang sedang berkembang dengan pesat. Diciptakan sebagai ‘weapon’, Mira tidak punya unsur tanah di tubuhnya. Dia diberitahu bahwa dia adalah yang pertama dari progam penginstallan kesadaran manusia yang disebut ghost ke dalam tubuh-tubuh buatan yang istilahnya adalah shell. Namun apakah setiap yang punya ghost diyakini sebagai manusia? Mira mengenali kenangan di dalam dirinya. Dan sembari berusaha menangkap teroris siber berinisial Kuze yang menimbulkan kekacauan dengan ngehack ghost robot dan orang-orang, Mira sets out buat mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

Ghost in the Shell termasuk jejeran film yang membuat kita mempertanyakan tentang eksistensi, tentang kesadaran,tentang apa yang membuat manusia itu ‘manusia’. Apa yang memisahkan kemanusiaan dengan teknologi? Apa yang terjadi jika keduanya bersatu? Apakah sesuatu yang diciptakan bisa menyebut dirinya sebagai manusia karena dia punya kesadaran? Dan bagaimana dengan kenangan, apakah kemampuan mengingat kenangan adalah bagian dari kesadaran? Well, ada banyak benda-benda yang bisa menyimpan kenangan, dan mereka enggak hidup. Apakah Major Mira Killian termasuk salah satu di antara benda-benda tersebut.

 

 

Sebagai adaptasi live-action, film ini sukses mengemban predikatnya. Dia tetap setia dengan versi orisinil. It has the same formula, dengan beberapa penambahan yang signifikan pada beberapa elemennya. Jadi, yaah, kupikir aku akan berusaha mengulas film ini sebagai sebuah cerita yang berdiri sendiri, aku akan coba untuk enggak nyangkut pautin dengan film buatan Mamoru Oshii.

Peningkatan yang pertama kali langsung bisa kita rasakan adalah pada visualnya. Film ini sangat GLORIOUS OLEH PENAMPAKAN EFEK-EFEK VISUAL. Adegan ‘pembuatan’ shell Major bener-bener indah sekaligus surreal dengan bentrokan warna merah disusul putih. Kota masa depan tempat mereka tinggal terlihat meriah. Desain kotanya yang semarak oleh teknologi mentereng mencerminkan kebutuhan manusia untuk tampil ‘mengkilap’, seperti yang dijadikan tema cerita. Sehingga kita bakal mengharapkan ada sedikit saja jejak kemanusiaan dari penghuninya. Ketika itu beneran kejadian, ketika tokoh setengah robot kita ngelakuin hal sesederhana memberi makan anjing jalanan, ataupun pergi berenang tengah malem, kita bakal ngerasain hentakan euphoria tanda cerita berhasil mengenai saraf berpikir kita.

Scoringnya juga sukses bikin film terasa dark dan bikin uneasy.
Ghost in the Shell menyuguhkan beberapa sekuen aksi tembak-tembakan yang seru. Robot geisha itu creepy banget. Pertempuran melawan robot laba-laba bakal menghujani kita dengan peluru-peluru emosional. Sekuen aksi yang paling captivating adalah ketika Major menyimpan senjata apinya, membuka mantel, mengaktifkan kamuflase optik, dan mulai menghajar orang yang dikendalikan oleh Kuze. Adegan berantem ini difilmkan dengan menarik; lokasinya, koreografinya, kerja kameranya, semuanya terlihat mulus dan engaging. Dengan pace yang cepet, porsi aksi lumayan mendominasi film ini as kita dibawa dari konfrontasi satu dengan konfrontasi lain. Dan di antara aksi-aksi tersebut kita akan dibawa melihat Mira lebih dekat sebagai seorang karakter, kita akan ngikutin inner journeynya, kita akan melihatnya berinteraksi dengan tim serta partnernya, Batou. Kita akan melihatnya membuka misteri di balik Kuze dan belajar apa faedah dia ada di dunia, entah sebagai robot atau manusia.

“doakan saya yaaa”

 

Masalahnya adalah, segala kelebihan yang kutulis di atas (selain robot geisha yang sepertinya bakal hadir di mimpi burukku malam ini) actually berasal dari elemen orisinil yang dimasukkan kembali ke dalam versi live-action ini. Film ini just recreating them all seperti yang dilakukan oleh Beauty and the Beast (2017) terhadap animasi klasiknya. It’s a great job, aku tepuk tangan karena mereka berhasil melakukannya dengan baik. Namun tidak seperti Beauty and the Beast, penambahan elemen yang dilakukan oleh Ghost in the Shell actually terasa ngedeteriorating eksistensi ceritanya secara keseluruhan. Sebagaimana kita sudah setuju untuk menghormati film ini sebagai unit yang berdiri sendiri, I have to point out beberapa poin dan elemen baru di dalamnya yang enggak benar-benar bekerja dengan baik. Dan yea, aku harus melakukan beberapa perbandingan untuk mempertegas poinku.

Enggak semua sekuen aksi benar-benar berbobot. Misalnya pada bagian di klub, kebanyakan memang terasa sebagai filler buat manjang-manjangin waktu. Karena adegan tersebut pun tidak digunakan untuk ngeflesh out karakter-karakter sampingan. Anggota tim Major tidak mendapat sorotan yang berarti. Malahan ada satu tokoh, pada cerita original dibuat ‘penting’ bagi Major karena dia satu-satunya yang masih seratus persen manusia, namun di film ini trait tersebut hanya disebut sepintas sahaja.

Major lah yang mendapat permak backstory yang signifikan. Dia bisa mengingat sedikit hal dari kehidupannya saat masih manusia. Major clearly galau mengenai, bukan identitas, melainkan ‘apa’ dirinya. Tapi penulisan karakternya di sini terlihat cengeng, I mean, dia come off lebih sebagai manusia yang enggak mau dipanggil seorang robot. Dia meminta belas kasihan kita. Scarlett Johansson adalah ‘shell’ yang tepat untuk tokoh ini. Penampakan wujudnya mirip banget sama yang anime. Namun, ‘ghost’ karakternya agak enggak klop. Cara berjalannya enggak pernah tampak natural, kayak dibuat-dibuat, walaupun memang enggak ada masalah dalam adegan aksi. Ketika, katakanlah, momen berkontemplasi, pembawaan Scarlett membuat Major tidak seperti robot dengan perasaan; dia terlihat seperti manusia yang menyembunyikan perasaan. Dalam versi anime, karakter ini diarahkan sehingga kita merasa terdiskonek dengannya; Major malah tidak berkedip, tapi dari gambaran ekspresi dan visual storytelling kita bisa memahami apa yang ia rasakan, kita bisa rasakan betapa intriguednya Major kepada setiap aktivitas manusia. Dalam film ini, tidak ada arahan supaya Scarlett enggak ngedip, perasaan Major terlampiaskan semua lewat kata-kata yang ia lontarkan, tanpa pernah terasa dalem dan filosofis.

Identitas mereferensikan aku, atau saya. Di mana otak mengenalinya sebagai ‘diri’. Tapi apakah sebenarnya aku itu? Apakah personality? Apakah aku adalah perasaan – apakah aku adalah jiwa? Well, orang bilang mata adalah jendela jiwa. Ada alasannya kenapa Major di sini memiliki mata yang hidup, tidak seperti pada versi anime.

 

 

Dosa terbesar yang menyebabkan FILM INI DANGKAL ADALAH KARENA DIA MEMBERIKAN JAWABAN. Baik itu jawaban terhadap apa yang terjadi; bahkan tulisan pembuka di awal memaparkan secara gamblang, tidak seperti opening teks di versi anime yang lebih kiasan. Maupun jawaban terhadap pertanyaan filosofis yang diajukan oleh tema ceritanya. Ini membuat Major menjadi karakter generik, kita bisa melihat ke arah mana arcnya berlabuh. Jadi gampang melihat apa yang terjadi selanjutnya. Setelah Major ketemu Kuze, film menjadi biasa saja dan kehilangan semua hal yang engaging. Ini berubah menjadi ‘kebaikan’ melawan ‘kejahatan’. Kuze, meskipun keren, tidak pernah menggugah kita dengan pertanyaan apa yang membuat manusia itu ‘manusia’. Kita sudah sering melihat elemen ‘melawan sang pencipta’ dan ‘menciptakan dunia sendiri’ sebelumnya. Major menjadi seperti Alice di Resident Evil. Padahal jika dibiarkan terbuka tanpa-jawaban, maka tentu cerita akan menjadi lebih menantang, membuat kita merasakan euphoria memikirkan jawaban, seperti yang sudah dibuktikan oleh film orisinilnya.

Apakah robot ada gendernya hanya karena dibuat menyerupai cowok atau cewek?

 

 

They go with a different goal this time, yang mana masih bisa kita apresiasi. Para fans lama pun mestinya bisa dibuat menggelinjang dengan revelation di akhir cerita yang mengambil referensi kepada cerita anime. But I think they should’ve not tampering too much with the formula. Ini adalah film full-action dengan kontemplasi dan nostalgia saling berbagi ruang di antaranya. Bahkan meniliknya sebagai film yang berdiri sendiri pun, penilaianku tetap sama. Sukurnya enggak separah, malahan jauh lebih bagus daripada Dragon Ball Evolution sih. Meski begitu, film harusnya bisa menjadi lebih berbobot lagi. Tidak banyak karakter dengan penampilan yang memorable. Dan lagi, sulit untuk tidak membandingkan karena hal yang bagus dari film ini adalah hal-hal yang sudah pernah kita lihat pada film tahun 1995. Mereka seperti memindahkan ghost cerita ke dalam shell yang lebih mentereng belaka. Dengan banyak hal bagus dan filosofis yang tertinggal saat proses perpindahan tersebut.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for GHOST IN THE SHELL.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE DEVIL’S CANDY Review

“Art is the concrete representation of our most subtle feelings”

 

 

Jangan melukis makhluk hidup, nanti bisa jadi tempat tinggal setan. Pak Ustadz di surau dulu bilangnya gitu. Jangan keras-keras dengerin musik, apalagi yang teriak-teriak, gak enak di denger. Mama biasanya ngomel dari dapur kalo aku udah mulai nyetel Marilyn Manson di kamar. Dan biasanya Papa nimbrung nimpalin; Nyanyi kok kayak kesetanan! Musik, terutama rock, dan lukisan memang lumrah dipandang sebagai tindakan dunia hitam oleh kacamata reliji. But we all did them anyway, dasar manusia pendosa semua ahahaha. The Devil’s Candy bahkan ngepush image ‘negatif’ dari aliran seni tersebut lebih jauh lagi ke dalam pusaran yang membingungkan. Horor ini mencoba untuk lebih dekat dengan orangtua sebagai kaum yang paling menentang rock abis-abisan, sekaligus membawa dirinya menjadi suatu cerita tentang ketakukan terbesar setiap orangtua di dunia; mampukah kita melindungi anak-anak kita.

A struggling painter baru saja pindah ke rumah baru bersama istri dan putrinya yang udah beranjak remaja. Keluarga kecil yang akrab ini keliatan cool banget; Jesse tampilannya udah nyeni banget dengan rambut panjang, jenggot lebat, dan tatoan. Anaknya, Zooey, juga kompakan demen musik rock, dia pengen punya gitar Flying V Gibson dan menutup setiap gambar beruang teddy pada wallpaper kamar barunya dengan poster Metallica, Pantera, dan  other rock bands sangar. Keliatan paling ‘normal’ adalah Astrid, istri Jesse, yang dari matanya terpancar cinta dan dukungan penuh buat keluarga. Diawali dengan mendengar bisikan aneh, Jesse mulai ‘ngaco’. Lukisannya pun berubah drastis. Dari yang tadinya indah bergambar kupu-kupu, lukisan Jesse kini menampilkan wajah anak-anak yang sedang menjerit berlatar belakang api dan makhluk aneh. Jesse enggak tau apa yang terjadi, dia lupa waktu setiap kali masuk ke studio lukisnya. Dan sementara itu semua terjadi, di luar rumah mereka berkeliaran seorang ‘gila’ yang membunuhi penduduk dengan batu.

Proses kreatif berkembang dari pengalaman sehari-hari. Apa yang kita rasakan, yang kita alami, bakal menjadi inspirasi suatu perbuatan seni yang kita lakukan. Makanya ada yang bilang kalo arts imitate life. Yang kita buat secara jujur pasti merefleksikan our inner self, baik itu sadar atau enggak. Dalam film ini kita melihat Jesse tanpa sadar melukis hal-hal mengerikan – termasuk lukisan Zooey dalam keadaan bahaya – yang mungkin saja adalah pengaruh dari ‘kekuatan tidak tampak’ yang mengendalikan dirinya. Namun ini semua dapat diintegralkan dengan bawah sadar Jesse, bahwa mungkin saja lukisan tersebut adalah tindak bawah-sadar yang mencerminkan perjuangan Jesse untuk menjembatani antara imajinasi dengan tanggung jawabnya sebagai ayah. Antara obsesi dan passion, Jesse berada di tengah-tengah posesi.

 

 

Pernahkah kalian ngerasa begitu sukanya sama sesuatu, sampai-sampai kalian enggak sabar untuk nyeritain ke teman atau siapapun karena kalian hanya ingin membagi hal yang sudah bikin kalian sangat excited? Itulah yang aku rasakan saat nonton film ini. Baru mulai lima-belasan menit aja aku udah menggelinjang pengen segera ngereview. Tahun lalu kita dapet The Invitation, dan tahun ini scene indie kembali mempersembahkan kepada kita semua tontonan horor yang luar biasa lewat The Devil’s Candy.

Adegan pembuka film ini akan membuat kita terpaku, dan yang bertanggungjawab untuk hal tersebut adalah orang ini: Pruitt Taylor Vince. Aktor yang fantastis meski memang sepertinya dia selalu dapet peran-peran ‘psychotic’ kayak gini. Aku sangat tertarik melihat karakternya, dia memainkan gitar listrik sekeras-kerasnya demi menenggelamkan suara bisikan setan. This is very conflicted, serius, dia membuat musik rock sebagai semacam pertahanan untuk berlindung di balik setan yang terkutuk, padahal aku taunya rock justru mengundang setan. Tokoh yang dimainkan Pruitt adalah orang yang amat sangat gila, keberadaannya sendiri sudah sukses berat bikin seantero film jadi unsettling. Ngeliat dia ngunyah permen di dalam mobilnya aja udah cukup buat kita meringis dan nebak bakal ada darah tak-berdosa yang tumpah.

Kita bakal bergidik ngeri, deh, setiap kali dia berjalan masuk ke layar.

 

Tentu saja kerja editing yang sangat excellent turut andil dalam menghadirkan sensasi kengerian tiada tara tersebut. Sutradara Sean Byrne punya cara ngecut adegan-adegan dan menjalinnya kembali sehingga tercipta efek kebingungan, kealpaan, yang turut serta kita rasakan. Kita jadi mengerti perasaan heran Jesse ketika sadar hari mendadak sudah malam. Quick cut antara momen Jesse melukis dengan momen si gila yang melakukan ‘kerjaan’nya di tempat lain adalah momen favoritku di film ini. Adegan-adegan film tersusun menguarkan kesan kesurupan yang kuat. Sinematografinya pun kompeten dan tampak dangerously beautiful. Pencahayaan yang really creepy; perhatikan adegan siluet Jesse dan istrinya kebingungan di depan lukisan mengerikan buatan Jesse; pemandangan adegan yang cantik namun hiiii!!! Posisi para tokoh, entah itu mereka ada di depan maupun berdiri sebagai background, sangat diperhatikan, bukan hanya bermakna namun juga menghasilkan imagery yang bakalan jadi bahan bakar mimpi buruk kita. Tentu saja ada kekerasan dan darah, film ini menunjukkannya dengan waktu yang sangat precise, long dan close enough buat kita menyipitkan mata dan berteriak panjang.

Untuk menjadi horor yang baik, tidak perlu melulu soal hantu, monster, ataupun alien. Sean Byrne paham bahwa beberapa film horor terbaik justru adalah cerita yang menfokuskan kepada PENGGALIAN TRAUMA PSIKOLOGIS dari karakternya. Trauma yang sangat mendasar dari manusia diambil untuk kemudian diperkuat dengan elemen-elemen mengerikan. The Devil’s Candy, pada permukaannya, adalah tentang setan yang membisiki manusia, menyuruhnya melakukan hal-hal mengerikan. Tentang ‘rumah hantu’ di mana pernah terjadi suatu tragedi dan sekarang penghuninya melukis wajah-wajah mengerikan dan dia tidak tahu kenapa. Pada saat bersamaan, ini juga adalah sebuah cerita dengan banyak drama keluarga. Jesse yang ‘kesurupan’ menjadi lupa daratan, sibuk dengan lukisannya, sehingga dia melupakan tanggungjawabnya sebagai seorang ayah. Membuat anak dan istrinya merasa teracuhkan.

Ketika kita melihatnya seperti demikian, The Devil’s Candy terasa mirip dengan horor klasik dari Stanley Kubrick, The Shining (1980). Sebagian besar durasi film tersebut dihabiskan buat mengeksplorasi psikologis tokohnya Jack Nicholson yang begitu fokus kerja, lalu ultimately horor dimulai ketika dia mengambil kapak dan memburu anak dan istrinya. Jesse, dalam kasus film indie ini, adalah pelukis yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, kemudian ada kekuatan tak-kasat mata yang membuat Jesse hilang kendali dan melupakan keluarganya. Kedua film sama-sama tentang ayah yang tanpa sadar neglecting keluarga. Namun, keduanya diceritakan lewat cara yang berbeda, dengan perspektif yang juga berbeda. So I’m fine with it, lagipula memang beginilah seharusnya formula film horor yang baik.

Hal paling menyeramkan dari film horor tidak semestinya berupa sosok hantu pucat, monster berdarah-darah, ataupun makhluk-makhluk aneh lainnya. Takut bukanlah fakta, melainkan perasaan. Dan perasaan ketika ada sesuatu yang mengendalikan kita sampai-sampai membuat kita melupakan keluarga dan orang-orang tersayang, adalah perasaan yang genuinely menakutkan dan kita semua bisa relate kepada perasaan tersebut.

 

Ethan Embry juga sepantasnya dapat tepuk tangan yang bergemuruh. He’s really sold the third act. Dia kelihatan sangat agresif ketika memainkan Jesse yang melukis dengan ‘berapi-api’ dan gak sadar keadaan sekitar. Ada momen ketika film ini menjadikannya simbol due to his appearance. Pendekatan yang Ethan lakukan begitu Jesse mulai terpengaruh oleh ‘bisikan’, kadang dia melukis hanya mengenakan celana dalam, sungguh-sungguh menakutkan. Dan dia mampu memainkan kontrasnya peran ketika Jesse harus duduk, dengan gentle, meminta maaf kepada Zooey saat dia terlambat menjemput ke sekolah.

heeeeeeeree’s Jesse!

 

 

Berhubung ini adalah film independen, maka kita bisa lihat sendiri film ini enggak punya budget yang gede-gede amat. Namun sebisa mungkin film ini membuat adegan yang terbaik. Sepuluh menit terakhir, set ‘pertempuran final’ yang mana mereka ingin membuatnya terlihat seperti neraka, I guess, sebenarnya terlihat sedikit menggelikan, bisa jadi cover album rock band tuh haha.. Tapi ini adalah jenis menggelikan yang bisa kita apresiasi dan hormati. Kayak konyolnya serial Twin Peaks lah. Aku juga merasa film ini, delapan-puluh-menitan itu bukan terlalu singkat, tapi mungkin bisa ditambah lima belas atau dua puluh menit lagi buat pembangunan karakter keluarga Jesse. Tokoh Zooey dan Astrid sebenarnya cukup menarik, diperankan dengan lebih dari oke respectively oleh young-and -promising Kiara Glasco dan Shiri Appleby yang mukanya ngademin. Aku bersorak keras saat Zooey dengan kreatif-di bawah-tekanan nunjukin trik melarikan diri nyaingin Houdini. Hanya saja memang mereka butuh diberikan sedikit bobot lagi sehingga kita bisa bener-bener ngerasain ketika keadaan berubah menjadi malapetaka bagi mereka.

 

 

 

Horor yang benar-benar ngena ke sisi psikologis manusia adalah horor yang baik. Film ini mengerti hal tersebut, dan dengan iramanya sendiri yang cepet dan keras berhasil menjalin merahnya cat, darah, dan api sehingga menghasilkan sebuah tontonan yang absolutely terrifying. Diisi dengan penampilan yang semuanya fantastis. Arahan dan editing yang juga sama kuatnya. Film ini layaknya karya seni yang berasal dari neraka personal seorang ayah yang struggling dengan pekerjaannya, dia bahkan enggak yakin apa yang mengendalikannya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for THE DEVIL’S CANDY.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

20TH CENTURY WOMEN Review

“Be the role model you needed when you were younger”

 

 

Sebenarnya bukan gagasan tok yang membuat suatu cerita, suatu film, terasa spesial. Jika kita menilai film berdasarkan konsep abstrak yang jadi idenya saja, maka film kayak Resident Evil: The Final Chapter (2017) bisa jadi film yang bagus – lewat Alice film ini bicara tentang manusia harus come in terms soal kenapa dirinya diciptakan – Tetapi kan enggak, nyatanya Resident Evil adalah salah satu film terburuk 2017 sejauh ini. Tentu saja, kita butuh perspektif yang kuat dalam bercerita. Dan film adalah salah satu bentuk penceritaan. Mengutip kata-kata Roger Ebert, yang terpenting dalam bagi sebuah film adalah bukan tentang apa, melainkan bagaimana film tersebut menceritakan hal yang dijadikan gagasan. Bagaimana konteks yang membangun film tersebut tersusun. Dan 20th Century Women adalah FILM YANG BEGITU KAYA OLEH PERSPEKTIF.

Bayangkan sebuah segitiga spektrum seperti yang sering kita lihat di buku IPA yang membahas pembiasan optik; gagasan dan sudut pandang sutradara Mike Mills, tentang pengalaman ibunya yang membesarkan anak seorang diri adalah cahaya putih yang dimasukkan ke dalam film – yang bertindak sebagai segitiga – dan sebagai outputnya, satu ‘cahaya’ tersebut terpendar ke dalam perspektif-perspektif unik (but real) para tokoh film, dan cahaya-cahaya sudut pandang itulah yang membuat 20th Century Women sangat mencolok dan kaya.

 

Dorothea sudah kepala empat ketika melahirkan putra tunggalnya, Jamie. Suaminya telah tiada, Dorothea membesarkan Jamie seorang diri di bawah naungan atap rumah yang beberapa kamarnya beliau sewakan. Hidup mereka ramah, hangat, akrab. Namun 1979 datang, ini adalah kala di mana terjadi perubahan besar di Santa Barbara. Reagan ancang-ancang memulai rezim menggantikan Carter. Remaja mulai kenal rokok dan musik Punk. Jamie sudah 15 tahun sementara Dorothea pun tidak bisa untuk bertambah lebih muda. Serta merta lingkungan mulai memberikan pengaruh kepada ibu dan anak tersebut. Khawatir tidak bisa ‘menyentuh’ seluruh sisi kehidupan Jamie, Dorothie lantas meminta tolong kepada kedua penghuni kosnya; mahasiswi lulusan kesenian Abbie dan hippie tukang furnitur William, juga kepada cewek sahabat Jamie dari kecil, Julie, untuk membantunya dalam ‘membesarkan’ Jamie, membantu remaja ini melewati fase hidup yang complicated.

Anak-anak, jangan main Pass Out Challenge di rumah. Dan di sekolah. Dan di mana saja.

 

 

Dialog, dialog, dan dialog. Ada sih, intermezo kayak mobil terbakar, orang pukul-pukulan, mobil ngebut, tapi highlight film ini adalah saat para tokoh berbincang-bincang. Jamie ngobrol sama Julie. Abbie curhat ke Dorothea. Jamie berantem sama Dorothea. Ini adalah jenis film yang akan membuat kita ingin menekan tombol pause setiap beberapa menit sekali, dan nyatetin setiap percakapan yang muncul di antara mereka. Beberapa terdengar witty, seperti kalimat yang diucapkan Dorothea, yang kurang lebih kalo kita mencet tombol subtitle akan menjadi; “Mempertanyakan apakah kita bahagia sesungguhnya adalah jalan pintas yang bagus menuju depresi”. Tak jarang memang seluruh percakapan mereka terasa lucu. Ketika Jamie menjawab pertanyaan ibunya mengenai sebab dia berkelahi di taman, misalnya. The whole situation was just awkward. Film ini benar-benar menangkap kontrasnya dua generasi, dua sudut pandang. Film akan mendudukkan dua hal berbeda tersebut, dan mereka akan ngobrol tentangnya, saling mengeluarkan pendapat, sementara kita akan turut berada di sana; tidak pernah sebagai hakim, hanya sebagai saksi yang melihat struggle manusia untuk bisa saling mengerti dan mengisi, usaha untuk mengekspresikan diri, saling menjaga, meski terkadang memang cinta itu menimbulkan luka.

Komunikasi di antara para tokoh penuh oleh sudut pandang, unik, dan menginspirasi. Terutama adalah mereka tetap terasa nyata. Mengangkat begitu banyak perspektif lewat dialog sama gampangnya dengan balapan sama mobil dengan naik skateboard. Karakter-karakter dengan pandangan ‘beda’ tersebut bisa dengan mudah jatoh ke dalam kategori annoying dan sok-ngerasa-paling-bener. Tapi di sini enggak. Jamie, Dorothea, Julie, Abbie, William, semuanya kerasa real dan akrab. Aneh, iya, tapi kita ingin mengerti mereka. Cara film memperkenalkan mereka lewat voice-over narration dan tulisan di layar yang mencakup bahkan tahun lahir mereka, sangat membantu sehingga kita bisa melihat ‘darimana mereka berasal’. Membantu kita memahami konsep dan konteks para tokoh, gagasan dan perspektif mereka. Aku jadi pengen masuk ke layar dan menarik kursi, duduk ngobrol di meja makan bareng mereka. Aku ingin ikut si Julie manjat masuk ke dalam kamar Jamie, dan berbaring di sana, ngomongin soal kehidupan sambil menengadah menatap langit-langit yang berlumut. Aku ingin ikutan nari bareng Abbie kemudian membantu dia menjepret barangnya sehari-hari, all of that while we’re talking heart-to-heart.

Itu semua berkat penampilan akting yang begitu luar biasa. Mike Mills dan tim penulisnya membangun pondasi penokohan yang excellent, dan para aktor memanfaatkan dengan fantastis ruang yang diberikan buat menghidupkan peran-peran yang dewasa lagi berbeda tersebut. Lucas Jade Zumaan berada di tengah-tengah lingkungan yang confusing; sebagai Jamie dia berusaha ngertiin ibunya yang ngerasa diri sudah terlalu jauh ‘di depan’ she can’t go back entirely, dia berusaha memahami sobatnya, also a possible love interest, yang hanya mau mereka sebagai teman, dia berusaha ada di sana buat Abbie (Greta Gerwig is really great membuat kita pengen punya ‘big sis’ kayak dia) yang didaulat enggak bisa punya anak karena rahimnya ‘enggak kompeten’. Dan Lucas pulls it all off; ketika dia berkata dia ingin menjadi pria baik kita tahu bahwa dia bersungguh-sungguh mengatakannya.

Setelah penampilan fenomenalnya mencuri perhatian di Live by Night (2017), Elle Fanning kembali tampil mempesona sebagai cewek remaja yang enggak-bahagia yang menyebut dirinya sebagai ‘self-destruct’. Perannya adalah yang paling kompleks. Melihatnya ‘diusir’ enggak boleh lagi ke kamar Jamie jika hanya mau numpang tidur adalah salah satu momen yang bikin kita meringis karena ada begitu banyak emosi bentrok di sana dari kedua belah pihak. Tahun ini bisa jadi adalah tahun emas buat Elle, karena betapa piawai pendekatannya memainkan sosok yang berbeda; kita udah melihat dia di dua film, and yet we also don’t see her in those two.

elu friendzonin anak gue yeee

 

Pun begitu, ujung tombak film ini adalah Annete Bening yang glorious sekali memainkan Dorothea. Apa yang karakternya alami, integral banget dengan isi pidato presiden James Carter; Crisis of Confidence. Ibu ini mencemaskan seiring waktu dia bakal kehilangan purpose sebagai ibu Jamie. Hidupnya pun akan menjadi meaningless. Dorothea tumbuh saat perang dunia berlangsung, dia belajar militer, dan by the time dia selesai perang juga sudah usai. Menyenangkan, dan terkadang heartwrenching, melihat Dorothea berusaha tampil sebagai ibu yang asik, you know, ada adegan dia dipanggil ke sekolah Jamie lantaran kasus pemalsuan tanda tangan, dan dia malah memuji keterampilan anaknya alih-alih memarahi. Atau ketika dia enggak ngerti musik punk bagusnya di mana, dan kemudian dia diam-diam mencoba menari ngikutin irama ketika anaknya enggak ada di rumah. Ini adalah karakter bebas yang punya aturan sendiri; Dorothea ngerokok dengan alasan pada jamannya rokok adalah mode dan itu bukan berarti dia setuju ngeliat cewek remaja kayak Julie ngerokok. Bening’s portrayal terhadap tokoh ini membuat kita menyadari rumitnya peran seorang ibu.

Ada sense of kehilangan dalam film ini. I mean, ada rasa di mana ada sesuatu yang sudah terlewat dan enggak bisa kembali lagi. Ini adalah cerita tentang menyongsong waktu; Jamie yang sudah akan dewasa. Dorothea yang sudah semakin menua. Pergantian jaman. Seperti yang digambarkan oleh film ini melalui adegan mobil dengan efek visual cahaya yang berpendar warna-warni; Hidup bergerak dengan cepat. Kadang yang kita punya hanya kenangan, dan kita harus memegangnya erat-erat. Karena suatu hari kita akan jadi role model, dan yang kita perlukan untuk itu adalah menjadi sosok yang kita butuhkan saat kita masih muda. Sebagaimana Jamie, dan to an extent, Mike Mills sendiri, memeluk kenangannya dan membagi cerita dengan kita.

 

 

20th Century Women adalah KENANGAN Jamie. Dan ini dipertegas oleh treatmen kamera dan narasi yang menggunakan teknik voice-over yang sebagian besar disuarakan oleh Jamie, di mana ia terdengar seperti mengenang semuanya. Kita melihat semua kejadian masalalu dari perspektif masakini Jamie. Kita juga dikasih tahu gimana nasib para tokoh di akhir cerita, yang mana menandakan film ini sebenarnya masih punya plot. Pun masih ada struktur narrative yang dipatuhi. Namun memang film ini tampil seperti terbagi menjadi beberapa sketsa kejadian. Kita enggak tahu persis apa yang bakal terjadi, semua kelihatan seolah terjadi random, just like real life. Just like a real memory. Kejadian-kejadiannya lebih seperti dibangun berdasarkan anekdot-anekdot lepas soal hubungan antara cewek dengan cowok, soal anak dan ibu, feminism dan maskulin, dan semacamnya, alih-alih terbuild-up menjadi sesuatu adegan gede. Tapinya lagi, hal tersebut enggak serta merta menjadi cela buat film ini. Ceritanya yang episodic menegaskan kepentingan bahwa hidup tidak terencana. Dan semuanya itu terintegral manis dengan, katakanlah ‘gimmick’, bahwa film ini adalah cerita tentang Jamie yang mengenang semua kejadian.

 

 

 

Ditulis dengan matang, film ini akan ngingetin kita betapa singkatnya waktu yang kita punya di dunia. Lebih kepada soal memilih suri teladan dalam hidup, film ini menegur kita untuk menghabiskan hidup dengan orang-orang yang kita cintai dan peduli kepada kita saja. Karena kalo ada yang tetep di dunia, maka itu adalah cinta. Penampilan akting pada film ini semuanya hebat, menghasilkan sebuah sajian penuh kata-kata yang tidak akan terasa sumpek oleh ceramah. Menonton film ini kita seakan dipelototi oleh beragam sudut pandang yang sangat menarik, eksentrik kalo boleh dibilang. Akan ada banyak quotes tentang pilihan hidup buat kita kutip, due to being philosophical, atau karena kocak. Hidup itu aneh. Kadang kita mengurus, dan tak tahu kapan ketika giliran kita yang diurus. Orang-orangnya ribet. Kita tidak akan tahu apa yang bakal terjadi. Film cantik ini memotret kenyataan tersebut lewat kehidupan sekelompok orang yang tinggal bersama, mesti bertengkar namun begitu eratnya sehingga menjadi kenangan yang indah.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for 20TH CENTURY WOMEN.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

LIFE Review

“… the only form of life we have created so far is purely destructive.”

 

 

Jake Gyllenhaal di luar angkasa? C’mon gimana aku bisa bilang “tidak” kepada film ini!

Jadi ceritanya, Jake bersama Deadpool dan empat astronot lain harus stay di orbit buat mengawasi misi Mars Pilgrim 7; mencari sampel kehidupan di Planet Merah. Keenam kru harus menjemput dan memastikan spesimen organis dari planet Mars itu bisa nyampe Bumi dengan selamat, karena tentu saja itu merupakan penemuan yang sangat luar biasa. Dibawalah organisme tersebut ke stasiun luar angkasa mereka, diteliti, dirawat baik-baik. Enggak ada yang curiga dong, ketika alien imut tersebut mulai bergerak. Jake dan teman-teman malah girang, begitu juga orang-orang di Bumi. Si alien diberi nama Calvin. Namun, apa yang tadinya hanya satu sel dengan cepat berkembang menjadi susunan jaringan otot, otak, dan indera. Dan horor! Sekarang misi enam manusia itu berputar 180 derajat menjadi menjauhkan makhluk cerdas, highly adaptable, dan berbahaya ini dari Bumi, dan dari diri mereka sendiri.

Seperti kamera yang berkesinambungan ngesyut aktivitas di dalam stasiun luar angkasa pada sepuluhan menit pertama, film ini pun akan terus mendera kita dengan perasaan teror dan terkurung begitu Calvin mulai menjebol kotak penangkarannya. Discovery yang kita dapati adalah bahwa ternyata film ini enggak berniat membahas hal-hal filosofis. Ini bukan jenis film di mana Jake Gyllenhaal punya kembaran ataupun mimpi didatengin kelinci dan dia harus mencari tahu makna di balik semuanya. There’s really nothing beyond pembahasan bahwa di dunia ini kita enggak sendirian dan setiap makhluk hidup berhak atas yang namanya bertahan hidup. Life adalah HOROR SURVIVAL DI LUAR ANGKASA. Dengan kehadiran tropes standar, dirinya mungkin akan mengingkatkan kita sama Alien (1979) atau malah premisnya bikin teringat dengan game jadul Game Boy Advance; Metroid Fusion, film digarap dengan sangat capable dan punya perspektif penceritaan yang cukup berciri. I mean, kita enggak bisa ngeshoot down film ini “enggak original!” begitu saja. For once, gimana tokoh film ini ngetreat Calvin saja sudah membuatnya agak berbeda dengan survival horor kebanyakan.

“we’re not alone.. there’s more to this I know”

 

Pace yang lumayan cepet, namun tetep terasa contained. Setnya terlihat compelling dan memenjarakan, meskipun mungkin mata kita masih terbuai oleh menterengnya pesawat Passengers (2016). Kita akan menikmati perasaan terkungkung dan mencekam yang dialami oleh para tokoh. Aku enjoy ngeliat mereka main kucing-kucingan dengan Calvin yang bisa nyelip masuk ke mana-mana. In fact, ada banyak waktu ketika aku malahan ngecheer si alien yang kayak gabungan gurita dengan amuba tersebut. Karena dalam film ini, kita enggak benar-benar yakin mesti ngedukung tokoh yang mana.

Semenjak Alien memang terbit semacam tren di dalam genre survival horor bahwa semakin penonton enggak bisa menerka tokoh mana saja yang bakalan selamat, maka itu artinya film semakin sukses ngedeliver elemen aksi dan horornya. Life juga sukses bikin kita nerka-nerka siapa yang mati duluan, aku kecele juga karena tadinya kukira tokoh kulit hitam yang bakal mati duluan, malahan kayaknya di trailer aja dia udah game over hhihi, tapi enggak. Namun faktor enggak bisa nebak yang selamat ini tidaklah lantas dijadikan alasan untuk sengaja tidak mengembangkan para tokoh manusia. It would be suck buat ngeliat tokoh-tokoh hanya jadi korban gitu aja tanpa kita merasa kehilangan atas mereka. Film butuh supaya skripnya memegang satu karakter sebagai pondasi agar strukturnya bisa kuat. Dalam Life, kita bisa menyaksikan ada usaha untuk memberikan personality kepada para tokoh manusia.

Dari enam, ada tiga yang diberikan backstory. Well, ya lumayanlah dibanding kosong melompong. Yang paling menarik adalah ahli biologi Hugh Derry yang diperankan oleh Ariyon Bakare. Hugh yang kakinya cacat merasa lebih hidup di luar angkasa, dia enggak perlu pakai kursi roda di atas sini. Dan kemudian, sebagai orang yang bertanggung jawab langsung dalam mengurus Calvin, Hugh memberikan pandangan yang menarik ketika dia merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukan oleh alien tersebut. At one point, Hugh tampaknya sudah terattach secara emosional kepada Calvin.

Sudah seperti orangtua dengan anaknya sendiri. Hugh ngerasa bertanggung jawab karena dia yang sudah memberikan kesempatan hidup buat Calvin. Eventually ini menjadi konflik moral yang sempet disinggung sekilas banget oleh film; seperti apakah tepatnya tanggungjawab tersebut, apakah dengan memberikan hidup maka kita juga yang bertugas untuk menghentikannya. Tidak seperti hape – setiap kali kita ngecharge, kita meniupkan kehidupan kepada baterainya, Calvin actually adalah makhluk hidup yang berhak untuk bertahan. Sayang memang film ini tidak menggali lebih jauh soal hubungan menarik yang terbentuk antara Hugh dengan Calvin.

 

Sesungguhnya ada orangtua beneran dalam ensemble ini, tokoh yang dimainkan oleh Hiroyuki Sanada adalah seorang yang baru saja menjadi bapak. Namun backstory personal ini tidak berkembang lebih jauh karena kelahiran putranya tersebut hanya digunakan sebagai pemantik emosi. Kesempatan besar juga dilewatkan dalam penanganan karakter Jake Gyllenhaal. Dia memerankan David, seorang dokter yang actually sudah berada di sana selama 473 hari, paling lama di antara rekan-rekannya. David begitu betah di luar angkasa, dia enggan balik ke Bumi, dan alasan di balik itu semua cukup menarik; dia enggak tahan melihat apa yang bisa kita lakukan terhadap sesama. Dokter ini sangat terpukul setelah apa yang ia saksikan saat dikirim ke medan peperangan. Sayangnya, motivasi dan traits personal David enggak pernah sekalipun dikaitkan sebagai lapisan cerita. Hanya dibahas begitu saja, dan tidak hingga di akhir backstorynya ini memberikan impact.
Selebihnya ya, mereka cuma ada di sana, dengan peran minimal masing-masing. Ryan Reynolds di sini hanyalah seorang astronot realis yang keren penuh komentar lucu. PENGARAKTERAN YANG TIPIS BANGET. Kharisma dan kemampuan para aktor yang membuat film ini watchable.

Atau mungkin, kita beneran betah duduk lantaran ingin melihat gimana aktor-aktor tersebut menemui ajal. Bukan bermaksud sadis, tapi memang film ini mendadak menjadi KREATIF SAAT PARA TOKOH MENEMUI AJAL. Cara matinya, gimana mereka ngesyut adegan mati tersebut, lumayan unik. Lagian, kita juga enggak bisa jadi lebih peduli lagi sama mereka. So much for survival thing, kita malah dibuat penasaran pada apa yang bisa dilakukan oleh Calvin. Meskipun disebutkan sebagai makhluk karbon seperti manusia, sepanjang film kita akan melihat alien ini ngelakuin hal luar biasa, dia tahan api, dia bisa mencerna tikus dengan cepat bulat-bulat, dia bisa ‘tahan napas’ di outer space. Kontras banget sama tokoh manusia yang kerap mengambil keputusan-keputusan yang bego. Pada satu sekuen Calvin meloloskan diri, ada seorang tokoh yang terus mengambil tindakan yang bakal bikin kita jerit-jerit stress. Satu sekuen loh itu bayangkan, apa yang mau didukung dari karakter manusianya coba! Orang-orang pintar ini kayak pada berlomba nyari cara paling bloon buat mati.

“dumb ways to die, so many dumb ways to die”

 

Soal twist endingnya, aku enggak tahu, it did feels like they want to push it into a sequel tapi aku enggak yakin. Apakah endingnya resolving a plot? Aku enggak mau spoiler banyak, tapi in a way, iya, ada tokoh yang plotnya, istilahnya, ‘kebales’. Apakah ending ini stupid? Jawabannya iya juga, wakwaw banget, kerasa film ini dibuat ya cuma supaya mereka bisa seru-seruan dengan bagian akhir ini. Kayak saat pitching mereka bilang gini “gimana kalo kita bikin film alien seru kayak Alien, tapi endingnya dibikin mirip-mirip Gravity, gini nih sini deh aku bisikin…” dan voila, film ini lantas diperjuangkan untuk hidup supaya adegan surprise ini terlaksana. Apakah endingnya ini worked? Iya juga, ini bekerja sebagai paradoks tentang kehancuran manusia akan datang sebagai akibat dari apa yang kita hidupkan.

Hidup adalah proses. Bukan hanya pengciptaan, melainkan juga kehancuran. Pada akhirnya ini adalah soal siapa yang memiliki naluri bertahan yang paling kuat. Siapa yang rela menghancurkan demi kelangsungan. Apakah manusia akan punah jika suatu saat ada spesies yang lebih ‘canggih’ sekaligus lebih ‘primal’ seperti Calvin? Atau sebaliknya, apakah kehancuran adalah satu-satunya bentuk kehidupan yang bisa kita ‘hidupkan’?

 

 

 
Film ini mengembalikan kita kepada citarasa alien tradisional setelah kedatangan Arrival (2016) yang begitu berbeda. It is a fast-paced, confined-space survival horror yang tau persis apa yang ia lakukan. Tone dan arahannya ketat menghasilkan petualangan hidup-mati yang mendebarkan. Namun tidak banyak yang terkandung di dalamnya. Enggak kosong total sih; setengah berisi, dan film ini pun tidak ingin disibukkan dengan mengisi sampai penuh. Dia malah kelihatan lemah saat berusaha menjadi sedikit berbobot. Ditambah dengan banyaknya bad decisions yang dilakukan oleh para tokoh, film ini tampaknya justru hidup dengan membiarkan mereka mati.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for LIFE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

Wild Things by Alessia Cara – [Lyric Breakdown]

 

Jadi, sejak Moana (2016) aku jadi ngefans berat sama Alessia Cara. Aku suka suaranya. Aku actually lebih enjoy dengerin How Far I’ll Go versi Alessia, I think it’s more powerful. Pas bagian “What is wrong with me?” flownya terasa lebih enak. Kemudian aku mulai denger musik-musik punya Alessia Cara sendiri. I’ve listen to her Know-It-All album. Beberapa track dari album tersebut berakhir jadi suara-suara yang diputer berulang-ulang di kamarku. Kenceng-kenceng pula. Sampai Bibi Kosan yang suka nyanyi “naik-naik tagihan listrik, tinggi-tinggi sekalii” jadi sebel karena ngerasa kalah saing. Aku malah jadi nyusun skrip film pendek yang bisa dikatakan adaptasi bebas dari salah satu lagu Alessia. I can’t tell you which one as of right now, because I don’t want to jinx it haha. Tapi doakan saja lancar dan beneran jadi.

Ngeliat dari yang ditulisnya, Alessia Cara seems like an actual cool personality. Dia punya attitude. Apa yang bener-bener impressed me adalah gimana dalam lagu-lagunya, Alessia memasukkan perspektif ‘orang luar’ yang berusaha melihat ke dalam dunia ‘ini’, di mana si penyanyi merasa berlawanan dengan dunia tersebut. Liriknya terasa jujur dan akrab. Alessia menggambarkan gimana rasanya berada di dalam pesta yang sebenarnya dia enggak pengen dateng. Alessia bercerita tentang gimana anak-anak muda ingin masuk ke dunia dewasa so much and just find themselves not yet ready for it. Alessia menyerukan tentang kepercayaan diri, tentang self-acceptance, dan itu adalah topik yang sangat relatable. Terutama buat remaja, yang jadi pendengar utama musiknya. Dan buatku juga, I’ve been kind of a misfit nyaris seumur idup haha, and yea I wish aku punya lagu-lagu ini untuk didengar sewaktu aku masih sekolah.

 

Wild Things, menurutku adalah salah satu lagu Alessia Cara yang paling penting. Mestinya sih kalian pasti sudah pernah denger juga, it has been going around since 2015. Alessia sendiri, pada suatu sesi wawancara bilang kalo lagu ini adalah anthem yang diharapkan bisa gerakin orang banyak. Liriknya sendiri punya tone yang sangat ‘menghentak’. Dan kupikir, fakta aku yang enggak demen denger musik bisa tergugah buat ngebreak down liriknya, adalah sebuah prestasi!

 

Find table spaces
Say your social graces
Bow your head, they’re pious here

Ini adalah dunia menurut Alessia. Bayangkan meja di kantin sekolah yang berjubel murid kita bingung mau duduk di mana; Tiap meja punya aturan, ada aturan-aturan sosial yang kudu dipatuhi saat menjadi bagian dari crowd di meja tersebut. Atau bahkan dipatuhi just to be a part of the said table.

 

But you and I, we’re pioneers
We make our own rules
Our own room, no bias here
Let ’em sell what they are sellin’
There are no buyers here

But hey, kata Alessia, kita yang enggak dapet tempat justru bisa bikin tempat sendiri. Kita bisa duduk di mana saja kita suka, enggak harus di meja. Tidak ada prasangka atau aturan karena hidup adalah kebebasan. Kita harusnya sadar bahwa orang pasang citra atau berpendapat apapun sama merdekanya dengan memilih percaya atau enggak.

 

So gather all the rebels now
We’ll rebel rouse and sing aloud
We don’t care what they say no way, no way

Bagian ini memanggil kita, teman-teman ‘seperjuangan’, untuk just be happy menjadi diri sendiri. Untuk menyuarakan independesi kita tanpa mengkhawatirkan apakah kita terlihat keren atau pinter ataupun populer.

 

And we will leave the empty chairs
To those who say we can’t sit there
We’re fine all by ourselves

Supaya kita tidak pernah lagi mencari tempat di tengah-tengah sosial yang mengekang. Untuk enggak lagi berusaha keras fit in, karena satu-satunya penerimaan atau pengakuan yang penting adalah pengakuan terhadap diri sendiri.

 

So aye, we brought our drum and this is how we dance

Drum melambangkan beat, di mana setiap kita punya beat unik masing-masing. Kita punya gaya sendiri. Kita enggak perlu malu memperlihatkan siapa kita ke luar sana. Jadi ya kalo mau bikin sesuatu, mau nulis atau apa, ya bikin aja. Perkara ga ada yang baca atau ga ada yang suka mah gausah dipikirin.

 

No mistakin’, we make our breaks, if you don’t like our 808s
Then leave us alone, cause we don’t need your policies
We have no apologies for being…

808 bisa sebagai sebutan buat bunyi drum, juga bisa mengacu kepada kode polisi buat gangguan ketenangan. Either way, jika ada yang enggak suka dengan, katakanlah, gaya kita – jika ada yang merasa terganggu – maka mereka bisa bilang tapi jangan harap bisa mengubah gaya kita. Menjadi diri sendiri bukanlah kesalahan. Kita tidak perlu meminta maaf karenanya.

 

Find me where the wild things are
Oh my, we’ll be alright
Don’t mind us, yeah
Find me where the wild things are

Oke bagian chorus ini catchy banget. Beat drumnya ngentak, sorak “aye aye aye” di backgroundnya bikin kita ikutan nyanyi. Aku suka pas di “don’t mind us yeah”. But actually ‘find me where the wild things are’ adalah ungkapan yang melambangkan our-true self adalah passion terliar kita, pikiran terdalam kita. Kita perlu untuk menemukan hal tersebut sebelum akhirnya kita bisa bangga menjadi diri sendiri.

 

 

I lose my balance on these eggshells
You tell me to tread, I’d rather be a wild one instead

Kulit telur itu lapisan yang tipis banget, kondisi yang digambarkan oleh lirik ini adalah kondisi yang di mana si Alessia merasa capek terus-terusan mikirin perkataan orang terhadap apa yang ia katakan atau perbuat. Jadi, daripada disuruh to watch what she says atau apa yang ia lakukan, dia lebih memilih untuk ngikutin kata hatinya saja.

 

Don’t wanna hang around the in crowd
The cool kids aren’t cool to me
They’re not cooler than we are

Ini adalah part yang menarik karena actually lagu ini membuat kita merasa menjadi enggak-keren sebagai hal yang paling keren sedunia. Karena kita enggak nunggu dibilang keren oleh orang lain dulu. Jika kita respek diri sendiri, accepting siapa diri kita, kita akan sadar kita enggak bergantung kepada orang lain untuk bisa bahagia.

 

We will carve our place into time and space
We will find our way, or we’ll make a way, say hey, hey, hey
Find you’re great, don’t you hide your face
And let it shine, shine, shine, shine

Jika enggak ada tempat, kita bikin tempat baru. Jika enggak ada jalan, kita terobos dan bikin jalan sendiri. Kita hidup oleh tindakan yang kita pilih; bukan karena orang lain, melainkan demi diri sendiri. Kita mewujudkan passion kita dengan mengambil action sendiri, tidak peduli kata orang lain. Tidak ada cool atau enggak keren. Dan ultimately, kita enggak perlu malu dengan who we really are. Kita enggak perlu takut dikatain beda. Ekspresikan diri sebebas-bebasnya

 

 

 
Kalo ada yang iseng nanya apa persamaan film Logan (2017) dengan film Interchange (2017), maka aku akan menjawabnya: lagu Wild Things. Saat ngereview dua film tersebut, aku enggak-bisa enggak bikin koneksi antara apa yang dihadapi oleh tokoh utama dengan yang dinyanyikan oleh Alessia Cara. Karena jauh di dalam, kedua film ini juga bicara tentang accepting diri sendiri. Both Logan dan Adam berusaha mencari liberty dan ultimately, mereka justru menemukannya di dalam tempat tergelap di dalam diri. Passion kita, kepercayaan kita, adalah hal yang hidup liar di dalam , namun kita tidak boleh takut. Kita harus menerimanya, jangan disembunyikan; supir limo yang damai bukan jawaban bagi Logan, berhenti jadi fotografer enggak bikin Adam tenang. Kita mesti menjadi satu dengan our innerself yang liar, tidak peduli apa penilaian orang, karena dari situlah kedamaian dan kebebasan berasal.

 

 

 

That’s all we have for now.
If you like it, kalian bisa ngerekues di komen lagu apa yang kalian ingin liriknya kami breakdown selanjutnya.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

BID’AH CINTA Review

”The reason many people in our society are miserable, sick, and highly stressed is because of an unhealthy attachment to things they have no control over.”

 

 

Pembaruan itu perlu. Terkadang kita melakukannya supaya memudahkan persoalan, tangga batu diganti jadi eskalator misalnya. Rumah yang dindingnya mengelupas, yang atapnya bocor, perlu diperbarui. Tapi itu konsepnya adalah memperbaiki yang rusak. Bagaimana dengan yang masih baik? Perlukah dilakukan inovasi? Perlukah film atau karya diremajakan (ehm.. ehmm.. remake) meski padahal dirinya sendiri sudah terbukti tak-lekang oleh waktu? Dan dalam konteks agama Islam, yang seharusnya kita yakini sebagai agama yang sempurna, apakah kita benar-benar perlu menambah ataupun mengurangi beberapa hal sehingga ibadah kita bisa ngikutin perkembangan jaman?

Masalah bid’ah adalah concern utama yang diangkat oleh film Bid’ah Cinta. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dilempar oleh narasi film, dan kitalah yang bertugas untuk menangkap dan menimbang sendiri jawabannya. Dalam film ini kita akan ditempatkan pada sebuah kampung yang mayoritas Islam. Hanya saja mereka terbelah menjadi dua kubu; aku enggak tahu istilah benernya, tapi katakanlah di kampung itu ada Islam Modern dengan ajaran-ajaran yang lebih fleksibel, dan Islam Tradisional yang melarang bentuk perayaan diadakan di Masjid. Lingkungan yang semula damai berubah menjadi sinis-sinisan sejak golongan Islam Tradisional ‘menduduki’ Masjid. Ada sikut-sikutan kecil, pengikut ajaran satu pindah ke ajaran yang lain. Tuduhan dan prasangka mulai bermunculan. Ajaran mana yang paling kuat imannya? Ajaran mana yang ngasilin pengikut bermental teroris?

abangmu inget gak sih waktu kecil justu dialah yang meneror Warkop dengan kodok?

 

Dengan anggunnya DRAMA GARISMIRING KOMEDI SATIR INI MENGAMBIL PERSPEKTIF DI TENGAH, sehingga kita dengan aman bisa mengobservasi kedua belah pihak (jangan lupa ngaca!). Film ini memastikan kita dapat menangkap semua permasalahan yang timbul dari pengkubuan. Kita bisa melihat bahwa sejatinya tidak ada satu yang lebih benar dari yang lain, bahwa sesungguhnya kita butuh untuk menyatu. Jika ada yang bisa kita tunjuk ‘kalah’ dari argumen-argumen mereka, maka itu adalah pihak yang mengeraskan suaranya terlebih dahulu. Out of insecurity. Pertengkaran mereka tidak pernah menghasilkan apa-apa. Mereka sama-sama tidak punya jawaban. Mereka gak bisa mutusin pahala-dosa sama halnya dengan mereka gayakin terhadap jalan tengah yang diambil. Namun film ini juga bikin kita bisa paham betapa peliknya masalah jika sudah menyangkut keyakinan, dan – pada level tertentu – kebanggaan terhadap apa yang kita percaya. Rasa bertanggung jawab untuk memeliharanya. Film ini actually memberikan banyak hal untuk kita pikirkan, terutama ketika sampai di babak kedua.

Bahwa terkadang hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengerjakan yang benar, alih-alih yang gampang, buat diri kita sendiri.

 

Kampung mereka vibrant oleh aktifitas dan tokoh-tokoh yang saling berinteraksi. Sangat menarik untuk ngikutin cerita hanya untuk melihat bagaimana kesemua tokoh ini ‘amprokan’ pada akhirnya. Ada subplot tentang preman yang actually jadi belajar agama. Sesungguhnya memang perjalanan kedua preman ini terasa lebih menarik sampai-sampai aku sempat khawatir kalo mereka hanya berakhir sebagai ‘alat perang’ semata, you know. Aku kesel banget kalolah ternyata entar mereka jadi teroris atau semacamnya. Juga ada subplot seorang waria yang dipertanyakan identitasnya; apakah dia sholat di barisan depan bareng cowok-cowok? Ataukah dia bisa di belakang bersama wanita? Apa dasar kita memutuskan keputusan pilihan tersebut? Dan adegan ketika sholat si Sandra ini diinterupsi oleh pengurus mesjid, daaang, aku suka kepada apa yang film ini lakukan terhadap musiknya yang ngehigh pitch gimana gitu. Memberikan kesan surreal yang lumayan disturbing.

Jika Bid’ah secara literasi berarti inovasi atau pembaruan, maka film ini diharapkan bisa menjadi bid’ah yang sangat diperlukan bagi genre religi Indonesia yang sudah lelah dengan tropes semacam poligami, orang sakit, selingkuh, dan lain sebagainya.

 

Film ini diarahkan dengan sangat cakap. Penceritaannya yang cenderung ke visual membuat cerita tidak berasa ceramah. Pelurusan saf saat sholat memberikan kepada kita gagasan soal pentingnya merapatkan barisan, yang dalam hal ini berarti menjaga hubungan sesama umat agar jangan renggang. Karena, you know, setan akan datang mengisi di sela-sela kita. Atau bahkan percakapan sepele soal kuping punya peran dalam diskusi juga memberikan makna bahwa umat layaknya satu tubuh, masing-masingnya sangat penting, untuk itu haruslah saling menjaga.

Sebagian besar waktu film akan terasa sangat grounded, sangat dekat. Akrab karena memang kurang lebih seperti kampung itulah umumnya lingkungan tempat kita tinggal. Tentu saja juga ada humor yang nyentil-nyentil yang bikin film menggigit balik jika kita iseng meghakimi tokohnya. Penampilan para aktor kebanyakan memang sudah meyakinkan. Alex Abbad yang jadi salah satu ustad berhasil ngedeliver perannya yang rather gimmicky dengan fantastis. Tidak ada peran yang terasa over-the-top. Sandra yang dimainkan oleh Ade Firman Hakim tampil manusiawi. Pun tidak terasa buat pemantik air mata semata. Dan Tanta Ginting, oh man, sekali lagi dia sukses menguarkan a really terrifying persona meski porsi penampilannya cukup sedikit. Aku enggak yakin dari mana, mungkin dari bruise keitaman pada jidat tanda banyaknya sujud, tapi begitu melihat tokohnya nongol pertama kali aku langsung nyeletuk “nah ini, speaking about radical!”

Tentu tak dosa untuk berharap, namun sayangnya Bid’ah Cinta masih terjatuh ke dalam lubang pakem yang sama. Kita masih melihat cewek drooling openly over karakter cowok yang simpatis. Bagian drama cinta adalah elemen yang perlu untuk hadir, karena cinta adalah solusi dari segalanya bukan? Hanya saja memang porsi cinta-cintaan film ini tidak terasa semenarik isu sosial kehidupan umat beragama. I mean, aku bakal salut banget kalo film ini berani menghadiahkan posisi tokoh utama itu kepada Sandra yang easily lebih dramatis. Atapun kepada Faruk si preman kampung, karena dia dan temennya punya plot yang lebih clear. Come on, kita ngeliat perjalan mereka dari preman mabok oplosan menjadi ‘remaja masjid’ yang ngebongkar balik kereta dangdut keliling yang biasanya jadi langganan mereka joget. That’s one clear journey yang dipunya oleh film ini

Alhamdulillah, luar biasa

 

Tokoh utama kita justru adalah Kamal (Dimas Aditya memainkan peran yang mestinya paling simpatik) yang menemukan dirinya berada di tengah-tengah persoalan yang timbul dari beda pandangan tersebut. Kamal yang meyakini Islam sejati (dalam artian tidak ada penambahan ritual dan semacamnya) harus ditegakkan, merasa perjalanan cintanya mentok. Karena Khalida (tokoh Ayushita kurang cukup kuat, udah sedewasa itu tapi dia masih perlu diselamatkan dari argumen oleh “masuk kamar!”) memiliki pandangan yang berbeda soal toleransi dan menegakkan ajaran agama. Asmara mereka eventually akan jadi ‘juru damai’ dan di poin inilah aku enggak setuju sama keputusan yang diambil oleh film. Bekerja begitu baik dengan nempatin diri di tengah, saat babak penyelesaian, mau tak mau film harus kelihatan memihak kepada pilihan yang musti diambil oleh tokoh utama. Dan ini bikin ceritanya melemah, karena memang hooknya enggak kuat. I mean, apa sih hal terburuk yang terjadi kalo Kamal enggak jadian sama Khalida? Kamal ngambek loh, mintak orangtuanya mengerti apa yang ia rasakan dan ‘berdamai’ agar bisa melamar Khalida. Shouldn’t it be the other way around- mereka berdua bersatu dulu, baru bareng usaha mendamaikan yang lain? Dan Khalida comes off rather shallow, dia ingin Kamal berubah demi dirinya, and hey noleh dong, itu si Faruk insaf ke jalan yang lurus karena cintanya lu tolak loh haha.

Penggarapan porsi drama ini juga terasa enggak seserius bagian yang lain. Pengulangan shot di taman yang actually gak berarti apa-apa. There’s attempt to make this sebagai kisah cinta segitiga, namun gatot lantaran tokoh Ibnu Jamil sama sekali gak ngapa-ngapain. I don’t get it why Hasan ini terlihat begitu penting, karena ganteng? Dia jarang terlihat ngumpul bareng yang lain, ke Mesjid juga jarang. Film ini bisa lebih tight lagi jika kita diperlihatkan lebih banyak interaksi antarwarga di kampung. Bagian teroris yang dikaitkan dengan actual event juga terasa abrupt.

Yang ingin kita lihat adalah dua kubu Islam akhirnya berjalan bersisian, dan perjalanan mencapai itulah yang bikin seru. Film ini memang mengakhiri diri dengan berusaha sebisa mungkin untuk ngampil posisi paling tengah, sebagaimana kita melihat Ustadz yang just being there demi kesopanan, dia enggak really ikut berpesta, tapi dengan tokoh utama yang ‘beralih’, seolah menggiring kita ke gagasan bahwa yang dipilih itulah the right thing to do. But it is not. Itu adalah cara termudah untuk mengakhiri konflik, dan itulah yang membuat nilai film ini jatuh buatku.

Terkadang kita suka memperebutkan sesuatu yang belum kita punya. Mempermasalahkan yang kita sendiri enggak punya jawabannya. Kayak Faruk dan Ketel yang heboh membahas duit yang belum ketauan juntrungannya, kita sibuk saling bertengkar membagi-bagi pahala dan dosa yang tidak satupun dari kita punya kuasa atasnya.

 

 

 

Mengambil tema cerita yang sangat unconventional buat scene religi tanah air, film ini bagai bid’ah yang diperlukan. Penting untuk ditonton karena memberikan banyak bahan renungan. Akan tetapi secara penceritaan, inovasi yang dilakukan seolah tersendat oleh tropes yang enggak begitu diusahakan untuk dihindari. It could be so much better jika drama cinta enggak jadi fokus nomor satunya. Babak ketiganya sedikit terseok-seok due to effort naskah mengaitkan semua saga karakter yang ada kepada plot tokoh utama, which is not really paid off well karena memang perspektifnya kalah menarik dibanding yang lain. Film ini seharusnya tetap di tengah, dan enggak abisin terlalu banyak waktu menumpul di eksplorasi asmara.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for BID’AH CINTA

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

GOLD Review

“A dream that is not chased is a fantasy.”

 

 

Ada garis batas yang membedakan antara mimpi dengan khayalan. Garis itulah yang kita kenal sebagai usaha. Dan faktor yang membuat perbedaan tersebut tentu saja adalah kita, entitas yang berangan-angan. Khayalan adalah keinginan yang enggak disertai dengan usaha, dan hanya bisa disebut mimpi apabila kita berjuang untuk mewujudkannya.

 

Kenny Wells di ambang kebangkrutan. Ia mendapat bunga tidur tentang menemukan tambang emas terbesar. Jadi segalanya pun dipertaruhkan. Jual jam tangan emas istrinya, Wells terbang ke Indonesia. Mencari seorang ahli geologi ‘legendaris’ yang terakhir kali terdengar sedang berada di sana. Bersama-sama, mereka menembus belantara Kalimantan demi mencari emas yang mereka yakini ada di sana. Akan tetapi, segala jerih payah yang dilakukan Kenny belum cukup untuk membuat impiannya menjadi nyata. In fact, film Gold sepertinya tidak punya jawaban pasti antara khayalan dan mimpi bagi Kenny Wells.

Gold adalah film yang dibuat loosely berdasarkan skandal pertambangan beneran yang pernah terjadi di Indonesia. Awal tahun 90an itu, perusahaan tambang Bre-X Minerals dari Kanada ngeklaim mereka menemukan tambang emas gede di hutan Busang, Kalimantan Timur. Langsung deh stock meroket, Amerika heboh. Namun selidik punya si sidik, eh salah! selidik punya selidik, semua ‘tambang emas terbesar’ itu adalah pemalsuan. Dan blow up setelah penemuan kebenaran ini malah jauh lebih gede lagi. Pihak yang bertanggung jawab kabur, pemerintah Indonesia (kala itu di bawah pimpinan Presiden Suharto) terlibat dalam penutupan ijin tambang dan segala macem, sementara pemilik perusahaannya sendiri mengaku ia tidak tahu menahu, bahwa ia juga telah ditipu oleh rekannya. Film Gold sendiri hanya mengambil latar peristiwa dan mengaburkan tokoh-tokoh asli dengan menggunakan nama-nama plesetan. Kayak David Walsh yang namanya jadi tokoh Kenny Wells, ataupun si geologis Michael de Guzman yang dalam Gold menjadi Michael Acosta. FILM INI LAYAKNYA PARODI yang membuat kita mengangkat sebelah alis mata menanyakan; apakah buaian deretan angka segitu menghanyutkannya sehingga orang-orang bisa ngeoverlook kenyataan bahwa tidak ada emas di sana?

semua orang tersilaukan oleh pantulan cahaya jidat Wells

 

Jika sebelumnya dalam animasi Sing (2016) Matthew McConaughey berjuang mencari uang dan mati-matian melanjutkan usaha gedung teater warisan ayahnya, kali ini dalam Gold, dia kembali melakukan hal yang sama hanya saja sebagai anak pemilik perusahaan tambang. Apa yang dibawa oleh McConaughey dalam penampilannya, however, adalah hal yang pantas untuk diapresiasi. Dia actually nambah berat badan demi menjelma menjadi sosok fiktif Kenny Wells yang berperut buncit. Dan rambutnya; daaanggg, menyedihkan untuk dilihat dan menyeramkan untuk dialami hhihi. Namun karakternya, tho, Kenny Wells tidak pernah terlihat berupaya menyembunyikan garis rambutnya yang menipis. Ataupun dia tidak kelihatan benar-benar melakukan upaya apapun pada pekerjaannya. Aku enggak yakin apakah ini disengaja oleh pembuat film; Kenny is supposed to come off sebagai orang yang enggak tahu apa yang ia lakukan. Tetapi ada beberapa kali ketika menonton ini aku merasa tokoh yang jadi perspektif utama cerita tidaklah semenarik apa yang diniatkan oleh filmmaker.

Jerih payah di lapangan tidak pernah benar-benar diperlihatkan dialami oleh Kenny. Hanya satu adegan memperlihatkan dia kecapean, megap-megap jalan nembus hutan. On the site, perannya sangat terbatas, ditambah sebagian besar waktu dia terbaring tak berdaya kena malaria. Penting bagi sebuah film untuk mempertontonkan tokoh utama sebagai seorang yang cakap, or at least mengerti akan pekerjaannya, but yang Kenny Wells lakukan dalam membuat mimpinya jadi nyata hanyalah duduk-duduk, pasang tampang cemas nunggu laporan dari lab ataupun dari berita keuangan dan bicara meledak-ledak lewat telefon. Perjalanannya serasa dipersingkat, dipermudah. Secara struktur, Gold sendiri terasa kayak roller coaster yang naik turunnya berjarak deket banget sehingga by the time babak kesatu berakhir saja kita sudah kelelahan ngeliat Wells jatoh dan naik segitu seringnya. Nyaris tidak ada surprise emosi yang kita rasakan, kita bisa melihat semuanya datang.

Mungkin karena aku seharusnya bekerja di sekitar dunia pertambangan, aku dulu kuliah di teknik geologi, jadi naturally aku merasa relatable. Juga ada sedikit rindu ngeliat apa yang mereka lakukan dengan sampel core dan kegiatan-kegiatan geologi lainnya. Meski begitu I can’t exactly put myself into the characters. Aku kepikiran Mike Acosta, geologis lapangan yang diperankan oleh Edgar Ramirez, lah yang sekiranya bisa jadi tokoh utama yang lebih menarik. Sebagian besar aksi ada di tangannya. Jika dibandingkan dengan Wells yang sering keliatan clueless, Acosta seemingly is a perfect hero figure. Ditambah dengan twist yang disiapkan oleh film, well it’s not exactly a twist since we’ve already now the outcome of the actual event, karakter Acosta menyimpan layer yang lebih banyak. Filmnya sendiri melakukan kerja yang bagus ngebangun tokoh Acosta untuk kemudian disembunyikan ke background cerita. Kita difokuskan kepada drama hidup Wells. Sekitar midpoint, film benar-benar didedikasikan supaya kita bisa merasakan kasian kepada Wells. Porsi romansa dengan Kay yang diperankan oleh heartwarming oleh Bryce Dallas Howard dimaksudkan supaya kita bisa melihat stake yang dihadapi Wells dengan alasan yang sangat manusiawi; Kay bertindak sebagai nurani film, yang tentu saja – by the law of script writingat some point ditelantarkan oleh tokoh utama.

Susah untuk merasakan peduli kepada karakter yang niat mulianya adalah ngumpulin duit sebanyak-banyaknya bahkan jika tokoh tersebut digambarkan mendapatkan banyak tekanan dari pemangsa-pemangsa lain di dunianya. There’s a scene di mana Kenny beneran berhadapan dengan harimau, yang dengan sukses ia’ jinakkan’. Kenny Wells pada akhirnya tetap terlihat sebagai pemangsa kecil di dalam dunia korup yang penuh muslihat.

abis dibelai Kenny Wells nih jangan-jangan

 

“You sell your dream”, Wells berkata lirih soal pihak ketiga yang memintanya menjual tambang di Kalimantan, “What do you have left?” Di sinilah di mana film ini bicara personal kepadaku. Karena, ironisnya, kalimat pertanyaan serupa juga terlintas di pikiranku ketika memutuskan untuk berhenti sebagai geologis dan fokus ke passionku untuk menulis. Oke curhat, tapi poinku adalah film ini BERUSAHA NGEJUAL TOKOH – DAN CERITANYA – SEBAGAI SEBUAH AMBIGU di mana mimpi dan kenyataan, moral dan bisnis, apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang ingin dan rela kita lakukan, adalah hal yang harus dijawab secara pribadi. Namun penceritaannya malah membuat film terasa sebagai sebuah presentasi yang enggak yakin dia berdiri di ground yang mana. Ambiguitasnya tidak terasa menginspirasi. Kita diminta untuk ‘mendukung’ Wells, namun bahkan McConaughey terlihat unsure saat mengekspresikan karakternya. Ada adegan ketika Wells dan istrinya practically drooling over daratan hijau luas yang ingin mereka bangun rumah, dan I just can’t get behind that. I mean, aku gak bisa bayangin ada penonton yang tersentuh syahdu bilang “awww romantisnya mereka mau gundulin padang rumput indah buat dijadiin rumah megah”

kita bikin sumur di ladang biar banyak yang numpang mandi, horeee!!!

 

Sorotan kepada Indonesia banyak kita temukan dalam film ini. Penggunaan bahasa, tentara, sekilas tentang Dayak, pemerintah. Di sini juga ada aktor yang jadi anak Suharto, tapi namanya jadi Danny hahaha. Tapi sekali lagi perasaan gak yakin itu muncul; kelihatannya mereka enggak benar-benar syuting di pedalaman Kalimantan. Lokasinya terlihat agak off, iya sih di hutan itu ada vegetasi lokal kayak pohon pisang dan sebagainya, tapi rasanya enggak kayak di Indonesia.

 

Ini adalah film dengan banyak istilah-istilah, yang dijelaskan cukup menarik. Matthew McConaughey adalah salah satu dari tak-banyak aktor yang mampu nanganin adegan expository sehingga seolah kita mendengarkan dia langsung mata-ke-mata di mana kita enggak berani nguap di depan mukanya. Penampilan para aktor all around dapet dua jempol. Di babak awal kita akan dibawa masuk ke dalam hutan yang terasa basah, berlumpur, dan mengurung, sayangnya film sering ngeshift tone dengan naik-turun pada narasi. Film begitu concern untuk tampil engaging sehingga malah mencuat uninspiring. Dari segi penceritaan, film ini memang terasa agak berhemat dengan menggunakan style yang mirip-mirip The Wolf of Wall Street (2013). Yang tidak terperhitungkan oleh film ini adalah, jika Martin Scorcese saja tidak bisa benar-benar sukses bikin cerita dan tokoh bisnisman semacam ini menjadi compelling, kesempatan apa yang dipunya film ini dengan menitikberatkan bercerita lewat dialog alih-alih lewat visual?
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for GOLD.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE EDGE OF SEVENTEEN Review

“The reality is people mess up; don’t let one mistake ruin a beautiful thing.”

 

 

Sekolah itu penjara, dan SMA adalah neraka. Remaja sangat menakutkan. Menjadi remaja adalah salah satu pengalaman tiada tara di dalam hidup. My Chemical Romance menuliskan dalam lagu mereka bahwa remaja tidak peduli pada apapun selama tidak ada yang terluka. Namun sebagai remaja, kita suka nyerempet bahaya. Dan ‘terluka’ yang disebutkan dalam lagu Teenager tersebut, sesungguhnya hanya berlaku dalam batasan fisik.
Gak percaya? Liat saja Nadine.
Setiap hari cewek tujuhbelas tahun ini makan ati mengarungi neraka SMA sembari kudu berhadapan dengan semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Sebagai remaja yang ngalemin tragedi personal semasa kecil, Nadine membenci semua orang, atau bahkan semua apapun yang berada di sekitarnya. Dia susah bergaul dengan teman-teman di sekolah. Sobatnya cuma Krista seorang. Eh tunggu, Nadine punya satu ‘sahabat’ lagi yaitu gurunya; Mr. Bruner, yang mana sering jadi pelampiasan curhat Nadine. Dan dalam kamus Nadine, curhat berarti mencurahkan segala emosi dan kekesalan, yang biasanya ditanggepin tak-kalah sarkasnya oleh sang guru.

 

Mulai dari jaman John Hughes, sudah banyak film-film yang mengangkat tema kecemasan remaja sehingga ‘Angsty-Teen’ bisa dibilang sudah menjelma sebagai genre tersendiri. Meskipun begitu, The Edge of Seventeen berhasil mempersembahkan VISI YANG TERASA SEGAR. Penulisan kejadian dan reaksi tokoh-tokohnya dibuat senyata mungkin. Sehingga setiap kali hidup berbelok semakin parah buat Nadine, kita tidak melihatnya sebagai usaha memancing sisi dramatis semata. BFF Nadine pacaran sama abangnya, yea that suck. Harry Potter aja galau berhari-hari waktu menyadari dia naksir berat sama Ginny, adik Ron. Dan mendapati diri dalam keadaan teman kita pacaran sama anggota keluarga adalah benar-benar hal yang awkward. Namun, hal tersebut dibuat oleh film sebagai salah satu dari sekian banyak ‘pukulan di perut’ yang diterima oleh Nadine.

Apa-apa yang terjadi kepada Nadine di sepanjang film – yang tak jarang adalah buah perbuatannya sendiri – terasa sebagai kejadian yang datang dari kenyataan. Bisa benar-benar terjadi, karena memang di dunia nyata kita sering mendapati keadaan menjadi buruk begitu saja. Situasi dalam hidup tidak selalu mengenakkan, dan film ini akan mengajak kita melihat situasi terrible tersebut lewat mata nanar seorang cewek remaja yang sudah melewati banyak tragedi. Elemen tersebutlah yang membuat film ini menjadi menarik buatku.

People make mistakes, whoever they are. Teman-teman segeng kita bikin salah. Orangtua kita pernah salah. Kakak pernah salah. Adik pernah salah. Aku apalagi. Makanya ada lebaran. I mean, poinku adalah semua orang pasti pernah bikin salah karena terkadang, in life shit just happens. Jangan biarkan satu kesalahan merusak susu sebelanga. Dan orang-orang tidak serta merta pantes dilabelin brengsek hanya karena pernah membuat kesalahan. Film ini actually menelaah hal tersebut dengan sangat baik dan memberikan kedalaman perspektif yang jauh lebih dewasa dibandingkan yang berani dicapai oleh film-film high school kebanyakan.

 

Aku baru melihat penampilan Heilee Steinfeld dalam tiga kesempatan. Aku suka dia di True Grit (2010). Dalam Pitch Perfect 2 (2015), however, dia enggak begitu lucu malah sedikit membosankan, lagu yang dia apal lagu karangannya doang, nyanyinya Flashlight melulu. Sebagai Nadine di The Edge of Seventeen, Heilee Steinfeld mempersembahkan penampilan terbaik yang pernah aku lihat darinya. Karakternya di sini memang semacam drama queen akut. Dia kasar sama keluarga, sama teman, sama guru; semua orang di sekitar Nadine masuk ke dalam daftar kemarahannya. Di akhir film, kita melihat Nadine berubah menjadi lebih baik, tapi pergerakan arc tokoh ini enggak gede-gede amat. Maksudku, film ini membuat kita begitu peduli dengan dramanya yang terasa nyata sehingga kita tahu kita tidak tahu apa yang terjadi kepada tokoh ini setelah kredit bergulir. Nadine adalah karakter anti-hero wanita yang langka, di mana dia sendiri adalah protagonis sekaligus yang paling dekat dengan yang kita sebut antagonis dalam film ini.

How do you like me now?

 

Dalam menjelaskan kenapa Nadine memilih bersikap demikian, film tidak mengambil jalan yang gampang. Tragedi keluarga yang menimpa Nadine waktu ia kecil bukanlah akar dari permasalahan, karena dalam satu adegan flashback kita melihat Nadine sudah susye untuk di’ajak omong baik-baik’ bahkan jauh sebelum kejadian naas itu terjadi. Seolah film ini ingin menepis tuduhan yang mengatakan karakternya ngeangst karena memang genre filmnya begitu. Ada alasan logis di balik setiap sikap dan tindak Nadine.

Kata-kata yang keluar dari mulutnya, just… wow. Nadine dengan gampangnya meledak marah dan melontarkan serangkaian kalimat paling menyinggung perasaan yang bisa dia pikirkan kepada orang lain. Dan film ini pun tidak menahan-nahan apapun. Dialognya dibuat sungguh menggigit, karena orang-orang yang dibentak oleh Nadine eventually akan membalas dengan mengatakan hal yang sama pedihnya. Malahan, banyak kata-kata dan ungkapan yang digunakan oleh film ini yang bisa bikin Booker T bilang “Oh, tell me she didn’t just say that!”. Tidak sekalipun film ini berusaha untuk menghaluskan bahasa demi terdengar sopan. Sebab memang seperti yang digambarkan oleh film inilah interaksi antar remaja SMA berlangsung. Mereka bicara dengan kasar dan vulgar. Tapi justru disitulah letak keberanian film ini; TAMPIL APA ADANYA MENYUGUHKAN REALITA. Anak SMA bersikap sewajarnya anak SMA bersikap di dunia nyata.

Namun jika kita menonton film ini, sesungguhnya ceritanya akan terasa sangat bijak. Dengan rating Dewasanya, The Edge of Seventeen lebih ditujukan kepada penonton yang sudah pernah mengalamin masa-masa tujuh belas tahun, sehingga mereka bisa menoleh sebentar ke masa-masa ‘sulit’ hidup mereka dan merayakannya.

Mungkin kita hanya belum cukup dewasa buat angka tujuhbelas ketika menginjaknya. Mungkin kita yang terlalu bersemangat menunggu hari ketika kita pikir kita sudah cukup dewasa sehingga kita lupa untuk bersiap ketika things going rough.

 

BRUTAL AND HONEST. Tapi, ada juga sih bagian yang enggak begitu realistis. Kayak tokoh guru Nadine yang diperankan oleh Woody Harrelson. At one time, Nadine bilang bahwa dia mau bunuh diri dan si Pak Guru malah bilang dirinya juga mau bunuh diri dan sedang nulis pesan kematian. Tokoh Mr. Bruner ini mengatakan banyak hal yang tidak semestinya diucapkan oleh seorang pendidik. Like, kalo didenger ama Kepala Sekolah, pastilah dia sudah dipecat di tempat. Namun begitu, hubungan yang tercipta di antara Nadine dengan bapak gurunya ini adalah salah satu elemen terkuat di dalam narasi. It plays as a contrast for Nadine’s need of a father figure. Percakapan mereka sarat oleh humor-humor bagus dan bermakna.

Pak, tahu enggak,…. you’ve just made the list!

 

Alasan terbesar kenapa cowok males dan gak suka nonton drama remaja, apalagi kalo tokoh utamanya cewek, dan digarap oleh cewek pula, adalah karena sudah hampir pasti enggak bakal ada tokoh-tokoh cowok yang manusiawi. Cowok dalam film-film kayak gini biasanya either digambarkan sebagai antagonis, tanpa kedalaman-karakter, yang eksistensinya ditujukan buat ngasih air mata kepada tokoh utama doang. Ataupun digambarkan cupu dan konyol parah. Salah satu poin yang bikin The Edge of Seventeen yang disutradarai-serta-ditulis oleh cewek bernama Kelly Fremon Craig berbeda dan menyenangkan ditonton oleh cowok adalah tokoh-tokoh prianya juga diberikan kedalaman, dikasih background story, sehingga kita para penonton bisa mengerti mereka. Kakak cowok Nadine ada di sana bukan sebagai bagian dari sibling rivalvy dalam mendapatkan perhatian ibu sahaja. Bahkan cowok yang dikirimin ‘surat cinta’ oleh Nadine tidak pernah benar-benar come off as an asshole, sebab kita juga paham mengapa dia melakukan apa yang ia lakukan.

 

Dengan perspektif yang terasa menyegarkan, film ini toh tak bisa lepas dari segala tropes dan klise penceritaan genrenya. Setelah lewat midpoint, kita segera dapat menyimpulkan ke mana arah cerita film ini berlabuh. Kita bisa menunjuk satu tokoh dan dengan tepat menebak dia bakal ngapain di akhir cerita. Kita dengan mudah menerka siapa jadian dengan siapa. Tapinya lagi, kita bisa merasakan bahwa film ini dikerjakan dengan penuh passion. Karakter dan dialognya menguar kuat. Dan bagian terpentingnya adalah film ini mampu membahas situasi yang amat tidak mengenakkan dengan begitu nyata. Nadine bukan semata remaja galau hanya karena itu adalah cara termudah dalam menulis karakter drama, dia galau karena keadaan dan cara dia memandang keadaan tersebut.

Because of how well-written this is, jika dijejerin, film ini layak gaul bareng Heathers (1988) dan geng Mean Girls (2004) di level teratas kategori film remaja. And after all those insults and horrible situations, pada akhirnya, menonton film ini akan membuat kita berharap kita bisa menghentikan waktu di umur tujuh belas.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE EDGE OF SEVENTEEN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

Pesona Musik Iceland (Islandia)

 

Pernah dengar penyanyi atau grup band asal Islandia?
Mungkin sebagian pembaca masih asing dan sebagian mungkin sudah familiar.
Ada banyak sekali artis penyanyi maupun grup band yang berasal dari Iceland.

Dari barisan penyanyi sebut saja ada Björk, lalu di musik instrumen piano ada Ólafur Arnalds, di bagian post rock ada  Sigur Rós -yang pada tahun 2013 lalu pernah datang ke Jakarta, lalu tak ketinggalan ada Of Monster and Men.

Musik di Islandia banyak yang beraliran volk, pop tradisional, dan kontemporer.
M
usik tradisional Islandia berkaitan dengan bentuk-bentuk musik Nordic. Meskipun Islandia memiliki populasi yang sangat kecil, itu adalah rumah bagi banyak band terkenal dan dipuji banyak musisi.

Akan sangat panjang postingan ini jika saya menulis semua semua penyanyi dan grup band-nya,nanti malah ga dibaca,hehe
Jadi akan saya pilihkan yang populer saja.

 

1. Björk

Terlahir dengan nama Björk Guðmundsdóttir pada 21 November 1965.
Ia adalah penyanyi, penulis lagu, produser, DJ, dan aktris. Berkarier selama empat dekade (40 tahun), dia telah mengembangkan gaya musik eklektik yang menarik dan cukup berpengaruh. Genre musik Björk mencakup elektronik, pop, eksperimental, klasik, perjalanan hop, IDM, dan gaya avant-garde. Wajar jika dibeberapa lagu atau albumnya kita dengar dan menimbulkan kesan “semau gue”, nanyi semau gue, musik semau gue, dan karena itu memang ciri khas dari Björk. Rada pusing juga kalo baru pertama kali mendengar musik dan lagunya.

Dia awalnya dikenal sebagai vokalis dari band rock alternatif The Sugarcubes, yang pada tahun 1987 single “Birthday” menjadi hits di AS dan stasiun indie Inggris, serta menjadi favorit di kalangan kritikus musik. Björk memulai karir solo pada tahun 1993, menonjol sebagai artis solo dengan album seperti Debut (1993), Post (1995), dan Homogenic (1997).

Salah satu lagu terbaiknya-menurut saya- adalah Hyperballad, yang kemudian banyak dicover oleh banyak artis dan penyanyi termasuk salah satu grup band Indonesia, Mocca.

Ini adalah Hyperballad asli Björk.

https://www.youtube.com/watch?v=EnZzE89Qn7w

Lalu ini Hyperballad versi Mocca.

yang manapun favorit kalian, semuanya enak-enak!

 

 

2. Ólafur Arnalds

Atau lebih dikenal dengan nama sebutan Óli, nama panggilannya, lahir 3 November 1986 adalah seorang musikus, komponis, multi-instrumentalis, dan produser rekaman.
Jenis musik yang dimainkannya saat ini adalah post-rock, neo-classical, indie, dan instrumental dengan label sinematik Erased Tapes.

Sebelumnya, Arnalds belum pernah mengkomposisi dan memainkan musik klasikal dan belum mempunyai pengalaman pada musik tersebut. Namun, ia tertarik pada musik klasik dan ia ingin mempelajari seluk-beluk tentang musik klasik tersebut. Maka, ia mulai mencoba eksperimen baru dengan mengkomposisi dan melantunkan musik klasikal yang juga diiringi lantunan biola dan selo oleh kuartet geseknya dan mulai meninggalkan musik metal maupun hardcore.
Dan sampai sekarang pun, ia masih aktif berkarier solo bersama kuartet geseknya yang kadang ikut mengiringinya bermain musik. Ia telah menenggelamkan diri sepenuhnya dalam dunia komposisi yang bersimfoni dan menghasilkan orkestra ringan. Arnalds mengeksplorasi crossover dari klasik ke pop dengan mencampurkan dawai dengan piano.

Lalu, sejak album debut Arnalds semasa karier solonya; yaitu Eulogy for Evolution dirilis pada 12 Oktober 2007, komponis muda ini terus mendapatkan banyak apresiasi. Diikuti juga oleh EP-nya, Variations of Static yang dirilis pada tahun 2008; yang juga memperoleh apresiasi, baik dari bidang kontemporer maupun klasikal dan berhasil  menyatukan idealisme kedua bidang tersebut.

Pada bulan April 2009, Arnalds mengkomposisi dan merilis lagu per hari, dan selesai dalam waktu tujuh hari. Ia langsung membuat setiap lagu tersebut tersedia melalui foundsongs.erasedtapes.com dan Twitter. Akhirnya, kumpulan rekaman lagu selama 7 hari tersebut dirilis sebagai album yang berjudul Found Songs. Trek pertama pada album tersebut dirilis pada 13 April 2009. Dengan kontribusi cover album dari para penggemar melalui Flickr, rilis secara modern tersebut membangkitkan kenangan dari tradisi yang tampak hilang dalam era digital seperti sekarang ini.

Ini salah satu lagu terbaik oli-menurut saya,

gimana? bikin ngantuk ya?  atau merasakan santai, relaksasi….

 

 

3. Sigur Rós

Sigur Ros adalah sebuah band yang beraliran post-rock dari Reykjavik, dan telah aktif sejak tahun 1994. Dikenal karena suara vokal falsetto frontman Jónsi ini, dan penggunaan bowed guitar (gitar yang digesek menggunakan bow/penggesek biola), musik Sigur Ros juga terlihat untuk menggabungkan dari elemen estetika klasik dan minimalis. Inspirasi nama band ini berasal dari nama adik Jónsi (vokalis), yaitu Sigurrós Elin.

Selama berkarier di dunia musik, sudah banyak album yang dikeluarkan dan menjadi hits internasional, berikut adalah discography albumnya:
1. 1997-1998 : Von and Von brigði
2.
1999–2001: Ágætis byrjun
3.
2001–2004: ( )
4.
2005–2006: Takk…
5.
2007: Heima and Hvarf/Heim
6.
2008: Með suð í eyrum við spilum endalaust
7. 2009 Hiatus (vakum)

8. 2011 : Inni (album Live)
9. 2012 : Valtari
10. 2013 : Kveikur

Sempat berganti personel, baik saat melakukan rekaman album maupun saat menjalani world tour nya. Dengan komposisi personel sekarang yang terdiri dari :
Jonsi pada vokal, Georg Holm pada bass, dan Orri pada drum serta perkusi.
Ada banyak lagu hits yang dihasilkan oleh Sigur Ros, antara lain : Hoppipola, Glosoli, Olsen-Olsen, Vaka, Festival, Kveikur, dan masih banyak lagi.
Saya berani jamin kalau kalian dengar lagu mereka, kalian pasti suka walaupun lagunya tidak berbahasa inggris dan banyak yang Vonlenska.

Apa itu Vonlenska? Vonlenska adalah bahasa non-literal yang membentuk lirik dimengerti dinyanyikan oleh band pada beberapa lagu.
Vonlenska tidak memiliki sintaks tetap dan berbeda dari bahasa yang dibangun yang dapat digunakan untuk komunikasi. Berfokus sepenuhnya pada bunyi bahasa; itu tidak memiliki tata bahasa, makna, dan bahkan kata-kata yang berbeda. Sebaliknya, terdiri dari emotif vocables non-leksikal dan fonem; berlaku, Vonlenska menggunakan unsur-unsur melodis dan ritmis bernyanyi tanpa isi konseptual bahasa. Pada album (), seluruh lagu di album ini dinyanyikan secara vonlenska atau tanpa lirik, (suka-suka vokalis menyanyikan seperti apa).

Contoh lagu yang vonlenska, Olsen-Olsen

Tahun 2013 yang lalu, Sigur Ros juga pernah mengunjungi Indonesia dalam rangka world tour nya. Dan saya termasuk yang beruntung bisa menyaksikannya langsung di Jakarta.
Luar biasa keren konser live mereka, full team membawa semua peralatan ‘bunyi aneh’ yang biasa kita temukan di lagu album mereka . Apalagi saat membawakan lagu hits Hoppipola.

Hoppipola Live Jakarta (2013)

https://youtu.be/T4uKrI8kq5o


Hoppipola Official Video

Sebenarnya masih banyak lagi lagu hits Sigur Ros yang saya yakin kalian pasti langsung suka, tapi kalau saya tampilkan semua, bisa habis kuota buat buffering videonya.
Jika kalian pernah menonton film 127 Hours, maka diakhir film itu ada lagu dari Sigur Ros yang dipakai sebagai penutupnya. Lagu itu judulnya FESTIVAL (yang terdapat di album Með suð í eyrum við spilum endalaust). Masterpiece lagu ini mulai di menit 4:35

 

 

4. Of Monster and Men

Of Monsters and Men terdiri dari lima anggota, band ini berasal dari Reykjavík dibentuk pada tahun 2010.
Para anggota vokalis / gitaris Nanna Bryndis Hilmarsdóttir, co-penyanyi-gitaris
Ragnar “Raggi” Þórhallsson, gitaris
Brynjar Leifsson , drummer Arnar Rosenkranz Hilmarsson
Kristján Páll Kristjánsson ebagai pemain bass.
Band ini memenangkan Músíktilraunir pada tahun 2010

Pada tahun 2011, Of Monsters and Men merilis sebuah EP berjudul Into the Woods. Album debut band ini pada 2011 adalah ‘My Head is an Animal, mencapai posisi No.1 di Australia, Islandia, Irlandia dan Rock AS dan Charts Alternatif, sementara memuncaki Nomor 6 di chart album US Billboard 200, No 3 di UK, dan Top 20 paling grafik Eropa dan Kanada. Singel “Little Talks” juga adalah salah satu sukses internasional, mencapai Top 10 di chart musik paling di Eropa, termasuk No 1 di Irlandia dan Islandia, dan No 1 di Lagu AS Alternatif.

Baru 2 album yang dikeluarkan oleh grup band ini. Dan ada beberapa lagu hits dari grup band ini antara lain adalah : Dirty Paws, Mountain Sounds, Hunger.
Jika kalian pernah menonton film ‘The Secret Life of Walter Mitty’ tahun 2013, maka akan kalian temukan lagu Dirty Paws ini menjadi OST film tersebut.


Of Monster and Men – Mountain Sound

dan ini satu lagi lagu hits mereka-versi saya:
Hunger

 

Ternyata musik Iceland sudah banyak yang menjadi international hits, menambah referensi musik ‘ajaib’ yang tidak itu-itu saja.

Dan yang saya senangi dari-hampir semua- musik Iceland adalah membawa imajinasi kita liar bebas bermain-main, membawa perasaan tenang dan sekaligus menyadari bahwa imajinasi kita tak terbatas. Mengamini perkataan Einstein ‘imagination is more important than knowledge’

 

 

—“Cogito Ergo Sum, Uncogito Ergo Sumsum.” (Aku berpikir maka aku ada, aku tidak berpikir maka aku mengada-ngada)

Pikiran Keluyuran


Di langit ada ikan
Sisiknya terang
Siang renang renang berputar haluan
Malam dilemparkannya bintang!
Pecah berkeping kena bibirku

Pernahkah kalian melihat air mata duyung?
Tangis sesungguhnya tiada suara
Dan pernahkah kalian mendengar duyung bernyanyi?
Ia ajari aku bertahan
Hingga perahu selesai menyeberang

Di langit ada ikan
Sisiknya basah
Terang masih, biarlah
pikiranku saja bersamanya
Keluyuran.