TARUNG SARUNG Review

“Prayer is the time you spend one-on-one with God”
 

 
 
Petinju punya ring sebagai medan berlaga. Petarung MMA punya octagon. Pesumo berantem dalam lingkaran dohyo. Cabang bela diri punya ‘sajadah’ sendiri, punya keunikan sendiri, tapi sebenarnya punya prinsip yang sama; Konfrontasi satu-lawan-satu, dengan skill dan teknik seni tersendiri. Sebelum menjadi sebuah kompetisi, ini adalah bentuk komunikasi – penyelesaian masalah – dari manusia satu ke manusia lainnya, yang telah mengadat budaya sesuai daerah masing-masing. Dan tak banyak dari kita yang sebelumnya tahu, daerah Makassar punya beladiri yang unik. Yang mempertemukan petarungnya bukan di atas ring ataupun di dalam kerangkeng. Melainkan di dalam sarung.
Budaya Tarung Sarung dari Makassar itulah yang diangkat oleh Archie Hekagery dalam drama aksi terbarunya. Hekagery menyusun narasinya ini ke dalam kerangka cerita kompetisi. Tokoh jagoan kita di sini adalah Deni, remaja anak orang kaya yang dikirim pulang kampung. Deni disuruh mengurus perusahaan keluarga di sana, sebagai bukti dia bisa berguna bagi keluarga. Tapi tentu saja, layaknya anak muda, Deni malah terlibat urusan asmara. Deni berseteru dengan jagoan di sana – jagoan yang telah berturut-turut menjuarai kompetisi Tarung Sarung. Demi membantu dan membela kehormatan teman-teman yang ia kenal di sana, Deni menyanggupi tantangan untuk ikut dalam kejuaraan Tarung Sarung nasional yang akan diselenggarakan satu bulan lagi. Dalam waktu yang singkat itu Deni harus berguru, tapi dengan syarat yang tentu saja tidak mudah bagi dirinya. Sama tak mudahnya dengan latihan yang harus anak kota itu jalani. Turns out, Deni belajar lebih banyak daripada sekadar ilmu beladiri.

Dia juga belajar bahwa masakan ikan di Makassar itu rasanya enak sekali

 
 
Ya, ini adalah bentukan cerita yang sudah familiar sekali bagi kita. Kisah kompetisi yang tokohnya underdog alias terlihat gak ada harapan untuk menang. Musuhnya jauh lebih berpengalaman. Dianya sendiri ‘lembek’. Serta ada elemen hubungan si protagonis dengan guru yang awalnya ogah untuk melatih. Film Tarung Sarung ngikutin persis beat-per-beat formula cerita ‘underdog dalam kompetisi’. Namun, yang membuat film ini sedikit berbeda adalah karakter si protagonis underdog-nya itu sendiri.
Si Deni itu bukanlah tipe karakter yang mengundang simpati kita. Dia bukan anak baek-baek, yang terlalu sombong atau terlalu naif. ‘Dosa’ Deni ini udah terlampau banyak sedari awal. He’s a spoiled rich kid, yang hal baik dalam dirinya cuma dia ringan tangan untuk berbagi. Deni percaya uang membuat semua orang bahagia, jadi dia yang punya banyak uang itu enggak pelit dan selow aja bagi-bagiin harta untuk membuat orang senang. Untuk membereskan masalahnya. Deni punya banyak anak buah yang siap disuruh-suruhnya untuk mengeroyok mukulin orang. Deni juga tidak percaya Tuhan, dia ogah beribadah, dia gak mengaku beragama. Panji Zoni juga mengapproach karakternya ini dengan akting yang membuatnya mirip tokoh jahat ala cerita gangster Jepang.
Film Tarung Sarung mengambil resiko besar membuat protagonis ceritanya orang yang begitu unlikeable seperti ini. Dia ini dibikin kayak antihero or something. Sehingga pada awal-awal cerita, memang susah bagi kita untuk ngikutin cerita ini. Aku gak merasa benar-benar peduli sama Deni. Apalagi karena dia dikelilingi oleh karakter-karakter konyol yang difungsikan untuk membalancekan tone. Menjadikannya lebih pop. Supaya kita merasa senang karena mereka lucu. Padahal malah semakin annoying. Aku awalnya malah ragu bagaimana elemen underdog bisa worked jika karakternya dibuat unlikeable. Tapi seiring berjalannya cerita, seiring kita semakin mengerti kemana arahan progres cerita, karakter Deni terasa semakin membaik. Development karakternya dalam durasi nyari dua jam ini begitu gede. Deni bukan semata berhasil membuat kita bersimpati, melainkan, he really earns it.
Kultur kedaerahan seperti tarung sarung itu sendiri, dan juga agama, dimainkan ke dalam formula cerita underdog tadi. Dengan satu lapisan lagi yakni lapisan fish-out-water. Inilah yang jadi pembentuk karakter Deni. Anak kota, yang percaya uang sebagai jalan keluar, yang jauh dari agama, yang main keroyokan, dibentrokkan ke dalam lingkungan yang lebih kekeluargaan, yang erat dalam keagamaan, yang menjunjung tinggi spiriatualis one-on-one. That’s the grand design dari karakterisasi Deni. Karakternya dibuat seperti demikian supaya bisa memuat makna kultur tarung sarung yang selaras dengan agama, dengan harapan supaya kita bisa ikut belajar bersama Deni. Buatku aspek yang menarik dari konteks ini adalah soal satu-lawan-satu dan pencerahan Deni terhadap agamanya. Dalam beladiri tarung sarung, mau tak mau Deni memang harus satu lawan satu dengan lawan di dalam sarung. Dan bagaimana sarung juga merupakan atribut ibadah, yang dipakai saat Deni berkomunikasi one-on-one dengan sang Pencipta. Ada koneksi di sini. Yang dapat kita lihat dijadikan solusi oleh Deni pada adegan final fight yang cukup nyeremin itu.

Satu-lawan-satu dalam berantem actually lebih terhormat dibandingkan keroyokan. Karena benar-benar mengetes keberanian saat kita menatap langsung mata musuh. Apalagi jika berada dalam satu tempat yang dekat, seperti dalam ring atau malah rentang satu sarung. Keberanian inilah yang harus dipelajari oleh Deni; keberanian yang akan mengantarkannya kepada keikhlasan. Dan cara terjitu membuktikanny adalah dengan belajar sholat. Karena saat beribadah, Deni akan di dalam sarung sendirian, mata-ke-mata dengan Allah.

 
To address the elephant in the room; ya film ini jelas sekali terinspirasi oleh The Karate Kid (1984). Nama lengkap Deni aja Deni Russo, throwback ke protagonis The Karate Kid yang bernama Daniel LaRusso. Tahap-tahap latihan beladirinya juga mirip, Yayan Ruhian jadi ‘Mr.Miyagi’nya di sini. Nyuruh Deni nepok nyamuk dan beresin sendal mesjid pakai kaki sebagai bentuk latihan yang tak Deni sadari. In fact, film Tarung Sarung ini menjadi meta tatkala Deni dan Tenri (love interestnya) melihat poster film The Karater Kid. Mereka berdua mengenali film tersebut, bicara tentangnya, Deni malah menyebut dirinya taunya cuma Karate Kid versi remake dan suka sama film tersebut. Dengan begitu, gak masalah bagiku film ini punya elemen cerita dan beat yang The Karate Kid, toh filmnya sendiri embrace it.  Hanya saja, menurutku film ini melewatkan kesempatan untuk bermain lebih jauh dalam ranah meta tersebut. Karena kan aneh, karakternya tahu film Karate Kid, tapi gak nyebutin apa-apa soal kejadian yang ia lalui persis sama dengan film itu. Menurutku film ini mestinya bisa have fun lagi, totally bermain di ranah meta alias bikin self-aware aja. Daripada menyebutkan/menampilkan sekilas yang malah jadi kayak sebagai alasan aja.

Like, “tuh lihat kami nampilin poster Karate Kid, jadi ya kami memang sengaja kok nyamain ama film ini”

 
 
Memang, ada beberapa titik dalam film ini yang masih bisa diperbaiki penuturannya, atau ditambah eksplorasi penulisannya. Misalnya adegan opening di bar yang sempat kusinggung sekilas. Di opening ini tidak langsung kelihatan bahwa tokoh utama cerita adalah cowok yang ngeroyok orang yang udah minta maaf. Deni malah tampak seperti penjahat. Apalagi karena momen pembuka film ini exactly adalah nampilin karakter yang ternyata bukan siapa-siapa di cerita sedang nonton liputan kompetisi tarung sarung di handphonenya. Adegan nonton itu tidak perlu, karena pertama bukan tokoh utama cerita yang nonton. Kedua karena penjelasan tentang tarung sarung toh akan diulangi kembali saat Deni baru tau dan ingin berlatih. Jadi, adegan penjelasan di opening itu redundant. Untuk memperkenalkan tarung sarung early (within 10 minutes) kepada kita sebenarnya bisa dilakukan saat adegan Deni nonton televisi di rumahnya sebelum berangkat ke Makassar. Tinggal bikin saja Deni menonton tayangan liputan tersebut.
Penulisan film ini bisa di-improve lagi berikutnya pada berbagai adegan Deni diajarin prinsip dalam agama Islam. Meskipun memang setiap percakapan itu dibuat menggantung untuk Deni mempertimbangkannya di dalam hati, tapi tetap film terdengar ‘terlalu frontal berceramah’. Pengadeganan mestinya bisa dibuat lebih smooth lagi. Sebagai perbandingan, kita bisa lihat bagaimana film Ma Rainey’s Black Bottom (2021) menghandle tokoh utamanya yang juga jauh, tak percaya, dan bisa dibilang mengantagoniskan agama. Pencerahan yang datang kepada karakter dilakukan oleh film itu lewat lebih banyak gerakan kamera ketimbang dialog-dialog nasehat dari karakter lain. Sehingga film tersebut jadi lebih smooth dan less-menceramahi.
Dan terakhir, satu hal lagi yang mestinya bisa dikembangkan oleh film ini adalah penulisan terhadap karakter lawan utama si Deni. Yang kita tonton ini, karakter jahatnya, ya just that; jahat. Ambisius, nekat. Dan kasar. Dengan kata lain, masih satu dimensi. Padahal sudah ditetapkan bahwa tarung sarung itu kuat menyangkut soal harga diri. Si Sanrego jahat yang suka manggil Deni ‘Calabai’ itu tidak pernah benar-benar dibahas dorongan personalnya. Dia hanya ingin memperistri Tenri dan Deni jadi penghalang baginya – ini gak digali oleh film, melainkan Sanrego dibuat jahat aja. Makanya ketika konflik semakin memuncak; Sanrego menantang Deni melakukan Sigajang Laleng Lipa (tarung sarung versi hidup/mati pake badik), kita hanya melihatnya sebagai tindakan seorang loser. Padahal ada secercah emosional yang bisa digali karena Sanrego harga dirinya terluka.
 
 
With all being said, menurutku film ini cukup lumayan. Terutama sebagai drama. Karena perjalanan tokoh utamanya terasa sangat fulfilling, dan Deni benar-benar earned our respect dan simpati. Ada banyak layer pada cerita karakter ini. Keluarga, budaya, agama, bahkan lingkungan hidup. Padet banget. Dan semuanya berhasil diikat terarah oleh naskah. Karakter-karakter pendukung pun mendapat pengembangan, walaupuh beberapa difungsikan sebagai easy-fodder untuk dramatisasi. Tapi sebagian besar film ini terasa padat dan cukup berbobot. Dengan ‘hanya’ meninggalkan beberapa aspek yang mestinya bisa ditulis dengan lebih baik lagi. Dari segi aksi, yang kurang adalah kamera worknya; kurang bisa menonjolkan keunikan dari bertarung dalam sarung karena treatmentnya masih serupa sama adegan berantem biasa. Soal kemiripan dengan The Karate Kid, yah film sudah ‘ngaku’, dan memang formula cerita kompetisi begini sudah sering diulang-ulang karena formula ini sudah terbukti berhasil. Jadi aku cukup maklum. Lagipula latar film ini sudah cukup kuat sebagai identitas yang unik. Aku sedikit sayang aja film ini nyerah tayang di Netflix alih-alih bertahan nunggu tayang di bioskop.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for TARUNG SARUNG
 
 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian kenapa formula underdog dalam cerita/film tentang kompetisi selalu berhasil dan disukai penonton?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SHADOW IN THE CLOUD Review

“War is to man what maternity is to a woman.”
 

 
 
Udah lama gak ngeliat Chloe Grace Moretz dalam peran cewek badass, sehingga Shadow in the Cloud garapan Rosanne Liang ini terasa jadi pengobat rindu. Moretz bukan hanya beraksi di atas pesawat yang sedang mengudara, dalam aksi fantasi perang dunia ini, karakter yang ia perankan akan menghajar bokong monster-monster maskulinitas!
Moretz berperan sebagai Maude Garrett yang menyatakan dirinya mendapat surat perintah untuk ikut dalam misi pesawat The Fool’s Errand. Pesawat yang isinya cowok semua itu tidak begitu saja percaya kepadanya. Mereka meremehkan Garrett, semua. Well, kecuali Quaid yang tampak respek dan bersedia menjaga tas bawaan Garrett di dock atas sementara Garrett sendiri ditempatkan di stasiun senjata bagian bawah pesawat oleh Kapten. Dari situlah masalah muncul. Di bawah sana, Garrett melihat sesuatu di badan pesawat – dan juga di balik awan. Pesawat mereka terancam bahaya diserang oleh dua hal berbeda. Dan tak satu orang pun yang percaya pada Garrett. Stake semakin tinggi bagi protagonis kita, sebab tas yang sedang dijaga oleh Quaid di atas tadi ternyata adalah berisi sesuatu paling berharga yang harus dijaga Garrett dengan nyawanya sendiri!

Dengarkanlah kata-kata perempuan, walau kadang ribet

 
Now, the movie itself is actually pretty bizzare. Ada perbedaan tone cerita yang benar-benar drastis. Film ini banyak menggunakan musik-musik techno/elektronik yang kekinian, yang mentok banget dengan setting dunia 1940an yang kita lihat. Belum lagi, film sering menampilkan visual dengan warna-warna neon, yang juga kontras dengan environment pesawat yang tampak kuno, dan ringkih. Benturan-benturan ini menciptakan kesan ‘dreamlike’, seperti sebuah fantasi. Sementara itu, melalui kontras modern dengan jadoel itu, bawah sadar kita juga dibuat mengerti kalo ini adalah kisah fantasi yang menyuarakan hal kekinian. Ini adalah soal perempuan dalam dunia pria.

Film bermaksud untuk memperlihatkan kepada kita hal-hal seperti bagaimana perempuan diperlakukan, prejudice apa yang seringkali menimpa, dan betapa merawat anak saja dapat menjadi begitu perjuangan bagi perempuan. Dalam kata lain: film ingin memperlihatkan perang seperti apa dialami oleh perempuan masa kini, dan betapa kadaluarsa sesungguhnya ‘perang’ tersebut. 

 
Paruh pertama film ini dengan paruh keduanya udah kayak dua film yang berbeda. Aku biasanya suka banget dengan film-film yang bahkan si film itu sendiri mengalami perubahan. Kriteria film yang kukasih skor 9 biasanya seperti demikian. Misalnya Jojo Rabbit (2020) yang awalnya cerita di camp terus berubah jadi cerita semacam ‘stranger on attic’ lalu berubah lagi jadi cerita perang. Atau Inside Out (2015) yang berubah dari cerita di ruang kendali menjadi cerita petualangan. Shadow in the Cloud pada paruh pertama adalah cerita yang sangat contained. Hanya berisi dialog-dialog, dengan situasi yang menarik. Garrett sendirian di turret bawah. Terkunci. Terpisah dengan lawan ngobrolnya; para kru pria yang berada di bagian atas pesawat. Mereka ngobrol lewat radio internal pesawat. Aku genuinely suka bagian ini. Aku suka setnya; yang menggambarkan betapa terkucil, terkurung, dan rendahnya perempuan ditempatkan oleh pria-pria toksik. Aku juga suka sama dialog mereka, dan cara dialog tersebut dimainkan. Dimulai dari Garrett yang mencuri dengar para kru ngelecehin dia, hingga ke akhirnya mereka berdebat dan Garrett put them in their place saat mengungkap kepandaian dan pengalaman mereka ternyata tak jauh berbeda – bahkan Garrett lebih superior. Akting Moretz pun ternyata lebih ‘cakep’ di bagian drama berdialog-dialog ini.
Tapi kemudian, sembari Garrett melakukan lompatan ke luar pesawat, film juga melakukan lompatan yang tak kalah jauhnya. Sekarang ceritanya berubah menjadi action thriller/horor yang luar biasa impossible. Dan bagiku, film ini langsung terjung bebas. Menubruk permukaan bumi, terbakar, dan meledak hingga tak bersisa. Ketika elemen Gremlin dimunculkan, film ini masih bisa ditolerir.  Tonenya sedari awal sudah diset sebagai sebuah fantasi, sehingga tak masalah jika ternyata monster kayak Gremlin ternyata beneran ada. Gremlin itu pun masih cocok jika dimasukkan ke konteks maskulinitas karena makhluk antagonis itu bisa dilihat sebagai perwujudan dari sifat-sifat jelek para lelaki. Karena mitos Gremlin aslinya memang muncul sebagai kambing-hitam keteledoran manusia merawat kendaraan seperti pesawat, you know, ‘kendaraan pria-pria’. Gremlin disebutkan sebagai makhluk seperti goblin yang merusak peralatan, sehingga menyebabkan kecelakaan, padahal aslinya ya karena memang kendaraannya gak terawat aja. Seperti pesawat yang dinaiki Garrett. Jadi, Gremlin ini bukan masalah, adegan Garrett menghajar Gremlin di babak akhir juga cukup memuaskan walaupun pengadeganannya bego. Yang bikin malesin itu adalah aksi-aksi lain yang dibuat begitu heboh sehingga tak masuk akal. Aksi-aksi seperti Garrett yang jatuh, keluar dari pesawat, terlontar masuk kembali karena imbas ledakan pesawat musuh yang hancur. Konyol!
Aksi-aksi seperti begitu malah membuat kita jadi menertawakannya. Garrett bergelantungan, merayap di luar pesawat sembari membawa tas kulit yang ia jaga biar gak jatuh. Pesawat-pesawat musuh yang gak pernah menembakinya, tapi selalu sukses menembak kru cowok di dalam pesawat – tepat pada saat punchline dialog mereka yang terkesima melihat aksi Garrett. Gremlin yang muncul ngajak berantem, tapi luar biasa mematikan terhadap kru laki-laki lain. Aksi-aksi konyol itu dengan cepat menjadi annoying, karena kita sadar bahwa satu-satunya alasan adegan itu terjadi adalah karena ingin menunjukkan kehebatan Garrett sebagai seorang perempuan. Agenda feminis salah kaprah yang ditunjukkan oleh film ini. Garrett yang di awal sudah benar ditampilkan sebagai seorang yang bercela dengan motivasi dan muslihatnya sendiri, kini berubah ditampilkan sebagai seorang yang lebih baik daripada siapapun di sekitarnya. Garrett ini bisa semua, mulai dari mekanis pesawat, pilot, penembak, dan petarung. Tentara beneran aja jarang yang bisa semua skill kayak gitu. Semua elemen di luar dirinya pun lantas diperlemah demi menguatkan tokoh ini. Ledakan yang tak membunuh, malah menjadi pegas penyelamat. Peluru-peluru yang senantiasa meleset.. Garrett bahkan bisa ‘berteleport’ mengejar Gremlin. Semua ke-lebay-an ‘perempuan-hebat’ itu membuat film ini jadi tak pantas lagi menyandang narasi pemberdayaan yang jadi gagasan utamanya.

This is the close we can get to an action-feminazi!

 
Padahal kalo memang mau bikin cerita yang menghormati perjuangan perempuan di medan perang, kenapa tidak bikin cerita yang lebih real aja misalnya tentang salah satu pilot cewek Perang Dunia II yang fotonya dipajang oleh film ini di kredit penutup. Kenapa harus memilih cerita yang berujung menjadi aksi tak masuk akal yang hanya seperti menuding dan mengecilkan nilai perjuangan.
Sebenarnya film ini sudah mengeset ‘nada dasar’ ceritanya supaya kita enggak kaget dengan perubahan drastis di tengah-tengah. Tapi, film ini melakukan itu dengan demikian aneh. Klip video kartun perang ditampilkan di layar, memperlihatkan soal Gremlin dan pesawat, dengan adegan over-the-top khas kartun. Sebenarnya ini cukup, kalo ditempatkan dengan benar. Film ini anehnya, membuat opening itu seperti terpisah dari cerita utama. Kita tidak melihat karakter menonton klip tersebut atau apa. Karena setelah klip itu, kita lantas disambut oleh kredit studio dan logo-logo yang terlibat produksi film ini. So, bahkan sedari mau mulai aja film ini udah gak make sense. Penulisannya janggal. Garrett sendiri pun tak mendapatkan plot yang benar. Tidak ada pengembangan pada karakternya, melainkan hanya pengungkapan demi pengungkapan; revealing demi revealing. Garrett dibikin sudah benar dan kuat sedari awal. Tidak ada pembelajaran pada karakternya. Tentu saja, sekali lagi karena film berkutat pada agenda tokoh feminis yang salah kaprah.
 
 
Aku menonton ini malam hari tanggal satu Januari. Dan belum genap 24 jam, tapi 2021 udah ngasih kekonyolan dan agenda yang makin annoying. Film ini bukan tontonan yang tepat untuk mengawali tahun yang semestinya penuh harap dan penyembuhan. Karena film ini memperlihatkan perjuangan dalam sebuah fantasi yang semu. Bukannya empowering, malah menggelikan. Tadinya kupikir film ini unik, pemainnya pun berjuang akting dengan sepenuh hati, tapi naskahnya ternyata asik sendiri. Sebenarnya gak masalah jika film tampil sebagai aksi thriller/horor yang konyol, but not like this. Tidak dengan karakter dangkal dan adegan yang menyangkal logika hanya untuk membuat karakternya terlihat kuat.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SHADOW IN THE CLOUD.
 
 

 

That’s all we have for now.
Bicara soal perang dan perempuan, apakah menurut kalian etis bagi suatu negara untuk mengirimkan perempuan-perempuannya berperang? Bagaimana dengan perempuan-perempuan pahlawan di jaman dahulu?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ANOTHER ROUND Review

“Drink to enjoy life”
 

 
 
Coba tebak apa persamaan antara Ernest Hemingway, General Grant, dengan Winston Churchill? Ya mereka adalah tokoh-tokoh hebat, but also, mereka bertiga adalah peminum berat. Sama seperti kalian; well, at least itulah yang dikatakan Martin kepada kelasnya dalam salah satu adegan belajar-mengajar paling gokil yang kita tonton di tahun ini. Adegan tersebut dapat kita jumpai dalam film Another Round garapan Thomas Vinterberg.
Drama komedi yang menilik kebiasaan minum di Denmark ini punya premis yang menarik. Ceritanya berangkat dari teori seorang penulis dan psikiatris beneran bernama Finn Skarderud. Penelitian yang kontroversial itu menyebutkan kandungan alkohol dalam gula darah manusia 0.05 persen itu masih terlalu rendah; dan argumennya adalah jika ditingkatkan menjadi 0.10 persen, akan membuat manusia menjadi lebih energik, lebih berpikiran tajam, lebih fokus dan terbuka. Basically, penelitian itu menyebut kandungan alkohol yang lebih tinggi akan meningkatkan performa manusia.
Empat guru SMU dalam film Another Round tertarik untuk membuktikan teori tersebut. Terutama Martin (diperankan luar biasa oleh Mads Mikkelsen), yang ngerasa dia kini menjadi membosankan. Semembosankan pelajaran sejarah yang ia ajarkan. Hubungan dengan istri dan keluarganya kian hambar. Murid-murid pun tak lagi memperhatikan kelasnya. Bahkan para murid menyalahkan Martin gagal mengajar sehingga nilai mereka jeblok. Jadi, Martin dan ketiga guru sobatnya itu mulai menerapkan minum-sebelum-bekerja. Hasilnya memang positif. Martin kembali jadi guru dan ayah dan suami yang keren. Murid-murid kini memperhatikan pelajaran karena kelas Martin sekarang jadi fun. Sesuatu yang lebih muda seperti menyeruak keluar dari Martin. Ini membuat Martin pengen lebih lagi. Dia dan teman-teman ngepush penelitian mereka lebih jauh lagi. Hingga mereka minum sampai mabuk. Dan tentu saja, mabuk dalam budaya manapun jarang sekali adalah salah satu pertanda yang bagus.

Ini baru namanya guru-guru gokil!

 
 
Maka film ini mengambil tempat sebagai studi perilaku manusia. Bukan hanya Martin yang disorot, ketiga temannya punya masalah masing-masing, dan kita akan melihat seperti apa pengaruh eksperimen dan penelitian mereka terhadap para guru ini satu persatu. Inilah yang membuat film ini menarik. Kita melihat mereka semua mulai dari fase stagnan – memboring dalam mid-life crisis – ke fase ‘terlahir-kembali’ sebagai guru yang cerdas dan menyenangkan – dan akhirnya tiba di fase paling rendah dalam hidup mereka.
Dalam mengarungi tiga fase yang dilewati karakter-karakternya tersebut, Vinterberg tampak menyetir perhatian kita keluar dari hal-hal klise. Seperti dia menyadari bahwa cerita seperti ini akan selalu ngikutin fase yang demikian, sehingga Vinterberg memusatkan perhatian kita bukan kepada fasenya melainkan dari bagaimana para karakter beraksi di dalamnya. Vinterberg juga memastikan semua itu direkam dengan treatment yang spesifik sehingga eksperiens yang dialami oleh karakter tersampaikan kepada kita. Lihat saja bagaimana kamera diperintahkannya bergerak ketika mengambil gambar Martin yang dalam pengaruh minuman, mengajar dengan cerdas di depan kelas. Martin memang masih tampak bugar, dia gak mabok atau keleyengan. Namun kamera bergerak dengan sedikit unsteady. Berayun-ayun dari close-up ke medium. Memberikan ruang tapi gak pernah lepas dari Martin. Aku gak pernah mabok. Aku bahkan gak suka (gak bisa) minum. Aku tim minum air putih karena bahkan teh dan kopi saja akan bisa membuatku tak-bisa jauh dari kamar mandi untuk beberapa jam. Tapi aku tahu bahwa efek seperti keleyengan itulah yang ingin dicapai oleh Vinterberg ketika membuat kameranya menangkap dengan gerakan seperti itu. Supaya kita dapat merasakan dengan subtil apa yang sedang terjadi pada karakternya.
Puncaknya tentu saja adalah pada adegan menari di ending. Wuih! Buatku ini adalah salah satu ending yang berhasil mencampurkan rasa/emosi dengan gelora visual, dan enggak muluk-muluk. Powerfulnya itu mirip seperti pada ending Sound of Metal (2020). Karena kedua film ini berhasil mentransfer emosi karakter sepanjang cerita kepada kita yang udah ngikutin tanpa pernah dibuat terputus sekalipun. Ending ini juga sekaligus memperlihatkan betapa menuntutnya permainan peran yang diberikan kepada Mads Mikkelsen. Dia harus mendeliver both secara emosional dan secara fisik – dilaporkan Mikkelsen beneran melakukan adegan menari itu sendiri tanpa stuntmen – dan keduanya tersebut sukses berat ia lakukan. Yang istimewa dari adegan ini adalah journey karakter Martin sudah demikian kuat tertutup – film menghantarkan kita melihat itu dalam cara yang sungguh unik. Di situ, walaupun dia memang terlihat minum tapi kita tahu bahwa Martin tak menari karena mabok, seperti pada adegan mereka ‘party’ di pertengahan cerita. Di akhir ini kita mengerti bahwa Martin menari sebagai dirinya sendiri. Bahwa saat itu dia yang menyadari hidup dan dirinya sendiri tidak akan bisa kembali ke ‘kejayaan masa muda’, namun toh dia tetap merayakan hidupnya.

Bahwa minum bukan untuk mengobati keadaan susah dan jadi jalan keluar untuk lebih baik dengan menjadi mabok. Minum adalah bentuk dari merayakan kehidupan. Sebuah tos yang dilakukan seseorang kepada dirinya sendiri, karena hidup tak akan menjadi baik kecuali kita sendiri yang mengubah pandang dan mengusahakannya.

 

Tapi bagaimana cara agar minum tak menjadi candu?

 
 
Tidak seperti film komedi Indonesia tahun ini yang tentang guru itu, Another Round memang memperlihatkan karakternya bekerja sebagai guru. Karena film ini gak lupa bahwa itulah kontras yang ‘dijual’ sejak awal. Lebih lanjut lagi, Another Round memang memiliki penulisan yang secara teori benar. Tiga aspek kehidupan tokohnya diperlihatkan semua. Kehidupan personal, kehidupan profesional, dan kehidupan privat Martin benar-benar ditampilkan supaya kita lebih memahami akar dari konfliknya. Kita mengerti kenapa Martin yang seorang guru nekat untuk minum alkohol justru pada hari-hari dia mengajar. Kita mengerti motivasi dari karakter ini. Karena sekali lagi, ini bukanlah semata tentang perbuatan minum atau maboknya. Another Round tetap adalah perjalanan personal karakter.
Semua orang di kota Martin minum alkohol, bahkan remaja sudah diperbolehkan mengonsumsi dengan batasan tertentu. Semua orang di sana pernah mabok. Nah, di sinilah letak kegoyahan film ini. Ada titik ketika film seperti bingung mengambil sikap terhadap mabuk – terhadap kebiasaan minum alkohol – itu sendiri. Istri Martin dalam satu adegan menyatakan mereka renggang bukan karena Martin yang kini jadi suka minum, karena semua orang minum. Melainkan karena Martin itu sendirilah, jadi Martin harus menengok ke dalam dirinya. Tapinya lagi, film tampak kesusahan melepaskan kesalahan Martin dengan alkohol. Menjelang babak penyelesaian film ini, narasi justru semakin memperlihatkan hal-hal buruk itu dari kecanduan alkohol. Minum yang tak-terkendalikan. Sehingga pandangan film ini terhadap alkohol jadi mencuat kembali, menutup soal personal karakter, dan pandangan tersebut blur. Film tak mengambil sikap tegas terhadap tradisi minum-minum yang mereka potret.
Pengembangan karakter di babak ketiga itu jadinya terasa terlalu cepat. Setelah satu peristiwa kematian, on top of peristiwa ‘tragis’ lain, Martin jadi berubah. Film terasa seperti nge-skip eksplorasi penting. Aku mengerti ini soal karakter Martin, tapi aku juga ingin melihat posisi film lebih tegas. Begini; sedari awal, minum-minum itu sudah diset layaknya jawaban yang benar, tapi lalu diperlihatkan sebagai yang salah, tapi karakter menyebut bukan soal mabuknya, dan kemudian Martin arc complete. See, seperti ada yang hilang. Film seperti berkelit dan cerita beres. Aku ingin eksplorasi yang lebih banyak supaya hubungan ke karakternya lebih erat.
 
 
 
Buatku hanya dengan begini, cerita film ini cukup terlihat sebagai anekdot saja. Seperti anekdot Hitler dengan dua tokoh politik yang diajarkan oleh Martin di dalam kelas. Amusing untuk didengar, tapi anekdot itu mengundang pemikiran yang lebih mendalam; kenapa yang gak peminum seperti Hitler pada akhirnya tetap menjadi the worse person. Film ini sendiri pun meng-gloss over pemikiran seperti itu. Fokusnya tetap pada karakter. Yang dimainkan luar biasa, dengan arahan dan treatment penceritaan yang baik. Membuat film ini lucu, dan maka menjadikannya cukup tragis. Penulisannya-lah yang sedikit kurang bagiku. Tapi tetep, film ini bakal jadi pesaing kuat buat kategori Film Internasional Terbaik di Oscar tahun depan.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ANOTHER ROUND.
 
 

 

That’s all we have for now.
Orang bilang mabuk membuat seseorang bisa jadi lebih jujur, film ini memperlihatkan alkohol membuat Martin jadi lebih keren. Bagaimana pendapat kalian tentang itu? Kenapa mabuk bisa membuat orang menjadi lebih jujur, lebih berani, dan lebih terbuka?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

WONDER WOMAN 1984 Review

“Wishes are free, but you have to pay for everything else.”
 

 
 
Harga dan impian punya kesamaan. Semua orang punya. Setiap orang pasti memiliki keinginan, dan setiap orang tentulah rela untuk membayar sejumlah ‘harga’ demi keinginan dan impian mereka bisa terpenuhi. Sekuel Wonder Woman yang kembali digarap dengan sangat cakep oleh Patty Jenkins akan ngasih tau kita sedikit banyak tentang ‘keinginan’ dan ‘harga’ tersebut. Bahwa seringkali harga yang kita bayar terlalu tinggi, padahal sesungguhnya yang kita miliki dalam hidup sudah cukup.
Film ini dibuka dengan adegan di Pulau Amazon, saat Diana kecil ikut kompetisi obstacle-course ala Benteng Takeshi  Ninja Warrior. Opening ini penting untuk dua hal; menyambut kita dengan aksi menghibur yang seru, serta melandaskan karakter Diana yang naif. Membuild up konflik personal yang nantinya memegang peranan penting dalam keseluruhan arc Wonder Woman dalam film ini. Karena reaksi Diana Kecil terhadap kegagalan dan kekalahannya di kompetisi ini akan terefleksi dan jadi ‘sin’ utama karakternya.

Seringkali kita mengarang kebohongan, karena kita tidak menerima kenyataan. Kita ingin lebih dan merasa tidak cukup dengan yang kita dapatkan sekarang. Kita mengambil jalan pintas, demi memenuhi keinginan untuk mendapatkan yang lebih baik. Keinginan yang tak akan pernah terpuaskan. Satu jalan pintas akan berkembang menjadi lebih banyak jalan pintas. Sampai akhirnya kita tersesat di sana. Melupakan siapa sebenarnya diri kita. Dan itulah harga tertinggi yang akan kita bayar.

 
Wonder Woman 1984 memang lebih banyak bermuatan drama ketimbang aksi. Namun film ini tidak gagal dalam menampilkan babak kehidupan Diana Prince sebagai superhero. Ceritanya justru semakin menarik karena berani memperlihatkan seorang pahlawan super yang vulnerable. Yang gak semena-mena kuat. Sosok Wonder Woman di sini terasa semakin manusiawi, karena kita dibimbing untuk mengenali karakternya, memahami keinginannya, dan melihat kelemahan. Bagaimana pun juga cerita superhero tetep saja adalah cerita tentang seorang person. Penggalian person inilah yang berhasil dilakukan maksimal oleh Jenkins. Jadi film ini enggak sekadar bak-bik-buk menghajar musuh, melainkan juga bahkan tokoh musuhnya diberikan kesempatan untuk tampil relatable dan manusiawi.

Tentara Arab kalah karena mereka be like ‘Astaghfirullah haram-haram’ sambil tutup mata

 
 
Fokus cerita adalah di tahun 80an saat fanny pack masih jadi hot fashion item. Diana Prince hidup di tengah-tengah khalayak Washington D.C. Di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai peneliti benda-benda bersejarah dan menjadi pahlawan pembasmi keributan di kota, Diana diperlihatkan sebagai seorang yang kemana-mana sendirian. Diana kurang membuka diri, karena ternyata dia masih belum bisa move on dari Steve yang gugur di film pertama. Saat Dreamstone – kristal pengabul permintaan yang jadi sumber masalah film ini – ditemukan, Diana tak pelak langsung secretly make-a-wish Steve hidup kembali. Permintaan Diana ini terkabul, tapi dengan ‘bayaran’ kekuatan supernya perlahan memudar.
Sementara itu, ada dua karakter lagi yang meminta kepada Dreamstone. Dua karakter yang bakal jadi musuh utama Wonder Woman di sini. Pertama adalah rekan kerja Diana, perempuan kikuk dan cupu bernama Barbara Minerva (Kristen Wiig charming dalam peran-peran kayak gini). Minerva meminta untuk menjadi keren seperti Diana. Permintaan yang terdengar inosen, sayangnya Minerva gak tau kalo Diana itu pahlawan superpower. With great power, comes great responsibilities. Minerva mana siap. Minerva jadi orang yang angkuh dengan kekuatan barunya, dia tidak lagi ceria dan bersahabat. Penjahat kedua adalah seorang bintang televisi sekaligus pengusaha minyak, Max Lord (Pedro Pascal memainkan seorang con-man yang licin). Diremehkan seumur hidup, membuat pria ini pengen jadi yang terbaik; bagi dirinya dan bagi putranya. Jadi dia mengubah dirinya menjadi Dreamstone. Membuatnya bisa mengabulkan permintaan semua orang, sekaligus menagih bayaran apapun yang ia mau untuk memuaskan keinginannya atas kuasa. Di bawah kekuatan Max Lord, dunia kacau terancam WW84 (World War 84! hihi), sedangkan Diana terus melemah karena gak rela kehilangan sang pacar untuk kedua kalinya.
Aku bisa melihat SJW-SJW di seluruh dunia bakal sinis sama film ini. Kayaknya Wonder Woman 1984 ini bakal bernasib sama dengan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018), dalam hal filmnya bagus tapi gak banyak yang berani terang-terangan memuji. You know, karena gak sejalan dengan agenda feminis kekinian. Suzzanna Luna Maya adalah drama horor yang manusiawi tapi gak banyak yang bicarain karena protagonisnya adalah seorang wanita perempuan yang rela hidup sebagai hantu untuk bisa terus bersama suami. Sedangkan Wonder Woman 1984 ini, Diana Prince-nya dibuat sebagai seorang perempuan yang gak bisa move on dari cowok; perempuan adidaya yang sempat rela menukar kekuatannya demi cinta. People will certainly quick to criticize that. Padahal mestinya dipahami dulu konteks journey Diana pada film ini. Sikapnya itu sebenarnya justru adalah ‘dosa’nya. Sesuatu yang harus Diana perbaiki sebagai bagian dari resolusi cerita mengenai kebenaran yang harus dihadapi.
Jalan keluar segala kekacauan dalam cerita ini adalah dengan membatalkan permintaan. Terdengar memang simpel dan gampang. But is it tho? Apakah segampang itu bagi Diana untuk membatalkan permintaannya; membuat Steve pergi lagi dari dirinya? Apakah semudah itu bagi Minerva untuk berhenti kuat dan keren sebagai Cheetah dan kembali menjadi dirinya yang cupu? Apakah seenteng itu bagi Max Lord membatalkan semua yang ia dapat, setelah semua kekuasaan itu? Cerita film ini adalah soal menghadapi kebenaran. Untuk mengenali bahwa bukan hanya kita yang menderita. Semua orang punya derita dan kesusahan masing-masing. Jadi cukuplah minta lebih banyak daripada orang lain. Menyadari itu sungguh bukanlah hal yang mudah bagi siapapun. Inilah tantangan bagi film ini. Harus membuat bagaimana membatalkan permintaan itu jadi sesuatu yang benar-benar tampak sulit dan berat bagi karakter. Makanya film ini butuh dua jam lebih. Ketiga karakter sentral yang sebenarnya sama-sama gak mau menatap kebenaran dibahas pelan-pelan, diberikan ruang untuk kita mengerti mereka. Dan pada beberapa memang efektif. Kita dapat merasakan emosi pada Wonder Woman dengan pengadeganan dia lari lalu terbang (adegan Wonder Woman belajar terbang sendiri on-the-moment itu beautiful sekali), kita juga dapat gejolak emosi ekstra ketika film membahas backstory Max Lord. Kita merasakan beratnya kembali itu bagi para penjahat yang selama ini sudah menderita.
Cerita begini menuntut range yang luas dari para pemerannya. Bagi Gal Gadot, memang ini kesempatan emas yang tak ia lewatkan. Wonder Woman udah kayak mendarah daging baginya. Gadot exceptionally excellent pada akting yang menuntut permainan fisik; dia udah buktiin ini di film pertama, dan menunjukkannya sekali lagi pada sekuel ini. Tantangan baru di sini baginya adalah menampilkan Wonder Woman yang menangis, yang merasa kalah. Dan akting emosional itu pun berhasil dimanuveri olehnya. Saat bercanda pun, karakternya come off sebagai natural, timingnya kayak mengalir aja. On top of that, karakter Gadot ini menguar kharisma. Detil-detil kecil bagaimana dia membawa diri, bagaimana orang-orang memperhatikannya, turut membangun karakternya. Like, beginilah seharusnya seorang tokoh superhero, gitu.
Lassonya bukan hanya untuk kebenaran, tapi juga untuk eksposisi

 
 
Sedari film pertama memang Jenkins mengarahkan ini dengan perhatian khusus terhadap detil-detil kecil.  Momen-momen kecil itulah yang justru membuat film ini terasa hidup. Seperti misalnya menggunakan pakaian sebagai hook untuk elemen drama. Lihat secara subtil film letakkin cheetah pattern di mana-mana, diam-diam membangun sosok si Cheetah. Ataupun misalnya pengadeganan seperti Diana dan Steve yang berjalan-jalan di kota, dengan kondisi ‘terbalik’ dari film yang pertama, karena sekarang Steve yang seperti fish-out-of-water; terkaget-kaget melihat seni, lifestyle, dan teknologi tahun 1984. Lalu sepertiga akhir, adegan ini circle-back lagi, kali ini mereka jalan dengan kota yang chaos. Jadi, Jenkins mengembangkan bukan hanya karakter tapi setting dalam detil-detil kecil tersebut. Adegan aksi atau berantemnya pun terasa berbeda satu sama lain, berkat detil-detil. Adegan berantem pertama di Gedung Putih, akan berbeda banget dengan adegan berantem kedua beberapa menit berikutnya, karena detil dan cerita karakter yang membedakan.
Ngomong-ngomong soal berantem, meskipun aku kurang puas karena terlalu singkat, tapi aku suka adegan big fight antara Wonder Woman dengan Cheetah. Environmentnya memang gelap untuk nyamarin CGI, tapi juga dimanfaatkan oleh film untuk menciptakan detil visual yang tampak wah. Aku suka lasso dan kabel listrik yang dikontraskan. Jubah emas Wonder Woman keren, kita melihat pov shot saat berantem dengan kostum ini, but mainly kostum ini dimanfaatkan untuk ‘teaser’ aja, karena there’s no way fungsi kostumnya gak diperlihatkan semua.
Approach Jenkins buat film ini kayaknya memang supaya tampak seperti cerita film kartun. Resolusi yang simpel, begitu pula awal masalahnya. ‘Cuma’ kristal ajaib entah darimana. Memang konyol, tapinya lagi, memang begitulah cerita superhero di kartun-kartun. Selalu ada ‘benda asing’ atau hal kecil lain yang jadi pemicu kehancuran dunia. Tapinya lagi, di film kedua ini, approach yang dipake itu sering juga menimbulkan adegan-adegan yang kontras dengan ‘manusiawi’ yang diincar oleh film. Alias ada beberapa adegan yang tampak dipaksakan masuk, karena cheesy ataupun karena hanya disinggung sekali itu saja. Misalnya seperti adegan di pesawat tak-kelihatan. Ya, ini disamain dengan komik karena aslinya Wonder Woman memang punya invisible jet sebagai kendaraan. Namun cara film ini memperkenalkan kendaraan itu kurang memuaskan. Tiba-tiba saja Diana punya kemampuan menghilangkan itu, dan tidak pernah dipakai lagi dalam adegan-adegan lain.
 
 
 
 
Kalo mau dibandingin, film ini memang tidak sesolid Wonder Woman yang pertama (2017) Ada beberapa bagian yang terasa dihadirkan gitu aja, yang kesimpelannya membuat film terasa lebih ringan dan kecil dari yang diharapkan. Jenkins masih mempertahankan keunggulan penceritaannya seperti memanfaatkan detil-detil kecil untuk karakter, adegan aksi yang fun dan memikat, serta tentu saja penampilan Gal Gadot yang kali ini dituntut untuk semakin ‘lincah’. Satu lagi yang menurutku nilai plusnya adalah, Jenkins sedari film awal tidak pernah terjebak untuk menjadikan superhero cewek ini sebagai agen feminis yang lebay. Tidak terasa film yang agenda-ish atau film dengan kepentingan tertentu. Melainkan fokus ke cerita yang memanusiakan tokoh-tokohnya. Cerita ini malah jadi relatable karena tentang cinta dan menerima kehilangan, yang tak pelak relevan untuk ditonton di tahun 2020 yang penuh musibah ini. Bisa membantu kita untuk tetap kuat, mau itu cewek ataupun cowok.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for WONDER WOMAN 1984.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Dreamstone mengabulkan permintaan, tapi dengan biaya berupa mengambil hal terpenting pada hidup kita. Jika kalian menggunakan Dreamstone, apakah kalian bisa menerka kira-kira apakah yang diambilnya dari hidup kalian? Kenapa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SOUND OF METAL Review

“Hearing loss is less about hearing and more about understanding”
 
 

 
 
Bayangkan kalian mendedikasikan diri untuk menggeluti satu bidang, dan kemudian berhasil di sana, lalu tiba-tiba semua itu direnggut dari kalian. Tentunya sangat devastating. Tapi ternyata ada yang lebih mengenaskan daripada itu. Bayangkan, hal yang kalian geluti tadi itu, adalah satu-satunya hal yang bisa kalian jadikan pelarian. Bayangkan jika hal tersebut actually adalah sesuatu yang kalian butuhkan dalam perjuangan personal untuk menjadi lebih baik. Dan lalu kalian dirampas dari ‘pegangan’ tersebut.
Kehilangan seperti demikianlah yang persisnya menimpa Ruben dalam film Sound of Metal. Ruben yang seorang drummer band rock menemukan zona nyamannya di atas panggung. Ketika dia nampil bersama pacarnya, Lou. Mereka tinggal dalam minibus, sembari tur keliling kota. Heavy metal dan drum itu bagi Ruben bukan sekadar hobi. Melainkan caranya berjuang melawan kecanduan obat-obatan. Musik keras dan hingar bingar kehidupan di jalan adalah kehidupan baru Ruben sebagai seorang yang clean. Namun ‘pajak’ yang harus ia tanggung dari kehidupan semacam itu, dari eksposur terhadap suara-suara lantang setiap hari, sungguhlah berharga tinggi bagi Ruben. Pendengarannya, berangsur-angsur hilang. Memutuskan Ruben dari kehidupan lebih baik yang sedang coba ia bangun. Di dunia tanpa-suaranya kini, Ruben bagaikan anak kecil yang telanjang di tengah rimba. Helpless. Defenseless. Obat-obatan dapat dengan gampang menculiknya kembali.
Sound of Metal, meskipun bicara tentang tokoh yang kehilangan pendengaran, bijak sekali untuk tahu bahwa cerita seperti ini bukan semata soal bagaimana menyembuhkan pendengaran itu sendiri. Melainkan adalah soal membuka telinga untuk sebuah pemahaman yang lebih besar. Pemahaman untuk menerima sebuah kehilangan. Dan nyatanya, itulah yang membuat drama garapan Darius Marder ini begitu manusiawi.

‘New normal’ bagi Ruben

 
Film yang menyoal seseorang yang hidupnya dipaksa untuk berubah, seseorang yang harus kehilangan semua yang ia butuhkan dalam waktu singkat, akan gampang sekali untuk jadi sangat overdramatis. I mean, cerita begini tuh udah kayak taman-bermainnya drama tragis. Yang diset untuk membuat penonton lomba mewek dan mendorong lajunya penjualan sekotak tisu di pasaran. Di sinetron aja udah sering kan, cerita yang tokohnya tiba-tiba buta, atau tiba-tiba bisu. Ruben bisa saja jadi ‘sinetron’ dengan tokoh yang tiba-tiba tuli. Serius, sepanjang nonton ini aku udah bersiap-sipa nyumpahin kalo-kalo film belok ke arah ‘sinetron’. Kalo-kalo ada satu saja elemen cringe atau lebay. Tapi ternyata tidak ada. Dari awal hingga akhir tak ada. Dan aku senang sekali. Karena; amit-amit. Serius. Amit-amit kalo sampai begitu. Karena cerita dengan arahan seperti begitu tidak akan bisa menggapai dan berlaku hormat kepada karakternya. ‘Misi’ film seperti begini harusnya bukan untuk mempermainkan emosi penonton, melainkan justru memperlihatkan gambaran emosi yang manusiawi terkait persoalan yang terjadi kepada karakter. Gol minimum yang harus dicapai film ini, paling enggak, adalah untuk membuat kita bisa merasakan langsung seperti apa rasanya kehilangan pendengaran.
Marder achieves lebih banyak melampaui gol minimum tersebut. Sound of Metal di tangannya menjelma menjadi cerita yang benar-benar respek dan memanusiakan Ruben. Gak menye-menye maupun overdramatis. Marder telah membuat ini sebagai sebuah perjalanan karakter; sudut pandang yang menarik kita masuk. Membawa kita untuk berempati terhadap karakternya. Ya, lewat permainan sound design, kita jadi tahu langsung apa yang dirasakan oleh Ruben. Ketika Ruben kesulitan untuk mendengar, maka kita pun akan dibuat mendengar kehampaan yang sama. Dan ini bukan hanya soal suara berdering atau hanya ngemute menjadikan adegannya tanpa-suara. Marder enggak memanipulasi emosi lewat absennya suara. Melainkan bercerita dengan absen suara. Ada ritme. Marder membangun kontras sedari awal. Musik rock yang memenuhi setiap adegan, belakangan akan tergantikan oleh dialog-dialog yang teredam. Menimbulkan sensasi ‘kita ingin dengar lebih banyak, tapi tak bisa’. Persis inilah yang dirasakan oleh Ruben. Ketika intensitas naik bagi Ruben, film akan mulai menarik semua suara. Ketika Ruben seperti mulai menyerah, atau saat ia akan mengambil keputusan penting, film akan menampilkan kembali suara-suara percakapan. Membuat Ruben dapat mendengar lewat alat atau membuat lawan bicara Ruben bisa bicara dengan alat. Alias, sebenarnya saat itu Ruben ‘dipertemukan’ kembali dengan cara untuk mengembalikan pendengarannya. This fuels Ruben. Ini menguatkan konflik yang ada pada pertengahan cerita. Konflik saat Ruben masih memandang tuli itu sebagai sesuatu yang harus disembuhkan.
Actually, ini jadi salah satu poin penting yang dibicarakan oleh film. Babak kedua diisi oleh cerita Ruben yang tinggal di sebuah komunitas tuna-rungu. Bagi Ruben, ini adalah tempat untuk menyembuhkan dirinya. Padahal justru merupakan tempat untuk membiasakan dirinya dengan kehidupan tanpa-suara. Kita akan melihat adegan-adegan Ruben diajarin ini itu. Menjalin relasi dengan para anggota; ada yang seperti Ruben kehilangan kemampuan mendengar secara tiba-tiba, ada yang sedari lahir. Kita melihat Ruben melihat anak-anak tuna rungu belajar berkomunikasi, lalu lantas dia sendiri juga belajar bahasa-isyarat. Tempat rehab ini terlihat ramah dan menenangkan, tapi kita bisa melihat Ruben justru tidak melihatnya seperti itu. Di titik ini, Ruben masih belum berdamai dengan keadaannya. Dia percaya bisa sembuh dari yang ia anggap penyakit, sebagaimana dia bisa sembuh dari candunya. Menarik cara film mengomunikasikan argumen bahwa sebenarnya tuli itu sendiri tidak pernah dianggap sebagai penyakit yang harus disembuhkan bagi para pengidapnya. Melainkan tak lebih sebagai ‘cara lain dalam menempuh hidup’. Inilah yang ultimately harus dipelajari oleh Ruben.

Bahwa dengan kehilangan pendengaran, tidak berarti seseorang kehilangan hidup. Melainkan hanya hidup di dunia dan gaya yang baru. Kepositifan orang-orang di komunitas itulah yang dijadikan poin vokal oleh film ini. Gak semua masalah selesai dengan uang, karena dua hal. Uang tidak menjamin, ataupun memang tidak ada masalah. ‘Hanyalah’ soal pemahaman dan penerimaan kita terhadap kondisi.

 
Saat belajar skenario, biasanya kita dikasih tahu untuk merancang kehidupan tokoh utama. Mulai dari ia kecil, hingga ke momen yang akan jadi periode cerita pada film. Rancangan atau karangan kehidupan karakter inilah yang jadi backstory, yang semakin memperkuat karakterisasi tokoh utama yang kita tulis. Backstory tersebut tidak mesti terpampang pada film, tapi harus tersampaikan garis besarnya, supaya penonton bisa mengenali karakter dan bersimpati kepadanya. Backstory Ruben dalam cerita Sound of Metal berperan besar terhadap konflik yang harus ia lalui. Penceritaan yang dilakukan oleh Marder sungguh berhasil menuturkan backstory itu semua tanpa membuat film menjadi bertempo lambat ataupun membuat ceritanya jadi melanglang buana. Marder dengan efektif membuat kita mengerti. Semua hal yang perlu kita ketahui sebagai elemen emosional bagi Ruben dengan sukses tersampaikan. Misalnya, film masih ingat (dan sempat) untuk membahas kenapa pekerjaan sebagai drummer rock itu penting bagi Ruben. Begitupun soal makna dari hubungannya dengan Lou; apa peran Lou sang kekasih itu di hidup Ruben. Semua itu terbahas, menyatu dalam plot-plot poin cerita sehingga keseluruhan narasi film ini terasa sangat padat. Dan somewhat feels real.

“Plok! Plok! Plok!” adalah bunyi metal yang baru

 
Porsi terakhir dari ulasan ini khusus kudedikasikan untuk penampilan akting Riz Ahmed, yang luar biasa emosional – tanpa perlu berteriak-teriak – sebagai Ruben. Supaya cerita yang memfokuskan kepada personal dan kepribadian Ruben ini bisa berhasil, tentu beban itu tersandarkan kepada pemerannya. Tantangan bagi Ahmed di sini adalah menemukan titik-seimbang untuk penonton dapat merasakan emosi karakternya. Titik-seimbang di antara drama soal kehilangan pendengaran yang gak semua orang bisa langsung terkonek, dengan drama tentang manusia yang berusaha menerima kenyataan. Ahmed berhasil, buktinya kita mengerti dan berempati pada setiap keputusan yang diambil oleh Ruben, entah itu soal dia bersikukuh mencari uang untuk operasi, atau ketika dia memilih keluar dari komunitas dan kembali kepada Lou.
Ahmed mengerti bahwa yang diincar sutradara adalah untuk tidak membuat tokohnya ini tampil seperti minta dikasihani, atau mengasihani diri sendiri. Dan sebaliknya, juga tidak ingin tampak seperti sosok yang sempurna bagi kita. Jadi apa yang dilakukan Ahmed untuk mewujudkan semua itu? Permainan emosi. Ahmed membawa kita menyelami reaksi Ruben saat berjuang menerima kenyataan pendengarannya tak akan pernah kembali. Karakter ini tidak dimainkannya sebagai tokoh yang bersikap kasar, ataupun suka berteriak, tapi kita masih tetap merasakan gejolak emosi dan marah dan gak-terima itu di balik dirinya. Ia menggunakan bahasa tubuh dan gerakan mata, terutama saat adegan-adegan dia mengobservasi lingkungan komunitas, sehingga arc Ruben dapat tersampaikan dengan utuh. This is one top level performance. Yang aku dengan sangat senang hati melihatnya mendapat ganjaran piala. Lihat saja adegan fenomenal di ending. Kalo itu tidak memberikan dorongan semangat dan menginspirasi kita untuk berdamai dengan kenyataan, untuk mensyukuri yang terjadi sebagai lanjutan kehidupan; maka aku gak tau lagi yang menginspirasi itu seperti apa.
 
 
 
Dengan penggunaan sound-design, penampilan akting, dan arahan yang benar-benar respek menempatkan karakter sebagai identitas dan subjek – bukannya objek penderita – film ini berhasil menjadikan ini lebih dari cerita tentang orang yang kehilangan indera pendengar. Malahan membawa kita lebih dalam ke persoalan yang lebih relatable dan manusiawi. Menggambarkan dengan penuh hormat bagaimana susah dan perlunya sebuah acceptance terhadap situasi. Beberapa penonton mungkin akan menganggap film ini berat – inner journey Ruben memang demikian kompleks – tapi film ini gak akan bikin bingung. At the end of the movie, kita gak akan dibuat bertanya balik “apa itu tadi?” Percayalah, saat menonton film ini, berat itu ada tapi berat karena konflik karakter, tidak menghambat sama sekali bagi pengalaman menonton. Dan di akhir itu, oh percayalah, kita semua akan merasakan beban itu terangkat sudah dengan perasaan yang sangat melapangkan.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for SOUND OF METAL.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Aku pernah membaca bahwa ternyata penyandang disabilitas pendengaran malah lebih suka disebut tuli ketimbang dengan sebutan tuna rungu. Menurut kalian, kenapa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

MANK Review

“Your job is to tell your story”
 

 
 
Diberikan kendali penuh atas semua keputusan kreatif cerita dalam sebuah pembuatan film sudah barang tentu merupakan mimpi basah setiap penulis naskah. Herman Mankiewicz, penulis naskah veteran di Hollywood tahun 40-an, kecipratan hak istimewa itu saat ditunjuk untuk berkolaborasi oleh produser muda Orson Welles. Di tengah-tengah Studio yang lagi struggling, Welles diberikan otonomi khusus untuk membuat film, dan Mank – panggilan Mankiewicz – yang terkenal karena talentanya, oleh Welles, diperbolehkan menulis apapun. Cerita apapun yang menarik. Dalam batasan waktu dua bulan. Asalkan, Mank setuju namanya tidak dicantumkan pada kredit. Sebagai seorang yang vokal terhadap kritik sosial, Mank setuju karena dia punya banyak observasi terhadap keadaan khususnya Hollywood saat itu. Namun keadaan memperlihatkan cerita yang sedang ditulis ternyata personal bagi Mank. Terlalu personal malah. Dan kejadian hasilnya, adalah sejarah dalam dunia perfilman.
Bagi penonton yang baru melek ke dunia, skenario cerita yang dimaksud oleh film ini adalah skenario Citizen Kane (1941). Film yang dipertimbangkan banyak kritikus dan penikmat sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Yang pernah ditulis. Film yang benar menggambarkan resesi setelah Great Depression yang melanda seantero Amerika. Mankiewicz dan Welles diganjar Oscar untuk film ini. Makanya film Mank yang dibuat oleh David Fincher ini enggak bisa lebih menarik lagi. Setidaknya sangat menarik bagi para penggemar dan pemerhati sinema. Karena Fincher menawarkan kita tempat duduk paling depan pada rangkaian peristiwa yang mendasari bagaimana film Citizen Kane itu bisa tercipta. Kita akan melihat insipirasi penciptaannya, langsung dari sudut pandang Herman Mankiewicz sendiri. Langsung, dari sosok yang terkenal bukan hanya lewat talenta tapi dari pemikiran dan aksinya yang kontroversial, bahkan untuk standar Hollywood itu sendiri.

Also it’s all very weird to me, karena selama ini ‘Meng’ buatku konotasinya adalah ‘pegulat dengan reputasi paling ditakuti bahkan oleh sejawatnya’

 
 
Tadinya kupikir, cerita film ini akan menarik karena berhubungan dengan batasan waktu. Dua bulan yang diberikan untuk Mankiewicz menulis, ditambah dengan kondisinya yang udah tua tapi tetep ngebut minum – dan rintangan tambahan berupa kaki Mankiewicz yang digips karena kecelakaan mobil, effectively membuat dia ‘terikat’ di tempat tidur, kukira akan dijadikan sebagai rintangan utama dalam proses kreatif menulisnya. Aku salah telah meragukan kehebatan sosok legenda Hollywood tersebut. Bagi Mankiewicz dalam film ini, itu semua bukan halangan untuk menulis. Namun lantas jika begitu, di mana letak konflik film Mank ini? Mankiewicz itu sendirilah yang membuat film ini jadi punya konflik yang menarik.
Mank juga bukan cerita tentang kejatuhan seorang penulis. Sedari awal film ini dimulai, kita sudah melihat karakter ini yang ‘bermasalah’. Toh dia sendiri sadar masa jayanya sudah hampir lewat. Kita bisa melihat meskipun orang-orang film di sekitar Mankiewicz menghormati dia karena ilmu dan kepandaiannya menulis, tapi orang-orang itu juga melihat Mankiewicz sebagai semacam bom waktu yang tau-tau bisa meledak. Dan tak ada yang sudi meledak bersamanya. ‘Penyakit’ candu alkohol dan lidah tajam Mankiewicz-lah yang jadi konflik dan hambatan dalam cerita ini. Citizen Kane yang ia bikin nantinya juga bukan tanpa kontroversi, sebab tokoh-tokoh di dalam film tersebut seperti tampak ditulis berdasarkan pada komentar atau pandangan Mankiewicz terhadap karakter-karakter yang berhubungan dengannya. Yang tidak semua dari mereka suka untuk terseret dalam pandangan Mankiewicz yang berani menyulut kontroversi.
Lewat naskah yang ditulis oleh mendiang ayahnya, David Fincher dengan berani memuat itu semua. Jika film-film biopik biasanya akan bersikeras untuk memperlihatkan sisi terbaik dari tokoh nyata yang sedang dibicarakan tersebut, maka Mank justru dengan bangga memperlihakan semua hal, termasuk saat-saat dia yang paling bobrok. Dalam film ini kita justru diminta untuk memahami seorang penulis tua yang seharian di tempat tidur, diam-diam minum alkohol, di lain waktu dia flirting dengan perempuan walaupun dia sudah menikah. Dia bahkan enggak sedewa itu dalam urusan perfilman; aku ngakak ketika dia menyumpahi The Wizard of Oz. And oh btw, dia menyebut istrinya dengan panggilan ‘Poor Sara’ haha bayangin. Fincher sepertinya ingin menubrukkan itu dengan latar Hollywood yang sebenarnya jadi komentar khusus. Bukan untuk memilih ‘the lesser devil’, melainkan karena justru si Mankiewicz yang dipandang sinis karena komentar dan tabiatnya itulah yang berani mengkritisi dan vokal terhadap arahan dunia kerjanya saat itu.
Film ini bertutur secara bolak-balik. Antara Mankiewicz di tempat tidur, yang dikejar deadline naskah, dengan Mankiewicz muda yang mengarungi studio-studio hitam putih Hollywood – berinteraksi dengan rekan kerja dan orang-orang film sekalian. Gips di kakinya itu yang bisa dijadikan pegangan jika kalian menemukan kesulitan untuk memahami mana Mankiewicz yang mana. Karena transisi yang dilakukan film ke dua periode tersebut sangat mulus. Konteks sebenarnya jelas. Mank bakal terflashback setiap kali akan menulis, karena dari pengalamannya itulah dia menarik cerita. Dan kita pun gak perlu menonton Citizen Kane terlebih dahulu sebelum bisa mengerti apa yang ia tulis. Sebab film benar-benar memanfaatkan sekuen-sekuen flashback itu untuk menghidupkan gambaran, memusatkan perhatian kita pada apa yang diperhatikan oleh Mankewicz. Sejarah dunia sinema terpapar gamblang di sini. Fincher bicara banyak soal politik di balik tembok-tembok studio. Bagaimana film dijadikan agenda kampanye. Dijadikan propaganda. Bagaimana studio-studio gede seperti MGM terpengaruh keuangannya oleh Great Depression. Ultimately, bagaimana itu semua membentuk iklim perfilman saat itu.

Mankiewicz punya concern terhadap itu semua. Seperti juga halnya dengan Fincher yang tampak punya peduli terhadap perfilman saat ini. Kini otonomi, atau kendali-kreatif itu sudah jadi bahkan lebih langka lagi bagi para pembuatnya. Karena studio atau PH sudah benar-benar ingin mengatur ‘produk’ yang mereka jual. Film sekarang dijaga ketat agendanya, tampilannya, bahkan jadwal penayangannya. Mank sendiri ‘terpaksa’ harus tayang di Netflix setelah cukup lama luntang-lantung mencari tempat yang mau menayangkan. Padahal setiap film mestinya adalah kisah personal. Dan pekerjaan film mestinya menceritakan kisah-kisah tersebut.

 
Menonton film ini mengingatkanku kepada dua film yang kutonton baru-baru ini; Black Bear (2020) karena sama-sama memperlihatkan proses kreatif menulis, dan Tenet (2020) karena kedua film ini sama-sama menakjubkan secara teknis. Hanya saja, sayangnya, Mank lebih mirip Tenet dalam pencapaian keseluruhan.

Magic film-film zaman sekarang adalah waktu beli tiket kayaknya penuh, tapi pas di dalam studio ternyata sepi

 
 
Penonton yang benar-benar awam, I mean, orang yang jarang banget nonton film – yang gak tau – apalagi yang gak apal aktor-aktor, niscaya akan percaya film ini adalah film jadul beneran. David Fincher paling berhasil di aspek ini. Tampilan Mank didesain selayaknya film 30an. Hitam-putih, tapi bukan hitam-putih tegas melainkan dengan kualitas yang jernih sehingga adegan-adegan flashback terkesan kayak dreamy, atau benar-benar dari ingatan. Visual hitam-putih itu dihadirkan lengkap dengan efek seperti retakan sekilas pada frame, dan ‘cigarette burns’ yang memang hanya ada pada film-film jadoel yang masih menggunakan film reel.
Pengadeganan pun dibuat sama persis dengan film-film 30an seperti misalnya komposisi; background film dibuat kontras dengan foreground (terlihat saat adegan naik mobil), atau juga shot-shot yang mengontraskan cahaya kepada karakter, sehingga menimbulkan garis siluet. Film modern yang warnanya udah full hd mana ada lagi yang menggunakan teknik itu. Fincher juga kerap membiarkan sebuah adegan terdiam dahulu untuk beberapa detik, memberi waktu kepada kita untuk mencerna dialog-dialog panjang yang mengisi adegan, untuk kemudian ngezoom ke karakter dan perlahan fade out. ‘Ilusi’ ke era jadul itupun turut diperkuat dengan artistik yang meyakinkan. Yang bahkan semakin diperkuat lagi dengan permainan peran dari para aktor seperti Gary Oldman (menyaru sempurna banget ke dalam sosok Mank), Lily Collins dan Amanda Seyfried (suka lihat tampang klasik merekaaa), Tom Burke dan Charles Dance dan masih banyak lagi yang interaksinya dan mannerismnya meyakinkan.
Semua aspek teknis film ini, seperti Tenet, sungguh mencengangkan. Gak heran nanti kalo ada unsur-unsur film Mank yang nyangkut di Oscar. Namun seperti masalah yang ada pada Tenet, film ini pun tetap saja terasa hampa. Padahal penokohannya ditulis dengan lebih baik. Aku juga bisa mengerti konteks ceritanya. Situasi dan settingnya adalah informasi yang menarik mengenai sejarah dalam dunia perfilman. Dan itulah masalahnya. Film ini terasa lebih kayak rangkaian informasi-informasi ketimbang sebuah perjalanan karakter. Dialog-dialognya memang menarik tapi kita tidak terasa tersedot masuk. Kita hanya menyaksikan saja. Kita tidak terinvest kepada karakter, karena stake waktu tadi basically dibilang enggak susah bagi karakternya, dan hanya itulah yang dipunya cerita ini untuk membuat kita terikat secara emosional kepada karakternya. Di sepertigaan akhir, ada usaha dari film menampilkan adegan yang bertujuan untuk membuat kita merasa semakin simpati – inilah bagian paling rendah dalam karir dan kehidupan profesional Mankiewicz – hanya saja dengan absennya sesuatu yang nyata yang bisa terenggut darinya, kita gak bisa bertambah simpati. Malah yang ada, adegan tersebut tampak cringe.
Simpelnya, film tidak membangun pertaruhan bagi Mankieweiz. Kalo dia gagal, dia tidak kehilangan apapun. Stake harga diri juga tidak terbangun. Karir Mank tidak pernah diperlihatkan terancam, karena sedari awal tokohnya sendiri sudah menepis dengan percaya masa emasnya sudah lewat. Jadi ini adalah karakter yang nothing to lose. Susah untuk terinvest ke karakter seperti ini. Bahkan saat debatnya minta masukin nama di kredit Citizen Kane pun kita tidak pernah benar-benar merasa mendukung tuntutannya tersebut. Adegan yang berfungsi selayaknya ‘final fight’ itupun tak jadi begitu dramatis.
 
 
 
Alih-alih surat cinta kepada perfilman jadul, film ini lebih mirip seperti cermin yang diberikan sutradara karena cinta dan pedulinya terhadap perfilman modern. Karena dari film ini kita bisa belajar banyak. Entah itu peristiwa dan situasi perfilman era 30-40an. Ataupun juga belajar dari gambaran proses produksi film pada era tersebut. Penonton yang cinta dan ingin belajar lebih banyak tentang perfilman, perlu untuk menonton film ini. Toh memang tidak digarap main-main. Aspek teknis dan unsur-unsurnya juara. Masalahnya cuma, film ini meskipun karakternya menarik dan kadang cukup lucu, tidak benar-benar terasa seperti perjalanan karakter. Film ini lebih seperti buku pelajaran, yang gak gampang untuk dibaca berulang-ulang.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for MANK.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Setelah menonton Mank, apa perbedaan dan persamaan antara perfilman sekarang dengan perfilman tahun 1930 menurut kalian?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

HAPPIEST SEASON Review

“When you wait for the right time, you’ll never know when it’s already too late”
 

 
 
Natal, bagi yang merayakannya, adalah waktu yang membawa kebahagiaan. Bukan semata karena natal punya suasana yang meriah dengan segala hiasan rumah, lengkap oleh hadiah-hadiah. Melainkan lebih karena natal adalah waktu yang ditunggu-tunggu untuk berkumpul bareng keluarga besar tercinta. Merayakan sesuatu yang diyakini bersama, sehingga perbedaan-perbedaan kecil di antara anggota bisa dilupakan setidaknya untuk beberapa hari.
Abby juga merencanakan natal untuk dijadikan sebagai momen yang istimewa. Dia ingin melamar perempuan bernama Harper yang sejak lama menjadi kekasihnya di hari natal. Karena natal tahun ini, Abby diundang untuk merayakannya bersama keluarga Harper. Namun apa yang bagi Abby tampak seperti waktu yang tepat, ternyata tidak demikian bagi Harper. Yang sama sekali belum buka suara apa-apa terhadap hubungan mereka berdua kepada keluarganya yang lagi sibuk dalam masa-masa kampanye politik. Sehingga Abby malah harus merayakan natal dengan berpura-pura sebagai sahabat Harper. Awalnya memang lucu melihat ayah dan ibu Harper memperlakukan Abby sebagai anak yatim-piatu yang malang, juga melihat Harper dengan saudari-saudarinya semacam saling berkompetisi untuk jadi ‘anak teladan’. Namun kelamaan Abby merasa semakin terkecilkan. Asmara masa lalu Harper pun mencuat ke permukaan, membuat Abby mulai meyakini bahwa ini mungkin adalah saat yang tepat baginya untuk meninggalkan Harper.

Abby harus masuk ke closet sekali lagi

 
Happiest Season boleh jadi tercetak dalam formula rom-com yang udah biasa. Kita dapat dengan jelas arah plotpoin-plotpoinnya. Bukan berarti suatu film yang ngikut formula itu jelek. Karena ini seringkali adalah masalah bagaimana sutradara meniupkan ruh ke dalam formula-formula cerita tersebut. Dan Happiest Season menjadi lebih spesial. Film ini berbeda, bukan hanya karena ini adalah rom-com tentang pasangan lesbian. Melainkan karena film ini adalah kisah cinta pasangan lesbian, sekaligus film natal; dua hal yang membuat eksistensi film ini berjarak buat aku dan sebagian besar penonton, namun tak sekalipun jarak tersebut terasa menjauhkan kita terhadap ceritanya. Jika natal adalah suatu occasion yang mengundang semua orang merasakan keceriaan dan kebahagiaannya, maka sutradara Clea DuVall telah membuat Happiest Season serupa dengan spirit natal tersebut. Karena film ini adalah kisah LGBT yang mengundang semua orang untuk masuk, merasakan kehangatan dan hati yang tersimpan di balik lucu-lucuan.
Cerita tentang karakter LGBT memang selalu didesain untuk memberikan dorongan untuk sebuah equality. Empowering penonton yang relate untuk menjadi berani membuka diri, sementara pihak sekitar untuk menerima mereka tanpa membedakan. Namun seringnya film-film itu jadi malah tampil terlalu depressing. Penggambarannya dibuat terlalu berat, hanya supaya kita bisa lebih respek terhadap perjuangan yang karakternya lalui – untuk diakui, untuk tidak dikerdilkan. Dari yang sudah-sudah, kebanyakan film tentang hal ini memang jadi tampak terlalu sibuk dengan mengibarkan panji-panji agenda mereka, sehingga meskipun kita dapat mengerti bahwa perasaan dan perjuangan mereka itu beneran nyata, karakter-karakternya malah jadi tampak agak minta dikasihani. Bahwa yang mayoritas-lah yang harus mengerti dan ‘baik’ kepada mereka. Untuk come-out, misalnya, biasanya cerita akan menitikberatkan kepada lingkungan-sosial; bahwa yang sering ditilik adalah si protagonis susah untuk come-out karena lingkungan yang tidak mendukung.
Alih-alih memperkuat suasana yang mengukung dan menyibukkan diri membuat hal yang dilalui karakter LGBT sebagai suatu hal depressing yang spesial, DuVall membuat Happiest Season sebagai rom-com normal. Ceritanya ringan seperti sinetron, banyak kejadian lucu ala sinetron. DuVall membuat kisah LGBT ini menyenangkan. Elemen depressing, emosi yang manusiawi, dan pergulatan-diri yang real bukannya tidak hadir di dalam film ini. Mereka ada, sebagai identitas latar dan konflik karakter yang kuat menguar. Hanya saja, penceritaan film tidak menampilkan elemen-elemen itu sebagai ‘agenda’. Dan ini sesungguhnya tidaklah mudah; membuat film yang bermuatan sesuatu yang real dan sangat emosional menjadi tidak berat, malah cenderung menyenangkan, jelas bukanlah suatu desain yang mampu diciptakan oleh semua orang. Di sinilah letak keberhasilan DuVall dalam Happiest Season. Membuat film ini fun, layaknya nonton sinetron, tapi tidak sedikitpun kepentingannya terkurangi. Semua orang, literally semua orang, bisa terangkul menonton film ini dan gak akan merasa sedih saat berakhir, sembari tetap mengantongi pesan yang digaungkan oleh cerita.
Karakter-karakter film ini terasa benar sebagai subjek, tanpa ada perasaan mereka seperti minta dikasihani. Mereka tidak terasa seperti menuding ke luar. Memang, pihak keluarga di film jadi alasan untuk Harper gak berani mengakui dirinya pacaran sama Abby, dan gak tertarik sama cowok mantan pacarnya di SMA. Keluarga Harper ingin membangun citra yang baik, tidak mau menarik perhatian publik ke berbagai hal, mereka ingin terlihat perfect sebagai keluarga. Latar keluarga inilah yang membentuk Harper, dan dua saudarinya. Bagi Abby, however, ini tetap adalah persoalan perlakuan Harper terhadapnya. Konflik emosional itu tetap berpijak pada dua karakter yang saling cinta, tetapi ada satu yang jadi tidak berani menunjukkan hal tersebut. Pelajaran atau gagasan penting cerita tetap dipanggul oleh dua karakter ini; Abby dan Harper. Pelajaran berupa untuk tidak terlalu lama menunggu sementara juga untuk tidak terlalu memaksakan, yang terangkum lewat monolog yang empowering dari tokoh sahabat Abby.

Memaksakan sesuatu bisa bikin runyam, tapi sebaliknya tidak akan ada yang tahu kapan eksaknya ‘waktu yang tepat’. Kita hanya bisa menyadari kita tidak bisa terlalu lama untuk menunggu sesuatu karena di saat bersamaan orang lain juga tidak akan mampu berlama-lama menunggu kita. Inilah yang membuat pilihan itu menjadi susah, dan tindakan kita menjadi begitu berarti. Film Happiest Season memperlihatkan dorongan itu sebenarnya berasal dari dalam. Karena ketakutan kita terhadap sesuatu di luar seharusnya lebih kecil daripada cinta kepada orang-orang yang ada di dalam.

 
Cerita film ini memang tidak akan bekerja tanpa chemistry di antara para karakter. Terutama Abby dan Harper. Kristen Stewart dan Mackenzie Davis punya sekarung pesona dan chemistry sehingga kita sudah dibuat peduli terhadap kebersamaan mereka semenjak keduanya manjat atap rumah orang di awal film. Sehingga ketika mereka harus ‘pisah ranjang’ saat berpura-pura cuma teman, kita bisa merasakan itu sebagai halangan yang berat. Setidaknya bagi Abby. Karena kemudian, Harper yang diperankan Davis akan mulai menapaki karakter yang mendua – kadang dia akan terlihat nyebelin, dan kadang kita berusaha memakluminya. Di sinilah tantangan peran yang harus dilewati – dan terbukti sukses – oleh Davis, dan juga Stewart. Naskah, sayangnya, jadi sedikit goyah saat dinamika itu mulai melaju. Abby yang semakin terlihat unstable karena semakin kesepian – berkat adegan-adegan konyol yang ikut memojokkan dan memperlebar jaraknya dengan Harper, sementara Harper yang semakin sering juga terlihat apatis meskipun kita mengerti konflik dirinya juga emosional; naskah mulai tampak berpindah-pindah sudut pandang. Sehingga seperti ingin mengubah Harper sebagai tokoh utama di pertengahan akhir cerita.

Aku jadi pengen lihat Kristen Stewart dan Aubrey Plaza jadi lead di action-comedy

 
 
Semua permainan peran di sini tampak natural, meskipun karakter-karakternya agak over-the-top. Tokoh sahabat si Abby tadi misalnya, dia cukup bijak, tapi sebagian besar screen timenya digunakan untuk memperlihatkan dia comically gak bisa ngurusin ikan. Ataupun soal dia punya pelacak yang bisa membuatnya tahu seseorang ada di mana – ini jadi device naskah untuk memungkinkan para karakter bisa saling ketemu tanpa memperpanjang waktu. Tadi aku sempat menyinggung film ini mirip sinetron. Dan hal tersebut boleh jadi sekaligus juga sebagai pembawa kejatuhan nilai film ini buat kita. Karena elemen-elemen sinetron dalam narasi memang kerap seperti membuat keseluruhan naskah kayak ada rongga-rongga yang memperlemah fondasinya. Akan ada banyak klise kayak karakter kebetulan bertemu di jalan atau di kafe, ada hal-hal komikal seperti ribut di depan umum. Yang semua itu sebagian besar tampak seperti untuk memudahkan cerita. Hal-hal begini mestinya bisa dikurangi, karena fun dan menghibur itu sudah tercapai lewat karakter-karakter yang menambah banyak kepada warna-warni cerita.
 
 
 
 
 
Meskipun mengangkat topik yang cukup berat dan highly relevan dengan kehidupan sosial sekarang, film ini berani tampil apa adanya. Dia mengutamakan untuk tampil ceria sehingga bisa merangkul banyak orang. Sehingga jadi unik, dalam dua sudut pandang; film LGBT yang fun dan gak depressing, atau film rom-com yang penuh hati dan punya isi yang berbeda. Sehingga kita bisa bersenang-senang menonton sembari bisa tetap aware sama permasalahan yang ada. Dihidupi oleh karakter-karakter menghibur, yang dimainkan oleh jajaran cast yang sangat fleksibel antara mainin komedi dengan drama. Beberapa adegan terlampau receh, dan mestinya bisa lebih baik lagi dituliskan. Menyatukan depressing dengan fun, memang tidak gampang, tapi pencapaian film ini sudah lebih dari lumayan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for HAPPIEST SEASON.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana pendapat kalian tentang keluarga yang menanamkan semangat kompetitif pada anak-anaknya, seperti keluarga Harper? Seperti apa kiranya ‘keluarga yang perfect’ dalam pandangan kalian?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA
 

THE SCIENCE OF FICTIONS (HIRUK-PIKUK SI AL-KISAH) Review

“The historical truth is composed of dead silence”
 

 
 
Diam terkadang bukan pertanda kuat, atau tegar. Melainkan, diam sederhananya bisa jadi adalah saat kita sedang ditekan. Dibungkam. Pemuda desa bernama Siman (Gunawan Maryanto totally deserved this year’s Citra) terpaksa harus mengistirahatkan kata-kata untuk selamanya ketika lidahnya dipotong. Siman yang penari itu telah melihat sesuatu yang tak mestinya ia ketahui. Ia menyaksikan kebohongan paling mutakhir dalam sejarah umat manusia. Yang Siman tak-sengaja lihat saat itu adalah syuting pendaratan ke bulan yang dilakukan oleh kru Amerika, di tanah Bantul Yogyakarta. Peristiwa itu mengubah hidup Siman selamanya. Lebih dari trauma, Siman justru tampak seperti bersikeras untuk tetap mengomunikasikan apa yang ia lihat. Sampai bertahun-tahun setelahnya, Siman bergerak lambat seperti astronot berjalan di luar angkasa. Ia juga membangun rumah dan kostum astronot, untuk ditunjukkan kepada orang-orang di sekitarnya. Yang sayangnya, malah membuat Siman dicap sebagai ‘orang gila’.
Luar biasa memang imajinasi – dan celetukan kreatif – sutradara Yosep Anggi Noen ini. Dia membawa teori konspirasi yang paling santer hiruk-pikuknya di dunia itu ke Indonesia. Tentu saja karena Yosep Anggi Noen sendiri punya sesuatu yang ingin dia bicarakan terkait Indonesia. Tebak apa yang terjadi di negara kita sekitaran tahun pendaratan manusia di bulan? Ya, peristiwa pemberontakan PKI. Yang berekor pembantaian di tahun 1966. Di tahun itulah Siman dalam cerita ini hidup. Dua ‘fictions’ itulah yang diparalelkan oleh Anggi Noen dalam film panjang ketiganya ini. Dua peristiwa sejarah yang masih terus diperbedatkan benar-atau-tidak, nyata-atau-rekayasa. Selain menyaksikan hoax pendaratan bulan, Siman juga berada di tengah-tengah peristiwa penculikan dan pembantaian kerabatnya yang dicurigai simpatisan PKI. Siman dalam kejadian yang merenggut lidahnya itu adalah saksi, juga sekalian sebagai korban. Nah, sekarang coba, siapa pihak yang jadi saksi – sekaligus korban – dalam peristiwa pembantaian tahun 1966 itu?

Kalo Siman bisa ngomong (oh yeah) Sayang mereka tak bisa ngomong

 
 
Begitulah kira-kira Yosep Anggi Noen memposisikan cerita ini. Memahami posisi tersebut penting bagi kita. Supaya kita dapat, setidaknya, mengenali konteks atau gambar besar film. Karena, olala, The Science of Fictions (judul bahasa ibunya adalah Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah) adalah tontonan yang dapat membuat kita bingung, dan susah untuk dicerna. Film-film seperti ini sebenarnya jangan keburu dianggap ‘angker’. Karena seringkali daripada tidak, film-film ini kuat di gagasan. Mereka boleh saja terdengar sunyi dan tak banyak aksi atau kejadian yang ditampilkan. Tapi bukan berarti tak banyak yang sedang berusaha untuk disampaikan. Persis seperti si Siman itu sendiri. Meski tak bersuara, karakter ini sesungguhnya bicara banyak soal gagasan yang dilontarkan oleh pembuatnya kepada kita.
The Science of Fictions sendiri hadir seperti dalam dua bagian. Bagian pertama sekitar tiga puluh menitan cerita, dibingkai dalam rasio sempit dan visual hitam putih. Memperlihatkan sekuen adegan di tahun 1966. Bukan hanya untuk memberikan kesan ‘ini cerita periode lampau’, tapi juga untuk memberikan kesan opresi dan tekanan yang menguar kuat sekali dalam setiap shot. Bagian kedua mengambil waktu di masa sekarang. Siman hidup di dunia yang berwarna, yang memberikannya kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak di luar alih-alih ngumpet stres di dalam kamar. Siman juga banyak berinteraksi dengan orang-orang baru, yang not exactly baru karena sebagian besar mereka diperankan oleh aktor-aktor yang sama dengan pemeran tokoh-tokoh yang ada pada cerita bagian pertama. Apakah mereka sebenarnya adalah karakter di cerita pertama yang ternyata masih hidup setelah diculik? Ini menarik karena mereka mainin karakter yang berbeda, Siman tidak mengenali mereka. Penculikan dan pembantaian itu – as far as this movie views – benar terjadi. Alasan menggunakan pemeran yang sama untuk beberapa karakter sepertinya adalah untuk menunjukkan kesalingberhubungan.
Siman yang lidahnya dipotong karena peristiwa pendaratan bulan diparalelkan dengan keturunan atau keluarga terduga-PKI, karena berada di posisi yang sama. Sebagai saksi sekaligus sebagai korban. Sebagai pihak yang gak bisa membicarakan masalah yang mereka lihat atau alami. Pihak-pihak yang terbungkam. Film sepertinya ingin menyimbolkan para keturunan ini lewat karakter-karakter di masa kini yang diperankan dengan oleh aktor yang sudah memerankan karakter lain di masa lalu. Film juga menggunakan lalat untuk memperkuat ini. Menjelang akhir film kita melihat beberapa tokoh di-close up, dengan lalat di sekitar mereka. Termasuk juga Siman yang duduk dengan beberapa lalat berputar-putar di atas kepalanya. Lalat itu sepertinya adalah koneksi di antara mereka. Sebuah kesamaan. Yang menegaskan keparalelan yang ditarik oleh film tadi. Lalat itu juga berfungsi sebagai penanda sesuatu yang sudah lama tersimpan, sehingga busuk dan berbau. Dan kita tahu Siman sudah selama itu menyimpan kebenaran, hanya karena dia sudah dalam keadaan gak bisa untuk membeberkannya.
Membuat kita melihat dari sudut pandang Siman, menjadikan ini lebih emosional. Lebih dramatis, karena peristiwa yang menimpa Siman dapat kita tahu dengan pasti kebenarannya. Sehingga ketika kita melihat Siman yang bergerak pelan, mau itu sambil mengangkut barang atau berjalan mengantar map surat, diolok-olok oleh orang-orang di sekitarnya, kita menangkap itu sebagai sebuah komedi yang pahit. Kita bisa merasakan determinasinya. Untuk itu, aku semakin salut dengan Gunawan Maryanto yang memerankan, karena Siman ini sesungguhnya punya tuntutan fisik yang luar biasa. Dia melakukan semua hal; dia akan mengangkat asesoris besi, ataupun memanjat bak mobil, dengan superpelan. Ini nyatanya berat sekali untuk dilakukan. Tapi akting Gunawan tetap konsisten. Sesekali, pada beberapa adegan, kita mungkin akan terkikik juga melihat Siman, tapi tak sekalipun kita terlepas dari karakternya. Kita dengan efektif dibuat sudah terlanjur peduli dengan karakter ini. Ketika dia minum dengan gerakan superlambat saja, kita akan menatapnya. Menunggunya. Karena kita ingin menyelami apa yang ia rasakan.

Sutradara seperti ingin mengajak orang-orang untuk seperti Siman. Untuk bersikap: jika tahu pasti akan suatu kebenaran, you might as well say it. Ya, memang tidak mudah, apalagi jika kita adalah orang kecil. Akan selalu ada pembungkaman. Akan selalu ada fabrikasi cerita oleh orang yang lebih berkuasa. Siman, tanpa lidah, punya cara sendiri untuk bicara. Kita seharusnya juga bisa; lebih baik daripada Siman.

 
 
Tindakan Siman membangun rumah seperti roket dari perkakas mikrowave dan rangka mesin cuci, aksi Siman memesan baju astronot ala kadar, adalah penguat terhadap komunikasi yang berusaha ia lakukan. Aksi-aksi tersebut boleh jadi adalah teriakannya untuk menyadarkan orang-orang bahwa orang semiskin atau ‘sesederhana’ dirinya saja bisa kok untuk bikin sesuatu yang mirip roket. Siman sesekali nunjukin dia sebenarnya bisa bergerak normal, terutama dalam keadaan emosi yang sedang tinggi, entah itu saat marah atau lagi birahi. Yang lebih lanjut menyampaikan kepada kita bahwa sesungguhnya meskipun mulut dibungkam, sebenarnya kita masih bisa bertindak. Masalahnya adalah bagaimana orang-orang akan menangkapnya. Value Siman di mata orang-orang tetaplah hanya sebagai badut penghibur, and it his worst dia adalah seorang maniak. Lewat ini film dengan tepat menggambarkan kondisi bahwa memang tidak semudah itu untuk berkata.

It’s his/their words againts, who?

 
 
Tidak selamanya film ini sepi dialog. Karakter-karakter sekitar Siman akan sering bicara, kadang untuk penyambung lidah sang protagonis, namun sering juga sebagai eksposisi. Untungnya, kata-kata di film ini sama engaging-nya dengan visual yang ditampilkan. Film ini menyusun pengadeganan dengan banyak lapisan kedalaman gambar dalam setiap shot. Bayang-bayang digunakan untuk menciptakan lebih banyak lagi depth pada layar. Sehingga masing-masing frame film ini seperti sebuah jendela yang membingkai begitu dalam. Bahkan ketika film sudah ‘berwarna’ bayang-bayang terus difungsikan untuk menghasilkan depth yang membuat gambar-gambar menjadi semakin hidup, terus aktif. Sementara di background, telingaku yang biasanya gak merhatikan musik, tercuri juga perhatiannya. Oleh penggunaan musik yang kayak campuran musik film-film luar angkasa dengan musik film PKI. Turut membangun nuansa eerie yang spesifik sebagai identitas film yang bermain di realita dan fantasi seperti ini.
Dengan visi yang kuat, film ini sendirinya jadi berada dalam posisi yang cukup lucu. Cerita film ini bekerja dengan landasan berani mengungkap kebenaran, tapi memparalelkan suatu fiksi yang bisa dipastikan sendiri kebenarannya dengan fakta yang masih kabur terlihat agak seperti memaksakan argumen. Alur film ini butuh untuk kita percaya akan kebenaran atas palsunya pendaratan di bulan (ini fakta yang direka oleh cerita). Di lain pihak, untuk topik yang paralel dengan cerita itu, jadinya seperti memaksa untuk setiap penonton percaya pada kebenaran sesuai gagasannya. Film harusnya bisa membuka lebih banyak ruang untuk ini. Bagian tengah menjelang akhir yang agak nge-drag – karena kita mulai kehilangan arah mau dibawa ke mana cerita – mestinya bisa difungsikan untuk sebagai ruang-ruang tersebut. Menjadikan film jadi bahan obrolan yang lebih padet.

Seorang wanita dalam film ini menuduh Siman berpura-pura bisu karena Siman mampu mendengar. Sementara kita tahu Siman memang tidak bisa bicara karena lidahnya dipotong. Tapi bagaimana dengan kita? Kita toh bisa bicara. Kita juga tidak tuli. Kita mendengar hiruk pikuk kisah-kisah itu. Teknologi komunikasi pun sudah semakin maju. Apakah kita akan tetap bungkam terhadapnya?

 
 
 
Hiruk pikuk kebohongan yang tersaji dalam film ini bakal membuat kita berefleksi juga dengan keadaan sekarang. ‘Skenario’ di mana-mana. Lewat visual tight dan pengadeganan yang aneh, film menawarkan gagasan dengan cara yang menarik. Obrolan yang boleh jadi bakal berat, jadi seperti sedikit ringan – tanpa mengurangi intensitasnya – oleh film ini. Jika film Pemberontakan G30S/PKI dulu dikecam sebagai propaganda kebencian/pengantagonisan, maka film ini difungsikan sebagai propaganda untuk mengambil langkah yang heroik, sekuat tenaga, demi kebenaran.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE SCIENCE OF FICTIONS (HIRUK-PIKUK SI AL-KISAH)

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya interpretasi berbeda terhadap film ini?
Sebagai kontras dari karakter Siman, film ini menyiapkan karakter yang sungguh sureal. Yang seperti berjalan dalam dimensinya sendiri. Karakter seorang jenderal, atau seorang pemimpin, yang sudah ada (dan terus nongol sesekali) sejak syuting pendaratan bulan di awal. Memegang kamera. Seolah seorang sutradara yang menciptakan suatu kenyataan. Ada konflik pada karakter ini, ketika dia menyebut lantang untuk tidak mau berpartisipasi dalam kebohogan besar. Namun setelah-setelahnya, kita kerap melihat dia dengan kamera. Merekam dirinya mengendarai mobil. Merekam dirinya merokok. Tapi tidak ada kamera di mana-mana saat dia menyimpan reel video hasil syuting pendaratan bulan. Tindakan merekam diri itu juga sepertinya dikontraskan lebih lanjut dengan kehadiran karakternya Lukman Sardi (eks-TKI di Jepang) yang ‘kedapatan’ sering merekam sesuatu lewat kamera hapenya. Sampai titik ulasan ini ditulis, aku belum yakin tokoh jenderal/pemimpin besar ini merepresentasikan apa, apakah komentar sutradara terhadap presiden saat itukah?
Apakah menurut kalian film ini lebih pantas untuk menjadi wakil Indonesia ke Oscar tahun depan?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

BLACK BEAR Review

“Writing is a process where you’re feelings flows as ink being shaped as words”
 

 
 
Bagian paling sulit dalam menulis itu adalah permulaannya. Saat-saat kita menatap kertas kosong. Semakin dipelototin, maka semakin bingunglah kita mau nulis apa. Semua orang yang pernah menulis pasti pernah merasakannya. Itu terjadi sebenarnya bukan karena kita bego atau semata karena lagi gak ada ide. Melainkan bisa jadi karena kita sebagai penulislah yang belum siap secara mental. Karena sesungguhnya menulis itu adalah proses bicara dengan diri sendiri – yang kita lakukan dengan membuka pintu-pintu di dalam diri. Masing-masing kita punya pintu tersendiri yang sulit dibuka. Dan hanya benar-benar akan terbuka jika kita sudah siap untuk meng-embrace apa yang ada di dalam sana. Mungkin sesuatu yang ingin kita lupakan, atau yang ingin kita ubah.
Aku bukannya mau ngajarin nulis. Wong aku nulis aja masih cupu kok. Masih salah-salah. Buktinya aku mana berani kalo disuruh nulis buku untuk pemerintah. Yang aku bicarakan ini tentu saja adalah soal film. Black Bear, karya Lawrence Michael Levine, menawarkan sudut pandang seorang penulis/sutradara yang lagi kena writer’s block. Bengong mau nulis apa. Akhirnya si penulis ini – namanya Allison (peran yang totally owned by Aubrey Plaza) – menuliskan sesuatu di atas kertas putih itu. Sesuatu yang terbaca sebagai tentang bertemu beruang di jalan. Kita langsung menyelami yang ia tuliskan. Dan itu adalah pengalaman yang membingungkan, sekaligus memilukan. Karena Allison – menguatkan diri sekuat-kuatnya – menulis dari pengalaman paling emosional yang terjadi di kehidupan percintaan dan karirnya.

Masih untung dia gak nulisinnya di kertas buku diari Tom Riddle

 
Ada alasan kenapa aku menceritakan paragraf sinopsis barusan dengan sangat samar. Karena aku ingin ngasih batasan spoiler; batasan untuk mana yang harus kalian ketahui sebelum menonton, dan mana yang untuk sesudah menonton film. Paragraf ini adalah batasan yang dimaksud. Jika kalian belum nonton, bacalah hanya paragraf ini dan dua paragraf di atas saja. Sekadar mengetahui tentang apa sebenarnya film ini. Kita enggak pantas untuk mengetahui dengan lengkap tanpa nonton, karena Black Bear ini adalah jenis film yang ketika kita ingin membicarakannya, itu berarti kita harus membicarakan ‘semuanya’. Ini adalah jenis film yang semua adegannya ada maksud dan tujuan. Dirancang sedemikian rupa sehingga urutan adegan tersebut diceritakan saja, punya makna.
Secara konsep dan bangunan cerita, Black Bear mirip dengan Mulholland Drive (2001), atau kalo mau yang lebih recent, mirip ama film Netflix I’m Thinking of Ending Things (2020). Ceritanya seperti terbagi jadi dua buah kisah. Meskipun pemainnya itu-itu juga, tapi antara cerita di awal dengan di akhir, mereka memainkan tokoh yang berbeda-beda. Cerita bagian pertama Black Bear mengisahkan Allison menyewa kamar di sebuah rumah di tengah hutan. Rumah tersebut milik Gabe dan pacarnya, Blair yang lagi hamil.. Berawal dari basa-basi kenalan, interaksi ketiga karakter ini menjadi intens saat Gabe dan Blair mulai berdebat sampai Allison terbawa-bawa. Cerita ini berakhir dengan peristiwa yang naas. Kemudian, setelah adegan transisi yang sama dengan adegan opening dan adegan penutup (Allison duduk di dermaga kayu, menatap danau dengan tampang sedih), kita berpindah ke cerita kedua. Rumah tengah hutan itu kini berpenghuni lebih banyak orang. Bukan lagi penginapan airbnb, melainkan sebuah tempat syuting. Allison adalah bintang film di sini. Dan syuting film yang ia mainkan nanti cerita mirip sekali sama adegan perdebatan yang kita lihat pada cerita bagian pertama. Hanya rolenya yang berbeda – Allison bertukar posisi dengan Blair, dan Gabe kini jadi sutradara. Cerita kedua ini seperti berakhir dengan emotionally mengenaskan bagi Allison, karena kali ini dia yang diselingkuhin, tapi ada sesuatu yang menguatkannya di sini.
Saat kredit penutup bergulir, giliran kita penonton yang akan bengong. Apa maksudnya itu tadi? Jadi Allison dan Gabe dan Blair itu sebenarnya gimana? Mana yang nyata mana yang tidak? Apa pula maksudnya ada beruang itu? Mencernanya bulat-bulat hanya akan membuat film ini tampak sebagai dua cerita yang berhubungan tapi gak saling nyambung; alias film ini jadi SANGAT MEMBINGUNGKAN. Tapi bingung film ini adalah bingung yang mengasyikkan. Bingung yang aku suka. Karena kita tahu kebingungan yang dihadirkan ini berkenaan dengan sisi personal seorang manusia. Berakar ke karakter. Ke perasaan yang ia pendam. Sesuatu yang bisa kita relasikan, yang bisa kita ‘pegang’. Sehingga kita bisa peduli. Bukan bingung karena aturan-aturan konsep sci-fi atau semacamnya yang gak ada weight apa-apa ke karakter, selain buat nunjukin kalo pembuatnya ‘cerdas’ (yea I’m talking about you, Tenet) Black Bear punya pondasi berupa tokoh utama yang karakternya benar-benar digali. Kita bisa merasakan fokusnya tetap pada apa yang dirasakan oleh Allison. Adalah dunia si cewek ini yang dijadikan keseluruhan film. Jika ini puzzle, maka kepingan yang kita susun itu akan membentuk gambar Allison. Kepingan-kepingan puzzle itu kita dapat dari dialog, dan terutama oleh detil visual yang dihadirkan oleh film.
Jadi Black Bear ini bangunan ceritanya berupa film di dalam film, dan dua lapisan itu dibungkus lagi oleh lapisan Allison yang lagi berjuang dengan proses kreatif menulis yang ia lakukan. Allison menggali ke dalam dirinya dan menjadikan suatu peristiwa dalam hidup sebagai materi untuk ceritanya. Adegan Allison di dermaga yang muncul tiga kali adalah kunci utama; adegan-adegan itu layaknya pinggiran pada puzzle film ini. Yang harus diperhatikan adalah danaunya. Pada opening – dan penutup – danau di adegan ini berkabut banget, tidak dapat terlihat apa yang ada di baliknya. Hal tersebut bisa kita artikan sebagai simbol dari state of mind Allison – dia belum tau pasti mau menulis apa. Dia hanya berusaha mengingat. Detil penentu pada dua adegan itu adalah closeup yang menunjukkan arah pandangan mata Allison. Dia selalu melirik ke kiri dan kiri bawah. Secara teori, gaze yang mengarah ke kiri menandakan seseorang sedang ‘bicara dengan dirinya sendiri’ alias sedang mengingat perasaan yang pernah dialami. Setelah adegan ini, kita melihat Allison duduk menulis dan masuklah kita ke cerita bagian pertama; Allison jadi tamu di penginapan Gabe dan Blair. Jadi bagian ini adalah cerita karangan Allison yang ia adaptasi dari peristiwa emosional tertentu yang masih ia rasakan hingga sekarang. Ketika adegan di dermaga itu muncul lagi pada pertengahan cerita, suasananya jauh berbeda. Danaunya jernih, mata Allison pun menatap ke depan; ke kamera kru yang mengambil gambarnya dari perahu. Ini menandakan bahwa adegan tersebut somewhat asli, alias paling tidak Allison sudah ‘pasti’ bagaimana kejadiannya akan berlangsung. Tapi tetep kita harus ingat bahwa ini adalah sudut pandang Allison, jadi bagian ini meskipun peristiwa kehidupan asli Allison, ini bukan kejadian asli alias bukan adegan flashback – kita tidak mundur ke waktu yang lalu. Melainkan kejadian lampau yang dimainkan ulang di benak Allison. Ingatan yang sudah ia tempa. Seperti ketika Slughorn di Harry Potter memodifikasi ingatan yang ia berikan kepada Potter, mengubahnya supaya tidak kelihatan dia-lah yang ngajarin Horcrux ke Tom Riddle.
Dalam cerita pertama, Allison memanifestasikan dirinya sebagai fun dan cool. Sutradara dan penulis cewek yang mandiri, yang datang untuk mencari ide. Sedangkan dalam cerita kedua, dalam peristiwa asli, Allison sedang stress karena suaminya, si sutradara film yang ia bintangi, lebih ramah kepada aktris muda, alias si Blair. Allison cemburu. Sehingga mempengaruhi penampilan aktingnya. Dia bertengkar dengan suami. Itulah kejadian yang sebenarnya; memori menyedihkan yang disimpan oleh Allison. Ia meninggalkan suami yang selingkuh dan sekarang ia berjuang sebagai sutradara karena gak lagi dipakai sebagai aktor. Nah, peristiwa itu diadaptasi oleh Allison. Dia membalikkan keadaan, dan menjadikan dirinya ‘jagoan’. Pada cerita yang pertama, yang bertengkar adalah Gabe dan Blair over conversations soal feminis. Blair lah yang stress, Blairlah yang diselingkuhi. Beberapa perkataan Allison pada cerita pertama, kita lihat buktinya di cerita kedua. Begitupun dengan hal-hal yang di-alter Allison di cerita pertama, kita lihat kebenarannya di cerita kedua. Seperti tentang Allison yang udah gak jadi artis karena attitudenya menyulitkan kru, dan tentang suami yang sebenarnya ada tapi ia anggap tak ada.
Nah di sinilah makna urutan bercerita itu ambil bagian. Jika film berjalan linear, dimulai dari syuting hingga ke berantem dan kini Allison mengarang cerita baru yang berusaha untuk lebih membahagiakan bagi dirinya maka feeling dan impact peristiwa itu gak akan tersampaikan kuat kepada kita. Untuk cerita seorang penulis yang harus dealing with her past, pergolakan maksimal memang harus dilakukan dengan melihat dulu seperti apa dia memandang masa lalunya itu. Dalam film ini kita melihat meskipun Allison sudah berani membuka pintu itu, berani untuk mengingatnya, tapi dia belum berani untuk menghadapi apa yang sebenarnya terjadi.
menatap ulasan yang panjang… BEAR WITH IT!!

 
Daaan, masuklah peran si beruang hitam. Hewan beruang dalam literasi melambangkan keberanian. Dalam film ini, beruang itu basically bertujuan sama. Ia sebagai simbol yang menghantarkan kepada keberanian. Beruang di sini tepatnya adalah kenyataan. Dalam cerita pertama, Allison menghindar sampai kecelakaan saat beruang itu muncul di jalan. Effectively menghentikan karangannya – menghentikan denial yang ia lakukan. Beruang di cerita pertama muncul seiring rasa bersalah timbul di karakter Allison yang ia tulis. Kenapa bersalah? Karena yang ia tuliskan adalah Allison menyebabkan Gabe dan Blair bertengkar. Implikasi ceritanya adalah Allison itu sengaja bersikap ‘hard to read’ demi menggali sesuatu yang bisa ia tulis dari hubungan dan toxicnya relasi Blair dan Gabe. Maka si beruang muncul, ngingetin that’s a lie. Bawah sadar Allison lalu terpaksa memainkan ulang peristiwa yang sebenarnya (cerita yang kedua). Tapi nyatanya peristiwa yang kita lihat itu masih difabrikasi oleh Allison. Ingat, konteksnya adalah semua ini sudut pandang Allison, sehingga tidak mungkin kita bisa melihat apa yang tidak Allison lihat langsung. Tidak mungkin Allison bisa tahu bahwa Gabe si sutradara dan Blair pura-pura mesra supaya akting Allison tampak natural. Ini hanya alasan yang Allison tampilkan kepada kita, karena di titik itu dia belum menerima bahwa dia diselingkuhin oleh suaminya. Dia make-believe itu semua; Dia hanya ditipu, maka di cerita ia bikin Allison yang ‘menipu’ – semua orang gak kompeten, maka di cerita ia bikin Allison adalah sutradara dan writer yang berkepribadian cemerlang. Di menjelang akhir, beruang itu lantas muncul lagi, ngingetin that’s a lie dengan hadir barengan suaminya selingkuh. Namun di titik itu, Allison sudah banyak belajar dari masa lalunya tadi. Hingga dia sekarang berani untuk menatap beruang, malah mendekatinya. Dan cerita kedua itu pun berakhir. Ditutup dengan adegan dermaga berkabut, yang langsung disambung Allison menulis dan matanya menatap kita. Menatap ke depan. Menandakan dia sudah siap menuliskan kisah romansa dan karirnya dengan sebenar-benarnya.

Seperti Mulholland Drive dan I’m Thinking of Ending Things, film Black Bear ini juga sesungguhnya adalah tentang orang yang mereka-reka ulang masa buruk dalam hidup mereka. Kedua film itu bisa dibilang berakhir tragis, tapi Black Bear ditutup dengan nada berani dan semangat yang menantang. Karena berbeda dengan tokoh di dua film itu, Allison di sini melakukan sebuah proses healing, yakni menulis. Dia menghadapi masa lalunya head on. Dan dia jadi pribadi yang lebih baik. Menulis, bisa membuat kita jadi manusia yang lebih baik, particularly dengan membuat kita jadi berani memahami diri sendiri.

 
 
 
Semoga panjangnya ulasan ini tidak membuat gentar kalian-kalian yang ngintip ke sini sebelum menonton. Karena memang film ini sungguh sayang untuk dilewatkan. Eksekusinya tidak pernah membosankan berkat permainan akting yang emosional dan sangat manusiawi dari para karakter. Dialog-dialog mereka juga membuka ruang diskusi dan menarik untuk disimak. Sehingga sekalipun kita belum bisa mencerna maksud filmnya, tapi setidaknya kejadian demi kejadian masih bisa diikuti dan bergizi ditonton sebagai drama antar-manusia. Enggak sekalipun film ini terasa cheesy maupun pretentious. Ia juga tidak tertarik untuk mengecoh dengan twist. Cerita bagian dua dapat juga menarik bagi yang pengen tahu proses syuting, karena ngasih kita gambaran tentang bagaimana sebuah adegan disyut, sekaligus kendala-kendala yang mungkin saja terjadi.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for BLACK BEAR.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya interpretasi berbeda terhadap film ini? Atau apakah kalian punya pengalaman healing sendiri berkaitan dengan proses menulis?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

TENET Review

“The conundrum of free will and destiny has always kept me dangling”
 

 
 
Bayangkan jika Seo-yeon dalam thriller The Call (2020) dapetin cara untuk pergi ke masa lalu, dan berangkat ke sana untuk berantem dengan Young-sook yang udah bikin kacau hidupnya di masa kini. Bayangkan, jika masa depan punya kemampuan untuk menjangkau masa lalu. Karena seperti begitulah konflik dalam action terbaru dari Christopher Nolan ini. Dalam Tenet, pihak dari masa depan berhasil menemukan teknologi inversi waktu sehingga mereka bisa melakukan perjalanan ke masa lalu. Untuk nge-wipe out humanity yang udah bikin masa depan porak poranda. Let that sink in for a lil bit – supaya kita bisa berefleksi. Bakal jadi segitu parahnya kah masa depan karena ulah kita, sampai-sampai mereka dari masa depan segitu marahnya sehingga tak pedulikan resiko paradoks; hancurnya masa lalu berarti masa depan tak pernah ada?
Karena begitu kompleksnya, berusaha merangkum alur cerita dalam film ini akan berarti sama dengan berusaha menulis sebuah cerita pendek. Alur Tenet ini ribet banget, dan tidak bisa disederhanakan dengan rumus ‘karakter + yang ingin sesuatu + tetapi’ karena tokoh utamanya sendiri enggak benar-benar punya keinginan, at least hingga sekitar pertengahan cerita (maafkan kalo di ulasan ini sense timing/waktuku agak ngaco karena efek habis nonton film yang membenturkan timeline ini masih terasa hihihi). Garis besar yang perlu diketahui sebagai bangunan cerita film ini adalah bahwa protagonis kita, John David Washington – kita panggil pake nama aktornya aja karena tokoh ini gak diberikan nama – adalah seorang agent/mata-mata yang handal. Karena aksi dan sikapnya yang selfless, dia terpilih untuk program Tenet. Misi utamanya adalah menghentikan pihak yang disebut akan memulai Perang Dunia Ketiga. Betapa terkejutnya John saat kemudian mengetahui ‘Perang Dunia Ketiga’ itu ternyata berhubungan dengan perang lintas-waktu yang melibatkan peluru-peluru dan mobil yang berjalan terbalik. John melewati misi demi misi, yang membawanya ke sosok yang bakal jadi pemicu kiamatnya dunia.

And while at it, tentu saja seorang tokoh laga juga harus menyelamatkan seorang wanita cantik.

 

Narasi Tenet membenturkan antara kalimat “What’s happened, happened” dengan konsep ‘free will’ yang dimiliki oleh kita, manusia. Namun hanya karena apa yang telah terjadi, terjadi; bukan berarti kita tidak bisa berharap atau mengusahakan menjadi lebih baik. Karena dari masa lalu lah kita belajar. Nolan menantang kita dengan pertanyaan apakah free will itu eksis di dunia yang basically adalah aksi dan reaksi, atau bahkan sesuatu yang sudah didesain alias ditakdirkan. Masa lalu akan selalu jadi pembentuk seperti apa ke depannya. Dan kita harus melakukan sesuatu tersebut sekarang, di masa kita sendiri.

 
Konsep yang filosofis demikian menggugah pikiran, kemudian dibalut oleh aksi laga dengan suntikan elemen yang sudah menjadi ciri khas Nolan; elemen time-bending. Resultnya adalah sebuah spectacle yang seru, lagi membingungkan. Memandangnya seperti itu, maka Tenet memang tampak seperti mahakarya yang menakjubkan. Aspek teknik – didukung budget yang hanya bisa dipercayakan kepada Nolan – film ini luar biasa terdesain dan terencanakan dengan baik mengantarkan kepada capaian luar biasa yang berhasil diraih film ini. Film Tenet, seperti kata ‘Tenet’ itu sendiri benar-benar dirancang sebagai palindrom. Kejadian-kejadian yang dilalui oleh John akan circle-back to him di akhir. Menunjukkan kehidupannya berjalan ‘mundur’ seperti petualangannya, dia gak bisa lepas dari rentetan palindrom tersebut – film dimulai dari misi di Gedung Opera di mana ia diselamatkan oleh seseorang misterius, lalu ke misi di bandara, lalu di jalanan dan kembali lagi begitu dengan urutan yang terbalik – walaupun dia sebenarnya bisa memilih untuk keluar dari sana. Dalam pembalikan waktu yang sepertinya menetapkan jalan kita, ultimately tetap pilihan kitalah yang jadi penentu utama. But again, pilihan kita bukanlah pasti tidak bergantung dari result yang sudah dideterminasikan.
Sama seperti pada sinopsis di atas tadi; tidak ada cara dalam semesta-waktu kita yang bisa menyederhanakan aksi-aksi dan teori inverted time yang menjejali dua-jam lebih durasi film ini. Saking kompleksnya. Yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk mengerti yang kita lihat adalah dengan memahami dulu prinsip dasar konsep time-travel dalam film ini. Konsep yang dipakai sungguh berbeda dengan cara kerja perjalanan waktu yang biasa kita lihat dalam cerita-cerita time-travel. Dalam Tenet ini, seseorang yang mundur ke masa lalu tidak muncul secara instant begitu saja ke waktu yang ia tuju. Melainkan harus benar-benar ‘berjalan’ ke waktu tersebut. Jika John ingin kembali ke hari kemaren, ia harus mundur dulu dari titik-waktu ia sekarang ke titik waktu hari kemaren yang ia tuju. Proses ‘mundur’ itu diwujudkan secara visual, menjadi adegan-adegan unik. Nolan membangun aksi-aksi gede dari adegan-adegan unik alias terbalik tersebut. Dia punya tempo dan irama sendiri dalam memperlihatkannya. Dimulai dari adegan ‘ringan’ berupa peluru yang terbang masuk ke dalam pistol alih-alih terbang termuntahkan oleh pistol, ke adegan John yang bergerak normal berantem dengan seseorang yang bergerak mundur, hingga epik action scene seperti car chase dan perang militer yang melibatkan banyak pihak yang maju dan pihak yang mundur secara bersamaan. Sekilas memang tampak rada goofy juga, tapi adegan-adegan tersebut dilakukan tanpa CGI, murni koreografi dan praktikal efek, sehingga sungguh layak untuk diapresiasi.

Tenet bikin tenot tenot, kemudian teeeeeeetttt :flatline:

 
Sebaliknya, jika kita memandangnya sebagai perjalanan karakter, maka karya Nolan yang satu ini jelas akan bikin kita frustasi. Karena sama sekali tidak ada pengkarakteran yang bisa kita pegang secara emosional di sini. Paling tidak, untuk waktu yang lama. Seiring berjalannya cerita, kita akan menumbuhkan sedikit simpati kepada tokoh Kat (istri dari Sator, si penjahat utama, yang mempertaruhkan keberadaannya buat sang anak) dan tokoh Neil (partner John yang misterius tapi kharismatik, dia seperti tahu lebih banyak dari yang diperlihatkannya). Namun tidak ada emotional attachment yang bisa kita rasakan terhadap tokoh John, Sang Protagonis, itu sendiri. Motivasi karakternya ngawang-ngawang, karakterisasinya pun generik sekali, meskipun Nolan disebut sudah meng-cast tokoh ini dengan mengsubvert standar karakter utama mata-mata yang biasa. Padahal karakter inilah yang kita tonton; aku ngasih The Call tinggi karena fokus ke pengembangan karakter dan tidak beribet-ribet ria dalam aturan-dunianya.
Teorinya adalah Tenet berjalan dengan pace-nya sendiri. Bergerak maju tanpa basa-basi, memperlihatkan karakter si protagonis lewat aksi dan pilihannya ketimbang lewat dialog ataupun adegan yang langsung menyuapi backstory ataupun karakterisasi tokoh ini. Hal ini bisa saja benar, karena memang backstory tidak harus ada ditampilkan – bisa secara subtil – dan film pun tidak mesti bolak-balik ngerem demi menghantarkan dialog ‘basa-basi’ untuk development karakter. Semuanya memang bisa dikerahkan lewat aksi-aksi yang terpapar lewat visual. Akan tetapi, kedekatan emosional itu harus ada, supaya kita bisa lebih peduli secara personal kepada karakter. Sehingga apapun yang ia lalui dapat kita empatikan – kita benar-benar ingin dia sukses. Tak sekalipun aku merasa berada di belakang John dalam Tenet, ingin melihat dia berhasil ataupun merasa ikut ‘sakit’ ketika dia gagal atau salah perhitungan. Dan itu karena film memang sama sekali nihil dalam soal mengembangkan tokoh ini. Dialog-dialog yang ia tampilkan akan sebagian besar berupa eksposisi. John, posisinya sama dengan kita, bingung atas apa yang terjadi – apa yang harus ia lakukan. Maka sebagian besar percakapan akan berisi informasi-informasi mengenai Tenet, Temporal Pincer Movement, Algorithm, dan segala macam istilah sains-film ini. Yang hanya terdengar seperti omongkosong buat kita karena kita tidak diberikan kesempatan untuk melihat apa artinya itu semua bagi pribadi si John. Heck, tokoh ini bahkan tidak punya nama. Dia hanya disebut Protagonist, as to remind us bahwa segala kejadian ada sangkut pautnya dan berada di bawah aksi dan pilihan si tokoh. Persahabatannya dengan Neil juga tidak benar-benar menyentuh – walau sudah diperkuat dengan musik-musik volume maksimal – karena kita melihatnya dari sudut pandang si Protagonis yang datar.
Sekali lagi, Nolan menitikberatkan kepada pengalaman-menonton yang kita rasakan. Epic action scenes! Kita bandingkan saja dengan Dunkirk (2017) , dalam film itu Nolan juga melakukan hal yang sama. Meletakkan kita begitu saja mengikuti karakter yang tidak punya motivasi personal selain mereka gak gugur dalam perang. Dalam Dunkirk, konteks ini berjalan dengan efektif. Karena kita sudah paham bahwa ini cerita di medan perang. Kita tidak perlu tahu siapa musuhnya, siapa patriot-patriot itu, kita bisa bersimpati karena mereka sedang berperang. Mempertaruhkan nyawa. Belum lagi, secara konstan mereka dibom, diberondong peluru. Kita otomatis akan mendukung protagonisnya. Konteks yang serupa diterapkan kembali di Tenet, dan jelas tidak bisa efektif karena film ini punya kebutuhan untuk menjelaskan aturan-dunia. Aturan yang sangat ribet, sehingga kita tersedot ke sana. Saat menonton kita hanya ingin mengerti, tapi Nolan seperti bicara sendiri di sini – sibuk menjelaskan. Kita bosan dan berpaling ke karakter, dan guess what, karakternya tidak terbentuk. We don’t know him. Dan jadilah kita tidak punya pegangan apa-apa saat menonton film ini. Sekalipun kita bertahan, maka itu either karena kita fansnya Nolan, atau memang terpesona sama gimmick time inverted action-nya saja.
 
 
Orang-orang mengamini Nolan sebagai pembuat film bermutu yang setiap filmnya akan membuat kita merasa pintar, karena selalu sukses mengajak kita berpikir. Tapi kali ini, yang terasa adalah kita berusaha keras berpikir di depan seseorang yang begitu ambisius. Ini seperti mendengar racauan teori seseorang yang ingin nunjukin dia pintar, tapi lupa untuk memberikan alasan yang bisa bikin kita peduli sama teorinya. Jika kalian suka lihat spectacle unik, film ini jelas akan wah, pencapaian teknisnya toh tidak bisa dipandang sebelah mata (meski aksi dan ngomong terbalik buatku sudah tidak lagi seunik sewaktu aku melihat adegan Twin Peaksnya David Lynch). Jika kalian lebih menghargai film dari karakter, maka kalian akan menemukan film ini sebagai karya Nolan yang paling hampa. Bingung dan seru, tapi hambar. Tentu, film ini akan jadi lebih mudah dimengerti dan diikuti setelah menonton ulang. Lagi dan lagi. Namun toh, semua film memang begitu. Dalam second viewing, pasti akan ada hal yang lebih kita pahami. Gak harus sengaja beribet-ribet buat ditonton ulang. 12 Angry Men yang isinya orang debat aja ditonton lagi dan lagi akan tetap memberikan pengalaman serupa kita nonton film baru. So yea, buatku film ini tidak sespesial itu. Karakternya generik laga. Hanya gimmicknya saja yang lumayan unik dan ambisius.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for TENET.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Bahas teori dan kejadian sebenarnya niscaya akan panjang, gak cukup seribuan kata. Jadi, lebih baik kita diskusi di komen saja. Bagaimana menurut kalian, apakah kalian punya teori sendiri tentang Tenet? Apa pendapat kalian tentang teori yang menyatakan Neil secretly adalah anak Kat versi sudah dewasa dan inverted back thru time?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA