MEKAH I’M COMING Review

“Perhaps a great deed is belittled by an intention. And perhaps a small deed, by sincere intention, is made great”
 

 
 
Ditipu mengakibatkan korban penipuan merasa tak-berdaya, mudah dibodohi — merasa bego dan males ntar makin dibego-begoin orang sehingga urung melaporkan. Satu lagi yang mungkin dirasakan adalah; justru merasa dirinya bersalah. Kenapa bisa merasa bersalah. Bisa jadi karena menyadari alasan mereka bisa sampai tertipu pada awalnya. Menyadari bahwa niat mereka sudah salah sehingga tidak bisa melihat dengan jernih perangkap di depan mata. Niat mendapatkan sesuatu yang besar, melakukan sesuatu yang besar agar dipandang istimewa, tapi pengennya secara instan, lewat jalan pintas. Seperti niat pengen naik haji.
Seperti Eddy, pemuda warga Desa Cempluk, Jawa Tengah. Ia menggunakan naik haji sebagai alat supaya bisa menikahi Eni, pacarnya yang hendak dijodohkan dengan seorang juragan. Tapi berangkat haji itu ternyata bukan saja jika ‘mampu’, melainkan juga ‘mau’ menunggu antrian kuota hingga sepuluh tahun. Mana bisa Eddy menunggu selama itu, tahun ini dia kudu segera naik haji. Maka ia pun menjual bengkelnya, beralih ke jalur alternatif. Travel haji yang sedikit lebih mahal (ada diskon ding!), dan jauh lebih cepat gak ribet. Sayangnya semua itu hanya tipuan. Dan Eddy yang malu dan tentu ogah melihat Eni tersayang dinikahin ama orang lain, memutuskan untuk gak pulang ke kampung. Ia menetap di Jakarta, menjalankan usaha dagang, bersama orang-orang yang juga jadi korban penipuan haji. Berpura-pura jadi haji beneran kepada Eni dan ibunya di kampung.

kalo terjadi sekarang, berangkat hajinya ke-cancel virus corona

 
Permasalahan tipu-tipu jemaat haji ini dibingkai dalam komedi yang terasa segar sekali. Sebuah langkah bijak dari sutradara pendatang baru Jeihan Angga, sebab perlakuan dan arahan yang ia lakukan membuat film sama sekali tidak terasa preachy. Menyentil orang naik haji yang niatnya enggak-lurus, tanpa jatoh seperti menghakimi dan menyalahkan korban penipuan. Akan ada banyak sekali kita temukan gambaran-gambaran konyol yang mengomentari fenomena sosial yang relevan dengan masa sekarang. Film menggunakan beberapa plesetan untuk menyinggung tanpa benar-benar menuding. Melainkan mengajak kita menertawakannya bersama-sama. Seperti nama travel haji odong-odong yang digunakan Eddy; Second Travel, is clearly a jab to the First Travel, yang kasus penipuan hajinya marak tahun lalu.
Segala aspek seperti suara, musik, penataan gambar, dan kamer digunakan secara precise untuk menghasilkan efek komedi. Dan film ini sungguh gak malu-malu dalam menjelajahi ranah komedinya. Dunia film ini dihidupi oleh tokoh-tokoh yang begitu… weird, kalo gak mau dibilang receh. Si Eddy, pemuda yang punya bengkel kendaraan padahal begitu ‘sontoloyo’ dalam pekerjaannya sehingga suatu hari ia meledakkan mobil yang ia perbaiki. Kita melihat adegan ala kartun dengan asap mengepul sebagai latar desa yang tenang. Ibu Eddy digambarkan kumat ‘sakit’ setiap kali anaknya berulah, dan hanya bisa disembuhkan oleh totokan si anak. Eni dan bapaknya yang suka main gim Harvest Moon juga gak kalah ajaibnya; mereka bisa berkomunikasi dengan… suara hati! Kerecehan ini bukan sekadar dihadirkan supaya lucu, tetapi lucunya juga difungsikan sebagai device untuk memajukan narasi. Kita akan sering mendapati adegan yang circled back ke kerecehan ini sebagai usaha film menjadikannya sebagai sesuatu yang berarti. Film juga bersenang-senang dengan trope-trope drama seperti hujan turun saat tokoh bersedih dan berada di posisi rendah dalam hidupnya.
Kelucuan dalam film ini tidak terbatas pada situasi fantastis yang wallahua’lam bisa beneran terjadi di dunia nyata. Mekah I’m Coming juga menggunakan banyak situasi modern untuk memancing kelucuan, yang juga menyumbang banyak bagi bobot cerita. Misalnya fenomena selebgram atau vlogger-vlogger yang menjadi terkenal berkat konten mereka yang sebenarnya lebih banyak gak-jelasnya ketimbang manfaatnya. Film menertawakan ini, sekaligus menjadikannya sebagai sesuatu yang tak-terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Meskipun tidak membahas sampai sejauh konsekuensi (film menunjukkan ada tokoh yang alamatnya didatengi oleh orang dari kampung yang mencari Eddy, adegan ini sebenarnya punya implikasi mengerikan karena si tokoh sudah punya ribuan follower – bayangkan jika semua fansnya itu bisa nguntit sampe ke rumahnya) elemen selebgram dibuat menjadi penting dan punya keparalelan dengan gagasan film soal niat adalah hal esensial yang mampu mengubah sesuatu yang sepele dan begitu juga sebaliknya.

Salah satu hal menarik yang diperlihatkan oleh film ini adalah ternyata ada banyak orang seperti Eddy, yang tertipu oleh bisnis travel haji, tapi tak ada yang melapor. Film secara terselubung memberi tahu kepada kita bahwa mereka-mereka ini naik haji bukan karena murni pengen beribadah. Ketipunya Eddy tidak lagi dikasihani karena naik hajinya sudah menjadi kecil oleh alasan ia pengen pergi pada awalnya. Perbuatan baik akan menjadi sepele jika niatnya sepele. Dan sebaliknya, kerjaan nge-vlog yang receh bisa jadi penghasilan yang  bermanfaat jika diniatkan untuk menolong banyak orang.

 
Paling asik memang jika melihat aktor-aktor memainkan peran di luar kebiasaan akting mereka. Rizky Nazar dan Michelle Ziudith, memang baru Februari tahun lalu mereka bermain drama komedi dengan latar Jawa di Calon Bini, tapi Mekah I’m Coming ini tantangan komedinya berada di ranah yang completely berbeda. Dan dengan didukung oleh pemain-pemain yang sudah berpengalaman dalam bidang komedi, baik Nazar maupun Ziudith berhasil menyelesaikan tantangan akting mereka dengan gemilang. Tidak sekalipun bintang remaja ini tampak jaim. Film meminta mereka menjadi ajaib – Nazar disuruh bengong nampilin wajah bersalah dalam sebuah montase kocak, Ziudith disuruh nangis ngeluarin uneg-uneg tanpa suara – mereka berhasil natural menjadi ajaib. Logat Jawa bukan masalah bagi mereka. Highlight juga pantas disorotkan kepada mendiang aktor senior Ria Irawan yang menyuguhkan kepada kita peran ibu yang bermain di garis komedi dan drama tanpa kehilangan kharisma. Ini adalah penampilan terakhir yang mengesankan, dan kuharap media ataupun yang mengulas berfokus kepada pencapaiannya, bukan ke dialog dan adegannya tentang kematian.

penipunya aja ngerti kok naik haji itu bagi yang mampu fulus dan niatnya tulus

 
Naskah sudah dengan proper memberikan set up dan menghadirkan konflik, lengkap dengan hiasan berupa dialog-dialog cerdas yang lucu. Hanya saja penyelesaian film kurang memuaskan lantaran tidak banyak pada Eddy yang menunjukkan perubahan. Tokoh ini lebih banyak bereaksi ketimbang beraksi. Jika tidak ketahuan, mungkin dia bakal tetap bohong, dan entah kapan dia bakal ngakuin ke Eni dan ibu bahwa dia sebenarnya gagal naik haji. Dan justru bahasan entah kapan itu yang menarik. Karena seharusnya Eddy sendirilah yang mengambil tindakan pengen mengaku sebagai bukti pembelajaran, bukan karena terpaksa keadaan. Cerita akan lebih berisi jika Eddy pulang dengan jumawa tapi lantas dicurigai oleh tokoh terntu yang ternyata pernah ketipu juga, leading up ke pengakuannya dan bagaimana seisi kampung kini bereaksi terhadap Eddy. Sehingga dengan begitu film jadi bisa menghindar dari aspek terlemah yang ia punya; yakni bahwa cerita ini selesai karena saingan cintanya bukan orang yang baik, dan yang paling benci padanya ternyata adalah orang yang pernah mengalami pengalaman yang sama — alias karena ada tokoh yang lebih buruk daripada Eddy, bukan dari Eddy yang belajar untuk menjadi lebih baik dengan menyadari kesalahan.
Film pada akhirnya tetap meminta kita kasihan kepada Eddy karena dia adalah korban, dan kita diminta untuk menghargai jerih payah yang ia lakukan padaha, meskipun kita tahu dia haji hanya demi nikah, dan lagi dengan berbohong dia sudah jadi pelaku juga sekaligus. Eddy harusnya dibuat berubah lebih banyak, paling enggak dia bisa mengenali apa sebenarnya passion dirinya karena he was so bad kerja di bengkel.
 
 
Komedi absurd nan receh memang terasa sangat menghibur dan menyegarkan bagi penonton, serta sangat membebaskan bagi pembuat dan pelakunya. Ketika mereka membuat ini dengan niat menyampaikan sesuatu yang tulus – menyentil maupun memotret – maka akan beresonansi luar biasa kepada kita para penonton. Film ini berhasil membangun dunia sehingga kerecehannya tidak terasa dibuat-buat melainkan merupakan pandangan satir terhadap suatu kondisi. Film ini sesungguhnya mencapai lebih dari sekadar menghibur. Naskah dan karakternya gak annoying, meski di bagian penyelesaian harusnya bisa lebih konsisten lagi dengan gagasan sehingga tokoh utamanya benar-benar mengalami pembelajaran yang berarti.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MEKAH I’M COMING.

 
 
 
That’s all we have for now.
Bagaimanapun juga, penipuan apa saja bentuknya tetap harus dilaporkan tidak bisa dibiarkan merajalela. Kalian ada kiat gak sih gimana supaya saat jadi korban bisa berani melapor? Dan perlakuan seperti apa yang sebaiknya kita lakukan terhadap korban yang kita tahu menyalahkan diri dan tidak mau bersuara?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

#TEMANTAPIMENIKAH2 Review

“Unplanned moments are always better than planned ones.”
 

 
 
Namanya udah nikah, urusannya sudah bukan lagi siap atau tidak siap. Melainkan ‘harus siap’. Siap dalam mengubah kebiasaan. Siap dalam berhadapan dengan yang ‘terburuk’ dari teman hidup yang sudah dipilih. Terutama, siap untuk mengurungkan rencana hidup yang sudah disusun. Menjadi pasangan berarti kudu siap menerima kejutan-kejutan rumahtangga. Toh, lagipula hidup tidak akan pernah berjalan sesuai rencana, dan di situlah letak indah dan berharganya kehidupan.
Ayu dan Ditto belum benar-benar siap dalam menghadapi kehidupan baru mereka. Sekian lama menjadi sahabat akrab, hal menjadi sedikit kikuk pada awal-awal pernikahan mereka. Tapi kurang lebih, Ayu bahagia, karena hidup mereka tidak banyak berubah. Berkarir, jalan-jalan. Sampai datanglah karunia tak terduga itu. Ayu hamil. Kehidupan ia yang dulu, rencana-rencananya, jadi harus ditunda. Kalo enggak mau dibilang harus dikesampingkan begitu saja. Ayu stress. Terutama ia takut kehamilan ini akan mengubah total dirinya. Namun dengan berpikir demikian, ia sudah berubah. Kalo kata Ditto, Ayu sekarang berasa serigala. Keseluruhan durasi Teman tapi Menikah 2 ini akan membawa kita mengarungi hari-hari kehamilan Ayu yang dihiasi oleh pertengkarannya dengan Ditto, kecemasannya melahirkan sesar, dan manis yang nanti ia rasakan saat bingkisan karunia dari Pencipta itu hadir ke dunia.

Teman tapi Menyiksa

 
Hal terbaik dari film ini adalah penampilan akting Mawar Eva de Jongh yang memerankan Ayudia Bing Slamet. Dan ini ‘harga’nya mungkin cukup tinggi, karena film actually mengganti pemeran dari film pertamanya yang meraih lebih dari satu-juta-lima-ratus orang penonton. Film sampai melakukan reka ulang beberapa adegan di film pertama sebagai montase pembuka. Langkah ini menimbulkan tandatanya cukup besar karena biasanya jika sebuah film tergolong laku sampai mendorong hadirnya sebuah sekuel, maka pemain terutama pemain utama akan dipertahankan sebab penonton asumsinya sudah klop dengan mereka. Kalopun ada penggantian, maka akan lebih mudah mengganti semuanya misalnya dengan membuat cerita yang periodenya berjarak jauh, sehingga pergantian tersebut menjadi beralasan. Dalam kasus Mawar menggantikan Vanesha Prescilla di film kedua ini, kita tidak melihat alasan yang jelas selain pernyataan sebagian penonton yang beranggapan Vanesha masih belum matang untuk memainkan karakter Ayu di film ini. Kalo memang itu alasannya, maka menurutku Falcon ‘jahat’ juga karena film ini seharusnya jadi kesempatan Vanesha membuktikan dirinya sebagai aktor karena maaaan, Ayu di film ini punya range yang luar biasa. Dan Mawar, untungnya, berhasil capitalized this chance dengan menunjukkan permainan akting yang terasa seperti ia benar-benar melalui semua kecamuk, kegelisahan, bahkan kesenangannya menjadi seorang ibu di usia muda.
Interaksi Mawar dengan Ditto yang masih diperankan oleh Adipati Dolken juga terlihat natural, maupun saat berantem ataupun saat mode pacaran. Malah Adipati yang terlihat lebih ‘lemah’ aktingnya di sini karena dia gak ada peningkatan dari film pertama. Jika dulu Adipati dan Vanesha sama-sama lemah dalam adegan emosional seperti menangis, atau berantem, maka film itu bisa menutupi dengan lebih banyak menonjolkan interaksi unyu hubungan tanpa-status mereka. Namun kali ini, film punya cerita yang lebih menguras emosi. Dengan Mawar bermain luar biasa, momen-momen emosional sering jadi timpang. Ngeliat Ditto di film ini nangis, kita gak pernah yakin dia beneran nangis atau lagi ngelucu.
Kehamilan yang tak direncanakan merupakan sebuah situasi yang tumpah meruah oleh begitu banyak emosi. Takut, panik, bingung, excitement, dan kebahagiaan. Mawar, sebagai Ayu, akan mengalami itu semua satu persatu. Soal kehamilan yang tiba-tiba ini adalah inti dari cerita Teman tapi Menikah 2, yang harusnya bisa menjadi pembahasan yang lebih padat, lebih berisi, dan menginspirasi pasangan suami istri muda seperti Ayu dan Ditto. Film ini bersinar saat mengangkat pembahasan pentingnya suami dan istri untuk saling support, dan bagaimana mereka juga butuh space. Salah satu poin perkembangan karakter Ayu adalah awalnya dia merasa harus selalu dekat dengan Ditto sebagai usaha menunjukkan support. Namun dia akhirnya untuk tidak harus memaksakan, karena dirinya sendiri butuh penyesuaian, ada batasan yang hadir dengan kehamilan. Dan seperti halnya melahirkan; tidak bisa dengan asal ngepush.
Film mencoba mengangkat konflik dramatis dari pasangan muda yang masih punya ego masing-masing, serta bagaimana mereka masing-masing berjuang untuk damai dengan kenyataan bakal punya anak; bahwa mereka kini hanya punya waktu sembilan bulan untuk puas-puasin mengejar mimpi/cita-cita. Baik Ditto maupun Ayu pada awalnya menghitung bulan ini, untuk alasan yang berbeda. Ditto menghitung waktu kebebasan bagai orang yang lagi di penjara, sedangkan Ayu seolah menghitung mundur hari penghabisan bagi dirinya. Tidak keduanya berkesan positif bagi kelangsungan rumah tangga. Namun sembilan bulan itulah durasi pembelajaran bagi keduanya. Dua-ratus-tujuh-puluh hari adalah waktu yang cukup bagi kebanyakan orang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, dan mengarahkan diri ke mindset yang lebih positif. Kita akan melihat Ayu semakin menumbuhkan cinta kepada bayi yang bertumbuh di dalam tubuhnya. Dia membuat banyak perubahan positif, dia berolahraga dengan benar, berusaha mencari cara kehamilan yang lebih sesuai. Begitu juga dengan Ditto yang mulai seperti mengeset ulang prioritas hidupnya. Setengah paruh akhir, sekitar babak ketiga film, adalah bagian yang paling ingin kita lihat dari cerita semacam ini. Di bagian ini lebih mudah untuk peduli kepada tokoh-tokohnya, karena saat ini kita melihat mereka memilih langkah yang, ditambah pula dengan penulisan yang lebih ketat dan lebih ekslusif kepada pekerjaan mereka sebagai publik figur alias bintang televisi. Layer inilah yang seharusnya ditonjolkan film sedari awal.

Terkadang kita harus menerima kenyataan bahwa beberapa hal tidak akan pernah kembali ke sedia kala. Things do change. Plans got scrapped, dan musti dipikirin lagi dari awal. Hanya ada satu yang konstan, dan itu adalah cinta. Si cinta ini bekerja secara misterius. Momen-momen yang terjadi atas nama cinta tidak bisa diprediksi. Sama seperti ketika Ayu yang tidak menyangka bakal nikah sama sahabatnya sendiri. Setiap bumil – direncanakan atau tidak – bakal merasakan kebahagiaan. Sehingga alih-alih berkubang pada hal yang harus digugurkan, nantikanlah cinta dan kedamaian yang hendak didapat sebagai gantinya.

 
Akan tetapi skenario seperti mengulur-ngulur dengan memasukkan banyak hal yang less-signifikan. Paruh awal, mungkin malah sekitar 60-70%nya diisi dengan konflik yang ngeselin. Film ini kasusnya seperti Dilan 1990 (2018) – bukan kesamaan dari cerita, melainkan sama-sama mengandung konflik, hanya saja sebagian besar konfliknya itu gak penting dan kayak diada-adain.

Teman tapi Memaksa

 
“Gak mungkinlah, kita kan baru nikah masa udah hamil” ucapan Ditto merefleksikan kualitas naskah film ini. Atau paling enggak, begitulah naskah nge-depict sifat kekanakan Ditto. Dengan narasi demikian, film seolah membuat kehamilan Ayu sebagai hal yang gak lumrah; ia berusaha membuat kehamilan ini lebih sebagai ‘kecelakaan’ ketimbang hal yang tidak direncanakan. Padahal mereka melakukan, lalu hamil, ya wajar, tapi film membuat mereka kaget karena mereka baru saja menikah. Reaksi ini terlalu dibuat-buat, bahkan untuk mereka berdua yang pasangan muda. I mean, mereka bukan di film Dua Garis Biru. Mereka menikah, komit, tahu cara kerja dan konsep kehamilan. Namun di awal-awal, oleh naskah kedua tokoh ini tampak seperti sedang main rumah-rumahan. Ini mungkin salah satunya disebabkan oleh film ingin tampil untuk penonton dengan rentang usia tiga-belas tahun ke atas, jadi pembahasannya gak boleh mature-mature amat.
Masalah yang membuat mereka berantem hanyalah masalah kecil seperti beda kebiasaan, sehingga setiap kali mereka ribut rasanya gak penting dan buang-buang waktu. Kita bisa melihat keduanya sama-sama salah. Dan ini terus berulang – formulanya selalu ribut, kemudian sadar udah emosi, kemudian maafan – dengan berbagai versi kejadian. Yang semakin mengada-ada. Di satu titik mereka berantem karena Ditti cemburu Ayu lebih perhatian kepada janinnya. See what I mean?
Dengan kejadian selemah itu, tidak pernah sekalipun mereka berantem terasa seperti hal yang mengancam. Kita tidak mengkhawatirkan mereka bakal pisah, kita tidak mencemaskan keadaan bayinya; tidak ada stake yang kuat. Film semestinya segera bermain dengan lapisan-lapisan supaya mereka berantem dengan masalah yang lebih natural dan gak repetitif. Soal kerjaan, soal posisi sebagai artis, soal duit, normal bagi film tentang pasangan muda membahas ini, dan normal juga untuk memantik sedikit dramatisasi demi film berjalan lebih menarik. Daging sesungguhnya ada di paruh akhir, namun pada poin itu sudah terlambat karena menjelang penghabisan film terasa nge-drag luar biasa.
 
 
 
It still has its charms. Ayu dan Ditto begitu lovable, kita suka melihat interaksi mereka. Dimainkan dengan sangat baik pula, terutama di bagian-bagian mereka berbagi suka. Secara narasi, film ini tidak terasa lebih besar dan signifikan dibanding film yang pertama. Padahal ceritanya sekarang mereka sudah menikah dan punya masalah dari kehadiran bayi yang tak-disangka. Masalah yang notabene lebih menguras emosi ketimbang persoalan ngungkapin cinta kepada sahabat. Mestinya ada banyak yang bisa digali, tapi film mengulur dengan menghadirkan konflik-konflik yang kurang menggigit sebagai penghantar.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for #TEMANTAPIMENIKAH2.

 
 
 
That’s all we have for now.
Kenapa sih menurut kalian menjadi ibu atau orangtua itu begitu membahagiakan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE INVISIBLE MAN Review

“The scars you can’t see are the hardest to heal.”
 

 
 
Memanglah, manusia lebih seram daripada monster! Buktinya; meski berada dalam jagad sinema yang sama (Universal Monster Universe atau Dark Universe), tapi The Invisible Man yang manusia ini filmnya jauh lebih mengerikan. Lebin bikin kita merasa terancam secara fisik dan emosional, lebih menantang, ketimbang Frankenstein, Mummy, Dracula modern yang rebootnya gagal sehingga nyaris membunuh franchise ini secara keseluruhan.
The Invisible Man diarahkan oleh Leigh Whannell jauh dari hingar bingar aksi dan mitos fantastis. Melainkan, senada dengan novel aslinya yang terbit 1897, memiliki sedikit elemen fiksi-ilmiah. Tapi itu hanya pemanis. Inti dari cerita film ini dibuat sangat dekat dengan kita. Whannell juga dengan efektif membangun permasalahan yang kekinian. Dari banyak cerita tentang ‘mantan’ yang rilis Februari ini, baru The Invisible Man inilah yang justru terasa lebih make-sense, yang lebih dalam menggali permasalahan relationship sepasang manusia; permasalahan yang bukan hanya sekadar karena mereka gak cocok. Masalah mantan di film ini gak jatoh sebagai gimmick jaman now, supaya filmnya laku belaka. Whannell nge-blend itu dengan konsep yang berada pada garis antara supernatural dan keseraman ilmu pengetahuan.
Cecilia, tokoh dalam cerita ini, kabur dari cowoknya yang ganteng, jenius (ilmuwan optikal, atau apa gitu istilahnya..), kaya raya. Tipikal cowok idaman banget si Adrian ini. Sayangnya punya kecacatan ‘kecil’; abusive dan controlling sekali. Pada adegan pembuka yang memperlihatkan Cece diam-diam kabur dari kelonan Adrian, melepaskan diri dari kungkungan rumah dan toxicnya hubungan mereka, ada satu momen yang melibatkan anjing peliharaan Adrian. Dari anjing yang berkalung alat penyetrum itu saja keefektifan penulisan langsung menunjukkan taringnya; sebab momen ini menjalankan fungsi sebagai perlandasan perbedaan sifat dua tokoh – Cece dan Adrian – sekaligus. Meskipun berhasil kabur, Cece masih trauma. Dua minggu dia tidak berani keluar dari rumah sahabat yang menjadi persembunyiannya. Padahal Adrian sang mantan dikabarkan sudah meninggal bunuh diri. OR IS HE? Hidup Cece semakin tidak tenang. Dia mendapat gangguan, dikuntit oleh sesuatu yang tak terlihat. Cece merasa Adrian masih ada di dekatnya. Masih mengendalikan semua aspek hidupnya.

Mungkinkah Cece diganggu oleh John Cena?

 
Film ini, however, tidak membuang waktunya berkubang berusaha membuat kita bimbang antara hantu atau hanya si Cece sajalah yang beneran gila. Set up sepuluh menit pertama sudah begitu kuat dan efektif sehingga kita sudah otomatis waspada ada pria yang superpinter namun sangat jahat mengincar Cece. Maka kita langsung tersedot berada di posisi antisipasi dramatis menyaksikan semua hal buruk menimpa Cece. Untuk itu, film benar-benar menajamkan aspek horor dengan perantara suara dan mata kita. Karena kita berhadapan dengan sesuatu yang tak-kasat mata. Sound design benar-benar bekerja luar biasa. Ada beberapa jumpscare ditemukan, tapi tidak ada yang terasa murahan, karena antisipasi dan kewaspadaan kita sudah terhimpun kepada satu hal. Belajar dari menonton petualangan Harry Potter; kita tahu bahkan orang yang tak kelihatan itu nyatanya masih bersuara. Jadi setiap kali suasana hening, Cece memandang dengan cemas sekelilingnya, kita ikutan bukan hanya menahan napas, melainkan juga menajamkan telinga. Kita terbawa pengen mendengar keberadaan si Pria Transparan. Kita mencari bunyi nafasnya, kita berusaha menangkap basah bunyi derit lantai yang ia pijak sehingga kita tahu dia ada di mana. Dan ketika ada jumpscare, atau sebaliknya tidak ada apa-apa, kita dengan genuine merasa kaget atau lega.
Selaras dengan hal tersebut; kerja kamera juga bekerja dengan sama efektifnya. Aku gak bisa dengan tepat mendeskripsikan tensi film ini terbangun dengan sangat solid hanya dari memperlihatkan sebuah sofa kepada kita. Tantangan film ini adalah ia harus memajang sesuatu di layar, entah itu sofa, atau pintu, atau sudut ruangan, clearly tidak ada apa-apa di sana tapi harus membangun sugesti ada sesuatu yang mengerikan. Setiap kali film melakukan itu, kita menyipitkan mata, menajamkan pandangan, berharap melihat suatu tanda. Bahkan ketika kamera bergerak mengikuti tokoh yang mencari, mata kita akan ikut jelalatan ke sudut-sudut ruangan. Timing sangat berpengaruh, film ini tahu seberapa lama persisnya mereka harus memperlihatkan suatu kekosongan yang membuat kita waspada. Karena jika merekam terlalu lama, kesan seram itu bisa menguap dan dengan gampang berubah menjadi annoying terutama jika harus terus menerus dilakukan. Perbandingannya bisa seperti begini: kalian nonton video di TikTok dengan caption ‘memancing’ seperti “gak sengaja kerekam” atau “apa ada yang bisa lihat?”, kalian pantengin ampe abis tapi nyatanya gak ada apa-apa, apa yang kalian rasakan setelah nonton? Kesel. Kamera film The Invisible Man ini secara esensi sama seperti demikian, pada akhirnya tidak ada apa-apa, namun kita rasanya semakin penasaran – semakin geram – bahkan tidak perlu narasi/caption bait untuk membuat kita merasa masuk begitu dalam.
Psikologi ceritalah satu-satunya dibutuhkan. Dan unlike those poor TikTok videos, naskah The Invisible Man penuh dengan galian psikologi. Serta jauh lebih unggul dalam menceritakannya. Bagi kita ini bukanlah masalah Cece gila atau tidak. Yang membuat kita peduli adalah melihat Cece – powerless ketimbang Adrian – tersiksa dan berjuang untuk lepas, dan ketika dia berusaha minta tolong kepada orang, dia gak bisa menjelaskan; orang-orang gak percaya (karena begitulah esensi dari ‘tidak-berdaya’) malah ia sendiri yang dianggap gila. Kita begitu peduli karena film membuat kita memainkan skenario kemalangan Cece sekaligus menempatkan diri ke posisi dia yang tengah dibuat menjadi semakin tak berarti lagi oleh keunggulan Adrian. Penampilan akting Elisabeth Moss sangat juara sebagai Cece. Mulai dari ekspresi, ketegangan, hingga ke rupa-fisik; dia tampak pucat, awut-awutan, polos tanpa polesan, semuanya bicara tentang kenihilan daya wanita yang terjerat di genggaman pria. Melawan sesuatu yang tak bisa ia lihat. And it works either way; jiwa dan raga. Tak terbatas pada teriak seperti orang gila, tantangan Moss juga melibatkan ia harus berkelahi dengan udara, dan adegan-adegan itu sama sekali tidak kelihatan konyol bahkan untuk satu detikpun.

Bahkan jika kita belum pernah merasakan hubungan yang abusive, kita masih akan bersimpati kepada Cece lantaran yang ia hadapi sebenarnya adalah seseorang yang membuat dirinya semakin merasa bukan apa-apa. Ini bisa dengan gampang diterjemahkan sebagai persoalan ‘laki-lawan-perempuan’ di mana perempuan dianggap lebih tak berdaya dan akan terus begitu karena si perempuan sendiri tidak bisa melihat permasalahan yang sebenarnya; yakni mereka butuh untuk mengambil kendali. Merebutnya, kalo perlu. Seperti yang diperlukan Cece sebagai resolusi cerita. Wanita itu bisa melihat sepenuhnya sekarang, melihat ‘luka’ yang terus dieksploitasi oleh Adrian. ‘Tidak bisa hidup sendiri’, ‘Tidak bisa besarkan anak sendiri’. Sadis atay mungkin jahat kelihatannya, tapi ending film menyimbolkan kesembuhan dan Cece yang sudah bisa melihat yang harus ia kalahkan.

 

Pesan yang indah dalam film ‘manusia-itu-monster’ yang seram

 
Kejadian di sekuen enam naskah begitu sempurna memberikan peningkatan tensi cerita yang sangat drastis. Namun demikian, kejadiannya mengandung sedikit ketidakkonsistenan. Masuk ke babak tiga, aku merasa level excitement-ku sedikit berkurang karena kejadian-kejadian di sini lebih terasa seperti tuntutan naskah ketimbang progres yang natural. Twist sebagai False Resolution yang dimaksudkan untuk membuat Cece semakin bingung terasa gak nendang kepada kita, karena setiap karakter sudah terlandaskan – akan gak masuk akal jika direveal bukan demikian, misalnya soal bayi – tidak mungkin selain Adrian ada yang peduli Cece melahirkan atau tidak. Selain itu, banyak kejadian yang harus terjadi dan kita diminta untuk menerimanya saja, karena ya memang harus ke situ ceritanya. Misalnya adegan di tempat publik, yang harus terjadi di tempat publik karena harus banyak yang menyaksikan Cece; hanya saja ada aspek yang gak konsisten karena dengan sengaja mengabaikan cctv. Padahal cctv jadi elemen yang penting sepanjang durasi, bahkan ending film ini melibatkan cctv. Namun untuk satu adegan di restoran itu, film ‘melupakan’ cctv sebagai bukti karena plot poin mengharuskan Cece setelah ini dimasukkan ke penahanan. Kalo cctv dibahas, bisa-bisa Cece gak jadi ditahan. Mundur ke belakang, masih ada lagi hal-hal yang diabaikan yang kalo kita pikirkan membuat kita ingin protes “loh mestinya kan bisa…”
Cece sempat balik ke rumah Adrian, naik Uber. Cece menemukan kostum penghilang di lab kerja Adrian. Tapi kemudian si Invisible Man datang, Cece berhasil kabur. Naik Uber yang sama, yang sedari tadi nungguin di gerbang depan. Cece kabur, setelah menyembunyikan kostum itu di lemari. Setidaknya ada dua pertanyaan yang menghantuiku pada sekuen ini. Kenapa si Uber gak dibunuh saja oleh Adrian – bukankah lebih ‘mesra’ mengurung Cece di sarang cinta mereka. Dan bahkan jika gol Adrian adalah supaya Cece terlihat gila nan berbahaya dan lantas ditangkap, bukankah pembunuhan si Uber lebih gampang dan masih bisa dijadikan pemenuh tujuan. I mean, melepas Cece beresiko lebih besar, karena ia harus mengejar lagi, dan berapa kemungkinannya Cece bakal menghubungi kenalan dan ngajak bertemu di tempat umum. Adrian bisa sekonfiden itu dengan rencananya, ya karena memang dibeking oleh tuntutan naskah. Pertanyaan keduaku adalah, kenapa Cece malah kabur dengan meninggalkan bukti penting yang ia temukan – kostum – di dalam rumah, kenapa gak sekalian dibawa kabur. Film sekali lagi tampak memaksakan kejadian, karena di akhir kita paham kostum tersebut harus berada di rumah untuk kejadian ending.
Dan soal bukti, aku akan ngajak mundur lebih jauh lagi membahas saat Cece menemukan hape yang digunakan Adrian memotret Cece tidur; hape ini sengaja ditinggalkan di sana oleh Adrian untuk memberi kejutan kepada Cece. Ini eksesif sekali. Kenapa mesti di loteng? Bayangkan usaha Adrian harus diam-diam angkat tangga, naik ke loteng, naroh hape di sana, turun, balikin tangga ke posisi semula. Resiko dia melakukan hal sebanyak itu di rumah kecil yang berisi tiga orang; sangat besar. Belum lagi kemungkinan Cece dapat/mendengar bunyi hape itu. Kecil. Padahal lebih mudah ia letakkan di kamar saja. Here’s the best part: di hape itu ada foto Cece tidur di kamar anak sahabatnya yang polisi – ini bisa jadi bukti otentik tak terbantahkan bahwa ada yang menguntit dirinya – bukti yang basically diberikan gratis oleh pelaku kepadanya; KENAPA bukan ini yang diambil Cece dan ia serahkan kepada polisi? Tentu, karena nanti filmnya akan berakhir lebih cepat. Atau paling enggak, intensitas dan tensinya menurun drastis.
 
 
 
Mungkin masih terlalu dini, tapi memang sejauh ini, film inilah horor terbaik yang bisa kita nikmati di 2020. Arahan dan aktingnya luar biasa. Secara fungsi, ia meniupkan napas baru dari Dark Universe, malah sebagai reinkarnasi sebab kini jagat sinematik itu hadir tak lagi sebagai dunia yang berhubungan. Film ini membuktikan film monster-monster itu bisa mencapai potensi yang tinggi jika dibuat sebagai cerita yang berdiri sendiri. Ada beberapa hal yang jika dipikirkan membuat film ini terasa maksa di bagian akhir, namun tidak akan mengurangi keasikan menontonnya. Karena paruh awal yang begitu solid. Penggemar Universal Monster akan dapat hiburan ekstra dari referensi penampakan Invisible Man versi klasik yang disematkan di dalam cerita
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE INVISIBLE MAN.

 
 
 
That’s all we have for now.
Kenapa orang susah melepaskan diri dari hubungan yang toxic, mereka bahkan jarang mau melihat dan mengakui hubungannya gak-sehat? Menurut kalian apa yang bakal dilakukan Cecilia dengan kostum menghilang yang ia punya?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

TOKO BARANG MANTAN Review

“Your value doesn’t decrease based on someone’s inability to see your worth”
 

 
 
‘Buanglah mantan pada tempatnya’ memang bagi sebagian besar orang lebih mudah untuk dikatakan daripada dilakukan. Pertama karena kenangan yang mengingatkan kita pernah bahagia tentu saja sangat berharga. Dan kedua karena kita tidak tahu pastinya di mana tempat membuang mantan. Untuk itulah Toko Barang Mantan hadir. Tristan membuatnya sebagai tempat yang menyalurkan barang-barang dari mantan, untuk dijual kembali – lengkap beserta sejarahnya. Sehingga proses move on jadi lancar dan ya, kenangan itu kini bisa benar-benar berharga.

Tapi berkebalikan dengan itu, film Toko Barang Mantan garapan Viva Westi ini sendirinya justru hadir sebagai pengingat bahwa move on itu susah, seringkali itu adalah salah kita sendiri, dan jika kita menyadarinya dan mau berubah maka bukan tidak mungkin cinta lama itu akan beneran bersemi kembali.

 
Fokus dari drama komedi romantis ini adalah perasaan Tristan terhadap mantan nomer wahidnya, Laras. Wahid di sini bukan dalam artian urutan melainkan ‘yang paling nomor satu di hati. Selama ini, Tristan masih belum move on dari pacar masa kuliahnya ini. Alasan mereka putus, seingat Tristan, adalah karena cowok gondrong ini belum lulus-lulus kuliah. Tristan lebih mementingkan toko. Dan kini, Laras muncul di depan pintu toko yang Tristan kelola bersama dua pekerja yang sudah menjadi seperti teman baiknya. Laras bermaksud memberikan undangan pernikahan. Pertemuan singkat mereka berlanjut heboh, sebab Tristan dan Laras konek kembali. Di tengah-tengah bisnis toko yang semakin sepi, Tristan melewati lagi masa-masa indah di sebelah Laras, dan ultimately berkonfrontasi ulang soal pilihan hidup dan ekspresi cinta – hal yang membuat mereka berantem sedari dulu.

Halo, ada komedi? / Silakan cek toko sebelah

 
Konsep toko yang menjual barang-barang pemberian bekas pacar sebenarnya cukup menarik. Ia juga sangat mudah relate ke orang-orang karena memang gak semudah itu mencampakkan sesuatu yang punya kenangan sekaligus bikin nyelekit jika masih terus diingat. Aku di dompet masih nyimpen undangan premier yang dikasih mantan sebagai hadiah ulangtaun kok, padahal udah tujuh-delapan tahunan yang lalu. Meskipun bendanya sepele, sejarahnya yang terasa berharga. Atau kadang ada juga sebaliknya. Yang rasanya mubazir aja membuang barang yang sebenarnya masih bagus, kayak kalo kebetulan mantannya nyebelin tapi tajir dan dibeliin perhiasan; masa mau ditaro di tempat sampah gitu aja. Cerita-cerita para ‘klien’ toko barang mantan menjelaskan sejarah barang yang mau ia jual, meskipun seringkali digambarkan sebagai sket komedi kelas-B, tapi tetap terasa menghibur karena mengingatkan kita bahwa cinta memang konyol-konyol manis seperti demikian. Aku suka ketika cerita berkutat pada si toko ini, sayangnya film enggak benar-benar memikirkan konsep tersebut dengan seksama.
Toko ini dijadikan stake dan merupakan perlambangan langsung dari kondisi mental Tristan. Malah ada dialog yang terang menyebut Tristan ingin membuktikan dia punya masa depan, oleh karena itu toko ini harus berhasil dibuatnya laku. Karena toko adalah mata pencaharian Tristan yang udah gak disokong oleh keluarga – sejak berhenti skripsi, dan ayahnya nikah lagi dengan wanita yang nyaris seusia dengannya, Tristan perang dingin dengan sang ayah. Kita gak bisa peduli lebih dalam karena toko ini sudah seperti bakal ditakdirkan gagal sedari awal. Sekilas memang tampak menguntungkan. Tristan bebas menentukan harga sementara para ‘klien’ hanya peduli menyingkirkan barang mereka. Klien ini tidak mendapat bagi hasil, Tristan juga tidak membayar mereka atas barang yang diserahkan untuk dijual. Toko barang dari mantan menarik buat yang mau menjual, tapi buat yang beli? Siapa yang mau membeli barang kenangan orang lain? Toko barang mantan secara esensi ‘hanyalah’ toko barang bekas yang diberi gimmick sejarah-manis – apa yang ia jual sebenarnya?Bagaimana Tristan bisa membuat profit dari kenangan suatu barang? Okelah kalo barang-barangnya berupa cincin, action figure, atau aksesori mahal. Tapi di film ini kita juga melihat ada yang menjual sobekan karcis bioskop.
Ada bagian ketika Tristan yang kepepet mencoba menjual barang-barang secara online. Untuk mendongkrak penjualan, dia mengarang sejarah benda yang ia jual. Melebih-lebihkan sehingga tidak sesuai dengan sejarah asli. Taktik ini berhasil. Namun lantas dipandang rendah oleh teman, Laras, dan bahkan oleh si klien pemilik barang tadi. Tristan dianggap tidak jujur. Film membuat hal ini sebuah ‘big deal’ karena diparalelkan dengan usaha-salah yang kerap dipilih oleh Tristan. Bahwa sejarah mantan tidak boleh diubah karena sangat personal. Padahal sebenarnya ini sama sekali bukan masalah. Film tidak berhasil menetapkan kenapa si klien masih ngestalk barang yang sudah ia ‘buang’, toh ia tidak mendapat keuntungan atau apapun dari toko. Jadi, masalah pada toko sama sekali tidak terasa berbahaya, Tristan tidak benar-benar dalam masalah keuangan karena ia tidak ngeluarin sepeser pun untuk dapetin barang; persoalan bayar sewa juga gak jadi soal dengan ia punya banyak properti mahal dan bahkan konflik dengan orangtuanya bukan benar-benar konflik yang menekan.
If anything, film ingin menunjukkan bahwa move on itu memang sulit. Orang yang masih kepoin barang mantan yang sudah ia buang, masih peduli sama caption karangan yang ditulis Tristan, memberi informasi kepada kita bahwa orang tersebut masih memikirkan mantan. Semua orang di film ini sebenarnya sama seperti Tristan, masih sayang mantan, masih belum mau ngaku, tapi sekaligus juga lebih baik daripada dirinya karena, misalnya pada dua teman di toko, kisah Tristan dan Laras mereka jadikan sebagai cautionary tale.

Tristan dan tokonya mengajarkan kepada kita bahwa harga kenangan bersama mantan itu masih tinggi. Namun juga harga tersebut berbeda bagi setiap orang. Sesuatu yang kita anggap berharga, akan mempunyai nilai berbeda bagi orang lain. Toko itu not worked karena tidak ada seorang pun yang berhak menilai kenangan milik orang lain. Begitu juga dengan usaha terhadapnya. Nilai kita dan kenangan kita enggak akan berkurang hanya karena orang tidak menghargainya sebesar kita. 

 

Rumah mewah mana yang meja makannya kelihatan dari luar pagar?

 
Kekuatan film ini terutama terletak pada dua pemain sentral. Reza Rahadian dan Marsha Timothy; two lovers yang tidak bisa bersatu karena mereka menilai hal dengan harga yang berbeda. Penampilan mereka, interaksi dan chemistry, bagaikan oase di tengah canggungnya delivery dan komedi dari para pemain pendukung. Film berusaha menghidupkan dunia cerita dengan tokoh-tokoh pendukung yang colorful dan dialog yang sewajarnya dialog milenial kita masa kini. But no one hits notes like Reza or Marsha does. Akan tetapi, dengan tidak bermaksud mengecilkan penampilan mereka, sebagian besar konflik antara kedua yang digambarkan dengan dialog ribut teriak-teriak bukan hiburan bagi semua orang. Certainly not mine. Banyak aspek dari Tristan yang bisa kurelasikan secara personal kepada diriku, tapi aku tetap susah peduli sama karakternya, karena dia sering melakukan tindakan yang impulsif semata karena bucin pada Laras. Kepada Laras pun empati susah hadir karena tokohnya memang segampang itu pergi-datang, memancing sesuatu untuk kemudian tidak bertindak seperti yang ia sebutkan. Misalnya, Laras menyebut cintanya tak bersyarat, tapi dia toh mengharuskan Tristan untuk mengatakan cinta meski perbuatan Tristan sudah mewakili itu semua. Dikatakan dia meminta kepastian, tapi sikapnya malah menunjukkan kalo dianya aja yang memang ‘buta’, lah orang-orang di sekitar mereka lihat kok.
Standar sekali memperlihatkan argumen lewat orang yang meledak-ledak. Lucu aja ‘cerita cinta dewasa’ digambarkan sebagai kisah yang konfliknya harus dibuat eskplosif dengan orang beragumen adu teriak – dan mereka ini bahkan bukan suami istri. Orang yang suka nonton kebakaran mungkin bakal enjoy aja. Tapi yang sebenarnya enak diikuti itu adalah dinamika dua orang. Dinamika Tristan dan Laras jadi gak enak karena adegan mereka cenderung berakhir repetitif. Bagian paling parah di film ini justru adalah endingnya. Ketika semuanya sudah terlihat oke, semua sudah move on ke hidup masing-masing, setelah mereka dapat melihat kesalahan dan mengubah diri, film lalu meniadakan semua itu dengan membuat adegan bersatunya cinta. Ini benar-benar terlihat maksa. Tidak tampak seperti akhir yang natural, melainkan seperti akhir versi korporat yang mengharuskan film harus berakhir dengan pacaran karena lebih menjual.

 
 
Seperti barang-barang di toko mantan yang dijual dengan penurunan nilai, di bawah nilai asli karena barang bekas dan jauh dari nilai kenangan, film ini sendiripun mengalami penurunan mutu karena pilihan ending yang seperti meniadakan perjalanan move on. Melainkan malah merayakan kebucinan yang akhirnya terbukti akan tetap bersatu. Konsep tokonya menarik, namun mestinya bisa diolah dengan lebih baik sehingga dapat hadir sebagai simbol yang lebih natural, yang membuat stake dan cerita menjadi lebih menggigit.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for TOKO BARANG MANTAN

 
 
 
That’s all we have for now.
Apa kalian punya barang dari mantan yang masih disimpan? Kenapa masih disimpan? Ada sejarahnya enggak?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

KAJENG KLIWON Review

“This is the chance of a lifetime”
 

 
 
Tumben hari gini ada film horor yang mengangkat kisah dan budaya di luar mitos jawa. Skena klenik Indonesia sebenarnya memang sangat beragam, dan Bali merupakan salah satu yang aura mistisnya paling menggoda, bahkan hingga ke mancanegara. Kajeng Kliwon garapan Bambang Drias mengangkat kebudayaan Bali sebagai panggung kisah horor yang dijalin dengan permasalahan dua insan manusia. Kita akan mendengar musik khas, melihat ritual budaya, tarian, dan tentu saja penampakan makhluk gaib yang sangat lokal, sekaligus – hopefully – terhanyut dalam konflik cinta dan kecemburuan yang menjadi denyut emosi ceritanya.
Pernikahan bukan hanya menyatukan dua pribadi. Melainkan melibatkan asimilasi dua pendapat, dua pola pikir, dua kebiasaan, dan ya dua kebudayaan. Bu Dokter Agni (Amanda Manoppo memainkan tokoh yang menyebalkan) yang asli Bali sudah akan menikah dengan pacarnya seorang fotografer asal Jakarta. Mereka kini sedang dalam perundingan mengorganisir acara pernikahan. Dan guess what? Mereka gak kompak. Agni pengen A, Nicho calonnya bilang lebih baik B. Perselisihan kecil tak dapat dihindari. Sementara Agni berusaha memikirkan kembali apa sesungguhnya kesempatan satu kali seumur hidup yang harus ia usahakan, rumah sakit tempatnya bekerja ‘kedatangan’ mayat wanita dengan kepala tertebas secara misterius. Malam itu, tepat malam Kajeng Kliwon yang dipercaya malam ngecengnya para Leak, Agni bertemu dengan Rangda. Ratu dari segala Leak yang menjadi penanda ilmu hitam itu tampak mengincar dirinya. Perlahan Agni mengetahui bahwa misteri mayat dan teror Rangda berhubungan erat dengan acara pernikahannya yang terancam batal.

wajah cowok Agni pas denger dia memesan gaun pesta seharga dua-puluh-lima juta; priceless

 
Kajeng Kliwon sesungguhnya punya potensi untuk menjadi horor yang mumpuni. Ceritanya punya lapisan yang cukup untuk menjadikan misterinya menarik. Penggalian mitos Bali memberikan hal segar untuk kita simak. Meskipun istilah Kajeng Kliwon yang dijadikan judul sebenarnya enggak banyak dibahas; hanya ada satu-dua adegan yang menyebut ini dan cerita pun ternyata tidak hanya terjadi pada satu malam itu, tetapi penampakan Rangda dan penjelasan tentang ilmu hitam yang turun temurun membawa aroma kekhasan tersendiri. Setelah Mangkujiwo (2020) dan banyak lagi film-film yang mengandung unsur ritual atau santet dan semacamnya, Kajeng Kliwon hadir sebagai, katakanlah masih dalam spesies yang sama namun dalam varian warna yang berbeda.
Yang paling menarik dari film ini adalah motivasi tokoh jahat alias dalang semua kemalangan yang menimpa Agni. Bukan se’hitam’ balas dendam, atau ingin menguasai suatu pusaka, atau keinginan jahat yang biasa. Motivasi tokoh ini juga punya kedalaman yang berpotensi menjadi menantang – memantik diskusi – karena cukup kontroversial, sebenarnya. Kajeng Kliwon membahas seputar ilmu Leak, ilmu hitam yang diwariskan baik itu secara turun temurun lewat warisan darah atau pengajaran ala guru-murid. Tokoh jahat cerita ini adalah seorang yang memelihara ilmu tersebut sejak dahulu. Bertahun-tahun lamanya, dirinya berumur panjang karena ilmu ini. Dan dia punya kewajiban untuk menjaga ilmu tersebut dari kepunahan. Ikut menjaga warisan turun temurun. Di atas masalah pilihan personal, tokoh ini gak suka Agni menikah dengan Nicho terutama adalah karena dia gak mau ke-Bali-an di dalam diri Agni terkotorkan oleh muasal Nicho – apalagi karena Agni adalah salah satu figur kunci dalam pewarisan ilmu Leak. Jika digali dengan lebih serius dan penulisan yang lebih kompeten, antagonis dalam film ini akan menjadi lebih dari sekadar tokoh twist belaka sebab ia punya motivasi yang benar-benar challenging. Tumben-tumbenan tokoh di film horor Indonesia lowkey menarik kayak gini.

Yang mengandung bulir-bulir gagasan bahwa tidak semua aspek budaya harus dipertahankan, bahwa terkadang budaya turun temurun butuh penyesuaian karena simply sudah kuno atau tidak membawa nilai positif sama sekali.

 
Kata ‘tumben’ kutemukan dalam film ini awalnya sebagai bahan cemoohan. Gak sampai sepuluh menit cerita dimulai, kita dikasih dialog yang awalannya kata tumben semua. “Tumben, pagi ini kamu cantik”. “Tumben datangnya siang”. “Tumben datang ke sini” Aku ngakak, karena bahkan tumben bukan istilah dari Bali. Tapi ternyata menjadi menarik karena pengulangan ini menjadi tema yang diejakan secara terselubung kepada kita, meskipun mungkin bahkan filmnya sendiri enggak menyadari. Karena motivasi Agni secara keseluruhan adalah pengen nikah yang, katakanlah, mewah, sebab baginya pernikahan adalah ‘kesempatan yang datang satu sekali seumur hidup’. That’s the key sentence. Kalimat tersebut juga diulang-ulang oleh Agni, dan juga disebutkan oleh tantenya saat memberi pembelajaran kepadanya. Agni berjuang untuk satu momen gak-biasa, satu jendela-waktu luar biasa untuk mendapatkan atau melakukan sesuatu yang berharga, satu ‘ketumbenan’ yang hakiki. Jika malam kajeng kliwon adalah momen spesial yang dinanti oleh para Leak, maka bagi Agni momen itu adalah pernikahan. Dan semangatnya ini berlawanan dengan tokoh antagonis yang memegang prinsip keabadian; “a whole lifetime” alih-alih “once in a lifetime”

Ini adalah soal menikmati sesuatu yang bisa jadi hanya akan mampir satu kali dalam hidup kita. Yang harus dipikirkan adalah apa yang kita lakukan ketika kesempatan tersebut datang. Film ini mencontohkan pernikahan mewah – ini adalah momen yang ingin di-capitalize, disakralkan, oleh Agni. Akan tetapi pernikahan itu sendirinya tidak akan berlangsung seumur hidup jika Agni tidak bersama orang yang tepat. She should celebrate the person instead; cinta itulah kesempatan sekali seumur hidup yang harusnya ia perjuangkan. Film menunjukkan kepada kita untuk benar-benar mengenali mana hal yang merupakan kesempatan yang sebenarnya harus diperjuangkan. Karena, ya itu tadi, hidup cuma satu kali.

 
Ada sesuatu di antara konflik Agni dengan antagonis yang tidak kusebutkan namanya demi alasan spoiler. Pembelajaran Agni akan tercermin di akhir cerita dari perubahan perlakuannya kepada Nicho. Jika elemen cerita ini serius ditangani, dikerjakan dengan lebih kompeten, atau naskahnya melewati perbaikan dan pendalaman lagi, Kajeng Kliwon tak pelak bisa menjadi salah satu horor lokal berbobot yang pernah ditayangkan oleh bioskop Indonesia. Sayangnya, secara teknis film ini masih sangat hijau — kalo gak mau dibilang lemah. Durasinya terlalu singkat untuk dapat mengakomodir kedalaman yang diperlukan. Arahannya masih sebatas mengejakan perasaan. Naskahnya? Well, inilah bagian yang paling kurang performanya dari keseluruhan film Kajeng Kliwon.

dialognya ‘go ahead’ pas adegan melihat mayat buntung; film ini punya selera humor

 
 
Dialog dalam film ini standar sestandar-standarnya. Percakapan mereka jarang sekali mengandung development. Hanya sejumlah percakapan sehari-hari, argumen, dan eksposisi. Dan bahkan itu semua tidak benar-benar dipikirkan dengan matang. Misalnya ada kalimat yang merujuk kepada perubahan wujud yang bisa dilakukan oleh Rangda; si tokoh menyebut “anjing, kucing, manusia jawa, manusia bali, bule”. Pengelompokan dalam kalimat itu sangat aneh karena seolah manusia jawa dan manusia bali itu dua spesies yang berbeda seperti anjing dan kucing. It’s just not right of a group. Jangan pula dibayangkan argumentasi Agni dan Nicho seperti argumen pasangan di film Marriage Story yang dapat nominasi Oscar. Agni dan Nicho hanya ngotot vs. nolak dengan lembut, kita tidak pernah tergerak untuk mendukung salah satu dari mereka. Sebagian besar karena yang satu jatohnya annoying (mungkin karena namanya berarti api maka dia membakar kesabaran kita) dan satu laginya culun. Mereka ‘damai’ dan ribut ya sesuka naskahnya aja, gak ada build up yang natural. Film cukup memasang lagu pop patah hati untuk membuat penonton merasa harus ikut bersedih.
Poin-poin plot terasa sama ‘maksa’nya dengan Agni. Ada bagian ketika Nicho ketemu di tengah jalan dengan mantan kekasihnya, dan di akhir pertemuan itu mendadak saja si mantan menjadi begitu obsesif dan dia menyusun rencana ke orang pinter segala macam untuk menjauhkan Nicho dengan Agni. Si mantan ini sukses menjadi tokoh paling gak jelas karena tindakan yang ia maksud untuk menggagalkan pernikahan adalah … bukan ritual bukan santet.. melainkan langsung mencekek leher Agni setiap kali mereka bertemu! Dan tidak ada konsekuensi, dia tidak ditangkap, Agni tidak mengusut pencekekan lebih lanjut. Ketika Agni membunuh seseorang pun, film melangkahi persoalan itu begitu saja. Bicara soal teman dari masa lalu, Agni juga punya satu yakni Wijaya si pemilik cafe, yang kelihatan ingin mencampuri urusan pernikahan Agni. Menurutku, film juga mubazir dalam menangani Wijaya. Seharusnya biar efisien, dia saja yang menjadi wedding organizer yang selalu dijumpai Agni, dengan begitu Wijaya bisa masuk akal bisa terus tau masalah Agni.
 
 
Karena penggarapannya yang terasa di bawah standar, terutama di bagian penulisan, film ini gagal mencapai level – bahkan setengah dari level – yang seharusnya bisa ia capai. Tulisanku di atas benar-benar sebuah long reach karena saat menonton film semua hal tersebut tidak akan menonjol. Persoalan ‘tumben’ tadi, akan lebih terasa sebagai sebuah kekonyolan karena film tidak kelihatan menaruh banyak perhatian pada kesubtilan berkat dialognya yang begitu basic dan in-the-face. Bahkan Agni sebagai dokter saja tidak pernah tampil meyakinkan, dia hanya berteriak dan mondar-mandir meriksa pasien dengan stetoskop. Padahal jika adegan epilog (yang timeline-nya pada narasi juga gak jelas kapan) dijadikan sebagai pembuka oleh film, maka kita paling enggak akan dapat bukti si Agni beneran bisa nyembuhin orang – you know, that she can do her job as a doctor. Hantu Rangda yang original itupun pada akhirnya harus mereceh berkat penggunaan efek sub-par di bagian konfrontasi final. Film seharusnya bisa jauh lebih baik jika menggunakan kostum dan menghindari efek-efek komputer yang jelas-jelas enggak sesuai dengan kantong dan kemampuan mereka. Darahnya aja keliatan banget palsu. They should invest more ke hal yang paling penting dalam sebuah film; naskah.
The Palace of Wisdom gives 2 gold stars out of 10 for KAJENG KLIWON

 
 
 
That’s all we have for now.
Di dunia nyata beneran ada gak sih orang-orang yang keturunan Leak kayak Agni di film?
Bagaimana pendapat kalian tentang budaya-budaya kuno yang gak sesuai lagi dengan keadaan zaman? Apakah kalian setuju dengan antagonis film ini?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

MILEA: SUARA DARI DILAN Review

“The best way to love someone is not to change them, but instead, help them reveal the greatest version of themselves.”
 
 

 
 
Sepanjang pengalaman menonton dua film Dilan (yang mengambil perspektif tokoh Milea) ada gak sih – pernah gak sih – tebersit rasa penasaran cowoknya Milea itu kenapa bisa hobi berantem dan bergeng motor-ria, atau darimana si Dilan ini dapat alamat rumah Milea, atau siapa yang ngajarin dia jurus gombal yang sanggup bikin cewek SMA hingga emak-emak cekikian, atau -mungkin- kemana Dilan pada saat Milea mandi? Nah, jika pertanyaan-pertanyaan semacam itu pernah singgah di benak kalian; yang mengisyaratkan kalian peduli pada karakter si Panglima Tempur, maka film Milea: Suara dari Dilan garapan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ini adalah sajian untuk kalian.
Karena kali ini giliran Dilan himself untuk buka suara. Film ini dibuka dengan semacam breaking the fourth wall; memperlihatkan Dilan meng-acknowledge keberadaan buku Dilan 1990 dan 1991 yang merupakan kata hati dari Milea tentang dirinya. Narasinya menyebut Pidi Baiq telah memberikannya kesempatan untuk menuliskan segala kejadian dari sisi Dilan sebagai penyeimbang cerita Milea. Ketikan Dilan akan membawa kita dari masa dirinya kecil hingga ke momen Milea masuk ke dalam hidupnya, sesaat untuk dua tahun yang indah sebelum akhirnya mereka harus berpisah.

Origin story kenapa Dilan begitu cringey

 
Namun bahkan untuk memenuhi tujuan itu, film ini gagal untuk menjadi sebuah sudut pandang lantaran minim sekali elemen baru yang dihadirkan. Penonton yang ingin melihat seperti apa sebenarnya Dilan, tidak mendapatkan banyak hal berbeda dari tokoh ini karena penggalian yang dangkal yang tidak benar-benar dilakukan oleh film. Alih-alih berfokus kepada pembahasan untuk pembangunan perspektif karakter Dilan, beserta dunianya – melingkupi kehidupan sosial terkait geng motor, pribadi dalam hal hubungannya dalam keluarga – cerita tetap berpusat pada relasinya dengan Milea seperti yang sudah kita tahu dari dua film sebelumnya. Kita tidak diperlihatkan akar kesetiaan Dilan pada geng motor; kenapa dia masuk ke sana in the first place. Kita tidak diperlihatkan hubungan yang lebih detail antara Dilan dengan ayahnya; sosok yang sedari luar dapat kita lihat sebagai yang paling berpengaruh terhadap apa yang membuat Dilan seperti Dilan yang kita dan Milea kenal. Bahkan dalam urusan yang lebih receh seperti sumber ketertarikan Dilan kepada Milea, atau kenapa Dilan begitu maut rayuannya, kenapa dia bisa seajaib itu ngasih kado berupa TTS yang udah diisi — we never get to the bottom of this behavior.
Menceritakan kisah ini sebagai ketikan Dilan yang aware akan keadaan cintanya sekarang, yang berusaha menjelaskan kenapa dirinya dan Milea berpisah, actually membuat keseluruhan cerita semakin buruk lantaran yang ia ceritakan – yang kita tonton ini – tidak terkesan sejujur ketika Milea menceritakan sudut pandangnya. Cerita Milea: Suara dari Dilan tidak bisa dipegang kebenarannya dan lebih seperti pembelaan diri dari seorang yang memandang dirinya sebagai bucin dan pribadi yang cool dan ajaib. Sebuah cerita yang begitu self-centered. Misalnya ketika periode dia masih kecil ditanya cita-cita, Dilan menjawab cita-citanya pengen menikah. Ketika bundanya pengen masuk kamar, dia balik bertanya bundanya siapa. Sure, it’s cute dan unik. Namun karena film tidak menggali karakter ini lebih dalam, dan kita tahu adegan tersebut ‘ditulis’ oleh Dilan dewasa yang menceritakan kisah versi dirinya kepada kita, semua itu jadi terasa gak-real alias dibuat-buat untuk becandaan. Sama sekali tidak mengandung development yang genuine.
To make things even worse; Dilan yang jago berkata-kata, ternyata bukan storyteller yang baik. Kisah yang ia sampaikan melompat-lompat. Dan itu tertranlasi kepada kita sebagai rangkaian penggalan adegan yang sudah pernah kita lihat di dua film sebelumnya. Begitulah keseluruhan film ini. Rangkaian adegan ulangan yang disambung-sambungkan dengan adegan tambahan. Pertama kupikir, okelah mungkin ini montase penghantar yang menyambungkan Dilan 1990 dan 1991 untuk merefresh sekaligus pondasi bagi penonton yang belum tau cerita mereka. Namun dua puluh menit, tiga-puluh, hingga satu setengah jam kemudian montase alias adegan-adegan film lampau yang menandakan poin-poin cerita itu terus bermunculan. Mana cerita barunya, mana sisi lain dari Dilan yang seharusnya dikasih lihat kepada kita. Dan tahulah aku bahwa film ini sama sekali tidak punya hal baru, tidak ada penggalian sudut pandang yang dilakukan – motivasi Dilan yang ditetapkan sedari ia kecil adalah pengen nikah, namun pembahasan arc ‘ajaib’ ini juga sangat minim, jauh lebih parah daripada Milea’s di film pertama. Melainkan, film ini hanya mengulur-ngulur waktu karena sekuen yang benar-benar baru hanya ada di dua-puluh menitan akhir. Yakni saat Dilan dan Milea sudah dewasa, dan setelah berpisah mereka confront each other, dan menyadari ‘kesalahan’ masing-masing.
Dua-puluh menit terakhir itu; that’s our new movie. Pembuatnya gak mau capek mengembangkan cerita singkat itu menjadi film utuh beneran, materi aslinya benar-benar dikultuskan. Ini bisa jadi adalah film dengan usaha produksi yang paling kecil yang bisa dikeluarkan oleh sebuah studio/rumah produksi. I mean, ini adalah semacam trilogi tapi adegan-adegannya cuma kayak dari stock shot alias dicomot dari dua film pertama, kemudian disatukan, ditambah beberapa lagu dari Pidi Baiq untuk menggiring mood, dan jadi deh satu film lagi. Aku bahkan gak yakin Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla dan pemain-pemain mengikuti suting lagi, karena film ini – keseluruhan triloginya – kayak dishoot dari proyek pertama dan kemudian hasil syut dibagi-bagi oleh pembuat sehingga jadi tiga film. Kalopun suting lagi, mereka hanya ngambil untuk tambalan dan memperlihatkan lebih banyak Adhisty Zara yang jadi adek Dilan, karena kepopuleran Zara sudah melesat jauh sekali sehingga kali ini jebolan JKT48 ini perlu lebih banyak dikedepankan sebagai nilai jual. Nonton film ini buatku terasa kayak sedang di-scam oleh orang, karena sama sekali tidak terasa seperti film baru. Melainkan lebih seperti menonton versi extended dari cerita yang sudah pernah aku saksikan. Or even; a highlight. Kalo kalian penggemar WWE dan familiar sama show kayak Velocity atau Afterburn – acara recap dengan narasi penjelasan dari host, film Milea: Suara dari Dilan ini rasanya persis kayak nonton acara tersebut.
Tapi paling enggak kita tahu darimana Dilan mengasah skill meramal yang ia punya.

 
Pengungkapan paling memuaskan yang dipunya oleh film adalah soal kebohongan-kebohongan Dilan. Pada film kedua kita melihat perubahan sikap Dilan ke Milea. Dilan tampak sebagai pribadi yang jelek sekali di menjelang akhir film, aku bahkan menuliskannya sebagai karakter Dark Triad dan merupakan pilihan tepat bagi Milea untuk melepaskan diri darinya karena kadang kita tidak bisa begitu saja mengubah seseorang. Di film terakhirnya ini (semoga bener-bener terakhir!), kita melihat alasan sesungguhnya – paling enggak, alesan dari narasi Dilan – kenapa Dilan bersikap demikian, bahwa itu semua sebenarnya konflik yang menyakitkan bagi dirinya, dan betapa ternyata dia sedang menutupi sisi terbaik dari dirinya yang mekar oleh cintanya kepada Milea.

Jika kita perhatikan, Dilan yang suka berantem itu, sesungguhnya hanya berbohong ketika menyangkut menjaga perasaan Milea. Dilan adalah karakter kompleks dengan relationship yang sama kompleksnya. Keduanya pantas mendapatkan film dan naskah yang lebih baik daripada ini. Keinginan Milea mengubah Dilan actually membuat Dilan mengungkap sisi terbaik dirinya, meskipun itu menyakitkan baginya. Dilan sebaliknya tidak pernah meminta Milea untuk berubah menjadi lebih sesuai dengan dirinya, dan dengan bersikap seperti demikian, keduanya tanpa menyadari telah saling mendorong untuk menjadi lebih baik, thus membuktikan besarnya cinta di antara mereka berdua. 

 
 
Film harusnya bercerita lebih banyak tentang pengungkapan seperti demikian. Seharusnya kisah yang sekarang lebih berfokus kepada karakter dan motivasi, sebab ini cerita tentang pembelaan atau pengakuan dari Dilan, terlebih kita sudah puas dengan adegan-adegan manis pacaran di dua film sebelumnya. Namun bahkan dengan sebagian besar adegan yang diambil dari film-film sebelumnya, film ini somehow gak memasukkan adegan Dilan ‘berantem’ ama Milea disaksikan oleh Bunda yang actually salah satu yang paling penting untuk pendalaman. Aku gak ngerti kenapa adegan itu diabaikan dalam film yang seharusnya penjelasan dari sudut pandang Dilan. Entah kenapa film seperti menolak untuk ‘memanusiakan’ karakter Dilan. Dia dijaga untuk tetap seperti karakter ‘ajaib’ yang kekerenannya bersumber dari semakin banyak hal yang tidak kita mengerti dari dirinya. Di awal ada adegan Dilan bercerita dia sebenarnya sudah punya pacar saat Milea baru masuk ke sekolah. Adegan dari Dilan yang tau-tau terpana mendengar nama si anak baru hingga ke pacar lamanya yang nyosor duluan di bioskop terlihat sangat lemah untuk menjadi akar karakter ini karena sama sekali tidak mengungkap motivasi tokoh utamanya, tidak memaklumkannya sehingga Dilan bisa menjadi dekat dengan kita.  Inilah kenapa padahal sudah ada dua film, dan kini tiga, aku masih merasa susah untuk peduli dan percaya kepada karakter Dilan.
Walaupun dalam film ini Dilan mematahkan soal dirinya adalah Pidi Baiq, namun tetap terasa sang penulis memproyeksikan dirinya terlalu banyak ke dalam diri Dilan, sehingga tokoh ini seperti pada kasus tokoh utama dalam Koboy Kampus (2019). Enggak salah sih penulis memasukkan dirinya ke dalam tokoh cerita. Contohnya Lousia Maya Alcott yang menjadikan kisah hidupnya sebagai panggung cerita Little Women, dan Jo Marsh sudah rahasia umum sebagai proyeksi personal dirinya. Dan di situlah letak perbedaan Jo Marsh dengan Dilan. Jo ditulis dengan logis secara universal, ceritanya digrounded-kan sehingga kita berada di sepatunya. Sedangkan Dilan dibuat terlalu ajaib, kita tidak mengidentifikasi diri kepadanya melainkan seakan diminta untuk mengagungkan dan mengidolakan dirinya. Adaptasi film seharusnya ‘memperbaiki’ ini. Sayangnya, arahan film ini tampak tidak punya visi dan hanya sekadar mewujudkan buku menjadi tontonan bioskop. Dialog pun kali ini terasa jauh lebih cheesy dan brainless. Ada dialog Dilan dan Milea unyu-unyuan, Milea bilang “Kan aku bisa nyusul.” Dilan nanya “Naik apa?”, yang lantas dijawab “Naik kamuuu” oleh Milea, disusul oleh ambyarnya seisi studio bioskop. Sungguh dialog tak logis yang menggadai nalar penonton demi adegan pacaran.
.
 
 
Semestinya bisa jadi cerita yang solid yang menjustifikasi sikap dan siapa sebenarnya Dilan yang pada dua film sebelumnya ditetapkan sebagai tokoh penyelamat, panutan, sekaligus tambatan hati seorang Milea – dan menariknya, tokoh ini bukan ‘anak baik-baik’. Namun film hanya bercerita ulang, separuh adegannya adalah adegan di film Dilan 1990 dan 1991 dipajang kembali, dan baru benar-benar ngasih sesuatu yang belum pernah kita lihat di menit-menit menjelang akhir. Bahkan untuk penonton yang gak nonton dua film sebelumnya, film ini at best adalah cerita lompat-lompat dari seorang tokoh yang motivasinya gak jelas dan stake yang gak greget – dia toh bisa dengan mudah berhenti dari geng motor tanpa ada konsekuensi. Shameless effort dalam nyari duit. Atau ketidakmampuan sutradara mengadaptasi dan meng-refresh cerita. Atau kedangkalan materi. Masalah film ini terletak pada tiga kemungkinan tersebut. But who am I kidding; seperti jawaban soal ujian di sekolah, selalu ada pilihan keempat. Semua jawaban benar. Besar kemungkinan itulah jawaban yang tepat.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for MILEA: SUARA DARI DILAN

 
 
 
That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian Dilan dan Milea seharusnya bersama? Kenapa?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

NIKAH YUK! Review

“Do you know how you tell real love? It’s when someone else’s interest trumps your own.”
 

 
Nikah Yuk memang kedengarannya seperti kalimat yang kita gunakan untuk ‘get cute’ with strangers di twitter. Ekspresi yang enggak serius. Namun, di balik judulnya tersebut, film garapan Adhe Darmastriya ini punya cerita yang gak main-main seputar mengenali cinta, serta relasi anak pada keluarganya terkait tuntutan orangtua dan kesuksesan diri sendiri.
Nikah bukan perkara sembarangan. Persoalan membangun rumah tangga, menjalin masa depan bersama orang yang kita pilih mestinya bukan seperti ngajak orang “main yuk” atau “nonton yuk”. Namun jika kita mengoverthink it, masalah pernikahan akan membuat runyam. Seperti yang dialami oleh Arya, sang fotografer anak orang kaya. Meskipun kedua orangtuanya sanggup menyediakan mas kawin apapun untuk meminang putri raja sekalipun, Arya urung mau menikah. Dia ingin fokus dulu ke kerjaan, supaya bisa menikmati kesuksesan hasil keringat sendiri. Bukan kucuran dari orangtuanya. Dalam suatu proyek kerjaan, Arya bertemu dengan Lia, seorang penggambar manga/komik jepang. Ayah ibu Arya semakin semangat nyuruh nikah, sampai-sampai ibu jatuh sakit. Tergerak oleh ini, Arya lantas ngajak Lia menikah. Hanya saja, walau seluruh dunia seperti setuju mereka cocok, Arya dan Lia punya mimpi berbeda yang menjadi penghalang terbesar mereka sebab bagaimanapun juga Arya ingin membuktikan kepada seluruh manusia dia bisa sukses sendiri mewujudkan mimpinya.

Cuma di film ini komik Detektif Conan disebut lucu dan bisa menghapus kesedihan anak SD.

 
Oke, pertama dan yang terutama sekali; Nama tokoh ini Arya. Itu awalnya, aku masih biasa aja, like, pfft jangan baper banyak kok yang bernama sama denganku. Namun kemudian ternyata nama panjang tokoh yang diperankan oleh Marcell Darwin ini adalah Arya Pratama; I’m like, what.. Dan kemudian dia menyebut smekdon, dia bilang gak bisa bawa motor, lalu ada penggalan headline berita yang menulis dia mengakuisisi perusahaan di – coba tebak – Riau. WHAAAT? Nonton ini aku jadi merasa seperti tokoh dalam serial Beyond Belief episode kebetulan-kebetulan mencengangkan terjadi di sekitarku. Atau mungkin Arya di film ini adalah aku di multiverse yang lain, gak tau deh rasanya ganjil sekali.. Tapi meskipun banyak miripnya (skornya berapa, 4 dari 5 sih sepertinya), I would not pull out any punches dalam mengulas film yang menurutku punya potensi ini.
Yang bisa kita puji dari film ini adalah chemistry antara Marcell dengan Yuki Kato yang kebagian peran menjadi Lia. Mereka beneran kelihatan cute sebagai pasangan. Ini actually menambah banyak bagi film karena sebagian besar cerita akan berpusat kepada drama di antara mereka berdua, dan hubungan merekalah yang menjaga film untuk tetap menarik. Interaksi mereka genuinely berkembang dari awkward malu-malu hingga keakraban mereka ada pada level memparodikan adegan 500 Days of Summer. Film berhasil menemukan kegiatan demi kegiatan yang menarik sebagai ladang tumbuhnya benih cinta mereka. Yang paling kocak adalah Lia mengajak Arya bertamu ke acara kondangan orang yang gak mereka kenal, dan ketika hampir ketahuan Lia ‘menuduhkan’ Arya sebagai fotografer acara hihi. Sifat mereka yang kontras pun dipadukan dengan manis. Arya yang lebih berdeterminasi, agak sedikit lebih robot kalo meminjam istilah dari mantan pacarnya yang model. Dia punya banyak pikiran antara ibu yang sakit menuntut nikah dan karir/kesuksesan yang menuntut pembuktian segera. Lia lebih free-spirited. Cewek ini punya banyak mimpi; salah satunya adalah pengen ke Jepang (film ini akan banyak referensi negara Sakura), namun terutama dia pengen menjadi penulis komik. Hidup Lia lebih berwarna. Dalam hal memilih pakaian saja, Lia diperlihatkan jauh lebih bebas.
Mereka punya pandangan yang berbeda soal pernikahan. Arya percaya menikah itu seperti berbisnis. Kedua pihak harus sama-sama diuntungkan. Sedangkan Lia berkata sebaliknya, bahwa nikah bukan bisnis. Cinta bukan berarti sama-sama harus menangguk untung. Melainkan akan ada tiba saatnya harus ada satu pengorbanan, satu yang mengalah. Sebab cinta adalah menanggung bersama-sama. Di sini, aku merasa film punya daging yang seru untuk dikunyah. Arc karakter Arya sepertinya adalah dia yang tadinya ingin sukses baru menikah menjadi menikah dan sengaja menunda sukses demi orang yang ia sayangi. Menikahi Lia seperti clean slate bagi Arya yang mau memenuhi keinginan orangtua sekaligus memutus ketergantungannya dari mereka. Namun ternyata film menyimpan sesuatu yang lain, dan buatku, sesuatu itu kinda breaks the whole thing apart.

Kita tahu kita beneran cinta kepada seseorang kepentingan mereka menjadi sesuatu yang kita rasa harus kita lindungi, harus kita dahulukan bahkan dari kepentingan sendiri. Bagian terbaik dari Nikah Yuk! adalah ketika Arya berusaha untuk mengerti mimpi-mimpi Lia sehingga kemudian ia rela menunda agenda pembuktian suksesnya, dan pada saat itu terjadi Arya bahkan belum menyadari dia sudah demikian cinta kepada Lia.

 
Sebelum sampai ke mengapa pengungkapan di babak akhir film memelencengkan cerita dari gagasannya sebelumnya, aku perlu mengestablish dulu gaya bercerita film ini. Nikah Yuk! punya muatan komedi yang tinggi dan ia mempersembahkan diri sebagai kejadian yang cukup absurd, dalam artian kita diminta untuk memaklumi apa yang terjadi sepanjang durasi. Film ini tampil ftv-ish. Pertemuan Arya dan Lia sebenarnya dihiasi berbagai kebetulan. Mereka pertama kali jumpa di pameran foto karya Arya. Lalu bertemu gak sengaja di sebuah SD, yang kemudian mengingatkan mereka bahwa keduanya adalah teman masa kecil dan sama-sama bersekolah di SD tempat mereka bertemu. Film ini juga banyak memakai insert komedi pada ftv; komedi yang tampak irelevan. Seperti pengamen yang bertingkah konyol nyanyi dan nyuruh Arya dan Lia menari seperti pasangan saat mereka lagi pedekate. Dalam konteks awal film, segala adegan kebetulan dan komedi ala ftv terasa manis karena dunia seperti memang menginginkan mereka untuk bersatu. Ini masuk ke dalam karakter Lia yang memang mendambakan kejadian tak-terduga seperti pada komik-komik Jepang.

konsep yang menarik? how ’bout: drama dengan Yuki Kato jadi anak Asri Welas hihi..

 
Tapi cerita lantas ‘berbelok’ saat pengungkapan di babak tiga tiba. Film ternyata punya jawaban dan alasan untuk semua kebetulan yang sudah kita terima sebagai sweet tadi. Alasan yang mencakup begitu banyak elemen cerita sehingga keseluruhan narasi jadi gak masuk akal. Padahal pesan dan maksud di baliknya kita paham. Sajian utama Nikah Yuk! ternyata adalah drama Arya dengan keluarganya. Lia cuma bidak, begitupun Arya. Karena semua adalah ‘tipuan’ Arya. Tokoh utama kita pengen sukses, ia bekerja sebagai fotografer, sempat punya pacar model dan segala macem achievement lain. Tapi dia gak tau satu hal, yakni kesuksesannya palsu. Ingat Awan di Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020) mendapatkan kembali pekerjaannya karena pengaruh sang ayah? Nah, Arya dalam Nikah Yuk! mirip seperti itu tapi ‘bantuan’ itu ada pada semua aspek hidupnya. Orangtua Arya sadar anak mereka akan kecewa karena si anak ini sudah bersumpah akan sukses dulu baru nikah, Arya mungkin tidak akan pernah menikah. Jadi orangtua Arya berusaha membuat cowok ini jatuh cinta sebenar-benarnya cinta. Dan itulah keseluruhan film yang kita tonton. Sebuah grand scheme.
Ini membuat Arc Arya menjadi melenceng. Bukan lagi soal dia mengesampingkan karirnya demi orang yang ia sayangi. Karena Arya ternyata gak punya apa-apa selain Lia dan mimpi-mimpi Lia. Sekilas plotnya masih nyambung; dari yang mau sukses dulu baru nikah menjadi belum sukses tapi mau nikah. Tapi kepentingan dan tone-nya jadi jauh berbeda. Film harusnya membahas lebih dalam betapa devastatingnya bagi Arya begitu mempelajari bahwa sebenarnya dia adalah nothing. Dia mungkin saja malah menutup diri karena malu dan marah. Film tidak memasak elemen drama yang ini. Melainkan hanya mempermudah cerita dengan membiarkan cinta begitu saja menjawab semua. Aku gak yakin apakah film sengaja memilih simpel atau durasi sembilan-puluh-empat menit itu kurang. Karena banyak elemen yang memang undercook. Penceritaan film melompat-lompat tapi kita enggak mendapat sense yang pasti seberapa jauh waktu cerita ini berlangsung. Peristiwa penting seperti pernikahan dilakukan dengan montase yang lebih mirip seperti khayalan tokoh Lia karena sebelumnya Lia bilang enggak mau nikah. Mereka harusnya memperdalam perspektif ini dulu. Cut dan penyatuan adegan film ini yang juga agak aneh turut memberi kesan gak pasti pada penceritaan.
 
 
 
Imagine having this conversation: “Selamat siang, silahkan mau nonton apa?”/ “Nikah Yuk! Mbak” / “… Maass, kan kita baru ketemuu”. Atau terus bayangin kalo mbaknya bilang mau dan mendadak orang-orang sebioskop tepuk tangan menyoraki dan kalian mendadak viral baru saat ijab kabul kamu bisa meratap “Aku cuma mau nontooooon”
Tadinya aku menyangka film ini butuh judul yang lebih baik, yang lebih berbobot. Namun ternyata film ini butuh lebih banyak lagi hal yang lebih baik. Durasi yang lebih memadai, penulisan yang lebih subtil, logat yang lebih jelas antara Makassar atau Jepang (serius aku bingung teman si Lia sebenarnya anak mana), sudut pandang yang lebih digali, editing yang lebih precise, dan terutama pengungkapan yang lebih masuk akal. Karena pesan yang film ini sebenarnya enggak sebercanda judulnya. Membahas dengan asik seputar cinta dan relasi anak pada keluarga. Fun sebenarnya cukup bersandar mantap pada Marcell dan Yuki. Namun film menjadikan pengungkapan sebagai senjata utama, dan sayangnya dibuat terlalu luas sehingga pesan yang logis jadi mengalah kepada cerita yang gak sukar dipercaya bisa terjadi dan membuat film ini menjauh dari daratan.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for NIKAH YUK!

 
 
 
That’s all we have for now.
Jadi apakah kalian tim ‘sukses dulu baru nikah’ atau tim ‘nikah dulu dan susah-sukses bersama-sama’?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

BIRDS OF PREY Review

“Freedom is the emancipation from the arbitrary rule of other men.”
 

 
Dunia belum berakhir, bila kau putuskan aku. Begitu mungkin – dan memang seriang lagu itulah – kata hati Harley Quinn setelah cintanya bersama Joker kandas. Sama seperti kita semua, supervillain yang super kece dan super gokil; yang membuatnya jadi superkeren ini juga bisa patah hati. Galau. Namun kisah yang ia sebut dalam narasi sebagai emansipasi dari Harley Quinn akan mengingatkan kepada setiap cewek di dunia bahwa cewek sebenarnya jauh lebih hebat lagi ketimbang cowok yang kata pepatah berdiri di depannya.
Birds of Prey sempat dinyinyirin penggemar DC karena harusnya (kalo fans komik udah ngomong “harusnya” itu berarti “yang benernya di komik adalah”) Birds of Prey merupakan nama kelompok superhero cewek. Tapi dalam versi film yang disutradarai oleh Cathy Yan ini (sutradara wanita Asia pertama yang ngegarap film superhero? might wanna check on that...), Harley Quinn yang bandit memasukkan dirinya ke dalam cerita. Sebegitu unik dan gokilnya tokoh ini. Film is actually, totally, about her. Judul aslinya aja “The Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn”. Bercerita tentang Harley yang udah gak lagi di bawah perlindungan Joker sehingga ia diburu oleh penegak hukum dan juga para penjahat-penjahat di sudut-sudut gelap Kota Gotham yang dendam dan geregetan pengen menjitak kepalanya. Salah satunya adalah si Black Mask, hanya saja ketua geng ini pengen menguliti wajah Harley – seperti yang sudah jadi cap-dagang kejahatannya. Harley membuat perjanjian dengan Black Mask; ia akan menemukan berlian inceran Black Mask yang hilang sebagai ganti nyawanya. Perburuan berlian yang ada pada pencopet cilik membawa Harley pada sebuah persahabatan baru. Bukan saja sama si anak kecil, Harley juga bergabung dengan tiga wanita tangguh Gotham. Yang tadinya saling bermusuhan dan punya agenda masing-masing, menjadi satu grup jagoan cewek yang memberantas geng jahat yang didominasi oleh pria.

Harley pasti berani ke kondangan sendirian

 
Agenda feminism jelas merupakan misi utama dari film ini. Sungguh sudut pandang yang jadinya menarik karena Harley Quinn bermula dari seorang penjahat. Jadi film ini awalnya ingin memperlihatkan dunia kejahatan bukan sebatas milik kaum pria. Dalam banyak film modern, narasi feminis seringkali jadi sandungan sebuah penceritaan. Tokoh utama ceweknya akan jatoh sebagai karakter mary-sue alias karakter sempurna yang cakap akan apa saja dan tokoh-tokoh lain – bahkan dunia cerita – mengalah untuk membuatnya terlihat mandiri, kuat, capable. Program cewek harus unggul dari cowok membuat film jadi annoying. Masalah ini tidak berlaku pada Birds of Prey. Harley Quinn enggak seketika menjadi ratu jalanan. Film akan memperlihatkan proses. Zona nyaman Harley adalah berada di balik nama Joker – di awal cerita dia merahasiakan sudah putus dari Joker hanya supaya dia masih bisa menangguk keuntungan dan keselamatan sebagai ‘pacar Joker’. Lalu ketika semua orang sudah tahu, setiap sudut kota menjadi tempat mengancam nyawa bagi Harley. Vulnerability-nya sebagai wanita di tengah sarang penyamun dijadikan stake dan kita peduli padanya karena kita juga mengakui betapa bahaya dunia tersebut bagi wanita, as in, cewek semenarik Harley gak akan survive di sana. Yea, I said it. Margot Robbie sangat memukau sebagai Harley Quinn. Ketawa cekikikan badutnya saja udah bikin terpesona.

Tips setelah putus buat cewek-cewek ala Harley Quinn: Jangan mengurung diri, go out. Ledakkan kenangan akan mantan sampai lenyap. Dan carilah teman; entah itu hewan peliharaaan, ataupun… makanan!

 
Tentu, Harely Quinn bisa macam-macam. Mulai dari berkelahi tangan kosong hingga bertarung dengan senjata, baik itu senjata api maupun tongkat baseball, ataupun berkelahi sambil bersepatu roda. Adegan Harley berantem pake baseball bat terlihat sangat seru dan menyenangkan. Namun bukan karena itu semata dia berhasil selamat dan mengalahkan musuh yang mengejarnya. Film benar-benar mengeksplorasi kekuatan Harely Quinn, juga kelemahan-kelemahannya. Aku suka film ini enggak melupakan basic ilmu yang dipunya oleh Harley. Ia sebenarnya adalah psikiater, dan kemampuan menganalisis orang akan sering kita temui ia gunakan dalam film untuk berbagai keperluan seperti membujuk, negosiasi, atau keluar dari situasi sulit. Keabsurdan Harley Quinn juga tergambar dengan baik; sangat kocak meskipun gak masuk akal. Tokoh ini exactly kayak tokoh kartun yang bisa menarik benda begitu saja. Film merecognize hal ini, seperti ketika ada tokoh yang mempertanyakan Harley Quinn yang tiba-tiba sudah memakai sepatu roda untuk bertarung.

Film ini, lewat pembelajaran yang dilalui oleh Harley Quinn, memperlihatkan kepada kita makna emansipasi dan kemandirian wanita yang enggak dibuat-buat atau dipaksakan. Emansipasi berarti kemandirian dari aturan orang lain yang mengekang. Namun independen bukan berarti harus sendirian. Bukan berarti enggak butuh bantuan. Cewek yang dibantu bukan semata lemah. Bekerja sama adalah jalan keluar bagi Harley dan tokoh-tokoh wanita jagoan dalam film ini. Mereka mengalahkan para geng pria dengan independen menjadi diri mereka sendiri, bersama-sama.

 
Harley Quinn yang dikejar-kejar penjahat satu kota mengingatkan kita pada John Wick. Ia juga punya hewan peliharaan yang jadi semangat juang, tapi bukan anjing melainkan hyena! Adegan berantemnya pun semenyenangkan itu. Dari attitudenya sendiri, film ini mirip dengan Deadpool. Film ini juga ‘cerewet’ oleh narasi yang crude sambil sesekali breaking the fourth wall. Birds of Prey berjalan dengan diceritakan oleh voice-over Harley Quinn. Hal ini dijadikan alasan bagi film untuk tampil sangat unpredictable. Dari sekuen animasi hingga montase backstory, semuanya dikisahkan cepat keluar mulut tokoh utama kita. Tau dong gimana karakter ini kalo ngomong? Ngasal, gokil, dan kadang melompat-lompat bahasannya. Penceritaan seperti begini jadi gimmick yang bagus, meskipun memang menjadikan film jadi berantakan. Ada empat cewek lain yang nantinya jadi pasukan Birds of Prey, plus satu tokoh jahat, dan di babak pertama Harley Quinn akan serabutan menceritakan backstory mereka masing-masing. Akan cukup sering kita dibawa mundur dari alur karena Harley mau menjelaskan satu tokoh saat sedang menceritakan kejadian yang berlangsung. Ini bisa jadi melelahkan, karena cerita utuh jadi seperti terpotong-potong dan disusun acak.

also, there will be a lot of ‘kick to groin’ fighting moves.

 
Dan bahkan semua latar itu belum cukup dijejelkan di babak satu. Film masih punya tanggungan satu tokoh lagi, yang sengaja dibiarkan jadi rahasia hingga setelah pertengahan film. Birds of Prey terasa jadi kayak set up yang berkepanjangan, meskipun secara struktur; film berusaha memakai narasi yang maju-mundur supaya strukturnya bener. Mereka menggunakan cara ini sebagai alternatif penceritaan biasa yang membosankan. Namun sebenarnya akar masalah Birds of Prey ini sama dengan permasalahan film-film superhero DC; terlalu rame oleh karakter. Bahkan untuk film yang seharusnya adalah solo, film ini masih merasa perlu untuk menggabungkannya dengan grup lain. Basically ini adalah dua film yang digabung jadi satu; Harley Quinn dan Birds of Prey, dengan perspektif Harley Quinn dan tema feminis sebagai pengikat. Konsep yang berani, hanya saja pada film ini DC masih dalam tahap mencari cara mengintroduce segitu banyak sekaligus. Birds of Prey lebih solid dan berhasil melandaskan karakter-karakter dibandingkan Suicide Squad atau Justice League, tapi memang masih belum sempurna. Tokoh-tokoh selain Harley masih terasa lebih seperti gimmick ketimbang tokoh franchise. Antagonis di film ini, si Black Mask, juga masih satu-dimensi – karakternya jahat karena dia bos geng yang pengen memonopoli dunia kejahatan dengan uang.
 
 
 
Film ini seperti Harley Quinn itu sendiri. Unik, cerewet, tak tertebak. Gokil. Adegan aksinya juga seru, violencenya menyenangkan. Musik dan set piece di battle akhir itu keren dan asik punya. Darah dan tulang patah bergabung dengan warna-warna ngejreng, ini mungkin sekalian menunjukkan tone cerita film. Dengan berani tidak menampilkan sosok Joker sama sekali, maka film ini benar telah mengemansipasi Harley Quinn yang originally hanya sebagai sidekick/pasangannya. Kini kita bisa menyebut nama Harley Quinn dan hanya membayangkan aksi-aksinya tanpa bayang-bayang sang mantan. Karakter dan tema feminis dalam cerita enggak hadir menyebalkan dan seperti dijejalkan, melainkan berjalan dengan cukup berbobot. Hanya saja film ini punya banyak untuk diestablish. Alih-alih memberi ruang untuk pengembangan, film memilih bercerita cepat dan resiko bolak-balik untuk mengakomodir banyaknya elemen dalam cerita. Kisah emansipasi di dunia jahat ini pack quite a punch, dan kupikir hal terbaik dari film ini bagi cowok-cowok adalah gak bakal terlalu kesusahan lagi ngajak pacar nonton film dari buku komik, bahkan mungkin kalian yang diajak duluan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for BIRDS OF PREY: AND THE FANTABULOUS EMANCIPATION OF ONE HARLEY QUINN.

 
 
 
That’s all we have for now.
Pelajaran apa yang kalian ambil dari putusnya Harley Quinn dengan Joker? Apa hal tergokil yang pernah kalian lakukan demi lepas dari bayang-bayang mantan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

TEMEN KONDANGAN Review

“You don’t need to prove anything to anyone as far as you know yourself”
 

 
Film haruslah punya kepentingan. Kudu unik, punya originalitas dan kebaruan. Serta tentu saja harus relevan. Makanya Teman Kondangan ini, eh maaf salah… Makanya Temen Kondangan ini jadi puncak dari sinema komedi Indonesia. Digarap oleh Iip Sariful Hanan yang sebelumnya menelurkan berbagai karya klasik seperti… ..umm, sinetron-sinetron, film ini sangat merangkul dan mewakili gaya hidup kekinian. Hanan memotret fenomena besar dan penting-banget dalam kehidupan sosial kita saat ini yakni persoalan menghadiri pesta pernikahan gak boleh sendirian karena bakal dinyinyirin oleh netizen.
Temen Kondangan dibintangi oleh Prisia Nasution yang berperan sebagai Putri; seorang selegram dengan ribuan follower yang mendapat layangan undangan dari sang mantan ke pesta pernikahannya di Bandung. Putri lantas ditantang oleh sahabat-sahabat ceweknya untuk datang ke pesta tersebut sebagai bukti nyata dirinya sudah move on. Tentu saja Putri menyanggupi. Hanya saja, kini dia lagi jomblo, dan datang ke pernikahan sendirian jelas akan menurunkan citranya di mata para fans dan pengikutnya di dunia maya. That’s the number one rule di jagat pergaulan masa kini. Jadi Putri mencari cowok yang mau mendampinginya ke sana, berpura-pura menjadi pacar barunya. Pada hari H kondangan, Putri yang awalnya jumawa menggaet teman lamanya yang anak band, menjadi kalang kabut. Sebab ada dua lagi cowok yang datang memenuhi permintaannya. Putri harus segera meluruskan masalah sebab kini ia sudah kehilangan dua ribu follower di Instagram. Gawat gak sih follower ilang!? Hidup pasti bakal kacau!!

pirtirihin ciritinya bisir sikili yiii

 
Oke, jokes aside, film ini sebenarnya punya konsep komedi situasi yang menarik. Satu tempat, satu kejadian. Wanita yang harus berkonfrontasi dengan sirkel sosialnya, wanita yang selama ini hidup membangun singgasana di dunia maya kini berusaha menyelesaikan masalah yang dia undang sendiri ke pesta pernikahan mantannya. Set up film ini juga menarik. Kita melihat bagaimana ‘panik’nya Putri mencari pasangan yang bisa diajak ke kondangan. Narasi actually menyediakan tiga opsi baginya. Namun, ketiga cowok yang harusnya menjadi pendukung, yang harusnya melambangkan sesuatu yang bakal Putri ubah mengenai dirinya, dibuat oleh film punya agenda masing-masing. Yang lebih besar dan gak benar-benar menambah apa-apa terhadap journey tokoh Putri. Tiga cowok ini adalah bos Putri yang ternyata bekas pacar mempelai wanita dan bapak ini bucin alias belum move on parah, sepupu teman Putri yang memang menjadikan jasa temen kondangan sebagai profesi, dan teman SMA Putri yang anak band dan kebetulan ketemu di kafe, untuk pertama kalinya sejak mereka lulus sekolah, dan kebetulan dia naksir berat memendam cinta kepada Putri.
Ketika cerita sudah tiba di pesta pernikahan, semua masalah ini melebar. Tidak lagi sepenuhnya mengenai Putri. Malah justru Putri yang berusaha membantu masing-masing cowok. Ada subplot soal band yang mengkhianati personelnya, soal tokoh yang menjadikan lagu Ular Berbisa sebagai penenang. Putri tidak lagi pusat konflik. Karena dia bukannya gak bisa move on, atau ditinggalin sahabat. Putri hanya ingin ke kondangan bawa pasangan supaya orang-orang bisa lihat dia beneran move on. Need Putri dalam cerita ini adalah bahwa dia gak perlu buktiin apa-apa ke orang, dia gak perlu dengar kata-kata miring dari orang. Pembelajaran Putri tentang hal tersebut beres lewat teguran sang mantan. Semua yang di luar ini gak paralel dengan Putri, Kekacauan pernikahan bukan exactly her fault. Di akhir ada sekuens kejar-kejaran pakai perahu bebek-bebekan, dan itu gak ada hubungannya sama Putri. Makanya cerita film ini terasa sangat berantakan. Bahasan film menyerempet ke mana-mana. Film menyinggung nikahan gak mesti mewah-mewah selain persoalan baper, gak bisa move on, dan citra sosial media. Yang terasa diada-adakan karena film butuh untuk mengisi durasi. Dan karena ini komedi, maka kejadiannya dibuat seajaib mungkin. Seperti ibu salah satu mempelai yang melipir dari pelaminan begitu saja untuk mencari berondong. Film juga berdedikasi sekali untuk mengisi waktu dengan reference-reference ke produksi-produksi MNC lainnya, makanya kita dapat adegan Lukman Sardi nongol sebagai dirinya sendiri ngobrolin filmnya; Di Balik 98 (2015)

Tak habis pikir, film yang diniatkan salah satunya untuk menegur kita dari palsunya interaksi dunia maya, malah membuat adegan dunia nyata di dunianya sebagai kejadian yang dilebay-lebaykan.

 
Soal komedinya, biar aku gambarkan beberapa adegan supaya kalian dapat mengerti seperti apa tepatnya tipe film ini. Bos Putri masuk ke ruangan kerja Putri, langsung mengajak ngobrol sambil melihat sekeliling ruangan, di ruangan itu ada poster setengah badan Putri, dan saat mengobrol tangan si bos mendarat tanpa sengaja dan berhenti di bagian dada Putri pada poster tersebut. Adegan lain, ada yang menampilkan orang diuppercut sehingga terangkat tinggi kayak kartun dan pingsan. Begitulah tren komedi Indonesia masa kini. Puncak entertainmen layar lebar tanah air, karena ya kita tertawa. Orang-orang di studioku bersenang hati menontonnya. Dan oh ya, jangan lupakan tarian lagu Ular Berbisa yang membuat suasana pernikahan jadi kayak live show Inbox/Dahsyat.

mentang-mentang ada mantan host-nya maen

 
Setiap kali mengulas review film-film komedi yang ditujukan untuk anak-anak, aku mencoba realistis menyingkapi level humor/candaan dan dalamnya eksplorasi cerita, standar penilaian selalu mempertimbangkan fakta bahwa film itu bukan dibuat untuk aku. Jadi komedi-komedi receh enggak serta merta membuat film menjadi berkualitas rendah. TAAPIIIII, Temen Kondangan ini bukan film anak-anak. Ini ditujukan untuk milenial, generasi yang mulai menghadapi krisis mid-life seputar relationship, yang menggunakan sosial media sebagai interaksi sosial dan pekerjaan. Film ini gak punya urusan untuk menjadi sereceh-recehnya kayak film untuk anak balita. Mungkin di antara kalian ada yang beruntung menyaksikan Playing with Fire (2020) yang dibintangi John Cena di bioskop? Nah, Temen Kondangan ini berada di level yang sama dengan film tersebut. Demi komedi dan kerecehan, film menyia-menyiakan potensi dari konsep dan cerita yang dimilikinya.
Bukannya gak boleh receh. Film-filmnya Taika Waititi humornya receh dan absurd semua kok, lihat saja Thor: Ragnarok (2017) atau Jojo Rabbit (2019) yang masuk nominasi Oscar tahun ini. Tapi ya, seharusnya film memberikan bobot di balik kerecehan tersebut. Misalnya, alih-alih stake yang hanya ‘follower turun’, kembangkanlah kepentingan angka follower itu lebih jauh lagi terhadap hidup Putri. Bikin supaya kita peduli Putri kehilangan pengikut dan tekankan kepentingan sosial media. Atau mungkin memang aku yang kuper; mungkin dunia nyata memang sudah sebegitu berubahnya sehingga angka follower kini sudah urusan hidup-dan-mati? I don’t know, still, rasanya bego dan gak ada apa-apanya stake yang begini. Seperti penulisan dan pengembangan ide yang masih dangkal.
 
Karena kerecehan dan ke-weightless-an ini jualah film jadi tidak berhasil memenuhi misinya. Perjalanan Putri, dalam level yang lebih dalam, seperti contoh kepada kita untuk gak terlalu dengerin sosmed. Kita gak perlu buktikan sesuatu yang sudah kita lakukan kepada orang hanya demi gak dijulidin ama mereka. On a surface level, film menyugestikan tidaklah apa-apa datang ke pesta pernikahan tanpa pasangan. Hanya saja film tidak bisa menjawab kenapa. Kenapa enggak masalah datang kondangan sendirian. Kenapa baiknya kita gak usah bawa pacar palsu atau nyewa teman kondangan. Kejadian dalam film terlalu dibuat-buat sehingga gagal memberikan gambaran yang grounded. Situasinya terlalu kartun. Ditambah absennya bobot dan urgensi tokoh utama, film ini jadi kayak makan snack murah. Asik dikunyah tapi isinya ‘angin’ doang.
The Palace of Wisdom gives 2 gold stars out of 10 for TEMEN KONDANGAN.

 
 
 
That’s all we have for now.
Jadi kalo ada yang datang ke kondangan mantan, itu artinya dia udah move on atau belum? Perlu gak sih datang ke nikahan mantan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

GIRL ON THE THIRD FLOOR Review

“Masculinity is not something given to you, something you’re born with, but something you gain”
 

 
 
Cabut dari WWE lantaran ego dan kreativitasnya dihajar sampai tumpul oleh perusahaan, Phil Brooks alias CM Punk beralih ke UFC. Di sana, meskipun digadang bakal jadi jagoan, Punk literally babak belur pada pertandingannya yang pertama. Sekarang – mengejutkan semua fans gulat, termasuk aku – Punk mengekor karir dua superstar yang ia sebut lebih dianakemaskan WWE ketimbang dirinya. Punk, seperti The Rock dan John Cena, kini bermain di film layar lebar. And guess what, di horor pertamanya ini CM Punk ‘diperkosa’ – diassault habis-habisan, oleh sebuah rumah.
Dan jokes sebaiknya dihentikan sekarang, karena film Girl on the Third Floor ini boleh jadi adalah the best thing yang bisa terjadi bagi karir keaktoran pria yang di dalam ring dijuluki The Best in the World tersebut.
Kerja direktorial film-panjang pertama Travis Stevens ini memang masih tampak sedikit canggung, namun mengandung gagasan dan keberanian eksplorasi yang layak untuk diapresiasi. CM Punk berperan sebagai Don Koch, seorang pria yang berniat merenovasi sendiri rumah yang baru saja ia beli. Istri Don tengah mengandung, dan ia berusaha berbuat yang terbaik demi jabang bayi dan wanita yang ia cintai. Masalahnya adalah rumah tiga lantai yang dibeli Don adalah bekas rumah bordil. Jadi kerjaan Don bakal banyak banget. Awalnya hanya noda-noda jijik, pipa-pipa mampet, namun kelamaan rumah itu terbukti aneh. Dari colokan-colokan listriknya mengalir likuid putih, dari lubang-lubang di temboknya mengalir cairan kayak darah. Beruntung, ada cewek cakep bernama Sarah yang menjadi pelepas lelah bagi Don. Tapi kejadian aneh di rumah itu tidak berhenti. Terlebih, Sarah yang misterius kini ikut-ikutan meneror Don yang enggak mau affair mereka diketahui oleh sang istri. Don semakin kehilangan akal, sampai suatu ketika ia melihat wanita tak berwajah – at least tak-bermata melainkan hanya torehan luka panjang yang bersatu dengan mulutnya – muncul dari balik tembok rumah.

dalam film ini banyak yang seperti Big Show; berpindah dari babyface ke heel atau sebaliknya, dalam sekejap

 
Rumah yang dibeli Don seolah hidup dan mengincar nyawanya. Apa yang tampak seperti premis dasar dalam sebuah horor standar tentang rumah berhantu tersebut, diberikan makna yang lebih mendalam oleh film ini. Sebab cerita hantu pada dasarnya tidak pernah semata tentang cerita yang ada hantunya. Melainkan lebih kepada kenapa seseorang dihantui. Cerita yang baik akan membahas personal si tokoh utama – kesalahan dan perjuangannya untuk menggapai hidup yang lebih. Dan itulah yang kita dapatkan pada Girl on the Third Floor. Film akan mengeksplorasi seperti apa sebenarnya pria yang jadi protagonis cerita. Perlahan film juga akan mengungkap makna rumah tersebut – rumah dan segala hantu yang menghuninya akan setelah pengungkapan mungkin bukanlah antagonis seperti yang kita kira – dan apa yang sesungguhnya mendasari konflik antara si rumah dengan Don.
Kekuatan film ini terletak pada ceritanya yang sesungguhnya adalah alegori dari sebuah maskulinitas. Yang toxic, jika ingin ditambahkan. Don, sepanjang film, akan memperlihatkan tabiat yang gak sehat; ia cenderung memaksa dirinya supaya terlihat jantan. Dia menolak meminta bantuan kepada ahli renovasi rumah, dia ngotot ingin melakukan semuanya sendiri. “Pria macam apa aku jika tidak bisa membangun atap untuk istriku,” begitulah pertanyaan retorika yang ia ucapkan – sebagai sebuah tantangan bagi dirinya sendiri. Tentu, cowok memang harus bertanggung jawab seperti demikian. Namun Don juga memperlihatkan banyak ‘gejala’ yang menunjukkan kengototannya tampil jantan sebagai sesuatu yang enggak sehat. Dia mencibir warna pink tembok rumah serta lekas mengira ibu-ibu tetangga yang bekerja di gereja sebagai biarawati tanpa banyak pertimbangan – mengindikasikan objektifitas dan pola pikir judgmental, dan di waktu privatnya Don nonton bokep kategori “I’am a good girl, daddy”. Ini adalah bukti bahwa karakter kita ini merupakan pria yang mendambakan selalu memegang kontrol, yang menganggap maskulin sebagai kunci kendali; wanita adalah objek yang ia punya kuasa. Kencannya dengan Sarah ia anggap sebagai hadiah  – or worse, hiburan – atas kerja kerasnya merenovasi rumah.
Malang bagi Don bukanlah karena ia membeli rumah bordil berhantu. Melainkan karena ia gagal melewati tes yang diberikan oleh rumah tersebut. Seorang tokoh utama yang menarik memang haruslah bukan tokoh tak-bercacat, karena yang kita nikmati adalah perjuangannya menjadi lebih baik. Don, however, ingin berubah dari ia yang sebenarnya, tapi ia tidak tampak benar-benar ingin berubah. Imannya begitu lemah, jika boleh dibilang. Rumah yang ia beli adalah tempat wanita-wanita ditekan oleh pria-pria yang datang melampiaskan nafsu mereka untuk memegang kendali. Semua trauma ngumpul di sana, itulah ‘wujud’ sebenarnya hantu-hant di sana. Don gagal, dan segimana pun kita mungkin sudah bersimpati pada karakter ini, pada akhirnya kita menyadari ketoxic-annyalah yang menghalangi ia dari keinginan dan niat baiknya.

Anggap film ini sebagai peringatan bagi cowok-cowok (terutama fukboi) yang menganggap mereka pria hanya karena punya alat kelamin jantan, yang menganggap kejantanan mereka dibuktikan dengan mengobjektifikasi atau juga memaksakan kendali/power atas wanita. 

 
Sensasi nonton film ini mirip kayak nonton horor-horor 80an. Film ini punya adegan gore berupa kekerasan dengan graphic darah yang jelas. Penggemar anjing bisa jadi sedikit terdisturb karena Don di rumah itu gak sendirian, dia bersama anjing peliharaannya, dan film cukup nekat memaksimalkan peran karakter-karakter yang dipunya. Film ini juga punya elemen body-horor, akan ada adegan saat seorang tokoh mendapati sesuatu menjalar di balik kulitnya, dan ia akan menggunakan pisau cutter untuk berusaha mengeluarkan benda tersebut – you know, good stuff. Aku sudha menyebut rumah dalam film ini udah kayak hidup, jadi kita bisa menganggapnya sebagai tubuh lain untuk alat horor. Ya, segala macam cairan kental – coklat, merah, putih akan nongol di mana-mana. Penggemar horor tradisional akan suka sama film ini, karena memang mengingatkan kita pada masa 80an. Masa di mana keberadaan CGI dan efek komputer begitu minimal, dan merupakan sebuah berkah bagi kita penggemar horor. Karena semuanya jadi terasa otentik. Efek praktikal menghasilkan sensasi yang lebih kuat, kita hampir bisa merasakan cairan itu nempel di tangan sendiri. Mengenai aspek horornya, film ini dideskripsikan dalam satu kata; Jijik.

Tapi jijik yang menakjubkan.

 
Girl on the Third Floor jelas terlihat enggak punya budget gede, ini lebih seperti film kelas B, tapi di sini kita akan melihat budget minimalis menjadikan pembuat lebih kreatif. Adegan penampakan hantu enggak bersandar pada jumpscare melulu, film ini enggak menggunakan kamera panning kanan kiri, ampe muter-muter segala untuk menghasilkan efek seram. Melainkan, film ini menggunakan cermin. Lingkungan rumah yang sedang proses renovasi; barang-barang masih terletak tidak pada tempatnya, cermin-cermin bersandar serabutan di dinding atau di lantai setiap ruangan. Ini dijadikan film sebagai alat ampuh untuk menampilkan hantu. Background menampilkan cermin dan pada pantulannya kita akan melihat hal-hal ganjil. Ini menghasilkan sensasi menyeramkan yang menyenangkan. Kita jadi berusaha melek dan aware. Kayak main Where’s Waldo hanya saja waldonya menyeramkan.
Ngomong-ngomong soal 80an; clearly film ini berkaca, banyak mendapat pengaruh, dari salah satu body-horror paling legendaris; Hellraiser (1987). Cerita dua film ini memang jauh berbeda, tapi ada elemen dasar Hellraiser yang bisa kita jumpai pada Girl on the Third Floor. Rumah yang juga tiga lantai (termasuk loteng rahasia tempat setan). Dan cerita yang punya pergantian sudut pandang. Aku suka Hellraiser, namun memberinya pengurangan nilai karena struktur bercerita yang seolah membagi dua narasi, dan itu jugalah penilaian yang kuberikan pada film Girl on the Third Floor ini. Perspektif terakhir yang menggantikan Don berfungsi lebih seperti penjelas, atau bisa juga penyeimbang karena sejauh itu film dari sudut pandang laki-laki, untuk mengikat cerita rumah tersebut. Dengan kata lain, make sense untuk dilakukan. Tapi juga gak urgen-urgen amat, karena cerita aslinya sudah berakhir – dan ini kurang lebih seperti epilog dalam buku.
 
 
 
Menurutku cukup ‘lucu’ CM Punk yang gak betah di WWE karena disuruh bacain naskah dari storywriter dan lebih memilih melakukan promo sendiri, malah bermain peran menghidupi naskah yang ditulis scripwriter. Tapi Punk cocok meranin Don karena sikap Don sesuai dengan persona dirinya; sedikit angkuh, berlaga macho, suka mengayunkan tinju alias fisikal, makanya buatku akting Punk di sini belum bisa sepenuhnya dinilai karena ini adalah karakter yang biasa ia lakukan. Horor film ini klasik, ceritanya mengandung gagasan menarik bahkan dengan struktur naskah yang gakbener. Bagian awal film meski gak bosan sampai membuat kita pengen ‘go-to-sleep’, tapi memang terasa lebih lambat daripada yang lain, dan itu sebagian besar karena Punk masih canggung memikul seantero naskah dan akting vulnerable. Namun aku tetap positif dan mengatakan, ini awal yang menarik – baik bagi Punk maupun bagi Travis Stevens.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for GIRL ON THE THIRD FLOOR.

 
 
 
That’s all we have for now.
Menurut kalian kenapa hantu rumah memperlihatkan masa lalu rumah itu kepada istri Don, tapi tidak kepadanya? Bagaimana cara melawan toxic masculinity?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.