THE WAY I LOVE YOU Review

“The way to love someone is to lightly run your finger over that person’s soul…”

 

 

 

Bagi remaja yang pendiem seperti Senja, curhat yang nyaman itu kalo enggak sama sepupunya, Anya, yang super rame ya sama buku jurnal. Dia bisa memuaskan uneg-uneg dengan kreatif dan tanpa perlu malu karena buku adalah pendengar yang baik. Dan remaja seperti Senja ini, yang orangtuanya sudah tidak ada, yang mulai bisa naksir ama cowok, memang butuh teman curhat yang aman. Makanya dia sempat sedih ketika buku jurnalnya hilang di bawah pengawasan Anya yang lagi pedekate sama cowok baru keren bernama Bara di sekolah mereka. Gimana Senja bisa marah sebab dia kepalang sayang ama si sepupunya tersebut, apalagi kemudian Anya membelikan Senja laptop. Kini curhatan Senja terasa mendapat respon langsung karena lewat blog dia bisa membagikan apa yang ia rasa. Senja menemukan teman bicara itu pada user-name Badboy yang setia mendengar keluh kesahnya, berbagi hati dengannya.

kurang lebih seperti Ginny Weasley membuka hati pada buku Tom Riddle

 

Secara keseluruhan memang film ini enggak melenceng jauh dari yang dijabarkan tiga pemainnya Syifa Hadju, Rizky Nazar, dan Baskara Mahendra presscon di Bandung pada saat beberapa hari yang lalu. Film ini memang benar mengajarkan kepada remaja-remaja penontonnya ada lebih dari sekedar hubungan cowok dan cewek yang dibahas ketika kita membicarakan cinta. Bahwa ada banyak bentuk cinta yang seharusnya lebih kita perhatikan di sekeliling kita.

Dalam wujud teruniknya, film ini menunjukkan, cinta itu bisa juga datang ketika kita bahkan tidak mengenal siapa yang kita rasa cintai tersebut. Cinta bisa tumbuh cukup dengan kedekatan emosi yang kita rasakan bersama. Seperti yang berbunga di hati Senja begitu ia berkomunikasi dengan Badboy yang tak ia ketahui siapa. Atau sebaliknya, cinta tak cukup hanya dengan ketemu, melihat wujud fisiknya sepanjang waktu. Seperti yang kita simak pada Bara dengan ayahnya. Bahkan saat kita bertengkar dengan seseorang, bukan berarti kita tidak mencintai mereka.

 

 

Film garapan Rudy Aryanto ini menilik cinta bukan dari segi fisik. Melainkan bentuk cinta yang biasa dikenal dengan emotional intimacy – kedekatan emosional. Kedekatan ini terbentuk ketika dua orang menjadi begitu dekat karena mereka merasakan hal yang sama, mereka jadi merasa saling mengerti, saling dukung, dan tak ragu untuk membeberkan hal-hal personal yang bahkan mungkin mereka rahasiakan terhadap diri sendiri. The Way I Love You benar-benar tepat menggambarkan gelora yang dirasakan oleh Senja ketika dia merasakan kedekatan semacam ini kepada Badboy. Film membungkus soal kedekatan emosional ini ke dalam elemen ‘dunia maya vs dunia nyata’ ketika Senja akhirnya bertemu dengan cowok yang mengaku di balik username Badboy tersebut, menjadikannya konflik ketika Senja merasa ada yang tak cocok dengan Rasya. Tapi kukira siapapun bakal langsung melihat ada yang tak beres ketika Rasya tiba-tiba nari Pulp Fiction di acara Valentine padahal musik dan dandanannya enggak merujuk ke sana hihi..

Enggak hanya seru-seruan, film juga menilik sisi yang lebih dramatis dalam lingkup keluarga. Satu yang menarik perhatianku adalah film sempat nunjukin adegan Bara dengan ayahnya bermain basket. Ini adalah kedua kalinya dalam waktu dekat aku melihat adegan ayah-anak bonding dengan bermain basket ini dalam film Indonesia – satunya lagi di Terlalu Tampan (2019). Adegan main basket ayah anak ini digunakan untuk membangun kedekatan emosional pada kedua tokoh; yang membuat aku penasaran adalah kenapa basket? Aku gak sadar apa memang basket sudah menjadi sepopuler itu di Indoneisa. Atau apakah ada filosofi di baliknya? Kalo di film luar, yang kita sering lihat adalah ayah dan putranya bonding lewat permainan lempar tangkap di mana mereka bisa punya waktu untuk mengobrol, ada koneksi yang tersimbolkan ketika bola itu berpindah tangan; emosi ayah ditangkap oleh anaknya. Atau pergi mancing seperti Bart dengan Homer. Atau ngajarin naik sepeda kalo anaknya masih kecil banget kayak Kun di Mirai (2018). Sekali, seingatku, di Barbershop: The Next Cut (2016) aku melihat Ice Cube main basket sambil nasehatin anaknya, dengan konteks anaknya mengalahkan si bapak, menunjukkan ketidaksetujuan terhadap idealismenya. Anyway, percakapan antara Bara dengan ayahnya truly menunjukkan jalinan hubungan emosional yang kuat, dan meski aku gagal melihat pentingnya harus-basket, setidaknya film membuat basket tetap ada hingga akhir cerita.

Mungkin kalian bingung kenapa aku malah begitu mempermasalahkan basket, well, itu karena saat menonton ini aku seperti melihat seorang pebasket yang udah lumayan meyakinkan namun meleset saat berusaha menembak tiga-angka. The Way I Love You punya amunisi yang cukup sebagai cerita remaja yang beneran hangat dan istimewa. Dia juga berani karena bukan adaptasi dari apa-apa. Film ini punya sesuatu untuk diceritakan, penampilannya pun udah remaja banget. Aku suka sekali gimana film menggunakan blog di era facetime-an untuk menguatkan karakter Senja dan si Badboy. Aku suka gimana film ini menangkap ‘gembira’nya punya chatting sama orang yang mengerti kita, membuat kita merasa mengenal dirinya. Aku juga suka humor ringan yang enggak kelihatan untuk melucu yang hadir sebagian besar lewat penampilan natural dari Tissa Biani yang memerankan Anya. Hanya saja bangunan ceritanya rusak karena pilihannya untuk menjadi punya twist. ‘Penyakit’ klasik film-film Indonesia yang berusaha mencari jumlah penonton.

Maaf aku enggak menyesal akan membeberkan banyak poin-poin yang dijadikan twist pada film ini karena menurutku film ini enggak perlu untuk punya twist. Maksudku, lihat saja posternya, Senja dan Bara mejeng berdua, mereka sudah terang-terangan dipajang begitu sehingga kenapa ceritanya musti nitip-nutupin kedua tokoh ini pada akhirnya akan bersama. Film ini begitu twist-minded, merasa perlu untuk menyembunyikan sesuatu, sehingga seperti sendirinya lupa ingin menceritakan apa. Sepuluh menit pertama, diperlihatkan Senja yang enggak mau pisah ama Anya, dia gak marah saat buku jurnal/diarinya dihilangkan Anya. Elemen dua tokoh ini punya pasangan itu adalah konflik untuk menguji apakah si Cewek-yang-Telah-Kehilangan-Segalanya tega mengambil kepunyaan orang yang ia sayang. Siapa sebenarnya Badboy tidak pernah menjadi persoalan utama, semestinya. Namun the way this film goes seolah Badboy itu adalah twist, padahal bagi kita yang mengerti twist yang berhasil mereka buat adalah bahwa ini adalah cerita tentang cinta antara dua sepupu yang udah kayak kakak-adik; Senja dan Anya.

gimana Rasya bisa tahu percakapan Senja dengan Badboy adalah antara dia begitu pintar menerka atau naskah yang memang lemah

 

 

Skrip film ini jadi terasa begitu-belum sempurna. Ada banyak poin-poin yang hilang tak terjelaskan. Seperti si Rasya yang enggak nongol lagi, kita tidak tahu siapa dia sebenarnya, kenapa dia suka ama Senja, atau bahkan dari mana ia datang. Dengan tujuan untuk ngasih kejutan, tentu kita mengira film ini matang memikirkan urutan kejadian yang ditampilkan, dari A ke B harus ada penggerak, setidaknya kita bisa mengandalkan film memperhitungkan hal tersebut kan? Tidak, sayangnya. Tiga-puluh menit pertama, kita mendapatkan dua adegan tabrakan, tiga adegan ‘enggak sengaja’, film ini berjalan dengan banyak kebetulan. Menakjubkan, untuk sebuah cerita tentang cinta yang menemukan jalan, apakah film tidak bisa memikirkan jalan lain untuk menyampaikan cerita dengan lebih matang dan masuk akal? Lucunya, bahkan film ini menjadi semakin meta dengan ada tokoh yang sengaja menciptakan adegan tabrakan.

Ada satu aspek yang buatku meruntuhkan bangunan cerita film ini. Katakanlah semacam plot-hole. Karena cerita film ini bakal beda jika si satu tokoh ini enggak berbuat demikian bego. Ceritanya diserahkan kepada kerelaan kita untuk menganggap tokohnya enggak bisa berpikir. Yang mana plot film ini jadi terlihat maksa karena si tokoh sama sekali enggak bego. Kalian tahu, manis banget memang melihat Bara mencoba mencari pemilik tulisan buku yang ia pungut, ia diam-diam membandingkan tulisan itu dengan tulisan cewek-cewek lain kayak Pangeran nyari pemilik sepatu kaca. Tapi toh semua usaha Bara itu tak perlu, karena di buku itu tertulis nama Senja. Dia tinggal mencari anak di sekolah mereka yang bernama Senja. Dan masa iya dia hingga babak ketiga tidak tahu tokoh si Syifa Hadju ini bernama Senja? Padahal seharinya Bara bersama-sama Anya yang ceplas-ceplos. Dia bahkan melihat buku yang ia pungut itu sebelumnya dipegang oleh Anya. Tinggal tanya Anya!! Bara juga sempat membaca tulisan Senja di majalah ketika dia berkonfrontasi dengan Senja, ia tahu cewek itu yang nulis – tidak terterakah nama penulis di majalah tersebut. Aku sempat ‘ngalah’ dengan berpikir mungkin Bara memang ditulis bego, pasif, dan begitu pemalu jadi mungkin dia sudah tahu Senja adalah yang punya buku tapi tidak mau come up, lagipula dia punya hubungan dengan cewek di blog. Namun datanglah adegan ketika Bara melihat buku catatan Senja dan langsung bisa menyimpulkan pemilik buku dan cewek di blog adalah orang yang sama. Mungkin juga, melalui tokoh Bara ini film ingin menunjukkan contoh creepy dari emotional intimacy.

 

 

 

Buatku elemen buku jurnal itu sama sekali tidak perlu karena membingungkan logika. Pencarian tulisan tangan itu maksa make sense-nya. Cukup dengan blog. Karena lebih masuk akal dan efeknya lebih kuat, lihat saja di Love, Simon (2018).  Juga gak perlu di-twist siapa Badboy, karena tanpa itu kita bisa lebih terarah dibangun ke pertengkaran atau konflik antara Senja dan Anya karena merekalah fokus utama yang sebenarnya. Film ini sebenarnya punya pesona tersendiri, lucu, hangat, bukanlah tontonan yang dibuat dengan ngasal. Kalian tahu betapa aku sangat menghargai cerita orisinil. Tapi cerita film ini terasa masih seperti draft yang butuh beberapa kali penyesuaian lagi supaya menjadi maksimal.
The Palace of Wisdom gives 2.5 out of 10 gold stars for THE WAY I LOVE YOU.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Nyamankah kalian curhat di blog atau sosial media? Ataukah kalian lebih suka curhat di jurnal atau diari? kenapa?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

ALITA: BATTLE ANGEL Review

“The body knows things the mind will not admit.”

 

 

Di saat buku komik mungkin masih dilecehkan di negara kita, kesuksesan cerita superhero –  fakta bahwa cerita kebaikan melawan kejahatan biasanya hadir bersama layer tentang isu-isu sosial yang lebih dalem dalam cerita fantasi seperti ini -membuat para pembuat film mulai melirik komik dari negara luar. Penggemar anime atau manga (alias ‘kartun Jepang’) seluruh dunia pastilah sekarang-sekarang ini sudah merasa hidup di utopia masa depan. Bukan saja karena materi-materi sarat makna nan keren dan selama ini sebenarnya sudah dijadikan inspirasi oleh film-film Hollywood tersebut sudah semakin mudah diakses. Ide adaptasi menjadi film yang bener-bener dibuat dengan ‘mirip’, dengan serius, dengan teknologi yang memungkinkan; nyata-nyata sudah bukan mimpi lagi.

Makanya, jangan malu kalo mulut kita ternganga semakin lebar seiring cerita Alita: Battle Angel ini berjalan. Penonton-penonton di sekitar kita juga sama, kok. James Cameron sudah lama mengumumkan dia tertarik mengangkat Alita yang berasal dari manga buatan Yukito Kishiro tahun 1990 ke layar lebar. Dan melalui film ini kita dapat melihat, Cameron benar-benar peduli dan passionate sekali terhadap dunia yang sedang berusaha ia berikan nyawa. Film ini sendiri adalah mesin, dengan Cameron dan sutradara Robert Rodriguez sebagai gepeto cyberpunk-nya. Pengaruh dari gaya manga berusaha mereka pertahankan, sembari melandaskan gaya dan cara bercerita yang dapat diterima oleh pasar mainstream. Bukan tugas yang mudah memang, tapi nyatanya; Alita yang meskipun bukan kreasi sempurna ini tetap dapat menghibur dan menonjok kita dengan keasyikan dan keseruan.

Rongsokan kepala cyborg ditemukan oleh Christoph Waltz saat ia yang berperan sebagai Dr. Ido berjalan di junkyard Kota Besi. Terkenal sebagai tukang reparasi barang-barang cyborg, sang dokter mengkonstruksi ulang tubuh untuk tempat kepala yang ternyata masih ‘hidup’ tersebut. Si cyborg cewek kini Rosa Salazar yang oleh efek dibuat bermata gede kayak tokoh komik seutuhnya, diberi nama Alita. Dan walaupun ia tidak bisa mengingat siapa dirinya di kehidupan yang lama, untungnya muscle memory si Alita masih bekerja; dia bisa melakukan berbagai macam hal menakjubkan – bahkan untuk ukuran dunia di mana penduduknya sebagian besar sudah menjadi separuh cyborg – terutama dalam hal berantem. Malahan setiap kali berantem, Alita mendapati ada kenangannya yang sedikit terbuka. Maka Alita mendaftar menjadi Hunter-Warrior untuk nge-jog ingatannya, sehingga kita bisa melihatnya melakukan aksi-aksi keren dalam petualangan mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

“Alita de Ángel, sonrisa de cristal~~”

 

 

 

Apa yang terjadi kepada Alita sebenarnya enggak jauh-jauh dari yang otak kita lakukan setiap kali kita mempelajari suatu kepandaian. Istilahnya muscle memory, yang meskipun disebut muscle, namun tetap tersimpan di otak – bukan di otot. Inilah mengakibatkan kita gak bakal pernah lupa lagi gimana caranya naik sepeda begitu kita sudah bisa saat umur lima-tahun, meskipun kita sudah bertahun-tahun setelah itu kita enggak nyentuh lagi yang namanya sepeda. Bekerja seperti insting, tubuh akan membantu mengingat apa yang dilupakan oleh pikiran. Karena itulah, seperti Alita, kita tidak akan mudah melupakan apa yang sudah kita pelajari.

 

Seperti yang sudah ia perlihatkan sebelumnya di Avatar (2009), Cameron adalah orang yang rela jor-joran demi mencapai hasil yang maksimal. Untungnya dia tidak lupa akan kepandaiannya yang satu itu. Dunia Alita terbangun menawan dengan efek-efek yang luar biasa spektakuler. Wujud tokoh-tokohnya yang setengah robot sungguh memanjakan imajinasi, dan semuanya kelihatan asli. Kita gak menyipit aneh melihat perwujudan Alita yang tampak seperti langsung dicomot dari halaman komik. Efeknya menyatu begitu mulus sehingga tampak serapi topeng yang dikenakan Luna Maya ketika berperan menjadi Suzzanna. Dari segi penampilan saja sepertinya film ini sudah memuaskan banyak penggemar manga yang menyempatkan waktu untuk ke bioskop menyaksikan favorit mereka.

Alita memang dibuat lebih menonjolkan visual. Karena tak seperti Ghost in a Shell (2017) yang dibuat dengan banyak bincang filosofi pada tubuh luarnya, Alita berada di jalur yang lebih ‘sebuah hiburan’. Film ini mengandalkan banyak adegan aksi yang memang dibuat sangat memukau. Entah itu adegan berantemnya yang super asik sekaligus penuh violence yang berstyle tinggi (banyak darah dan banyak oli yang tertumpah!), maupun sekuen olahraga ekstrim Motorball yang udah kayak balapan robot, semuanya di-craft sebagai bangunan-bangunan untuk pusat hiburan para penonton. Jika Harry Potter punya Quidditch dan Hunger Games punya ehm… Hunger Games, film ini punya Motorball; olahraga khusus di dunia ceritanya yang udah jadi semacam ‘maskot’. Dalam Motorball para pemain akan berkejar-kejaran memperebutkan bola metal yang bakal digunakan untuk mencetak angka, dan dari rebutan bola inilah kekerasan dan kesakitan para pemainnya dapat dengan mudah tercipta. Film dengan baik membangun minat kita dan Alita – kita melihat Alita latihan, diajarin main, dan kalah, baru kemudian jadi ‘atlet’ beneran  – terhadap permainan ini yang tak sekedar ditempel ke dalam cerita.

serius deh, aku kepengan lihat menagan siapa Alita melawan No. 18. In 3-D!

 

Di balik keseruan itu, film ini menyelipkan komentar tentang bagaimana perilaku masyarakat dalam sebuah lingkungan kumuh di mana tujuan hidup penduduk kota tempat Alita tinggal adalah supaya bisa punya uang cukup untuk ditransfer ke Zalem, kota ‘surga’ yang tertambat melayang di atas kota mereka. Ini adalah masyarakat yang literally hidup di bawah bayang-bayang. Mereka mengusahakan segala cara, kita bisa bilang ini adalah cerminan kehidupan kriminal yang sebenarnya hanya mendambakan kehidupan yang lebih baik. Dalam usahanya membangun franchise, menghantarkan kita ke sekuel, film dengan bijaksana membuat kota Zalem di atas itu sebagai misteri. Kita tidak pernah diperlihatkan seperti apa di sana. Kita juga hanya mendengar rumor tentang enaknya tinggal di sana.

‘Musuh besar’ yang harus dihadapi Alita bersumber seseorang yang disebut Nova. Ia tinggal di Zalem dan kita hanya sesekali diperlihatkan wujudnya. Kita diharapkan bersabar untuk melihat konfrontasi beneran antara Alita dengan Nova – film menyimpannya untuk sekuel. Di film ini, Nova berinteraksi dengan Alita lewat kaki-tangannya yang berkuasa di Kota Besi. Edward Norton malah tidak muncul di kredit IMDB film ini. Oleh karena itulah, Nova tampak sangat satu-dimensi; dia ‘sebatas’ evil presence yang bikin kekacauan di antara rakyat jelata; seorang kaya yang berusaha mengatur dunia dengan duitnya. Dan bahkan kita tidak benar-benar melihat aksinya. Treatment begini juga berdampak kepada tokoh yang mestinya jadi musuh yang harus dikalahkan di film ini. Diperankan dengan canggung oleh Mahershala Ali, Vector tidak pernah tampak benar-benar penting. Kita diperlihatkan dia memang punya agenda jahat sendiri – dia lebih ingin jadi Hades ketimbang jadi pelayan Zeus – tetapi dengan seringnya dia dirasuki oleh Nova, tokoh ini tak membekas. Aku bahkan gak yakin entah harus membenci atau mengasihani dirinya. Begitu pula halnya dengan tokoh Chiren (Cungkar hihihi); Jennifer Connelly dapat porsi yang paling kurang di sini. Tokohnya diniatkan menambah sesuatu pada cerita, hanya saja malah jadi terlihat membingungkan karena begitu minimnya pengaruh dan porsi karakternya.

Yang mungkin paling mengganggu buat para penonton (buatku sih iyes) adalah elemen romance yang jatohnya malah jadi terlalu melodramatis. Elemen penting ini memang ada di sumber aslinya, kita pun bisa memahami ada kepentingan untuk membuat Alita jatuh cinta kepada seorang manusia, tapi bagaimana film menggambarkan hal tersebut – tanpa komedi-berarti yang menjadi katalis antara violence, action, dan dramatisasi ini – membuat kita berharap elemen ini lebih baik ditiadakan saja. Atau, masa sih mereka gak bisa mikirin cara yang lebih baik dari ini. Pace cerita menjadi tidak seimbang oleh karena elemen romantis yang melempar kita semua dari jalur yang kita sudah mengencangkan sabung pengaman. Film ini hampir menyentuh level ke-cheesy-an dialog pasir antara Anakin dengan Padme lewat dialog Alita yang literally menyerahkan hatinya.

 

 

 

 

 

Menyenangkan sekali manga dan anime terus dibuat menjadi film yang penuh perhatian terhadap sumber aslinya. Melegakan bahwa industri akhirnya menyadari potensi pasar dari sumber-sumber tersebut. Film ini, diniatkan sebagai pilar pondasi dari segi hiburan, terasa begitu mainstream dengan segala aksi dan kebrutalan yang seru, yang tergambarkan lewat visual dan produksi yang enggak main-main. Tapi mengingat ini dari manga, akan ada beberapa hal yang terasa aneh. Bagian cinta-cintaan itu, misalnya. Aku paham menyuruh orang membaca dulu materi asli sebelum menonton film adaptasi adalah tindakan yang sama adilnya dengan menyuruh orang harus tahu bikin film dulu sebelum mengomentari sebuah film. Karena film adalah media yang berbeda. Penonton pun bebas ingin menilainya secara ‘close reading’ ataupun secara kontekstual. Untuk kasus film ini, however, aku pikir penggemar manganya atau paling tidak orang yang mengerti bagaimana pakem manga/anime akan lebih bisa menikmati gaya berceritanya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ALITA: BATTLE ANGEL.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernahkan kalian mengalami suatu kejadian ketika tubuh terasa bergerak duluan sebelum sempat berpikir? Enggak termasuk waktu lagi mencret loh ya hhihi

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

 

MIRAI Review

“A sibling represents a person’s past, present, and future.”

 

 

Setiap anak pertama kepengen punya adik. Berdasarkan pengalaman aja sih, walaupun kejadiannya di usia empat-tahun, aku masih ingat jelas berlarian bolak-balik dari pintu depan ke pintu samping, nungguin orangtua pulang dari rumahsakit. Membawa adik bayi. Dan si adik harus cewek! Supaya gak ngambil mainan robot-robotanku, anak cewek mainannya boneka; sudah aku siapkan juga beberapa yang kayak boneka susan.

See, beberapa menit masuk ke film Mirai aku merasa relate banget ama si Kun, yang juga berumur empat dan menunggu kedatangan adik barunya dengan tidak sabar. Tapi tidak seperti diriku, Kun belum siap. Hati-hati terhadap permintaanmu, terutama jika kau tak mengerti apa yang kau minta. Anak seusia Kun belum memahami konsep keluarga. Pikirnya ‘adik’ mungkin sekedar teman yang mampir, atau mungkin mainan baru. Kun tidak mengerti dirinya sekarang menjadi abang. Bahwa adik adalah bagian dari keluarga, posisinya lebih dari anjing peliharaan mereka. Maka Kun pun mengalami apa yang disebut orang dewasa sebagai krisis status diri. Dia menjadi sangat iri ketika semua perhatian ibu dan ayahnya diambil oleh si adik, yang diberi nama Mirai. Dalam ngambek dan rengekannya setiap kali dimarahin ibu karena sudah membuat Mirai menangis, Kun pergi ke taman rumahnya di mana dia bertemu dengan anggota keluarganya yang datang kadang dari masa depan, kadang dari masa lalu. Lewat mereka-mereka ini, terutama Mirai versi remaja, Kun mengarungi zona waktu dan berjuang – dalam kapasitas anak seusianya – belajar memahami apa sebenarnya arti sebuah keluarga.

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu”

 

Mamoru Hosoda sudah enggak diragukan lagi punya otak yang brilian sebagai sutradara film animasi. Karya-karyanya – The Boy and the Beast (2015), Wolf Children (2012), Summer Wars (2009) – bukan saja indah untuk dilihat, melainkan juga punya visi yang begitu kuat yang terasa begitu ingin ia komunikasikan kepada para penonton.. bahkan Digimon garapannya saja terasa lebih sedikit berisi. Mirai bukan termasuk pengecualian. Tertampil dalam kemulusan dan keelokan visual yang sudah kita harapkan, film ini berwarna oleh karakter-karakter yang begitu nyatanya sehingga kita jadi lupa mereka cuma tokoh animasi. Kun, ayahnya, ibunya, seperti orang yang benar-benar ada di dunia nyata. Tema fantasi yang dipunya oleh cerita tidak menjadikan film ini jauh, malahan membuatnya semakin grounded sebab fantasi yang kita lihat tersebut dengan kuat dan efektif melambangkan apa yang dilalui oleh karakternya, yang juga pernah dialami oleh kita.

Bagi anak kecil, secara keseluruhan film ini akan terasa sedikit berat. Fantasi yang ada tidak selamanya membawa mereka ke ranah keajaiban seperti pada cerita Alice ataupun Mary Poppins, sebagian besar yang kita saksikan adalah Kun dibawa ke masa ibunya masih seusia dirinya, atau lebih jauh lagi ke zaman kakek buyutnya masih segar bugar. Penonton cilik akan butuh bimbingan untuk mengikuti cerita, untuk memahami apa yang sedang dialami oleh Kun. Karena dalam petualangan Kun inilah letak pembelajarannya. Seperti misalnya petualangan Kun dengan kakek buyutnya sebenarnya adalah pelajaran mengatasi rasa takut yang dialami oleh Kun dalam belajar menaiki sepeda roda dua. Ataupun ketika Kun ngambek sama keluarganya, kita langsung dibawa ke dunia di mana Kun tersesat di stasiun kereta api, dia mengalami kejadian yang buat orang dewasa relatif kocak, namun akan sangat menakutkan buat anak kecil; ini jadi pembelajaran Kun harus mengakui gimana satu anggota keluarga punya keterikatan dengan yang lain, meskipun sering marah-marahan.

Anak kecil bisa meledak oleh begitu banyak emosi yang ia rasakan sekaligus. Karena mereka belum belajar mengontrolnya. Anak kecil seperti Kun yang gembira punya adik baru, tetapi pada saat bersamaan ia cemburu lantaran sang adik mencuri perhatian ayah ibu, mengambil kasih sayang mereka darinya. Juga ada beban yang ia rasakan ketika ayah ibu mengharapkan tanggung jawab dan kelakukan yang lebih baik darinya, yang serta merta akan menjadi penolakan jika anak sulung seperti Kun tidak diberikan pengarahan ataupun bimbingan.

 

 

Sementara perspektif cerita dibuat begitu konstan dan benar dari sudut pandang anak empat tahun (yang memang digambarkan sedikit lebih ‘dewasa’ dan pintar dibanding balita yang pernah kutahu) dalam melihat masalah keluarga dan eksistensi dirinya, di sisi sudut imajinasi, bangunannya sedikit enggak kokoh. Akan jauh lebih menantang jika film ini membuat elemen fantasi yang dialami Kun sebagai ambigu; kita tidak dibuat tahu pasti apa itu semua hanya imajinasi ataukah sebuah kejadian yang benar-benar terjadi. Film punya ‘modal’ untuk membuatnya demikian. Di awal-awal, Kun sudah dibangun sebagai anak yang punya imajinasi kreatif, menjelang akhir aku malah masih percaya bahwa semua kejadian ‘time-travel’ itu hanya imajinasi Kun – dia berinteraksi dengan kepalanya sendiri. Namun kemudian film melakukan adegan-adegan di mana akan menjadi mustahil Kun mengetahui sesuatu tanpa beneran ada orang yang memberitahu. Seperti si kakek buyut tadi. Saat mereka bertualang, Kun menganggap pemuda pincang yang ia temui itu adalah ayahnya. Namun setelah sekuen tersebut, kita menyaksikan Kun surprise melihat foto si pemuda ada di album keluarga, dan ibunya menyebut itu adalah kakek-buyutnya. Tidak mungkin Kun bisa membayangkan wajah orang yang belum pernah ia lihat, membayangkan apa pekerjaannya. Juga ada adegan ketika Kun menaruh surat maaf di dalam sepatu ibunya, meniru apa yang ibunya semasa kecil lakukan kepada nenek. Tidak mungkin Kun membayangkan sendiri detil ini – jadi pastilah dia benar-benar mengarungi waktu dan bertemu dengan ibunya waktu kecil.

tut..tut…tutt.. siapa hendak takut

 

Dan hal tersebut, buatku, mengecilkan perjalanan yang dilakukan oleh Kun. Setiap ada masalah, dia dengan convenient-nya dibawa oleh kekuatan pohon di taman untuk belajar dari anggota keluarga dari masa yang lain. Membuat kekuatan ‘time-travel’ itu benar-benar ada juga mengurangi nuansa fantasi yang diusung oleh cerita. Tidak lagi terasa sureal. Akan lebih memberikan impresi jika film tidak memberikan kepastian soal pertemuan Kun dengan orang-orang tersebut. Apalagi tokoh anjing peliharaannya juga dimunculkan sebagai karakter yang menyerupai manusia – yang sama sekali berada di luar konteks perjalanan menembus waktu. Jikapun memilih untuk tidak ambigu, film seharusnya mengambil rute yang sama sekali absurd, fantasinya betul-betul yang gak-masuk-akal seperti anjing yang menjadi manusia tersebut, sehingga lebih cocok dengan fantasi anak kecil seperti Kun.

Film ini membahas tentang ‘derita’ seorang anak pertama, yang sesungguhnya bukan berarti meniadakan cinta yang dirasa. Ada banyak ‘keuntungan’ yang diperlihatkan oleh film ini secara tersembunyi. Dalam kapasitasnya, film justru menyadarkan kita bahwa jadi anak pertama itu adalah anugerah dan keasyikan tersendiri yang tersembunyi di balik kecemburuan kekanakan.

 

 

 

Kemunculan sekuen time-travel yang seperti episode-episode ini juga membuat pace cerita sedikit gak imbang dan lumayan repetitif. Masalah – masuk sekuen – selesai dengan layar hitam. Penceritaan seharusnya bisa dibuat dengan lebih baik lagi. Memang agak mengecewakan jika kita mengingat ini adalah buatan dari sutradara sekreatif Mamoru Hosoda. Tapi bukan berarti film ini enggak bagus. Masih banyak kesenangan yang bisa kita dapatkan saat menonton. Penampilan voice akting yang meyakinkan – aku baca di IMDB versi amerika disuarakan di antaranya oleh Rebecca Hall dan John Cho yang membuat aku penasaran karena yang aku tonton ini adalah versi sub inggris yang berbahasa Jepang. Karakter-karakter yang ditulis seperti orang beneran sehingga relatable. Film ini menyentuh ranah yang tidak berani disentuh oleh animasi anak-anak kebanyakan, di mana tokohnya yang begitu muda dieksplorasi dengan sangat mendalam dan terasa begitu personal.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for MIRAI.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Anak urutan keberapakah kalian? Pernahkah kalian pengen punya adik, atau pengen punya kakak? Dan sebaliknya, pernahkah kalian merasa menyesal udah minta adik, atau kalian harap kalian gak punya abang atau kakak?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

 

TERLALU TAMPAN Review

“Being attractive might sounds like life is easier but it’s not”

 

 

 

Akan ada masanya setiap remaja memahami makna ‘seleksi alam’ di rimba kemanusiaan. Ketika mereka melihat yang cakep dikasih izin istirahat di UKS oleh pak guru olahraga. Ketika mereka melihat yang ganteng gak pernah digalakin bu guru karena lupa mengerjakan pe-er. Ketika mereka melihat ada saja satu-dua teman mereka yang selalu dikerumunin meski gak jelas prestasinya apaan. Ketika mereka menyadari ada yang beberapa ‘hidup’nya tampak lebih mudah di sekolah dibanding mereka sendiri. Mudah untuk membandingkan hidup kita dengan hidup orang yang kita nilai lebih beruntung dan berpikir “Ah kalo saja aku lebih tinggi”, “kalo saja aku lebih langsing”, “kalo saja aku lebih putih”, “kalo saja aku lebih seksi”. Kalo saja aku lebih….. tampan.

Tapi semua itu mungkin saja tidak benar. Menjadi super kece dan selalu menjadi pusat perhatian tentu saja bisa membuat jengah orang yang mengalaminya. Mas Kulin (Oh, Ari Irham di manakah pori-pori wajahmu?), misalnya, terlahir dengan wajah yang saking overdosisnya tuh kadar ganteng, cewek-cewek yang melihat bisa langsung mimisan, kejang-kejang. Dalam satu adegan yang sangat kocak digambarkan kedatangan Kulin ke sekolah khusus perempuan membuat siswi-siswi di sana mengalami histeria massa. Bukan saja ‘lethal‘ buat wanita, ketampanan Kulin juga berpengaruh pada laki-laki. Cowok yang terkena keringatnya bakal ketularan ganteng, setidaknya selama sejam dua jam. Jadi Kulin merasa terasing oleh sikap-sikap orang yang berada di sekitarnya. Kulin menutup diri, menolak untuk berinteraksi sosial, sampai ia berkenalan dengan Kibo (tokoh Calvin Jeremy berperan lebih dari sekedar side-kick) yang lantas menjadi sobat manusia pertama yang Kulin punya. Dan bertemu dengan Rere (Rachel Amanda mencuri perhatian banget), satu-satunya cewek manis yang enggak pingsan dan mimisan saat melihat dirinya.

Kulin edisi 10 Years Challenge

 

Film ini terlalu unik untuk dicuekin. Jika biasanya cerita akan mengajak penonton bermimpi untuk jadi ganteng, maka film ini menawarkan sudut pandang baru, yang meletakkan kita pada posisi seseorang yang merasa terganggu dengan perhatian spesial dan reaksi kagum berlebihan yang ia dapatkan dari orang-orang di sekitarnya. Kita akan mendapat Kulin yang bersikap sama kayak Auggie, anak di film Wonder (2017); Kulin juga memilih untuk menutup wajahnya dengan helm. Kalian yang sudah menonton Wonder pasti akan bisa melihat uniknya paralel antara Kulin dengan Auggie yang memilih pendekatan berinteraksi  ke luar yang sama, meskipun kondisi mereka berbeda seratus delapan-puluh derajat. Momen-momen Kulin melepas helm tersebut – alih-alih digunakan untuk memantik drama seperti Auggie di Wonder – digunakan sebagai pemancing efek komedi yang benar-benar bikin geger seisi studio bioskop. Dari penggunaan nama-nama tokoh yang lucu; keluarga Kulin yang tampan semua (termasuk ibunya) punya nama yang ajaib seperti Mas Okis, Pak Archewe, Bu Suk, yang mengingatkanku sama nama-nama di komik Donal Bebek dan komik Asterix, hingga ke dialog dan adegan konyol, film menangani porsi komedinya yang absurd tersebut dengan sangat bijaksana. Timing, delivery, semuanya dilakukan dengan pas, dan tidak sekalipun tone komedi tersebut dibuat mentok sama tone drama yang juga dibangun dengan merayap perlahan sebagai lapisan di baliknya.

Well-crafted sekali gimana komedi dan drama tersebut dijalin. Film tidak pernah kehilangan irama dalam menempatkan unsur-unsur yang berpengaruh ke dalam cerita. Bahkan gerakan kamera juga diperhatikan benar mendukung ke penyampaian komedi. Penggunaan warna-warna dan treatment musik, tidak pernah terasa ‘asal tarok’, semuanya berfungsi dan sangat mengangkat emosi dan cerita yang ingin dihantarkan. Adegan Kulin, Kibo, dan Rere nyanyi di karaoke, itu misalnya; bukan hanya pemilihan lagu, blocking para pemain juga dibuat punya makna. Perlakuan-perlakuan seperti demikian, bercerita dengan perhatian terhadap detil seperti yang dilakukan oleh sutradara Sabrina Rochelle Kalangi inilah yang membuat menonton film ini menjadi mengasyikkan, di luar komedinya yang benar-benar sengaja konyol. Gaya filmnya pun unik. Karena diadaptasi dari komik online di Webtoon, sedikit banyaknya kita mendapati gaya-gaya pengaruh manga tertampilkan di film ini.

Aku tidak pernah membaca materi aslinya, aku gak punya pengetahuan apa-apa terhadap cerita film ini, jadi aku sangat tertarik untuk mengikuti ke mana kisah Kulin ini akan dibawa. Melihat Kulin yang sebenarnya penampilan, pembawaan dan kelakuannya enggak cocok dengan imej maskulin, paruh pertama film seperti ingin membawa pesan yang sama dengan iklan pisau cukur Gillette yang lagi viral di Amerika; bahwa jantan atau maskulin itu bukan semata perilaku-perilaku stereotipe ‘pria’ seperti ngomong kasar, main pukul, atau godain cewek – bahwasanya kupikir film ini lewat si Mas Kulin ingin mengomentari bahwa maskulin bukan soal penampilan. Namun kemudian, di paruh kedua, saat Kulin sudah mengembrace ketampanan yang ia miliki, film mengambil keputusan untuk lebih menonjolkan pesan bahwa setiap manusia punya kekurangan.

Punya paras rupawan ternyata tidak lantas menjadikan hidup menjadi segala mudah, tidak lantas berarti kita bisa mendapatkan semua yang kita mau. Karena sejatinya, wajah tidak membuat kita spesial. Rujukan pertama tetap kepada hati dan apa perbuatan yang kita lakukan.

 

Buatku, agak mengecewakan pilihan yang diambil oleh cerita. Aku paham kenapa cerita memilih untuk mengarah ke sana, hanya saja tetap saja ada rasa mubazir; Sia-sia rasanya elemen ‘terlalu tampan’ yang sudah dibangun sedemikian rupa, dengan konsep dan gaya humor yang lucu, yang punya underline pesan yang kuat, ternyata cuma berfungsi sebagai device dalam plot ‘saingan cinta ama sahabat’. Masalah tampannya ini pada akhirnya tidak lagi benar-benar mencuat karena tokoh utama kita terlibat dalam urusan romansa yang bisa terjadi pada siapapun, pada tokoh yang seperti apapun. Tampannya si Kulin hanya dijadikan alasan yang membuat penonton percaya dia bisa bikin deal dengan ‘Queen Bee’ di sekolah khusus wanita itu, yang menggerakkan konflik generik tersebut. Rasanya film ini remeh sekali mengambil fokus di sana, setelah semua hiruk-pikuk unik yang sudah kita nikmati.

while si angkuh Amanda mirip Regina George, Nikita Willynya mirip Lady Gaga hhihi

 

Ada sesuatu pada penulisan cerita film ini yang ‘enggak-beres’ buatku. Apa yang diinginkan oleh Kulin di awal – apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh si Kulin ini terasa agak enggak klop. Film belum benar-benar membuat kita menyelam ke dalam kepalanya. Kulin butuh untuk diperlakukan layaknya manusia normal, tapi kita tidak diberikan kesempatan untuk melihatnya sebagai orang normal. Sebagai perbandingan, kita ambil contoh si Auggie tadi; di balik helm astronotnya Auggie adalah anak yang pintar fisika – dia mendapat respek dari kepintarannya. Sedangkan Kulin, helmnya digunakan untuk menutup wajahnya karena ia gak mau dikejar-kejar – dia mau dilihat normal, tapi Kulin tidak melakukan hal yang membuat orang melihat dirinya beyond his face. Apa kelebihan Kulin? Ini bukan soal gak pede, melainkan soal ia begitu ‘pede’ setiap orang akan menganggapnya spesial, maka ia memutuskan untuk menutup diri. Makanya Kulin ‘kaget’ ketika Rere menganggapnya biasa aja, dan apa reaksi Kulin terhadap Rere? Dia merasa dia ‘jatuh cinta’. Aku berani bertaruh bukan cinta yang sebenarnya ia rasakan, melainkan rasa penasaran. Buktinya di akhir film kita melihat hati Kulin menyala lagi mendengar komentar ‘pedas’ seorang cewek yang berbalik pergi mengenai dirinya. Buatku, Kulinlah yang justru seorang masokis, karena dia ‘suka’ ketika ada orang yang menolak dirinya yang spesial.

Bukan berarti film ini berhenti menjadi menarik buatku. Aku tetap menemukan keasyikan. Bagian ketika Kulin balik minta saran bagaimana bersikap sebagai tampan kepada abangnya yang basically seorang douchebag, ialah bagian yang membuatku paling tertarik karena ini mengubah sikap Kulin lumayan drastis. Karakter Kulin jadi unik lagi di sini sebab dia mengambil tindakan lagi. Mengenai si Kulin ini memang penulisan karakternya agak ilang-timbul. Seperti pada di awal, setelah dia menarasikan film, kita malah diperlihatkan kejadian di luar sudut pandang dia. Kita memulai dari sudut pandang keluarga Kulin yang bersekongkol untuk membuat Kulin berinteraksi dengan orang luar. Dan kemudian barulah kita mengikuti si Kulin, kita diharapkan bersimpati ketika dia ngambil keputusan untuk minggat sebab keluarganya dengan kocak mengambil keuntungan dari ketampanannya; sesuatu yang paling dibenci ama Kulin. Namun kemudian di beberapa adegan setelahnya, kita melihat Kulin ikutan bersorak dengan teman-teman sekolahnya saat mereka disetujui ngeadain prom gabungan – di mana Kulin gagal untuk menyadari dia juga sedang dimanfaatkan kegantengannya.

Aku juga mendapati adegan konsul dengan ibu juga sedikit enggak klop karena seperti ‘memberatkan’ kepada dunia. Yea, dunia took advantage of him, tapi kan Kulin sudah melakukan hal yang sama saat dia menjadi ‘cowok brengsek’ kepada teman-temannya, dan justru ulahnya sendiri yang membuat dirinya patah hati. Yang menarik adalah nasihat dari ayahnya yang sebenarnya mengatakan apa yang sudah menjadi prinsip Kulin pada awal cerita. Jadi Kulin seperti berputar di tempat, menandakan penuturan yang sedikit kurang efeisien, padahal toh perjalanan karakternya menarik; Yang Kulin perlukan adalah keluar dan berbuat salah sehingga dia sendiri juga menyadari dia enggak sesempurna yang orang-orang lihat.

 

 

Terakhir kali mendengar cerita huru-hara ketampanan, aku mendengarnya sambil serius dan agak ngeri karena ada ‘adegan’ jari-jari yang teriris. Kali ini, cerita yang punya masalah serupa tersebut bisa aku simak sambil tertawa-tawa tanpa harus segan sama Pak Ustadz. Film ini memberikan tawaran sudut pandang dan gaya yang unik sehingga terasa segar dan menyenangkan. Kita perlu melihat lebih banyak film ‘aneh’ tapi juga berisi. Namun, untuk sebuah film yang bercerita tentang mengembrace kekhususan, dirinya sendiri tampak masih belum cukup berani untuk menjadi lebih spesial lagi. Pilihan ujung ceritanya tidak benar-benar mengutilisi kekhususan itu, malah membuatnya terasa seperti persoalan biasa.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for TERLALU TAMPAN.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian maskulinitas itu apa sih? Penting tidak? Bagaimana pula dengan femininitas?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

PSP: GAYA MAHASISWA Review

“As the old birds sing, so does the young ones tweet.”

 

 

Wah kalo ditanya bedanya, tentu saja anak muda zaman dahulu sangat banyak ketidaksamaannya dengan anak muda masa sekarang. “Anak zaman dulu sekarang sudah pada tua, anak sekarang masih mudaaa” ya ya itu jawaban simpel yang lucu yang bisa dilontarkan oleh orangtua kita. Jawaban yang lebih serius dari mereka mungkin seputar betapa anak dulu sopan-sopan, sedangkan yang sekarang pada ceplas-ceplos sekenanya. Orang-orang suka membicarakan perbedaan ini, membanding-bandingkan. Padahal ada satu yang selalu sama, dari sekian banyak perbedaan yang bisa dikulik, adalah anak muda selalu berpikir kritis. Dulu dan sekarang. Zaman lah yang membuat ‘kritis’nya itu menjadi berbeda. Sekarang, pemuda pemudi bisa langsung demo. Atau paling enggak, bisa langsung curhat ke media sosial, menjadikan viral, dan menghimpun kekuatan protes dari sana. Tidak demikian kondisinya dengan bertahun lalu, mainnya musti cantik, pemuda-pemuda menyalurkan aspirasi dan ekspresi lewat karya yang begitu subtil. Salah satunya lewat musik komedi. Dan begitu jualah titik awal terbentuknya grup Orkes Moral PSP – Pancaran Sinar Petromaks.

Bersama Warkop DKI, grup ini terkenal di tahun 80’an dalam kalangan remaja dan dewasa muda. Musik-musik parodi beraliran dangdut yang punya kemampuan menyentil itu adalah cap dagang PSP. Album mereka lumayan banyak, mereka juga punya film sendiri, namun tidak sepopuler Warkop. PSP: Gaya Mahasiswa ini tadinya kupikir bakal menjadi semacam biopik, tapi mungkin itu dinilai boring, jadilah ternyata mereka membuat film ini sebagai versi kekinian dari kisah-kisah lagu mereka. Actually, film ini dibuat punya self awareness yang tinggi. Kita melihat tokohnya mengenali nama PSP samaan ama nama konsol game handheld (konsol yang bahkan sudah dikata kuno juga ama anak jaman now). Kita menyaksikan tokohnya mengakui istilah orkes moral sudah tidak laku lagi sekarang ini. Dan mereka bersikukuh tetap dengan formasi mereka (delapan orang cowok kuliahan) karena that’s how they roll. In a sense, film ini adalah potret andai para personel PSP terlahir sebagai anak muda di era teknologi.

Era di mana ojek dan jodoh bisa dicari lewat aplikasi.

 

Omen (bertindak sebagai ketua grup), James, Ade, Monos, Rojali, Aditya, Andra, Dindin tinggal satu rumah kosan, belajar di satu kampus yang sama. Kita enggak yakin latar belakang masing-masing, karena itu tidak penting. Cerita dimulai ketika mereka sudah bergerak sebagai satu grup. Mereka sering manggung untuk nyari uang jajan, dan mereka senang dengan apa yang mereka lakukan. Karena sama-sama jahil, kedelapan orang ini terancam diskors dari kampus. Kafe langganan pun memutuskan tali kerja sama dengan mereka. Jadi, grup ini harus segera cari ide, mereka harus buktikan musik mereka, dan terutama mereka sendiri, tidak setidakberguna kelihatannya.

Aku mendapati komedi yang disebar bekerja dengan relatif sukses. Tidak ada yang jatohnya terlalu lebay atau gak masuk akal secara sensasional. Kedelapan bintang komedi muda yang memerankan personel PSP bermain dalam kapasitas yang cukup, range mereka gak banyak – hampir satu-dimensi, malah, tapi buatku masih bisa diwajarkan karena film ingin menguatkan mereka sebagai satu kesatuan.Film ini terasa all-over-the-place karena banyaknya elemen cerita. Dan terkadang, tone cerita jadi tidak bercampur dengan baik karenanya. Cerita dapat dengan mudah berpindah dari lucu-lucuan soal berusaha nyari kerjaan manggung, ke melihat persaingan nyari cewek, ke adegan dramatis mereka marahan karena terancam di-DO. Dari persoalan naksir ama ibu kosan baru yang cantik ke permasalahan pembegalan di jalan. Tema prasangka yang membayangi subplot begal itu sebenarnya bekerja juga terhadap gambaran besar cerita secara keseluruhan.

Bahwa terkadang kita terlalu cepat menilai orang dari penampilan luar, atau sekadar dari apa yang kita lihat. Tak jarang makanya orang-orang pada heran ketika melihat anak-anak muda yang hobinya nongkrong gak jelas, ternyata bisa berprestasi. Semua orang punya keahlian, setiap keahlian unik itu ada gunanya. Mungkin gunanya bukan untuk kita, bukan yang kita butuhkan di saat itu. Namun kita tidak bisa begitu saja gegabah menihilkan nilai seseorang.

 

Di akhir semua elemen itu toh ternyata terikat juga, dengan kesan feel-good yang tinggi, film ini pun tak menanggalkan nada komedinya – ada satu running joke yang awalnya lumayan cringey namun berhasil berbuah sangat manis. Walaupun begitu, ada yang terasa kurang. Film tidak terasa benar-benar accomplish apapun. Dengan stake yang sebenarnya tergolong kuat, dan ada lebih dari satu – ada kemungkinan mereka dikeluarin dari kampus dan dari kosan, bahkan bisa jadi mereka berpisah karena gak dapat kerjaan manggung lagi, film tidak pernah terasa benar-benar membuat kita percaya tokoh-tokoh ini punya masalah. Mestinya ada pembelajaran pada cerita, ada perubahan kondisi, tapi tidak benar-benar terasa oleh kita.

Ini adalah karena pada film ini yang berubah itu adalah yang berada di luar kelompok tokoh utama. Ini adalah cerita yang ingin menonjolkan para tokoh, maka mereka dibuat ‘sempurna’ dalam ketidaksempurnaan mereka. Apapun yang terjadi, anak-anak muda tersebut tidak salah. Dunia di luar merekalah yang diharuskan untuk melihat, memahami, dan menyadari keunggulan dan sisi positif dari mereka. Padahal film seharusnya bekerja dua arah, tokoh juga perlu untuk menyadari kekurangan mereka dalam mencapai keinginan. Mereka harus belajar memahami apa yang mereka butuhkan. Dalam film ini kita melihat geng PSP memecahkan masalah hoax dengan posisi mereka di luar lingkaran hoax itu sendiri; mereka tidak bersinggungan langsung dengan kejadian hoax dan dampaknya. Mereka bertindak seolah penyelamat. Masalah yang menimpa mereka pun tidak digambarkan sebagai ada yang ‘salah’ dari mereka. Omen dan kawan-kawan tidak diperlihatkan mengadakan perubahan terhadap diri mereka sendiri. Karena begitulah anak muda, terlihat serampangan, dan kita yang harus bisa melihat keserampangan mereka itu ada baiknya.

aku gagal melihat apa makna di balik Ade yang menerima cewek penggemarnya setelah tahu si cewek adalah anak dari ibu kos…?

 

Sesekali ada sekuen nyanyian, seperti lagu Fatimeh, yang mengingatkan kita akan esensi grup PSP yang sebenarnya. It’s fun dan gak bikin kita sampai menguap. Tapi selain untuk nostalgia para penggemar, dan menonjolkan musikalitas PSP, tidak banyak ‘daging’ dan kepentingan di dalamnya. Aku mengira dengan set mahasiswa – yang stay true ama kelahiran PSP sendiri – film akan banyak membahas mengenai kritik-kritik sosial di kehidupan jaman sekarang. Kupikir semangat mengkritisi itu yang akan dieksplorasi, you know, mahasiswa dengan kondisi pemerintah. Ada banyak yang mestinya bisa diangkat jadi bahan kritikan, namun sepertinya film memang diarahkan tidak benar-benar berada di jalur tersebut.

Yang berkaitan dengan seni juga banyak; aku tahu bukan salah filmnya jika mereka keluar terlalu cepat sehingga lebih duluan dari masalah RUU Permusikan yang sedang marak, tapi cerita toh bisa dengan mudah mengarah ke mereka dilarang atau dibatasi main musik oleh kampus. I mean, logisnya kalo kita bikin film tentang anak muda main musik, mustinya ada kalanya mereka dihalangi untuk melakukan kerjaan mereka. Film, menjauh dari musik, mengalamatkan kritik kepada sebaran hoax pada masyarakat, tapi ‘kasusnya’ sangat basic dan menjadikannya tidak actually menyelesaikan dengan kekhasan PSP itu sendiri. Di awal-awal kita melihat anak-anak PSP menyabotase seminar kampus yang kuasumsikan sebagai bentuk kritikan mereka terhadap ‘kebohongan’ yang dilakukan oleh rektor. Hanya saja menurutku, candaan di sini lumayan tasteless karena pada akhirnya jatoh seperti delapan mahasiswa itu mengolok-olok seorang orang cacat yang lebih tua. Dan hingga akhir cerita mereka tidak diperlihatkan menyesal atau menyadari apa yang sudah mereka lakukan tersebut.

 

 

 

Film menunaikan tugasnya dengan baik sebagai komedi lika-liku kehidupan mahasiswa Orkes Moral PSP di dunia kontemporer. Para penggemarnya bisa dengan asik bernostalgia. Tapi bagaimana dengan anak muda? katakanlah mahasiswa yang menonton film ini, yang belum pernah mendengar PSP sebelumnya? Film ini di mata mereka hanya akan bertindak sebagai hiburan, dengan kelakuan-kelakuan yang relatable, punya sedikit pesan moral. Ini sesungguhnya bukan hal yang buruk, melainkan prestasi yang lumayan. Hanya saja lampu moral tersebut mestinya bisa dipancarkan lebih kuat lagi. Aku tidak merasa ada banyak yang diwariskan oleh PSP kepada mahasiswa masakini lewat film ini. Mungkin ini memang bukan film yang ke arah sana, tapi membuat anak muda berpikir mereka benar, dan dunia salah karena telah berprasangka seperti suatu pengajaran yang baru setengah langkah.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for PSP: GAYA MAHASISWA.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
PSP menyanyikan lagu-lagu yang liriknya dibuat (atau diplesetin) sesuai dengan keadaan dan konteks jamannya. Kaitannya dengan musik dan kapasitas mengkritik yang ia punya, bagaimana menurut kalian soal rancangan Undang-Undang Permusikan yang santer baru-baru ini?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

TABU: MENGUSIK GERBANG IBLIS Review

“Hope in reality is the worst of all evils because it prolongs the torments of man.”

 

 

 

Ada ungkapan yang menyebutkan rasa penasaran membunuh seekor kucing. Rasa penasaran di sini maksudnya bisa bermacam-macam; rasa keingintahuan yang begitu besar, perasaan tak-tuntas yang ingin diselesaikan, juga sesuatu mengganjal yang ingin dipuaskan. Rasa-rasa tersebut sering menjerumuskan kepada melakukan hal-hal yang tak perlu, sia-sia, malah mungkin berbahaya. Kata berikutnya yang masih menjadi misteri; siapakah kucing dalam ungkapan tersebut? Seseorang yang masih terusik oleh rasa penasarannya; seseorang yang semakin dilarang maka semakin dilakukan.

‘Kucing’ dalam Tabu: Mengusik Gerbang Iblis adalah Keyla dan teman-temannya yang nekat pergi ke Leuweung Hejo demi mencari penampakan makhluk halus. Bermodal kamera, peralatan kemping, dan baju ganti seragam, mereka menerobos hutan, melanggar begitu banyak pantangan, bermalam di situs angker tersebut. Dan benar saja, belum sempat bibir kita mengucapkan “penyakit kok dicari”, Diaz, salah satu teman Keyla yang paling napsu motoin hantu, kesurupan. Kemudian muncul sesosok bocah misterius. Gak jelas juga hubungannya apa si anak dengan kesurupan yang dialami Diaz. Untuk alasan tertentu pula, Keyla malah membawa anak tersebut pulang ke kota bersama mereka semua yang lari kocar-kacir dikejar nenek-nenek berkuku hitam.

Datang berenam, pulang bertujuh… hayo di hutan ngapaiiiinnnn?

 

Tabu: Mengusik Gerbang Iblis nyatanya adalah salah satu kelangkaan – dari sekian banyak horor yang dibuat oleh Indonesia tahun belakangan ini, Tabu merupakan salah satu dari sedikit sekali yang benar-benar punya cerita untuk disampaikan. Tabu membawa kita menyelam ke dalam penjelajahan rasa penasaran terhadap suatu peristiwa kehilangan. Ia membahas bagaimana rasa kepuasaan itu belum datang, jadi seorang akan terus mencari jawaban. Yang terjadi kepada Keyla adalah harapan dalam wujud terburuk. Keluarga Keyla terpecah oleh satu tragedi di masa lalu, saat Keyla masih terlalu kecil untuk seragam SMAnya. Tragedi tersebutlah yang membentuk pribadi Keyla di masa sekarang, kita melihat dia yang paling ‘takut’ tapi toh tetap ikut dalam setiap ekspedisi menyeramkan. Dia ingin mencari closure atas kejadian tersebut, jadi dia tetap mencari meskipun dia tahu kebenarannya.

 Rasa kehilangan masih terus menghantui seseorang yang berduka. Itulah ketika harapan berubah menjadi siksaan. Apapun yang kita lakukan untuk menutupinya, hati yang belum ikhlas tetap tidak akan tenang. Dalam film ini, kita akan melihat rasa yang disalahartikan sebagai harapan itu menjadi bumerang.

 

 

Hebatnya, film ini tidak menceritakan itu semua lewat dialog alias secara gamblang. Kengerian, apa yang dirasakan oleh Keyla dan keluarganya direkam secara subtil oleh kamera. Lihat juga bagaimana kamera ‘menceritakan’ hutan sebagai tempat mengerikan dan berbahaya lewat selipan shot-shot hewan liar seperti ular, kalajengking, dan kelelawar. Transisi dari ketika satu tokoh menciptakan realita sendiri, tetapi kemudian penyadaran itu tiba, dan dia dihempaskan lagi ke realita beneran, dilakukan dengan begitu mulus oleh pergerakan kamera yang menangkap gestur-gestur terkecil dari si tokoh. Film tidak pernah gagal menangkap sudut pandang. Semuanya diceritakan dengan cermat dan efisien. Bahkan subplot yang menurutku kocak – film ini punya nyali untuk masukin subplot cinta segitiga yang enggak benar-benar berujung – juga dilakukan dengan seperti ‘cicak’ begini; you know, diam-diam merayap dan kena. Sedari adegan pembuka di dalam gua, kita bisa paham bahwa film ini digarap dengan perhatian tinggi kepada artistry. Film ini tahu cara menceritakan sesuatu yang klise dengan membuatnya tidak metodical. Namun juga tetap mudah untuk disukai – ada banyak hal-hal yang jadi favorit penonton horor yang dapat ditemukan di sini; kematian tokoh yang menyakitkan, sosok hantu yang seram, dan jumpscare yang tepat waktu.

Maka dari itulah, aku tidak mengerti kenapa film ini memilih untuk memulai ceritanya dengan cara dan siatuasi yang paling tidak menarik (lagi) sedunia akhirat. Sekelompok remaja yang ke hutan nyari setan. Basi! Kenapa membuka dari sini jika engkau punya kisah tragis keluarga yang kehilangan anaknya. Film memilih untuk merahasiakan elemen utama cerita di awal, bahkan Keyla juga ‘disembunyikan’ – kita tidak tahu bahwa ternyata dia adalah tokoh utama sampai dia memilih untuk membawa bocah misterius tersebut ikut pulang ke rumah, dan aku gagal mengerti alasan di balik keputusan yang diambil oleh film ini. Sebab jadinya sama sekali tidak ada yang menarik pada babak pertama. Para remaja itu tidak punya motivasi yang cukup dan alasan yang jelas; kenapa harus moto hantu, kenapa harus tempat angker yang itu, kita tidak tahu apa-apa dan mereka tidak memberikan alasan kenapa kita harus peduli kepada mereka. Jujur, aku sudah siap jiwa raga untuk menjelek-jelekkan film ini, udah senam pipi – siap untuk menertawakan sekerasnya hal-hal bego yang kusangka akan dilakukan. Dan persiapanku tadi jadi tak berguna karena ternyata aku menemukan sedikit sekali yang bisa ditertawakan. Yah, selain nenek Diaz yang dengan potongan rambut begitu membuatnya mirip sekali dengan Jamie Lee Curtis di serial Scream Queen.

Dan seolah setiap ayat punya fungsi dan efek berbeda terhadap hantu-hantu

 

Babak kedua hingga akhirnya di mana film dengan tepat menginjak nada ngeri dan tragedi. Aku bahkan sedikit  ter-throwback ria melihat Mona Ratuliu menggunakan bahasa isyarat (ketahuan deh, umurku huhuu). Bahkan tokoh-tokoh lain, termasuk tokoh remajanya enggak se-annoying yang sudah aku antisipasi. Mereka masih bersikap masuk akal dan reasonable, meskipun tak ada pembelaan untuk kualitas akting yang menghidupkan mereka. Namun begitu, awalan film inilah yang justru paling banyak andil dalam menurunkan nilai secara keseluruhan. keputusan untuk memasang semacam twist pada tokoh utama, ultimately melemahkan cerita karena pembangunan karakter adalah hal yang sangat penting. Kita dihalang untuk masuk ke dalam kepala Keyla, seolah pikiran dan emosinya tabu untuk kita ketahui. Malahan di awal-awal, film seperti menunjuk Diaz sebagai tokoh utama. Dan kemudian membelokkannya untuk efek dramatis. Tak perlu seperti itu, Keyla punya cukup backstory dan landasan emosi yang mampu membuat tokoh ini menjadi dramatis jikapun dikembangkan sedari awal.

Yang film ini lakukan malah membuat karakter Keyla terasa tidak ‘klik’, di awal dia terlihat paling enggak semangat untuk TKP. Padahal justru sebenarnya dia yang paling punya motivasi untuk ke sana. Meskipun inner journey Keyla semakin dapat terbaca seiring berjalannya film, tetapi film tetap tidak memperlakukan tokoh ini sebagai protagonis yang beraksi. Keyla, dengan segala keterbatasan akting Isel Fricella, kebanyakan hanya berteriak menyaksikan tokoh-tokoh lain berjuang ataupun tertangkap oleh hantu-hantu. Juga aneh film tidak memperlihatkan momen perubahan tokoh Keyla. Alih-alih, kita diperlihatkan ibunya yang berjuang untuk mengikhlaskan. Keyla seperti ikhlas begitu saja saat kita ditunjukan adegan dia menoleh ke belakang melihat sosok yang dibuat bisa berarti hantu atau hanya imajinasi yang menyimbolkan perpisahan damai yang dilakukan oleh Keyla dengan tragedinya.

 

 

 

 

Sense misterinya kuat. Penceritaan yang efektif. Tokoh-tokoh yang tidak terlalu over-the-top. Film ini punya bumbu-bumbu sebuah film horor yang bagus. Namun pilihan untuk membuka film, babak pertama, tidak menguntungkan film karena tidak menarik dan benar-benar menonjolkan keklisean. Film baru benar-benar bekerja di babak kedua, like, kalo kalian tidur atau bahkan telat masuk ke bioskop tiga-puluh menit, dan hanya menonton dari babak keduanya saja, kalian pasti akan bilang film ini bagus banget. Begitu anehnya pilihan yang dilakukan oleh film ini. Dan jangan kira ini seperti yang dilakukan oleh One Cut of the Dead (2018); film itu juga punya babak awal yang lemah namun dilakukan dengan sengaja untuk menguatkan konteks tema besarnya. Tidak demikian. Sebaliknya, babak pertama film ini tidak menambah banyak terhadap konteks karena diniatkan sebagai twist. The film works in no favor of it’s protagonist. Dia menutupi tokoh utamanya, dan sepertinya lupa sama sekali untuk menimbulkannya kembali sebagai karakter.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for TABU: MENGUSIK GERBANG IBLIS.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Keyla dan keluarga, walaupun tahu itu hantu, tapi mereka masih tetap menyayangi sang adik. Kalian takut gak sih didatengi hantu kerabat sendiri? Bagaimana kalian meyakinkan diri itu beneran mereka dan bukan hantu lain yang menyamar? Menurut kalian darimana rasa penasaran Keyla muncul?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

Royal Rumble 2019 Review

 

Lima jam. Lima pertandingan perebutan gelar. Tiga puluh superstar cewek. Tiga puluh superstar cowok. Menonton Royal Rumble menjadi ekstra melelahkan karena membuat kita ‘menghitung’ ekspektasi sembari berteriak-teriak seru. Plus, buatku, aku harus mengetik seribuan kata mereviewnya. Untuk mendeskripsikannya lebih jelas, menonton Royal Rumble tahun ini bagiku adalah seperti ngerjain pe-er matematika sambil naik roller coaster!

Actually, aku ngeskip nonton dua pay-per-view yang terakhir. Survivor Series November lalu tidak sempat kutonton semua karena sibuk persiapan acara puncak Festival Film Bandung. TLC yang bulan Desember juga gagal aku saksikan lantaran bertepatan dengan kelas penulisan kritik yang mengharuskan aku untuk tinggal di Jakarta selama beberapa hari. Jadi mungkin kalian noticed aku enggak ngereview dua show tersebut, dan alhamdulillah ternyata ada yang cukup peduli juga dengan ulasan WWE ku karena aku ditagihin loh, “bro gak review WWE lagi?” So yea, I’m back. Tentu dong, WWE adalah dulu, nanti, dan selalu jadi tontonanku. Buatku Royal Rumble ini seperti lembaran baru karena kemaren-kemaren itu aku benar-benar nyaris stop nonton WWE – kecuali NXT. Dan surprisingly, aku terkesan dengan apa yang kutonton lima jam yang lalu. Terasa benar usaha WWE untuk menaikkan standar kualitas pertandingan mereka. Memang sih, kualitas aksinya belum sebagus NXT TakeOver Phoenix sehari sebelumnya, namun dari segi penulisan – penceritaan, WWE lewat Royal Rumble ini terasa semakin solid.

Semua pertandingan berlangsung secara efektif. Mereka menyampaikan drama dan aksi dalam porsi yang seimbang. Tidak ada partai squash, hanya ada satu ‘cut-scene match’ namun bahkan itupun dilakukan dengan baik. Level ‘kekerasan’ yang disuguhkan juga tampak meningkat. WWE seperti memberikan kelonggaran tambahan buat para superstar, terutama kepada superstar-superstar yang bukan dari brand Raw yang enggak harus langsung nampil besok. Pengecualian untuk ini adalah Ronda Rousey dan Sasha Banks. Dua superstar cewek dari Raw ini bermain sangat fisikal, sehingga terkadang spot-spot yang mereka lakukan tampak sloppy – kurang profesional, dan kelihatan sakit not-in-a-dramatic-way seperti seharusnya. Satu lagi yang tidak aku mengerti adalah kenapa pertandingan kejuaraan tag team Smackdown yang dramatis dan penuh spot keren itu sejatinya berpusat kepada Shane McMahon – kenapa tiga superstar yang lebih ‘muda’ daripada dia yang harus mengimbangi dan work around him.

my girl debuting a new move, yaaassshhh

 

Dua partai royal rumble bekerja dengan sama-sama padunya. Tidak ada elemen yang tersiakan. Aku suka WWE mempertahankan ‘prestasi’ mereka sehubungan dengan ‘surprise entrant’. Nonton royal rumble memang yang selalu ditunggu adalah peserta kejutan yang selalu bikin kita entah itu sukses bernostalgia ataupun pecah bersorak tak-percaya. Seperti yang mereka lakukan tahun lalu, WWE memfokuskan porsi peserta-kejutan ini lebih banyak ke superstar-superstar muda yang nongol di NXT, alih-alih kepada superstar legenda yang untuk jalan ke ring aja sudah tertatih-tatih. Para entrant kejutan ini juga diberikan kesempatan untuk bertanding lebih lama, sehingga penonton bisa menikmati kehebatan mereka sembari WWE bisa mengiklankan brand dari mana mereka berasal. Solusi yang win-win, bukan! Dan tentu saja ada bagian untuk komedi. WWE suka komedi seperti Shyamalan suka twist dalam filmnya. Dalam kedua royal rumble inipun, komedi mereka lakukan dengan tepat guna; enggak benar-benar lebay dengan waktu penempatan yang diperhitungkan. Skit aneh antara Maria Kanelis dengan Alicia Fox enggak jatoh se-‘apasih’, kecuali aku nunggu-nunggu Maria bilang “kau aja pakai musik aku yang dulu” saat ngajak Fox temenan (terlalu ngarep sih memang kalo kita berharap kontinuiti dari WWE), aku gak melihat ada masalah dalam penggunaan komedi dalam pertandingan royal rumble kali ini. Pada royal rumble cowok, komedi digunakan untuk mengurangi kejenuhan, oleh durasi yang memang terlalu panjang.

Menurutku pertandingan royal rumble ceweklah yang seharusnya menutup acara. Sebab tokoh utama show kali ini jelas adalah Becky Lynch. Superstar cewek ini lagi tinggi-tingginya sejak ia menciptakan moniker ‘The Man’. Acara ini dibuka dengan memperlihatkan kegagalan Lynch dalam perebutan gelar cewek Smackdown. Dalam kontes yang dibuat berimbang dengan Asuka – yang mana kejutan pertama dari acara ini buatku; Lynch dibook/ditulis kalah bersih dalam perang submission – seolah penulis sedang merangkai perjalanan teatrikal. Ini seperti sekuen ‘percobaan pertama yang gagal’ pada naskah film-panjang. Kupikir ini bakal berlanjut dengan berbagai adegan di backstage, gimana Lynch berusaha mencari kesempatan lain. Honestly, aku sudah mengantisipasi Lynch bakal masuk ke royal rumble cowok – mengingat julukan ‘The Man’nya tadi – kemudian kembali gagal, dan entah bagaimana dia memasukkan dirinya ke royal rumble cewek, dan berhasil. Namun ternyata WWE membuat susunan yang berbeda; mereka malah mengerahkan Nia Jax untuk ‘menginvasi’ para cowok sebagai sebuah kejutan yang seru-tapi-aneh. Cerita Lynch tuntas di tengah-tengah acara, dan ini membuat partai-partai di antara dua royal rumble ini nyaris mati; berusaha menghidupkan kembali percikan api yang telah padam dibawa oleh kemenangan Lynch yang ditunggu-tunggu para fans.

kasian R-Truth begitu gampang tergantikan.. bahkan Lana aja diberikan kesempatan ‘berjuang’

 

 

Keputusan WWE buatku semakin aneh ketika mereka malah meletakkan Daniel Bryan melawan AJ Styles, dalam pertandingan yang bergaya lambat nan metodical, tepat setelah royal rumble cewek. Masalah bukan dari kedua superstar top-Smackdown, Bryan dan Styles adalah pekerja teknik terbaik yang dipunya oleh WWE, hanya saja jika ingin membuat penonton tetap semangat, mereka harusnya membuat pertandingan ini paling enggak sefast pace pertandingan Brock Lesnar dengan Finn Balor. Keep it short, fill it with high spots. Daripada memakai pertandingan pelan dengan outcome yang gak bersih – partai Bryan melawan Styles ini adalah ‘cut-scene match’ yang kusebut di atas – WWE seharusnya menulis partai kejuaraan WWE ini sebagai pertandingan Street Fight atau Extreme Rules atau apalah yang no-DQ. Sehingga ketika Eric Rowan datang, dia bisa ikut menghajar dan menjadikan akhirannya semakin dramatis oleh Styles yang berusaha mengalahkan dua orang. Dengan begitu penonton akan tetap semangat dan sabuk WWE tidak melulu diperebutkan dalam kontes yang seperti sia-sia.

 

Sebenarnya sudah lama WWE seperti melirik kemungkinan terjadinya pertandingan campuran. Jika WWE memang membangun diri ke arah yang lebih edgy, lewat Becky Lynch – dan Nia Jax – sebagai pionir, katakanlah jika tahun depan kita akan melihat Royal Rumble campuran antara pria dan wanita, atau bahkan melegalkan partai campuran dalam semua jenis match, aku sih seneng-seneng aja. Bayangkan Lesnar melawan Rousey. Atau Nikki Cross tagteam ama Dean Ambrose, tapi bukan lagi dalam mixec tag konyol yang dilakukan WWE di network. Menurutku itu bakal jadi perubahan besar yang positif mengingat isu kesetaraan gender sekaligus bakal bisa menaikkan nilai hiburan itu sendiri.

Pada akhirnya angka-angka dalam Royal Rumble menyimbolkan hitung-mundur sebuah perubahan yang sudah siap untuk terjadi.

 

 

 

Full Results:
1. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Asuka retain setelah Becky Lynch tap out terkena manuver submissionnya.
2. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Miz dan Shane McMahon jadi juara baru mengalahkan Sheamus dan Cesaro.
3. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Ronda Rousey tetap juara dengan menge-pin Sasha Banks.
4. 30-WOMAN ROYAL RUMBLE Becky Lynch menang dengan mengeliminasi Charlotter Flair.
5. WWE CHAMPIONSHIP Daniel Bryan bertahan atas AJ Styles.
6. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP juara bertahan Brock Lesnar belum bisa dikalahkan oleh Finn Balor.
7. 30-MAN ROYAL RUMBLE Seth Rollins menang dengan mengeliminasi Braun Strowman
Dengan akhiran match yang tepat, dengan porsi hiburan dan kejutan yang berimbang, dengan dramatisasi yang mengena, The Palace of Wisdom memilih 30-Woman Royal Rumble sebagai MATCH OF THE NIGHT

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

ORANG KAYA BARU Review

“Sometimes, nothing is better than something”

 

 

Ungkapan “Uang adalah sumber segala kejahatan (alias sumber masalah)”  itu sebenarnya kepotong. Makanya terasa kurang tepat. Bukan uangnya yang bikin seseorang berubah menjadi ‘jahat’ – yang membuat orang sampai rela meninggalkan keluarga maupun sahabatnya sendiri. Melainkan adalah kecintaan terhadap uang itu sendiri. Semakin banyak kita punya, kita akan makin merasa tidak cukup. Kita cinta dengan gagasan mempunyai banyak uang maka hidup akan semakin mudah, dan ini menghilangkan batasan dalam diri kita. Orang yang cinta pada uang, ia juga akan senang membelanjakannya, lantaran ia suka terhadap apa yang bisa ia lakukan dengan uang sebanyak itu.

Itu sebabnya kenapa tokoh Lukman Sardi memilih untuk membesarkan keluarganya dalam kondisi prihatin. Ia merahasiakan kekayaan yang dimiliki kepada istri dan tiga anaknya. Mereka sekeluarga hidup pas-pasan selama bertahun-tahun sebab Bapak ingin menumbuhkan rasa cinta di dalam dada anggota keluarganya terhadap masing-masing, terhadap karib kerabat mereka, bukannya kepada uang. Pelajaran amat berharga sebenarnya yang coba beliau ajarkan. Namun, kematian yang begitu mendadak sampe-sampe film tak sempat menjelaskan kenapa; malah menggoda sekiranya Bapak belum benar-benar tiada, memotong pelajaran tersebut. Membawa Tika, Duta, Dodi, dan Ibu langsung ke ‘praktek lapangan’; Bapak meninggalkan warisan berupa duit bermilyaran, seketika mereka semua berubah hidupnya menjadi milyarder kaya raya!

Ternyata memang lebih enak hidup yang terus berangan punya duit banyak ketimbang hidup yang selalu terjaga lantaran takut harta yang dimiliki hilang.

 

Performa para penampil dalam film ini seragam menggelitiknya. Raline Shah yang menjadi Tika, si sudut pandang utama, didampuk untuk melakukan banyak permainan akting di luar penampilan-penampilan yang biasa ia lakukan. Ia harus belajar bagaimana menjadi seorang miskin – ini sendiri adalah fakta yang sangat lucu bagi kita semua. Sebagai Tika, Raline harus menggapai nada-nada emosi yang punya rentang cukup luas. Dia yang pertama kali menemukan Bapak meninggal – Tika punya momen-momen unik dengan ayahnya, dia yang punya keinginan untuk menjadi orang kaya, dia juga diberikan kesempatan untuk menjalin hubungan asmara. Meskipun di awal-awal kurang meyakinkan – kurang dapat dipercaya – tampil sebagai orang susah, tetapi dengan gemilang Raline, juga para aktor lain memainkan tokoh-tokoh yang berbuat norak dengan harta bendanya. Derby Romero sebagai seniman dalam keluarga, dia diberikan bentrokan soal seni, idealisme, dan duit yang menarik sayangnya tidak diberikan porsi yang banyak. Justru Ibu yang diperankan oleh Cut Mini yang mendaratkan nada tawa tertinggi lewat her take on ibu-ibu sosialita – yang melakukan sesuatu kini atas nama citra. In some sense, para aktor ini bisa jadi memainkan parodi dari diri mereka sendiri, dan memang tak ada hal yang lebih lucu dan mengena ketika seseorang bisa menertawakan dirinya sendiri. Last but not least, pemeran anak Fatih Unru mencuri perhatian; ia mampu mengenai nada-nada emosi berentang luas dengan lebih baik dari rekan-rekan aktor yang lebih berpengalaman. Tokoh Dodi di tangannya terasa enggak over-the-top, dan bisa jadi karena tokoh ini disebutkan ditulis berdasarkan pengalaman masa kecil sang penulis skenario, Joko Anwar, yang suka berandai-andai jadi orang kaya

Aku tidak tahu apakah fakta tersebut membuat film menjadi spesial karena toh semua orang umumnya pernah ngimpi jadi jutawan

 

Kelucuan film ini menguar deras dari tingkah polah keluarga tersebut dalam mengarungi hari-harinya sebagai pemilik uang berlimpah. Film bersenda gurau dengan tingkah-tingkah norak para tokoh. Saksikan transisi si Ibu dari yang tadinya melotot melihat harga teh di restoran mewah menjadi seorang pembelanja yang dengan jumawa membeli semua perabot yang sempat disentuh dan difoto oleh anak-anaknya. Juga sebuah sentuhan bagus membentrokan keadaan tiga kakak beradik yang tadinya menyusup ke acara nikahan buat numpang makan dengan keadaan mereka punya segalanya, bahkan mobil satu seorang meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyetir. Kita tertawa oleh komedi mengenaskan saat mereka menghabiskan uang yang mereka punya lebih cepat daripada akun lucu-lucuan berlari mengejar jumlah follower.

Film ini memang sangat terasa seperti kebalikan dari Keluarga Cemara (2019) yang tayang beberapa minggu sebelumnya. Bukan saja dari premis orang miskin yang ternyata menjadi kaya alih-alih keluarga Ara yang kaya kemudian jatuh miskin. Melainkan juga dari bagaimana cerita ini berpusat. Jika cerita Keluarga Cemara menegaskan bahwa mereka sebenarnya bukan soal harga uang; film tersebut menyetir ceritanya keluar dari kait-kait trope kemiskinan yang tertindas, maka Orang Kaya Baru benar-benar meletakkan materialistis sebagai poin vokal untuk menyampaikan pesannya. Emosi kita bakal dipancing demi melihat anak yang sol sepatunya copot dikerjai oleh teman sekelasnya. Kita menyaksikan Tika dituduh mencuri telepon genggam teman di kampus. Uang dan materi benar-benar on-point dalam film ini. Karena ia ingin membangun karakter-karakter sehingga menjadi masuk akal begitu mereka memuja kekayaan nantinya.

bahkan film ini juga punya satu tokoh yang bekerja di mana-mana, hanya saja tidak dimainkan sebagai komedi

 

 

Dan itulah sebabnya kenapa elemen drama dari film ini tidak semuanya terasa mengena. Kita menyaksikan tokoh-tokoh yang menyalami ‘demon‘ mereka dan berakrab-akrab dengannya. Tentu, sebuah hal yang lucu – dan mungkin melegakan -melihat orang miskin yang biasanya dibully jadi punya kesempatan untuk melampiaskan hati mereka. Menyenangkan menyaksikan mereka akhirnya mencicipi indahnya dunia. Tapi antisipasi serta merta tumbuh dalam diri kita; kita paham tokoh-tokoh itu menyongsong kebangkrutan, jadi ketika mereka melakukan suatu ‘pemborosan’ kita tidak lagi benar-benar ikut sedih bersama mereka. Kita ditinggalkan untuk berharap mereka melakukan hal yang benar, dan mungkin untuk kedua kalinya keajaiban datang menyelesaikan masalah keuangan yang kali ini disebabkan oleh mereka sendiri.

Namun film malah terus menge-loop masalah tersebut, hingga film berakhir. Tidak ada penutup yang definitif hingga kita tak yakin harus terus tertawa atau bengong saja. Jika dalam menggarap horor atau thriller, Joko Anwar masih bisa menutupi kekurangan penulisannya dengan twist; terutama twist semacam ‘ternyata cuma mimpi/imajinasi’ yang membuat ceritanya jadi tampak cerdas, maka ranah drama komedi seperti Orang Kaya Baru ini sesungguhnya lebih susah untuk ia bermanuver. Film seperti berjuang untuk menutup cerita dengan menarik, dan pada akhirnya pilihan yang diambil malah tidak definit sebagai pembelajaran terhadap karakternya, or even if they have learned anything at all. Tika yang hidup pas-pasan dan diremehin sehingga berpikir lebih gampang hidup sebagai orang kaya. Kemudian dia jadi kaya, hidup mewah seolah sudah punya semua jawaban hidup. Namun pertanyaan hidupnya berubah; kenapa sekarang masalah itu timbul dari orang-orang di dekatnya. Kemudian dia miskin lagi, dia dekat kembali dengan sahabat dan keluarga. Uang mengontrol kehidupan dan sikap Tika, kita tidak pernah benar-benar diperlihatkan ada perubahan dari dirinya yang didorong oleh ‘kekuatan dari dalam’.

 

 



Paling efektif bekerja sebagai komedi yang memotret – dan dalam nada tertingginya, mengkritik – pandangan dan kehidupan sosial antara si kaya dengan si miskin. Tone antara drama dan komedi itu pun acapkali berbaur dengan mulus, berkat penampilan yang tak-biasa, yang luar biasa menghibur, dari para pemainnya. Terutama Fatih Unru dan Cut Mini. Hanya saja porsi dramanya terasa tidak terasa benar-benar menyentuh, dalam artian sungguh bikin kita sedih. Karena kita sudah mengantisipasi apa yang terjadi. Juga lantaran tidak benar-benar ada stake ataupun konsekuensi dari ‘kegagalan’ yang dihadapi oleh para tokoh. Lebih lanjut, ini disebabkan oleh penulisan naskah yang sengaja dipilih untuk tidak konklusif. Menonton ini seperti kita sedang bermimpi indah, kemudian jadi buruk, kemudian indah lagi, yang tak selesai-selesai.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for ORANG KAYA BARU.

 

 



That’s all we have for now.
Dulu kalo sedang rebutan mainan dengan adik, Ibuku sering bilang “lebih baik enggak ada daripada ada!” Bagaimana menurut kalian; apakah lebih baik miskin daripada kaya raya? Mengapa kebutuhan rasanya semakin meningkat begitu kita punya rezeki berlebih?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.



THE KID WHO WOULD BE KING Review

“United we stand”

 

 

Membela teman yang di-bully dan pada gilirannya tidak mengadukan apa-apa – kepada ibunya, kepada guru, kepada orang dewasa – tentang hal tersebut lantaran ia enggak mau perpecahan semakin besar karena mengungkit masalah; mungkin itu sebabnya Alex (Louis Ashobourne Serkis, temuan baru sang sutradara) mampu mencabut pedang Excalibur dari batu. Alex, seorang anak dua-belas tahun di era modern Britania Raya, telah menunjukkan sikap dan semangat yang tak-pelak dihargai oleh seorang kesatria seperti Raja Arthur dalam legenda. Kesetiaan, keberanian, pendirian untuk menegakkan persatuan sebagai prioritas utama. Kalian tahulah; sikap-sikap kepahlawanan.

Pedang Excalibur yang ia dapatkan mengingatkan Alex pada buku cerita yang seingatnya dulu diberikan oleh Ayah kepadanya. Tapi tidak sebatas rasa rindu yang diberikan oleh pedang tersebut. Masalah juga. Alex diserang oleh makhluk seperti zombie kesatria yang datang menyala bara api dari dalam tanah. Berkat informasi dan gemblengan dari seorang penyihir yang mengambil wujud anak muda berbodi kutilang (paling tidak sampai dia bersin, yang mengubah wujudnya menjadi seekor burung hantu), Alex mengerti bahwa dirinya terpilih sebagai Arthur masa modern. Tugas yang harus ia lakukan adalah mengalahkan Morgana, penyihir jahat berwujud monster yang ingin merebut Excalibur dan memecah belah dunia saat gerhana bulan empat malam lagi tiba. Untuk itu, Alex musti mengumpulkan Ksatria Meja Bundar versi dirinya sendiri, dari teman maupun lawan, dan berkelana bersama mencari sosok Ayah yang diyakini Alex adalah Raja Arthur yang sebenarnya.

Alex dan keadaan sosial tempatnya tinggal dijadikan perbandingan menarik terhadap kode-kode kekesatriaan tradisional oleh film ini. Sebagai cara mereka mempertanyakan ke mana perginya nilai-nilai luhur tersebut. Namun misi utama film ini sebenarnya adalah memperlihatkan dongeng kesatria kepada anak-anak seusia Alex yang mungkin sudah terlalu disibukkan (kalo tidak mau disebut dimanjakan) dengan kemudahan dan kenyamanan. Dalam film ini kita akan melihat Alex dan teman-temannya bertualang, dan bukan monster-monster perut bumi itu yang mengancam keutuhan mereka – melainkan kenyataan bahwa begitu gampangnya kelompok mereka terpisah; begitu banyaknya hal-hal yang membuat mereka terpecah.

Anak-anak jaman sekarang disebut lemah dan manja bukan exactly karena fisik dan tenaganya. Bukan karena mereka gendut kebanyakan duduk main gadget. Melainkan karena keogahan mereka untuk bersusah payah main keluar, mencari teman beneran, dan bersama-sama melakukan sesuatu yang mereka percaya. Anak-anak sekarang hanya kurang bersemangat menunjukkan sikap-sikap kesatria yang mungkin tak mereka sadar mereka miliki.

chivalry is not dead, Superman is

 

Film ini dibuka dengan sekuen animasi yang menawan yang memaparkan kisah Raja Arthur yang melandasi petualangan Alex. Babak penutup film ini pun tak kalah menariknya; ketika Alex dan teman-teman menjadikan sekolah sebagai benteng pertahanan – mereka mengenakan baju zirah, dengan pedang-pedang, menyulap papan gym menjadi kuda-kuda gauntlet, dan memasang jebakan untuk pasukan monster yang datang menyerbu. Pertempuran dalam film ini selalu berat oleh CGI tapi cukup memuaskan untuk dilihat, terlebih pertempuran terakhir yang melibatkan anak-anak berterbangan ke sana kemari berusaha mendaratkan monster terbang yang mengerikan. Pembuka dan penutup; itulah momen-momen terbaik yang bisa diusahakan oleh film ini. Sementara bagian di antaranya; bagian yang punya porsi paling lama – mengingat film ini berdurasi dua-jam, begitu datar sehingga hampir membosankan jika kita tidak dibawa keliling dataran Inggris yang punya pemandangan menawan.

Bukan sebab karena penulisannya – The Kid Who Would Be King ditulis dengan struktur yang bener. Kita dengan jelas dapat melihat motivasi Alex, kita melihat tantangan yang harus ia hadapi, kita melihat dia menyimpulkan apa yang harus ia lakukan, kita melihat dia belajar tentang apa yang harus ia lakukan, kita juga menyaksikan bagaimana dia mengambil jalannya sendiri. Hanya saja, Alex tidak pernah tampil benar-benar menarik. Untuk mencolok saja, dia butuh jaket merah sementara teman-teman di sekitarnya memakai jaket berwarna gelap. Selain bergantung kepada buku cerita yang berfungsi sebagai petunjuk baginya – yang merupakan aspek yang dibutuhkan dalam formula cerita semacam ini, Alex tidak punya kebiasaan yang membuat dirinya menarik. Kita tidak tahu hobinya apa. Aku akui, Alex ini adalah tipe anak baek-baek yang aku biasanya ledekin di sekolah, bukannya aku termasuk tukang bully, tapi sama-sama tahulah, akan ada satu anak pendiem di setiap sekolah yang jadi bahan candaan anak-anak lainnya. Anak itu adalah si Alex, dan Bedders – sohib Alex. Tidak ada yang unik dari kedua anak ini. Saat ‘berantem’ dengan para ksatrianya, Alex akan membuat kita menguap dengan kata-kata ‘sok baik’nya yang membuat kita memohon mereka langsung saja jotos-jotosan.

Bicara soal dialog, film ini membuat adegan animasi keren di pembuka itu menjadi tidak berguna, karena apa-apa yang sudah dijelaskan dengan visual menarik tetap saja diulang kembali saat para tokoh mengucapkan dialog-dialog eksposisi. Film seharusnya memfokuskan dialog untuk pengembangan karakter saja, tidak perlu lagi menjabarkan tentang dunia Arthur. Atau malah, animasi pembuka itu enggak usah ada aja sekalian. Memilih, hanya itu yang harus dilakukan, enggak susah kok.

Sekali-kali Patrick Stewart akan muncul untuk membuat kita berpikir film ini penting

 

Adegan yang lebih banyak gerakan – seperti mereka latihan berantem melawan pohon, melatih anak-anak untuk menjadi prajurit, kejar-kejaran dengan monster – masih mampu untuk menghibur kita. Aku jadi menunggu-nunggu gerakan tangan annoying yang dilakukan oleh Merlin yang flamboyan sebab aku tahu bakal ada sihir dan keasikan menonton akan sedikit terangkat oleh keajaiban. Beberapa lelucon juga sanggup menghadirkan cekikikan di sana-sini. Aku suka sindiran yang film ini lakukan terhadap ayam goreng fast-food, paling enggak sampai film ini memutuskan untuk menjelaskan sindiran tersebut lewat omongan. Yang mana semakin menunjukkan sutradara Joe Cornish tidak sepede sebelumnya saat dia menggarap Attack the Block (2011) thriller alien yang begitu segar dengan arahan yang berhasil membuat perjuangan anak-anak remaja yang tak berkekuatan khusus – sama seperti The Kid Who Would Be King ini – sangat mencengkeram sehingga termasuk ke dalam Top-8 film favoritku tahun itu.

Ketimpangan antara penulisan struktur naskah dengan pengarahan ini semakin terlihat ketika pada setelah sekuens false-resolution, film menjadi seperti berakhir dan kembali dimulai. Seperti ada sekat yang memisahkan, yang membuat petualangan yang sebelumnya tidak lagi berarti meskipun sebenarnya kita paham ada pembelajaran yang dikenai kepada tokoh utama, ada kepentingan dalam perjalanan sia-sia yang mereka semua lakukan. Namun seperti yang aku tulis di atas, babak terakhir yang menarik ketimbang pertengahan yang bahkan ternyata mereka hanya mengejar hal yang basically tak ada – ada pembangunan yang runtuh seketika sehubungan dengan siapa ayah Alex – membuat kita berpikir seharusnya film ini fokus saja di sekolah. Jika ada yang menjanjikan petualangan aksi medieval dengan anak sekolah sebagai tokohnya, maka tentu hal unik yang kita pikirkan adalah membawa aksi tersebut ke lingkungan mereka, atau mungkin membawa mereka ke zaman yang bersangkutan. Benar-benar membentrokkan mereka. Bukannya malah membawa mereka jalan-jalan sebagian besar waktu.

 

 

 

 

Terasa lebih bermain aman ketimbang sebelumnya, Cornish membuat film fantasi anak-anak ini kurang menantang. Ia seperti tidak begitu mengimbangi bangunan naskah yang ditulis dengan baik. Film ini kurang exciting. Meski ia berhasil menjalankan fungsinya sebagai dongeng kekinian yang membandingkan moderen dengan tradisional dalam rangka menjunjung tinggi nilai persatuan. This is an okay film. Aman dan berbobot ditonton bersama keluarga. Hanya dengan sedikit terlalu banyak aspek-aspek yang datar, seperti hubungan Alex dengan ibunya, dengan teman-temannya yang lain, and heck, Alex barely has anything to do with Morgana, yang mestinya bisa dieksplorasi dengan lebih emosional lagi.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for THE KID WHO WOULD BE KING.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Coba tanyakan kepada diri sendiri, apakah kalian mampu mencabut Excalibur dari batu?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2018

 

Seperti yang kukatakan kepada dosen geoteknik pagi itu saat ujian semester keempat: “Maaf, saya terlambat.”

Tadinya memang seperti tahun-tahun sebelumnya aku pengen nungguin nonton semua nominasi Oscar dulu, supaya tak ada yang bikin aku merasa ah, seharusnya ini masuk… Tapi karena kelamaan dan aku merasa daftar favoritku sebenarnya sudah sangat solid – aku tidak mau merusaknya – maka aku memutuskan mengambil sikap. Daftar Top-8 ini aku keluarkan sehari sebelum pengumuman nominasi Oscar, dan kupastikan tidak akan ada penyesalan. Karena menurutku memang seharusnya kita masing-masing punya pendirian. Aku tahu lebih baik; tidak perlu mengulur-ulur demi satu film atau beberapa film, toh jika memang bagus mereka bisa dimasukin di daftar tahun depan. Kita tidak harus menunggu orang lain untuk memastikan apa yang kita tahu kita punya. Jika kita punya standar, tetaplah di sana.

Jadi ya, tahun 2018 kita sudah lihat begitu banyak kemenangan manusia yang percaya pada kemampuan dan apa yang dipilihnya. Kita melihat astronot berhasil mendarat di bulan. Penyanyi yang menggelar konser begitu besar. Robot yang mengalahkan monster raksasa. Kita juga disuguhkan dengan banyak cerita balas dendam, dengan masing-masing lebih unik dari sebelumnya. Meskipun kuakui, 2018 ini adalah tahun di mana aku paling sedikit ngasih angka di atas 8 tapi tidak berarti film-filmnya kebanyakan jelek (kecuali sebagian besar horor-horor Indonesia yang cuma pengen laku-lakuan). Film-film tahun ini banyak yang bersaing di angka 7, yang mana dalam sistem ratingku itu berarti banyak film-film yang menonjolkan idealisme mereka – dan ini adalah hal yang begitu positif.

Juga ada keseimbangan yang terjadi, karena di satu sisi kita banyak menjumpai film-film remake atau malah sekuel dari zaman 80-an dan di sisi lain kita dianugerahi sutradara-sutradara baru yang dengan berani mengusung ide segar dan sudut pandang yang belum pernah digali.

HONORABLE MENTIONS

  • Annihilation (thriller sci-fi yang memuaskan yang sekaligus bikin kita mempertanyakan apa manusia adalah kanker bagi dunia)
  • A Quiet Place (siapa bilang diam itu gampang?)
  • Blackkklansman (keseimbangan sempurna antara komedi dan tragedi)
  • Crazy Rich Asians (meski kayak ftv tapi gebrakannya dahsyat; film pertama sejak sekian lama seluruh cast Asia dalam produksi Hollywood; membuktikan diri itu penting!)
  • Creed II (sebuah film tentang bertinju yang mengingatkan kita untuk tetap berpikir menggunakan hati)
  • Green Book (penampilan akting kedua tokohnya akan menghibur kita di balik tema yang menyentuh)
  • Incredibles 2 (pergantian role dalam cerita superhero menjadikan sekuel yang ditunggu ini film yang menyegarkan)
  • Mid90s (potret anak yang mencari teman, alih-alih panutan, yang tak terasa dibuat-buat)
  • Mission: Impossible – Fallout (film aksi terbaik se2018, sebab semuana minus CGI!)
  • One Cut of the Dead (film paling asik sepanjang tahun, it’s not good but still manage to teach us a lot!)
  • Paddington 2 (dudukkan satu keluarga nonton ini dan rasakan kehangatan serta kelucuan menjalar)
  • Sebelum Iblis Menjemput (bisa juga Indonesia membuat horor gore yang menyenangkan ala cult kayak Evil Dead.. penulisan karakternya juga bagus)
  • Sekala Niskala (setiap shot di film ini layaknya puisi – gambarnya indah, tenang, menyeramkan)
  • Spider-man: Into the Spider-verse (usaha terakhir Sony menggarap Spiderman berhasil membuka banyak; peluang dan sudut pandang)
  • Suspiria (filmnya enggak bagus-bagus amat, tapi begitu aneh dengan gaya tersendiri sehingga aku dibuat penasaran dan menontonnya berulang kali)
  • Suzanna: Bernapas dalam Kubur (cerita balas dendam dengan tokoh seorang hantu. Pilu, namun beautiful, dan enggak jatoh over-the-top)
  • The Miseducation of Cameron Post (cerita di mana kelainan seksual dianggap sebagai penyakit ini dengan tepat menggambarkan keadaan remaja ketika dihadapkan dengan ‘tuduhan’ orang tua)
  • The Night is Short, Walk on Girl (salah satu film dengan cara bercerita paling unik, seperti versi lebih baik dari Aruna dan Lidahnya)

Tahun ini, special shout out aku teriakkan buat Dilan 1990 yang ulasan filmnya udah mecahin rekor jumlah view terbanyak di My Dirt Sheet tahun 2018. Selamaaatt~

 

Untuk daftar Top-8 yang bakalan kalian baca di bawah, ada baiknya kalian berhati-hati karena aku tidak akan memberikan peringatan spoiler – aku menganggap semua sudah menonton filmnya. Bagi yang pengen membaca ulasan lengkap filmnya, kalian bisa klik judul film untuk membuka halaman ulasan film tersebut.

8. AVENGERS: INFINITY WAR

Director: Anthony Russo, Joe Russo
Stars: Josh Brolin, Robert Downey Jr, Chris Hemsworth, Mark Ruffalo
MPAA: PG-13 for sci-fi violence and action, language and some crude references
IMDB Ratings: 8.5/10
“If life is left unchecked, life will cease to exist. It needs correcting.”

Menurutku cocok sekali jika daftarku ini dibuka oleh Avengers: Infinity War karena memang ‘semuanya’ – hal di daftar ini – dimulai oleh aksi si Thanos. Film ini adalah cerita superhero dengan sudut pandang langka di mana yang berjaya adalah tokoh yang jahat. Dan ini menimbulkan begitu banyak ragam reaksi, begitu banyak spekulasi, begitu ramai harapan, yang mengiringi desah-desah kaget tak percaya dari kita semua.

Enggak mudah mencampur aduk begitu banyak tokoh ke dalam satu cerita berdurasi dua jam, tapi film ini berhasil melakukannya. Kita mendapatkan banyak pertarungan seru, kita dikembalikan ke kisah klasik superhero bergabung melawan penjahat, dan tidak sekalipun film tergagap dalam menuturkan – menjalin kisah tokoh-tokohnya. Sebagai bagian dari semesta sinema yang lebih besar, film ini dengan gemilang menuaikan tugasnya sebagai sekuen titik-rendah dari para protagonis.

Buatku adalah hal yang mustahil jika kau penggemar superhero dan tidak terhibur menonton film yang endingnya memang diset depressing ini.

My Favorite Scene:
Infinity War, dengan menumpleknya karakter, punya begitu momen-momen keren; mulai dari keputusan Thanos mengorbankan Gamora – dan reaksinya setelah itu, pertempuran Wakanda – Cap dan Black Panther berlari memimpin, sampai kemunculan kembali Thor dengan kekuatan baru. Susah untuk memilih favorit, maka aku akan settle dengan yang paling memorable, dan tentu saja itu adalah momen terakhir film.. jentikan jari Thanos yang membawa maut.. apa yang terjadi sesudahnya… OH SNAP!

http://www.youtube.com/watch?v=zXavNm6y8OE

 

 

 

 

 

 

7. UPGRADE

Director: Leigh Whannell
Stars: Logan Marshall-Green, Melanie Vallejo, Steve Danielsen 
MPAA: R for strong violence, grisly images, and language
IMDB Ratings: 7.6/10
“A fake world is a lot less painful than the real one.”

Upgrade menghajar Venom habis-habisan, menendang bokongnya hingga terbang keluar hingga nyaris nyangsang di daftar Delapan Kekecewaan Bioskop 2018 ku. Kedua film ini punya kondisi tokoh yang hampir sama; konsep mereka sama-sama orang yang tubuhnya bergerak di luar kendali dan mengharuskan mereka bekerja sama dengan si ‘parasit’. Namun Upgrade melakukan tugasnya dengan jauh lebih baik, ia bercerita lebih efektif.

Keunikan berhasil dipertahankan oleh film ini. Dan menurutku aneh sekali saat menonton Upgrade aku tidak merasa ia tiruan dari Venom, malah justru sebaliknya. Upgrade membuktikan tidak butuh budget gede untuk membuat film yang menarik dan terlihat nyata. Seperti kata lagunya Triple H: “It’s how you play it”

My Favorite Scene:
Upgrade melakukan kerja yang sangat baik dengan konsep tubuh yang bergerak sendiri. Kesukaanku adalah ketika pertama kali Stem diijinkan mengambil alih dan kemudian menyerang salah satu pelaku pembunuhan; kerja kamera, reaksi yang genuine, semuanya bergabung menjadi koreografi aksi fresh!

 

 

 

 

 

6. THE HOUSE THAT JACK BUILT

Director: Lars von Trier
Stars: Matt Dillon, Uma Thurman, Bruno Ganz
Certificate:
IMDB Ratings: 7.0/10
“Don’t look at the acts, look at the works.”

Satu-satunya film yang kuberi angka 9 di tahun 2018. Bukan exactly karena sangat amat bagus, melainkan karena film ini sangat-sangat aneh dia seolah membunuh sendiri dirinya dengan keanehan dan pilihan ekstrim yang ia lakukan. Maka tentu saja, aku tidak bisa berpaling dari film-film punya nyali seperti ini.

The House that Jack Build punya struktur cerita sendiri. Dia punya aturan main sendiri. Malahan, dia tampak seperti asik sendiri ngobrol ngalor-ngidul, melakukan apa yang ia bisa lakukan, tanpa peduli tanggapan semua orang. Daya tarik film ini (dan juga kejatuhannya bagi beberapa penonton) adalah tokohnya yang seorang serial-killer, namun si Jack ini menganggap apa yang ia lakukan adalah proyek seni. Buatku film ini adalah karakter studi yang menarik. Saking kuatnya efek yang ditimbulkan, aku jadi merasa perlu untuk mengubah gaya reviewku khusus ketika mengulas film ini. Tapi memang, film ini bukan untuk semua orang. Level kekerasannya amat sangat di luar batas kemanusiaan, meskipun jika kalian terbiasa menonton film-film gore. Film ini berusaha memanusiawikan tindak pembunuhan, dan dengan  sengaja menunjukkan kegagalan.

Di luar batas-batas yang ia langgar, sesungguhnya film ini punya craftmanship tersendiri. Maka dari itulah, aku memasukkan film ini ke dalam daftar.

My Favorite Scene:
Keseluruhan babak akhir di mana Jack dan Verge turun ke bawah tanah; begitu aneh, begitu mencengkeram, begitu penuh metafora, jika kalian sama gilanya dengan aku, kalian juga pasti bakal suka.

http://www.youtube.com/watch?v=Hnoagsn7II4

 

 

 

 

 

5. EIGHTH GRADE

Director: Bo Burnham
Stars: Elsie Fisher, Josh Hamilton, Emily Robinson, Jake Ryan
MPAA: R for language and some sexual material
IMDB Ratings: 7.5/10
“Growing up can be a little bit scary and weird”

Mekar menjadi remaja tidak pernah hal yang mudah. Apalagi di jaman sosial media di mana kepopuleran menjadi semakin berpengaruh. Eighth Grade menunjukkan potret kehidupan remaja cewek mengarungi neraka yakni hari-hari terakhir sekolahnya.

Penampilan akting yang natural, penulisan yang benar-benar cerdas dan genuine membuat film ini mengerikan untuk diikuti, dalam artian yang positif. Eighth Grade tidak mangkir dari kejadian-kejadian yang plausible terjadi – yang mungkin pernah sebagian dari kita alami saat masih seumuran Kayla, tokoh utama ceritanya. Film ini juga tidak memberikan jalan keluar yang mudah ala cerita remaja film-film Hollywood.

Film ini memperlihatkan betapa hal-hal yang buat orang dewasa konyol dan sepele, sungguh bisa sangat berarti bagi remaja. Dan di sisi lain, remaja yang menonton diharapkan mendapat ketenangan dari ‘kejar-kejaran’ yang mereka lakukan demi popularitas.

My Favorite Scene:
Aku sebenarnya agak kurang sreg dengan penulisan karakter Ayah Kayla, dia seperti sosok yang terlalu too-good to be true, yang menurutku sedikit mengurangi nilai ke-genuine-an cerita. Tapi mengerti kenapa ia ditulis demikian. Dan aku juga mengakui, oleh karena karakternya demikianlah kita bisa dapatkan adegan dialog ayah-anak yang indah seperti dalam film ini

 

 

 

 

 

4. A STAR IS BORN 

Director: Bradley Cooper
Stars: Bradley Cooper, Lady Gaga, Sam Elliott
MPAA: R for language throughout, some sexuality/nudity and substance abuse
IMDB Ratings: 8.0/10
“Maybe its time to let the old ways die.”

Cerita klasik yang sudah diceritakan berulang kali, namun A Star is Born masih mampu membuat kita semua terpana. Berkat penampilan akting, kemampuan musikal, dan chemistry dari dua tokohnya.

Drama yang diceritakan juga terbangun dengan kuat, menyentuh. Tambahan elemen apa yang dilakukan industri terhadap para senimannya pun turut memperkaya film ini. Memberikan konflik yang, dikembalikan kepada karakter, dan sekali lagi, disampaikan dengan begitu mempesona. Film ini punya ending yang menurutku adalah salah satu ending paling menyentuh yang beruntung kita saksikan di tahun 2018.

Aku tahu, aku akan menantikan karya-karya berikutnya dari Bradley Cooper sama seperti aku akan duduk manis menunggu peran dramatis berikutnya dari Lady Gaga.

My Favorite Scene:
Reaksi Gaga di adegan dia disuruh nyanyi Shallow itu beneran keren! Yang pasti, gak ada yang ‘dangkal’ di adegan itu.

http://www.youtube.com/watch?v=dNxCz-Iyu0g

 

 

 

 

 

3. LOVE FOR SALE

Director: Andibachtiar Yusuf
Stars: Gading Marten, Della Dartyan, Verdi Solaiman
Certificate: 21+
IMDB Ratings: 7.8/10
“Hidupku yang sendiri sunyi.”

Tidak banyak pembuat film Indonesia yang berani mempertontonkan kenyataan pahit, dan lebih sedikit lagi jumlah yang kreatif mengubah kepahitan menjadi harapan yang manis. Love for Sale adalah film Indonesia pertama yang membuatku percaya perfilman bangsa ini memang bisa maju. Karena ia menarik spektrum baru sehingga memperluas variasi tontonan bagus yang kita punya.

Tokoh yang harus punya pasangan, yang harus bahagia selamanya di akhir, film dengan adegan yang aman dan tak boleh terlalu nyeleneh. Itu semua bukan jualan dari Love for Sale. Instead, kita dapat cerita tentang pria yang jomblo seumur hidup, yang hidupnya begitu sempit, mencicipi sedikit rasa asmara dan kekecewaan, sehingga dia tergerak olehnya. Skenarionya rapih sekali, keputusan-keputusan artistiknya juga sangat memberikan banyak kepada cerita. Film ini begitu unconventional untuk ukuran film lokal, ditambah dengan beraninya memberi kesempatan kepada pemain-pemain yang sama sekali baru ataupun baru kali ini dilepaskan dari perannya yang biasa.

Dengan peliharaan berupa kura-kura, film ini memang seanehnya yang bisa kita harapkan dari film Indonesia. And that’s a good thing.

My Favorite Scene: Adegan kejedot lampu! yang membuktikan bahwa detil dan karakter tidak pernah terlewat oleh film ini.. Yang sudah nonton pasti tahu deh kenapa adegan ini tidak kucantumin video ataupun fotonya hhihi

 

 

 

 

 

2. BURNING

Director: Chang-dong Lee
Stars: Ah-in Yoo, Jong-seo Jun, Steven Yeun
Certificate: Not rated
IMDB Ratings: 7.7/10
“Why do we live, What is the significance of living?”

Beberapa menit pertama, aku enggak suka film ini. Tokoh utamanya begitu sukar melihat kenyataan, dia seperti hanya bergerak berdasarkan feeling – dia bahkan seperti dituntun oleh orang lain. Namun begitu aku mengerti konteks ceritanya, daaannggg, film ini keren bangetttt.

Seperti yang sudah kusebut di reviewnya; film ini dibuat seperti ilusi optik. Untuk membuat kita melihat apa yang sebenarnya tidak ada. Sama seperti tokohnya yang ekspresinya kayak bengong melulu itu. Dan semua elemen cerita demi membangun semua itu diperhatikan dengan amat detil. Semua petunjuk mengenai apa yang sebenarnya terjadi sudah ada di depan mata kita, tapi kita dibuat menolaknya. Kita dipaksa untuk percaya kepada hal-hal yang buruk, seperti sikap si tokoh. Dan film dengan sengaja membuka begitu banyak interpretasi dan kemungkinan, sehingga menontonnya berulang kali tidak akan membosankan. Malahan semakin memperkaya pengalaman kita menonton.

Jika kalian senggang, coba ambil waktu nonton film Korea ini tanpa memperhatikan cerita dan hanya menikmati suguhan visualnya. Nyeni banget!

My Favorite Scene:

Adegan cantik dan penuh makna ini udah kayak adegan David Lynch banget. Menghipnotis!

 

 

 

 

 

Yang jeli akan melihat ada kekontrasan di sini. Antara awal yang menyebut tentang  kemenangan, tapi film-film yang masuk daftar ini malah tentang kegagalan. Pahlawan yang jadi abu, manusia yang membiarkan dirinya diambil alih asalkan dia dapat kenangan indah dengan istrinya, pembunuh yang gagal membuktikan dirinya benar, anak sekolah yang masih tidak populer, perjaka tua yang masih belum punya pasangan, pasangan yang malah berpisah, dan cowok yang malah jadi pembunuh karena terpisah dari pasangannya. Inilah yang aku sukai dari 2018. Meski yang bener-bener bagus jumlahnya  sedikit, namun film di tahun 2018 dengan gagah berani menunjukkan kegagalan. Aku selalu suka film seperti ini; film favoritku sepanjang masa adalah Mulholland Drive yang bercerita tentang cewek yang ingin jadi aktris besar di Hollywood, namun.. you guessed it, dia gagal. Dua film pendekku (Lona Berjanji dan.. aku bocorin pertama kali di sini judulnya Gelap Jelita) juga bercerita tentang kegagalan. Karena menurutku kegagalan terasa lebih real. Sebagai pelajaran, dia lebih menohok. Toh kegagalan tidak melulu berarti depresi, lihat Love for Sale; tokohnya belajar tidak punya pasangan bukan berarti menyedihkan, dia belajar hal lain yang ia butuhkan. Kegagalan bukan berarti kekalahan. Ia bisa saja kemenangan, saat tokoh mengerti apa yang sebenarnya kita cari. Film-film seperti begini tidak memberikan jawaban mudah.

Karena memang di kehidupan nyata, tidak ada yang semudah di dalam film. Kita bisa mencoba namun jangan lantas menyangka semuanya berjalan mulus. Film peringkat pertama di daftar ini benar-benar menunjukkan gimana jika sebenarnya kita tidak bisa lari dari takdir, sekeras apapun kita berusaha, sekelam apapun takdir itu:

1. HEREDITARY

Director: Ari Aster
Stars: Toni Collette, Alex Wolff, Milly Shapiro, Gabriel Byrne
MPAA: R for horror violence, disturbing images, language, drug use and brief graphic nudity
IMDB Ratings: 7.3/10
“[crying] Why did you try to kill me? / I didn’t! I was trying to save you!”

 

Untuk alasan di atas, Hereditary tak-pelak adalah horor paling mengerikan di tahun 2018. A dark way to see this film: ini tetap adalah cerita kemenangan, untuk si Paimon, iblis yang menjadi tokoh jahat.

Tidak gampang menemukan formula yang seimbang antara tontonan mainstream dengan konsumsi festival. Hereditary adalah contoh langka yang berhasil melakukannya. Bermain di lingkungan mitos yang sudah lumrah; ada iblis dan sekte sesat, namun ditangani dengan seni dan idealisme yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Tragedi keluarga tentang ketakutan kehilangan anak diolah menjadi drama berbalut misteri yang dapat direlasikan oleh banyak orang. Ketakutan seperti demikian bisa menyerang siapa saja, bisa terjadi kepada siapa saja. Benar-benar mengeksploitasi ketegangan pada setiap adegannya. Penulisan yang menutup, karakterisasi yang terbangun dengan baik, sinematografi yang menghantarkan kita melihat momen-momen paling menyesakkan, scoring yang bergaung ke hati (aku tak pernah lupa sama suara permen karet itu!), dari segi teknis film ini benar-benar menginspirasi pembuat film amatir yang baru belajar seperti aku. Terlebih karena sutradara film ini juga baru, dan dia berhasil mengukukuhkan namanya dengan gemilang.

My Favorite Scene:
Hereditary punya momen-momen menyeramkan dan momen keren yang sama banyaknya. Dari Charlie motong kepala burung hingga kepalanya sendiri dapay giliran, dari momen Annie dengan Peter hingga ke Annie tak sengaja membakar suaminya, dari Peter mematahkan hidungnya sendiri hingga dia melihat orang-orang tua tak berbaju itu di rumahnya; semua seperti punya makna. Yang paling mengiris dalem buatku adalah reaksi Peter setelah ia membuat celaka adiknya. Dia berbaring di sana, setengah mengharap semuanya cuma mimpi, setengah menunggu teriakan dari ibu yang mengonfirmasi semua kejadian itu bukan mimpi. Begitu real dan begitu menginflict kita semua!

http://www.youtube.com/watch?v=K-wZKtKUoSI

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Aku senang penggalian terhadap cerita film semakin meluas yang berarti semakin banyak pembuat-pembuat film yang ingin bercerita alih-alih memenuhi kuota jualan. Menulis ini di bulan Januari, aku sudah menonton beberapa film tahun 2019, dan aku gembira menyadari tren cerita ‘kemenangan dalam kegagalan’ ini masih berlanjut. Apa kalian tahu film-film apa yang kumaksud?

Bagaimana dengan kalian, apa film 2018 yang menjadi favorit kalian?
Apa ada yang sama? Atau ada berapa banyak yang tidak tersebut?
Yuk ngobrol berbagi di komen.

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are…

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.