I SAW THE TV GLOW Review

 

“Nothing is really real unless it happens on television”

 

 

Sebelum ada internet, anak-anak muda lari dari dunia nyata, ya ke televisi. Yang semakin terasa spesial karena tidak seperti sekarang yang kita bisa setel apapun kapanpun yang kita mau, dulu program-program televisi kebanyakan hanya ditayangkan seminggu sekali. Tanyakan saja, at least, kepada kakak-kakak generasi 90an yang ngerasain betapa serunya duduk manis di depan layar kaca kotak itu setiap hari minggu. Setelah enam hari sumpek oleh tugas-tugas sekolah, akhirnya mereka bisa meleburkan diri ke dalam fantasi – petualangan, horor, atau apapun itu – meski untuk beberapa jam saja. Kesempatan untuk melarikan diri sebentar, tahu selalu akan datang waktunya untuk ‘healing’ merilekskan diri supaya siap lagi menghadapi dunia nyata, membuat TV jadi begitu berharga. Sutradara Jane Schoenburn kayaknya juga anak 90an. Sebab dari film horor-psikologis-surealisnya ini dia nunjukin kepahaman, bahwa TV bagi anak muda adalah tempat pelarian, tapi juga lebih jauh daripada itu. Jane paham, bagi anak-anak muda yang begitu bersemangat nonton acara kesukaan mereka itu, acara TV tersebut bukanlah semata hiburan. Bahwa so many young people terpengaruh oleh apa yang mereka tonton. Mereka mungkin atau tidak mungkin membentuk jati diri dari sana. Dari pemahamannya terhadap hal tersebutlah, Jane membalikkan kasus. Jika selama ini TV dengan acara-acara yang diciptakan untuk entertainment pelepas lelah dikenal sebagai pelarian, maka bagaimana jika justru acara-acara di dalam situlah yang real?

“Aku merasa yang kita tonton ini nyata”, kata Maddy kepada Owen selesai mereka menyaksikan salah satu episode serial kesukaan mereka, The Pink Opaque. Owen tidak langsung menjawab, ketakjuban atas apa yang baru saja ia saksikan masih belum hilang dari sinar matanya. Kita tahu dia diam-diam mengiyakan, karena kita melihat langsung betapa tertariknya Owen terhadap serial horor remaja tersebut (bayangkan kalo Are You Afraid of the Dark dan Buffy the Vampire Slayer digabung, begitu kira-kira Pink Opaque). Padahal anak yang sering sesak napas ini dilarang nonton tayangan itu oleh ayahnya. Pertama, karena acara itu ditayangkan lewat dari jam tidur Owen. Dan kedua, ayahnya bilang itu tontonan cewek. Maka Owen pun, setiap minggu berbohong kepada orangtuanya, supaya dia bisa nginap di rumah Maddy, kakak kelas berjarak dua tahun darinya, untuk menonton bersama-sama. Owen dan Maddy bonded over this show. Dua abg yang sama-sama ‘kurang gaul’, sama-sama bermasalah dengan ayah. Sama-sama merasa gak fit in di dunia mereka. Sampai suatu ketika saat mereka dewasa dan acara tersebut secara misterius dicancel, Maddy muncul dan ngajak Owen kabur. Ke dunia Pink Opaque untuk melanjutkan cerita. Sepertinya mustahil dan tentu saja harus menempuh cara yang mempertaruhkan nyawa. Owen harus memilih, percaya pada Maddy dan ikut pergi ke sana betapapun anehnya, atau tetap tinggal di dunia yang bikin asmanya tambah parah.

Kenapa kita gak ke dunia Dragon Ball aja sih?

 

Dari nostalgia kultur televisi, Jane lantas menjadikan ceritanya sebuah kisah psikologis yang haunting terhadap identitas diri. Jane mengambil fakta bahwa anak muda suka menjadikan apa yang ditonton sebagai identitas – hal yang selama ini sering dikonotasikan negatif oleh kalimat larangan jangan meniru apa yang kita tonton di televisi, ataupun bagaimana tayangan televisi dianggap membawa pengaruh buruk bagi anak, dan membalikkannya. Jane membuat quote kelakar yang menyindir orang yang percaya apapun di tv adalah real (yang kutulis sebagai pembuka di atas), menjadi kehilangan kekuatan sindirannya.

Mungkin tontonan televisi bukan hanya membantu anak menemukan hobi mereka, kesukaan mereka, melainkan juga membuat menemukan identitas. Not in a way, kita abis nonton Dragon Ball lalu merasa diri kita orang Saiya, tapi identitas yang ‘loh, gue kayak dia loh’. ‘Oh, ada juga cowok yang hobi merias’, misalnya. Atau “Tuh, di tv ternyata ada cewek yang jadi pegulat’

 

Serunya, pemikiran Jane tersebut tertranslasikan ke dalam sebuah horor psikologi yang benar-benar surealis. Mainan utamanya adalah ambigu. Bagi Owen, dan kita, gak jelas apakah dunia yang ia tinggali itu real dan The Pink Opaque hanya tontonan, atau memang seperti kata Maddy; Pink Opaque adalah dunia asli mereka dan mereka dibuang ke dunia tempat tinggal mereka oleh Mr. Melancholy, musuh yang dihadapi oleh dua cewek jagoan di serial tersebut – dan bahwa sebenarnya Owen dan Maddy adalah Isabel dan Tara di dalam serial. Cara Jane membuat semuanya ambigu itulah yang menjadi kekuatan utama film ini. Penceritaannya dilakukan betul-betul lewat bahasa visual, dan karena muatannya mental dan kejiwaan yang personal, maka penceritaan itupun terasa sangat mencekam. Baik itu dunia tempat tinggal Owen, maupun klip dari serial Pink Opaque yang ditonton, hingga ke nanti imaji-imaji yang sepertinya terbentuk dari bagaimana Owen memandang ataupun mengingat hal, semuanya terhampar sama-sama kayak sebuah imajinasi. Semuanya kayak dream-like, hanya saja dream nya nightmare.

TV glow atau TV bersinar merupakan kalimat simbol bahwa ada kalanya anak muda menemukan tayangan yang sangat relate di televisi sehingga mereka jadi tertarik kepada tayangan tersebut; mereka akan duduk mantengin dengan wajah bercahaya terkena cahaya televisi. Oleh film, pengadeganan Owen nonton itu dibuat literal tapi kesannya sangat eerie, berkat penggunaan pendar neon ungu. Dan bukan hanya adegan nonton tv saja, banyak adegan yang memperlihatkan Owen terpana oleh cahaya yang dibuat seperti neon – entah itu dari percikan kabel listrik ataupun biasan lampu akuarium. Owen dan Maddy sebagai sentral akan lebih banyak ‘bicara’ lewat tatapan mereka menatap cahaya-cahaya seperti itu. Film ini bukannya minim dialog, cuma dialog-dialog itu ditempatkan dengan sangat efektif. Film tetap berpegang pada vibe surealis. Dialog akan terputus oleh pause panjang di antara dua karakter. Kalopun ada eksposisi, hal itu dilakukan lewat delivery akting monolog yang creepy. Justice Smith sebagai Owen dewasa, Ian Foreman sebagai Owen muda, Brigette Lundy-Paine both sebagai Maddy dewasa dan muda, mereka paham tugas masing-masing, paham karakter dan derita personal mereka, sehingga jeda-jeda, ataupun tatapan-tatapan mereka semuanya bicara. Semuanya terasa seram. Potongan klip tayangan Pink Opaque semuanya kayak klip short horror 90an yang disturbing lewat praktikal, low-budget like, efek. Satu lagi yang aku suka, adegan-adegan musikal dengan lirik aneh dan pembawaan yang menyeramkan!

Entah itu Owen beneran Isabel, atau Owen ‘hanya’ merasa relate dan membayangkan dirinya Isabel, yang jelas ini adalah cerita tentang Owen yang gak bisa mengekspresikan dirinya dengan nyaman. Tuntutan dari ayah, dan sosial, membuatnya sesak (asmanya melambangkan sesak ini). Yang membuatnya bahkan berpikir dua kali untuk ngikutin Maddy. Like, ditanya Maddy apakah dia suka cewek atau cowok aja, Owen gak bisa terbuka dan malah bilang dia sukanya sama serial televisi. Kalo ini Inside Out 2, maka kita akan melihat Fear dan Anxiety kompakan berdua saja memegang kendali di dalam benak Owen. Makanya, meskipun memang di sini karakternya queer, tapi I Saw the TV Glow tetaplah sebuah cerita yang mampu relate buat banyak orang. Karena – selain hampir setiap orang punya nostalgia terhadap tontonan di masa muda – hampir setiap orang juga menjadi dewasa dengan perasaan fear dan anxiety. Merasa gak fit in dengan sekitar. Merasakan ter-repress dalam satu atau berbagai bentuk yang lain. Akan ada tuntutan orang yang dengan berat harus dipenuhi, meskipun tidak sesuai dengan diri sendiri. Film ini menggambarkan betapa seramnya ketika kita harus memilih antara menjadi diri sendiri atau ikut apa kata orang, sebab kita gak tahu mana yang benar.

Fred Durst masuk-masuk aja kok main di film horor artsy hahaha

 

Ambigu film ini bertahan sampai ending. I Saw the TV Glow uniknya, merupakan film yang endingnya bisa terasa sebagai happy ending atau depressed ending, tergantung dari masing-masing kita penontonnya. Film ini bisa tampak seperti harapan masih ada waktu untuk Owen menjadi dirinya sendiri – bahwa dia minta maaf di akhir itu adalah dia telah sadar. Atau bisa terlihat sebagai akhir miris dari orang yang masih takut dan sesak hingga penghujung hayatnya. Buatku, aku merasa film ini berakhir sedih. Aku lebih suka memandang cerita ini dari skenario bahwa Maddy benar. Bahwa Pink Opaque adalah dunia mereka yang asli. Bahwa simbolik maupun literal, Owen sebenarnya Isabel. Aku sebenarnya gak setuju istilahnya karena berlawanan dengan teori biologis, tapi aku mengerti bahwa film pengen bilang Owen adalah perempuan yang terperangkap dalam tubuh laki-laki – makanya dia sering flashback mengenakan pakaian perempuan. Dan dia punya satu kesempatan untuk kembali jadi Isabel, tapi karena begitu lama di society yang menuntut dia bertindak seperti pria ‘normal’ dan gak tahu mana yang benar, dia takut. False resolution ketika kita melihat Owen dewasa bilang dia udah move on; sekarang punya tv layar datar, berkeluarga, dan ngerasa Pink Opaque yang kini bisa maraton ditontonnya di platform streaming sudah cheesy dan gak sekeren yang dia ingat, buatku hanya alasan yang dibuat-buat karena kita tidak benar-benar melihat keluarganya. Serial yang ditontonnya pun beda, karena tidak ada Isabel – yang berarti dia deny himself (atau mungkin tepatnya, herself). Dan itulah sebabnya kenapa ada adegan ‘tv di dalam dada’. Journey Owen ditutup dengan dirinya menyadari dan mengakui siapa dirinya, but once again, dia tidak berani membawa dirinya itu ke permukaan.

 

 




Tragis. Tapi siapa yang mau disalahkan? Televisi, yang mempengaruhi anak muda sehingga berpikir yang tidak-tidak terhadap dirinya? Atau televisi-lah yang justru menyadarkan mereka dan membuka wawasan. Tapinya lagi juga sebaliknya, toh televisi juga yang mempropagandakan standar-standar sosial yang diterima masyarakat sebagai kebenaran atau kenormalan. Yang jelas film ini merupakan paket lengkap studi terhadap kultur televisi, sekaligus juga psikologis coming-of-age (dan self) yang haunting. Keren sekali gimana film ini sebenarnya juga have fun dengan nostalgia terhadap era televisi (terbukti dari treatment visual, hingga cameo-cameo artis TV 90an) tapi tetap tidak lepas dari arahan personal dan surealisnya sebagai bahasan horor eksistensial yang konsepnya bermain-main dengan ambiguitas. Subjeknya boleh saja queer, tapi sejatinya permasalahannya mampu untuk terasa relate bagi banyak orang. Karena yang namanya represi kayaknya bisa terjadi di luar gender. Aku setuju sama salah satu kutipan media yang dipajang di poster film ini. “A One-of-a-kind Masterpiece.”
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for I SAW THE TV GLOW

 

 




That’s all we have for now.

Ngomongin tayangan televisi, acara tv apa sih yang buat kalian paling ‘glow’ waktu growing up dulu?

Silakan share di komen yaa

Yang pengen punya kaos film lebaran Siksa Kubur versi My Dirt Sheet bisa pesen di sini yaa (ada 2 model, loh!) https://www.ciptaloka.com/+mydirtsheet/

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



SIKSA KUBUR Review

 

“There is no truth, only who you choose to believe”

 

 

Horor-horor modern Joko Anwar, kuamati, cenderung tersiksa oleh narrative yang melemah. Karakter dengan development mengambang, bahasan atau gagasan yang mengawang, dan lantas mengirim kita pulang dengan ‘easter eggs’ instead. Aku sampe pernah membuat thread di Twitter soal protagonis di film-filmnya tersebut basically gak ngapa-ngapain, kurang ‘dihajar’, karena narrative yang tidak mencapai banyak selain keseruan wahana horor. My honest opinion; Joko Anwar desperately need to step up his writing. Sukur Alhamdulillah, usaha untuk peningkatan penulisan tersebut bisa kita rasakan pada horor terbarunya yang diset sebagai tontonan lebaran tahun ini. Siksa Kubur yang tadinya kupercaya sebagai pengembangan dari film-pendek yang dibuat Jokan tahun 2012 (dulu hits banget di Kaskus) ternyata berusaha menyajikan lebih. Bahasan mencoba lebih terarah kepada tema yang lebih jelas, yakni soal kepercayaan. Arahan yang pede menggiring bahasan agama tersebut sehingga tidak terkesan seperti horor-horor lain yang belakangan banyak beredar yang menjual ‘gimmick agama’ semata. Dan terutama sudut pandang protagonis utama yang kali ini benar-benar ditempa.

Kayaknya kita semua pernah, deh, punya hal yang kita percaya saat masih kecil, namun saat dewasa kita sadar yang kita percaya itu ternyata bohongan. (Like, aku dulu nyangka Kane dan Undertaker itu beneran kakak-adik, sampe bela-belain mendebat dan berantem ama teman). Nah, Siksa Kubur seperti berangkat dari soal kepercayaan tersebut, tapi tentunya dengan bahasan yang lebih serius, dan puteran yang lebih mencengangkan. Karena yang dipercaya Sita sedari kecil sejak dua orangtuanya jadi korban bom bunuh diri adalah bahwa agama justru membuat orang menjadi jahat. Bahwa agama cuma ‘alat’ atau alasan orang. Sepeninggal kedua orangtua, Sita dan abangnya, Adil, dibesarkan oleh pesantren. Di lingkungan religius itu pun, kepercayaan Sita bahwa agama cuma kedok menjadi semakin kuat. Sita tidak lagi percaya ajaran agama. Dia tidak mau, sebab pemimpin yang jadi donatur pesantrennya justru juga seorang pendosa yang melukai anak-anak, termasuk abangnya. Sita tumbuh besar dengan tekad untuk membuktikan kepercayaannya. Hal nyata yang bisa ia lakukan adalah dengan ikut masuk ke dalam kuburan, Sita ingin merekam bukti bahwa siksa kubur itu tidak ada. Jadi, di panti jompo itulah Sita dewasa menunggu. Menunggu pak tua yang menurutnya paling keji sedunia untuk mati supaya dia bisa segera melaksanakan pembuktiannya.

review siksa kubur
Siksa kubur Pak Wahyu? I was there.

 

Sita might be the most interesting Joko Anwar’s character so far. She’s so conflicted. She doesn’t even belief what she believed. Like, kita percaya pada agama, kita beriman, tanpa merasa perlu untuk bisa melihat wujud tuhan ataupun mukjizat religius yang lain. Kita seperti yang juga berulang kali disebut dalam dialog film ini; percaya berarti meyakini – tidak perlu melihat dengan mata, melainkan ‘melihat’ dengan hati. Dengan ini, berarti beriman adalah percaya tanpa perlu menuntut pembuktian kalo kita yang percaya itu adalah benar. Kita beriman kepadaNya justru karena kita percaya Dia-lah kebenaran in the first place. Sedangkan Sita, tragedi yang menimpanya membuat perempuan itu tidak percaya akan agama. Keluarganya justru terbunuh, menderita, oleh orang-orang yang percaya pada agama. Orang yang teriming-iming imbalan dari agama, orang yang takut terhadap ancaman/peringatan pada agama. Orang jadi leluasa jahat karena berlindung di balik agama; itu yang Sita percaya. Menurut Sita, moral justru terpisah dari agama. Bahwa dia, dan harusnya juga manusia lain, bisa berbuat baik sekalipun tanpa imbalan atau petunjuk agama. Namun iman Sita terhadap kepercayaannya ini masih lemah, karena berbeda dengan orang beragama yang tidak perlu membuktikan apa-apa terhadap kebenaran yang dianut. Sita justru ngotot untuk membuktikan kepercayaannya tersebut benar. Dia ingin masuk ke kubur, ingin menangkap bukti – yang juga sama conflictednya. Karena pertama, Sita ingin membuktikan siksa kubur – dan agama – itu tidak ada (sehingga perbuatan teroris bom bunuh diri yang menewaskan orang tuanya itu benar adalah kriminal bodoh yang tertipu suara rekaman siksa kubur palsu), tapi sebaliknya terlihat juga secercah harapan Sita untuk adanya siksa kubur karena ada dialog dia seperti frustasi menyebut jangan sampai orang sejahat Pak Wahyu saja terbukti tidak disiksa di dalam sana,

What if everything you believed turned out to be false? what if agama yang kita percaya cuma dongeng belaka? Gimana pula jika kita telah mati-matian percaya agama itu dongeng, tapi ternyata kepercayaan itu-lah yang salah? Enggak akan ada habisnya keraguan, dan di situlah masalah Sita. Dia gagal menyadari bahwa sebuah kepercayaan tidak membutuhkan pembuktian kebenaran. Yang harus dipelajari Sita dalam cerita ini adalah bagaimana membuat dirinya percaya pada apa yang ia pilih untuk percaya. 

 

Basically, yang dieksplorasi sebagai horor dalam film ini adalah state of mind dari Sita. Cara film melakukan itu pun sangat menarik. Sita seperti tegas tidak percaya pada hal gaib, baik itu tuhan maupun setan, tapi kemudian film mengontraskan itu dengan memperlihatkan bahwa pikiran Sita merupakan relung-relung kenangan dan harapan yang menyeleweng dari fakta. Kenangannya terhadap momen terakhir bersama orangtuanya, misalnya, kita saksikan sendiri kenangan Sita itu slightly berbeda dengan peristiwa ‘asli’ kejadiannya. Ketidakstabilan state Sita yang membuatnya menjadi unreliable sekaligus vulnerable, menambah banyak pada elemen horor psikologis film ini. Untuk memperkuat kesan surealis (film membidik ke vibe yang terasa calm, kalo gak dibilang slow, sebagai kontras dari kecamuk kepercayaan yang dirasakan Sita), film menerjunkan kita ke dalam cerita lewat kamera yang bergerak di tengah-tengah dunia. Teknik yang menghasilkan kesan immersive sekali, juga tentunya ampuh saat sekali-kali film berniat mengagetkan kita lewat jumpscare. Struktur cerita pun didesain demikian horor. Meskipun jika kita menghitung durasi, naskah film ini clocked out right on time – point of no return-nya tepat di tengah durasi saat Sita masuk kubur, misalnya – tapi alur yang dibuat linear itu sengaja dipatah-patah oleh, misalnya, skip waktu antara Sita kecil ke Sita dewasa, atau antara mana yang realita dan mana yang surealis (yang sampai review-telat ini ditulis pun batas realita film ini masih seru, santer diperdebatkan di linimasa).

Kesan immersive dalam dunia surealis tersebut salah satunya terjaga lewat penampilan akting yang benar-benar terasa berkesinambungan. Lihat saja bagaimana Reza Rahadian sebagai Adil dewasa ‘meneruskan’ nada maupun gestur weak dan awkward dari Muzakki Ramdhan (weak awkward yang diniatkan karena karakter Adil yang abang dari Sita ini punya wound personal sendiri). Karakter-karakter orang tua di panti jompo, ataupun guru-guru di pesantren, semuanya aktornya paham untuk menampilkan kesan ganjil tersendiri.  Salah satu kritikanku buat horor modern Joko Anwar adalah protagonisnya kurang ‘disiksa’; di film ini, aku tidak lagi jadi kaset rusak karena Sita benar-benar dipush out of her limit. Baik itu Widuri Puteri maupun Faradina Mufti, dapat ‘jatah’ masing-masing untuk mengeksplorasi ketakutan psikis yang didera Sita dalam tahap usia masing-masing.  Mana film tepat banget mengclose up  Sita saat teriak-teriak tobat. Sita terutama akan terasa perkembangannya saat di pertengahan awal dia seperti lancar memegang kendali, tapi di pertengahan akhir semuanya tampak menganeh dan spin out of her control.

Konsep neraka-personal film ini versi lebih calm dari episode terjebak di lubang ketakutan di ‘Fear No Mort’ Rick and Morty

 

Untuk menjelaskan kelogisan dari hal-hal aneh dan di luar kendali Sita setelah dia mencoba masuk ke liang lahat dan merekam jenazah Pak Wahyu, film tampak menggunakan konsep yang serupa dengan yang ada pada film Jacob’s Ladder (1990) atau Stay (2005)-nya Ryan Gosling. Bahwa semua itu terjadi di dalam kepala karakter yang sedang sakaratul maut. Jadi Sita debat dengan Adil, Sita melihat salah satu kematian orang tua di panti, kasus selingkuh di panti yang berujung pembunuhan, semuanya hanya terjadi di dalam kepala Sita yang sedang dikubur hidup-hidup bernapas bermodalkan pipa. Bukinya beberapa dialog film ini menyebut soal kekurangan oksigen dapat mengakibatkan halusinasi. Dan inilah yang membedakan penerapan konsepnya dengan Jacob’s Ladder ataupun Stay. Karena di dua film tersebut jelas kapan momen kritis dan nasib sang protagonis. Sedangkan film Siksa Kubur yang mengelak dari potensi dikecam me-reka sesuatu yang tidak seharusnya dibayangkan oleh manusia beragama, membuat sampai akhir semuanya tetap ambigu. Kendati Sita ‘dilock’ mati oleh naskah pun, film tetap mengaburkan kapan exactly matinya Sita. Adegan siksa kubur yang ujug-ujug over the top itu (mendadak jadi lebih seperti vibe chaos Evil Dead ketimbang tone atmosferic dan slow yang di awal konsisten dibangun film – sampe jadi kayak video karaoke lagu reliji segala!) bisa ‘berlindungi di balik alasan toh gambaran itu masih ambigu nyata atau tidaknya, benar atau salahnya, karena perspektif realita Sita yang dikaburkan.

Dari perbedaan keadaan untuk menerapkan konsep dan perspektif yang harus dikaburkan itulah muncul sedikit masalah pada arahan/penceritaan film ini. Karena di dalam ‘vision-kubur’ Sita (kita sebut saja begitu) juga terdapat perspektif Adil. Jadi semuanya nyampur dan film seperti kehilangan pegangan sehingga bergerak keluar dari perspektif dan jadi lebih seperti untuk bermain dengan penonton directly saja. Film seperti memuat development Adil ke dalam perspektif Sita, meskipun mustahil bagi Sita mengetahui apa yang terjadi kepada abangnya. Kayak soal ular yang mendekati Adil di atas makam aja, film went off memperlihatkan ular tersebut merayap melewati Adil (untuk petunjuk bagi penonton) dan kemudian Adil muncul dengan mata bengkak. There’s no way Sita tahu di atas sana Adil sedang didekati ular, sehingga mustahil juga untuk dia bisa menghalusinasikan Adil menyelamatkannya dengan kondisi seperti habis diserang ular. Jikapun adegan tersebut ternyata nyata, maka itu berlawanan dengan ‘rule film’ soal Man Rabbuka yang didengar Sita setelah escape tersebut (bahwa adegan escape tersebut supposedly terjadi saat Sita meninggal). Sebenarnya yang rugi di sini adalah Adil, karena film udah extra menginclude dirinya, tapi kemudian jadi kabur begitu saja karena film harus stay pada ambigunya perspektif Sita. Yang turut terasa extra sebenarnya banyak, seperti Ismail, seteru kecil Sita dengan keluarga Pak Wahyu, hingga panti jompo itu sendiri. Kepentingannya sebenarnya bisa kita pahami, mereka jadi elemen dalam development Sita (menunjukkan Sita soal tadinya dia pegang kendali, menunjukkan apa yang harus dia pelajari/lakukan, dsb), tapi yang mengganjal adalah kenapa film tidak tetap di pesantren. Semua aspek extra tersebut tampak masih bisa dilakukan, goal film terhadap development karakternya masih bisa tercapai, tanpa Sita (dan Adil) melompat sejauh itu.

 

 




Mungkin film tidak mau terpaku pada konteks satu agama tertentu? Mungkin juga, karena salah satu yang menarik dari film ini adalah memang identitas karakternya adalah Islam tapi dialog-dialog bahasan soal kepercayaan yang relate dan tidak mengunci pada satu ajaran saja. Mungkin seperti Sita, film ini ingin ‘menjauh’ dari agama. Namun pilihan film tersebut tidak serta merta bisa kita judge sebagai hal yang salah. Karena pilihan tersebut dijustifikasi oleh bahasan psikologis yang cukup eksplorasi. Dialog yang baik adalah dialog yang seperti pembicaranya terlibat pertikaian serang dan defense, dan di film ini Sita terus didera perdebatan soal kepercayaannya. Ini membuat kita juga ikut masuk dan peduli. Untuk setelahnya arahan horor yang sedari tadi merayap, mengambil alih dan menghantarkan kita sampai ke finale yang ambigu. Bentukan dan karakter yang hebat untuk sebuah horor psikologis yang surealis. Usaha yang patut diapresiasi, karena kali ini film Joko Anwar tidak semata nyerocos soal easter eggs dan reference, tapi benar-benar ada usaha untuk ngasih something deeper untuk dibicarakan. Aku terutama tertarik dengan karakter utamanya, si Sita yang menyita perhatian.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for SIKSA KUBUR.

 




That’s all we have for now.

Apa kalian punya hal yang dulu kalian percaya tapi sekarang terbukti bahwa hal itu palsu?

Silakan share cerita dan pendapat di komen yaa

Yang pengen punya kaos Siksa Kubur versi My Dirt Sheet bisa pesen di sini yaa (ada 2 model, loh!) https://www.ciptaloka.com/+mydirtsheet/

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



TIGER STRIPES Review

 

“Tigers don’t change their stripes”

 

 

“Aku jugak mau rotiii!” sekali waktu kecil dulu itu aku nimbrung dengan antusias pas mendengar dua tanteku bisik-bisik bilang nitip mau beli roti. Tapi jawaban mereka aneh. Mereka cuma berpandangan, lalu bilang itu roti untuk orang dewasa. Baru bertahun-tahun kemudianlah aku ngerti roti apa yang sebenarnya dimaksud. Pernah juga waktu SMP, ada teman sekelasku yang perempuan menangis lalu berlari pulang karena diledekin anak-anak yang lain, “Bendera jepang, bendera jepang!” Begitulah entah kenapa di lingkungan kita perihal menstruasi perempuan dianggap sebagai hal yang entah itu seperti Voldemort – tidak boleh disebutkan – atau juga hal yang seperti memalukan. Aku juga tidak banyak bertanya, karena ya itu tadi, urusan orang dewasa dan bukan urusanku yang laki-laki. Ternyata di negeri tetangga juga sama. Mungkin karena lingkungan kita juga masih serupa. Film Tiger Stripes karya Amanda Nell Eu menggali bahwa ketabuan soal hal sepenting itu, ternyata justru berdampak enggak sehat bagi anak perempuan. Karena jangankan anak laki-laki, anak perempuan juga gak tau apa yang terjadi pada diri mereka, dan mereka hanya tahu itu kotor. Tambahkan pula kisah tentang jati diri ke dalamnya, jadilah kisah anak usia 11 tahun ini jadi seperti Turning Red (2022) versi horor!

Di sekolah anak perempuan itu, Zaffan memang cukup dikenal sebagai anak yang badung. Mengunci toilet supaya enggak ada masuk sehingga dia bersama dua temannya bisa puas berseloroh merekam video joget-joget, ataupun bikin corat coret doodle seronok di buku tulisnya, adalah keseharian yang kita lihat Zaffan lakukan. Jilbab seragamnya tidak mampu membuat Zaffan stop mengekspresikan diri, dan seringkali Zaffan kena hukuman karenanya. Baik itu di sekolah maupun di rumah. Dalam level sepermainannya pun, gak sedikit teman Zaffan yang tidak menyukai sikap Zaffan yang ‘liar’. Terlebih ketika anak itu (sepertinya) jadi yang pertama kedatangan bulan di antara mereka. Dengan teman-teman yang menjauhi, dengan lingkungan yang tidak pernah membahas itu melainkan hanya menyebut larangan-larangan yang harus ia patuhi, Zaffan jadi tidak tahu harus mengadu ke mana. Dan mulailah horor itu. Zaffan melihat ada orang di atas pohon. Zaffan merasa tubuhnya berubah. Keluarga dan orang sekitarnya menyaksikan sendiri gimana anak itu berubah menjadi siluman harimau.

review tiger stripes
Aing maung!!!

 

Alih-alih panda merah yang cute, Zaffan berubah menjadi manusia setengah harimau dengan mata menyala ungu, dan dia gak segan untuk menyantap hewan-hewan kecil. Proses transformasinya juga gak ada komikalnya sama sekali. Zaffan mendapati tubuhnya memar-memar, rambutnya rontok, kukunya copot-copot. Ada bulu kasar yang tumbuh, dia cabut, aduh sakit sekali! Transformasi itu digambarkan oleh film lewat image-image dan tone ala body horor. Like, bener-bener disturbing. Cara film ini memvisualkan itu enggak kayak ketika horor anak-anak seperti Goosebumps yang jatohnya lebih ke over the top dan cheesy. Kengerian Zaffan akan tubuhnya itu terasa kuat, dan ini tuh sebenarnya adalah pilihan film, buat menekankan gagasannya. Apa itu gagasannya? Well, transformasi Zaffan ini dipicu oleh satu hal.  Malam itu Zaffan terbangun dan mendapati kasurnya ada noda darah. Kita tidak melihat dia yang bingung dan takut itu dikasih penjelasan apapun. Ibunya yang datang menolong hanya bilang “Kau kotor sekarang.” Jadi kebayang dong seperti apa yang Zaffan rasakan. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya, yang ia dengar tentang itu cuma rumor mengerikan, dan betapa itu adalah penanda bahwa dia jorok – anak perempuan gak boleh ibadah selama dapet – membuat dia percaya bahwa dirinya, tubuhnya, berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.

Perlakuan mentabukan menstruasi, seolah hal itu lebih kotor daripada seharusnya dijadikan pemantik horor di film ini. Menstruasi adalah fase natural yang dialami perempuan. Memang, pengetahuan dari ajaran agama menerangkan soal orang yang dapet itu berarti dalam keadaan tidak suci. Tapi somehow pada masyarakat, ‘tidak suci’ itu berkembang menjadi selayaknya hal yang benar-benar menjijikkan. Kita mendengar teman dekat Zaffan – yang memang sedari awal punya bibit-bibit jealousy kepadanya – openly mengungkapkan rasa disgust dekat-dekat sama Zaffan yang lagi dapet. Bau-lah. Jijik-lah. Sikap teman-teman sepantarannya itu menunjukkan bahwa bukan hanya Zaffan, melainkan tidak satupun dari anak perempuan di sana yang benar-benar mengerti fase yang bakal mereka lewati. Padahal mereka ini tumbuh dan dididik di lingkungan agamis, dan strive untuk pendidikan yang maju. Jadi film sebenarnya sedang menggugat lingkungan tempat Zaffan tinggal. Lingkungan, yang malangnya, relate dengan lingkungan kita. Dan kemudian memang pada lingkungannya itulah Tiger Stripes memusatkan penggalian.

Suasana kampung melayu dihidupkan, dan dijadikan kontras dengan pribadi Zaffan. Inilah mengapa tadi diset bahwa Zaffan tampak lebih badung dibandingkan teman-temannya. Perspektif Zaffan, teman-teman Zaffan, guru dan orang tua, dan tak ketinggalan relasi kuasa umur dan gender mulai dicuatkan oleh film. Sehingga terjadi juga pergeseran tone dan elemen horornya. Seiring Zaffan semakin dijauhi, seiring dia mulai menerima dan mengembrace yang terjadi kepadanya (ada sedikit juga mengingatkan kepada protagonis di The Animal Kingdom yang perlahan menjadi serigala) tentu dia jadi tidak takut lagi kepada dirinya. Yang semakin takut justru adalah orang-orang di sekitarnya. Horor Tiger Stripes memudar menjadi penyadaran gelap dan dramatis buat kita, saat kita menyaksikan Zaffan menjadi ‘monster’ di mata lingkungannya. Mata-mata itu memandangnya takut, sementara kita dibuat melihat siapa sebenarnya Zaffan, si ranking tiga dan kadet terbaik di sekolah. Tapi bagi orang kampungnya, Zaffan adalah siluman harimau liar, berbahaya dan penuh dosa, anak perempuan berikutnya yang bakal hilang dari desa mereka. Adegan paling heartbreaking film ini adalah ketika Zaffan dirukiyah – disaksikan satu desa – oleh Ustadz yang memperlakukan exorcism ini sebagai entertainment show yang dia siarkan live lewat hape. Semacam perbandingan paralel ngerecord joget-joget; hobi Zaffan. Film juga menurutku bijak sekali membiarkan si Ustadz itu ambigu, apakah dia beneran bisa ngusir atau cuma ‘tukang-obat’, kita dibuat tak pernah persis tahu.

Sama seperti kiasan ‘keliatan belangnya’. Konotasi tersebut memang terasa negatif, karena bermakna seseorang terbongkar kelakuan aslinya. Tapinya lagi, emangnya kenapa dengan kelakuan aslinya tersebut. Memangnya kenapa jika seseorang akhirnya berani jujur dan memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Kan tidak mesti semua belang itu pasti buruk dan merugikan orang lain. Yang kita lihat pada Zaffan juga demikian, kita mungkin setuju tidak semua perbuatannya pantas, tapi anak sekecil – apalagi sepotensial itu; dalam urusan otak dan kreasi – harusnya dibimbing. Tapi bahkan soal alamiah dan paling personal dari dirinya sebagai perempuan pun, tidak bisa sepenuhnya dia dapatkan.

“Ooooh crazy, but it feels so right”

 

Berbeda dengan Turning Red yang langsung melandaskan dunianya fantasi, bahwa perubahan Meilin menjadi panda merah itu bukan fenomena ganjil melainkan kekuatan turun temurun yang dirahasiakan darinya; bahwa berubah menjadi panda merah masuk ke dalam kotak ‘possible’ di dalam dunia cerita, Tiger Stripes membiarkan dunianya terbangun surealis. Dibilang normal, jelas enggak. Dibilang beneran gaib, ya kok sepertinya kejadiannya kayak berbeda dan sering tiba-tiba Zaffan dan semuanya seperti normal lagi. Arahan membawa ke ranah surealis, karena dengan begitu, perspektif yang banyak tadi mungkin untuk dilakukan. Supaya shift dari body horor yang lekat pada persoalan Zaffan memandang dirinya ke drama makhluk siluman yang mengenaskan ketika film lebih banyak menampilkan bagaimana Zaffan terlihat oleh mata penduduk, bisa terbungkus tanpa benar-benar mengubah perspektif karakter utama.  Sehingga pengalaman nonton film ini bagi kita terasa seperti sebuah mimpi yang begitu liar. Enggak semua orang bakal suka, tho. Elemen horor film ini berpotensi dianggap ngawang-ngawang, kejadiannya bisa tampak seperti tak konsisten dan gak jelas; film ini sendirinya bisa jadi kayak ‘belang-belang’, dan mudah bagi penonton untuk kehilangan poin. Membuat mereka mengharapkan penjelasan yang tentu saja tak akan pernah ada. Karena yang diincar film adalah mempertanyakan, menggugat, keadaan.

Tapi tentu saja itu merupakan resiko-kreatif yang diambil oleh film. Buatku, itu membuat film ini terasa lumayan fresh. Seperti ngasih variasi ke dalam bentuk-bentuk cerita coming of age horor atau fantasi yang sudah ada sebelumnya. Perspektif dan lingkungannya juga membuat film ini unik. Meskipun film ini seperti punya lebih banyak, tapi yang disuguhkan baru beberapa. Kayak sekolahnya Zaffan. Dari dialog-dialog dan keadaan, film ini seperti menyentil soal sosial unik negara mereka berkaitan dengan stereotipe kelas penduduk/etnis, tapi kita tidak benar-benar melihatnya. Zaffan disebut ranking tiga, dengan juara satu dan duanya kita dengar dari nama-namanya adalah murid dari etnis Cina dan etnis India (yang membuat Zaffan practically etnis Melayu terpintar di sekolah), namun di lingkungan sekolah itu seperti ekslusif menampilkan etnis Zaffan. Mungkin ada konteks sosial lain bahwa mereka tidak benar-benar satu pergaulan, tapi menurutku since film ingin menggugat lingkungan sosial yang lebih tertutup, akan bisa jadi warna atau sudut pandang tambahan gimana teman sekolah Zaffan yang lain memandang dirinya setelah jadi siluman. At least, narasi kurasa  tidak akan dirugikan oleh pembanding tambahan.

 




Kalo Farah iri sama Zaffan, aku iri sama Malaysia karena berani membuat film ini. Karena ini tuh bener tipe film yang ingin kita perlihatkan kepada orang luar. Kita ingin lihatkan gimana di daerah kita punya perspektif dan lingkungan tersendiri sehingga cerita coming-of-age yang formatnya familiar pun bisa jadi unik. Untuk kasus film ini jadi literal misteri dan horor mengerikan. Dengan strong narrative dan arahan yang bertaring, film ini menerobos belukar conventional, dia ingin menggugat lingkungan tempatnya tumbuh. Lingkungan yang bikin ‘susah’ bagi anak perempuan untuk tumbuh menjadi diri sendiri, karena soal ‘dapet’ aja mereka tahunya cuma itu kotor. Dan bicara soal karakter anaknya, film ini punya penampilan akting yang bukan sekadar template akting kesurupan, mereka terasa natural seperti anak-anak umumnya tapi karena tuntutan arahan untuk menghasilkan kesan surealis, playfulness dan keingintahuan mereka yang raw, dapat dengan cepat mereka kondisikan sebagai something yang jadi lebih dark dan dramatis. Bayangkan cerita dengan karakter anak-anak, tapi vibenya udah surealis dan sedisturbing body horror. In other words, selain arahan yang bertaring, film ini juga punya akting yang mengaum.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for TIGER STRIPES.

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian kenapa haid itu berkembang menjadi seolah perkara yang tabu di masyarakat kita dan, apparently juga di Malaysia?

Silakan share di komen yaa

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



BEAU IS AFRAID Review

 

“The mother-child relationship is paradoxical and, in a sense, tragic.”

 

 

Lagu Kasih Ibu kalo dinyanyiin oleh Beau dari film horor terbaru Ari Aster ini, pasti jadi agak laen. Karena memang di film ini, Ari Aster menyorot gimana hubungan ibu dan anak yang mestinya sweet dan menghangatkan bagai sang surya menyinari dunia ternyata bisa jadi seperti perjalanan berlayar yang menakutkan. Di cerita ini, air yang Ari lambangkan sebagai kasih ibu. Air, yang jadi sumber kehidupan, yang jadi ketergantungan bagi Beau, dan yang juga nanti jadi tempat kembalinya. Dan perjalanan Beau mengarungi semua itu, juga bukan sebuah perjalanan yang mudah dan menyenangkan bagi kita yang menonton. Karena memang Pak Sutradara ingin mencemplungkan kita ke dalam perasaan yang dialami oleh karakternya. Malahan, film ini merupakan salah satu film yang paling bikin bingung dari semua film yang pernah kita tonton dan bahas di sini. Beau takut. Dan hal penting yang ingin ditegaskan oleh film ini adalah, bahwa takut itu bukan semata kepada ibunya. Melainkan juga, gara-gara sang ibu.

Dunia aneh si anak mami

 

Yang bikin film ini ekstra njelimet untuk dimengerti adalah treatment Ari Aster terhadap dunia ceritanya. Jika biasanya film-film memisahkan dengan jelas mana porsi realisme dengan sureal/fantasi pada cerita, maka Beau is Afraid enggak takut untuk mengaburkan batas tersebut.  Inner dan outer journey yang dilewati oleh Beau sama-sama perumpamaan. Metafora.  Cerita ditembak dari sudut pandang Beau, tapi masalahnya personal state, pikiran si Beau itu sendiri tidak dipastikan dengan jelas oleh film. Oleh film, justru ketidakpastian state of mind si Beau tersebut yang dijadikan pengalaman horor. Kita tahu film meniatkan demikian dari adegan pembuka yang begitu sureal, kamera diposisikan sebagai mata Beau yang masih bayi, ditarik keluar oleh dokter dari dalam perut ibunya. Tidak ada seorang pun yang ingat gimana pengalaman dilahirkan, tapi di sini Beau tahu. Di adegan tersebut Beau tidak terdengar menangis, dan lalu dia mendengar sedari dia lahir ibunya sudah demanding supaya bayi Beau menangis. Karena begitulah seharusnya bayi bertindak.

Pada adegan berikutnya kita melihat Beau sudah dewasa – like di umur 40an atau sekitarnya – dan dia sedang bersama seorang therapist. Untuk masalah apa dia di sana, dengan cepat disiratkan oleh ponsel yang bergetar. Ibu menelepon. Beau menatap ponsel tersebut. Tidak menjawab. Menahan napas. Kupikir, satu-satunya adegan yang bisa kupastikan ‘nyata’ di sini, adalah adegan di ruangan therapist ini. Saat Beau menyebut dia disuruh pulang oleh Ibu, untuk mengenang hari kematian Ayah. Dan si therapist  yang menanyakan perasaan Beau atas kepulangan ini. Pria yang duduk berseberangan dengannya itu jelas punya mommie issue. Pria dewasa yang merasa tercekat hanya oleh panggilan dari ibunya. Kita tahu Beau sebenarnya lebih memilih untuk tidak kembali. Aku percaya kejadian aneh yang menyebabkan Beau bangun telat dan nanti akhirnya malah jadi tidak bisa ke bandara sebenarnya memang tak terjadi. Aku setuju dengan ibunya yang bilang semua itu hanya akal-akalan Beau yang enggan pulang (tapi Beau gak berani bilang). Makanya film nanti menaikkan stake dan urgensi dengan membuat sang ibu tahu-tahu ditemukan meninggal dunia. Beau jadi harus pulang mengurus pemakaman. Perjalanan Beau pulang nanti akan jadi tontonan yang benar-benar aneh untuk kita saksikan. Terlebih ketika nanti dia akhirnya sampai di rumah. Film benar-benar meleburkan batas mana yang nyata dan yang tidak. Kejadian yang membingungkan, ditambah karakter yang psikologisnya enggak benar-benar jelas, membuat Beau is Afraid jadi disturbing dan hard to watch.

Tapi di situlah tantangannya, kan? Di situlah letak menariknya film ini. Karena ada begitu banyak lapisan dan tragedi yang bisa kita ungkap. Ya, aku menyebut tragedi karena hubungan antara ibu dan anak memang dapat menjadi sebuah paradoks yang tragis, Seorang ibu harus mencintai dan menyayangi anaknya dengan begitu intens dan tanpa sarat, supaya si anak bisa tumbuh dewasa sebagai anak yang mandiri. Tragis, karena gak semua ibu menyadari itu. Beberapa dari mereka jadi seperti ibu Beau. Anaknya sudah segede itu tapi gak pernah benar-benar menjalani kehidupannya sendiri.

 

Efek dari pola pengajaran ibu yang salah dan terlalu over-lah yang menyebabkan Beau melewati ‘petualangan’ absurd mengerikan. Orang-orang aneh yang ada di sekitar apartemen Beau – si bertato yang mengejarnya, pria flamboyan yang menari-menari di jalan, kakek tak berbusana yang menusuki orang dengan pisau – menurutku orang-orang itu tidak nyata. Atau setidaknya tidak benar-benar bertindak seperti itu. Mereka seperti itu di mata Beau karena begitulah Beau memandang dunia tanpa ibunya. Dunia yang aku percaya digebah ibu kepada Beau saat dia bilang mau tinggal sendirian. Tempat yang berbahaya. Kita waktu kecil mungkin ada yang sering ditakuti-takuti oleh ibu supaya gak main keluar sendiri, kayak, dibilangin bahwa ada orang gila di ujung jalan, atau ada penculik anak di mobil jeep (most of my classmates dulu percaya mobil gede seperti itu adalah mobil penculik, karena ibu mereka yang terpengaruh acara tv bilang demikian). Begitulah menurutku yang terjadi pada Beau di awal film. Meski memang gak ada adegan atau dialog yang menyebut ibunya menakuti Beau dengan cerita seperti itu, tapi toh ada bukti bahwa ibu memang melakukan trik semacam itu kepada Beau. Ada sekuen yang menggambarkan Beau merasa takut berhubungan badan karena dari flashback, ada momen ketika ibunya menceritakan kepada Beau bahwa ayah meninggal saat proses ‘membuat’ dirinya. Bahwa kematian seperti itu sudah turun temurun di keluarga Beau yang laki-laki.

Momen-momen yang sepertinya real (setidaknya berakar dari kejadian real) film ini datang sekelebat dari flashback-flashback setiap kali Beau pingsan, entah itu karena kepentok dahan saat berlari atau saat gelang di kakinya meledak. Adegan film ini memang seabsurd itu. Petunjuk-petunjuk kecil dari kilasan adegan itulah yang jadi puzzle untuk kita susun demi mengetahui gimana hubungan Beau dengan ibu yang sepertinya seorang wanita karir mendiri dan punya isu tersendiri dengan pria. Beberapa adegan menunjukkan Beau dianggap melawan tatkala pria itu menunjukkan otonomi atau kehendaknya sendiri. Ada adegan membingungkan saat Beau masih kecil, yang direkam dengan seolah Beau ada dua orang. Beau yang berani, dan Beau yang penurut. Beau yang pemberani – ngotot menanyakan perihal ayah – disuruh ibu ke loteng dan dikurung di atas sana untuk selamanya. Adegan ini menyimbolkan kerasnya ibu terhadap sikap kritis Beau. Atap jadi tempat pengasingan – karena di atas sana jugalah Beau nanti akan bertemu dengan sosok yang ibu bilang adalah ayahnya. Dan sosok tersebut akan benar-benar sinting, sehingga terkesan konyol. Mengerikan, tapi konyol.

Yang mengingatkanku pada satu cerpen Kompas berjudul ‘Menggambar Ayah’ yang dari dulu pengen sekali kujadiin film pendek

 

Efek visual dan artistik yang dilakukan oleh film ini memang punya range yang cukup luas. Kadang sekilas terasa kurang konsisten, tapi itu hanya karena efek tersebut menghasilkan tone yang membuat kita lupa sama feeling yang berusaha disampaikan. It’s bound to happen pada film yang memang punya banyak kejadian absurd seperti film ini. Setelah pengalaman mengerikan semacam home invasion, Beau juga ngalamin sensasi diculik, lalu dia menonton teater yang dia rasa mirip sama hidupnya sendiri (yang tergambar kepada kita lewat visual dengan animasi), dikejar-kejar oleh maniak medan perang (yang bikin film kayak survival thriller), dan tentu saja momen ketemu makhluk di atap tadi, yang udah kayak horor creature.

Sesungguhnya semua kejadian outer tersebut punya maksud sebagai simbol tersendiri. Ari Aster menegaskan pengaruh pengasuhan seperti yang dilakukan oleh ibu kepada Beau ini bukan hanya dari gimana Beau memandang peristiwa, tapi juga dari gimana kejadian-kejadian itu membentuk pengalaman yang mencerminkan tahap pertumbuhan yang mestinya dilalui Beau sedari kecil. Tapi mungkin tidak pernah kejadian, karena Beau waktu kecil sangat penurut sehingga jadi lemah. Dan sekarang, Beau harus mengalami semua urutan pertumbuhan tersebut. Bagian di apartemen tadi, misalnya. Ini state seperti anak kecil yang gak berani keluar sendirian. Setelah akhirnya (terpaksa) berani ninggalin rumahnya, Beau, tinggal di rumah pasangan yang menyelamatkannya, tapi pasangan itu mulai mencurigakan, melarang Beau pergi, dan mereka punya anak remaja yang gave them hard times. Ini basically menggambarkan state saat remaja, Beau harus berani memberontak dari aturan-aturan. Ketika kemudian Beau sampai di perkumpulan teater hutan, ini adalah bagian dia di tahap pertumbuhan dewasa. Beau menonton show yang membuat dia membayangkan punya keluarga. Punya anak-anak yang mirip dengannya. Dan ini jadi plot poin berikutnya bagi Beau, karena di balik dia sadar desirenya sebagai manusia untuk punya pasangan dan settled, dia juga tersadar dia mungkin mirip ayah – or worse, ibunya. Ketakutan Beau telah banyak terhimpun, dan siap meledak saat dia sampai di rumah. Ini fase tua yang harus dialami Beau. Film menggambarkan ini dengan paranoia, karena diungkap ternyata ibu mengendalikan semua hidup Beau. Bahwa semua produk-produk yang dipakai Beau selama ini adalah produk dari bisnis ibunya. Konfrontasi terakhir Beau dengan ibu di pengadilan tengah laut itu jadi puncak pembelajaran Beau, yang merasa dirinya telah berani stand up for himself. But the mental damage has been done, kita pun melihat ending yang circled back ke kejadian yang dilihat Beau di jalanan pada awal cerita. Kapal terbalik milik anak yang berani gak nurut kepada ibunya.

 

 




Masih banyak lagi sebenarnya momen-momen ganjil yang ditampilkan oleh film ini, yang pastinya menarik untuk kita tonton dan kaji ulang. Meskipun memang aku sendiri ragu, aku bakal berani untuk mengulangi lagi perjalanan Beau dalam waktu dekat. Mungkin harus nunggu beberapa minggu dulu hahaha… Karena memang film ini seaneh dan se’hard to watch’ itu. Penampilan aktingnya sih sangat oke, Joaquin Phoenix sebagai Beau tampak paham betul apa yang dilalui karakternya. Aktingnya gak sebatas ekspresi, tapi juga fisik, karena di sini Beau bakal luka-luka yang cukup parah, dan Joaquin komit, dia tahu persis cidera karakternya itu bermakna sesuatu terhadap perjalanan dan state sang karakter itu sendiri. Film ini menargetkan kita untuk merasakan yang dialami oleh karakternya yang bisa dibilang loser dan penakut dan lemah, dan dengan jadi seperti begini, film ini sukses mengenai target itu. Petualangan Beau bukan pengalaman yang menyenangkan untuk ditonton. Sepertinya tidak ada yang nyata, melainkan gambaran gimana si karakter mencerna dan menyadari momok personalnya. Ini adalah perjalanan konyol tapi mengerikan yang seharusnya tidak pernah dialami oleh orang-orang nyata. Karena kita mestinya berani. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BEAU IS AFRAID.

 




That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian anak seperti Beau memang pantas untuk mengantagoniskan ibu mereka? Apakah kalian punya teori atau penjelasan lain tentang film ini?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



BEFORE, NOW & THEN (NANA) Review

 

“When women are oppressed, it’s tradition.”

 

 

Keabadian memang milik Tuhan, tapi toh ada juga beberapa hal di dunia yang begitu mendarah daging, gak lekang, sehingga jadi sesuatu yang bersifat nyaris seperti kekal selamanya. Represi perempuan dalam sosial masyarakat Indonesia, misalnya. Dalam film terbarunya, Before, Now & Then (Nana), sutradara Kamila Andini menggambarkan bagaimana hal tersebut bertumbuh seperti jadi tradisi – bahwa perempuan dulu, kini, hingga nanti harus menyimpan siapa diri mereka, luka-luka hati mereka, di balik tuntutan untuk tampil lemah lembut dan patuh sesuai fitrah sebagai seorang ibu dan istri. Persoalan ini dituturkan oleh Kamila bukan dalam ledakan emosi, melainkan dengan sama ter-restrained-nya. Film ini, seperti perempuan Indonesia, tampil elok dan menghanyutkan, tapi dengan suatu perasaan tragis di baliknya.  Kesan yang ketika ditranslasikan ke dalam bahasa sinema, menjelma menjadi satu lagi hal di dunia yang bakal hidup selamanya; sebuah excellency.

The excellence of execution film ini bukan hanya tertampil lewat visual, melainkan juga dari bagaimana ceritanya terstruktur. Just like any great film should, Before, Now & Then mengerti pentingnya  awal, tengah, dan akhir cerita. Kehidupan protagonisnya, terhampar menyeluruh untuk kita simak. Nana boleh jadi menyembunyikan banyak hal pada dirinya kepada orang lain, tapi bagi kita, Nana seperti air – yang tampak tenang meski kelam – untuk diselami. Semua yang kita lalui di masa lalu akan membentuk siapa kita di masa sekarang, dan siapa kita nanti di masa yang akan datang bergantung dari bagaimana kita menyingkapi masa lalu di masa sekarang, apakah kita belajar darinya atau terus tenggelam bersamanya.  Tahap fundamental seperti demikianlah yang jadi jalur pergerakan film ini; Nana will go through life,  dengan konteks bahwa keadaan di sekitar Nana gak berubah – merupakan sistem mengurung yang sama, sehingga terciptalah konflik personal yang berlayer itu dari sana.

Untuk membuat kita mengerti apa yang bakal bersarang di hati Nana sehari-hari, film membawa kita melihat ke masa ‘before’ Nana. Yakni saat dia dalam pelarian di dalam hutan. Nana yang saat itu menggendong bayi, menerobos hutan bersama saudaranya, Ningsih. Mereka diburu, bukan oleh Belanda, bukan oleh Jepang, melainkan oleh ‘gerombolan’. Gerombolan itu juga yang telah membawa suami Nana, dan yang diyakini Ningsih telah membunuh bapak mereka. Eksposisi ‘before’ yang dilakukan film ini di awal cerita serta merta menjadi opening yang efektif karena bukan saja melandaskan setting serta konflik yang membuat karakter keluar dari zona amannya, tapi juga langsung memperkenalkan kita kepada penceritaan audio visual level tinggi yang dilakukan. Lihat bagaimana film menggambarkan Nana saking rindunya dia sampai gak ingat wajah suaminya. Film menggambarkan ini dengan actually meletakkan sosok suami di kejauhan, like, waaay di belakang layar sosoknya hanya blur saja. Batas realita dengan hal di benak Nana saat itu dikaburkan, sehingga hutan itu jadi sureal, dan dengan konteks mereka lagi diuber-uber (diperkuat oleh musik mengiris di latar), sense ketakutan, sense pengalaman traumatik bisa langsung tersampaikan kepada kita.

Jadi, apakah sebenarnya judul film ini dibacanya: “Selamanya Nana di dalam kurung”?

 

‘Now’ dalam cerita Nana adalah lima-belas tahun kemudian. Nana hidupnya tampak nyaman sebagai istri Kang Lurah. Statusnya terpandang di masyarakat. Anaknya sekarang bukan cuma satu, tapi ada empat orang, dan yang paling dekat dengan Nana adalah gadis cilik bernama Dais. Tapi gak satupun dari Kang Lurah ataupun Dais tahu bahwa perempuan yang melayani dan mengasihi mereka itu masih terus dibayangi oleh kejadian di masa lalunya. Tidak, dengan hanya melihat wajah Nana yang ekspresinya sekilas tampak teduh dan tenang. Briliannya film ini memang terutama datang dari bagaimana Nana dimainkan oleh Happy Salma (kalo dari perannya ini cocoknya namanya Sadie Salma) Happy Salma tampak benar-benar mengerti karakter ini, benar-benar paham tugas yang harus ia lakukan dalam memerankan karakter ini. Dia memainkan Nana dengan sangat contained. Dari ekspresinya, dari bagaimana Nana bergerak, dan bahkan dari bahasa. Bukannya mau membandingkan (karena memang bukan apple to apple), tapi film pertama yang membuatku tertarik lebih jauh dengan sinema; tertarik bagaimana film dibuat, bagaimana cerita dirancang, bagaimana menonton itu dapat menjadi sebuah pengalaman adalah Mulholland Drive-nya David Lynch. Karena semua aspek di film itu ‘diatur’ oleh treatment sutradara, dan itu mindblowing buatku. Aku menemukan bahwa Before, Now & Then juga adalah film seperti itu, jadi aku semakin excited. Semua aspek Nana adalah treatment khusus yang dilakukan untuk menguatkan gambaran keterkurungan jiwa yang dirasakan Nana. Judulnya memang gak bohong, keseluruhan Before, Now & Then adalah Nana. Adalah bagaimana Nana berurusan dengan kehilangan, ketakutan, dan keterbatasan yang bakal terus bersama dia selamanya.

Sesuai dengan latar tempatnya, film ini menggunakan dialog full bahasa Sunda. Aku memang bukan ahlinya, ngerti juga gak banyak (aku sebagian besar menyimak obrolan karakter dari baca subtitle), yang kutahu cuma bahasa Sunda ada tingkatan intensitasnya, dan film menggunakan itu untuk memperkuat gejolak perasaan yang dialami oleh karakter. Sehingga percakapan jadi hidup. Anak-anak terdengar seperti anak-anak, perempuan yang ngobrol dengan suami akan terdengar berbeda dengan saat dia ngobrol di malam hari dengan dirinya sendiri, dan sebagainya. Bahasa lantas diperkuat oleh ekspresi. Di aspek ini film sedikit mengambil resiko. Lantaran Nana yang di separuh awal masih berkubang di perasaan terkukung (even tho it’s not her fault) memang bakal tampak melelahkan bagi penonton yang capek bermuram dan berhening terus. Penawar dari Nana akan hadir di pertengahan dalam wujud karakter Mak Ino yang diperankan oleh Laura Basuki. Totally berkebalikan dari Nana. Blak-blakan, berani, lebih cheerful-lah. Momen-momen ringan juga bakal banyak datang dari Ino, yang bakal menularkan vibe ini ke Nana. Hubungan antara Nana dan Ino jadi salah satu relationship penting dalam cerita, karena dari Ino yang awalnya dia anggap sebagai trigger ketakutannya-lah Nana belajar bagaimana ‘membebaskan’ diri. Well, at least dalam perasaannya sendiri.

Tentu ada alasannya kenapa Laura Basuki yang dicast sebagai Ino. Karakter itu bagi Nana awalnya adalah seperti manifestasi dari kehilangannya dulu. Nana yang masih belum melupakan bayang-bayang suami terkait PKI dan antikomunis, melihat Ino yang bermata sipit dan menjual daging lebih dari seorang suspect mistress dari Kang Lurah. Di iklim yang lagi trend pelakor seperti sekarang memang mudah melihat persoalan mereka sebagai perselingkuhan, tapi sungguh film ini lebih dari itu. Ketakutan Nana bahkan bukan benar-benar soal diselingkuhin. Melainkan lebih kepada kehilangan keluarga lagi, kehilangan anak lagi. See, relationship yang lebih penting di film ini dari Nana dan Ino yang akhirnya jadi temenan begitu Nana sadar betapa ‘kuatnya’ Ino sebagai perempuan cina di masa hidup mereka itu, adalah antara Nana dengan Dais. Yang membawa penyadaran bahwa konflik Nana adalah generational, bahwa masalah itu akan turun temurun. Bahwa perempuan akan selalu ditindas mau itu di jaman Belanda, jaman Jepang, ataupun jaman-jaman lain. Salah satu adegan favoritku adalah setelah Nana menyisiri rambut Kang Lurah yang feelnya so serene, film lantas menarik perbandingan dengan memperlihatkan adegan Nana bersama Dais menyisir rambut. Dais menanyakan kenapa perempuan rambutnya panjang tapi malah disanggul, dan Nana menjawab sanggul adalah simbol rahasia yang disimpan oleh perempuan. Ibu anak itu lantas berbagi rahasia. Lalu sepeninggal Dais, Nana mengenang masa lalunya sambil menatap konde, dan lantas dia mengenakan konde itu sebagai simbol menguatkan diri. Gestur Nana nguat-nguatin diri  di depan cermin setelah konde terpasang really gets me. Pemandangan bahwa untuk keluar rumah perempuan seperti Nana harus membebat perut, berdandan, menyanggul rambut, itulah bentuk represi diri dalam hal terkecil. Makanya adegan-adegan Nana dengan Ino terjun ke sungai, merokok dengan pakaian dalam, jadi menyentuh sekali bagi penonton. Itulah momen ketika karakter perempuan bisa menjadi diri mereka sendiri. Gak ada rahasia.

Belum setahun, tapi kita udah dapat dua karya menakjubkan dari Kamila Andini, nikmat mana lagi yang mau sinefil dustakan?

 

Kamila lebih menonjolkan cerita lewat simbol visual dan gerak, dalam usaha membuatnya lebih dalam secara personal. Daripada mengatakan kuat referensi film karya orang luar, aku lebih suka menyebut ini film Kamila yang paling mirip dengan film-film bapaknya. Aku merasa film ini adalah companion dari Kucumbu Tubuh Indahku (2019) karya Garin Nugroho. Karena di situ Garin juga bercerita tentang trauma masa lalu tergambar dalam gerak tubuh, terpetakan dalam tubuh pria yang menjadi feminim. Kisah Nana ini menilik permasalahan itu dari sudut perempuan. Bagaimana pembatasan diri perempuan – saat mereka bahkan tidak bisa bebas mengekspresikan trauma – juga membatasi gerak pada akhirnya.  Dalam film Before, Now & Then, Kamila membatasi gerak-gerak aktornya untuk menguatkan kesan ini. Akan ada banyak adegan yang terasa kayak terlalu frame-in, yang terasa kayak teatrikal, demi menyampaikan karakter yang secara inner terbelenggu tersebut. Perbandingan yang menarik perhatianku adalah gerak slow motion yang dilakukan film ketika Nana mengikuti Ino – menatap punggung Ino – saat pertama kali ke ruang potong daging, saat mereka belum kenal, dengan gerak cepat ketika tatapan Nana mengikuti punggung Ino yang meloncat dari tebing ke sungai.

Film tampil balance dengan gak lantas menjadi karakter laki sebagai antagonis. Justru ‘penjahat’nya di sini adalah sistem, yang tak terlawan. Bagaimana masyarakat akan selalu nganggap PKI jahat, bagaimana perempuan bakal terus harus nurut, dan sebagainya. Yang dihadirkan film ini adalah perbandingan. Pada laki-laki represi tentu juga ada, tapi itu jadi problem yang harus segera diluruskan. Bagi perempuan, represi dan opresi adalah tradisi, yang bakal terus berlanjut.

 

Tentunya aspek surealis gak ketinggalan. Film ini punya adegan-adegan mimpi, punya musik biola yang bisa ngasilin perasaan berbeda setiap kali muncul, dan bahkan ada karakter misterius. Di film ini Nana akan berjumpa dengan perempuan muda yang diperankan oleh Arawinda Kirana, yang muncul setiap kali ada sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak. Aku pikir karakter ini adalah manifesti ingatan Nana akan anaknya yang tewas, dan nanti setelah dia juga kehilangan Dais, baru si karakter misterius hadir sebagai Dais. Yang berbisik-bisik kepada Nana. Seperti Dais kecil bisik-bisik kepada Nana. Seperti Ino berbisik-bisik kepada Nana. Inilah yang menghantarkan kita kepada ‘then’. Nana posisinya gak banyak perbaikan di akhir, tapi sekarang dia tidak lagi senelangsa di awal cerita. ‘Then’ juga menanyakan balik kepada kita, gimana ‘sekarang’? Jadi, pesan / statement film ini mirip dengan yang disampaikan Kamila di film Yuni (2021), bahwa perempuan hanya punya perempuan lain sebagai penawar rasa terkukung bahwa sistem yang mendikte posisi perempuan sudah terlanjur mendarah daging. Bedanya, di film kali ini, Kamila menumpahkan uneg-uneg itu ke dalam presentasi yang lebih ‘teknis’, kalo gak mau disebut lebih artsy.




Sungguh kejutan menyenangkan di bulan Agustus, walau agak sedih juga sih tidak menonton ini bioskop melainkan di platform. Tapi film sepersonal ini memang lebih cocok ditonton secara personal pula, jauh dari hingar bingar. Mungkin sekilas tampak berat, tapi ini adalah cerita yang pengen kita tonton berulang-ulang. Bukan sekadar untuk menebak maksud simbol-simbolnya, melainkan juga karena cerita ini dihadirkan sebagai perjalanan personal karakter sehingga mudah terkoneksi. Karena kita mengerti problem karakternya real dan tidak dibuat-buat. Meskipun bisa dibilang film ini terlalu mengatur dengan treatment melingkupi banyak hal mulai dari ekspresi, gerak, hingga bahasa. Kesan yang dihasilkan bukan membuat film jadi kaku, melainkan jadi magis. Dan itu juga sesuai konteks dan bahasan yang coba diangkat film. Yang pada akhirnya jadi buah pikiran lain untuk direnungkan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BEFORE, NOW & THEN (NANA)

 




That’s all we have for now.

Lucunya, banyak penonton yang jadi ngeship Nana dengan Ino. Menurut kalian kenapa itu bisa terjadi?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS Review

“Violence is any day preferable to impotence”

 

Seperti judulnya, Seperti Dendam (cukup disingkat begini saja ya nyebutinnya), memanglah sebuah cerita balas-dendam sebanyak film ini sebagai sebuah kisah cinta. Ini adalah film yang ada kelahi-kelahinya, ada romansa-romansanya, dan sering juga keduanya – berkelahi dan romansa itu – berlangsung sekaligus. Untuk membuat dirinya semakin unik, film ini hidup berlatar dunia 80an. Tampil layaknya film laga yang berlangsung dan seperti benar-benar dibuat oleh industri tahun segitu. Berpeganganlah yang erat, karena karya Edwin yang diadaptasi dari novel Eka Kurniawan ini only gets weirder. Nada yang sedari awal diarahkan berbunyi seperti komedi lantas menjadi surealis ketika elemen mistis mulai diperkenalkan. Bersiaplah karena di sini gambar-gambar di belakang truk akan bisa berbicara. Dan jika kalian mengharapkan ada sesuatu setelah semua debu-debu truk itu lenyap, setelah semua pukulan-pukulan teknis itu mendarat menghujam, Seperti Dendam bakal melayangkan serangan terakhirnya dengan ending yang begitu tiba-tiba.

dendam202112021753-main.cropped_1638442415
Film tentang impotensi tapi elemennya dibikin nyembur ke mana-mana

 

Masih ingat ayah Shang-Chi di film kung-fu MCU (Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings)? Gembong penjahat yang bertemu perempuan penjaga desa. Lalu mereka berantem dengan begitu elegan sehingga kayak sedang menari, yang menghantarkan mereka menjadi saling cinta? Well, itu semua jadi gak seberapa romantis jika dibandingkan dengan Ajo Kawir dan Iteung di film Seperti Dendam. Tadinya Ajo Kawir kepengen membunuh seorang juragan. Maka dia harus berurusan dahulu dengan bodyguardnya. Gadis yang tak kalah jagoan bernama Iteung. Dan oh boy, berantemnya Ajo Kawir lawan Iteung di lokasi truk ngangkut-ngangkut pasir itu sungguh intens. Beneran kayak film-film silat low budget tempo dulu. Edwin tidak membumbui itu dengan adegan yang elegan seperti pada Shang-Chi. Melainkan dia menampilkannya se-rough mungkin. Jikapun ada ‘polesan’, maka itu difungsikan untuk menahan tone alias nada supaya tetap berada di kotak over-the-top kelucuan.

Memang, adegan berantem awal pertemuan mereka itu membuatku tercengang. Kamera gak banyak cut, langsung aja nampilin. Aku mungkin salah, tapi mereka gak keliatan pakai stuntmen. Ada tuh saat Iteung di-powerbomb ke tanah berpasir. Maaaan… Sebagai orang yang nonton WWE religiously, aku tahu ada cara yang aman untuk ngelakuin jurus-jurus atau adegan tersebut. Berantem sekasar itu bisa dikoreografikan dengan safely. Tapi tetep saja aku kagum sekali Marthino Lio dan Ladya Cheryl berani dan sanggup ngelakuin adegan itu dengan baik.

Pertarungan nyaris hidup-mati itu jadi koneksi yang sangat personal bagi Ajo Kawir dan Iteung. Pemuda yang haus berkelahi sebagai pelampiasan frustasi dan semacam pembuktian diri, bertemu dan dibikin humble oleh perempuan tangguh yang seperti memahami lelaki seperti itu. Koneksi mereka is on another level of love. Tapi ternyata itu hanyalah salah satu bentuk unik purest love yang digambarkan oleh film ini. Untuk satunya lagi, mari kita letakkan konteks ke dalam cerita. Alasan Ajo Kawir napsu cari ribut adalah karena dia percaya itulah satu-satunya cara dia menunjukkan kejantanan. Bahwa dia masih cowok, kok, meskipun burungnya gak bisa berdiri. Kita hanya bisa membayangkan; berantemnya aja seintens itu, gimana pergumulan mereka di kasur ya. Tapi Ajo Kawir enggak bisa begitu. Ajo Kawir awalnya malah sempat minder dan menghindar. Tapi, Iteung tetep mau dan mengawini dirinya. Relationship Ajo Kawir dan Iteung lantas menjadi pondasi besar untuk bangunan cerita Seperti Dendam. Chemistry Lio dan Cheryl hanya tersendat oleh dialog jadul yang kerap sedikit janggal terdengar saat momen-momen mereka. Seperti saat berantem tadi, keduanya tampak lebih klik dalam bahasa gerak dan ekspresi. Sebenarnya itu saja sudah cukup untuk memikul narasi film ini. Karena memang Seperti Dendam lebih excellent ketika menampilkan, entah itu aksi, their whole world, atau hal sesimpel joget dangdut di kawinan.

Aku menikmati ketika narasi masih berpusat di Ajo Kawir berusaha menjadi better man setelah menikah dengan Iteung. Dia berusaha meninggalkan kebiasaan lama. Bahkan berjanji untuk tidak membunuh si Macan, seorang lagi gembong penjahat dengan kepala berharga tinggi. Harga yang mestinya bisa memberikan kehidupan yang layak bagi rumah tangga Ajo. Namun konflik sebenarnya baru datang setelah ini. For Ajo dan Iteung sama-sama punya hantu di masa lalu. Impotensi Ajo berasal dari trauma masa kecil perlahan tapi pasti menjadi pemicu, sementara teman lama Iteung datang menawarkan solusi sekaligus ancaman bagi Ajo. Jika ini adalah cerita biasa, film ini akan berakhir saat turning point. Saat yang berusaha dibangung Ajo bersama Iteung hancur, membuat mereka terpisah. Seperti Dendam sekarang barulah jelas intensinya. Film ini ingin mengeksplorasi impotensi – dalam hal ini bisa dilihat sebagai pria yang merasa dirinya lemah. Kenapa seorang pria bisa merasa begitu. Bagaimana menyembuhkan impotensi berarti adalah bagaimana cara yang benar bagi seorang pria merasa dirinya jantan. Apakah merasa macho memang sepenting itu. Pamungkas film ini sebenarnya terletak saat eksplorasi itu. Saat menunjukkan Ajo Kawir berusaha ‘menemukan jalan pulang’ kepada Iteung. Namunnya lagi, justru di paruh akhir yang difungsikan untuk itulah, film ini terasa mulai gak koheren. 

Bahkan Mahatma Gandhi yang pacifist tulen aja bilang lebih baik menjadi violent jika itu satu-satunya cara untuk mengklaim power. Ajo Kawir jadi impoten setelah peristiwa traumatis yang menimpa dirinya. Impoten di sini adalah lack of power. Menjadi violent bagi Kawir bukan hanya pelampiasan frustasi, ia semestinya belajar menyadari bahwa itulah perjuangannya untuk berani mendapatkan kembali hal yang hilang dari dirinya karena trauma.

 

Begitu masuk ke paruh akhir, Seperti Dendam seperti berjuang mencari arah untuk finish. Tidak lagi berjalan untuk bercerita. Melainkan jadi seperti masuk ke mode mengakhiri cerita dengan tetap bergaya. Masalahnya, di titik itu masih banyak elemen yang harus diceritakan. Ketika menggali lebih dalam ke asal muasal penyakit Ajo Kawir, ataupun ketika memaparkan kejadian horrible apa yang menimpa Iteung saat masih masuk usia remaja, film mulai menapaki arah yang surealis. Katakanlah, ada karakter ‘hantu’ yang dimunculkan. Lalu juga ada perihal perilaku semena-mena aparat yang dirahasiakan, yang juga mengait ke persoalan petrus dan presiden di periode waktu itu.  Untuk menambah kuat karakter periode dan dunianya, film juga sekalian memberikan peristiwa gerhana sebagai latar. 

dendamSeperti-Dendam-Rindu-735x400
Ratu Felisha mainin salah satu karakter terseram seantero 2021

 

Karakter-karakter baru pun lantas muncul. Mereka sebenarnya terasa punya kepentingan yang signifikan di dalam cerita ini, tapi karena Seperti Dendam sudah menjadi medium film, penempatan mereka tidak terasa benar-benar menjustifikasi keberadaan mereka itu sendiri. Dengan kata lain, aku merasa mereka jadi dimunculkan ujug-ujug saja. Tidak ada bedanya dengan si karakter ‘hantu’ yang tau-tau ada begitu sesajen dibakar. Film seperti Dendam pada akhirnya terkekang juga oleh hakikatnya sebagai cerita adaptasi novel. Yang juga kentara terpengaruh oleh mendadak banyak elemen ini adalah tone cerita. Sedari awal, Seperti Dendam memang tidak pernah saklek. Apakah ini satir. Apakah kita memang diniatkan untuk tertawa melihat Ajo Kawir berjuang membangunkan burungnya. Apa yang harus kita rasakan melihat Ajo Kawir kesenengan dihajar orang-orang yang diajaknya berkelahi? Tapi begitu paruh akhir dan segala elemen baru masuk, tone semakin tak menentu lagi. Di bagian yang seperti dirancang untuk membuat kita takut, kita juga merasakan harapan bertumbuh. The only constant adalah pada adegan berantem yang selalu menarik, dan jadi penawar bingung dan sumpeknya semua terasa.

Novelnya sendiri memang aku belum baca. Jadi gak bisa mastiin juga seberapa ‘sama’ film ini dibuat dengan bukunya. Biasanya buku memang lebih leluasa sih, lebih banyak ruang juga. Film adaptasinya ini seharusnya bisa lebih luwes. Mengingat banyaknya muatan, dan style yang mencakup surealis dan menonjolkan seni bercerita, sepertinya bisa lebih asik kalo sekalian aja film ini tampil acak kayak Pulp Fiction (1994). Gak usah runut atau linear. Bagi semacam segmen per karakter, kreasi di urutannya saja, bolak balik saja tak mengapa. Sekalian juga per segmen itu tone-nya bisa beda. Dengan membuatnya begitu, semua yang diniatkan untuk ada masih bisa tertampung semua. Juga, film jadi gak perlu mikirin dan rush menuju ending seperti yang kita saksikan sekarang ini.

 

 

 

Dari tiga-besar film Indonesia tahun ini, film inilah yang memang terasa terhambat oleh adaptasi. Dua film lainnya itu luwes dan bisa mencapai ending yang membayar tuntas semua. Film yang satu ini tidak begitu. Paruh pertama terasa lebih enak karena masih mengalir sebagai cerita, yang fokus ke karakter. Ketika sudah mendekati penghabisan, muatan yang seambreg mulai terasa pengaruhnya. Film jadi berusaha untuk mengakhiri aja. Elemen kritik ke politik, komedi, horor, atau bahasan lainnya pun jadi tempelan at best. Padahal aslinya kan tidak seperti itu. Mereka harusnya jadi esensi. Film ini perlu untuk jadi bold, aneh, kasar, lucu, miris, dan sweet sekaligus. Untuk pembangunan itu semua – dan pembangunan dunianya – kerja film ini sangat excellent. Dia berhasil. Saat menempatkannya sebagai satu film koherenlah, film ini kurang mulus. Maka, mungkin sebaiknya jadi total aneh saja sekalian. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS

 

 

 

 

That’s all we have for now

Menurut kalian siapakah Jelita? Apakah dia hantu Rona Merah, atau ada hubungannya dengan Iteung? Apa makna karakter ini bagi kedua tokoh sentral di dalam cerita?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

CENSOR Review

“Art should disturb the comfortable”

 

Saat angka kekerasan meningkat, orang-orang akan mulai mencoba mencari kambing hitam. Bukan, bukan kambing hitam untuk pemujaan setan. Melainkan ‘kambing hitam’ sebagai yang dipersalahkan. Di Inggris tahun 80an, kepala orang-orang menoleh ke media. Ke film. Tepatnya, ke film yang beredar secara bebas dalam bentuk kaset video. Bebas dalama artian belum dinaungi oleh regulasi hukum penyiaran saat itu. Film-film atau video-video yang jadi kambing hitam itu adalah video-video genre eksploitasi. Kekerasan segala rupa memang jadi jualannya. Maka video-video tersebut dikenal dengan istilah ‘Video Nasty’. Adegan-adegan kekerasan dalam tayangan itu disinyalir sebagai pemicu nafsu buas pada diri penonton; membuat mereka meniru dan melakukan tindakan kriminal. Di saat seperti itulah, sensor seperti benar-benar dibutuhkan. Tukang-tukang gunting bertangan dingin seperti Enid Baines dalam film Censor, menyangka kerjaan mereka sebagai pahlawan penyelamat moral. 

Enid memang memandang tinggi pekerjaannya tersebut. Enid betah duduk sendirian di ruangan, menonton detik demi detik adegan sadis (dan menjijikkan), dan membuat catatan terhadap mereka. Dia juga strict banget dalam potong-memotong adegan. Sehingga Enid ini terkenal kaku, bahkan oleh sejawatnya sendiri. Makanya ketika dilaporkan ada kasus pembunuhan sadis yang tampaknya seperti meniru adegan dalam film yang seharusnya sudah disensor oleh dirinya, Enid jadi terguncang. Untuk menebus kesalahan, Enid mulai memburu lebih banyak film. Inilah ketika Enid menemukan sebuah film horor yang adegan pembukanya mirip sekali dengan ‘adegan’ traumatis di masa lalu dirinya. Selagi berusaha menguak misteri antara film tersebut dengan masa lalunya, Enid mulai kehilangan pegangan. Tak jelas lagi baginya apakah dia sedang menyensor sebuah karya atau mengedit kenyataan sesuai dengan kehendaknya

censormaxresdefault
Mungkin saking ketatnya, namanya sebaiknya diubah jadi Edith hahaha

 

This film is really great, sebagai sebuah horor psikologis. Karena keadaan jiwa Enid terus menerus disorot, dan actually jadi ladang horornya. Sebagai karakter, Enid akan ‘berubah’ dari seseorang yang sepertinya stabil (divisualkan lewat dandanan ala bu guru galak, lengkap dengan kacamata dan rambut yang disanggul) turun dalam spiral kewarasan menjadi seseorang yang sinting dan lepas kendali (rambut terurai berantakan, plus baju compang-camping bernoda darah). Niamh Algar membuat arahan-arahan sutradara Prano Bailey-Bond sebagai panggung personal karakternya, ngetackle setiap adegan dan setiap deteriorasi tokohnya dengan benar-benar menjiwai.

Setidaknya ada tiga spektrum dari karakter Enid ini; seorang karyawan yang mengenali ‘musuhnya’ (gaze dan kreativitas bablas pembuat film), seorang anak yang merasa bersalah kepada orangtuanya, dan seorang kakak yang berniat menyelamatkan adik pada akhirnya. Bahkan ada poin ketika Enid ini jadi kayak detektif yang menginvestigasi kasus, sebagai bridge pada inner journeynya. Basically sutradara menyuruh Niamh untuk terjun bebas ke dalam psikologis karakter Enid, dan dia melakukannya dengan sangat sukses sehingga kita yang menonton tahu si Enid ini sedang dalam proses menjadi sinting, tapi kita tetap bertahan mendukungnya. Tantangan terberat bagi cerita-cerita yang menampilkan kemunduran jiwa tokoh utamanya; yakni bagaimana membuat karakter yang pilihannya semakin gak rasional tanpa membuat si karakter tersebut tampak bego. Misalnya kayak di Saint Maud (2021), horor terbaik pada caturwulan pertama tahun ini; Kita paham bahwa karakter di film tersebut hanya halu – bahwa dia mendengar bisikan setan alih-alih wahyu Tuhan, namun kita berempati padanya. Kita paham dukanya, kita mau memahami kenapa dia halu seperti itu. Censor berhasil menjajaki tantangan serupa demikian. Karena di sini, Enid mulai percaya adiknya masih hidup, mulai percaya ada filmmaker yang telah menculik dan menyembunyikan identitas si adik, tapi kita tidak sekalipun percaya itu semua. Kita duduk menonton karena kita begitu termesmerize oleh journey Enid. Ya, kita bersimpati.

Atau mungkin, film telah berhasil ikut membuat kita terhipnotis. Kita telah dibuatnya ikut blur di antara garis halusinasi dan realita. If this is the case, ini hanya menunjukkan betapa kuatnya arahan sang sutradara dalam debut film panjangnya. Bailey-Bond berhasil membangun tensi, berhasil membuat kemunduran state of mind Enid sebagai suatu perjalanan yang menghantui, kita tidak bisa terlepas darinya. Treatment unik, craft spesial, dilakukan oleh Bailey-Bond untuk membuat pengalaman psikologis Enid terasa nyata. Kabut-kabut dikerahkan untuk menghasilkan estetik surealis perihal ketidakpastian, sebagai kontras dari ruangan kantor yang serbategas. Dengan seamless, misalnya lagi, Bailey-Bond memainkan rasio layar. Lebar normal jika adegan memang nyata, dan semakin menyempit untuk mengindikasikan semua itu hanya di layar kaca yang ditonton oleh Enid. Dan layar bahkan lebih sempit lagi ketika menampilkan keadaan sedang dalam proses suting, yang sejalan dengan sempit (dan kalutnya) perasaan yang menggelayuti Enid. Puncak dari craft film ini ada pada menjelang akhir; kontras visual, dengan efek glitch, berhasil dimainkan ke dalam efek yang benar-benar bikin kita uneasy karena menyadari sesuatu yang tidak disadari (atau mungkin sesuai konteksnya; dicut keluar) oleh Enid.

Aspek menghibur dari sebuah film horor dicapai film ini lewat persembahan kepada ‘genre’ Video Nasty itu sendiri. Yea, those were real. Sebagian besar judul film yang disebut dalam cerita adalah judul-judul film yang memang beneran ada. Ketika harus menciptakan video nasty versi sendiri, film ini enggak ragu untuk membuat layarnya menjadi grainy supaya mirip betul dengan video-video horor tahun 80an yang berbudget rendah. Pun direkam dengan gaya yang persis sama dengan style horor jadul tersebut. Bukan hanya itu, film yang bercerita tentang karakter yang percaya pentingnya sensor film ini bahkan menampilkan juga adegan-adegan kekerasan/sadis yang membuat video nasty begitu digemari (dan dikambinghitamkan sekaligus).

Jadi kalo begitu, bagaimana dengan permasalahan ‘kekerasan dalam media’ itu sendiri? Apakah penyensoran memang dibutuhkan? Di mana film ini berpijak sehubungan dengan itu?

censorsasa
Pengertian dasar dari sensor mandiri

 

Sehubungan dengan sensor, film Censor sendiri memang menilik dari banyak sudut. Peredaran kaset video film-film nasty yang menyuguhkan adegan full-tanpa sensor itu juga sempat disorot. Film ini dengan membuatnya ‘terbuka’, apakah video-video itu disebar oleh pembajak – dan siapa yang membajak, apakah orang dalam lembaga sensor, atau malah justru filmmakernya sendiri yang menyebarkan sebagai bentuk protes dari tindak penyensoran.

Tapi memang sebenarnya ada sikap kuat yang dideklarasi oleh film ini. Censor mengakui bahwa tindakan penyensoran sebenarnya memang ‘akal-akalan’ pemerintah untuk mengatur kreativitas, dan tidak benar-benar punya pengaruh langsung dengan tindak kriminal di dunia nyata. Sikap ini ditunjukkan oleh film ini lewat revealing yang menyebut bahwa pelaku kasus pembunuhan sadis yang disebut-sebut meniru film yang harusnya udah disensor oleh Enid, ternyata sama sekali tidak pernah menonton film tersebut. Namunnya lagi, bagaimana dengan Enid? Tidakkah Enid berubah menjadi sinting dan bertindak ekstrim karena pengaruh film-film sadis yang sudah dia tonton secara khusyuk selama bertahun-tahun sebagai kerjaannya untuk menyambung hidup?

Tentu kita bisa berargumen Enid telah terpengaruh kekerasan, tapi itu tidak serta merta berarti dia membunuh karena menonton film atau sebagai penyaluran dari film, bukan? See, di sinilah menurutku kekuatan dari film ini. Meskipun dialog-dialognya sendiri banyak yang terlalu gamblang, tapi film ini tetap didesain untuk bekerja sebagai sesuatu yang membuka terhadap argumen-argumen. Memantik diskusi soal sensor. Kesubtilan film ini ditujukan khusus kepada menunjukkan sikap atau pendapat pembuatnya. Ada begitu banyak lapisan pada backstory karakter Enid, sehingga kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa karakter ini terpengaruh langsung oleh film. Dan begitu jugalah semestinya pada dunia nyata. 

Censor meletakkan tanda tanya di belakang kalimat “Life imitates art”. Dan ini adalah perwujudan sikap yang paralel dan benar-benar kuat sehubungan dengan tindak sensor itu sendiri. Sebab seni, kan, adalah sesuatu yang mengguncang kenyamanan. Censor adalah art karena mengguncang kalimat tadi. Film-film eksploitasi adalah art, karena kestabilan hidup Enid terguncang begitu dia melihat film yang serupa dengan pengalaman traumatisnya. Tapi tindak sensor tidak akan pernah menjadi art, karena art bukan soal kenyamanan.

 

 

Sebut ini sebagai surat cinta terhadap Video Nasty dan film-film sadis lainnya. Sebut ini sebagai cerita psikologis seorang manusia yang harus berkonfrontasi dengan rasa bersalah yang dipendam bertahun-tahun. Sebut ini sebagai sikap untuk sebuah tindak penyensoran. This film is certainly will go by those names. Didesain dengan craft yang benar-benar beralasan. Bagiku, film ini utama dan terutama sekali adalah sebagai sebuah horor psikologis yang benar-benar unsettling. Lengkap dengan visual yang bikin gak bisa tidur. Aku suka gimana sutradara mengarahkannya, sehingga bahkan bagian yang paling artifisialnya pun masih bisa kita pedulikan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for CENSOR.

 

 

 

That’s all we have for now.

So which is it menurut kalian? Apakah film atau media memang berpengaruh sama tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang? Perlukah diadakan yang namanya sensor-menyensor? Tindakan apa yang mestinya dilakukan oleh sebuah lembaga sensor?

Bagaimana pendapat kalian tentang sensor film di Indonesia?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA