ARMY OF THIEVES Review

“Do it for the sake of love”

 

 

I blame Marvel. Karena telah membuat jagat-sinematik tampak sebagai taktik jitu supaya laku, dan juga membuatnya tampak mudah. Aku menyalahkan Marvel, karena telah menginisiasi cinematic universe, yang membuat banyak pedagang film lain meniru. Walaupun mereka sebenarnya gak benar-benar punya brand atau produk untuk dibuatin universenya. Marvel tidak berangkat dari nol, melainkan dari komik yang telah bertahun-tahun jadi ikonik. Orang-orang tahu dan kenal tokoh-tokoh ceritanya. Namun lihatlah para peniru, banyak sekarang bermunculan film-film yang dipaksakan ada sebagai sebuah universe. Bahkan film drama aja ada – drama yang gak berasal dari apapun sebelumnya (kecuali mungkin satu buku nostalgia tanpa narasi); satu film berkembang jadi satu film baru yang mengangkat karakter minor, dan kemudian film baru muncul lagi dari karakter yang tak-kalah nobody nya di film tersebut.

Oh, kalian mau contoh yang disebutin judulnya? Army of Thieves. Ya, film yang hendak kita ulas kali ini, merupakan bagian berikutnya dari rancangan universe zombie karya Zack Snyder. Except, film ini bukanlah film tentang zombie. Melainkan film tentang heist atau perampokan bank. Dan yang jadi pengikat antara film ini dengan Army of the Dead (2021) – film pertamanya – adalah seorang karakter yang aku sejujurnya kaget sekali dan tak-percaya bahwa dia begitu difavoritin sehingga banyak yang minta film solonya.

Thieves-Army-of-Thieves
Emang ada yang kecuri hatinya sama si Ludwig?

 

Mengambil setting enam tahun sebelum peristiwa film Army of the Dead. Dari tayangan televisi dalam cerita kali ini, kita melihat zombie outbreak barulah mulai di Las Vegas. Di Eropa, tempat cerita ini bermula, ada masalah yang lebih urgen harus dihadapi oleh kepolisian. Masalah tersebut yaitu rangkaian perampokan bank. Ketika agen interpol masih menyusun teori (dan pemimpin mereka punya tebakan bagus, dan eventually bakal jadi semacam antagonis bagi geng karakter utama), kita sudah dibawa mengenal lima orang di balik perampokan tersebut. Tepatnya empat orang perampok internasional, dan Sebastian, cowok kikuk penggemar brankas. Sebastian diajak oleh kawanan perampok yang dipimpin oleh cewek keren bernama Gwendoline, berkat kemampuan dan pengetahuannya mengenai legenda empat brankas yang terkenal paling rumit dan susah untuk dipecahkan kuncinya. Itulah yang coba dibobol oleh mereka. Bagi Sebastian, yang selama ini hidup datar dan membosankan, tentu saja tawaran itu tak bisa ditolak. Kapan lagi dia bisa mengasah kemampuan dan berinteraksi langsung dengan legenda. (Plus si Gwendoline itu kece banget Sebastian jadi naksir)

Jadi, mari beralih dulu ke kru perampok dan aksi heist itu sendiri.

Genre heist sendiri sebenarnya sudah mulai jenuh. Serial animasi Rick and Morty bahkan sudah menelanjangi genre ini hingga ke trope dan klise-klisenya di episode 3 season 4 akhir tahun 2019 lalu. Army of Thieves, untungnya, tahu untuk tidak terjebak ke dalam klise-klise tersebut. Film ini gak mau jadi parodi dari genre ini. Maka mereka berusaha merancang formula heist yang berbeda, atau paling enggak bermain-main dengan trope yang telah ada. Misalnya, film ini gak pake sekuen ngumpulin anggota geng yang tersebar dan meminta mereka kembali ikut beraksi (lucunya, sekuen ini justru adanya di Army of the Dead – yang ternyata adalah film heist dan zombie sekaligus). Sekuen itu biasanya difungsikan untuk menyoroti masing-masing karakter anggota/kru, memberikan mereka spotlight untuk menceritakan backstory dan motivasi. Alih-alih pake sekuen itu, Army of Thieves mencapai tujuan menceritakan backstory dan memperkenalkan karakter lewat actual flashback – flashback origin para karakter.

Film ini juga gak pake twist demi twist yang menunjukkan pengkhianatan demi pengkhianatan seperti yang biasa ada dalam genre heist. Cekcok antaranggota memang tetap ada, tapi diceritakan lebih frontal. Dimasukkan ke dalam elemen cinta segitiga antara Sebastian, Gwendoline, dan Brad Cage. Lalu, biasanya film heist juga punya sekuen montase saat karakter menjabarkan rencana perampokan kepada kru. Dalam Army of Thieves, sekuen seperti itu ada, akan tetapi dilakukan dalam bentuk komedi yang seperti ngebecandain trope itu sendiri. Nah pasti kebayang, bahwa film ini memanfaatkan beragam teknik editing untuk mendukung penceritaan. Dan berhasil. Karenanya, porsi heist dan aksi film ini memang lebih menarik. Ada angin segar-lah, seenggaknya.

Editing cut-to-cut yang cepat juga digunakan film ini untuk menyamarkan masalah pacing yang timbul dari setup karakter yang datar, terlebih karena memang film ini punya karakter-karakter yang enggak baru. Gwendoline, Brad Cage, Rolph, dan Korina memang keren, tapi mereka sendiri sebenarnya masuk ke dalam trope karakterisasi yang lumrah, atau sudah ada sebelumnya. Pemimpin yang cinta mati ama film action dan Amerika. Cewek hacker yang glamor. Pengemudi yang hobi makan. Kriminal yang menganggap geng mereka keluarga. Bahkan aksi membuka brankas juga bukanlah aksi yang benar-benar fresh. Film ini justru banyak mencuri dari film lain, dan sudah sepatutnya mereka melakukan sesuatu supaya kita tetap excited menontonnya. Melihat dari usaha-usaha yang disebut di atas, sebenarnya film ini masih punya kesempatan. Kalo saja dirinya ini bukan hadir demi eksistensi satu orang.

thievesarmy-of-thieves-trailer
Kalo Korina sih, silakan deh mencuri hatiku

 

Serius. Aku gak dapet di mana appeal atau daya tarik karakter Sebastian. Bagiku dia mirip seperti Newt Scamander (lakon dalam Fantastic Beast – another karakter yang dipaksain jadi jagat-sinematik), tapi versi kikuk yang annoying. Di Army of the Dead, Sebastian hadir sebagai pembuka brankas (yang actually adalah brankas legendaris terakhir), dia dijadikan comedic-relief dengan tingkahnya yang suka teriak-teriak, dan jadi penyeimbang buat karakter-karakter maskulin. Kali ini, di film yang bertindak sebagai prekuel cerita tersebut, Sebastian juga ngelakuin hal yang sama. Teriak-teriak saat keadaan memanas, nge-geek out dan fanboying hard sebelum membuka kunci brankas, dan socially awkward di tengah-tengah kelompok yang macho. Jadi, ya, gak ada perkembangan yang dialami karakter ini dari cerita dimulai hingga ke Army of the Dead berakhir. Bayangkan dua film, tapi karaktermu itu-itu melulu! Yang berubah pada karakter ini cuma nama. Di film pertama, actually, kita mengenalnya sebagai Ludwig Dieter. Di film ini, kita akan melihat dari mana nama tersebut berasal. Seolah itu merupakan hal yang penting.

Karakter utama memang harus dibikin penting. Namun tugas itu dapat menjadi demikian susah jika materi karakternya memang tidak banyak sedari awal. Matthias Schweighofer lantas didapuk sebagai sutradara dengan harapan dia sudah mengerti karakter Sebastian/Ludwig yang ia perankan itu luar dalam. Dan memang, Matthias paham apa yang klik di balik benak sang karakter. Dia mengerti bahwa bagi Sebastian, brankas-brankas itu bukan semata benda yang harus dibobol dan diambil uangnya, melainkan benda yang melambangkan pencapaian. Kekaguman seperti seorang anak bertemu idolanya, dan mendapat pengakuan dari idola tersebut karena si anak telah berhasil melampaui prestasinya. Begitulah Sebastian melihat kunci-kunci besi itu. Dan kita bisa merasakannya, kekaguman terpancar dari karakter ini. Tapi itu saja belum cukup untuk menghidupkan film ini secara keseluruhan.

Yang beresonansi dari Sebastian kepada kita adalah kecintaannya terhadap yang ia lakukan. Sebastian tidak melakukan perampokan demi uang. Dia melakukannya supaya bisa bertemu dengan hal yang paling berarti baginya di dunia ini. Brankas dengan sistem kunci yang legendaris. Dan tentu saja, Gwendoline yang ia katakan kepada kita telah mengubah hidupnya. Ditunjukkannya bahwa hidup lebih dari sekadar cari duit. Pengalaman mendebarkan, dan cinta, jauh lebih berharga.

 

Di luar ketertarikan dan ke-nerdy-annya sama brankas, Sebastian enggak banyak ngelakuin hal lain. Film memberikannya sekuen aksi – naik sepeda keliling kota dikejar polisi – yang cukup kocak dan sangat kita apreasiasi di tengah kering kerontang dan membosankannya karakter ini. Sebelum diajak jadi geng rampok, secara inner, Sebastian enggak punya masalah di dalam hidupnya. Backstory kenapa dia hobi ngulik brankas dan kenapa dia gak gaul hanya disebutkan sepintas. Sepanjang durasi (yang memang panjang amat!) karakter ini kebanyakan hanya bereaksi. Terbawa-bawa. Seperti yang sudah disebutkan di atas tadi, Sebastian tidak punya development. Lantaran memang tidak ada yang bisa digali. Untuk mengisi kekosongan, naskah memusatkannya kepada romansa. Sebastian naksir Gwendoline, yang sudah punya cowok yakni si paling macho dalam kelompok mereka. Elemen itu juga gak dibahas mendalam. Enggak pernah lebih dari sebatas cowok cupu yang jatuh cinta sama gadis pertama yang mengajaknya bicara. Basic sekali.

Sedari awal itu dia sudah jago buka brankas. Dia bahkan enggak peduli sama kejaran waktu. Oh, mereka cuma punya waktu sempit sebelum penjaga dan sekuriti bank sadar, dan memanggil polisi untuk menghentikan aksi perampokan? Sebastian gak peduli sama itu. Dia sempat-sempatnya cerita panjang lebar tentang mitologi di balik masing-masing brankas. Mitologi yang sebenarnya menarik, karena mencerminkan keadaan cinta segitiganya dengan Gwendoline. Hanya tak terasa sebagai waktu yang tepat. Film menjadikan ‘bad timing‘ ini sebagai quirk dari karakter Sebastian, dengan harapan dapat membuatnya semakin tampak sebagai karakter yang menarik. Dan juga disetup bahwa Sebastian begitu pintar dan ahli jadi dia bisa membuka kunci-kunci rumit itu dalam waktu singkat. Akan tetapi karena situasinya adalah perampokan, ketika karakter utama gak peduli sama desakan waktu, dia gak merasa dirinya diburu-buruin, kita yang nonton jadi gak ngerasain lagi stake perampokan tersebut. Kita jadi bodo amat. Dia jago, kok.

Apalagi karena kita gak bisa berpartisipasi kepada tindakan yang Sebastian lakukan. Gimana coba membuat orang memutar-mutar kenop di brankas jadi aksi menarik yang breathtaking? Gak ada. Film ini menggunakan visual CGI yang menggambarkan mekanisme kunci yang sedang berusaha dipecahkan oleh Sebastian. Semua itu gak ngehasilin perasaan apa-apa. Ketika dia berhasil membuka kunci, kita gak ikut bersorak bersamanya. Karena kita gak diajak ikut mikir, kayak kalo misalnya ada kode atau teka-teki yang harus dipecahin dalam jangka waktu terbatas.

Oiya, ada ding, satu lagi yang dilakukan Sebastian, sebagai bagian dari karakternya. Mimpi tentang zombie-zombie! Lame. Upaya yang sangat payah dari film ini untuk mengikat dan ngingetin kita sama universe zombie film ini. Seringnya adegan mimpi diserang zombie itu justru merusak tone cerita, dan nambah-nambah hal gak perlu bagi karakternya. So what, Sebastian is a psychic too? Who cares!

 

 

 

Ini baru film kedua dari proyek zombie universe Snyder loh. Dia masih punya cerita-cerita lain yang siap ditayangkan. Honestly, aku berharap dia menerapkan apa yang diajarkan Sebastian kepada kita di film ini. Untuk tidak melakukannya semata demi cuan. Aku merasa film yang kali ini, tidak benar-benar penting eksistensinya. Masih bisa dinikmati, berkat garapan aksi dan permainan editing yang masuk ke dalam humor. Tapi gak menambah banyak untuk karakter yang sepertinya bakal terus muncul di universe ini nanti (karena kalo dia gak muncul lagi nanti, makin tak-ada gunanya lah kita nonton film ini) Mending bikin film heist generik aja yang benar-benar bercerita tentang kejadian dan trik-trik perampokan. Untuk mitologi dunianya juga, gak banyak berarti. Ini adalah film yang bisa ditonton, dan setelahnya ya beres gitu aja. Film ini membuktikan kalo sedari awal udah angin, ya gak bakal bisa jadi emas.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for ARMY OF THIEVES.

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pandangan kalian terhadap genre heist? Is it dead? Bagaimana cara membuatnya kembali menarik?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

LAMB Review

“They can face anything, except reality”

 
 

Sudah lumayan banyak keanehan dalam dunia film 2021, perihal bayi. Sebelum ini kita udah dapat bayi boneka kayu. Bayi setengah mesin. Dan kini, Lamb yang ceritanya terisnpirasi dari folklore atau cerita rakyat Islandia, melengkapi keanehan terebut dengan menghadirkan bayi domba setengah manusia. You would think cerita tentang pasangan yang mengadopsi bayi hibrid tersebut bakal punya beragam bahasan dan kejadian. Namun Lamb digarap oleh sutradaraValdimar Johannsson di bawah sayap studio A24. Dan film-film dari rumah produksi dan distributor tersebut tidak terkenal dengan film yang punya banyak kejadian dalam satu cerita. Buatku, film-film A24 justru dikenang sebagai yang wajib ditonton kala mau menaikkan berat badan. Karena, camilanku udah habis dua bungkus, adegan filmnya baru beres memperlihatkan karakter berjalan dari ujung layar ke layar satunya.

I don’t mean that entirely as a bad thing. Film A24, dan termasuk Lamb ini, meskipun flownya lambat, tapi sangat poetic. Visualnya dirancang untuk benar-benar nge-entranced kita. Sebab visualnya itulah yang menjadi pintu masuk kita terhadap perasaan yang digambarkan. Cerita Lamb bersetting di rumah peternakan di pegunungan. Pemandangan padang rumput luas, bukit-bukit yang senantiasa tertutup kabut, dan langit abu-abu membentang dicat ulang oleh film dengan ‘warna’ yang menimbulkan kesan tak-nyaman. Atmosfer lingkungan tersebut terasa mengekang. As far as bagaimana sebuah konsep memenuhi fungsi, film ini berhasil. Meskipun fungsi tersebut tidak enjoyable bagi kebanyakan penonton. Apalagi ketika dua karakter sentral mulai diperkenalkan kepada kita. Pasangan pemilik peternakan domba, Maria dan Ingvar. Semua mood yang digambarkan, yang nyampe kepada kita, bersumber dari dua karakter ini. Lamb meletakkan kita begitu saja di ruang dapur mereka. Tidak mengetahui mengapa mereka terasa begitu dingin. Begitu somber. Tidak bergairah.

 
Lamb-Banner
Kecuali adegan opening, yang tanpa kita sadari sebenarnya adalah adegan domba kimpoi di malam yang dingin
 
 
 

 

Ini jadi set up yang benar-benar susah untuk diikuti. Apalagi karena film ini sebenarnya ceritanya singkat banget. Jangan dulu ngomongin dialog, kejadian-kejadian yang menyusun narasi utuhnya aja enggak banyak. Lamb ini bisa saja jadi episode animasi horor Yamishibai yang pendek-pendek, yang menitnya itungan jari itu. Kita jadi ingin cepat-cepat masuk ke pusat konflik. Tapi film dengan teganya berlama-lama. Film ingin memastikan kita merasakan semua emosi yang diniatkan. Karena ini penting. Film tidak pernah menyebut sesuatu dengan gamblang. Ketika ngasih set up bahwa keluarga Maria punya kejadian masa lalu tak mengenakkan, film memberitahu kita lewat dialog ‘gajelas’. Maria dan Ingvar membicarakan seputar mesin-waktu. Aku sudah camilan bungkus ketiga sekarang, aku harus nambah terus karena kalo enggak, aku bakalan ngantuk. Namun sebelum aku sempat membuka camilan keempat, film membuatku melek dengan adegan yang sangat-teramat-real. Adegan Maria dan Ingvar membantu seekor domba melahirkan. Ingvar memegangi badan domba, Maria menarik kepala anak yang nongol di belakang mama domba. Aku bersyukur udah gak sedang makan. Dan honestly, setelah adegan itu aku gak perlu camilan lagi untuk stay awake.

Akhirnya cerita sampai ke menu utama. Kali berikutnya ada domba yang melahirkan, Maria dan Ingvar mendapati sesuatu yang membuat mata mereka membulat. Film cerdas gak langsung ngasih kita lihat. Kita kan jadi penasaran saat Maria membawa bayi domba ke dalam rumah, memandikannya di bak mandi, menidurkannya di ranjang bayi. Membungkusnya dengan selimut. Hangat. Kita merasakan juga, tapi tidak tanpa sensasi geli-geli aneh. Film ngambil waktu lagi. Ngebuild up si anak domba ini kenapa sih sebenarnya. Mengapa pasangan itu begitu sayang dan begitu protektif terhadap si anak domba. Mama domba mengembek di luar jendela, mereka usir. Ketika anak domba itu menghilang dari rumah, Maria dan Ingvar panik. Benar-benar cemas. Mereka mencari-cari ke luar rumah, tapi tidak pernah mencari ke kandang domba. Sebagai penonton, kita diharapkan film untuk mulai menambah satu-tambah-satu dari adegan-adegan tersebut. Dari perbincangan mesin waktu hingga ke kecemasan anak domba yang menghilang. Ya, pasangan ini pastilah punya kenangan buruk terhadap anak. Dan setelah si anak domba ketemu, barulah diperlihatkan dia adalah domba separuh manusia. Mereka beri nama Ada. Mereka rawat seperti anak sendiri. Realita-baru mereka tersebut lantas akan kembali ditantang ketika babak baru cerita dimulai, dengan kedatangan saudara laki-laki Ingvar, Petur, ke rumah kecil mereka.

Basically, aku baru saja menceritakan 90% isi film, hanya dari satu paragraf di atas. Hanya menyisakan yang penting-penting, yakni konfrontasi drama dan menit-menit terakhir berupa pengungkapan yang either bagi kalian terasa shocking dan seram, atau menggelikan. Tergantung dari bagaimana perasaan kalian setelah melewati nyaris dua jam yang ajaib tersebut. Segitu singkat dan, katakanlah, uneventfulnya, cerita film ini. Film baru benar-benar hidup dan menyala saat keempat karakater sudah ada di rumah itu. Padahal mestinya bisa lebih banyak dan lebih kompleks yang diceritakan. Ada yang mulai gede dan menyadari dirinya berbeda aja hanya dibahas sekilas, porsinya lebih kecil daripada durasi Maria dan Ingvar berkeliling di rumah mencarinya saat hilang tadi. Heck, keberadaan atau eksistensi Ada di dunia cerita ini saja tidak pernah dibahas mendalam. Melainkan cuma sebatas Petur bilang Ada itu tidak benar (binatang yang didandani dan dianggap anak manusia), yang tentu saja ditentang oleh Maria dan Ingvar yang tersenyum bangga memperkenalkan Ada kepadanya. Coba kalo ini sinetron, waah, Maria pasti curiga.. Jangan-jangan lakik gue selingkuh ama domba.. (Although, mungkin ini juga salah satu penyebab dia menembak mati sang mama domba).

 
lambmaxresdefault
“Ayah, kenapa aku… Ada”
 
 
 

Jadi, Baby Ada ini pastilah sebuah simbolisme, kan. Kan?

Si Ada dalam cerita ini bisa jadi serupa sosok minotaurus dalam legenda yunani, yang melambangkan kematian. Atau dia yang makhluk setengah manusia setengah hewan itu bisa juga seperti Dewa Ganesha di India, yang tampil seperti itu sebagai bentuk penyesalan orangtua yang telah memotong kepala manusianya. Atau dalam agama Kristen, Ada si domba itu ya bermakna sebagaimana domba dalam Alkitab. Makhluk suci yang melambangkan keajaiban Tuhan. Domba melambangkan purity dan keinnocent-an. Yang menarik adalah, si Ada malah bisa dimaknai sebagai ketiga simbol tersebut sekaligus.

Lamb pada hatinya adalah sebuah cerita tragis. Makanya dia dijual sebagai horor. Karena horor bukan sebatas kejadian mengerikan karena hantu-hantuan, jumpscare, atau pembunuh gila di malam hari. Horor juga adalah kejadian mengerikan yang berasal dalam kita sendiri. Dari perasaan tragis yang menghantui. Dendam, cemburu, rasa bersalah, duka. Lamb sesungguhnya bermain pada dua tema yang terakhir. Ingvar, dan khususnya Maria (tokoh utama cerita ini adalah seorang ibu) adalah pasangan yang telah melewati hari-hari penuh duka. Keberadaan Petur, dan hubungannya dengan mereka yang tersirat di dalam cerita, adalah saksi hidup dari seberapa dalam duka tersebut berdampak di kehidupan rumah tangga mereka. Untuk tidak mengatakan terlalu banyak, Ada si bayi domba, bagi mereka lebih dari kesempatan kedua. Bagi suami istri ini, Ada bisa dibilang adalah mesin-waktu, yang memungkinkan mereka untuk memperbaiki atau bahkan mencegah duka yang tadi terjadi.

Tragisnya adalah, bahwa manusia yang terluka, cenderung lebih suka untuk menghadapi apapun – termasuk sesuatu yang sama sekali ajaib, sesuatu yang setidakmasukakal menjadikan anak domba sebagai anak sendiri – kecuali kenyataan pahit itu sendiri.  Film ini gak segan-segan ngasih hukuman untuk orang seperti itu. Seperti yang kita lihat terjadi kepada Maria di akhir cerita. Lamb sesungguhnya adalah dongeng rakyat penuh moral tentang orang yang jadi kehilangan begitu banyak, karena mereka berkubang dan tidak membenahi diri setelah kehilangan yang pertama.

 
 
 
 
 

Puitis, tragis, humanis. Film ini bukan hanya punya bobot, tapi juga penuh oleh ruh-ruh seni. Dia bercerita lewat visual. Dosa film ini cuma, bercerita terlalu lama. Dan terlalu sedikit. Dia tidak berhasil meyakinkan kita bahwa cerita yang sajikan ini memang harus berdurasi sepanjang itu, karena dia tidak mengisi durasi dengan seimbang. Atau katakanlah, dengan efektif. Banyak plot-plot poin yang jadi ada, dan kemudian tidak ada, dengan begitu saja. Semuanya numpuk di pertengahan akhir. Sementara di awalnya, set up agak sedikit terlalu kosong. Melainkan jadi susah untuk diikuti. Saking susahnya, penonton bisa gak sabar, dan memutuskan untuk melihat film ini sebagaimana yang mereka mau. Tidak lagi sesuai tuntunan yang disediakan. Akhiran film yang mengejutkan itu, misalnya, aku gak kaget kalo ada yang menganggapnya lucu, alih-alih tragis. 
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for LAMB.

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pandangan kalian terhadap pilihan-pilihan yang dilakukan oleh Maria? Apakah di mata kalian dia adalah seorang ibu yang baik?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

PARANORMAL ACTIVITY: NEXT OF KIN Review

“It’s okay to walk away”

 

Paranormal Activity telah sukses memberikan warna baru kepada genre horor found-footage di tahun 2007. Alih-alih menggunakan kamera bergoyang yang mengikuti ke mana karakter pergi, film indie tersebut menggunakan kamera steady yang merekam ruangan rumah. Yang seketika efektif mencuatkan trope-trope unggulan dari genre ini; suara misterius yang gak keliatan sumbernya di mana, wide shot tapi sudut pandang penonton amat terbatas, dibalut cerita keluarga yang membuat penonton rela memandangi ruang kosong sambil siap-siap menangkap jantung yang copot begitu kekuatan tak-berwujud menunjukkan aktivitasnya. Beberapa sekuel pertama dari film tersebut masih bertahan dan cukup berhasil menghantarkan pengalaman seram serupa. Namun, seperti halnya franchise horor lain, Paranormal Activity pun jadi gede dan melebar keluar rel, sebelum akhirnya kandas setelah sekuel yang dinilai paling buruk di tahun 2015 (PA: The Ghost Dimension) Aku actually bersorak hore saat film tersebut gagal dan officially mengakhiri franchise Paranormal Activity yang sudah jadi kayak parodi diri originalnya sendiri, karena kebanyakan sekuelnya hanya meniru trik tanpa pernah mikir dan memahami apa yang membuat trik tersebut berhasil. Namunnya lagi, seperti halnya franchise horor lain, franchise ini pun berusaha dihidupkan kembali. Paranormal Activity: Next of Kin adalah usaha tersebut.

Dijadikan literally next of kin – kerabat dekat – dari film-film sebelumnya, film terbaru ini oleh sutradara William Eubank diberikan arahan yang fresh. Seenggaknya, niatnya begitu. Biar fresh. Next of Kin tidak lagi melanjutkan mitologi sekte Toby dan Katie. Tidak lagi bersetting di dalam rumah, dengan kamera yang merekam ruangan kosong di malam hari. Eubank menggunakan konsep found footage yang baru bagi franchise ini, tapi enggak benar-benar baru dalam genre found footage itu sendiri. Itupun dilakukan dengan generik dan konsep yang tidak maksimal. 

paranor-2021-10-06-at-1.31.38-PM
Film ini jika diibaratkan sebagai kerabat keluarga, maka dia adalah kerabat yang kita ingin jauhi

 

Cerita baru yang diusung oleh film ini adalah tentang Margot, perempuan yang menemukan keberadaan keluarga aslinya. Dirinya ketika masih bayi ternyata ditinggalkan oleh ibunya begitu saja di depan pintu apartemen. Sang ibu, melarikan diri dari keluarga besar mereka di perkampungan Amish. Kinda like ibu-anak Laudya Cynthia Bella dan Lutesha di film Ambu (2019)hanya saja di sini, sosok Ibu Margot jadi misteri. Untuk itulah, Margot memutuskan untuk mengunjungi kampung tersebut. Dia mengajak pacarnya yang kameramen dan sahabat mereka yang tukang sound. Mereka juga dibantu oleh pemuda dari kampung Amish yang sedang berada di kota. Lebih dari silaturahmi, Margot ingin memfilmkan kehidupan keluarga besarnya di sana, dengan harapan dia bisa tahu apa yang terjadi dengan ibunya.

Do you guys see the problem with that story? Do you see that ‘red flag’?

Ya, alasan untuk menjadikan film ini sebuah cerita dengan konsep found-footage lemah sekali. Untuk apa Margot bikin film segala. Salah satu struggle (dan ultimately menjadi kejatuhan bagi banyak film horor bergenre found footage) adalah memasukakalkan karakter ceritanya menggunakan kamera sepanjang waktu. Konsep ‘menonton cerita dari tayangan video kamera’ dalam found footage hanya akan benar-benar menjadi sebuah storytelling yang unik, jika bangunan ceritanya sendiri benar-benar dirancang untuk hanya bisa bekerja dengan konsep tersebut. Franchise V/H/S/ misalnya, mereka membingkai konsep tersebut ke dalam cerita kasus cult video. Video-videonya itu yang kita tonton sebagai film horor antologi. Atau Paranormal Activity original; ceritanya dibuat sebagai kisah tentang pasangan yang mengalami gangguan aneh di malam hari sehingga mereka memutuskan untuk merekam isi rumah dengan kamera pengintai. Klip-klip dari rekaman kamera mereka itu yang kita tonton sebagai film. Narasi film tersebut serupa puzzle yang harus kita susun, klip-klip itu jadi kepingan puzzlenya. Jadi, make sense, saat keseluruhan film adalah tontonan dari klip video atau dari klip rekaman kamera.

Next of Kin enggak punya alasan yang kuat seperti demikian. Margot berkunjung ke kampungnya, sambil merekam video. Katanya dia pengen bikin dokumenter tentang orang Amish, tapi selain kunjungan ke kandang ternak (mereka berunyu-unyu dengan babi tampak sangat out-of-place), kita tidak pernah melihat mereka merekam aktivitas apa-apa. Margot bahkan terus merekam bahkan setelah semua orang Amish itu tidur. Karakter-karakter protagonis kita tidak punya alasan kuat harus terus menerus merekam. Mereka hanya merekam karena ini adalah film found footage. Makanya, konsep ini gak bekerja dengan baik. Karena seperti dipaksakan. Atau parahnya, cerita ini memang sebenarnya bukan untuk found footage. Hanya karena ingin dijual sebagai brand Paranormal Activity ajalah, maka diharuskan jadi pake pov kamera.

Bahkan pada beberapa adegan, kelihatan sekali film ini kesusahan untuk komit dengan konsep tersebut. Pada beberapa adegan, kita bahkan tidak tahu kamera cerita dipegang oleh siapa. Contohnya ada adegan menjelang ending yang there’s no way karakter protagonis yang ada di layar itu bisa memegang kamera. Tapi kegiatan mereka terus direkam. Terus ada juga set up yang aneh; di awal-awal, karakter memperlihatkan kamera canggih kepada anak-anak di kampung yang gak tau teknologi itu. Mereka bermain-main dengan mode slow-motion. Pake dijelasin segala berapa frame per second kamera itu merekam dalam keadaan slo-mo. Pay off dari itu, adalah, saat setan dalam cerita ini beneran muncul dan mengejar si karakter protagonis, ada momen ketika si setan kita lihat bergerak dalam slow-motion. Yang berarti, si perekam sempat-sempatnya memakai fitur itu di momen life or death seperti demikian. Kan maksa banget. Orang dikejar setan tapi lari matanya masih ngerekam lewat kamera aja udah aneh. Pake segala aktifin fitur slo-mo pula.  

Ketika mereka semua menginap di rumah kakek Margot yang jadi pemimpin (sosok patriarki) di keluarga Amish itu, kupikir malamnya akan ada bagian mereka mendengar suara-suara, lalu memutuskan untuk memasang kamera tersembunyi supaya kita bisa mendapatkan momen kamera ruangan khas Paranormal Activity. They do hearing voices. Ada satu adegan ketika Margot bangun dan menyelidiki suara tersebut hingga sampai ke atap dan kita kemudian mendapatkan bagian paling ngeri dan terbaik seantero durasi film ini (berkat permainan kamera dan timing jumpscare yang pelan-tapi-pasti!). Namun bagian mereka memasang kamera untuk mengintai itu tidak pernah datang. Next of Kin malah gagal untuk menjadi seperti Paranormal Activity. Heck, bahkan The Medium (2021) aja bisa menjadi Paranormal Activity yang lebih baik ketimbang Next of Kin ini!

Ngomong-ngomong, The Medium bisa dijadikan perbandingan yang bagus soal konsep found footage. Film dari Thailand itu sebenarnya menggunakan standar found footage kebanyakan; yakni membentuk ceritanya berupa ala-ala dokumenter supaya karakter dengan kamera bisa terus ada di sana. The Medium melakukannya dengan sangat kuat sehingga dia beneran tampak seperti mockumentary, padahal sebenarnya found footage. Saking kuatnya, at it worst, The Medium bisa kita bilang sebagai mockumentary yang berkembang menjadi found footage yang all over the place. Next of Kin sebenarnya juga punya kekuatan. Film ini bukan hanya mengeluarkan diri dari ending yang template buat found footage (semua mati!), tapi juga keluar dari tradisi ending franchisenya sendiri. Narasinya juga sebenarnya cukup punya bobot. Margot yang diperankan oleh Emily Bader, walaupun melakukan pilihan-pilihan bego, tapi tidak annoying. Dia likeable. Dia dirancang sebagai teman yang bisa relate sama semua penonton. Sayangnya, dia hidup di dunia-cerita yang dibangun dengan lemah. Film ini bahkan tidak bisa dibilang sebagai found footage yang all over the place. Melainkan cuma cerita yang bisa lebih baik penggaliannya jika tidak dikonsep sebagai found footage.

ParanorActivity-Next-of-Kin-trailer-image
Kau tahu kau gagal jadi sesuatu, kalo orang bilang kau bisa lebih baik jika enggak jadi sesuatu itu.

 

Bayangkan, jika tidak sibuk mikirin karakter dan kamera, film ini bisa menggali banyak hal yang hanya dimasukkan seuprit dalam cerita. Budaya orang Amish yang berbeda dengan anak teknologi macam Margot dan teman-temannya. Ini bisa jadi bahasan yang menarik. Apalagi film memang tampak menggali horor dari sini. Margot dan teman-temannya menjadi takut dan curiga kepada keluarga Amish itu karena mereka begitu aneh dan berbeda. Hidup tanpa listrik dan sebagainya. Belum lagi perkara mereka adalah keluarga darah daging Margot. Bahasannya bisa dalam. Tapi karena film ini lebih mementingkan gaya found footage, maka bahasan ke arah sana dangkal sekali. Hanya berupa ‘Amish berbeda sehingga mereka mengerikan’. Ini kan jadi kayak menghororkan stereotipe, yang bisa berujung terlihat sebagai narasi yang gak respek. Mungkin itu juga sebabnya film ini mengadakan sebuah revealing di menjelang akhir yang menjelaskan sesuatu ternyata tidak seperti yang kelihatannya.

Ada hal-hal tertentu yang membuat kita boleh meninggalkan keluarga. Harus meninggalkan, malah.Yang dialami oleh Margot dan ibunya sebelum dirinya, adalah contoh dari hal tersebut. Film ini memang menunjukkannya dalam lapisan horor. Tapi di balik itu, kita bisa mengambil nilai bahwa tidak semua yang dilakukan oleh keluarga kita, yang dipercaya oleh mereka sebagai kebenaran, adalah kebenaran.

 

Namun itu juga lantas menunjukkan betapa naskah film ini memang dibuat sekenanya aja. Kayu yang memalang pintu gereja bertulisan kalimat dalam bahasa Jerman. Margot dan kawan-kawan kelimpungan mencari tahu artinya, yang ternyata adalah peringatan. Namun saat mereka semua sudah masuk, di lantai gereja, terdapat gambar-gambar yang disertai tulisan–berbahasa inggris!! Sehingga Margot bisa membaca eksposisi-eksposisi dan cerita bisa kembali maju. Film ini enggak ragu-ragu untuk menjadi serba mudah bagi karakter, karena itu berarti mudah juga bagi mereka untuk membuat cerita. Malah ada adegan ketika karakter mampir ke toko, minjam internet dan ngegoogle nama setan, dan dalam waktu enggak lebih dari satu menit, seluruh misteri dan mitologi film ini terbeber semua kepada karakter. Film praktisnya usai di sini. Dan sisa durasinya adalah untuk gila-gilaan. Yang malah kerasa lebih mirip cut scene video game horor first-person. Film ini ngarep kita bakal puas dengan kegilaan di akhir dan melupakan betapa males dan ngasalnya mereka dalam membangun konsep dan menulis cerita.

 

 

Bagaimana membuat sesuatu yang tadinya unik tapi lantas menjadi membosankan, menjadi unik kembali? Jawaban film ini adalah dengan membuatnya menjadi hal basic yang dihindari oleh originalnya sedari awal. Film ini hanya sedikit sekali terasa seperti franchise Paranormal Activity, dan sama sekali tidak terasa seperti perbaikan. Okelah, secara teknis, film ini memang lebih baik daripada film terakhir dari Paranormal Activity sebelum ini. Namun secara overall, konsep yang dipakai sangat lemah. Dan enggak klop dengan potensi maksimal yang dimiliki oleh ceritanya. Hasilnya, tampak sebagai usaha yang teramat lemah dalam menghidupkan kembali franchise found footage yang pernah sangat populer ini.
The Palace of Wisdom gives 2.5 out of 10 gold stars for PARANORMAL ACTIVITY: NEXT OF KIN

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pendapat kalian tentang genre horor found footage? Apakah menurut kalian masa horor genre tersebut sudah lewat? Konsep unik apa yang ingin kalian lihat dalam genre ini?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

TITANE Review

“Hard experiences may indeed make you tough.”

 

Titane adalah cerita tentang seorang perempuan yang cinta sama mobil. Itu adalah kalimat yang paling innocent dalam mendeskripsikan film karya sineas Perancis Julia Ducournau ini. Sebenarnya, Titane bukanlah cerita yang innocent. Ataupun bukanlah cerita yang normal. Cinta sama mobil yang kita kenal adalah, sikap orang yang merawat dengan seksama kendaraan yang punya nilai tertentu bagi dirinya. Orang yang membanggakan kendaraannya karena kendaraan tersebut entah itu irit, awet, atau mesinnya ‘bandel’. Ya, cinta yang normal-lah. Cinta sama mobil Titane berada dalam realm yang sama sekali berbeda. Perempuan tokoh utama film ini lebih suka mengekspresikan dirinya kepada mobil, ketimbang kepada manusia. Dia menari erotis di atas kap mobil. Hingga di satu titik, perempuan tersebut hamil. Oleh mobil.

Alih-alih air susu, dadanya mengeluarkan oli. Alih-alih ketuban, cairan hitam pekat-lah yang muncrat dari dalam tubuhnya. Di satu sisi, film ini memang cocok dimasukkan ke dalam kotak body-horror, berkat bertaburnya elemen-elemen edan ketakutan si karakter perempuan terhadap kondisi tubuhnya. Namun di sisi lain, di samping keanehan tersebut, sutradara Julia sesungguhnya kembali menghadirkan kepada kita kisah hubungan kekeluargaan yang hangat. Yang mengalun beriringan dengan tema-tema yang super relate dengan kemanusiaan. Seperti self-healing atas trauma, dinamika gender, dan kendali atas tubuh/hidup sendiri.

titane840_560
Kucumbu Mobil Indahku

 

Perempuan itu bernama Alexia. Waktu kecil, Alexia pernah kecelakaan mobil. Sehingga pelat baja harus ditanam di kepalanya. Tau tidak siapa yang pertama kali dipeluk dan dicium Alexia cilik begitu operasi perawatannya berhasil? Bukan, bukan ibu dan ayahnya. Mobilnya. Kecintaan tak-wajar Alexia sama mobil memang telah tumbuh sejak dini. Dan kerenggangannya dengan orangtua – terutama dengan ayahnya – besar kemungkinan adalah sumber dari segalanya. Setelah dewasa, Alexia bekerja sebagai penari stripper. Spesialis nari di mobil. Dirinya semakin berjarak dengan manusia-manusia lain. Malahan, saking canggungnya dengan manusia, Alexia punya kecenderungan untuk membunuh orang-orang di sekitarnya. Serius. Alexia jadi semacam serial killer! Di tengah pelariannya suatu ketika, Alexia menyamar menjadi putra dari seorang pemadam kebakaran. Putra yang hilang sejak kecil. Penyamaran Alexia membawanya bertemu dengan Vincent, sang pemadam kebakaran. Alexia tinggal bersama Vincent yang percaya dia adalah putranya. Film Titane lantas mulai berganti gigi. Masuk ke dalam cerita melodrama dua orang asing yang saling tidak menampilkan diri masing-masing, meski tak bisa dipungkiri, mereka saling membutuhkan.

Karena bicara tentang tubuh dan trauma itulah, maka film ini terasa seperti versi cewek dari Kucumbu Tubuh Indahku (2020) bagiku. Bagaimana tidak? Film ini juga menggunakan tubuh sebagai rekam jejak hidup yang dilalui oleh Alexia. Hidup yang penuh trauma. Lempeng baja di kepalanya itu merupakan bukti literal, catatan, atas trauma pertama yang menimpanya. Dan trauma itu membekas, seperti halnya lempeng baja yang terus bercokol di sana. Sebagai simbolisme, lempeng itu menunjukkan karakter dari Alexia. Perempuan yang tangguh. Atau mungkin lebih tepatnya, membuat dirinya tampak tangguh. Setiap pengalaman buruk, setiap trauma yang ia alami, membentuk dirinya semakin heartless. Semakin dingin. Semakin tak-perempuan. Di sinilah aspek gender mengambil peran dalam cerita. Memang masalah Alexia dan ayahnya tidak pernah disebutkan dengan gamblang, tapi aku tidak akan kaget kalo ternyata ayah lebih senang punya anak cowok ketimbang cewek. It would explain kenapa Alexia suka sama mobil. Teoriku, backstory cerita adalah, Alexia mencoba untuk memenuhi ekspektasi ayahnya tersebut, dan hasilnya adalah kekacauan hubungan ayah-anak yang kita lihat di film ini.

Jadi, seperti Juno dalam Kucumbu Tubuh Indahku, Alexia lantas menapaki hidup yang penuh trauma sembari tidak boleh menunjukkan kelemahan. Namun jika Juno berakhir harus menahan sisi feminimnya, Alexia yang kodratnya sudah cewek – harus menekan kemanusiaannya. Itulah sebabnya kenapa Alexia menjadi distant dengan manusia. Kenapa dia bisa jadi serial killer. Pelat baja adalah simbol sisi kemanusiaannya yang hilang. Dan kehamilannya oleh mobil, adalah simbol puncak hal tersebut. Dia hamil setelah melakukan pembunuhan yang, at least pertama kita lihat. Trauma atas peristiwa tersebut membuahkan kehamilan kepadanya. ‘Buah’ yang menunjukkan dia bukan lagi ‘manusia’. Sekaligus juga jadi tantangan terbesar, dia harus menghadapi kewanitaannya. Tebak ke mana cerita membawa Alexia berikutnya? Ya, Alexia yang tengah hamil (kecepatan hamilnya pun di luar kecepatan hamil normal) harus menekan perut buncitnya dengan suspender, karena dia harus menyamar sebagai laki-laki. See, semua simbolisme tadi itu comes together di paruh kedua cerita.

Secara teori, trauma yang kita rasakan, ‘diserap’ oleh tubuh. Semua yang kita alami, baik secara fisik maupun secara mental atau emosional, akan direkam dan disalurkan kepada tubuh. Maka ada benarnya juga perkataan yang mengatakan bahwa pengalaman keras dan trauma dapat membuat kita jadi lebih tangguh. Tubuh kita beradaptasi, membentuk pertahanan terhadap itu. Tapi sebagai manusia kita tidak hanya tubuh. Kita perlu penyaluran yang sehat terhadap trauma tersebut, penyaluran yang tidak membebani tubuh semata.

 

Jika kita memang menganggap film ini terdiri dari dua bagian cerita, maka bagian terbaik film ini adalah cerita di bagian keduanya. Ketika Alexia ‘terperangkap’ sebagai Adrien, putra yang telah lama hilang dari Vincent. Di sini adalah ketika semua yang dipercaya Alexia selama ini ditantang. Mau itu tentang bagaimana ayah kepada anaknya. Hingga ke tentang menjadi tangguh atau be a man itu sendiri. Selama ini, sebagai perempuan (dan penari stripper!), Alexia merasakan tatapan lapar para lelaki. Jadi dia berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahan. Sebagai Adrien, Alexia merasakan ‘tatapan’ yang berbeda dari para lelaki. Dia experience something yang tak pernah ia rasakan, sekaligus juga sesuatu yang familiar. Dia belajar banyak tentang kendali tubuh dan ekspresi dari Vincent, karakter yang actually ditulis lebih beresonansi ketimbang dirinya sendiri. Vincent, kapten pemadam kebakaran yang dituntut untuk tampil macho, tapi punya sisi vulnerable sendiri. Yang di saat-saat pribadinya, kita tahu kapten itu tidak prima lagi. Secara teknis pun, film langsung jor-joran menghasilkan kontras dari berbagai aspek saat cerita mulai menapaki hubungan antara Alexia dengan Vincent. Warna-warna lembut di momen-momen maskulin, misalnya. Kontras-kontras itu menambah depth buat narasi yang sedang disampaikan. Ending saat keduanya mulai menerima diri mereka masing-masing adalah momen indah, sekaligus sedikit menyeramkan. Memang, relasi kedua karakter inilah yang jadi hati yang kita tunggu-tunggu sepanjang durasi.

titanedd
Cerita yang saking anehnya, aku jadi membaca judulnya pake logat anime “Ti-ta-neee~”

 

Bagian pertama film ini memang sukar untuk ditonton. Alexia benar-benar karakter yang sulit untuk disukai. Waktu kecil dia begitu annoying dengan menirukan suara mesin mobil (dia bertingkah annoying itu yang actually jadi penyebab dirinya kecelakaan) Dia tidak banyak bicara. Ekspresinya tak terbaca. Dia membunuh orang-orang, beberapa di antaranya adalah orang yang berusaha bersikap ramah kepadanya. Kita tak tahu apa yang ia pikirkan, dan apa motivasinya selain tidak ingin tertangkap polisi. Hal satu lagi yang kita tahu adalah bahwa Alexia gak pengen hamil. Apalagi adegan-adegan yang ditampilkan juga bukan buat konsumsi orang-banyak. Adegan pembunuhannya digambarkan cukup real sehingga bisa bikin perut bergejolak. Adegan body-horrornya juga cukup disturbing, dengan oli muncrat ke mana-mana. Bahkan adegan ketika dia ‘mendandani’ dirinya untuk menyamar sebagai cowok; jangan harap adegan itu seelegan adegan Mulan potong rambut sebelum berangkat ke training camp. Film ini penuh oleh gritty things yang hard to watch. Namun begitu, aku salut sama penampilan aktingnya. Yang meranin Alexia itu bukan aktor profesional. In fact, film ini adalah debut aktingnya. Agathe Rousselle ditemukan oleh tim Julia di sosial media, dan langsung digembleng akting. Turns out, permainan akting silent dan berekspresinya juara banget.

Julia basically menyandarkan bagian pertama kepada performance aktor baru ini. Rouselle diberi kesempatan, dan she kills it! Satu-satunya alasan kita enggak berdiri dan ninggalin film ini meskipun di pertengahan awal itu karakternya unlikeable dan situasinya weird as hell, adalah Rouselle menyuguhkan penampilan akting yang membuat kita relate kepada Alexia, karakternya. Kita merasakan yang Alexia rasakan, lewat tubuhnya. Ketika dia membunuhi seluruh penghuni rumah, kecuali satu orang yang berhasil, kita merasakan kelelahan yang ia rasakan. Kita merasakan tekanan dari kejadian tersebut.

 

 

 

Mesin film ini memang lama panasnya. Set upnya gak benar-benar melandaskan banyak, karena seperti ada penghalang kita dari si karakter utama. Ditambah pula dengan elemen horor dan adegan-adegan yang membuat film ini bukanlah sebuah tontonan yang bisa dengan mudah untuk diselesaikan. Tapi memang itulah yang jadi jualan utama. Sebuah pengalaman traumatis. Artistry, kreasi, dan semua kemampuan sinematik pembuatnya diarahkan untuk membuat pengalaman tersebut mencuat. Walaupun harus menjadi seaneh mungkin. Bahkan ketika hati cerita mulai kelihatan pun, film tidak menginjak pedal rem dalam membuat dirinya tampak sebagai sebuah mimpi buruk. Namun di lubuk hati, kita tahu masalah yang dihadapi karakter-karakternya adalah masalah kemanusiaan yang real. Kita tahu perasaan tersebut bisa jadi relatable. Film ini dapat standing ovation sembilan menit di Cannes. Jadi, dalam semangat film itu sendiri, sekarang aku minta kita semua untuk berdiri. Dan bilang “Brrrrmmm Breemm Brmmmm!!”
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for TITANE

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pendapat kalian tentang film dengan elemen cerita yang aneh seperti film ini? Apakah bagi kalian keanehan tersebut jadi daya tarik atau malah jadi turn-off?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DUNE Review

“There is no greater jihad than to help the helpless”

 

Beberapa menyebut film ini sebagai Star Wars versi lebih serius. Ada juga yang menyebutnya sebagai Star Wars versi islami. Cerita tentang Imam Mahdi. Bagi pembaca novelnya, Dune adalah fiksi ilmiah yang paling ditunggu, karena mereka penasaran bagaimana cerita sepadat itu divisualkan ke dalam tayangan. Bagi David Lynch, Dune adalah pengingat kegagalan, sehingga ia bahkan tak tertarik nonton film baru ini. Bagi ‘film-twitter’, Dune adalah bahan ribut bulan ini. Dan akhirnya, tiba juga bagiku untuk menyumbang suara mengatakan Dune versi Denis Villeneuve ini adalah apa.

Waktu itu memang aku terlalu sibuk untuk ikutan keramean seputar artikel yang bilang orang yang ngantuk nonton Dune punya wawasan pas-pasan. Padahal semua itu gak ada hubungannya sama wawasan. Kubilang sekarang, mereka yang bosen, bahkan sampai ketiduran nontonin Dune versi baru ini, pastilah cuma orang-orang yang belum pernah nonton Dune yang versi David Lynch. Serius. Senada dengan Lynch sendiri, alasan aku juga enggak antusias menyambut Dune terbaru adalah karena aku punya mimpi buruk berkenaan dengan Dune 1984. Aku berusaha nonton lima kali, dan ketiduran enam kali!! Bukan karena film itu jelek – aku gak punya kapasitas bilang film itu jelek, karena selalu gagal menontonnya sampai habis – tapi karena film itu terbeban banget oleh eksposisi. Sepuluh menit pertamanya aja full-narasi eksposisi! Makanya, begitu akhirnya menonton Dune versi Denis, aku lega sekali karena film ini terasa jauuuuuuuuhhhhh lebih ringan. Denis meminimalisir semua eksposisi dan mitologi. Jika Dune memanglah awalnya dibuat untuk menjadi ‘saingan’ Star Wars, maka Dune versi 2021 ini adalah yang paling dekat untuk memenuhi fungsi tersebut. Film ini jauh lebih mudah untuk dinikmati ketimbang yang kalian dengar dikatakan oleh orang-orang.

DUNE4267631098
Film ini jadi bukti bahwa bisa kok sebuah adventure grande dibuat tanpa bumbu-bumbu humor one-liner yang cheesy

 

Aku ngerasa bisa relate sama usaha film ini dalam mengurangi eksposisi, karena di sini aku pun gak mau kalo review yang aku tulis akan terbaca sebagai gibberish – sebagai fafifuwasweswos omong kosong – oleh pembaca yang enggak ngerti sama istilah-istilah dalam semesta cerita Dune. Di sini, aku pun harus berusaha membuat supaya ulasan ini bisa semudah mungkin untuk diakses oleh general audience. Dan itu beneran susah! Diadaptasi dari novel karya Frank Herbert sepanjang 412 halaman, Dune punya dunia yang lore dan mitologinya penuh oleh istilah-istilah (dengan referensi kuat ke budaya dan peradaban Islam, sehingga wajar banyak yang nyebut ini sebagai Star Wars untuk sobat gurun), dan punya cerita penuh oleh intrik politik kerajaan-kerajaan atau kelompok-kelompok masyarakat, sementara juga tetap mempertahankan message mengenai lingkungan, sosial, dan kepercayaan sebagai tema yang membayangi gambaran besarnya. Ibarat minuman, Dune begitu kental. Susah untuk mengekstraknya menjadi konsumsi yang lebih ringan tanpa mengurangi esensi yang dikandungnya. Berikut usahaku menceritakan sinopsis dengan singkat, tanpa menyelam terlalu dalam ke istilah dan mitologinya:

Di dunia tahun 10191, planet gurun Arrakis jadi lahan tambang karena kandungan sumber dayanya. Penduduk asli planet tersebut, bangsa Fremen yang bermata biru, terjajah bertahun-tahun lamanya oleh bangsa penambang House Harkonnen. Demi mengatasi keadaan tersebut, Emperor mengutus House Atreides dari Planet Caladan. Tokoh utama cerita ini adalah putra mahkota House Atreides, Paul. Di bawah bimbingan ayahnya, Paul dididik secara militer dan dibimbing untuk jadi pemimpin yang baik, sebagai penerus kelak. Tapi Paul ternyata punya takdir satu lagi. Paul memiliki kekuatan ‘penglihatan’ dan ‘the voice’ (ala Jedi Mind Trick). Dia mungkin adalah messiah yang bisa menghentikan perang, menyatukan semuanya. Di saat Paul masih berkutat dengan tanggungjawab besar dan mimpi-mimpi yang menawarkan versi masa depan yang menyita perhatiannya, pengkhianatan besar terjadi!

See, basic banget! Menulisnya simpel begitu jadi terasa kayak cerita ‘The Chosen One’ yang biasaKurang lebih tantangan seperti itulah yang harus dijabanin oleh Denis di proyek ini. Denis gak mau filmnya berat, maka dia menceritakannya dengan sesimpel yang ia bisa. Dengan minim dialog. Dengan informasi-informasi dan penjelasan dibeberkan seperlunya. UIntungnya Denis punya senjata andalan, yang tentu saja tidak aku punya (siapalah saya…), yang penulis novel aslinya gak punya, dan yang bahkan gak bisa dimaksimalkan oleh David Lynch. Visual Storytelling.

Ketika harus memberitahu bahwa karakter yang diperankan Zendaya adalah orang Fremen yang cantik nan misterius, Denis menceritakannya lewat visual yang begitu striking. Mengontraskan warna mata, warna kulit, warna lingkungan. Memanfaatkan dukungan musik dan permainan kamera. Begitu kuat kesan dreamlike pada adegan yang memang berupa pandangan di dalam mimpi tersebut. Bandingkan saja dengan Dune versi lama, yang lebih memilih mengatakan semua itu kepada kita langsung lewat narasi voice-over, narasi suara hati yang bergema. Dune versi baru ini lebih elegan. Bicara banyak tanpa banyak bersuara. Denis tidak mau kita fokus membincangkan mitologi dan sebagainya. Denis mau kita menikmati spektakel visual yang ia hadirkan dengan maksimal. Dia ingin kita mengalami semua visual di planet fantasi ilmiah tersebut. Shot-shot wide yang kerap ia lakukan, ditujukan untuk menekankan sensasi epicness kepada kita. Entah itu ketika ada pesawat (yang sayapnya seperti sayap capung!) mendarat di tengah-tengah kerumunan, ketika serangan cacing tanah raksasa diperlihatkan dari atas lewat sudut pandang dua orang di atas pesawat, atau ketika ada badai pasir di latar belakang. Semuanya mengedepankan skala. Kita melihat manusia begitu kecil, cacing begitu besar, dan sebagaimana. Sense indera inilah yang membuat pengalaman menonton Dune jadi begitu memikat. Kita dimaksudkan untuk menyantap itu semua sebagai hidangan utama.

dune_worm_main
Visualnya edune!!

 

Film versi Lynch bahkan minim aksi. Tidak ada pertempuran berantem atau satu-lawan-satu di sana. Sementara, film baru ini seru lewat lebih banyak aksi, baik itu kejar-kejaran maupun berantem. Martial Art yang ditampilkan pun tampak plausible, dimainkan dengan menghibur ke dalam ‘gimmick’ alias lore yang dipunya oleh dunia cerita. Dune David Lynch, yang mementingkan narasi dan eksposisi semesta, tidak punya ruang yang lega untuk mengembangkan karakter. Paul di film itu tidak punya banyak fase-fase development. Malah karena begitu sempit, karakternya tampak seperti menerima status ‘imam mahdi’ itu begitu saja. Dia lantas jadi kayak dewa. Denis dalam film versinya ini punya ruang lebih banyak untuk membebaskan karakternya. Paul dikembangkan dengan lebih natural. Timothee Chalamet punya banyak waktu untuk menunjukkan jangkauan aktingnya. Ada lebih banyak momen humanis untuk karakternya membangun relasi dengan ibu yang jadi mentor ‘ilmu jedi’nya. Begitu juga momen-momen dengan karakter sahabatnya, yang tidak ada pada film versi Lynch yang strict ke Paul dan sang ayah saja. Arc-nya adalah tentang menerima tanggungjawab, dan Paul punya dua yang harus ia terima. Film menyulam ini dengan seksama, inilah yang dipastikan ada closingnya, sehingga nanti saat film memang harus bersambung ke part berikutnya, masih ada elemen yang menutup pada cerita.

Antara jadi pemimpin atau penyelamat. Antara sebagai penjajah atau penolong. Paul sesungguhnya telah memilih, tapi dia struggle dengan posisi dirinya untuk menempati pilihan tersebut. Perjuangan inner-nya yang menggambarkan makna jihad. Sebab jihad bukan semata berarti turun berperang. Melainkan berjuang, membawa diri sendiri, untuk menolong yang tak berdaya.

 

Ini sih sebenarnya yang jadi masalah. Dune 2021 terasa incomplete. Karena memang filmnya ternyata dibagi dua. Dan, marketingnya.. well, aku tau kurang bijak menilai film dari cara mereka memasarkan diri, tapi there’s something about it yang membuatku jadi mengaitkannya dengan pembuatan dan storytelling film ini sendiri. Dune tidak segera memasarkan diri sebagai Part One (they soft sell this instead), dan bagian keduanya disebutkan akan lanjut atau tidak bergantung kepada kesuksesan Dune yang sekarang ini. Jadi, film ini keadaannya semacam kayak game Final Fantasy. Ini adalah kesempatan ‘terakhir’ mereka membuktikan diri dengan ngasih yang jor-joran, karena ada kemungkinan ujung ceritanya gak bakal bisa lanjut ditampilkan. Tapi Dune tidak benar-benar rapi menutup episode ini. Arc paul memang  menutup, tapi development lain tidak digenjot. Istilah gampangnya, Dune ini tidak terlihat seperti didesain untuk bisa berdiri sendiri. Walaupun pembuatnya yakin mereka hanya punya kesempatan kecil untuk melanjutkan cerita, tidak terasa mereka put everything on the line. Jadi, effort meracik cerita di sini agak kurang maksimal.

Mereka literally cuma bergantung pada keberhasilan spektakel visual. Di luar itu, dan di samping usaha menutup arc Paul for now, tidak lagi ada substansi. Keputusan film untuk meminimkan informasi berbalik jadi bumerang. Kita jadi tidak masuk secara immersive ke dalam mitologi dunia. Film ini menjadi terlalu sederhana for its own good. Narasinya jadi kurang berbobot karena tidak membahas mendalam. Dari konteks bahasa, misalnya. Saat menonton Dune ini kita akan notice banyak istilah Islam, tapi dengan mengabaikan banyak lore, film ini sendiri jadi seperti mengesampingkan kepentingan kenapa istilah-istilah tersebut dipakai pada awalnya oleh novel. Tentu saja pertanyaan ‘kenapa’ yang baru jadi terangkat. Memang, kondisi politik dunia kita pun memang sudah berbeda, antara masa pembuatan novel Dune dengan masa filmnya dibuat ulang. Dan ini jadi menarik, apakah memang ada hubungannya dengan itu? Apakah menyebut Islam dan jihad sebagai asosiasi dari protagonis kulit putih tidak lagi ‘klik’ dengan situasi saat ini? Ini kan bisa jadi bahan tulisan lain yang menarik untuk diangkat. But for now, untuk kepentingan penilaian karya film, aku mencukupkan dengan mengatakan film ini agak terlalu kopong perihal substansi, dan memang hanya dibuat untuk spektakel saja.

 

 

 

Memang conflicted sih, aku jadinya. Aku percaya film adalah sulap kreasi. Film ini menawarkan teknik dan kreasi yang tidak kurang dari sebuah masterpiece. Namun aku juga percaya film harus punya bobot. Film ini, sekarang aku tidak begitu yakin. Apakah dia sengaja untuk hiburan visual saja, dan menyimpan semua bobot di bagian kedua. Atau apakah memang sengaja dibikin ringan dan sama sekali tak membahas yang lebih dalam. Apakah film justru mengandalkan kita untuk baca novelnya (atau baca thread di twitter, kalo kalian kebelet pengen cepet ‘smart’ tanpa baca bukunya) supaya mereka tak perlu banyak-banyak menjelaskan lagi – which is still bad, karena film haruslah bisa bercerita tanpa suplemen lain. Kalopun ada kesimpulan, maka itu adalah bahwa film ini membuktikan novel karya Herbert memanglah tidak-bisa-difilmkan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for DUNE

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian perjuangan Paul adalah perjuangan Jihad?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

HALLOWEEN KILLS Review

“… and that fear turns them into monsters.”

 

 

SURAT DARI MICHAEL MYERS

 

Dear Penduduk Haddonfield,

Sebagai putra daerah yang udah meneror kota kesayangan kita empat puluh tahun lamanya, saya akhirnya merasa senang. Harapan saya sih pengen bisa sedikit bangga juga sama kalian. Kalian tidak lagi cuma berdiam diri di rumah masing-masing, menunggu saya yang dalam perjalanan mencari Laurie Strode, untuk mampir dan membunuh kalian sekeluarga. Kini kalian berkumpul dan dengan berani menyusun rencana untuk balik memburu saya. Sebenarnya, dulu sudah ada juga sih yang nekat membentuk pasukan seperti itu. Tapi film Halloween 4 yang bercerita tentang itu, beserta sekuel-sekuel yang lain, udah dianggap enggak ada oleh trilogi terbaru buatan David Gordon Green. Tapi saya masih ingat kok. Dulu itu skalanya kecil. Sekarang, wuih, hampir semua dari kalian yang turun ke jalan. Saya kan jadi gak perlu repot-repot lagi!

Sebelum lanjut, saya mau mengucapkan terima kasih kepada tim pemadam kebakaran kota. Karena telah menyelamatkan saya dari dalam jebakan kobaran api di basement rumah Laurie. Coba kalo pemadam kebakaran tidak datang. Pastilah topeng William Shatner kesukaan saya hangus terbakar. Untung mereka datangnya cepet, topeng saya cuma rusak setengah, dan itu jadinya malah tampak lebih keren. Sebagai rasa terima kasih, saya sudah berikan para pemadam kebakaran itu tiket satu-arah ke alam barzah. 

halloween-kills-michael-myers-fire-survival
Sambutan hangat di kampung halaman

 

Yang jelas, Laurie Strode pasti tidak menyangka jebakan briliannya di film Halloween 2018 bakal berakhir sia-sia. Bukan saja dia gagal menghabisi saya, tapi dia juga kehilangan rumah. Padahal rumah itu sakral loh. Seperti yang akhirnya kalian duga, bagi saya rumah adalah segalanya. Saya akan selalu kembali ke sana. Tidak peduli rumah tersebut sudah dihuni orang lain. Ya tinggal bunuh saja. Pokoknya saya harus bisa menatap jendela di kamar kakak saya. Kalo kalian ingin menyakiti saya, harusnya kalian bakar saja rumah saya. Ah, tapi kalian mungkin tidak kepikiran ke sana. Padahal lihat saja Laurie, sekarang dia gak punya rumah. Dia jadi lemah. Dia malam itu tidur di rumah sakit. Enggak bisa ikut berburu saya, bareng kalian. Aksi Laurie di sini cuma menghajar seorang dokter. Random banget. Jujur saya kecewa juga sih. Soalnya meskipun sekarang kalian jadi jagoan semua, lawan saya jadi banyak, tapi enggak ada yang sekuat Laurie. Bahkan anak dan cucu Laurie saja pun, tetap tidak sekuat dirinya. Saya gak dapat lawan yang sepadan di sini. 

Saya pengen banget ngunjungin Laurie di rumah sakit. Biar persis kayak film Halloween jadul kita yang kedua. Tapi yang ke rumah sakit, justru orang lain. Saya bahkan gak kenal siapa. Kayaknya bukan orang kota kita, deh, guys. Yang bikin saya makin kesal adalah kok bisa-bisanya kalian semua menyangka orang asing itu saya. Ayolah. Orang asing bertubuh kecil, setengah botak, tua, penakut, dan gak bisa naik mobil itu? Sayaa?? Mirip dari Hong Kong!! Oke, mungkin kalian memang tidak tahu atau tidak ingat wajah saya yang sebenarnya seperti apa. Dan mungkin kalian sudah jadi sebegitu takut dan marahnya sampai-sampai gak berpikir jernih. Tindakan kalian malah lebih monster daripada saya loh. Saya mana pernah ngeroyok orang tak-bersalah. Saya membunuh orang tak-bersalah satu-lawan-satu. Nasib si orang itu jadi naas di tangan kalian. Serupa ama nasib orang yang juga dituduh sebagai saya di film Halloween 4.

Itu satu lagi yang bikin saya jengkel. Pak Sutradara pengen bikin cerita baru, dan menganggap kisah saya dan Laurie yang segitu banyak versinya itu tidak ada, tapi dia tetep masukin hal-hal yang membuat saya bernostalgia. Saya kan jadi bingung. Harus flashback atau tidak. Masa lalu saya beberapa dibuat ulang, pake efek yang mulus sekali seolah beneran cerita lama. Lalu masa lalu itu ditambah-tambah. Yang sudah ada diruntuhkan, serpihannya dipake untuk cerita baru. Tapi bagi saya, itu kan tetap cerita lama. Makanya bingung. Laurie kan dibuat jadi bukan adik saya. Lah terus kenapa saya kejar-kejar. Saya juga punya perasaan, tau Pak! Nanti deh, setelah kelar nulis surat ini, saya akan nyamperin beliau.

Sekarang saya mau menyapa teman-teman lama saya dulu. Perawat yang dulu ternyata tidak sampai terbunuh oleh saya. Dan tiga anak kecil, Tommy Doyle, Lindsey Wallace, Lonnie Elam. Dulu mana mau saya menyakiti anak kecil. Yang saya kejar itu ya babysitter-babysitter mereka yang kurang ajar. Yang sikapnya ngingetin saya sama kakak saya. Anak kecil dulu saya biarkan lari. Sekarang aja yang aneh, saya disuruh membunuh satu anak kecil oleh Pak Sutradara. Mungkin biar kalian makin marah kali, ya, sama saya. Tapi Tommy, Lindsey, dan Lonnie sekarang juga sudah bukan anak kecil. Mereka udah gede dan hebat-hebat semua. Mereka bertiga kan, pemimpin kalian? Mereka bertiga kan yang nyuruh kalian untuk bergabung, menyorakkan “Evil Dies Tonight”, memburu saya padahal juga ujung-ujungnya yang jadi tewas terpotong-potong ya kalian-kalian juga. Saya agak kasihan juga sama kalian, makanya mayat-mayat itu saya dandani pake topeng-topeng. 

Halloweenss
Biar gak keliatan sedih-sedih amat.

 

Tau gak, kenapa kalian walaupun ramean tapi tetap gagal? Banyak korban-korban saya yang seperti begini nih: Ketika ketakutan dan dalam bahaya, mereka bukannya kabur, tapi malah berjalan ke arah saya bersembunyi. Kan bego sekali ya. Coba kalo mereka pintar. Pastilah segera kabur dan mencari pertolongan. Kalo kalian pinter-pinter, kalian pasti gak bakal ngeroyok saya begitu saja. Kalian pasti tahulah kalo saya ini manusia berkekuatan supranatural yang gak segampang itu mati. Kalo kalian pinter, kalian pasti sudah membakar saya, menabrak saya, atau mungkin kalian akan mengikat anggota tubuh saya ke kendaraan berbeda dan menarik maju sampai tubuh saya putus-putus. Tapinya kalian semua masih begitu takut dan marah untuk bisa berpikir. Saya senang kalian akhirnya pasang aksi. Menjadikan cerita yang cukup baru. Tapi mbok ya, pinter-pinter dikit lah. Tau-tau malah ribut di antara kalian sendiri, ngejar orang yang jelas-jelas bukan saya, megang pistol aja gak bener! Atau mungkin memang kalian sebenarnya bukan apa-apa selain penambah jumlah korban. Enggak ada tuh satupun dari kalian yang punya motivasi di luar kejadian di malam itu. Kalian yang penyintas juga gak keliatan punya kehidupan lain. Masih mending saya. Paling tidak, motivasi saya jadi terjawab pas akhir cerita. Saya merasa kayak Thanos di film Avengers Infinity War. Sayalah jagoannya di sini.

Jadi, ya, saya kangeeen banget ama Laurie. Kalian jaga Laurie dan keluarganya yang tersisa baek-baek ya. Biarlah Laurie istirahat dan menyembuhkan luka-lukanya terlebih dahulu. Sementara kalian juga sambil belajar mempertahankan diri yang bener. Nanti di film terakhir trilogi ini, di kali berikutnya kita bertemu, saya mengharapkan perlawanan yang seru. Itung-itung buat pemanasan sebelum ketemu Laurie. Jangan kayak kali ini lagi. Kita gak mencapai apa-apa di cerita yang sekarang ini. Banyak dari kalian yang mati sia-sia loh. Palingan cuma buat adegan-adegan mati yang kreatif aja. Matinya kalian di sini itu cuma jadi hiburan loh. Kasian amat.

Saya kasih 3 dari 10 bintang emas deh, untuk perjuangan kalian di HALLOWEEN KILLS.

 

 

Sekian dulu, surat pesan dari saya. Semoga bisa diambil hikmahnya.

Happy Halloween semuaa

 

 

 

Hormat saya, Michael Myers

 

V/H/S/94 Review

“It was a simpler time”

 

 

Kaset video atau VHS memang adalah dinosaurus, jika dibandingkan dengan beragam gadget berteknologi tinggi yang bisa mudah dimiliki dalam genggaman setiap orang.  Kualitas gambarnya yang bersemut-semut kalah jauh ama kejernihan HD. Suaranya yang berdesir (dan kadang terdengar bindeng) bukan apa-apa deh dibandingkan dengan kualitas audio di jaman sekarang. Tapi VHS punya keunggulan sendiri. Tidak ada menu yang rumit, tidak ada loading screen yang annoying, tidak ada software updates. Gak ada iklan! Saat kita ingin merekam, tinggal pasang kamera dan rekam. Saat mau nonton, tinggal masukin ke video dan tonton. VHS akan selalu dapat tempat di hati orang-orang yang pernah mengalami langsung masa keemasannya.

Kita bisa bilang itu karena sentimen nostalgia. Tapi sebenarnya yang dirindukan darinya adalah karena VHS terasa mewakili kehidupan di tahun 80-90an. Hidup yang lebih simpel dan bahagia.

 

Sekarang, semuanya udah overproduce. Terlalu banyak polesan. Bikin video youtube aja sekarang harus benar-benar seperti profesional. Enggak cukup dengan gambar dan suara berstandar tinggi. Harus dilengkapi pake efek dan edit-edit yang mentereng. Makek software editing yang ketinggalan satu versi update-an aja, kita bisa diketawain. Gak usah jauh-jauh, aku bahkan merindukan tahun 2000an ketika video-video yang ada di youtube masih berupa home video sederhana. Yang produksinya lebih mirip video VHS ketimbang buatan stasiun televisi. Kenapa? Karena video-video rumahan tersebut terasa lebih real. Lebih jujur. Karena itulah, kehadiran V/H/S/94 ini, yang franchisenya seperti sudah mati lantaran V/H/S: Viral (2014) yang flop, jadi angin segar buatku. Aku udah jenuh sama film-film yang terlalu sibuk berlomba untuk menjadi besar, baik dari segi visual, efek, cerita, hingga twist. Terutama film hororSebab sesungguhnya, ‘real dan jujur’ itulah yang jadi situasi penentu kualitas cerita horor. Situasi menakutkan yang dialami oleh karakter harus benar-benar beresonansi kepada kita. Ketika mereka diganggu hantu, misalnya, perasaan bersalah atau perasaan duka yang dilambangkan oleh peristiwa menakutkan itu harus sampai ke kita. Film harus mampu membuat kita mengerti perasaan tersebut, dan in turn bisa relate dan percaya kita bisa saja mengalami perasaan serupa; thus make us scare.

Banyak horor modern yang gagal menyampaikan ‘real dan jujur’ tersebut, karena mereka terlalu fokus ke membuat spectacle horor. Ke membuat wahana rumah hantu – alias wahana kaget-kagetan. Ke merangkai plot rumit dengan twist, yang justru sebenarnya mengalihkan kita dari esensi cerita. Ke membuat hantu tampak senyata mungkin, padahal justru menjauhkan kita dari ceritanya. Dua film V/H/S original yang tayang pada tahun 2012 dan 2013 – enam tahun setelah berakhirnya era VHS, dan di tengah maraknya genre found footage modern – mengerti hal tersebut. Paham bahwa culture horor berkembang justru saat VHS lagi hits-hitsnya. Maka film itu mengembalikan penonton kepada masa tersebut. Mengatakan, ‘ini loh habitat natural found footage itu’. Sehingga kedua film V/H/S pertama tersebut jadi sukses dan digemari, baik bagi yang rindu era VHS hingga bahkan oleh penonton yang gak really aware sama ‘kekuatan’ konsep videonya. 

vhs_195562848_7810f16b-65d9-4068-8375-2722a80af17c-superJumbo
VHS reborn!

 

 

Mengikuti (dan melanjutkan) konsep terdahulunya, V/H/S/94 hadir sebagai antologi horor pendek yang digarap oleh filmmaker-filmmaker yang udah dikenal sebagai ‘pemain lama’ pada genre horor brutal nan berdarah-darah. Simon Barrett, Chloe Okuno, Ryan Prows, Jennifer Reeder, and our own Timo Tjahjanto. Masing-masing horor pendek tersebut didesain berupa tontonan kaset video jadul. Estetik yang dipakai dan dipertahankan di sini adalah sudut pandang orang-pertama, dengan layar yang bersemut, suara yang berdesir, dan kamera goyang-goyang. Ada lima cerita lepas, yang salah satunya difungsikan sebagai perekat atau tubuh utama film ini. Yakni tentang sekumpulan pasukan S.W.A.T yang menyerbu markas sebuah cult. Di sana mereka menemukan banyak hal-hal mengerikan, termasuk empat video yang juga bakal kita tonton.

Cerita favoritku adalah Storm Drain karya Chloe Okuno. Seorang reporter dan kameramennya sedang meliput sebuah urban legend tentang makhluk setengah tikus setengah manusia yang hidup di gorong-gorong. Kita dibuat melihat aktivitas meliput mereka lewat kamera si kameramen. Konsep low-quality dan pov dimainkan dengan pintar di sini. Lingkungan gelap yang mereka lewati terasa semakin mencekam lewat pandangan mata kita yang terbatas. Horor itu akan benar-benar terasa ketika Okuno memperlihatkan sekelebatan makhluk di dalam sana. Untuk membuat kita tetap tertarik, Okuno membuat karakter-karakternya berbobot. Ada motivasi, dan nantinya ada hal yang menjadi ‘antagonis’ dari motivasi tersebut. Napas pendek segmen ini jadi terasa begitu berarti. Set up, pengungkapan, bahkan aftermath cerita tidak disampaikan terburu-buru. Sama sekali tidak ada niat dari segmen ini untuk membuat cerita menyusur tempat gelap yang semata untuk mengagetkan penonton. Kalian bisa melihat betapa respek dan fokus ke berceritanya si pembuat dari cara ia membuild up dan memberikan pay off kepada makhluk legenda yang dicari oleh karakternya. Segmen ini bahkan dilengkapi oleh klip-klip iklan ala 90an, yang menambah kesan real television footage.

Konsep sederhana dari video itu dijadikan lebih sederhana lagi oleh cerita The Silent Wake, garapan Simon Barrett. Di malam berbadai itu, acara pemakaman seorang pemuda misterius terpaksa ditangguhkan. Perempuan penyelenggara, terpaksa tetap menunggu di sana, kalo-kalo ada pelayat yang datang. Eksekusi konsep segmen ini pun dilakukan dengan luar biasa. Kita hanya melihat dari tiga kamera, dua statis yang terpasang di ruangan, dan satu kamera mobile yang dipegang oleh si perempuan. Perpindahan view dari ketiga itulah yang excellent. Tempo dan irama horor terbangun maksimal dari sana. Karena sebenarnya, cerita ini standar banget, bahkan elemen seramnya juga. Mati lampu, peti mati bergerak sendiri, ada suara-suara, wujud setan yang over-the-top bloody. Perpindahan sudut kamera dan cut-to-cutnya lah yang membuat cerita ‘jaga mayat’ ini bekerja efektif. Sebagai kontras dari cerita ini, ada Terror garapan Ryan Prows. Lebih banyak karakter. Ruang lebih luas. Dan bahkan ada ledakan. Sekelompok kulit putih rasis berkumpul, menyempurnakan rencana mereka yakni sebuah mengembangkan ‘senjata rahasia’ untuk memurnikan Amerika. Secara cerita, film Terror ini sebenarnya gak maksimal untuk cerita pendek. Ini terlihat dari ending yang terasa terburu-buru, tidak terasa berkembang dengan sempurna. Tapi paling tidak, segmen ini masih setia mengikuti konsep 90an dengan video low-quality dan bahkan adegan-adegan bego yang khas sekali seperti konten home video yang tidak profesional.

Ketiga film tersebut membangun konsep dan setia pada tema. Lalu datanglah The Subject karya anak bangsa. Aku gak tahu, but lol, Timo yang Safe Haven karyanya masihlah entry terbagus seantero franchise V/H/S/, seperti gak dapet memo di sini. Alih-alih bikin low-quality, dia malah bikin visual mentereng, kayak film digital biasa. Kayak film yang dibuat dengan kamera di masa sekarang, bukan 90an. Timo cuma nambah filter frame kamera dan catatan waktu 94 (dan kemudian editor film mati-matian menambah efek grain). Ceritanya yang mirip-mirip Hardcore Henry pun terasa futuristik.  Seorang ilmuwan gila menculik beberapa orang, dan mengubah mereka menjadi makhluk hibrid manusia-mesin. Kekacauan terjadi tatkala markas si ilmuwan digrebek polisi di bawah pimpinan Donny Alamsyah. Semua horor di tempat itupun lepas. Imajinasi dan ide cerita memang sungguhlah liar dan perfect untuk cerita horor, apalagi Timo di sini seperti mengajak kita berdialog soal semakin menyatu dengan teknologi tidak lantas membuat manusia kehilangan hati. Yang bagiku di sini, itu berarti film ini berargumen denganku soal film yang wah bisa juga punya hati kayak film-film yang sederhana. Masalahnya, film segmen ini tidak pernah menempatkan hati pada ceritanya. Melainkan sebuah spectacle yang luar biasa. Udah kayak aksi-aksi video game. Apalagi makhluk horor hibrid itu juga terlalu kinclong. Aku mengharapkan efek atau kostum yang grotesque, yang perpaduan manusia dan mesinnya itu bikin kita benar-benar mual ala makhluk Cronenberg. Tapi tidak. Timo membuat mereka terlalu ‘bersih’. Akting kaku dan  over-the-top sebenarnya juga dijumpai pada segmen atau cerita yang lain. Namun karena yang lain mempertahankan kesan video amatir nan jadul, akting tersebut jadi passable. Pada The Subject ini, sebaliknya, jadi malah mengganggu. Sebagai single story, aku bukannya tidak suka. Aku juga enjoy. Tapi sebagai bagian dari antologi dengan konsep tertentu, this entry just feels very out of place.

VHSTheSubject1-RT-1024x582-1 - Copy
Greatest shooter of all time, menembak lewat punggung kameramen

 

 

Entry terburuk, however, jatuh kepada segmen yang jadi tubuh utama film ini. Dan ini tidak mengherankan sih. Batu sandungan seri V/H/S selalu pada bagian segmen tubuh utama. Film ini pun kewalahan ketika harus mengikat segmen-segmen cerita yang saling tak berhubungan itu ke dalam satu film utuh. Cerita penyergapan oleh pasukan S.W.A.T itu berakhir gak jelas. Dan bahkan lebih ‘kempes’ ketimbang ending segmen Terror. Build up mayat-mayat mengenaskan (dengan bola mata tercungkil keluar) dan misteri berbagai boneka dan salib terbalik, tidak mendapat pay off sama sekali. Malah seperti diabaikan. Instead, kita malah mendapat penutup standar “oh ternyata si anu jahat”. Sambung-menyambung ceritanya pun terasa melompat-lompat. Inilah yang harus diperhatikan lagi oleh franchise ini untuk di kemudian hari. Mereka harus menemukan cara atau narasi yang lebih natural untuk menconvey konsep video-video yang sudah jadi ciri khas.

 

 

 

Untuk sebagian besar waktu aku menikmati menonton film ini. Tidak sejelek film ketiga franchise ini, walau juga bukan film yang benar-benar kuat. Aku benar-benar mengapresiasi konsep video low quality dan cerita sederhana tapi horor over-the-top dan berdarah-darah yang mereka usung. Menjadikannya kontras yang sangat menarik. Tapi memang, naturally, horor antologi seperti ini akan punya masalah balancing dan penyatuan, yang oleh film ini pun masih tetap tidak bisa tertuntaskan dengan maksimal.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for V/H/S/94

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian sekarang ini kita memang telah terlalu overproduce terhadap konten sehingga kehilangan elemen ‘real dan honest’ di dalamnya?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE GUILTY Review

“Conscience betrays guilt “

 

 

Perasaan bersalah bisa sangat menekan. Bikin stres. Membuat kita jadi mempertanyakan diri sendiri; kenapa kita berbuat kesalahan itu? apakah kita bukan orang yang baik? Beruntunglah jika kita termasuk orang yang belum pernah atau have no idea atas perasaan semacam itu. Karena, serius deh, kalo aku ngalamin setengah aja yang dari yang dihadapi Jake Gyllenhaal di film The Guilty ini, aku mungkin sudah menelan inhaler asma yang dipegangnya itu bulat-bulat. The Guilty garapan Antoine Fuqua memang dirancang sebagai thriller ruang-tertutup supaya perasaan stres nan helpless yang mendera karakter-bercelanya tersampaikan dengan kuat kepada kita.

Sendirinya, film ini bersalah, jika tidak-original adalah sebuah pelanggaran. Karena The Guilty memang bukan cerita original. Melainkan remake dari film setoran Denmark untuk Academy Awards tahun 2018 yang lalu. Atau, dalam konotasi yang lebih negatif lagi, film ini disebut sebagai ‘remake film versi Hollywood’ dari film Denmark tersebut. Secara garis besar, The Guilty memang persis sekali dengan Den Skyldige (alias The Guilty original). Alur cerita, konsep, misteri kasus, bahkan dialog-dialognya pun serupa. Oh ya, film ini isinya bakal dialog-dialog aja, gak bakalan ada action kejar-kejaran dan sebagainya. Pokoknya film ini tu seperti salinan kalimat per kalimat, detik per detik. Frame-frame close up, entah itu menampilkan wajah dan sorot mata, ataupun menampilkan tangan yang menggenggam-genggam inhaler seolah itu adalah bola peredam stress, juga dilakukan oleh Fuqua.

Seorang petugas di balik meja layanan telepon 911 bernama Joe Baylor lah yang jadi karakter utama. Soon we learned bahwa itu ternyata bukan pekerjaan ‘asli’ Joe. Dia ada di sana sebagai ‘hukuman’. Joe turun pangkat dari petugas polisi ke bagian tersebut karena Joe telah melakukan suatu kesalahan. Dan malam itu adalah malam sebelum sidang keputusan terhadap kesalahannya. Kita gak langsung dikasih tau kesalahannya apa. Instead, film membuat kita terus melekat kepada Joe. Melihat bagaimana rasa bersalah itu mempengaruhi perilakunya. Bagaimana dia menjawab telepon dari orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Sampai ketika ia menjawab panggilan sos dari wanita bernama Emily. Joe yang meyakini Emily adalah korban penculikan lantas tersedot ke dalam kasus tersebut, lebih dalam daripada seharusnya. Joe percaya kasus Emily yang melibatkan dua anak kecil itu adalah kasus besar yang harus ia tangani dan harus ia tolong, sebagai bukti bahwa ia adalah polisi yang baik.

guiltyapPQ8mzXLyoZrg09Al5EB683Hc-t434juCuab
Polisi yang baik adalah polisi yang tidak memukul dulu baru bertanya

 

 

Kalian mungkin bertanya, kalo sekiranya kejadian dan dialognya sama persis seperti demikian – maka buat apa pula kita menonton remake Hollywood ini? Kenapa tidak nonton yang originalnya aja? Untuk apa film ini dibuat ulang?

Fuqua menjawab pertanyaan tersebut dengan actually memasukkan beberapa hal yang jadi pembeda. Hal-hal kecil yang sekilas tampak gak-penting, tapi ternyata membawa pengaruh yang cukup signifikan terhadap karakter si film ini sendiri. Dari latarnya dulu; ketika memindahkan lokasi ke Amerika, ke Los Angeles, Fuqua sudah paham. Keadaan di Denmark tempat cerita ini berasal, tentu berbeda dengan situasi di Amerika. Hal kecil yang jadi pertimbangan Fuqua seputar lokasi ini adalah dia menciptakan latar belakang – situasi – yang menambah kepada bobot rintangan. Fuqua memasukkan kebakaran besar di Los Angeles sebagai latar, supaya ketika nanti karakter utama yang sebenarnya tinggal duduk di sana, menjawab telepon enggak tinggal mencet-mencet tombol untuk menolong orang. Supaya Joe gak segampang menghubungi divisi sana-sini dan mengirim pertolongan. Latar kebakaran jadi penghambat opsi yang bisa digunakan oleh Joe dalam menolong orang, yang tentu saja berarti menambah tekanan kepada karakter tersebut. Untuk menguatkan konflik inner Joe yang ingin menolong tapi gak bisa ini, Fuqua juga sesekali membuat kita keluar dari kantor. Misalnya ketika memperlihatkan penyetopan sebuah van putih di jalanan. Namun gak really keluar, melainkan lewat visual imajinasi Joe saja. Visual yang dimainkan oleh Fuqua pake shot-shot dream-like. Asap kebakaran yang jadi latar tadi itupun pada akhirnya turut mendukung kepada bangunan visual tersebut.

Lalu, tentu saja karakter utamanya. Si Joe. Fuqua memberikan lebih banyak konflik untuk Joe. Lebih banyak dilema. Jika karakter utama pada The Guilty original adalah polisi yang memang memiliki masalah temperamen, tapi dia berusaha keras untuk tetap tenang. Maka, Joe dalam The Guilty adalah karakter yang lebih meledak-ledak. Joe dengan mudah emosi, kerap membentak rekan-rekan yang ada di ruangan itu for not being more helpful. Karakter Joe terasa punya lebih banyak konflik. Masalah keluarga jadi stake tambahan yang memperdalam karakter ini. Joe gak rela harus pisah sama putri ciliknya, sehingga dia benar-benar kalut berjuang menyelamatkan Emily karena itu adalah satu-satunya kesempatan untuk mendukung pernyataan dia adalah polisi baik yang tidak bersalah di persidangan beberapa jam lagi. Dan bahkan soal penyakit asma yang tampak diderita Joe. Diberikan Fuqua, demi menambah lapisan, yang masih sesuai dengan situasi yang jadi karakter dunia film ini. Asma adalah ‘kelemahan’ Joe, dan karakter itu mati-matian berusaha tampak kuat dan pegang kendali, karena yang kita lihat adalah Joe kayak menyembunyikan kondisi kesehatannya tersebut kepada orang lain. 

guiltyl-intro-1629827345
Film ini jadi penanda jaman ketika memperlihatkan karakternya nyimpen foto orang tersayang di wallpaper hape alih-alih di dompet

 

 

Peran Joe yang ditambah sana-sini supaya gak persis nyontek film originalnya itu hanya akan bekerja di tangan aktor yang paham bermain dengan rasa dan tau ada range di balik setiap emosi meledak-ledak yang harus ia tampilkan. Marah-marah pun gak bisa melulu terasa sama. Aku honestly mikir, kalo bukan Jake Gyllenhaal yang meranin, si Joe gak bakal sanggup menopang film ini sama sekali. Karakternya gak akan mencapai kedalaman emosional yang diniatkan, dan film ini akan beneran gagal. Jadi aku yakin Fuqua sungkem sama Jake. Hard. Jake membuat film ini tidak jadi film marah-marah. Yang dilihat Jake di layar monitor itu, mungkin kita tidak mengerti. Tapi kita paham apa yang ia rasakan saat itu. Ingat ketika tadi aku menyebut dialog film ini sebagian besar sama persis ama film originalnya? Well, Jake mampu membawakan dialog-dialog tersebut dengan nada yang berbeda. Karena ia mampu menyuntikkan emosi yang berbeda pada setiap kalimat-kalimat ucapan tersebut. Meski ceritanya sama, tapi karakter utama kedua film diniatkan sebagai karakter dengan dilema atau konflik berbeda, dan Jake berhasil mewujudkan visi tersebut. Jake juga membantu ngesold akting-akting lawan mainnya. Ada Riley Keough yang jadi Emily, ada aktor cilik Christiana Montoya, ada Ethan Hawke juga. Mereka kebagian akting lewat suara doang, yang tak pelak lebih susah, dan Jake menjadi perekat yang menyatukan mereka semua.

Kita dapat merasakan dengan kuat betapa harapan dan keputusasaan datang silih berganti merasuki diri Joe. Pergulatan bahwa dia orang baik atau bukan terus bergulir sepanjang 90 durasi. Certainly, misteri kasus Emily yang ia tangani akan membuatnya belajar banyak. Dan itu adalah pelajaran soal mengakui perbuatan yang telah dilakukan. Suara yang paling harus ia jawab duluan adalah suara nurani. Karena justru dengan menerima dia bersalah, maka seseorang telah membuktikan mereka adalah orang yang baik.

 

Cerita ini dibawa Fuqua masuk ke dalam situasi yang relevan mengenai maraknya peristiwa-peristiwa yang menunjukkan kebrutalan polisi (Police Brutality). Fuqua membuat film ini urgen dengan muatan tersebut. Dia menyelipkan dialog yang menggambarkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap polisi memang telah berkurang drastis. Polisi tidak lagi dianggap pahlawan. Maka, di tangan Fuqua, cerita jadi memiliki fungsi untuk mengetuk nurani para polisi. Lewat si Joe. Karena, walaupun tidak disebut dari awal, tapi Fuqua tidak menutupi karakter ini. Sepanjang durasi kita belajar dan menyimpulkan bahwa Joe adalah salah seorang polisi yang mengabuse power kepada masyarakat sipil. Yang main tangan hanya karena ia bisa. Kisah Joe adalah saga redemption, yang dilakukan dengan cara yang lebih peka karena langsung menjadikan pelaku sebagai subjek (tidak kayak filmnya Jared Leto tahun ini – The Little Things, yang tone-deaf sehingga malah kayak membela polisi) Bahwa perbaikan harus datang dari mereka, yang harus berani mengaku salah dan menerima hukuman.

Perbedaan yang dilakukan pada ending adalah statement. Namun, ada satu perbedaan yang dilakukan oleh film ini, yang terasa kurang pas tone keseluruhan. Bagaimana pun juga, cerita The Guilt bekerja maksimal dalam nada atau tone cerita yang kelam, yang grim. Film original mempertahankan hal tersebut. Sedangkan film remakenya ini, yang punya statement tambahan tadi, malah mengurangi persentase kelam tersebut. Ada satu karakter yang ternyata tidak mati, padahal kematiannya justru adalah salah satu pembelajaran kuat untuk karakter utama. Seolah film The Guilt ini tidak mau berakhir dengan banyak kemuraman. Bahwa redemption Joe harus dibarengi dengan reward. Dan, mengakhiri cerita dengan enggak kelam ini, tipikal Hollywood banget. Yang sebenarnya gak cocok dan agak bertentangan dengan poin cerita pada awalnya. Buatku, itu hal minor yang ada pada film ini. Selebihnya The Guilty adalah thriller crime yang sarat dan urgen untuk ditonton.

 

 

 

While lacks of originality, tapi film ini masih nunjukin geliat kreatif. Dan kepekaannya teradap isu dan rasa. Penampilan Jake Gyllenhaal carry this vision altogether. Konsep ruang-tertutup dimainkan maksimal ke dalam konflik inner karakter, dilakukan lewat treatment yang membuat kita tetap lekat kepada si karakter utama. Sehingga walaupun isinya dialog doang, film ini tetap menarik dan gak bosenin. Kasus yang dihadirkan, beserta nanti pengungkapannya dilakukan dengan cermat dan tidak membuat ceritanya terasa dibuat-buat ataupun jadi seperti agenda murahan. Kekurangan film ini buatku cuma satu, yakni tidak mampu menepis kenyataan bahwa ‘remake versi Hollywood’ masih berkonotasi negatif.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE GUILTY

 

 

 

 


That’s all we have for now

Apakah menurut kalian film ini bisa berpengaruh terhadap situasi kepercayaan masyarakat terhadap polisi? Bagaimana pendapat kalian tentang karakter-karakter polisi yang digambarkan oleh film ini?

Share with us in the comments yaa

 


Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

AUM! Review

“The seed of revolution is repression”

 

 

Bikin film tantangannya banyak. Konsep-konsep matang yang sudah disiapkan bisa sirna diterpa keadaan di lapangan. Cuaca yang tidak sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Kerusakan atau gangguan tak terduga pada alat-alat teknis maupun properti. Mood atau moral yang turun setelah sedikit adu argumen saat syuting. Semua yang menuntut filmmaker untuk mengubah rancangan, menyesuaikan dengan kondisi, bisa saja dan hampir selalu pasti terjadi saat sedang menggarap film. Itu dengan asumsi film tersebut sudah lolos dan dapat izin untuk dibuat. Karena memang pada kenyataannya, beberapa cerita boleh jadi tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk disyutingin sama sekali. Beberapa cerita dinilai terlalu ‘berbahaya’ untuk dibuat. Jadi adalah sepenuhnya tergantung usaha si empu cerita untuk menempuh apa saja supaya buah pikiran yang ia anggap penting tersebut bisa lahir dan ditonton semua orang. Aum! debut feature sutradara Bambang ‘Ipoenk’ K.M. menceritakan tentang film yang seperti demikian.

Lewat gaya mockumentary yang bernada humor-meta, Bambang menunjukkan kepada kita bagaimana sekiranya tantangan dan sukarnya membuat film yang menyuarakan reformasi, pada awal era reformasi. Kenapa aku bilang ‘sekiranya’? Well, karena walaupun kita sudah mendengar betapa opresifnya pemerintah di jaman tersebut. Beberapa dari kita ada yang mengalami langsung, aku yakin. Tapi yang disajikan oleh film ini, lewat gaya penyampaian yang dipilih, tidak pernah membuat alur cerita terasa realistis. 

aum-0_5f85ba8e-df8a-4a91-9627-54e47fd22e7d
Di IMDB malah katanya ini film biopik…

 

 

Ini tuh kayak sekumpulan orang kreatif berkumpul sehabis nonton One Cut of the Dead (2018), dan tercetuslah ide cerita versi mereka sendiri, dengan menggunakan konsep bercerita dari film komedi zombie asal Jepang tersebut. Hanya saja, mereka kurang mengenali apa yang membuat konsep itu berhasil. Alhasil, Aum! yang punya formula beat-to-beat sama dengan One Cut, tidak bekerja semaksimal itu. Aum! tidak bekerja seperti yang pembuatnya niatkan.

Dalam One Cut of the Dead, semuanya jelas. Film yang dibuat oleh para karakter kru dalam cerita, kualitasnya jelek. Amatir (makanya dilaporkan banyak penonton bioskop walk-out pada rentang setengah jam film ini) Kemudian, diungkaplah siapa yang berada di balik kamera. Kita diberikan penjelasan atas kondisi film yang mereka bikin. Tuntutan TV, gimmick yang harus dipenuhi, hingga ke konflik personal si sutradara dan para aktor. Sehingga kita tahu bahwa pentingnya film yang akan mereka bikin bagi mereka, lalu kita jadi peduli saat kenyataan di lapangan para kru menemui kesulitan sementara the show must go on. Pada akhirnya, dan mengerti kenapa hasil akhir film mereka bisa jelek seperti itu, dan kita jadi menumbuhkan rasa respek sama perjuangan kru.

Aum! yang dibuat dengan kualitas gambar dan kamera yang deliberately di bawah standar (untuk menguatkan kesan gerilya filmmaking) juga memiliki bangunan cerita yang sama. Dimulai dari kejadian yang ternyata bukan kejadian nyata. Melainkan film, yang bercerita tentang mahasiswa aktivitis yang dikejar-kejar aparat, kemudian dibantu oleh abangnya, kemudian dia rapat dengan teman-teman, dikejar lagi, rapat lagi menyuarakan ajakan untuk melakukan gerakan reformasi, lalu ada adegan yang memparodikan tindakan pemerintah terhadap gerakan mahasiswa. Lalu kita dibawa melihat proses belakang layar kejadian di awal tersebut; di sini narasi soal tekanan dan susahnya mereka menggarap film itu secara diam-diam seharusnya dikembangkan. Dan lalu, film pisah dari One Cut; Di babak akhir Aum! memasukkan twist. 

Yang membuat One Cut bekerja adalah kita sudah dilandaskan. Film buatan mereka jelek tapi memuaskan bagi mereka, tekanan untuk terus lanjut ada benar-benar kita lihat, urgensinya kuat karena ada batas waktu dan gimmick one-cut itu sendiri. Stakenya pun kerasa karena kita mengerti motivasi karakter pembuat film. Nah, itu semualah yang enggak ada, atau enggak jelas, pada Aum! Kita gak yakin film sub-par bergaya teatrikal yang para karakter film ini bikin tu, terconsidered gagal atau tidak oleh mereka, kita tidak tahu pesan mereka sampai atau tidak ke penonton di dunia mereka. Kita juga tidak melihat tekanan seperti yang terus diucapkan oleh karakter produser. Hanya ada beberapa bystander misterius yang bertanya saat syuting, selebihnya tidak ada yang menantang pembuatan film mereka, karena isi film tersebut. Padahal harusnya ini yang dikuatkan. Bagaimana mereka dapat izin, bagaimana mereka ngecoh supaya jadi syuting, misalnya. Supaya kita yang nonton bisa mengerti memang susah bagi mereka untuk bersuara. Bukan literally harus ngomong “Action!” pelan-pelan sampe gak kedengeran sama pemainnya. Hal yang kita lihat jadi hambatan paling besar dalam proses filming mereka justru adalah ketidakkompetenan kru dan sutradara – yang diniatkan jadi momen-momen komedi oleh Aum! Dan lagi, proses  bikin film mereka ini tidak pernah terasa urgen. Si Produser menyebut mereka harus bikin film diam-diam, tapi hanya ada satu adegan diperlihatkan yang mereka syuting di tempat umum. Selebihnya mereka syuting di ruang mereka sendiri. Di dalam mobil. Di gedung teater. Yang semuanya kalo gagal pun, bisa diulang syutingnya. 

Karakter-karakter Aum! tidak dikembangkan. Selain kerjaan yang jadi jobdesc mereka, kita tidak tahu lagi mereka ini siapa. Jefri Nichol jadi dua karakter (aktor dan peran yang ia mainkan), tapi karakternya tidak ada yang esensial untuk cerita dan reformasi itu sendiri. Dia hanya ada di sana, akting dua versi, for nothing. Lalu ada karakter bule yang megang kamera untuk dokumentasi. Karakter ini ujungnya pun tidak jadi apa-apa dalam cerita. Konflik yang meraung paling besar itu justru adalah soal debat filmmaking antara sutradara dengan produser di lapangan. Keduanya berselisih paham tentang visi dalam film. Hal yang bersifat internal, alih-alih eksternal seperti yang seharusnya jadi tantangan yang sebenarnya. Dan kemudian datanglah twist. Paling enggak, twistnya bener. Bener-bener mengubah cara pandang kita terhadap cerita ini dari awal. Sutradara ternyata tidak berada di pihak menyuarakan reformasi. Tidak berada di kapal yang sama dengan visi Produser. Sutradara, katakanlah, semacam menyabotase dari dalam. Berusaha supaya film yang mereka bikin menjadi sesuatu yang bukan diniatkan. Twistnya ini meskipun gak salah, gak ngada-ngada, dan ditanam dengan baik, tetep tidak mengangkat status. Kembali ke film mereka di awal. Yang kita tonton adalah film bersuara reformasi dengan gamblang seperti yang diinginkan produser, tapi teknisnya (dan suara nyanyian Jefrinya) ngaco. Jadi apakah itu berarti film mereka ini berhasil? Mereka akhirnya memang beneran digrebek. Tapi apakah itu pencekalan terhadap film mereka, atau karena posisi dan aktivitas mereka sebagai aktivis reformasi bocor oleh musuh dalam selimut tadi?

See, film ini tidak pernah clear, dan inilah yang salah satunya menghambat kita dari masuk ke dalam cerita.

aum-film-bioskop-online-2-31dc8b472b01810368e713bd7b9fc36b
Denger Chicco Jerikho teriak mulu ama-lama bunyinya berubah menjadi “Hoam!” aliasnya bunyi kita menguap

 

 

Tapi, debat Sutradara dan Produser itu sebenarnya menarik, sih. Mereka bicara soal apakah film harus subtil dan mengundang pilihan kepada penonton, atau harus stick memuat satu suara tertentu. Dengan konteks film sebagai seni, keadaannya jadi berbalik. Justru si Produser yang membela reformasilah yang jadi seperti opresor ketika dia pengen banget filmnya menyetir penonton ke arah reformasi. Meskipun pada saat itu, reformasi memang dibutuhkan. Itulah sebabnya film yang mereka hasilkan jadi konyol. Karena suara itu dipaksakan. Tapi tetap tidak diakui sebagai film yang jelek, karena pesan reformasinya adalah hal yang dibutuhkan.

Mungkin, keadaan inilah yang dimaksud oleh Woodrow Wilson ketika dia menyebut “benih sebuah revolusi adalah represi” Gerakan yang mendorong perubahan mau tak mau, sadar tak sadar akan menyebabkan satu atau lain hal merasa terbatasi. Seperti pada membuat film contohnya. Ketika pembuat memaksakan satu suara kepada penonton, tanpa memberi ruang dialog, film tersebut telah mengekang penonton dari gagasan lain.

 

Maka dari itulah, aku selalu menilai film tidak semata dari ada atau tidaknya pesan/isu. Melainkan dari bagaimana pesan/isu/gagasan tersebut disuarakan. Diceritakan. Aum! punya isu yang penting dan masih relevan, tapi film ini tidak memahami fungsi pada konsep bercerita yang mereka pakai (atau kalo boleh dibilang, mereka tiru).

Film meta seperti One Cut dan Aum! ini kuncinya ada pada ilusi. Kita membuat film di dalam film, yang begitu imersif, sehingga penonton bertanya mana yang nyata? One Cut berhasil membuat apa yang tadinya seperti kisah zombie menjadi cerminan dari perjuangan kru membuat sebuah tayangan. Perjuangan yang beneran relate sama orang-orang yang bekerja di belakang layar. Aum! mengambil konteks represi di era reformasi. Tapi dia terasa seperti meraba situasi, seperti kita. Oh dulu mahasiswa hilang diculik. Oh, dulu karya dibredel. Oh, ada militer nyamar. Kita tahu hal itu terjadi, tapi tidak bagaimana tepatnya. Fiksi dalam film harusnya diilusikan ke dalam fakta-fakta ini. Tapi dalam Aum! apa yang tadinya film fiksi bermuatan fakta, malah berlanjut terus menjadi seperti fiksi. Apalagi dengan twist ‘sutradara ternyata adalah’ tersebut. Tidak ada yang terasa real dalam film ini. Interaksi para kru juga terasa dibuat-buat, karena dijadikan komedi ‘atasan yang galak kepada bawahan’

 

 

 

Perbandingan dilakukan bukan semata untuk mengatakan film ini meniru. Melainkan untuk melihat bagaimana konsep seharusnya memenuhi satu fungsi. Film ini terasa menggunakan konsep hanya karena konsep itu keren dan bekerja pada film lain. Padahal saat kita menyaksikan, konsep pada film ini tidak banyak menolong cerita. Alurnya semakin kerasa ngada-ngada. Isinya dari akting teater yang kaku ke adegan orang debat dan marah-marah. Kita tidak peduli sama karakter-karakter karena tidak dikembangkan (melainkan disimpan untuk twist). Tujuan untuk memperlihat represi itu juga tidak tercapai, karena hambatan yang diperlihatkan film cuma hambatan dari internal. seperti ketidakcakapan kru dan sebagainya. Jadi saat menontonnya ya tidak konek, tidak peduli. Aku tidak menepis film ini punya isu penting. Tapi punya isu tidak lantas membuat sebuah film, bagus.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for AUM!

 

 

 

 


That’s all we have for now

Manakah yang lebih kalian setuju – film harus menggiring penonton ke opini tertentu atau membuka pilihan kepada penontonnya?

Share with us in the comments yaa

 


Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

THE MEDIUM Review

“All is amiss. Love is dying, faith’s defying, heart’s denying”

 

 

Sebagai satu rumpun Asia Tenggara, Thailand mirip-miriplah sama kita. Di sana pun kepercayaan terhadap kleniknya tinggi (maksudnya, orang sono juga lebih suka ke dukun ketimbang ke klinik! hihihi) Dalam catatan yang lebih serius, ada perbedaan fundamental antara kepercayaan klenik orang Thailand dengan orang kita. Di kita, mempercayakan kesembuhan kepada ilmu ghaib bisa disebut sebagai dosa. Sebagai praktek syirik, karena bertentangan dengan ajaran agama. Menduakan Tuhan. Sedangkan bagi mayoritas penduduk Thailand, klenik tersebut justru bagian dari kepercayaan religi mereka. Bangsa Thailand berdoa kepada Dewa-Dewa. Meminta kesejahteraan, kesehatan, peruntungan. Dukun adalah perantara rakyat dengan sesembahan mereka. Menolak menjadi dukun saja, berarti menolak percaya kepada Dewa-Dewa, dan itu adalah perbuatan salah yang bakal mendatangkan kemalangan. Seperti yang persisnya terjadi pada cerita film yang di-review kali ini. The Medium, kolaborasi antara penulis naskah Thailand dan Korea, akan membuka perjalanan horor My Dirt Sheet pada musim halloween tahun ini!

medium80hnp3NoCkV75bXWPLA88wEgFcK
Kalo kita bisa percaya penyakit sihir seperti cacar naga, maka kita juga bisa percaya sama sakit guna-guna

 

Poster filmnya bilang bahwa ini adalah cerita tentang perdukunan di Thailand. Maka kita dibawa melihat keseharian seorang dukun perempuan yang cukup populer bernama Nim. Cerita tampak cukup inosen di awal-awal. Kita melihat dia mengobati orang. Kita mendengar Nim menjelaskan tentang pekerjaannya tersebut, tentang darimana ia mendapat ilmu, dan bahkan soal ia memposisikan diri sebagai sanding dari ilmu kedokteran. Semua itu ternyata set up untuk kekacauan yang bakal terjadi. Bermula dari Nim yang menghadiri pemakaman suami kakaknya. Kita lantas diberitahu soal keluarga besar Nim, yang adalah bungsu dari tiga bersaudara. Keluarga besar Nim sepertinya dikutuk, lantaran sang kakak pernah menolak ilmu dukun dari Dewa. Nim langsung tahu bahwa ada yang tidak beres pada Mink, kini anak satu-satunya dari kakaknya. Mink, dengan mood swing yang mengkhawatirkan. Mink, yang bicara kepada orang yang tak kelihatan. Mink, yang pantulannya di cermin bisa senyum sendiri (jantungku copot lihat adegan ini!) Mink, yang sempat menghilang dan kembali – tidak lagi seperti orang normal. Nim bisa jadi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan keluarganya, namun bahkan serangan kekuatan gaib yang jahat itu too much untuk dihandle oleh Nim. 

Medium storytelling yang dipakai oleh sutradara Banjong Pisanthanakun (salah satu horor karyanya yang paling membekas buatku adalah Shutter di tahun 2004) dalam The Medium ini adalah gaya dokumenter. Kehidupan Nim direkam oleh beberapa kru kamera yang ingin meneliti profesi dukun sebagai tradisi lama yang ada di Thailand. Dalam perfilman, istilah untuk cerita fiksi yang dibingkai dengan gaya dokumenter disebut mockumentary. Dokementer ala-ala. Yang memang, seringkali, bukan gaya dokumenternya saja yang di-mockery. Melainkan juga ada film menggunakan gaya tersebut untuk menyentil topik yang diangkat. Seperti bagaimana Taika Waititi dalam What We Do in the Shadows (2014) memparodikan genre vampire. Atau bagaimana This Is Spinal Tap (1984) didesain untuk ngeledek kehidupan rock band. Akan tetapi, The Medium tidak terasa seperti komentar nyeleneh terhadap perdukunan. Sutradara Banjong justru terlihat punya respek yang dalam terhadap profesi tersebut. Lewat dialog yang dibentuk sebagai interview, dimuatnyalah berbagai insight.

Bahwa kerjaan dukun punya beban, tanggungjawab, dan segala kesusahan tersendiri. Kita melihat Nim yang tidak menikah, hidup sendiri alih-alih dua saudaranya yang tinggal serumah di bagian lain kota. Nim tidak dibuat sebagai karakter serbabisa, yang punya mantra-mantra ampuh, dengan tarian-tarian ritual memukau. Tidak ada jurus-jurus. Tidak ada merintah-merintah hantu berantem untuk berantem kayak Shaman King. Ketika Nim bekerja, yang kita rasakan justru ke-vulnerable-an. Dukun ternyata tidak segampang itu mengusir setan. Nim butuh waktu berhari-hari berdoa dalam lingkaran ritual yang rumit dan gak mentereng. Dia bahkan harus berhujan-hujan menanti petunjuk dari roh yang ia ajak komunikasi. Bumbu drama antara Nim dengan keluarga kakaknya, dengan abangnya, menambah lapisan pada gambaran seorang dukun yang diceritakan oleh film ini. Pekerjaan Nim benar telah jadi mockery, bahkan di kalangan rakyat Thailand itu sendiri. Dua saudara tertua Nim sendiri tidak terlampau respek sama kerjaan dukun. Sang kakak justru menolak ilmu tersebut jatuh kepadanya, dan memilih ‘kabur’ memeluk agama lain. Dalam satu adegan diperlihatkan Nim nangis dengan tragis saat patung Dewa yang sudah turun temurun jadi sembahan keluarganya ditemukan dalam keadaan patah. Kepala Dewa itu berguling di tanah.  Film tidak menegaskan bahwa itu adalah perbuatan roh jahat yang berusaha ia usir, atau ada orang tertentu yang sengaja menghancurkan patung. Yang jadi poin adalah kerjaan relijius Nim tidak lagi mendapat perlakuan atau diterima dengan sebagaimana mestinya.

Dari sekian banyak dosa yang bisa dilakukan umat manusia terhadap keyakinannya, menolak Tuhan adalah dosa paling besar. Film ini menunjukkan dosa tersebut tidak terampuni. Tuhan balik meninggalkan keluarga kakak Nim, dan di momen eksak itulah keluarga tersebut tidak bisa tertolong lagi.

 

Gaya dokumenter digunakan dengan maksimal. Karena dengan konsep ini yang kita lihat terbatas pada apa yang direkam oleh kamera dalam narasi saja, info yang kita dapat juga tidak bisa lebih banyak daripada kameramen – kita tidak melihat kejadian yang off-camera atau yang tidak direkam – sehingga ini menambah banyak bobot ke dalam aspek misteri yang dimiliki oleh film. Kayak patung tadi, kita tidak tahu pasti bagaimana bisa rusak, dan oleh siapa. Tapi misteri kejadian tersebut dengan efektif menaikkan tensi. Dan film juga jago dalam membangun tensi. Atmosfer mengerikan juga terjaga dengan baik. 

Salah satu tantangan dalam mockumentary adalah membuat alasan yang bisa dimaklumi kenapa ada kamera di sana. Film ini bijak sekali dalam menempatkan kamera tersebut. Ketika there’s no way kru bisa ada di satu tempat tertentu, maka film enggak ragu untuk memindahkan pandangan kita kepada rekaman cctv misalnya. Dan actually, memang pada permainan gimmick kamera inilah The Medium menyimpan kekuatan. Sekuen kamera tersembunyi pada menjelang babak ketiga adalah bagian yang paling seram buatku. Jumpscare yang dilakukan pun tidak annoying, melainkan memang efektif sebagai punchline adegan seram. Selanjutnya tentu saja adalah kru kamera itu sendiri. Film harus menemukan adegan atau alasan yang pas, yang memungkinkan kenapa mereka bisa terus merekam padahal ada hantu. Film juga memikirkan rancangan untuk ini. Yang juga dimainkan ke dalam pay off adegan horor nantinya. You know, dengan santainya nanti si hantu merebut kamera dari tangan kameramen, dan balik merekam mereka. Mengungkapkan horor yang selama itu tak-terlihat kepada kita semua.

Dalam lingkup horor, film ini memang enggak segan-segan menampilkan darah, adegan menjijikkan, adegan vulgar, hingga ke adegan sadis. Korbannya juga enggak pilih-pilih. Kuat-kuatin mental deh kalo mau nonton film ini. Jika kalian punya soft spot kepada hewan atau anak bayi, maka kalian akan butuh sebanyak mungkin comfort items yang bisa kalian dapatkan sebagai persiapan sebelum menonton.

medium808503_s_1624271312911
Bayangin, Dewa aja ditolak loh. Women, am I right?

 

Dengan perhatian tercurahkan kepada rancangan gaya dokumenter supaya efektif untuk capaian horor, film ini mau tidak mau jadi abai sama bangunan narasinya. The Medium akan terasa kepanjangan, ada masalah pacing yang cukup serius di pertengahan saat film mulai terasa menapaki poin yang berulang-ulang. Mink menghilang, ketemu, kesurupan, Nim berusaha mengusir roh jahat dengan ke tempat-tempat misterius, Nim seolah tahu sesuatu, tapi Nim tetap gagal. Ada beberapa kali siklus tersebut berulang, dalam berbagai variasi. Nim sebagai tokoh utama pun mulai menjengkelkan. Karena meskipun seharusnya ini adalah interview dia, tapi dia tidak pernah memberitahu kita apa-apa soal kasus Mink. Kamera, dan kita, hanya mengikutinya ke mana-mana. Mengikuti tindakan dan pencerahan yang ia dapatkan, tapi kita tidak pernah tahu dia sebenarnya lagi ngapain. Kita tidak tahu apa makna telur yang kuningnya berwarna hitam. Kita hanya melihat Nim bereaksi. Ada kesan seperti film sendiri juga sebenarnya tidak tahu, dan hanya melakukannya untuk mengulur-ulur misteri. Lalu Nim ‘hilang’ begitu saja. Posisinya digantikan oleh dukun pria, yang hadir so late in the game sehingga seperti karakter yang serbatahu. Seperti film butuh solusi instan. Dan on top of pergantian tokoh utama begitu saja (dari Nim sepertinya ke kakaknya), kasus misteri tetap tidak ada penjelasan.

Cerita film ini tidak berakhir dengan perasaan yang memuaskan. Yea aku tahu, ini bukan happy ending. Tapi bad ending yang disajikan juga tidak memuaskan, karena tidak benar-benar terasa seperti menuntaskan apa-apa. Babak ketiga film ini adalah ketika semua kerusuhan terjadi. Asik untuk horor-hororan, tapi film juga seketika menjadi all over the place. Ada orang yang kayak zombie, makanin orang. Ada orang kesurupan nabrakin kepala ke tembok ampe serpihan otaknya nempel. Kamera dengan infrared. Voodoo doll. Semua itu berlangsung gitu aja tanpa ada kepedulian sama konflik karakter yang seperti disudahi begitu saja. They are helpless, so, here’s hell for your entertainment. Film kayak bilang begitu kepada kita semua. Film yang tadinya meminta perhatian kita pada cerita, pada drama dan perasaan karakter, pada kerjaan dukun, mendadak menyuruh kita untuk senderan dan rileks menikmati horor yang mereka sajikan. Yang tampak buatku, ini merupakan sebuah ketidakkonsistenan, dan malah hampir seperti film memang tidak tahu cara mengakhiri cerita dengan tepat.

 

 

Sebagai wahana horor, aku suka. Aku merekomendasikan ini sebagai tontonan Halloween kalian semua. Nuansa horor yang kental, relate dengan kita. Karakter yang juga somehow terasa akrab. Gaya bercerita yang efektif sebagai landasan momen-momen seram yang bikin kita segen matiin lampu rumah di malam hari. Film ini punya semua itu. Yang tidak film ini punya, dan ini penting, adalah konsistensi bangunan cerita. Kita yang orang Indonesia bisa nonton ini tanpa subtitle, dan tidak akan ketinggalan banyak narasi penting, dan bisa tetap mengerti. Karena yang punya pay off pada film ini hanya gaya berceritanya. Ceritanya sendiri tidak. Jika kalian pengen nyimak cerita seputar dukun dan kepercayaan yang lebih padet dan matang, kalian akan lebih menemukannya pada The Wailing (2016), karya penulis naskah dari Korea yang ikut kolab ngerjain naskah film ini. Efektif hanya sebagai wahana horor, namun tidak demikian halnya sebagai film horor, film ini ternyata tepat sekali seperti judulnya. Medium. Sedang-sedang saja.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE MEDIUM.

 

 

 

That’s all we have for now

Ngomong-ngomong soal dukun, waktu kecil aku punya penyakit amandel. Yang cukup parah, gampang meradang. Aku pasti sakit demam dan tidak bisa menelan makanan, paling tidak satu kali dalam sebulan. Karena takut dioperasi, maka aku dibawa orangtua berobat ke dukun. Nah lucunya, sebelum ketemu sama dukun yang bener, aku sempat nyasar dulu ke dukun yang ngasal. Dari mana aku dan orangtuaku tahu bahwa dukun pertama itu ngaco? Well, karena, dia nyuruh kami untuk nyari obat berupa telur dari ayam hitam berbulu putih!

Apakah kalian punya pengalaman lucu (atau mungkin seram!) seputar berobat ke dukun?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA