INANG Review

 

“A lot of times, we are trapped by our own false sense of security.”

 

 

Rilis di tanggal 13, angka dianggap banyak orang sebagai angka sial, Inang sendiri memang bicara seputar mitos malapetaka atau kesialan. Ada sebuah hari yang menurut penanggalan Jawa disebut sebagai Rebo Wekasan. Beberapa orang percaya di hari Rabu terakhir bulan Safar tersebut, diturunkan berbagai bala alias hal-hal negatif. Sampai-sampai, bayi yang terlahir pada hari atau tanggal tersebut harus diruwat, supaya terhindar dari nasib naas. Perihal anak yang lahir Rebo Wekasan tersebut dikemas oleh Fajar Nugros menjadi cerita pengalaman horor seorang perempuan yang hendak melahirkan. Sementara horor itu sendiri, bagaikan anak pertama bagi karir penyutradaraan Fajar Nugros, sehingga kita bisa merasakan sesuatu yang spesial coba untuk disajikan. Karena scare dalam Inang tidak sebatas hantu-hantuan, melainkan scare yang lumayan kaya. Kengerian Inang menguar dari gambar-gambar dan perasaan, yang seringkali mengontraskan antara kenyamanan dengan sesuatu yang lebih mengancam di baliknya.

Inang yang tayang perdana di Bucheon International Fantastic Film Festival, Juli lalu, memang bercerita terbaik saat membahas persoalan Wulan. Sang perempuan yang di ambang melahirkan bayi seorang diri (karena lakiknya ogah tanggungjawab). Masalahnya, Wulan bukan orang dengan ekonomi yang stabil. Dia cuma kasir supermarket. Jadi Wulan benar-benar mencemaskan nasib bayinya. Alih-alih aborsi, sebagai langkah terakhir, Wulan ikut program ibu asuh yang dia temukan di facebook. Di situlah Wulan dipertemukan dengan pasangan suami istri tua yang manis dan perhatian banget, yang bukan saja bersedia mengadopsi bayi tapi juga merawat dan membantu proses Wulan melahirkan di rumah mereka yang sangat berkecukupan. Wulan boleh saja merasa aman (dan sangat nyaman), tapi mendadak dia mulai dihantui mimpi buruk di rumah tersebut. Ada sesuatu yang aneh pada pasangan suami istri itu. Sesuatu di balik ritual-ritual yang harus ia jalani atas saran mereka, membuat Wulan tak lagi merasa bisa mempercayakan keselamatan dirinya dan anak yang dikandungnya kepada mereka.
Si Ladybug Bullet Train lahirnya di Rabu Wekasan juga deh pasti!

 

Meskipun gak spesifik menyebut diri sebagai sutradara komedi, toh Fajar Nugros memang punya kecenderungan mengolah drama berbau komedi. Dari Yowis Ben hingga Srimulat (2022) ia cukup piawai bermain di nada komedi. Dan di film Inang ini kita bisa merasakan insting komedi cukup berhasil juga menghantarkannya mengolah drama horor, hampir seperti keberhasilan horor filmmaker di luar yang berangkat dari komedi. Dalam Inang, Nugros keliatan punya ketajaman komentar sosial serupa yang dilakukan komedian Jordan Peele waktu bikin thriller horor Get Out (2017). Nugros juga mengisi layarnya dengan celetukan, gagasan, pandangan terhadap keadaan sosial. Terutama, soal perempuan kelas pekerja. Gimana perempuan-perempuan seperti Wulan harus melakukan sesuatu yang ‘ekstra’ untuk mencari nafkah. Memang komentar-komentar yang diselipkan tersebut lebih baik tidak banyak dibeberkan, lebih baik dibiarkan untuk penonton menemukan sendiri, tapi jelas, Nugros benar-benar bersenang-senang dengan gambar-gambar dan situasi yang ia masukkan. Image-image dalam film ini kayak punya sesuatu celetuk di baliknya. Cover buku yang menyebut ibu dan negara, misalnya. Atau bahkan ada selipan promo buat projek film Nugros berikutnya. Selain itu tentu saja film ini juga punya gambar-gambar horor, yang juga sama-sama ‘fun’. Nugros juga perlihatkan kedalamannya membuat adegan beratmosfer. Satu kali, dia menyelingi adegan Wulan masuk ke rumah ibu asuh dengan shot seekor tikus masuk ke perangkap. Memberikan kita perasaan tak-nyaman yang sedari awal langsung menghantui bahwa Wulan juga sama seperti si tikus. Sedang masuk dalam perangkap. Bagi film ini enggak masalah kalo kita tahu atau bisa nebak duluan bahwa suami istri itu gak bener, karena perasaan uneasy kita terhadap Wulan-lah yang diniatkan. Sehingga dramatic irony muncul, dan kita jadi semakin peduli kepada apa yang terjadi kepada si tokoh utama.

Perihal casting juga sama funnya. Kita telah melihat gimana Fajar Nugros menyusun personil Srimulat sehingga benar-benar terasa menyerupai ruh aslinya. Dalam Inang ini, well, Nugros tampak mengcast pemain dengan ‘kejutan-kejutan’ yang bermain dengan ekspektasi dan pengetahuan penonton akan si aktor itu sendiri. Naysila Mirdad, yang dikenal penonton sebagai salah satu spesialis pemeran perempuan lembut teraniaya, diberikan tweak pada karakter yang ia perankan di sini. Wulan yang ia perankan juga basically perempuan ‘teraniaya’; kekurangan duit, coba dimanfaatkan oleh lelaki, hingga dijebak ke situasi mengerikan oleh orang yang tampaknya baik. Belum lagi, nyaris seluruh durasi dihabiskannya dengan begitu vulnerable sebagai orang hamil. Tapi Wulan bukan karakter lembut. Foul mouth, malah. Ini, aku bisa lihat, jadi semacam kejutan kecil yang menyenangkan bagi penonton karena diperlihatkan sisi lain dari tipe karakter yang biasa. Naysila sendiri juga tampak have fun bermain sebagai Wulan ini. Dia menjaga aktingnya tetap natural, sehingga walaupun di luar kebiasaan, penonton tidak merasa aneh melihat ‘karakter barunya’. Also, Nugros mengcast ibu asli Naysila, Lidya Kandou sebagai ibu asuh yang tampak baik tapi punya maksud gelap terselubung. Yang juga memberikan lapisan ‘familiar’ tersendiri terhadap kesan kita saat menonton. Nah kesan itu paralel dengan tema di dalam cerita, bahwa film ini – seperti rumah asuh bagi Wulan – menyambut kita hangat. Meninabobokkan kita dalam sense of familiarity, seperti Wulan yang merasa nyaman terlena dalam sesuatu yang menurutnya aman, kemudian baru-lah horor dan kengerian yang perlahan tapi pasti menerjang.

Dunia yang kita hidupi memang keras, makanya gampang bagi kita untuk terjebak sendiri ke dalam rasa aman dan nyaman. Bahkan ritual yang dilakukan itu sendiri juga adalah bentuk dari false security dari orangtua yang takut anaknya ketiban sial. Tapi terutama, film ini kayak ngasih lihat kontras antara rude atau kasarnya lapisan bawah ternyata jauh lebih baik karena setidaknya orang-orang di jalanan, yang vulgar dan tampak barbar, mereka lebih ‘jujur’ Tampil ada adanya. Ketimbang lapisan atas, higher power, yang seperti menawarkan hal yang lebih baik tapi punya maksud yang lebih buruk di balik segala kemanisan tersebut. 

 

Tema narasi tentang perempuan hamil yang berurusan dengan pasangan tua yang tampak terlalu ‘ramah’ ke jabang bayinya memang lantas mengingatkan kita kepada salah satu horor masterpiecenya Roman Polanski, Rosemary’s Baby (1968). Yang sayangnya bagi Inang. standar itu berarti cukup tinggi. Perbandingan dengan Rosemary’s Baby jadi mengungkap banyak kelemahan pada naskah film Inang, yang ditulis oleh Deo Mahameru. Terutama dari segi eksplorasi. Rosemary’s Baby yang tentang perempuan hamil mendapat perlakuan manis dari tetangganya, yang ternyata mengincar bayi dalam kandungan untuk cult pemuja setan, benar-benar menyelam ke dalam psikologis karakter utamanya. Si Rosemary dibikin bingung dan curiga kepada gelagat baik tetangganya, ada peristiwa yang ganjil yang terjadi berhubungan dengan mereka, ada yang aneh di balik sikap mereka, dan konflik digali film tersebut dari kecurigaan Rosemary ditantang oleh orang-orang sekitar yang justru menyalahkan dirinya yang dianggap tak stabil secara mental. Sampai ke titik dia sendiri percaya dia yang senewen. Film Inang, gak punya semua itu. Karena sedari awal, kita sudah dikasih momen dramatis Wulan masuk ke rumah orang jahat, misteri yang ada hanya soal apa yang sebenarnya terjadi. Dan film gak benar-benar melakukan banyak terhadap bagaimana misteri di sana akhirnya terungkap.

Nugrosemary’s Baby

 

Adegan mimpi banyak digunakan untuk memantik suasana horor. Dan kita semua tahu, adegan mimpi dalam horor atau thriller merupakan aspek yang tricky untuk dilakukan. Mimpi jadi bagus saat digunakan untuk menggambarkan psikologis yang mendera karakter. Horornya bisa jadi sangat sureal dan benar-benar disturbing. Film Inang, seperti yang telah kusebut, punya imageries yang kualitas top. Ada makhluk creepy juga yang sempat muncul dalam mimpi Wulan. Selama memang digunakan untuk memvisualkan ketaknyamanan atau kecurigaan Wulan yang kian membesar, adegan mimpi film ini bekerja dengan efektif. Hanya saja, selain itu, film juga membuat adegan mimpi yang memperlihatkan Wulan ketemu sama korban-korban ritual sebelum dirinya. Dan karena ini tidak disebut alasannya kenapa bisa Wulan melihat mereka, atau tidak pernah ditekankan bahwa memang ada hantu yang semacam minta tolong, maka adegan-adegan mimpi yang melibatkan hantu korban itu jadi hanya berupa cara gampang film meletakkan eksposisi saja. Ini tidak lagi jadi menambah buat film, karena malah meminimalkan ‘kerjaan’ Wulan. Dia hanya disuapi info lewat mimpi, dan kemudian lebih lanjut lagi film mengkerdilkan peran perempuan yang set up dan perjuangannya sudah bagus itu menjadi seorang dalam situasi damsel in distress semata.

Selewat paruh pertama, film memperkenalkan karakter anak dari pasangan suami istri asuh tersebut, yang diperankan Dimas Anggara, yang praktisnya menjadi hero dalam cerita.  Si Bergas ini bakal menyelematkan Wulan, cerita juga berubah menjadi tentang dirinya yang berkonfrontasi dengan apa yang dilakukan oleh orangtuanya selama ini, dia juga harus berdamai dengan siapa dirinya. Wulan, dengan segala permasalahan perempuannya, jadi tersingkirkan. Jadi hanya sebagai orang untuk diselamatkan. Dan baru di ending, Wulan dikasih transformasi yang bertujuan untuk mengembalikan kembali posisinya sebagai karakter utama.

Bukannya mau bilang aku bisa bikin cerita yang lebih bagus (because I can’t), dan terutama reviewer gak boleh bandingan satu film dengan cerita yang gak exist. Tapi aku hanya ingin pointed out bahwa yang dipilih oleh film Inang, membuat karakter utamanya kehilangan power. Gak ngapa-ngapain yang membuatnya ‘deserved’ the transformation. Film memilih untuk mereduce karakter utama perempuan menjadi ‘korban yang harus diselamatkan’ oleh karakter lain yang dibuat lebih pantas dan lebih berkonflik langsung dengan ritual dan mitos Rabu Wekasan. Aku hanya ingin menyebut bahwa narasi Inang gak mesti mentok seperti ini. Masih banyak pilihan yang bisa diambil untuk mengembangkan ini, untuk membuat karakter utamanya lebih deserved all that. Misalnya, mungkin dengan membuat bayi yang Wulan lahirkan pas ritual actually bayi terkutuk, like devil-kid. Sehingga di akhir, rumah itu jadi chaos karena malapetaka yang dibawa, Wulan keluar dengan menderita, terluka juga oleh anaknya, dan dari perlawanan dia mempertahankan bayinya dari semua orang di sana. Yang jelas, Wulan membawa si anak yang she comes to love sehingga transformasi di akhir dia menjadi ibu pembunuh demi anaknya, jadi lebih dramatis, dan lebih well-earned. Masih ada cara untuk membuat Wulan gak ketinggalan action, dan tetap kuat sebagai tokoh utama. Plus mimpi-mimpi Wulan jadi ada musababnya dengan jika si anak dibuat ternyata berkekuatan gaib.

 

 




Cerita tentang perempuan yang mengusahakan kelahiran bayinya, di tengah kesulitan duniawi yang menghimpit, sehingga akhirnya terjebak ke dalam bujuk rayu ritual sesat sesungguhnya adalah materi horor thriller yang demikian dramatis. Film ini punya bahan-bahan yang tepat untuk menjadi drama mengerikan yang membuahkan banyak gagasan lewat komentar-komentar sosial. Bagusnya lagi, film ini bijak untuk tidak menjadi wahana rumah hantu, melainkan benar-benar menguatkan di atmosfer dan pada perasaan uneasy dan kelam sebagai faktor ketakutan nomor satu.  Sialnya, cerita ini tidak dibesarkan dengan benar-benar fokus di situ. Film berpindah ke masalah karakter lain, dan actually mengesampingkan permasalahan karakter utama. Hingga ke titik dia tidak benar-benar melakukan apapun, selain diselamatkan. Dan ceritanya dibuat melingkar begitu saja sebagai shock di akhir semata. Itu yang membuatku jadi tidak benar-benar bisa menyukai drama horor ini. Formulanya padahal sudah benar, protagonis yang melewati ketakutan sedemikian parah, babak belur fisik dan mental, sehingga ‘bertransformasi’ oleh horor yang ia lalui. Tapi film ini shift ke karakter lain, dan karakter utamanya skip gitu aja langsung ke ‘transformasi’. Ada denyut yang hilang di nada horor film ini.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for INANG

 




That’s all we have for now.

Apakah kalian percaya sama yang namanya hari sial? Bagaimana pandangan kalian soal kesialan itu sendiri?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



PAMALI Review

 

“Sometimes superstitions can have a soothing effect, relieving anxiety about the unknown and giving people a sense of control over their lives.”

 

 

Pernah sekali aku main game Pamali. Nyaliku langsung ciut pas diketawain kuntilanak dari atas atap. Aku ambil kunci di dinding, dan membuat karakter game itu keluar dari pagar rumah secepat kilat.  Ya, prestasiku memang tidak membanggakan untuk urusan game dengan sudut-pandang first-person. Bawaannya takut kena jumpscare melulu. Makanya, begitu tahu game ini diadaptasi menjadi film layar lebar, aku girang. Karena akhirnya aku akan bisa mengexperience misteri cerita yang katanya diangkat dari mitos-mitos lokal atau takhayul khas Indonesia. Sutradara Bobby Prasetyo memang bekerja sedekat mungkin dengan materi aslinya, menghidupkan misi membersihkan rumah angker untuk dijual tersebut ke dalam sebuah cerita drama pilu, surrounding rumah yang jadi berhantu. Meski memang tidak berhasil menjadi sedalam ataupun senendang drama horor seri ‘Haunting of’ kayak yang di luar itu, namun yah, paling tidak film Pamali cukup bisa menjadi cerita pengantar mimpi buruk. At least, bisa jadi pilihan untuk membuka musim Halloween tahun ini.

Sama seperti pada chapter gamenya, kita akan ngikutin karakter bernama Jaka yang kembali ke rumah masa kecilnya yang sudah lama tidak dihuni. Rumah di pedesaan ini hendak dijual, sudah ada yang menawar, sehingga Jaka harus memastikan rumah tersebut cakep dan layak huni. Di sinilah letak masalahnya. Rumah Jaka keadaannya jauh dari layak-ditinggali. Bukan karena berantakan dan listriknya mati, melainkan karena rumah tersebut dibayangi oleh ruh kakak Jaka.  Tapi Jaka belum ingat ini. Karena dia sudah tidak tinggal di sana sejak umur enam tahun, maka cowok itu cuek aja ngajak istrinya yang tengah hamil turut serta nginap dan membersihkan rumah itu selama tiga hari. Pengalaman mereka selama di sanalah yang perlahan membawa ingatan buruk kembali ke Jaka.

The White Lady enjoys AEW’s National Scissoring Day

 

Keunikan yang jadi ciri khas yang membuat game Pamali populer, bahkan hingga di kalangan gamer horor luar negeri, adalah banyaknya skenario konsekuensi tindakan yang dilakukan para pemain selama tiga malam membersihkan dan mengungkap misteri di rumah tersebut. Pemain diberikan kebebasan penuh. Bisa beneran beresin rumah sambil memecahkan misteri lewat membaca beragam catatan yang ditemukan, atau mau kayak aku yang langsung cabut dan gak jadi jual rumah pun bisa. Game akan memberikan beragam ending tergantung pilihan tindakan pemain. Sebagian besar dari cabang ending itu berasal dari sikap pemain terhadap pamali itu sendiri. Kita bisa menyingkirkan sesajen, yang mengakibatkan hantunya bakal marah, misalnya. Kita bisa membuang gunting, yang nantinya bakal berujung roh jahat berdatangan. Atau sebaliknya, pemain bisa memilih untuk jadi orang paling percaya takhayul sedunia dengan patuh sama pamali-pamali dan mendapat good ending. Nah, ruh Pamali ada di sana. Ini bukan hanya cerita tentang tragedi keluarga salah satu karakternya, tapi juga memuat bagaimana pamali itu sendiri bisa menjadi bagian dari misteri.

Ketika tertranslasikan jadi film, pilihan-pilihan yang free dilakukan oleh pemain dibentuk ke dalam karakteristik karakter cerita. Film Pamali menambah karakter, bukan hanya Jaka, tapi jadi ada Rika istri Jaka, lalu ada Cecep yang bantu menjaga rumah. Merekalah yang nanti akan kita lihat melakukan hal-hal, entah itu melanggar pamali, atau menekankan kepentingan respek terhadap benda-benda atau kegiatan tertentu. Film cukup bijak untuk tidak membuat hal menjadi annoying, membuat karakter skeptis yang bertingkah sompral atau semacamnya. Sompral sendiri memang jadi ‘gaya humor’ dalam gamenya, tapi film ini, berusaha membuat duo karakter sentral sebagai karakter yang berpikir logis dahulu, sebelum kemudian akhirnya mulai ‘terganggu’ oleh pamali, Sebelum akhirnya mereka mulai memikirkan dan terkena dampak pamali-pamali. Dengan melakukan seperti ini, film masih menapak di ground yang balance. Tidak hadir dengan menyuruh penonton ikutan superstitious, dan juga tidak menampik itu keras-keras. Perhatian penonton malah lebih diarahkan kepada karakter-karakter dari backstory juga dihidupkan oleh film. Menjadi orang-orang yang kita tonton alih-alih hanya membaca tentang mereka. Pamali tidak sekadar ingin membuat penonton takut, tapi juga pilu. Tidak seperti film horor biasanya yang baru mereveal siapa sebenarnya hantu di babak akhir, Pamali membuat kita langsung dibuat mengikuti perjalanan sedih karakter hantunya. Sejalan dengan pengalaman mengerikan ataupun catatan yang dibaca oleh Jaka ataupun istrinya, kita akan langsung dibuat flashback ke kehidupan Nenden sebelum ia jadi hantu.

Teknik begini membuat Pamali jadi salah satu horor Indonesia dengan cerita yang paling ter-flesh out. Karena ada begitu banyak waktu yang diberikan untuk kita mengenal karakter-karakternya. Dari yang awalnya mungkin meragukan ‘kecerdasan’ Jaka membawa istrinya yang hamil nginap di antah berantah, kita jadi peduli sama kesusahan yang harus mereka lewati bersama. Kita terinvest sama keselamatan karakter yang diperankan Putri Ayudya. Kita pengen tahu lebih banyak kenapa Marthino Lio bisa gak ingat sama kejadian masa kecil, dan kita jadi pengen lihat terus. Kepada Nenden yang jadi hantu juga, maan, Taskya Namya sukses menghidupkan karakter tragis ini, baik pas jadi manusia ataupun hantu. Suara tawanya saja bisa menghasilkan kesan yang berbeda. Yang jelas, suara tokek itu kalah seram begitu suara kekeh khas sejak dari versi gamenya terdengar jadi backsound adegan.

Hidup memang terkadang mengerikan. Like, perempuan hamil seperti Rika saja masih harus ikut membersihkan rumah kosong, supaya mendapat perbaikan nasib. Karena hidup berurusan dengan resiko-resiko seperti itulah, aturan-aturan muncul di masyarakat. To protect their own. Aturan-aturan yang akhirnya jadi sebuah pamali, sesungguhnya hanyalah reaksi manusia untuk saling melindungi, khususnya ketika dalam hidup ada begitu banyak hal yang tidak bisa diatur oleh manusia. 

 

Resiko film hadir seperti ini adalah dapat terasa ‘berat’ di cerita. Untuk memperingan ini, biasanya pembuat film akan berusaha mencari cara menceritakan backstory dan kejadian seram di present day dengan intensitas yang semakin naik, jika tidak bisa semakin unik. Karena jika tidak, penonton akan bosan. Cerita akan cepat menjadi repetitif karena penonton pasti akan berusaha mengaitkan apa yang terjadi di masa lalu dengan kejadian sekarang, lebih cepat dari yang dilakukan film. Di sinilah kekurangan film Pamali. Tidak berbuat banyak untuk meningkatkan pace ataupun intensitas cerita. Sehingga tiga malam yang dilalui Jaka dan istrinya terasa sangat dragging. Film benar-benar membuatnya terasa seperti video game. Setelah setiap malam akan ada ruangan baru yang bisa dijelajahi untuk membuka informasi baru. Ruangan ultimate yang harus dibuka adalah kamar Nenden. Hanya saja, sebagai film, excitement dari eksplorasi tentu saja sudah berganti menjadi eksposisi. Jadi dalam film ini, ruangan-ruangan itu terbuka untuk sebuah eksposisi baru. Yang terbuka setelah sejumlah eksposisi kita cerna. Makanya nonton ini bisa jadi suntuk. Film kurang menghiasi diri dengan adegan-adegan seram. Instead, film berusaha menggunakan humor sebagai change of pace. Yang mungkin masih bisa berhasil, kalo film melakukannya dengan tidak setengah-setengah.

Jadi terngiang-ngiang lagu gula jawa

 

Sebenarnya film memberikan porsi komedi dengan natural, lewat karakter Cecep yang diperankan oleh Fajar Nugra. Karakter ini tampak kayak warga lokal yang pengen beramah tamah, Tapi kemudian menjadi ‘aneh’ tatkala film memberikannya tugas untuk menyembunyikan tentang Nenden. Tingkah lucunya yang berusaha mengelak dari pertanyaan kemudian menjadi annoying karena gak benar-benar ada alasan kenapa dia gak mau cerita. Film hanya melakukannya untuk ngelama-lamain durasi. Karena kalo dia cerita, urusan jadi beres, padahal mestinya Jaka dan istrinya harus tiga hari ada di rumah itu (supaya sama ama gamenya). Nah, aspek mengulur-ngulur gak jelas ini yang bikin film makin tersendat di pertengahan babak kedua.

Yang paling bikin aku gak abis pikir adalah demi mengulur itu, film sampai membuat si Cecep membawa tukang listrik dan tukang kunci di hari yang berbeda, padahal tukang listrik dan tukang kuncinya diperankan oleh aktor yang sama! (Iang Darmawan) Ini kan lantas jadi menimbulkan pertanyaan bagi kita yang nonton. Film memancing ‘keanehan’ gak jelas yang sebenarnya gak ada fungsi apa-apa bagi misteri cerita. Like, dengan satu orang jadi dua karakter yang beda, tentu kita akan mempertanyakan apakah ceritanya dia memang kembar, atau malah apa mereka pengen nipu, atau apa kan? Pada akhirnya keputusan mengulur plot poin ini bikin penonton terdistraksi, kepada hal-hal yang mungkin sebenarnya trivial. Film harusnya bisa mengisi durasi dengan lebih padat dan tak mengulur-ngulur. Bikin saja Jaka langsung berurusan dengan memori masa kecilnya, kembangkan sepanjang durasi, daripada hanya dimunculkan di malam terakhir. Terutama, gak semua elemen narasi film harus dibikin benar-benar sama dengan di game. Jaka dan istrinya tidak harus nunggu tiga malam, baru semuanya memuncak. Malahan, ketika kita bicara film, himpitan waktu justru adalah hal yang diincar untuk meningkatkan stake dan intensitas. Jika dibikin dalam satu malam saja, mungkin bakal bisa bikin horor di film ini jadi lebih urgen – sehingga jadi lebih seram. Kita gak harus berlama-lama ngikutin kisah yang malah jadi terasa boring dan repetitif.

 




Horor Indonesia memang membanggakan, setidaknya sudah sering direcognize oleh luar, baik itu film maupun video game. Film ini salah satu yang ada karena sukses video game. Ceritanya berhasil memuat ruh dan karakteristik versi gamenya dengan baik. Hanya saja, seperti halnya adaptasi-adaptasi yang lain, ‘terpaku harus sama dengan game’ pada akhirnya jadi batu sandungan film ini. Karena pengen sama banget, film ini jadi mengulur-ngulur bahasan. Sehingga apa yang tadinya adalah sebuah cerita tragedi keluarga yang pilu, dan terflesh out, malah terasa jadi kisah yang membosankan dan repetitif, Padahal film ini punya karakter hantu dan desain musik serta suara yang horor abis. Namun tidak banyak adegan-adegan horor yang fresh dan nendang sebagai pengisinya. Film ini harusnya bisa jadi memorable, terutama karena ini baru film adaptasi game horor kedua yang dipunya Indonesia, akan tetapi karena penceritaannya yang tidak banyak menaikkan intensitas, film ini malah jadi datar dan takutnya hanya akan jadi another horror movie yang nangkring di bioskop.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PAMALI

 




That’s all we have for now.

Apakah pamali dan takhayul itu perlu disingkapi dengan respek?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



BODIES BODIES BODIES Review

 

“Sometimes your dearest friend whom you reveal most of your secrets to becomes so deadly and unfriendly…”

 

 

Bersahabat berarti kita tahu baik-dan-boroknya perangai sobat-sobat sekalian. Tolerate them, just like they tolerate us – at some degree. Nah, batasan degree inilah yang menarik. Berbagai cerita telah mengeksplor apa yang terjadi kepada satu grup pertemanan saat dark secret masing-masing dibongkar, dihamparkan keluar. Udah jadi kayak trope tersendiri. The ‘revealed secrets’ trope. Serial sitcom Community, misalnya, punya tiga episode dengan trope ini. Karena memang menarik mengulik karakter melalui rahasia terdalam mereka, dan tentunya juga membuat relationship mereka jadi semakin berwarna. Namun, belum banyak yang menggali trope ini lewat lensa horor atau thriller. Itulah hal fresh yang dibawa oleh Bodies Bodies Bodies garapan Halina Raijn. Yang dalam prosesnya, juga balik menyajikan sesuatu yang baru terhadap perspektif dan juga trope lain, yakni, whodunit itu sendiri.

Kata Bodies Bodies Bodies merujuk kepada permainan yang dilakukan oleh geng karakter di film ini. Mereka berkumpul di rumah gede, merayakan kembalinya Sophie dari rehab. Di luar lagi badai, jadi mereka mengisi waktu dengan permainan yang mirip kayak Werewolf atau Among Us. Mereka akan berusaha menebak satu ‘killer’. Dan saat itulah tuduh-tuduhan itu semakin menjadi. Dari dialog-dialog kita bisa mendengar bahwa ada rekah-rekah kecil – tapi serius – di balik keakraban mereka. Kehadiran orang baru seperti Bee, pacar baru Sophie, juga tidak banyak membantu. Ketegangan menjadi benar-benar memuncak menjadi horor saat salah satu dari mereka ditemukan tewas dengan luka sabetan pada leher. Ada ‘killer beneran’ yang menginginkan mereka semua mati satu persatu. Kita lantas melihat geng ini semakin hancur as semua mulai saling serang dengan fakta-fakta kelam demi mencari siapa pembunuh di antara mereka.

Anak Borat main film thriller!!

 

Yang nonton film ini mengharapkan whodunit standar, bakal either surprise berat atau malah kecewa parah. Dan itu bukan salah penonton, melainkan karena memang itulah resiko yang diambil oleh film ini. Misteri siapa pelakunya, apakah pelakunya ada di antara mereka atau ada orang lain (ada satu anggota geng yang menghilang sedari awal cerita dimulai) memang dibangun penuh tensi dan misteri. Namun di balik tensi dan mayat-mayat bersimbah darahnya, Bodies Bodies Bodies sebenarnya terutama diniatkan sebagai satir. Sindiran buat perilaku komunikasi sosial seperti yang diperlihatkan oleh karakter-karakternya. Sophie dan gengnya adalah anak-anak orang kaya, trendi, mereka ini istilahnya anak gaul banget. Bahkan karakter utama kita, Bee, walaupun berasal dari luar circle, dia foreigner di antara yang lain, gak share lifestyle yang sama, tapi tetap punya ‘gaya’ sosial yang serupa. Salah satu dialog yang jadi diulang saat Sophie muncul bersama Bee di rumah itu adalah persoalan anak-anak yang lain surprise melihat Sophie beneran dateng karena selama rehab Sophie tidak pernah membalas grup chat di Whatsapp. Ya, karakter-karakter di cerita ini merepresentasikan Generasi Z. Anak-anak muda yang secara konstan bergaul di internet, sosial media. Karakter-karakter di sini punya podcast, bicara dengan kamus ala anak-anak woke di Twitter, dan cari pacar di dating app. Furthermore, film ngasih lihat sedikit perbandingan antara generasi mereka dengan generasi yang sedikit lebih tua lewat karakter Greg. Outsider seperti Bee, karena adalah pacar tinder si Alice, salah satu teman geng Sophie.

Rahasia buruk mereka semua berkenaan dengan betapa fake-nya mereka terhadap masing-masing. Satu adegan menunjukkan mereka nari TikTok bareng, lalu ada juga adegan lain yang nunjukin mereka berargumen soal apakah satu orang karakter beneran suka sama podcast karakter yang satunya. See, dari karakter-karakternya saja film ini sudah divisive. Sebagian penonton akan merasa relate sama permasalahan sosial ‘kekinian’, sebagian penonton lagi akan jengkel. Aku termasuk yang sebagian kedua. Buatku mereka semua annoying,  candaan mereka gak masuk ke aku, aku tahu kalo aku seatap dengan circle seperti mereka itu aku pasti sudah cabut daritadi. Aku hanya bisa relate sama game bodies bodies bodies mereka karena.. well, karena game. Selebihnya aku hanya seperti benar-benar menonton saja. Nah, ketika seorang yang gak care dan gak relate bisa betah menonton, itu sebenarnya sudah ‘prestasi’. Bahwa di balik itu, film ini punya ‘sesuatu’. Dan ‘sesuatu’ itu bukan hanya soal misteri whodunit atau misteri bunuh-bunuhannya saja, melainkan juga pesan di dalamnya. Relate atau tidak, suka atau tidak dengan revealing di endingnya (mungkin lebih tepatnya, merasa ‘tertipu’ atau tidak) gagasan film ini adalah sesuatu yang beresonansi dengan kita yang hidup di masa sekarang. Film hanya membungkusnya dengan rapi ke dalam misteri whodunit dan karakter-karakter annoying.

Memikirkan tujuannya sebagai satir untuk pergaulan Gen Z, film ini sebenarnya cukup ‘keras’. Banyak dialog yang benar-benar menyindir tajam betapa insignifikan hal yang merasa jadi masalah buat mereka. Gen Z yang nonton kayaknya bakal tersentil. Like, sebegitu pentingnyakah orang harus balas chat Whatsapp sehingga dia datang saja dianggap ‘tiba-tiba’ dan dianggap sombong sama teman satu geng. Atau soal podcast, segitu pentingnyakah kita harus suka sama konten yang dibuat teman kita untuk populer di sosmed. Ini kayak gue like punya lu, lu like punya gue, karena harus saling menghargai usaha bikin konten. Atau juga soal bahasan toxic, dan istilah-istilah itu. Film dengan blatant menyebut anak jaman sekarang menggunakan istilah-istilah trending just because it is trend, dan padahal sebenarnya mereka tidak punya pendapat personal soal permasalahan yang bersangkutan. Bagian-bagian mencekam ketika lampu mati dan mereka harus berjalan dalam gelap hanya dengan bantuan cahaya dari layar hp seperti menguatkan gagasan film soal betapa anak muda sudah merasa gede dan ‘aman’ hanya dengan melihat lewat gadget. Ultimately, ending filmlah yang ngasih toyoran paling kuat. Film rela whodunitnya jadi ‘agak laen’ supaya gagasan dan sindiran tersebut benar-benar nonjok.

Yang film ini ingin tunjukkan adalah betapa lemahnya pertemanan dan bahkan relationship yang didasari oleh bagaimana orang bertindak di internet. Yea, sesama teman mungkin bisa khilaf dan keeping secret lalu membocorkan rahasia, tapi dengan perilaku bersosial media sekarang, semua itu terasa lebih rapuh. People will have no idea how to act genuinely ketika berhadapan langsung, dan bakal ended up hurting each other more. Yang baru saja kita lihat adalah kisah bagaimana sekelompok Gen Z menghancurkan koneksi, menghancurkan diri mereka sendiri karena ketika bertemu, mereka tidak bisa bonding secara natural melainkan jadi merasa saling ekspos satu sama lain

Mungkin karena settingnya seringkali gelap, tapi si Emma ini sekilas-kilas tampak mirip Mawar de Jongh

 

Horor atau thriller biasanya suka membunuh karakter yang paling likeable atau simpatik, you know, untuk menaikkan tensi dramatis. Untuk karakter utama, kematian karakter likeable ini biasanya diset sebagai pukulan berat. Malangnya bagiku, karakterBodies, Bodies, Bodies yang likeable – yang mikir pakai logika dan gak berdialog pake istilah-istilah kekinian –  juga dibuat mati, yang berarti aku ditinggal bersama karakter-karakter annoying, dengan situasi kematiannya yang juga sama-sama annoying. Karena dari adegan kematiannya itulah aku sadar bahwa karakter utama film ini juga tidak akan diniatkan untuk belajar inline dengan penonton. Bahwa karakter utamanya juga bergerak dalam design tipikal karakter Gen Z. Itulah yang jadi bahan koreksi untukku pada film horor keluaran A24 ini. Karakter utamanya, si Bee, tidak benar-benar punya pembelajaran yang kuat, melainkan hanya dijadikan sadar, dan dia itu tetap adalah bagian dari kerapuhan relasi.

Maria Bakalova sebenarnya memerankan Bee dengan sesuai. Dia mengerti kebutuhan naskah, paham kapan harus mengundang simpati, kapan harus bertingkah sus, kapan harus cerdik, dan mainly itu dilakukannya dengan ekspresi. Sama seperti si Amanda Stenberg yang jadi Sophie, jago dan ngertinya juga dalam memainkan ekspresi. Design karakter mereka saja yang ngambil resiko. Kayak si Bee,  momen dia membunuh karakter likeable satu-satunya, adalah momen kita meragukan dirinya sebagai tokoh utama. Momen ketika tokoh utama tidak bertindak seperti penonton jika mereka ada di posisi yang sama. Karena kita tidak bisa melihat alasan dia harus membunuh. Bee hanya berubah dari yang tadinya cinta, overly kalo boleh disimpulkan sesuai aksinya, ke jadi takut sama pacarnya. Ini bukan plot yang kuat untuk karakter utama. Sehingga karakternya malah jadi kurang kuat punya alasan untuk ada di sana, melainkan hanya sebagai pasangan dari karakter lain. Film tidak mengeksplorasi banyak siapa dirinya. Aku malah mikir, kalo karakter Bee gak ada, ceritanya jadi hanya tentang Sophie yang balik dari rehab untuk menjalin pertemanan lagi dengan teman-teman gengnya – film ini masih bisa jalan. Gagasan dan sindiriannya masih bisa juga tersampaikan tanpa harus lewat sudut pandang Bee. So yea, Maria Bakalova memainkan Bee dengan hebat, hanya saja Bee ini kurang kuat sebagai karakter. Hampir seperti dia ada karena film butuh romance, dan butuh dua orang untuk moment final.

 

 




Aku gak nyangka bisa betah juga nonton film yang karakternya benar-benar annoying semua dan gak relate. Mungkin itulah kekuatan dari cerita. Kekuatan dari naskah. Film ini benar-benar punya sesuatu untuk dikatakan, dan mendesign ceritanya untuk memenuhi itu. Menempuh banyak resiko, di antaranya membuat bangunan misteri whodunit jadi punya ‘surprise’ yang might not working well buat penonton. Untukku, endingnya worked great, design atau konsepnya bisa dimaklumi karena film ini mengincar ini sebagai satir. Yang kurang hanya pembangunan karakter utamanya, yang gak benar-benar dieksplor. Cerita dan fungsi film menurutku masih bisa jalan tanpa dia
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for BODIES BODIES BODIES

 




That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian society generasi kekinian memang akan menghancurkan dirinya sendiri?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



JAILANGKUNG: SANDEKALA Review

 

“Family means no one gets left behind”

 

 

Skor sejauh ini untuk franchise Jailangkung modern adalah 0-2. As in, dari dua film pertamanya (Jailangkung tahun 2017 dan Jailangkung 2 tahun 2018) belum ada satupun yang memenuhi standar ‘bagus’. Sekadar menghibur pun tidak. Bukan salah temanya. Tema berkomunikasi dengan arwah (lewat perantara boneka, ataupun medium lain) sesungguhnya memang beresonansi dan punya daya tarik tersendiri bagi kita manusia yang bakal hampir selalu berurusan dengan kehilangan. Sehingga masih banyak sudut untuk digali. Buktinya, di luar juga ada ‘permainan memanggil arwah’ yang seperti jailangkung, dan sering juga dijadikan film.  Franchise Jailangkung ini sendiri toh memang berusaha menggali dengan memasukkan mitos lokal lain sebagai balut dari kisah kehilangan dalam keluarga. Sebelum ini ada Mati Anak, legenda kapal SS Ourang Medan, dan kini mereka mengangkat Sandekala. Pamali anak kecil bermain di kala senja. Dan Kimo Stamboel – yang sebelum ini cukup mengangkat sedikit ‘derajat’ franchise Danur lewat spin off Ivanna – kali ini seperti diemban misi yang sama. Visi dan gayanya diharapkan bisa menyelamatkan franchise horor yang nyaris kandas, tapi belum mau mati ini.

Tantangan is up there bagi Kimo, karena Jailangkung: Sandekala memilih untuk tetap grounded dengan cerita keluarga. If I’m not wrong, film ini adalah kali pertama Kimo bermain horor di lingkup 13+ alih-alih 17+ yang biasa ia garap. So yea,  di film ini Kimo akan  punya lebih sedikit darah dan kebrutalan (meski tidak hilang sama sekali), dan harus lebih fokus mengangkat cerita dan drama dari situasi horor yang merundungi keluarga Sandra sebagai sentral narasi.

Kita bertemu keluarga Sandra saat mereka sedang family trip ke danau. Tapi ini bukan acara jalan-jalan liburan yang happy-happy. Melainkan dalam rangka meluruskan hal-hal kusut dalam keluarga mereka. Dari dialog-dialog, kita mendapat informasi bahwa Sandra yang tengah hamil, lagi ‘dimusuhi’ sama putri sulungnya, Niki. Film actually cukup decent dalam menampilkan potret keluarga ini layaknya keluarga beneran dengan segala masalah-masalah kecilnya, walaupun masih standar trope keluarga dalam film horor. Anak remaja yang mulai renggang dengan orangtua.  Adek yang overly curious sehingga bikin kakaknya lebih jengkel lagi. Ayah yang berusaha jadi penengah. Ibu yang semakin stres karena tidak mengerti tingkah anaknya. Ketakutan Sandra  akan kehilangan anaknya jadi terwujud dalam bentuk yang lebih mengerikan. Si putra bungsu, Kinan, yang mengeksplorasi hutan sekitar danau sore itu tiba-tiba menghilang. Polisi segera diberitahu, pencarian dilakukan tapi nihil. Daerah tersebut memang dikenal dengan kasus anak-hilang sehingga sekarang penyelidikian di luar yang dilakukan pihak berwenang harus dilakukan. Niki dan keluarganya dengan segera tahu mereka bukan berurusan dengan penculik dari kalangan manusia.

So glad mereka menyingkirkan mantra “Datang gendong, pulang bopong” dan kembali ke mantra Jailangkung yang biasa.

 

Detil kecil yang membuatku meluluskan interaksi mereka sebagai masalah keluarga yang felt real adalah Niki menunjukkan rasa marah dengan memanggil ibunya dengan nama. Like, in real life, aku pernah beberapa kali mendengar langsung anak-anak cewek yang sedang marah kepada ibu mereka, mengekspresikan emosi tersebut dengan tidak lagi memanggil ‘ibu’ melainkan langsung nyebut nama. Also, belum banyak film indonesia yang menampilkan ‘pertengkaran’ ibu dan anak lewat cara relate seperti ini. I’m not sure, but it might be the first. Sungguh terasa baru, dan tanpa tahu masalahnya pun kita bisa lantas mengerti ada ketegangan serius antara Niki dan Sandra.  Masalah Kinan, si bungsu, yang hilang diculik hantu di hutan seharusnya benar-benar bisa jadi cara ibu dan anak cewek ini meresolve masalah mereka. Mendekatkan apa yang renggang melalui kesulitan dan kengerian yang dilalui bersama. Tapi sayangnya tidak lanjut mengeksplor soal tersebut. Persoalan memanggil nama saja, misalnya, tidak ada tahapan resolvenya. Setelah sempat saling menyalahkan waktu malam Kinan menghilang, Sandra dan Niki jadi otomatis baikan. Niki sudah memanggil ibu kepada Sandra di hari esoknya. Film yang jeli melihat drama dan konflik karakter, pasti tidak akan segampang itu membuat Niki mau memanggil ibu lagi. Bahkan jika mereka di depan orang asing, dialog Niki akan dibuat tidak akan menyebut ibu dulu. Memanggil Sandra dengan ibu akan dijadikan titik balik penyadaran karakter yang dramatis, yang harusnya disimpan untuk momen akhir, dalam sebuah cerita yang dramatis.  Buatku, film bukan saja melewatkan kesempatan, melainkan benar-benar lupa total ada bahasan yang harus diselesaikan di antara karakter. Bahasan ibu dan anak cewek inilah yang padahal jadi ruh sebenarnya cerita.

Yang namanya orangtua pasti takut kehilangan anaknya, by any means. Film ini sebenarnya cukup kuat menekankan persoalan tersebut, dengan membuat kisah kehilangan menjadi horor, secara paralel dialami baik oleh protagonis maupun antagonisnya. Kontras dimainkan dengan membuat Niki, si anak yang mulai menjauhi keluarganya, lebih pantas menjadi sudut pandang utama. Kehilangan adik, dan resiko kehilangan seluruh keluarga oleh bahaya pada akhirnya jadi pelajaran utama yang tersampaikan kepada penonton. Bahwa apapun yang dirasakan sesaat, gak ada orang yang mau kehilangan keluarganya.

 

Usaha untuk menjadikan ini sebagai cerita yang lebih grounded sebenarnya terasa. Gak jauh-jauh, kita bisa bandingkan racikan horor Kimo di film ini dengan di Ivanna yang tayang berdekatan. Sandekala, meski eksplorasinya masih kurang, tapi fokusnya memang lebih kuat sebagai drama keluarga yang harus berurusan dengan kehilangan anak. Misteri hantunya juga ada,  dengan sekuen-sekuen penyelidikan sederhana dan segala macam, tapi di film ini kita bisa lihat misteri itu dihadirkan bareng untuk memuat mitologi sandekala dan jailangkung, serta untuk mendorong para karakter untuk semakin diteror kehilangan. Bukan hanya misteri yang diungkap lewat eksposisi, yang karakternya gak banyak ngapa-ngapain selain jerit-jeritan. Karakter dalam Jailangkung: Sandekala melewati perjalanan atau range emosi yang lebih kentara. Syifa Hadju sebagai Niki menempuh hal-hal yang memang biasa dialami oleh protagonis dalam horor yang decent. Walaupun skala yang dilakukan masih kecil alias sederhana, tapi tahapan protagonis dan perkembangan karakternya ada.  Sandra yang diperankan Titi Kamal didesain lebih sederhana lagi, tapi at least kevulnerable-an seorang ibu dari karakter ini dipush terus. Yang gak maksimal buatku pada Sandra adalah bahwa karakter ini diberikan ‘handicap’ yaitu dibuat hamil, tidak benar-benar menambah banyak untuk cerita. Hanya untuk membuatnya semakin vulnerable saja. Gak banyak dimainkan ke dalam perkembangan cerita ataupun obstacle horor yang harus ditempuhnya. Mungkin juga itu karena Kimo harus menahan diri di elemen horor. Like, cerita 13+ certainly gak bakal boleh ngasih lihat something gory/gross dengan kehamilan atau semacamnya. But he did ngasih Titi Kamal sekuen yang bikin penonton di sebelahku melonjak-lonjak histeris di kursinya.

Jika biasanya Kimo suka bermain horor di lingkungan tertutup, tapi brutal sebebasnya, maka film ini kayak kebalikannya. Kebrutalan dia batasi tidak terlalu gamblang dan emosional pada adegan mati yang sadis, tapi environment horornya sekarang luas. Satu wilayah; hutan, danau, beserta desanya. Aku suka usaha film menghidupkan lokasi. Bukan lagi menjadikan sebagai lokasi yang membatasi gerak. Tetapi harus hidup dengan pamali sandekala dan kasus-kasus misterius. Bahkan waktu senja juga berusaha dihidupkan. Film actually ngasih grading kuning yang gloom dan serem sebagai penanda ini waktu bagi hantu keluar. Momen-momen awal saat senja kuning di hutan lebat, dan Niki berusaha mengimbangi langkah adiknya yang jalan duluan excited oleh pemandangan, membuatku serasa mengexperience ulang game Fatal Frame 2 yang konteks adegan, lokasi, dan warnanya sama. It’s a compliment karena Fatal Frame 2 adalah salah satu game horor tersukses lewat atmosfer desa misterius dan mitologi adik kembar yang hilang. Yang berarti film ini, setidaknya, buatku menghasilan kesan yang serupa. Yang berarti atmosfer horornya dapet. Film juga ngasih lihat suasana senja di desa, saat anak-anak digiring masuk rumah masing-masing oleh orangtua mereka. Membuat horor dan desa itu sendiri jadi hidup. Semuanya juga melingkar dibuat oleh film. Portal, tempat bermain anak, yang kita lihat di awal, akan jadi sesuatu di akhir. Film juga memasukkan elemen red herring berupa ada karakter yang dituduh jadi pelaku penculikan anak oleh polisi.

Hampir jadi kayak Miracle in Cell No,7 versi horor, dong!

 

Memang, lagi-lagi momok dalam sinema horor Indonesia adalah naskah. Kayak takut gitu bikin naskah yang benar-benar mendalam. Seperti contoh masalah ibu dan anak cewek yang gak lanjut dibahas tadi, film ini naskahnya stop menggali at some point. Majunya narasi jadi mulai sekenanya aja. Sesederhana dialek dan bahasa karakternya pun, film ini gak mau konsisten menggali. Beberapa kali ada karakter yang mestinya desa dan sunda banget, malah jadi terdengar kayak orang kota biasa. Jelas ini membuat karakternya jadi less-believable. Mengembangkan soal Niki, juga begitu. Alih-alih benar-benar menunjukkan sisi Niki udah gak betah dekat ama keluarganya lama-lama dengan lebih natural, film membuat dia jadi kayak punya kebiasaan ‘bego’ ninggalin keluarga. Adiknya ditinggal pipis di pinggir danau. Ibunya ditinggal di rumah orang asing di tengah hutan, dengan alasan aneh dia ikut sama Faisal – ponakan polisi yang membantu mereka – ngambil mobil. Reasoning kenapa dia harus ikut Faisal itulah yang gak dipunya naskah. Jadinya ‘maksa’. Film harusnya benar-benar mematangkan segala tindakan karakter. Bagaimana menempatkan mereka di titik A dan B untuk majunya cerita harusnya bisa dipikirkan dengan lebih baik lagi.

Ngomong-ngomong soal titik-titik cerita, well, cerita anak hilang di hutan memang bukan cerita original. Tapi menurutku film ini sebenarnya punya kisah yang lumayan fresh karena balutan ibu yang bertengkar dengan anak perempuannya, juga mitos jailangkung dimainkan ke dalam mitos sandekala dari Sunda. Sayangnya, seperti naskah yang tidak jadi dikembangkan dengan dalam dan fresh, film ini juga tidak menjadikan adegan-adegannya sebagai kisah yang baru. Okelah soal sensasi mirip Fatal Frame 2, atau ada karakter yang ngingetin sama Miracle in Cell.  Namun untuk horornya juga ternyata film memilih untuk memainkan-ulang adegan-adegan atau poin-poin dari film atau media horor lain yang lebih banyak diketahui orang. Seperti misalnya adegan sesuatu yang menyeramkan menyeret orang dari lubang, dan nanti dia ngintip dari lubang sambil menyeringai. Siapapun yang nonton pasti langsung ngeh itu adegan It saat si badut menarik tangan bocah di opening. Paling blatant meniru adalah bagian ketika Niki masuk ke dunia lain. Dunia yang sebenarnya sama dengan dunia normal, hanya lebih mengerikan. Di situ dia akhirnya menemukan adiknya yang hilang dan  dia mendengar suara-suara ibunya dari dunia normal. Yes, benar, ini replika Upside Down-nya Stranger Things. Film ini niruin konsep serial Netflix populer tersebut hingga ke aturan dan segala macemnya. Bedanya cuma, boneka jailangkung adalah kunci untuk membuka portal masuk ke Upside Down hahaha

 

 




Set up dan ‘panggung’ sebenarnya lebih imersif, tapi ternyata cerita tidak mampu mengimbangi. Akhirnya, ya hanya menjadi horor generik. Padahal film ini punya potensi untuk menjadi drama horor keluarga yang deep dan berbobot. Tapi seolah hampir seperti ada batasan yang harus dipatuhi oleh pembuat film horor, yakni jangan sampai terlalu dalem. Batasan inilah yang mestinya dirubuhkan bareng-bareng. Oleh pembuat dan oleh penonton. Karena kita gak akan pernah dapat horor yang benar-benar bagus, kalo ceritanya sendiri takut menggali perasaan tergelap manusia lebih dalam. Tapi dibilang kecewapun, aku tidak sepenuhnya kecewa sama film ini. Aku lebih suka yang dilakukan Kimo di sini ketimbang di Ivanna. Dia mencoba ngasih kita lihat bahwa dia punya lebih daripada sekadar mati-mati yang sadis. Hell, jelas film ini lebih baik dibandingkan dua Jailangkung modern sebelumnya. 
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for JAILANGKUNG: SANDEKALA

 

 




That’s all we have for now.

Mitologi lokal apalagi yang pengen kalian lihat dimash up dengan jailangkung untuk ke depannya?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



WHERE THE CRAWDADS SING Review

 

“Don’t ever mistake my silence for ignorance, my calmness for acceptance, and my kindness for weakness”

 

 

Where the Crawdads Sing ini jadi film kedua yang kutonton dalam seminggu ini yang seputar orang dituduh jadi tersangka kasus pembunuhan, disidang gak adil, mereka sudah dikecam pembunuh bahkan sebelum trial dimulai. Makanya, mau tak mau aku jadi membandingkan Where the Crawdads Sing dengan Miracle in Cell No.7 (2022) Secara bahasan, memang thriller drama garapan Olivia Newman ini fokusnya lebih ke soal abandonment, dinamika power yang lebih gender-related, dengan menonjolkan perihal alam dan lingkungan sebagai simbol. Tapi yah, karena ditontonnya berdekatan, dengan bentukan narasi yang mirip pula, aku merasa arahan film ini kebanting banget. Where the Crawdads Sing terasa flat, dengan drama dan bahkan misteri yang dikandung tak kunjung menjadi intens.

Diangkat dari novel yang cukup populer tahun 2018, Where the Crawdads Sing ini mengisahkan seorang perempuan yang hidup sebatang kara di rawa-rawa. Penduduk setempat menjulukinya Marsh Girl. Ketika pagi itu jasad pemuda yang cukup tersohor di daerah itu ditemukan di pinggiran rawa, si perempuan langsung menduduki peringkat kesatu sebagai tersangka utama. Karena yah, siapa lagi yang cukup aneh dan asing yang bisa dituduh? Jadi, narasi film ini terbingkai dalam adegan persidangan, saat sebagai pembelaan, pengacara mulai menceritakan kisah hidup si perempuan yang bernama Kya Clark. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Sama seperti juri pengadilan yang diarahkan untuk mengenal siapa Kya terlebih dahulu supaya bisa menghakimi dengan lebih adil, kita pun lantas menyimak kehidupan protagonis kita itu mulai dari saat dirinya kecil; ditinggal oleh Ibu dan saudara yang lain karena ayah mereka sangat ‘ringan tangan’ hingga ke saat Kya mulai mengenal cinta dan berpacaran salah satunya dengan cowok yang ditemukan terbaring tak bernyawa di rawa-rawa tersebut.

Biar gak boring, aku sempet ngayal ini jadi kisah origin superhero Marsh Girl yang bersenjata buaya-buaya

 

Sebenarnya film ini lumayan segar. Setting di lingkungan rawa yang terbuka jelas gak setiap hari kita dapatin dalam film-film. Apalagi yang bukan horor dan ada makhluk seramnya. Di film ini, rawa dikuatkan sebagai identitas. Bukan hanya identitas karakter utamanya, yang literally dijuluki Gadis Rawa, tapi juga ciri khas yang memuat tema simbolik di dalam cerita. Meskipun memang makna rawa itu sudah disebutkan dengan gamblang sendiri oleh film lewat narasi voice over, tapi keasikan kita menyimak tidak demikian banyak berkurang, karena memang ini adalah sesuatu yang relatively unik. Kedekatan Kya dengan alam langsung jadi poin vokal, yang dikontraskan dengan betapa Kya menjadi sendirian tinggal di sana. Periode masa kecil Kya buatku adalah yang paling menarik. Backstory protagonis kita dilandaskan dengan mantap. Kita jadi mengerti bahwa Kya adalah anak yang dituntut harus mandiri, karena sedari kecil dia sudah dihadapkan pada hidup yang keras. Orangtua yang kasar. Orang tersayang yang memilih untuk pergi meninggalkannya. Jika ini adalah cerita keluarga, kita dengan lantas paham bahwa bagi Kya keluarga dan rumahnya adalah keseluruhan rawa, yang tak akan pernah meninggalkannya.

Arahan tenang dan gak banyak ngapa-ngapain dari Newman jadi advantage ketika dia memperlihatkan suasana dan atmosfer cerita. Momen-momen ketika Kya menyusur sungai dengan perahu, atau ketika dia berjalan di antara pepohonan mengamati dan mencatat yang ia lihat, mengoleksi bulu burung yang ditinggalkan oleh seseorang. Aku lebih suka ketika film gambarin hal-hal tersebut aja. Lebih suka ketika film ngajak kita ngikut kehidupan Kya, di luar masalah misteri dan cinta-cintaannya. Where the Crowdads Sings memang punya penampilan akting yang gak kalah kuat. Daisy Edgar-Jones sebagai Kya dewasa, dan aktor cilik Jojo Regina sebagai Kya kecil memberikan dua sisi penampilan yang benar-benar terasa utuh sebagai growth satu orang karakter yang harus hidup sendiri dan mengalami begitu banyak di balik cita-citanya menulis buku tentang alam. Kalo ini hanya diniatkan sebagai visual dari novel saja, mungkin gak masalah. Namun yang dibikin oleh Newman adalah sebuah film. Journey sinematik yang harus ada up-downs, dan konflik, dan segala macam. Sutradara harusnya melakukan sesuatu usaha ekstra untuk membentuk novel ini menjadi sebuah penceritaan film. Itulah yang kurang dilakukan. Arahan tenang dan gak banyak ngapa-ngapain sayangnya tetap dipertahankan walaupun cerita sudah harus ganti gigi dan tancap gas.

Dua jam lebih durasi film ini bakal kerasa banget. Suasana di ruang sidang saat pengacara dan penuntut mulai angot mempermasalahkan alibi Kya dan segala macamnya, disambut datar oleh film yang tampaknya lebih suka memperlihatkan soal cinta segitiga. Kya awalnya pacaran sama cowok – satu-satunya teman Kya yang mengajari dirinya membaca dan menulis – tapi kemudian cowok itu pergi dan melanggar janjinya untuk kembali, sehingga kini Kya dideketin sama cowok kaya yang sepertinya gak benar-benar menyayangi Kya, at least tidak setulus cinta cowok yang pertama. Setelah mereka dekat, si cowok pertama muncul kembali, dan yah, persoalan hati tersebut jadi complicated. Relasi mereka bertiga ini sebenarnya juga dijadikan bumbu untuk misteri pembunuhan si cowok kedua. Tapi bagian inilah yang paling dragging. It’s just dates after dates after dates. Aku mengerti bahwa film sebenarnya ingin menunjukkan dampak mental dari seseorang yang ditinggal oleh keluarga (by choices, not by death), pengen memperlihatkan sisi vulnerable dari gadis yang harus kuat, belum lagi dia dikucilkan – dialienkan oleh orang, jadi asmara bisa jadi solusi sekaligus ‘perangkap’ yang ia rasa ia butuhkan. Tapi aku tidak merasa film benar-benar menggali psikologis Kya dengan fokus demikian. Persoalan tersebut hanya tampak dibahas film untuk persiapan twist atau pengungkapan tak terduga di akhir. Supaya twist tersebut masuk akal. Because that twist really doesn’t make sense at all. Makanya film memperlakukan twist tersebut sebagai ambigu banget. Tidak menjelaskan plausibility dan segala macem. Malahan, kemungkinan apa yang diungkap oleh twist itu mungkin terjadi sebenarnya sudah ditepis oleh pembelaan yang dilakukan pengacara pas di persidangan. Tapi twist tersebut jadi penting dan harus ada, karena twist itulah yang merangkum gagasan keseluruhan.  See, itulah kenapa kubilang film ini boring dan bagian tengahnya itu dragging karena ceritanya sendiri tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang worthy untuk dibahas mendalam. Hanya ditampilkan untuk mengantarkan kepada twist.

Susah sih untuk menyebutkannya tanpa jadi spoiler berat. Tapi mungkin gambaran besar gagasan film ini cukup mewakili. Jadi film ini sebenarnya pengen bilang bahwa kita mudah dan cepat meng-alienated orang karena mereka berbeda. Seperti orang bisa dengan cepat menuduh Marsh Girl, ataupun Dodo Rozak sebagai pembunuh, karena keberadaan mereka tidak sama dengan normalnya yang lain. Padahal setiap orang harus dikenali terlebih dahulu baru bisa tahu mereka seperti apa. Karena orang yang diam bukan berarti pasrah, orang yang baik bukan berarti lemah, dan sebagainya. Kita harus hidup berdampingan dengan saling menghargai value dan cerita masing-masing. Jadi, film ini memperlihatkan dua tingkatan alienasi yang diberikan penduduk kepada Kya. Pertama diantagoniskan, kedua diremehkan.

Jangankan yang tak kenal, yang kenal dan dekat aja pada cabut ninggalin kok!

 

Film ini cuma peduli sama twist, sehingga bahkan adegan persidangannya pun datar. Sutradara tampak gak mau repot-repot, dan hanya bergerak berdasarkan ‘harus sama ama novel’. Padahal ada satu cara yang bisa diambil supaya adegan persidangan itu lebih berapi. Membuat Kya membela dirinya sendiri. Di adegan sebenarnya sudah ada dituliskan, pengacara meminta Kya untuk angkat bicara, tapi Kya menolak. Ini sebenarnya momen powerful. Alasan Kya menolak juga masuk akal dan menguatkan karakter. Tapi jadi tidak powerful karena tetap saja film memperlihatkan pembelaan Kya, dengan diwakilkan oleh orang lain. Coba kita bandingkan dengan bangunan dramatis di Miracle in Cell No.7. Ada alasannya kenapa Dodo diam saja saat di sidang, dan tidak membela diri (di luar keharusannya mengatakan hal yang di-coerce oleh pengacara). Lalu Dodo dihukum. Lalu in the future, barulah ada orang lain yang membela dirinya. Bangunannya dibuat seperti itu untuk memuat efek dramatis. Ketika kita tonton, jadi intens. Dan orang lain yang membela di kemudian hari itu dibentuk sebagai tokoh utama cerita, dialah yang beraksi. Di film Crowdads yang tadinya adalah novel ini, tidak ada usaha untuk membentuknya menjadi memantik dramatis seperti itu. Kya si tokoh utama tidak pernah bicara untuk dirinya sendiri. Yang beraksi mati-matian adalah karakter lain, tanpa ada moment kita percaya posisi Kya tidak menguntungkan. Stake kalopun dia dijatuhi hukuman juga tidak benar-benar kuat, tidak ada hukuman mati, bahkan tidak pula pembatalan kontrak buku. Dramatis film ini disimpan hanya untuk momen twist saja.




Makanya drama film ini gak jalan. Bentukannya masih kayak novel. Tidak ada arahan yang membuat ceritanya jadi terbentuk jadi narasi untuk sebuah tontonan sinematik. Kalo pun sekarang dia berhasil jadi sebuah film, maka ia adalah film yang hanya peduli pada twist (dan pada cinta-cintaan, karena itulah yang bikin film bisa laku). Karakternya – yang sebenarnya unik – tidak dapat pembahasan yang benar-benar mengulik. Growth nya ada cuma ya, hanya terhampar saja sebagai cerita novel. Misterinya juga tidak pernah berkembang jadi engaging, karena bumbunya ada pada cinta segitiga, yang sama juga; tidak benar-benar dikulik melainkan untuk menghantarkan ke twist. Padahal film ini punya bahasan yang bisa dalem. It just needs a better structure dan arahan yang lebih peka terhadap dramatisnya film seperti apa.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for WHERE THE CROWDADS SING

 

 

 




That’s all we have for now.

Kabarnya setelah novelnya rilis dengan twist tersebut, si pengarang buku jadi tersangka pembunuhan seorang pemburu liar. Kalo mau gosip sedikit, apakah menurut kalian twist soal Kya ternyata benar membunuh dan menyembunyikan clue perbuataannya ke dalam puisi adalah cerminan dari yang dilakukan oleh pengarangnya? Apakah kalian menyukai konklusi film terkait Kya ternyata benar-benar membunuh?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 5 (TOP GUN: MAVERICK. 12 CERITA GLEN ANGGARA, SAYAP-SAYAP PATAH, DC LEAGUE OF SUPER-PETS, BEAST, PREY, KAMU TIDAK SENDIRI, LIGHTYEAR)

 

 

Enggak kerasa kita udah berada di caturwulan terakhir 2022 aja! Orang bilang kalo sedang bersenang-senang, waktu memang serasa berlalu bagai terbang. Dan ya, memang empat bulan terakhir sepertinya terasa lebih cepat karena banyak film yang bagus-bagus.  Kayaknya belum pernah aku ngasih skor tinggi sesering beberapa bulan ini.  Dan mungkin jumlahnya masih  bertambah, karena ternyata masih ada beberapa film lagi yang belum sempat kuulas. Di sinilah tempatnya. Sekaranglah waktu untuk mereka. Delapan film, the last batch dari cawu kedua 2022,  inilah mini-review volume kelimaaaa!!

 

 

 

12 CERITA GLEN ANGGARA Review

Masalah utama yang lumrah kita temui dalam film cinta-cintaan remaja adalah tidak mengangkat kenapa si cowok dan si cewek karakter sentralnya harus jadi pasangan. Harus pacaran. Kebanyakan film tidak memberikan alasan yang lebih jauh selain karena kedua karakter itu sama-sama paling cakep, dan ‘cinta tak harus ada alasan’. Meski memang benar juga di dunia nyata toh kita bisa mendadak naksir kesengsem sama orang dalam sekali lihat, and we don’t know why pokoknya kita merasa harus jadian ama si dia, tapi tentu akan ada pelajaran yang kita dapatkan dari saat ternyata kita ditolak dan sebagainya. Singkatnya, cinta – seperti halnya perasaan lain seperti horor, trauma – memang harus digali, karena penggalian itu yang journey pada refleksi dunia nyata yang kita tonton sebagai film.

Karena itulah aku gasuka banget ama film Mariposa (2020), yang dangkal sekali memperlihatkan cewek menguber cowok, dan turns out mereka harus bersama itu benar sebagai reward yang dikasih gitu aja. Makanya juga, 12 Cerita Glen Anggara yang masih satu universe sama Mariposa ini, actually jadi cerita yang jauh lebih kuat dibandingkan film utamanya tersebut. Karena film garapan Fajar Bustomi ini benar-benar menggali kenapa Glen tertarik untuk memenuhi dua-belas permintaan Shena, dan akhirnya dia jadi jatuh cinta beneran. Tema ‘love make you a better person’ mengalir di balik kisah anak muda, yang juga menyisakan ruang untuk cerita persahabatan dan keluarga.

Yang masih kurang bagiku di film ini adalah stake. Tidak terestablish dengan kuat. Malah hampir seperti film takut untuk memberikan rintangan, karena di cerita ini yang diperlihatkan sebagai stake adalah persahabatan Glen dengan teman-temannya. Film seperti ngeri menggali kerenggangan Glen dengan teman-teman, dan akhirnya malah membuat cerita jadi aneh dengan justru bukan Glen yang harus berubah dan memilih sikap. Selain soal itu (dan soal film tidak banyak melakukan perubahan pada trope standar wish-of-dying-girl), film ini adalah peningkatan dari film utamanya, dan one of the better Indonesian’s teenager romantic story

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for 12 CERITA GLEN ANGGARA.

.

 

 

BEAST Review

Satu keluarga yang lagi berkunjung ke Afrika, diserang singa ngamuk yang melukai setiap manusia yang ditemui. Itulah film Beast kalo dilihat dari kulit luarnya. Sebuah aksi survival, kejar-kejaran manusia dengan hewan buas di alam liar. Namun jika ditilik ke lapisan di dalamnya, film garapan Baltasar Kormakur ini bercerita tentang pria, seorang dokter, yang masih diselimuti perasaan bersalah for not being there ketika istri dan keluarga membutuhkan dirinya. Perasaan yang dikontraskan dengan perasaan si singa yang mengamuk karena kawanannya ditembak mati oleh pemburu.

Film ini mengambil pendekatan yang grounded sehingga kita mengerti manusia dan hewan buas yang jadi pusat di sini adalah sama-sama ‘wounded animal’. Yang harus meresolve urusan masing-masing. Inilah yang mengangkat Beast di balik urusan menyelamatkan diri.  Nilai plus berikutnya datang dari kerja kamera. Dalam Beast banyak kita jumpai adegan-adegan long take, yang diambil supaya terkesan tanpa putus. Pengambilan seperti demikian menambah kepada dua hal. Pertama, kamera itu benar-benar menguatkan kesan manusia yang berada di tempat terbuka. Yang juga asing baginya. Kalo mau niruin rekaman audio di bioskop; kesan ‘all around you’ benar-benar tertonjolkan oleh film ini. Kedua tentu saja, menambah ke horor. Singa yang bisa tiba-tiba menerkam dari balik semak setelah kamera berputar mencari-mencari, mengikuti karakternya. Film ini gak gagal soal suspens dan kejutan, serta rintangan yang terus diberikan untuk karakter Idris Elba.

Yang pengen lihat Elba lawan singa, akan terpuaskanlah. Sayangnya, gak semua akting film ini konsisten grounded. Karakter dua putri Elba di sini akting dan sifatnya annoying banget. Mereka masuk ke tipe-tipe karakter konyol dan riweuh yang biasa ada (dan kita pengen mereka mati duluan) dalam genre serupa. Kalo gak ada mereka, atau seenggaknya, penulisan mereka dibikin lebih baik lagi, film ini akan menghibur maksimal

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for BEAST

 

 

 

DC LEAGUE OF SUPER-PETS Review

Sayang lebaran sudah lewat. Karena aku mau minta maaf sama film ini. Minta maaf telah meremehkan dan ngirain ini cuma film animasi konyol untuk anak kecil melihat anjing bisa bicara dan bisa terbang. Itulah kenapa kita gak boleh judge film sebelum nonton. Gampang bagi kita untuk mutusin gak nonton hanya dari trailer, dari visual, dan bahkan dari judul. Tapi ketahuilah, film hanya bisa diketahui bagus setelah ditonton, dan kalo kita kelewat film bagus karena keburu judge di awal, kitalah yang rugi.

DC League of Super-Pets adalah contoh film yang gampang diremehkan. Tentu, ini memang proyek jual brand DC ke penonton cilik, tapi itu tidak lantas berarti filmnya jelek dan dangkal. Karya Jared Stern dan Sam J. Levine ini sukses bikin aku ternganga.  Ceritanya (walau simpel dan ‘gampang ketebak’ untuk standar penonton dewasa) actually punya muatan lebih dari sekadar kartun yang menghibur. Universe tempat SuperMan punya anjing peliharaan itu dibangun dengan seksama, kita bukan sekadar melihat ‘what if’ story, melainkan benar-benar ada karakter yang kuat. Di sini, The Rock menyuarakan Krypto, anjing super yang harus belajar makna pahlawan di luar kekuatan-super dari kawanan hewan peliharaan terbuang. Dan pada gilirannya, Krypto turut mengajarkan hewan-hewan tersebut bagaimana menjadi pahlawan. Ini sungguhlah cerita padat, dengan muatan pesan yang baik sekali untuk ditonton oleh anak-anak.

Humornya bisa sedikit agak vulgar, tapi harmless. Anak-anak akan teralihkan oleh kelucuan tingkah polah karakter. Aku yakin, kalo aku nonton ini saat masih berusia SD, film ini pasti akan jadi film favorit yang kutonton berulang-ulang. Sejajarlah dengan film Disney dan Pixar.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for DC LEAGUE OF SUPER-PETS

 

 

 

KAMU TIDAK SENDIRI Review

Aku bisa mengerti kesulitan Kamu Tidak Sendiri dalam ‘menjual dirinya’ kepada penonton. Sutradara Arwin Wardhana truly membuat film yang susah untuk dijual, terutama di industri perfilman kita. Kamu Tidak Sendiri dia buat sebagai thriller ruang tertutup, tapi bukan exactly sebuah film kecelakaan lift. Bukan pula film bencana gempa. Ini bahkan bukan tentang whodunit, siapa yang menyebabkan semua itu terjadi. Sebenarnya Kamu Tidak Sendiri adalah drama psikologi seorang karakter yang menutup diri dari sosial – seorang bos yang tampil jutek. Ruang tertutup di sini bukan lift yang rusak itu, melainkan diri si karakter ini.

Jadi ya, film ini akan banyak sekali berisi dialog. Dimainkan oleh Adinia Wirasti, dengan desain karakter yang keras kepala dan unlikeable. Penonton yang mengharapkan kejadian seputar menyelamatkan diri dari bencana di lift akan cepat merasa terkecoh dan bosan begitu masuk ke babak kedua, saat lapisan dan backstory karakter si Adinia ini diungkap, lewat dialog-dialog dan kamera yang cenderung tak banyak bermanuver. It is hard sell buat penonton Indonesia. Makanya jarang film kayak gini muncul di industri perfilman kita. Sehingga, mau gak mau film ini harus kompromi dengan kemauan industri. Dan inilah yang bikin dirinya gak maksimal. Kamu Tidak Sendiri ini kalo mau bagus dan deep, ya memang harus embrace dirinya.  Full dialog tidak akan membuat film jadi boring, asalkan dialog-dialog tersebut benar-benar bermakna dan berfungsi menambah kepada bobot cerita. Tapi yang actually kita lihat adalah sebuah effort yang seperti berpindah-pindah begitu sampai ke titik-mentok, yakni titik yang dianggap gak bakal disukai. Dialog-dialognya juga kurang tight, dan lebih disibukkan dengan masukan candaan – karena takut penonton bosan.

Makanya film ini endingnya jadi lemah banget. Film gak berani bikin nasib satu karakter menyedihkan. Jadi ada satu karakter yang mestinya sudah mati, karena dengan kematiannya, Adinia sadar dan pembelajaran yang dialami karakternya mulai jalan. Tapi film membuat si karakter kunci ini enggak jadi mati (walaupun segala visual clue sudah nunjukin dia lebih cocok untuk mati), dan lemahlah sudah pembelajaran yang dialami karakter utama.

The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for KAMU TIDAK SENDIRI.

 




LIGHTYEAR Review

Setelah ditonton, kayaknya aku tahu alasan kenapa sensor di kita (dan beberapa negara lain) cukup ketat sehingga film ini tidak jadi tayang di bioskop. Di film ini ada adegan Buzz ke hyper space yang membuat dia mengalami waktu yang berbeda dengan seluruh semesta. Jadi, setiap kali Buzz pergi, semesta bertambah tua empat tahun. Nanti ada montase yang memperlihatkan Buzz kembali ke pangkalan setiap empat tahun sekali, dan setiap kembali, dia melihat rekannya yang cewek meneruskan hidup. Dari pacaran (sama sesama cewek), lalu empat tahun kemudian hamil, empat tahun kemudian punya anak, anaknya udah gede, punya cucu, dan akhirnya mati. Problemnya ada di pasangan sesama jenis yang hamil. Karena montase, maka tidak ada penjelasan, dan ini tentu akan bikin bingung anak-anak. Bisa-bisa mereka menganggap cewek ama cewek bisa hamil juga. It’s complicated things, yang butuh bantuan film menjelaskan.

So yea, Lightyear secara keseluruhan juga sama. Ceritanya yang mengusung tema eksistensi, kehidupan, dan umur, bisa tampak membingungkan bagi penonton anak-anak. Bagi penonton dewasa sih oke. Walau bagiku juga tampak ekstra ribet dengan segala konsep Buzz skip waktu dan sebagainya (nanti revealing Zork bahkan lebih complicated lagi), tapi secara usungan tema, film ini konsisten. Dan tema tersebut diceritakan dengan rapi. Menutup. Juga make sense semua alasan kenapa terjadinya. Urusan visual dan animasi, Lightyear masih memegang kuat standar Pixar. Film ini terlihat clean, mulus, aksi-aksinya banyak hal baru. Buzz yang dihidupkan sebagai manusia, bukan sebagai mainan lagi, terasa fully sebagai karakter, lengkap dengan backstory dan mannerism yang baru sekaligus bikin nostalgia. Mungkin yang sedikit aneh adalah, estetik filmnya yang terlalu keren itu agak terasa kurang cocok dengan ilusi atau gimmick yang studio angkat, yakni film ini adalah film yang ditonton oleh Andy dalam Toy Story tahun 1995. Tapi, yah, itu cuma nitpick kecil yang gak nambah banyak untuk bobot penilaian.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for LIGHTYEAR

 

 

 

PREY Review

Satu lagi film yang teroverlook olehku. Prey ternyata adalah prekuel dari Predator, dan seperti yang diindikasikan oleh judulnya, film ini actually beneran film Predator yang kreatif dibandingkan dengan film-film lain (yang judulnya ‘Predator apalah’ melulu)

Prey mengerti, dan membawa kita kembali ke akar yang membuat Predator jadi salah satu ujung tombak survival horor. Aspek dinamika antara pemburu dan yang diburu. Dalam predator original kita lihat gimana pria-pria militer berotot dan macho itu dioverpower oleh kekuatan lain di atas mereka. Sutradara Dan Trachtenberg semacam mengambil perspektif lain dari situasi ini. Perspektif yang juga fit perfectly ke dalam agenda feminism yang kerap diangkat di era sekarang. Prey kini mengambil sudut dari perempuan, pada masa kuno banget (we talk about tahun-tahun orang suku pedalaman), yang tentu saja masih menganggap perempuan inferior dari laki-laki. Dan begitu ada Predator, si perempuan harus membuktikan bahwa ‘si lemah’ bisa menaikkan status dirinya sendiri menjadi predator puncak.

Apa-apa yang kita rinduin dari survival horor klasik, ada di sini. Prey pun tidak berkutat dengan karakter annoying seperti pada Beast. Melainkan memang fokus memainkan dinamika kelemahan-jadi-kekuatan yang dipunya oleh protagonisnya. Aksinya bahkan lebih seru dengan kontras peralatan jaman dahulu melawan peralatan canggih. Satu lagi perbedaan yang bisa kita bandingkan dengan Beast, Prey menggunakan kamera yang lebih kalem. Di sini lebih banyak wide shot, karena perasaan yang diangkat di sini bukanlah sensasi danger di area terbuka, melainkan karakter yang harus memahami lingkungan di sekitarnya. Memanfaatkan lingkungan dan memperhatikan apa yang berbeda dari sana, semuanya adalah ‘senjata’ untuk berhadapan dengan musuh.

Lucunya nonton film adalah, kita bisa memasukakalkan ada alien pemburu ketemu suku pedalaman, tapi untuk logika seperti karakter yang berpindah tempat kita masih merasa perlu untuk benar-benar ada penjelasan ‘kok bisa’ . Nah, Prey ini bagiku kurang di bagian tersebut karena ada dua kali adegan karakter pingsan dan bangun-bangun dia sudah ada di situasi berbeda – dan  ada satu ‘jump’ ini yang buatku memudahkan penceritaan saja. Prey kurang tight di majunya plot saja. Selain itu, ini adalah film cantik, berbobot, dan sangat seru.

The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for PREY

 

 

 

SAYAP-SAYAP PATAH Review

Tak disangka tak dinyana, Sayap-Sayap Patah yang awalnya dapat preseden buruk karena isu politik, ternyata berhasil tembus dua juta penonton. Pertumbuhan organik yang benar-benar bisa dilihat keramaiannya. Tapi sebenarnya, kesuksesan jumlah penonton film ini bukan hal yang aneh. Kenapa?

Karena secara teori, sutradara Rudi Soedjarwo dalam comebacknya ini benar-benar memanfaatkan trope dramatis sebagai peluru utama. Trope soldier-with-pregnant-wife sudah terbukti ampuh untuk jadi alur dramatis yang membuat penonton kasihan sama nasib karakternya.  Coba tengok lagi film-film drama perang atau semacamnya, pasti banyak ditemui karakter pejuang yang punya istri hamil yang menunggu di rumah. Sayap-Sayap Patah memanfaatkan ini dengan maksimal. Lewat ngecast Nicholas Saputra, everyone’s darling since AADC, misalnya. Dan jelas membantu pula, film ini diangkat dari tragedi teroris nyata, yang terjadi bisa dibilang masih baru-baru ini. Itulah kekuatan utama Sayap-Sayap Patah. Bangunan dramatiknya secara genuine mengakar.  And that’s it.

Sesungguhnya film ini tidak melakukan banyak pengembangan. Ada tema soal kontras polisi dengan teroris (polisi tidak akan mengorbankan keluarga) sebagai tulang punggung development karakter utamanya, tapi pengembangannya kurang terasa natural karena si karakter ini tidak banyak diperlihatkan langsung bersinggungan dengan paham teroris tersebut pada awalnya. Film tidak banyak mengubah kejadian nyata, dan memasukkan ke dalam bangunan perspektif karakter. Yang dilakukan film hanya memilah, mana yang enak untuk masuk, dan kapannya. Itulah sebabnya film ini masih tampak berkutat sebagai propaganda. Pembahasannya masih kurang berimbang. Teroris diperlihatkan baik karena polisinya baik, tapi kita tidak melihat contoh polisi yang jahat di sini. Jadi seharusnya, semua teroris jadi baik, dong. Tapi tidak juga, karena di sini teroris harus jahat. Nah, bobot dinamikanya itu yang masih dangkal dilakukan oleh film ini.

The Palace of Wisdom gives 5 gold star out of 10 for SAYAP-SAYAP PATAH

 

 

 

TOP GUN: MAVERICK Review

Bagi yang ngikutin blog ini cukup lama, pasti tahu aku paling kurang-semangat urusan film action. Banyak yang kupilih untuk diskip. Karena buatku, nulis tentang film action itu susah. Bingung mau angkat apa, sebab ya kekuatan film action ya di aksi-aksi itu. Bagaimana dengan budget dan teknologi sekarang, action bisa tercapai dengan semakin meyakinkan. Aku justru lebih tertarik kepada cerita, karena cerita bisa dijadikan bahan tulisan tanpa harus mengerti teknik-teknik bikin adegan kayak pada action. Makanya aku lewatin juga film karya Joseph Kosinski ini. You bet I’m not even watch the first film. Orang-orang yang merekomendasikan sekuel kali ini pun bilangnya “bagus, karena aksinya keren”. Tak menarik buatku.

Tapi nih ya, kalo kemaren ada yang bilang “tontonlah, ceritanya tentang si Tom Cruise yang udah pensiun jadi Top Gun, kini harus balik tapi dalam kapasitas mengajar. Dan salah satu muridnya adalah anak dari sahabatnya, yang tewas saat mereka beraksi di udara”. Aku pasti akan cabut ke bioskop saat itu juga. Nobody tells me about this movie dari ceritanya tentang apa. Dan begitu akhirnya aku nonton film ini, DHUARRR! rasanya mindblown banget melihat cerita mentorship dengan layer drama dan perspektif sekaya ini. I. Love. This movie. Film action yang gak hanya peduli pada aksi-aksi mahal dan menawan. Tapi juga sedemikian dalam menggali dan menghidupkan karakternya. Film sekuel yang tidak sekadar dibikin lagi untuk nostalgia. Tapi benar-benar melanjutkan cerita dari karakter yang begitu disukai.

Begitu tersold lewat penulisan, barulah aku jadi semakin mengapresiasi aksi-aksinya.  Karena ya, kalo kita sudah peduli sama karakter, stake aksi mereka di udara bakalan jadi demikian terasa. Bukan rahasia umum lagi, Tom Cruise selalu melakukan aksi-aksinya sendiri. Di film ini juga begitu, dan maaan, yang ia lakukan di sini bikin kita tahan napas. Karena aksinya grounded, gak terlalu wah, tapi kita tahu bahayanya seperti apa. Film ini punya kejar-kejaran pesawat yang seru dan fun. Yang paling aku suka adalah momen-momen Maverick melatih para Top Gun muda di udara.

The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for TOP GUN: MAVERICK

 

 




That’s all we have for now

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 4 (RANAH 3 WARNA, INCANTATION, DUAL, PERJALANAN PERTAMA, METAL LORDS, THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT, HUSTLE, CHIP ‘N DALE RESCUE RANGERS)

 

 

So, banyak yang nanya ‘Mini Review ini buat film-film yang kurang penting, ya?’ Nope, Enggak. Bukan. Wrong. Sama sekali tidak. If anything, justru buatku ini adalah tempat film-film yang lebih ‘susah’ untuk diulas. Karena seringnya, aku masukin film ke segmen ini karena aku gak bisa langsung merampungkan ulasan setelah nonton. Masih ada bagian yang harus dipertimbangkan. Masih ada bias yang masih harus diademkan. Atau masih merasa perlu untuk nonton filmnya lagi. Dan karena didiamkan dahulu itulah, filmnya jadi ‘tergilas’ film baru yang tayang berikutnya.  Jadi simpelnya, Mini Review ini gak ada hubungannya ama kelas kepentingan film, melainkan hanya soal aku telat menyelesaikan proses nulis atau nontonnya saja.

Buktinya? Nih lihat aja judul-judul yang terangkum di Volume 4 ini!

 

 

CHIP ‘N DALE: RESCUE RANGERS Review

Sebagai anak 90an, mengatakan aku cukup akrab dengan Chip ‘N Dale sungguhlah basa-basi. Dua tupai ini muncul di setiap komik dan majalah Donal Bebek yang kubaca (di kita nama mereka ‘diterjemahkan’ jadi Koko dan Kiki). Dan game petualangan mereka di Nintendo, jadi favoritku waktu kecil. The game was like monopoly, bisa merusak persahabatan. Aku actually bertengkar dengan teman, karena di situ kita bisa salah angkat teman sendiri, dan ‘gak sengaja’ melempar mereka ke jurang. Yea, ‘gak sengaja’ hihihi

Anyway, aku berasa seperti anak kecil lagi saat nonton film ini. Demi ngeliat karakter-karakter kartun dari masa lalu tersebut. But also, conflicted, karena ya tahulah gimana film-film dari nostalgia masa kecil dimanfaatkan sebagai parade IP semata.  Chip ‘N Dale ini juga sebenarnya dibuat dengan niat seperti itu. Namun sutradara Akiva Schaffer mendorong konsep ‘hey, here are your favorite childhood characters‘ lebih jauh lagi. Yang menyenangkan dari film ini adalah mereka memang memperlihatkan perkembangan. Mereka semacam membangun dunia-cerita yang meta, dan mengeksplor cerita dari sana. Dale (disuarakan dengan pas oleh Andy Sandberg) capek jadi sidekick Chip di serial kartun mereka, sehingga memutuskan untuk nyari proyek solo, dan begitulah akhirnya duo ini pisah. Hingga sekarang. Dale operasi dirinya jadi animasi 3D untuk stay relevant dan Chip kerja di balik meja. Dengan setting yang menarik tersebut, film seperti berusaha ngasih lihat perkembangan animasi di balik nostalgia. Mencoba membayangkan gimana para tokoh kartun ini sebagai aktor beneran. Dan hasilnya memang lucu dan supermenarik. Banyak karakter dari berbagai kartun dihadirkan, dan permasalahan mereka disangkutkan dengan soal kartun-kartun bajakan.

Tapi ya itu tadi, film ini tidak pernah diniatkan untuk dibuat mendalam. Hey, ini ada masalah bootleg, ini ada issue soal trend animasi, mari kita bikin cerita yang actually memberikan gagasan tentang semua itu. Tidak. Chip ‘N Dale bukan great film karena memilih untuk membangun penceritaan berdasarkan surprise dan nostalgia value, sehingga banyak menomorduakan kaidah-kaidah film beneran. In the end, ini masih kayak kartun mereka dulu, tapi dengan setting berbeda. Kuharap film ini dibuatkan juga versi gamenya.

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for CHIP ‘N DALE: RESCUE RANGERS.

.

 

 

DUAL Review

Kita biasanya gak peduli sama apa yang kita punya, sampai sesuatu yang dipunya itu hendak direbut oleh orang lain. Kadang nilai sesuatu baru kita hargai, baru terasa, saat kita sudah kehilangan. Kupikir bahasan tentang hal tersebut bakal selalu jadi bahasan yang tragis. Tapi sutradara Riley Stearns somehow berhasil mengarahkannya ke dalam cerita dark comedy. Aku merasa bersalah juga, banyak ketawa miris melihat Karen Gillan yang di sini jadi Sarah yang hidupnya dicolong oleh kloningannya sendiri.

Sarah orangnya pendiam, gak asik, dia bosan ama hidupnya. Gak ada passion lagi ke pasangannya, juga selalu menghindar saat ditelpon ibunya. Momen pertama karakter ini kocak-tapi-sedih banget adalah ketika dia biasa aja saat dikasih tahu dokter hidupnya tinggal beberapa waktu lagi. Sarah justru kayak senang ketika dia sadar masalah hidupnya bakal jadi masalah kloningan. Ya. di dunia antah-berantah tempat tinggal Sarah, ada teknologi klone yang disediakan khusus untuk keluarga pasien yang hendak meninggal. Supaya gak sedih-sedih amat lah. Masalah baru muncul ketika Sarah gak jadi mati, jadi kloningannya sesuai hukum harus ‘dimatikan’ tapi si kloning menjalani hidupnya lebih baik daripada yang Sarah lakukan. Bahkan orang-orang terdekat Sarah lebih suka si kloningan ketimbang Sarah yang asli. Di titik cerita ini, aku benar-benar merasa gak enak udah ketawa.

Kupikir itulah kekuatan sekaligus juga kelemahan film Dual. Berhasil menemukan titik tengah tempat penonton bisa mengobservasi sekaligus berefleksi juga. Medan yang ditempuh film sebenarnya sulit. Sarah, misalnya, harus tampil ‘jauh’, terlepas dari penonton. Dan memang susah ngikutin karakter yang gak ada semangat sama sekali seperti ini. Tapi ketika waktunya tiba, Sarah harus bisa mendapat simpati, dan itu hanya bisa dilakukan dari seberapa kuatnya film menjalin kita lewat situasi metafora. Dual meminta banyak kepada kita.  Tapi memang ketika konek, film ini jadi seru. Paruh akhirnya buatku bisa jadi celah untuk film mulai menggali lebih dalam perihal hidup dan eksistensi. Sayangnya, film ini memilih untuk membungkus cerita dengan cara yang seperti mengelak dari bahasan tersebut. Dan itu membuat journey Sarah jadi mentah, karena ternyata film hanya menjadikan semuanya sebagai ‘hukuman’. Bukan pembelajaran baginya.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for DUAL

 

 

 

HUSTLE Review

Meskipun setting ceritanya memang di lingkungan basket, tapi sutradara Jeremiah Zagar tidak semata membuat film tentang olahraga basket, melainkan lebih sebagai drama tentang keluarga dan ambisi. Sehingga kita gak perlu untuk jadi penggemar basket dulu untuk menonton Hustle. Malah, dijamin, Hustle akan menyentuh setiap penonton yang menyaksikan ceritanya.

Adam Sandler sekali lagi membuktikan kematangan aktingnya. Dengan ini namanya tidak lagi disinonimkan dengan komedi-komedi receh. Sandler justru memperlihatkan taringnya sebagai aktor drama keluarga yang punya range natural sehingga karakter yang ia mainkan terasa hidup. Di sini dia adalah mantan pebasket yang kini jadi pencari talent karena cintanya dia terhadap olahraga ini. Dan memang penampilan akting Adam Sandler-lah yang membuat film ini menyenangkan untuk diikuti. Yang membuat naik turun dramanya  tidak seperti bola basket yang didrible keras. Melainkan melantun dengan emosional. Center film ini adalah hubungan antara Sandler dengan pria yang ia temukan jago bermain basket, tapi pria ini not yet ready. Jadi dia harus digembleng, dengan segala permasalahan seputar tim Sandler tidak percaya, dan Sandler melatih orang ini menggunakan biaya dari kantongnya sendiri.

See, Sandler sendiri di sini harus bekerja sebagai tim. Apalagi lawan mainnya kebanyakan adalah pemain basket beneran yang baru sekali ini berakting. Mungkin karena permainan Sandler tinggi di atas yang lain itulah, aku merasa agak kurang konek dengan aktor lain. Terutama lawan mainnya. Aku tidak benar-benar merasa si pria bernama Bo ini pengen banget jadi pemain basket. The reason he played juga gak ditonjolin kuat, hingga ke paruh akhir saat permasalahan baru personal bagi dirinya. Inilah yang membuatku agak sedikit kurang berada di belakang perjuangan mereka saat awal hingga pertengahan cerita. Untuk sebagian besar waktu aku merasa duduk di sana untuk melihat the magic of basketball cinema saja, karakternya kurang. Hanya Sandler yang menonjol.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for HUSTLE

 

 

 

INCANTATION Review

Yup, there’s no doubt film ini menunggangi kepopuleran The Medium tahun lalu. Hadir dengan tema horor supernatural, kepercayaan dewa-dewa, dan bercerita dengan teknik found footage.

Dalam beberapa hal, sutradara Taiwan Kevin Ko sebenarnya melakukan lebih baik daripada The Medium. Dia bercerita dengan konsep found footage yang lebih solid ketimbang The Medium yang di awal malah tampak seperti mockumentary lalu lantas ngescrap konsep itu dan beralih jadi full cuplikan kamera. Karakter utamanya juga lebih kuat. Incantation ini adalah cerita tentang seorang perempuan yang di masa lalu pernah melanggar suatu ritual, dan sekarang dampak dari perbuatannya berhasil catching up, dan nyawa putri ciliknya jadi taruhan. Gak kayak Medium, perspektif tokoh utama film Incantation ini lebih fokus dan gak pindah-pindah. Dari aspek horor, selain gimmick pov langsung dari kamera, Incantation juga punya elemen body horror yang langsung menyerang fobia penonton. Diperkuat juga dengan bahasan soal persepsi; gimana kutukan dan berkah sebenarnya tergantung cara orang memandangnya.

Hanya saja film ini gak pede. Atau mungkin, film ini terlalu mengincar seru-seruan ketimbang bercerita dengan benar. Karena film ini actually ngebutcher kejadian atau runtutan peristiwanya. Lalu disusun dengan alur bolak-balik, yang seperti tanpa bendungan tensi. Kita akan bolak-balik antara rekaman video karakter di masa lalu dengan di masa sekarang, yang seringkali setiap perpindahan bikin kita lepas dari kejadian sebelumnya. Sehingga nonton ini jadi kerasa capeknya aja. Keseraman, apalagi journey karakternya, jadi nyaris tidak terasa karena sibuk pindah-pindah.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for INCANTATION.

 

 

 

METAL LORDS Review

Sebelum Eddie Munson yang bikin semua orang bersimpati, sebenarnya Netflix sudah punya kisah rocker baik hati. Metal Lords garapan sutradara Peter Sollett berkisah tentang dua remaja sekolahan misfit yang mencoba naik-kelas popularitas dengan membentuk grup metal supaya bisa menangin Battle of the Bands.

Selain sebagai cerita coming of age dan persahabatan dua remaja cowok (yang akan involving salah satunya deket ama cewek sehingag mereka jadi renggang), film ini punya ruh metal yang kental. Sehingga tampak seperti sebuah surat cinta terhadap genre musik tersebut. Film membahas tentang bagaimana genre ini di kalangan anak jaman sekarang. Yang lantas semakin berdampak kurang bagus bagi keinginan dua karakter sentralnya untuk populer. Pembahasannya sebenarnya cukup formulaik, alias gak banyak ngasih sesuatu yang baru. Tapi hubungan antarkarakter yang menghidupi ceritanya feels real. Seperti saat melihat Eddie di serial Stranger Things yang membuka mata bahwa, yah, rocker juga manusia, film ini juga memberikan kita insight di balik apa yang dianggap banyak orang sebagai stereotipe seorang anak penyuka musik keras.

Ngomong-ngomong soal keras, I do feel like film ini masih sedikit terlalu berhati-hati, like, masih terlalu ngincar feel good moment. Sedikit pull out punches. Tidak banyak adegan memorable terkait drama. Enggak menjadi sedalam Sing Street. Tapi untuk urusan musik metal, well, film ini memang cukup cadas.  Di adegan battle of the bands, kita akan dapat satu performance musikal yang keren. Bersama satu transformasi karakter yang sama kerennya!

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for METAL LORDS.

 

 

 

PERJALANAN PERTAMA Review

Ini film paling baru yang masuk daftar Mini Review. Artikel ini kurampungkan Jumat, sedangkan Kamisnya aku baru saja menonton film ini. Aku sebenarnya punya waktu untuk nulis ini ke dalam review panjang. Namun pas nulis kemaren, aku merasa perlu lebih banyak waktu. Sebelum akhirnya aku sampai pada kesimpulan, bahwa karya Arief Malinmudo ini sebenarnya memang mengandung nilai-nilai baik. Bukan hanya kepada anak, ini bisa dijadikan pelajaran buat kita semua untuk tidak memandang sesuatu dengan mengedepankan kebencian. Tapi dalam penceritaannya, masih clunky. Cerita ini punya dua sudut pandang, dan film tidak mulus – tidak benar-benar paralel dalam membahas keduanya.

Jadi ini adalah kisah tentang anak kecil yang dibesarkan oleh kakeknya. Dia tidak pernah tahu siapa kedua orangtuanya, kakeknya masih menyimpan rahasia. Sehingga si anak kesel. Ketika si Kakek pergi mengantarkan lukisan pesenan orang, si anak yang tadinya ogah-ogahan akhirnya mau ikut menemani. Di tengah perjalanan, lukisannya dicari orang, sehingga mereka harus menemukan. Tapi masalahnya, si anak gak tahu lukisan kakek seperti apa. Dan si kakek gak mau cerita. Film benar-benar ingin menyampaikan perasaan kesal si anak kepada kita sehingga di paruh awal cerita banyak sekali bagian-bagian narasi yang bikin kesel dan konyol. Ini adalah jenis film yang gets better di akhir, saat semuanya sudah diungkap. Tapi untuk film ini, bagian tersebut agak sedikit terlalu lambat datangnya. Membuat kita berlama-lama di bagian yang gajelas  di awal.

Dialog film ini sebenarnya cukup kaya oleh lapisan. Kayak kalimat ‘orangnya sudah ketemu’ di akhir film yang bermakna dua karena diucapkan oleh karakter yang di awal deny bahwa perempuan harus dicari, bukan mencari. Aku gede di Sumatera, jadi aku tahu Melayu dan Sumatera Barat yang jadi latar film ini memang sangat kuat dalam perumpamaan, dan nilai-nilai budi yang baik. Film ini berusaha menjadi sesuai latarnya itu, tapi tidak benar-benar mulus melakukan. Sehingga di awal-awal banyak muatan adegan-adegan yang seperti pesan-pesan random, kurang integral dengan permasalahan inner karakter. Beberapa malah konyol. Kayak ada adegan mereka ngejar bis, nganterin seorang penumpang anak kecil yang tertinggal. Dan lalu ada suara ibunya yang ngomen dari atas bus, lalu lantas si ibu ngajak anaknya selfie. Konyol sekali.

The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for PERJALANAN PERTAMA.

 

 

 

RANAH 3 WARNA Review

Satu lagi cerita dari tanah Minang, yang juga menjunjung nilai-nilai kebaikan dan berakar kuat kepada adat. Bedanya, Ranah 3 Warna diadaptasi dari novel, dan merupakan cerita sekuel. Sehingga punya advantage dari sisi dunia-cerita dan karakter-karakter yang sudah lebih established. Tapi itu tidak lantas berarti lebih baik dalam penceritaan.

Ranah 3 Warna memang lebih imersif. Di sini karakternya akan berdialog minang dan hanya berbahasa Indonesia kepada karakter yang gak bisa bahasa daerah. Persoalan bahasa benar-benar dikuatkan, karena setting tempat benar-benar masuk ke dalam narasi. Sesuai judulnya, akan ada 3 daerah, banyak budaya, banyak bahasa yang jadi panggung dan mempengaruhi karakter sentral. Tapi ini juga lantas membuat film jadi episodik, karena Ranah 3 Warna diarahkan Guntur Soeharjanto lebih seperti novel, ketimbang seperti film. Dalam film biasanya, konflik karakter akan dibuild up, stake naik, dan solusi baru ketemu di babak akhir cerita, sehingga segala usaha dan pay offnya jadi terasa gede sebagai akhir perjalanan. Ranah 3 Warna ini, konflik itu hadir sebagai permasalahan yang sama dihadapi oleh karakter di setiap tempat yang berbeda. Mereka tidak mengembangkan untuk satu film, tapi satu tempat. Lalu mengulang permasalahan itu ketika karakter kita pindah ke tempat yang baru. Jadinya terasa sangat repetitif.

Apa permasalahannya? soal kesabaran. Jadi ketika di Bandung, karakter kita dihadapkan kepada situasi yang menguji kesabarannya, lalu dia belajar dari nasihat orang, dan lalu ketemu solusi. Adegan berikutnya, pindah tinggal di negara lain. Dan formula konfliknya berulang kembali, walaupun seharusnya karakter utama sudah belajar tentang kesabaran itu di problem sebelumnya. Penonton awam mungkin gak akan masalah, apalagi karena film ini dihidupi oleh karakter-karakter menyenangkan, dengan pesan-pesan yang baik. Film ini bakal menang award cerita berbudi luhur (kalo ada). Tapi sebagai film, ini masih berupa pesan yang disampaikan berulang kali. Nonton ini, aku yang merasa harus belajar sabar.

The Palace of Wisdom gives 5 gold star out of 10 for RANAH 3 WARNA

 

 

 

THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT Review

Dibuka oleh film meta, ditutup oleh film meta. Yup, sama seperti Chip ‘N Dale yang mengangkat kisah petualangan beneran dari aktor film kartun, film Unbearable ini juga begitu. Mengangkat kisah aktor yang harus ngalamin petualangan beneran. Aktor yang dimaksud adalah Nicolas Cage, yang di sini memainkan versi aktor dari dirinya sendiri. Karakter Nick Cage yang ia perankan dibentuk dari meme, gosip, isu, dan perjalanan karir ikonik yang ditempuhnya dalam real life. So yea, ini adalah film yang sangat lucu, bermain-main dengan karir aktor pemerannya.

Sutradara Tom Gormican tidak lantas membuatnya sebagai perjalanan nostalgia. Melainkan benar-benar mengolah cerita dari sudut pandang aktor Nick Cage. Bagaimana jika persona tersebut dijadikan karakter. Dimainkan langsung oleh Nicolas Cage hanya menambah lapisan di dalam karakter ini. Jika film harus bisa memblurkan antara fiksi dan realita, maka film ini garis tersebut tidak bisa lebih blur lagi. Penceritaannya dibuat ringan, sehingga tidak lantas ujug-ujug jadi  Birdman versi real. Lucunya, film ini membuat hal menjadi lebih besar lagi dengan membenturkan yang namanya film character driven, dengan film action. Dua tone ini meluncur mulus, dan ini membuktikan betapa Nicolas Cage benar-benar fluid dan versatile, di atas punya selera humor yang juga juara.

Tentu saja film bukan hanya tentang satu orang, walaupun basically build around ‘myth’ tentang dirinya. Film juga punya karakter-karakter lain. Dan di sini, semua karakter berhasil mencuri perhatian. At heart, film ini juga adalah tentang persahabatan. Nick Cage akan berteman dengan seorang yang ternyata berkaitan dengan kelompok mafia. Dan persahabatan mereka, yang involving mereka menggarap naskah film bersama-sama menjadi highlight yang bikin ini semakin menyenangkan untuk diikuti.  Jika kalian snob film, film ini akan menghibur tanpa ‘memangsa’ sel otakmu. Jika kalian suka film action heboh, film ini akan membuatmu lebih dari sekadar puas. Jika kalian suka Nicolas Cage, kalian akan treasure this movie forever.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT.

 

 

 

That’s all we have for now

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 


THE VISIT Review – [2015 RePOST]

 

“I know my kingdom awaits, and they’ve forgiven my mistakes”

 

 

M. Night Shyamalan is baaack! Kita semua tahu persis gimana ‘prestasi’ sutradara yang satu ini. Siapa coba yang tak ingat kepada twist dan revealing cerita film The Sixth Sense, Unbreakable, ataupun Signs. Akan tetapi setelah The Village (2004) yang sudah php-in banyak orang – semua nyangka film itu adalah kisah misteri menyeramkan padahal ‘hanya’ sebuah kisah cinta terlarang – film-film buatan mister Shyamalan mengalami penurunan kualitas yang drastis. Lihat saja The Happening (2008); orang-orang dalam film tersebut memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan cara yang terduga. Diniatkan sebagai experience yang mengerikan, nyatanya, malah jadi lucu. Alih-alih dianggap serius, The Happening malah diketawain. Tidak hanya penonton, rekan-rekan kerja pun tampaknya tidak lagi percaya kepada M. Night Shyamalan. After Earth praktisnya sama saja dengan disabotase oleh Will Smith. Makanya, film The Visit ini disebut Shyamalan sebagai usahanya untuk kembali ke basic. Dengan budget rendah dan cerita yang ditanganinya sendiri, M. Night Shyamalan mempersembahkan film ini sebagai, bukan hanya ‘jalan pulang’, namun juga sebagai jalan tengah antara horor dan komedi. Dan meskipun memakai gaya found-footage, The Visit bukanlah film hantu.

Namun kenapa pula itu berarti film ini tidak menyeramkan?

 

Becca (Olivia DeJonge leads this story dengan sangat likeable) dan Tyler (sebagian besar gelak tawa datang dari Ed Oxenbould) sedang dalam misi mendamaikan keluarga ibu mereka (Kathryn Hahn manages to stay wonderful meski nampil paling sedikit). Kedua kakak beradik ini menginap seminggu di rumah kakek dan nenek yang baru pertama kali berkontak dengan mereka. Siang hari dalam film ini kerasa hangat dan akrab semestinya drama keluarga yang penuh kasih sayang. Tapi begitu jam menunjukkan pukul 21.30, Pop Pop (aku gak mau punya kakek se-creepy Peter McRobbie dalam film ini) melarang keras mereka untuk keluar kamar. Di lain pihak, Nana (tepuk tangan buat penampilan berlapis dari Deanna Dunagan) meminta kedua kakak beradik tersebut untuk tidak mengganggu Pop Pop jika sang kakek sedang khusyuk di gudang.

Yeah, there is definitely something strange dengan Pop Pop dan Nana.

 

Kecanggungan anak-anak berinteraksi dengan orang lanjut usia dikembangkan menjadi tema horor dalam film The Visit. Kita sendiri pasti pernah mengalami gimana awkward nya ngobrol sama nenek, terus kita ragu pengen ketawa atau enggak karena takut dikira enggak sopan atau semacamnya. M. Night Shyamalan menerjemahkan hal tersebut sebagai sebuah experience yang membingungkan dan nakutin. Apalagi bagi Becca dan Tyler, ketakutannya jadi lipat ganda karena orangtua ibu mereka tersebut practically sama saja dengan orang asing yang baru mereka kenal. Dan yang namanya interaksi dua generasi yang berbeda, tentu saja selalu ada hal-hal kocak yang ditimbulkan. Film ini pun tidak luput menggali sudut pandang tersebut. Kesuksesan film The Visit terletak dari KEEFEKTIFANNYA MENGGABUNGKAN ADEGAN YANG MENGUNDANG GELAK TAWA DENGAN ADEGAN YANG BIKIN KITA MENAHAN NAPAS SIAP UNTUK MENJERIT. Mulus banget, transisi antara keduanya terasa natural.

Dua karakter yang paling menonjol adalah Tyler dan Nana.
Everytime Tyler ngerap, kita bakalan ngakak. Entah itu karena liriknya, atau karena kita enggak bisa mutusin dia nyanyinya bagus atau enggak. Yang paling ngikik (tau gak ngikik? Sama aja dengan ngakak tapi bunyinya hik-hik-hik, kayak kuntilanak!) adalah saat anak 13 tahun ini ngasih tau kakaknya bahwa mulai sekarang dia akan mengumpat dengan menggunakan nama-nama penyanyi cewek instead pf pake kata-kata jorok! hikhikhik ada-ada saja.
Everytime Nana kumat, kita bakalan merinding. Sepanjang film mungkin bakal kita habiskan untuk mutusin apakah nenek ubanan yang rapuh ini adalah hantu atau manusia. Adegan dia merangkak dengan rambut terurai ala Sadako selalu sukses bikin kita menyipitkan mata. Dan seperti yang sudah disebutin tadi, Nana ini adalah karakter yang kompleks. Yang enggak gampang untuk dimainkan. She shows so much different emotions, dan bakal nunjukin emosi-emosi itu in a matter of flipping a coin. Adegan bersihin oven itu asli seram berkat kepiawaian Deanna Dunagan memainkan tokoh Nana yang intention nya tidak bisa ditebak.

Sisi drama juga tak lupa disentuh, sebagaimana yang selalu dilakukan Shyamalan di dalam film-film terdahulunya. Ada banyak BEAUTIFUL SCENES dalam The Visit yang akan membuat kita rindu kepada keluarga. Memikirkan bahwa betapapun banyaknya kesalahan kita, betapapun kita pikir kita saling membenci satu sama lain, sebagai keluarga, kita akan terus menemukan alasan untuk saling memaafkan. Mungin film ini juga dimaksudkan oleh Shyamalan sebagai ajang meminta maaf kepada kita-kita yang sudah dikecewakan oleh film-film medioker buatannya selama satu dekade ini.

Pertama aku memang rada skeptis, mengingat film keluaran Blumhouse Production ini pake gaya yang udah mainstream. FILM YANG DICERITAKAN DARI REKAMAN VIDEO KAMERA. Becca ingin merekam semua kejadian di rumah nenek untuk diperlihatkan kepada ibunya. Jadi kita melihat film ini dari lensa kamera yang dipegang oleh Becca dan Tyler. Jelas gimmick ini memberikan limitasi dan, tahu sendirilah, eksploitasi jump-scare akan jadi sajian utama. Tapi The Visit tidak melakukan hal yang demikian. Tidak ada jump-scare dengan suara-suara yang memekakkan telinga. Film ini terlihat realistis karena suara-suara yang ada hanya suara yang kerekam oleh kamera si tokoh utama. Tidak ada penambahan backsound yang annoying. Adegan ngeliat cermin terus dikagetin, tidak diiringi oleh loud noise karena memang tidak ada sumber suaranya di dalam ruangan tempat Becca berdiri. Kalo kita perhatikan, musik latar hanya terdengar di awal dan ending saja. There are some scenes yang terlalu meta tho, seperti saat Becca meleng dan tau-tau ada yang sudah berada persis di sebelahnya.

What the Taylor Swift is that!??!

 

 

Jika ada yang paling terkenal dari M. Night Shyamalan, maka itu adalah kecenderungannya untuk menciptakan simpel-namun-obscure-plot-twist dalam setiap cerita. Ada yang bisa nebak ternyata Bruce Willis adalah hantu di The Sixth Sense saat menontonnya pertama kali? Well, plot twist dalam film The Visit sama sederhana nya dengan itu. Aku gak bakal bilang di sini twist nya apaan. Aku cuma mau bilang kalo aku merasa bego karena sekali lagi aku gagal menebak. Tepatnya, tidak sempat menebak. Cerita di dua babak awal terlalu distracting sehingga membuat kita melupakan satu bagian penting tersebut. Dan no, aku enggak ngeluh, it was a complimentI think it was the strength point buat The Visit. Filmnya mampu membuat kita terhanyut oleh misteri yang sedang diceritakan. Heck, misteri cerita The Visit lebih terasa nge-goosebumps dibandingkan film Goosebumps yang keluar Oktober kemaren. Act terakhir benar-benar disediakan untuk mengungkapkan semua tandatanya melalui adegan-adegan yang menegangkan.

 

Horor bukan berarti harus ada penampakan hantu. Lucu bukan berarti harus jadi bego. Yang jelas, jangan nonton ini sambil makan! The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for The Visit.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

We be the judge.

 

 

THE NORTHMAN Review

 

“He who seeks revenge digs two graves.”

 

 

Dongeng-dongeng kerajaan selalu diwarnai oleh perang, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan. Mulai dari Ken Arok hingga Game of Thrones, selalu ada yang namanya pertikaian menggulingkan raja. Kudeta dari sanak keluarga. Entah itu untuk menjadikan hal lebih baik atau lebih buruk. tahta dan kekuasaan tampaknya memang mengeluarkan sisi ‘binatang’ dari manusia. Betapun beradabnya hidup kita. Mungkin itulah yang bikin Robert Eggers tertarik untuk mengangkat cerita dari mitologi bangsa Viking. Terkenal lewat dua film-panjang pertamanya, The Witch (2015) dan The Lighthouse (2019), sutradara ini bilang dia enjoy mengangkat cerita dari periode dahulu kala karena menurutnya manusia itu tidak berubah. Walaupun zaman dan keadaan bisa demikian berbeda, nature manusia tetap sama. Maka tentu saja menarik sekali mengulik apa sebenarnya yang ingin Eggers sampaikan lewat The Northman, karya terbarunya. Yang membahas tragedi satu kerajaan bangsa Viking di awal-awal tahun Masehi, paket-lengkap perebutan kekuasaan dengan pengkhianatan dengan penceritaan penuh fantasi dan machismo!

Bayangkan The Lion king, jika ceritanya lebih menekankan kepada balas dendam sehingga berkembang menjadi antitesis petualangan si Simba. Gak ada hakuna matata. Hanya balas dendam yang membara.  The Northman menceritakan kisah Amleth. Calon penerus kerajaan yang harus menyaksikan kematian ayahnya, sang raja, di tangan pamannya sendiri. Kisah Amleth ini memang jadi inspirasi William Shakespeare, yang menuliskannya ke dalam apa yang kita kenal sebagai Hamlet – yang diyakini sebagai salah satu literatur paling berpengaruh di dunia. Hamlet telah diadaptasi dan jadi inspirasi bagi banyak karya lain. Salah satunya adalah si Lion King. So yea, Amleth pun diburu oleh kaki tangan pamannya. Seperti Simba diburu oleh para hyena atas perintah Scar, pamannya. Tapi gak seperti Simba yang terbenam dalam rasa bersalah, Amleth tumbuh dengan rasa dendam mengendap dalam dadanya. Mantra yang terus ia ulangi selama mendayung perahu saat melarikan diri adalah “I will avenge you, Father! I will save you, Mother! I will kill you, Fjolnir!” Hingga dewasa – berotot dan buas sesuai didikan klan Berserker yang memungutnya – Amleth terus mengulangi mantra itu. Dan ketika dia mendengar kabar keberadaan Fjolnir pamannya, Amleth menyamar sebagai budak belian sang paman. Dengan bantuan Olga – perempuan yang juga jadi budak – dan  sihir leluhur, Amleth bermaksud untuk memenuhi apa yang ia yakini sebagai tugasnya hidup di dunia.

Ini gambaran cerita Viking paling badass yang pernah aku lihat (bye-bye Viking yang selama ini kutahu dari Asterix!)

 

 

Bahkan untuk film yang sudah kuharapkan bakal sangar, The Northman tetep terasa amat sangat cadas! Aksi-aksinya beneran kekerasan yang tingkat barbar. Yang terasa semakin efektif berkat dukungan warna dan visual yang dingin. Sinematografinya indah  memang, tapi terkesan dingin. Pemandangan Islandia terhampar luas, mau itu daratan bersalju ataupun padang rumput. Malam-malam dengan api unggun. Dan itu semua works out perfectly, ngasih kita pengalaman nonton yang bikin adrenalin naik. Serupa kayak kalo lagi dengerin musik supermetal. I wish film ini tayang di bioskop supaya cinematic experiencenya bisa kita rasakan naik berkali lipat. Gerak kamera film ini benar-benar menyampaikan sensasi hewan buas, seperti yang dirasakan oleh karakternya. Karena dari perspektif Amleth, dirinya adalah serigala liar. Dia diajarkan identitas hidup dan survive seperti demikian, Eggers benar-benar memastikan perspektif protagonisnya itulah yang hanya kita rasakan sepanjang durasi film.

Saking immersivenya semua terasa, aku jadi kesulitan menentukan bagian mana yang paling aku suka dari film ini. Aku terbagi tiga! Bagian menyerbu ke desa untuk dijajah punya gerak kamera yang intens, sesuai dengan konflik yang bersarang di hati Amleth. Karena sekarang dia yang jadi ‘teroris’. Adegan-adegan di sekuen itu bengis-bengis dan Eggers memastikan kameranya gak berpaling dari itu semua. Aku suka. At one time, Amleth menangkap tombak yang dilempar kepadanya, dan melemparkan tombak itu balik ke si pelempar. Bad ass!! Sementara, final battle pun nanti tak kalah poeticnya. Malah bisa jadi terakhir itu adalah adegan swordfight paling ngerock yang pernah kita lihat di dalam film. Amleth dan Fjolnir, one on one, berduel hidup-mati, berlatar volkano yang tengah memuntahkan lava. Hasil akhir duel mereka bikin aku berdiri di kursi dan bertepuk tangan karena begitu keren pengadeganannya. Tapi bagian-bagian yang surealis pun tak kalah cakepnya. Ya, seperti film Robert Eggers yang sebelum-sebelumnya, The Northman juga kental oleh elemen fantasi atau mitologi yang  digarap dengan pendekatan surealis, nyaris mistis. Dan memang gaya ‘horor’nya inilah pemanis film Eggers sejauh ini. Set pieces dan kostum dan sinematografi tadi semakin dahsyat begitu masuk ke ranah ini. Amleth bakal dapat banyak bantuan dari makhluk-makhluk misterius, dia juga bakal banyak mendapat penglihatan. Eggers menjalin semua elemen dunia ceritanya dengan mulus. Also, kita bisa langsung mengerti makna di balik elemen surealis tersebut – atau setidaknya gak butuh banyak pemikiran rumit, karena The Northman, untuk sebagian besar, tidak tampil seambigu dua film Eggers sebelumnya. Ini cerita yang lebih straightforward. Tapi benar-benar ter-enhance berkat gaya penceritaan Eggers. Man, kalo memang harus mutusin, kayaknya aku bakal pilih bagian surealis aja sebagai favorit. Afterall, Anya Taylor-Joy ditempatkan di estetik dream-like tersebut betul-betul pemandangan yang:

*chef kiss*

 

 

Tentu saja penampilan akting dalam film ini juga berada di level ‘out-of-the-world’, alias sama-sama fantastis. Dialog-dialog mereka untungnya enggak setraditional dialog pada The Lighthouse, sehingga gak sukar dimengerti walaupun memang ada beberapa yang berupa chant bahasa nordik kuno (dan pelafalan nama yang cukup bikin lidah mikir dulu). Selain Anya, ada Willem Dafoe, Nicole Kidman, Ethan Hawke, dan banyak lagi aktor yang maksimal menghidupkan karakter mereka. But I do think development karakternya minimal. The Northman ini mengincar Dramatic Irony. Drama dari kejadian yang kita sebagai penonton tahu lebih banyak atau lebih dahulu daripada protagonisnya. Diharapkan, kita semakin peduli sama tindakan yang dipilih si karakter karena, misalnya, kita tahu yang ia pilih untuk yakini adalah sesuatu yang salah, sehingga kita merasakan dramatis dari sana. Nah di film ini, kita bisa melihat jauh lebih dahulu daripada si Amleth perihal apa sih sebenarnya di balik pengkhianatan si paman. Kita melihat Amleth sepanjang durasi terbakar oleh rasa dendam, bahwa segala tindakannya berujung kepada rencana untuk membalas dendam, tapi kita juga mengerti sepertinya ada kenyataan yang mengejutkan bagi Amleth di balik pengkhianatan tersebut. Di situlah letak kurangnya perkembangan karakter. Amleth hanya termotivasi oleh satu hal, dan ketika dia tahu kenyataan, bagi Amleth cuma jadi sebuah shock value. Pada akhirnya dia tetap harus membunuh sang paman, tapi perubahan alasan kenapa dia harus membunuh – tidak lagi semata karena balas dendam – tidak benar-benar diolah maksimal oleh film.

Percaya bahwa hidup untuk menjalankan satu tujuan atau fungsi tertentu. Begitulah orang memaknai takdir. Semua orang punya takdir, tapi adalah satu kesalahan meyakini takdir hidup hanya untuk membalas dendam. Perjuangan Amleth pada awalnya untuk membalas dendam, demi merebut kembali tempatnya sebagai penerus raja bersama keluarga. Itulah takdirnya yang sebenarnya. Amleth harus menyadari cara lain yang bisa ia ambil untuk memenuhi takdirnya sebagai raja. Cerita Amleth baru benar-benar jadi tragedi saat dia sudah menyadari hal tersebut, tapi tetap memutuskan untuk membalas dendam.

 

Amleth yang diperankan penuh dedikasi secara fisik maupun emosional oleh Alexander Skarsgard terasa stagnan karena film tidak memperlihatkan perkembangan atau pembelajaran yang ia alami. Misalnya, film melompat begitu saja dari saat dia kecil kabur dari buronan pembunuh, ke masa dia sudah jadi pejuang di klan Berserker. Kita tidak dikasih lihat perjuangannya bisa sampai sejago itu. Film hanya terus menekankan kepada revenge. Keinginan balas dendamlah yang bikin Amleth kuat. Ketika dia mulai jadi budak keluarga pamannya, seharusnya ada banyak psikologis yang bisa digali dari karakter Amleth. Karena di situ dia bertemu dengan ibunya, dengan adik tirinya, dengan pamannya, dan bahkan dengan penjaga yang dulu hampir mencelakainya. Fokus film tetap memperlihatkan balas dendam, Amleth menyusun rencana bersama Olga. Di babak kedua, pas jadi budak inilah film kayak meraba apa yang mau dibahas. Sempat diperlihatkan soal cinta pada keluarga. Ada sekuen yang memperlihatkan adegan Amleth menyelamatkan nyawa adik tirinya. Anak pamannya dengan ibunya. Tapi ini gak lanjut digali. Alih-alih membuat Amleth mengkonfrontasi perasaan atau penyebab kenapa dia menolong, film malah kembali membuatnya seolah itu adalah bagian dari rencana balas dendam. Amleth kerap dibuat kembali ke soal balas dendam. Karakternya jadi kurang dalam.

Hubungan dia dengan ayahnya pun kurang dalam penggaliannya. Like, untuk sebuah tekad membalaskan dendam, Amleth tidak digambarkan sedekat itu dengan sang ayah yang di menit-menit screen timenya diperlihatkan baru saja pulang dari perang dan sudah lama tidak melihat Amleth. Ketika mengetahui fakta tentang siapa ayahnya di akhir pun, Amleth tidak tampak demikian terguncang. Dia lebih terguncang buat ibunya. Menurutku ada penekanan yang kurang tegas dilakukan oleh film. Motivasi Amleth mestinya sudah berubah di titik dia tahu kebenaran. Bahwa the revenge it’s not just really about his father. Maskulinitas kerajaan itu kini hancur oleh terkuaknya peran perempuan. Ada sesuatu yang sepertinya ingin disampaikan film ini tentang perempuan di dalam narasinya. Ibu dan Olga bahkan terlihat punya keparalelan pada peran karakter mereka. Begitu juga dengan kemunculan Valkyrie – pejuang perempuan – dalam penglihatan Amleth. Kedamaian yang akhirnya dicapai oleh Amleth tampak datang dari dia sudah punya keluarga bersama Olga, tapi siklus balas dendam itu masih ada. Menurutku film ini, setelah terlalu straightforward mengisi dua babak awal karena kebutuhan untuk memunculkan dramatic irony tadi, malah tampak seperti kehabisan waktu mengembangkan kisahnya di babak akhir. Karena mendadak yang straightforward jadi balik ke ambigu. Film memang tidak sampai tergagap dan masih mempertahankan pesonanya, tapi kupikir hasil akhirnya harusnya bisa lebih baik lagi.

 

 

 

Meskipun film ketiganya ini enggak sekuat dua film sebelumnya, tapi aku masih amat sangat puas oleh cara Robert Eggers mempersembahkan ceritanya. Gambar dan aksi film ini hits very hard. So many epic scenes!! Mitologi nordik pun berhasil disematkan dengan mulus, dijadikan elemen surealis yang cukup bikin merinding. Karakternya juga punya dramatic point yang sangar, Hanya kurang pengembangan saja. Film ini terasa straightforward untuk sekitar 70-80 persen durasi, tapi lantas menjadi pengen lebih dalem – dan sudah tak cukup waktu. Bukan lantas kusebut berakhir abrupt, hanya memang terasa ada yang kurang ditekankan setelah misi dramatic irony-nya selesai. But hey, itu ‘cuma’ masalah pada naskah. Secara arahan dan visual film ini menghibur sekali dan benar-benar ngasih pengalaman yang berbeda.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE NORTHMAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Jadi bagaimana menurut kalian cerita Amleth yang membalas dendam kepada pamannya yang berkhianat merebut tahta ini bisa relate dengan manusia jaman sekarang menurut Robert Eggers tadi?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

FRESH Review

“(Online) dating is nothing more than a meat market”

 

 

Online dating (kencan online) dapat jadi sangat manis dengan segala emotional connection yang terjalin, bahkan sebelum bertemu langsung dengan si pacar. Bayangkan bisa merasa demikian dekat lewat kesamaan interest, hobi, selera. Tapi online dating juga tak jarang berakhir sebagai kekecewaan yang membawa bencana – begitu ketemu beneran dengan pasangan yang katanya sekian persen cocok tersebut. Karena namanya juga online. Orang bisa beda banget antara di dunia nyata dengan yang ia tampilkan di dunia maya. Bisa jadi orangnya ternyata jorok, toxic, ‘cakep di foto doang’, atau minta split bill melulu alias pelit. Horor komedi debutan sutradara Mimi Cave mengangkat fenomena susahnya dapat jodoh lewat online sampai-sampai membuat orang jadi desperate, dan akhirnya jatuh ke dalam sesuatu yang lebih berbahaya daripada kiriman gambar nude tak diinginkan. Jebakan stranger danger.

Sebenarnya memang sudah cukup lama aplikasi dating online seperti Tinder, Grindr, dan lain sebagainya disebut orang seperti pasar daging. Perilaku memilih pasangan dengan swipe kanan, swipe kiri seperti sedang belanja produk. It make us feels like a product. Film Fresh kemudian menarik kesamaan tersebut dengan literally masukin soal perdagangan daging manusia sebagai lapisan kisah perempuan yang mencari asmara.

 

Noa (Daisy Edgar-Jones jadi protagonis yang cukup unik di dalam genrenya) udah capek cari cowok di aplikasi. Udah susah payah nyari di antara sekian banyak mata keranjang, eh yang dia dapatkan modelnya gak jauh-jauh dari cowok ignorant yang super self-centered nan egois. Jadi, Noa udah no-ah lah main online-onlinean. Dan memang akhirnya Noa merasakan magicnya jatuh cinta lewat cara yang ‘tradisional’. Dia ditegur sama cowok yang simpatik di swayalan, Noa tertarik. Dan yah, Noa merasa cocok sama Steve (Sebastian Stan dalam full-charming mode). Jadianlah mereka. Hanya sahabat Noa yang ngerasa ada red flag pada Steve yang cukup misterius – karena mana ada sih orang yang gak punya sosmed hari gini. Kecurigaan si sahabat terbukti saat Noa pergi liburan bersama Steve ke suatu tempat. Dan sejak saat itu, kabar Noa tak terdengar lagi.

fresh-trailer-e1644943774263
Steve memang gak mau split bill, dia maunya split your body apart!!

 

Soal cari-pacar memang sudah sering jadi latar untuk cerita horor, terutama serem-serem di ranah penculikan dan penyiksaan. Like, serial killer sudah lama menjebak perempuan-perempuan, bahkan di dunia kita. Film Fresh ini berusaha ngasih sesuatu yang segar untuk latar tersebut. Satu hal yang berhasil dilakukan film ini untuk tampil berbeda itu adalah cara membangun narasinya. Dalam film ini ada dialog kagumnya Noa sama Steve yang memang gentle, berbeda dari cowok lain yang ia kenal sebelumnya. Saat mereka ciuman, justru Steve yang merasa gak enak karena mereka belum saling kenal betul. “We do this too fast”, kata Steve, yang lantas bikin Noa heran – belum pernah ia mendengar cowok yang bilang hubungan berjalan terlalu cepat sebelumnya. Nah, aku kagum seperti itu juga saat menonton Fresh ini. Jarang-jarang aku melihat film horor bunuh-bunuhan yang gak mau berjalan terlalu cepat sebelumnya. Biasanya cerita bunuh-bunuhan pengen dengan segera memperlihatkan adegan berdarah, mempertontonkan karakter psikopat. Gak mau berlama-lama menceritakan karakter karena takut penonton bakal bosan.

Film ini took time to fleshed out (lol no pun intended) relasi Noa dengan Steve. Gak langsung bunuh-bunuhan. Kita dibuat mengerti dulu kenapa Noa bisa mau-mau aja ama Steve, kenapa Noa gak melihat ‘red flag’ seperti kata sahabatnya. Alasan kenapa selama ini dia yang cakep itu terus menjomblo juga dipaparkan. Chemistry antara Daisy dan Sebastian turut mempermudah kita percaya bahwa Noa telah bertemu orang yang tepat. Bisa dibilang, kita ikut tertipu oleh Steve. Atau setidaknya, dengan melimpahkan waktu untuk karakter tersebut, kita jadi bisa melihat seolah deep inside ada perasaan juga di dalam Steve kepada Noa. Perasaan yang nanti bakal dimainkan ke dalam sekuen-sekuen Noa berusaha keluar dari kurungan Steve. Horornya film ini baru keluar tiga-puluh menit into the movie, barengan ama kredit judul, yang turut membuat film ini unik meskipun cuma dalam hal gaya.

Ingat ketika film ini berangkat dari buruknya arah modern dating online berkembang yang membuat film ini unik? Well, permasalahan ‘modern’ itu dengan cepat jadi non-existent karena hubungan Noa dan Steve justru terjalin secara tradisional. Bertemu di dunia nyata, menjalin hubungan yang sangat ragawi alih-alih menonjolkan koneksi emosional. Bukannya Noa dan Steve gak punya hubungan emosional, tapi karena nanti diungkap Steve adalah kanibal yang kerjaannya ngejual daging perempuan yang ia culik, potong, dan olah sendiri, soal dia aslinya beneran cinta atau enggak jadi gak relevan lagi karena perkembangan karakter Steve sampai di pengungkapan tersebut. Steve beneran stop jadi karakter. Dia cuma jadi obstacle, sekaligus bercelah supaya progatonis perempuan bisa ada kesempatan kabur. Jadi film ini gak berhasil mempertahankan keunikan jualannya, yakni soal modern dating apps. Padahal bisa saja mereka membuat Noa sebenarnya sudah diincar oleh Steve lewat akun-akun palsu di apps itu sedari awal. Dengan begitu kan tema dating onlinenya masih bisa ikut kebawa, dan yang paling penting Noa dan Steve jadi gak ketemu lewat kebetulan kayak cerita ftv remaja.

Yang dipertahankan oleh Fresh, sayangnya, adalah ‘penyakit’ tidak menggali apa yang diangkat. Film ini sebenarnya punya banyak bahasan loh. Selain modern dating dan karakter Steve tadi, juga ada elemen yang mengarah ke Stockholm Syndrome; ada bahasan keluarga si Steve. Ada jaringan pembeli daging manusia – you know, pria-pria kaya yang sinting. Semua itu ada jadi sebagai bahan ‘masakan’ cerita, sebagai pembentuk dunia cerita, tapi gak diolah. Gak dibahas. Bahkan tema utama soal feminism-nya pun dibiarkan tak tergali. Karakter film ini gak punya perkembangan. Cewek-cewek yang juga jadi korban Steve, mereka hanya ada di sana kayak gak ada kehidupan, yang punya kehidupan cuma Noa. Bahkan sahabat Noa dibiarkan eksis di sana gitu aja. Semuanya tentang Noa si karakter utama, yang gak dikasih konflik apa-apa selain cuma ngerasa telah tertipu. Development dia ya cuma ditipu cowok. Gak ada hint soal setelah semuanya dia punya pandangan gimana terhadap pacaran, terhadap cowok. Atau apa kek. Semua yang ada di dunia Fresh ini ya just out to get women like her. Cowok kalo gak psikopat, ya kanibal, atau pengecut, atau egois. Bahkan cewek lain bisa juga jahat sama dia. Film ini gak punya pandangan atau pendapat sendiri selain template agenda cewek feminis.

Nonton film ini terasa seperti nonton film modern agenda-ish kebanyakan. Yang seolah tersusun oleh tema atau agenda yang ingin disampaikan duluan, lalu baru bikin cerita yang menyambungkan agenda-agenda tersebut. Oh, kita harus masukin cewek harus mandiri, atau all men are trash, atau ustadz bisa kalah melawan setan, atau semacamnya. Setelah itu baru kita apain nih adegannya biar menggambarkan itu. Tidak lagi seperti film yang semestinya; yakni film yang adegan-adegannya benar-benar berkembang dari perspektif karakter yang dibuat menghidupi ruh cerita. Makanya film ini gak ada perkembangan karakter. Karena mereka cuma dibuat untuk melakoni tema. Tidak seperti manusia yang beneran hidup dan mengambil keputusan dan belajar lewat kesalahan. Berbeda dengan film yang beneran bercerita, film-film model Fresh ini karakter utamanya akan dibuat selalu benar. Enggak boleh ada cela. Notice gak, Noa bisa keluar dengan selamat relatif tanpa luka selain luka hasil berantem di final battle dengan Steve – yang dipotong Steve darinya selama dikurung cuma bagian pantat yang basically kita gak lihat boroknya. Karena begitulah karakter film agenda didesain. Gak boleh ada borok. 

fresh-daisy-edgar-jones-Cropped
Mau paha atau dada?

 

Padahal horor justru biasanya bakal membuat karakter utama babak belur habis-habisan sebagai simbol perjuangan. Berdarah-darah, luka-luka. Beberapa merangkak saking beratnya perjuangan. Semua itu sebagai simbol transformasi menjadi pribadi yang lebih baik deep inside. Nah inilah yang jadi last nail in the coffin untuk film ini bagiku. Sebagai horor dia juga gagal.

Enggak ada tensi. Ini film dengan adegan kanibal. Melibatkan banyak adegan (on maupun off screen) perempuan yang dipotong anggota tubuhnya. Tapi gak sekalipun terasa disturbing. Semuanya bersih dan gaya. Sok disturbing doang. Adegan makan daging manusia yang disajikan dengan mewah cuma tinggal eat-and-spit it out later. Enggak ada rintangan, gak ada build up suspens. Padahal itu konteksnya si Noa berpura-pura ‘setuju’ dengan kerjaan Steve. Dialog ironi menanyakan “Ini bukan daging gue, kan?” hanya dimainkan untuk ironi yang ngarah ke komedi. Arahan ke horornya kurang kuat. Banyak adegan meja makan yang lebih powerful, banyak adegan makan yang lebih disturbing muncul dalam film-film yang bahkan bukan horor kanibal. Like, adegan nyiapin makanan di serial Servant aja bisa lebih ngasih uneasy feelings ketimbang adegan masak daging-manusia di film ini. Fresh ini cuma punya visual cakep. Potongan anggota tubuh berbungkus plastik di freezer. Daging yang dimasak. Shot orang ngunyah. Tapi feelingnya gak berhasil dikeluarkan oleh sutradara. Aku lebih merinding nonton ibu-ibu makan di Swallow (2020) atau adegan di Raw (2017)

 

 

 

 

Sudah begitu lama kita terpapar horor-horor mainstream yang cuma punya jumpscare, sehingga begitu ada yang beda, kita langsung bilang fresh. Kita jadi kurang kritis. Ini persis kayak kelakuan saat main dating apps. Ngeliat ada cakep dikit, kita berhenti swipe, dan just try our luck. Kelakuan seperti itulah yang bikin dating online udah jadi kayak pasar daging. Aku sih harapnya jangan sampai film horor juga jadi kayak begitu. Mentang-mentang ada yang beda dikit, langsung kita bilang bagus. Film ini sendiri, memang punya tema positif, looksnya beda, tapi penceritaannya datar, horornya datar, komedinya datar, naskahnya datar, main aman dengan temanya. Keunikannya langsung jadi hilang karena bermain sebagai template agenda. This isn’t fresh. Dengan begitu banyak pemanis agenda, film ini cuma kayak makanan kalengan buatku.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for FRESH.

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian punya pengalaman seram seputar dating online?

Share in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA