Royal Rumble 2017 Review

royal15940767_1297941666910946_5843770289899557573_n

 

Bukan saja kita dateng ke Royal Rumble tidak bisa memprediksi apa yang bakal terjadi, sekarangpun saat salah satu dari Empat-Besar ppv WWE ini telah usai, kita masih tetap bingung dengan apa yang sudah terjadi. Malahan mungkin kalian ngerasa lebih bingung daripada sebelumnya. Yang pasti hanyalah kita-kita enggak mau melihat Orton melawan Cena (untuk kesekian kalinya) jadi pertandingan utama di Wrestlemania. Jengah!

Vince: Guys, aye punye ide nih. Aye tau caranye pegimane biar entar main event Wrestlemania bisa surak-surak. Pan kite maok nyaingin entu kumpeni gulat Jepang nyang lagi anget diobrolin orang.
Creative A: Kok jadi betawi sih, Bos?
Vince: Suka-suka dong, BACUOOTT! Pokoknye kite kudu bikin sesuatu yang baru. Sesuatu yang orisinil. Yang exciting banget-deh!!!
Creative B: Iye iye Bos, tapi apaan??
Vince: Let’s do something that’ll shake the very foundation of the WWE to its core!!!!
Creative A & B: OH MY GOD VINCE, WHAT IS IT!?!?!?
Vince: Cena vs Orton, Main Event, Wrestlemania!!!!!
Creative A: ….fuck.
Vince: *Ketawa jahat*. Oh yea, dan A, elu DIPECAT!!!!!

Mari berdoa supaya tim kreatif sono sukses membujuk Vince buat memakai skenario Orton melawan Bray Wyatt instead.

 

Pinggirkan sebentar pertandingan Royal Rumble and how it goes down, maka sesungguhnya ini adalah acara yang pretty decent. Setiap pertandingan kejuaraan really holds up dan berhasil mendeliver cerita yang ingin mereka sampaikan. Aku paling surprise sama pertandingan Kevin Owens melawan Roman Reigns. Biasanya pertemuan mereka terlihat gitu-gitu melulu, somewhat boring, lambat, dan lazy. Namun kali ini, kedua superstar benar-benar memanfaatkan environment Tanpa-Diskualifikasi dengan maksimal. Mereka bermain kreatif, Stunner dari Owens dan piramid kursi itu bikin penonton heboh banget. Tipu daya dan kecurangan adalah elemen wajib (aku suka skit Jericho dari kandangnya ngejatohin brass knuckle untuk dipake oleh Owens, and then Owens hit that Superman Punch lol), yang istimewa dari pertandingan ini adalah ada genuine feeling of hatred; baik Owens dan Reigns sama-sama nunjukin sisi violence yang compelling serasa mereka desperate banget buat menangin nih match. Meski memang bisa lebih baik jika berakhir bersih, aku enggak masalah buat mengenang tanggal 30 Januari sebagai BRAUN STROWMAN APPERCIATION DAY.

Thank you Strowman, Clap! Clap! Clap-Clap-Clap!!!
Thank you Strowman, Clap! Clap! Clap-Clap-Clap!!!

 

Dengan satu Super AA (I can’t believe Styles kicked that one out!) dan tiga standar AA, John Cena akhirnya menyamai rekor Ric Flair sebagai Pemegang Terbanyak Juara Dunia WWE, enam-belas kali! As much as I don’t like Cena, aku enggak bisa bilang benci sama pertandingannya. Kekalahan AJ Styles doesn’t hurt him at all. Kerja keras Styles tetap membuatnya kelihatan paling jagoan di atas ring. Dalam pertandingan kejuaaran ini, Styles selamat dari banyak jurus maut Cena, he kept coming menunjukkan resiliensi dan keinginan bertahan yang gede. Sama seperti Owens dan Reigns sebelumnya, Cena dan Styles juga nunjukin desperado yang sangat genuine. And they have a great chemistry. Ini adalah cerita tentang John Cena yang once again bangkit, namun kini ada sedikit twist; sepanjang pertandingan Cena menunjukkan some level of frustration, dia kerap terlihat kesel, hunting Styles down dengan taktik yang heelish. Dan karakternya ini menambah banyak excitement ke dalam pertandingan.

Kerja terbaik WWE memang terletak kepada kemampuan mereka ngebangun pertandingan around psychology karakter. Dalam pertandingan Neville melawan Rich Swann, sisi psikologis Neville lah satu-satunya yang buat kita jadi tertarik. I am happy to see the King of Cruiserweights finally got the crown. Charlotte lawan Bayley juga great dari sisi cerita. Ada sense mereka membangun Bayley sebagai penantang yang-nyaris-tapi-gagal lantaran Charlotte will always a step ahead. Sebagai babak pertama dari feud mereka, pertandingan dua cewek bagian dari Four Horsewomen ini cukup sukses nyedot perhatian. Penonton ngecheer setiap kali Bayley hit spot, terutama saat Bayley makek jurus Elbow Drop mirip Shawn Michaels, superstar legend yang berkampung halaman di tempat acara ini diadakan. Charlotte terlihat meyakinkan dengan gestur-gestur heel, she’s the best working heel di roster cewek today. Rekor Kemenangannya masih intact dengan anggun. But buatku pertandingan ini enggak terasa work-work amat, seems flat dan rada berakhir abrupt. Tapi mungkin saja aku lagi bitter lantaran match Alexa Bliss kena gusur ke pre-show.

eh, kena geser deng, bukan gusur xD
eh, kena geser deng, bukan gusur xD

 

The Rumble match sebenarnya bagus, Braun Strowman jadi bintang di paruh pertama, Ambrose dengan Ellsworth kocak banget, taktik Jericho selalu ngundang tawa, interaksi Lesnar dan Goldberg masih limited but great nonetheless, begitu juga dengan Undertaker dengan Goldberg. Aku suka saat Luke Harper dateng dan Wyatt dan Orton just look at him dengan tampang “ih, siapa deh”, menarik melihat gimana storyline Harper yang sepertinya jadi face ini berkembang setelah melihat result dari pertandingan Rumble.

Royal Rumble selalu adalah soal statistik. Soal angka. Dan di pagelarannya yang ketigapuluh ini, WWE memastikan kita akan mengingat gimana angka-angka tersebut memainkan peran yang cukup signifikan.

Banyak fun, trivial things yang dilakukan oleh WWE. Seperti saat mereka ngeintroduce Si Perfect Ten Tye Dilinger di entrance nomor, ehm, sepuluh. Ataupun saat Baron Corbin muncul di nomor 13, membawa the end of days ke atas ring. Randy Orton joins Triple H, Hulk Hogan, Shawn Michaels, Stone Cold, Batista and John Cena sebagai superstar yang pernah memenangkan Royal Rumble lebih dari sekali. Dan tak ketinggalan Jack Galagher datang dengan payungnya, Wiliam III, menyenangkan melihatnya berinteraksi di luar lingkaran cruiserweight yang bisa terasa begitu mengukung superstar. Match Royal Rumble memuncak oleh antisipasi karena setiap entrance, setiap detik yang muncul mundur di sudut layar, membuat kita menggelinjang. Slowly ring penuh oleh talent dan ternyata para top superstar muncul di nomor-nomor belakangan. Lesnar muncul di 26, disusul oleh Goldberg dua nomor sesudahnya. Undertaker nongol dengan goib di nomor 29. So, kita semua berpikir peserta nomor 30 pastilah superstar yang really truly surprising.

Ha!

WWE ngetroll kita dengan memberikan surprise yang tak-tertebak. I mean, no one would ever guess that karena enggak seorang pun yang ingin that surprise jadi kenyataan. There are NUMBERS OF STRANGE DECISION yang diambil oleh WWE dalam pertandingan Royal Rumble kali ini. For one, ramp menuju ke ring yang luar biasa panjang mengingat superstar butuh segera mungkin masuk ke dalam ring karena jeda antara peserta Rumble sangat singkat. Walaupun mereka menambahnya menjadi dua menit, it is still a long tiring walk, terutama buat superstar yang berbadan gede kayak Big Show, Big E, dan Big yang lain.

“Fight, Owens, Fight”? please, this is “Om, telolet, Om”
“Fight, Owens, Fight”? please, this is “Om, telolet, Om”

 

 

Superstars yang turun bertanding juga mengherankan. Mereka wasting so much spot, New Day bahkan Cesaro dan Sheamus terihat awkward gajelas di sana. Kane strangely enggak nampil, rekor tampil berturutturutnya padam gitu aja, dan “Wah kasihan Mark Henry tereliminasi, harusnya dia yang menang.” says no one ever.

Putting Roman Reigns sebagai penutup, however, adalah booking yang begitu-jelek-jadinya-bagus. Antisipasi sudah terbendung gede untuk kemudian dihempaskan gitu aja. Kita bisa dengar “bulshit!” diteriakin oleh penonton di arena ketika Reigns actually ngeluarin nama-nama gede. Di Warung Darurat, kertas-kertas beterbangan, tinju-tinju berayun di udara, ngiringin teriakan protes kami yang membahana. WWE really took the risk, mengecewakan harapan dan prediksi fans, demi ngepush pemenang match ini. I mean, jika bukan Roman yang muncul, jika yang muncul adalah Kurt Angle atau Samoa Joe atau Finn Balor and they didn’t win it, kemenangan Randy Orton akan dianggap mengecewakan. Because hey, it’s 2017, apakah kita perlu ngeliat Cena winning title dan Orton menang Rumble kayak di 2009 lagi? Reaksi kita sepertinya udah diset, we are hating Roman so much, mindset kita sudah jadi “apapun #AsalBukanRoman”.

The fact and the matter is, setelah penampilannya di Royal Rumble sepertinya tidak mungkin lagi bagi WWE untuk ngepush Roman Reigns sebagai face. Dan pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri masing-masing adalah:

Apakah kita akan menerima Roman Reigns sebagai orang yang menghentikan karir Undertaker, jika itu akan lead us kepada Roman Reigns’ heel turn?

 

 

 

 

PPV ini harusnya digunakan buat ngesetup Wrestlemania, the best thing come outta this adalah kita masih meraba apa yang bakalan terjadi. The lack of surprise-yang-diinginkan memang terasa menjatuhkan acara ini secara keseluruhan karena the hype just wasn’t there. Tapi kita nutup mata kalo enggak recognize dua match kejuaraan keren yang berlangsung di sini. Antara Universal Championship dengan WWE Championship, The Palace of Wisdom memilih AJ Styles melawan John Cena sebagai Match of the Night karena it feels more urgent, dan yea, lebih bersejarah.

 

 

Full Results:
1. RAW WOMENS CHAMPIONSHIP Charlotte mengalahkan Bayley.
2. WWE UNIVERSAL CHAMPIONSHIP NO-DQ MATCH Chris Jericho di atas kandang nyaksiin Kevin Owens retains over Roman Reigns berkat bantuan Braun Strowman.
3. WWE CRUISERWEIGHT CHAMPIONSHIP Neville merebut sabuk dari Rich Swann.
4. WWE CHAMPIONSHIP John Cena beat AJ Styles.
5. 30-MAN ROYAL RUMBLE MATCH Randy Orton menang dengan mengeliminasi Roman Reigns

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Buat yang di Bandung, kami akan mengadakan nonton bareng pay-per-view WWE, so yea you are very welcome buat ikutan. Senantiasa cek facebook Clobberin’ Time buat info nobar selanjutnya.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 
We? We be the judge.

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2016

cymera_20170128_234738

 

Hal terbaik dari film yaitu menontonnya merupakan personal experience. Film adalah seni, sifatnya sangat subjektif. Kita bebas menyukai film apapun, meski begitu kita harus recognized flaws yang ada di dalamnya. 2016 bukanlah tahun yang hebat jika kalian penggemar film-film blockbuster, tho. Banyak dari franchise berbudget gede tersebut yang gagal – secara kritikal maupun secara pasar. Dan aku masih belum habis pikir kenapa film tentang dua superhero ikonik bisa lebih jelek ketimbang film tentang cewek yang baca novel.
Secara diversity, kita dapet wide range of film-film yang unik, for better or worse. Ada lebih dari satu film tentang kucing, kita nyaksiin banyak drama tentang ibu dengan anaknya, especially the daughter, para superhero either seling berantem atau bikin grup, western genre mulai menggeliat berusaha bangun, animasi yang got real mature dari segi cerita – dan wah! dari segi visual. Dari panggung Indonesia, konten lokal mulai berani digali, however, nostalgia masih menggila

Aku menonton banyak film tahun 2016 yang menurutku dioverlook oleh banyak orang. Regarding to the filmmaking, aku sangat senang melihat banyak film yang berusaha bercerita di luar pakem genrenya. Kita melihat film emosional yang tampil tanpa banyak bicara, horor yang fokusin ke rasa takut dari dalam diri manusia, film alien tanpa tembak-tembakan, you know ada banyak film yang so different dan unconventional dan original dalam cara bertuturnya.

Mengerucutkan film kesukaan menjadi delapan menjadi hal yang semakin menantang. Sebelum mencapai mereka, simak dulu sederetan film hebat yang sebenarnya ingin sekali aku masukin ke daftar but didn’t quite make it.

 

HONORABLE MENTIONS:

Swiss Army Man (komedi satir yang punya ide dan cerita yang sangat original)
Zootopia (makin ke sini, animasi ini menjadi semakin penting berkat kerelevanan cerita yang diangkatnya)
Popstar: Never Stop Never Stopping (mockumentary tentang penyanyi pop dan pretty much marodiin bisnis musik sekarang ini)
Ouija: Origin of Evil (best horror sequel of the year! Directionnya berani keluar arus, dan really took times memperhatikan detil dalam filmmaking)
Hush (whiteknuckled thriller tentang cewek tunarungu yang distalk oleh seorang pembunuh)
The Invitation (psychological thriller yang really sneak up on you)
10 Cloverfield Lane (psikologikal thriller yang satu ini bagaikan anti dari Allegory of the Cave)
Hunt for the Wilderpeople (penuh dengan interaksi dan gestur yang so funny!)
Hell or High Water (film yang emosional dan felt real yang bicara tentang ambiguitas moral)
Silence (film yang sangat kompleks dan emotionally gutting tentang gimana orang yang mengalami krisis keimanan, one of the Scorsese’s best!)
Moonlight (a really mature, genuine, dan beautiful way menceritakan cerita tentang perjalanan hidup, about a self-healing)
Manchester by the Sea (drama yang paling realistis yang pernah kutonton, diisi oleh performances yang incredibly brilliant!)
Arrival (sci-fi yang sangat unik, membahas tentang bahasa, untuk bekerja sama, dan ultimately tentang menghadapi masa depan yang menakutkan)
Captain America: Civil War (it wasn’t just about battle and action, ada konflik hebat yang compelling di dalamnya. Film box-office seharusnya seperti ini!)
The Neon Demon (tentang obsesi pada beauty, film yang perlu ditonton oleh semua cewek)
Captain Fantastic (punya banyak ide menarik seputar parenting, adegan musical menjelang akhir terasa sangat surreal dan menyentuh, nyaris bikin aku nangis!)
Surat dari Praha (untuk sebagian besar 2016, ini adalah film Indonesia yang kuberi rating paling tinggi, 8/10 – it’s about rekonsiliasi dengan orang yang kita cinta)
Istirahatlah Kata-Kata (film indonesia kedua di 2016 yang kuberikan 8/10, emosi filmnya benar-benar terasa lewat hamparan visual)
Hacksaw Ridge (film perang denagn arahan yang gritty dan so terrific, juga punya pesan yang ngena dan relevan dengan keadaan sekarang)
Nocturnal Animals (the ultimate ‘suck it up’ buat mantan, film ini punya storytelling yang sangat unconventional)

Dan special shout out diberikan buat Ada Apa Dengan Cinta 2 yang udah mecahin rekor jumlah view terbanyak review kami.

 

 

 

8. DEADPOOL

deadpool_ver11_xxlg

Director: Tim Miller
Stars: Ryan Reynolds, Morena Baccarin, T.J. Miller
MPAA: R
IMDB Ratings: 8.1/10
“You’re probably thinking, “My boyfriend said this was a superhero movie but that guy in the suit just turned that other guy into a fucking kabab!” Well, I may be super, but I’m no hero.”

Salah satu adaptasi terbaik dari komik yang menjelma ke layar besar. Menangkap dengan sempurna tone, the feels, dari karakternya. Sekali lagi, film blockbuster ya seharusnya seperti ini. Awalnya aku memang agak meragukan, tapi kemudian, baru nonton adegan openingnya saja I know this would be great superhero movie. Eh, super tapi bukan hero, ding!
Film Deadpool adalah Deadpool itu sendiri. Dia kurang ajar, kasar, suka ngatain orang, selera humornya seringkali keterlaluan, seksual innuendo nya kentara sekali, enggak baik buat anak-anak deh pokoknya. Deadpool bisa dibilang anti-hero dalam dunia Marvel, kita tahu dia aneh, mentalnya seperti agak terganggu, protagonis yang ngelakuin hal-hal tercela, tapi kita cinta. Thus, membuat filmnya menjadi kurang ajar juga. In fact, kurang ajar adalah seni pada film ini.
The writing is so good. At the heart, dan percayalah sekasar dan sekurangajarnya Deadpool, film ini masih punya hati kok.

My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=DVMVWQIfT88
Opening yang efektif sekali menunjukkan siapa sih Deadpool itu? Nyeleneh, kocak, dan yea dia bukan hero.
And oh btw, review Deadpool kami menangin kontes review dari Cinemags!

*slow-clap*
*slow-clap*

 

 

 

 

 

7. KUBO AND THE TWO STRINGS

kubo-main_0
Director: Travis Knight
Stars: Art Parkinson, Charlize Theron, Matthew McConaughey
MPAA: PG
IMDB Ratings: 7.9/10
“If you must blink, do it now.”

Kubo and the Two Strings bukan hanya peduli soal seperti apa rasanya jadi seorang anak, film ini juga punya hal penting yang ingin disampaikan seputar persoalan tersebut. It is an action packed, extremely fun adventure film. Beautiful to look at, yang engage it’s audience untuk berpikir. Kubo adalah animasi stop-motion yang sangat fantastis.
Lewat kekuatan Kubo yang involving seni melipat kertas dan tema ceritanya sendiri, film ini akan meminta anak kecil untuk menggunakan imajinasi mereka. So they can see beyond our physical world. Mengajak anak kecil untuk berkhayal sehingga mereka mengerti dan siap akan sesuatu hal nyata yang sangat penting; kematian orang yang kita cintai. Memang sih, anak-anak kecil mungkin saja belum nangkep aspek cerita yang lebih ‘serius’ ini until they get older, but at least mereka sudah ‘dipersiapkan’ sambil tetap terhibur. Karena film ini worked on multiple levels.
Petualangan Kubo bersama si Monyet, si Kumbang, dan si Prajurit Kertas mencari tiga senjata legendaris untuk mengalahkan kekuatan jahat dari masa lalu akan bikin penonton cilik betah. Kita juga bisa menonton film ini sambil mikirin deeper messagenya.

My Favorite Scene:
kubo-and-the-two-strings-official-trailer-15
Aku paling ngakak di momen ketika Kubo dengan semangat swinging pedang ke sana kemari dan just dishoot down sama si Monyet yang selalu serius.

 

 

 

 

 

6. EVERYBODY WANTS SOME!!

everybody_wants_some_ver5
Director: Richard Linklater
Stars: Blake Jenner, Zoey Deutch, Glenn Powell
MPAA: R
IMDB Ratings: 7.0/10
“We came for a good time, not for a long time.”

Film ini kayak kita, sometimes it’s dumb. Kita selalu cenderung untuk menganggap segala hal sebagai sebuah lomba. Appeal tergede bisa jadi adalah buat penonton pria karena tentang persahabatan cowok, but take notes, girls! Everybody Wants Some!! bener-bener menangkap gimana cowok menyelesaikan masalah mereka; Enggak pake diem-dieman kayak cewek kalo lagi berantem. Dalam dunia cowok; kalo ada slek, langsung turning it into a fight. Dan voila! masalahnya beres dan move on mencari sesuatu yang bisa dijadikan bahan pertandingan lagi.
Hanya ada sedikit adegan yang nunjukin mereka bermain baseball karena ini memang bukan film olahraga. Majority adegan adalah mereka ke klub, minum-minum, ngasep, ngeceng, party, yah having fun khas anak muda sonolah. Dalam tiga hari saja mereka udah ngunjungin empat pesta loh haha! Yang bikin berbeda adalah pendekatan nearly-philosophical yang film ini lakukan. Dengerin deh, di balik bego-bego yang mereka lakukan, dialog yang terucap punya makna yang mengena
Arahannya membuat semua terasa natural. Selalu ada sesuatu yang terjadi di background setiap shotnya. Sangat lucu dengan komedi yang enggak lebay, romantizing yang tepat sasaran. Yang ingin film ini sampaikan adalah manusia memilih mengerjakan sesuatu hal karena hal tersebut membuat mereka jadi memiliki arti.

My Favorite Scene:

Sums the movie perfectly; precise and awesome!

 

 

 

 

5. THE NICE GUYS

the-nice-guys-poster
Director: Shane Black
Stars: Russel Crowe, Ryan Gosling, Angourie Rice
MPAA: R
IMDB Ratings: 7.4/10
“You’re the world’s worst detective.”

Film seger ini membuktikan kita tidak perlu ledakan untuk menikmati action. Dialognya kocak, aksinya seru, misterinya nyedot perhatian, ceritanya bagus, karakter-karakternya di-handle dengan baik. Penulisan dan arahan film ini was so on-point.
Ini adalah action klasik dua detektif yang berujung menjadi teman. Menariknya The Nice Guys adalah tidak banyak perbedaan antara kedua tokoh ‘hero’ kita. Mereka sama-sama pecandu alkohol. Mereka sama-sama punya masalalu yang tragis. Mereka mengerti seperti apa di Los Angeles. Mereka mengerti aturan mainnya. Karena itulah mereka playing off of each other so good. Segar dan tidak-biasa. And of course, their performances. Chemistry nya, makjaaangg, Ryan Gosling dan Russel Crowe work magic together.
The Nice Guys juga punya satu tokoh anak kecil yang bersikap jauh lebih mature dibandingkan umurnya. Holly, putri kecil si Holland, kerap membantu Holland dan Healy dalam berbagai misi mereka. In fact, peran Holly lumayan besar, like, misi mereka seringkali terancam gatot jika bukan karena Holly. Peran ini dimainkan dengan sangat amazing oleh Angourie Rice. She really sells her character well. Like, soo greaaatt. Tokoh ini terasa sangat real dan otentik. So perfect and so fun.
The script is incredible. Sudah jarang sekali kita ngeliat cerita kayak gini.

My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=-LT8i_88A00
Saking gak kompetennya, Holland March mixed up kejadian di dalam mimpinya dengan kejadian di dunia nyata hahahaha

 

 

 

 

 

4. LA LA LAND

og
Director: Damien Chazelle
Stars: Ryan Gosling, Emma Stone, J.K. Simmons
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 8.6/10
“Here’s to the ones who dream / Foolish as they may seem. / Here’s to the hearts that ache. / Here’s to the mess we make.”

Jelas sekali Damien Chazelle terinspirasi oleh musik. Dan sebagai filmmaker yang masih terhitung muda, tampak benar dia mengerti gimana rasanya menginginkan mimpi, passion, terwujud. Dia mengerti godaan, struggle, dan ultimately pengorbanan yang harus dilakukan agar mimpi tersebut menjadi nyata. Dan film ini sukses berat menceritakan semua tersebut dengan balutan musikal yang hebat. Adegannya mengalun seamlessly. Semulus para pemain menghidupkan perannya.
I mean, performances dalam film ini sungguh gemilang. Enggak salah kalo film ini diganjar, bukan hanya Best Director, namun juga Best dari penampilan kedua leadnya. Ryan Gosling is always so awesome, ditambah oleh sangat mesmerizing gimana dia memainkan piano itu. Dan Emma Stone memberikan performance terbaik dalam karirnya, sejauh ini.
Genre musikal bukanlah genre film yang paling aku sukai. Namun hal ini bukannya jadi penghalang bagiku untuk menyukai La La Land. Because this is a well-made film. Musical numbers dalam film ini tidak pernah terasa annoying. Dan oh, betapa cantiknya. Los Angeles, kota para bintang, sangat rupawan tergambar oleh film ini.
Namun demikian, apa yang paling aku suka, melebihi kualitas teknikal dan penampilannya yang luar biasa, adalah film ini mendorong penontonnya untuk mencapai impian mereka masing-masing. Ini adalah surat cinta kepada orang-orang yang penuh passion.

My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=RvWhKWhFWoc
Lagu Audition terasa personal sekali, namun adegan Sebastian dan Mia bernyanyi dan menari dengan latar belakang sunset L.A. sungguh sebuah pemandangan yang indah, penuh arti, dan sangat playful.

 

 

 

 

 

3. SING STREET

sing-street-6
Director: John Carney
Stars: Ferdia Walsh-Peelo, Lucy Boynton, Jack Reynor
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 8.0/10
“Your problem is that you’re not happy being sad. But that’s what love is, Cosmo. Happy sad.”

Satu lagi musikal dalam list ini, aku juga surprised loh. Meski memang ‘aliran’ Sing Street ini berbeda dari La La Land, namun tetap senada.
Dengan cara tak biasa, mengolah premis sederhana – cowok yang ingin menarik perhatian cewek dengan main band, hanya saja dia tidak punya band. – menjadi drama remaja yang bittersweet namun kuat penuh heart and soul. Tidak ada nada sumbang dalam film ini. Tapi itu hanya satu dari sekian banyak cara kita menikmati film ini. It was so beautifully written. Penuh great humor, pula. Dengan lagu-lagu yang catchy, yang menyuarakan ambisi Connor, ketakutannya, romantic feelings, his growing pains, akan tetapi membuat film ini tidak terasa pretentious.
Kita juga bisa melihat film ini sebagai drama pembebasan diri dari sebuah sistem. Karena pemusik pada dasarnya adalah pemberontak. Dan eventually, film ini bisa dibaca sebagai drama persaudaraan kakak-beradik yang sangat emosional. Film yang terbaik adalah film dengan banyak elemen yang saling berlapis. Each of Sing Street’s stories berkumpul manis di akhir, pada lokasi yang disimbolkan oleh lautan lepas. Yang mana film ini berakhir dengan sangat rewarding sebagai sebuah suara harapan yang menginspirasi benak-benak muda untuk mengekspresikan mimpi.

My Favorite Scene:
sing-street-5
Aku kena banget ama percakapan yang intens, hearwrenching, dan emosional antara Connor dengan abangnya menjelang babak akhir.

 

 

 

 

 

2. THE WITCH

thewitch
Director: Robert Eggers
Stars: Anya Taylor-Joy, Ralph Ineson, Harvey Scrimshaw
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 6.7/10
“Wouldst thou like to live deliciously?”

Kita akhirnya sampai di era kebangkitan film-film horor yang dibuat secara artistik! Jump-scares pergi jauh-jauh!!
Bukan hanya tentang sosok nenek sihir mengerikan, tapi juga bagaimana kehadirannya mempengaruhi kehidupan. Kita akan melihat dampak yang disebabkan oleh keberadaan makhluk tersebut keluarga Thomasin. Kita akan menyaksikan keutuhan keluarga yang tercabik-cabik, mereka saling curiga, feeling insecure dan unsure atas apa yang terjadi. I love this movie, sungguh horor yang hebat, penuh suspens dari awal hingga akhir.
Lewat stylenya, film ini sungguh menangkap esensi menyeramkan dari situasi yang horrible. Nuansa klaustofobik yang kental. Film ini membuat kita merasakan environment New England 1630annya sebagai suatu tempat yang nyata. Seolah kita berdiri di tengah-tengah mereka. Musiknya really creep up on us. Long takes dengan shot-shot lambat yang bikin kita penasaran meski dalam hati makin takut dan enggak nyaman. Skema warnanya juga merefleksikan depresi yang dialami tokoh-tokohnya sehingga situasinya semakin terasa mengerikan.
Kalo di Indonesia, mungkin film ini bisa dikategorikan sebagai religi horor. Ketaatan beragama diperlihatkan sebagai desperate attempt yang dilakukan oleh keluarga Thomasin. And it tends to get disturbing. Sejatinya,The Witch adalah cerita tentang feminine empowerment yang seolah di-craft dengan sihir hitam.

My Favorite Scene:

Anya Taylor- Joy made a breakthrough lewat penampilannya dalam film ini. Namun ada satu scene yang dicuri oleh Harvey Scrimshaw yang jadi adek Thomasin. Adegan ini scared the crap outta me, a really jawdropping performance.

 

 

 

 

 

Oh betapa salahnya diriku yang berpikir animasi 2016 dipegang hanya oleh Zootopia dan Kubo and the Two Strings. Beneran, aku gak expecting anime yang satu ini sebagai tontonan yang luar biasa. Turns out, this movie really touched me.
Inilah film 2016 peringkat pertama kami:

1. YOUR NAME

ogj929jb6r7ek5vaw9i-o
Director: Makoto Shinkai
Stars: Ryunosuke Kamiki, Mone Kamishiraishi, Ryo Narita
MPAA:
IMDB Ratings: 8.7/10
“Treasure the experience. Dreams fade away after you wake up.”

Punya keunikan penceritaan yang luar biasa, sampai-sampai aku tidak bisa menemukan apa yang aku tidak suka dari animasi yang cantik jelita ini. Aku enggak pernah melihat drama tukar-tubuh diceritakan dengan cara seperti yang dilakukan film yang judul aslinya Kimi no na wa. Humornya yang beda bekerja sukses, drama emosionalnya bekerja sukses, aspek misteri dan mekanisme dunianya bekerja sukses, everything works out great in this movie. Your Name punya cara yang hebat sehingga transisi antara bagian yang kocak dan fun dengan part of story yang lebih serius, emotionally powerful, dan ultimately penuh suspens menjadi mulus tak terasa.
Dengan cara unconventional tersebut, film ini examining today’s youth culture dan apa yang bisa membuat dua orang jatuh cinta meski jika mereka belum pernah bersua.
Yang berhasil dicapai oleh Makoto Shinkai pada filmnya ini adalah betapa accessiblenya film ini buat banyak lapisan penonton; ceritanya tidak terlalu abstrak. Film ini imbued with elemen mimpi. Juga ada banyak simbolisasi yang memparalelkan antara kejadian di alam semesta, mekanisme dunia film ini, dengan hubungan yang dimiliki oleh kedua tokoh leadnya. It never gets too confusing, malahan semakin menarik kita. Tidak membiarkan kita terlepas sedetik pun dari ceritanya. Namun, tidak seperti mimpi yang lebih sering terlupakan saat kita bangun, film ini akan terus terngiang di kepala. Bahkan saking kuatnya sehingga kamu-kamu bisa saja bermimpi tentangnya.
Please, cari dan tonton film ini. Aku yakin kalian akan menemukan pengalaman menonton yang amat sangat menyenangkan.

My Favorite Scene:
yourtaki-mitsuha-your-name-kimi-no-na-wa-header
Semua dari animasi yang digambar dengan cantik ini amat menyenangkan. Rangkaian montase yang sweet dan kocak sebelum babak kedua akan memberikan kita a whole new meaning dari phrase “try walk in my shoes”. Ini bukan soal si cewek ntar jadi tomboy, sedangkan yang cowok jadi feminin. It explores more. Kita akan menyaksikan apa yang tadinya kebingungan berubah menjadi kerja sama. Lovely!

 

 

 

 

 

Jika rajin ngikutin blog ini (TERIMA KASIH BANYAK! :D), kalian akan tahu bahwa hampir semua film tersebut sudah aku review, so yea, fell free to hit the search button. Aku yakin beberapa dari film dalam daftar delapan-besarku belum banyak yang kalian tonton. Karena memang film-film tersebut just fly off the radar, malah tidak semuanya sempat ditayangkan di bioskop sini. Apa yang mau kubilang adalah; masih banyak yang bikin film-film bagus. Mereka tidak ‘terlihat’ karena kalopun sempat masuk ke bioskop, they got tanked karena yang nonton cuma sedikit. In fact, banyak film bagus – luar maupun dalam negeri – yang suffer from keignorant kita. Jadi, berhentilah menonton film-film horor jump-scares atau komedi bego (jorok pula!) atau drama kacangan yang hanya jualan jalan-jalan. Dan ketahuilah, kita enggak akan pernah dapat film adaptasi video game yang bagus. Pilihan dan sambutan penontonlah yang menentukan apa yang bakal tayang. Aku pun feel bad nonton film bagus yang enggak tayang dengan ngedonlot because I really want to support them.

Semoga di tahun 2017 nanti, film-film bermutu mendapat tempatnya yang layak di layar bioskop!

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are…
c2b5c7e111c171c21d1

 

We? We be the judge.

SILENCE Review

“… the sudden silence was the Voice of God.”

 

silencecx3zloiucaedlkj-jpg-large

 

Tidak ada yang bersuara ketika tiga penduduk desa yang tertuduh sebagai pemeluk katolik, disalib di atas karang yang digempur keras oleh ombak. Warga yang lain menatap dari balik ujung tombak pasukan Jepang yang berbaris, sama diamnya. Begitu juga Father Rodrigues dan Father Gorupe yang menyaksikan semua penyiksaan dari balik rimbunan semak. Bungkam oleh ketakutan, segala aksi dan rasa tersenyap. Kecuali satu yang berdering keras di dalam hati masing-masing, terutama di dalam jiwa yang dilatih putih suci Father Rodrigues; Keraguan. Benarkah Tuhan akan meringankan derita mereka, atau apakah siksaan mereka sia-sia belaka? Apakah mereka suffer atas nama Tuhan yang mereka yakini atau tiga orang Jepang Kristen itu sesungguhnya sedang mengorbankan diri mereka demi keselamatan dirinya dan Gorupe?

Silence, didirect oleh salah seorang sutradara terbaik yang hidupnya masih terus didedikasikan untuk membuat film klasik yang fantastis hingga sekarang, akan membawa kita on middle ground ke Jepang jaman feudal, tepat di tengah-tengah perang agama. Pengikut ajaran Kristen diburu. Para Father ditangkap, disiksa, hingga tidak ada lagi pilihan selain menanggalkan keimanan mereka. Father Rodrigues dan Father Gorupe datang dari Portugis karena mereka mendapat kabar tentang guru mereka, Father Ferreira, tertangkap penguasa di Nagasaki. Mereka mendengar simpang siur; apakah benar Ferreira sudah denounced his Christianity atau apakah dia masih hidup at all. Dalam film ini kita akan mengikuti kedua Jesuit muda tersebut mencari keberadaan guru mereka sembari berusaha menolong sebanyak mungkin penduduk Jepang yang menganut Kristen di bawah tekanan dan siksaan yang berat. This is a VERY STAGGERING FILM. Kita akan struggle banget menontonnya. It is so difficult. Bukan karena film ini cukup sadis secara fisik. Juga bukan karena film ini durasinya panjang banget. Tetapi karena film ini akan menyayat-nyayat hati kita secara emosional.

Menelaah dengan sangat kuat soal krisis keimanan yang dialami oleh seseorang. Apa yang orang lakukan ketika kepercayaan dan keimanannya mendapat cobaan yang mahadahsyat. Meskipun mungkin bukan pemeluk agama yang diceritakan, kita semua bisa put aside our personal belief selama dua jam setengah lebih untuk menikmati filmmakingnya. Kita semua bisa merelasikan diri kepada film ini dalam tingkatan bahwa ini adalah cerita tentang orang-orang yang mengimani apa yang yang mereka yakin, that mereka memeluknya dengan teguh, tidak akan membiarkan apapun yang menghalangi mereka dari yang mereka percaya tersebut.

Beneran deh, it’s emotionally gutting melihat orang-orang tercabik dari faithnya seperti yang digambarkan oleh film ini. Father Rodrigues, awalnya kita melihat dia sebagai seseorang yang sangat kuat-iman. He has the upmost faith you could possibly have in God. Dan begitu film berakhir, kita sudah menyaksikan tokoh ini terjun sampai ke dasar paling bawah secara emosi. Dihadapkan pada pernyataan agama yang ia bawa, kebenaran yang ia ajarkan, tidak cocok untuk diterapkan pada ranah ‘rawa’ Jepang. Namun Rodrigues tidak bisa menerima pernyataan tersebut karena if he accepts that statement, itu berarti dia mengakui kebenaran yang ia bawa bukanlah kebenaran bagi semua orang seperti yang selama ini dia imani. Itu berarti dia meragukan agamanya sendiri.

Ini adalah CERITA YANG SANGAT KOMPLEKS bagi kedua belah pihak; Rodrigues dan Jepang. It’s not like Jepang tidak punya toleransi sama sekali, as in kekerasan dan siksa itu datang dari mereka. Mereka brutally violated penduduk agar mau meludahi salib dan menginjak gambar Tuhan mereka sebagai bentuk denouncing faith di muka publik. Adalah aksi converting yang dianggap berbahaya oleh pemerintah Jepang. They just want to show their pride and love kepada faith mereka. Bahwa gara-gara kepercayaan asinglah mereka sesama saudara tanah air menjadi terpecah belah.

talk about penistaan agama huh
talk about penistaan agama huh

 

Toleransi, ya, bisa jadi jawaban. Tapi sekarang kata tersebut sudah mengalami penurunan arti, digunain begitu saja agar sama-sama senang. Toleransi bukan berarti “apa salahnya ngikutin apa yang dilakukan orang lain”. Kita bisa ikut merayakan hari kebesaran agama lain as along as hati kita tetap beriman kepada agama sendiri, but that is a weakest form of faith. Mungkin tidak banyak yang suka film ini karena membuat diri kita merasa seperti Kichijiro, while tokoh ini easily come off sebagai pengecut yang cari aman. Open minded, bertoleransi, dan punya keyakinan adalah seperti Father Ferreira. Persisnya seperti apa? Go figure out yourself

 

Tidak seperti Sausage Party (2016) yang merupakan satir soal kepercayaan, Silence dengan a lot of respect kepada penonton, mengambil jarak secukupnya. It doesn’t judge, and tidak menggiring kita untuk melakukannya. Yang Silence lakukan adalah menghujani kita – yang terpatri oleh cerita – dengan batu-batu pertanyaan. Kita bakal mengalami sensasi krisis tanpa diberikan pencerahan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita akan melihat hamba Tuhan diuji. Kita akan melihat ia menderita for his belief, for things he treasured the most. Dan di titik inilah Silence berbicara banyak. Apakah iman kita tidak berarti apa-apa jika kita tidak diuji – apakah hidup kita meaningless jika kita tidak pernah menderita karena sesuatu yang kita percaya atau cintai? Dan tentu saja, arti mendalam tentang kata ‘silence’ itu sendiri; apakah absennya tindakan kita atau absennya Tuhan? Atau, diam karena kita sedang berdialog dengan Tuhan. Ada beberapa adegan yang menggambarkan Rodrigues dalam diamnya bicara dengan suara Tuhan. Yang membuat kita bertanya-tanya apakah diam hanya arogansi Rodrigues belaka? Secara konstan dia ‘membandingkan’ kondisinya dengan Tuhan, sementara orang-orang desa yang disiksa hingga mati tidak pernah meminta ‘dibandingkan’ dengan juru selamat.

Meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.

 

Martin Scorsese mengarahkan film ini dengan sungguh luar biasa. Bekerja sama dengan sinematografer yang ngegarap The Wolf of Wall Street (2013), Scorsese memastikan apa yang ditangkap lensa semuanya gorgeous. Kalian akan suka mencermati film ini jika punya rasa penasaran gimana setiap adegan disyut. Yang paling remarkable dari pengambilan gambarnya adalah gimana mereka sebagian besar waktu bekerja pada environment yang tertutup. Adegan film ini kebanyakan berlokasi di pondok kecil yang gelap, di daerah hutan yang terpencil, atau di sel penahanan. Tidak pernah Scorsese salah langkah dalam menjalin cerita. Sudut pandang penceritaan benar-benar dihadirkan compelling dan sangat intens. Kita dibuatnya bereaksi dan merasakan yang dialami oleh seseorang yang dealing with an extreme crisis of faith.

This movie brought to life by many fantastic performances. Adam Driver sebagai Father Gorupe dan Andrew Garfield sebagai Father Rodrigues menyuguhkan penampilan yang amazing. Dalam tahun yang penuh oleh penampilan yang sangat baik, Andrew Garfield kembali bersinar dalam film ini, dan sekali lagi sebagai seorang yang taat beragama. Yea, walaupun dia enggak selalu taat sama aksen portugis yang supposedly dimiliki oleh tokohnya. Liam Neeson, yang bermain sebagai supporting role, was also very very good. Dan tokoh yang ia perankan teramat kompleks.

Spiderman dan Kylo Ren lagi nyari Qui-Gon Jinn
Spiderman dan Kylo Ren lagi nyari Qui-Gon Jinn

 

 

Staggering film yang menantang bukan hanya keimanan dan kepercayaan, tetapi juga menantang intelektualitas penonton. Bikin frustasi at times, gutting our emotion completely, it is a really complex movie. Tidak heran jika banyak orang yang ngerasa hard to come by apa yang disampaikan oleh film ini, thus membuatnya susah untuk disukai. Personally, aku heran juga kenapa film ini enggak masuk nominasi Best Picture Oscar 2017. Setelah menontonnya, aku jadi kebayang sedikit alasannya kenapa. Sesungguhnya, film yang luar bisa unconventional ini adalah jenis film yang mesti ditonton dan disupport oleh orang-orang yang benar menyintai film. Karena di atas itu semua, ini adalah filmmaking yang sangat remarkable; arahan luar biasa, akting fantastis, beautifully shot – salah satu film tercantik Scorsese, penulisan yang begitu cakap, editing yang perfect.
The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for SILENCE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

 

Aku Suka…..



Aku suka aroma kulitmu.

Dari pipi sampai kaki.

Aku suka aroma sehabis kau mandi.

Bahkan setelah kau lelah berlari.
Aku suka mencium rambutmu, pipi, mata, hidung, hingga bibirmu.

Aku suka mencium punggungmu, tengkuk lehermu, hingga bawah lenganmu.

Aku suka menciummu berkali kali, tak mau berhenti.

Menyesap dalam-dalam aroma kulitmu yang tak habis-habis.
Kau bilang, cara aku menciummu berbeda.

Tak berbunyi, tanpa suara.

Karena ciumku yang sunyi, adalah aku yang sedang menikmati aromamu yang bertahan disana.
Aku rindu aroma kulitmu yang selalu wangi.

Aku rindu menciummu berkali kali, tanpa henti.

Aku rindu menikmati kedua hal itu, malam ini.
Untuk kamu,

semesta kenyamanan bagi indera penciumanku.



 

 

As seen on https://thedeepeyes.wordpress.com/2017/01/26/aku-suka/cropped-beautiful-girl-drawing-eyes1

THE LAST BARONGSAI Review

“Tradition is not to preserve the ashes, but to pass on the flame.”

 

thelastbarongsai-poster

 

Tradisi enggak berarti banyak jika tidak ada lagi yang mengapresiasi, begini kiranya kemelut hati Kho Huan. Jadi buat apa disimpan?

 

Hari itu, tiga penghuni rumah-merangkap sanggar kesenian Kho Huan kedatangan tiga surat. Surat buat dirinya, ia biarkan begitu saja. Cuma undangan lomba barongsai, lagi. Kho Huan sudah lama jengah sama kesenian tradisional tersebut, beliau menyalahkan barongsai atas kepergian istrinya, dan tontonan musiman itu juga semakin hari semakin seret ngasilin duit, selain dengan dijual. Padahal Kho Huan – sekarang nekunin usaha bikin furnitur kayu – butuh banget duit, supaya putranya, Aguan, bisa menjawab surat dari Universitas di Singapura. Aguan lagi cengar-cengir melototin selembar jawaban mimpinya. Mereka berdua tidak ada yang peduli isi surat tunggakan spp dari sekolah untuk adek cewek Aguan yang masih SMA, karena Ai memang menyembunyikan suratnya.

The Last Barongsai adalah cerita tentang struggle satu keluarga keturunan Tionghoa hidup di Tangerang masa kini, yang mana terkadang cuma mimpi dan tradisi yang jadi harta berharga. Drama film ini mulai mengambil tempat sesegera mungkin setelah Aguan tahu dari adeknya – dalam sebuah adegan sparring kungfu ringan (atau tai chi?) yang so subdued namun somewhat intens – bahwa ayah mereka menolak undangan lomba barongsai dengan alasan kompetisi tersebut tidak bisa menerbangkan Aguan ke Singapura. Mengerti betapa besar arti barongsai bagi mereka, Aguan sets out ngumpulin kembali para pemain sanggar mereka buat ikutan lomba. Dan ini membuat Kho Huan marah. Ini adalah KONTES SENGIT ANTARA REALITA DAN TRADISI. Melihat keluarga ini worked out their problems lewat banyak teriak dan air mata bisa menjadi sangat menyentuh, terutama menjelang akhir. Drama keluarga ini sebenarnya capable to floored us berkat konfliknya yang grounded.

Jika kita ngestrip down kepada karakter-karakternya, The Last Barongsai adalah film berlapis dengan penokohan yang cukup kuat dan dihidupkan oleh performances para tokoh yang secara seragam bagus. Terutama Kho Huan yang cintanya dimakan barongsai dan Ai, the left-out daughter. Kita bisa lihat sebenarnya Kho Huan sangat menyayangi anaknya, kita bisa rasakan konflik perasaannya. He just can’t rely on barongsai anymore, dia benar-benar kerja keras bikin furniture kayu sambil sesekali ngesabotase latihan Aguan dan tim. Tyo Pakusadewo benar-benar mengangkat film ini dengan penampilannya yang berapi-api. I like how he just snap his heart out di meja makan. Di akhir cerita kita jadi ikutan tenang saat Kho menemukan cintanya yang hilang, berkat anak-anaknya.
Ai diperankan oleh Vinessa Inez dengan sama berapinya, but she’s like more contained. Dia begitu ingin buktikan diri bisa ngelebihin kakaknya, but even the thought of that membuatnya semakin merasa neglected. Dia kayak ingin menjerit tapi tidak tahu ke siapa. Sedangkan karakter Aguan, pertama-tama aku enggak bisa nangkep arahnya ke mana. Dion Wiyoko terasa bermain lebih datar di sini. Baru di pertengahanlah aku realized dia adalah karakter yang salah-dimengerti. His frustration connects with us, loud and clear.

Dalam film ini kita juga melihat beberapa penampilan spesial. Beberapa mereka muncul tidak hanya sebagai cameo namun adalah kehadiran yang actually important. Mereka memberikan pelajaran buat karakter-karakter lead, dan tentu saja kepada kita yang nonton. Penampilan komedik yang hadir pun tidak pernah terasa mengambil alih. Film ini ngehandle tone emosional drama dan komedi dengan sangat mulus, tidak terasa episodic. Meskipun ada juga penampilan spesial yang enggak benar-benar add something kepada cerita, it was just like “hey, aku yang main di drama remaja terkenal itu loh, I’m relevant so I’m gonna make this movie relevant too with my presence”

 itu oplet mandra?? Oh aku honestly seneng ngeliatnya masih bagus
itu oplet mandra?? Oh aku honestly seneng ngeliatnya masih bagus

 

Salah satu penampilan spesial tersebut adalah dari pemilik rumah produksi, Rano Karno. Bermain sebagai teman Kho Huan sesama battered-down seniman, Rano Karno adalah kontras dari tokohnya Tyo. Lewat tokohnya, film sedikit menyentil soal terkadang kita harus menyerah dan mulai mengerjakan apa yang orang-orang mau alih-alih keinginan kita, meskipun itu hal yang susah untuk dilakukan. Film ini juga mematrikan kepada kita bahwa kehidupan yang beragam penuh toleransi itu sangat mungkin untuk dilakukan, seperti hubungan antara Aguan dengan rekan barongsainya yang diperankan oleh Azis Gagap. Benar-benar sebuah hubungan akrab yang based-on mutual respect.

Isu yang relevan yang berusaha diangkat, bahwa tradisi – apapun itu – selalu adalah prioritas. Kita tidak menyimpan, kita justru harus terus mengobarkannya. Dan adalah diversity sebagai tradisi yang harus kita pertahankan, because that’s what make us strong in the first place.

 

Hanya saja, all-in-all aku kecewa sama The Last Barongsai. Menurutku film ini tidak mencapai kemampuan bercerita yang maksimal. Padahal kita bisa lihat, film ini ngerti dan tahu menyelaraskan tone. Cerita dari tokoh Rano Karno yang sekarang nyesal jadi montir sesungguhnya intriguing. Backstory tokoh Azis tentang kenapa dia awalnya menolak main barongsai lagi dibeberkan dengan build ups. Ketika pada akhirnya kita learned alasan tepatnya kenapa Kho Huan enggak mau ikutan lomba meski butuh uang, momen yang tercipta terasa powerful. Film ini punya kemampuan untuk bercerita dengan subtle. Tapii, untuk sebagian besar waktu kita mendengar dialog-dialog yang ‘CEREWET’ OLEH EKSPOSISI. Kualitas dialognya, tho, terlihat seperti fokus penulisannya antara ingin terdengar ‘gede’ oleh kata-kata emosional, dengan buat jelasin semua sedetil-detilnya. I mean, apakah perlu kita mendengar gimana Aguan bisa dapet balasan surat beasiswa?

Kupikir ini ada hubungannya dengan cara film memperkenalkan kita kepada tokoh-tokoh minor. Eventually itu tentu berhubungan dengan cara film ini ngenalin ke kita akar konfliknya. Kita ngikutin Aguan bertemu mereka, satu per satu. Dan semua orang just telling him something, memberikan piece of information kepada Aguan. Adeknya jelasin situasi sang ayah. Pacarnya jelasin backstory dan konflik yang terjadi antara Aguan dengan ayah. Hengky Solaiman jelasin apa yang sebenarnya dirasakan oleh sang ayah. Bahkan ibu Aguan datang di dalam mimpi, dan jelasin ke kita apa yang dirasakan oleh tokoh si Aguan!
And btw, mimpi Aguan tentang ibunya adalah TERMASUK SALAH SATU ADEGAN-MIMPI PALING JELEK yang pernah aku lihat. Enggak terasa emosional, enggak terasa surreal, enggak terasa apa-apa. Tujuannya murni eksposisi. Padahal bisa aja film ini membuat lampu di atas mereka duduk menyala sebagai simbol penanda Aguan sudah mengerti, bisa menjawab pertanyaannya sendiri, tanpa si ibu harus ngucapinnya dalam kalimat.

ubah tiangnya jadi deathschyte yang diayunkan oleh ibu Aguan or something!
ubah tiangnya jadi deathschyte yang diayunkan oleh ibu Aguan or something!

 

Film ini just doesn’t trust us bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Mereka memberitahu terlalu banyak, alih-alih menggambarkan apa yang terjadi. Ada satu adegan di mana Azis bilang ke Aguan bahwa tadi Koh Huan mendatangi dirinya; Kenapa kita tidak melihat adegan tersebut? Kenapa film ini memilih menyampaikan informasi itu lewat kata-kata tak langsung alih-alih menyuguhkan kita adegan yang prolly emosional antara Kho Huan dengan Azis? Juga adegan ketika Aguan duduk disemangati oleh ayahnya, beliau bilang bisa melihat Aguan melatih tim dengan hati. Why we never see that scene!? Adegan latihan di mana Aguan pouring his heart adalah adegan yang perlu kita lihat karena penting untuk showing us the character, namun film ini memutuskan cukup dengan kata-kata saja.

Elemen kompetisi dalam cerita memang mesti ngalah sama porsi drama, tapi tidak berarti juga harus kehilangan greget. Problem lain dari The Last Barongsai adalah dia terlalu meminta untuk kita terus merasa kasihan sama tokoh-tokoh. Or even the film takes itself too seriously, untung saja tidak menjadi terlalu depressing. Kita tidak lagi merasakan fun dan semangatnya mereka bermain barongsai. Montase saja tidak cukup. We need more hook. Kita perlu merasa terlibat sebagai bagian dari tim mereka. Tentu saja nggak jelek juga kalo Dion Wiyoko, Tyo Pakusadewo, dan Azis Gagap diliatin latihan gerakan barongsai yang susah beneran, daripada ngecut adegan dan cuma bilang “g-g-g-gerakannya susah, s-s-sih!”. Padahal film ini sempat nanamin sedikit obsctacle, seperti Azis yang mules sebelum final, namun ternyata poin tersebut tidak pernah dibahas lagi. Akibatnya memang elemen barongsai tersebut menjadi jadi gak greget dan mundur sebagai tak-lebih dari latar saja.

Editingnya kadang terasa off juga. I don’t know what happens sama warna di kamar Ai, sih, mungkin saja intentional. Akan tetapi, ada satu shot adegan yang aku suka banget; ketika Aguan dan pacarnya ngobrol di jembatan dan di bagian dengan pinggir atas layar, melintaslah pesawat. Momen yang sangat precise, klop dengan dialog yang mengudara saat itu.

 

 

 

 

Seharusnya bisa jadi selebrasi tradisi, akan tetapi film ini lebih memilih untuk gempita berkata-kata. Yang hanya menjadikannya eksposisi saja. Bukan berarti ini film yang jelek, it’s a watchable movie untuk ditonton bersama keluarga. Tidak tampil terlalu depressing, film ini adalah keseimbangan yang hangat antara drama emosional dengan komedi. It has the capability untuk bercerita dengan proper, yang kadang muncul malu-malu. Film ini enggak konsisten. Arahan sayangnya tidak membantu apa-apa bagi film ini supaya bisa tampil pe-de menjadi spesial.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE LAST BARONGSAI.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

MANCHESTER BY THE SEA Review

“Sometimes grief is all we have.”

 

manchester-by-the-sea-poster

 

Kenangan itu kayak lautan, kita berlayar di atasnya. Terombang-ambing. Kadang membawa perahu pikiran kita maju, kadang kita harus berenang dan menjadi tangguh. Kadang kita tenggelam di dalamnya. Or worse, kita membiarkan diri tenggelam di dalam pusaran kenangan sedih menuju lubang penyesalan tanpa dasar.

 

Itulah yang dibicarakan oleh Manchester by the Sea. Kita bisa mengartikan adegan pertamanya – perahu berlayar penuh canda mengenai sebuah pilihan – sebagai simbol yang dengan efektif ngeset mood (atau kecurigaan) bahwa film ini tidak bisa dipastikan akan berakhir bahagia, sebagaimana air tidak akan selalu setenang itu.

Benar saja, dengan segera pemandangan kita dikontraskan oleh kehidupan Lee Chandler. Seorang tukang reparasi merangkap janitor apartemen yang kurang begitu ramah. Dia kelihatan sama tidak sukanya diajak ngobrol oleh orang lain saat bekerja ataupun saat dia minum di bar. Lirikan kecil mengundang tinju Lee mendarat di hidung orang asing. Kenapa Lee begitu antisosial, dia lebih suka dibiarkan sendiri, terus disembunyikan oleh film. Sampai ketika Lee mendapat kabar bahwa kakak laki-lakinya meninggal dunia akibat penyakit jantung. Mendadak saja, Lee harus balik ke Manchester dan menangani segala tetek bengek ‘peninggalan’ sang abang. Termasuk ditunjuk menjadi wali yang sah atas keponakannya. Tentu saja ini adalah skenario yang buruk bagi kehidupan-tertutup Lee. Dan as Lee berusaha menyabotase dirinya keluar dari arrangement yang digariskan oleh abangnya, kita akan mulai discover masa-lalu yang sangat heartwrenching tentang Lee. Gimana ternyata perilaku-perilaku buruk tersebut bukanlah bawaan dia sedari lahir.

Film ini did a very good job mencamkan image pria penyendiri yang kasar kepada sosok Lee Chandler. At first, he’s just so impossible untuk disukai. Juga misterius. Joe, almarhum abangnya, tidak pernah menjelaskan kenapa dia mempercayakan Lee sebagai wali anaknya, Patrick, meskipun memang Lee dan Patrick akrab sedari Patrick kecil. But this is clearly a very broken Lee now. Kita tahu Lee punya ‘reputasi’; orang-orang di hometownnya tersebut saling berbisik dan mendelik setiap kali melihat Lee lewat atau mampir nyari kerjaan di kantor mereka. Film ini sungguh berani mempercayakan kepada kita para penonton untuk terus ngikutin Lee, karena untuk waktu yang panjang kita akan bertanya-tanya sendiri kenapa kita harus peduli kepada karakter ini. Tiga-puluh-menit pertama aku bahkan tidak yakin arah film ini ke mana. Akan tetapi, begitu kita sudah belajar alasan kenapa Lee sungguh membenci hidupnya, keseluruhan film akan membuka sebagai suatu tontonan DRAMA YANG KUAT LAGI MANUSIAWI. Film ini menyapu emosiku, I was blown away oleh karakter-karakternya yang terasa nyata. Konflik mereka, apa yang mereka hadapi, terus saja terbangun dan akhirnya menumpuk, memberikan bobot pada hati. Dan tidak sekalipun drama dan tensi tersebut terasa dibuat-buat demi memancing rasa sedih dari kita.

Manchester tepi laut, siapa suka boleh ikut
Manchester tepi laut, siapa suka boleh ikut

 

Kehadiran formula karakter pada Lee dan Patrick bakal membuat kebanyakan film Hollywood bernafsu untuk membahas hubungan yang terjalin antara broken man dengan remaja-penuh-kehidupan, di mana mereka akan saling mengubah sikap satu sama lain. Namun dalam Manchester by Sea, sutradara sekaligus penulis skrip Kenneth Lonergan lebih tertarik mendalami pergulatan emosi dan derita yang dialami oleh seseorang seperti Lee. It doesn’t necessarily has a plot, even. Paman dan ponakan ini sama-sama berduka, mereka sebenarnya mengerti problematika masing-masing, dan itu tergambar jelas dari bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Dengan fokus demikian, film ini berhasil menghidupkan karakter-karakter sehidup-hidupnya. Seoverconfidentnya Patrick, Lucas Hedges tidak pernah menjelmakan perannya tersebut sebagai remaja yang annoying. Filmnya  TOUGHT TO WATCH, tetapi karakter-karakter yang terus memberikan kita tumpangan emosi yang powerful membuat kita tidak pernah merasa cukup. Biasanya kita sudah bosan duluan melihat atau menyadari durasi film yang sampe dua jam. Buatku honestly, aku bisa menonton enam jam film dengan karakter so well-realized seperti ini.

Penampilan para aktor juga teramat heartwrenching. Bantering mereka, momen-momen emosional mereka, dan sometimes momen yang membuat kita tertawa kering, terdeliver dengan mulus dan very believable. Peran sebagai Lee Chandler definitely adalah kerja terbaik dari Casey Affleck. Tidak salah kenapa ia bisa masuk nominasi Aktor Terbaik, malah aku bisa lihat dia memenangkan penghargaan itu, berkat penampilannya yang begitu subdued. Emosinya tersirat dalam-dalam. Kata-katanya tidak mengatakan apapun soal apa yang ia rasakan, apalagi menyuruh kita untuk merasakan apa yang seharusnya disampaikan. Penampilannya lebih menekankan kepada apa yang tidak ia katakan. Kita justru membaca emosi dalam diamnya. Pergerakan kecil gestur, perubahan ekspresi wajah, hal tersebutlah yang justru meledak-ledak dari penampilan Affleck memainkan tokoh Lee.

Kesedihan yang amat mendalam membuat Lee menutup diri. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi. Adegan mimpinya di babak ketiga menunjukkan bahwa Lee doesn’t trust himself berada di sekitar orang lain. Bahwa dia adalah manusia yang lemah, he can’t beat it. Ada banyak scene yang mengindikasikan Lee seorang peminum berat, and he hated himself for being weak dan selalu resort ke kebiasaannya itu eventhough itulah penyebab utama tragedi masa lalunya. Itu juga sebabnya kenapa Lee despises ibu Patrick so much. Ini adalah cerita tentang seseorang yang memilih berkubang dalam kesedihan, karena terkadang selain our personal demon, hanya kesedihanlah yang kita punya.

 

Percakapan-percakapan dalam film ini ditulis dan dimainkan sedemikian rupa sehingga kita seolah sedang nguping pembicaraan orang yang sangat intens alih-alih melihat sebuah tontonan drama. Adegan menjelang akhir film di mana Lee tidak sengaja ‘reunian’ dengan Randi, mantan istrinya (Michelle Williams enggak muncul banyak, tapi she’s managed setiap penampakannya begitu berarti). Percakapan mereka perfectly menggambarkan gimana kedua orang yang berusaha move on dari hidup yang penuh luka, but deep inside they just can’t. Membuatnya semakin heartbreaking adalah tidak satupun dari mereka berdua mampu mengutarakan sesak di dada, Randi bursts apart penuh sesal sementara Lee menolak to connect with all emotions dengan nyaris berkata-kata. Ini adalah momen paling bikin terenyuh as kedua aktor bener-bener touched us lewat penyampaian mereka yang masterful.

“Kok tangannya diperban?” / “Luka.” / “Oh.”
“Kok tangannya diperban?” / “Luka.” / “Oh.”

 

Film adalah tentang kehidupan, namun tidak semua bagian kehidupan layak untuk difilmkan. You know, films tend to skip over the boring parts of the day di mana kita ngobrol basa-basi atau nanganin hal-hal biasa yang enggak signifikan. Manchester by the Sea, dalam rangka menyuguhkan drama bersubstansi semanusiawi dan senyata yang ia bisa, nekat menerobos garis pembeda antara film dengan kehidupan tersebut. Dan film ini adalah kasus langka di mana hal-hal basic itu worked dengan sangat hebat. Situasi drama dalam film ini dipancing oleh masalah sehari-hari; Lee lupa parkir mobil di mana, Lee ngurusin paperwork pemakaman, berdebat dengan Patrick yang enggak mau jasad ayahnya dimasukin ke freezer sementara menunggu salju mencair, nanganin masalah biaya kapal. Kita akan ‘dihibur’ oleh dialog-dialog sepele tapi jadi important berkat karakter dan timing mereka. Kita pun tidak lagi mempermasalahkannya karena kita begitu hooked untuk melihat apa yang terjadi kepada mereka berikutnya. Kamera menangkap remeh temeh semacam pintu mobil yang kelupaan dibuka kuncinya atau pemain yang kesusahan mengangkat roda stretcher, dan Kenneth Lonergan membiarkan hal tersebut included, menjadikan film ini lebih grounded evenmore. Semua elemen menyatu mulus, film ini bahkan tidak terasa seperti film dengan babak satu-dua-tiga yang biasa, semuanya ngalir kayak kejadian beneran gitu aja.

Yang juga menarik adalah gimana film ini menangani penceritaan backstorynya dengan cara yang tidak biasa. Kita tidak diberikan batasan jelas mana yang flashback mana yang present. Film ini tersusun atas adegan-adegan pendek dan panjnag dengan TIME SEPERTI MOSAIK RANDOM. Kadang setelah beberapa adegan, baru aku sadar sedang nonton potongan adegan yang cukup panjang dari kenangan Lee. Pembedanya cuma antara sifat Lee yang ceria dan rambut Lee yang lebih berantakan. In that way, film ini sekali lagi percaya bahwa penonton mampu memilah adegan tanpa harus dikasih tahu dengan gamblang. Penonton tidak diremehkan, kita dipercaya bisa menangkap petunjuk-petunjuk dan menyatukan elemen-elemen cerita yang terjadi. Kita dipercaya bisa memahami apa yang terjadi meskipun tidak bisa mendengar percakapan di ujung lapangan hoki, misalnya. Sehingga pada akhirnya efek emosi yang kita rasakan akan berlipat ganda.

 

 

 

Jika kalian tertarik dengan dunia akting, penampilan Casey Affleck, Michelle Williams, atau Lucas Hedges saja akan ngajarin banyak tentang performance yang sangat subdued lagi emosional. Walaupun pacingnya lumayan lambat dan tiga-puluh-menit pertama membuat kita cukup terombang-ambing, tapi ini sesungguhnya adalah film dengan penceritaan yang berani. Mempercayai kita untuk menyelam sendiri ke dalam ceritanya. Untuk kemudian dibenturkan gently oleh konflik-konflik yang timbul secara manusiawi soal grief dan vulnerablenya interaksi sosial dunia-nyata. Well directed, well-written, tragedi dan komedi adalah apa yang ditekankan oleh drama realita film ini.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for MANCHESTER BY THE SEA.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

Tamiya: Everyone Needs Their Hobby

tamiya

 

Kalian tau mainan Tamiya Mini 4WD? Untuk kalian yang lahir di era akhir 80 sampai 90an pasti ga asing lagi dengan mainan yang satu ini. Yup! Mainan mobil balap yang bisa dimodifikasi ini bisa dimainkan oleh berbagai kalangan umur. Bahkan sampai saat ini permainan mobil balap ini masih eksis di tengah gempuran mesin gadget. Kompetisinya ramai diikuti kalangan penggemar. Yang profesional bisa ngeluarin budget hingga jutaan loh!

Resep lebih populernya adalah, Tamiya menggandeng Shogakukan, perusahaan penerbitan Jepang, untuk membuat seri TV anime bertema mobil Mini 4WD. Judul-judul serinya antara lain: Dash! Yonkuro (1989), Let’s & Go (1996), Let’s & Go WGP, Let’s & Go MAX, dan akhirnya Let’s & Go!! Tamiya The Movie

Gambar Ki-Ka : Dash! Yonkuro (1989), Let’s & GO (1996), Let’s & Go Max, dan Let’s & Go WGP

 

 

 

Oke kali ini yang akan kita bahas tentang sejarah Tamiya itu sendiri.

Tamiya Incorporated (Kabushiki gaisha Tamiya) adalah sebuah perusahaan yang memproduksi mainan yang demikian dikenal sebagai Tamiya. Produk dari perusahaan ini sebenarnya bukan hanya model mainan mobil tetapi meliputi mainan (model) lain seperti mobil bertenaga baterai, mainan mobil bertenaga matahari (solar cell), mainan kapal, dan aneka model mainan lainnya.
Perusahaan ini didirikan oleh Yoshio Tamiya di Shizuoka, Japan pada tahun 1946. Model mainan Tamiya diproduksi dengan suatu perencanaan dan dalam konsep “mudah dipelajari dan dibangun, bahkan oleh seorang pemula”. Konsep ini diterapkan secara sungguh-sungguh dalam semua lini produk yang diluncurkan. Setiap bagian dari model diproduksi dengan tingkat ketelitian, akurasi, dan detil yang tinggi.

Perusahaan Tamiya memperoleh reputasi dari para penggemar mainan miniatur karena kualitas serta akurasi skala pada model-model mainannya, sesuai dengan slogan yang pada logo perusahaan “Kualitas Pertama di se-antero Dunia”. Hal ini terbukti dengan telah dimenangkannya penghargaan bergengsi sebagai Modell des Jahres (Model tahun ini) yang diselenggarakan oleh majalah Berbahasa Jerman Model Fan, selama beberapa tahun.

Selain Tamiya, perusahaan lain juga ikut meramaikan pasar mini 4WD, di antaranya Tokyo Marui, Kyosho, Academy, Auldey, Okami, Gokey, HJH, Twink, dan AA. Masing-masing dari mereka memperkenalkan rancangan tersendiri, Sementara beberapa produk masih berupa tiruan dari Tamiya. Tiruan tersebut menjadi alternatif bagi produk Tamiya yang mahal, namun tentu saja dengan kualitas yang tidak setara.

Sebagai penutup, berikut beberapa inovasi yang sudah Tamiya lakukan sejak pertama kali diciptakan:

  • Tahun 1960 membuat model plastik pertama Battleship Yamato.
battleship-yamato
Battleship Yamato
  • Tahun 1964 membuat model plastik pertama jenis Tank dengan skala 1:35
tamiya-panther-tank
Panther Tank 1:35
  • Tahun 1967 bekerjasama dengan Honda membuat model Honda F-1 (1:12) yang dipamerkan pada Nuremberg Fair Toys di Jerman. Dan Tamiya menjadi partisipan dari Jepang pertama pada event itu.
military-miniatur-set
Military Miniatures Set

 

  • Tahun 1968 membuat Tank Soldier Set, ini adalah produk miniatur seri militer pertama.
  • Tahun 1976, Tamiya sebenarnya membeli Porsche 911, dibongkar, dan dibangun kembali itu dalam rangka untuk lebih memahami mobil. Tamiya membuat mobil radio kontrol (RC mobil) versi Porsche 934. Meskipun penjualan model plastik dari 1/12 Porsche 934 kurang bagus, versi mobil RC sukses besar. Pada tahun 2006, Tamiya memilih 934 Turbo RSR sebagai produk yang memperingati ulang tahun ke-30 dari seri mobil RC Tamiya ini.
tamiya-porsche-934
Porsche 934 (1:12)
  • Tahun 1986, tahun ini adalah kelahiran seri Mini 4WD, dengan produk Pertama Hot Shot Jr. Seri ini sangat populer di Jepang sampai dengan sekitar tahun 2010an.
tamiya-hot-shot-jr
Mini 4WD Hot Shot Jr (1986)

 

“Mudah dipelajari dan dibangun, bahkan oleh seorang pemula”

MOONLIGHT Review

“Only through recognizing and accepting our inner wounds can we find true healing.”

 

moonlight-poster

 

We are all have been there before, right? Dikucilkan, dibully, enggak ada yang mengerti kita, ngerasa kita begitu berbeda sama yang lain, kayak makhluk asing, you know, kayak lagu dari Simple Plan. Aku sendiri waktu SD sering pulang sekolah dikejar-kejar. At first, teman-teman memang lagi nyari pemeran yang cocok untuk jadi atlet main smekdon-smekdonan; untuk peran babak-belur, of course. But then they just enjoyed chasing me around, even aku sendiri pun jadi suka. Aku memang enggak cepat, tapi aku lihai sembunyi di mana saja. Lama-lama itu jadi permainan yang mengakrabkan kami. Poinnya adalah, growing up jadi hal yang sulit karena kita naturally ingin mengidentifikasikan diri. Dan proses itu semua bergantung erat sama lingkungan kita bertumbuh. Beberapa anak mengalami masa-masa yang lebih berat ketimbang anak-anak lain.

Film Moonlight, however, bukan sekadar film ‘find-who-you-are’ yang biasa. It’s not cerita angst ga-jelas either. Ini adalah cerita yang sangat humane, dengan drama yang dead-fokus kepada karakter. MEMISAHKAN CERITA MENJADI TIGA BAGIAN, MOONLIGHT ADALAH PERJALANAN HIDUP Chiron dari dia kecil, kemudian saat dia remaja di sekolah, hingga menjadi dewasa. Dalam detil yang begitu excruciating, kita akan melihat gimana sulitnya Chiron hidup dan tumbuh di dalam lingkungan yang very harsh, gimana dia eventually menjadi dewasa dengan belajar mengerti siapa dirinya sementara dunia sekeliling tidak paham dan tidak menerima dirinya.

In regards to identifying the story, you know, I’m very pleased to discover tentang apa film ini sebenarnya. Maksudku, perjalanan yang sangat emosional yang ditempuh oleh Chiron itu diceritakannya dengan menggugah. Kita akan dibuat terenyuh melihat Chiron menyadari apa-apa mengenai dirinya. Film ini dengan perfect menangkap lingkungan keras tempat Chiron tinggal, urban Miami actually terasa in-the-moment karena di luar sana memang banyak anak kecil yang tumbuh di dalam lingkungan seperti demikian. Dan film ini menangkap segala momen dan emosi dengan tanpa menjadikan ceritanya klise. Aku belum pernah menonton film dengan denyut storytelling sespesifik ini; cowok kulit hitam yang tumbuh di lingkungan yang keras, dia menyaksikan sekitarnya sangat, katakanlah enggak-normal, dia harus belajar how to live with that, dan sementara itu dia juga menyadari something about himself, dia harus belajar gimana mengapresiasi sisi tersebut, namun a lot of people just don’t accept who he is.

 “no, you don’t know what is like. Welcome to my life!”
“No, you don’t know what is liiike. Welcome to my life!~”

 

 

Banyak yang membandingkan Moonlight dengan Boyhood (2014). Keduanya dengan menakjubkan sama-sama menelaah kehidupan, pertumbuhan seseorang dari kecil hingga dewasa. Namun bagiku, Boyhood terasa ada yang kurang, enggak tahu juga mungkin terlalu fokus ke gimmick apa gimana. Moonlight adalah apa yang sebenarnya aku harapkan ketika nonton Boyhood. Penceritaannya luar biasa. It is such an intimate movie yang mengeksplorasi dengan stunning gimana susahnya bagi seseorang tumbuh pada lingkungan yang tidak mengerti dirinya.

 

Tidak sepertiku, Chiron kecil dikejar-kejar bukan hanya karena dirinya bertubuh paling mini di sekolah. Dia noticeable paling happy di pelajaran nari. Temannya bilang dia negro yang ‘soft’. Ibunya sendiri menyindir cara Chiron berjalan. Little, begitu anak-anak di sekolah memanggilnya, mulai menyadari things about himself meskipun saat itu dia belum mengerti. Babak pertama cerita revolves around Little yang ‘diselamatkan’ oleh Juan (dimainkan singkat tapi sungguh berkesan oleh Mahershala Ali). Ini adalah babak penting dalam cerita karena kita melihat Chiron merasa lebih nyaman berbicara – dalam kapasitas anak pendiam – kepada Juan ketimbang kepada ibunya sendiri. Dalam hidupnya, Chiron tidak punya father figure dan dia enggak bisa benar-benar look up kepada ibunya yang seorang pecandu drugs. Chiron berusaha menemukan sosok orang di mana dia bisa merasa comfortable, tetapi semakin dia bertambah usia hal tersebut menjadi semakin susah baginya. Sebabnya ya lingkungan keras tadi itu; he just feels separated from everyone else around. Chiron learns semua orang ternyata ‘punya masalah’. Act kedua film menjadi babak yang paling psyhically intense, kita lihat Chiron muda resort ke kekerasan dalam upayanya merasa lebih baik or even to think violence as a way to fit in.

Sungguh susah bagi kita untuk melepaskan diri dari cerita Moonlight. It was filmed in such a raw way dengan kerja kamera yang amat fascinating. Tidak sekalipun adegan-adegannya terasa misplaced. Arahan tingkat dewa lah, pokoknya. Penampilan akting dalam film ini, oh boy, mereka semua almost too good to be true. Ketiga pemain yang jadi Chiron; Alex R. Hibbert, Ashton Sanders, Trevante Rhodes, mereka semuanya luar biasa excellent. Sebenarnya film dengan tiga bagian cerita seperti ini gampang untuk jadi terasa episodic. Bagi Moonlight, that was never the case. There is never a case! Setiap babak usia menambah layer kepada pribadi Chiron dengan sama realnya. Masing-masing pemeran berhasil memberikan perspektif yang sukses ngefek dalam membangun karakter Chiron. Apalagi di babak ketiga, ketika Chiron datang bertemu seorang teman lama, teman yang not expecting what Chiron turns out to be. Adegan di diner menjelang akhir film genuinely terasa kayak kejadian beneran yang unfolding di depan mata kita. It was STUNNING, MATURE, DAN SANGAT POWERFUL.

there’s nothing "sawft" about this movie
There’s nothing “sawft” about this movie

 

Sutradara Barry Jenkins sepertinya memang paham betul soal bahwa hubungan antarmanusialah yang ultimately membentuk siapa kita. Arahannya menyeimbangkan dialog-dialog penuh makna dengan visual yang lantang oleh emosi. Meskipun semua pemainnya black, ini bukan necessarily film dengan suara yang loud. Film ini tahu kapan saatnya ngomong dan kapan waktu yang tepat berekspresi dengan tanpa suara. Ada banyak adegan karakter saling tatap yang begitu deep-in-the-feel, seperti saat Little menangkap pandangan Juan yang baru saja memberitahunya soal kerjaan yang Juan lakukan, ataupun saat Chiron dan Kevin duduk di pasir pinggir pantai. Semua pemain beserta peran mereka bersinar di dalam cahaya film ini, bersinar biru so to speak.

Paralel nama Chiron tidak hanya pada nama centaurus yang berbeda dari kumpulannya di dalam mitologi. Dalam astrologi, Chiron adalah komet yang melambangkan luka terdalam; derita yang tak kunjung-pergi, dan usaha kita untuk menyembuhkan luka tersebut. Moonlight adalah cerita-tiga-bagian tentang Chiron yang tumbuh dengan penuh derita masa kecil, that he tries to explore that, yang meski membuatnya tampak ‘tangguh’ setelah dewasa; luka tersebut tidak pernah bisa sembuh sepenuhnya.

 

Kata orang, ngereview itu nyari-nyari kekurangan film. Well, benar demikian sih, reviewer kudu point out secara jujur flaws yang ditemukan. But keep in mind, movie adalah ide. Dalam gagasan tidak ada masalah benar atau salah – it’s about apa yang worked dan enggak worked di dalam penceritaannya. Supaya film, in general, bisa makin terus berkembang. Jadi itu jualah yang kulakukan saat nonton Moonlight. Aku terus membuka mata lebar-lebar untuk mencari hal yang menjatuhkan. Aku terus menunggu seseorang mengatakan hal yang bego. Aku terus melek mencari kemunculan subplot horrible atau elemen yang bosenin dari tiga bagian ceritanya. Dan aku tidak menemukan apa-apa. Biasanya kan kita sering, tuh, nonton film yang mestinya bisa bagus banget namun di tengah filmnya make a really stupid choice demi jadi mainstream atau apa. Tahun 2015 ada film Dope yang juga berpusat cowok kulit hitam yang not fit in dengan lingkungan yang keras, sayangnya film tersebut dengan cepat menjadi cerita kehidupan ‘hood’ yang biasa. Momen-momen jelek yang kutunggu tidak pernah muncul dalam Moonlight. Again, everything shines in this film.

 

 

 

So well-realized, visi ceritanya tergambar tanpa cela pada layar. Film ini benar-benar punya pesan tanpa terasa membombardir moral kita dengannya. Ini adalah penceritaan yang sangat dewasa. Easily, salah satu film terbaik di 2016. Menelaah dengan stunning gimana susahnya tumbuh dalam lingkungan yang tidak ada satupun yang mengerti diri kita. Tidak ada ada satu elemen pun yang terasa out-of-place dalam tiga bagian kisahnya. Penuh oleh penampilan yang genuinely feel so real. Arahan dan editing yang luar biasa dari mulai sampai habis. This is a masterwork!
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for MOONLIGHT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

My Dirt Sheet Awards HEXA-SIX

cyrvr4tuaaave0n-jpg-large

 

Tahun baru datang lagi, yang artinya tiba kesempatan bagi society untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Dan selagi kita mulai melangkah masuk ke tahun 2017, banyak dari kita akan beresolusi meningkatkan kualitas diri. You know, to be a better person, menjadi lebih sukses, makan lebih sedikit, gak gampang baperan, kerja dan belajar lebih giat, dan sebagainya. And kami hadir dengan sesuatu untuk kamu-kamu baca yang bakal ngajarin sesuatu. Karena kami tahu persis cara terbaik untuk meningkatkan kecerdasan adalah dengan membaca, jadi kami ngumpulin kalian di sini – mamerin kebijakan dan pengetahuan The Palace of Wisdom yang begitu impresif mengenai pop culture – sehingga kalian bisa melihat apa-apa saja yang udah terjadi on the previous year. So let’s band together as a species, kayak lebah yang ngumpulin madu, untuk melihat apa yang bisa dipelajari, memberi penghargaan buat yang udah sukses, dan tentu saja supaya berhenti ngelakuin yang bego-bego yang udah menjangkiti kita semua di sepanjang tahun 2016 tersebut.

Tuan-tuan, nyonya-nyonya, brothers and sisters of the same cause, selamat tahun baru, dan bersama dengan itu kami nyatakan: MY DIRT SHEET AWARDS HEXA-SIX resmi dimulai! Eng.. ing.. engg.. bee jealous!!!

 

 

TRENDING OF THE YEAR

cymera_20170118_211640

Tren viral datang dan pergi setiap tahun, tidak terkecuali di tahun 2016. Para nominasi di bawah ini menunjukkan betapa kuatnya interaksi sosial (mainly, secara online) kita perihal nyebarin sesuatu yang baru, entah itu baik maupun buruk. It’s a nice feeling to be part of something trendy, tapi penghargaan diberikan kepada yang actually berhasil jadi tren dan inilah kandidatnya:
1. Ahok
Bukan hanya bolak-balik menduduki trending topic di twitter, melainkan juga nama yang paling banyak diketikin orang di google pada tahun 2016. Gapernah absen deh masuk media. Kami ga ngomongin soal kasus atau prestasinya atau apa, yang jelas Ahok adalah makhluk paling sensasional di Indonesia bahkan hingga tutup tahun.
2. Dabbin
Remaja ngedab saat main musical.ly. Para pemain bola ngedab abis nyetak gol. T.J. Perkins uses it at his WWE entrance. Gadis Sampul 2016 membuka malam final dengan berdab ria. Gestur ‘peace’ pun mulai tergantikan as anak-anak lebih memilih berfoto dengan gaya dab. Mentang-mentang gerakannya simple – kayak orang lagi bersin dan ingin terlihat keren pada saat bersamaan – dab sukses jadi pose paling favorit di mana-mana!
3. Mannequin Challenge
Buanyak banget ‘Challenge’ yang berkembang di tahun 2016, dari makan mie Sam Yang yang pedes ampe 100 lapis kuteks. Yang paling kreatif dan paling banyak dilakukan oleh orang-orang adalah tantangan Mannequin. Seleb, olahragawan, enternainer, politisi, bahkan lumba-lumba ngelakuinnya! The challenge itself adalah postingan video di mana para pelaku akan mematung dalam berbagai pose sementara kamera bergerak memfilmkan mereka
4. Mukidi
Di tengah-tengah panasnya situasi sosial media di Indonesia, cerita-cerita Mukidi memberikan hiburan yang selama ini dirindukan oleh netizen. That’s why it become popular, padahal Mukidi yang “orang Cilacap yang biasa-biasa saja, tidak terlalu alim, mudah akrab dengan siapa saja” itu sudah lama diciptakan Soetantyo Moechlas. Yang mau baca cerita lawakannya, bisa berkunjung ke akun facebook @ceritamukidi
5. Om Telolet Om
Seruan anak-anak kecil yang minta supir bis membunyikan klakson modif mereka dengan cepat menjadi fenomena sosial media saat musisi-musisi EDM di dunia mulai ngetwit tentangnya, meski kata-kata tersebut gak make sense buat mereka. Untuk beberapa hari komen di berbagai sosmed dipenuhi dengan celetukan ini, bahkan sampai dibuat videonya loh!
6. Sidang Kopi
Persidangan kasus pembunuhan dengan kopi sianida sukses menjadi acara tivi dengan rating yang tinggi. Bersambung-sambung, semua orang is so drawn on karena penasaran oleh drama dan memang sidangnya sendiri memberikan hiburan tersendiri berkat para saksi-saksi ahli yang dihadirkan. It is a showcase gimana sidang pembunuhan dilaksanakan. Udah kayak nonton The Anatomy of a Murder yang dibikin versi serial ahahaha
7. Snapchat Dog-Filter
Fitur paling asik dari snapchat adalah filternya. Dan thanks for that, cewek-cewek berubah menjadi bertelinga caplang dan menjulurkan lidah meski enggak ada bulan purnama di langit. Enggak tahu juga apakah karena memang terlihat cute atau cuma ikut-ikut, yang jelas filter ini jadi heboh, guk!
8. Tahu Bulat
Mewakili tren makanan, tahu bulat jadi jajanan paling digandrungi di tahun 2016. Sampe ada science, meme, gamenya segala.

 

Kita tidak bisa ngomongin 2016 tanpa menyebut pemenang The Dirty ini:

So please now die along with dabbin and the filter -,-
please die now, along with dabbin and the filter -,-

 

 

 

 

COUPLE OF THE YEAR

cymera_20170118_212025

2016 mungkin saja memang tahunnya selebriti buat jatuh cinta, you know, brand new romances, CLBK, flirtations, rumors. Tapi peduli apa whether or not mereka bakal langgeng di tahun 2017. Sebab di sini kita punya nominasi yang paling sweet.
1. Bridget dan Prince Gristle
Kalo bukan karena plot tak-terduga mereka, aku gabakal betah nonton Trolls
2. Cinta dan Rangga
The pinnacle of Cinta Lama Belum Kelar
3. Joker dan Harley Quinn
Relationship mereka somewhat abusive, but we just love to see them crazy people together, right?
4. Maryse dan The Miz
Utimate heel real-life couple yang mendominasi WWE dengan segala kecurangannya. Sejauh yang kita tau, mereka akan halalin segala cara untuk gak nyabet the Participant Award haha
5. Paige dan Alberto del Rio
Paige actually ngelamar Del Rio di atas ring. Dan begitu Del Rio dipecat, sekarang Paige ikut-ikutan gapernah nongol lagi di WWE. Yeah, jarak umur memang gajadi soal!
6. Sebastian dan Mia
Oke, serius, mereka harusnya jadi pasangan at the end of La La Land. Tapi yaah, tidak semua mimpi dapat terwujud hiks..
7. Taki dan Mitsuha
Relationship mereka transcend meski mereka tidak pernah bersua sebelumnya. They are showing us betapa kuatnya hubungan yang terjalin dengan mengenal secara emosional can be.

 

Pemenangnya adalah, dilarang jealous loh yaa:

Mereka adalah hal paling menarik seantero film Suicide Squad. Kalo saja film itu mengambil fokus kepada kisah kedua tokoh ini, aku yakin filmnya bakal berpuluh kali lebih bagus.
Mereka adalah hal paling menarik seantero film Suicide Squad. Kalo saja film itu mengambil fokus kepada kisah kedua tokoh ini, aku yakin filmnya bakal berpuluh kali lebih bagus.

 

 

 

 

FASHION OF THE YEAR

Tahun ini kita ngeliat choker making a comeback, busana-busana mewah berpotongan Cut Out, dan warna monochrome mendominasi. Namun tentu saja bukan masalah apa yang kalian kenakan, it’s about how you wear it. Inilah nominasi untuk item terkeren yang pernah dipakai orang di tahun 2016:
1. Chris Jericho’s scarf
chris-jericho-ladder-sit
2. Harley Quinn Attire
suicide-squad-harley-quinn-jacket-500x500
3. Jaket Mi Ayam-dan-Petai Joe Jonas
joe-jonas-jaket-2
4. Kaos James Ellsworth
w12527
5. Payung, Sendal, Jaket, or any items yang dipakai Jokowi
presiden-jokowi-pake-payung
6. Rok Span Anak SMA
13628313_1131683440226687_1585167867_n

 

Dan yang mendapatkan The Dirty – makin keren deh ngeceng bawa piala – adalaahhh…

Kalian tidak perlu jaket berbulu dan berlian di leher untuk tampil f-a-b-u-l-o-u-s-yes, jika nama kalian adalah Joko Widodo.
Kalian tidak perlu jaket berbulu dan berlian di leher untuk tampil f-a-b-u-l-o-u-s-yes, jika nama kalian adalah Joko Widodo.

 

 

 

 

BEST ALLIANCE OR GROUP

cymera_20170118_213531

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kalimat tersebut tertulis sebagai tagline di poster Captain America: Civil War. Dan yea memang unlikely alliance banyak terbentuk di sepanjang 2016 yang penuh sirik-sirikan dan beda pendapat. It is interesting ngeliat gimana orang-orang menjadi dekat karena satu tujuan yang sama, putting aside their differences. Berbeda dengan kesenangan, masing-masing kita ngerasain susah, derita dengan cara yang sama, dan itulah yang menarik kita saling mendekat. Liat aja “kita gak pernah suksess” merekatkan Warkop DKI. Dunia sedang perang, dan we need to stick with our ‘family’. Berikut adalah nominasi untuk kategori spesial pertama kali ini:
1. Apocalypse and the Four Horsemen
Setidaknya ada tiga tim dengan nama Four Horsemen yang kita temukan di 2016, namun tim bentukan mutant immortal Apocalypse inilah yang paling badass. Storm, Psylocke, Angle yang kemudian jadi Death, dan the one-and-only Magneto. Assemble Horsemen pada film ini bisa jadi adalah assemble terkuat yang pernah dibentuk oleh Apocalypse as they are trying to play God.
2. Cash Family
Tinggal di dalam hutan, dididik hidup dengan alam, dibesarkan jauh dari bisingnya kapitalisme dan modernisasi, keluarga Cash dalam film Captain Fantastic bagaikan kelompok hippie with wolfpac mentality paling manusiawi yang pernah ada. Plus mereka punya nama-nama yang really cool, like Vespyr dan Kielyr.
3. Roanoke Colony
Dalam sejarah beneran, koloni Roanoke adalah sebutan untuk koloni Eropa yang menghilang begitu saja di North Carolina. Dalam American Horror Story season 6, Koloni Roanoke disebutkan datang melindungi tanah mereka setiap Blood Moon, as a very violent ghosts. Oke, season 6 adalah season AHS yang paling sadis – kedatangan mereka, yang dipimpin oleh The Butcher yang legit nyeremin, selalu berakhir dengan entah itu usus yang ditarik keluar idupidup, orang yang dipasak terus dibakar, atau pisau daging yang dihujamkan ke tengkorak. Hiii!!
4. Rogue One Rebels
Ketika pasukan pemberontak menolak membantu, Jyn Erso dan kawan-kawan membentuk lagi pasukan rebel kecil-kecilan. Mereka menyusup dan mencuri Death Star Plans yang ditinggalkan oleh ayah Jyn. Diversity dari pasukan tersebutlah yang bikin kagum, as they ngingetin kita bahwa jasa orang-orang kecil kayak merekalah, pihak-pihak yang lebih besar bisa meraih glory sebuah peperangan.
5. Sing Street Band
Apa yang kau lakukan jika mau menarik perhatian cewek? Bikin band, tentunya! Dalam film Sing Street, kita akan melihat journey para misfit dari yang sekedar pengen impress menjadi sebuah persembahan ekspresi diri yang menggugah. And hell yea they can play.
6. Suicide Squad
Prolly grup paling famous dalam nominasi ini, Suicide Squad berisikan penjahat-penjahat kelas kakap yang dipaksa bekerja sama melawan ‘penjahat’ yang lebih evil, dengan iming-iming kebebasan. Meski filmnya sendiri berantakan, paling enggak kita bisa ngeliat sepak terjang dna karakter mereka yang kadang bikin kita gaenak udah ngecheer.
7. The Chanels
Survive dari season 1, Chanel Oberlin dan minionnya malah semakin berkembang di Scream Queens season 2. They are the worst (in a good way) personification dari plastic mean girls. Mereka juga semakin kocak, bisa jadi perawat meskipun bukan dokter beneran. Bisa lulus SAT meskipun belajar ngasal. But yet, mereka tampak mustahil untuk dibunuh oleh The Green Meanie, berkat keignorant dan keegoisan mereka.

 

Blood makes you related, loyalty makes you family. Pemenangnya adalah…

Menyenangkan menonton film ini dan melihat mereka bekerja sama sebagai satu unit sebuah keluarga.
Menyenangkan menonton film ini dan melihat mereka bekerja sama sebagai satu unit sebuah keluarga.

 

 

 

 

FEUD OF THE YEAR

cymera_20170118_211914

Orang bertengkar di mana-mana. Social media practically isinya orang nyolot ama nyinyir semua. Fans si anu lawan fans si itu. Hoax dilawan dengan hoax. Udah gak keliatan lagi yang mana yang nyaci, mana yang dibela. Well yea, untungnya kami masih cukup waras setelah memilih mana perseteruan yang dianggap layak untuk dapat piala. Nominasinya adalaaah
1. Batman vs. Superman
Filmnya boleh flop tapi ngeliat dua superhero ikonik ini baku hantam tetep bikin aku merinding kegirangan
2. Donald Trump vs. Hillary Clinton
Debat kandidat presiden Amerika ini seru karena voters di sono kayak milih the lesser of two evils
3. Mario Teguh vs. Deddy Corbuzier
Ketika ada yang ngaku jadi anak terus dikomporin ama acara TV, ya jelas aja meledak. Mentalist lawan motivator is interesting enough.
4. P coret vs. S coret
Kalo nyangkut soal peraturan lalu lintas, semua orang bisa melanggarnya. Apalagi kalo polisinya sendiri enggak yakin bedain rambu mana maksudnya apa.
5. Taksi vs. Taksi Online
Sirik-sirikan kendaraan umum dengan versi online mereka memang masih terus terjadi.
6. Team Captain America vs. Team Iron Man
Bahkan superhero pun bisa berselisih paham dan terpecah menjadi dua kubu loh!

 

And we still don’t care dengan cuma ngasih satu piala untuk direbutin oleh pemenang, yang mana adalaaah:

Build up yang sangat beralasan dan ditutup oleh pertempuran yang actually seru banget. Dan yang terpenting, abis berantem mereka semua saling baikan. Patut dicontoh, inga inga ting!
Build up yang sangat beralasan dan ditutup oleh pertempuran yang actually seru banget. Dan yang terpenting, abis berantem mereka semua saling baikan. Patut dicontoh, inga inga ting!

 

 

 

 

BEST MOVIE SCENE

Film adalah kolektif scenes yang membentuk suatu kesatuan. Ada yang bilang ending adalah bagian terbaik sebuah film, sementara adegan pembuka adalah bagian terpenting dari film. Seringkali, tho, gold ada di tengah-tengahnya. Kita pasti punya adegan favorit yang pengen ditonton berulang-ulang. Entah itu karena ngena banget secara emosi, filmmakingnya breathtaking, atau or just plain awesome. Berikut adalah yang memorable enough sehingga sukses jadi kandidat Adegan Film pilihan tahun 2016:
1. Belah Bola (Everybody Wants Some!)

I need to emphasize this; you could never be as cool as that guy
2. Deadpool Opening Scene (Deadpool)
https://www.youtube.com/watch?v=DVMVWQIfT88
Cara yang paling efektif buat ngajak kita kenalan sama perangai Deadpool, perfectly set up tone for the movie, plus those frames are dripping oleh kekocakan
3. Jena Malone Corpse Riding (The Neon Demon)
sub-buzz-22530-1466728978-1
Adegan film paling kontroversial sepanjang 2016! Salut buat Jena Malone for doing that
4. LA Sunset (La La Land)
https://www.youtube.com/watch?v=RvWhKWhFWoc
Musiknya so playful, cinematografinya so beautiful, keseluruhan adegan so meaningful!
5. Sloth Scene (Zootopia)

Zootopia mengusung tema yang sangat dewasa; soal judgmental dan ultimately gimana society bisa dikontrol oleh ketakutan. Namun mereka sempat-sempatnya masukin adegan yang kocak banget ini. Aku belum nemu orang yang enggak ketawa menontonnya!
6. Trip to Trippy Multiverse (Doctor Strange)

Utilizing teknologi, film Doctor Strange sukses bikin kita takjub menonton kekuatan super para tokohnya. Perjalanan Strange ke universe buatan dibuat dengan sangat cantik, mempesona, membingungkan, it was a very mind-bending scene!
7. Valak Entrance (The Conjuring 2)
https://www.youtube.com/watch?v=JJmWYGR3XY0
Kemunculan Valak di dalam ruangan tersebut bener-bener dicraft dengan handal, liat deh dan rasakan saat antisipasi ngeri itu terbit dan film ini akan menggoda rasa takut kita sebelum kemudian melepaskannya dengan sangat teatrikal.

 

The Dirty goes to…

Love the scene so-MUCH! Hahahaha.. Sentilan kocak buat betapa lambatnya pelayanan jasa yang sering kita temukan kayak di TU, kasir, dan semacamnya.
Love the scene so-MUCH! Sentilan kocak buat betapa lambatnya pelayanan jasa yang sering kita temukan kayak di TU, kasir, dan semacamnya.

 

 

 

 

 

MOMENT OF SILENCE

Banyak orang meninggal setiap tahunnya, tapi oh boy, 2016 membunuh begitu banyak orang. Korban virus Zika, korban gempa, korban Suriah yang situasinya semakin parah, Kana patah, dan bersama mereka; Snape, Princess Leia, Muhammad Ali, Chyna, Prince, David Bowie, Debbie Reynolds, Budi Anduk, Mike Mohede, Raja Thailand, Willy Wonka, Mr. Fuji. Mereka menembak Harambe si gorilla. Bahkan Sari Roti bernasib nelangsa. It looks like our common sense juga sekarat.

Mengheningkan Cipta, mulai!

…….

…..

Selesai.

 

Dan mereka menembak gorilla.

 

 

 

 

STUPID-IDIOT! OF THE YEAR

sub-buzz-15641-1480710086-2

Itu adalah postingan salah satu pengguna internet yang udah sukses nunjukin yang berkembang pesat di 2016 adalah populasi troll. It’s like, setiap kali ada berita baru kita bakal mengernyit sambil tertawa hampa. People clowning us every chance they get. Ada pelari olimpiade yang nipu polisi. Ada yang bilang bisa gandain uang. Ada yang mau boikot roti sarapan. Mungkin ini salah kami, setiap tahun kami kasih piala buat yang paling bego, sehingga pada makin semangat berkompetisi. Berikut adalah nominasi Bego of the Year, atau seperti yang dikatakan oleh Chris Jericho: “STUPID-IDIOT! of the Year”
cymera_20170118_212149
1. Broken Matt Hardy
Cowok-cowok dulu pasti pengen sekeren pegulat ini. Tapi semenjak kalah oleh adeknya, Matt patah hati mentally dan physically. Dia berubah. Mengatakan dirinya jadi aneh, kurang tepat. Dengan akting ala kadar meneriakkan “Delete!” hampir di setiap kesempatan, dengan aksen yang impossible, Broken Matt Hardy persis kayak pesulap jalanan yang lagi mabok. Dia membawa anak balitanya ikutan tanding, dan jangan lupakan video-video promonya yang kayak cuplikan film-film cult yang hilarious.
2. Cerita Harry Potter and the Cursed Child
I love Harry Potter books, sampai sekarang aku masih nunggu surat dari Hogwarts. But seriously, cerita adaptasi dari naskah teater ini lebih mirip fan fiction; elemen time travelnya bego, dialognya payah, dan Voldemort punya anak BLAAARGGHH!!
3. Cocokologi
Pretty much mind set orang-orang di tahun 2016. Segala sesuatu dicocok-cocokin demi ngedukung pandangan mereka, tidak peduli betapa panjang reaching dan reasoning yang diperlukan. Dan kemudian then believe it as a fact. Thanks buat Net TV yang udah mempopulerkan ini sebagai lucu-lucuan.
4. HeiHei si Ayam Jago
The show stealer dalam film Moana. Ayam jago ini begitu jago memancing tawa dengan kebegoannya. He’s so stupid sehingga menjadi lucu, he’s a hero in his special idiot way.
5. Lagu Lelaki Kardus
Benar gak abis pikir deh, kenapa ada yang berpikir bahwa adalah sebuah ide bagus untuk nyiptain lagu tentang konflik rumah tangga dengan irama ala-ala kasidah dan menyuruh anak kecil untuk menyanyikannya. Musik videonya get unintentionally creepy saat anak-anak kecil mengacung-ngacungkan telunjuk penuh penghakiman sambil ngechant “lelaki kardus, lelaki mencret, lelaki…”
6. Pahlawan sendiri kok enggak tahu?
Nyinyir tampaknya cuma beda tipis ama bego. Batas tipis dilanggar dengan cueknya oleh para ignorant saat mereka mulai nyinyirin soal uang baru yang dikeluarkan oleh bank. Membuktikan diri sebagai idiot, mereka merendahkan pahlawan dan bangsa sendiri dengan joking about hal-hal yang sebenarnya bisa dibaca di buku sejarah waktu SD.
7. Videotron Jakarta Selatan
Hal terbaik dari nonton bokep datang dari perasaan bersalah nonton diem-diem karena malu ketahuan. Tapi pemutar videotron di sudut jalanan Jakarta Selatan ini tidak sependapat. Dia berpendapat nonton bokep ya sama aja kayak nonton bola; Lebih ikkeh kalo ditonton rame-rame, barengan pengguna jalan di siang bolong yang panas dan padat.

 

The one who takes The Dirty sebagai Stupid-Idiot! of the Year adalah…

Selalu gila. He’s a endless supply of insanity. Kata-katanya adalah pabrik meme. Broken Matt Hardy nunjukin what it is truly mean about being Broken.
He’s an endless supply of insanity. Kata-katanya adalah pabrik meme. Broken Matt Hardy nunjukin what it is truly mean about being Broken.

 

 

 

 

 

BEST MUSICAL PERFORMANCE

Sebelum kita baca nominasi buat penampilan musikal terhits, marilah sambut our Special Guest Performance, membawakan versi akustik dari lagu soundtrack Moana, Alessia Cara, yaay!

https://www.youtube.com/watch?v=LjwJHaT6gy0

Oke gara-gara lagu How Far I’ll Go itu aku jadi ngefan berat sama suara Alessia. Anyway, para nominasi di bawah ini sudah enggak sabar mau nampil (dooo gamau kalah nih yeee), jadi inilah mereka:

1. “Bare Necessities” live from Mowgli dan Baloo

2. “Gue Kece” covered by Sarah Sechan dkk
https://www.youtube.com/watch?v=IV96NQq0qmY
3. “Incredible Thoughts” oleh The Style Boyz feat. Michael Bolton and Mr.Fish

4. “Nasi Padang” by Kvitland

5. “Pen Pinapple Apple Pen” dari Pikotaro

6. “PokeRock” The Rock actually got Jason Paige, penyanyi asli pokemon to sing this!

7. “Sweet Child O’Mine” performed by Kielyr and the rest of Cash Family

 

Dan The Dirty jatuh kepadaaa

The clip is so fun. Ayo siapa tadi yang gatahan buat ngelakuin Donkey Roll? Liriknya yang ngasal tapi berdering some wisdom di dalamnya, hey, aku malah kepikiran buat jadiin lagu ini jadi lagu kebangsaan mydirtsheet.com hhihi
The clip is so fun. Ayo siapa tadi yang gatahan buat ngelakuin Donkey Roll? Liriknya yang ngasal tapi berdering some wisdom di dalamnya, hey, aku malah kepikiran buat jadiin lagu ini jadi lagu kebangsaan mydirtsheet hhihi

 

 

 

 

MOST ANNOYING QUOTE


Sayangnya, tidak semua bisa seperti Enzo dan Big Cass, their words are just awesome!

Berikut adalah nominasi quotes paling annoying yang sehabis kalian mendengarnya, aku perlu menanyakan kondisi kesehatan mental kalian, “how you doin’?”
1. “Apa yang kamu lakukan ke saya itu jahat”-Cinta 

2. “Drink IT in, maaaaaaaa~~~aaan”-Chris Jericho

3. “Hempas datang lagi”-Syahrini
https://www.youtube.com/watch?v=H4FjOjqJ20M
4. “Marilah seluruh rakyat Indonesia blablablablaaa”-Mars Perindo

5. “Om telolet om!”-Siapapun yang masih bilang itu
https://www.youtube.com/watch?v=OjI_oHRfIS0
6. “Tahu bulat digoreng dadakan blablabla”-Jingle Tahu Bulat

 

So, how you doin’?
Yang paling enggak sawft di telinga adalaaah…

This is the worst! AAAAARRRGGHHHH!!!
This is the worst! AAAAARRRGGHHHH!!!

 

 

 

 

GAME OF THE YEAR

cymera_20170118_211802

In recent years, game sudah jauh berkembang, but not always result in a good way. Kebanyakan game terasa lebih mementingkan kualitas grafis ketimbang experience gameplaynya. Virtual Reality semakin berkembang, pembuat game bersaing untuk menciptakan permainan yang berasa nyata. Yang jadi nominasi kategori ini adalah games yang, not necessarily have better graphic, tapi bisa membuat kita enjoy karena mereka mengeksplor gameplay yang terasa genuine.
1. Final Fantasy XV
Seri teranyar dari seri game RPG paling populer sepanjang masa. Kita juga dapat film yang nyeritain origin cerita yang menyertai rilis video game untuk PS 4 ini. It is a breakthrough karena gamenya actually ngambil setting yang mirip-mirip present time. Tau apa yang paling heboh? It actually takes tiga hari di dunia nyata beneran untuk mengalahkan salah satu bos dalam game ini!
2. King of Fighters XIV
Tidak seperti pesaingnya, Street Fighter V, KOF XIV tau persis formula seimbang antara modern dengan nostalgic. Sistem tarung traditional yang exciting sekarang diperindah dengan animasi 3D yang lincah. Aku sampai diingetin buat gantian loh ketika terus-terusan main gratis di booth PS4 toys fair di TSM beberapa waktu yang lalu.
3. Pokemon Go
Impian buat nangkep pokemon jadi kenyataan di tahun 2016. Game hp ini sukses bikin orang di seluruh dunia pergi keluar rumah demi berkeliling mencari pokemon. And it was very realistic, in a sense kita bisa nangkep Magikarp di daerah berair dan semacamnya. Seperti permainan video game klasiknya, player juga bisa join masuk tim dan berinteraksi dengan pemain lain.
4. Slither.io
Masih ingat game ular di hape nokia jadul? Well, put an online twist dan kita dapet game slither.io. Simpel tapi addictive. Bayangkan, ular kita sudah panjang, dan tau-tau kita ‘terbunuh’ karena nabrak ular yang lebih kecil. Aku yakin, setiap kali ada ular yang mati ada anak yang menjerit nangis di belahan dunia lain.
5. Super Mario Run
Keluar di penghujung tahun, game ini berhasil bikin orang-orang kembali mantengin gadget mereka. Bedanya Super Mario Run dengan game Mario biasa adalah; di sini kita hanya mengontrol lompatan as Marionya lari secara otomatis. Game adventure side-scroll klasik ini jadi seperti Mario versi parkour haha.
6. Werewolf
Banyak orang Indonesia ngeinstall tele.gram just to play this game. Simpel banget, mainnya pake pesan-pesan doang. Objekifnya adalah yang kebagian jadi detektif kudu menebak siapa di antara kelompoknya yang berperan sebagai werewolf. It uses our deductive skill, as well as kemampuan kita untuk menipu dan menghasut. Right, fun!

 

Oke, sudah selesai loading belum? Here’s our winner… bip bip booppp..

It is such a worldwide sensation. Masuk berita di mana-mana, positif dan negatif. Seluruh orang menginstall game ini dan go out memburu Pikachu, even orang-orang yang dulu ngeledek kalian nerd lantaran main pokemon di gameboy! Kalian akan literally disapa orang asing di tengah jalan, “halo, kamu main pokemon gak?”
It is such a worldwide sensation. Masuk berita di mana-mana, positif dan negatif. Seluruh orang menginstall game ini dan go out memburu Pikachu, even orang-orang yang dulu ngeledek kalian nerd lantaran main pokemon di gameboy! Kalian akan literally disapa orang asing di tengah jalan, “halo, kamu main pokemon gak?”

 

 

 

 

UNYU OP THE YEAR

cymera_20170118_211418

I love it when beautiful, talented people succeeded. Makanya penghargaan kategori ini didedikasikan buat mereka-mereka yang udah bikin kita kesengsem oleh kecantikan dan kemampuan yang mereka miliki. Surprisingly enough, Chloe Grace yang udah dicanangkan bakal masuk nominasi setiap tahunnya, gagal bercokol di sini. Yuk lihat ada siapa saja:
1. Alexa Bliss
Small but fierce. Alexa really killing it dengan attribute yang terinspirasi dari Harley Quinn. Salah satu momen favoritku di tahun 2016 adalah menyaksikan cewek ini menyabet sabuk juara wanita di brand Smackdown.
2. Anna Kendrick
Sepanjang 2016 kita dibuai oleh suaranya, karena Kendrick nongol di banyak film. Paling mengesankan saat dia jadi crazy chick di babak akhir film Mr. Right.
3. Annalise Basso
Mau itu Captain Fantastic atau Oujia: Origin of Evil, kehadiran cewek ini seolah signaling bahwa film yang ia perankan adalah film yang bagus. She always bring a top-notch performance.
4. Anya Taylor-Joy
Cewek ini menyuguhkan penampilan yang luar biasa menawan dalam film The Witch. And later in 2016, dia membuktikan bahwa performancenya tersebut bukan beginner-luck!
5. Britt Robertson
Yang satu ini sudah langganan masuk nominasi. Ada tiga film yang dimainkan oleh Britt di 2016, dan lucunya dia selalu kebagian jadi orang hamil
6. Emma Roberts
Satu lagi langganan nominasi, akting ‘senewen’ Emma Roberts selalu punya pesona sendiri. She’s also really good di Nerve dan tbh film itu won’t work well tanpa charisma dari cewek ini.

 

Dan adek yang beruntung dapet The Dirty adalaaah

Pemenang Unyu op the Year terdahulu have been going on doing something great. Ini adalah pilihan yang sulit. Tapi aku paling gak sabar untuk melihat apa yang bisa dilakukan oleh Annalise Basso di tahun-tahun mendatang.
Pemenang Unyu op the Year terdahulu have been going on doing something great. Ini adalah pilihan yang sulit. Tapi aku paling gak sabar untuk melihat apa yang bisa dilakukan oleh Annalise Basso di tahun-tahun mendatang.

 

 

 

 

BEST WEB VIDEO OR SERIES

Youtube bakal ngegantiin TV. Dan kalimat tersebut enggak necessarily sebuah prediksi, lho. Faktanya setiap hari semakin bertambah jumlah vlogger. Aku pernah dikasih liat oleh Mas Dennis Adhiswara beberapa video blog yang minta diorbitin, meski dengan production value seadanya. Enggak cukup dengan nonton, orang-orang sekarang pada ingin membuat hiburan, ingin berkarya. Sayangnya di Indonesia, keragamannya masih kurang sih ya. Vlognya gitu-gitu mulu, tutorial make-up lah, sok-sok sarkas lah. Sedangkan Bigo dipake buat yang enggak enggak. Well, nominasi kategori ini akan memberikan contoh gimana kreativitas – along with produksi yang niat – bisa menghasilkan tontonan alternatif yang menghibur
1. Carpool Karaoke

Originally adalah segmen di Late Late Show, dalam video seri ini kita akan dihibur oleh James Corden yang driving around nganterin selebriti sembari mereka nyanyi karaoke bareng di dalam mobil. Hingga sekarang, dari Taylor Swift sampai Michelle Obama sudah pernah tampil dalam video ini.
2. Cot Dammit Elizabeth!

“My girlfriend asked me to help her become fit, here’s our journey.”, begitu bunyi deskripsi singkat rangkaian video yang diunggah pertama di Snapchat ini. Those videos are so hilarious, kita akan ngeliat si cowok dengan ‘kejam’nya menjaga sang cewek untuk terus membakar lemak.
3. React

Konsep video di Channel React ini adalah untuk melihat reaksi-reaksi sekelompok orang ketika dihadapkan sama satu pop-culture, entah itu game, film, video, makanan, dan lain-lain. It’s so interesting karena mereka kerap membenturkan dua generasi yang berbeda, misalnya reaksi anak-anak nonton kartun Transformer jaman dulu, atau remaja-remaja yang disuruh nebak lagu 90an, atau juga para sesepuh yang disuruh main Angry Birds!
4. UpUpDownDown

Kita bisa menonton para superstar WWE saling bertanding…. video game! And they play all kind of video games – klasik maupun yang baru. Seru karena kita bisa mereka ngebreak character, that some of them ternyata nerd juga kayak kita-kita
5. What Thor was Doing During Captain America: Civil War

Demi menjawab pertanyaan kenapa Thor enggak ikutan saat tim Cap dan tim Iron Man berantem, and also buat promoting film berikutnya, director Taita Waititi membuat dokumenter yang kocak banget soal apa yang sebenarnya dilakukan oleh Thor.

 

And the winner is….

It is so entertaining, setiap hari aku bolak balik channel ini demi ngeliat ada uploadan baru.
It is so entertaining, setiap hari aku bolak balik channel ini demi ngeliat ada uploadan baru.

 

 

 

 

BEST CHILD CHARACTER

cymera_20170118_211533

Penulisan tokoh anak-anak bisa menjadi hal yang sulit, beberapa film biasanya missed dalam nanganin ini. Writers are having a hard time nulisin perspektif yang benar-benar pas, kita sering ngeliat tokoh anak yang terlalu dewasa, ataupun mereka ditulis sebagai makhluk yang terlalu bego. Kids don’t talk and act like kids. Untungnya 2016, kita dapet banyak sekali tokoh anak-anak yang dibook mengagumkan, diperankan dengan excellent pula oleh para aktor cilik berbakat. So we feel the need to award them, inilah nominasinya:
1. Doris Zander (Ouija: Origin of Evil)
First of all, rambutnya cute abis!
Doris actually adalah karakter yang tricky, penulisannya membutuhkan anak ini sebagai yang nyeremin polos gitu. Apa yang kita saksikan di film adalah Doris yang dimainkan dengan sangat tepat, we get an uneasy feeling, creepy, nightmare-material banget deh!
2. Eleven (serial Stranger Things)
Tokoh satu ini very likeable dan badass bgt! Setiap anak kecil pasti pengen punya temen yang punya kekuatan telekinesis kayak Eleven;
3. Jack (Room)
Bayangkan kalian hidup lima tahun di kamar yang sempit, dan suddenly kalian keluar dan melihat matahari, melihat dunia untuk pertama kali. Jack ngalamin semua itu – tembok realitanya runtuh, dan reaksinya ngehandle semua bikin karakter anak kecil ini begitu kuat dan compelling
4. Janet Hodgson (The Conjuring 2)
Sebenarnya kasian ngeliat Janet dihantui setan-setan di Conjuring 2, namun tokohnya punya sedikit twist – she actually orchestrated beberapa ‘gangguan setan’ tersebut untuk mendapat attention dan ironisnya untuk membuktikan dia tidak berbohong bahwa beneran ada hantu di rumah mereka
5. Kubo (Kubo and the Two Strings)
Di balik sifat cerianya, Kubo adalah anak yang mandiri, dia ngurusin ibunya yang sakit, dia pandai melipat kertas dan bermain musik, ini adalah role model yang bagus untuk anak-anak.
6. Mowgli (The Jungle Book live action)
It’s amazing ngeliat film The Jungle Book live action, meski Mowgli practically satu-satunya aksi yang live di sini. Mowgli adalah karakter yang hebat, petualangannya yang seru ngajarin banyak soal kekeluargaan dan persahabatan.
7. Sophie (The BFG)
Steven Spielberg masih jago ngidupin karakter anak-anak, buktinya ya Sophie di The BFG ini. Anak yang penuh imajinasi dan mimpi, punya banyak cinta untuk dibagi because selama ini dia tidak punya siapa-siapa untuk diajak berbagi.

 

Sebenarnya aku ingin masukin Holly dari film The Nice Guys, awesome bgt, but umur tokohnya sudah remaja dan kalo dimasukin aku bingung ngasih judul kategorinya haha, so yea. Film-film Indonesia mestinya niru gimana film luar membangun tokoh anak-anak. Pemenang The Dirty kategori ini adalaahh..

She has superpower, she has a damaged past, she has no hair, this is easily the most intriguing character of all. Millie Bobby Brown sangat fantastis memainkan tokoh ini, dia membuat Eleven terasa begitu real.
She has superpower, she has a damaged past, she has no hair, this is easily the most intriguing character of all. Millie Bobby Brown sangat fantastis memainkan tokoh ini, dia membuat Eleven terasa begitu real.

 

 

 

 

MY MOMENT OF THE YEAR

Semenjak domain di-approve oleh wordpress di bulan Februari, there’s no stopping mydirtsheet. Dan terima kasih berkat kalian semua, situs ini dapat peningkatan sorotan yang berarti. Sekarang kami sudah berani bikin acara nonton bareng yang diadain di warung punya temen, Warung Darurat. Sudah berani nerbitin buletin mingguan, yang bisa didapat gratis di Warung Darurat. Review AADC 2 dan Warkop DKI Reborn mecahin rekor view terbanyak. Review Deadpool menangin kontes di Cinemags. Mydirtsheet.com diundang ke FFB 2016, diajak closed screening Jakarta Undercover oleh mas Fajar Nugros – tonton deh filmnya, tayang resmi Februari 2017. Anyway, mydirtsheet juga buka kategori baru – merchandise. Practically maksudnya adalah aku jualan kaos buatan sendiri, sok atuh liatliat, dipesen kalo mau, buka jasa sketch juga. Aku ikutan kelas-kelas bikin film dan kelas nulis, dari Maret sampe Oktober aku bolak-balik Jakarta – Bandung setiap minggu. Tapi meski sudah ikut banyak kelas biar tulisan makin yahud dan sukur-sukur bisa bikin film sendiri, toh nyatanya aku masih bego. Makanya salut deh buat Forum Film Indonesia yang sudah sudi mengangkatku jadi admin, terima kasih. Best momen buatku di tahun 2016 adalah ketika aku dapat ambil bagian dalam rangkaian acara kembalinya Lupus sebagai Tim Penulis Lupus Bareng Yogyakarta. Dapet temen-temen baru, dan akhirnya bisa ketemu (oke, aku berkesmepatan digembleng nulis oleh) trio Lupus: Boim, Gusur, dan Hilman. Tiga orang yang basically bikin aku suka baca dan nulis, Lupus termasuk buku (nonkomik) pertama yang aku baca waktu kecil.
cymera_20170121_101151
So yea 2016 has been great to me, dan aku siap berjuang di tahun 2017.

 

Oiya, jika mydirtsheet.com buka lowongan buat kontributor – kalian bisa menulis bebas tentang apapun yang disuka – kirakira ada yang mau daftar gak ya?
Because we do membuka pintu The Palace of Wisdom buat buat kamu-kamu yang punya hobi nulis, yang demen review apapun, yang punya passion bercerita. Silahkan kirim email ke aryapratamaputraapepe@gmail.com so we could discuss idea untuk bikin situs ini jadi platform keren tempat ngumpulnya benak-benak kreatif, dan of course untuk mendiskusikan upah tulisannya 😀

 

 

 

 

SHOCKER OF THE YEAR

Jadi, bisa disimpulkan 2016 adalah tahunnya orang-orang nyinyir. Tahun kebangkitan berita-berita palsu di internet. Facebook dan jejaring actually diminta untuk lebih menyaring berita-berita yang dipos oleh pengguna. Dan mereka menembak gorilla.
Oke, I know I’ve said it thrice already.

Para kandidat di bawah ini, they take the cake sebagai runner ups dari kejadian paling mengejutkan yang terjadi sepanjang tahun. Mari kita simak:
1. It’s the long awaited CM Punk UFC debut, dan dia kalah dalam 2 menit 45 detik!
2. Goldberg ngalahin Brock Lesnar ga sampai 5 menit!!
3. And oh wait, Ronda Rousey comeback dan kalah di bawah 1 MENIT!!!
4. Chicato rasa mie goreng!
5. Britain votes to leave European Union!?!
6. Climate change is real!!
7. Struggle bisnis majalah juga also real!!
8. Apple drops the jack!!
9. Film Warkop DKI Reborn tembus 6 juta penonton -,-!!
10. Leonardo DiCaprio akhirnya menangin Oscar!!!
11. Shane McMahon balik, ngelawan Undertaker di Hell in a Cell Wrestlemania 32!
12. Aksi demo yang dihadiri jutaan umat – berakhir damai, top!
13. Panda tidak lagi termasuk binatang yang mau punah, hore!!
14. BUT, they killed a gorilla and make him meme…!!

Kami menyimpan the biggest shock for the last. Pemenangnya adalaaaahh

Donald Trump, si kepala oren yang pernah kenak Stunner di Wrestlemania, the one who grabbed by the pu… The Donald F’ing Trump, menang pemilihan presiden Amerika!!
Donald Trump, si kepala oren yang pernah kenak Stunner di Wrestlemania, the one who grabbed by the pu… The Donald F’ing Trump, menang pemilihan presiden Amerika!!

Terima kasih 2016, you’ve trolled us all.

 

That’s all we have for now.
Untuk penutup, silahkan sambut kembali, Alessia Cara, plok plok plok!
https://www.youtube.com/watch?v=rofzh46wSd0

 

 

 

Remember in life, there are winners.
And there are losers.

They didn’t even get the Miz’ Participation Award
They didn’t even get the Miz’ Participation Award

 

#BeeJealous!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ISTIRAHATLAH KATA-KATA Review

“Action speaks louder than words, except mine, my words are pretty awesome.”

 

istirahatlahkatakata-poster

 

Untuk sebuah film yang judulnya menyuruh kata-kata tidur siang, Istirahatlah Kata-Kata benar-benar punya sepatah dua patah sesuatu untuk disampaikan. Dan dia enggak bohong, kata-kata bisa ongkang kaki, sebab film ini adalah selebrasi dari tutur visual. Segala yang terpampang di layar berkoar bahasa sinematik, mengajak setiap pasang mata yang menonton untuk mengalami langsung apa yang sedang berusaha untuk diceritakan.

Action speaks louder than words. Kecuali kata-kata Wiji Thukul. His words are pretty awesome. Buktinya puisi-puisi karangan penyair asal Solo ini sukses bikin rezim Orde Baru Suharto ketakutan. Puisi-puisinya yang tentang rakyat kecil, mengobarkan semangat kebangkitan. Baca saja karya yang berjudul Peringatan. Namun itu belum cukup, kita tidak bisa mengubah dunia dari depan komputer – atau mungkin mesin ketik, di jaman Wiji Thukul merangkai kata. Jadi dibentuknya Partai Rakyat Demokratik (PRD) sebagai aksi langsung menuntut demokrasi. Dan jadilah Wiji Thukul sebagai pelanggar hukum, kala itu tidak boleh ada partai keempat. Wiji Thukul hidup sebagai buronan militer, dia angkat kaki dari Solo meninggalkan istri dan anak-anaknya.

Oke, sampai di sini marilah kita biarkan film Istirahatlah Kata-Kata mengambil alih kisah kehidupan seorang Wiji Thukul. Karena film tersebut menceritakan celoteh sejarahku di atas dengan jauh lebih efektif dan simpel; cukup lewat satu adegan kompor dengan teks singkat di atas gelegaknya. Mulai dari sini, biarkanlah film membawa kita menyimpang sedikit dari ranah sejarah, sebab ini bukanlah biografi, apalagi dokumenter. Sutradara Yosep Anggi Noen tidak membuat film ini sebagai sebuah rangkuman peristiwa sejarah. Ini adalah sebuah drama kemanusiaan dengan pendekatan rather psychological; a very closed look tentang gimana KEHIDUPAN SESEORANG DI DALAM PELARIAN. Gimana keterasingan slowly consumed him, dan juga dampaknya terhadap orang-orang yang ia cintai, sebelumnya akhirnya Wiji Thukul akhirnya benar-benar menghilang tanpa bekas. Seperti bunga yang dicabut dari akarnya kemudian ditiup oleh angin.

Ouija Too Cool …. Oke, I’m a seven-year old :3
Ouija Too Cool …. Oke, I’m a seven-year old hhihi

 

This is a really contained film. Peran-peran yang ada ditulis dan dimainkan dengan sungguh real. Percakapan mereka adalah percakapan yang benar terjadi, kita bisa dengar obrolan di warung kopi seperti apa. The way they react to things juga sangat manusiawi. Sebagai Wiji adalah Gunawan Maryanto (aku serius jadi penasaran beliau cadel beneran atau enggak, karena aku gasempat merhatiin waktu diajar nulis tahun lalu), kita bisa merasakan sembunyi-sembunyinya, takut-ketahuannya. There’s this one scene yang real-ironis yaitu saat hal pertama yang secara spontan Wiji tanyain ke pemilik rumah tempat dirinya ‘ngumpet’ adalah apakah ada pintu lain kalo-kalo dia perlu kabur mendadak. Sebagian besar waktu, emosi para tokoh ini ditahan-tahan, yang as the story goes semakin memuncak. Wiji Thukul dan Sipon, istrinya, ultimately akan dapet momen ketika semua emosi tersebut terlepas, dan film ini ngehandlenya dengan baik sehingga jadi sangat powerful. Sipon (Marissa Anita mirip-mirip Renee Young yang di Smackdown enggak sih, wdyt?) actually dapat dua adegan emosional yang berhasil terdeliver dengan menggugah.

“Kalah terus, ya tidur!” Masalahnya, bagi Wiji, adalah dia tidak bisa tidur. Di sinilah letak betapa efektifnya film ini menggambarkan isolasi. Hidup sebagai buronan adalah hidup yang gelisah. Kata-kata Wiji boleh beristirahat, sementara dirinya sendiri menjadi restless. Di bis, dia noleh-noleh ke belakang. Makannya enggak lahap oleh suara-suara di luar. Di dalam kamar tumpangan di Pontianak, ada saja yang membuat Thukul tidak bisa menidurkan matanya. Dan kerja film ini pun sama efektifnya ketika menutup cerita dengan membiarkan pintu kecemasan terbuka lebar; Begitu dia sudah bisa tertidur, when he finally embrace his status, dia malah mendapati istrinya menangis, dan kita tidak melihat Thukul lagi semenjak dia masuk ke dapur.

 

Arahan luar biasa ‘dekat’ dari sutradara Yosep Anggi Noen memastikan adegan-adegan menggandeng tangan kita melewati segala yang dirasakan oleh tokoh yang terlibat. Pace film sengaja dibuat lambat supaya semua emosi tersebut bisa perlahan menghujam ke dalam rasa kita. Ambil adegan pembuka sebagai contoh; a still-shot seorang polisi yang berusaha mengorek informasi dari anak Wiji, namun ada begitu banyak kejadian yang bisa kita rasakan. Lihat saja betapa ‘sibuk’nya actually satu adegan tersebut. There’s so much things and emotions happening there. Adegan tersebut juga sukses jadi pengantar yang perfectly ngeset mood keseluruhan film. Bahwa FILM INI SENDIRIPUN BERBICARA LEBIH BANYAK DARI SEKADAR LEWAT KATA-KATA.

Rahasianya terletak pada gimana sutradara Yosep Anggi mengontruksi adegan-adegan tersebut. Tata letak, komposisi, bahkan jarak kamera, dimainkan dengan sangat precise sehingga tak sekalipun kita merasa terlepas dari seolah ikutan duduk langsung di dalam layar. Not even ketika editing memisahkan shots dengan lumayan kontras. Everything was so on-point, everything was so in-the-moment. Makanya dalam film ini ada banyak sekali adegan-adegan yang memorable. Malahan, semuanya terhampar unik, kalian tahu, aku tidak bisa memilih favorit di sini. Adegan potong rambut, adegan lukisan The Last Supper, adegan ABRI main bulutangkis. Semuanya sungguh beautiful. Satu sama lain, semua adegan tersebut, dirangkai dengan tepat dan cermat. It’s LIKE A POETRY on its own, you know. Dan mungkin memang begitulah adanya. Dalam film ini majunya narasi kerap diselingi oleh voice-over pembacaan puisi oleh Wiji Thukul sembari kita menatap suguhan interpretasi visual dari bait-baitnya.

Di atas itu semua, kualitas teknikal yang paling menonjol buatku adalah ketidakhadiran musik. Nyaris keseluruhan film dihidupkan hanya oleh suara-suara asli; derap sepatu, siulan, bebunyian ekosistem malam , yea sound design film ini sangat awesome. Ini adalah langkah filmmaking yang sangat berani, mempercayakan sepenuhnya kepada emosi penonton untuk merasakan apa jujur terasa. Kecuali saat adegan di closing, tidak ada musik yang mendikte kita harus merasakan apa. Tidak ada musik yang menyuruh kita kapan musti takut, kapan musti gelisah, kapan musti tertawa. Ketika ada seseorang yang mengungkapkan emosinya, tidak ada suara musik yang mengiringi, tidak ada yang bilang “hey ini lagu sedih, maka kalian harus merasa sedih.” Makanya meskipun bidikan disetup sedemikian rupa – Yosep Anggi menjamin setiap yang tertangkap kameranya (bahkan yang keluar dari frame) memiliki makna – emosi film ini terasa compelling dan real. Karena kita dibuat seolah mengalaminya, alih-alih sekedar menonton.

Begitu jualah tampangku on a picture day
Begitu jualah tampangku on a picture day

 

Sebagai period-piece, set film ini juga tampak sama realnya. There’s no way orang bisa salah mengidentifikasi film ini, no matter mereka mengenalnya dengan judul Solo, Solitude atau Istirahatlah Kata-Kata. Aspek budaya lokal menguar kuat, bukan hanya sebagai penanda jaman, namun juga sebagai simbol yang turut berkontribusi ke dalam adegan-adegan filmnya yang bak puisi. Kalo mau dibandingan, film ini kayak gabungan aspek-aspek positif yang dimiliki oleh Athirah (2016) dan Terpana (2016).

Cukup lucu gimana pembangunan film ini bertolak belakang dengan pembangunan negara yang jadi salah satu kritikan Wiji Thukul pada masa itu. Kontruksi film ini dilakukan Yosep Anggi Noen sedemikian rupa, memperhatikannya secermat mungkin agar bisa dinikmati oleh penonton; supaya penonton bisa ikutan mengalaminya. Sedangkan pembangunan negara beneran, also masih relevan sampai sekarang, seringkali malah kita-kita yang dibangun yang tidak dapat menikmatinya.

 

 

Dalam usahanya mengistirahatkan kata-kata, however, film ini masih terdengar sedikit cerewet. Simbolisme kadang datang terlalu in-our-face; misalnya pada adegan The Last Supper, film merasa perlu untuk benar-benar ngeclose up lukisan alih-alih membiarkan kita menemukan sendiri fokus adegan tersebut. Ekposisi kejadian sejarah mungkin bisa dimaafkan karena memang perlu dan film ini meniatkannya sebagai informasi latar saja. Namun pada beberapa dialog, film ini seperti meragukan kemampuan penonton dalam mendeduksi arti suatu adegan. Film akhirnya turun tangan dan menjelaskan apa yang dialami karakter dengan dialog yang gamblang. Adegan terakhir saat Sipon sepertinya bisa lebih kuat jika Siponnya cuma menangis, sebab at this point kita tentu sudah bisa menyimpulkan sendiri gejolak gundah mereka.

 

 

 
Sebuah film yang paham what it takes to be humane. Berucap banyak lewat visual yang dikonstruksi layaknya puisi. Arahan yang luar biasa, penampilan yang seragam meyakinkan. Gimana film ini diambil, gimana setiap adegannya tercipta, filmmaking yang seperti inilah yang dibutuhkan dunia perfilman yang makin sekarang makin condong ke arah produk jualan. In a way, kita bisa bilang film ini melakukan pemberontakan, kayak Wiji yang melarang Sipon ngambil Koka-Kola. Ini adalah selebrasi tokoh Wiji Thukul. Ini adalah perayaan buat bahasa sinematik visual. Dan dalam kapasitasnya sebagai media bercerita, film ingin memastikan pesan ini sampai ke semua lapisan: kata-kata belum binasa, they just go out and take some action!
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for ISTIRAHATLAH KATA-KATA/SOLO, SOLITUDE.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.