RAMPAGE Review

“Human beings are the only species capable of deceiving themselves and other people.”

 

 

Bagaimana cara membuat kota porakporanda dan manusia dicabik-cabik hewan-hewan raksasa menjadi sebuah tontonan yang fun dan enggak bikin trauma? Itulah tantangan yang dihadapi Brad Peyton ketika dia menyutradai film yang diadaptasi dari video game klasik yang pertama kali muncul di mesin arcade yang masih pakai koin. Rampage di PS, dulu jadi salah satu kaset favoritku untuk menghabiskan waktu pas puasa. Bermain Rampage, gamer akan bersenang-senang sebagai manusia yang berubah menjadi monster karena eksperimen, dengan misi utama mengamuk menghancurkan gedung-gedung, menepuk helikopter tentara layaknya lalat, sambil sesekali menyantap manusia untuk menambah nyawa. Dan hal itu jualah yang pastinya dicari oleh gamer dan orang-orang yang pergi membeli tiket film Rampage; demi ngelihat aksi seru para monster.

Tapi tentunya bikin film panjang yang isinya melulu monster hancurin gedung dapat dengan cepat menjadi monoton. Kita bakal bosan juga. Brad Peyton paham film yang baik harus punya hati, harus lekat ke penonton. Jadi dia nge-grounded film dengan cerita berbasis persahabatan manusia dengan binatang. Dwayne Johnson berperan sebagai Davis Okoye, ahli primata di sebuah penangkaran. Dia jadi begitu akrab dengan gorilla albino yang dulu ia selamatkan dari kawanan pemburu liar. ‘Begitu akrab’ sepertinya memang agak mengecilkan, karena Okoye dan George si gorilla ini benar-benar punya hubungan yang unik. Mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat, mereka saling ngeledek sebagai cara menunjukkan rasa peduli. Okoye dan George udah kayak abang adek deh. Eventually, George terkena dampak dari kapsul eksperimen yang jatuh dari satelit. Bersama seekor serigala dan buaya, George membesar, menjadi beringas, termutasi, dan oleh akibat ulah pimpinan eksperimen yang ingin mengambil sampe mereka buat diduitin, tiga monster ini terpanggil pergi ke Chicago. Menghancurkan apapun dalam perjalanan. Membuat bule-bule di sana teriak stress. Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan kota adalah Okoye, karena dia mengenal George, dan tentu saja dia berharap dia masih bisa menyadarkan sobat berbulunya itu menjadi seperti sedia kala.

Okoye lebih suka bergaul dengan binatang dibandingkan dengan manusia. Sedari babak awal kita diperlihatkan gimana Okoye biasa-biasa aja ketika cewek yang ia bimbing menunjukkan ketertarikan. Ketika ditanya “Lo aneh banget sih?” Okoye menjawab enteng bahwa binatang lebih mudah dipercaya. Dan itu benar adanya. Walau memang ada juga binatang yang mengenal konsep bohong, namun mereka melakukannya demi survival. Tidak seperti manusia yang demen berbohong untuk memanipulasi, untuk mencari keuntungan semata. Kita bahkan menipu diri sendiri bila perlu. Binatang harus belajar dulu baru bisa bohong. Sebaliknya, manusia; yang musti kita pelajari justru adalah bagaimana cara untuk jujur.

The Rock di sini bukan People’s Champion, melainkan Animal’s Champion

 

Bobot cerita begitu sepertinya dinilai terlalu besar dan memberatkan apa yang mestinya menyenangkan. Jadi, Peyton sekali lagi memutar otak; maka akhirnya ia menjadikan Rampage sekaligus sebagai dumb action movie. Adegan pengenalan tokoh yang cool tadi, di mana The Rock ngobrol ama gorilla, seketika menjadi receh berkat gestur jari kurang ajar yang dilayangkan oleh George. Dan kita tertawa. Untuk kemudian lebih banyak lagi makian dan sumpah serapah yang menyusul; film ini dikasih PG-13 bukan hanya karena ada potongan tubuh. Dan kita tertawa. Merasa belum cukup, film membuat kematian orang-orang karena dampak dari serangan monster-monster tersebut sebagai bahan becandaan, kematian massal bukanlah hal serius dalam film ini. Dan kita juga tertawa.

Inilah masalah kenapa film adaptasi video game itu seringkali berkualitas di bawah garis ‘lumayan’. Karena pembuat filmnya enggak mengerti apa yang membuat video game yang mereka adaptasi begitu digandrungi. Point dari gamenya biasanya jadi hilang, atau dipindahkan. Mereka menambahkan hal-hal yang bahkan tidak diminta oleh penggemar video gamenya. Tomb Raider (2018) adalah pengecualian, film itu benar-benar terasa seperti video gamenya, baik dari aksi maupun cerita.

 

Tidak ada yang mengharapkan cerita dalem sekelas Oscar dengan karakterisasi berlapis-lapis ketika menonton Rampage. Tapi, toh, ceritanya berusaha menggali lebih, setelah mengganti elemen aslinya. Kemudian mereka menambahkan elemen konyol supaya terlihat menyenangkan. Kenapa mesti mengganti sedari awal coba? Seperti  yang kita tahu, dalam video game, monster-monster itu adalah manusia yang berubah karena eksperimen yang gagal. Di film ini, mereka menggantinya menjadi binatang liar, kecuali George. Bukankah versi yang manusia mestinya sudah punya kedalaman cerita jika difilmkan; akan ada dilema moral yang menarik ketika kita ingin membunuh monster yang membuat kerusakan ketika kita tahu tadinya dia adalah manusia yang jadi korban eksperimen? Gak perlu repot-repot mengganti lalu menambah ini itu, kan. Atau kalolah tantangan yang pembuat film ini cari, kenapa mereka gak sekalian aja membuat George menjadi tokoh utama – dia kan dibuat punya perspektif sebagai gorila yang dibesarkan dan ngebond sama makhluk yang satu spesies dengan yang membunuh ibunya, dan kemudian dia dapat kekuatan yang basically membuat kelangsungan spesies itu ada di tangannya yang jadi segede mobil. Tapi enggak. Film lebih memilih untuk menjadi generik, dengan memancing unsur fun di tempat yang gak bener.

Dialog film ini parah banget. Lelucon yang dilontarkan jatuh di antara klasifikasi ‘garing’ dengan ‘miris’. “Dijadiin asbak seseorang” adalah kalimat favoritku. Tokoh-tokoh manusia film ini lebih terasa seperti tokoh video game ketimbang para monsternya. Sejak dari zaman dia bergulat pake kolor di atas ring, The Rock sudah punya kharisma luar biasa, tapi penulisan film ini membuatnya dia jauh dari sekadar kharisma. Okoye ini manusia fantastis yang selamat dari apapun.  Jatuh dari helikopter, terjun bebas dari gedung yang runtuh, ditembak di perut, dia dihajar bertubi-tubi, dan dia ngesold nothing. Makanya kita juga enggak ngerasakan apa-apa. Dia selamat tanpa cedera berarti padahal dia melakukan hal-hal yang mestinya hanya bisa masuk akal di dunia video game. Tidak ada sense realism di sini, dan sementara itu kita diharapkan peduli sama drama yang berusaha cerita angkat. Masalah terbesar film ini memang terletak di penulisan. Enggak bisa setengah-setengah, jadinya bakal keteteran, Tokoh yang diperankan Naomi Harris misalnya, tidak banyak yang ia lakukan selain berlarian dengan tampang bingung sambil bertanya apa yang harus dilakukan selanjutnya kepada Okoye. Si Okoye ini memang bisa apa saja. Rencana yang ia bikin di menit-menit terakhir selalu berhasil. Hampir seluruh bagian aksi film dilakukan dengan formula demikian.

Tiga dari empat tokoh ini tidak pernah disebut dan kelihatan lagi setelah babak pertama berakhir

 

Rampage memutuskan untuk bermain-main dengan tokoh manusia. Mereka dibuat gede hingga gak make sense. Padahal aku suka loh sama desain monsternya. Serigala yang punya selaput sayap, gorila putih, yang paling keren adalah monster buayanya. Bagian terbaik dari film ini mungkin adalah Jeffrey Dean Morgan sebagai agen FBI yang aktingnya maksimal, meski sebenarnya tokoh yang ia perankan hanya device untuk memfasilitasi tokoh utama. Bagian terburuknya? Aku bilang, duo penjahatnya. Mereka dibuat begitu culas, dan mereka komikal banget – sampe ke penampilannya. Yang cewek akan mengenakan gaun merah di akhir cerita, hanya supaya kita bisa bernostalgia dengan video gamenya; actually di game akan ada cewek bergaun merah yang bisa kita makan sebagai bonus optional. Film butuh alasan yang menjadi sumber dari eksperimen ilmiah yang jadi sumber kekacauan, jadi kita dapat dua orang yang mengepalai proyek tersebut. Dua orang ini enggak peduli sama apapun, motivasi mereka totally uang, dan kita sering banget dicutback melihat mereka menyusun rencana jahat, yang sebenarnya konyol.

Dalam usaha terakhir mengaitkan film dengan video game, kita dicekoki sebuah easter egg, dengan harapan kita girang saat melihatnya. Di kantor si duo penjahat, kamera akan memperlihatkan adegan dengan mesin arcade Rampage di latar belakang. Selalu senang rasanya melihat referensi, namun alangkah baiknya kalo referensi tersebut punya hubungan atau digunakan secara paralel dengan cerita. Sebab apa yang dilakukan film ini hanya sebatas meletakkannya di sana. Kenapa ada mesin game di kantor itu? Apa mereka menciptakan eksperimen karena terinspirasi game? Kalo gitu, wah hebatnya kebetulan yang terjadi, nama-nama monster di game dan di dunia mereka sama! Wow magic….

 

 

 

Film ini adalah definisi dari ‘film popcorn’. Seru, tapi enggak benar-benar meninggalkan bekas. Enak untuk ditonton, namun kita akan dengan cepat melupakannya, begitu film serupa datang. Dalam kasus film ini, ceritanya punya unsur drama yang emosinal hanya saja diceritakan dengan sangat cheesy. Tokoh-tokohnya membuat keputusan di menit terakhir yang dengan sukses menyelamatkan mereka. Padahal yang ingin kita lihat adalah monster menghancurkan kota. Memang, kita mendapatkan itu di babak terakhir. Akan tetapi, untuk sampai ke sana, kita harus melewati cerita generik yang membuat kita terombang ambing antara drama dengan lelucon maksa, yang bahkan tidak benar-benar membuat kita teringat akan karakter video gamenya. Adaptasi video game itu susah, dan ini salah satu contoh gagalnya.
The Palace of Wisdom gives 4.5 gold stars out of 10 for RAMPAGE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

ARINI Review

“… you fall in love with love itself because it touches places that nothing else has before.”

 

 

Bayangkan ada dua buah kereta api yang berjalan barengan dari stasiun. Mereka melaju dengan rel yang saling paralel, saling sejajar. Ketika yang satu berbelok, maka yang lain juga ikut berbelok. Kau adalah penumpang yang pernah naik di salah satunya, dan sekarang kau memilih naik kereta yang lainnya. Tentu saja, apa yang kau alami di kereta yang sekarang akan mengingatkanmu ketika pertama kali naik kereta yang lain. Begitulah penceritaan film Arini. Editingnya yang precise membuat kita berpindah-pindah di antara dua kereta, tanpa sekalipun kita terlepas ketinggalan emosi. Dua kereta itu bernama Kereta Masa Lalu dan Kereta Masa Kini. Dan kau yang duduk tadi, kau adalah Arini. Cewek tiga-puluh-delapan tahun yang tak bisa menghindari masa lalunya ketika ia duduk menumpang kereta api yang jaraknya beribu kilo dari kereta api yang telah menghantarkannya dalam sebuah perjalanan traumatis dalam hidup.

Cerita terus terbangun, apa yang ditemui Arini dalam keretanya yang sekarang, membuatnya teringat akan masa lalu, dan semua itu diceritakan dengan paralel. Ketika Arini diajak kenalan sama berondong, dia membawa kita melihat masa ketika ia dijodohin sama mantan suaminya. Ketika si Berondong Nekat ngajak Arini jalan, Arini mengenang saat-saat dia berbulan madu. Dan editing seperti ini membuat sebuah pengalaman menonton yang mengcengkeram erat Kita tahu ada yang gak beres dengan masa lalu Arini, kita penasaran ingin tahu kenapa Arini yang kini bersikap begitu jutek. Film berhasil membenturkan dua versi Arini lewat bahasa visual yang bahkan tidak perlu menjelaskan mana yang terjadi di waktu sekarang, mana yang kejadian di ingatan.  Dari rambut Arini saja, aku suka treatment khusus yang dilakukan oleh film ini. Rambut diikat, sebagai kontras dari rambut yang tergerai itu saja sudah menambah kedalaman lapisan buat tokoh Arini. Gimana dia yang dulu mau membantu mengangkat koper orang, sedangkan Arini yang sekarang diminta bantuan ngetuk kaca jendela saja ogah luar biasa.

film ini akan ngasih tahu sebab kenapa kita seharusnya tidak sekalipun mengaktifkan speaker saat menelfon.

 

Perspektif Arini adalah poin menarik yang jadi fokus pada film ini. Konteksnya adalah Arini enggak siap ditabrak oleh kereta cinta yang baru. Oleh cerita, Arini dipertemukan dengan Nick, mahasiswa berusia dua-puluh-tiga tahun yang seketika jatuh cinta dan terus menempel Arini. Gol utama cerita adalah menjawab pertanyaan akankah Arini dapat mengenali atau menerima cinta lagi setelah kejadian horrible yang ia lalui di masa lalu. Masalah Arini ini berakar kepada kepercayaan; orang yang ia kenal dibentrokkan dengan orang yang sama sekali asing baginya. Arini tidak tahu siapa Nick. Dia anak mana, hidupnya bagaimana, seujug-ujug mereka kenalan (itu juga Nicknya maksa), dan sejak saat itu Nick selalu hadir di kehidupan Arini – diminta atau tidak. Dan karena cerita ini mengambil sudut pandang Arini, kita juga hanya tahu apa yang Arini tahu – kita tidak diberikan back story siapa Nick. Keasingan tokoh Nick adalah elemen penting buat cerita. Menyebabkan film ini sedari menit awal sudah terjun mengambil resiko. Karena, ya, kekurangan cerita latar – terlebih untuk kisah romansa dua insan manusia – itu bukan resep membuat film yang bagus.

Cinta adalah belajar mengenal orang asing dengan lebih dalam. Semua orang adalah asing bagi kita, sampai kita membuka diri untuk mengenal mereka. Buat sebagian orang, hal tersebut bisa menjadi pengalaman yang menakutkan. Makanya hal itu juga berlaku sebaliknya. Orang yang kita cintai dapat dengan cepat kembali menjadi orang asing jika kita sudah terluka dan menutup diri kepadanya.

 

 

Tentu saja, Nick adalah tokoh yang sangat gampang untuk disukai. Dia ceria, jenaka, penuh semangat hidup. Muda pula. Terlebih jika tokoh utama yang kita punya adalah cewek dewasa yang cembetut melulu, dia begitu pesimis dia menyebut dirinya nenek-nenek. Bentrokan antara sifat dan karakter mereka pun tak pelak menghasilkan tukar-menukar kata yang menarik, yang manis. Tengok saja usaha Nick untuk membuat Arini tersenyum. Penonton cewek pasti meleleh ke lantai dibuatnya. Mungkin juga ada yang geregetan. ‘Dinding’ yang dibuat oleh Arini memang kerasa, beberapa bisa saja menafsirkan ini sebagai kekurangan chemistry antara Aura Kasih dengan Morgan Oey, tapi buatku ini adalah hasil dari permainan emosi yang genuine dari dua pemeran. Aura Kasih di sini bermain meyakinkan sebagai orang yang sangat tertekan, dia juga begitu tertutup, kelihatan jelas dia rapuh tapi berusaha untuk kuat. Bukan hanya itu, actually Aura Kasih dituntut untuk menampilkan emosi yang berentang jauh – Arini yang ia perankan udah kayak dua orang yang berbeda sifat, dan bukan hanya tepat di dua-dua tone emosinya, Kasih juga sukses ngedeliver di momen-momen transisi karakter Arini. Nick, sebaliknya, keseluruhan film ini bisa berganti menjadi menyeramkan jika tuas karakter Nick salah senggol sedikit aja. Dan untuk itu, aku kagum juga banyak yang mengoverlook Nick sebagai karakter yang creepy, aku pikir kharisma Morgan Oey cukup berpengaruh di sini.

Ketika Dilan tahu nomor telepon dan alamat rumah Milea, kita dengan enggak banyak pikir, bisa langsung mengasumsikan dia mungkin bertanya kepada teman-teman sekelas yang lain. Dalam film Arini, walaupun Nick sudah mengakui dan menjelaskan darimana dia tahu tempat tinggal Arini, meskipun kita sudah tahu kepentingan Nick dibuat sebagai orang yang begitu asing, tetap saja terasa ada sesuatu yang off. Maksudku, gimana bisa kita mempercayai Nick? Darimana kita tahu kalo kejadian di pembuka film – yang dia minta tolong Arini kabur dari kondektur kereta – bukan bagian dari modusnya untuk kenalan sama Arini? Gimana kalo ternyata dia udah nguntit dan ngincer Arini dari sebelum film dimulai, coba? Sinopsis resmi film ini menyebutkan Nick jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arini, namun cerita actual film tidak membuatnya tampak demikian. Melihat Arini yang begitu dingin terhadapnya, dugaan bahwa jangan-jangan Nick jadi jatuh cinta karena penasaran terus dicuekin  itu masih sering bersarang di kepala kita. I think, backstory bisa saja sengaja enggak dibeberkan, akan tetapi alasan kenapa Nick ngebet sama Arini tetap harus dijelaskan. Makanya, adegan Arini menampar Nick itu harusnya masih bisa terasa lebih kuat lagi; kita mengerti Arini, tapi kita enggak ngerti Nick.

“stop being so mean to me, or I swear to God I’m gonna fall in love with you”

 

Film sepertinya memang tidak malu-malu menunjukkan bahwa mungkin saja mereka hanya tergerak oleh nafsu. Bahkan ada indikasi tokoh film ini enggak benar-benar belajar; eventually, aku akan bahas ini di bawah. Right now, aku mau menyinggung salah satu elemen yang hilang sehubungan dengan tokoh Nick. Yakni tidak adanya konsekuensi. Inilah yang menyebabkan film ini terasa ‘salah’. Ada banyak tindakan Nick yang termaafkan begitu saja, yang lagi-lagi merugikan buat Nick. Alih-alih tokoh pasangan, Nick seperti lebih kepada sebuah tokoh yang jadi alat semata bagi perkembangan Arini. Arini butuh Nick untuk belajar bagaimana kembali membuka hati dan membiarkan cinta masuk ke dalam hidupnya. Arini butuh Nick untuk berani mengonfrontasi masa lalu. Kita dapat melihat gimana Arini ada rasa sama Nick. Believe me, I know. Nick basically ngancem nunggu di depan pintu apartemen dan gak kena ganjaran apa-apa. Aku pernah nekat juga nungguin di pintu depan apartemen orang, dan belum genap dua jam aku udah dipanggilin satpam.

Maka dari itu, sejatinya Arini bukanlah film romansa, setidaknya bukan antara cowok dan cewek. Melainkan adalah tentang cinta antara seorang wanita dengan cinta itu sendiri

 

 

Nick sempet kesel Arini selalu mengungkit masalah jarak umur mereka. Umur mereka terpaut literally satu orang Dilan. Dan untuk urusan umur ini, aku setuju sama Nick. Kenapa sih film membuat mereka berbeda umur begitu jauh? Tidak seperti keasingan Nick yang kita paham signifikannya terhadap cerita, perbedaan umur Arini dan Nick tidak tampak menambah banyak bagi perkembangan karakter Arini. Pun tidak terasa paralel dengan elemen Arini yang takut untuk jatuh cinta kembali. Selain digunakan untuk lucu-lucuan ‘tante dengan keponakan’, hanya ada satu adegan yang mengangkat masalah ini ke permukaan, yaitu saat adegan makan malam dengan keluarga Nick. Actually aku berpikir cukup keras perihal umur ini, masa iya sih umur mereka dibuat jauh cuma supaya Arini ada alasan nolak Nick. Apa sih yang ingin dicapai cerita dengan membuat mereka berbeda usia dengan jauh, meski 23 dengan 38 itu juga enggak ekstrim-ekstrim amat. The best that I can come up with adalah mungkin film ingin menegaskan bahwa Arini kehilangan cinta dan dirinya saat ia kehilangan anaknya. Maka ia menemukan kembali apa yang hilang dari dirinya saat ada anak yang menemukannya…? Emm… yah anggap saja begitu dah.

 

 

 

Cerita berjalan mantap sesuai pada rel konteksnya. Ada eksposisi di akhir yang menerangkan jawaban-jawaban pada plot seolah kita tidak bisa menyimpulkan sendiri, toh film ini akan tetap terasa menyenangkan karena formula tokoh dan hubungan mereka yang benar-benar likeable. Tapinya lagi, at the end of the track, tokoh utama film ini tidak belajar dari masa lalu. Dia tetap jatuh ke orang yang tak ia kenal sama sekali sebelumnya, tanpa ada usaha untuk mengenal orang tersebut. Di masa lalu, ia menikah dengan orang yang dijodohkan oleh sahabatnya. Di masa kini, ia jatuh cinta dengan stranger di kereta, malahan ada satu adegan ia pengen mangkir dari pertemuan dengan keluarga pacarnya. Film ini menyatukan masa lalu dan masa kini dengan mulus, hanya saja tidak berhasil melakukan hal yang serupa terhadap dua gerbong aspek ceritanya. Karena memang tricky untuk disatukan; di satu sisi ada romansa, satunya lagi ada kepentingan untuk membuat pasangannya dibiarkan tak banyak dibahas. Aku jadi penasaran sama materi asli cerita ini (novel dan film jadulnya), jangan-jangan di cerita aslinya Nick dan beda umur itu memang cuma device saja namun film adaptasi ini memutuskan unuk menjadikannya sebagai vocal point.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ARINI.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

#TEMANTAPIMENIKAH Review

“Happiness is being married to your best friend.”

 

 

“Kalo lo sampe suka sama gue, gue musuhin lo seumur hidup.” Seketika ucapan Ayu tersebut menjadi stake buat Ditto dalam film #TemanTapiMenikah. Ditto sudah suka sama Ayu semenjak masih menontonnya di televisi, dan sekarang, setelah mereka bersahabat – Ditto beruntung banget bisa satu sekolah, satu meja ama Ayu – Ditto ingin keluar dari friendzone dan actually mengungkapkan perasaannya. Tapi tentu saja enggak segampang itu. He has to bide his time. Ditto bisa saja terus jadi sahabat Ayu, tapi membiarkan cinta tidak terucap jelas adalah jalan tercepat menuju hati yang berat. Akan tetapi, bagaimana jika Ditto menyatakan cinta, hubungan mereka malah jadi awkward? Bisa-bisa mereka jadi gak temenan lagi

Akan susah sekali untuk kita hanya bersahabat dengan orang yang kita cintai, karena hati pasti akan menuntut.Di lain pihak, tidak ada yang lebih membahagiakan di dunia daripada menikahi sahabat terbaik yang sudah mengerti dan memahami kita sebagaimana kita mengerti mereka.

 

Film berdasarkan kejadian nyata ini tricky untuk dibuat karena kita sudah tahu endingnya bakal gimana. Ayudia Bing Slamet dan Ditto adalah figur yang sudah cukup dikenal, mereka berkecimpung di dunia pertelevisian, jadi sebagian besar penonton film ini pasti sudah tahu bahwa mereka menikah dan sudah punya anak. Bahkan buat yang belum pernah mendengar kedua nama itupun, judul film ini sudah memberikan informasi mengenai bagaimana akhir kisah mereka. Jadi, stake yang ada pun sebenarnya non-existent. Makanya, film ini menjadikan penampilan akting serta chemistry kedua tokoh sentralnya sebagai senjata untuk membuat kita betah duduk menonton.

it is not a spoiler, it is a result!

 

#TemanTapiMenikah paham untuk memainkan kekuatan dari para aktornya. Adipati Dolken selalu terbaik dalam meng-tackle peran yang less-serious. Dan Vanesha Prescilla enggak bisa nangis. Cerita memang sedikit menampilkan porsi yang emosional. Sebagian besar waktu kita akan melihat gimana Ditto dan Ayu mengarungi kehidupan remaja mereka yang tentu saja diwarnai dengan putus nyambung berpacaran. Not with each other. Dan build up menjelang kebersamaan inilah yang dimainkan alur cerita dengan baik. Ditto awalnya mencoba untuk menjadi pasif-agresif; Ayu pacaran sama kakak kelas, maka Ditto juga menjadikan playboy sebagai merek dagangnya di sekolah, untuk membuat Ayu cemburu. Semua yang dilakukan Ditto memang demi Ayu, dia nekuni alat musik perkusi, dia nabung buat beli mobil, sampai akhirnya dia juga jadi nongol di televisi, semua berlandaskan cintanya kepada Ayu. Tapi Ayu tidak pernah tahu. Dan mereka berdua ini deket banget, kesukaannya sama, gaya bercandanya sama, jahilnya sama. Inilah yang bikin kita geregetan sendiri melihat hubungan mereka. Mereka tampak seperti orang-orang yang kita kenal, yang kita tahu sebenarnya saling cinta tapi toh mereka enggak gerak-gerak.

Sementara lewat perannya sebagai Ditto Dolken membuktikan kenapa dia masih salah satu pilihan yang tepat jika menginginkan penampilan tokoh muda yang mengundang simpati, Vanesha juga menunjukkan masa depan yang cerah. Masih banyak yang bisa kita tunggu dari penampilan aktris muda ini, karena sejauh ini dia belum dapat peran yang benar-benar menantang range emosinya. Ayu luwes, cuek, dan punya karakter yang kuat, hanya saja tidak banyak berbeda dari remaja kebanyakan. Pekerjaannya sebagai aktor dan model juga tidak berbeda jauh dengan keseharian Vanesha; dia bermain lebih baik di film ini, tetapi tidak banyak tantangan pada perannya. Soal chemistry, Vanesha dan Dolken menguar percik-percikan yang meyakinkan. Untuk penggemar Gadis Sampul sepertiku, dalam film ini akan ada momen yang bikin menggelinjang karena di sini actually ada 2 alumnae Gadsam yang bermain. Aku gak yakin, tapi seingatku, terakhir kali aku melihat Diandra Agatha dan Vanesha Prescilla bersama adalah saat malam final angkatannya Vanesha, di mana Andra berseliweran di antara Vanesha dan teman-teman yang deg-degan sambil membawa mahkota Gadsam saat pengumuman pemenang.

Ketika banyak orang yang membandingkan film ini sama Dilan 1990 (2018) karena pemeran dan ph pembuatnya sama, aku malah teringat sama Star Wars: Episode II – Attack of the Clones (2002) saat menyaksikan Ditto dan Ayu. I mean, aku jadi kepikiran Anakin yang sebagai Jedi, dia gak boleh jatuh cinta. Akan tetapi, cerita malah membuat dia harus berada di samping Padme (yang kostumnya semakin akhir film semakin kebuka); Anakin harus menemani Padme ke tempat-tempat indah, sehingga perjalanan mereka basically adalah perjalanan paling romantis yang bisa dilalui oleh dua orang yang gak seharusnya jatuh cinta. Ditto dan Ayu juga begitu, stake yang ada pada film adalah mereka gak boleh jadian, akan tetapi mereka terus-terusan bersama. Cinta yang terlarang itu memang seru, seksi. Kalo #TemanTapiMenikah adalah film yang lebih serius dan punya lapisan yang lebih dalam, maka film mestinya juga akan membahas perihal cinta yang mereka rasakan. Bukan hanya sekadar turun-naik relationship dan gimana mereka bertindak seputar perasaan tersebut.

aku hampir nyanyi Cups di adegan opening

 

Reperkusinya tentu saja adalah seratus-an menit film ini jadi terasa sekali. Film bermain-main terlalu banyak menuju akhir walaupun mereka tahu kita sudah tahu apa yang bakal terjadi. Terutama pada babak ketiga, di mana Ditto dan Ayu pisah kota dan mereka punya pacar masing-masing. Aku mengerti ini adalah bagian yang lumayan penting bagi narasi. Ini adalah bagian ketika tokoh dilepaskan dari apa yang selama ini ia punya, untuk melihat apakah dia bisa hidup tanpanya, karena buat mengetes apakah kita pantas mendapat sesuatu, maka kita harus dilepaskan dulu darinya – to see apakah kita pantas mendapat apa yang kita inginkan. Ditto dan Ayu dipisahkan supaya mereka bisa melihat dan mengenali cinta. Cerita juga butuh untuk ngebuild up ‘hambatan’, menambah bobot drama, sehingga Ayu tidak langsung menerima Ditto. Tapi tetap saja bagian ini terasa unnecessarily long, karena kita sudah tahu apa ujungnya.

Jadi, menurutku film ini memang semestinya bisa bekerja lebih baik jika eventually menambah pembahasan. Menjadi sedikit lebih serius, meskipun itu merupakan tantangan bagi pemerannya. Selain Ayu, tentu saja Ditto juga harus belajar mengenali cinta. Di titik ini, sebaiknya film mengeksplorasi karakter Ditto lebih dalam seputar dia meragukan perasaannya terhadap Ayu. Menurutku akan menambah lapisan jika Ditto mengalami pergolakan apakah yang ia rasakan benar-benar cinta atau dia hanya cinta terhadap gagasan mereka sahabatan sehingga gak boleh pacaran.  Atau apakah ia hanya menganggumi Ayu karena Ayu artis televisi. Karena siapa sih yang gak punya crush sama  bintang film atau televisi. In that way, film masih menyisakan pertanyaan; sekalipun mereka bersama, apakah benar-benar cinta yang ada di antara mereka berdua. Tentu, semua itu pada akhirnya enggak jadi soal, karena Ditto dan Ayu telah berubah menjadi lebih baik berkat keinginan untuk bersama, namun sebagai sebuah tontonan menurutku semakin berdaging, akan lebih baik.

 

 

 

Meskipun tidak menyuguhkan permasalahan yang baru, ataupun ada permasalahan at all, film ini berhasil menjelma menjadi tontonan yang asik untuk dinikmati karena kedekatan cerita. Aku sendiri juga punya temen sekolah yang enggak disangka-sangka ternyata mereka berdua menikah., padahal satu geng main, dan gak keliatan punya niat pacaran. Tentu saja film ini didukung oleh permainan kamera dan akting dan penulisan yang enggak dibuat-buat. Menurutku menarik betapa televisi punya peran yang cukup besar dalam penyatuan dua insan tokoh cerita kita. Film ini memberikan harapan kepada setiap cinta yang tumbuh malu-malu di luar sana. Kalian yang menyintai sahabat sendiri, jangan khawatirkan pertemanan. Karena kita enggak berteman dengan cinta. Kita menikahinya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for #TEMANTAPIMENIKAH.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

READY PLAYER ONE Review

“Reality is broken, game designers can fix it.”

 

 

Kita berkomunikasi dengan studio film, dengan Hollywood, melalui dompet kita. Mereka mendengarkan kita dari apa yang terjadi kepada Wreck-it-Ralph, Deadpool, It, Stranger Things. Dan Scott Pilgrim, yea, film ini meminjam cukup banyak dari penyelesaian dan aspek pada Scott Pilgrim. Tayangan yang populer selalu adalah tayangan yang berakar kuat pada rerefensi dan nostalgia. Tidak ada yang bisa mengalahkan sensasi kesenangan melihat hal-hal yang kita sukai dihidupkan kembali. Dan tanpa pake loading keraguan lagi, Ready Player One adalah salah satu film paling nerd yang pernah dibuat. Dalam hatiku teriak-teriak senang sepanjang film ini demi ngeliat referensi demi referensi berseliweran. Video game, anime, kartun, film, segala pop-culture terutama dari tahun 1980an senantiasa menghiasi layar setiap framenya, sehingga aku jadi capek sendiri.

Mengambil tempat di kota Columbus di masa depan, Ready Player One melandaskan dunia yang sudah demikian canggih teknologi gamenya sehingga orang-orang, bukan hanya remaja kayak Wade Watts, lebih suka untuk log in dan menjalani kehidupan mereka di dalam Oasis, sebuah semesta virtual reality di mana kita bisa menjadi siapapun, berkekuatan apapun yang kita mau. Oasis diciptakan oleh seorang gamer yang sangat jenius, namun begitu eksentrik sehingga menjadi misterius (bayangkan perpaduan antara Steve Jobs dengan Willy Wonka). Sebelum meninggal dunia, si pembuat ini merancang permainan terakhir di dunia Oasis, di mana dia menyembunyikan tiga kunci entah di mana di dalam jaringan game-game tersebut. Tiga kunci yang jika ditemukan akan menghantarkan pemain mendapatkan telur emas, berupa kontrak yang akan membuat si pemenang sebagai satu-satunya orang yang mendapat kontrol penuh atas Oasis. Tak terhitung jumlahnya gamer yang mencoba memenangkan tantangan ini. Wade, sejumlah temannya, wanita misterius beruser name Art3mys, dan petinggi perusahaan virtual reality yang culas adalah beberapa dari yang menginginkan Oasis untuk kepentingan mereka.

gg, noob, gg.

 

Tentu saja Ready Player One akan sangat luar biasa dari segi visual. Sekuen aksi-aksinya dazzling gilak! Sepertinya tidak ada yang bisa mengalahkan Steven Spielberg dalam memfilmkan suatu adegan sehingga perspektifnya terasa begitu menganggumkan. Bagian balap-balap di sekitar awal film itu adalah bukti yang bisa kita lihat dengan mata kepala langsung. Apa yang mau ia tampilkan kelihatan semua tanpa membuat kita keluar dari konteks sudut pandang tokoh utama, scene blocking yang luar biasa. Dan betapa cepatnya semua itu terjadi, beberapa shot tampak mulus melebus menjadi satu. Belum lagi penggunaan musik dan efek suara yang bertindak lebih dari sekadar latar belakang. Segala teknik filmmaking master itu bisa kita saksikan sepanjang film ini bergulir. Spielberg juga paham dia tidak harus terlalu mengikuti buku ketika mengadaptasi jadi film, lihat saja Jurassic Park nya. Spielberg tahu dia harus melakukan penyesuaian, dan itu pula yang ia lakukan pada film ini. Pembaca bukunya akan menemukan beberapa adegan tambahan yang tidak ada pada source asli dan itu hanya membuat pengalaman menonton menjadi semakin mengasyikkan. Memang, film ini tetap terlalu panjang, babak tiga terasa sedikit diulur-ulur, tapi menurutku masalahnya terletak kepada penokohan yang memang tidak semenakjubkan teknis dan pengalaman sinematis yang disuguhkan filmnya.

Reperkusi dari banjir referensi pop-culture yang kita temukan sepanjang film adalah, filmnya sendiri akan terasa bergantung oleh hal tersebut. Kita akan gampang terbiaskan demi melihat Batman, Ryu, The Shining, motor Akira, Iron Giant, dan banyak lagi, bergantian muncul di layar. Aku gak akan bohong aku terkekeh-kekeh menyaksikan mereka semua. Namun aku juga gak akan bohong, referensi-referensi itu pada akhirnya terasa hambar. Mereka sekilas lewat saja. Sementara yang sebenarnya kita butuhkan adalah koneksi emosional yang bertahan lama, yang membuat kita memikirkan para tokoh cerita.

Secara singkat, beberapa adegan menunjukkan kepada kita kehidupan rumah Wade (Tye Sheridan cocok sekali sebagai nerd yang penyendiri). Dia tinggal bareng bibi dan pacar bibinya yang abusif. Dari momen-momen ringkas itu kita tahu bahwa Wade tidak bahagia hidup bersama mereka, rumahtangga mereka penuh kekerasan dan ancaman, sehingga tentu saja kehidupan di dalam dunia video game menjadi alternative menyenangkan buat Wade. Dia lebih betah sebagai Parzival di Oasis. Nah, karakternya di dalam sinilah yang hampir sama aja dengan gak ada. Parzival enggak mau bikin klan, tapi toh dia punya beberapa orang teman yang rela membantunya menyelesaikan misi di game. Parzival pun bertemu Art3mys (Olivia Cooke main keren banget di sini), dan seketika ia jatuh cinta. Terasa sangat diburu-buru, namun aku bisa mengerti kenapa harus dibuat seperti itu. Wade sangat butuh kasih sayang. Dia dengan cepat ‘jatuh cinta’ kepada gadis pertama yang memberikan perhatian lebih kepadanya, meski mereka belum pernah bertemu, karena sebenarnya itu adalah jeritan minta tolong dari Wade atas betapa mengerikan hidupnya yang asli.

Wade, dan orang-orang yang tinggal di Oasis menggunakan sosok avatar untuk reach out dan mendapatkan teman, sebagai simbol dari kepercayaan diri. Sesuatu yang tidak mereka dapatkan di dunia nyata. Film ini mengeksplorasi kenyataan yang lebih dekat dari yang kita duga; di mana sekarang pun, sosial media dan internet memberikan kesempatan penggunanya – yang kebanyakan adalah anak muda yang masih begitu insecure – untuk mengekspresikan emosi terdalam mereka dalam penyamaran identitas avatar. Tentu saja ini bisa berarti bagus, karena kepercayaan diri yang mereka develop di dunia virtual itu bisa saja terbawa ke diri mereka di dunia nyata. Namun, seseorang harus menyadari bahwa untuk melakukan hal tersebut sesekali dia harus terjun ke dunia nyata, log out dari sosial media, untuk berinteraksi dan sosialisasi beneran. Karena sungguh sebuah hal yang menyedihkan jika kita hanya hidup dan penting di dunia maya.

aku kasihan sih sama adekku, kalo main game bareng, mana pernah dia jadi player one hhihi

 

Dunia yang begini besar tentu akan membutuhkan penjelasan. Dialog-dialog eksposisi memang tidak terhindarkan dalam film ini, karena akan selalu ada peraturan yang harus dijelaskan, ada sistem yang kudu dilandaskan. Namun kupikir semestinya film bisa menggarapnya dengan lebih baik lagi. Lima belas menit awal yang kita dapatkan di sini sungguh berat oleh narasi yang memaparkan alih-alih memperlihatkan. Wade akan menjelaskan Oasis kepada kita, padahal toh dia melakukan itu sambil berjalan di sepanjang daerah tempat tinggalnya. Di mana kita melihat orang-orang sedang log in ke dalam virtual reality tersebut. Kita melihat bocah kecil jadi petinju, seorang ibu rumah tangga jadi penari, pesan yang ingin disampaikan cukup jelas – bahwa dalam Oasis semua orang bisa menjadi apapun yang mereka mau, tetapi tetap saja kita mendengar penjelasan itu dari mulut Wade. Seringkali, dialog-dialog penjelasan seperti ini dihadirkan seolah film menganggap penontonnya bego dan tidak mengerti jika tidak dijelaskan benar-benar.

 

 

 

Video game sejatinya dibuat untuk dimainkan bersama-sama. Menjadikannya sebuah pelarian, sebagai media untuk menyendiri, supaya menang sendiri, jelas sebenarnya adalah sebuah penyalahgunaan. Film ini pada puncaknya berusaha menyampaikan pesan bahwa bergerak bersama, sebagai sebuah tim, sebagai sebuah kesatuan dari lingkaran sosial, adalah kemampuan yang semestinya kita pelajari. Sebuah skill yang mestinya diasah. Sebuah klasik Spielberg yang sangat menyenangkan, meriah oleh referensi pop culture dari 80an, yang semestinya bisa bekerja dalam level yang lebih dalam lagi jika para tokohnya dieksplorasi dengan sama menakjubkannya dengan unsur-unsur teknis yang dimiliki oleh penceritaannya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for READY PLAYER ONE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

DANUR 2: MADDAH Review

“You can’t hide the stench forever”

 

 

Kemampuan melihat makhluk halus mulai mendatangkan dampak buruk bagi kehidupan sosial Risa Saraswati (reprising her role, Prilly Latuconsina siap melakukan tantangan yang diberikan kepada perannya). Kebiasaannya ngobrol, hingga tak jarang histeris ketakutan sendiri di tempat umum, membuat adik kecilnya malu. Inilah yang membuat karakter Risa menarik. Di luar penglihatannya yang tak biasa, terutama sekali Risa adalah seorang kakak. Bagi adiknya, Riri. Bagi hantu anak-anak kecil yang jadi temannya. Risa harus figure out bagaimana menjadi sosok kakak sekaligus teman yang baik terhadap mereka, di saat yang bersamaan. Masalah Risa ditambah pelik oleh panggilan minta tolong dari keluarga tantenya yang baru pindah ke Bandung. Semenjak tinggal di sana, Paman Risa jadi bersikap aneh. Suka mengurung diri di pavilion. Suka nanemin kembang di depan pintu. Dugaannya tentu saja; Paman sedang selingkuh. Pertanyaan yang bikin merinding adalah; Sama makhluk mana? Sebab, di rumah mereka Risa menyium bau yang sudah familiar buatnya. Bau Danur.

Setan pelakor gak usah diajak main yeee~

 

Seharusnya seperti demikianlah cerita film sekuel Danur: I can See Ghosts (2017) ini. Narasi diniatkan untuk membahas tentang bagaimana kehidupan Risa setelah di film yang pertama dia menerima persahabatan dari hantu cilik. Gimana dampak kemampuan Risa terhadap orang di sekitarnya, Risa sekarang punya dua kehidupan sosial yang berbeda pada dua dunia, dan tentu saja soal ketakutan yang masih merayapinya.  Aku bisa melihat secercah dari plot yang mengeksplorasi Risa yang ingin  hidup normal, dia berusaha untuk mengabaikan kemampuannya, dia tidak ingin membuat malu sang adik, dan bagaimana film ingin memparalelkan sikap Risa terhadap kekuatannya kepada sikap Pamannya yang merahasiakan sesuatu. Sayangnya, elemen-elemen cerita ini tidak pernah terwujud dalam cara yang semestinya. Film malah berkembang menjadi horor generik, yang hanya berupa wahana jumpscare, dengan mengabaikan plot tersebut nyaris secara keseluruhan. Motivasi Risa hanya disebut dalam satu adegan, perkembangan karakter Risa juga hanya diperlihatkan dalam satu adegan, relationshipnya dengan Riri ataupun dengan Peter dan kawan-kawan tidak pernah diangkat dengan dalem. Danur 2: Maddah begitu ingin memperlihatkan hantu kepada kita, sehingga mereka membuat tokoh-tokoh manusianya tersuruk jauh di belakang. Kalo ada yang gaib dan tak-kelihatan dalam film ini, maka itu adalah karakterisasi tokoh-tokohnya.

Salah satu yang menjadi tantangan buat pembuat film ini, yang sudah ada sedari film pertama, adalah bagaimana mendeskripsikan danur (bau mayat) dalam bahasa sinematik. Dan sekali lagi, film ini juga gagal. Kesan apa itu Maddah, apa itu Danur, tidak pernah terasa kuat, selain hanya dialog eksposisi yang tak benar-benar meninggalkan kesan. Padahal film harusnya berpusat di sekitar sini. Bau sejatinya adalah aspek yang menjadi fokus pada cerita. Bukan hanya Risa harus mengenali bau ‘musuh baru’. Tapi ini juga tentang metafora dari sebuah hal yang disimpan lama-lama tetap akan tercium baunya.

 

Adegan pembuka yang adik Risa terbangun di pohon gede dari film pertama itu sebenarnya cukup serem. Actually ini adalah salah satu dari sedikit adegan menakutkan di film ini yang punya build up sebelum setannya muncul. Tapi ternyata adegan tersebut hanyalah adegan mimpi. Inilah kenapa kita tidak bisa punya film horor lokal yang bener-bener bagus. Mereka terbebani oleh arahan-arahan dan keputusan cerita yang bego seperti begini. Contohnya lagi, sekuen keluarga tante Risa menempati rumah baru mereka. Bagian ini sebenarnya ditangani dengan menarik, pakai long shot sehingga kesannya aktivitas yang sedang kita saksikan begitu hidup. Untuk berakhir mendadak dengan adegan standar film Indonesia; ngobrol di meja makan. Yang diobrolin pun enggak jelas faedahnya ke mana, disebut karakter development juga susah karena gak benar-benar memperlihatkan karakter.  Mau tahu kualitas penulisan dialog film ini seperti gimana?  Ada satu adegan Riri dan Tante yang dimainkan oleh Sophia Latjuba (praktisnya, mbak Sophia gak ngapa-ngapain di sini) lagi ngobrol berdua. Dalam penulisan film, inilah waktu yang tepat untuk mengembangkan karakter; dengan memberikan mereka dialog yang merepresentasikan karakter mereka, yang membahas hubungan mereka. Hanya saja, Riri dan Tante malah ngobrolin adegan yang persis sebelum ini kita saksikan, mereka hanya menceritakannya kembali – versi audio dari yang sudah kita saksikan. Dialog macam apa kayak gitu! Enggak menambah apa-apa buat karakter. Enggak menambah apa-apa buat majunya cerita.

Awi Suryadi adalah sutradara yang punya keistimewaan pada kerja kamera. Beberapa shot pada film ini diambil dengan sudut yang intriguing. Dia akan memiringkan kamera ketika tokoh beranjak mengecek bunyi-bunyian misterius yang efektif menambah kesan bingung dan mengerikan. Dia punya trik untuk menampilkan hantu di layar dengan sangat mengerikan, yang aku yakin bahwa film ini sebenarnya enggak butuh musik yang keras. Sayangnya banyak dari arahan Awi yang membuat kita mempertanyakan kepentingannya. Dalam bercerita, Awi masih setia menggunakan formula yang sudah diulang-ulangnya sejak Badoet (2015). Kita masih mendapati tokoh yang ‘kesurupan’, Paman Risa sedari awal sudah ‘dikendalikan’. Hantunya masih pakai musik khas. Terus ada pengungkapan jati diri hantu, yang sebelumnya tidak pernah ada build-upnya. Untuk kemudian penyelesaian datang dengan cara menghancurkan satu objek, tanpa benar-benar ada rintangan. Susunan formula tersebut dalam film ini boleh saja diganti, namun tetap saja aspek-aspek ini masih sama persis dengan Badoet dan film Danur yang pertama. Formula ini dikembangkan dengan begitu basic, stake dan rintangan tidak pernah terasa ada di sana

hantunya suka nyanyian dan musik, alam kubur tampaknya ceria juga deh..

 

Mereka menampilkan hantu di mana saja mereka bisa, menemani hantu itu dengan musik yang keras, dan berharap penonton ketakutan. Atau mungkin sekalian mereka berharap penonton jantungan sehingga mati di tempat dan gak bisa minta refund atas film yang dikerjakan dengan seadanya. Dan kalo hantunya belum selesai dimake-up, tokoh-tokoh film akan senang hati mengambil alih tugas mengagetkan penonton.  Fake jumpscare dan jumpscare dijadikan andalan oleh film ini. Di tengah-tengah kita malah akan disuguhi dua adegan ngagetin, yang sekali lagi, ternyata cuma mimpi. Kesel gak sih, kaget kita rasanya sia-sia gitu loh, jika yang ngagetin itu ternyata mimpi alias adegan yang tidak benar-benar terjadi. Tentu, mereka punya sosok hantu yang sangat seram. Ada dua hantu, actually. Yang satu namanya Ivanna – ini nih yang serem! Tinggi-tinggi gimana gitu, lehernya kayak panjang banget. Sedangkan yang satu lagi, si Elizabeth, mmm.. to bo honest, aku bisa lihat kenapa Paman Risa naksir sama hantu Belanda ini. Aneh gak sih, aku juga nganggap Elizabeth hantu yang cantik, meskipun di saat itu aku belum lihat seperti apa rupanya sewaktu masih hidup hhihi. Yaa, waktu pertama kali nongol gelayutan, Elizabeth gak sampai bikin aku melotot kayak di film kartun sih, tampilannya tetap seram, tapi untuk ukuran hantu, parasnya enggak jelek.

Anyway, film ini punya cara yang aneh dalam memperkenalkan hantunya. Saat pertama kali kita melihat Ivanna secara jelas, dia lagi gangguin Tante yang sedang dzikir abis sholat. Ini adalah adegan terseram yang dipunya film, karena beberapa detik kemudian Ivanna akan ngejumpscare kita – para penonton – secara langsung. Seram, tapi aneh, karena mestinya kan yang ditakuti adalah tokoh cerita. Kayak Valak yang diperkenalkan dengan menakuti Lorraine di ruang baca. Tapi pada film ini, hantunya semacam langsung berkenalan dengan kita. Such a strange way to introduce a ghost character. Adegan ini lebih cocok berfungsi sebagai trailer saja ketimbang dimasukkan sebagai bagian yang actual dari film.

 

 

 

Seharusnya ini membahas tentang gimana seorang yang berteman dengan hantu, bisa menjalin kehidupan sosial normal dengan kerabatnya. Seharusnya kita diperlihatkan lebih banyak dari Risa dan adiknya, dan teman-temannya. Tapi fokus film ini ada pada hantu dan keluarga baru, yang tidak diparalelkan dengan mulus kepada kebutuhan tokoh utama. Akibatnya, kita dapat film dengan motivasi dan plot yang perlu terawangan untuk bisa dilihat. Sebuah wahana jumpscare dengan sedikit hati pada cerita. Kosong sekali, penulisan film ini. Arahan yang tidak membawa apa-apa bagi penampilan tokoh, penceritaan, selain beberapa shot menarik dan aspek seram yang digali dengan terlalu standar. Film ini enggak berbeda banyak dengan film pertamanya, dan mengingat film pertamanya mengeset penilaian yang begitu rendah, kentara sekali film horor Indonesia akan jalan di tempat. Film ini adalah contoh nyatanya.
The Palace of Wisdom gives 2 gold stars out of 10 for DANUR 2: MADDAH.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

MARY AND THE WITCH’S FLOWER Review

“To see ourselves as others see us can be eye-opening.”

 

 

Mary and the Witch’s Flower yang datang dari tangan yang sudah membawa The Secret World of Arietty (2010) dan When Marnie was There (2015) kepada kita ini actually adalah animasi paling pertama yang ditelurkan oleh Studio yang bisa dibilang ‘anak’ dari Studio Ghibli; yakni Studio Ponoc. Jadi, tentu saja aku senang. Bahwa masih ada yang mau mewarisi fantasi dan dongeng kanak-kanak simpel di dunia sinematik yang sepertinya begitu sibuk berlomba-lomba membangun universe yang ‘wah’ untuk mencetak uang dan jumlah penonton, tapi nyaris melupakan akar rasa, cipta, dan karsa. Mary and the Witch’s Flower dengan segera menjerat imajinasi kita lewat sekuens aksi yang menguar kuat pesona animasi Studio Ghibli; menawan dengan begitu banyak hal-hal kreatif yang bisa dinikmati. Cerita akan membawa kita ke dalam dunia yang penuh dengan makhluk hidup yang aneh, teknologi yang kelihatan tidak mungkin, simpelnya kita bisa bilang film ini akan membawa kita menonton hal-hal yang mungkin hanya ada di dunia mimpi. Tidak akan pernah bosan rasanya melihat animasi secantik yang ditampilkan film ini, gambar-gambar yang seolah menyeruak lompat keluar dari layar.

Sesuai dengan dongeng yang jadi adaptasi ceritanya, ‘Hero’ kita dalam film ini adalah Mary, seorang anak cewek berambut merah berantakan yang anak-anak banget. Dia gampang tertarik dengan banyak hal, bahkan kerjaan tukang kebun mengikat bunga agar tegak lurus aja terlihat sebagai sebuah tugas yang mengasyikkan baginya. Namun Mary ini anaknya ceroboh. Dia ingin membantu seputar pekerjaan rumah Bibi Charlotte, hanya saja setiap yang ia sentuh berakhir berantakan. Mary sebenarnya bosan, libur musim panas masih seminggu lagi, dia enggak tahu harus ngapain. Mau main juga sama siapa? Anak seusianya yang gak pergi liburan ke luar kota cuma Peter, yang nyebelin karena hobi menggoda Mary. Jadi, Mary memutuskan jalan-jalan ke hutan. Di mana ia bermain dengan dua ekor kucing.  Suatu saat, Mary mengikuti kedua kucing tersebut terlalu jauh ke dalam hutan, sampai ia menemukan bunga biru aneh dan sapu jerami. Karena kecerobohannya, bunga bundar itu pecah, cairannya mengenai tangan Mary, dan hal aneh bin ajaib pun terjadi. Mary jadi punya kemampuan sihir, dia jadi bisa terbang dengan sapu jerami tadi. Eventually, dia terbang menembus awan menuju sebuah tempat fantastis yang mengajarkan ilmu sihir!

bahkan J.K. Rowling sepertinya juga baca kisah “The Little Broomstick”

 

Dari seseorang yang suka kesel sendiri ama rambutnya, Mary jadi dipuja karena rambut merahnya dikenal sebagai ciri penyihir yang sangat cakap. Dari yang selalu fail ngerjain sesuatu, Mary jadi punya kekuatan dan tentu saja tanggung jawab yang enggak kecil. Mary, dalam esensi cerita, harus figure out apa yang sebenarnya ia butuhkan; untuk tetap menjadi dirinya sendiri yang ceroboh dan selalu ‘salah’ dalam ngerjain sesuatu, atau menjadi penyihir yang kuat agar bisa membantu lebih banyak makhluk. Perjalanan tokoh Mary mestinya adalah sebuah perjalanan yang menarik, karena kita pun lebih sering daripada enggak, menginginkan diri kita menjadi sedikit lebih sempurna.

Aku menyebut arc tokoh seperti Mary ini sebagai arc-komik, karena sebagian besar beginilah tokoh-tokoh superhero dalam buku komik mendapatkan kekuatan. Ambil contoh Spiderman. Peter Parker digigit oleh laba-laba dan mendadak dia jadi punya kekuatan super, dia bertanggung jawab menyelamatkan dunia dari orang-orang jahat. Mary mendapat kekuatan sihir dari bunga yang tanpa sengaja ia temukan. Kekuatan Mary, seperti kekuatan Spiderman, bukanlah sesuatu yang pantas untuk mereka dapatkan. Mary bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Di Endor, sekolah sihir yang ia datangi, semua orang begitu kagum akan kekuatan Mary, sementara dia sendiri tahu persis kekuatannya dari bunga – bukan miliknya sendiri. Perjalanan tokoh Mary adalah membuktikan apakah dia pantas punya kekuatan seperti itu, bagaimana jika nanti dia tidak lagi punya. Film ini menceritakan pertanyaan tersebut dengan cara yang lumayan fresh di sepertiga akhir cerita. Hanya saja, aku tidak merasa begitu peduli terhadap tokoh ini lantaran segala perjalanan dan arcnya tersebut enggak pernah terasa begitu jelas, dalam sense penokohan.

Kita ingin untuk punya semua jawaban. Mary benar-benar mewakili kanak-kanak dalam diri kita yang menginginkan perubahan. Kita mau tampak lebih baik untuk diri kita sendiri. Karena kita pikir, orang-orang di sekitar kita menginginkan hal tersebut. Namun kenyataannya adalah, mereka tidak akan melihat diri kita sebagaimana kita melihat ourselves. Kualitas yang kita miliki, hanya bisa dinilai oleh orang lain yang merasakan langsung apa yang kita perbuat demi, untuk, dan kepada mereka.

 

Yang membedakan Mary dengan Peter Parker, atau bahkan dengan Harry Potter sekalipun, adalah kehidupan Mary sebelum dia ketemu bunga dan sapu terbang adalah kehidupan yang minim drama. Jadi ketika dia mendapat kemampuan baru, semua itu hanya tampak seperti ‘mainan baru’ baginya. Petualangan magical tersebut seperti hal menyenangkan yang bisa ia kerjakan selama satu malam. Biasanya, sebuah cerita dengan tokohnya yang mengalami petualangan, tokohnya akan menemukan sesuatu yang integral dengan masalah dalam hidupnya, dan sesuatu yang ia temukan tersebut akan membuatnya belajar, akan mengubah hidupnya. Seberapa besar perubahan yang mereka alami akan bertindak sebagai bukti kesuksesan penokohan. Mary tidak punya masalah apa-apa, selain dia ingin mengisi hari dengan hal yang berguna yang ia lakukan. Di luar keputusan kesatria yang ia ambil di akhir petualangan, Mary tidak benar-benar belajar banyak tentang apapun yang ia alami selama bertualang. Sebagai tokoh, Mary tidak diberikan ‘kerjaan’ yang membuatnya terlalu stand out. Dia hanyalah seorang anak yang enggak bisa mengerjakan apapun dengan baik, sehinggadia mendapat kekuatan yang menyebabkan dia bisa melakukan sihir-sihir yang keren tentu adalah gagasan yang bagus, namun film membuat kekuatan itu tampak seperti hal yang ia temukan, tanpa membuat Mary melakukan hal yang benar-benar signifikan dengan kekuatan tersebut terhadap dirinya yang terdahulu.

bayangkan Rey balik jadi scavenger lagi setelah belajar dan menguasai The Force

 

Adegan pembuka film ini sebenarnya sudah sangat memukau. Sayangnya, tokoh-tokoh yang kita temukan setelah itu tidak berhasil untuk menarik minat dengan sama kuatnya. Malahan, aku merasa openingnya sendiri lebih menarik untuk dijadikan film utuh ketimbang apa yang actually kita dapatkan. Apa yang Mary pelajari tentang sejarah keluarganya tak pelak akan lebih nendang buat penokohannya. Padahal, film ini sebenarnya juga menyinggung soal ilmu pengetahuan dan dampaknya terhadap lingkungan. Tokoh antagonis film ini berencana untuk melakukan rangkaian eksperimen yang membuat hewan-hewan dan manusia bertransformasi menjadi makhluk baru. Sebuah tindakan yang tentu saja melawan etika dan kemanusiaan. Tapinya lagi, selain kerjaan yang jahat ini, kita tidak mengerti apa motivasi tegas dari antagonis untuk melakukan hal tersebut.

 

 

 

Dari segi visual dan musik, film ini sungguh bikin takjub. Adegan pembukanya juga membuat kita geregetan. Aspek teknikal film ini sepertinya tidak perlu dikhawatirkan. Sebagai film pertama, aku punya harapan gede buat Studio Ponoc. Terutama aku berharap mereka dapat bercerita dengan lebih baik lagi, karena apa yang kita dapat pada film ini adalah spektakel yang thrilling, namun naskahnya kosong dalam penokohan, karakter-karakternya masih butuh a lot of work dengan cerita yang mestinya bisa dibuat lebih jelas dan tegas lagi.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for MARY AND THE WITCH’S FLOWER.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

A WRINKLE IN TIME Review

“The best way to gain self-confidence is to do what you’re afraid to do.”

 

 

Sebagaimana kita tidak bisa menilai film gitu aja dari trailernya, betapapun kecewanya, aku tidak bisa mengatakan A Wrinkle in Time sebuah film yang buruk semata karena lagu Scar to Your Beautiful nya Alessia Cara yang udah bikin trailer film ini terasa empowering, sama sekali tidak ditemukan di actual filmnya. Akan tetapi, petualangan fantasi anak-anak terbaru dari Disney ini menjelma, dari novel dengan pesan dan pelajaran tentang perbedaan yang kuat menjadi film yang kurang memuaskan untuk alasan yang lain. Dan sebagaimana guru waktu SD dulu suka memuji sebelum menasehati “tulisan tangan kamu bagus ya, tapi…..”aku akan mengulas terlebih dahulu elemen-elemen yang membuat film ini pantas untuk ditonton lantaran ia berbeda dari fantasi kebanyakan (bahkan dari film superhero), supaya A Wrinkle in Time punya kesempatan untuk berjuang.

Beberapa momen di babak awal yang menyangkut keluarga tokoh utama kita, Meg, benar-benar terasa menyentuh. Kehangatan di rumah tangga mereka yang multikultural menguar deras. Kedua orangtua Meg adalah ilmuwan. Meg terutama sangat dekat dengan ayahnya yang berkulit putih. Adegan-adegan emosional nantinya akan banyak melibatkan hubungan ayah dan putrinya ini, dan film melandaskan bibit-bibit tersebut dengan sangat baik. Ayah Meg bereksperimen dengan ide yang menarik seputar bahwa dimensi di alam semesta bisa dilipat umpama kertas sehingga seseorang bisa bertransportasi dari ujung dunia ke ujung satunya lagi, berpindah beribu-ribu tahun cahaya, hanya dalam beberapa detik. Oleh percobaan tersebutlah, ayah Meg menghilang begitu saja. Empat tahun dia tak kembali, padahal namanya bukan Bang Toyib. Peristiwa ini sangat mempengaruhi Meg. Seketika dia menjadi tertutup, kepintarannya tak lagi cemerlang, hubungan sosialnya meredup – ia jadi dibullly teman-teman di sekolah. Semua aspek karakter Meg ini ditangkap dengan otentik oleh cerita, membuat aku merasa kasihan kepadanya. Meg terlibat masalah di sekolah, dia tidak lagi konfiden bergaul karena selalu memikirkan sang ayah. Sampai ketika tiga wanita aneh bertandang ke halaman belakang rumahnya. Mereka mengajak beserta adik dan cowok teman sekelas Meg mengarungi dimensi dunia demi mencari ayah Meg yang kemungkinan besar masih hidup di suatu tempat di pelosok semesta.

Setiap kita pernah takut untuk menjadi diri sendiri. Ragu untuk berdiri demi keyakinan sendiri. Padahal di dunia yang penuh warna-warni, kita paling tidak boleh untuk kehilangan jati diri. Karena jika cantik  itu luka, maka sebaliknya kita bisa mengenali kekurangan yang dimiliki dan menjadikannya sebagai kekuatan.

 

Film bekerja dengan ketulusan dan genuine maksimal pada titik terendah hidup Meg – saat dia harus berurusan dengan kehilangan dan kekecewaan mendalam yang tak ia tunjukkan. Kisah yang berpusat pada anak-anak sembari menekankan kepada kebimbangan perasaan, diwarnai dengan perbedaan kulturasi, mungkin baru sekali ini dibuat segrande ini. Karakter Meg adalah seorang kutubuku, yang justru jarang tampak pintar karena ia menutup semua rapat-rapat. Ke-insecure-annya membuat tokoh ini menjadi efektif sebagai tokoh utama. Meg harus belajar untuk mengenali kekurangan yang ia miliki. Storm Reid yang memerankan Meg lumayan baik memainkan adegan-adegan emosional yang dibebankan kepadanya. Penonton cilik akan gampang terelasi kepada tokoh ini, pun dia membawa pesan yang bagus yang bisa mereka petik dari anak cewek yang enggak pede sama apa yang dianugrahi kepadanya. Aku gak yakin apakah arahan dari sutradara Ava DuVernay mengharuskan Reid senantiasa tampil ‘gak lepas’ atau gimana, karena pada beberapa adegan di mana Meg discover hal-hal menakjubkan (kayak manusia berubah menjadi monster daun selada cantik) di depan mata kepala, anehnya Meg tidak kelihatan surprise-surprise amat.

aku mungkin gelinjang gila-gilaan demi ngelihat Oprah raksasa di halaman rumah

 

Baru-baru ini, aku membaca berita mengerikan yang dishare temen di twitter; tentang anak empat tahun yang membunuh adik bayinya karena sering dibecandain dengan “ada adek, nanti mama gak sayang lagi ama kamu”. It was such a terrible joke yang bisa dilontarkan orang dewasa kepada anak kecil, sebab kasih sayang antar anggota keluarga semestinya tidak perlu lagi dipertanyakan. Film ini bilang, cinta itu ada meski sering tidak kelihatan. A Wrinkle in Time, dalam kapasitas bijaknya, membuat perubahan dari source material sehubungan dengan Meg dan adiknya. Kita lihat Meg sempet bimbang juga ketika ayahnya berniat mengadopsi bocah bernama Charles Wallace. Dan sesungguhnya elemen adik adopsi ini menambah lapisan relationship Meg dengan keluarga, sekaligus menambah bobot terhadap aspek keluarga multicultural. Utimately, adik adopsi ini berperan penting terhadap tema besar yang diusung oleh film, yaitu kekuatan cinta, sebab antara Meg dan Charles bukan lagi sekedar keharusan karena mereka berhubungan darah, it is actually cinta sejati yang terbentuk di antara dua yang merasa sebagai sebuah keluarga.

Kita harus menerima hal yang tidak bisa kita ubah, dan pada gilirannya kita harus menerima bahwa kita harus melakukan sesuatu perihal hal yang  bisa kita ubah. Jangan takut. Kita harus belajar menyinta, sebab kemenangan dengan cinta adalah kemenangan yang sesungguhnya.

 

 

Menemukan kembali ayah memang adalah tujuan mereka, namun petualangan antardimensi yang mereka tempuhlah yang menjadi kunci petualangan mereka – yang mana juga adalah faktor yang mestinya paling kita nikmati. Di planet pertama, rombongan Meg singgah di tempat di mana perbukitannya hijau, lautnya berkilau cemerlang, dan bunga-bunganya bisa ngegosip pake bahasa warna. Sekuens yang mengikuti di poin ini benar mengagumkan. Dan, mengesampingkan fakta bahwa film gagal untuk mengeksplorasi bahasa warna dan elemen fantasi lain,  sekuens di planet ini adalah pemandangan terbaik yang dipunya oleh film secara keseluruhan. Sayang memang, untuk petualangan yang lain, efek yang digunakan tidak seimpresif yang diniatkan untuk tercapai, apalagi untuk ukuran budget sekantong pundi milik Disney.

Untuk memperparah lagi, film menjadi sangat ketergantungan kepada efek-efek ini, padahal tadinya kita udah dibuat percaya dan menapak kepada hati cerita. Masuk babak kedua, hingga akhir, hanya pertunjukan efek dengan banyak cerita yang disumpelin biar muat seratusan menit. Sentuhan manusiawinya tak lagi terasa kuat. Kita dituntun oleh dialog-dialog eksposisi, dan desain suara serta musik soundtrack yang sangat intrusif. Pada awal penerbitan bukunya di tahun 1962, cerita A Wrinkle in Time sudah dicap sebagai tidak-bisa-diadaptasi. Pada film ini terlihat jelas, terbukti bahwa ketidakbiasaan itu bukan karena teknologi melainkan karena apa yang harus diperlihatkan akan berbenturan dengan pesan cerita mengenai berimajinasi. Kekuatan narasi itu berkurang setingkat. Pun terasa ironis, untuk sebuah cerita yang memerlukan tokohnya untuk tidak mementingkan penampilan, film ini – tidak bisa tidak untuk – terlihat luar biasa berjuang menyuguhkan visual yang cantik. Akibatnya, pesan maupun penyimbolan yang berusaha diintegralkan ke dalam adegan menjadi tidak lagi bertenaga.

“Daaaaamn” Tucker, Amerika

 

Film ini bicara tentang menjadi satu dengan semesta. Sendirinya, film terlihat berdiri goyah di batu-batu gem di dalam gua planet tempat Zach Galifianakis bersemayam. Berusaha menyeimbangkan visual dengan cerita, tema dengan fantasi. Berhasil? Tidak juga, cerita kewalahan berpindah dari hubungan keluarga, ke berlarian menyelamatkan diri, ke romansa anak remaja, dan kebanyak mode lainnya. Jadinya banyak yang tertinggalkan datar. Ketiga ‘penyihir eksentrik’ itu misalnya, mereka mestinya bisa lebih banyak berperan daripada sekadar pembimbing yang bertutur paparan. Film justru menyandarkan bahunya kepada pemeran anak-anak, yang mana masuk akal karena ini adalah film anak-anak, hanya saja, umm pilihan aktornya mestinya bisa lebih dipikirkan lagi. Peran Charles Wallace tampaknya memang terlalu besar bagi aktor cilik Deric McCabe. Cerita banyak memberikan tugas dan range buat tokoh ini, yang disampaikan oleh McCabe dengan sama sekali tidak meyakinkan. It was very bad. Terutama ketika wajahnya diclose up, pada babak terakhir sering tuh, ekspresinya tampak sangat dibuat-buat.

Yang bikin aku ngakak adalah ketika Meg berteriak gimana dia tidak mau kehilangan adiknya, dia enggak akan biarkan adik terpisah dari dirinya, sementara pada adegan sebelum itu kita sama-sama melihat dia oke-oke saja berlarian dikejar angin gede tanpa kehadiran Charles, dan Meg tidak tampak merisaukan hal ini. Untuk kemudian Charles muncul begitu saja entah darimana. Ketidakkonsistensian kayak gini yang jadi pertanda cerita film sangat njelimet.

 

 

 

 

Meninggalkan elemen sci-finya, ini adalah cerita yang mengajarkan anak untuk mencapai kepercayaan diri. Tokoh utama film ini dihadapkan pada tantangan berupa kehilangan dan tuntutan sosial, yang mana ada kondisi yang juga tak bisa dihindari di luar sana. Anak kecil bisa saja akan sangat menyukai film yang menjadikan perwakilan mereka sebagai pusat semesta. Hubungan antarkeluarganya pun dibahas dengan hangat. Tapi penceritaannya bisa sangat kontra dengan apa yang mau disampaikan. Terlalu banyak yang dibahas juga, judulnya pun sepertinya lebih tepat kerutan pada tempat, alih-alih waktu, yang kemudian turut menambah kerutan pada kening kita saat menyaksikannya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for A WRINKLE IN TIME.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

TOMB RAIDER Review

“You need to be independent in order to survive in the world.”

 

 

Lara tidak seperti Croft yang lain. Dalam film ini, kalimat tersebut merujuk ke dalam konteks bahwa tokoh utama kita, Lara Croft, berbeda dari ayahnya; seorang bisnisman yang punya perusahaan besar.  Yang bagi Lara, ayahnya adalah sosok orang sibuk yang sering bepergian, sehingga meninggalkan Lara  seorang diri. Jadi, Lara enggak mau semua itu. Dia tidak tinggal di rumah yang besar. Dia bekerja sebagai kurir makanan bersepeda.

Kalimat ‘Lara tidak seperti Croft yang lain’ tersebut, however, juga bekerja di dalam konteks bahwasanya di dalam versi FILM REBOOT YANG DIADAPTASI DARI REBOOT VIDEO GAME ini, Lara Croft yang kita jumpai tidak sama dengan Lara Croft yang ikonik berbibir tebal seksi, berkepang panjang hingga ke pinggulnya yang sangat ramping, sementara dadanya, well yea, sudah jadi joke umum di kalangan gamer, Lara di PSX punya upper body yang begitu ‘menonjol’ sehingga grafik yang dahulu masih terbatas malah membuatnya tampak seperti segitiga alih-alih membundar.  Secara sederhana, kita bisa lihat masalahnya ketika para fans langsung membandingkan antara Angelina Jolie yang berperan di Lara Croft: Tomb Raider (2001) dengan aktris Alicia Vikander di film ini. Selain masalah fisik, Lara kali ini juga punya sepak terjang yang berbeda – perbedaaan gedenya adalah Lara tampak sangat vulnerable. Meski sisi adventurous, kecerdasan, ketertarikannya sama kode dan  tempat tersembunyi cewek ini udah kelihatan bahkan dari saat dirinya masih bocah, namun Lara Croft bukanlah jagoan. Setidaknya belum.

Dia pasti jago main Pandora Experience

 

Cerita petualangan aksi Tomb Raider ini memang bertindak sebagai origin karena pada intinya kita melihat siapa Lara Croft sebelum dia mulai menjelajahi makam dan kuil-kuil kuno penuh jebakan dan tak jarang kutukan mistis untuk mencari benda-benda peninggalan yang berkekuatan misterius. Lara Croft di film ini terlihat sangat vulnerable, dan Alicia Vikander benar-benar hebat memerankan setiap emosi yang harus dia jabanin. Aksennya juga pas, terdengar menguar ketegasan sekaligus sedikit rebellious. Film berhasil menyeimbangkan eksplorasi yang dilakukan oleh Lara, baik itu eksplorasi medan beneran maupun pencarian ke dalam dirinya, dengan aksi-aksi berlari, pengalaman  hidup-mati, yang mengdegup jantung. Sense of discovery yang disampaikan terasa lumayan kuat, karena terkadang kita diberikan kesempatan untuk memecahkan teka-teki bareng Lara. Misteri kebudayaan yang melapisi cerita film juga menarik. Kisah Legenda Himiko, yang supposedly adalah antagonis dalam film, dibuat sedikit berbeda dengan versi video game demi melandaskan keparalelan dengan salah satu layer perjalanan Lara Croft.

Saat film dimulai, kita sudah melihat Lara babak belur. Dia kalah saat latih tanding martial arts. Dia gagal dapet duit hadiah di permainan kejar-kejaran bersepeda. Ranselnya bahkan hampir dibawa kabur oleh berandalan. Lara memang sudah sedikit belajar tentang pentingnya mempertahankan diri – dia berusaha untuk hidup mandiri. Tapi cewek ini punya satu masalah yang membayangi setiap geraknya. Hati pada cerita ini adalah pada bagaimana Lara sangat menyintai sang ayah, sosok yang baginya sekaligus sebagai seorang ibu, walaupun ayahnya sering pergi-pergi dan Lara sendiri belum tahu apa yang ‘pekerjaan’ ayah yang sebenarnya. Aku suka gimana film membuat Lara tidak mau menandatangani surat wasiat dari si ayah, sebab kita tahu bahwa alasannya tidak semata karena Lara memilih hidup sederhana. Melainkan karena dengan menandatangani surat itu, Lara berarti sudah mengamini ayahnya yang hilang sudah meninggal.

Dalam penceritaan video game (yea, video game juga punya cerita layaknya tontonan sinematis) ada satu aturan baku standar yang udah jadi semacam pakem yang diikuti oleh banyak cerita, yakni: Jikalau tokoh utama punya sanak yang diceritakan sudah meninggal, tapi kita sebagai tokoh utama enggak pernah melihat mayatnya, maka sanak keluarga tersebut pastilah sebenarnya masih hidup. Dalam film juga sebenarnya elemen cerita begini sering dipakai, namun Tomb Raider menggunakan trope ini bukan tanpa sebab. Inilah yang menjadi motivasi perjalanan Lara – bagaimana apa yang ia inginkan akan berbuah menjadi hal yang tak ia inginkan. Lara butuh untuk melihat ayahnya masih hidup, untuk kemudian direnggut lagi darinya demi menyadari apa yang ia butuhkan; kemandirian sesungguhnya dari seorang penyintas sejati, her true self.

Kemampuan untuk mandiri tidak dimiliki oleh semua orang. Kadang tanpa disadari, kita bergantung terlalu banyak kepada orang lain, lebih dari yang kita perlukan. Di penghujung hari,  toh,  kita hanya akan punya diri sendiri. Kita perlu untuk mandiri demi bertahan hidup, dalam hal apapun. Adalah sangat penting untuk kita bisa mengambil keputusan, bisa mengambil tindakan, tanpa perlu selalu kompromi dengan orang lain. Betapa sangat berdayanya mengetahui bahwa kita mengendalikan hidup dan pilihan sendiri. Apalagi jika pilihannya adalah sepenting berkorban atau tidak.

 

Totally jalannya enggak lagi kebentur-bentur dinding kayak di game originalnya

 

Mengelak dari perangkap cerita origin yang biasanya menghabiskan satu film untuk mengubah karakter menjadi yang kita kenal, Tomb Raider hanya butuh satu jam kurang untuk kita dapat melihat glimpse dari Lara yang sebenarnya. Sangat empowering melihat Lara Croft yang tadinya seperti underdog, yang berani namun senantiasa ragu-ragu di dalam sehingga selalu gagal, menjadi semakin pede ketika dia mendaratkan kakinya di pulau tak berpenghuni itu. Alih-alih rubuh oleh bertubi-tubinya benturan fisik dan mental, Lara menjadi semakin kuat oleh setiap tantangan. Turning point bagi Lara adalah ketika dia harus mengalahkan – dia harus membunuh satu orang – yang mana adalah Lara’s first kill di seri ini, karena di titik itu dia mulai mengerti bahwa dia harus berjuang sekuat itu untuk bertahan hidup. Sendiri. Film menggarap adegan tersebut dengan lumayan menyentuh, mereka mengambil waktu untuk memperlihatkan ekspresi di wajah Lara, yang tentu saja dimainkan sangat meyakinkan oleh Vikander. It was a strong moment. Untuk kemudian diikuti dengan Lara bertemu dengan orang yang selama ini dicarinya, yang membuat inner-nya semakin berkonflik lagi lantaran dia kembali punya keinginan untuk menjadi putri kecil. Film membuat keputusan bagus untuk menampakkan momen-momen karakter seperti begini, aliran pengembangannya – naik turun karakter – dijaga sehingga menarik. Di bagian pacing-lah film ini sedikit terlalu kedodoran.

Cerita berlalu dengan cepat, antara adegan aksi satu dengan adegan aksi berikutnya, film akan mengerem dengan development karakter dan beberapa dialog eksposisi. Secara kesuluruhan, akibat eskposisi yang melambatkan film nyaris seolah secara mendadak, dengan aksi seru yang direkam dengan kecepatan tinggi, menonton film ini rasanya kayak melihat video ornag berlari yang kadang dislow-motion. Ada aspek-aspek cerita tertentu yang membuat kita “hey, darimana datangnya?”. Beberapa adegan flashback juga turut membebani jalannya cerita dengan perlambatan yang tidak perlu. Kita tidak butuh begitu sering kembali ke masa lalu, yang kadang adegannya itu-itu melulu. Menurutku, yang dibutuhkan film ini untuk mengerem justru  adalah momen-momen survival seperti memperlihatkan Lara membunuh hewan untuk makan, seperti pada video game. Tapi film malah melewatkan itu.

Kematian adalah petualangan. Salah satu aspek seru dari video game yang juga disadur oleh film ini adalah momen-momen berbahaya yang siap menerjang Lara. Dalam video game, kita bisa sengaja game over hanya untuk melihat adegan kematian yang kadang over-the-top namun menyenangkan. Film ini juga sama seperti itu, banyak adegan aksi yang bisa dibilang lebay dan agak gak masuk akal; Lara yang lompatannya jauh sekali, Lara menarik pecahan yang menembus perutnya padahal kalo luka tembus sebaiknya jangan dicabut karena pendarahannya akan semakin parah, akan tetapi kita tetap enjoy menontonnya. Adegan-adegan tersebut juga dijaga sehingga tidak mengakibatkan film menjadi konyol, menjadi terlalu Hollywood, menjadi guilty pleasure seperti film Tomb Raider terdahulu. Ada satu sekuen seru banget yang dicomot dari video game, yang bakal bikin penggemar video gamenya girang, yang melibatkan Lara dengan bangkai pesawat, namun basically sekuen ini hanyalah versi lain dari adegan kaca belakang bus di Jurassic Park. So yea, aksi dalam film ini seru dan menyenangkan, hanya saja memang tampak generic, film tidak menampilkan sesuatu yang benar-benar baru.

 

 

 

Menonton ini seperti memainkan video game yang punya replay value yang tinggi. Kita sudah bermain berkali-kali, kita sudah hapal, namun kita tetap suka. Kita ingin mencari cara lain untuk menamatkannya – karena film ini mampu bekerja dengan efektif, baik sebagai eksplorasi karakter maupun sebagai pure action adventure. Bicara soal mandiri, filmnya sendiri juga cukup mandiri. Di balik usaha film untuk membangun landasan universe, untuk membuat kait ke film berikutnya, film bertindak bijak dengan memastikan kita mendapat cerita yang contained, dengan plot tokoh yang melingkar tertutup. Di samping beberapa aspek penceritaan yang mestinya bisa dibuat lebih tight lagi, flashback dan eksposisi mestinya dapat dikurangi, ini tetap adalah salah satu adaptasi video game terbaik. Karena semua orang dibuat peduli sama tokohnya, kita bisa merasakan tokoh tersebut, kita ingin dia berhasil, walaupun kita enggak pernah memainkan video gamenya sebelum ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for TOMB RAIDER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

RED SPARROW Review

“Everything happens for a reason.”

 

 

Moralitas cuma sikap sentimental manusia. Sedangkan harga diri selalu adalah yang lebih dahulu jatuh. Jadi buat apa menunggu? Pemuda pemudi Rusia yang digembleng oleh agensi State School 4 mendapat doktrin seperti demikian demi mengobarkan semangat patriotisme mereka. Sebab dalam aksi membela negara, mereka semua harus rela mengorbankan apapun. Jiwa raga mereka milik negara  yang selama ini telah memberikan mereka tempat berlindung, tempat untuk tinggal. Dan sekarang adalah giliran mereka untuk berjuang atas nama negara, dengan menjadikan tubuh sebagai senjata utama.

Menjadi mata-mata tidak selamanya berarti menguasai alat-alat berteknologi canggih, enggak selalu bahaya yang mereka hadapi berupa merayap elegan di antara laser-laser dengan kostum hitam. Film Red Sparrow tidak memewah-mewahkan kehidupan sembunyi-sembunyi penuh rahasia itu. Ataupun membuat penontonnya ingin menjadi mata-mata kece. Sesungguhnya film ini diadaptasi dari buku novel karangan Jason Matthews; seorang mantan anggota CIA. Jadi at heart, cerita film ini tahu persis seperti apa ‘sisi buruk’ dari pekerjaan tersebut. Materi yang disambut dengan bijak oleh sutradara Francis Lawrence, ini lebih sebagai sebuah cerita thriller dibandingkan kisah aksi. Menonton Red Sparrow, kita akan merasakan betapa OTENTIKNYA GAMBARAN DARI KEHIDUPAN SEORANG MATA-MATA. Iya sih, menjadi mata-mata berarti hidup kita menjadi glamor seketika; bercinta dengan orang-orang penting, orang-orang kaya. Namun, melalui film ini kita akan melihat sebenarnya itu adalah sebuah hidup yang sangat mengerikan. Percaya deh, enggak akan ada yang mau berada dalam sepatu Dominika Egorova. Tokoh utama kita ini adalah seorang ballerina yang direkrut ke dalam barisan Sparrow yang kerjaannya secara sederhana adalah merayu orang untuk mendapatkan informasi. Sebuah pekerjaan yang mengerikan sekaligus menyedihkan. Dan tentu saja, penuh resiko.

Di Rusia, supaya tenang setelah kejadian traumatis, orang-orangnya enggak minum air putih. Mereka merokok.

 

Kita tidak mau melihat Dominika menjadi mata-mata yang sukses, kita ingin melihat cewek ini berhenti menjadi mata-mata dan kabur saja keluar dari dunia yang ia geluti. Hidup yang ia jalani was just so horrible, namun walaupun cerita tidak pernah memuja keputusan yang diambilnya, membenarkan apa yang ia pilih, Red Sparrow masih berkodrat sebagai sebuah film. Cerita film ini disusun sedemikian rupa supaya menarik, jadi kita tetap mendapatkan trope-trope thriller Perang Dingin – Misi utama Dominika, pertanyaan pada lapisan terluar cerita film ini, berpusat pada apakah Dominika akan berhasil mengendus mata-mata yang ia cari? Juga ada kisah cinta antara dua mata-mata beda negara yang tentu saja menambah stake berupa apakah pihak yang lain itu bisa dipercaya, siapa yang bakal mengkhianati siapa. Kalian ngertilah, kita masih akan menjumpai sedikit dramatisasi pada cerita. In fact, salah satu sekuen yang paling efektif nunjukin sensasi thriller dalam film ini adalah sepuluh menit pertama ketika kita dibikin berpindah-pindah antara pertunjukan balet Dominika dengan pertemuan rahasia tokoh Joel Edgerton, sementara scoring yang sangat memikat mengalun di latar belakang. Di dalam film akan ada sekuen berantem yang lumayan sadis. Ada adegan pemukulan dan penyiksaan yang bukan konsumsi penonton yang perutnya lemah.

Selain itu, juga banyak adegan ‘buka baju’ yang bakal bikin kita risih menontonnya – yang membuat bioskop di sini mesti melakukan sensor dengan mengezoom pada adegan kurang senonoh sehingga kita hanya melihat kepala tokohnya saja. Dan untuk itu, aku sangat salut kepada Jennifer Lawrence yang sungguh bernyali. Setelah hal-hal gila yang aktris ini lakukan di Mother! (2017), di Red Sparrow dia menaikkan tingkat kenekatannya dengan melakukan berbagai adegan yang bikin kita meringis. Sepertinya tidak ada adegan menantang yang enggan dilakukan oleh JenLaw, semuanya dijabanin.  Perlu kutekankan sedikit, meskipun memang banyak adegan seksual yang awkward dan kasar – di kelas di ‘sekolah mata-matanya’, Dominika dan murid-murid yang lain kerap disuruh buka baju dan melakukan gituan di depan semua orang – perasaan disturbing yang kita rasakan ketika menonton film ini tidak terbatas berasal dari sana. Malahan, justru adegan tokohnya Mary-Louise Parker yang bikin penonton di studioku tadi barengan memekin tertahan, padahal adegannya bukan adegan seksual.

Aku bisa paham dan membayangkan kalo Red Sparrow bakal banyak diboikot, lantaran film ini juga menggambarkan iklim politik yang disturbingly relevan terutama buat penonton Amerika. Red Sparrow mengemukakan wacana soal kebudayaan Amerika yang berubah akibat sosial media dan teknologi dan bagaimana Rusia mencoba mengapitalisasi tensi di antara kedua negara. Dan kita tahu, semenjak election 2016 santer kabar ada campur tangan Rusia di dalamnya. Mungkin kata-kata mentor Dominika ada benarnya. Mungkin Perang Dingin tidak akan pernah berakhir.

 

Sebagai sebuah cerita, film ini punya sisi menarik. Kita ditaruh di tengah-tengah situasi politik di mana kita enggak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun di atas itu, yang membuat film ini susah untuk ditonton adalah betapa protagonis kita luar biasa tak tertebak. Film ini dengan sengaja mengaburkan isi kepala Dominika kepada kita, membuat kita tidak pernah sepenuhnya memahami keputusan yang ia buat. Tidak seperti pada Molly’s Game (2018)  di mana kita bisa mengerti apa yang membuat tokoh Jessica Chastain berpindah dari atlit ski, memilih menjadi Bandar Poker, kita paham mindsetnya, pilihan-pilihan yang dia ambil, pada Red Sparrow kita tidak mengerti bagaimana cara kerja pikiran Dominika. Kita mengerti dia terjebak dalam situasi yang tidak ia sukai, tapi kita enggak tahu apa tepatnya yang menyebabkan dia ada di sana. Transisi dari dia yang balerina sukses menjadi, katakanlah, pion dalam permainan spionase maut terasa sangat abrupt. Keputusan-keputusan Dominika disimpan rapat di dalam kepalanya sendiri, dan kita hanya melihat tindaknya dari luar. Mmebuat kita sulit peduli dan mendukung tokohnya. Dan sejauh yang bisa aku usahakan untuk mengerti, keputusan agensi Sparrow merekrut Dominika adalah karena masalah pelik keluarga, semacam nepotisme, dan karena Dominika punya paras cantik yang merupakan aset berharga jika kau mencari kandidat sempurna untuk mata-mata.

you don’t want to be a volunteer for this kind of job

 

Tidak ada yang namanya kebetulan di muka bumi. Tidak ada yang namanya kecelakaan. Semua hal terjadi karena suatu alasan. Ini adalah pelajaran berharga yang dipelajari dengan cara yang sangat keras oleh Dominika. Semuanya itu bersangkutan dengan kebutuhan manusia, sebagai makhuk sosial. Pada gilirannya, Dominika menjadi sangat tangkas dalam menebak apa yang diinginkan oleh target operasinya, tak terkecuali orang-orang di sekitarnya. Inilah yang membuatnya begitu cakap sebagai seorang mata-mata. Sebegitu handalnya sehingga Dominika dapat membalikkan kebutuhan orang sebagai keuntungan yang memenuhi kebutuhannya.

 

Film ini banyak bicara tentang bagaimana setiap manusia mempunyai kebutuhan. Akan ada banyak percakapan yang menanyakan “apa yang kau mau?” kepada seorang tokoh. Kebutuhan manusia menjadi poin vokal dalam narasi, tapi kita dengan sengaja dibuat tidak mengetahui kebutuhan sejati dari tokoh utama. Kita paham dia ingin ibunya yang sakit terurus dengan baik, tetapi gambar besar dari tujuannya sengaja ditutupi. Film seolah membuat pagar pertahanan di sekeliling tokoh utama yang mencegah kita untuk masuk dan peduli dan mengerti, dan hanya di saat-saat terakhir pagar ini membuka. Film banyak memanjang-manjangkan adegan yang kelihatan seperti momen gede padahal enggak benar-benar mengangkat cerita, hanya untuk memperlihatkan kepada kita kemampuan dan arah moral yang dipegang oleh Dominika. Karena sebenarnya hanya ada satu adegan kecil yang perlu kita tahu di akhir, adegan yang akhirnya membuat kita melihat Dominika seutuhnya.

 

 

 

Manusia adalah teka-teki kebutuhan. Film memilih untuk menggambarkan itu dengan tepat kepada tokoh utama sehingga kita bisa menjadi begitu frustasi saat menontonnya. Ceritanya tidak membingungkan, elemen politiknya bisa dipahami dengan sedikit perjuangan, mendukung tokoh utamanyalah yang merupakan tugas yang sulit. Kita bisa suka kepada setengah bagian dari film ini, karena dia begitu bernyali, punya adegan-adegan dan desain musik dan suara yang memikat. Sementara yang setengahnya lagi, kita akan kebingungan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for RED SPARROW.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

BUNDA: KISAH CINTA 2 KODI Review

“…at ease in your own shell.”

 

 

Uang menciptakan begitu banyak guncangan powerplay, meski kita lebih suka untuk enggak mengakuinya. Keluarga jaman sekarang bisa saja lebih terbuka soal istri yang ikutan bekerja mencari nafkah, dan bahkan punya penghasilan yang lebih gede dari suami, namun tetap saja tensi psikilogis itu tetap ada. Karena manusia secara naluriah makhluk yang kompetitif. Teratur, namun kompetitif. Dan lagi, kita sudah terbiasa dengan aturan ‘cowok berburu, cewek bebersih gua’ sejak jaman batu. Makanya ketika proyek Fahrul dicancel meninggalkan posisi penanggung jawab keuangan kosong, yang segera diambil alih sang istri – Ika , rumah tangga mereka mulai gonjang-ganjing.

Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi tidak malu-malu memperlihatkan keluarga yang harmonis bisa berubah menjadi enggak enak ketika powerplay itu keganggu. Namun demikian, film juga tidak gegabah mengajarkan mana yang lebih baik. Malahan, film ini dalam kapasitas drama keluarganya yang menghangatkan, akan menyentuh lembut pundak kita. Mengingatkan dengan halus apa yang membuat kita bekerja sedari awal – untuk kebahagiaan siapa. Apa yang terpenting dalam sebuah keluarga. Film ini juga bekerja dengan lumayan efektif dalam menginspirasi, bukan hanya ibu-ibu rumah tangga, melainkan juga bagi kita-kita yang pengen berusaha mandiri yang mungkin ragu-ragu, takut gagal, atau malah karena ada yang ngelarang. Aku memang baru mendengar nama Bunda Tika dan Keke Collectionnya dari film ini, tapi aku jadi lumayan tertarik mengikuti perkembangan bisnis konveksi pakaian muslim anak-anaknya, gimana dia membuat dan memasarkan produknya tersebut, lantaran film menggunakan beberapa layer dalam bercerita, dan actually punya konflik yang gampang direlasikan.

misalnya, setiap terima rapor aku juga selalu kena marah orangtua

 

Meskipun dinarasikan oleh tokoh Fahrul, namun tokoh utama film ini hampir terasa seperti Tika sebab memang tokoh wanita ini lebih menarik. Film cukup bijak dengan membuat tokoh yang diperankan Ario Bayu tersebut tidak completely kayak kertas kosong. Fahrul masih punya karakter, dia masih melakukan berbagai keputusan, kita diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam kepalanya. Aku jadi bisa melihat kenapa Acha Septriasa tertarik untuk memainkan Bunda Tika; tokoh ini memang lumayan kompleks dan merupakan peran yang menantang karena Acha dituntut untuk bersikap intens, range emosinya benar-benar seketika bisa melompat jauh di sini.  Tika adalah pribadi yang sangat driven, kontras dengan suaminya yang lebih ke family man baek-baek. Konflik di awal cerita mungkin diniatkan untuk melandaskan, membuat kita memaklumi, kenapa Tika bisa bersikap begitu insecure  nyaris sepanjang waktu. Dia begitu ingin berhasil sehingga setiap tindak gak pede, setiap usaha yang gak maksimal, akan sangat mengganggu dirinya.

I do find it’s riveting. Alih-alih enggak konsisten, ketika Tika mengatakan kepada anak-anaknya mereka boleh sekolah sejauh apapun yang mereka mau, tetapi di lain pihak dia melarang kedua putri kecilnya tersebut untuk tidak membuka satu pintu di rumah mereka tanpa seizinnya. Aku juga mendapati bagaimana strategi bisnis andalan Tika adalah “Kita coba aja dulu” sebagai sesuatu yang optimis sekaligus sedikit lucu. Maksudku, mungkin ini karena diceritakan dari sudut pandang Fahrul, maka kita turut melihat tindak-tanduk Tika sebagai sesuatu yang kinda ekstrim. Kita enggak pernah benar-benar paham maksud hati wanita ini. Seperti ketika mereka lagi makan malam setelah malam sebelumnya salah satu anaknya melanggar larangan; membuat Tika marah besar. Si anak mencoba untuk meminta maaf, dan Tika bilang dengan senyum dia sudah lupa ada kejadian apa. Konteks cerita di titik ini membuat adegan tersebut punya arti mendua; apakah ini berarti Tika sudah memaafkan anaknya, atau dia hanya lagi girang aja tadi siang baru dapet projek di Jakarta Kids Fashion Week.

Salah satu elemen terbaik yang dipunya oleh film adalah gimana mereka menuliskan karakter anak Tika yang paling gede. Sayangnya elemen ini kurang mendapat pengembangan. Karakter anaknya masih sama seperti pada trope-trope drama keluarga kebanyakan; anak yang distant dengan ibunya. Menurutku film masih kurang pede meletakkan lebih banyak tugas emosi dan cerita kepada tokoh anak-anak. Padahal si anak ini udah punya sesuatu yang beda yang ia lakukan. Anak Tika ini suka ngumpet di kolong tempat tidur. Dia suka tiduran di bawah sana sambil menggambar keluarganya  pada papan ranjang di atas. Dia memelihara keong (atau umang-umang gede?) dalam toples yang ia beri label anggota keluarga yang lain. Anak ini sebenarnya menambah banyak kepada bobot cerita, aku ingin melihat bagaimana dia dealing with sikap mamanya lebih banyak, ingin melihat kebiasaan-kebiasaanya lebih sering. Dan actually keong – dan juga kereta api – punya peran yang penting. Padahal tadinya aku pikir bahwa keong itu cuma dijadikan lucu-lucuan, saat Fahrul dan Tika pertama kali ketemu di dalam kereta api, Fahrul just so happened membawa keong di dalam kantongnya. Ternyata aku salah. Keong menjadikan film ini unik.

malahan kupikir kostum yang mereka pakai di runway ntar bakal mirip rumah keong haha

 

 

Bisa dibilang film menggunakan keong sebagai metafora buat para tokoh sentral. Tika menyangka dia adalah keong yang diberikan rumah. Di pihak lain, tanpa disadarinya, Tika adalah rumah keong terindah bagi anak-anak dan suami ‘keong’nya. Dan di akhir cerita keong-keong itu pulang ke rumah mereka masing-masing. Begitu juga dengan kita; punya ‘rumah personal sendiri’ tempat kita berpulang, berlindung, berkasih sayang. Ini bukan lagi semata tentang membangun rumah, melainkan bagaimana cara pulang ke sana.

 

Dalam film ini kita akan melihat gimana Tika berbagi tugas dengan ibu-ibu yang lain dalam menyelesaikan pesenan. Dan unfortunately seperti itu jugalah penulisan film ini terasa. Kayak para penulisnya dibagikan bagian masing-masing, terus baru digabung begitu saja. Tentu saja ‘tuduhan’ku ini juga menyasar kepada editing yang menurutku tidak benar-benar berhasil mengantarkan cerita dengan flow yang maksimal. Terutama di paruh awal. Terasa seperti kita diloncat-loncat ke bagian yang ada konfliknya, hanya untuk menunjukkan konflik itu ada, tanpa dibuild up ataupun juga diselesaikan dengan baik dan memuaskan. Ada bagian ketika Tika yang baru mulai usaha diminta menyelesaikan 1000 baju dalam seminggu; ini konflik, kita diperlihatkan, namun penyelesaiannya dihajar dengan menggunakan montase. Seharusnya adegan Tika bonding dengan ibu-ibu yang lain, bagaimana mereka mencari orang, mengusahakan misi ala Roro Jonggrang ini, dilakukan dengan lebih on-the-point. Tone cerita di sepuluh menit pertama juga tercampur tidak rata; kita dilihatkan animasi lucu  dengan suasana ceria, untuk kemudian dilanjut ke konflik gede yang actually crucial untuk cerita, dan aku seperti “whoaaa, tunggu dulu, aku belum siap untuk peduli sama mereka”

Backstory di bagian awal tersebut juga kurang efektif dan mestinya bisa dilakukan dengan lebih baik lagi karena kita hanya diperlihatkan awal mereka ketemu, tanpa kita pernah benar-benar tahu mereka siapa. Tentu saja, bagus juga kita dibuat mengenal siapa karakter seiring waktu berjalan, tapi kalo dengan cara ini kita mendapatkan ada satu tokoh ujug-ujug muncul di babak akhir demi memancing elemen cemburu, pikirku sih baiknya diambil cara lain yang membuat konflik-konfliknya terasa gak kayak di-throw away, sekaligus mencari cara untuk penonton mengenal baik tokoh-tokohnya sedari awal.

 

 

 

Meskipun agak messy di paruh awal, film ini tetap bisa dijadikan pilihan tontonan ketika ngumpul bareng keluarga. Trope-trope drama sering membuat film ini kayak dibuat-buat, hanya saja keunikan metafora cerita membuatnya masih menarik untuk disaksikan. Aku juga suka gimana film ini berjuang membangun dunianya, mereka setia menggunakan kereta api walaupun beberapa adegan jadi sedikit mengangkat alis kita menanyakan ‘kenapa?’ Sedikit editing ataupun pemindahan letak adegan bisa mengimprove film ini. Aku juga enggak keberatan kalo durasinya dipanjangkan demi membuat hubungan antarkarakter lebih terflesh out, untuk membuat layer ceritanya lebih masak lagi. I mean, kalo Tika sanggup membuat lebih dari dua kodi, kenapa filmnya enggak bisa jadi lebih panjang dan berbobot, ya gak?
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars of 10 for BUNDA: KISAH CINTA 2 KODI

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017