BEAUTY AND THE BEAST Review

“Sometimes, if you truly love somebody, you have to let them go their own way. And if it’s true love, it will find it’s way back to you.”

 

 

Buatku, menyongsong film Beauty and the Beast ke bioskop ini rasanya seperti menjemput kembali seorang teman lama. Bersama Petualangan Menuju Pusat Bumi karya Jules Verne, cerita bergambar Beauty and the Beast adalah buku cerita pertama yang aku punya. Aku bahkan dapat dua buku itu sebelum aku bisa membaca. Aku masih ingat tampang kesel orangtuaku setiap kali aku minta bacain ulang ceritanya, setiap hari. Jadi terkadang aku cuma melototin gambar-gambarnya. Scene Beast berantem ama serigala, Beast diobatin oleh Belle, Beast kena panah Gaston, cerita dongeng ini strike the little me sebagai pengantar tidur yang magical. Dan setelah bertahun-tahun kemudian, aku duduk, sekali lagi diceritakan – kali ini oleh gambar-gambar manusia yang bergerak — tentang kisah yang sudah familiar, hanya saja sekarang aku sudah bisa ‘membaca sendiri’. Actually, sekarang aku menontonnya sembari mengeksaminasi ceritanya. It’s like being jugemental to an old friend. Dan aku sangat puas, karena teman lamaku ini tidak banyak berubah.

Film ini pretty much MENGIKUTI FORMULA CERITA ORIGINALNYA nyaris pada setiap aspek. Dari adegan ke adegan. Lokasi ceritanya sama, kejadian demi kejadian pun sama. Sebuah istana kerajaan yang dapet hadiah kutukan berkat ulah selfish dan kasar dari si pangeran. Seluruh penghuni istana itu sekarang menjadi benda-benda kayak jam, cangkir teh, lemari, dan candlestick. Kemudian ada si Belle, cewek kutu buku yang harus tinggal di dalam istana tersebut. Belle ‘dikurung’ di sana lantaran para penghuninya ingin Belle bisa jatuh cinta kepada si pangeran yang kini berbulu dan bertanduk dan bertaring. Dengan harapan kutukan terhadap mereka bisa hilang. Hanya ada beberapa adegan baru yang diselipin yang enggak kita temukan pada versi animasi klasiknya. Mereka menambah sedikit elemen baru, mengupdate beberapa sehingga lebih sesuai dengan modern day. Namun secara keseluruhan, ini adalah film yang sama dengan versi animasi tahun 1991, bedanya kali ini diceritakan dalam format live action. Yang mana semuanya terlihat sangat good-looking.

“after all, this is France”

 

Tapinya lagi, keterlalusamaan tersebut bukanlah tergolong cela. Maksudku, kalo enggak ada yang udah rusak, kenapa mesti diperbaiki, ya gak sih. Beauty and the Beast yang sendirinya adalah adaptasi dari kisah rakyat Perancis adalah memang cerita yang udah bagus dan indah. Bukan tanpa ada alasan loh animasi klasik Disney tersebut jadi film animasi pertama yang sukses nembusin diri berkompetisi di nominasi Best Picture Academy Awards. Aku senang (dan honestly, lega) film ini enggak sok-nekat dan mengubah formula gila-gilaan. Beauty and the Beast 2017 adalah FILM JELITA YANG BIKIN BAHAGIA setiap mata yang melihatnya.

Lagu-lagu yang sudah begitu dicintai are still there in the film. Emma Watson dan Dan Stevens, malahan seluruh pemain melakukan kerja yang sangat baik dalam menampilkan musical numbers mereka. Musik film ini begitu asik untuk didendang. Ada beberapa tambahan lagu juga, namun enggak kerasa jomplang dengan lagu klasik, karena film ini actually menghadirkan komposer dari film original untuk nanganin departemen musik dan lagu.

Lagu Evermore yang dinyanyikan oleh Beast dalam film ini bener-bener hits me hard. Tidak lagi aku melihat cerita ini sebagai “kita enggak boleh ngejek orang jelek, nanti kita jadi jelek juga” kayak yang dinasehatin mamaku setiap kali beliau selesai bacain bukunya. Beauty and the Beast juga adalah cerita tentang unrecruited love; tentang berkorban demi sesuatu yang kita cintai. Beast belajar memenjarakan Belle tidak akan menumbuhkan cinta, dia perlu untuk membiarkannya pergi. Karena letting people go so they can be happy adalah salah satu bentuk paling nyata dari cinta sejati.

 

Seluruh pesona magis dari film originalnya berhasil ditangkap dengan sangat permai. Musik, production design, dan penampilan para pemain terasa fantastis. Bill Condon dalam film ini membuktikan bahwa Twilight Breaking Dawn bukanlah salah arahannya hahaha. Di bawah penanganannya, Beauty and the Best tampil dengan kostum cantik dan set yang glamor. Semuanya stunning banget. Tentu saja ada banyak penggunaan CGI dalam film ini, dan dilakukan dengan begitu terinkorporasi ke dalam elemen live-action sehingga semuanya tampak mulus. Tokoh-tokoh benda anthropomorphic digambarkan, tidak dengan imut, tetapi lebih kepada agak-menyeramkan karena film ingin menekankan kepada tema lihat-lebih-jauh-dari-sekedar-tampang-di-luar. Motion capturenya juga bekerja dengan fluid dan sangat baik. Aku suka pembawaan Dan Stevens sebagai Beast. Dia tampak sangat simpatis, namun pada saat yang sama kita enggak benar-benar kasihan padanya hanya karena dia sudah dikutuk.

Tokoh manusia juga terasa sangat hidup. Desa kecil mereka tampak vibrant sekali ketika Belle berkeliling, nyanyi bareng penduduk. Emma Watson sebagai Belle yang mandiri, strong, independen, tapi matanya kelihatan merindukan sesuatu – always long for more terlihat sangat comfort memainkan perannya. Meski begitu, Emma tampak sedikit terlalu pintar buat menyampaikan efek terperangah ketika melihat sesuatu yang ajaib. Cerita sepertinya memang meniatkan buat Belle tampak lebih nyaman berada di istana dibandingkan di kampungnya yang penuh prasangka terhadap persona yang berbeda, but it just sometimes kita ngarepin ada sedikit lebih banyak lagi emosi terkuar dari ekspresi Belle. Salah satu delivery Emma yang aku suka adalah ketika ngeliat tampangnya saat dibawa masuk oleh Beast ke dalam perpustakaan istana. Gaston, however, adalah tokoh yang sangat sempurna dibawakan oleh Luke Evans. Entertaining, deh. Si narsis ini napsu banget ngejar Belle, tapi Belle just want nothing to do with him. Dan dia enggak segan-segan ngebully hanya untuk memperkuat poinnya.

Jika kalian udah pernah nonton atau baca animasinya originalnya (aduh, masa ada yang belum sih?), kalian akan tau ada sedikit dark message dari cerita Beauty and the Beast. Bahwa benih cinta Belle dan Beast tumbuh dari perasaan mutual seseorang yang dikucilkan. Belle dikata-katain karena suka baca buku, ayah Belle dianggap gila karena sedikit eksentrik. Penduduk desa instantly ingin membunuh Beast setelah melihat wujudnya. Lewat Gaston, film ini mendemonstrasikan kecenderungan masyarakat untuk lebih ‘menghargai’ pembully selama mereka punya karakteristik yang sama dengan society.

 

 

Salah satu dari sedikit elemen yang dibengkokkan oleh film ini adalah gimana hubungan Belle dan Beast terbentuk. Dua tokoh sentral ini diberikan backstory yang baru. Kita melihat sejarah keluarga Belle lebih jauh dalam sekuen adegan yang aku sebut dengan sekuen Buku-adalah-Jendela-Dunia. Hahaha, beneran, aku suka gimana film ini RESPEK BANGET SAMA BUKU. Jaman sekarang buku udah mulai ditinggalin, majalah aja banyak yang pindah ke online, aku harap setelah nonton Beauty and the Beast, penonton muda jadi penasaran pengen ngerasain gimana rasanya bertualang bersama buku. Dalam film ini, Beast dikutuk saat dia udah gede dan ketika dia suda menjadi monster, dia masih bersikap sama dengan ketika dirinya masih manusia. Dia cerdas. Dan dia juga suka baca buku. Belle dan Beast berbagi saling kecintaan mereka terhadap buku, saling berbagi pengetahuan, bertukar pikiran, mereka tidak tumbuh jatuh cinta karena Belle kasian dan ngajarin Beast banyak hal kayak di versi 1991. Dalam film ini hubungan mereka terasa lebih mutual dan lebih grounded. Adegan Belle bilang dia suka Shakespeare dan Beast pasang tampang “lu mainstream banget sih, buku lain banyak kali” adalah salah satu adegan termanis buatku.

Begini jualah tampangku ketika pertama kali tahu dan diajak masuk ke toko buku Kinokuniya

 

 

Film ini juga mutusin buat ngetweak certain character. Ada portrayal yang bakal bikin orangtua merasa awkward udah ngebawa anak-anak nonton film ini. Peran tersebut ‘disamarkan’ dengan baik sebagai comic relief, meski saga nya actually berjalan beriring dengan tema unrecruited love yang jadi salah satu bahasan utama film ini. Disney udah ngambil keputusan yang berani buat masukin elemen tertarik-kepada-sesama-jenis ke dalam film buat keluarga. Kita boleh saja bersikap open-minded, namun kita juga gak bisa nyalahin kalo ada yang sampe ngelarang film ini tayang di negara mereka. Ataupun kalo ada orangtua yang enggak suka. Ini adalah masalah yang bisa dimaklumi meski padahal sebenarnya sejak dulu Beauty and the Beast selalu jadi korban becandaan soal bestiality.

 

 

 

Film ini menambah daftar keberhasilan Disney dalam mengadaptasi animasinya ke dalam live action setelah Cinderella (2015), The Jungle Book (2016), dan Pete’s Dragon (2016). I was very happy with what I got. Jejeran castnya really on-point. Ini adalah film yang cantik, menawan kita kayak Beast menawan Belle, fantasi yang ajaib, cerita cinta yang manis dan mengharukan. Punya inklinasi yang jauh lebih dalem dari sekedar “buruk di luar belum tentu buruk di dalam”. Namun buat yang ngarepin tontonan yang lebih original dan yang benar-benar berbeda dari versi sebelumnya mungkin bakal kecewa karena urgensi magisnya memang jadi berkurang.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BEAUTY AND THE BEAST.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

LOGAN Review

“Fuck yeah give it to me, this is heaven, what I truly want; It’s innocence lost”

 

logan-poster

 

Di tahun 2029, Wolverine jadi supir limosin. Dengan nama samaran, dia nganterin penumpang-penumpang yang kebanyakan dari kelas atas, ke tempat tujuan mereka, demi uang yang digunakannya bakal obat buat Profesor X. Masa depan Logan tampaknya memang enggak begitu ceria, semuanya sekarat. Profesor sakit-sakitan. Mutan-mutan punah. Begitu juga dengan kekuatan yang bersemayam di dalam dirinya. Tapi Logan lebih suka begini. Dia selesai dengan ‘permainan’ jadi superhero. Dia letih melihat satu persatu temannya meninggal. Logan dan Charles Xavier sama-sama sudah siap menghadapi takdir mereka, yang membuat mereka deep inside bilang “Alhamdulillah bakal datang juga”. Tapi sebelum kesempatan beristirahat itu tiba, Logan musti kembali mengeluarkan kuku adamantiumnya. Kali ini buat ngelindungin gadis cilik misterius yang diburu oleh sekelompok pasukan. Logan, enggak begitu yakin siapa dan ada apa dengan bocah ini, sekarang harus ngetake care dua orang. Jadi sembari Wolverine mencincang dan menyayat anggota tubuh orang-orang jahat, dia juga harus belajar tentang siapa anak ini – yang tentu saja juga membuat Logan belajar lebih banyak tentang dirinya sendiri, dan hal tersebut menyayat hatinya. Sementara gadis cilik ini, well, dia mungkin enggak butuh pertolongan sebanyak itu sebab ia sendiri punya trik khusus di balik lengan bajunya.

Keputusan-keputusan yang diambil oleh film ini sukses membungkus ceritanya menjadi PERJALANAN YANG MEMUASKAN. Dalam Logan kita akan melihat Wolverine memegang komik X-Men, menunjukkannya kepada Prof X, membaca tentang petualangan mereka, untuk kemudian melemparnya begitu saja. Like, “Hey Prof, lihat nih.. petualangan kita” *balik balik halaman* “Pfft ngarang banget!”

Elemen komik X-Men yang secara fisik eksis dalam dunia cerita film ini bener-bener adalah sebuah ide yang sangat fresh dan cerdas. Komik tersebut bukan hanya sebagai tempelan humor, melainkan eventually menambah layer terhadap plot dan karakter. Cerita ini mengambil setting waktu jauh di masa depan, tentu saja dalam rentang Days of Future Past sampai ke ‘sekarang’ itu, sudah banyak petualangan yang mereka lalui. Orang-orang bersyukur atas kehadiran X-Men sampai-sampai mereka menulis buku komik tentang para pahlawan tersebut. Namun superhero juga manusia, bersama kekuatan hebat turut serta pula tanggungjawab yang gede. Komik hanya tahu tidak lebih dari seperempat apa yang mereka beneran hadapi. Reaksi Logan terhadap cerita fiksi dirinya berkostum spandek kuning-biru mencerminkan gimana kontrasnya dia dan orang lain dalam memandang eksistensinya sebagai Wolverine itu sendiri.

Memang, film Logan berada di barisan yang sama dengan apa yang dilakukan Christopher Nolan terhadap Batman alih-alih terasasejajar dengan apa yang kita dapat dari film-film Avengers dari Marvel.

 

Ini adalah sajian DRAMA SERIUS DENGAN LEDAKAN AKSI yang menyertainya. Logan adalah film kejam bertone kelam yang nunjukin karakter yang sembilan-puluh-sembilan persen udahan dengan yang namanya harapan. Meski begitu, kita tidak akan melihat Wolverine ataupun Prof X berkeliling bermuram durja dan depresi sepanjang waktu. Karakter-karakter ini belum kehilangan selera humor sepenuhnya. Ada banyak fun dan lelucon yang bisa kita nikmati dari interaksi antara para tokoh, terutama dari Wolverine dan Prof X yang hubungan mereka sudah terestablish dari film-film X-Men terdahulu. Aku suka dialog di meja makan saat Logan menyebutkan kepada orang-biasa bahwa pria botak tua di seberang meja itu dulunya pernah mengelola sekolah. Ada secercah diri mereka yang dulu hadir dalam pandangan mata dua karakter ini. Hal inilah yang membuat tokoh film Logan begitu hebat dan menarik; Melihat tokoh yang sudah kita kenal dan cintai diletakkan dalam posisi yang nian gelap dan mengukung dan nyaris terlupakan, sehingga kita ingin melihat sosok mereka yang sebenarnya keluar. Perasaan yang sangat fantastis melihat mereka, apalagi gadis cilik yang baru gabung itu, saling menumbuhkan rasa percaya dan saling mengapresiasi, saling belajar untuk menjadi pahlawan bagi satu sama lain.

“kapan gue ngelawan Pteranodon berkolor pink?”
“kapan gue ngelawan Pteranodon berkolor pink?”

 

Memainkan penampilan terakhirnya sebagai tokoh Wolverine, Hugh Jackman sekali lagi menunjukkan kekerenan yang luar biasa. Kita akan merindukan orang ini jika Wolverine masih muncul di film-film berikutnya. Hugh Jackman, sudah memerankan Wolverine dalam sepuluh kali kesempatan, dan portrayalnya dalam film ini adalah yang terbaik. Karena memang karakternya di sini adalah yang terdalem. Melihat Wolverine begitu ‘terluka’ menyibak kembali masa lalunya, membuat hati kita terasa tersayat juga. Hugh Jackman sangat fantastis memainkan karakter ini. Dia lelah. He’s broken down. Dia babak belur secara fisik dan secara emosi. Maksudku, Logan yang ini adalah bayang-bayang dari siapa yang he used to be. Jadi, ketika ada yang’ menantang’nya, rasanya menakjubkan sekali melihat persona Wolverine yang lama menerjang keluar. Satu kata untuk mencerminkan Logan adalah brutal.

Patrick Stewart juga sukses luar biasa memainkan perih karakternya. Beliau sakit, dia sering ngalamin episodes of seizures. Kebayang dong, dampaknya apa jika manusia dengan otak paling ‘berbahaya’ di muka bumi ngalamin seizure. The fact is, Profesor X sudah begitu tua, dia tidak mau apapun selain keselamatan orang-orang dan rumah. Karakter ini akan menambah lapisan emosi buat tokoh utama kita. Mengenai tokoh Laura, gadis cilik misterius yang harus dilindungi Wolverine, aku gak akan beberin banyak. Yang kudu aku katakan adalah Dafne Keen bermain sangat bagus. Ekspresinya enggak pernah gagal menyampaikan sesuatu kepada kita. Elemen utama film ini adalah rage, dan di tangan Dafne, tokoh Laura menjelma menjadi begitu lovable. She’s kind of terrifying actually, namun siapa sih yang enggak suka ama karakter cute yang capable nendang bokong dengan ganas?

ngeliat Logan dan Laura membuatku teringat sama Zaraki Kenpachi dan Yachiru dari anime Bleach
ngeliat Logan dan Laura membuatku teringat sama Zaraki Kenpachi dan Yachiru dari anime Bleach

 

Untuk bener-bener mencapai tingkatan emosional yang diincer, film tidak-bisa tidak tampil dengan rating Dewasa. Oh Tuhan, film ini sadis banget. Ingat Deadpool (2016) yang juga enggak nahan-nahan dalam nampilin adegan kekerasan? Well, seenggaknya Deadpool masih bertone komedi. Dalam Logan, tidak ada yang lucu saat Wolverine ngamuk. Memotong kaki dan tangan, menghujamkan belati adamantiumnya ke tengkorak orang. Darah muncrat di mana-mana. Potongan kepala menggelinding di tanah. Anak balita yang dibawa serta nonton sama pasangan muda di barisan di depanku nangis kejer, and I was like “selamat, kalian udah bikin anak sendiri trauma!”. Dari segi action, ini adalah film superhero yang paling sadis. I love it so much. Sudah lama kita berkelakar soal gimana efek tajamnya kuku Wolverine di berantem real life, di film inilah kita akan beneran melihatnya. Dan memang, rating Dewasa film ini turut andil menghantarkan cerita emosional yang powerful. Karena ada elemen dari penokohan yang enggak akan maksimal jika ditahan-tahan. Cuma inilah jalannya. FILM INI PERLU UNTUK JADI SADIS, KEJAM, DAN BRUTAL.

It might be kind of long reach buat dimengerti, namun saat menonton aksi dan emosi si Logan yang begitu lepas bebas di film ini, serta merta penggalan lagu Gods and Monstersnya Lana Del Rey bergaung di telingaku. Wolverine sudah begitu banyak melihat orang yang ia peduli berguguran. Setelah Prof X, dia sudah siap untuk ‘pensiun’ di tengah laut. Dia sudah siap untuk kehilangan semua. Tapi Logan’s deepest desire is to protect anyone. Kehadiran Laura dan anak-anak itu membuatnya sadar dia tinggal di dunia penuh ‘tuhan’ dan ‘monster-monster ciptaan mereka’, tempat di mana tidak ada keinosenan. Dan sungguh heartwrenching melihat Logan mendapatkan rumah yang ia cari.

 

Babak pertama dan ketiga adalah bagian yang terbaik dari film ini. Menarik dan terasa sangat intens. Porsi action memang mostly terletak pada kedua babak tersebut. Aku perlu menekankan bahwa action dalam Logan tidak terasa seperti fantasi ala film-film superhero yang lain. Aksi di sini lebih berfokus kepada koreografi dan penyampaian cerita, disyut dengan in-the-moment sehingga setiap ayunan tangan Wolverine begitu compelling. Sedangkan, babak kedua film – yang lebih ke road trip movie featuring mutants – agak sedikit goyah. Tidak ada yang terasa dramatis dan penting banget hadir di babak ini. Pemanfaatannya lebih ke buat pengembangan karakter. Untuk membuat Laura dan Wolverine tumbuh, hanya saja tidak ditulis semenarik apa yang harusnya bisa dibuat lebih. Selain itu, kadang sorotannya pindah ke karakter-karakter yang tidak punya banyak pengaruh buat keseluruhan film. Kita ingin cerita tetep fokus kedua karakter yang ingin kita lihat lebih banyak, akan tetapi film kerap ngasih liat karakter-karakter yang kurang menarik.

Aku enggak baca semua komik X-Men, jadi mungkin aku salah, tapi rasa-rasanya ada tokoh penting dalam film ini yang completely dikarang oleh scriptwriter. Untungnya sih, tokoh ini dihandle dengan lumayan baik, perannya mostly cukup bekerja for this movie. Ya kita memang harus bisa menerima fakta bahwa enggak semua yang difilmkan wajib banget persis niruin komik. Toh namanya juga adaptasi. I mean, seriously, enggak ada satupun dari kita yang pengen liat Hugh Jackman pake kostum persis Wolverine versi komik.

 

 

 

 

Terlepas dari rating R-nya, visi James Mangold tergambar sangat cantik lewat film ini. It was very well edited as it was very well acted. Pace ceritanya yang cepet enggak akan bikin bosen meski filmnya sendiri lebih sebuah drama dengan selingan aksi ketimbang aksi dengan bumbu drama. Ada sense western diberikan oleh Mangold, yang terintegral sempurna ke dalam cerita. Film koboy klasik Shane (1953) bukan sekedar tontonan selingan para tokoh, melainkan juga punya kepentingan di dalam narasi. Semua elemen dan putusan yang dibuat pada akhirnya terbungkus memuaskan, meski memang film ini tidak lantas sempurna secara emosional. Ada bagian ketika kita merasakan nothing dramatic atau apapun yang menambah bobot cerita. Kadang tone film terasa timpang. Film ini bekerja baik saat dia menjadi brutal dan menakutkan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for LOGAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

MOAMMAR EMKA’S JAKARTA UNDERCOVER Review

“Don’t sacrifice your peace trying to point out someone’s true color.”

 

jakartaundercover-poster

 

Kalo kita mau kenal deket sama orang, alangkah lebih baiknya jika kita tahu yang buruk-buruk tentang orang tersebut. Apa kebiasaan jeleknya; apa dia suka ngeles, apa dia masih sering ngompol, apa dia hobi jajan tapi enggak pernah ntraktir, atau apa dia suka makan upil. Bukan supaya bisa kita manfaatin buat yang enggak-enggak. Supaya kita bisa belajar how to deal with them, gimana supaya kita bisa memahami mereka. Tampaknya hal ini juga yang kepikiran oleh Moammar Emka ketika nulis blak-blakan tentang pengalaman mengarungi dunia malam Jakarta di bukunya yang sensasional, buku yang later menjadi salah satu bacaan terlaris di Indonesia. Ibu kota memang keras, dia bekerja keras dan bermain juga keras. Dan kita diajak mengenal lebih dekat kota ini dari sisi terburuknya. Sehingga kita bisa menghargai Jakarta sampai ke lapisan-lapisannya yang paling rendah sekalipun. Karena memang, at heart, film ini adalah TENTANG RESPEK, RASA PERCAYA, DAN CINTA.

Jakarta Undercover yang ini actually adalah film kedua yang diangkat dari cerita-cerita bukunya. Jujur aku belum baca bukunya. Jadi aku gak bisa ngobrol banyak saat ketemu sama Mas Emka di closed screening beberapa bulan yang lalu. Saat buku Jakarta Undercover ngehits aku masih dalam fase usia yang polos. Ceile alasannya ahahaha. Film pertama yang dibintangi Luna Maya, tayang 2006 lalu, juga aku belum pernah nonton. Jadinya lagi, aku gak bisa bikin perbandingan antara film yang disutradarai oleh Fajar Nugros ini sama film yang pertama itu. Namun sukurnya ini bukanlah sekuel, ataupun remake. Melainkan sebuah babak cerita terpisah, anggap sebagai perspektif yang baru.

Kita melihat film ini dari kacamata Pras, seorang pria pendatang yang mengadu nasib jadi wartawan di Jakarta. Ngerasa gak berguna nulis artikel titipan pencitraan melulu, Pras ingin ngelakuin sesuatu yang signifikan. Pertama kali ketemu Pras, kita melihat dia dalam keadaan lagi lesu-lesunya; dia males ngerampungin artikel wawancara pejabat, kerjaannya minum bir dan turu, dia boongin ibunya yang senantiasa nelpon nanyain keadaan Pras. Kesempatanlah yang kemudian datang kepada Pras. Serangkaian adegan ‘aslinya gak niat nolong orang’ menghantarkan dirinya masuk ke dalam inner circle seorang ‘organizer’ acara-acara underground di Jakarta. Memanfaatkan pertemanannya dengan Yoga, juga dengan Awink, Pras dapet akses keluar masuk berbagai party. Dia diam-diam menulis tentang kehidupan malam yang baru kali ini dia kenal. Tapi tentu saja, things menjadi complicated. Masalah etika masuk di sini. Pras ngerasa bersalah saat tulisannya akan turun cetak. Tak pelak keadaan menjadi berbahaya, karena dunia underground tersebut enggak suka diekspos ke cahaya. Dalam dunia yang mestinya tertutup rapat, kepercayaan adalah hal yang utama, terutama bagi Yoga yang bukan orang sembarangan. I mean, oh man, jika saja Yoga tahu – dan Pras sadar – bahwa ternyata mereka menyintai wanita yang sama..!!!

cinta memang gila
cinta memang gila

 

Menonton film ini, samar-samar aku mendengar kembali nasehat yang pernah dilontarkan oleh guru biologiku waktu SMA. Ketika itu memang di sekolah lagi maraknya berantem antargeng dengan sekolah lain. Jadi yaa, di sekolah semacam buka unofficial open rekrutmen jadi pasukan gitu. Dan si ibu guru dengan suaranya yang keibuan bilang “Dalam pergaulan, kita dan teman-teman saling mewarnai. Jangan sampai diri kita terwarna lebih banyak oleh warna-warna gelap dari teman-teman. Lebih baik kita yang mewarnai mereka dengan warna terang sebanyak-banyaknya.”

 

Dalam usahanya untuk tidak tersilaukan sama gemerlap lingkaran kelam Jakarta, Pras enggak sadar bahwa dia mewarnai orang-orang gabener itu lebih banyak daripada mereka mempengaruhi sikap dirinya. Menurutku, di sinilah letak elemen yang paling menarik dari film Jakarta Undercover. Film ini tidak pernah memperlihatkan orang yang nari-nari nyaris telanjang, orang yang menjual diri, yang transaksi obat-obat, yang berantem demi daerah, orang kayak Yoga, tersebut sebagai pihak yang total hitam. Malahan, kalo mau nunjuk yang paling ‘bengkok’, telunjuk kita akan mengarah ke Pras yang gak pernah terang-terangan nunjukin niat aslinya bergaul dengan mereka. Eventually, kita akan melihat gimana Yoga mempraktekkan apa yang ia dapat dari perbincangannya dengan Pras. Sementara tokoh kita belajar mengenai lingkungan barunya buat cari hal yang bisa dijadikan bahan tulisan, ‘teman-teman’ baru Pras belajar banyak hal positif dari dirinya. Tentang bagaimana keinginan Pras menjadi berguna bagi orang banyak sudah turut mempengaruhi orang lain. Dan Pras gak menyadari itu sampai tulisannya dicetak, makanya dia merasa amat bersalah. Tulisannya bisa berpengaruh terhadap banyak orang, justru in a bad way.

Dan makanya lagi, karakter favoritku di film dengan banyak tokoh-tokoh bercela ini adalah Yoga. There’s so much depth and layers dalam pribadinya. Dia begitu jujur dalam apapun. Dia tahu dia orang berpengaruh. Dia tahu apa yang ia mau. Dia tahu apa yang ia benci. Gabungan dari semua berkumpul dan bermanifestasi menjadi seorang karakter yang kinda menyeramkan, tapi, kita paham dia dan kita respek. It’s such a complex character. Baim Wong luar biasa memerankan Yoga. Memberikan intensitas yang sangat dibutuhkan oleh film ini. Setiap scene yang ada dia seolah berbunyi “tik-tik-tik” bom-waktu karakternya meledak. Setiap scene yang ada Yoga dan Pras, Yoga nanyain Pras sesuatu, dan Pras menjawab canggung, is just dripping oleh perasaan ngeri, was-was. Akting dalam film ini so good, mereka berdua bahkan sebenarnya enggak perlu musik latar buat negasin emosi. Oka Antara juga excellent dalam memainkan Pras yang kelihatan awkward di antara party-party dan lingkungan barunya.

Yang sukses nyulik perhatian semua orang, tak lain dan tak bukan adalah penampilan Ganindra Bimo. Tadinya kupikir peran ‘unik’nya di sini cuma sebagai sidekick buat nyampein comedic relief dan alat eksposisi doang. Awalnya Awink malah lebih ke kayak anak kecil yang annoying. Ternyata Awink juga punya momen dramatisnya sendiri, dan actually menambah cukup banyak buat keseluruhan cerita. In fact, setiap karakter diberikan momen di mana mereka bisa bersinar secara emosional. Bahkan tokoh pendukung minor kayak tokohnya Lukman Sardi juga punya api di sini. Tyo Pakusadewo juga great. Film menjadi begitu intens setelah lewat mid-point. Everything dibangun properly sehingga PERTENGAHAN AWAL TERASA SEPERTI FOREPLAY, DENGAN SEGALA EMOSI TERCROT MEMUASKAN DI PARUH AKHIR.

Everyone’s just finally saling pointing out ‘warna’ masing-masing, dan yang kita tonton adalah adegan yang sama sekali jauh dari damai. Hal yang mungkin sebaiknya tidak dilakukan, biarlah rahasia itu tertutup rapat. Tapi mungkin, di dalam dunia yang tidak necessarily melulu putih atau hitam, itulah tindakan yang harus dilakukan oleh setiap orang; to recognize flaws.

 

Ada banyak adegan-adegan yang memorable dan membekas, karena film ini tampaknya dibuat dengan sangat have fun. Aku suka adegan mandi; Laura menggosok badannya keras-keras ingin mengikis noda yang tak akan pernah sirna. Aku suka gimana mereka memanfaatkan skit orang gila di supermarket sebagai somekind of 4th-wall-breaking messenger kepada penonton. Aku suka adegan makan di warteg sambil ngomongin soal makan temen. Aku suka the very last shot of Pras, aku enggak akan spoil tepatnya apa di sini.

Oke, let’s just address the elephant in the room. Jakarta Undercover adalah film dengan BANYAK ADEGAN DEWASA. Sebagian besar disyut dengan really close. Sangat tense, terkadang ada violencenya juga. Versi yang diputar saat closed screening adalah versi utuh, aku nontonnya jadi kepikiran, “ni film ntar gimana bentuknya abis kena sensor?”. Ternyata mereka berhasil ngetrim beberapa tanpa merusak penyampaian film. Mesti begitu presentasi film ini masih terlalu dewasa, kekerasan dan beberapa perlakuan dalam film bisa jadi hal yang mengganggu, terutama bagi penonton yang easily get offended oleh persoalan nilai wanita dan pria.

 The moment Pras nyesel tape recordernya gak bisa ngerekam video.
The moment Pras nyesel tape recordernya gak bisa ngerekam video.

 

Untuk sebuah film tentang orang yang mencari bahan tulisan dengan bekerja diam-diam, film ini tidak punya sense of discovery yang kuat di dalam ceritanya. Maksudku, memang di film ini masih ada dari kita yang akan baru pertama kali tahu ternyata di Jakarta ada yang begituan (film ini diangkat dari buku yang terbit belasan tahun lalu yang berisi pengalaman penulisnya), namun secara penggalian cerita tidak benar-benar ada hal baru untuk kita temukan. Aku ngerasa ada film yang ceritanya seperti ini sebelumnya, you know, cerita tentang dua orang mencintai wanita yang sama, it’s like usual trope di film-film gangster. Fokus romansa dan nyerempet ke komedi membuat film terasa generic. Film ini jadi terasa ringan, alih-alih suatu sajian pembuka mata yang mestinya bisa lebih heavy, lebih kritis, lebih berdaging.

Endingnya agak sloppy. Aku lebih suka babak akhir versi yang kutonton di closed screening, karena di situ filmnya kinda leave it open buat beberapa hal, kayak adegan shoot out. So at least di ujungnya ada yang berusaha kita discover sendiri. Aku juga agak enggak akur sama penggunaan flashback dan cara film ini actually menggunakannya. Agak keseringan sehingga seolah film ini enggak percaya penonton ingat sama apa yang sudah terjadi di awal-awal. Dan lagi, film ini memakai efek kayak grainy grainy gitu di setiap adegan flashback, sebagai pembeda. Hanya saja justru adegan-adegan tersebut jadi terasa semakin dilempar ke muka kita. Juga adegan mimpi yang heavy oleh editing. Yang sebenarnya enggak diperlukan karena toh dengan segera filmnya ngasih tau itu adegan apa lewat dialog. It takes us away from the story. Mungkin akan lebih baik jika penonton dibiarkan recognized sendiri mana yang real-time mana yang enggak.

 

 

 

Secara sajian memang relatif ringan, tapi bakal ‘berdarah-darah’ oleh penampilan yang bakal menjadi teramat sangat emosional. Towards the end film ini intens oleh performa brutal oleh emosi. Tokoh-tokoh ilm ini akan ninggalin kita dalam keadaan babak belur. Kayak tokoh-tokohnya, teknikal film ini juga ada celanya. Sound design yang agak off. Penggunaan efek lensa/kamera yang somewhat distracting. Playful elemen dalam film ini enggak semuanya bekerja dengan baik. Namun jangan takut jangan khawatir, ini bukan film yang jualan liuk tubuh tanpa busana dan desahan bibir merah. Yang disibak oleh film ini adalah bukan soal betapa ‘kotor’nya Jakarta. Ada misi kemanusiaan yang menguar dari narasi ringan yang menitikberatkan kepada respek, rasa percaya, dan cinta.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MOAMMAR EMKA’S JAKARTA UNDERCOVER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

RESIDENT EVIL: THE FINAL CHAPTER Review

“True identity is found when we start becoming who we were created to be.”

 

residentevilthefinalchapter-poster

 

Kita hidup di dunia di mana kita enggak bisa gitu aja bilang “Gue penggemar Resident Evil, loh”. Karena ada batasan jelas yang memisahkan antara “penggemar film-adaptasi-game terburuk” dengan “penggemar game-survival-horor-terbaik”. Sayang memang, I mean, kenapa mereka enggak lupakan saja soal franchise, just stop, dan ngulang lagi bikin film yang benar-benar mengerikan tentang zombie di rumah tua atau semacamnya?! One can hope film ini benar-benar akan menjadi babak terakhir. Babak final. Penghabisan. Mungkin film ini akan actually bisa menjelaskan lima-belas tahun continuity errors dari cerita yang sudah enggak make-sense lagi.

Ternyata, film ini hanyalah segerombongan adegan mindless action, seperti yang sudah kita kenal baik.

Perlakukan Resident Evil: The Final Chapter selayaknya zombie. Lari! Larilah dari dirinya, demi hidupmu, sejauh mungkin. For this one movie will eat your brain dead!

 

Oke, kalian tahu, aku paling males nulis film jelek karena aku enggak mau isi ulasanku kesannya negatif melulu. Aku selalu berusaha untuk mengangkat sisi baik dari semua film. Apalagi film-film kayak remake dari Poltergeist ataupun reboot dari Fantastic Four sebelum membanting mereka sebagaimana mestinya. I’ve done that in the past, and I’m gonna do it again today. Buat film Resident Evil; yang gamenya selalu aku mainkan dengan semangat meski baru dua seri yang bisa tamat tanpa pake cheat, film yang sengaja aku tunda-tunda menontonnya karena aku benci kalo nanti bakal membenci filmnya lagi, aku sungguh-sungguh mencoba, aku masuk dengan pikiran positif. Aku harap aku bisa ngesell film ini dengan enggak parah-parah amat.

Jika kalian enggak punya masalah sama lima film Resident Evil sebelum ini, jangan pedulikan apa kata kritik. Jangan dengarkan apa yang kutulis. Go watch it and have fun, karena film adalah pengalaman subjektif. Namun, buat sebagian besar penonton, ketahuilah bahwa ini adalah salah satu FILM YANG PALING ‘MENYIKSA’ yang bisa kita tonton di bioskop in a recent year.

Supposedly menyambung langsung cerita terdahulu, Alice mendapati dirinya terbangun sendirian di reruntuhan. Dia kemudian digreet oleh monster-monster bioweapon sebelum akhirnya disapa oleh Red Queen, si A.I. yang mengambil persona anak kecil. Mantan lawannya tersebut meminta Alice untuk kembali ke Raccoon City karena Alice adalah cewek perkasa badass abis yang enggak pernah mati meski ada banyak zombie, dan kali ini Umbrella Corporation ingin melenyapkan sisa-sisa manusia dengan T-Virus, so Alice harus menghentikan itu sambil harus nemuin anti dari T-Virus yang disimpan di markas Umbrella di Raccon City (alias lokasi film yang pertama). That’s the storyline, simpel, ala misi video game banget, namun membingungkan karena beberapa keadaan terlihat enggak begitu cocok dengan cerita-cerita sebelumnya.

Dazed and confused.
Dazed and confused.

 

Untuk membuat cerita lebih mudah dipahami, para pembuat film ini merakit penceritaan dengan FORMULA YANG SEDERHANA; eksposisi – big action – eksposisi – big action – eksposisi – big action – dan begitu seterusnya. Film dimulai dengan rangkuman apa yang sudah terjadi, just in case kita belum pernah nonton film-film sebelumnya. Kemudian ada adegan aksi di atas kendaraan. Setelah itu, karakter-karakter kita ngumpul berkeliling dan seseorang tells them a story. Disambung oleh adegan action lagi, tembak-tembakan. Wuih! That’s how the entire film plays out. Ada satu momen yang efektif; saat ada tiga zombie yang lagi tergantung, mendadak come to life dan menyambar ke arah truk yang sedang melaju. Pengambilan gambar yang really creepy.

Kalo ada yang lebih jelek daripada tampang para zombie, maka itu adalah sekuens aksi. Serius deh, adegan-adegan aksi film ini disyut dan choreographed horribly. Dalam film, ada yang dikenal dengan teknik Eye Tracing; di mana pergerakan kamera diperhitungkan sedemikian rupa sehingga aksinya membimbing fokus pandangan penonton. Dalam film ini, eye tracingnya parah sekali. Semuanya diedit dengan sangat cepat, kita tidak bisa melihat dan memahami apa yang sedang terjadi. Ada yang mati pun, kita enggak bisa langsung ngeh siapa yang jadi korban. Dalam adegan dengan kipas gede, misalnya, aku butuh beberapa scene bolak-balik untuk bisa recognized siapa yang isdet.

To make it worse, sutradara Paul W.S. Anderson menonton Mad Max Fury Road (2015) sebelum dia bikin storyboard film ini. Jadi, beliau dengan segala kehumbleannya sebagai seorang filmmaker mencoba ngerecreate keawesomean visual style yang sudah dibuat oleh George Miller. Dua-puluh-menit pertama jelas sekali Resident Evil ingin mengemulasikan gaya edit cepat, it is the biggest rip-off of Mad Max yang pernah kuliat, dan film ini come short – malah terlihat sebagai upaya amatir alih-alih membuat adegannya enak dan intense untuk ditonton. Resident Evil: The Final Chapter adalah film berbudget gede dengan EDITING TERBURUK yang pernah kutonton sejauh ini. Liat aja sendiri, medium shot lengthnya pastilah kurang dari satu detik. Satu contoh lagi yaitu pas di adegan Alice berhadapan dengan this huge bioweapon creature. Alice menembak monster itu dengan dua pistol as the monster berlari ke arahnya. Kamera ngecut bolak-balik dengan sangat cepat di momen ini sehingga aku bersyukur enggak punya migrain dan enggak nonton ini dalam format 3D.

Semua elemen dalam film ini dicut dan digabungkan dengan begitu manipulatif demi memancing keseruan. Supaya kita merasa sedang menonton sesuatu yang keren, untuk membuat kita berpikir sesuatu yang amazing baru saja terjadi. Bahkan musik dan sound-designnya bekerja keras untuk menipu kita. Sepanjang film kita akan dibombardir oleh jump scare yang datang susul menyusul. Alice berjalan di suatu tempat, suasana hening, dan beberapa zombie muncul lengkap dengan suara yang over-the-top. Film ini penuh oleh serangkaian momen yang berusaha untuk terkesan seram tapi nyatanya cuma annoyingly loud dan sangat absurd. Mencoba begitu keras untuk menekankan kesan urgensi dan finality, this film is FILLED WITH SO MANY TIRED MANIPULATIVE WAYS OF EDITING FILM TOGETHER.

Mengingat gimana ngasalnya cara mereka mengedit film ini menjadi satu kesatuan, sebenarnya adalah fakta yang sangat ofensif, that sekelompok orang datang menonton ini dan bilang filmnya bagus. Malahan film ini nomer satu di box office Indonesia! Dan lebih ofensif lagi mengingat gimana film ini bisa diluluskan sebagai sebuah film in the first place.

 

Ada sedikit cercah film ini membahas sesuatu yang lebih dalem, seperti apa yang sebenarnya ingin dikatakan dari Umbrella yang demen bikin clone. Harusnya ada talk yang mendalam soal Alice yang kini come in terms dengan identitasnya, bukan sebagai simbol – melainkan sebagai seorang individu. Aku suka mereka ngeemphasize “My name is Alice” di awal dan akhir film. Aku selalu membahas dan menekankan soal karakter setiap ngereview. Karena toh tidak akan ada film, tidak akan ada cerita jika tidak ada karakter. I love movies karena aku suka berpikir soal karakter manusia. Dan dalam film ini? HAH!!! Film ini lebih mengutamakan aksi ketimbang karakter.

Alice enggak ngapa-ngapain selain cuma wadah yang bisa nembak ribuan zombie. Alice doesn’t do anything untuk mendapatkan pengakuan sebagai badass action hero. Dia begitu ya karena ditulis begitu. Ada bagian cerita di mana Alice sampai di compound yang apparently dipimpin oleh orang lain, kemudian segerombol besar zombie muncul, dan Alice mengambil alih kepemimpinan gitu aja, no questions asked. Beginilah skrip film ini ditulis. Alice does things, dia nembak, dia ninju, dia akrobat, tapi tidak pernah dia ngelakuin sesuatu yang membuat orang ngeliat dia sebagai pemimpin. Dan aktingnya? Pffft tidak ada akting. Milla Jovovich did an easy job here, dia malah enggak perlu repot berakting kesakitan. Alice is such a worst character, sampai-sampai ada adegan di mana dia ngedetonate bom beberapa jengkal dari antivirus yang berusaha ia selametin, tanpa tedeng aling-aling, tanpa pikir-pikir dulu soal akibat dari tindakannya.

Alice got her “I’m your father” moment
Alice got her “I’m your father” moment

 

 

 

Jika ingin pengalaman yang luar biasa sehubungan dengan dunia zombie, atau mau nikmatin the feeling of survival horor, saranku; just play the game, seriously. Ada seri terbaru Resident Evil yang keluar buat PS4 and itu serem dan keren banget. Film ini fails to deliver apapun, not even the sense of finality. It doesn’t respect us as the general audience. Film ini bahkan gagal catering buat fans loyal mereka yang sudah lima-belas tahun ngikutin. Orang-orang yang udah sit through all of them. Karakter-karakter yang entah gimana. Twist terakhirnya sangat absurd dan pointless, completely dishonor tokoh utama cerita. Terutama memberikan dampak yang buruk buat film-film terdahulunya. Tidak ada yang make sense di sini. Endingnya, efeknya, editingnya, semuanya so awful. Turns out, film ini menghinaku lebih banyak ketimbang apa yang aku ucapkan dalam menilai jujur dirinya.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for RESIDENT EVIL: THE FINAL CHAPTER

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

FENCES Review

“Boundaries don’t keep other people out, they fence you in.”

 

fences_teaser-poster

 

Entah itu untuk menjaga agar pihak luar enggak bisa sembarangan masuk, atau supaya yang di dalem enggak bisa sekonyong-konyong ngelayap ke luar, orang membangun pagar dengan alasan keamanan.

 

Rose Maxson mengingatkan suaminya, Troy, untuk segera menyelesaikan pagar di halaman belakang rumah mereka. Rose wants to keep her family together. Troy, sebaliknya, lebih melihat kegunaan pagar sebagai poin yang pertama; to keep things out. Dan as much as dia fearless dan percaya kepada kebebasan, being a negro membuatnya terbatas dalam beberapa hal, Troy membuat pagar lebih kepada bentuk pembuktian that he’s capable of providing his family. He wants to keep people out jauh-jauh dari pahamnya sendiri. Dualitas simbolisasi pagar adalah garis batas yang mengelilingi cerita film yang diangkat dari drama teater ini. Troy dan Rose adalah pasangan suami istri yang hidup di daerah urban amerika 1950, and this film tells how they live their live dengan segala problematika dan strugglenya.

Cukup lucu banyak orang yang meragukan film ini disebabkan oleh filmnya sendiri hanya berupa serangkaian SEKUENS DIALOG-DIALOG PANJANG di lokasi yang di situ situ melulu. Terasa sekali seperti play yang disadur ke media film. Dalam film ini yang akan kita lihat adalah orang-orang beragumen atau saling bercanda, bernyanyi, ataupun lagi mendongeng. Padahal, banyaknya dialog tidak pernah jadi penghambat sebuah film yang ditulis dengan sangat hebat. I mean, lihat saja 12 Angry Men (1957) atau Carnage (2011)nya Roman Polanski atau sesama adaptasi teater August: Osage Country (2013), some of the best movies of all time menampilkan dialog demi dialog maha-panjang set in one or two locations. Fences tidak pernah keluar dari pagar environmentnya, dan itu pulalah yang bikin kita tersedot masuk terus ke dalam cerita.

Sekuens percakapan panjang dalam film ini were so well-crafted, emosi kita akan dibawa turun naik olehnya, kayak, percakapannya dimulai dengan ringan, kita tersenyum dan tertawa bersama para tokoh, sampai kemudian seseorang mengatakan sesuatu. Atau mungkin mereka cuma ngelakuin hal yang not necessarily gak-sopan, misalnya anak Troy yang menatap ayahnya dengan pandangan yang sedikit merendahkan, and snap! Semuanya berubah menjadi gak-enak dan Troy, oh boy, bapak yang satu ini akan berubah menjadi seorang yang lantas marah-marah; galak dan keras kepala.

Pagar makan tanaman
Pagar ngehajar tanaman

 

Kunci film seperti ini selain di writing, juga terletak pada performancenya.  Film ini punya beberapa penampilan terbaik yang bisa kita saksikan di 2016.  Denzel Washington, menyutradai sekaligus memerankan Troy, bermain luar biasa brilian dengan range emosi yang fleksibel dan powerful. Tokoh Troy adalah pribadi yang sangat kompleks. Aku suka karakter yang satu ini terus bicara soal dia mengalahkan Kematian di pintu rumah, karena itu actually adalah momen yang nunjukin betapa vulnerablenya dia sebagai kepala keluarga. Babak pertama film mengestablish dia sebagai pria yang bertanggung jawab, pekerja keras, pria yang bercerita tentang gimana dia melaksanakan kewajiban dan menuntut haknya. Troy adalah good old fashioned man yang mencoba untuk provide to his family need, menyediakan atap bagi mereka, memastikan makanan tersaji di atas meja. Kita merelasikan diri kepadanya easily. Namun sepanjang film, kita akan mendapat informasi tersirat bahwa Troy punya banyak cela. That he’s not that great of a person. Dia terus saja menjatuhkan anak-anaknya (even sahabatnya sendiri) dengan batasan yang menegasi keputusan mereka. Kita perlahan belajar siapa diri Troy lewat backstory yang diceritakan dengan subtle; apa yang ia hadapi, how he was raised, dan kemudian masalah mulai menimpa keluarganya. Semua itu, semua pemahaman yang kita dapatkan terhadap karakter Troy akan terasa sangat menyayat hati.

Penampillan akting dalam film ini sungguh kuat, membuat pengalaman nonton kita menjadi berlipat lebih dahsyat, secara emosi. Aku suka gimana film ini, dengan kodratnya sebagai sebuah sandiwara teater, memberikan banyak ruang bagi setiap karakter untuk bertumbuh. Viola Davis sebagai Rose tentu saja pantes banget-banget untuk dinominasikan ke Oscar. In fact, Denzel Washington dan Viola Davis teramat loud dan explosive. Namun begitu, mereka tetap terasa genuine karena kalo kita bawa ke dunia nyata, memang seperti yang mereka portray jugalah reaksi pasangan yang dealing masalah mereka. That there’s gonna big dramatic moments. Tanpa bisa dielakkan. Ada banyak momen di dalam film ini di mana aku sempat lupa sedang menonton sebuah film. And that feeling is so rare dibandingkan film sekarang yang kebanyakan dramanya terasa orchestrated dengan really memancing rasa kasihan kita.

cue “Aaaauuuummmm” in one, two,…
cue “Aaaauuuummmm” in one, two,…

 

Fences juga menyinggung tentang gimana lingkungan sekitar kita turut membentuk pribadi kita. Ini tercermin dari sikap Troy dan sikap anaknya, Cory. Kedua orang ini sama-sama tumbuh menjadi atlet baseball, only dalam jaman yang berbeda. Dan itu actually membuat perbedaan yang sangat besar. Sebagai manusia, naturally, kita mewariskan apa yang sudah membentuk kita. Inilah menjadi problem, karena orangtua will eventually ‘mewariskan’ apa yang sudah ia alami kepada anak-anak. Entah berusaha mendoktrin agar tidak seperti orangtuamereka, ataupun to pass the ‘legacy’. Begitu juga saat anak-anak tersebut dewasa, mereka pada akhirnya akan melanjutkan hal yang sama turun-menurun.

 

Turunan kesalahan menjadi tema berulang yang kerap muncul dalam elemen cerita. Kesalahan orangua seringkali menjadi sumber dari masalah, atau katakanlah derita, yang dialami oleh anak-anak. Ada satu kalimat dari Rose yang menyatakan di sisi mana film ini berdiri, “You can’t visit the sins of the father upon a child.” Film ini percaya bahwa dosa generasi yang satu tidak mesti dibawa turun ke generasi berikutnya. Bahwa sebuah generasi bisa tumbuh lebih baik dari sebelumnya, tidak perlu menjadi seperti mereka. In that way, Rose tidak ingin ada pagar, dan ini memberikan konflik dengan outer journey di mana dia yang ingin membangun pagar. It is also make an ever greater konflik, karena apapun yang Rose pilih, pagar atau tanpa pagar, selalu bertentangan dengan prinsip Troy.

Tidak banyak suara kita dengar membahas kiprah Denzel Washington sebagai seorang sutradara. Film ini, however, membuktikan bahwa Denzel adalah director yang lebih dari sekadar mumpuni. Dia baru punya tiga dalam gudang film panjang karyanya, dan Fences actually adalah film terbaik yang ia hasilkan sejauh ini. Arahan Denzel benar-benar berhasil memancarkan hati dan emosi dengan ledakan yang tak terasa over heboh. Fences adalah film tentang keluarga, setiap adegannya adalah adegan ngobrol sambil duduk-duduk di halaman belakang, di teras rumah, ataupun di meja makan. Tapi film ini managed tidak sekalipun kita melihat adegan mereka ngobrol over sarapan atau dinner atau lunch. I mean, bandingkan deh dengan film Indonesia di mana sepertinya adegan ngobrol dengan occasion duduk ngeliling sambil makan menjadi sebuah pakem film. Kalo enggak ada makan-makannya, gak rame!

Meski begitu, ada satu momen dalam film ini yang mengkhianati segala rasa compelling dan aura realitanya. Momen tesebut datang di adegan penutup. Kita lihat keluarga Maxson menengadah langit, diiringi terompet rusak, mereka memandang awan yang, ah lihat sendiri deh. Alih-alih mendatangkan rasa hangat di hati, malah membuat film menjadi cheesy dan jadi terkesan fake.

 

 

Selain masalah di ending tersebut, ini tidak lain dan tidak bukan adalah film yang excellent. Mengajarkan tanggungjawab dan sejauh mana batasan tanggungjawab itu sendiri sebaiknya kita apply. Film ini menyuguhkan penampilan luar biasa dari setiap aktornya. Apa yang paling aku suka adalah, sama seperti teater, ada banyak ruang luas tak-berpagar yang disediakan naskah untuk pengembangan dan penampilan para tokoh. Drama keluarga yang sangat memilukan dan indah karena tersaji dengan perasaan yang nyata.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 for FENCES.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

SILENCE Review

“… the sudden silence was the Voice of God.”

 

silencecx3zloiucaedlkj-jpg-large

 

Tidak ada yang bersuara ketika tiga penduduk desa yang tertuduh sebagai pemeluk katolik, disalib di atas karang yang digempur keras oleh ombak. Warga yang lain menatap dari balik ujung tombak pasukan Jepang yang berbaris, sama diamnya. Begitu juga Father Rodrigues dan Father Gorupe yang menyaksikan semua penyiksaan dari balik rimbunan semak. Bungkam oleh ketakutan, segala aksi dan rasa tersenyap. Kecuali satu yang berdering keras di dalam hati masing-masing, terutama di dalam jiwa yang dilatih putih suci Father Rodrigues; Keraguan. Benarkah Tuhan akan meringankan derita mereka, atau apakah siksaan mereka sia-sia belaka? Apakah mereka suffer atas nama Tuhan yang mereka yakini atau tiga orang Jepang Kristen itu sesungguhnya sedang mengorbankan diri mereka demi keselamatan dirinya dan Gorupe?

Silence, didirect oleh salah seorang sutradara terbaik yang hidupnya masih terus didedikasikan untuk membuat film klasik yang fantastis hingga sekarang, akan membawa kita on middle ground ke Jepang jaman feudal, tepat di tengah-tengah perang agama. Pengikut ajaran Kristen diburu. Para Father ditangkap, disiksa, hingga tidak ada lagi pilihan selain menanggalkan keimanan mereka. Father Rodrigues dan Father Gorupe datang dari Portugis karena mereka mendapat kabar tentang guru mereka, Father Ferreira, tertangkap penguasa di Nagasaki. Mereka mendengar simpang siur; apakah benar Ferreira sudah denounced his Christianity atau apakah dia masih hidup at all. Dalam film ini kita akan mengikuti kedua Jesuit muda tersebut mencari keberadaan guru mereka sembari berusaha menolong sebanyak mungkin penduduk Jepang yang menganut Kristen di bawah tekanan dan siksaan yang berat. This is a VERY STAGGERING FILM. Kita akan struggle banget menontonnya. It is so difficult. Bukan karena film ini cukup sadis secara fisik. Juga bukan karena film ini durasinya panjang banget. Tetapi karena film ini akan menyayat-nyayat hati kita secara emosional.

Menelaah dengan sangat kuat soal krisis keimanan yang dialami oleh seseorang. Apa yang orang lakukan ketika kepercayaan dan keimanannya mendapat cobaan yang mahadahsyat. Meskipun mungkin bukan pemeluk agama yang diceritakan, kita semua bisa put aside our personal belief selama dua jam setengah lebih untuk menikmati filmmakingnya. Kita semua bisa merelasikan diri kepada film ini dalam tingkatan bahwa ini adalah cerita tentang orang-orang yang mengimani apa yang yang mereka yakin, that mereka memeluknya dengan teguh, tidak akan membiarkan apapun yang menghalangi mereka dari yang mereka percaya tersebut.

Beneran deh, it’s emotionally gutting melihat orang-orang tercabik dari faithnya seperti yang digambarkan oleh film ini. Father Rodrigues, awalnya kita melihat dia sebagai seseorang yang sangat kuat-iman. He has the upmost faith you could possibly have in God. Dan begitu film berakhir, kita sudah menyaksikan tokoh ini terjun sampai ke dasar paling bawah secara emosi. Dihadapkan pada pernyataan agama yang ia bawa, kebenaran yang ia ajarkan, tidak cocok untuk diterapkan pada ranah ‘rawa’ Jepang. Namun Rodrigues tidak bisa menerima pernyataan tersebut karena if he accepts that statement, itu berarti dia mengakui kebenaran yang ia bawa bukanlah kebenaran bagi semua orang seperti yang selama ini dia imani. Itu berarti dia meragukan agamanya sendiri.

Ini adalah CERITA YANG SANGAT KOMPLEKS bagi kedua belah pihak; Rodrigues dan Jepang. It’s not like Jepang tidak punya toleransi sama sekali, as in kekerasan dan siksa itu datang dari mereka. Mereka brutally violated penduduk agar mau meludahi salib dan menginjak gambar Tuhan mereka sebagai bentuk denouncing faith di muka publik. Adalah aksi converting yang dianggap berbahaya oleh pemerintah Jepang. They just want to show their pride and love kepada faith mereka. Bahwa gara-gara kepercayaan asinglah mereka sesama saudara tanah air menjadi terpecah belah.

talk about penistaan agama huh
talk about penistaan agama huh

 

Toleransi, ya, bisa jadi jawaban. Tapi sekarang kata tersebut sudah mengalami penurunan arti, digunain begitu saja agar sama-sama senang. Toleransi bukan berarti “apa salahnya ngikutin apa yang dilakukan orang lain”. Kita bisa ikut merayakan hari kebesaran agama lain as along as hati kita tetap beriman kepada agama sendiri, but that is a weakest form of faith. Mungkin tidak banyak yang suka film ini karena membuat diri kita merasa seperti Kichijiro, while tokoh ini easily come off sebagai pengecut yang cari aman. Open minded, bertoleransi, dan punya keyakinan adalah seperti Father Ferreira. Persisnya seperti apa? Go figure out yourself

 

Tidak seperti Sausage Party (2016) yang merupakan satir soal kepercayaan, Silence dengan a lot of respect kepada penonton, mengambil jarak secukupnya. It doesn’t judge, and tidak menggiring kita untuk melakukannya. Yang Silence lakukan adalah menghujani kita – yang terpatri oleh cerita – dengan batu-batu pertanyaan. Kita bakal mengalami sensasi krisis tanpa diberikan pencerahan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita akan melihat hamba Tuhan diuji. Kita akan melihat ia menderita for his belief, for things he treasured the most. Dan di titik inilah Silence berbicara banyak. Apakah iman kita tidak berarti apa-apa jika kita tidak diuji – apakah hidup kita meaningless jika kita tidak pernah menderita karena sesuatu yang kita percaya atau cintai? Dan tentu saja, arti mendalam tentang kata ‘silence’ itu sendiri; apakah absennya tindakan kita atau absennya Tuhan? Atau, diam karena kita sedang berdialog dengan Tuhan. Ada beberapa adegan yang menggambarkan Rodrigues dalam diamnya bicara dengan suara Tuhan. Yang membuat kita bertanya-tanya apakah diam hanya arogansi Rodrigues belaka? Secara konstan dia ‘membandingkan’ kondisinya dengan Tuhan, sementara orang-orang desa yang disiksa hingga mati tidak pernah meminta ‘dibandingkan’ dengan juru selamat.

Meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.

 

Martin Scorsese mengarahkan film ini dengan sungguh luar biasa. Bekerja sama dengan sinematografer yang ngegarap The Wolf of Wall Street (2013), Scorsese memastikan apa yang ditangkap lensa semuanya gorgeous. Kalian akan suka mencermati film ini jika punya rasa penasaran gimana setiap adegan disyut. Yang paling remarkable dari pengambilan gambarnya adalah gimana mereka sebagian besar waktu bekerja pada environment yang tertutup. Adegan film ini kebanyakan berlokasi di pondok kecil yang gelap, di daerah hutan yang terpencil, atau di sel penahanan. Tidak pernah Scorsese salah langkah dalam menjalin cerita. Sudut pandang penceritaan benar-benar dihadirkan compelling dan sangat intens. Kita dibuatnya bereaksi dan merasakan yang dialami oleh seseorang yang dealing with an extreme crisis of faith.

This movie brought to life by many fantastic performances. Adam Driver sebagai Father Gorupe dan Andrew Garfield sebagai Father Rodrigues menyuguhkan penampilan yang amazing. Dalam tahun yang penuh oleh penampilan yang sangat baik, Andrew Garfield kembali bersinar dalam film ini, dan sekali lagi sebagai seorang yang taat beragama. Yea, walaupun dia enggak selalu taat sama aksen portugis yang supposedly dimiliki oleh tokohnya. Liam Neeson, yang bermain sebagai supporting role, was also very very good. Dan tokoh yang ia perankan teramat kompleks.

Spiderman dan Kylo Ren lagi nyari Qui-Gon Jinn
Spiderman dan Kylo Ren lagi nyari Qui-Gon Jinn

 

 

Staggering film yang menantang bukan hanya keimanan dan kepercayaan, tetapi juga menantang intelektualitas penonton. Bikin frustasi at times, gutting our emotion completely, it is a really complex movie. Tidak heran jika banyak orang yang ngerasa hard to come by apa yang disampaikan oleh film ini, thus membuatnya susah untuk disukai. Personally, aku heran juga kenapa film ini enggak masuk nominasi Best Picture Oscar 2017. Setelah menontonnya, aku jadi kebayang sedikit alasannya kenapa. Sesungguhnya, film yang luar bisa unconventional ini adalah jenis film yang mesti ditonton dan disupport oleh orang-orang yang benar menyintai film. Karena di atas itu semua, ini adalah filmmaking yang sangat remarkable; arahan luar biasa, akting fantastis, beautifully shot – salah satu film tercantik Scorsese, penulisan yang begitu cakap, editing yang perfect.
The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for SILENCE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

 

THE LAST BARONGSAI Review

“Tradition is not to preserve the ashes, but to pass on the flame.”

 

thelastbarongsai-poster

 

Tradisi enggak berarti banyak jika tidak ada lagi yang mengapresiasi, begini kiranya kemelut hati Kho Huan. Jadi buat apa disimpan?

 

Hari itu, tiga penghuni rumah-merangkap sanggar kesenian Kho Huan kedatangan tiga surat. Surat buat dirinya, ia biarkan begitu saja. Cuma undangan lomba barongsai, lagi. Kho Huan sudah lama jengah sama kesenian tradisional tersebut, beliau menyalahkan barongsai atas kepergian istrinya, dan tontonan musiman itu juga semakin hari semakin seret ngasilin duit, selain dengan dijual. Padahal Kho Huan – sekarang nekunin usaha bikin furnitur kayu – butuh banget duit, supaya putranya, Aguan, bisa menjawab surat dari Universitas di Singapura. Aguan lagi cengar-cengir melototin selembar jawaban mimpinya. Mereka berdua tidak ada yang peduli isi surat tunggakan spp dari sekolah untuk adek cewek Aguan yang masih SMA, karena Ai memang menyembunyikan suratnya.

The Last Barongsai adalah cerita tentang struggle satu keluarga keturunan Tionghoa hidup di Tangerang masa kini, yang mana terkadang cuma mimpi dan tradisi yang jadi harta berharga. Drama film ini mulai mengambil tempat sesegera mungkin setelah Aguan tahu dari adeknya – dalam sebuah adegan sparring kungfu ringan (atau tai chi?) yang so subdued namun somewhat intens – bahwa ayah mereka menolak undangan lomba barongsai dengan alasan kompetisi tersebut tidak bisa menerbangkan Aguan ke Singapura. Mengerti betapa besar arti barongsai bagi mereka, Aguan sets out ngumpulin kembali para pemain sanggar mereka buat ikutan lomba. Dan ini membuat Kho Huan marah. Ini adalah KONTES SENGIT ANTARA REALITA DAN TRADISI. Melihat keluarga ini worked out their problems lewat banyak teriak dan air mata bisa menjadi sangat menyentuh, terutama menjelang akhir. Drama keluarga ini sebenarnya capable to floored us berkat konfliknya yang grounded.

Jika kita ngestrip down kepada karakter-karakternya, The Last Barongsai adalah film berlapis dengan penokohan yang cukup kuat dan dihidupkan oleh performances para tokoh yang secara seragam bagus. Terutama Kho Huan yang cintanya dimakan barongsai dan Ai, the left-out daughter. Kita bisa lihat sebenarnya Kho Huan sangat menyayangi anaknya, kita bisa rasakan konflik perasaannya. He just can’t rely on barongsai anymore, dia benar-benar kerja keras bikin furniture kayu sambil sesekali ngesabotase latihan Aguan dan tim. Tyo Pakusadewo benar-benar mengangkat film ini dengan penampilannya yang berapi-api. I like how he just snap his heart out di meja makan. Di akhir cerita kita jadi ikutan tenang saat Kho menemukan cintanya yang hilang, berkat anak-anaknya.
Ai diperankan oleh Vinessa Inez dengan sama berapinya, but she’s like more contained. Dia begitu ingin buktikan diri bisa ngelebihin kakaknya, but even the thought of that membuatnya semakin merasa neglected. Dia kayak ingin menjerit tapi tidak tahu ke siapa. Sedangkan karakter Aguan, pertama-tama aku enggak bisa nangkep arahnya ke mana. Dion Wiyoko terasa bermain lebih datar di sini. Baru di pertengahanlah aku realized dia adalah karakter yang salah-dimengerti. His frustration connects with us, loud and clear.

Dalam film ini kita juga melihat beberapa penampilan spesial. Beberapa mereka muncul tidak hanya sebagai cameo namun adalah kehadiran yang actually important. Mereka memberikan pelajaran buat karakter-karakter lead, dan tentu saja kepada kita yang nonton. Penampilan komedik yang hadir pun tidak pernah terasa mengambil alih. Film ini ngehandle tone emosional drama dan komedi dengan sangat mulus, tidak terasa episodic. Meskipun ada juga penampilan spesial yang enggak benar-benar add something kepada cerita, it was just like “hey, aku yang main di drama remaja terkenal itu loh, I’m relevant so I’m gonna make this movie relevant too with my presence”

 itu oplet mandra?? Oh aku honestly seneng ngeliatnya masih bagus
itu oplet mandra?? Oh aku honestly seneng ngeliatnya masih bagus

 

Salah satu penampilan spesial tersebut adalah dari pemilik rumah produksi, Rano Karno. Bermain sebagai teman Kho Huan sesama battered-down seniman, Rano Karno adalah kontras dari tokohnya Tyo. Lewat tokohnya, film sedikit menyentil soal terkadang kita harus menyerah dan mulai mengerjakan apa yang orang-orang mau alih-alih keinginan kita, meskipun itu hal yang susah untuk dilakukan. Film ini juga mematrikan kepada kita bahwa kehidupan yang beragam penuh toleransi itu sangat mungkin untuk dilakukan, seperti hubungan antara Aguan dengan rekan barongsainya yang diperankan oleh Azis Gagap. Benar-benar sebuah hubungan akrab yang based-on mutual respect.

Isu yang relevan yang berusaha diangkat, bahwa tradisi – apapun itu – selalu adalah prioritas. Kita tidak menyimpan, kita justru harus terus mengobarkannya. Dan adalah diversity sebagai tradisi yang harus kita pertahankan, because that’s what make us strong in the first place.

 

Hanya saja, all-in-all aku kecewa sama The Last Barongsai. Menurutku film ini tidak mencapai kemampuan bercerita yang maksimal. Padahal kita bisa lihat, film ini ngerti dan tahu menyelaraskan tone. Cerita dari tokoh Rano Karno yang sekarang nyesal jadi montir sesungguhnya intriguing. Backstory tokoh Azis tentang kenapa dia awalnya menolak main barongsai lagi dibeberkan dengan build ups. Ketika pada akhirnya kita learned alasan tepatnya kenapa Kho Huan enggak mau ikutan lomba meski butuh uang, momen yang tercipta terasa powerful. Film ini punya kemampuan untuk bercerita dengan subtle. Tapii, untuk sebagian besar waktu kita mendengar dialog-dialog yang ‘CEREWET’ OLEH EKSPOSISI. Kualitas dialognya, tho, terlihat seperti fokus penulisannya antara ingin terdengar ‘gede’ oleh kata-kata emosional, dengan buat jelasin semua sedetil-detilnya. I mean, apakah perlu kita mendengar gimana Aguan bisa dapet balasan surat beasiswa?

Kupikir ini ada hubungannya dengan cara film memperkenalkan kita kepada tokoh-tokoh minor. Eventually itu tentu berhubungan dengan cara film ini ngenalin ke kita akar konfliknya. Kita ngikutin Aguan bertemu mereka, satu per satu. Dan semua orang just telling him something, memberikan piece of information kepada Aguan. Adeknya jelasin situasi sang ayah. Pacarnya jelasin backstory dan konflik yang terjadi antara Aguan dengan ayah. Hengky Solaiman jelasin apa yang sebenarnya dirasakan oleh sang ayah. Bahkan ibu Aguan datang di dalam mimpi, dan jelasin ke kita apa yang dirasakan oleh tokoh si Aguan!
And btw, mimpi Aguan tentang ibunya adalah TERMASUK SALAH SATU ADEGAN-MIMPI PALING JELEK yang pernah aku lihat. Enggak terasa emosional, enggak terasa surreal, enggak terasa apa-apa. Tujuannya murni eksposisi. Padahal bisa aja film ini membuat lampu di atas mereka duduk menyala sebagai simbol penanda Aguan sudah mengerti, bisa menjawab pertanyaannya sendiri, tanpa si ibu harus ngucapinnya dalam kalimat.

ubah tiangnya jadi deathschyte yang diayunkan oleh ibu Aguan or something!
ubah tiangnya jadi deathschyte yang diayunkan oleh ibu Aguan or something!

 

Film ini just doesn’t trust us bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Mereka memberitahu terlalu banyak, alih-alih menggambarkan apa yang terjadi. Ada satu adegan di mana Azis bilang ke Aguan bahwa tadi Koh Huan mendatangi dirinya; Kenapa kita tidak melihat adegan tersebut? Kenapa film ini memilih menyampaikan informasi itu lewat kata-kata tak langsung alih-alih menyuguhkan kita adegan yang prolly emosional antara Kho Huan dengan Azis? Juga adegan ketika Aguan duduk disemangati oleh ayahnya, beliau bilang bisa melihat Aguan melatih tim dengan hati. Why we never see that scene!? Adegan latihan di mana Aguan pouring his heart adalah adegan yang perlu kita lihat karena penting untuk showing us the character, namun film ini memutuskan cukup dengan kata-kata saja.

Elemen kompetisi dalam cerita memang mesti ngalah sama porsi drama, tapi tidak berarti juga harus kehilangan greget. Problem lain dari The Last Barongsai adalah dia terlalu meminta untuk kita terus merasa kasihan sama tokoh-tokoh. Or even the film takes itself too seriously, untung saja tidak menjadi terlalu depressing. Kita tidak lagi merasakan fun dan semangatnya mereka bermain barongsai. Montase saja tidak cukup. We need more hook. Kita perlu merasa terlibat sebagai bagian dari tim mereka. Tentu saja nggak jelek juga kalo Dion Wiyoko, Tyo Pakusadewo, dan Azis Gagap diliatin latihan gerakan barongsai yang susah beneran, daripada ngecut adegan dan cuma bilang “g-g-g-gerakannya susah, s-s-sih!”. Padahal film ini sempat nanamin sedikit obsctacle, seperti Azis yang mules sebelum final, namun ternyata poin tersebut tidak pernah dibahas lagi. Akibatnya memang elemen barongsai tersebut menjadi jadi gak greget dan mundur sebagai tak-lebih dari latar saja.

Editingnya kadang terasa off juga. I don’t know what happens sama warna di kamar Ai, sih, mungkin saja intentional. Akan tetapi, ada satu shot adegan yang aku suka banget; ketika Aguan dan pacarnya ngobrol di jembatan dan di bagian dengan pinggir atas layar, melintaslah pesawat. Momen yang sangat precise, klop dengan dialog yang mengudara saat itu.

 

 

 

 

Seharusnya bisa jadi selebrasi tradisi, akan tetapi film ini lebih memilih untuk gempita berkata-kata. Yang hanya menjadikannya eksposisi saja. Bukan berarti ini film yang jelek, it’s a watchable movie untuk ditonton bersama keluarga. Tidak tampil terlalu depressing, film ini adalah keseimbangan yang hangat antara drama emosional dengan komedi. It has the capability untuk bercerita dengan proper, yang kadang muncul malu-malu. Film ini enggak konsisten. Arahan sayangnya tidak membantu apa-apa bagi film ini supaya bisa tampil pe-de menjadi spesial.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE LAST BARONGSAI.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

MOONLIGHT Review

“Only through recognizing and accepting our inner wounds can we find true healing.”

 

moonlight-poster

 

We are all have been there before, right? Dikucilkan, dibully, enggak ada yang mengerti kita, ngerasa kita begitu berbeda sama yang lain, kayak makhluk asing, you know, kayak lagu dari Simple Plan. Aku sendiri waktu SD sering pulang sekolah dikejar-kejar. At first, teman-teman memang lagi nyari pemeran yang cocok untuk jadi atlet main smekdon-smekdonan; untuk peran babak-belur, of course. But then they just enjoyed chasing me around, even aku sendiri pun jadi suka. Aku memang enggak cepat, tapi aku lihai sembunyi di mana saja. Lama-lama itu jadi permainan yang mengakrabkan kami. Poinnya adalah, growing up jadi hal yang sulit karena kita naturally ingin mengidentifikasikan diri. Dan proses itu semua bergantung erat sama lingkungan kita bertumbuh. Beberapa anak mengalami masa-masa yang lebih berat ketimbang anak-anak lain.

Film Moonlight, however, bukan sekadar film ‘find-who-you-are’ yang biasa. It’s not cerita angst ga-jelas either. Ini adalah cerita yang sangat humane, dengan drama yang dead-fokus kepada karakter. MEMISAHKAN CERITA MENJADI TIGA BAGIAN, MOONLIGHT ADALAH PERJALANAN HIDUP Chiron dari dia kecil, kemudian saat dia remaja di sekolah, hingga menjadi dewasa. Dalam detil yang begitu excruciating, kita akan melihat gimana sulitnya Chiron hidup dan tumbuh di dalam lingkungan yang very harsh, gimana dia eventually menjadi dewasa dengan belajar mengerti siapa dirinya sementara dunia sekeliling tidak paham dan tidak menerima dirinya.

In regards to identifying the story, you know, I’m very pleased to discover tentang apa film ini sebenarnya. Maksudku, perjalanan yang sangat emosional yang ditempuh oleh Chiron itu diceritakannya dengan menggugah. Kita akan dibuat terenyuh melihat Chiron menyadari apa-apa mengenai dirinya. Film ini dengan perfect menangkap lingkungan keras tempat Chiron tinggal, urban Miami actually terasa in-the-moment karena di luar sana memang banyak anak kecil yang tumbuh di dalam lingkungan seperti demikian. Dan film ini menangkap segala momen dan emosi dengan tanpa menjadikan ceritanya klise. Aku belum pernah menonton film dengan denyut storytelling sespesifik ini; cowok kulit hitam yang tumbuh di lingkungan yang keras, dia menyaksikan sekitarnya sangat, katakanlah enggak-normal, dia harus belajar how to live with that, dan sementara itu dia juga menyadari something about himself, dia harus belajar gimana mengapresiasi sisi tersebut, namun a lot of people just don’t accept who he is.

 “no, you don’t know what is like. Welcome to my life!”
“No, you don’t know what is liiike. Welcome to my life!~”

 

 

Banyak yang membandingkan Moonlight dengan Boyhood (2014). Keduanya dengan menakjubkan sama-sama menelaah kehidupan, pertumbuhan seseorang dari kecil hingga dewasa. Namun bagiku, Boyhood terasa ada yang kurang, enggak tahu juga mungkin terlalu fokus ke gimmick apa gimana. Moonlight adalah apa yang sebenarnya aku harapkan ketika nonton Boyhood. Penceritaannya luar biasa. It is such an intimate movie yang mengeksplorasi dengan stunning gimana susahnya bagi seseorang tumbuh pada lingkungan yang tidak mengerti dirinya.

 

Tidak sepertiku, Chiron kecil dikejar-kejar bukan hanya karena dirinya bertubuh paling mini di sekolah. Dia noticeable paling happy di pelajaran nari. Temannya bilang dia negro yang ‘soft’. Ibunya sendiri menyindir cara Chiron berjalan. Little, begitu anak-anak di sekolah memanggilnya, mulai menyadari things about himself meskipun saat itu dia belum mengerti. Babak pertama cerita revolves around Little yang ‘diselamatkan’ oleh Juan (dimainkan singkat tapi sungguh berkesan oleh Mahershala Ali). Ini adalah babak penting dalam cerita karena kita melihat Chiron merasa lebih nyaman berbicara – dalam kapasitas anak pendiam – kepada Juan ketimbang kepada ibunya sendiri. Dalam hidupnya, Chiron tidak punya father figure dan dia enggak bisa benar-benar look up kepada ibunya yang seorang pecandu drugs. Chiron berusaha menemukan sosok orang di mana dia bisa merasa comfortable, tetapi semakin dia bertambah usia hal tersebut menjadi semakin susah baginya. Sebabnya ya lingkungan keras tadi itu; he just feels separated from everyone else around. Chiron learns semua orang ternyata ‘punya masalah’. Act kedua film menjadi babak yang paling psyhically intense, kita lihat Chiron muda resort ke kekerasan dalam upayanya merasa lebih baik or even to think violence as a way to fit in.

Sungguh susah bagi kita untuk melepaskan diri dari cerita Moonlight. It was filmed in such a raw way dengan kerja kamera yang amat fascinating. Tidak sekalipun adegan-adegannya terasa misplaced. Arahan tingkat dewa lah, pokoknya. Penampilan akting dalam film ini, oh boy, mereka semua almost too good to be true. Ketiga pemain yang jadi Chiron; Alex R. Hibbert, Ashton Sanders, Trevante Rhodes, mereka semuanya luar biasa excellent. Sebenarnya film dengan tiga bagian cerita seperti ini gampang untuk jadi terasa episodic. Bagi Moonlight, that was never the case. There is never a case! Setiap babak usia menambah layer kepada pribadi Chiron dengan sama realnya. Masing-masing pemeran berhasil memberikan perspektif yang sukses ngefek dalam membangun karakter Chiron. Apalagi di babak ketiga, ketika Chiron datang bertemu seorang teman lama, teman yang not expecting what Chiron turns out to be. Adegan di diner menjelang akhir film genuinely terasa kayak kejadian beneran yang unfolding di depan mata kita. It was STUNNING, MATURE, DAN SANGAT POWERFUL.

there’s nothing "sawft" about this movie
There’s nothing “sawft” about this movie

 

Sutradara Barry Jenkins sepertinya memang paham betul soal bahwa hubungan antarmanusialah yang ultimately membentuk siapa kita. Arahannya menyeimbangkan dialog-dialog penuh makna dengan visual yang lantang oleh emosi. Meskipun semua pemainnya black, ini bukan necessarily film dengan suara yang loud. Film ini tahu kapan saatnya ngomong dan kapan waktu yang tepat berekspresi dengan tanpa suara. Ada banyak adegan karakter saling tatap yang begitu deep-in-the-feel, seperti saat Little menangkap pandangan Juan yang baru saja memberitahunya soal kerjaan yang Juan lakukan, ataupun saat Chiron dan Kevin duduk di pasir pinggir pantai. Semua pemain beserta peran mereka bersinar di dalam cahaya film ini, bersinar biru so to speak.

Paralel nama Chiron tidak hanya pada nama centaurus yang berbeda dari kumpulannya di dalam mitologi. Dalam astrologi, Chiron adalah komet yang melambangkan luka terdalam; derita yang tak kunjung-pergi, dan usaha kita untuk menyembuhkan luka tersebut. Moonlight adalah cerita-tiga-bagian tentang Chiron yang tumbuh dengan penuh derita masa kecil, that he tries to explore that, yang meski membuatnya tampak ‘tangguh’ setelah dewasa; luka tersebut tidak pernah bisa sembuh sepenuhnya.

 

Kata orang, ngereview itu nyari-nyari kekurangan film. Well, benar demikian sih, reviewer kudu point out secara jujur flaws yang ditemukan. But keep in mind, movie adalah ide. Dalam gagasan tidak ada masalah benar atau salah – it’s about apa yang worked dan enggak worked di dalam penceritaannya. Supaya film, in general, bisa makin terus berkembang. Jadi itu jualah yang kulakukan saat nonton Moonlight. Aku terus membuka mata lebar-lebar untuk mencari hal yang menjatuhkan. Aku terus menunggu seseorang mengatakan hal yang bego. Aku terus melek mencari kemunculan subplot horrible atau elemen yang bosenin dari tiga bagian ceritanya. Dan aku tidak menemukan apa-apa. Biasanya kan kita sering, tuh, nonton film yang mestinya bisa bagus banget namun di tengah filmnya make a really stupid choice demi jadi mainstream atau apa. Tahun 2015 ada film Dope yang juga berpusat cowok kulit hitam yang not fit in dengan lingkungan yang keras, sayangnya film tersebut dengan cepat menjadi cerita kehidupan ‘hood’ yang biasa. Momen-momen jelek yang kutunggu tidak pernah muncul dalam Moonlight. Again, everything shines in this film.

 

 

 

So well-realized, visi ceritanya tergambar tanpa cela pada layar. Film ini benar-benar punya pesan tanpa terasa membombardir moral kita dengannya. Ini adalah penceritaan yang sangat dewasa. Easily, salah satu film terbaik di 2016. Menelaah dengan stunning gimana susahnya tumbuh dalam lingkungan yang tidak ada satupun yang mengerti diri kita. Tidak ada ada satu elemen pun yang terasa out-of-place dalam tiga bagian kisahnya. Penuh oleh penampilan yang genuinely feel so real. Arahan dan editing yang luar biasa dari mulai sampai habis. This is a masterwork!
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for MOONLIGHT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

LIVE BY NIGHT Review

“Night allows the stars to shine”

 

livebynight-poster

 

Selain seorang Batman, kita juga mengenal Ben Affleck sebagai seorang produser, sutradara, writer, dan aktor. Live by Night adalah karya teranyar Tuan Affleck. Cerita film yang ia bintangi ini adalah tentang kehidupan gangster di era prohibition, you know, kala di mana perjudian dilarang, minuman keras dijual underground, dan jalanan dipenuhi oleh tikus-tikus semacam mafia, geng jalanan, dan polisi korup. Tokoh yang Affleck mainkan, si Joe Coughlin, tadinya dia enggak mau ikutan masuk geng manapun. Oke baiknya kita mundur sedikit lagi – tadinya Joe adalah tentara, namun dia melihat begitu banyak yang terburuk dari manusia sehingga dia jadi memilih untuk tidak lagi tunduk pada peraturan, so dia menjadi perampok bank. Dia tidur dengan pacar bos gangster. Dia ngelakuin hal yang tidak seharusnya ia lakukan, deh pokoknya. Siapa yang menanam benih, maka dia sendiri juga yang bakal menuai. Eventually, Joe – dengan peraturan buatannya tersendiri – bergabung dengan salah satu kelompok, dan he’s actually mendapat posisi di mana segala keputusan kerjaan dan penyelesaian masalah geng mereka berada di tangannya. Sepanjang film kita akan ngeliat gimana Joe keluar-masuk urusan dunia hitam pada jaman tersebut, while also mencoba sebisa mungkin menjalani kehidupan normal yang baik bersama wanita yang dia cintai.

Pernahkah kalian melanggar peraturan? Seberapa sering kalian malah jadi pengen dan tertantang untuk nyobain saat dilarang untuk ngelakuin suatu hal? Kata orang sih, peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Kita enggak mau diatur karena kita ingin bebas.Tapi, berontak itu adalah kerjaannya orang bawah. The real outlaw adalah penguasa-penguasa di atas sana, karena mereka akan doing everything to make sure peraturan yang ada tidak kena kepada dirinya dan pihak-pihak yang menguntungkan bagi mereka. Think about that. Joe Coughlin did think about it, makanya dia sekarang hidup dengan menulis aturannya sendiri.

 

By far, HAL TERBAIK DARI FILM INI ADALAH KUALITAS TEKNIKAL yang dimilikinya. Gimana Affleck, dalam kapasitasnya sebagai seorang sutradara, menangani adegan-adegan dalam film. Set Tampa dan kota-kota di sekitar pada tahun 1920an terfilmkan dengan brilian. Terkhusus bagus adalah gimana sekuen-sekuen action digelar oleh film. Ada tembak-tembakan seru. Ada adegan kejar-kejaran mobil yang luar biasa awesome di babak pertama, ketika Joe ngerampok bank. Stuntwork dan arahannya bekerja dengan sama-sama great. Juga ada sejumlah teknik CG yang digabungkan mulus dengan efek praktikal.

Technical qualities sejak 2007’s Gone Baby Gone sudah menjadi kekuatan terbesar yang dimiliki oleh Affleck dalam kiprahnya di dunia penyutradaraan. Kita bisa lihat bukti kalimatku tersebut dalam film Live by Night ini, because ini adalah sebuah film yang sangat tampan, very good looking, dengan bumbu drama yang diracik pas dan tentu saja memberikan kita the rush of terrific actions. Penampilan dalam film ini semuanya excellent. Para pemain mengerahkan segenap kemampuan mereka memberikan emosi dan kehidupan kepada tokoh-tokoh yang ditulis oleh Affleck. Ada backstory yang hebat antara tokoh ayah dan putrinya, diperankan respectively oleh Chris Cooper dan Elle Fanning. Elemen cerita mereka actually sangat kuat, dan bakal menarik kita ke sebuah momen yang intens. Elle Fanning is real good on that particular scene. Ada dua drama cinta yang mekar pada film ini; yang satu adalah relationship yang sangat interesting antara Joe dengan Emma yang diperankan oleh Sienna Miller. Relationship yang satu lagi ditulis dengan niatan sebagai device agar dramanya lebih nohok lagi, yaitu Joe dengan tokohnya Zoe Saldana, Graciela. Dan jangan lupakan hubungan antara Joe dengan para bos mobster di sana.

na-na-na-na-na-na bad maaannn!
na-na-na-na-na-na Bad maaannn!

I say, tiga-puluh-menit pertama film ini sukses menyeretku masuk ke dalam cerita. Aku ingin tahu ke mana Joe bertumbuh setelah ia dipenjara, setelah ia kehilangan the first love of his life. Sayang beribu sayang, setelah masuk babak kedua sampai nyaris seluruh babak ketiga, film ini kehilangan sense bagaimana menceritakan kisahnya. Tidak ada kejadian yang benar-benar menarik yang bisa kta simak hingga adegan tembak-tembakan final datang membangunkan kita dari betapa bosannya film ini.

Dengan kualitas teknis yang mumpuni, tentu saja salahnya bukan pada musik atau kostum ataupun penampilan para pemain. Yea meski pada beberapa adegan aku notice ada frames yang nyambungnya agak off, misalnya pada adegan di stasiun saat turun dari kereta. Itu masih minor sih. Masalah yang sebenarnya itu terletak pada karakter-karakter dalam cerita. Mereka tidak semenarik yang ingin film ini capai. Dalam film Argo (2012), kita melihat arahan Affleck sangat luar biasa dalam menyusun potongan-potongan cerita. However, dalam Live by Night, potongan-potongan cerita tersebut terlihat jelas letaknya mau kemana, dan film ini benar-benar enggak tahu cara yang menarik buat nampilin gimana potongan-potongan tersebut menyatu. Akibatnya, kita merasakan cerita menjadi tidak fokus. It cannot really find it’s footing. Untuk sebagian besar waktu, terasa sekali oleh kita perjuangan film ini membuat elemen-elemen ceritanya menjadi compelling, and it’s not make a very interesting watching experience.

Malam membuat bintang-bintang bersinar. Aku suka mengaitkan kalimat tersebut dengan apa yang terjadi kepada tokoh-tokoh film ini. Particularly, Joe dan Loretta. Mereka berdua sama-sama anak polisi, yang satu jadi tentara – satunya lagi pergi Hollywood menjadi aktris. Dan sekembalinya dari ‘medan’ masing-masing, mereka sudah menjadi orang yang berbeda. Like, jika bintang adalah mereka dan malam adalah dunia kelam yang mereka jalani, so yea mereka mulai menunjukkan sinarnya. Joe took pride pada pandangannya bahwa melanggar hukum bukan berarti kriminal. Loretta menjadi religious dan berdakwah melawan alkohol dan judi dan dosa-dosa yang ia lihat. Mereka memilih malam karena pada waktu itu mereka bisa truly ‘bersinar’. Ada TEMA YANG MENYANGKUT MORAL DAN KEMUNAFIKAN yang berusaha untuk diangkat. Namun somehow, durasi 120 menitan tampak belum cukup untuk film ini as the story malah jadi numpuk gak jelas. Pada akhirnya, karakter- karakter film ini jatohnya hambar. Sisi menarik mereka either got lost atau berakhir abrupt sebagai device cerita.

Kerja di malam hari, tidur di siang hari. Kurasa berat, kurasa berat, beban hidupkuu

 

Secara teknis, ini bukan film yang jelek. Production value film ini top-notch banget. Directorial effort dari Affleck sekali lagi menunjukkan kebolehannya. Sekuens aksinya bikin greget, scoring yang really great. Semua pemain memberikan penampilan yang jempolan. Hanya saja, cerita yang ia sajikan sungguh terasa kempis tho. It looks tight namun hampa begitu dialami. Dull. Dua bagian terpenting cerita film ini, it’s just not that intriguing. Struggle banget untuk menyuguhkan cerita yang compelling. Sayang sekali, film ini definitely adalah karya terburuk dari Ben Affleck sebagai seorang sutradara.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for LIVE BY NIGHT

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

 

The Girl on the Train Review

“Save your skin from the corrosive acids of toxic people.”

 

thegirlonthetrain-poster

 

Emily Blunt bermain sebagai Rachel Watson, seorang wanita yang hobi naik kereta setiap hari. She is a very broken woman, Rachel sudah lama bergulat dengan alkohol; kebiasaan yang jadi awal kehancuran hidupnya. Naik kereta jadi semacam obat yang ampuh bagi Rachel yang begitu mendambakan kehidupan manis as wanita ini mulai mengarang cerita tentang hidup orang-orang yang ia perhatikan dari balik jendela kereta. Siapa nama mereka, di mana mereka bekerja, apa yang mereka lakukan di dalam rumah sederhana-nan-nyaman masing-masing. Satu-satunya rumah yang dicuekin oleh Rachel adalah rumah bekas ia tinggal dulu, karena sekarang rumah tersebut dihuni oleh mantan suaminya, bersama istri, Anna, dan bayi mereka. But even so, favorit Rachel adalah rumah yang berjarak hanya beberapa pintu dari rumahnya dulu; rumah yang ditempati oleh seorang cewek bernama Megan. Rachel begitu tersedot ke dalam fantasinya sendiri tentang gimana Megan dan pasangannya menjalani hari.
Sampai suatu ketika, Rachel melihat kejadian yang mengejutkan. Yang eventually membawa dirinya ke sebuah lorong gelap. Tempat di mana cerita yang terbendung mulai berubah menjadi misteri ‘siapa-pelakunya’, dan Rachel – bersama kita, para penonton – harus memilah mana kejadian yang nyata dan mana peristiwa yang rekaan dari kepala Rachel yang penuh oleh buih minuman keras.

Terdengar sebagai cerita thriller yang intens, bukan? Tidak susah buatku untuk menjual premis cerita ini sehingga menarik, karena kalo ada satu poin unggul dari The Girl on the Train, maka itu adalah betapa gampangnya film ini untuk dioversell. For instance, film ini diadaptasi dari novel yang sangat populer. Semua kutubuku yang aku kenal mengaku pernah membaca karangan Paula Hawkins ini, and they all urged me to watch this. Banyak orang membanding-bandingkan film ini dengan Gone Girl (2014) karena punya elemen cerita yang sama; MISTERI HILANGNYA SEORANG WANITA. Marketing filmnya pun dibuat bombastis. Maksudku, lihat saja tulisan tagline posternya “Based on thriller that shocked the world”. Like, they are really trying to sell bahwa film ini akan menjadi sungguh luar biasa. Suwer!

mungkin ia melihat zombie, but that’s another train movie.
mungkin ia melihat zombie, but that’s another train movie.

 

The other one thing yang jadi kelebihan film ini adalah Emily Blunt herself. Oke, jajaran pemain dalam film ini sesungguhnya sudah memberikan penampilan yang baik. Haley Bennet is good dan memancing penasaran sebagai Megan. Rebecca Ferguson yang jadi Anna juga really good. Anna adalah karakter yang lumayan intriguing; Di tengah-tengah kemapanan, ia malah merindukan hidup sebagai ‘The Other Woman’. Allison Janney bermain excellent sebagai detektif yang berusaha menyibak tabir kebenaran kasus yang terjadi. Cast pria juga cukup baik dalam kapasitas karakter yang terbatas. The Girl on the Train, however, semacam punya rel yang menjaga ketat jalannya para karakter. Emily Blunt terasa terlalu bagus untuk apa yang mereka sediakan bagi tokohnya. Emily is far too good for this movie! Dan itu udah kelihatan dari beberapa menit pertama film ini berjalan. Emily begitu menyelam ke dalam Rachel yang teler. Aku jadi benar-benar percaya film ini bakal sangat impresif, aku jadi enggak sabar untuk melihat ke mana ceritanya akan beranjak. Perjalanan macam apa yang bakal diexperience oleh Rachel..

The Girl on the Train bergerak seperti sebuah perjalanan kereta, butuh waktu yang lama untuk sampai ke tempat yang ingin kita tuju. As the movie continue to progress, kita seolah ngeliat set-up yang bergerak sekelebat di luar jendela. Dan begitu kita tiba di sana – actually, cerita film ini butuh sekitar satu jam untuk dimulai – it’s okay, misterinya menarik, namun kita tidak benar-benar merasakan apapun kepada karakternya karena film ini TIDAK PUNYA BOBOT EMOSI.

 

Pada kenyataannya, film ini benar mengandalkan kepada keoverhypean yang bisa ia dapatkan. The Girl on the Train bergantung seerat-eratnya kepada standar film Hollywood. Setelah satu jam train ride yang hampa, film ini mulai masuk ke dalam teritori melodramatis seekstrim-ekstrimnya. Para karakter mulai mengambil keputusan yang purely demi memancing rasa kaget dari diri kita, setiap tindakan diniatkan untuk menambah kesan dramatis, padahal justru tidak pernah bekerja dengan semestinya. Dialog-dialog yang mereka ucapkan bergeser dari bagus, ke lumayan, ke bikin nyengir hanya dalam beberapa menit sahaja. Ini aku mau nanya serius deh sama yang udah baca novelnya; dialog di buku beneran se-lame dialog yang ada di film? Karena aku tak jarang dibuat bergidik kayak lagi baca fan fiction ketika mendengar kata-kata yang diucapkan oleh para tokoh.

not pictured here: self-respect.
not pictured here: self-respect.

 

Apa yang berpotensi menjadi narasi yang sangat menarik dengan sisi psikologis yang compelling diubah oleh film ini menjadi kesempatan untuk MEMERAS DRAMA SEBANYAK MUNGKIN. Ini adalah jenis film di mana masing-masing karakternya turn out punya hubungan intim dan pernah tidur with each other. Sungguh cheesy, aku jadi kebayang serial The Secret Life of American Teenager saat menonton film ini. Adegan-adegan erotis itu don’t really have purpose. Multiple perspektif diceritakan dengan enggak mulus sehingga hanya terlihat sebagai upaya untuk menggali lebih banyak drama. Bahkan Emily Blunt tidak berhasil membuat kita peduli sepenuhnya kepada Rachel, let alone tokoh yang lain. Walaupun setiap adegan ditargetkan untuk membuat kita mengasihani apa yang menimpa mereka.

I don’t know what happen, really. Arahan filmnya terasa tidak cocok untuk narasi yang menarik seperti ini. Padahal sutradara Tate Taylor membuatku kagum saat ia menangani drama The Help (2011). Film The Help actually masuk top-8 film favoritku tahun 2011. Namun di The Girl on the Train, eksekusi Taylor malah jatoh flat. Arahannya tidak menyumbang banyak untuk kebaikan film ini. In fact, aku pikir pilihan-pilihan aneh dari Taylor membuat film ini jadi kelihatan jelek. Film ini tidak berhasil tampak sebagai film misteri mengejutkan dunia seperti yang digadangkan. Film ini jauh dibandingkan Gone Girl. Film ini lebih cocok disebut sebagai opera sabun yang berbalut misteri.

Bahkan setelah semua usaha menjadi overdramatis, film ini masih juga gagal untuk membuat kita terpana oleh twistnya. Mainly, karena kita sudah bisa melihatnya datang dari jauh. Tepatnya, kita sudah bisa mereka twist film ini sejak adegan Megan, tanpa alasan yang jelas, bilang dia minta berhenti menjadi penjaga-anak keluarga Tom, mantan suami Rachel. Untuk kemudian dipertegas lagi oleh ekspresi Tom ketika Anna menyampaikan soal tersebut kepadanya. Twist sebenarnya film ini, aku pikir, adalah gimana kekerasan bisa merasuk ke balik dinding-dinding rumah tangga. Dalam film ini kita melihat how abusive people can be terhadap pasangannya. Dan film ini menggambarkan hal abusive tersebut lewat violence yang lumayan graphic. I admit aku sama sekali tidak mengira Anna melanjutkan apa yang tadinya upaya bela diri yang dilakukan Rachel menjelang akhir cerita.

Jika seseorang capable melakukan sesuatu hal yang tidak baik terhadap orang lain ketika dia bersama ataupun demi dirimu, maka besar kemungkinan mereka tidak akan segan untuk melakukan hal tidak baik terhadap dirimu saat dia bersama orang yang lain. Tidak sebatas masalah trust, it’s all about to recognized it sehingga kita bisa berdiri demi diri sendiri. Hal inilah yang gagal direalize oleh tiga wanita utama pada cerita film ini. Minuman keras bisa menjadi metafora yang-tak-terniatkan-oleh-film as tiga karakter wanita tersebut punya candu terhadap hal yang merusak diri mereka sendiri.

 

 

 

 
Cerita yang sebenarnya bisa menjadi sangat menarik, akan tetapi film ini tidak mengesekusinya dengan benar-benar pas. Butuh waktu yang sangat lama sebelum film actually starts menjadi engaging. Performance yang bagus dari para pemain menjadi sia-sia karena naskah yang terlalu menonton untuk menjadi super melodramatic, sehingga para aktor seolah terkurung memainkan peran dan dialog yang berpindah dari bagus ke sekelas ftv secepat kereta melaju di atas rel. Itulah sebabnya kenapa multiple perspektif yang dipake oleh film ini terasa justru bikin film terputus-putus. Pemasaran yang pinter dan penampilan yang splendid, cuma itu yang bisa dibanggakan oleh drama misteri tanpa bobot emosi ini.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE GIRL ON THE TRAIN.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.