My Dirt Sheet Top-Eight ‘KEKECEWAAN BIOSKOP’ OF 2019


 
 
Akhir tahun adalah waktu yang biasanya kita gunakan untuk meratapi resolusi-resolusi yang tak jadi tercapai (lagi!), keinginan-keinginan yang kandas tak terwujud, dan harapan-harapan yang berbuah kekecewaan. List ini adalah salah satu perwujudan dari harapan-harapan itu.
Ketika film disebut mengecewakan, bukan lantas seketika berarti film itu jelek, pembuatnya bego gak ngerti bikin film. Film yang bagus juga bisa saja tetap membuat kita merasa kecewa. It’s just mewujudkan sebuah film berarti membuat pilihan. Mau ngambil resiko atau tidak. Mau jadi nyenengin hati fans, atau hati semua orang, atau hanya hati produsernya. dan pilihan yang diambil film kadang enggak sejalan – enggak sefrekuensi, kalo kata Ainun – dengan harapan dan ekspektasi kita. Yang menurut kita penting, belum tentu begitu bagi pembuatnya.
Jadi, ya, daftar ini akan sangat subjektif. Kalian boleh jadi tidak menemukan film yang kalian benci. Sebaliknya, kalian bisa saja menemukan film yang kalian suka atau mungkin malah film yang menurut kalian bagus nampang di sini. Dan aku yakin memang ada. Tahun ini actually lebih banyak film yang populer, yang bisa dibilang bagus – at least yang kukasih skor lumayan tinggi – yang menurutku mengecewakan. Karena ekspektasi dan pilihan tadi. Also, daftar ini hanya akan mengcover film-film yang kutonton di bioskop, sebab dikecewakan oleh film yang kita harus berangkat dari rumah, meluangkan waktu untuk menempuh perjalanan, mengeluarkan uang, terasa lebih nyesek. Apalagi kalo ternyata yang ditonton di layar gede itu tak lebih dari glorified-ftv.
Setiap tahun aku beresolusi bisa menonton film-film di bioskop tanpa harus meratapi duit yang sudah keluar dan bertanya keras-keras ke tembok ala Adam Driver di Marriage Story “why did they do that?”, tapi nyatanya aku masih mendapati delapan film ini:
 
 
 

8. AVENGERS: ENDGAME


Director: Anthony Russo, Joe Russo
Stars: Robert Downey Jr, Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Ruffalo
Duration: 3 hour 1 min
Ya, ini bakal kontroversial, aku bahkan bisa mendengar mouse kalian bergerak cepat mau menutup halaman ini haha.. Jika kalian ngarahin mousenya ke judul setiap nomor, instead, maka kalian akan diarahin ke halaman ulasan, dan bisa dilihat di sana aku ngasih film ini skor 7 dari 10 bintang emas. Avengers: Endgame dibuat dengan sangat kompeten. Final fight yang kita tunggu-tunggu digarap dengan seru, menghibur sekaligus berhasil memenuhi tujuan ‘politik’ era SJW sekarang ini.
Posisinya ada di atas menunjukkan bahwa film ini tergolong bagus. Kekecewaanku timbul dari mereka memperkenalkan time-travel dan actually membuat babak kedua membahas mengenai aturan time-heist. Mereka menyusunnya dengan klop. Hanya saja, aku tidak mengharapkan itu. Infinity War berakhir dengan kemenangan Thanos, film membangun ekspektasi kita terhadap cara apa yang bakal dilakukan Avengers untuk well, to avenge their loss. Dan time-heist ini adalah cara yang paling standar untuk membahas soal serangan balasan tersebut. Film seperti punya agenda ingin membuat kita bernostalgia, maka ceritanya pun tidak move on. Malahan membawa kita ke semacam highlight.
Dan ini bukan cara yang paling aman pula. Avengers: Endgame meninggalkan kita dengan banyak plothole. Mungkin kalian adalah salah satu yang ikut membahas soal plothole dan implikasi kocak dari time-travel beda timeline di kolom komen review. It’s hilarious. Pembelaan pembuat film ini terhadap kekonyolan itu  adalah – seperti yang bisa kita tebak – penjelasannya bakal ada di film phase berikut. Ini membuat Avengers: Endgame less of a film dan lebih seperti produk. Aku setuju sama kata Martin Scorsese.
My Breaking Point:
Fans berkampanye betapa Tony Stark pantas untuk dapat Oscar. Ugh…. Bercanda haha.
Breaking point-ku yang benar adalah saat menyadari para Avengers sebenarnya berkelahi dengan orang yang berbeda. Thanos yang mereka lawan bukanlah Thanos yang mengalahkan mereka di Infinity War. Dan ini membuat pertarungan terakhir itu jadi hampa bagiku. Aku mau melihat mereka mengalahkan orang yang sudah bikin mereka kalah; Thanos dengan kekuatan Infinity Stone penuh. Bukan Thanos yang gak tahu apa-apa, yang cukup dikalahkan oleh Scarlet Witch seorang.
 
 
 
 
 

7. HABIBIE & AINUN 3


Director: Hanung Bramantyo
Stars: Reza Rahadian, Maudy Ayunda, Jefri Nichol, Diandra Agatha
Duration: 2 hour 1 min
Untuk merangkumnya, ini adalah cerita yang harus memuat kenangan satu tokoh akan tokoh lain, sekaligus mengenang tokoh yang mengenang tadi, dan juga membangun cerita kehidupan tokoh yang dikenang oleh tokoh yang juga sedang dikenang.
Film ini kayak pengen menceritakan tentang Ibu Ainun, tapi sendirinya tidak percaya bahwa cerita Ibu Ainun semasa muda tidak akan menjual. Maka mereka membuatnya sebagai sekuel Habibie & Ainun dan fokus tetap pada Habibie. Ditambah Bapak Habibie berpulang (salah satu momen menyedihkan bagi Indonesia tahun ini) dan film bergerak lebih cepat daripada lariku saat ditagih hutang untuk menguangkan kematian tersebut.
Cerita Ainun yang tentang wanita enggak kalah dari pria – manusia bukan soal gender lucunya malah seperti nomor dua, meskipun penulis tampak bersusah payah membuatnya Ainun seperti dokter wanita pertama dengan segala kesulitannya di dunia yang masih memandang wanita nantinya bakal balik ke dapur. Bagaimana film akhirnya menjual cerita ini? Dengan elemen romansa tak-sampai dan tokoh antagonis dibuat satu-dimensi demi Ainun kelihatan menarik.
My Breaking Point:
Ketika si senior antagonis masih diperlihatkan menyiapkan pidato perpisahan, dia dibuat gak logis banget masih menyangka dirinya lulusan terbaik padahal menyadari udah ketinggalan satu tahun dan kalah dalam lomba atas nama kampus. Ainun gak terlihat pintar dan selfless hanya dengan menampilkan tokoh senior ini sebagai ‘lawannya’.
 
 
 
 
 

6. FROZEN II


Director: Chris Buck, Jennifer Lee
Stars: Idina Menzel, Kristen Bell, Josh Gad, Jonathan Groff
Duration: 1 hour 43 min
Ini adalah contoh sekuel yang buru-buru diadakan karena film pertamanya laku. Ia dibuat sebagai brand ketimbang dibuat karena mereka punya cerita segar untuk dibagikan. Karena Frozen II hadir dengan cerita yang mirip Avatar Legend of Aang, penuh eksposisi dan throwback, yang ironisnya mereka tetap berhasil melepehkan perjalanan Elsa di film pertama.
Elsa yang sudah belajar untuk berani menjadi diri sendiri di tengah keramaian dalam film ini diharuskan belajar untuk menemukan dirinya sendiri dan di akhir memilih untuk sendirian karena dia begitu berbeda dengan orang-orang. Pesan seperti apa ini? Kita pengen karakter cewek yang mandiri tapi gak gini juga caranya.
Petualangan film ini tidak terasa seru, karena diberatkan oleh narasi eksposisi. Drama antar-saudari tidak lagi simpel dan mengena, melainkan terasa begitu jauh oleh cerita perang-fantasi yang ribet. Fantasinya pun terasa usang meski memang visualnya teramat indah.
My Breaking Point:
Olaf. Serius deh, Olaf sangat menjengkelkan. Dan film terus ngepush manusia salju sampai-sampai kita melihat adegan Olaf menceritakan – eng, MENGADEGANKAN ULANG! kejadian di Frozen pertama. What. An. Annoying. Waste. Of. Time.
 
 
 
 

5. X-MEN: DARK PHOENIX


Director: Simon Kinberg
Stars: Sophie Turner, James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence
Duration: 1 hour 53 min
X-Men seharusnya bisa dijadikan contoh gimana hancurnya cerita superhero jika bermain-main dengan time-travel. Namun tetap saja elemen itu bakal dipilih karena dengan begitu universe lebih mudah untuk diekspansi. Masalah logika nomor dua.
Dark Phoenix bukan saja berurusan dengan masalah kontinuitas – banyak aspek yang enggak masuk dengan dunia dalam franchise X-Men sebelumnya. Ia juga harus berurusan dengan pengaruh SJW – sekali lagi ini adalah cerita wanita yang berusaha menjadi dirinya sendiri -, dinyinyirin mirip dengan Captain Marvel yang sudah lebih dulu tayang dengan jarak yang tak begitu jauh, dan beban sebagai penutup X-Men. Well, setidaknya sebelum dibeli oleh studio dagang yang lebih gede.
Hasilnya sungguh berantakan. Dark Phoenix terlihat jelas mengalami banyak shoot ulang. Ada yang bagus, seperti final battle di kereta api. Namun secara keseluruhan, setiap babak film ini terasa kayak film yang berbeda. Mereka enggak menyatu dengan kohesif, tone ceritanya beda, motivasinya beda. Film juga pengen nampil sangat serius sehingga enggak ada lagi kesenangan menontonnya.
My Breaking Point:
Ketika mereka memperkenalkan alien sebagai musuh utama. Alien yang sangat miskin eksplorasi. Bangsa alien tersebut bahkan gak sempat disebutkan namanya. Aku hanya menyebutnya…; Peran-yang-disesali-oleh-Jessica Chastain.
 
 
 
 
 

4. AVE MARYAM


Director: Robby Ertanto
Stars: Maudy Kusnaedi, Chicco Jerikho, Tutie Kirana, Joko Anwar
Duration: 1 hour 25 min
Oh betapa ekspektasiku tinggi sekali mendengar pujian-pujian bagi film ini dari penayangannya di berbagai festival. Temanya pun berani, kisah cinta seorang biarawati. Tapi begitu ditonton di bioskop… maan, kenapa rasanya ada yang bolong.
Selain sinematografi yang keren, art yang memanjakan mata, dan adegan manis berdialog di kafe, tidak ada yang bisa dinikmati dari Ave Maryam. Perjalanan tokoh utamanya terasa abrupt. Konfliknya yang berani itu gak terasa. Film ini seperti kisah cinta biasa. Durasi film ini terlalu pendek untuk sebuah cerita hubungan dua manusia yang dilarang saling jatuh cinta. Aku seperti menonton film yang berbeda dengan orang-orang di festival. I mean, filmnya benar-benar kosong, kita hanya baru akan mengerti konflik dan backstory dan segala macemnya setelah membaca sinopsis. Sungguh sebuah karya menyedihkan jika harus mengandalkan sinopsis sebagai komplementer – sebagai sarana untuk menampilkan yang tidak bisa ditampilkan.
Kemungkinan terbesar adalah akibat penyensoran. Dan jika benar, maka sangat disayangkan sekali perfilman kita masih belum berani menghidangkan cerita yang bertaji.
My Breaking Point:
Maryam memandangi Romo Yosef bermain musik, kamera fokus kepada si Yosef seolah dia konduktor terkeren di dunia, padahal tidak ada sama sekali rasa di adegannya.
 
 
 
 

3. BEBAS


Director: Riri Riza
Stars: Maizura, Marsha Timothy, Sheryl Sheinafia, Baskara Mahendra
Duration: 1 hour 59 min
Bebas diadaptasi dari film Korea yang berjudul Sunny. Sunny sendiri merupakan cerita persahabatan cewek remaja Korea yang kental sendiri dengan lokalitas orang sana, film itu menggambarkan sistem pendidikan yang keras dan hubungan sosial remaja yang membentuk geng sekolah.
Kupikir akan menarik, bagaimana Riza akan membawa cerita ini ke dalam lokal Indonesia. Tokoh yang tadinya cewek semua, diganti dua menjadi cowok. Setting waktu yang diambil adalah 90 akhir, saat Indonesia lagi krisis-krisisnya. Ternyata, tidak ada hal lokal yang signifikan yang dijadikan daging oleh film saduran ini. Film berpuas diri dengan lagu-lagu 90an dan gak melakukan banyak terhadap cerita. Semua kejadian dalam film ini sama persis dengan yang di film asli. Hingga ke dialog-dialognya. Latar hanya sekadar tempelan. Soal cowok main dalam geng cewek pun tak dijadikan fokus utama. Seharusnya yang diganti jadi cowok, tokoh utamanya aja sekalian.
Salah satu produk film paling malas tahun ini, minim visi original, dan hanya mengandalkan nostalgia musik, jejeran cast, dan cerita dari material aslinya.
My Breaking Point:
Sesama-samanya dengan Sunny, tapi film berhasil untuk membuatku kecewa karena entah mengapa mereka mengurangi porsi Suci (Su-ji pada Sunny) dan tidak ada adegan Suci menyelamatkan Vina
 
 
 
 
 
 
 

2. RATU ILMU HITAM


Director: Kimo Stamboel
Stars: Ario Bayu, Hannah Al Rashid, Putri Ayudya, Adhisty Zara
Duration: 1 hour 39 min
Film ini juga punya jejeran cast yang yahud, tapi bahkan mereka lebih enggak banyak berguna lagi ketimbang cast Bebas. Ratu Ilmu Hitam harusnya jadi film favoritku tahun ini – horor, ada efek praktikal body horor, sadis, digarap oleh kombo maut pada genre ini (film ini ditulis dan dipromosikan secara keras oleh Joko Anwar). Aku memang menyukainya. Hanya saja, ini jauuuuuh banget untuk jadi film yang memuaskan.
Mainly karena penulisannya yang sangat mengecewakan. Cast yang berjubel itu tidak mampu diberikan penulisan yang berbobot, let alone berimbang. Si Ari ‘Wage bacanya Weij’ Irham malah hanya dikasih satu adegan penting. Bayangkan. Hampir seperti film ini enggak peduli soal mengarahkan akting. Mereka hanya fokus membangun keseraman dan twist bergagasan moral berbau politis. Buktinya lagi, film gak mau repot-repot ‘maksa’ pemainnya mainin adegan dengan kelabang asli. Hewan-hewan kecil itu masih pakai efek komputer dan terlihat gak meyakinkan. Dan menjadi menggelikan ketika di kredit penutup kita melihat still foto adegan-adegan seram – menggunakan kelabang asli – dari Ratu Ilmu Hitam original.
Yang kuharap adalah horor sadis sederhana, memanfaatkan banyaknya cast mumpuni. Namun yang didapat adalah kejadian ribet dengan sok berada di batasan moral abu-abu, yang tidak didukung oleh penulisan dan struktur cerita yang bener. Tokoh utamanya aja gak jelas siapa. Kenapa gak sekalian aja judulnya Ratu Kulit Hitam kalo memang mau dapat pujian filmnya punya isu, siapa tau bisa menang Oscar.
My Breaking Point:
Dialog-dialog film ini yang sibuk menjelaskan, ngobrol ringan, dan berusaha mengomentari banyak hal, benar-benar menjengkelkan buatku. Gak cantik penulisannya. Puncaknya adalah ketika tokoh yang diperankan Zara dan tokoh anak panti yang tadinya akur, tau-tau berantem adu mulut lantaran si cowok mau nembak tikus di dalam rumah. WTF.
 
 
 
 
 
Sebelum masuk ke posisi pertama, simak dulu Dishonorable Mentions yakni film-film bioskop 2019 yang dapat skor 1. Ironisnya, mereka memenuhi ekspektasiku; Jelek, dan ternyata beneran jelek!

Dishonorable Mentions:

11:11 Apa yang Kau Lihat,

Roy Kiyoshi the Untold Story,

47 Meters Down: Uncaged,

Pariban: Idola dari Tanah Jawa

Sekte,

Kelam

 
 
 
Dan juara paling mengecewakan tahun ini jatuh kepadaaa

1. STAR WARS: EPISODE IX – THE RISE OF SKYWALKER


Director: J.J. Abrams
Stars: Daisy Ridley, Adam Driver, John Boyega, Oscar Isaac
Duration: 2 hour 22 min
Ketika Force Awakens munculin tokoh yang practically ‘mary sue’ aku masih bisa memaafkan; at least, sudut pandang baru dan revealingnya bakal keren. Ketika Last Jedi membuang semua teori fans ke laut dan nge-swerve kita setiap kali kesempatan, aku juga masih oke – malah excited mau dibawa ke mana sebenarnya trilogi ini, apa jawaban besar yang menanti di Episode 9. Lalu, akhirnya tibalah Rise of the Skywalker. Dan jelas sudah mereka tidak punya rencana apa-apa untuk trilogi ini selain untuk menjual mainan saat natal dan tahun baru.
My Breaking Point sudah mulai mendidih di menit-menit pertama mereka munculin kembali Palpatine. Menghapus semua kejayaan prophecy Anakin yang menjadi motor di Star Wars terdahulu. Dan sepanjang durasi, aku merasa terus menggelegak karena film ini tidak melanjutkan, melainkan merevisi sesuka hati. Tidak lagi peduli pada apa yang sudah dibangun – baik atau buruk – dan just go with apapun yang sekiranya bisa bikin fans bersorak “hey itu dari episode ke anu!”
Out of nowhere mereka membuat Poe sebagai kurir scroundel galaksi – seperti Han Solo – padahal di episode sebelumnya dia anak pilot biasa, dan sudah ikut berperang sejak muda. Mereka begitu saja membuat Finn punya ‘feeling’ dan ada banyak Stormtrooper seperti dirinya, meskipun di episode sebelumnya arc Finn adalah satu-satunya mantan militer yang berusaha rise up dari komanda-komandannya dahulu. Kisah cinta Finn pun seperti tak-eksis di sini. Dan kalo aku punya popcorn, maka semua popcornnya pasti sudah kulempar-lempar ke layar ketika hantu-force Luke mengangkat pesawat yang mestinya sudah rusak dan gak bisa dipakai. Kerusakan pesawat X-Wing ini penting, karena itulah yang menyebabkan Luke mengerahkan tenaganya sendiri hingga mati untuk muncul dalam bentuk energi menolong Resistance di Episode VIII
Nonton ini aku antara nyengir seru nonton aksinya dan nyengir blo’on melihat elemen-elemen yang gak kohesif.
Aku mengerang keras di bioskop pada momen ketika Rey menyebut dirinya Rey Skywalker di akhir. AARRGGHH!
 
 
 
 
That’s all we have for now.
Bisa dilihat sebagian film di daftar ini adalah box office, dan ini merupakan pertanda tak menyenangkan industri film semakin mengarah ke produk dan wahana. Sekalinya ada film yang berbeda, film tersebut ditakutkan akan begitu kontroversial sehingga dijinakkan. Tiga dari empat film impor di sini adalah buatan Disney, dan ini aku gak menyebut film-film live-action mereka yang semuanya sudah diantisipasi bakal jelek. Kalolah yang aku bikin adalah list film terburuk, film-film Disney tahun ini akan berkumpul di sana. Magic mereka hanya visual sekarang, dan aku benar-benar takut tren ini terus berlanjut.
Untuk Indonesia, tren yang mulai muncul adalah ‘film’ yang bersambung. Dan ini sedapat mungkin kubasmi dengan tidak menyebutnya sama sekali meskipun kesalnya luar biasa dapat yang jenis ini di bioskop.
Juga noticed dong kalo kebanyakan film di list ini bertokoh utama perempuan, yang ditulis dengan kurang baik. Ini actually satu lagi tren yang menakutkan; tokoh-tokoh perempuan sekarang diharapkan kuat, mandiri, berdaya, gak butuh cowok, dan ini salah kaprah menjadikan tokoh itu sebagai poster girl SJW dan feminism, padahal mereka seharusnya jadi tokoh yang relatable dan belajar untuk menjadi kuat.
Semoga daftar ini bisa dijadikan cermin untuk perbaikan. Jangan lewatkan Top-Eight Movies of 2019 yang akan ditulis nanti setelah pengumuman nominasi Oscar, juga awards tahunan My Dirt Sheet Awards CLOUD9 di 2020.
Terima kasih sudah membaca. Apa kalian punya daftar film-film yang mengecewakan juga? Share dong di sinii~~
 
 
 
 
Because in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE FAVOURITE Review

“Without honesty, love is unhappy”

 

 

Dalam The Favourite kita akan melihat Emma Stone dan Rachel Weisz memperebutkan hati Olivia Colman. Siapa di antara Lady Sarah dan rakyat jelata Abigail yang akhirnya menjadi orang kepercayaan, dan kekasih-rahasia sang Ratu Inggris. Kita bisa bilang ini kisah cinta-segitiga yang benar-benar ganjil. Agaknya, lewat komedi dengan sudut pandang unik, pemandangan sejarah – sebuah period piece – yang bahkan gak benar-benar peduli sama keakuratan, dan dengan cueknya menggeser posisi laki-laki menjadi sebatas hiasan ruangan dengan wig dan dandanan heboh, sutradara Yorgos Lanthimos berusaha menyentil dinamika dunia politik kontemporer di sekitar kita, hingga ke lapisan yang paling kecil. I mean, betapa sering kita nemuin kasus – atau bahkan mungkin mengalami sendiri – seorang yang posisinya terancam oleh kedatangan seorang baru yang lebih charming dan pintar menarik hati? Berapa sering kita terlena antara dusta dan cinta?

Permulaan film ini seolah mengeset cerita biasa tentang keberhasilan orang-susye memanjat tangga sosial dan menuai hasil keringat, darah, dan air matanya. Abigail yang diperankan Emma Stone memang dengan gampang sekali menarik simpati kita. Dia orang yang baik hati, yang bersedia kerja apa saja. Abigail sudah cukup makan garam perihal perlakuan dunia terhadap orang-orang miskin seperti dirinya, walaupun dirinya masih ada hubungan keluarga dengan tokohnya Rachel Weisz, Lady Sarah yang gede di lingkungan istana. The Favourite benar-benar menunjukkan beda kelas sosial tersebut dengan ekstrim – tetap, dalam undertone yang kocak. Selama ini kita mungkin hanya menerka apa sih yang dikerjakan orang-orang kaya di jaman dahulu. Setelah nonton film ini, imajinasi kita terhadap mereka akan semakin liar. Balapan bebek alih-alih kerja rodi di dapur?

well, tentu saja Abigail lebih memilih berjuang untuk mengukuhkan posisi ketimbang menjadi sasaran berikutnya dari lemparan jeruk.

 

 

Kerja menakjubkan film ini adalah gimana backstory dan motivasi setiap tokoh berhasil tersampaikan kepada kita, secara tersurat maupun tersurat. Kita hampir mengasihani Abigail lantaran dia diberikan masa lalu traumatis, namun itu semua ‘hanya’ alasan supaya kita paham roda gigi macam apa yang bergerak di dalam kepalanya. Kita jadi mengerti tidak ada yang lebih diinginkan Abigail selain kenyamanan istana, tidak lagi berada di kelas bawah. Dan semakin kamera membawa kita mendekatinya, ini bukanlah cerita keberhasilan. Inilah yang aku suka dari The Favourite, ceritanya berani menunjukkan kegagalan. Boleh saja begitu dia pertama kali menginjakkan kaki ke istana, masuk ke lingkungan Ratu Anne, Abigail memang wanita baik-baik, akan tetapi lambat laun bahkan dirinya sendiri seperti enggak percaya pada hal-hal yang ia lakukan demi mengukuhkan diri di atas sana. Abigail seperti meyakinkan dirinya sendiri ketika berulang kali dia menyebut dirinya punya hati yang baik. Di balik dinding istana, betapapun dekat jarak yang ia ciptakan antara sang Ratu dengan dirinya, Abigail tidak pernah merasa secure. Tokoh Abigail adalah peringatan kepada kita semua bahwa dalam lingkup sosial yang tidak seimbang antara kaya dan miskin menciptakan kompetisi yang bar-bar. Miskin gak mau semakin miskin, dan yang kaya tentu saja tidak mau jatuh miskin.

Dan tidaklah gampang untuk keluar dari lingkungan sosial seperti demikian. Film menggambarkan kekangan yang dirasakan oleh kaum aristokrat itu lewat wide shot yang dapat kita temukan di sepanjang durasi. Menggunakan lensa fish-eye, film menyuguhkan  jangkauan luar biasa lebar. Kita akan melihat tokoh-tokohnya sendirian di ruangan yang besar, persis kayak lukisan-lukisan jaman dulu, dan sekaligus kita merasakan kesendirian – bahkan ketika mereka berada di court room dengan banyak orang, dan kungkungan yang menyangkut dalam perasaan mereka. Sekalipun mereka berjalan, wide shot tersebut beralih fungsi untuk menunjukkan jauhnya perjalanan yang mereka lakukan untuk sampai di sana. Sekali lagi, sama seperti Abigail, film mengeset pemahaman kita bahwa semua orang di dalam sana tidak mau kembali ke muasal mereka di jalanan. Berbeda dengan wide-shot yang dilakukan oleh Roma (2018), saingan film ini di Oscar, kamera The Favourite enggak ragu untuk bergerak aktif. Kita bakal sering dibawa berayun oleh kamera, yang kemudian melesak maju bersama karakter, untuk menimbulkan kesan para tokoh ini berjuang keras bergerak di dalam sana. Film juga memilih untuk menggunakan cahaya-cahaya yang natural. Yang terbukti efektif sekali saat shot di malam hari, sebab cahaya lilin itu benar-benar menangkap kecemasan Abigail yang tak tenang seberapapun tinggi statusnya, dia masih khawatir akan ‘ketahuan’ sebagai orang yang seharusnya tidak berada di sana.

Apa yang tadinya dimulai dari cerita underdog yang sederhana – I mean, siapasih yang enggak bakal terpikat sama Abigail yang feminim dan sopan dibandingkan Lady Sarah yang tegas dan kaku – berubah menjadi sesuatu yang lebih dalem lagi. Film dengan berani menunjukkan perubahan Abigail, dia semakin nekat melakukan berbagai cara. Sensasi nonton yang luar biasa saat kita menyadari bahwa Abigail yang hanya memikirkan diri sendiri tidak lebih baik dari orang yang berusaha keras untuk ia gantikan. Lady Sarah yang melarang ratu makan coklat, yang meledek dandanan sang ratu kayak luak, yang ogah membelai kelinci-kelinci peliharaan Ratu, yang terang-terangan mengaku cintanya pada ratu ada batasnya namun tidak demikian buat negara, adalah orang yang lebih baik karena dirinya berada di sana bukan untuk kepentingan pribadi. Sarah punya tujuan yang jauh lebih mulia daripada memuaskan kenyamanan dirinya sendiri. Tidak seperti Abigail, Sarah tidak sekalipun menganggap Ratu Anne sebagai hadiah yang harus dimenangkan. Adegan Abigail menari bersama Ratu, at one point kita mendengar suara letupan senjata, dan Ratu terjatuh – sambil tertawa – melambangkan siapa sebenarnya yang ‘pembunuh’ alias oportunis. Dan tentu saja bukan tidak ada maksudnya ketika film memperlihatkan Abigail lebih ahli menembak ketimbang Sarah. Sarah tidak pernah berpura-pura, dia mempersembahkan dirinya apa adanya. Dia tidak peduli orang menganggapnya kejam dan berhati dingin. Malahan faktanya, dibanding Abigail yang sepanjang waktu membuat ‘rencana’ dan bergerak sembunyi-sembunyi, hanya satu kali diperlihatkan Sarah berusaha bikin surat buat ngeblackmail Ratu, namun pada adegan berikutnya kita melihat surat tersebut dia bakar. Karena seperti yang diperjelas oleh dialog Sarah dengan Abigail; dia tidak memainkan permainan yang sama dengan Abigail.

Dan Sarah-lah yang mengungkapkan kalimat terpenting yang menjadi pesan dalam film ini. Bahwa kejujuran adalah cinta. Mencintai dan tetap bersikap jujur ternyata adalah hal yang luar biasa sukar dibandingkan berbohong demi menyenangkan orang.

 

Tentu saja sikap Sarah tersebut dipandang sebagai ketidaksetiaan oleh Ratu. Yang membawa kita ke tokoh terakhir dalam cerita segitiga ini. Olivia Colman dinobatkan sebagai pemenang Aktris Terbaik dalam Peran Utama Oscar 2019, mungkin membuat kita bertanya-tanya kenapa tokoh yang diperebutkan ini yang disebut sebagai peran utama. Buatku, tokoh utama cerita ini memang Abigail. Namun aku mengerti kenapa Anne juga bisa dipandang sebagai tokoh utama. Walaupun tokohnya annoying dan konyol sebagai penguasa (mengingatkanku pada persona Vickie Guerrero di WWE), keputusan Ratu Anne-lah yang menjadi penentu cerita. Dan jika kita tilik karakternya, dialah yang paling manusiawi di antara semua. Anne yang paling menderita. Dia bahkan enggak tahan mendengar musik karena membuka luka emosional yang selama ini menderanya. Ratu kita ini telah kehilangan tujuh-belas anaknya. Implikasinya adalah dia tidak bisa punya anak. Film dengan hebat menetapkan bahwa sosok ini sangat mendamba cinta, dia ingin ada yang menunjukkan cinta kepadanya. Kelinci-kelinci yang ia pelihara; merupakan wujud pengganti anak baginya. Menjadi ratu, penguasa, adalah siksaan ekstra bagi pribadi semacam ini karena dia tidak pernah tahu pasti siapa yang tulus mencintai dirinya dan siapa yang hanya ingin mengeruk keuntungan darinya. Lebih mudah baginya untuk mempercayai dan menerima Abigail yang terus memuja-muja dirinya – menjilat kalo boleh dibilang – ketimbang Sarah yang menyuruh-nyuruh dirinya.

Sang Ratu ultimately dihadapkan pada pilihan antara orang yang bersikap manis dengannya dan orang yang ketus. Abigail memanfaatkan kelemahan Anne, sedangkan Sarah berusaha mengeluarkan Anne dari kelemahan tersebut. Dan pada akhirnya memang Abigail yang menang. Namun film menembak kita dengan pertanyaan, apa yang ia menangkan? Apa yang ia dapatkan sebagai anak emas si Ratu kalo kenyataannya hati Abigail semakin tidak tenang. Abigail malahan hanya jadi sasaran kegelisahan sang ratu yang dibuat oleh film ini menyadari bahwa dirinya baru saja mencampakkan satu-satunya orang yang beneran peduli kepada dirinya, yang menganggap dirinya manusia alih-alih tukang ngasih makan.

apa bedanya Abigail sama kelinci-kelinci itu?

 

Menjadi yang teratas tidak serta merta membuat kita bahagia. Malahan ratu dalam cerita ini justru adalah yang paling nelangsa di antara semua. Di balik nada komedi yang membuat kita tertarik mengikuti ceritanya, film ini menunjukkan bahayanya dinamika kuasa yang bisa terjadi antara si kaya/si kuat dengan si miskin/si lemah dalam sistem kekuasaan tertutup seperti begini. Sebab yang atas akan melampiaskan ke yang bawah, dan begitu seterusnya melingkupi semua lapisan.

 

 

Berusaha menyentil masalah kontemporer lewat gambaran sejarah yang dengan nekatnya melanggar banyak aturan sebuah film period piece. Film ini menilik dinamika antara kelas, cinta, dan politik – membalutnya dalam busana komedi, sehingga menjadi tontonan yang enggak malu-maluin dan enggak malu menunjukkan apa yang bisa terjadi – dan mungkin sedang terjadi di sekitar kita. Semua penampilan di sini luar biasa, kita sudah melihat pencapaian film ini pada musim award yang lalu. Film ini memberanikan kita untuk mempertimbangkan pilihan, untuk tidak memilih yang termudah, dan mengingatkan kadang memang selalu ada udang di balik batu.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold star for THE FAVOURITE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian menjadi raja/ratu itu asik? Apakah cinta itu ada batasnya? Pernahkah kalian merasa lebih aman dan sejahtera bagi diri kalian untuk berbohong ketimbang mengatakan yang sebenarnya?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

My Dirt Sheet Awards 8MILE

Sudah satu bulan kita keluar dari tol 2018 dan mulai melaju di jalan panjang yang baru. Jalan yang kita harepin bakal mulus, melewati berbagai pemandangan yang seru. Siapa yang tahu rintangan dan polisi tidur seperti apa yang siap menghadang di balik tikungan sana. Namun kita mesti selalu siap. Jangan gentar. MY DIRT SHEET AWARDS KEDELAPAN hadir buat kamu-kamu yang masih sering ngelirik ke kaca spion. Yang mungkin masih ragu-ragu dengan keputusan yang sudah diambil tahun lalu. Yang memulai 2019 dengan tak begitu lancar sehingga menyangka “jangan-jangan tahun kemaren masih lebih baik dari sekarang”. Karena toh memang tak ada yang tahu pasti seperti apa ke depan. Maka, jadikanlah penghargaan-penghargaan berikut sebagai pengenang, selurus apa sih 2018 itu

Anyway, kali ini Penganugerahan dikembalikan ke tangan kita-kita, setelah tahun lalu terjadi ‘kekacauan’ dari para pembaca nominasi yang seenaknya sendiri hhihi

 

 

TRENDING OF THE YEAR

Kenyataan bahwa video tahunan Youtube Rewind yang biasanya ngetren, versi akhir tahun 2018 malah banyak dihujat, sejatinya bikin ‘ngeri’ juga sih. Apa memang tren-tren di 2018 sejelek itu? Atau para youtuber-pengisinya aja yang kelewat narsis sehingga video tersebut jadi gak asik lagi? Jadi, inilah nominasi yang paling ngehits, silahkan judge sendiri asik atau enggak scene perviralan dunia hhihi:
1. Es Kepal Milo
Duh pas bulan puasa kemaren, gak keitung deh pelanggan kafe eskrimku yang meminta menu es kepal. Es dari Malaysia ini melejit, dijual di mana-mana, dengan jumawa menjadi tren sampai ada yang iseng menghitung kalori yang terkandung di dalamnya 
2. Flossing
Flossing atau The Floss adalah gerakan ‘tarian’ gaul di mana…. well, I’m not describing that! Banyak orang – remaja maupun orang dewasa – yang mempraktekkan Floss sejak kepopulerannya naik oleh aksi di televisi, bahkan tokoh game pun dirender untuk melakukan gerakan ini
3. Hey Tayo 
Aku gak nonton tv jadi gak terlalu ngeh ada acara ini, sampai saat mudik lebaran aku mendapati semua anak kecil di kampung nonton dan nyanyiin acara ini. Dan tentu saja, Tayo sukses jadi meme dan viral
4. K-Pop 
Tahun ini giliran musik dan idol pop Korea yang populer. Dikawangi grup girlband dan boyband semacam Blackpink, BTS, dan banyak lagi, mereka menuai sukses bukan saja di Indonesia, melainkan juga di belahan dunia lain
5. Sinetron Azab 
Terkenal karena judul episodenya yang bombastis dan berimajinasi tinggi. Setinggi ratingnya, karena Azab actually punya versi yang lebih ‘ngeri’ berjudul Dobel Azab
6. Tik Tok
Aplikasi video tempat anak-anak muda nyalurin kreasi, challenges, nari-nari dan bikin lucu-lucuan.

Piala The Dirty pertama jatuh kepadaa:

It’s like, kategori Trending of the Year ini dari tahun pertahun memperlihatkan langkah dominasi Korea di dunia pop. Gak tau deh tahun depan apa lagi dari Korea yang masuk ke sini

 

 

K-Pop boleh saja punya aksi-aksi koreografi yang keren sebagai pengiring dari lagu-lagu mereka. Tapi My Dirt Sheet punya penilaian tersendiri atas bagaimana sebuah penampilan musik dikatakan terbaik. Tampil dan Musik; sejauh apa kalian rela melakukan sesuatu dengan bermusik

BEST MUSICAL PERFORMANCE

Nominasinya adalaaah
1. Cameron Post – “What’s Up?”

2. Childish Gambino aka Donald Glover – “This is America”

3. Slashstreet Boys – “I’ll Kill You That Way”

4. Tom Holland – lip sync to “Umbrella”

5. Vanellope von Schweetz – “A Place Called Slaughter Race”

 

 

Apakah Childich Gambino akan membawa piala sambil menari? Akankah tangan Tom Holland penuh oleh payung dan piala? Bisakah Cameron Post mendapat apa yang ia pantas? Atau Slashstreet Boys yang berjaya dengan lagu pembunuh mereka? Apa mungkin Vanellope berhasil dengan lagu Princess pertamanya? Eng ing enggg The Dirty jatuh kepadaaa

Kocak banget idenya hahaha.. sapa sangka si pendiem Jason suaranya bagus,…….. bitch!

 

 

 

Ke-absurd-an kita lanjutkan dengan salah satu kategori paling eksulsif, eh salah, eklufis, eh, eksklusif! My Dirt Sheet. Kategori di mana tolol dan troll diberikan anugerah.

BEGO OF THE YEAR

Tepuk tangan dulu doonng buat para nominasi:
1. Ari “Wage/Weij” Irham
Kejadian salah baca judul film Indonesia di ajang FFI 2018 ini membuktikan ketampanan memang bukan apa-apa dibandingkan dengan keignorant
2. Cut Nyak Dien Masa Kini
Lebih tepatnya mungkin “Masa gitu” kali ya… atau mungkin “Masa ngaku-ngaku punya masalah” hhihi
3. Drama-Drama Vicky Prasetyo
Hidup mungkin memang membosankan jika gak ada drama. Tapi ya, gak ngundang-ngundang helikopter macam film aksi juga sih, jadinya bukan drama malah komedi
4. Para ‘Narasumber’ Serial “Who is America?” 
Sacha Baron Cohen bikin reality show unik di mana dia menyamar demi mengungkap kebegoan, kesombongan, dan kesoktahuan orang-orang tinggi di Amerika
5. Titus Worldslide
Butuh ketrampilan berlari yang luar biasa untuk bisa jatuh dan meluncur hilang masuk ke dalam tirai di bawah ring seperti yang dipraktekkan oleh Titus O’Neil di depan penonton Saudi Arabia

 

Anugerah bergengsi ini jatuh kepadaaa

Caitlin aja ampe ketawa tuh “maafkan baru pertama kali baca nominasi” hihihihi

 

 

Harapannya sih semoga kita bisa lebih baik dengan menertawakan kesalahan, belajar darinya. Daripada emosian dan ujug-ujug bertengkar. Buat yang udah terlanjur bertengkar, My Dirt Sheet juga memberikan piala khusus loh. Sukur-sukur setelah dapat piala, jadi pada baikan.

FEUD OF THE YEAR

Nominasinya adalah:
1. Bibit Unggul Twitwar
Ketika mahasiswi pinter kepepet oleh fans dari ilustrator yang ia sindir, ‘perang’ mereka jadi hiburan buat kita
2. Becky Lynch vs. Everybody
Menyebut diri sebagai “The Man”, Becky Lynch nantangin semua orang di-backstage, bahkan di twitter. Fans tentu saja bersorak sorai melihat kearoganannya yang keren  
3. Creed vs. Drago
Konflik Creed lawan Drago dilatarbelakangi sejarah kelam; ayah Drago membunuh ayah Creed di atas ring. Pertandingan tinju belum pernah menjadi sepersonal ini. 
4. Laurie Stroode vs. Michael Myers
Empat puluh tahun loh, seteru dua orang ini. Empat puluh halloween Laurie mendendam sehingga malah parnoan. Makanya jadi epic saat posisi mereka seolah berganti – Laurie yang memburu Michael 
5. Lukman Sardi vs. Reviewers
Lukman Sardi sempat ‘nyari’ ribut dengan tulisan instatorynya soal film hanya boleh dinilai ama yang pernah dan ngerti cara membuatnya
6. Yanny vs. Laurel
Sama kayak Dress di tahun 2017, Yanny dan Laurel membagi orang-orang menjadi dua; kubu yang mendengar suara itu sebagai “Yanny”, dan yang mendengarnya “Laurel”. Aku juga heran sih, kok bisa Y ama L jadi mirip 

 

Pemenangnya, dan silahkan rebutan piala, adalah…

Doi udah kayak Stone Cold versi cewek!

 

 

 

 

Segala energi berantem itu memang mestinya disalurin lewat video game aja. Dijamin memuaskan dan gak bikin semakin makan ati. Apalagi game sekarang udah tampil realistis banget, fitur online juga berkembang pesat. Tawuran jadi makin aman, deh

GAME OF THE YEAR

Beriku adalah para nominasinya
1. Dragon Ball Fighterz

Tak disangka-sangka sebagus itu, game terbaru Dragon Ball ini sukses menendang pantat angka penjualan game Marvel vs. Capcom di pasaran

2. God of War

Banyak orang gak sabar memainkan Kratos yang sudah insaf dan kini punya anak untuk berbagi bunuh monster

3. Harry Potter: Hogwarts Mystery

Kapan lagi dengan hape doang kita bisa masuk Hogwarts dan menjalani tujuh-tahun di sekolah sihir dengan segala aktivitasnya

4. PUBG Mobile

Nyaris semua orang yang kukenal main game ini di hapenya.

5. Spider-Man

Menawarkan pengalaman menjadi Spider-man dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Biar gak loading kelamaan, inilah dia pemenangnyaa

Animasinya udah kayak berantem di kartunnya banget. Aksinya cepet. Terobosan baru di dunia game fighting 2D

 

 

Perang, sudah. Perang-perangan, juga sudah. Sekarang waktunya ngademin suasana dengan kategori favoritkyu~ Marilah kita mendoakan supaya cewek-cewek yang masuk nominasi ini mendapat jalan yang lurus dan lancar menuju kesuksesan. Amiinnn

UNYU OP THE YEAR

Sambutlah para nominasi, di antaranya:
1. Alexa Bliss
Setelah gagal dua tahun berturut, Alexa nongol lagi. Dan meski tahun 2018 dia lumayan lama cedera, Si Goddess ini gak kehabisan akal untuk tampil licik dan menawan
2. Cailee Spaeny
Memukau di Pacific Rim: Uprising, Cailee langsung menunjukkan kemampuannya memainkan peran yang berbeda di Bad Times at El Royale
3. Chloe Grace Moretz
Satu lagi pemain lama, yang udah langganan masuk nominasi. Chloe tahun ini balik dalam dua film yang menantang aktingnya lebih lanjut; Suspiria dan The Miseducation of Cameron Post 
4. Hailee Steinfeld
Tampil dengan manis sekali di Bumblebee, Hailee bahkan mengungguli pencapaiannya sendiri yang sebelumnya ia patri di Edge of Seventeen
5. Mackenzie Foy
Satu-satunya yang bikin film Nutracker terbaru itu layak tonton. Foy bersinar, aku akan senang sekali nungguin peran dia berikutnya di film yang lebih berarti
6. Vanesha Prescilla
Alumni Gadsam 2014 yang langsung melejit lewat perannya sebagai Milea di Dilan 1990. Tapi aku lebih suka dia di film #TemanTapiMenikah sih

 

Akankah Bliss atau Moretz akhirnya mendapat piala? Ataukah kali ini adalah giliran anak-anak baru untuk membuka jalan? The Dirty goes to…

She sure has long way to go

 

 

 

 

MY MOMENT OF THE YEAR

Pencapaian anak muda seperti di atas membuatku ingin berefleksi sebentar atas apa yang sudah kulakukan di tahun 2018. Looking back, I will say I have no regrets. Yah, meskipun kafe eskrimku di tengah tahun pada akhirnya tutup. Tapi itu tentu saja membuka jalan yang baru. Aku bisa jadi lebih fokus ke film. Aku bisa makin serius di Forum Film Bandung. Aku juga jadi punya waktu lebih untuk berkarya. Buku pertamaku, Review Jaman Now, akhirnya terbit – paling tidak sampai penerbitnya kabur enggak jawab-jawab WA lagi. Dan aku juga sudah berani nyoba-nyoba bikin film pendek. Dua, film pendek. Setelah dipikir-pikir, itulah yang kubanggakan di tahun 2018. Aku akhirnya mencoba. Dan ketagihan, karena hasilnya masih belum membuatku puas. Semoga tahun 2019 aku bisa terus bikin-bikin lagi, kali ini dengan lebih bagus.

 

 

 

 

 

 

Kadang, memang, kita pengen mengulang menjadi anak-anak. Yang jalannya masih lebih panjang. Yang kesempatannya terbuka masih lebih luas. Yang semangatnya seperti tak terbatas. Kadang, kita seperti lupa bagaimana melihat dunia dari kacamata anak kecil. Makanya, My Dirt Sheet memberikan award buat kategori Best Child Character; bukan tokoh anak-anaknya, melainkan buat penulisan tokohnya. Karena menjadi orang dewasa yang berusaha kembali melihat dunia dari sudut anak kecil itu tidak gampang. Emosi yang disajikan harus tepat, dan benar adanya.

BEST CHILD CHARACTER

Nominasi untuk kategori ini adalaaahh

1. Kayla – “Eight Grade”
Perasaan dan apa yang dilalui oleh anak kelas delapan yang berusaha populer ditulis ke dalam tokoh Kayla dengan begitu dekat pada kenyataan.
2. Miles Morales – “Spider-Man: Into the Spider-Verse”
Konfliknya dengan ayah; perihal apa yang ingin ia lakukan jadi lapisan-dalam yang bergerak paralel dengan tugas-luarnya sebagai Spider-Man generasi baru. 
3. Moonee – “The Florida Project”
Lewat kenakalan, kepolosan, dan keceriaan Moonee kita diperlihatkan betapa pentingnya keberadaan orangtua bagi seorang anak
4. Stevie ‘Sunburn’ – “Mid90s” 
Kalo Stevie lain lagi, ia mewakili perasaan anak-anak yang sebenarnya juga memerlukan teman dibandingkan melulu sosok pengasuh.
5. Theo – “The Haunting of Hill House”
Dalam serial rumah berhantu Netflix, penulis mempersonifikasikan lima stages of grief ke dalam sifat tokoh-tokohnya. Theo yang punya kemampuan ESP, mewakili stage Bargaining.

Tanpa banyak tawar-menawar lagi, The Dirty jatuh kepadaa…

Congrats Jonah Hill telah menulis karakter anak 90an sereal dan sehidup Stevie ini

 

 

 

Anak-anak di kategori atas, mereka sama sekali gak jengkelin. Mereka bahkan lebih dewasa dari nominasi di kategori berikut ini. Kadang orang dewasa memang lebih menjengkelkan, dengan kata-kata yangt gak kalah tak-make-sense nya dari racauan anak-anak. Pembaca sekalian, inilah kategori selanjutnya:

MOST ANNOYING QUOTE

Nominasinya adalah:

1. “Ada aaaaapa ya sebenarnya?” – Aruna

2. “Makan daging dengan sayur kol” – lirik lagu yang jadi kutipan buat orang yang berusaha ngelucu

3. “Mashook, Pak Eko!” dan versi lainnya; “Mantul, Pak Eko!”

4. “Rindu itu berat” – Dilan

5. “Skidipapap Sawadikap” – immature netizens

 

Untuk kali ini The Dirty jatuh kepada kutipan yang aku pake buat menjengkelkan orang-orang:

“mashoook, Pak Eko!”

 

 

Adegan dari Aruna & Lidahnya itu kocak, aneh, campur menjengkelkan. Menakjubkan gimana film berhasil membuat adegan yang bekerja dalam banyak tingkatan seperti demikian. Untuk itulah My Dirt Sheet mengadakan kategori berikut, meskipun kami sudah punya Top-8 Movies yang terpisah. Karena terkadang adegan-adegan keren itu gak melulu ada di film-film yang bagus.

BEST MOVIE SCENE

Simak nih para nominasinya:
1. Helicopter Chase – “Mission: Impossible – Fallout”

http://www.youtube.com/watch?v=wzAv_644g64

2. Live Aid Concert – “Bohemian Rhapsody”

http://www.youtube.com/watch?v=uQL_1hdnUCM

3. Mahjong – “Crazy Rich Asians”

http://www.youtube.com/watch?v=Wh_oOd5JGpU

4. Sunset Dancing – “Burning”

5. The Crane – One Cut of the Dead

6. The Snap – “Avengers: Infinity War”

 

And The Dirty goes to…..

well-written dan penuh simbolisasi. Menonton ini membuatku jadi pengen tahu cara main mahjong biar emosinya lebih dapat lagi

 

 

 

 

 

 

Perjalanan film sepanjang 2018 memang dihantui oleh film-film horor yang jumlahnya banyak banget. Demi mengenang itulah, maka My Dirt Sheet kali ini mengeluarkan kategori spesial.

DEMON OF THE YEAR

Nominasi untuk kategori ini adalah tokoh-tokoh setan yang sudah berhasil menjadi ikonik; entah itu karena penulisannya, karena bangunan ceritanya, ataupun simply karena penampakannya yang mengerikan. Mereka adalah….
1. Bent-Neck Lady – serial “The Haunting of Hill House”
Sosok hantu yang paling bertanggungjawab ngehasilin mimpi buruk; lehernya itu loh! Di balik kengeriannya, hantu ini ternyata punya jalan hidup yang tragis
2. Ivanna – “Danur 2: Maddah”
Ah aku gak akan pernah lupa adegan Ivanna ngangguin orang zikir – badannya naik turun dengan gerakan yang creepy – dan kemudian memecahkan kaca dan breaking the 4th wall; menakuti kita semua
3. Michael Langdon – serial “American Horror Story: Apocalypse”
Antichrist yang berusaha menaklukan kelompok penyihir ini punya segudang trik dan manipulasi menyeramkan dalam melancarkan aksinya. Tak lupa pula, dia punya sisi humanis yang membuatnya menjadi karakter yang menarik
4. Suzzanna – “Suzzanna: Bernapas dalam Kubur”
Tidak ada yang lebih mengerikan daripada hantu yang misinya untuk balas dendam. Tapi tidak segampang itu, Ferguso. Suzzanna ditulis begitu manusiawi sehingga kita diperlihatkan bagaimana dia semakin tragis berusaha untuk menahan amarah kesumatnya
5. Valak – “The Nun”
Iblis dari neraka yang mengambil wujud biarawati akhirnya punya film sendiri!

 

Dan yang sukses membawa piala ke alam baka adalaahh

Secara kontekstual; Suzzanna benar-benar seperti bangkit dari kubur!

 

 

Gak sia-sia, kan, Luna Maya didandanin – dipakein topeng prostetik, supaya meyakinkan menjelma menjadi sosok Suzzanna. Karena penampilan itu toh penting gak penting. Kategori berikut ini dipersembahkan buat fashion-fashion super unik yang kalo dipake bakal bikin penampilan kita lain daripada yang laen. Bikin kita menonjol di jalanan!

FASHION OF THE YEAR

Nominasinya adalaaah
1. Baju koko Black Panther

2. Baju koko… Thanos!

3. Jaket Dilan

4. Kacamata Velveteen Dream

5. Setelan, literally, kebesaran Alessia Cara

 

Penampilan paling unik tahun 2018 adalaaah

Kacamata flamboyan ini sepertinya cocok juga dipake ama Ten Shin Han

 

 

 

 

Setelah ganti penampilan dan menarik hati, ayo kita mencari pasangaann hhihi jadi kayak lagu Chibi Maruko.

COUPLE OF THE YEAR

Nominasi kategori ini bisa bikin kalian baper, karena memang mereka semua ini so sweet banget
1. Ally & Jack
Walaupun berakhir tragis, kisah dua orang ini sangat menginspirasi. Siapa coba yang gak kepingin berkarya bersama pasangannya?
2. Ayudia & Ditto
Kisah mereka di film #TemanTapiMenikah bisa jadi relationship goal banget buat orang-orang yang berkubang di friendzoneUntuk membuat makin sweet lagi, dua pemeran film ini berakhir beneran jadian
3. Dilan & Milea
Highschool sweethearts ini sudah ditonton oleh jutaan pasangan yang diam-diam pengen menjadi seperti mereka
4. Milly & Mamet
Suri tauladan buat pasangan milenial yang baru mengarungi kehidupan rumah tangga, nih
5. Prince Harry & Meghan
Tau dong cerita manis di balik pasangan darah biru kerajaan Inggris ini? Gimana si cewek dulu hanya bisa berfoto di depan istana, dan kini… cewek-cewek pasti bilang “mauuuuuu”

6. Rachel & Nick
Satu lagi cerita impian ketika seorang gadis mengetahui ternyata pacarnya anak orang kaya

 

Dan The Dirty diberikan kepadaaa..

Pasangan paling ikonik tahun 2018!

 

 

 

 

 

Tentu saja akan sedih sekali jika kita melihat pasangan-pasangan seperti itu harus terpisahkan. Momen bahagia akan lenyap semudah Thanos menjentikkan jarinya. Orang-orang yang terpisah dari yang tercinta; dari keluarga, teman, kerabat. Marilah kita mendoakan mereka korban gempa seperti di Lombok, gempa tsunami di Palu, tsunami di Selat Sunda. Korban kecelakaan seperti jatuhnya pesawat Lion Air. Korban penembakan sekolah, korban terorisme. Dan kepada jiwa-jiwa yang berjasa, baik yang dikenal seperti Stan Lee, Bruno Sammartino, Roddy Piper, Dolores the Cranberries, Gogon, Stephen Hwaking, dan banyak lagi – maupun yang tak dikenal. Kepada mereka semua yang tak bisa ikut lagi jalan bersama di 2019, aku ajak kita semua untuk mengheningkan cipta.

Mulai!

….

….

MOMENT OF SILENCE

….

….

….

….

….

….

….

Selesai!

 

 

 

Penghargaan terakhir diberikan untuk kejadian paling tak-terduga, paling heboh, paling out-of-nowhere yang terjadi di 2018

SHOCKER OF THE YEAR

Nominasinya sebenarnya banyak, semua hal yang udah bikin kita shock dan surprise, yah meskipun dengan dunia yang semakin aneh, rasanya kita juga semakin bebal ama yang namanya ‘mengejutkan’. Berikut adalah beberapa yang menurutku cukup mengagetkan
1. Kane jadi walikota!
2. Ronda Rousey debut di WWE!!
3. Daniel Bryan dibolehin bertanding setelah sebelumnya divonis pensiun-dini!!!
4. Jokowi bisa naik motor!
5. Gadis Sampul diadain lagi!!
6. Netflix ngeluarin konten interaktif!!
7. Ada concentration camp buat muslim di Cina!?!
8. Katy Perry ama Taylor Swift baikan?!
9. Printer 3D yang bisa ngeprint ke kulit manusia!!
10. Bill Cosby ngaku!!!
11. Sudahkah aku nyebutin Stephen Hawking, manusia paling pintar itu meninggal dunia!?

Well, ya karena Hawking ninggalin kita sesuatu yang sangat mengejutkan…

Beliau meninggalkan kita catatan penelitian yang menunjukkan teori bukti keberadaan multiverse!

 

OH MY GAWD!!

Apakah dunia beneran kayak di serial Rick dan Morty? Apa bakal ada banyak jenis Spider-Man? Apa di dunia lain sana ada My Dirt Sheet Awards juga dengan pemenang yang berbeda? Apa 2018 di dunia lain menyenangkan, atau lebih kacau? Siapa tau lebih maju?

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners.
And there are losers.

 

Atau begitulah yang kita sangka, karena siapa tau ada dunia lain yang hanya punya winners atau losers saja.

 

Yang jelas, we still the longest reigning BLOG KRITIK TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

Selamat Tahun Baru, Semua!!!! Tetap tersenyum yaaa

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2018

 

Seperti yang kukatakan kepada dosen geoteknik pagi itu saat ujian semester keempat: “Maaf, saya terlambat.”

Tadinya memang seperti tahun-tahun sebelumnya aku pengen nungguin nonton semua nominasi Oscar dulu, supaya tak ada yang bikin aku merasa ah, seharusnya ini masuk… Tapi karena kelamaan dan aku merasa daftar favoritku sebenarnya sudah sangat solid – aku tidak mau merusaknya – maka aku memutuskan mengambil sikap. Daftar Top-8 ini aku keluarkan sehari sebelum pengumuman nominasi Oscar, dan kupastikan tidak akan ada penyesalan. Karena menurutku memang seharusnya kita masing-masing punya pendirian. Aku tahu lebih baik; tidak perlu mengulur-ulur demi satu film atau beberapa film, toh jika memang bagus mereka bisa dimasukin di daftar tahun depan. Kita tidak harus menunggu orang lain untuk memastikan apa yang kita tahu kita punya. Jika kita punya standar, tetaplah di sana.

Jadi ya, tahun 2018 kita sudah lihat begitu banyak kemenangan manusia yang percaya pada kemampuan dan apa yang dipilihnya. Kita melihat astronot berhasil mendarat di bulan. Penyanyi yang menggelar konser begitu besar. Robot yang mengalahkan monster raksasa. Kita juga disuguhkan dengan banyak cerita balas dendam, dengan masing-masing lebih unik dari sebelumnya. Meskipun kuakui, 2018 ini adalah tahun di mana aku paling sedikit ngasih angka di atas 8 tapi tidak berarti film-filmnya kebanyakan jelek (kecuali sebagian besar horor-horor Indonesia yang cuma pengen laku-lakuan). Film-film tahun ini banyak yang bersaing di angka 7, yang mana dalam sistem ratingku itu berarti banyak film-film yang menonjolkan idealisme mereka – dan ini adalah hal yang begitu positif.

Juga ada keseimbangan yang terjadi, karena di satu sisi kita banyak menjumpai film-film remake atau malah sekuel dari zaman 80-an dan di sisi lain kita dianugerahi sutradara-sutradara baru yang dengan berani mengusung ide segar dan sudut pandang yang belum pernah digali.

HONORABLE MENTIONS

  • Annihilation (thriller sci-fi yang memuaskan yang sekaligus bikin kita mempertanyakan apa manusia adalah kanker bagi dunia)
  • A Quiet Place (siapa bilang diam itu gampang?)
  • Blackkklansman (keseimbangan sempurna antara komedi dan tragedi)
  • Crazy Rich Asians (meski kayak ftv tapi gebrakannya dahsyat; film pertama sejak sekian lama seluruh cast Asia dalam produksi Hollywood; membuktikan diri itu penting!)
  • Creed II (sebuah film tentang bertinju yang mengingatkan kita untuk tetap berpikir menggunakan hati)
  • Green Book (penampilan akting kedua tokohnya akan menghibur kita di balik tema yang menyentuh)
  • Incredibles 2 (pergantian role dalam cerita superhero menjadikan sekuel yang ditunggu ini film yang menyegarkan)
  • Mid90s (potret anak yang mencari teman, alih-alih panutan, yang tak terasa dibuat-buat)
  • Mission: Impossible – Fallout (film aksi terbaik se2018, sebab semuana minus CGI!)
  • One Cut of the Dead (film paling asik sepanjang tahun, it’s not good but still manage to teach us a lot!)
  • Paddington 2 (dudukkan satu keluarga nonton ini dan rasakan kehangatan serta kelucuan menjalar)
  • Sebelum Iblis Menjemput (bisa juga Indonesia membuat horor gore yang menyenangkan ala cult kayak Evil Dead.. penulisan karakternya juga bagus)
  • Sekala Niskala (setiap shot di film ini layaknya puisi – gambarnya indah, tenang, menyeramkan)
  • Spider-man: Into the Spider-verse (usaha terakhir Sony menggarap Spiderman berhasil membuka banyak; peluang dan sudut pandang)
  • Suspiria (filmnya enggak bagus-bagus amat, tapi begitu aneh dengan gaya tersendiri sehingga aku dibuat penasaran dan menontonnya berulang kali)
  • Suzanna: Bernapas dalam Kubur (cerita balas dendam dengan tokoh seorang hantu. Pilu, namun beautiful, dan enggak jatoh over-the-top)
  • The Miseducation of Cameron Post (cerita di mana kelainan seksual dianggap sebagai penyakit ini dengan tepat menggambarkan keadaan remaja ketika dihadapkan dengan ‘tuduhan’ orang tua)
  • The Night is Short, Walk on Girl (salah satu film dengan cara bercerita paling unik, seperti versi lebih baik dari Aruna dan Lidahnya)

Tahun ini, special shout out aku teriakkan buat Dilan 1990 yang ulasan filmnya udah mecahin rekor jumlah view terbanyak di My Dirt Sheet tahun 2018. Selamaaatt~

 

Untuk daftar Top-8 yang bakalan kalian baca di bawah, ada baiknya kalian berhati-hati karena aku tidak akan memberikan peringatan spoiler – aku menganggap semua sudah menonton filmnya. Bagi yang pengen membaca ulasan lengkap filmnya, kalian bisa klik judul film untuk membuka halaman ulasan film tersebut.

8. AVENGERS: INFINITY WAR

Director: Anthony Russo, Joe Russo
Stars: Josh Brolin, Robert Downey Jr, Chris Hemsworth, Mark Ruffalo
MPAA: PG-13 for sci-fi violence and action, language and some crude references
IMDB Ratings: 8.5/10
“If life is left unchecked, life will cease to exist. It needs correcting.”

Menurutku cocok sekali jika daftarku ini dibuka oleh Avengers: Infinity War karena memang ‘semuanya’ – hal di daftar ini – dimulai oleh aksi si Thanos. Film ini adalah cerita superhero dengan sudut pandang langka di mana yang berjaya adalah tokoh yang jahat. Dan ini menimbulkan begitu banyak ragam reaksi, begitu banyak spekulasi, begitu ramai harapan, yang mengiringi desah-desah kaget tak percaya dari kita semua.

Enggak mudah mencampur aduk begitu banyak tokoh ke dalam satu cerita berdurasi dua jam, tapi film ini berhasil melakukannya. Kita mendapatkan banyak pertarungan seru, kita dikembalikan ke kisah klasik superhero bergabung melawan penjahat, dan tidak sekalipun film tergagap dalam menuturkan – menjalin kisah tokoh-tokohnya. Sebagai bagian dari semesta sinema yang lebih besar, film ini dengan gemilang menuaikan tugasnya sebagai sekuen titik-rendah dari para protagonis.

Buatku adalah hal yang mustahil jika kau penggemar superhero dan tidak terhibur menonton film yang endingnya memang diset depressing ini.

My Favorite Scene:
Infinity War, dengan menumpleknya karakter, punya begitu momen-momen keren; mulai dari keputusan Thanos mengorbankan Gamora – dan reaksinya setelah itu, pertempuran Wakanda – Cap dan Black Panther berlari memimpin, sampai kemunculan kembali Thor dengan kekuatan baru. Susah untuk memilih favorit, maka aku akan settle dengan yang paling memorable, dan tentu saja itu adalah momen terakhir film.. jentikan jari Thanos yang membawa maut.. apa yang terjadi sesudahnya… OH SNAP!

http://www.youtube.com/watch?v=zXavNm6y8OE

 

 

 

 

 

 

7. UPGRADE

Director: Leigh Whannell
Stars: Logan Marshall-Green, Melanie Vallejo, Steve Danielsen 
MPAA: R for strong violence, grisly images, and language
IMDB Ratings: 7.6/10
“A fake world is a lot less painful than the real one.”

Upgrade menghajar Venom habis-habisan, menendang bokongnya hingga terbang keluar hingga nyaris nyangsang di daftar Delapan Kekecewaan Bioskop 2018 ku. Kedua film ini punya kondisi tokoh yang hampir sama; konsep mereka sama-sama orang yang tubuhnya bergerak di luar kendali dan mengharuskan mereka bekerja sama dengan si ‘parasit’. Namun Upgrade melakukan tugasnya dengan jauh lebih baik, ia bercerita lebih efektif.

Keunikan berhasil dipertahankan oleh film ini. Dan menurutku aneh sekali saat menonton Upgrade aku tidak merasa ia tiruan dari Venom, malah justru sebaliknya. Upgrade membuktikan tidak butuh budget gede untuk membuat film yang menarik dan terlihat nyata. Seperti kata lagunya Triple H: “It’s how you play it”

My Favorite Scene:
Upgrade melakukan kerja yang sangat baik dengan konsep tubuh yang bergerak sendiri. Kesukaanku adalah ketika pertama kali Stem diijinkan mengambil alih dan kemudian menyerang salah satu pelaku pembunuhan; kerja kamera, reaksi yang genuine, semuanya bergabung menjadi koreografi aksi fresh!

 

 

 

 

 

6. THE HOUSE THAT JACK BUILT

Director: Lars von Trier
Stars: Matt Dillon, Uma Thurman, Bruno Ganz
Certificate:
IMDB Ratings: 7.0/10
“Don’t look at the acts, look at the works.”

Satu-satunya film yang kuberi angka 9 di tahun 2018. Bukan exactly karena sangat amat bagus, melainkan karena film ini sangat-sangat aneh dia seolah membunuh sendiri dirinya dengan keanehan dan pilihan ekstrim yang ia lakukan. Maka tentu saja, aku tidak bisa berpaling dari film-film punya nyali seperti ini.

The House that Jack Build punya struktur cerita sendiri. Dia punya aturan main sendiri. Malahan, dia tampak seperti asik sendiri ngobrol ngalor-ngidul, melakukan apa yang ia bisa lakukan, tanpa peduli tanggapan semua orang. Daya tarik film ini (dan juga kejatuhannya bagi beberapa penonton) adalah tokohnya yang seorang serial-killer, namun si Jack ini menganggap apa yang ia lakukan adalah proyek seni. Buatku film ini adalah karakter studi yang menarik. Saking kuatnya efek yang ditimbulkan, aku jadi merasa perlu untuk mengubah gaya reviewku khusus ketika mengulas film ini. Tapi memang, film ini bukan untuk semua orang. Level kekerasannya amat sangat di luar batas kemanusiaan, meskipun jika kalian terbiasa menonton film-film gore. Film ini berusaha memanusiawikan tindak pembunuhan, dan dengan  sengaja menunjukkan kegagalan.

Di luar batas-batas yang ia langgar, sesungguhnya film ini punya craftmanship tersendiri. Maka dari itulah, aku memasukkan film ini ke dalam daftar.

My Favorite Scene:
Keseluruhan babak akhir di mana Jack dan Verge turun ke bawah tanah; begitu aneh, begitu mencengkeram, begitu penuh metafora, jika kalian sama gilanya dengan aku, kalian juga pasti bakal suka.

http://www.youtube.com/watch?v=Hnoagsn7II4

 

 

 

 

 

5. EIGHTH GRADE

Director: Bo Burnham
Stars: Elsie Fisher, Josh Hamilton, Emily Robinson, Jake Ryan
MPAA: R for language and some sexual material
IMDB Ratings: 7.5/10
“Growing up can be a little bit scary and weird”

Mekar menjadi remaja tidak pernah hal yang mudah. Apalagi di jaman sosial media di mana kepopuleran menjadi semakin berpengaruh. Eighth Grade menunjukkan potret kehidupan remaja cewek mengarungi neraka yakni hari-hari terakhir sekolahnya.

Penampilan akting yang natural, penulisan yang benar-benar cerdas dan genuine membuat film ini mengerikan untuk diikuti, dalam artian yang positif. Eighth Grade tidak mangkir dari kejadian-kejadian yang plausible terjadi – yang mungkin pernah sebagian dari kita alami saat masih seumuran Kayla, tokoh utama ceritanya. Film ini juga tidak memberikan jalan keluar yang mudah ala cerita remaja film-film Hollywood.

Film ini memperlihatkan betapa hal-hal yang buat orang dewasa konyol dan sepele, sungguh bisa sangat berarti bagi remaja. Dan di sisi lain, remaja yang menonton diharapkan mendapat ketenangan dari ‘kejar-kejaran’ yang mereka lakukan demi popularitas.

My Favorite Scene:
Aku sebenarnya agak kurang sreg dengan penulisan karakter Ayah Kayla, dia seperti sosok yang terlalu too-good to be true, yang menurutku sedikit mengurangi nilai ke-genuine-an cerita. Tapi mengerti kenapa ia ditulis demikian. Dan aku juga mengakui, oleh karena karakternya demikianlah kita bisa dapatkan adegan dialog ayah-anak yang indah seperti dalam film ini

 

 

 

 

 

4. A STAR IS BORN 

Director: Bradley Cooper
Stars: Bradley Cooper, Lady Gaga, Sam Elliott
MPAA: R for language throughout, some sexuality/nudity and substance abuse
IMDB Ratings: 8.0/10
“Maybe its time to let the old ways die.”

Cerita klasik yang sudah diceritakan berulang kali, namun A Star is Born masih mampu membuat kita semua terpana. Berkat penampilan akting, kemampuan musikal, dan chemistry dari dua tokohnya.

Drama yang diceritakan juga terbangun dengan kuat, menyentuh. Tambahan elemen apa yang dilakukan industri terhadap para senimannya pun turut memperkaya film ini. Memberikan konflik yang, dikembalikan kepada karakter, dan sekali lagi, disampaikan dengan begitu mempesona. Film ini punya ending yang menurutku adalah salah satu ending paling menyentuh yang beruntung kita saksikan di tahun 2018.

Aku tahu, aku akan menantikan karya-karya berikutnya dari Bradley Cooper sama seperti aku akan duduk manis menunggu peran dramatis berikutnya dari Lady Gaga.

My Favorite Scene:
Reaksi Gaga di adegan dia disuruh nyanyi Shallow itu beneran keren! Yang pasti, gak ada yang ‘dangkal’ di adegan itu.

http://www.youtube.com/watch?v=dNxCz-Iyu0g

 

 

 

 

 

3. LOVE FOR SALE

Director: Andibachtiar Yusuf
Stars: Gading Marten, Della Dartyan, Verdi Solaiman
Certificate: 21+
IMDB Ratings: 7.8/10
“Hidupku yang sendiri sunyi.”

Tidak banyak pembuat film Indonesia yang berani mempertontonkan kenyataan pahit, dan lebih sedikit lagi jumlah yang kreatif mengubah kepahitan menjadi harapan yang manis. Love for Sale adalah film Indonesia pertama yang membuatku percaya perfilman bangsa ini memang bisa maju. Karena ia menarik spektrum baru sehingga memperluas variasi tontonan bagus yang kita punya.

Tokoh yang harus punya pasangan, yang harus bahagia selamanya di akhir, film dengan adegan yang aman dan tak boleh terlalu nyeleneh. Itu semua bukan jualan dari Love for Sale. Instead, kita dapat cerita tentang pria yang jomblo seumur hidup, yang hidupnya begitu sempit, mencicipi sedikit rasa asmara dan kekecewaan, sehingga dia tergerak olehnya. Skenarionya rapih sekali, keputusan-keputusan artistiknya juga sangat memberikan banyak kepada cerita. Film ini begitu unconventional untuk ukuran film lokal, ditambah dengan beraninya memberi kesempatan kepada pemain-pemain yang sama sekali baru ataupun baru kali ini dilepaskan dari perannya yang biasa.

Dengan peliharaan berupa kura-kura, film ini memang seanehnya yang bisa kita harapkan dari film Indonesia. And that’s a good thing.

My Favorite Scene: Adegan kejedot lampu! yang membuktikan bahwa detil dan karakter tidak pernah terlewat oleh film ini.. Yang sudah nonton pasti tahu deh kenapa adegan ini tidak kucantumin video ataupun fotonya hhihi

 

 

 

 

 

2. BURNING

Director: Chang-dong Lee
Stars: Ah-in Yoo, Jong-seo Jun, Steven Yeun
Certificate: Not rated
IMDB Ratings: 7.7/10
“Why do we live, What is the significance of living?”

Beberapa menit pertama, aku enggak suka film ini. Tokoh utamanya begitu sukar melihat kenyataan, dia seperti hanya bergerak berdasarkan feeling – dia bahkan seperti dituntun oleh orang lain. Namun begitu aku mengerti konteks ceritanya, daaannggg, film ini keren bangetttt.

Seperti yang sudah kusebut di reviewnya; film ini dibuat seperti ilusi optik. Untuk membuat kita melihat apa yang sebenarnya tidak ada. Sama seperti tokohnya yang ekspresinya kayak bengong melulu itu. Dan semua elemen cerita demi membangun semua itu diperhatikan dengan amat detil. Semua petunjuk mengenai apa yang sebenarnya terjadi sudah ada di depan mata kita, tapi kita dibuat menolaknya. Kita dipaksa untuk percaya kepada hal-hal yang buruk, seperti sikap si tokoh. Dan film dengan sengaja membuka begitu banyak interpretasi dan kemungkinan, sehingga menontonnya berulang kali tidak akan membosankan. Malahan semakin memperkaya pengalaman kita menonton.

Jika kalian senggang, coba ambil waktu nonton film Korea ini tanpa memperhatikan cerita dan hanya menikmati suguhan visualnya. Nyeni banget!

My Favorite Scene:

Adegan cantik dan penuh makna ini udah kayak adegan David Lynch banget. Menghipnotis!

 

 

 

 

 

Yang jeli akan melihat ada kekontrasan di sini. Antara awal yang menyebut tentang  kemenangan, tapi film-film yang masuk daftar ini malah tentang kegagalan. Pahlawan yang jadi abu, manusia yang membiarkan dirinya diambil alih asalkan dia dapat kenangan indah dengan istrinya, pembunuh yang gagal membuktikan dirinya benar, anak sekolah yang masih tidak populer, perjaka tua yang masih belum punya pasangan, pasangan yang malah berpisah, dan cowok yang malah jadi pembunuh karena terpisah dari pasangannya. Inilah yang aku sukai dari 2018. Meski yang bener-bener bagus jumlahnya  sedikit, namun film di tahun 2018 dengan gagah berani menunjukkan kegagalan. Aku selalu suka film seperti ini; film favoritku sepanjang masa adalah Mulholland Drive yang bercerita tentang cewek yang ingin jadi aktris besar di Hollywood, namun.. you guessed it, dia gagal. Dua film pendekku (Lona Berjanji dan.. aku bocorin pertama kali di sini judulnya Gelap Jelita) juga bercerita tentang kegagalan. Karena menurutku kegagalan terasa lebih real. Sebagai pelajaran, dia lebih menohok. Toh kegagalan tidak melulu berarti depresi, lihat Love for Sale; tokohnya belajar tidak punya pasangan bukan berarti menyedihkan, dia belajar hal lain yang ia butuhkan. Kegagalan bukan berarti kekalahan. Ia bisa saja kemenangan, saat tokoh mengerti apa yang sebenarnya kita cari. Film-film seperti begini tidak memberikan jawaban mudah.

Karena memang di kehidupan nyata, tidak ada yang semudah di dalam film. Kita bisa mencoba namun jangan lantas menyangka semuanya berjalan mulus. Film peringkat pertama di daftar ini benar-benar menunjukkan gimana jika sebenarnya kita tidak bisa lari dari takdir, sekeras apapun kita berusaha, sekelam apapun takdir itu:

1. HEREDITARY

Director: Ari Aster
Stars: Toni Collette, Alex Wolff, Milly Shapiro, Gabriel Byrne
MPAA: R for horror violence, disturbing images, language, drug use and brief graphic nudity
IMDB Ratings: 7.3/10
“[crying] Why did you try to kill me? / I didn’t! I was trying to save you!”

 

Untuk alasan di atas, Hereditary tak-pelak adalah horor paling mengerikan di tahun 2018. A dark way to see this film: ini tetap adalah cerita kemenangan, untuk si Paimon, iblis yang menjadi tokoh jahat.

Tidak gampang menemukan formula yang seimbang antara tontonan mainstream dengan konsumsi festival. Hereditary adalah contoh langka yang berhasil melakukannya. Bermain di lingkungan mitos yang sudah lumrah; ada iblis dan sekte sesat, namun ditangani dengan seni dan idealisme yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Tragedi keluarga tentang ketakutan kehilangan anak diolah menjadi drama berbalut misteri yang dapat direlasikan oleh banyak orang. Ketakutan seperti demikian bisa menyerang siapa saja, bisa terjadi kepada siapa saja. Benar-benar mengeksploitasi ketegangan pada setiap adegannya. Penulisan yang menutup, karakterisasi yang terbangun dengan baik, sinematografi yang menghantarkan kita melihat momen-momen paling menyesakkan, scoring yang bergaung ke hati (aku tak pernah lupa sama suara permen karet itu!), dari segi teknis film ini benar-benar menginspirasi pembuat film amatir yang baru belajar seperti aku. Terlebih karena sutradara film ini juga baru, dan dia berhasil mengukukuhkan namanya dengan gemilang.

My Favorite Scene:
Hereditary punya momen-momen menyeramkan dan momen keren yang sama banyaknya. Dari Charlie motong kepala burung hingga kepalanya sendiri dapay giliran, dari momen Annie dengan Peter hingga ke Annie tak sengaja membakar suaminya, dari Peter mematahkan hidungnya sendiri hingga dia melihat orang-orang tua tak berbaju itu di rumahnya; semua seperti punya makna. Yang paling mengiris dalem buatku adalah reaksi Peter setelah ia membuat celaka adiknya. Dia berbaring di sana, setengah mengharap semuanya cuma mimpi, setengah menunggu teriakan dari ibu yang mengonfirmasi semua kejadian itu bukan mimpi. Begitu real dan begitu menginflict kita semua!

http://www.youtube.com/watch?v=K-wZKtKUoSI

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Aku senang penggalian terhadap cerita film semakin meluas yang berarti semakin banyak pembuat-pembuat film yang ingin bercerita alih-alih memenuhi kuota jualan. Menulis ini di bulan Januari, aku sudah menonton beberapa film tahun 2019, dan aku gembira menyadari tren cerita ‘kemenangan dalam kegagalan’ ini masih berlanjut. Apa kalian tahu film-film apa yang kumaksud?

Bagaimana dengan kalian, apa film 2018 yang menjadi favorit kalian?
Apa ada yang sama? Atau ada berapa banyak yang tidak tersebut?
Yuk ngobrol berbagi di komen.

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are…

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

GREEN BOOK Review

“Get to know someone who doesn’t come from your social class; this is how you see the world”

 

 

Green Book, cerita berdasarkan kisah nyata, dihadirkan dengan gaya yang ringan rupanya bertindak seperti lampu hijau; membiarkan potret-potret intoleran tahun 60an itu masuk ke tengah-tengah masyarakat yang lebih luas. Supaya semakin banyak orang dapat berkaca, memperbaiki cara pandang diri terhadap sempitnya pandang dan pergaulan. Mungkin dirinya bukan pendekatan yang serius, namun kita bisa beragumen mungkin saja ini adalah salah satu cara yang efektif untuk mengobati kerasisan dan menyembuhkan prasangka.

Judul film ini merujuk kepada istilah brosur travel perjalanan yang dikeluarkan khusus untuk pelancong penduduk kulit hitam sehingga mereka bisa mencari tempat-tempat singgah yang ‘bersahabat’, yang mengizinkan mereka masuk dan mendapat pelayanan, selama bepergian jauh. Zaman dulu boleh jadi belum ada aplikasi yang menyajikan info hotel dan penginapan yang lengkap sampai ke harga-harganya seperti sekarang, jadi kita mungkin tak-begitu mengerti urgensi ataupun uniknya si brosur itu sendiri. Tapi kita tidak bisa mengatakan hal yang sama terhadap perilaku-perilaku dan prasangka yang ingin ditunjukkan sebagian besar orang kepada minoritas, zaman dulu ama zaman sekarang – masih relevan, walaupun dalam kadar terang-terangan yang berbeda. Green Book ingin memperlihatkan kembali masalah serius yang dihadapi oleh orang kulit hitam, dan untuk itu ia menjelma menjadi bentuk-bentuk penceritaan yang sudah acap kita lihat. Film ini adalah film road trip, film dua tokoh yang begitu kontras yang nantinya menyadari bahwa mereka sebenarnya ‘sama’, ini juga adalah film musik, sekaligus film natal.

Orang bilang, salah satu penyebab perjalanan menjadi menyenangkan adalah siapa yang menemani kita dalam perjalanan tersebut. Dan yang benar-benar bikin Green Book menjadi perjalanan yang menyenangkan ialah karena kita ditemani oleh dua penampilan yang sama-sama luar biasa.

 

Memutar balikkan peran kulit putih dengan kulit hitam pada era di mana si kulit hitam tidak sepantasnya memakai kamar kecil yang sama dengan kulit putih, Green Book sudah menjanjikan dinamika yang menarik. Tokoh utama kita adalah Tony “Lip” Vallelonga. Sekali lagi Viggo Mortensen membuktikan kepandaiannya melebur ke dalam tokoh yang ia perankan. Tiga-puluh pound bobot yang ia tambahkan ke tubuhnya itu belum apa-apa dibandingkan bagaimana dia membuat Tony yang orang italia itu menjadi seperti tokoh kartun berjalan. Dia melipat pizza satu loyang dan memakannya bulat-bulat begitu saja sebagai snack tengah malam, dia selalu ngobrol dengan ceplas-ceplos dengan aksen yang kental, dia mukulin orang-orang kalo diperlukan. Bukan sembarang saja dia dijuluki Tony Lip. Mulut adalah ‘senjata utama’ Tony. Sebagian besar adegannya adalah jika tidak sedang makan, dia pasti mengoceh. Dia membanggakan diri sebagai bullshitter ulung; bahkan dirinya sendiri percaya pada bualan yang ia lontarkan. Tony mencari nafkah dengan keunggulannya tersebut, “sebagai public-relation” katanya. Tony lantas mendapat kerjaan menyupiri seorang pemusik bernama Don Shirley. Seorang yang ternyata diperankan oleh Mahershala Ali, seorang yang ternyata ras kulit hitam; yang dipandang sebelah mata oleh Tony dan keluarganya. Beberapa adegan sebelum Tony bertemu Shirley, kita melihat Tony membuang gelas bekas air minum dua tukang reparasi westafel yang datang ke rumahnya. Dan sekarang, demi uang, Tony harus belajar menahan diri, dia harus meyakinkan dirinya sendiri untuk belajar menghormati Shirley sampai konser keliling si pemusik beres sebelum malam natal.

Seperti melihat Fat Tony, mafioso di The Simpsons, bagi-bagikan permen

 

Cerita yang disajikan memang gampang tertebak. Kita akan melihat gimana sikap Tony melihat perlakuan orang-orang kepada Shirley, mulai dari mereka yang mengundang Shirley untuk nampil – Shirley dipuja namun tetap didiskreditkan sebagai manusia di belakang panggung, hingga ke ‘orang-orang’ Shirley sendiri. Kita sudah bisa memastikan Tony dan Shirley yang kaku akan menjadi dekat satu sama lain. Namun interaksi antara kedua tokoh inilah yang membuat film begitu menyenangkan. Bagaimana mereka saling masuk ke dalam pikiran masing-masing. Bagaimana mereka saling mempengaruhi. Adegan paling kocak buatku adalah ketika Tony membujuk Shirley untuk memakan ayam KFC. Tony terkejut sekali mendengar Shirley enggak suka makan ayam goreng, “ini kan makanan kalian” herannya mengimplikasikan sudut pandang sempitnya terhadap ras. Kita melihat Shirley, yang sepanjang hidupnya terjebak di antara bangga-dengan-ras dan tidak-mau-distereotipekan, ‘malu-malu kucing’ untuk mencoba ayam yang diacungkan Tony tepat di bawah batang hidungnya. Seolah belum cukup dinamis, adegan itu berlangsung di jalanan, selagi Tony mengemudi. Sebagai komedi, adegan tersebut juga punya punchline yang sangat kocak. Aku tantang kalian untuk tidak tertawa menyaksikannya hhihi

Sekilas memang tampak seperti pilihan yang aneh. Kenapa film memilih karakter yang lebih komikal sebagai tokoh utama. Bukankah menjadikan Shirley (later, Tony lebih nyaman menyebut tokoh ini dengan “Doc” saja) yang punya konflik inner yang lebih dalem, yang mesti berhadapan dengan situasi yang mengecilkan sebagai minoritas, seketika akan membuat cerita menjadi lebih mengundang simpati? Karena film ingin langsung mendudukkan kita di posisi ‘pelaku’; supir, seperti Tony, as to speak. Bahwa kondisi penuh prejudice itu, kita yang menciptakan. Kritikus film NBC, Jenni Miller menuliskan bahwa film ini dibuat oleh white people untuk white people. Tulisan tersebut diniatkan sebagai kritikan olehnya, namun bagiku; aku setuju tapi bukan sebagai kritikan. Toh film cukup bijak memperlihatkan dua tokoh kita bergantian menyelamatkan ‘nyawa’ masing-masing. Melainkan sebagai pencapaian yang didapatkan oleh film lewat keputusan yang diambil.

Karena menurutku, salah satu tema besar yang diangkat oleh film ini adalah tentang bagaimana pandangan yang kita punya bisa muncul dari diri kita. Bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Ada satu kalimat yang diucapkan oleh Tony kepada Shirley yang menjadi kunci dalam permasalahan ini, “Ada terlalu banyak kesepian di dunia karena mereka enggak berani untuk memulai duluan” Kalimat tersebut dengan tepat menyimpulkan arc Shirley dan Tony, makanya bagian ending film ini terasa begitu menyentuh. Bahwa terkadang kita tidak berani untuk bergerak sendiri; perhatikan betapa gembira Shirley main musik bersama ‘orang-orang’nya di sebuah klub jazz, dan sebagai kontrasnya perhatikan betapa kosongnya yang dirasakan Tony di tengah-tengah perayaan natal bersama keluarga besarnya.  Kita akan segera sampai pada satu pemahaman bahwa sikap rasis yang dimiliki Tony tidak murni berasal dari kebencian. Dan mungkin, film ini ingin menyampaikan, begitu juga yang terjadi di luar sana. Perasaan kolektif kita sebagai bagian dari society yang membuat kita mengambil tindakan, mengambil sisi yang sebenarnya sama sekali tidak kita rasakan. Buat Shirley, ini berarti kesendirian – karena dia juga ikut ‘terwarna’ oleh pandangan putih-putih di sekitarnya, yang membuat dia enggan nyampur dengan warnanya sendiri.

Kadang memang cuma itulah yang kita perlukan. Meluaskan pergaulan. Berkumpul selalu dengan orang-orang yang sama, yang pandangannya itu-itu melulu, membatasi jarak pandang. Kita butuh untuk memperluasnya. Berinteraksi dengan pihak yang kita sangka berseberangan. Keputusan Tony mengambil pekerjaan dari Shirley tak pelak adalah keputusan paling penting yang pernah ia ambil selama hidupnya, sebab ia membuka jalan bagi dirinya untuk berhubungan langsung dengan yang selama ini ia sangka ia benci.

 

 

 

Dalam setiap kesempatan, film akan menghadiahi kita dengan kepuasan. Memberikan harapan bahwa kemanusiaan itu bukan fiksi – dua orang di mobil yang bersedia membuka hati dan saling menghormati akan membuat keindahan di dunia. Dan dua orang ini bener ada di dunia. Penampilan kedua aktornya sama-sama pantas untuk diganjar Oscar. Gaya komedi, bahkan penulisan yang kadang nyaris menyerempet garis ‘kartun’ sama sekali tidak mengurangi bobot dan nilai-nilai yang diusung oleh cerita. Kalo kekurangan, aku pribadi sebenarnya kurang setuju dengan banyaknya trope-trope yang dipakai, namun film memang menjadikan crowd-pleaser sebagai garis finishnya. Dan mereka berhasil. Jadi yang bisa kubilang cuma, resikonya terbayar lunas.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for GREEN BOOK.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Coba tengok lingkaran sosial kita masing-masing. Ada gak sih kita gaul ama yang bukan dari kalangan kita? Berapa banyak teman kita yang lebih tua dari kita?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

My Dirt Sheet Top-Eight ‘KEKECEWAAN BIOSKOP’ of 2018

 

Kita semua pernah berbuat salah. Ketika kita sadar dan meminta maaf, atau malah ketika kita ‘ketahuan’ sudah melakukannya, kita mengharapkan respons dari orang lain. Kita menunggu mereka marah kepada kita sebelum akhirnya pengampunan itu diberikan. Barulah kemudian kita merasa lega. Tapi kadang perasaan lega tersebut tidak begitu saja diberikan. Tahu gak, marahnya orangtua yang paling gawat bukanlah saat mereka ngamuk bentak-bentak dan memberikan hukuman gak ngasih jajan sebulan. Melainkan ketika mereka hanya mengeluhkan napas dan bilang “Mama/Papa enggak marah sama kamu. Kami kecewa.” Tenang. Tanpa nada tinggi. Tapi melukai kita begitu mendalam. Itulah yang namanya luka tak-berdarah.

Kekecewaan itu kesannya mengecilkan. Karena bersumber dari ekspektasi. Membuat orang kecewa berarti kita sudah melakukan sesuatu yang menurut orang tersebut tidak sesuai dengan ‘standar’ kita yang biasa, seolah bahwa justru mereka yang sudah salah menganggap kita tinggi. Seperti kita kurang berusaha terhadap diri kita sendiri, sehingga mendengar kata ‘kecewa’ dari orang lain seperti tanda mereka menarik kembali respek yang sudah diberikan kepada kita.

Kecewa kepada film buatku juga seperti demikian. Bukan exactly karena filmnya jelek, maka aku kecewa. Akan tetapi, lebih kepada aku tahu sebuah film berpotensi menjadi bagus, namun film itu sendiri mengambil pilihan yang mengecilkan dirinya. When a movie it’s bad, it’s bad. Aku mengerti pilihan mereka. Aku bisa paham kenapa mereka lebih memilih yang mereka lakukan. Ketika sebuah film mengecewakan, aku mati-matian mencari pengampunan bagi mereka; aku sama sekali tidak mengerti  selain mereka hanya melakukannya untuk nyari duit. Di 2018, cukup sering aku duduk di bioskop, merasa kecewa terhadap apa yang baru saja aku tonton.

Berikut adalah Delapan-Besarnya; dan perlu diingat lagi, film-film dalam daftar ini boleh jadi bukan yang terburuk (kalian bisa ngeklik judulnya untuk dibawa ke halaman ulasan dan score filmnya), malah bisa saja kalian menganggap filmnya bagus. Silahkan disimak;

 

 

8. THE NUTCRACKER AND THE FOUR REALMS


Director: Lasse Hallstorm, Joe Johnston
Stars: Mackenzie Foy, Jayden Fowora-Knight, Morgan Freeman, Keira Knightley
Duration: 1 hour 39 min

Aku menyebut film ini “Kekecewaan yang adorable” Dunianya cantik. Kostumnya cantik. Mackenzie Foy-nya cantik. Semuanya magical. Kecuali cerita dan bagaimana cerita tersebut disampaikan. Film tidak mampu untuk membangun, I mean, dengan dunia fantasi seperti ini menakjubkan sekali gimana begitu keluar studio kita semua sudah lupa apa yang terjadi di film ini.

Mereka ingin menghidupkan cerita lama dengan konsep yang baru. Namun pada kenyataannya, film tidak mampu mengembangkan kreativitas pada dunia dan mitologi yang ingin mereka gali, selain tampak luarnya saja. Tokoh yang namanya jadi judul tidak banyak diberikan apa-apa. Tokoh yang lainnya hanya ada di sana dengan gimmick masing-masing. Film ini tidak mampu mengimbangi imajinasi dunia yang mereka angkat.

My Breaking Point:
Suara sok-imutnya Keira Knightley

 

 

 

 

 

7. THE NUN


Director: Corin Hardy
Stars: Taissa Farmiga, Demian Bichir, Jonas Bloquet
Duration: 1 hour 36 min

Valak adalah salah satu ikon horor masa kini yang, ya bisa dibilang lumayan keren. Namun origin story si Valak; it’s just stupid. Ini cuma film yang menyangka dirinya asik karena punya ikatan dengan franchise horor yang populer. Trik film ini cuma referensi dan easter egg. Mereka begitu fokus ke nyambung-nyambungin dunia, sehingga lupa membuat film horor.

Jika biarawati gak punya dosa, maka Nun yang satu ini dosanya adalah dia enggak seram. Malah lebih kayak film petualangan misteri mencari benda yang hilang. Aku bahkan merasa kasian sama jumpscare-jumpscare pada film ini, karena bahkan mereka pun gagal untuk menjadi mengagetkan karena film enggak mampu untuk mengembangkan cerita yang ia miliki.

My Breaking Point:
Bahwa hantu-hantu di film ini tukang nge-prank semata. Apa coba tujuan mereka membuat tangga berdarah? Menyamar jadi patung-patung?

 

 

 

 

 

6. BUFFALO BOYS


Director: Mike Wiluan
Stars: Yoshi Sudarso, Ario Bayu, Pevita Pearce
Duration: 1 hour 42 min

Puluhan milyar itu dihabiskan untuk membuat salah satu film paling konyol yang bisa kita saksikan di bioskop tahun 2018. Tapi bukan hal tersebut yang bikin film ini mengecewakan, toh terserah mereka mau ngeluarin duit berapa pun juga. Yang bikin kecewa adalah karena sepertinya mereka enggak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Kekonyolan film ini datang dari mereka sendiri, yang menganggap dirinya terlalu serius. Orang-orang di balik Buffalo Boys bermaksud untuk menjadikan film ini proyek epik yang membanggakan.

Tetapi mereka tidak membangun logika sedetil mereka membangun set, kostum, dan segala macam produksinya. Film ini penuh dengan karakter-karakter yang secara kontekstual sudah ketinggalan jaman. Film tidak menginvestasikan banyak kepada pengembangan cerita. Menjadikan film ini enggak ada spesial-spesialnya. Maksudku, semua orang bisa bikin yang kayak gini jika mereka punya kocek puluhan milyar. Apa dong hal unik yang kalian tawarkan?

My Breaking Point:
Di bagian awal ada adegan tokoh yang kabur naik sampan di air yang tenang – bukan sungai deras, dan pihak yang ngejar cuma nembakin dari jauh. Practically sampannya cuma ngapung dan para pemain bertingkah seolah-olah kejar-kejaran mereka intens banget hahahaha

 

 

 

 

5. MILE 22


Director: Peter Berg
Stars: Mark Wahlberg, Iko Uwais, Ronda Rousey
Duration: 1 hour 34 min

Penampilan aktor Indonesia dalam peran gede di film luar mestinya membanggakan dong ya? Tidak untuk film ini sayangnya.

Iko Uwais yang udah terkenal dengan koreografi dan aksi berantemnya, dia pastinya dapat peran di sini karena keahliannya tersebut. Film ini juga punya Ronda Rousey, petarung cewek jebolan UFC, juara Women’s di WWE.

Apa kita melihat mereka berantem? Tidak.

Apa kita melihat Iko berantem? mmmm… ada sih, tapi… enggak begitu terlihat? Well, bagaimana kita bisa ngelihat kalo ternyata film menangkap adegan-adegan berantem dengan teknik cut yang begitu frantik!??

Kenapa gak wide shot aja? Tidak satupun pilihan film ini yang menguntungkan buat genre action. Aku benar-benar gagal paham kenapa mereka memfilmkannya dengan seperti begini. Segala baku hantam, ledakan, dialog, yang ia punya jadi kayak rentetan racauan edan yang membingungkan dan jauh dari menghibur.

 

My Breaking Point:
Setiap kali kamera bergoyang-goyang dan pindah cut dengan cepat. Dan ketika film ini sepertinya punya awareness bahwa Mark Wahlberg adalah seorang seleb.

 

 

 

 

 

4. GENERASI MICIN


Director: Fajar Nugros
Stars: Kevin Anggara, Morgan Oey, Cairine Clay, Joshua Suherman
Duration: 1 hour 28 min

Bayangkan kalian tidak sempat menonton Yowis Ben (2017), hanya mendengar puji-pujian tentangnya, kemudian melihat film yang dibuat oleh orang-orang yang sama sehingga kalian kepincut untuk nonton. Dan yang kalian dapatkan adalah film kelebihan micin sehingga gizinya tidak kelihatan lagi. Itulah yang kualami dengan Generasi Micin.

Materi dan sudut yang pandang menarik dimentahkan oleh pilihan menjadikan film ini cerita komedi yang over-the-top. begitu banyak aspek-aspek tak-mungkin yang dimasukkan hanya untuk memancing tawa sebentar karena enggak menambah banyak ke bobot cerita. Yang mana membuat kita jadi menertawakan film (alih-alih tertawa bersamanya) dan tak lagi menganggap ceritanya grounded. Film ini akan bekerja lebih efektif dengan komedi yang realis. I mean, we could have normal teachers and still make a funny story, right? 

My Breaking Point:
Adegan inspeksi sekolah yang melibatkan semburan air.

 

 

 

 

 

3. KAFIR: BERSEKUTU DENGAN SETAN


Director: Azhar Kinoi Lubis
Stars: Putri Ayudya, Nadya Arina, Indah Permatasari, Nova Eliza
Duration: 1 hour 37 min

Ketika melihat nama Azhar Kinoi Lubis di kursi sutradara, aku langsung tertarik. Pikirku sekiranya film ini bakal bisa mengangkat horor sebenarnya yang berasal dari ketakutan manusia, karena horor toh kebanyakan hanya mengandalkan jumpscare dan makhluk-makhluk seram yang merangkak belaka. Separuh bagian pertama, harapanku sepertinya terjawab. This film looks good, sinematografinya niat banget – memandang gambarnya aja bulu kuduk udah meremang. Ceritanya juga terhampar seperti mengandung elemen psikologis yang kental. Aku tadinya menyangka sudah menemukan horor yang bakal menjatuhkan tahta Pengabdi Setan. Sampai twist itu datang.

Film banting stir. Arahannya jadi over-the-top. Dan menghancurkan semua bangunan cerita dan suasana di awal. Akting, cerita, kejadian, semuanya jadi mengincar kepada kelebayan. Jadinya malah jatuh ke lembah kegelian. Seram yang subtil tadi, pada akhirnya terlupakan. Karena film ini hanya akan dikenang berkat penampilan over para tokoh dukun, dan perang ilmu mereka yang konyol.

My Breaking Point:
Adegan heroik protagonis nendang tokoh jahat yang tubuhnya berkobar api. Tinggal tambahin punchline insult yang cheesy tuh! hihihi

 

 

 

 

 

 

 

2. FANTASTIC BEASTS: THE CRIMES OF GRINDELWALD


Director: David Yates
Stars: Eddie Redmayne, Zoe Kravitz, Jude Law, Johnny Depp
Duration: 2 hour 14 min

Film ini membuktikan bahwa nulis novel itu enggak sama ama nulis skenario film. Dan bahwa sehebat apapun kita dalam satu bidang, ketika pindah ke bidang lain, level kita akan selalu mulai dari nol.

Sekuel Fantastic Beasts ini pastilah bakal menjadi novel yang hebat. Dengan segala subplot dan karakter-karakter yang kompleks. Namun sebagai film, ini tak lebih bermanfaat daripada kotoran-naga. Serius deh. J.K. Rowling kelimpungan menaruh semua elemen cerita ke dalam struktur cerita film yang memang sempit. It is just too much. Tokoh utamanya jadi terkesampingkan. Kejahatan Grindelwaldnya enggak berhasil diperlihatkan dengan maksimal. Twist yang hadir, drama yang diselipkan, semua hanya lewat gitu aja.

Dan ini aku belum nyebutin betapa banyak lubang, ketidakkonsistenan, yang merusak apa-apa yang sudah dibangun dalam semesta sihir Harry Potter sebelumnya.

My Breaking Point:
Fakta bahwa penyihir-penyihir di film ini enggak lebih menarik dari para non-sihir, dunia mereka seolah tak banyak bedanya. Sama boringnya.

 

 

 

 

 

Sebelum kita sampai di posisi pertama, simak dulu Dishonorable Mentions berupa film-film yang kukasih skor 1; mereka mengecewakan justru karena sesuai ekspektasi “ah udah pasti jelek” dan hey, beneran jelek!

Dishonorable Mentions:

Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati,

Truth or Dare,

Alas Pati: Hutan Mati,

Sajen,

Jailangkung 2,

Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya

 

 

 

Dan inilah film yang paling mengecewakan tahun ini, yang udah bikin nyesel bela-belain ke bioskop:

1. BENYAMIN BIANG KEROK


Director: Hanung Bramantyo
Stars: Reza Rahadian, Delia Husein, Rano Karno, Meriam Bellina
Duration: 1 hour 35 min

Meskipun sudah mengharapkan di film ini Hanung dan Reza bakal enggak se’serius’ mereka yang biasa, tapi tetep saja aku tidak menyangka hasilnya bakal separah ini. Benyamin Biang Kerok adalah insult dan kekecewaan bagi siapapun yang bersentuhan dengannya. Bagi seniman seperti Benyamin. Bagi keluarganya. Bagi pembuat filmnya. Bagi penontonnya. Bahkan memanggilnya sebuah film adalah hinaan tersendiri. Karena ini bukan film. Benyamin Biang Kerok tidak dibuat sebagai satu film yang utuh.

My Breaking Point:
Ketika wajah tertawa Reza sebagai Benyamin bicara kepada kita semua, memotong tepat di tengah adegan Benyamin lagi kepergok wanita macan, dan bilang bahwa filmnya bersambung.

Belum pernah ada yang selancang ini memotong cerita di tengah-tengah, tanpa memperhatikan struktur. Satu-satunya kemungkinan aku menonton sambungannya adalah jika tiket yang dipakai nonton ‘part satu’ ini masih bisa digunakan untuk yang bagian kedua, karena aku beli tiket untuk satu film. Utuh.  Dan ngomong-ngomong soal itu, mereka sepertinya sudah sadar dan malu sendiri sebab ini sudah akhir Desember dan belum ada tanda-tanda bagian keduanya bakal diputar seperti yang sudah dijanjikan.

Orang-orang di balik film ini punya kemampuan untuk membuat persembahan bagi Benyamin yang gak malu-maluin. Mereka bisa bikin yang lebih bagus, no doubt. Namun mereka memilih menampilkan ini. Membaginya menjadi dua, malah. Saking kecewanya, aku jadi ingin tertawa

Ha-ha-ha-ha! *ketawa ala Reza mainin Benyamin

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Semoga daftar ini bisa dijadikan cermin untuk perbaikan. Top-Eight Movies of 2018 seperti biasa akan ditulis nanti setelah pengumuman nominasi Oscar, untuk kemudian akan disusul oleh My Dirt Sheet Awards.

Terima kasih sudah membaca. Apa kalian punya daftar film-film yang mengecewakan juga? Share dong di sinii~~

Because in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Pengumuman Nominasi Film & Narafilm Terpuji FFB 2018: Pengamatan dalam Empat Babak

 

Setelah perpanjangan waktu, Festival Film Bandung akhirnya mengumumkan film dan narafilm yang termasuk kategori “Paling Pantas Dipuji” untuk periode 1 Agustus 2017 hingga 31 Agustus 2018. Tambahan waktu satu bulan tersebut tentu saja bukan penambahan yang sedikit. Periode ke 31 ini bisa dibilang sangat ramai; dari pool yang tersedia, pengamat FFB sudah mengamati 67 serial televisi, 365 film televisi, 137 film nasional, dan setidaknya 200an judul film impor. Kompetisi pada setiap kategorinya sangat ketat. Untuk film bioskop sendiri, dua caturwulan 2018 ini saja sudah terasa begitu fresh; selain horor yang terus beranakpinak, genre lain mulai bersemi bermunculan. Membuat penonton tak bosan-bosan ke bioskop. Membuat pengamat mesti lebih giat, dan berkembang penilaiannya.

Mengambil tajuk “Memulai Kembali” FFB 2018 merupakan sebuah homecoming bagi Forum Film Bandung. Tigfa-puluh-satu tahun itu sudah cukup tua, maka mereka melakukan peremajaan. Dan sebagaimana film-film yang comes full circle dalam urusan genre, Forum Film Bandung pun seperti memulai dari nol. Ada lebih banyak pengamat muda serta kontributor-kontributor dari komunitas dan blog yang dilibatkan dalam mengamati film. Menurut Eddy D. Iskandar, Ketua Umum FFB pada sambutannya di acara pengumuman nominasi, setiap tiga bulan sekali judul demi judul disaring oleh rentang sudut pandang yang luas. Makanya, setelah tahap-tahap pengamatan yang kontinu tersebut, menarik sekali melihat apa yang FFB keluarkan dalam pengumuman nominasi kali ini.

 

 

KATEGORI SERIAL TELEVISI

PEMERAN PRIA TERPUJI SERIAL TELEVISI
1) Eza Gionino
“Aku Bukan Ustadz”
MNC Pictures
RCTI

2) Hamas Syahid
“Kun Fayakun”
Antv Pictures & Tobali Putra Production
ANTV

3) Randy Martin
“Best Friends Forever”
MD Entertainment
TRANS TV

4) Rionaldo Stokhorst
“Orang Ketiga”
SinemArt
SCTV

5) Rizky Nazar
“Sodrun Merayu Tuhan”
SinemArt
SCTV

 

PEMERAN WANITA TERPUJI SERIAL TELEVISI
1) Audi Marissa
“Semua Indah karena Cinta”
Multivision Plus
RCTI

2) Cut Syifa
“Jodoh yang Tertukar”
SinemArt
SCTV

3) Evi Masamba
“Warteg DKI”
Antv Pictures & Veronica Pictures
ANTV

4) Marshanda
“Orang Ketiga”
SinemArt
SCTV

5) Naysilla Mirdad
“Orang Ketiga”
SinemArt
SCTV

 

SUTRADARA TERPUJI SERIAL TELEVISI
1) Agus Elias
“Tak Ada Hari yang Tak Indah”
SinemArt
SCTV

2) Maruli Ara
“Orang Ketiga”
SinemArt
SCTV

3) Rully Manna
“Kun Anta”
MNC Pictures
MNC TV

4) Yogi Yose
“Aku Bukan Ustadz”
MNC Pictures
RCTI

5) Yoyok Dumpring
“Jejak Suara Adzan”
Netmediatama
NET TV

 

SERIAL TELEVISI TERPUJI 
1) Aku Bukan Ustadz
MNC Pictures
RCTI

2) Jejak Suara Adzan
Netmediatama
NET TV

3) Orang Ketiga
SinemArt
SCTV

4) The Power of Emak-Emak
Lemon Tree Production
TRANS 7

5) Ummi
Multivision Plus
ANTV

 

 

KATEGORI FILM TELEVISI

PEMERAN PRIA TERPUJI FILM TELEVISI
1) Alfie Alfandy
“Panggilan Tak Terjawab”
Surya Citra Televisi & Citra Sinema
SCTV

2) Miqdad Addausy
“Lubang Tikus”
Surya Citra Televisi & Citra Sinema
SCTV

3) Nikki Frazetta
“Insya Allah Jodoh”
Tobali Putra Production
RCTI

4) Rama Michael
“Pesan Terakhir Laila Majnun”
Millenium Visitama Film
TRANS 7

5) Ridho Illahi
“Suami yang Tak Dianggap”
Mega Kreasi Films
INDOSIAR

 

PEMERAN WANITA TERPUJI FILM TELEVISI
1) Amanda Manopo
“Pemuja Mantan”
MD Entertainment
TRANS TV

2) Denira Wiraguna
“Sebenarnya Cinta”
Surya Citra Televisi & Citra Sinema
SCTV

3) Laudya Cynthia Bella
“Insya Allah Jodoh”
Tobali Putra Production
RCTI

4) Rachel Amanda
“Malaikat Pelantun Rindu”
Trans 7 & RK 23 Pictures
TRANS 7

5) Rianti Cartwright
“Pinjaman kepada Allah”
Max Pictures
RCTI

 

SUTRADARA TERPUJI FILM TELEVISI
1) Deni Pusung
“Hari-Hari Guru Jalil”
Surya Citra Televisi & Citra Sinema
SCTV

2) Ginanti Rona
“Madu dari Surga”
Trans 7 & Unlimited Production
TRANS 7

3) Joe Sandjaya
“Pinjaman kepada Allah”
Max Pictures
RCTI

4) Kiky ZKR
“Lubang Tikus”
Surya Citra Televisi & Citra Sinema
SCTV

5) Usman Jiro
“Kebaikan yang Dilupakan”
Mega Kreasi Films
INDOSIAR

 

PENULIS SKENARIO TERPUJI FILM TELEVISI
1) Daniel Tito & Cyntia S. Wardhana
“Primadona Pembawa Cinta”
Max Pictures
RCTI

2) Imam Salimy
“7 Langkah Terakhir”
Trans 7 & Unlimited Production
TRANS 7

3) M. Haris Suhud
“Mengejar Impian”
Surya Citra Televisi & Citra Sinema
SCTV

4) Musfar Yasin
“Hari-Hari Guru Jalil”
Surya Citra Televisi & Citra Sinema
SCTV

5) Raditya & Alifia Kurniasih
“Arena untuk Arini”
Limelight Pictures
SCTV

 

FILM TELEVISI TERPUJI
1) Hari-Hari Guru Jalil
Surya Citra Televisi & Citra Sinema
SCTV

2) Insya Allah Jodoh
Tobali Putra Production
RCTI

3) Lubang Tikus
Surya Citra Televisi & Citra Sinema
SCTV

4) My Trip My Adventure the Movie: The Lost Paradise
Transinema Pictures
TRANS TV

5) Pesan Terakhir Laila Majnun
Millenium Visitama Film
TRANS 7

 

 

KATEGORI FILM BIOSKOP IMPOR

Lima puluh film impor yang berhasil masuk nominasi tahun ini, bahkan ada film yang kelewat loh ama mydirtsheet, salut buat pengamat FFB!

 

 

KATEGORI FILM BIOSKOP NASIONAL

PENATA EDITING TERPUJI FILM BIOSKOP

Anu, itu nomer limanya keedit jadi nomer empat 

 

PENATA KAMERA TERPUJI FILM BIOSKOP

Bahkan horor dan film anak-anak sekalipun kamera udah gak pake main-main!

 

 

PENATA ARTISTIK TERPUJI FILM BIOSKOP

“Hmm.. tidak mudah membuat dunia.. ya..ya” sambil galer-galer

 

 

PENATA MUSIK TERPUJI FILM BIOSKOP

Jangankan yang memang haunting, “anak betawi” pun bikin merinding

 

 

PEMERAN PEMBANTU PRIA TERPUJI FILM BIOSKOP

Pemeran Pembantu pun sah kok dikasih karakter yang ga kalah kompleks

 

 

PEMERAN PEMBANTU WANITA TERPUJI FILM BIOSKOP

Mainan emosinya juara semua nih

 

 

SUTRADARA TERPUJI FILM BIOSKOP

Sutradara punya suara!

 

 

PENULIS SKENARIO TERPUJI FILM BIOSKOP

“Skenario adalah tulang punggung dari sebuah film”

 

 

PEMERAN UTAMA PRIA TERPUJI FILM BIOSKOP

Akankah Gading Marten mengalahkan empat aktor yang ‘lebih senior’ darinya?

 

 

PEMERAN UTAMA WANITA TERPUJI FILM BIOSKOP

Ada tiga ‘pembunuh’ nih saingan di sini

 

 

FILM BIOSKOP TERPUJI

Nyaris semua lapisan terwakili ya di sini, keren!

 

 

Berikut review buat kelima nomine Film Bioskop Terpuji:

  1. Hujan Bulan Juni http://mydirtsheet.com/2017/11/02/hujan-bulan-juni-review/
  2. Koki-Koki Cilik http://mydirtsheet.com/2018/07/07/koki-koki-cilik-review/
  3. Love for Sale http://mydirtsheet.com/2018/03/15/love-for-sale-review/
  4. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak http://mydirtsheet.com/2017/11/16/marlina-si-pembunuh-dalam-empat-babak-review/
  5. Sultan Agung http://mydirtsheet.com/2018/08/27/sultan-agung-tahta-perjuangan-cinta-review/

 

 

 

Dari anak-anak, remaja, mengenal cinta, dewasa, kemudian entah itu menikah ataupun masih menunggu waktu yang tepat; hidup adalah babak-babak dan nominasi FFB 2018 seolah menyimbolkan semua itu. Babak baru untuk FFB, langkah yang mantap buat perfilman Indonesia. Nantikan November untuk melihat siapa para Terpuji.

 

 

That’s all we have for now.

Siapa yang jadi jagoan kalian? What do you think about the nominations?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

THE FLORIDA PROJECT Review

“The most terrible poverty is loneliness and  the feeling of being unloved.”

 

 

 

Siapa sih yang bakal melirik motel kecil di pinggiran kota dalam perjalanan liburan ke taman hiburan berkawasan elit di jantung kotanya? Enggak ada. Palingan cuma turis yang budgetnya lagi ngencengin ikat pinggang, atau malah turis yang salah alamat. Atau turis yang kebelet doang.  Di tempat seperti itulah Moonee dan ibunya, Halley, tinggal. Bagi bocah enam tahun itu mungkin motel tiga lantai seperti Magic Castle memang terasa layaknya istana dunia fantasi sungguhan; sepanjang hari dia bermain bersama teman-temannya, riang, ceria, penuh curiosity. Bagi mata anak kecil, hal-hal biasa seperti berjalan ke gerai es krim ataupun main ke gedung terbengkalai, bisa menjelma menjadi sebuah petualangan luar biasa. Tapi bagi Halley, ibu muda yang bahkan masih sering bersikap sama kekanakannya, dinding ungu tempat pinggiran seperti Magic Castle adalah tempat berlindung. Dari apa? Dari kenyataan, setidaknya dari realita yang setiap akhir minggu mengetuk pintu kamar menagih uang sewa.

The Florida Project adalah jenis film yang selayang pandang tampak seolah tidak punya plot. Adegan-adegannya adalah keseharian Moonee dan Halley, bagaimana mereka menyintas hari yang panas dengan melakukan kegiatan biasa, seperti makan siang di kursi taman motel. Atau juga dengan tidak melakukan kegiatan biasa, seperti mereka tidak membayar makan siang tersebut sebab makanannya actually ‘diselundupkan’ keluar oleh teman yang bekerja di restoran. Pada dasarnya sih, kita akan mengikuti bocah bandel dan wanita yang lebih rajin merokok daripada nyari kerja ‘beneran’. Jadi, jita kalian gerah akan perangai orang-orang seperti mereka, atau bila tujuan kalian adalah tontonan yang lebih gede, mungkin kalian lebih suka untuk melewatkan film ini. Tapi aku menyarankan untuk mampir.  Amat sangat, malah. Penampilan aktingnya aja dulu; Brooklyn Prince yang jadi Moonee dan Bria Vinaite sebagai Halley yang bertato dan berambut biru menyuguhkan permainan yang luar biasa real dalam debut mereka di sini. Mereka membuat kita lupa sedang menonton film!

tips parenting simple; tanyakan anak Anda “What do you do now!?”

 

 

Menangkap secercah kenyataan dan memaparkannya, seni bercerita seperti demikianlah yang terus diasah oleh sutradara Sean Baker. Di bawah penanganannya, The Florida Project mekar menjadi kisah sederhana namun unik tentang sebuah pandangan enerjik dalam hidup yang penuh oleh pilihan-pilihan yang salah. Ada dua tone kontras yang ia mainkan di sini, dan wisely enough film menyediakan jembatan buat kita sehingga film tetap berimbang. Menceritakan masalah keuangan, tidak melulu harus banjir air mata. Bicara mengenai anak-anak, tidak senantiasa mesti senang-senang tak berarti.

Moonee tidak dibuat sebagai tokoh yang terlalu komikal. Yea, dia ngomong jorok. Benar, dia polos banget dan taunya main doang. Tapi tokoh ini diberikan sense. Dia diberikan bobot yang menapakkannya ke tanah; dia cuma mau bersama ibunya, dia benar-benar look up to her mother. Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Di film ini, buah itu tidak bisa untuk jauh dari pohonnya. Dalam konteks they just have each other, kita pun tidak pernah benar-benar melihat kelakuan Halley diromantisasi. Kita paham dia rela melakukan apapun demi putrinya. Bola konflik inilah yang pelan-pelan menggulung turun, dan membesar tanpa kita sadari. Kedua orang ini tidak bisa hidup terus seperti itu. Kehidupan Halley yang semakin mepet ke garis kriminal tentu akan memanen dampaknya, segera. Film tidak memberitahu kita masalah-masalah tersebut, melainkan memperlihatkan langsung lewat kegiatan para tokoh. Siap-siap saja, ketika gilirannya tiba – ketika klimaks itu terjadi, film juga tidak akan membuatnya terlalu dramatis ataupun sentimental. Tetapi niscaya kita akan terenyuh, sebab apa yang sudah ditanamkan dari awal tanpa kita sadari akan kembali, membuat babak akhir film ini sangat impactful.

Miskin itu adalah kalo kita enggak punya tempat tinggal, enggak punya makanan, enggak punya pakaian bersih. Miskin itu berarti kita enggak bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Namun sesungguhnya, kita barulah menjadi benar-benar miskin jika sudah tidak ada lagi yang menginginkan kita, tidak ada lagi orang yang mengasihi dan menjaga kita.

 

Anak seperti Moonee butuh bimbingan positif, atau bahkan figur seorang ayah, dan di sinilah tokoh Bobby yang diperankan dengan sangat meyakinkan oleh William Dafoe menunjukkan fungsinya. Bagi penyewa kamar motel, Bobby adalah bapak kos yang serbabisa. Dia memperbaiki barang, dia mengusir penjaja makanan liar, dia menjaga keamanan, dia menegakkan peraturan, dia menertibkan para penghuni yang melanggar aturan. Dan tentu saja bagi Halley, yang lantas diikuti oleh Moonee, Bobby adalah figur berwenang yang menyenangkan untuk dilawan. Dinamika hubungan mereka menciptakan suatu konflik yang sangat heartwarming. Aku bahkan berani bilang tokoh Bobby adalah hati pada film ini. Di paruh awal, kita melihat Bobby mengusir seorang pria predator yang mengincar anak-anak penghuni motel, kemudian pada menjelang akhir cerita lihatlah betapa bimbang penuh emosinya wajah Bobby ketika dia tidak bisa apa-apa selain diam dan membiarkan seorang anak kecil diambil untuk diserahkan kepada orangtua asuh. Komponen karakter Bobby ini begitu penting karena itulah yang dijadikan poin vokal oleh film.

Bahwa terkadang, bukan pilihan kitalah yang salah, melainkan hanya hidup yang mengganti pertanyaannya menjadi terlalu susah. Akan tetapi, sebagaimana rumah terbakar yang jadi hiburan oleh orang-orang terpinggir, semestinya akan selalu ada hal baik yang datang darinya.

 

adegan niup kipas angin itu benar-benar nostalgic buat sariawan di bibirku

 

 

 

Aku sudah berkali-kali mampir nonton film ini. Aku sangat terpesona sama karakter dan penceritaannya. Memang, film ini susah untuk direview, terutama aku tidak merasa film ini urgen banget untuk segera diulas. Jadi, aku mengulur-ulur waktu. Aku nonton lagi, dan lagi. Kalo kalian kebetulan sering nongkrong di kafe eskrim Warung Darurat akhir tahun kemaren, mungkin kalian bosen disuguhi film ini hampir setiap hari. Aku ingin mencari kekurangannya, tapi selalu gagal karena film ini totally menghangatkan  sekaligus benar-benar pengalaman menonton yang menyenangkan karena aspek real karakternya. Actually, aku banyak nerima permintaan untuk mengulas sehingga aku pikir aku tidak bisa menunda lebih lama lagi.

Oke, there is no overaching plots di sini, but still apa yang menunggu para tokoh di akhir cerita benar-benar adalah sesuatu yang menohok. Dan juga karena film ini tentang kehidupan sehari-hari, maka beberapa sekuen adegan akan terasa repetitif. Kalian tahu, kayak ketika Moonee kerap mandi sambil maen boneka dan radio menyala keras, like “Oke, kami mengerti apa yang ingin disampaikan” tapi film terus mengulang memperlihatkan kembali adegan yang sama. Aspek yang kayak gini ini bisa sedikit melepaskan kita dari cerita. Maksudku, buatku sendiri, aku jadi ada kesempatan berpikir, ‘mungkin kalo kita diperlihatkan sedikit backstory tokoh-tokohnya instead, durasi jadi lebih efektif terpakai’.

 

Di luar itu, aku enggak melihat ada masalah yang benar-benar mengganggu. Penampilan akting film ini sangat meyakinkan dan ekspresif. Ketika mendengar orang menyebut film ini adalah salah satu yang terbaik di tahun 2017, aku manggut-manggut menyetujui. Literally dan figuratively, film ini seperti versi yang lebih berwarna dari film Siti (Film Terbaik FFI 2015). Dia berkelit menghindar dari komikalisasi, menjauh dari romantisasi, serta tak pernah berniat untuk mendramatisir secara berlebihan. Tone yang dicapai sangat berimbang. Hanya butuh kepedulian, sebenarnya, untuk kita menonton film ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for THE FLORIDA PROJECT

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

PHANTOM THREAD Review

“..fashion has to do with ideas, the way we live,..”

 

 

Dunia fashion penuh dengan takhayul. Setidaknya begitu di tahun 1950. Gaun penganten aja, misalnya, banyak mitos yang dipercaya oleh orang-orang. Cewek-cewek muda takut menyentuhnya karena percaya mereka bakal susah nikah nanti. Para model ‘ngeri’ punya suami botak jika mereka memegang gaun penganten yang bukan milik sendiri. Yang bikin gaunnya, however, banyak yang mengaitkan superstitions sebagai bentuk dari kreativitas. Reynolds Woodcock, sebagai seorang yang eksentrik, mengakui dia lebih takut menikah ketimbang melihat orang-orang yang sudah mati menghantui dunia. Karena menikah membuatnya mendua; mendua dari kerjaannya merancang busana. Reynolds sudah membuat gaun sedari usia enam-belas tahun. Tepatnya semenjak dia membuatkan gaun untuk pernikahan kedua mendiang ibunya. Dan kini, dalam setiap hasil karyanya, Reynolds menyisipkan sedikit bagian personal dari si pemesan. Seperti dirinya yang menyulamkan rambut sang ibu ke antara benang-benang jas, sehingga dia bisa terus dekat dengan sosok yang sangat ia cintai itu.

Kedengaran sedikit creepy memang. Phantom Thread sesungguhnya adalah kisah cinta yang unik, dan yea, mengerikan. Latar belakang soal Reynolds dengan ibunya, soal ‘kepercayaan’ yang ia jadikan dasar kreativitas dalam berkarya, kita perlu untuk memahami semua itu supaya ketika film memperlihatkan actual romance yang jadi batang inti cerita, kita dapat mengerti apa yang dijadikan ‘taruhan’. Apa yang membuat hubungan antara kedua tokoh sentral, gejolak dan dinamika antara mereka, akan menjadi terang begitu kita dapat memilah di antara benang-benang siluman yang menyatukan cerita.

Nama belakang Reynolds yang dapat membuat Spongebob dan Patrick terbahak-bahak, benar-benar mencerminkan kepribadian sosialnya. Dia kaku. Dan dalam soal percintaan, dia lebih seperti mencari karyawan yang mengikuti perintahnya ketimbang mencari partner dalam berbagi kehidupan. Reynolds Woodcock (Daniel Day-Lewis sungguh fenomenal dalam peran terakhir dalam karir bintangfilmnya) boleh saja teliti dalam merajut benang, namun dia tampak enggak begitu banyak memperhatikan hubungan dengan pasangan. Reynolds bertemu dengan seorang wanita yang bernama Alma (pastilah kehormatan gede bagi Vickie Krieps beradu akting dengan Lewis, dan adalah kejutan bagi kita aktris ini bisa mengimbangi aktor kawakan tersebut). Pelayan kafe yang tampak canggung-canggung innocent itu pada awalnya tampak begitu menarik bagi Reynolds, malahan Alma boleh dikatakan menjadi muse, sumber inspirasi dari Reynold dalam membuat gaun. Eventually, mereka menjadi sepasang kekasih. Ketika mereka mulai hidup bersama, barulah kebiasaan serius Reynolds menjadi benturan kepada keinginan wanita seperti Alma. Alma ingin menyintai seutuhnya, taking care Reynolds, dan semacam menggenggam tangannya sepanjang waktu sementara Reynolds enggak memerlukan pasangan seintens demikian. Atau paling enggak, dia enggak pernah menampakkan kalo dia butuh perhatian dari Alma. Inilah yang menjadi konflik utama film Phantom Thread.

“Gaun bersulam sutera dia berikan dulu. Untuk apaaaahh, kalau, dia tak cintaa~~”

 

 

Untuk sebagian besar waktu dari durasi dua-jam, tidak benar-benar ada kejadian dalam film ini. Hanya ada sedikit sekuens yang terhimpun menjadi sesuatu yang gede. Itupun bergerak dalam ritme atau pace yang lambat. Jadi aku dapat mengerti jika beberapa orang akan merasa bosan menontonnya. Buatku, penulisan tokohnya yang membuat aku betah. Meskipun menggunakan gaya ‘satu tokoh diceritakan oleh tokoh yang lain’, film ini tetap mengolah para tokoh dengan bijak. Setiap tokoh sentral diberikan motivasi, mereka punya karakter yang bisa kita pegang – kita dukung karena kita dapat melihat apa yang menyebabkan mereka bertingkah laku demikian.

Reynolds lebih dari sekedar desainer fesyen, jelas dia sendiri memandang dirinya sebagai seorang seniman. Seorang seniman yang sangat serius, kalo boleh ditambahkan. Pagi-pagi dia akan duduk di meja makan mencatat ide-ide busana pada buku catatan kecil. Konsentrasinya penuh  tercurah di situ. Dan jika ada orang yang mengajaknya bicara, ataupun ada orang yang mengunyah dengan terlalu ‘berisik’, dia akan merasa terganggu dan lantas membentak orang tersebut. Bukan hanya soal seni, soal makanan pun Reynolds menuntut ketepatan yang sesuai dengan standar dirinya. Orang model begini yang dihadapi oleh Alma yang dengan tanpa dosa menawarkan kue buatannya kepada Reynolds. Pernah juga dia membawakan teh ke ruangan Reynolds, yang serta merta disambut dengan bentakan. “Tehmu memang udah keluar, interupsimu yang terus masuk di dalam mengganggu!” aku ngakak di adegan ini. Reynolds menyembunyikan kebutuhannya akan orang lain. Malahan dia lebih suka memperlakukan semua orang layaknya bidak catur, yang bisa ia gunakan kapan dia suka, dengan cara yang ia inginkan.

Entah itu perancang busana, ataupun pelukis, pematung, penulis, pembuat film, kita perlu untuk berhubungan dengan orang lain. Maksudku, setiap pekerja seni butuh untuk melakukan koneksi dengan teman, dengan pasangan, atau bahkan lebih baik lagi, dengan para fansnya. Untuk berbincang-bincang bertukar ide. Karena hanya dengan berinteraksilah ide dapat berkembang secara kreatif.

 

 

Ada satu sekuen yang aku harap kalian masih mampu membuka mata menonton, karena menurutku sekuen ini adalah salah satu bagian terbaik yang dipunya oleh film dalam rangka menunjukkan karakter para tokoh. Menjelang pertengahan, Reynolds diminta untuk membuatkan dress buat seorang wanita kaya yang hendak mengadakan jamuan pesta di rumahnya. Reynolds dan Alma diundang untuk hadir, dan di sana kita bisa melihat dari ekspresi Reynolds bahwa dia sesungguhnya enggak suka menyerahkan buah tangannya kepada wanita ini. Di depan mata, si wanita minum-minum dan teler sebelum akhirnya tepar masih berbalut busana buatan dirinya. Kita dapat melihat hal ini sangat mengganggu Reynolds, membuat ia geram. Tapi Reynolds tidak mau mengambil aksi karena dia lebih tidak suka lagi berinteraksi dengan orang. Alma lah yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu terhadap apa yang menurutnya bisa dibilang pelecehan terhadap karya seni tersebut.

Seperti melihat karya kita dijadikan bungkus gorengan

 

Ngomong-ngomong soal kreativitas, penulis sekaligus sutradara SEKALIGUS bertindak sebagai sinematografer Paul Thomas Anderson benar-benar mengambil resiko kreatif ketika dia mengikat cerita film ini. Babak terakhirnya dibuat sangat menusuk dengan seorang tokoh membuat sebuah keputusan terhadap suatu hal, dan sesungguhnya adegan itu merupaka pertaruhan yang gede. Aku gak mau spoiler berlebihan, aku hanya bisa bilang film ini literally menggunakan racun untuk menggambarkan relationship Alma dengan Reynolds yang beracun. In a way, hubungan tokoh film ini mirip sama tokoh The Shape of Water (2017), tapi Phantom Thread meninggalkan kesan yang sedikit lebih kelam, dengan konotasi hubungan yang lebih ke negatif. Kebayang gak gimana jika cerita cintamu lebih ‘ngeri’ daripada cinta manusia dengan makhluk monster haha

Film memang tidak pernah menjelaskan kenapa Alma bisa begitu cintanya kepada Reynolds, dan juga sebaliknya. Tidak ada yang menghalangi Alma untuk pergi dari rumah yang udah kayak kandang burung bagi dirinya secara mental tersebut. Tapi jika kita melihat kembali ke belakang, ke masa lalu Reynolds –seperti yang ia ceritakan kepada Alma, kita dapat melihat semuanya masuk akal. Semuanya terkonek. Kedua insan ini saling membutuhkan; mereka literally butuh yang lain untuk memenuhi kebutuhan inner mereka, tapi dihalangi oleh sikap Reynolds yang mendominasi. Pilihan ekstrimlah yang dijadikan jawaban.

Tidak jarang seorang yang sukses dan sangat precise dalam berkarya, punya hubungan cinta yang tidak benar-benar mulus. Malah sering berbanding terbalik. Karena cinta itu tidak bisa dipas-pasin. Cinta tidak bisa diprediksi awal dan akhirannya.

 

Hubungan pertama seorang pria adalah dengan ibunya. Dan eventually, hubungan masa kecil itu akan mempengaruhi hubungan asmaranya kelak dengan wanita lain. Beberapa pria akan mencari pasangan yang bersifat seperti ibunya. Namun terkadang ini malah ‘mengganggu’ lantaran agak sedikit enggak realistis mencari sosok yang serupa, kebanyakan hanya akan menjadi rintangan, membuat pria jadi banyak tuntutan. Beberapa lagi malah akan mencari yang berlawanan dengan ibunya. Karena mungkin ada trauma atau kejadian tragis. Bagi Reynolds, ibunya adalah personifikasi dari segala ketelitiannya dalam membuat busana. Busana pertama yang ia buat adalah untuk menyenangkan hati si ibu.  Dia harus memegang kendali, meskipun dia sadar dia juga butuh untuk ‘mengerem’ sedikit. Dia ingin diurusi. Untuk alasan itulah, Alma sangat penting baginya. Hanya Alma yang berani mengambil aksi yang actually berbuntut kepada terpenuhnya kebutuhan Reynolds untuk slow down. Hanya Alma yang tidak bisa ia kontrol. Aku enggak bilang hubungan seperti ini adalah hubungan yang sehat, tapi ini adalah satu-satunya yang bekerja buat mereka berdua. Dan ini efektif membuat cerita menjadi menarik.

 

 

 

 

Sebuah pandangan yang miris tentang bagaimana kepentingan memegang kendali membuat seorang seniman mengalami kesulitan dalam menerima orang lain, dalam memenuhi kebutuhan terdalamnya sendiri, serta dampaknya terhadap orang-orang yang mencintainya, yang benar-benar peduli dan mengasihinya. Penampilan di film ini luar biasa semua. Desain produksinya juga enggak maen-maen. Pacing yang lambat tentu dapat membuat panjangnya durasi benar-benar kerasa, tapi tidak akan mengurangi kualitas terbaiknya. Buatku, film ini seperti baju keren yang ukurannya kekecilan; aku akan berusaha diet supaya bisa memakainya.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for PHANTOM THREAD.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

THE POST Review

“Information is the currency of democracy.”

 

 

Istimewanya demokrasi adalah pemerintahan yang ada didasarkan kepada keinginan publik, bukan kepada ketakutan akan penguasa. Dengan berdiri bukan pada kekuasaan inilah makanya setiap warga negara memiliki kesempatan mengambil bagian aktif dalam pemerintahan. Kita berhak ngomong, mempertanyakan, dan menuntut keterbukaan dari pemerintah. Makanya media atau pers yang kritis, yang hobi ngulik menginvestigasi, dan mampu berdiri tanpa ditebengi disebut sebagai sumber kehidupan dari sistem demokrasi apapun.

Kebebasan pers adalah benteng dari kemerdekaan berpendapat. Namun sistem ini pun menemui celah ketika pemerintah berusaha mengendalikan informasi dengan alasan media kebablasan, informasi yang dikabari enggak akurat. Menyebarkan kebencian. Berbahaya.

 

Aku paham bagaimana susahnya menahan diri untuk enggak segera mengambil tindakan ketika  kita punya sesuatu yang menurut kita begitu penting. Begitu menarik. Kayak waktu kecil, dibeliin mainan baru, aku langsung melejit keluar rumah untuk dipamerin ke teman-teman. Susah memang untuk nahan diri. Sehabis nonton aja kita suka gitu, kan. Ngerasa kita dapet sesuatu topik yang penting yang dibawa pulang dari bioskop– apalagi kalo nontonnya pas gala premier – kita langsung nyerocos di sosial media, sampe terkadang sering lupa diri untuk enggak terlalu spoiler. Makanya, ketergesaan Steven Spielberg mengangkat The Post ke tahap produksi mestinya dapat kita maklumi. Spielberg literally mengerjakan film ini nyaris tanpa perencaan lantaran memang naskah yang ada di tangannya itu memang sangat menarik. Begitu relevan dengan iklim politik negaranya. Hasilnya? The Post adalah sebuah tontonan yang akan mengingatkan kita bahwa dalam negara berdemokrasi yang harus dilindungi adalah rakyat. Bukan pemerintah.

Bebas tapi harus bertanggung jawab

 

The Post menceritakan peristiwa nyata yang bagi warga Amerika adalah sebuah pengungkapan yang sangat mengejutkan.  Sebuah skandal soal pemerintah yang ketahuan menutup-nutupi langkah yang mereka ambil sehubungan dengan Perang Vietnam. Empat Presiden Amerika diketahui berkata bohong; Enggak mendukung perang, tapi malah mengirim tentara tambahan. Enggak akan mencampuri urusan Asia, eh nyatanya mereka duluan menyerang Vietnam. Wartawan dari koran New York Times saat itu berhasil membobol keamanan Pentagon dan mendapatkan catatan tentang kejadian yang sebenarnya. Mereka mencetak berita laporan rahasia tersebut di koran, menyebabkan negara gempar. Presiden Nixon memutuskan untuk menuntut New York Times dan mereka akan menutup semua surat kabar karena penyebaran informasi yang tidak berbukti. Penerbit koran kecil milik ibu Kay Graham (Meryl Streep panteslah dapat nominasi atas perannya ini), Washington Post-lah yang actually punya bukti. Seseorang misterius menaruhnya begitu saja di meja redaksi. Membuat editor Ben Bradlee (suka deh ngeliat Tom Hanks penuh determinasi kayak gini) kontan bersemangat. Inilah bahasan yang mereka cari-cari. Akan tetapi, para reporter sudah dihadapkan dengan dilema. Apakah mereka akan tetap mempublikasikan, dapatkah mereka mencari keabsahan informasi yang mereka dapat, apakah ada cukup waktu untuk mencetaknya. Sekarang, nasib demokrasi negara berada di pundak mereka.

Meskipun kejadian Pentagon Papers itu terjadi tahun pada 70an silam, film ini benar-benar berdering kompak sama kejadian di masa sekarang. Aktris Meryl Streep bahkan sempat nambahin sindiran di akhir film dengan menyebutkan “Semoga aku gak harus melewati semua masalah ini lagi” yang actually diimprovisasi olehnya sendiri. Sebenarnya bukan semata di Amerika sih film ini akan terasa sangat relevan. Enggak cuman administrasi pemerintahan Trump saja yang saat ini demen menghardik media dan mencoba untuk mengendalikan arus informasi.Bukan tidak mungkin, film ini akan terus relevan hingga bertahun-tahun ke depan, yang mana adalah sebuah masa depan yang cukup horor kalo dibayangkan. Di negara kita sendiri juga arus informasi itu seringkali harus diatur, mana yang aman diketahui oleh publik, mana yang harus dirahasiakan. Hanya saja, sekarang keadaan semakin pelik dengan banyaknya hoax-hoax berkeliaran.

Tapi soal keberhasilan film ini untuk terus relevan tentu saja bergantung kepada keberhasilan Steven Spielberg dalam menangani ceritanya. Kuakui, jika ada sutradara yang kupercaya bisa bikin film buru-buru dan hasilnya tetap berkualitas, maka sutradara itu pastilah Spielberg. Dan Ridley Scott, apparently dia sudah membuktikan diri lewat All the Money in the World (2018) yang dirombak banyak menjelang tayang dan hasilnya tetep kinclong. Dalam kasus The Post, kita bisa merasakan sang sutradara juga sangat passionate sama cerita yang ingin disampaikan. Spielberg memilih untuk memfokuskan inti kepada masalah penerbitan koran, gimana susahnya mencari dan menerbitkan cerita tepat waktu. Film menunjukkan banyaknya kerja fisik yang diperlukan untuk mencetak satu edisi koran. Dan menurutku, aspek ini yang membuat film menjadi stand out, paling enggak membedakannya dengan Spotlight (2015) yang juga film tentang tantangan jurnalisme mengungkap berita. Fokus pada cara kerja penerbitan ini juga turut menambah bobot kepada tone realistis yang berusaha dibangun.

sepertinya sekarang kita butuh film tentang bisnis majalah yang sudah gulung tikar

 

Ada banyak adegan yang terasa seperti adegan khas Spielberg, kalian tahu, adegan di mana kamera mendekat perlahan kepada seorang tokoh saat si tokoh memberikan monolog ataupun pidato yang intens tentang kehidupan mereka yang inspirasional. Penampilan para pemain, hingga ke tokoh paling minor pun, semuanya bagaikan diarahkan untuk memenangkan penghargaan.

Enggak hingga paruh akhir kita baru merasakan efek sepenuhnya dari elemen dramatis film. Washington Post baru mendapat paper bukti itu pada midpoint, dan barulah pertanyaan menarik apakah mereka akan mempublish berita tersebut mengetahui resiko penjara yang menunggu, kelangsungan dunia pers, dan bahkan apakah waktu untuk semua itu cukup datang menggebu. Film memang menjadi exciting di bagian ini dan sangat terasa kontras dengan separuh bagian pertama di mana ceritanya tampak meraba-raba. Konflik dibangun di babak awal, bagian emosional yang kita temukan pada titik tersebut adalah soal tokoh Meryl Streep yang dikerdilkan diam-diam oleh para reporter karena dia adalah pemimpin cewek, dan di masa itu cewek dianggap kurang kompeten dibandingkan para pria. Mereka mencoba menggunakan kuasa mereka untuk membuat Graham membagi wewenang karena mereka merasa akan mampu membuat kinerja penerbitan menjadi lebih baik. Aspek cerita ini sebenarnya juga masih relevan dengan keadaan kekinian, ini juga adalah bagian yang lebih personal; Bagi Graham ini semua adalah soal pembuktian diri. Tapinya lagi, aspek cerita ini enggak benar-benar baru dan in fact, kita lebih tertarik untuk mengikuti peristiwa penerbitan cerita sebab drama jurnalis inilah yang membuat kita duduk menonton sedari awal.

 

 

 

Hal terbaik dari film ini adalah bagaimana dirinya sangat menarik dan relevan dibicarakan pada masa sekarang-sekarang ini. Sebuah proyek yang sangat penting bagi si pembuat untuk segera disampaikan. Yang mana cukup disayangkan jika saja dia mau untuk memperlambat pembuatan film ini sedikit lagi. Aku enggak bilang film ini dibuat dengan terlalu terburu-buru hingga tidak mencapai potensi sesungguhnya. Desain produksinya tetap kelas top, penampilan akting yang benar-benar kuat, cirri khas sutradara juga tetap hadir di sana, Namun memang, mestinya film ini bisa digarap dengan sedikit lebih baik lagi. Karakternya bisa dibikin lebih berdaging lagi jika naskah diberikan tambahan waktu untuk matang. Elemen drama yang harusnya bisa diaduk dengan lebih baik, karena film ini terasa kayak dua bagian di mana bagian yang terakhir tampak lebih menarik dan fokus ketimbang bagian awal.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE POST.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017