SUZZANNA: BERNAPAS DALAM KUBUR Review

“Admitting we’re wrong is courage, not weakness”

 

 

 

Suzzahnya untuk enggak berprasangka buruk duluan terhadap film yang berusaha menghidupkan kembali legenda. Selalu ada dugaan, jangan-jangan ini proyek cari duit semata. Palingan cuma ngikut-ngikut Pengabdi Setan. Terlebih proyek ini sendiri sejak awal sudah dikonfirm bukan sebagai cerita remake, maupun reboot, melainkan cerita baru dengan tokoh Suzzanna – basically mereka membuat film berdasarkan mitos-mitos yang membuat seorang Suzzanna populer. Jadi, ya, aku bernapas dalam-dalam sebelum melangkah masuk ke bioskop menyaksikan film ini.

Dan saat kredit penutup bergulir, aku menghembuskan napasku dengan lega!

 

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur bukan proyek berkedok ‘reborn’ yang dibuat ala kadarnya alias asal-asalan. Film ini benar-benar punya cerita untuk disampaikan, mereka menggali sudut pandang dengan lebih dalam. Film ini nyatanya juga menghibur, tetapi enggak terpuruk ke level receh, dan enggak sekadar menunggang ombak kepopuleran horor dan Suzanna itu sendiri. Kita bisa merasakan passion terhadap genre ini. Rasa hormat terhadap sang Ratu Horor pun menguar dengan kuat. Di kemudian hari, aku yakin this will be a ‘go to’ movie kalo kita lagi pengen maraton horor atau ngadain nobar. Film ini enggak takut untuk menggunakan formula standar, dengan cerita yang tradisional, karena mereka paham sudut mana yang belum tergali, dan film fokus dalam area ini. Sehingga terasa seperti sesuatu yang pernah kita lihat sebelumnya, namun sekaligus seger. Seperti Suzzanna sendiri; kita tahu siapa dirinya, tapi juga merasa masih banyak misteri padanya yang membuat kita penasaran.

Dalam film, jika ada tokoh yang mengucapkan janji, maka niscaya naskah akan sekuat tenaga membuat janji tersebut terlanggar. Satria (rambut Herjunot Ali membuatnya mirip Eddie Guerrero masih muda) berjanji kepada Suzzanna, istrinya, tidak akan membiarkan apapun mengganggu keluarga kecil mereka. Tidak berapa lama setelah itu, kerjaan mengirimnya ke Jepang – berpisah sementara dengan istri yang sedang mengandung. Meninggalkan Suzzanna (penampilan horor terbaik Luna Maya!) yang begitu cinta dan setia di rumah besar mereka ‘hanya’ bersama tiga orang pembantu. Benar-benar mangsa empuk buat empat karyawan Satria yang berniat menyatroni rumah. Merampok mereka. Malam minggu hujan deras itu, para rampok menjalankan aksi. Untuk beberapa saat, cerita mengambil bentuk thriller home-invasion, Suzzanna yang saat itu lagi sendirian harus berurusan dengan sekelompok orang yang menodai kedamaian malamnya. Dia melawan sekuat tenaga, bahkan membuat empat pria tersebut kalang kabut. Rencana matang itu berantakan. Dari yang tadinya tak berniat mencelakai sama sekali, perlawanan Suzzanna membuat para rampok terpaksa membunuhnya dengan tidak sengaja. Kebayang gak tuh, mentoknya gimana? terpaksa dengan tidak sengaja haha.. Cerita berkembang menjadi menarik ketika Suzzanna yang dikubur hidup-hidup bersama jabang bayinya dalam tanah basah yang dingin, terbangun di ranjangnya yang putih nan hangat. Bukan sebagai manusia, melainkan sebagai hantu Sundel Bolong yang sangat kuat. Dia ada di sana untuk balas dendam, namun terikat oleh cinta kepada sang suami. Dia bisa saja segera membunuh keempat perampok yang bikin rusuh keluarga mereka, akan tetapi itu akan membuatnya benar-benar terpisah dari suami yang sangat ia cintai.

Itu seperti ketika Nobita dalam kartun Doraemon pengen makan dorayaki tetapi ia enggak sudi makanannya habis. Konflik utama film ini datang dari Suzzanna yang mencoba figure out apa yang sebaiknya dia lakukan.  Lucu, kalo dalam konteks cerita anak-anak. Tidak demikian halnya ketika kita melihat dari sisi Suzzanna. Sedih melihat Suzzanna yang ingin menuntut balas, hanya saja dia tidak bisa langsung melakukannya. Sejatinya ini adalah kisah balas dendam. A GHOST’S REVENGE STORY. Film dengan pintar membalutnya ke dalam mitologi klenik lokal. Cerita menetapkan aturan-aturan soal gimana Sundel Bolong ‘bekerja’, bagaimana cara mengalahkannya, dan bekerja dengan konsisten di dalam kotak aturan tersebut. Strukturnya juga sangat jelas; dari set up kematian, babak kedua yang basically Suzzanna ‘bereksperimen’ dengan kekuatan hantunya, hingga penutup saat ‘kedoknya’ sebagai hantu yang menyamar menjadi manusia terungkap.

Jika tujuan hidupmu adalah balas dendam, apakah kau akan tetap melakukannya bahkan ketika itu berarti kau akan kehilangan orang yang kau sayangi? Film ini bicara tentang pengorbanan sebenar besar yang rela kita lakukan ketika begitu kuat rasa cinta tersebut mengakar.

 

Film ini tampak dibuat dengan usaha yang maksimal. Bernapas dalam Kubur adalah salah satu horor paling good-looking yang bisa kita saksikan tahun ini. Efek dan prostetiknya sangat meyakinkan. Untuk riasan Suzzanna sendiri, wah gak sia-sia sih mereka datangin tata rias dari Rusia. Penampilan wajah yang udah kayak diphotoshop ditunjang oleh permainan akting Luna yang diarahkan supaya mirip banget sama gestur dan cara ngomong Suzzanna. Dunia tahun 80an akhir itu pun semakin terlihat sempurna dengan detil-detil artistik yang begitu diperhatikan. Bahkan dialog dan pengucapannya pun terdengar vintage sekali. Film ini boleh dibilang lebih mirip sebuah tindak restorasi jika saja dia tidak memberikan cerita baru. Personally, aku suka opening credit yang menampilkan shot-shot dari angkasa, memberikan nuansa seperti pembuka dalam film horor Stanley Kubrick – yang juga berjaya di tahun 80an. Satu shot paling aku suka ketika Suzzanna melayang pergi sambil mengangkat kepala korbannya, momen kemenangan paling eery yang pernah kita lihat, dan kamera dengan bijaknya bergerak miring melakukan Dutch Tilt menghasilkan kesan yang luar biasa sureal.

Di akhir-akhir Suzzannanya jadi keriting dan jadi lebih mirip Boneka Sabrina hhihi

 

 

Bekerja dengan lumayan baik sebagai komedi, dari bagaimana Suzzanna yang passionate sekali dalam menghantui musuh-musuhnya. Dia tahu dia punya kekuatan atas mereka, kita melihat Suzzanna selalu bermain-main dengan mereka. Mencoba masuk ke dalam kepala mereka satu persatu, membuat mereka takut, memancing mereka ke tempat-tempat membahayakan nyawa, sehingga mereka bisa terbunuh secara tak langsung. Atau bahkan membuat mereka tidak sengaja saling membunuh. Ada satu perampok yang sangat ketakutan – dia actually dipelototin Suzzanna yang lagi meregang nyawa – sampai-sampai dia takut untuk tidur sebab setiap kali memejamkan mata, dia melihat wajah melotot Suzzanna. Cara yang pintar untuk menunjukkan psikologi seorang yang merasa bersalah, dan sedikit mengingatkanku pada elemen Freddy Krueger dalam seri horor A Nightmare on Elm Street. Film benar-benar memanfaatkan durasinya untuk pengembangan karakter, kita diberikan kesempatan untuk melihat dari sisi para perampok – gimana takutnya mereka, gimana usaha mereka untuk selamat dari dendam Suzzanna, bahkan ada satu yang diberikan motivasi yang cukup simpatik. Dan semua itu membuat cerita menjadi semakin berisi. Para penjahat enggak sekedar duduk di sana, menunggu giliran untuk dibunuh.

Dibutuhkan keberanian yang besar untuk mengakui kesalahan. Untuk meminta maaf. Dalam kasus ini, untuk mengakui perbuatan  kriminal kepada polisi. Suzzanna punya kekuatan atas para perampok bukan karena dia benar dan mereka salah. Berbuat kesalahan tidak membuat kita lemah. Tidak mengakuinya lah yang menunjukkan seberapa ‘kuat’ kita

 

 

Inilah yang menyebabkan porsi horor film ini tidak tampil sekuat versi dramanya. Kita tidak pernah benar-benar merasa takut kepada si Sundel Bolong, malahan kita mendukungnya. Kita senang melihat dia berhasil menemukan cara untuk balas dendam. Wujudnya memang mengerikan, tapi fakta bahwa Sundel Bolong hanya memburu orang yang terlibat dalam kematian dirinya, membuat kita merasa aman. Kita gak salah, jadi kita gak akan dikejar oleh Suzzanna. Well, kecuali kalo kalian pernah berbuat salah sama orang yang sudah meninggal, maka film ini tidak akan membuat kalian tersentak terbangun dari mimpi buruk. Sekuen-sekuen kematian hadir dengan cukup sadis, meyakinkan sekali, sehingga kadang muncul sedikit rasa kasihan juga melihat orang-orang jahat itu mendapatkan ganjarannya. Satu lagi dampak positif dari hantu sebagai tokoh utama ini adalah film tidak merasa perlu-perlu amat untuk bikin kita kaget dengan kemunculan Sundel Bolong, sehingga mereka dengan gagah berani memunculkan hantu begitu saja, tanpa disertai suara keras yang ngagetin. Suatu kemajuan buat horor Indonesia.

tanggal mati Suzzanna di film ini sama ama tanggal lahirku, hiii!

 

 

Untuk sebuah cerita yang memasang Suzzanna sebagai hantu yang mencoba hidup sebagai manusia, mengelabui pembantu-pembantu di rumahnya, film sebenarnya agak kurang memperlihatkan bagaimana keseharian Suzzanna. Para pembantu bingung oleh kabar dari tetangga sekitar, mereka bicara seputar gosip yang beredar, tapi kita enggak pernah benar-benar melihat efek Suzzanna terhadap penduduk kota mereka. Kita tidak banyak diperlihatkan bagaimana tepatnya dia berusaha tampil sebagai manusia, sampai menjelang babak akhir di mana Satria pulang ke rumah dan mendengar segala desas desus keanehan Suzzanna selama dia pergi. Sudah cukup bagus sebenarnya, film ngebangun Suzzanna tadinya seorang muslim yang rajin ke mesjid, dan kemudian kita diperlihatkan Suzzanna banyak alesan ketika diajak sholat oleh Satria. Kita merasakan sebersit ketakutan di mata Suzzanna – dia takut ketahuan sudah menjadi hantu – dan ini menakjubkan, maksudku, seberapa sering kita melihat adegan hantu yang ketakutan. Hampir enggak pernah, kan ya. Pun, Suzzanna-lah yang pada akhirnya belajar untuk melepaskan. Film ini memainkan semacam role-swap antara dua makhluk beda-dunia. Namun begitu, menurutku, ending yang dipilih oleh film justru melemahkan arc Suzzanna sendiri.

Aku tidak benar-benar setuju dengan keputusan film di akhir, karena membuat kejadian pada konfrontasi final yang enggak se-tight kejadian-kejadian pada bagian lain. Malah ada beberapa yang konyol seperti kenapa mereka yang bisa mengikat tangan Sundel Bolong enggak sekalian aja menyumpal mulutnya supaya dia enggak bisa bicara dan memperingatkan Satria. Tapi yang paling lucu buatku adalah gimana Satria melihat pantulan dari bola mata Suzzanna seolah sedang melihat cermin spion. Film seperti ‘kesusahan’ mencari cara supaya Satria percaya dan akhirnya melakukan langkah lucu yang tak perlu seperti demikian. Maksudku, toh kalo memang outcome dari pertarungan terakhir itu harus Satria luka di punggung (paralel dengan lubang di punggung Suzzanna), kenapa enggak membuat Satria tertusuk saja di sana? Kenapa mesti dia melihat pantulan dari bola mata, baru sadar, berantem, kemudian tertusuk. Ada cara yang lebih simpel dengan membuat langsung tertusuk dari belakang, sehingga Satria sadar, dan baru deh berantem.

 

 

 

Menyentuh melihat ada hantu yang rela kepanasan dengerin bacaan Al-Quran demi cintanya yang besar dan murni. Ini adalah salah satu film dengan cerita dan usaha yang paling fully-realized yang kutonton tahun ini. Yang perlu diingat adalah, film ini hebat bukan karena kesuksesannya meniru tokoh ataupun menghidupkan legenda. Film ini hebat karena berhasil membangun cerita, dan kemudian menyampaikannya sebagai sebuah tontonan drama cinta yang lumayan heartbreaking, dengan undertone horor yang meriah oleh warna darah. Menghibur juga, meski di akhir aspek fun tersebut agak sedikit kebablasan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SUZZANNA: BERNAPAS DALAM KUBUR

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Dalam cerita film ini, para penjahat menemukan solusi ekstrim untuk mengalahkan Suzzanna. Tapi apakah itu satu-satunya cara? Bagaimana jika ada satu penjahat yang insaf, dia bertobat dan rajin sholat – apakah menurut kalian dia bisa lolos dari Suzzanna, apakah tindakannya akan mempengaruhi banyak hal dalam cerita? Atau apakah menurut kalian balas dendam itu memang harus dituntaskan?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

UNFRIENDED: DARK WEB Review

“The greatest myth of our times is that technology is communication.”

 

 

 

Kita tahu sekarang udah jaman komputer salah satunya adalah dari ketika kita nonton film aja dialog filmnya “Eh udahan dong internetannya, ada film baru nih, yuk nonton, seru!” Yang kita tonton pun tak jauh-jauh dari layar komputer juga. Chat orang-orang dijadikan tontonan. Jokes aside, film yang ceritanya dibangun seluruhnya berdasarkan perspektif komputer seorang tokoh sebenarnya sungguh impresif. Pintar, menjadikan layar komputer sebagai alat untuk bercerita; membangun dunia dengan lapisan misteri, juga karakter, dari penggalan-penggalan komunikasi menjadi rangkaian aksi. Buktinya Unfriended (2015), Searching (2018), meski masih punya ‘glitch’ dan masalah penceritaan di sana-sini, film-film bergimmick komputer itu tak pelak udah sukses bikin kita tersedot ke dalam ceritanya.

Dan sekarang, Unfriended dibuat sekuelnya, dengan maksud mengeksplorasi dunia siber dengan lebih dalam. Dari segi konsep, Unfriended masih lebih baik dan konsisten karena film tersebut berani untuk mempercayai penonton mampu menangkap semua yang berusaha untuk mereka ceritakan dengan tidak ‘mengkhianati’ gimmick layarnya sendiri. Layar komputer itu tidak akan di-zoom, karena sesuai dengan dunia nyata, ketika kita membuka laptop atau komputer, kita akan membuka banyak hal sekaligus. Kita dengar musik, kita buka video, kita chatting, kita buka google untuk mencari informasi atau gambar-gambar lucu sebagai penunjang bahan obrolan; layar komputer kita naturally akan tumpuk menumpuk. Mata kita sudah terbiasa untuk melihat mana yang perlu dilihat. Unfriended tidak memisahkan kita dari sensasi melihat layar tersebut, begitu juga pada film keduanya ini. Unfriended: Dark Web malah mencoba untuk melangkah ke zona realita itu dengan lebih jauh lagi. Tidak lagi kita akan melihat aspek supernatural alias hal-hal goib di sini. Film mempersembahkan sebuah kengerian yang timbul ketika kita tercemplung ke dalam sesuatu yang tidak kita mengerti. Sesuatu yang ternyata lebih besar dari kelihatannya.

Kalian tahu gimana katanya kita hanya menggunakan sepuluh persen dari kekuatan maksimal otak? well yea internet juga begitu. Selain halaman penuh hoax, caci maki, propaganda ketakutan, challenge-challenge fun tapi pointless, dan jutaaan selfie produk keinsecuran diri tersebut, sebenarnya ada porsi lain dari internet yang tidak bisa kita masuki sembarangan, yang tidak bakal nemu meski tangan kita pegel ngetik Enter di mesin pencari, yang disebut dengan Deep Web. Dan jaringan Deep Web ini luas banget. Salah satunya adalah lapisan atau jaringan Dark Net; tempat segala informasi yang bikin bulu kuduk berdiri. Segala macam kejahatan bisa ditemukan di sini (tentu saja jika kita bisa masuk dulu ke Webnya), semuanya yang bisa kita pikirkan ada di sini. Juga sangat berbahaya, karena ini adalah tempat hang outnya para hacker. Unfriended: Dark Web menceritakan tentang gimana seorang pengguna internet biasa harus berurusan hidup-mati dengan lingkaran hacker dan kriminal di Dark Net.

suddenly, your hidden ‘funny’ files don’t matter anymore

 

Mencoba untuk berkomunikasi lebih baik dengan kekasihnya yang tuna rungu, Matias (Colin Woodell sebelumnya juga ikut bagian dalam film ‘layar komputer’, Searching) mengembangkan sebuah aplikasi chatting yang bisa langsung menuliskan apa yang ia sebut, lengkap dengan kamus bahasa isyarat. Tapi komputernya lemot. Jadi, Matias ini langsung semangat begitu dapat laptop baru yang lebih kenceng. Facetime mereka jadi lebih lancar, aplikasi buatannya juga langsung dites buat pacaran. Tak lupa pula laptop baru ini dipamerkan kepada geng sahabatnya sembari mereka bermain game lewat video-call. Tak lama, Game Night mereka berubah menjadi malam petaka. Pemilik lama laptop Matias muncul di facebook, meminta kembali laptopnya. Keadaan menjadi sulit lantaran Matias keburu tahu rahasia si pemilik lama, dan tanpa sengaja ia mencampuri urusan lingkaran bisnis si Pemilik Laptop yang berhubungan dengan penculikan wanita dan tindak kriminal mengerikan lainnya di Dark Net. Semua orang yang Matias sayangi ikut-ikutan terseret bersamanya.

Dalam lapisan terdalam dari aspek romansa Matias dengan pacarnya yang berbahasa isyarat, sebenarnya film bicara tentang masalah komunikasi. Kita menciptakan alat untuk mempermudah komunikasi; sosial media di internet, gadget, dan sebagainya, tapi itu tidak berarti komunikasi itu sendiri seketika menjadi lancar. Malahan terkadang, teknologi seperti mengeliminasi seni komunikasi itu sendiri. Komunikasi adalah soal kita untuk mau mengerti lawan bicara, effort yang berasal dari diri sendiri dan tak akan bisa diwakili oleh teknologi secanggih apapun.

 

Salah satu teman Matias ada yang diceritakan berasal dari Jakarta. Bahkan ada adegan cukup panjang dia bicara dengan bahasa Indonesia. Aku terkesan pada separuh bagian awal film ini, bukan exactly karena hal tersebut.. Penceritaan film ini diperkuat oleh uniknya hubungan Matias dengan pacarnya. Kita bisa melihat sebenarnya dia lumayan berusaha, dia sempat belajar bahasa isyarat (entah karena bego atau memang gak serius belajarnya adalah misteri berikutnya yang minta dipecahkan), kemudian dia beralih ke membuat aplikasi. Yang justru membuat pacarnya enggak senang. Dan dia sempat didiemin, chatnya gak dibales. Di sini tercipta ‘lingkungan’ yang menarik. Kita mungkin bisa teriakin saran ke mereka, tinggal ketik chat doang apa susahnya – tinggal baca, tapi mereka ingin benar-benar ‘berbicara’. Rintangan tak-terlihat ini menambah bobot banyak bagi karakter mereka. Yang sangat disayangkan, semakin Matias terjun ke Dark Web, cerita semakin jauh masuk ke zona thrillernya, film seolah melupakan aspek tersebut. Film hanya sibuk dan berusaha keras untuk menakuti kita.

Dan tidak pernah berhasil karena landasan untuk kita takuti itu nyatanya semakin jauh ke realita. Maksudku, bahkan film pertama yang ada elemen hantu balas dendam lewat laptop aja terasa lebih seram dan ‘nyata’. Karena story di belakangnya adalah tentang tragedi perundungan. Hal-hal terrible yang menimpa Laura Barns, kita percaya semua itu bisa (bahkan mungkin sedang) terjadi kepada murid sekolah manapun di dunia saat ini. Kejadian-kejadian seramnya lebih mudah dipercaya karena, ya, memang kejadian supranatural. Pada Dark Web, mereka memperlihatkan kepada kita masalah tentang kriminal di Dark Net – yang mungkin juga terjadi, who knows, tapi yang dilakukan oleh ‘antagonis’ di film ini tidak dibangun untuk bisa kita percaya bisa terjadi beneran. Ada mitos Chiron dan Sungai Styx (dari mitologi Yunani soal penyeberangan ke dunia orang mati) yang dijadikan simbol yang tidak menambah banyak bagi cerita. Yang dilakukan para Chiron juga tampak terlalu dibesar-besarkan, tidak plausible. Gimana mereka bisa muncul dengan tepat di waktu yang benar. Kita diharuskan percaya bahwa mereka hacker sehingga bisa melakukan berbagai hal yang nyaris gaib, bikin penampakan mereka ngeglitch dan sebagainya. It’s just.. para tokohnya begitu perfect dalam kerjaan mereka. Bahkan Matias saja mengetik dengan sangat lancar seolah tidak berpikir dahulu; aspek detil pada film pertama yang tidak kita temukan di sini.

Mungkin karena tokohnya cowok jadi lebih tegas dan gak baperan

 

 

Sebuah film hanya akan semenarik dan sebagus endingnya. Setelah menonton film ini, aku mencari tahu tentang endingnya. Ternyata, film ini dibuat dengan dua ending. Dan yang aku tonton sepertinya adalah versi yang lebih jelek. Aku gak mau bicara banyak karena bakal spoiler parah. Yang aku bisa bilang adalah, versi yang aku tonton, pada babak ketiganya banyak adegan kematian yang dibuat sekenanya. Kayak ada satu tokoh yang diam begitu aja di tengah jalan. I mean, come on, nenek-nenek yang gak bisa ngapalin password facebooknya sendiri aja juga tau kalo diem di tengah jalan bisa berakibat ditabrak mobil. Ending yang aku tonton semacam memperlihatkan ‘gambar besar’ dari apa yang sebenarnya terjadi. Fokusnya menjadi lebih ke dunia pada cerita ini sendiri ketimbang pada tokoh utamanya. Yang membuat plot si Matias menjadi tidak melingkar; tidak menutup. Dari apa yang kubaca pada artikel tentang dua ending film ini; versi yang lain – meski nasib para tokoh di akhir cerita tidak mengalami banyak perubahan; hanya ada satu berbeda secara signifikan – memberikan kesimpulan cerita yang lebih memfasilitasi plot karakter tokoh utama. Ada permainan kalimat yang cerdas sehubungan dengan dialog Matias dengan pacarnya di awal film yang dimunculkan kembali tentang gimana Matias menyesal tidak belajar bahasa isyarat lebih giat. Jadi ya aku kesel juga malah dapat film yang versi ending kurang kuat.

 

 

 

 

Lebih sebagai sebuah sajian thriller ketimbang horor. Menakjubkan gimana penceritaan film ini dibuat dengan sedekat mungkin dengan kenyataan. Perspektif layar komputernya tetap, dan masih, menjadi hal yang paling menarik. Tapi dari aspek kejadian mengerikannya, film banyak meminta kita untuk menahan rasa tidak percaya itu hingga ke titik film ini punya kredibilitas yang bahkan lebih rendah daripada film pertamanya yang tentang hantu main facebook.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for UNFRIENDED: DARK WEB.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Penasaran gak sih, kalo laptop atau komputer milik kalian jatuh ke tangan orang lain, kira-kira ada hal paling menakutkan yang bisa mereka temukan di dalamnya?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

AMERICAN ANIMALS Review

You need to mean them..!”

 

 

Film mengajarkan kita banyak hal; cara gombalin cewek, cara manggil hantu (“Hoi, hantu!” / “Aye di atas pu’un, Baaangg”), cara mengalahkan orang jahat, sampai cara merampok yang baik dan benar. Melalui adegan yang keren-keren, kita akan diperlihatkan gimana cara menyusun rencana perampokan hingga kabur dengan selamat. Semuanya terlihat begitu gampang. Seru, dramatis, mendebarkan, bahkan tampak heroik jika tokohnya merampok dengan alasan yang humanis. Tokoh-tokoh dalam American Animals juga belajar merampok dengan bekal menonton film-film heist. Sayangnya, mereka tak menyadari bahwa film seringkali lupa memperlihatkan bagian-bagian yang tersulit ketika tokohnya hendak melakukan sesuatu yang menantang moral. Seharusnya, kalo bisa sih, keempat anak muda yang masih kuliah itu menonton juga film mereka sendiri. Sebab yang diperlihatkan oleh American Animals bukan saja gimana serunya membicarakan kemungkinan melakukan perbuatan exciting semacam merampok, tapi juga beban dan konsekuensi yang senantiasa bercokol di baliknya.

Anak muda suka banget menantang bahaya. Semakin beresiko hal yang dikerjakan, kita akan semakin bangga. Karena siapapun bisa melakukan hal-hal yang biasa. Alih-alih masuk sekolah lewat gerbang, kita memilih untuk datang telat dan loncat pagar. Ketimbang datang kuliah dan belajar seperti yang seharusnya, kita sengaja datang dan titip absen di kelas yang dosennya galak. Ide bahwa kita berbeda, kita berani melakukan sesuatu yang takut dilakukan orang lain, sungguh-sungguh dinilai menarik bagi anak muda.  

 

Evan Peters memang pas mainin tokoh yang sebenarnya dogol tapi nekat kayak Warren, sahabat yang disebutkan oleh narasi sebagai bumbu dalam kehidupan tokoh utama cerita. Dengan kombinasi karakter yang ia miliki, sebenarnya Warren ini pribadi yang berbahaya; dia tidak tahu apa yang ia lakukan, namun di satu sisi dia begitu berdeterminasi. Kontras dengan Spencer, mahasiswa seni yang melukis dirinya sendiri. Barry Keoghan memainkan tokohnya tersebut dengan kepasifan yang menyerempet urat jengkel kita. Mungkin kita heran bagaimana mereka bisa tahan berteman satu sama lain, tapi yah seperti kata pepatah luar “birds of feather flock together”; Spencer dan Warren sering bersama lantaran mereka punya interest yang serupa – mereka ingin hidup yang lebih menarik. Ini adalah motivasi mereka. Spencer dan Warren mengira hidup mereka bisa berubah dengan uang, supaya mereka bisa kabur dan hidup liar kayak di film-film. Demi melihat peluang dari perpustakaan di kampus yang menyimpan karya ilmiah langka dan buku seni yang tak ternilai harganya, ide yang tak kalah liar muncul di benak Spencer. Ide yang langsung disambut antusias oleh Warren. Jadi, mereka mengumpulkan dua teman lagi, mereka mematangkan rencana, sebelum akhirnya merampok perpustakaan yang hanya dijaga oleh seorang ibu baik hati.

American Horror Story: Failure

 

 

Cerita ini beneran terjadi. Spencer, Warren, Eric, dan Chas di tahun 2004 itu bener-bener menyatroni perpustakan Universitas Transylvania, menyakiti penjaganya, dan tindak kriminal yang mereka lakukan pun sungguh-sungguh tidak sekeren yang ada di dalam benak mereka. Kita sudah pernah melihat gimana perampokan oleh remaja cenderung gagal lantaran ketidakkompetenan mereka, Don’t Breath (2016) dan Pertaruhan (2017) adalah contoh sempurna untuk kasus seperti ini. American Animals menawarkan sesuatu yang bikin kita merasa lebih geram lagi. Kita akan melihat tokoh-tokoh ini totally bego, mental kerupuk, om-do belaka. Kita bahkan susah untuk mempercayai mereka. Tapi memang hal demikianlah yang diniatkan oleh film ini. Bahwa terkadang demi excitement tak seberapa, kita melakukan kelewat batas – kita sadar kita lewat batas, tapi ‘gengsi’ untuk mundur. Tak sudi untuk menyerah kepada kenormalan.

Film mengambil bentuk penceritaan berupa gabungan dokumenter dengan adegan-adegan dramatisasi. Hal unik yang dilakukan oleh sutradara dan penulis Bart Layton adalah dia nekat memejeng para tokoh asli ke dalam narasi. Maksudku, saat menonton film ini kita akan berpindah-pindah antara adegan drama yang tokoh-tokohnya diperankan oleh aktor dengan adegan kesaksian ala dokumenter yang menampilkan Spencer, Warren, Eric, dan Chas beneran. Pada awalnya, aku sempet heran juga; kenapa bercerita dengan gaya seperti ini – terlihat berlebihan dengan tokoh-tokohnya. Tapi ternyata film melakukan hal tersebut untuk alasan yang cukup menarik; mereka ingin memperlihatkan gimana ekspulsifnya tindakan para tokoh di momen kejadian hingga saat mereka disuruh reka ulang, kita bisa melihat mereka-mereka ini sama sekali tidak sepenuhnya niat untuk melakukan apa yang mereka lakukan.

Kita akan melihat adegan-adegan menarik yang ditimbulkan oleh konsep tokoh real dan tokoh aktor ini. Satu tokoh bercerita, kita akan melihat visualisasi adegannya, kemudian cerita tersebut diceritakan oleh tokoh lain, dan kita akan melihat visualisasi yang berbeda untuk cerita yang sama. Dan mereka akan mencoba mengingat mana yang benar. Dan kita tidak akan pernah dikasih tahu mana yang benar. Karena mereka juga tak yakin mana yang benar. Mereka hanya memaksa diri mereka untuk percaya. Seperti ketika Spencer berkisah tentang kala Warren menunggu informan di jalanan; Spencer bilang yang ditemui Warren ialah seorang pria persyal biru – kita melihat adegan tersebut, kemudian Spencer mengoreksi “eh, ungu ding, syalnya”  dan kita lihat syal yang dipermasalahkan tersebut berganti menjadi biru ke ungu. Tapinya lagi kemudian giliran Warren bercerita, yang ia ceritakan adalah ia bertemu dengan pria tua instead, so kita lihat kembali adegan tadi dengan orang tua menggantikan pria bersyal, ada elemen yang berbeda dari yang diceritakan oleh Spencer. Menarik sekali gimana cara becerita seperti demikian; tokohnya memang tampak seperti unreliable narrators, tapi klop sekali dengan konteksnya. Pun dilakukan dengan sangat seamless; editingnya tidak memotong sudut pandang dengan kasar. Ketika di versi Spencer mereka ngobrol di dalam mobil, sedangkan versi Warren mereka ngobrol di klub, adegan berjalan dengan lancar menggunakan ‘tutupan-tutupan’ edit yang diegetic, yang benar-benar ada di momen kejadian alih-alih abrupt cut.

mungkin syalnya memang ilusi optik kayak gaun sialan yang viral itu

 

Tentu, terlihat keren, menarik, mendebarkan. Namun begitu, berbuat jahat tidak pernah segampang kelihatannya. Seperti kata Bellatrix Lestrange ke Harry Potter yang coba menyerang dirinya dengan kutukan tak-termaafkan; kita benar-benar harus meniatkannya, harus benar-benar ingin untuk menyakiti orang. Itulah yang membuat jahat itu berat. Karena kita semua punya nurani. Yang dilakukan oleh Spencer dan kawan-kawan, mereka hanya sebatas excited sama gagasan mereka hendak mencuri. Hidup mereka jadi lebih berwarna bahkan saat merencanakan perampokan tersebut. Mereka tidak harus terus mewujudkan rencana, toh keinginan mereka untuk hidup exciting sudah terpenuhi. Kejahatan terbesar yang sesungguhnya mereka lakukan kala itu adalah mereka begitu ogah untuk mundur, untuk menjalani hidup normal seperti manusia berbudi lainnya.

 

 

Film bisa saja berakhir dengan meminta kita untuk menyimpulkan sendiri pelajaran apa yang dipetik dari tindak kriminal yang gagal dilakukan oleh tokohnya. Film tentu akan berakhir dengan nilai yang tinggi jikalau mempercayai penonton bisa menjawab sendiri, kenapa beberapa adegan dikasih treatment seperti yang dilakukan. Tamat saja setelah mereka tertangkap, dan para tokoh asli bangkit sembari informasi mengenai mereka sekarang ngapain, it could have ended strong like that, aku pastinya akan suka sekali jika begitu. Tapi, film ini merasa butuh untuk menjelaskan semuanya. Ketika plot sudah menutup, kita akan dibeberin informasi kenapa mereka melakukan ini, kenapa begitu, apa yang dipelajari oleh Spencer, Warren, Eric, Chas selama mereka mengenang tindakan mereka. Dan ini membuat pengalaman menonton menjadi berkurang. Kita jadi hanya “well, yea, okay good for y’all, then.” Semua hal tersebut sebenarnya tidak perlu untuk dijelaskan. Hampir seperti tukang sulap yang membeberkan semua triknya. Kita kehilangan keasyikan menonton.

 

 

Aku tidak percaya semua orang punya kemampuan untuk berbuat jahat. Justru sebaliknya. Film ini memperlihatkan semua orang sebenarnya punya potensi untuk menjadi pahlawan, tapi seringnya kita membiarkan insting binatang untuk mengambil alih, karena kita tidak ingin terlihat lemah, tidak mau terlihat biasa. Film ini pun sendirinya juga begitu, ia punya potensi untuk menjadi lebih dari sekedar ‘menarik’. Berceritanya lumayan seger, pemainnya pun sukses menghantarkan emosi tanpa banyak-banyak amat buka suara. Namun film tidak ingin tampil membingungkan, mereka merasa perlu untuk menjelaskan beberapa hal yang malah mengurangi pengalaman menonton. Merampok kita dari keseruan berpikir dan menyimpulkan sendiri. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin aku yang jahat sudah memberikan kritikan terhadap film ini? Ah, konsep baik dan jahat benar-benar membingungkan.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for AMERICAN ANIMALS.

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana menurut kalian, apakah keempat tokoh film ini terlihat kayak anak baik-baik? Apakah mereka benar-benar menyesal?

Bagaimana seandainya jika tokoh di film ini diganti menjadi orang kulit hitam? Kira-kira apakah ada yang berubah?

Pernahkah kalian melakukan sesuatu yang di saat itu kalian sebenarnya menyesal dan pengen mundur, tapi nekat terus maju karena tuntunan sosial, dan kemudian mencari pembenaran terhadap tindakan tersebut?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

 

MILE 22 Review

“There are no heroes or villains”

 

 

 

Sebagian orang bisa tidur dengan damai di malam hari karena mereka mengetahui ada orang-orang yang siap untuk berbuat kekerasan demi mereka. Begitu kata tokoh yang diperankan dengan sangar oleh Mark Wahlberg di film Mile 22. Enggak jelas juga apakah Si James Silva ini memang penggemar George Orwell, atau dia hanya terlalu obsesif dengan menegakkan kedamaian sehingga bocah jenius yang jadi yatim piatu tersebut jadi ‘setengah-gila’ menyangkut urusan membasmi orang jahat. Kita enggak akan pernah tahu, karena cerita latar tokoh ini hanya disajikan dalam montase klip-klip berita yang muncul di pembuka. Tidak sampai lima menit, kemudian film melaju begitu saja tanpa memberikan kita kesempatan untuk bernapas. Apalagi memikirkan kegilaan filosofis si James ini.

Tapi toh, tokoh James memang menarik. Dia adalah agen rahasia pemerintah yang menyamar sebagai agen CIA. Bayangin tuh! James punya kebiasaan jebretin lengannya pake karet gelang yang selalu ia kenakan di pergelangan tangan. Harus memutuskan antara yang baik dengan yang efisien? Jebret! Menangani siasat yang mesti diputuskan dengan cepat? Jebret! Rasa sakit membantu James untuk fokus.  Dirinya sangat obsesif, dia punya kesadaran tinggi tentang apa yang harus dilakukan – tidak peduli itu salah atau benar. Dia paham kecerdasanya di atas rata-rata jadi dia agak kesel dan tak ragu untuk menjadi begitu intens jika ada bawahannya yang meragukan apa yang ia perintahkan ataupun ketika ada yang bekerja di bawah standar yang ia percaya.

No birthday cake, Rousey!

 

Untuk satu hal, film ini adalah laga konvensional tentang satu kelompok yang berusaha untuk mengantar seseorang ke dalam lingkungan yang aman, di mana untuk mencapai keselamatan tersebut mereka harus menerjang peluru dan berantem numpahin darah. Tim James melakukan operasi rahasia untuk membawa polisi lokal yang menyerahkan diri ke embassy Amerika. Polisi rendahan tersebut, si Iko Uwais bernama Li Noor di sini, mengaku mengetahui sandi untuk menonaktifkan enam bom yang dicari oleh para agen. Jadi ia menukar pengetahuannya tersebut dengan posisi yang aman di Amerika. Syaratnya; Tim James harus memastikan keselamatannya sampai ia tiba di Amerika – karena tampaknya, pihak polisi lokal enggak mau satu polisi yang dianggap berbahaya ini meloloskan diri ke negara lain. Dua-puluh-dua mil actually adalah jarak dari embassy ke bandara yang harus James tempuh dalam misinya ini. Tapi untuk kita para penonton, itu berarti 100 menit yang rasanya begitu lama karena tak sekalipun kita dikasih waktu untuk mikirin para tokohnya.

Seperti yang kubilang tadi, ada hal menarik yang coba diangkat oleh film dari perilaku tokohnya. Li Noor dibuat kontras dengan James. Dia lebih tenang, hobinya meditasi dengan jari-jari sebagai lawan dari James dan jebretan karet gelangnya. Film sebenarnya bisa bekerja dengan lebih baik dari menggali ini saja, dengan pelan-pelan. Tapinya, enggak. Film berusaha untuk menjadi banyak hal. Salah satunya adalah menjadi sok lucu. Ada begitu banyak dialog yang diniatkan pinter dan keren, malah jatohnya konyol. Receh. Kayak momen terakhir antara James dengan Noor. Setelah semua aksi tersebut, kontras antara mereka diperlihatkan, rasanya aneh dan konyol sekali film ini memberikan sentuhan ‘realita’ yang mengacknowledge Wahlberg sebagai seorang selebriti sebagai titik puncak dari tokoh-tokoh ini. Film ini – sama seperti James – menyangka dirinya pintar dengan memasukkan lelucon “Say hi to your ‘mother’ for me” (Wahlberg terkenal dengan jargon dari sketsa Saturday Night Live ini, yang diucapkan untuk meledek dirinya) mentang-mentang konteksnya adalah pimpinan tokoh James menyebut diri sebagai Mother dalam kode operasi rahasia mereka.

Dalam dunia yang kacau, tidak ada pahlawan atau penjahat. Sebab terkadang, kita perlu untuk bertindak layaknya penjahat, untuk menyelamatkan orang. Hal yang benar untuk dilakukan bisa jadi adalah hal yang paling berat untuk dilakukan. Keberanian untuk menempuh hal sulit itulah yang membuat seseorang pantas dipanggil sebagai pahlawan.

 

 

Hal lain yang dilakukan oleh film ini adalah, berusaha menjadi nendang dan impactful dengan pesan-pesan politiknya. Tapi tidak pernah menyampur dengan baik. Antara maksud dengan apa yang benar-benar film ini lakukan, enggak klop. Karena film ini tidak benar-benar mengembangkan apa-apa selain ledakan dan aksi laga. Film bahkan tidak berani menyebut nama negara yang jadi settingnya. Mereka menampilkan nama Indocarr yang menunjukkan ini negara fiktif, tapi tidak pernah benar-benar menyebutnya. Para tokoh berkelit dari menyebutkan nama. Ketika harus nyebutin, mereka mereferensi tempat ini dengan sebutan “our host country”. Aku gak mengerti kenapa mereka gak langsung bilang Indocarr aja . Atau langsung sebut Indonesia aja, toh kita tahu letaknya di Asia Tenggara, kita mendengar penduduk lokal berbahasa Indonesia. Orang sini akan dapat hiburan tersendiri saat menonton Mile 22 dari bahasa yang terdengar. Tokoh-tokoh yang lain juga sekedar ada di sana. Tokoh pemimpin mereka hanya ada untuk teriak-teriak kepada komputer. Ada tokoh cewek namanya Alice yang diceritakan punya masalah dengan perceraian dan keluarga, tapi tidak mendapat finality yang pantas. Dan Ronda Rousey (our new WWE RAW WOMEN’S CHAMPION!), dang menurutku film ini melewatkan kesempatan gede; mereka punya Iko Uwais dan the baddest woman in the planet, tapi keduanya enggak dibikin berantem. Mubaziiiirrr, I want to see them fight each other!

bahkan saat bicara pun film ini meledak-ledak

 

 

Bagian tengah film ini betul-betul kosong. Kita dapat pembuka yang basically mengeset siapa James, apa yang ia lakukan, siapa yang berasosiasi dengannya. Film juga memberikan penutup apa yang terjadi kepada James, dan semuanya. Namun, bagian tengahnya – dimulai dari kemunculan mendadak Li Noor – hanya terasa seperti sekuen aksi yang begitu panjang tanpa ada esensi di baliknya. Tidak ada pengembangan di sana. Film begitu bedeterminasi untuk membuat pengungkapan di bagian penutup sebagai sebuah ledakan yang wow, jadi kita tidak dapat apa-apa di babak kedua ini selain adegan berantem dan tembak-tembakan. Kita dilempar begitu saja ke dalam sekuens aksi dengan sesedikit mungkin build up sehingga akan susah sekali untuk peduli pada apa yang terjadi.

Sebaiknya jangan nonton film ini saat perut kalian sedang kosong. Serius. Babak kedua yang katanya penuh aksi itu, well, berkat kerja kamera dan editing yang begitu rusuh apa-apa yang di layar akan tampak sangat membingungkan. Kita enggak bisa ngikutin siapa nyerang siapa, apa yang terjadi di layar terjadi begitu cepat. Begitu banyak cut-cut cepat yang membuat mata kita berpindah-pindah tanpa arahan. Aku gak paham kenapa film ini malah menggunakan teknik edit dan kamera yang heboh seperti itu. Ini kubalikkan saran James buat rekannya kepada pergerakan kamera: Stop. 

Film ini perlu memikirkan ulang konsepnya; pengen menangkap suasana rusuh semestinya bisa dilakukan tanpa membuat penonton bingung dan mau muntah. Dan lagi, jika kau punya aktor laga sehebat Iko Uwais, yang juga kau pekerjakan sebagai koreografi laga – yang berarti kau percaya pada kemampuannya – maka dijamin kau akan punya sekuen aksi yang dashyat; Kenapa tak merekamnya dengan wideshot, dengan tenang. Kamera bergoyang dan quick-cut yang hiperaktif digunakan untuk menyamarkan kerja stunt dan aksi yang buruk. Kehadiran Iko menjamin masalah tersebut tidak bakal ada, jadi kenapa teknik demikian – yang sama sekali tidak mengangkat buat gaya Iko –  masih terus digunakan?

 

 

 

 

Sungguh aneh pilihan dan arahan yang dilakukan oleh sutradara Peter Berg. Semuanya sangat cepat, dengan orang-orang yang bersuara lantang. Membuat film ini jadi kayak versi loud dari Sicario (2015). Ceritanya tak lagi menyenangkan, kita tidak bisa untuk peduli pada siapapun. Sangat gak jelas dengan apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh film yang menyangka akan terlihat pintar jika menyampaikan semua dengan hiperaktif. Mengecewakan, Peter Berg sejatinya could be so much better. Segala baku hantam, ledakan, dialog, yang ia punya jadi kayak rentetan racauan edan yang membingungkan dan jauh dari menghibur.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for MILE 22.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE EQUALIZER 2 Review

“..the heart can balance out the mind.”

 

 

 

Meski bukan anggota X-Men yang terpuji, toh sebenarnya kita semua punya kepandaian masing-masing. Ada yang jago ngegambar. Ada yang cakap merangkai kata. Ada yang pinter ngeles. Molly Ringwald aja bisa makek lipstick dengan dadanya. Kepandaian alias keahlian khusus tersebut kita jadikan sebagai andalan, dalam bersosialisasi, dalam mencari kegunaan diri. Puncak kebahagiaan adalah kita menyadari kepandaian yang kita miliki dapat dijadikan sebagai sarana pengisi perut. Karena gak semua talent dapat ditukar dengan duit. Atau kalaupun bisa, uang yang dihasilkan bukan lagi tergolong uang baek-baek.

Kayak Robert McCall. Kita tahu dari film yang pertama 2014 yang lalu, kepandaian bapak ini adalah menghabisi nyawa orang setangkas dan seefisien mungkin. Dia beneran nyalain stopwatch di arlojinya sebelum mukulin orang, dan tak lupa mematikannya saat manusia yang ia pukuli sudah berubah bentuk menjadi seonggok daging yang penuh penyesalan dan rasa sakit. Keahlian matahin leher dan menggunakan banyak hal sebagai senjata berbahaya ia miliki berkat gemblengan keras semasa di agensi militer. Setelah ia keluar dari sana, tho, ia sadar kepandaiannya tidak banyak berguna untuk kelangsungan hidup sehari-hari. Orang-orang di sekitar McCall mestinya bersyukur, orang ini punya otak yang belum korslet dan hati yang masih lurus. McCall percaya di dunia ini ada dua rasa sakit; sakit untuk menghukum, dan sakit untuk mengubah-untuk menyembuhkan. Dan kali ini dia bertekad untuk sedapat mungkin memberikan kesempatan kepada bandit-bandit itu untuk merasakan sakit yang nomor dua.

Pada sekuel ini, McCall bekerja sebagai pengemudi Lyft; semacam ojek mobil online. Dia mengantarkan berbagai macam tipe orang. Dia actually meminjamkan telinga untuk mendengar curhatan mereka, bahkan kadang dia mencuri dengar percakapan beberapa dari balik setirnya. Ketika dia menemukan ada sesuatu yang enggak beres dengan pemesan ojeknya tersebut, saat McCall merasa ada sesuatu yang salah, maka lantas dia akan bertindak menyetir dengan tangan moral dan palu hakimnya sendiri sehingga yang salah-salah itu menjadi benar. Puncaknya adalah ketika satu-satunya temannya yang masih tersisa di dunia menjadi korban perbuatan orang-orang yang menjual kepandaian mereka demi uang, McCall tentu saja langsung mencemplungkan dirinya, lantaran semua menjadi personal. Terlalu personal.

lain kali hati-hati kalo ngobrol sama supir gojekmu

 

Jarang sekali menggarap cerita-cerita yang terasa pretentious, Antoine Fuqua ingin mengajak kita berbincang soal apa yang sebaiknya kita lakukan dengan pekerjaan yang kita bisa. Dan The Equalizer 2 ini sungguh adalah media yang menarik untuk membahas persoalan tersebut. Berbalut aksi brutal dan drama yang gritty – yang punya nyali mengingatkan dengan ancaman tudingan moncong pistol – The Equalizer 2 menyajikan maksudnya dengan sangat seimbang. Sama seperti tokohnya, McCall, yang berusaha menyeimbangkan dunia dari perbuatan buruk yang dilakukan orang-orang dengan perbuatan keji namun beritikad baik olehnya, film ini punya sekuen aksi sekaligus momen-momen karakter yang sama menariknya untuk diikuti.

Tak pelak, Denzel Washington akan membuat kita humble. Ada begitu banyak yang bisa kita pelajari darinya pada film ini. Penampilan aktingnya, mungkin kalian udah bosen membaca tentang betrapa legendnya Denzel Washington dalam setiap peran yang ia jajaki. Bagian terbaik The Equalizer 2 basically adalah dirinya,  kita seakan jadi pinter berakting melihat penampilannya di sini. Cara dia menampilan gesturnya, gimana aktor senior ini mentackle adegan-adegan aksi yang normally bukan ranah dia; menakjubkan. Sehingga aku pun  jadi lumayan menyayangkan, adegan pertarungan terakhir di film ini tampak seperti menyia-nyiakan dedikasi Wahington. I mean, duel satu lawan satu di tempat kosong itu tampak terlalu meta, membuatku susah percaya Wahington bisa melakukannya tanpa stuntman. Lagipula McCall yang sejauh durasi dua jam film ini hanya benar-benar menembakkan pistolnya satu kali, selebihnya ia menggunakan siasat, tampak sedikit di luar karakter dalam pertempuran di atas menara tersebut.

belum pernah kan diancem harus ngasih bintang-5 sama driver online? hhihi

 

 

Dalam cerita pun, tokoh ini akan memberikan wejangan gimana kita boleh saja mencari duit dengan bakat yang kita miliki, namun kita tetap butuh otak untuk membelanjakan duit tersebut. Salah satu elemen emosional dengan banyak sekuen mantap yang dipunya oleh film ini berasal dari hubungan McCall dengan cowok remaja yang tinggal di dekat apartemennya. McCall menjadi seperti figur bapak buat Miles yang masih menjadi jati diri. Miles ini hobi menggambar, ia menawarkan diri mengecat ulang tembok apartemen yang dirusak oleh grafiti berandalan. Tapi si Miles ini tidak percaya kemampuannya adalah hal yang paling baik yang ia lakukan. Lingkungan sosialnya memandang rendah pekerjaan melukis. Tidak normal menjadi seniman jalanan di sana. Duit dicari dengan jalur ‘kerjaan’ yang lain, dan Miles nyaris melangkahkan kakinya ke jalur tersebut. McCall semacam melarang anak tersebut, menggebahnya untuk mengambil pilihan yang benar-benar bermanfaat.

Untuk penyeimbang pikiran, dalam memberdayakan kemampuan, tentu saja kita memerlukan hati.  Keahlian dan kepintaran akan dengan gampang disalahgunakan jika kita tidak punya batasan moral yang bersumber dari hati. Itulah yang membedakan Robert McCall dengan orang-orang yang berkeahlian sama seperti dirinya dalam The Equalizer 2. Hati yang berada di tempat yang benar akan dapat memberikan kekuatan untuk melakukan hal yang benar, mengalahkan pikiran yang terkadang terlalu cepat menyimpulkan, terlalu tinggi dalam menilai, dan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan.

 

Plot penceritaan film ini sebenarnya bisa dibuat lebih baik lagi. Struktur kejadian mungkin bisa diubah sedikit susunannya, karena terasa panjang sekali sebelum kejadian-kejadian di film ini terasa saling kohesif. Kejadian utama pada cerita adalah ketika ada kasus penembakan suami istri di Brussel yang dibuat seolah tindakan pembunuhan-dan-bunuh diri. Kasus ini menyeret McCall dan teman-temannya dan merupakan awal konfrontasi tokoh utama kita dengan masa lalunya. Hanya saja, sebelum sampai ke sana kita melewati banyak adegan-adegan yang tidak menambah untuk keperluan kejadian ini. Di awal-awal itu kita akan melihat gimana McCall membantu orang-orang yang ia antar. Seperti ada seorang kakek yang berusaha mendapatkan kembali lukisan kakaknya semasa kecil. Cerita kecil ini tidak melakukan apa-apa kepada permasalahan yang sebenarnya. Bahkan tidak banyak adegan aksi yang terlibat. It just takes a long time sebelum kita tahu ke arah mana sebenarnya narasi film ini melaju.

 

 

 

Melihat Denzel Washington menghajar orang-orang brengsek dengan brutal dan tanpa ampun, tangkas dan mematikan, adalah hiburan tersendiri. Melihat dia berinteraksi dan coba membantu orang-orang sebelum mereka terlanjur menjadi orang brengsek – walaupun trope orang dewasa berkoneksi dengan remaja sudah sering dilakukan, bahkan oleh film pertamanya – merupakan anugerah lantaran kita mendapat banyak dialog yang powerful. Sayangnya plot cerita tak sekuat penampilan akting maupun aksinya yang seimbang memuaskan. Mencegah film ini untuk menjadi terlalu memorable. It is a fine watch, tetapi butuh terlampau panjang waktu untuk benar-benar mulai nendang.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE EQUALIZER 2.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

MISSION: IMPOSSIBLE – FALLOUT Review

“To hope is to gamble”

 

 

 

Sebuah rencana pembunuhan massal. Dobel agen, dan mungkin lebih. Tiga bom nuklir. Jikalah hal-hal; tersebut merupakan aba-aba “satuuu.. duaaa.. tigaa” sebelum lomba lari, maka Mission: Impossible ini adalah peserta lomba yang seketika berlari paling kencang selepas hitungan tersebut selesai diucapkan penjaga garis start.

Toh, pelakon protagonis dalam film ini memang berlari dengan waktu. Ethan Hunt dan rekan timnya yang sudah kita kenal baik – ini adalah seri keenam dalam franchise Mission: Impossible – harus bertanggung jawab setelah satu misi yang mereka emban, gagal total. Kompas moral Hunt, juga bagaimana dia kerap mengkhawatirkan keselamatan orang-orang yang ia cintai, akan menjadi ‘kelemahan’ yang ditantang kembali oleh film ini. Hunt akan dibenturkan dengan karakter yang tidak segan-segan untuk melibatkan ‘pihak tak bersalah’ demi kesuksesan misi. Tom Cruise dan Henry Cavill benar-benar tampak seperti  dua imej yang berlawan; dengan sosok Cavill menjulang sebagai sesuatu yang dulu adalah milik Cruise. Di bawah situasi yang terus menekan dan stake yang bergulir semakin besar, Hunt akan berusaha untuk membuktikan bahwa harapan adalah strategi terbaik yang bisa dipertimbangkan oleh manusia dalam berjuang.

Di dalam dunia penuh tipu muslihat, sedikit nurani sangat patut untuk dihargai. Kemanusiaan adalah harapan. Sudah semestinya kita bergantung kepada rasa untuk saling melindungi, saling memperhatikan, tidak peduli betapa kacau dan peliknya situasi. Jika dunia adalah perjudian, maka bertaruhlah pada harapan.Berbahaya, memang, apalah hidup tanpa menempuh resiko, kan?

 

Dan bicara soal berlari; Film ini akan membuat film-film aksi lain tampak seperti balita yang baru bisa berjalan. Aku enggak melebih-lebihkan. Kamu-kamu yang ngasih Buffalo Boys (2018) nilai 8 karena kalian bilang aksinya bagus, harusnya memberikan nilai 20, bahkan lebih, untuk Mission: Impossible – Fallout. Sebab ini adalah salah satu film aksi terbaik yang pernah aku tonton. Aku tidak pernah semenggelinjang ini menyaksikan sekuen-sekuen aksi sejak Mad Max Fury Road tahun 2015 yang lalu. Usaha film ini untuk menyuguhkan aksi laga yang benar-benar real luar biasa kuat dan keras. Porsi-porsi laga di film ini semuanya dirancang dan dikerjakan dengan matang dan penuh perhitungan. Bukan saja segi koreografi,  sudut pengambilan gambar; perspektif sinematografinya pun benar-benar digarap dengan cermat. Banyak sekali momen-momen tak terlupakan. Menakjubkan sekali gimana film ini seolah menantang diri untuk mengungguli adegan demi adegan. Membuat kita hanya bisa melongo di tempat duduk, berdecak kagum “gila, kok bisa ya!”

Setiap adegan aksi, entah itu berlari di jalanan maupun kejar-kejar di helikopter, semua tampak seperti versi terbaik dari apa yang mungkin untuk mereka capai. Maksudku, kalo kalian pengen bikin adegan kejar-kejaran di sekeliling kota, bikinlah aktornya benar-benar melakukan dengan kakinya sendiri. Tak pelak, sulit sekali kita bakal menemui tokoh yang total seperti Tom Cruise. Dia nekat melakukan semua tindak ekstrim yang tertulis di dalam naskah itu sendiri. Dia bergelantungan di helikopter. Dia terjun paying dengan ketinggian yang relatif rendah. Fakta menarik yang dibeberkan sebagai penghantar rilis film ini adalah Cruise melakukan aksi meloncati gedung, sampe kakinya beneran patah sehingga suting terpaksa ditunda beberapa waktu.  Dedikasi yang luar biasa. Hasilnya memang yang kita saksikan di layar itu menjelma menjadi stunt yang mencengkeram total karena kita dapat melihat adegannya sungguhan terjadi. Dan tentu saja, semua adegan aksi itu dieksekusi dengan sama luar biasanya.

Set piece dan semuanya dirancang untuk bikin kita terpana. Kebanyakan film lain akan terpojok dan menggunakan CGI untuk adegan-adegan sulit nan berbahaya, utilizing banyak teknik cut dan segala macem. Adegan Hunt naik sepeda motor dikejar-kejar di jalanan kota Paris;  Cruise tidak beraksi di depan green screen, dia tidak digantikan oleh stuntman – film lain akan membuat tokoh ini pakai helm hanya supaya wajahnya enggak kelihatan, tapi tidak buat Tom Cruise. Dia tidak mengenakan helm. Tidak pula kepalanya ditempel oleh efek ke badan pengendara lain

Ultimate Tom Cruise Shot

 

Film mungkin bisa tampak sedikit mengerem jika kita meniliknya dari segi cerita. Tentang rencana pengeboman, tentang seseorang yang berusaha menyelematkan banyak orang tanpa mempedulikan dirinya sendiri, kalian tahulah, trope begini sudah sering didaur ulang – terutama dalam genre laga. Cerita yang kita dapat di sini memang tidak sepenuhnya baru. Namun, arahan dan penulisan Christopher McQuarrie berhasil memberikan sesuatu untuk dilakukan oleh setiap anggota tim Hunt, sehingga peran mereka jadi terangkat – masing-masingnya menambah kaya sudut pandang cerita, dan pada akhirnya juga  menambah bobot ketegangan.

Luther yang diperankan simpatik oleh Ving Rhames mencoba untuk menjinakkan bom, tapi dia literally merasa tangannya kurang, jadi dia ‘terpaksa’ meminta bantuan kepada seseorang yang sama sekali belum pernah kenalan langsung sama bom. Dia juga nge-share burden yang ia rasakan sebagai seorang yang pernah diselamatkan demi ‘harga’ tertentu oleh Hunt. Simon Pegg yang senantiasa menampilkan permainan peran yang menghibur, sebagai Benji harus mencari letak bom yang satu lagi di dalam ruangan yang penuh kotak besi – yang semuanya nge”bip” kena radar, jadi dia harus segera menemukan kotak yang benar. Tokoh-tokoh pendukung juga kebagian aksi, mereka ditempatkan dalam situasi yang tampak mustahil di mana kemampuan mereka diuji. Aspek inilah yang membuat cerita terasa fresh, meskipun memang plotnya sendiri enggak exactly baru. Ada usaha untuk terus menggali perspektif dari berbagai sudut.

Tokoh-tokoh jahat di film ini juga sangat memorable. Motif mereka menarik. Kepentingan, cara, mereka dibenturkan kontras dengan milik Hunt. Bahkan, sekali lagi, buat tokoh yang minor. Seperti pada adegan berantem di toilet Grand Palais; tidak hanya Cruise dan Henry Cavill, ada satu penjahat lagi yang berbagi mempertaruhkan nyawa di sini. I mean, adegan berantemnya sangat greget dan terlihat begitu nyata lantaran film begitu berhasil menggali sudut pandang; konsep mereka menggunakan kemampuan terbaik di saat yang mustahil tetap menguar kuat bahkan di satu sekuen berantem yang simpel ini. Or even jika si penjahat ataupun tokoh yang tidak bisa berbuat banyak, mereka paling enggak diberikan adegan dengan shot yang unik, seperti saat seseorang yang terikat, tenggelam di dalam mobil.

yaiyalah mustahil, namanya juga Mission: Impossible

 

Beberapa penonton mungkin akan merasa bermasalah dalam menyimak dialognya yang memang butuh perhatian ekstra. The thing is, film laga sekeren ini toh masih bisa kita nikmati untuk aksi-aksinya, bahkan jika suaranya dimute sekalipun. Tapi kan tentu saja rasanya bakalan kurang. Film meminta kita untuk memperhatikan dengan seksama setiap dialog, karena bakal ada pengungkapan-pengungkapan yang efeknya baru akan kena jika kita mengingkat beberapa kata kunci yang pernah disebutkan oleh para tokoh. Buatku, ini adalah bentuk penghormatan film kepada penontonnya. Sebab, meskipun konsep yang mereka gunakan adalah laga yang sering bergantung kepada ‘kebetulan’, namun masih ada kesempatan untuk kita berpikir memecahkan misteri cerita. Jadi, film laga itu gak mesti mindless. Kita masih bisa terhibur sembari tetap memutar otak.

 

 

 

Justru, ini adalah apapun yang bisa kita minta dari sebuah film. Tokoh-tokohnya bisa kita pedulikan. Aksi-aksinya terlihat nyata dan bikin kita menahan napas. Ada yang bisa kita pikirkan, regarding moral dan plot cerita secara keseluruhan. Penulisannya rapi – pengungkapan, twist, secara konstan kita akan geregetan dibuat oleh film ini. Bahkan jika kalian belum pernah menonton film-film sebelumnya, seri keenam ini tidak akan menjadi masalah untuk kalian mengikuti cerita, karena ia mampu untuk berdiri sendiri.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for MISSION: IMPOSSIBLE – FALLOUT

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

22 MENIT Review

Calm before the storm

 

 

 

Pernahkah ketika sedang bersantai di kamar, menikmati film mungkin, dengerin musik sambil ngemil mi mentah, atau asik main video game sambil download-download, kemudian mendadak saja ada perasaan gak enak yang timbul dari suasana tenang tersebut. Kalian bisa merasakan ada yang tak beres, dan sekonyong-konyong listrik mati, dan terlontarlah semua sumpah serapah tersebut? Itulah yang disebut pepatah sebagai “ketenangan sebelum badai”. Warga Jakarta mungkin masih belum lupa ketenangan ganjil yang mereka rasakan di pagi hari tanggal 14 Januari tahun 2016 silam.

Dua-puluh-dua menit keseharian kota yang ramai menjelang pukul sebelas lebih empat-puluh siang. Ya memang ada sedikit macet, orang-orang mengejar waktu mengejar urusan penting masing-masing, beberapa pelanggar lalu lintas kena tilang pak polisi, tapi saat itu adalah sedamai-damainya yang bisa diharapkan oleh pelintas ataupun ‘penghuni’ daerah sibuk seperti di Sarinah. Set up awal film 22 Menit ini sungguhlah efektif dan tepat sasaran memperlihatkan kepada kita beberapa karakter yang sama sekali tak menyangka beberapa saat lagi hidup mereka akan porak poranda. Keragaman penduduk ibukota juga terhampar jelas di sini. Tentu saja, kita tahu sedikit lebih banyak daripada AKBP Ardi yang langsung ke markas setelah mengantar putrinya ke sekolah, Polisi Firman yang mengatur lalu lintas sambil menahan resah karena di-silent treatment-in ama tunangannya, Hasan yang belum benar-benar legowo disuruh oleh adiknya untuk ikutan kerja sama orang lain, dan Dessy yang didesak cepet datang karena sudah ditunggu temannya di coffe shop untuk persiapan presentasi, tentang apa yang bakal terjadi di tempat tujuan mereka. Film cukup bijak untuk menanam mereka sehingga paling tidak kita penasaran “kira-kira siapa yang bakal selamat ya?” Dan ketika bom itu meledak, film pun cukup berhasil memberikan suasana tegang perburuan hidup mati antara polisi dengan teroris.

Sesuatu hal yang baru akan menimpa kita pada saat-saat yang tidak diduga. Kenyamanan membuat kita lengah. Untuk itulah, sebenarnya kita dituntut untuk senantiasa waspada. Bersiap mengantisipasi segala sesuatu. Seperti yang dilakukan oleh polisi-polisi dalam film 22 Menit.

kalo kata Bezita, kedamaian membuat malas – lantas orang jahat menyerang dan kita tunggang langgang

 

Kompeten enough dalam setiap aspek yang dimiliki. Jika film ini kita ibaratkan sebagai polisi, maka 22 Menit adalah seorang polisi teladan yang  berhasil menjalankan tugas simpelnya dengan cakap. Namun ia juga begitu sederhana sehingga menolak kenaikan pangkat. 22 Menit punya kepentingan untuk hadir ke kancah dunia perfilman tanah air, dan film ini tidak berniat untuk menjadi lebih dari pada itu. Padahal sebenarnya bisa. Tapi mungkin, memang beginilah polisi yang baik. Tidak ambisius. Jika memang hanya ingin tampil di muka umum, jika memang hanya ingin nunjukin teroris itu jahat dan polisi itu hebat, kenapa mesti repot-repot mikirin hal di luar itu yang membutuhkan usaha ekstra.

Eugene Panji dan Myrna Paramitha memang bukan orang pertama yang diminta untuk mengarahkan tragedi pengeboman beneran menjadi sebuah kisah kepahlawanan. Dalam setahun terakhir ini saja, kita sudah menonton dua film tentang peristiwa pengeboman acara  lari marathon di Boston. Tapi, ketika Stronger (2017) dibuat,  mereka actually menggali sesuatu. Membicarakan satu-dua buah pikiran lewat sudut pandang tokoh utamanya.  Stronger dan Patriots Day (2016) totally adalah dua cerita yang berbeda padahal mengangkat satu peristiwa yang sama. Karena mereka dibuat dalam konteks perspektif yang khusus. Mereka berangkat dari cerita satu orang karakter; memang ada yang diceritakan dari karakter tersebut – ada drama yang ingin digali. Aspek tersebut membuat film-film itu tampil lebih kuat, dibandingkan 22 Menit yang enggak punya lapisan sebanyak tokoh-tokoh yang ia punya. Film ini sebenarnya bisa menjadi lebih dahsyat sebagai sebuah tontonan patriotisme, for instance, jika durasinya dipanjangkan. Tapi ya, kalo memang yang bikin filmnya sudah puas begini – toh misi citra mereka sudah selesai – ya apa boleh buat.

Cara berceritanya pun cukup unik. Film ini menggunakan struktur bolak-balik untuk mengakomodasi tokoh-tokoh yang tadi diperkenalkan. Kita melihat rutinitas mereka. Kita tahu tujuan mereka. Kita saksikan masalah mereka hari itu. Namun kita tidak pernah benar-benar mengenal mereka. Jika Vantage Point (2008) saja masih dikritik repetitif padahal sudah menggali tokoh-tokoh yang dipunya, kesempatan apa yang dipunya oleh 22 Menit yang hanya meniru penceritaan yang dilakukan oleh film tersebut? Kita bergantian melihat drama yang dialami oleh para tokoh sebelum waktu ledakan tiba; setelah satu tokoh, layar akan menunjukkan jam yang dimundurin ke dua-puluh-dua menit sebelumnya, dan kita mengikuti tokoh yang lain. Masalahnya adalah tidak ada banyak lapisan pada tokoh-tokoh tersebut. Tidak ada pergantian sudut pandang. Semua yang kita lihat setiap ‘ganti tokoh’ tak lebih dari sedikit penambahan adegan, like, kita sudah bisa tahu eksterior para tokoh, namun tidak pernah dibiarkan masuk mengenal interior mereka.

Saat orang pake google infrared, dia kagak, dan dia tetap yang paling jagoan

 

Tentu, kita merasa kasihan sama mereka, kita tidak ingin orang-orang tak berdosa dan tak tahu apa-apa itu jadi korban peledakan bom. Hanya saja tidak ada perjalanan karakter. Keinginan yang buyar oleh ledakan itu nyatanya memang sebuah tragedi, sesuatu yang sangat emosional; menyedihkan. Tetapi peduli kepada karakter dalam film itu maknanya adalah kita turut merasakan beban mereka – kita ikut belajar bersama mereka. Bahkan Hereditary (2018) yang konteksnya adalah tidak-ada jalan keluar bagi para tokoh yang sudah digariskan untuk suatu hal yang buruk saja masih memberikan kesempatan kepada kita untuk belajar sesuatu, untuk menyaksikan tokohnya berkembang. Tidak sekedar kita mengasihani mereka yang berada di tempat yang salah, dalam waktu yang salah.

Ini adalah masalah paling besar yang terasa saat kita menonton 22 Menit. Tidak ada tokoh yang bisa kita ‘tempelin’. Mereka antara kurang tergali ataupun dibangun supaya kita merasa kasihan. Hasan yang diperankan oleh Fanny Fadillah (Ucup!!!) sebenarnya adalah yang paling mendekati seorang tokoh utama yang menarik untuk cerita film ini; dia awalnya tak mau bekerja, bujangan tua ini punya pandangan sendiri terhadap kerja di bawah orang lain. Dia bahkan risih berapi-rapi ria pake kemeja. Dia hanya nurut disuruh cari kerja karena selama ini adiknya yang sudah susah payah menghidupi keluarga. Kejadian terorisme ini mestinya mengubah segalanya bagi Hasan dan keluarga, sayangnya tidak diresolve dengan baik oleh cerita.

Satu lagi soal tokoh-tokoh adalah; film ini tidak berani berbuat banyak terhadap pihak terorisnya. Mereka hanya ada di sana untuk bikin kerusuhan. Kita tidak dikasih tahu alasannya apa, tidak ada cerita mengenai mereka, tidak ada sudut pandang moral mereka. Dan ini membuat mereka tampak lemah, kenapa juga mesti mengumbar diri di tengah keramaian; entah salah rencana atau memang rencana mereka seperti itu, kita tidak pernah tahu. Meskipun dipromosikan dengan hashtag KamiTidakTakut, film justru malah terlihat tidak berani menggali apa yang kita tahu persis akan membawa film ini ke ranah agama. Bahkan aksi kepolisiannya sendiri juga tidak pernah betul-betul ditonjolin. Bagian dari tokohnya Ario Bayu, misalnya, malah tampak seperti kebetulan dia berada di TKP. Mungkin, memang kejadian aslinya seperti begini; ada satu polisi yang kebetulan lewat sana, dan dengan sigap mengambil tindakan. Namun, yang perlu diingat bahwa ini adalah sebuah film. Sebelum menjadi film, tentu ia melewati meja naskah terlebih dahulu. Mestinya kan, bisa, semua elemen kejadian nyata pada cerita ini disesuaikan demi menghasilkan naskah yang lebih kuat.

 

 

 

 

Aku sesungguhnya suka gimana film ini berusaha mengambil tindakan untuk membuat film ini tampil tak-biasa lewat struktur berceritanya. Meskipun, mereka melakukannya dengan meminjam dari film lain. Bagian siaran radionya malah lebih meyakinkan dari siaran radio Death Wish (2018) yang kelihatan banget ditambahin belakangan biar filmnya relevan dengan isu kepemilikan bersenjata. Menjelang tamat, aku mendengar ada sound effect bunyi detak jam yang mengingatkanku pada Dunkirk (2017), yang anehnya adalah kenapa baru sekarang menggunakan efek itu, setelah gimmick Vantage Point dan shot waktu sudah tidak digunakan lagi. Bagaimanapun juga, mereka mengeksekusi adegan-adegan dengan lumayan kompeten. Efeknya niat. Sayangnya, it’s pretty much what you see is what you get. Jika ketenangan sebelum badai itu merupakan pertanda yang mengingatkan kita untuk waspada, maka keheningan setelah semua debu dan asap ledakan itu semestinya adalah waktu untuk kita memikirkan apa yang sudah terjadi. Film ini, pada akhirnya, lebih tampak sebagai usaha simpel mempahlawankan kekuatan polisi dengan meminta kita mengasihani tokoh-tokoh yang lain. Jika kalian tidak punya masalah dengan hal tersebut, film ini bisa jadi tontonan yang greget buat kalian.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for 22 MENIT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

DETROIT Review

“There is no justice, but it is the fight for justice that sustains you”

 

 

 

Ngelihat pak polisi di jalanan, biasanya bawaan kita negatif melulu. Kalo enggak takut, ya sebel. Kita putar balik  kalo tiba-tiba melihat ada razia. Kita mengutuk pas  jalanan macet, padahal ada polisi yang lagi ngatur lalu lintas. Anak kecil yang bandelnya kumat biasanya juga didiemin dengan anceman nanti ditangkap polisi. Pandangan sinis kita terhadap penegak hukum itu muncul karena enggak jarang kita mendengar berita tentang betapa polisi-polisi melakukan banyak hal yang dinilai ‘kejam’ terhadap orang-orang yang tak bersalah. Ketemu polisi itu berarti masalah, duitlah, apa-lah.  Dalam film Detroit, malah, pengalaman bertemu polisi itu digambarkan sebagai sebuah pengalaman yang ngalahin horornya ketemu hantu. Ada salah satu adegan yang menampilkan dua orang yang ingin keluar lewat pintu belakang, dan pada background kita melihat seorang polisi berjalan masuk lewat pintu belakang, dan kedua orang tadi seketika lari kembali ke tempat mereka datang. Film ini membuat polisi sebagai sebuah momok, adegan tersebut berhasil menguarkan perasaan mencekam, dan kita peduli kepada dua orang tadi. Bukan karena kita dituntut untuk membenci polisi. Hanya saja, lewat film ini, kita bisa melihat ada beberapa hal salah yang mestinya bisa diluruskan, tetapi semua orang bertindak begitu gegabah karena mereka diatur oleh sistem yang salah.

“salahkah bila diriku terlalu menggertakimu”

 

Tahun 1960 sudah tercatat di buku sejarah sebagai periode yang cukup kelam bagi kemanusiaan. Di Indonesia, masalah pemberontakan PKI mewarnai tanah di sejumlah daerah dengan darah. Di Amerika, kota Detroit yang menjadi medan pembantaian. Ketakutan merajalela di jalanan. Kerusuhan dan penjarahan tak pandang bulu. Dan sama seperti di Indonesia, orang-orang tak bersalah yang jadi korban; dipenjara, dipukuli. Dibunuh. Detroit benar-benar menggambarkan peristiwa kelam Amerika itu dengan intens dan kejam. Penggunaan kamera yang bergoyang-goyang menambah perasaan nyata itu berkali lipat, seoah kita mundur ke masa itu dan menyaksikan sendiri secara langsung. Film ini tidak terasa seperti film, if anything, dia hampir mirip seperti dokumenter. Kita akan ditaruh langsung ke tengah-tengah kota Detroit yang keamanannya sangat tak stabil, terutama pada malam hari.  Kita akan melihat pesta persembahan untuk tentara yang berjuang di Vietnam dengan cepat menjadi rusuh. Kita kemudian akan melihat seorang penyanyi teater yang harus mengcancel pertunjukannya karena suasana di luar mendadak menjadi begitu kacau. Kita juga akan kenalan dengan tokoh yang diperankan John Boyega yang malam itu kebagian shift jaga malam sebagai malam di toko. Tokoh-tokoh ini akan bertemu di Motel Algiers. Jika kalian ngikutin sejarah, kalian tahu apa yang terjadi di tempat itu. Basically, kejadian di Algiers ini jualah yang menjadi panggung utama film. Semua pengenalan karakter berujung pada sekuens panjang nan shocking di motel Algiers. Sejumlah remaja kulit hitam, termasuk penyanyi tadi, dan dua wanita kulit putih dijejerin menghadap dinding. Sejumlah polisi, aparat militer, dan pasukan gabungan lain mengepung mereka demi mencari sumber letusan senjata yang terdengar beberapa saat lalu. Polisi percaya salah satu dari merekalah yang membuat keonaran, tapi tidak ada satupun yang mengaku. Maka permainan ancam-ancaman maut itu pun dimulai. Berujung kepada tewasnya tiga orang yang tak jelas salahnya apa atau bahkan mereka tidak membahayakan siapapun.

Nonton film ini akan bikin kita geram, baik kepada polisi maupun kepada para rmeaja itu sendiri. Adegan yang ditampilkan bukanlah adegan yang gampang untuk kita lupakan. Dari awal hingga akhir, aku menonton dengan perasaan yang campur aduk. Marah, kalo boleh dibilang. Satu adegan di awal-awal cerita, di mana militer menyisir kota dan mereka menembak gitu aja salah satu jendela apartemen karena menyangka gerakan kecil yang mereka spot on adalah aktivitas sniper, padahal… yah, sedari permulaan, perasaan kesal ngelihat ketidakadilan itu sudah mulai menghinggapi kita. Film ini akan benar-benar menyedot kita masuk. Tentu saja elemen rasis turut menjadi poin vokal film ini. Di zaman itu, dalam keadaan chaos begitu, sebagian besar polisi-polisi di sana benar-benar digambarkan sebagai bajingan rasis yang melakukan tindakan-tindakan kurang berperikemanusiaan. Makanya, tokoh yang diperankan Boyega menjadi sangat menarik. Kita bisa melihat dia lumayan dihormati polisi lain hanya karena ia berseragam. Tapi sebenarnya, polisi itu tetap memandang rendah dirinya.  Mereka ‘membully’nya secara subtil, sementara tokoh Boyega itu menyaksikan banyak hal yang bikin ia geram, tapi perasaan tersebut harus ia sembunyikan rapat-rapat. Dan pada gilirannya, membuat kita berbalik kesal terhadapnya. Juga tehadap pihak-pihak lain yang tidak melakukan apa-apa padahal ketidakadilan dan kekerasan berlangsung di depan mata mereka. Geram aja gitu, demi ngelihat seharusnya ‘interogasi maut’ di motel itu bisa dihentikan dengan cepat, namun tidak ada yang mengambil tindakan hanya karena para polisi yang lain, polisi-polisi yang hatinya masih bener, tak bisa melanggar yurisdiksi dan sistem yang mengatur mereka, jadi mereka membutakan diri terhadap tindakan keji tersebut.

thus, membuat semua polisi di film ini jahat.

 

Salah satu aspek paling bikin miris adalah film ini bercerita dengan sesekali menyisipkan potongan footage berita kejadian yang asli, lengkap dengan foto-foto korban yang sebenarnya. Adegan filmnya memang dibuat sama persis, tokoh-tokoh yang jadi korban dibuat sedemikian rupa sehingga posisinya menyerupai tragisnya korban beneran, meskipun kejadiannya didramatisir. Malahan, tentu saja, kita tidak akan pernah tahu gimana kejadian yang sebenarnya. Kesaksian para saksi tak ayal berbeda dengan kesaksian para polisi yang menjadi pelaku, persis begitu juga yang diceritakan oleh film.

Film ini adalah tangisan keras bukan hanya buat korban dan kerabat peristiwa tersebut, melainkan juga bagi orang orang-orang di luar sana yang merasa tidak mendapat perlakuan yang adil dari aparat; dari sistem. Film ini berusaha memberikan keadilan tersebut bagi mereka yang sampai sekarang masih belum dapat tidur nyenyak supaya orang-orang tersebut bisa mendapat, jika bukan kejelasan, maka paling tidak mereka mendapat pandangan yang mampu menjawab gulana. Sebab apa yang mereka alami perlu untuk dilihat oleh banyak orang.

 

 

Dilema nonton film dari kejadian nyata seperti begini adalah aku pengen ngelihat kejadiannya sesuai mungkin sama kenyataan, tapi sekaligus melihatnya sebagai penceritaan yang ‘bener’ sesuai kaidah film. Dan mencapai keseimbangan antara kedua hal tersebut sungguh susah. Detroit ini misalnya, mereka berhasil menunjukkan banyak hal yang terjadi seputar peristiwa tersebut, namun tokoh-tokohnya enggak semua yang diberikan arc sinematis. Tokoh si John Boyega dibahas dengan paling menarik, tetapi penyelesaian arcnya sama sekali enggak kerasa ‘nendang’. Pembelaan yang bisa kita temukan untuk ini adalah di dunia nyata, kejadian-kejadian buruk menimpa manusia, dan bahwa terkadang keadilan itu memang tidak ada. Kita hanya bisa berusaha move on dari kejadian buruk tersebut, dan begitulah yang dialami oleh tokoh yang dimainkan Boyega.

Untuk kasus film Detroit, kejadian yang diceritakan tersebut memang tidak benar-benar dijelaskan, like, kita tidak akan tahu ke arah mana cerita bermuara jika kita tidak mengetahui peristiwa yang sebenarnya. Seperti yang kutulis di atas, kita langsung dilempar ke tengah-tengah peristiwa. Cerita sama sekali tidak membahas kenapa orang-orang kulit hitam tersebut begitu panas dan polisi harus menangani mereka dengan tangan besi, kecuali bagian opening film. Akan ada narasi yang menerangkan latar belakang kerusuhan, hanya saja diceritakan lewat montase animasi yang tampak begitu aneh dan enggak cocok sama tone cerita, sehingga aku curiga jangan-jangan bagian opening animasi ini ditambahkan begitu film sudah selesai digarap, karena banyak orang yang gak ngerti pada apa yang terjadi.

 

 

 

 

Para aktor bermain maksimal, enggak gampang memainkan peran yang begitu fisikal sekaligus subtil secara bersamaan. Film ini tidak membuat mereka seperti bintang, mereka benar-benar seperti peran yang mereka mainkan. Pun, ceritanya sukses untuk tidak tampil teatrikal. Sedikit kepanjangan sih, durasi ini terasa ketika kita serasa terlambat masuk ke bagian motel yang sesungguhnya jadi kejadian utama. Film terlalu asik bercerita tentang kerusuhan, memperkenalkan karakter, namun secara keseluruhan dia ingin memperlihatkan peristiwa ‘sebenarnya’ di motel demi keadilan, dan setelah ini pun film terasa ngedrag dengan adegan resolusi di pengadilan yang tidak benar-benar menutup arc dari tokoh-tokohnya. Ada banyak kekerasan, hal-hal rasis, dan sikap-sikap manusia yang bakal bikin kita geram sendiri saat menonton. Inilah yang membuat film terasa menyayat hati, dan pada puncaknya menjadi lebih seram daripada film horor.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of gold stars for DETROIT.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

PARTIKELIR Review

“..to be independent when you haven’t got a thing… ”

 

 

Jika di bioskop luar sana trennya adalah komedian bikin film horor mainstream yang berisi, maka komedian di mari juga lagi demen-demennya ngegarap film, tapi ya enggak berani jauh-jauh dulu, mulailah dari apa yang kita bisa, dan aku juga actually gak masalah sama komedian seperti Raditya Dika, Ernest Prakasa, Soleh Solihun, dan sekarang menyusul Pandji Pragiwaksono bikin film komedi – itung-itung nambah keragaman sudut pandang film Indonesia juga, ya gak.

Dalam Partikelir, Pandji mengangkat genre yang jarang kita santap di meja makan perfilman tanah air. Komedi aksi berwarna buddy cop, dengan tokoh utama seorang yang terobsesi untuk menjadi detektif, meski dia enggak benar-benar punya pengalaman menangani dunia kriminal. Adri (ambisi Pandji tercermin jelas dari cerita dan tokoh ini) biasanya memang menangani kasus-kasus seputar perceraian, perselingkuhan, ya masalah sepele rumah tangga orang lah. Padahal Adri ini sudah siap lahir batin loh, menangani kasus yang beneran gede. Ketika Tiara (Aurelie Moeremans tidak diberikan banyak untuk unjuk kebolehan) datang memintanya menyelidiki misteri yang berhubungan dengan ayahnya, big break yang dinanti Adri pun akhirnya tiba. Kasus Tiara ternyata berkembang menjadi masalah yang serius, yang membawa Adri berundercover menyelidiki Lembaga Narkotika Nusantara. Meski memang sebenarnya Adri enggak bego-bego amat, namun tetap saja kasus itu terlalu gede untuk tangannya. Maka, Adri pun meminta bantuan dari teman partikelir seperjuangannya saat SMA dulu. Tapi enggak semudah itu, karena Jaka (tantangan akting terbesar ada di pundak Deva Mahenra) yang sekarang sudah berumahtangga, sudah menanggalkan mimpi-mimpi petualangan mereka, menggantinya dengan problematika kehidupan yang sungguh serius. Adri dan Jaka sudah begitu berbeda, Jaka bekerja di perusahaan pengacara, sedangkan  Adri nyebut diri Detektif Swasta aja dia ogah, musti partikelir – karena dia bukan milik siapa-siapa.

petualangan tercyduk dan mencyduk

 

Terutama sekali, film ini adalah cerita detektif. Akan ada banyak clue yang ditanam sedari bagian-bagian awal sehubungan dengan tokoh-tokohnya.Sesungguhnya ini adalah cara yang berani dalam membuild up tokoh.Film tidak memberikan informasi lebih selain apa yang kita lihat, yang mana adalah apa yang Adri lihat. Beberapa dari mereka tampak tidak penting, tampak seperti film lupa membahas, ataupun malah tidak membahas karakterisasi sama sekali. Untuk kemudian, film membeberkan detil-detil kecil yang dikembangkan menjadi depth pada penokohan. Dan, elemen dari tokoh-tokoh tersebut melingkar menutup cerita di akhir. Twist film ini bekerja dengan cukup baik, like, aku tidak mengira film bermain di ranah yang lebih dalam dari kelihatannya, but it eventually does.

Karena film menggunakan komedi sebagai red herring, sebagai pengalih perhatian. Dan komedi di sini banyak sekali, and it’s a dumb-type of comedy too. Jadi, bayangkan saja, kita duduk di sana nyengir-nyengir awkward ngelihat lelucon tentang pentil yang diulang-ulang. Maksudku, film ini benar-benar meminta kita untuk menahan diri enggak ngeloyor keluar bioskop. Ada begitu banyak lelucon yang gajelas poinnya ke mana, yang mencegah kita untuk peduli sama mereka, untuk peduli sama kasus yang ditangani berhasil atau enggak. Dalam film ini, Adri punya tampang yang enggak meyakinkan, dia bahkan diledek oleh satpam perihal penampilannya, namun toh dia bisa melakukan kerja-kerja penyelidikan, meski memang enggak segagah detektif beneran. Begitulah cerminan film ini; komedi konyol yang penuh lucu-lucuan aneh yang enggak semuanya bekerja baik, tapi dia masih mampu untuk punya hati – meskipun bagi film ini menampakkan hati itu adalah perjuangan yang amat sangat berat.

Kita enggak bisa menebak siapa yang memakai narkoba. Film memberikan asumsi pelawak dan entertainer adalah yang pertama bisa kita curigai, lantaran mereka adalah golongan yang paling sering stress. Dan itupun sebenarnya kembali menegaskan bahwa apa yang tertawa di luar bisa saja sebenarnya tertekan di dalam. Kita tidak akan pernah bisa menilai seseorang dengan fair hanya dari luarnya. Tapi kita bisa melihat pertanda yang timbul di permukaan, karena semua hal berkaitan dengan karakter seseorang, apa yang ia alami-yang ia rasakan, dan semua itu ada tandanya, jika kita benar-benar mau memperhatikan.

 

Film ini juga punya adat jelek untuk menjelaskan lelucon yang mereka sampaikan, yang mana adalah tanda-tanda kegagalan komedi. Sebab dalam dunia komedi salah satu peraturan teratasnya yaitu komedi yang baik adalah komedi yang tidak perlu untuk dijelaskan. It’s either that; komedi film ini memang sedikit kurang baik, atau karena mereka enggak percaya penonton dapat mengerti punchline ataupun inti lelucon yang mereka sampaikan. Yang mana mengantarkan kita kepada pertanda lain bahwa film ini menganggap dirinya terlalu pinter untuk penonton. Aku pikir alasannya lebih kepada yang nomer dua, sih. Karena memang film ini terasa kurang bersenang-senang. Mereka terlalu serius dalam bercanda. Nah lo, gimana coba

Adegan tebak-tebakannya terlihat aneh, gak kayak Goku pas lagi berusaha membuat King Kai tertawa dengan tebakan

 

Pada saat menggarap bagian aksilah, film ini jatuh dalam lembah ketakkompetenan. Kelihatan sekali film enggak tahu cara menangani adegan aksi;  bukan hanya pukul-pukulan, tapi juga tembak-tembakan. Aku bukan bicara tentang aksi yang benar-benar kayak The Raid dengan koreografi dan pergerakan kamera yang gimana, karena toh Partikelir adalah film komedi. Tapi ayo dong, The Nice Guys (2016) juga komedi aksi, dan mereka masih merasa perlu untuk menangani adegan aksi yang gak dimainkan demi komedi semata. Jurus andelan film dalam membuat adegan aksi yang lucu adalah menggunakan musik latar yang gak nyambung sama adegan. Lagi berantem, malah lagu cinta. Lagi kejar-kejaran, malah lagu ketahuan balik ama mantan. Kita mengerti kepentingannya adalah supaya lucu, tapi taktik ini tidak bekerja. Karena editingnya tidak mampu mengakomodasi kepentingan lucu ini dengan efektif. Film tidak melakukan apa-apa demi membentrokkan mereka. Malah terasa seperti kita nonton film sambil dengerin lagu, rasanya tidak paralel; enggak ngefek sama bikin lucu atau apa. Tapi aku akui, meletakkan salah satu adegan demikian di sepuluh menit pertama ternyata mampu melandaskan tone cerita keseluruhan dengan baik, karena membawa kita ke pemahaman elemen-elemen film ini ntar memang gak nyambung. Komedi dalam film ini hanya rangkaian adegan-adegan konyol untuk memancing kelucuan, yang dicampur aduk gitu aja, tanpa benar-benar ada ikatan emosi di baliknya.

Begitupun dengan penggunaan referensi film-film atau pop-culture lain. Cerita akan memention Lupus, The Raid, film Mau Jadi Apa?, Black Panther, dan beberapa referensi yang lain, yang hanya diniatkan supaya kita melek “wah itu!” dan get excited untuk sementara, tanpa benar-benar ada efek jangka panjang ataupun bobot emosi ataupun keparalelan dengan perjalanan dari tokohnya. Ini adalah cara gampangan untuk membuat seolah film membuat kita feel good. Tapi actually enggak ada apa-apa di baliknya.

Sebenarnya memang sandungan film ini berakar kepada penguasaan teknis. Partikelir sebagai sebuah media penceritaan terasa sangat basic, kalo gak mau dibilang kurang profesional. Penulisannya agak berbelit, tokoh utama kita kurang jelas mau dan butuhnya apa, dan tau-tau dia terlibat hubungan asmara. Film terasa berjuang untuk mendeliver cerita komedi, detektif, drama hubungan pertemanan, dengan mulus. Kualitas suara juga sedikit goyah. Ada adegan ketika Adri nguping dengan alat buatannya, kita hanya samar- samar mendengar apa yang sedang berusaha ia dengar, we barely even heard kata ‘rantau’, padahal semestinya apa yang dicuri dengar itu adalah informasi yang penting. Dan ini membuat kita seperti tidak dilibatkan dalam cerita; untuk sesaat, Adri mengetahui apa yang tidak kita tahu, yang berujung kepada kita susah peduli sama apa yang sedang berusaha ia selesaikan.

 

 

 

Susah untuk mengenali apa yang hendak dicapai oleh Pandji dalam filmnya ini. Apakah ia ingin menyinggung kasus narkoba, apakah ia ingin menggali drama persahabatan, aku bahkan enggak yakin film ini ingin bersenang-senang lewat komedi. Tidak ada dari semua itu yang terasa mendominasi. Film ini hanya terasa seperti berbagai elemen yang digabung dan disatukan buat lucu-lucuan. Kepedulian kita datang ketika film sudah memasuki babak akhir. Segar apa yang dibawa oleh film ini bagi genre perfilman Indonesia, hanya saja pencapaiannya begitu minimal sehingga untuk menjadi memorable saja susah.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for PARTIKELIR.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

MOLLY’S GAME Review

“The most dangerous phrase in the English language is ‘be a man’”

 

 

Pernikahan adalah jebakan. Bermasyarakat adalah lelucon. Dan orang-orang? Molly Bloom enggak percaya sama orang. Tadinya Molly sendiri enggak mengerti, kenapa dia tumbuh sebagai seorang remaja yang begitu sinis. Sampai kejadian yang mengubah hidupnya jungkir balik itu terjadi. Molly tadinya sudah hampir menjuarai pertandingan ski. Sejak kecil dia sudah berlatih sehingga sukses mencapai kelas profesional. Molly bertanding untuk olimpiade, padahal dia punya masalah yang bukan main-main dengan tulang belakangnya. Eventually, Molly mengalami cedera serius. Molly selamat dari kematian, namun karirnya sebagai atlit ski profesional tamat sudah. Dia dapat kesempatan untuk memikirkan kembali seluruh hidupnya dan entah bagaimana, wanita ini jadi bekerja sebagai host permainan poker underground. Karena pekerjaannya tersebut, sekarang Molly dikenai tuduhan kriminal. Dan kemudian dia menulis buku yang isinya mengekpos dunia selebriti dan poker gelap yang ia geluti. Dan ini adalah kisah yang sangat aneh. Dan aku sengaja menyebut hal ini terakhir sebagai kejutan; kisah Molly Bloom ini adalah kisah nyata.

Mengepalai kisah hidup yang benar-benar aneh, penulis Aaron Sorkin membuktikan kebolehannya sebagai sutradara untuk pertama kali. Dia mengarahkan cerita dengan benar-benar kompeten. Kita akan dibawa mengikuti Molly dengan penceritaan yang detil. Film ini berisik oleh sekuen-sekuen dialog. Sebagian besar di antaranya adalah narasi voice-over oleh tokoh Molly. Biasanya penceritaan begini akan menurunkan nilai film, karena kita diberitahu poin cerita alih-alih diperlihatkan, namun Sorkin menemukan cara untuk memanfaatkan hal tersebut ke dalam cerita. Narasi voice-over dalam film ini tidak terasa seperti menyuapi kita dengan informasi sehingga menjadi membosankan. Malah, dua-setengah jam itu enggak terasa lantaran narasinya menarik. Beberapa momen memang tidak tampak menambah banyak buat cerita, melainkan justru memperlambat pace, tapi karena ditangani dengan memikatlah kita gak akan benar-benar mempermasalahkannya.

Terkadang, narasi membutuhkan banyak ekposisi, namun Sorkin melakukannya dengan cepat, dan dia memastikan kita benar-benar butuh informasi yang ia beberkan. Dalam adegan bermain poker, misalnya. Kita didudukkan pada tempat duduk yang sama dengan Molly. Dia mengobservasi permainan, kita diperkenalkan sama istilah-istilah permainan yang mungkin enggak semua penonton mengerti. Kemudian untuk adegan permainan selanjutnya kita tiba-tiba sudah mengerti psikologi di balik permainan tersebut, kita paham rintangan pada langkah yang diambil para tokoh yang sedang bermain poker. Di mana Molly pada poin ini? Dia sudah menjadi kepala penyelenggara permainan. Begitu tangkasnya alur mengalir, pace yang disajikan amat thrilling sehingga kita gak sadar sudah terlena mengikutinya. I mean, sepertinya aman untuk mengatakan penceritaan Sorkin membuat kita kecanduan sama kehidupan Molly yang luar biasa.

serius deh, cerita kayak gini sama normalnya dengan setiap kali main Poker kita dapat full house

 

Jessica Chastain pernah bermain dalam film yang buruk, namun sebagai aktris, Chastain tidak bisa menjadi sebuah aktor yang buruk – apapun perannya. Paling enggak, aku belum pernah nonton film yang jelek karena akting Chastain. Dalam Molly’s Game, dia bermain dengan sangat terrific. Karakternya sendiri sudah menarik sedari awal, dan bagaimana Chastain menghidupkannya membuat Molly mekar berkembang menjadi peran yang hebat. Kalo ini sedang ngulas gulat, maka aku akan bilang Chastain punya mic skill yang dahsyat. Maksudku, setiap kalimat yang ia ucapkan terasa punya bobot, lengkap dengan emosi yang meyakinkan. Begitu compellingnya sehingga aku merasa kalolah dia menyeramahiku, Chastain’s Molly bisa menyebut semua pilihan-pilihan salah yang sudah kuambil sepanjang hidupku, dan aku akan melaksanakan semua nasehatnya tanpa argumen. That’s how convincing she was.

Sosok pahlawan bagi kebanyakan anak perempuan biasanya adalah bapaknya. Tapi bukan buat Molly. Sedari kecil, Molly enggak punya pahlawan, enggak punya tokoh panutan. Malahan, bisnis poker illegal yang ia lakukan, tanpa ia sadari, adalah perwujudan perlawanannya terhadap sang ayah. Sebagai cara bagi Molly untuk punya kontrol di atas pria-pria yang lebih berdaya.

 

Sorkin mengambil sebuah pertaruhan yang besar ketika ia mengembangkan kisah hidup Molly Bloom sebagai naskah film. Sebab ini adalah film yang stake ceritanya terlihat ngambang, gak jelas. Padahal setiap film harus punya stake yang terang sehingga penonton dapat terkonek dan peduli dengan protagonisnya. Materi yang dipunya Sorkin adalah seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya. Tragedi di olimpiade itu adalah titik balik; Molly sudah kehilangan segalanya di awal cerita. Dan sebagaimana pepatah lama bilang, “saat kau ada di dasar, jalan yang ada hanya ke atas”. Tantangan dan resiko yang diambil oleh Sorkin sebagai penulis merangkap sutradara adalah dia harus memutar caranya gimana supaya kita peduli apakah nanti Molly bisa bebas atau hidup dalam penjara, sementara kita tahu dipenjara atau enggak sama sekali udah gak banyak bedanya bagi Molly. Bukan hidupnya, melainkan hanya reputasi yang jatoh kalo dia dipenjara. Jadi, perjalanan dalam film ini dibuat Sorkin sebagai somewhat psikologikal, perjalanan ke dalam diri yang dilakukan oleh Molly – dia harus mencari tahu pijakan moralnya sendiri, mencari tahu apa yang menyebabkan dirinya begitu tertarik menyambung hidup sebagai seorang host poker illegal.

Poker dan film punya satu kesamaan; ada taruhannya.

 

Kita akan eventually mengetahui lapisan terdalam yang memotivasi Molly. Tidak peduli betapa powerful dan berkuasanya pria di sekitar Molly, dirinya selalu bisa untuk mengambil kendali. Molly pinter, tegas, dan sudah terlatih untuk tidak terintimidasi.  Tentu, dia toh terscrew up juga oleh pria – dalam film kita melihat seorang seleb yang tadinya langganan permainan poker Molly malah ‘mengkhianati’ dengan almost literally pindah ke meja lain, tetapi Molly selalu siap berdiri dengan pinggangnya yang cedera. Actually, bagian akhir film yang mengungkap penjelasan ini, tentang keunggulan dan kelemahan karakter Molly, adalah bagian yang menurutku malah menyepelekan nilai penceritaan yang sudah dibangun oleh film di awal. Juga menurunkan kadar temanya yang soal bahwa wanita enggak kalah dari laki-laki.

Adegan yang dimaksud itu adalah ketika Molly yang sedang galau oleh banyaknya tuduhan kriminal dan sebagainya, berjalan gitu aja ke ring ice skating. Dia memutuskan untuk bermain sebentar, menyewa sepatu skate dengan menggadai sarung tangan Chanel, dan ketika dia bermain ice skating, seseorang memanggil namanya. “Molly!” Ia terjatuh. Di luar ring, ujug-ujug ada ayahnya. Adegan ini begitu konyol buatku, tadinya aku menyangka sosok si ayah itu hanya imajinasi Molly. Ayah (Kevin Costner memainkan seorang ayah sekaligus psikolog yang disiplin) selama ini bersikap tegas dalam mendidik dan melatih Molly. Beliau adalah tipe ayah yang akan kecewa padamu, meskipun kau sudah jadi juara kelas, hanya untuk terus memompa semangat juangmu. Jadi kupikir akan sangat emosional sekali bagi Molly mengingat sang ayah di tempat yang sudah lama ia tinggalkan, akan sangat masuk akal jika momen ini akan jadi momen penyadaran bagi Molly. Tapi ternyata film malah membuat si Ayah benar-benar ada di sana; faktor kebetulan berusaha mereka tutupi dengan menyebut Ayah tahu Molly ada di mana dari Ibunya, meskipun asumsi yang kita dapat dari konteks adegan sebelumnya adalah Molly enggak pernah exactly mutusin akan ke ice skate – dia hanya berjalan ke arah sana. Ayahlah yang mengungkapkan apa yang selama ini jadi kelemahan Molly, apa yang membuatnya getol bikin poker gelap, darimana motivasi Molly berasal. Sesungguhnya ini semua berlawanan dengan aspek karakter dan cerita yang sudah dibangun, kenapa Molly yang mandiri dan pintar harus dijelaskan tentang dirinya sendiri oleh pria yang selama ini ia antagoniskan?

Bahkan lebih aneh lagi jika kita sambungkan konteksnya dengan adegan sebelum ice skating itu berlangsung. Sebuah adegan yang merupakan titik balik dari hubungan Molly dengan pengacaranya. Di adegan ini Idris Elba melakukan monolog menakjubkan tentang bagaimana selama ini dia salah menilai Molly. Bahwa Molly lebih dari sekedar “Poker Princess”. Basically, Elba bilang kepada kita semua bahwa inilah saatnya kita sadar tentang kebaikan Molly dan segera mendukungnya. Hanya karena dia membuat kesalahan, bukan berarti Molly adalah penjahat. Jadi, aku mengerti supaya arc Molly beres, dia kudu bisa melihat koneksi dirinya dengan sang ayah. Hanya saja, membungkus arc yang demikian dengan dia mendapat penjelasan dari si ayah benar-benar melemahkan karakter Molly sendiri.

Semua pemain poker dalam film ini adalah pria-pria kaya, terkenal, punya jabatan. Dan kebanyakan mereka jatuh bangkrut akibat ulah sendiri. Molly yang dibesarkan supaya setangguh laki-laki kecanduan untuk mengontrol mereka, dan pada gilirannya Molly juga dijatuhkan oleh pria-pria yang bahkan nama mereka enggak berani diungkap oleh Molly dalam bukunya. Molly bermain sebagai pria jantan, tapi permainan itu bubar dengan cepat. Film ini mengeksplorasi tentang betapa kemaskulinan dapat menjadi racun bukan hanya kepada pria, namun juga kepada wanita. Kepada society. Karena bagaimanapun juga, pria dan wanita tetap saling bergantung satu sama lain.

 

 

 

 

Debut sutradaranya ini membuktikan kekompetenan Aaron Sorkin sebagai pengarah cerita. Akan tetapi, penampilan akting, dialog yang memikat, dan fakta bahwa ini adalah kisah nyatalah yang membuatnya menjadi film yang spesial. Salah satu penulisan yang paling menarik di tahun 2017. Pacing film bisa terasa sangat lambat, pilihan yang diambil untuk menyelesaikan plotnya pun enggak benar-benar kartu as. Tapi yang diceritakan film ini sebenarnya penting untuk kita saksikan.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10  for MOLLY’S GAME.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017