SEKALA NISKALA Review

“Reality of things is hidden in the realm of the unseen.”

 

 

Tuhan menciptakan setiap hal berpasangan-pasangan agar dunia seimbang. Sekilas, memang tampaknya berujung pada spektrum yang berbeda – pada kubu positif dan negatif; baik dan jahat, sehat dan sakit. Namun sejatinya dua hal yang berseberangan berfungsi bersama membentuk sebuah harmoni.  Sebab kedua sisi tersebut sejatinya ekual dan sama pentingnya. Ketika sisi yang satu tidak bisa ada tanpa sisi satunya. Seperti ada laki-laki, maka ada perempuan. Setelah siang, maka akan ada malam. Ada kenyataan dan juga ada impian ketika kita bangun dan, pada gilirannya, tertidur.

Bayangkan permainan jungkat-jungkit yang banyak dijumpai di sekolahan balita baru gede alias TK. Yea, of course, mungkin kalian punya pengalaman buruk naik ini saat teman kalian di ujung yang satunya mendadak pergi begitu kalian masih di atas, sehingga kalian jatuh turun berdebam keras. Poinku adalah, permainan tersebut tidak bisa dimainkan dengan aman jika kedua ujungnya tidak berisi orang. Demikianlah juga cara kerja dunia, keseimbangan tidak akan tercapai jika tidak ada yang di atas dan di bawah di saat bersamaan. Jika dualitas itu tidak tercapai, maka chaoslah yang akan terjadi

ada yang terlihat, dan ada yang John Cena

 

The whole concept of duality inilah yang diceritakan oleh Sekala Niskala dalam simbolisasi dan penggambaran yang sungguh-sungguh tidak biasa. Hampir bikin pipis di celana, malah. Lantaran begitu surreal dan creepynya pengadeganan dan cerita yang digunakan. Dan yang membuat menonton film ini menjadi sebuah pengalaman yang bikin merinding, di atas desain suara dan sinematografi yang mistis banget, adalah betapa tipisnya garis antara realita dengan hal-hal surealis itu ditampakkan. Film tidak pernah repot-repot menjelaskan perkara yang sedang terjadi, apakah yang sedang kita lihat itu hanya produk imajiner di dalam kepala tokohnya, ataukah memang ada unsur mistis di sana. Namun tidak sekalipun kita dibuat kebingungan. Kita akan merasa tidak yakin apa yang sedang terjadi, dan dari sinilah ketertarikan untuk menyaksikan datang tanpa ada akhirnya.

Berlatar tempat di sebuah daerah kecil di Bali, kita akan memanggil protagonis kepada seorang anak cewek yang usianya tak lebih dari sepuluh tahun. Mereprentasikan perbedaan-yang-merupakan-satu-keutuhan, Tantri ini punya saudara kembar. Cowok, namanya Tantra. Sepertinya bukan cuma di Gravity Falls aja kembar buncing (kembar beda kelamin) dianggap menarik hal gaib dan petaka. Tantra mendadak sakit keras. Dia tidak bisa merespon, seluruh inderanya sudah lupa bagaimana caranya bekerja. Tidak banyak harapan bagi Tantra selain menunggu kematian datang menjemput. Menginggalkan Tantri dalam nestapa, karena bukan saja dia kehilangan teman bermain, dia juga kehilangan sosok ‘yang’ yang melengkapi ‘yin’nya. Tidak ada konflik besar dalam cerita film ini. Delapan-puluh-lima-menitan  yang kita saksikan adalah momen-momen ketika Tantra harus berurusan dengan kegelisahan dan kecemasan yang coba ia tangkal. Di sinilah penceritaan film menunjukkan kemagisannya. Tantri berusaha untuk terus bersama dengan Tantra dalam berbagai adegan yang bikin merinding yang sengaja banget dibikin kabur entah itu mimpi atau perwujudan dari hubungan batin antara Tantri dan Tantra sebagai anak kembar.

Sutradara Kamila Andini punya keterampilan tak biasa dalam menghadirkan emosi lewat berbagai hal subtil dan perlambangan. Menyaksikan film ini akan seperti menonton film  bisu yang terkadang bisa menjadi pemandangan yang sungguh pilu karena keindahannya. Bulan tampak mengambil peran penting dalam cerita. Dimulai dengan Tantra yang mendongeng lewat media bayangan perihal bagaimana dirinya sama seperti rembulan yang perlahan menghilang sinarnya, hingga ke adegan paling cantik di film ini saat Tantri menari di bawah bulan purnama, yang sepertinya menyimbolkan Tantri sedang menari bersama Tantra. In fact, menurutku bulan bisa menjadi kunci untuk menebak apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

I do have a theory soal ini; kupikir film ingin melandaskan bahwa setiap kemunculan Tantra dan hal-hal ganjil yang terjadi di malam hari adalah benar kedua tokoh kita sedang berkomunikasi lewat hubungan khusus seperti telepati mereka sebagai anak kembar, you know, anak kembar dipercaya punya ikatan tak terjelaskan di mana yang satu akan bisa mengetahui apa yang dipikirkan oleh yang lain. Pertemuan kembali Tantri dengan Tantra pertama kali terjadi di malam hari. Barulah semakin cerita berjalan, kita mulai melihat Tantra ‘aktif’ di siang hari – mereka bermain ayam-ayaman dalam tarian lain yang sama creepynya – yang pada titik ini Tantra semakin mencemaskan potensi dia berpisah; jadi mungkin semua kejadian di siang hari yang melibatkan Tantra adalah hasil kreasi kepala Tantri belaka.

ohiya, aku lupa bilang bahwa mereka juga senantiasa ditemani oleh anak-anak kecil berpakaian putih yang mengepak-ngepak dan berguling-guling kayak janin

 

Selain bulan, telur juga menjadi relik kunci yang mengantarkan kita lebih jauh ke dalam ranah di mana fantasi dan psikologi beradu. Betapa halusnya film membuat adegan sebiasa dua anak yang makan telur mata sapi, dengan Tantri hanya memakan putihnya, dan memberikan bagian kuning telur untuk Tantra. Kemudian kamera lingering di depan kedua piring makan mereka, sedikit terlalu lama, untuk memastikan kita menangkap imaji dua entitas yang mestinya saling melengkapi. Kemudian telur ini mengantarkan kita ke satu lagi adegan surealis yang bakal lama terngiang di kepalaku; yakni saat Tantri makan telur rebus, dan dengan ajaibnya dia tidak menemukan bagian kuning telur. Momen Tantri mengubek-ngubek telur tersebut hingga menjadi berantakan, selain sangat powerful dan disturbing, sekaligus menjadi pertanda buat kita bahwa Tantri sudah kehilangan bagian dari dirinya, Tantra – kuning dari putih utuhnya telur eksistensi mereka.

Unsur kebudayaan Bali yang menganggap hal-hal surreal sebagai sebuah eksistensi menguar kuat lewat tari-tarian dan kostum yang dikenakan oleh para tokoh, yang tentu saja dianyam dengan benang-benang fantasi. Membuat film ini semakin tampak aneh namun sangat menghipnotis. Penampilan akting para pemain akan membuat kita teringat kepada pertunjukan teater panggung yang penuh dengan gestur-gestur dan dialog yang tidak tembak-langsung. Tokoh anak-anak dalam film ini, terutama pemeran Tantri – Ni Kadek Thaly Titi Kasih – yang sangat menggetarkan jiwa. Aku gak bisa pastikan apakah ini dari arahan atau memang insting natural dari Kadek karena aku gak berada di sana saat mereka syuting, tapi timing Tantri terasa sangat real dan sungguh precise. Pace film ini sengaja dibikin sangat lambat, adegan-adegan yang kita lihat kadang tampak tak banyak faedahnya seperti kita melihat Tantri dan ibunya berjalan masuk rumah sakit, dan kamera menyorot langkah perlahan mereka. Setiap kali kita dipantekkan ke sosok Tantri, entah itu dia turun dari mobil, dia menari, ataupun dia bertingkah kayak hewan yang ia tiru, Tantri bergerak di zonanya sendiri, lambatnya benar-benar tampak lebih dan actually memberi banyak bobot kepada penceritaan karakternya. Aku juga suka sama penampilan Ayu Laksmi sebagai Ibu dari si kembar. Aku pikir cukup menggelikan perannya sebagai tokoh hantu di Pengabdi Setan (2017) mendapat penghargaan. Di Sekala Niskala ini kita baru bisa melihat kepiawaiannya bermain peran dengan tokoh yang benar melakukan sesuatu;  Tokohnya punya cara ‘naas’ tersendiri dalam mengekspresikan kehilangan.

Senada dengan The Breadwinner (2017), film ini juga bicara tentang menemukan kedamaian dengan menyelam ke dalam kepala; dengan berusaha melihat hal-hal yang tak terlihat demi mencari realita yang kita sendiri diri harus diyakinkan kepadanya.

 

 

 

Interpretasi yang sangat haunting dari bagaimana benak anak kecil bekerja dalam menghadapi kehilangan. Dalam diamnya, film ini meriah oleh bahasa visual dan pemandangan ganjil nan subtil – yang bukan efek komputer! – dan memang benar dirinya bekerja terbaik saat melakukan itu. Desain produksi dan arahan membuat film ini luar biasa unik. Sebaliknya dalam dialog, kadang film ini masih cenderung untuk menjelaskan hal yang tak perlu dibeberkan. Pace yang sangat lambat juga tentunya jadi hambatan buat penonton kasual menikmati film ini, let alone berkontemplasi dengan kedalaman ceritanya. Sama seperti judulnya, film ini turut bermain dengan hal-hal yang tak terlihat, yang menjadikan penceritaannya begitu kuat. Tapi beberapa aspek yang terlihat oleh banyak orang, could actually memberatkan buat dirinya sendiri. Setelah mengatakan itu, aku tetap menyarankan untuk segera menonton ini jika kalian ingin menyaksikan sesuatu yang mungkin tidak bakal terlihat lagi yang serupa dengan ini dalam waktu dekat.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SEKALA NISKALA.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

TOMB RAIDER Review

“You need to be independent in order to survive in the world.”

 

 

Lara tidak seperti Croft yang lain. Dalam film ini, kalimat tersebut merujuk ke dalam konteks bahwa tokoh utama kita, Lara Croft, berbeda dari ayahnya; seorang bisnisman yang punya perusahaan besar.  Yang bagi Lara, ayahnya adalah sosok orang sibuk yang sering bepergian, sehingga meninggalkan Lara  seorang diri. Jadi, Lara enggak mau semua itu. Dia tidak tinggal di rumah yang besar. Dia bekerja sebagai kurir makanan bersepeda.

Kalimat ‘Lara tidak seperti Croft yang lain’ tersebut, however, juga bekerja di dalam konteks bahwasanya di dalam versi FILM REBOOT YANG DIADAPTASI DARI REBOOT VIDEO GAME ini, Lara Croft yang kita jumpai tidak sama dengan Lara Croft yang ikonik berbibir tebal seksi, berkepang panjang hingga ke pinggulnya yang sangat ramping, sementara dadanya, well yea, sudah jadi joke umum di kalangan gamer, Lara di PSX punya upper body yang begitu ‘menonjol’ sehingga grafik yang dahulu masih terbatas malah membuatnya tampak seperti segitiga alih-alih membundar.  Secara sederhana, kita bisa lihat masalahnya ketika para fans langsung membandingkan antara Angelina Jolie yang berperan di Lara Croft: Tomb Raider (2001) dengan aktris Alicia Vikander di film ini. Selain masalah fisik, Lara kali ini juga punya sepak terjang yang berbeda – perbedaaan gedenya adalah Lara tampak sangat vulnerable. Meski sisi adventurous, kecerdasan, ketertarikannya sama kode dan  tempat tersembunyi cewek ini udah kelihatan bahkan dari saat dirinya masih bocah, namun Lara Croft bukanlah jagoan. Setidaknya belum.

Dia pasti jago main Pandora Experience

 

Cerita petualangan aksi Tomb Raider ini memang bertindak sebagai origin karena pada intinya kita melihat siapa Lara Croft sebelum dia mulai menjelajahi makam dan kuil-kuil kuno penuh jebakan dan tak jarang kutukan mistis untuk mencari benda-benda peninggalan yang berkekuatan misterius. Lara Croft di film ini terlihat sangat vulnerable, dan Alicia Vikander benar-benar hebat memerankan setiap emosi yang harus dia jabanin. Aksennya juga pas, terdengar menguar ketegasan sekaligus sedikit rebellious. Film berhasil menyeimbangkan eksplorasi yang dilakukan oleh Lara, baik itu eksplorasi medan beneran maupun pencarian ke dalam dirinya, dengan aksi-aksi berlari, pengalaman  hidup-mati, yang mengdegup jantung. Sense of discovery yang disampaikan terasa lumayan kuat, karena terkadang kita diberikan kesempatan untuk memecahkan teka-teki bareng Lara. Misteri kebudayaan yang melapisi cerita film juga menarik. Kisah Legenda Himiko, yang supposedly adalah antagonis dalam film, dibuat sedikit berbeda dengan versi video game demi melandaskan keparalelan dengan salah satu layer perjalanan Lara Croft.

Saat film dimulai, kita sudah melihat Lara babak belur. Dia kalah saat latih tanding martial arts. Dia gagal dapet duit hadiah di permainan kejar-kejaran bersepeda. Ranselnya bahkan hampir dibawa kabur oleh berandalan. Lara memang sudah sedikit belajar tentang pentingnya mempertahankan diri – dia berusaha untuk hidup mandiri. Tapi cewek ini punya satu masalah yang membayangi setiap geraknya. Hati pada cerita ini adalah pada bagaimana Lara sangat menyintai sang ayah, sosok yang baginya sekaligus sebagai seorang ibu, walaupun ayahnya sering pergi-pergi dan Lara sendiri belum tahu apa yang ‘pekerjaan’ ayah yang sebenarnya. Aku suka gimana film membuat Lara tidak mau menandatangani surat wasiat dari si ayah, sebab kita tahu bahwa alasannya tidak semata karena Lara memilih hidup sederhana. Melainkan karena dengan menandatangani surat itu, Lara berarti sudah mengamini ayahnya yang hilang sudah meninggal.

Dalam penceritaan video game (yea, video game juga punya cerita layaknya tontonan sinematis) ada satu aturan baku standar yang udah jadi semacam pakem yang diikuti oleh banyak cerita, yakni: Jikalau tokoh utama punya sanak yang diceritakan sudah meninggal, tapi kita sebagai tokoh utama enggak pernah melihat mayatnya, maka sanak keluarga tersebut pastilah sebenarnya masih hidup. Dalam film juga sebenarnya elemen cerita begini sering dipakai, namun Tomb Raider menggunakan trope ini bukan tanpa sebab. Inilah yang menjadi motivasi perjalanan Lara – bagaimana apa yang ia inginkan akan berbuah menjadi hal yang tak ia inginkan. Lara butuh untuk melihat ayahnya masih hidup, untuk kemudian direnggut lagi darinya demi menyadari apa yang ia butuhkan; kemandirian sesungguhnya dari seorang penyintas sejati, her true self.

Kemampuan untuk mandiri tidak dimiliki oleh semua orang. Kadang tanpa disadari, kita bergantung terlalu banyak kepada orang lain, lebih dari yang kita perlukan. Di penghujung hari,  toh,  kita hanya akan punya diri sendiri. Kita perlu untuk mandiri demi bertahan hidup, dalam hal apapun. Adalah sangat penting untuk kita bisa mengambil keputusan, bisa mengambil tindakan, tanpa perlu selalu kompromi dengan orang lain. Betapa sangat berdayanya mengetahui bahwa kita mengendalikan hidup dan pilihan sendiri. Apalagi jika pilihannya adalah sepenting berkorban atau tidak.

 

Totally jalannya enggak lagi kebentur-bentur dinding kayak di game originalnya

 

Mengelak dari perangkap cerita origin yang biasanya menghabiskan satu film untuk mengubah karakter menjadi yang kita kenal, Tomb Raider hanya butuh satu jam kurang untuk kita dapat melihat glimpse dari Lara yang sebenarnya. Sangat empowering melihat Lara Croft yang tadinya seperti underdog, yang berani namun senantiasa ragu-ragu di dalam sehingga selalu gagal, menjadi semakin pede ketika dia mendaratkan kakinya di pulau tak berpenghuni itu. Alih-alih rubuh oleh bertubi-tubinya benturan fisik dan mental, Lara menjadi semakin kuat oleh setiap tantangan. Turning point bagi Lara adalah ketika dia harus mengalahkan – dia harus membunuh satu orang – yang mana adalah Lara’s first kill di seri ini, karena di titik itu dia mulai mengerti bahwa dia harus berjuang sekuat itu untuk bertahan hidup. Sendiri. Film menggarap adegan tersebut dengan lumayan menyentuh, mereka mengambil waktu untuk memperlihatkan ekspresi di wajah Lara, yang tentu saja dimainkan sangat meyakinkan oleh Vikander. It was a strong moment. Untuk kemudian diikuti dengan Lara bertemu dengan orang yang selama ini dicarinya, yang membuat inner-nya semakin berkonflik lagi lantaran dia kembali punya keinginan untuk menjadi putri kecil. Film membuat keputusan bagus untuk menampakkan momen-momen karakter seperti begini, aliran pengembangannya – naik turun karakter – dijaga sehingga menarik. Di bagian pacing-lah film ini sedikit terlalu kedodoran.

Cerita berlalu dengan cepat, antara adegan aksi satu dengan adegan aksi berikutnya, film akan mengerem dengan development karakter dan beberapa dialog eksposisi. Secara kesuluruhan, akibat eskposisi yang melambatkan film nyaris seolah secara mendadak, dengan aksi seru yang direkam dengan kecepatan tinggi, menonton film ini rasanya kayak melihat video ornag berlari yang kadang dislow-motion. Ada aspek-aspek cerita tertentu yang membuat kita “hey, darimana datangnya?”. Beberapa adegan flashback juga turut membebani jalannya cerita dengan perlambatan yang tidak perlu. Kita tidak butuh begitu sering kembali ke masa lalu, yang kadang adegannya itu-itu melulu. Menurutku, yang dibutuhkan film ini untuk mengerem justru  adalah momen-momen survival seperti memperlihatkan Lara membunuh hewan untuk makan, seperti pada video game. Tapi film malah melewatkan itu.

Kematian adalah petualangan. Salah satu aspek seru dari video game yang juga disadur oleh film ini adalah momen-momen berbahaya yang siap menerjang Lara. Dalam video game, kita bisa sengaja game over hanya untuk melihat adegan kematian yang kadang over-the-top namun menyenangkan. Film ini juga sama seperti itu, banyak adegan aksi yang bisa dibilang lebay dan agak gak masuk akal; Lara yang lompatannya jauh sekali, Lara menarik pecahan yang menembus perutnya padahal kalo luka tembus sebaiknya jangan dicabut karena pendarahannya akan semakin parah, akan tetapi kita tetap enjoy menontonnya. Adegan-adegan tersebut juga dijaga sehingga tidak mengakibatkan film menjadi konyol, menjadi terlalu Hollywood, menjadi guilty pleasure seperti film Tomb Raider terdahulu. Ada satu sekuen seru banget yang dicomot dari video game, yang bakal bikin penggemar video gamenya girang, yang melibatkan Lara dengan bangkai pesawat, namun basically sekuen ini hanyalah versi lain dari adegan kaca belakang bus di Jurassic Park. So yea, aksi dalam film ini seru dan menyenangkan, hanya saja memang tampak generic, film tidak menampilkan sesuatu yang benar-benar baru.

 

 

 

Menonton ini seperti memainkan video game yang punya replay value yang tinggi. Kita sudah bermain berkali-kali, kita sudah hapal, namun kita tetap suka. Kita ingin mencari cara lain untuk menamatkannya – karena film ini mampu bekerja dengan efektif, baik sebagai eksplorasi karakter maupun sebagai pure action adventure. Bicara soal mandiri, filmnya sendiri juga cukup mandiri. Di balik usaha film untuk membangun landasan universe, untuk membuat kait ke film berikutnya, film bertindak bijak dengan memastikan kita mendapat cerita yang contained, dengan plot tokoh yang melingkar tertutup. Di samping beberapa aspek penceritaan yang mestinya bisa dibuat lebih tight lagi, flashback dan eksposisi mestinya dapat dikurangi, ini tetap adalah salah satu adaptasi video game terbaik. Karena semua orang dibuat peduli sama tokohnya, kita bisa merasakan tokoh tersebut, kita ingin dia berhasil, walaupun kita enggak pernah memainkan video gamenya sebelum ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for TOMB RAIDER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE BREADWINNER Review

“Remember all you saw and tell it back in the stories when the day is almost done.”

 

 

Wanita enggak bisa hidup tanpa lelaki. Dalam beberapa konteks kajian, hal itu benar. Karena manusia diciptakan berpasangan-pasangan – gender yang satu akan membutuhkan gender yang lain untuk banyak aspek dasar. Namun, buat Pasukan Taliban di kota kecil bernama Kabul, tempat di mana Parvana tinggal, kata ‘enggak bisa’ dalam kalimat wanita enggak bisa hidup tanpa lelaki diartikan sebagai kebenaran yang absolut. Bahwa menurut peraturan mereka; wanita literally tidak bisa hidup, tidak boleh ngapa-ngapain, tanpa ada lelaki yang menjaganya. Wanita tidak boleh keluar rumah kalo tidak bareng suami, atau ayah, atau sodara. Para cewek dilarang belanja sendirian ke pasar. Kerjaan sesimpel menimba air di sumur umum bisa menjadi sangat ribet, dan berbahaya, jika dilakukan seorang wanita tanpa ditemani wali. Sekalipun ada, bukan berarti kaum hawa bisa bebas melakukan apa yang mereka mau di luar sana. Pertama, mereka harus menutup aurat sepenuhnya dengan burqa. Mereka juga tidak boleh menarik perhatian publik. Di awal film, kita melihat Parvana yang masih sebelas tahun meninggikan suaranya sedikit saat mengusir anjing dari barang dagangannya, dan itu menimbulkan masalah yang cukup untuk membuat ayah Parvan dijebloskan ke dalam penjara.

Di Afghanistan sana memang ada anak-anak seperti Parvana. Yang berasal dari keluarga yang ‘kekurangan’ pria. Dan lingkungan yang penuh opresi, membuat semuanya sulit untuk keluarga seperti ini hidup. Ibu dan Kakak perempuan Parvana tidak bisa keluar rumah tanpa digebuki, atau kalo nasib mereka lagi jelek, diperkosa. Adik cowok Parvana masih terlalu kecil. Jadi Parvana dan anak-anak cewek lain berubah menjadi Bacha Posh; cewek yang menyamar menjadi laki-laki. Parvana memotong pendek rambutnya, memakai pakaian bekas abang tertuanya yang… ah, Parvana tidak tahu di mana abangnya sekarang. Dengan nama samaran, Parvana dan teman sekelasnya dulu (sebelum akhirnya mereka diberhentikan dari sekolah lantaran Taliban melarang anak cewek untuk jadi pinter) berkeliling kota, mencari pekerjaan, belanja makanan dan kehidupan sehari-hari. Dan khusus Parvana, dia punya misi ekstra: mencari tahu nasib ayahnya di penjara. Tapi tentu saja, menjadi cowok enggak lantas membuka setiap kesempatan emas bagi Parvana. Kota Kabul yang darurat perang masih adalah tempat berbahaya dan sangat membatasi untuk anak-anak sepertinya. Lagipula, bukankah penyamaran tidak lain tidak bukan hanyalah sebuah kungkungan bagi diri sendiri yang sejati?

Jadi, di mana dong tempat bagi Parvana untuk merasakan kebebasan?

Di sana, di dalam kepala sendiri, jawabannya.

 

Kisah yang diadaptasi dari novel ini akan menjadi sangat depressing jika dimainkan secara langsung oleh aktor-aktor. Jelas sekali, animasi adalah medium yang paling tepat – bukan untuk memanismaniskan cerita, melainkan untuk menampung konteks dan pesan dan komentar sosial yang coba disuarakan.  Akan ada begitu banyak adegan yang meremas hati kita. The Breadwinner memang bukan secara tepat adalah animasi untuk anak-anak. Film ini lebih ditujukan untuk orang dewasa, yang niscaya akan terhenyak, dan pada gilirannya akan membimbing anak, adek, atau kerabat yang masih kecilnya yang sudah cukup paham untuk menonton film dengan tema yang begitu penting dan relevan dengan keadaan sekarang ini. Style animasi yang tampak simpel untuk setengah bagian cerita tidak sekalipun mengecilkan kekuatan rentetan adegan yang kita saksikan. Tengok saja gimana film ini mengontruksi dua kejadian dalam satu adegan tatkala seorang Taliban memukuli ibu Parvana dengan tongkat ayah sementara Parvana yang ada di sana sedang mengejar potongan foto sang ayah yang beterbangan. Adegan itu tampak mengalir indah, sekaligus menghantui rasa manusiawi kita. The Breadwinner tampil unggul dengan adegan-adegan yang dibangun seperti demikian.

Menjaga dan mengekang sungguh tidak banyak bedanya. Ketika agama Islam mengajarkan untuk menjaga wanita sebaik-baiknya, pasukan Taliban menggunakan kesempatan itu untuk mengekang masyarakat supaya mereka terus tunduk. Wanita dikekang, diatur-atur.  Sementara para lelaki, menjadi semakin vulnerable karenanya. Kalo perlu, mereka juga dikekang – dengan dipenjara.

Dari keadaan tersebut, tokoh utama kita belajar bahwa apapun yang dijaga dengan sebaik-baiknya akan menjadi tak ternilai harganya. Dan salah satu hal tersebut adalah harapan. Karena pada akhirnya, opresi dan kebebasan bukanlah soal siapa yang menjadi korban. Ini soal tanggungjawab. Kita sendiri yang bertanggungjawab terhadap harapan masing-masing. Dari sanalah kekuatan kita berasal. Jika kita tidak bersedia menjaganya, jangan kira orang lain akan sukarela melakukannya untuk kita.

 

Makanya, sekeji-kejinya tokoh Taliban dan sebagian besar pria dalam film ini, Parvana tidak serta merta digaris untuk mengalahkan mereka. Proses pembelajaran dan discovery yang dialami tokoh protagonis kita datang dari dalam dirinya sendiri. Karena menjadi anak cowok, yang ultimately adalah cara kisah ini menyimbolkan kesetaraan yang kini banyak dicari, bukanlah jawaban eksak masalah seperti punya Parvana. Ketika aku menonton film ini, aku memang sempat bingung terhadap perspektif dan motivasi si tokoh. Like, apakah dia pengen membebaskan ayahnya, atau dia ingin menafkahi keluarga. Film sepertinya tidak tegas mengarahkan cerita dalam memilih di antara spektrum ini. Namun, ternyata aku salah. Spektrumnya ada tiga, dan pada cabang inilah film menitikberatkan gravitasi fokusnya.; Apakah Parvana akan sanggup menyelesaikan dongeng yang ia kisahkan untuk adiknya?

Aku jadi ingat waktu kecil dulu setiap hari diceritain macem-macem dongeng sama kakek.

 

 

Kekuatan yang didapat dari bercerita adalah penemuan paling kuat yang berhasil dicapai oleh Parvana. Tokoh ini berkembang dari yang tadinya bosan dengan kisah-kisah yang selalu diceritakan oleh ayahnya, menjadi seorang yang menemukan kebebasan mutlak ketika dia bercerita. Ironically enough, justru pada elemen ini jualah, The Breadwinner menemukan titik lemah dalam penceritaannya. Kita akan senantiasa dibawa dari kejadian di kehidupan nyata Parvana ke dongeng yang ia ceritakan tentang seorang pemuda yang pergi ke sarang monster demi mencari bibit pangan yang dicuri dari desanya. Diceritakan dengan gaya animasi yang sedikit berbeda, dongeng ini actually mirip stop-motion dua dimensi, fungsi lain dari elemen ini adalah untuk menceritakan nasib sebenarnya abang Parvana. Thus, antara dongeng dengan kejadian yang dialami Parvana; kedua cerita tersebut seringkali tidak terasa paralel. Seperti kita sedang menonton tv dan bolak-balik di antara dua channel. Pun begitu, setelah midpoint menjelang ke babak akhir yang mengharukan, film ini menjadi sedikit repetitif, kita basically ngeliat Parvana bekerja di siang hari dan mendengarkan dongengnya saat sudah malam melulu. Tonenya menjadi sedikit terlalu kontras, sehingga flow dari cerita yang utama menjadi sedikit enggak mulus.

 

 

 

 

Situasi yang sulit akan menempa pribadi yang tangguh. Tak pelak, Parvana adalah salah satu tokoh utama film animasi paling kuat di tahun 2017 lalu. Kita sungguh dibuat peduli sama akankah dia berhasil bergulat dari situasi yang mengekang, sebagai seorang pendongeng maupun sebagai seorang anak yang ingin meringankan beban keluarganya. Visual dan desain musik yang penuh jiwa tentunya akan mampu menarik minat banyak penonton berpikiran dewasa untuk singgah menikmati dongeng yang penting ini. Aku pikir, animasi ini punya kans besar di Oscar 2018 mendatang. Dalam dunia yang akan terus mengekang, kita sendiri yang membuat kebebasan. Pesan semenarik ini hanya sedikit dibebani oleh penceritaan selang-seling yang terkadang tidak paralel dan terlalu sering.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE BREADWINNER.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

BENYAMIN BIANG KEROK Review

“Sometimes we need to step back”

 

 

Bersama-sama, sutradara Hanung Bramantyo dan aktor Reza Rahadian telah menghasilkan karya yang mengundang decak kagum banyak orang, seperti Rudy Habibie (2016), Kartini (2017), dan baru-baru ini tayang di festival adalah film The Gift yang aku belum dapet kesempatan untuk menonton. Dan kemudian, mereka menelurkan film seperti Benyamin Biang Kerok.

Aku enggak tahu apa memang banyak permintaan untuk menghidupkan kembali peran yang dibuat legendaris oleh legenda lawak Benyamin Sueb (bekennya disingkat Benyamin S doang). Apalagi ada orang yang menganggap Reza Rahadian bermain sebagai Benyamin adalah sebuah ide emas. Tentu saja, akan menarik melihat Johnny Deppnya Indonesia ini mencoba bermain di ranah yang baru. Film ini jelas memberinya tantangan dari poin terkecil Reza bukan orang betawi. Dari yang aku dengar juga, Reza katanya sangat kepengen bermain di film musikal – terlebih komedi musikal. Tetapi, Benyamin Biang Kerok ini mungkin bukan gimana tepatnya Reza membayangkan komedi berbumbu musikal yang bakal ia lakoni.

Kebiasaan ini memang belum bisa terjelaskan dengan baik, namun manusia suka untuk mengerem langkahnya. Terkadang kita merasa perlu untuk mengambil tempo. Seperti saat hendak melompat jauh, kita akan mengambil ancang-acang ke belakang beberapa langkah. Kita merasa aman, rileks, dengan sedikit memundurkan diri. Tapi seberapa jauh kita rela ataupun harus mundur? Film Benyamin Biang Kerok ini adalah langkah mundur yang dengan sukses diambil oleh Hanung dan Reza, terlebih jika mereka memang menginginkan sedikit change of pace dengan mengdowngrade diri mereka sedikit banyaknya.

 

Reza cukup berhasil membawakan kekhasan Benyamin, mulai dari suara tawa, mimik, hingga tantrumnya. Selain bakal diisi adegan musikal, aku enggak tahu harus mengharapkan seperti apa film ini sebelum menontonnya. Tadinya kupikir biografi Benyamin, ternyata bukan. Film ini lebih seperti reboot dari film jadul dengan tokoh bernama Pengki. Yang jelas, aku sama sekali tidak mengharapkan produk film yang se-terrible ini. Untuk sepenuhnya mengerti kenapa film ini ujung-ujungnya tidak bekerja dengan efektif, sebagaimana terhadap film-film pada umumnya, kita perlu melihat dan diyakinkan oleh sepuluh menit pertamanya.

Timingnya sih pas, film ini tayang deketan sama hari lahir Benyamin S

 

Sekuen pembuka film ini melibatkan Tora Sudiro yang sedang dalam misi undercover, menyusup ke dalam kasino dan ikut permainan Poker underground yang diselenggarakan oleh Komar (seru dan cukup meyakinkan juga aksi pelawak senior ini menjadi bos penjahat). Di dalam sana kita lihat berbagai teknologi canggih namun konyol seperti scanner wajah yang memperlihatkan status relationship orang. Si Komar, selain punya nama tokoh yang kreatif banget – Said Toni Rojim, juga punya robot cewek yang canggih dan creepy abis. Dibantu dua temennya; yang satu menyusup jadi orang dalam dan satunya lagi menjadi mata lewat kamera pengintai, Tora berusaha memenangkan uang sebanyak mungkin. Itulah tujuan mereka di sini. Namun kemudian polisi datang menggerebek, Tora kabur membawa apa yang bisa ia bawa, dan ternyata Tora adalah Benyamin alias Reza Rahadian alias Pengki yang sedang pake topeng! Kemudian Pengki dan teman-temannya kabur naik oplet mandra ke pasar, di mana mereka lantas nyanyi ondel-ondel bareng semua orang.

See? I was just ready to watch a completely absurd comedy. Sepuluh menit pertama film ini sebenarnya efektif sekali melandaskan betapa konyolnya film ini dibuat. Untuk adegan-adegan ke depan kita akan melihat orang diuppercut hingga menembus awan dan menabrak pesawat terbang. Kita akan kenalan sekilas sama cewek yang mengaum kayak harimau dan makanin orang. Kita akan bersisian sama tiruan Bane yang badannya berminyak. Sesungguhnya ini semua sah-sah saja, jika film memang ingin bersenang-senang dengan logika dan intelegensi, maka itu terserah mereka. Asalkan semuanya digarap dengan arahan yang pasti.

Akan tetapi, Benyamin Biang Kerok masih ingin tampil pintar. Masih berusaha tampil punya hati. Diberikannya Pengki persahabatan dengan dua temen dekatnya. Dituliskannya Pengki sebagai anak orang kaya dengan masalah keluarga – kedua orangtuanya sudah tidak bersama, Pengki tinggal dengan ibu yang menganggap anaknya adalah bocah tue yang paling males sedunia padahal di luar rumah Pengki adalah pemuda yang mengkhawatirkan hidup warga rusun pinggiran. Yang rela membahayakan nyawa demi uang mencegah rusun tersebut dari penggusuran. Pengki juga somehow adalah pelatih sepak bola untuk anak-anak di sana. Naskah juga memberikan Pengki kekasih, seorang artis cantik, yang ternyata adalah ‘calon istri’ dari Said si bandit yang pasukannya cewek semua. Di atas itu, film juga sempat-sempatnya melontarkan komentar yang relevan dengan situasi politik dan keadaan sosial dalam masyarakat Indonesia sekarang ini. Sayangnya, dengan tone yang begitu bercampur seperti ini – editing film pun kerap tampak sangat kasar antara adegan satu dengan adegan lain kelihatan banget beda take – sukar untuk kita menganggap serius pesan-pesan tersembunyi yang dibisikin oleh film.

Mencoba untuk memasukkan banyak elemen dari berbagai genre, film ini seperti campuran dari berbagai hal-hal konyol. Masing-masingnya lebih wacky dari sebelumnya. Sehingga tidak lagi menjadi lucu. Malahan, film ini cukup ‘menyakitkan’ untuk ditonton. Kayak melihat orang pintar yang berusaha terlalu keras untuk tampak bego supaya disukai dan membaur dengan sekelilingnya. They don’t feel comfortable at all. Menonton film ini seperti menonton seseorang yang sedang enggak mau menjadi dirinya sendiri.

 

Yang membuat semakin parah adalah relasi antara tokoh-tokohnya tidak pernah dibuat meyakinkan. Pengki dengan teman-teman partner in crimenya tidak dieksplorasi, bahkan mereka bertiga jarang berada dalam satu frame yang sama.  Ada satu adegan Ibu Pengki yang galak mengajaknya ikut melihat bagaimana carany berbisnis, tapi dilakukan dengan konyol, tanpa menambah banyak untuk cerita. Hubungan antara Pengki dengan demenannya pun tidak pernah tampak manis. Kecuali pada adegan-adegan musikal yang tampak berada di luar dinding cerita – yang mana membuat film ini sedikit membingungkan. Pengki dan Aida menjadi dekat dengan begitu cepat, sehingga kita tidak benar-benar peduli ketika Aida mulai dalam bahaya dalam cengkeraman Said. Stake dalam cerita serta merta tergampangkan. Pengki punya semua jawaban, entah itu dari uang ataupun dari alat-alat temuan temannya. Tak sekalipun kita merasakan ada yang benar-benar dalam bahaya – inilah tanda betapa elemen dalam film tidak tercampur dengan baik. Kita hanya dapet konyolnya saja, which is fine dalam komedi yang hanya menyasar komedi, tapi film ini menargetkan banyak hal pada narasinya.

unsur betawinya juga seperti ketinggalan entah di mana di tengah cerita

 

Buatku, the last straw adalah bagaimana cara film mengakhiri ceritanya. Hmm.. atau seharusnya aku menulis bagaimana cara film tidak mengakhiri ceritanya. It was very insulting memotong film di tengah-tengah sekuen seperti yang dilakukan oleh film ini.  Penonton berhak mendapat penutup. Kita sering mengejek film cinta-cintaan kayak ftv atau sinetron, padahal justru Benyamin Biang Kerok inilah yang sinetron layar lebar yang sebenarnya.  Mereka pretty much sama saja dengan menabuhkan tulisan ‘bersambung’ di layar dan tidak semestinya, tidak ada alasan, yang namanya film berakhir dengan demikian. Film seharusnya tertutup. Ada awal, tengah, akhir. Memotong akhir tanpa ada babak penyelesaian adalah tindakan yang lancang, bagaimana seorang bisa menyebut dirinya pembuat film jika ia tidak benar-benar membuat sesuai dengan kaidah film? Benyamin Biang Kerok hanyalah sebuah franchise ‘reborn’ berikutnya setelah Warkop DKI. Bahkan jika dibandingkan pun, Warkop DKI Reborn adalah film yang lebih baik karena mereka tidak pernah ingin menjadi lebih dari diri mereka yang sebenanrya; sebuah tontonan konyol. Seenggaknya Warkop DKI sedari awal sudah ‘mengakui’ film mereka berformat part 1 dan part 2. Dan mereka juga tidak memotong film di tengah-tengah aksi, mereka masih punya batasan penutup yang jelas di antara dua part. Wow , aku gak percaya tiba harinya aku membela film Warkop DKI Reborn, mungkin ini langkah mundur yang kuperlukan.

 

 

Kita memang kadang perlu mundur, tapi seberapa jauh. Satu pertanyaan lagi yang aku yakin menghinggapi benak kita saat menonton ini “Ini beneran film buatan Hanung, siapa biang kerok sebenarnya di sini?”. Bahkan menyebut ini sebagai film cari uang pun sesungguhnya tidak tepat. Karena ini actually bukanlah sebuah film. Ini adalah insult yang mengapitalisasi kenangan terhadap seorang seniman sebesar Benyamin Sueb.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for BENYAMIN BIANG KEROK.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

RED SPARROW Review

“Everything happens for a reason.”

 

 

Moralitas cuma sikap sentimental manusia. Sedangkan harga diri selalu adalah yang lebih dahulu jatuh. Jadi buat apa menunggu? Pemuda pemudi Rusia yang digembleng oleh agensi State School 4 mendapat doktrin seperti demikian demi mengobarkan semangat patriotisme mereka. Sebab dalam aksi membela negara, mereka semua harus rela mengorbankan apapun. Jiwa raga mereka milik negara  yang selama ini telah memberikan mereka tempat berlindung, tempat untuk tinggal. Dan sekarang adalah giliran mereka untuk berjuang atas nama negara, dengan menjadikan tubuh sebagai senjata utama.

Menjadi mata-mata tidak selamanya berarti menguasai alat-alat berteknologi canggih, enggak selalu bahaya yang mereka hadapi berupa merayap elegan di antara laser-laser dengan kostum hitam. Film Red Sparrow tidak memewah-mewahkan kehidupan sembunyi-sembunyi penuh rahasia itu. Ataupun membuat penontonnya ingin menjadi mata-mata kece. Sesungguhnya film ini diadaptasi dari buku novel karangan Jason Matthews; seorang mantan anggota CIA. Jadi at heart, cerita film ini tahu persis seperti apa ‘sisi buruk’ dari pekerjaan tersebut. Materi yang disambut dengan bijak oleh sutradara Francis Lawrence, ini lebih sebagai sebuah cerita thriller dibandingkan kisah aksi. Menonton Red Sparrow, kita akan merasakan betapa OTENTIKNYA GAMBARAN DARI KEHIDUPAN SEORANG MATA-MATA. Iya sih, menjadi mata-mata berarti hidup kita menjadi glamor seketika; bercinta dengan orang-orang penting, orang-orang kaya. Namun, melalui film ini kita akan melihat sebenarnya itu adalah sebuah hidup yang sangat mengerikan. Percaya deh, enggak akan ada yang mau berada dalam sepatu Dominika Egorova. Tokoh utama kita ini adalah seorang ballerina yang direkrut ke dalam barisan Sparrow yang kerjaannya secara sederhana adalah merayu orang untuk mendapatkan informasi. Sebuah pekerjaan yang mengerikan sekaligus menyedihkan. Dan tentu saja, penuh resiko.

Di Rusia, supaya tenang setelah kejadian traumatis, orang-orangnya enggak minum air putih. Mereka merokok.

 

Kita tidak mau melihat Dominika menjadi mata-mata yang sukses, kita ingin melihat cewek ini berhenti menjadi mata-mata dan kabur saja keluar dari dunia yang ia geluti. Hidup yang ia jalani was just so horrible, namun walaupun cerita tidak pernah memuja keputusan yang diambilnya, membenarkan apa yang ia pilih, Red Sparrow masih berkodrat sebagai sebuah film. Cerita film ini disusun sedemikian rupa supaya menarik, jadi kita tetap mendapatkan trope-trope thriller Perang Dingin – Misi utama Dominika, pertanyaan pada lapisan terluar cerita film ini, berpusat pada apakah Dominika akan berhasil mengendus mata-mata yang ia cari? Juga ada kisah cinta antara dua mata-mata beda negara yang tentu saja menambah stake berupa apakah pihak yang lain itu bisa dipercaya, siapa yang bakal mengkhianati siapa. Kalian ngertilah, kita masih akan menjumpai sedikit dramatisasi pada cerita. In fact, salah satu sekuen yang paling efektif nunjukin sensasi thriller dalam film ini adalah sepuluh menit pertama ketika kita dibikin berpindah-pindah antara pertunjukan balet Dominika dengan pertemuan rahasia tokoh Joel Edgerton, sementara scoring yang sangat memikat mengalun di latar belakang. Di dalam film akan ada sekuen berantem yang lumayan sadis. Ada adegan pemukulan dan penyiksaan yang bukan konsumsi penonton yang perutnya lemah.

Selain itu, juga banyak adegan ‘buka baju’ yang bakal bikin kita risih menontonnya – yang membuat bioskop di sini mesti melakukan sensor dengan mengezoom pada adegan kurang senonoh sehingga kita hanya melihat kepala tokohnya saja. Dan untuk itu, aku sangat salut kepada Jennifer Lawrence yang sungguh bernyali. Setelah hal-hal gila yang aktris ini lakukan di Mother! (2017), di Red Sparrow dia menaikkan tingkat kenekatannya dengan melakukan berbagai adegan yang bikin kita meringis. Sepertinya tidak ada adegan menantang yang enggan dilakukan oleh JenLaw, semuanya dijabanin.  Perlu kutekankan sedikit, meskipun memang banyak adegan seksual yang awkward dan kasar – di kelas di ‘sekolah mata-matanya’, Dominika dan murid-murid yang lain kerap disuruh buka baju dan melakukan gituan di depan semua orang – perasaan disturbing yang kita rasakan ketika menonton film ini tidak terbatas berasal dari sana. Malahan, justru adegan tokohnya Mary-Louise Parker yang bikin penonton di studioku tadi barengan memekin tertahan, padahal adegannya bukan adegan seksual.

Aku bisa paham dan membayangkan kalo Red Sparrow bakal banyak diboikot, lantaran film ini juga menggambarkan iklim politik yang disturbingly relevan terutama buat penonton Amerika. Red Sparrow mengemukakan wacana soal kebudayaan Amerika yang berubah akibat sosial media dan teknologi dan bagaimana Rusia mencoba mengapitalisasi tensi di antara kedua negara. Dan kita tahu, semenjak election 2016 santer kabar ada campur tangan Rusia di dalamnya. Mungkin kata-kata mentor Dominika ada benarnya. Mungkin Perang Dingin tidak akan pernah berakhir.

 

Sebagai sebuah cerita, film ini punya sisi menarik. Kita ditaruh di tengah-tengah situasi politik di mana kita enggak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun di atas itu, yang membuat film ini susah untuk ditonton adalah betapa protagonis kita luar biasa tak tertebak. Film ini dengan sengaja mengaburkan isi kepala Dominika kepada kita, membuat kita tidak pernah sepenuhnya memahami keputusan yang ia buat. Tidak seperti pada Molly’s Game (2018)  di mana kita bisa mengerti apa yang membuat tokoh Jessica Chastain berpindah dari atlit ski, memilih menjadi Bandar Poker, kita paham mindsetnya, pilihan-pilihan yang dia ambil, pada Red Sparrow kita tidak mengerti bagaimana cara kerja pikiran Dominika. Kita mengerti dia terjebak dalam situasi yang tidak ia sukai, tapi kita enggak tahu apa tepatnya yang menyebabkan dia ada di sana. Transisi dari dia yang balerina sukses menjadi, katakanlah, pion dalam permainan spionase maut terasa sangat abrupt. Keputusan-keputusan Dominika disimpan rapat di dalam kepalanya sendiri, dan kita hanya melihat tindaknya dari luar. Mmebuat kita sulit peduli dan mendukung tokohnya. Dan sejauh yang bisa aku usahakan untuk mengerti, keputusan agensi Sparrow merekrut Dominika adalah karena masalah pelik keluarga, semacam nepotisme, dan karena Dominika punya paras cantik yang merupakan aset berharga jika kau mencari kandidat sempurna untuk mata-mata.

you don’t want to be a volunteer for this kind of job

 

Tidak ada yang namanya kebetulan di muka bumi. Tidak ada yang namanya kecelakaan. Semua hal terjadi karena suatu alasan. Ini adalah pelajaran berharga yang dipelajari dengan cara yang sangat keras oleh Dominika. Semuanya itu bersangkutan dengan kebutuhan manusia, sebagai makhuk sosial. Pada gilirannya, Dominika menjadi sangat tangkas dalam menebak apa yang diinginkan oleh target operasinya, tak terkecuali orang-orang di sekitarnya. Inilah yang membuatnya begitu cakap sebagai seorang mata-mata. Sebegitu handalnya sehingga Dominika dapat membalikkan kebutuhan orang sebagai keuntungan yang memenuhi kebutuhannya.

 

Film ini banyak bicara tentang bagaimana setiap manusia mempunyai kebutuhan. Akan ada banyak percakapan yang menanyakan “apa yang kau mau?” kepada seorang tokoh. Kebutuhan manusia menjadi poin vokal dalam narasi, tapi kita dengan sengaja dibuat tidak mengetahui kebutuhan sejati dari tokoh utama. Kita paham dia ingin ibunya yang sakit terurus dengan baik, tetapi gambar besar dari tujuannya sengaja ditutupi. Film seolah membuat pagar pertahanan di sekeliling tokoh utama yang mencegah kita untuk masuk dan peduli dan mengerti, dan hanya di saat-saat terakhir pagar ini membuka. Film banyak memanjang-manjangkan adegan yang kelihatan seperti momen gede padahal enggak benar-benar mengangkat cerita, hanya untuk memperlihatkan kepada kita kemampuan dan arah moral yang dipegang oleh Dominika. Karena sebenarnya hanya ada satu adegan kecil yang perlu kita tahu di akhir, adegan yang akhirnya membuat kita melihat Dominika seutuhnya.

 

 

 

Manusia adalah teka-teki kebutuhan. Film memilih untuk menggambarkan itu dengan tepat kepada tokoh utama sehingga kita bisa menjadi begitu frustasi saat menontonnya. Ceritanya tidak membingungkan, elemen politiknya bisa dipahami dengan sedikit perjuangan, mendukung tokoh utamanyalah yang merupakan tugas yang sulit. Kita bisa suka kepada setengah bagian dari film ini, karena dia begitu bernyali, punya adegan-adegan dan desain musik dan suara yang memikat. Sementara yang setengahnya lagi, kita akan kebingungan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for RED SPARROW.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

BAYI GAIB: BAYI TUMBAL BAYI MATI Review

“Do I not destroy my enemies when I make them my friends?”

 

 

Hidup Rafa tampaknya sudah hendak berbuah manis. Perusahaannya menang tender. Istrinya, Farah, yang cantik parah, akhirnya hamil. Saking girangnya, pasangan suami istri ini memutuskan untuk pindah rumah. Di rumah baru nan gede itulah, keluarga Rafa mendapat gangguan. Didatengi mimpi-mimpi buruk. Disatroni nenek-nenek serem. Bayi mereka pun akhirnya lahir di bawah kondisi semencekam itu. Namun Rafa dan Farah sepertinya tidak akan pernah mengetahui apakah Rangga kecil mereka akan tumbuh gede dan bertemu dengan Cinta. Lantaran bayi imut tersebut kadang justru tampak amit-amit. Rafa bingung, kejadian-kejadian aneh itu entah bersumber dari bayinya yang bayi setankah, atau rumahnya yang angkerkah, atau malah berasal dari masa lalu dirinya sendiri.

Tadinya, aku takut film ini akan menyontek Rosemary’s Baby (1968). I mean, lihat aja poster filmnya. Mirip. Tapi tentu saja kita tidak bisa menilai kualitas film dari posternya. Ataupun dari judulnya yang sempet gonta ganti, dan akhirnya ditumplek semua menjadi satu kalimat yang panjang. Jadi, aku lantas menonton. Dan di tengah-tengah film, aku justru berharap film ini mirip sama horor klasik karya Roman Polanski tersebut. Karena aku yakin film yang total rip-offan niscaya bakal lebih menarik dari apa yang actually kita saksikan selama 90 menitan.

Kita dilempar-lempar dari Ashraf Sinclair yang pengen hidup move on dari masa lalu namun gak percaya santet lantaran orang jaman dulu enggak melawan penjajah pake ilmu hitam ke Rianti Cartwright yang insecure dengan keselamatan bayinya. Dan kemudian mereka bertengkar, sebab di tahun 2018 ini penulis naskah masih nekat memakai trope horor “Si A ngelihat hantu namun orang terdekat tempat ia mengadu, tidak percaya”. Lalu Rianti bertingkah kayak orang kesurupan. Susah sekali untuk kita berpegang kepada cerita yang enggak punya sudut pandang yang terarah seperti begini. Menonton ini terasa seperti kita adalah sebuah batu yang dilempar meloncat-loncat di permukaan air. Kita hanya menyentuh permukaan setiap plot poin. Film ini tidak punya kedalaman pada ceritanya. Setiap kali kita beranjak dari plot poin satu ke plot poin berikutnya, kita tidak merasakan flow yang natural terhadap perkembangan para karakter. Membuat kita susah untuk peduli kepada yang mana, apalagi buat kepada mereka berdua.

peduli sama duit di dompet mestinya adalah pilihan yang bijak

 

Bukannya film ini tidak mampu memberikan karakter kepada tokoh-tokohnya. Hanya saja, penulisan itu dengan segera terlupakan begitu film memutuskan untuk mengganti sudut pandang dengan sering.  Di awal-awal cerita kita melihat Rafa ketakutan melihat kebiasaan Farah yang lagi ngidam. Aspek ini menurutku cukup menarik, aku pikir film akan mengambil sudut cerita tentang seorang calon ayah yang menghadapi ketakutannya terhadap proses kehamilan, yang seketika membuatku teringat sama satu-satunya film yang enggak berani aku tonton ulang; Eraserhead (1977) buatan Dayid Lynch. Sekali lagi, aku merasa aku akan berujung enggak keberatan kalolah Bayi Gaib meniru film itu lantaran akan menarik sekali melihat ketakutan psikologis itu ditranslasikan ke dalam budaya lokal. Namun kemudian film menggugurkan sudut pandang Rafa itu. Kita pindah ke Farah yang diganggu oleh penampakan dan janin yang bertingkah aneh-aneh menyeramkan. Pertanyaan mengenai apakah itu semua ada dalam kepala Farah atau enggak kembali diangkat, untuk kemudian dinegasi lagi oleh rentetan jumpscare dan musik ngagetin. Nyaris semua tokoh minor dalam cerita ini pun ikut-ikutan melihat setan. Bahkan sedari sepuluh menit pertama saja sebenarnya film sudah melandaskan dengan kuat bahwasanya kejadian miring pada film ini memang bekerja dalam kotak hal-hal mistis. Jadi, wajar jika kita enggak konek dan sulit peduli terhadap  konflik yang berusaha dipancing – dan ditinggalkan begitu saja – oleh film terhadap dua tokoh pusatnya.

Berdamai selalu lebih baik daripada bermusuhan. Namun, berdamai dengan musuh bisa diputar balik sebagai cara untuk menjatuhkan musuh dalam cara yang tak ia duga. Kita dapat menghancurkan musuh dengan menjadikannya sebagai teman. But ultimately, pilihan terbesar kita adalah memaafkan atau tidak. Sebab bagaimana mungkin kita masih menganggap seseorang sebagai musuh jika dia sudah berubah menjadi begitu perhatian kepada kita.

 

Apa yang digugurkan oleh film ini sebenarnya adalah aspek psikologis. Padahal justru aspek inilah yang membuat film horor bisa mencapai puncak kengerian maksimal. Kita perlu untuk merasakan ketakutan, lebih daripada untuk melihat penampakan buruk rupa. Film tidak memberi kita kesempatan untuk merasakan takut yang dialami oleh para tokoh. Ketika Farah ingin menusuk bayi seram di dalam kereta dorong itu dengan pisau, padahal itu adalah bayinya sendiri – perfectly human, kita tidak merasakan tegang. Film gagal membuat kita berteriak “jangan itu anakmu!!!”, malahan film gagal untuk memancing reaksi apapun karena efek psikologis itu tidak dibangun, dan itu disebabkan oleh film tidak pernah merasa benar-benar perlu untuk membangun psikologis.

Yang bisa saja berarti film ini tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan

 

Film horor tidak bisa bekerja dengan baik jika hanya mengandalkan kepada hantu seram dan twist saja. Bayi Gaib adalah satu lagi film horor yang gagal karena hanya mementingkan twist. Film ini tidak membangun apapun, melainkan hanya membendung ‘kejutan’ untuk twist di babak akhir cerita. Mereka cermat sekali di aspek ini. Memang sih, buat penonton yang jam terbang nontonnya udah gede, twist film ini dapat dengan gampang tertebak, but at least, Bayi Gaib benar-benar mematangkan kejutan yang ia punya sebagai satu-satunya resolusi yang mungkin dari cerita. The problem is, twist itu membuat motivasi salah satu tokoh, membuat semua effort yang ia lakukan menjadi percuma. Dalam sekuen pengungkapan, ‘dalang’ di balik semua keganjilan pada keluarga Rafa menampakkan diri, practically mengakui semua perbuatannya. Sebuah tindakan yang tentu saja mendapat sambutan berupa lemparan popcorn dan pertanyaan kenapa. Maksudku, kalo memang end goalnya adalah membunuh seluruh keluarga Rafa dengan santet, kenapa saat hampir berhasil dia malah buka rahasia? Kenapa malah nyamperin Farah, bukannya Rafa?

Timeline waktu nyantet dan perihal bayinya juga seketika menjadi gak make sense. Jika santet itu butuh ari-ari bayi, kenapa Farah  sudah diganggu hantu sejak si bayi masih di kandungan? Menjelang akhir babak pertama ada adegan Rafa mimpi, yang ditanggepi oleh Farah yang kesurupan sebagai pertanda ada orang terdekat Rafa yang meninggal. Film tidak pernah memperjelas puncak dan tujuan adegan ini, kita hanya bisa menebak apakah yang mati adalah si bayi, dan yang lahir memang bayi setan. Kalo benar begitu, berarti masalah Rafa dan Farah belum selesai sebab mereka tidak mengetahui bayi yang mereka lindungi sudah bukan manusia.

 

 

 

To sum it up, we could say that this movie is a total waste of time. Hantunya enggak seram karena film tidak pernah membuild up keseraman. Dia hanya memperlihatkan rangkaian adegan-adegan berbalut trope horor dengan harapan kita-kita menikmati dikagetin sebagai pengalaman menonton. Bikin film itu sepertinya sama dengan bikin anak; prosesnya menyenangkan, namun juga harus bertanggungjawab. Produk yang dihasilkan haruslah dinurture dengan cermat. Karenanya, orang-orang di belakang film ini adalah ‘orangtua’ yang buruk; anak mereka – film ini – tidak mereka besarkan dengan benar.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for BAY GAIB: BAYI TUMBAL BAYI MATI

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

BLACK PANTHER Review

“What value is strength unless you’re using it to help someone”

 

 

Sunset paling indah ada di Wakanda. Tapi jangan tanya ada di sebelah mananya Afrika negara Wakanda tersebut, karena kita tidak akan menemukannya dalam peta. Malahan, negara ini juga enggak tercantum di dalam peta fiksi dunia Marvel. Letaknya memang sengaja disembunyikan oleh lima suku yang  dibersatukan oleh jatuhan meteor yang kaya akan kandungan mineral alien yang disebut Vibranium. Wakanda jadi negara dengan peradaban supercanggih karenanya. Mereka dipimpin oleh Raja, seorang pejuang yang worthy menyandang kekuatan Black Panther. Tatanan kerajaan dan kerahasiaan mereka berjalan aman. Meskipun punya sumber daya melimpah, Wakanda menyamarkan diri kepada dunia sebagai negara ‘susah’. Bukan karena pelit, tapi mereka menjaga agar teknologi mereka enggak tercium dan pada akhirnya disalahgunakan. Tapi yang namanya rahasia mana bisa sih terjaga lama-lama. Ketika tiba saatnya bagi Pangeran T’Challa menduduki tahta menggantikan ayahnya, seseorang misterius muncul memburu dan mengekspos aretfak-artefak kebudayaan Wakanda. Orang tak dikenal ini ingin menonton sunset paling indah sambil menyaksikan seluruh dunia terbakar. Jadi, T’Challa sebagai Black Panther yang baru harus berjuang menghentikan orang yang menantang posisinya sebagai raja baru, dan untuk itu T’Challa harus menoleh ke belakang. Ke teman-teman. Ke suku-suku di Wakanda. Ke keluarganya.

Inilah yang namanya sunset di tanah anarki

 

Tidak sukar untuk mendeskripsikan film Black Panther ke dalam satu kata; MEMUASKAN. Film ini akan membuat bahagia banyak orang, dalam berbagai tingkatan. Buatku, aku puas banget akhirnya ada lagi tokoh penjahat utama dalam film superhero yang kuat secara manusiawi dan bukan bernama Joker. Killmonger (penampilan Michael B. Jordan di sini kharismatis banget) enggak sekadar pengen dunia chaos, dia juga diberikan sense keadilan menurut pandangannya sendiri, sebab motivasi utama pemuda ini berakar dari perlakuan yang tidak adil yang dilakukan oleh supposedly kubu baik dalam narasi. Kita melihat dia membunuh orang-orang tak bersalah, namun kita mengerti pemahaman dan sudut pandangnya. Killmonger tidak dibesarkan di nyaman di Wakanda, dia jauh dari kekeluargaan dan kebudayaan para suku. Instead, Killmonger tumbuh di jalanan Amerika di mana dia sudah melihat kerasnya hidup. Jadi, dia ingin menggunakan Wakanda untuk melakukan revolusi, like, “kalian punya banyak teknologi, kenapa tidak digunakan untuk membantu orang-orangmu di tempat lain?”. Kita tahu Killmonger jahat, namun kita ingin mendengar lebih banyak darinya. Kehadiran Killmongerlah yang menjadi pemicu perubahan pada cerita, yang menantang tokoh utama untuk menjadi orang yang lebih baik.

Aspek seperti ini yang menjadi pertanda sebuah cerita seteru yang baik. Hero dan penjahatnya sama-sama bercacat. Penjahat yang kuat dan ‘baik’ bukanlah  orang atau makhluk jahat yang berambisi menguasai dunia dengan meledakkan atau semacamnya. Penjahat yang ‘baik’adalah penjahat yang motivasinya memaksa protagonis untuk memikirkan kembali sikap, pilihan, dan kelemahan mereka. Penentangan penjahat membuat protagonis berkembang. Dan dalam film ini kita akan melihat betapa T’Challa dengan Killmonger punya dinamika yang membuat masing-masing saling ‘berhenti’ dan memikirkan kembali keyakinan mereka. Untuk pertama kalinya, kita tidak melihat superhero yang menjunjung patriotisme. Malahan, T’Challa (Chadwick Boseman memimpin jejeran cast yang uniformly doing a great job) tampak lebih seperti pemimpin negara yang galau antara melindungi atau melayani. Antara tradisi kerajaannya dan hal yang ia yakini harus dipilih.  Tampang T’Challa ketika dinasihati “Orang baik susah untuk menjadi raja” benar-benar menampilkan keraguan di hatinya; apakah dia sedang ditegur karena terlalu baik untuk menjadi seorang raja, atau apakah dia sedang dipuji layak menjadi raja karena berani bertindak ‘jahat’. Hampir semua perkembangan tokoh T’Challa berdasar kepada dirinya memikirkan ulang sudut pandang kerajaan, dan menyadari hal-hal yang salah yang sudah dilakukan oleh generasi sebelumnya, dan kemudian T’Challa akan memikirkan apa yang harus ia lakukan supaya keadaan menjadi lebih baik.

Film ini bukan menggambarkan betapa sempurnanya kerajaan Wakanda dan bagaimana orang sepintar T’Challa mengembangkan kerajaan ini. Black Panther adalah tentang menyadari apa yang sudah kita perbuat. Dan maukah kita melakukan koreksi terhadapnya.

 

In a way, film ini punya sedikit kemiripan dengan Maze Runner: The Death Cure (2018) dalam elemen cerita mengenai kentalnya naluri ketribalan pada manusia, bahwa kita lebih cenderung untuk memikirkan nasib golongan sendiri. Dalam skala yang lebih besar, film ini memang punya kepentingan yang luar biasa. Ditambah pula dengan kerelevanannya ditayangkan di masa-masa sekarang ini. Jika DC punya Wonder Woman (2017) yang pesan pemberdayaan perempuannya kuat sekali, maka Black Panther adalah ekuivalen yang dihadirkan oleh Marvel, hanya saja dalam film ini warna kulit yang diangkat menjadi tema. Makanya film ini banyak sekali mendapat pujian. Black Panther bukan sekadar film hero di mana para jagoan bertarung dan banyak ledakan, film ini punya pesan yang berhasil tidak preachy dalam menyampaikannya. Di balik kostum keren, aksi dahsyat, dan perlengkapan canggih, film ini bicara tentang komentar sosial lewat para karakter yang mencari ke dalam diri mereka sendiri.

Yang butuh baju lebaran, bisa mencarinya di katalog Black Panther sesi ‘Lawan dengan Iman’

 

Aku sudah nonton film ini dua kali, mainly karena pada saat nonton pertama, aku sempat ketiduran di bagian aksi kejar-kejar di sekitar pertengahan film. Tadinya kupikir saat menonton aku mungkin kecapean sehingga saat bagian seru aku justru merasa bosan hingga terlayang. Maka aku memutuskan untuk menonton lagi sebab tentu saja aku tidak punya hak untuk mengulas sebuah film jika tidak menontonnya dengan sebenar-benar menonton. Namun, setelah menonton ini dua kali, aku tetap merasa separuh awal film ini tidak digarap dengan semenarik paruh akhirnya, paruh ketika para karakter mulai berpikir ulang tentang tindak yang selama ini mereka percaya. T’Challa, misalnya, dia adalah karakter paling pinter seantero Marvel, sekaligus juga paling bijak. Tokoh ini enggak nyebelin karena sarkas kayak Tony Stark, dia enggak awkward dan konyol kayak Thor, dia enggak sedikit angkuh kayak Doctor Strange, dia bahkan enggak nampak begitu berkharismatis seperti Captain America, sehingga dengan seketerlalubaikannya itu memang T’Challa agak sedikit ngebosenin sebelum dia mendapat realisasi akan apa yang mestinya dia lakukan. Film actually membangun karakter T’Challa dengan seksama, hanya saja memang tidak terhindarkan akibat dari pilihan ini yakni di paruh awal Black Panther terasa seperti film superhero yang biasa-biasa saja. Menurutku akan bisa lebih baik kalo sedari awal kita dicemplungkan saja ke dalam konflik personal masing-masing karakter. Aku sudah tertarik dari sepuluh menit pertama, dan kemudian kita diperkenalkan kepada Killmonger dalam sebuah adegan yang keren di museum, tapi setelah itu aspek menarik film seolah bersembunyi di balik shield pelindung. Kita dapat sekuen-sekuen aksi yang kadang terlalu gelap, atau malah terlalu goyang. Kita dapat tembak-tembakan dan car chasing yang enggak terlalu signifikan menambah kepada bobot penting yang ingin disampaikan.

Pihak-pihak yang berdaya kuasa sejatinya akan merasa punya hutang kepada pihak-pihak yang membutuhkan pertolongan. Karena apalah artinya kekuatan jika tidak digunakan untuk menolong yang lemah? Bagi Wakanda, ini menjadi konflik yang merayapi suku-suku yang termasuk di dalamnya selama bertahun-tahun. Karena siapa lagi yang akan menolong negara-negara lain yang kesusahan jika bukan mereka? Akan tetapi jika mereka menolong, mereka mengekspos rahasia yang bakal membawa kehancuran yang lebih besar.

 

Salah satu yang paling menyenangkan dari penduduk Wakanda adalah gimana mereka masih mempertahankan tradisi dan kebudayaan lokal, walaupun mereka sudah menguasai teknologi alien. Lihatlah betapa semaraknya kostum-kostum dan tingkah laku adat mereka masih tertanam kuat. Mereka tidak sekonyong-konyong beralih pake jet kemana-mana, misalnya. Bandingkan dengan kita yang teknologinya baru hape ointer aja, tapi udah nempel terus sama hape kayak perangko. Di belakang layar, Black Panther menggunakan aspek kebudayaan ini untuk memberi warna kepada cerita. But also, mereka juga memanfaatkan CGI, yang kadang tampak masih sedikit kasar dan mestinya bisa diperhalus lagi. Ada beberapa adegan yang orang-orangnya kayak ditempel begitu saja di latar, ada juga shot beberapa makhluk yang tampak tidak benar-benar ada di sana. Black Panther seperti menggunakan beberapa formula penceritaan sekaligus, beberapa memang need more work, tapi ada juga shot-shot praktikal yang membuatku takjub seperti shot dengan kamera terbalik, dan kemudian berputar menjadi normal dengan perlahan, saat Killmonger mengucapkan dialog tentang bagaimana mereka mengambil alih dunia dengan memulainya dari atas. Konteks sama perlakuan kamera yang klop banget seperti inilah yang bikin pengalaman menonton semakin asyik.

 

 

 

 

Keunikan film ini sehubungan dengan statusnya sebagai cerita superhero terletak pada bahwa justru saat tidak menjadi cerita superherolah, dia mencapai kerja yang sangat baik. Keputusan untuk membuat film ini seperti layaknya laga superhero supaya menarik minat penonton malahan membuat filmnya menjadi tampak biasa saja, dan ini sedikit mengecewakan. Karena film ini sejatinya bukanlah soal aksi heboh ataupun pertarungan epik, melainkan mengenai hal-hal yang membentuk para karakternya, hal-hal yang mempengaruhi hidup mereka. Karakternya lah yang kita bicarakan ketika kita bicara tentang film ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BLACK PANTHER.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

THE FLORIDA PROJECT Review

“The most terrible poverty is loneliness and  the feeling of being unloved.”

 

 

 

Siapa sih yang bakal melirik motel kecil di pinggiran kota dalam perjalanan liburan ke taman hiburan berkawasan elit di jantung kotanya? Enggak ada. Palingan cuma turis yang budgetnya lagi ngencengin ikat pinggang, atau malah turis yang salah alamat. Atau turis yang kebelet doang.  Di tempat seperti itulah Moonee dan ibunya, Halley, tinggal. Bagi bocah enam tahun itu mungkin motel tiga lantai seperti Magic Castle memang terasa layaknya istana dunia fantasi sungguhan; sepanjang hari dia bermain bersama teman-temannya, riang, ceria, penuh curiosity. Bagi mata anak kecil, hal-hal biasa seperti berjalan ke gerai es krim ataupun main ke gedung terbengkalai, bisa menjelma menjadi sebuah petualangan luar biasa. Tapi bagi Halley, ibu muda yang bahkan masih sering bersikap sama kekanakannya, dinding ungu tempat pinggiran seperti Magic Castle adalah tempat berlindung. Dari apa? Dari kenyataan, setidaknya dari realita yang setiap akhir minggu mengetuk pintu kamar menagih uang sewa.

The Florida Project adalah jenis film yang selayang pandang tampak seolah tidak punya plot. Adegan-adegannya adalah keseharian Moonee dan Halley, bagaimana mereka menyintas hari yang panas dengan melakukan kegiatan biasa, seperti makan siang di kursi taman motel. Atau juga dengan tidak melakukan kegiatan biasa, seperti mereka tidak membayar makan siang tersebut sebab makanannya actually ‘diselundupkan’ keluar oleh teman yang bekerja di restoran. Pada dasarnya sih, kita akan mengikuti bocah bandel dan wanita yang lebih rajin merokok daripada nyari kerja ‘beneran’. Jadi, jita kalian gerah akan perangai orang-orang seperti mereka, atau bila tujuan kalian adalah tontonan yang lebih gede, mungkin kalian lebih suka untuk melewatkan film ini. Tapi aku menyarankan untuk mampir.  Amat sangat, malah. Penampilan aktingnya aja dulu; Brooklyn Prince yang jadi Moonee dan Bria Vinaite sebagai Halley yang bertato dan berambut biru menyuguhkan permainan yang luar biasa real dalam debut mereka di sini. Mereka membuat kita lupa sedang menonton film!

tips parenting simple; tanyakan anak Anda “What do you do now!?”

 

 

Menangkap secercah kenyataan dan memaparkannya, seni bercerita seperti demikianlah yang terus diasah oleh sutradara Sean Baker. Di bawah penanganannya, The Florida Project mekar menjadi kisah sederhana namun unik tentang sebuah pandangan enerjik dalam hidup yang penuh oleh pilihan-pilihan yang salah. Ada dua tone kontras yang ia mainkan di sini, dan wisely enough film menyediakan jembatan buat kita sehingga film tetap berimbang. Menceritakan masalah keuangan, tidak melulu harus banjir air mata. Bicara mengenai anak-anak, tidak senantiasa mesti senang-senang tak berarti.

Moonee tidak dibuat sebagai tokoh yang terlalu komikal. Yea, dia ngomong jorok. Benar, dia polos banget dan taunya main doang. Tapi tokoh ini diberikan sense. Dia diberikan bobot yang menapakkannya ke tanah; dia cuma mau bersama ibunya, dia benar-benar look up to her mother. Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Di film ini, buah itu tidak bisa untuk jauh dari pohonnya. Dalam konteks they just have each other, kita pun tidak pernah benar-benar melihat kelakuan Halley diromantisasi. Kita paham dia rela melakukan apapun demi putrinya. Bola konflik inilah yang pelan-pelan menggulung turun, dan membesar tanpa kita sadari. Kedua orang ini tidak bisa hidup terus seperti itu. Kehidupan Halley yang semakin mepet ke garis kriminal tentu akan memanen dampaknya, segera. Film tidak memberitahu kita masalah-masalah tersebut, melainkan memperlihatkan langsung lewat kegiatan para tokoh. Siap-siap saja, ketika gilirannya tiba – ketika klimaks itu terjadi, film juga tidak akan membuatnya terlalu dramatis ataupun sentimental. Tetapi niscaya kita akan terenyuh, sebab apa yang sudah ditanamkan dari awal tanpa kita sadari akan kembali, membuat babak akhir film ini sangat impactful.

Miskin itu adalah kalo kita enggak punya tempat tinggal, enggak punya makanan, enggak punya pakaian bersih. Miskin itu berarti kita enggak bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Namun sesungguhnya, kita barulah menjadi benar-benar miskin jika sudah tidak ada lagi yang menginginkan kita, tidak ada lagi orang yang mengasihi dan menjaga kita.

 

Anak seperti Moonee butuh bimbingan positif, atau bahkan figur seorang ayah, dan di sinilah tokoh Bobby yang diperankan dengan sangat meyakinkan oleh William Dafoe menunjukkan fungsinya. Bagi penyewa kamar motel, Bobby adalah bapak kos yang serbabisa. Dia memperbaiki barang, dia mengusir penjaja makanan liar, dia menjaga keamanan, dia menegakkan peraturan, dia menertibkan para penghuni yang melanggar aturan. Dan tentu saja bagi Halley, yang lantas diikuti oleh Moonee, Bobby adalah figur berwenang yang menyenangkan untuk dilawan. Dinamika hubungan mereka menciptakan suatu konflik yang sangat heartwarming. Aku bahkan berani bilang tokoh Bobby adalah hati pada film ini. Di paruh awal, kita melihat Bobby mengusir seorang pria predator yang mengincar anak-anak penghuni motel, kemudian pada menjelang akhir cerita lihatlah betapa bimbang penuh emosinya wajah Bobby ketika dia tidak bisa apa-apa selain diam dan membiarkan seorang anak kecil diambil untuk diserahkan kepada orangtua asuh. Komponen karakter Bobby ini begitu penting karena itulah yang dijadikan poin vokal oleh film.

Bahwa terkadang, bukan pilihan kitalah yang salah, melainkan hanya hidup yang mengganti pertanyaannya menjadi terlalu susah. Akan tetapi, sebagaimana rumah terbakar yang jadi hiburan oleh orang-orang terpinggir, semestinya akan selalu ada hal baik yang datang darinya.

 

adegan niup kipas angin itu benar-benar nostalgic buat sariawan di bibirku

 

 

 

Aku sudah berkali-kali mampir nonton film ini. Aku sangat terpesona sama karakter dan penceritaannya. Memang, film ini susah untuk direview, terutama aku tidak merasa film ini urgen banget untuk segera diulas. Jadi, aku mengulur-ulur waktu. Aku nonton lagi, dan lagi. Kalo kalian kebetulan sering nongkrong di kafe eskrim Warung Darurat akhir tahun kemaren, mungkin kalian bosen disuguhi film ini hampir setiap hari. Aku ingin mencari kekurangannya, tapi selalu gagal karena film ini totally menghangatkan  sekaligus benar-benar pengalaman menonton yang menyenangkan karena aspek real karakternya. Actually, aku banyak nerima permintaan untuk mengulas sehingga aku pikir aku tidak bisa menunda lebih lama lagi.

Oke, there is no overaching plots di sini, but still apa yang menunggu para tokoh di akhir cerita benar-benar adalah sesuatu yang menohok. Dan juga karena film ini tentang kehidupan sehari-hari, maka beberapa sekuen adegan akan terasa repetitif. Kalian tahu, kayak ketika Moonee kerap mandi sambil maen boneka dan radio menyala keras, like “Oke, kami mengerti apa yang ingin disampaikan” tapi film terus mengulang memperlihatkan kembali adegan yang sama. Aspek yang kayak gini ini bisa sedikit melepaskan kita dari cerita. Maksudku, buatku sendiri, aku jadi ada kesempatan berpikir, ‘mungkin kalo kita diperlihatkan sedikit backstory tokoh-tokohnya instead, durasi jadi lebih efektif terpakai’.

 

Di luar itu, aku enggak melihat ada masalah yang benar-benar mengganggu. Penampilan akting film ini sangat meyakinkan dan ekspresif. Ketika mendengar orang menyebut film ini adalah salah satu yang terbaik di tahun 2017, aku manggut-manggut menyetujui. Literally dan figuratively, film ini seperti versi yang lebih berwarna dari film Siti (Film Terbaik FFI 2015). Dia berkelit menghindar dari komikalisasi, menjauh dari romantisasi, serta tak pernah berniat untuk mendramatisir secara berlebihan. Tone yang dicapai sangat berimbang. Hanya butuh kepedulian, sebenarnya, untuk kita menonton film ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for THE FLORIDA PROJECT

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

PHANTOM THREAD Review

“..fashion has to do with ideas, the way we live,..”

 

 

Dunia fashion penuh dengan takhayul. Setidaknya begitu di tahun 1950. Gaun penganten aja, misalnya, banyak mitos yang dipercaya oleh orang-orang. Cewek-cewek muda takut menyentuhnya karena percaya mereka bakal susah nikah nanti. Para model ‘ngeri’ punya suami botak jika mereka memegang gaun penganten yang bukan milik sendiri. Yang bikin gaunnya, however, banyak yang mengaitkan superstitions sebagai bentuk dari kreativitas. Reynolds Woodcock, sebagai seorang yang eksentrik, mengakui dia lebih takut menikah ketimbang melihat orang-orang yang sudah mati menghantui dunia. Karena menikah membuatnya mendua; mendua dari kerjaannya merancang busana. Reynolds sudah membuat gaun sedari usia enam-belas tahun. Tepatnya semenjak dia membuatkan gaun untuk pernikahan kedua mendiang ibunya. Dan kini, dalam setiap hasil karyanya, Reynolds menyisipkan sedikit bagian personal dari si pemesan. Seperti dirinya yang menyulamkan rambut sang ibu ke antara benang-benang jas, sehingga dia bisa terus dekat dengan sosok yang sangat ia cintai itu.

Kedengaran sedikit creepy memang. Phantom Thread sesungguhnya adalah kisah cinta yang unik, dan yea, mengerikan. Latar belakang soal Reynolds dengan ibunya, soal ‘kepercayaan’ yang ia jadikan dasar kreativitas dalam berkarya, kita perlu untuk memahami semua itu supaya ketika film memperlihatkan actual romance yang jadi batang inti cerita, kita dapat mengerti apa yang dijadikan ‘taruhan’. Apa yang membuat hubungan antara kedua tokoh sentral, gejolak dan dinamika antara mereka, akan menjadi terang begitu kita dapat memilah di antara benang-benang siluman yang menyatukan cerita.

Nama belakang Reynolds yang dapat membuat Spongebob dan Patrick terbahak-bahak, benar-benar mencerminkan kepribadian sosialnya. Dia kaku. Dan dalam soal percintaan, dia lebih seperti mencari karyawan yang mengikuti perintahnya ketimbang mencari partner dalam berbagi kehidupan. Reynolds Woodcock (Daniel Day-Lewis sungguh fenomenal dalam peran terakhir dalam karir bintangfilmnya) boleh saja teliti dalam merajut benang, namun dia tampak enggak begitu banyak memperhatikan hubungan dengan pasangan. Reynolds bertemu dengan seorang wanita yang bernama Alma (pastilah kehormatan gede bagi Vickie Krieps beradu akting dengan Lewis, dan adalah kejutan bagi kita aktris ini bisa mengimbangi aktor kawakan tersebut). Pelayan kafe yang tampak canggung-canggung innocent itu pada awalnya tampak begitu menarik bagi Reynolds, malahan Alma boleh dikatakan menjadi muse, sumber inspirasi dari Reynold dalam membuat gaun. Eventually, mereka menjadi sepasang kekasih. Ketika mereka mulai hidup bersama, barulah kebiasaan serius Reynolds menjadi benturan kepada keinginan wanita seperti Alma. Alma ingin menyintai seutuhnya, taking care Reynolds, dan semacam menggenggam tangannya sepanjang waktu sementara Reynolds enggak memerlukan pasangan seintens demikian. Atau paling enggak, dia enggak pernah menampakkan kalo dia butuh perhatian dari Alma. Inilah yang menjadi konflik utama film Phantom Thread.

“Gaun bersulam sutera dia berikan dulu. Untuk apaaaahh, kalau, dia tak cintaa~~”

 

 

Untuk sebagian besar waktu dari durasi dua-jam, tidak benar-benar ada kejadian dalam film ini. Hanya ada sedikit sekuens yang terhimpun menjadi sesuatu yang gede. Itupun bergerak dalam ritme atau pace yang lambat. Jadi aku dapat mengerti jika beberapa orang akan merasa bosan menontonnya. Buatku, penulisan tokohnya yang membuat aku betah. Meskipun menggunakan gaya ‘satu tokoh diceritakan oleh tokoh yang lain’, film ini tetap mengolah para tokoh dengan bijak. Setiap tokoh sentral diberikan motivasi, mereka punya karakter yang bisa kita pegang – kita dukung karena kita dapat melihat apa yang menyebabkan mereka bertingkah laku demikian.

Reynolds lebih dari sekedar desainer fesyen, jelas dia sendiri memandang dirinya sebagai seorang seniman. Seorang seniman yang sangat serius, kalo boleh ditambahkan. Pagi-pagi dia akan duduk di meja makan mencatat ide-ide busana pada buku catatan kecil. Konsentrasinya penuh  tercurah di situ. Dan jika ada orang yang mengajaknya bicara, ataupun ada orang yang mengunyah dengan terlalu ‘berisik’, dia akan merasa terganggu dan lantas membentak orang tersebut. Bukan hanya soal seni, soal makanan pun Reynolds menuntut ketepatan yang sesuai dengan standar dirinya. Orang model begini yang dihadapi oleh Alma yang dengan tanpa dosa menawarkan kue buatannya kepada Reynolds. Pernah juga dia membawakan teh ke ruangan Reynolds, yang serta merta disambut dengan bentakan. “Tehmu memang udah keluar, interupsimu yang terus masuk di dalam mengganggu!” aku ngakak di adegan ini. Reynolds menyembunyikan kebutuhannya akan orang lain. Malahan dia lebih suka memperlakukan semua orang layaknya bidak catur, yang bisa ia gunakan kapan dia suka, dengan cara yang ia inginkan.

Entah itu perancang busana, ataupun pelukis, pematung, penulis, pembuat film, kita perlu untuk berhubungan dengan orang lain. Maksudku, setiap pekerja seni butuh untuk melakukan koneksi dengan teman, dengan pasangan, atau bahkan lebih baik lagi, dengan para fansnya. Untuk berbincang-bincang bertukar ide. Karena hanya dengan berinteraksilah ide dapat berkembang secara kreatif.

 

 

Ada satu sekuen yang aku harap kalian masih mampu membuka mata menonton, karena menurutku sekuen ini adalah salah satu bagian terbaik yang dipunya oleh film dalam rangka menunjukkan karakter para tokoh. Menjelang pertengahan, Reynolds diminta untuk membuatkan dress buat seorang wanita kaya yang hendak mengadakan jamuan pesta di rumahnya. Reynolds dan Alma diundang untuk hadir, dan di sana kita bisa melihat dari ekspresi Reynolds bahwa dia sesungguhnya enggak suka menyerahkan buah tangannya kepada wanita ini. Di depan mata, si wanita minum-minum dan teler sebelum akhirnya tepar masih berbalut busana buatan dirinya. Kita dapat melihat hal ini sangat mengganggu Reynolds, membuat ia geram. Tapi Reynolds tidak mau mengambil aksi karena dia lebih tidak suka lagi berinteraksi dengan orang. Alma lah yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu terhadap apa yang menurutnya bisa dibilang pelecehan terhadap karya seni tersebut.

Seperti melihat karya kita dijadikan bungkus gorengan

 

Ngomong-ngomong soal kreativitas, penulis sekaligus sutradara SEKALIGUS bertindak sebagai sinematografer Paul Thomas Anderson benar-benar mengambil resiko kreatif ketika dia mengikat cerita film ini. Babak terakhirnya dibuat sangat menusuk dengan seorang tokoh membuat sebuah keputusan terhadap suatu hal, dan sesungguhnya adegan itu merupaka pertaruhan yang gede. Aku gak mau spoiler berlebihan, aku hanya bisa bilang film ini literally menggunakan racun untuk menggambarkan relationship Alma dengan Reynolds yang beracun. In a way, hubungan tokoh film ini mirip sama tokoh The Shape of Water (2017), tapi Phantom Thread meninggalkan kesan yang sedikit lebih kelam, dengan konotasi hubungan yang lebih ke negatif. Kebayang gak gimana jika cerita cintamu lebih ‘ngeri’ daripada cinta manusia dengan makhluk monster haha

Film memang tidak pernah menjelaskan kenapa Alma bisa begitu cintanya kepada Reynolds, dan juga sebaliknya. Tidak ada yang menghalangi Alma untuk pergi dari rumah yang udah kayak kandang burung bagi dirinya secara mental tersebut. Tapi jika kita melihat kembali ke belakang, ke masa lalu Reynolds –seperti yang ia ceritakan kepada Alma, kita dapat melihat semuanya masuk akal. Semuanya terkonek. Kedua insan ini saling membutuhkan; mereka literally butuh yang lain untuk memenuhi kebutuhan inner mereka, tapi dihalangi oleh sikap Reynolds yang mendominasi. Pilihan ekstrimlah yang dijadikan jawaban.

Tidak jarang seorang yang sukses dan sangat precise dalam berkarya, punya hubungan cinta yang tidak benar-benar mulus. Malah sering berbanding terbalik. Karena cinta itu tidak bisa dipas-pasin. Cinta tidak bisa diprediksi awal dan akhirannya.

 

Hubungan pertama seorang pria adalah dengan ibunya. Dan eventually, hubungan masa kecil itu akan mempengaruhi hubungan asmaranya kelak dengan wanita lain. Beberapa pria akan mencari pasangan yang bersifat seperti ibunya. Namun terkadang ini malah ‘mengganggu’ lantaran agak sedikit enggak realistis mencari sosok yang serupa, kebanyakan hanya akan menjadi rintangan, membuat pria jadi banyak tuntutan. Beberapa lagi malah akan mencari yang berlawanan dengan ibunya. Karena mungkin ada trauma atau kejadian tragis. Bagi Reynolds, ibunya adalah personifikasi dari segala ketelitiannya dalam membuat busana. Busana pertama yang ia buat adalah untuk menyenangkan hati si ibu.  Dia harus memegang kendali, meskipun dia sadar dia juga butuh untuk ‘mengerem’ sedikit. Dia ingin diurusi. Untuk alasan itulah, Alma sangat penting baginya. Hanya Alma yang berani mengambil aksi yang actually berbuntut kepada terpenuhnya kebutuhan Reynolds untuk slow down. Hanya Alma yang tidak bisa ia kontrol. Aku enggak bilang hubungan seperti ini adalah hubungan yang sehat, tapi ini adalah satu-satunya yang bekerja buat mereka berdua. Dan ini efektif membuat cerita menjadi menarik.

 

 

 

 

Sebuah pandangan yang miris tentang bagaimana kepentingan memegang kendali membuat seorang seniman mengalami kesulitan dalam menerima orang lain, dalam memenuhi kebutuhan terdalamnya sendiri, serta dampaknya terhadap orang-orang yang mencintainya, yang benar-benar peduli dan mengasihinya. Penampilan di film ini luar biasa semua. Desain produksinya juga enggak maen-maen. Pacing yang lambat tentu dapat membuat panjangnya durasi benar-benar kerasa, tapi tidak akan mengurangi kualitas terbaiknya. Buatku, film ini seperti baju keren yang ukurannya kekecilan; aku akan berusaha diet supaya bisa memakainya.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for PHANTOM THREAD.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

BUNDA: KISAH CINTA 2 KODI Review

“…at ease in your own shell.”

 

 

Uang menciptakan begitu banyak guncangan powerplay, meski kita lebih suka untuk enggak mengakuinya. Keluarga jaman sekarang bisa saja lebih terbuka soal istri yang ikutan bekerja mencari nafkah, dan bahkan punya penghasilan yang lebih gede dari suami, namun tetap saja tensi psikilogis itu tetap ada. Karena manusia secara naluriah makhluk yang kompetitif. Teratur, namun kompetitif. Dan lagi, kita sudah terbiasa dengan aturan ‘cowok berburu, cewek bebersih gua’ sejak jaman batu. Makanya ketika proyek Fahrul dicancel meninggalkan posisi penanggung jawab keuangan kosong, yang segera diambil alih sang istri – Ika , rumah tangga mereka mulai gonjang-ganjing.

Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi tidak malu-malu memperlihatkan keluarga yang harmonis bisa berubah menjadi enggak enak ketika powerplay itu keganggu. Namun demikian, film juga tidak gegabah mengajarkan mana yang lebih baik. Malahan, film ini dalam kapasitas drama keluarganya yang menghangatkan, akan menyentuh lembut pundak kita. Mengingatkan dengan halus apa yang membuat kita bekerja sedari awal – untuk kebahagiaan siapa. Apa yang terpenting dalam sebuah keluarga. Film ini juga bekerja dengan lumayan efektif dalam menginspirasi, bukan hanya ibu-ibu rumah tangga, melainkan juga bagi kita-kita yang pengen berusaha mandiri yang mungkin ragu-ragu, takut gagal, atau malah karena ada yang ngelarang. Aku memang baru mendengar nama Bunda Tika dan Keke Collectionnya dari film ini, tapi aku jadi lumayan tertarik mengikuti perkembangan bisnis konveksi pakaian muslim anak-anaknya, gimana dia membuat dan memasarkan produknya tersebut, lantaran film menggunakan beberapa layer dalam bercerita, dan actually punya konflik yang gampang direlasikan.

misalnya, setiap terima rapor aku juga selalu kena marah orangtua

 

Meskipun dinarasikan oleh tokoh Fahrul, namun tokoh utama film ini hampir terasa seperti Tika sebab memang tokoh wanita ini lebih menarik. Film cukup bijak dengan membuat tokoh yang diperankan Ario Bayu tersebut tidak completely kayak kertas kosong. Fahrul masih punya karakter, dia masih melakukan berbagai keputusan, kita diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam kepalanya. Aku jadi bisa melihat kenapa Acha Septriasa tertarik untuk memainkan Bunda Tika; tokoh ini memang lumayan kompleks dan merupakan peran yang menantang karena Acha dituntut untuk bersikap intens, range emosinya benar-benar seketika bisa melompat jauh di sini.  Tika adalah pribadi yang sangat driven, kontras dengan suaminya yang lebih ke family man baek-baek. Konflik di awal cerita mungkin diniatkan untuk melandaskan, membuat kita memaklumi, kenapa Tika bisa bersikap begitu insecure  nyaris sepanjang waktu. Dia begitu ingin berhasil sehingga setiap tindak gak pede, setiap usaha yang gak maksimal, akan sangat mengganggu dirinya.

I do find it’s riveting. Alih-alih enggak konsisten, ketika Tika mengatakan kepada anak-anaknya mereka boleh sekolah sejauh apapun yang mereka mau, tetapi di lain pihak dia melarang kedua putri kecilnya tersebut untuk tidak membuka satu pintu di rumah mereka tanpa seizinnya. Aku juga mendapati bagaimana strategi bisnis andalan Tika adalah “Kita coba aja dulu” sebagai sesuatu yang optimis sekaligus sedikit lucu. Maksudku, mungkin ini karena diceritakan dari sudut pandang Fahrul, maka kita turut melihat tindak-tanduk Tika sebagai sesuatu yang kinda ekstrim. Kita enggak pernah benar-benar paham maksud hati wanita ini. Seperti ketika mereka lagi makan malam setelah malam sebelumnya salah satu anaknya melanggar larangan; membuat Tika marah besar. Si anak mencoba untuk meminta maaf, dan Tika bilang dengan senyum dia sudah lupa ada kejadian apa. Konteks cerita di titik ini membuat adegan tersebut punya arti mendua; apakah ini berarti Tika sudah memaafkan anaknya, atau dia hanya lagi girang aja tadi siang baru dapet projek di Jakarta Kids Fashion Week.

Salah satu elemen terbaik yang dipunya oleh film adalah gimana mereka menuliskan karakter anak Tika yang paling gede. Sayangnya elemen ini kurang mendapat pengembangan. Karakter anaknya masih sama seperti pada trope-trope drama keluarga kebanyakan; anak yang distant dengan ibunya. Menurutku film masih kurang pede meletakkan lebih banyak tugas emosi dan cerita kepada tokoh anak-anak. Padahal si anak ini udah punya sesuatu yang beda yang ia lakukan. Anak Tika ini suka ngumpet di kolong tempat tidur. Dia suka tiduran di bawah sana sambil menggambar keluarganya  pada papan ranjang di atas. Dia memelihara keong (atau umang-umang gede?) dalam toples yang ia beri label anggota keluarga yang lain. Anak ini sebenarnya menambah banyak kepada bobot cerita, aku ingin melihat bagaimana dia dealing with sikap mamanya lebih banyak, ingin melihat kebiasaan-kebiasaanya lebih sering. Dan actually keong – dan juga kereta api – punya peran yang penting. Padahal tadinya aku pikir bahwa keong itu cuma dijadikan lucu-lucuan, saat Fahrul dan Tika pertama kali ketemu di dalam kereta api, Fahrul just so happened membawa keong di dalam kantongnya. Ternyata aku salah. Keong menjadikan film ini unik.

malahan kupikir kostum yang mereka pakai di runway ntar bakal mirip rumah keong haha

 

 

Bisa dibilang film menggunakan keong sebagai metafora buat para tokoh sentral. Tika menyangka dia adalah keong yang diberikan rumah. Di pihak lain, tanpa disadarinya, Tika adalah rumah keong terindah bagi anak-anak dan suami ‘keong’nya. Dan di akhir cerita keong-keong itu pulang ke rumah mereka masing-masing. Begitu juga dengan kita; punya ‘rumah personal sendiri’ tempat kita berpulang, berlindung, berkasih sayang. Ini bukan lagi semata tentang membangun rumah, melainkan bagaimana cara pulang ke sana.

 

Dalam film ini kita akan melihat gimana Tika berbagi tugas dengan ibu-ibu yang lain dalam menyelesaikan pesenan. Dan unfortunately seperti itu jugalah penulisan film ini terasa. Kayak para penulisnya dibagikan bagian masing-masing, terus baru digabung begitu saja. Tentu saja ‘tuduhan’ku ini juga menyasar kepada editing yang menurutku tidak benar-benar berhasil mengantarkan cerita dengan flow yang maksimal. Terutama di paruh awal. Terasa seperti kita diloncat-loncat ke bagian yang ada konfliknya, hanya untuk menunjukkan konflik itu ada, tanpa dibuild up ataupun juga diselesaikan dengan baik dan memuaskan. Ada bagian ketika Tika yang baru mulai usaha diminta menyelesaikan 1000 baju dalam seminggu; ini konflik, kita diperlihatkan, namun penyelesaiannya dihajar dengan menggunakan montase. Seharusnya adegan Tika bonding dengan ibu-ibu yang lain, bagaimana mereka mencari orang, mengusahakan misi ala Roro Jonggrang ini, dilakukan dengan lebih on-the-point. Tone cerita di sepuluh menit pertama juga tercampur tidak rata; kita dilihatkan animasi lucu  dengan suasana ceria, untuk kemudian dilanjut ke konflik gede yang actually crucial untuk cerita, dan aku seperti “whoaaa, tunggu dulu, aku belum siap untuk peduli sama mereka”

Backstory di bagian awal tersebut juga kurang efektif dan mestinya bisa dilakukan dengan lebih baik lagi karena kita hanya diperlihatkan awal mereka ketemu, tanpa kita pernah benar-benar tahu mereka siapa. Tentu saja, bagus juga kita dibuat mengenal siapa karakter seiring waktu berjalan, tapi kalo dengan cara ini kita mendapatkan ada satu tokoh ujug-ujug muncul di babak akhir demi memancing elemen cemburu, pikirku sih baiknya diambil cara lain yang membuat konflik-konfliknya terasa gak kayak di-throw away, sekaligus mencari cara untuk penonton mengenal baik tokoh-tokohnya sedari awal.

 

 

 

Meskipun agak messy di paruh awal, film ini tetap bisa dijadikan pilihan tontonan ketika ngumpul bareng keluarga. Trope-trope drama sering membuat film ini kayak dibuat-buat, hanya saja keunikan metafora cerita membuatnya masih menarik untuk disaksikan. Aku juga suka gimana film ini berjuang membangun dunianya, mereka setia menggunakan kereta api walaupun beberapa adegan jadi sedikit mengangkat alis kita menanyakan ‘kenapa?’ Sedikit editing ataupun pemindahan letak adegan bisa mengimprove film ini. Aku juga enggak keberatan kalo durasinya dipanjangkan demi membuat hubungan antarkarakter lebih terflesh out, untuk membuat layer ceritanya lebih masak lagi. I mean, kalo Tika sanggup membuat lebih dari dua kodi, kenapa filmnya enggak bisa jadi lebih panjang dan berbobot, ya gak?
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars of 10 for BUNDA: KISAH CINTA 2 KODI

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017