THE SPACE BETWEEN US Review

“The greatest gift you can give to someone is the space to be his or herself”

 

 

Jarak di Antara Kita…….

….Ha! Judulnya aja udah mengisyaratkan ini bakal jadi sesuatu yang cheesy banget, well ya meski sekaligus juga memang permainan kata yang menarik. Mengartikan ungkapan “Boys are from Mars” secara harafiah, The Space Between Us bercerita tentang seorang cowok yang gede di planet asal Marvin musuh Bugs Bunny, dan cowok ini diam-diam menjalin pertemanan spesial dengan cewek di Bumi. Kalian pikir LDR itu sulit, coba bandingkan dengan Gardner dan Tulsa dalam film ini. Mereka chatting antarplanet, mereka belum pernah ketemu satu sama lain; karena lahir di Mars, keadaan tubuh Gardner actually disangsikan berfungsi dengan baik di planet kita. Namun tentu saja biar dramatis, maka kita akan ngeliat Gardner, against all odd, berusaha menapak jalan pulang ke Bumi – demi menemui Tulsa serta mencari ayahnya yang enggak ada seorang pun yang tahu siapa.

Selalu menyenangkan melihat karakter mengalami sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya. Perasaan joy kita bakal keangkat tinggi menyaksikan Gardner ngerasain mandi hujan untuk pertama kali. Momen-momen dia berjalan sendirian, dengan sedikit canggung karena berat oleh gravitasi bumi, momen dia bertanya “apa yang paling kalian sukai tentang Bumi?” kepada setiap orang yang dia jumpai adalah momen yang genuinely menyenangkan.

Asa Butterfiled bisa dengan memesona memainkan karakter yang polos enggak-banyak pengalaman, namun tidak mesti innocent. Tokohnya pintar, dia actually ngelakuin banyak pilihan yang risky – enggak membosankan kayak waktu jadi lead di Miss Peregrine’s Home for Peculiar Childern (2016). Memasangkannya dengan Britt Robertson yang di real life tujuh tahun lebih tua membuat kesan ‘jauh’ kedua insan ini terasa natural. Britt di sini sebagai cewek yang street-smart. Clash antara dua karakter ini cukup menarik, I do like karakter Tulsa, masuk akal gimana dia yang dibesarkan dari orangtua asuh satu ke yang lain merasa urgen buat mempertemukan Gardner dengan sang ayah. But to be honest, ketika Britt dan Asa menyentuh ranah romansa, aku enggak bisa ngerasain spark di antara mereka. Sekali lagi, mereka terlihat ‘jauh’. Ada yang gak klop dari koneksi mereka sebagai pasangan, especially the way Tulsa manggil Gardner dengan “Bub”. Britt Robertson adalah salah satu aktor yang fleksibel dalam soal usia, maksudku, dia kerap memerankan tokoh yang rentang usianya sangat variatif. Tahun 2016 kemaren, dia jadi mama muda, dia hamil dalam setiap film yang ia bintangi. Dan sekarang dia kembali jadi gadis remaja. Kupikir masalahnya bukan pada akting atau di dianya sendiri sih, melainkan lebih kepada kita sudah punya ekspektasi Britt bakal move on memainkan tokoh yang lebih dewasa. Dengan cerita yang lebih matang pula tentunya.

sayang sekali mereka lupa menjemput Matt Damon di atas sana

 

Para aktor dalam film ini kelihatan sangat berusaha. Gary Oldman turut bermain, bersama Carla Gugino dan Janet Montgomery. While Janet sebagai ibu Gardner enggak banyak mendapat screen time, Gary dan Carla mencoba melakukan yang terbaik menghidupkan karakter yang hanya berlarian dan menghabiskan waktu dalam komunikasi yang enggak efektif. Ketiga orang ini berperan sebagai pihak NASA yang bertanggungjawab pada proyek pemukiman di Mars.

See, sebelum kita masuk ke kisah cinta Gardner dan Tulsa, film ini akan menggugah moral kita terlebih dahulu dengan sesuatu yang sebenarnya adalah elemen cerita yang sangat segar. Saking freshnya, elemen ini bisa dijadikan satu film sendiri, yang bahkan punya potensi lebih menarik ketimbang apa yang kita dapatkan dari menonton The Space Between Us. I was actually feeling really intrigued by the first 15-minutes. Aku sudah siap untuk ngeliat romansa cheesy, but hey, malah disuguhin sama permasalahan manusiawi. Tokoh Gary Oldman mengirim enam astronot sebagai manusia pertama yang akan tinggal di Mars, namun setengah jalan ke sana, janin mengisi rahim si kapten astronot. Tentu anugrah tak-terduga ini mengacaukan protokol, apalagi setelah melahirkan di Mars, sang kapten meninggal. Kejadian ini ditutupi lantaran ekspedisi gede itu bakal ter-reflect bad ke publik. Yang tentu saja memunculkan pertanyaan, bagaimana nasib sang anak? Dibesarkan di atas sana, jauh dari peradaban manusia normal? Atau dibawa pulang dengan resiko membunuhnya?

Mau di planet manapun, keadaannya selalu sama. Anak-anak bakal mengantagoniskan orangtua, terutama jika figur orangtua tersebut mengekang mereka. Dalam kasus Gardner yang kabur dari NASA, yang juga integral dengan arc si Tulsa, ini adalah metafora dari seorang anak yang lari demi mencari tahu siapa dirinya, untuk mencari jati diri. Mencari tempat yang familiar dengan diri. Dan orangtua yang keep their children in the dark, they should have know better Bahwa terkadang, jarak perlu untuk diberikan kepada orang yang kita cinta.

 

Untuk sebuah film yang membicarakan tentang kehidupan di tempat tanpa gravitasi, The Space Between Us sendirinya sudah seperti CERITA YANG MELAYANG BEGITU SAJA. Dia tidak bisa menemukan pijakan. Apa yang ingin penonton lihat adalah bagaimana mereka memainkan gimmick cinta beda-planet, akan tetapi film ini mengeset elemen cerita dengan tone yang serius dan thoughtful di awal, hanya untuk meninggalkan elemen tersebut begitu saja; menimpanya dengan pancingan-pancingan dramatis yang standar. Film ini kelihatan seperti ingin menjadi banyak sekaligus. Hasilnya adalah perjalanan yang membosankan, tidak ada elemennya yang bekerja dengan baik, satu-satunya yang bikin kita melek adalah adegan-adegan yang menjadi unintentionally hilarious sebagai akibat dari numpleknya penulisan skenario film ini.

Ada bagian soal anak yang bosen dikurung, yang resolve menjadi perjalanan ngeliat balon-balon dan ketemu Indian hippie. Ada bagian temenan sama robot, you know, ala-ala pesan moral Artificial Intelligent; Gardner dan robot pengasuhnya kayak “Aku sedih loh, bukannya kita teman?”/”Kamu kan robot, mana punya perasaan”. Ada juga bagian yang mengingatkan kita sama Wall-E; sebelum berangkat ke Bumi ketemuan ama Tulsa, Gardner yang begitu ingin ngerasain hubungan manusia menonton film cinta jadul dan dia berlatih adegannya. Tentu saja, juga ada bagian roadtrip romantic saat Gardner dan Tulsa kabur mencari alamat ayah sambil diuber-uber oleh NASA. Yang dengan cepat menjadi konyol, kayak, Tulsa yang tiba-tiba nyanyi pake gaun di swayalan. Siapa sih yang lagi di perjalanan jauh malah milih pakai gaun?? Ada juga satu adegan di kafe di mana tiba-tiba ada cowok sok akrab yang nimbrung dalam obrolan mereka, who the hell is that guy anyway?!  Dan bagaimana dengan remaja yang bisa ngendarain pesawat, normal toh

Bagi film remaja, sepertinya sudah menjadi kebutuhan primer buat mengantagoniskan orang dewasa. Film ini mencoba untuk membuat Gary Oldman and-the-gank kelihatan jahat di mata Gardner dan Tulsa, but of course kita tahu lebih baik – kita tidak pernah melihat mereka sebagai badguy yang mau mencelakakan, dan itulah sebabnya kenapa elemen ini tidak bekerja.

but hey, kita dapat adegan ledakan. It’s a good thing, right?

 

Dari gimana hidup di Mars, cerita dibawa kembali ke Bumi, dan sesungguhnya sangat susah buat menarik kembali perhatian kita. I mean, seexciting apa sih kejadian di Bumi dibandingkan dengan di Mars? Film ini sepertinya aware dengan hal tersebut, jadi mereka memasukkan apapun biar bagian di Bumi menjadi menarik. Akan tetapi akibatnya ada BANYAK KEENGGAKKONSISTENSIAN, sampai-sampai kita bingung sendiri ini film niat apa enggak sih. Seting waktu ‘masakini’ film ini adalah di masa depan, enam belas tahun dari 2018, tahun kematian ibu Gardner. Bumi dan Mars bisa ditempuh dengan hanya tujuh bulan perjalanan. Gawai terlihat mentereng, desain laptop sudah demikian majunya. Tapi pakaian, mobil, pesawat, tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan masa kini kita semua. Penulisan Gardner juga linglung, dia malah cenderung kayak orang gua ketimbang orang dari Mars yang sudah maju. Masuk akal jika dia euphoria pacaran ataupun mandi hujan, karena itu adalah hal baru yang sekali itu pernah ia rasakan. Tapi heran dan ketakutan ngeliat kuda? C’mon masa iya dia belum pernah liat hewan di internet? Terkecuali di act ketiga, kita bisa melupakan sama sekali bahwa Gardner adalah orang Mars, karena dia bertindak kayak orang ‘sakit’ instead.

 

 

 

Lucu betapa penuhnya film ini namun enggak benar-benar ada bobot yang terasa. Film ini harusnya mendengar sendiri pesanya; berikan ‘jarak’ supaya elemen cerita bisa berkembang. Akan bisa lebih baik jika film ini memfokuskan kepada Gardner sebagai lead tunggal, film bisa dimulai dengan kehidupannya di Mars terus dia menemukan video keberangkatan ibunya, sehingga kita enggak perlu ngeliat prolog sebagai sepuluh-menit-pertama yang enggak benar-benar memberi bayangan tentang pusat cerita. Malahan apabila film ini just stick menjadi full cheesy, mungkin tetep akan lebih baik. At least, it would be enjoyable dalam level ‘so bad it’s good’. Nyatanya, kisah anak dari planet ketutup oleh banyak hal, termasuk oleh drama cinta yang enggak klik. Dan keinginan buat ngasih twist yang sebenarnya enggak perlu-perlu amat. Apakah film ini berupa action, komedi, romance, sci-fi, adventure, not even pembuatnya tahu pasti. Drama ini persis seperti pemandangan set Mars yang ia tampilkan; kering meranggas.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for THE SPACE BETWEEN US.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

DANUR: I CAN SEE GHOSTS Review

“A friend in need is a friend indeed”

 

 

Siapa sih yang enggak pengen punya sobat hantu yang baik hati. Gagasan memiliki seorang yang deket dengan kita, yang selalu ada, terlebih jika ia punya kemampuan ajaib kayak Om Jin sehingga bisa membantu dalam masalah penting maupun enggak penting, selalu sukses menjadi bahan lamunan yang menarik. Apalagi buat anak kecil kesepian seperti Risa. Ditinggal ayah dan ibu bekerja seharian membuat Risa begitu mendambakan kehadiran teman bermain. Maka, di malam ulangtahun kedelapan yang ia rayakan sendirian di rumahnya yang gede, Risa meniupkan permintaan polos dan lugu, “Aku ingin punya teman”

Memanfaatkan cerita yang berasal dari kisah nyata, like, there’s actually a person in Bandung named Risa Saraswati yang berteman beneran dengan hantu-hantu anak kecil; dia membukukan pengalamannya yang kemudian diadaptasi ke layar lebar, film ini membuat banyak materi menarik untuk promosi. Film ini dikabarkan ditulis ulang, posternya pun diganti, sesuai dengan permintaan hantu yang difilmkan. Well, sepertinya setelah ada film horor yang diproduseri oleh anak kecil, sekarang kita juga punya horor yang diproduseri oleh hantu anak kecil..
Prilly Latuconsina yang memerankan Risa Remaja, menurut laporan film ini, meminta dibukakan mata batinnya supaya ia bisa lebih mendalami karakter yang dia perankan. Dan saat premier film, lima kursi kosong beralas kain putih disediakan di sebelah Prilly, menandakan ada lima ‘undangan spesial’ hadir menyaksikan filmnya. It’s actually menarik melihat UPAYA YANG BEGITU BESAR DALAM MEMPROMOSIKAN FILM HOROR INI. Ah, seandainya ide kreatif yang berlebih tersebut diarahkan untuk membuat film yang lebih berbobot dan lebih enak untuk ditonton.

Sekalian aja kasih promo “reviewer yang ngasi nilai jelek bakal disatroni Peter dan teman-teman”

 

Risa bermain piano sambil menangis sebagai pembuka film adalah adegan yang beneran unsettling. It’s a great scene yang ditangani dengan kompeten, kita ngerasain takut dan bingung, Prilly ngesold tokohnya dengan sangat baik. Actually, walaupun enggak banyak yang bisa dilakukan terhadap karakter Risa dan lain-lain, karena memang ditulis seadanya – polos tanpa penokohan yang berarti, Prilly most of the time berhasil menyampaikan perasaan yang dialami oleh Risa kepada kita. Dia adalah salah satu dari dua bagian terbaik di film ini, namun perlu diingat that’s not really a great achievement buat film ini. Bagian terbaik lainnya adalah penampilan dari Shareefa Daanish yang sekali lagi bermain sebagai tokoh yang amat sangat bikin merinding. Enggak perlu banyak-banyak dipoles, kalo aku dipelototin Shareefa dengan cara yang sama dengan cara Asih memandangi Risa, maka niscaya aku bakal lari pontang-panting. Dia bisa jadi Ratu Horor modern sinema tanah air, namun aku jadi kasian juga kalo-kao Shareefa Daanish enggak bisa move on dari peran peran creepy seperti ini, she’s actually a decent actress.

Slightly good performances enggak lantas membuat film jadi ikut slightly good. Begitupun penampakan hantu yang menggebu enggak seketika bikin film horor menjadi bagus. Genre horor Indonesia mestinya segera melek dan menyadari bahwa horor yang benar-benar nyeremin itu datangnya dari psikologis manusia, bukan semata dari wujud hantu yang berdarah-darah. Horor terbaik selalu adalah cerita yang menggali trauma psikologi, seperti The Shining (1980), The Babadook (2014), atau The Devil’s Candy yang tayang baru-baru ini (2017). Pada Danur, mereka semestinya bisa mengeksplorasi cerita tentang keadaan mental anak yang setiap hari sendirian di rumah. Bisa ditambahkan layer tentang eksistensi Peter dan teman-temannya yang dapat dikaji sebagai fragmen dari imajinasi Risa yang terlalu nyata. Cerita film ini bisa banget berkembang ke arah psikologikal. Akan tetapi, film lebih ngikut ke saran Pak Ujang “Lebih baik langsung panggil dukun saja”, karena sepertinya mereka takut film ini nanti akan jadi lebih berisi.

Babak pertama sepenuhnya didedikasikan buat Risa kecil berkenalan dengan Peter dan dua hantu cilik lain. Diceritakan dengan cerewet lewat narasi voice-over ketimbang mengefektifkan visual storytelling. Penanganan terhadap detil sutradara Awi Suryadi enggak dimanfaatkan maksimal di sini. Padahal adegan bayangan hantu yang beberapa kali ditampilkan cukup serem. Aku juga suka ketika Peter menyebut Jepang dengan Nippon, seperti yang dilakukan orang Belanda beneran pada masa penjajahan.

Tetapi film menemukan zona nyamannya pada orang yang berteriak-teriak memanggil nama keluarganya yang hilang, serta pada jumpscares dengan volume musik yang maksimal. Tidak banyak yang dilakukan oleh Risa ataupun tokoh lain selain kaget, mencari-cari, dan diculik. Risa kecil bakalan mengetahui siapa teman-teman barunya, dan dia akan kaget bersamaan dengan kita belajar apa arti kata ‘Danur’. Dan babak kedua berlanjut dengan Risa yang sudah remaja balik ke rumah itu lagi, kali ini dia ngerawat neneknya yang sakit barengan Riri adiknya. Kemudian Riri juga ngalamin kejadian yang sama dengan Risa sewaktu kecil, Riri berteman dengan makhlus halus lain, hanya saja temannya ini jahat. Riri diculik dan Risa harus mencari adeknya. Sesuatu yang tidak-bisa ia lakukan tanpa bantuan teman-teman lamanya, of course.

hantu-hantu yang lucuu, ke mana engkau terbang?

 

Kita memang enggak bisa ngeliat Peter beneran, tapi kita tentunya bisa dong ngeliat betapa kacaunya skenario film ini. Para tokoh tidak punya motivasi. Tidak ada actual plot. Jikapun ada, seperti Risa, hanya ditulis setipis uban nenek; seharusnya ini adalah tentang anak yang ingin punya teman, tapi yang ia dapat adalah teman hantu. Kita akan melihat arc Risa resolves menjadi dia mensyukuri apa yang ia punya, namun perjalanannya tidak pernah terasa meyakinkan. Ataupun menyeramkan. Film ini lebih ke ngebuild up keberadaan jahat penghuni pohon angker alih-alih pertemanan tulus nan indah yang terjalin antara makhluk beda dunia.

Seberapa jauh kita mengenal teman-teman kita? Bagaimana jika kita tahu rahasia terdalam dan tergelap mereka, apakah kita masih mau berteman dengan mereka? Film Danur bisa kita lihat sebagai kisah seorang anak yang menemukan arti persahabatan. Bahwa teman bukan hanya company untuk bermain dan bersuka ria. Teman yang sebenarnya adalah teman yang ada di sana kala kita membutuhkan mereka.

 

 

Tampak AWI SURYADI SUDAH MENEMUKAN FORMULA HORORNYA. Jika kita tilik, Danur punya ‘tubuh bercerita’ yang sama persis dengan Badoet (2015). It’s about anak-anak yang tertarik sama makhluk astral, kemudian anak tersebut dikendalikan – atau diculik, terus ada flashback tragis si hantu jahat semasa hidup yang dikecam oleh masyarakat, dan kemudian protagonis akan menemukan cara simpel untuk mengalahkannya, yang bakal berhubungan dengan tempat dan benda tertentu. Kita bisa ngeoverlook ini pada Badoet, yah termaafkan sehingga bisa masuk level ‘bisa-lebih-baik-lagi alias 6 dari 10 bintang’ karena film itu actually memanfaatkan set apartemen dan gimmick badut dengan efektif. Yang dilakukan Awi pada Danur, however, cuma hal-hal generik yang sudah lumrah kita temukan di film horor. Pada Badoet, final ‘big-confrontation’nya berlangsung dengan bahaya pada tokoh hanya berupa tangan yang lecet kena sekop. Pada Danur, finalnya terasa sangat gampang dengan tersandung dan pergelangan kaki tegores sebagai rintangan utama.

Tidak ada hal menarik original yang kita temukan di Danur. Film ini penuh oleh tropes dan elemen-elemen dari film horor lain. Badoet juga niruin film lain sih, but this time I won’t fall for that again. Asih di Danur tampak seperti Sadako, apa yang ia lakukan dalam menakuti kayak yang dilakukan Sadako di Ring (juga kayak Samara di sekuel Ring versi Amerika, sampe ke bak mandinya), even mulut nganga Asih ekspresinya mirip ama tampang korban Sadako. Bel di tangan nenek yang sakit is very well be elemen yang dicomot dari The Uninvited (2009). Seriously, kepentingan tokoh nenek ini apaan sih? Dia sakit apa juga gak disingggung, yang kita tahu hanyalah si nenek gak bisa bicara karena dia takut make upnya yang kayak kulit Groot jadi rusak. Bagian permohonan Risa kecil yang terwujud ngingetin kita sama Krampus (2015) atau Home Alone (1990). Dan perjalanan Risa ke dunia lain di babak ketiga udah kayak pengadeganan parody dari franchise Insidious.

On a lighter note, aku ada sedikit saran buat kalian:

kalo-kalo ada yang punya kemampuan ‘melihat’ seperti Risa, maka janganlah sekali-kali menjawab pertanyaan wawancara kerja dengan begini:
Interviewer: “Apa kelebihan Anda?”
Kamu: ( berbisik dramatis) “I see things that nobody else sees…”
I did try it once, you know, buat cairin suasana, and the interview didn’t go well hhihi

 

 

Kalian tahu kalian sudah bikin kerja yang buruk jika film horor yang kalian buat malah bikin penonton di studio ketawa ngakak. Syut Asih yang berdiri diam di mana-mana tidak bisa terus-terusan seram. Adegan horor haruslah ada build up, enggak bisa melulu dikasih klimaks penampakan jeng-jeng!

Film ini berusaha terlihat berkonten lokal dengan lagu tradisional Boneka Abdi, namun bahkan lagu tersebut overused; di lima-belas menit pertama saja kita sudah mendengar lagu ini lebih dari tiga kali. Aura mistis dan nuansa misterinya jadi hilang. Awi Suryadi juga ingin menggunakan formula yang sama dengan Badoet yang moderately sukses, but formula tersebut sejatinya enggak bagus-bagus amat sedari awal, dan di film ini terbukti gagal. Ada menaruh perhatian pada detil, sayangnya malah mengisi dengan tropes dan jumpscares dan elemen film lain tanpa ada penggalian yang baru, membuat film ini jadi enggak berbobot. Tidak ada layer, karakter serta plot yang tipis, perspektif Risa disia-siakan. Jika kalian mengharapkan horor yang membahas pertemanan dua alam yang benar-benar menyentuh dan grounded, kalian tidak akan mendapatkannya di sini. Dan sehubungan dalam semangat Hari Film Nasional, sepertinya sudah tiba waktu bagi film Indonesia, dalam kasus ini film horor, untuk menganggap kritikus dan reviewer sama seperti Peter; sebagai teman yang sekalipun menyeramkan, namun sejatinya hanya ingin membantu.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for DANUR: I CAN SEE GHOSTS

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE DEVIL’S CANDY Review

“Art is the concrete representation of our most subtle feelings”

 

 

Jangan melukis makhluk hidup, nanti bisa jadi tempat tinggal setan. Pak Ustadz di surau dulu bilangnya gitu. Jangan keras-keras dengerin musik, apalagi yang teriak-teriak, gak enak di denger. Mama biasanya ngomel dari dapur kalo aku udah mulai nyetel Marilyn Manson di kamar. Dan biasanya Papa nimbrung nimpalin; Nyanyi kok kayak kesetanan! Musik, terutama rock, dan lukisan memang lumrah dipandang sebagai tindakan dunia hitam oleh kacamata reliji. But we all did them anyway, dasar manusia pendosa semua ahahaha. The Devil’s Candy bahkan ngepush image ‘negatif’ dari aliran seni tersebut lebih jauh lagi ke dalam pusaran yang membingungkan. Horor ini mencoba untuk lebih dekat dengan orangtua sebagai kaum yang paling menentang rock abis-abisan, sekaligus membawa dirinya menjadi suatu cerita tentang ketakukan terbesar setiap orangtua di dunia; mampukah kita melindungi anak-anak kita.

A struggling painter baru saja pindah ke rumah baru bersama istri dan putrinya yang udah beranjak remaja. Keluarga kecil yang akrab ini keliatan cool banget; Jesse tampilannya udah nyeni banget dengan rambut panjang, jenggot lebat, dan tatoan. Anaknya, Zooey, juga kompakan demen musik rock, dia pengen punya gitar Flying V Gibson dan menutup setiap gambar beruang teddy pada wallpaper kamar barunya dengan poster Metallica, Pantera, dan  other rock bands sangar. Keliatan paling ‘normal’ adalah Astrid, istri Jesse, yang dari matanya terpancar cinta dan dukungan penuh buat keluarga. Diawali dengan mendengar bisikan aneh, Jesse mulai ‘ngaco’. Lukisannya pun berubah drastis. Dari yang tadinya indah bergambar kupu-kupu, lukisan Jesse kini menampilkan wajah anak-anak yang sedang menjerit berlatar belakang api dan makhluk aneh. Jesse enggak tau apa yang terjadi, dia lupa waktu setiap kali masuk ke studio lukisnya. Dan sementara itu semua terjadi, di luar rumah mereka berkeliaran seorang ‘gila’ yang membunuhi penduduk dengan batu.

Proses kreatif berkembang dari pengalaman sehari-hari. Apa yang kita rasakan, yang kita alami, bakal menjadi inspirasi suatu perbuatan seni yang kita lakukan. Makanya ada yang bilang kalo arts imitate life. Yang kita buat secara jujur pasti merefleksikan our inner self, baik itu sadar atau enggak. Dalam film ini kita melihat Jesse tanpa sadar melukis hal-hal mengerikan – termasuk lukisan Zooey dalam keadaan bahaya – yang mungkin saja adalah pengaruh dari ‘kekuatan tidak tampak’ yang mengendalikan dirinya. Namun ini semua dapat diintegralkan dengan bawah sadar Jesse, bahwa mungkin saja lukisan tersebut adalah tindak bawah-sadar yang mencerminkan perjuangan Jesse untuk menjembatani antara imajinasi dengan tanggung jawabnya sebagai ayah. Antara obsesi dan passion, Jesse berada di tengah-tengah posesi.

 

 

Pernahkah kalian ngerasa begitu sukanya sama sesuatu, sampai-sampai kalian enggak sabar untuk nyeritain ke teman atau siapapun karena kalian hanya ingin membagi hal yang sudah bikin kalian sangat excited? Itulah yang aku rasakan saat nonton film ini. Baru mulai lima-belasan menit aja aku udah menggelinjang pengen segera ngereview. Tahun lalu kita dapet The Invitation, dan tahun ini scene indie kembali mempersembahkan kepada kita semua tontonan horor yang luar biasa lewat The Devil’s Candy.

Adegan pembuka film ini akan membuat kita terpaku, dan yang bertanggungjawab untuk hal tersebut adalah orang ini: Pruitt Taylor Vince. Aktor yang fantastis meski memang sepertinya dia selalu dapet peran-peran ‘psychotic’ kayak gini. Aku sangat tertarik melihat karakternya, dia memainkan gitar listrik sekeras-kerasnya demi menenggelamkan suara bisikan setan. This is very conflicted, serius, dia membuat musik rock sebagai semacam pertahanan untuk berlindung di balik setan yang terkutuk, padahal aku taunya rock justru mengundang setan. Tokoh yang dimainkan Pruitt adalah orang yang amat sangat gila, keberadaannya sendiri sudah sukses berat bikin seantero film jadi unsettling. Ngeliat dia ngunyah permen di dalam mobilnya aja udah cukup buat kita meringis dan nebak bakal ada darah tak-berdosa yang tumpah.

Kita bakal bergidik ngeri, deh, setiap kali dia berjalan masuk ke layar.

 

Tentu saja kerja editing yang sangat excellent turut andil dalam menghadirkan sensasi kengerian tiada tara tersebut. Sutradara Sean Byrne punya cara ngecut adegan-adegan dan menjalinnya kembali sehingga tercipta efek kebingungan, kealpaan, yang turut serta kita rasakan. Kita jadi mengerti perasaan heran Jesse ketika sadar hari mendadak sudah malam. Quick cut antara momen Jesse melukis dengan momen si gila yang melakukan ‘kerjaan’nya di tempat lain adalah momen favoritku di film ini. Adegan-adegan film tersusun menguarkan kesan kesurupan yang kuat. Sinematografinya pun kompeten dan tampak dangerously beautiful. Pencahayaan yang really creepy; perhatikan adegan siluet Jesse dan istrinya kebingungan di depan lukisan mengerikan buatan Jesse; pemandangan adegan yang cantik namun hiiii!!! Posisi para tokoh, entah itu mereka ada di depan maupun berdiri sebagai background, sangat diperhatikan, bukan hanya bermakna namun juga menghasilkan imagery yang bakalan jadi bahan bakar mimpi buruk kita. Tentu saja ada kekerasan dan darah, film ini menunjukkannya dengan waktu yang sangat precise, long dan close enough buat kita menyipitkan mata dan berteriak panjang.

Untuk menjadi horor yang baik, tidak perlu melulu soal hantu, monster, ataupun alien. Sean Byrne paham bahwa beberapa film horor terbaik justru adalah cerita yang menfokuskan kepada PENGGALIAN TRAUMA PSIKOLOGIS dari karakternya. Trauma yang sangat mendasar dari manusia diambil untuk kemudian diperkuat dengan elemen-elemen mengerikan. The Devil’s Candy, pada permukaannya, adalah tentang setan yang membisiki manusia, menyuruhnya melakukan hal-hal mengerikan. Tentang ‘rumah hantu’ di mana pernah terjadi suatu tragedi dan sekarang penghuninya melukis wajah-wajah mengerikan dan dia tidak tahu kenapa. Pada saat bersamaan, ini juga adalah sebuah cerita dengan banyak drama keluarga. Jesse yang ‘kesurupan’ menjadi lupa daratan, sibuk dengan lukisannya, sehingga dia melupakan tanggungjawabnya sebagai seorang ayah. Membuat anak dan istrinya merasa teracuhkan.

Ketika kita melihatnya seperti demikian, The Devil’s Candy terasa mirip dengan horor klasik dari Stanley Kubrick, The Shining (1980). Sebagian besar durasi film tersebut dihabiskan buat mengeksplorasi psikologis tokohnya Jack Nicholson yang begitu fokus kerja, lalu ultimately horor dimulai ketika dia mengambil kapak dan memburu anak dan istrinya. Jesse, dalam kasus film indie ini, adalah pelukis yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, kemudian ada kekuatan tak-kasat mata yang membuat Jesse hilang kendali dan melupakan keluarganya. Kedua film sama-sama tentang ayah yang tanpa sadar neglecting keluarga. Namun, keduanya diceritakan lewat cara yang berbeda, dengan perspektif yang juga berbeda. So I’m fine with it, lagipula memang beginilah seharusnya formula film horor yang baik.

Hal paling menyeramkan dari film horor tidak semestinya berupa sosok hantu pucat, monster berdarah-darah, ataupun makhluk-makhluk aneh lainnya. Takut bukanlah fakta, melainkan perasaan. Dan perasaan ketika ada sesuatu yang mengendalikan kita sampai-sampai membuat kita melupakan keluarga dan orang-orang tersayang, adalah perasaan yang genuinely menakutkan dan kita semua bisa relate kepada perasaan tersebut.

 

Ethan Embry juga sepantasnya dapat tepuk tangan yang bergemuruh. He’s really sold the third act. Dia kelihatan sangat agresif ketika memainkan Jesse yang melukis dengan ‘berapi-api’ dan gak sadar keadaan sekitar. Ada momen ketika film ini menjadikannya simbol due to his appearance. Pendekatan yang Ethan lakukan begitu Jesse mulai terpengaruh oleh ‘bisikan’, kadang dia melukis hanya mengenakan celana dalam, sungguh-sungguh menakutkan. Dan dia mampu memainkan kontrasnya peran ketika Jesse harus duduk, dengan gentle, meminta maaf kepada Zooey saat dia terlambat menjemput ke sekolah.

heeeeeeeree’s Jesse!

 

 

Berhubung ini adalah film independen, maka kita bisa lihat sendiri film ini enggak punya budget yang gede-gede amat. Namun sebisa mungkin film ini membuat adegan yang terbaik. Sepuluh menit terakhir, set ‘pertempuran final’ yang mana mereka ingin membuatnya terlihat seperti neraka, I guess, sebenarnya terlihat sedikit menggelikan, bisa jadi cover album rock band tuh haha.. Tapi ini adalah jenis menggelikan yang bisa kita apresiasi dan hormati. Kayak konyolnya serial Twin Peaks lah. Aku juga merasa film ini, delapan-puluh-menitan itu bukan terlalu singkat, tapi mungkin bisa ditambah lima belas atau dua puluh menit lagi buat pembangunan karakter keluarga Jesse. Tokoh Zooey dan Astrid sebenarnya cukup menarik, diperankan dengan lebih dari oke respectively oleh young-and -promising Kiara Glasco dan Shiri Appleby yang mukanya ngademin. Aku bersorak keras saat Zooey dengan kreatif-di bawah-tekanan nunjukin trik melarikan diri nyaingin Houdini. Hanya saja memang mereka butuh diberikan sedikit bobot lagi sehingga kita bisa bener-bener ngerasain ketika keadaan berubah menjadi malapetaka bagi mereka.

 

 

 

Horor yang benar-benar ngena ke sisi psikologis manusia adalah horor yang baik. Film ini mengerti hal tersebut, dan dengan iramanya sendiri yang cepet dan keras berhasil menjalin merahnya cat, darah, dan api sehingga menghasilkan sebuah tontonan yang absolutely terrifying. Diisi dengan penampilan yang semuanya fantastis. Arahan dan editing yang juga sama kuatnya. Film ini layaknya karya seni yang berasal dari neraka personal seorang ayah yang struggling dengan pekerjaannya, dia bahkan enggak yakin apa yang mengendalikannya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for THE DEVIL’S CANDY.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

20TH CENTURY WOMEN Review

“Be the role model you needed when you were younger”

 

 

Sebenarnya bukan gagasan tok yang membuat suatu cerita, suatu film, terasa spesial. Jika kita menilai film berdasarkan konsep abstrak yang jadi idenya saja, maka film kayak Resident Evil: The Final Chapter (2017) bisa jadi film yang bagus – lewat Alice film ini bicara tentang manusia harus come in terms soal kenapa dirinya diciptakan – Tetapi kan enggak, nyatanya Resident Evil adalah salah satu film terburuk 2017 sejauh ini. Tentu saja, kita butuh perspektif yang kuat dalam bercerita. Dan film adalah salah satu bentuk penceritaan. Mengutip kata-kata Roger Ebert, yang terpenting dalam bagi sebuah film adalah bukan tentang apa, melainkan bagaimana film tersebut menceritakan hal yang dijadikan gagasan. Bagaimana konteks yang membangun film tersebut tersusun. Dan 20th Century Women adalah FILM YANG BEGITU KAYA OLEH PERSPEKTIF.

Bayangkan sebuah segitiga spektrum seperti yang sering kita lihat di buku IPA yang membahas pembiasan optik; gagasan dan sudut pandang sutradara Mike Mills, tentang pengalaman ibunya yang membesarkan anak seorang diri adalah cahaya putih yang dimasukkan ke dalam film – yang bertindak sebagai segitiga – dan sebagai outputnya, satu ‘cahaya’ tersebut terpendar ke dalam perspektif-perspektif unik (but real) para tokoh film, dan cahaya-cahaya sudut pandang itulah yang membuat 20th Century Women sangat mencolok dan kaya.

 

Dorothea sudah kepala empat ketika melahirkan putra tunggalnya, Jamie. Suaminya telah tiada, Dorothea membesarkan Jamie seorang diri di bawah naungan atap rumah yang beberapa kamarnya beliau sewakan. Hidup mereka ramah, hangat, akrab. Namun 1979 datang, ini adalah kala di mana terjadi perubahan besar di Santa Barbara. Reagan ancang-ancang memulai rezim menggantikan Carter. Remaja mulai kenal rokok dan musik Punk. Jamie sudah 15 tahun sementara Dorothea pun tidak bisa untuk bertambah lebih muda. Serta merta lingkungan mulai memberikan pengaruh kepada ibu dan anak tersebut. Khawatir tidak bisa ‘menyentuh’ seluruh sisi kehidupan Jamie, Dorothie lantas meminta tolong kepada kedua penghuni kosnya; mahasiswi lulusan kesenian Abbie dan hippie tukang furnitur William, juga kepada cewek sahabat Jamie dari kecil, Julie, untuk membantunya dalam ‘membesarkan’ Jamie, membantu remaja ini melewati fase hidup yang complicated.

Anak-anak, jangan main Pass Out Challenge di rumah. Dan di sekolah. Dan di mana saja.

 

 

Dialog, dialog, dan dialog. Ada sih, intermezo kayak mobil terbakar, orang pukul-pukulan, mobil ngebut, tapi highlight film ini adalah saat para tokoh berbincang-bincang. Jamie ngobrol sama Julie. Abbie curhat ke Dorothea. Jamie berantem sama Dorothea. Ini adalah jenis film yang akan membuat kita ingin menekan tombol pause setiap beberapa menit sekali, dan nyatetin setiap percakapan yang muncul di antara mereka. Beberapa terdengar witty, seperti kalimat yang diucapkan Dorothea, yang kurang lebih kalo kita mencet tombol subtitle akan menjadi; “Mempertanyakan apakah kita bahagia sesungguhnya adalah jalan pintas yang bagus menuju depresi”. Tak jarang memang seluruh percakapan mereka terasa lucu. Ketika Jamie menjawab pertanyaan ibunya mengenai sebab dia berkelahi di taman, misalnya. The whole situation was just awkward. Film ini benar-benar menangkap kontrasnya dua generasi, dua sudut pandang. Film akan mendudukkan dua hal berbeda tersebut, dan mereka akan ngobrol tentangnya, saling mengeluarkan pendapat, sementara kita akan turut berada di sana; tidak pernah sebagai hakim, hanya sebagai saksi yang melihat struggle manusia untuk bisa saling mengerti dan mengisi, usaha untuk mengekspresikan diri, saling menjaga, meski terkadang memang cinta itu menimbulkan luka.

Komunikasi di antara para tokoh penuh oleh sudut pandang, unik, dan menginspirasi. Terutama adalah mereka tetap terasa nyata. Mengangkat begitu banyak perspektif lewat dialog sama gampangnya dengan balapan sama mobil dengan naik skateboard. Karakter-karakter dengan pandangan ‘beda’ tersebut bisa dengan mudah jatoh ke dalam kategori annoying dan sok-ngerasa-paling-bener. Tapi di sini enggak. Jamie, Dorothea, Julie, Abbie, William, semuanya kerasa real dan akrab. Aneh, iya, tapi kita ingin mengerti mereka. Cara film memperkenalkan mereka lewat voice-over narration dan tulisan di layar yang mencakup bahkan tahun lahir mereka, sangat membantu sehingga kita bisa melihat ‘darimana mereka berasal’. Membantu kita memahami konsep dan konteks para tokoh, gagasan dan perspektif mereka. Aku jadi pengen masuk ke layar dan menarik kursi, duduk ngobrol di meja makan bareng mereka. Aku ingin ikut si Julie manjat masuk ke dalam kamar Jamie, dan berbaring di sana, ngomongin soal kehidupan sambil menengadah menatap langit-langit yang berlumut. Aku ingin ikutan nari bareng Abbie kemudian membantu dia menjepret barangnya sehari-hari, all of that while we’re talking heart-to-heart.

Itu semua berkat penampilan akting yang begitu luar biasa. Mike Mills dan tim penulisnya membangun pondasi penokohan yang excellent, dan para aktor memanfaatkan dengan fantastis ruang yang diberikan buat menghidupkan peran-peran yang dewasa lagi berbeda tersebut. Lucas Jade Zumaan berada di tengah-tengah lingkungan yang confusing; sebagai Jamie dia berusaha ngertiin ibunya yang ngerasa diri sudah terlalu jauh ‘di depan’ she can’t go back entirely, dia berusaha memahami sobatnya, also a possible love interest, yang hanya mau mereka sebagai teman, dia berusaha ada di sana buat Abbie (Greta Gerwig is really great membuat kita pengen punya ‘big sis’ kayak dia) yang didaulat enggak bisa punya anak karena rahimnya ‘enggak kompeten’. Dan Lucas pulls it all off; ketika dia berkata dia ingin menjadi pria baik kita tahu bahwa dia bersungguh-sungguh mengatakannya.

Setelah penampilan fenomenalnya mencuri perhatian di Live by Night (2017), Elle Fanning kembali tampil mempesona sebagai cewek remaja yang enggak-bahagia yang menyebut dirinya sebagai ‘self-destruct’. Perannya adalah yang paling kompleks. Melihatnya ‘diusir’ enggak boleh lagi ke kamar Jamie jika hanya mau numpang tidur adalah salah satu momen yang bikin kita meringis karena ada begitu banyak emosi bentrok di sana dari kedua belah pihak. Tahun ini bisa jadi adalah tahun emas buat Elle, karena betapa piawai pendekatannya memainkan sosok yang berbeda; kita udah melihat dia di dua film, and yet we also don’t see her in those two.

elu friendzonin anak gue yeee

 

Pun begitu, ujung tombak film ini adalah Annete Bening yang glorious sekali memainkan Dorothea. Apa yang karakternya alami, integral banget dengan isi pidato presiden James Carter; Crisis of Confidence. Ibu ini mencemaskan seiring waktu dia bakal kehilangan purpose sebagai ibu Jamie. Hidupnya pun akan menjadi meaningless. Dorothea tumbuh saat perang dunia berlangsung, dia belajar militer, dan by the time dia selesai perang juga sudah usai. Menyenangkan, dan terkadang heartwrenching, melihat Dorothea berusaha tampil sebagai ibu yang asik, you know, ada adegan dia dipanggil ke sekolah Jamie lantaran kasus pemalsuan tanda tangan, dan dia malah memuji keterampilan anaknya alih-alih memarahi. Atau ketika dia enggak ngerti musik punk bagusnya di mana, dan kemudian dia diam-diam mencoba menari ngikutin irama ketika anaknya enggak ada di rumah. Ini adalah karakter bebas yang punya aturan sendiri; Dorothea ngerokok dengan alasan pada jamannya rokok adalah mode dan itu bukan berarti dia setuju ngeliat cewek remaja kayak Julie ngerokok. Bening’s portrayal terhadap tokoh ini membuat kita menyadari rumitnya peran seorang ibu.

Ada sense of kehilangan dalam film ini. I mean, ada rasa di mana ada sesuatu yang sudah terlewat dan enggak bisa kembali lagi. Ini adalah cerita tentang menyongsong waktu; Jamie yang sudah akan dewasa. Dorothea yang sudah semakin menua. Pergantian jaman. Seperti yang digambarkan oleh film ini melalui adegan mobil dengan efek visual cahaya yang berpendar warna-warni; Hidup bergerak dengan cepat. Kadang yang kita punya hanya kenangan, dan kita harus memegangnya erat-erat. Karena suatu hari kita akan jadi role model, dan yang kita perlukan untuk itu adalah menjadi sosok yang kita butuhkan saat kita masih muda. Sebagaimana Jamie, dan to an extent, Mike Mills sendiri, memeluk kenangannya dan membagi cerita dengan kita.

 

 

20th Century Women adalah KENANGAN Jamie. Dan ini dipertegas oleh treatmen kamera dan narasi yang menggunakan teknik voice-over yang sebagian besar disuarakan oleh Jamie, di mana ia terdengar seperti mengenang semuanya. Kita melihat semua kejadian masalalu dari perspektif masakini Jamie. Kita juga dikasih tahu gimana nasib para tokoh di akhir cerita, yang mana menandakan film ini sebenarnya masih punya plot. Pun masih ada struktur narrative yang dipatuhi. Namun memang film ini tampil seperti terbagi menjadi beberapa sketsa kejadian. Kita enggak tahu persis apa yang bakal terjadi, semua kelihatan seolah terjadi random, just like real life. Just like a real memory. Kejadian-kejadiannya lebih seperti dibangun berdasarkan anekdot-anekdot lepas soal hubungan antara cewek dengan cowok, soal anak dan ibu, feminism dan maskulin, dan semacamnya, alih-alih terbuild-up menjadi sesuatu adegan gede. Tapinya lagi, hal tersebut enggak serta merta menjadi cela buat film ini. Ceritanya yang episodic menegaskan kepentingan bahwa hidup tidak terencana. Dan semuanya itu terintegral manis dengan, katakanlah ‘gimmick’, bahwa film ini adalah cerita tentang Jamie yang mengenang semua kejadian.

 

 

 

Ditulis dengan matang, film ini akan ngingetin kita betapa singkatnya waktu yang kita punya di dunia. Lebih kepada soal memilih suri teladan dalam hidup, film ini menegur kita untuk menghabiskan hidup dengan orang-orang yang kita cintai dan peduli kepada kita saja. Karena kalo ada yang tetep di dunia, maka itu adalah cinta. Penampilan akting pada film ini semuanya hebat, menghasilkan sebuah sajian penuh kata-kata yang tidak akan terasa sumpek oleh ceramah. Menonton film ini kita seakan dipelototi oleh beragam sudut pandang yang sangat menarik, eksentrik kalo boleh dibilang. Akan ada banyak quotes tentang pilihan hidup buat kita kutip, due to being philosophical, atau karena kocak. Hidup itu aneh. Kadang kita mengurus, dan tak tahu kapan ketika giliran kita yang diurus. Orang-orangnya ribet. Kita tidak akan tahu apa yang bakal terjadi. Film cantik ini memotret kenyataan tersebut lewat kehidupan sekelompok orang yang tinggal bersama, mesti bertengkar namun begitu eratnya sehingga menjadi kenangan yang indah.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for 20TH CENTURY WOMEN.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

BEAUTY AND THE BEAST Review

“Sometimes, if you truly love somebody, you have to let them go their own way. And if it’s true love, it will find it’s way back to you.”

 

 

Buatku, menyongsong film Beauty and the Beast ke bioskop ini rasanya seperti menjemput kembali seorang teman lama. Bersama Petualangan Menuju Pusat Bumi karya Jules Verne, cerita bergambar Beauty and the Beast adalah buku cerita pertama yang aku punya. Aku bahkan dapat dua buku itu sebelum aku bisa membaca. Aku masih ingat tampang kesel orangtuaku setiap kali aku minta bacain ulang ceritanya, setiap hari. Jadi terkadang aku cuma melototin gambar-gambarnya. Scene Beast berantem ama serigala, Beast diobatin oleh Belle, Beast kena panah Gaston, cerita dongeng ini strike the little me sebagai pengantar tidur yang magical. Dan setelah bertahun-tahun kemudian, aku duduk, sekali lagi diceritakan – kali ini oleh gambar-gambar manusia yang bergerak — tentang kisah yang sudah familiar, hanya saja sekarang aku sudah bisa ‘membaca sendiri’. Actually, sekarang aku menontonnya sembari mengeksaminasi ceritanya. It’s like being jugemental to an old friend. Dan aku sangat puas, karena teman lamaku ini tidak banyak berubah.

Film ini pretty much MENGIKUTI FORMULA CERITA ORIGINALNYA nyaris pada setiap aspek. Dari adegan ke adegan. Lokasi ceritanya sama, kejadian demi kejadian pun sama. Sebuah istana kerajaan yang dapet hadiah kutukan berkat ulah selfish dan kasar dari si pangeran. Seluruh penghuni istana itu sekarang menjadi benda-benda kayak jam, cangkir teh, lemari, dan candlestick. Kemudian ada si Belle, cewek kutu buku yang harus tinggal di dalam istana tersebut. Belle ‘dikurung’ di sana lantaran para penghuninya ingin Belle bisa jatuh cinta kepada si pangeran yang kini berbulu dan bertanduk dan bertaring. Dengan harapan kutukan terhadap mereka bisa hilang. Hanya ada beberapa adegan baru yang diselipin yang enggak kita temukan pada versi animasi klasiknya. Mereka menambah sedikit elemen baru, mengupdate beberapa sehingga lebih sesuai dengan modern day. Namun secara keseluruhan, ini adalah film yang sama dengan versi animasi tahun 1991, bedanya kali ini diceritakan dalam format live action. Yang mana semuanya terlihat sangat good-looking.

“after all, this is France”

 

Tapinya lagi, keterlalusamaan tersebut bukanlah tergolong cela. Maksudku, kalo enggak ada yang udah rusak, kenapa mesti diperbaiki, ya gak sih. Beauty and the Beast yang sendirinya adalah adaptasi dari kisah rakyat Perancis adalah memang cerita yang udah bagus dan indah. Bukan tanpa ada alasan loh animasi klasik Disney tersebut jadi film animasi pertama yang sukses nembusin diri berkompetisi di nominasi Best Picture Academy Awards. Aku senang (dan honestly, lega) film ini enggak sok-nekat dan mengubah formula gila-gilaan. Beauty and the Beast 2017 adalah FILM JELITA YANG BIKIN BAHAGIA setiap mata yang melihatnya.

Lagu-lagu yang sudah begitu dicintai are still there in the film. Emma Watson dan Dan Stevens, malahan seluruh pemain melakukan kerja yang sangat baik dalam menampilkan musical numbers mereka. Musik film ini begitu asik untuk didendang. Ada beberapa tambahan lagu juga, namun enggak kerasa jomplang dengan lagu klasik, karena film ini actually menghadirkan komposer dari film original untuk nanganin departemen musik dan lagu.

Lagu Evermore yang dinyanyikan oleh Beast dalam film ini bener-bener hits me hard. Tidak lagi aku melihat cerita ini sebagai “kita enggak boleh ngejek orang jelek, nanti kita jadi jelek juga” kayak yang dinasehatin mamaku setiap kali beliau selesai bacain bukunya. Beauty and the Beast juga adalah cerita tentang unrecruited love; tentang berkorban demi sesuatu yang kita cintai. Beast belajar memenjarakan Belle tidak akan menumbuhkan cinta, dia perlu untuk membiarkannya pergi. Karena letting people go so they can be happy adalah salah satu bentuk paling nyata dari cinta sejati.

 

Seluruh pesona magis dari film originalnya berhasil ditangkap dengan sangat permai. Musik, production design, dan penampilan para pemain terasa fantastis. Bill Condon dalam film ini membuktikan bahwa Twilight Breaking Dawn bukanlah salah arahannya hahaha. Di bawah penanganannya, Beauty and the Best tampil dengan kostum cantik dan set yang glamor. Semuanya stunning banget. Tentu saja ada banyak penggunaan CGI dalam film ini, dan dilakukan dengan begitu terinkorporasi ke dalam elemen live-action sehingga semuanya tampak mulus. Tokoh-tokoh benda anthropomorphic digambarkan, tidak dengan imut, tetapi lebih kepada agak-menyeramkan karena film ingin menekankan kepada tema lihat-lebih-jauh-dari-sekedar-tampang-di-luar. Motion capturenya juga bekerja dengan fluid dan sangat baik. Aku suka pembawaan Dan Stevens sebagai Beast. Dia tampak sangat simpatis, namun pada saat yang sama kita enggak benar-benar kasihan padanya hanya karena dia sudah dikutuk.

Tokoh manusia juga terasa sangat hidup. Desa kecil mereka tampak vibrant sekali ketika Belle berkeliling, nyanyi bareng penduduk. Emma Watson sebagai Belle yang mandiri, strong, independen, tapi matanya kelihatan merindukan sesuatu – always long for more terlihat sangat comfort memainkan perannya. Meski begitu, Emma tampak sedikit terlalu pintar buat menyampaikan efek terperangah ketika melihat sesuatu yang ajaib. Cerita sepertinya memang meniatkan buat Belle tampak lebih nyaman berada di istana dibandingkan di kampungnya yang penuh prasangka terhadap persona yang berbeda, but it just sometimes kita ngarepin ada sedikit lebih banyak lagi emosi terkuar dari ekspresi Belle. Salah satu delivery Emma yang aku suka adalah ketika ngeliat tampangnya saat dibawa masuk oleh Beast ke dalam perpustakaan istana. Gaston, however, adalah tokoh yang sangat sempurna dibawakan oleh Luke Evans. Entertaining, deh. Si narsis ini napsu banget ngejar Belle, tapi Belle just want nothing to do with him. Dan dia enggak segan-segan ngebully hanya untuk memperkuat poinnya.

Jika kalian udah pernah nonton atau baca animasinya originalnya (aduh, masa ada yang belum sih?), kalian akan tau ada sedikit dark message dari cerita Beauty and the Beast. Bahwa benih cinta Belle dan Beast tumbuh dari perasaan mutual seseorang yang dikucilkan. Belle dikata-katain karena suka baca buku, ayah Belle dianggap gila karena sedikit eksentrik. Penduduk desa instantly ingin membunuh Beast setelah melihat wujudnya. Lewat Gaston, film ini mendemonstrasikan kecenderungan masyarakat untuk lebih ‘menghargai’ pembully selama mereka punya karakteristik yang sama dengan society.

 

 

Salah satu dari sedikit elemen yang dibengkokkan oleh film ini adalah gimana hubungan Belle dan Beast terbentuk. Dua tokoh sentral ini diberikan backstory yang baru. Kita melihat sejarah keluarga Belle lebih jauh dalam sekuen adegan yang aku sebut dengan sekuen Buku-adalah-Jendela-Dunia. Hahaha, beneran, aku suka gimana film ini RESPEK BANGET SAMA BUKU. Jaman sekarang buku udah mulai ditinggalin, majalah aja banyak yang pindah ke online, aku harap setelah nonton Beauty and the Beast, penonton muda jadi penasaran pengen ngerasain gimana rasanya bertualang bersama buku. Dalam film ini, Beast dikutuk saat dia udah gede dan ketika dia suda menjadi monster, dia masih bersikap sama dengan ketika dirinya masih manusia. Dia cerdas. Dan dia juga suka baca buku. Belle dan Beast berbagi saling kecintaan mereka terhadap buku, saling berbagi pengetahuan, bertukar pikiran, mereka tidak tumbuh jatuh cinta karena Belle kasian dan ngajarin Beast banyak hal kayak di versi 1991. Dalam film ini hubungan mereka terasa lebih mutual dan lebih grounded. Adegan Belle bilang dia suka Shakespeare dan Beast pasang tampang “lu mainstream banget sih, buku lain banyak kali” adalah salah satu adegan termanis buatku.

Begini jualah tampangku ketika pertama kali tahu dan diajak masuk ke toko buku Kinokuniya

 

 

Film ini juga mutusin buat ngetweak certain character. Ada portrayal yang bakal bikin orangtua merasa awkward udah ngebawa anak-anak nonton film ini. Peran tersebut ‘disamarkan’ dengan baik sebagai comic relief, meski saga nya actually berjalan beriring dengan tema unrecruited love yang jadi salah satu bahasan utama film ini. Disney udah ngambil keputusan yang berani buat masukin elemen tertarik-kepada-sesama-jenis ke dalam film buat keluarga. Kita boleh saja bersikap open-minded, namun kita juga gak bisa nyalahin kalo ada yang sampe ngelarang film ini tayang di negara mereka. Ataupun kalo ada orangtua yang enggak suka. Ini adalah masalah yang bisa dimaklumi meski padahal sebenarnya sejak dulu Beauty and the Beast selalu jadi korban becandaan soal bestiality.

 

 

 

Film ini menambah daftar keberhasilan Disney dalam mengadaptasi animasinya ke dalam live action setelah Cinderella (2015), The Jungle Book (2016), dan Pete’s Dragon (2016). I was very happy with what I got. Jejeran castnya really on-point. Ini adalah film yang cantik, menawan kita kayak Beast menawan Belle, fantasi yang ajaib, cerita cinta yang manis dan mengharukan. Punya inklinasi yang jauh lebih dalem dari sekedar “buruk di luar belum tentu buruk di dalam”. Namun buat yang ngarepin tontonan yang lebih original dan yang benar-benar berbeda dari versi sebelumnya mungkin bakal kecewa karena urgensi magisnya memang jadi berkurang.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BEAUTY AND THE BEAST.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

BID’AH CINTA Review

”The reason many people in our society are miserable, sick, and highly stressed is because of an unhealthy attachment to things they have no control over.”

 

 

Pembaruan itu perlu. Terkadang kita melakukannya supaya memudahkan persoalan, tangga batu diganti jadi eskalator misalnya. Rumah yang dindingnya mengelupas, yang atapnya bocor, perlu diperbarui. Tapi itu konsepnya adalah memperbaiki yang rusak. Bagaimana dengan yang masih baik? Perlukah dilakukan inovasi? Perlukah film atau karya diremajakan (ehm.. ehmm.. remake) meski padahal dirinya sendiri sudah terbukti tak-lekang oleh waktu? Dan dalam konteks agama Islam, yang seharusnya kita yakini sebagai agama yang sempurna, apakah kita benar-benar perlu menambah ataupun mengurangi beberapa hal sehingga ibadah kita bisa ngikutin perkembangan jaman?

Masalah bid’ah adalah concern utama yang diangkat oleh film Bid’ah Cinta. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dilempar oleh narasi film, dan kitalah yang bertugas untuk menangkap dan menimbang sendiri jawabannya. Dalam film ini kita akan ditempatkan pada sebuah kampung yang mayoritas Islam. Hanya saja mereka terbelah menjadi dua kubu; aku enggak tahu istilah benernya, tapi katakanlah di kampung itu ada Islam Modern dengan ajaran-ajaran yang lebih fleksibel, dan Islam Tradisional yang melarang bentuk perayaan diadakan di Masjid. Lingkungan yang semula damai berubah menjadi sinis-sinisan sejak golongan Islam Tradisional ‘menduduki’ Masjid. Ada sikut-sikutan kecil, pengikut ajaran satu pindah ke ajaran yang lain. Tuduhan dan prasangka mulai bermunculan. Ajaran mana yang paling kuat imannya? Ajaran mana yang ngasilin pengikut bermental teroris?

abangmu inget gak sih waktu kecil justu dialah yang meneror Warkop dengan kodok?

 

Dengan anggunnya DRAMA GARISMIRING KOMEDI SATIR INI MENGAMBIL PERSPEKTIF DI TENGAH, sehingga kita dengan aman bisa mengobservasi kedua belah pihak (jangan lupa ngaca!). Film ini memastikan kita dapat menangkap semua permasalahan yang timbul dari pengkubuan. Kita bisa melihat bahwa sejatinya tidak ada satu yang lebih benar dari yang lain, bahwa sesungguhnya kita butuh untuk menyatu. Jika ada yang bisa kita tunjuk ‘kalah’ dari argumen-argumen mereka, maka itu adalah pihak yang mengeraskan suaranya terlebih dahulu. Out of insecurity. Pertengkaran mereka tidak pernah menghasilkan apa-apa. Mereka sama-sama tidak punya jawaban. Mereka gak bisa mutusin pahala-dosa sama halnya dengan mereka gayakin terhadap jalan tengah yang diambil. Namun film ini juga bikin kita bisa paham betapa peliknya masalah jika sudah menyangkut keyakinan, dan – pada level tertentu – kebanggaan terhadap apa yang kita percaya. Rasa bertanggung jawab untuk memeliharanya. Film ini actually memberikan banyak hal untuk kita pikirkan, terutama ketika sampai di babak kedua.

Bahwa terkadang hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengerjakan yang benar, alih-alih yang gampang, buat diri kita sendiri.

 

Kampung mereka vibrant oleh aktifitas dan tokoh-tokoh yang saling berinteraksi. Sangat menarik untuk ngikutin cerita hanya untuk melihat bagaimana kesemua tokoh ini ‘amprokan’ pada akhirnya. Ada subplot tentang preman yang actually jadi belajar agama. Sesungguhnya memang perjalanan kedua preman ini terasa lebih menarik sampai-sampai aku sempat khawatir kalo mereka hanya berakhir sebagai ‘alat perang’ semata, you know. Aku kesel banget kalolah ternyata entar mereka jadi teroris atau semacamnya. Juga ada subplot seorang waria yang dipertanyakan identitasnya; apakah dia sholat di barisan depan bareng cowok-cowok? Ataukah dia bisa di belakang bersama wanita? Apa dasar kita memutuskan keputusan pilihan tersebut? Dan adegan ketika sholat si Sandra ini diinterupsi oleh pengurus mesjid, daaang, aku suka kepada apa yang film ini lakukan terhadap musiknya yang ngehigh pitch gimana gitu. Memberikan kesan surreal yang lumayan disturbing.

Jika Bid’ah secara literasi berarti inovasi atau pembaruan, maka film ini diharapkan bisa menjadi bid’ah yang sangat diperlukan bagi genre religi Indonesia yang sudah lelah dengan tropes semacam poligami, orang sakit, selingkuh, dan lain sebagainya.

 

Film ini diarahkan dengan sangat cakap. Penceritaannya yang cenderung ke visual membuat cerita tidak berasa ceramah. Pelurusan saf saat sholat memberikan kepada kita gagasan soal pentingnya merapatkan barisan, yang dalam hal ini berarti menjaga hubungan sesama umat agar jangan renggang. Karena, you know, setan akan datang mengisi di sela-sela kita. Atau bahkan percakapan sepele soal kuping punya peran dalam diskusi juga memberikan makna bahwa umat layaknya satu tubuh, masing-masingnya sangat penting, untuk itu haruslah saling menjaga.

Sebagian besar waktu film akan terasa sangat grounded, sangat dekat. Akrab karena memang kurang lebih seperti kampung itulah umumnya lingkungan tempat kita tinggal. Tentu saja juga ada humor yang nyentil-nyentil yang bikin film menggigit balik jika kita iseng meghakimi tokohnya. Penampilan para aktor kebanyakan memang sudah meyakinkan. Alex Abbad yang jadi salah satu ustad berhasil ngedeliver perannya yang rather gimmicky dengan fantastis. Tidak ada peran yang terasa over-the-top. Sandra yang dimainkan oleh Ade Firman Hakim tampil manusiawi. Pun tidak terasa buat pemantik air mata semata. Dan Tanta Ginting, oh man, sekali lagi dia sukses menguarkan a really terrifying persona meski porsi penampilannya cukup sedikit. Aku enggak yakin dari mana, mungkin dari bruise keitaman pada jidat tanda banyaknya sujud, tapi begitu melihat tokohnya nongol pertama kali aku langsung nyeletuk “nah ini, speaking about radical!”

Tentu tak dosa untuk berharap, namun sayangnya Bid’ah Cinta masih terjatuh ke dalam lubang pakem yang sama. Kita masih melihat cewek drooling openly over karakter cowok yang simpatis. Bagian drama cinta adalah elemen yang perlu untuk hadir, karena cinta adalah solusi dari segalanya bukan? Hanya saja memang porsi cinta-cintaan film ini tidak terasa semenarik isu sosial kehidupan umat beragama. I mean, aku bakal salut banget kalo film ini berani menghadiahkan posisi tokoh utama itu kepada Sandra yang easily lebih dramatis. Atapun kepada Faruk si preman kampung, karena dia dan temennya punya plot yang lebih clear. Come on, kita ngeliat perjalan mereka dari preman mabok oplosan menjadi ‘remaja masjid’ yang ngebongkar balik kereta dangdut keliling yang biasanya jadi langganan mereka joget. That’s one clear journey yang dipunya oleh film ini

Alhamdulillah, luar biasa

 

Tokoh utama kita justru adalah Kamal (Dimas Aditya memainkan peran yang mestinya paling simpatik) yang menemukan dirinya berada di tengah-tengah persoalan yang timbul dari beda pandangan tersebut. Kamal yang meyakini Islam sejati (dalam artian tidak ada penambahan ritual dan semacamnya) harus ditegakkan, merasa perjalanan cintanya mentok. Karena Khalida (tokoh Ayushita kurang cukup kuat, udah sedewasa itu tapi dia masih perlu diselamatkan dari argumen oleh “masuk kamar!”) memiliki pandangan yang berbeda soal toleransi dan menegakkan ajaran agama. Asmara mereka eventually akan jadi ‘juru damai’ dan di poin inilah aku enggak setuju sama keputusan yang diambil oleh film. Bekerja begitu baik dengan nempatin diri di tengah, saat babak penyelesaian, mau tak mau film harus kelihatan memihak kepada pilihan yang musti diambil oleh tokoh utama. Dan ini bikin ceritanya melemah, karena memang hooknya enggak kuat. I mean, apa sih hal terburuk yang terjadi kalo Kamal enggak jadian sama Khalida? Kamal ngambek loh, mintak orangtuanya mengerti apa yang ia rasakan dan ‘berdamai’ agar bisa melamar Khalida. Shouldn’t it be the other way around- mereka berdua bersatu dulu, baru bareng usaha mendamaikan yang lain? Dan Khalida comes off rather shallow, dia ingin Kamal berubah demi dirinya, and hey noleh dong, itu si Faruk insaf ke jalan yang lurus karena cintanya lu tolak loh haha.

Penggarapan porsi drama ini juga terasa enggak seserius bagian yang lain. Pengulangan shot di taman yang actually gak berarti apa-apa. There’s attempt to make this sebagai kisah cinta segitiga, namun gatot lantaran tokoh Ibnu Jamil sama sekali gak ngapa-ngapain. I don’t get it why Hasan ini terlihat begitu penting, karena ganteng? Dia jarang terlihat ngumpul bareng yang lain, ke Mesjid juga jarang. Film ini bisa lebih tight lagi jika kita diperlihatkan lebih banyak interaksi antarwarga di kampung. Bagian teroris yang dikaitkan dengan actual event juga terasa abrupt.

Yang ingin kita lihat adalah dua kubu Islam akhirnya berjalan bersisian, dan perjalanan mencapai itulah yang bikin seru. Film ini memang mengakhiri diri dengan berusaha sebisa mungkin untuk ngampil posisi paling tengah, sebagaimana kita melihat Ustadz yang just being there demi kesopanan, dia enggak really ikut berpesta, tapi dengan tokoh utama yang ‘beralih’, seolah menggiring kita ke gagasan bahwa yang dipilih itulah the right thing to do. But it is not. Itu adalah cara termudah untuk mengakhiri konflik, dan itulah yang membuat nilai film ini jatuh buatku.

Terkadang kita suka memperebutkan sesuatu yang belum kita punya. Mempermasalahkan yang kita sendiri enggak punya jawabannya. Kayak Faruk dan Ketel yang heboh membahas duit yang belum ketauan juntrungannya, kita sibuk saling bertengkar membagi-bagi pahala dan dosa yang tidak satupun dari kita punya kuasa atasnya.

 

 

 

Mengambil tema cerita yang sangat unconventional buat scene religi tanah air, film ini bagai bid’ah yang diperlukan. Penting untuk ditonton karena memberikan banyak bahan renungan. Akan tetapi secara penceritaan, inovasi yang dilakukan seolah tersendat oleh tropes yang enggak begitu diusahakan untuk dihindari. It could be so much better jika drama cinta enggak jadi fokus nomor satunya. Babak ketiganya sedikit terseok-seok due to effort naskah mengaitkan semua saga karakter yang ada kepada plot tokoh utama, which is not really paid off well karena memang perspektifnya kalah menarik dibanding yang lain. Film ini seharusnya tetap di tengah, dan enggak abisin terlalu banyak waktu menumpul di eksplorasi asmara.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for BID’AH CINTA

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE EDGE OF SEVENTEEN Review

“The reality is people mess up; don’t let one mistake ruin a beautiful thing.”

 

 

Sekolah itu penjara, dan SMA adalah neraka. Remaja sangat menakutkan. Menjadi remaja adalah salah satu pengalaman tiada tara di dalam hidup. My Chemical Romance menuliskan dalam lagu mereka bahwa remaja tidak peduli pada apapun selama tidak ada yang terluka. Namun sebagai remaja, kita suka nyerempet bahaya. Dan ‘terluka’ yang disebutkan dalam lagu Teenager tersebut, sesungguhnya hanya berlaku dalam batasan fisik.
Gak percaya? Liat saja Nadine.
Setiap hari cewek tujuhbelas tahun ini makan ati mengarungi neraka SMA sembari kudu berhadapan dengan semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Sebagai remaja yang ngalemin tragedi personal semasa kecil, Nadine membenci semua orang, atau bahkan semua apapun yang berada di sekitarnya. Dia susah bergaul dengan teman-teman di sekolah. Sobatnya cuma Krista seorang. Eh tunggu, Nadine punya satu ‘sahabat’ lagi yaitu gurunya; Mr. Bruner, yang mana sering jadi pelampiasan curhat Nadine. Dan dalam kamus Nadine, curhat berarti mencurahkan segala emosi dan kekesalan, yang biasanya ditanggepin tak-kalah sarkasnya oleh sang guru.

 

Mulai dari jaman John Hughes, sudah banyak film-film yang mengangkat tema kecemasan remaja sehingga ‘Angsty-Teen’ bisa dibilang sudah menjelma sebagai genre tersendiri. Meskipun begitu, The Edge of Seventeen berhasil mempersembahkan VISI YANG TERASA SEGAR. Penulisan kejadian dan reaksi tokoh-tokohnya dibuat senyata mungkin. Sehingga setiap kali hidup berbelok semakin parah buat Nadine, kita tidak melihatnya sebagai usaha memancing sisi dramatis semata. BFF Nadine pacaran sama abangnya, yea that suck. Harry Potter aja galau berhari-hari waktu menyadari dia naksir berat sama Ginny, adik Ron. Dan mendapati diri dalam keadaan teman kita pacaran sama anggota keluarga adalah benar-benar hal yang awkward. Namun, hal tersebut dibuat oleh film sebagai salah satu dari sekian banyak ‘pukulan di perut’ yang diterima oleh Nadine.

Apa-apa yang terjadi kepada Nadine di sepanjang film – yang tak jarang adalah buah perbuatannya sendiri – terasa sebagai kejadian yang datang dari kenyataan. Bisa benar-benar terjadi, karena memang di dunia nyata kita sering mendapati keadaan menjadi buruk begitu saja. Situasi dalam hidup tidak selalu mengenakkan, dan film ini akan mengajak kita melihat situasi terrible tersebut lewat mata nanar seorang cewek remaja yang sudah melewati banyak tragedi. Elemen tersebutlah yang membuat film ini menjadi menarik buatku.

People make mistakes, whoever they are. Teman-teman segeng kita bikin salah. Orangtua kita pernah salah. Kakak pernah salah. Adik pernah salah. Aku apalagi. Makanya ada lebaran. I mean, poinku adalah semua orang pasti pernah bikin salah karena terkadang, in life shit just happens. Jangan biarkan satu kesalahan merusak susu sebelanga. Dan orang-orang tidak serta merta pantes dilabelin brengsek hanya karena pernah membuat kesalahan. Film ini actually menelaah hal tersebut dengan sangat baik dan memberikan kedalaman perspektif yang jauh lebih dewasa dibandingkan yang berani dicapai oleh film-film high school kebanyakan.

 

Aku baru melihat penampilan Heilee Steinfeld dalam tiga kesempatan. Aku suka dia di True Grit (2010). Dalam Pitch Perfect 2 (2015), however, dia enggak begitu lucu malah sedikit membosankan, lagu yang dia apal lagu karangannya doang, nyanyinya Flashlight melulu. Sebagai Nadine di The Edge of Seventeen, Heilee Steinfeld mempersembahkan penampilan terbaik yang pernah aku lihat darinya. Karakternya di sini memang semacam drama queen akut. Dia kasar sama keluarga, sama teman, sama guru; semua orang di sekitar Nadine masuk ke dalam daftar kemarahannya. Di akhir film, kita melihat Nadine berubah menjadi lebih baik, tapi pergerakan arc tokoh ini enggak gede-gede amat. Maksudku, film ini membuat kita begitu peduli dengan dramanya yang terasa nyata sehingga kita tahu kita tidak tahu apa yang terjadi kepada tokoh ini setelah kredit bergulir. Nadine adalah karakter anti-hero wanita yang langka, di mana dia sendiri adalah protagonis sekaligus yang paling dekat dengan yang kita sebut antagonis dalam film ini.

How do you like me now?

 

Dalam menjelaskan kenapa Nadine memilih bersikap demikian, film tidak mengambil jalan yang gampang. Tragedi keluarga yang menimpa Nadine waktu ia kecil bukanlah akar dari permasalahan, karena dalam satu adegan flashback kita melihat Nadine sudah susye untuk di’ajak omong baik-baik’ bahkan jauh sebelum kejadian naas itu terjadi. Seolah film ini ingin menepis tuduhan yang mengatakan karakternya ngeangst karena memang genre filmnya begitu. Ada alasan logis di balik setiap sikap dan tindak Nadine.

Kata-kata yang keluar dari mulutnya, just… wow. Nadine dengan gampangnya meledak marah dan melontarkan serangkaian kalimat paling menyinggung perasaan yang bisa dia pikirkan kepada orang lain. Dan film ini pun tidak menahan-nahan apapun. Dialognya dibuat sungguh menggigit, karena orang-orang yang dibentak oleh Nadine eventually akan membalas dengan mengatakan hal yang sama pedihnya. Malahan, banyak kata-kata dan ungkapan yang digunakan oleh film ini yang bisa bikin Booker T bilang “Oh, tell me she didn’t just say that!”. Tidak sekalipun film ini berusaha untuk menghaluskan bahasa demi terdengar sopan. Sebab memang seperti yang digambarkan oleh film inilah interaksi antar remaja SMA berlangsung. Mereka bicara dengan kasar dan vulgar. Tapi justru disitulah letak keberanian film ini; TAMPIL APA ADANYA MENYUGUHKAN REALITA. Anak SMA bersikap sewajarnya anak SMA bersikap di dunia nyata.

Namun jika kita menonton film ini, sesungguhnya ceritanya akan terasa sangat bijak. Dengan rating Dewasanya, The Edge of Seventeen lebih ditujukan kepada penonton yang sudah pernah mengalamin masa-masa tujuh belas tahun, sehingga mereka bisa menoleh sebentar ke masa-masa ‘sulit’ hidup mereka dan merayakannya.

Mungkin kita hanya belum cukup dewasa buat angka tujuhbelas ketika menginjaknya. Mungkin kita yang terlalu bersemangat menunggu hari ketika kita pikir kita sudah cukup dewasa sehingga kita lupa untuk bersiap ketika things going rough.

 

BRUTAL AND HONEST. Tapi, ada juga sih bagian yang enggak begitu realistis. Kayak tokoh guru Nadine yang diperankan oleh Woody Harrelson. At one time, Nadine bilang bahwa dia mau bunuh diri dan si Pak Guru malah bilang dirinya juga mau bunuh diri dan sedang nulis pesan kematian. Tokoh Mr. Bruner ini mengatakan banyak hal yang tidak semestinya diucapkan oleh seorang pendidik. Like, kalo didenger ama Kepala Sekolah, pastilah dia sudah dipecat di tempat. Namun begitu, hubungan yang tercipta di antara Nadine dengan bapak gurunya ini adalah salah satu elemen terkuat di dalam narasi. It plays as a contrast for Nadine’s need of a father figure. Percakapan mereka sarat oleh humor-humor bagus dan bermakna.

Pak, tahu enggak,…. you’ve just made the list!

 

Alasan terbesar kenapa cowok males dan gak suka nonton drama remaja, apalagi kalo tokoh utamanya cewek, dan digarap oleh cewek pula, adalah karena sudah hampir pasti enggak bakal ada tokoh-tokoh cowok yang manusiawi. Cowok dalam film-film kayak gini biasanya either digambarkan sebagai antagonis, tanpa kedalaman-karakter, yang eksistensinya ditujukan buat ngasih air mata kepada tokoh utama doang. Ataupun digambarkan cupu dan konyol parah. Salah satu poin yang bikin The Edge of Seventeen yang disutradarai-serta-ditulis oleh cewek bernama Kelly Fremon Craig berbeda dan menyenangkan ditonton oleh cowok adalah tokoh-tokoh prianya juga diberikan kedalaman, dikasih background story, sehingga kita para penonton bisa mengerti mereka. Kakak cowok Nadine ada di sana bukan sebagai bagian dari sibling rivalvy dalam mendapatkan perhatian ibu sahaja. Bahkan cowok yang dikirimin ‘surat cinta’ oleh Nadine tidak pernah benar-benar come off as an asshole, sebab kita juga paham mengapa dia melakukan apa yang ia lakukan.

 

Dengan perspektif yang terasa menyegarkan, film ini toh tak bisa lepas dari segala tropes dan klise penceritaan genrenya. Setelah lewat midpoint, kita segera dapat menyimpulkan ke mana arah cerita film ini berlabuh. Kita bisa menunjuk satu tokoh dan dengan tepat menebak dia bakal ngapain di akhir cerita. Kita dengan mudah menerka siapa jadian dengan siapa. Tapinya lagi, kita bisa merasakan bahwa film ini dikerjakan dengan penuh passion. Karakter dan dialognya menguar kuat. Dan bagian terpentingnya adalah film ini mampu membahas situasi yang amat tidak mengenakkan dengan begitu nyata. Nadine bukan semata remaja galau hanya karena itu adalah cara termudah dalam menulis karakter drama, dia galau karena keadaan dan cara dia memandang keadaan tersebut.

Because of how well-written this is, jika dijejerin, film ini layak gaul bareng Heathers (1988) dan geng Mean Girls (2004) di level teratas kategori film remaja. And after all those insults and horrible situations, pada akhirnya, menonton film ini akan membuat kita berharap kita bisa menghentikan waktu di umur tujuh belas.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE EDGE OF SEVENTEEN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

COLLATERAL BEAUTY Review

“Life is a teacher and Love is the reward in all its forms.”

 

collateral-beauty_poster

 

Film ini sudah berjasa besar dalam mengingatkanku untuk, sebisa mungkin, enggak lagi nonton trailer. Film apapun.

Tidak ada yang lebih ngeselin daripada getting your expectations high up dengan nonton lima-menit-or-so video promo, untuk kemudian mendapati filmnya enggak live it up dengan apa yang sudah mereka imingkan. Ini lebih parah daripada diphpin cewek. Trust me, pengalaman nonton akan lebih menyenangkan jika kita mengetahui sesedikit mungkin tentang film yang bakal ditonton. Jadi itulah kenapa aku males nonton trailer. Tapi kadang ngehindarin trailer cukup sulit daripada kelihatannya. I mean, setiap ke bioskop kita mau-tak mau harus ngeliat beberapa. In fact, saat di bioskop, aku justru lebih senang ketemu trailer ketimbang harus ngeliat iklan komersial. Which is remind me..,

Bioskop, kenapa harga tiketmu semakin mahal tapi iklan malah tambah banyak? Apa kami beneran disuruh nambah bayar buat nontonin iklan?!

 

Begitulah aku kenal dengan Collateral Beauty. Aku nonton trailernya yang diputer di bioskop sekitaran jelang akhir tahun lalu, and I was intrigued by it. Film ini mempersembahkan sesuatu yang unik. Trailernya nyeritain sebuah plot. Ada seorang pria yang dikunjungi oleh personifikasi dari Kematian, Cinta, dan Waktu. Mereka bicara kepadanya, mereka mencoba membantu pria ini keluar dari situasi yang sulit. Dari trailernya seolah ini adalah perjalanan spiritual yang penuh pesan filosofis. Bertabur bintang papan atas pula. Will Smith, Keira Knightley, Edward Norton, Kate Winslet, geng nominator Oscar deh pokoknya. Aku serius nungguin film ini tayang. Namun kemudian, ilang begitu saja di bioskop. Kalah saing ama Rogue One, mungkin saja. Tenggelam sama dua film komedi hits akhir taun Indonesia, bisa jadi. Jawaban yang bisa kusimpulkan dari ketika nonton ini adalah, mungkin para bintang top tersebut malu. Mereka memang seharusnya malu udah main di film ini. Trailernya bo’ong banget. Cerita film sebenarnya sangat berbeda dari apa yang dijual pada trailer. Not even close.

 this is a giant marketing scam
this is a giant marketing scam

 

Film ini sesungguhnya juga bikin aku kagum.
Sebagian besar adegan disyut dengan sangat cakap, menghasilkan visual yang cakep. Penampilan aktingnya pretty good, seperti yang bisa kita harapkan dari para aktor sekelas mereka. Serius nih, aku kagum. Para aktor tersebut bekerja keras, terutama Will Smith. He’s really trying in this. Penampilannya di sini seolah dia sedang mainin film buat nominasi Oscar, seperti yang biasa ia lakukan di film-film ‘andelan’ lain sekitaran Desember setiap tahunnya. Tapi bener deh, gimana film ini bisa membujuk aktor-aktor lain untuk main di film ini adalah hal yang pantas kita admire. I mean, Collateral Damage, eh sori maksudnya, Collateral Beauty punya PLOT LINE YANG LUAR BIASA BEGO, sehingga fakta film ini bisa muncul sebagai suatu eksistensi aja udah merupakan hal yang menakjubkan. Amazing. Amazingly insulting buat cerita-cerita bagus yang masih keliaran nyari jodoh di luar sana, sih lebih tepatnya.

Collateral Beauty menceritakan tentang seorang bisnis man yang sukses bernama Howard. Setelah kematian putrinya yang baru berusia enam tahun, Howard mengucilkan dirinya sendiri. Menutup perasaannya. Dia menolak bicara kepada orang lain, termasuk kepada karyawan dan teman-temannya. Plot utama film ini dibeberkan dalam rentang dua-puluh-menit pertama dan plot tersebut benar-bener beda dari apa yang sudah trailer bikin kita percaya.

Howard begitu patah hati oleh kepergian putrinya sehingga kerjaannya terbengkalai. Tiga teman, yang juga adalah karyawannya, khawatir mereka bakal kehilangan pekerjaan jika Howard terus-terusan ‘pendiem’ kayak gini. Alih-alih beresin urusan dengan klien, Howard menghabiskan jam kantor dengan nyusun domino dan ngeberantakinnya sendiri. Jadi, Whit, Claire, dan Simon (berturut-turut diperankan oleh Edward Norton, Kate Wisnlet, dan Micahel Pena) yang ingin nyelametin leher masing-masing, menyewa private investigator buat ngintilin ke mana Howard pergi. Dengan skill deduksinya, si detektif berhasil mengetahui bahwa Howard mengirim surat kepada Kematian, Cinta, dan Waktu. NOT! Si detektif actually ngebongkar kotak surat, bayangin hahahaha! Kemudian tiga temen Howard membayar tiga pemain teater buat mendatangi Howard berpura-pura jadi sosok Kematian, Cinta, dan Waktu. Supaya apa? Supaya si detektif bisa ngerekam percakapan Howard dengan mereka dan nantinya rekaman tersebut diedit sehingga yang terlihat hanya Howard bicara dengan diri sendiri. Rekaman editan inilah yang nanti digunakan oleh tiga temen Howard buat ditunjukin ke klien; sebagai bukti Howard rada sedeng dan dia enggak seharusnya berada di posisi sebagai atasan, dan pada akhirnya mereka bertiga bisa tetep kerja.

See, plotnya persis kayak film ini sendiri. Manipulatif.

 

Menakjubkan bukan gimana orang-orang kantoran itu punya teknologi yang canggihnya nyaingin teknologi Hollywood; mereka bisa menghapus satu manusia utuh dari video handphone. Haha..ha. Ada begitu banyak hal gak masuk akal pada penulisan narasinya. Kita bisa ngomong sampai bibir item soal betapa terriblenya teman-teman Howard. Misi film ini sepertinya memang ingin nunjukin bahwa istilah temen makan temen di dunia kerja itu adalah hal yang nyata. Apa yang mereka lakuin di sini – Howard sedang dalam keadaan broken yang mendalam, mereka malah nyewa orang, berencana untuk membuat Howard seperti orang gila – it is just tindakan yang, Cinta di AADC 2 bilang “apa yang kamu lakuin itu jahat”. Dan film ini mencoba untuk merasionalkan hal tersebut di akhir.

Sebenarnya adalah konsep menarik tentang hubungan antara manusia dengan Kematian, Cinta, dan Waktu. Sejatinya tidak ada awal dan akhir, waktu hanya digunakan untuk mengukur eksistensi. Kita hanya merasa ada waktu ketika kita either sedang bersama atau sedang pisah dari seorang yang kita cintai. Tapi ultimately kita sering enggak sadar, seperti Howard, bahwa indahnya cinta terus berlanjut bahkan setelah kematian. Film ini nunjukin trauma mengakibatkan Howard menjadi lebih dekat dengan orang-orang yang shared cinta yang sama seiring berjalannya waktu. Hidup mengajarkannya tentang kematian, dengan cinta sebagai hadiahnya. Cinta melampaui waktu dan kematian; dalam kematian ada cinta, dan dalam waktu tidak ada kematian. We are all connected dengan hal tersebut.

 

replace them with Schmidt, Jess, Nick from New Girl dan film ini kayaknya bisa lebih seru. Howardnya ganti ama Winston. Hihi
replace them with Schmidt, Jess, Nick from New Girl dan film ini kayaknya bisa lebih seru. Howardnya ganti ama Winston. Hihi

 

Sayangnya perhatian Collateral Beauty sepenuhnya hanya tercurah kepada nyembunyiin twist sehingga film ini lupa untuk membangun cerita yang benar-benar menyentuh hati. Ada dua ‘kelokan’ cerita di dalam fim ini, yang dua-duanya terungkap menjelang akhir. Dan sama-sama enggak masuk akal. Satu yang menyangkut Howard, jika dipikir-pikir merupakan kebetulan yang teramat mengada-ada. Logikanya nol besar dan actually malah makin merusak film secara keseluruhan. Twist yang satu lagi berdasar kepada bahwa ternyata tidak hanya Howard yang belajar, ketiga temannya actually juga dibahas personal ama tiga ‘spirit’ tersebut. Film ini mencoba membuat kita mempertanyakan apakah ketiga pemain teater tersebut adalah spirit beneran, namun sekali lagi, hal ini justru makin memperparah narasi dan plot line yang memang sedari awal sudah horrible and crazily stupid.

Tidak pernah kita diperlihatkan kehidupan bahagia Howard bersama putrinya, selain adegan memori yang itu-itu melulu, sehingga kita kesusahan buat konek dengan karakternya. Kita tidak pernah melihat sisi bahagia dari Howard. Tidak ada adegan interaksi dengan putrinya, yang mana sangat krusial buat fondasi emosi. Padahal mestinya di dalam film semua harus dikontraskan. Namun karena film ini terlalu napsu nyembunyiin cerita, we don’t get to see that. Hanya ada satu adegan di pembuka di mana Howard girang, dia tertawa, dia ngasih pidato tentang kesuksesan. And that’s it. Cerita lompat ke tiga tahun kemudian di mana Howard pasang tampang sedih ke semua orang.

 

 

 

 

Hal terbaik yang kita bisa bilang buat film ini bahwa dirinya adalah suguhan dengan penampilan akting yang baik namun punya beberapa cacat dalam penulisan dan narasinya. Sesungguhnya film ini sendiri pun sadar akan kelemahannya, tahu bahwa cerita yang ia punya penuh oleh keenggaklogisan, jadi makanya mereka nekat bikin trailer yang nipu abis. Mereka enggak bisa hanya mejengin wajah-wajah pemain yang pernah jadi nominasi Oscar. Jadi ya, mereka butuh some terrible bait-and-switch. Karena, selain dengan trailer, dengan apalagi mereka bisa menjual diri dengan meyakinkan?
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for COLLATERAL BEAUTY.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

LION Review

“Sometimes direction you never saw yourself going turns out to be the best road you have ever taken.”

 

lion-poster

 

Delapan-puluh-ribu lebih anak-anak India hilang setiap tahunnya. Nyasar, tak-tau jalan pulang ke rumah, terpisah dari keluarga. Jalanan yang penuh orang acuh-tak acuh dan potensi abuse lah yang menunggu mereka. Saroo pernah menjadi salah satu dari angka delapan-puluh-ribu. Saat masih kecil, Saroo yang tertidur di stasiun kehilangan jejak sang abang dan malah terangkut sebuah kereta api hingga beribu-beribu kilometer jauhnya. Hanya bisa bicara dengan bahasa India, kata-kata minta tolong dari mulut Saroo kecil tidak bisa dimengerti oleh orang-orang di Kalkuta, tempat kereta ‘tumpangan’nya berhenti, yang berbahasa Bengali. Jikapun ada yang nyambung diajak ngobrol, Saroo tetep repot lantaran dia bahkan enggak bisa nyebutin nama kampungnya dengan bener.

Adalah pemeran Saroo kecil, Sunny Pawar, yang akan membuat kita truly merasakan perasaan terasing di bawah langit India. Film panjang pertamanya ini membuktikan kepiawaian Garth Davis menarik keluar penampilan-penampilan yang begitu meyakinkan. Melihat Saroo berjalan tanpa tahu arah, serta merta aku jadi kagum juga. Bayangkan, ini DIANGKAT DARI KISAH NYATA; Saroo dan anak-anak yang masih ilang, bener-bener sendirian di luar sana. They don’t know anything. Bagaimana mereka bisa bertahan, apa yang mereka hadapi, all of that was so scary. Aku waktu kecil baru nyasar di pasar aja udah jejeritan sejadi-jadinya.

Butuh keberanian yang tak kalah gedenya bagi sebuah film meletakkan kepercayaan kepada aktor cilik baru yang baru berusia lima tahun (!) untuk memainkan cerita dengan compelling. Davis paham bahwasanya bahasa tidak harus jadi masalah, jadi dia berbicara lewat pengalaman dan ekspresi manusia. Dan memang hanya itulah yang menggandeng kita mengikuti Saroo kecil terlunta-lunta di jalan, mengandalkan insting dan sepersekian detik keputusan ‘pintar’nya untuk bertahan hidup. Kita enggak perlu ngapalin isi kamus bahasa india, kita enggak really butuh subtitle, malahan kita bisa nonton ini tanpa suara, dan tetap mengerti; merasakan apa yang terjadi di layar. Tidak ada adegan yang overdramatis, kayak Saroo ujan-ujanan – atau ampir diterkam singa beneran, so to speak. Sunny Pawar dipercaya untuk memberikan emosinya lewat gestur, ekspresi, ataupun hanya dengan tatapan mata. Yang dilakukan Sunny Pawar dengan sangat amazing, terlebih mengingat lebarnya rentang emosi yang dialami oleh tokohnya sepanjang film. Image Saroo makan boongan bakal terpatri lama di benak kita. Jika pada awalnya mungkin film ini sedikit bertaruh, maka pastilah setelah melihat hasil presentasinya, film ini berbalik jadi berutang budi kepada Sunny Pawar.

Pertengahan pertama adalah di mana kita akan dibuat mengerti kenapa film ini pantas berdiri mejeng sebagai nominasi Best Picture Oscar 2017. Visi sutradara Garth Davis mengaum lantang dalam setiap frame bidikan kamera. Sudut pandang bocah kecil itu tergambar syahdu. Didukung juga oleh sinematografi yang sungguh menawan throughout. Film ini precise dalam netapin timing kapan harus mengambil jarak. Begitupun penempatan hal-hal kecil, seperti burung yang terbang di ambang jendela, menjadi sarana penghantar cerita yang subtle tanpa harus repot-repot memaparkan.

dinding kamarku bakal penuh kalolah aku ngecapture shot-shot indah film ini dan memajangnya kayak lukisan
dinding kamarku bakal penuh kalolah aku ngecapture shot-shot indah film ini dan memajangnya kayak lukisan

 

Tidak hanya sampai di situ. Saroo kemudian diadopsi oleh pasangan suami istri yang tinggal di Australia. Semakin jauhlah dia dengan keluarga aslinya, yang sampai saat itu Saroo tidak tahu bagaimana keadaan mereka. But at the same time, Saroo menemukan keluarga baru. Paruh kedua film mengajak kita melihat Saroo dewasa deal with problematika identitas saat dia teringat kampung namun enggak yakin gimana harus menceritakan asal muasal ia yang sebenarnya kepada orangtua asuh. At one point Saroo benar-benar menyembunyikan tindakannya dari keluarga angkat. Dia bahkan jadi kasar sama saudara tirinya, yang merupakan cara film ini ngeintegralkan hubungan Saroo dengan abang aslinya.

Aku suka gimana film ini menggunakan overlapping visual untuk membandingkan keadaan Australia dengan India, membenturkan keadaan Saroo kecil dengan Saroo dewasa. Pemandangan seperti demikian sebenarnya adalah sebuah simbol keadaan Saroo yang berada di tengah-tengah kedua budaya. Film ini adalah bukan soal perjalanan pulang ke rumah. Ini adalah cerita pergolakan seseorang yang terombang-ambing antara tempatnya berasal dengan tempat yang sekarang sudah menjadi rumah baginya. Sejak dari kecil, Saroo selalu merasa ia berada bukan pada tempatnya. Derita dan bingung Saroo mencapai puncak ketika ia dewasa sampai dirinya belajar untuk – sekali lagi dihadapkan kepada pilihan – memilih salah satu atau mencoba menyatukan kedua ‘rumah’nya.

Bukan berarti kita harus pernah diadopsi dulu buat bisa ngerasain yang dialami oleh Saroo. Orang-orang yang pernah merantau, ataupun dalam perantauan, pasti mengerti.
Mengerti alasan kenapa harus pulang.
Mengerti siapa saja yang kita rindukan dan yang merindukan kita.
Mengerti bahwa keluarga adalah segala hal yang kita usahakan untuk menjadi rumah.

 

Dev Patel melakukan usaha yang bagus memainkan ‘cela’ dan konflik Saroo, dia menjaga cengkeraman kita tetap erat as Saroo berinteraksi dengan orang-orang baru yang ia cintai dalam hidupnya. Tapi tongkat estafet film ini tampaknya jatoh kesandung tulisan “20 tahun kemudian”. Cerita kedua ini enggak bisa bersanding dengan cerita pertama. Dibandingkan dengan saingan Oscarnya, Moonlight (2016) yang juga nampilin perjalanan hidup tokoh dari kecil hingga dewasa, Lion terasa kurang mulus. Rooney Mara turut bermain dalam film ini, she’s very good, namun tokohnya enggak punya arc. Dia cuma pacar tempat Saroo bersandar, dan enggak nambah banyak-banyak amat buat cerita. Bagian kedua kehidupan Saroo ini diselamatkan oleh penampilan akting Nicole Kidman yang berperan sebagai ibu angkat Saroo. Percakapannya dengan Saroo, beliau menjelaskan alasan kenapa dia mengadopsi anak berkulit coklat dari benua lain, adalah dialog yang paling kuat dan menyentuh dari seantero film. Nicole Kidman sendiri aslinya adalah ibu asuh beneran, jadi semua yang tokohnya katakan berdering oleh emosi yang feels so true.

Saroo mirip Rano Karno masih muda ga sih haha
Saroo mirip Rano Karno masih muda ga sih haha

 

Hubungan antara berkah dan derita terkadang begitu rumit dan membingungkan, sehingga kita tak menyadari pengaruhnya sama sekali. Dalam film ini, keseimbangan dua hal tersebut dibahas dalam bahasa sinema yang jujur dan powerful lewat Saroo yang menemukan, setelah kehilangan. Saroo mesti nyasar dulu sebelum dia menyadari keberkahan dua kali lipat dari yang bisa ia dapatkan sebelumnya. Berkah yang juga dirasakan oleh orang-orang sekitar Saroo yang terus merindukan cinta yang bersemayam di dalam tragedi.

 

To be honest, meskipun memang sebenarnya Lion adalah FILM YANG INTIMATE DAN SENSITIF dan relatable bagi banyak perasaan rindu, buatku film ini terasa rada pretentious. Gini, Lion ini kayak dua cerita yang berbeda; bagian pertama Saroo kecil yang kehilangan keluarga, dan bagian kedua tentang Saroo besar yang berusaha menggenggam kedua keluarganya. Aku ngerasa film ini berangkat dari kisah menakjubkan Saroo yang berhasil menemukan keluarga aslinya. Hanya saja mereka enggak bisa bikin cerita just around Saroo duduk galau ngulik google map, bikin papan investigasi kayak detektif. That would make a boring story. Buktinya, dalam film ini memang ada bagian ketika Saroo dewasa mengurung diri, dia menggunakan teknologi dan kepintarannya menemukan lokasi kampung halaman yang dulu tak-lurus ia sebut namanya. And it was nowhere near as engaging and compelling as bagian Saroo kecil. Jadi, film ini butuh sesuatu untuk bikin cerita lebih nendang. Mereka memutar kepala looking at the real issue there; Saroo adalah satu dari delapan-puluh-ribu, and they used that. Craft cerita dari sana, gunainnya sebagai hook identitas film. Namun toh, Saroo hanya satu yang beruntung dari delap…who knows sekarang jumlahnya jadi berapa. It did feels film ini enggak really doing anything kepada isu tersebut. They just gain more advantages dengan campaign segala macam. If anything, film ini memperlihatkan anak-anak yang hilang itu bakal pulang sendiri; siapa tahu kali aja kehidupan mereka bakal jadi lebih baik kayak Saroo. I mean, apa yang kita selebrasi jika film ini mendapat penghargaan di Academy nanti?

 

 

Mengatakan film ini berakhir setelah satu jam pertama sesungguhnya agak sedikit mendramatisir. Karena meski ceritanya kayak terbagi dua bagian – dengan drama paruh paling penting tidak pernah semenarik dan semeyakinkan bagian pendahulunya; keintiman hati, dan sensitifitas film ini terus menguar sepanjang durasi. Membuat film ini mudah dimengerti, membuat kita merasakan empati. Begitu powerful sehingga kita ikut merasakan terdiskonek, yang not always menjadi hal yang bagus. As in, film ini jadi kadang terasa mengaum ke arah yang salah.
The Palace of Wisdom give 7 out of 10 gold stars for LION.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

BUKA’AN 8 Review

“All generations have similar values; they just express themselves differently.”

 

bukaan8-poster

 

Menjadi suami idaman berarti harus siap siaga menjaga dan memenuhi kebutuhan istri. Alam (pembawaan Chicco Jerikho sudah oke, hanya deliverynya saja yang kerap off) tentu saja mengerti itu. Dia cinta istrinya, dia ingin menunujukkan ia seorang calon ayah yang bertanggungjawab. Alam berusaha berikan yang terbaik buat Mia (highlight dari performance Lala Karmela, ya, di rambutnya). Namun sifat kritis yang emosional di dunia maya hanya menghantarkan Alam dari mulut mangap yang menggebu ke mulut mangap tanda laper. Empat-puluh-delapan ribu pengikut twitter enggak bisa diuangkan buat membayar biaya persalinan dan rawat inap kelas terbaik rumah sakit. Well, yea, tentu saja bisa sih dimanfaatkan jika rela ‘menjatuhkan’ diri sebagai alat promosi perusahaan. Alam adalah seorang yang idealis selain seorang yang panjang akal. Jadi kita akan melihat Alam running around keluar-masuk rumah sakit mengusahakan apa yang ia bisa demi menjamin proses persalinan terbaik buat istri dan anaknya. Ada urgensi pada narasi, Alam kudu cepet sebelum Mia brojol. Dan ‘mengusahakan yang ia bisa’ itu actually adalah pertanyaan yang terus dituntut oleh mertua dan keluarga yang hadir di sana, memberikan sokongan moril dan komedi riil, yang jadi andelan film ini dalam menuturkan kisahnya yang sebenarnya sangat relatable buat pasangan suami-istri kekinian di luar sana.

Sebagai sebuah DRAMA KOMEDI, BUKA’AN 8 TAMPIL PADET OLEH ISU-ISU TERKINI yang ingin disampaikan. Film ini punya tujuan lebih dari sekedar membuat kita tertawa terbahak-bahak. Dalam kata sambutannya di malam premier, sutradara Angga Dwimas Sasongko bilang bahwa film ini adalah puisi yang menghantarkan mereka semua pulang ke dekapan keluarga. Dan memang seperti demikianlah film ini diniatkan terasa. Buat yang udah punya keluarga bakal teringat ‘perjuangan’ kelahiran legacy mereka yang pertama. Buat yang lagi pacaran bisa terbawa sama kisahnya yang tentang pembuktian diri kepada keluarga pasangan. Buat yang jomblo dan belum punya anak? Well, begini loh yang bakal dihadepin;

Life got real real-fast, kita tidak bisa hanya ngejar menang di dunia maya.

 

Penyajiaan secara komedi adalah langkah terbaik yang dilakukan oleh film ini. Karena memang elemen komedi seperti beginilah yang paling gampang konek dengan semua orang. Penampilan Sarah Sechan, Tyo Pakusadewo, dan juga Dayu Wijantofor some moment, sangat membantu film ini menggapai note-note kocak yang sudah disiapkan. Membuat ceritanya terasa lebih grounded lagi. Aku suka gimana film ini terasa seperti komedi situasi dengan rumah sakit yang berkembang sebagai latar yang sangat hidup. Cerita film sangat resourceful dalam menggunakan lokasinya. Soal pembagian porsi, film ini did a good job dalam menyeimbangkan tone. Meski memang banyaknya elemen membuat kita sulit buat ngecengkram dunia yang dibangun dalam film ini. Menyaksikan ini kita tidak akan tertawa di momen-momen yang canggung. Film berhasil membuat kita tertawa di mana kita harus tertawa, dan membuat kita merenung menghayati pesan dan sentilannya di tempat yang juga sudah disediakan. Di antara para tokoh tidak selalu terasa ada pembagian tugas; mana yang buat ngelawak, siapa yang buat serius.

 yang mau jadi boneka dunia maya siapa?
yang mau jadi boneka dunia maya siapa?

 

Buka’an 8 adalah jenis film yang terbaca hebat di atas kertas. Character arc dari Alam si tokoh utama terplot dengan terang dan jelas, kita bisa mengerti motivasi dan ‘perjalanan’ yang pada akhirnya ia tapaki. Kita paham alasan pada pilihan kerjaannya. Namun, secara penyajian, cerita yang menginkorporasi banyak elemen kayak gini adalah cerita yang cukup tricky untuk dapat direalisasikan dengan baik. Unfortunately, Buka’an 8 memang terlihat cukup kepayahan. Sebagian besar waktu, ‘heart’ ceritanya, momen-momen yang harusnya ngena-banget malah terasa kering. Karena terkadang ada begitu banyak yang harus disampaikan, sehingga mereka terasa dijejelin alih-alih masuk dengan mengalir. Dari menit-menit pertama saja, misalnya, di adegan di dalam mobil di tengah jalanan macet; film berusaha ngeestablish apa yang jadi dasar moral dan pesan film, sekaligus ngenalin ke kita karakter dua tokohnya, apa tantangan yang mereka hadapi. Kita mendengar perbincangan mereka, yang kemudian diinterupsi oleh ‘perbincangan’ twitter yang menyinggung isu politik dan sosial media kekinian. Ada banyak topik yang berlangsung, in different ways, yang dijejelin ke kita pada sekuen bincang-bincang tersebut. Hasilnya kita gak berhasil memegang apa-apa sehingga adegan pertama yang penting tersebut malah enggak terasa impactful. Emosinya jadi enggak kena.

Soal penggunaan elemen dunia maya pada film selalu menjadi hal yang on dan off buatku. Jika bekerja baik, ya memang mereka bekerja baik. Akan tetapi, pada kebanyakan film, percakapan sosial media hanya berupa gimmick buat mempermudah penceritaan, seperti cara males memberikan ekposisi. Ataupun cuma sebagai cara biar filmnya terlihat kekinian. Meskipun, menurutku, pemakaian gimmick kekinian secara blak-blakkan justru secara otomatis bikin filmnya terasa dated. I mean, dunia berkembang begitu pesat jika ada yang nonton film ini dua-puluh-tahun lagi, maka mereka bakal kebingungan – malah mungkin memperolok – gimana kemakan jamannya apa yang ditampilkan oleh film ini. Toh film-film yang timeless tidak pernah bersusah payah nunjukin teknologi, liat saja 12 Angry Men (1957) ataupun The Shawshank Redemption (1994). Film-film itu terasa relevan ditonton kapanpun.

Makanya, walaupun adalah hal yang bagus film Buka’an 8 menggunakan sosial media dan dunia maya sebagai tema yang actually menambah sesuatu, memegang peran penting, bagi cerita. Namun, penggunaan sisipan perbincangan sosmed yang berlebihan tak pelak sudah membuat kita terdistraksi dari ceritanya. Kita terlepas dari emosi. Film ini menggunakan animasi tweet, ataupun message whatsapp, dengan avatar user yang bergerak saat mengucapkan status mereka. Kita mendengar bunyi pesan masuk, kita mendengar mereka ‘berdialog’ sembari membacanya di layar. Tak jarang layar nyaris penuh oleh message sosmed. Belum lagi subtitle bahasa Inggris di bagian bawah layar. It’s just too much. Film perlu ngerem sebentar dan menyadari betapa menggelikannya adegan mereka seringkali terlihat oleh usaha atas nama kekinian ini. Dan avatar-avatar bergerak tersebut dengan cepat terasa tidak lagi lucu, it’s annoying, dan memakan waktu melihat mereka kembali ke posisi ‘foto profpict’.

Gimana film ini bisa ngarepin cerita dan karakter-karakter mereka terasa real dengan memakai overused gimmickal element kayak gini masih jadi pertanyaan buatku. Karena film ini memang come off sebagai tontonan yang menganggap dirinya sebagai sesuatu yang bener-bener kudu untuk kita tonton. This film takes itself rather seriously alih-alih have fun dengan ceritanya yang padahal justru sarat dengan poin-poin yang agak keluar logika. Inilah salah satu penyebab kenapa Buka’an 8 gagal konek dengan kita.

masa iya sih sehari 24 jam megang hape bisa salah liat tanggal?
masa iya sih sehari 24 jam megang hape bisa salah liat tanggal?

 

Kita enggak yakin gimana film ini eventually works. Sebenarnya bagus banget ada film yang arah ceritanya enggak ketebak. Narasi Buka’an 8 bisa berkembang ke banyak arah. Seru sekali nonton ini – kita kayak “wah, jangan-jangan nanti si Alam begini” eh taunya enggak. It feels like mereka punya struktur yang mantep, poin per poin. Pengembangannyalah yang menjadi masalah. Begitu banyak poin cerita yang sempat dibahas tetapi berakhir pointless, misalnya tentang mbak pasien rumah sakit yang nitipin surat buat Alam ke suster, later ternyata suratnya ilang dan suster jadi lanjut ekposisiin isi suratnya ke Alam; apa faedahnya bikin ada surat in the first place? Banyak karakter yang enggak benar-benar menambah banyak buat cerita, kayak ‘saingan’ antara Uni Emi dan Ambu yang go nowhere selain buat mancing tawa.

Tokoh Alam belajar dari orang-orang sekitar dirinya di lingkungan sekitar rumah sakit, hanya saja proses pembelajarannya masih terkesan relatif gampang (atau malahan digampangkan). Orang-orang sort of datang ke Alam dan ngasih tahu hal-hal yang diperlukan. Stake yang sebenarnya mungkin memang bukan soal duit; lebih kepada pembuktian tanggung jawab Alam sebagai seorang suami, tapi karakternya so muddled dengan emosi yang tidak berhasil disampaikan dengan maksimal. Keputusan-keputusan yang diambil Alam sesuai dengan penokohannya, tetapi penyampaiannya jarang membuat kita merasa empati. In fact, sedikit sekali ruang bagi tokoh-tokoh buat bergerak natural.

Akankah kita jadi orangtua yang hebat? Pertanyaan yang seringkali bikin calon orangtua gemeter. Karena setap generasi akan berbeda dari orangtuanya. Dan buat Alam sebagai generasi millennial, dia keluar dengan overload of confidence, buat buktiin dia adalah jembatan ke generasi berikutnya. Film ini menggambarkan Alam yang dipandang sebelah mata oleh mertua. Hal tersebut eventually eats him up on the inside. Terlebih ketika semua hal yang ia percaya bakal work out ternyata gagal satu persatu. But setiap orang punya caranya sendiri. Dengan nunjukin great responsibility ngetake care diri sendiri, bisa dan mengerti kapan harus bertindak, kita sudah nunjukin sudah lebih dari siap buat membesarkan sebuah keluarga.

 

 

Film ini lebih ‘mirip’ dengan Filosofi Kopi (2015) dibandingkan Surat dari Praha (2016), yang cukup membuatku kecewa; Surat dari Praha adalah film Indonesia dengan skor tertinggi yang kuberikan tahun kemaren. Drama komedi ini bakal gampang disukai. Dia enggak bagus banget meski juga enggak buruk-buruk amat sih, kita masih bisa ngeliat daya tariknya. Setelable lah buat ditonton bareng keluarga. Hanya saja memang film ini tidak memuaskan secara delivery. Karakter yang kurang, sementara banyak elemen lain yang terasa berlebihan. Ada beberapa adegan yang mestinya bisa diilangin aja, begitupun ada beberapa dialog yang enggak perlu ditulis segamblang yang film ini lakukan. Film yang acceptable, di sana sini kita akan tertawa, namun juga kerapkali bakal terasa kering. Yang jelas nilai film ini bukaan 8.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for BUKA’AN 8.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.