INSIDIOUS: THE LAST KEY Review

“We just have to find the ones that unlock the right doors.”

 

 

Berapa sering kita melihat film horor belakangan ini? Banyak. Terang saja horor akan terus ngehits selama manusia masih suka ditakuti-takuti. Selalu ada alasan untuk nonton film horor.Entah itu sendirian, ataupun mau seru-seruan bareng temen. Maka hantu-hantu itu tak akan pernah ‘mati’, franchise-franchisenya akan senantiasa direborn (lucu gak sih, ‘hantu reborn’ itu berarti kan dia udah gak jadi hantu lagi ya? Hihi) supaya enggak kemakan jaman dan dapat memuaskan penonton kekinian.

Namun, seberapa sering kita melihat film horor, bahkan sebuah franchise horor, yang BERPUSAT PADA TOKOH YANG SUDAH NENEK-NENEK? Belum pernah terjadi kukira. Sekarang sudah 2018, ini sudah film keempatnya, dan Insidious masih tetap kekeuh berpegang kepada akar cerita. Walaupun memang yang nonton kebanyakan adalah kelompok dedek-dedek jaman-now, franchise Insidious enggak necessarily ditujukan buat remaja. Tokoh utamanya selalu adalah orang dewasa, yang punya masalah-masalah dewasa, mereka berurusan dengan hal-hal kelam. Insidious selalu adalah soal trauma keluarga, masa lalu yang penuh kekerasan rumah tangga, dan film keempatnya ini pun melanjutkan tradisi tersebut.

Berdiri di tengah franchise ini adalah Elise, seorang parapsikologis, yang membantu orang-orang yang rumahnya dihuni oleh roh jahat. Insidious: The Last Key actually adalah prekuel dari film yang pertama, (dua episode ini nyaris berjalan beruntun) karena sebagaimana yang kita tahu Elise sendiri sudah jadi hantu di film yang kedua. Jadi, di film ini kita akan melihat kisah origin dari tokoh Elise. Kita akan melihat ia di masa kecilnya. Rumah Elise dulu di dalam kompleks penitentiary di New Mexico. Gimana kemampuannya melihat hal-hal goib menjadi penyebab utama Elise kecil dipukuli oleh bokapnya yang mendapat nafkah dari menghukum kriminal-kriminal. Masa kecil yang enggak bahagia, fisiknya menderita, mentalpun ikut didera oleh banyaknya makhluk halus yang ia lihat. Salah satunya terbebas dari pintu yang dibuka Elise, melepas teror yang berujung kepada Elise remaja kabur dari rumah. Masa lalu mencerminkan hidupmu yang sekarang, tahun 2010 Elise mendapat telepon dari seorang klien. “Alamat Anda di mana?” dan DEG! Permintaan mengusir hantu itu ternyata datang dari rumah masa kanak-kanaknya yang penuh dengan literally hantu-hantu masa lalu!!

“Who you gonna call? Spooky Buster!”

 

Bicara soal franchise horor, sebenarnya kita seperti mengulas tentang perosotan. Kalian tahu, seberapa curam filmnya menurun. Apalagi kalo udah sampe seri keempat; liat aja tuh entry ke empat Paranormal Activity. Atau Saw. Biasanya kualitas tersebut turun antara  karena filmnya  enggak mendapat inovasi apa-apa, ataupun karena sudah berkembang begitu jauh – jadi over-the-top, dari dasarnya. Film ini, untungnya, enggak jadi parah-parah amat. Film yang pertama dan kedua masih paling kuat, namun The Last Key tidak berada jauh di belakang film ketiga. Kekuatan film ini terutama terletak pada performa Lin Shaye yang diberikan kesempatan bersinar sebagai Elise yang akhirnya menjadi fokus utama narasi. Aku suka dengan tokoh ini lantaran dia terlihat begitu vulnerable. Di sini kita mendapat paranormal yang enggak sok-sok misterius. Elise tampak manusiawi, dia punya selera humor, dia punya banyak kelemahan, dan dia begitu self aware dengan kemampuan psikisnya. Membuat tokoh ini tampak keren.

Antara Elise yang kabur dengan ayahnya yang ringan tangan setiap kali Elise ‘mengadu’ ada hantu, sebenarnya mereka berdua memiliki persoalan yang paralel. Realisasi terhadap hal tersebutlah yang menjadi ujung perjalanan Elise sepanjang film. Bahwa dia, sama seperti ayahnya, sederhananya mengambil jalan yang termudah. Kita membenci hal-hal yang tidak kita mengerti. Meninggalkan rumah yang bermasalah, menghukum anak yang punya kemampuan aneh, adalah tindakan yang lebih gampang – yang menurut mereka lebih plausible, ketimbang mencoba untuk memahami masalah itu. Tetapi tentu saja kita tidak bisa benar-benar lari dari masalah, makanya Elise kemudian memutuskan untuk menerima rekues klien mengusir hantu dari rumah masa kecilnya.

                                            

Dari segi horor, film ini juga tergolong kompeten. Memang kita akan banyak terlonjak oleh suara-suara keras, film masih mengandalkan jump scare seperti halnya film-film Insidious sebelum ini. Namun, paling enggak, film ini cukup cerdas untuk memilih kapan harus menggunakan teknik tersebut. Film ini cukup bijak tidak membuat kita terkejut oleh binatang ataupun sapaan teman ataupun hal-hal biasa lain yang mengecoh. Ketika cerita membutuhkan tokohnya untuk melintasi lorong gelap dan melihat bayangan dan menyenternya, hanya untuk tahu bayangan tersebut adalah baju yang digantung, maka adegan tersebut dilakukan tanpa suara. Musik keras dan mengejutkan hanya kita jumpai ketika yang menyebabkannya beneran adalah hantu. Hal yang menyeramkan kerap muncul bikin jantung kita copot, tapi seenggaknya jika kita beneran mati saat itu kita tidak menjadi hantu penasaran lantaran yang membunuh kita beneran kemunculan hantu seram. Ada satu sekuen serem yang aku suka, yakni saat Elise masuk ke dalam pipa dan menemukan banyak koper-koper. Sutradara Adam Robitel cukup mumpuni mengarahkan adegan tersebut sehingga meski kita tahu bakal ada sesuatu yang ngagetin, scare yang terjadi masih mampu untuk bekerja di luar ekspektasi.

Babak pertama film bekerja dengan efektif sekali. Terutama di bagian masa kecil Elise, ini niscaya adalah bagian terkuat seantero film ini. Kita belajar mengenai keluarga Elise, yang tentu saja setiap anggotanya menjadi penting nantinya. Namun, as the story goes, film ini tidak terasa seperti dibangun atas fondasi naskah yang biasa. Menjelang ke transisi babak ketiga, penceritaan film ini menjadi semakin goyah. Ada beberapa aspek di babak ketiga yang enggak klop, karena sebelumnya ada pengenalan karakter baru yang dimaksudkan sebagai pengungkapan besar-besaran, di mana kita diharapkan untuk berpikir “wow aku sama sekali enggak nyangka” akan tetapi jatuhnya malah hampa. Akan ada semacam pergantian peran, juga ada karakter yang berubah dari baik ke jahat, dari jahat ke baik, hanya saja narasi yang menghantarkan ini tidak bekerja dengan benar. Dari sebuah drama berbalut misteri supranatural, cerita menjadi misteri kriminal, dan berakhir menjadi petualangan di dunia gaib, struktur pembabakan cerita tidak berhasil mengemban tugas membungkus ini dengan lancar.

Imogen adalah salah satu nama cewek paling keren yang pernah kudengar

 

Bicara soal revealing, bahkan tokoh hantu utamanya juga tidak tampak lagi begitu spesial. Untuk sekali ini aku tidak merasa penampilan Javier Botet benar-benar mengerikan. Maksudku, jika dibandingkan dengan The Crooked Man, dengan hantu Mama, presence Hantu Kunci di film ini terasa lemah. Letak masalahnya bukan di make up, sosok hantu yang dimainkan Botet pada film ini masih mampu bikin kita kencing di celana, melainkan di apa yang ia lakukan. Si Hantu punya jemari yang berbentuk anak kunci, dia menggunakan di antaranya untuk mengunci dada korban, apa sebenarnya makna dari apa yang ia lakukan? Segala kunci dan pintu-pintu itu semestinya membangun kepada sesuatu perumpamaan, tapi dalam film ini tampak sebagai bahan menakut-nakuti belaka.

The best that I can come up with adalah melihat Elise bergentayangan berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci di tempat gelap itu mengingatkanku ke salah satu pelajaran menulis. Seorang penulis sejatinya kudu mampu membuka pintu-pintu di dalam diri dengan menggunakan kunci-kunci yang tepat. Kunci itu adalah pertanyaan yang kita ajukan kepada diri sendiri. Proses menulis adalah proses menyelami diri sendiri, mengeksplorasi apa yang kita rasakan, dan ini paralel dengan yang dilakukan Elise di dunia sana; Dia harus membuka pintu-pintu demi ‘mengenali’ dirinya sendiri sebagai cara untuk berkonfrontasi dengan masa lalu yang ia tinggal kabur.

 

Selalu bermasalah di bagian humor, tak terkecuali pada film ini. Elise ditemani oleh dua pria yang membantunya dalam urusan teknologi. Mereka ini semacam Ghostbuster dengan gadget-gadget unik yang kadang gak jelas kegunaannya, dan kedua cowok yang nemenin Elise bertugas mengoperasikan alat-alat tersebut. Itu tugas mereka dalam narasi. Dalam penceritaan, however, dua orang ini punya fungsi sebagai pencetus komedi. Tingkah mereka yang komikal, celetukan mereka yang nerd abis, lebih sering daripada tidak jatohnya awkward alih-alih lucu. Akan ada banyak lelucon yang bikin kita nyengir kuda karena candaannya garing. Eventually mereka berdua terlibat adegan flirt sama cewek, dan adegan-adegan konyol mereka membuatku merasa malu menontonnya.

 

 

 

Buat yang belum pernah menonton film dari franchise Insidious, film ini tidak akan membuat kalian menjadi fans, sebab ceritanya yang memang agak kurang rapi ini tidak benar-benar mengandung sesuatu yang baru. Horornya juga tergolong biasa. Namun, buat penonton yang udah setia ngikutin, film ini tidak tampil mengecewakan, dibuat dengan kompeten, dimainkan dengan meyakinkan, dan tetap memegang teguh akar yang membuat film-film pendahulunya disenangi.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for INSIDIOUS: THE LAST KEY

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2017

 

Joko Anwar mengajak para follower twitternya untuk menonton yang film berkualitas saja. Gimana cara tahu kualitasnya tanpa menonton? Yaitu dengan mengambil referensi dari tulisan-tulisan kritikus atau reviewer. Tapi kita bukan robot. Kita bisa berpikir sendiri, kita bisa merasa sendiri. Kata-kata reviewer hendaknya dijadikan acuan sebagai pembanding pendapat pribadi, anggap seperti moderator dalam sebuah forum diskusi. Jangan seketika dijadikan pedoman layaknya walkthrough video game. Lagian, di mana serunya jika setiap orang punya pendapat yang sama. Maka aku bilang, tontonlah film apapun, tetapi jangan matikan pikiran kita saat menyaksikannya. Pertanyakan semua. Berekspektasilah. Jadi pembuat film tandingan.

Lihat betapa indahnya pemandangan dunia sinema di tahun 2017. Begitu banyak film-film yang membagi penontonnya menjadi dua kubu likers dan haters. Ada yang bilang film itu karya masterpiece, sedangkan ada juga yang bilang film yang sama tersebut sebagai sebuah omong kosong, sampah. Dan tentu saja ini menciptakan ruang untuk diskusi yang sehat. Penonton akan memikirkan ulang filmnya. Mereka berpendapat, menyalakan otak, mengeluarkan suara tentang bagaimana film itu seharusnya. Hal seperti inilah yang eventually menggerakkan roda perfilman itu ke depan. Inilah yang membuat sebuah film yang bagus. Dan tahun 2017 dipenuhi oleh film-film hebat yang menggerakkan seperti demikian.

Jadi, jangan heran ketika kalian membaca daftar ini dan menemukan film yang mungkin kalian benci setengah mati nangkring di dalamnya. Sebab itulah poin yang dibentuk oleh 2017; sebuah tahun yang sangat polarizing terhadap film. Jangan pula ditahan-tahan jika kalian punya komentar ataupun ingin sharing film terfavorit kalian, kita punya kolom komen di bawah 😀

 

HONORABLE MENTIONS

  • A Ghost Story (drama sedih yang akan terus menghantui penontonnya)
  • A Silent Voice (anime yang penting untuk ditonton karena kebanyakan kita belum mampu berkomunikasi dengan benar)
  • Brad’s Status (film yang life changer banget, nyadarin kita untuk berhenti ragu-ragu kebanyakan mikirin masalah yang sebenarnya hanya ada di kepala)
  • Call Me by Your Name (perjalanan menemukan sesuatu yang tidak lagi bisa kita abaikan)
  • Dunkirk (terobosan baru Christopher Nolan buat film perang sehingga terasa begitu nyata)
  • Get Out (satir mengenai rasisme dan masalah sosial lain yang dibungkus dalam kemasan horor)
  • Good Time (thriller yang benar-benar lancang yang ngingetin bahwa hidup memang susah, bukan berarti berhenti berusaha)
  • Personal Shopper (bukan horor seperti yang diharapkan, ini adalah film orisinil yang benar-benar seperti lukisan abstrak)
  • Raw (cerita yang shocking dan sangat disturbing tentang manusia yang terlalu lama menahan nafsu)
  • Split (M. Night Shyamalan kembali dengan psikologikal thriller yang percaya kepada penonton dan gelora oleh penampilan-penampilan akting luar biasa)
  • Star Wars: The Last Jedi (mengenyahkan semua prediksi, aku senang sekali kita melihat petualangan dan aspek-aspek yang sama sekali baru di franchise Star Wars)
  • Stronger (film yang sangat inspirasional tentang trauma yang sama sekali enggak inspirasional buat mereka yang mengalaminya. Nah lo?)
  • The Devil’s Candy (layaknya karya seni yang berasal dari neraka personal seorang ayah yang struggling dengan pekerjaannya)
  • The Disaster Artist (dark comedy tentang menggapai mimpi, meskipun ekspektasi seringkali tak sesuai dengan realita. Film ini punya hati paling besar se2017!)
  • Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (penampilan akting yang melegenda, berani membahas isu yang dihindari orang. Salah satu tontonan terbaik, dan paling punya nyali)
  • To the Bone (sangat kuat mengeksplorasi psikologis orang-orang yang punya pandangan menarik tentang kebutuhan makan)
  • War for the Planet of the Apes (cerita brutal tentang perang dan survival dan apa yang membuat pemimpin menjadi seorang pemimpin, sangat emosional!)
  • Wind River (seberapa cepat dinginnya perlakuan dapat membuat orang melakukan hal-hal yang di bawah derajat moral)
  • Wonder (dapat membuat anak-anak jadi berani untuk mengambil tindakan yang benar dalam pergaulan mereka dengan teman sehari-hari)
  • Wonder Woman (akhirnya ada juga film superhero DC yang benar-benar bisa menendang bokong!)

Tak lupa pula, special shout out aku berikan buat Pengabdi Setan yang ulasan filmnya udah mecahin rekor jumlah view terbanyak di My Dirt Sheet.

 

 

 

8. BABY DRIVER


Director: Edgar Wright
Stars: Ansel Elgort, Lily James, Kevin Spacey, Jamie Foxx
MPAA: R for violence and language
IMDB Ratings: 7.7/10
“‘Retarded’ means slow. Was he slow?”

 

Musik asik yang lantang, mobil keren yang ngebut, itulah film ini. Lantang dan ngebut. Sama dengan superseru. Ini adalah salah satu film dengan pace paling cepat sepanjang tahun. Ciri khas sutradara Edgar Wright kelihatan jelas di sini.

Sekalipun sangat kuat dalam gaya, namun Edgar Wright tidak pernah melupakan substanti pada setiap ceritanya. Penulisan Baby Driver sangatlah on-point. Strukturnya berhasil memberikan banyak kepada Baby meskipun tokoh utama kita ini hanyalah semacam orang suruhan yang tidak mau berada di sana. I mean, Baby kebanyakan bereaksi ketimbang beraksi – sesuatu yang kebalikan dari rumus tokoh utama – tetapi film masih mampu mengolahnya sehingga senantiasa menarik. Baby adalah tokoh yang punya kebiasaan yang unik, dan akan sangat mengasyikkan melihat perkembangan tokoh ini, apa yang ia lakukan, dan apa yang pada akhirnya harus dia pilih.

Diperkuat oleh pemain dan humor yang kocak, film ini akan jarang sekali mengerem. Dan ketika film memang benar-benar melambat membangun kisah cinta antara Baby dengan Deborah, kita akan masih betah duduk di sana.

My Favorite Scene:

Kurang dahsyat apa lagi coba adegan ngebut-ngebut di opening ini? Hebatnya adegan ini – beserta setiap stun action lain yang ada di Baby Driver – tampak bener-bener bisa dilakukan di dunia nyata.

 

 

 

 

 

7. MOTHER!


Director: Darren Aronofsky
Stars: Jennifer Lawrence, Javier Bardem, Ed Harris, Michelle Pfeiffer
MPAA: R for disturbing violent content, nudity, some sexuality, and language
IMDB Ratings: 6.8/10
“You never loved me. You just loved how much I loved you. I GAVE YOU EVERYTHING. You gave it all away.”

 

Film yang aneh. Menyinggung, dan mengganggu. Ada banyak adegan kekerasan, ataupun adegan yang mengerikan, yang tak terjelaskan. Aku bisa melihat alasan sebagian orang dapat menjadi begitu enggak suka sama film ini. Aku bisa mengerti kalo Indonesia menolak memutar film ini di bioskop. Bahkan, penampilan akting Jennifer Lawrence yang begitu luar biasa memilukan di film ini, besar kemungkinan akan dilewatkan begitu saja oleh penghargaan-penghargaan film. Karena penceritaan film ini amat sangat ganjil.

Namun buat yang mau bertahan menonton, Mother! adalah sebuah film kiasan yang digarap dengan tingkatan dewa. Semua yang terjadi di film ini mempunyai makna, membentuk lapisan cerita yang menantang kita untuk memahami apa maksudnya. Mother! adalah film yang susah untuk dicerna. Aku mencoba untuk menafsirnya dalam ulasan, dan bisa jadi semua yang kutulis salah. Film ini benar-benar bekerja sesuai dengan interpretasi penontonnya masing-masing.

Menurutku, di balik lapisan tentang pasangan suami istri yang rumahnya mendadak disatroni banyak orang, film ini bicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan alam semesta. Di mana kita adalah tamu di dalam rumah Tuhan. Dan ini membawa kita ke pemahaman bahwa si Ibu adalah orang yang paling disibukkan kalo ada tamu, dia yang paling ‘dirugikan’, dan orang ini adalah personifikasi dari alam. Bumi. Simbol-simbol gila seputar tentang itu banyak bertebaran di aspek-aspek narasi. Film sinting seperti ini mungkin tidak akan segera bisa kita jumpai lagi.

My Favorite Scene:
Oke, aku gak bisa nemuin video sehingga membuatku ngeri juga masukin foto mengenai adegan yang menurutku merupakan bagian terbaik di film ini. Dan adegan tersebut adalah ketika Mother dihajar hingga babak belur oleh massa. Adegan brutal ini sangat heartbreaking, menontonnya bikin kita sakit juga, suara-suara tulang yang patah ketendang itu benar-benar bikin adegan ini berat untuk ditonton, namun juga begitu penting, karena inilah yang actually sedang kita lakukan terhadap bumi tercinta.

 

 

 

 

 

6. THE SHAPE OF WATER


Director: Guillermo del Toro
Stars: Sally Hawkins, Octavia Spencer, Michael Shannon, Richard Jenkins
MPAA: R for sexual content, nudity, violence, and language
IMDB Ratings: 8.2/10
“Oh God! It’s not even human.” / “If we do nothing, neither are we.”

 

Seorang wanita tuna wicara polos yang jatuh cinta kepada makhluk amfibi mengerikan. Ini adalah kisah cinta tak biasa, yang mungkin bisa disturbing buat beberapa orang, namun bukan itu satu-satunya yang disampaikan oleh Guillermo del Toro, seorang master dalam membuat kisah fantasi kelam yang sangat menyentuh, Film ini adalah dongeng tentang hidup yang belum terpenuhi. Pesan di balik film ini sesungguhnya akan terasa akrab oleh kita yang pernah merasa hidup kita belum sempurna.

Ada sesuatu di balik monster tersebut yang bisa kita relasikan. Ada sesuatu di balik mimpi-mimpi tokohnya yang membuat kita peduli tanpa harus mengasihani mereka. Mengisi hidup adalah perjuangan. Film ini menarik perbandingan bahwa semestinya kita bertindak seperti air demi mengisi kekosongan dalam hidup. Kita harus bisa beradaptasi sesuai dengan environment tempat kita berada.

The Shape of Water diarahkan untuk menjadi pengalaman visual nan personal yang sangat menggugah. Efek-efek praktikal dan sinematografi film ini benar-benar mencuat membentuk adegan-adegan yang begitu kuat. Penceritaan The Shape of Water mengalir dengan menawan. Dia bekerja baik dalam banyak tingkatan. Kita bisa menikmati romansanya, ataupun dibuat tegang oleh suspens dan dunia politik Perang Dingin, ataupun menyimak pesan yang diselipkan di balik setiap simbol dan elemen ajaib yang film ini miliki.

My Favorite Scene:

Di luar apakah adegan ini penting atau kagak, sekuens musikal film ini tampak begitu indah. Aku punya soft side buat adegan musik yang aneh yang diselipin di dalam cerita.

 

 

 

 

 

5. MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK


Director: Mouly Surya
Stars: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egy Fedly,
Certificate: 21+
IMDB Ratings: 7.4/10
“Saya tidak merasa berdosa”

 

Akhirnya, akhirnyaaaa, setelah sudah lima tahun bikin list film terbaik, akhirnya ada film Indonesia yang masuk Delapan Besar. Dan Marlina sangat pantas untuk mendapatkan apresiasi segede ini.

Empat babak cerita ini merangkum kisah Marlina, seorang yang baru saja jadi janda, yang rumahnya disatroni tujuh pria dengan niat gak baik. Marlina membunuh sebagian besar mereka, memenggal kepala pemimpinnya, untuk kemudian pergi menyebrangi padang gersang pulau Sumba menuju kantor polisi.
Film ini bergulir tidak seperti film-film Indonesia lain yang keluar di tahun 2017. Orang luar bahkan menyebut film ini sebagai satay western. Marlina menggunakan musik yang seperti musik country dilebur dengan irama lokal Sumba. Marlina memperlihatkan pemandangan padang berbukit, kita melihat Marlina naik kuda. Betapa uniknya film ini. Dia membahas isu-isu sosial, berkelakar dengan melontar komentar tentang gender. Ceritanya mempertanyakan peran masing-masing gender, untuk kemudian membaliknya begitu saja. Antara wanita dan pria, sesungguhnya tidak ada yang jadi korban. Tidak ada yang total mendominasi di atas yang lain.

Film ini pun sesungguhnya turut bersumbangsih dalam kebangkitan sutradara-sutradara wanita, dengan menampilkan tokoh wanita yang kuat, dalam scene perfilman dunia.

My Favorite Scene:

Marlina dihuni oleh karakter-karakter yang juga unik. Satu adegan yang membuatku ngakak adalah ketika Marlina membajak angkutan umum, sepanjang perjalanan dia menodong si supir dengan parang yang diacungkan beberapa senti dari leher, dan kemudian salah satu penumpang angkutan – yang sudah ibu-ibu – malah nyeletuk dengan santai “Tidak capek tanganmu, Nona?”

 

 

 

 

 

4. GERALD’S GAME


Director: Mike Flanagan
Stars: Carla Gugino, Bruce Greenwood, Chiara Aurelia, Carel Struycken
Certificate: TV-MA
IMDB Ratings: 6.7/10
“Everybody’s got a little corner in there somewhere; a button they won’t admit they want pressed.”

 

Gerald’s Game adalah salah satu film adaptasi Stephen King terbaik dan ini benar-benar mengejutkanku lantaran source materialnya bisa jadi merupakan materi yang paling susah untuk disadur ke bahasa film. Kebanyakan adegan cerita ini adalah tokoh Jess bicara dengan dirinya sendiri. Ini adalah cerita psikologikal thriller tentang seorang wanita yang terborgol di tempat tidur dan dia harus melepaskan diri karena selain anjing kelaparan yang terus saja menyantap mayat suaminya di lantai, tidak ada orang lain yang tahu kondisi Jess karena pasangan suami istri ini memang lagi liburan di vila terpencil.

Kita akan melihat Jess ngobrol dengan dirinya sendiri, ada personifikasi dirinya, suaminya, kita dibawa flashback ke kejadian masa kecil Jess yang membuatnya trauma. Dan pada puncaknya, Jess harus berhadapan dengan Moonlight Man; sosok tinggi besar misterius, bermata merah, yang kerap datang ketika malam tiba.
Ini adalah cerita yang hebat yang penuh dengan metafora dan simbolisme. Perjuangan manusia untuk membebaskan diri dari trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi yang sekarang. Seluruh penceritaan film ini akan sangat menantang kita. Ceritanya creepy. Sinematografinya pun membuat merinding. Juga amat disturbing. Ada satu adegan yang bikin ngilu dan bakal membuat kita mengelus-elus pergelangan tangan. Penampilan akting para pemain pun luar biasa, karena mereka memainkan dua versi dari tokoh mereka.

Salah satu horor psikologis terbaik yang pernah aku saksikan.

My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=nyJT36-t25A
Orang bilang ending adalah bagian terbaik dari sebuah film. Aku tidak bisa menyangkalnya buat film Gerald’s Game. Stephen King adalah master dalam menulis cerita balas dendam. Dan sekuens akhir film ini sungguh-sungguh membuktikan hal tersebut. Amat memuaskan melihat konfrontasi final antara Jess dengan Moonlight Man

 

 

 

 

 

3. BLADE RUNNER 2049


Director: Denis Villenueve
Stars: Ryan Gosling, Harrison Ford, Ana de Armas, Jared Leto
MPAA: R for violence, some sexuality, nudity, and language
IMDB Ratings: 8.3/10
“Dying for the right cause. It’s the most human thing we can do.”

 

Aku bilang film ini adalah masterpiece dalam filmmaking. Temen-temenku yang mendengar rekomendasi ini, pergi ke bioskop untuk menontonnya.

Dan mereka tertidur.

Seriously guys, aku tahu aku nulis film 2017 itu hebat-hebat lantaran bisa membagi pendapat penonton, tapi aku bener-bener garuk kepala ketika ada yang bilang Blade Runner 2049 adalah film yang membosankan. Ya, filmnya memang panjang banget. Tapi ada begitu banyak kemenakjuban yang bisa kita lihat, yang bisa kita nikmati, yang bisa kita serap dari penceritaan ini. Sekali lagi, oke, mungkin ceritanya agak berat. Mekanisme dunia penuh Replicant dan sebagainya; film ini bisa berdiri sendiri karena naskahnya benar tertutup, namun kalo kita sudah nonton film yang pertama, cerita memang jadi sedikit lebih mudah dicerna. Makanya, aku menyarankan kepada yang tertidur karena gak paham ama ceritanya, coba deh nonton dengan suara di-mute. Karena pemandangan visual dan sinematografi dalam film ini, begitu grande sehingga membuat calon filmmaker bakal ciut “bisa gak gue bikin yang lebih bagus?”

Naskah film ini begitu kuat. K, tokohnya si Gosling, punya plot yang paling WTF di tahun 2017. Aku gak bisa membayangkan kalo aku yang bernasib seperti dia. Kalian tahu Tommy Wiseau yang bikin film The Room? Yang kisahnya diceritain dalam The Disaster Artist? Apa yang dialami Wiseau; dia menyangka film buatannya bakal jadi yang terhebat, namun ternyata film itu ngehits karena hal yang memalukan, bukan apa-apa dibandingkan dengan kenyataan yang dihadapi oleh K.

My Favorite Scene:

The face you make when you think you were the chosen one, but you aren’t.

 

 

 

 

 

 

2. LADY BIRD


Director: Greta Gerwig
Stars: Saoirse Ronan, Laurie Metcalf, Lucas Hedges, Timothee Chalamet
MPAA: R for language, sexual content, brief graphic nudity and teen partying
IMDB Ratings: 8.1/10
“People go by the names their parents give them, but they don’t believe in God.”

 

Satu-satunya film yang sukses menangguk score 9 dari My Dirt Sheet di tahun 2017.

Lady Bird yang merupakan debut terbang solo Great Gerwig sebagai sutradara adalah film yang sungguh personal bagi dirinya. Makanya film ini terasa sangat real.

Ini bukan sekadar coming-of-age story di mana tokoh utamanya berhasil keluar dari rutinitas hidup yang mengekang dan mencoba pengalaman dan hal-hal baru. Bukan sekadar tentang tokoh utama yang dapat pacar cowok keren. Lady Bird adalah romansa anak cewek dengan ibunya. Dan ya, kita akan melihat Lady Bird udah gak sabar untuk lulus dari sekolah Katoliknya, namun environment Lady Bird tidak pernah ditampilkan mengekangnya dalam cahaya yang ‘jahat’.

Menonton ini akan terasa seperti kita melihat adegan percakapan sungguhan, karena kita dilempar begitu saja ke tengah-tengahnya. Ini memberikan kesempatan untuk mengobservasi mereka, dan terbukti sangat efektif sebab ada banyak saat ketika aku mendapati diriku ikutan mengobrol dengan mereka. Aku ingin ikut nimbrung, aku jadi begitu peduli sama karakter-karakternya. Saoirse Ronan luar biasa natural memainkan Lady Bird. Rasanya sedikit sedih ketika film berakhir, seperti berpisah dengan orang yang sudah deket. Begitulah bukti betapa menakjubkannya Gerwig menyetir narasi, cara berceritanya benar-benar membawa kita hanyut.

My Favorite Scene:

Paling ngakak melihat Lady Bird ‘diskusi’ milih-milih gaun sama ibunya. Adegan ini menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua dengan sangat efektif.

 

 

 

 

 

Peringkat pertama tahun 2017 My Dirt Sheet ini akan menyimpulkan betapa pentingnya peran sutradara dalam sebuah film. Sutradara yang baik harus bisa meninggalkan jejak, harus berani melakukan perubahan, harus punya visi uniknya sendiri yang membuat film menjadi semakin urgen dan berdiri mencuat di antara yang lainnya. Lihatlah ke belakang, semua yang masuk daftar ini adalah buah tangan dari sutradara yang berani mengambil resiko. Filmnya tidak diniatkan untuk memuaskan semua orang, melainkan hanya sebagai sebuah sajian yang benar-benar mewakili diri mereka.

Dan inilah film peringkat pertama kami:

1. THOR: RAGNAROK


Director: Taika Waititi
Stars: Chris Hemsworth, Tom Hiddleston, Cate Blanchett, Mark Ruffalo
MPAA: PG-13 for intense sequences of sci-fi violence and action, suggestive material
IMDB Ratings: 8.1/10
“What were you the god of, again?”

 

Menurutku bagaimana kita melihat film Thor ketiga ini bergantung kepada bagaimana pandangan kita terhadap superhero.

Jika kita punya mimpi pengen diselamatkan oleh superhero, kita enggak akan suka sama Thor dalam film ini yang diberikan banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lelucon dan kekonyolan.
Jika kita punya mimpi untuk menjadi superhero, kita akan menjerit kesenangan sampai terjatuh dari kursi demi melihat Thor yang dewa dan superhero ternyata quirky dan ‘bego’ seperti kita.

Kalimat Hela kepada Thor “Kau dewa apaan sih?” adalah kunci yang menjelaskan seperti apa Taika Waititi memvisikan Thor.

Apa yang dilakukan oleh Dewa? Apakah kita bisa menjadi Dewa? Thor dalam film ini dijatuhkan menjadi level rakyat biasa supaya kita bisa merelasikan diri kepadanya. Waititi tidak ingin membuat Thor superserius dan menjadi makhluk sempurna. Dia melihat potensi komedi yang ada dari materi Thor sebelumnya, dan embrace it. Thor kehilangan palu, bahkan rambutnya. Adalah sebuah make over total yang dilakukan sang sutradara demi meniupkan hidup baru yang lebih akrab terhadap tokoh superhero yang kita kenal.

Thor: Ragnarok adalah film superhero paling lucu yang pernah dikeluarkan oleh Marvel Studio. Definitely yang terbaik dari seri film solo Thor. Narasinya banyak bermain-main dengan gimmick dewa-dewi Asgard, bersenang-senang dengan trope karakter-karakter superhero Marvel. Yang perlu diingat adalah bermain-main bukan berarti enggak serius. Bersenang-senang bukan berarti melupakan nilai seni. Pada film ini, seni adalah komedi, pada bagaimana dia bermain-main. Sinematografinya keren parah. Adegan aksinya benar-benar dahsyat. Aku bisa nonton film ini berkali-kali dan enggak akan pernah bosan.

My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=3N0T3pqGrr4

Sebenarnya susye sih memilih satu adegan yang paling favorit. Karena film ini hilarious dan keren parah. Aku suka semua adegan aksinya, apalagi semakin mantep diiringi oleh Immigrant Song yang awesome!!

 

 

 

 

 

Sedikit kekurangan di departemen film animasi, kita tidak banyak menjumpai animasi yang menantang dan benar-benar baru tahun 2017 ini. Ada sih satu yang indah, tapi tidak terasa benar-benar spesial buatku. Tapi secara keseluruhan, 2017 adalah film yang asyik banget buat penggemar film seperti kita-kita. Tahun 80an menyeruak lewat sekuel-sekuel dan homage. Kita dapat banyak film adaptasi Stephen King, yang practically awesome, di Indonesia sendiri film horor lagi naik daun. Aku harap tahun 2018 semakin banyak bermunculan film yang berhasil memancing perbedaan pendapat, semakin banyak penonton yang kritis.
Aku juga ingin menyempatkan diri untuk mengucapkan terima kasih sama kamu-kamu yang udah sering bolak-balik ke blog ini. Aku benar-benar gak menyangka My Dirt Sheet bisa memenangkan Piala Maya sebagai Blog Kritik Film Terpilih 2017, dan itu masuk nominasi karena rekomendasi pembaca sekalian. So, thank you so much.

Dan ketahuilah, kami sangat mengharapkan komen dari kalian, baik itu diskusi film, komen pendapat, bahkan mengritik blog ini sekalipun. Jadilah penonton yang jahat, karena penonton yang baik adalah penonton yang tidak berpikir.
Apa film favorit kalian 2017?
Apakah perlu dibuat list film-film paling mengecewakan di tahun 2017?
Beritahu kami di komen.

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are…

BRAD’S STATUS Review

“The problem with the world is that the intelligent people are full of doubt, while the stupid people are full of confidence.”

 

 

 

Aku gak yakin mana yang lebih bego antara bandingin kehidupan sendiri dengan orang lain atau nonton Brad’s Status di hari-hari awal tahun baru. Maksudku, kita enggak bakal nambah muda, akan tiba masa di mana kita akan tertegun menyadari umur, dan mulai berprasangka jelek terhadap diri sendiri; apakah kita sudah mengambil jalan yang benar, apa yang sudah kita perbuat, kenapa kita gak kaya-kaya, apakah sebuah langkah yang tepat untuk berhenti kuliah dan mengejar idealisme. Apakah kita seorang yang gagal. Brad’s Status adalah film yang dibuat untuk orang-orang yang mengalami  stress seperti demikian. Ini adalah narasi yang kompleks, yang mempercayakan penonton untuk menyelami pikiran seorang tokoh yang memiliki ketakutan universal. Dan film ini akan bertindak bukan hanya sebatas media kontemplasi, melainkan sebuah sarana bermeditasi – untuk kita-kita nenangin diri, mengingat kembali apa yang membuat kita bahagia di dalam hidup, dan bahwasanya hidup bukanlah sebuah lomba lari.

Jika kita melihat ke atas, tentu kita akan merasa tertinggal. Jadikanlah ini motivasi.

Jika kita melihat ke bawah, kita akan melihat bahwa kita masih ‘beruntung’. Jadikanlah itu sebagai purpose.

Kita ingin di atas, karena kita ingin membantu yang di bawah. Tetapi kita toh sudah di atas, karena akan selalu ada yang di bawah kita. Pernahkah kita melakukan sesuatu murni untuk orang lain? Mungkin kalimat berikut ini terdengar cheesy, tapi itulah yang jadi poin film ini; Kita tidak perlu memiliki dunia untuk bisa mengubahnya, kita bisa mulai melakukan itu dengan cinta.

 

Brad adalah mahasiswa yang idealis, dia ingin berbuat sesuatu untuk dunia. Jadi dia ngikuti kata hatinya dan mengejar karir dengan mendirikan organisasi non-profit yang bergerak di bidang sosial. Brad mencibir teman-teman kampusnya yang bekerja di perusahaan, yang masuk ke politik, yang berkarir di dunia hiburan, yang jadi artis, teman-temannya yang practically menikahi uang. Brad menikah dengan cewek yang juga idealis. Dia dikaruniai putra yang sangat berbakat main musik. Brad hidup bahagia. Tapi itu dulu. Sekarang, dia merasa kalah. Teman-temannya naik pesawat pribadi, dirinya ditolak upgrade tiket ke kelas satu karena bukan anggota platinum. Temannya masuk televisi, dia bahkan gak bisa masuk ke pesta pernikahan teman – karena dia enggak diundang. Dia bahkan enggak tahu ada temannya yang menikah. Sifat dan idealisme istrinya sekarang malah berbalik menyebalkan buat Brad. Tidak ada yang memuaskan lagi bagi Brad, semua hal yang ia temui sepanjang film, selama dia mengantar anaknya melihat-lihat kampus, malah tampak mengecilkan dirinya. Anaknya yang nyaris keterima di Harvard pun membuatnya iri; tak pelak membawanya ke kenangan masa muda. “Cari kerjaan yang duitnya banyak!” begitu yang ingin dia sampaikan kalo dia bertemu dengan dirinya versi seumuran dengan anaknya.

anaknya sopan dan pinter gitu, berarti dia sukses jadi orangtua

 

Brad’s Status sepertinya memang dibuat untuk Ben Stiller. Aktor komedi ini mampu bermain sangat komit jika diberikan peran yang tepat, dan untuk begitu banyak kesempatan, Ben Stiller selalu mencuri perhatian ketika dia bermain sebagai pria yang frustasi, yang sedikit egois, yang gak puas ama dirinya sendiri, yang ngalamin nervous breakdwon. Dan dalam Brad’s Status, Stiller tampaknya memberikan penampilan terbaik.  Dia menyeimbangkan penampilan ketika sedang bernarasi dengan saat kita hanya butuh untuk melihat ekspresinya. Memang, kita sudah pernah melihat cerita yang sama sebelum ini, namun film mengambil pendekatan yang  berbeda dalam bercerita. Penulis sekaligus sutradara Mike White membuat film ini sebagai sebuah pandangan dari dalam seorang tokoh. Ini lebih sebagai karakter studi ketimbang pengalaman sinematik. Kita akan menjumpai banyak dialog-dialog yang tajam, akan ada banyak humor juga yang datang dari momen-momen tak terduga.

White juga cukup subtil dalam bercerita. Aku suka dengan cara film ini menunjukkan hubungan antara Brad dengan Troy, putranya yang ia temani tur keliling kampus ke New England. Akan ada banyak momen awkward yang sebenarnya punya makna. Seperti misalnya adegan pertama mereka berdua adalah ketika Brad masuk ke kamar Troy dan melihat anaknya hanya berbalut handuk. Sekilas memang tampak seperti adegan biasa yang memancing komedia orangtua dan anak, tapi oleh film ini kesadaran Brad melihat anaknya sudah dewasa dibuat sebagai penambah lapisan tokoh Brad – bahwa jauh di dalam, dia  mengenali anaknya sebagai saingan. Kesubtilan ini terus berlanjut dengan Brad yang menyelinap diam-diam ke bar untuk menemui pacar Troy ketika si anak sudah tertidur. Hanya orang ternarsis di dunia yang menyeruak masuk ke lingkungan sosial anaknya, dan itulah poin Brad sebagai tokoh utama yang bercela. Brad adalah orang yang aware mengenai siapa dirinya, namun dia clueless ketika sudah menyangkut pendapat orang lain.

Sekilas memang kedengaran, atau malah tampak seperti film yang terlalu mengagungkan seorang tokoh yang sangat susah untuk disukai. Brad bukan orang miskin. Dia cukup sukses, keluarganya bahagia. Anak dan istrinya cinta sama dia, mereka enggak ‘memberontak’ terhadap dirinya sebagai kepala keluarga. Hanya saja dia tidak melihat semua itu. Film bahkan dengan berani menunjukkan semua itu. Ada karakter yang secara frontal menegur Brad bahwa dia enggak senaas yang ia pikirkan. Brad tampak seperti menyuruh kita untuk mengasihani dirinya, bahwa dia adalah orang yang baik, yang lebih mulia – tapi kenapa orang-orang brengsek kayak teman-temannya yang justru lebih kaya, kenapa mereka yang lebih terkenal daripada dirinya. Kenapa dunia begitu membenci dirinya. Menarik sekali melihat seseorang yang berurusan dengan pikiran buruknya sendiri.

Ciri-ciri orang depresi itu adalah bicara dengan kepalanya sendiri. Film ini mengeksplorasi apa yang sebenarnya terjadi ketika kita bicara sendiri; kita membesar-besarkan masalah, kita terperangkap di dalam pikiran negative. Kita menganalisa semua dengan berlebihan, dan ini enggak sehat. Masalah yang enggak ada, jadi tampak ada karenanya.

“all iz well, all iz well”

 

 

Untuk mencapai efek ‘bicara sendiri’ tersebut, Mike White mengambil langkah yang cukup beresiko dengan menggunakan narator sebagai bagian dari penceritaan. Actually, film ini sangat bergantung kepada narasi yang dibaca oleh Brad. Untuk kebanyakan film, kebanyakan narasi voice over seperti ini bisa sangat mengganggu kenikmatan menonton sebab kita akan dibeberkan apa-apa yang dilakukan maupun dirasakan oleh tokoh. Simpelnya, kita benar-benar dituntun. Untuk film ini, however, buatku narasinya tidak terlalu mengganggu karena kita memang perlu untuk mendapat insight dari apa yang Brad rasakan di dalam pikirannya. Kita perlu melihat gimana kontrasnya apa yang di benak Brad dengan yang sebenarnya terjadi, dan narasi di sini benar-benar berfungsi sebagai garis tegas yang membatasi hal tersebut.

 

Jika ada yang ‘salah’ di film ini, menurutku ‘kesalahan’ itu terletak di beberapa adegan yang digarap terlalu kepanjangan. Misalnya adegan ngobrol di bar yang tampak masih bisa menghasilkan efek yang diinginkan dengan menyingkat adegannya. Tapi untuk sebagian besar adegan, film ini menyuguhkan pemandangan karakter yang akrab yang diletakkan dalam situasi yang juga familiar, dan film memberikan kesempatan kita untuk berkontemplasi dengan memberitahu apa yang karakter-karakter tersebut pikirkan serta rasakan. So I think, film ini enggak punya dosa yang benar-benar gede. Dia hanyalah sebuah tontonan yang berani untuk menjadi enggak disukai lewat tokoh utamanya. Meski ceritanya lumayan ‘terbelakang’ dibandingkan film-film lain, basically kita bisa bilang ini adalah cerita tentang masalah orang kaya, namun film ini bukan tidak mungkin menjadi LIFE CHANGER bagi orang-orang yang dihantui pikiran serupa.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BRAD’S STATUS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE DISASTER ARTIST Review

“First they ignore you, then they laugh at you…”

 

 

Tentu saja, kita akan menertawakan film yang buruk bersama-sama. Kita berpikir, film yang sudah menginsult kecerdasan kita, perlu untuk diinsult balik. Kita bikin review konyol, kita bully film habis-habisan, sebagai bentuk apresiasi terhadapnya. Keseimbangan yang wajar terjadi. Sebuah reaksi yang mudah terhadap sesuatu yang jelek. Film The Room (2003) buatan sutradara dan aktor nyentrik Tommy Wiseau bukan hanya film yang jelek, dia adalah film paling ngaco sepanjang masa. Saking jeleknya , banyak yang suka. Sampai sekarang, film ini rutin diputar oleh berbagai fans di luar sana. Markas My Dirt Sheet, kafe es krim Warung Darurat Bandung, juga pernah muterin sekali. Hasilnya, sendokku ilang delapan biji. James Franco punya ide untuk menyelebrasi film itu, dia kumpulkan kru dan mereka membuat cerita tentang apa yang terjadi di balik dialog-dialog absurd dan akting kaku tersebut.

Memang lebih mudah menetertawakan badut ketimbang mencoba mengerti kenapa mereka mengenakan riasan make-up

 

 

I gotta be honest, The Disaster Artist adalah cerita yang menyentuh buatku. Dalam lapisan yang paling dalam, ini adalah cerita tentang seorang pria yang berjuang mewujudkan mimpinya. Hambatan yang ia temui berasal dari dalam dirinya sendiri; dia tidak dapat melihat bahwasanya tidak semua orang bisa mengerti apa yang ia sampaikan. Maksudku, sebagian besar dari kita juga pasti pernah merasa diri kita spesial, ide cerita kita hebat dan orisinil. Ada banyak calon filmmaker di jalanan yang punya stok naskah yang menurut mereka adalah cerita paling fresh dan keren sedunia, aku tahu karena aku adalah salah satu di antaranya. Tapi apa yang terjadi ketika kita ngepitch cerita tersebut ke produser, ke investor? Ditolak, dicuekin, disuruh ubah. Kalo aku punya duit tak terbatas seperti Tommy Wiseau, pastilah aku udah bikin film sendiri juga. Mewujudkan impianku. Meski mungkin filmku bakal seratus kali lebih jelek dari The Room. Tapi inilah yang ingin disampaikan oleh James Franco dalam The Disaster Artist; Jangan menyerah, terkadang kita memang harus membuka peluang sendiri, dengan perlu mengingat bahwa ada banyak cara konek dengan orang lain bisa terjadi, mungkin saja bukan seperti yang kita harapkan. Dan koneksi itulah yang semestinya menjadi tujuan kita dalam berkarya.

jika dipandang sebaliknya, film ini juga berfungsi sebagai petunjuk “Bagaimana Cara untuk Membuat Film yang Buruk”

 

Yang kita dapat di sini sesungguhnya adalah sebuah cerita yang menginspirasi. James Franco tidak membuat Tommy Wiseau sebagai sebuah tokoh yang wajib untuk melulu kita ledek. Ada sesuatu di dalam dirinya yang akan menangkap hati para penonton. Kita akan mengikuti perjalanan Tommy dari ketika dia bertemu dengan Greg di sebuah audisi teater. Mereka kemudian berikrar untuk mengejar mimpi menjadi aktor, begelut di bidang film. Maka lantas mereka pindah ke L.A. Namun, hal bagi Tommy tidak berjalan semulus apa yang datang kepada Greg. Jadi, Tommy bikin film sendiri. Dia mengajak Greg untuk ikut berperan bersamanya di film tersebut. Sebagaimana kita semua tahu, film tersebut tidak berakhir dengan semestinya.

The Disaster Artist cukup bijak untuk tidak memfokuskan ini sebagai parodi, film tidak sekedar menertawakan “You’re tearing me apart, Lisa!” dan pilihan-pilihan aneh bin bego yang dilakukan oleh Tommy Wiseau ketika membuat film ini. Memang, momen-momen The Room yang fenomenal, gimana film ini ngereka adegannya hingga nyaris sama persis, adalah bagian yang menonjol pada penceritaan. Tapi sekaligus ini adalah drama yang cukup suram, banyak adegan yang diniatkan sebagai heartfelt moment. Sebagai karakter, Tommy Wiseau belajar banyak dari reaksi penonton yang tidak ia harapkan, dan dari bagaimana dia harus berurusan dengan orang-orang yang tidak melihat visinya.

Tommy Wiseau yang asli merupakan salah satu sosok paling misterius di industri perfilman. Seperti yang juga disebutkan oleh film, tidak ada yang tahu persis siapa dirinya, dari mana dia berasal. Tommy ini di samping eksentrik gilak, dia juga sangat tertutup. Jadi memang pesona film ini terletak di Tommy Wiseau, kita penasaran seperti apa orang ini, apa yang ada di balik kepalanya. James Franco luar biasa dalam berperan sebagai karakter ini, juga dalam bagaimana dia membangun film cerita yang menjadikan Tommy sebagai pusatnya. Sebagai sutradara dan pemain, Franco did a very excellent job. Adegan pembukanya efektif sekali memperkenalkan Tommy sebagai sebuah enigma. Dia mempertahankan pesona tersebut hingga akhir film. Menurutku apa yang dicapai Franco sebagai Tommy merupakan hal yang cukup sulit; ya dia sangat lucu di sepanjang film, namun bukan sekedar lucu oleh karena momen-momen konyol dia lupa skrip, atau dia mainin adegan-adegan ikonik The Room. Di sini kita melihat Tommy sebagai seorang yang enggak hebat-hebat amat dalam pekerjaannya, dan dia punya cara yang aneh untuk mendapatkan yang ia mau, tapi kita bisa menghormati apa yang ingin ia lakukan. Sebab ada sisi manusiawi yang diberikan. Ada semangat yang bisa dipungut dari sikapnya yang tidak menyerah meskipun orang-orang tidak menghargai sesuai yang ia harapkan.

jangan-jangan karakter Broken Matt Hardy terinspirasi dari Tommy Wiseau

 

Salah satu aspek yang menjeratku adalah tentang bagaimana ini sebuah pembuatan film. Aku punya soft side terhadap film-film yang memperlihatkan di balik layar bisnis gambar bergerak seperti ini.  Aspek ini membawa kita ke kekurangan yang dimiliki oleh The Disaster Artist. Film ini actually mematahkan Hukum Ekonomis Karakter cetusan Roger Ebert lantaran tokoh-tokoh lain dalam cerita, yang diperankan oleh aktor-aktor yang cukup terkenal kayak Alison Brie ataupun Zac Efron ataupun Josh Hutcherson, tidak benar-benar punya karakter. Mereka cuma ada di sana, memainkan dengan sangat kompeten peran yang ditugaskan – Seth Rogen juga sebenarnya cukup lucu di sini – dan tidak punya banyak untuk dilakukan. Padahal mestinya bisa lebih dalam lagi jika kita diperlihatkan lebih banyak lagi tentang mereka.

 

 

Film dark komedi ini precise sekali ketika dia mencoba membuat ulang adegan-adegan film The Room. Tepat hingga ke framing dan segala macam treatment aneh yang dilakukan oleh film tersebut. Namun, jika kalian belum pernah nonton The Room, atau bahkan belum pernah mendengar tentangnya, film ini tetap akan bekerja sama hebatnya, sebab ini bukan serta merta sebuah film komedi yang memarodikan salah satu film terburuk di industri sinema. Film ini punya hati yang besar, tokoh utamanya terasa dekat. Benar saja, kita memang harus dapat melihat film sebagai mana mestinya. Sebagai penonton kita bisa saja suka, namun tetap harus mengakui kejelekan film. Tapi ini bukan tentang penonton. Ini tentang orang yang punya mimpi, tentang pembuat film yang dihadapkan kepada situasi di mana ia diapresiasi tidak sesuai dengan yang diharapkan. James Franco mungkin saja tidak kepikiran, filmnya tentang sebuah film begitu jelek sehingga menjadi cult, bisa jadi adalah film terbaik yang pernah ia buat.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 gold stars for THE DISASTER ARTIST.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

LADY BIRD Review

Familiarity is the root of the closest friendships, as well as the intensest hatreds

 

 

Dikasih nama sama orangtua, ngikut aje. Giliran ke Tuhan, sok-sok gak percaye. Hueeee. Begitu kira-kira cibiran Christine kalo dia jadi orang betawi. Tapi Christine McPherson ini anak Sacramento, dia juga adalah anak yang menentang orangtua, terutama ibunya. Jadi dia melakukan ‘perlawanan’. Dia harus keterima kuliah di luar kota sehingga begitu lulus dari SMA Katoliknya, dia bisa sesegera mungkin meninggalkan kampung halaman yang udah bikin dia gerah secara batin. Dia ingin jauh dari orangtua. Dia ingin mandiri. Dia ingin jadi bagian dari tempat yang berbudaya. Dan sebagaimana yang selalu cewek berambut merah ini ingatkan kepada kerabat, sahabat, dan semua orang yang berada di dekatnya, panggil dia dengan nama Lady Bird. “Itu namaku!”

Jika diibaratkan, memang film ini adalah salah satu dari banyak telur-telur di dalam keranjang yang bertuliskan “Perjalanan remaja mencari atensi dan jati diri”. Namun ketika menetas, Lady Bird bukan saja burung yang punya warna paling unik, dia juga lebih besar dan berkicau paling vokal di antara yang lain. Ini bukan sekedar tentang seorang remaja cewek yang ‘berkelana’ di hari-hari akhir sekolahnya, dia dapat pacar, dia akhirnya fit in dengan teman-teman yang lebih populer, dan eventually dia ‘terbang’ mengalami banyak hal hebat yang belum pernah ia tahu. Sebagai cerita coming-of-age, Lady Bird tentunya juga menempuh poin-poin tersebut. Dia sempat deket dengan beberapa cowok, namun fokus cerita bukanlah soal pacaran.

Lady Bird adalah kisah ‘romansa’ antara ibu dengan anak perempuannya. Dan ini juga berbeda dari kebanyakan. Mereka enggak terjebak roadtrip bareng. Ini bukan soal mereka jarang ketemu, ataupun soal kegagalan berkomunikasi seperti Susah Sinyal (2017). Lady Bird pastinya enggak diam-diam menjadikan ibunya sebagai suri tauladan, sebab mereka berdua begitu berbeda dengan dahsyatnya. Anak dan ibu ini benar-benar bertolak belakang, bayangkan dua sisi mata uang, mereka saling pasif agresif. Keunikan film ini datang dari bagaimana Lady Bird membuat hidup ibunya susah dan begitu juga sebaliknya. Di adegan pembuka, Lady Bird meloncat turun dari mobil yang sedang berjalan gitu aja (!), di tengah-tengah adu mulut dengan ibu. Kita tahu seberapa besar mereka love each other sesungguhnya, namun mereka mengekspresikannya dengan cara yang berbeda. Film ini sangat menyenangkan untuk ditonton, aku ngakak ketika adegan Lady Bird nyobain baju di kamar pas, dan dia minta pendapat ke sang ibu – she needs her opinions so much – tapi Ibunya dengan sengaja berikan saran dengan menyindir-nyindir. Dan ujung-ujungnya mereka berantem lagi. Kejadian-kejadian semacam itu juga benar-benar berdering kenyataan buatku, karena aku punya adek cewek yang kerjaannya berantem melulu sama Mama, persis seperti tokoh film ini.

“I miss you but I hate you, Mo-theeeer~”

 

Cerita ini pastilah juga sangat personal buat pembuatnya. Aktris yang kini duduk di kursi sutradara, Greta Gerwig, mati-matian berusaha membuat setiap adegan film ini well-realized. Lady Bird yang adalah debutnya terbang solo sebagai sutradara bisa jadi adalah kisah hidup diri Gerwig sendiri, karena kita bisa merasakan betapa passionate film ini digarap. Tidak ada poin lemah di jajaran penampil. Semua pemain tampil enggak dibuat-buat. Gerwig menghormati setiap tokoh sampai ke karakter yang paling minor sekalipun. Saoirse Ronan luar biasa manusiawi di film ini. Lady Bird tak pelak adalah penampilan terbaiknya, emosi-emosi yang dia sampaikan terasa kayak beneran. Langkah, keputusan, bahkan bohong-bohong pencitraan yang dia lakukan tampak natural dan kita paham alasan di baliknya. Arahan film ini sukses berat menyeimbangkan antara momen-momen canggung dengan momen-momen yang serius. Ada banyak adegan yang bikin kita nyengir menonton si Lady Bird, tapi bukan karena kita merasa dia sangat pretentious, melainkan karena kita sedikit banyaknya ikut berefleksi pernah mengalami hal serupa.

Yang bikin penasaran adalah dialog-dialognya. Percakapan mereka enggak kayak pake naskah, seperti dimprovisasi gitu aja. Menyimak para tokoh berbincang, beradu argument, melihat mereka berinteraksi, membuat kita pengen ikutan nimbrung. Aku ingin berteman dengan mereka, aku totally ter-invest sama apa yang terjadi, aku benar-benar dibuat peduli. Kita akan lupa kalo yang kita saksikan selama 93 menit ini adalah sebuah film. Dan inilah satu-satunya kekurangan film ini; kurang panjang. Kita pengen melihat apa yang selanjutnya terjadi pada mereka semua. Rasanya sedikit sedih ketika film berakhir, seperti berpisah dengan orang yang sudah deket. Begitulah bukti betapa menakjubkannya Gerwig menyetir narasi, cara berceritanya benar-benar membawa kita hanyut.

Meskipun kedengarannya aneh, banyak dari kita yang merasakan kebencian terhadap orang yang kita sayangi. Semakin sayang, tuh orang justru semakin nyebelin.  Kadang secara tanpa sadar, kita melakukan itu demi mencari perhatian. Cinta dan benci actually bukanlah hal yang berlawanan, makanya kita sering mendengar ungkapan “benci lama-lama jadi cinta” ataupun “jangan terlalu cinta, nanti malah jadi benci”. Kedua hal tersebut adalah perwujudan berbeda dari perasaan yang sama. Actually adalah affection yang sama yang kita rasakan ketika kita ingin berteman dengan seseorang – kita bohong dengan harapan mereka lebih menyukai kita. Hidup memang canggung dan ‘lucu’ seperti itu.

Lady Bird paling malu kalo ketahuan sama teman-teman sekolah dia bukan anak gedongan

 

 

Hal yang menarik dari cara bercerita film ini adalah konstruksi per adegan yang dilakukan oleh Gerwig. Dalam penulisan screenplay toh tidak ada peraturan baku mengenai keharusan memulai adegan. Namun memang kebanyakan lebih suka membuat adegan yang runut, seperti tokoh masuk ruangan, mulai ngobrol dengan tokoh lain, percakapan mereka memanas, dan ditutup dengan punchline ataupun momen dramatis – kebanyakan adegan dibangun dengan permulaan, untuk kemudian terus menuntun penonton ke poin penting yang ingin disampaikan. Kadang kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk mikirin memulai adegan dari mana, you know, supaya penonton tertarik dan penasaran. Film Lady Bird enggak pusing-pusing mikirin permulaan adegan-adegannya. Gerwig membuat sebagian besar adegan film ini tidak punya permulaan. Kita dilempar begitu saja ke tengah percakapan para tokoh. Sering kita masuk ke satu adegan dan tokoh-tokohnya sedang melakukan atau berbicara seru tentang sesuatu. Menyerahkan kepada kita sepennuhnya untuk melakukan observasi, dan dengan melakukannya bukan saja kita jadi mengerti, tapi kita juga merasa ter-include ke dalam setiap adegan. Inilah salah satu yang menyebabkan kenapa Lady Bird terasa begitu nyata.

Semua klise genre berhasil dihindari oleh Lady Bird. Sekolah Katolik tempat tokoh utama kita menimba ilmu tidak pernah ditonjolkan sebagai tempat yang mengekang. Sekolah dan segala peraturannya bukanlah sangkar bagi film ini. Melainkan hanyalah sebuah fase, sebuah urusan yang harus diselesaikan. Tentu saja ada banyak rintangan yang menghalangi tokoh kita untuk berkembang menjadi pribadi yang ia inginkan, tetapi film tidak menyorot sekolah ini dalam cahaya yang negatif. Film tidak menyuruh kita menjauhi sekolah agama. Film hanya menunjukkan momen-momen yang kita hadapi kalo kita berada dalam situasi Lady Bird.

Kita mungkin tidak pernah mengecat rambut menjadi pink ketika remaja, namun apa yang dialami Lady Bird bukan tidak mungkin pernah kita semua alami. Kita mengantagoniskan orang-orang, pihak-pihak, karena kita sendiri belum yakin siapa dan mau jadi apa kita. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu membangun citra, kita mencegah orang-orang untuk melihat siapa sebenarnya diri kita, seperti apa keluarga kita, sampai-sampai kita sendiri tidak lagi bisa benar-benar melihat yang sebenarnya.

 

 

 

 

Film menggambarkan semua yang mungkin kita alami saat beranjak dewasa dengan so refreshingly real. Dan bukan hanya yang senang-senang saja yang diperlihatkan. Perjalanan beranjak dewasa tak pernah mudah. Arahan Gerwig yang raw banget – para aktor bermain dengan sangat genuine – membuat film terasa sangat personal, sehingga membuat kita-kita yang mungkin pernah meninggalkan sarang, menjadi teringat dan ingin kembali ke tempat kita memulai langkah.
The Palace of Wisdom gives 9 out of 10 gold stars for LADY BIRD.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

PITCH PERFECT 3 Review

“Life is not a competition.”

 

 

 

Hidup memang keras. Kalian boleh saja bagian dari grup nyanyi yang aca-awesome sewaktu di kampus, namun tetap berakhir gak sukses di pekerjaan yang juga gak keren-keren amat. Masing-masing anggota Barden Bella terbukti ngalamin ini. Bahkan Beca yang udah mewujudkan mimpinya jadi musik produser, keluar dari pekerjaan. Idealismenya enggak ketemu jalan nyambung ama ide kreatif klien. Jadi, para Bella sekarang punya waktu luang untuk ngumpul-ngumpul lagi. Mereka kangen nyanyi bareng. Diundang oleh ayah Aubrey yang tentara, Bella ikut tur USO – nyanyi keliling Eropa. Tapi tentu saja yang namanya tur, bukan mereka saja yang meramaikan acara. Barden Bella bertemu dengan grup musik lain, dan ‘teman-teman’ baru mereka itu actually bermain dengan alat musik. Ada grup rocker cewek, band country, juga duo musik elektronik. Mengetahui tur ini bisa saja adalah penampilan bareng terakhir mereka, Bella bertekad mempersembahkan yang terbaik. Supaya mereka terpilih sebagai band pembuka di acara puncak tur bersama pemusik DJ Khaled.

Aku sudah nonton Pitch Perfect (2012) lebih banyak dari yang seharusnya. Oke, aku ‘mungkin’ pernah muterin film ini nonstop seharian sambil belajar bikin sketch kala itu.. Aku-muternya-hampir-tiap-hari, aku ngaku. I was so surprised by that film. Kocak, pemainnya likeable, ceritanya seger banget – jika kita melihat ke belakang ke dunia perfilman saat itu -, anak kuliahan yang ingin mengerjakan yang ia suka – tentu kita bisa relate ke sana. Aku suka suara Anna Kendrick, aku juga suka lagu Cup yang kukasih Best Musical Performance untuk My Dirt Sheet Awards, Rebel Wilson’s antics, lagu-lagu mash upnya, kaki Alexis Knapp, ada banyak yang bisa disukai dari sana. Aku bahkan tahu The Breakfast Club (1985) dari film ini. Pitch Perfect actually adalah urutan paling wahid di daftar film favoritku tahun 2012. Dan tiga tahun setelah itu, sekuel film ini muncul. Nyaris dari nada ke nada, dari beat ke beat, filmnya mirip. Dan buatku Pitch Perfect 2 (2015) merupakan sedikit kekecewaan, but you know, kita gak bisa benar-benar mencibir mendengar lagu Flashlight dan melihat penampilan panggung DSM.

Tapi serius, aku gak pernah berharap Pitch Perfect dibikin sekuelnya. Apalagi jadi trilogi seperti kenyataan sekarang ini. Musik yang asik dan unik dan komedi dead-pan, itulah kekuatan utama franchise ini. Dan bahkan semua itu bisa jadi repetitif dan menjemukan jika terus dilakukan tanpa ada perubahan. Sepuluh menit pembuka film Pitch Perfect 3, kita mendengar akapela lagu Toxic, Barden Bella nyanyi di kapal alih-alih panggung, dan kemudian Fat Amy terjun dari langit-langit. Tak lama kemudian kapal tersebut meledak, para Bella loncat ke air.  And I was like, wow, MEREKA BERBEDA SEKARANG!

Stacie gak ikutaaaan huhuuu

 

Pitch Perfect 3 tampaknya mendengarkan koor suara penggemar, dan mereka dengan berani mengambil langkah gede untuk melakukan pembaruan di sana sini pada ceritanya. Mereka menambahkan elemen action, mereka menambahkan hal untuk dilakukan oleh para Bella selain bernyanyi dan melontarkan lelucon yang gitu melulu-melulu. Regarding menyanyi, film ini menaikkan permainan mereka. Untuk pertama kalinya, Barden Bella tampak gak yakin dengan akapela. Tidak banyak akapela yang kita dapatkan di sini, at least enggak sebanyak di dua film pendahulunya. Dan ini sesungguhnya bisa jadi pedang bermata dua; penonton yang ingin melihat mereka bernyanyi akapela akan jadi sedikit kurang puas, tapi untuk penonton yang menginginkan musik; well, film ini punya musik-musik bagus dari genre yang lebih beragam.

Jika kita melihat kembali dari film pertama, bila kita melihat gambaran utuh serial ini, Pitch Perfect 3 bekerja efektif sebagai bagian penutup. Mereka menggali masa lalu. Tokoh-tokoh mendapat penutup buat arc mereka, dan arc itu berlangsung dari film yang pertama. Beberapa tokoh mestinya bisa dipresentasikan dengan lebih baik lagi, tapi secara keseluruhan, film ini berhasil membungkus cerita  sama seperti yang dilakukan Cars 3 (2017) terhadap franchise Cars. At it’s heart, ini adalah tentang keluarga,  bahwa keluarga harus saling support, walaupun kadang tak selalu bersama. Dalam film sebelumnya, Bella sudah mengestablish bahwa mereka adalah keluarga, namun di sini mereka harus belajar memperluas keluarga mereka, bukan lagi semata soal tradisi. Satu adegan yang aku suka adalah ketika band lain mendadak nyanyi bareng, mereka melanggar aturan permainan Riff-Off, dan cewek-cewek kita enggak mengerti kenapa para pesaing mereka melakukan hal tersebut.

Barden Bella, terutama Beca, yang sudah berkompetisi dari dua film pertama, gagal untuk melihat bahwa hidup yang sebenarnya bukanlah sebuah perlombaan. Terutama dalam keluarga. Kita tidak saling bersaing dengan keluarga. Jikapun ada, maka lawan kita sesungguhnya adalah waktu. Karena kemenangan dalam hidup adalah ketika kita sebagai keluarga bersikap saling mendukung, tidak mengecewakan satu sama lain.

jadi kalo menang, jangan besar kepala

 

Ceritanya sendiri jadi terasa sangat padat, bukan dalam artian yang bagus. Kita melihat banyak cerita sampingan, di antaranya ada Fat Amy yang ketemu dengan bokapnya, ada Aubrey yang pengen ketemu sama bokapnya, ada Chloe yang lagi berflirt-flirt ria sama tentara pemandu mereka. Juga ada cerita tentang dua komentator acara (duet Elizabeth Banks-John Michael Higgins memberikan banyak sumbangan komedi) yang bernapsu untuk mendokumentasikan detik-detik kejatuhan Beca dan teman-teman. Mereka ngikutin ke mana Barden Bella pergi dengan komentar-komentar sarkas yang berhasil memancing gelak tawa penonton di studio. Kehadiran elemen-elemen narasi tersebut dibutuhkan dan integral sama tubuh besar cerita, cerita-cerita tersebut tidak tercampur dengan benar. Flownya enggak mulus.  Film ini berusaha menampung banyak, tapi penulisan tidak mampu merangkai semuanya dengan baik.

Dan tetap saja ada yang tokoh yang gak kebagian, mereka hanya dapat sepatah dua patah kalimat. Hailee Steinfeld is barely there, aktris ini underutilized banget padahal kita udah melihat sebagus apa dia jika diberikan kesempatan. Malahan, kebanyakan pemain film di sini menyuguhkan akting yang membuat kita berharap mereka dapat unjuk kebolehan di film yang terstruktur lebih baik. Rebel Wilson, khususnya, sangat bersinar di film ini. Komedi-komedi yang bekerja baik itu datang darinya. Dia juga hilarious di bagian aksi.

 

 

Berusaha menjadi lebih besar, film ini nekat menjadikan root yang udah bikin dirinya digemari penonton sebagai nomor dua. Film ini melakukan seperti apa yang dilakukan oleh tokoh utamanya; ngemash up genre, sayangnya kadang yang miss terasa lebih banyak dibandingkan yang hit. Bagaimana pun juga, sebagai penutup, film ini berhasil menunaikan tugasnya. Ceritanya terasa konklusif. Messy sebagai diri sendiri, akan tetapi film ini cukup bersinkronisasi dengan dua film sebelumnya. Jikapun ada masalah yang kita temui, maka itu adalah lantaran seri ini enggak perlu banget dibikin sekuel sedari awal. Lebih baik dari yang kedua, namun itu enggak berarti banyak.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PITCH PERFECT 3.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

AYAT-AYAT CINTA 2 Review

“Real people aren’t perfect.”

 

 

 

Tinggi-tinggi sekolah, ujungnya di dapur juga. Orang jaman dulu begitu tuh pandangannya, cewek gausah belajar pinter-pinter, tahan deh mimpi-mimpi itu, salurkan semuanya untuk jadi ibu rumah tangga yang baik. Istri yang berdedikasi. Tapi ya itu flashback bertahun-tahun yang lalu. Sekarang udah 2017. Pemikiran orang semakin dewasa. Banyak yang sudah berubah. Sembilan tahun yang lalu aja, waktu film Ayat-Ayat Cinta yang pertama keluar, aku masih belum peduli sama film. Apalagi film Indonesia.  Tapi ternyata aku tidak perlu khawatir saat menonton sekuelnya ini. Karena bagi Ayat-Ayat Cinta 2, waktu berjalan di tempat. Kita malah musti sedikit menyejajarkan diri ke belakang untuk dapat menikmati film ini.

Bukan berarti tidak ada yang berubah dalam kehidupan Fahri (ekspresi melotot Fedi Nuril kadang-kadang kocak juga). Sekarang pria ini adalah seorang dosen di Universitas Edinburgh, Skotlandia. Menjadi muslim di sana berarti menjadi minoritas. Fahri harus berurusan dengan pandangan-pandangan menghakimi, kerendahhatiannya tak dipandang oleh orang-orang yang marah atas peristiwa terorisme yang di berbagai belahan dunia. Tetangga Fahri, misalnya, Keira (Chelsea Islan sepertinya dilahirkan dengan dandanan pemain biola, cocok banget) dan adiknya blak-blakan menuding Fahri teroris. Mereka ‘meneror’ mobil Fahri sebagai wujud kebencian. Namun hal ini tidak mengusik si sabar Fahri segede kepergian Aisha menghantuinya. Sang istri diduga menjadi korban pengeboman di Palestina dan sejak itu Fahri gundah dengan kekosongan di hatinya. Kharisma cowok ini membuatnya populer di kalangan cewek-cewek, apalagi mahasiswinya, tapi dia menolak mereka semua.

Di saat film-film kekinian berlomba menulis tokoh wanita yang independen dan punya ‘strength’, film ini membuat tokoh-tokoh wanitanya terlibat dalam semacam kompetisi demi mendapatkan hati Fahri. Bahkan Sabina (Dewi Sandra banyak berekspresi dengan matanya saja), muslimah berkerudung yang ditampung Fahri sebagai asisten rumah tangga, tampak sedikit banyak memendam sesuatu terhadap Fahri. Dan kemudian muncullah Hulya (cowok mana sih yang keberatan kalo Tatjana Saphira yang motong pembicaraan mereka?) yang punya ‘keunggulan’ sebagai sepupu Aisha. Dengan cepat mereka menjadi akrab. So I guess, kita semua kudu penasaran, siapa yang akan dipilih oleh Fahri.

Tatjana dan Chelsea satu film, rahmat mana lagi yang engkau dustakan?

 

Atmosfernya terasa sangat grande, tata musiknya, gambarnya, desain produksi film ini termasuk di level atas. Penampilan aktingnya juga tepat mengenai sasaran nada dan emosi yang ingin disampaikan – kecuali adik cowok si Keira. Duduk di studio, di lautan penonton berambut panjang dan sebagian besar lainnya berhijab (aku paling ganteng dong!), babak set up film ini cukup menarik buatku. Ada beberapa aspek seperti Fahri yang beribadah di dalam kelas sebelum mengajar – enggak di belakang kelas, dia harus banget melakukannya di depan mata semua murid yang berasal dari latar yang berbeda-beda – yang tampak intriguing. Aku juga suka gimana mereka memanfaatkan cadar ke dalam penceritaan.  Namun, lama kelamaan, frekuensi aku menguap dengan mata kering menjadi semakin sering. Sampai ke titik aku tidak tahan melihat Fahri, karena tokoh utama idaman wanita ini begitu membosankan. Dia terlalu jauh dari kita.

Tokoh-tokoh superhero seperti Wonder Woman, mati-matian ditulis sangat grounded agar mereka tampak seperti manusia biasa, diselipkan adegan-adegan kecil yang memanusiawikan mereka, tidak melulu mereka superpower. Thor yang dewa, dibikin jadi konyol dalam Thor: Ragnarok (2017) juga dengan alasan ini; supaya kita relate ke dia. Ayat-Ayat Cinta 2, sebaliknya, punya Fahri yang seorang manusia biasa namun dibuat setinggi mungkin, semulia mungkin, tokoh ini punya kebaikan dan kesabaran kayak Nabi Muhammad sekaligus diceritakan punya ketampanan yang membuat wanita tergila-gila kayak Nabi Yusuf, sempurna sekali. Dia lebih baik dari superhero manapun. Fahri’s thing is he does right things. Sedikit saja kekurangan, mungkin bikin dia miskin atau apa, bisa membuat cerita lebih menarik. Membuat perjalanannya lebih compelling. Satu-satunya cela karakter Fahri di film ini adalah dia nutupin perasaannya sendiri.

Terlalu sempurna adalah kecacatan. Dan hal itu tidak membuat film yang bagus.

 

Benar film ini mengeksplorasi komentar sosial perihal Islam di mata publik; film ini relevan karena menyinggung isu-isu seperti bagaimana kedudukan wanita di mata Islam, bagaimana pandangan Islam terhadap perang dan terorisme. Akan tetapi, seperti yang di-foreshadow oleh salah satu adegannya, film ini tidak mengeksplorasinya lebih dalam. Film tidak menjatuhkan ‘bola’ kesempatan itu. Dia menusuknya dan mengempeskan semua hal-hal menarik yang mestinya dapat dikandung oleh cerita. Rintangan-rintangan yang dialami Fahri selesai dengan gampang, dalam rentang waktu satu adegan sahaja. Fahri punya semua jawaban. Menurutku bagus juga kebaikan dan amal soleh yang dilakukan oleh Fahri yang actually bicara tentang siapa Fahri kepada orang-orang, namun ini membuat dia seperti missing-in-action. Seperti ketika ditanya mahasiswa sok-pinter di kelas, Hulya yang memotong dan menyelesaikan jawaban. Pada sekuen adegan debat ilmiah yang dengan cepat menjadi personal, Fahri sama sekali gak membela diri, seorang nenek yang eventually stand up for him, membuatku kepikiran mungkin sebaiknya film ini mengganti tokoh utamanya.

Ketika mengadaptasi novel menjadi film, keputusan kreatif sepenuhnya di tangan pembuat film. Akan selalu ada tuntutan untuk setia dan sesama mungkin dengan novel sumbernya, namun pada dasarnya film berbeda dengan novel. Ada aturan-aturan penulisan screenplay; ada kewajiban untuk menjadikan film sebagai perjalanan tokoh. Tokoh kita harus engage penonton. Perubahan-perubahan kreatif demi alasan tersebut, hukumnya wajib untuk dilakukan. Katakanlah karena terlalu sempurna – sedangkan tokoh utama yang menarik adalah yang sedikit ‘bengkok’, Fahri enggak mesti jadi tokoh utama. Cerita bisa ditranslasi ke dalam sudut pandang tokoh lain. Keira bisa menjadi tokoh utama yang menarik di cerita ini – jika mereka mau mengubah arcnya sedikit. Atau Sabina. Aku gak mau spoiler banyak, but I tell you this: perhatikan tokoh ini baik-baik.

Asal jangan Hulya sih. Maksudku, tokoh ini karakternya apa sih? Apa yang ia lakukan, apa motivasi terdalamnya? Hulya adalah wanita yang pintar. Dia cukup mandiri. Tapi dia cuma ngikutin ke mana Fahri pergi. That’s it. Itulah karakter Hulya. Dia muncul gitu aja, dan undur diri dalam sirkumstansi yang random banget. Mereka harusnya bisa mengonstruksi konfrontasi final dengan lebih baik, di set up dengan lebih perhatian, tapi enggak. Bagian itu terjadi di suatu rest area pom bensin. Kebetulan yang mencengangkan, mukjizat,  pemirsa!

Perbuatan baik dapat pahala, perbuatan jahat bakal dikasih Fahri piala

 

 

Film ini ‘malas’ seperti itu. Sungguh ironis lantaran film ini lewat salah satu dialognya yang bukan eksposisi menasehati kita dengan  “Niat baik tanpa effort, dapat merusak hasil.” Dan turns out, film ini adalah perwujudan dari kalimat tersebut. Naskah film pada ujungnya hanya mengerucut menjadi drama-drama romansa yang over–the-top. Emosinya begitu melodramatis. Contoh simpel film ini favoring ke dramatis yang sintesis adalah mereka membuat adegan seorang ustadz yang berjalan dengan slow motion di dalam mesjid. Dibuat mendekat perlahan supaya tampak intens. I mean, natural aja di mesjid kan memang jalannya pelan-pelan, dan untuk membuat si ustadz tampak marah, mereka malah memelankan lagi yang udah pelan itu.  It really takes away the moment, karena padahal kalo mau bikin adegan yang ngekonflik  ya sekalian bikin ustadznya setengah berlari geram menuju Fahri.

Aku gak bisa menyimpulkan arc tokoh Fahri. Apa yang ia pelajari dari kejadian-kejadian penuh twist yang terjadi padanya. Aku semula mengira ini adalah soal Fahri yang belajar bahwa terlalu sempurna itu enggak baik, dia harus jujur pada diri sendiri.  Bahwa  tidak ada orang-orang nyata yang sempurna. Tapi enggak. Di akhir hari, film ini bicara tentang betapa pentingnya penampilan fisik. Mestinya cinta itu karena hati – cantik jelek tidak jadi soal. Di sini, kita punya seorang wanita yang merasa sudha begitu rusak physically, dia bersembunyi dari suaminya, dan dia setuju untuk berubah – out of insecurity – dan demi menyenangkan orang lain. Buatku it  just feels so wrong.

Dan ya, aku setuju dengan kalian yang menyebut ending film ini menggelikan. Ini adalah momen penting pada film. Banyak tokoh yang hidupnya berubah karena proses setelah ending tersebut. Tapi ketika kita melihat ke belakang, film ini bertempat di Britania Raya alasannya bukan lagi karena di sana adalah tempat dengan kebudayaan yang beragam, dengan perbedaan yang meriah. Melainkan agar aspek operasi di akhir cerita jadi mungkin untuk terjadi. Dan ini benar-benar menurunkan nilai dan kepentingan film.

Melihat Fahri yang begitu tinggi menjunjung toleransi, takpelak mengundang buah pemikiran; benarkah kita harus menoleransi yang tidak toleran? Jika dipikir-pikir, toleransi adalah sebuah paradoks. Katakanlah jika di bulan puasa kita menghormati yang tidak berpuasa – warung bebas dibuka, orang-orang tetap makan minum di jalan, maka di mana jadinya letak toleransi terhadap yang lagu berpuasa? Karl Popper, seorang filosofis, bilang ketika kita extend toleransi shingga ornag-orang bisa openly intolerance, maka yang toleran akan hilang bersama dengan sikap toleransi itu. Kesimpulannya adalah kebablasan toleransi akan membunuh sikap itu sendiri, dan guna mempertahankan toleransi kita butuh untuk enggak toleran terhadap yang gak-toleran.

 

 

 

Fahri bilang kita kadang harus mundur sedikit untuk dapat melompat lebih lanjut. Tapi film ini mengambil kemunduran yang terlalu jauh, dan akhirnya jatuh. Ini adalah film yang bagus jika ditonton di jaman Siti Nurbaya masih disuruh kawin. Dibawa ke jaman kekinian, generasi now, tokoh-tokoh film ini sangat outdated. Isu kekiniannya ditinggalkan begitu saja demi drama dan romansa yang digali berlebih-lebihan. Bicara tentang putting women in pedestal, namun twist film ini mendorong jatuh para wanita itu dari pedestalnya dalam setiap kesempatan. Tapinya lagi, mungkin kita memang masih berada di jaman jahiliyah sehingga masih bisa terbuai oleh ayat-ayat drama seperti ini.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for AYAT-AYAT CINTA 2

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

BATTLE OF THE SEXES Review

“Gender equality is not a woman’s issue. It is a human issue.”

 

 

Meskipun cowok secara fisik banyak yang lebih kuat, cewek kalo udah ngamuk bisa lebih garang. Tidak ada gender yang lebih superior. Begitupun tidak ada ras, suku, agama, ataupun ideologi yang lebih baik daripada yang lain. Semua golongan punya kelemahan, makanya hal tersebut tidak lantas membuat golongan tertentu jadi inferior. Sebab semuanya akan saling membutuhkan; Wanita adalah satu-satunya gender yang bisa menciptakan kehidupan, namun mereka butuh Pria melaksanakan proses tersebut.

 

Tapinya lagi, jika memang demikian – pria dan wanita diciptakan sama – kenapa petenis wanita dibayar jauh lebih rendah daripada pria? Kenapa, di tahun 1973 itu, dirinya dan rekan-rekan seprofesi harus mengalah kepada dominasi pria dengan alasan tenis adalah olahraga fisik? Maka Billie Jean King lantas berjuang. Dirinya yang sudah mengantongi banyak gelar juara, membentuk acara tenis tandingan, yang kesemua atllitnya perempuan. Dan kemudian peristiwa penting dalam sejarah olahraga, khususnya tenis, itu terjadi; seorang veteran dan mantan juara, Bobby Riggs, menantang petenis wanita demi membuktikan bahwa pria, bahkan yang sudah gaek seperi dirinya, lebih baik dan pantas untuk dihargai lebih tinggi daripada petenis wanita.

Sisanya memang sudah tertulis dalam buku sejarah, dan film ini tahu untuk enggak bikin kita bosan dengan kisah hidup Billie Jean. Alih-alih membahas tokoh ini sedari kecil, film memfokuskan kita kepada peristiwa-peristiwa yang membuild up pertandingan tenis cowok lawan cewek yang udah mengubah pandangan dunia olahraga terhadap perbedaan gender.  Sehubungan dengan itu, kita juga melihat cerita romansa Billie Jean yang sempat dirahasiakan ke publik. Billie Jean yang sudah bersuami, menemukan dirinya menumbuhkan perasaan kepada seorang penata rambut wanita, dan elemen ini actually integral dengan perkembangan karakter Billie Jean. Kita bisa ngerasain konflik internal di dalam dirinya tumbuh karena dia sudah ngedevelop perasaan yang sangat mendalam kepada wanita ini, namun dia juga menyintai suaminya, dan apakah memilih yang satu dibanding yang lain membuatnya juga sama dengan pihak yang ingin dia buktikan sesuatu atau apakah pilihan itu dapat dimaknai sebagai dia memang memegang teguh persamaan dan kesetaraan gender.

aku punya temen cewek yang bisa membuat babak belur….. nilai-nilaiku di dalam kelas

 

Banyak pujian yang dilayangkan kepada film ini sesungguhnya dialamatkan kepada para pemain, terutama dua aktor leadnya. Emma Stone bukan hanya mirip sama Billie Jean King yang asli, namun ketika kita melihatnya berkacamata dan pegang raket itu, kita tidak lagi melihat Emma Stone. Pendekatan yang diambill oleh Stone untuk menghidupkan karakter ini adalah dia mempersembahkan diri sebagai publik figure yang ‘tertutup’. Billie Jean tampak sedikit pemalu. Tetapi jika bahan obrolan sudah menyangkut petenis wanita yang dianggap kurang menjual, dia akan tersulut while maintaining apa yang dia percaya. “Di situlah letak salahnya kalian. Aku bertanding bukan untuk menunjukkan wanita lebih baik. Aku ingin membuktikan bahwa kami sama.” jawabnya saat ditanya wartawan.

Steve Carell juga bermain dengan sama meleburnya sebagai veteran 55 tahun yang melihat pertandingan tenis mereka lebih sebagai sebuah panggung hiburan. Sikap dan aksen Carell sebagai Riggs di sini kadang tampak kayak Gru di Despicable Me banget, tapi ini hanya membuktikan bahwa Carell masih bisa tampil menghibur. Bobby Riggs punya kebiasaan berjudi, dan ini digali oleh film sebagai motivasi dan konflik personalnya. Demi mengembalikan lampu sorot ketenaran itu, Riggs menantang petenis wanita yang lebih muda. Bagi Riggs, ini adalah tindakan gamble yang paling menguntungkan. Karena, menang atau kalah bertanding, dia tetap ‘menang’. Popularitasnya sudah terestore dengan segala publikasi itu, dan orang ini tahu betul bagaimana memainkan ‘peran’nya di dalam pertandingan itu. Bagi Billie Jean, sebaliknya, satu-satunya cara ‘menang’ adalah dengan menang. Jika dia kalah, bukan hanya dipermalukan, dia juga tidak akan bisa lagi hidup tenang lantaran apa yang ia percaya tidak bisa ia capai.

 

Dan dalam menggali seteru tersebutlah Battle of the Sexes tidak pernah benar-benar menjadi sebuah smash yang memuaskan.

Antagonis adalah orang yang menjadi rintangan, orang yang menghalangi protagonis mencapai tujuan personalnya. Antagonis ini enggak selalu mesti selalu jahat, sebagaimana protagonist juga bukan selamanya baik. Film yang menarik adalah film yang bisa mengaburkan jahat-baik itu. Battle of the Sexes terlalu ringan dalam menggali elemen cewek melawan cowoknya. Bahkan terasa lebih komikal dari pada Barden Bella melawan Treblemaker di film Pitch Perfect (2012). Pihak Riggs, dan produser, dan cowok-cowok oposisi dibuat sangat close-minded sehingga terasa dibuat-buat, hampir seperti bergerak dalam konteks mereka sengaja melakukannya. Ada upaya untuk memanusiawikan si Riggs, memperlihatkan hubungan dia dengan istri dan anaknya; ada masalah di dalam keluarga Riggs sehubungan dengan kebiasaannya berjudi, hanya saja anehnya terasa dibuat-buat – apalagi jika kita membandingkannya dengan motivasi personal Billie Jean.

kalo ada yang bisa dipelajari dari film-film 2017, maka itu adalah hormati wanita. Titik.

 

Perasaan disingenuous yang dikuarkan film ini sampai pada titik aku tidak lagi menganggap pertandingan itu kontes beneran. Beberapa waktu, aku merasa Riggs tidak tampak pengen menang, dia tampak hanya ingin memancing ‘heat’ supaya pertandingan mereka jadi lebih appealing buat banyak orang. Hampir seperti gimmick. Dan mungkin memang seperti itu; bahwa mungkin tadinya Riggs sengaja berakting sugar daddy dan segala macam supaya penonton semakin tertarik, dan di tengah-tengah game – demi melihat kesungguhan Billie Jean, naluri olahragawannya kepincut, dan dia serius berusaha untuk menang, tapi ini hanya membuat stake perjuangan Billie Jean mengendur. Perjuangannya seperti diatur oleh sekelompok orang dan dia enggak sadar akan hal itu.

Dan lebih kepada pria melawan wanita, pertandingan mereka malah terasa seperti pertandingan antarumur. Ketika film memperlihatkan Billie Jean berlatih dengan determinasi, Riggs ditunjukkan sedang berpesta. Untuk persiapan, Riggs tidak latihan dan hanya menelan berbagai vitamin. It works dalam konteks dia sesumbar, dia menyepelekan wanita. Tapi tentu saja, ada faktor umur dan kesehatan yang mengambil tempat karenanya. Poinku adalah, pertandingan penting tersebut, tidak lagi benar-benar tampak penting karena outcomenya bisa dipengaruhi oelh banyak hal. Film tidak berhasil membuat equality, ataupun simpelnya, pertarungan gender mencuat di sini. Dan secara struktur, ini disebabkan oleh film hanya mengembangkan personal goal. Sedangkan story goalnya, satu tujuan yang secara paralel ingin dicapai oleh seluruh tokoh, kurang mendapat pengembangan atau kurang diperhitungkan – spektrum goalnya bisa menjadi terlalu luas.

Dalam pertandingan tenis, skor nol disebut dengan ‘love’. Penjelasan yang ada adalah kata tersebut berasal dari bahasa Perancis yang berarti telur. Namun jika dikaitkan dengan konteks cerita film ini, love itu benar-benar literally berarti cinta. Karena dalam tenis, kadang hanya cinta yang kita punya; hanya cinta yang membuat orang-orang seperti Billie Jean King dan Bobby Riggs berjuang.

 

 

 

Penampilan akting yang kuat, perseteruan yang menarik – hampir-hampir seperti build up feud di WWE minus kekerasan dan talk trash – film ini akan menarik buat banyak penonton. Ini jauh dari film yang buruk. Cerita dengan pesan yang mudah dicerna. Dia juga punya kepentingan, karena maslaah yang dihadapi Billie Jean di tahun 1973 tersebut masih belum hilang dan tuntas hingga sekarang, Karenanya aku menyayangkan penggalian kurang berdaging. Seolah tokoh Bobby Riggs yang menulis film ini.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for BATTLE OF THE SEXES.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017.

SUSAH SINYAL Review

“Time is precious.”

 

 

Tak bisa disangkal, hidup di generasi kekinian sekarang ini kita lebih sering berkomunikasi lewat sosial media ketimbang ngobrol langsung face-to-face. Ngobrol lewat internet. Makanya jika disuruh milih antara gak ada sinyal atau gak ada pacar, maka tentu kita bakal memilih mendingan gak ada pacar. Karena dengan sinyal, pacar bisa didapat. Haha engga semua ding, poinku adalah; sinyal udah jadi kebutuhan pokok. Apalagi buat anak muda, pasti gak bakal betah nongkrong di tempat yang sinyal wifinya ilang timbul. Bisa ketinggalan banyak informasi dong, kak, kalo gak ada sinyal.

Kiara yang masih SMA itu juga sama. Kalo enggak lagi curhat sama neneknya, Kiara akan menyelam ke dunia maya; untuk sekedar ngevlog atau nyanyi lagu ciptaan sendiri. Kiara (Aurora Ribero yang mirip Sasha Banks main bagus banget di debutnya) udah gak bisa dipisahin deh sama hape. Pernah smartphonenya disita lantaran ketahuan guru lagi main instagram di kelas, Mama Kiara lantas dipanggil ke sekolah. Menghadap guru BP. Tentu saja tidak ada asap tanpa ada api, selidik punya selidik ternyata masalah Kiara bersumber dari hubungannya yang enggak akrab dengan si Mama. Mama Kaira, Ellen (Adinia Wirasti tackles her notes perfectly), sibuk bekerja sebagai pengacara. Dia sudah bercerai dengan suami, dan tentu saja hal tersebut seringkali jadi kayu bakar ributnya Kiara dengan Ellen. Solusinya satu, mereka harus pergi liburan, ngabisin waktu bersama sebagai keluarga. Dan ini berarti Ellen harus meninggalkan urusan kerjaan, dan Kiara kudu ngorbanin seleksi online kontes bakat yang ia ikuti, sebab tempat liburan yang mereka kunjungi cukup terpencil.

aduh, si the-line-where-the-sky-meets-the-sea gabisa calls me nih

 

Susah Sinyal singkatnya adalah film tentang wanita yang mandiri, yang harus ngurusin putrinya yang juga mandiri, sehingga menimbulkan banyak ketegangan di antara mereka. Aku sedikit teringat sama Rachel di komik Animorphs, Rachel juga suka ‘berantem’ sama ibunya yang pengacara. Ada banyak heartfelt moment dari hubungan Kiara dengan Ellen. It is also a fish-out-of-water comedy, karena kedua tokoh utama tersebut ditempatkan di dalam lingkungan yang sama sekali berbeda dengan ‘habitat’ mereka, mereka harus menyesuaikan diri sekaligus berusaha beakrab-akrab ria satu sama lain – menjalin kembali hubungan ibu anak yang renggang. Dan akan ada banyak komedi datang dari gimana orang kota jika ditempatkan di tempat yang jauh dari semua kecanggihan.

Nah loh, jadi peran Ernest Prakasa di film ini apa dong?

Dia meranin rekan kerja Ellen dan mostly berfungsi sebagai amunisi komedi. Ernest is good at laughing at himself, dan kita dibawa tertawa bersamanya.  Kali ini, peran Ernest sebagai seorang tokoh memang gak banyak. Tapi peran di belakang layar, aku bisa bilang bahwa di Susah Sinyal ini Ernest benar-benar menaikkan permainannya. Kocak, serius, emosional, bukanlah hal yang gampang untuk menggabungkan ketiga hal tersebut. Timingnya harus benar-benar pas, jika tidak, film akan terasa episodik dan enggak menyatu mulus. Susah Sinyal precise banget pada editing penceritaan komedi. Ernest tahu di mana dan gimana harus memanfaatkan rekan-rekan stand up nya sehingga mereka tampil mencuri perhatian namun juga berusaha untuk tidak mengorbankan emosi pada inti cerita. Astri Welas kocak sekali di sini sebagai pemilik hotel tempat mereka menginap. Arie Kriting membuat momen-momennya sendiri. Tokoh-tokoh pendukung di film ini memang punya kelakuan aneh, tapi lelucon dan candaan mereka sangat fresh dan kekinian. Susah Sinyal semakin excel di departemen komedi berkat anekdot-anekdot dan selera humor yang  benar-benar mengena.

Kematangan juga ditunjukkan oleh Ernest dari segi pembangunan layer dan treatment beberapa adegan. Konflik internal karakter bisa datang dari pekerjaan, dan di film ini kita melihat gimana pekerjaan Ellen sebagai pengacara, yang of course kita tahu pengacara selalu menang adu argumen, dibentrokan dengan ketidakmampuan Ellen berkomunikasi dengan putrinya sendiri. Kasus yang ditangani Ellen, yang awalnya dia tolak karena gak mau ngurusin perseoalan sepele artis, sesungguhnya paralel dengan yang ia alami, menjadikan kasus itu sangat personal baginya. Pemilihan lokasi resort di Sumba juga dibuat beralasan. Kiara memilih Sumba sebagai tempat liburan, dan kita bisa meihat bahwa keinginannya ke Sumba adalah refleksi terhadap keinginan Kiara untuk dekat dengan sang ibu. Ellen adalah Sumba bagi Kiara; ‘tempat yang ingin dia kunjungi, tempat yang cantik dan indah, tapi juga tempat yang susah untuk melakukan komunikasi.   Aku suka sekali adegan terakhir film ini di mana kedua tokoh utama kita akhirnya bisa terkonek kembali sebagai keluarga justru di tempat yang gak ada sinyalnya.

 

Ada satu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ada satu yang lebih berharga ketimbang duit beratus-ratus juta. Ada satu hal yang bisa kita berikan kepada orang lain, yang bisa kita habiskan demi orang lain, dan sama sekali tidak membuat kita rugi. Hal itu adalah waktu. Tidak ada pembandingnya, waktu-waktu yang kita habiskan demi berada bersama orang yang kita cinta. Duit bisa dicari, tapi waktu – kita tidak mencari waktu. We make time. Dan itulah sebabnya kenapa waktu begitu tak ternilai. Jika kalian ingin menunjukkan rasa cinta kepada seseorang, berikan waktumu untuk mereka.

 

product placementnya mengalir mulus semilir angin di pantai

 

Di babak awal, agak sedikit susah buat kita ngegrasp konteks cerita, ada sedikit tonal issue sih di sini, komedinya bisa sedikit membuat distraksi, tapi begitu kita paham, film ini seketika menjadi lebih menyenangkan untuk ditonton. Tapinya lagi, juga ada sedikit masalah pada pacing. Kita dibawa bergerak dari excitement ngeliat mereka liburan dan berusaha konek, untuk kemudian dikembalikan lagi ke suasana kantor, dan kemudian balik ke Sumba. Perasaan naik turunnya adalah perjalanan yang sedikit bumpy. Struktur mestinya bisa dibangun dengan lebih baik lagi. Karena dengan apa yang kita tonton, cerita menyisakan banyak aspek yang hanya untuk di satu momen itu aja, yang tidak dipanen ‘buahnya’. Kiara dengan Abe misalnya. Kita paham affection Kiara kepada Abe bergerak dalam konteks Kiara ingin melawan mamanya, tapi dengan penceritaan yang terpenggal, aspek cerita ini lebih terasa kayak poin yang ditinggalkan. Ada banyak adegan yang jatohnya malah seperti untuk komedi semata, padahal enggak. Mereka bekerja di dalam konteks, akan tetapi penceritaan yang banyak mengambil detour membuat kepentingan mereka berkurang. Bahkan elemen fish-out-of-waternya juga tak pernah bekerja maksimal. Kedua tokoh utama kadang menjadi hal paling terakhir yang menarik atensi kita dibandingkan porsi komedi.

Film actually lebih ke komedi, dengan sedikit mengorbankan tokoh-tokoh sentral. Dan ‘lucunya’, hanya dua karakter sentral itu yang diberikan arc. Tokoh-tokoh pendukung tidak punya storyline, mereka di sana untuk pemantik kelucuan. Jadi, ya, inti film ini mengalah kepada elemen yang tidak didevelop penuh, dan resultnya adalah yang inti juga jadi tak maksimal.

 

 

Mengesampingkan teknis, film ini akan gampang sekali untuk disukai karena sebagai sebuah film komedi, ini adalah film yang pecah banget. Jokesnya mengena, relevan karena memang diniatkan sebagai pandangan terhadap isu kekinian seputar sosial media. At heart, ini adalah tentang hubungan ibu dan putrinya, gimana anak cewek selalu menganggap ibu sebagai ‘musuh’, dan bagaimana mereka saling terhubung kembali hati ke hati.  Ernest kembali bicara tentang masalah komunikasi dalam keluarga; Jika di Cek Toko Sebelah (2016) ia menekankan pada father-son di mana dalam interaksi mereka lebih memilih diam, menghindari konfrontasi, maka di film ini yang ditekankan adalah mother-daughter suka berinteraksi dengan konfrontasi gede karena they don’t know how to talk with each other. Namun, dari segi struktur, film ini adalah sedikit kemunduran dari Cek Toko Sebelah. Pacing mestinya bisa lebih lancar lagi. Terutama dari itu, enggak seperti judulnya, film ini bakal menjangkau penonton yang luas.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for SUSAH SINYAL.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We got the Piala Maya for Blog Kritik Film Terpilih 2017

JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE Review

“Life isn’t hard, Megaman is.”

 

 

Dalam video game kita akan dikejar-kejar zombie kelaparan. Ditembaki robot-robot kalap. Melompat dari satu jurang ke jurang lain. Kalo gagal, kita mati, sure di jaman now ada save point,  tetapi dulu kita harus mengulang kembali dari awal setiap kali game over. Beberapa game bisa menjadi begitu bikin stress sampe joystick pada rusak. Nintendoku dulu kabel stiknya nyaris putus karena kugigit-gigit ngamuk mati melulu main Circus Charlie di level tali ayunan itu. Namun betapapun susahnya, kita tetap suka melarikan diri ke dalam dunia video game kalo lagi mentok di kehidupan nyata. Anehnya kita bisa refreshing setelah mati berulang kali di dalam video game.

Kayak Spencer dan teman-temannya. Mereka didetensi harus bersihin gudang sekolah bareng-bareng. Kata gurunya sih supaya mereka tahu siapa diri mereka. Di sela-sela kerjaan gak asyik itu, Spencer menemukan mesin video game jadul dengan kaset cartridge bertuliskan Jumanji. Spencer yang jago main video game seumur-umur belum pernah mendengar nama itu, ataupun belum pernah melihat konsol yang begitu antik. Jadi, dia dan Fridge dan Bethany dan Martha mencoba permainan tersebut. Dan seperti salah satu episode film Boboho jaman dulu, mereka berempat tersedot ke dalam layar. Spencer yang kini berwujud The Rock, dan teman-temannya yang juga berubah tampang menjadi karakter game yang sudah mereka pilih, harus bertualang menembus hutan. Mencari dan mengembalikan permata Jaguar yang hilang supaya bisa pulang. Masing-masing mereka cuma punya tiga nyawa, tiga kali kesempatan untuk gagal, sebuah angka yang minim sekali mengingat hutan arena bermain mereka dihuni oleh berbagai binatang buas, serta satu geng bandit yang pemimpinnya bisa mengendalikan hewan-hewan tersebut.

Video game terlihat gampang karena kita sudah tahu apa tujuan kita bermain. Mengalahkan monster. Mencari harta karun. Menyelamatkan putri raja. Kita jadi tertantang buat menyelesaikannya. Ketika tivi dimatikan, tombol power konsol ditekan dan lampunya mati, kita balik ke kehidupan nyata di mana kita tidak mengerti ngapain sih kita di dunia ini. Apa misi yang diberikan kepada kita di sini Hidup sangat kompleks, kita harus memahami diri sendiri, menciptakan sendiri tujuan hidup kita. Itulah kenapa kita menganggap hidup lebih susah. Tujuan itu sama sekali tidak terlay out seperti pada video game. Tapi begitu kita tahu siapa kita, mau jadi apa kita, hidup tidak lebih susah daripada menjatuhkan raja Koopa ke dalam lava. Hidup adalah rimba yang sebenarnya, hanya jika kita tersesat.

Breakfast Club, now in a fully rendered-8 bit

 

Tadinya kupikir film ini adalah remake dari Jumanji 1995 yang ada Robin Williamsnya. Ternyata enggak, ini lebih sebagai sebuah sekuel, dan sort of a reboot. Papan permainan Jumanji yang dimainkan oleh Kirstern Dunst ditampilkan kembali di film ini. Kita lihat gimana si papan merasa ketinggalan jaman dan mengubah diri menjadi kaset dan konsol video game. Dan dari sinilah film mengeksplorasi banyak hal-hal keren yang menyenangkan yang timbul dari gimana manusia masuk ke dalam video game. Oke aku nerd, bahkan sampe sekarang aku habisin waktu luang dengan main video game, jadi mungkin kalian menyangka aku bisa sedikit bias menilai film yang udah nyaris kayak adaptasi video game ini. Tapi enggak sebias itu juga sih, film ini memang TONTONAN MENGASYIKKAN DALAM KONTEKS VIDEO GAMENYA.

Para tokoh di sini dibuat bisa melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing, persis kayak status di video game, dan mereka bekerja sama dengan memanfaatkan aspek ini. Interaksi mereka dengan tokoh tiang garam juga kocak banget. Eh pada tahu ‘Tokoh Tiang Garam’ gak sih? itu loh, di game-game petualangan kan selalu ada tokoh-tokoh yang gak bisa kita mainin, dan diprogram untuk ada di game buat memberikan informasi. Di luar dialog-dialog yang sudah diprogramkan, mereka enggak bisa ngomong hal lain lagi. Jadi kalo kita ajak ngomong terus, ya ucapannya itu-itu melulu. Nah, dalam film, elemen ini jadi salah satu pemancing ketawa yang dibuat dengan sangat menyenangkan. Namun dari konteks-konteks video game yang seru tersebut juga muncul berbagai plothole pada universe yang menjadi kelemahan film.

Salah satu aspek paling seru dari Jumanji: Welcome to the Jungle adalah karakternya.  Jadi kan remaja-remaja itu tersedot ke dalam dunia game, dan mereka sekarang berwujud seperti avatar yang mereka pilih. Dan pada beberapa, tubu mereka sangat bentrok ama sifat asli. Dwayne Johnson hanya kekar di luar. Di dalam otot-ototnya, The Rock adalah Spencer – si kutu buku bertubuh kecil yang sangat penakut, bahkan tupai aja bisa bikin dia jejeritan histeris. Jack Black sangat kocak di film ini; dia adalah cewek paling populer di sekolah, yang kerjaannya main hape melulu, dan dia terperangkap di dalam tubuh tambun pembaca peta. Jadi bisa dibayangkan betapa ngakaknya melihat penampilan akting Jack Black di film ini. Tokoh yang diperankan Karen Gillan punya arc yang menarik; di dunia nyata ia adalah cewek yang benci olahraga, namun di game dia seorang petarung, jadi dia dibuat tertarik untuk menggerakkan tubuhnya dalam cara-cara yang bikin berkeringat.

Sebagian besar pemeran dalam film ini diberikan kesempatan untuk bermain-main dengan peran yang sangat unik, kecuali Kevin Hart. Komedian ini sendirinya kocak banget, kita bisa betah duduk berjam-jam nonton dia menghina dirinya sendiri, dan itulah salah satu kekuatan utama pesona kocaknya. Di film ini, Kevin Hart kembali memancing jokes dari sana, dan buatku malah jadinya biasa aja, dia tidak melakukan sesuatu yang baru di sini. Dia sama The Rock banteringnya persis kayak di Central Intelligence (2016), Hart mengejek tinggi badannya sendiri yang kalah jauh ama The Rock. Kevin Hart kocak namun dia pretty much bermain sebagai dirinya sendiri, dan ini kalah menarik dibandingkan aktor-aktor lain yang benar-benar membanting image mereka memainkan karakter yang di luar kebiasaan.

Keberanian enggak ada hubungannya ama ukuran tubuh

 

Kalo di Jumanji dulu kita ternganga ngeliat badak berlarian dari rumah ke jalanan, sekarang kita akan melihat berbagai sekuens aksi yang mengalir lancar berkat keunggulan teknologi. Orang-orang bertebangan ke sana kemari. Stun work di sini amat impresif, meskipun pada beberapa sekuens, film lebh mengutamakan efek CGI. Akan ada banyak adegan yang menampilkan efek yang obvious, yang menurutku adalah disengaja sebagai cara film untuk terlihat sebagai dunia video game. Aku sedikit menyayangkan film ini melewatkan kesempatan untuk tampil kayak di salah satu episode Rick and Morty di mana Rick terjebak dalam dunia simulator. Di serial kartun itu kita melihat Rick berjalan di dunia yang hanya sekitarnya saja yang terender kumplit, begitu dia melihat ke ujung jalan dia hanya melihat polygon, pemandangan sekitar Rick terender seiring dia berjalan karena begitulah lingkungan dalam simulator atau dunia game berjalan. Menurutku, jika perihal render dunia diimplementasikan ke dalam Jumanji ini, tentulah akan semakin banyak hal keren dan kekocakan yang bisa digali.

Bermain-main dengan struktur video game, seperti yang aku singgung di atas, film ini mengambil beberapa pilihan aneh yang bukan saja menjadikan ceritanya tampak tak-lagi seperti video game, melainkan juga jadi membuat ceritanya punya plothole. It’s cool ketika film ini menggunakan flashback dan mengatakannya sebagai adegan cutscene pada video game. Tokoh utama kita juga melihat cutscene ini. Namun, terdapat juga beberapa adegan cutscene yang memperlihatkan tokoh penjahat sedang mempersiapkan pasukan, dan tokoh utama kita sama sekali enggak tahu tentangnya. Ini bertentangan dengan konsep video game karena mestinya tidak ada pengembangan dunia lain di luar pengetahuan tokoh utama. Ini sebenarnya soal perspektif, kita seharusnya melihat hal dari sudut pandang Spencer yang jadi tokoh video game, bukannya sebagai pemain. Tapi film tidak pernah menjelaskan kenapa ada cutscene yang tidak diketahui oleh Spencer. Pun juga tidak menerangkan seperti apa persisnya dunia buatan Jumanji. Karena kalo dipikir-pikir, video game yang mereka mainkan mengembangkan programnya sendiri, game ini berevolusi sesuai dengan keadaan pemain yang termasuk ke dalamnya. Karena semua kejadian yang mereka alami seperti sudah diatur, mereka ketemu Missing Piece, mereka bisa menyelesaikan satu stage karena stage tersebut terlihat diprogram untuk diselesaikan empat orang. Bagaimana kalo ternyata ada, katakanlah dua orang, yang memainkan game sebelum mereka. Apakah hal akan berbeda buat Missing Piece? Apakah settingan skill mereka juga berganti. Mestinya film bisa melandaskan aturan mainnya dengan lebih kuat.

Soal arc cerita sebenarnya aku juga bingung, apa yang ingin dicapai oleh film ini. Karena jika menurutku poros utama film ini bicara tentang gimana anak-anak itu belajar memberanikan diri berjuang di dunia nyata, maka semestinya film membuat mereka tidak lagi menggunakan nama avatar saat film mencapai akhir. Seharusnya mereka dibuat berhasil atas nama diri mereka sendiri.

 

 

Film ini seperti video game, kita akan bersenang-senang dengannya. Perfectly enjoyable dengan penampilan peran yang sebagian besar unik. Aku sendiri cukup capek terbahak-bahak sepanjang durasi. Bagaimanapun juga, ketika dipikirkan baik-baik, ada beberapa hal yang mengganjal. Semua yang kelemahan yang kutulis di sini , in fact, baru kepikiran ketika aku mulai menulis. Kita bisa menutup kekurangan ini dengan memberikan alasan sendiri, tentunya, karena semuanya bisa terjadi di dunia video game. It’s just kupikir film bisa menggali dan melandaskan dunia ceritanya dengan lebih baik lagi. Siapa sih yang enggak mau lebih baik, ya gak?
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?

We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017