WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 2 Review

“So much of our future lies in preserving our past”

 

 

Kalian masokis kalo kalian pergi nonton ini dengan tahu persis seperti apa komedi Warkop, seperti apa komedi garapan Anggy Umbara, sambil masih nekat ngarepin film berisi nan bergizi  layaknya film-film arthouse.

Maksudku, ini adalah bagian kedua dari cerita tentang tiga polisi (alias Chip) yang harus membayar ganti rugi akibat ulah mereka sendiri, yang sebagian besar leluconnya adalah hasil daur ulang dari film-film versi jadul mereka, sementara sebagian lagi datang dari the real Indro Warkop yang muncul pake kostum-kostum konyol. Lalu kalian berniat untuk duduk di bioskop, nyatetin setiap kebegoan yang muncul di layar – enggak sabar ingin mencemooh semua keabsurdan itu dalam blog yang hanya diupdate kalo lagi kepengen, maka ya, itu sama aja dengan nyiksa diri. Karena kalian akan menemukan banyak, sebab film ini memang diniatkan untuk penuh oleh kebodoran. Malahan aku juga heran, kenapa orang-orang masih memerlukan review untuk film-film komedi konyol seperti ini. Jadi aku akan menyimpulkan dengan sederhana terlebih dahulu. Jika kalian mau cari jawaban apakah Warkop Reborn Part 2 ini adalah film yang bagus, maka jawabannya adalah enggak. Tapi jika kalian mampir ke sini demi mengetahui apakah film ini pantas untuk ditonton, maka kubilang; berhenti membaca, pergilah sana ke bioskop, dan selamat tertawa sebelum tertawa itu dilarang.

Dibandingkan dengan Part 1 (2016), Part 2 sedikit lebih berdaging sebab kali ini kita langsung tahu apa motivasi Dono, Kasino, Indro. Mereka tidak sekedar berkeliling melakukan hal-hal mindless. Membuka film dengan kayak serial tv, literally dengan tulisan “episode sebelumnya” disertai cuplikan film sebelumnya not necessarily menafikan keseluruhan Part 1, melainkan menegaskan bahwa Warkop DKI Reborn: Jangkring Boss memang memperlakukan Part 1 sebagai babak perkenalan. Tidak bisakah mereka mengemasnya menjadi satu film aja? Bukankah narasi jadi bisa lebih efektif? Tentu saja bisa, untuk kedua pertanyaan tadi. Namun kupikir kita sudah sama-sama tau alasan di balik mereka malah memutuskan untuk membuatnya menjadi dua. Jadi, Dono, Kasino, Indro, dan rekan cewek mereka Sophie terlantar di Malaysia; tas berisi harta karun yang mereka bawa ketuker sama tas seorang cewek berbaju merah. Sebelum mereka bisa mencari harta karun, mereka harus menemukan cewek baju merah tersebut. Dari mencari cewek di pantai (tentu saja tak ada Warkop tanpa pantai!), pencarian mereka berlanjut ke belantara pulau paling barat Malaysia yang penuh oleh misteri dan twist (tentu saja tak ada Anggy Umbara tanpa twist heboh!)

jadi kupikir sekarang kita tahu alasan kenapa hanya Indro seorang yang mengalami halusinasi, huh?

 

Tidak banyak peningkatan dari segi penampilan. Vino G. Bastian, Abimana Aryasatya, dan Tora Sudiro masih berusaha untuk tampil semirip mungkin dengan persona orisinal yang mereka perankan. Namun begitu, kali ini trio Warkop modern diberikan lebih banyak momen untuk bersenang-senang dengan karakter mereka. Paruh pertama film memancing kekonyolan dari Warkop yang bereaksi terhadap lingkungan sekitar yang asing – mereka anak Jakarta yang plesir ke Malaysia – serta sangat komikal. Pada bagian ini, jokenya enggak tanggung-tanggung, Umbara terus mendorong batas sekonyol-konyolnya. Kita melihat Kasino tumbuh payudara, manusia yang berubah menjadi dispenser, dan banyak lagi hal-hal gila semacam itu. Aku suka joke wajah di pintu, karena film mengambil waktu untuk membuild up towards that joke. Enggak sekedar nunjukin betapa kocaknya orang kejedot pintu sampai-sampai wajahnya tercetak. Efek komputer yang dipake masih terlihat kasar, apalagi yang bagian di pantai, dan kita harap maklum lantaran Dono bilang budget mereka lagi mepet.

Mempertahankan bagian terbaik dari Part 1; tokoh yang kerap breaking the fourth wall – ngomong ke kamera dan ngeMASH UP ULANG ELEMEN-ELEMEN DARI FILM WARKOP JADUL. Kasino bahkan benar-benar ngomong ke kita bahwa punchline yang dia pake “nyolong dari film dulu”.  Kali ini mereka mengambil banyak bagian dari film Warkop favoritku; Setan Kredit. Separoh bagian akhir adalah tentang Warkop keliaran di hutan, nyasar di pulau penuh hantu, mereka ngerehash adegan Indro berantem dengan pocong. Kita juga dapat bagian kocak antara Dono dengan Kuntilanak yang tergantung. Bagian Kasino ribut ama pohon, dia pakek jurus-jurus sableng, ini bisa kita jadikan pemanasan menjelang film silat Vino G. Bastian yang baru akan keluar tahun depan hihihi.. Anyway, film ini pun ada unsur horornya. Akan tetapi, tone cerita enggak pernah bentrok banget. Cerita selalu diarahkan untuk menjadi mahakonyol. Ketika kita noton film ini, concern bukan lagi pada seberapa bagus, melainkan seberapa ‘ajaib’ mereka mengolah materi.

Dono jadi Abimana. Abimana jadi Dono. Eh, mana sih yang benar?

 

Pada satu poin, Indro mengajak Kasino dan Dono berdoa apa yang baru saja mereka lakukan walaupun kalah seram, tetapi semoga masih lebih lucu dibandingkan Setan Kredit original. Sesungguhnya di balik mash up dan recycle, ada misi pelestarian. Banyak masa depan yang bergantung dari seberapa berhasil kita melestarikan masa lalu. Dan ya, tentu, mereka sah saja melakukan itu sembari mengumpulkan uang. They could come off as a villain, sure, seperti motivasi penjahat konyol dalam film ini. Tetapi, ketika pelaku sebenarnya sendiri yang langsung turun tangan, jika dia meminta untuk dilestarikan, penghormatan yang bisa kita berikan tentu saja adalah dengan mengapresiasinya.

 

Aku suka pada apa yang mereka lakukan terhadap kata “Jangrik, Boss!”. Twist di akhir cerita merupakan permainan kata yang menarik, dan actually memberikan arti yang lebih terhadap judulnya. One could argue bahwa separuh terakhir film lebih seru dan kocak dibandingkan bagian awal. Aku gak akan bilangnya tepatnya seperti apa, tapi setelah twist, peran Indro Warkop yang asli menjadi lebih menonjol, dan kita akan mengerti peraturan semacam apa yang berlaku dalam dunia film ini. Jika kalian pernah nonton serial Rick and Morty, maka kalian akan setuju aku bilang universe film ini bertindak kayak universe serial kartun itu. Cuma bedanya alih-alih planet, di Warkop Reborn ini kita akan melihat Indro dunia nyata dan Indro dunia film. Dan di bagian inilah menurutku yang sangat mendefinisikan film, disinilah keputusan finalku dalam menilai film ini membulat:

Part 2 memang lebih seru, namun tidak benar-benar lebih bagus dari Part 1. Pada Part 1 kita melihat film memperkenalkan trio Warkop yang baru. Walaupun karakternya enggak ada motivasi, kita bisa melihat film berusaha menghimpun narasi dari campuran film-film Warkop yang jadul. Ketika ada yang lucu, maka hal tersebut datang dari tokoh Warkop itu, di mana mereka berusaha untuk memperkenalkan – ralat, mengestablish – bahwa tokoh versi yang modern ini enggak kalah lucu. Sedangkan pada Part 2, dunia merekalah yang lucu. I mean, tokoh-tokoh mereka ditempatkan di dunia, di situasi yang tidak mereka tahu; di Malaysia, di hutan, di sarang bandit yang prajuritnya cewek semua, di dunia film. Dan ini seperti mereka tidak pernah lebih lucu dibanding dunia-dunia tersebut. Mereka bereaksi terhadap environment alih-alih beraksi. Merasa gak cukup dengan mengandalkan film Warkop jadul, Part 2 juga resort ke film-film jadul Indonesia yang lain; hanya supaya semakin lucu. Trio Warkop baru ini malah jadi kayak afterthought karenanya. Kita butuh untuk melihat lebih banyak adegan seperti nyanyi Andeca Andeci di mana para tokoh just having fun and being themselves. Mengandalkan interaksi mereka. Tapi ketika berharap pun mestinya aku harus hati-hati, karena tak lama setelah itu, kita dapat adegan Kasino bermimpi mereka bertiga lagi chicken dance. Bagian tersebut sangat entah-dari-mana, gak perlu, dan enggak benar-benar lucu.

 

 

 

So good at being bad, sampai membuat kita tertawa sepanjang durasi. Dengan banyak referensi, film ini bukan hanya sebatas melestarikan legenda Warkop, film-film klasik Indonesia pun turut serta diperkenalkan kembali lewat nada komedi. Yea ada ambisi dan kita bisa sedikit menyipitkan mata di sini, but when you’re having fun, you’re having fun!
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 stars for WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 2

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

BABY DRIVER Review

“Music plays the melody of our being.”

 

 

Apa soundtrack hidupmu hari ini? Well, yea, oke, kalimat tersebut terdengar cheesy, tapi memang kita sering mendengarkan musik buat mengamplify apa yang sedang kita rasakan. Banyak orang menggunakan musik sebagai cara ‘melarikan diri’ dari kehidupan yang membosankan. Misalnya ketika lagi disuruh nyapu rumah, kita ngerjainnya sambil dengerin musik rock supaya menjadi lebih menarik dan kita bisa ngayal jadi Slash – ngejrengin sapu seolah benda itu adalah gitar. Kita merelasikan emosi terhadap musik, bahkan terkadang kita bertindak sesuai iramanya. Musik entrance pemain WWE yang kita dengar mengiringi kedatangan mereka itu bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana untuk menguatkan karakter. Maka tak jarang superstar berjalan ke atas ring dengan gerakan yang selaraskan dengan hentakan musik. Satu hal lagi yang sering dilakukan orang kalo lagi punya perasaan yang membuat mereka ingin ‘melarikan diri’ adalah ngebut di jalanan. Jadi, begitulah film Baby Driver menemukan jalannya masuk menjadi sangat dekat dengan kita semua. Melalui musik yang keren dan adegan kebut-kebutan yang seru!

coba deh sesekali ngebut sambil dengerin lagu anak-anak jadul Aku Cinta Rupiah

 

Film terbaru dari salah satu sutradara favoritku ini adalah cerita tentang seorang cowok yang noleh kalo dipanggil Baby. Hobinya cukup aneh. Bukan hanya selalu mendengarkan musik yang ia dengar melalui ipodnya, Baby juga suka merekam percakapan orang-orang dan mengubah potongan-potongan dialog tersebut menjadi semacam mix tape untuk ia dengarkan di kemudian hari. Rekan kerjanya pada heran ngeliat Baby yang jarang bicara dan lebih suka menghentak-hentak asik sendiri dengan earphone senantiasa di telinga. “Is he slow?” tokoh Jamie Foxx meledek seolah Baby mengalami keterbelakangan mental. Namun, jika ada satu yang tidak bisa dilakukan Baby, maka itu adalah pelan-pelan. Gini, Jamie Foxx dan ‘rekan kerja’ Baby sebenarnya adalah perampok elit, Bos mereka adalah Kevin Spacey, dan kerjaan Baby adalah sebagai supir yang menghantarkan para perampok itu pulang ke markas dengan selamat.  Baby kerja begini demi melunasi hutangnya kepada si bos. Hanya tinggal satu perampokan lagi sebelum utang tersebut lunas, akan tetapi berkat kefantastisan kecepatan dan teknik mengemudi Baby yang seng ada lawan, tidak semudah itu bagi dirinya untuk minta berhenti dari pekerjaan.

Baby is the best at what he does. Ngebut sambil mengapresiasi musik dengan caranya sendiri. Dari kekerenan apa yang dilakukan oleh Baby, perlahan akan terungkap bahwa itu adalah caranya mengekspresikan his vulnerability. Musik dan ngebut adalah cara Baby ‘mengalahkan’ trauma masa kecil yang masih terus menghantui. Dua hal tersebut juga jadi jalan buat Baby menenggelamkan rasa bersalah atas pekerjaan yang enggak disetujui oleh hatinya. Baby ingin memberi arti kepada kenyataan yang ia hadapi. Namun, dalam setiap belokan, Baby – dan juga kita – diingatkan bahwa  ada hal yang tak bisa kita lari darinya. Bahwa selalu ada ujung di setiap jalan gak peduli betapa lihainya kita mengemudikan hidup.

 

Edgar Wright, lewat film ini membuktikan, bahwa ia juga adalah the best at what he does. Banyak kritik yang menyebut karya-karya sutradara ini masih terlalu memikirkan gaya. Dan kata-kata tersebut benar. Namun aku enggak setuju untuk menyebutnya sebagai kritik. Karena menurutku, gaya adalah salah satu faktor penting yang harus terus diasah oleh pembuat film supaya film mereka kentara perbedaannya dengan film-film karya orang lain. Bayangkan kalo semua film style berceritanya seragam gitu-gitu mulu, pasti kita yang nonton lama-lama bakal bosen ke bioskop. Setiap karya Edgar Wright selalu insanely kocak serta punya pace yang extremely cepet dengan editing yang sangat precise. Ketika kita nonton Baby Driver, walaupun jika kita belum tahu ini dibuat oleh Wright,  atau bahkan kita hanya nonton sepotong adegan acak, kita akan langsung spontan tahu bahwa aksi kebut-kebutan kriminal ini dibuat olehnya. Sebab arahan Edgar Wright sangat spesial, tidak ada filmmaker lain yang menangani adegan per adegan seperti yang ia lakukan.

Tidak ada pengadeganan yang membosankan. Babak satu film ini – dan ini tidak berlebihan – adalah kesempurnaan dalam filmmaking. Sekuen kejar-kejaran mobilnya adalah yang terbaik yang bisa kita minta ke mbak-mbak penjaga tiket. Hebatnya, semua stunt dahsyat itu tampak benar-benar bisa dilakukan di dunia nyata, meskipun memang ada sebagian kecil yang memanfaatkan teknologi grafik komputer.

Tidak seperti pada Atomic Blonde (2017) yang musiknya malah terdengar menerobos dan enggak benar-benar paralel terhadap film, penggunaan musik dalam Baby Driver teramat sangat integral sama narasi. Musik adalah bagian penting dalam penokohan Baby. In a way, kita bisa bilang bahwa ini adalah film SETENGAH-MUSIKAL sebab gedenya pengaruh elemen musik. Lagu-lagu asik tersebut disulam sempurna, diedit dengan sangat precise sebagai bagian dari adegan. Pada bagian awal film, ada satu adegan panjang yang diambil gak-putus di mana Baby pergi beli kopi dan dia ngelip-sync lagu yang ia dengar sepanjang jalan; adegan yang sangat menyenangkan dan bakal bikin kita melotot lantaran Edgar Wright juga sangat visual dalam bercerita. Perhatiin deh gambar graffiti yang dilewati oleh Baby. Ataupun pada adegan ending, Wright memutuskan untuk mengakhiri cerita dengan nada yang sedikit ambigu, dan clue-clue pada layar dapat membantu kita untuk sampai ada kesimpulan bagaimana menurut kita masing-masing kelanjutan kisah romansa Baby.

Ya, kisah cinta adalah salah satu elemen besar di sini. Setelah babak pertama yang luar biasa exciting, film sempat ngerem dikit demi membangun romance antara Baby dengan waitress kece yang juga demen mendengar musik. Relationship mereka tampak cute banget. Dari hubungan Baby dengan Debora ini bisa aja menimbulkan tren pacaran baru di dunia kita; duduk mesra sambil nyari lagu-lagu yang ada nama pacar masing-masing. Hihihi, so sweet yaa.. Anyway, yang bernama Howuo pasti juara, dan nama Arya menangnya saat absensi kelas doang hhuuff..

 

Debora mirip banget yaa sama Shelly yang di serial Twin Peaks

 

Sekalipun sangat kuat dalam gaya, namun Edgar Wright tidak pernah melupakan substanti pada setiap ceritanya. Penulisan Baby Driver sangatlah on-point. Strukturnya berhasil memberikan banyak kepada Baby meskipun tokoh utama kita ini hanyalah semacam orang suruhan yang tidak mau berada di sana. I mean, Baby kebanyakan bereaksi ketimbang beraksi – sesuatu yang kebalikan dari rumus tokoh utama –  tetapi film masih mampu mengolahnya sehingga senantiasa menarik. Baby adalah karakter unik yang sangat menarik. Ada adegan menarik ketika tokoh Jamie Foxx kesel atas kurangnya perhatian yang diberikan Baby kepada rencana perampokan mereka. Baby asik dengerin musik. He was like, Boss I don’t trust him, he’s not paying attention. Nanggepin protes ini, Kevin Spacey dengan bangganya menyuruh Baby mengulang rencana tadi, dan Baby dengan lancar banget menjelaskan ulang semuanya. Pada babak ketigalah, karakter Baby mekar sempurna. Dia memilih jalan hidupnya sendiri, dan naskah to some extent terus memberi rintangan. Kita dapat banyak sekali sekuens aksi yang sangat menakjubkan di babak ini sampai-sampai kita melihat Baby harus melakukan pekerjaan terbaiknya, yaitu ngebut, tanpa mobil. Nah lo!

Jamie Foxx yang so sly and badass, Kevin Spacey yang bisa ngomong begitu cepat tanpa meninggalkan satu ekspresi pun di belakang, Jon Hamm yang mampu mengembangkan karakter dari sepenggal dialog backstory, Lily James yang namanya ngeri banget gabungan orangtua Harry Potter, ini adalah jajaran cast tidak bisa membuat film menjadi buruk – malahan menjadi semakin menghibur. Yang membuatku khawatir memang cuma Ansel Elgort seorang. Sebab biasanya dia main di film-film adaptasi novel young adult, dan dia enggak pernah benar-benar stand out. Perannya sebagai Baby adalah peran yang enggak kita sangka bakal ditujukan buat dirinya. Setelah menonton ini, aku membuang kekhawatiranku ke luar jendela. Ansel Elgort bermain sangat baik dalam adegan-adegan aksi, juga di bagian yang lebih intens. Karakternya yang pendiam, dan dalam diamnya terluka secara psikologis dapet banget dimainkan oleh Elgort. Menurutku dia lebih cocok berperan di film-film seperti ini.

Ketika aku nulis babak kedua lebih lambat dibanding babak pertama, maka itu sebagian besar lebih disebabkan oleh bagian romance yang kurang masuk dibandingkan oleh minimnya porsi aksi. Aku enggak mampu terinvest banyak kepada elemen relationship mereka karena I didn’t find development tokoh Debora benar-benar kuat dan esensial. Kenalan dan percakapan mereka manis tapi terasa abrupt. Terasa cepat dan kurang dalem. Dalam makna, sepertinya hidup Baby mudah diarahkan begitu aja oleh keinginan Debora. Cewek ini juga mudah terbawa gitu aja, padahal situasinya mengancam nyawa. Entah ini lantaran karakternya dibuat cinta mati ama Baby atau film memang kepengen ngebuild cinta mereka seolah fantasi sehingga bisa bekerja membangun ending yang ambigu tadi.

 

 

Setengah musikal, setengah kejar-kejaran mobil yang sangat intens dan menakjubkan. Penulisannya sangat on-point. Babak kedua di bagian romance adalah bagian yang paling lemah dalam film ini. Di luar itu, menonton ini adalah perjalanan yang sangat seru. Musik asik yang keras, mobil keren yang ngebut, fast and loud, this movie is a total blast! Edgar Wright directs the shit out of this movie. Kocaknya juga khas banget, bagi yang suka karyanya yang terdahulu, pasti bakal merasa seperti pulang ke rumah. Kita akan merasakan ketertarikan emosional yang kuat sama seperti Baby terattach dan menjadikan lagu-lagu itu sebagai pengisi hidupnya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for BABY DRIVER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE HITMAN’S BODYGUARD Review

“Blaming others is nothing more than excusing yourself.”

 

 

Samuel L. Jackson adalah pembunuh bayaran ternama yang kemampuan dan kelihaiannya membunuh orang-orang dunia hitam tidak perlu diragukan lagi. Ryan Reynolds adalah bodyguard kelas kakap (Level Top-A, seperti yang biasa ia ingatkan kepada dirinya sendiri) yang selalu sukses mengawal bos-bos berkantong tebel. Dan The Hitman’s Bodyguard adalah komedi aksi dengan gimmick klasik yang berhasil dieksekusi dengan baik; Alih-alih diadu, Jackson’s Kincaid malah dipasangkan dengan Reynolds’ Bryce dalam sebuah misi escort di mana si bodyguard harus mengawal si hitman – sepanjang jalan mereka diberondong peluru – memastikan Kincaid sampe dengan selamat di pengadilan sehingga dia bisa memberikan kesaksian untuk memenjarakan seorang diktator kejam yang dimainkan oleh Gary Oldman.

Mana pekerjaan yang lebih mulia; membunuhi orang-orang jahat atau malah melindungi mereka. In a way, konsep film ini mirip dengan Death Note (2017). Apakah kita punya kuasa untuk menegakkan hukum sendiri, atau memang lebih baik membiarkan hukum dan segala prosedurnya mendirikan kebenaran.

 

Practically, The Hitman’s Bodyguard adalah REYNOLDS DAN JACKSON SHOW. Chemistry komedi kedua aktor kawakan ini luar biasa natural. Menghibur sekali melihat Bryce dan Kincaid saling ‘menghina’. Ryan Reynolds tampil prima, perannya di sini lebih sebagai reactor dari tek-tok komedi mereka. Samuel L. Jackson, however, seperti all-around player dan jika Goku di Dragon Ball punya wujud Super Saiya, maka Jackson dalam film sudah total dalam wujud ‘motherf*cker’ yang benar-benar entertaining dan tak-terkalahkan. Aku paling ngakak di adegan Kincaid bernyanyi di dalam mobil, and it’s pissing Bryce off, sehingga Bryce juga tau-tau nyanyiin lagu I Saw the Signnya Ace of Base. Momen yang sangat kocak. Tipisnya penokohan masing-masing terbukti bukan alasan buat mereka untuk gak tampil maksimal. Terutama bagi Ryan Reynolds, yang tampaknya either masih belum cukup dengan Deadpool atau gak mau kalah sama Ryan satu lagi yang sukses dengan komedi aksi The Nice Guys (2016), dan ingin ngepush komedik deliverynya lebih jauh lagi. Jackson dan Reynolds terlihat seperti memainkan diri mereka sendiri dalam tone yang komikal, dan inilah yang membuat cerita lawan-jadi-teman mereka begitu menarik perhatian.

you give motherf*cker a bad name

 

 

Akan ada banyak adegan kejar-kejaran. Kincaid dan Bryce entah berapa kali diudak-udak sambil terus ditembaki. Banyak dari adegan tersebut akan membuat kita melupakan sejenak bahwa ini adalah cerita yang nyaris dua jam. Dan sebagian besar sebabnya adalah arahan yang diberikan oleh Patrick Hughes. Dibandingkan dengan saat menangani aksi dalam The Expendables 3 (2014), sekuens aksi Hughes mengalami banyak peningkatan. Ketergantungan terhadap CGI ia kurangi sedikit, sehingga membuat kejadian-kejadian dalam film ini lebih mudah dipercaya. Walau tetap saja fairly ridiculous dengan jumlah ledakan. Tapi paling enggak, kali ini setiap bagian aksi diedit dengan leboh baik. Menjelang babak ketiga, ada sekuen aksi yang hebat ketika Bryce harus berhadapan satu lawan satu dengan salah satu orang suruhan Gary Oldman. Bryce harus menggunakan berbagai macam benda yang bisa ia temukan dalam toko peralatan bangunan tersebut, seperti aksi-aksi pada film Jacky Chan. It was a lot of fun, sama seperti kata yang kita gunakan untuk menggambarkan film ini secara keseluruhan.

Ketika kita berpikir kita sudah mengusahakan sebaik mungkin apa yang bisa kita upayakan, kita sudah memperhitungkan segala kemungkinan gagal dan sebagainya, kita sudah mempersiapk diri. Kita kira kita sudah memikirkan semua, dan sesuatu yang kita usahakan tersebut turns out gagal karena ada satu hal di luar perkiraan, maka kita akan kecewa bukan kepalang. Ngamuk, bahkan lebih parah, kita bisa depresi. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang insecure, jadi kita ingin meyakinkan diri bahwa kita sudah memegang kendali. Makanya, sesuatu kegagalan yang di luar perkiraan, akan membuat kita ingin ada yang dipersalahkan. Tapi kita tidak akan menyalahkan diri sendiri, kita terlalu bangga atas diri. Kita berbalik menyalahkan orang lain.

 

Nyaris di setiap kesempatan, film ini akan berbelok ke arah kekonyolan. Hal terbaik yang datang dari sana adalah Salma Hayek yang berperan singkat sebagai istri Kincaid. Tokoh ini dipenjara terpisah, dan ia jadi motivasi dari tindakan ‘baik’ yang dilakukan oleh Kincaid. Sendirinya, tokoh Salma Hayek ini bersikeras enggak bersalah, namun jika kita lihat sikapnya yang ngebos, terlebih di adegan flashback ketika Kincaid bercerita tentang bagaimana dia pertama kali bertemu dengan sang Istri, kita tahu lebih baik bahwa mestinya cewek ini memang dipenjara. Naskah selalu menemukan cara untuk ngebanyol dengan apa yang dilakukan oeh tokoh ini. I mean, the stuff they do with her character, maannn.. sehingga meskipun screentimenya memang gak banyak, Salma Hayek sukses berat mencuri perhatian. Dan menurutku, adalah keputusan yang baik untuk enggak sering-sering amat resorting ke tokoh ini, lantaran she’s actually sangat kocak tapi bakal jadi annoying jika kebanyakan.

relationship Kincaid dan istrinya membuktikan bahwa benar, love hurts. Menyakiti orang lain, tepatnya

 

Terutama jika kita melihat gambar besar keseluruhan cerita. The Hitman’s Bodyguard pada lapisan terluarnya bicara tentang kasus otoritas penguasa, di mana tokoh yang diperankan oleh Gary Oldman didakwa sudah membunuh warga negaranya sendiri. Seharusnya ini adalah tema yang sangat kelam. Namun narasinya berkembang dalam arahan yang hilarious. Ini membuat film terasa enggak imbang. Kit akan terombang ambing antara komedi absurd ke action yang enggak kalah absurdnya, terus ke elemen yang lebih kelam ketika film membahas topik penjahat utama. Rasanya enggak klop aja. Kasus yang mereka tangani itu terlihat berada di ranah yang berbeda dengan aspek-aspek film yang lain. Gary Oldman memainkan penjahat klasik yang kayak ditarik dari film action yang lain. Beneran deh, lima-belas menit terakhir film, yang bagian courtroom itu, lebih terasa kayak extended ending dibandingkan konklusi beneran. Seolah ada dua penyelesaian; aksi dan komedi yang ringan dan plot tragis soal racial dan politik. Dan penulisan antara kedua aspek itu enggak pernah benar-benar seimbang.

 

 

 

Perfectly enjoyable action comedy. Kali ini kerja sutradara bagus banget mengarahkan bagian aksi sehingga kita enjoy menonton ini. Komedinya yang konyol namun kocak juga bekerja dengan baik, para aktor ngedeliver line dan timing mereka tanpa cela. Fokusnya ada di hubungan yang terjalin antara dua karakter yamg berlawanan dan aksi kejar-kejar yang dibikin sebelievable mungkin. Penulisan ceritanyalah yang sedikit tidak berimbang. Tapi sepertinya, hal tersebut tidak akan menjadi masalah buat sebagian besar penonton.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE HITMAN’S BODYGUARD.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

MEGAN LEAVEY Review

“Whoever said diamonds are a girl best friend, never owned a dog.”

 

 

Anjing dapat merasakan ketakutan seseorang. Aku tahu teori itu seratus persen benar. Aku hanya enggak tahu apakah kalimat tersebut seharusnya bisa menenangkan orang yang takut sama anjing. Maksudku, setiap kali papasan sama anjing di jalan, lututku malah semakin lemas terutama jika teringat saran “Jangan takut, nanti anjingnya tahu kalo kau takut”. Arya kecil memang sering dikejar anjing-anjing tetangga, malah aku bersumpah istilah yang tepat adalah Arya kecil sering dibully anjing tetangga. Karena mereka tahu aku gugup dan takut banget sama mereka.

Bukan hanya rasa takut, para ahli berpendapat bahwa anjing bisa mengetahui perasaan atau emosi seseorang. Kemampuan ini sejalan dengan penciuman anjing yang luar biasa tajam. Mereka dapat membaui adrenalin, pheromone, ataupun senyawa lain yang menguar dari manusia. Saat anjing menggonggongi orang tak-dikenal, bisa saja karena mereka mencium senyawa yang keluar dari perasaan negatif manusia. And they didn’t like to sniff those feelings. Orang yang sedang disalaki biasanya antara sedang cemas, gelisah, sedih, atau sedang merasa bersalah.

 

Bahkan ketika kita membawa anjing jalan-jalan, getaran perasaan yang kita alami bisa sampai ke anjing melalui tali leash mereka. “Semua yang kau rasakan mengalir di tali itu,” Sersan Andrew Dean menasehati Megan Leavey seperti itu ketika Megan terihat tidak nyaman dipasangkan dengan anjing paling galak di camp pelatihan mereka, “Aku tidak bisa mengajarkan gimana hubungan tercipta di antara kalian” lanjut Sersan Andrew. Mempertahankan hubungan sosial, berakrab-akrab ria jelas bukan kelebihan yang dimiliki Megan. Malahan, alasan cewek ini ikutan gabung di US Marine Corps awalnya adalah semata karena dia males berhubungan sama manusia. Megan dipecat dari berbagai pekerjaan. Dia berantem melulu sama ibunya. Dan sekarang Megan justru harus dealing with anjing pelacak bom yang belum apa-apa sudah menggigit separoh bokongnya.

Apapun yang terjadi jangan nurunin celana di depan K-9. Apalagi nungging!

 

Film ini diangkat dari kisah nyata VETERAN PERANG DAN ANJING PAHLAWAN, bersama mereka sudah berhasil menemukan sejumlah besar bom dan ranjau, dan menyelematkan nyawa banyak orang. Pada beberapa kesempatan, film ini bisa menjadi sedikit too much buat para penyayang binatang. Terutama penyayang anjing. Sekuens perang yang dihadirkan sangat intens. Kita dapat banyak build up yang sangat menegangkan. Megan dan anjingnya, Rex, berjalan di depan garis depan mengendus bom, mencari ranjau dan peledak tersembunyi yang lain. You know, adegan-adegan yang membuat kita mendapati diri berdoa dalam hati “semoga anjing itu enggak terluka”. Kita begitu terinvest terhadap keselamatan mereka dan itu disebabkan oleh penampilan akting yang sangat hebat dari Kate Mara (Megan Leavey adalah penampilan terbaiknya sejauh yang pernah kutonton) dan dari anjing (mungkin juga anjing-anjing) yang memerankan Rex.

Elemen pelacak bom memberikan semacam pengalaman baru buat kita.  Ada sudut pandang segar yang orisinil sebab kita melihat perang dari bagian militer yang belum banyak dieksplorasi sebelumnya. Kita melihat Megan dan Rex berlatih. Anjing diajarkan untuk mengenali peledak, dan tentara pendampingnya harus belajar bagaimana memberikan perintah, membimbing, memberi anjing-anjing itu pujian, dan merawat – jika diperlukan – memberikan pertolongan medis. Dari sinilah bond mereka yang sangat menyentuh hati itu berkembang. Film ini melakukan kerja yang fantastis dalam menunjukkan gimana hubungan yang dalam bisa tumbuh dan terjalin antara manusia dengan hewan. Dengan terasa sangat real. Namun begitu, beberapa orang mungkin akan menangkap film ini sebagai terlalu overdramatis. Menurutku, hanya penyayang binatang yang benar-benar bisa mengerti bonding tersebut.

Jikapun aku penyayang binatang, maka obviously aku bukan penggemar anjing. Bisa dibilang I’m more of a cat person. Tapi aku tetap tersentuh oleh film ini, sebab aku bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Megan ketika unexpected bonding terjadi. Dulu pernah ada kucing hitam yang terluka ngabur cari perlindungan ke kamar kosanku. Lukanya parah, kakinya patah. Karena takut kalo-kalo tuh kucing isdet di balkon kamar dan mikirin betapa repotnya harus menguburkan dan segala macem, kucing itu aku kasih makan. Eh setelah sembuh, bukannya pergi, dia malah betah di kamar. Masalahnya adalah aku juga enggak berani-berani amat sama kucing, sementara kucing yang satu ini liarnya bukan main. Mungkin dia ngajak main, tapi kukunya enggak pernah dimasukin. Kaki dan tanganku penuh luka goresan. Saking liarnya, kucing item jantan itu aku kasih nama Gelap Jelita dengan harap supaya jadi jinak. Namun enggak ngaruh. Jadi aku ngerti deh ketakutan yang dialami Megan ketika disuruh masangin perban ke Rex yang pernah menggigit tentara lain sampai tangan tuh orang patah. Dan ketika nonton film ini, mau-tak-mau aku teringat sama kucing itu.

Wajah nginyemmu ketika mereka bawa pulang tulang-tulang sebagai balas jasa

 

Belum lama ini di Netflix tayang film Okja (2017) yang juga menceritakan tentang hubungan antara manusia dengan binatang. Namun, di balik kisah manis anak kecil dengan babi mutan peliharaannya itu, terasa ada ambisi lain yang turut dibicarakan oleh film. Megan Leavey terasa lebih manusiawi karena film ini hanya memfokuskan tentang gimana manusia yang begitu mendambakan hubungan sosial dan apa yang terjadi ketika dia mendapatkannya dari makhluk hidup lain. Film ini lebih mengeskplorasi feeling tanpa benar-benar menjadi cengeng atau sappy. Persahabatan dalam Okja terhalang oleh komentar soal perangai konsumtif dan ekonomis manusia. Dalam Megan Leavey, persahabatan manusia dan hewan ini terhalang oleh aspek teknikal; di mana anjing veteran perang – terutama yang galak kayak Rex – dicap berbahaya jika kembali hidup di masyarakat. Ada tema perang yang digunakan untuk mewarnai narasi dengan sedikit elemen budaya – gimana perlakuan negara muslim terhadap anjing – tapi itu dibahas dengan ringan, tanpa menjadi terlalu hitam-dan-putih.

Siapapun yang berkata berlian adalah teman terbaik wanita, pastilah belum pernah memelihara anjing. Atau belum pernah mendengar cerita tentang Megan Leavey.

 

Kehidupan normal Megan juga diberikan kesempatan untuk tampil. Kita melihat hubungannya dengan orangtua, masalah pribadinya. Juga ada kisah cinta dengan sesama tentara. Hanya saja romansa ini tidak benar-benar pergi ke mana-mana. Seolah hanya untuk menunjukkan perubahan personal Megan setelah dia menyintai Rex. Lebih sering daripada enggak, transisi kehidupan Megan ini terlihat dipercepat. Misalnya, ketika dia abis dipecat, kemudian dia melihat dua tentara masuk toko, dan dia kontan jadi berniat masuk angkatan bersenjata juga. Lalu ada sedikit masalah bullying, yang kalo di naskah ini adalah bagian ‘tantangan pertama’, yang berakhir begitu saja. Aku mengerti film ingin memperlihatkan banyak sisi kehidupan Megan. Durasi keseluruhan film sudah nyaris dua jam, sehingga terkadang mereka sengaja mempercepat proses. Menggunakan montase untuk menjelaskan momen-momen emosional, ataupun dengan menggunakan teks. Ini dapat menjadi menyebalkan sebab kita ingin merasakan progres tokohnya, mengalami transisi itu secara langsung.

 

 

Kita tidak butuh penciuman setajam anjing untuk dapat mengendus sense of realism perasaan dan emosi yang terkandung dalam film ini. Menghadirkan drama excellent soal hubungan persahabatan manusia dan hewan dengan tidak pernah menjadi terlalu cengeng. Namun tetap bakal menarik-narik hati kita, terutama para penyayang binatang. Penampilan aktingnya memukau, sekuens aksinya sukses bikin kita khawatir.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for MEGAN LEAVEY.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

SummerSlam 2017 Review

 

Malam minggu malam yang panjang. Waktu kecil, aku mengira arti kalimat itu adalah literally malam minggu berdurasi lebih lama, as in matahari bakal lebih ngaret terbitnya. Makanya, ketika pagi dibangunin untuk ngaji subuh, aku sempat ngamuk-ngamuk “Loh katanya malamnya panjang! Mama papa pembohong, jangan cari Ari, Ari minggat ke bawah jembatan!!!” Buat penggemar WWE, malam-malam ketika pay-per-view gede ditayangkan adalah malam yang panjang. Not necessarily malam minggu, practically minggu malam, dan di Indonesia, mungkin satu-satunya kelompok orang menunggu-nunggu hari Senin adalah penggemar pro-wrestling.

While kita bisa bercanda soal salah satu match pengisi malam itu adalah Jinder MAHAL melawan Shinsuke NakaMURAH, namun tanpa tawar menawar lagi, SummerSlam 2017 mungkin adalah perjalanan show wrestling terpanjang dan terberat yang pernah kita duduki. Enam jam, dengan hanya sepertiga dari itu kita benar-benar terbangun oleh keseruan.

 

Bagi yang ikutan nobar di Warung Darurat, senin itu bahkan bisa terasa lebih panjang lagi. Kami memulai screening dari jam dua siang; mantengin NXT Takeover Brooklyn III dulu untuk kemudian dilanjutkan dengan pre-show SummerSlam dan setelah whole pay-per-view selesai, waktu sudah menunjukkan setengah sebelas malam – dan acara masih berlanjut dengan game WWE Superstars’ Tweet Challenge yang berhadiah tiket nonton dan kaos. Itu totalnya sepuluh jam lebih, loh. Lelah, tapi aku bohong kalo bilang aku enggak excited. Most of that time, memang kita dalam keadaan ‘tidur segan, nonton gak peduli’. Kalo mau dibandingin, tidak ada satupun card di show utama yang bisa membuat kita melupakan keseruan pertandingan Aleister Black melawan Hideo Itami di Takeover. Tidak hingga jam terakhir. Ketika ada partai yang benar hit the high note, terutama ketika main event, SummerSlam seolah berhasil menunaikan tugasnya sebagai pesta terbesar di musim panas.

Salah satu alasan kenapa SummerSlam terasa on off adalah susunan match cardnya sendiri. Booknya penuh, tigabelas partai yang resmi dijadwalkan, dengan tiga untuk pre-show dan sepuluh lagi untuk acara utama. And it was feel like mereka enggak menempatkan match-match yang penting di tempat yang benar. Partai hura-hura seperti Big Cass lawan Big Show dengan Enzo dikurung di kandang lebih terasa seperti sisipin komedi yang enggak punya urusan menjelma menjadi match serius yang berlangsung sepuluh menitan. Sebaliknya, Rusev dan Orton berlangsung begitu cepat sampai-sampai kita ikhlas Rusev dibury Orton hanya supaya acara ini cepat berlanjut ke partai-partai yang lebih compelling.

Ambrose ama Rollins aja balikan. Kamu kapan?

 

Aku harus nyebutin Uso melawan New Day adalah pertandingan preshow terbaik yang pernah aku saksikan. Mereka menyuguhkan aksi yang fresh, but then again, mungkin saja mereka bisa bermain bagus kayak gini lantaran they were IN the pre-show, you know, mungkin saja mereka diberikan kebebasan lebih. Dan semua superstar yang terlibat dalam match itu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Aku enggak mau gegabah muji berkat arahan yang baik dari WWE. Sebab setengah pengisi acara SummerSlam berjalan standar. Ambil Bray Wyatt untuk contoh. Pertandingannya melawan Balor di sini adalah pertandingan ppv terbaik Wyatt di 2017 and that’s not saying much. Akhirannya biasa banget, kayak partai-partai acara mingguan.. Malahan dari segi arahan, kita bisa mempertanyakan beberapa pertandingan lain, seperti:

Apa faedahnya buat Cena mengalahkan Corbin sementara sudah jadi rahasia umum Cena cepat atau lambat akan pindah ke Raw?

Kenapa di tahun 2017 ini kejuaraan United States malah jadi sampingan demi ngebuild up Shane McMahon buat storylinenya dengan Kevin Owens?

Ataupun apakah interference dari Singh Brothers adalah bagian dari moveset Jinder Mahal?

 

 

Menurutku lucu penonton ‘tertidur’ di empat jam awal. Penonton di Warung Darurat pada main hape, eh penonton di Brooklyn sampai ada yang main voli pantai di pertengahan match kejuaraan tag team Raw.  Actually it was a very disrespectful thing to do, makanya gak heran Cesaro marah beneran dan ngejar tuh bola. Setelah kejadian tersebut, show menjadi lebih mudah dinikmati. I was happy for Dean Ambrose yang menjadi anggota Shield pertama yang menyandang predikat juara Grand Slam dengan kemenangannya sebagai juara tag team malam itu. Matchnya seru, Rollins terlihat badass. Cesaro dan Sheamus pun terlihat legit. Mereka benar-benar terlihat have fun dengan referensi fusion Dragon Ball dan sebagainya.

And personally, aku nungguin banget partai pertemuan kedua The Goddess melawan The Boss. Yang membedakan matchnya dengan kejuaraan cewek dari brand Smakdown adalah ada intensitas yang menguar dari kedua superstar cewek. Banyak berita yang melaporkan ada legitimate beef antara Bliss dengan Banks di luar ring, dan hal tersebut tercermin dalam pertandingan mereka yang terlihat sedikit stiff. Perhatikan deh di menit-menit awal match ini berlangsung. Sayangnya, makin ke belakang alur terasa ngedrag. Banks menang dengan formula babyface yang biasa, dia kick out dari Twisted Bliss dan balik menang dengan finisher miliknya sendiri. Sedangkan ketertarikan kita nonton ini ketinggalan di belakang, sebab pace match mendadak rasa terburu-buru. Seolah mereka sadar jatah tampil mereka hampir habis sehingga harus menyelesaikan dengan cepat.

“You can fall of buildings but you can’t get up to make a count?” Bukti lain betapa greatnya Kevin Owens

 

Sekarang mari bicara soal dua juara dunia bertahan kita. Jinder Mahal dan Brock Lesnar.

Aku suka cara tradisional WWE mancing heat dari tanah kelahiran Jinder, aku masih berpikir Jinder bisa jadi heel yang hebat dari eksplorasi heritage India. Akan tetapi problem datang dari si Jinder sendiri. Tindakan Jinder actually belum cukup heel sebagai seorang antagonis. Selain menang curang (dengan cara yang gitu-gitu melulu, kalo boleh ditambahkan), Jinder belum pernah melakukan hal-hal jahat yang membuat kita membenci dirinya. Karakternya masih sebatas ‘buku manual’ banget. Secara skill pun, perkembangannya minimal. Match Jinder gitu-gitu aja. Bookingan Smackdown yang aneh turut membuat Jinder semakin lemah; dia kalah clean dari Orton di saat enggak ada bantuan dari minionsnya. Dalam pertandingannya melawan Nakamura di sini, Jinder terlihat sangat basic, I don’t know, dia terlihat seperti orang yang tampil menghapal alih-alih menguasai bahan yang dipresentasikan. I mean, seenggaknya gunakan taktik heel kayak nyolok mata atau apa. Gunakan cara curang yang lebih kreatif.

Sedangkan untuk Brock Lesnar; meski aku setuju dengan kritik yang ditujukan buatnya, you know, tentang gimana Lesnar ini udah kayak racun di WWE – costnya tinggi sementara kerjanya dikit, mau tak mau aku harus mengakui Lesnar punya satu kelebihan dibandingkan ‘part-timer’ yang lain. Lesnar masih mampu ngedeliver match yang seru TANPA membuat lawannya terlihat lemah. Kita belum pernah dengar kalimat “Brock Lesnar ngebury si ‘anu’”. Di saat-saat langka Lesnar bertanding, dia ngejual, dia take bumps and such, dan walaupun pada akhirnya dia menang, lawan-lawan yang pernah dikalahkan Lesnar tidak kehilangan kredibilitas mereka. Sementara kita yakin riwayat Baron Corbin sudah tamat dikalahkan bersih oleh Cena, kita masih percaya Braun, Joe, dan bahkan Reigns adalah tiga superstar monster paling badass yang dimiliki oleh Raw. Fatal 4 Way adalah perang sebagaimana yang kita harapkan. Keempat superstar legit banget terlihat mau saling menghancurkan. Braun ngelempar kursi ke Joe dan Reigns adalah spot favoritku, I didn’t see that coming! Dengan moveset yang terbatas, Lesnar mampu membuat Reigns terlihat sepantaran, Braun seperti monster beneran, dan Joe sebagai ancaman yang nyata.

 

 

 

Ada banyak sabuk yang berpindah tangan, hanya saja prosesnya terlihat sangat basic. Arahan yang enggak spesial membuat nyaris semua pertandingan terasa kurang usaha. Acara ini akan bisa hebat jika dipotong jadi dua jam, dengan hanya menyisakan pertandingan tag team dan fatal 4-way. SummerSlam adalah malam senin yang panjang yang membutuhkan banyak perjuangan untuk menahan bosan yang kuat dari kita, para penontonnya.
The Palace of Wisdom menobatkan Fatal 4-Way untuk Kejuaraan Universal sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

Full Results:
1. SINGLE John Cena mengalahkan Baron Corbin
2. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Juara baru Natalya mengalahkan Naomi si tukang bikin epilepsi
3. SINGLE SHARK CAGE Big Cass mengalahkan Big Show dan bikin pingsan Enzo in the process
4. SINGLE Rusev dikal…RKO!!!
5. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Sasha Banks jadi juara baru setelah bikin Alexa Bliss tap out… kacian hiks
6. SINGLE Demon King Finn Balor ngalahin Bray Wyatt
7. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP Dean Ambrose dan Seth Rollins ngerebut sabuk Cesaro dan Sheamus
8. UNITED STATES CHAMPIONSHIP Shane McMahon ngitung ampe tiga saat AJ Styles bertahan ngepin Kevin Owens
9. WWE CHAMPIONSHIP partai asia ini dimenangkan oleh Maharaja yang nyurangin Nakamura
10. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Brock Lesnar enggak jadi cabut lantaran berhasil defending atas Roman Reigns, Samoa Joe, dan Braun Strowman

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

BAYWATCH Review

“If you think you’re too big for small jobs, maybe you’re too small for big jobs”

 

 

Tugas penjaga pantai bukan sekedar berlari-lari di pasir dengan memakai pakaian renang. Bahkan kalopun tampang kalian kece dan jago berenang, bukan berarti bisa langsung diterima jadi anak buah Mitch Buchannon. Seperti juga kerjaan laih, ada keahlian spesifik yang harus dikuasai, dan terutama kita harus ngeset prioritas utama; keselamatan pengunjung, di atas segalanya.

Matt Brody pikir dia sudah lebih dari berkualifikasi. Ketika rekruitan baru harus di’audisi’ dulu, Matt malah duduk santai, mamerin motor keren, kacamata hitam, dan otot perutnya. Higher ups boleh saja sudah otomatis melantik dirinya sebagai anggota Baywatch, namun ‘Letnan’ Mitch still giving him a hard time. Terutama karena Mitch tidak melihat Matt sebagai pribadi yang menghormati pekerjaan penjaga pantai, Matt masih terlalu mikirin diri sendiri. Jadi, kedua orang ini enggak akur. But then of course, pantai mereka enggak jauh dari masalah. Ada kasus penyelundupan narkoba, dan di samping menyelamatkan orang-orang dari tenggelam dan tergulung ombak, Mitch dan Matt pada akhirnya harus bekerja sama demi membongkar drug case yang sudah menjatuhkan banyak korban tersebut.

lebih bagus lagi jadi penjaga pantai yang bisa berslow-motion ria

 

Semua orang punya pekerjaan, dan tentunya masing-masing dari kita akan melakukan yang terbaik atas apa yang kita usahakan, Pekerjaan boleh saja dinilai dengan gaji, akan tetapi tidak semestinya kita mengecilkan pekerjaan, menghargainya hanya dari apa yang kita tahu tentangnya. Sekecil apapun, jika dimaknai dengan sesungguh hati, maka akan menjadi gede. Penjaga pantai mungkin memang enggak punya yurisdiksi seperti polisi, tapi pada esensinya adalah sama-sama pekerjaan yang melindungi. It is as important. Pekerjaan apapun yang kita lakukan hendaknya dikerjakan sungguh-sungguh, jangan hanya asal dapet sesuap nasi.

 

Ketika kita dapat lumba-lumba CGI berakrobat dengan latar tulisan Baywatch gede sebagai sekuen pembuka, maka dosa akan ada di tangan kita apabila kita tetap nerusin nonton film ini dengan harapan bakal mendapat cerita yang bergizi. Yea, dalam film ini kita akan banyak melihat otot, daging, dan bagian-bagian tubuh lain lebih dari yang kita pedulikan. Yea, ini adalah film berdasarkan serial tv jadul yang populer bukan karena kejeniusan penulisan ceritanya. Yea, singkatnya ini adalah film bego, Kita sudah mengharapkan itu. Film ini pun tahu how awful they are. Dan mereka mengEMBRACE KE’BEGO’AN.  Ketika kita berada di dasar, tidak ada jalan lain selain ke atas. Film ini, however, nekat untuk terjun ke dasar lebih jauh lagi. Dijadikan sutradara Seth Gordonlah ini sebagai komedi yang sangat raunchy, banyak lelucon ‘jorok’, dan bagi kita yang menontonnya siap mencatat segala hal-hal negatif, we will absolutely get that.

Oke, honestly aku nonton ini karena pengen liat Alexandra Daddario. She’s good, ehm matanya bening aneeettt, tapi part cewek ini seperti yang sudah diharapkan dalam film-film genre action-komedi begini; not much. Yang sedikit mengejutkan adalah tokoh Ronnie yang diperankan oleh Jon Bass. Biasanya, tokoh tipe gini bakal hanya jadi comedic relief yang annoying, dan benar, komedi vulgar banyaknya datang dari dia, tapi Ronnie benar-benar pengen masuk ke dalam tim, dan kita melihat usahanya. Jika Mitch menyelamatkan orang-orang di pantai, maka Dwayne Johnson menyelamatkan keseluruhan film ini. Well, mungkin agak kurang berhasil, tapi bener deh, The Rock membuat film ini tampak lebih baik. Selalu kocak ngeliat The Rock diberikan kelenturan untuk ngeledek nama orang, seperti yang biasa dia lakukan di WWE dulu. Banteringnya dengan Zac Efron adalah salah satu dari sedikit sekali bright spot dalam film ini.  Menghibur melihat Zac dan The Rock saling ‘pamer otot’, berusaha saling mengungguli. Mereka berkompetisi dalam serangkaian tes fisik, dan kekonyolan dari situlah yang pengen kita liat. First half of the movie definitely entertaining, film ini menuaikan tugasnya dengan lebih baik ketika ia tetap di ranah aksi komedi yang konyol. Makanya, ketika film malah pindah ngedevelop aktivitas tokoh antagonis, jadi terasa ngedrag. Kita pengen segera balik ke Mitch dan kawan-kawan

Dan mandi di pantai. Dan tenggelam. Dan diselamatkan oleh Daddario

 

Sebenarnya enggak semudah nulis yang jelek-jelek aja ketika mengulas film ini. Secara teknis, memang ini adalah  film yang jelek. Di lain pihak, film ini berusaha untuk menjadi jelek. Source materialnya parah, dan film ini gak berniat untuk menjadi lebih dari itu. So in way, dia berhasil mencapai tujuannya. Buat penggemar serial tvnya, aka nada suntikan nostalgia dari cameo. Aku bukan fan, jadi kemunculan David Hasselhoff dan Pamela Anderson enggak sampe hilarious banget buatku. Secara keseluruhan, film ini kadang lucu, dan setengah bagian pertamanya lumayan seru. Saat film ingin membahas aspek yang membuatnya sedikit keluar dari komedi konyol, ia jadi terbentur.

Benturan paling keras adalah ketika film ini menghandle adegan aksi. Baik itu pas berantem ataupun saat adegan penyelamatan. Terdapat banyak penggunaan CGI dan masing-masing terlihat lebih tidak meyakinkan dibandingkan efek sebelumnya. Green screennya agak kasar. Api dan asap saat adegan kebakaran tidak pernah terlihat realistis. Sekuen berantem pukul-pukulan ditangani dengan banyak adegan close up dengan lebih banyak lagi pergantian angle. Sungguh sebuah langkah yang tidak perlu. Karena, sekali lagi, kita bicara tentang The Rock di sini. Dwayne Johnson bukan hanya sudah terlatih trash talking orang. CVnya yang bertuliskan mantan pegulat WWE seharusnya sudah lebih dari mengisyaratkan bahwa orang ini sudah terbiasa ‘berpura-pura’ kelahi dan direkam dalam wide shot. Ngejual adegan berantem sudah menjadi keahlian The Rock, ketika dia beraksi, kita enggak perlu capek-capek ngedit; memotong dan nyambungin adegan untuk membuat berantemnya intens. Dalam film ini, however, mereka mengacuhkan hal tersebut dan memecah adegan berantem menjadi banyak potongan adegan sehingga jadinya annoying, kita susah mengikuti.

 

 

Film ini tidak takut untuk menjadi absurd. It’s bad, but it was intended to be bad. Singkat kata, nonton film ini adalah guilty pleasure. Humornya jorok. Bagian aksinya konyol, tapi digarap mengecewakan. Pengungkapan kasusnya ala Scooby Doo. Karakternya meski tipis (penokohannya loh, bukan baju renangnya) tapi setiap dari mereka didorong oleh motivasi. Dan dari segi teknis film, it was bad. Tapi toh kita bisa juga sedikit terhibur.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for BAYWATCH.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

CARS 3 Review

“Those who can’t do, teach.”

 

 

What is your goal in life? Well, entah itu jadi seniman sukses, orang kaya, selebriti tenar, penulis hits, kita mestinya ngeset tujuan kita segede-gedenya. Lupakan jadi yang biasa-biasa aja. Apalagi berhenti mengejar keinginan tersebut. Teruslah ngegeber gas untuk mengejar  mimpi mulia yang kita punya. Lightning McQueen tahu persis akan hal ini. Sebagai pembalap dia enggak bisa untuk enggak meniatkan diri menjadi juara satu. Untuk menjadi yang tercepat. Makanya, dia terus mendorong dirinya untuk menjadi lebih baik dan lebih cepat. McQueen punya ‘mantra penyemangat’ sendiri yang selalu dia ikrarkan setiap kali hendak mulai balapan.

It is about self empowerment. Kita harus punya mindset juara. Akan tetapi, yang diingatkan oleh Cars 3 kepada kita semua adalah definisi juara sebenarnya lebih dari piala semata.

 

Cars adalah franchise kedua dari Pixar – selain Toy Story – yang udah sampai pada film ketiga. Cars pertama tayang di tahun 2006 dan entah sudah berapa kali aku menonton film ini. Bukan karena suka banget, melainkan karena film itu adalah satu-satunya yang bisa mendiamkan tangisan adek bungsuku. Jadi dulu, nyaris setiap hari dvd Cars disetel di rumah. Filmnya sih oke. Apakah butuh sekuel?  Jawabannya tentu saja tidak, jika kita melihat betapa ‘kacaunya’ Cars 2 (2011). Bisa jadi Cars 2 adalah film Pixar terburuk yang pernah dibuat. Aku mengerti sekuel sebaiknya memang dibuat berbeda dengan film orisinalnya. Cars 2 punya nyali untuk tampil beda. Tetapi, mengubah dari apa yang tadinya film tentang mobil balap menjadi film tentang mobil yang jadi mata-mata, dengan practically memasangkan karakter paling annoying di sejarah Pixar sebagai tokoh utama, jelas bukan langkah yang brilian.

Cars 3 sepertinya sadar akan kekhilafan mereka.

Film kali ini dikembalikan ke jalan yang lurus.Kembali ke soal mobil balapan, separuh bagian awal Cars 3 nyaris terasa seperti Pixar mencoba menyematkan kata maaf. Mater, dalam film ini, didorong jauh ke latar. Dia cuma muncul di beberapa adegan singkat, hanya supaya fansnya enggak ngamuk. Itu juga kalo ada hihi. Selebihnya kita akan mengikuti McQueen as dia belajar untuk mengingat kembali apa yang membuat dia menjadi pembalap in the first place.

Kalian bisa jadi apa saja. Jadilah mobil balap.

 

Lightning McQueen yang disuarakan oleh Owen Wilson sudah semakin tua. Sebenarnya tidak ada yang salah dengannya, dia masih bisa melaju cepat. Hanya saja, teknologi semakin berkembang. Jadi, McQueen mulai sering kalah. Mobil-mobil balap generasi baru bermunculan, dengan teknologi paling mutakhir terpasang pada mereka. Zamanlah yang sekarang harus dipacu oleh McQueen. Dia lantas belajar untuk menjadi pembalap yang lebih baik, dia pergi berlatih ke sebuah tempat canggih yang sudah disediakan oleh sponsor. Di sana, McQueen dilatih oleh seorang pelatih bernama Cruz. Which is a fresh, interesting new character yang berhasil menyeimbangkan kementokan karakterisasi McQueen sendiri.

Trailer film ini menyugestikan seolah Cars 3 diberikan arahan yang lebih serius. Film ini tampak hadir lebih gelap, kita melihat McQueen terpelintir rusak, sebelum akhirnya terbanting ke jalan. Nyatanya, film ini basically MIRRORING KEJADIAN PADA FILM PERTAMA. Di mana kala itu McQueen adalah pembalap baru dan dia bertemu – kemudian diajarkan banyak – oleh Doc Hudson. Relationship McQueen dan Hudson akan banyak dieksplorasi dalam Cars 3 karena adalah aspek yang penting, essentially McQueen sekarang berada di posisi Hudson. An old, tired race car. Kita akan melihat McQueen berlatih untuk menjadi lebih kencang, untuk menjadi lebih baik. Dia bersedia belajar menggunakan teknologi baru yang somehow tidak berjalan begitu baik buatnya. Bersama pelatih barunya, McQueen balapan di pantai berpasir. Mereka berdua ikutan demolition derby. McQueen benar-benar mencoba untuk mencari ke dalam dirinya, apa yang membuatnya jadi pembalap. Di bagian latihan ini, film picks ups considerably. Ada pesan yang baik di sini, dan menjelang akhir semuanya menjadi surprisingly menyentuh dengan sebuah keputusan yang diambil. Mungkin banyak yang bisa menebak ke mana arah cerita, tapi tetep aja kerasa sangat touching karena kita akhirnya melihat karakter McQueen berputar satu lap, he comes full circle di akhir cerita. Dan menurutku, ending film ini sangat memuaskan.

Jika enggak ada manusia, kenapa mobil-mobil itu punya pegangan pintu?

 

While penonton cilik mungkin akan ileran ngeliat mobil-mobil baru nan mengkilap – Cars 3 tampak mulus seperti biasa, jika tidak lebih – penonton yang lebih dewasa bakalan sedikit berkontemplasi dibuat oleh pesan yang terkandung di dalam narasi.

Apakah kelak kita akan undur diri dengan sukarela, menyerahkan obor itu kepada generasi berikutnya, atau apakah kita akan terus melaju dalam jalan yang kita tahu ada ujungnya, risking everything just to keep up? Keseluruhan pembelajaran Cars 3 adalah tentang warisan. Kapan harus berhenti, merelakan, dan menyadari bahwa bukan semata kemenangan yang akan abadi. It’s our excellency.

 

Jika setiap mobil punya akselerasi, maka film ini pun ada. Antara film baru di’starter’ dengan kita mulai menikmati cerita, sesungguhnya memakan waktu yang enggak cepet. Paruh pertama film ini boring banget. Ada banyak lelucon yang jatoh bebas menjadi datar sedatar-datarnya. Kalian tahu, serial Cars selalu memancing jokes dan anekdot seputar personifikasinya terhadap dunia manusia. Yang memang sekilas terdengar amusing, tapi kalo dipikir-pikir rada gak make sense.

Banyak yang membandingkan film ini dengan sekuel-sekuel Rocky. Aku agak berbeda dengan pendapat itu, karena buatku, Cars 3 lebih kepada personal McQueen. Dia enggak necessarily pengen mengalahkan Storm, si mobil balap yang lebih muda namun rada angkuh dan kasar. McQueen ingin buktikan kalo dia sendiri masih mampu berlari di lintasan itu, bahwa dia adalah pembalap yang punya tujuan hanya satu. Aspek ‘ketika si muda menjadi tua’ ini bisa kita tarik garis lurus dengan keadaan Pixar sekarang. Bagi anak-anak, Cars adalah Pixar. Sedangkan bagi kita yang udah nonton lebih duluan, Cars adalah franchise Pixar yang paling ‘lemah. Bandingkan saja dengan Toy Story (1995). Pixar sudah exist cukup lama, dia sudah enggak ‘muda’ lagi, dan kita bisa lihat karya mereka juga enggak sekonsisten dulu lagi briliannya. Cars 3 adalah usaha Pixar menunjukkan mereka still can go wild-and-young. Tapi pertanyaan yang harus kita tanyaka adalah, akankah kita melihat successor ataupun rival baru yang lebih muda, yang bakal membuktikan bahwa mereka lebih baik dari Pixar?

 

 

 

Tidak banyak ‘pergantian gigi’ seperti yang kita kira, namun tak pelak ini adalah kisah mentorship yang menyentuh. It work best as a bigger picture, jika kita menonton ini setelah menonton film yang pertama. Bagusnya pun kurang lebih sama, deh. Kita bisa ngeskip Cars 2 entirely dan enggak akan banyak nemuin lobang di continuity. Penokohan membuat karakter lama jadi punya depth baru. Even newcomer diberikan penulisan yang lebih nendang lagi. Tapi leluconnya kinda datar, it’s hard enough membayangkan peraturan universe mobil-mobil itu. Dent pada konsep, dan Pixar berusaha sebaik mungkin menggali apa yang mereka bisa dari sana.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for CARS 3.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

KIDNAP Review

“When I grow up, I’ll be a man like Mom.”

 

 

Kasih anak sepanjang jalan. Kasih ibu sepanjang masa. Well, dalam film ini Halle Berry membuktikan kasih sayang sepanjang masanya dengan desperately mengejar penculik anaknya, ngebut-ngebutan di sepanjang jalan tol.

Sembilan-puluh menit sensasi menegangkan mestinya bisa kita alami bareng Halle Berry yang hari itu lagi sial banget. Dia memerankan tokoh bernama Karla. She’s a single mom yang lagi ngurusin perceraian. Di tempatnya bekerja sebagai waitress – kafe paling enggak bersih seAmerika, setidaknya menurut salah satu pelanggan cerewet – Karla dibuat repot karena temen waitressnya enggak masuk kerja. Di sini karakter Karla diset up, kita lantas paham bahwa dia enggak akan nerimo diperlakukan rendah, that she doesn’t take shit from anybody. Karla akhirnya bisa refreshing jalan-jalan ke taman bareng anaknya, Frankie. Kita melihat betapa dekat mereka. Kita bisa merasakan naluri ibu pelindung Karla semakin teramplify oleh perceraian, dia enggak mau pisah ama Frankie. Dan di momen itulah, Frankie justru diculik oleh seseorang (atau sekelompok). Basically, film enggak pake ngerem berubah menjadi full adegan kejar-kejaran.

Lebih dari sebuah misi penyelamatan, Ini adalah jalan pembuktian bagi Karla bahwa dia bisa menjadi ibu yang baik. Bahwa dia sanggup mengurus anak. At heart, Kidnap bekerja sebagai cerminan struggle seorang single mother yang menolak untuk terlihat lebih ‘rendah’ dari mantan suami. Ataupun dari pasangan suaminya yang baru. Desperate, putus asa, namun gigih. Film ini mengingatkan kepada siapapun di luar sana bahwa tidak ada yang mengalahkan tekad dan perjuangan seorang ibu yang menginginkan anaknya.

 

 

Dari konsep sendiri, ini adalah cerita yang menjanjikan. Jika diolah oleh tangan-tangan yang tepat, bukan tidak mungkin bakal menjadi sajian thriller yang asik sekaligus seru. This could work great, film televisi Duel (1971)  buatan Stephen King, kan, juga mirip-mirip kayak gini. Tapi struggle is real buat orang-orang di balik pembuatan film Kidnap. Halle Berry melakukan sebaik mungkin yang mampu ia usahakan. Dan that’s about the nicest thing yang bisa aku bilang untuk film ini. Penulisan plot poin serta penghalang buat tokoh Karla begitu seadanya sehingga kita terhibur juga oleh keover-the-topan yang dihasilkan. Di satu titik, Karla sengaja bikin mobil-mobil tak berdosa saling tabrakan seolah mereka cuma bom-bom car sebab dia ingin disetop oleh polisi sehingga dia bisa mengadukan kasus penculikan tersebut. Oh ya, sebagai plot device, narasi sengaja membuat hape Karla terjatuh, so yea, supaya kita dapat halangan pertama. Setelah itu, tidak banyak variasi kegiatan Karla. Dia antara berlari-lari, ataupun berdoa dan bicara kepada dirinya sendiri.

Mungkin dia juga sengaja nyala sein ke kiri terus beloknya ke kanan

 

Bayangkan film Nay (2015), gabungkan dengan Taken (2008). Tapi batasi porsi dialognya dengan hanya “Oh my god” dan “Frankie!”. Rekam dengan audio. Kemudian potong-potong adegan aksi dan kebut-kebutannya, susun ulang dengan serampangan-pokoknya-asal-cepet. Sudah? Sip, kalian sudah dapat gambaran besar tentang seperti apa film Kidnap dipersembahkan. EDITINGNYA ADALAH SALAH SATU YANG TERBURUK yang pernah kita saksikan dalam dunia sinema. Demi memancing adrenalin penonton, film ngeshot back-and-forth dengan cepat. Jarang sekali kita bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Sekuen Karla berantem cekek-cekekan seatbelt dalam terowongan adalah sekuen yang bikin mata berair, eye-tracingnya completely off. ALih-alih merasakan ketegangan, kita malah sibuk berusaha fokus, sehingga sama sekali enggak ada emosi yang kita pungut dari adegan tersebut.  Banyak informasi yang literally terpotong oleh proses editing yang kasar banget. Seperti pada akhir, kita melihat Karla dikejar anjing dan salah satu penjahat. Karla sembunyi dengan menyelam di dalam air. Kemudian dia tiba-tiba muncul dari belakang si penjahat, ada pergulatan, dan kita enggak pernah lihat apa yang sebenarnya terjadi kepada anjing galak tadi.

Ketika Karla berlari keluar dari mobil, dia setengah mati berusaha secepat mungkin ke tempat yang ia tuju, sesungguhnya ini adalah momen yang sangat intens. Namun, berkat editing horrible – alihalih pake continuous shot yang panjang, mereka malah memotongnya menjadi banyak shot – momen tersebut jadi kehilangan energi. Pilihan yang dilakukan oleh filmmakernya bakal bikin kita ngakak, dan dari sinilah letak enjoy nonton film ini datang. Beneran, kalian bisa bikin semacam drinking game atau apa dari banyaknya shot speedometer yang beranjak naik dari 40 ke 60, seolah minivan si Karla ngebut banget.

Seperti Karla yang desperate ngejar penculik anaknya, film ini desperate agar kita terhibur menontonnya. Ia gunakan trik-trik filmmaking supaya filmnya seru. Eh malah jadi tampak konyol. To pinpoint one moment in particular; dalam salah satu adegan kebut-kebutan, film ini menggunakan efek fade black dan terang lagi dengan cepet-cepet sekitar enam atau tujuh kali. Tujuannya sih supaya kita turut ngerasain tegangnya melaju dalam kendaraan yang nyaris tabrakan, akan tetapi kelihatannya malah kayak adegan di trailer film-film action. Merasa enggak cukup, film ini pun turut memakai teknik Dutch Angle. Eh, tau Dutch Angle gak? Itu tuh, teknik kamera miring atau ditilt beberapa derajat sehingga bagian bawahnya enggak lagi sejajar garis horizontal. Seperti yang biasa kita jumpai pada film-film psikologis ataupun arthouse. Teknik ini sebenernya digunakan untuk menggambarkan suasana yang eerie biar lebih dramatis. Jika karakter bingung, maka dengan diceritakan pake kamera ngeoblige kayak gini, rasa bingungnya bisa meningkat menjadi kecemasan yang luar biasa. Dalam film ini, aku tanya deh, kenapa? Kenapa momen nyeni kayak gini digabung begitu saja ke dalam action thriller klise. Dutch angle jika salah penempatan, atau dilakukan dengan enggak pas, jadinya malah konyol. Dan itulah yang terjadi pada salah satu car chase di film ini.

“You took a wrong movie!”

 

Ketika kita punya cerita yang sederhana, yang konsepnya begini basic, kita bakal enggak bisa menahan diri untuk memasukkan twist sekecil apapun yang kita bisa.  Yang tidak termaafkan adalah ketika kita memasukkan twist, dan kemudian kita merasa perlu untuk menjelaskan kepada penonton. Setelah kita melihat cerita tembak-langsung, Kidnap dengan tanpa dosanya merangkum narasinya dengan memasukkan adegan berupa suara di radio memberitakan apa yang telah terjadi. Menurutku, ini adalah salah satu bentuk penceritaan yang meremehkan intelensia penonton. Closing dengan siaran berita itu sama sekali enggak perlu.

Jika pria adalah seorang yang menyintai unconditionally,yang senantiasa melindungi dan peduli. Maka, ya, Ibu adalah seorang pria.

 

 

 

Complete failure of production. Film ini sangat berantakan. Editingnya yang parah membuat konsep thriller yang punya potensi menjadi hilang begitu saja. Tergunting-gunting di dapur studio. Sebagian besar durasi kita akan capek untuk mengikuti alur editing yang parah. Sehingga kita lupa untuk menikmati emosi dan struggle tokoh utamanya. Namun aku gak bisa bohong, aku terhibur juga dibuat oleh film ini. Pilihan-pilihan yang mereka lakukan dalam menyampaikan cerita sangat konyol.
The Palace of Wisdom gives 3.5 out of 10 gold stars for KIDNAP.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Happy Family, Diary Komedi Keluarga Hahaha – Review Buku

 

Buat kamu-kamu (apalagi yang cowok) yang berencana mengubah dunia, maka lakukanlah cita-cita mulia tersebut sebelum kamu menikah. Karena, kata mas Muh Rio Nisafa dalam buku ini, setelah nikah nanti jangankan dunia, ngeganti channel tivi saja kita udah enggak bisa!

Wuih, seserem itukah dunia rumah tangga?

Ngomong-ngomong, Muh Rio Nisafa ni safa, sih? Aku tadinya mengenal beliau hanya sebagai komika atau stand up comedian yang sama-sama terdaftar sebagai peserta Nulis Lupus Bareng kloter Jogja. Bedanya; mas Rio juara satu, sedangkan aku juara ‘cheerleader’. Setelah baca buku kedelapannya ini, aku jadi tahu kalo Mas Rio juga seorang kepala keluarga yang sudah delapan tahun menikah. Dan amat-sangat berbahagia karena statusnya tersebut.

Warna warni kehidupan berkeluarga tergambar ceria di sini. Ini bukan cerita fiksi, makanya komedi yang dihadirkan terasa kena sekali. Terlihat benar, akur dengan profesinya, Mas Rio memandang kehidupan sebagai panggung komedi. Termasuk, eh ralat, apalagi kehidupan berumah tangga. Dalam buku ini disebutkan menjadi AYAH PENUH SUKA DAN SUKA. Namun bukan berarti enggak ada dukanya. Happy Family tidak melulu bikin jealous para jomblo yang masih gagal move on dengan segala kespesialan yang didapat oleh pasangan yang sudah menikah. Meski memang sih, cukup banyak senggolan manja yang membandingkan enaknya sudah menikah dibandingkan masih pacaran. Riak-riak kecil perbedaan akan selalu hadir karena pernikahan hakikinya adalah menyatukan dua perbedaan; dua tingkah laku, dua kebiasaan, dua kehendak keluarga, dua pandangan hidup. Semua perbedaan toh tidak mesti jadi momok, tidak harus dianggap duka, karena bercermin dari pengalaman yang dituturkan jenaka oleh buku ini, perbedaan dalam rumah tangga adalah hal-hal yang patut disyukuri dan, eventually,  patut untuk  ditertawakan bersama.

pedoman suami siaga (siap-antar-ganteng)

 

Buku adalah buah pikir dari penulis. Basically, buku adalah anak dari pengarangnya. Meskipun sudah beranak buku delapan kali, Mas Rio baru punya satu anak manusia. Pengalaman mendapat anugerah gede tersebut diceritakan dengan asyik dan penuh bangga. Ada lima bab besar (hush, bukan buang air, jorok ih!) dalam buku ini, dengan satu bab didedikasikan tentang putra pertamanya. Dan dalam tiga bab sebelum itu pun kita sudah seperti terset up kepada momen kelahiran ini, dimulai dari Yahnda dan Manda ngerjain PR Fisika.

Anak dapat kita umpamakan sebagai sebuah buku kosong yang bakal menuliskan sendiri ceritanya. Tapi karena anaknya sendiri masih kecil, Mas Rio khusus di buku ini memproyeksikan sedikit dirinya, dan mungkin sedikit harapan, dan kita sebagai pembaca mendapatkan bantering imajiner yang super kocak antara Yahnda dengan si kecil Fano. Seperti yang bisa kita baca saat mereka pergi liburan ke waterpark. Ataupun ketika Fano dibanding-bandingin dengan presiden. Personally, aku ngakak sejadi-jadinya di bagian cerita ada anak bernama Sekar, yang nama panjangnya ternyata adalah Sekarang Kita Pulang! ahahahaha

Buat seorang stand up comedian, kepekaan terhadap isu-isu politik dan sosial selalu merupakan senjata utama. Happy Family luwes sekali memasukkan pancingan terhadap aspek-aspek tersebut, untuk kemudian mengolah dan menyelesaikannya dengan punch line yang bertenaga dan tepat sasaran. Banyak subbab pendek yang mampu menghabiskan setengah jam waktu sebab kita akan tergelak oleh lucunya dan betapa benarnya perbandingan gila yang diambil oleh penulis. Membaca ini akan terasa seperti menonton solo show dari seorang komika yang menceritakan apa yang jadi pikirannya, dengan layer rumah tangga yang pas sehingga terasa begitu relevan serta memikat. Terutama, tidak ada keluhan di sini. Ketika Yahnda curhat soal satu-satunya waktu dia dapat ngobrol dengan istri adalah ketika hape bininya lowbatt dan sedang di-charge, kita ikut tergelak sebab kita tahu memang begitulah kehidupan di jaman modern. Anekdot-anekdot segar dan tebakan kocak seperti beda kopi enak dengan kopi mahal mengalir lancar.

Sketsa-sketsa komedi singkat ala kolom humor di pinggir halaman TTS menghiasi halaman di bab akhir. Menghantar kita melalui penutup yang ringan, namun membuat kita ingin membacanya berulang kali. Berbagai macam skenario Raisa kenalan sama keluarga pacarnya, speerti pada iklan,tak pelak adalah salah satu bagian terbaik buku. Pacaran memang indah, tapi dunia rumah tangga enggak kalah serunya.

As a whole, jika kalian lagi duduk nyante sore hari di depan rumah, buku ini bisa jadi santapan yang enggak kalah menarik dari goreng pisang. Bukan cuma yang udah nikah loh, yang bakal terhibur. Candaannya sarat, akrab, dan yang paling penting; kocak. Sekali baca saja kita tahu kalo buku ini ditulis oleh seorang komika, gaya tulisannya persis kayak gaya tutur yang biasa kita tonton di acara stand up komedi. Unik, tapi terkadang memang sedikit mengganjal, khususnya bila kita mengahrapkan struktur yang lebih konvensional seperti novel atau personal literature yang biasa. Kuncinya ada di editing, you know, like, susunan cerita. Apalagi genre komedi banyak mengandalkan repetisi sebagai salah satu jokesnya. Buku ini melakukan dengan cukup bagus. Akan tetapi, ada beberapa editing dari sisi teknis seperti sejumlah besar typo yang terlupa untuk dibenerin dan penggunaan sudut pandang yang seperti kurang konsisten, ada bab yang pake ‘gue’, ada yang pake ‘saya’.

 

 

Buat yang mau menambahkan buku Lucu ini ke koleksi pustaka, ataupun lagi nyari pedoman menjalani hidup berumah tangga, bisa langsung pesan ke pengarang yang katanya pernah digodain SPG ini di twitter.com/rio_nisafa atau facebook.com/rio.nisafa

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Battleground 2017 Review

 

Dalam salah satu episode serial Netflix tentang gulat wanita, GLOW (2017), Ruth si tokoh utama sempat protes lantaran karakter tokoh heel yang dia pitch ke produser (atau booker, mengingat medan kita adalah ranah wrestling show) – wanita korban perkosaan di dunia post-apocalypse berontak ingin menguasai air dan satu-satunya pria yang tersisa – ditolak mentah-mentah. Alasannya cuma satu, terlalu ribet. Make it simple. Terlebih buat global company segede WWE.  Makanya, meski pesan yang ditimbulkan bisa sangat degrading dan sungguh-sungguh ketinggalan-jaman, kita tetap saja mendapat tokoh antagonis yang otomatis jahat hanya karena mereka berasal dari negara bukan-America seperti Rusev. Dan Jinder Mahal, yang tentu saja demi heat dan draw yang gede-nan-gampang, dijadikan juara WWE.

Pro-wrestling memang adalah tentang karakter yang berwarna, seperti yang disebut dalam video opening acara Battleground, namun warna tersebut hendaklah enggak nyampur-nyampur.

 

The way Battleground teresolve sepertinya memang sudah diset untuk membangun clash antar-negara. Acara ini berdentum oleh gaung patriotisme. Namun, jika Nolan’s Dunkirk (2017) menitikberatkan kepada perjuangan bersama melawan segala odds, maka dalam Battleground, as we see John Cena merangkak desperately demi nancepin bendera Amerika dengan Rusev memburu ganas di belakangnya, kesimpelan nature acara gulat membuat semuanya terasa komikal. Patriotisme sedikit tercoreng oleh warna pretentious karena WWE membuat ceritanya terlalu hitam dan putih. Battleground adalah ladang mereka ngebuild up kekuataan Amerika.

Dan di sisi yang berlawanan, kita melihat Jinder Mahal Berjaya, mengalahkan Randy Orton. Mahal membuktikan kepada dunia lewat match Punjabi Prison bahwa dia benar adalah Maharaja di India. Ini lebih seperti Dunkirk di mana kita melihat Singh Brothers dan, even The Great Khali yang bikin surprise tanpa tedeng aling-aling stumbling on the ramp, it was basically semua Jinder’s People keluar untuk mastiin Jinder keluar sebagai pemenang. India bersatu, aku sendiri excited kalo-kalo kita bakal dapet stable semacam India World Order. Dan melihat cara mereka ngebooking begini, Cena dan Jinder will eventually cross path, leading to a great nation war, mungkin saja di Summerslam. Despite this show itself – dan kemungkinan Cena ngebury Jinder, aku niscaya tetep bakal menunggu-nunggu hal tersebut untuk terjadi.

sejak di The Wall (2017), Cena mahir banget akting merangkak

 

Match mereka sendiri menjadi terlalu datar, dengan emosi tersesat entah di mana oleh rapatnya gimmick yang berusaha dibangun.  Contohnya Flag Match antara Cena dengan Rusev. Pertandingan yang sejatinya semacam lomba lari, yang kayak Ladder ataupun Flag, akan selalu memancing dramatic impact dari momen-momen superstar face berjuang mencapai ‘garis finish’. Akan tetapi, jika pada Ladder Match, mereka dapat menggunakan tangga sebagai senjata dan device akrobatik dengan seribu satu cara, maka pada Flag hanya entah berapa kali kita bisa memanfaatkan tiang bendera menjadi alat penyerang yang efektif dan menarik untuk dilihat. So naturally mereka resort ke elemen ‘lomba lari’ tadi, di mana hanya exciting di percobaan pertama. Akting Cena dan tingkah Rusev yang, “lama banget!” koor penonton nobar di Warung Darurat, sengaja ngulur-ngulur waktu kesusahan atau pun bergaya membawa bendera dengan cepat menjadi annoying. And it’s not really believable either, lantaran sebelum match dimulai kita melihat kru memasang bendera dengan sangat sigap. I mean, mendingan krunya aja deh yang tanding. Sepuluh menit terakhir menjadi porsi yang paling seru, Rusev dan Cena finally get to some fun actions. Sayangnya, match ini berlangsung selama dua-puluh menitan, jadi yah, keseruan di akhir itu enggak berarti banyak.

Menaruh Jinder Mahal dalam pertandingan yang hampir setengah jam juga sepertinya bukan pemikiran yang cemerlang. Sejauh ini, aku suka gimana freshnya sabuk kejuaraan tertinggi dipegang oleh superstar yang enggak disangka-sangka. WWE pun benar-benar ngepush status foreigner Jinder Mahal sebagai antagonis kelas kakap. Namun Jinder belum membuktikan bahwa dia deliver sebagai yang top di kelasnya. Tiada ciri khas yang distinctive dari duel-duel si Modern Day Maharaja. Spot menarik dan kocak malah selalu datang dari Singh Brothers. Begitu juga di Punjabi Prison ini. Emosi match terasa datar (makasih juga buat Randy Orton yang tampak main males-malesan sejak kehilangan gelarnya). Penjara itu kehilangan nuansa brutal, meski komentator udah susye paye ngejual ini sebagai mimpi buruk. Crash terkeren justru datang dari salah satu Singh yang jatuh dari ketinggian kandang ke meja komentator. Bagian paling dramatis secara emosi adalah ketika literally kemenangan Orton ditahan oleh Khali dan Mahal sengaja duduk di sana menonton sambil neriakin makian. Mengingat sejarah bahwa Khali adalah orang yang bertanggung jawab untuk kehadiran Punjabi Prison Match, beberapa menit momen tersebut menjadi sangat simbolik.

Punjabi Prison versi Indonesia: dikurung seharian nontonin sinetron-sinetron Punjabi’s

 

WWE  bukannya enggak berani ngebook orang asing sebagai protagonis, buktinya kita melihat Shinsuke Nakamura melawan Baron Corbin di mana si Corbinlah yang terlihat luar biasa ngeselin. Karakter Corbin works really well, dia ‘talking smack’ semua orang, termasuk penonton. Dia malah memulai match dengan talk trash di depan idung Nakamura. Such a fun heel. Sedangkan untuk bagian Nakamura, para penulis salah kaprah dengan mengarahkan karakter King of Strong Style ini menjadi karakter babyface yang musti dihajar duluan baru ngebales ala ala John Cena. Nakamura enggak butuh dramatic element kayak gitu. He can work well, his strike sangat cepat, dan ‘membumikan’nya seperti pada match ini hanya membunuh tempo dan pace dan electric yang ia miliki. Aku ngerti hasil akhirnya bahwa kedua superstar tersebut pada titik ini harus dilindungi secara menang-kalah. Yang enggak aku ngerti adalah kenapa kedua superstar yang harus dilindungi ini malah dibook tanding berdua. Memangnya enggak ada lawan lain?

Semuanya terasa menurun setelah bel tanda kejuaraan tag team sebagai partai pembuka berakhir. New Day dan Uso menyuguhkan aksi tag yang cepat, banyak false finish yang bikin kita melonjak-lonjak. Kofi dan Uso kick out bergantian dari finisher lawannya masing-masing. Puncak serunya adalah ketika Xavier Woods yang sedang terbang kena stop oleh tendangan di kepalanya. Wuih itu telak banget, enggak lebay deh kalo kubilang itu SUPERKICK TERKEREN sejak Shawn Michaels nendang Shelton Benjamin. Battleground tidak bisa mengembalikan derasnya sorak penonton, not even dengan AJ Styles dan Kevin Owens. Kedua orang ini malah diberikan penyelesaian yang aneh dan datar. Angle wasit pingsannya enggak mengarah ke apa-apa, Owens bahkan enggak tap out, dan sepertinya wasit  bangun kelamaan sehingga endingnya tampak awkward. Dan meski mungkin kita senang Zayn akhirnya menang, both Zayn dan Mike –tiga sama Maria- enggak terlihat credible sebagai pemain papan tengah. Match cewek, however, bisa saja menjadi lebih baik jika saja WWE enggak terlalu doyan dengan eliminasi cepet-cepet. Pertandingannya terasa terburu-buru dan did very little to the girls.

 

Ada tebakan nih; siapa juara WWE saat ini yang jarang mempertahankan gelar di ppv, tetapi bukan Brock Lesnar?

NAOMI

glow is the new black

 

Naomi has yet to impress me. Selain nari-nari dan nyala dalam gelap dan entrancenya bikin anak bayi epilepsi, Naomi belum banyak berkembang. Aku ingin lihat dia bertanding lebih banyak, melawan kompetitor yang mumpuni.  Sejauh ini, berturut-turut di ppv dia terlibat tag team, melawan Lana, dan sama sekali enggak dapat match. Saat melawan Lana, aku belum melihat peningkatan pada skillnya. Perlu diingat, skill dan moveset itu berbeda; ya, Naomi punya moveset yang asik sebab dia highflyer. Tapi itu bukan lantas berarti dia punya skill bagus. It just mean that she is a highflying, dan karena dia face maka ya dia pake jurus-jurus yang enak dilihat. Take Alexa, Bliss sebenarnya bisa berakrobat di atas ring, tapi semenjak jadi heel, porsi aksinya lebih diarahkan untuk moveset antagonis, Twisted Bliss pun jadi jarang dia gunakan. Atau liat saja Neville; sejak jadi jahat, pamungkasnya beralih jadi Ring of Saturn. Skill yang kumaksud adalah kemampuan dalam ngedeliver dan eksekusi moves. Serangan-serangan Naomi masih terlihat lemat dan emotionless. Di Battleground dia jadi komentator, dan bahkan mic skillnya juga masih pas-pasan, masih terdengar ngapalin skrip. I want to see how she’s improving, semoga dia sengaja disimpan buat mengejutkan kita semua, bukan lantaran karena WWE masih ragu sama dia.

 

 

 

Battleground is a set-up show dengan akhiran match yang cenderung buruk. Eksekusinya datar, cardnya kayak diisi semuatnya. Honestly hanya Corbin yang keluar dengan lumayan meyakinkan, sementara superstar lain either diberikan booking yang jelek ataupun enggak live up sama karakternya. Ini bukan saja pay per view Smackdown terburuk, namun bisa juga adalah salah satu yang terjelek yang ditawarkan oleh WWE.
The Palace of Wisdom menobatkan New Day versus The Usos sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

Full Results:
1. WWE SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP New Day jadi juara baru ngalahin The Usos
2. SINGLE Shinsuke Nakamura menang DQ atas Baron Corbin
3. FATAL 5 WAY ELIMINATION Natalya mengalahkan Charlotte Flair, Becky Lynch, Lana, Tamina
4. WWE UNITED STATES CHAMPIONSHIP Kevin Owens merebut kembali sabuknya dari AJ Sytles
5. FLAG John Cena defeat Rusev
6, SINGLE Sami Zayn menang atas Mike Kanelis
7. WWE CHAMPIONSHIP PUNJABI PRISON Jinder Mahal ngalahin Randy Orton dengan bantuan besar

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.