THE KID WHO WOULD BE KING Review

“United we stand”

 

 

Membela teman yang di-bully dan pada gilirannya tidak mengadukan apa-apa – kepada ibunya, kepada guru, kepada orang dewasa – tentang hal tersebut lantaran ia enggak mau perpecahan semakin besar karena mengungkit masalah; mungkin itu sebabnya Alex (Louis Ashobourne Serkis, temuan baru sang sutradara) mampu mencabut pedang Excalibur dari batu. Alex, seorang anak dua-belas tahun di era modern Britania Raya, telah menunjukkan sikap dan semangat yang tak-pelak dihargai oleh seorang kesatria seperti Raja Arthur dalam legenda. Kesetiaan, keberanian, pendirian untuk menegakkan persatuan sebagai prioritas utama. Kalian tahulah; sikap-sikap kepahlawanan.

Pedang Excalibur yang ia dapatkan mengingatkan Alex pada buku cerita yang seingatnya dulu diberikan oleh Ayah kepadanya. Tapi tidak sebatas rasa rindu yang diberikan oleh pedang tersebut. Masalah juga. Alex diserang oleh makhluk seperti zombie kesatria yang datang menyala bara api dari dalam tanah. Berkat informasi dan gemblengan dari seorang penyihir yang mengambil wujud anak muda berbodi kutilang (paling tidak sampai dia bersin, yang mengubah wujudnya menjadi seekor burung hantu), Alex mengerti bahwa dirinya terpilih sebagai Arthur masa modern. Tugas yang harus ia lakukan adalah mengalahkan Morgana, penyihir jahat berwujud monster yang ingin merebut Excalibur dan memecah belah dunia saat gerhana bulan empat malam lagi tiba. Untuk itu, Alex musti mengumpulkan Ksatria Meja Bundar versi dirinya sendiri, dari teman maupun lawan, dan berkelana bersama mencari sosok Ayah yang diyakini Alex adalah Raja Arthur yang sebenarnya.

Alex dan keadaan sosial tempatnya tinggal dijadikan perbandingan menarik terhadap kode-kode kekesatriaan tradisional oleh film ini. Sebagai cara mereka mempertanyakan ke mana perginya nilai-nilai luhur tersebut. Namun misi utama film ini sebenarnya adalah memperlihatkan dongeng kesatria kepada anak-anak seusia Alex yang mungkin sudah terlalu disibukkan (kalo tidak mau disebut dimanjakan) dengan kemudahan dan kenyamanan. Dalam film ini kita akan melihat Alex dan teman-temannya bertualang, dan bukan monster-monster perut bumi itu yang mengancam keutuhan mereka – melainkan kenyataan bahwa begitu gampangnya kelompok mereka terpisah; begitu banyaknya hal-hal yang membuat mereka terpecah.

Anak-anak jaman sekarang disebut lemah dan manja bukan exactly karena fisik dan tenaganya. Bukan karena mereka gendut kebanyakan duduk main gadget. Melainkan karena keogahan mereka untuk bersusah payah main keluar, mencari teman beneran, dan bersama-sama melakukan sesuatu yang mereka percaya. Anak-anak sekarang hanya kurang bersemangat menunjukkan sikap-sikap kesatria yang mungkin tak mereka sadar mereka miliki.

chivalry is not dead, Superman is

 

Film ini dibuka dengan sekuen animasi yang menawan yang memaparkan kisah Raja Arthur yang melandasi petualangan Alex. Babak penutup film ini pun tak kalah menariknya; ketika Alex dan teman-teman menjadikan sekolah sebagai benteng pertahanan – mereka mengenakan baju zirah, dengan pedang-pedang, menyulap papan gym menjadi kuda-kuda gauntlet, dan memasang jebakan untuk pasukan monster yang datang menyerbu. Pertempuran dalam film ini selalu berat oleh CGI tapi cukup memuaskan untuk dilihat, terlebih pertempuran terakhir yang melibatkan anak-anak berterbangan ke sana kemari berusaha mendaratkan monster terbang yang mengerikan. Pembuka dan penutup; itulah momen-momen terbaik yang bisa diusahakan oleh film ini. Sementara bagian di antaranya; bagian yang punya porsi paling lama – mengingat film ini berdurasi dua-jam, begitu datar sehingga hampir membosankan jika kita tidak dibawa keliling dataran Inggris yang punya pemandangan menawan.

Bukan sebab karena penulisannya – The Kid Who Would Be King ditulis dengan struktur yang bener. Kita dengan jelas dapat melihat motivasi Alex, kita melihat tantangan yang harus ia hadapi, kita melihat dia menyimpulkan apa yang harus ia lakukan, kita melihat dia belajar tentang apa yang harus ia lakukan, kita juga menyaksikan bagaimana dia mengambil jalannya sendiri. Hanya saja, Alex tidak pernah tampil benar-benar menarik. Untuk mencolok saja, dia butuh jaket merah sementara teman-teman di sekitarnya memakai jaket berwarna gelap. Selain bergantung kepada buku cerita yang berfungsi sebagai petunjuk baginya – yang merupakan aspek yang dibutuhkan dalam formula cerita semacam ini, Alex tidak punya kebiasaan yang membuat dirinya menarik. Kita tidak tahu hobinya apa. Aku akui, Alex ini adalah tipe anak baek-baek yang aku biasanya ledekin di sekolah, bukannya aku termasuk tukang bully, tapi sama-sama tahulah, akan ada satu anak pendiem di setiap sekolah yang jadi bahan candaan anak-anak lainnya. Anak itu adalah si Alex, dan Bedders – sohib Alex. Tidak ada yang unik dari kedua anak ini. Saat ‘berantem’ dengan para ksatrianya, Alex akan membuat kita menguap dengan kata-kata ‘sok baik’nya yang membuat kita memohon mereka langsung saja jotos-jotosan.

Bicara soal dialog, film ini membuat adegan animasi keren di pembuka itu menjadi tidak berguna, karena apa-apa yang sudah dijelaskan dengan visual menarik tetap saja diulang kembali saat para tokoh mengucapkan dialog-dialog eksposisi. Film seharusnya memfokuskan dialog untuk pengembangan karakter saja, tidak perlu lagi menjabarkan tentang dunia Arthur. Atau malah, animasi pembuka itu enggak usah ada aja sekalian. Memilih, hanya itu yang harus dilakukan, enggak susah kok.

Sekali-kali Patrick Stewart akan muncul untuk membuat kita berpikir film ini penting

 

Adegan yang lebih banyak gerakan – seperti mereka latihan berantem melawan pohon, melatih anak-anak untuk menjadi prajurit, kejar-kejaran dengan monster – masih mampu untuk menghibur kita. Aku jadi menunggu-nunggu gerakan tangan annoying yang dilakukan oleh Merlin yang flamboyan sebab aku tahu bakal ada sihir dan keasikan menonton akan sedikit terangkat oleh keajaiban. Beberapa lelucon juga sanggup menghadirkan cekikikan di sana-sini. Aku suka sindiran yang film ini lakukan terhadap ayam goreng fast-food, paling enggak sampai film ini memutuskan untuk menjelaskan sindiran tersebut lewat omongan. Yang mana semakin menunjukkan sutradara Joe Cornish tidak sepede sebelumnya saat dia menggarap Attack the Block (2011) thriller alien yang begitu segar dengan arahan yang berhasil membuat perjuangan anak-anak remaja yang tak berkekuatan khusus – sama seperti The Kid Who Would Be King ini – sangat mencengkeram sehingga termasuk ke dalam Top-8 film favoritku tahun itu.

Ketimpangan antara penulisan struktur naskah dengan pengarahan ini semakin terlihat ketika pada setelah sekuens false-resolution, film menjadi seperti berakhir dan kembali dimulai. Seperti ada sekat yang memisahkan, yang membuat petualangan yang sebelumnya tidak lagi berarti meskipun sebenarnya kita paham ada pembelajaran yang dikenai kepada tokoh utama, ada kepentingan dalam perjalanan sia-sia yang mereka semua lakukan. Namun seperti yang aku tulis di atas, babak terakhir yang menarik ketimbang pertengahan yang bahkan ternyata mereka hanya mengejar hal yang basically tak ada – ada pembangunan yang runtuh seketika sehubungan dengan siapa ayah Alex – membuat kita berpikir seharusnya film ini fokus saja di sekolah. Jika ada yang menjanjikan petualangan aksi medieval dengan anak sekolah sebagai tokohnya, maka tentu hal unik yang kita pikirkan adalah membawa aksi tersebut ke lingkungan mereka, atau mungkin membawa mereka ke zaman yang bersangkutan. Benar-benar membentrokkan mereka. Bukannya malah membawa mereka jalan-jalan sebagian besar waktu.

 

 

 

 

Terasa lebih bermain aman ketimbang sebelumnya, Cornish membuat film fantasi anak-anak ini kurang menantang. Ia seperti tidak begitu mengimbangi bangunan naskah yang ditulis dengan baik. Film ini kurang exciting. Meski ia berhasil menjalankan fungsinya sebagai dongeng kekinian yang membandingkan moderen dengan tradisional dalam rangka menjunjung tinggi nilai persatuan. This is an okay film. Aman dan berbobot ditonton bersama keluarga. Hanya dengan sedikit terlalu banyak aspek-aspek yang datar, seperti hubungan Alex dengan ibunya, dengan teman-temannya yang lain, and heck, Alex barely has anything to do with Morgana, yang mestinya bisa dieksplorasi dengan lebih emosional lagi.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for THE KID WHO WOULD BE KING.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Coba tanyakan kepada diri sendiri, apakah kalian mampu mencabut Excalibur dari batu?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

GLASS Review

“You are what you believe yourself to be.”

 

 

Sembilan-belas tahun! Dengan waktu selama itu, Glass bisa saja adalah salah satu film bertema buku komik, yang paling ditunggu-tunggu oleh pecinta film dan nerd di seluruh. Termasuk. Dan ia bahkan bukan tipikal film superhero yang mengandalkan bak-bik-buk serta CGI. Kalian salah beli tiket kalo ngarepin aksi penuh ledakan dan monster-monster, dewa-dewa, alien, manusia berjubah beterbangan. Karena ini adalah buah pikiran M. Night Shyamalan, yang demen membengkokkan ekspektasi baja kita semua, lantas memecahkannya berkeping-keping, for better or worse. Malahan, dengan beraninya film terang-terangan menampilkan tulisan “A True Marvel”, seolah menantang gagasan kita mengenai apa sih ‘pahlawan super’ itu sebenarnya.

Alih-alih main fisik, sedari awal trilogi ini memfokuskan kepada kejiwaan manusia. Hampir tidak ada adegan aksi di Unbreakable (2000), malahan sebagian besar adalah tentang David Dunn yang harus ‘mengikhlaskan’ dirinya punya kekuatan tidak-bisa-terluka dan actually menggunakan kekuatan itu untuk kebaikan orang banyak. Sebagai antagonis dari Dunn adalah Elijah Price yang menyebut dirinya sebagai Mr. Glass, penggemar – bahkan ahli – buku komik lantaran banyaknya waktu yang ia habiskan membaca sebagai ganti dirinya yang tidak boleh banyak bergerak karena kondisi tulang tubuhnya yang begitu rapuh. Twist yang dihadirkan oleh film pertama yang dielu-elukan sebagai masterpiece dari Shyamalan adalah bahwa ambisi villain, alias penjahat, tidak melulu menghancurkan superhero. Bahwa ada satu orang yang rela menimbulkan petaka bagi masyarakat hanya demi mencari, membangkitkan, superhero beneran. Ke-grounded-an elemen superhero dari dunia Unbreakable secara mengejutkan diteruskan ke Split (2016). Nobody saw this coming. Tidak ada yang menyangka Kevin yang punya dua-puluh-empat personalita berbeda itu hidup di universe yang sama dengan Dunn dan Mr. Glass. Hingga menit-menit terakhirnya, Split tampak seperti thriller membalut studi psikologis tentang manusia yang ‘kabur’ dari trauma mendalam ke dalam kepalanya, melahirkan identitas-identitas berbeda sebagai pertahanan. Jadi, ya, aku sudah tahu Glass juga bakalan lebih banyak ngobrolnya ketimbang berantem. Antisipasi memang sudah membuncah, pembahasan apa yang bakal diangkat oleh penutup trilogi ini; hal mind-blowing apa yang sudah dimatangkan Shyamalan begitu lama untuk kita semua.

Anya-Taylor Joy masih balita loh ketika Unbreakable tayang di bioskop

 

 

Babak pertama Glass sungguh-sungguh keren. Menakjubkan rasanya diperkenalkan kembali kepada Dunn; kita melihat seperti apa hidupnya setelah bertahun-tahun, gimana dia sekarang bekerja sama dengan anaknya. Dengan segera mereka menemukan tempat Kevin menyekap orang-orang yang ia culik, kemudian wow! aku tak menyangka bakal secepat itu melihat Dunn dan The Beast (identitas Kevin yang paling buas) adu kekuatan. Mereka berdua ketangkep oleh polisi dan diasingkan ke sebuah rumah sakit. Dunn, Kevin, dan juga Mr. Glass yang lumpuh dikarantina di dalam ruangan mereka masing-masing di sana.

Sampai di sini, film mengambil waktu untuk membawa kita menyelami pokok pikiran yang tema cerita. Buat beberapa penonton, babak kedua ini bisa berubah menjadi membosankan. Tetapi perbincangan mereka dengan dokter yang diperankan oleh aktris American Horror Story, Sarah Paulson, sebenarnya sangat menarik. Kita diperlihatkan pula banyak treatmen-treatmen filmmaking yang membuktikan bahwa Shyamalan memang tahu apa yang sedang ia buat. Dan tentu saja, akting dari pemain-pemain lain membuat mataku betah untuk menontonnya. Meskipun memang, kuakui, ada sedikit rasa “loh kok ke arah sini?” yang mengganjal saat bincang demi bincang itu bergulir. Bangunan cerita yang dipilih Shyamalan buat Glass toh lumayan aneh. Dua film sebelumnya dimanfaatkan untuk mengukuhkan semesta dunia cerita ini adalah dunia superhero. Namun babak kedua film ini, kita diperlihatkan ‘debat’ antara si dokter yang percaya apa yang dialami oleh Dunn, Glass, dan Kevin bukanlah kekuatan superhero melainkan kekuatan normal yang bisa dimiliki oleh semua orang. Si dokter berusaha meyakinkan mereka bahwa pikiran merekalah yang membuat mereka percaya penyakit mereka adalah anugrah yang luar biasa. Yang tercipta dari permasalahan ini terasa seperti antiklimaks dua film sebelumnya. Babak ketiga diisi oleh Shyamalan dengan banyak twist, yang masuk akal dan ditanam dengan properly, hanya saja kurang nendang, kalah jauh jika dibandingkan dengan twist dua film sebelumnya. Hal ini disebabkan karena kelokan-kelokan cerita pada Glass tidak benar-benar membawa kita ke ‘tempat’ yang baru.

Kita sanggup melakukan apa saja jika kita percaya mampu melakukannya. Kau adalah sesuatu yang kau percaya itu dirimu. Begitu kuatnya kekuatan pikiran. Orang lain tidak akan bisa menegasi  apa yang kau percaya sekalipun kepercayaan itu hanyalah sebuah fantasi. Glass mengaitkan hal ini dengan mitologi superhero dalam buku komik. Tokohnya percaya hal yang mereka baca di komik, bahwa komik punya landasan kebenaran yang dibuat berdasarkan pengalaman nyata. Komik dijadikan bukti keberadaan superhero, sehingga mereka yang punya sedikit kelebihan percaya mereka juga superhero. Di lain pihak, rasionalisasi bisa kita terapkan pada hal apapun begitu kita sudah percaya terhadap ‘lawan’ dari suatu hal. Yang menarik terutarakan oleh film ini adalah, justru orang yang paling tak percaya-lah yang sebenarnya paling mempercayai apa yang ingin ditentangnya.

Tidak ada pahlawan atau penjahat, semua itu bisa berganti dengan mudahnya. Yang ada hanya pikiran dan usaha kita terhadapnya.

 

jangan-jangan semua orang gila di RSJ sebenarnya adalah superhero dan kita semua bersalah udah menahan mereka

 

 

Meskipun film ini meninggalkan kesan yang kurang nendang dan praktisnya di bawah harapan banyak orang, bukan berarti tidak ada yang bisa kita nikmati selama durasi dua jam lebih tersebut. Malahan, film ini buatku loveable banget. Teknisnya memang tingkat super semua. Perspektif kita didesak oleh kamera yang seringkali mengambil posisi orang-pertama. Ini tidak akan menjadi masalah terutama jika yang kita lihat adalah Kevin alias The Horde. Melihat James McAvoy berganti peran dalam hitungan jentikan jari (atau dalam film ini literally on a flip of the switch) sudah merupakan anugerah tersendiri, yang membayar lunas tiket bioskop kita. Pindah-pindah persona dan gaya bicara seperti itu tampak sangat mudah dilakukan olehnya. Hubungan yang terjalin antara Kevin dengan Casey tampak manis sekaligus devastatingBruce Willis dan Samuel L. Jackson juga menyuguhkan permainan yang sama solidnya, meskipun peran mereka enggak begitu banyak bercakap. Aku suka gimana Shyamalan memberikan treatment warna kepada setiap kemunculan tiga tokoh ini. Dunn hampir selalu disertai dengan warna hijau yang melambangkan kehidupan yang dilindungi olehnya. Kevin dengan warna kuning dan pala botak membuatnya tampak seperti pendeta, yang kultus oleh agenda penyelamat versinya sendiri. Glass dengan warna ungu sebagai simbol yang diagungkan, royalti, karena dia percaya dialah ‘tuhan’ – pencipta dari superhero. “Bukan limited edition. Aku menulis origin story,” akunya dengan bangga. Dalam adegan interogasi, Shyamalan mendudukkan tiga tokoh ini di dalam ruangan pink untuk menunjukkan kepada kita kepercayaan mereka mulai memudar. Keraguan apakah mereka superhero atau cuma orang sakit mulai membesar.

Kebiasaannya membuat cerita twist menjadikan Shyamalan begitu peka terhadap detil-detil. Dengan cermat ia melandaskan banyak hal, menyisipkan informasi demi informasi. Membuat adegan flashback menjadi menyenangkan dengan perlakuan khusus yang begitu diperhatikan olehnya. Maka dari itu, aku jadi sedikit geram ketika ada beberapa aspek dalam cerita yang ‘luput’ olehnya; yang harusnya bisa dieksekusi dengan lebih masuk akal dan gak konyol. Seperti lampu-lampu di kamar Kevin; dia dijaga oleh lampu sorot yang dipasang di dekat pintu masuk supaya ketika ada apa-apa – Kevin memunculkan The Beast atau identitas lain yang berbahaya untuk melarikan diri – lampu otomatis menyala, menyilaukan mata, dan memaksa identitas berbahaya itu kembali masuk dan bertukar dengan identitas lain yang lebih ramah. Tentu, aspek ini memberikan kita momen-momen menakjubkan dari akting McAvoy, namun juga benar-benar bego. Kevin bisa dengan gampang meloloskan diri; dia cukup menutup mata, atau menyarungkan matanya ke pakaian atau sarung bantal ala film Bird Box (2018). Kenapa tidak sekalian aja mereka membuat semua ruangan berisi lampu seperti ruangan Dunn yang penuh oleh keran air.

Sama seperti Avengers: Infinity War (2018), Glass adalah cerita dengan banyak tokoh yang membuat kita bingung siapa tokoh utamanya. Dan sama mengejutkan seperti Infinity War yang ternyata adalah tentang kebenaran versi Thanos, film ini memang dibuat sebagai episode untuk Mr. Glass. Hanya saja tidak gampang membuat cerita di mana penjahatnya memegang kendali, terutama jika kau berniat untuk punya twist dalam ceritamu. Inilah sebabnya kenapa Dunn diberikan porsi yang sedikit, dia bahkan gak punya arc. Kevin Wendell Crumb terlihat lebih cocok sebagai tokoh utama – ia dimunculkan duluan, dia punya arc, porsinya lebih banyak – tapi dia pun tidak melakukan pilihan yang relevan dengan tema cerita. Semua penjahat butuh superhero, semua hal dalam film ini dilakukan oleh Mr. Glass. Twist sebenarnya dalam film ini adalah di mana tepatnya posisi Mr. Glass. Apa dia penjahat atau superhero. Dia protagonis atau antagonis. Dan cerita yang seperti ini hanya berani dilakukan oleh sutradara seperti Shyamalan yang enggak pernah betul-betul peduli terhadap angka box office.

 

 

 

 

Film ini adalah suplemen yang bergizi untuk penggemar komik superhero, terutama di masa-masa di mana cerita fantasi tentang pahlawan dan penjahat berlomba-lomba menghadirkan sudut pandang yang baru. Buat penggemar film pun ada begitu banyak yang bisa bikin jatuh hati dalam film ini. Sinematografi, akting, tema, treatment, film ini benar dibuat oleh orang yang punya visi. Meskipun visi itu kadang membuat kita kecele. Tak kalah banyaknya hal yang mestinya bisa dirapihkan oleh film ini, tapi film masih bekerja di dalam konteksnya. Twistnya – yang kurang nendang – tetap sebuah kelokan yang logis dan solid. Kita boleh jadi sedikit kecewa karena menunggu lama, tapi kita tidak perlu punya kekuatan super melenturkan tubuh, enggak perlu sebegitu long reachnya, untuk memaksa diri menyukai film ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for GLASS.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Komik adalah media cerita yang paling sering diremehkan. Apa pendapat kalian tentang komik, dan cerita superhero secara universal?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

KELUARGA CEMARA Review

“Having family responsibilities and concerns just has to make you a more understanding person.”

 

 

Keluarga Cemara, sebagian orang mengingatnya sebagai sinetron yang menghangatkan ruang keluarga di masa kecil. Sebagian lagi mungkin mengingatnya sebagai cerita serial tentang kejujuran buah tangan dari Arswendo Atmowiloto. Sebagian yang lebih muda akan mengenalinya dari lagu “Selamat pagi Emak, selamat pagi Abah, mentari hari ini berseri indah” dan guyonan “Harta yang paling berharga”. Visinema Pictures, lewat film adaptasinya ini, mengakurkan semua orang – membuat kita semua sepakat untuk mengingat Keluarga Cemara sebagai salah satu film keluarga paling manis – paling sederhana yang bisa kita dapatkan di masa sekarang – yang mengajarkan tentang kejujuran dan rasa bersyukur. And also ada JKT48 di dalamnya, wotaaaa!!

Dalam Keluarga Cemara versi ini, Abah adalah Ringgo Agus Rahman (jangan biarkan tampang kocaknya mengelabui urat hati dan nadi air matamu) yang terpaksa harus memberikan kabar buruk kepada keluarga kecilnya; mereka jatuh miskin. Bisnis mereka hancur akibat ulah sanak famili sendiri, mengharuskan Abah dan keluarga mengungsi selamanya ke rumah warisan di desa Jawa Barat. Emak yang setia (di balik ketabahan tokohnya, mata Nirina Zubir seolah menembus perasaan kita semua) jadi musti berjualan opak. Kepindahan ini, paling berat adalah terasa bagi Euis (detach-nya ZaraJKT48 jadi pas banget ama karakter tokohnya, dan dia gak punya masalah segera menyambung dengan emosi yang tepat) yang harus berpisah dengan Jakarta dan kelompok modern dance, in which she very skilled at. Kepindahan dan kondisi keluarga mereka pun dengan segera mempengaruhi Ara (so adorable, Widuri Puteri tampaknya digebleng langsung oleh sang ayah Dwi ‘Mas Adi’ Sasono), si bungsu yang tadinya bahkan belum mengerti apa itu bangkrut dan kenapa emaknya menangis saat mengandung dedek bayi.

Jika keluarga A Quiet Place yang dirundung monster aja bisa punya bayi, kenapa kita tidak bisa? horee!!

 

Aku tadinya sudah hampir-hampir yakin bakal disuguhi drama keluarga tearjerker yang menguangkan kesedihan dari segala trope-trope orang kaya yang mendadak hidup dalam kemiskinan. Tapi enggak. Sutradara Yandi Laurens mengarahkan film panjang debutnya ini menjauh dari cara-cara yang gampang. Skenario pun dengan bijaksana memfokuskan konflik bukan pada uang. Kita tidak diminta mengasihani karena mereka gak punya uang. Kita tidak ditagih air mata demi melihat mereka kesusahan hidup di tempat seadanya. Melainkan, konflik dipusatkan kepada suatu hal yang menurut setiap orang, terutama cowok, adalah kepunyaannya sejak lahir yang paling berharga. Harga diri.

Adalah Abah tokoh utama dalam cerita ini, bukan Ara meskipun judul merujuk kepada namanya. Karena keluarga Ara sama seperti pohon cemara. Punya satu batang yang besar sebagai poros, yang dikelilingi cabang-cabang yang tumbuh dengan rapat. Abah, sebagai satu-satunya pria di sana, adalah batang tersebut, poros yang membuat pohonnya berdiri kokoh. Atau paling tidak, begitulah Abah memposisikan dirinya yang kepala keluarga. Dia bekerja sekeras tenaga dan sejujur yang moralnya bisa. Kita melihat Abah mati-matian mencari kerja, dia melakukan apa saja, tapi baginya itu semata bukan soal duit untuk menghidupi keluarganya. Saat menonton ini aku memang merasa agak aneh; alih-alih berprogres dari mencoba usaha paling gampang ke yang paling susah, Abah bersusah payah menjadi kuli dahulu baru kemudian menjadi ojek online. Kenapa film masih berjalan jika jawabannya sudah ditemukan? Ternyata, memang bukan itu pertanyaannya. Ini bukan soal apa yang Abah lakukan untuk mencari uang. Ini soal apa yang ia lakukan sebagai pengukuhan dia adalah kepala keluarga.

Bukan kaki Abah yang patah, melainkan kebanggaannya. Untuk sebuah cerita tentang kejujuran dan rasa bersyukur, film memainkan janji dan kekecewaan sebagai konflik utamanya. Adalah janji-janji yang tak ia penuhi yang menyebabkan Abah berada di titik rendah yang sekarang. Baginya, adalah mutlak salah dirinya maka mereka jadi bangkrut. Ada adegan yang sangat emosional antara Abah dengan Euis yang membahas soal ini, Euis mengucapkan sesuatu yang telak mengkonfirmasi ketakutan Abah mengenai apa yang ia perbuat kepada keluarganya. Makanya setelah itu kita melihat Abah menjadi galak, dia menjadi ‘tegas’ terutama kepada Euis. Dia merasa tak-berdaya sebagai seorang laki-laki, dia merasa powerless melihat istrinya yang mengandung namun masih berjualan opak. Perjuangan Abah adalah perjuangan menegakkan kembali kehormatannya. Adegan Abah meledak penuh emosi menjelang babak ketiga merupakan teriakan dari sisa-sisa kebanggaan yang masih ia miliki. Dia berusaha keras memenuhi janji, tapi Abah sepertinya selalu salah dalam memilih keputusan untuk keluarganya. Yang Abah tak sadari hingga momen realisasi adalah selama ini dia melakukannya hanya untuk merestorasi perannya sebagai ayah.

Setiap manusia bertanggung jawab atas tindakan yang diambilnya. Ketika engkau adalah pemimpin, you would take responsibility in the name of your family. Tapi yang harus diingat adalah kebahagiaan keluarga seharusnya menjadi prioritas utama. Dan itu tidak bisa dicapai dengan mendahulukan ego tanpa mempertimbangkan anggota yang lain. Sebab mereka juga punya tanggungjawab, punya peran, yang tidak bisa kita kecilkan. Bertanggungjawab kepada keluarga mestinya membuat kita lebih pengertian.

 

Hubungan Abah dengan Euis menjadi sajian utama yang mewarnai cerita. Euislah yang paling sering dikecewakan oleh janji-janji Abah. Dan nantinya Euis akan balik merasakan seperti apa rasanya disebut mengecewakan orang lain. Abah dan Euis memenuhi konteks yang diusung. Jika Abah butuh untuk belajar melihat bukan dirinya sendiri yang bertanggung jawab terhadap keluarga, maka Euis akan belajar keluarga mana yang harusnya ia berikan janji-janji. Dibandingkan dengan konflik Abah dengan Euis, anggota keluarga yang lain memang jadinya terasa seperti pelengkap kayak ranting-ranting pohon cemara. Namun toh keberadaannya cukup penting, sehingga jika tidak ada ‘ranting-ranting’ tersebut, cemara yakni film ini tidak akan menjadi seindah yang kita saksikan.

sekuelnya, kalo ada, musti lebih banyak tentang Ara nih kayaknya

 

Film berhasil membaurkan drama dengan komedi dengan mulus. Setiap potongan kecil adegan menjadi sama berkesannya dengan momen-momen besar. Film penuh dengan adegan-adegan yang menimbulkan bekas, entah itu karena menyentuh maupun karena lucu. Film melakukan kerja yang baik dalam membangun dunia di sekitar keluarga Cemara. Ada banyak kameo; tokoh-tokoh yang diperankan oleh nama populer meski hanya muncul sekali dua kali. Aku pribadi agak mixed soal ini. Hukum Karakter Ekonomi-nya kritikus Roger Ebert jelas tidak bisa diterapkan buat film kayak Keluarga Cemara ini, karena akan membingungkan kita. Maksudku, mereka semua terlihat ‘penting’, tetapi ternyata enggak. Saking banyaknya peran yang satu-dimensi dan weightless di sini, sehingga membuat rintangan-rintangan yang dihadapi Abah dan keluarga menjadi seperti terselesaikan dengan sendirinya. Menjelang akhir, begitu kita paham ini bukan soal uang – kita sudah mengerti konteks sebenarnya, film tidak lagi terasa punya ‘ancaman’ apa-apa. Ataupun ada sudut pandang baru. Tapi penceritaannya, penampilan pemainnya, tidak pernah membuat film menjadi membosankan.

 

 

 

Kita semua tahu semua kejadian dalam film ini dibangun dengan nyanyian “Harta yang paling berharga adalah keluarga” sebagai puncaknya. Kita semua sudah bisa ekspek film ini akan sedih. Nothing surprised us, tapi tetap saja kita dengan sukses dibuat menitikkan air mata. Lantaran semuanya dilakukan dengan sangat manis, dan enggak total dibuat-buat. Membuatnya jadi begitu gampang dicinta, begitu menyentuh, dan mampu mendekatkan keluarga-keluarga yang sedang menyaksikannya. Semuanya terlihat hangat, jujur, indah. Meskipun membahas persoalan yang ‘matang’, tetapi film masih memberikan ruang diskusi kepada anak-anak dan orangtua mereka. Satu lagi yang agak mengganjal buatku adalah masalah bingkai waktu cerita, namun kupikir ini adalah resiko yang film pilih menimbang mereka perlu untuk menampilkan semua tokoh-tokoh yang sudah dikenal ini secara utuh. Jika film ini diniatkan sebagai prekuel dari reboot yang dimodernkan, maka ia sudah melakukan kerja yang sangat gemilang.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for KELUARGA CEMARA.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Abah berusaha hidup jujur dan memegang janji-janjinya. Bisa gak sih kita bahagia hanya dengan kejujuran? Masih ada gak sih orang yang hidup dari kejujuran?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

 

BAD TIMES AT THE EL ROYALE Review

“Do the crime, do the time.”

 

 

 

Masa-masa sulit sesungguhnya tidak akan berlangsung selamanya. Bahkan kata Pak Ustadz di mesjid, orang-orang yang disiksa di neraka pun pada akhirnya akan masuk ke surga. Setelah semua dosa-dosa mereka tertebus. Tapi itupun jika masih ada iman di hatinya. Aku bukannya mau ceramah agama, melainkan poinku adalah akan selalu ada harapan untuk mengubah masa sulit menjadi masa yang senang jika seorang percaya hal baik dan mau mengusahakannya. Setiap perbuatan pasti ada balasannya.

Hotel El Royale dalam film Bad Times at the El Royale adalah metafora yang tepat untuk surga dan neraka. Berada tepat di garis perbatasan negara bagian California dan Nevada; kita bisa melihat hotel ini literally terbagi dua tepat di tengah oleh garis pembatas sehingga para pengunjung bisa memilih mau ditempatkan di kamar wilayah Nevada atau di kamar pada wilayah California yang harga sewanya satu dolar lebih mahal. Para tamu, sepanjang yang kita lihat dalam film ini, lebih memilih untuk menyewa kamar di bagian Nevada. Dan sesegera mungkin setelah mereka masuk kamar masing-masing, kita bisa melihat kelakuan ‘jahat’ mereka yang membuat mereka cocok – mungkin memilih dari alam bawah sadar – untuk ditempatkan di kelas ‘neraka’.

adegan favoritku adalah ketika salah satu tamu berjalan di garis pembatas seolah sedang menyebrangi jembatan Shiratal Mustaqim

 

 

Premis dasar cerita ini sebenarnya tak kalah simpel dari kisah-kisah drama kriminal yang paling biasa. Beberapa orang yang saling tidak kenal, yang tadinya ngerjain urusan kotornya sendiri-sendiri, jadi saling bentrok – dengan uang dan rahasia gelap hotel menjadi perekatnya. Mengambil latar waktu 60an, kisah film ini eksis pada masa kaum hippie lagi ngetren dan perang Vietnam baru usai berkobar. Waktu yang menjadi identitas sehingga film punya keterkaitan dengan peristiwa di dunia nyata. Namun film membiarkan segala konteks sosial bergerak dalam imajinasi kita. Ia malah bercerita dengan nada penuh misteri. Malahan ada satu benda, gulungan film yang katanya berisi skandal, yang tidak pernah diperlihatkan kepada penonton selain melalui komentar-komentar tokohnya. Penggunaan gaya ala Quentin Tarantino tidak berhenti sampai di sana. Film juga membagi sudut pandang para tokoh ke dalam beberapa chapter – sutradara dan penulis Drew Goddard menggunakan nama tempat seperti Kamar Empat, Kamar Tujuh, Maintenance Closet, dan interestingly enough satu nama tokoh karena kisahnya ada di dalam kepala tokoh tersebut – untuk mengenalkan backstory dan motivasi mereka. Kita akan sering balik mundur kembali untuk meninjau suatu peristiwa dari sudut pandang tokoh yang berbeda. Untuk kemudian semua benang itu akan terikat ketika semua pemain sudah berkumpul, saling menunjukkan ‘kartu’ dan rahasia masing-masing.

Dalam bercerita, film memang tampil terlalu genre-ish. Ada polisi, ada cult leader sinting, ada pastor, ada wanita kulit hitam yang gak setidakberdaya kelihatannya. Gaya film ini toh memang mampu membuat kita bertahan keasyikan mengarungi dua jam setengah malam berhujan badai. Dengan bijaknya, semua aspek dalam film ini ditahan untuk tidak terlalu over-the-top. Sehingga kita masih bisa menyimak underlying message tentang keyakinan dan penebusan dosa yang disusupkan sebagai tema.

Segala perbuatan yang kita kerjakan, akan mendapat balasannya. Kadang memang secara tidak langsung. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh film ini, hidup akan selalu menemukan cara menagih kita. Tindak kriminal akan mendapat hukuman. Rasa penyesalan akan meringankan hukuman tersebut, paling tidak mengurangi beban di hati. Adalah terserah kita untuk memanfaatkan kesempatan menebus dosa-dosa selagi kita masih di dunia.

 

Hal menarik yang diajukan oleh film ini, berkaitan dengan konteks dan tema yang diusungnya, adalah para tokoh yang merepresentasikan Tujuh Dosa Pokok manusia. Melihat siapa yang akhirnya selamat, memberikan harapan bahwa pengampunan itu masih ada bagi siapapun yang mau mengubah dirinya. Dan perubahan itu enggak gampang. Butuh pengorbanan yang besar. Untuk tidak lagi bersikap mementingkan diri sendiri. Tamu-tamu hotel ini tadinya datang sendiri-sendiri; mereka ingin memuaskan keinginan sendiri. Meruntuhkan ego ditampilkan oleh film ini sebagai jalan keluar dalam bentuk bekerja sama – feminis akan melihat pesannya sebagai kesetaraan peran wanita dan pria – sebab Tujuh Dosa itu pada dasarnya berakar kepada nafsu ke-selfish-an manusia.

Ada tujuh tokoh, tujuh sudut pandang yang jadi kunci perputaran cerita. Setelah paragraf ini akan sarat oleh spoiler karena aku ingin memaparkan siapa dan dosa masing-masing tokoh dan bagaimana mereka gagal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pada halaman trivia film ini di situs IMDB sebenarnya sudah ada yang menuliskan teori Seven Sins seperti ini, tetapi aku punya pandangan yang berbeda. Yang udah nonton sih, silahkan baca dan mungkin bisa membandingkan dengan teori kalian sendiri;


Pertama ada Billy Lee. Tokoh ini muncul paling belakangan – dia udah kayak ‘bos gede’ yang harus dikalahkan. Berkeliaran bertelanjang dada membunuhi orang-orang bersama pengikut setianya. Dia pemimpin kultus yang enggak percaya pada Tuhan. Dan inilah yang membuatnya melambangkan dosa Pride (Kebanggaan). Ia merasa yang paling hebat. Hidupnya berakhir setelah ia meremehkan salah satu tokoh.

Tokoh itu adalah Miles, pemuda yang jadi resepsionis, bartender, dan segala macam yang menyangkut urusan hotel. El Royale sendiri adalah hotel yang punya kedok, mereka melakukan bisnis-tak-tersebut di sini. Miles lah yang disuruh untuk melihat, merekam, dan melaporkan semua kriminal yang terjadi dari balik kaca dua-arah pada setiap kamar. Miles juga adalah seorang mantan tentara yang sudah membunuh banyak orang dan dia menyesali perbuatannya. Sebesar dia menyesali kerjaannya di hotel. Tapi Miles tidak berani berbuat apa-apa. Miles melambangkan dosa Sloth (Kemalasan). Eventually, Miles adalah salah satu tokoh yang berakhir ‘happy’ karena dia berhasil menebus dosanya dengan mengambil aksi. Plot Miles adalah yang paling emosional di antara tokoh yang lain. Film menggambarkan momen terakhir Miles bersama dua tokoh lain dengan sangat menawan.

Wrath (Kemarahan) dilambangkan oleh tokoh polisi bernama Dwight Broadbeck yang menyamar menjadi tukang sales penyedot debu. Ditugaskan menyelidiki apa yang terjadi di balik bisnis perhotelan, Dwight melanggar perintah dengan gegabah ikut campur menangani kasus-kasus yang tak-sengaja ia intip di El Royale. Dwight mendapat ganjaran atas perbuatannya tersebut.

Di kamar Nevada paling ujung ada Emily Summerspring, cewek yang dipergoki oleh Dwight menyelundupkan seorang cewek lain. Mengikatnya di kursi. Dwight menyangka Emily akan membunuh cewek tersebut. Tetapi ternyata masalah Emily adalah Envy (Kecemburuan), tokoh ini sebenarnya paling sedikit mendapat eksplorasi, walaupun dia termasuk yang paling banyak beraksi. Backstory sekilasnya memperlihatkan dia kemungkinan adalah korban kekerasan seksual sewaktu kecil, membuat dia menjadi begitu dekat dengan adiknya. Hingga sang adik memutuskan untuk ikut cult yang diketuai oleh Lee.

Adiknya lah, si Rose Summerspring, tamu-tak-terdaftar yang diikat oleh Emily di kursi. Ini adalah tokoh yang paling aneh. Ada satu adegan dia menyusun kursi dan meloncat untuk bergelantungan di lampu hias lobby hotel. Dia juga diimplikasikan gak segan untuk melakukan kekerasan kepada orang lain. Dia digambarkan rela berkelahi supaya bisa tidur bareng Lee, yang tampak sangat ia sukai. Mengukuhkan perlambangan dosa Lust (Hawa nafsu).

Dua tokoh terakhir, yang sebenarnya adalah dua tokoh utama – Flynn, seorang perampok bank yang menyamar menjadi pastor dan Darlene Sweet, penyanyi latar yang ingin karirnya berkembang – punya dosa yang tampak setali tiga uang. Yang satu melambangkan Greed (Ketamakan); karena mencuri dan begitu ingin memiliki semua hingga literally lupa diri dan satunya lagi Gluttony (Kerakusan) yang begitu mengejar keinginan menjadi terkenal. Dua tokoh ini pada akhirnya berhasil selamat setelah menunjukkan arc dan transformasi yang benar-benar bikin kita terpana.


abs Chris Hemsworth mengalihkan dunia para wanita

 

 

Mengikat banyak plot dengan satu tema yang kuat, sebenarnya tidak banyak ruang gerak dalam naskah film ini. Jadi ia tahu, ia harus punya gaya. Meskipun berceritanya mungkin tidak benar-benar adalah gaya yang inovatif, film masih punya satu lapisan lagi untuk membuatnya tampil beda; penampilan akting para pemain. Jeff Bridges, Chris Hemsworth, Lewis Pullman, Cynthia Erivo (yang beneran nyanyi), semuanya bermain prima. Mataku terutama pada Cailee Spaeny sejak dia di Pacific Rim: Uprising (2018) dan kembali dia mencuri perhatian di sini. Ensemble cast di film ini bermain dalam level yang tepat, mereka tidak terlalu lebay, melainkan masih tetap menghibur dan enggak satu-dimensi – mereka masih mampu untuk menghadirkan emosi. Dari yang tadinya sendirian memegang rahasia, terhadir hubungan menarik dan really grounded antara para tokoh, seperti pastor dengan si bellboy. Memang, masih banyak yang bisa diperbaiki, tetapi film ini tahu apa yang ia incar. Mengatakannya style-over-substance sungguh terlalu terburu nafsu. Dan menurut film ini, terburu nafsu tidak akan mendatangkan masa-masa baik bagimu.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for BAD TIMES AT THE EL ROYALE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana menurut kalian tentang Tujuh Dosa manusia? Dosa mana yang kira-kira lebih mudah untuk dimaafkan? Setuju gak kalo Pride adalah dosa yang paling ‘bos’ dari semua?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

ONE CUT OF THE DEAD Review

“The critic has to educate the public; The artist has to educate the critic.”

 

 

 

Tidak terima filmnya ‘dinilai’ dengan semena-mena, Lukman Sardi pernah sempat ‘ribut’ dengan netijen yang mengaku sudah menonton. “Woiiii pada2.. bikin film itu nggak segampang lo pada pikir… lo tau nggak proses shooting kayak apa? Lo tau nggak proses setelah shooting juga kayak apa?” begitu bunyi pertahanan yang ia amukkan di instastory, Agustus 2018 yang lalu. Film One Cut of the Dead benar-benar seperti gambaran dramatis, dan lucunya jadi sangat menghibur, dari pernyataan – jerit hati – seorang pembuat atau praktisi film seperti Lukman Sardi.

Ketika sudah terbiasa melihat film secara kritis, menonton tiga-puluh-tujuh menit pertama garapan sutradara Shinichiro Ueda ini bakal bikin kita geram. Begitu banyak ketidakkompetenan. Terlihat terlalu ‘murahan’. Perspektif kameranya juga membingungkan, mereka seperti meniatkan kita melihat dari kamera kru, tapi sebagian besar adegannya kamera lebih terasa seperti ‘mata Tuhan’ (zombie sama sekali tidak mengejar kameramen), dan semakin bingung saat sutradara bicara langsung ke kamera. Satu-satunya hook yang membuat kita tetap duduk di sana adalah teknik shot panjang, tak terputus, yang mereka gunakan. Menakjubkan dan mengundang penasaran, apa yang mereka lakukan dalam merekam film. Sementara itu, cerita yang kita lihat tampak seperti tentang seorang aktris yang mengalami kesulitan mendalami karakter dalam proses syuting film zombie. Kemudian, selagi mereka break syuting, duduk-duduk ngobrol membahas keangkeran lokasi, salah satu kru menjadi zombie beneran. Suasana menjadi kacau, mereka kocar-kacir pengen nyelametin diri. Namun sang sutradara tak peduli, dia tetap menyuruh pemain dan kru untuk terus merekam. Sampai di sini kita tidak tahu motif tokoh utamanya, apa paralelnya dengan cerita.

Tapi tentu saja ada desain dari kegilaan semacam ini. One Cut of the Dead adalah jenis film yang akan semakin berkali lipat bagusnya jika ditonton dengan memahami terlebih dahulu, mengetahui terlebih dahulu, konsep yang film ini gunakan. Karena film ini memakai struktur bercerita yang sama sekali berbeda. Meminta kita untuk bertahan, mungkin menggigit bibir sampe berdarah untuk enggak keceplosan menghina, dan semua itu akan terbayar tuntas ketika kita sampai di bagian akhir. Apa yang terjadi di bagian akhir akan membuat kita memandang keseluruhan film dalam cahaya yang berbeda. Tokoh utama yang di film awal tadi bukan tokoh utama cerita film ini sebenarnya. Technically, ini bahkan bukan cerita tentang invasi zombie! Bagian zombie-zombie yang kita saksikan dengan menyipitkan mata merendahkan di awal itu actually adalah presentasi film yang dibuat oleh tokoh film ini. Dan jika ingin bicara secara teori skenario, film ini sendiri barulah dimulai setelah kredit film di awal tadi bergulir. Dalam sense waktu, kita bisa menyebut film ini sebenarnya baru dimulai pada menit ke-empat puluh, atau sekitar babak kedua pada film-film normal yang kita tonton.

mendeskripsikan film ini; seperti menonton The Room nya Tommy Wiseau dan The Disaster Artist (2017) dalam sekali duduk sebagai satu film yang utuh

 

 

One Cut of the Dead menjadi pintar dan berfungsi efektif berkat pilihan struktur bercerita yang mereka gunakan. Mereka sebenarnya bisa saja memulai cerita dengan adegan yang menjelaskan pemutaran film di dalam film, menuturkan siapa tokoh utama yang jadi fokus cerita, tapi jadinya enggak bakalan seseru yang kita lihat. Karena, seperti yang bakal kita pelajari di pertengahan film, acara yang mereka syut actually adalah acara langsung. Aspek live-show inilah yang dijadikan stake/taruhan; sesuatu yang membuat proses syuting mereka harus berhasil no-matter-what. Lalu unbroken shot yang dilakukan itu bertindak sebagai tantangan yang harus dihadapi. Aku percaya deh, take panjang tanpa cut itu beneran susah untuk dilakukan; untuk film pendek keduaku yang cuma lima menitan, aku tadinya pengen shot yang tanpa cut, dan itu aja udah melelahkan sekali untuk pemain dan kru lantaran setiap ada yang salah mereka harus mengulang sedari awal. Setnya harus dibenerin ulang. Make up kudu dipasang lagi. Apa yang dicapai oleh film ini, mereka ngerekam adegan enggak pake cut selama tiga puluh menit – aku bisa bilang, sebuah kerja sama dan perjuangan yang keras.

Membuat penonton mengetahui stake dan tantangan belakangan memperkuat esensi drama dan komedi yang ingin dihadirkan. Lantaran kita sudah terbiasa ngejudge dulu baru mau mencoba untuk mengerti. Ketinggian emosional inilah yang sepertinya ingin dicapai oleh film sehingga kita diperlihatkan dulu ‘kegagalan’ mereka. Dan setelah itu, dengan kita mengerti rintangan dan apa yang sebenarnya terjadi, ‘kegagalan’ tadi berubah menjadi ‘keberhasilan yang menggetarkan hati’ di mata kita.

Namun apakah semua film harus dilihat seperti begini? Apakah kita akan memaafkan semua film jika semua film dikerjakan susah payah seperti film pada film ini? Benarkah seperti yang dikatakan oleh Lukman Sardi, penonton harus mengerti dulu seluk beluk pembuatan sebuah film sebelum berkomentar?

 

Menonton film ini, bagiku, benar-benar membantu mengingatkan kembali bahwa apa sebenarnya yang disebut dengan film; Sebagai sebuah kerja tim. One Cut of the Dead bisa saja dibuat sebagai surat cinta kepada para pembuat film, untuk menyampaikan pesan yang memberikan semangat di tengah-tengah perjuangan keras mewujudkan suatu karya yang bakal ditonton oleh banyak orang. Mengutip perkataan dari seorang mendiang pegulat dan promotor, Dusty Rhodes, bahwa jika 70% saja show yang kita kerjakan berjalan sama dengan yang tertuai di atas kertas (naskah), maka itu udah termasuk sukses berat. Karena memang pada kenyataannya, apa yang kita lakukan tidak akan berjalan mulus sesuai rencana. Terlebih dalam sebuah proyek yang melibatkan banyak orang seperti film ataupun acara pertunjukan dalam bisnis hiburan. Kadang pembuat film perlu melalukan penyesuaian besar-besaran. Penulisan ulang. Setiap kru harus sigap dan mampu beradaptasi dengan perubahan dadakan tersebut. Dalam film ini kita akan melihat ketika macet, kondisi kesehatan, dan attitude dari aktor dijadikan faktor luar yang mengguncang ‘zona nyaman’ yakni jadwal dan visi dari sutradara.

Menurutku, film ini penting untuk ditonton banyak orang, terutama oleh para pengulas dan kritikus film. Supaya kita bisa mengetahui apa yang terjadi di balik layar. Tentu, sebagai penonton kita toh tidak perlu tahu susah-senang para kru film, karena bukan kerjaan penonton untuk mengetahui hal tersebut. Kita enggak bayar tiket mahal-mahal untuk melihat itu. Kita tidak perlu tahu dulu cara membuat film untuk dibolehin mengkritik film. Tapi kita, paling tidak, perlu untuk mengetahui apa yang sedang kita bicarakan, kita perlu mengintip sedikit jerih payah yang mereka lakukan. Bukan untuk membela dan mengasihani, melainkan supaya kita bisa menghimpun sesuatu yang lebih adil dalam mengkritik.

Lebih sering daripada enggak, sebenarnya kita hanya senang mengolok-olok film. Kadang kita bersembunyi di balik istilah ‘kritik-yang-membangun’ padahal yang sebenarnya kita lakukan hanyalah nge-bully sebuah film. Tidak ada yang namanya “kritik yang membangun.” Sebab, kritik dari asal katanya sendiri berarti suatu tindakan yang mengulas. Melibatkan memilah dan memilih. Jika film adalah komunikasi antara pembuat dengan penonton, maka kritik seharusnya adalah sesuatu yang menjembatani – yang memperkuat arus komunikasi di antara kedua pihak tersebut. Kritik haruslah netral, dalam artian ketika kita menulis keburukan maka kita kudu menyeimbangkannya dengan kebaikan, pesan, atau hal-hal yang sekiranya membuat orang masih tertarik untuk menontonnya.

Ngata-ngatain sebuah film “jelek”; itu baru sekadar ngebully bareng-bareng.

Mengatakan sebuah film “jelek”, seharusnya “begini”; itu saran yang membangun, tapi belum cukup untuk dikatakan kritik.

Menyebut kekurangan film, kemudian berusaha menggali alasan – dengan melihat konteks – kenapa film melakukan hal tersebut alih-alih melakukan hal yang “benar”; itulah yang harusnya terkandung di dalam tulisan-tulisan yang melabeli diri sebagai sebuah kritik film.

 

tapinya lagi, benar relevan gak sih keadaan yang dicerminkan film ini dengan pembuatan film di Indonesia, mengingat orang Jepang itu kan disiplin semua?

 

 

Tiga babak pada film ini bukanlah pengenalan, konflik, dan penyelesaian. Melainkan hasil, barulah kembali ke pengenalan dan konflik. Cara bertutur yang memang memancing drama, tapi tidak serta merta meminta dikasihani. Karena disuarakan dengan nada komedi yang tinggi. Film juga menyinggung soal kemungkinan paradoks yang terjadi kepada para pembuat film yang ingin menunjukkan kemampuan sekaligus juga dituntut berdedikasi dalam sebuah proyek yang mungkin enggak sesuai dengan mereka sendiri, tetapi tetap harus diambil karena semuanya dianggap sebagai tantangan. Menakjubkan apa yang dicapai oleh film yang sebenarnya simpel dan mengambil resiko besar ini. Actually, buatku ini adalah salah satu film yang paling susah untuk ditentuin rating angkanya, karena dia bagus dari pencapaian. Tapinya juga adalah film yang ‘jelek’; bukan dalam sense kita harus membencinya, melainkan bagaimana dia dibangun. Film ini baru akan bagus sekali, ratingnya bisa nyaris lipat ganda, jika ditonton untuk kedua kali, saat kita sudah tahu konsep yang mereka gunakan sehingga tidak lagi melihatnya sebagai film sebagaimana mestinya. Dan di situlah kekuatan film ini; tidak akan membosankan jika ditonton dua kali. Namun, sebagai first-viewing tanpa mengetahui apa-apa tentangnya;
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for ONE CUT OF THE DEAD.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian, seperti apa sih kritik film yang bagus? Seberapa besar kritik film berpengaruh buat kalian? Apakah kalian merasa perlu untuk mengetahui latar belakang film sebelum menonton filmnya?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

MILLY & MAMET Review

“You just can’t make everyone happy”

 

 

Dalam sebuah adegan manis yang berhubungan dengan brownis coklat, kita akhirnya mengetahui gimana ceritanya si cupu Mamet bisa sampe jadian ama – bahkan memperistri – cewek terkocak di geng AADC, Milly.

Prolog film ini bukan saja dengan tepat mengisi babak kosong antara film AADC Pertama dengan Kedua sehingga penasaran kita terjawab, melainkan juga dengan lancar menyambungkan rasa – mengikat nyawa. Seolah tiga film ini memang dibuat sebagai kesatuan oleh orang yang sama. Mira Lesmana enggak salah pilih mempercayakan semesta Cinta untuk dikembangkan cabangnya kepada Ernest Prakasa. Di bawah helm kreatif Ernest (dalam film ini tokoh yang diperankan oleh Ernest literally pake topi yang bertulisan slogan-slogan lucu yang kreatif), Milly & Mamet menjelma menjadi cerita komedi drama mengenai persoalan yang dihadapi oleh orangtua muda. Untuk seterusnya setelah kredit pembuka bergulir kita akan melihat masalah seputar pekerjaan dan gaya hidup yang dialami oleh Milly dan Mamet; seorang suami yang ingin membahagiakan istri dan anaknya dan seorang istri yang berusaha menjaga suami dan anaknya, sembari terus berjuang untuk tidak melupakan kebutuhan dirinya sendiri. Kita akan melihat bagaimana Mamet seharusnya menyadari bahwa dirinya bukan coklat; dia tidak akan bisa; dia harus berhenti untuk berusaha membuat senang semua orang.

Mamet mamen

 

 

Secara mengejutkan, film memang bakal banyak bicara tentang makanan. Porsi dan peran makanan di film ini malah cukup besar untuk kita menjadi sah-sah saja menyebutnya sebagai pesaing Aruna & Lidahnya (2018) dalam kontes film masak-memasak. Makanan yang mempertemukan, yang menjadi bagian dari konflik, dan eventually menjadi solusi. Mamet, setelah lulus SMA, punya mimpi untuk membuka restoran sendiri. Dia menjadi begitu ‘perhatian’ terhadap dunia kuliner setelah sempat bereksperimen mencari resep brownis yang enggak menyebabkan diabetes untuk mendiang ayahnya. Tapi untuk separuh pertama, kita akan jarang melihat Mamet memasak lantaran dia bekerja di perusahaan konveksi milik ayah Milly. Persimpangan bagi Mamet kemudian muncul dalam bentuk tawaran mendirikan restoran sehat, di mana Mamet ditampuk untuk menjadi kepala chefnya. Alexandra, diperankan oleh Julie Estelle, adalah seorang sahabat lama yang membawa Mamet bersalaman dengan ‘The Devil’. Karena begitu Mamet pindah bekerja ke sana, konflik rumah tangga mulai muncul. Dari Milly, istri yang insecure suaminya kerja bareng orang lain ke senti.. eh salah, ke Mamet, suami yang insecure istrinya ikutan kembali kerja sehingga telat pulang ke rumah mengurus anak mereka.

Sebagai Generasi Milenial, Mamet adalah perwujudan dari penyakit yang bersarang pada Generasi Milenial itu sendiri. Selain naif akut, dia juga orangnya ‘pasrah’ banget. Kita mengerti beban yang ia tanggung, sebagai suami dan seorang ayah, yang membuatnya tidak bisa begitu saja mengejar apa yang dia mau. Tapi melihatnya begitu ‘pasif’ dan tau-tau meledak marah, cukup menyiksa kesabaran buatku. Sebagai perbandingan, kita bisa melihat gimana sikap Miles Morales terhadap pilihan yang ia ambil pada Spider-Man: Into the Spider-verse (2018)Morales dengan sengaja menjawab pertanyaan ujian dengan memilih jawaban yang salah supaya ia dikeluarkan dari sekolahnya; karena dia merasakan gak nyaman pada hatinya saat bersekolah di sana. Beda dengan Mamet yang satu generasi lebih tua; Mamet yang kurang berminat kerja di konveksi, tidak melakukan apa-apa karena dia berpikir dia akan membantu mertua, istrinya, dan banyak orang dengan tetap bekerja di sana. Namun begitu dia melakukan kesalahan ketika dia merasa sudah melakukan hal yang benar, dia didamprat oleh pak mertua – di depan bawahan, di depan istri yang sampe berlinang air mata, barulah ia berontak minta keluar. Ini kesannya manja sekali alih-alih membuat keputusan. Mamet menghabiskan sebagian besar waktu menjadi ujung dari bahan candaan, dia tidak melihat apa yang ‘salah’ di sekelilingnya, bahkan justru Milly yang lebih banyak melakukan ‘aksi’

Namun begitu, jika dibandingkan, secara penulisan karakter memang lebih mendingan Mamet, sih. Dia punya progres. Arcnya dibuat menutup, cara dia memandang hidup di awal cerita akan berbeda dengan di akhir cerita. Kita melihat sifat Mamet-yang-lama pada dirinya perlahan terkikis; ada proses pendewasaan. Berbeda dengan Milly yang sudah tidak tampak seperti Milly yang kita kenal. Aku bukan bicara soal penampilan akting Sissy Priscillia kurang baik dibandingkan Dennis Adhiswara, keduanya diberikan kesempatan men-tackle range emosi yang sama luas, dan masing-masing berhasil melakukannya. Hanya saja karakter Milly seperti kurang tereksplor dibandingkan Mamet. Di film ini, Milly terasa pintar. Adegan kocak ketika dia ngobrol dengan asisten rumah tangganya, tampak seolah seperti melihat Milly berbicara dengan dirinya dulu; yang lemot, yang telmi, yang suka ngasal kalo ngomong. Kita tidak melihat proses perubahannya – di awal dengan di akhir, karakter Milly tidak banyak berubah padahal justru dia yang banyak menggerakkan narasi. Antara Milly dan Mamet; terasa seperti plotnya ada pada Mamet, sedangkan aksinya bagian Milly. Aku merasa dua tokoh ini seperti satu tokoh utama yang dibagi ke dalam dua tokoh. Film bisa saja menggali kecemburuan Milly berdasarkan dirinya menyadari ia lemot sedangkan Alex adalah cewek yang pintar, tapi tidak dilakukan karena Milly di film ini sudah bukan Milly yang dulu. Dan buatku mengecewakan kita tidak diperlihatkan progres karakternya sebanyak progres Mamet; padahal mereka berdua diniatkan sebagai tokoh utama.

Nyenengin semua orang enggak akan membuat kita bahagia. Usaha tersebut justru akan berbalik, membuat kita merasa kesepian, merasa kalah, merasa tidak diperhatikan oleh orang lain. Alih-alih mencoba membuat banyak orang bahagia sehingga mereka senang kepada kita, bahagiakan dulu diri sendiri. Tentukan apa yang membuatmu bahagia, dan ambil pilihan demi bergerak ke arah sana.

 

Milly dan Mamet tadinya adalah karakter pendukung yang berfungsi sebagai pemantik kelucuan dalam dunia Ada Apa dengan Cinta. Sissy dan Dennis, praktisnya, bukan pemain baru dalam mendeliver komedi. Aku malah paling suka Sissy ketika dia berperan sebagai Olga dalam serial Olgamania yang diadaptasi dari buku karangan Hilman. Di serial itu Sissy ngocol banget, cocok ama karakter Olga. (Dan buat hiburan personalku, aku senang sekali melihat hubungan antara Sissy, Olga, dan Lupus di menjelang akhir pada adegan dengan lagu Sheila on 7 yang dulunya jadi theme song serial Lupus hihi)

Film Milly & Mamet yang dibuat sebagai komedi romansa jelas bukan ranah asing bagi Sissy ataupun Dennis, aku yakin kedua aktor ini sanggup menyampaikan drama dan lelucon dengan sama baiknya. Tapi film ini, sebagaimana film-film Ernest sebelumnya, tetap mengotakkan bagian drama dengan komedi tersebut. Keputusan ini membuatku bingung. Film tetap memberikan porsi komedi kepada tokoh-tokoh pendukung, yang banyak banget; ada banyak karakter satu-dimensi yang hanya untuk pemantik tawa. Padahal ada banyak adegan yang gak urgen banget dikasih ke Komika, misalnya, mereka bisa saja memberikan porsi ‘ngefans berat ama food reviewer’ kepada tokoh Mamet – toh bisa menambah range dan karakter si Mamet sendiri. Adegan-adegan dengan Komika dan bintang tamu, justru mengganggu pace cerita, menciptakan sekat dengan drama, sehingga tone cerita jadi terasa kurang nyampur. Film seharusnya lebih mulus mencampurkan sehingga komedi bisa didatangkan dari tokoh-tokoh yang krusial. I mean, kurang lucu apa coba adegan Milly sok ikut ngereview makanan dengan adegan Sari lagi pesen minum?

Apa yang kamu lakukan ke saya itu, Garing!

 

Seperti generasi milenial yang angkuh, penyadaran yang dialami oleh tokohnya mengandalkan kepada pihak lain yang ternyata lebih ‘salah’. Film melakukan treatment yang baik dan melingkar sebenarnya, kita juga melihat penggunaan komedi yang pas, hanya saja elemen jalan keluar berupa ada orang lain yang lebih salah ketimbang aktual penyadaran yang didorong oleh inner karakter membuat penyelesaian film ini tidak terasa impactful. Seperti jika sebuah komedi yang punchlinenya kurang kuat. Karena kan sebenarnya ‘anatagonis’ dalam inti cerita ini bukanlah orang lain, melainkan ego dan pilihan si dua tokoh ini sendiri.

 

 

 

Saat menonton, mungkin sebagian kalian sudah ada yang kepikiran “kenapa mereka gak melakukan itu saja” dan ternyata pikiran kalian tadi memang dilakukan oleh penyelesaian cerita. Salah satu ‘kekurangan’ yang datang dari ketika kita yang sudah bisa melihat struktur cerita menonton film yang dibuat oleh penulis yang juga paham ama struktur cerita adalah kita bisa mengetahui ujung cerita bakal seperti apa. Untuk hal demikianlah andil sutradara dibutuhkan; untuk membuat cerita tetap menarik. Film ini strukturnya terang, dengan stake yang sebenarnya enggak terlalu kuat, namun arahannyalah yang membuat film terasa biasa saja. tetap terasa on-off karena drama dengan komedi di sini masih lebih sering kekotaknya ketimbang bercampur. Film ini memang secara keseluruhan adalah peningkatan dari garapan Ernest sebelumnya. Dia memberikan sentuhan tersendiri pada tokoh-tokoh yang sudah dikenal. Namun, Ernest sebagai sutradara butuh untuk melepaskan diri dari konsep atau formula cerita komedi yang selama ini ia gunakan, dan mencoba melakukan hal yang baru. Jika tidak, ia hanya akan menjual barang yang gitu-gitu saja di toko yang dibangunnya dengan penuh passion.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for MILLY & MAMET.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya mimpi yang belum terwujud hingga sekarang karena terhalang masalah kenyataan? Sejauh apa kalian menyimpang dari apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan dengan apa yang sekarang kalian lakukan?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

BUMBLEBEE Review

“Recalling the past can awaken an emotional response”

 

 

 

Setelah film kedua Transformers, 2009 itu, aku meyakinkan diri bahwa hanya gaya sebesar gravitasilah yang mampu membuatku datang menyaksikan franchise ini lagi ke bioskop. Dan aku bertahan – tepatnya, kapok dan begitu merasa terendahkan sehingga aku bertahan. Ditraktir nonton pun, aku ogah. Hingga sekarang, 2018 ini, aku toh akhirnya terseret juga demi melihat nama Travis Knight yang nongkrong di kursi sutradara alih-alih Michael Bay. Aku mengenali nama Knight karena sebelum ini ia menggarap Kubo and the Two Strings; salah satu animasi stopmotion favoritku – di mana dia dengan sukses menangkap perasaan seorang anak yang berusaha mandiri sepeninggal figur ayah dalam sebuah dongeng berlapis. Jadi aku tahu bisa mengharapkan ‘manusia kaleng’ Transformer kali ini bakal punya hati.

Film-film Transformers versi Michael Bay akan diingat sebagai paling parah terutama oleh para penggemar yang tumbuh menonton serial kartun Transformers. Yang mungkin saja sebenarnya mengenang kenangan menonton serial tersebut lebih banyak ketimbang serialnya itu sendiri. Karena Transformers memang sebenarnya sangat cheesy. Bay hanya menambah level kebegoannya. Sejalan dengan itu, mungkin saja bagi yang belum pernah nonton serialnya, robot-robot versi Bay enggak sejelek ‘itu’. Semua itu sebenarnya berhubungan dengan kenangan emosional yang terasa oleh masing-masing individu. Kenangan emosional inilah, yang dijadikan tema besar oleh film Bumblebee.

 

Oleh Knight, memang Bumblebee menjadi film aksi robot yang enggak sekadar mengandalkan CGI mentereng. Tokoh paling populer dalam geng Transformer ini diberikannya cerita solo yang hangat dan menghibur buat semua keluarga. Mengambil posisi sebagai prekuel, cerita Bumblebee adalah tentang bagaimana si robot kuning dikirim ke Bumi selagi para Autobot mengambil napas dari serangan Decepticon. Sendirian, kehilangan suara, dan mengalami gangguan memori, Bumblebee hanya bisa menyamar menjadi mobil kodok sampai seorang gadis delapan-belas tahun menemukannya. Bagi Charlie, Bumblebee adalah hadiah ulangtahun paling berharga yang pernah ia berikan kepada dirinya sendiri. Karena cewek penggemar mobil ini berubah hidupnya setelah membawa Bumblebee pulang. Ia yang merindukan sang ayah menjadi lebih mudah tersenyum karena ia menemukan teman baik dalam diri Bumblebee. Petualangan dua tokoh ini pun dimulai, Charlie belajar banyak hal tentang sikapnya selama ini dan mencoba untuk membuka diri terhadap orang lain sejak kepergian ayahnya, sementara Bumblebee pun harus belajar mengingat siapa dan kenapa dia di Bumi. Terlebih untuk menjawab kenapa pihak militer dan dua robot asing datang mengejar-ngejar, untuk membunuh, dirinya.

Tak pelak, ada banyak keuntungan ketika cerita kita digarap oleh seorang yang sama sekali baru. Tidak pernah ada salahnya menambahkan visi baru ke dalam barisan kita. Mungkin memang bukan prestasi gede sih, mengingat gimana film-film Transformers yang lain. Namun Travis Knight sudah melakukan sesuatu yang gagal dilakukan oleh sutradara sebelumnya dalam film-film tersebut; dia benar-benar tahu apa yang membuat kita jatuh cinta sama robot-robot tersebut. Travis memperlambat segala aspek, mulai dari pace cerita yang kini memasukkan banyak bangunan-bangunan emosi ketimbang eksploitasi wanita dan orangtua ngeganja dan anjing bersenggama. Porsi aksi yang melibatkan robot-robot keren itu kini dibuat lebih mudah untuk diikuti, kita sekarang tahu apa yang terjadi – mana yang diserang, mana yang menyerang. Hilanglah sudah teknik editing slow motion, trus “Buuummmmm” dan ledakan dahsyat dengan gerakan dipercepat kembali. Bahkan ketika para robot mengalami transformasi, film kali ini memberikan kita kesempatan untuk mengagumi perubahan wujud tersebut. Film ingin membawa kita bersama imajinasinya, bagaimana sebuah mobil bisa berubah menjadi robot terus lanjut menjadi pesawat.

aku sih lihat kuningnya Bumblebee jadi emosional teringat saus keju ayam geprek

 

 

Tidak hanya mengerti medan barunya, sang sutradara juga paham untuk membawa ‘permainan’ ke zona yang sudah ia kuasai, membuat film menjadi semakin asik untuk diikuti. Charlie yang diperankan dengan gemilang oleh Hailee Steinfeld (cewek ini berhasil melampaui apa yang sudah ia capai dalam permainan perannya di The Edge of Seventeendiberikan lapisan yang semakin mendaratkan karakternya ke lembah relasi dan kepedulian kita terhadapnya. Babak pertama film ini benar-benar gampang untuk kita cintai. Dinamika keluarga Charlie, hubungan dirinya terhadap ibu, adik, ayah tiri, ‘permasalahan’ yang ada di sini dibangun dengan begitu loveable. Film memperkenalkan Charlie sebagai cewek yang sedikit menyedihkan, dia suka dengerin The Smiths, dia cuek ama penampilannya, dia lebih suka main ke bengkel karena di sana kerjaan yang gagal ia lakukan enggak bakal diledek sama temen-temen, Charlie benar-benar terpuruk setelah ditinggal ayahnya. Charlie bukannya awkward dan enggak kompeten. Dia hanya merasa tidak nyaman lagi melakukan apa yang ia bisa karena semua hal tersebut mengingatkannya kepada ayahnya – sosok yang selama ini menyemangati dan mendukung hobinya, yang percaya padanya. Dan ini berbalik membuatnya tertekan. Karakter Charlie dibuat berlawanan namun paralel dengan Bumblebee yang juga kehilangan semua kemampuan, namun hanya karena tidak ingat dirinya siapa. Persahabatan Charlie dan Bumblebee yang saling mengisi menjadi hati utama cerita, meski kadang hubungan mereka terasa terlalu familiar.

Setiap kali gagal, Charlie akan merasakan luapan emosi yang membuatnya teringat kepada sang ayah. Ada adegan di awal cerita ketika Charlie ingin membuang piala-pialanya; yang jika bisa dikaitkan dengan ia ingin melupakan ayahnya karena mengenangnya membuat Charlie merasa depresi. Yang pada akhirnya harus dipelajari oleh Charlie adalah bagaimana memilah antara kenangan emosional dengan kenangan sebenarnya yang murni kepada sang ayah. Karena bukan ayahnya yang ingin ia buang, dia hanya perlu emosi yang bisa menggantikan emosi yang ia rasakan ketika ayahnya masih ada untuknya.

 

 

Film mengambil tahun 1987 sebagai latar cerita. Ini bertujuan lebih dari sekadar untuk menyamakan dengan tahun kemunculan serial kartun Transformers. Bukan pula hanya supaya film jadi bisa punya banyak referensi nostalgia. Tentu, melihat Bumblebee nonton The Breakfast Club (1985) kemudian niruin gaya si Bender sambil muterin lagu soundtrack film tersebut akan selalu mengundang tawa dan rasa menyenangkan. Film ingin membangkitkan kenangan emosional kita lebih jauh sehingga kita juga merasakan hal yang menyenangkan saat menonton film ini. Buatku, ini adalah langkah yang sedikit berlebihan, karena Bumblebee punya cerita dan karakter-karakter yang sebenarnya bisa berdiri sendiri. Tetapi film berusaha menyusupkan sesuatu desain supaya kita merasakan kenangan emosional tersebut. Apakah ‘sesuatu’ itu? Well, ini petunjuknya:

Pertama; Sadar gak sih dari segitu banyak referensi budaya pop 80an yang dimunculkan, hanya ada satu yang begitu ikonik tapi sama sekali tidak disinggung oleh film Bumblebee.

Kedua; Steven Spielberg, yang dikredit sebagai eksekutif-produser.

Aku akan menabrak garis spoiler untuk paragraf-paragraf berikut, jadi silahkan tebak maksud dua clue di atas dan stop membaca jika enggak sudi mengetahui lebih banyak sebelum menonton filmnya.


 

 

Yang kumaksudkan adalah film E.T. The Extra-Terrestrial (1982). Cerita Bumblebee praktisnya adalah cerita E.T. yang sudah bertransformasi. Secara subtil, nyaris denyut per denyut kejadian-kejadiannya mirip sekali. Anak yang ditinggal ayahnya ketemu ama Alien ‘jinak’. Si Alien dirahasiakan karena diincar oleh militer yang menganggapnya sebagai makhluk jahat nan berbahaya. Si Alien yang ditinggal di rumah, malah keluar dan merusak rumah tersebut. Hampir seperti menggunakan naskah yang sama. Film seperti membuat alam sadar kita berpikir mengenai E.T. sehingga kenangan emosional saat menonton film manis itu terbangkitkan dan kita jadi semakin menikmati film ini. Menurutku ini malah jadi masalah, jadinya malah tampak film ini sedikit males. Maksudku, kenapa mesti sama banget. Kenapa urutannya enggak ditukar dikit, apa gimana.

Kemiripannya ini malah tampak lebih fatal dibandingkan pilihan film untuk memasukkan adegan-adegan yang hanya untuk tawa. Which is jadinya dimaafkan mengingat ya memang Transformers dari serial kartunnya agak-agak lebay sih. Aku sendiri lebih menikmati komedi yang dihadirkan, terutama yang melibatkan John Cena yang kebagian peran sebagai komandan militer, pemimpin pihak manusia dalam pencarian Bumblebee. Progres karakternya juga enak untuk diikuti, Cena adalah manusia pertama yang melihat bangsa robot mendarat di Bumi, dan sebagai bagian dari pelindung negara (masukin lelucon Amerika praktisnya adalah seluruh dunia) tentu saja dirinya punya prioritas yang mempengaruhi cara ia memandang si robot. Sepertinya Cena akan dapat banyak benefit dari penampilannya dalam film untuk keluarga ini. Let’s just say, para penggemarnya akan baik-baik saja jika dia tidak muncul lagi ke dalam ring WWE.

Ini adalah John Cena paling heel yang bisa kita dapatkan seantero galaksi

 

 

 

 

 

Selain masalah kesengajaan dibuat mirip sama satu film klasik, film ini adalah lompatan yang luar biasa dari film-film pendahulunya dalam franchise Transformers. Akhirnya kita dapat cerita perang robot yang enggak sekadar kling-klang-kling-Boom! Akan banyak penggemar yang terpuaskan bahwa akhirnya ada film Transformers yang benar-benar paham hati dan apa yang sebenarnya ingin dilihat oleh mereka. Aku pribadi senang sekali berkat film ini setiap kali mendengar kata Transformers aku tidak akan lagi berteriak marah penuh emosi.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for BUMBLEBEE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian merasa tertekan oleh kenangan terhadap seseorang atau sesuatu? Apakah kalian memilih untuk terus mengingat atau malah mencoba melupakan mereka?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SILAM Review

“Adventure must start with running away from home.”

 

 

 

Di masa silam, ada film horor yang menampilkan hantu gadis cilik kembar yang menjadi begitu ikonik.

Di masa silam, ada film horor yang membangun ceritanya sedemikian rupa sebelum akhirnya persepsi kita bersama tokoh utama dibelokkan oleh pengungkapan siapa si tokoh sebenarnya

Di masa yang enggak silam-silam banget, ada film horor tentang boneka terkutuk yang dirasuki oleh arwah jahat.

Di masa kini, kita punya film horor bernama Silam tentang seorang anak haus kasih sayang yang membuat boneka untuk jadi temannya sebelum akhirnya si anak kabur dari rumah dan lantas bertemu dengan hantu kembar, arwah jahat hasil ritual, dan kenyataan siapa dirinya sebenarnya. Setelah menuntaskan film ini, kita akan dibuat penasaran, kenapa cerita yang seharusnya diadaptasi dari novel malah jadi kayak adaptasi horor-horor sukses dari masa silam?

 

Beneran deh, begitu nyampe kamar sehabis nonton aku langsung adain riset kecil-kecilan datang tak dijemput pulang tak diantar, eh kenapa jadi mantra film sebelah… Anyway, aku langsung search sinopsis novel sumber cerita film ini dan aku mendapati cerita yang luar biasa kuat kesan dramatisnya. Kalian yang belum baca novelnya bisa klik di sini untuk sinopsis ceritanya. Silam versi film seperti mengecilkan volume emosi yang dipunya oleh sumbernya. Mereka menghidupkan cerita tersebut dengan memasukkan banyak hal-hal yang kepentingannya cuma supaya film ini mirip sama film-film hits. Mereka kira kita menonton horor karena ingin melihat hantu, jadi arahan cerita film ini, ya memang dibuat untuk memfasilitasi berbagai macam kemunculan hantu, yang sebenarnya enggak menambah banyak ke dalam bobot cerita. Cara dan arahan pengembangan yang dipilih oleh film ini membuat kita, para penonton, tersilamkan dari pesan sebenarnya yang dikandung oleh cerita. Film sudah menyiapkan dua pengungkapan yang diniatkan supaya kita memandang ceritanya dengan takjub.

ini adalah jenis film yang dramatic premisnya berumus “ingin…, dan ternyata…” alih-alih “ingin…, tetapi…”

 

 

Mengalami mental abuse di rumah oleh Ibunya, dan physical abuse di sekolah alias dibully oleh teman sekelasnya yang tampak terlalu gede untuk ukuran anak es-de, Baskara tak lagi punya tempat untuk mengadu selain kepada kuburan ayahnya. Dalam kerinduannya yang amat sangat kepada sosok bapak, Baskara (dalam debutnya ini, Zidane Khalid dipercaya memainkan karakter dengan range yang cukup luas) menemukan alamat pamannya yang punya wajah teramat mirip dengan ayahnya. Baskara yang penasaran pun akhirnya mengunjungi alamat tersebut, di mana ia disambut hangat penuh kasih sayang oleh keluarga sang Paman. Baskara memutuskan untuk tinggal di rumah berada tersebut. Satu hal yang mengganggu adalah; semenjak kepala terbentur akibat ulah teman-teman sekolahnya yang jahat, Baskara yang mengaku tidak percaya sama hantu malah jadi sering melihat makhluk-makhluk menyeramkan tersebut di sekitarnya. Terutama di malam hari, di rumah di mana paman dan bibi dan sepupu kembarnya turut melakukan gelagat yang tak bisa dijelaskan oleh pikiran Baskara.

Melarikan diri mungkin memang penyelesaian yang paling mudah dari masalah-masalah yang mengukung, baik itu di rumah, di sekolah, di manapun. Actually, minggat bisa jadi adalah awal dari petualangan terbesar dalam hidup seorang anak atau remaja. Masalahnya dengan ‘berlari’ begini adalah, pelarian tersebut akan selalu membawa kita balik pulang.

 

Meminjam banyak elemen dari source lain memang bisa menaikkan kualitas nilai hiburan dalam sebuah film. Kita akan semakin enjoy menonton film yang punya sesuatu yang bisa kita kenali. Tentu saja syaratnya adalah tidak mengorbankan elemen unik, tidak melupakan ‘hati’ dan ‘jiwa’ yang dipunya oleh film kita sendiri. Silam justru tampak tidak peduli dengan semua itu. Twistnya bisa dengan mudah ditebak oleh penonton yang berpengalaman ataupun yang punya perhatian. Pembangunan plotnya juga gak benar-benar nyambung. Namun Silam tetap melaju berceloteh. Maksudku, anak macam apa yang menghabiskan waktu curhat sama batu nisan ayahnya, yang membuat boneka untuk ngejagain ibunya, tapi dia sendiri bilang dia tidak percaya hantu. Kontradiktif sekali. Film tidak berniat untuk memberi makna kepada detil-detil seperti perlunya memasukkan dua tokoh yang kembar, ataupun kenapa harus ada elemen ritual atau perjanjian dengan setan.

Memasuki pertengahan, kejadian menjadi repetitif; dan ini bukan saja terasa oleh Baskara yang terus melihat keluarga pamannya melakukan hal yang itu-itu melulu, namun juga oleh kita yang terus menyaksikan ‘gangguan malam hari’ yang enggak benar-benar punya punchline – yang gak punya ujung apa-apa. Selalu hanya malam tiba, Baskara terbangun dari tidurnya, dan dia melihat hantu-hantu, juga seorang nenek misterius di halaman rumah. Film tidak membuahkan puncak kepada elemen larangan ke luar rumah malam hari. Tidak ada kaitan yang menahan kita untuk terus tertarik kepada cerita.

Kesempatan emas untuk hidup dengan emosi, buat film ini, sesungguhnya bisa datang dari hubungan Baskara dengan ibunya. Baskara selalu telat pulang, dia jadi sering diomeli oleh ibunya yang sebenarnya mencemaskan Baskara. Tapi kita tak pernah melihat dari sisi Ibunya, bahkan setelah Baskara pergi dari rumah. Saat dimarahipun, kita tidak banyak melihat interaksi. Si anak sepuluh-tahun itu hanya diam, terlihat seperti mau menangis. Padahal kita perlu melihat ‘api’ di sini. Supaya kita percaya ada hubungan kasih sayang antara Baskara dengan ibunya. Sehingga ketika Baskara yang ketakutan dan ingin ‘pulang’, kita bisa merasakan usaha dan ketakutannya. Kita kurang mengenal ibu dan ‘bentukan’ keluarga Baskara. Ibu dalam amarahnya bilang dia sudah capek bekerja keras, namun Baskara malah lebih sering menghabiskan waktu di kuburan ketimbang bersamanya. Film ingin menunjukkan Baskara punya masalah ekonomi, bahwa Ibu mulai khawatir soal nafkah mereka dan Baskara yang menghambur-hamburkan uang, tapi kita tidak diperlihatkan apa sih usaha si ibu. Yang ada malah kita disuapi informasi uang jajan Baskara lima-belas ribu rupiah.

Film benar-benar melewatkan kesempatan. Kita perlu diperlihatkan lebih banyak tentang Ibu dan Baskara. Bahkan menurutku, cerita dan emosi akan lebih tersampaikan jika Baskara berantem dengan ibunya; jika ibunya yang mendorong dan melukai kepala Baskara. Karena dengan begitu, alasan Baskara kabur dari rumah juga akan semakin kuat, dan film tidak perlu memasukkan tokoh bully yang bahkan tidak kelihatan lagi sampai akhir cerita. Di bagian penyelesaian pun, mestinya biarkan saja Baskara dan Ibu menyelesaikan ‘drama’ mereka supaya plotnya menutup. Tapi sepertinya, film horor lokal butuh untuk menunjukkan adegan orang kesurupan manjat tembok,  sehingga kita malah dapat cerita perjanjian dengan setan yang menihilkan aspek drama dalam apa yang jadinya cerita hubungan single mom-anak berbalut horor ini.

untung si Baskara nulisin surat minggatnya bukan pake lipstik ibu ke cermin kayak cerita anak 80an haha

 

 

 

Kekerasan dan abuse lainnya memang menjadi penyebab utamanya anak minggat dari rumah. Film ini bisa saja menjadi pandangan dan komentar mengenai hal tersebut, dia punya modal untuk menjadi horor yang menarik dan bergizi. Tapi film, seperti halnya anak-anak yang kabur itu, memilih jalan termudah. Dia tidak mau ribet memikirkan pesan. Bahkan enggan memberikan jarak antara rumah Baskara dengan rumah pamannya; semua hal yang menyangkut film ini dapat kita simpulkan sebagai kemudahan. Batalin janji dengan setan cukup dengan satu kalimat sederhana, coba. Film hanya mau menampilkan hantu yang seram, karena mengira kita ingin melihat hantu. Enggak peduli betapa banyak hal gak yang bisa dihilangkan, dan hal lain yang harusnya dimasukkan. Ini bukan film bego, kita masih bisa menikmatinya dalam tingkatan tertentu. Hanya saja, tidak banyak berbeda dengan rekan-rekannya di Danur Universe, film ini pun adalah adaptasi ala kadar, yang tidak mau bersusah payah, dari sebuah cerita horor yang terkenal bukan semata karena seramnya.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for SILAM.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Dulu di daerah tempat tinggalku sempat ngetren loh anak-anak yang berlagak mau minggat dari rumah. Pernah gak sih kalian kepikiran untuk minggat dari rumah sehabis dimarahin orang tua? Apa mungkin ada yang beneran pernah minggat? Share dong ceritanya hhihi

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

AQUAMAN Review

“Don’t let a legacy become a burden”

 

 

 

Enggak segampang itu mengarungi kehidupan jika kita terombang-ambing di antara dua identitas keluarga yang berbeda, antara bangsawan dan jelata misalnya. Bahkan jika kita ternyata adalah bangsawan yang memiliki kekuatan super. Khususnya ketika kekuatan khusus yang kita punya ‘hanyalah’ bisa berbicara dengan ikan.

 

Aquaman, sebelum film ini muncul, memang tak lebih dari lelucon jika dibandingkan dengan superhero-superhero lain. Berenang dengan ngebut tentu saja kalah keren dibandingkan dengan berlari secepat kilat. Dapat bernapas di dalam air terlihat demikian kurang efisien ketimbang bisa terbang di angkasa. Di tangan James Wan sebagai nakhoda, ke-cheesy-an Aquaman tersebut toh terfasilitasi dengan amat baik. Mengembalikan sedikit respek kita kepada si superhero beserta mitologi di balik dunia bawah airnya. Tentu, ini memang bukan film superhero dengan naskah terbaik di dunia, namun tak pelak, Aquaman adalah salah satu yang teratas dalam urusan menghibur.

Yang dibawa oleh sutradara yang menggarap The Conjuring itu adalah gerak kamera yang begitu fluid merekam setiap aksi. Di menit-menit pertama kita akan dimanjakan oleh pertempuran di dalam rumah yang dilakukan dengan shot panjang kamera yang bergerak memutar. Teknik ini sukses membuatku menantikan adegan berantem berikutnya, karena aku pengen lihat cara hampir-kontinu seperti gimana lagi yang akan dilakukan oleh James Wan. Dan penantian itu terbayar lunas oleh sekuen berantem dan kejar-kejaran di atap rumah pada babak kedua. I looove it, semua dalam layar saat itu bergerak, di belakang, maupun di depan. Kameranya berkedalaman dan kontinu shotnya ditahan cukup panjang. Departemen aksi film ini jelas penuh dengan keseruan.

Sebelum pertempuran bawah laut yang begitu epik – kita bakal melihat pertemuan menarik antara hiu melawan mosasaurus, ataupun prajurit berkendaraan kuda laut raksasa mengeroyok kraken, yang tak kalah raksasa, berlumur oleh lava berpijar – film bakal banyak bermain-main dengan eksplorasi paparan mitologi cerita dan banyak hal yang mengingatkan kita pada cerita lain. Bagian Arthur kecil di akuarium dunia laut mengingatkan aku sama bagian Harry Potter bicara sama boa pembelit di kebun binatang. Juga ada bagian mobil diterjang ‘tsunami’ yang seperti versi dark dari kejadian dalam animasi Studio Ghibli, Ponyo. Ada petualangan di kuil ala Indiana Jones mencari harta karun (atau ala anak-anak kekinian main escape room). Ada juga bagian orang yang ditemukan masih hidup di dunia lain yang mengingatkan kepada Antman. Mereka mereferensikan Pinokio, sebagai cerita dan film. Bahkan literally ada boneka Annabelle di salah satu dasar lautnya. Durasi yang melebihi dua jam itu diisi dengan maksimal sehingga kita tetap terus terhibur.

mereka bisa saja masukin Raja Naga Laut Timur dari Kera Sakti dan kita masih tertawa karenanya

 

 

Secara kontekstual, cerita film ini memang tergolong tradisional. Kuno kalo boleh dibilang. Aquaman, terlahir sebagai Arthur Curry, adalah putra dari pasangan seorang manusia daratan penjaga mercusuar dengan Ratu Atlantis yang kabur karena menolak dikawinkan. Sedari bayi, Arthur sudah dipatri oleh ibunya untuk menjadi raja yang bakal menyatukan penduduk lautan dengan penduduk di darat. Mungkin di antara kalian, generasi millenial, ada yang sedari kecil sudah diarahkan jadi dokter sama seperti mama? jadi pegawai Chevron sama seperti papa? Atau jadi pegawai negeri, mungkin, biar hidupnya terjamin sampai tua? Ya, besar kemungkinan kita ada yang senasib seperti Arthur; yang enggak mendapat kehormatan langka untuk ditanya oleh orangtua sendiri “kamu mau jadi apa kelak? jadi youtuber aja? sana silahkan gausah sekolah”.

Tapi sebagai pembelaan, Arthur tidak sempat ditanya ibunya karena mereka keburu dipisah. Dunia tempat Arthur tinggal adalah dunia di mana sumbu peperangan sudah tersulut diam-diam. Tidak diketahui oleh manusia di daratan, kaum Atlantis yang sudah muak dengan perilaku manusia mencemari lautan, sudah siap tempur untuk mengadakan Perang Dunia Ketiga. Film Aquaman ternyata bukanlah origin story – paling tidak bukan origin story seperti yang kita bayangkan. Alih-alih melihat Arthur tumbuh gede dan mempelajari siapa dirinya sebenarnya, waktu akan membawa kita meloncat melewati timeline di Justice League (2017) saat Arthur sudah fully-developing persona Aquamannya. Kita akan melihat Arthur diminta untuk kembali ke Atlantis, untuk segera menjadi raja, lantaran pemimpin yang sekarang yakni adik tirinya sudah begitu bernapsu untuk menyatukan kekuatan militer tujuh samudra demi menghimpun kekuatan menyerbu daratan. Ceritanya memang seperti kebalikan dari cerita Black Panther (2018)kalian tahu, T’Challa kan raja; harus menghadapi seorang dari luar yang ingin memanfaatkan teknologi Wakanda untuk perang, sebaliknya Arthur adalah ‘orang luar’ yang disuruh menjadi raja supaya pemimpin yang sekarang gagal memanfaatkan teknologi Atlantis untuk perang.

Yang jeli membaca akan menyadari penggunaan kata ‘disuruh’ yang aku gunakan pada paragraf di atas. Karena buatku, ‘disuruh’ itu adalah faktor kunci yang menentukan seberapa menarik sih sebenarnya cerita Aquaman; di mana posisi film ini dalam kancah superhero-superhero yang lain. Ini kaitannya dengan penulisan naskahnya. Tokoh utama dalam cerita kudu diberikan motivasi. Dalam kisah superhero, jagoan kita selalu punya keinginan dramatis yang akan jadi akar dari perjuangannya. Diana Prince ingin menyetop peperangan karena dia dengan naifnya percaya setiap manusia berhati baik. Bruce Wayne ingin ‘balas dendam’ tanpa mengubahnya menjadi speerti penjahat, ia tidak mau ada lagi yang bernasib seperti dirinya yang dirampas dari orangtua. Arthur Curry dalam Aquaman, dia adalah pahlawan super yang ingin…. dia tidak ingin menjadi raja. Arthur adalah orang yang seumur hidupnya mencari tempat untuk dirinya, dan sekarang dia sudah menemukan yang ia cari – sekarang dia sudah diterima sebagai pahlawan di atas permukaan laut. Dia tidak butuh untuk membuktikan apapun, karena dirinya sendiri tidak ingin menjadi raja, karena dia tidak merasa kerajaan Atlantis sebagai tempatnya.

cerita fish-out-of-water di dalam air

 

 

Keseluruhan cerita tampak seperti pihak-pihak luar yang berusaha membujuk Arthur. Mereka yang berusaha membuktikan kepada Arthur bahwa ia pantas menjadi raja. Arthur’d be like, “Gue kayaknya gak pantes deh” dan mentor dan temannya kayak “Kamu bisa kok, cuma kamu yang bisa mendapatkan Trisula Atlantis Legendaris”. Saking kurang termotivasinya, Arthur sering menanyakan langkah kepada putri berambut merah. Bahkan yang semangat mencari senjata yang hilang itu si Mera, yang tanpa tedeng aling-aling langsung terjun dari pesawat. Arthur mengikuti cerita yang maju karena tindakan tokoh lain.

Aku menunggu momen ketika Arthur ‘kehilangan’ senjata terkuat yang sudah ia temukan, supaya dia bisa belajar bahwa dirinya benar adalah raja – terlebih dia tak perlu semua itu karena memang sudah takdirnya atau apa, kalian tahulah, sekuen kehilangan yang pasti ada dalam setiap cerita-cerita seperti ini; seperti ketika Spider-Man diambil kembali kostumnya oleh Iron-Man. Tapi momen seperti begini tidak pernah datang. Aquaman, jagoan kita, butuh bantuan trisula legendaris untuk percaya diri menjadi raja hingga akhir cerita.

Tema besar pada film ini adalah soal warisan, dan bagaimana pandangan kita jika ditinggali hal untuk dilakukan yang mungkin tidak ingin kita lakukan. Ada yang menganggap warisan sebagai anugerah, sebagai hadiah. Ada yang menganggapnya sebagai kewajiban, sebagai misi yang harus dituntaskan. Ada juga yang menganggapnya sebagai beban. Film memperlihatkan keparalelan antara Arthur dengan tokoh Black Manta di mana mereka sama-sama diwarisi senjata dari kedua orangtua, dan keduanya diperlihatkan melakukan hal yang berbeda terhadap benda warisan masing-masing. 

 

Lautan digambarkan sebagai tempat yang keras, penghuninya tidak mengenal belas kasih. Para penduduk Atlantis menghukum Ratu mereka dengan mengumpankannya kepada monster-monster. Penghuninya mungkin kejam begitu lantaran mereka tak bisa melihat airmata mereka sendiri. Film menggunakan ungkapan-ungkapan seperti “menerjang bersama kekuatan tujuh samudera” untuk menguarkan kekuatan yang lantas dikontraskan dengan Arthur, si surface dweller yang penuh dengan komentar kocak jika sedang tidak memberantas bajak laut. Jason Momoa benar-benar sosok yang keren sebagai tokoh ini. Dia punya kharisma yang kuat, dia juga mampu menyampaikan one-liner kocak. Plus tampilannya badass banget, penggemar gulat pasti akan menyebutnya antara mirip Roman Reigns ataupun mirip Tama Tonga. Hal menarik yang dilakukan oleh film ini adalah fakta bahwa Momoa sama sekali tidak terlihat seperti Aquaman di dalam komik. Secara tampang, malah Patrick Wilson (yang bermain jadi adik tirinya, Norm si Ocean Master) yang lebih mirip sama sosok Aquaman klasik. Sayangnya, seperti efek CGI dan visual yang kadang enggak benar-benar tampak menyatu, penulisan dialog ringan dan tone komedi itu tidak bercampur baik dengan bagian cerita yang lebih serius.

Seperti pada bagian ketika Arthur bertualang mencari Trisula hingga ke tempat paling kering sedunia. Untuk develop hubungan karakter antara Arthur dan Mera, film menggunakan komedi. Tapi gap antara tone cerita bagian ini dengan bagian sebelum dan sesudahnya begitu jauh sehingga menonton sekuen Arthur dan Mera bertingkah kekanakan di Gurun Sahara terasa seperti menyaksikan Sherina dan Sadam nyasar di kebun teh. Menjadi semakin receh juga beberapa adegan berkat alunan lagu latar yang antara terlalu ngepop dengan terlalu konyol (seperti gejrengan gitar di adegan introduksi awal Aquaman bersama para bajak laut).

Satu hal yang benar-benar mengangguku, yang kurasa film seharusnya mencari cara lain, satu hal yang terus mereka ulang-ulang adalah adegan ‘penyergapan’; akan sering sekali kita melihat adegan suasana lagi tenang – tokoh di layar lagi ngobrol, nyusun rencana atau apa, dan BLASSST! Pasukan musuh menembak sesuatu di sekitar mereka, menghancurkan objek di sana. Paling tidak ada tiga kali adegan pembuka sekuen aksi seperti demikian dilakukan oleh film. Dan ini konyol sekali kenapa musuhnya selalu meleset menembak target yang lagi lengah, apa mungkin musuh-musuh itu sengaja menembak dengan meleset – mungkin itu ekuivalen dari mengetuk pintu bagi mereka. Aku enggak tahu. Aku sudah mati tertawa setiap kali adegan ini dilakukan.

 

 

 

Untuk sebuah cerita yang secara konteks ketinggalan zaman, film ini berhasil menjelma menjadi hiburan kekinian yang menyegarkan. Film berjuang mencari poin seimbang. Sama seperti tokoh ceritanya, film mencari di mana ia menempatkan diri. Tone yang cheesy diseimbangkan dengan cerita yang diarahkan untuk tidak terlalu gelap. Nice aja rasanya melihat orang-orang mengelukan tokoh yang selama ini ditertawakan, dan mereka jadi tertawa bersamanya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for AQUAMAN.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Film sempat bicara tentang memenuhi kewajiban terhadap keluarga dan bangsa meski hati kita bertentangan dengannya. Apakah kalian setuju dengan pernyataan tersebut? Menurut kalian apa sih kewajiban kita terhadap keluarga dan terhadap negara?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

 

TUSUK JELANGKUNG DI LUBANG BUAYA Review

“We always do things for a reason.”

 

 

Satu lagi cerita tentang insan manusia yang begitu ingin mengejar kontroversi; yang ingin dibicarakan lantaran sudah melakukan sesuatu yang tak berani dilakukan banyak orang. Adalah kebutuhan mendasar untuk merasakan adrenaline rush, euforia setelah melakukan hal berbahaya itu memang bikin nagih.

Makanya Sisi ingin mengunjungi tempat-tempat angker di seluruh penjuru, merekam vlog pengalamannya yang menyerempet dunia gaib demi dilihat dan disanjung oleh jutaan follower dunia maya. Ya, paling enggak skenario film horor terbaru dari Erwin Arnada ini berusaha untuk ‘bener’. Tokoh utama kita punya motivasi, ada stake dan rintangan waktu yang harus ia tempuh, ada langkah pertama yang gagal dan peningkatan usahanya untuk berhasil. Sisi nekat melakukan pemanggilan jelangkung tepat di tempat terangker di Desa Pucung, yang membawanya terseret masuk ke sisi lain (pemakaian nama yang cerdas, Sisi Lain adalah channel vlog Sisi). Tapi cerita tidak bisa menjadi lebih menarik lagi, karena tokoh utama kita eventually menjadi orang yang butuh untuk diselamatkan. Cerita nantinya akan berpindah-pindah antara adik Sisi di dunia nyata yang berusaha mencari komponen-komponen yang dibutuhkan untuk ritual masuk ke alam goib menyelamatkan kakaknya, dengan Sisi yang berusaha survive dengan muter-muter di ‘sarang hantu’. Perpindahan dua dunia ini semakin tak terkontraskan, tak nampak lagi perbedaannya. Karena di dunia nyata, selain harus berjuang menyisir air terjun yang berbahaya, juga ada hantunya. Malahan lebih banyak dari yang dihadapi Sisi. Film terus saja menguncup menjadi non-sense yang kacau dengan begitu banyak kekurangan.

film ini memberi kesimpulan wanita seperti Sisi mustinya main kadal aja di rumah

 

 

Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya bisa saja menjadi alegori perilaku manusia terhadap dunia maya atau bahkan malah dunia showbiz yang punya relevansi kuat dengan keadaan sosial masa kini. Di mana orang lebih tertantang untuk berbuat sesuatu supaya terkenal di dunia palsu alih-alih melakukan hal yang benar di dunia nyata. Ada obsesi yang disebutkan bersarang pada penduduk desa yang terus memainkan boneka jelangkung meskipun setiap pemainnya berakhir dengan menghilang. Obsesi yang senada dirasakan oleh Sisi; bahwa dia, juga mereka, terdorong untuk melakukan sesuatu di luar ‘dunia’ masing-masing. Tapi film tidak pernah benar-benar mengeksplorasi ini.

Hal paling mengerikan ditunjukkan oleh pengalaman Sisi pada film ini adalah gimana masuk ke dunia gaib ternyata lebih gampang daripada masuk ke dunia entertainment.

 

Padahal mungkin sebenarnya film ini sadar ceritanya bisa mengarah menjadi lebih berisi dan berbobot lagi. Bahwa masuk ke dunia gaib itu kayak berusaha masuk ke dunia hiburan atau dunia maya. Mungkin itulah sebabnya kita melihat hantu-hantu di sini pada berpendar ala-ala Vanellope nge-glitch di film Ralph Breaks the Internet (2018) hihihi.. Serius deh, I love it. Aku suka desain hantu anak kecil yang pake topeng kayak terbuat dari tempurung kelapa itu. Aku suka gimana penampakan-penampakan hantu di sini dibuat seperti konsep penampakan di serial Netflix The Haunting of Hill House (2018); mereka dimunculkan di latar belakang, di sudut-sudut, di mana para tokoh enggak menyadari kehadiran mereka. Hanya saja, teknik subtil ini lantas dikacaukan oleh suara ketawa hantu-hantu yang volumenya begitu menggelegar. Maksudku, apa faedahnya suara-suara non-diegetik itu dipakai? Apakah film sebegitu tidak yakinnya penonton bakal melihat ada hantu di balik pepohonan? Aku gak tahu apa yang terjadi di balik dapur studio mereka, namun pilihan-pilihan editing kerap membuat hal menjadi tidak menguntungkan bagi kebagusan film.

Pada narasi, misalnya. Di awal-awal, film berhasil melangkahi jebakan flashback. Kita diperlihatkan cerita yang runut. Dari ‘tragedi’ desa, nasib boneka jelangkung, ke pengenalan tokoh utama. Adegan demi adegan bisa saja mulus melenggang dalam kurun waktu yang lurus. Tetapi, eits, jangan senang dulu, Ferguso! Pacing film diperlambat dengan sebuah adegan flashback yang cukup panjang mengenai backstory penemuan boneka yang sebenarnya sama sekali enggak perlu untuk dijadikan adegan flashback! Mereka bisa saja membuat waktunya real-time, maksudku, urutan adegan tidak perlu dibolak-balik, toh tidak akan mengubah banyak pada kejadian, dan tentu saja tidak akan menghambat pace cerita. Campur tangan editing film ini terasa begitu mengganggu. Seolah tidak kompak dengan narasi. Hampir seperti naskah dan editingnya tidak bekerja dengan otak yang sama; mereka jalan masing-masing.

Menyadari penuh pemain yang digunakan tergolong baru semua, tetapi tetap nekat mengandalkan teknik CGI; hal seperti begini yang membuatku bengong dan bertanya “Ada aaaa-pa ya sebenarnya?” Maksudku, benar-benar bukan sebuah pilihan yang bijak menyerahkan tugas seberat berakting ketakutan melihat sesuatu yang tidak ada kepada pemeran-pemeran seperti Anya Geraldine dan Rayn Wijaya yang menyambung in-character tokoh mereka saja masih terpatah-patah. Dan lagi, efek-efek tersebut tidak pernah tampak meyakinkan di mata kita. Visualisasi hantu kain itu terlihat sangat konyol. Padahal ketika diperlihatkan kostum-kostum hantunya, mereka tampak berbeda dan lumayan menyeramkan. Hantu ‘boss’ digambarkan bertanduk, kita hanya melihat tampang utuhnya sekilas, tapi dia cukup sopan dengan menarik Nina Kozok pada perutnya. Mengenai editing ini sebenarnya memang sudah ada pertanda; di adegan awal kita melihat pemanggilan Jelangkung yang menjadi petaka. Sekelompok orang melakukan ritual Jelangkung di pondok kecil, dan di ruang sempit itu semua beterbangan, tapi kita tidak bisa melihat jelas apa yang terjadi karena editingnya yang tidak beraturan bahkan di tempat yang sebenarnya tidak perlu dilakukan shot yang banyak editing.

 

Misi utama film ini adalah meremajakan cerita lama. Desa dengan kota. Anak-anak muda melek teknologi itu dihadapkan dengan ritual. Tetapi usaha terbesar film mewujudkan ini adalah dengan memakai bahasa yang keminggris; yang mana bagiku tidak masalah, jika dilakukan dengan benar. Masalahnya adalah para pemain ini masih saja terdengar kaku bahkan saat dialog mereka berbahasa Inggris, which is supposedly their (and also their characters’) comfort zone. Mantra pemanggilan Jelangkung di film ini juga kocak sekali. Jelangkungnya sudah bagaikan anak gaul Jak-Sel yang dipanggil dengan “Jelangkung, Jelangkung, datang untuk dimainkan, please help me find something”. Di satu sisi aku suka gimana setiap film bertema Jelangkung belakangan ini memikirkan cara baru untuk membuat ritual pemanggilan ini menjadi fresh, menggunakan mantra yang actually berpengaruh terhadap cerita. Namun di sisi lain toh aku heran juga, menggunakan mantra beda ini memang disengaja atas alasan kreativitas atau karena mereka simply enggak bisa menggunakan mantra yang ‘asli’ karena alasan copyright atau apa.

Meskipun kita tidak benar-benar melihat Buaya beserta Lubangnya, tapi kita tetap akan menemukan lubang di sana sini. Selain ‘lubang’ pada teknik editing dan kemampuan pemain, wajah film ini utamanya tercoreng oleh lubang-lubang pada logika. Orang bilang terkadang cacat itu adalah seni; film sepertinya setuju terhadap pernyataan tersebut. Atau mungkin film berusaha untuk menjadikan lubang-lubangnya sebagai kekuatan sebab tidak mungkin pembuatnya tidak melihat ini. Lubang-lubang logika itu mereka masukkan ke dalam pembangunan cerita; actually ada alasannya kenapa hal-hal konyol itu ada di dalam film. Seperti misalnya ritual orang desa untuk melenyapkan boneka. Mereka berkumpul di atas tebing air terjun, memasukkan boneka ke dalam kotak, kemudian melemparkan boneka tersebut ke bawah. Terlihat sangat berlebihan jika tujuan ritual tersebut adalah untuk menenggelamkan boneka itu, bukan? Toh kita diperlihatkan Sisi menemukan boneka itu di dasar air terjun, dan kemudian dia dipergoki oleh orang desa. Kenapa ritualnya tidak dilakukan di dasar air terjun saja? Enggak perlu dilempar segala. Kalo tujuannya untuk menghancurkan boneka, kenapa enggak sekalian dibanting ke batu atau malah langsung dibakar saja? Kenapa orang-orang desa itu ribet dan begitu dramatis?

Ada tokoh kakek yang cucunya hilang karena diajak main Jelangkung. Kakek ini sok dramatis banget, dia yang tahu cara ke alam gaib tapi gak mau jemput cucunya malah nyuruh orang lain, kemudian malah dia yang sok berkorban mengurung diri di alam sana sambil bilang “Ikhlaskan saya!” padahal kenal juga kagak sama Sisi dan teman-teman.  Dan keseluruhan konteks adegan itu malah lebih konyol lagi lantaran si Kakek Dramatis sebenarnya enggak perlu ngorbanin diri dengan menyeret masuk seorang tokoh jahat ke dunia gaib karena, guess what, si penjahat cuma sendirian sedangkan Kakek, Sisi, adik Sisi, pacar adik Sisi – mereka berempat! Mereka bisa ngetakedown si penjahat lemah yang baru saja tercebur sungai dengan mudah.

Dasar orang ndeso kampungan!

 

 

Kekurang logisan di sana-sini lah yang bakal menghibur kita habis-habisan. Membuat kita tertawa-tawa. Salah satu favoritku adalah adegan ketika Sisi ‘mengundi’ tempat angker yang pengen dia kunjungi. Sisi menggunakan bola-bola plastik yang dimasukkan ke dalam mesin mainan. Slot di mesinnya diputar, satu bola jatuh, dan Sisi membaca kertas berisi tempat angker di dalam bola. Bagian lucunya adalah; Sisi memasukkan lima bola, dan menggunakan mesin mainan itu sampai kelima-lima bolanya dibaca semua. Betapa sia-sianya tuh mainan. Kalo semua bola mau dibaca, Sisi enggak perlu pake mesin, toh dia bisa milih langsung secara acak bola-bola itu di lantai.

See, bahkan kadang orang kota, orang muda pun terjebak oleh ‘ritual’ yang eksesif, yang sebenarnya tidak perlu mereka lakukan. Namun tetap dikerjakan karena dinilai lebih mengundang perhatian. Sebab, seperti bola-bola yang ditarik Sisi, pada akhirnya semua itu tidak acak. Sisi melakukannya di depan viewer vlog. Si Kakek Dramatis melakukan ritual di depan penduduk desa. Sisi dan Kakek, meski beda usia dan lingkungan, adalah pribadi yang sama hihihi

 

 

 

For a good measure, film akan mengirim kita pulang dengan shot boneka Jelangkung yang diangkat ala Simba di Lion King. Gimana kita enggak cinta coba sama film ini? Menghasilkan banyak hal-hal yang lucu secara tidak sengaja, dan ini gak sehat untuk film yang merasa dirinya serius, seram, dan masuk akal.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for TUSUK JELANGKUNG DI LUBANG BUAYA.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Punya kah kalian ritual sendiri – sesuatu yang kalian lakukan sehari-hari meski sekarang udah gajelas lagi kenapa kalian melakukannya?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017