BEFORE, NOW & THEN (NANA) Review

 

“When women are oppressed, it’s tradition.”

 

 

Keabadian memang milik Tuhan, tapi toh ada juga beberapa hal di dunia yang begitu mendarah daging, gak lekang, sehingga jadi sesuatu yang bersifat nyaris seperti kekal selamanya. Represi perempuan dalam sosial masyarakat Indonesia, misalnya. Dalam film terbarunya, Before, Now & Then (Nana), sutradara Kamila Andini menggambarkan bagaimana hal tersebut bertumbuh seperti jadi tradisi – bahwa perempuan dulu, kini, hingga nanti harus menyimpan siapa diri mereka, luka-luka hati mereka, di balik tuntutan untuk tampil lemah lembut dan patuh sesuai fitrah sebagai seorang ibu dan istri. Persoalan ini dituturkan oleh Kamila bukan dalam ledakan emosi, melainkan dengan sama ter-restrained-nya. Film ini, seperti perempuan Indonesia, tampil elok dan menghanyutkan, tapi dengan suatu perasaan tragis di baliknya.  Kesan yang ketika ditranslasikan ke dalam bahasa sinema, menjelma menjadi satu lagi hal di dunia yang bakal hidup selamanya; sebuah excellency.

The excellence of execution film ini bukan hanya tertampil lewat visual, melainkan juga dari bagaimana ceritanya terstruktur. Just like any great film should, Before, Now & Then mengerti pentingnya  awal, tengah, dan akhir cerita. Kehidupan protagonisnya, terhampar menyeluruh untuk kita simak. Nana boleh jadi menyembunyikan banyak hal pada dirinya kepada orang lain, tapi bagi kita, Nana seperti air – yang tampak tenang meski kelam – untuk diselami. Semua yang kita lalui di masa lalu akan membentuk siapa kita di masa sekarang, dan siapa kita nanti di masa yang akan datang bergantung dari bagaimana kita menyingkapi masa lalu di masa sekarang, apakah kita belajar darinya atau terus tenggelam bersamanya.  Tahap fundamental seperti demikianlah yang jadi jalur pergerakan film ini; Nana will go through life,  dengan konteks bahwa keadaan di sekitar Nana gak berubah – merupakan sistem mengurung yang sama, sehingga terciptalah konflik personal yang berlayer itu dari sana.

Untuk membuat kita mengerti apa yang bakal bersarang di hati Nana sehari-hari, film membawa kita melihat ke masa ‘before’ Nana. Yakni saat dia dalam pelarian di dalam hutan. Nana yang saat itu menggendong bayi, menerobos hutan bersama saudaranya, Ningsih. Mereka diburu, bukan oleh Belanda, bukan oleh Jepang, melainkan oleh ‘gerombolan’. Gerombolan itu juga yang telah membawa suami Nana, dan yang diyakini Ningsih telah membunuh bapak mereka. Eksposisi ‘before’ yang dilakukan film ini di awal cerita serta merta menjadi opening yang efektif karena bukan saja melandaskan setting serta konflik yang membuat karakter keluar dari zona amannya, tapi juga langsung memperkenalkan kita kepada penceritaan audio visual level tinggi yang dilakukan. Lihat bagaimana film menggambarkan Nana saking rindunya dia sampai gak ingat wajah suaminya. Film menggambarkan ini dengan actually meletakkan sosok suami di kejauhan, like, waaay di belakang layar sosoknya hanya blur saja. Batas realita dengan hal di benak Nana saat itu dikaburkan, sehingga hutan itu jadi sureal, dan dengan konteks mereka lagi diuber-uber (diperkuat oleh musik mengiris di latar), sense ketakutan, sense pengalaman traumatik bisa langsung tersampaikan kepada kita.

Jadi, apakah sebenarnya judul film ini dibacanya: “Selamanya Nana di dalam kurung”?

 

‘Now’ dalam cerita Nana adalah lima-belas tahun kemudian. Nana hidupnya tampak nyaman sebagai istri Kang Lurah. Statusnya terpandang di masyarakat. Anaknya sekarang bukan cuma satu, tapi ada empat orang, dan yang paling dekat dengan Nana adalah gadis cilik bernama Dais. Tapi gak satupun dari Kang Lurah ataupun Dais tahu bahwa perempuan yang melayani dan mengasihi mereka itu masih terus dibayangi oleh kejadian di masa lalunya. Tidak, dengan hanya melihat wajah Nana yang ekspresinya sekilas tampak teduh dan tenang. Briliannya film ini memang terutama datang dari bagaimana Nana dimainkan oleh Happy Salma (kalo dari perannya ini cocoknya namanya Sadie Salma) Happy Salma tampak benar-benar mengerti karakter ini, benar-benar paham tugas yang harus ia lakukan dalam memerankan karakter ini. Dia memainkan Nana dengan sangat contained. Dari ekspresinya, dari bagaimana Nana bergerak, dan bahkan dari bahasa. Bukannya mau membandingkan (karena memang bukan apple to apple), tapi film pertama yang membuatku tertarik lebih jauh dengan sinema; tertarik bagaimana film dibuat, bagaimana cerita dirancang, bagaimana menonton itu dapat menjadi sebuah pengalaman adalah Mulholland Drive-nya David Lynch. Karena semua aspek di film itu ‘diatur’ oleh treatment sutradara, dan itu mindblowing buatku. Aku menemukan bahwa Before, Now & Then juga adalah film seperti itu, jadi aku semakin excited. Semua aspek Nana adalah treatment khusus yang dilakukan untuk menguatkan gambaran keterkurungan jiwa yang dirasakan Nana. Judulnya memang gak bohong, keseluruhan Before, Now & Then adalah Nana. Adalah bagaimana Nana berurusan dengan kehilangan, ketakutan, dan keterbatasan yang bakal terus bersama dia selamanya.

Sesuai dengan latar tempatnya, film ini menggunakan dialog full bahasa Sunda. Aku memang bukan ahlinya, ngerti juga gak banyak (aku sebagian besar menyimak obrolan karakter dari baca subtitle), yang kutahu cuma bahasa Sunda ada tingkatan intensitasnya, dan film menggunakan itu untuk memperkuat gejolak perasaan yang dialami oleh karakter. Sehingga percakapan jadi hidup. Anak-anak terdengar seperti anak-anak, perempuan yang ngobrol dengan suami akan terdengar berbeda dengan saat dia ngobrol di malam hari dengan dirinya sendiri, dan sebagainya. Bahasa lantas diperkuat oleh ekspresi. Di aspek ini film sedikit mengambil resiko. Lantaran Nana yang di separuh awal masih berkubang di perasaan terkukung (even tho it’s not her fault) memang bakal tampak melelahkan bagi penonton yang capek bermuram dan berhening terus. Penawar dari Nana akan hadir di pertengahan dalam wujud karakter Mak Ino yang diperankan oleh Laura Basuki. Totally berkebalikan dari Nana. Blak-blakan, berani, lebih cheerful-lah. Momen-momen ringan juga bakal banyak datang dari Ino, yang bakal menularkan vibe ini ke Nana. Hubungan antara Nana dan Ino jadi salah satu relationship penting dalam cerita, karena dari Ino yang awalnya dia anggap sebagai trigger ketakutannya-lah Nana belajar bagaimana ‘membebaskan’ diri. Well, at least dalam perasaannya sendiri.

Tentu ada alasannya kenapa Laura Basuki yang dicast sebagai Ino. Karakter itu bagi Nana awalnya adalah seperti manifestasi dari kehilangannya dulu. Nana yang masih belum melupakan bayang-bayang suami terkait PKI dan antikomunis, melihat Ino yang bermata sipit dan menjual daging lebih dari seorang suspect mistress dari Kang Lurah. Di iklim yang lagi trend pelakor seperti sekarang memang mudah melihat persoalan mereka sebagai perselingkuhan, tapi sungguh film ini lebih dari itu. Ketakutan Nana bahkan bukan benar-benar soal diselingkuhin. Melainkan lebih kepada kehilangan keluarga lagi, kehilangan anak lagi. See, relationship yang lebih penting di film ini dari Nana dan Ino yang akhirnya jadi temenan begitu Nana sadar betapa ‘kuatnya’ Ino sebagai perempuan cina di masa hidup mereka itu, adalah antara Nana dengan Dais. Yang membawa penyadaran bahwa konflik Nana adalah generational, bahwa masalah itu akan turun temurun. Bahwa perempuan akan selalu ditindas mau itu di jaman Belanda, jaman Jepang, ataupun jaman-jaman lain. Salah satu adegan favoritku adalah setelah Nana menyisiri rambut Kang Lurah yang feelnya so serene, film lantas menarik perbandingan dengan memperlihatkan adegan Nana bersama Dais menyisir rambut. Dais menanyakan kenapa perempuan rambutnya panjang tapi malah disanggul, dan Nana menjawab sanggul adalah simbol rahasia yang disimpan oleh perempuan. Ibu anak itu lantas berbagi rahasia. Lalu sepeninggal Dais, Nana mengenang masa lalunya sambil menatap konde, dan lantas dia mengenakan konde itu sebagai simbol menguatkan diri. Gestur Nana nguat-nguatin diri  di depan cermin setelah konde terpasang really gets me. Pemandangan bahwa untuk keluar rumah perempuan seperti Nana harus membebat perut, berdandan, menyanggul rambut, itulah bentuk represi diri dalam hal terkecil. Makanya adegan-adegan Nana dengan Ino terjun ke sungai, merokok dengan pakaian dalam, jadi menyentuh sekali bagi penonton. Itulah momen ketika karakter perempuan bisa menjadi diri mereka sendiri. Gak ada rahasia.

Belum setahun, tapi kita udah dapat dua karya menakjubkan dari Kamila Andini, nikmat mana lagi yang mau sinefil dustakan?

 

Kamila lebih menonjolkan cerita lewat simbol visual dan gerak, dalam usaha membuatnya lebih dalam secara personal. Daripada mengatakan kuat referensi film karya orang luar, aku lebih suka menyebut ini film Kamila yang paling mirip dengan film-film bapaknya. Aku merasa film ini adalah companion dari Kucumbu Tubuh Indahku (2019) karya Garin Nugroho. Karena di situ Garin juga bercerita tentang trauma masa lalu tergambar dalam gerak tubuh, terpetakan dalam tubuh pria yang menjadi feminim. Kisah Nana ini menilik permasalahan itu dari sudut perempuan. Bagaimana pembatasan diri perempuan – saat mereka bahkan tidak bisa bebas mengekspresikan trauma – juga membatasi gerak pada akhirnya.  Dalam film Before, Now & Then, Kamila membatasi gerak-gerak aktornya untuk menguatkan kesan ini. Akan ada banyak adegan yang terasa kayak terlalu frame-in, yang terasa kayak teatrikal, demi menyampaikan karakter yang secara inner terbelenggu tersebut. Perbandingan yang menarik perhatianku adalah gerak slow motion yang dilakukan film ketika Nana mengikuti Ino – menatap punggung Ino – saat pertama kali ke ruang potong daging, saat mereka belum kenal, dengan gerak cepat ketika tatapan Nana mengikuti punggung Ino yang meloncat dari tebing ke sungai.

Film tampil balance dengan gak lantas menjadi karakter laki sebagai antagonis. Justru ‘penjahat’nya di sini adalah sistem, yang tak terlawan. Bagaimana masyarakat akan selalu nganggap PKI jahat, bagaimana perempuan bakal terus harus nurut, dan sebagainya. Yang dihadirkan film ini adalah perbandingan. Pada laki-laki represi tentu juga ada, tapi itu jadi problem yang harus segera diluruskan. Bagi perempuan, represi dan opresi adalah tradisi, yang bakal terus berlanjut.

 

Tentunya aspek surealis gak ketinggalan. Film ini punya adegan-adegan mimpi, punya musik biola yang bisa ngasilin perasaan berbeda setiap kali muncul, dan bahkan ada karakter misterius. Di film ini Nana akan berjumpa dengan perempuan muda yang diperankan oleh Arawinda Kirana, yang muncul setiap kali ada sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak. Aku pikir karakter ini adalah manifesti ingatan Nana akan anaknya yang tewas, dan nanti setelah dia juga kehilangan Dais, baru si karakter misterius hadir sebagai Dais. Yang berbisik-bisik kepada Nana. Seperti Dais kecil bisik-bisik kepada Nana. Seperti Ino berbisik-bisik kepada Nana. Inilah yang menghantarkan kita kepada ‘then’. Nana posisinya gak banyak perbaikan di akhir, tapi sekarang dia tidak lagi senelangsa di awal cerita. ‘Then’ juga menanyakan balik kepada kita, gimana ‘sekarang’? Jadi, pesan / statement film ini mirip dengan yang disampaikan Kamila di film Yuni (2021), bahwa perempuan hanya punya perempuan lain sebagai penawar rasa terkukung bahwa sistem yang mendikte posisi perempuan sudah terlanjur mendarah daging. Bedanya, di film kali ini, Kamila menumpahkan uneg-uneg itu ke dalam presentasi yang lebih ‘teknis’, kalo gak mau disebut lebih artsy.




Sungguh kejutan menyenangkan di bulan Agustus, walau agak sedih juga sih tidak menonton ini bioskop melainkan di platform. Tapi film sepersonal ini memang lebih cocok ditonton secara personal pula, jauh dari hingar bingar. Mungkin sekilas tampak berat, tapi ini adalah cerita yang pengen kita tonton berulang-ulang. Bukan sekadar untuk menebak maksud simbol-simbolnya, melainkan juga karena cerita ini dihadirkan sebagai perjalanan personal karakter sehingga mudah terkoneksi. Karena kita mengerti problem karakternya real dan tidak dibuat-buat. Meskipun bisa dibilang film ini terlalu mengatur dengan treatment melingkupi banyak hal mulai dari ekspresi, gerak, hingga bahasa. Kesan yang dihasilkan bukan membuat film jadi kaku, melainkan jadi magis. Dan itu juga sesuai konteks dan bahasan yang coba diangkat film. Yang pada akhirnya jadi buah pikiran lain untuk direnungkan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BEFORE, NOW & THEN (NANA)

 




That’s all we have for now.

Lucunya, banyak penonton yang jadi ngeship Nana dengan Ino. Menurut kalian kenapa itu bisa terjadi?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



[Reader’s Neatpick] – THE MAN FROM EARTH (2007) Review

 

“Ternyata segala sesuatu punya lebih dari satu sudut pandang.” – Fajarudin Ilmi, yang bisa disapa di akun sosmed @fajar_vin

 

 

Sutradara: Richard Schenkman
Penulis Naskah: Jerome Bixby
Durasi: 1jam 27menit

 

 

Teman-teman sesama dosen dan profesor di universitas pada heran. Kenapa Profesor John Oldman, yang brilian, baik hati, dan terutama masih muda itu mendadak mengajukan pensiun dan mau segera pindah dari kota. Maka di hari kepindahannya, mereka beramai-ramai ke rumah John. Membantu pindahan, ngucapin selamat tinggal, dan tentu saja menanyai langsung alasan semuanya. John sendiri memang tampak enggan menjawab, membuat kesan misterius semakin membesar. Para teman-teman terus mendesak. Dan John akhirnya memberikan jawaban, tapi bukan dalam bentuk pernyataan yang bisa dengan mudah diterima. Tidak ada satupun orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi di rumah yang kini nyaris kosong oleh perabot itu siap, ataupun ikhlas, mendengar cerita dari John yang melatarbelakangi kenapa dia harus pindah dari sana. Cerita yang menjungkirbalikkan berbagai keilmuan, mulai dari catatan sejarah bahkan hingga agama. Karena apparently, nama belakang John jadi literal karena pria ini mengaku sebagai manusia yang benar-benar sudah tua; dia sudah hidup selama 14 ribu tahun!! 

 

“Aku suka film ini karena unik. Memberikan pengalaman dan perspektif baru dalam berbagai hal khususnya sejarah dan agama.  “

“Unik banget, bener deh. Tadinya, ngeliat dari posternya, kupikir ini cerita sci-fi dengan alien-alien gitu. Ternyata satu-satunya yang ‘alien’ di film ini adalah bahwa dia begitu berbeda dari fantasi ilmiah lainnya. Filmnya minimalis banget. Gak ada aksi, nyaris ada plot. Vibe-nya pun gak mewah – gak ada polesan. Ini produksi 2007 tapi rasanya kayak show yang bahkan lebih jadul jadi. Gak ada nama-nama besar, yang kukenali paling cuma si Candyman, yang jadi salah satu profesor sahabat John. Adegan-adegan film ini hanya bersetting di satu ruangan kecil, hanya sekelompok orang yang berbincang-bincang. “

“Film ini bisa jadi motivasi atau acuan bagi yang mau berkarya dengan anggaran minimalis. Untuk bisa bikin film bagus nggak harus dengan budget fantastis! Nggak jarang aku ketemu film indie yang terasa orisinil atau feel-nya ngena dan berpikir “Kalo film ini digarap studio besar yang seringnya disusupi kepentingan-kepentingan tertentu khususnya selera pasar, apa mungkin filmnya masih sama?”

“Saat nonton, aku langsung teringat sama film 12 Angry Men, klasik dari tahun 1957, yang isinya juga cuma orang ngobrol dan berdebat. Tapi ngikutinnya terasa nikmat. Kalo ibarat menyantap makanan, nonton film-film kayak begini tuh rasanya bener-bener kenyang. Also, jadi bukti bahwa suatu film itu yang penting memang bahasannya. Like, film boleh punya fantasi setinggi langit, world-building keren, atau aksi-aksi laga ataupun horor yang dahsyat, but in the end yang bakal nyantol ke penonton adalah apa yang dipermasalahkan. Apa yang diperbincangkan. Film kayak The Man from Earth ini membawa kita langsung ke percakapan. Walaupun dengan konteks sains yang kuat, tapi karena dibentuknya sebagai percakapan antarteman, jadinya mengundang banget.” 

“Biar penonton nggak bosen nontonin orang ‘ngobrol doang’ menurutku tensi harus dijaga dan topiknya jangan sampai dibiarkan bercabang terlalu jauh dari bahasan awal. Juga harus ada karakter yang mewakili orang awam yang nggak terlalu paham sama topik atau istilah-istilah yang digunakan. Film ini, nggak sedetik pun aku sempet bosen. Biarpun kubilang karakter-karakternya dua-dimensi, tapi pertanyaan atau pernyataan yang mereka sampaikan hampir semuanya tepat. Seolah aku bisa ngomong ke mereka, “Eh, abis ini tanyain ini, dong.” dan benar aja mereka ngomonginnya itu. Misalnya pas obrolan sudah masuk ranah agama.

“Pengen rasanya ikut ngobrol bareng mereka ya hahaha.”

“Pastilah pengen. Yang paling mencengangkan ya sudah pasti tentang alkitab. Scene paling memorable adalah saat John mengklaim dirinya adalah Yesus (mungkin baiknya ‘Yesus’-nya disensor biar nggak spoiler :D) sampai-sampai Edith menangis. Alasan kenapa memorable; scene itu yang paling emosional. Seluruh emosi dibendung sepanjang durasi dan ditumpahkan di sana, diwakili oleh Edith.”

“Gak perlulah kayaknya disensor, itungannya udah klasik nih film, udah di luar aturan spoiler-spoileran. Lagipula, seperti yang kita bahas, yang paling mengundang di sini itu bukan apa yang mereka bahas. Tapi pembahasannya itu sendiri. Percakapan yang muncul benar-benar menggugah pikiran. Karakter teman-teman John kan sebenarnya dibentuk film cuma sebagai sanggahan-sanggahan ilmiah. Sebenarnya, secara karakter, mereka ini kurang ‘hidup’lah istilahnya, Mereka cuma perspektif lain dari keilmuan yang menambah serunya percakapan”

“Sayangnya, di sinilah kelemahan terbesar film ini. Karakter-karakternya terasa template. Sebagian besar ucapan dan tindakan mereka hanya untuk mewakili penonton. Tapi kalo harus milih, aku pilih Dan. Karena kalo aku di sana mungkin reaksiku bakalan mirip dia. Kok malah kontradiktif, ya? :D”

“Mungkin lebih tepatnya bukan template, tapi perspektif keilmuan yang kita tahu memang benar demikian adanya. Jadi percakapan mereka sebenarnya satu cerita tapi dibantah sama ilmu biologi, sejarah, psikologi, agama. Mereka bukan Dan, Edith, dan lain-lain. Tapi keilmuan. Bukan exactly karakter. Kekurangan film memang di sini, tapi pinter sih membuat situasinya seperti itu. Karena bahasan yang menyangkal sejarah dan agama seperti yang disebut John, kalo gak ditanggapi dengan kepala yang settingnya keilmuan juga, pasti bakal jadi menyinggung, kan. Coba bayangkan kalo John cerita tentang asal usul hidupnya, cerita tentang ‘belakang layar’ agama, kepada orang-orang di pasar. Udah babak belur dipukuli massa pasti dia.”

“Orang berpendidikan (bukan tingkat pendidikan tapi intelektualitas) akan mendahulukan logika daripada emosi. Karena banyak yang mereka pertaruhkan; nama baik, gelar, jabatan, persahabatan, dsb, bila mereka salah menanggapi suatu masalah berdasarkan emosi. Menurutku, secara film, pembahasannya juga nggak menyinggung, setidaknya masih dalam batas wajar. Apalagi ini konteksnya fiksi. Mungkin akan beda cerita kalo formatnya dokumenter. “

“Tapi kalo dibikin dengan format dokumenter mungkin juga filmnya gak bakal nyampe status cult kayak gini. Sebagai dokumenter, mungkin dia bukan hanya menyinggung tapi malah bisa-bisa jadi benar-benar boring. Ini terutama karena – sejalan juga dengan salah satu tema yang dibawa film – orang-orang cenderung untuk tidak langsung welcome sama ide yang berbeda dari yang telah dipercaya. Dalam hal ini adalah kebenaran. Film ini memberikan pandangan yang thoughtful dengan mengguncang reality kita. Kalo formatnya dokumenter, aku yakin orang akan menyangka ini beneran (saking powerfulnya) dan bakal dapat hate luar biasa. Tapi mungkin itu karena aku berpikir sebagai orang di jaman sekarang, jaman yang lebih baperan. Menurutku, film ini dibuat pada waktu yang tepat. Aku yakin di zaman sekarang, film ini akan susah untuk diloloskan untuk produksi. Pertama karena gak ada yang terkenal. Kedua karena bahasannya jadi terlalu sensitif di iklim sosial sekarang. Nah, bahkan dibuat di waktu yang kayaknya gak sesensitif sekarang, film ini tetap didesign dengan benar-benar memainkan emosi. Segala percakapan menarik, dengan reaksi yang mewakili walaupun karakternya ‘gak hidup’ itu sesungguhnya juga terbantu dari bagaimana film ini membungkusnya dengan konsep obrolan saat pindahan tersebut. Like, daya tarik yang bikin aku betah ngikutin film ini adalah dari cara film mengarahkan supaya penonton enggak langsung percaya atau enggak langsung gakpercaya sama omongan John. Ada build up, yang berbuah bukan saja perbincangan semakin dalam, tapi juga reaksi-reaksi terguncang para pendengar di ruangan itu yang terasa real dan mewakili”

“Film menurutku berusaha netral. Dengan enggak memaksa John memperlihatkan foto dirinya di Papua dan John nggak mau masuk laboratorium, film berusaha bilang “jangan langsung percaya aja sama John.” Tapi juga dengan membuat karakter John begitu simpatik, kita dibuat mikir juga “apa iya orang sebaik ini tukang bohong?”
Tapi aku pribadi sih percaya sama John. Aku ingin spesifik pada scene saat John bilang semua yang dia bilang itu bohong. Mereka marah karena sudah percaya sama John dan merasa dikhianati baik secara emosional maupun intelektual. Mereka menghargai dan mempercayai John yang merupakan teman baik mereka, sekalipun yang John katakan bertolak belakang dengan yang selama ini mereka pelajari dan ajarkan. Jadi, ibaratnya mereka sudah mengkhianati teman mereka (pengetahuan dan keyakinan) demi John, tau-taunya John mengkhianati mereka (dengan bilang itu semua cuma iseng).
Awalnya aku pengen bilang Edith yang paling terguncang. Tapi setelah dipikir lagi, pas John bilang itu semua cuma pura-pura, Edith malah sebenarnya lega. Menurutku Dan lah yang paling terguncang karena dia yang sedari awal paling berkepala dingin, menganggap serius dan mempercayai John.”

“Bener, itu juga menunjukkan dari perbincangan yang bersifat stoic, pada akhirnya film berhasil menyusupkan elemen personal. Karakter-karakter lain, seperti yang sudah disebut, akhirnya bisa juga kita merasa relate. Sisi personal ini terutama disematkan film kepada John dan salah satu karakter yang nanti berkaitan secara pribadi dengan dirinya. Ini jadi heart – jadi nyawa yang merayap di balik bahasan. Yang actually juga jadi pay off yang cukup menyentuh di akhir. Lebih gampang sebetulnya membuat film ini berakhir open ended, dengan misteri John tak terungkap, tapi film berani memilih dan dia membuat karakterisasi John jadi terwujud di akhir. Makanya John kita identifikasi sebagai karakter utama, meskipun bangunan atau struktur film ini gak persis sama dengan film biasanya. John menggerakkan cerita dan walau aneh, tapi seperti teman-temannya kita bisa terkoneksi juga dengannya. Film bahkan sempat membahas John sebagai parent kan. Film gak lupa menganggap dia sebagai manusia biasa yang bersosial. Dia memilih pindah-pindah itu aja udah relate”

“Sebenarnya pengecut sih. Tapi memang itu pilihan yang sulit dan pilihannya nggak banyak bagi John. Tapi dari sekian ratus istri dan anak John, masa nggak ada yang open minded dan bisa dia percayai rahasianya? Kenapa John cerita ke teman2nya, aku percaya yang dia katakan “Aku ingin mngucapkan selamat tinggal sebagai diriku yang sebenarnya, bukan sebagai diriku yang kalian kira.”.”

“Memang tampak sebagai pengecut tapi itu kevulnerablean yang manusiawi. Kita juga pasti pernah mangkir karena gak enak harus jelasin. Itulah, at least, kita tentu pernah berada di posisi seperti John, ingin mengatakan suatu fakta tapi gak benar-benar bisa membuktikan fakta tersebut. Juga di posisi sebaliknya, apa coba yang bisa kita anggap sebagai kebenaran? Apakah penting untuk membuktikan sejarah, atau bahkan ajaran agama, sebelum menganggapnya sebagai kebenaran? Ini kan jadi koneksi dramatis antara kita dengan film itu”

” I guess, semua orang pernah mengalami hal itu. Gimana ya, susah juga kalo nggak ada bukti. Mungkin bisa ya pakai sumpah, bisa pakai nama Tuhan atau orang yang kita hormati atau sayangi. Dan ya, menurutku penting mengetahui kebenaran tentang sesuatu sebelum mempercayainya. Setuju nggak, sejarah ditulis oleh pemenang dan oleh sebab itu detailnya seringkali bias?
Apalagi agama, kalo cuman warisan orang tua, ‘kesenggol’ dikit udah goyah, kan?”

“Nah, deep memang film ini. Di luar pokok-bahasan mereka, film ini menyuguhkan pilihan buat kita lewat gambaran kondisi John dan orang-orang sekitarnya. Mana yang lebih penting; menyampaikan kebenaran apa adanya meskipun sulit dipercaya, atau membuat orang percaya akan sesuatu sehingga membuat sesuatu itu jadi kebenaran yang disetujui bersama? Beres nonton, aku makan dan makananku gak kerasa karena ngunyahnya sambil mikirin pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang bermunculan”

“Wah, ini mirip ending The Dark Knight saat Komisaris Gordon harus ‘memfitnah’ Batman. Wkwkwk. Tapi aku berprinsip “Kebenaran yang pahit tetap lebih manis dari kebohongan yang manis.””

“Berarti lebih baik – dan mungkin bisa persoalan bisa lebih simpel – kalo kita menyampaikan apa adanya saja ya, meskipun itu menantang dan gak sejalan dengan kebenaran yang diyakini orang. See, yang paling manusiawi di film ini buatku adalah dengan kepintaran berpuluh ribu tahun pun John gak lantas jadi si paling bijak. Kalo aku hidup selama itu mungkin bakal banyakan stressnya. Aku bisa habis seribu tahun mikirin hidup abadi itu kutukan atau anugrah hahaha”

“Seperti kata Linda, “Bila dengan tubuh sehat, itu sebuah berkah. Kesempatan untuk terus belajar. “

“Kalimat yang bijak sekali. Jadi, ngasih skor berapa nih untuk The Man from Earth?”

“Sebelum ngasih skor, aku mau ngasih pro dan kontranya dulu. Biar ada alasannya gitu kalo dinilai orang lain skornya ketinggian atau terlalu rendah. Pro:  -Eksposisi dengan istilah-istilah ilmiah atau event-event sejarah mudah dimengerti. Film paham mana istilah yang penonton sudah tahu, mana yang perlu sedikit penjelasan, dan mana yang perlu lebih detail. – Tensi dijaga supaya penonton nggak bosen tapi emosinya nggak dibiarkan meledak terlalu awal untuk menghindari kesan anti klimaks. – Dengan tema ‘pinggir jurang’, aku sebagai penonton nggak merasa jadi bodoh atau merasa dibodohi atau merasa apa yang aku yakini jadi ternistakan. Malah aku merasa diajak untuk melihat ‘di luar kotak’. “Ternyata segala sesuatu punya lebih dari satu sudut pandang.” Kontra: -Pengkarakterannya terasa template dan terasa ada di sana hanya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan penonton dan menjawabnya. -Aku akan ngasih nilai lebih kalo Nabi Adam dan banjirnya Nabi Nuh dibahas, meski itu akan membuat pembahasan tentang agama jadi terlalu mendominasi. Pengen tau aja sudut pandang tentang ‘manusia perama’ dari orang yang sudah hidup ribuan tahun sebelumnya.  Juga tentang banjir besar. Apakah John ikut naik bahtera atau cuma pernah dengar berita tentang banjir di tempat lain atau bahkan nggak tau sama sekali. Mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki film, aku kasih skor 7.5 Aku nggak heran kalo skor kita beda dan penilaian kita malah bertolak belakang. Aku cuma seorang penikmat film yang ingin berbagi. “Ini lo, ada film yang unik dan beda, seru deh.”

“Penilaian yang detil! Iya ya, seru juga kalo John cerita soal nabi-nabian, gimana experience dia pas banjir bandang. Wah, kalo dia beneran ada pasti udah diculik, disekap, ditanya-tanyain terus tentang banyak hal hahaha… Skor kita agaknya gak beda. Pertama aku menemukan film ini cukup kaku dan aneh. Kemudian aku tersedot sama diskusi dan cerita mereka. Lalu tersadar bahwa aku ngikutin itu semua karena penceritaan dramatis yang merayap di balik bahasan dalem tersebut. Ini storytelling unik yang pada akhirnya worked out sebagai tayangan yang cukup emosional dan dramatis. Istilahnya tu, gak perlu jadi nerd atau geek dulu buat nikmati film ini. Yang jelas, harus open minded aja. Seperti John yang menantang realita dan keilmuan teman-temannya, film ini juga menantang realita dan sedikit ilmuku tentang apa itu film. Jadi, aku ngasihnya 7.5 dari 10 bintang emas juga!!”

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat mas Fajar udah merekomendasi dan berpartisipasi untuk mengulas film di sini. Film ini benar-benar pengalaman from earth yang terasa out of the world. Terima kasih udah meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan seabreg. 

 

Buat para Pembaca yang punya film yang ingin dibicarakan, yang ingin direview bareng – entah itu film terfavoritnya atau malah film yang paling tak disenangi – silahkan sampaikan saja di komen. Usulan film yang masuk nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

GHOST WRITER 2 Review

 

“People find meaning and redemption in the most unusual human connections”

 

 

“Kalo saya cuma dianggap dukun, buat apa saya nulis?” Aku suka banget kalimat yang diucapkan Tatjana Saphira dalam Ghost Writer 2. Karakter yang ia perankan, si Naya, sekarang tenar berkat novel yang ia tulis bersama hantu. Nah itulah masalahnya, tenarnya itu bukan oleh sebab yang ia harapkan. Orang-orang hanya melihat dirinya sebagai paranormal. Sebagai dukun. Sebagai orang yang bisa bicara dengan hantu. Bukan sebagai penulis yang mampu membuat cerita yang bagus. Di jaman branding dan popularitas seperti sekarang, enggak susah untuk menerka bahwa yang dialami Naya beresonansi kepada banyak orang. Sekarang mau bikin Youtube aja harus ada gimmicknya, dan kalo satu gimmick atau satu ciri khas kena, maka ya gak boleh pindah. Harus bikin sesuai dengan itu terus-terusan.  Like, beneran ada loh di kita penulis ataupun kreator yang ‘bertahan’ pake gimmick-gimmick cenayang karena memang lakunya harus seperti itu. Dalam perfilman, kita juga lihat gimana seringkali seorang aktor memainkan tipe peran yang sama melulu di setiap film yang ia mainkan.  Gatau apakah mereka menjerit juga dalam hati seperti Naya atau tidak. Makanya, pembahasan ini terasa lebih ‘rich’ lagi karena muncul dari film horor komedi, yang actually mempertahankan komika untuk terus bermain sebagai karakter lucu. Menarik untuk menyimak gagasan seperti apa yang disuarakan Muhadkly Acho, yang gantiin Bene Dion Rajagukguk sebagai sutradara. Karena Ghost Writer 2 ternyata bahkan lebih ‘rich’ lagi, dengan turut membahas drama hubungan keluarga antara anak dengan ibu!

Naya ceritanya memang mau nikah sama Vino, yang sekarang sudah merambah jadi bintang film. Bukan aktor FTV lagi. Hanya saja, ibunya Vino tampak ada kurang sreg sama relationship anaknya. Karena banyak masalah itulah, Vino jadi banyak pikiran, gak konsen saat take adegan action yang mengharuskannya melompati atap gedung. Vino kepleset, dan hidupnya game over. Naya langsung hancur, apalagi mereka abis berantem sebelum kejadian naas itu. Tapi sedihnya Naya gak lama, karena Vino balik dalam wujud hantu. Dan kini mereka mencari cara untuk menenangkan Vino supaya bisa terus dengan damai ke alam baka. Jadi mereka salin bantu. Selain bantuin Naya membereskan tulisan seriusnya, Vino percaya satu lagi caranya untuk ‘terus’ adalah dengan membantu satu sosok hantu mengerikan yang kerap meneror Naya dan adiknya!

Kolab dengan iblis

 

See, this is what I’m talking about. Horor bukan hanya soal penampakan genjreng-genjreng. Bukan hanya soal bunuh-bunuhan brutal. Harus ada journey paralel di dalam diri karakternya, sebagai bentuk menghadapi horor tersebut. Ghost Writer 2 boleh jadi bakal ‘dituduh’ sebagai gak-pure. Lebih sebagai drama yang ada hantunya. Tapi eksistensi film seperti ini membuktikan bahwa genre horor gak selamanya jadi kasta terendah yang laku bukan karena bagus, yang bahkan pembuatnya sendiri malu diasosiasikan sebagai pembuat horor seperti yang dirasakan Naya. Film ini ngasih lihat bahwa dalam horor pun karakterisasi dan journey  mereka (baca: NASKAH!) itu penting, dan itu udah jadi urusan dan tanggungjawab pembuat film untuk berkreasi semaksimal mungkin menjalin cerita seram, gimmick, dan gagasan sehingga bisa enak dan bergizi untuk ditonton. Naya, Vino, adik Naya, teman adiknya, sedari film pertama karakter-karakter ini sudah merebut perhatian kita karena mereka ditulis dengan kedalaman, mereka punya range, naskah mengeksplorasi ketakutan mereka lebih dari sekadar takut ngeliat setan (reaksi takut mereka actually diarahkan untuk komedi).

Aspek horor dimainkan dengan kreatif. Mulai dari aturan koneksi hantu dengan manusia, hingga ke kemampuan dan batasan hantu dimainkan dengan variasi yang membuat film semakin bikin penasaran untuk disimak. Sekaligus juga menjadikannya menghibur. Ini bukan cerita horor biasa yang ada hantu jahat, ada adegan-adegan menakutkan dari kemunculan hantu mengganggu manusia,  terus para karakter harus menguak misteri dan cari cara untuk membuatnya pergi. Aspek terkuat film ini justru adalah drama, dan wisely film menjadikan itu sebagai pondasi.  Adegan-adegan terbaik film ini datang bukan dari penampakan hantu yang ngagetin. Melainkan dari karakter yang menumpahkan isi hatinya dengan sangat emosional kepada karakter lain. Scene di akhir yang ,melibatkan Ibu Vino dan Naya (and later, Vino) totally bikin satu studio saat aku menonton terdiam. Kayaknya semua menghayati, semua merasa kena ledakan emosi yang merenyuhkan dari Widyawati yang aktingnya satu tingkat di atas yang lain. Selain adegan tersebut, aku juga suka sama montase yang dilakukan film di awal-awal saat memperlihatkan Naya ‘hancur’ karena kematian Vino, ada satu momen ketika Naya duduk di depan TV, enggak nonton apa-apa melainkan hanya layar yang penuh ‘semut’. Kemelut perasaannya terasa banget.

Aku suka karakter Naya di sini, karena lingkupnya benar-benar digali. Film memperlihatkan masalah di dunia profesionalnya, di kehidupan romantisnya, hingga ke kehidupan keluarga saat Naya harus dealing with adik yang justru pengen membuat konten-konten Youtube bergimmick horor. Belief Naya digali, tantangan untuknya terus dinaikkan. Karakter ini ‘sibuk’, sampai hampir seperti tak ada waktu baginya untuk ngurusin soal hantu, sampai Vino datang membuatnya jadi lebih personal bagi Naya. Vino bahkan ditulis lebih dalam lagi dibandingkan dengan karakternya di film pertama. Kita bakal melihat apa yang dilakukannya di masa lalu, hubungannya dengan ibu. Deva Mahenra di sini gak lagi mainin karakter yang hanya tampak awkward. Persona dari karakternya digali, bahkan aku merasa cerita kali ini lebih cocok sebagai cerita dirinya. Like, harusnya dia yang tokoh utama. Seiring durasi berjalan, film memang terasa kayak ‘pindah’ dari Naya ke Vino. Soal idealisme menulis jadi terpinggirkan, karena memang Naya harus berurusan dengan hantu, yang juga mendadak diungkap punya konflik yang lebih gede. Resolusi kisah Vino actually lebih terasa earned. Lebih kuat ketimbang persoalan menulis Naya, yang terasa kayak dikasih reward dengan cara yang dibikin kayak kebetulan. Also, sisi Naya membuat usaha-usaha yang mereka ambil jadi konyol. Misalnya, pas mereka sepakat membantu si hantu seram dengan bikin konten di Youtube, usaha yang mereka lakukan untuk mencari satu tempat tertentu cuma merefresh komen. Mungkin relevan dengan jaman sekarang, tapi merefresh kolom komen enggak tertranslasikan sebagai usaha yang greget dalam sebuah pengalaman sinema.

Yang kayak gini nih yang bikin aku merasa era kekinian kita enggak asik untuk dijadikan periode cerita film

 

In the end, keseluruhan permasalahan Vino yang seputar keluarga tampak lebih urgen, lebih paralel dengan sosok hantu mengerikan. Walaupun memang tanpa Naya, hantu-hantu itu gak bakal bisa menyelesaikan urusan mereka.

Untuk menjawab galau kreatifnya Naya, film menyediakan jawaban/gagasan yang dikaitkan dengan kebutuhan manusia untuk terkoneksi. Permasalahan koneksi ini ditonjolkan film lewat bagaimana para hantu seperti Vino bisa dilihat manusia yang memegang benda-benda yang punya makna bagi si hantu. Bahwa mereka masih terkoneksi dengan hidup, dengan manusia, dan mereka butuh untuk deal with that connection. Jadi seaneh apapun cara kita konek dengan orang, yang terpenting adalah bagaimana koneksi itu bisa ada karena itulah yang membuat keberadaan kita bermakna. Naya berdamai dengan tipe tulisan yang ia kerjakan karena dia belajar yang terpenting adalah dia bisa konek dengan pembaca.

 

Dari tiga kepaduan; drama, horor, dan komedi, memang jadinya aspek komedi film ini yang tampak paling lemah. Atau seenggaknya, yang mengganggu tempo cerita. Dari segi kreasi, memang juga kreatif. Komedi diangkat lewat beberapa cara. Ada yang dari sketsa yang difungsikan sebagai jembatan dari adegan satu ke adegan lain.  Ada yang berupa celetukan yang mengomentari posisi karakter di titik cerita sekarang (cara yang juga sudah dilakukan sejak film pertamanya), lalu komedi yang benar-benar nyatu ke cerita – entah itu dari reaksi karakter, ataupun dari opini dan sikap mereka yang kocak. Itu semuanya fine dan memang menghadirkan ciri khas tersendiri buat film ini. Tapi kalo itu dilakukan dengan ‘mengorbankan’ pengembangan yang lain, membuat tempo cerita jadi sedikit terhambat, maka certainly I will have problem with that.

Daripada ngasih waktu untuk sketsa, kan lebih mending dipakai untuk benar-benar liatin backstory Vino dengan ibunya. Linear, gak usah lagi pakai flashback seperti yang dilakukan film ini. Flashback yang kumaksud di sini adalah soal Vino dan ibunya, yang tidak dilakukan linear oleh film melainkan lewat ujug-ujug revealing. Kalo flashback soal backstory si ‘hantu jahat’ sih, mungkin memang tidak bisa tidak (problemku untuk ini cuma.. c’mon, tau-tau ada sindikat jual organ, kayak di luar dunia cerita banget – permasalahannya gede sendiri) Anyway, yang jelas, penceritaan bisa lebih rapi kalo enggak kebanyakan komedi yang sebenarnya gak benar-benar menambah untuk cerita. Lagipula sebenarnya komedi sudah cukup terwakili dari aksi dan reaksi karakter. Tokoh sentral kayak Naya dan Vino (apalagi adik Naya dan temannya) dapat porsi ngelawak yang sudah efektif masuk ke dalam cerita. Karenanya, komedi mereka lantas jadi natural. Deva Mahenra punya comedic timing dan delivery dan persona yang bikin ngakak tanpa harus jadi lebay. Yang klop tektokan dengan Naya-nya Tatjana yang harus put up with situation. Sehingga sebenarnya gak perlu lagi sering-sering balik ke sketsa-sketsa yang kepanjangan.

 

 

 

 

Pembahasan ceritanya banyak, genrenya aja ada tiga; drama horor komedi, certainly ini bukan film yang gak punya tantangan untuk dibuat. Makanya ini perlu banget kita apresiasi, lantaran sudah cukup berhasil memadupadankan semua menjadi satu petualangan misteri yang menghibur dengan gaya dan karakter-karakternya yang nyantol. Kali ini protagonis utama agak sedikit kalah urgen ketimbang pasangannya, tapi film berjuang untuk tetap membuat protagonis sebagai sentral. Overall aku lebih suka film keduanya ini dibandingkan yang pertama. Formulanya sebenarnya hampir sama, tapi di film kali ini karakter dan bahasannya lebih dalam dan personal. Satu lagi hal yang dipertahankan film, hanya kalo yang ini menurutku harusnya dikurangi sedikit, yaitu porsi komedi sketsa dan komedi celetukannya. Mengganggu tempo dan membuat film jadi harus pakai flashback untuk adegan yang mestinya bisa runut.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for GHOST WRITER 2

 

 



That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang gimmick, seperti Naya yang nulis tapi harus nulis horor dan berlagak dukun terus? Apakah menurut kalian tidak mengapa seorang seniman (aktor atau penulis dsb) terus mengerjakan yang populer saja?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 


THOR: LOVE AND THUNDER Review

 

“The saddest thing about betrayal is it never comes from your enemies”

 

 

Dikhianati itu memang gak enak. Rasanya nyelekit banget. Bayangkan kita sudah menaruh harapan kepada orang,  kita sudah begitu percaya mereka akan either memegang rahasia, menepati janji, atau selalu ada saat dibutuhkan, tapi ternyata mereka tidak menganggap harapan dan kepercayaan kita kepada mereka sebagai sesuatu yang berharga. Di situlah letak sakitnya; yang disebut berkhianat itu pelakunya bukan musuh yang kita benci. Tapi justru orang yang kita sayang, Yang kita percaya. Penguasa, misalnya. I hate to get political saat ngomongin superhero yang harusnya fun, tapi sepertinya memang itulah yang sedikit disentil oleh Taika Waititi dalam projek Thor kedua yang ia tangani; Thor keempat – Love and Thunder. Origin karakter penjahat utama di film ini ia hadirkan sebagai seseorang yang merasa dikhianati oleh dewa yang ia puja. Bahwa dewanya tidak menolong saat sedang kesusahan. Bahwa dewa hanya mau dipuja. Sehingga si karakter bersumpah untuk membasmi semua dewa di dunia. Tentu saja ini jadi cikal konflik yang menarik, karena protagonis yang kita semua sudah kenal di cerita ini adalah Thor, yang juga seorang dewa.

Namun Thor bukan dewa sembarang dewa. Thor telah melalui begitu banyak. Seperti yang dinarasikan oleh si monster batu Korg (disuarakan langsung oleh pak sutradara) lewat adegan eksposisi yang merangkum perjalanan karakter Thor dari tiga film sebelumnya, Thor adalah dewa yang ngalamin naik-turunnya kehidupan. Dia bukan dewa agung yang duduk di singgasana emas sambil makan anggur. Thor adalah dewa superhero yang berjuang menyelamatkan dunia. Thor pernah terpuruk hingga badannya gemuk. Thor pernah kehilangan sahabat, saudara, keluarga, dan bahkan pacar. Jika ada dewa yang bisa menaruh simpati kepada Gorr (nama karakter yang  dendam kepada para dewa itu) maka Thor-lah dewanya.

Setting dan latar cerita film ini sebenarnya sudah perfect. Lupakan dulu multiverse dan karakter Marvel lain (tim Guardians of the Galaxy yang sempat muncul sebagai penyambung film ini dengan sebelumnya pun akan segera menyingkir), Thor Empat ini kembali kepada sebuah cerita yang berdiri di dalam franchisenya sendiri. Film ini hadir dengan stake gede yang personal, yaitu pemusnahan para dewa (termasuk Thor) sekaligus mengangkat pertanyaan bukankah sebaiknya memang para dewa penguasa lalim itu musnah saja? Sebelum membahas itu lebih lanjut, film menghadirkan satu aspek menarik lagi buat Thor. Supaya Thor (Chris Hemsworth tampak makin prima – physically and mentally – mainin karakter ini) semakin tergali tidak cuma sebatas bereaksi terhadap tindakan Gorr, dia dibuat berkonfrontasi dengan Jane Foster (Natalie Portman, welcome baaacccckkk!) yang kini punya kekuatan dan atribut serupa si Dewa Guntur, lengkap dengan senjata lama milik Thor yakni Palu Mjolnir. So in a way, film dengan gaya tuturnya yang kocak ini turut menggali gimana Thor merasa ‘dikhinati’ oleh senjata lamanya yang kini memihak mantannya.

Need more Darcy. Darcy is the GOAT!

 

Meski berusaha untuk hadir sebagai kisah sendiri (another classic adventure of Thor!) tapi memang terasa film ini sedikit kerepotan dengan karakter-karakternya. Dalam pengembangannya, Thor terasa jadi kurang sepadan dengan Gorr, dalam artian journeynya tidak benar-benar paralel. Pun sedari awal, alur film ini bergerak lewat keputusan dan aksi dari Gorr, yang posisinya adalah penjahat. Film ini mirip sama Avengers Infinity War (2018), yang Thanos, penjahatnya lebih cocok sebagai karakter utama sementara para karakter superhero bereaksi terhadap tindakan yang ia lakukan.  Di sisi lain, aspek ini mengindikasikan satu hal positif. Yaitu film ini – seperti halnya Infinity War – punya karakter villain yang ditulis dengan solid. Aspek yang langka dalam genre superhero secara keseluruhan. Penjahatnya gak sekadar pengen nguasain atau bikin hancur dunia. Melainkan, ngasih sesuatu untuk kita pikirkan. Dalam hal ini adalah soal penguasa.  Secara karakterisasi, Thor memang kalah ‘kuat’. Selain hanya lebih berupa bereaksi, pembelajaran yang ia alami pun kurang nendang dan kurang sejalan. Bagi Thor yang aware sama konflik yang mendera Gorr, perkembangan karakter cuma di awal dia show off sendiri dan nanti di akhir cerita dia jadi lebih luwer berteam work. Termasuk di antaranya membagi kekuatan dengan anak-anak – yang kuakui ini jadi aspek yang seru dan memuaskan karena aku sudah lama minta ini kepada film-film superhero hiburan. Libatkan anak-anak. Bikin mereka ngerasain jadi superhero itu seperti apa. Anyway, pembelajaran Thor intinya adalah learn to trust, dia juga gak insecure lagi sama Jane dan Mjolnir yang jadi superhero, yang fungsinya kayak cuma ngasih lihat bahwa ada Dewa yang ‘bener’.

Makanya Thor justru lebih cocok dengan penjahat sampingan yang muncul di film ini. Dewa Zeus (portrayal yang kocak dari Russel Crowe hihihi)  Pemimpin para dewa seluruh mitologi itu ternyata seorang yang pengecut dan memikirkan keselamatan golongannya sendiri. Permasalahan Thor dengan Zeus justru seperti disimpan untuk film berikutnya. Interaksi mereka masih dibiarkan terbatas, Zeus hanya muncul di satu sekuen. Setelah itu, Thor kembali fokus ke permasalahan dengan Gorr si God Butcher. Nah, justru Jane Foster yang jadi Mighty Thor yang ternyata lebih paralel dengan permasalahan Gorr; mereka sama-sama mortal yang dapat kekuatan. Tapi menggunakannya dengan berbeda. Jane yang mengidap kanker, beralih kepada kekuatan dewa untuk jadi obat. Penyakitnya tidak sembuh, melainkan jadi makin parah, tapi dia tetap berusaha kuat dan memilih untuk menggunakan sisa waktunya menjadi superhero. Bertarung bahu-membahu dengan Thor. Beda dengan Gorr yang seketika kecewa dengan dewa, dan menggunakan kutukan yang mengonsumsi dirinya dengan kekuatan bayangan itu untuk membunuh dan balas dendam. Walau motivasinya kayak Kratos di game God of War original, karakter Gorr sebenarnya deep. Christian Bale tahu ini dan memainkan karakternya yang perlahan semakin meng-zombie itu (bentukannya jadi mirip Marylin Manson!) dengan tone menyeramkan sekaligus menyedihkan.

Adegan Thor ke tempat jamuan para dewa, menjelaskan duduk perkara Gorr dan meminta bantuan, tapi malah dilepehin dan disuruh duduk tenang aja di situ seperti menyentil penguasa yang gak peduli sama rakyat. Yang ternyata hanya menjadikan rakyat sebagai sacrifice, yang bukan saja membiarkan tapi justru balik menyalahkan rakyat. Yang taunya cuma minta dilayanin dan dipuja. yang antikritik. Yang gak bertanggungjawab sama sekali terhadap kekuasaan yang dimiliki. Kalau diliat-liat kondisinya  mirip terjadi kepada rakyat Indonesia waktu pas harga minyak naik, dan rakyat malah disuruh jangan sering-sering pakai minyak goreng. 

 

Memang at the heart, permasalahan yang disentil Taika di film ini bukan permasalahan sepele. Ada orang yang marah sama Dewa (yang dalam konteks karakter tersebut adalah Tuhan) sehingga berontak dan memburu dewa. Menggunakan anak-anak dalam prosesnya. Yang juga kalo ditarik relasinya ke kita, dewa di sini bisa berarti penguasa. Pemerintah yang tak bertanggungjawab kepada rakyat meskipun janji duduk di atas sana sebagai pemimpin dan wakil rakyat. Lalu ada juga soal relasi asmara yang complicated antara Thor dengan Jane. Kalo film ini digarap Indonesia aku yakin jadinya bakal superhero yang muram dan dark lagi. Itulah hebatnya Taika Waititi, dan Marvel Studios for the matter. Karena mereka selalu bisa membuatnya ke dalam penceritaan yang ringan. Tanpa mengurangi bobot gagasan atau temanya sendiri. Thor: Love and Thunder tetap hadir dengan humor receh yang timbul dari karakter bertingkah norak (supaya mereka tetap grounded) kayak waktu di Thor: Ragnarok (2017). Tentu ini tantangan yang gak gampang. Taika Waititi toh tidak sepenuhnya berhasil meleburkan dua tone kontras. Film ini sedikit tertatih ketika berusaha menyampaikan hal yang serius dengan nada konyol.  But in the end, film ini masih termasuk golongan film yang menghibur. Yang ringan. Yang masih bisa dinikmati oleh penonton anak-anak lewat bimbingan orang tua.

Bayangkan pekikan kedua kambing raksasa Thor kalo mereka tahu beberapa hari lagi Idul Adha

 

Taika bukannya gak aware, sutradara yang gaya humornya unik ini bijak untuk tidak terus-terusan ngepush tingkah norak dan receh karakter. Porsinya memang sedikit dikurangi ketimbang Ragnarok. Taika mengalihkan komedinya kepada cara menuturkan. Sebenarnya film ini banyak bagian eksposisi. Nah, Taika menghandle itu dengan dijadikan gimmick komedi. Kadang dia membuatnya sebagai tontonan pertunjukan, kadang dia juga membuatnya sebagai cerita api-unggun, you know, bergaya narasi paparan oleh Korg, ataupun dia memainkan eksposisi ke dalam montase genre. Kayak ketika menjelaskan hubungan masa lalu antara Thor dan Jane, film membuatnya ke dalam narasi situasi dalam rom-com. Sentuhan-sentuhan ini jadi memperkaya range komedi yang bisa dilakukan oleh film Thor. Membuat filmnya sendiri jadi terus menarik. Sehingga walaupun kadang tonenya timpang, atau recehnya just not work, film ini masih terus mengalir dalam bercerita.

 

 

 

 

Ini merupakan film stand-alone MCU pertama yang mencapai film keempat, dan berhasil terasa tetap fresh. Progres tokoh utamanya terasa. Eksplorasi ceritanya terus berkembang dan berhasil terjaga dalam konteks dunia itu saja. Yang adalah permasalahan dunia dewa-dewa.  Sekali lagi Taika Waititi berhasil membuat mereka grounded dengan permasalahan yang relevan. Gaya komedi, arahan colorful, musik rock, dan karakter-karakternya masih tetap ajaib, membuat film semakin menghibur. Personal favoritku adalah film ini melibatkan anak-anak dalam cerita dan aksinya. Sedikit issue pada tone karena cerita bermuatan cukup serius, tapi tidak benar-benar mengganggu. Struggle sebenarnya film ini ada pada membuat bagaimana Thor bisa tetap relevan di cerita ini. Karakterisasinya kalah kuat, tapi film berhasil ngasih sedikit perkembangan pada Thor sekaligus menjadikannya hook ke petualangan classic berikutnya!
The Palace of Wisdom gives 7.5  out of 10 gold stars for THOR: LOVE AND THUNDER

 

 

That’s all we have for now.

Setujukah kalian penguasa di negeri kita udah kayak dewa?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

MADU MURNI Review

 

“What makes a man”

 

 

Apakah poligami itu sebenarnya cuma urusan laki-laki dengan ego dan harga dirinya saja? Wah agak berat memang bahasan soal ini. Taroklah memang boleh, tapi apakah semua yang diperbolehkan harus kita lakukan. Kenapa kita memilih untuk melakukannya. Jujur aku gak paham soal beginian, Boro-boro mikirin dua, perihal satu yang lama yang kandas dengan sukses aja aku masih belum completely move on. Namun Monty Tiwa menemukan cara manis untuk membahas permasalahan poligami yang terkandung dalam skenario yang ditulis Musfar Yasin. Cara yang tidak ngejudge ataupun mencoba mendekonstruksi keyakinan pihak manapun. Melainkan pure dari sudut pandang karakter yang ditempatkannya dalam sebuah dunia drama komedi yang grounded. Sehingga menonton Madu Murni terasa seperti gurauan, tapi juga sekaligus accomplish so much dalam term karakter-karakternya yang boleh jadi ada perwujudannya di sekitar kita.

Cerita tentang pelakor memang lagi in di kita. Begitu juga dengan poligami, yang jadi polemik hangat di masyarakat. Sebagian ada yang mendukung (setengahnya beneran dukung dan setengahnya lagi cuma bisa pasrah), sebagian ada yang menentang. Karena isunya berada di tengah-tengah masyarakat itulah, Madu Murni juga menempatkan diri gak jauh-jauh dari lingkungan masyarakat umum. Karakternya tidak dipotret dari kalangan menengah ke atas, yang akar poligaminya lebih ke persoalan gaya hidup bebas yang bablas, atau ke yang bisa karena duitnya ada. Madu Murni pengen memperlihatkan apa yang menurut mereka jadi sumber utama. Ingin memperlihatkan bahwa keinginan poligami bisa dirasakan oleh lapisan manapun, asalkan di situ ada pria yang merasa insecure dengan posisinya sebagai seorang pria.

Meet Badrun.  Simbol keperkasaan seorang mantan guru ngaji yang kini jadi tukang pukul kekar bernama Mustaqim. Badrun juga adalah antagonis bagi Mustaqim, karena Badrun benar-benar menghalangi apa yang diinginkan oleh Mustaqim. Pria itu katanya pengen punya keturunan, jadi dia menikah lagi dengan seorang janda tiktok di kampung. Padahal sebenarnya Mustaqim menikah lagi karena istrinya, Murni, ogah menerima duit hasil dari kerjaan preman yang ia lakukan. Murni bisa nyari pegangan duit sendiri dari usaha warung. Ini adalah cakaran pertama bagi honor Mustaqim sebagai seorang kepala keluarga. Makanya dia cari tuh, keluarga baru yang bisa ia take care. Di sinilah si Badrun berulahAtau mungkin tepatnya, tidak-berulah. Badrun gak mau berdiri. Istri muda Mustaqim, si Yati, ampe uring-uringan terus setiap malam. Sedangkan si Mustaqim sendiri, so pasti makin nelangsa. Dia makin merasa helpless, gak jantan. Mau taroh di mana mukanya sebagai seorang pria? Mustaqim terus berusaha membangunkan Badrun, tanpa benar-benar menyadari apa yang sebenarnya membuat pria itu pria.

Seperti dendam, malam pertama harus dibayar tuntas

 

Bagaimana mungkin pria dewasa berbadan kekar bisa mendadak loyo? Ya, obat masalah Mustaqim bukanlah sate kambing, sop torpedo, atau segala macam ritual dukun-dukun. Inilah yang menarik dari film Madu Murni. Di balik raunchy humor seputar usaha pasangan suami-istri menggolkan Badrun, film mengajak kita untuk menyelam ke dalam permasalahan psikologis Mustaqim. Karena tentu saja ketidakkompakan si Badrun itu adalah masalah mental. Namun belum jelas, apakah rasa penyesalan, apakah rasa kegagalan, atau apakah ada hal lain yang dirasakan oleh Mustaqim sehingga mengganggu performanya. Penggalian terhadap itu yang membuat film ini menarik. Dan ketika tiba saatnya menggeledah kerapuhan sisi emosional Mustaqim, film dengan mulus menyublim dari komedi menjadi bahasan drama yang dewasa. Konfrontasi Murni istri pertama dengan dirinya, ataupun dengan istri mudanya. Konfrontasi Mustaqim dengan Badrun di saat personal dirinya. I think this film did a great job memasukkan adegan-adegan emosional itu ke dalam tone komedi yang merakyat nan sederhana. Tidak sekalipun film ini jatuh ke ranah lebay ataupun receh. Walaupun dunia panggung ceritanya dapat terasa sangat ajaib, tapi film tetap berpegang kepada how real perasaan yang dialami oleh karakternya. Kepada perspektif geunine dari karakternya.

Bukan fisik gede yang membuat cowok disebut perkasa. Bukan seberapa jago dia berantem, atau seberapa kuat dia berkuasa. Harga diri cowok sebagai pria – katakanlah kejantanannya – justru terletak dari bagaimana dia memperlakukan orang-orang terdekat, istrinya – keluarganya – sahabatnya. Bagaimana dia menjaga janjinya. Bagaimana dia melindungi yang lebih lemah. Dan pada gilirannya, bagaimana cara dia menghandle kelemahan yang dipunya. Hal inilah yang harusnya dijaga oleh lelaki, ketimbang gagah-gagahan.

 

Inner aspect tersebut tertampil lebih menarik lagi karena mencuat dari karakter-karakter yang ajaib. Mereka itulah yang menyebabkan film ini pantas menyandang genre komedi. Madu Murni dihidupi oleh karakter-karakter yang lain dari yang lain. Ada tukang pukul yang badannya kecil, suaranya nyaring, tapi sangarnya minta ampun (bayangkan Komeng kalo jadi tukang pukul). Bahkan luka codetnya punya ‘cerita’ tersendiri. Ada karakter bos preman yang bicara pake boneka, yang bangun markas penuh performance arts jalanan. Ada bapak-bapak yang tampak lemah tapi punya backingan anak-anak jagoan. Mereka-mereka ini membuat perjalanan Mustaqim menjadi berwarna, tapi juga tidak sampai mendistract kita dari karakter sentral tempat film menuliskan pesan dan gagasan. Tiga karakter sentral benar-benar ditulis oleh film dengan lapisan yang cukup berlapis. Karakter Yati, si bini muda, misalnya. Gampang membuat karakter ini jadi pelakor jahat yang gak benar-benar punya cinta, ataupun membuatnya jadi komedi atau bahan selorohan saja. Yang dibangun tipikal berbodi seksi dan sebagainya. Lapisan tersebut memang ada pada Yati. Adegan yang bikin penonton di studioku ngakak paling keras kan pas Yati marah-marah dan ngambek ngomong langsung ke si Badrun. Tapi beberapa adegan kemudian, penonton terdiam terhanyut di dalam emosi saat Yati meledak menumpahkan isi hatinya kepada Mustaqim di jalanan. Ya, Madu Murni ternyata juga memberi ruang kepada karakter seperti Yati untuk menggali perspektifnya; pelakor yang dianggap semua orang jahat, ternyata tetap manusia di dalamnya. Aulia Sarah kini benar-benar dapat waktu untuk menggali permainan peran dan emosi, gak sekadar menampilkan presence saja.

Mustaqim dan istrinya, Murni, diperankan oleh real-life couple, Ammar Zoni dan Irish Bella. Sehingga chemistry jadi gak begitu masalah buat mereka. Lihat saja dialog di menit-menit awal, yang direkam gak-putus. Perbincangan mereka tentang duit hasil kerjaan tampak natural, ini jadi pondasi cerita yang cukup kokoh. Naik-turun, hingga emosi tertahan dapat kita rasakan di sini. Tadinya kupikir Mustaqim bakalan urakan, kayak Ajo Kawir di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). You know, like, kupikir dia juga jadi tukang pukul demi melampiaskan ego maskulin, kompensasi dari ‘penyakit’ Badrun. Ternyata tidak, Mustaqim sedari awal sudah seorang pribadi yang pikirannya bisa dibilang lurus. Dia kerja jadi tukang pukul, tapi enggak membuatnya suka berkelahi. ‘Penyakit’ Mustaqim bisa dibilang lebih unik, karena tergambarkan sebagai sesuatu yang  lebih ke arah psikologis. Gak setiap hari kita dapat film yang berani ngasih lihat karakter dengan bentukan jagoan terlihat begitu vulnerable. It’s not easy nunjukin sisi vulnerable dari situasi yang sangat kontras, dan Ammar Zoni berhasil memainkannya dengan solid, berani mengeksplor karakter itu.

Semasa hidupnya pun Badarawuhi sudah gangguin hubungan orang

 

Perspektif semakin berusaha diseimbangkan lagi oleh naskah dengan turut membahas sisi Murni. Film bahkan menjadikan ‘keadaan’ Murni sebagai judul, demi menunjukkan concern terhadap sudut perempuan yang diduakan dalam problematika poligami. Peran Murni memang memberikan banyak suntikan dramatis, tapi untuk fungsinya itu, Murni jadi agak satu-dimensi. Perempuan lembut yang terluka. Cinta yang harusnya dikenali sekali lagi oleh Mustaqim. Fungsi itu membuat Murni tertampil bersedih-sedih. Dan ketika film membuat solusi yang ia tawarkan jadi pertaruhan berikutnya bagi harga diri Mustaqim, karakter Murni bisa berbalik tampak annoying. Meskipun sebenarnya hadir sebagai pemantik simpati, Murni bisa tampak membosankan. Menurutku, karakter Murni harusnya bisa lebih dikembangkan lagi. Taruh dia di situasi yang lebih bervariasi. Memang, film mencoba menempatkannya di situasi komedi. Ada adegan dia berkonsultasi ke dokter, hanya saja keseluruhan sekuen ke dokter tersebut tidak kuat dikarenakan mereka pergi ke dokter yang ‘salah’ Sehingga tidak benar-benar berarti banyak selain untuk cameo komedi.

Ngomong-ngomong soal komedi, I do think ada porsi-porsi komedi yang terlalu dipanjang-panjangin. Tone film sebenarnya cukup imbang, dan ada transisi yang mulus ketika film berpindah ke bahasan yang lebih serius. Hanya saja tempo atau pace film yang kurang balance berkat terlalu lama menertawakan suatu hal. Misalnya, bagian Mustaqim dan Yati nyoba berbagai obat dan cara setiap malam. Sebenarnya ini bisa saja dilakukan dengan montase, karena poinnya kan ingin nunjukin segala macam cara dicoba tapi Badrun gak bisa bangun. Kalo poin tersebut sudah terestablish, ya langsung lanjut ke poin lain aja. Tapi film melakukan cara-cara itu dengan benar-benar elaborate. Sehingga terasa jadi repetitif, dan membuat film untuk beberapa menit stuk di tempat yang itu-itu saja. Siang nagih hutang, malam trouble in paradise. Esensi narasi sebenarnya kan untuk nunjukin bagaimana Mustaqim memaknai dan belajar dari kegagalan berdiri itu. Bagaimana itu mempengaruhi kehidupannya, mempengaruhi hubungannya dengan Murni dan lain-lain. Bagian yang penting itu jadi datang sedikit terlambat, karena film terlalu lama nunjukin komedi yang timbul dari Badrun gak bisa bangun.

 

 

Film ini berhasil menyuarakan gagasannya dengan harmless. Mengulik isu poligami yang sedang trend dibicarakan dengan berimbang dan mengembalikannya kepada karakter. Inilah kunci keberhasilannya. Naskah, yang berhasil mengeksplor karakter dan membuat mereka genuine. Dekat. Sehingga problem mereka bisa terproyeksikan dengan mulus. Menghadirkan kisahnya sebagai komedi juga membuat film ini semakin mudah akrab dengan penonton. Vibe film ini sersan banget, serius tapi santai. Tone-nya imbang. Temponya saja yang sedikit kurang lancar.  Lama mencapai klimaks adalah hal yang bagus di ranjang, tapi buat penceritaan film, hal itu bisa menjadi masalah. Karena harusnya penceritaan bisa dilakukan dengan lebih baik lagi.
The Palace of Wisdom gives 6  out of 10 gold stars for MADU MURNI

 

 

 

That’s all we have for now.

Jadi, apakah poligami itu sebenarnya memang cuma urusan laki-laki dengan ego dan harga dirinya saja?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

KELUARGA CEMARA 2 Review

 

“I ask them why is it so hard to keep a promise”

 

 

Di tengah maraknya film horor yang menjual kesadisan, superhero yang berwarna kekerasan, dan drama yang mengutamakan keganjenan, film Indonesia memang agaknya cukup kekeringan cerita untuk anak-anak. Film yang totally aman dan berguna untuk ditonton anak-anak. Film yang benar-benar berangkat dari sudut pandang anak-anak. Film yang berani menunjukkan permasalahan yang bisa dialami oleh anak-anak. Film  yang karakter anaknya beneran ditulis seperti anak-anak. Awal tahun ini, ada sih satu, cuma terlewat olehku karena at that time aku masih belum boleh ke bioskop. Untungnya, Visinema sekali lagi mengangkat cerita anak-anak. Keluarga Cemara 2 – kali ini ditangani oleh Ismail Basbeth – dijadikan drama yang lebih berfokus kepada suka duka petualangan Ara dalam menagih sekaligus mempertahankan janji.

Oh man, ngomongin soal dijanjiin hal-hal saat masih kecil…  Kalo semua janji orangtua dan oom-tante kepadaku waktu masih kecil dulu beneran mereka pegang, aku sekarang bakal punya snack kentang sekontener, mainan serta buku komik satu truk, serta permen segudang uang Gober Bebek, dan banyak lagi! I’ve lost count karena sudah capek menghitung janji. Lebih banyak yang gak ditepatinnya ketimbang yang beneran diwujudkan. Janji-janji tersebut di mata orangtua mungkin sekadar supaya anak mau mengerjakan tugas atau mau menjaga sikap. You know, supaya anak melakukan sesuatu untuk kebaikan sendiri. Tapi bagi si anak, janji itu berarti demikian besar. Buat orangtua yang gak percaya; tonton saja Keluarga Cemara 2. Di film ini Ara merasa jauh dari keluarganya yang mulai sibuk hingga melupakan janji mereka.  Emak sibuk ngurus Agil, sedangkan Abah sibuk sama kerjaan baru di peternakan sehingga janji benerin kamar Ara masih ditangguhkan. Kamar? Ya, Ara kini tidur sendiri karena kakaknya, Euis butuh privasi sebagai remaja SMA yang mulai pacar-pacaran. Untuk alasan itu jualah Euis tidak bisa lagi memenuhi janjinya kepada Ara untuk pulang sekolah bersama-sama. Ara jadi sedih. Yang Ara punya sekarang cuma anak ayam yang ia pungut di jalan. Dan Ara bersama teman sekelasnya nekat berjalan ke kampung sebelah yang jauh, demi mencari keluarga si anak ayam yang tersesat. Yang jelas saja bikin panik keluarga Ara di rumah!

Secretly, ini juga journey Ara menjadi seorang vegetarian hihihi

 

Motivasi Ara memang terlihat sepele. Ingin nganterin si anak ayam ke keluarganya yang hilang. Dan memang seperti itulah kebanyakan orangtua memandang perbuatan atau sikap anaknya. Sebagai hal yang sepele. Makanya mudah mengobral janji. Menganggap pada anak semua adalah main-main. Lihat betapa kekinya Abah ketika Ara bilang dirinya bisa bicara sama ayam, dan ayam itu bilang rindu pada keluarga. Abah menganggap imajinasi Ara sudah keterlaluan. Ayam mana bisa ngomong? Tapi ayam si Ara bisa. Buktinya bukan karena Mang Romli waktu kecil bisa bicara dengan kodok, ataupun bukan karena kita actually dibuat oleh film mendengar suara ayam-ayam memanggil nama Ara (yang awalnya dikira hantu oleh Ara) Melainkan karena ayam Ara punya makna di baliknya.

Ayam itu bagi Ara adalah pengganti sosok sahabat yang selama ini dia lihat pada kakaknya. Semenjak kakaknya sibuk pacaran dan mereka tidur di kamar yang berbeda, Ara jadi kesepian. Also, anak ayam ini juga jadi bentuk sikap dari Ara. Anak perempuan ini tau gak enaknya diingkari janji, maka ia bertekad untuk benar-benar menemukan keluarga si anak ayam, seperti yang ia janjikan. Setelah sebelumnya ia sempat gak mau berjanji kepada abah dan kakaknya, karena dia enggak mau jadi seperti mereka yang ingkar janji. Ketika kita mensejajarkan pandangan kepada level Ara, semua tidak lagi terasa sepele. Yang karakter ini lalui sepanjang durasi merupakan problematika trust yang cukup merenyuhkan hati. Kita bisa merasakan begitu pentingnya bagi seorang anak seusia Ara untuk dipercaya oleh orang lain (khususnya orang dewasa) dan in turn bisa menaruh kepercayaan kepada orang dewasa. Apalagi Ara ini anak tengah, yang biasanya paling butuh untuk dinotice sebab posisinya di antara sodara pertama yang punya banyak masalah dan sodara bungsunya yang ‘mencuri’ perhatian dari dirinya. Ara butuh banyak atensi, tapi justru itu yang tidak ia dapatkan.  Memerankan karakter seperti demikian, aku takjub Widuri Sasono tidak kehilangan aura anak kecilnya. Kita harus berterima kasih juga kepada naskah yang benar-benar mencoba menggali perspektif Ara sehingga karakter ini tidak nestapa semata. Widuri memperlihatkan passion dan semangat pada karakternya ini, while also memberikan emotional journey. Menurutku amazing sekali di tengah jejeran cast seperti Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, dan bintang muda yang hits Adhisty Zara, film mempercayakan peran utama kepada karakter anak kecil, dan Widuri membuktikan dirinya bisa membawa cerita.

Tapi tau gak kenapa aku gak pernah menagih janji-janji masa kecil kepada orangtua dan oom-tante? Karena seiring bertumbuh aku sadar bahwa janji-janji itu bukannya tidak mau ditepati, tapi karena situasi tertentu, beberapa janji memang tidak mungkin untuk ditepati. Momen penyadaran seperti itu tidak aku temui pada cerita Ara di Keluarga Cemara 2.

 

Tiba di bagian akhir, film seperti jadi ragu dan kembali seperti kebanyakan film untuk anak-anak; sugarcoating things. Di akhir cerita, tidak banyak pembelajaran yang dialami Ara, dia ‘cuma’ memaafkan Euis dan Abah. Dia ‘hanya’ mencoba mengerti kenapa mereka gak menuhin janji tanpa belajar tentang ‘janji’ itu sendiri. Kenapa aku menyimpulkan begini? Karena film membuat Ara berhasil memenuhi janjinya kepada si anak ayam. Sesuatu yang bahkan dalam konteks imajinasi/fantasi pun merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan. Menurutku, pembelajaran mestinya bisa lebih kuat jika Ara dibikin gagal saja. Dengan begitu, Ara akan natural mengerti bahwa janji bisa tidak terwujud karena situasi. Yang tentu saja mencerminkan masalah janji Abah yang sibuk atau janji Euis yang memang sudah pada masa butuh privasi. Pembelajaran Ara untuk bisa sampai di titik yang diperlihatkan akhir cerita bisa lebih tegas. Ara bisa sekaligus belajar tentang kehilangan, tanggungjawab, dan lain-lain yang menyertainya.

Keluarga Cemana

 

Aku punya dua adik sepupu cewek yang jarak umur mereka sama seperti Euis dan Ara, dan yang terjadi pada Euis dan Ara pada film ini persis terjadi juga kepada mereka. Adik yang secretly ngefans ama kakaknya, sehingga terus berusaha nyari perhatian sang kakak, dan ujung-ujungnya kena marah karena si kakak lagi pengen sendiri. Atau karena adiknya simply bertingkah annoying kayak si Ara yang mainin lagu atau merebut sisir. Jadi aku bisa bilang penggambaran relasi kakak-adik usia segitu dilakukan oleh film ini dengan otentik. Aku juga nonton film Ramona and Beezus (2010), adaptasi novel anak dibintangi Joey King dan Selena Gomez. Ramona juga harus pisah kamar ama kakaknya, karena si Beezus udah beranjak gede dan butuh privasi. Kalo Keluarga Cemara 2 dibandingkan dengan film itu, Keluarga Cemara 2 cenderung lebih muram. Kalah ceria. Hanya Ara yang menghidupkan suasana. Euis di sini bener-bener gak asik.  Beezus juga punya masalah cinta sama cowok di sekolah, tapi aku masih melihat dia menggoda adiknya, ngejailin adiknya, bersikap enggak satu note-lah pokoknya. Euis di Keluarga Cemara 2 adalah gadis yang impossible diajak ngobrol. Cemberut dan dingin selalu, bahkan sama teman gengnya dia gak tampak asyik.

Abah dan Emak juga begitu. Sekali lagi, dibandingkan dengan Ramona and Beezus yang masalah keluarganya juga soal duit dan kerjaan, Abah dan Emak lebih depresif. Kurang momen ceria. Padahal kalo dilihat-lihat dari cerita, enggak mesti juga dikasih stake ekonomi, apalagi di akhir juga tidak terlalu dikembangkan. Cerita harusnya stick aja kepada Ara, stakenya bisa diambil dari Ara yang hilang dan semacamnya. I mean, cerita keluarga yang hidup di desa toh gak harus bersusah-susah, yang penting kan kesederhanaan dan kehidupan di sananya terpotret. Menilik dari peran-peran yang lain, akar masalah film ini sebenarnya sama juga dengan kebanyakan film Indonesia lain. Mengotak-ngotakkan fungsi peran. They did free it up buat Ringgo sebagai Abah, yang harus bermain dengan nada dramatis alih-alih komedi. Tapi karakternya tetap terasa terbatas karena yang lain masih ada di kotak. Euis, Abah, Emak ‘dilarang’ ceria karena porsi ceria dan jenaka sudah diberikan kepada Romli dan Ceu Salma. Porsi Asri Welas di sini lebih banyak daripada di film pertama (mungkin karena masuk nominasi FFI hihi) meskipun karakternya tidak berperan banyak selain untuk memantik kelucuan, juga tidak berbeda banyak dengan tipikal peran komedi yang diperankan Welas biasanya. Mengingat baru-baru ini kita mendapat dua film yang berani mendobrak pengotakan fungsi peran seperti demikian (Ngeri-Ngeri Sedap dan Srimulat) maka film Keluarga Cemara 2 ini jadi terasa sedikit ketinggalan zaman.

 

 

 

Janji untuk memberikan film Indonesia yang bermutu mestinya tidak sesusah janji Euis untuk diwujudkan oleh filmmaker tanah air. Buktinya, film yang kita bahas kali ini sebenarnya sudah hampir bisa mewujudkannya. Film ini tampil dengan hati. Menyuguhkan kisah keluarga dari perspektif anak kecil yang relate dan genuine. Ini masih jauh lebih baik dibandingkan film-film lain yang katanya untuk anak-anak. Hanya, pembelajaran karakternya mestinya bisa dilakukan dengan lebih baik lagi. Lebih nendang lagi.  Karakter-karakter lainnya pun mestinya bisa lebih dihidupkan lagi ketimbang sekadar fungsi-fungsi. Sebagai franchise reboot-an – aku  gak tau mereka merencanakan apakah ini untuk trilogi atau untuk berapa film lagi – kupikir franchise ini cukup solid, walaupun yang film kedua ini terasa lebih kecil dan gak lebih wow dibanding film pertamanya. Tapi aku suka mereka mempersembahkan ini dengan perspektif karakter yang berbeda. Pergantian sutradara yang tadinya kupikir cukup aneh (jarang ada film pertama yang sukses secara jumlah penonton, mengganti sutradara untuk sekuel) tapi setelah melihat filmnya yang angkat sudut pandang berbeda, jadi agak make sense. Mungkin film ketiga nanti bisa dari sisi Agil? Please…? Tingkah baby Agil udah scene stealer banget di sini hihihi
The Palace of Wisdom gives 6  out of 10 gold stars for KELUARGA CEMARA 2

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian anak-anak lebih menghargai janji daripada orang dewasa?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

SING STREET Review – [2016 RePOST]

 

“Arts are the very human way of making life more bearable.”

 

 

 

Salah satu perasaan paling menyenangkan sedunia, salah satu momen paling penting dalam hidup, adalah saat menemukan orang yang memiliki kesukaan yang sama dengan kita, the ones who share our obsessions. You know, yang effortlessly saling mengerti, yang bisa jadi lawan bicara berjam-jam soal suatu ide. People who you want to ‘make an art’ with.

 

Masa remaja Connor diisinya dengan dengerin musik, yang awalnya disebabkan lantaran Connor (sukar dipercaya kalo ini adalah debut film dari Ferdia Walsh-Peelo, saking compellingnya!) ingin meredam suara berantem kedua orangtuanya. Hidup pada jaman Duran-Duran (aaa Lupus bangeett!) mulai memperkenalkan konsep musik video, Connor sebenarnya enggak tahu apa-apa soal musik selain sebagai pelarian. Permainannya pas-pasan, dia bahkan enggak familiar dengan aliran musik, pengetahuannya sebatas yang hanya ia dengar dari omongan abangnya, Brendan (peran Jack Reynor ini sedikit mengingatkan kepada kehangatan uniknya tokoh Jack Black di School of Rock). Karena masalah ekonomi, Connor dipindahsekolahkan ke public school yang menjunjung erat nilai-nilai Katolik. Di sekolah yang semua muridnya cowok tersebut, sepatu warna coklat Connor enggak boleh dipake; harus hitam! Life is such a prison bagi Connor. Awalnya, Connor cuma seadanya, cuma se-existnya aja. Dia enggak melakukan apa-apa terhadap hidupnya. He’s just go with it; Ayah ibu berantem; dia bikin jadi lagu, Bully datang; “I’ll just take the punch.”

Momen pertama kita mulai merasakan ‘api’ di dalam diri Connor adalah ketika dia memberanikan diri mendekati cewek yang selalu berdiri di beranda rumah seberang sekolah mereka. Connor ngajak kenalan, dan turns out si cewek kece adalah seorang model. Apa akal Connor agar bisa kenal lebih akrab dan dapetin nomer Raphina (aura misterius yang natural dari Lucy Boynton) yang setahun lebih tua itu? Connor bilang dia lagi mencari model untuk video clip band mereka. Masalahnya adalah, there was no band!

Bikin musik itu ternyata sama dengan bikin film. Adalah sebuah proses yang required us untuk menemukan orang-orang yang sevisi. Proses yang enggak gampang, tapi sangat menyenangkan. Apalagi begitu sudah ketemu yang bener-bener ‘klik!”. Mau tahu apa lagi yang sama seperti demikian? Mencari jodoh.

 

Lewat film ini, beberapa di antara kita mungkin akan bernostalgia, beberapa akan pengen jadi anak band, beberapa akan reflecting so hard dan ujungnya baper. Maksudku, film ini sukses bekerja dengan baik dalam beberapa tingkatan. PUNYA BANYAK ELEMEN CERITA, yang kesemuanya dikonstruksi very tight, diceritakan dengan well-thought dan highly coherent. Sebagai period piece, Kota Dublin di Irlandia pada tengah 80an terhidupkan dengan baik. Kita lihat anak-anak muda di sana, Connor dan temen-temennya, follows tren musik yang terus berkembang. Mereka juga terinspirasi dari film. Amerika sebagai kiblat, dan London adalah tempat yang ingin mereka tuju. Bahkan Synge Street, sekolah mereka, worked greatly sebagai simbol penjara, sebagai tempat penting yang menempa kreasi dan pemasok bahan bakar pribadi Connor. Setting waktu dan tempat ini actually terintegrasi sempurna ke dalam cerita.

“Drive It Like You Stole It” is my favorite!

 

Penggemar musik jelas akan terhibur. Selain memberikan referensi beberapa pemusik yang udah jadi ikon, film ini juga membuat kita berdendang dengan lagu-lagu original yang asik punya. This is a fun, easy listened to, musical film. Menulis sebuah lagu, mendiskusikan nada-nadanya, mencari – aku enggak tahu istilahnya dalam musik – ‘lead’ atau ‘hook’ yang jadi appeal buat lagu itu, kemudian membuat video klip, ngumpulin properti, mereka adegan; rangkaian proses memproduksi musik yang mungkin enggak semua kita tahu tersebut tergambarkan luar biasa menyenangkan oleh film ini. Dan perjalanan musik band mereka sungguh asik untuk disimak. Menyebut diri sebagai aliran futurist, anak-anak Sing Street berevolusi dari Duran-Duran yang funky ke The Cure untuk kemudian akhirnya found their own beat. Dari yang tadinya untuk mengimpress Raphina, Connor realized musik adalah senjata terkuatnya untuk mengekspresikan diri.

Ini drama komedi yang kodratnya adalah film sedih, it tugs so many our heart strings. Namun arahan film ini mencegahnya untuk bermuram durja. Arahannya membuat cerita ini bersemangat tinggi! Tidak mellow berlebih. Kita bisa menikmati film ini sebagai kisah cinta remaja. The really sweet one, kalo boleh kutambahkan. Setiap anak cowok pasti ngimpi punya pacar yang keren. Begitu juga Connor. Tapi baginya, Raphina adalah kenyataan. Charm antarkedua tokoh ini worked magically. Kedua pemeran menyuguhkan penampilan akting yang supergrounded, dan terasa teramat real. Natural. Kita bisa rasakan cinta yang genuine tumbuh, tak hanya pada Connor dan surprisingly – bahkan mengejutkan buat dirinya sendiri – pada Raphina. Namun apa enaknya cinta tanpa konflik, maka film ini menulis dengan menarik  soal ‘beda dunia’ mereka dan berhasil membuat kita jadi sangat peduli sama nasib hati Connor. Lagu The Riddle of the Model hanyalah salah satu cara film ini mendeskripsikan relationship mereka di tahap-tahap awal. Membuat kiita mengantisipasi the bad outcome, we care for them, we want so much for them to be together in the end.

happy-sad

 

Pemusik basically adalah pemberontak. Kita juga bisa melihat film ini sebagai drama pembebasan diri dari sebuah sistem. Connor memakai riasan ke sekolah, meniru dandanan Simon Le Bon, David Bowie. Bukan hanya the looks, Connor mengimplementasikan juga attitude mereka ke dalam dirinya sendiri. Dia bahkan berakhir dengan nama panggung, Cosmo. Nama yang memiliki arti luar angkasa, as opposed to dunia sempit tempat ia tinggal.
Sebagai sebuah karakter, pertumbuhannya yang demikian ini membuat Connor begitu compelling. Kita sungguh terinvest kepada karakternya. Kita turut dibikin penasaran ke mana dia akan melangkah setelah ini, karya yang bagaimana lagi yang akan ia hasilkan, akankah dia sukses atau hanya akan berakhir seperti abangnya.

Yang membawa kita kepada cara ketiga melihat film ini. Sebagai drama persaudaraan kakak-beradik yang sangat emosional. Semua orang di sekitar Connor adalah individu-individu yang meninggalkan mimpi mereka karena, well, hidup harus realistis. Kayak saudara cewek Connor yang dulunya hobi melukis, namun setelah gede ia berhenti dan tekun belajar biar nilai di sekolah bagus. Abang Connor, Brendan, on the other hand, memilih dropout dari kuliah untuk mengejar cita-citanya sebagai pemusik. Sayangnya, sampai Connor remaja, Brendan belum berhasil meraih mimpinya itu. Namun sosok Brendan adalah guru bagi Connor. He listens and hang on to Brendan’s every words. Prinsip Brendan ‘kerjakan impianmu’ jadi semacam mantra yang membimbing Connor. As a character, Brendan ditulis dengan sangat kuat dan interesting. Dia sudah melewati banyak hal, endure so many hard things – kegagalan – di masa lalu. Dia ada pada titik hidup di mana pikirannya sudah begitu terbuka, dia mendukung semua orang yang punya mimpi, bahkan jika mimpi itu adalah menjadi karyawan. Baginya, Connor sudah lebih dari sekedar adik; Connor adalah dirinya waktu masih muda.
And this creates a great conflict di dalam dirinya. Ada adegan di mana Brendan beneran menumpahkan segala emosinya kepada Connor karena Brendan tidak ingin Connor gagal, while deep inside it also hurt him karena ia tidak mau ditinggal sukses. Ia akan kehilangan arti jika Connor gets his dream come trueHigh note pada hubungan antara Connor dan Brendan ini ditulis dengan sangat indah.

Bagian terbaik dari sebuah film adalah bagian endingnya. Dan film yang terbaik adalah film dengan banyak elemen yang saling berlapis. Sing Street punya kedua kualitas di atas. Each of its stories berkumpul manis di akhir, pada lokasi yang disimbolkan oleh lautan lepas. Aku enggak mau spoiler banyak, namun perasaan accomplished, perasaan bebas, tergambar dengan megah. Setiap akhir film adalah suatu awalan yang baru, dan yes kita bisa merasakan gamangnya Connor menghadapi apa yang ada di hadapannya.

 

 

I enjoy every seconds of it. Tidak ada nada sumbang dalam film ini. It was beautifully written. It has heart and soul. Penceritaan yang sangat kreatif. Dialog-dialog membuat kita gatel pengen mengutipnya. Karakter-karakternya terflesh out dengan sempurna, bahkan temen-temen anggota band — the brothers of the same cause – dan bully langganan Connor mendapat jatah ‘hati’ yang cukup. It was highly well-performed. Cerita remaja yang bittersweet. Penuh great humor, pula. Dengan lagu-lagu yang catchy, yang menyuarakan ambisi Connor, ketakutannya, romantic feelings, his growing pains, akan tetapi membuat film ini tidak terasa pretentious. Malahan, lebih sebagai sebuah suara harapan yang menginspirasi benak-benak muda yang beruntung sudah menontonnya.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for SING STREET.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

 

NAGA NAGA NAGA Review

 

“Listen to what your kids are saying, and let them be themselves”

 

 

Kadang kalo terlampau banyak yang pengen kita obrolin, terlalu banyak yang mau dibahas, pengen kritik sana-sini, di dalam satu waktu, kita justru bisa kelihatan gak punya arah dan asal bicara tanpa benar-benar ada point yang mau dibicarakan. Bener loh, kalo gak percaya tonton aja Naga Naga Naga. Film ketiga dari tokoh ikonik Deddy Mizwar, si Jenderal Naga Bonar ini memang tampak dibuat dengan niat yang baik. Mau menasehati dan ngingetin kita lewat celetukan-celetukan yang menyentil politik dan sosial, sekaligus juga pengen ngasih wejangan terhadap dunia pendidikan anak kepada orangtua. Tapi yang disampaikannya ini terlalu bloated, bahkan tidak benar-benar terstruktur dalam penceritaannya. Meskipun begitu, penggemar yang sudah setia ngikutin dari film pertamanya akan masih bisa merasa terhibur karena film ini memang dibuat untuk melanjutkan legacy karakternya yang unik.

Nagabonar,  pencopet yang jadi jenderal itu, kini telah menjadi opung-opung. Cucunya gak kalah nyentrik. Hobi bermain sepakbola, sering berantem (dia nampar temannya, pake kaki!) dan gak mau sekolah, padahal cucunya ini anak perempuan loh. Monaga namanya (Cut Beby Tshabina pemerannya). Sikap Monaga terang saja membuat khawatir ayah dan ibu. Bayangkan kalian pasangan yang sukses dan tajir mampus, tapi anak kalian dikeluarkan berkali-kali dari sekolah. Bonaga berusaha mencarikan jalan keluar yang terbaik bagi pendidikan sang putri tunggal, sesuai dengan yang diminta oleh istrinya. Tapi Naga senior terbukti sangat berpengaruh dalam keluarga ini. Si Monaga ternyata lebih suka sekolah di  literally sekolah kandang kambing bersama anak-anak jalanan, dengan dukungan penuh dari opungnya.

Awas diamuk Wanda, lohhh!

 

Sini kuberitahu sedikit tentang cara mengetahui film yang kita tonton itu bagus atau tidak seperti apa. Coba tuliskan sinopsisnya. Jika sinopsis itu bisa clear terjabarkan dari satu perspektif karakter sebagai subjeknya, maka film itu termasuk bagus karena berarti sudut pandang utamanya kuat dan cerita tersusun padu dari karakter tersebut. Now, aku sendiri kebingungan mau menuliskan sinopsis dari Naga Naga Naga ini. Ya, seperti judulnya itu; ‘Naga-nya terlalu banyak!’ Seems like, film ingin bercerita tentang hubungan para karakter. Tentang ayah dengan anaknya, kakek dengan cucunya, lalu juga tentang si ayah dengan si kakek, suami dengan istri, ibu dengan putrinya. Jejaring relasi ini memang membuat sebuah drama yang kompleks, hanya saja film tidak pernah benar-benar menapakkan cerita ini punya siapa. Naturally, cerita sepertinya berkembang dari sudut pandang orangtua. Dan memang pada film ini, yang mengalami pembelajaran, yang mengalami pengubahan cara berpikir, adalah Bonaga dan istrinya. Mereka jadi tahu lebih baik daripada memaksakan putri mereka harus sekolah di mana. Di awalpun film memang seperti sudah menempatkan Bonaga yang diperankan Tora Sudiro sebagai tokoh utama, karena dia ada di pusat cerita. Tapi sepanjang durasi, Bonaga jarang sekali melakukan aksi atau pilihan yang berarti. Dia bahkan gak benar-benar tampak mengkhawatirkan pendidikan putrinya, setidaknya gak tampak sekhawatir istrinya. Pada perjalanannya, cerita terus kembali kepada si opung. Naga Bonar Deddy Mizwar. Keputusan dan tindakan beliaulah yang membuat cerita bergulir.

Masalahnya, dari sudut pandang si Opung ini, tidak ada yang namanya masalah. Opung Naga Bonar dibentuk sebagai karakter dengan pola pikir yang beda, yang dijadikan pemecah masalah. Dia begitu perfect, sampai-sampai dia salah pun, dia benar. I mean, mungkin kita bisa bandingkan karakter Naga Bonar di sini dengan karakter Aamir Khan di 3 Idiots (2009), si Ranchoddas Chanchad. Karakter Rancho dihadirkan sebagai kritikan terhadap sistem pendidikan India yang kaku dan bikin stress banyak murid, film 3 Idiots membuat Rancho sebagai ‘jawaban’ dan pendidikan kaku tersebut sebagai ‘lawan’. Dia tampak seperti si nyentrik nekat, yang membuka pandangan teman-temannya dan eventually membuat mereka lebih berani menjadi diri sendiri. Fungsi dan bentukan karakter Rancho dan Naga Bonar di Naga Naga Naga sama. Sama-sama lain dari yang lain. Opung Naga juga jadi pembuka mata bagi karakter lain, sehubungan dengan mendidik anak (termasuk sekolah mereka dan sebagainya). Tapi ada perbedaan yang signifikan. Opung Naga  gak punya stake di dalam cerita ini. Ketika Rancho masih harus membuktikan dia memang beneran pintar, dia ikut merasa bersalah saat sesuatu menimpa temannya, dia tampak vulnerable saat membantu proses melahirkan – sesuatu yang ia tidak pernah lakukan, Opung Naga dalam cerita garapan Deddy Mizwar ini selalu benar. Tidak punya stake. Tidak ada yang menantang sudut pandangnya. Karakter ini difungsikan sebagai penyampai kritik tapi yang dikritiknya begitu luas sehingga jadi mengambang, tidak fokus di satu titik seperti Rancho yang ‘berhadapan’ dengan dosennya.

Hampir dua-puluh menit aku masuk ke dalam film, tapi tidak benar-benar terasa ada masalah. Padahal permasalahan dan isu sosial, politik, bahkan parenting dan rumah tangga sudah ada disebutkan. Mulai dari kesetaraan gender (cewek kok main bola) hingga ke soal keadilan juga berarti harus beradab, bahkan soal orang Batak pengen punya keturunan laki-laki semuanya dilibas oleh film ini.  Akan tetapi Naga Naga Naga ini adalah tipe film yang mengangkat satu masalah, lalu kemudian menyelesaikannya lewat nasehat atau penjelasan Opung (berupa celetukan kritik sosial dan politik), gitu terus berulang. Satu masalah-langsung-beres, lanjut ke masalah baru. Tidak ada ritme dan struktur. Semuanya hanya tampak seperti sketsa-sketsa kritik yang dipaksakan masuk ke dalam narasi anak-yang-ingin-memilih sendiri bentuk pendidikannya. Yang terburuk yang bisa muncul dari ‘struktur’ non dramatis seperti ini adalah kejadian-kejadian atau masalah-masalah dalam film inin selesai dengan cara yang tidak realistis. Sering juga permasalahan jadi tampak perfect, ideal, dan berakhir manis tanpa benar-benar menyinggung pusat masalahnya. Film ini, beserta karakter-karakternya, jadi tidak lagi genuine. Misalnya, untuk menasehati kita perihal adil itu bukan berarti harus sama rata, maka film membuat Opung dan teman-teman sekolah Monaga makan di restoran Padang (halal of course, ngok!) yang mau tutup sehingga nasinya cuma tiga piring sedangkan mereka berenam orang. Film ‘memaksa’ karakter-karakter itu untuk makan di sana, alih-alih pindah nyari yang lain, hanya supaya bisa ada adegan mereka membagikan porsi nasi dengan lebih beradab.

Kalo si Monaga, aku lihat-lihat miripnya sama Nikki A.S.H di WWE haha

 

Tadinya kupikir film ini bakal ngasih banyak pembahasan menarik, khususnya terkait Monaga sebagai anak dan cucu perempuan dari duo Naga yang sudah dikenal luas oleh penonton. Tapi ternyata keberhasilan film ini justru membuat set up Monaga yang menarik menjadi karakter paling boring. Dia basically versi perpanjangan dari opungnya. Kenyataan bahwa karakternya ini perempuan, malah membuat film semakin ‘napsu’ untuk membuat karakter ini sebagai teramat mulia. Literally no flaw. Kalimat sindiran favoritnya “daripada jadi koruptor”. Film tidak membahas kenapa dia lebih dekat ke opung, soal borderline dia jadi kayak terlalu dimanjakan, atau bahkan soal sepertinya dia gak ngeh dirinya bisa nolak sekolah dan semua itu karena orangtuanya tajir. This kid compares herself dengan Mark Zuckerberg, Thomas Alpha Edison, dan bahkan nabi – itu argumennya perihal sekolah. Ada adegan Monaga memandangi teman-temannya makan di halaman dari balik kaca jendela, tersenyum bangga, seolah pahlawan yang menatap kebaikan yang ia lakukan. Buatku ini bukannya menginspirasi, tapi malah terasa kayak orang kaya yang kena savior complex. Real hero harusnya punya pengorbanan dan perjuangan. Monaga gak punya ini, semua masalahnya dibereskan dengan gampang oleh opung dan uang. Dan film gak mempertegas apakah Monaga tahu semua itu atau tidak. Buatku, film ini persis kayak si Monaga. Hanya melihat dari jendela. Nice, tapi gak realistis. Problem dan penyelesaian yang dihadirkan tidak terasa real. Melainkan hanya satu sisi kritikan tanpa mengangkat diskusi dari sisi lain.

Pesan paling grounded yang dimiliki oleh film ini di balik banyak celetukan-celetukan kritik ke sana kemari adalah soal orangtua harusnya mendengarkan anak. Yang sangat respek dilakukan oleh film ini adalah memperlihatkan bahwa pendapat anak juga penting untuk didengarkan. Dalam adegan-adegan film ini, opini dan kata-kata Monaga selalu dijadikan penentu oleh Opung dan ayahnya. Dan di akhir, ibunya diperlihatkan mau membuka diri untuk mendengar pendapat anaknya sebelum mengambil keputusan sepihak. Sungguh tindakan dan keterbukaan kekeluargaan yang patut ditiru.

 

Padahal dari segi karakterisasi sebenarnya menarik. Penyampaian dialog, tek-tokan build up pengadeganan, hingga kata-kata dialognya terasa keren kayak gaya sastra lama. Dan pintar juga, I give that. Aku suka ketika film seperti membandingkan ‘Apa kata dunia?’ bagi Opung dengan bagi ibunya Monaga (walau ibunya tidak mengucapkan ini dengan gamblang). Karena dua karakter ini punya prinsip yang berbeda, yang satu merasa malu kalo diledek orang lain, malu kalo berbeda dengan orang lain, sementara yang satu percaya cara dia-lah yang benar walaupun menurut orang lain salah. Sehingga mereka menggunakan kalimat tersebut sebagai katakanlah pembuat keputusan, pondasi value mereka. Aku pengen melihat kalimat tersebut digunakan lebih tegas lagi sebagai penanda pembelajaran karakter, terutama pada Opung. Film memang melakukannya, tapi tidak sekuat dan setegas yang harusnya bisa dilakukan. Sehingga lebih mirip sebagai gimmick semata. Yea, gimmick. Pada akhirnya Naga Naga Naga tampak seperti gimmick saja. Mulai dari elemen karakter Bataknya hingga ke semangat nasionalisme itu sendiri, semuanya seperti gimmick untuk menyampaikan kritik serabutan alih-alih fokus pada hal urgen yang jadi pondasi ceritanya.

 

 

 

Tayang saat ada cerita keluarga berlatar Batak yang lebih genuine masih bercokol gagah di bioskop, jelas tidak membantu untuk film ini. Yang ada malah penonton akan lebih mudah membandingkan keduanya. Dan penonton akan menemukan bahwa film ini memang tampak sebagai gimmick yang preachy saja jika dibandingkan dengan Ngeri-Ngeri Sedap tersebut. Film Deddy Mizwar ini padahal punya kekuatan di karakter, dengan akting yang boleh diadu. Permasalahan yang diangkat juga gak kalah penting dan grounded, hanya saja film ini memuat terlalu banyak. Tidak hadir dengan struktur dan pokok bahasan yang jelas. Semua mau disenggol. Coba di mana masuknya cerita tentang anak yang hanya mau sekolah demi anak-anak jalanan bisa ikut sekolah dengan mengembalikan dompet bukan ke polisi tapi langsung ke empunya. Cerita film ini tampak lebih works out ke dalam bentuk serial atau video-video pendek, menurutku.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for NAGA NAGA NAGA

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana menurut kalian tentang nasionalisme yang diangkat oleh film ini?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

SATRIA DEWA: GATOTKACA Review

 

“The battle line between good and evil runs through the heart of every man.”

 

 

Kancah superhero dikuasai oleh pasukan-pasukan super dari dunia Marvel dan DC. Adik-adik kita lebih familiar sama Batman, Superman, Iron Man, Spider-Man, Captain America berkat gencarnya invasi komik-komik tersebut ke berbagai media pop-culture, salah satunya tentu saja sinema. Padahal Indonesia, yang punya beragam budaya, tentu berarti juga punya segudang materi cerita super yang gak kalah imajinatif. Cuma memang belum tergali aja. Salah satunya adalah kisah pewayangan. Epos hasil asimilasi budaya Jawa dan India itu tentulah sangat cocok untuk dijadikan cerita superhero. Kita gak usah capek-capek membayangkan, karena sekarang memang beneran sudah ada yang mengangkat itu menjadi franchise superhero. Mulai dari komik, mereka siap merambah ke sinematik universe ala superhero barat. Dan kini film pertama dari Satria Dewa Studio sudah resmi tayang. Sutradaranya gak tanggung-tanggung, Hanung Bramantyo! Mengadaptasi kisah Gatotkaca ke dalam setting yang lebih modern. Aku punya harapan besar sama film ini, terlebih karena sebelumnya sudah ada superhero lokal yang diangkat sebagai sinematik universe studio lain. Menurutku film Gundala (2019) itu terlalu gelap dan ambisius. Aku mengharapkan Gatotkaca ini bisa hadir dengan lebih grounded, lebih fokus ke cerita kepahlawanan, yang secara umum lebih bisa diterima. Kalo Gundala dari BumiLangit diibaratkan versi DC dari superhero Indonesia, maka kompetisi ini barulah lengkap jika Satria Dewa dengan Gatotkacanya menjadi padanan Marvel bagi superhero Indonesia. Turns out, kedua jagat superhero lokal ini adalah DC. And not even the good version of DC!

First of all, SU yang jadi kategori umur film Gatotkaca ini gak benar-benar cocok karena di sepuluh menit pertama kita melihat anak kecil dibacok dan dilempar hingga tewas. Adegannya basically terjadi on-screen jika bukan karena warna yang gelap dan editing yang buruk, Dari menit-menit pembuka yang crucial bagi sebuah film itu, Satria Dewa: Gatotkaca melandaskan dirinya sebagai cerita yang kelam, dengan pembahasan yang tak kalah kompleks dan dewasa. Kesan pertamaku saat menyaksikan film ini adalah bahwa dirinya terasa seperti tidak dibuat dengan niat menjadi SU, tapi baru kemudian film utuhnya disesuaikan supaya bisa tayang untuk kategori Semua Umur. Dan buatku, ini jadi sinyal S.O.S pertama. Bahwa film ini mungkin punya masalah’ tidak benar-benar punya power untuk berdiri sesuai dirinya sendiri.

Hihihi pahlawan paling tak konsisten: Otot kawat, tulang besi, nama? kaca!

 

Origin Gatotkaca diceritakan sebagai kisah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya. Yuda (Rizky Nazar sebenarnya tampak fresh dan sangat cocok untuk dijadikan idola baru anak-anak) dan ibunya sedari kecil buron, untuk alasan yang Yuda belum tahu sepenuhnya. Yang ia tahu adalah mereka berpindah-pindah (sempat tinggal di hutan), dan kini ibunya mulai kehilangan ingatan akibat dari kehidupan yang chaos dikejar-kejar oleh kelompok orang yang gak ia tahu siapa. Bukan hanya hidup Yuda, tapi film memberikan dunia yang benar-benar di ambang kerusuhan sebagai panggung cerita. Pandemi, serta kematian orang-orang pintar nan berprestasi nyaris setiap hari. Sahabat Yuda jadi korban terkini. Dibunuh saat acara wisuda di kampusnya. Saat mengusut jejak yang ditinggalkan oleh sahabatnya itulah Yuda bertemu beberapa teman yang membuatnya jadi mengetahui benang merah dari semua kejadian. Bahwa beberapa manusia punya gen Pandawa dan Kurawa. Bahwa gen-gen tersebut melahirkan kekuatan super, dan peperangan Kurawa dan Pandawa sudang di ambang mata. Dan bahwa dirinya ternyata memegang kunci rahasia kekuatan pusaka yang diburu oleh Kurawa. Yuda ‘cuma’ harus belajar menggunakan kekuatan dan menguak misteri sang ayah.

Aspek yang menonjol dari Gatotkaca adalah word-buildingnya. Cerita mengeksplorasi sehingga threat yang merundung Yuda bisa benar-benar terasa personal, sekaligus juga terasa sebagai permasalahan global yang mengancam dunia. Berita orang-orang jadi korban senantiasa menjadi latar, membuat Yuda yang harus terus bergerak merasakan bahaya di mana-mana. Downside dari cerita dengan dunia-khusus dan karakter utama yang sama gak taunya dengan kita tentu adalah soal eksposisi. Film butuh banyak adegan eksposisi, karena ada banyak yang harus dijelaskan. Apa itu Pandawa. Apa itu Kurawa. Apa yang diinginkan para penjahat. Apa legenda di balik semua. Banyak pokoknya, durasi dua jam film ini sebagian besar akan terasa padat oleh adegan-adegan eksposisi. Film actually berjuang untuk menyampaikan masing-masingnya. Penyampaian eksposisi tersebut dilakukan cukup variatif. Ada yang langsung diobrolkan oleh karakter. Ada yang lewat flashback. Ada yang lewat animasi bergaya komik. Sebagian ada yang efektif bercerita, tapi sebagian ada juga yang konyol. Misalnya kayak penjelasan dari karakter yang tak bisa bicara; dilakukan lewat adegan flashback, dengan narasi audio dari si karakter! Hihihi lucu kita mendengar suara hatinya.  Penggunaan banyak eksposisi ini ultimately memang membuat film menjadi jenuh, dan pasti akan sangat memberatkan untuk ditonton oleh anak-anak. Which is why aku bilang film ini tampak seperti tidak diniatkan untuk rating Semua Umur in the first place.

Juga, bagian-bagian eksposisi itu sangat berpengaruh kepada tempo cerita. Babak kedua akan terasa sangat ngedrag karena kita akan berselang-seling dari aksi, montase interaksi karakter, dan paparan-paparan. Membuat film jadi tersendat. Padahal, interaksi karakter Yuda dengan teman-teman seperjuangannya itulah satu-satunya yang bikin hidup film ini, maka harusnya ini yang difokuskan oleh film. Bagaimana Yuda dan teman-teman akhirnya bekerja sebagai tim, bagaimana mereka mengungkap semua. Karakter mereka toh memang menarik. Jadi di tengah nanti Yuda akan bertemu dengan geng superhero yang markasnya menyamar di balik toko barang antik. Ada jagoan pemanah, ada anak kecil yang pinter gadget and stuff, ada ibu-ibu yang punya kekuatan ajaib. Ada juga perempuan bernama Agni yang tak kalah jagoan, dan temannya yang comedic relief (namun annoying). Serta profesor, yang sayangnya sebagian besar porsinya juga untuk eksposisi. Sebagai kompensasi  dari tempo cerita yang lambat, film menggunakan dialog yang cepat-cepat. Yang justru jadi problem berikutnya. Karena penyampaian yang cepat-cepat itu membuat sebagian besar dialog film ini tak-tertangkap. Mau itu obrolan ringan untuk bercanda, hingga ke dialog yang membawa plot, semuanya terasa terucap begitu saja. Jangankan untuk perkataan itu meresap, para aktor saja kayaknya tidak punya waktu untuk benar-benar menunjukkan rasa sesuai dengan yang mereka ucapkan. Alhasil, karakter mereka semua tampak awkward. Tampak sibuk sendiri. Ngeluh sendiri, curhat sendiri, ngelucu sendiri. Tidak banyak yang bisa ditangkap untuk bisa diresapi.

Konsep Pandawa dan Kurawa yang diciptakan film ini sebenarnya menarik. Setiap orang bisa terlahir dengan gen Pandawa  atau gen Kurawa; gen yang jadi blueprint sikap melindungi atau merusak/mengambil. Tapi itu tidak lantas membuat seorang Kurawa pasti orang jahat, maupun sebaliknya. Membuatku sedikit teringat sama Zootopia (2016) dengan karakter berupa hewan predator dan hewan mangsa tapi tidak lantas mengotakkan mereka menjadi mana yang jahat, mana yang baik. Melalui konsep ini, film Gatotkaca seperti ingin menyampaikan bahwa pada manusia yang terpenting adalah pilihannya. Pilihan untuk menjadi orang baik atau orang jahat, despite desain yang digariskan untuknya. Perang besar itu mungkin bukan Baratayuda, melainkan perang di dalam masing-masing orang dalam menentukan ke arah mana ia hendak melangkah. Kebaikan atau kejahatan.

 

Walaupun diceritakan dalam perspektif yang kuat, dibalut romansa yang benar-benar diberikan alasan kenapa pada akhirnya si karakter jadi jatuh cinta (enggak instantly fall in love karena sama-sama cakep), tapi karakter utama kita tidak benar-benar punya perkembangan. Yuda kebanyakan hanya bereaksi. Dia belajar tentang Pandawa Kurawa, dia belajar menggunakan kekuatan, dia mencoba menyelamatkan Agni, dia mendengar kejadian yang sebenarnya. Kejadian yang terjadi juga terus dibikin personal, dibikin berkaitan langsung dengan dirinya. Hanya saja tidak terasa membawa perubahan dari pandangan dia ataupun dari bagaimana dia bersikap terhadap suatu nilai tertentu, atau apapun. Selain jadi jagoan, Yuda gak punya perkembangan yang berarti. Dia cuma literally dari orang yang kalah berantem mulut sama influencer menjadi orang yang berhasil menyelamatkan dunia dengan menunda kebangkitan jenderal Kurawa. Tadinya kupikir persoalan ada Pandawa yang jahat dan ada Kurawa yang baik itu akan langsung berkaitan dengan dirinya. Like, biasanya kan karakter utama yang mengalami krisis identitas. Namun ternyata permasalahan itu diangkat untuk membangun reveal mengejutkan; oh penjahatnya ternyata si anu. Ngomong-ngomong soal penjahatnya itu, ya, penokohannya jadi lemah. Karena diniatkan untuk surprise, kita gak melihat perspektif penjahatnya. Kita tahu misi dan tujuan mereka dari eksposisi. Film harusnya membuat karakter Yayan Ruhian lebih menonjol sebagai penjahat utama, alih-alih ‘bos kedua’. Karena actually karakter yang diperankan Yayan ini lebih compelling dan beneran tampak cocok menghidupi cerita.

Setelah nonton aku ngerti kenapa banyak yang meledek film ini dengan meme “Saatnya menggatot!”

 

Ada dua jenis adegan berantem dalam film ini. Berantem CGI, saat Yuda sudah bisa beneran berubah menjadi Gatotkaca (which is happened di bagian terakhir film, kasian banget anak kecil nungguinnya pasti lama hihihi). Agak sedikit gelap, tapi CGI-nya looks good, gerakannya tampak mulus. Gatotkaca dan musuhnya kelahi sambil terbang, mirip banget ama adegan berantem di udara dalam Dragon Ball Z. Serang, teleport, kejar dengan kecepatan tinggi. Berantem yang kedua adalah adegan dengan jurus yang lebih grounded. Adegan berantem yang seperti ini yang paling banyak. Sayangnya, aku gak tahu apakah untuk memfasilitasi gerakan terbatas dari aktornya, atau karena apa,  tapi berantem film ini disyut dengan cara yang membuat kita mustahil mengikuti apa yang terjadi di layar. Mau itu tempatnya gelap atau terang, berantem ini diambil film dari berbagai sudut dan disatukan dengan editing yang supercepat. Gak kelihatan lagi siapa mukul siapa. Beberapa adegan juga tampak keskip-skip, kayak ada tonjokan yang gak diliatin melainkan langsung ke efek pukulannya, dan sebagainya. Ini mengganggu sekali. Koreografi berantem yang aku yakin seru itu jadi sia-sia karena sama sekali jadi gak keliatan.

Demi memperkuat tema perwayangan, selain menyebut istilah-istilah cerita dalam dunia wayang, film juga actually menggunakan Punakawan (karakter Petruk, Bagong, Gareng, Semar) sebagai transisi cerita. Hal yang sebenarnya sangat fresh (membuatku jadi teringat sama film-film jaman dahulu yang pada pakai adegan transisi sebagai ‘rehat’ durasi yang panjang), kalo saja bagian ngelawak ini tidak difungsikan sebagai iklan yang sangat-sangat in the face. Honestly, sepanjang film memang banyak shot-shot yang berupa product placement. Jadi aku mencoba maklum. Hey, ini adalah film pertama dari proyek universe gede, mereka pasti butuh banyak sponsor. Lagian, film luar pun banyak yang masukin produk. Ya, asalkan masih tampak natural, ini masih bisa dioverlook. Namun tidak lagi saat film benar-benar menyisihkan waktu beberapa menit untuk membuat adegan iklan, yang mereka lakukan ke dalam transisi Punakawan tadi. Ini amat sangat melukai film yang bahkan sudah gak enak pada temponya sedari awal. Adegan yang mestinya bisa gampang dicut dari keseluruhan film ini, membuat kita benar-benar terlepas dari cerita. Benar-benar tampak seperti tempelan yang mengganggu. Dan ini jadi bukti mutlak bahwa Gatotkaca sebagai film gak punya power. Diatur oleh iklan. Aku sedih mikirin sebuah karya harus merendah seperti ini hanya karena mereka mau jadi universe. I mean, harusnya kalo Gatotkaca memang berkaca pada superhero luar seperti Marvel, mereka harusnya bisa melihat kesuksesan sinematik universe bergantung kepada film-film pertama yang grounded dan sederhana. Yang kuat di bangunan cerita dan karakter, sehingga penonton pengen lebih dan mengharapkan ada lanjutan yang lebih bagus. Inilah yang harusnya dipentingkan, alih-alih menempatkan iklan sebanyak-banyaknya untuk menjamin universe itu beneran bisa dibuat.

 

 

Cerita film dengan word-building yang menarik ini sebenarnya dramatis. Penuh kehilangan, tantangan dan segala macam. Namun karena disampaikan lewat dialog yang cepat, pengadeganan yang cepat, dan editing yang brutal, feeling dari adegan-adegannya gak ada yang kena ke kita. Gak ada yang nyampe. Pace film yang sering tersendat oleh paparan, dan iklan-iklan, membuat semakin susah untuk merasa enjoy dalam menonton film ini. Dan no, it is not materi untuk tontonan semua umur. Gak peduli gimana kerasnya usaha mengedit untuk membuatnya ringan dan harmless. Ini cerita fantasi dengan konsekuensi naas, membahas dunia hitam dengan cara yang kelam. Aku berharap besar sama film superhero Indonesia, tapi sekali lagi aku merasa kecewa. Akankah ada film superhero yang benar-benar bisa menyelamatkan genre superhero di perfilman Indonesia?
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SATRIA DEWA: GATOTKACA

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian apakah film superhero itu harus Semua Umur? Atau apakah itu hanya salah kaprah penonton dan pembuat film di Indonesia? Kenapa orang-orang masih banyak yang menganggap film superhero adalah untuk anak-anak?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

JURASSIC WORLD DOMINION Review

 

“We are doomed to coexist”

 

 

Dinosaurus adalah soal ukuran. Dan film terakhir dari trilogi Jurassic World ini percaya bahwa bigger is better.  Maka mereka membuat durasi yang superpanjang, dengan dinosaurus besar-besar yang jumlahnya banyak, dengan karakter manusia yang lebih banyak pula. Bahkan judulnya. Dominion, yang berarti kekuasaan besar. Akan tetapi, ada kata ‘minion’ yang terkandung di dalam kata tersebut. You know, minion, berarti antek, atau bisa juga makhluk-makhluk kecil annoying di animasi anak-anak itu. Nah sayangnya, walaupun digadang-gadangkan sedemikian rupa – yang membuat film ini tak ayal memang cocok sebagai hiburan mainstream –  justru persis seperti minion itulah film ini terasa. Sutradara Colin Trevorrow yang kembali menangani film ini (setelah absen di film kedua, Jurassic World Fallen Kingdom) tidak banyak ngasih apa-apa kepada karakternya, selain untuk nostalgia. Ceritanya pun tampak hanya berpengaruh sedikit terhadap keseluruhan premis besar soal manusia dan hewan purba yang mereka hidupkan kembali. Kayak berputar-putar di tempat saja.

Padahal film keduanya berakhir dengan hook yang bikin penasaran. Dengan taman hiburan dan suaka yang terus saja gagal dan hancur, kadal-kadal raksasa kini hidup berdampingan dengan manusia. Sekuen eksposisi pada pembuka film ketiga ini memang memperlihatkan montase kehidupan manusia dan dinosaurus, beserta problem yang hadir. Hanya saja ini adalah problem yang sudah ada, yang sudah diangkat dari film sebelumnya – bahkan sejak Ian Malcolm dan Alan Grant dan Ellie Sattler memprotes yang dilakukan oleh John Hammond. Jadi naturally kupikir Jurassic World terakhir ini akan benar-benar memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bisakah manusia hidup bersama dinosaurus. Haruskah. Kupikir, jawaban tersebut akan diberikan film ini dengan benar-benar menelisik dan mengeksplorasi segala permasalahan ketika manusia dan dinosaurus berbagi planet kecil yang sama. Bagaimana dengan hewan-hewan. How will everything work. Sekelebat dari pembahasan dinosaurus di dunia manusia itu dihadirkan oleh film ini. Ya sekelebat.

Ini adalah masalah pertamaku buat arahan Trevorrow, sejak Jurassic World pertama. Kameranya seperti tidak mengerti apa sih yang bikin wow dari dinosaurus. Trevorrow di film pertama, dan di film ketiga yang kembali ia tangani ini, masih sibuk meniru Spielberg tanpa menyadari kenapa Jurassic Park pertama bisa demikian mencengangkan. Dia cuma tahu satu hal. Dinosaurus itu besar. Dan cuma itulah yang ia lakukan setiap kali dinosaurus dimunculkan. Makhluk besar yang memenuhi layar. Brachiosaurus yang selebar itu ditampilkannya begitu saja, dia tak peduli kepala si dinosaurus sudah hampir kepotong frame. Bandingkan dengan gimana Steven Spielberg memperlihatkan dinosaurus berleher panjang itu pertama kali. Bukan hanya besarnya yang diinformasikan. Melainkan betapa majesticnya kehadiran makhluk itu bagi manusia yang melihat. Elemen inilah yang absen dari film dinosaurus karya Trevorrow. Saat Spielberg akan menggunakan musik, gerak kamera, serta perspektif dari reaksi manusia untuk mempertegas skala alias perbandingan yang ingin diceritakan, Trevorrow hanya menampilkan gitu aja. Tidak ada gaya khas ataupun sudut pandang yang diperkuat. Jurassic World Kedua bahkan menampilkan dinosaurus dengan lebih baik, karena paling tidak film tersebut berhasil menangkap esensi saat memproyeksikan makhluk itu ke dalam elemen thriller. Begitu banyak adegan dengan dinosaurus ditampilkan pada film ketiga ini, tapi semuanya tampak mentah dan enggak majestic. Sedari opening, adegan paling awal banget aja, aku udah mengerang. Pak sutradara kita gak berubah. Adegan kapal menangkap ikan di laut, diserang dinosaurus air supergede. Kandang penangkap ikan diturunkan ke air, terus diangkat – sudah berisi tangkapan. Dan kemudian “Roaaarrr!” dinosaurus muncul. Literally begitu aja film menampilkannya. Gak ada build up dan segala macam. Di tengah nanti ada adegan karakter nyelam di kubangan berlumpur, dengan dinosaurus pemangsa berdiri tepat di atasnya. Bagian mengendus airnya sih dapet seram dan skalanya, tapi sebagian besar waktu termasuk pas pembuka adegannya, kamera hanya merekam dengan datar. Final battle nantinya melibatkan tiga predator puncak dengan karakter manusia sentral berlarian di tanah sekitar mereka, tapi pertempuran ini sangat biasa. Gelap, cepat, dan gak grande kayak pertempuran di film-film sebelumnya. Gak ada trik teknis apa-apa selain CGI dan animatronik.

T-Rex lawan Giganotosaurus lawan…. Edwardscissorshandsaurus?

 

Kehidupan dinosaurus di dunia manusia pun seperti itu. Disyut dengan normal-normal aja. Dinosaurus dalam film ini diposisikan hampir seperti saat kita melihat makhluk-makhluk planet yang bentuknya lucu-lucu di background adegan film Star Wars. Udah kayak sehari-hari. Mungkin memang karena itu pointnya. Mungkin karena sekarang ceritanya dunia sudah empat tahun ditempati dinosaurus, maka keberadaan mereka jadi biasa aja. Jadi aku mencoba maklum dan mulai memusatkan perhatian kepada karakter manusia. Sebab jika dinosaurus di cerita ini mulai tidak spesial, maka tentulah keistimewaan itu terletak pada pihak satunya lagi – pihak yang coexist bersama dinosaurus di dalam narasi film ini – manusia. ZONK! Turns out, karakter manusia dalam film ini nyaris gak punya plot dan digarap sama datarnya.

Basically film ini punya dua cerita. Pertama cerita tentang Owen dan Claire – pasangan protagonis trilogi ini – yang kini tinggal bersama di pegunungan Sierra Nevada, mencoba untuk melindungi si gadis cloningan, Maisie. Gadis yang sudah mulai remaja itu tentu gak suka ‘dikandangin’, dan dia yang juga tengah krisis identitas, susah menerima harus hidup bersama ‘papa – mama’ bohongannya. Also, hutan belakang rumah mereka, Blue si ‘Petlociraptor’ ternyata bisa punya anak, by herself. Dan kini ada pihak yang mengintai dari balik pepohonan. Mencoba menculik Maisie, dan anak si Raptor. Kedua, cerita  yang dikhususkan untuk menggelitik saraf nostalgia kita. Di belahan dunia lain ada wabah belalang raksasa, dan Ellie beserta Dr. Grant berniat untuk mengusut sumber wabah tersebut. Dua cerita ini akan berujung di suaka dinosaurus yang baru. Dan oleh kebetulan yang bikin plot sinetron dan ftv lokal kita gigit jari, karakter-karakter dari dua periode trilogi Jurassic bakal bertemu di tempat yang sama, dan bekerja sama untuk selamat dari tempat tersebut.

Dan oh yea, soal cloning nanti akan discrap oleh film ini, dan kita akan melihat origin Maisie yang bahkan lebih “meh”lagi.

Alih-alih plot yang grounded, film bikin kita boring dan sumpek oleh mumbo jumbo politik sains dan smuggling dan … oh my god, film ini ternyata menempatkan dirinya jadi film aksi ala espionage atau mata-mata. But I guess I can not complain much about it, karena justru porsi Owen dan Claire menguntit penculik dan berusaha menyusup ke dalam tempat ilmuwan segala macem itulah yang membawa kita ke satu-satunya momen Jurassic World Dominion yang keren dan bikin melek. Aksi kejar-kejaran di sepanjang kota sama velociraptor yang dijadikan senjata pembunuh oleh geng penjahat. Seru aja akhirnya kita melihat kontras yang dijanjikan oleh film. Melihat dinosaurus di habitat manusia. Bikin rusuh dan segala macem. Dan bagian ini tu baru terjadi sekitar satu jam lebih into the movie. Setelah selama itu gak dikasih asupan apa-apa, aksi gede seperti demikian memang jadi penghibur yang ampuh. Balik ke karakter, mereka semua memang gak dikasih banyak perubahan apa-apa. Relasi Owen dan Claire gak dikasih eksplorasi yang baru. Mereka pretty much orang yang sama dengan yang kita lihat  di akhir film kedua. Yang berubah dan punya plot sedikit memang cuma Maisie, tapi karakter yang diperankan Isabella Sermon ini pun tidak ditempatkan di kursi karakter utama. Bicara tentang itu, memang benar-benar kabur siapa yang dijadikan sudut pandang utama di sini. Peran Chris Pratt di sini lebih kecil, motivasi dia lucunya juga menyangkut soal memenuhi janji kepada raptor. Bryce Dallas Howard yang karakternya di sini merasa sebagai ibu, dan diberikan banyak momen aksi juga gak benar-benar punya perkembangan karena karakternya sedari awal sudah right the whole time.

And also, kenapa kelas Paleontologiku dulu gak pernah sekeren di film ini?

 

 

Yang paling kasian memang para karakter legend. Laura Dern, Sam Neill, Jeff Goldblum menyuntikkan sensasi familiar yang juga seringkali lucu, tapi mereka ada di sana gak lebih sebagai penjual nostalgia. Kayak kalo WWE tau-tau munculin superstar dari tahun 90an – gak disuruh gulat, gak disuruh aksi apa-apa, selain ngucapin catchphrase doang – untuk ngeboost rating acara. Tapi bahkan WWE lebih mending, karena sering juga superstar jadul tersebut dijadiin korban serangan superstar muda yang hendak dipush. Jurassic World Dominion bahkan gak punya nyali untuk membunuh salah satu dari mereka untuk menambah stake. Mereka cuma dihadirkan, sebagai karakter yang persis seperti yang diingat oleh para penggemar Jurassic Park. Selain tampang yang sekarang udah menua, mereka masih tampak sebagai karakter yang sama. Nah, inilah masalahnya. Karakter mereka gak ditreat sebagaimana karakter yang layak oleh film ini. Masa iya, udah berapa puluh tahun tapi mereka masih sama. Selain cerai, dan kini sudah cukup sukses dikenal banyak orang, development tiga karakter ini sebagai manusia yang menghidupi dunia cerita enggak ada. Makanya karakter mereka terasa datar.  Mereka gak punya plot, gak punya permasalahan baru. Film cuma butuh karakter ini ada supaya kita bisa nostalgia, maka mereka tidak ngasih apa-apa untuk pembangunan karakter ini. Interaksi mereka dengan karakter baru – yang tentu saja dibuat dengan mereka sebagai referensi – memang berhasil ngasih kekehan di sana sini. Tapi in the end, kita datang ke film untuk melihat cerita, bukan haha hehe reuni atau nostalgia semata.

Manusia disebut makhluk sosial, tapi justru paling banyak masalah dalam urusan hidup bersosial. Like, jangankan dengan dinosaurus seperti yang diangkat film ini, dengan hewan aja manusia bisa seenaknya mendominasi. Bisa seenaknya main gusur. Malahan, jangankan dengan hewan, dengan sesama spesies aja, kita manusia banyak menciptakan kotak-kotak supaya bisa saling bersitegang untuk perbedaan-perbedaan sepele. Maka, jika ada satu hal yang berhasil diperlihatkan oleh film ini maka itu adalah memang manusialah yang harus belajar untuk coexist bersama makhluk lain.  

 

 

Dengan karakter yang nyaris punya plot, dinosaurus-dinosaurus yang ditampilkan datar, dan bahasan yang muter di tempat, maka film ini sukses jadi sajian panjang paling membosankan yang bisa kita saksikan di bioskop tahun 2022. Eksistensi yang dipedulikan oleh film ini ternyata bukan antara manusia dengan dinosaurus, melainkan antara karakter baru dengan karakter lama. Film hanya peduli pada nostalgia dan menjadi besar, tanpa benar-benar mendalami dan mengeksplorasi hal-hal tersebut. Setelah nonton film ini aku jadi merasa gak rela kalo ini adalah akhir dari franchise Jurassic. Karena bagaimana pun juga, ini semua berawal dari Jurassic Park yang udah menginspirasi banyak dan masterpiece, maka sudah seharusnya seluruh karakter dan dunianya mendapat penutup yang jauh lebih layak daripada yang dilakukan oleh film ini.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for JURASSIC WORLD DOMINION

 

 

 

That’s all we have for now.

Ngomong-ngomong soal cerita yang berawal dari penangkaran dinosaurus, bagaimana pendapat kalian tentang kebun binatang secara moral ataupun secara tanggung jawab manusia yang harus hidup coexist dengan hewan?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA