CREED II Review

“My family is my strength and my weakness”

 

 

 

Ada tujuh-puluh tujuh juara dunia tinju yang tercatat menurut film ini. Namun hanya ada berapa yang masih dikenal orang? Karena untuk menjadi juara yang hebat, tidak cukup dengan jago bertinju. Apollo Creed paham betul akan hal tersebut; bahwa petinju harus punya ‘cerita’ – kudu tahu apa yang sedang ia perjuangkan. Mempertahankan hal tersebutlah yang membuat seorang petinju kuat, yang dijadikan alasan kenapa dia harus menang, for he will lose evertyhing. Sebaliknya, ‘got nothing to lose’ membuat seseorang menjadi berbahaya. “Aku berbahaya!” raung anak Apollo di film yang kita tonton ini. Tapi di balik kata-katanya kita bisa melihat, Adonis Creed bimbang. Dia ragu. Dia takut.

Creed II adalah tentang pertarungan warisan antara dua anak petinju. Sedikit ‘pelajaran sejarah’; dalam Rocky IV (1985) Apollo Creed tewas saat bertanding melawan Ivan Drago, ia terbunuh oleh tinju lawannya, dan Rocky yang waktu itu di sudut Creed dipersalahkan banyak pihak lantaran tidak menghentikan pertandingan tak-seimbang tersebut. Dan sekarang, anak Apollo – Adonis Creed (kedua kalinya di tahun 2018 ini, Michael B. Jordan memerankan tokoh yang harus mengalahkan anak dari pembunuh ayahnya) yang baru saja menjadi juara dunia, ditantang oleh petinju baru dari Ukrainia, Viktor (Florian Munteanu ini petinju beneran ternyata), yang tak-lain dan tak-bukan adalah anak dari Ivan Drago. Jadi, pertandingan mereka punya banyak kemarahan sebagai bahan bakar. Banyak bobot yang ditanamkan secara personal kepada dua belah pihak. Film ini dengan sukses ngeflesh out bukan saja Creed dan keluarganya, melainkan juga keluarga Drago sehingga kita peduli kepada mereka semua. Kita akan menjadi begitu terinvest ke dalam cerita. Kalo dalam istilah wrestling; film ini berhasil ngebangun feud di antara mereka dengan sangat baik secara emosional. Sehingga bahkan terkadang aku hampir merasa kasian menyadari salah satu dari mereka harus kalah – karena cerita masing-masingnya sama kuat.

Dan actually ada satu pihak lagi yang berperan sangat penting. yakni si Rocky Balboa sendiri (Sylvester Stallone membuat kita teringat kembali kefenomenalan dirinya memainkan peran yang dibuat ikonik olehnya). Rocky yang tadinya menolak mempersiapkan Creed untuk pertandingan besar ini, lantaran dia merasa Creed masih belum siap, diberikan arc cerita yang juga sama menyentuhnya yang berkaitan dengan keluarga yang dulu ia tinggalkan demi perjalanan karirnya.

Siapa bilang drama cuma milik ibu-ibu berdaster?

 

Aku bisa melihat film ini bakal kena pukulan bertubi-tubi dari para kritikus dan reviewer soal formula ceritanya yang begitu standar; seperti film pertama Creed tiga tahun yang lalu. Ini adalah seri ke delapan dan exactly mengikuti formula cerita film-film Rocky terdahulu. Petinju yang kalah, kemudian dia mencari pelatih, ada montase latihan dengan musik yang membangkitkan semangat, dan kemudian pertandingan tinju yang spektakuler. Ini sama seperti memasak, katakanlah, nasi goreng. Resep itu akan selalu sama. Aku pengen lihat ada yang mencoba bikin film tentang petinju tanpa ada adegan latihan inspirasional dan tanpa pertandingan tinjunya. Hasilnya tentu saja bukan seperti film Rocky. Creed dan Creed II memang menggunakan formula dan resep yang sama – supaya kelihatan ciri film Rocky-nya – karena mereka ingin menghidupkan dan meneruskan kembali cerita warisan ini. Seperti Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018) yang juga setia dengan formula cerita-cerita horor Suzzanna, hanya saja dengan ruh dan napas yang segar. Creed II menangani formulanya dengan kepedulian dan arahan yang hebat. Dia mengembangkan tokoh-tokohnya, dan itulah yang membuat film ini terasa seger dibandingkan film-film Rocky lain yang memiliki formula yang serupa.

Sutradara Steven Caple Jr. mengambil tokoh-tokoh Rocky IV dan mengubah apa yang tadinya cerita yang cheesy menjadi kisah yang begitu grounded dan realistis. Melihat Creed yang tidak ingin melewatkan kesempatan membalaskan dendam ayahnya, aku merasakan lebih banyak emosi dari yang kuharapkan. Demi ngeliat Creed menetestkan air mata, Michael B. Jordan benar-benar memainkan tokoh ini dengan penuh passion. Creed, di atas semuanya, sesungguhnya pengen membuktikan diri. Kalimat “Kau lebih kecil daripada ayahmu” yang dilontarkan oleh Ivan Drago benar-benar membuat Creed ketrigger. ‘Kecil’ dalam kalimat tersebut memiliki makna besar bagi Creed. Dia ingin keluar dari bayang-bayang ayahnya, untuk itulah dia menerima tantangan Viktor, namun orang-orang di sekitarnya mencemaskan keselamatannya. Dan hal ini diam-diam – tak mau ia akui -mempengaruhinya. Dia punya keluarga, istrinya baru saja melahirkan. Ada adegan yang sangat hebat (disertai dengan chemistry yang tak kalah kuatnya) ketika Creed bicara empat mata dengan istrinya, tentang tinju sebagai satu-satunya hal yang ia ketahui. Dia tidak bisa mengerjakan hal lain sebaik ia bertinju. Ia tidak bisa berhenti karena tinju adalah bagian dari dirinya dan kita melihat sang istri dapat dengan mudah memahami karena dia sendirinya juga adalah seorang yang begitu mencintai pekerjaan sebagai musisi.

Lucu, dalam sebuah film tentang bertinju, kita diingatkan untuk tetap berpikir dengan menggunakan hati.

 

Pria-pria dalam film ini boleh saja digambarkan berotot baja dan bertinju besi, akan tetapi hati mereka tidak terbuat dari batu. Mereka semua memendam sisi kelemahan yang membuat kita melihat mereka sebagai manusia yang utuh, alih-alih ‘jagoan’ dan penjahat. Adegan ketika kedua petinju disemangati di sudut ring masing-masing dalam setiap pergantian ronde, kita mengerti stake dan motivasi dan emosi yang mengalir pada kedua belah pihak. Viktor dan ayahnya bukan sekedar petinju raksasa yang melototin semua orang. Memang, kita pengen melihat Viktor yang main curang walaupun super kuat kena tonjok tepat di wajah, namun mereka enggak sebatas ‘culas’. Film memberikan kita kesempatan untuk memahami apa yang menjadi dorongan buat mereka. Kita dibuat mengerti di mana posisi mereka setelah kekalahan yang dialami Ivan Drago beberapa tahun yang lalu, dan gimana Viktor ingin mengembalikan kehormatan keluarganya.

tulis ulang sejarah itu, atau kau akan mengulanginya.

 

Begitu kita sudah mengerti landasan baik dari sisi Creed maupun Drago, pertandingan tinju yang merupakan kulminasi dari emosi-emosi tersebut akan terasa sangat dramatis. Pertarungan mereka terkoreografi dengan sempurna; emosinya nyata, namun kita lebih seperti menonton main event acara WWE ketimbang duel beneran. Tapinya lagi, itulah sebabnya film ini sangat menghibur. Jika dalam film Creed adegan tinjunya tampak sungguh in-the-moment lewat take panjang yang tak-terputus, di sekuelnya ini sutradara ingin menjejakkan kekhasannya sendiri. Dan yang ia pilih adalah shot-shot dengan sudut pandang orang pertama (pov shot) yang menghantarkan kepada kita pengalaman langsung terhadap emosi dan apa yang sedang dirasakan oleh kedua petinju.

Meskipun secara gamblang film ini bicara soal pertarungan dua anak lelaki petinju-petinju legendaris; hubungan ayah dengan putranya menguar kuat; bahkan Rocky tidak terbantahkan lagi adalah sosok ‘ayah’ bagi Adonis Creed, tetapi sesungguhnya baik Creed maupun Drago menarik kekuatan mereka dari wanita-wanita yang mereka cintai. Si Rusia punya ibu yang ingin ia banggakan, Mother Russia dan ibu kandungnya. Creed punya tiga wanita yang menunggu kepulangannya. Dan ini memberikan mereka keyakinan.

 

 

 

Legacy Adonis Creed memang baru saja dimulai. Film melakukan kerja yang sangat baik mengtransisikan warisan Rocky ke film ini, membawanya ke tingkat lebih tinggi, mengekspansi semestanya. Tapi aku sendiri berharap ini menjadi film terakhir. Arc Creed sudah sempurna. Aku pikir aku setuju dengan Creed ketika dia bicara soal karirnya, sebelum Drago datang menantang, “berhentilah selagi di puncak.” Film ini akan menjadi kado terakhir yang manis buat para penggemar. Mereka berhasil menggarap film tinju yang walaupun formulaic, namun menghibur dan tetap menginspirasi, menyentuh – hati kita digebuk-gebuk olehnya. Karena meskipun yang beraksi adalah tinju, namun dalam film ini yang berbicara tetap adalah hati.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for CREED II

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian, untuk apa Creed bertinju? Sudahkah kita sendiri memahami untuk apa kita melakukan pekerjaan yang kita lakukan sekarang?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

SUZZANNA: BERNAPAS DALAM KUBUR Review

“Admitting we’re wrong is courage, not weakness”

 

 

 

Suzzahnya untuk enggak berprasangka buruk duluan terhadap film yang berusaha menghidupkan kembali legenda. Selalu ada dugaan, jangan-jangan ini proyek cari duit semata. Palingan cuma ngikut-ngikut Pengabdi Setan. Terlebih proyek ini sendiri sejak awal sudah dikonfirm bukan sebagai cerita remake, maupun reboot, melainkan cerita baru dengan tokoh Suzzanna – basically mereka membuat film berdasarkan mitos-mitos yang membuat seorang Suzzanna populer. Jadi, ya, aku bernapas dalam-dalam sebelum melangkah masuk ke bioskop menyaksikan film ini.

Dan saat kredit penutup bergulir, aku menghembuskan napasku dengan lega!

 

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur bukan proyek berkedok ‘reborn’ yang dibuat ala kadarnya alias asal-asalan. Film ini benar-benar punya cerita untuk disampaikan, mereka menggali sudut pandang dengan lebih dalam. Film ini nyatanya juga menghibur, tetapi enggak terpuruk ke level receh, dan enggak sekadar menunggang ombak kepopuleran horor dan Suzanna itu sendiri. Kita bisa merasakan passion terhadap genre ini. Rasa hormat terhadap sang Ratu Horor pun menguar dengan kuat. Di kemudian hari, aku yakin this will be a ‘go to’ movie kalo kita lagi pengen maraton horor atau ngadain nobar. Film ini enggak takut untuk menggunakan formula standar, dengan cerita yang tradisional, karena mereka paham sudut mana yang belum tergali, dan film fokus dalam area ini. Sehingga terasa seperti sesuatu yang pernah kita lihat sebelumnya, namun sekaligus seger. Seperti Suzzanna sendiri; kita tahu siapa dirinya, tapi juga merasa masih banyak misteri padanya yang membuat kita penasaran.

Dalam film, jika ada tokoh yang mengucapkan janji, maka niscaya naskah akan sekuat tenaga membuat janji tersebut terlanggar. Satria (rambut Herjunot Ali membuatnya mirip Eddie Guerrero masih muda) berjanji kepada Suzzanna, istrinya, tidak akan membiarkan apapun mengganggu keluarga kecil mereka. Tidak berapa lama setelah itu, kerjaan mengirimnya ke Jepang – berpisah sementara dengan istri yang sedang mengandung. Meninggalkan Suzzanna (penampilan horor terbaik Luna Maya!) yang begitu cinta dan setia di rumah besar mereka ‘hanya’ bersama tiga orang pembantu. Benar-benar mangsa empuk buat empat karyawan Satria yang berniat menyatroni rumah. Merampok mereka. Malam minggu hujan deras itu, para rampok menjalankan aksi. Untuk beberapa saat, cerita mengambil bentuk thriller home-invasion, Suzzanna yang saat itu lagi sendirian harus berurusan dengan sekelompok orang yang menodai kedamaian malamnya. Dia melawan sekuat tenaga, bahkan membuat empat pria tersebut kalang kabut. Rencana matang itu berantakan. Dari yang tadinya tak berniat mencelakai sama sekali, perlawanan Suzzanna membuat para rampok terpaksa membunuhnya dengan tidak sengaja. Kebayang gak tuh, mentoknya gimana? terpaksa dengan tidak sengaja haha.. Cerita berkembang menjadi menarik ketika Suzzanna yang dikubur hidup-hidup bersama jabang bayinya dalam tanah basah yang dingin, terbangun di ranjangnya yang putih nan hangat. Bukan sebagai manusia, melainkan sebagai hantu Sundel Bolong yang sangat kuat. Dia ada di sana untuk balas dendam, namun terikat oleh cinta kepada sang suami. Dia bisa saja segera membunuh keempat perampok yang bikin rusuh keluarga mereka, akan tetapi itu akan membuatnya benar-benar terpisah dari suami yang sangat ia cintai.

Itu seperti ketika Nobita dalam kartun Doraemon pengen makan dorayaki tetapi ia enggak sudi makanannya habis. Konflik utama film ini datang dari Suzzanna yang mencoba figure out apa yang sebaiknya dia lakukan.  Lucu, kalo dalam konteks cerita anak-anak. Tidak demikian halnya ketika kita melihat dari sisi Suzzanna. Sedih melihat Suzzanna yang ingin menuntut balas, hanya saja dia tidak bisa langsung melakukannya. Sejatinya ini adalah kisah balas dendam. A GHOST’S REVENGE STORY. Film dengan pintar membalutnya ke dalam mitologi klenik lokal. Cerita menetapkan aturan-aturan soal gimana Sundel Bolong ‘bekerja’, bagaimana cara mengalahkannya, dan bekerja dengan konsisten di dalam kotak aturan tersebut. Strukturnya juga sangat jelas; dari set up kematian, babak kedua yang basically Suzzanna ‘bereksperimen’ dengan kekuatan hantunya, hingga penutup saat ‘kedoknya’ sebagai hantu yang menyamar menjadi manusia terungkap.

Jika tujuan hidupmu adalah balas dendam, apakah kau akan tetap melakukannya bahkan ketika itu berarti kau akan kehilangan orang yang kau sayangi? Film ini bicara tentang pengorbanan sebenar besar yang rela kita lakukan ketika begitu kuat rasa cinta tersebut mengakar.

 

Film ini tampak dibuat dengan usaha yang maksimal. Bernapas dalam Kubur adalah salah satu horor paling good-looking yang bisa kita saksikan tahun ini. Efek dan prostetiknya sangat meyakinkan. Untuk riasan Suzzanna sendiri, wah gak sia-sia sih mereka datangin tata rias dari Rusia. Penampilan wajah yang udah kayak diphotoshop ditunjang oleh permainan akting Luna yang diarahkan supaya mirip banget sama gestur dan cara ngomong Suzzanna. Dunia tahun 80an akhir itu pun semakin terlihat sempurna dengan detil-detil artistik yang begitu diperhatikan. Bahkan dialog dan pengucapannya pun terdengar vintage sekali. Film ini boleh dibilang lebih mirip sebuah tindak restorasi jika saja dia tidak memberikan cerita baru. Personally, aku suka opening credit yang menampilkan shot-shot dari angkasa, memberikan nuansa seperti pembuka dalam film horor Stanley Kubrick – yang juga berjaya di tahun 80an. Satu shot paling aku suka ketika Suzzanna melayang pergi sambil mengangkat kepala korbannya, momen kemenangan paling eery yang pernah kita lihat, dan kamera dengan bijaknya bergerak miring melakukan Dutch Tilt menghasilkan kesan yang luar biasa sureal.

Di akhir-akhir Suzzannanya jadi keriting dan jadi lebih mirip Boneka Sabrina hhihi

 

 

Bekerja dengan lumayan baik sebagai komedi, dari bagaimana Suzzanna yang passionate sekali dalam menghantui musuh-musuhnya. Dia tahu dia punya kekuatan atas mereka, kita melihat Suzzanna selalu bermain-main dengan mereka. Mencoba masuk ke dalam kepala mereka satu persatu, membuat mereka takut, memancing mereka ke tempat-tempat membahayakan nyawa, sehingga mereka bisa terbunuh secara tak langsung. Atau bahkan membuat mereka tidak sengaja saling membunuh. Ada satu perampok yang sangat ketakutan – dia actually dipelototin Suzzanna yang lagi meregang nyawa – sampai-sampai dia takut untuk tidur sebab setiap kali memejamkan mata, dia melihat wajah melotot Suzzanna. Cara yang pintar untuk menunjukkan psikologi seorang yang merasa bersalah, dan sedikit mengingatkanku pada elemen Freddy Krueger dalam seri horor A Nightmare on Elm Street. Film benar-benar memanfaatkan durasinya untuk pengembangan karakter, kita diberikan kesempatan untuk melihat dari sisi para perampok – gimana takutnya mereka, gimana usaha mereka untuk selamat dari dendam Suzzanna, bahkan ada satu yang diberikan motivasi yang cukup simpatik. Dan semua itu membuat cerita menjadi semakin berisi. Para penjahat enggak sekedar duduk di sana, menunggu giliran untuk dibunuh.

Dibutuhkan keberanian yang besar untuk mengakui kesalahan. Untuk meminta maaf. Dalam kasus ini, untuk mengakui perbuatan  kriminal kepada polisi. Suzzanna punya kekuatan atas para perampok bukan karena dia benar dan mereka salah. Berbuat kesalahan tidak membuat kita lemah. Tidak mengakuinya lah yang menunjukkan seberapa ‘kuat’ kita

 

 

Inilah yang menyebabkan porsi horor film ini tidak tampil sekuat versi dramanya. Kita tidak pernah benar-benar merasa takut kepada si Sundel Bolong, malahan kita mendukungnya. Kita senang melihat dia berhasil menemukan cara untuk balas dendam. Wujudnya memang mengerikan, tapi fakta bahwa Sundel Bolong hanya memburu orang yang terlibat dalam kematian dirinya, membuat kita merasa aman. Kita gak salah, jadi kita gak akan dikejar oleh Suzzanna. Well, kecuali kalo kalian pernah berbuat salah sama orang yang sudah meninggal, maka film ini tidak akan membuat kalian tersentak terbangun dari mimpi buruk. Sekuen-sekuen kematian hadir dengan cukup sadis, meyakinkan sekali, sehingga kadang muncul sedikit rasa kasihan juga melihat orang-orang jahat itu mendapatkan ganjarannya. Satu lagi dampak positif dari hantu sebagai tokoh utama ini adalah film tidak merasa perlu-perlu amat untuk bikin kita kaget dengan kemunculan Sundel Bolong, sehingga mereka dengan gagah berani memunculkan hantu begitu saja, tanpa disertai suara keras yang ngagetin. Suatu kemajuan buat horor Indonesia.

tanggal mati Suzzanna di film ini sama ama tanggal lahirku, hiii!

 

 

Untuk sebuah cerita yang memasang Suzzanna sebagai hantu yang mencoba hidup sebagai manusia, mengelabui pembantu-pembantu di rumahnya, film sebenarnya agak kurang memperlihatkan bagaimana keseharian Suzzanna. Para pembantu bingung oleh kabar dari tetangga sekitar, mereka bicara seputar gosip yang beredar, tapi kita enggak pernah benar-benar melihat efek Suzzanna terhadap penduduk kota mereka. Kita tidak banyak diperlihatkan bagaimana tepatnya dia berusaha tampil sebagai manusia, sampai menjelang babak akhir di mana Satria pulang ke rumah dan mendengar segala desas desus keanehan Suzzanna selama dia pergi. Sudah cukup bagus sebenarnya, film ngebangun Suzzanna tadinya seorang muslim yang rajin ke mesjid, dan kemudian kita diperlihatkan Suzzanna banyak alesan ketika diajak sholat oleh Satria. Kita merasakan sebersit ketakutan di mata Suzzanna – dia takut ketahuan sudah menjadi hantu – dan ini menakjubkan, maksudku, seberapa sering kita melihat adegan hantu yang ketakutan. Hampir enggak pernah, kan ya. Pun, Suzzanna-lah yang pada akhirnya belajar untuk melepaskan. Film ini memainkan semacam role-swap antara dua makhluk beda-dunia. Namun begitu, menurutku, ending yang dipilih oleh film justru melemahkan arc Suzzanna sendiri.

Aku tidak benar-benar setuju dengan keputusan film di akhir, karena membuat kejadian pada konfrontasi final yang enggak se-tight kejadian-kejadian pada bagian lain. Malah ada beberapa yang konyol seperti kenapa mereka yang bisa mengikat tangan Sundel Bolong enggak sekalian aja menyumpal mulutnya supaya dia enggak bisa bicara dan memperingatkan Satria. Tapi yang paling lucu buatku adalah gimana Satria melihat pantulan dari bola mata Suzzanna seolah sedang melihat cermin spion. Film seperti ‘kesusahan’ mencari cara supaya Satria percaya dan akhirnya melakukan langkah lucu yang tak perlu seperti demikian. Maksudku, toh kalo memang outcome dari pertarungan terakhir itu harus Satria luka di punggung (paralel dengan lubang di punggung Suzzanna), kenapa enggak membuat Satria tertusuk saja di sana? Kenapa mesti dia melihat pantulan dari bola mata, baru sadar, berantem, kemudian tertusuk. Ada cara yang lebih simpel dengan membuat langsung tertusuk dari belakang, sehingga Satria sadar, dan baru deh berantem.

 

 

 

Menyentuh melihat ada hantu yang rela kepanasan dengerin bacaan Al-Quran demi cintanya yang besar dan murni. Ini adalah salah satu film dengan cerita dan usaha yang paling fully-realized yang kutonton tahun ini. Yang perlu diingat adalah, film ini hebat bukan karena kesuksesannya meniru tokoh ataupun menghidupkan legenda. Film ini hebat karena berhasil membangun cerita, dan kemudian menyampaikannya sebagai sebuah tontonan drama cinta yang lumayan heartbreaking, dengan undertone horor yang meriah oleh warna darah. Menghibur juga, meski di akhir aspek fun tersebut agak sedikit kebablasan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SUZZANNA: BERNAPAS DALAM KUBUR

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Dalam cerita film ini, para penjahat menemukan solusi ekstrim untuk mengalahkan Suzzanna. Tapi apakah itu satu-satunya cara? Bagaimana jika ada satu penjahat yang insaf, dia bertobat dan rajin sholat – apakah menurut kalian dia bisa lolos dari Suzzanna, apakah tindakannya akan mempengaruhi banyak hal dalam cerita? Atau apakah menurut kalian balas dendam itu memang harus dituntaskan?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

BURNING Review

If you play with fire you will get burned.”

 

 

 

Ketika kedinginan, menyalakan api berarti menimbulkan kehangatan. Secara metafora, menyalakan api berarti menimbulkan perubahan terhadap seseorang. Memberikan mereka entah itu harapan, semangat, ataupun gairah.

Seperti Jong-Su yang api cintanya menyala setelah bertemu dengan Hae-mi. Tadinya Jong-su ini hidupnya garing banget. Dia tinggal sendirian di rumah peternakannya di pinggiran Korea Selatan. Hae-mi, yang mengaku teman lama yang dulu tetanggaan ama Jong-su, mengajak cowok yang pengen jadi novelis itu main ke apartemennya. Mereka jadi intim. Tapi kangen-kangenan mereka enggak berlangsung lama. Hae-mi pergi liburan ke Afrika. Jong-su dengan sabar menunggu si cewek kece, mengasuh kucing Hae-mi yang tak pernah ia lihat setiap hari, sebelum akhirnya Hae-mi pulang bareng cowok yang seratus delapan puluh derajat berbeda ama dirinya. Ben, si cowok baru berdompet tebel, ‘boil’nya porsche, tinggal di Gangnam, orangnya super supel, dan semua-semuanya yang bikin Jong-su iri. Api kecemburuan itu berkobar dan dengan cepat berubah menjadi api kecurigaan. Ini memang tampak seperti kisah cinta segitiga normal, tapi enggak pernah ada yang sesimpel dan senormal itu dalam hidup. Jong-su ingin membuktikan ‘kejelekan’ Ben kepada Hae-mi. Masalahnya adalah, sebelum sempat membuktikan kecurigaannya, Hae-mi malah hilang entah kemana dan hanya Tuhan yang tahu penyebab hilangnya kenapa! Tapi itu tidak menghentikan pikiran Jong-su menyimpulkan kengerian apa yang terjadi

“….membakar jiwa yang meranaaa”

 

 

Menakjubkan, malah hampir seperti sihir, gimana film ini membuat misteri dari cerita yang sebenarnya begitu dekat dengan kita. Susah untuk mendeskripsikan perasaan yang dihasilkan olehnya setelah kita menonton. Ini SEPERTI MELIHAT ILUSI OPTIK. Pernah gak kalian melihat gambar ilusi optik berupa barisan kotak-kotak  yang jika kita memperhatikan gambar tersebut lekat-lekat, kemudian kita lihat titik-titik hitam muncul begitu saja di antara sudut-sudut antarkotak seperti titik rintikan air hujan (klik di sini untuk ilustrasi Grid Illusion). Atau gambar ilusi optik berupa tiga gambar pacman dan tiga sudut lancip yang diposisikan sedemikian rupa sehingga mata kita menangkap sebentuk segitiga di tengah (Kanizsa Triangle). Hanya saja tidak ada segitiga di sana. Titik hitam pada ilusi pertama juga sebenarnya tidak ada. Tapi mata kita terkecoh oleh persepsi dan menganggapnya ada. Dan saat sadar akan yang sebenarnya, kita tertohok sekaligus takjub pada saat yang bersamaan. Tema melihat apa yang tak ada seperti demikianlah yang mendasari cerita film ini. Petunjuk mengenai ini bisa kita dapatkan dari adegan Hae-mi yang berpantomim makan jeruk di depan Jong-su yang melongo di awal-awal cerita. Saking kayak realnya, Jong-su bisa ikut merasakan manisnya jeruk yang lagi dimakan oleh Hae-mi, tapi sebenarnya tidak ada jeruk sama sekali di sana. Film ini membingungkan, mencengkeram kita erat, bikin kita nelangsa oleh pikiran buruk kita sendiri, it’s so good and entertaining dalam caranya sendiri.

Adegan favoritku adalah ketika Hae-mi menari berlatar belakang keunguan langit senja dan musik jazz yang bikin suasana semakin magis. Ini berasa adegan David Lynch banget, buatku film-film Lynch punya gaya disturbing yang sangat kuat merekat. Burning berhasil nyaris menyamainya. Hanya kurang ‘aneh’ saja. Yang diomongin dalam film ini adalah misteri kenapa kita begitu mudah terbakar. Dan seperti lidah api itu sendiri, Burning dengan eloknya meliuk-liuk, menjilat pikiran dan hati kita, semua emosi kita akan berkobar di penghujung cerita.

Api dapat melalap habis apa saja tanpa bersisa, bahkan dalam kitab suci saja, dosa dengki disimbolkan sebagai api mampu melenyapkan pahala-pahala kita. Toh kita membutuhkan api; kecil menjadi teman, kata pepatah. Tapi yang harus kita sadari adalah betapa rentannya api tersebut menjadi besar. Terlalu dekat dengannya, kita pun sedemikian mudah terbakar. Dinamika manusia dengan api disejajarkan oleh film sebagai suatu attachment yang begitu emosional. Saat kita terbakar emosinya; kita akan berubah completely. Jadi apa? Paling sering sih, jadi abu.

 

Hae-mi adalah api dalam cerita Jong-su. Dan cewek itu bukan satu-satunya. Tokoh utama kita practically hidup di dalam lingkaran bara api, Jong-Su punya masa lalu yang tidak menyenangkan sehubungan dengan keluarganya. Banyak hal yang berarti siraman bensin buat dirinya. Rasa-rasanya aku belum pernah melihat tokoh utama yang begitu combustible seperti Jong-su, tapi kemudian film membuat kita berefleksi, dan bam! Jong-su mungkin tidak begitu jauh dari kita secara manusiawi.

hayoo siapa yang golongan sumbu pendek kayak si Jong-su?

 

 

Kejadian dalam film ini diniatkan sebagai misteri, terbuka bagi interpretasi setiap penontonnya, bagaimana masing-masing kita melihat suatu hal. Ketidakpastian akan apa yang sebenarnya terjadi adalah kekuatan utama film ini. Jadi, sampai di sinilah ranah non-spoiler ulasan ini. Karena jika kita ingin menyelam lebih dalam, aku tidak bisa melakukannya tanpa menyebut poin-poin plot penting yang sebenarnya tidak akan asik jika tidak kalian saksikan sendiri. Peringatanku adalah, jangan sampai kalian terbakar rasa penasaran dan membaca lebih lanjut sebelum menonton film ini, karena nanti pengalaman misterinya bakal berkurang. Kalian bisa saja tidak bakal merasakan apa-apa jika baru menonton filmnya setelah membaca.



 

With that being said; kecurigaan, kecemburuan, dan ketidakpastian benar-benar membakar habis Jong-su. Dia adalah pria yang insecure sedari awal karena dia tidak bisa mengingat sama sekali kenangan masa kecil yang Hae-mi bilang dialami oleh mereka berdua. Tambahkan faktor tragedi keluarganya, dosa terbesar Jong-su adalah dia selalu melihat yang terburuk dari semua orang. Dia percaya pada yang terburuk dari segala hal. Juga tidak membantu fakta bahwa di rumahnya, Jung-so digambarkan secara subtil dengan konstan mendengar siaran propaganda Korea Utara yang mengudara. Ketika Ben datang dan akrab dengan Hae-mi, Jong-su seketikanya melihatnya sebagai rival yang berbahaya. Momen-momen penyelidikian Jong-su adalah untuk mencari keburukan dari Ben. Dia terbakar oleh ide Ben seorang psikopat yang suka membakar rumah kaca. Terkadang, bikin frustasi gimana kita tidak diberikan kesempatan masuk ke dalam kepala Jong-su. Kita hanya melihat dari luar, kita melihat apa yang tidak ia lihat, kita punya kesimpulan berbeda dengannya, dan buatku menjelang babak tiga, sudah cukup jelas aku sedang melihat bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak dan tidak ada jalan untuk mencegahnya. Kadang film membuat kita powerless seperti demikian.

Beberapa petunjuk penting sudah sukses disebar oleh film, yang bisa kita jadikan pegangan untuk merangkai teori apa yang sesungguhnya terjadi. Kucing Hae-mi misalnya; apa makhluk ini beneran ada? apa dia benar kucing yang sama dengan kucing yang dipelihara oleh Ben setelah Hae-mi menghilang? Buatku, kucing itu ada dan dia bukan kucing yang ada di apartemen Ben. Kucing itu menurut ketika dipanggil tidak membuktikan apa-apa, karena dari mana kita tahu pasti kucing itu mengenali bahasa manusia? Ada adegan di awal yang membuktikan dugaanku ini, yaitu ketika Hae-mi memanggil kucingnya, si kucing tidak nongol – jadi kenapa kita mesti percaya itu kucing yang sama ketika dia mendekat kepada Jung-so yang memanggil namanya? Film tidak pernah menunjukkan si kucing mengenali namanya sendiri.

Dari situ aku mendapat kesimpulan, Hae-mi tidak pernah berbohong kepada Jung-so. Soal operasi plastik dan teman dekat itu benar adanya, dibuktikan dengan keluarga Hae-mi. Soal kucing, bener ada karena ada bukti kotoran dan makanan. Soal sumur, ibunya sendiri mengonfirmasi benar ada sumur di daerah rumah mereka. Soal Hae-mi yang jatuh ke dalam sumur, perlu kita ingat, ini adalah kebohongan Hae-mi, tapi tidak ditujukan kepada Jong-su. Melainkan kepada Ben. Hae-mi ingin Jong-su berpartisipasi dalam kebohongan ini, tapi Jong-su enggak mengerti. Dari perkataan Ben di kafe setelah dikonfrontasi oleh Jong-su begitu Hae-mi menghilang, ada pengungkapan bahwa Hae-mi menganggap Jong-su sangat penting – ada indikasi cewek ini beneran naksir – dan Ben merasa cemburu (meski cemburunya kepada siapa masih bisa diperdebatkan lagi) Jong-su tidak melihat semua ini. Dia hanya melihat ‘bukti-bukti’ lemah yang tidak menyimpulkan apa-apa. Ben bisa saja memang punya banyak teman cewek, mungkin dia beneran klepto sehingga punya banyak barang cewek di lemarinya, tapi yang pasti kita diperlihatkan satu adegan Ben mengenakan riasan kepada teman ceweknya. Jadi, di mana Hae-mi dalam cerita ini? Kebenaran mungkin lebih simpel dari yang ingin kita percaya. Pembahasan soal debt collector yang sempat diangkat boleh jadi cuma satu-satunya jawaban karena film tidak menampilkan kontradiksi terhadap hal ini, malahan didukung oleh pernyataan orangtua Hae-mi sendiri.

 

 

 

 

Adaptasi dari cerita pendek Murakami yang terinspirasi cerita pendek William Faulkner ini memang bukan film pertama tentang cewek yang menghilang pas lagi sayang-sayangnya. Tapi ini adalah salah satu yang pertama kali menggarapnya dengan keindahan balutan misteri dengan berakar kepada ketidakpastian yang menyulut berbagai perasaan dan pikiran jelek dalam hati seorang manusia. Penceritaannya yang subtil menghasilkan ilusi sebuah misteri yang begitu captivating. Para pemain pun berdedikasi sekali dalam ‘pertunjukan sihir’ ini, memberikan kemampuan terbaik mereka. Mengerikan gimana kita tidak bisa benar-benar paham isi kepala mereka. Tetapi terkadang hal tersebut tidak sepenuhnya menyenangkan jika kita membawanya kepada tokoh utama. Secara perlahan dimekarkan, kita tidak tahu motivasi protagonis sebelum peristiwa utama terjadi. Kita melihat dia mengaku pengen menulis novel, kita lihat dia banyak referensi bacaan, tapi sepanjang film yang ‘berhasil’ ia tulis hanya sebuah petisi untuk kasus ayahnya. Di bagian-bagian awal sebelum ‘api’ itu membesar, kita mungkin bakal susah mengikuti cerita. Tapi setelahnya – setelah beberapa kali pergantian tone dengan mulus tersebut – film ini akan membekas parah di benak kita, seperti jejak branding dari bara api panas pada sapi-sapi ternak.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BURNING.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Share dong menurut kalian apa yang sebenarnya terjadi pada Hae-mi dan siapa sebenarnya Ben. Apa Jong-su sudah melakukan hal yang benar?

Apa menurut kalian, seorang cowok yang ditinggalkan, pantas menuntut kejelasan kenapa ia ditinggalkan?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE NIGHT COMES FOR US Review

There are some things far more frightening than death

 

 

 

Malam sepertinya tidak akan pernah berkonotasi dengan kata sepi dalam kamus Timo Tjahjanto. Malam, bagi film-filmnya, adalah panggung pertunjukan segala kegilaan. Bayangkan pentas bakat di sekolah, hanya saja pesertanya bukan anak kecil mungil melainkan kebrutalan segala jenis. Langit malam Timo akan bergema oleh kata-kata serapah. Dan ya, malam dalam judul film ini pun, sejatinya begitu hitam pekat; oleh darah.

Kita mungkin hanya bisa membayangkan gimana menyenangkannya bagi para aktor diajak suting film laga oleh Timo. Karena kita tahu kita bisa mengharapkan adegan-adegan kekerasan yang esktrim, yang tidak biasa diminta untuk dilakukan. Timo really has a knack for these kind of actions. Bagaikan jari yang tidak semestinya dibengkokkan ke belakang, Timo akan mendorong tulang-tulang tersebut – dia akan mendorong para aktornya untuk melakukan berbagai hal yang berakibatnya pada ‘patah’nya image normal yang tadinya melekat. Kita sudah lihat apa yang ia lakukan terhadap Pevita Pearce dan Chelsea Islan di horor gore Sebelum Iblis Menjemput (2018). Dan itu belum seujung kukunya dengan apa yang ia tugaskan kepada Julie Estelle, Dian Sastro, Hannah Al Rashid, bahkan kepada pemain-pemain pria seperti Abimana Aryasatya, Dimas Anggara, dan banyak lagi cast yang aku yakin semuanya pasti having fun banget disuruh berdarah-darah.

Jangan mandi kembang, mending mandi darah

 

Kerja kamera begitu jor-joran membuat setiap sekuen aksi bikin kita ngotot untuk melotot, meski mungkin perut mulai melakukan penolakan-penolakan ringan. Tusuk-tusukan, patah-patahan, dan kemudian crott! darahnya keluar. Semua tampak begitu maknyuss. Film ini luar biasa aware dengan environmentnya, setiap jengkal bisa dijadikan sudut pandang yang menarik buat ngeliat orang berantem, setiap benda-benda yang paling lumrah sekalipun – seperti papan ‘awas lantai basah’ itu – dimanfaatkan sebagai senjata membela diri yang hanya bisa dituntaskan dengan membunuh lawannya. Hal inilah yang menjadi point menarik dari film ini. Semua aspek; benda, lokasi, tokoh, udah seperti bidak catur yang posisinya udah dipikirkan dengan seksama demi mengkreasikan adegan berantem yang bisa dinikmati. Dan pada prakteknya, kamera akan mondar-mandir ke sana kemari, memastikan setiap frame penuh oleh aksi. Di belakang, di depan. Pergerakan yang nonstop, beberapa adegan film ini akan membuat kita teringat apa yang dilakukan master Akira Kurosawa dalam Seven Samurai (1954); aksi yang berkedalaman. Di film inipun kita melihat orang bunuh-bunuhan di depan, sementara di belakangnya tokoh lain sedang berusaha berlindung dari massa dengan menggunakan meja sebagai tameng. Transisi dari apa yang tadinya background kemudian menjadi fokus, digarap dengan begitu mulus dan menyatu.

Namun sayangnya kita gak bisa memberikan pujian yang serupa untuk cerita film ini. I mean, it is so basic dan meninggalkan begitu banyak elemen, karakter, yang tidak dieksplorasi. Semua tokoh yang muncul di film ini, hanya ada di sana untuk memenuhi ‘takdir’ mereka sebagai petarung. Mereka, dengan gaya dan teknik keren masing-masing, ada untuk berantem sadis, dan mati. Kalopun enggak mati, mereka pergi keluar dari pandangan kita tanpa banyak penjelasan. Tokoh-tokoh di film ini, tentu mereka punya relasi. Kita bisa mengaitkan siapa temannya siapa, anggota geng mana, tapi mereka terlalu satu dimensi. Kita tidak pernah diminta untuk peduli kepada mereka dari cerita siapa mereka, apa motivasinya. Oke, kalo memang ngotot buat terus memuji, aku pikir aku sudah menemukan kalimat yang tepat untuk mengutarakan kelemahan besar The Night Comes for Us sehingga kedengarannya seperti kelebihan.

Ini dia:

Film The Night Comes for Us akan bisa kita anggap sedikit lebih baik jika kita menontonnya dengan berpura-pura bahwa ini adalah adaptasi dari video game pertarungan. Tokoh-tokohnya; mereka kelihatan seperti tokoh game fighting, kita menyukai mereka karena jurus dan penampilan, tapi kita tidak merasa apa-apa saat mereka mati karena toh kita bisa memilih tokoh yang lain, yang akan segera muncul. Siklus film ini kayak siklus berantem di game fighting. Kita hanya nekan-nekan tombol, kita gak peduli sama cerita tokohnya – bahkan di game kita biasanya juga ngeskip cerita in-game and straight to killing. Begitulah film ini terasa buatku. Menurutku akan menarik sekali jika Timo Tjahjanto suatu saat mau dan dapat kesempatan menggarap adaptasi video game berantem kayak King of Fighters, Tekken, atau bahkan Bloody Roar dan Mortal Kombat mengingat kekhususan talentanya dalam menggarap aksi gorefest yang mengalihkan penggemar dari pentingnya bangunan cerita.

Aku gak akan bisa lupa pemandangan Julie Estelle ngeRKO Taslim ke wastafel! ahahaha

Elena kayak versi sakit dan worn-out dari superstar WWE Rhea Ripley

 

Tokoh utama cerita ini adalah Joe Taslim. Ito yang ia perankan adalah salah seorang dari anggota pembunuh andalan mafia Triad, yang disebut Six Seas. Bisa kita bilang, Ito cari makan dengan membunuh-bunuh keluarga orang. Dalam adegan awal, kita melihat Ito mengalami pergulatan moral dalam salah satu misi mulianya. Alih-alih menghabisi anak cewek penduduk kampung yang sedang ia bantai, Ito turn heel kepada Triad. Hal ini membuat Ito dan si gadis cilik diburu. Ito meminta bantuan kepada geng ‘pasukan’ lamanya; geng yang sudah ia tinggalkan padahal mereka dulu bercita-cita masuk Six Seas bareng. Konflik Ito dengan Arian yang diperankan oleh Iko Uwais sebenarnya cukup menarik. Tidak ada kedamaian dalam malam orang seperti Ito. Keberadaannya tercium, dan bermacam-macam pembunuh, bahkan tak terkiranya jumlahnya bermunculan. Cerita film ini saja udah kayak fantasi liar dari trope film-film mafia; ada pengkhianatan, rasa iri dan gak-seneng, orang yang jadi sadar karena keinosenan anak kecil. Penceritaannya sangat mengganjal sehingga terasa sekali perbedaan mencolok antara ketika bagian aksi dengan bagian eksposisi. Film akan jatuh menjadi begitu membosankan ketika film berusaha bertutur selalu tentang kejadian yang terjadi sebenarnya. Mereka tidak membahas siapa dan kenapa, dua poin paling penting yang bisa membuat cerita menjadi menarik. Semakin film bergulir, semua yang diucapkan para tokoh jadi hanya seperti throw-away saja, ada kelompok Lotus lah, ada tokoh kayak The Operator yang punya misi tapi dari siapa gak pernah dibahaslah.

Ada banyak cara untuk membuat orang mati, dan meskipun kau tidak bisa membunuh apa yang sudah mati, pada kenyataannya banyak hal yang lebih mengerikan daripada kematian. Ito paham akan hal ini bahkan sebelum dia mulai bergabung dengan Six Seas. Bahwa manusia bukan hancur ketika dia mati, tetapi justru ketika hidupnya sudah tidak lagi sesuai apa yang ia yakini.

 

 

Menurutku lucu sekali gimana film ngebuild up soal keanoniman Six Seas di teks pembuka film, dan kemudian kita melihat semua orang yang dikenal Ito tahu dia anggota Six Seas. Dari cerita dan actually beberapa aspek yang aku temukan saat nonton ini, aku toh memang merasa film ini sebenarnya bisa berkiprah lebih oke lagi. Film ini memang bekerja dalam fantasi dan logika sadisnya sendiri, tapi aku menemukan beberapa keputusan yang buatku, sebenarnya bisa mereka hindari. Seperti pada menit 17:59 ke 18:00, adegan mobil yang menepi dan kemudian dua tokoh turun. Sangat terang sekali bahwa adegan yang mestinya kesinambungan tersebut digabung dari dua waktu yang berbeda; tadinya malam, eh detik berikutnya kayak udah mau pagi. Dan lokasinya bahkan jelas-jelas sudah bukan di tempat yang sama. Kenapa mereka tidak benar-benar menggunakan shot yang kontinu beneran aja untuk adegan ini? Padahal tidak ada narasi yang disembunyikan.

Kemudian pada saat adegan-adegan berantem. Film ini sering membuat kondisi tak-menguntungkan buat tokoh-tokoh baik, mereka dikeroyok banyak orang, mereka harus selamat dari kondisi puluhan lawan satu. Tapi kita tidak exactly melihat keroyokan tersebut. Aku enggak tahu, mungkin karena keterbatasan kemampuan aktor – dan mereka gak mau pake stuntman supaya bagus, tapi adegan berantem dalam film ini masih terlihat seperti bergiliran. Tidak benar-benar real time. Musuh akan menunggu sampe temannya koit, baru maju ke depan. Ini hanya membuat either penjahat-penjahatnya tampak bego atau berantemnya jadi gak make sense, bahkan dalam standar aksi gore fantasi seperti ini. Suspensnya jadi off, dan usaha film untuk membuat kita tegang kembali? Yup, you guessed it; dengan erangan dan teriakan kata-kata kasar.

Banyak adegan yang mencoba meraih ketinggian emosional, tapi enggak bekerja dengan efektif. Sebagian besar karena kita tidak peduli ama karakternya. Dan bagian endingnya, hah! film mencoba ngecreate apa yang The Devil’s Rejects (2005) sudah lakukan dengan musik lagu Free Bird yang sulit dikalahkan ke-awesome-annya.

 

 

 

Untuk tontonan yang seram-seram menghibur, apalagi buat suasana halloween kayak sekarang, film ini adalah pilihan yang tepat. Dia punya trik-trik yang diolah dengan sangat passionate, dengan gaya dan taste yang khas, sehingga menghasilkan sebuah treat yang asik untuk dinikmati. Jika sutradaranya diganti menjadi yang taste enggak sekuat ini, dengan cerita dan materi yang sama, film ini akan jatuh tertumpuk di dasar kenistaan, lantaran ceritanya tidak dikembangkan maksimal. Kita akan cepat gusar kalo menonton ini dengan mengharapkan cerita yang lebih koheren dan adegan yang enggak terlalu dibuat-dibuat.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE NIGHT COMES FOR US.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian, siapa saja anggota Six Seas dalam film ini? Apakah Morgan Oey salah satunya? Pertarungan siapa yang paling kalian sukai?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

APOSTLE Review

“Security is a false god.”

 

 

 

Tidak ada orang yang lebih pantas menyusup ke dalam sekte reliji sesat selain Thomas Richardson. Bukan saja karena sekte tersebut sudah menculik adik perempuannya, menyandera sang adik untuk tebusan. Tetapi juga karena Thomas dijamin ampuh tidak akan terpengaruh dan balik mengimani ajaran sesat tersebut. Gak mungkin lah yaow! Thomas sudah membuang jauh-jauh keimanannya terhadap agama. Dulunya dia seorang yang taat, tapi setelah pengalaman mengerikan, Thomas sadar agama cuek bebek; tidak menolongnya. Bayangkan Andrew Garfield dalam film Silence (2017), nah Thomas adalah versi ‘keras’ dari tokoh tersebut. Malahan, film ini secara keseluruhan adalah versi brutal, penuh dengan darah, kengerian, dan banyak lagi yang bakal bikin kita merasa perlu untuk mempercayai sesuatu yang bisa memberikan keselamatan.

Tentu saja, semua kemudahan yang dibayangkan Thomas enggak terwujud di dunia nyata. Dai enggak bisa sekadar menyamar, membebaskan adiknya, dan pergi melenggang dengan damai. Penghuni Erisden, pulau kultus terasing yang ia susupi, tidak sepolos yang ia bayangkan. Ada sesuatu yang beneran menyeramkan sedang terjadi di sana. Tuhan yang diserukan oleh si Nabi Palsu bisa jadi bukan sekedar onggokan benda yang terbuat dari kayu. Panen dan hasil alam pulau tersebut rusak, Nabi di Pulau Erisden yakin do’a tak lagi mencukupi permintaan Tuhan mereka. Darah harus dikorbankan.

The Goddess I know; she will give us some Twisted Bliss

 

Bahkan sebelum kaki Thomas menginjak pulau sarang cult, kita sudah dihampiri oleh banyak misteri. Tanda-tanda kengerian itu sudah ditanamkan dengan seksama, menjalin ke dalam benang-benang cerita. Intensitas suspens cerita itu terus meningkat sejalannya narasi. Kita melihat ada sesuatu di bawah lantai kayu yang menantikan tetesan darah jatuh ke bawah. Kita melihat tumbuhan hijau serta merta menjadi layu di tembok rumah. Kita melihat binatang ternak yang lahir dalam kondisi mengerikan. Paruh pertama film ini begitu efektif menghimpun misteri, membuat kita menerka-nerka apa yang sesungguhnya terjadi. Kita memeriksa ritual-ritual tersebut lewat mata Thomas. Dan mata tersebut actually yang menjadi tanda pertama buatku, betapa aku tidak bisa konek dengan tokoh Thomas.

Bagiku sangat over-the-top gimana Dan Stevens membawakan perannya tersebut. Thomas diniatkan sebagai orang yang sudah melihat begitu banyak hal mengerikan, sehingga ia skeptis terhadap kegiatan kultus yang ia saksikan pada pulau itu. Thomas berpikir dia sudah melihat semua. Dia kira semua orang di sana, termasuk si Nabi Palsu, hanya menjual bualan dan harmless dibandingkan dirinya yang bisa membela diri. Stevens memainkan Thomas dengan melotot sepanjang waktu. Dia sok galak. Thomas hanya seperti tubuh, tanpa jiwa, karena kita tidak dibawa menyelam bersamanya. Susah untuk mengikuti tokoh ini, dengan kita actually mengetahui lebih banyak dari yang ia ketahui. Beberapa adegan ganjil, kita tidak melihatnya dari sudut pandang Thomas. Kita hanya melihat bersama Thomas saat adegan-adegan di mana tokoh ini tampak kurang usaha, dan diselamatkan oleh keberuntungan. Kita tahu lebih dulu darinya, dan ini membuat tindakan sang tokoh susah untuk kita dukung.

Ada satu adegan ketika seluruh penduduk pria yang baru datang dipanggil ke rumah ibadah. Para Pemimpin Kultus mencurigai ada mata-mata di antara mereka. Jadi untuk membuktikan siapa si ‘serigala berbulu domba’ si Nabi Palsu menyuruh mereka satu persatu mereka melafalkan ayat dari kitab reliji mereka. Film ingin membangun suspens, kita supposedly khawatir giliran Thomas semakin dekat, you know, ini soal hidup atau mati ditembak di tempat. Hanya saja susah untuk peduli kepada Thomas, karena karakternya yang tidak diperlihatkan mau bersusah payah belajar ‘menyamar’. Thomas terasa distant dan gak mengundang simpati. Outcome dari adegan tersebut juga terasa kayak kebetulan. Dan ada satu adegan lagi di mana tindak Thomas tampak begitu reckless dan gak berfungsi apa-apa selain device narasi yang terlalu diada-adain; untuk suatu alasan, Thomas menggambar denah desa, menandai rumah mana harus diselidiki, but there’s only one house yang ia curigai. – dan desa di pulau tersebut enggak begitu besar. Tindakan ini malah lebih bego daripada Neville Longbottom yang mencatat semua password ruang rekreasi Gryffindor pada secarik kertas dalam cerita Harry Potter and the Prisoner of Azkaban.

Setiap ajaran sesat, setiap kefanatikan, bermula dari satu hal keraguan. Manusia tertarik kepada agama bukan sekadar karena takut akan kematian. Mass acceptance sebuah ajaran diperoleh sebab ajaran tersebut memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan. Di tengah kekacauan dan musibah, kondisi aspek kehidupan yang mulai meragukan, orang pertama yang menawarkan tata tertib akan dipandang sebagai juru selamat. Karena manusia begitu desperate dengan order. Apostle adalah film yang membesarkan rasa desperate manusia tersebut. Perjalanan Thomas sebagai literally penyelamat desa, adalah metafora dari keadaan tersebut – seskeptis apapun, kita bakal butuh untuk percaya pada sesuatu.

 

 

Paruh kedua film ini ‘dilukis’ Gareth Evans dengan warna merah. Sutradara ini terkenal akan kepiawaiannya menggarap adegan-adegan aksi yang bikin mata melotot. Dalam Apostle, meski porsi aksinya kurang, tapi itu tidak berarti mata – dan ultimately, perut  – kita bisa rileks menonton ini. Penggemar body horor bakal terpuaskan lantaran poin-poin cerita yang bakal terungkap akan terus diiringi oleh adegan gore yang brutal. Kamera pun bijaksana sekali, dia tahu kapan harus memperlihatkan semua, paham sudut mana yang paling pas bikin kita yang ngeri melihatnya tetap mengintip layar dari balik jari-jari, dan kapan musti cut-away. Ada satu adegan penyiksaan yang paling membekas di dalam kepalaku; adegan yang melibatkan alat pengebor kepala.

major headache

 

Berkebalikan dengan Thomas yang over-the-top, para pemimpin cult buatku terasa kurang nyampe dalam membawakan kengerian dari cara pandang mereka yang wicked. Justru Nabi dan para petinggi itu yang seharusnya berakting sedikit over, karena kita perlu merasakan betapa ganjilnya ajaran mereka. Bahkan motivasi para apostle itu kian konyol menjelang akhir. Sayangnya pembawaan mereka terasa tidak sejajar, kita tidak ngeri mendengarnya. Kita jijik. Kita geram. Sebab, film sepertinya memang berniat jujur, dia tidak menanamkan red-herring, sedari awal kita sudah dipahamkan bahwa ada kekuatan lain yang lebih mengerikan. Film tidak bisa bekerja selain cara yang sudah kita lihat ini. Kebrutalan dan ketidakaturan adalah seni di sini. Maka film akan benar-benar membagi penontonnya, terutama setelah pertengahan cerita di mana semua darah dan isi tubuh itu dicurahkan. Buatku, paruh akhir film memang lebih mengasyikkan, sementara paruh pertamanya sebenarnya lebih kuat dari sisi cerita. Bagian akhir film, tidak lebih berisi dari sekadar ber-gore ria. Efek-efeknya terlihat begitu fantastis; gak perlu disebutin lagi sebenarnya betapa Evans tampak sangat passionate untuk tipe film seperti ini.

Dari kekerasan terhadap binatang, insiden ayah kandung dengan anak kandungnya, film ini tak pelak penuh oleh adegan yang berpotensi disturbing buat banyak orang. Ada sedikit kemiripan dengan Mother! (2017) ketika film curi-curi berdakwah soal gimana manusia merupakan ‘mesin kehancuran’ yang tak tahu berterima kasih dalam memanfaatkan hasil alam; film ini bahkan punya semacam sosok ibu-alam versi mereka sendiri. Hanya saja, elemen-elemen cerita film ini tidak klop dengan benar-benar koheren. Dalam bercerita, film menggunakan banyak momen ‘pingsan’ sebagai penyambung narasi. Dan sesungguhnya, hal tersebut memang membuat film konsisten terhadap konteksnya; di sini kita punya cerita yang dengan berani menantang realita – gimana kepercayaan umum dirubuhkan oleh hal supranatural, dan tokoh yang sering ditarik keluar dari kenyataan mendukung ide tersebut. Tapi di lain pihak, ini tidak membuat penceritaan yang rapi.

 

 

 

 

Film ini bisa saja dibuat dengan lebih lurus terhadap kaidah film. Tokohnya bisa dibuat lebih simpatik. Disturbingnya bisa dikurangi. Adegannya bisa dibuat lebih koheren. Tapi hasilnya tidak akan senendang yang kita saksikan ini. It wouldn’t work as strong as this. Karena film ini hadir bukan untuk menyenangkan semua orang. Akan tetapi, sesungguhnya film ini siap untuk mengumpulkan pengikut yang mempercayai karya-karya Gareth Evans yang sangat unsettling.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for APOSTLE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian apa sebenarnya yang terjadi kepada Thomas di akhir cerita? Apakah dia bahagia, apakah dia menemukan kembali keimanannya – ataukah dia sudah terangkat statusnya menjadi semacam ‘Tuhan’?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

EIGHTH GRADE Review

“Confidence is not ‘they will like me’, confidence is ‘I’ll be fine if they don’t’.”

 

 

 

Seorang youtuber, yang kerjaannya nyerocos di depan kamera, ngasih nasihat ini itu kepada sejumlah viewer dan subscriber, memenangkan penghargaan berupa Anak Cewek Paling Pendiam di Kelas. Aneh, namun juga sekaligus tidak-aneh. Karena beginilah realita kita.

 

Seminggu lagi, Kayla yang anak kelas delapan bakal lulus dan siap memasuki masa SMA. Dan untuk menyintasi masa-masa yang mengerikan, itu Kayla harus bisa tampil konfiden. Hidupnya yang memalukan tidak boleh kelihatan sama orang. Kita semua – anak-anak maupun dewasa – yang pernah berusaha untuk jadi populer karena kita tahu tampang kita enggak keren, badan kita enggak tinggi dan enggak atletis, rambut kita lepek setiap waktu, sehingga kita merasa malu bahkan untuk ngomong keras-keras di antara teman-teman, tapi kita masih tetap mencoba untuk reaching out, pasti merasakan hubungan yang kuat terhadap Kayla. Karena kita tahu betapa sengsaranya hidup sebagai anak tiga belas tahun.

Sudah banyak film yang mengambil tema seperti begini. Namun Eighth Grade mengambil pendekatan yang berbeda. Tokoh utama kita tak lebih tua daripada tokoh di buku cerita Goosebumps, you know, yang masalahnya cuma diganggu setan. Kayla, however, sebagai seorang generasi kekinian menghadapi masalah yang jauh lebih kompleks dari anak-anak tahun ’90-2000an. Karena keberadaan internet dan sosial media. Jadi, Eighth Grade menggali dari sudut pandang yang baru, dan sangat relevan dengan keadaan masa sekarang. Mengetahui itu semua, film ini pun tak main-main dalam menuliskan ceritanya. Kejadian dalam Eighth Grade terasa sangat realistis, sungguh-sungguh otentik. Kita akan melihat apa yang dilakukan Kayla juga dilakukan mungkin oleh adek kita, keponakan kita, atau mungkin malah kita sendiri. Di satu adegan, Kayla dandan cakep, mencatok rambutnya hingga ikal, kemudian dengan amat berhati-hati dia kembali ke tempat tidur – merebahkan diri, untuk kemudian berpose centil selfie dengan kamera smartphone. “I woke up like this” captionnya di Instagram. Silahkan tanya kepada diri kita sendiri: Berapa kali kita melakukan hal yang serupa; mengarang apa yang mau kita perlihatkan, mencoba membuat kita tampak menarik di sosial media?

bahkan meracau pada review ini pun karena aku ingin terlihat pintar

 

 

Film ini tidak dibuat supaya kita bisa memecahkan persoalan anak kecil yang baru mau jadi ABG. Bo Burnham tidak mengarahkan Kayla untuk menjadi lebih baik dengan keluar dari zona introvert. Tidak ada solusi seperti demikian ia hadirkan. Film ini memperlihatkan kepada kita, mungkin juga mengingatkan, bagaimana rasanya menjadi sekecil Kayla. Aku seketika teringat masa-masa sekolahku, di mana semua anak literally lebih gede daripada diriku. Dan percayalah, dari tempat aku berada kala itu, kepercayaan diri sungguh jauh jaraknya. Aku harus senantiasa memporsir diri, I have to do better than others, nilaiku harus lebih bagus, dan pada tingkatan lebih lanjut aku merasa harus lebih lucu, harus lebih unik daripada yang lain. Yang pada akhirnya hanya akan membuat diriku menjadi semakin aneh di mata anak-anak yang lain. Dan exactly pelajaran itulah yang bisa kita tangkap dari cerita Kayla dalam Eight Grade.

Kita menyangka kita perlu untuk punya banyak teman dulu baru bisa konfiden menjadi diri sendiri. Kita mati-matian berusaha membuat orang lain percaya bahwa kita ini pede, kita ini orang yang menarik untuk dijadikan teman. Lihat aku, follower ku banyak. Lihat aku, hidupku asik. Best things happened to me, let’s be my friend. Tapi kita semua salah jika kita mengira konfiden itu pemberian dari orang lain. Sebelum kita bisa meyakinkan orang lain, kita sejatinya harus percaya dulu kepada diri sendiri. Diri kitalah yang mestinya kita yakinkan, bukan teman-teman. Apa yang dilakukan Kayla terhadap dirinya di akhir cerita, tak pelak begitu indah. Jika ada satu orang yang harus kita yakinkan, maka itu adalah diri kita sendiri.

 

 

Semua itu ditangkap dengan sangat menarik. Film ini tahu bagaimana memvisualisasikan ketakutan anak seusia Kayla terhadap lingkungan sosial. Shot yang sangat menarik ketika Kayla menatap keluar dari balik pintu kaca, kamera memperlihatkan teman-temannya lagi pesta, tertawa-tawa di kolam renang, tapi begitu sampai ke kita, perasaan yang ada seolah Kayla sedang menyaksikan zombie-zombie bangkit dari kubur. Eksperiens yang dirasakan Kayla benar-benar tersampaikan kepada kita. Sepanjang film, Kayla gak selalu ‘galau’. Ada momen ketika dia diundang ke pesta, ketika dia diajak hang-out ke mall sama teman-teman yang sedikit lebih tua. Pada momen-momen seperti ini kita turut dibuat merasakan kesenangan Kayla. And while at it, kita dapat merasakan kecemasan yang perlahan timbul. Karena Kayla juga sebenarnya masih insecure. Semua merupakan pengalaman baru baginya, ‘out there’ ia deskripsikan sebagai tempat yang masih belum ‘nyaman’, tapi dia tahu untuk harus berani pergi ke sana.

Sekuen di dalam mobil benar-benar dieksekusi dengan kuat, buatku susah aja untuk disaksikan. Arahannya begitu tepat. Semua yang dirasakan Kayla, semua tentang adegan-adegan tersebut membuatku menahan napas. Karena bukan saja film ini paham mengenai apa yang dirasakan oleh Kayla, film ini juga membiarkan Kayla menjadi Kayla. Menjadi anak menginjak remaja sebenar-benarnya. Kita melihat dia berusaha terlihat lebih dewasa, tapi aura anak kecil – sikap dan cara pandangnya yang masih bocah itu tetap saja menguar. Film ini bergantung kepada Kayla dan aktor muda Elsie Fisher bermain dengan sangat luar biasa. She’s completely real. Aku hanya bisa membayangkan seberapa berat baginya memainkan semua emosi tersebut; dengan usia yang dekat dengan permasalahan yang ia perankan.

Lewat perangai Kayla, film ini mengomentari soal perilaku orang di sosial media. Kayla bicara di channel youtubenya soal bagaimana untuk menjadi percaya diri, bagaimana membawa diri dalam bergaul, tapi di dunia nyata dia sendiri tidak benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. Semua yang ia jadikan tips itu benar, hanya saja melakukannya tidak segampang membicarakannya. Oleh film, kita akan mendengar narasi suara Kayla berbicara di youtube. Sementara visualnya dikontraskan dengan kita melihat Kayla really having a hard time mencoba melakukan apa yang ia ‘sedang’ katakan. Ini enggak serta merta membuat Kayla terlihat hipokrit, film ini tidak ngejudge kita, melainkan kita bisa melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang menyedihkan. Dan fakta bahwa film tidak pernah benar-benar menyinggung jumlah pemirsa yang menyaksikan youtube Kayla membuat semua terasa lebih miris lagi. Semua itu menambah teramat banyak, bekerja dengan sangat baik dalam lingkup konteks ceritanya.

Status: “Otw” / Reality: masih ngulet cantik di kasur

 

Kita melihat Kayla in her private self – yang ditulis dengan sangat nyata. Kita juga dikasih lihat hubungan Kayla dengan keluarga dan lingkungan sekolah. Di kedua elemen inilah letak batu sandungan buat Eighth Grade. Kayla tinggal bersama ayahnya, kita melihat gimana hubungan keluarga teramat penting bagi karakter Kayla. Ada adegan dengan dialog yang sangat menawan datang dari Kayla dengan ayahnya, yang buatku terasa sedikit berkurang kejlebannya karena si Ayah ini ditulis sedikit terlalu ‘baik’. Semua hal pada film ini ditulis dan terasa begitu real, kecuali sikap ayahnya. Practically he was the best dad ever. Aku mengerti mungkin film gak mau jadi mainstream dengan masukin orangtua yang pemarah, yang ikut-ikutan jadi palu yang ngegencet tokoh utama, sementara film ini membicarakan soal bagaimana semua itu adalah sudut pandang Kayla semata. Tapi ada yang gak klop dari sifat ayahnya yang membuat keotentikan cerita menjadi berkurang.

Dalam lapisan Kayla dengan teman-teman sekolahnya, film tidak bisa mengelak dari menggunakan formula yang sudah usang. Mereka mencoba untuk membuatnya sekocak dan semenyenangkan mungkin, dan aku menghargai usaha tersebut. Kayla tentu saja dibuat naksir sama cowok paling keren di kelas. Setiap kali Kayla melihat anak ini, kita akan mendapat close up mata dan dentuman musik techno, ya kekinian banget. Lucu sih. Kita melihat Kayla memikirkan apapun supaya bisa ngobrol dengan si cowok, sementara ada anak cowok lain yang berusaha temenan sama Kayla dan kita semua pasti udah tahu cowok mana yang mestinya dijadiin temen oleh Kayla.

 

 

 

Penulisan yang cerdas, dengan komedi dan komentar yang tajam soal kehidupan sosial media masa kini menjadi faktor utama kita terhibur menonton film ini. Hampir semua bagian terasa sangat real. Kita semua mengerti ama Kayla karena kita pernah berada di dalam sepatunya. Film ini membawa kita kembali ke masa mengerikan itu, dengan memperlihatkan tantangan baru yang dihadapi oleh anak-anak. Aku sangat menikmati film ini, karena dia tidak meremehkan anak-anak, pun tidak memberikan jalan keluar yang mudah.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for EIGHTH GRADE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana kehidupan kalian di usia 13 tahun? kira-kira masih ingat tidak hal apa yang menurut kalian paling penting di umur segitu? apa yang paling menakutkan buat kalian dulu?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

ARUNA & LIDAHNYA Review

“Just add water and stir.”

 

 

 

Aruna ngerasa semua makanan gak ada yang benar-benar spesial enak di poin hidupnya yang sekarang. Padahal Aruna ini cewek yang hobi banget makan. Waktu kecil aja kuda catur dimakan ama dia. Tapi sekarang dia kebingungan, dia sulit mencicip makanan. Bukan karena dia sariawan. Aruna merasa ada yang kurang, tetapi dia tidak tahu apa. Aruna pengen masak nasi goreng mboknya, but she can’t get it right. Atau paling tidak, ia merasa enaknya enggak sama

Aruna & Lidahnya adalah perjalanan Aruna mencari rasa. Tapi bukan dalam artian klise gimana seorang merasa bosan dengan hidupnya dan berangkat menemukan percikan. Aruna perfectly fine. Dia senang dengan hidup. Lingkungan persahabatannya erat, mereka sering ngumpul dan makan bareng sambil ngobrol haha hihi tentang apa saja. Kerjaannya juga lancar. Dia cakap dalam apa yang ia lakukan, baik itu sebagai ahli wabah maupun seorang pecinta masakan. Dan tentu saja dia mencintai pekerjaannya tersebut. Dalam film ini kita akan melihat Aruna dikirim kantornya untuk menginvestigasi penyebaran wabah flu burung hingga ke Borneo sana. Aruna mengajak sahabat-sahabatnya, Bono si chef dengan segudang insight mengenai masakan (bayangkan filosofi kopi, namun makanan alih-alih secangkir kopi) dan Nadheza yang nulis buku kritik masakan, sehingga mereka bisa sekalian wisata kuliner. Dalam tugas rangkap liburannya tersebut, Aruna disupervisi langsung oleh Farish, cowok yang ia taksir but she never really do anything about him before. Hidup Aruna meriah dan penuh bumbu. Hanya saja ia masih merasa hambar. Dalam tingkatan ini, film bersuara seperti nyanyian Alessia Cara di lagu Growing Pains. Aruna tidak merasakan apa yang seharusnya ia rasa. Masalah psikologis inilah yang berusaha untuk diselesaikan oleh Aruna.

jadi ini bukan cerita tentang Aruna dan lidahnya yang sariawan

 

 

Aruna sendiri sudah seperti masakan. Terlihat simpel, namun sebenarnya kompleks. Film ini berhasil menggali kedalaman dari tokoh ini, menggunakan banyak hal sebagai device. Sedari ceritanya saja, film sudah punya banyak lapisan. Aruna harus bernagivasi di antara masalahnya dengan para sahabat, dengan cowok yang ia taksir – di mana dia ngarep untuk punya hubungan yang normal, semua itu sembari dia berusaha memecahkan ‘misteri’ di balik laporan penyelidikan flu burung yang ia dapati tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Aruna berkoneksi dengan banyak orang. Melihatnya berinteraksi, apakah itu ngobrol sambil makan ataupun bicara tentang makan sambil kerja, adalah apa yang membuat film ini terasa asik. Sifatnya ini (dan potongan rambut) membuatku teringat sama Otome di The Night is Short, Walk on Girl (2018), bedanya Otome bertualang dengan mencoba minuman.

Dian Sastrowardoyo merupakan cast yang tepat buat Aruna; dari caranya bertutur yang sedikit jutek tapi lucu, gimana cara dia kerap mempertanyakan sesuatu dengan nada yang ironis. Perannya di sini juga turut memberikan rasa baru bagi pengalaman akting Dian, karena Aruna bakal sering breaking the fourth wall, menjelaskan langsung kepada kita penonton mengenai yang ia pikirkan. Aruna mungkin tidak sepenuhnya ‘jujur’ kepada sahabatnya, dan ketika dia begitu kita akan menjadi orang yang pertama kali ia kasih tau apa yang sebenarnya ia rasakan lewat ekspresi yang ia perlihatkan langsung kepada kita. Yang paling aku suka adalah adegan-adegan mimpi Aruna yang dibuat bernuansa surealis. Quirky dan creepy di saat yang bersamaan!

Meski kadang audionya terdengar aneh, keakraban tokoh-tokoh yang tertangkap oleh kamera terlihat betul-betul meyakinkan. Mereka beneran terlihat seperti sahabat sejak lama. Kalian tahu gimana kalian dan teman segeng kalo udah ngumpul, nyerocos bareng di tempat makan, ngobrolin apa aja sampe mulut pada item? Nah seperti itu jualah geng Aruna ini terasa. Dialog-dialog mereka membahas tentang hidup terdengar akrab. Film berusaha memasukkan lumayan banyak isu yang berkaitan dengan tema cinta, dan bahkan pandangan mengenai sakit dan fungsinya dari berbagai sudut. Yang mana bisa saja terdengar menjadi pretentious jika disampaikan secara sembarangan dan tanpa perhitungan akting yang matang. This is not the case in this film. Ambil pasangan manapun dari film ini, entah itu Aruna dan Bono, Aruna dan Nad, atau bahkan Bono dan Farish, semua pemain mampu menyampaikan bantering yang emosinya nyampe. Fakta bahwa Nicholas Saputra dan Dian Sastro di sini berperan bukan sebagai pasangan kekasih saja sudah cukup untuk bikin film terasa seger.

Dalam hidup, mungkin semua bumbu sudah kita dapatkan. Kita melakukan apa yang kita suka. Kita bersama orang-orang yang kita cinta. Tetapi jika bumbu-bumbu tersebut tidak diaduk, tetap aja akan hambar jadinya. Inilah yang ingin disampaikan oleh bawah sadar Aruna lewat mimpi-mimpi aneh tersebut. Ini jualah yang dipelajari Aruna dari sahabatnya yang suka selingkuh. That she doesn’t confront her life enough. Bahwa Aruna butuh untuk mengaduk bumbu-bumbu pada hidupnya, baru kemudian bisa mencicip rasa.

 

Masing-masing kita bisa menikmati film ini dalam takaran yang berbeda-beda. Segitu kompleksnya cerita yang disajikan oleh Edwin ini. Kita bisa kenyang oleh berbagai kuliner lokal yang ditampilkan, mulai dari sop buntut, nasi goreng, soto lamongan, hingga mie kenyal yang ada kepitingnya itu. Sejujurnya, di awal aku sempat annoyed juga, karena pada menit-menit awal setiap adegan film ini selalu menampilkan orang yang lagi makan. Aku pikir itu bakal dijadikan semacam gimmick; bahwa film bersikeras menemukan cara ‘pintar’ ngelihatin orang makan alih-alih bercerita. Tapi kemudian, ceritanya baru masuk, dan lambat laun film menjadi enak untuk dinikmati. Ya, walaupun beberapa makanan seperti masuk kecepetan dan gak benar-benar integral sama cerita sih, tapi kupikir itu masalah editingnya. Yang mau menikmati isu sosial dan kesehatannya, juga silahkan. Aruna & Lidahnya cukup kritis membahas permasalahan ini, meski narasi bagian ini terasa sangat lambat majunya. Setelah lewat mid-point, mereka masih membahas soal menyebarkan ketakutan; pembahasan mengenai hal tersebut gak benar-benar maju. Paling sedap, sih, memang ketika cerita diaduk oleh hubungan keempat tokoh sentral. Permasalahan humanis ‘orang kantoran’ romantis yang begitu relatable dan ditangani secara dewasa membuat film yang tadinya stale di awal, menjadi enak untuk diikuti.

yang mindblown adalah sedari awal Aruna sebenarnya sudah bener dalam memasak nasi goreng, she just can’t taste it yet

 

 

Sebaliknya, diaduk tanpa ada bumbu juga bakal menghasilkan sesuatu yang sama hambarnya. Seperti bagian pembuka film ini, aku gak yakin mereka mengambil keputusan yang benar dengan mengawali film dari potongan adegan di masa depan, hanya supaya film terlihat seru. Akan lebih baik jika film bercerita dengan linear saja. Dimulai dari awal Aruna masak sop buntut, terus ke akhir. Dan by the way, antara kalimat Aruna pas makan sop buntut itu dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan, benar-benar menunjukkan progresi sudut pandang karakternya. Entah kenapa, film malah memulai dari potongan adegan di mobil, kemudian cut back seolah alurnya mundur dan kita akan kembali melihat potongan adegan di awal tadi di tengah-tengah cerita as the story progress. Jadinya openingnya terasa gak ngefek aja, karena kita belum tahu siapa ‘bumbu-bumbu’ tersebut.

Pada Posesif (2017) aku merasa keputusan mengakhiri film dengan freeze frame adalah keputusan yang cheesy. Edwin kembali melakukan hal yang serupa pada Aruna dan Lidahnya. Kali ini, tidak jatuh over-the-top. Mungkin mengakhiri film dengan freeze frame dijadikan semacam signature oleh Edwin, aku gak yakin karena baru dua ini filmnya yang aku tonton, tapi aku bisa respek keputusan itu sekarang. Malahan tidak lagi jadi soal, asalkan Edwin ke depannya terus menggali sisi psikologis dari drama-drama keseharian yang dekat seperti ini.

 

 

 

 

 

Film ini sendirinya pun terasa seperti sepiring masakan yang penuh bumbu (penampilan, sinematografi, bahkan musik), tapi perlu diaduk lebih sering lagi. Atau mungkin diaduk dengan timing yang lebih diperhatikan lagi. Ada bagian-bagian ketika ceritanya terasa stale. Dan baru benar-benar nikmat setelah konflik-konflik para tokoh saling berhimpitan satu sama lain. Butuh waktu untuk kita beneran mulai peduli sama tokoh-tokohnya. Dan ya, film ini terasa lebih panjang dari durasi sebenarnya. Tapi ya bener juga sih, kalo dinikmati bersama-sama, tentulah film ini akan terasa sangat lezat. Menurutku memang cara terbaik menikmati film ini adalah dengan bareng-bareng bersama sahabat, atau mungkin sama pacar. You certainly will have a good time watching this. Sajian merakyat yang berselera tinggi.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ARUNA & LIDAHNYA.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Ditanyain Chef Bono tuh, “apa opini lo soal makanan?”

Kalo aku sih, memang aku rada setuju sama Aruna di awal. Buatku makan itu sama kayak nonton, my only concern ya ke makanan atau filmnya aja, tidak peduli siapa temennya. Tapi sejujurnya, aku gak suka makan di tempat yang ramai. Waktu sekolah dulu aja, kalian akan jarang sekali menemukan aku di kantin. Aku jengkel mendengar suara denting alat makan dan suara obrolan. Aku lebih suka makan sambil nonton atau baca buku. Dan ini jadi konflik ketika aku harus membuka kafe eskrim, di mana aku harus merasakan suasana ruang makan yang ‘berisik’ itu nyaris 24 jam sehari. Itu ceritaku tentang makan, sekali lagi, bagaimana cerita dan pendapat kalian?
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

THE FIRST PURGE Review

“Politics have no relation to morals.”

 

 

 

Untuk melepas penat kerja sepekan, kita perlu waktu libur satu hari. Liburan diciptakan supaya dinamika performa kita harmonis; agar stres yang menumpuk, mumet dan kebosanan yang terhimpun selama hari-hari rutinitas, dapat terlampiaskan. Sehingga kita merasa lega, dan siap untuk dihujani dengan tugas dan kerjaan berikutnya. Semua perlu liburan sebagaimana butuh kerja. Orang yang kurang piknik, akan gampang marah-marah, isi twitnya dijamin bakalan nyolot ga tentu arah hihi

Konsep melepas beban tersebut juga berlaku dalam praktek kehidupan sosial yang lebih luas. Kriminalitas yang terjadi di masyarakat mungkin salah satunya disebabkan oleh pelaku yang merasa terbebani oleh peraturan. Jadi, mereka melakukan kejahatan sebagai bentuk penyaluran. Supaya mereka bisa lega dan dapat melanjutkan menjadi orang yang baik hari berikutnya. Maka, sudah semestinyalah, perlu diberikan waktu khusus untuk semua orang supaya bisa melampiaskan nafsu bejat mereka, tanpa perlu takut kena hukuman. Kurang lebih kayak liburan, cuma yang ini adalah libur dari kebaikan. Dunia dijamin menjadi tempat yang lebih baik jika hal tersebut dilakukan. Benarkah demikian?

Sejak diluncurkan tahun 2013 yang lalu, The Purge sudah berusaha untuk membawa kita berdiskusi ke ranah yang menyeramkan soal apakah sebaiknya disediakan waktu khusus di mana semua orang bisa melanggar hukum semaunya. Aku sendiri sangat tertarik dengan tema moral dan hubungan sosial yang dibincangkan oleh film ini, makanya setiap ada sekuelnya yang keluar, aku selalu menonton dengan antusias. Mengerikan memang, membayangkan gimana cara kerja Malam Purge di dunia nyata. Kota yang dengan lantas berubah menjadi seperti wasteland di dunia Mad Max; dengan geng-geng haus darah berkuasa di setiap bloknya. Aku bergidik sendiri mengingat gimana jadinya kalo di Indonesia beneran ada yang kayak gini. Apa aku akan bikin gang sendiri, atau malah jadi duluan yang terbunuh haha

What’s your favorite Purge movie? / The first Purge / Oo yang baru / Bukaan, film yang pertamaaa

 

 

The First Purge membawa kita melihat reaksi masyarakat Staten Island ketika mereka mengetahui tempat tinggal mereka dijadikan tempat uji coba Purge oleh partai New Founding Fathers, yang mana membuat mereka semua adalah tikus percobaannya. Para warga bebas untuk memilih enggak ikutan dan mengungsi sebentar ke daerah lain. Atau; mereka bisa tinggal di rumah dengan dibayar, dan bahkan dibayar lebih gede lagi jika ikutan berpartisipasi melepas stres dalam 12 jam bebas hukum tersebut. Ini adalah elemen yang sudah banyak diperbincangkan orang saat film pertama Purge keluar. Benerkah orang-orang akan langsung bunuh-bunuhan jika membunuh dilegalkan. Tapi kita – apalagi kalo sudah menonton American Animals (2018) – tahu lebih baik. Berbuat jahat itu tak segampang dan semenarik yang kita bayangkan. Malahan, hanya ada satu orang yang diperlihatkan oleh The First Purge sebagai yang benar-benar menikmati Purge sebagai ajang pemuas nafsu bunuh-bunuhan. Penduduk yang lain, ya mereka menjarah, merampok, melakukan vandalisme, tapi setelah itu mereka lantas berpesta. Tidak ada darah yang diteteskan. Kondisi yang seperti ragu-ragu, reaksi pertama terhadap percobaan Purge, inilah yang membuat separuh awal The First Purge terasa segar.

Film ingin menunjukkan kemanusiaan belumlah sirna dari dunia, sesakit apapun keadaan sepertinya. Bahwa chaos sejatinya tidak terjadi begitu saja. Melainkan karena dirancang. Program Purge tidak akan berhasil jika tidak ada pihak yang menyetir, yang menyebarkan ketakutan, yang menggunakannya sebagai alat politik. Yang menyebabkan manusia begitu berbahaya bukan karena insting bertahan hidup, melainkan karena manusia adalah makhluk yang berpolitik. 

 

 

Film ini juga bermain-main dengan trope di dalam semestanya sendiri. Seperti kenapa peserta Purge selalu memakai topeng. Kenapa masih menutupi identitas padahal pada malam Purge semua tindak kejahatan dilegalkan. The First Purge mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan mengaitkannya dengan sisi psikologis. Bahwa mungkin rasa malu itu masih ada. Menyadari ikut serta karena punya dendam yang tak berani diselesaikan dengan baek-baek, mengakui bahwa mengikuti nafsu binatang adalah perbuatan tercela, bahwa membunuh, merampok, memperkosa, sekalipun legal masihlah tindakan yang tidak pantas dibanggakan. Maka orang-orang lebih suka memakai topeng. Untuk meyakinkan bahwa mereka pada malam Purge bukanlah mereka yang sebenarnya. Di samping masalah psikologis tersebut, The First Purge juga memperlihatkan alasan lain tentang mengapa topeng digunakan. Sayangnya, alasan kedua yang mereka angkat ini tidaklah semenarik yang pertama, dan lebih disayangkan lagi justru alasan kedua itulah yang benar-benar diangkat menjadi topik utama oleh film.

Hadir pertama kali berbungkus thriller home invasion, Purge kemudian menghadirkan sekuel yang menjawab permintaan penonton. Orang-orang ingin melihat lebih banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi saat malam Purge. Jadi di film kedua kita melihat cakupan yang lebih luas, kita dibawa turun ke jalanan pada malam paling berbahaya di Amerika tersebut. Setelah film kedua itu, semesta Purge mandek. Mereka hanya memperlihatkan hal yang basically sama pada film sesudahnya. Tidak ada pandangan yang lebih jauh mengenai Purge itu sendiri. The First Purge menjanjikan sudut pandang ketika acara tersebut pertama kali dicetuskan, dan film ini gagal memenuhi janjinya tersebut. The First Purge is exactly kayak film yang sudah-sudah. Mereka tetap tidak mengangkat sudut yang lain. Formulanya masih sama, berupa orang-orang yang harus mempersiapkan diri beberapa menit menjelang sirene dibunyikan, dan kemudian mereka terjebak situasi Purge, dan mereka harus bertahan hidup. Elemen-elemen psikologis hanya jadi latar. Cerita aktual tentang bagaimana Purge bisa dicetuskan tetap berupa eksposisi sepintas lewat montase headline berita.

Purge adalah Halloween khusus dewasa

 

 

Sebenarnya di film ini kita akan beneran bertemu dengan pencipta konsep Purge sebagai bagian dari kampanye politik partainya. Tapi karakter yang mestinya punya beban konflik moral, punya dilema, yang menarik untuk digali ini pun hanya terasa seperti tempelan. Karena fokus jarang sekali jatuh padanya. Kehadiran tokoh ini lebih terasa seperti karena film butuh sesuatu untuk direveal; kalian tahu, kayak kebanyakan film yang merasa perlu untuk masukin unsur twist. Kita diperkenalkan kepadanya begitu saja, ‘undur diri’nya juga turut terasa abrupt sekali. Instead, cerita akan berfokus kepada seorang pemimpin gang. Bandar narkoba muda yang sudah meraja di kota tersebut. Moral konflik yang dipasangkan kepadanya sebagai kait cerita adalah bahwa gimana dia menolak Purge yang membunuh manusia dalam satu malam, sementara kerjaannya sendiri merusak manusia 364 hari non-stop. Susah untuk peduli sama si tokoh utama – walaupun Y’lan Noel mainnya lumayan berkharisma dan cukup meyakinkan. Maka, film membawa cerita mengarah kepada warna ‘melindungi rumah sendiri’ dalam usahanya menyinari tokoh utama dengan cahaya simpati; gimana lingkungan tempat tinggal mereka digugah oleh kepentingan, dan mereka harus bekerja sama melindungi kemanusiaan di dalamnya.

The First Purge tetap seperti home invasion skala besar, dengan bukan saja unsur kekerasan yang dikurangi (karena cerita ini seperti setengah psikologis, dan setengah ‘ah sudahlah bikin yang heboh seperti biasa aja’), secara teknis film ini juga tampak lebih ‘murah’ ketimbang film-filmnya sebelum ini. Penulisannya menjurus ke konyol pada beberapa poin. Ada indikasi mereka ingin memparalelkan kejadian film dengan keadaan di dunia nyata, seperti ketika seorang politisi literally bilang “kita harus bikin Amerika hebat lagi”. Tidak ada kesubtilan, mereka menyebutnya dengan gamblang. I mean, bahkan nyindir juga mestinya ada seninya kan. Efek-efek yang ada kerap terasa ketinggalan jaman, ada bagian ketika film bermaksud merekam adegan yang misterius dengan banyak asap dan percikan darah, namun jatuhnya malah over-the-top because it feels cheap.

Pada satu poin, aku sempat heran apakah ini berubah menjadi film Searching (2018) apa gimana karena tiba-tiba kita melihat seorang tokoh penting dieksekusi lewat layar monitor. Kita tidak tahu gimana, bahkan apakah itu benar-benar si tokoh karena kita enggak bisa melihat wajahnya. Hanya orang yang terlihat mirip dia. Kenapa film tidak memperlihatkan langsung saja. Apa adegan tersebut ditambahin belakangan, baru sadar ada yang kurang tapi kontrak pemainnya sudah habis? Setelah paruh pertama, cerita benar-benar meninggalkan pacing, dan segala macem. Yang membuatku tertawa adalah ketika pasukan tokoh utama kita diberondong oleh drone, Dmitri masuk ke kolong mobil, dia hanya bisa melihat kaki teman-temannya – mereka sedang dihujani peluru. Dan setelah dronenya pergi, Dmitri langsung keluar begitu saja. Like, darimana dia tahu dronenya sudah pergi atau keadaan sudah benar-benar aman? Film tidak lagi memperhatikan sudut pandang, dan pada titik ini, kita hanya menonton untuk melihat orang mati dengan cara sesadis yang bisa kita harapkan.

Purge adalah alegori budaya kekerasan, korupnya politik Amerika, dan sistem ekonomi neoliberalisme yang curang. Salah satu episode Rick and Morty say it’s best. Yang kaya semakin kaya. Yang miskin akan binasa. Purge pada akhirnya akan memutar roda ekonomi; penjualan senjata, sistem keamanan rumah. Kelas ekonomi bawah harus berjuang, sampai-sampai ada yang menjual hidup mereka demi keluarganya

 

 

 

 

Jika ini adalah Purge Night pertama kamu, mungkin aja sih, kamu-kamu bakal suka sama filmnya. Karena memang konsep dunia Purge ini selalu menarik. Makanya, para pembuat filmnya jadi susah move on. Installment barunya selalu terasa sama, dan enggak benar-benar menggali sudut yang baru. Mereka juga membuat serial TV The Purge, dan sejauh aku menonton (tiga episode) serial tersebut juga tak banyak berbeda dengan film ini. Jadinya ya enggak maju-maju. Tidak ada pencapaian pada setiap sekuelnya, tidak ada resiko yang diambil. Malahan, film ini tampak seperti yang paling males dibanding yang lain. Terhibur sih, tapi tetep aja kecewa karena aku pengen melihat Purge dibahas lebih dalam. Alasan kenapa ada Purge adalah hal yang dijanjikan oleh cerita, tapi kita tidak benar-benar mendapatkan hal tersebut.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for THE FIRST PURGE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Akankah kalian berpartisipasi jika Indonesia melakukan Purge? Berapa duit yang kalian minta? Benarkah kita butuh satu hari untuk melampiaskan diri akan membawa kita menjadi orang yang lebih baik? Perlukah kejahatan dan dendam itu disalurkan?

Dan pada akhirnya, di mana posisi kita – para penonton semesta Purge; apakah kita menonton untuk melihat bagaimana akhirnya, atau hanya memuaskan dahaga karena kekerasan memang melegakan?
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

Growing Pains by Alessia Cara – [Lyric Breakdown]

 

Semua orang maunya terkenal. Setiap orang pengen diakui. Jadi, kita getol untuk berkarya. Kita bekerja dengan giat. Ada ungkapan yang bilang “Bekerjalah sampai kau tidak perlu lagi untuk memperkenalkan diri.”

Buat remaja kayak Alessia Cara enam-tujuh tahun yang lalu, muncul di televisi tak pelak adalah ultimate recognition. Sekarang, Alessia sudah ngantongin Grammy. Lagunya langganan nongkrong di Top 10. Apakah pemilik suara raspy yang enak banget didenger ini bahagia? Tentu saja! Siapa sih yang enggak. Tapi bukan berarti semuanya lantas terasa baik-baik saja baginya.

Hit single Growing Pains dari album terbaru penyanyi asal Italia ini dapat kita artikan sebagai curhatan Alessia mengenai kondisi mentalnya sekarang. Jika kesuksesan adalah kemeja, bagi Alessia – kita bisa lihat dari sampul albumnya – yang ia kenakan adalah kemeja yang kedodoran. Dirinya terbungkus di dalam sana. Berusaha menge-pas-kan diri. Kecil. Mungkin tak nyaman.

Aku gak tahu, aku merasa belum cukup sukses untuk bisa beneran masuk ke dalam sepatu Alessia. Namun begitu, aku pikir lagu ini relatable, mencapai, banyak orang. Karena kita semua mengalami perjalanan dari kanak-kanak hingga menjadi orang sukses. Hanya, percepatan perjalanannya saja yang berbeda.

 

 

[Intro]
You’re on your own, kid
You are 

Exactly.

 

 

[Verse 1]
Make my way through the motions, I try to ignore it
But home’s looking farther the closer I get
Don’t know why I can’t see the end
Is it over yet? Hmm 

Kita menempuh banyak hal dalam perjalanan kita meraih mimpi. Di mana terkadang kita merasa ada yang kurang; kita merasa kehilangan sesuatu. Namun semua itu kita acuhkan, karena fokusnya kita ke tujuan yang ingin dicapai. Tapinya lagi, semakin dekat kita dengan yang dituju, kita semakin merasa jauh dari hal-hal yang akrab dan nyaman bagi kita.

Alessia mengibaratkannya dengan sebuah rumah – di mana saat kita pergi kerja, kita akan meninggalkan rumah. Dalam sudut pandang Alessia, antara padatnya jadwal manggung dengan produktivitasnya menulis lagu, bahkan rumah sudah menjadi asing baginya. Orang yang bekerja juga sering merasa begini; saking sibuk di kantor jadi kurang akrab dengan anak-anak sendiri. Ada yang harus ditinggalkan demi mencapai tujuan. Hal inilah yang membuat rindu. Dan capek. Sehingga Alessia bertanya ‘kapan sampainya?’

A short leash and a short fuse don’t match
They tell me it ain’t that bad, now don’t you overreact
So I just hold my breath, don’t know why
I can’t see the sun when young should be fun 

Menurutku ini adalah bagian lagu yang sangat personal bagi Alessia Cara; Alasan dia menulis lagu ini. Alessia merasa dia tidak bisa benar-benar menikmati masa mudanya. Dia harus membagi antara pekerjaan dengan pribadinya. Yang tadinya ia menulis lagu untuk bersenang-senang, ia nyanyi dan ngerekam di youtube supaya dikenal orang, dan sekarang semua itu berubah menjadi tanggung jawab.

Ketika kita sudah berhasil mencapai apa yang kita impikan, saat orang-orang sudah melihat kita sebagai ‘sesuatu’, akan semakin sulit untuk mengekspresikan sesuatu yang kita rasakan hilang dari dalam diri, katakanlah mungkin kejenuhan atau apa, karena kita tidak ingin dicap sebagai orang yang tak tahu cara bersyukur. Aneh rasanya merasa hampa setelah meraih kesuksesan yang diimpikan, maka semua itu pada akhirnya hanya ditahan. Atau dalam kasus Alessia Cara; dijadikan sebuah lagu.

 

 

[Pre-Chorus]
And I guess the bad can get better
Gotta be wrong before it’s right
Every happy phrase engraved in my mind
And I’ve always been a go-getter
There’s truth in every word I write
But still, the growing pains, growing pains
They’re keeping me up at night

Apa yang membuat kita terus bertahan adalah keyakinan sesimpel semua akan indah pada waktuya. Kita tahu kita tidak bisa berhenti gitu aja, terutama jika kita memang suka dengan apa yang kita kerjakan. Kita mencoba meyakinkan diri bahwa perasaan sedih itu ya cuma ‘perasaan’. Meski rasa hampa itu terus membesar. Semakin menjadi-jadi saat malam tiba, ketika semua kesibukan berakhir dan kita terbaring di tempat tidur. Inilah yang dimaksud Alessia dengan liriknya yang tadi soal gimana rumah menjadi terasa jauh baginya – kenyamanan itu ketutup oleh perasaan sedih nan hampa yang semakin membesar.

 

 

[Chorus]
Hey, hey, hey, yeah, hey, yeah
Hey, hey, hey, yeah, hey, yeah
Hey, hey, hey, yeah, hey, yeah
Hey, hey, hey, yeah, hey, yeah
And I can’t hide ’cause growing pains are keeping me up at night

Di sini aku membayangkan betapa susahnya bagi seseorang yang merasakan semua itu dalam mencari tempat berlindung. Berusaha senang dengan “hey hey yeah”. Aku kebayang Alessia yang tak menemukan teman curhat yang bisa mengerti apa yang ia rasakan. Sekali lagi, hal kayak gini gak bisa diumbar begitu saja karena kita enggak mau terlihat sebagai tukang ngeluh – karir bagus kok malah sedih?

 

 

[Verse 2]
Try to mend what’s left of my content incomprehension
As I take on the stress of the mess that I’ve made
Don’t know if I even care for “grown” if it’s just alone, yeah

Dengan semua stress itu, menjadi anak-anak akan tampak sangat menyenangkan. Gimana saat masih kecil kita tak banyak tahu, dan ini yang paling penting; orang-orang lain banyak yang mengerti kita. Karena hidup saat bocah itu simpel. Kita ingin kembali melihat – dan dilihat – dunia seperti demikian. Karena, bertumbuh dewasa berarti kita semakin sendirian. Tak banyak mengerti kita. Mungkin kalian juga merasakan, lingkaran pertemanan itu semakin menyempit seiring bertambah usia, seiring bertambahnya pemahaman kita terhadap dunia. Kita mulai sibuk sendiri-sendiri. Alessia dalam lagunya ini mengatakan kalo tahu dewasa berarti sendirian seperti begini, kayaknya ia gak mau deh cepat-cepat tumbuh. 

 

 

[Bridge]
Starting to look like Ms. Know-it-all
Can’t take her own advice
Can’t find pieces of my peace of mind
I cry more than I want to admit
But I can’t lie to myself, to anyone
‘Cause phoning it in isn’t any fun

Aku suka gimana di bagian ini Alessia semacam bikin koneksi ke albumnya yang pertama, Know-it-All. Istilah yang literally cocok digunakan untuk orang dewasa, karena orang gede suka ‘sok tau’ dengan segala pengetahuan yang mereka punya. Ketika kita sukses,  kita akan senang membagi ‘rahasia kesuksesan’. I mean, bahkan belum sukses apa-apapun kita suka bikin kultwit, kita senang berbagi ide dan saran. Padahal yang sebenarnya tak jarang orang yang paling membutuhkan saran dan ide tersebut adalah diri kita sendiri di malam hari, di saat kita merasakan hampa dan sepi. Tapi Alessia bahkan tidak bisa mempercayai sarannya sendiri, sekali lagi, karena dia, sebenarnya ingin kembali ke dirinya yang dulu. Tapi toh, Alessia, juga kita pribadi, tidak bisa membohongi diri sendiri.

Can’t run back to my youth the way I want to
The days my brother was quicker to fool
AM radio, not much to do
Used monsters as an excuse to lie awake
Now the monsters are the ones that I have to face

Bahwa sekali maju, kita tidak bisa mundur. Alessia tidak bisa balik lagi menjadi dirinya saat masih mendengarkan radio bersama adiknya. Ke saat di mana kita mengarang cerita tentang monster biar enggak disuruh tidur. Sekarang, monster selalu hadir saat kita mau tidur. Monster bernama kesadaran dan pemahaman diri. Monster itu adalah diri kita sendiri yang kini sudah dewasa dan sedih menyadari apa yang sudah kita lewatkan – yang tidak bisa kita ambil kembali – dalam mencapai titik kehidupan kita yang sekarang.

 

 

[Outro]
No band-aids for the growing pains

Ini adalah realisasi bahwa perasaan hampa yang kita rasakan saat sudah dewasa, saat sudah jadi orang sukses; perasaan tersebut tak ada obatnya. 

 

 

 

Jika dilihat dari judulnya saja, Growing Pains sudah memiliki dua makna; Pains yang senantiasa terus membesar, atau betapa tumbuh besar itu menyakitkan. Setiap hari kita berjuang mendapatkan apa yang kita impikan. Setiap orang memilih karir yang disenangi oleh hati. Lagu ini membahas tentang rasa rindu terhadap hal-hal yang kita lewatkan dalam rangka mengejar cita-cita, perasaan yang menjelma menjadi suatu kehampaan yang menerjang di kala kita sendirian. Bukan berarti kita tidak bersyukur. Bukan berarti kita tidak bahagia. Adalah hal natural merasakan itu semua, terlebih jika seperti Alessia; kita sudah bekerja sejak remaja.

 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian merasa tidak tahu dan tidak suka ama siapa diri kalian saat sedang menatap langit-langit kamar sebelum tidur? Menurut kalian apa sih yang sebenarnya dirasakan oleh Alessia Cara? Bagaimana pendapat kalian tentang lagu ini?

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

UPGRADE Review

“Computers are useless; they can only give you answers”

 

 

 

Dalam dunia yang penuh hingar bingar, nyaman sekali rasanya bisa menyelam ke dalam kepala sendiri. Ketika kebingungan, atau saat merasa butuh untuk mempertimbangkan sesuatu, kemungkinannya adalah kita merasa perlu untuk bertanya kepada diri sendiri. Bicara kepada suara di dalam kepala itu bukan pertanda kita gila. Malahan akan membuat kita lebih pinter jika kita cukup tenang menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya adalah tindakan menggali kesadaran dan potensi diri. Bahkan, menulis pun sejatinya adalah pekerjaan yang bertanya kepada diri sendiri – kita ngobrol di dalam kepala, kita jelajahi ruang pikir dan pemahaman yang ada di sana.

Masalahnya adalah; bagaimana jika yang ada di dalam kepala itu bukan pikiran kita? Bagaimana cara kita membedakan mana yang suara hati mana yang ‘bisikan setan’? Perlukah kita langsung percaya kepada jawaban yang diberikan oleh suara-suara yang ada dalam kepala kita?

 

Upgrade mungkin memang bukan film yang menonjolkan perjalanan filosofis. Film ini lebih sebagai hiburan tembak-langsung, di mana kita akan melihat aksi berantem penuh kekerasan dan dunia masa depan yang memenuhi dahaga fantasi terhadap kemutakhiran teknologi. Akan tetapi, garapan Leigh Whannell ini memberikan pandangan yang cukup menarik – ia bermain-main dengan konsep seorang manusia yang tidak lagi punya kontrol atas tindakannya sebab sudah menyerahkan semua kendali kepada suara asing di dalam kepalanya.

cue entrance musik Randy Orton

 

 

Cerita tidak akan pernah melebar keluar dari perspektif Grey Trace (Logan Marshall-Green berkesempatan memainkan adegan berantem unik). Pria ini kehilangan istri dan anggota gerak tubuhnya ketika mobil-nyetir-sendiri mereka melaju error dengan tragisnya. Tubuh Grey lumpuh total, kecuali kepalanya. Tatkala ia meratapi nasib, terbaring di tempat tidurnya, seorang ilmuwan komputer memberinya tawaran untuk jadi inang sebuah chip maha-canggih. Dengan chip yang disebut Stem tertanam di lehernya, Grey bisa berjalan dan mengusap air matanya lagi. Tapi kemudian Stem bicara kepada Grey, ia menawarkan bantuan lebih dari apa yang diminta oleh Grey. Stem, dengan izin Grey, bisa mengendalikan tubuh mekanik yang tadinya sirik ama teknologi ini, melakukan pekerjaan yang tak sanggup ia lakukan. Termasuk balas dendam. Mengubah Grey menjadi mesin pembunuh.

Ketika nonton ini, aku ngobrol kepada diriku sendiri. Hey, kita sudah pernah toh melihat cerita seperti begini sebelumnya. Pria biasa yang tiba-tiba jadi perkasa, melakukan aksi tuntut balas. Mesin yang pada akhirnya mengambil alih kemanusiaan. Kepalaku balas bertanya; Tetapi yang ini beda, tuh lihat, adegan berantem pertamanya aja bikin mulutmu otomatis menganga.

Suara di kepalaku benar. Dari adegan Grey yang mendadak jago bertarung – bahkan lebih efisien dari Robert McCall di The Equalizer 2 (2018) kita bisa melihat bahwa film ini diarahkan kepada tone yang berbeda dari cerita balas dendam yang sudah-sudah. Feelnya sangat gelap, ala grindhouse 70an yang dibuat oleh John Carpenter. Sudah jarang sekali kan kita melihat gaya seperti begini hadir di jaman yang mengutamakan kepada budget dan efek yang supercanggih. Film ini berada di titik seimbang antara tragedi dan komedi, sehingga meskipun lingkungannya futuristik, kejadian-kejadiannya brutal, tapi kita masih menemukan pijakan untuk merasakan kenyataan. Berantemnya unik, kocak, dan meyakinkan. Logan Marshall-Green melakukan tugas yang menakjubkan dengan ekspresi wajahnya. Begini, begitu Stem dikasih ijin mengambil alih, Grey hanya bisa melihat dengan matanya saat tangan dan kakinya beraksi menghajar musuh. Dan sebagian besar dari adegan bak-bik-buk itu, Grey tampak takut hingga dia bahkan sampe meminta maaf kepada lawannya. Konsep ini digarap dengan kocak sekali, karena lawannya pun memandang Grey dengan heran, like, man you are crazy what the hell is wrong with you?

“fight your own battle, lazy-ass!”

 

Ada salah satu adegan yang menampilkan Grey berdiri melihat daftar nama tenant sebuah apartemen, dan kita dilihatin dengan jelas nama J. Wan, yang obviously adalah easter egg buat sutradara horor James Wan. Leigh Whannell memang sudah banyak berkolaborasi dengan Wan, karya paling ngehits mereka tidak lain tidak bukan adalah Saw (2004) yang tak pelak menjadi ikonik buat genre horor. Apa yang dilakukan oleh Whannell dan Wan di film tersebut sungguh patut dijadikan suri tauladan buat filmmaker lokal; mereka berkutat dengan budget rendah dan sukses menghasilkan tontonan yang luar biasa meyakinkan, sangat menyenangkan, ngajak berpikir pula, dari dana sesedikit itu. Bikin film gak mesti mahal; kita gak perlu punya yang terbaik karena yang terpenting adalah seberapa besar usaha yang dilakukan supaya menghasilkan yang terbaik. Whannell mengulangi lagi kerja kerasnya pada film Upgrade ini. Dia berhasil ngestrecth konsepnya melewati batas-batas budget. Dan mengingat ini adalah film yang bertempat di masa depan yang sudah canggih, jelas pencapaian Whannell menghidupkan dunianya bukan hal yang bisa diremehkan.

Tak sekalipun semua yang nampang di layar itu terlihat murahan. Lingkungan pada film ini direalisasikan dengan amat baik. Bahkan, dan aku gak melebihkan, dengan budget yang jauh berbeda, film ini bisa kelihatan satu dunia dengan Blade Runner 2049 (2017). Aspek futuristik dan spesial efeknya tidak sekalipun membuat film jadi cheesy. Pun film tidak terlihat sok-sok bergaya ala B-movie, kalian tahu, gerak kameranya enggak pernah terlalu over-the-top. Tidak ada shot-shot ambisius. Justru dieksekusi dengan kreatif sekali. Pergerakan kamera yang sedikit tertahan kepada Grey – memberikan kesan gerak kaku seperti berantem jurus robot yang ia lakukan.

Seperti halnya film enggak lantas menjadi bagus karena punya budget raksasa, kita juga tidak bisa mengupgrade kemanusiaan dengan hanya bergantung kepada kemutakhiran teknologi. Seperti yang disebutkan dalam dialog film ini, mesin yang hanya berisi angka 1 dan 0 tidak akan bisa menanggulangi kekompleksan manusia. Mereka hanya tahu berpikir mencari jawaban yang termudah. Sedangkan manusia, kita dianugrahi rasa yang tak jarang mengoverride pikiran, for better or worse.

 

Ketika aku bilang cerita film ini tak pernah keluar dari frame sudut pandang Grey, kepalaku langsung berontak protes. Hal tersebut mengakibatkan tokoh yang lain gak jadi gak keurus, katanya. Setelah dipikir-pikir, memang ada benarnya juga. Aku terlalu sibuk menggelinjang seru melihat apa yang kutonton sehingga menjadi sedikit bias kepada film ini secara keseluruhan. Untung ada suara di kepala yang mengingatkan. Grey tereksplorasi dengan baik, kita mengerti pandangan orang ini terhadap situasi dunianya, kita melihatnya berkembang dari seorang lumpuh yang berusaha menerima kondisinya lalu dia takut akan apa yang bisa ia lakukan, menjadi seseorang yang embrace it all sebelum akhirnya sadar apa yang sebenarnya ia butuhkan. Kita peduli sekali kepadanya. Namun tidak demikian terhadap tokoh-tokoh yang lain. Polisi wanita yang bertugas menginvestigasi kasus kecelakaannya, ibu yang menemaninya, istrinya yang meski perannya kecil namun sangat integral terhadap karakterisasi Grey, orang yang memberinya Stem, mereka semua begitu satu dimensi. Hacker yang sempat membantu Grey malah ternyata gak penting meski memegang peranan dalam cerita. Bahkan tokoh antagonis tidak banyak diberikan warna, kita membenci mereka karena hal yang mereka lakukan. Kesan kita kepada semua orang di sekitar Grey tidak pernah lebih dari jauh dari apa yang kita lihat. Ini sangat disayangkan, karena dengan konsep yang begitu keren, film justru kesusahan menyeimbangkan antara konsep tersebut dengan para tokohnya.

 

 

 

Kekurangeksploran tokoh lain membuat film dapat menjadi sedikit membosankan tatkala takada kejadian menarik seputar Grey dan Stem yang terjadi, karena memang kita hanya peduli sama tokoh utama seorang. Kita ingin cepat-cepat melihat aksi yang direkam dengan kerja kamera yang kreatif, dengan sinematografi yang unik, dengan konsep yang membuat cerita yang udah sering dilihat ini menjadi terasa menyegarkan. Di luar pencapaian luar biasanya menjadi tontonan yang super fun melewati batasan budgetnya, aku dan suara di dalam kepalaku setuju film ini mestinya bisa diupgrade sedikit lagi sehingga semua elemennya dapat berimbang.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for UPGRADE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017