INTERCHANGE Review

“Find me where the wild things are”

 

interchange-poster

 

Interchange adalah film crime-slash-thriller-slash-supernatural keluaran Malaysia, yang bekerja sama dengan PH dari Indonesia; Cinesurya Production. Jadi jangan heran jika dalam film ini kalian akan melihat juga penampilan dari Prisia Nasution dan Nicholas Saputra dalam peran yang sangat berbeda dari yang pernah ia lakoni sebelum-sebelumnya.

I was really intrigued by, say, the first twenty-minutes of this movie. Apa yang ditawarkan oleh film ini jelas adalah sesuatu yang pretty unconventional. Sebagai pembuka, kita disuguhin adegan penampilan nyanyi jazz di nightclub yang sukses berat menghantarkan perasaan surreal. Lagu si biduan berdendang tentang jiwa yang lepas dari raga, gimana enggak creepy dan bikin pensaran, tuh? The very next scene memastikan bahwa Interchange adalah film yang completely berbungkus misteri, as kita ngeliat mayat yang tergantung dalam apa yang nampak seperti ayunan dari untaian tali dan bulu-bulu. Putih kering kerontang dengan urat-urat yang terjuntai keluar. Bahkan Detektif dan dokter forensik yang memeriksa mayat tersebut yakin ini bukan kerjaan manusia, “Pontianak?” duga Detektif Man yang mirip-mirip Mas Adi di Tetangga Masa Gitu.

Tapi itu bukan kali pertama Detektif Man dapet kasus ajaib. Beberapa bulan sebelumnya ada kasus yang persis, yang membuat seorang fotografer kepolisian saat itu musti mundur dan ngambil cuti ‘gak enak badan’ setelah motretin mayat korban. Seperti yang kemudian kita pelajari lewat tuturan cerita, alasan Adam berhenti adalah karena kasus tersebut sangat mengganggu dirinya, terutama pecahan kaca negatif film yang selalu ada di TKP. Namun tentu saja, negatif film kuno ini adalah kunci penting dari misteri. Kita akan melihat Adam, terseret masuk ke dalam kasus ini, dia bertemu dengan orang-orang aneh, dia kenalan ama Iva, cewek misterius yang meminta pertolongan Adam, karena turns out Adam dapat melihat lebih dalem dan mengerti lebih banyak ketimbang Detektif Man.

 

Usaha film ini mengeluarkan NUANSA EKSOTIS DAN GAK-NYAMAN patut diacungi jempol. Ada momen-momen yang tak pelak bikin kita ngerasa merinding hanya oleh betapa weirdnya momen tersebut disyut. Adegan opening tadi, misalnya. Ataupun wide shot pandang-pandangan Adam dengan Iva dari balkon masing-masing yang dihandle dengan luar biasa unsettling. Terasa buat kita, film ini bercermin kepada thriller-thriller sukses. Adam yang kerjaannya sekarang motretin kegiatan penghuni lain apartemen dari beranda kamarnya jelas adalah persembahan buat Alfred Hitchcock’s Rear Window (1954). Aku suka film ini mengambil pendekatan kayak season satu serial True Detective. Kita tanpa tedeng aling-aling digedor oleh teka-teki. Hampir seperti kita bekerja sama dengan detektif dan tokoh utama cerita ini. Jika True Detective berpusat pada mitologi Raja Kuning, maka Interchange MENGGABUNGKAN NOIR DETEKTIF DENGAN MITOS DARI PEDALAMAN RIMBA BORNEO. Film ini menampilkan mistisnya ritual suku Dayak, lengkap dengan simbol-simbol, seperti totem burung enggang ataupun burung rangkong.

Kaca bagi Adam adalah simbol yang menunjukkan keadaan yang terperangkap. Apa yang dibutuhkan oleh Adam adalah merasa bebas, sebagaimana para anggota suku dayak. Film ini bicara tentang pembebasan diri ke alam liar, that is our beliefs. Pikiran kita – kepercayaan kita adalah makhluk liar yang hidup di dalam passion, dalam orang-orang yang kita cinta. Dan tak jarang itu adalah tempat tergelap di dalam pikiran kita. Tapi tak semestinya kita takut. Bisa butuh seumur hidup atau beberapa detik saja seperti Adam untuk kita menemukan tempat liar tersebut, tapi begitu ketemu, just like Adam did, kita akan bebas.

 

Eksplorasi kebudayaanlah yang membuat kita datang duduk untuk menonton Interchange. Kita sukses dibuat penasaran bagaimana mitologi dalam film bekerja. Gimana hutan beton Kuala Lumpur mendapat sisipan hutan belantara Kalimantan. Gimana burung-burung tersebut berperan dalam penyingkapan misteri. Visual dalam film ini, untuk beberapa bagian, lumayan mendukung penceritaan. Efek-efek komputernya cukup hold up buat ditonton sekarang. It’s not very great ataupun very seamless, namun dalam tone cerita yang disturbing dan misterius, efek-efek tersebut melakukan apa yang sudah menjadi tugasnya. Begitu pula dengan praktikal efek yang digunakan. Production design film ini terbilang bagus. Pakaian dan aksesoris tribal serta ‘kostum’ burung tersebut nampak elegan dan nakutin. Mayatnya kelihatan believable dan oke, bikin kita takjub dan penasaran makhluk apa yang bisa ngelakuin hal semacam itu. Pemandangan Nicholas Saputra bertransformasi menjadi burung bakal terpatri lama di benak kita. Namun saat sudah beneran jadi burung, tokoh ini terlihat agak sedikit menggelikan. In fact, I didn’t really sold into penampilan tokoh yang diperankan Nicholas Saputra di film ini. Alih-alih misterius, mengerikan, ataupun disturbing, tokohnya malah tampak kayak cacat.

 Demorph, Tobias, demorph!!
Demorph, Tobias, demorph!!

 

Film ini seharusnya bisa jadi bahan pemikiran dan bikin kita takjub hingga jauh seusai kredit penutupnya nongol. Aku suka film-film surreal, yang bikin penontonnya bingung setengah mati. Film yang bikin penontonnya ngerasa gak nyaman. Menonton Interchange, however, aku malah merasa ada something missing dari film ini. Benar ada simbolisme, akan tetapi lapisan yang bisa dikupas enggak sebanyak yang mestinya mampu ditampilkan oleh film seperti ini. Interchange terasa tidak pernah benar-benar fulfilling, in regards of the storytelling. Misterinya tidak benar-benar menjadi misteri karena semuanya bisa terbaca dengan jelas, kita akan sering menemukan diri kita berada selangkah di depan para tokoh. Dan also memang film ini ternyata tidak fokus sepenuhnya kepada penggalian mitos. Interchange, for most, is a detective story, tanpa red herring ataupun clue yang compelling. Tembak-lurus begitu saja. Tidak semua hal kelihatan sebagaimana ia terlihat, apa yang nampak sebagai kasus pembunuhan bisa saja berarti lain. Namun build upnya begitu muddled dan enggak fokus.

Trying so hard nutupin alur, bagi film ini kemisteriusan datang dari karakter-karakter yang ngomong dengan suara digumam-gumamin, dengan intonasi yang kerap aneh, pula. And I grew up watching Doraemon berbahasa Malaysia di tv rumah di Riau. Serius deh, bukan masalah bahasa bagiku. Masalah film ini adalah pada penulisan dan arahan aktingnya; tidak ada yang bisa kita pegang dari karakter-karakter tersebut. Kita kesulitan untuk merasakan apa yang mereka alami, and that is so sad karena film ini harusnya sangat dekat dengan penonton. Akting pemain sangat goyah dan unconvincing. Semua tokohnya kayak sedang dalam perlombaan siapa yang paling sok misterius. Aku lebih enjoy ngeliat penampilan tokoh minor dalam film ini. Interchange adalah jenis film yang butuh banget ada subtitle, karena penampilan para tokoh sendiri enggak cukup kuat untuk menyampaikan cerita.

Sebagian besar Adam akan kelihatan bengong ketimbang sedang mengalami kebimbangan atau apapun yang seharusnya ia rasakan. Penyampaian Iedil Putra adalah yang paling lemah, tidak ada urgensi dalam pemeranan tokohnya. Kita enggak sepenuhnya yakin kenapa semua perkara tersebut sangat personal bagi Adam. Iva nya Prisia Nasution kayak terjebak di interchange antara menggoda Adam dengan ngulum es batu dengan being vulnerable dikejar polisi. Film ini juga ada adegan berantem, yang dikoreografi lumayan intens sampai Nicholas Saputra terbang melayang pake jurus bangau tong tong. Ada banyak adegan yang jatohnya unintentionally funny. Aku ngikik liat cara berlari Belian. Dan aku sampe ditegur bapak-bapak lantaran keceplosan ngakak ngeliat si Detektif keluar dari mobil dan kencing di pelataran parkir.

Adam Iva lari nyari surga
Adam Iva lari nyari surga

 

 

Karakterisasi adalah hal yang penting dan film ini mengorbankan hal tersebut demi kelihatan misterius. Bekerja begitu keras dan kerap efektif dari sinematografi, namun lemah karena tidak punya akar emosi yang benar-benar nyata; yang membuat kita susah peduli kepada nasib-nasib karakternya. Akibatnya hampir semua hal dalam film ini terasa artifisial. Film ini bermaksud menantang pikiran kita soal makna kebebasan, there is some interesting things going on about motif ‘pembunuhan’ di dalam ceritanya yang akan membuat kita melihat para tokoh dari cahaya yang berbeda, jika saja tokoh-tokoh tersebut diberikan penokohan yang matang. Aku enggak yakin apa yang terjadi sama film ini, karena dua puluh menit pertama sudah terasa sangat menarik. But it went downhill from there. All-in-all tho, aku senang ada film yang berupaya mengangkat cerita kolaborasi budaya seperti ini. It’s nice to see surreal story from around here for a change.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for INTERCHANGE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

LOGAN Review

“Fuck yeah give it to me, this is heaven, what I truly want; It’s innocence lost”

 

logan-poster

 

Di tahun 2029, Wolverine jadi supir limosin. Dengan nama samaran, dia nganterin penumpang-penumpang yang kebanyakan dari kelas atas, ke tempat tujuan mereka, demi uang yang digunakannya bakal obat buat Profesor X. Masa depan Logan tampaknya memang enggak begitu ceria, semuanya sekarat. Profesor sakit-sakitan. Mutan-mutan punah. Begitu juga dengan kekuatan yang bersemayam di dalam dirinya. Tapi Logan lebih suka begini. Dia selesai dengan ‘permainan’ jadi superhero. Dia letih melihat satu persatu temannya meninggal. Logan dan Charles Xavier sama-sama sudah siap menghadapi takdir mereka, yang membuat mereka deep inside bilang “Alhamdulillah bakal datang juga”. Tapi sebelum kesempatan beristirahat itu tiba, Logan musti kembali mengeluarkan kuku adamantiumnya. Kali ini buat ngelindungin gadis cilik misterius yang diburu oleh sekelompok pasukan. Logan, enggak begitu yakin siapa dan ada apa dengan bocah ini, sekarang harus ngetake care dua orang. Jadi sembari Wolverine mencincang dan menyayat anggota tubuh orang-orang jahat, dia juga harus belajar tentang siapa anak ini – yang tentu saja juga membuat Logan belajar lebih banyak tentang dirinya sendiri, dan hal tersebut menyayat hatinya. Sementara gadis cilik ini, well, dia mungkin enggak butuh pertolongan sebanyak itu sebab ia sendiri punya trik khusus di balik lengan bajunya.

Keputusan-keputusan yang diambil oleh film ini sukses membungkus ceritanya menjadi PERJALANAN YANG MEMUASKAN. Dalam Logan kita akan melihat Wolverine memegang komik X-Men, menunjukkannya kepada Prof X, membaca tentang petualangan mereka, untuk kemudian melemparnya begitu saja. Like, “Hey Prof, lihat nih.. petualangan kita” *balik balik halaman* “Pfft ngarang banget!”

Elemen komik X-Men yang secara fisik eksis dalam dunia cerita film ini bener-bener adalah sebuah ide yang sangat fresh dan cerdas. Komik tersebut bukan hanya sebagai tempelan humor, melainkan eventually menambah layer terhadap plot dan karakter. Cerita ini mengambil setting waktu jauh di masa depan, tentu saja dalam rentang Days of Future Past sampai ke ‘sekarang’ itu, sudah banyak petualangan yang mereka lalui. Orang-orang bersyukur atas kehadiran X-Men sampai-sampai mereka menulis buku komik tentang para pahlawan tersebut. Namun superhero juga manusia, bersama kekuatan hebat turut serta pula tanggungjawab yang gede. Komik hanya tahu tidak lebih dari seperempat apa yang mereka beneran hadapi. Reaksi Logan terhadap cerita fiksi dirinya berkostum spandek kuning-biru mencerminkan gimana kontrasnya dia dan orang lain dalam memandang eksistensinya sebagai Wolverine itu sendiri.

Memang, film Logan berada di barisan yang sama dengan apa yang dilakukan Christopher Nolan terhadap Batman alih-alih terasasejajar dengan apa yang kita dapat dari film-film Avengers dari Marvel.

 

Ini adalah sajian DRAMA SERIUS DENGAN LEDAKAN AKSI yang menyertainya. Logan adalah film kejam bertone kelam yang nunjukin karakter yang sembilan-puluh-sembilan persen udahan dengan yang namanya harapan. Meski begitu, kita tidak akan melihat Wolverine ataupun Prof X berkeliling bermuram durja dan depresi sepanjang waktu. Karakter-karakter ini belum kehilangan selera humor sepenuhnya. Ada banyak fun dan lelucon yang bisa kita nikmati dari interaksi antara para tokoh, terutama dari Wolverine dan Prof X yang hubungan mereka sudah terestablish dari film-film X-Men terdahulu. Aku suka dialog di meja makan saat Logan menyebutkan kepada orang-biasa bahwa pria botak tua di seberang meja itu dulunya pernah mengelola sekolah. Ada secercah diri mereka yang dulu hadir dalam pandangan mata dua karakter ini. Hal inilah yang membuat tokoh film Logan begitu hebat dan menarik; Melihat tokoh yang sudah kita kenal dan cintai diletakkan dalam posisi yang nian gelap dan mengukung dan nyaris terlupakan, sehingga kita ingin melihat sosok mereka yang sebenarnya keluar. Perasaan yang sangat fantastis melihat mereka, apalagi gadis cilik yang baru gabung itu, saling menumbuhkan rasa percaya dan saling mengapresiasi, saling belajar untuk menjadi pahlawan bagi satu sama lain.

“kapan gue ngelawan Pteranodon berkolor pink?”
“kapan gue ngelawan Pteranodon berkolor pink?”

 

Memainkan penampilan terakhirnya sebagai tokoh Wolverine, Hugh Jackman sekali lagi menunjukkan kekerenan yang luar biasa. Kita akan merindukan orang ini jika Wolverine masih muncul di film-film berikutnya. Hugh Jackman, sudah memerankan Wolverine dalam sepuluh kali kesempatan, dan portrayalnya dalam film ini adalah yang terbaik. Karena memang karakternya di sini adalah yang terdalem. Melihat Wolverine begitu ‘terluka’ menyibak kembali masa lalunya, membuat hati kita terasa tersayat juga. Hugh Jackman sangat fantastis memainkan karakter ini. Dia lelah. He’s broken down. Dia babak belur secara fisik dan secara emosi. Maksudku, Logan yang ini adalah bayang-bayang dari siapa yang he used to be. Jadi, ketika ada yang’ menantang’nya, rasanya menakjubkan sekali melihat persona Wolverine yang lama menerjang keluar. Satu kata untuk mencerminkan Logan adalah brutal.

Patrick Stewart juga sukses luar biasa memainkan perih karakternya. Beliau sakit, dia sering ngalamin episodes of seizures. Kebayang dong, dampaknya apa jika manusia dengan otak paling ‘berbahaya’ di muka bumi ngalamin seizure. The fact is, Profesor X sudah begitu tua, dia tidak mau apapun selain keselamatan orang-orang dan rumah. Karakter ini akan menambah lapisan emosi buat tokoh utama kita. Mengenai tokoh Laura, gadis cilik misterius yang harus dilindungi Wolverine, aku gak akan beberin banyak. Yang kudu aku katakan adalah Dafne Keen bermain sangat bagus. Ekspresinya enggak pernah gagal menyampaikan sesuatu kepada kita. Elemen utama film ini adalah rage, dan di tangan Dafne, tokoh Laura menjelma menjadi begitu lovable. She’s kind of terrifying actually, namun siapa sih yang enggak suka ama karakter cute yang capable nendang bokong dengan ganas?

ngeliat Logan dan Laura membuatku teringat sama Zaraki Kenpachi dan Yachiru dari anime Bleach
ngeliat Logan dan Laura membuatku teringat sama Zaraki Kenpachi dan Yachiru dari anime Bleach

 

Untuk bener-bener mencapai tingkatan emosional yang diincer, film tidak-bisa tidak tampil dengan rating Dewasa. Oh Tuhan, film ini sadis banget. Ingat Deadpool (2016) yang juga enggak nahan-nahan dalam nampilin adegan kekerasan? Well, seenggaknya Deadpool masih bertone komedi. Dalam Logan, tidak ada yang lucu saat Wolverine ngamuk. Memotong kaki dan tangan, menghujamkan belati adamantiumnya ke tengkorak orang. Darah muncrat di mana-mana. Potongan kepala menggelinding di tanah. Anak balita yang dibawa serta nonton sama pasangan muda di barisan di depanku nangis kejer, and I was like “selamat, kalian udah bikin anak sendiri trauma!”. Dari segi action, ini adalah film superhero yang paling sadis. I love it so much. Sudah lama kita berkelakar soal gimana efek tajamnya kuku Wolverine di berantem real life, di film inilah kita akan beneran melihatnya. Dan memang, rating Dewasa film ini turut andil menghantarkan cerita emosional yang powerful. Karena ada elemen dari penokohan yang enggak akan maksimal jika ditahan-tahan. Cuma inilah jalannya. FILM INI PERLU UNTUK JADI SADIS, KEJAM, DAN BRUTAL.

It might be kind of long reach buat dimengerti, namun saat menonton aksi dan emosi si Logan yang begitu lepas bebas di film ini, serta merta penggalan lagu Gods and Monstersnya Lana Del Rey bergaung di telingaku. Wolverine sudah begitu banyak melihat orang yang ia peduli berguguran. Setelah Prof X, dia sudah siap untuk ‘pensiun’ di tengah laut. Dia sudah siap untuk kehilangan semua. Tapi Logan’s deepest desire is to protect anyone. Kehadiran Laura dan anak-anak itu membuatnya sadar dia tinggal di dunia penuh ‘tuhan’ dan ‘monster-monster ciptaan mereka’, tempat di mana tidak ada keinosenan. Dan sungguh heartwrenching melihat Logan mendapatkan rumah yang ia cari.

 

Babak pertama dan ketiga adalah bagian yang terbaik dari film ini. Menarik dan terasa sangat intens. Porsi action memang mostly terletak pada kedua babak tersebut. Aku perlu menekankan bahwa action dalam Logan tidak terasa seperti fantasi ala film-film superhero yang lain. Aksi di sini lebih berfokus kepada koreografi dan penyampaian cerita, disyut dengan in-the-moment sehingga setiap ayunan tangan Wolverine begitu compelling. Sedangkan, babak kedua film – yang lebih ke road trip movie featuring mutants – agak sedikit goyah. Tidak ada yang terasa dramatis dan penting banget hadir di babak ini. Pemanfaatannya lebih ke buat pengembangan karakter. Untuk membuat Laura dan Wolverine tumbuh, hanya saja tidak ditulis semenarik apa yang harusnya bisa dibuat lebih. Selain itu, kadang sorotannya pindah ke karakter-karakter yang tidak punya banyak pengaruh buat keseluruhan film. Kita ingin cerita tetep fokus kedua karakter yang ingin kita lihat lebih banyak, akan tetapi film kerap ngasih liat karakter-karakter yang kurang menarik.

Aku enggak baca semua komik X-Men, jadi mungkin aku salah, tapi rasa-rasanya ada tokoh penting dalam film ini yang completely dikarang oleh scriptwriter. Untungnya sih, tokoh ini dihandle dengan lumayan baik, perannya mostly cukup bekerja for this movie. Ya kita memang harus bisa menerima fakta bahwa enggak semua yang difilmkan wajib banget persis niruin komik. Toh namanya juga adaptasi. I mean, seriously, enggak ada satupun dari kita yang pengen liat Hugh Jackman pake kostum persis Wolverine versi komik.

 

 

 

 

Terlepas dari rating R-nya, visi James Mangold tergambar sangat cantik lewat film ini. It was very well edited as it was very well acted. Pace ceritanya yang cepet enggak akan bikin bosen meski filmnya sendiri lebih sebuah drama dengan selingan aksi ketimbang aksi dengan bumbu drama. Ada sense western diberikan oleh Mangold, yang terintegral sempurna ke dalam cerita. Film koboy klasik Shane (1953) bukan sekedar tontonan selingan para tokoh, melainkan juga punya kepentingan di dalam narasi. Semua elemen dan putusan yang dibuat pada akhirnya terbungkus memuaskan, meski memang film ini tidak lantas sempurna secara emosional. Ada bagian ketika kita merasakan nothing dramatic atau apapun yang menambah bobot cerita. Kadang tone film terasa timpang. Film ini bekerja baik saat dia menjadi brutal dan menakutkan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for LOGAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

LION Review

“Sometimes direction you never saw yourself going turns out to be the best road you have ever taken.”

 

lion-poster

 

Delapan-puluh-ribu lebih anak-anak India hilang setiap tahunnya. Nyasar, tak-tau jalan pulang ke rumah, terpisah dari keluarga. Jalanan yang penuh orang acuh-tak acuh dan potensi abuse lah yang menunggu mereka. Saroo pernah menjadi salah satu dari angka delapan-puluh-ribu. Saat masih kecil, Saroo yang tertidur di stasiun kehilangan jejak sang abang dan malah terangkut sebuah kereta api hingga beribu-beribu kilometer jauhnya. Hanya bisa bicara dengan bahasa India, kata-kata minta tolong dari mulut Saroo kecil tidak bisa dimengerti oleh orang-orang di Kalkuta, tempat kereta ‘tumpangan’nya berhenti, yang berbahasa Bengali. Jikapun ada yang nyambung diajak ngobrol, Saroo tetep repot lantaran dia bahkan enggak bisa nyebutin nama kampungnya dengan bener.

Adalah pemeran Saroo kecil, Sunny Pawar, yang akan membuat kita truly merasakan perasaan terasing di bawah langit India. Film panjang pertamanya ini membuktikan kepiawaian Garth Davis menarik keluar penampilan-penampilan yang begitu meyakinkan. Melihat Saroo berjalan tanpa tahu arah, serta merta aku jadi kagum juga. Bayangkan, ini DIANGKAT DARI KISAH NYATA; Saroo dan anak-anak yang masih ilang, bener-bener sendirian di luar sana. They don’t know anything. Bagaimana mereka bisa bertahan, apa yang mereka hadapi, all of that was so scary. Aku waktu kecil baru nyasar di pasar aja udah jejeritan sejadi-jadinya.

Butuh keberanian yang tak kalah gedenya bagi sebuah film meletakkan kepercayaan kepada aktor cilik baru yang baru berusia lima tahun (!) untuk memainkan cerita dengan compelling. Davis paham bahwasanya bahasa tidak harus jadi masalah, jadi dia berbicara lewat pengalaman dan ekspresi manusia. Dan memang hanya itulah yang menggandeng kita mengikuti Saroo kecil terlunta-lunta di jalan, mengandalkan insting dan sepersekian detik keputusan ‘pintar’nya untuk bertahan hidup. Kita enggak perlu ngapalin isi kamus bahasa india, kita enggak really butuh subtitle, malahan kita bisa nonton ini tanpa suara, dan tetap mengerti; merasakan apa yang terjadi di layar. Tidak ada adegan yang overdramatis, kayak Saroo ujan-ujanan – atau ampir diterkam singa beneran, so to speak. Sunny Pawar dipercaya untuk memberikan emosinya lewat gestur, ekspresi, ataupun hanya dengan tatapan mata. Yang dilakukan Sunny Pawar dengan sangat amazing, terlebih mengingat lebarnya rentang emosi yang dialami oleh tokohnya sepanjang film. Image Saroo makan boongan bakal terpatri lama di benak kita. Jika pada awalnya mungkin film ini sedikit bertaruh, maka pastilah setelah melihat hasil presentasinya, film ini berbalik jadi berutang budi kepada Sunny Pawar.

Pertengahan pertama adalah di mana kita akan dibuat mengerti kenapa film ini pantas berdiri mejeng sebagai nominasi Best Picture Oscar 2017. Visi sutradara Garth Davis mengaum lantang dalam setiap frame bidikan kamera. Sudut pandang bocah kecil itu tergambar syahdu. Didukung juga oleh sinematografi yang sungguh menawan throughout. Film ini precise dalam netapin timing kapan harus mengambil jarak. Begitupun penempatan hal-hal kecil, seperti burung yang terbang di ambang jendela, menjadi sarana penghantar cerita yang subtle tanpa harus repot-repot memaparkan.

dinding kamarku bakal penuh kalolah aku ngecapture shot-shot indah film ini dan memajangnya kayak lukisan
dinding kamarku bakal penuh kalolah aku ngecapture shot-shot indah film ini dan memajangnya kayak lukisan

 

Tidak hanya sampai di situ. Saroo kemudian diadopsi oleh pasangan suami istri yang tinggal di Australia. Semakin jauhlah dia dengan keluarga aslinya, yang sampai saat itu Saroo tidak tahu bagaimana keadaan mereka. But at the same time, Saroo menemukan keluarga baru. Paruh kedua film mengajak kita melihat Saroo dewasa deal with problematika identitas saat dia teringat kampung namun enggak yakin gimana harus menceritakan asal muasal ia yang sebenarnya kepada orangtua asuh. At one point Saroo benar-benar menyembunyikan tindakannya dari keluarga angkat. Dia bahkan jadi kasar sama saudara tirinya, yang merupakan cara film ini ngeintegralkan hubungan Saroo dengan abang aslinya.

Aku suka gimana film ini menggunakan overlapping visual untuk membandingkan keadaan Australia dengan India, membenturkan keadaan Saroo kecil dengan Saroo dewasa. Pemandangan seperti demikian sebenarnya adalah sebuah simbol keadaan Saroo yang berada di tengah-tengah kedua budaya. Film ini adalah bukan soal perjalanan pulang ke rumah. Ini adalah cerita pergolakan seseorang yang terombang-ambing antara tempatnya berasal dengan tempat yang sekarang sudah menjadi rumah baginya. Sejak dari kecil, Saroo selalu merasa ia berada bukan pada tempatnya. Derita dan bingung Saroo mencapai puncak ketika ia dewasa sampai dirinya belajar untuk – sekali lagi dihadapkan kepada pilihan – memilih salah satu atau mencoba menyatukan kedua ‘rumah’nya.

Bukan berarti kita harus pernah diadopsi dulu buat bisa ngerasain yang dialami oleh Saroo. Orang-orang yang pernah merantau, ataupun dalam perantauan, pasti mengerti.
Mengerti alasan kenapa harus pulang.
Mengerti siapa saja yang kita rindukan dan yang merindukan kita.
Mengerti bahwa keluarga adalah segala hal yang kita usahakan untuk menjadi rumah.

 

Dev Patel melakukan usaha yang bagus memainkan ‘cela’ dan konflik Saroo, dia menjaga cengkeraman kita tetap erat as Saroo berinteraksi dengan orang-orang baru yang ia cintai dalam hidupnya. Tapi tongkat estafet film ini tampaknya jatoh kesandung tulisan “20 tahun kemudian”. Cerita kedua ini enggak bisa bersanding dengan cerita pertama. Dibandingkan dengan saingan Oscarnya, Moonlight (2016) yang juga nampilin perjalanan hidup tokoh dari kecil hingga dewasa, Lion terasa kurang mulus. Rooney Mara turut bermain dalam film ini, she’s very good, namun tokohnya enggak punya arc. Dia cuma pacar tempat Saroo bersandar, dan enggak nambah banyak-banyak amat buat cerita. Bagian kedua kehidupan Saroo ini diselamatkan oleh penampilan akting Nicole Kidman yang berperan sebagai ibu angkat Saroo. Percakapannya dengan Saroo, beliau menjelaskan alasan kenapa dia mengadopsi anak berkulit coklat dari benua lain, adalah dialog yang paling kuat dan menyentuh dari seantero film. Nicole Kidman sendiri aslinya adalah ibu asuh beneran, jadi semua yang tokohnya katakan berdering oleh emosi yang feels so true.

Saroo mirip Rano Karno masih muda ga sih haha
Saroo mirip Rano Karno masih muda ga sih haha

 

Hubungan antara berkah dan derita terkadang begitu rumit dan membingungkan, sehingga kita tak menyadari pengaruhnya sama sekali. Dalam film ini, keseimbangan dua hal tersebut dibahas dalam bahasa sinema yang jujur dan powerful lewat Saroo yang menemukan, setelah kehilangan. Saroo mesti nyasar dulu sebelum dia menyadari keberkahan dua kali lipat dari yang bisa ia dapatkan sebelumnya. Berkah yang juga dirasakan oleh orang-orang sekitar Saroo yang terus merindukan cinta yang bersemayam di dalam tragedi.

 

To be honest, meskipun memang sebenarnya Lion adalah FILM YANG INTIMATE DAN SENSITIF dan relatable bagi banyak perasaan rindu, buatku film ini terasa rada pretentious. Gini, Lion ini kayak dua cerita yang berbeda; bagian pertama Saroo kecil yang kehilangan keluarga, dan bagian kedua tentang Saroo besar yang berusaha menggenggam kedua keluarganya. Aku ngerasa film ini berangkat dari kisah menakjubkan Saroo yang berhasil menemukan keluarga aslinya. Hanya saja mereka enggak bisa bikin cerita just around Saroo duduk galau ngulik google map, bikin papan investigasi kayak detektif. That would make a boring story. Buktinya, dalam film ini memang ada bagian ketika Saroo dewasa mengurung diri, dia menggunakan teknologi dan kepintarannya menemukan lokasi kampung halaman yang dulu tak-lurus ia sebut namanya. And it was nowhere near as engaging and compelling as bagian Saroo kecil. Jadi, film ini butuh sesuatu untuk bikin cerita lebih nendang. Mereka memutar kepala looking at the real issue there; Saroo adalah satu dari delapan-puluh-ribu, and they used that. Craft cerita dari sana, gunainnya sebagai hook identitas film. Namun toh, Saroo hanya satu yang beruntung dari delap…who knows sekarang jumlahnya jadi berapa. It did feels film ini enggak really doing anything kepada isu tersebut. They just gain more advantages dengan campaign segala macam. If anything, film ini memperlihatkan anak-anak yang hilang itu bakal pulang sendiri; siapa tahu kali aja kehidupan mereka bakal jadi lebih baik kayak Saroo. I mean, apa yang kita selebrasi jika film ini mendapat penghargaan di Academy nanti?

 

 

Mengatakan film ini berakhir setelah satu jam pertama sesungguhnya agak sedikit mendramatisir. Karena meski ceritanya kayak terbagi dua bagian – dengan drama paruh paling penting tidak pernah semenarik dan semeyakinkan bagian pendahulunya; keintiman hati, dan sensitifitas film ini terus menguar sepanjang durasi. Membuat film ini mudah dimengerti, membuat kita merasakan empati. Begitu powerful sehingga kita ikut merasakan terdiskonek, yang not always menjadi hal yang bagus. As in, film ini jadi kadang terasa mengaum ke arah yang salah.
The Palace of Wisdom give 7 out of 10 gold stars for LION.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

MOAMMAR EMKA’S JAKARTA UNDERCOVER Review

“Don’t sacrifice your peace trying to point out someone’s true color.”

 

jakartaundercover-poster

 

Kalo kita mau kenal deket sama orang, alangkah lebih baiknya jika kita tahu yang buruk-buruk tentang orang tersebut. Apa kebiasaan jeleknya; apa dia suka ngeles, apa dia masih sering ngompol, apa dia hobi jajan tapi enggak pernah ntraktir, atau apa dia suka makan upil. Bukan supaya bisa kita manfaatin buat yang enggak-enggak. Supaya kita bisa belajar how to deal with them, gimana supaya kita bisa memahami mereka. Tampaknya hal ini juga yang kepikiran oleh Moammar Emka ketika nulis blak-blakan tentang pengalaman mengarungi dunia malam Jakarta di bukunya yang sensasional, buku yang later menjadi salah satu bacaan terlaris di Indonesia. Ibu kota memang keras, dia bekerja keras dan bermain juga keras. Dan kita diajak mengenal lebih dekat kota ini dari sisi terburuknya. Sehingga kita bisa menghargai Jakarta sampai ke lapisan-lapisannya yang paling rendah sekalipun. Karena memang, at heart, film ini adalah TENTANG RESPEK, RASA PERCAYA, DAN CINTA.

Jakarta Undercover yang ini actually adalah film kedua yang diangkat dari cerita-cerita bukunya. Jujur aku belum baca bukunya. Jadi aku gak bisa ngobrol banyak saat ketemu sama Mas Emka di closed screening beberapa bulan yang lalu. Saat buku Jakarta Undercover ngehits aku masih dalam fase usia yang polos. Ceile alasannya ahahaha. Film pertama yang dibintangi Luna Maya, tayang 2006 lalu, juga aku belum pernah nonton. Jadinya lagi, aku gak bisa bikin perbandingan antara film yang disutradarai oleh Fajar Nugros ini sama film yang pertama itu. Namun sukurnya ini bukanlah sekuel, ataupun remake. Melainkan sebuah babak cerita terpisah, anggap sebagai perspektif yang baru.

Kita melihat film ini dari kacamata Pras, seorang pria pendatang yang mengadu nasib jadi wartawan di Jakarta. Ngerasa gak berguna nulis artikel titipan pencitraan melulu, Pras ingin ngelakuin sesuatu yang signifikan. Pertama kali ketemu Pras, kita melihat dia dalam keadaan lagi lesu-lesunya; dia males ngerampungin artikel wawancara pejabat, kerjaannya minum bir dan turu, dia boongin ibunya yang senantiasa nelpon nanyain keadaan Pras. Kesempatanlah yang kemudian datang kepada Pras. Serangkaian adegan ‘aslinya gak niat nolong orang’ menghantarkan dirinya masuk ke dalam inner circle seorang ‘organizer’ acara-acara underground di Jakarta. Memanfaatkan pertemanannya dengan Yoga, juga dengan Awink, Pras dapet akses keluar masuk berbagai party. Dia diam-diam menulis tentang kehidupan malam yang baru kali ini dia kenal. Tapi tentu saja, things menjadi complicated. Masalah etika masuk di sini. Pras ngerasa bersalah saat tulisannya akan turun cetak. Tak pelak keadaan menjadi berbahaya, karena dunia underground tersebut enggak suka diekspos ke cahaya. Dalam dunia yang mestinya tertutup rapat, kepercayaan adalah hal yang utama, terutama bagi Yoga yang bukan orang sembarangan. I mean, oh man, jika saja Yoga tahu – dan Pras sadar – bahwa ternyata mereka menyintai wanita yang sama..!!!

cinta memang gila
cinta memang gila

 

Menonton film ini, samar-samar aku mendengar kembali nasehat yang pernah dilontarkan oleh guru biologiku waktu SMA. Ketika itu memang di sekolah lagi maraknya berantem antargeng dengan sekolah lain. Jadi yaa, di sekolah semacam buka unofficial open rekrutmen jadi pasukan gitu. Dan si ibu guru dengan suaranya yang keibuan bilang “Dalam pergaulan, kita dan teman-teman saling mewarnai. Jangan sampai diri kita terwarna lebih banyak oleh warna-warna gelap dari teman-teman. Lebih baik kita yang mewarnai mereka dengan warna terang sebanyak-banyaknya.”

 

Dalam usahanya untuk tidak tersilaukan sama gemerlap lingkaran kelam Jakarta, Pras enggak sadar bahwa dia mewarnai orang-orang gabener itu lebih banyak daripada mereka mempengaruhi sikap dirinya. Menurutku, di sinilah letak elemen yang paling menarik dari film Jakarta Undercover. Film ini tidak pernah memperlihatkan orang yang nari-nari nyaris telanjang, orang yang menjual diri, yang transaksi obat-obat, yang berantem demi daerah, orang kayak Yoga, tersebut sebagai pihak yang total hitam. Malahan, kalo mau nunjuk yang paling ‘bengkok’, telunjuk kita akan mengarah ke Pras yang gak pernah terang-terangan nunjukin niat aslinya bergaul dengan mereka. Eventually, kita akan melihat gimana Yoga mempraktekkan apa yang ia dapat dari perbincangannya dengan Pras. Sementara tokoh kita belajar mengenai lingkungan barunya buat cari hal yang bisa dijadikan bahan tulisan, ‘teman-teman’ baru Pras belajar banyak hal positif dari dirinya. Tentang bagaimana keinginan Pras menjadi berguna bagi orang banyak sudah turut mempengaruhi orang lain. Dan Pras gak menyadari itu sampai tulisannya dicetak, makanya dia merasa amat bersalah. Tulisannya bisa berpengaruh terhadap banyak orang, justru in a bad way.

Dan makanya lagi, karakter favoritku di film dengan banyak tokoh-tokoh bercela ini adalah Yoga. There’s so much depth and layers dalam pribadinya. Dia begitu jujur dalam apapun. Dia tahu dia orang berpengaruh. Dia tahu apa yang ia mau. Dia tahu apa yang ia benci. Gabungan dari semua berkumpul dan bermanifestasi menjadi seorang karakter yang kinda menyeramkan, tapi, kita paham dia dan kita respek. It’s such a complex character. Baim Wong luar biasa memerankan Yoga. Memberikan intensitas yang sangat dibutuhkan oleh film ini. Setiap scene yang ada dia seolah berbunyi “tik-tik-tik” bom-waktu karakternya meledak. Setiap scene yang ada Yoga dan Pras, Yoga nanyain Pras sesuatu, dan Pras menjawab canggung, is just dripping oleh perasaan ngeri, was-was. Akting dalam film ini so good, mereka berdua bahkan sebenarnya enggak perlu musik latar buat negasin emosi. Oka Antara juga excellent dalam memainkan Pras yang kelihatan awkward di antara party-party dan lingkungan barunya.

Yang sukses nyulik perhatian semua orang, tak lain dan tak bukan adalah penampilan Ganindra Bimo. Tadinya kupikir peran ‘unik’nya di sini cuma sebagai sidekick buat nyampein comedic relief dan alat eksposisi doang. Awalnya Awink malah lebih ke kayak anak kecil yang annoying. Ternyata Awink juga punya momen dramatisnya sendiri, dan actually menambah cukup banyak buat keseluruhan cerita. In fact, setiap karakter diberikan momen di mana mereka bisa bersinar secara emosional. Bahkan tokoh pendukung minor kayak tokohnya Lukman Sardi juga punya api di sini. Tyo Pakusadewo juga great. Film menjadi begitu intens setelah lewat mid-point. Everything dibangun properly sehingga PERTENGAHAN AWAL TERASA SEPERTI FOREPLAY, DENGAN SEGALA EMOSI TERCROT MEMUASKAN DI PARUH AKHIR.

Everyone’s just finally saling pointing out ‘warna’ masing-masing, dan yang kita tonton adalah adegan yang sama sekali jauh dari damai. Hal yang mungkin sebaiknya tidak dilakukan, biarlah rahasia itu tertutup rapat. Tapi mungkin, di dalam dunia yang tidak necessarily melulu putih atau hitam, itulah tindakan yang harus dilakukan oleh setiap orang; to recognize flaws.

 

Ada banyak adegan-adegan yang memorable dan membekas, karena film ini tampaknya dibuat dengan sangat have fun. Aku suka adegan mandi; Laura menggosok badannya keras-keras ingin mengikis noda yang tak akan pernah sirna. Aku suka gimana mereka memanfaatkan skit orang gila di supermarket sebagai somekind of 4th-wall-breaking messenger kepada penonton. Aku suka adegan makan di warteg sambil ngomongin soal makan temen. Aku suka the very last shot of Pras, aku enggak akan spoil tepatnya apa di sini.

Oke, let’s just address the elephant in the room. Jakarta Undercover adalah film dengan BANYAK ADEGAN DEWASA. Sebagian besar disyut dengan really close. Sangat tense, terkadang ada violencenya juga. Versi yang diputar saat closed screening adalah versi utuh, aku nontonnya jadi kepikiran, “ni film ntar gimana bentuknya abis kena sensor?”. Ternyata mereka berhasil ngetrim beberapa tanpa merusak penyampaian film. Mesti begitu presentasi film ini masih terlalu dewasa, kekerasan dan beberapa perlakuan dalam film bisa jadi hal yang mengganggu, terutama bagi penonton yang easily get offended oleh persoalan nilai wanita dan pria.

 The moment Pras nyesel tape recordernya gak bisa ngerekam video.
The moment Pras nyesel tape recordernya gak bisa ngerekam video.

 

Untuk sebuah film tentang orang yang mencari bahan tulisan dengan bekerja diam-diam, film ini tidak punya sense of discovery yang kuat di dalam ceritanya. Maksudku, memang di film ini masih ada dari kita yang akan baru pertama kali tahu ternyata di Jakarta ada yang begituan (film ini diangkat dari buku yang terbit belasan tahun lalu yang berisi pengalaman penulisnya), namun secara penggalian cerita tidak benar-benar ada hal baru untuk kita temukan. Aku ngerasa ada film yang ceritanya seperti ini sebelumnya, you know, cerita tentang dua orang mencintai wanita yang sama, it’s like usual trope di film-film gangster. Fokus romansa dan nyerempet ke komedi membuat film terasa generic. Film ini jadi terasa ringan, alih-alih suatu sajian pembuka mata yang mestinya bisa lebih heavy, lebih kritis, lebih berdaging.

Endingnya agak sloppy. Aku lebih suka babak akhir versi yang kutonton di closed screening, karena di situ filmnya kinda leave it open buat beberapa hal, kayak adegan shoot out. So at least di ujungnya ada yang berusaha kita discover sendiri. Aku juga agak enggak akur sama penggunaan flashback dan cara film ini actually menggunakannya. Agak keseringan sehingga seolah film ini enggak percaya penonton ingat sama apa yang sudah terjadi di awal-awal. Dan lagi, film ini memakai efek kayak grainy grainy gitu di setiap adegan flashback, sebagai pembeda. Hanya saja justru adegan-adegan tersebut jadi terasa semakin dilempar ke muka kita. Juga adegan mimpi yang heavy oleh editing. Yang sebenarnya enggak diperlukan karena toh dengan segera filmnya ngasih tau itu adegan apa lewat dialog. It takes us away from the story. Mungkin akan lebih baik jika penonton dibiarkan recognized sendiri mana yang real-time mana yang enggak.

 

 

 

Secara sajian memang relatif ringan, tapi bakal ‘berdarah-darah’ oleh penampilan yang bakal menjadi teramat sangat emosional. Towards the end film ini intens oleh performa brutal oleh emosi. Tokoh-tokoh ilm ini akan ninggalin kita dalam keadaan babak belur. Kayak tokoh-tokohnya, teknikal film ini juga ada celanya. Sound design yang agak off. Penggunaan efek lensa/kamera yang somewhat distracting. Playful elemen dalam film ini enggak semuanya bekerja dengan baik. Namun jangan takut jangan khawatir, ini bukan film yang jualan liuk tubuh tanpa busana dan desahan bibir merah. Yang disibak oleh film ini adalah bukan soal betapa ‘kotor’nya Jakarta. Ada misi kemanusiaan yang menguar dari narasi ringan yang menitikberatkan kepada respek, rasa percaya, dan cinta.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MOAMMAR EMKA’S JAKARTA UNDERCOVER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

BUKA’AN 8 Review

“All generations have similar values; they just express themselves differently.”

 

bukaan8-poster

 

Menjadi suami idaman berarti harus siap siaga menjaga dan memenuhi kebutuhan istri. Alam (pembawaan Chicco Jerikho sudah oke, hanya deliverynya saja yang kerap off) tentu saja mengerti itu. Dia cinta istrinya, dia ingin menunujukkan ia seorang calon ayah yang bertanggungjawab. Alam berusaha berikan yang terbaik buat Mia (highlight dari performance Lala Karmela, ya, di rambutnya). Namun sifat kritis yang emosional di dunia maya hanya menghantarkan Alam dari mulut mangap yang menggebu ke mulut mangap tanda laper. Empat-puluh-delapan ribu pengikut twitter enggak bisa diuangkan buat membayar biaya persalinan dan rawat inap kelas terbaik rumah sakit. Well, yea, tentu saja bisa sih dimanfaatkan jika rela ‘menjatuhkan’ diri sebagai alat promosi perusahaan. Alam adalah seorang yang idealis selain seorang yang panjang akal. Jadi kita akan melihat Alam running around keluar-masuk rumah sakit mengusahakan apa yang ia bisa demi menjamin proses persalinan terbaik buat istri dan anaknya. Ada urgensi pada narasi, Alam kudu cepet sebelum Mia brojol. Dan ‘mengusahakan yang ia bisa’ itu actually adalah pertanyaan yang terus dituntut oleh mertua dan keluarga yang hadir di sana, memberikan sokongan moril dan komedi riil, yang jadi andelan film ini dalam menuturkan kisahnya yang sebenarnya sangat relatable buat pasangan suami-istri kekinian di luar sana.

Sebagai sebuah DRAMA KOMEDI, BUKA’AN 8 TAMPIL PADET OLEH ISU-ISU TERKINI yang ingin disampaikan. Film ini punya tujuan lebih dari sekedar membuat kita tertawa terbahak-bahak. Dalam kata sambutannya di malam premier, sutradara Angga Dwimas Sasongko bilang bahwa film ini adalah puisi yang menghantarkan mereka semua pulang ke dekapan keluarga. Dan memang seperti demikianlah film ini diniatkan terasa. Buat yang udah punya keluarga bakal teringat ‘perjuangan’ kelahiran legacy mereka yang pertama. Buat yang lagi pacaran bisa terbawa sama kisahnya yang tentang pembuktian diri kepada keluarga pasangan. Buat yang jomblo dan belum punya anak? Well, begini loh yang bakal dihadepin;

Life got real real-fast, kita tidak bisa hanya ngejar menang di dunia maya.

 

Penyajiaan secara komedi adalah langkah terbaik yang dilakukan oleh film ini. Karena memang elemen komedi seperti beginilah yang paling gampang konek dengan semua orang. Penampilan Sarah Sechan, Tyo Pakusadewo, dan juga Dayu Wijantofor some moment, sangat membantu film ini menggapai note-note kocak yang sudah disiapkan. Membuat ceritanya terasa lebih grounded lagi. Aku suka gimana film ini terasa seperti komedi situasi dengan rumah sakit yang berkembang sebagai latar yang sangat hidup. Cerita film sangat resourceful dalam menggunakan lokasinya. Soal pembagian porsi, film ini did a good job dalam menyeimbangkan tone. Meski memang banyaknya elemen membuat kita sulit buat ngecengkram dunia yang dibangun dalam film ini. Menyaksikan ini kita tidak akan tertawa di momen-momen yang canggung. Film berhasil membuat kita tertawa di mana kita harus tertawa, dan membuat kita merenung menghayati pesan dan sentilannya di tempat yang juga sudah disediakan. Di antara para tokoh tidak selalu terasa ada pembagian tugas; mana yang buat ngelawak, siapa yang buat serius.

 yang mau jadi boneka dunia maya siapa?
yang mau jadi boneka dunia maya siapa?

 

Buka’an 8 adalah jenis film yang terbaca hebat di atas kertas. Character arc dari Alam si tokoh utama terplot dengan terang dan jelas, kita bisa mengerti motivasi dan ‘perjalanan’ yang pada akhirnya ia tapaki. Kita paham alasan pada pilihan kerjaannya. Namun, secara penyajian, cerita yang menginkorporasi banyak elemen kayak gini adalah cerita yang cukup tricky untuk dapat direalisasikan dengan baik. Unfortunately, Buka’an 8 memang terlihat cukup kepayahan. Sebagian besar waktu, ‘heart’ ceritanya, momen-momen yang harusnya ngena-banget malah terasa kering. Karena terkadang ada begitu banyak yang harus disampaikan, sehingga mereka terasa dijejelin alih-alih masuk dengan mengalir. Dari menit-menit pertama saja, misalnya, di adegan di dalam mobil di tengah jalanan macet; film berusaha ngeestablish apa yang jadi dasar moral dan pesan film, sekaligus ngenalin ke kita karakter dua tokohnya, apa tantangan yang mereka hadapi. Kita mendengar perbincangan mereka, yang kemudian diinterupsi oleh ‘perbincangan’ twitter yang menyinggung isu politik dan sosial media kekinian. Ada banyak topik yang berlangsung, in different ways, yang dijejelin ke kita pada sekuen bincang-bincang tersebut. Hasilnya kita gak berhasil memegang apa-apa sehingga adegan pertama yang penting tersebut malah enggak terasa impactful. Emosinya jadi enggak kena.

Soal penggunaan elemen dunia maya pada film selalu menjadi hal yang on dan off buatku. Jika bekerja baik, ya memang mereka bekerja baik. Akan tetapi, pada kebanyakan film, percakapan sosial media hanya berupa gimmick buat mempermudah penceritaan, seperti cara males memberikan ekposisi. Ataupun cuma sebagai cara biar filmnya terlihat kekinian. Meskipun, menurutku, pemakaian gimmick kekinian secara blak-blakkan justru secara otomatis bikin filmnya terasa dated. I mean, dunia berkembang begitu pesat jika ada yang nonton film ini dua-puluh-tahun lagi, maka mereka bakal kebingungan – malah mungkin memperolok – gimana kemakan jamannya apa yang ditampilkan oleh film ini. Toh film-film yang timeless tidak pernah bersusah payah nunjukin teknologi, liat saja 12 Angry Men (1957) ataupun The Shawshank Redemption (1994). Film-film itu terasa relevan ditonton kapanpun.

Makanya, walaupun adalah hal yang bagus film Buka’an 8 menggunakan sosial media dan dunia maya sebagai tema yang actually menambah sesuatu, memegang peran penting, bagi cerita. Namun, penggunaan sisipan perbincangan sosmed yang berlebihan tak pelak sudah membuat kita terdistraksi dari ceritanya. Kita terlepas dari emosi. Film ini menggunakan animasi tweet, ataupun message whatsapp, dengan avatar user yang bergerak saat mengucapkan status mereka. Kita mendengar bunyi pesan masuk, kita mendengar mereka ‘berdialog’ sembari membacanya di layar. Tak jarang layar nyaris penuh oleh message sosmed. Belum lagi subtitle bahasa Inggris di bagian bawah layar. It’s just too much. Film perlu ngerem sebentar dan menyadari betapa menggelikannya adegan mereka seringkali terlihat oleh usaha atas nama kekinian ini. Dan avatar-avatar bergerak tersebut dengan cepat terasa tidak lagi lucu, it’s annoying, dan memakan waktu melihat mereka kembali ke posisi ‘foto profpict’.

Gimana film ini bisa ngarepin cerita dan karakter-karakter mereka terasa real dengan memakai overused gimmickal element kayak gini masih jadi pertanyaan buatku. Karena film ini memang come off sebagai tontonan yang menganggap dirinya sebagai sesuatu yang bener-bener kudu untuk kita tonton. This film takes itself rather seriously alih-alih have fun dengan ceritanya yang padahal justru sarat dengan poin-poin yang agak keluar logika. Inilah salah satu penyebab kenapa Buka’an 8 gagal konek dengan kita.

masa iya sih sehari 24 jam megang hape bisa salah liat tanggal?
masa iya sih sehari 24 jam megang hape bisa salah liat tanggal?

 

Kita enggak yakin gimana film ini eventually works. Sebenarnya bagus banget ada film yang arah ceritanya enggak ketebak. Narasi Buka’an 8 bisa berkembang ke banyak arah. Seru sekali nonton ini – kita kayak “wah, jangan-jangan nanti si Alam begini” eh taunya enggak. It feels like mereka punya struktur yang mantep, poin per poin. Pengembangannyalah yang menjadi masalah. Begitu banyak poin cerita yang sempat dibahas tetapi berakhir pointless, misalnya tentang mbak pasien rumah sakit yang nitipin surat buat Alam ke suster, later ternyata suratnya ilang dan suster jadi lanjut ekposisiin isi suratnya ke Alam; apa faedahnya bikin ada surat in the first place? Banyak karakter yang enggak benar-benar menambah banyak buat cerita, kayak ‘saingan’ antara Uni Emi dan Ambu yang go nowhere selain buat mancing tawa.

Tokoh Alam belajar dari orang-orang sekitar dirinya di lingkungan sekitar rumah sakit, hanya saja proses pembelajarannya masih terkesan relatif gampang (atau malahan digampangkan). Orang-orang sort of datang ke Alam dan ngasih tahu hal-hal yang diperlukan. Stake yang sebenarnya mungkin memang bukan soal duit; lebih kepada pembuktian tanggung jawab Alam sebagai seorang suami, tapi karakternya so muddled dengan emosi yang tidak berhasil disampaikan dengan maksimal. Keputusan-keputusan yang diambil Alam sesuai dengan penokohannya, tetapi penyampaiannya jarang membuat kita merasa empati. In fact, sedikit sekali ruang bagi tokoh-tokoh buat bergerak natural.

Akankah kita jadi orangtua yang hebat? Pertanyaan yang seringkali bikin calon orangtua gemeter. Karena setap generasi akan berbeda dari orangtuanya. Dan buat Alam sebagai generasi millennial, dia keluar dengan overload of confidence, buat buktiin dia adalah jembatan ke generasi berikutnya. Film ini menggambarkan Alam yang dipandang sebelah mata oleh mertua. Hal tersebut eventually eats him up on the inside. Terlebih ketika semua hal yang ia percaya bakal work out ternyata gagal satu persatu. But setiap orang punya caranya sendiri. Dengan nunjukin great responsibility ngetake care diri sendiri, bisa dan mengerti kapan harus bertindak, kita sudah nunjukin sudah lebih dari siap buat membesarkan sebuah keluarga.

 

 

Film ini lebih ‘mirip’ dengan Filosofi Kopi (2015) dibandingkan Surat dari Praha (2016), yang cukup membuatku kecewa; Surat dari Praha adalah film Indonesia dengan skor tertinggi yang kuberikan tahun kemaren. Drama komedi ini bakal gampang disukai. Dia enggak bagus banget meski juga enggak buruk-buruk amat sih, kita masih bisa ngeliat daya tariknya. Setelable lah buat ditonton bareng keluarga. Hanya saja memang film ini tidak memuaskan secara delivery. Karakter yang kurang, sementara banyak elemen lain yang terasa berlebihan. Ada beberapa adegan yang mestinya bisa diilangin aja, begitupun ada beberapa dialog yang enggak perlu ditulis segamblang yang film ini lakukan. Film yang acceptable, di sana sini kita akan tertawa, namun juga kerapkali bakal terasa kering. Yang jelas nilai film ini bukaan 8.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for BUKA’AN 8.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

RINGS Review

“By renouncing samsara, we embrace our potential for enlightenment.”

 

ringsph7mkx5mkkfeae_1_l

 

Apa persamaan antara bunyi statis televisi yang mirip-mirip bunyi air dengan dering telepon? Well, jika kalian mendengar dua suara tersebut berurutan, maka besar kemungkinan suara berikutnya yang akan kalian dengar adalah suara gadis kecil yang berbisik lantang, “Tujuh hari.” Hii, bayangin gimana tuh bisik-bisik tapi lantang, eh salah, maksudnya: bayangin tuh gimana jika hidup kalian mendadak tinggal seminggu lagi!

Lingkaran mitologi Ring selalu berputar di antara kaset video, televisi, dan telepon. Samara dengan jahatnya memastikan kutukannya terus direcycle oleh manusia, sehingga kepedihan dan deritanya bisa terus menghantui. Tonton videonya, Samara akan nelpon, dan dalam tujuh hari kita bakal isdet. Bila kalian sudah pernah nonton Ring sebelumnya, maka kalian pasti tahu satu-satunya cara terlepas dari kutukan adalah dengan mengcopy video creepy tersebut dan mempertontonkannya kepada orang lain. Namun jika kalian bertanya “pfft, siapa sih yang masih nonton vhs hare gene” maka joke’s on you. Dunia modern tidak jadi halangan bagi si vintage Samara buat go live. She’s coming and she’s gonna get everybody. Karena sekarang ada cara cepat buat memperbanyak kopian video; masukkan ke komputer, copy file quicktimenya, dan voila! kalian bisa share langsung ke internet!

Jadi, yaah, memang terdengar bego sih, tapi cerita kali ini memasuki teritori yang belum pernah digarap pada dua film Ring sebelumnya. Film ini PUNYA ELEMEN FIKSI-ILMIAH. Ada dosen yang berhasil survive dan mengetahui bagaimana cara kerja video Samara. Jadi dia membentuk semacam cult ‘underground’ gitu di kalangan murid-muridnya. Menggunakan metadata video, profesor biologi tersebut ingin bereksperimen dengan jiwa; gimana keabadian, dan segala macam terus berulang di dalam kehidupan. It’s actually lumayan menarik. Sayangnya fokus utama cerita tidak terletak di tangan si dosen. Tokoh utama cerita adalah pacar dari salah satu murid baru si dosen. Julia (Matilda Anna Ingrid Lutz ini mukanya miripmirip persilangan antara Raisa ama Jessica Alba) dateng ke kampus demi mencari cowoknya yang hilang semenjak percakapan skype mereka terputus dengan abrupt. Ternyata, cowoknya adalah anggota cult eksperimen, dan Julia mengorbankan diri menonton video Samara demi nyawa sang pacar. Kemudian film pun kembali mengeksplorasi cerita investigasi, di mana Julia dan cowoknya berusaha memecahkan misteri Samara yang sempet-sempetnya masukin penggalan video artsy-but-creepy yang baru.

"like-in video insta dan snapchatku dong, Kak"
“like-in video insta dan snapchatku dong, Kak”

 

Yang follow twitter ataupun temenan sama aku di Path, tentunya sudah ngeliat (sukursukur sekalian ngebaca) sejak awal bulan Februari ini aku ngereview tiga film Ring terdahulu. Aku memang lumayan excited nungguin film ini. Ring adalah film yang bertanggungjawab membuat aku parno melongok ke dalam sumur. Sadako, dan/atau Samara, adalah sosok yang sukses jadi pioneer hantu-hantu berambut panjang yang jalannya patah-patah dalam film-film horor yang lain. Tayang Rings kerap diundur, tadinya direncanain keluar Oktober tahun lalu – barengan ama Halloween, eh taunya di Indonesia dijadwalkan November. Dan terus diundur sampe akhirnya mentok di bulan ini. Setelah menonton filmnya, aku jadi sedikit kebayang alasan kenapa mereka gak pede nayangin. Tapi sejujurnya, buatku film ini enggak parah-parah amat. Enggak sejelek The Bye-Bye Man (2017), ataupun Incarnate (2016), ataupun The Disappoinments Room (2016) yang buat ngereviewnya aja aku langsung gak napsu. Kalo mau diurutin, berikut klasemen scoreku buat tiga film Ring:

The Ring (2002) 7/10
Ringu (1998) 6.5/10
The Ring Two (2005) 4/10

 

The Ring (2002) adalah salah satu usaha terbaik Amerika dalam ngadaptasi horor ketimuran. Filmnya berhasil ngecapture tone tragedi dan kesedihan yang menguar dari film orisinalnya. Bukan hanya itu, The Ring punya tokoh utama yang lebih setrong dan mandiri dibandingkan Ringu (1998), while also menambahkan sesuatu kepada visual video kutukan sehingga jadi lebih seram. Ring pertama versi Jepang dan versi Amerika sama-sama bercerita dengan sunyi dan sangat subtle. Berbeda sekali dengan The Ring Two yang terasa lebih sebagai horor yang mainstream, dengan cerita yang muddled dan gak fokus, gak serem malah unintentionally funny. Jadi mari cari tau ada di mana posisi Rings dalam klasemenku.

Beneran, aku sendiri lumayan surprise mendapati Rings enggak seburuk yang udah kuharapkan. Ekspektasi buat horor ini memang rendah; director Hideo Nakato yang nanganin dua film Ring tidak lagi terlibat di sini; tidak ada Naomi Watts yang aktingnya udah nyelametin The Ring Two; tidak juga ada visi Gore Verbinski yang udah bikin The Ring jadi punya aura surreal. Aku masuk ke teater dengan gemetar, siap-siap dibombardir oleh kebegoan. Namun ternyata, film ini CUKUP BERKOMPETEN. Diarahkan dengan lumayan mantep. Ada beberapa sekuens yang diceritakan dengan efektif. Ada seremnyalah. Aku suka shot saat Dosen Profesor menatap hujan di luar jendela. Performances dalam film ini, meski sedikit turun naik, tidak terasa nol besar banget. Tidak ada penampilan akting yang membuat kita nyeletuk “pemainnya menang tampang doang!”. Vincent D’Onofrio adalah yang terbaik dalam film ini dari departemen akting. Tokohnya muncul belakangan, dan sendirinya adalah peran pendukung yang really ‘fun’. Sedangkan tokoh utama kita, seperti yang kubilang tadi, lumayan kompeten. Walaupun terkadang dia masih terasa kayak ngomong buat dirinya sendiri, but maybe it’s just the character.

Masalah terberat dalam nanganin cerita Ring selalu adalah bagaimana mengisi babak keduanya. Bagaimana membuat film tetap menjadi seram dengan omen-omen kayak genangan air dan semacamnya, sekaligus tetap engaging dalam jangka waktu sejak tokoh utama menonton video sampai ke maut datang menjemput. Film pertama menarik kita masuk lewat investigasi yang surreal hingga nyaris psikologis. Film kedua kebingungan jadi mereka melempar elemen nonton video begitu saja keluar jendela. Film ketiga, Rings ini, bermaksud meniru kakak tertuanya, hanya saja film ini tidak punya footing yang kuat pada plot linesnya. Dari soal ngopi file buat selamat dari kutukan saja udah konyol banget. Kita tidak bisa mendapat banyak hal dari film ini. Semua trope karakter dan klise yang kita expected bakal ada dalam film horor dipakek. Adegan opening di pesawat actually salah satu yang terparah, untungnya kita enggak perlu repot-repot mengingatnya. Rings kehilangan aura subtle, sense of tragedy, yang menjadikan film pertamanya – baik versi Jepang maupun Amerika – terasa begitu berbeda dan menyeramkan.

Enggak berani ngelakuin sesuatu yang benar-benar berbeda. Film ini justru malah nekat mengubah mitologi yang udah dibangun. Seolah mereka enggak setuju dengan origin Samara dan nekat nambahin ulang (dengan maksa pula!) hal tentangnya. It kind of messes with previous installments. Video baru dalam film ini jauh dari kesan creepy-penuh-makna, visual cluenya enggak asik kayak video yang pertama. Apa yang dilalui Julia dalam memecahkan misteri pada dasarnya sama dengan yang dialami oleh tokoh Naomi Watts di The Ring. Dia juga ketemu bapak yang ternyata jahat. Dia juga merasa kasihan dengan Samara. Actually, cuma di sifat Samara inilah, Rings akur dengan film-film sebelumnya. Samara digambarkan ‘tertarik’ dengan orang yang bersikap baik, dengan pengorbanan. Bukan kebetulan Samara memilih Julia, it was because Julia pasang badan demi menghentikan kutukan pada pacarnya. Kesannya tuh, Rings ini hanyalah sebuah versi jelek dari The Ring. Ending filmnya sebenarnya cukup menarik dan ada nambah dikitlah buat universe ini, cuma aku enggak yakin apakah yang film ini lakukan di adegan terakhir tersebut bener-bener make sense dengan aturan cerita yang sudah dibangun.

Sakit jangan disayang-sayang. Tampaknya inilah yang ingin dibicarakan oleh Rings. Adalah hal yang perfectly fine buat kita membuang derita. Membuang masalah. Nama Samara yang begitu dekat dengan kata Samsara, melambangkan penderitaan yang tak kunjung berakhir karena life dan death terus kontinyu. Samara menganggap belas kasihan dan rasa pengertian sebagai titik lemah dan menjadi jalan dirinya masuk. Perasaan marah, sedih, galau, all those pains, mungkin lebih baik dikubur dalam-dalam. Karena kalo dibebasin, they will keep coming back to haunt you. Samara ingin derita terus tersebar dengan orang-orang terus menontonnya.

 

Sedikit cerita horor nih; Jadi saking excitednya mau nonton film ini aku sampai membawa mainan kuntilanak ikut serta. Trus di bioskop tadi kan, aku mau motion Kana bareng ama poster dek ‘Ara. Lumayan buat dipajang di sini. Eh tau-tau…. Hapeku…. MendadakMATIsendiri!!! Jeng-jeeengggg!!

Dan sekarang ngeri sendiri dek ‘Ara manjat keluar dari layar laptop.
Dan sekarang ngeri sendiri dek ‘Ara manjat keluar dari layar laptop.

 




Film yang sekedar ‘okelah’. Dibuat dengan cukup cakap sebenarnya. Sekuens yang lumayan efektif. Plot lines nya bego tapi bukan bego yang inkompeten. Sayangnya film ini tidak punya nyali untuk melakukan sesuatu yang baru kepada mitologi Ring secara keseluruhan. Hanya kayak usaha buruk dalam nulis ulang. Jump scares, klise, dan karakter trope yang biasa ada di film horor kebanyakan, turut kita jumpai di sini. Ketimbang film-film pertamanya yang bernuansa sedih dan bernature cerita cukup primal dan ‘sadis’, film ini mestinya bisa lebih nendang dengan ngusung science-fiction, but nyatanya malah lebih milih untuk menjadi generic. Menjawab pertanyaan soal klasemen di atas, ya paling enggak, film ini sedikit lebih baik daripada The Ring Two. Kalian bisa nonton film ini dan enggak mati tujuh hari kemudian karena nyesel berat udah nonton film jelek.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for RINGS.

 

 

 




That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.


SHUT IN Review

“Mother love is the fuel that enables a normal human being to do the impossible.”

 

shut_in_ver2

 

Bagi seorang ibu cuma sedikit hal di dunia yang horornya melebihi perasaan ketika melihat anak yang ingin di’selamatkan’ malah berakhir celaka. Apalagi jika si ibu tersebut punya profesi sebagai psikologis anak. Rasa bersalahnya dateng barengan ama rasa gagal, tuh. Sesek numpek di dada pasti ada, dan kita bisa melihat itu semua dari gimana Naomi Watts memainkan perannya sebagai Mary Portman dalam film Shut In.

Anak tiri Mary lumpuh setelah ngalamin kecelakaan mobil enam bulan yang lalu; Kejadian tragis yang juga merenggut nyawa suaminya. Mary sekarang ngerawat anak remajanya tersebut. Dia memandikan Stephen, mengurus keperluan sehari-hari, namun kebutuhan Mary sebagai seorang ibu – terlebih ibu yang merasa bersalah – tidak terlampiaskan karena kondisi anaknya tidak memungkinkan buat mereka untuk kembali bisa menjalin hubungan emosional yang aktif. Jadi Mary mencari koneksi ke pasiennya yang kebanyakan memang masih anak-anak. Mary mau bisa nolong semua anak-anak bermasalah itu. Terutama, dia ingin ‘menolong’ Tom (Jacob Tremblay memerankan bocah tunarungu yang suka berkelahi).
Suatu malam, Tom muncul gitu aja di rumah Mary dan Stephen, untuk kemudian ia hilang dengan sama mendadaknya. Di luar badai salju, dan di dalam rumah, pada malam hari, Mary mulai mendengar suara-suara aneh. Dia sort of ngeliat penampakan. Apparently, Mary enggak benar-benar yakin misteri apa yang sedang terjadi kepadanya.

 

Badai salju yang menderu dari luar rumah menjadi elemen yang mengurung karakter dalam film ini. Mereka tidak bisa keluar dari dalam rumah. Secara estetis, kita juga merasakan perasaan klaustrofobiknya. Kita seperti ikutan berada di dalam rumah mereka, untuk kemudian rumah tersebut terasa mengurung kita lewat beberapa momen sound designnya. I love that contained aspect of this movie. Aku lumayan excited waktu mau nonton. Apalagi psikologikal horor ini dimainkan oleh Naomi Watts yang kerap muncul di film-film horor yang lumayan bagus. In fact, Naomi Watts main di film terfavoritku sepanjang-waktu, Mulholland Drive(2001), so yea I naturally drawn in oleh setiap film yang ia perankan. Arahan yang didapatkan oleh film ini cukup lumayan, meski there’s nothing really much to it. Ada shot-shot yang perfectly capture momen yang bikin kita merasa in-the-moment. Satu adegan yang aku suka pengambilan gambarnya, yaitu aerial shot menjelang akhir di adegan yang involving bayangan dan tangga. That’s a great shot.

Kasian amat Jacob Tremblay terjebak di dalam ruangan lagi
Kasian amat Jacob Tremblay terjebak di dalam ruangan lagi

 

Nyawa film terutama terletak pada screenplay. Kelihatan deh pokoknya sebuah film yang punya skenario buruk dan sutradara berusaha keras buat menjadikannya baik, namun tetep enggak bisa, karena apa sih yang bener-bener bisa dilakuin jika naskahnya sedari awal sudah begitu jelek dan keliatan banget ngarang. Kalo Mary bingung ke mana perginya Tom, maka kita sebagai penonton akan terbengong-bengong berkat BETAPA TERRIBLENYA FILM INI DITULIS. Banyak banget ketidakkonsistensian sehingga sebagian besar waktu film ini was just bad. Dua babak pertama dipenuhi oleh adegan-adegan mimpi, diselingi dengan jump-scares yang sok ngecoh. Dengan cepat film ini akan terasa menyebalkan. Dan bicara soal ngecoh, ini adalah jenis film yang bangga banget punya twist. Film yang tujuan utamanya memang ingin terlihat heboh dengan twist, mereka kayaknya nulis dari twistnya duluan kemudian baru ngembangin ceritanya, yang mana semua elemen dipaksa nyambung banget, sehingga twist yang dihasilkan malah jadi bego alih-alih bikin takjub. Semua yang terjadi di dua-puluh-menit terakhir membuat everything else yang sudah terjadi sebelumnya menjadi total gak masuk-akal.

Jika semua klise dan trope film horor bisa bermanifestasi menjadi manusia, mereka tumbuh tangan dan punya jari jemari, kemudian mereka mutusin buat ngetik, maka “voila!” Jadilah skenario film Shut In.

 

Semua taktik scare yang dilakukan oleh film ini adalah TAKTIK FALSE SCARE. Kita ngeliat penampakan, eh taunya Mary lagi mimpi. Kita ngeliat adegan berdarah, eh taunya Mari sedang ngigo. Kita denger suara-suara aneh, eh taunya ada rakun loncat dari balik kayu diiringi suara musik yang lantang yang bikin Mary dan seisi bioskop jantungan. Kita ngecek kegelapan malam, ngikutin Mary nyebrangi halaman bersalju, eh taunya cowok yang tadi pagi naksir ama Mary muncul dari balik pintu sambil menyapa “Hey, ini gue!!”. Keras-keras. Itulah ‘hal-hal mengerikan’ yang bakal kita hadapi dalam film ini. Efektif sekali, bukan? Yeah, efektif buat bikin kita TERTIDUR!!!!

Shut In enggak mau repot-repot bahas soal psikologis, atau perspektif, atau moral, atau apalah. Detil-detil backstory enggak penting bagi film ini. Kita enggak pernah yakin kenapa malam itu si Tom bisa nongol di rumah Mary. Kita enggak pernah dihint soal latar belakang Mary dan keluarganya. Film ini enggak peduli saat kita mengernyit berusah mengira-ngira kenapa Mary sering banget skype-an ama tokoh Dr. Wilson yang diperankan oleh Oliver Platt. Kita enggak sempat kenalan sama beliau, apakah dia temen lama Mary, atau dia psikologis Mary, or heck film ini enggak mau tau perihal gimana Mary terlihat so bad at her job, both as child psychologist and as a mom, dibuat oleh presentasi ceritanya.

Mari ngobrol sebentar soal adegan dengan skype. Biar kelihatan remaja dan relevan, film-film jaman sekarang memang hobi banget masukin adegan para karakter facetime-an via skype. Adegan skype actually bisa saja bekerja dengan baik, kita udah nyaksiin contohnya pada film The Visit (2015). Adegan ngobrol lewat skype bisa bagus jika (dan hanya jika!) obrolannya bagus. Dialoglah yang memegang kunci. Dalam film ini, sayangnya, penulisannya begitu minimalis.

Mary: “Etau enggak, akhir-akhir ini aku susah tidur, nih”
Wilson: “Yaah, kamu masih trauma dan sering baper sih”
Mary: “Eng-GAaaKK! Beneran, ih, kayaknya ada sesuatu yang lain di sini”
Wilson: “What-the-kamsut?”
Mary: “Kayaknya… di rumahku…. ada hantu!”
Wilson: “Masa orang dewasa terpelajar kayak kita percaya hantu sih?”
Mary: “Tapi aku sering denger-denger suara gitu, pernah ngeliat malah”
Wilson: “Gurl! Please. You’re just being silly”
Mary: “CK! Bye. Brb Sibuk.”

Ya kurang lebih begitulah obrolan mereka. Gitu terus lagi dan lagi, adegan percakapan skype mereka muter-muter di situ melulu. Mengerikan!

This is also jenis film yang setiap tindakan yang dipilih karakternya bikin kita jambak-jambak rambut dengan geram.
This is also jenis film yang setiap tindakan yang dipilih karakternya bikin kita jambak-jambak rambut dengan geram.

 

Yang terpenting buat film ini adalah gimana memancing rasa kaget kita, alih-alih takut. Fokus utama nya adalah gimana supaya so-called twist mereka enggak ketahuan.

Padahal despite ‘usaha’ mereka, kita sedari pertengahan udah bisa menebak hanya dengan mengacu kepada apa yang disebut kritikus terkenal Roger Ebert sebagai The Law of Economy of Characters. Atau Hukum Ekonomi Karakter; teori tentang kebiasaan film ini menjelaskan bahwa oleh sebab budget, film tidak akan pernah diisi oleh karakter yang tidak berguna, setidakpenting apapun kelihatannya peran mereka. Apalagi kalo diperankan oleh aktor yang cukup punya nama. Karakter-karakter tersebut sudah pasti akan direveal punya peran yang penting. Jadi, yaaa, kalo kita ngeliat cast yang familiar dengan peran yang minimal, maka niscaya mereka adalah twist yang dirahasiain oleh film.

Coba deh, tonton ini dan tebak apa yang sebenarnya. Wait, actually… Jangan tebak. Tepatnya maksudku, jangan bersusah payah luangkan waktu dan uang buat nonton. Aku beberin aja twistnya di sini:

 


Jadiii, anak tiri si Mary yang lumpuh ternyata enggak lumpuh. Stephen selama ini hanya pura-pura lumpuh. That’s the big twist. Film ini ngasih arti baru buat kalimat “Cinta ibu mampu membuat orang normal ngelakuin hal yang enggak masuk akal.” Stephen sangat ingin perhatian dan kasih sayang ibunya, sehingga ketika Tom datang dan perhatian Mary jadi bergeser ke ngurusin bocah malang tersebut, Stephen jadi iri. Dia bangkit dari kursi rodanya, menangkap Tom, dan menyekapnya di suatu tempat di dalam rumah. Suara-suara yang didengar Mary adalah suara Tom yang berusaha keluar. Penampakan, blurry vision, dan mimpi-mimpi yang dialami oleh Mary adalah ulah Stephen yang diem-diem masukin obat ke dalam minuman ibu tirinya tersebut. That’s it. Seriously, twistnya bikin revealing film The Boy (2016) jadi terlihat enggak parah-parah amat.


 

 

 

 

Apa coba persamaan antara Naomi Watts dengan kita-kita yang nonton film ini?
Sama-sama kejebak!
That’s how I felt during this entire film. Penampilan dan arahan yang acceptable tidak akan berarti banyak jika sumber penyakit ada di skenarionya. Tidak ada bagian yang bagus; babak satu dan duanya plainly bad, dan babak ketiganya sukses menghantarkan ini sebagai salah satu dari film horor terburuk yang pernah aku tonton. Atau psikologikal thriller terburuk. Whatever. This movie is horrible, people!
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for SHUT IN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

SPLIT Review

“Wounded children become the target of their own rage.”

 

split-poster

 

Berakting pada dasarnya adalah memainkan personality yang berbeda dari keseharian. Misalnya ketika kita jadi sakit kalo besok banyak pe-er, atau ketika ada temen yang jadi peduli banget ama kita kalo lagi ada maunya hihi. Anyway, ada perbedaan antara akting memerankan peran fiktif dengan akting menjadi karakter yang berasal dari nonfiksi, seperti pada film biopik; permainan peran di situ sort of safe karena aktor bisa recreate sifat dan pribadi suatu peran degan mengacu kepada seseorang yang benar-benar ada di dunia nyata. Dengan peran fiksional, however, para aktor seolah bermain dari nol. They just have to be out there. Aktor mesti menyerahkan sepenuhnya kepada kreativitas sendiri, sesuai tuntutan sutradara dan naskah. Seperti yang dilakukan oleh James McAvoy di film Split, di mana dia benar-benar menyemplungkan diri ke dalam semua various personalities yang ia perankan.

Mencari tahu siapa nama tokoh yang diperankan oleh James McAvoy dalam film ini aja pada awalnya kita akan kebingungan. Kadang dia dipanggil Dennis. Kadang dia pake baju cewek dan memanggil dirinya Patricia. Later did we learn, he’s actual name is Kevin. Kenapa bisa ganti-ganti begitu, apakah karena dia lagi diuber debt collector? Bukaan, itu karena James McAvoy memerankan seseorang yang memiliki ‘kelainan’ yang biasa dikenal dengan istilah Kepribadian Ganda. DISSASOCIATIVE IDENTITY DISORDER. Dua-puluh-tiga kepribadian bersemayam di dalam kepala Kevin dan salah satunya sudah menculik tiga gadis remaja. Dia mengurung mereka entah di mana, dengan alasan yang secara perlahan dibeberkan oleh cerita.

 

James McAvoy commit seratus persen sama peran (-peran)nya dalam film ini, dia memainkan mereka semua dengan courageous luar biasa. Kita actually bakal bisa bedain dia sedang menjadi siapa karena McAvoy membuat masing-masing kepribadian Kevin very distinguishable dari yang lain. Ya dari intonasi suaranya, ya dari ekspresi facialnya, ya dari mannerism dan gesturnya. Brilian banget deh. Kalo film ini tayang di 2016, aku yakin James McAvoy sudah dapet nominasi Best Actor di mana-mana. Malah mungkin udah menang satu. He’s that good, guys.

Jika The Visit (2015) adalah jalan pulang M. Night Shyamalan balik ke style dan kekuatan filmmakingnya yang dulu, maka Split ini adalah cara sutradara dan penulis Shyamalan ngumumin kalo dia udah sampai di ‘rumah’.

 

Film ini terasa kayak M. Night Shyamalan‘s earlier films; kalian tahu, psikologikal thriller traditional khas dirinya yang bakal caught us off guard dengan twist sederhana yang direncanakan dengan matang. Split adalah film terbaik dari beliau sejak Signs (2002), no doubt about that. It was a very good psychological thriller yang juga punya elemen ruang tertutup yang aku gandrungi.

Sinematografer sukses banget menangkap suasana klaustrofobik, menghasilkan kesan contained banget. Pencahayaannya pun superb. Split actually adalah film dengan visual yang ciamik. Di The Visit (2015) Shyamalan enggak pake musik sama sekali, dalam film Split ini, aku nyaris enggak sadar ada musiknya. Scoring film ini mengalun dengan mengendap-ngendap, dia membangun kengerian dengan perlahan, dan buatku ini adalah teknik yang efektif dan bekerja dengan baik pada penceritaan.
Nonton film ini kita akan dibawa bolak-balik. Kita akan ngeliat ketiga cewek yang berusaha keluar dari ‘sarang’ Dennis, dan kita juga ngikutin Kevin – dalam persona flamboyan Barry – yang mengunjungi psikologis demi menangani masalah split personalitynya.

 

 

Sesungguhnya ada tiga penampilan utama yang jadi fondasi superkokoh penceritaan film Split. James McAvoy, Betty Buckley, dan Anya Taylor-Joy. Dalam film ini, Anya berhasil membuatku mempertanyakan keputusan soal pemenang Unyu op the Year di My Dirt Sheet Awards Hexa-six awal tahun ini. This movie is another very good turn from her. Anya adalah bagian terbaik dalam film Morgan (2016). Anya fantastis banget di film The Witch (2016). Dan di Split, Anya Taylor-Joy buktiin sekali lagi bahwa dirinya adalah salah satu talenta aktor paling exciting generasi sekarang ini. Karakternya, Casey, punya banyak layer yang bisa kita kupas. Yang bisa kita pelajari. Ada banyak hal yang bisa kita discover dari tokoh ini. Casey adalah peran yang sangat subtle. At first, kita akan dibuat heran sama sikapnya, kenapa dia kelihatan yang paling tenang di antara tiga cewek yang diculik, dari mana dia bisa dapet ide “kencinglah di celana”. Sembari film berlanjut, kita akan belajar gimana naluri survival bisa tumbuh dari dirinya dalam cara yang sangat tersirat. Aku paling suka adegan terakhir, saat kamera linger on ekspresi Casey begitu polisi bilang pamannya datang menjemput. Her wide eyes semakin melebar, rasa lega yang absen dari wajahnya, ngundang banget untuk kita mengira-ngira apakah Casey bakal kabur atau dia ngapain sesudah adegan tersebut. Film ini membiarkan arc Casey terbuka dan aku puas banget karenanya.

keluar dari mulut singa dan masuk ke mulut buaya.
keluar dari mulut singa dan masuk ke mulut buaya.

 

Aku selalu tertarik menyelam masuk ke dalam pikiran orang-orang, apalagi orang gila. Mungkin itu ada kaitannya dengan aku suka film horor. I mean, tempat terhoror toh letaknya memang di dalam kepala manusia sendiri. I was intrigued oleh karakter-karakter, makanya aku suka nonton film. Karena di mana lagi aku bisa mendengar atau ngikutin masalah mental orang-orang kalo bukan di film, aku kan bukan psikolog. Aku malah kuliah di Geologi. Oke, jangan malah jadi curhat, ehm…

What I’m trying to say adalah aku suka sama karakter psikolog yang diperankan oleh Betty Buckley (hey, lihat! nenek-nenek gila dari film The Happening). Si Dr. Fletcher ini desperado banget ingin berkomunikasi sama semua kepribadian di dalam kepala Kevin. Mendengar bahwa mereka duduk melingkar nunggu giliran dapat ‘cahaya’ kelihatan sekali membuat Dr. Fletcher penasaran. Dia mencoba untuk figure out how Kevin and his various identities work. Dia mencoba masuk ke dalam otaknya, bukan hanya untuk mencari tahu apa akar masalah sehingga bisa menolong dan memgobati Kevin, melainkan juga karena dia percaya ‘kemampuan’ pasiennya ini dapat digunakan untuk kebaikan. Tokoh Dr. Fletcher actually brings a lot to the story.

Child abuse dan trauma jadi tema berulang yang jadi titik tolak cerita film ini berangkat.Dipresentasikan dengan shocking manner; Kita bisa melihat gimana pasien mengubahnya menjadi sebuah sistem pertahanan diri, kita melihat dua remaja yang tidak punya’ self –defense’ actually jadi korban dan yang pernah ngalamin abuse justru kuat dan selamat. Juga ada indikasi mengerikan seputar Kevin yang eventually dioverpower oleh persona-persona yang lain, karena mereka terbentuk dari rage yang disurpress oleh Kevin. Anak-anak yang terluka have a rage, yang terkumpul di dalam, they need to be lash out, namun satu-satunya yang bisa ‘diserang’ adalah diri mereka sendiri.

 

 

Sebagaimana pada kerja-kerjanya terdahulu, sekali lagi M. Night Shyamalan mempercayakan sepenuhnya kepada kita para penonton untuk belajar dan menemukan sendiri apa yang terjadi pada film ini. Aspek inilah yang bikin aku suka sama film-filmnya. Shyamalan nanem banyak elemen dan poin cerita di awal, yang enggak akan bisa kita ngerti sepenuhnya sebelum kita sampai di penghujung film. Kita belajar things about characters, belajar mengenai backstory mereka, film akan mempersembahkan mereka sebagai fakta, dan kita sendiri yang akan mengerti kenapa mereka seperti itu. Penonton dikasih kesempatan untuk mengupas dan menelaah lapisan-lapisan yang ada pada tokoh-tokoh. Dan pada akhirnya memang the bigger picture akan terasa lebih impactful karena kita discover everything on our own. Shyamalan menghormati kita, dia meminta kita untuk sabar. Karena sesungguhnya, Split adalah FILM YANG BUTUH KITA UNTUK MEMBUANG SEDIKIT LOGIKA.

Honestly, aku sedikit terlepas ketika cerita sampai di bagian persona The Beast muncul ke permukaan. Kevin berlarian di kota, dia manjat-manjat tembok bertelanjang dada, dengan urat-urat menyembul, dia enggak mempan ditembak. Dia bengkokin baja sel penjara. Ceritanya mulai enggak masuk akal. Masak iya beda personality doang bisa bikin orang jadi kuat kayak monster seperti itu. Namun Shyamalan pada akhirnya selalu memberi kita penghargaan lewat twist, dan pada kasus film ini, kesabaran kita – our leap of faith – akan terasa sangat rewarding, terlebih jika kita ngikutin film-film karyanya sedari awal.

Twist sederhana pada film Split akan terasa wah! terutama jika kita sudah menonton Unbreakable (2000). Karena ternyata film ini berada di universe yang sama dengan universe film Unbreakable; salah satu film adaptasi comic book yang bagus banget, mengangkat kesuperheroan dalam cahaya yang realistis. Saat kita melihat tokoh David Dunn (kameo Bruce Willis di sini dapet 50-50 reaksi, yang udah nonton Unbreakable tereak histeris, yang belum cuma bengong) duduk dengar berita soal Kevin yang dijulukin “The Horde” di cafeteria, barulah kita sadar bahwa ini adalah film superhero dan semuanya jadi make sense. Membuat kita ingin nonton lagi, experiencing cerita Split dari kacamata yang berbeda. Ya, semua twist Shyamalan sesederhana itu; oh ternyata dia hantu, oh ternyata dia yang jahat, oh ternyata mereka bukan kakek neneknya, oh ternyata ini film superhero, ternyata ini adalah origin story seorang supervillain – ternyata ini sekuel dari film yang tayang tujuh belas tahun yang lalu!

Mindblown!!!
Mindblown!!!

 

Sejak di film Signs (2002), Shyamalan berusaha masukin humor ke dalam thrillernya. Kadang-kadang berhasil, kadang-kadang gagal total. Dalam Split, untungnya kedua tone tersebut berhasil menyatu dengan mulus. Film ini paham kapan harus membuat kita tertawa, tanpa membuat suasana jadi awkward. Kemunculan persona Hedwig, si bocah sembilan-tahun, mampu membuat kita tergelak dengan sikapnya, but then film ini juga precisely ngasih timing ketika kata-kata Hedwig mendadak menjadi mengerikan. Contohnya di adegan nari. It was so incredibly ringan dan kocak, dan sejurus kemudian jadi uneasy saat Casey bertanya jendelanya mana dan Hedwig menjawab riang sambil nunjuk gambar jendela hasil karyanya.

 

 

Babak pertamanya adalah yang paling lemah, namun film ini akan terus terbuild menjadi semakin intens. Kengerian dan ketegangan disemarakkan dari penampilan-penampilan akting yang excellent. This is also a very good looking psychological thriller. Namun ada beberapa aspek penceritaan yang semestinya bisa ditrim sedikit. Seperti adegan eksposisi saat Dr. Fletcher jelasin apa itu DID lewat skype. At least, harusnya penjelasan tersebut bisa dibikin lebih menarik dan lebih terintegral lagi. Dialog-dialog pun kadang banyak enggak masuk, masih terdengar terlalu memaparkan. Performa dua cewek teman Casey yang kaku dan rada over-the-top terlihat berada di luar level tiga tokoh mayor. Ini adalah jenis film yang berani meminta kita untuk bersabar, untuk mau discover things on our own, dan aku very pleased begitu mengetahui ini sebenarnya tentang apa. Dan ya, aku harap Shyamalan benar-benar bikin kelanjutan film ini; Dunn lawan The Horde. Lawan Mr. Glass. Mauuuuu!!!!
The Palace of Wisdom give 7.5 out of 10 gold stars for SPLIT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

THE LEGO BATMAN MOVIE Review

“To share your weakness is to make yourself vulnerable; to make yourself vulnerable is to show your strength.”

 

thelegobatmanmovie-poster

 

Penjahat yang hebat membentuk pahlawan yang hebat. Karena semakin berat tantangan, semakin great pula effort yang harus dilakukan untuk overcome it. Hubungan aneh antara superhero dan penjahat itulah yang sesungguhnya membuat setiap cerita komik, or even setiap cerita baik-melawan-jahat menjadi menarik. Rivalry mereka mendorong yang terbaik dari diri masing-masing, dan ‘pertarungan’ itu yang kita nikmati. Aksi Superman menyelamatkan manusia tidak akan bisa kita kagumi jika Lex Luthor tidak mengerahkan kemampuan terbaiknya at being doesn’t care about anyone. Goku enggak bakal pernah jadi orang terkuat jika Bezita berhenti menantangnya berkelahi. John Cena tidak akan pernah punya jurus baru jika CM Punk tidak terus-terusan showcasing a great match – membuktikan dirinya the best in the world. Dan kita tahu, satu-satunya yang bikin Batman segan membunuh adalah karena dia tidak mau menjadi sama seperti Joker.

Tidak akan ada Batman jika tidak ada Joker.

Namun, apa yang dilakukan oleh The LEGO Batman Movie terhadap hubungan antara Joker dengan Batman adalah sesuatu yang sangat brilian. Batman enggak mau admit bahwa dia butuh Joker untuk merasa complete. In fact, Batman di sini having a real hard time mengakui bahwa dia sebenarnya juga butuh orang lain. Film ini mengambil RUTE YANG BENAR-BENAR BERBEDA dalam membahas hubungan mereka. Tidak ada yang lebih diinginkan Joker selain supaya Batman mengakui hubungan spesial (cieee~) di antara mereka. Joker benci Batman, dan dia mau Batman juga bilang dia benci Joker, bahwa dia seneng banget menghajar Joker. But Batman can not say that. Dan kalian tahu, sangatlah kocak cara yang film ini lakukan dalam menggali ‘relationship’ antara dua tokoh komik paling populer tersebut. Ada dialog Batman yang tepatnya bilang begini, “I am fighting a few different people… I like to fight around.” Yup, it’s like persahabatan Kevin Owens dan Chris Jericho di Raw, rivalry antara Batman dan Joker di sini dibikin kayak orang… lagi… pacaran!

Menunjukkan bahwa kita butuh orang lain memang membuat kita vulnerable. Tetapi tidak seketika berarti menjadikan kita lemah. Kesediaan untuk mengakui ketidakmampuan diri sendiri, untuk saling bergantung kepada kekuatan satu dan yang lain demi menjadi kuat bersama-sama ultimately adalah kekuatan terbesar yang dipelajari oleh Batman dalam film ini. Di balik lelucon-lelucon yang datang silih berganti, The LEGO Batman Movie actually berhasil menyentuh penonton sedikit lebih dalem lewat perubahan karakter Batman yang belum pernah ditulis seperti ini sebelumnya.

Hey Jokes. Cash me ousside how bow dah?
Hey Jokes. Cash me ousside how bow dah?

 

Film The LEGO Movie yang keluar tahun 2014 bisa jadi adalah salah satu kejutan paling menyenangkan yang pernah didapat oleh dunia sinema. I love that movie, padahal tadinya aku menyangka film tersebut bakal jualan produk semata. Ternyata, itu adalah animasi dengan cerita yang cukup dalem dan amat-sangat-kocak. Jadi ketika sepertinya mereka mau mulai bikin franchise film LEGO dan eventually mengangkat kisah ksatria malam bertopeng favorit semua orang, aku sangat excited. I actually don’t mind kalo di masa akan datang kita dapet film LEGO versi Harry Potter atau versi Jurassic Park atau franchise film terkenal lain, karena mereka tahu persis gimana memanfaatkan lisensi yang mereka punya sebaik-baiknya. Ada banyak karakter, juga banyak cameo yang dipakai, yang bahkan enggak ada hubungan-langsung dengan universe Batman.

Animasi jaman sekarang sudah diharapkan bakal gemilang dalam segi teknis, terutama visual. Dengan skema warna orange cerah dipadukan dengan berbagai warna gelap, film ini berhasil menampilkan animasi yang fantastis. Membuat Kota Gotham dari brick LEGO tersebut menjadi spektakuler. The LEGO Batman memakai formula bercerita yang sama dengan film LEGO yang pertama. Sekali lagi dengan pinter MEMANFAATKAN GIMMICK MAINAN LEGO SEHINGGA MENGHASILKAN CERITA YANG EKSLUSIF, as in elemen ceritanya hanya bisa worked dengan keberadaan balok-balok susun tersebut. Film ini memang kelihatannya menggunakan tone yang sama. It does follows rangkaian event yang sama dengan film LEGO sebelumnya. And they did it all again, dengan juga sangat kocak. Aku girang banget mereka mempertahankan SELERA HUMOR YANG FANTASTIS. Di film ini juga ada adegan nyanyian, yang mana kita akan melihat Batman ngerap. Pantes ditonton banget gak sih hahaha!

 

Film ini layaknya tulisan personal literatur yang kocak yang ditulis oleh Batman sendiri.

Kita bisa bilang The LEGO Batman Movie adalah parodi yang sangat kreatif. Semua tokoh – disuarakan dengan sesuai dan beresonansi kuat terhadap karakter-karakternya – mendapatkan penyelesaian pada plot mereka, with the ganks of villains treated as one. Keren aja ngeliat gimana sebuah film paham mengenai apa-apa yang bisa dieksploitasi dari karakter, dan benar-benar mengeluarkan yang lucu-lucu dari mereka. Kalian tahu, Batman sudah menumpas kejahatan sejak lama banget, all the way back ke tahun 1960an, malahan sebelumnya ada juga serialnya yang masih hitam-putih. Saking jadulnya, kita tidak perlu ikut kelas sejarah supaya mengerti kehidupan masa lalu. Kita cuma perlu nonton semua Batman. Dan film ini PAHAM BETUL ON HOW TO POKE FUN AT BATMAN’S HISTORY. Ada banyak lelucon soal film-film Batman terdahulu, yang kadang ditampilkan dengan selayang, namun fans berat Batman pasti bakalan nangkep.

Will Arnett membuat suara serak-serak Batman menjadi elemen yang kocak, dia berhasil mengeluarkan kelucuan dari kontrasnya suara dengan karakter tokohnya. Dalam film ini, Batman adalah seorang yang confident sangat – malah udah sampai level arogan. Dia tahu dia kuat. Menjinakkan bom beberapa detik sambil melawan penjahat kelas kakap bukan masalah baginya. Tapi, di balik topengnya, di lubuk hati terdalem, Bruce Wayne sangat depressed soal fakta bahwa dia tidak punya keluarga. He’s having a hard time mengakui butuh keluarga, karena dia takut kehilangan lagi, meskipun Alfred, Robin, dan orang-orang di sekelilingnya constantly mencoba untuk menjadi bagian dari keluarga Batman. But he just like “Enggak, Batman kerja sendiri. Nonton sendiri. Aku nyanyi dan menghajar orang sendiri. Because I’m awesome!!.”

“sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri~”
“sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri~”

 

The movie is really funny. Punya banyak bahan candaan sehingga rasanya setiap detik kita ditinju oleh punchline. Perihal jenis jokesnya; ini adalah film dengan humor yang SARCASTIC, YANG MENGGUNAKAN BANYAK REFERENSI POP-CULTURE DALAM NADA YANG IRONIS. Humornya dateng terus dan terus dan terus sampai-sampai kita kesusahan untuk mengikuti. Apalagi buat penonton yang bergantung kepada tulisan subtitle. Film ini gets a little frenetic dan oleh sebab banyaknya lelucon, kadang susah untuk kita mengambil fokus. Tak jarang saat kita belum selesai tertawa, lelucon lain sudah mulai dikoarkan oleh tokoh film. Ada beberapa kali aku merasa lelah tertawa dan cuma sanggup terkekeh pelan atau malah senyum doang. Kadang ada juga kita temukan jokes yang enggak selalu make sense together saking cepatnya jokes tersebut dateng. Kayak waktu Batman nyebut apakah mereka akhirnya dibantu oleh Suicide Squad dan gak sampai dua menit kemudian, dia malah bercanda nyindir soal betapa begonya ngumpulin tim berisi kriminal buat ngelawan tim kriminal yang lain.

 

 

 

Animasi yang dapat ditonton oleh semua anggota keluarga ini sungguh sebuah ledakan yang menyenangkan dari awal sampai akhir. Punya banyak sekuens aksi yang seru yang melibatkan sejumlah gede tokoh-tokoh Batman, DC Universe dan sekitarnya, sebanyak yang bisa dipakai oleh LEGO. This movie understands how to poke fun at their characters. Leluconnya adalah tipe-tipe sarkas, yang kalo kalian enggak punya masalah sama film yang acknowledging film lain di dalam cerita, maka candaan film ini akan terasa pas dan kocak sekali. But jokenya acap datang terlalu cepat dan terus menerus sampai-sampai kita capek sendiri dan it gets frenetic. Filmnya bisa jadi lebih baik lagi, sih, jika tone humornya lebih diselaraskan sama elemen drama yang sedikit lebih serius. But then again, kalo kelemahan film ini cuma terletak di humornya yang rada terlalu cepat dan rame, maka sesungguhnya ini adalah film yang kelewat menyenangkan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE LEGO BATMAN MOVIE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

PERTARUHAN Review

“Every father should remember that one day his son will follow his example instead of his advice.”

 

pertaruhan-poster

 

All bets are off ketika sebuah keluarga kehilangan salah satu kaki penyeimbang kasih sayangnya. Kita pernah ngalamin, dong, gimana rumah berubah jadi kacau jika Ibu pergi arisan beberapa jam aja. Semenjak sang istri meninggal, Pak Musa memang mendapati keluarganya bagai anak ayam kehilangan induk. Tak mampu menunjukkan rasa cinta as a mother does, Pak Musa (terlihat seperti diniatkan sebagai supporting role, nyatanya Tyo Pakusadewo overpowering semua cast muda) memimpin rumah tangga dengan hati baja dan tulang besi. Kehidupan di rumah mereka keras. Ada satu adegan di babak pertama di mana Pak Musa really lay down the law kepada anak-anaknya di rumah. Keempat anak Pak Musa tumbuh menjadi pemuda liar. Urakan. Suka streaking around gangguin ibu-ibu satu RT yang lagi senam. Keluar malam dan mabuk-mabukan. Mereka begitu bukan karena mereka tidak hormat kepada orangtua.

It is a failure in communication yang memegang peranan besar, it is about men’s tough love. Anak-anak ini juga gagal nunjukin rasa sayang kepada bapaknya. Ibra (delivery Adipati Dolken need more work karena sebagian besar waktu dia jauh dari terdengar tegas) diam-diam bekerja di sebuah pool bar. Elzan (tokoh Jefri Nichol ini sayangnya kurang diflesh out padahal dia actually yang paling jantan di antara mereka) kerja sebagai pelayan di hotel remang-remang. Amar (berkat image Aliando Syarief, tokoh ini providing some relief, yang terutama worked pada kalangan fansnya) demi ngejar the love of his life, kerja jadi supir anak sekolah. Sedangkan si bungsu Ical (Giulio Parengkuan terlihat confused namun it worked dengan karakter tokohnya) rela bolos karena enggak sampai hati minta uang sekolah. See, mereka selalu menempatkan Bapak di prioritas nomor satu mereka. Bapak yang sudah tua, yang tenaganya sudah tidak mendukung lagi bekerja sebagai satpam berpenghasilan pas-pasan di sebuah bank.

Gejolak muda sesungguhnya hanya perlu diarahkan. Untuk itu, mereka memerlukan contoh ketimbang nasihat-nasihat. The problem with Musa dan anak-anaknya adalah dengan hanya satu panutan, anak-anak tersebut tidak melihat cukup banyak dari Musa. Dia memberitahu mereka soal kemandirian, tetapi yang Musa perlihatkan di rumah adalah kekerasan dan ketidakterbukaan. Dan itulah yang ditangkap oleh empat anaknya.

 

Drama action ini punya satu elemen yang paling menarik perhatianku. Arena underground pertarungan cewek. Kita diliatin sekilas di mana dua cewek diadu berantem martial arts, sementara cowok-cowok penontonnya berteriak menyemangati dengan garang. Pertarungan tersebut dijadikan ajang taruhan. It is actually a refreshing element yang seharusnya bisa dieksplor lebih dalam lagi. Bisa ditanam pertanyaan moral di dalamnya. It would also make an interesting relationship story, karena salah satu dari petarung wanita tersebut actually adalah pacar Ibra yang bernama Jamila (Widika Sidmore keren banget cosplaying the Mia Wallace look). Dan mereka ngesyut adegan hand-to-hand combat ini dengan really well. Gerak kameranya cukup untuk membuat kita ngikutin aksi yang terjadi. Yang mana aksi tersebut sangat intens dan fisikal. I really like this part of the movie. Sebuah gimmick yang sesungguhnya punya potensial untuk dikembangkan menjadi lebih compelling.

oke siapa yang tadi di opening pake gaya croth chop nya DX?
oke siapa yang tadi di opening pake gaya croth chop nya DX?

 

Hubungan persaudaraan mereka tersurat jelas pada layar, kita bisa mengerti siapa lebih dekat kepada siapa. Interaksi antarmereka tergambar dengan meyakinkan. Adalah hal yang bagus film ini tidak berupaya untuk menyensor kata-kata kasar atau apapun, karena memang seperti yang kita lihat pada merekalah interaksi anak muda berlangsung. Calling names, toyor-toyoran, ada sedikit nuansa kompetisi di antara masing-masing. Benar MENCERMINKAN ANAK MUDA. Yang gagal mereka tampilkan secara compelling adalah gimana sikap anak muda yang tumbuh dalam lingkungan kasar. Aku enggak tahu apakah dari arahan atau apanya, keempat tokoh mudah ini lebih sering kelihatan seperti anak muda kaya yang manja dan mencari pelampiasan dibanding pemuda-pemuda tak-terurus with a really broken home life. Pertaruhan tampak kesulitan menunjukkan mereka pemuda yang tangguh, dan sesungguhnya itu adalah prestasi mencengangkan sebab antara tangguh dengan cengeng seharusnya ada jarak yang luas. Seluas gap generasi bapak dengan anak-anaknya, yang btw, disinggung sedikit dalam film ini.

Sungguh susah untuk bersimpati dan merasakan empati kepada keempat pemuda ini karena sedari babak pertama mereka disorot dalam cahaya anak-anak berandal yang menyebalkan alih-alih respectable, street-wise punks. Dan itu berlanjut sampe film ampir beres. Mereka tidak melakukan hal apapun yang membuat mereka berhak mendapat respek dari kita. Mereka selalu bertanya dulu sebelum beraksi. They never take action until late in the film. Dan saat aksi itu tiba, mereka melakukan pilihan yang bego. Ngerampok di kota di siang bolong, berbaris keren di pinggir jalan, dengan sambil nyarungin topeng. Pelan-pelan, seolah ingin mastiin orang-orang udah melihat wajah mereka satu persatu. Ada satu momen mereka berembuk “Kita harus melakukan apapun untuk bapak” dan scene berikutnya yang kita lihat adalah Ibra menggunakan ceweknya sebagai pengalih perhatian nyopet di bar. And later he actually let Jamila bertarung demi uang untuk bapaknya berobat.

Ibra is the worst character here. Saat Mila kalah dan babak belur (supposedly, tapi sepertinya film ngirit make up buat bikin efek luka tembak), aku kira Ibra bakal sadar dan minta maaf. But no! Dia malah sok ngecomfort pacarnya dengan bilang “Bukan salah kamu, cuma belum rejeki aja” Like, what??? Dia nyuruh adik-adiknya, dia bergantung kepada ceweknya untuk bertarung demi kepentingannya. Usaha di dalam kamus Ibra adalah meminta bantuan kepada orang. Ngemis ke bank. Minta dikasihani sama rumah sakit. Makanya tadi aku bilang, Elzan adalah yang paling jantan, karena hanya dia yang berani bertindak beneran. Meski tindakan itu adalah nyolong.

darah muda walau salah tak peduliiiihi..hi..hiii~
darah muda walau salah tak peduliiiihi..hi..hiii~

 

Konsistensi penulisan karakternya terlihat agak off. Mungkin saja sih disengaja biar nunjukin mereka labil. Ibra ngancem mau mukul seorang suster kalo saja si suster adalah laki-laki, kalimat ini terdengar agak aneh terucap dari mulut Ibra yang punya pacar seorang ass-kicker. Hubungan Ibra dengan Jamila juga dipertanyakan, it was really strange di satu adegan kita belajar keadaan Bapak dari Mila yang memberitahu Ibra, dan di adegan lain sesudahnya kita melihat Mila kebingungan kenapa Ibra terlihat sedih dan banyak pikiran. It’s like there’s no understanding between them. Dan film ini juga tidak membantu dengan tidak pernah ngasih hint gimana mereka berdua bisa ketemu dan jadian in the first place.
Ketidakkonsistensian juga melebar ke bagian action. Di mana adegan berantem di bar malah jadi bikin ngakak. Tidak ada lagi intensitas dalam koreografinya, padahal mereka berempat dan jelas-jelas outnumbered. Jurus berantemnya juga jadi monoton (hey, monoton is consistency!); lawan tinju kiri – tangkis pakek stance ngepal – bales tinju kanan. Perhatiin deh, berantemnya pasti ada gerak seperti itu. Kamera pun bergoyang sedemikian asik sehingga waktu lagi momen tenang sambil pelukan pun, gambar masih geser kanan-kiri naik-turun.

Apa yang berhasil dijaga oleh film ini dari awal sampai akhir adalah tone sedih. Serius deh, UNTUK SEBUAH FILM TENTANG LAKI-LAKI, INI ADALAH FILM YANG CENGENG. Semua poin cerita diarahkan buat kita mengasihani mereka. Rekan kerja yang nyinyir. Bos yang kejam. Rumah sakit yang menghina. Slow motion dengan musik menyayat hati di adegan-adegan maut. Minta dipuk-puk banget deh. Aku sebenarnya sempet seneng film ini berhasil enggak pake flashback, I was really expecting flashback adegan mereka masih kecil of some sort, ternyata enggak ada and I was like, “you pass the test!” Namun di akhir aku jadi kecele. Film ini masukin montase flashback yang highlight kejadian di awal, dengan slow motion pula! Apalagi kalo bukan demi memeras drama sebanyak yang mereka bisa.

 

Film ini berusaha untuk memancing perbincangan soal ambiguitas moral kayak yang dilakukan oleh Hell or High Water (2016). Namun enggak ada ground yang mensupport karakter-karakter Pertaruhan, selain mereka pantas dikasihani. Tokoh dalam Hell or High Water ngerampok against sistem perbankan yang actually bikin susah orang banyak. Ibra dan adik-adiknya, mereka merampok bank tempat tempat bapak dulu cari makan – tempat yang secara tak-langsung gedein mereka, hanya karena bank tersebut sudah bersikap kasar kepada mereka yang orang miskin. Dan lagi, they were so quick to resort ke merampok bank. Padahal mereka masih muda, sehat wal ‘afiat, jumlahnya ada empat! Mereka bisa cari kerjaan lain, but no, film ini butuh sesuatu yang gede untuk nutup cerita dengan dramatis.

Aku jadi kepikiran, kayaknya bakal lebih seru dan powerful kalo usaha perampokan mereka distop oleh bapak sendiri. Bayangkan bapak yang sakit-sakitan itu datang ke bank, karena dipanggil oleh Ical yang enggak mau kakak-kakaknya go on that path, kemudian bapak dan anak-anak itu (terutama Ibra) have a hearwrenching dialogue soal kasih sayang. Bapak berusaha menyadarkan anaknya, dan ultimately dia harus menembak Ibra. Kupikir dengan begitu ceritanya akan tetap sama, only dramanya make more sense, dan lebih emosional.

 

 

 

 

Seperti Pak Musa yang menyesal tidak bisa menunjukkan dengan baik cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya, film ini juga tidak bisa menunjukkan dengan baik sebuah cerita yang compelling. Di menit pertama, dia sudah mengeskpose kita dengan apa paparan yang dirasakan oleh Pak Musa, alih-alih memperlihatkan. Film tentang laki-laki dan kehidupan keras yang paling cengeng yang pernah aku tonton. Jika kalian mempertaruhkan waktu dengannya, niscaya kalian akan merasa kalah.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for PERTARUHAN.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.