PEREMPUAN TANAH JAHANAM Review

“No man is free who is not master of himself.”

Tidak ada tandingan kepercayaan diri Joko Anwar jika sudah berbicara tentang film horor. Horor memang sudah zonanya dia, afterall. Anwar memang sangat peka terhadap unsur-unsur kengerian, dia paham membangun, memancing dan kemudian mengeluarkan horor itu dengan baik, sehingga film-filmnya tidak sekadar jumpscare ngagetin. Opening Perempuan Tanah Jahanam membuktikan itu.
Kita melihat dua orang wanita ngobrol dalam loket tol masing-masing lewat handphone. Keduanya adalah penjaga karcis tol. Satu di antara mereka, Maya (Tara Basro sudah jadi trademark dalam film Joko Anwar seperti elemen perempuan hamil), mengaku ketakutan lantaran ada mobil kuno yang sama terus bolak-balik masuk ke jalur loketnya. Di samping bekerja sebagai penghantar dan perkenalan karakter yang sangat efektif, sekuen pembuka ini juga bekerja seperti film pendek horor urban yang sangat menakutkan.  Build up pengadeganannya sangat tight. Tensi film seketika naik begitu pengemudi mobil kuno itu turun menghampiri Maya. Cahaya dan kamera kompak menghasilkan suasana malam di tol yang eery, sepi kecuali oleh ketakutan Maya yang menguar ke tempat duduk kita. Maya bicara dengan sang pria misterius, hanya dibatasi oleh jendela kaca. Pria itu berasal dari desa kelahiran Maya, mengenali Maya sebagai Rahayu. Dan Pria ini datang untuk membunuh Rahayu atas tindakan mengerikan yang dilakukan oleh orangtua Rahayu. Adegan yang menyusul akan membuat kita menjerit tertahan, sebab jika ini adalah Scream atau horor whodunit lainnya, Maya tokoh utama kita akan berada di posisi mati duluan
Maya boleh saja selamat dari peristiwa tersebut, tapi bulu kuduk kita akan terus dibuat berpush-up ria. Perempuan Tanah Jahanam masih punya banyak lagi setting dan punchline momen-momen seram. Salah satu favoritku adalah ketika Maya berjalan di pasar ruko yang sudah sepi. Dia sendirian mencari Dini, hanya ditemani sejumlah manekin yang membuat aku siap-siap memejamkan mata. Menonton Perempuan Tanah Jahanam ini; pendapatku tentang Joko Anwar masih sama. Bahwa dia lebih hebat sebagai sutradara ketimbang sebagai penulis skenario. Cerita Maya berlanjut menjadi semakin aneh. Suasana seram di desa dengan kondisi misterius yakni setiap bayi yang lahir selalu tak berkulit tidak pernah bisa sepenuhnya menutupi naskah yang lemah dan banyak menyisakan ruang untuk kita menertawai hal-hal konyol yang ditimbulkan. Maya jadi penasaran mencari tahu asal usulnya. Ternyata benar dulu dia bernama Rahayu, dan orangtuanya punya rumah yang sangat besar di desa. Maya dan Dini yang terang saja kapok kerja lagi di tol butuh duit untuk bisnis baju mereka. Properti besar di tanah yang penduduknya benci kepadanya dijadikan Maya sebagai jalan keluar. Maya nekat pergi ke sana dengan menyamar sebagai mahasiswa.

karena siapa sih yang mau membunuh mahasiswa… wohoo dalem.

See? pilihan Maya tampak reckless dan bego. Seseorang datang dari suatu tempat untuk membunuhmu, mengatakan seluruh desa mencarimu, kemudian kamu malah memutuskan untuk pergi ke desa orang tadi sendirian? Mungkin memang tergantung seberapa besar untung yang bisa didapatkan dengan pergi ke sana. Mungkin memang tergantung seberapa gede napsu kita untuk mendapatkan sesuatu sehingga mau pergi ke tempat berbahaya tanpa persiapan yang matang. Dan sepertinya itulah gagasan yang disampaikan oleh film ini. Soal menuruti napsu dan tak punya kendali. Makanya antagonisnya adalah dalang yang bermain wayang dari kulit manusia.
Ada tokoh yang against all logic mengaku bernama Rahayu kepada penduduk desa, hanya supaya cepat diberikan surat rumah oleh kepada desa. Bahkan petaka pertama yang memulai rentetan tragedi dan ritual di sejarah desa ini bermula dari Nyai yang kebelet napsu pengen punya anak. Satu bukti lucu yang membuatku menarik kesimpulan film ini bercerita tentang pentingnya mengendalikan diri adalah fakta bahwa setiap hari di desa itu lahir bayi. Pertanyaan yang langsung bikin aku penasaran saat menonton ini bukanlah kenapa bayi yang lahir selalu tak berkulit, melainkan kenapa selama dua puluh tahun dikutuk sedemikian rupa, masih ada juga penduduk yang hamil di desa terpencil nan kecil itu. Tidakkah penduduknya jera melihat bayi mereka direndam sampai tak bernyawa lima menit setelah lahir. Nafsu penduduk di sana sebegitu besarnya, bahkan memang ada satu adegan yang menunjukkan lelaki di desa ingin memperkosa tetangganya yang sudah tiga bulan ditinggal pergi suami.

Film menunjukkan betapa mengerikannya malapetaka yang bisa terjadi jika manusia hanya menuruti keinginan dan hawa nafsu, tanpa memiliki kendali diri. Pemimpin akan berbuat semena-mena. Pengikut tidak akan berpikir jernih. Kita tidak akan selamat jika tidak menjadi dalang bagi hidup sendiri. Sengsaralah jika kita tinggal di tempat seperti demikian. Tempat  manusia-manusia hanya jadi wayang itulah yang dinamakan tanah jahanam.

I mean, itulah yang bisa kutarik dari cerita horor yang hanya punya lapisan luar. Sila bandingkan ini dengan Midsommar (2019) yang juga horor sadis nan berdarah yang bukan konsumsi bawah tujuh-belas tahun. Di balik peristiwa Dani terjebak di komunitas kecil yang ternyata adalah sekte dengan ritual-ritual pencabut nyawa, Midsommar adalah cerita tentang hubungan-asmara yang buruk; tentang wanita yang butuh untuk dimengerti tapi sekitarnya tidak pernah benar-benar mendukung atau perhatian kepadanya. Perempuan Tanah Jahanam, terasa ompong di luar cerita tentang wanita yang kembali ke desa yang seluruh penduduk di sana menginginkan dia mati untuk menghapus kutukan yang dipasang oleh keluarganya kepada seluruh desa. Perempuan Tanah Jahanam punya dialog yang kadang menyentil agama, atau pemerintah, ataupun soal orangtua kepada anak. Namun malah terasa sebagai dialog tempelan semata karena tidak paralel dengan perjalanan Maya. Yang mana dikarenakan si Maya sendiri tidak berubah banyak di akhir cerita selain pengetahuannya soal masa lalu bertambah, dia tidak punya inner-plot. Ada pembicaraan soal perawan di awal film yang sempat disinggung lagi di tengah, tapi ternyata malah tidak berbuah apa-apa bagi narasi. Selain saat ada bayi normal yang lahir, pada latar berkumandang musik natal, yang menandakan bayi sebagai simbol keselamatan bagi perawan di tanah jahanam.

mungkin ada somekind of twisted orgy sehabis panen sehingga di sana setiap hari ada bayi yang lahir

Dosa paling jahanam yang dilakukan oleh film ini terletak pada perlakuannya menggarap flashback untuk mengungkap kebenaran dalam-cerita. Film dengan setting dan treatment dan craft semenawan ini tidak mengimbangi diri dengan penulisan yang rajin. Ada tokoh hantu di sini yang hanya berfungsi sebagai device flashback, yang dilakukan dengan sangat standar. Semua film horor level rendah melakukan ini; bikin tokoh utama tak sadar diri, kemudian si hantu akan memberikan kenyataan berupa kejadian flashback begitu saja. Ini aku belum akan cerita soal narasi bagian pengungkapan itu yang juga tidak masuk akal. Motivasi dalang utama cerita ini sungguh tak logis, dan dikerjakan dengan berbelit-belit. Supaya gak diteriakin “Spoiler, woy!” maka di sini aku cuma bilang: kalo dia bisa santet dan ritual segala macem, kenapa enggak langsung bunuh, kenapa mesti menempuh jalan yang lebih banyak korban.
Penulisan film ini sungguh parah sehingga kita akan sering tertawa geli menyaksikan adegan atau mendengar dialognya.
Ada adegan jumpscare temen Maya mencolek pundaknya, dari balik pintu terali – literally menjulurkan tangannya masuk ke terali. Orang macam apa yang memanggil teman dengan cara begitu, terlebih saat padahal dia punya kunci pintu terali tersebut. Ada tokoh dosen sastra Rusia yang begitu random – kenapa musti Rusia dan enggak langsung sastra Jawa saja jika toh fungsi tokoh ini hanya menafsirkan aksara jawa kuno.
Ada dialog seperti “Mau BH?” atau “Itu rumah siapa?” yang dijawab dengan “Itu rumah keluarga yang tinggal di sana saat saya masih kecil” – dialog semacam ini yang mestinya dihindari oleh setiap penulis naskah lantaran tidak memberikan informasi apa-apa, pun tak membentuk atau mencerminkan karakter.
Satu hal yang bisa kita pelajari soal karakter Maya adalah bahwa dia tidak bisa naik motor, karena ada adegan Maya mengalihkan perhatian penduduk kampung yang mencegatnya dengan motor. Maya melempar handphone ke arah yang berbeda sehingga kerumunan meninggalkan motor dengan keadaan menyala, dan Maya tidak menggunakan motor tersebut untuk melarikan diri dengan gampang.
Wow, jika mau me-nitpick, akan ada banyak sekali yang bisa dicecar.
Yang bikin aku tak habis pikir adalah jemuran Christine Hakim yang masih membulat padahal itu kulit manusia yang elastis bukan cetakan plastik.

It’s not a bad movie. Beneran. I do not hate it. Film ini dibuat dengan kompeten, ada passion dari pembuatnya. Aku hanya  tidak merasakan perkembangan sejak Pengabdi Setan (2017), kecuali kali ini Joko Anwar berusaha mengakhiri cerita dengan benar – menggunakan epilog ‘satu tahun kemudian’ sebagai hiasan – dan trademark Joko Anwar kali ini lebih terasa. Makanya film ini niscaya akan mendapat sambutan demikian hangat dari para penggemarnya. It’s an enjoyable thrilling ride. Hanya saja film ini cuma punya permukaan. Tidak banyak yang bisa kita dapatkan, selain dialog-dialog tempelan persepsi pembuatnya soal agama, pemerintahan, dan keadaan sosial yang relevan. Juga ada pembahasan soal dosa orangtua yang turun kepada anaknya. Penulisan film ini adalah sisi terlemah. Narasinya berbelit dan terlalu mengandalkan kepada unsur kejutan dan rangkaian kejadian alih-alih perkembangan tokoh sebagai seorang manusia. Aku enggan menggunakan istilah plot-hole, namun pada film ini banyak dijumpai hal-hal yang membuat film jatuh konyol dan tak masuk akal. Yang pria dari desa di awal film; tak pernah dijelasin darimana dia bisa tahu Rahayu kerja di tol atau bahkan wajah Rahayu sekarang.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PEREMPUAN TANAH JAHANAM.

 



Hell in a Cell 2019 Review


 

Hell in a Cell 2019 adalah trick halloween paling mengerikan yang bisa diberikan WWE kepada penontonnya, yang sama sekali gak ada treat-treatnya

Dibangun sebagai main event acara yang bertema pertarungan mati-matian di dalam kandang ini adalah Seth Rollins melawan Bray Wyatt dalam perebutan sabuk kejuaraan Universal. Rollins, yang sebelum ini telah sukses menyandang predikat sebagai King Slayer, Beast Slayer, dan Monster Slayer (dia mengalahkan Triple H, Brock Lesnar, dan Braun Strowman) dihadapkan pada tantangan berikutnya; Bray Wyatt yang muncul kembali dengan persona baru; alterego iblis bertopeng yang muncul dari kegelapan mencekik mangsa-mangsanya. Bagi Rollins, pertandingan ini adalah kesempatan untuk menambahkan The Fiend ke dalam koleksi ‘Slayer’nya. Bagi Wyatt, momen ini simply, adalah reboot dari karakternya. For karakter Bray Wyatt yang sudah kehilangan banyak momentum karena WWE terlalu jinak dan tidak tahu harus membawa ke mana karakternya tersebut. Sebagai The Fiend, Wyatt mengeksplorasi horor cult lebih jauh lagi. Dia akan muncul seperti host acara anak kayak si Komo, lengkap dengan boneka-tangan yang bisa bernyanyi, dia akan berbicara hal-hal mendua dengan ancaman Fiend akan datang dan kita harus membiarkan dirinya masuk. The Fiend melawan Seth Rollins, kendati diadakan agak terlalu cepat, namun merupakan seteru yang pas bukan saja untuk momen halloween, melainkan juga untuk momen WWE yang sedang melonggarkan aturan kekerasannya karena gempuran perusahaan gulat sebelah. Singkatnya, pertandingan ini sangat dinanti oleh para fans sebab bakal menandakan sejauh mana WWE mengambil langkah perubahan.
Maka tak heran jika fans sangat kecewa melihat pertandingan mereka yang sebenarnya. Kita bisa mendengar dengan jelas teriakan penonton meminta pertandingan diulang bergaung di arena Golden 1 Center Sacramento, California pada saat akhir acara (dan later, mereka berteriak meminta uang mereka dikembalikan) Yang dilakukan oleh WWE dalam pertandingan tersebut sama sekali tidak membantu apa-apa terhadap kedua superstar tersebut. Momentum Wyatt seketika sirna karena dia tampak sebagai monster bego. Dan Seth Rollins, sudah pasti akan diboo habis-habisan, meskipun bukan salahnya – bukan karena dia tidak bisa bergulat – dia mendapat bookingan drama yang lebay seperti demikian.

Yowie Wowie!!

 
Seth Rollins dan Bray Wyatt adalah pegulat modern yang hebat. Mereka pandai membawakan karakter, punya psikologi cerita yang bener. Has a great in-ring work too. Sayangnya WWE memilih menunjukkan semua itu dengan cahaya merah temaram yang hanya berfungsi sebagai device gimmick semata. Lewat layar saja udah cukup susah untuk melihat aksi mereka, apalagi untuk penonton yang menyaksikan secara langsung. Pun begitu, dosa terbesar yang dilakukan WWE adalah membuat pertandingan Hell in a Cell yang notabene diciptakan supaya para superstar bertarung dengan ganas, di luar kebiasaan dan batas kewajaran mereka, menjadi pertandingan yang bisa dihentikan oleh wasit dengan alasan yang sama dengan sebuah diskualifikasi. Inilah yang sebenarnya diprotes oleh para penonton. Jadi bukan semata karena Wyatt yang sudah begitu over enggak jadi menang, melainkan karena pertandingan tersebut berakhir dengan kekalahan yang enggak masuk akal dan maksa banget.
Skenario yang menjadi tulang punggung pertandingan tersebut adalah tentang Wyatt yang inhuman dan Rollins musti menjadi hal yang sama enggak manusiawinya untuk bisa mengalahkan Wyatt. Dan seperti cerita horor pada umumnya, ada plot twist; after all of that degradation, Rollins tetap tidak bisa mengalahkan Wyatt. Membacanya demikian, terlihat sederhana. There’s no way you could mess up that story. Plot twist yang sebenarnya justru adalah betapa malasnya WWE dalam menulis dan berkelit dari kepentingan yang lain. Menyaksikan pertandingan penutup ini kita bisa melihat betapa kekeuhnya kepentingan menjadikan Rollins tetap juara sehingga penulis pun menjadi ala kadarnya membuat narasi pertandingan. Untuk membuat Wyatt terlihat kuat dan Rollins berjuang sekuat tenaga, WWE mempersembahkan kepada kita Rollins menggunakan finishernya kepada Wyatt. Sebanyak 11 kali. Repetitif dan membosankan. Meminimalisir aksi dalam lingkungan pertandingan yang seharusnya digunakan untuk superstar berkreasi ria. Untuk memperlihatkan intensitas Rollins ‘menjatuhkan’ dirinya ke level sadis Wyatt, WWE mempersembahkan kepada kita Rollins memukul kepala Wyatt dengan kursi, kemudian dengan tangga dan meletakkan kursi tadi bersama tangga ke kepala Wyatt, lalu memukulnya dengan toolbox berat, dan puncaknya adalah menggunakan sledgehammer yang jauh lebih ramping. Tindakan ini membuat wasit menghentikan pertandingan. Semua sekuen itu terlihat konyol terlebih jika kita mengingat Mick Foley dulu beneran jatuh dari atas kandang, dua kali, dan pertandingan tetap diteruskan.
Sepertinya WWE memang tidak belajar dari masa lalu. Pertandingan Hell in a Cell tahun 2018 juga berakhir dengan no-contest, perbedaannya hanya saat itu masih bisa dimaklumi lantaran kedua pesertanya sama-sama tepar. Tapi enggak ada yang protes bukan berarti yang kita lakukan itu disetujui dan langkah yang benar. WWE pushed their luck dengan mencoba taktik no-contest oleh wasit pada match sebelum Rollins melawan Wyatt. Kita melihat six men tag team yang juga distop oleh wasit karena tampaknya adegan pengeroyokan oleh dua orang yang lebih kecil dianggap sebagai tindakan perlawanan yang sudah melampaui batas. Aku enggak tahu apa persisnya yang terjadi di balik dapur penulisan mereka, tapi dalam acara ini penulis skrip WWE seperti lupa cara membuat pertandingan yang memuaskan.
“they came up… short!”

 
Padahal Hell in a Cell 2019 dibuka dengan pertandingan Hell in a Cell cewek yang luar biasa macho. Ganas. Becky Lynch dan Sasha Banks seperti berlomba untuk menunjukkan hal kreatif yang bisa mereka lakukan dalam menyakiti lawannya. Match yang mereka hadirkan memang terlihat spesifik sebab ada beberapa spot yang tampak mustahil dilakukan jika bukan oleh Banks ataupun Lynch. Misalnya spot Lynch menendang Banks yang didudukkan di atas kursi yang dipasang di kerangkeng, hanya ditopang ole beberapa kendo stick; you know, enggak banyak yang ‘seringan’ sehingga bisa duduk di situ tanpa membuat kendo stick fondasinya patah. Banks memang tampak memanfaatkan pengetahuannya tentang struktur kandang dan properti senjata lain, mengingat Banks pernah bertanding di dalam Hell in a Cell sebelumnya. Dia menggunakan banyak variasi serangan Meteora, dan memastikan semua meja yang ia lalui patah dengan sempurna. Banks juga menunjukkan kematangan permainan psikologi dalam match ini. Perhatikan di momen-momen dia kena Disarmher di akhir pertandingan. Kita bisa melihat perjuangannya berusaha lepas dari kuncian, kita bisa melihat wajahnya berpikir saat dia berusaha meraih kursi untuk bertahan, dan kemudian ekspresi kekalahan itu muncul dan dia tap out, dan kemudian (hendak) menangis memandang kemenangan Lynch. Buatku detil ekspresi ini benar-benar membantu penceritaan dan membuat Banks menjadi legit storyteller.
Dengan begitu dominan aksi dari Banks, aku kaget juga melihat keputusan siapa yang menang. Namun setelah beberapa pertandingan lagi, gambaran besar cerita ini mulai tampak. Karena sebenarnya WWE ingin melihat paralel antara cerita Banks dengan Bayley yang juga kalah dalam pertandingan gelarnya melawan Charlotte. Kedua pasang superstar cewek ini masih terus diberikan hubungan lantaran sepertinya cerita Four Horsewomen dari Clash of Champions 2019 masih akan terus berlanjut.
Universal championship, dua pasang pertandingan kejuaraan wanita, dan satu pertandingan tag dengan gaya tornado yang seru (karena tak perlu tag-in dan berbau hardcore); acara Hell in a Cell 2019 sebenarnya memang hanya terdiri dari empat pertandingan tersebut. Hanya empat ini yang mendapat build up serius – meski main eventnya sangat mengecewakan. Empat pertandingan sisanya (ppv normal WWE berlangsung dengan format delapan match termasuk kickoff sekarang) diumumkan begitu saja menjelang hari-h. Makanya sebagian besar terasa datar. Yang paling lumayan adalah perebutan tag team wanita antara tim Alexa Bliss dan Nikki Cross melawan tim Asuka dan Kairi Sane, dengan alasan dalam match ini kita melihat tim Asuka dan Sane bermain dengan mode heel sehingga terasa unik dan lebih berkarakter. Selain match ini, pertandingan dalam Hell in a Cell 2019 terasa seperti filler, atau paling enggak kayak match biasa di Raw atau Smackdown, dengan ending match yang kurang nendang. Seperti akhiran match Gable melawan King Corbin yang hanya berakhir dengan roll up padahal seteru mereka cukup personal bagi Gable. Yang paling random tentu saja Ali melawan Orton, yang pertandingannya berjalan hampa dan hanya menarik tatkala melibatkan RKO.
 
 
Enggak ada kejuaraan WWE, hanya ada empat match yang dibangun serius, sementara sisanya ditambahkan hampir seperti bonus konten (yang bahkan tak terasa benar-benar menguntungkan), Hell in a Cell 2019 adalah sebuah pagelaran gulat yang terasa datar. Ada beberapa momen yang menarik; Asuka menggunakan Poison Mist, Bryan dan Reigns menggila melawan Rowan dan Harper, teknik Ali menahan RKO. Tapi semua itu tampak ditahan-tahan pecahnya demi main event yang sendirinya paling tidak mendeliver di ajang pergulatan 2019. Semua keunikan di awal sirna karena penonton dikirim pulang dengan sesuatu yang seharusnya bisa dibooking dengan jauh lebih baik. Setelah match pembuka yang instant classic antara Becky Lynch melawan Sasha Banks di Hell in a Cell, acara ini seperti terjun bebas. Yea, Palace of Wisdom menobatkan Lynch dan Banks sebagai MATCH OF THE NIGHT untuk dua kali berturut-turut
 
 
Full Results:
1. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP HELL IN A CELL Becky Lynch bertahan atas Sasha Banks
2. TORNADO TAG TEAM Roman Reigns dan Daniel Bryan menghajar Erick Rowan dan Luke Harper 
3. SINGLE Randy Orton menaklukkan Ali seolah bukan lawannya
4. WOMEN’S TAG TEAM CHAMPIONSHIP Kabuki Warriors Asuka dan Kairi Sane jadi juara baru ngalahin Alexa Bliss dan Nikki Cross 
5. SINGLE Chad “Shorty” Gable balik mengalahkan King Baron Corbin
6. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Charlotte Flair jadi juara 10 kali dengan merebut gelar dari Bayley
7. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Juara Bertahan Seth Rollins dan The Fiend Bray Wyatt bertempur sampai wasit menghentikan pertandingan karena dianggap terlalu sadis 
 
 
 
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

JOKER Review

“Smile even when it hurts”
 

 
Cerita origin Batman sudah kita dengar lebih sering dari yang kita pedulikan. Tapi cerita musuh abadinya, si Joker; well, beberapa orang – termasuk aku tadinya – lebih memilih untuk membiarkan asal-usul Joker tetap misterius. Sepertinya memang lebih ‘menantang’ jika latar tokoh yang kompleks ini dibiarkan terselubung kabut. Plus, rasanya lebih aman dibiarkan begitu ketimbang tokoh ini ‘dirusak’ oleh backstory maksa yang mengakibatkan dirinya menjadi overdramatis – atau malah membuat kita merasa pantas untuk membenarkan segala tindakannya. Karena Joker memang orang ‘gila’. Dia ‘sakit’. Dan beruntung sekali, Todd Phillips ternyata mengerti letak menariknya Joker. Dia membuat kita bersimpati kepada Joker, secukupnya saja, karen kita tahu Joker ‘masih’ jahat. Memang, Phillips justru menantang kita dengan berbagai pertanyaan lewat film yang diniatkan sebagai character-studi – Joker dibuatnya bukan lagi sekadar tokoh penjahat di buku komik. Joker dan Gotham tidak terasa begitu jauh; boleh jadi di dunia kita bakal muncul yang seperti Joker dalam waktu dekat.
Joker tadinya adalah seorang pria bernama Arthur Fleck; yang merasa dilecehkan oleh orang-orang karena dia miskin dan bekerja sebagai badut. Menghibur orang walaupun orang tak pernah peduli sama keadaan hatinya. Di rumah, dia menghibur dan merawat ibunya yang sakit keras – bahkan ibunya tersebut lebih perhatian sama surat-surat yang tak kunjung dibalas oleh calon walikota Gotham. Yang dilakukan Arthur di luar shift kerjanya gak jauh-jauh dari kerjaan badut, yakni memasang senyum palsu. Di dunia yang semakin keras dan beringas, Arthur berusaha untuk tidak melahirkan kekerasan dari kekerasan. Dia tetap tertawa, berusaha membuat orang tertawa, meskipun tidak lucu. Oh, Arthur yang menahan sisi gelap tidak pernah lucu. Ketika diundang jadi bintang tamu acara televisi, Arthur tahu penonton dan orang-orang kaya itu tidak tertawa bersamanya. Mereka menertawakan dirinya.

tikus super yang susah untuk dibunuh

 
Tokoh Joker sendiri memiliki banyak variasi. Semenjak kemunculan perdana di layar lebar, Joker muncul di berbagai film dan serial televisi Batman, dimainkan oleh aktor-aktor yang sebagian besarnya adalah aktor top Hollywood. Masing-masing mereka punya pendekatan yang berbeda dalam memerankan Joker. Sebegitu kompleksnya tokoh ini. Yang paling ramai dibicarakan tentu saja versi Heath Ledger yang berhasil menghantarkan sang aktor kepada Oscar. Hanya satu kesamaan di antara semuanya; Joker itu edan. Dan yang dilakukan oleh Joaquin Phoenix pada Joker kali ini; benar-benar pendekatan yang unik. Inilah yang paling aku suka dari film ini. Jokernya menyayat hati sekaligus mengerikan. Dalam film Joker ini, si Arthur punya kondisi medis yang membuatnya tertawa tak-terkontrol ketika sedang mengalami gejolak emosional. Arthur akan mendadak tertawa, misalnya saat mendapat penolakan dari orang, yang membuat orang semakin menganggap dirinya aneh.  Ini sejalan dengan gagasan utama yang diangkat film yakni orang yang tersenyum terlalu keras sehingga sakit. Meskipun sakit. Dan kita benar-benar melihat sesakit apa tawa itu bagi Arthur. Secara fisik maupun emosional. And it’s up to Phoenix memainkannya dengan begitu meyakinkan. Dia tertawa sambil memegang tenggorokan. Dia seperti tertawa dan batuk bersamaan. Namun tawa sedihnya itu masih tergolong normal. Coba deh dengerin ketika dia beneran tertawa karena hatinya girang. Dijamin bikin gak enak alias merinding. Setiap kali Arthur tersenyum, aku merasakan ada sesuatu yang berbahaya.
Jadi, iya, pujian-pujian yang kita baca di internet seputar penampilan Phoenix dalam film Joker; itu semuanya benar. Akan enggak lucu jika Phoenix enggak masuk nominasi Oscar – heck, dia mungkin bakal menangin Oscar. Jika itu terjadi, itu bakal jadi kali pertama peran adaptasi komik mendapat perhargaan sebagai tokoh utama.  Joker versi Phoenix seperti menari di garis simpati dan mengerikan. Ini sesungguhnya sangat susah untuk dilakukan. Karena jika kita lihat pada naskah, Arthur memang seperti sosok yang pantas untuk kita pedulikan. Untuk kita dukung. Arthur kehilangan semua yang ia cintai, dia ditertawakan, tidak dipedulikan, dia dilepehin oleh orang-orang yang ia bayangkan akan mendukung dan peduli padanya. Tapi kita enggak boleh ‘jatuh hati’ pada Joker. Penampilan Phoenix-lah yang menjaga kita dari itu. Ada kegelapan di balik tingkah badutnya. Setiap kali dia muncul di layar – dan untungnya ini sering sekali – seisi studio bioskop serasa dialiri energi negatif yang ganas. Misalnya pada saat dia dipanggil menjadi bintang tamu televisi, kita sudah tahu dia akan diledek habis-habisan di depan jutaan pemirsa, sekaligus kita juga merasa ngeri sesuatu yang sadis bakal terjadi di sana. Gestur, kata-kata, dan gerak gerik Phoenix menghidupkan Joker yang memberi tahu kita semua itu.

Joker tidak lagi menganggap hidupnya sebagai tragedi. Melainkan sebagai komedi. Tariannya bukan berarti dia berusaha melucu, melainkan sebagai simbol dia menerima kegilaan dan bercanda dengannya. Sebuah mekanisme pertahanan yang tanpa sadar kita ikuti ketika kita melihat ketidakadilan orang-atas di dunia nyata, dan kita berkata “alangkah lucunya negeri ini”

 
Tantangan terbesar film ini memang terletak di tokoh Joker itu sendiri. Bagaimana membuat dia tak justru tampak sebagai pahlawan. Karena aku bisa melihat film ini bakal dihajar gelombang kontroversi. I mean, It Chapter Two (2019) aja kemaren sempat diprotes oleh serikat badut beneran karena membuat imaji yang buruk terhadap profesi tersebut. Bayangkan apa yang bakal mereka katakan ketika melihat badut di sini dijadikan semacam simbol anarki. Arthur menjadi ‘juru selamat’ bagi kaum tertindas yang dianggap sampah oleh pejabat dan konglomerat di kota Gotham. Mereka memakai slogan “kita semua badut” dan mulai melakukan pengrusakan, penjarahan, pembakaran dan segala kriminalitas di akhir cerita. Aku bisa melihat orang-orang bakal memprotes ini, karena memang secara alami ini adalah seorang penjahat yang dijadikan tokoh utama. Namun menurutku film bekerja sangat baik dalam membuat semua hal tersebut tak tersampaikan sebagai sebuah glorifikasi. Joker ‘hanya menampilkan’ seseorang seperti Arthur bisa tercipta – dia hanya beringas ketiak pengobatan dihentikan; ini adalah metafora soal kepedulian sosial. Pemberontakan seperti pada film ini bisa beneran terjadi jika situasi dipertahankan berjalan ke arah sana.
Film seperti ingin menyentil; jika film ini terasa relatable, maka dunia memang sedang kacau. Jika kita nge-cheer Arthur dan persona Jokernya, maka dunia memang butuh sosok seorang pahlawan. Di sinilah letak mengerikannya film ini. Anarki dianggap sebagai jawaban. Sebagai keteraturan di dalam sebuah kekacauan. Tidak ada superhero yang datang dan mengatakan kepada kita bahwa Joker itu salah. Ini relevan sekali dengan keadaan Indonesia baru-baru ini. Bentrok antara pelajar dengan aparat kepolisian.

Apakah ada pahlawan di sana? You be the judge.

 
Ketimbang adaptasi, film ini lebih tepat disebut terinspirasi dari buku komik. Karena sama seperti Gundala (2019) bulan lalu, Joker terasa terlalu kelam untuk sebuah sajian tokoh di komik superhero. Film ini terasa lebih sejajar dengan film-film kriminal seperti The House that Jack Built (2018) ataupun Dragged Across Concrete (2019) yang membuat kita mendalami pemikiran seorang pembunuh ataupun kriminal. Yang diceritakan perlahan sehingga membuat kita mengerti alasan mereka memilih jalan kriminal. Sudah cukup sering kita melihat cerita seseorang yang menjadi lebih buruk daripada dirinya sebelumnya. Di titik ini, Joker tetap masih terasa mencuat berkat penampilan akting yang disuguhkan. Juga didukung oleh sinematografi yang terlihat detail dan cantik oleh pemilihan warna
Dalam pengadeganan, Joker mulai berkutat untuk tak tampak tampil seperti film yang belum-pernah-dilihat. Lalu kemudian berhenti sepenuhnya dalam melakukan hal tersebut. Joker lebih memilih untuk memasukkan banyak referensi  dan terinspirasi dari film Taxi Driver (1976). Aku bukannya mau bilang film ini nyontek, tapi memang terlihat jelas mereka tidak menyembunyikan kenyataan bahwa beberapa gerakan dan pilihan shot yang diambil membuat kita teringat pada Taxi Driver. Film itu juga diserang kotroversi, tokohnya juga tampak ‘edan’ seperti Joker. Seringnya shot-shot yang mirip itu muncul menjadikan referensi-referensi tersebut tidak ‘lucu’ lagi. Dan sebaiknya mereka tidak membuatnya terlalu gamblang seperti demikian.
 
Itulah yang menahanku dari memberikan bintang delapan kepada film ini. Meskipun begitu, ini tetaplah sebuah character studi yang menarik untuk ditonton. Karena menantang kita dengan banyak pertanyaan. Lagipula, yang belum nonton Taxi Driver enggak akan ngeh dan tidak akan mempermasalahkan kesamaan tersebut. Atau mungkin enggak akan sempat untuk membahas hal tersebut lantaran film terasa sangat ganas sedari awal. Dan tidak sekalpun kita merasa ingin menoleh dari layar. Menurutku, sejauh ini, film ini adalah pencapaian tertinggi yang bisa dicapai oleh drama-drama manusia yang terinspirasi dari kisah komik.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for JOKER.

 
 

Clash of Champions 2019 Review

 

Sabuk kejuaraan adalah medali bagi para superstar WWE. Meskipun acara ini memang sudah diatur, namun memegang titel juara tetaplah sebuah hal yang prestigius karena tidak sembarang superstar pantas untuk dijadikan ‘juara’. Mereka haruslah yang paling kuat. Dalam artian bukan saja harus paling jago bergulat, melainkan juga paling konek ke penonton, yang paling menjual; terutama yang paling bisa diandalkan oleh perusahaan. Makanya sabuk kejuaraan menjadi sakral. Hanya sedikit yang pantas memegangnya. Ia menjadi simbol yang diperebutkan oleh para superstar. Sesuatu yang dikejar supaya setiap pertandingan kejuaraan punya arti. Apalah gulat profesional tanpa drama dan sabuk sebagai pialanya. Sabuk menambah intensitas dan kepentingan dari pertandingan.

Namun baru-baru ini Jim Ross, mantan komentator WWE – sekarang bekerja untuk promotor gulat sebelah – mengkritik WWE telah mendevaluasi makna sabuk kejuaraan. Dengan mengeluarkan sabuk terbaru, 24/7 Championship, pada bulan Mei 2019 yang lalu WWE dianggap Ross terlalu banyak mengedarkan sabuk juara. Sehingga lebih seperti supaya semua orang bisa dapat giliran jadi juara, mengurangi nilai kompetisi. Karena beberapa malah hanya jadi pajangan gimmick semata. Mari kita absen sabuk-sabuk yang ada di main roster WWE sekarang ini; WWE, Universal, Intercontinental, United States, Raw Tag Team, Smackdown Tag Team, Raw Women’s, Smackdown Women’s, Women’s Tag Team, dan 24/7. Oh ya, juga ada Cruiserweight yang kadang ditandingkan di pay-per-view. Totalnya ada sebelas. Dan itu memang jumlah yang tidak sedikit. Jim Ross punya poin yang cukup valid mengingat dia sudah malang melintang di dunia gulat profesional dan mengetahui langsung dulu sabuk paling banyak hanya sekitar tiga atau empat.

Jumlah sabuk sebenarnya bukan masalah utama. Karena poinnya adalah pada ratio – tergantung pada banyaknya jumlah superstar yang in-contention untuk setiap kejuaraan. Masing-masing divisi perlu sabuk untuk membuat kompetisi mereka lebih urgen. Jadi masalahnya sebenarnya adalah pada pembagian kontendernya. Pada sejauh mana WWE membuat sabuk-sabuk tersebut memiliki cakupan yang terarah dan membantu semua superstar mereka, bukan hanya sebagian. NXT misalnya, mereka punya sabuk sendiri untuk mengakomodasi para superstar mereka. WWE tahun 2000an juga begitu, masing-masing brand punya sabuk yang paralel sehingga setiap brand punya arahan yang sama terhadap pembagian superstar. WWE masa sekarang, juga membagi superstar yang jumlahnya banyak ke dalam dua brand. Namun penerapannya enggak jelas berkat Wild Card rule yang memperbolehkan superstar Raw ‘berkunjung’ ke Smackdown, menantang juara di sana, dan sebaliknya. Sabuk-sabuk khusus brand akibatnya jadi kehilangan makna; apa bedanya tag team raw dengan tag team smackdown. Kontendernya tim yang itu-itu melulu.

WWE dalam acara Clash of Champions 2019 berusaha untuk membuktikan kritikan Jim Ross dan yang sepakat dengannya sebagai suatu dugaan yang enggak sepenuhnya benar. Mereka berusaha untuk memanfaatkan Wild Card, menginkorporasikannya ke dalam narasi yang lebih seru tentang perebutan gelar. Dan menegaskan bahwa bukan semata sabuk yang membentuk seorang superstar, superstar. Melainkan superstarnya juga turut andil memberikan prestise kepada sabuk.

 

Sami Zayn harusnya nulis review betapa toxicnya sabuk bagi para superstar

 

 

That stupid Wild Card rule memang akhirnya membawa sisi positif. Saat menyaksikan video promo sebelum pertandingan Bayley melawan Charlotte, aku sadar bahwa storyline mereka tidak akan bisa jadi seimpactful yang kita dapatkan ini jika tidak ada Wild Card-Wild Cardan. Karena cerita Bayley dan Charlotte adalah bagian dari cerita Sasha Banks dan Becky Lynch, yang membentuk cerita besar tentang perseteruan dalam kelompok Four Horsewomen. Bayley dan Charlotte ada di Smackdown, sedangkan Sasha dan Lynch ada di Raw. Tanpa Wild Card, masing-masing mereka tidak akan ketemu dan build-up match tidak akan seheboh ini. Karena kunci dari storyline mereka adalah soal Bayley yang merasa diovershadow oleh tiga teman-dari-NXT, dan adegan paling pentingnya adalah ketika Bayley datang menginterupsi Sasha yang menyerang Lynch, dan ternyata juga ikutan ‘jahat’ menyerang Lynch. Wild Card rule memungkinkan Bayley dari Smackdown datang ke Raw. Dari momen inilah, storyline mereka berjalan dengan pengembangkan karakter Bayley sebagai fokus utama.

Bayley punya karakter yang paling menarik sekarang.  Dia adalah personifikasi dari ambiguitas heel dan babyface yang selama ini tampak diincar oleh penulis WWE. Bayley yang warna-warni berubah menjadi representasi abu-abunya dunia. Dalam matchnya melawan Charlotte di acara ini kita melihat Bayley semacam delusional. Dia masih menganggap dirinya pahlawan karena dia loyal dan berani berjuang untuk membuktikan diri. Dia tidak bisa melihat dirinya sudah berbuat curang demi hal itu. Bayley masih menyangka dirinya pahlawan di mata anak-anak, tapi perbuatannya tak bisa ditiru. Kita dibuat masih pengen ngecheer Bayley – terutama karena dia melawan Charlotte. See, semua anggota Four Horsewomen sebenarnya memainkan karakter yang sangat konflik dengan reaksi kita merespon mereka. Charlotte adalah yang paling berprestasi, dan secara teknik juga paling jago. Tapi kita seperti diset untuk membenci dia karena segala privilege yang ia dapatkan sebagai anak dari seorang legenda. Becky Lynch adalah opposite dari Bayley; Lynch adalah antihero yang meskipun kasar dan keras, dia punya tujuan yang baik, yang bisa kita dukung. Terakhir adalah Sasha Banks yang sikapnya total nyebelin. Dalam match melawan Lynch di acara ini, jurus curang Eddie Guerrero yang menghasilkan perasaan yang sangat berbeda ketika kita melihatnya digunakan oleh Sasha.

Semua itu mengumpul kepada karakter Bayley. Juara yang seperti tak dianggap. Penantangnya lebih kuat darinya. Sesama juara lebih populer dari dirinya. Yang baru balik saja instantly jadi pusat perhatian karena nunjukin warna aslinya. Dan mereka semua itu adalah sahabat lama Bayley. Jadi dia merasa butuh untuk membuktikan diri, Bayley harus percaya dulu bahwa dia pahlawan – di atas mereka semua, role model kepada kita semua, dan ini membuat Bayley gak segan untuk melakukan semua cara. Loyalnya kepada Sasha bahkan tidak tampak lulus lagi. Karakter Bayley jadi sangat kompleks. Dia mengajarkan untuk membuktikan sendiri sementara, kita gravitate towards her karena perasaan enggak mau jadi yang paling lemah di antara teman-teman adalah perasaan yang relatable, tapi kita tahu dia seharusnya di-boo. Ending match di mana Bayley curang dan kabur dari ring benar-benar menambah banyak untuk build up psikologi tokoh ini. Dan aku sangat tertarik untuk melihat kelanjutan cerita Bayley dan Four Horsewomen ini.

Pertandingan yang melibatkan Four Horsewomen dalam Night of Champions semuanya belum ada yang konklusif. Untuk Sasha melawan Lynch, pertandingannya sangat awesome. kedua cewek ini tampak benar-benar saling pengen menyakiti. Beda sama Randy Orton lawan Kofi Kingston yang gak bergairah, lamban, sehingga terasa sangat panjang membosankan. Lynch lawan Sasha memainkan skenario yang kreatif untuk membuild up api pertempuran di antara mereka. Wasit dibuat jadi korban, sehingga Lynch dan Sasha lantas ‘jalan-jalan’ sampai ke backstage. Saling menyakiti. Membuat mereka tampak tak terkontrol sehingga pertandingan yang udah kayak perang itu berakhir diskualifikasi. Ini bukan akhir gantung yang annoying. Ini adalah akhir sempurna yang mengarahkan kita ke pemahaman keduanya harus dikurung (ehm.. ehemm.. pay-per-view berikutnya adalah Hell in a Cell). Malah ini mengingatkanku pada pertandingan fenomenal antara Stone Cold dengan Kurt Angle pada SummerSlam 2001 yang juga brutal dan berakhir dengan DQ.

mereka kena potong gaji gak ya udah jadiin kamera mahal sebagai senjata?

 

Selain Four Horsewomen, WWE secara lowkey menghighlight mantan anggota Wyat Family. Kita melihat akhir cerita “Siapa Penyerang Roman Reigns” yang ternyata berujung kepada kembalinya Luke Harper membantu Rowan. Oh ya, juga kembalinya nama depan Eric kepada Rowan. Mungkin mereka merasa aneh jika nyebut Roman versus Rowan thok sehingga nama Rowan dikembalikan lengkap menjadi Eric Rowan hihihi.. Di partai lain kita juga melihat Braun Strowman berkompetisi sebagai tag team sekaligus sebagai penantang dari rekan tag temannya (he broke record ‘first time in history’ by the way!) Strowman, bersama Seth Rollins, menjadi pembuka dan penutup acara. Dan Strowman practically mengovershadow Rollins yang tampil bland sebagai juara tertinggi. Penonton bersorak ketika Strowman terbang dari top-rope, dan nge-boo ketika Rollins menyerang Strowman dengan Curb Stomp untuk yang ketiga kalinya. Rollins adalah superstar yang hebat, jurusnya keren-keren, tapi dia seperti hampa sebagai juara karena pertandingannya sejauh ini menggunakan metoda yang sama, dengan lawan yang juga selalu lebih besar darinya. Dia perlu mendapat perlakukan yang berbeda. Seperti The Revival yang mengklasikkan kembali pertandingan tag team, saat mereka melawan New Day di paruh awal acara. Akhir match mereka adalah salah satu yang wajib dilihat dalam acara ini. Atau seperti Alexa Bliss yang kembali ke attire Harley Quinn dan mengreinvent cara bertarungnya menjadi lebih bersahabat. Di samping pertandingan tag team pembuka, dua tag team match ini memang asik untuk dilihat karena bercerita dengan baik, sesuai dengan konteks storyline masing-masing.

Seth Rollins seperti tidak dapat bernapas lega karena di penghujung acara pentolan Wyatt Family numero uno; Bray Wyatt himself muncul ‘mengucapkan salam’ kepadanya. Ini satu lagi yang momen yang wajib kalian saksikan sendiri karena feeling yang disampaikan sangat kuat.

 

 

Clash of Champions penuh oleh momen-momen keren. Bahkan pertandingannya pun lebih seperti bagian dari momen ketimbang suatu konklusi. Menjadikan acara ini tidak sekuat acara sebelumnya. Untungnya dikemas dengan cukup baik. Pertandingan-pertandingannya punya hubungan antara satu sama lain, sebagai usaha WWE untuk menunjukkan roster mereka punya kedalaman dan immersive, kaitannya dengan pembelaan terhadap tuduhan mereka punya terlalu banyak sabuk kejuaraan. Dua match yang boring buatku, yakni Roman/Rowan dan Orton/Kingston yang terasa terlalu panjang dan tidak sebesar yang diharapkan oleh WWE (mengingat posisi mereka yang so late in the card). Untuk MATCH OF THE NIGHT, Palace of Wisdom menobatkannya kepada Becky Lynch melawan Sasha Banks.

 

 

Full Results:
1. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP Dolph Ziggler dan Robert Roode juara baru ngalahin Braun Strowman dan Seth Rollins
2. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Bayley bertahan dari Charlotte 
3. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Revival going old school defeating The New Day
4. WOMEN’S TAG TEAM CHAMPIONSHIP Alexa Bliss dan Nikki Cross tetap juara mengalahkan Fire and Desire
5. INTERCONTINENTAL CHAMPIONSHIP Shinsuke Nakamura dibantu Samy Zayn bertahan atas The Miz
6. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Juara bertahan Becky Lynch mengdiskualifikasi dirinya melawan Sasha Banks
7. WWE CHAMPIONSHIP Kofi Kingston masih juara mengalahkan Randy Orton
8. NO DISQUALIFICATION Eric Rowan menghajar Roman Reigns
9. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Seth Rollins mempertahankan sabuk dari Braun Strowman

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

HAUNT Review

Being scared means you’re about to do something really, really brave.

 

 

Menjalin hubungan itu mengerikan. Kalian tau perasaan ketika kita merasa berbuat sesuatu yang bodoh di depan pasangan dan menyangka semua bakal kacau padahal kita mau sesuatu yang spesial dan tak ingin sendirian lagi? Perut seperti berjumpalitan jatuh, atau keringat dingin menerpa? Nah, perasaan seperti itu juga sama dirasakan saat mau masuk ke rumah hantu. Jika relationship normal saja bisa seseram itu, maka bayangkan rasa takut yang menjalar di dalam diri seorang Harper (cuma Katie Stevens yang beruntung dapat tokoh yang paling ‘berdaging’ di film ini). Yang terjebak dalam hubungan bersama pacar yang abusive. Enggak ada yang fun soal abuse. Harper sudah tidak asing dengan melarikan diri dari itu, lantaran si abuse ini memang cenderung mengejar, menghantui korban-korbannya. Malam Halloween sekarang, Harper memutuskan untuk ikut ‘ngacir’ bersama teman-temannya. Mereka mengunjungi sebuah wahana rumah hantu untuk bersenang-senang. Just like in relationship; kalian melangkah masuk ketakutan tapi begitu sudah di dalam, kalian akan bersenang-senang. Sayangnya, rumah hantu yang Harper dan teman-teman masuki persis kayak abusive relationship si Harper. Membuat mereka terjebak. Para kru rumah hantu tersebut menggunakan kekerasan yang teramat nyata.

Haunt yang digarap oleh Scott Beck dan Bryan Woods (baca: penulis A Quiet Place yang tayang tahun 2018) dimulai seperti horor remaja kebanyakan; dengan keputusan buruk yang dibuat oleh anak muda. Tapi cerita film ini punya fondasi yang kuat, yang membuatnya megah dibandingkan film bunuh-bunuhan serupa. Film ini tidak sekadar mengagetkan kita dengan petualangan di rumah hantu. Ada perkembangan tokoh di sini. Ada perjuangan seorang manusia dalam mengatasi ketakutan personalnya. Rumah hantu dijadikan simbol  dari sumber ketakutan yang harus diatasi oleh tokoh utama. Mirip seperti Crawl (2019) yang menjadikan buaya sebagai cambuk motivasi tokohnya. Haunt dan Crawl bisa dibilang adalah contoh horor efektif, yang sederhana, yang simpel dan tak berniat sok pintar dengan segala twist yang gak perlu.

satu-satunya yang ngetwist di sini adalah perut kita

 

Backstory Harper disulam dengan sangat rapih ke dalam petualangan survival di rumah hantu, sehingga tidak sedikitpun pace film ini tersendat. Masalah masalalu sang tokoh utama tidak lantas menjadikan film ini seperti berhenti, ataupun masalah tersebut tidak terasa seperti tambalan semata. Semua yang terjadi pada Harper paralel dengan masalah yang sedang ingin ia hindari. Yang untuk bercerita tentang itu saja, Harper tidak berani. Dengan fondasi backstory yang kuat ini, kita jadi peduli sama Harper. Kita berjinjit mendukungnya untuk bisa keluar hidup-hidup dari rumah hantu sinting tersebut. Film juga punya nyali untuk menuntaskan masalah yang jadi latar belakang Harper. Kita mendapat ending yang memuaskan. Tentu saja tak ketinggalan ‘kalimat pamungkas’ yang diucapkan oleh si tokoh sebagai penghabisan seperti pada horor-horor klasik. Sesuatu yang bisa kita cheer dengan penuh nada kemenangan.

Semua orang punya cerita seram. Karena setiap orang pernah mengalami suatu hal buruk yang ingin diitinggalkan. Tapi trauma akan selalu menemukan cara untuk menakutimu. Kita tidak bisa memakaikan topeng kepada trauma. Kita tidak bisa membuat sesuatu yang menakutkan menjadi menyenangkan, yang menyakitkan menjadi menyejukkan. Dalam Haunt, Harper belajar bahwa takut berarti kesempatan untuk menunjukkan keberanian. Dan memang itulah pelajaran berharga dari rumah hantu; mengajarkan untuk menjadi berani. 

 

Selain Harper, tidak ada lagi tokoh yang ditulis padet dan berisi. Tapi film sangat bijak untuk tidak membuat mereka annoying, ataupun membuat kita pengen mereka cepat-cepat mati. Teman-teman Harper misalnya, memang sih mereka ditulis sebagai trope horor saja – mereka seperti tidak punya motivasi sendiri. Kita tidak benar-benar merasa kasihan jika salah satu dari mereka mati. Jikapun kita ingin ada yang selamat, itu supaya mereka bisa terus membantu Harper. Tapi  mereka tidak bego. Mereka kerap membuat keputusan yang menunjukkan perlawanan terhadap rumah hantu. Mereka berpikir, cukup resourceful. Bahkan di paruh pertama, narasi maju bukan karena Harper seorang, melainkan karena keputusan yang mereka buat bersama. Aku suka cara film mengantarkan kita ke titik no return; yakni dengan memperlihatkan para tokoh beneran pengen balik melewati jalan yang sudah mereka lalui. Efek emosional ketika mengetahui mereka tidak bisa balik lagi benar-benar terasa kuat, intensitas langsung naik, seakan kita ikut berpartisipasi dalam ketakutan mereka. Hanya ada satu masalah yang cukup besar buatku mengenai majunya narasi terkait pilihan tokoh-tokoh ini. Ada satu keputusan bego (banget) yang dibuat oleh tokohnya – aku gak mau spoiler banget tapi ini cluenya: terkait urutan keluar dari lorong kecil. Aneh juga, dengan arahan yang tight seperti begini, masih ada juga adegan yang konyol. Mereka harusnya lebih berhati-hati menulis adegan tersebut.

Hanya satu itu yang menggangguku. Suwer. Selebihnya, film ini terasa sangat menghibur. Tegangnya dapet, karena film sangat cakap menguasi editing dan pemakaian suara. Perasaan terkurung di dalam lorong rumah hantu itu dapat kita rasakan berkat suara-suara yang tidak berlebihan dan timing yang pas. Film tahu kapan harus menggunakan suara latar yang sangat kecil seperti decitan kayu atau desau angin pada terpal dan kapan waktunya digunakan suara yang cukup keras. Kamera pun bijaksana merekam dan menge-cut adegan demi adegan dengan presisi sehingga kita tak pernah ketinggalan sekaligus tak tahu terlalu banyak. Dan ini menambah kesan misterius yang meningkatkan suspens cerita.

Cara yang sama juga film lakukan terhadap para kru rumah hantu. Kita cukup tahu mereka semua orang gila yang haus darah, yang membuat wahana supaya bisa menyiksa anak-anak muda yang hanya pengen merayakan halloween. Kita cukup tahu mereka semua memang lebih baik pakai topeng saja; film tampaknya bermain-main dengan candaan lama “lebih serem aslinya daripada topengnya”. Kita cukup tahu mereka semua semacam kelompok sesat. Dan bijaksananya film adalah kita hanya dicukupkan untuk tahu semua itu saja. Cerita tidak dibuat ribet dengan membahas kenapa lebih lanjut. Karena fokus narasi toh bukan pada mereka-mereka ini. Lagipula mengetahui dari mana mereka dapat duit membangun rumah hantu, misalnya, akan mengurangi kemisteriusan sehingga mungkin kita tak akan menjadi takut lagi kepada mereka.

seolah kita masih butuh diingatkan betapa seramnya seorang badut

 

Rumah hantu adalah wahana favoritku. Ada masa ketika aku rela pulang pergi Bandung-Jakarta hanya untuk nyobain rumah hantu. Sekarang sudah jarang, karena mulai tergantikan dengan ‘escape room’ semacam Pandora. Tema rumah hantu dan escape room menarik dan kreatif, hanya saja sering terlalu gelap sehingga membuatnya setnya enggak kelihatan. Nonton Haunt ini aku seakan mendapat moment “I told you so!” lantaran rumah hantu dalam film ini terang benderang. Dan tidak mengurangi keseramannya. Jadi, ya aku mau nyelipin kritik buat wahana rumah hantu dan semacamnya di Indonesia; cobalah sekali-kali jangan terlalu gelap. Tontonlah Haunt. Set film ini begitu menakjubkan, sehingga aku merasa pengen ikut masuk menjelajah rumah hantunya. Jenis-jenis trik yang diperlihatkan sangat beragam. Teka-teki sederhana yang dihadirkan dalam satu ruangan bisa membuat malu seantero film Escape Room yang tayang awal tahun 2019 ini. In fact, semua aspek film Haunt akan membuat malu film Escape Room. Haunt membuat semuanya tampak manusiawi, tampak plausible, tampak beralasan, sementara Escape Room terlihat sok kece dengan tokoh-tokoh standar yang nyebelin. Aku bahkan ilang selera untuk ngereview setelah nonton. Tidak seperti Haunt yang bikin semangat untuk menuliskannya.

 

 

Untuk sebuah horor tentang rumah hantu dengan tokoh-tokoh anak muda, film ini amat sangat menghibur, dengan fondasi cerita yang kuat. Jarang ada pembuat film yang seserius dan seniat ini, yang tidak menganggap remeh target penontonnya. Film ini tidak dibuat receh dan konyol. Melainkan punya isi. Membuatnya semakin bisa dinikmati. Menakutkan, menghibur. Setelah semua darah, kekerasan, senang sekali melihat sesuatu yang masih punya hati.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for HAUNT.

 

LORONG Review

“Mom knows best”

 

 

Apapun situasinya, kata-kata ibu seringkali benar pada akhirnya. Mungkin karena beliau adalah sata-satunya wanita yang mengenal kita lebih lama daripada siapapun, atau mungkin karena kita hidup sembilan bulan di dalam perutnya, ibu selalu punya cara untuk membuktikan dia benar-benar benar dalam hal melindungi dan mengkhawatirkan kita. Film horor Lorong garapan Hestu Saputra memperlihatkan kepada kita sekuat apa naluri keibuan seorang wanita jika sudah menyangkut keselamatan buah hatinya.

Bukannya bermaksud spoiler loh. Dengan menggunakan pendekatan dramatic irony dalam bercerita, sedari bagian awal film sudah memberitahu kita bahwa firasat Mayang (Prisia Nasution berhasil membuat tokohnya simpatik dan enggak annoying) soal bayinya yang baru lahir bukanlah ‘firasat’ at all. Bahwa ada sesuatu yang ganjil terjadi di rumah sakit tempat ia bersalin. Kita sebagai penonton sudah ditanamkan untuk percaya kepada Mayang alih-alih ke suster-suster rumah sakit. Sehingga di awal-awal – kurang lebih babak satu dan babak dua, aku enjoy menonton ceritanya. Kupikir tidak bakal ada twist “wah ternyata Mayang benar!” karena gak semua cerita horor harus ada twist. I just excited dan cukup terinvest untuk pengen mengetahui ke arah mana cerita ini akan berlabuh. Di titik mana komponen utama; Mayang, seorang pria petugas janitor yang mencuri dari dokter-dokter, dan para staff rumah sakit akhirnya bertemu.

sepertinya semua berakar dari ‘wanita selalu benar’

 

Film ini seperti berganti genre tiga kali. Dalam babak set up, horornya terasa psikologikal. Adegan pembuka saja benar-benar kuat dari sudut pandang Mayang, ibu hamil yang sedang dalam prosesi persalinan. Ketakutan seorang wanita terpancar sekali dari ekspresi Mayang yang sendirinya dalam fase off oleh pengaruh obat bius. Kekhawatiran akan keselamatan bayi. Kengerian berada dalam posisi tak berdaya, sembari melihat sejumlah orang dengan alat-alat bersalin, menengadah menatap lampu yang menyilaukan. Tambahkan konteks; ini adalah hamil pertama Mayang, dan dia sudah berbuat banyak untuk menyambut anak pertamanya. Dalam sebuah flashback, kita diberitahu Mayang sampai mempersiapkan dua dekorasi untuk mengantisipasi bayi yang lahir cowok atau cewek. Motivasi dan ketakutan terbesar Mayang sudah terlandaskan dengan kuat pada sepuluh menit pertama. Bersamaan dengan hilangnya kesadaran Mayang, kita juga di-cut dari adegan persalinan dan bertemu kembali dengan Mayang  di ranjang rumah sakit. Tanpa anak bayi di sisinya. Mayang bersikukuh kepada semua orang; kepada suaminya, kepada para suster, kepada siapa saja bahwa anaknya masih hidup.

Cerita mulai mengingatkan pada Rosemary’s Baby (1968) pada bagian tokoh utamanya mulai yakin ada konspirasi penghuni apartemen terhadap ia dan bayinya. Sama seperti Mayang yang terus menerus menelurusi lorong-lorong rumah sakit mencari bayinya yang disebut sudah meninggal (dikuburkan langsung oleh sang suami). Menyaksikan dan mendengar hal-hal yang mencurigakan. Kita bahkan melihat lebih banyak daripada Mayang. Kadang kita dibawa mengikuti suster atau si janitor. Dan juga ada hantu yang terus mengikuti ke mana Mayang pergi, mencoba memberi tahu sesuatu kepada dirinya. Film seharusnya mengeksplorasi setiap sudut pandang cerita dengan lebih dalam, karena di titik ini ceritanya sudah less-psychological. Film butuh untuk mengembangkan rumah sakit sebagai set yang bernyawa – sebagai dunia yang punya cerita sendiri sebab misteri yang disajikan sudah membesar.

Alih-alih, film malah menyandarkan diri pada kemunculan hantu. Padahal sebenarnya justru si hantu inilah salah satu yang enggak diperlukan. Film bisa bekerja dengan sama baiknya jika hantu tidak ada. Karena horor sebenarnya datang dari ketakutan Mayang akan bayinya. Bukan dari penampakan hantu. Malahan, si hantu justru lebih sering muncul dan terlihat oleh kita, dibandingkan oleh Mayang. Sehingga membuat kita dan Mayang kadang tidak sejalan; Kita takut sama hantu, sedangkan Mayang takut sama nasib bayinya. Inilah masalah pertama yang kurasakan saat menonton Lorong. Masalah yang berbuntut panjang. Mereka seharusnya menyiapkan waktu lebih banyak untuk pembangunan dunia terkait dengan misteri apa yang sebenarnya terjadi. Banyak yang harusnya dikembangkan; si janitor, si suami, rumah sakit, bahkan si Mayang sendiri. Since film memutuskan untuk banyak memakai flashback dan dream sequence (yang terkadang dua ini digabungkan), alangkah lebih baiknya jika momen-momen flashback itu digunakan untuk pengembangkan karakter Mayang pada kehidupan normal. Supaya memperdalam lapisan karakternya. Karena sepanjang film ini kita hanya melihat dia tertatih-tatih kebingungan dan kesakitan di rumah sakit, panik mencari bayinya. Kita tidak pernah melihat dia lebih dalam sebagai seorang wanita. Kenapa dia pengen punya anak, misalnya. Kenapa kita harus percaya dia bakal jadi ibu yang baik, sehingga nalurinya juga bisa dipercaya.

Sepertinya memang tidak ada penjelasan kenapa ibu bisa tahu segala yang terbaik untuk anak. Film memperlihatkan koneksi spontan antara Mayang dengan bayinya; meski dalam keadaan terbius dia tahu bayinya ada di sana. Jika di dunia ini memang ada sihir, maka hubungan ibu dengan anaknya bisa jadi adalah contohnya.

 

Tapi film seperti enggak pede jika tidak ada hantu. Aku bisa membayangkan saat pitch cerita, PH meminta untuk menambahkan hantu lantaran menganggap penonton hanya akan menonton hantu-hantuan belaka. Karena memang si hantu dalam Lorong ini seperti tambalan saja. Tambalan tapi sering. Jadi filmnya kayak kain buntelan gelandangan di kartun-kartun jaman dulu. Film seperti tidak mengerti bahwa horor kejiwaan dan manusiawi itu sebenarnya lebih mengerikan daripada sosok mengerikan dan ritual berdarah. Sehingga film memilih sebuah keputusan yang amat, sangat, murahan dan sesedikit sekali logika untuk mengakhiri cerita. Persis seperti kesalahan yang dilakukan oleh Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018). Semua hal menjadi sangat over-the-top setelah pengungkapan di babak akhir. Ada satu tokoh yang kalem, ternyata jadi menggelinjang sok-gila. Cerita horor psikologis dan thriller konspirasi itu ditarik ke alam baka oleh penjelasan tentang cult yang maksa, hanya untuk mengecoh penonton. Bayangkan Rosemary’s Baby yang berakhir dengan babak ketiga Suspiria (2019). Enggak cocok.

siapkan dirimu untuk siluman harimau random yang bisa terbang menerkam

 

Dan plot Mayang menjadi semakin aneh karena kejutan di babak terakhir film tersebut. Jika memang benar naluri ibu selalu benar, maka kenapa dia masih bisa ditipu oleh orang terdekatnya? Ini literally musuh dalam selimut hahaha.. Apa pesan yang ingin disampaikan oleh film dengan memasukkan sekte dan ritual yang berlangsung di balik tembok steril rumah sakit? Kenapa ceritanya berubah drastis menjadi manusia yang pengen kesembuhan dan meminta kepada sosok yang salah karena mereka ‘dicuekin’ oleh pengobatan yang sah?

Penanaman yang dilakukan oleh film hanya supaya twist ini enggak mengada-ada. Untuk pemakluman belaka. Seperti misalnya; aku sempat merasa aneh juga rumah sakit yang punya CCTV tapi masih kesulitan mencari Mayang yang jalannya aja belum lurus. Punya CCTV tapi si janitor maling tetap sukses menjalankan aksinya. Ataupun soal suami yang tidak mendampingi istrinya melahirkan. Semua alasan itu dijelaskan di akhir, sehingga seolah twistnya make sense dan dipikirkan dengan matang. Padahal bukan sebatas itu yang kita butuhkan. Kita butuh untuk diyakinkan kenapa pelakunya melakukan hal tersebut. Motivasi mendalam seperti demikian yang tidak pernah ditanamkan. Hubungan sebab akibat dan aturan main ritual. Kenapa musti bayi Mayang, padahal ada banyak bayi di rumah sakit itu. Kondisi seperti apa yang dibutuhkan. Twist di Suspiria bekerja dengan baik karena diperlihatkan aturan kerja si institusi jahat – ada subteks soal matriarki dan kekuasaan yang membayangi, yang jadi konflik buat tokoh utamanya. Ending Rosemary’s Baby terasa begitu kuat lantaran kita mengerti konflik tokoh utama seputar kecenderungannya lebih mementingkan orang lain. Dalam Lorong, twistnya hanya sebatas di kejadian dan endingnya pun tidak mengubah apa-apa terhadap Mayang.

 

 

 

Kebanyakan horor yang benar-benar bagus memang mengangkat psikologi dan kerapuhan seorang manusia terhadap hal yang ia cintai. Horor yang baik sejatinya adalah drama dari hal-hal yang ditakuti manusia. Takut kehilangan anak, misalnya. Film ini punya bahan-bahan yang tertulis dalam resep horor yang bagus. Tokoh utamanya adalah seorang wanita, seorang ibu. In line dengan horor modern seperti Hereditary (2018), The Babadook (2014), Bird Box (2018), The Prodigy (2019), Us (2019). Tetapi film Hestu Saputra ini gagal menjadi sebesar mereka lantaran tidak konsisten dalam menetapkan dirinya. Tidak satupun dari film-film itu yang menggantungkan diri pada twist over-the-top, tidak satupun yang menggunakan hantu hanya untuk mengageti penonton. Sebuah penceritaan butuh konsistensi dan berani untuk mengembangkan drama karakternya. Film ini terlalu takut untuk itu semua.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for LORONG.

 

 

GUNDALA Review

“We must preserve our humanity.”

 

 

Indonesia juga punya komik superhero. Coba tanya deh ke ayah, paman, atau kakak kalian yang remaja di tahun 70-80an saat komik-komik tersebut lagi berjaya. Siapa tahu mereka masih menyimpan dan kalian bisa membaca dan membandingkan dengan superhero dari luar. Jika tak punya, jangan khawatir. Karena Joko Anwar bersama Screenplay Pictures dan Bumilangit Komik berniat menghidupkan para pahlawan super lokal – dibranding ulang sebagai ‘Jagoan’ – dalam jagat sinema tersendiri. Bumilangit Cinematic Universe namanya.

Gundala adalah film pembuka franchise yang menjanjikan delapan film untuk Jilid I jagat sinema ini. Ini adalah origin story tentang ‘kelahiran’ pahlawan berkekuatan petir tersebut. Bahkan jauh sebelum si tokoh mendengar nama Gundala. Bingung? Seperti yang ia lakukan pada Pengabdi Setan (2017), sutradara Joko Anwar membuat sesuatu yang benar-benar baru dari materi asli yang ia adaptasi. Tidak seperti di komik, Gundala dalam film ini bukan Sancaka sang ilmuwan. Melainkan Sancaka hanya seorang anak pinggiran yang takut kesamber petir. Di waktu kecil, Sancaka menyaksikan ayahnya tewas ditusuk oleh kelompok sendiri saat berdemo. Kemudian Sancaka ditinggal oleh ibunya yang tak kunjung pulang ke rumah. Sancaka terpaksa pindah hidup ke jalanan. Kerasnya keadaan di kota yang nyaris tak menyisakan manusia bermoral, membuat Sancaka memegang teguh prinsip hidup ‘jangan percaya siapapun dan jangan mencampuri urusan orang’. Dia survive hingga dewasa dengan prinsip tersebut. Namun setelah mendapat kekuatan dari petir yang selama ini ia takuti, Sancaka diberikan pilihan untuk bangkit dan menjadi penyelamat bagi rakyat tertindas.

“Jangan percaya orang kaya karena Batman dan Ironman cuma ada di komik”

 

Gersang. Berdebu. Panas. Ganas. Begitulah dunia tempat tinggal jagoan kita digambarkan oleh film. Kehidupan rakyat jelata benar-benar keras. Penuh ketakutan dan persaingan. Gundala bukan film pahlawan super yang meriah oleh fantasi. Tone ceritanya malah sangat depressing. Bukan kurangnya air yang membuat kehidupan mereka kering, melainkan minusnya rasa kemanusiaan. Rating 13+ yang dicapkan bahkan menurutku tidak benar-benar sesuai dengan yang digambarkan oleh film. It should be higher. Sancaka sebagai anak kecil sungguh menderita hidupnya. Dia dikejar-kejar, dipukuli, diiris telinganya. I mean, at least Bruce Wayne punya banyak duit, kan. Dia mungkin punya banyak mainan dan elektronik untuk membantunya melewati hari. Sancaka tidak punya apa-apa. Bahkan dalam momen terdamai hidupnya – dalam tidur – dia terus bermimpi tragedi. Jika kalian punya masalah melihat kekerasan pada anak kecil, kalian bakal menemukan film ini cukup susah untuk disaksikan. Karena semuanya ditampilkan tanpa ditahan-tahan. Gebukan ke kepala di-close up. Hamparan darah di-zoom. Kalopun ada tusukan yang disembunyikan oleh kamera, itu hanya karena film ingin membuat pelakunya ambigu.

Tingginya level kekerasan, banyaknya adegan yang menunjukkan pembunuhan, pengeroyokan, penipuan, pengazaban, membuat film ini lebih pantas disebut sebagai thriller-aksi realis. Karena keadaan dunia yang dinampakkan sesungguhnya adalah komentar pembuat film terhadap keadaan dunia kita yang tampak baik-baik saja. Ada tusuk menusuk setiap hari, meski tidak berdarah. Ada orang berantem setiap hari, meski cuma di twitter. Ada saling hasut, saling menebar benci, di berbagai media. Menanamkan politik ketakutan. Dan juga tidak sedikit yang memilih untuk diam seperti Sancaka. Yang sedapat mungkin menjauh dari urusan orang, daripada ntar terseret ke dalam bahaya. Perjalanan Sancaka dalam film ini adalah perjalanan untuk menjadi oase di tengah kekeringan kemanusiaan. Naskah menggempor Sancaka habis-habisan. Abimana Aryasatya memberikan kegugupan yang tepat dalam menghidupkan tokohnya, ia menyambung estafet emosi dari Muzakki Ramdhan yang jadi Sancaka cilik, untuk kemudian meluaskan kembali jangkauan emosi tersebut. Dia diletakkan dengan segera di posisi paling naas yang mengharuskan dia untuk belajar survive. Dia belajar berkelahi. Namun pelajaran yang paling susah yang harus ia lewati adalah cara menumbuhkan keberanian untuk peduli kepada orang lain. Setelah itu tercapai, barulah dia bisa fokus belajar mengendalikan kekuatan petir yang ia punya.

Untuk tujuan itu, cerita memasangkan Pengkor sebagai lawan – antitesis – dari Sancaka. Pengkor, yang separuh tubuhnya penuh luka bakar dan berjalan pincang, adalah bos dari ratusan anak-anak jalanan yang menyimpan dendam terhadap kemanusiaan. Pengkor menyusup ke lapisan atas, menanamkan orang-orangnya, dan berusaha mengatur negara sesuai dengan idealismenya. Dengan masa lalu yang mirip, bahkan lebih tragis. Pengkor adalah Sancaka jika ia tidak pernah sadar dari prinsip hidup jalanan yang ia pegang. Jika Sancaka memilih untuk menjadi hero untuk alasan yang salah. Karakter Sancaka dan Pengkor dikembangkan dari teori ‘wounds and lie’. Mereka sama-sama punya trauma yang menyebabkan mereka percaya pada satu hal yang salah. Namun Sancaka yang menyadari kesalahannya, dengan segera menjadi oposisi dari Pengkor. Pendekatan yang diambil film terhadap dua karakter ini mirip sama hubungan antara Joker dan Batman. Begitu miripnya, aku sebelum film dimulai bertaruh dengan temanku bahwa monolog “harapan bagi rakyat adalah candu” (dibawakan oleh Bront Palarae dengan nada rendah khas tokoh penjahat utama saat mengintimidasi protagonis) pada trailer sesungguhnya terjadi pada adegan Pengkor ngobrol dengan Sancaka – seperti monolog Joker kepada Batman di dalam sel di The Dark Knight (2008). Dan saat menonton aku menyesal tidak mempertaruhkan hal yang lebih signifikan, karena ternyata tebakanku benar.

Gundala mengajarkan penontonnya, yang sepertinya banyak orang dewasa, untuk tidak memelihara antipati terhadap sekitar. Karena saat kita memutuskan untuk tidak menolong siapa-siapa, kita sebenarnya juga tidak menolong diri kita sendiri. Kemanusiaan adalah satu-satunya hal yang dapat membuat zaman panas yang edan ini menjadi sejuk. Maka, jangan biarkan sikap itu mengering.

 

Gundala memang seperti superhero luar. Kekuatan Gundala original basically adalah gabungan dari Thor dan The Flash (dalam film ini hanya Thor, walaupun film sempat seolah membuild up kemampuan lari Sancaka lewat beragam adegan yang menunjukkan dirinya dikejar-kejar). Tokoh-tokoh jagoan legendaris di komik-komik lokal kita memang banyak kemiripan dengan tokoh Marvel maupun DC. Aku sebenarnya tidak ingin membanding-bandingkan, tetapi toh filmnya sendiri yang seperti memohon untuk kita bandingkan dengan film-film superhero yang lebih superior, dengan jagat sinema dan segalanya itu. Gaya dan arahan Joko Anwar klop sama gaya kelamnya DCEU. Yang menurutku bisa saja bekerja dengan maksimal. Tone gelap dapat menutupi kelemahan CGI. Aksi-aksi fantastis dari kekuatan superhero simply bisa disubsitusi dengan aksi pertarungan berbasis martial arts; serupa aksi yang pernah membuat film laga Indonesia mendapat pengakuan dari penonton mancanegara. Film melakukan porsi aksinya dengan baik. Meski ada beberapa efek CGI yang mestinya tidak perlu nekat dilakukan karena hasilnya memang tidak tampak meyakinkan. Ngaku deh , masa sih kalian gak tertawa melihat efek Sancaka jatuh dari atas gedung.

Daerahnya sering hujan tapi kenapa tetep terlihat kering dan gersang ya?

 

Dialog yang terdengar lebih ‘tinggi’ daripada tokoh yang mengucapkannya adalah khas Joko Anwar. Dalam film ini kita akan melihat anak kecil ngobrol soal dewan legislatif, yang seketika bikin aku ngakak terlebih karena teringat anak kecil di Pengabdi Setan nyebut kuburan sebagai ‘areal pekuburan’. Namun ‘ketinggian’ dialog itu pas dengan tone cerita. Jika film komit ke arah gelap dan gritty itu, maka akan tidak ada masalah. Namun sepertinya keinginan mereka untuk menjadikan film ini sebagai langkah awal – seperti Ironman sebagai pembuka MCU – malah berbalik menjadi bumerang. Karena tentu saja studio butuh jaminan film bakal laku. Jadi, Gundala yang semestinya bakal bekerja dengan baik di ranah dark and violentnya harus ada sedikit humor dan appealing buat lebih banyak orang. Maka film ini memilih untuk mencampurkan tone ala DCEU dengan sisipan guyon ala MCU. And it doesn’t mesh well together.

Lelucon-lelucon yang dimasukkan ke dalam dialog dan adegan menyebabkan film terdengar canggung. Terkadang memaksa kita untuk tertawa, padahal seharusnya kita meresapi subteks yang dikoarkan. Selain itu, lelucon ini membunuh karakter. Karena semua tokohnya jadi terdengar sama. Mereka ngomong singkat-singkat. Saling menjawab cepat-cepat. Dan pada satu titik, campuran tone cerita ini, membuat kita tak yakin kejadian penting di film harus dianggap serius atau tidak. Aku gak enak ngasih spoiler banyak, tapi pada poin muncul serum perusak moral (yea you read that right), aku benar-benar gak tahu harus ketawa atau tidak. Karena dampak dan semua yang berhubungan dengan kejadian serum itu tampak obviously make no sense, tapi film tetap lanjut karena itu adalah bagian dari rencana super jahat. Tega sekali film menggambarkan rakyat sebego itu, tapi mungkin memang di situlah letak kritikan tajam film ini terhadap keadaan sosial yang gampang terpancing. Lagian, karena semua penduduk film ini ditampakkan sudah rusak moralnya sedari awal, aku merasa susah untuk peduli dan menganggapnya serius.

Cerita bergerak terlalu cepat untuk dapat memberikan arti pada masing-masing tokoh yang muncul. Ada banyak yang seperti tokoh penting – dimainkan oleh aktor mumpuni – namun ternyata terbang menghilang begitu saja. ‘Algojo-algojo’ Pengkor itu hanya tubuh saja. Karakterisasi mereka ya hanya gimmick masing-masing. Peduli apa sama nama mereka, atau apakah mereka ada di komik atau enggak, film hanya memperkenalkan mereka sebagai Si Jurus Nari, Si Mahasiswi Bersenjata Tas, Si Dua Golok Gede. Atau mungkin nama mereka memang seperti itu, kayak tokoh-tokoh di cerita silat Wiro Sableng. Aku gak tahu. Kepedulian film memberi karakterisasi pada mereka toh juga cukup sampai di sana.

Kupikir itu semua berkaitan dengan keinginan film untuk membangun jagat sinematik. Mereka memperkenalkan tokoh, hanya untuk memancing kita nonton film berikutnya. Karena kemungkinan tokoh tersebut bakal dijelasin di sana. Dan menjamin kepada studio banyak orang bakal nonton terus karena penasaran. Kapitalis sekali, sih. Tapi memang seperti itulah industri film mainstream bekerja. Mengekor cara sukes MCU. Jangankan tokoh-tokoh seperti Ghazulnya Ario Bayu yang tampak meta sekali karena mengetahui seluk beluk cerita Gundala, atau tokoh Sri Asih yang muncul hanya sekelebat untuk mengingatkan kita kepada Wonder Woman, atau tokohnya Tara Basro yang sepanjang film menuntut untuk ditolongin, penjelasan kenapa petir mengincar Sancaka sedari kecil aja tidak dapat kita temukan dalam cerita origin ini. Karena disimpan untuk film berikutnya. Kalo film pertama ini laku. Dan kita harus membuat film ini laku untuk menjawab pertanyaan yang sengaja dibiarkan menganga tersebut. Pace film tampak tergesa-gesa seolah filmnya sendiri pengen cepat-cepat sampai ke sepuluh menit terakhir. Ke bagian yang menggoda penonton untuk episode selanjutnya.

 

 

Joko Anwar’s attempt at superhero franchise is dark, violent, and really gritty. Rasa lokal yang dihadirkan mampu memberikan warna baru yang membuatnya berbeda. It is a Jagoan movie, after all. Tapi di saat bersamaan, gaya yang diambil dalam usahanya untuk tetap berada di ranah mainstream demi menjual lebih banyak film-film berikutnya, membuat film ini terasa seperti memirip-miripkan diri dengan gaya film pahlawan super yang lebih sukses. Karakter-karakternya tak tampak benar-benar hidup. Mereka hanya melanjutkan adegan demi adegan yang berpindah-pindah dalam tempo cepat. Sancaka dan Pengkor cukup maksimal – malah Pengkor sempat bertindak kayak John Kramer si Jigsaw dengan death trapnya – tapi ada banyak lagi yang tampak penting ikut ditampilkan. Aku ingin melihat mereka lebih banyak, mendengar mereka lebih banyak. Pada akhirnya kejatuhan bagi film ini adalah mereka juga mengerahkan tenaga untuk membangun universe di depan membangun satu cerita ‘kecil’.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for GUNDALA

READY OR NOT Review

“Don’t change to fit the fashion, change the fashion to fit you”

 

 

Biar aku beri clue seperti apa film Ready or Not supaya kalian bersiap-siap menghadapi keseruan yang bakal datang: Ceritanya bermula seperti Crazy Rich Asians (2018), namun akan berakhir gila mendekati Get Out (2017)

Orang kaya perangainya suka aneh-aneh. Itu yang dipelajari oleh Grace (Samara Weaving tampak sangat badass dalam balutan gaun pengantin berbalut selempang amunisi) ketika ia menikahi Alex. Putra dari keluarga yang kaya raya di bisnis boardgame dan kartu. Setelah upacara pernikahan di mansion keluarga Alex yang udah nyaingin kastil Hogwarts, lengkap dengan pintu dan lorong-lorong rahasia, Grace dibawa untuk bertemu dengan seluruh keluarga Alex. Grace harus diospek dulu sebelum resmi menjadi bagian dari mereka. Di malam pertamanya, Grace harus mematuhi tradisi keluarga sang suami. Bermain kartu yang kemudian berkembang menjadi permainan petak umpet mematikan. Semalaman itu Grace harus bersembunyi dari penghuni rumah yang ingin membunuhnya.

Malam pertama berdarah, tapi bukan seperti yang kalian pikirkan

 

Perburuan manusia di dalam rumah orang kaya sungguh merupakan konsep yang fun. Film yang digarap Matt Bettinelli-Olpin barengan Tyler Gillett ini jelas pengen menjadi cerita yang satir. Pada latar belakang, film memasang soal orang kaya yang begitu timpang dengan rakyat jelata. Mereka punya kebiasaan dan tradisi yang berbeda. Mereka memandang sesuatu dengan cara yang berbeda. Film menggunakan komedi untuk menyampaikan gagasannya. Bahkan adegan-adegan kekerasan yang sadis itu diberikan nada lucu sehingga memancing kita untuk menertawakan sekelompok orang kaya yang berusaha mempertahankan tradisi dan hidup mereka dengan membunuh orang luar. Anggota keluarga Alex dijadikan seperti over-the-top. Ada yang enggak tahu nama keponakannya sendiri. Ada yang kerjanya mabuk-mabukkan. Alex diceritakan punya masalah dengan tradisi dan kebiasaan keluarganya, dia sudah mulai jauh dari orangtuanya. Bicara soal orangtua, malahan ada bibi Alex yang digambarkan memandang Grace dengan tampang seolah ada kaos kaki basah di hidungnya. Ya, masukkan Grace dan film jadi punya satu layer lagi sebagai subteks dari cerita. Perihal wanita yang masuk ke sistem yang bukan miliknya.

Grace bukan hanya melawan orang-orang yang memburunya. Grace melawan tradisi. Berusaha survive dari gagasan dirinya harus sesuai – memenuhi syarat – masuk ke satu ‘keluarga’. Di balik aksi-aksi violent yang seringkali membuat kita meringis dan tertawa bersamaan, film berusaha memusatkan perhatian kita kepada latar belakang, baik itu literally maupun figuratively. Desain produksi film ini begitu menonjol untuk menunjukkan perbedaan mencolok antara orang kaya dengan Grace yang dibesarkan di rumah asuh. Denah rumahnya dibuat besar, kelam, dengan banyak lorong kosong dan ruangan penuh hiasan yang membuat Grace berseru “oh shit”. Sesungguhnya ini adalah cara subtil film menyampaikan kepada kita bahwa Grace sedang berada di dalam sesuatu yang bukan untuk dia. Dia menginginkan keluarga. Tapi dia terkejut oleh semua tradisi yang harus dia jadikan bagian darinya. Keseluruhan film melingkupi Grace yang mencoba melakukan sesuatu terhadap tradisi tersebut. Dia tidak mau menjadi korban, namun dia juga sudah jadi bagian darinya. Maka Grace mengoyak tradisi itu dari dalam, sebagaimana dia merobek gaun pengantinnya.

Actually, gaun pengantin yang dikenakan Grace sudah seperti karakter tersendiri. I’m not joking. Gaun itu adalah karakter favoritku di film ini, setelah Grace. Gaun itu punya arc tersendiri, bukan sekedar pakaian. Dia melambangkan sesuatu yang harus Grace kenakan. Sebagai bukti dari masuknya Grace ke keluarga Alex, ke sistem dan tradisi mereka. Gaun itu sempat menjadi hambatan bagi langkah Grace. Tapi lihat apa yang dilakukan Grace terhadap gaun tersebut kemudian. Gaun dirobek supaya bisa lari lebih cepat. Dijadikan perban untuk membalut luka. Dijadikan bantalan ketika terjun dari lantai atas. Bahkan jadi senjata untuk membunuh salah satu pengejarnya.

Marylin Monroe pernah bilang “Berikan sepatu yang tepat kepada wanita, niscaya dia akan menguasai dunia.” Dalam film ini kita literally melihat Grace mengganti sepatu hak-tingginya dengan kets. Dia juga merobek gaun indah sesuai dengan kebutuhannya. Pakaian dan tradisi itu tak cocok untuknya. Grace harus mengoyak sistem yang memaksa dia berada dalam satu posisi. Karena film ini bicara tentang kebutuhan wanita untuk tidak mengubah diri mengikuti sistem. Melainkan mengubah sistem tersebut. Dan jika tidak bisa, menggeliatlah keluar dari sistemnya, meskipun luka seperti Grace yang mengoyak punggungnya untuk keluar dari jeruji pagar yang teralinya ia patahkan.

 

Tradisi yang digambarkan oleh film ini bukan sebatas pada peraturan fiksi cerita saja. Kita bisa membandingkannya dengan banyak hal. Dengan aturan rumah tangga, misalnya. Istri harus ikut suami. Film juga memberi gagasan bahwa ‘tradisi’ seperti itu juga tidak mesti diikuti. Di satu titik, Grace dihadapkan pada pilihan antara kabur atau balik masuk ke rumah dan menolong suaminya. Grace memilih loncat dan lari ke hutan. Bijaknya, film tidak membuat tradisi sebagai antagonis. Kita tidak bisa mengubah tradisi, karena bisa jadi tradisi itu benar. Arc Alex dan saudaranya, Daniel, membahas seputar bagaimana jika sebuah tradisi yang seperti tidak masuk akal, justru adalah hal yang benar. Bahwa peraturan-peraturan konyol itu bukan omong kosong. Untuk kita yang percaya kepada tradisi atau aturan, atau malah agama, mungkin hanya kematian yang bisa memisahkan kita darinya. Tapi bukan berarti kita bisa mengekang orang lain dengan tradisi kita. Dengan kepercayaan kita.

I draw a trap ca… Wait. This whole marriage is a trap!

 

Sudut pandang film bisa agak membingungkan karena film ingin menunjukkan pandangan terhadap tradisi itu dari berbagai sisi. Babak ketiga film ini buatku sangat lucu. Film menolak untuk berakhir aman. Tidak seperti The Purge yang begitu matahari terbit, semuanya usai dan termaafkan. Film ini menunjukkan kita konsekuensi yang tak-biasa. Cara mereka memperlihatkan kebenaran dari tradisi sungguh unik, dan membuat plot cerita menjadi sedikit aneh. Dan ini bisa menjadi nilai plus, sekaligus menjadi penanda ada kekurangan dalam naskah film ini.

Nilai plusnya tentu saja babak ketiga dan sekuen penutup tersebut benar-benar mengukuhkan film sebagai horor yang menarik. Dia bisa menjadi cult-classic karenanya. But also, kekurangannya adalah tokoh-tokohnya terlihat tidak konsisten. Film ini kebablasan mengembangkan komedi dan aksi berdarah sehingga lupa memberikan perhatian lebih kepada pengembangan karakter. Usaha untuk menunjukkan pertumbuhan yang natural sangat minim karena film memilih untuk terus bergerak. Jadi, evolusi tokoh hanya diperlihatkan lewat satu adegan, atau dibuat sebagai hal misterius yang bakal dijelaskan lewat adegan berikutnya. Susah untuk membuat cerita di ruang tertutup, dengan banyak karakter tanpa menjadikan karakter-karakter tersebut hanya di sana sebagai korban pembunuhan yang berdarah-darah. Film memberikan mereka sudut pandang dan karakterisasi yang cukup untuk membuat masing-masing punya dimensi. Akan tetapi pengembangannya minim dan dijadikan sekilas, biasanya sebagai komedi.

 

 

 

Sebagai horor film ini bekerja dengan baik karena punya aksi-aksi berdarah sebagai wujud dari simbol betapa mengerikannya pengaruh sebuah tradisi atau kepercayaan. Ia juga penting karena menyangkut persoalan posisi wanita dalam aturan dan dunia yang dipimpin oleh pria. Sebagai komedi, film ini bekerja terbaik, karena sajiannya yang menghibur penuh oleh kelucuan. Bahkan adegan orang terbunuh saja dibuat lucu. Penampilan akting Samara Weaving benar-benar jempolan, dia kuat dalam kevulnerableannya, dan dia juga kocak. Tapi sebagai film yang harusnya punya pengembangan karakter, film ini tergesa-gesa. Ruang dan tempo untuk pengembangan mestinya bisa lebih lega lagi. Karena dengan kecepatan dan konstan komedi dan aksi seperti yang kita saksikan, latar belakang yang diniatkan untuk mencuat tadi tetap tidak benar-benar standout. Film ini bisa-bisa hanya akan dikenang dan dinikmati sebagai sajian horor sadis yang kocak, dengan gagasan penting dan satirnya teroverlook.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for READY OR NOT

 

ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD Review

“It’s better to burn out than to fade away”

 

 

Lewat cerita tentang seorang aktor serial televisi koboy yang berusaha untuk tetap dikenal sebagai aktor yang hebat dan pemeran pengganti yang sudah menjadi sahabatnya di Hollywood tahun 60an, Quentin Tarantino mengajak kita semua bercanda. Menggoda kita dengan mengubah sejarah kelam menjadi dongeng happy ending. Tarantino memasukkan dua tokoh fiksi ke dalam dunia nyata. Dengan tujuan untuk membuat kita berandai-andai seperti apa jadinya jika Hollywood tidak pernah berubah, tidak palsu, tidak ada yang meredup kemudian menghilang; jika Hollywood adalah tempat yang – seperti dalam cerita – tempat kebaikan selalu menang melawan kejahatan.

Menurutku memang begitulah cara terbaik menonton film ini. Menganggapnya sebagai dongeng. Judulnya saja udah kayak kalimat pembuka hikayat-hikayat zaman dulu; “Pada suatu hari di Hollywood” Buat penggemar film, Hollywood adalah istana impian. Tempat cerita-cerita diwujudkan ke gambar bergerak. Sekaligus juga, Hollywood sendirinya adalah tempat cerita-cerita baru lahir. Cerita orang-orang yang datang dan pergi dari dunia perfilman. Dalam dunia nyata, cerita-cerita tersebut seringnya merupakan tragedi. Karena para aktor-aktor punya masa kadaluarasa. Dalam roda industri yang terus bergulir, pemain muda akan menjadi tua dan cepat atau lambat bakal tergantikan oleh pemain muda yang baru. Rick Dalton, tokoh utama film ini, akan literally dibunuh karakternya. Dalam serial koboy baru yang ia perankan, Dalton bukan lagi bintang utama. Masanya sudah lewat. Kini dia ditawari peran antagonis. Untuk episode pertama, tokohnya akan dibunuh oleh protagonis yang diperankan oleh aktor muda berbakat sehingga studio bisa menaikkan rating dan melanjutkan musim serial tersebut. Begitulah peran Dalton yang dulu selalu jadi hero nomor satu di televisi. Di tahun 1969 itu, dia menyadari perannya sekarang hanyalah pemeran pembantu. Ini adalah akhir dari era Dalton, yang diparalelkan oleh Tarantino dengan akhir dari era kejayaan 60’an yang dibawa oleh tragedi pembunuhan oleh Charles Manson.

See, cerita campuran fiksi dan fakta seperti ini hanya bisa dikerjakan oleh orang yang benar-benar suka pada film. Yang betul-betul mengerti seluk beluk Hollywood beserta sejarah-sejarahnya. Tarantino sudah tidak diragukan lagi keabsahannya. Sejak Pulp Fiction (1994) dia sudah memperlihatkan gambaran pengganti zaman di genre action; bintang baru menggantikan bintang lama lewat adegan Bruce Willis menembak John Travolta. Yang ia sajikan kali ini adalah kumpulan momen-momen yang menunjukkan betapa cintanya dia terhadap film. Narasi tersaji ringan, dengan banyak dialog dan adegan yang bernada komedi. Namun juga perasaan sedih dan nestapa terasa membayangi. Karena ini adalah cerita tentang perjuangan seseorang untuk tetap relevan. Untuk menjadi immortal. Semua itu semakin menghantui sebab kita tahu apa yang terjadi di penghujung tahun itu. Bakal ada yang ‘dibunuh’. Tapi kita tidak lagi yakin siapa atau malah apa yang mati. Film dibangun seolah membendung antisipasi kita terhadap kejadian nyata yang menggemparkan. Sepanjang waktu aku duduk nonton ini aku merasa terhibur meskipun di dalam hati aku terus bertanya-tanya bagaimana film ini mempertemukan Dalton dan Booth yang tokoh fiksi dengan Sharon Tate, seperti apa posisi mereka dalam tragedi tersebut. Yang dilakukan oleh film ternyata benar-benar sebuah twist, yang seharusnya kita senang melihatnya tapi tetap kita merasa ambigu. Film berakhir dengan sangat kuat karena ikut ke dalam pikiran kita sampai ke rumah. Apakah Tarantino sedang menyarankan sebuah solusi. Apakah yang sebenarnya menjadi penyelamat di sana.

Di Indonesia kita mengenal pepatah “manusia mati meninggalkan nama”. Film kesembilan Quentin Tarantino ini membalikkan itu. Rick Dalton berjuang agar namanya tetap berkibar. ‘Turun’ dari tahta protagonis bukan berarti dia tidak lagi tampil prima. Karena actually yang lebih parah bagi manusia adalah nama mati duluan sebelum pemiliknya.

 

Meskipun namanya nongol di koran, Leonardo DiCaprio masih belum meninggal

 

 

Ini bukan pertama kalinya Tarantino menulis ulang sejarah. Menimpanya dengan fiksi. Kita sudah lihat cara dia menulis nasib Hitler di Inglourius Basterds (2009) Sejalan dengan ini juga bukan kali pertama Tarantino menyemplungkan dirinya ke dalam kontroversi. Fantasi Once Upon a Time… in Hollywood bisa jadi susah untuk ditelan buat beberapa penonton. Terlebih buat penonton yang berhubungan langsung dengan tokoh-tokoh nyata yang disinggung alias digambarkan lewat visi Tarantino. Ya aku sekarang bisa melihat alasan putri Bruce Lee protes karena penggambaran yang dilakukan Tarantino terhadap almarhum ayahnya yang melegenda. Tapi sekaligus aku juga bisa melihat adegan-adegan seperti itu dibuat tak-lain-dan-tak-bukan sebagai subteks dari konteks cerita. Bruce Lee yang bertarung imbang dengan Cliff Booth si stuntman sesungguhnya ada dalam ingatan si Booth sendiri. Adegannya berupa flashback dari ingatan Booth sehubungan dengan fakta namanya di Hollywood sudah besar sebagai orang yang berbahaya.

Ya orang-orang juga bisa protes soal Charles Manson yang didepiksikan sebagai tokoh sakral, namun konsekuensi tindakannya tidak digambarkan sampai ke dia. Manson hanya muncul satu kali di film. Karena film memang bukan soal Manson, melainkan fiksi soal perjuangan manusia. Manson hanyalah katalis yang memungkinkan terjadinya kekerasan yang menjadi simbol perjuangan. Kita melihat salah satu Manson Girl bilang mereka membunuhi bintang film karena sudah mengajarkan kekerasan di televisi. Kejadian di sekuen akhir tersebut menunjukkan kekerasan melahirkan kekerasan, namun kekerasan itu diperlukan sebagai bentuk dari perjuangan bertahan hidup, yang paralel dengan tema stay relevan. Ini berhubungan dengan cara Tarantino memperlakukan wanita di dalam film ini. Actually wanita yang diperlakukan kasar udah menjadi kritikan rutin untuk karya Tarantino. Di film Once Upon ini kita bakal melihat Booth menghajar cewek hippie anggota cult Manson. Dalton bahkan membunuh salah satu cewek itu dengan cara yang memuaskan dan berhubungan dengan sesuatu yang ngelingkar dengan bagian awal karirnya. Semua itu merupakan bagian dari keambiguan yang sudah diniatkan untuk kita rasa. Kita memang disuruh untuk bingung; menyoraki sesuatu yang tampak seperti heroisme pria tetapi cewek-cewek itu pantas mendapat pembalasan atas peristiwa di dunia nyata.

Film ini juga bisa susah untuk ditonton jikalau kalian lebih menyukai cerita nyaris tiga jam yang banyak aksi-aksinya. Meski memang saat porsi aksi muncul film menampilkan kekerasan tanpa tedeng aling-aling, namun sebagian besar waktu kita hanya melihat orang duduk dan bercerita. Mereka mendongeng di dalam dongeng. Nonton film ini kayak mendengarkan orang tua bercerita. Kadang kita dibawa melihat visualisasi flashback dari seorang tokoh – yang seperti kasus Bruce Lee dan Cliff Booth tadi; flashback yang ‘kebenaran’ kejadiannya belum absah. Kadang kita melihat Dalton dan Booth hanya duduk mengomentari film-film lama yang mereka mainkan bersama. Buatku, adegan-adegan demikian sama menariknya dengan adegan aksi. Karena aku suka mendengar cerita. Aku suka melihat belakang layar dari pembuatan film difilmkan. Juga tak terhitung banyaknya insight yang diberikan film terhadap skena perfilman Hollywood. Seperti film-film Tarantino sebelumnya, film ini juga renyah oleh dialog-dialog yang dibawakan dengan menarik dan meyakinkan.

Penampilan Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt mengangkat film menjadi semakin menyenangkan. Menakjubkan cara naskah menempatkan mereka di kejadian-kejadian yang ‘aneh’, seperti ketika kita melihat Dalton lagi syuting dan DiCaprio harus memainkan tokoh yang saking pengennya untuk tampil gak-kalah dari bintang muda malah melupakan dialog yang mesti ia ucapkan. Atau ketika Brad Pitt harus menunjukkan reaksi saat masa lalu tokohnya diungkap – Booth dipercaya membunuh istrinya yang kebanyakan ngomel saat mereka liburan di kapal, naskah meminta Pitt untuk menunjukkan ambiguitas dari kebenaran ‘gosip’ tersebut, dan Booth oleh Pitt tampak seperti menikmati semua ini. Like, dia justru ingin orang percaya akan gosip tersebut karena mengangkat namanya sebagai seorang stuntman tangguh. Margot Robbie juga bermain menakjubkan. Naskah menampilkan Sharon Tate seperti tokoh dongeng yang tampak tak nyata. I mean, orang-orang biasa diperlihatkan tidak menyadari bahwa dia masih ada, bukan sekadar persona di bioskop. Dan bahkan dia juga mendapati namanya mulai meredup seperti Dalton. Aku pengen melihat penampilan Robbie lebih banyak, terutama soal kasus Manson tadi. Tapi Sharon Tate tampak seperti ditinggalkan, demi kepentingan twist yang diperlukan oleh visi cerita.

We’re watching the end of an era

 

Semua yang sepintas tampak seperti kekurangan di atas, sesungguhnya juga bertindak sebagai kekuatan yang dimiliki oleh film. Karena film memang mengincar perasaan yang mendua saat kita menontonnya. Tapi jika memang mau bicara kekurangan, aku menemukan dua yang masih belum aku lihat alasan Tarantino memilih untuk bercerita seperti itu. Pertama soal lompatan periode di babak ketiga yang menggunakan narasi untuk menjelaskan ke kita apa yang terjadi selama lompatan tersebut. Sembari film terus membangun narasi yang mengarahkan kita ke tragedi nyata, yang kemudian tidak dilakukan. Menurutku menggunakan periode dan narasi ini tampak seperti wujud bercerita yang malas dan menyingkat waktu dibandingkan dengan cara film menampilkan cerita tokoh sebelum sampai ke titik ini. Di awal dan tengah penceritaannya sangat kreatif. Selalu ada hal baru yang dilakukan untuk menggambarkan cerita tokoh yang sedang bergulir.

Kedua adalah soal kenyataan bahwa untuk konsep film ini bekerja, penonton perlu untuk mengetahui sejarah kasus sekte Manson, yang dijadikan twist oleh cerita. Keseluruhan punchline film hanya bekerja jika kita sudah tahu ini semua berdasar dari kisah nyata yang dibelokkan menjadi dongeng. Karena jika penonton tidak tahu, maka cerita film ini akan berakhir membingungkan. Tokoh Sharon Tate hanya akan tampak seperti tokoh ekstra yang seharusnya bisa dihilangkan. Soal kekerasan terhadap anggota sekte juga memang akan menjadi gambaran dominasi pria kulit putih terhadap wanita, pelampiasan kepada hippie, karena ada missing piece jika penonton tidak tahu sejarahnya. Aku nonton ini sama temanku yang hanya tahu film ini berdasarkan kasus Manson tanpa benar-benar tahu apa yang terjadi pada kasus tersebut, dan saat film beres dia bingung. Punchline dan belokan sejarah yang dilakukan film tidak kena kepadanya. Jadi, film ini membatasi dirinya sendiri. Film mengasumsikan semua penontonnya tahu, dan memang kita diminta untuk riset-riset sedikit dahulu. Dan buatku ini adalah kelemahan karena film meski punya sesuatu yang mendalam tapi seharusnya bisa bekerja di level permukaan. Kita hanya bisa menikmati dongeng sejarah jika kita tahu batasan mana dalam cerita itu yang benar-benar terjadi.

 

 

 

Tarantino tampak sedikit terlalu asik bercanda di film ini. Komedinya twisted and dark. Ceritanya memang menyenangkan, dengan tokoh fiksi dan nyata digabung, tapi bekerja dalam level yang ambigu. Yang untuk mengerti keambiguan dan sasaran yang dituju, penonton harus tahu dulu sejarah yang benar-benar terjadi. Jika tidak, film ini akan terasa berat dan menyinggung sekali. Di situlah letak keunikan film ini. Dia tidak takut untuk menjadi seperti demikian. Jarang kita dibuat menikmati film sekaligus menyadari yang kita tonton adalah harapan yang sudah kadaluarsa. Yang untuk menjadi pembelajaran saja tampak terlalu fantastis. But if you love films, punya perhatian terhadap sejarahnya, you will love this movie.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD.

 

 

 

MA Review

“You don’t need everyone to love you, just a few good people”

 

 

Semua akan main film horor pada waktunya. Dan kalo ada aktor yang paling pengen aku lihat bermain segila-gilanya di genre berdarah-darah, maka Octavia Spencer adalah salah satunya. Dan memang di film Ma ini Spencer tampak benar-benar menikmati kesempatan yang ia dapatkan. Bahkan yang bukan penggemar horor, boleh jadi tergoda untuk menyaksikan film yang actually juga proyek horor pertama dari sutradaranya; Tate Taylor. Spencer dan Taylor sebelumnya pernah bekerja bareng dalam The Help (2011), yang aku suka banget, dan sekarang mereka kolab lagi dalam film yang genrenya lebih membebaskan. Sekali-kali bermain dalam horor sepertinya therapeutic buat aktor seperti Spencer yang mulai mendapat peran yang begitu-begitu saja di genre yang lebih serius. Dan horor pun butuh pemain-pemain yang enggak asal-asalan, yang sungguh mengerti mengeksplorasi psikologi sehingga tidak keluar sebagai peran yang over-the-top yang tidak bisa dianggap serius. Spencer dan peran psikopat-horor ngeklik, menjadikan wanita ini bagian terbaik dalam film Ma.

Baru-baru ini kita menyaksikan Widyawati bersahabat dengan anak-anak muda dalam Mahasiswi Baru (2019), peran Spencer dalam Ma juga mengharuskan dia bergaul dengan orang yang berumur jauh berbeda darinya, namun dengan tone cerita yang jauh lebih kelam. Peran Spencer adalah sebagai Sue Ann, wanita kesepian yang tau-tau dimintai tolong oleh sekelompok anak remaja untuk membelikan mereka bir. Sue Ann butuh untuk membantu remaja tersebut seperti Spencer butuh untuk bermain horor; untuk menjadi lebih populer. Kepopuleran dan status dijadikan oleh film sebagai tema berulang yang dieksplorasi lewat cara yang tak biasa. Lama kelamaan Sue Ann yang tampak menikmati statusnya sebagai ‘ibu-ibu keren’ di antara para remaja, mulai mengundang mereka semua untuk berpesta di ruang bawah tanah rumahnya. Minum-minum. Hura-hura. Mabok. Jika kalian sudah merasa cukup risih melihat wanita dewasa menyediakan tempat untuk remaja berugal-ugalan, siap-siap saja untuk menjadi merasa ngeri ketika kilasan masa lalu Sue Ann muncul sebagai peringatan akan hal menakutkan yang bakal menimpa para remaja tersebut.

sejak 2011, kalo dia ngasih pie coklat, tolong jangan dimakan.

 

Filmnya cuma sembilan-puluh menit, tapi coba hitung ada berapa kali Octavia Spencer melakukan perubahan emosi dalam usahanya membuat karakter ini menyenangkan untuk ditonton. Menyenangkan dalam konteks horor loh. Pertama kita dibuat kasihan melihatnya yang seperti desperate banget untuk punya teman. Dia tampak cukup perhatian dan baik hati. Lalu dia berubah jadi tampak seperti orangtua norak yang jika bercanda pasti lawakannya enggak lucu oleh anak-anak muda, malah menyinggung. Lalu kita dibuat merasa kasihan lagi kepadanya, ketika Sue Ann yang kini dipanggil Ma malah seperti dimanfaatkan oleh anak-anak berandal. Lalu dia muncul seperti pacar yang cemburuan saat meneror remaja dengan puluhan pesan. Lalu dia seperti ibu yang overprotektif. Lalu dia jadi penipu yang punya agenda mengerikan, sebelum akhirnya menjadi ‘orang gila’ di babak akhir. Dan seperti layaknya film horor, Spencer juga memberikan one-last-scare kepada psikologi kita , entah harus kasihan atau mensyukuri keputusan terakhirnya. Film bisa menggapai begitu banyak level kengerian dengan permainan akting karakter yang berubah-ubah secara creepy seperti ini. Range-nya luas dan Spencer berhasil mengenai semuanya dengan menakjubkan.

Yang diperlukan oleh film adalah menjaga fokus dan mengeksplorasi Sue Ann lewat satu sudut pandang  sehingga horor dari runtuhnya kemanusiaan itu dapat tersampaikan dengan baik. Hanya saja, film malah membahas dari banyak sudut pandang sehingga narasinya tak pernah fokus sejak awal. Naskah ingin memparalelkan tokoh remaja dengan tokoh Sue Ann, mereka diikat oleh satu benang merah; keinginan untuk disukai dan menjadi bagian dari orang-orang populer. Tokoh utama film ini justru adalah salah satu anak remaja, Maggie (diperankan oleh Diana Silvers atau yang kita kenal sebagai kembaran Raihaanun dalam film Booksmart), yang baru pindah ke kota tempat cerita berlangsung. Maggie adalah anak baek-baek yang memilih bergaul dengan geng hura-hura karena seharian ditinggal kerja oleh ibunya. Film ingin memunculkan dramatic irony dengan menyilang-nyeling sudut pandang antara Maggie yang hubungannya semakin tak baik dengan sang ibu, yang malah semakin akrab dengan Sue Ann, dengan sudut pandang Sue Ann sendiri yang semakin kita lihat kegelapan dan kegilaan motifnya. Tetapi sisi dramatisnya itu justru menjadi kehilangan gigitan karena narasinya kehilangan fokus.

Pesan yang ingin disampaikan menjadi mendua; apakah kita harus mendukung Sue Ann membalaskan dendamnya kepada anak-anak populer yang ngesok – apakah tindakan kriminal yang ia lakukan bisa dijustifikasi. Atau haruskah kita mengkhawatirkan Maggie yang perlahan seperti berubah menjadi anak populer yang ngesok tersebut. Dan bukan hanya mendua, malahan mentiga lantaran actually film juga melihat dari sudut pandang ibu Maggie yang merasa dirinya hina; gagal di perantauan sehingga terpaksa kembali ke kota masa kecilnya.

Orang dewasa pasti pernah terkenang akan kehidupan di masa sekolah mereka. Masa-masa yang kebanyakan orang berharap mereka lebih disukai di antara teman-teman sekolah. Wajar saja berpikir seperti demikian, karena itu akan mendorong seseorang untuk menjadi lebih baik. Tapi disukai tidak sama dengan menjadi populer. Karena orang menginginkan hanya untuk menjadi populer, mereka bisa menjadi manipulatif ketika hanya mementingkan jumlah dan status. Jadilah populer, sembari tidak melupakan diri menjadi baik.

 

Secara garis besar, kita bisa mengerti keparalelan gagasan yang berusaha ditampilkan. Sayangnya pilihan untuk menjuggling sudut pandang ke sana kemari membuat cerita tidak menjadi sekuat yang semestinya bisa dicapai. Film juga punya undertone soal rasis yang dihubungkan ke dalam gagasan. Kita melihat Sue Ann mengecat putih kulit seorang remaja kulit hitam, karena menurutnya cuma boleh satu alpha di dalam grup. Tapi hanya sampai di sana. Film harusnya membahas lebih dalam, menjadi total gila, namun tetap bermain aman. Tingkat kekerasan dalam film ini tidak benar-benar mengerikan, karena sesungguhnya horor terletak di kejiwaan Sue Ann. Yang dikaburkan oleh seringnya cerita berpindah sudut pandang. Akibat paling jeleknya adalah tokoh-tokoh film ini jadi tidak pernah kelihatan seperti karakter. Mereka hanya seperti pion dalam permainan catur yang sudah diatur siapa yang kalah dan siapa yang menang. Mereka tidak hidup di dunia, mereka hanya hidup di naskah.

Sue’ banget emang si Sue Ann

 

Bahkan naskahnya sendiri tidak cukup konsisten untuk memerintah para tokoh. Narasi yang dihadirkan tampak dihadirkan dengan reasoning seadanya. Film membuat remaja-remaja itu suka sama Sue Ann, kemudian takut padanya, kemudian suka lagi, dengan sekenanya. Tidak pernah ada penjabaran yang kuat dan masuk akal. Cerita film ini bisa tuntas dengan lebih cepat jika remaja-remaja tersebut enggak balik-balik lagi ke rumah Sue Ann. Ada banyak momen yang menghadapkan tokoh remaja pada pilihan atau kesempatan untuk melakukan sesuatu yang wajar, you know, meninggalkan Sue Ann. Si Maggie sudah curiga sedari pertengahan. Tapi mereka tetap saja kembali kepadanya. Maggie tetap saja masuk ke ruang bawah tanah  itu. Tanpa ada tekanan dari teman-teman gengnya; di sini cerita mengkhianati gagasannya. Atau malah memparodikan? You be the judge. Apakah para remaja memang sebego itu untuk mau kembali deket-deket sama orang yang jelas-jelas mencurigakan cuma supaya bisa hura-hura.

 

 

 

Fakta bahwa film horor yang dibintangi oleh Octavia Spencer sebagai pembunuh psikopat beneran eksis di dunia sebenarnya sudah cukup menggembirakan. Terlebih karena memang dibeking oleh penampilan akting yang menghibur. Tapi tetap saja jatohnya mengecewakan karena film ini tidak sekalian dibarengi oleh naskah yang kuat. Karena yang kita saksikan lebih seperti usaha untuk menjadi tontonan yang populer ketimbang film yang ingin menceritakan gagasan. Narasinya terlalu sibuk untuk terlihat pintar, asik sendiri menggabung-gabungkan sudut pandang, dan kepingan misteri. Sehingga lupa untuk menjadikan karakter-karakter ini ‘hidup’. Kita hanya melihat mereka berpindah dari berpesta, ke ketakuan, ke curiga seperti diperintah. Tidak mengalir dengan natural.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for MA